The Horse And His Boy_Indonesia_Bag 01
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

The Horse And His Boy_Indonesia_Bag 01

on

  • 803 views

 

Statistics

Views

Total Views
803
Views on SlideShare
803
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
23
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    The Horse And His Boy_Indonesia_Bag 01 The Horse And His Boy_Indonesia_Bag 01 Document Transcript

    • a KUDA DAN ANAK MANUSIA eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com MR. Collection's
    • KUDA DAN ANAK MANUSIA eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com C.S. Lewis Ilustrasi oleh Pauline Baynes Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005
    • THE CHRONICLES OF NARNIA #3 THE HORSE AND HIS BOY Copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954, 1951, 1952, 1953, 1956 Inside illustrations by Pauline Baynes, copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954, 1951, 1952, 1953, 1956 Cover art by Cliff Nielsen, copyright © CS Lewis Pte Ltd 2002 The Chronicles of Narnia®, Narnia® and all book titles, characters and locales original to The Chronicles of Narnia, are trademarks of CS Lewis Pte Ltd Use without permission is strictly prohibited Published by PT Gramedia Pustaka Utama under license from the CS Lewis Company Ltd All rights reserved www.narnia.com THE CHRONICLES OF NARNIA: #3 KUDA DAN ANAK MANUSIA Alih Bahasa: Indah S. Pratidina GM 106 05.012 Hak Cipta Terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Anggota IKAPI, Jakarta, September 2005 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) LEWIS, CS. THE CHRONICLES OF NARNIA: KUDA DAN ANAK MANUSIA/C.S. Lewis; alih bahasa: Indah S. Pratidina, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005 312 hlm; ilustrasi; 18 cm Judul asli:THE CHRONICLES OF NARNIA: THE HORSE AND HIS BOY ISBN 979 - 22 - 1629 - 4 I. Judul II. Pratidina, Indah S. Dicetak oleh Percetakan PT SUN, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan
    • Untuk David dan Douglas Gresham
    • DAFTAR ISI 1. Bagaimana Shasta Memulai Perjalanannya 11 2. Petualangan Selama Perjalanan 34 3. Di Gerbang Tashbaan 57 4. Shasta Berjumpa Warga Narnia 77 5. Pangeran Corin 98 6. Shasta di Antara Batu Nisan 118 7. Aravis di Tashbaan 135 8. Dalam Rumah Tisroc 155 9. Melintasi Padang Pasir 173 10. Pertapa Perbatasan Selatan 194 11. Teman Seperjalanan yang Tidak Diinginkan 214 12. Shasta di Narnia 234 13. Pertempuran di Anvard 254 14. Ketika Bree Menjadi Kuda yang Lebih Bijak 274 15. Rabadash yang Konyol 293
    • a eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's BAB 1 Bagaimana Shasta Memulai Perjalanannya I NI kisah petualangan yang terjadi di Narnia, Calormen, dan tanah yang berada di antara keduanya, pada zaman keemasan ketika Peter merupakan Raja Agung Narnia dan adik laki- laki juga dua adik perempuannya menjadi raja dan ratu di bawah pimpinannya. Di masa-masa itu, jauh ke arah selatan di Calormen, di pantai kecil lautnya, hiduplah nelayan bernama Arsheesh. Dan tinggal ber- samanya di sana, anak laki-laki yang memang- gilnya Ayah. Nama anak itu Shasta. Pada sebagian besar hari, Arsheesh pergi di pagi hari dengan kapalnya untuk menangkap ikan, dan pada siang hari dia mengikat keledainya pada gerobak dan mengisi gerobak itu dengan ikan, lalu pergi sekitar satu mil atau lebih ke 11
    • arah selatan menuju desa untuk menjualnya. Kalau penjualannya bagus dia akan pulang dengan suasana hati yang cukup baik dan tidak mengatakan apa-apa pada Shasta. Tapi kalau penjualannya buruk, dia akan mencari- cari kesalahan anak itu dan bahkan memukul- nya. Selalu ada kesalahan yang bisa ditemukan karena Shasta punya banyak pekerjaan: mem- perbaiki dan mencuci jaring, memasak makan malam, dan membersihkan rumah kecil tempat mereka berdua hidup. Shasta sama sekali tidak tertarik pada apa pun yang ada di bagian selatan rumahnya karena sudah pernah sekali atau dua kali pergi ke desa bersama Arsheesh, dan tahu tidak ada yang terlalu menarik di sana. Di desa dia hanya bertemu para pria lain yang persis ayah- nya—pria-pria dengan jubah panjang dan kotor, sepatu yang bagian ibu jarinya melengkung ke atas, juga turban di kepala mereka, kemudian wajah mereka yang ditumbuhi janggut. Mereka akan berbicara satu sama lain dengan suara yang perlahan sekali tentang hal-hal yang ter- dengar membosankan. Tapi dia sangat tertarik pada segala hal yang terdapat di utara karena tidak ada yang pernah pergi ke arah sana, dan dia sendiri juga tidak pernah diizinkan pergi 12
    • ke sana. Saat dia duduk di luar sambil memper- baiki jaring, sendirian, dia sering kali menatap penuh minat ke arah utara. Tidak seorang pun yang bisa melihat apa-apa di sana kecuali lereng penuh rumput yang menurun hingga dataran tinggi yang datar, dan di balik itu tampak langit dengan mungkin beberapa bu- rung yang sedang terbang di sana. Terkadang bila Arsheesh ada di situ Shasta akan berkata, "O ayahku, ada apakah di sana di balik bukit?" Kemudian kalau suasana hati sang nelayan sedang buruk dia akan menjewer telinga Shasta dan menyuruhnya melanjutkan pekerjaan. Atau kalau suasana hatinya sedang damai dia akan berkata, "O putraku, jangan biarkan benakmu dialihkan pertanyaan-per- tanyaan tak berguna. Karena ada pujangga yang pernah berkata, 'Penerapan bisnis merupa- kan akar kemakmuran, tapi mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang se- benarnya bukanlah urusan mereka, sama saja dengan menakhodai kapal kebodohan menuju karang kemiskinan'." Shasta menduga di balik bukit itu pasti ada rahasia menakjubkan yang ingin disembunyikan ayahnya dari dirinya. Namun kenyataannya, si nelayan berbicara seperti ini karena dia sendiri 13
    • sebenarnya tidak tahu apa yang terdapat di utara. Ataupiw peduli soal ini. Cara berpikirnya praktis sekali. Suatu hari datanglah dari selatan seorang asing yang sama sekali tidak seperti pria mana pun yang pernah Shasta lihat sebelumnya. Dia mengendarai kuda kuat yang tubuhnya ber- bintik-bintik, surai juga ekornya menjuntai indah, dan sanggurdi serta tali kekangnya di- lapisi perak. Tanduk topi bajanya mencuat keluar dari dalam turban sutranya dan pria itu mengenakan kemeja yang terbuat dari rang- kaian rantai besi. Di bagian samping tubuhnya bergantung pedang melengkung, dan tergantung di punggungnya, perisai bulat yang dipenuhi relief kuningan. Tangan kanannya menceng- keram tombak. Wajahnya gelap, tapi ini tidak mengejutkan Shasta karena semua orang dari Calormen memang berpenampilan seperti itu, tapi yang membuatnya terperangah adalah jang- gut pria itu yang diwarnai merah tua, meleng- kung dan mengilap karena minyak wewangian. Tapi Arsheesh tahu dari perhiasan emas di lengan telanjang orang asing itu bahwa dia Tarkaan atau bangsawan besar, sehingga si nelayan pun berlutut di depan pria tersebut hingga janggutnya menyentuh bumi, dan mem- beri sinyal ke Shasta untuk ikut berlutut. 14
    • Sang orang asing menuntut kesediaan Arsheesh membiarkannya bermalam dan tentu saja si nelayan tidak berani berkata tidak. Segala makanan terbaik yang mereka miliki 15
    • langsung disajikan di hadapan sang Tarkaan untuk makan malam (dan dia tidak tampak terlalu terkesan dengan sajian itu). Lalu Shasta, seperti biasa yang terjadi bila si nelayan ke- datangan tamu, diberi sepotong roti dan di- suruh pergi ke luai pondok. Di saat-saat seperti ini biasanya dia akan tidur dengan keledai di istal kecil beratap rumbianya. Tapi saat itu masih terlalu sore untuk tidur, dan Shasta, yang belum pernah diajari bahwa tidak baik mendengarkan pembicaraan dari balik pintu, duduk dengan telinga ditempelkan ke celah dinding kayu pondok untuk mendengarkan apa yang dibicarakan para pria dewasa itu. Dan inilah yang dia dengar: "Dan kini, O tuan rumahku," kata si Tarkaan, "aku berminat membeli anak lelakimu itu." "O tuanku," jawab si nelayan (dan Shasta tahu dari nada membujuk saat Arsheesh me- ngatakan ini, bahwa wajah pria itu pasti kini mulai dihiasi tampang tamak), "seberapa besar harga yang bisa menundukkan hambamu, wa- lau semiskin apa pun dia, untuk menjual anak satu-satunya dan darah dagingnya sendiri men- jadi budak? Bukankah pernah ada pujangga yang berkata, 'Rasa kasih sayang alami lebih 16
    • kental daripada sop, dan anak lebih berharga daripada arang'?" "Mungkin memang begitu," jawab sang tamu datar. "Tapi pujangga lain juga pernah berkata, 'Dia yang berusaha mengelabui seorang bijak sama saja membuka lebar punggungnya untuk cambukan'. Janganlah penuhi mulut rentamu dengan kebohongan. Anak itu jelas-jelas bukan- lah anak kandungmu, karena pipimu sehitam milikku sementara pipi anak itu sebersih dan seputih orang-orang barbar yang terkutuk na- mun cantik yang mendiami daerah Utara yang terpencil." "Betapa benarnya kalau begitu," jawab si nelayan, "bahwa pedang bisa dihalangi perisai, namun mata kebijakan menusuk dalam, me- nembus segala pertahanan! Ketahuilah kalau begitu, O tamuku yang terhormat, karena ke- miskinanku yang teramat sangat aku tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Tapi di tahun yang sama saat Tisroc (semoga dia selamanya kekal) memulai kekuasaannya yang agung dan dermawan, pada malam bulan pur- nama, para dewa bersenang-senang dengan mengusik tidurku. Karena itulah aku bangkit dari tempat tidur dan keluar dari gubuk ini, berjalan menuju pantai untuk menyegarkan diri 17
    • dengan menatap permukaan air dan bulan, menghirup dalam-dalam udara yang sejuk. Tak lama kemudian aku mendengar suara seolah ada orang mendayung mendekatiku menyebe- rangi air lalu, di sana, terdengar tangisan pelan. Beberapa saat kemudian, air pasang membawa perahu kecil ke daratan yang di dalamnya tidak apa pun kecuali seorang pria, tergeletak tak berdaya karena dikuasai kelaparan dan kehausan yang luar biasa. Tampaknya dia baru saja mati beberapa detik lalu (karena tubuhnya masih hangat). Lalu ada penyimpan air dari kulit yang kosong juga seorang bocah, masih bernapas. 'Tak diragukan lagi,' kataku, 'makhluk-makhluk malang ini telah menyela- matkan diri dari kapal besar yang karam, tapi sesuai rencana besar para dewa, manusia yang dewasa telah membiarkan dirinya kelaparan demi mempertahankan nyawa sang anak, lalu tak mampu bertahan walau telah melihat da- ratan.' Tentu saja sepantasnya, mengingat bagai- mana para dewa tidak pernah luput memberi pahala kepada mereka yang menolong orang- orang yang tertimpa kemalangan, dan karena tergerak rasa belas kasihan (karena hambamu ini pria berhati lembut)—" "Hilangkan kata-kata kosong yang memuji 18
    • dirimu sendiri itu," potong sang Tarkaan. "Su- dah cukup bagiku untuk tahu kau telah mengambil anak itu—dan mendapatkan ke- untungan sebesar sepuluh kali lipat jatah san- tapan roti sehari-hari milik anak itu karena jerih payahnya, seperti yang bisa dilihat semua orang. Dan sekarang segeralah katakan padaku berapa kau memasang harga untuk dirinya, karena aku sudah lelah dengan kecerewetan- mu." "Anda sendiri yang dengan bijaksananya te- lah berkata," jawab Arsheesh, "bahwa jerih payah anak itu memiliki harga yang tak ternilai bagi diriku. Kenyataan ini harus ikut dipertim- bangkan saat menentukan harga. Karena jika aku menjual anak itu, sudah pasti aku harus membeli atau menyewa orang lain untuk me- lakukan pekerjaannya." "Aku akan memberimu lima belas crescent untuk anak itu," kata sang Tarkaan. "Lima belas!" teriak Arshessh dengan suara yang terdengar seperti erangan dan jeritan. "Lima belas! Untuk tiang penyangga masa tuaku dan cahaya mataku! Janganlah kau mengejek janggut berubanku, walau kau se- orang Tarkaan. Hargaku adalah tujuh puluh." Pada saat ini Shasta bangkit dan berjalan 19
    • berjingkat menjauh. Dia telah mendengar semua yang ingin didengarnya, karena dia telah sering kali mendengar orang-orang tawar : menawar di desa dan tahu bagaimana prosesnya. Dia cukup yakin Arshessh akhirnya akan menjualnya un- tuk sejumlah uang yang lebih daripada lima belas crescent tapi kurang daripada tujuh puluh, namun Arsheesh dan sang Tarkaan bakal mem- butuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai kesepakatan. Kau tidak boleh membayangkan Shasta sama sekali merasakan perasaan yang akan kau dan aku rasakan bila kita baru saja mendengar orangtua kita berniat menjual diri kita sebagai budak. Di satu pihak, hidupnya tidak jauh lebih baik daripada hidup budak, malah sejauh yang dia tahu bisa saja orang asing yang anggun itu bakal bersikap lebih baik kepadanya daripada Arsheesh. Di lain pihak, kisah pe- nemuan dirinya di perahu telah memenuhi diri- nya dengan semangat dan kelegaan. Hingga kini dia sering kali merasa tidak tenang karena, walaupun berusaha sekeras mungkin, dia tidak mampu menyayangi si nelayan, padahal dia tahu seorang anak seharusnya menyayangi ayahnya. Dan kini, ternyata, dia tidak punya hubungan apa pun dengan Arsheesh. Penge- 20
    • tahuan ini mengangkat beban berat dari benak- nya. Wah, aku bisa jadi siapa saja! pikirnya. Malah bisa jadi aku anak seorang Tarkaan— atau anak Tisroc (semoga dia selamanya ke- kal)—atau anak dewa! Shasta berdiri di daerah yang ditumbuhi rerumputan di depan pondok sementara me- mikirkan semua ini. Berkas sinar matahari mu- lai menghilang dengan cepat dan satu atau dua bintang telah muncul, tapi sisa matahari terbenam masih dapat dilihat di ufuk barat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, kuda sang orang asing, yang diikat longgar pada cincin besi yang terpaku di dinding istal keledai, sedang menyantap rumput. Shasta berjalan menghampirinya dan menepuk lehernya. Hewan tersebut terus mencabik rumput tanpa memer- hatikan anak itu. Kemudian pikiran lain muncul di pikiran Shasta. "Kira-kira pria macam apa si Tarkaan itu ya?" tanyanya keras-keras. "Pasti bagus sekali kalau dia baik hati. Beberapa budak di rumah penguasa besar nyaris tidak memiliki tugas yang harus dikerjakan. Mereka mengena- kan pakaian indah dan memakan daging setiap hari. Mungkin dia akan mengikutsertakan aku ke dalam perang, lalu aku akan menyelamatkan 21
    • nyawanya dalam suatu pertempuran, kemudian dia akan membebaskanku dan mengangkatku menjadi anaknya, memberiku istana, kereta kuda, dan baju zirah. Tapi bisa juga dia pria kejam yang mengerikan. Dia mungkin bakal menyuruhku bekerja di ladang dengan ikatan terantai. Kalau saja aku bisa tahu. Tapi bagai- mana caranya? Aku berani bertaruh kuda ini tahu, kalau saja dia bisa memberitahuku." Sang kuda mengangkat kepalanya. Shasta mengelus hidungnya yang selembut satin dan berkata, "Kalau saja kau bisa berbicara, teman tua." Kemudian sesaat dia mengira dia sedang bermimpi karena dengan cukup jelas, walaupun dengan suara pelan, sang kuda berkata, "Tapi aku memang bisa." Shasta memandang mata besar hewan itu dan matanya pun melebar hingga nyaris sebesar mata sang kuda, terpukau. "Bagaimana kau bisa belajar bicara?" "Sstt! Jangan keras-keras," jawab sang kuda. "Di tempat asalku, nyaris semua hewan bisa berbicara." "Di mana itu?" tanya Shasta. "Narnia," jawab sang kuda. "Tanah penuh kebahagiaan Narnia—Narnia yang dihiasi pe- 22
    • gunungan dengan hutan heather dan daratan rendah dengan sesemakan thyme. Narnia tern- pat banyak sungai, lembah-lembah sempit ber- mata air, gua-gua berlumut, dan hutan-hutan lebat yang berdenting karena ayunan palu para dwarf. Oh, udara segarnya Narnia! Satu jam hidup di sana lebih baik daripada seribu tahun di Calormen." Kisah ini berakhir dengan ring- kikan yang terdengar begitu mirip dengan ke- sahan napas. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Shasta. "Diculik," jawab si kuda. "Atau dicuri, atau ditangkap—terserah kau mau menyebutnya apa. Saat itu aku masih kanak-kanak. Ibuku mem- peringatkanku untuk tidak pergi ke daerah lereng selatan, menuju Archenland dan lebih jauh lagi, tapi aku tidak mendengarkannya. Dan demi surai sang singa, aku telah membayar kebodohanku. Bertahun-tahun ini aku telah menjadi budak bagi para manusia, menyem- bunyikan kemampuanku yang sebenarnya, dan berpura-pura menjadi bodoh dan tak berakal seperti kuda-kuda mereka." "Kenapa kau tidak memberitahu mereka siapa dirimu sebenarnya?" "Aku tidak sebodoh itu, itulah sebabnya. 23
    • Sekali mereka tahu aku bisa berbicara, mereka akan menjadikanku bahan pertunjukan di kar- naval dan semakin ketat menjagaku. Kesem- patan terakhirku untuk melarikan diri akan lenyap sama sekali." "Dan kenapa—" Shasta memulai, tapi si kuda memotongnya. "Sekarang begini," katanya, "kita tidak boleh membuang-buang waktu untuk pertanyaan- pertanyaan tak berguna. Kau ingin tahu tentang majikanku Tarkaan Anradin. Nah, dia jahat. Tidak terlalu jahat kepadaku, karena harga yang harus dibayar akan terlalu mahal bila kau memperlakukan kuda perangmu dengan buruk. Tapi lebih baik kau terbujur mati malam ini daripada menjadi budak manusia di rumah- nya besok." "Kalau begitu sebaiknya aku melarikan diri," kata Shasta, wajahnya memucat. "Ya, sebaiknya begitu," kata si kuda. "Tapi kenapa tidak melarikan diri bersamaku?" "Apakah kau berniat kabur juga?" tanya Shasta. "Ya, kalau kau mau pergi bersamaku," jawab si kuda. "Ini kesempatan untuk kita berdua. Begini, kalau aku kabur tanpa penung- gang, semua orang yang melihatku akan me- 24
    • ngatakan 'Kuda yang tersesat' dan akan rae- ngejarku secepat yang mereka bisa. Dengan penunggang, aku bakal punya kesempatan un- tuk lolos. Kau bisa membantuku dalam hal itu. Di lain pihak, kau tidak bisa pergi jauh dengan dua kaki konyolmu (kaki manusia benar-benar lemah!) tanpa berhasil dikejar. Tapi bersamaku kau akan bisa pergi lebih jauh daripada dengan kuda lain di negeri ini. Di situ aku bisa membantumu. Omong-omong, kau tahu cara mengendarai kuda, kan?" "Oh ya, tentu saja," jawab Shasta. "Setidak- nya aku pernah mengendarai keledai." "Mengendarai apa?" ulang si kuda dengan rasa muak luar biasa. (Setidaknya, dia berniat menyuarakan itu. Tapi kenyataanya yang ter- dengar hanya semacam ringkikan tinggi—"Me- ngendarai aph-pha-pha-pha-pha?" Kuda-kuda yang bisa berbicara selalu menjadi sangat ke- kudaan cara bicaranya ketika mereka marah.) "Dengan kata lain," dia melanjutkan, "kau tidak bisa berkuda. Ini kemunduran. Aku harus mengajarknu sambil jalan nanti. Kalau kau tidak bisa berkuda, apakah kau mampu ja- tuh?" "Kurasa semua orang bisa jatuh," jawab Shasta. 25
    • "Maksudku apakah kau bisa jatuh tapi lalu bangkit lagi tanpa menangis, dan naik lagi, jatuh lagi, namun tidak menjadi takut jatuh?" "Ak-aku akan berusaha," kata Shasta. "Makhluk kecil yang malang," kata si kuda dengan nada yang lebih lembut. "Aku lupa kau barulah kanak-kanak. Sejalan dengan wak- tu kita akan menjadikanmu pengendara kuda yang hebat. Dan sekarang—kita harus me- nunggu sampai dua manusia di pondok itu tertidur. Sementara itu kita bisa membuat ren- cana. Tarkaan-ku sedang dalam perjalanan ke Utara menuju kota besar, kota Tashbaan yang terkenal dan istana Tisroc—" "Astaga," potong Shasta dengan suara yang agak tercengang, "bukankah seharusnya kau mengatakan 'Semoga dia selamanya kekal'?" "Kenapa harus?" tanya si kuda. "Aku warga Narnia yang bebas. Dan kenapa aku harus berbicara seperti para budak dan orang bodoh? Aku tidak menginginkannya hidup selama-lama- nya, dan aku tahu dia tidak akan hidup selamanya tak peduli aku berharap begitu atau tidak. Dan aku bisa melihat kau juga berasal dari tanah Utara yang bebas juga. Jangan pernah ungkit ucapan-ucapan khas Selatan ini di antara kita! Dan sekarang, kembali kepada 26
    • rencana kita. Seperti yang kukatakan tadi, ma- nusiaku sedang dalam perjalanan ke utara menuju Tashbaan." "Apakah itu berarti kita sebaiknya pergi ke selatan?" "Kurasa tidak," kata si kuda. "Begini, dia pikir aku bodoh dan tak berakal seperti kuda- kuda lain. Nah, kalau aku memang benar- benar begitu, di saat aku terlepas, aku akan kembali ke istal dan kandangku, kembali ke istananya yang terletak dua hari perjalanan ke arah selatan. Dia akan mencariku di sana. Dia tidak akan pernah membayangkan aku pergi ke utara sendirian. Lagi pula dia mungkin akan mengira ada seseorang di desa terakhir yang melihatnya berkuda melewati mereka telah mengikuti kami ke sini dan mencuriku." "Oh, hore!" ucap Shasta. "Kalau begitu kita akan pergi ke arah utara. Sepanjang hidup- ku aku selalu ingin pergi ke Utara." "Tentu saja begitu," kata si kuda. "Itu karena darah yang mengalir dalam tubuhmu. Aku yakin kau orang Utara tulen. Tapi jangan keras-keras. Menurutku mereka tak lama lagi akan terlelap." "Mungkin sebaiknya aku berjingkat ke sana dan memeriksa," saran Shasta. 27
    • "Itu ide yang bagus," kata si kuda. "Tapi berhati-hatilah supaya tidak tertangkap." Saat ini suasana sudah lebih gelap dan sunyi kecuali karena suara ombak di pantai, yang tidak terlalu diperhatikan Shasta berhubung dia sudah mendengarnya siang dan malam sepanjang yang bisa dia ingat. Pondok itu, saat dia mendekat ke sana, tampak gelap gulita. Ketika menajamkan telinga di bagian depan pondok, dia tidak mendengar apa-apa. Ketika dia berputar untuk mendekati satu-satunya jen- dela di sana, dia bisa mendengar, setelah satu atau dua detik, suara dengkuran nyaring si nelayan tua yang familier. Lucu juga memikir- kan bila segala rencana berjalan lancar, dia tidak akan pernah mendengar suara itu lagi. Sambil menahan napas dan merasa sedikit se- dih, tapi tidak terlalu sedih bila dibandingkan rasa lega, Shasta berjalan pelan melewati rerum- putan dan pergi ke istal keledai, lalu merogoh- rogoh tempat yang setahunya biasa dijadikan tempat menyembunyikan kunci, membuka pintu dan menemukan sadel dan tali kekang si kuda yang dikunci di sana malam ini. Dia mem- bungkuk dan mencium hidung si keledai. "Maaf ya kami tidak bisa mengajakmu," kata- nya. 28
    • "Akhirnya kau datang juga," kata si kuda ketika Shasta kembali ke dekatnya. "Aku mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi padamu." "Aku mengambil barang-barangmu di istal dulu," ucap Shasta. "Nah sekarang, bisakah kau memberitahuku cara memasang semua ini?" Selama beberapa menit kemudian Shasta pun sibuk, sangat berhati-hati untuk tidak menim- bulkan suara berdenting, sementara si kuda mengatakan hal-hal seperti, "Pasang pengaman itu lebih tinggi lagi" atau "Kau akan menemu- kan sabuk pengaitnya di bagian bawah" atau "Kau harus memendekkan pijakan kakinya se- dikit." Ketika semua persiapan selesai, si kuda berkata: "Sekarang, kita harus memasang tali kekang supaya penampilan kita meyakinkan, tapi kau tidak akan menggunakannya. Ikat saja di ba- gian depan sadel: sangat longgar supaya aku bisa menggerakkan kepalaku dengan bebas. Dan ingat—kau tidak boleh menyentuhnya." "Kalau begitu apa gunanya?" tanya Shasta. "Biasanya tali itu untuk mengarahkanku," jawab si kuda. "Tapi karena aku berniat me- lakukan seluruh pengarahan dalam perjalanan ini, tolong simpan tanganmu untuk dirimu 29
    • sendiri. Lalu ada satu hal lagi. Kau tidak boleh mencengkeram suraiku." "Tapi," Shasta memohon. "Kalau aku tidak boleh berpegangan pada tali kekang ataupun suraimu, aku harus berpegangan pada apa?" "Berpeganganlah pada lututmu," kata si kuda. "Itu rahasianya mengendarai kuda de- ngan baik. Jepit tubuhku dengan kedua lututmu sekeras yang kaumau, duduklah dengan tegak, setegak tongkat, masukkan siku lenganmu. Omong-omong, kauapakan tajinya?" "Mengenakannya di mata kakiku tentu saja," jawab Shasta. "Kalau hanya itu aku sudah tahu." "Kalau begitu, lepaskan dan masukkan ke kantong sadel. Kita mungkin akan bisa men- jualnya sesampainya kita di Tashbaan. Siap? Dan sekarang kurasa kau bisa naik." "Ooh! Kau tinggi sekali," Shasta terperangah setelah usaha pertamanya gagal. "Aku hanya kuda, itu saja," adalah jawaban yang diterimanya. "Siapa pun akan mengira aku ini gundukan jerami dari cara kau berusaha menaikiku! Nah, begitu lebih baik. Sekarang duduklah baik-baik dan ingat ucapanku soal lututmu. Aneh juga memikirkan aku yang telah memimpin serangan-serangan kaveleri dan me- 30
    • menangkan berbagai perlombaan kini harus bersabar dengan karung kentang sepertimu di atas sadelku! Bagaimanapun, kita berangkat." Si kuda terkekeh, tidak dengan nada meleceh- kan. Dan si kuda benar-benar memulai perjalanan malam mereka dengan sangat berhati-hati. Awalnya dia bergerak ke arah selatan pondok si nelayan menuju sungai kecil yang mengarah ke laut, lalu dengan sengaja meninggalkan jejak kaki yang sangat jelas yang mengarah ke se- latan. Tapi segera setelah mereka berada di tengah sungai yang dangkal, dia berbalik ber- derap menentang aliran sungai dan terus ber- jalan di dalam sungai sampai mereka berada sekitar seratus meter lebih jauh ke arah daratan daripada pondok si nelayan. Kemudian dia memilih bagian sungai yang berbatu-batu su- paya tidak meninggalkan jejak dan keluar di bagian utara. Lalu, masih dengan derapan biasa, dia mengarah ke utara sehingga pondok itu, sebatang pohon yang tumbuh di sana, istal keledai, dan sungai kecil—bahkan segala yang pernah dikenal Shasta—lenyap dari pan- dangan dalam kegelapan kelabu malam musim panas. Mereka terus mendaki bukit dan kini berada di puncaknya—puncak bukit yang selalu 31
    • menjadi batas dunia yang diketahui Shasta. Dia tidak bisa melihat apa yang ada di baliknya kecuali tahu daerah itu terbuka dan berumput. Daerah itu tampak tak berujung: liar, sunyi, dan bebas. "Wah!" si kuda melemparkan pandangan. "Benar-benar tempat yang cocok untuk berpacu, ya kan?" "Oh, jangan," kata Shasta. "Jangan dulu. Aku tidak tahu cara—kumohon, Kuda. Aku belum tahu namamu." "Breehy-hinny-brinny-hoohy-hah," kata si kuda. "Aku tidak akan pernah bisa melafalkan itu," kata Shasta. "Bolehkah aku memanggilmu Bree?" "Yah, kalau memang hanya segitu yang kau bisa, kurasa boleh juga," kata si kuda. "Dan dengan nama apa aku bisa memanggilmu?" "Namaku Shasta." "Hm," kata Bree. "Nah, ini baru nama yang benar-benar sulit diucapkan. Tapi sekarang soal berpacu ini. Sebenarnya, kalau saja kau tahu, itu jauh lebih mudah daripada berlari kecil, karena tubuhmu tidak perlu naik dan turun. Jepit tubuhku dengan lututmu dan pa- sang matamu supaya tetap lurus ke depan di 32
    • antara telingaku. Jangan lihat ke bawah. Kalau kau merasa bakal jatuh, jepitlah lebih keras dan duduklah lebih tegak. Siap? Sekarang: menuju Narnia dan negeri Utara." 33
    • a eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's BAB 2 Petualangan Selama Perjalanan S AAT itu nyaris tengah hari di hari berikut- nya ketika Shasta terbangun karena sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh wajahnya. Dia membuka mata dan mendapati dirinya menatap lekat wajah panjang seekor kuda, hidung dan bibirnya nyaris menyentuh wajah- nya. Dia pun teringat pada berbagai kejadian menarik di malam sebelumnya dan duduk te- gak. Tapi saat melakukan itu, dia pun menge- rang. "Auw, Bree," katanya sambil terengah. "Tu- buhku sakit sekali. Seluruhnya. Aku nyaris tidak bisa bergerak." "Selamat pagi, makhluk kecil," kata Bree. "Aku sempat khawatir kau mungkin akan me- rasa agak kaku. Tapi pastinya itu bukan karena jatuhmu. Kau kan tidak terjatuh lebih dari 34
    • sekitar selusin kali, lagi pula kau terjatuh pada tanah berumput yang indah, lembut, dan mem- bal sehingga nyaris menyenangkan bila bisa terjatuh di sana. Dan satu kali jatuh yang bisa saja jadi terburuk malah terbantu dengan semak gorse. Tidak: justru kegiatan berkuda itulah yang awalnya terasa berat. Bagaimana dengan sarapan? Aku sudah makan." "Oh, siapa yang peduli pada sarapan. Siapa yang peduli pada apa pun," kata Shasta. "Ku- katakan padamu aku tidak bisa bergerak." Tapi si kuda mendorong-dorong tubuh Shasta dengan hidungnya dan menyepaknya lembut dengan salah satu kakinya sampai anak itu harus bangun. Kemudian Shasta memandang ke sekelilingnya dan melihat di mana mereka sekarang berada. Di belakang mereka tumbuh semak kecil. Di depan mereka semak lebat, di sana-sini tampak bunga putih di dalamnya, menukik turun hingga ke ujung tebing. Jauh di bawah mereka, sehingga suara ombak yang memecah terdengar begitu samar, terbentang laut. Shasta belum pernah melihat laut dari ketinggian seperti itu dan tidak pernah melihat- nya begitu luas sebelumnya, ataupun mem- bayangkan betapa banyak warna yang dimiliki- nya. Ke segala arah pantai terbentang luas, 35
    • tanjung demi tanjung, dan pada ujung-ujungnya kau bisa melihat buih putih menari di bebatuan tapi tak menimbulkan sedikit pun suara karena semua itu terjadi begitu jauh. Tampak camar- camar terbang di langit dan panas menyusup hingga ke tanah. Hari itu cerah sekali. Tapi yang paling diperhatikan Shasta adalah udara- nya. Dia tidak bisa menebak apa yang tidak ada, sampai akhirnya dia menyadari tidak ada bau ikan di dalamnya. Karena tentu saja, baik di dalam pondok maupun di antara jala ikan, dia tidak pernah bisa melepaskan diri dari bau itu sepanjang hidupnya. Dan udara baru ini begitu nikmat, dan seluruh hidup terdahulunya seakan begitu jauh, sehingga sesaat dia lupa pada memar-memar serta otot-ototnya yang nyeri dan berkata: "Oh ya, Bree, kau mengatakan sesuatu ten- tang sarapan?" "Ya, memang," jawab Bree. "Kurasa kau akan menemukan sesuatu dalam kantong sadel. Sadelnya ada di sana, di pohon tempat kau menggantungnya kemarin malam—atau mung- kin lebih tepatnya, dini hari tadi." Mereka memeriksa kantong sadel dan hasil- nya menggembirakan—pai daging, hanya sedikit basi, sepotong buah sejenis pir kering, dan 36
    • sebongkah keju hijau, sewadah kecil anggur, dan sejumlah uang: sekitar empat puluh crescent secara keseluruhan, jumlah yang lebih banyak daripada yang biasa Shasta lihat. Sementara Shasta duduk—penuh rasa sakit dan berhati-hati—dengan punggung bersandar ke pohon dan mulai menyantap painya, Bree melahap beberapa suap rumput lagi untuk me- nemani anak itu makan. "Apakah menggunakan uang ini tidak akan sama saja dengan mencuri?" tanya Shasta. "Oh," kata si kuda, mendongak dengan mulut penuh rumput, "aku tidak pernah rae- mikirkan itu. Kuda yang bebas dan bisa ber- bicara seharusnya tidak boleh mencuri, tentu saja. Tapi kurasa tidak apa-apa. Kita kan tawanan dan pelarian di negeri musuh. Uang itu pampasan perang, uang kotor. Lagi pula, bagaimana kita akan bisa mendapatkan ma- kanan untukmu tanpanya? Kurasa, seperti se- mua manusia, kau tidak akan mau makan makanan alami seperti rumput dan gandum." "Aku tidak bisa." "Pernah mencoba?" "Ya, pernah. Aku sama sekali tidak bisa menelannya. Kau juga tidak bakal bisa kalau jadi diriku." 37
    • "Kalian makhluk-makhluk kecil yang aneh, kalian para manusia," komentar Bree. Ketika Shasta telah menyelesaikan sarapannya (yang tentu saja sarapan terlezat yang pernah dimakannya), Bree berkata, "Kurasa aku akan berguling-guling dulu sebentar sebelum kita me- masang sadel itu lagi." Lalu dia pun melakukan itu. "Enak sekali. Nah, sangat nikmat," katanya sambil menggosok-gosokkan punggungnya ke semak lebat dan menjulurkan keempat kakinya ke udara. "Kau harus mencobanya juga, Shasta," dia mendengus. "Ini menyegarkan se- kali." Tapi Shasta malah tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kau kelihatan aneh sekali kalau telentang begitu!" "Tidak mungkin aku kelihatan aneh," kata Bree. Tapi kemudian mendadak dia berguling ke samping tubuhnya, mengangkat kepala, dan menatap lekat Shasta. Napasnya sedikit ter- engah-engah. "Benarkah aku tampak aneh?" tanyanya de- ngan suara gelisah. "Ya, begitulah," jawab Shasta. "Tapi me- mangnya kenapa?" "Apakah menurutmu," kata Bree, "tindakan tadi adalah sesuatu yang tidak pernah dilaku- 38
    • kan kuda yang bisa bicara—melainkan ke- biasaan konyol dan bodoh yang kupelajari dari kuda-kuda lain? Akan memalukan bila aku mendapati, saat kembali ke Narnia, bahwa aku telah mengambil banyak kebiasaan rendah dan buruk. Bagaimana menurutmu, Shasta? Jujurlah. Tidak perlu merasa perlu menjaga perasaanku. Apakah menurutmu kuda-kuda be- bas sungguhan—jenis yang bisa bicara—ber- guling?" "Mana aku tahu? Lagi pula menurutku aku tidak akan terlalu memusingkannya kalau aku jadi dirimu. Yang penting adalah sampai ke sana dulu. Kau tahu jalannya?" "Aku tahu jalan menuju Tashbaan. Setelah itu akan ada padang pasir. Oh, kita pasti akan bisa mengatasi padang pasir itu, jangan kha- watir. Dan setelah itu kita akan bisa melihat pegunungan di negeri Utara. Bayangkan! Me- nuju Narnia dan negeri Utara! Pada saat itu tidak akan ada yang bisa menghentikan kita. Tapi aku akan merasa lebih tenang bila kita sudah melewati Tashbaan. Kau dan aku akan lebih aman bila jauh dari kota-kota." "Tidak bisakah kita menghindarinya?" "Tidak tanpa melalui jalan darat yang lebih jauh, dan itu akan membawa kita ke ladang- 39
    • ladang yang telah ditanami dan jalan-jalan utama, lagi pula aku tidak akan tahu jalan. Tidak, kita hanya harus berjalan di sepanjang pantai. Di atas sini, di perbukitan, kita hanya akan menemui domba, kelinci, camar, dan be- berapa penggembala. Omong-omong, bagai- mana kalau kita memulai perjalanan lagi?" Kaki-kaki Shasta terasa nyeri saat dia me- masang sadel Bree dan memanjat untuk menaiki sadel tersebut, tapi si kuda bersikap baik pada- nya dan berjalan pelan sepanjang siang itu. Saat temaram malam datang mereka keluar dari jalan setapak yang curam memasuki lem- bah dan menemukan sebuah desa. Sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke dalam desa, Shasta turun dan masuk sambil berjalan kaki untuk membeli sebatang roti, beberapa bawang bombai, dan lobak. Si kuda berlari kecil me- mutari ladang dan masuk ke daerah remang, lalu bertemu Shasta di sisi jauh ladang tersebut. Ini menjadi siasat rutin mereka setiap dua hari sekali. Hari-hari itu merupakan saat-saat yang meng- gembirakan bagi Shasta, dan setiap hari terasa lebih baik daripada sebelumnya ketika otot- ototnya mengeras dan dia lebih jarang terjatuh. Namun bahkan di akhir masa latihannya, Bree 40
    • masih berkata anak itu duduk seperti karung terigu di atas sadel. "Dan bahkan kalaupun aman bagimu, anak muda, aku tetap akan malu terlihat bersamamu di jalan utama." Tapi walau sering mengucapkan kata-kata kasar, Bree guru yang sabar. Tidak ada yang bisa mengajar cara berkuda sebaik seekor kuda. Shasta belajar menunggang saat Bree berlari kecil, berpacu, melompat, dan tetap berada di tempat duduk- nya bahkan di saat Bree berhenti mendadak, atau tanpa terduga mengayunkan tubuh ke kiri atau ke kanan—yang menurut Bree adalah gerakan yang mungkin harus kaulakukan di saat seperti apa pun dalam pertempuran. Kemu- dian tentu saja Shasta akan memohon dicerita- kan tentang berbagai pertempuran dan perang yang pernah dialami Bree sambil membawa si Tarkaan. Dan Bree akan mengisahkan dirinya yang dipaksa berbaris maju bersama pasukan, menyeberangi sungai-sungai deras, tentang gempuran-gempuran dan pertempuran dahsyat antara kavaleri dengan kavaleri, ketika kuda- kuda perang bertempur sekeras manusia. Semua kuda jantan tangguh dilatih untuk menggigit dan menendang, juga untuk mengangkat kedua kaki depan di saat yang tepat sehingga berat tubuh si kuda maupun penunggangnya akan 41
    • menghantam topi baja musuh waktu pedang atau kapak perang diayunkan. Tapi Bree tidak ingin membicarakan perang sesering Shasta ingin mendengarkan. "Jangan ungkit-ungkit itu lagi, anak muda," Bree akan berkata. "Semua itu cuma perang Tisroc dan aku berperang di dalamnya hanya sebagai budak dan makhluk bodoh. Berikan padaku perang demi Narnia dan aku akan bertarung sebagai kuda bebas di antara kaumku sendiri! Perang seperti itulah yang pantas dibicarakan. Narnia dan negeri Utara! Bra-ha-ha! Broo hoo!" Tak lama kemudian Shasta belajar, ketika dia mendengar Bree berbicara seperti itu, untuk bersiap-siap berpacu. Setelah mereka berjalan selama berminggu- minggu, melewati lebih banyak teluk, tanjung, sungai, dan desa daripada yang bisa diingat Shasta, datanglah malam yang diterangi sinar rembulan ketika mereka memulai perjalanan di malam hari dan tidur di siang hari. Mereka telah melewati perbukitan di belakang mereka dan sedang menyeberangi daratan luas dengan hutan sekitar setengah mil jauhnya di sebelah kiri mereka. Mereka telah berlari sekitar sejam, terkadang berlari kecil dan terkadang sekadar berjalan, ketika Bree tiba-tiba berhenti. 42
    • "Ada apa?" tanya Shasta. "S-s-sst!" kata Bree, menjulurkan lehernya tinggi-tinggi, menoleh ke kiri dan kanan, dan mengedutkan telinganya. "Kau tidak mendengar sesuatu? Dengar." "Kedengarannya seperti kuda lain—di antara kita dan hutan itu," kata Shasta setelah me- najamkan pendengarannya sesaat. "Memang kuda lain," kata Bree. "Dan itulah yang tidak kusuka." "Mungkin hanya petani yang pulang sedikit terlambat?" kata Shasta sambil menguap. "Jangan meremehkanku!" kata Bree. "Itu bukan suara kereta petani. Ataupun kuda pe- tani. Tidak bisakah kau membedakan dari suaranya? Itu suara kualitas tinggi, kudanya pasti keturunan baik. Dan kuda itu dikendarai penunggang kuda sungguhan. Aku akan mem- beritahumu siapa itu, Shasta. Ada seorang Tarkaan di balik ujung hutan itu. Tidak dengan kuda perangnya—suaranya terlalu ringan untuk kuda perang. Aku berani bilang, kudanya kuda betina dari ras yang baik." "Yah, siapa pun itu, kini mereka berdua sudah berhenti," kata Shasta. "Kau benar," kata Bree. "Dan kenapa dia berhenti tepat pada saat kita berhenti? Shasta, 43
    • anakku, kurasa akhirnya ada juga yang me- nguntit kita." "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Shasta dalam bisikan yang lebih pelan daripada se- belumnya. "Apakah menurutmu dia bisa me- lihat dan mendengar kita?" "Tidak dalam pencahayaan seperti ini selama kita tetap bergeming," jawab Bree. "Tapi lihat! Bakal ada awan datang. Aku akan menunggu hingga awan itu menutupi bulan. Kemudian kita akan pergi ke arah kanan, sebisa mungkin tanpa suara, menuju pantai. Kita bisa bersem- bunyi di antara bukit-bukit pasir kalau keadaan terburuk sampai terjadi." Mereka menunggu hingga awan menyelimuti bulan, kemudian, awalnya dengan berjalan pe- lan lalu menjadi sedikit berlari kecil, mereka bergerak ke pantai. Awan yang datang ternyata lebih besar dan tebal daripada tampilan awalnya dan tak lama kemudian malam pun menjadi sangat kelam. Tepat ketika Shasta berkata pada dirinya sen- diri, saat ini kami pasti sudah dekat dengan bukit-bukit pasir itu, jantungnya melompat se- perti hendak keluar karena mendadak terdengar suara mengerikan dari kegelapan di depan: auman panjang mengerikan, melankolis, dan 44
    • sama sekali liar. Bree langsung berputar dan mulai berlari kencang menuju daratan secepat yang dia bisa. "Apa itu?" Shasta terperangah. "Singa!" jawab Bree tanpa mengurangi ke- cepatan lari maupun menolehkan kepala. Setelah itu tidak ada yang lain kecuali derap langkah cepat untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya mereka tercebur ke dalam aliran su- ngai yang luas dan dangkal, Bree pun berhenti di bagian pinggir seberangnya. Shasta menya- dari tubuh kuda itu gemetaran dan seluruhnya dibanjiri peluh. "Air itu mungkin bisa menghapus bau kita dari penciuman makhluk-makhluk buas itu," kata Bree sambil terengah ketika akhirnya dia agak bisa mengejar napas. "Kita bisa berjalan sedikit sekarang." Saat mereka berjalan Bree berkata, "Shasta, aku malu pada diriku sendiri. Aku merasa setakut kuda Calormen yang biasa dan bodoh. Sungguh. Aku sama sekali tidak merasa sebagai Kuda yang Bisa Berbicara. Aku tidak keberatan menghadapi pedang, tombak, dan panah, tapi aku tidak tahan pada—makhluk-makhluk itu. Kurasa sebaiknya aku sedikit berlari kecil." Namun beberapa menit kemudian, dia kem- 45
    • bali berlari kencang, tidak aneh sebenarnya. Karena auman itu terdengar lagi, kali ini dari sebelah kiri mereka dari arah hutan. "Ada dua ekor," erang Bree. Ketika mereka telah berpacu selama beberapa menit tanpa mendengar suara singa-singa lagi, Shasta berkata, "Astaga! Kuda lain itu kini berlari di samping kita. Hanya sejauh lemparan batu." "Lebih b-baik begitu," Bree terengah. "Tarkaan di atasnya—akan membawa pedang—dia akan melindungi kita." "Tapi, Bree!" kata Shasta. "Kalau tertangkap, nasib kita akan sama saja dengan bila dibunuh singa. Atau setidaknya aku yang akan bernasib sama. Mereka akan menggantungku karena mencuri kuda." Anak itu tidaklah setakut Bree pada singa-singa karena belum pernah bertemu singa, lain halnya dengan Bree. Bree hanya mendengus untuk menjawab per- kataan Shasta tapi dia bergerak menjauh ke sebelah kanan. Anehnya kuda lain tampaknya juga menjauh ke kiri, sehingga selama beberapa detik jarak di antara keduanya melebar cukup jauh. Tapi segera setelah ini terjadi, terdengar kembali dua auman singa, yang satu segera menyusul yang lain. Satu suara dari sebelah 46
    • kanan, dan yang lain dari sebelah kiri sehingga kedua kuda itu pun mulai saling mendekat lagi. Tapi tampaknya singa-singa itu pun me- lakukan hal serupa. Auman dari kedua hewan buas di masing-masing sisi benar-benar dekat dan mereka tampaknya dapat dengan mudah menyamakan kecepatan dengan kuda-kuda itu. Kemudian awan bergulung pergi. Sinar rem- bulan, terang luar biasa, memperlihatkan segala- nya hampir seperti di siang hari. Kedua kuda dan kedua penunggangnya berpacu begitu dekat hampir seolah mereka sedang dalam per- lombaan. Bree bahkan berkata (setelahnya) be- lum pernah ada pertandingan yang semenakjub- kan itu di Calormen. Shasta kini sudah pasrah dan mulai mengira- 47
    • ngira apakah singa biasanya membunuhmu dengan cepat atau mempermainkan mangsanya dulu seperti kucing terhadap tikus, dan seberapa besar rasa sakit yang mungkin dideritanya. Di saat yang sama (seseorang biasa melaku- kan ini pada saat-saat merasa sangat ketakutan) dia memerhatikan segalanya. Dia melihat pe- nunggang di sebelahnya bertubuh sangat kecil, kurus, mengenakan baju besi (bulan menyinari baju besinya), dan menunggangi kuda dengan sangat mahir. Penunggang itu tidak berjang- gut. Sesuatu yang datar dan mengilap terbentang di depan mereka. Sebelum Shasta bahkan sem- pat menebak apa benda itu, dia merasakan ceburan besar dan mendapati mulutnya penuh air asin. Benda mengilap itu ternyata per- mukaan air sungai yang menuju laut. Kedua kuda tersebut berenang hingga air mencapai lutut Shasta. Terdengar auman marah di bela- kang mereka, dan saat Shasta menoleh ke belakang, Shasta melihat sosok besar, berbulu, dan mengerikan berjongkok di tepi pantai, tapi hanya satu sosok. Mungkin kami telah membuat singa yang satu lagi ketinggalan, pikir- nya. Si singa sepertinya tidak menganggap mang- 48
    • sanya seberharga itu sampai harus merelakan tubuhnya basah, yang pasti dia tidak melaku- kan usaha apa pun untuk terjun ke air dan mengejar. Kedua kuda itu, berdampingan, kini berada cukup di tengah sungai dan mereka bisa melihat jelas tepi seberang sungai. Sang Tarkaan belum juga mengatakan apa pun. Tapi dia akan berbicara, pikir Shasta. Segera setelah kami berada di daratan. Apa yang harus ku- katakan? Aku harus memikirkan sebuah cerita. Kemudian, mendadak, dua suara berbicara di sampingnya. "Oh, aku capek sekali," kata satu suara. "Tahan lidahmu, Hwin, dan jangan bersikap bodoh," kata yang satunya lagi. Aku pasti bermimpi, pikir Shasta. Aku berani bersumpah aku mendengar kuda orang itu bicara. Tak lama kemudian kedua kuda itu tidak lagi berenang tapi berjalan, dan tak lama se- telah itu, bersamaan dengan suara air yang keras mengalir di samping tubuh dan pada kibasan ekor mereka, serta entakan batu-batu kecil yang diinjak delapan kaki, mereka keluar, lebih jauh menuju daratan di tepi sungai itu. Sang Tarkaan, ini membuat Shasta terkejut, tidak menunjukkan keinginan bertanya. Dia 49
    • bahkan tidak memandang Shasta dan tampak tak sabar untuk segera memacu kudanya pergi. Naraun Bree segera menghalangi jalan kuda lain tersebut. "Broo-hoo-hah!" dia mendengus. "Tenang dulu! Aku mendengarmu, ya jelas sekali. Tidak ada gunanya berpura-pura, Ma'am. Aku men- dengarmu. Kau Kuda yang Bisa Berbicara, kuda Narnia seperti diriku." "Apa hubungannya denganmu kalau dia me- mang seperti yang kautuduhkan?" tanya si penunggang asing ketus, meletakkan tangannya pada gagang pedangnya. Tapi suara yang me- nyuarakan kata-kata itu telah memberitahu Shasta sesuatu. "Astaga, dia hanya anak perempuan!" seru- nya. "Dan apa urusannya denganmu kalau aku hanya anak perempuan?" bentak si orang asing. "Kau juga hanya anak laki-laki, anak laki-laki kecil biasa yang tak tahu sopan santun—budak mungkin, yang mencuri kuda majikannya." "Itu kan menurutmu," kata Shasta. "Dia bukan pencuri, Tarkheena," kata Bree. "Setidaknya kalaupun ada pencurian, kau bisa berkata akulah yang menculik dirinya. Lalu soal apa urusannya denganku, kau tidak ber- 50
    • pikir aku akan membiarkan lady dari rasku sendiri di negeri asing lewat begitu saja tanpa berbincang dengannya, kan? Rasanya lazim bila aku melakukan itu." "Kurasa juga begitu," kata si kuda betina. "Aku minta kau menjaga lidahmu, Hwin," kata si anak perempuan. "Lihatlah masalah yang kautimpakan pada kita sekarang." "Aku tidak tahu soal masalah," kata Shasta. "Kau boleh pergi kapan pun kau mau. Kami tidak akan menahanmu." "Tidak, kau tidak akan melakukan itu," kata si anak perempuan. "Manusia memang makhluk yang gemar ber- tengkar," kata Bree kepada si kuda betina. "Mereka seburuk keledai. Marilah kita coba bicara dengan akal jernih. Kalau aku boleh menebak, Ma'am, kisahmu sama seperti kisah- ku? Ditangkap di usia muda—bertahun-tahun menjadi budak di antara penduduk Calormen?" "Betul sekali, Sir," kata si kuda betina, de- ngan ringkikan sedih. "Dan sekarang, mungkin—melarikan diri?" "Beritahu padanya untuk mengurusi urusan- nya sendiri, Hwin," kata si anak perempuan. "Tidak, aku tidak akan mengatakannya, Aravis," kata si kuda betina, menarik telinganya 51
    • ke belakang. "Ini pelarianku juga, bukan hanya pelarianmu. Dan aku yakin kuda perang yang agung sepertinya tidak akan mengkhianati kita. Kami berusaha melarikan diri, menuju Narnia." "Dan begitu juga, tentu saja, kami," kata Bree. "Tentunya kau bisa langsung menebak itu. Anak laki-laki dengan baju compang- camping mengendarai (atau berusaha mengen- darai) kuda perang di tengah malam tidak bisa berarti lain kecuali usaha pelarian atau semacamnya. Dan, kalau aku boleh menambah- kan, seorang Tarkheena berdarah bangsawan berkuda sendiri di malam hari—mengenakan baju zirah saudara laki-lakinya—dan sangat bersikeras supaya orang lain mengurus urusan- nya sendiri dan tidak bertanya macam-macam padanya—yah, kalau itu tidak mencurigakan, sebut saja aku kuda!" "Baiklah," kata Aravis. "Kau sudah me- nebaknya. Hwin dan aku melarikan diri. Kami berusaha mencapai Narnia. Dan sekarang, apa yang kauinginkan?" "Yah, kalau begitu, apa lagi yang mencegah kita untuk tidak pergi bersama?" kata Bree. "Aku percaya, Madam Hwin, kau akan mene- rima bantuan dan perlindungan yang mungkin bisa kuberikan kepadamu selama perjalanan?" 52
    • "Kenapa kau terus-menerus bicara pada kudaku dan bukannya padaku?" tanya si anak perempuan. "Maaf, Tarkheena," kata Bree (sambil sedikit menggerakkan kedua telinganya ke belakang,) "tapi itu kebiasaan Calormen. Kami warga Narnia yang bebas, Hwin dan aku, dan kurasa, kalau kau hendak melarikan diri ke Narnia, kau juga mau dianggap begitu. Di lihat dari sudut mana pun, Hwin bukanlah kudamu lagi. Seseorang bisa saja malah berkata kau manusia- nya." Si anak perempuan membuka mulutnya un- tuk berkata-kata namun berhenti. Jelas sekali dia belum pernah melihatnya dari cara pandang itu. "Tetap saja," katanya setelah terdiam sesaat, "aku tidak melihat banyak keuntungan bila kita pergi bersama. Bukankah dengan begitu kita akan lebih kentara?" "Justru tidak," kata Bree, dan si kuda betina berkata, "Oh, ayolah. Aku akan merasa lebih nyaman. Kita bahkan tidak terlalu yakin de- ngan arah jalannya. Aku yakin kuda perang bijak seperti dirinya tahu jauh lebih banyak daripada kita." "Oh, sudahlah, Bree," kata Shasta, "biarkan 53
    • mereka melanjutkan perjalanan sendiri. Kau kan bisa melihat mereka tidak menginginkan kita." "Tapi kami menginginkan kalian," kata Hwin. "Tunggu dulu," kata si anak perempuan. "Aku tidak keberatan pergi bersamamu, Pak Kuda Perang, tapi bagaimana dengan anak laki-laki itu? Bagaimana aku bisa yakin dia bukanlah mata-mata?" "Kenapa kau tidak langsung saja bilang bah- wa menurutmu aku tidak cukup layak bagi- mu?" tanya Shasta. "Diamlah, Shasta," kata Bree. "Pertanyaan Tarkheena ini cukup masuk di akal. Aku akan menjamin anak laki-laki ini, Tarkheena. Dia selalu jujur padaku dan merupakan teman baik. Dan dia jelas-jelas warga Narnia atau orang Archenland." "Baiklah kalau begitu. Kita pergi bersama." Tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada Shasta dan jelas sekali dia menginginkan Bree, bukan anak itu. "Bagus!" kata Bree. "Dan sekarang karena ada air di antara diri kita dan hewan-hewan mengerikan itu, bagaimana kalau kalian ma- nusia melepas sadel kami, supaya kita bisa beristirahat dan bertukar cerita?" 54
    • Kedua anak itu membuka sadel kuda-kuda mereka. Kedua kuda itu melahap sedikit rum- put dan Aravis mengeluarkan santapan-santapan lezat dari kantong sadelnya. Tapi Shasta me- rajuk dan berkata, tidak, terima kasih, dan bahwa dia tidak lapar. Dan Shasta berusaha memasang sikap yang dipikirnya anggun dan kaku, tapi karena pondok nelayan bukanlah tempat yang tepat untuk belajar sopan santun, hasilnya buruk sekali. Dan dia separo menya- dari usahanya ini gagal sehingga menjadi lebih merajuk lagi dan makin canggung daripada sebelumnya. Sementara itu kedua kuda bergaul akrab sekali. Mereka mengingat tempat-tempat yang sama di Narnia—"daratan berumput di atas bendungan berang-berang"—dan mendapati bahwa ternyata kemungkinan orangtua mereka bersepupu jauh. Ini membuat suasana semakin dan semakin tidak nyaman untuk kedua ma- -usia sampai akhirnya Bree berkata, "Dan sekarang, Tarkheena, ceritakan kepada kami kisahmu. Dan tidak perlu terburu-buru—aku merasa nyaman saat ini." Aravis segera memulai, duduk nyaris tak bergerak dan menggunakan nada suara dan gaya bicara yang agak berbeda daripada se- belumnya. Karena di Calormen, bercerita (apa- 55
    • kah ceritanya kisah nyata maupun buatan) adalah keterampilan yang diajarkan, seperti anak-anak di Inggris diajarkan menulis esai. Bedanya orang-orang mau mendengar cerita- cerita itu, sementara aku tidak pernah men- dengar ada orang yang mau membaca esai. 56
    • a eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's BAB 3 Di Gerbang Tashbaan N AMAKU," kata si anak perempuan se- gera, "adalah Aravis Tarkheena dan aku putri tunggal Kidrash Tarkaan, bin Rishti Tarkaan, bin Kidrash Tarkaan, bin Ilsombreh Tisroc, bin Ardeeb Tisroc yang merupakan keturunan langsung Dewa Tash. Ayahku pe- nguasa provinsi Calavar dan orang yang me- miliki hak berdiri di atas kedua kakinya di hadapan Tisroc sendiri (semoga dia selamanya kekal). Ibuku (semoga dia dalam damai beserta para dewa) sudah meninggal dan ayahku telah menikah lagi. Salah satu saudara laki-lakiku gugur dalam pertempuran melawan pemberon- tak di Barat Jauh sedangnya saudara laki- lakiku yang satu lagi masih kanak-kanak. Su- dah lama istri ayahku, ibu tiriku, membenciku, dan matahari yang tampak gelap biasa muncul 57
    • di matanya selama aku hidup di rumah ayahku. Jadi dia membujuk Ayah untuk menjanjikan diriku menikah dengan Ahoshta Tarkaan. Ahoshta ini berasal dari keturunan tidak murni, walau dalam tahun-tahun terakhir ini dia telah membuat Tisroc (semoga dia selamanya kekal) menyukainya lewat bujuk rayu dan saran-saran keji. Kini dia telah diangkat menjadi Tarkaan dan penguasa banyak kota, dan kemungkinan besar akan ditunjuk menjadi Penasihat Tinggi ketika Penasihat Tinggi yang sekarang mening- gal. Terlebih lagi dia setidaknya berusia enam puluh tahun dan punggungnya berpunuk, dan wajahnya mirip kera. Namun tetap saja ayahku, karena kekayaan dan kekuasaan Ahoshta ini, dan bujukan istrinya, mengutus pengirim- pengirim pesan untuk menawarkan diriku men- jadi istrinya. Tawaran itu disambut gembira dan Ahoshta mengirim kabar dia akan me- nikahiku tahun ini pada pertengahan musim panas. "Ketika kabar ini disampaikan kepadaku, matahari tampak gelap di mataku dan aku berbaring di tempat tidur dan menangis sehari penuh. Tapi pada hari kedua aku bangkit, mencuci muka, dan memasang sadel pada Hwin kuda betinaku, membawa pisau pendek tajam 58
    • yang dibawa saudara laki-lakiku ke perang- perang di daerah Barat, lalu berkuda sendirian. Dan ketika rumah ayahku hilang dari pan- dangan dan aku sampai di dataran hijau ter- buka di suatu hutan yang tidak ditinggali manusia, aku turun dari Hwin kuda betinaku dan menghunuskan pedang. Kemudian aku membuka pakaian di bagian yang kupikir paling mudah bagiku untuk melukai jantungku dan berdoa kepada semua dewa agar segera setelah aku mati, aku akan langsung bertemu saudara laki-lakiku. Setelah itu aku memejam- kan mata dan mengatupkan geligi, bersiap-siap menghunjamkan pedang pendek ke jantungku. Tapi sebelum aku melakukan itu, kuda betina ini berbicara dengan suara putri manusia dan berkata, 'O nonaku, jangan melakukan apa pun yang bisa melukai dirimu, karena bila kau hidup kau mungkin masih bisa mendapat- kan nasib baik, sementara yang mati hanya bisa mati.'" "Aku tidak mengatakannya sebagus itu, bah- kan tidak separuhnya," gumam si kuda betina. "Sstt, Ma'am, sstt," kata Bree yang sangat menikmati kisah ini. "Dia sedang bercerita dengan cara Calormen yang menakjubkan dan tidak ada pendongeng di seluruh kerajaan 59
    • Tisroc yang bisa menandinginya. Kumohon lan- jutkan, Tarkheena." "Ketika aku mendengar bahasa manusia di- utarakan kuda betinaku," Aravis melanjutkan, "aku berkata pada diriku sendiri, rasa takut akan kematian telah mengacaukan akal sehatku dan membuatku berkhayal. Dan rasa malu langsung memenuhiku karena seharusnya tidak seorang pun anggota keluargaku takut pada kematian, rasa takut pada kematian seharusnya tidak lebih seperti rasa takut pada gigitan serangga. Karena itulah aku kembali memper- siapkan diri untuk menghunjamkan pedang, tapi Hwin menghampiriku dan meletakkan kepalanya di antara tubuhku dan pedangku lalu memaparkan padaku logika-logika menga- gumkan dan menasihatiku seperti seorang ibu menasihati anak perempuannya. Dan di saat itu, rasa takjubku sudah begitu luar biasa sehingga aku lupa tentang bunuh diri dan tentang Ahosta lalu berkata, 'O kuda betinaku, bagaimana kau belajar cara berbicara seperti putri para manusia?' Dan Hwin memberitahuku sesuatu yang diketahui semua bangsanya, bah- wa di Narnia ada hewan-hewan yang bisa berbicara, dan bagaimana dia sendiri telah diculik dari tempat itu sejak kanak-kanak. Dia 60
    • juga memberitahuku tentang hutan-hutan dan sungai-sungai Narnia, begitu juga kastil-kastil dan kapal-kapal besar, sampai aku berkata, 'Demi Tash, Azaroth, dan Zardeenah, Ratu Penguasa Malam, aku ingin sekali berada di negeri Narnia.' 'O nonaku,' kuda betinaku menjawab, 'kalau kau berada di Narnia, kau akan bahagia, dan di tanah itu tidak ada anak gadis yang dipaksa menikah di luar kemauan- nya.' "Dan ketika kami telah berbincang-bincang lama sekali, harapan pun kembali tumbuh da- lam diriku dan aku bersyukur karena tidak jadi bunuh diri. Terlebih lagi telah terjadi kesepakatan antara Hwin dan aku bahwa kami harus melarikan diri bersama-sama dan me- nyusun rencana pelarian itu. Kami pun kembali ke rumah ayahku dan aku mengenakan pakaian rerindahku, menyanyi, menari di hadapan ayah- ku, berpura-pura bahagia akan pernikahan yang telah diaturnya untukku. Aku juga berkata padanya, 'O ayahku dan O pemandangan indah bagi penglihatanku, berikan aku izin dan restu- mu untuk pergi bersama dayang-dayangku se- lama tiga hari ke hutan-hutan demi memper- sembahkan kurban suci untuk Zardeenah, Ratu Penguasa Malam dan Para Gadis, karena itu 61
    • sudah selayaknya dilakukan dan menjadi tradisi bagi anak gadis ketika mereka harus mengucap- kan selamat tinggal kepada berkah Zardeenah dan mempersiapkan diri mereka untuk per- nikahan.' Dia pun menjawab, 'O putriku dan O pemandangan indah bagi penglihatanku, lakukanlah kehendakmu.' "Tapi ketika aku telah lepas dari pengawasan ayahku, aku langsung pergi menemui budak tertuanya, sekretarisnya, yang telah menimang- nimangku di pangkuannya saat aku masih bayi dan menyayangiku lebih daripada udara dan cahaya. Dan aku menyuruhnya bersumpah men- jaga rahasia dan memohonnya menulis sepucuk surat untukku. Dia pun menangis dan mem- bujukku untuk mengubah keputusan tapi akhir- nya dia berkata, 'Hamba dengar dan akan mematuhi,' dan memenuhi semua keinginanku. Kemudian aku menyegel surat itu dan menyem- bunyikannya di dadaku." "Tapi apa isi surat itu?" tanya Shasta. "Diamlah, anak muda," kata Bree. "Kau akan merusak ceritanya. Dia akan memberitahu kita apa isi surat itu bila saatnya tiba. Lanjut- kan, Tarkheena." "Kemudian aku memanggil dayang yang di- tugaskan menemaniku pergi menuju hutan un- 62
    • tuk melakukan upacara demi Zardeenah dan memberitahunya untuk membangunkanku pagi- pagi sekali. Aku juga bercakap-cakap, bercanda dengannya, dan memberinya anggur untuk di- minum, tapi aku juga telah mencampurkan sesuatu dalam cangkirnya supaya dia tertidur selama satu malam dan satu siang. Segera setelah seluruh anggota rumah ayahku terlelap, aku bangkit dan mengenakan baju zirah saudara laki-lakiku yang selalu kusimpan di kamarku demi mengenangnya. Aku memasuk- kan semua uang yang aku punya dan beberapa perhiasan ke sabuk baju dalamku, lalu meleng- kapi diriku dengan makanan, memasang sadel kuda betinaku dengan tanganku sendiri, dan berkuda pergi pada giliran jaga malam kedua. Aku menjauhi hutan yang ayahku kira akan kudatangi, dan malah mengarah ke utara dan timur menuju Tashbaan. "Tiga hari lebih berlalu dan aku tahu ayahku tidak akan mencariku, karena telah dikelabui kata-kata yang kuucapkan sendiri kepadanya. Dan di hari keempat kami tiba di kota Azim Balda. Kini Azim Balda terletak di pertemuan banyak jalan dan melaluinyalah para petugas pos Tisroc (semoga dia selamanya kekal) me- ngendarai kuda-kuda cepat ke seluruh penjuru 63
    • kerajaan: dan adalah salah satu hak juga pela- yanan istimewa yang dimiliki Tarkaan berposisi tinggi untuk mengirim pesan lewat mereka. Aku pun pergi menemui Kepala Pengirim Pesan di Kantor Pos Kerjaan di Azim Balda dan berkata, 'O penyampai pesan, ini surat dari pamanku Ahoshta Tarkaan untuk Kidrash Tarkaan, penguasa Calavar. Ambillah lima crescent ini dan pastikan pesan ini terkirim kepadanya.' Lalu Kepala Pengirim Pesan ber- kata, 'Hamba dengar dan akan mematuhi.' "Surat itu telah ditulis sedemikian rupa se- hingga seolah dibuat Ahoshta dan beginilah inti pesan yang tertulis di dalamnya: 'Ahoshta Tarkaan kepada Kidrash Tarkaan, salam dan damai besertamu. Atas nama Tash yang tak terhentikan dan tergoyahkan. Izinkan aku mem- beritahumu bahwa ketika aku mengadakan per- jalanan menuju rumahmu untuk membuat kontrak pernikahan antara diriku dan putrimu Aravis Tarkheena, karena keberuntungan dan kehendak para dewa, aku bertemu dengannya di hutan ketika dia selesai melaksanakan ritual dan pengorbanan untuk Zardeenah sesuai tra- disi para gadis. Dan ketika aku mengetahui siapa dirinya, bahagia karena kecantikan dan kecerdasannya, diriku begitu terbakar cinta dan 64
    • tampaknya matahari akan menjadi gelap bagiku jika aku tidak segera menikahinya. Maka sudah sepantasnya aku menyiapkan pengorbanan- pengorbanan yang dibutuhkan, menikahi putri- mu di jam yang sama dengan saat aku bertemu dengannya, dan telah kembali ke rumahku bersamanya. Dan kami berdua juga ingin meng- undangmu untuk datang kemari secepat yang kau bisa, sehingga kebahagiaan kami bisa ber- tambah lengkap dengan melihat wajahmu dan mendengar suaramu. Di saat yang sama kau bisa membawa emas kawin istriku, yang amat kubutuhkan dengan segera karena alasan biaya perang-perang besarku dan pengeluaran-penge- luaran lain. Dan karena kau dan aku ber- saudara, aku meyakinkan diri bahwa kau tidak akan marah karena pernikahanku yang tergesa- gesa ini, yang hanya dikarenakan cinta luar biasa yang kurasakan kepada putrimu. Aku berdoa semoga para dewa selalu melindungi- mu.' "Segera setelah melakukan ini, aku memacu kuda dari Azim Balda, tanpa mengkhawatirkan pengejaran lagi dan berharap ayahku, setelah menerima surat itu, akan mengirim pesan ke Ahoshta atau langsung pergi ke sana sendiri dan bahwa sebelum semua masalah ter- 65
    • pecahkan, aku akan sudah berada jauh dari Tashbaan. Dan itulah inti singkat ceritaku hing- ga malam ini ketika aku dikejar singa-singa dan bertemu kalian saat berenang di air ber- garam." "Lalu apa yang terjadi pada gadis itu— dayang yang kauberi obat bius?" tanya Shasta. "Tidak perlu diragukan dia akan dipukuli karena tertidur terlalu lama," kata Aravis te- nang. "Tapi toh dia hanya alat dan mata-mata ibu tiriku. Aku sangat lega mereka memukul- nya." "Ya ampun, itu tidak bisa dibilang adil," kata Shasta. "Aku tidak melakukan semua itu demi bisa menyenangkan hatimu," kata Aravis. "Lalu ada hal lain yang tidak kumengerti dalam ceritamu," kata Shasta. "Kau kan belum dewasa, kurasa kau tidak lebih tua daripada aku. Aku bahkan tidak yakin kau seumur denganku. Bagaimana bisa kau menikah di usia semuda ini?" 66
    • Aravis tidak mengatakan apa-apa, tapi Bree langsung berkata, "Shasta, jangan terlalu me- nunjukkan kebodohanmu. Dalam keluarga bangsawan Tarkaan, adalah biasa bagi mereka untuk menikah pada usia semuda itu." Wajah Shasta langsung bersemu merah sekali (walaupun tidak mungkin yang lain bisa me- lihat ini karena suasana begitu gelap) dan anak itu merasa sebal. Aravis meminta Bree menceritakan kisahnya. Bree mengabulkan per- mintaan itu dan Shasta merasa kuda itu terlalu melebih-lebihkan bagian dirinya terjatuh dan tidak bisa berkuda dengan baik. Tampak jelas Bree merasa bagian itu sangat lucu, tapi Aravis tidak tertawa. Ketika Bree selesai berkisah me- reka semua pergi tidur. Hari berikutnya keempat makhluk itu, dua kuda dan dua manusia, melanjutkan perjalanan mereka bersama-sama. Shasta merasa perjalanan jauh lebih menyenangkan ketika hanya ada dirinya dan Bree. Karena kini hampir semua 67
    • percakapan dikuasai Bree dan Aravis. Bree telah hidup lama di Calormen dan selalu berada di antara bangsa Tarkaan dan kuda-kuda Tarkaan, sehingga tentu saja dia tahu banyak orang dan tempat yang sama dengan Aravis. Aravis akan selalu mengatakan hal-hal seperti, "Tapi kalau kau ikut serta dalam perang Zulindreh kau akan bertemu sepupuku Alimash," dan Bree akan menjawab, "Oh, ya, Alimash, tapi dia kan hanya kapten pasukan kereta perang. Aku tidak terlalu sering menga- dakan kontak dengan pasukan kereta perang atau kuda-kuda yang menarik kereta-kereta itu. Mereka bukan kavaleri yang sesungguhnya. Tapi dia bangsawan terhormat. Dia memenuhi kantong makananku dengan gula setelah pe- naklukan Teebeth." Atau di lain kesempatan Bree akan berkata, "Aku sedang berada di Danau Mezreel musim panas itu," dan Aravis akan berkata, "Oh, Mezreel! Aku punya teman di sana, Lasaraleen Tarkheena. Tempat itu me- nyenangkan sekali. Taman-tamannya dan Lem- bah Ribuan Wangi!" Bree sebenarnya tidak berusaha tidak melibatkan Shasta dalam pem- bicaraan, walaupun Shasta nyaris berpikir itulah yang sengaja dilakukannya. Orang-orang yang tahu berbagai hal yang sama nyaris tidak bisa 68
    • menahan diri untuk tidak berbincang tentang hal-hal itu, dan kalau kau berada di tengah- tengahnya kau tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa terkucil. Hwin si kuda betina agak malu berada di dekat kuda pejuang besar seperti Bree sehingga tidak berkata banyak. Dan Aravis nyaris tidak pernah bicara pada Shasta selama dia bisa mencegahnya. Namun tak lama kemudian ada hal-hal pen- ting yang harus dipikirkan. Mereka semakin dekat dengan Tashbaan. Akan ada lebih banyak desa yang juga lebih besar, serta lebih banyak orang di jalan. Mereka kini melakukan nyaris semua perjalanan di malam hari dan bersem- bunyi sebisa mungkin di siang hari. Dan pada setiap pemberhentian, mereka akan berdebat dan berdebat tentang apa yang harus mereka lakukan saat mereka mencapai Tashbaan. Ke- empat makhluk itu telah menunda membicara- kan masalah ini, tapi kini tidak bisa ditunda lagi. Selama diskusi-diskusi ini, Aravis menjadi sedikit, sangat sedikit, ramah kepada Shasta. Seseorang biasanya bergaul lebih baik dengan orang lain ketika dia sedang membuat rencana, daripada ketika dia berbicara tanpa tujuan yang terlalu jelas. 69
    • Bree berkata hal pertama yang harus dilaku- kan sekarang adalah menentukan tempat me- reka semua bisa berjanji bertemu kembali di sisi lain Tashbaan bahkan, bila nasib buruk datang, mereka terpisah saat menyeberangi kota itu. Dia berkata tempat terbaik adalah Makam Raja-raja Masa Lampau di ujung padang pasir. "Makam itu bentuknya seperti sarang lebah batu besar," katanya. "Kalian tidak akan ke- sulitan mencarinya. Dan yang terpenting, tidak ada penduduk Calormen yang berani dekat- dekat daerah itu karena mereka berpikir tempat itu berhantu." Aravis bertanya apakah tempat itu memang benar-benar berhantu. Tapi Bree menjawab dia kuda Narnia yang bebas dan tidak percaya pada cerita-cerita Calormen. Ke- mudian Shasta berkata dia juga bukan pen- duduk Calormen sehingga tidak setitik pasir pun peduli pada cerita-cerita kuno tentang hantu itu. Ini tidak sepenuhnya benar. Tapi pernyataan ini agak membuat Aravis kagum (walau sekaligus cukup mengganggunya juga) dan tentu saja berkata dia juga tidak peduli pada hantu. Jadi telah diputuskan makam itu akan menjadi tempat pertemuan mereka di luar Tashbaan, dan semuanya merasa rencana mereka tersusun baik ketika Hwin dengan 70
    • rendah hati mengingatkan masalah utama adalah bukan tempat yang bisa mereka tuju ketika mereka telah melewati Tashbaan, tapi justru bagaimana mereka bisa melalui kota itu. "Kita akan membereskan masalah itu besok, Ma'am," kata Bree. "Sekarang saatnya untuk tidur." Tapi ternyata masalah ini tidak terlalu mudah dipecahkan. Usulan pertama Aravis adalah me- reka harus berenang menyeberangi sungai yang terletak di bawah kota di malam hari dan tidak menginjakkan kaki ke kota Tashbaan sama sekali. Tapi Bree punya dua alasan untuk menentang usulan ini. Salah satunya adalah mulut sungai begitu luas dan jaraknya terlalu jauh bagi Hwin untuk menyeberanginya, ter- utama dengan beban di punggungnya. (Bree juga berpikir jarak ini terlalu jauh untuknya, tapi tidak terlalu banyak mengungkit soal itu.) Alasan lain adalah sungai tersebut akan ramai dengan kapal dan tentu saja bagi siapa pun yang sedang berada di dek, pemandangan dua kuda berenang melewati mereka akan sangat mencurigakan. Shasta mengajukan mereka pergi ke sungai yang mengalir di atas Tashbaan dan menye- 71
    • beranginya di bagian sungai yang lebih sempit. Tapi Bree menjelaskan ada taman-taman dan rumah-rumah peristirahatan di kedua sisi sungai itu sepanjang bermil-mil, juga akan ada Tarkaan serta Tarkheena yang tinggal di sana, berkuda di jalan-jalan dekat sungai, dan menga- dakan pesta air di sungai. Bahkan di dunia ini, tempat itu merupakan tempat yang paling memungkinkan mereka bertemu seseorang yang bisa mengenali Aravis dan dirinya sendiri. "Kita harus punya penyamaran," kata Shasta. Hwin berkata menurutnya pilihan teraman adalah pergi langsung melewati gerbang ke gerbang karena orang paling tidak menarik perhatian saat melewati kerumunan. Tapi dia juga menyetujui ide penyamaran. Dia berkata, "Kedua manusia harus mengenakan baju com- pang-camping dan tampak seperti petani atau budak. Dan semua baju zirah Aravis, sadel kami, dan berbagai benda harus dijadikan bun- tel dan diletakkan di punggung kami para kuda. Kedua anak bisa berpura-pura menuntun kami dan orang-orang akan berpikir kami ha- nya kuda pengangkut beban." "Hwin sayangku!" kata Aravis agak meng- hina. "Siapa pun bisa mengenali Bree sebagai 72
    • kuda perang bagaimanapun kita menyamarkan- nya!" "Aku pun sependapat," kata Bree, mende- ngus dan membiarkan kedua telinganya sedikit menghadap ke belakang. "Aku tahu ini bukan ide yang terbaik," kata Hwin. "Tapi kurasa hanya ini kesempatan kita. Lagi pula sudah lama sekali kami tidak dibersih- kan sehingga toh kami tidak tampak seperti diri kami biasanya (setidaknya, aku yakin aku tidak). Aku benar-benar berpendapat kalau kami melumuri baik-baik tubuh kami dengan lumpur dan berjalan sambil menunduk seolah lelah dan malas—dan menyeret kaki kami—kita mungkin tidak akan diperhatikan. Dan ekor kami harus dipotong lebih pendek: tidak dengan rapi, kau tahu kan, tapi asal-asalan." "Madam terhormat," kata Bree. "Apakah kau sudah membayangkan di benakmu sendiri betapa tidak layaknya tiba di Narnia dalam kondisi seperti itu?" "Yah," kata Hwin rendah hati (dia kuda betina yang berakal jernih), "yang terpenting adalah bisa sampai ke sana." Walaupun tidak ada yang terlalu menyukai- nya, justru rencana Hwin-lah yang akhirnya dilaksanakan. Rencana itu cukup merepotkan 73
    • dan melibatkan banyak kegiatan yang disebut Shasta mencuri, tapi Bree menyebutnya "me- nyerbu". Satu peternakan kehilangan beberapa karung malam itu dan peternakan lain ke- hilangan seikat tali, tapi beberapa pakaian usang anak laki-laki untuk dipakai Aravis harus dibeli secara adil dan dibayar di desa. Shasta kembali bergabung dengan sukses tepat ketika malam nyaris berakhir. Yang lain menunggunya di antara pepohonan di dataran rendah di kaki bukit berhutan yang terletak tepat di seberang jalan mereka. Semua orang merasa antusias karena ini bukit terakhir yang harus dilalui, ketika mereka mencapai ujung puncak- nya, mereka akan menatap ke bawah ke Tashbaan. "Aku benar-benar berharap kita bisa lewat dengan selamat," gumam Shasta ke Hwin. "Oh, aku juga, aku juga," kata Hwin penuh semangat. Malam itu mereka mencicil perjalanan me- lewati hutan menuju puncak bukit melalui jalan setapak penebang pohon. Dan ketika mereka keluar dari pepohonan, di puncak sana mereka bisa melihat ribuan cahaya di lembah di bawah mereka. Shasta sama sekali tidak punya ba- yangan seperti apakah kota besar itu dan hal 74
    • ini membuatnya takut. Mereka makan malam dan kedua anak itu tidur. Tapi dua kuda membangunkan mereka pagi-pagi sekali. Bintang-bintang masih bertengger di langit dan rerumputan sangat dingin dan basah, tapi fajar baru saja akan datang, jauh di sebelah kanan mereka di seberang lautan. Aravis pergi beberapa langkah ke hutan dan kembali ber- penampilan aneh dalam pakaian usang barunya dan membawa baju aslinya dalam buntel. Baju- baju itu, baju besi, perisai, pedang, dua sadel, dan peralatan kuda yang indah lainnya di- masukkan ke karung. Bree dan Hwin sudah membuat diri mereka sekotor dan seberlumpur mungkin, kemudian tibalah saatnya untuk me- mendekkan ekor mereka. Karena satu-satunya alat yang bisa dipakai untuk melakukan ini adalah pedang Aravis, salah satu karung harus dibongkar lagi untuk mengeluarkannya. Pe- motongan ekor itu ternyata membutuhkan wak- tu lama dan agak menyakiti kedua kuda. "Astaga!" kata Bree. "Kalau aku bukan Kuda yang Bisa Berbicara, aku akan memberi- mu tendangan yang indah! Kukira kau akan memotongnya, bukan menariknya. Itulah yang aku rasakan." Tapi setelah melalui suasana yang agak mu- 75
    • ram dan jemari yang tidak terampil, akhirnya semua berakhir: karung-karung besar terikat ke punggung kedua kuda, kekang dari tali goni (yang kini dipasangkan ke mereka untuk menggantikan tali sais dan kekang dari kulit) dipegang kedua anak, dan perjalanan dimulai. "Ingat," kata Bree. "Sebisa mungkin kita tetap harus bersama. Kalau tidak, kita bertemu di Makam Raja-raja Masa Lampau, dan siapa pun yang sampai di sana duluan harus me- nunggu yang lain." "Dan ingat," kata Shasta. "Jangan sampai kalian para kuda lupa diri dan mulai berbicara, apa pun yang terjadi." 76