Modul pengembangan bahan ajar

24,991 views
24,727 views

Published on

6 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
24,991
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
556
Comments
6
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Modul pengembangan bahan ajar

  1. 1. KONSEP DASAR KURIKULUM1.1 Pendahuluan Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan- landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia. Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Telah dimaklumi bersama, bahwa kurikulum merupakan perangkat pendidikan yang dinamis. Oleh karena itu, kurikulum juga harus peka merespon beragam perubahan dan tuntutan stakeholders yang menginginkan adanya peningkatan kualitas pendidikan.1.2 Pengertian Kurikulum Istilah “Kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar- pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar yang bersangkutan. Istilah kurikulum berasal dari bahas latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ketempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. Di Indonesia istilah “kurikulum” boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang di luar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan adalah “rencana pelajaran” pada hakikatnya kurikulum sama sama artinya dengan rencana pelajaran. Beberapa tafsiran lainnya dikemukakan sebagai berikut ini. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Mata ajaran tersebut mengisis materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Kurikulum sebagai rencana pembelajaran. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para 1
  2. 2. siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan danperkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan danpembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yangmemberikan kesempatan belajar. Itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusunsedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas padasejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapatmempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran,perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain; yangpada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Semua kesempatandan kegiatan yang akan dan perlu dilakukan oleh siswa direncanakan dalam suatukurikulum. Kurikulum sebagai pengelaman belajar. Perumusan/pengertian kurikulumlainnya yang agak berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya lebihmenekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. Salahsatu pendukung dari pengalaman ini menyatakan sebagai berikut:“Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, andexperiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroomor not (Romine, 1945,h. 14).” Pengertian itu menunjukan, bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatasdalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas.Tidak ada pemisahan yang tegas antara intra dan ekstra kurikulum. Semua kegiatanyang memberikan pengalaman belajar/pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalahkurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahanpelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatanpembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Undang-Undang No.20TH. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).Beberapa definisi kurikulum dapat disebutkan dalam tabel sebagai berikut:Tabel I. Beberapa Definisi Kurikulum 2
  3. 3. No. Pakar Definisi 1 John Franklin Curriculum, as an idea, has its roots in the Latin word Bobbit, 1918 for race-course, explaining the curriculum as the course of deeds and experiences through which children become the adults they should be, for success in adult society. 2 Hilda Taba (1962) Curriculum is a plan for learning. 3 Caswell and Curriculum is all of the experiences children have Campbell (1935) under the guidance of teachers. 4 Edward A. Krug A curriculum consists of the means used to achieve or (1957) carry out given purposes of schooling. 5 Beauchamp (1972) A curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it a plan for the education of pupil during their enrollment in given school. 5 Saylor dan “The total effort of school to going desired outcomes Alexander in school and out school situations”. 6 Hilda Taba Curriculum is a plan for learning. 7 Johnson A structural series of intended kearning outcomes. 8 J.F. Kerr (1972) All the learning which is planned or guided by school, whether it is carried on in groups or individually, inside of or outside the school. 9 Caswell and Curriculum is all of the experiences children have Campbell under the guidance of teacher 10 Oliva (2004) Curriculum is a plan or program for all experiences when the learner encounters under the direction of the school.Sumber: Dari berbagai sumber. Dari berbagai macam pengertian kurikulum diatas kita dapat menarik garis besar pengertian kurikulum yaitu: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 1.3 Peranan Kurikulum Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis mengemban peranan sebagai berikut: a. Peranan Konservatif, salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat mempengaruhi dan membina tingkah laku para siswa dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Karena pendidikan itu sendiri pada hakekatnya berfungsi pula menjembatani antara siswa dengan orang dewasa di dalam proses pembudayaan yang semakin berkembang menjadi lebih kompleks, dan disinilah peranan kurikulum turut membantu proses tersebut. b. Peranan Kritis/Evaluatif, kebudayaan senantiasa berubah dan sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai, memilih unsur- 3
  4. 4. unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada unsur berpikir kritis. Niali-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan masa mendatang dihilangkan dan diadakan modifikasi dan perbaikan, sehingga kurikulum perlu mengadakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu. c. Peran Kreatif, kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam arti mencipta dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa yang akan datang dalam masyarakat. Guna membantu setiap individu mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan dan keterampilan yang baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.1.4 Fungsi kurikulum Sebagaimana definisi kurikulum di atas yakni perangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta secara mengimplementasikannya, maka fungsi kurikulum berkaitan dengan komponen-komponen yang ada mengarah pada tujuan pendidikan. Kurikulum sekolah terkait secara langsung dengan kepala sekolah, guru, para penulis buku ajar dan masyarakat. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa jauh keterlibatan mereka dalam melaksanakan kurikulum. a. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah Kepala sekolah harus mengetahui tujuan dari lembaga yang dipimpinnya yang kemudian dilanjutkan dengan pencarian kurikulum yang berlaku untuk dipelajari. Tugas utama dari kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi kurikulum. Sebenarnya sasaran supervisi dalam pelaksanaan kurikulum oleh kepala sekolah adalah bagaimana guru melaksanakan kurikulum yang berlaku (menyusun satuan pelajaran, menyusun rencana kerja atas dasar kurikulum, melaksanakan proses pembelajaran dan melaksanakan evaluasi hasil belajar). Supervisi dapat dilaksanakan dengan cara observasi, wawancara , dokumentasi dan sebagainya yang mana bertujuan untuk menemukan kelemahan atau kekurangan guru dalam mengimplementasikan kurikulum yang kemudian dilanjutkan dengan pembinaan baik berupa pembinaan bidang studi maupun bidang administrasi kurikulum dengan harapan proses pembelajaran maupun outputnya akan lebih memusat. b. Fungsi kurikulum bagi guru Sesuai dengan fungsinya bahwa kurikulum adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka guru mestinya mencermati tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh lembaga pendidikan dimana ia bekerja. Setelah guru memahami kurikulum yang diberlakukan maka langkah selanjutnya adalah mencari garis-garis besar program pengajaran. Setelah mendapatkannya barulah guru mencari berbagai sumber bahan yang relevan atau yang telah ditentukan oleh dekdikbud. Bagi seorang guru, kurikulum merupakan rambu-rambu dalam melaksanakan pembelajaran sehingga output yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kurikulum. c. Fungsi kurikulum bagi para penulis Bagi para penulis buku ajar sudah menjadi keharusan untuk mempelajari terlebih dahulu kurikulum yang sedang berlaku. Untuk membuat berbagai pokok bahasan ataupun sub pokok bahasan hendaknya penulis membuat analisis 4
  5. 5. intruksional kemudian menyusun Garis-garis Besar Program Pelajaran (GBPP) untuk mata pelajaran tertentu selanjutnya menyusun berbagai sumber bahan yang relevan. Dalam penulisan bahan pelajaran, harus mempertimbangkan beberapa criteria karena tidak semua bahan dari berbagai sumber dapat ditulus sebagai bahan pelajaran. 1. Hendaknya bahan yang mau ditulis berisikan hal-hal yang normative (bersifat pedagogis) 2. Hendaknya bahan yang akan ditulis memperhatikan kejiwaan peserta didik yang akan mempergunakannya (bersifat psikologis) 3. Hendaknya bahan yang akan ditulis dapat diorganisir sedemikian rupa sehingga mudah untuk diajarkan (didatis) 4. Hendaknya bahan yang akan ditulis tidak menimbulkan kontrofersi dalam masyarakat (bersifat sosiologis) 5. Hendaknya bahan yang akan ditulis tidak bertentangan dengan UUD 1945, GBHN, UU system pendidikan nasional, peraturan pemerintah serta peraturan- peraturan yang lain (bersifat yuridis) d. fungsi kurikulum bagi masyarakat Kurikulum adalah alat produsen sekolah. Sedangkan masyarakat merupakan konsumennya. Maka menjadi suatu keniscayaan antara produsen dan konsumen harus sinergi dan sinkron. Kurikulum sekolah harus mampu menghasilkan output yang berdaya guna dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dibawah ini akan dipaparkan fungsi kurikulum sekolah dengan harapan masyarakat. 1. Pendidikan umum kurikulumnya mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat- tingkat akhir masa pendidikan 2. Pendidikan kejuruan kurikulum mempersiapkan peserta didik dapat bekerja dalam bidang tertentu dimasyarakat 3. Pendidikan luar biasa kurikulumnya disediakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan untuk disiapkan agar dapat menyesuaikan dalam kehidupan masyarakat. 4. Pendidikan kedinasan kurikulumnya disiapkan oleh suatu departemen pemerintahan atau lembaga pemerintah non departemen dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinsan dimasyarakat nantinya 5. Pendidikan keagamaan kurikulumnya menyiapkan penguasaan pengetahuan khusu pendidikan agama yang bersangkutan dengan harapan lulusannya dapat menjadi Pembina agama yang baik di masyarakat 6. Pendidikan akademik kurikulumnya menyiapkan penguasaan ilmu pengetahuan agar lulusannya dapat menjadi pioneer-pioner pembangunan atas dasar konsep yang tangguh 7. Pendidikan professional kurikulumnya menyiapkan penerapan terentu, dengan harapan lulusannya dapat bekerja secara professional di masyarakat. Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu pesertadidik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum itusegala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan saranaserta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara 5
  6. 6. sistematis dan logis, diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah niat, rencana dan harapan. Menurut Alexander Inglis, fungsi kurikulum meliputi: 1. Fungsi Penyesuaian, karena individu hidup dalam lingkungan, sedangkan lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis, maka setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis. Dan di balik lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan, disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan menuju individu yang well adjusted. 2. Fungsi Integrasi, kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh karena individu itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat. 3. Fungsi Deferensiasi, kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan- perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dankreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. 4. Fungsi Persiapan, kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. Mempersiapkan kemampuan sangat perlu, karena sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka. 5. Fungsi Pemilihan, antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang dinginkan dan menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel. 6. Fungsi Diagnostik, salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki.Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa. Fungsi kurikulum dalam mendiagnosa dan membimbing siswa agar dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal.1.5 Tujuan kurikulum Tujuan kurikulum adalah segala sesuatu yang ingin dicapai. Tujuan juga bisa dibahsakan dengan sesuatu yang menjadi paripurna dari segenap usaha-usaha yang dilakukan. Tujuan hanya bisa dicapai dengan usaha dan cara. Dalam pendidikan, tujuan pendidikan bisa dicapai dengan kurikulum. Dengan kata lain kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan yang telah digariskan dalam penyelenggaraan pendidikan. Tujuan pneidikan itu sendiri sangatlah abstrak, dan kelompok. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwasannya tujuan pendidikan sangatlah komplek dan terkadang akan bersifat subjektif dikarenakan tujuan pendidikan abstrak. Tujuan pendidikan merupakan tujuan kurikulum itu sendiri. Kurikulum mempunyai banyak tujuan dilihat dari beberapa sudut pandang yang mempunyai sasaran yang berbeda-beda.1.6 Komponen kurikulum Pada pertemuan sebelumnya telah dipelajari bahwa untuk memahami kurikulum kita dapat membedah definisi kurikulum ke dalam unsur-unsur kurikulum. Dengan mengetahui unsur-unsur kurikulum, kita akan jauh lebih mudah untuk mengetahui komponen-komponen kurikulum. 6
  7. 7. Perbedaan ruang lingkup kurikulum juga dapat menggambarkan berbagai perbedaan dalam definisi kurikulum. Ada yang berpendapat bahwa kurikulum adalah "statement of objectives" (McDonald; Popham), ada yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rencana bagi guru untuk mengembangkan proses pembelajaran atau instruction (Saylor, Alexander,dan Lewis, 1981). Ada yang mengatakan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisikan berbagai komponen sebagai dasar bagi guru untuk mengembangkan kurikulum guru (Zais,1976:10). Ada juga pendapat resmi negara seperti yang dinyatakan dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa kurikulum adalah "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaranserta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu" (pasal 1 ayat 19). Dari definisi kurikulum sebagaimana telah dirumuskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kurikulum itu terdiri dari beberapa komponen utama: 1. Isi dan bahan pelajaran; 2. Cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran; 3. Tujuan pendidikan yang akan dicapai Subandiyah dalam bukunya menyebutkan komponen utama kurikulum adalah: 1. Tujuan pendidikan; 2. Isi/materi; 3. Organisasi/strategi; 4. Media; 5. Proses belajar mengajar; Sedang komponen penunjangnya adalah: 1. Sistem administrasi dan supervise; 2. Bimbingan dan penyuluhan; 3. Sistem evaluasi1.7 Perkembangan Kurikulum di Indonesia Secara umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya. Kurikulum yang pernah diberlakukan secara nasional di Indonesia dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut: Tabel II. Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia 7
  8. 8. No. Kurikulum Keterangan 1 Rencana • Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Mr. Suwandi, Pelajaran membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran. 1947 • Merupakan kurikulum pertama di Indonesia. Rencana Pelajaran yang disusun harus memperhatikan; (1) mengurangi pendidikan pikiran, (2) menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari- hari, (3) memberikan perhatian kepada kesenian, (4) meningkatkan pendidikan watak, (5) meningkatkan pendidikan jasmani, dan (6) meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat. • Istilah kurikulum belum digunakan. Istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran. Unsur pokok kurikulum adalah: (1) daftar jam pelajaran atau struktur program, (2) garis-garis besar program pengajaran. • Struktur program dibagi menjadi: (1) struktur program yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Daerah, (2) struktur program yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia. • Merupakan kurikulum dengan mata pelajaran terpisah-pisah (separated curriculum).2 Rencana • Lahir karena tunturan UU Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar- Pelajaran dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah. 1950 • Kurikulum ini masih relatif sama dengan Rencana Pelajaran 1947 • Istilah kurikulum masih belum digunakan. Istilah yang dipakai adalah Rencana Pelajaran. • Kurikulum ini merupakan kurikulum masih dengan mata pelajaran terpisah-pisah (separated curriculum).3 Rencana • Merupakan penyempurnaan dari Rencana Pelajaran 1950. Pelajaran • Digunakan sampai dengan tahun 1964 19584 Rencana • Merupakan penyempurnaan dari Rencana Pelajaran 1958 Pelajaran • Digunakan sampai dengan tahun 1968. 1964 • Terdapat pembagian kelompok cipta, rasa, karsa, dan krida.5 Kurikulum • Kurikulum ini merupakan kurikulum terpadu pertama di Indonesia. 1968 Beberapa mata pelajaran Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPA) atau yang sekarang sering disebut Sains. • Struktur program dibagi menjadi (1) pembinaan jiwa Pancasila, (2) pengetahuan dasar, dan (3) kecakapan khusus. • Struktur program untuk Sekolah Dasar, program pembinaan jiwa Pancasila meliputi mata pelajaran (1) Pendidikan Agama, (2) Pendidikan Kewargaan Negara, (3) Pendidikan Bahasa Indonesia, (4) Bahasa Daerah, dan (5) Pendidikan Olahraga. • Untuk program pengetahuan dasar meliputi mata pelajaran (1) Berhitung, (2) IPA, (3) Pendidikan Kesenian, dan (4) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. • Untuk program kecakapan khusus meliputi mata pelajaran Pendidikan Khusus. • Untuk pertama kalinya istilah kurikulum dipakai di Indonesia.6 Kurikulum • Lahir sebagai tuntutan Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 1975 tentang GBHN 1973, dengan tujuan pendidikan ”membentuk manusia Indonesia untuk pembangunan nasional di berbagai bidang. • Struktur program untuk SD meliputi bidang studi (1) Agama, (2) Pendidikan Moral Pancasila, (3) Bahasa Indonesia, (4) Ilmu Pengetahuan Sosial, (5) Matematika, (6) Ilmu Pengetahuan Alam, (7) Olahraga dan Kesehatan, (8) Kesenian, dan (9) Keterampilan 8 Khusus. • Untuk SMP ditambah dengan bidang studi Bahasa Daerah, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Keterampilan, baik yang pilihan terikat
  9. 9. Sumber: Lima Puluh Tahun Pendidikan Indonesia. 9
  10. 10. DAFTAR PUSTAKAHamalik,O. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi AksaraNasution, S. 2006. Asas-Asas Kurikulum, Jakarta : Bumi Aksarawww.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.pptwww.kopertis4.or.idwww.bsn.or.id/SNI 10
  11. 11. ORGANISASI KURIKULUM1.8 Macam-macam Kurikulum Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai berikut: 1. Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum 2. Kurikulum aktual atau faktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar. 3. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas, seperti kebiasaan guru, kehadiran guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri dan sebagainya akan dapat menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh terhadap pelaksanaan kurikulum ideal di sekolah. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik. Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat membedakan: 1. Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum yang mata pelajarannya dirancang untuk diberikan secara terpisah-pisah. Misalnya, mata pelajaran sejarah diberikan terpisah dengan mata pelajaran geografi, dan seterusnya. Kurikulum sebelum tahun 1968 di Indonesia termasuk dalam kategori kurikulum terpisah-pisah. 2. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan fusi dari beberapa mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah Sekolah Dasar. Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata pelajaran lain diberikan dalam satu tema tertentu. Kurikulum 1968 di Indonesia termasuk dalam kategori kurikulum terpadu. 3. Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya dirancang dan disajikan secara terkorelasi dengan bahan ajar yang lain. Berdasarkan proses pengembangannya dan ruang lingkup penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi: 1. Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional. 2. Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika Serikat, dan digunakan oleh masing-masing negara bagian itu. 11
  12. 12. 3. Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum. PENGEMBANGAN KURIKULUM1.9 Proses Pengembangan Kurikulum Proses pengembangan kurikulum a complex process of assessing needs, identifying desired learning outcomes, preparing for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural, social, and personal needs that the curriculum is to serve. Unruh dan Unruh (1984). Kurikulum memang harus dibuat. Disusun dengan proses tertentu. Negara yang memiliki UU tentang Sistem Pendidikan Nasional mempunyai kepentingan untuk menyusun kurikulum tersebut berdasarkan amanat yang ada di dalam undang-undang tersebut. Untuk menyusun kurikulum nasional, sudah barang tentu ada lembaga tertentu yang telah diberikan tugas dan tanggung jawab untuk menyusun atau mengembangkan kurikulum yang akan digunakan secara nasional. Di Indonesia, lembaga itu dikenal sebagai Pusat Kurikulum, yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional (Balitbang Diknas). Di negara lain tentu saja ada lembaga seperti itu. Ada beberapa pemangku kepentingan yang menurut David G. Amstrong biasanya dilibatkan dalam pengembangan kurikulum, yaitu: 1. Curriculum specialist (spesialis kurikulum, ahli kurikulum); 2. Teacher/instructors (guru/instruktur); 3. Learners (peserta didik); 4. Principals/corporate unit supervisors (kepala sekolah/unit pengawas sekolah); 5. Central office administrators/corporeate administrators (administrator kantor pusat/administrator perusahaan; 6. Special experts (ahli special); 7. Lay public representatives (perwakilan masyarakat umum). Yang dimaksud pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Definisi yang dikemukakan terdahulu menggambarkan pengertian yang membedakan antara apa yang direncanakan (kurikulum) dengan apa yang sesungguhnya terjadi di kelas (instruction atau pengajaran). Memang banyak ahli kurikulum yang menentang pemisahan ini tetapi banyak pula yang menganut pendapat adanya perbedaan antara keduanya. Kelompok yang menyetujui pemisahan itu beranggapan bahwa kurikulum adalah rencana yang mungkin saja terlaksana tapi mungkin juga tidak sedangkan apa yang terjadi di sekolah/kelas adalah sesuatu yang benar-benar terjadi yang mungkin berdasarkan rencana tetapi mungkin juga berbeda atau bahkan menyimpang dari apa yang direncanakan. Perbedaan titik pandangan ini tidak sama dengan perbedaan cara pandang antara kelompok ahli kurikulum dengan ahli teaching (pangajaran). Baik ahli kurikulum maupun pengajaran mempelajari fenomena kegiatan kelas tetapi dengan latar belakang teoritik dan tujuan yang berbeda. Unruh dan Unruh (1984:97) mengatakan bahwa proses pengembangan kurikulum a complex process of assessing needs, identifying desired learning 12
  13. 13. outcomes, preparing for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural,social, and personal needs that the curriculum is to serve. Berbagai faktor seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, ilmu, teknologiberpengaruh dalam proses pengembangan kurikulum. Oleh karena itu Olivia (1992:39-41) selain mengakui bahwa pengembangan kurikulum adalah suatu proses yangkompleks lebih lanjut mengatakan curriculum is a product of its time. curriculumresponds to and is changed by social forced, philosophical positions, psychologicalprinciples, accumulating knowledge, and educational leadership at its moment inhistory. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam pengembangan kurikulum fokusawal memberi petunjuk jelas apakah kurikulum yang dikembangkan tersebutkurikulum dalam pandangan tradisional, modern ataukah romantism. Model pengembangan kurikulum berikut ini adalah model yang biasanyadigunakan dalam banyak proses pengembangan kurikulum. Dalam model inikurikulum lebih banyak mengambil posisi pertama yaitu sebagai rencana dan kegiatan.Ide yang dikembangkan pada langkah awal lebih banyak berfokus pada kualitas apayang harus dimiliki dalam belajar suatu disiplin ilmu, teknologi, agama, seni, dansebagainya. Pada fase pengembangan ide, permasalahan pendidikan hanya terbataspada permasalahan transfer dan transmisi. Masalah yang muncul di masyarakat atauide tentang masyarakat masa depan tidak menjadi kepedulian kurikulum. Kegiatanevaluasi diarahkan untuk menemukan kelemahan kurikulum yang ada, model yangtersedia dan dianggap sesuai untuk suatu kurikulum baru, dan diakhiri dengan melihathasil kurikulum berdasarkan tujuan yang terbatas. Keseluruhan proses pengembangan kurikulum di perguruan tinggi dapatdigambarkan sebagai berikut: Sumber: Hasan, S. H Dalam proses pengembangan tersebut unsure-unsur luar seperti kebudayaan dimana suatu lembaga pendidikan berada tidak pula mendapat perhatian. Konsepdiversifikasi kurikulum menempatkan konteks social-budaya seharusnya menjadi pertimbangan utama. Sayangnya, karena sifat ilmu yang universalmenyebabkan konteks social-budaya tersebut terabaikan. Padahal seperti dikemukakanLongstreet dan Shane (1993:87) bahwa kebudayaan berfungsi dalam dua perspektif 13
  14. 14. yaitu eksternal dan internal: The environment of the curriculum is external insofar as the social order in general establishes the milieu within which the schools operate; it is internal insofar as each of us carries around in our minds eye models of how the schools should function and what the curriculum should be. The external environment is full of disparate but overt conceptions about what the schools should be doing. The internal environment is a multiplicity of largely unconscious and often distorted views of our educational realities for, as individuals, we caught by our own cultural mindsets about what should be, rather than by a recognition of our swiftly changing, current realities. Model kedua yang diajukan dalam makalah ini adalah model yang menempatkan kurikulum dalam posisi kedua dan ketiga. Dalam model ini maka proses pengembangan kurikulum dimulai dengan evaluasi terhadap masyarakat. Identifikasi masalah dalam masyarakat dan kualitas yang dimiliki suatu komunitas pada saat sekarang dijadikan dasar dalam perbandingan dengan kualitas yang diinginkan masyarakat sehingga menghasilkan harus dikembangkan oleh kurikulum. Dalam model ini maka proses pengembangan kurikulum selalu dimulai dengan evaluasi terhadap masyarakat. Pencapaian tujuan kurikulum pun diukur dengan keberhasilan lulusan di masyarakat. Sumber: Hasan, S. H.1.10 KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan 14
  15. 15. pendidikan dengan mengacu kepada standar isi (SI) dan standar kelulusan (SKL) sertaberpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan(BSNP). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang StandarPengelolaan Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan tentang KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa:1. Sekolah/Madrasah menyusun KTSP.2. Penyusunan KTSP memperhatikan Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya.3. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah/madrasah, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.4. Kepala Sekolah/Madrasah bertanggungjawab atas tersusunnya KTSP.5. Wakil Kepala SMP/MTs dan wakil kepala SMA/SMK/MA/MAK bidang kurikulum bertanggungjawab atas pelaksanaan penyusunan KTSP.6. Setiap guru bertanggungjawab menyusun silabus setiap mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Panduan Penyusunan KTSP.7. Dalam penyusunan silabus, guru dapat bekerjasama dengan Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), atau Perguruan Tinggi.8. Penyusunan KTSP tingkat SD dan SMP dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sedangkan SDLB, SMPLB, SMALB, SMA dan SMK oleh Dinas Pendidikan Provinsi yang bertanggungjawab di bidang pendidikan. Khusus untuk penyusunan KTSP Pendidikan Agama (PA) tingkat SD dan SMP dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota, sedangkan untuk SDLB, SMPLB, SMALB, SMA dan SMK oleh Kantor Wilayah Departemen Agama.9. Penyusunan KTSP tingkat MI dan MTs dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota, sedangkan MA dan MAK oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Apa yang dimaksud kurikulum dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional? Apa yang dimaksud KTSP? Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isidan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraankegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu inimeliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi danpotensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusunoleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengankebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Sedang kurikulum tingkat satuanpendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan olehmasing-masing satuan pendidikan.Bagaimana Konsep Dasar KTSP? Konsep dasar KTSP meliputi 3 (tiga) aspek yang saling terkait, yaitu (a)kegiatan pembelajaran, (b) penilaian, dan (c) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Kegiatan pembelajaran dalam KTSP mempunyai karakteristik sebagai berikut:1. Berpusat pada peserta didik2. Mengembangkan kreativitas 15
  16. 16. 3. Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang 4. Kontekstual 5. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam 6. Belajar melalui berbuatPenilaian dalam KTSP mempunyai karakteristik1. Dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan, bersifat internal, bagian dari pembelajaran, dan sebagai bahan untuk peningkatan mutu hasil belajar;2. Berorientasi pada kompetensi, mengacu pada patokan, ketuntasan belajar, dilakukan melalui berbagai cara, yaitu (a) portfolios (kumpulan kerja siswa), (b) products (hasil karya), (c) projects (penugasan), (d) performances (unjuk kerja), dan (e) paper & pen test (tes tulis).Pengelolaan kurikulum berbasis sekolahPengelolaan kurikulum berbasis sekolah mempunyai prinsip-prinsip:1. Mengacu pada Visi dan Misi Sekolah2. Pengembangan perangkat kurikulum (a.l. silabus)3. Pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lainnya untuk meningkatkan mutu hasil belajar4. Pemantauan danApa Landasan KTSP ?1. UU Nomor20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional2. PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan3. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi4. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan5. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 Tahun 2007 tentang pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23/20066. Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian PendidikanBagaimana Prinsip Pengembangan KTSP? Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacukepada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikannasional. Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,disebutkan sistem pendidikan nasional memiliki 8 (delapan) standar, yang meliputi (1)standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar tenagakependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standarpembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasionalpendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam menyusun dan mengembangkankurikulum untuk satuan pendidikannya.Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. 16
  17. 17. 2. Beragam dan Terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.6. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.7. Seimbang antara kepentingan Nasional dan kepentingan Daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Acuan Operasional Penyusunan KTSP1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional5. Tuntutan dunia kerja6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni7. Agama8. Dinamika perkembangan global9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat11. Kesetaraan gender12. Karakteristik satuan pendidikan 17
  18. 18. Dokumen I KTSPDokumen KTSP terdiri atas 4 bab, meliputi:1. Bab I Pendahuluan, meliputi subbab (A) Latar Belakang, (B) Tujuan, dan (C) Prinsip Pengembangan KTSP.2. Bab II Tujuan Pendidikan, meliputi subbab (A) Visi, (B) Misi, (C) Tujuan Sekolah.3. Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum, meliputi (A) mata pelajaran, (B) muatan lokal, (C) kegiatan pengembangan diri, (D) pengaturan beban belajar, (E) ketuntasan belajar, (F) kenaikan kelas dan kelulusan, (G) pendidikan kecakapan hidup, dan (H) pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Mata pelajaran muatan nasional, alokasi jam pelajaran, dan pengelompokan matapelajaran serta aturan pengelolaan jam pelajaran mengacu pada Bab II Standar Isi.Muatan Lokal merupakan mata pelajaran yang dikembangkan untuk mengakomodasikepentingan daerah atau satuan pendidikan. Pengembangan Standar Kompetensi danKompetensi dasar yang akan dicapai dilakukan oleh satuan pendididkan dan/atau DinasPendidikan yang terkait. Kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan yang mewadahi bakat dan minatpeserta didik. Tujuan kegiatan pengembangan diri adalah mengembangkan potensipeserta didik, terutama pada perubahan perilaku sesuai dengan target yang dicanangkanoleh satuan pendidikan. Pengaturan beban belajar mengacu pada bab III Standar Isi. Beban belajar dalambentuk tatap muka dirancang bersama oleh satuan pendidikan. Rancangan beban belajardalam bentuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dirancang olehguru mata pelajaran. Ketuntasan belajar adalah target minimal yang akan dicapai oleh satuanpendidikan. Kriteria Ketuntasan minimal (KKM) merupakan hasil analisis ataskompleksitas, daya dukung, dan intake siswa terhadap kompetensi dasar, standarkompetensi, dan mata pelajaran yang dibelajarkan. Agar hasil belajar peserta didik dapatmencapai, bahkan melebihi KKM, satuan pendidikan merancang program remedial danpengayaan. Kriteria kenaikan kelas dan kelulusan dikembangkan oleh satuan pendidikan.Acuan minimal kriteria kenaikan kelas adalah Peraturan Dirjen tentang Laporan HasilBelajar dan POS UN tahun sebelumnya. Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan kecakapan yang diperlukan agarseseorang mampu dan berani menghadapi problema kehidupan dan memecahkannyasecara arif dan kreatif. Kecakapan hidup yang perlu dikembangkan adalah kecakapanpersonal, sosial, dan akademik. Kecakapan vokasional terakomodasi dalam mata pelajaranmuatan lokal. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dikembangkan denganmemanfaatkan keunggulan lokal dan meningkatkan daya saing global. Keunggulan lokaldapat dikembangkan dalam muatan lokal, pengembangan diri, maupun terintegrasi dalammata pelajaran.4. Bab IV Kalender pendidikan berisi rancangan kalender sekolah yang mengacu pada kalender dinas pendidikan terkait dan pedoman penyusunan kalender yang terdapat dalam bab IV standar isi.Dokumen II KTSP KTSP terdiri atas dua dokumen, yaitu (1) dokumen I yang berisi tentang (a)landasan, (b) program, dan (c) pengembangan kurikulum. Dokumen I (pertama) disusun 18
  19. 19. oleh tim handal yang dibentuk oleh sekolah dengan melibatkan semua pemangkukepentingan. Pemangku kepentingan tersebut adalah (1) kepala sekolah, (2) guru, (3)tenaga administrasi, (4) pengawas sekolah, dan (5) komite sekolah dan orangtua siswa,serta (6) dinas pendidikan. Dokumen II (kedua) merupakan penjabaran secara operasional dari dokumenpertama, terdiri atas (a) silabus dan (b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Dokumen Dokumen II disusun oleh guru kelas dan guru mata pelajaran, atau kelompokkerja guru kelas atau guru mata pelajaran dalam kegiatan organisasi profesi sepertiKelompok Kerja Guru (untuk guru sekolah dasar), Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP), atau bahkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).1.11 Silabus Apakah itu silabus? Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar Silabus menjawab tiga pertanyaan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu apa kompetensi yang harus dikuasai siswa, bagaimana cara mencapainya, dan bagaimana cara mengetahui pencapaiannya. Siapa yang menyusun silabus? Silabus disusun oleh guru yang mengajarkan mata pelajaran. Proses penyusunan silabus dapat saja disusun bersama oleh satu tim guru mata pelajaran, dalam satu kegiatan guru, misalnya dalam kegiatan MGMP. Setiap guru akan berbeda antara satu guru dengan guru yang lain, baik dalam satu daerah ataupun dalam daerah yang lain. Namun demikian, dengan memperhatikan hakekat silabus di atas, suatu silabus minimal memuat lima komponen utama, yakni: 1. standart kompetensi 2. kompetensi dasar 3. indicator 4. materi standar 5. standar proses (kegiatan belajar mengajar) 6. standar penilaian Apa landasan penyusunan silabus? Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 17 Ayat (2), Sekolah dan komitesekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuanpendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensilulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidangpendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusanpemerintahan di bidang agama untuk MI. MTs, MA, dan MAK. 19
  20. 20. Praktik Penyusunan Silabus Contoh format silabus dapat dijelaskan sebagai berikut: FORMAT SILABUSNama Sekolah :Mata Pelajaran :Kelas / Program :Semester :Standar Kompetensi: 1.Alokasi : Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar Dasar Pembelajaran PembelajaranIndentitas:Nama Sekolah : diisi dengan nama sekolah, seperti SMA PasuruanMata Pelajaran : diisi dengan mata pelajaran yang diajarkan, seperti Ekonomi, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dsb.Kelas/Program : diisi dengan kelas dan program jurusanSmester : diisi dengan semester ganjil/genap 26
  21. 21. Standar Kompetensi : diisi dengan standar kompetensi yang diambil dari standar isi yang terdapat dalam Permendiknas Nomor 22 sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.Alokasi : diisi dengan waktu yang ditentukan sesuai dengan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh rata-rata peserta didik untuk menguasai kompetensi dasarKolom-kolom format silabus:1. Kompetensi Dasar: diisi dengan kompetensi dasar yang dikutip dari standar isi;2. Materi Pembelajaran: diisi dengan materi pembelajaran yang dijabarkan dari kompetensi dasar tersebut;3. Kegiatan Pembelajaran: diisi dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan agar proses pembelajaran tersebut dapat mencapai kompetensi dasar yang diharapkan;4. Indikator: diisi dengan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur apakah kompetensi dasar telah dapat dicapai atau belum;5. Teknik Penilaian: diisi dengan teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar berdasarkan indikator, misalnya tes tertulis, tes lisan, dsb;6. Alokasi Waktu: diisi dengan berapa kali pertemuan X menit yang diperlukan;7. Sumber Belajar: diisi sumber belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, seperti buku apa, media belajar, sumber belajar dari alam, dsb. 27
  22. 22. Contoh Silabus SILABUSNama Sekolah : SMA PasuruanMata Pelajaran : EkonomiKelas / Program :XSemester :1Standar Kompetensi: 1. Memahami permasalahan ekonomi dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, kelangkaan dan sistem ekonomiAlokasi : 21 x 40 menit Alokasi Sumber/ Materi Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Waktu Bahan/ Pembelajaran (menit) Alat Kebutuhan Jenis 6 x 40 Refrensi 1.1 Mengidentifikasi Manusia Tagihan: menit yang kebutuhan manusia • Pengertian • Mencari informasi  Mendeskripsikan Kuis, relevan Kebutuhan tentang pengertian pengertian pertanyaan pada kebutuhan manusia kebutuhan. lisan, sumber melalui berbagai ulangan, bahan. macam sumber. Tugas • Macam-macam • Mengidentifikasi  Mengidentifikasi Individu, kebutuhan bermacam-macam bermacam-macam Tugas kebutuhan manusia di kebutuhan manusia. Kelompok daerah setempat. Bentuk • Mendiskusikan Tagihan: kebutuhan manusia di Pilihan daerah setempat yang ganda, paling dominan. uraian • Mengklasifikasikan obyektif, jenis kebutuhan Tes tertulis, 1.2 Mendeskripsikan uraian 28
  23. 23. Alokasi Sumber/ Materi Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Waktu Bahan/ Pembelajaran (menit) Alat berdasarkan tingkatan bebas, berbagai sumber kebutuhan. jawaban ekonomi yang singkat. langka dan Berbagai sumber kebutuhan manusia ekonomi yang yang tidak terbatas langka dan kebutuhan 4 x 40 manusia yang menit tidak terbatas. • Pengertian • Menggali informasi kelangkaan tentang kelangkaan.  Mendeskripsikan pengertian • Mendiskusikan faktor kelangkaan • Faktor penyebab kelangkaan penyebab di daerah setempat  Mengidentifikasi kelangkaan dan sekitarnya. faktor-faktor penyebab kelangkaan • Mengidentifikasi berbagai sumber  Pengalokasian ekonomi yang langka  Mengidentifikasi sumber daya dan kebutuhan pengalokasian ekonomi. manusia yang tidak sumber daya yang terbatas melalui studi mendatangkan pustaka di daerah manfaat bagi rakyat1.3 Mengidentifikasi setempat dan banyak. masalah pokok sekitarnya. ekonomi, yaitu • Bersikap rasional 29
  24. 24. Alokasi Sumber/ Materi Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Waktu Bahan/ Pembelajaran (menit) Alat dalam menyikapi tentang apa, berbagai pilihan bagaimana dan kebutuhan. untuk siapa barang diproduksi • Mengidentifikasi Masalah Pokok barang-barang apa, Ekonomi bagaimana cara • Barang apa memproduksi dan  Mengidentifikasi yang untuk siapa barang barang apa, diproduksi. diproduksi melalui bagaimana cara1.4 Mengidentifikasi 3 x 40 • Bagaimana studi lapangan di memproduksi dan hilangnya menit cara suatu daerah. untuk siapa barang kesempatan pada memproduksi. diproduksi. tenaga kerja bila melakukan produksi • Untuk siapa di bidang lain barang diproduksi. Biaya peluang. • Pengertian • Mengkaji referensi biaya peluang. tentang permasalah1.5 Mengidentifikasi ekonomi untuk sistem ekonomi menemukan konsep untuk memecahkan • Mendeskripsikan 4 x 40 biaya peluang. masalah ekonomi menit • Mendiskusikan pengertian biaya contoh biaya peluang peluang. 30
  25. 25. Alokasi Sumber/ MateriKompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Waktu Bahan/ Pembelajaran (menit) Alat • Contoh biaya pada kesempatan peluang pada kerja bila melakukan kesempatan produksi di bidang kerja. lain. • Menunjukan • Mengkaji referensi contoh biaya peluang tentang sistem pada kesempatan kerja ekonomi bila melakukan Sistem Ekonomi produksi di bidang lain. • Pengertian sistem • Mendeskripsikan ekonomi pengertian sistem • Macam-macam ekonomi sistem ekonomi • Kebaikan dan 4 x 40 kelemahan • Mengidentifikasi menit sistem ekonomi. sistem ekonomi yang • Cara ada dan cara memecahkan memecahkan masalah masalah ekonomi melalui ekonomi studi lapangan • Mengidentifikasi melalui sistem sistem ekonomi yang ekonomi yang ada dan cara dianut. memecahkan masalah ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi) 31
  26. 26. DAFTAR PUSTAKAKonvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company.Oemar Hamalik. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.Rochman Natawidjaja (Ed). 1979. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Alat Peraga, dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.Widiastono, Tonny D. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 26
  27. 27. STANDAR ISI MATERI KURIKULUM EKONOMI1.10 Standar Kompetensi Dan Kompetensi DasarSatuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA) /Madrasah Aliyah (MA)Mata Pelajaran : EkonomiA. Latar Belakang Dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat di era global serta perkembangan IPTEK yang telah membawa perubahan pada aspek kehidupan manusia termasuk aspek ekonomi, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dalam arti sebagai insan berilmu pengetahuan, berketerampilan, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berupaya mencapai kesejahteraan diri serta memberikan sumbangan terhadap keharmonisan dan kemakmuran keluarga, masyarakat, dan negara. Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/atau distribusi. Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dibatasi dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar lingkungannya dan mengambil manfaat untuk kehidupannya yang lebih baik. Pembahasan manajemen difokuskan pada fungsi manajemen badan usaha dalam kaitannya dengan perekonomian nasional. Pembahasan fungsi manajemen juga mencakup pengembangan badan usaha termasuk koperasi. Akuntansi difokuskan pada perilaku akuntansi jasa dan dagang. Peserta didik dituntut memahami transaksi keuangan perusahaan jasa dan dagang serta mencatatnya dalam suatu sistem akuntansi untuk disusun dalam laporan keuangan. Pemahaman pencatatan ini berguna untuk memahami manajemen keuangan perusahaan jasa dan dagang. Mata pelajaran Ekonomi diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS. Pada tingkat pendidikan menengah, ekonomi diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. 27
  28. 28. B. Tujuan Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara 2. Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi 3. Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara 4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasionalC. Ruang lingkup Mata pelajaran Ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, meliputi aspek-aspek sebagai berikut. 1. Perekonomian 2. Ketergantungan 3. Spesialisasi dan pembagian kerja 4. Perkoperasian 5. Kewirausahaan 6. Akuntansi dan manajemen. 28
  29. 29. D. Standar Kompetensi dan Kompetensi DasarKelas X, Semester 1 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 2. Memahami 1.1 Mengidentifikasi kebutuhan manusia permasalahan ekonomi 1.2 Mendeskripsikan berbagai sumber ekonomi dalam kaitannya dengan yang langka dan kebutuhan manusia yang kebutuhan manusia, tidak terbatas kelangkaan dan sistem ekonomi 1.3 Mengidentifikasi masalah pokok ekonomi, yaitu tentang apa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi 1.5 Mengidentifikasi hilangnya kesempatan pada tenaga kerja bila melakukan produksi di bidang lain 1.6 Mengidentifikasi sistem ekonomi untuk memecahkan masalah ekonomi 3. Memahami konsep 2.1 Mendeskripsikan pola perilaku konsumen dan ekonomi dalam kaitannya produsen dalam kegiatan ekonomi dengan kegiatan ekonomi 2.2 Mendeskripsikan Circulair Flow Diagram konsumen dan produsen 2.3 Mendeskripsikan peran konsumen dan produsen 3 Memahami konsep 3.1 Mengidentifikasi faktor-faktor yang ekonomi dalam kaitannya mempengaruhi permintaan dan penawaran dengan permintaan, 3.2 Menjelaskan hukum permintaan dan hukum penawaran, harga penawaran serta asumsi yang mendasarinya keseimbangan, dan pasar 3.3 Mendeskripsikan pengertian harga dan jumlah keseimbangan 3.4 Mendeskripsikan berbagai bentuk pasar barang 3.5 Mendeskripsikan pasar input 29
  30. 30. Kelas X , Semester 2 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 4. Memahami kebijakan 4.1 Mendeskripsikan perbedaan antara ekonomi pemerintah dalam bidang mikro dan ekonomi makro ekonomi 4.2 Mendeskripsikan masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi 5. Memahami Produk 5.1 Menjelaskan konsep PDB, PDRB, PNB, PN Domestik Bruto (PDB), 5.2 Menjelaskan manfaat perhitungan pendapatan Produk Domestik nasional Regional Bruto (PDRB), Pendapatan Nasional 5.3 Membandingkan PDB dan pendapatan Bruto (PNB), Pendapatan perkapita Indonesia dengan negara lain Nasional (PN) 5.4 Mendeskripsikan indeks harga dan inflasi 6. Memahami konsumsi 6.1 Mendeskripsikan fungsi konsumsi dan fungsi dan investasi tabungan 6.2 Mendeskripsikan kurva permintaan investasi 7 Memahami uang dan 7.1 Menjelaskan konsep permintaan dan penawaran perbankan uang 7.2 Membedakan peran bank umum dan bank sentral 7.3 Mendeskripsikan kebijakan pemerintah di bidang moneter 30
  31. 31. Kelas XI, Semester 1 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 1. Memahami kondisi 1.1 Mengklasifikasi ketenagakerjaan ketenagakerjaan dan 1.2 Mendeskripsikan tujuan pembangunan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi 1.3 Mendeskripsikan proses pertumbuhan ekonomi 1.4 Mendeskripsikan pengangguran beserta dampaknya terhadap pembangunan nasional 2. Memahami APBN dan 2.1 Menjelaskan pengertian, fungsi, tujuan APBN APBD dan APBD 2.2 Mengidentifikasi sumber-sumber penerimaan pemerintah pusat dan pemerintah daerah 2.3 Mendeskripsikan kebijakan pemerintah di bidang fiskal 2.4 Mengidentifikasi jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah 3. Mengenal Pasar modal 3.1 Mengenal jenis produk dalam bursa efek 3.2 Mendeskripsikan mekanisme kerja bursa efek 4. Memahami perekonomian 4.1 Mengidentifikasi manfaat, keuntungan dan faktor-faktor pendorong perdagangan terbuka internasional 4.2 Mengidentifikasi kurs tukar valuta asing, dan neraca pembayaran 4.3 Menjelaskan konsep tarif, kuota, larangan ekspor, larangan impor, subsidi, premi, diskriminasi harga dan dumping 4.4 Menjelaskan pengertian devisa, fungsi sumber- sumber devisa dan tujuan penggunaannya 31
  32. 32. KELAS XI, Semester 2 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 5. Memahami penyusunan 5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem siklus akuntansi informasi perusahaan jasa 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi 5.3 Mencatat transaksi berdasarkan mekanisme debit dan kredit 5.4 Mencatat transaksi/dokumen ke dalam jurnal umum 5.5 Melakukan posting dari jurnal ke buku besar 5.6 Membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan jasa 5.7 Menyusun laporan keuangan perusahaan jasa 32
  33. 33. Kelas XII, Semester 1 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 1. Memahami penyusunan 1.1 Mencatat transaksi/dokumen ke dalam jurnal siklus akuntansi khusus perusahaan dagang 1.2 Melakukan posting dari jurnal khusus ke buku besar 1.3 Menghitung harga pokok penjualan 1.4 Membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan dagang 1.5 Menyusun laporan keuangan perusahaan dagang 2. Mamahami penutupan 2.1 Membuat jurnal penutupan siklus akuntansi 2.2 Melakukan posting jurnal penutupan ke buku perusahaan dagang besar 2.3 Membuat neraca saldo setelah penutupan buku 33
  34. 34. Kelas XII, Semester 2 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 3. Memahami manajemen 3.1 Menjelaskan unsur-unsur manajemen badan usaha dalam 3.2 Menjelaskan fungsi manajemen dalam perekonomian nasional pengelolaan badan usaha 3.3 Mendeskripsikan peran badan usaha dalam perekonomian Indonesia 4. Memahami pengelolaan 4.1 Mendeskripsikan cara pengembangan koperasi dan kewirausahaan koperasi dan koperasi sekolah 4.2 Menghitung pembagian sisa hasil usaha 4.3 Mendeskripsikan peran dan jiwa kewirausahaanE. Arah Pengembangan Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian. . 34
  35. 35. BAB III PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL1.13 Arti dan Karakteristik Modul Sebagai salah satu bahan ajar cetak, modul merupakan suatu paket belajar yangberkenaan dengan satu unit bahan pelajaran. Dengan modul siswa dapat mencapai danmenyelesaikan bahan belajarnya dengan belajar secara individual. Peserta belajar tidakdapat melanjutkan ke suatu unit pelajaran berikutnya sebelum menyelesaikan secara tuntasmateri belajarnya. Dengan modul siswa dapat mengontrol kemampuan dan intensitasbelajarnya. Modul dapat dipelajari di mana saja. Lama penggunaan sebuah modul tidaktertentu, meskipun di dalam kemasan modul juga disebutkan waktu yang dibutuhkanuntuk mempelajari materi tertentu. Akan tetapi keleluasaan siswa mengelola waktutersebut sangat fleksibel, dapat beberapa menit dan dapat pula beberapa jam, dan dapatdilakukan secara tersendiri atau diberi variasi dengan metode lain. Pembelajaran dengan modul memiliki ciri-ciri (Vembriarto, 1985: 27) sebagaiberikut:1) Bersifat self-instructional. Pengajaran modul menggunakan paket pelajaran yang memuat satu konsep atau unit dari bahan pelajaran. Sementara, pendekatan yang digunakan dalam pengajaran modul menggunakan pengalaman belajar siswa melalui berbagai macam penginderaan, melalui pengalaman mana siswa terlibat secara aktif belajar.2) Pengakuan atas perbedaan-perbedaan individual Pembelajaran melalui modul sangat sesuai untuk menanggapi perbedaan individual siswa, karena modul pada dasarnya disusun untuk diselesaikan oleh siswa secara perorangan. Oleh karena itu pembelajaran melalui modul, siswa diberi kesempatan belajar sesuai irama dan kecepatan masing-masing.3). Memuat rumusan tujuan pembelajaran/kompetensi dasar secara eksplisit. Tiap-tiap modul memuat rumusan tujuan pengajaran/kompetensi dasar secara spesifik dan eksplisit. Hal ini sangat berguna bagi berbagai pihak seperti bagi penyusun modul, guru, dan bagi siswa. Bagi penyusun modul, tujuan yang spesifik berguna untuk menentukan media dan kegiatan belajar yang harus direncanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Bagi guru tujuan itu berguna untuk memahami isi pelajaran. Bagi siswa berguna untuk menyadarkan mereka tentang apa yang diharapkan.4) Adanya asosiasi, struktur, dan urutan pengetahuan Proses asosiasi terjadi karena dengan modul siswa dapat membaca teks dan melihat diagram-diagram darn buku modulnya. Sedangkan struktur dan urutan maksudnya materi pada buku modul itu dapat disusun mengikuti struktur pengetahuan secara hirarkis. Dengan demikian siswa dapat mengikuti urutan kegiatan belajar secara teratur.5) Penggunaan berbagai macam media (multi media) Pembelajaran dengan modul memungkinkan digunakannya berbagai macam media pembelajaran. Hal ini dikarenakan karakteristik siswa berbeda-beda terhadap kepekaannya terhadap media. Oleh karena itu dalam belajar menggunakan modul bisa saja divariasikan dengan media lain seperti radio atau televisi.6) Partisipasi aktif dari siswa Modul disusun sedemikian rupa sehingga bahan-bahan pembelajaran yang ada dalam modul tersebut bersifat self instructional, sehingga akan terjadi keaktifan belajar yang tinggi. 35
  36. 36. 7) Adanya reinforcement langsung terhadap respon siswa Respon yang diberikan siswa mendapat konfirmasi atas jawaban yang benar, dan mendapat koreksi langsung atas kesalahan jawaban yang dilakukan. Hal ini dilakukan dengan cara mencocokkan hasil pekerjaannya dengan kunci jawaban yang telah disediakan.8). Adanya evaluasi terhadap penguasaan siswa atas hasil belajarnya Dalam pembelajaran modul dilengkapi pula dengan adanya kegiatan evaluasi, sehingga darn hasil evaluasi ini dapat diketahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajarinya. Untuk mengetahui siswa berada pada tingkat penguasaan yang mana, dalam suatu modul juga dilengkapi tentang cara perhitungannya dan patokannya. Karakteristik modul dapat diketahui dari formatnya yang disusun atas dasar: 1) prinsip-prinsip desain pembelajaran yang berorientasi kepada tujuan (objective model) 2) prinsip belajar mandiri 3) prinsip belajar maju berkelanjutan (continuous progress) 4) penataan materi secara modular yang utuh dan lengkap (self contained) 5) prinsip rujuk silang (cross referencing) antar modul dalarn rnata pelajaran 6) penilaian belajar mandiri terhadap kemajuan belajar (self-evaluation).1.14 Teknik Pengembangan Modul Mengembangkan modul berarti mengajarkan suatu mata pelajaran melalui tulisan.Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengembangkan modul samadengan yang digunakan dalam pembelajaran biasa. Bedanya adalah, bahasa yangdigunakan bersifat setengah formal dan setengah lisan, bukan bahasa buku teks yangbersifat sangat formal. Ada tiga teknik yang dapat dipilih dalam menyusun modul. Ketiga teknik tersebutmenurut Sungkono, dkk.(2003: 10), yaitu menuulis sendiri, pengemasan kembaliinformasi, dan penataan informasi:1. Menulis Sendiri (Starting from Scratch) Penulis/guru dapat menulis sendiri modul yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Asumsi yang mendasari cara ini adalah bahwa guru adalah pakar yang berkompeten dalam bidang ilmunya, mempunyai kemampuan menulis, dan mengetahui kebutuhan siswa dalam bidang ilmu tersebut. Untuk menulis modul sendiri, di samping penguasaan bidang ilmu, juga diperlukan kemampuan menulis modul sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu selalu berlandaskan kebutuhan peserta belajar, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, bimbingan, latihan, dan umpan balik. Pengetahuan itu dapat diperoleh melalui analisis pembelajaran, dan silabus. Jadi, materi yang disajikan dalam modul adalah pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang tercantum dalam silabus.2. Pengemasan Kembali Informasi (Information Repackaging) Penulis/guru tidak menulis modul sendiri, tetapi memanfaatkan buku-buku teks dan informasi yang telah ada di pasaran untuk dikemas kembali menjadi modul yang memenuhi karakteristik modul yang baik. Modul atau informasi yang sudah ada dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (sesuai dengan kompetensi, silabus dan RPP/SAP), kemudian disusun kembali dengan gaya bahasa yang sesuai. Selain itu juga diberi tambahan keterampilan atau kompetensi yang akan dicapai, latihan, tes formatif, dan umpan balik. 36
  37. 37. 3. Penataan Informasi (Compilation) Cara ini mirip dengan cara kedua, tetapi dalam penataan informasi tidak ada perubahan yang dilakukan terhadap modul yang diambil dari buku teks, jurnal ilmiah, artikel, dan lain-lain. Dengan kata lain, materi-materi tersebut dikumpulkan, digandakan dan digunakan secara langsung. Materi-materi tersebut dipilih, dipilah dan disusun berdasarkan kompetensi yang akan dicapai dan silabus yang hendak digunakan.1.15 Komponen-komponen Modul Komponen-komponen utama yang perlu tersedia di dalam modul, yaitu tinjauan matapelajaran, pendahuluan, kegiatan belajar, latihan; rambu-rambu jawaban latihan,rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban tes formatif Kedelapan komponen tersebutakan dijelaskan satu persatu dalam bagian selanjutnya.1. Tinjauan Mata Pelajaran Tinjauan mata pelajaran adalah paparan umum mengenai keseluruhan pokok-pokok isi mata pelajaran yang mencakup: a. Deskripsi mata pelajaran b. Kegunaaan mata pelajaran c. Kompetensi dasar d. Bahan pendukung lainnya (kaset, kit, dll) e. Petunjuk Belajar Petunjuk memuat antara lain penjelasan tentang berbagai macam kegiatan yang harusdilakukan, alat-alat yang perlu disediakan, dan prosedur yang dilakukan. Perlu dipahamibahwa letak atau posisi tinjauan mata pelajaran di dalam modul sangat tergantung kepadapembagian pokok bahasan dalam mata pelajaran. Mungkin saja satu mata pelajaran terdiriatas beberapa pokok bahasan, sehingga tinjauan mata pelajaran terletak pada modulpertama saja. Contohnya, pada modul 1 terdapat tinjauan mata pelajaran, sementara modul2, dan 3 dst tidak terdapat tinjauan mata pelajaran karena sudah terletak pada modul 1.Tetapi tidak menutup kemungkinan pada setiap modul disertakan tinjauan mata pelajaranuntuk menuntun siswa dalam memahami kegunaan mata pelajaran.2. Pendahuluan Pendahuluan suatu modul merupakan pembukaan pembelajaran suatu modul. Oleh karena itu, dalam pendahuluan seyogyanya memuat hal-hal sebagai berikut: a. Cakupan isi modul dalam bentuk deskripsi singkat b. Indikator yang ingin dicapai melalui sajian materi dan kegiatan modul c. Deskripsi perilaku awal (entry behaviour) yang memuat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh atau seyogyanya sudah dimiliki sebagai pijakan (anchoring) dari pembahasan modal itu. d. Relevansi, yang terdiri atas: 1) Keterkaitan pembahasan materi dan kegiatan dalam modul itu dengan mateni dan kegiatan dalam modul lain dalarn satu mata pelajaran atau dalam mata pelajaran (cross reference) 2) Pentingnya mempelajari materi modul itu dalam pengembangan dan pelaksanaan tugas guru secara profesional e. Urutan butir sajian modul (kegiatan belajar) secara logis f. Petunjuk belajar berisi panduan teknis mempelajari modul itu agar berhasil dikuasai dengan baik. Pendahuluan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Memenuhi dan merangsang rasa ingin tahu 37
  38. 38. b. Urutan sajian yang logis c. Mudah dicerna dan enak dibaca3. Kegiatan Belajar Bagian ini merupakan “daging” atau inti dalam pemaparan materi pelajaran. Bagian ini terbagi menjadi beberapa sub bagian yang disebut Kegiatan Belajar. Bagian ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai siswa. Materi tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga dengan mempelajari materi tersebu, tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai. Agar materi pelajaran mudah diterima siswa, maka perlu disusun secara sisternatis. Di dalam kegiatan belajar terdapat uraian atau penjelasan secara rinci tentang isi pelajaran yang diikuti dengan contoh-contoh konkrit dan non contoh. Sedapat mungkin uraian ini diikuti gambar, bagan atau grafik. Urutan penyajian seperti ini yang dimulai dengan penjelasan kemudian diikuti dengan contoh. Urutan penyajian dapat pula dimulai dengan contoh dan non contoh, atau kasus-kasus kemudian diikuti dengan penjelasan tentang konsep yang dimaksud. Sajian materi modul memperhatikan elemen uraian dan contoh yang dirancang untuk menumbuhkan proses belajar dalarn diri pembaca. Berikut akan dijelaskan kedua elemen dasar yang ada dalarn sajian materi modul. a. Uraian Uraian dalarn sajian materi modul adalah paparan materi-materi pelajaran berupa: fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, teori, nilai, prosedur/metode, keterampilan, hukum, dan masalah. Paparan tersebut disajikan secara naratif atau piktorial yang berfungsi untuk merangsang dan mengkondisikan tumbuhnya pengalaman belajar (learning experiences). Pengalaman belajar diupayakan menampilkan variasi proses yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman konkret, observasi reflektif, konseptualisasi abstrak, dan ekperimentasi aktif Jenis pengalaman pelajaran disesuaikan dengan kekhususan setiap mata pelajaran, misalnya untuk mata pelajaran yang bersifat keterampilan berbeda dengan yang bersifat pengetahuan. Prinsip dalam penyajian uraian harus memenuhi syarat-syarat: 1) materi harus relevan dengan esensi kompetensi. 2) Materi berada dalam cakupan topik inti 3) Penyajiannya bersifat logis, sistematis, komunikatif/interaktif, dan tidak kaku 4) Memperhatikan latar/setting kondisi siswa 5) Menggunakan teknik, metode penyajian yang menarik dan menantang b. Contoh Contoh adalah benda, ilustrasi, angka, gambar dan lain-lain yang mewakili/mendukung konsep yang disajikan. Contoh bertujuan untuk memantapkan pemahaman pembaca tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, hukum, teori, nilai, prosedur/metode, keterampilan dan masalah. Prinsip dalam penyajian contoh hendaknya: a. Relevan dengan isi uraian b. Konsistensi istilah, konsep, dalil, dan peran c. Jumlah dan jenisnya memadai d. Logis (masuk akal) e. Sesuai dengan realitas f. Bermakna 38
  39. 39. 4. Latihan Latihan adalah berbagai bentuk kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh siswa setelah membaca uraian sebelumnya. Gunanya untuk memantapkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, teori, prosedur, dan metode. Tujuan latihan ini agar siswa benar-benar belajar secara aktif dan akhirnya menguasai konsep yang sedang dibahas dalam kegiatan belajar tersebut. Latihan disajikan secara kreatif sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran. Latihan dapat ditempatkan di sela-sela uraian atau di akhir uraian. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan latihan: a. Relevan dengan materi yang disajikan b. Sesuai dengan kemampuan siswa c. Bentuknya bervariasi, misalnya tes, tugas, eksperimen, dsb d. Bermakna (bermanfaat) e. Menantang siswa untuk berpikir dan bersikap kritis f. Penyajiannya sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran5. Rambu-rambu Jawaban latihan Rambu-rambu jawaban latihan merupakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan. Kegunaan rambu-rambu jawaban ini adalah untuk mengarahkan pemahaman siswa tentang jawaban yang diharapkan dari pertanyaan atau tugas dalam latihan dalam mendukung tercapainya kompetensi pembelajaran.6. Rangkuman Rangkuman adalah inti dari uraian materi yang disajikan pada kegiatan belajar dari suatu modul, yang berfungsi menyimpulkan dan memantapkan pengalaman belajar (isi dan proses) yang dapat mengkondisikan tumbuhnya konsep atau skemata baru dalam pikiran siswa. Rangkuman hendaknya memenuhi ketentuan: a) Berisi ide pokok yang telah disajikan b) Disajikan secara berurutan c) Disajikan secara ringkas d) Bersifat menyimpulkan e) Dapat dipahami dengan mudah (komunikatif) f) Memantapkan pemahaman pembaca g) Rangkuman diletakkan sebelum tes fonnatif pada setiap kegiatan belajar h) Menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan tidak menggunakan kata-kata yang sulit dipahami.7. Tes Formatif Pada setiap modul selalu disertai lembar evaluasi (evaluasi formatif) yang biasanya berupa tes. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai atau belum. Tes formatif merupakan tes untuk mengukur penguasaan siswa setelah suatu pokok bahasan selesai dipaparkan dalam satu kegiatan belajar berakhir. Tes formatif ini bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Hasil tes formatif digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan ke pokok bahasan selanjutnya. Tes formatif secara prinsip harus memenuhi syarat-syarat: a) Mengukur kompetensi dan indikator yang sudah dirumuskan b) Materi tes benar dan logis, baik dari segi pokok masalah yang dikemukakan maupun dart pilihan jawaban yang ditawarkan c) Pokok masalah yang ditanyakan cukup penting 39
  40. 40. d) Butir tes harus memenuhi syarat-syarat penulisan butir soal8. Kunci Jawaban Tes Formatif dan Tindak Lanjut Kunci jawaban tes formatif pada umumnya diletakkan di bagian paling akhir suatu modul. Jika kegiatan belajar berjumlah 2 buah, maka kunci jawaban tes formatif terletak setelah tes formatif kegiatan belajar 2, dengan halaman tersendiri. Tujuannya agar siswa benar-benar berusaha mengerjakan tes tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu. Lembar ini berisi jawaban dari soal-soal yang telah diberikan. Jawaban siswa terhadap tes yang ada diketahui benar atau salah dapat dilakukan dengan cara mencocokkannya dengan kunci jawaban yang ada pada lembar ini. Tujuannya adalah agar siswa mengetahui tingkat penguasaannya terhadap isi kegiatan belajar tersebut. Di samping itu, pada bagian ini berisi petunjuk tentang cara siswa memberi nilai sendiri pada hasil jawabannya. Tindak lanjut: Di dalam kunci jawaban tes formatif, terdapat bagian tindak lanjut yang berisi kegiatan yang harus dilakukan siswa atas dasar tes formatifnya. Siswa diberi petunjuk untuk melakukan kegiatan lanjutan, seperti: Terus mempelajari kegiatan belajar berikutnya bila ia berhasil dengan baik yaitu mencapai tingkat penguasaan 80 % dalam tes formatif yang lalu, atau mengulang kembali mempelajari kegiatan belajar tersebut bila hasilnya masih di bawah 80 % dari skor maksimum.1.16 Pemanfaatan Modul dalam Pembelajaran di Kelas Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modul pada dasarnyamenggunakan sistem belajar secara individual. Namun dapat pula digunakan pada sistempembelajaran klasikal. Jika pembelajaran bersifat individual maka siswa akan belajar darimodul satu ke modul berikutnya sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Mengingatkecepatan masing-masing siswa tidak sama, maka dalam perjalanan belajarnya dari harike hari, jarak antara siswa yang pandai dengan siswa yang lamban makin lama makinbesar. Teknik ini akan mudah bila di suatu kelas siswanya sedikit, namun jika jumlahsiswa dalam suatu kelas jumlahnya banyak, dan juga mata pelajaran yang dipelajarinyajumlahnya banyak maka pelaksanaan pembelajarannya menjadi lebih rumit. Pembelajaran dengan sistem modul jika diterapkan untuk pembelajaran secaraklasikal, maka siswa akan belajar dalam waktu bersamaan dan untuk melanjutkan kemodul berikutnya juga dapat bersamaan. Kepada siswa-siswa yang selesainya lebih cepatdari pada teman-temannya, maka siswa tersebut akan memperoleh modul pengayaan untukdipelajarinya dalam sisa waktu yang tersedia. Kemudian setelah itu dilakukan evaluasiyang dapat dikerjakan secara individual maupun secara klasikal. 40
  41. 41. DAFTAR PUSTAKASungkono, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: FIP UNY.Tian Belawati, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar . Jakarta: Pusat Penerbitan UT.Universitas Terbuka (1997). Panduan Operasional Penulisan Modul. Jakarta: UTVembriarto, St. (1985). Pengantar Pengajaran Modul. Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita. 41
  42. 42. Evaluasi1. Apa yang Anda ketahui tentang KTSP? Dan apa bedanya dengan KBK?2. Organisasi kurikulum terbagi menjadi 3 a. Separated Subject Curriculum b. Correlated Curriculum c. Integrated Curriculum Apa yang Anda ketahui tentang organisasi kurikulum di atas!3. Jelaskan dengan kalimat Anda sendiri apa hubungan antara kurikulum dengan pengajaran dan pembelajaran.4. Apa pomeo dalam masyarakat yang menyatakan bahwa setiap ganti menteri ganti kurikulum di Indonesia? Benarkah hal tersebut? Jalaskan argumentasi Anda.5. Bagaimana langkah-langkah pengembangan silabus?6. Apa yang Anda ketahui tentang standar isi dan tujuan standar isi?7. Tolong jelaskan tentang Prota, Promes dan KKM!8. Apa yang Anda ketahui tentang Bahan Ajar, LKS, Buku Teks, dan Modul? 42

×