Your SlideShare is downloading. ×
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Presentasi geologi lingkungan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Presentasi geologi lingkungan

2,584

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Selamat malam mba, ppt nya sangat bagus dan bermanfaat . Aku adik tingkat mu dr kelas C kalau bisa aku minta laporan fullnya yg geoling ini sbgai bahan panduan/acuan boleh tidak mba? kalo boleh tolong kirim ke email aku yaa farizmilzam@gmail.com sebelumnya makasih.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,584
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
162
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2013 ARAHAN TATA GUNA LAHAN KELURAHAN NGADIRGO, KELURAHAN WONOLOPO DAN KELURAHAN WONOPLUMBON DI KECAMATAN MIJEN BERDASARKAN ASPEK GEOLOGI LINGKUNGAN Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geologi Lingkungan (TKP 250) Renny Desiana 21040112130051 Dwitantri Rezkiandini 21040112130071 Aulia Adhiyajna F. 21040112130089 Ferdianta Wahyu N. Pratama 21040112130097 Oktaviana Rahayu J. A. 21040112130099 Yosephine Purba 21040112140041 Fajar Hadhiyanto Wibowo 21040112140125 Kelompok IA
  • 2. KERANGKAPIKIR 2
  • 3. 3 KERANGKAPIKIR
  • 4. ANALISIS KONDISI NON FISIK
  • 5. 5 PENDUDUK Kelurahan Laki-Laki Perempuan Jumlah Ngadirgo 2.496 2.296 4.792 Wonolopo 3.048 3.026 6.074 Wonoplumbon 1.945 1.904 3.849 Jumlah 7.489 7.226 14.715 Kelurahan Lahir Mati Imigrasi Emigrasi Ngadirgo 93 39 141 68 Wonolopo 93 36 228 333 Wonoplumbon 70 21 86 46 Jumlah 256 96 1.255 447 Dengan jumlah kelahiran yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kematian, maka dapat diprediksi bahwa dalam beberapa tahun yang akan datang, di Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo, dan Wonoplumbon akan terjadi ledakan penduduk. Sebagai konsekuensinya, akan lebih banyak terjadi perubahan fungsi lahan untuk lahan permukiman guna memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal.
  • 6. 6 PENDIDIKAN Pendidikan Ngadirgo Wonolopo Wonoplumbon Tidak Sekolah 29 438 169 Tidak Tamat SD 586 373 222 Belum Tamat SD 363 466 245 Tamat SD 797 649 994 Tamat SMTP 1.000 1.292 998 Tamat SMTA 1.270 1.699 851 Tamat Akademi/DIII 68 613 64 Tamat Perguruan Tinggi 82 182 33 Jumlah 4.195 5.712 3.516 Dari angka-angka pada tabel di bawah bahwa tingkat kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan masih cukup rendah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat perekonomian masyarakat yang sangat sulit untuk berkembang.
  • 7. 7 PEREKONOMIAN Jenis Pekerjaan Kelurahan Ngadirgo Kelurahan Wonolopo Kelurahan Wonoplumbon Jumlah Buruh Industri 950 237 420 1.607 Buruh Bangunan 596 221 11 828 Pedagang 279 225 31 535 Angkutan 16 26 5 47 PNS/ABRI 56 115 19 190 Pensiunan 14 128 10 152 Jasa/Lainnya 5 1 0 6 Jumlah 1.916 953 496 3.365 Penduduk yang bekerja di sektor non formal (buruh, pedagang >50%) lebih besar dibanding sektor formal (PNS/ABRI)  tingkat perekonomian masih rendah (berkaitan dengan tingkat pendidikan).
  • 8. ANALISIS KONDISI FISIK 9 ASPEK GEOLOGI LINGKUNGAN
  • 9. MORFOLOGI Bukit di Kelurahan Ngadirgo Salah satu bentang alam di Kelurahan Wonoplumbon PERBUKITAN LANDAI STRUKTURAL TERDENUDASI • Memiliki ketinggian 30 – 500 mdpl dan secara umum memiliki kelerengan 2 – 15%  PERBUKITAN LANDAI • Terdapat indikasi sesar dan kekar yang terstruktur yang terjadi karena adanya struktur geologi  STRUKTURAL • Terjadi banyak proses denudasional, seperti proses pelapukan, erosi dan longsoran  TERDENUDASI  Kelebihan Cocok untuk pertanian dan perkebunan.  Kelemahan Bentangalam denudasional  Tidak memiliki susunan pengikat batuan dan tanah yang kompak, sehingga akan mudah mengalami pelapukan, erosi dan longsoran.
  • 10. 10 TOPOGRAFIKELERENGAN
  • 11. TOPOGRAFI KELERENGAN Kelerengan Lokasi Kondisi Eksisting Analisis 0-8% Kelurahan Ngadirgo bagian timur Kawasan perkebunan karet dan pemukiman Sebagian perkebunan telah dikonversi menjadi kawasan real estate BSB 8-15% Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo, Wonoplumbon Kawasan pemukiman, perkebunan, dan pertanian • Di pinggir S. Plumbon untuk irigasi sawah. • Pemukiman dan perkebunan jauh dari sungai. 15-25% Bagian barat Ngadirgo, bagian barat Wonolopo, bagian barat Wonoplumbon Kawasan perkebunan, hutan, pertanian, pemukiman Adanya pemukiman di kelerengan ini kurang tepat karena rentan terjadi longsor. 25-40% Bagian selatan Wonoplumbon Kawasan perkebunan dan hutan Dapat dijadikan kawasan lindung dan kawasan penyangga. Namun, hanya dijadikan sebagai kawasan penyangga. >40% Barat daya Wonoplumbon Perkebunan, hutan, pertanian Dapat dijadikan kawasan lindung dan kawasan penyangga. • Terjadi penebangan hutan untuk perkebunan. • Pertanian memanfaatkan S. Blorong.
  • 12. 12 LITOLOGIJENISBATUAN
  • 13. 13 LITOLOGIJENISTANAH
  • 14. LITOLOGI BATUAN SEDIMEN DAN TANAH LATOSOL Tanah latosol coklat tua di Wonoplumbon Tanah lempung di Wonoplumbon Batu lanau di sempadan Sungai Blorong Kelurahan Wonoplumbon • Batuan lempung dan lanau  kurang cocok untuk didirikan bangunan karena tidak memiliki daya ikat antar batuan yang tidak kompak. • Tanah latosol (dari pasir & breksi)  cukup baik dalam menahan air dan tahan terhadap erosi  cukup baik untuk dibangun bangunan dengan bobot tidak besar di atasnya.  sangat mudah mengalami penguapan air  mudah mengalami kekeringan  daya ikat antar elemen matriks penyusun tanah kurang solid longsor.  merupakan tanah yang bersifat gembur  cocok untuk tanaman tahunan, perkebunan, persawahan.
  • 15. 15 STRUKTURGEOLOGI
  • 16. STRUKTUR GEOLOGI SESAR NORMAL • Jalur sesar ini melintang bagian barat daya menuju ke arah utara Kelurahan Wonoplumbon dan berbelok ke bagian barat Kelurahan Ngadirgo dan sebelah selatan Kelurahan Wonoplumbon. • Tidak ditemukan bentukan asli sesar, namun ditemukan zona sesar  tebing sungai dan kelokan sungai yang tajam. • Titik lokasi pembangunan harus dibuat jauh dari sempadan Sungai Blorong guna meminimalisir terjadinya bahaya longsor akibat terjangan arus Sungai Blorong yang cukup deras. Struktur geologi kekar di Kelurahan Wonoplumbon Struktur geologi kekar pada batuan lanau Indikasi zona lintasan sesar di tebing sungai Kelurahan Wonoplumbon
  • 17. STRATIGRAFI Stratigrafi di sekitar Sungai Blorong yang sudah mengalami erosi tebing sungai • FORMASI KALIGETAS (batu breksi, batu pasir tufan dan batuan lempung) di sempadan Sungai Blorong dan bagian timur Wonoplumbon • ENDAPAN ALLUVIUM (batuan sedimen dasar dan batuan breksi). Di beberapa tempat, beberapa batuan telah mengalami pelapukan. • FORMASI KEREK (batu lempung, batu breksi dan batu konglomerat) di Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon, stratigrafi penyusun batuannya tidak dapat teridentifikasi dengan jelas
  • 18. 18 HIDROLOGI
  • 19. HIDROLOGI Bentang alam Sungai Blorong Pemanfaatan Sungai Blorong sebagai irigasi sawah Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo, dan Wonoplumbon dialiri oleh dua sungai yaitu Sungai Blorong dan Sungai Plumbon. • Sungai Blorong jauh lebih deras dan memiliki lebar sungai yang cukup panjang sekitar 3-5 meter. • Sungai Plumbon sudah mengalami proses penutupan tebing dengan bahan konstruksi dan memiliki aliran air yang relatif tenang dengan lebar sungai berkisar 1 sampai 2 meter saja.
  • 20. KLIMATOLOGI Kondisi ini sangat cocok untuk budidaya tanaman karena tanaman akan mendapat pasokan air cukup banyak dari air hujan, juga jenis tanah latosol. Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo, dan Wonoplumbon memiliki curah hujan 27,7-34,8 mm/tahun  Tinggi
  • 21. 21 HIDROGEOLOGI
  • 22. HIDROGEOLOGI Pemanfaatan akuifer dangkal AKUIFER PRODUKTIF SEDANG & AKUIFER PRODUKTIF KECIL Produktivitas akuifer sedang  debit air lebih dari 10 liter/detik  cadangan air tanah terbilang banyak  baik untuk sumber air kawasan pemukiman, pertanian lahan basah, perkebunan (penggalian sumur dapat dilakukkan sampai kedalaman 10-15 meter) Produktivitas akuifer kecil setempat  air tanah dangkal terbatas  tidak cocok untuk lahan pertanian (dengan memanfaatkan air tanah) melainkan dimanfaatkan sebagai pertanian dengan memanfaatkan irigasi sungai dan juga memanfaatkan curah hujan yang tinggi.
  • 23. 23 BAHAYAGEOLOGIGERAKANTANAH
  • 24. BAHAYA GEOLOGI Bahaya geologi erosi tanah Bahaya geologi longsoran pada tebing Bahaya geologi terkait proses denudasional yang mengakibatkan terjadinya pelapukan pada batuan. Akibat pelapukan ini adalah tanah dan batuan tidak memiliki daya ikat tanah/batuan yang solid atau memiliki tingkat kompaksi antar matriks yang rendah. Hal ini akan memicu terjadinya bahaya geologi erosi dan longsoran, terutama pada lereng curam.
  • 25. ANALISIS TATA GUNA LAHAN 25
  • 26. ANALISIS SKORING 26 Kategori Kelerengan Skor Curah Hujan Skor Jenis Tanah Skor Skor Total Fungsi Kawasan Lokasi 0-2% 20 27,7-34,8 mm3/hari 40 Latosol 30 90 Budidaya Kelurahan Ngadirgo 2-15% 40 110 Budidaya 15-25% 60 130 Penyangga 2-15% 40 27,7-34,8 mm3/hari 40 Latosol 30 110 Budidaya Kelurahan Wonolopo15-25% 60 130 Penyangga 2-15% 40 27,7-34,8 mm3/hari 40 Latosol 30 110 Budidaya Kelurahan Woonoplumbon 15-25% 60 130 Penyangga 25-40% 80 150 Penyangga >40% 100 170 Penyangga
  • 27. 27 Internal Eksternal STRENGTH 1. Jenis tanah latosol yang memiliki tingkat kesuburan yang cukup bagus 2. Terdapat DAS Blorong yang cukup deras alirannya 3. Akuifer produktif sedang 4. Curah hujan tinggi 5. Kawasan budidaya yang lumayan mendominasi WEAKNESS 1. Gerakan tanah yang kurang stabil di beberapa tempat 2. Daya ikat tanah yang kurang solid 3. Tingkat kelerengan landai sampai agak curam 4. Rawan terjadi longsor dan erosi tebing sungai OPPORTUNITIES 1. Peraturan tentang tata guna lahan yang jelas 2. Peningkatan teknologi di masa yang akan datang 3. Peningkatan penanaman modal atau investasi 1. Dapat dilakukan suatu kegiatan atau program agrobisnis, agrowisata atau kegiatan berbasis pertanian seperti perkebunan, pertanian. Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan tingkat perekonomian warga dan juga tingkat perekonomian Kecamatan Mijen secara umum. 2. Dapat dijadikan pemukiman pada kawasan budidaya dengan tetap berlandaskan peraturan pemerintah dan keadaan kondisi lingkungan. 1. Mengadakan suatu kerja sama antara pemerintah dengan pihak swasta yang mengerti dan memahami kondisi fisik suatu wilayah agar pembangunan yang dilakukan lebih terstruktur dan tetap memperhatikan kondisi fisik lingkungan. 2. Pembangunan yang dilakukan harus dilakukan dengan perhitungan yang detail mengenai pengaruh bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan, seperti dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. THREAT 1. Adanya penggunaan lahan yang menyalahi aturan tata ruang wilayah 2. Alih fungsi kawasan di sekitar daerah aliran sungai 3. Jumlah penduduk akan semakin bertambah Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tempat tinggal juga akan meningkat, penentuan lokasi yang diperuntukka kawasan permukiman sangat diperlukan, agar sesuai dengan aspek tata guna lahan yang telah ditentukan oleh RTRW dan juga sesuai dengan kondisi fisik daerah yang akan dijadikan pemukiman tersebut. Guna meminimalisir adanya bahaya yang datang di kemudian hari. 1. Tidak melakukan pengrusakan vegetasi di daerah sekitar aliran sungai agar tidak terjadi longsor di tebing sungai. Dan juga agar daerah resapan air dapat terjaga keberadaannya. 2. Pembangunan yang dilakukan harus memperhatikan aspek lingkungan agar dapat meminimalisir bahaya geologi yang dapat terjadi ANALISIS SWOT
  • 28. ANALISIS KESESUAIAN LAHAN 28 Kelurahan Kondisi Eksisting Fungsi Kawasan Potensi dan Kendala Menurut RTRW Kota Semarang Analisis Kelurahan Ngadirgo Permukiman, Perkebunan, Hutan produksi Tetap Budidaya dan Penyangga  Tingkat kelerengan datar sampai landai  Tanah latosol coklat kemerahan  Akuifer produktif sedang  Kawasan budidaya yang sangat luas  Gerakan tanah menengah  Erosi dan longsor di beberapa titik lokasi Budidaya dan penyangga Kondisi Eksisting di Kelurahan Kelurahan Ngadirgo sedikit berbeda dengan fungsi kawasan dan RTRW Kota Semarang. Beberapa lokasi yang tadinya merupakan kawasan perkebunan dan hutan produksi tetap telah berubah menjadi kawasan permukiman. Kelurahan Wonolopo Permukiman, Perkebunan, Hutan produksi tetap, pertanian, lahan kosong Budidaya dan Penyangga  Tingkat kelerengan landai yang cukup luas  Tanah latosol coklat kemerahan  Akuifer produktif sedang  Kawasan budidaya yang sangat luas  Gerakan tanah sangat rendah dan rendah  Erosi dan longsor di beberapa titik lokasi  Penggunaan lahan yang menyalahi aturan di beberapa lokasi Budidaya dan penyangga RTRW Kota Semarang menunjukkan bahwa pada daerah ini digunakkan sebagai kawasan budidaya dan penyangga. Namun jika dilihat pada kondisi eksisting, di daerah ini sebagian besar digunakan untuk pemukiman, tegalan dan perkebunan. Selain itu sebagian kecil digunakan untuk hutan produksi tetap. Tetapi ada beberapa lokasi di sebelah selatan Kelurahan Wonolopo yang sudah mengalami perubahan tata guna lahan. Seperti kawasan perkebunan yang menjadi kawasan permukiman. Kelurahan Wonoplumbon Dominasi Kawasan Hutan, Perkebunan dan sedikit kawasan permukiman Dominasi Penyangga, kawasan budidaya  Banyak kawasan penyangga  Debit air sungai yang bisa dijadikan sebagai sumber irigasi  Erosi dan longsor di pinggir sungai  Beberapa tanah yang terdiri dari tanah lempung  Kelerengan dari agak curam sampai sangat curam  Kurangnya fasilitasinfrastruktur jalan Budidaya dan Penyangga RTRW Kota Semarang menunjukan bahwa pada daerah ini digunakan sebagai budidaya dan penyangga. Namun sebagian besar lahan ada beberapa kawasan penyangga di sekitar sempadan sungai yang tadinya merupakan lahan hutan, telah berubah menjadi kawasan perkebunan warga. Bahkan ada beberapa hutan yang telah ditebang untuk diambil kayunya dan dibiarkan menjadi kawasan hutan gundul.
  • 29. ANALISIS FUNGSI KAWASAN 29 PETA ANALISIS FUNGSI KAWASAN
  • 30. ARAHAN TATA GUNA LAHAN BARU 30
  • 31. REKOMENDASI, ARAHAN, DAN KESIMPULAN
  • 32. 32 REKOMENDASI Pemerintah harus bertindak tegas terhadap peralihan suatu lahan yang berdampak negatif kepada alam dan makhluk hidup. Masyarakat sekitar harus dapat menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat di Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon hendaknya tidak membangun pemukiman pada daerah yang memiliki tingkat gerakan tanah yang tidak stabil. Masyarakat yang melakukan pengeboran air tanah hendaknya melakukan dengan sangat bijaksana. Pemerintah dapat memberdayakan masyarakat Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon untuk mengoptimalkan pemanfaatan tanah latosol serta aliran sungai yang memiliki debit air tinggi dalam sektor pertanian dan perkebunan.
  • 33. 33 ARAHAN KEBIJAKAN Pemerintah harus segera membuat peraturan mengenai hukuman atau sanksi yang diberikan kepada individu ataupun sekelompok orang yang melakukan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan kondisi fisik wilayah dan tidak sesuai dengan peraturan tata ruang wilayah yang telah dibentuk. Pemerintah tidak boleh memberikan izin terhadap oknum-oknum yang berkeinginan melakukan pembukaan lahan atau melakukan alih funsgsi kawasan, baik dari kawasan penyangga menjadi kawasan budidaya atau bahkan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya.
  • 34. 34 KESIMPULAN Potensi geologi yang dimiliki oleh Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon adalah kondisi tanah latosol yang merupakan tanah yang memiliki unsur hara yang rendah sampai menengah, terdapat pada dua daerah aliran sungai yang memiliki debit air yang cukup tinggi dan kondisi air tanah dengan produktifitas sedang. Sedangkan kendala yang terdapat di Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon adalah adanya gerakan tanah mulai dari gerakan tanah rendah hingga menengah yang sewaktu-waktu dapat mengakibatkan terjadinya longsor. Terkait dengan keadaan aspek geologi serta potensi kendala yang dimiliki Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon dengan aspek perencanaan wilayah dan kota, maka akan didapatkan suatu output kesesuaian lahan yang mana pada Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon memiliki kesesuaian lahan sebagai kawasan budidaya dan juga kawasan penyangga. Pada keadaan eksisting, kawasan budidaya pada Kelurahan Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon banyak dimanfaatkan oleh warga sebagai kawasan permukiman, pertanian, perkebunan dan tegalan. Sedangkan untuk kawasan penyangga yang banyak ditemui pada daerah aliran Sungai Blorong dimanfaatkan sebagai kawasan hutan non produksi dan hutan produksi tetap.
  • 35. TERIMA KASIH 

×