• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Makalah_PIO
 

Makalah_PIO

on

  • 809 views

 

Statistics

Views

Total Views
809
Views on SlideShare
809
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
13
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Makalah_PIO Makalah_PIO Document Transcript

    • RINGKASAN Dalam makalah ini permasalahan yang dibahas mengenai K3(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang masih menjadi tugas besar bagimasyarakat khususnya pemerintah. Karena dalam industri K3 masih belumberjalan dengan baik, yang terbukti dengan banyaknya kasus kecelakaan kerja.Kecelakaan kerja dapat terjadi karena beberap faktor, yaitu manajemen,argonomi, dan lingkungan. Hal ini perlu diperhatikan untuk mencegahterjadinya kecelakaan kerja. Misal dari faktor manusianya (karyawan ataupekerja) Banyak hal yang dapat dilakukan seperti mengadakan pelatihan,simulasi bahaya, seminar tentang pentingnya K3. Ini semua dapat membantudalam industri atau perusahaan untuk menngkatkan produktivitas danekonomi perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu dengan adanya pembahasanini maka diharapkan masyarakat dan khususnya para karyawan dapat sadarbetapa penting tentang keselamatan kerja dalam industri. 1
    • BAB I PENDAHULUANLatar Belakang Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu program untukmeminimalisir terjadinya kecelakaan pada saat berada ditempat kerja. Denganadanya program keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan agar karyawandapat melakukan pekerjaannya dengan aman dan nyaman, karena keamanandan kenyamanan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja parapegawai agar dapat mencapai target perusahaan sesuai dengan yangdiinginkan. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang penting bagiperusahaan, karena dampak kecelakaan dan penyakit kerja tidak hanyamerugikan karyawan, tetapi juga perusahaan baik secara langsung maupuntidak langsung. Terdapat beberapa pengertian tentang keselamatan dankesehatan kerja yang didefinisikan oleh beberapa ahli, dan pada dasarnyadefinisi tersebut mengarah pada interaksi pekerja dengan mesin atauperalatan yang digunakan, interaksi pekerja dengan lingkungan kerja, daninteraksi pekerja dengan mesin dan lingkungan kerja. Keselamatan kerjaberarti proses merencanakan dan mengendalikan situasi yang berpotensimenimbulkan kecelakaan kerja melalui persiapan prosedur operasi standaryang menjadi acuan dalam bekerja (Rika Ampuh Hadiguna, 2009). PrabuMangkunegara (2001) mendefinisikan kesehatan kerja adalah kondisi bebasdari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan lingkungankerja ( dalam Ibrahim Jati Kusuma).Namun faktanya, masih banyak terjadi kasus kecelakaan kerja yangdiakibatkan dari kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan dankeselamatan kerja. Hal ini terbukti dengan adanya riset yang dilakukan badandunia International Labour Organization (ILO) menghasilkan kesimpulan,setiap hari rata-rata 6.000 orang meninggal, setara dengan satu orang setiap 2
    • 15 detik atau 2,2 juta orang per tahun akibat sakit atau kecelakaan yangberkaitan dengan pekerjaan mereka. Jumlah pria yang meninggal dua kalilebih banyak dibandingkan wanita, karena mereka lebih mungkin melakukanpekerjaan berbahaya. Secara keseluruhan kecelakaan di tempat kerja telahmenewaskan 350.000 orang. Sisanya meninggal karena sakit yang dideritadalam pekerjaan seperti membongkar zat kimia beracun (ILO, 2003 dalamSuardi, 2005). Kerja kesehatan dan hukum keselamatan hanya mencakup sekitar 10persen dari populasi di negara berkembang, menghilangkan banyak utamaberbahaya industri dan pekerjaan. Dengan pengecualian langka, sebagianbesar negara tunduk kepada PBB tanggung jawab untuk kesehatan kerjainternasional. PBB internasional lembaga telah memiliki keberhasilan yangterbatas dalam membawa kesehatan kerja untuk industrialisasi yang negara.Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang dimaksudkan untuk membimbingsemua negara dalam promosi keselamatan kerja dan kesehatan kerja dalammengelola dan keamanan program. ILO konvensi dan rekomendasi tentangkeselamatan dan kesehatan kerja adalah perjanjian internasional yang memilikikekuatan hukum hanya jika mereka diratifikasi oleh anggota ILO negara.Konvensi ILO yang paling penting tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerjatelah diratifikasi oleh hanya 37 dari 175 anggota ILO negara. Hanya 23 negaratelah meratifikasi ILO Kerja Cedera Manfaat Konvensi yang berisi daftarpenyakit akibat kerja yang kompensasi harus dibayarkan.(Joseph LaDou, 2002 ) Menurut Ashraf A. Shikdar, Naseem M. Sawaqed (2003) mengatakanbahwa industri di negara besar memiliki banyak faktor yang menyebabkanprogram K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tidak berjalan dengan baik,hal ini di ungkapkan oleh manejer produksi seperti lingkungan panas (keadaanlingkungan), lingkungan bising, masih kurangnya sumber daya dan fasilitas.Ada faktor fisik (biologi) dari karyawan, yaitu karyawan kelelahan, mengalaminyeri punggung, nyeri tubuh bagian atas, tangan dan pergelangan tangan 3
    • nyeri bahkan sakit kepala. Faktor lain yaitu kurangnya memiliki pengetahuantentang erginomi dalam sebuah industri, dan banyak perusahaan yang tidakmelakukan penilaian ergonomi dalam industrinya sendiri. Sedikit perusahaanatau industri yang mengutamakan indikator produktivitas, kesehatan , danatribut keselamatan dalam bekerja. Kasus lain dalam industri minyak di negaraberkembang, empat puluh delapan persen dari lima puluh enam manajermenerima keluhan dari karyawan, yaitu sakit punggung, kelelahan, sakit padatubuh bagian atas, stress, serta tidak puas dalam bekerja. Lima puluh tujuhpersen manajer dari lima puluh enam manajer mengungkapkan bahwa kondisilingkungan yang kurang mendukung, seperti lingkungan yang panas, bising,kurangnya sumber daya dan fasilitas dalam industry, sehingga mempengaruhiproduktivitas dalam industrinya sendiri. Hal tersebut ditambah dengan masihlemahnya penilaian terhadap ergonomi dalam industri (Ashraf A. Shikdar,Naseem M. Sawaqed. 2004). Dari pemberitaan surat kabar online, bahwa angka kecelakaan kerja diIndonesia selama lima tahun terakhir cenderung meningkat. Hal ini terlihatpada tahun 2011 terdapat 99.491 kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaankerja per hari, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya 98.711 kasuskecelakaan kerja, pada tahun 2009 terdapat 96.314 kasus, serta pada tahun2008 terdapat 94.736 kasus, dan tahun 2007 terdapat 83.714 kasus (dalamArya Ulil Albab, 2012).Ruang Lingkup : Ruang lingkup yang dibahas dalam makalah ini adalah masalah kesehatandan keselamatan kerja di dalam suatu perusahaan yang dilihat dari : 1. Banyaknya khasus kecelakaan kerja dalam pabrik atau perusahaan 2. Faktor penyebab terjadinya kecelakaan di pabrik atau perusahaan, serta cara menanggulanginya 4
    • 3. Menerapkan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan JAMSOSTEK di dalam pabrik atau suatu perusahaanTujuan :1. Memberikan pengetahuan tentang K3 (Kesehaatan dan Keselamatan Kerja) kepada masyarakat, khususnya karyawan pabrik atau perusahaan besar maupun kecil untuk meminimalisir masalah-masalah yang terjadi pada umumnya. Serta mencari penyebab munculnya permasalahan.2. Meningkatkan kinerja karyawan pabrik atau perusahaan dengan meningkatkan aplikasi K3 disetiap perusahaan. Oleh karena itu, dari berbagi kasus diatas diharapkan seluruh bidangindustri memiliki pengetahuan, serta mengaplikasikan dalam produktivitasuntuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Program tersebut harusdidukung dengan kesadaran dari faktor manusia dan menejemen setiapperusahaan atau industri. Jika program yang diharapkan berjalan dengansukses, maka produktivitas dan ekonomi dalam sebuah perusahaan industriakan meningkat tanpa adanya korban pada saat bekerja. 5
    • BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yangmemproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitardari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hakasasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah,mengurangi, bahkan menihilkan resiko kecelakaan kerja (zero accident).Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahkecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya(cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangkapanjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akandatang. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upayauntuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupunrohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasilkarya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur, menurutMangkunegara. Menurut Suma’mur (1981: 2), keselamatan kerja merupakan rangkaianusaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi parakaryawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. SedangkanMenurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah kondisi keselamatanyang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yangmencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan,dan kondisi pekerja. Mathis dan Jackson, menyatakan bahwa keselamatan adalah merujukpada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap ciderayang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umumfisik, mental dan stabilitas emosi secara umum. Keselamatan kerja pada 6
    • dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahan operasional yangmemungkinkan terjadinya kecelakaan. Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan kerja adalahilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinanterjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. (Lalu Husni,2003: 138). Setelah melihat berbagai pengertian di atas, pada intinya dapat ditarikkesimpulan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu usaha danupaya untuk menciptakan perindungan dan keamanan dari resiko kecelakaandan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja,perusahaan, masyarakat dan lingkungan. B. Undang-undang Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian yang sangatpenting dalam ketenagakerjaan. Oleh karena itu, dibuatlah berbagaiketentuan yang mengatur tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Berawaldari adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Pokok-PokokKetenagakerjaan yang dinyatakan dalam Pasal 9 bahwa “setiap tenaga kerjaberhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan danpemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan harkat,martabat, manusia, moral dan agama”. Undang-Undang tersebut kemudiandiperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentangKeselamatan Kerja. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 ini ada beberapa hal yangdiatur antara lain: a. Ruang lingkup keselamatan kerja, adalah segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada dalam wilayah hukum kekuasaan RI. (Pasal 2). b. Syarat-syarat keselamatan kerja adalah untuk: - Mencegah dan mengurangi kecelakaan 7
    • - Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran - Mencegah dan mengurangi peledakan - Memberi pertolongan pada kecelakaan - Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja - Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai - Memelihara kesehatan dan ketertiban - dll (Pasal 3 dan 4). c. Pengawasan Undang-Undang Keselamatan Kerja, “direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap undang-undang ini, sedangkan para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. (Pasal 5). d. Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembinaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja untuk mengembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi yang efektif dari pengusaha atau pengurus tenaga kerja untuk melaksanakan tugas bersama dalam rangka keselamatan dan kesehatan kerja untuk melancarkan produksi. (Pasal 10). e. Setiap kecelakan kerja juga harus dilaporkan pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja di dinas yang terkait. (Pasal 11 ayat 1). Selain diwujudkan dalam bentuk undang-undang, kesehatan dankeselamatan kerja juga diatur dalam berbagai Peraturan Menteri. DiantaranyaPeraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/MEN/1979 tentang PelayananKesehatan Kerja. Tujuan pelayanan kesehatan kerja adalah: a. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri dengan pekerjaanya. b. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja. 8
    • c. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental, dan kemapuan fisik tenaga kerja. d. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja yang menderita sakit. C. Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan Kerja Para pekerja sendiri berhak meminta kepada pimpinan perusahaanuntuk dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja,menyatakan keberatan bila melakukan pekerjaan yang alat pelindungkeselamatan dan kesehatan kerjanya tidak layak. Tetapi pekerja juga memilikikewajiban untuk memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan dan menaatipersyaratan keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku. Setelahmengetahui urgensi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, koordinasidari pihak-pihak yang ada di tempat kerja guna mewujudkan keadaan yangaman saat bekerja akan lebih mudah terwujud. Lalu Husni secara lebih jauh mengklasifikasikan ada empat faktorpenyebab kecelakaan kerja yaitu: a. Faktor manusia, diantaranya kurangnya keterampilan atau pengetahuan tentang industri dan kesalahan penempatan tenaga kerja. b. Faktor material atau peralatannya, misalnya bahan yang seharusnya dibuat dari besi dibuat dengan bahan lain yang lebih murah sehingga menyebabkan kecelakaan kerja. c. Faktor sumber bahaya, meliputi: - Perbuatan bahaya, misalnya metode kerja yang salah, sikap kerja yang teledor serta tidak memakai alat pelindung diri. - Kondisi/keadaan bahaya, misalnya lingkungan kerja yang tidak aman serta pekerjaan yang membahayakan. d. Faktor lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya kurangnya cahaya, ventilasi, pergantian udara yang tidak lancar dan suasana yang sumpek. 9
    • Dari beberapa faktor tersebut, Suma’mur menyederhanakan faktorpenyebab kecelakaan kerja menjadi dua yaitu: a. Tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human act atau human error). b. Keadaan lingkungan yang tidak aman. (Suma’mur, 1981: 9). Diantara penyederhanaan tersebut, faktor manusia adalah penyebabkecelakaan kerja di Indonesia yang paling dominan. Para ahli belum dapatmenemukan cara yang benar-benar jitu untuk menghilangkan tidakankaryawan yang tidak aman tersebut. Kecelakaan kerja tentunya akanmembawa suatu akibat yang berupa kerugian. Kerugian yang bersifatekonomis misalnya kerusakan mesin, biaya perawatan dan pengobatankorban, tunjangan kecelakaan, hilangnya waktu kerja, serta menurunnya mutuproduksi. Sedangkan kerugian yang bersifat non ekonomis adalah penderitaankorban yang dapat berupa kematian, luka atau cidera dan cacat fisik. Suma’mur (1981: 5) secara lebih rinci menyebut akibat dari kecelakankerja dengan 5K yaitu: a. Kerusakan b. Kekacauan organisasi c. Keluhan dan kesedihan d. Kelainan dan cacat e. Kematian D. Tujuan Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja. Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja bertujuan untukmenjamin kesempurnaan atau kesehatan jasmani dan rohani tenaga kerjaserta hasil karya dan budayanya. Secara singkat, ruang lingkup kesehatan,keselamatan, dan keamanan kerja adalah sebagaai berikut : a. Memelihara lingkungan kerja yang sehat. b. Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu bekerja. 10
    • c. Mencegah dan mengobati keracunan yang ditimbulkan dari kerja. d. Memelihara moral, mencegah, dan mengobati keracunan yang timbul dari kerja. e. Menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan, dan. f. Merehabilitasi pekerja yang cedera atau sakit akibat pekerjaan. Keselamatan kerja mencakup pencegahan kecelakaan kerja dan perlindungan terhadap terhadap tenaga kerja dari kemungkinan terjadinya kecelakaan sebagai akibat dari kondisi kerja yang tidak aman dan atau tidak sehat. Syarat-syarat kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja ditetapkansejak tahap perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran,perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan, danpenyimpanan bahan, barang, produk teknis, dan aparat produksi yangmengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan BAB III 11
    • STUDI KASUS Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian dari kesehatanmasyarakat yang berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungandengan faktor potensial yang mempengaruhi kesehatan pekerja. Dengan inipemerintah mencanangkan peringatan Bulan Keselamatan dan KesehatanKerja (K3) Nasional pada 12 Januari s.d. 12 Pebruari 2013, tema besar yangdiusung adalah BUDAYAKAN K3 DISETIAP KEGIATAN USAHA MENUJUMASYARAKAT INDUSTRI YANG SELAMAT, SEHAT DAN PRODUKTIF. Dalamkonteks pembahasan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) inilah,pemahaman kembali atas budaya di Indonesia menjadi penting. Budaya yangmengajari untuk menghargai kemanusiaan dan menyelamatkan setiap nyawa.Sebagaimana amanat pada Undang Undang Dasar kita yang menjunjung tinggikemanusiaan. Namun kenyataannya banyak kasus kecelakaan kerja yangterjadi akibat kurangnya kesadaran dalam menerapkan K3 dalam industri,pabrik, ataupun perusahaan. Itu terbukti dari adanya penelitian yang dilakukandi luar negeri, menjelaskan bahwa dari populasi negara berkembang hanyamencakup sekitar 10 persen, dan dari 175 anggota ILO (International LaborOrganization) atau organisasi buruh internasional hanya 37 yang menganggappaling penting tentang K3, serta 23 negara yang telah menyetujui tentangdampak dari kecelakaan kerja, seperti cedera, dan penyakit yang ditimbulkanakibat bekerja. Negara akan mengalami keberhasilan dalam bidang ekonomi danindustrinya, jika program yang mengajari akan pentingnya menghargaikemanusiaan dan menyelamatkan setiap nyawa, seperti K3 berjalan dengansukses(Joseph LaDou, 2002). Banyaknya industri yang masih belum sadar akanpentingnya k3, dapat menjadikan pekerjaan menjadi sangat rentan terhadapkecelakaan. Kecelakaan yang timbul diakibatkan oleh beberapa faktor, sepertiyang di kemukakan oleh Lalu Husni, bahwa ada empat faktor penyebabkecelakaan kerja yaitu: 12
    • a. Faktor manusia, diantaranya kurangnya keterampilan atau pengetahuan tentang industri dan kesalahan penempatan tenaga kerja. b. Faktor material atau peralatannya, misalnya bahan yang seharusnya dibuat dari besi dibuat dengan bahan lain yang lebih murah sehingga menyebabkan kecelakaan kerja. c. Faktor sumber bahaya, meliputi: - Perbuatan bahaya, misalnya metode kerja yang salah, sikap kerja yang teledor serta tidak memakai alat pelindung diri. - Kondisi/keadaan bahaya, misalnya lingkungan kerja yang tidak aman serta pekerjaan yang membahayakan. d. Faktor lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya kurangnya cahaya, ventilasi, pergantian udara yang tidak lancar dan suasana yang sumpek. Dari beberapa faktor tersebut, Suma’mur menyederhanakan faktorpenyebab kecelakaan kerja menjadi dua yaitu: c. Tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human act atau human error). d. Keadaan lingkungan yang tidak aman. (Suma’mur, 1981: 9). Bahaya pekerjaan, seperti halnya masalah kesehatan lingkungan lain,bersifat akut atau kronis dan efeknya mungkin segera terjadi atau perlu waktuyang lama. Efek terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidaklangsung.Kesehatan masyarakat kerja perlu diperhatikan, oleh karena selaindapat menimbulkan gangguan tingkat produktifitas, kesehatan masyarakatkerja tersebut dapat timbul akibat pekerjaanya. Dalam berbagai kasus dinegara-negara berkembang, industri atau pabrik memberikan dampak K3pada karyawannya. Menurut Ashraf A. Shikdar, Naseem M. Sawaqed (2003)mengatakan bahwa industri di negara besar memiliki banyak faktor yangmenyebabkan program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tidak berjalandengan baik, hal ini di ungkapkan oleh manejer produksi seperti lingkunganpanas (keadaan lingkungan), lingkungan bising, masih kurangnya sumber daya 13
    • dan fasilitas. Ada faktor fisik (biologi) dari karyawan, yaitu karyawankelelahan, mengalami nyeri punggung, nyeritubuh bagian atas, tangandanpergelangan tangannyeribahkan sakit kepala. Faktor lain yaitu kurangnyamemiliki pengetahuan tentang ergonomi dalam sebuah industri, dan banyakperusahaan yang tidak melakukan penilaian ergonomi dalam industrinyasendiri. Sedikit perusahaan atau industri yang mengutamakan indikatorproduktivitas, kesehatan , dan atribut keselamatan dalam bekerja. Kasus laindalam industri minyak di negara berkembang, empat puluh delapan persendari lima puluh enam manajer menerima keluhan dari karyawan, yaitu sakitpunggung, kelelahan, sakit pada tubuh bagian atas, stress, serta tidak puasdalam bekerja. Lima puluh tujuh persen manajer dari lima puluh enam manajermengungkapkan bahwa kondisi lingkungan yang kurang mendukung, sepertilingkungan yang panas, bising, kurangnya sumber daya dan fasilitas dalamindustry, sehingga mempengaruhi produktivitas dalam industrinya sendiri. Haltersebut ditambah dengan masih lemahnya penilaian terhadap ergonomidalam industri (Ashraf A. Shikdar dan Naseem M. Sawaqed. 2004). Di Indonesia faktor penyebab kecelakaan yang paling dominan adalahfaktor dari manusianya itu sendiri. Kecelakaan kerja tentunya akan membawasuatu akibat yang berupa kerugian. Kerugian yang bersifat ekonomis misalnyakerusakan mesin, biaya perawatan dan pengobatan korban, tunjangankecelakaan, hilangnya waktu kerja, serta menurunnya mutu produksi.Suma’mur (1981: 5) secara lebih rinci menyebut akibat dari kecelakan kerjadengan 5K yaitu: kerusakan, kekacauan organisasi, keluhan dan kesedihan,kelainan dan cacat, kematian. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakansalah satu unsur yang penting dalam ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak berbagai peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk mengatur masalah kesehatan dan keselamatankerja. Meskipun banyak ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dankeselamatan kerja, tetapi masih banyak faktor di lapangan yangmempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya 14
    • kerja dan bahaya nyata. Masih banyak pula perusahaan yang tidak memenuhistandar keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak terjadi kecelakaankerja. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan dankeselamatan kerja yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semuapihak. Tidak hanya bagi para pekerja, tetapi juga pengusaha itu sendiri,masyarakat dan lingkungan sehingga dapat tercapai peningkatan mutukehidupan dan produktivitas nasional. BAB IV 15
    • GAGASAN , EVALUASI TEORI SERTA ALAT UKUR TERKAIT TEMA MAKALAH.A. Gagasan Menurut Suma’mur (1981: 2), keselamatan kerja merupakan rangkaianusaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi parakaryawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. SedangkanMenurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah kondisi keselamatanyang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yangmencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan,dan kondisi pekerja. Mathis dan Jackson, menyatakan bahwa keselamatanadalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorangterhadap cidera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujukpada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.Keselamatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahanoperasional yang memungkinkan terjadinya kecelakaan.Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan kerja adalah ilmupengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinanterjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. (Lalu Husni,2003: 138).Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapatdisimpulkan bahwa perusahaan atau industri yang mempekerjakanseseorang, wajib untuk melindungi pekerjanya dengan cara menyediakanlapangan kerja yang aman, serta jaminan kesehatan bagi karyawannya.Serta perusahaan melakukan langkah-langkah pencegahan kecelakaan kerja,maka selain dapat mencegah terjadinya cedera pada pekerja, perusahaanjuga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan. Dengan demikianperusahaan yang melakukan program K3 dengan sukses, dapat bersaing 16
    • dengan perusahaan lain untuk meningkatkan mutu, pruduktivitas, serta mendapatkan reputasi baik dimasyarakat. Suatu perusahaan yang mempunyai reputasi yang baik, dapat mempengaruhi kemampuannya dalam bersaing dengan perusahaan lain. Menurut Barrie & Paulson (1984) menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai reputasi atau nama baik, akan dapat memberikan keuntungan baik langsung,maupun tidak langsung bagi perusahaan tersebut. Dalam Undang-Undang dikatakan bahwa kesehatan dan keselamatankerja merupakan bagian yang sangat penting dalam ketenagakerjaan. Denganadanya Undang-Undang tentang pencegahan Kecelakaan Kerja, yaitu Undang-Undang No 1 tahun 1970, perusahaan diharapkan dapat menaati peraturanyang telah diberlakukan oleh pemerintah, dan menerapkan programKesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), sehingga dapat meminimalisirkecelakaan kerja yang terjadi. B. Evaluasi Teori Dari beberapa teori yang digunakan dalam makalah ini masih ada yangkurang lengkap, karena dalam salah satu teori mengatakan bahwa K3 dapatterlaksana dengan baik, jika perusahaan atau industri yang mempekerjakanseseorang dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh tentang K3.Namun ketidakberhasilan penerapan K3 dalam industri juga dipengaruhi olehfaktor-faktor yang lain. Misalnya faktor lingkungan tempat industri berdiri,keadaan sumber daya, manajemen dalam industri, dan faktor keadaan fisikmanusianya (pekerja). Oleh karena itu faktor yang mempengaruhiketidakberhasilan program K3 bukan dari salah satu faktor, melainkan semuasaling berkaitan. C. Alat Ukur yang Digunakan 17
    • Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan oleh peneliti yaitu skalalikert. Skala ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana tanggapanseseorang yang bekerja dalam perusahaan atau industri mengenai pentingnyakeselamatan dan kesehatan kerja. BAB V 18
    • KESIMPULAN Berdasarkan beberapa teori dan penelitian dapat disimpulkan bahwakeselamatan dan kesehatan kerja merupakan program yang sangat pentingdan harus di berlakukan oleh sebuah perusahaan untuk mencegah terjadinyakecelakaan kerja. Selain oleh perusahaan K3 juga harus didukung olehbeberapa faktor seperti faktor lingkungan, sumber daya, dan faktor fisik(pekerja). Dalam hal ini ergonomi juga berperan penting untuk meningkatkanproduktifitas dalam sebuah perusahaan atau industri. Namun dari beberapakasus yang terjadi pada tahun 2011 terdapat 99.491 kasus atau rata-rata 414kasus kecelakaan kerja per hari, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya98.711 kasus kecelakaan kerja, pada tahun 2009 terdapat 96.314 kasus, sertapada tahun 2008 terdapat 94.736 kasus, dan tahun 2007 terdapat 83.714kasus. Dari kasus ini terbukti bahwa kecelakaan kerja terjadi akibat karenakurangnya kesadaran dari karyawan itu sendiri, misalnya dalam hal pemakaianatribut safety (pakaian pengaman), karyawan masih ada yang sengaja tidakmenggunakan pakaian tersebut, karena merasa tidak nyaman dan terlalu risihuntuk dipakai. Seharusnya kaadaan tersebut jangan digunakan sebagai alasanuntuk tidak memakai pakaian safety. Ini membuktikan bahwa awal berjalannyaprogram K3 dimulai dari diri sendiri dan didukung oleh faktor disekitarnya. DAFTAR PUSTAKA 19
    • Ashraf a. Shikdara & Naseem m. Sawaqed, 2004. Ergonomics, and Occupational Health and Safety In The Oil Industry: a Managers’ Mesponse. Computers & Industrial Engineering, 47, 223–232.Ashraf A. Shikdar & Naseem M. Sawaqed, 2003. Worker Productivity, and Occupational Health and Safety Issues in Selected Industries. Computers & Industrial Engineering 45 (2003) 563–572Joseph Ladou, 2002. Iunternational Occupational Heealt. Int. J. Hyg. Environ. Health 206, 1 -11Ibrahim Jati Kusuma. Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan PT. Bitratex Industries Semarang.Achmad Suaeb. Kesehatan dan Keselamatan KerjaWieke Yuni Christina,dkk.Pengaruh Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Proyek KonstruksiArya, U.A. (16 October 2012 ). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Diakses 11 Maret 2013 dari http://aryaulilalbab-fkm12.web.unair.ac.id/artikel_detail- 61464-Kesehatan-Kesehatan%20dan%20Keselamatan%20Kerja.html.Suara Karya Online. (Kamis, 28 Februari 2013). Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bagian dari HAM. Diakses 11 Maret 2013 dari http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=322234. 20
    • Neneng Zubaidah. (Selasa, 16 Oktober 2012). Dunia usaha perlu K3. Diakses 11 Maret 2013 dari http://ekbis.sindonews.com/read/2012/10/16/34/680284/menakertrans- dunia-usaha-perlu-k3 21