ISU-ISU PENDIDIKAN KONTEMPORER                  GENDER DALAM PRESPEKTIP PENDIDIKAN ISLAMI. Pendahuluan             Dokumen...
bentuknya yang tidak hanya menimpa kepada kaum perempuan, akan tetapijuga menimpa kaum laki-laki,        walau secara meny...
serta bani adam4. Masing-masing kata ini merujuk makhluk ciptaan Allah     yang terbaik (fi ahsan taqwim), dan Allah tidak...
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap                    Perempuan (Komnas        Perempuan) meminta Menteri Pendidikan ...
kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang). Gender   adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung-jawa...
Perempuan tidak rasional, emosional.            Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.            Perempuan seb...
Pelecehan seksual.           Perdagangan perempuan           Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.          ...
ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali dinilai       dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut t...
dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan     public atau produksi. Contoh :            Masi...
Pada   puncak   peradaban     Yunani,   perempuan   tidak   mendapatpenghargaan yang adil, karena mereka dianggap alat pem...
tahun 1882 perempuan Inggeris belum lagi mempunyai hak kepemilikan harta   benda secara penuh, termasuk hak menuntut ke pe...
sebagaimana hak/bagian yang dimiliki oleh kaum laki-laki meski dalam              nilai sebagian/ separuhnya.134. Posisi P...
yang “diberikan” oleh Islam terhadap perempuan, tentu didadasarkan atas      kepercayaan terhadap kapabilitas dan kompeten...
Perhatian serius Nabi terhadap proses pendidikan yang pemberdayaan  masyarakat muslim ini, dimulai dengan didirikannya mas...
tersebut menyatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan itu adalah sama  dan setara didalam harkat dan haknya. dalam dekl...
lainnya, asal usul kebangsaan dan sosial, hak milik, kelahiran atau status       lainnya.   c. Pembedaan tidak dapat dilak...
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberi sanksi sesuai dengan peraturan      perundang-undangan.    d. Peraturan ini mula...
menguraikan permintaan para perempuan di zaman nabi untuk melakukan   bay‟ah (janji setia kepada nabi dan ajarannya), seba...
manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena    itu Alquran tidak mentolerir segala bentuk pen...
jelas bertentangan dengan hak kebebasan wanita yang tidak bisa dicabut dan       sekaligus merupakan hak natural.24       ...
kekuasaannya. Padahal keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan      dan misi utama peradaban manusia untuk men...
Hubungan kekuasaan dan pendidikan sangat erat. Ilmu pengetahuan      terutama diabad modern dewasa ini. Menguasai ilmu pen...
kekuasaan dan pengaruh dalam wilayah publik dalam cara yang sama         seperti dilakukan laki-laki. Akses perempuan dala...
UU No. 34 tahun 1999, UU No. 23 tahun 2004, dan instruksi presiden No. 9tahun 2000.     Ketidak adilan gender adalah 1). s...
bidang, sehingga menimbulkan     protes-protes kaum perempuan untukmenuntut keadilan dan hak-hak mereka untuk tampil dipub...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

GENDER

876
-1

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
876
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
59
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

GENDER

  1. 1. ISU-ISU PENDIDIKAN KONTEMPORER GENDER DALAM PRESPEKTIP PENDIDIKAN ISLAMI. Pendahuluan Dokumen monumental mengenai gender telah dilahirkan pada tahun 1948 dalam Universal Deklaration of Human Right, yang mana dokumen tersebut menyatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan itu adalah sama dan setara didalam harkat dan haknya.1 Seiring dengan itu Indonesia telah melaksanakan berbagai komvensi PBB dalam bebagai kebijakan publik yang berupa undang-undang dan peraturan seperti, UU No. 7 tahun 1984, UU No. 34 tahun 1999, UU No. 23 tahun 2004, dan instruksi presiden No. 9 tahun 2000. Masalah gender dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, termasuk di Indonesia telah mencuat ke permukaan. Berbagai struktur dan kultur yang selama ini mengabaikan perempuan digugat. Kesalahan prespektif terhadap konsep didalam islam telah sampai kepada pembahasan perempuan yang sebagian kalangan masih dianggap tabu.2 Dalam penafsiran ayat Al-Qur‟an dan hadis rasul terjadi perbedaan pendapat antara mufasir klasik dan mufasir kontemporer.3 dengan adanya perbedaan pemahaman tersebut kaum perempuan merasa dirugikan Ketidak-adilan gender timbul dikarenakan adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbagai 1 H. Martinis Yamin. Maisah. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan (...Referensi, 2012) h. 87 2 Ibid. h. 85. 3 Al-Munawar, Said Aqil. 1999. ―Kepemimpinan Perempuan dalam Islam, Membongkar PenafsiranSurah An-Nisa Ayat 1‖ , dalam Syafiq Hasyim, Kepemimpinan Perempuan dalam Islam (Jakarta: JPPR.1999) h. 17 1
  2. 2. bentuknya yang tidak hanya menimpa kepada kaum perempuan, akan tetapijuga menimpa kaum laki-laki, walau secara menyeluruh ketidak-adilangender dalam berbagai kehidupan ini lebih banyak menimpa kaumperempuan. Diantara ketidak adilan gender adalah pelebelan negatif yangdiberikan kepada wanita (Stereotype), kekerasan yang dilakukan laki-lakiterhadap perempuan, beban ganda yang diberlakukan kepada perempuan,peminggiran, penomorduaan. Masih banyak hal yang harus diluruskan dalampersepsi masyarakat tentang perempuan terutama anggapan kaum laki-lakilebih utama daripada kaum perempuan. Sejarah telah menginformasikan bahwa sebelum diturunkannya kitabsuci Alquran perempuan tidak mendapat keadilan sama sekali, perempuananggap seperti instrumen, dijual. Dijadikan sebagai pemenuhan seks, dandijadikan sesajen serta dibakar hidup-hidup. Namun ketika pada awal islamketidak adilan gender dihapuskan oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Nabimuhammad yangmana ajaran islam telah memberdayakan manusia disegalabidang, seperti timbulnya tokoh perempuan sebagai faktor pendukung utamadalam proses risalah seperti Siti Khadijah istri Nabi. Alquran, sebagai sumber utama dalam ajaran Islam, telah menegaskanketika Allah Yang Maha Pencipta menciptakan manusia termasuk didalamnya, laki-laki dan perempuan. Paling tidak ada empat kata yang seringdigunakan Alquran untuk menunjuk manusia, yaitu basyar, insan dan al-nas, 2
  3. 3. serta bani adam4. Masing-masing kata ini merujuk makhluk ciptaan Allah yang terbaik (fi ahsan taqwim), dan Allah tidak membedakan antara laki-laki dan wanita, yang membedakan adalah amal dan ibadah mereka. Isu-isu Gender 1) Diskusi gender di gedung Parlemen RI. pada tanggal 28 Mei 2012. Dr. Ir. Euis Sunarti, adalah Dosen IPB di Departemen Ekologi Manusia, Beliau adalah salah satu pakar gender terbaik di Indonesia menyatakan, "Kami cukup galau akhir–akhir ini, melihat kualitas akademik mahasiswa laki– laki dibanding perempuan. Ternyata Mahasiswi jauh lebih beprestasi dibanding dengan Mahasiswa 8 (delapan) dari lulusan terbaik perguruan tinggi terbaik di Indonesia adalah perempuan. 2) Kurangnya keterwakilan Partisipasi perempuan dalam pendidikan sebagai tenaga pengajar Jumlah guru TK semuanya perempuan, jenjang pendidikan dasar umumnya sama atau melebihi jumlah guru laki-laki. Namun,pada jenjang pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi, jumlah tersebut menunjukkan penurunan drastis. 3) Sulitnya bagi perempuan menduduki jabatan-jabatan strategis seperti Presiden, anggota DPRi 4) Masih ada tekanan bagi wanita untuk tidak melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi 5) JAKARTA, KOMPAS.com – Selasa, 13 November 2012 | 19:46 WIB 4 A.Hamid Hasan Qolay, Kunci Indeks dan Klasifikasi Ayat-ayat Alquran, Jilid I,(Bandung: Pustaka, 1989), h. 51-52. 3
  4. 4. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengklarifikasi ke publik, terkait pernyataannya tentang kasus perkosaan siswa di Depok yang dipublikasikan di salah satu media massa. Komnas Perempuan menilai pernyataan itu melukai rasa keadilan bagi perempuan korban perkosaan, keluarga, para anak didik dan orang tua, maupun masyarakat. Padahal, Komnas Perempuan tengah berupaya mendorong kurikulum HAM berperspektif gender di lembaga pendidikan. II. Pembahasan 1. Pengertian Gender Kata “gender” berasal dari bahasa Inggeris “gender”, dalam Kamus Bahasa Inggeris-Indonesia, berarti “jenis kelamin”.5 Sedangkan dalam gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”.6 Merujuk pada penjelasan pemerintah melalui Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagaimana juga yang tertuang dalam Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 2000, jender dapat diartikan sebagai berikut: Gender (asal kata gen); perbedaan peran, tugas, fungsi, dan tanggung-jawab serta kesempatan antara laki-laki dan perempuan karena dibentuk oleh tata nilai sosial budaya (konstruksi sosial) yang dapat diubah dan berubah sesuai 5 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, cet.XII, 1983), h. 265. 6 Victoria Neufeldt (Ed.), Webster’s New World Dictionary (New York: Webster‟s NewWorld Clevenland, 1984), h. 561. 4
  5. 5. kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang). Gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung-jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. Dari uraian diatas dapat disimpulkan, Gender adalah Perberbedaan antara laki-laki dengan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku, dapat diubah sesuai kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang) sosial dan budaya masyarakat2. Ketidak adilan Gender a. Stereotype Semua bentuk ketidakadilan gender yang berpangkal pada satu sumber kekeliruan, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan. Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain. Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan. Contoh : Perempuan dianggap cengeng, suka digoda. 5
  6. 6. Perempuan tidak rasional, emosional. Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting. Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan. Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.7 b. Kekerasan Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan. Contoh : Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga. Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan. 7 Jhon W. Santrock. Adolescence. Alih Bahasa, Dra. Sintho B Adelar M. Sc(Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2003) h.374 6
  7. 7. Pelecehan seksual. Perdagangan perempuan Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi. Korban Poligmi/nikah siri, tampa sepengetahuan istri c. Beban ganda Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda. 8 d. Peminggiran (Marginalisasi) Marginalisasi artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka 8 Raqib, Moh. Pendidikan Perempuan. Cet. I.( Purwokerto: Gama MediaKerjasama STAIN Purwokerti Press. 2003) h. 111 7
  8. 8. ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender. Contoh : Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima. Masih banyaknya pekerja perempuan dipabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan formal dari perusahaan tempat bekerja karena alasan-alasan gender, seperti sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan dan juga alasan factor reproduksinya, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan.9 e. Penomor Duaan (Subordinasi) Subordinasi Artinya : suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran 9 DedeWiliem. Gender Bukan Tabu . Catatan perjalanan Fasilitasi KelompokPerempuan Jambi (Bandung : Center For International Forestry Research) h 13-23 8
  9. 9. dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi. Contoh : Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi pengambil keputusan atau penentu kebijakan dibanding laki-laki. Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak. Masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).103. Pandangan Masyarakat Dunia Terhadap Perempuan Pandangan masyarakat dunia secara umum terhadap perempuan, terutama sebelum turunnya kitab suci Alquran. Sejarah telah menginformasikan bahwa sebelum diturunkannya kitab suci Alquran, berbagai peradaban umat manusia telah berkembang sedemikian rupa, seperti halnya peradaban bangsa Yunani, Romawi, India, Cina dan yang lainnya. Dan juga sebelum datangnya agama Islam, telah datang terlebih dahulu berbagai agama, seperti agama Zoroaster, Buddha, dan yang paling belakangan adalah agama Yahudi dan Nasrani.11 10 Ibid 11 M Qurash Shiha . Wawasan al-Quran Tentang Pokok-Pokok Keimanan (1996) 9
  10. 10. Pada puncak peradaban Yunani, perempuan tidak mendapatpenghargaan yang adil, karena mereka dianggap alat pemenuhan naluri sekslaki-laki. Kaum laki-laki diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhikebutuhan dan selera tersebut, dan para perempuan dipuja untuk itu. Patung-patung telanjang yang terlihat dewasa ini di Eropa adalah merupakan buktiyang menyatakan pandangan itu. Peradaban Romawi juga tidak begitu berbeda dengan Yunani,menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya.Setelah kawin, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakupkewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Peristiwa tragisini berlangsung sampai pada abad 5 Masehi. Segala hasil usaha perempuan,menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman Kaisar Konstantin,terjadi sedikit perubahan dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagiperempuan, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui terlebihdahulu oleh keluarga (suami/ayah). Peradaban Hindu dan Cina, juga tidak lebih baik. Hak hidup bagiseorang perempuan yang telah bersuami harus berakhir pada saat kematiansuaminya, istri terkadang harus dibakar hidup-hidup pada saat mayatsuaminya dibakar. Pada masyarakat hindu wanita sering dijadikan sesajenuntuk para Dewa. Tradisi ini baru berakhir pada abad 17 Masehi. Sepanjang abad pertengahan nasib perempuan tetap sangatmemperihatinkan, sampai dengan tahun 1805 perundang-undangan Inggerismasih mengakui hak suami untuk menjual istrinya, bahkan sampai dengan 10
  11. 11. tahun 1882 perempuan Inggeris belum lagi mempunyai hak kepemilikan harta benda secara penuh, termasuk hak menuntut ke pengadilan. 12 Pada masa Jahiliyah, anak-anak perempuan kehadirannya tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat Arab. Pandangan mereka ini telah direkam oleh Alquran, mulai dari sikap yang paling ringan yaitu bermuka masam, sampai pada sikap yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi mereka yang perempuan. Informasi ini dapat dibaca dalam QS. an-Nahl (16): 58, sebagai berikut:         dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.(QS. An-Nahl. 58)     karena dosa Apakah Dia dibunuh, (QS.at-Takwir (81): 9) berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa a. Islam telah menghapus diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Bila terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan akibat fungsi dan peran yang diemban masing-masing. Maka perbedaan itu tidak perlu mengakibatkan yang satu yang satu memiliki kelebihan atas yang lain melainkan membantu dan melengkapi. b. Pada saat islam datang konsep ahli waris menjadi saksi, membayar denda tidak berlaku bagi perempuan, kemudian islam memberi hak/bagian 12 M. Qurash Shihab. Membumikan Al-Qur‟an: Fungsi dan peran Wahyu DalamKehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan. 2002) h 392-393 11
  12. 12. sebagaimana hak/bagian yang dimiliki oleh kaum laki-laki meski dalam nilai sebagian/ separuhnya.134. Posisi Perempuan dalam Sejarah Pendidikan Masa Awal Islam Fenomena paling menarik dalam konteks wacana gender di dalam sejarah Islam, adalah munculnya tokoh perempuan sebagai faktor pendukung utama dalam proses risalah. Adalah Siti Khadijah istri Nabi, kedudukannya teramat penting dalam sejarah Islam atas peran vitalnya dalam turut terlibat dalam proses kenabian Muhammad. Kesaudagaran yang membuatnya sangat mandiri memungkinkan mampu mengatur kehidupan kontemplatik suaminya selama proses menjelang pewahyuan. Dalam perspektif ini Khadijah layak bahkan seharusnya menjadi ikon dari seluruh isu kesetaraan gender dalam islam. Terdapatnya dominasi laki-laki dalam tradisi Quraish yang dikemukakan oleh Umar, tentu tidak cukup sebagai bahan untuk melakukan generalisasi. Bahkan menurut Leila merupakan hal yang ironis jika digambarkan bahwa pada masa awal Islam (dalam pandangan yang ortodok) tidak menyepakati kemandirian perempuan dan hanya menghendaki bahwa wanita selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki.14 Mereka sangat mandiri, dan kemandirian kaum perempuan ini diperkuat oleh ketentuan yang ditetapkan oleh Nabi bahwa tidak boleh seorang laki-lakipun yang mengawini lagi istri yang telah diceraikannya (janda) kecuali setelah adanya selang perkawinan (terdapat lelaki lain yang pernah mengawininya yang disebut dalam Fiqh sebagai mukhalil). Otonomisasi 13 H. Martinis Yamin. Maisah. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan (...Referensi, 2012) h. 96 14 Ahmed, Leila. 1992. Women and Gender in Islam, Historical Roots of a Modern Debate. YaleUniversity Press. London. hlm. 99-102 12
  13. 13. yang “diberikan” oleh Islam terhadap perempuan, tentu didadasarkan atas kepercayaan terhadap kapabilitas dan kompetensi perempuan yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala bidang termasuk dalam persoalan yang berkaitan dengan agama. Otonomisasi dan atau kemandirian ini menghantarkan kaum perempuan duduk seederajat dengan kaum laki-laki dalam hal yang paling mendasar dalam periode pembinaan agama, yaitu keterlibatan dalam menerima dan menyampaikan teks wahyu baik dalam bentuk kitab suci maupun sebagai Hadits. Pelibatan perempuan dalam seluruh proses pemeliharaan dan pengembangan “teks” masa itu melahirkan sosok-sosok wanita cerdas seperti Aisyah dan Hafsah, yang mampu menikmati prestis serta pengaruh di kedua masa kekhalifahan awal (Abu Bakar dan Umar). Umar ibn Khattab dalam banyak hal lebih mempercayai anak perempuannya daripada anak laki-lakinya, dan Abu Bakar mempercayakan pada Aisyah untuk mengurus administrasi properti dan bantuan-bantuan publik (shadaqah). Bahkan khalifah Umar memerintahkan pemindahan bahan mushaf Al Qur‟an dari Abu Bakar kepada Hafsah.15 Perhatian Nabi dalam dimensi ini ditunjukkan melalui sabdanya bahwa “Seorang lelaki yang mendidik budak perempuannya, memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya pahala yang berlipat ganda.1615 Ibid.16 Hadits ini dikutip oleh Haiffa dari Tritton. Lihat Jawad, Haiffa A. hlm. 20 13
  14. 14. Perhatian serius Nabi terhadap proses pendidikan yang pemberdayaan masyarakat muslim ini, dimulai dengan didirikannya masjid sebagai institusi publik yang memiliki multi fungsi. Masjid pertama yang dibangun Nabi merupakan tempat pemujaan Tuhan sekaligus tempat pengaturan permasalahan sehari-hari, sebagai aula pertemuan gedung pengadilan, markas besar pasukan dan pusat pengambilan keputusan. Dalam perspektif instruksional masjid masa itu sebagai sekolah untuk mengajar para mualaf melakukan shalat, prinsip- prinsip Islam dan bagaimana berprilaku terhadap orang lain.17 Menurut Haiffa, pada masa awal Islam perempuan memperoleh kesemptan mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan, mereka mendatangi majlis belajar bersamaan dengan kaum laki-laki-laki, dan berpartisipasi dalam seluruh aktifitas budaya bersandingan dengan kaum laki-laki-laki bahkan berlomba untuk lebih ungul dalam memperoleh dorongan dan penghargaan. Kehidupan publik bagaikan panggung di mana antara wanita dan laki- laki terlibatkan. Bahkan para wanita berdiskusi dan berdebat dengan Nabi. Haiffa mengingatkan bahwa Al Qur‟an mendorong para wanita untuk berbicara mengutarakan pemikirannya dan tidak untuk diam. .185. Gender Pada Tingkat Internasional Dokumen monumental mengenai gender telah dilahirkan pada tahun 1948 dalam Universal Deklaration of Human Right, yang mana dokumen 17 Mernisi, Fatima. 1994. Ratu-ratu yang Terlupakan (terjemah dari: theforgotten Queens of Islam). Mizan. Bandung. Hlm. 120-121 18 Ibid. Jawad, Haiffa A. hlm. 21-22 14
  15. 15. tersebut menyatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan itu adalah sama dan setara didalam harkat dan haknya. dalam deklarasi mengenai hak-hak manusia yang sama itu tidak membedakan antara ras maupun gender. Namun dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat masih saja tampak seperti berbagai jenis diskrriminasi berdasarkan ras, agama, kedudukan ekonomi, kedudukan sosial dan perbedaan gender.196. Gender Pada Tingkat Nasional Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai standar umum keberhasilan semua manusia dan semua bangsa dengan tujuan bahwa setiap individu dan setiap organisasi masyarakat, dengan senantiasa mengingat Deklarasi ini, akan berusaha melalui cara pengajaran dan pendidikan untuk memajukan penghormatan terhadap hak dan kebebasan ini, dan melalui upaya- upaya yang progresif baik secara nasional dan internasional, menjamin pengakuan dan ketaatan yang universal dan efektif, baik oleh rakyat Negara Pihak maupun rakyat yang berada di dalam wilayah yang masuk dalam wilayah hukumnya. Isi Deklarasi adalah sebagai berikut a. Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Mereka dikaruniai akal budi dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu dengan yang lain dalam semangat persaudaraan. b. Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang tercantum dalam Deklarasi ini tanpa pembedaan dalam bentuk apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik atau keyakinan 19 Ibid. Martinis Yamin, Maisah. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan h. 87 15
  16. 16. lainnya, asal usul kebangsaan dan sosial, hak milik, kelahiran atau status lainnya. c. Pembedaan tidak dapat dilakukan atas dasar status politik, hukum atau status internasional negara atau wilayah dari mana seseorang berasal, baik dari negara merdeka, wilayah perwalian, wilayah tanpa pemerintahan sendiri, atau wilayah yang berada di bawah batas kedaulatan lainnya. d. Setiap orang berhak atas kehidupan, kemerdekaan dan keamanan pribadi. e. Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhambakan; perbudakan dan perdagangan budak dalam bentuk apapun wajib dilarang. f. Tidak seorangpun boleh disiksa atau diperlakukan atau dihukum secara keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat.20 Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 84 tahun 2008 a. Setiap satuan unit kerja bidang pendidikan yang melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, dan program pembangunan bidang pendidikan agar mengintegrasikan gender di dalamnya. b. Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dilaksanakan dengan menggunakan pedoman pelaksanaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. c. Satuan unit kerja pendidikan yang terbukti menyelenggarakan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan tidak sesuai dengan ketentuan 20 Adnan Buyung Nasution , Putra M Zen. Instrumen Internasional pokok Hak Azazi Manusia (Jakarta:Yayasan Obor indonesia, 2006) h. 139. 16
  17. 17. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.7. Gender Dalam Prespektif Pendidikan Islam Nasaruddin Umar mengemukakan adanya kesetaraan gender didalam Al‟Quran. Dia menemukan lima variabel yang mendukung pendapatnya, yakni: 1) Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba. Hal ini bisa dilihat misalnya dalam QS. al-Hujurāt (49): 13 dan al-Nahl (16): 97; 2) Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi. Hal ini terlihat dalam QS. al-Baqarat (2): 30 dan al- An‟ām (6): 165; 3) Laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial seperti terlihat dalam QS. al-A‟rāf (7): 172; 4) Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis. Kejelasan ini terlihat dalam QS. al-Baqarat (2): 35 dan 187, al-A‟rāf (7): 20, 22, dan 23; dan 5) Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi seperti yang terlihat dalam QS. Āli „Imrān (3): 195, al-Nisā‟ (4): 124, al-Nahl (16): 97, dan al-Mu‟min (40): 40.21 Jamâl al-Dîn Muhammad Mahmûd, sebagaimana dikutip M. Quraish Shihab, mengatakan bahwa tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai larangan keterlibatan perempuan dalam bidang politik, pendidikan atau ketentuan agama yang membatasi bidang tersebut hanya pada kaum laki-laki. Sejarah Islam juga menunjukkan betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali. Alquran 21 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif Al-Qur’an, Jakarta:Paramadina, Cet. I,1999, h.248-269. 17
  18. 18. menguraikan permintaan para perempuan di zaman nabi untuk melakukan bay‟ah (janji setia kepada nabi dan ajarannya), sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah al-Mumtahanah (60): 12:                                          Terjemahnya : Hai nabi, apabila datang kepadamu perempuan- perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Departemen Agama RI, 1989:925).22 Ayat-ayat tersebut di atas mengisyaratkan konsep kesadaran gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karir professional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan yang sama meraih prestasi optimal. Salah satu obsesi Alquran ialah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan dalam Alquran mencakup segala segi kehidupan umat Departemen Agama RI. 1989. Al-Qur‟an dan Terjemahnya.( Semarang: Toha Putra., 1989) h. 22925. 18
  19. 19. manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu Alquran tidak mentolerir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis kelamin. Jika terdapat suatu hasil pemahaman atau penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur kemanusiaan, maka hasil pemahaman dan penafsiran tersebut terbuka untuk diperdebatkan. 238. Pelaksanaan Kesetaraan Gender Dalam bidang Pendidikan Dalam pembahasan ini kita dihadapkan pada dua pokok yang berkaitan erat yaitu a) Feminisme/kekuasaan/keadilan, b) Feminisme keadilan a. Feminisme dan kekuasaan Qasim Amin adalah salah satu tokoh feminis Muslim pertama yang dilahirkan di Tarah, Iskandariah (Mesir), Desember 1865. yang pertama kali memunculkan gagasan tentang mansipasi wanita Muslim melalui karya- karyanya Qasim Amin melihat wanita pada waktu itu bagaikan budak dan hidup di penjara yang kehilangan kebebasan untuk berbuat dan beraktivitas. Banyak kaum pria yang masih menganggap bahwa mengurung wanita di rumahnya merupakan jalan agar wanita menjadi manusia yang terbaik. Bagi Qasim Amin, memberikan hak kepada lelaki untuk mengurung isterinya 23 Su‟ād Ibrāhīm Sālih. Kedudukan Perempuan dalam Islam (Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2001)h. 40. 19
  20. 20. jelas bertentangan dengan hak kebebasan wanita yang tidak bisa dicabut dan sekaligus merupakan hak natural.24 Menurut Qasim Amin, syari‟ah menempatkan wanita sederajat dengan pria dalam hal tanggung jawabnya di muka bumi dan di kehidupan selanjutnya. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang memadai. Pendidikan untuk wanita, menurutnya, harus sama seperti halnya pendidikan untuk pria. Ia kurang setuju jika wanita diberikan pendidikan yang khusus yang berbeda dengan pendidikan yang diberikan kepada pria.25 Qasim Amin menegaskan bahwa separo dari penduduk dunia adalah kaum wanita. Karena itu, membiarkan mereka dalam kebodohan berarti membiarkan potensi separo bangsa tanpa manfaat. Kondisi seperti ini jelas sangat merusak dan menghambat cita-cita bangsa. Jika kaum wanita dibebaskan dari kebodohan, maka mereka akan mampu menekuni ilmu pengetahuan dan menguasai berbagai keterampilan, mengelola perdagangan dan perindustrian wanita juga akan mampu bertindak sebagai pribadi yang kreatif yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain jika diberi kesempatan melatih diri dalam kegiatan kemasyarakatan serta melatih dan membina potensi akal dan jasmani secara terarah dan baik.26 Namun hingga dewasa ini kedudukan perempuan masih dibawah kekuasaan laki-laki. Hal ini disebabkan karena peranan laki-laki mensubordinasikan perempuan yang menganggap laki-laki lebih kuat dari wanita atau wanita dibawah 24 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah, Pemikiran, dan Gerakan, Jakarta:Bulan Bintang, Cet. VIII, 1991, h. 79. 25 Qasim Amin, The New Woman: A Document in the Early Debate of Egyptian Feminism,Alih bahasa Syariful Alam dengan judul “Sejarah Penindasan Perempuan: Menggugat Islam Laki-laki,Menggurat Perempuan Baru”, Yogyakarta: Ircisod, Cet. I, 2003, h. 147-148 26 Qasim Amin, Tahrīr al-Mar’at, Kairo: Al-Markaz al-„Arabiyyat li al-Bahsi wa al-Nasyr,1984, h.28 20
  21. 21. kekuasaannya. Padahal keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan, membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat, bernegara dan membangun keluarga berkualitas, dikarenakan penduduk perempuan mungkin lebih setengah dari seluruh penduduk Indonesia dan merupakan potensi yang sangat besar dalam mencapai kemajuan dan kehidupan yang lebih berkualitas. Kesetaraan Gender, Kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan & keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Keadilan gender suatu perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Perbedaan biologis tidak bisa dijadikan dasar untuk terjadinya diskriminasi mengenai hak sosial, budaya, hukum dan politik terhadap satu jenis kelamin tertentu. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender, ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.27b. Kekuasaan dan Pendidikan27 Eni Purwati dan Hanun Asrohah, Bias Gender dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: Alpha, 2005), 30 21
  22. 22. Hubungan kekuasaan dan pendidikan sangat erat. Ilmu pengetahuan terutama diabad modern dewasa ini. Menguasai ilmu pengetahuan berarti menguasai sumber-sumber kehidupan lebih-lebih dalam ilmu pengetahuan sosial abad ke 21. Dewasa ini pada umumnya perempuan telah diberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan bersama-sama dengan kaum laki-laki. Hal ini dilihat dalam perkembangan pendidikan Nasional yang jumlah siswa laki-laki dan perempuan telah berimbang, hal ini menunjukkan bagaimana pendidikan indonesia telah menembus hambatan-hambatan diskriminasi seks. Kesepatan yang sama untuk meraih pendidikan telah dijamin dalam undang-undang Hak Azazi Manusia dan berbagai peraturan lainnya. Namun pelaksanaan prinsip kesetaraan yang berekeadilan ternyata “belum sepenuhnya” terlaksanakan dalam masyarakat. Misalnya sulitnya bagi perempuan menduduki jabatan-jabatan strategis seperti Presiden, anggota DPR, yang seluruhnya menunjukkan ketimpangan didalam kesetaraan yang berkeadilan. 28 Hal yang paling kuat menyokong perbedaan gender pembagian dunia kedalam publlik dan privat. Yang mana wilayah publik yang terdiri atas penata publik negara, pemeritahan, pendidikan, media, dunia bisnis, kegiatan perusahaan, perbankan, agama, dan kultur, dihampir semua masyarakat didunia didominasi laki-laki, yang jelas ada perempuan individu yang memasuki dan mungkin pada akhirnya memimpin. Namun dimana- mana tidak ada perempuan sebagai suatu kelompok yang menjalankan28 Ibid. H. Martinis Yamin. Maisah. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan h. 91-92 22
  23. 23. kekuasaan dan pengaruh dalam wilayah publik dalam cara yang sama seperti dilakukan laki-laki. Akses perempuan dalam kekuasaan lebih kecil di bandingkan akses laki-laki dilatar belakng yang sama. Karena perempuan tidak terwakili dengan semestinya dalam lingkup publik, mereka kurang mampu mejalankan kekuasaan dan mempengaruhi kesejahteraan gendernya. Idiologi publik dan privat cenderung mengandung makna bahwa lingkup perempuan adalah rumah. Diseluruh dunia perempuan sedang menuntut, ruang publik; akses perempuan terhadap pendidikan, pembentukan jaringan permpuan internasional, dan ketertiban terhadap perempuan kedealam kehidupan publik, mulai menetang idiologi publik dan privat yang menimbulkan ketidak adilan gender. 29III. Kesimpulan Gender adalah Perberbedaan antara laki-laki dengan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku, dapat diubah sesuai kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang) sosial dan budaya masyarakat. Dokumen monumental mengenai gender telah dilahirkan pada tahun 1948 dalam Universal Deklaration of Human Right, yang mana dokumen tersebut menyatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan itu adalah sama dan setara didalam harkat dan haknya.30 Seiring dengan itu Indonesia telah melaksanakan berbagai komvensi PBB dalam bebagai kebijakan publik yang berupa undang-undang dan peraturan seperti, UU No. 7 tahun 1984, 29 Julia Cleves Mosse. Gender dan Pembangunan, Alih Bahasa . Hartian Silawati (Yogyakarta: RafikaAnnisa, 2007). 106-107. 30 H. Martinis Yamin. Maisah. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan (...Referensi, 2012) h. 87 23
  24. 24. UU No. 34 tahun 1999, UU No. 23 tahun 2004, dan instruksi presiden No. 9tahun 2000. Ketidak adilan gender adalah 1). stereotype Pelabelan negative juga dapatdilakukan atas dasar anggapan gender 2). Kekerasan (violence) artinyatindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salahsatu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negaraterhadap jenis kelamin lainnya 3) beban ganda artinya beban pekerjaanyang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jeniskelamin lainnya 4). Peminggiran (Marginalisasi) suatu prosespeminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkankemiskinan 5) Subordinasi suatu penilaian atau anggapan bahwa suatuperan yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Sebelum datangnya agama islam perempuan ditindas oleh kaumlaki-laki mereka dijadikan sebagai pemuas nafsu Seks laki-laki, laki-lakidiberi kebebasan untuk itu, perempuan berada dibawah kekuasaan laki-lakimereka di siksa, diusir, dibakar, dibunuh dan bahkan di kubur hidup-hidup.Namun setelah Islam datang derajat perempuan dangkat, agama islammengharamkan untuk melakukan perbudakan terhadap perempuan denganhukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui Al-Quran, danAlQuran menyatakan hak Perempuan dan laki-laki itu sama yangmembedakan mereka hanya iman dan taqwa mereka dihadapan Allah.Walaupun itu sudah ditetapkan namun kenyataannya sampai saat iniperempuan masih merasakan Diskriminasi dan ketidak adilan diberbagai 24
  25. 25. bidang, sehingga menimbulkan protes-protes kaum perempuan untukmenuntut keadilan dan hak-hak mereka untuk tampil dipublik sebagaimanakaum laki-laki. 25

×