1 st, Try

852 views
806 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
852
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
36
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

1 st, Try

  1. 1. PENGARUH PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 6 PALEMBANG Oktiana Dwi Putra Herawati1 Rusdy Siroj2 dan H.M. Djahir Basir3 Abstrak:Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa pada kelas yang memperoleh pembelajaran problem posing dengan siswa pada kelas yang memperoleh pembelajaran konvensional. (2) Mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa dalam kelompok tinggi, sedang dan rendah ditinjau dari tingkat penguasaan matematika. (3) Mengetahui interaksi antara model pembelajaran dan tingkat penguasaan matematika dalam kemampuan pemahaman konsep matematika. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan unit-unit penelitian ditentukan berdasarkan kelompok pembelajaran dan tingkat penguasaan matematika siswa. Kelompok pembelajaran dibedakan menjadi dua yaitu pembelajaran problem posing dan pembelajaran konvensional. Sedangkan tingkat penguasaan matematika siswa dibedakan ke dalam kelompok tinggi, sedang dan rendah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMAN 6 Palembang tahun ajaran 2009/2010. Sampel penelitian adalah kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa yang memperoleh pembelajaran problem posing dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. (2) Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa pada kelompok tinggi dan sedang serta tinggi dan rendah. Tetapi tidak terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa pada kelompok sedang dan rendah. (3) Terdapat interaksi antara pembelajaran (Problem Posing dan Konvensional) dengan tingkat penguasaan matematika siswa dalam kemampuan pemahaman konsep matematika. Interaksi terjadi antara pembelajaran (PP dan KV) dengan tingkat penguasaan matematika siswa pada kelompok tinggi dan sedang serta tinggi dan rendah dalam kemampuan pemahaman konsep matematika. Tetapi tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (PP dan KV) dengan tingkat penguasaan matematika siswa dalam kelompok sedang dan rendah. Menurut anggapan masyarakat Hal ini karena matematikaumum, bahwa salah satu pelajaran yang berhubungan dengan ide-ide dan konsep-dianggap sulit pada jenjang pendidikan konsep yang abstrak.dasar dan menengah adalah matematika.1 ) Alumni, 2,3) Dosen Jurusan Magister Pendidikan Matematika PPs Unsri
  2. 2. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKAVOLUME 4. NO.1 JUNI 2010Sebagaimana pernyataan Hudoyo (1988:3) matematika menekankan pada konsep”.bahwa matematika berkenaan dengan ide- Artinya dalam mempelajari matematikaide dan konsep-konsep yang abstrak dan siswa harus memahami konsep matematikatersusun secara hierarki dan penalarannya terlebih dahulu agar dapatmenyelesaikandeduktif. Karena konsep matematika yang soal-soal dan mampu mengaplikasikantersusun secara hierarki, maka dalam pembelajaran tersebut dalam dunia nyata.belajar matematika tidak boleh ada Berdasarkan penjelasan di atas makalangkah/tahapan konsep yang dilewati. pemahaman konsep perlu ditanamkanMatematika hendaknya dipelajari secara kepada peserta didik sejak dini yaitu sejaksistematis dan teratur serta harus disajikan anak tersebut masih duduk di bangkudengan struktur yang jelas dan harus sekolah dasar. Mereka dituntut mengertidisesuaikan dengan perkembangan tentang definisi, pengertian, caraintelektual siswa serta kemampuan pemecahan masalah maupun pengoperasianprasyarat yang telah dimilikinya. Dengan matematika secara benar. Karena haldemikian pembelajaran matematika akan tersebut akan menjadi bekal dalamterlaksana secara efektif dan efisien. mempelajari matematika pada jenjang Karena konsep-konsep dalam pendidikan yang lebih tinggi.matematika memiliki keterkaitan antara Menurut Slameto (2003:76)satu dengan yang lainnya, maka siswa pembelajaran matematika sangat ditentukanharus lebih banyak diberikan kesempatan oleh strategi dan pendekatan yanguntuk melihat kaitan-kaitan dengan materi digunakan dalam mengajar matematika ituyang lain. Hal tersebut dimaksudkan agar sendiri. Belajar yang efisien dapat tercapaisiswa dapat memahami materi matematika apabila dapat menggunakan strategi belajarsecara mendalam. Misalnya jika siswa yang tepat. Oleh karena itu guru dituntutingin memahami konsep integral (anti untuk profesional dalam menjalankanturunan) maka terlebih dahulu dia harus tugasnya. Guru yang profesional adalahmampu memahami konsep turunan suatu guru yang selalu berpikir akan dibawa kefungsi. Demikian juga kalau siswa ingin mana anak didiknya, serta dengan apamemahami konsep turunan maka terlebih mengarahkan anak didiknya untukdahulu harus memahami konsep limit. mencapai hasil yang diinginkan dengan Pentingnya pemahaman konsep berbagai inovasi pembelajaran.matematika terlihat dalam tujuan pertama Salah satu pendekatan pembelajaranpembelajaran matematika menurut inovatif yang dapat diterapkan dalamDepdiknas (Permendiknas no 22 tahun pembelajaran matematika untuk2006) yaitu memahami konsep matematika, mengembangkan kemampuan pemahamanmenjelaskan keterkaitan antar konsep dan konsep matematika siswa adalahmengaplikasikan konsep atau algoritma menggunakan pendekatan problem posing.secara luwes, akurat, efisien dan tepat Pembelajaran dengan pendekatan problemdalam pemecahan masalah. Sesuai dengan posing adalah pembelajaran yangtujuan pembelajaran matematika di atas menekankan pada siswa untukmaka setelah proses pembelajaran siswa membentuk/mengajukan soal berdasarkandiharapkan dapat memahami suatu konsep informasi atau situasi yang diberikan.matematika sehingga dapat menggunakan Informasi yang ada diolah dalam pikirankemampuan tersebut dalam menghadapi dan setelah dipahami maka peserta didikmasalah–masalah matematika. Jadi dapat akan bisa mengajukan pertanyaan. Dengandikatakan bahwa pemahaman konsep adanya tugas pengajuan soal (problemmerupakan bagian yang paling penting posing) akan menyebabkan terbentuknyadalam pembelajaran matematika. Hal ini pemahaman konsep yang lebih mantapseperti yang dinyatakan oleh Zulkardi pada diri siswa terhadap materi yang telah(2003:7) bahwa ”mata pelajaran diberikan. Kegiatan itu akan membuat 71
  3. 3. Herawati, Pengaruh Pembelajaran Problem Posingsiswa lebih aktif dan kreatif dalam Desain kelompok kontrol pretes-postesmembentuk pengetahuannya dan pada (Ruseffendi.2005:50)akhirnya pemahaman siswa terhadap Keterangan:konsep matematika siswa lebih baik lagi. A: Subyek penelitian yang diambil secaraMETODE PENELITIAN acak O: Tes yang diberikan pada pretes danJenis Penelitian dan Prosedur penelitian postes di kelas eksperimen maupun Penelitian ini merupakan penelitian kelas kontrol.eksperimen dengan menerapkanpembelajaran problem posing dalam X: Perlakuan pada kelas eksperimen berupapelajaran matematika. Unit-unit penelitian pembelajaran problem posing.ditentukan berdasarkan kelompokpembelajaran dan tingkat penguasaanmatematika siswa. Pembelajaran dibedakan HASIL DAN PEMBAHASANmenjadi dua jenis yaitu pembelajarandengan problem posing dan pembelajaran HASIL PENELITIANkonvensional. Sedangkan tingkat 1. Analisis Data Hasil Pretespenguasaan matematika siswa dibedakan Sebelum pemberian perlakuan yaitumenjadi kelompok tinggi, sedang dan pembelajaran problem posing pada kelasrendah. eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol maka kedua kelas Penelitian ini menggunakan desain tersebut diberikan pretes yang sama.kelompok kontrol pretes-postes. Dalam Tujuan pemberian pretes ini adalah untukrancangan ini sekelompok sampel dipilih melihat kemampuan awal kedua kelompoksecara acak kelas (A) dari populasi tertentu. sebelum diberikan perlakuan serta untukKemudian sampel dikelompokkan menjadi melihat kesetaraan dua kelas (kelasdua kelompok yaitu kelompok eksperimen eksperimen dan kelas kontrol).dan kelompok kontrol. Selanjutnya kedua Untuk mengetahui normalitas datakelompok baik kelompok eksperimen nilai kemampuan pemahaman konsepmaupun kelompok kontrol diberikan pretes matematika siswa pada pretes untuk setiap(O) yang sama. Kelompok eksperimen kelompok pembelajaran (PP, KV)dikenai variabel perlakuan tertentu (X) digunakan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S).dalam jangka waktu tertentu sedangkan Hipotesis nol yang diuji: Ho: Sampelkelompok kontrol diberikan pembelajaran berdistribusi normal, melawan alternatifbiasa. Kemudian kedua kelompok tersebut Ha: Sampel tidak berdistribusi normal.diberikan postes (O) yang sama. Perlakuan Kriteria pengujian: jika nilai probabilitasyang diberikan kepada kelas eksperimen (sig) dari Z lebih besar dari α = 0,05 makaberupa penerapan pembelajaran problem hipotesis nol diterima. Rangkuman hasil ujiposing sedangkan pada kelas kontrol normalitas disajikan pada tabel 1 berikut:diberikan pembelajaran konvensional. Tabel1.Setelah perlakuan pembelajaran, ditelitidampak yang muncul pada subyek Uji Normalitas Nilai Kemampuanpenelitian sebagai akibat dari perlakuan Pemahaman Konsep Matematika Siswapembelajaran yang diterapkan yaitu Pada Pretes Berdasarkan Kelompokkemampuan pemahaman konsep Pembelajaranmatematika siswa. Pola rancangan tersebut Kelompok N K-S Sig Hodigambarkan sebagai berikut: Pembelajara A O X O n A O O Problem 4 1,14 0,14 Diterim72
  4. 4. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKAVOLUME 4. NO.1 JUNI 2010 Posing (PP) 5 2 7 a dari α = 0,05. Ini berarti varians kelompok eksperimen dan kontrol adalah sama atau Konvension 4 1,08 0,19 Diterim tidak ada perbedaan rata-rata kedua al (KV) 5 0 4 a kelompok data. Pada Tabel 1 terlihat bahwa nilai Dari hasil pretes kedua kelas makaprobabilitas (sig) untuk setiap kelompok didapat rata-rata untuk kelompok tinggipembelajaran lebih besar dari α = 0,05, ini pada kelas eksperimen sebesar 59,5 danberarti hipotesis nol diterima. Dengan rata-rata kelompok tinggi pada kelasdemikian, data pretes nilai kemampuan kontrol sebesar 59,9. Rata-rata untukpemahaman konsep matematika siswa kelompok sedang pada kelas eksperimenberdistribusi normal. sebesar 48,8 dan untuk kelas kontrol Selanjutnya, uji homogenitas varians sebesar 49. Sedangkan rata-rata untukpopulasi dari data nilai kemampuan kelompok rendah kelas eksperimen sebesarpemahaman konsep matematika siswa pada 41,3 dan untuk kelas kontrol sebesar 41,8.pretes berdasarkan kelompok pembelajaran Dari hasil pretes di atas terlihat bahwadengan menggunakan uji Levene. Hipotesis kemampuan awal kedua kelompoknol yang diuji: Ho: σ1 = σ2 melawan pembelajaran relatif sama. Oleh karena itualternatif Ha: σ1 ≠ σ2. Kriteria pengujian maka dapat dikatakan bahwa penelitian iniadalah jika nilai probabilitas (sig) lebih berawal dari kemampuan yang sama.besar dari α = 0,05, maka hipotesis nolditerima. Rangkuman hasil perhitungan uji 2. ANALISIS DATA HASIL POSTEShomogenitas varians populasi disajikan Data hasil tes kemampuanpada tabel 2 berikut: pemahaman konsep matematika siswaTabel 2. Uji Homogenitas Varians Populasi setelah pembelajaran dideskripsikan dan Nilai Kemampuan Pemahaman Konsep dianalisis berdasarkan faktor kelompokMatematika Siswa Pada Pretes Berdasarkan pembelajaran dan tingkat penguasaan Kelompok Pembelajaran matematika siswa. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan yang Statistik dk1 dk2 Sig Ho signifikan selanjutnya digunakan statistik Levene inferensial ANOVA dua jalur, tetapi (F) sebelumnya dilakukan uji persyaratan yaitu 0.010 1 88 0.919 diterima uji normalitas distribusi data dan uji homogenitas varians populasi. Untuk uji normalitas distribusi data digunakan uji Pada Tabel 2 terlihat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov (K-S). Hipotesis nolprobabilitas (sig) lebih besar dari α = 0,05, yang diuji: Ho: Sampel berdistribusiini berarti hipotesis nol diterima. Dengan normal, melawan alternatif Ha: Sampeldemikian, varians populasi dari nilai tidak berdistribusi normal. Kriteriakemampuan pemahaman konsep pengujian: jika nilai probabilitas (sig) darimatematika siswa pada pretes berdasarkan Z lebih besar dari α = 0,05 maka hipotesiskelompok pembelajaran homogen. nol diterima. Pada hasil uji normalitas Dikarenakan kedua kelompok data diperoleh bahwa nilai probabilitas (sig)berdistribusi normal dan variansnya untuk setiap kelompok pembelajaranhomogen, maka untuk mengetahui ada atau (eksperimen dan kontrol) pada setiaptidak adanya perbedaan rata-rata kedua kelompok PM (tinggi, sedang, rendah)kelompok data berdasarkan kelompok lebih besar dari α = 0,05, ini berartipembelajaran digunakan uji t. Dari hasil hipotesis nol diterima. Dengan demikiananalisis dapat dikemukakan bahwa nilai data nilai kemampuan pemahaman konsepprobabilitas (sig) adalah 0,943 atau lebih matematika siswa berdasarkan kelompok 73
  5. 5. Herawati, Pengaruh Pembelajaran Problem Posingpembelajaran dan tingkat penguasaan lebih kecil dari α = 0,05 maka hipotesis nolmatematika siswa berdistribusi normal. ditolak. Hal ini berarti terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep Selanjutnya, uji homogenitas varians matematika siswa antara yang memperolehpopulasi dari skor kemampuan pemahaman pembelajaran problem posing dengan yangkonsep matematika siswa setelah memperoleh pembelajaran konvensional.pembelajaran (postes) berdasarkankelompok pembelajaran dan tingkat PM Dari hasil uji ANOVA dua jalur kitadengan menggunakan uji Levene. Hipotesis juga dapat mengetahui perbedaannol yang diuji: Ho: σ1 = σ2 melawan kemampuan pemahaman konsepalternatif Ha: σ1 ≠ σ2. Kriteria pengujian matematika antara siswa dalam kelompokadalah jika nilai probabilitas (sig) lebih tinggi, sedang dan rendah (ditinjau daribesar dari α = 0,05, maka hipotesis nol tingkat penguasaan matematika siswa).diterima. Pengujian Hipotesis 2: Berdasarkan hasil uji homogenitasdata diperoleh bahwa nilai probabilitas Dari hasil uji ANOVA dua jalur di(sig) lebih besar dari α = 0,05, ini berarti atas diperoleh nilai probabilitas (sig) untukhipotesis nol diterima. Dengan demikian, tingkat penguasaan matematika = 0,001.varians populasi dari skor kemampuan Oleh karena nilai probabilitas (sig) lebihpemahaman konsep matematika siswa kecil daripada α = 0,05 maka hipotesis nolberdasarkan kelompok pembelajaran dan ditolak. Hal ini berarti paling sedikit adatingkat penguasaan matematika siswa satu kelompok berbeda dari yang lainnya.homogen. Untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda secara signifikan dalam Dikarenakan semua kelompok data kemampuan pemahaman konsepberdistribusi normal dan variansnya matematika siswa maka dapat dilihat darihomogen, maka untuk mengetahui ada atau hasil uji Scheffe. Oleh karena itutidak adanya perbedaan kemampuan dilanjutkan dengan uji Scheffe pada tarafpemahaman konsep matematika siswaberdasarkan kelompok pembelajaran, untuk signifikansi α = 0,05.mengetahui ada atau tidak adanya Tabel 3. Uji Scheffe Nilai Rata-rataperbedaan kemampuan pemahaman konsep Kemampuan Pemahaman Konsepmatematika siswa berdasarkan tingkat Matematika Siswa Berdasarkan Tingkatpenguasaan matematika (tinggi, sedang dan PMrendah) serta untuk mengetahui interaksi Tingkat Perbedaa Sig Hoantara kelompok pembelajaran dengan PM Siswa n Rataantingkat penguasaan matematika dalamkemampuan pemahaman konsep Tinggi – 5,06 0,047 Tolakmatematika siswa digunakan uji ANOVA Sedangdua jalur. Dari hasil uji ANOVA dua jalur kita Tinggi – 9,27 0,000 Tolakakan dapat mengetahui apakah ada Rendahperbedaan kemampuan pemahaman konsep Sedang – 4,21 0,127 Terimamatematika antara siswa pada kelas yang Rendahmemperoleh pembelajaran problem posingdan siswa pada kelas yang memperolehpembelajaran konvensional. Pada tabel 3 terlihat bahwa nilaiPengujian Hipotesis 1: probabilitas (Sig) untuk pasangan kelompok tinggi dan sedang adalah 0,047 Dari hasil uji ANOVA dua jalur atau kurang dari α = 0,05 maka hipotesisdiperoleh nilai probabilitas (sig) untuk nol ditolak, sehingga dapat ditarikpembelajaran = 0,000. Oleh karena nilai sig74
  6. 6. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKAVOLUME 4. NO.1 JUNI 2010kesimpulan bahwa kemampuan kemampuan pemahaman konseppemahaman konsep matematika siswa pada matematika.kelompok tinggi berbeda secara signifikan Begitu juga selisih kemampuandengan siswa pada kelompok sedang. pemahaman konsep matematika antaraDemikian pula kemampuan pemahaman pembelajaran problem posing dankonsep matematika siswa pada kelompok pembelajaran konvensional pada siswatinggi berbeda secara signifikan dengan kelompok tinggi berbeda secara signifikansiswa pada kelompok rendah. Hal ini dapat dibandingkan dengan siswa pada kelompokdilihat dari nilai sig = 0,000 atau kurang rendah. Ini berarti terdapat interaksi antaradari α = 0.05. Untuk kelompok sedang dan pembelajaran (PP dan KV) dengan tingkatrendah nilai sig adalah 0,127 atau lebih dari penguasaan matematika ( tinggi dan rendahα = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ) dalam kemampuan pemahaman konseptidak terdapat perbedaan signifikan pada matematika.kemampuan pemahaman konsepmatematika antara siswa pada kelompok Tetapi selisih kemampuansedang dan rendah. pemahaman konsep matematika antara pembelajaran problem posing dan Selain itu dari hasil uji ANOVA dua pembelajaran konvensional pada siswajalur di atas kita juga dapat mengetahui kelompok sedang tidak berbeda secaraapakah ada interaksi antara kelompok signifikan dibandingkan dengan siswa padapembelajaran dan tingkat penguasaan kelompok rendah. Ini berarti tidak terdapatmatematika siswa dalam kemampuan interaksi antara pembelajaran (PP dan KV)pemahaman konsep matematika. dengan tingkat penguasaan matematikaPengujian Hipotesis 3 (sedang dan rendah) dalam kemampuanHipotesis yang di uji adalah: pemahaman konsep matematika. Dari hasil uji ANOVA dua jalur di Secara grafik, interaksi antaraatas diperoleh nilai probabilitas (sig) untuk pembelajaran dengan tingkat penguasaaninteraksi = 0,026. Oleh karena nilai matematika siswa dalam kemampuanprobabilitas (sig) lebih kecil daripada α = pemahaman konsep matematika0,05 maka hipotesis nol ditolak. Hal ini diperlihatkan pada gambar berikut:berarti ada kelompok pembelajaran yangberinteraksi dengan tingkat penguasaanmatematika siawa dalam kemampuan 87.6 90pemahaman konsep matematika siswa.Untuk mengetahui pembelajaran mana 85 78.94yang berinteraksi dengan tingkat 80 Pemahaman Konsep 73.46 Rata –Rata Nilaipenguasaan matematika siswa maka dapat 75 Matematikadilihat dari hasil uji Scheffe di atas. 70 71.71 72.64 Berdasarkan hasil uji Scheffe di atas 65 68.93dapat ditarik kesimpulan bahwa selisih 60kemampuan pemahaman konsep 55matematika antara pembelajaran problem 50posing dan pembelajaran konvensional Rendah Sedang Tinggipada siswa kelompok tinggi berbeda secarasignifikan dibandingkan dengan siswa padakelompok sedang. Ini berarti terdapat Gambar 4.1 Interaksi Antara Pembelajaran dan Tingkat Penguasaaninteraksi antara pembelajaran (PP dan KV) Matematika Dalam Kemampuandengan tingkat penguasaan matematika Pemahaman Konsep Matematikasiswa (tinggi dan sedang) dalam 75
  7. 7. Herawati, Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Pada gambar di atas nampak tidak kedua kelas tersebut perbedaannya sangatadanya interaksi antara pembelajaran (PP kecil sehingga dapat dikatakan relatif sama.dan KV) dengan tingkat penguasaan Nilai rata-rata penguasaanmatematika siswa pada kelompok sedang matematika siswa kelompok tinggi padadan rendah dalam kemampuan pemahaman kelas eksperimen sebesar 89,9 dan padakonsep matematika. Hal ini karena selisih kelas kontrol sebesar 89,6. Nilai rata-ratanilai pada postes antara pembelajaran PP siswa kelompok sedang pada kelasdan KV pada siswa kelompok sedang tidak eksperimen sebesar 77,5 dan pada kelasberbeda secara signifikan dengan kontrol sebesar 77,1. Nilai rata-rata siswapembelajaran yang sama pada kelompok kelompok rendah pada kelas eksperimenrendah. sebesar 58,1 dan pada kelas kontrol sebesar 60,6. Terdapat interaksi antara Selain temuan-temuan di atas,pembelajaran (PP dan KV) dengan tingkat ditemukan pula bahwa pencapaian KKMpenguasaan matematika siswa pada pada kelas eksperimen sebesar 71% dankelompok tinggi dan sedang dalam pada kelas kontrol sebesar 69% dimanakemampuan pemahaman konsep nilai KKM adalah 70. Hal ini menunjukkanmatematika. Hal ini karena selisih nilai bahwa kemampuan siswa yang terlibatpada postes antara pembelajaran PP dan dalam penelitian ini relatif sama. Selain ituKV pada siswa kelompok tinggi berbeda dapat dikatakan bahwa materi prasyaratsecara signifikan dengan pembelajaran sebelum pembelajaran cukup dikuasaiyang sama pada kelompok sedang. siswa sehingga dapat disimpulkan bahwa Terdapat interaksi antara siswa siap menerima materi pelajaran baru.pembelajaran (PP dan KV) dengan tingkatpenguasaan matematika siswa pada Nilai rata-rata tes kemampuan pemahamankelompok tinggi dan rendah dalam konsep matematika untuk materi turunankemampuan pemahaman konsep fungsi sebelum pembelajaran yangmatematika. Hal ini karena selisih nilai diperoleh siswa pada kelas eksperimenpada postes antara pembelajaran PP dan adalah 49,6 sedangkan yang diperoleh padaKV pada siswa kelompok tinggi berbeda kelas kontrol adalah 49,95. Nilai rata-ratasecara signifikan dengan selisih tes kemampuan pemahaman konseppembelajaran yang sama pada kelompok matematika pada kedua kelas tersebutrendah. perbedaannya sangat kecil sehingga dapat dikatakan relatif sama. Nilai rata-rata hasil pretes untuk siswaPEMBAHASAN kelompok tinggi pada kelas eksperimen sebesar 59,5 dan pada kelas kontrol sebesar Penelitian ini menghasilkan beberapa 59,9. Nilai rata-rata siswa kelompok sedangtemuan yang dianalisis berdasarkan pada kelas eksperimen sebesar 48,8 dankelompok pembelajaran dan tingkat pada kelas kontrol sebesar 49. Nilai rata-penguasaan matematika. rata siswa kelompok rendah pada kelas Tingkat penguasaan matematika eksperimen sebesar 41,3 dan pada kelasadalah tingkat penguasaan siswa terhadap kontrol sebesar 41,8. Selain temuan-temuanmatematika yang dimiliki sebelum tersebut, ditemukan pula bahwa pencapaianpembelajaran berlangsung. Nilai rata-rata KKM pada kelas eksperimen sebesar 0%tes penguasaan matematika yang diperoleh dan pada kelas kontrol sebesar 0%. Hasilpada kelas eksperimen adalah 76 dan nilai ini menunjukkan bahwa kemampuan siswarata-rata tes penguasaan matematika yang yang terlibat dalam penelitian (siswa kelasdiperoleh pada kelas kontrol adalah 75,9. eksperimen dan siswa kelas kontrol) iniNilai rata-rata penguasaan matematika pada76
  8. 8. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKAVOLUME 4. NO.1 JUNI 2010relatif sama, sehingga dapat dikatakan penguasaan matematika tinggi dan rendahbahwa kedua kelas setara. tetapi tidak terjadi interaksi pada kelompok Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedang dan rendah. Temuan ini didukungkemampuan pemahaman konsep oleh perolehan nilai rata-rata kemampuanmatematika siswa pada kelas dengan pemahaman konsep matematika siswa padapembelajaran problem posing lebih baik kelompok tinggi, sedang dan rendahdaripada kemampuan pemahaman konsep Pada kelompok tinggi, perolehan nilaimatematika siswa dengan pembelajaran rata-rata kemampuan pemahaman konsepkonvensional. Temuan ini didukung oleh matematika pada kelas denganperolehan nilai rata-rata pada kelas dengan pembelajaran problem posing sebesar 87,6pembelajaran problem posing sebesar 78,9 lebih baik daripada pembelajarandan pada kelas dengan pembelajaran konvensional sebesar 72,64. Pencapaiankonvensional sebesar 70,8. Dilihat dari KKM pada kelompok tinggi denganpencapaian KKM, pada kelas dengan pembelajaran problem posing sebanyak 15pembelajaran problem posing jumlah siswa orang (100%) sedangkan padayang mencapai nilai KKM sebanyak 40 pembelajaran konvensional sebanyak 8orang (88,9%) dan pada kelas dengan orang (53,3%).pembelajaran konvensional sebanyak 25 Pada kelompok sedang, perolehanorang (55,6%). nilai rata-rata kemampuan pemahaman Pencapaian nilai yang tinggi pada konsep matematika pada kelas denganpembelajaran problem posing ini pembelajaran problem posing sebesar 78,94disebabkan karena pada pembelajaran lebih baik daripada pembelajaranproblem posing siswa dilatih untuk konvensional sebesar 71,7. Pencapaianmengajukan atau membuat soal kemudian KKM pada pembelajaran problem posingmenyelesaikan soal yang dibuat oleh sebesar 15 orang (88,2%) dan padakelompok lain. Pada saat siswa membuat pembelajaran konvensional sebesar 10soal maka siswa dituntut untuk memahami orang (58,8%).konsep dari materi yang telah diterimanya, Pada kelompok rendah, perolehanbegitu juga pada saat menyelesaikan soal nilai rata-rata kemampuan pemahamanyang telah dibuat oleh kelompok lain siswa konsep matematika pada kelas denganjuga dituntut untuk memahami konsep. pembelajaran problem posing sebesar 73,46 Dari hasil penelitian diperoleh data lebih baik daripada pembelajarannilai rata-rata kemampuan pemahaman konvensional sebesar 68,9. Pencapaiankonsep matematika siswa pada kelompok KKM pada pembelajaran problem posingtinggi adalah 80,38, pada kelompok sedang sebesar 11 orang (84,6%) dan padanilai rata-ratanya adalah 75,33 sedangkan pembelajaran konvensional sebesar 8 orangpada kelompok rendah adalah 71,11. Dari (57,1%).data tersebut terlihat adanya perbedaan Dari nilai rata-rata dan pencapaianyang signifikan pada kemampuan KKM maka dapat disimpulkan bahwa padapemahaman konsep matematika antara semua kelompok siswa (tinggi, sedang dansiswa pada kelompok tinggi, sedang dan rendah), kemampuan pemahaman konseprendah. matematika siswa pada pembelajaran Terdapat interaksi antara kelompok problem posing lebih baik daripadapembelajaran (PP dan KV) dengan tingkat pembelajaran konvensional. Namunpenguasaan matematika siswa dalam berdasarkan hasil yang diperoleh, ternyatakemampuan pemahaman konsep pada siswa kelompok tinggi, pembelajaranmatematika. Interaksi terjadi antara problem posing lebih berpengaruhkelompok pembelajaran (PP dan KV) dibandingkan pada kelompok sedang dandengan kelompok penguasaan matematika rendah.tinggi dan sedang maupun pada kelompok 77
  9. 9. Herawati, Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Hasil ini dikarenakan pada kegiatan 2.Terdapat perbedaan kemampuanpresolution posing siswa dilatih untuk pemahaman konsep matematika antaradapat mengaitkan informasi/situasi yang siswa pada kelompok tinggi, sedang danmereka peroleh dengan materi yang sudah rendah yang ditinjau dari tingkatmereka pelajari. Dengan demikian penguasaan matematika. Kemampuanpemahaman siswa terhadap materi pemahaman konsep matematika siswapelajaran akan lebih baik. Demikian pula pada kelompok tinggi berbeda denganpada kegiatan within solution posing, siswa siswa pada kelompok sedang. Demikiandilatih untuk merumuskan sub-sub pula kemampuan pemahaman konseppertanyaan yang mengarah kepada matematika siswa pada kelompok tinggipenyelesaian soal. Dengan demikian siswa berbeda dengan siswa pada kelompokterlatih untuk menyelesaikan soal secara rendah. Tetapi tidak terdapat perbedaansistematis. Sedangkan pada kegiatan post signifikan dalam kemampuansolution posing akan dapat melatih siswa pemahaman konsep matematika antarauntuk lebih memahami konsep materi siswa pada kelompok sedang dan rendah.pelajaran. Hal ini dikarenakan pada 3.Terdapat interaksi antara pembelajarankegiatan post solution posing siswa dilatih (PP dan KV) dengan tingkat penguasaanmembuat soal yang sejenis dengan soal matematika siswa dalam kemampuanyang diberikan, sehingga diharapkan akan pemahaman konsep matematika. Interaksidapat memperkuat konsep yang telah terjadi antara pembelajaran (PP dan KV)mereka terima. dengan tingkat penguasaan matematika Dalam ketiga kegiatan problem pada kelompok tinggi dan sedang sertaposing di atas, siswa dituntut untuk pada kelompok tinggi dan rendah. Tetapimembuat soal yang berkaitan dengan tidak terdapat interaksi antaramateri yang telah diajarkan. Untuk pembelajaran ( PP dan KV ) denganmembuat soal tersebut diperlukan tingkat penguasaan matematika padapenguasaan yang baik terhadap konsep kelompok sedang dan rendah dalamdasar yang telah diajarkan. Pada siswa kemampuan pemahaman konsepkelompok tinggi, konsep yang diberikan matematika.lebih cepat dikuasai daripada siswakelompok sedang dan rendah. Oleh karena Saranitu pembelajaran problem posing lebih Berdasarkan kesimpulan dariberpengaruh pada siswa kelompok tinggi. penelitian ini, selanjutnya dikemukakan saran-saran sebagai berikut:Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan 1. Pembelajaran problem posingpembahasan yang telah dikemukakan pada hendaknya terus dikembangkan dibab sebelumnya, diperoleh beberapa lapangan dan dijadikan sebagaikesimpulan sebagai berikut: alternatif pilihan guru dalam1.Terdapat perbedaan kemampuan pembelajaran matematika sehari-hari. pemahaman konsep matematika antara Hal ini dikarenakan pembelajaran siswa yang memperoleh pembelajaran tersebut dapat meningkatkan problem posing dengan yang memperoleh kemampuan pemahaman konsep pembelajaran konvensional. Kemampuan matematika siswa. pemahaman konsep matematika siswa 2. Dalam mengimplementasikan pada kelas yang memperoleh pembelajaran problem posing dengan pembelajaran problem posing lebih baik tujuan meningkatkan kemampuan daripada siswa pada kelas yang pemahaman konsep matematika siswa, memperoleh pembelajaran konvensional. guru selain perlu mempersiapkan semua komponen pembelajaran dengan78
  10. 10. JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKAVOLUME 4. NO.1 JUNI 2010 matang juga perlu mempertimbangkan Tersedia di http ://www.pikiranrakyat. tingkat penguasaan matematika siswa. com/cetak/2006/082006/10/cakrawala Pembelajaran problem posing lebih /profil.html. (diakses tgl 5 Februari tepat diterapkan pada kelas dengan rata- 2010). rata penguasaan matematika siswa tergolong tinggi. Herdian. 2009. Pembelajaran Dengan3. Guru matematika hendaknya Problem Posing. Tersedia di: mengadakan perubahan-perubahan http://herdy07.wordpress.com/2009/0 secara bertahap dalam pembelajaran 4/19/model-pembelajaran-problem- sehari-hari sesuai dengan kondisi atau posing/ (diakses tgl tgl 28 07 2009) kemampuan siswa. Hal ini diperlukan Hudoyo, Herman. 1988. Mengajar Belajar agar pembelajaran tidak monoton dan Matematika. Jakarta: Direktorat membosankan. Jenderal Pendidikan Tinggi. Pi-Jen Lin. 2004. Supporting Teachers On Designing Problem-Posing Tasks AsDAFTAR PUSTAKA A Tool Of Assessment To Understand Students’ Mathematical Learning.Abussakir. 2009. Pembelajaran Matematika Journal of Mathematics Education Dengan Problem Posing. Tersedia di: Vol 3 pp 257–264. Taiwan: National http://abdussakir.wordpress.com/2009 Hsin-ChuTeachers College /02/13/pembelajaran-matematika- P.B, Triton. 2005. SPSS 13.0 Terapan: dengan-problem-posing/. (diakses tgl Riset Statistik Parametrik. 18 juni 2009) Yogyakarta: Andi Priyatno, Dwi. 2008. Mandiri BelajarArikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar SPSS. Yogyakarta: Media Com. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Ram, M. 2009. Penerapan Model Aksara Pembelajaran Game Problem Posing .Brown, S.I & Walter, M.I. 1993. Problem Tersedia di: posing: Reflection and applications. http://mram507.wordpress.com New Jersey: Lawrence Erlbaum (diakses tgl 30 agustus 2009). Associates. Ruseffendi, E. T. 1991. PenilaianChairani, Zahra. 2007 . Problem Posing Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika . Khususnya dalam Pengajaran Tersedia Matematika untuk Guru dan Calon dihttp://agus66.blogspot.com/2009/03 Guru. Bandung: Tidak diterbitkan. /problem-posing-dalam- Russeffendi, E. T. 2006. Pengantar kepada pembelajaran.html (diakses tgl 18 membantu guru mengembangkan juni 2009 ). kompetensinya dalam pengajaranDepdiknas. 2006. Peraturan Menteri matematika untuk meningkatkan Pendidikan Nasional Nomor 22 CBSA. Bandung: Tarsito Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Sarbaini. 2009. Makalah Problem Posing. Pendidikan Dasar dan Menengah. Tersedia di:Echols dan Shadily. 1990. Kamus Inggris http://alifdanhamzah.blogspot.com/20 Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia. 09/05/makalah-problem-posing.html ( diakses tgl 18-06-2009 ).Firdaus, Wildaiman. 2006.Lima mitos sesat Silver, E.A dan Cai, J. 1996. An Analysis of seputar matematika. Bandung : Aritmatic Problem Posing by Middle Ponpes Al-Masudiyah. School Students. Journal for Research 79
  11. 11. Herawati, Pengaruh Pembelajaran Problem Posing In Mathematics Education. V 27 Persamaan Garis Singgung Lingkaran No.5, Nov 1996 hal 521-539 Di Kelas XI Program IPA SMASiswono, Tatag Yuli Eko. 2004. Laboratorium Universitas Negeri “Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Malang. Tesis: Tidak Diterbitkan. Siswa dalam Pengajuan Masalah Zulkardi. 2003. Pendidikan Matematika di (Problem Posing) Matematika Indonesia: Beberapa Permasalahan Berpandu dengan Model Wallas dan dan Upaya Penyelesaiannya. Creative Problem Solving “. Tersedia Palembang: Universitas Sriwijaya di: http://tatagyes.files.wordpress.com/200 9/11/paper04_wallascps1.pdf. (Diakses pada tanggal 10 Februari 2010)Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.Sudijono, Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo PersadaSumarmo, U. 1987. Kemampuan Pemahaman dan penalaran matematika siswa sekolah menengah atas dikaitkan dengan kemampuan penalaran logik siswa dan beberapa unsur proses belajar mengajar. Disertasi PPS IKIP ( Tidak dipublikasikan)Sutiarso, Sugeng. 2000. Problem Possing: Strategi Efektif Meningkatkan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika. Tersedia di: http://nursalam- uin.blogspot.com/2008_07_01_archiv e.html (diakses 13 Desember 2009)Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA- Universitas Pendidikan IndonesiaTIM PPPG Matematika Yogyakarta. 2005. Materi Pembinaan Matematika SMP di Daerah Yogyakarta. DepdiknasXiaogang Xia. 2008. Research on Mathematics Instruction Experiment Based Problem Posing. Journal of Mathematics Education December, Vol. 1, No. 1, pp.153-163. China: Guizhou Normal UniversityYuniar. 2006. Pembelajaran Problem Posing Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Materi80

×