Edisi II              Yayasan MEL untuk Nation Building                      Januari 2011Nabil Award 2010                 ...
2Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
Dari Meja Ketua PendiriPembaca yang budiman,                               oleh As’ad Said Ali Wakil Ketua PB NU yang juga...
Agenda Nabil 2011                                                                Penerbit          Februari 2011 :        ...
“MEMAHAMI SEJARAH, MEMBANGUN BANGSA”:                                Penganugerahan Nabil Award Ke-4                      ...
Mona Lohanda menerima Piagam Nabil Award dari Ketua Dewan Pakar             Saparinah Sadli menyerahkan Plakat Kristal    ...
Pin Emas disematkan oleh Melly Lembong kepada Anhar Gonggong          Penyerahan cek untuk Anhar oleh Eddie Lembong       ...
Ketiga pemenang dengan Piagam Penghargaan                       Todung Mulya Lubis disambut oleh Ketua Pendiri Yayasan Nab...
Kata Sambutan Ketua Pendiri Yayasan NABIL                             Disampaikan pada Nabil Award Tahun 2010HADIRIN SEKAL...
mampu mempersatukan wilayah seluas ini menjadi       sadari dan mawas diri; sehingga dalam 65 tahun          satu negara m...
PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN                  PENGANUGERAHAN NABIL AWARD 2010                       Disampaikan oleh Ketua De...
tiga tokoh putera-puteri Indonesia terkemuka dalam        bermutu tinggi serta dihargai. Pengabdiannya          bidang “Ke...
Para Pemenang Nabil Award 2010Nama:                                 Nama:                             Nama:(Andi) Anhar Go...
“Integrasi Tionghoa ke dalam Bangsa Indonesia” :                                   Ceramah Prof Liang Yingming (Universita...
Lembong dan Ketua Umum Ikatan Alumni Pah                        diajukan. Hal tersebut diapresiasi oleh para hadirinTsung ...
Peluncuran dan Diskusi Buku                                        “Memoar Ang Yan Goan”                                  ...
Pembicara Dr Yudi Latif                                   Wartawan senior Rosihan Anwar                                   ...
Mewakili penerbit Nabil, Eddie Lembong menyerahkan buku Ang Yan Goan kepada Tjiong Thiam Siong                            ...
Road Show “Memoar Ang Yan Goan”                                            Fikom, UNPAD 19 Mei 2010      Didi Kwartanada m...
Para pembicara dan Panitia dalam Road Show di Bandung : Prof. Deddy Mulyana, Dr. Yudi Latif, Tanty Skober dan Dr. Eni Mary...
Peluncuran dan diskusi Buku                                “Mereka Bilang Aku China”                              Karya De...
Ketua Pendiri Yayasan Nabil berbincang dengan Dekan FIB UI,      Eddie Lembong menerima bingkisan dari Dekan FIB UI       ...
Peringatan dan Pemahaman Falsafah Pancasila                                           RS Imanuel Bandung, 1 Juni 2010    K...
Dra. Popong memberikan kata sambutan                             Suasana seminar                                 Para Pese...
Pembelian dan Pembagian                                     Buku “Negara Islam”B   uku dengan judul “Negara Islam” karya P...
artikel                                  Hadirkan Senyuman Untuk Perbedaan                                                ...
moderator. Hingar bingar semangat peserta                                                                 semakin mengobar...
Jika kita dan masyarakat mau           sampai kapanpun juga tetap             tersebut menyebar ke pojok-          untuk s...
Publikasi  Penambang Emas, Petani, dan                       buku terjemahan yang memiliki kualitas yang Pedagang di ”Dist...
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
18@s nabil forum 2011
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

18@s nabil forum 2011

1,834

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,834
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
213
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

18@s nabil forum 2011

  1. 1. Edisi II Yayasan MEL untuk Nation Building Januari 2011Nabil Award 2010 Artikel :Jakarta 14 Oktober 2010 Tokoh TionghoaHadirkan Senyuman dalam RevolusiUntuk Perbedaan Kemerdekaan(Laporan Jamboree of Harmony) IndonesiaBogor, 27-31 Juli 2010 Tjan Tjoe Som : ISSN:2087-9113 BAPAK SINOLOGI INDONESIA 1 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  2. 2. 2Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  3. 3. Dari Meja Ketua PendiriPembaca yang budiman, oleh As’ad Said Ali Wakil Ketua PB NU yang juga menjabat Wakil Kepala BIN. Puncaknya adalahSaya gembira bahwa publikasi yang tiba di tangan penganugerahan Nabil Award ke-4 pada bulanAnda ini bernama Nabil Forum. Oktober yang lalu, yang bertemakan “Memahami Sejarah, Membangun Bangsa”.Edisi perdana terbitan ini bernama Nabil News,yang telah dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dan Ada tiga artikel yang muncul dalam edisi perdanatelah disebarluaskan, baik di Indonesia maupun Nabil Forum ini. Yang pertama adalah renunganke Mancanegara. Di luar dugaan, sambutan yang mengenai pluralisme karya penulis muda, Dewisangat positif telah kami terima dari berbagai Ratih Widyaningtyas. Tulisan kedua mengenai tokoh-kalangan, bahkan ada beberapa pihak yang ikut tokoh Tionghoa di masa Revolusi Kemerdekaan,mendukung secara langsung penerbitan newsletter karya sejarawan muda, Bondan Kanumoyoso.ini. Untuk semua uluran tangan itu kami ucapkan Artikel terakhir tulisan Dr A. Dahana, sinolog senior,terimakasih yang tulus. yang mengisahkan riwayat Prof Dr Tjan Tjoe Som, seorang akademisi yang telah banyak berkorbanBerbagai sambutan dan masukan tersebut untuk tanah air yang dicintainya, namun akhirnyamakin membakar semangat dan membuat kami dia dilupakan.berfikir tentang penting dan bergunanya twoways communication. Maka kami putuskan untuk Kami harapkan agar para Pembaca yang kamimengganti nama publikasi ini menjadi Nabil Forum, hormati berkenan untuk berperan aktif dalamagar selain melaporkan berbagai aktivitas Nabil, menyemarakkan Nabil Forum dengan berbagaimedia ini dapat dijadikan arena untuk berdialog pemikiran dan ide yang mendukung prosesdengan sidang Pembaca, namun tetap sesuai pembangunan bangsa. Tentu saja, berbagaidengan arahan redaksi. masukan dan kritikan, juga kami nantikan.Secara singkat dapat kami sebutkan beberapa Selamat membaca dan teriring salam,peristiwa penting bagi Nabil dalam periode Juni-November 2010, yang laporannya bisa di baca Drs. Eddie Lembongdalam edisi ini, diantaranya adalah ceramah Ketua Pendiri Yayasan NabilProf Liang Yingming, seorang sejarawan senioryang kami undang dari Peking University, Beijing;peluncuran dan bedah buku Memoar Ang YanGoan di Perpusnas Jakarta dan FIKOM UniversitasPadjadjaran Bandung serta peluncuran bukuNegara Pancasila Versi Mandarin yang ditulis Ucapan Terima Kasih Yayasan Nabil mengucapkan terimakasih yang dalam kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dan sumbangsihnya terhadap penerbitan Nabil Forum (sebelumnya Nabil News) maupun Program Kerja Nabil lainnya. Secara Khusus kami hendak menyampaikannya kepada: 1. Soetjipto Nagaria & Ibu Liliawati Rahardjo, Summarecon Group 2. Hadi Rahardja, Vice President Director PT. Kawasan Industri Jababeka, Tbk 3. Sudiharto Sridjaja, Chairman PT. Eternal Buana Chemical Industries 4. Wilson Tukunang, Pengurus Alumni Hwashiao Sulut, Jakarta 5. Budhi Moeljono, President Director PT. Indo Acidatama, Tbk, Surakarta 6. AA. Sidarto, Ciasem Cikini, Menteng Jakarta 7. Drs. Hendry Jurnawan, SH.SIP.MM, Danau Indah, Sunter 8. Budi Kho, Magelang 9. A Rusli, PhD, Jurusan Fisika, Unpar Bandung 3 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  4. 4. Agenda Nabil 2011 Penerbit Februari 2011 : Penerbit : Yayasan Nabil • Launching kantor Nabil Penanggungjawab : Drs Eddie Lembong, Apt • Peluncuran dan diskusi buku Pemimpin Redaksi : Didi Kwartanada Aku Orang China? Sidang Redaksi : Yan, Cindy, Vidya Maret 2011 : Alamat Redaksi : Yayasan Nation Building • Launching Nabil Society (Nabil), Jl. Limo No, 40, • Road Show Memoar AYG di Permata Hijau, Senayan, Surabaya Jakarta 12220, Indonesia. • Road Show Memoar AYG di Tel : (62-21) 7204383, Yogyakarta 7200981 Ext 206,207 • Peluncuran dan diskusi Buku Fax : (62-21) 7260788 Liang Yingming (terjemahan Bahasa Indonesia) Email : yayasan_nabil@yahoo.co.id Mei 2011 : Web : www.nabilfoundation.org • Peluncuran dan diskusi Buku Untuk Berpartisipasi Hoon Chang Yau (terjemahan Rekening : bahasa Indonesia) Yayasan Melly Eddie Lembong Juli 2011 : Seminar bersama NIOD Amsterdam Bank CIMB NIAGA Cab. Permata Hijau Jakarta Agustus 2011 : Peluncuran & Diskusi Buku Who’s Acc. 225.01.000.26.002 Who (Tionghoa Militer) Oktober 2011 : • Nabil Award 2011 Daftar Isi • Peluncuran & Diskusi Buku Biografi Eddie Lembong di Dari Meja Ketua Pendiri........................................................... 3 Jakarta Ucapan Terima Kasih ............................................................... 3 Dewan Pakar Yayasan Nabil .................................................... 4 Dewan Pakar Yayasan Nabil Agenda Nabil ............................................................................ 4 Nabil Award 2010 .................................................................... 5 Dalam melakukan kegiatan dan aktivitasnya, Ceramah : Integrasi Tionghoa kedalam Bangsa Indonesia . 14 Yayasan Nabil mendapat dukungan pemikiran dari Peluncuran & Diskusi Buku Memoar Ang Yang Goan........... 16 berbagai tokoh masyarakat yang memiliki kepakaran Road Show Memoar Ang Yan Goan ....................................... 19 dalam bidang masing-masing, diantaranya : Peluncuran & Diskusi buku “Mereka Bilang Aku China” .................................................... 21 Peringatan & Pemahaman Falsafah Pancasila .................... 23 1. Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Maarif. Pembelian & Pembagian Buku Negara Islam ....................... 25 2. Prof. Dr. Saparinah Sadli. Suara Harmoni Indonesia....................................................... 25 3. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia. Artikel : Hadirkan Senyuman Untuk Perbedaan 4. Prof. Dr. Bambang Purwanto. (Laporan Jamboree of Harmony) ........................................... 26 5. Dr. Thee Kian Wie. Publikasi .................................................................................. 29 6. Dr. Yudi Latif. Artikel : Tokoh-tokoh Tionghoa 7. Dr. Asvi Warman Adam. Dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia ............................. 32 8. Dr. Anhar Gonggong. Puisi : SEJARAH, IBU KEHIDUPAN Rangkaian 9. Dr. Tamrin Amal Tomagola MA. Kata Yang Tiba-tiba Datang ................................................... 37 Syarat Dasar Menjadi Entrepreneurship .............................. 38 10. Dra. Myra Sidarta. Peluncuran dan Bedah Buku “Negara Pancasila”................ 40 11. Mely G Tan, PhD Etnis Tionghoa dalam Pergolakan 12. Dra. Mona Lohanda, M.Phil Revolusi Indonesia .................................................................. 42 13. A. Prasetyantoko, Ph.D Etnis Tionghoa Dalam Sejarah Indonesia 14. Yerry Wirawan Abad 19-20 .............................................................................. 43 15. Didi Kwartanada Kuliah Umum : Mengenal China Sambil Memahami Sejarah Modern Indonesia ..................................................... 45 Penyerahan Hadiah Lomba Booklet “Pantang Pulang Sebelum Padam” ....................................... 46 Artikel : Tjan Tjoe Som: Bapak Sinologi Indonesia ............... 49 Penandatanganan MoU Yayasan Jati Diri Bangsa dengan Yayasan Nation Building (Nabil) ............................................. 55 Tentang Nabil dan Mas Asvi ................................................... 57 4Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  5. 5. “MEMAHAMI SEJARAH, MEMBANGUN BANGSA”: Penganugerahan Nabil Award Ke-4 Kamis 14 Oktober 2010 di Hotel Mulia Pemenang Nabil Award 2010 bersama Bapak Eddie Lembong dan Ibu Melly LembongP ada hari Kamis, 14 Oktober 2010 di Hotel Mulia Jakarta, Yayasan Nabil menganugerahkanpenghargaan tahunannya, Nabil Award, yang ke-4. Tahun ini Nabil Award bertemakan: “MemahamiSejarah Membangun Bangsa.” Tema tersebutdipilih, karena Yayasan Nabil merasa terpanggiluntuk memberikan penghargaan kepada parasejarawan. Hal ini berangkat dari keprihatinan akanmemudarnya karakter dan wawasan kebangsaan,tidak saja di kalangan sebagian anak muda, tetapijuga di kalangan mereka yang sudah mapan. Maka untuk tahun 2010 ini telah terpilihtiga tokoh putera-puteri Indonesia terkemuka Anhar Gonggong menerima Piagam Nabil Awarddalam bidang “Kesejarahan Indonesia Modern”, dari Buya Syafii Maarifyaitu Dr. Anhar Gonggong, Dra. Mona Lohanda, Mona Lohanda (kelahiran Tangerang 1947) adalahM.Phil. dan Dr. Asvi Warman Adam, DEA. seorang Peneliti Utama dari Arsip Nasional RI, Nama Anhar Gonggong (lahir 1943 di yang mampu mengawinkan Ilmu Sejarah denganPinrang Sulawesi Selatan) dikenal sebagai seorang Ilmu Kearsipan. Arsip merupakan memori kolektifsejarawan yang sering tampil di berbagai forum dan jatidiri bangsa. Dari arsip, dapat dilihat sosokseminar maupun di layar kaca dan dosen di perjalanan suatu bangsa. Mona telah mengabdikanberbagai perguruan tinggi. Tema sentral pemikiran diri selama 38 tahun untuk menjadikan arsipdan karya-karya yang selalu ditekankan putera sebagai bagian dari kinerja menggerakkanBugis berdarah biru ini adalah keindonesiaan, tema penulisan sejarah bangsa agar semakin harikeindonesiaan yang padu dalam keberagaman. semakin berkualitas. 5 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  6. 6. Mona Lohanda menerima Piagam Nabil Award dari Ketua Dewan Pakar Saparinah Sadli menyerahkan Plakat Kristal kepada Anhar Gonggong Asvi Warman Adam menerima Piagam Nabil Award Mona Lohanda menerima Plakat Kristal dari Saparinah Sadli Bagi masyarakat, Asvi Warman Adam (lahir di Bukittinggi, 1954), adalah sebuah ikon publik yang tak asing lagi. Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini adalah kolumnis yang produktif dan juga nara sumber di berbagai seminar maupun acara televisi. Asvi giat dalam kegiatan pelurusan sejarah, mengembalikan etnis Tionghoa ke dalam Sejarah Nasional Indonesia dan pelajaran sejarah, serta sebagai ilmuwan publik. Acara Nabil Award 2010 diawali dengan pidato Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Drs Eddie Lembong, yang mengingatkan bahwa “Sejarah adalah PELITA untuk HARI DEPAN”. Pidato Asvi Warman Adam menerima Paket Kristal Nabil Award pertanggungjawaban atas para pemenang agar ilmu sosial dan humaniora menjadikan disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar Nabil, keberagaman sebagai variabel yang tak tergantikan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, yang dan terus berkelanjutan. Terakhir, Asvi Warman menegaskan bahwa sejarah adalah lonceng Adam menerangkan keberpihakannya kepada pengingat untuk tidak melakukan kesalahan dan kaum yang terpinggirkan dalam sejarah nasional kebodohan serupa, kapan pun dan di mana pun Indonesia, yakni para korban peristiwa G30 S 1965 (pidato lengkap terlampir). dan etnis Tionghoa. Sudah menjadi tradisi di dalam Nabil Award, Grup keroncong pemuda “El Jasqee” masing-masing pemenang diminta menyampaikan pimpinan Lilik Jasqee mengiringi jalannya ”pidato penerimaan” (acceptance speech). Dalam penyerahan award. Puncaknya adalah ketika pidatonya, Anhar Gonggong mengingatkan bahwa mereka mempersembahkan lagu-lagu dari daerah Indonesia dibangun melalui dialog oleh berbagai para pemenang, “Ati Raja” (Makassar, asal Dr Anhar suku bangsa, bukan hanya satu suku bangsa Gonggong); “Jali-jali” (Betawi, Mona Lohanda) saja. Hampir senada, Mona Lohanda menyerukan dan “Teluk Bayur” (Sumatra Barat, Asvi Warman 6Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  7. 7. Pin Emas disematkan oleh Melly Lembong kepada Anhar Gonggong Penyerahan cek untuk Anhar oleh Eddie Lembong Mona Lohanda menerima Pin Emas Penyerahan cek untuk Mona Lohanda Pin Emas disematkan kepada Asvi Hadiah cek diterima Asvi Warman AdamAdam), dilengkapi dengan kisah di balik lagu-lagu pengusaha Pandji Wisaksana dan Yusuf Hamdanitersebut. serta Bahar Buasan yang merupakan anggota Walaupun cuaca kurang bersahabat, acara Dewan Perwakilan Daerah.dihadiri oleh lebih dari 200 undangan. Hadir Yayasan Nation Building (NABIL), adalahdiantaranya adalah Wakil Menteri Pendidikan suatu lembaga nirlaba yang didirikan tanggal 30Nasional, Prof dr Fasli Jalal, Ph.D; mantan Menteri September 2006 dengan tujuan untuk turut peduliPemberdayaan Wanita, Prof Dr Meutia Hatta kepada proses Nation Building Indonesia danbeserta suami, Prof Dr Sri-Edi Swasono; Mayjen masalah-masalah yang dihadapinya. Sejak 2007,TNI (Purn) Sukotjo Tjokroatmodjo dari Legiun setiap tahun sekali Yayasan Nabil menganugerahkanVeteran RI; para politikus senior Harry Tjan NABIL Award kepada ilmuwan sosial yang telahSilalahi dan A.M. Fatwa, beserta sejarawan senior berjasa bagi pengembangan proses NationProf Dr Taufik Abdullah. Hadir pula dari kalangan Building Indonesia melalui penelitian, penerbitan 7 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  8. 8. Ketiga pemenang dengan Piagam Penghargaan Todung Mulya Lubis disambut oleh Ketua Pendiri Yayasan Nabil Prof. Musdah Mulia salah satu dewan Pakar Yayasan Nabil Meutia Hatta beserta suami Prof. Sri Edi Swasono sesaat setelah acara Diantara para undangan tampak hadir AM Fatwa (Anggota DPD), Prof. Taufik Abdullah, Dr. Fasli Jalal (Wakil Menteri Pendidikan), Sukotjo Tjokroatmojo, Bahar Buasan (Anggota DPD) dan undangan lainnya karya ilmiah dan/atau aktivitas lain yang mampu Tan, Ph.D dan ketiga pemenang tahun ini) memberikan pencerahan kepada publik. Mereka Persoalan character and nation building yang dievaluasi di antaranya adalah orang(-orang) merupakan kristalisasi dari pembelajaran sejarah. yang bergiat dalam bidang-bidang yang berkaitan Sehingga segala upaya untuk memperkuat dengan tantangan yang dihadapi Nation Building keduanya memerlukan apresiasi terhadap Indonesia dari dulu hingga sekarang, Hingga tahun sejarah. Maka salah satu founding father kita, Ir 2010 ini, sudah sembilan orang sarjana dari lima Soekarno, pernah menegaskan “Jangan Sekali- negara yang telah menerima Nabil Award, yakni kali Meninggalkan Sejarah!” (JASMERAH). Semoga dari Perancis (Dr Claudine Salmon), Jerman (Dr penganugerahan Nabil Award 2010 yang bertema: Mary Somers-Heidhues), Singapura (Prof Dr Leo “Memahami Sejarah Membangun Bangsa,” Suryadinata), Australia (Assoc. Prof. Charles A. semakin menyadarkan kita agar membangun Coppel) dan Indonesia (Dra Myra Sidharta; Mely G. bangsa dengan cara yang lebih arif. 8Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  9. 9. Kata Sambutan Ketua Pendiri Yayasan NABIL Disampaikan pada Nabil Award Tahun 2010HADIRIN SEKALIAN YANG SAYA MULIAKAN,Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,salam sejahtera untuk kita semua. P enjelasan/pertanggungjawaban yang rinci tentang tokoh-tokoh ini akan diberikan segera setelah sambutan saya ini. Tetapi kenapa temaH ari ini kita berhimpun di sini untuk menghadiri Upacara Penganugerahan Nabil Award Tahun2010. “Sejarah” yang dikedepankan tahun Ini? atas pertanyaan ini, izinkan saya sampaikan jawabannya sebagai berikut: karena sejarah adalah pelita untuk Tahun Ini adalah tahun Ke-4 persembahan hari depan.Nabil Award bagi ilmuwan-sosial yang dinilai telahberjasa dalam pengembangan pemikiran bagi”Nation Building Indonesia” melalui penelitian,penerbitan karya ilmiah dan/atau aktivitas lainnya I lmuwan Indonesianis terkenal asal Amerika Serikat, Ben Anderson pernah mengatakan: ”tanpa Ada Nederlandsch-indie (Hindia Belanda)yang telah mampu memberikan pencerahan bagi tidak akan ada Indonesia”. Dia berkata demikian,khalayak umum. karena dia memahami SEJARAH Indonesia!P emenang Nabil Award Tahun 2010 Ini adalah 3 orang putra-putri Indonesia terkemuka dalambidang “Kesejahteraan Indonesia Modern”! akan Seperti kita semua ketahui: dulu belum ada Indonesia, yang ada adalah Nusantara dengan ratusan kerajaan/kesultanan besar/kecil yangdiumumkan oleh Ketua Dewan Pakar, mengapa belum menguasai pengetahuan-pengetahuan:ketiga sejarawan ini yang memenangi award tahun Ilmu Politik, Ekonomi, Hukum, Ketatanegaraan,ini? Kemiliteran, Teknologi, dll yang memadai untuk 9 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  10. 10. mampu mempersatukan wilayah seluas ini menjadi sadari dan mawas diri; sehingga dalam 65 tahun satu negara modern! perjalanan kemerdekaan kita sampai saat ini, tidak sedikit kekurangan dan kekhilafan yang kita D engan mengambil kesejajaran yang sama, ingin saya kemukakan: kesan saya, bahwa ”tanpa adanya pelaksanaan ”politik etis” oleh kolonialis lakukan! ini semua menerangkan kenapa sampai saat ini kita masih sangat direpotkan oleh berbagai kemelut dan kesulitan-kesulitan yang belum bisa Belanda di akhir abad ke-19 atau awal abad ke- tuntas diatasi. Menoleh kebelakang; memahami 20, barangkali belum akan ada ”Indonesia”!. Oleh sejarah; maka dapatlah kita saksikan bahwa: karena bukankah kita semua tahu dari sejarah menghadapi banyak masalah-masalah mendasar: bahwa akibat dari pelaksanaan politik etis dalam kita cenderung menyelesaikannya secara politis, bidang pendidikan yang mencerahkan itu, sejarah dan bukan dengan pendekatan kenegarawanan mencatat bahwa sejak awal abad ke-20 terjadilah yang visioner, demi kemaslahatan bangsa secara serentetan peristiwa-peristiwa penting dalam mendasar dalam jangka panjang. sejarah Indonesia Modern, antara lain dapat dicatat: • 1905 : Sarikat Dagang Islam didirikan, yang I tulah sebabnya kami merasa sangat prihatin dengan kenyataan sekarang, bahwa banyak sekolah-sekolah tidak lagi mengajarkan mata kemudian berkembang menjadi Sarikat Islam. pelajaran sejarah, terutama sejarah Indonesia • 1908 : Berdirinya Budi Utomo sebagai wujud mutakhir. Kami sangat khawatir kesalahan Kebangkitan Nasional. masa kini akan membawa akibat buruk yang • 1926 : Pada usia belia 25 tahun, Soekarno berkepanjangan di kemudian hari! telah menulis sebuah karya penting berjudul: Itulah sebabnya tema Nabil Award kita Nasionalisme, Islamisme Dan Marxisme. tahun ini adalah ”Memahami Sejarah, Membangun • 1928 : Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928: Bangsa”. ! Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. • 1932 : Liem Koen Hian dan kawan-kawan Sekian dan terima kasih. mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). • Disusul pada tahun 1934, A.R. Baswedan Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh dan kawan-kawan mendirikan Partai Arab Indonesia. • 1945 : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945! D ari paparan singkat tersebut di atas, dapat dilihat betapa besar manfaat pendidikan dalam melahirkan para “Founding Fathers” Indonesia dalam waktu yang demikian pendek. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, beratus- ratus tahun sebelum datangnya kolonialisme, seperti yang telah disebutkan di atas. Di lain pihak, sekaligus harus kita sadari sekarang, bahwa karena pendeknya waktu sejak diperkenalkannya politik etis sampai saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dapatlah dipahami,dan dari perspektif sejarah, wajib diingat, bahwa: dalam memasuki pintu emas kemerdekaan Indonesia, sesungguhnya penguasaan pengetahuan dan pengalaman kita dalam mengelola sebuah negara modern sebesar Indonesia ini, sesungguhnya masihlah sangat terbatas. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman sejumlah Negara-negara bekas jajahan yang merdeka kemudian. I nilah sebuah kenyataan, yang mungkin pada awal-awal kemerdekaan, tidak sepenuhnya kita 10Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  11. 11. PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PENGANUGERAHAN NABIL AWARD 2010 Disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar Yayasan Nabil Prof. Dr. Ahmad Syafii MaarifAssalamu’alaikum w.w. konflik antar etnis, suatu tragedi laten yang munculSalam sejahtera bagi kita semua. ke permukaan sejak zaman dulu, bahkan terulang lagi di abad ke-21 ini. Pertanyaannya: mengapa Setahun sudah berlalu, kini di tahun 2010 kita belum berdaya secara tuntas menghalau titik-kita kembali merayakan Nabil Award untuk keempat titik hitam yang amat menguras energi kita sebagaikalinya, sebagai pertanda bahwa Yayasan Nabil bangsa? Apakah sejarah dinilai sudah tidak relevansangat peduli dengan masalah-masalah mendasar bagi masa depan bangsa ini? Apakah sejarah hanyayang telah, sedang, dan akan dihadapi bangsa sibuk dengan masalah-masalah kontroversial yangIndonesia yang sama-sama kita cintai. tidak mampu memberi acuan moral agar kerusuhan Sebagai wujud nyata dari kepedulian itu, etnis kita kubur sekali dan untuk selama-lamanya?tahun ini Yayasan Nabil merasa terpanggil untuk Sejarah yang benar bukan itu.memberikan penghargaan kepada tiga sejarawan Sejarah adalah cahaya untuk menerangiyang sama-sama prihatin menatap suasana semakin masa depan; sejarah adalah lonceng pengingat untukmemudarnya karakter dan wawasan kebangsaan, tidak melakukan kesalahan dan kebodohan serupa,tidak saja di kalangan sebagian anak muda, tetapi kapan pun dan di mana pun. Ada dua unsur utamajuga di kalangan mereka yang sudah mapan dilihat yang perlu diperhatikan dalam kaitan ini: pelakudari sisi mana pun. sejarah dan sejarawan yang menuliskan sejarah. Tingkat keprihatinan itu semakin terusik Sejarah ditulis bukan untuk orang yang sudaholeh berita bahwa Pelajaran Sejarah Nasional telah wafat, tetapi sebagaimana dikatakan sejarawandihapuskan dari kurikulum beberapa sekolah, Italia Benedetto Croce, bahwa sejarah ditulisbahkan Sejarah Nasional tidak dimasukkan dalam adalah untuk kita yang hidup. Dalam perspektif ini,Ujian Nasional. Buku sejarah tertentu dilarang kelahiran dan keberlangsungan suatu bangsa tidakberedar yang kemudian telah menjadi polemik yang bisa dilepaskan dari para pembuat dan penulishangat. Di ranah lain masih terus saja bermunculan sejarah. Maka untuk tahun 2010 ini telah terpilih 11 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  12. 12. tiga tokoh putera-puteri Indonesia terkemuka dalam bermutu tinggi serta dihargai. Pengabdiannya bidang “Kesejarahan Indonesia Modern”, yaitu Dr. telah memberikan sumbangsih bagi proses nation Anhar Gonggong, Dra. Mona Lohanda, M.Phil. dan building. Maka Nabil Award 2010 amat patut Dr. Asvi Warman Adam, DEA. diberikan kepadanya. Anhar Gonggong dikenal sebagai sejarawan Asvi Warman Adam adalah sebuah ikon yang sering tampil dengan gaya khasnya di berbagai publik yang tak asing lagi. Sejarawan dari Lembaga forum seminar atau di layar kaca dan dosen di Ilmu Pengetahuan Indonesia ini hampir setiap berbagai perguruan tinggi. Sepanjang kariernya, hari muncul di media cetak, online dan di layar mencuat tiga tema penting yang terus menerus kaca. Kecepatannya dalam menulis suatu topik diulang dalam pelbagai tulisan, paparan, dan yang sedang hangat sukar ditandingi. Komentar- ceramah putera Bugis berdarah biru ini. komentarnya yang kritikal dan kadang jenaka, Pertama, tema hubungan antara agama sering dikutip secara luas. Sosoknya juga sering dan negara, dalam hal ini antara Islam dan Republik tampil di depan pemirsa televisi. Di tataran yang Indonesia, serta bagaimana kedua kekuatan lebih serius, Asvi adalah sejarawan yang paling itu saling berinteraksi untuk membentuk dan aktif menyerukan apa yang disebutnya ‘pelurusan menguatkan keindonesiaan. Kedua, tema Indonesia sejarah’, baik di forum akademik mau pun di yang dicita-citakan oleh anak bangsa merdeka yang depan publik. Kiranya tidak salah Asvi adalah tak terpisahkan dari kehidupan demokratis, politik salah seorang ilmuwan publik yang terkemuka, maupun ekonomi, dan konstitusionalisme sebagai berani, dan boleh jadi adalah sejarawan paling pegangan bagi bangsa ini. Ketiga, tema bagaimana produktif saat ini. semestinya keindonesiaan ini mewujudkan diri Keterlibatan Asvi dalam kegiatan ‘pelurusan dalam kehidupan bersama dalam satu bangsa- sejarah’, upayanya untuk ‘mengembalikan’ etnis negara yang bersepakat untuk menjadi satu dan Tionghoa ke pentas Sejarah Nasional Indonesia dan utuh dalam keberagaman dan perbedaan. pelajaran sejarah, serta aktivitasnya selaku ilmuwan Sebuah tema keindonesiaan bergetar publik dalam skala yang luas, telah membuktikan amat kuat di ubun-ubun Anhar Gonggong, bahwa dirinya selaku ilmuwan dan sejarawan, tidak sebuah tema keindonesiaan yang padu dalam berdiam di menara gading, namun terjun langsung keragaman, beragam dalam kepaduan. Dengan dalam persoalan-persoalan bangsa yang dihadapi dasar pertimbangan ini, maka Nabil Award 2010 masyarakat. dikalungkan kepadanya. Salah satu kriteria pemenang Nabil Award Mona Lohanda, adalah seorang arsiparis adalah ilmuwan sosial yang telah berjasa bagi handal dari Arsip Nasional Republik Indonesia yang pengembangan proses nation building Indonesia juga banyak meneliti sejarah Batavia/Jakarta. Arsip melalui penerbitan karya ilmiah dan/atau aktivitas merupakan memori kolektif sebagai sumber penting lain yang mampu memberikan pencerahan dalam pembentukan jati-diri bangsa. Dari arsip, akan kepada publik. Masyarakat rupanya membutuhkan dapat diteropong sosok perjalanan suatu bangsa. pencerahan sejarah dalam bahasa populer yang Mona telah mengabdikan diri tanpa lelah selama mereka pahami dan Asvi selalu siap tanggap 38 tahun untuk menjadikan arsip sebagai bagian untuk memberikannya. Dirinya menyadari bahwa dari kinerja penggerak penulisan sejarah bangsa dengan memahami sejarah, maka kita akan agar kualitasnya dari hari ke hari semakin baik dan sanggup membangun bangsa ini dengan cara yang meningkat. lebih arif. Untuk itu Nabil Award 2010 dianugerahkan Di tangan Mona Lohanda, tidak ada arsip kepadanya. yang tuna-guna dan kadaluarsa untuk menghasilkan Semoga dedikasi dan sumbangsih ketiga historiografi yang bermutu secara terus menerus pemenang dalam proses nation building juga mampu dan berguna, baik bagi ilmu pengetahuan maupun memberikan inspirasi kepada kita semua, kepada bagi kepentingan bangsa. Oleh karena itu tidak bangsa ini secara keseluruhan. Kepada Dr. Anhar mengherankan, jika nama Mona selalu muncul Gonggong, Dra. Mona Lohanda, M. Phil., dan Dr. Asvi sebagai pribadi yang ingin ditemui oleh para arsiparis, Warman Adam, DEA, kami ucapkan: Selamat. sejarawan, dan bahkan para pejabat dan ilmuwan dari berbagai belahan dunia yang berhubungan dengan Arsip Nasional selama lebih dari dua dasa Jakarta, 14 Oktober 2010 warsa terakhir ini. Secara profesional Mona Lohanda memang bukan pribadi yang biasa, melainkan seorang Wassalamu’alaikum w.w. yang mampu mengawinkan dua ilmu dan keahlian Atas nama Dewan Pertimbangan Nabil Award 2010 sekaligus secara bersama-sama dalam bentuk kerja dan karya kearsipan dan kesejarahan yang 12Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  13. 13. Para Pemenang Nabil Award 2010Nama: Nama: Nama:(Andi) Anhar Gonggong Mona Lohanda Asvi Warman AdamTempat/tgl lahir: Tempat/tgl lahir : Tempat/tgl lahir:Pinrang, 14 Agustus 1943 Tangerang, 4 November 1947 Bukittinggi, 8 Oktober 1954Pendidikan: Pendidikan: Pendidikan:Sarjana Sejarah, Universitas Department of History, School Sarjana Muda Sastra PerancisGadjah Mada (1976) Kuliah of Oriental dan African Studies di UGM Yogyakarta (lulus 1977),orientasi tentang Sistem Politik di University of London Sarjana Sastra Perancis di UINegara Berkembang di Fakultas Jakarta (tahun 1980), DoktorHukum, Jurusan Ilmu Politik, Sejarah dari EHESS Paris tahunUniversitas Leiden, Belanda (1980) 1990.Doktor dalam Ilmu-ilmu Sastra,Universitas Indonesia (1990) Para Pemenang Nabil Award Sebelumnya Claudine Salmon (2007) Mary Somers Heidhues ( 2008) Leo Suryadinata (2008) Perancis Jerman Singapura Myra Sidharta (2009) Mely G Tan (2009) Charles A Coppel (2009) Indonesia Indonesia Australia 13 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  14. 14. “Integrasi Tionghoa ke dalam Bangsa Indonesia” : Ceramah Prof Liang Yingming (Universitas Peking) di Universitas Bunda Mulia, Sabtu 17 April 2010 Prof Liang Yingming menyampaikan ceramah S emaraknya aktivitas Tionghoa di masa Reformasi dewasa ini mengilhami Yayasan Nabil dan Ikatan Alumni Pah Tsung Indonesia untuk mengadakan ceramah bertema “Integrasi Tionghoa ke dalam Bangsa Indonesia”. Sebagai pembicara tunggal adalah Profesor Liang Yingming, guru besar emeritus dari Universitas Beijing. Sejarawan ini dilahirkan di kota Solo pada tahun 1931 dan seorang alumnus Sekolah Menengah Atas Pah Tsung Jakarta. Setelah sempat menjadi guru, pada tahun 1955 Liang masuk ke Jurusan Sejarah Dunia di Universitas Beijing, dan kemudian menjadi tenaga pengajar tetap di almamaternya. Di China, Liang Yingming dikenal luas sebagai seorang ahli Ketua Pendiri Yayasan Nabil Eddie Lembong mengenai Asia Tenggara dan masyarakat Tionghoa di memberikan kata sambutan luar China (Chinese overseas). Dari tangannya telah lahir beberapa buku yang penting, seperti “Kamus Ceramah yang diadakan hari Sabtu siang Sejarah Asia Tenggara” dan buku-buku mengenai (17/4/2010) di Auditorium Universitas Bunda Chinese overseas. Walaupun telah pensiun, namun Mulia ini mendapatkan minat yang besar, dengan Liang yang masih fasih berbahasa Indonesia ini, dihadiri oleh sejumlah tokoh dari berbagai terus aktif mengikuti berbagai perkembangan yang organisasi dan ikatan alumni serta para hadirin terjadi di Asia Tenggara. lainnya. Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Drs Eddie 14Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  15. 15. Lembong dan Ketua Umum Ikatan Alumni Pah diajukan. Hal tersebut diapresiasi oleh para hadirinTsung Indonesia, Ibnu Susanto mengawali acara yang memadati ruangan serta rela tinggal didengan memberikan sambutannya. tempat hingga acara selesai, demi mendengarkan Dalam ceramahnya, Prof Liang menuturkan ceramah ini.perjalanan historis golongan Tionghoa di Indonesiadalam berbagai masa pemerintahan, khususnyayang berhubungan dengan identitas diri mereka.Dia menegaskan agar Tionghoa Indonesia tanparagu menjadi warga negara Indonesia yangbaik, karena mereka adalah bagian yang tidakterpisahkan dari tubuh Bangsa Indonesia. Acara yang dimoderatori oleh YozaSuryawan ini berlangsung hangat, denganadanya tanya jawab seusai ceramah. Walaupunsudah berusia 79 tahun, namun Prof Liang tetapbersemangat dalam memberikan ceramahnyamaupun saat menjawab berbagai pertanyaan yang Ketua Ikatan Alumni Pah Tsung Ibnu Susanto memberikan sambutan Wakil Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Melly Lembong menyerahkan Plakat kepada Prof Liang Yingming didampingi oleh Ibnu Susanto dan Ibu serta istri Prof Liang, Yao Chaozhen 15 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  16. 16. Peluncuran dan Diskusi Buku “Memoar Ang Yan Goan” Perpusnas, 11 Februari 2010 Eddie Lembong, Ibu Budiasni Joesoef Isak, Rosihan Anwar, Tjiong Thiam Siong, Ichsan K Gunawan dan Melly Lembong A pa sumbangsih golongan Tionghoa dalam bidang pendidikan, kesehatan, pers dan nation building? Adakah hubungan pers resiko dibreidel pemerintah Hindia Belanda. Maka tidaklah heran, bahwa Soekarno pada tahun 1923 (masih berusia 22 tahun!), selaku Melayu Tionghoa dengan Pergerakan Nasional? pemimpin pergerakan nasional, datang sendiri Pertanyaan-pertanyaan itu yang dijawab dalam ke Sin Po untuk menyampaikan penghargaan peluncuran dan diskusi buku Memoar Ang Yan dan terimakasih atas dukungan koran tersebut Goan yang diselenggarakan oleh Yayasan Nabil kepada perjuangan kemerdekaan. Lebih jauh di Auditorium Perpustakaan Nasional, Kamis 11 lagi, Sin Po adalah media massa pertama yang Februari 2010 pukul 14.00 WIB. menyebarluaskan lagu Indonesia Raya, yang Memoar Ang Yan Goan ditulis oleh alm. kelak menjadi lagu kebangsaan. Ang Yan Goan, yang lahir di Bandung (1894) dan Selaku tokoh masyarakat, beliau aktif wafat di Toronto, Kanada (1984). Semula beliau dalam bidang pendidikan dan juga merupakan adalah seorang guru, yang kemudian menjadi tokoh penting dalam berdirinya RS Jang Seng pemimpin redaksi dan direksi grup media Sin Po, Ie (kemudian menjadi RS Husada). Hubungan yang bersimpati kepada perjuangan pergerakan baik yang telah dirintis Sin Po dengan Bung nasional. Dalam konteks sejarah perjuangan, Karno, membuat Presiden pertama RI tersebut menarik sekali bahwa Sin Po yang berorientasi pada bulan September 1945 mengundang Ang kepada Tiongkok, secara sadar mendukung untuk diperkenalkan kepada kabinet yang baru Pergerakan Nasional Indonesia, dengan dibentuk, serta mendapat pengarahan tentang 16Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  17. 17. Pembicara Dr Yudi Latif Wartawan senior Rosihan Anwar Pandji Wisaksana, Dr. Priyanto Wibowo, Prof. A Dahana dan Wisber Loeis UU Kewarganegaraan. Ang juga merupakanModerator Didi Kwartanada & Asvi Warman Adam sebagai pembicara salah satu wartawan peliput Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Di tahun 1960-an, bersama Presiden Soekarno, Ang membidani lahirnya koran Warta Bhakti. Namun sayang, ketika terjadi pergantian rezim di tahun 1960- an, Ang terpaksa meninggalkan tanah air yang dicintainya. Buku yang banyak memberikan informasi baru tentang sejarah Tionghoa di Indonesia maupun sejarah Indonesia di abad XX ini hadir setelah melalui perjalanan panjang. Naskah asli ditulis dalam bahasa Inggris dan tidak pernah diterbitkan. Buku ini pertama kali terbit justru dalam bahasa Mandarin di Tiongkok tahun 1989. Sepuluh tahun kemudian buku ini “ditemukan” oleh seseorang yang menyadari arti penting buku tersebut bagi masyarakat Indonesia. Yayasan Nabil memprakarsai penerjemahannya Bonnie Triyana pembicara dari aspek “Pers” agar bisa menjangkau pembaca yang lebih luas, serta menggandeng Penerbit Hasta Mitra untuk menerbitkan edisi Indonesianya di tahun 2009. 17 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  18. 18. Mewakili penerbit Nabil, Eddie Lembong menyerahkan buku Ang Yan Goan kepada Tjiong Thiam Siong disaksikan oleh Ichsan K Gunawan dan Rosihan Anwar Memoar Ang Yan Goan disunting oleh wartawan senior Joesoef Isak dari Hasta Mitra, dan sekaligus merupakan karya terakhir beliau. Diskusi Memoar Ang Yan Goan menghadirkan tiga pembahas: Sejarawan DR Asvi Warman Adam yang membahas dari sisi sejarah; intelektual muda Yudi Latif menimbang buku ini dari sisi kebangsaan dan wartawan/sejarawan muda Bonnie Triyana mendiskusikan dari sisi pers. Diharapkan bahwa informasi yang terkandung dalam buku ini akan dapat turut meningkatkan saling pengertian dan saling menghargai di antara Penerbit Nabil menyerahkan buku kepada sesama kita, sesama komponen bangsa. Ibu Budiasni istri dari alm. Joesoef Isak Tamrin Amal Tomagola, Rosihan Anwar, Eddie & Melly Lembong Melly Lembong menyerahkan buku kepada wartawan senior Rosihan Anwar 18Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  19. 19. Road Show “Memoar Ang Yan Goan” Fikom, UNPAD 19 Mei 2010 Didi Kwartanada mewakili Penerbit Nabil menyerahkan buku Ang Yang Goan kepada Dekan Fikom UNPAD Prof. Deddy Mulyana disaksikan juga oleh Syafik Umar (Harian Pikiran Rakyat) dan Prof. Nina Syam (Fikom UNPAD) Yayasan Nabil bekerjasama dengan beremigrasi ke Kanada, meninggalkan situasi politikFakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran di tanah air yang dianggap mulai membatasinya. IaBandung meluncurkan buku “Memoar Ang Yan wafat di Kanada pada 1984. Jejak perjuangan AngGoan” di Kampus Unpad, Rabu 19 Mei 2010. Ang Yan Goan pun seakan raib di masa Orde Baru.Yan Goan adalah wartawan dan motor surat kabar Setelah 26 tahun wafatnya, Yayasan NabilSin Po. Dia mengarahkan suratkabar yang terbit menerbitkan otobiografi Ang Yan Goan untuksejak 1910 itu sebagai pers yang pronasionalisme mengajak belajar bagaimana peran pers Tionghoadan rakyat Indonesia. Ang merupakan wartawan, yang diwakili Sin Po dan Ang Yan Goan sebagaipendidik, aktivis kemanusiaan dan seorang seorang jurnalis nasionalis yang berperan dalamnasionalis sejati. Di masa kolonial ia bangga pembentukan semangat kebangsaan. Ang Yansebagai warga Tionghoa, sekaligus mendukung Goan juga mengutarakan ide-idenya dalampergerakan nasionalisme Indonesia. kegiatan sosial, salah satunya ketika Harian Sin PoIa bahkan memilih menjadi Warga Negara Indonesia digunakan mengkampanyekan perlunya pendirian(WNI) dan berperan mendekatkan Indonesia dan Rumah Sakit Jang Seng Ie untuk menolong orang-RRT (China). Pada akhir 1968, Ang dan keluarganya orang Tionghoa dan warga Indonesia. Rumah Para pembicara & moderator Rektor UNPAD Prof. Ganjar Kurnia, Dekan Fikom UNPAD Prof Deddy Mulyana & Didi Kwartanada 19 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  20. 20. Para pembicara dan Panitia dalam Road Show di Bandung : Prof. Deddy Mulyana, Dr. Yudi Latif, Tanty Skober dan Dr. Eni Maryani sakit itu kemudian menjadi RS Husada yang komunikasi antar budaya dan nasionalisme. eksis sampai sekarang. Peran serta aktif warga Forum itu mempertemukan khalayak akademis etnis Tionghoa dalam pembentukan kesadaran komunikasi khususnya dan berbagai disiplin kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepas dari yang lainnya bersama-sama dengan warga etnis hadirnya mingguan Sin Po (1910) yang kemudian Tionghoa untuk menelaah kembali komunikasi menjadi harian Sin Po (1912). Harian itu memuat antaretnis dan memberdayakan etnis Tionghoa teks lagu kebangsaan “Indonesia Raya’ dan aktif dalam pembentukan kebangsaan Indonesia. menyosialisasikan penggunaan nama Indonesia Tiga narasumber mengupas komunikasi lintas menggantikan Hindia Belanda. budaya dan buku memoar Ang Yan Goan yakni Pada peluncuran buku memoar yang Deddy Mulyana (Dekan Fikom Unpad), Yudi Latif diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Tan (Ketua PSIK Indonesia) dan Tanty Skober (Pengajar Beng Hok itu juga digelar Seminar bertema “Peran Sejarah Unpad). “Komunikasi antar persona antar Komunikasi Etnis Tionghoa dan Pembentukan pribadi-pribadi biarkan bergulir dan berlangsung Kebangsaan Nasional” serta peluncuran buku baik, media massa sangat berperan untuk “Komunikasi Lintas Budaya” karya Deddy Mulyana, memadukan komunitas-komunitas itu dalam satu Dekan Fikom Unpad. Kegiatan yang digelar kesatuan, dan itu tugas yang harus dilaksanakan di Gedung Rektorat Kampus Unpad di Jalan bersama-sama,” kata Deddy Mulyana. Dipati Ukur, Bandung itu juga sebagai sarana diskusi, berbagi pengalaman dan kajian tentang Para Undangan Acara RoadShow 20Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  21. 21. Peluncuran dan diskusi Buku “Mereka Bilang Aku China” Karya Dewi Anggraeni di FIB UI, 20 Oktober 2010 Didi Kwartanada, memberi sambutan mewakili Yayasan Nabil Prof. Bambang Wibawarta memberikan kata sambutanKERJASAMA yang kompak diskusi yang menghadirkan masyarakat ada kecenderunganantara penerbit Bentang Mely G Tan (Dewan Pakar untuk menerima gambaranPustaka, Yayasan Nabil Nabil), Endy Bayuni (Redaktur besar dari suatu isu.dan Wacana Jumal Ilmu Senior The Jakarta Post) “Apalagi, isu itu seringkaliPengetahuan Budaya (FIB UI) dengan moderator Tommy didaurulang dalam media massaberhasil menggelar launching Christomy, Ph.D. Dalam acara dan percakapan antar-insanbuku karya Dewi Anggraeni, itu juga, diputar juga film sebagai kebenaran umum.”Rabu (20/10) lalu di auditorium pendek dokumenter tentang paparnya. Maka itu, salahFIB, Universitas Indonesia. Buku kisah Tjeng Tjiam Hwie (90 satu cara untuk mendapatkantersebut berjudul “Mereka thn), seorang pelukis Indonesia gambaran yang lebih jelasBilang Aku China: Jalan Mendaki Tionghoa yang menuturkan dan rinci dari isu tertentuMenjadi Bagian Bangsa” kisah panjangnya bermigrasi adalah dengan mengikuti titik- Selain dari Manchuria ke pandang tokoh-tokoh yangpeluncuran Malang, hingga terlibat di dalamnya.buku, dalam akhirnya dia menjadi Tak heran, dalam bukunyakegiatan itu pelukis ternama di itu, dia berusaha mengajakjuga digelar tanah airnya yang pembaca menembus dinding baru. stereotipe yang menghalangi Menurut Dewi orang untuk menyimak Anggraeni yang lebih luas dan lebih dalam, mantan jurnalis, apa dan siapa sebenarnya tujuan dibuatnya etnis Tionghoa. “Termasuk, buku tersebut adalah memahami perasaan, apakah agar untuk melihat mereka merasa bagian dari gambaran yang lebih bangsa dan negara Indonesia? utuh soal orang Bagaimana sebenarnya Tionghoa. Sebab, dalam era kehidupan mereka? Bagaimana lalu lintas telekomunikasi yang pemikiran mereka? Bagaimana sibuk ini, di berbagai kalangan mereka menghadapi kendala- 21 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  22. 22. Ketua Pendiri Yayasan Nabil berbincang dengan Dekan FIB UI, Eddie Lembong menerima bingkisan dari Dekan FIB UI Prof. Bambang Wibawarta kendala sosial yang direkayasa, (mantan pebulutangkis), dan Hj yang tumbuh dari stereotipe, Sias Mawarni Saputra (muslim yang diakibatkan perilaku orang Tionghoa dan pengusaha) lain maupun perilaku mereka Acara yang berlangsung sendiri?” jelasnya panjang lebar. sukses ini dihadiri oleh Dekan Dalam bukunya itu, wanita yang FIB UI, Bambang Wibawarta, saat ini menetap di Australia Gunawan Mohamad, Prof. JAC itu mencoba merangkai titik Mackie, Ketua Pendiri Yayasan pandang delapan perempuan Nabil dan para guru besar serta Indonesia keturunan Tionghoa Civitas Akademika UI. sebagai fokus sentral dari bukunya itu. Diantaranya adalah Para peserta yang hadir Ester Indahyani Jusuf (aktivis dari berbagai kalangan kemanusiaan dan advokat), Linda Christanty, Susi Susanti 22Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  23. 23. Peringatan dan Pemahaman Falsafah Pancasila RS Imanuel Bandung, 1 Juni 2010 Ketua Pendiri Yayasan Nabil menyampaikan presentasinya Pembicara Eddie Lembong dan ModeratorG ema kemeriahan peringatan Hari Kelahiran Pancasila di tahun ini juga bergaung keBandung. Perhimpunan INTI Jabar bekerjasama Perhimpunan INTI Jabar, Prof. Dr. dr. Demin Shen, M.Kes dan Ibu Hj Dra Popong Otje Djundjunan dari Forum Pembauran Kebangsaan. Gubernur Jawadengan Forum Pembauran Kebangsaan dan Barat, Bapak Achmad Heryawan, juga berkenanUnivesitas Maranatha Bandung mengadakan hadir dan memberikan apresiasinya pada acaraseminar “Pemahaman Falsafah Pancasila.” Acara kebangsaan ini. Eddie Lembong membawakandiselenggarakan di RS Imanuel Bandung pada hari ceramah berjudul “Kedudukan Etnis TionghoaSelasa 1 Juni 2010. Sebagai pembicara tunggal dalam Kebangsaan Indonesia Ditinjau dari Jiwa dandalam acara tersebut adalah Ketua Pendiri Nabil, Semangat Pancasila”.Drs Eddie Lembong. Menurut Eddie, Indonesia lahir dengan Acara dibuka dengan sambutan dari landasan yang kokoh, yaitu dengan Dasar Negaraberbagai pihak. Dari pihak tuan rumah tampil Ketua Pancasila sebagai hasil renungan para “Founding Eddie Lembong menerima Plakat dari Dra. Popong Otje Djundjunan 23 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  24. 24. Dra. Popong memberikan kata sambutan Suasana seminar Para Peserta Seminar Tampak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan para undangan lainnya itu berlaku Nilai-nilai Pancasila, di situ kita bangun Identitas Indonesia dan melaksanakan kehidupan Multikultural yang berkarakter Indonesia. Ruang Privat bersifat individual maupun kelompok, di mana hal-hal yang tidak bertentangan dengan Pancasila dapat berada. Indonesia lahir dengan landasan yang kokoh, yaitu dengan Dasar Negara Pancasila sebagai hasil renungan para “Founding Fathers” hasil pendidikan “Politik Etis” di awal abad XX. Dari seluruh paparan di atas, Eddie Para Undangan menyanyikan lagu Indonesia Raya menyimpulkan, bahwa Etnis Tionghoa sebagai Warga Fathers” hasil pendidikan “Politik Etis” di awal abad Negara Indonesia, sebagai komponen Bangsa yang XX. Dasar Negara yang kokoh mutlak diperlukan. tidak terpisahkan, mempunyai Hak dan Kewajiban Bandingkan dengan negara-negara Uni Soviet dan yang sama terhadap Negara dan Bangsa Indonesia, Yugoslavia yang bubar setelah Dasar Negaranya seperti juga semua suku Bangsa dan Etnis WNI tidak lagi berlaku! Domain Utama Pancasila, lainnya manapun. menurut Eddie, ialah di Ruang Publik, di mana Bagi pembaca yang berminat dengan kebutuhan kolektif kebangsaan dan kenegaraan ceramah tersebut, bisa men-download power point- bertemu dan berinteraksi. Dalam Ruang Publik nya di: http://www.nabilfoundation.org 24Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  25. 25. Pembelian dan Pembagian Buku “Negara Islam”B uku dengan judul “Negara Islam” karya Prof. Musdah Mulia ini adalah sebuah buku yang mengulas danmengembangkan pemikiran seorang ilmuwan dari Mesir konsep Negara Islam kontemporer, buku Prof. Musdah Mulia ini memberikan sebuah gambaran dan pedoman mengenai bagaimana sebuah Masyarakat/Negara seharusnya dikelolaMuhammad Husain Haikal (1888-1956) dengan benar berlandaskan prinsip-mengenai landasan dasar sebuah negara prinsip dasar yang ditetapkan dalam Islam,menurut Islam. Secara khusus buku ini hendak bagaimana memahami Islam tidak denganmenyampaikan bahwa Islam pada dasarnya dangkal dan sempit dengan menunjukantidak menjelaskan secara rinci mengenai dalil-dalil utama dalam Al-Quran dankonsep negara, namun memberikan panduan Sunnah.mendasar mengenai bagaimana sebuah Buku ini secara eksplisit jugamasyarakat harus dibagun melalui tiga prinsip memaparkan bahwa bentuk sebuahdasar, yaitu Tauhid, Sunatulah, dan Prinsip negara bagi penganut Islam tidaklah harusPersamaan Antar Manusia. dinyatakan dalam bentuk sebuah Negara Menurut Haikal, Al-Qur’an dan Islam, Islam telah cukup memberikanSunnah sebagai sumber hukum utama dalam landasan dasar bagaimana sebuah negaraIslam disamping Itjihat tidak ditemukan harus dijalankan dengan menggunakanaturan-aturan yang langsung secara rinci prinsip-prinsip Tauhid, Sunnatullah danmengenai persoalan kenegaraan. Pemikiran Persamaan Antar Manusia.ini memberikan pandangan dan kesadaran Yayasan Nabil menilai buku ini sangatmendasar bahwa Islam bukanlah semata-mata baik untuk dibaca sebagai pencerahanagama yang mengatur hubungan manusia bagi kalangan Pemerintah, pemimpin Islamdengan Tuhan, tetapi bukan juga agama yang Fundamentalis, Para Pemimpin Lintasserba lengkap dalam arti ajaranya mencakupi Agama (Katolik, Kristen, Hindu, Budha,segala aturan secara rinci, termasuk mengenai kenegaraan, Konghucu) sehingga nantinya dapat memberikan landasannamun Islam cukup memberikan prinsip-prinsip dasar yang pemikiran dalam memahami Islam dan negara secaradapat dipedomani manusia dalam mengatur perilaku dan objektif. Atas dasar pemikiran di atas Yayasan Nabil telahhubungannya dengan sesama manusia dalam kehidupan membagikan sebanyak 156 Eksemplar buku Negara Islambermasyarakat dan bernegara (tauhid, sunnatulah dan ke berbagai kalangan.persamaan antar manusia). Lebih jauh dari pada pembahasan mengenai “Suara Harmoni Indonesia” Maret-Juli 2010K etidakmampuan menenggang dan perbedaan seringkali berujung pada tindakan menerimakekerasan atau peminggiran orang atau kelompok orang. dengan Jamboree of Harmony (27-31 Juli). Dalam acara terakhir yang diadakan di Cansebu Resort, Mega Mendung tersebut, Yayasan Nabil memfasilitasi dua nara sumber:Namun, perlu dicermati bahwa sebab dan daya dukung Dewi Ratih Widyaningtyas (pembuat film dokumenter)ketidakmampuan itu berwujud banyak hal, antara lain dan Didi Kwartanada (staf Nabil). Catatan dan renungansoal-soal primordial yang tidak dikelola, ketidakadilan Dewi Ratih dimuat dalam Nabil Forum edisi ini, sedangkandan kemiskinan, ketiadaan kepemimpinan yang sanggup Didi membawakan makalah berjudul ‘Etnis Tionghoa danmengelola perbedaan, dan masih banyak lagi. Dengan Keindonesiaan dalam Dinamika Sejarah Indonesia”.kata lain, ketidakmampuan menenggang dan menerima Dalam Kompas 31 Juli 2010, Ketua Umum PSIKperbedaan ini merupakan masalah yang sentral dalam Indonesia Yudi Latif, yang juga salah seorang anggotademokrasi dan kemanusiaan Indonesia pada dewasa ini. Dewan Pakar Nabil, mengemukakan, ada keprihatinan Diakui juga bahwa menumbuhkan kebersamaan besar akan fenomena kebangsaan akhir-akhir ini ketikapertama-tama bukanlah ranah teoritis, melainkan toleransi hidup multikulturalisme makin luntur. Keprihatinansuatu pengalaman yang selalu melingkupi hidup (living akan munculnya kelompok-kelompok fundamentalis yang,experience). Pengalaman ini perlu untuk dibangun meskipun jumlahnya terbatas, sudah melakukan aksi yangberdasarkan perbedaan latar belakang dan gagasan, mengkhawatirkan, seperti perusakan tempat ibadah dansekaligus berdasarkan kesamaan rasa terhadap mereka sweeping dengan menggunakan simbol-simbol agama.yang lemah dan terhadap mereka yang mau bekerja ”Jika dulu ada tokoh seperti Cak Nur (Nurcholish Madjid) dankeras. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang perjuangkan toleransi Berangkat dari pemikiran dan keprihatinan dalam pluralisme, sepeninggal mereka bagaimana nasibdi atas, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) toleransi di Indonesia?” katanya.Indonesia bekerja sama dengan The Wahid Institute, Upaya membangun kesadaran toleransi dalamNurcholish Madjid Society, Yayasan Nabil dan USAID- pluralisme di kalangan masyarakat sipil, termasuk di dalamnyaSerasi mengadakan rangkaian kegiatan Suara Harmoni jejaring mahasiswa lintas agama dan suku, menurut Yudi,Indonesia, yang terdiri dari Harmony Film Festival (29 Maret menjadi salah satu solusi untuk mentransformasikan gagasan2010); Jazz for Harmony (21 April), Nusantara Festival of dan perjuangan dua tokoh besar itu. Jamboree of Harmony,Harmony (20 Mei), Expert Meeting (16 Juni) dan ditutup diharapkan merupakan bagian dari proses transformasi itu. 25 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  26. 26. artikel Hadirkan Senyuman Untuk Perbedaan (Laporan Jamboree of Harmony) Dewi Ratih Widyaningtyas* “Jika kita dan masyarakat mau untuk selalu terbuka terhadap hal yang berbeda dan mencoba memahami serta menghormati keberbedaan itu, saya yakin, hidup ini akan tetap indah dan aman,” Bersama rekan-rekannya, Dewi rajin melakukan road show atas filmnya ini. Tahun 2009 yang lalu mereka membawanya beberapa kota di Jawa Tengah, Aceh, Medan, Kupang dan Bangka. Di tahun yang sama pula, Dewi dan “Sepintu Pemali” sampai ke Yayasan Nabil. Tulisan di bawah ini adalah catatan dan renungan Dewi sebagai salah satu pembicara dalam “Jamboree of Harmony”, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)- Indonesia, Cansebu Resort-Bogor, 27-31 Juli 2010. Keterangan lebih lanjut soal film “Sepintu Pemali Sedulang Timah”, bisa ditanyakan langsung ke Dewi Ratih Widyaningtyas di email <dewi.ratih.w@ Didi Kwartanada & Ahmad Suaedy dari Wahid Institute gmail.com> bersama para peserta Pengantar editor: Awal Perjalanan Penulis karangan ini bersama rekan-rekannya Perjalanan ke Jamboree of Harmony dimulai telah memproduksi satu film dokumenter berdurasi ketika saya mendapati sebuah message dari Mas 24 menit berjudul “Sepintu Pemali Sedulang Didi Kwartanada (Yayasan Nabil) melalui Facebook. Timah” (2009), yang mengangkat keharmonisan Mendadak mata saya tertuju pada sebuah judul hubungan Tionghoa-Melayu di Pulau Bangka. Kisah pesan yang menyuratkan permohonan sebagai berawal ketika Dewi selaku mahasiswi dari UGM pembicara. Saya tertegun sejenak. Ingatan saya melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana dan melambung melampaui momen satu tahun lalu. dirinya menyaksikan langsung bagaimana etnis Ketika perbincangan tentang pemutaran film yang berbeda bisa dan mau hidup bersama dengan Sepintu Pemali Sedulang Timah bergulir. Jadi inilah rukun. Fenomena keberagaman itu menyentak saatnya. Membagikan kembali ‘pesan’ film ini nuraninya, karena jarang disaksikannya di tempat kepada teman-teman di Bogor. tinggalnya di Jawa Tengah. Tidak berhenti di situ, Hati saya sebenarnya sedikit ragu karena Dewi ingin mengabadikan dan menyebarluaskan waktu yang tertera dalam TOR (term of reference) praktek multikultural yang dijumpainya di Bangka adalah hari kerja. Sedang saya sudah nyangkut di melalui film dokumenter. Maka dia membentuk tim sebuah perusahaan di mana waktu adalah mutlak kerja dan lahirlah film tersebut. mengikat. Namun niat hati ternyata seperti gayung 26Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  27. 27. moderator. Hingar bingar semangat peserta semakin mengobarkan semangat siang itu. Acara kemudian bergulir dengan pemutaran film Sepintu Pemali Sedulang Timah terlebih dahulu. Cekikik, teriakan dan tawa, keluar spontan dari peserta. Senang rasanya saya sebagai pembuat film dapat memantik minat mereka. Tia, salah seorang peserta asal Jakarta yang mengenakan jilbab, membagi pengalamannya bekerja bersama orang Tionghoa di suatu stasiun radio lokal. Ia menceritakan bahwa tak semua orang Tionghoa itu jahat dan pelit terhadap warga pribumi. Ia merasakan betapa indah dan bahagianya Didi Kwartanada & Ahmad Suaedy dari Wahid Institute bekerja bersama mereka, tanpa dibeda-bedakan. bersama para peserta Bahkan, dalam suatu mata acara radio tersebut, Tia membawakan acara siraman rohani untuk Nasrani. What a woman! Bagi saya, tanggapan awal ini sangat mengejutkan! Bahkan mungkin bagi kebanyakan peserta lain. Teriakan, dehem, hingga tepuk tangan tersampaikan untuknya. Sharing pembuka tersebut cukup sukses menghantarkan acara menjadi ramai dan riuh oleh acungan para peserta yang tidak sabar ingin juga berbagi. Termasuk juga Metlin. Dia mahasiswi yang sedang menempuh kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana-Yogyakarta. Menarik sekali ceritanya. Setelah sekian lama hidup dengan warga kebanyakan, ia baru diberi tahu oleh orang tuanya Para peserta berpose bersama di Gereja Katolik Kampung Sawah bahwa ia adalah keturunan Tionghoa. Orang tuanya dulu khawatir, bahwa identitas ini akan membawabersambut. Boss saya mengizinkan saya ijin satu anaknya pada hal-hal yang tidak diinginkan,hari. Dan perjalanan ini pun dimulai... karena teringat tragedi Mei 1998. Saya tidak Mimpi, harapan dan kebahagiaan melingkupi membayangkan jika hal tersebut terjadi pada saya.diri saya pada dini hari 28 Juli 2010. Di bandara Adi Beban sebagai kelompok etnis minoritas sepertinyaSucipto-Yogyakarta saya merenung, membayangkan membawa tekanan tersendiri, sehingga menurutseperti apa suasana Jamboree of Harmony di Bogor saya, betapa ulet dan tekunnya orang Tionghoa itunanti. Detik demi detik yang lewat saya isi dengan salah satu output tekanan tersebut.mengingat-ingat kembali suasana di Pemali-Bangka Pembelaan yang sama terhadap etnis Tionghoabeberapa tahun lalu. Sebuah tempat yang memberi juga diungkapkan oleh Mumun, salah seorangsaya akan arti sebuah ‘perdamaian etnis’. mahasiswi dari Universitas HAMKA (UHAMKA). Tanpa sadar, saya sudah sampai di pool bus Dia bercerita bahwa dulunya, ketika keadaanDAMRI di Bogor. Dengan ramah Mas Fachrurozi dari ekonomi menghimpit keluarganya, ada seorangPSIK-Indonesia menyapa saya. Meski belum kenal keturunan Tionghoa yang secara baik memberikansebelumnya, obrolan renyah muncul menghiasi modal pengolahan limbah plastik. Dan dari situlahperjalanan kami ke resort. Katanya, teman-teman kemudian keluarganya bisa bangkit. Satu lagipeserta Jamboree adalah mahasiswa aktif dari stereotype bahwa ‘Cina itu pelit’, terpatahkan.Aceh hingga Papua. Wah, ‘nafsu’ saya semakin Obrolan kemudian berkembang pada gagasanmeningkat! Tak sabar lagi rasanya ingin berbagi bahwa sebenarnya semua itu bergantung padadengan mereka. pribadi, meski pengaruh kelompok juga cukup kuat. Parahnya, generalisasi, stereotypingFilm versus Stereotype terhadap sesuatu itu berasa mudah sekali hidup di Dan benar saja, sesampainya di Cansebu masyarakat kita.Resort, tempat Jamboree of Harmony digelar, adabanyak sekali teman mahasiswa yang bersemangat Satu Kunci: Terbuka!mengikuti rangkaian acara ini. Sesi saya pun Bagaimana kemudian masalah ini dapatdibuka oleh Neneng dari PSIK-Indonesia sebagai terpecahkan? Saya berpikir, kuncinya satu, ‘terbuka’. 27 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  28. 28. Jika kita dan masyarakat mau sampai kapanpun juga tetap tersebut menyebar ke pojok- untuk selalu terbuka terhadap berbeda. pojok ruangan. Semua tertegun. hal yang berbeda dan mencoba Memutus Rantai Sterotyping Saya yakin, di dalam benak memahami serta menghormati Konsep pengkastaan semua orang yang hadir di sana, keberbedaan itu, saya yakin, masyarakat yang tercipta pada tersirat semburat semangat hidup ini akan tetap indah dan zaman penjajahan Belanda dulu yang memancar, untuk saling aman, meski tanpa Polisi dan sepertinya merupakan warisan membagi spirit harmonisasi ini TNI. yang hingga kini masih dirasakan kepada semua orang di luar sana Tanggapan kritis juga terus efeknya. Etnis Tionghoa yang nanti. Dan tidak hanya terhenti mengucur pada sesi diskusi dijadikan warga kelas dua di atas pada obrolan ‘seminar’ seperti tersebut. Dari Fauzi Ridwan warga pribumi, memunculkan ini. Dialog, pemahaman, dan salah satunya. Ia melihat bahwa kesirikan tersendiri di kalangan penghormatan sepertinya dapat ‘kedamaian’ yang terjadi di warga pribumi. Kecemburuan menjadi langkah awal untuk kita, Pulau Bangka itu tercipta karena itulah yang sepertinya ditanamkan memahami keberbedaan. Seperti keterdesakan ekonomi sehingga turun-temurun hingga kini, kata F. Ushuludin, seorang mau tidak mau mereka harus meski ungkapannya juga tidak peserta Jamboree of Harmony berdamai dengan orang lain di langsung, atau bahkan tidak asal Aceh yang mengambil sana. Baiklah, bisa saja mungkin bermaksud menegatifkan etnis Jurusan Perbandingan Agama, seperti itu. Namun juga bisa Tionghoa. Bagi saya sebutan “agree in disagreement”. saja jika mereka mau, boss- “Cino” (dari bahasa Jawa) itu Hmm…mata saya kembali boss timah keturunan Tionghoa juga sudah sangat peyoratif berkedip. Bukan karena kelilipan, memilih tenaga kerja yang seetnis (menghina). Entah apa rasa ini namun menyadari bahwa saya dengannya saja. Namun itu tidak juga di rasakan oleh orang lain. telah kembali ke ‘dunia nyata’, terjadi. Bahkan, di Bangka ada Sebagian mungkin ya, sebagian di mana realita benar ada di satu istilah dalam bahasa Khek, mungkin tidak. Begini saja, cukup hadapan, di mana pemahaman “thong in fang in, jit jong”. Yang perih rasanya. atas harmoni masih tipis dan artinya, “Cina-Melayu sama saja.” Terkait dengan tertanamnya kian terkikis. Maka marilah, Bayangkan, adakah konsep ini di sentimen dan sinisme yang meski kita hanya berada di balik masyarakat Indonesia (terutama tak berujung itu dari generasi meja, hadirkan senyuman untuk Jawa)? ke generasi membuka pikiran perbedaan. Ya, Jawa. Sebagai tempat kami pada sesi tersebut untuk kelahiran saya, yang memberi membuat semacam pendidikan banyak pengaruh juga multikultur secara dini bagi pandangannya pada saya. anak. Mumpung mereka belum Termasuk pula masalah ‘tercemar’ dan tercekoki hal yang pandangan terhadap etnis sebenarnya hanya prejudice Tionghoa, yang dalam bahasa dan belum dialami sendiri oleh Jawa, sering sekali disebut ‘Cino’— mereka. Ide pemutusan mata dengan nada sedikit sinis. Entah rantai stereotyping ini secara kenapa, tanpa saya sadari, tanpa lugas muncul dari benak Vita, saya alami sendiri, pandangan seorang mahasiswi Universitas bahwa Tionghoa itu ‘berbeda’ Kristen Duta Wacana-Yogyakarta. dan tak wajib didekati, melekat Di sela usulannya tersebut, ia erat dalam benak saya. Sampai sempat bercerita. Dulu sewaktu ketika saya tiba di Bangka, dan kecil, ia sangat trauma untuk melihat keharmonisan ini. Saya melewati jalan menuju ke terbelalak, “Ini? Bisa ya??”. Tanda sekolahnya. * Penulis, lahir di Yogyakarta tanya tersebut coba saya runut Setiap hari, di jalan tersebut, pada 20 September 1987, kemudian dengan membuat ia selalu diolok oleh teman- adalah alumnus Jurusan Ilmu film “Sepintu Pemali Sedulang temannya karena ia seorang Komunikasi FISIPOL UGM. Timah“ bersama teman-teman. Batak yang beragama Nasrani. Kini bekerja di suatu bank milik Sungguh luar biasa.. Pengalaman Ketakutan tersebut membuatnya pemerintah di kota kelahirannya ini bisa mendobrak pandangan harus melewati jalan memutar dan masih sangat tertarik saya akan etnis Tionghoa. Bahwa dengan berlari sembari dengan isu pluralisme dan kita sebenarnya bisa sama-sama, sesenggukan menahan tangis. multikulturalisme. tanpa merasa berbeda, meski Kepedihan cerita Vita 28Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011
  29. 29. Publikasi Penambang Emas, Petani, dan buku terjemahan yang memiliki kualitas yang Pedagang di ”Distrik Tionghoa” sama dengan versi aslinya. Untuk itu, saya Kalimantan Barat. ucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada tiap-tiap orang yang telah memberikan waktuPenulis : Mary Somers Heidhues dan tenaga yang tidak terbatas hingga buku iniPengantar : Eddie Lembong dapat diterbitkan, antara lain yang dapat sayaJudul asli : Golddiggers, Farmers, sebutkan adalah, pihak Cornell University Press and Traders in the ‘‘Chinese atas persetujuan memberikan copyright kepada Districts’ of West Kalimantan, Yayasan NABIL untuk menerjemahkan buku ini Indonesia (Ithaca: Cornell ke dalam bahasa Indonesia dan menerbitkannya University, 2003). di Indonesia, Asep Salmin yang telah membantuPenerbit : Yayasan NABIL, Jakarta penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, Cetakan I, Oktober 2008, xxi + Suma Mihardja, S.H., M.H. untuk mengedit dan 342 halaman. menyunting sehingga naskah tersebut sudahHarga : Rp. 80,000 siap menjadi sebuah buku, salah seorang DewanISBN : 978-979-18730-0-0 Pakar Yayasan Nabil yang sangat kami kasihi, Dra. Myra Sidharta atas “pengorbanannya” dalam Salah satu masterpiece sejarawati Jerman, memberikan masukkan dan koreksi yang sangatMary Somers-Heidhues ini memberikan informasi beharga, dan “last but not least” kepada Dr. Marymendalam mengenai sejarah sosial ekonomi Somers Heidhues, atas dukungan yang sangatKalimantan Barat, khususnya mengenai kehidupan luas, antara lain persetujuannya mengizinkan kamietnis Tionghoa, serta sumbangsih mereka dalam untuk menerjemahkan bukunya ke dalam bahasamembangun daerah ini. (Penerjemahan dan Indonesia dan kejeliannya mengoreksi naskahpenerbitan buku ini dilaksanakan oleh Yayasan terjemahan buku tersebut sebelum naik cetak.Nabil. Bisa dipesan langsung melalui Sekretariat Akhir kata, kami panjatkan puji syukurNabil dengan diskon 40%.) kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas lindungan dan rahmatNya selama kami melalui proses dariSekapur Sirih dari Eddie Lembong awal sampai akhir buku ini bisa diterbitkan. Suatu kegembiraan yang tiada terkira,setelah melalui berbagai proses yang panjang, Jakarta, September 2008salah satu karya Magnum Opus dari Dr. MarySomers Heidhues ini akhirnya dapat kami terbitkandalam bahasa Indonesia. Buku yang diterbitkan pertama kali dalambahasa Inggris pada tahun 2003 ini, memberikangambaran sejarah etnis Tionghoa di suatu daerahyang disebut “Distrik Tionghoa” di KalimantanBarat, dimana dapat kita ketahui, bahwa etnisTionghoa memiliki peranan yang besar dalamperkembangan pembangunan sosial, budayadan ekonomi di sana, yang menurut saya sangatpenting untuk diketahui oleh masyarakat luasIndonesia umumnya. Sayangnya sulit sekali bisamendapatkan buku tersebut dalam edisi bahasaInggris. Didorong oleh keinginan yang kuat supayabuku yang penting ini dapat diketahui dan dibacaoleh masyarakat luas Indonesia umumnya,tergeraklah niat kami untuk mengusahakanpenterjemahan buku ini ke dalam bahasa Indonesia.Maka, melalui Yayasan NABIL yang saya pimpin ini,buku terjemahan tersebut dapat terealisasi. Banyak sekali tahap yang harus kami laluuntuk menghasilkan buku terjemahan ini, hal initidak lain supaya kami tetap bisa menghasilkan 29 Nabil Forum | Edisi ke-2, 2011

×