Katakan kebenaran itu meskipun
terasa pahit
About Me
NAME:O. SOLIHIN
LOCATION:BOGOR, JABAR, INDONESIA
Saya lahir di kota k...
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar
kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)...
badan, melakukan amal-amal yang berat dari berbagai macam ibadah atau yang
lainnya. Kemudian sabar yang berkaitan dengan p...
sekaligus merasa prihatin. Mengapa demikian? Sebab mereka khawatir bila tak
bisa menyamai hal itu, berhubung usia mereka p...
hakikat diturunkannya al-Quran. Sebab, di dalam al-Qauran terkandung
berbagai macam hikmah untuk menuntun kita dalam kehid...
yang telah bertaubat bersamamu.” (QS Hûd [11]: 112).
Dalam al-Quran kata iman selalu dirangkai dengan amal sholeh, ini
mem...
Ini terjadi karena umat Islam acapkali terjebak dalam ritualisme ibadah. Artinya,
umat Islam ketika melaksanakan ibadah ha...
maka kita harus berani bermuhasabah (mengoreksi) penguasa untuk
menempatkan hukum sebagai corong penegak keadilan. Karena ...
membuat kaum muslimin miskin kreativitas dan inovasinya dalam
mengembangkan Islam. Sibuk dalam urusan mengejar dunia dan s...
meluasnya wawasan berpikir manusia. Hanya saja, tentu kita tak bisa
mendiamkan dengan tenang para pelaku aktif kemaksiyata...
Hidup Bermasyarakat
Hidup bermasyarakat seringkali membuat kita harus waspada dan menahan diri.
Tentu, karena hidup dengan...
Masyarakat bukan hanya kumpulan individu semata yang tak memiliki aturan.
Yang bebas berbuat apa saja semau mereka. Jelas ...
Namun, Rasul juga punya alasan yang juga disampaikannya dalam
sabdanya:“Barangsiapa meminta jabatan pengurus kaum muslimin...
takut. Dikisahkan, suatu ketika salah seorang murid Imam Al Izzu’ bin Abdus
Salam bertanya kepada gurunya setelah beliau m...
Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan
sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntuta...
Perbuatan Yang Ihsan
Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair,
pernah mengatakan: “Tidak ...
Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima
nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah t...
Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang
menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini....
orang-orang yang secara terang-terangan bahkan dengan ngotot mengatakan
bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Dialah pencipta...
sendiri yang ternyata salah dalam mencari teman.
Sabda Rasul tersebut di atas mengajarkan kepada kita untuk saling mencint...
harus saling menjegal dan memburu seperti kepada musuh? Kata Rasul, sahabat
(teman) yang baik adalah yang tidak mendzalimi...
sampai masalah politik, dan semua itu tak mampu diselesaikan dengan baik.
Malah semakin menjadi-jadi. Seluruh dunia, meras...
Selain Maine Medical Center di Portland, Michigan Medical Center juga
merespons kebutuhan Muslimah itu. Ini untuk memberik...
menawarkan doktrin agamanya.
Imbalannya pun 'menggiurkan'; keterbebasan dari lilitan kemiskinan. "Bagi
mereka yang keimana...
Sedangkan faktor ketiga berhubungan dengan peran para tokoh dan
cendekiawan Muslim. "Ketika umat tidak memiliki cendekiawa...
Hal itu kemudian berlanjut hingga tahun 70 dan 80-an. Para pemimpin Kremlin
silih berganti menyerukan perlunya pembaruan u...
Tuntutan agama menjadi tujuan
Hukum Allah tegakkan, hukum Allah tegakkan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ulama p...
LONDON -- Tak lama lagi bank ritel Islam akan beroperasi di Inggris dan
sejumlah negara Eropa. Kepastian ini muncul setela...
aurat menjadi kesenian
maksiat menjadi klangenan
hiburan menjadi kebijakan
fitnah menjadi penerangan
Lewat jendela kaca ya...
Muhammad naik ke puncak bukit Nur
Jibril datang membawa perintah Tuhan
Muhammad rebah gemetar tenggelam dalam
lautan cahay...
Ya Allah
Jadikan aku di antara pasukan-Mu
karena pasukan-Mu saja yang beroleh kemenangan
Jadikan aku di antara kekasih-kek...
kota. Dalam film populer seperti Ada Apa dengan Cinta (AADC) dan Novel Tanpa
Huruf R (NTHR), ditampilkan karakter dengan l...
Protes terhadap BCG selayaknya dipahami secara proporsional. Yang agak
menyedihkan sikap keras itu secara terbuka sejauh i...
pengguna narkotika, seks bebas dan perilaku-perilaku tak layak lainnya. Tak
berlebihan jika kemudian dicap sebagai generas...
Islam sangat menjunjung kehormatan dan kesucian kaum wanita. Terbukti,
suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria—terlet...
islam yang sudah tertanam kuat dalam keyakinan. Sementara para sahabat yang
memang hidup dengan kaumnya yang tidak menggan...
97) [O. Solihin]
12 April 2000
posted by O. Solihin | 10:53 AM | 0 comments
Dunia Islam
Jumat, 13 Agustus 2004
Pemakaman M...
Sabda Rasulullah saw: “Orang yang paling dirundung penyesalan pada hari
kiamat ialah orang yang memperoleh harta dari sumb...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

999

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
999
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit"

  1. 1. Katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit About Me NAME:O. SOLIHIN LOCATION:BOGOR, JABAR, INDONESIA Saya lahir di kota kecil Kuningan, Jawa Barat pada 12 Februari. Saat ini saya sedang menekuni dunia tulis-menulis dengan spesfikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja. Karya tulis yang berhasil saya bukukan adalah: Jangan Jadi Bebek, Andai Kamu Tahu, Menjadi Penulis Hebat, Hitam-Putih Dunia Remaja, Remaja, Media, dan Idola. Saya juga duet dengan Iwan Januar, teman dekat saya, membuat buku Jangan Jadi Seleb dan Jangan Nodai Cinta. Alhamdulillah saya juga mengelola buletin untuk remaja dengan nama STUDIA. Setiap pekan terbit di Jabotabek dan juga di kota-kota besar hampir di seluruh Indonesia. Edisi online-nya bisa disimak di www.dudung.net pada rubrik Buletin Remaja Islam STUDIA(situs ini adalah situs pribadi teman saya). Terima kasih atas kunjungan Anda di blog saya ini. Salam perjuangan dan tetap semangat! View my complete profile • Mengayomi Rakyat • Sabar • Lailatul Qadr: Malam Istimewa • Membaca al-Quran • Iman dan Istiqomah • Puasa yang Sia-Sia • Takut Kepada Allah • Cinta Dunia, Takut Mati • Mencegah Perbuatan Munkar • Hidup Bermasyarakat • July 2004 • August 2004 • September 2004 TUESDAY, SEPTEMBER 07, 2004 Mengayomi Rakyat Menjadi pemimpin bukan perkara yang mudah. Dan bukan pula jabatan yang bisa membuat kita bisa dengan seenaknya menumpuk harta. Karena pemimpin menanggung segala perkara yang memang telah menjadi beban kewajibannya, yakni mengurus rakyat. Sehingga, bila seorang pemimpin tidak memperhatikan nasib rakyatnya, maka dia telah berdosa. Berdosa karena telah melalaikan salah satu kewajiban sebagai seorang pemimpin, yakni mengayomi rakyatnya. Firman Allah Swt.”Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji,
  2. 2. kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90). Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap rakyatnya antara lain; menginginkan kebaikan bagi mereka, tidak menipu, adil, kasih sayang, dan lemah lembut, serta bekerja untuk kebaikan dunia dan akhirat. Pemimpin selayaknya menjadi pelindung dan panutan rakyatnya. Kita tidak menginginkan antara pemimpin dan rakyat saling menghujat. Namun, saat ini nyatanya kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya mulai memudar diganti dengan kecurigaan dan kebencian yang amat sangat. Wibawa pemimpin sudah jatuh di mata rakyat. Sehingga pada gilirannya nanti akan memunculkan keraguan, bahkan kekhawatiran yang kental atas kinerja para pemimpin. Kenaikan TDL dan rencana menaikkan harga BMM menjadi contoh betapa pemimpin tidak peduli dengan kondisi rakyat yang makin sulit. Seorang pemimpin itu adalah laksana perisai yang akan melindungi rakyatnya. Rasul saw. bersabda: “Sesungguhnya seorang Imam itu adalah pelindung yang selalu dibela dan dijadikan sebagai pengayom, jika ia memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah Swt., dan berlaku adil, maka baginya pahala dari hal tersebut. Tetapi jika ia memerintahkan kepada hal lainnya, maka dosalah yang ia dapatkan darinya.” (hadits riwayat Syaikhain dalam Mahkota Pokok-Pokok Hadits Rasulullah SAW. jilid 3, hlm. 143). Kita sangat merindukan kehadiran para pemimpin yang memiliki mental tanpa pamrih dalam melaksanakan seluruh kewajiban dalam mengayomi rakyatnya. Yang senantiasa memiliki keikhlasan dalam berbuat demi kebaikan rakyatnya di dunia dan akhirrat. Dan yang pasti kita merindukan pemimpin yang tidak dzalim terhadap rakyatnya sendiri. Wallahu’alam bish showab. [O. Solihin] 12 Januari 2002 posted by O. Solihin | 4:59 PM | 4 comments Sabar “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl 96). Sabar adalah merupakan spesifikasi yang dimiliki manusia. Tidak mungkin digambarkan bahwa kesabaran itu ada pada binatang, karena kekurangan- kekurangannya dan dominasi nafsu padanya, tanpa ada sesuatu pun yang bisa mencegah nafsu itu. Kesabaran juga tidak mungkin digambarkan ada pada diri malaikat, karena kesempurnaannya. Tentang kesabaran ini beberapa fuqoha memberikan gambaran, yakni sabar yang berkaitan dengan fisik. Seperti ketabahan memikul beban yang berat dengan
  3. 3. badan, melakukan amal-amal yang berat dari berbagai macam ibadah atau yang lainnya. Kemudian sabar yang berkaitan dengan psikis dalam menghadapi hal- hal yang diminta tabiat dan nafsu. Seperti kesabaran dalam menghadapi nafsu perut dan nafsu kemaluan disebut iffah (menjaga diri dari hal-hal yang hina). Sabar dalam peperangan disebut syaja’ah (keberanian). Sabar dalam menahan amarah disebut hilm (kemurahan hati). Sabar dalam menghadapi kasus yang mengguncang disebut sa’atu shadrin (lapang dada). Dan sabar dalam urusan kelebihan penghidupan disebut zuhud (menahan diri dari keduniaan). Dalam hal ketaatan, seorang hamba juga harus sabar, sebab tabiat jiwa manusia suka menghindar dari ubudiyah. Malas mendirikan shalat, kemudian enggan menunaikan ibadah haji dan zakat karena malas dan bakhil. Para koruptor adalah termasuk orang yang tidak sabar dalam hal ketaatan. Mereka tak kuasa mengendalikan akal dan nafsunya ketika melihat peluang untuk menilep harta yang bukan miliknya. Para pencuri, perampok, pembunuh, pezina, pemerkosa, penipu, penimbun barang, dan para pelaku aktif kemaksiyatan lainnya adalah orang-orang yang tidak sabar dalam hal ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Begitu pun dengan penguasa yang tidak menjatuhkan sanksi tegas kepada para pelaku kemaksiyatan tersebut adalah termasuk orang yang tidak sabar dalam hal ketaatan kepada aturan Allah dan rasul-Nya. Rasulullah saw. pernah merajam Maiz Al Islamiy karena mengaku telah berbuat zina dengan seorang wanita. Umar bin Khaththab pernah mencambuk seorang pedagang yang ketahuan melakukan kecurangan dengan mengurangi timbangan. Bahkan hukuman qishash pun dilakukan oleh para penguasa di masa kejayaan Islam untuk menghukum para pembunuh. Kita sering melihat orang bisa bersabar ketika menghadapi penderitaan hidup, tapi tak sedikit yang kalah sabar dalam hal ketaatan. Betul memang, bahwa hawa nasfu itu tidak bisa dimatikan, tetapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Hawa nafsu bisa dikendalikan, yakni dengan kesabaran. Manusia memang cenderung berbuat dosa, maka untuk meluruskannya tidak cukup menghimbau agar manusia tetap sabar, tapi harus dibarengi dengan sanksi yang bisa mencegah dan membuat jera perbuatan mereka. Dan semoga kita pun termasuk orang-orang yang sabar dan mendapat pahala yang besar dari Allah Swt. [O. Solihin] 8 Desember 2001 posted by O. Solihin | 4:53 PM | 0 comments MONDAY, SEPTEMBER 06, 2004 Lailatul Qadr: Malam Istimewa Diriwayatkan dari Rasulullah saw. kepada para sahabatnya tentang empat orang Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama 80 tahun tanpa dicampuri dengan perbuatan maksiat sedikitpun. Maka para sahabat menjadi kagum tapi
  4. 4. sekaligus merasa prihatin. Mengapa demikian? Sebab mereka khawatir bila tak bisa menyamai hal itu, berhubung usia mereka pendek. Kemudian turunlah Jibril as seraya berkata: “Ya Muhammad, bahwasanya para sahabatmu merasa kagum akan ibadah keempat orang itu selama 80 tahun tanpa sedikitpun maksiat, maka Allah telah menurunkan yang lebih baik daripada itu.” Lalu Jibril as membacakan surat al-Qadr. Rasul dan para sahabatnya pun merasa gembira saat mendengar kabar tersebut. Dalam ayat tersebut Allah Swt. menerangkan: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (TQS al-Qadr [97]: 1-5) Bila kita mau mencoba mengkalkulasi, hitungan seribu bulan itu adalah sekitar 83 tahun. Dan bisa dibayangkan pula bila setiap Ramadhan yang kita lalui berhasil mendapatkan malam istimewa tersebut di saat kita sedang beribadah. Betapa nikmat dan bahagianya tentu. Hanya saja malam tersebut dirahasiakan kemunculannya oleh Allah Swt. Namun, jangan khawatir, karena Allah Swt. dan Rasul-Nya telah memberikan semacam interval waktu. Diriwayatkan dari Aisyah ra yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadan (HR Bukhari, Muslim) Dalam keterangan lain, seperti riwayat dari Ibnu Umar ra berkata: “Beberapa orang sahabat Nabi saw. memimpikan Lailatul Qadr pada tujuh malam yang terakhir pada bulan Ramadhan. Maka Nabi saw. bersabda: ‘Aku perhatikan mimpi kalian bertepatan dengan tujuh malam akhir, maka siapa yang benar mencari Lailatul Qadr, hendaknya memperhatikan pada tujuh malam yang terakhir” (HR Bukhari) Rasulullah saw. menganjurkan dan mengajarkan kepada kita untuk berlomba- lomba mencari lailatul qadr. Salah satunya dengan memperbanyak itikaf di masjid. Dari Ibnu Umar ra berkata: Biasanya Nabi saw. beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadan (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi) Kita semua berharap semoga mendapatkan malam istimewa tersebut. Wallahu’alam bishshowwab. [O. Sholihin] 8 Desember 2001 posted by O. Solihin | 10:31 AM | 0 comments Membaca al-Quran Pada bulan suci nan mulia ini, ada peristiwa penting bagi kaum muslimin, yakni peristiwa nuzulul quran atau turunnya al-Quran. Bahkan mengingat pentingnya peristiwa turunnya al-Quran ini, sebagian besar kaum muslimin selalu memperingatinya dalam berbagai acara, dengan tujuan untuk memahami
  5. 5. hakikat diturunkannya al-Quran. Sebab, di dalam al-Qauran terkandung berbagai macam hikmah untuk menuntun kita dalam kehidupan di dunia ini. Mungkin di antara kita banyak yang kesulitan mendapat kesempatan untuk membaca, mengkaji, mendalami, dan memahami al-Quran di luar bulan Ramadhan. Maka, alangkah baiknya, bila pada bulan yang mulia ini, kita bisa menyempatkan diri untuk membaca dan mengkaji al-Quran yang mulia ini. Menyibukkan diri dengan membaca al-Quran termasuk ibadah yang paling utama. Sebab al-Quran adalah kalamullah dan merupakan pedoman hidup manusia secara integral, yang dengan kesempurnaannya akan mampu mengatasi seluruh problematika umat manusia dari berbagai aspek kehidupan. Bahkan al- Quran juga merupakan satu-satunya asas Islam yang harus menjadi standar dari semua aktivitas kaum muslimin. Dalam salah satu kesempatan Rasulullah saw. pernah berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffary agar senantiasa membaca al- Quran, beliau bersabda: “Hendaklah engkau membaca al-Quran, karena itu akan menjadi cahaya bagimu di bumi dan tabungan bagimu di langit”. (HR. Ibnu Hibban). Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah menceritakan satu kisah: ’Rasulullah saw. pernah memberangkatkan satu pasukan untuk menyerang musuh. Beliau meminta mereka untuk membekali diri dengan bacaan al-Quran. Maka beliau meminta kepada seluruh anggota pasukan tersebut untuk membacakan apa yang dihafalnya. Tiba-tiba beliau menghampiri salah seorang di antara mereka yang paling muda usianya seraya berkata: ‘Apa saja yang kamu hafal, hai fulan? ‘Saya hafal surat ini, surat itu dan surat al-Baqarah’, jawabnya. ‘Kamu hafal surat al- Baqarah? Rasulullah saw. bertanya lagi. Anak muda itu berkata: ‘Benar’. Rasulullah saw. pun bersabda: “Berangkatlah dan kamu yang menjadi pemimpin mereka”. Semoga saja, kita bisa memanfaatkan bulan Ramadhan ini dengan berbagai ativitas mulia. Salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca dan mengkaji al-Quran. Wallahu’alam bishhowwab [O. Solihin] 1 Desember 2001 posted by O. Solihin | 10:21 AM | 0 comments Iman dan Istiqomah “Dari Abi Amr, dinamakan juga Amrah bin Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata: Saya telah berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang saya tidak akan bertanya tentang itu kepada orang lain, selaian Engkau!” maka beliau saw bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah; dan istiqomahlah (konsisten).” (HR Muslim). Istiqomah berarti berpegang kepada agama dengan kuat, berjalan di atas jalan sesuai petunjuk Allah dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan. Firman Allah: “Maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang
  6. 6. yang telah bertaubat bersamamu.” (QS Hûd [11]: 112). Dalam al-Quran kata iman selalu dirangkai dengan amal sholeh, ini membuktikan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan belaka yang tak pernah ada realisasinya dalam kehidupan. Konsekuensi logis dari ucapan keyakinan itu adalah melakukan perbuatan benar dan baik, sesuai dengan penilaian dalam aturan dari Allah Swt. Dengan begitu, tak bisa distandarkan kepada hati atau akal manusia. Amal sholeh yang kita lakukan adalah sebagai perwujudan dari keimanan kita kepada Allah Swt. Di sinilah kemudian kita membutuhkan sikap istiqomah. Dan sesuai dengan pengertiannya, istiqomah ini adalah sikap tegas dan senantiasa bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan. Adakalanya sikap istiqomah ini harus berhadapan dengan kemungkinan- kemungkinan terburuk yang bakal menimpa kita. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, cemoohan kerap melekat kepada orang yang berani tampil istiqomah dalam agamanya, justru di saat masyarakatnya terbiasa berbuat maksiat. Bahkan sangat ditekankan untuk tetap berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam dalam masyarakat yang begitu berani berbuat dosa, yakni melakukan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah: “Jangan kalian takut (khawatir) dan janganlah resah (sedih) dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS Fushshilat [41]: 30). Itulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beristiqomah dalam melaksanakan segala perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya. Wallahu ‘alam bishowab [O. Solihin] 25 Nopember 2001 posted by O. Solihin | 10:18 AM | 0 comments Puasa yang Sia-Sia Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad) Hadis ini memberikan gambaran kepada kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab, puasa tidak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang, menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang. Di malam bulan Ramadhan, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus al-Quran. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Karena tidak ada shalat sunnah bagi yang tidak pernah shalat wajib. Sungguh sangat aneh bila kita giat melaksanakan shalat sunnah, sementara shalat wajib dilalaikan atau bahkan ditinggalkan.
  7. 7. Ini terjadi karena umat Islam acapkali terjebak dalam ritualisme ibadah. Artinya, umat Islam ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Maka sungguh sangat disayangkan jika di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, sementara tak bisa berkutik untuk menahan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi tidak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus. Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah dengan ketika kita berada di luar ibadah, keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Wallahu’alam bish showwab. [O. Solihin] 16 Nopember 2001 posted by O. Solihin | 10:16 AM | 0 comments Takut Kepada Allah Dalam kitab Taqarrub ila Allah, karangan Fauziy Sanqarth terdapat sebuah pernyataan dari salah seorang pemimpin Islam ketika menggambarkan kader- kadernya. Seperti ditulis dalam kitab itu, salah seorang pemimpin Islam yang dimaksud mengatakan bahwa, “Sebaik-baik pemuda adalah yang bersikap sebagai orang tua, bisa memejamkan matanya dari kejahatan; berat langkah kakinya menuju kebathilan; demi beribadah ia khusyu’ dan betah begadang semalaman. Sungguh Allah melihat mereka pada malam hari ketika punggung- punggung mereka condong kepada juz Al Quran. Setiap kali salah seorang dari mereka membaca ayat tentang surga, mereka menangis karena rindu kepadanya. Ketika membaca ayat tentang neraka, mereka benar-benar histeris seakan-akan bencana neraka jahannam itu ada di antara kedua telinga mereka.” Takut kepada Allah adalah lebih utama dibanding takut kepada makhluk-Nya. Allah berfirman: “Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS Ali Imron [3]: 175). Di ayat lain Allah kembali menegaskan dalam firman-Nya: “Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku.” (QS al-Maidah [5]: 44). Sudah selayaknya kita menempatkan rasa takut kepada Allah di atas segalanya. Dalam kondisi seperti sekarang ini, ketika hukum tidak lagi dijadikan sebagai instrumen untuk mengendalikan sekaligus sebagai pemberi sanksi bagi manusia,
  8. 8. maka kita harus berani bermuhasabah (mengoreksi) penguasa untuk menempatkan hukum sebagai corong penegak keadilan. Karena apa jadinya bila hukum ibarat ular tanpa bisa. Manusia akan mudah untuk menginjaknya dan tak pernah takut dengan hukum. Bila ini terus dibiarkan maka kekacauan demi kekacauan akan senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Naudzu billahi mindzalik! Said bin Amir berkata kepada Umar bin Khaththab r.a.” Aku wasiatkan kepadamu dengan kata-kata yang intinya merangkum seluruh ajaran dan rambu- rambu penunjuk jalan Islam: “Takutlah kepada Allah dalam (menghadapi) manusia. Janganlah kamu takut kepada manusia dalam (menjalankan agama) Allah. Janganlah perbuatanmu mengingkari ucapanmu, karena sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Cintailah kaum muslimin, baik yang dekat maupun yang jauh, sebagaimana engkau mencintai diri dan keluargamu. Tempuhlah berbagai medan untuk menuju kebenaran sesuai dengan pengetahuanmu. Janganlah kamu takut celaan orang-orang yang mencela dalam (menjalan agama) Allah.” Salah seorang murid al-Izzu bin Abdis Salam bertanya kepada beliau, tatkala beliau menasihati seorang penguasa, ”Apakah engkau tidak takut kepadanya?” Beliau menjawab: ”Demi Allah wahai anakku, aku telah menghadirkan kehebatan Allah Swt. dalam diriku sehingga Sultan itu di hadapanku seperti seekor kucing.” Semoga kita hanya merasa takut kepada Allah. Karena itu, takut melakukan maksiat adalah sebagai wujud dari rasa takut kepada-Nya. Wallahu’alam bish showwab [O. Solihin] 6 Nopember 2001 posted by O. Solihin | 10:12 AM | 0 comments Cinta Dunia, Takut Mati Rasulullah saw. bersabda: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang- ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhori; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279). Hadis ini amat tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kaum muslimin saat ini. Ada dua penyakit yang mendera kaum muslimin. Pertama, adalah cinta dunia. Dan yang kedua adalah takut mati. Dua penyakit inilah yang telah
  9. 9. membuat kaum muslimin miskin kreativitas dan inovasinya dalam mengembangkan Islam. Sibuk dalam urusan mengejar dunia dan sekaligus takut mati. Betapa banyak dari kita yang enggan melepaskan kehidupan duniawi dan kenikmatan-kenikmatannya. Senantiasa mengejar gemerlap duniawi yang menyilaukan. Karir, bisnis, dan harta kerap menjadi ukuran kesuksesan seseorang dalam kehidupannya. Bersamaan dengan itu, saking cintanya kepada dunia, kaum muslimin mudah dihinggapi penyakit takut akan kematian. Dua penyakit ini memang ibarat saudara kembar. Tak mungkin dipisahkan satu sama lain. Artinya bila seseorang terkena penyakit cinta dunia, pasti ia pun menderita penyakit takut mati. Satu sama lain saling mengisi. Dunia yang dijadikan sebagai arena mengukur keberhasilan, akan membawa seseorang menjadi semacam world oriented. Yang ada di kepalanya tak jauh dari urusan harta dan kenikmatan-kenikmatan duniawi semata. Bila kecintaan ini terus dipelihara, tanpa ada aturan yang mengendalikannya, kemungkinan besar ia akan menjadi hamba harta. Selalu mengukur kesuksesan dari banyaknya materi yang diperoleh. Tak bisa dipungkiri, penyakit cinta dunia dan takut mati ternyata sudah lama hadir dalam kehidupan masyarakat kita. Akumulasi dari penyakit itu telah memunculkan gejala apriori terhadap ajaran-ajaran Islam di masyarakat kita. Kewibawaan hukum-hukum Islam tenggelam dalam arus kemaksiatan global. Betapa tidak, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, perzinahan, korupsi, suap-menyuap dan bentuk kemaksiatan lainnya senantiasa menghiasi kehidupan masyarakat kita. Memudarnya keterikatan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah-- yang menjadi pedoman hidup seorang muslim, telah mengantarkan kaum muslimin menjadi liar. Yang pada gilirannya mudah dimanfaatkan oleh musuh- musuh Islam karena tak punya pegangan hidup. Meskipun kaum muslimin mayoritas. Supaya kita tidak terlanjur hanyut dalam arus kesesatan tersebut ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah saw: “Telah kutinggalkan kepada kalian dua perkara yang bila kalian berpegang-teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya: (ia adalah) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (dalam Al Fathul Kabir II/27) [O. Solihin] 6 Nopember 2001 posted by O. Solihin | 10:06 AM | 0 comments SUNDAY, SEPTEMBER 05, 2004 Mencegah Perbuatan Munkar “Dari Abi Said Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu telah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya; maka bila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim). Kemungkaran, selama manusia masih ada akan tetap berlangsung. Dimana pun dan kapanpun. Jenis dan modelnya akan selalu berkembang sesuai dengan
  10. 10. meluasnya wawasan berpikir manusia. Hanya saja, tentu kita tak bisa mendiamkan dengan tenang para pelaku aktif kemaksiyatan. Paling tidak, kita bisa memperkecil dan menekan jumlah pelaku dan jenis kemaksiayatannya. Untuk mewujudkan ini tentu harus ada pengorbanan dari kaum muslimin untuk melakukan upaya pencegahan. Dalam taraf individu nahi munkar ini memang sebuah kewajiban yang harus ditunaikan, sesuai hadits di atas. Urusan kemungkaran ini tidak hanya berdampak kepada si pelaku aktif, tetapi dosanya dan akibatnya akan menjalar ke seluruh penduduk di negeri itu. Perbuatan zina yang didiamkan oleh masyarakat apalagi dilegalkan oleh penguasa, jelas akan membawa dampak buruk bagi masyarakat di negeri tersebut. Begitu pula dengan kemungkaran yang terjadi dalam urusan bunga (riba), maka pengaruhnya besar sekali bagi masyarakat lain. Dan jenis kemaksyitan lainnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila zina dan riba telah mejalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab dari Allah.” (H.R. Ath Thabrani, Al Hakim dari ibnu Abbas). Sudah akrab dengan kehidupan kita, begitu banyak kemungkaran yang bisa dijumpai dengan mudah. Di pasar, begitu banyak pedagang dan pembeli yang melakukan transaksi jual-beli yang jauh dari nilai islami. Begitu pula di jalanan kita bisa dengan leluasa menikmati aurat wanita bukan muhrim. Dan “dosa manis” itu kita lakukan hampir tiap hari dan keadaan. Belum lagi dengan banyaknya para pekerja seks yang menjual harga dirinya di tempat-tempat yang sudah dilegalkan oleh penguasa. Korupsi, kolusi dan segala macam bentuk kemungkaran lainnya sudah menjadi pemandangan sehari-hari dalam kehidupan kita, tanpa berani mencegahnya. Agar kita terhindar dari dosa dan tak ikut hancur karena kita tak berusaha untuk mencegahnya, alangkah baiknya kita merenungkan sebuah hadits dari Rasulullah saw.: “Perumpamaan keadaan suatu kaum/masyarakat yang menjada batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikiku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (H.R. Bukhari) Memang, mencegah kemungkaran yang efektif selain mengerahkan kekuatan individu, juga harus didukung dengan kuat oleh negara. [O. Solihin] 25 September 2001 posted by O. Solihin | 3:54 PM | 0 comments
  11. 11. Hidup Bermasyarakat Hidup bermasyarakat seringkali membuat kita harus waspada dan menahan diri. Tentu, karena hidup dengan sejumlah orang yang masing-masing keinginan dan pendapatnya berbeda-beda. Tak bisa dipungkiri hidup bermasyarakat akan senantiasa menemui berbagai gesekan. Gesekan-gesekan kecil itu bisa saja berubah menjadi sebuah bencana yang dahsyat bila tak ada saling pengertian dan saling memberikan nasihat. Seseorang yang menghisap rokok di sebuah bis, asapnya akan membuat batuk penumpang lain. Mungkin karena takut atau segan menasihati, mereka akhirnya memilih diam tidak menasihati perokok tersebut, meski dirinya kesal. Sehingga di sini diperlukan sikap tahu diri dan perlu ada yang menasihatinya. Karena bila itu dibiarkan kemungkinan akan menyebabkan sakit semua penumpang. Harus ada saling pengertian di antara individu masyarakat. Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a.: "Seorang mu'min yang bergaul dengan masyarakat dan sabar atas rintangan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat (menyendiri) serta tidak sabar atas rintangan mereka." Dengan demikian, sebagai manusia kita tak bisa hidup menyendiri. Adalah suatu sunatullah bila akhirnya setiap individu itu hidup berkumpul dengan individu lain dalam sebuah komunitas yang dinamakan masyarakat. Dalam hal ini tentu saja, sesuai dengan sabda Rasul tadi, bahwa kita harus bisa bersabar atas rintangan yang dibuat oleh individu lain. Dan berusaha untuk memberikan nasihat, bila tak menghendaki kerusakan. Dalam pandangan Islam, sebuah masyarakat adalah kumpulan individu yang berinteraksi secara terus menerus, yang memiliki satu pemikiran, satu perasaan dan di bawah aturan yang sama. Sehingga di antara mereka akan terjalin hubungan yang harmonis. Bila ada sebagain anggota masyarakat yang menderita, serta merta individu yang lain menolongnya dengan sekuat tenaga. Begitu pun ketika ada salah seorang anggota masyarakat yang melakukan tindak kriminal, serta merta pula individu yang lain menegur dan menasihatinya dan negara berhak memberikan sanksi bila itu menyebabkan teraniayanya individu lain. Rasulullah pernah memberikan perumpaan yang bagus tentang hidup bermasyarakat ini. Sebuah masyarakat itu diibaratkan sekumpulan orang yang sedang naik kapal yang besar. Ada sebagian individu berada di bawah kapal, dan sebagian yang lain berada di atasnya. Sehingga bila seseorang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, ia harus naik tangga dan melewati orang- orang yang ada di bagian atas kapal. Celakanya, bila mereka nekat memilih jalan pintas, yakni melubangi lambung kapal untuk mendapatkan air, bila hal itu tidak dicegah oleh penumpang lain, maka akan tamatlah seluruh penumpang kapal tersebut. Perumpamaan yang bagus. Yang tentu saja memberikan gambaran kepada kita, bahwa hidup bermasyarakat itu memang banyak tantangannya. Sayangnya, hidup bermasyarakat yang digambarkan oleh Rasulullah saw itu tak terdapat dalam masyarakat kita sekarang ini yang cenderung individualistis dan liar. Kalau pun ada hanya beberapa saja yang memahami perlunya hidup bermasyarakat yang benar.
  12. 12. Masyarakat bukan hanya kumpulan individu semata yang tak memiliki aturan. Yang bebas berbuat apa saja semau mereka. Jelas hal ini tidak diajarkan oleh Rasulullah. Ukhuwah yang benar dan baik justeru adalah saling memberikan nasihat kebaikan. Firman Allah swt.: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati dalam mentaati kebenaran dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr: 1-3). [O. Solihin] 25 September 2001 posted by O. Solihin | 3:52 PM | 0 comments Meminta Jabatan Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata: “Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.” Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan. Ternyata beliau begitu menginginkan agar sebisa mungkin jabatan untuk mengurusi kepentingan umat itu menjauh darinya. Karena beban yang harus dipikulnya teramat berat dan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah di akhirat nanti. Pernyataan yang seperti ini jarang ditemukan dalam aktivitas politik kita. Justeru sebaliknya, banyak yang menginginkan jabatan di pemerintahan. Entah itu menjadi anggota dewan legislatif, menteri atau yang paling prestisius, yakni sebagai presiden. Sudah banyak pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa tokoh politik kita, yang menginginkan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Keinginan menjadi presiden sudah sangat lumrah dilontarkan oleh beberapa tokoh politik. Hal yang dulu sangat ditabukan itu telah menjadi pernyataan yang biasa di era reformasi. Terlepas dari apakah itu murni keinginannya atau ada yang mendorongnya, barangkali ada baiknya merenungkan kembali sabda Rasulullah saw yang menasihati kita berkaitan dengan urusan pemerintahan ini. Dari Abu Musa r.a. berkata: ’Aku dan dua orang lelaki dari anak cucu pamanku masuk ke tempat Nabi saw. Lalu salah seorang dari lelaki tersebut berkata: ‘Ya Rasulullah, angkatlah kami sebagai pengurus untuk mengurusi sebagian apa yang Allah serahkan pengurusannya itu kepadamu. Dan yang seorang lagi juga mengatakan seperti itu. Maka jawab Rasulullah saw.: ‘Demi Allah, sungguh kami tidak akan menyerahkan kepengurusan atas pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya, atau kepada seseorang yang sangat menginginkannya (ambisi).” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim). ‘Pernyataan’ Rasul tersebut bukan berarti bahwa beliau tidak ingin jabatannya direbut oleh orang lain. Juga bukan berarti tidak percaya kepada orang tersebut.
  13. 13. Namun, Rasul juga punya alasan yang juga disampaikannya dalam sabdanya:“Barangsiapa meminta jabatan pengurus kaum muslimin hingga dapat, kemudian keadilannya mengalahkan kedzalimannya, maka ia akan masuk surga, dan siapa yang kedzalimannya mengalahkan keadilannya, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Abu Dawud). Jadi, harus hati-hati. Jangan hanya menuruti hawa nafsu semata. Juga urusan meminta jabatan ini bukan hal yang sembarangan. Karena masalah pengurusan umat (rakyat) ini adalah masalah yang berat, maka selain harus diemban oleh orang-orang yang sholeh dan ikhlash tapi sekaligus kapabel. “Dan dari Abu Dzar, ia berkata: ‘Aku bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah engkau tidak mau mengangkat aku sebagai amil (pegawai)? Katanya selanjutnya: ‘Kemudian beliau menepuk pundakku seraya bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah, sedang kekuasaan itu adalah suatu amanat, dan sesungguhnya dia (kekuasaan) itu kelak di akhirat akan merupakan kerugian dan penyesalan, kecuali orang yang mendapatkannya itu dengan hak dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR. Ahmad dan Muslim dalam tarjamah kitab Nailul Authar jilid 6 halaman 3187). [O. Solihin] 25 Juli 2001 posted by O. Solihin | 3:48 PM | 0 comments Rasa Takut Diriwayatkan dalam hadits Al Bukhari tentang peristiwa penting dalam hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar r.a. .Ketika Rasul bersama Abu Bakar r.a. sampai di suatu tempat dan berlindung di sebuah gua, Abu Bakar ketakutan, khawatir bila orang-orang Quraisy memergoki tempat persembunyian mereka. Abu Bakar berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya ada salah seorang melihat ke bawah, maka akan melihat kita. Maka Nabi menjawab: “Diam ya Abu Bakar, kita berdua dan Allah ketiganya.” Rasa takut adalah penampakan dari gharizah al baqa’ atau naluri mempertahankan diri. Setiap manusia pasti memiliki naluri ini. Jangankan manusia, hewan sekalipun memiliki naluri mempertahankan diri ini. Seringkali kita menyaksikan, seorang pemburu harus bercapek-capek mengejar buruannya. Kalau tidak punya naluri mempertahankan diri, hewan buruan itu tak akan lari melihat gelagat yang bakal membahayakan dirinya. Hanya saja, kadang kala rasa takut kita itu salah alamat alias bukan pada tempatnya. Misalnya, kita takut kepada hal-hal yang sebenarnya di luar jangkauan logika kita; takut kepada hantu, takut bila posisi jabatannya bakal ada yang merebut, takut kepada hal-hal yang ditabukan yang tak pernah ada dasarnya sama sekali dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Allah sudah mewanti- wanti bahwa rasa takut itu hanya kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah takut pada mereka, tapi takutlah kepada-Ku, jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175). Jadi, rasa takut itu hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Kepada manusia, misalnya, kita tak perlu memiliki rasa
  14. 14. takut. Dikisahkan, suatu ketika salah seorang murid Imam Al Izzu’ bin Abdus Salam bertanya kepada gurunya setelah beliau mengkritik seorang penguasa yang melakukan kesalahan. “Apakah engkau tidak takut padanya?” “Demi Allah wahai anakku,” jawab Imam Al Izzu’ bin Abdus Salam, “Sesungguhnya aku telah menghadirkan kehebatan Allah ta’ala, maka seketika penguasa itu tampak di hadapanku seperti seekor kucing.” (Taqarrub ilallah, hal. 46). Allah swt. Berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang tatkala disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan jika dibacakan pada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan dan kepada Rabb mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfaal: 2). Bayangkan, hanya disebut nama Allah hati mereka bergetar tak karuan, karena takut. Begitu pun ketika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, keimanannya akan semakin bertambah dengan meyakini ayat- ayat tersebut. Suatu ketika Rasulullah saw. memberitakan kepada para sahabatnya bahwa kalau saja neraka itu bocor sebesar lubang jarum saja, maka api yang dikeluarkannya bakal melumat dunia dan seluruh isinya. Mendengar itu para sahabat terdiam dan menangis membayangkan dahsyatnya api neraka itu. Yang memprihatinkan, sebagian dari kita malah bangga dengan dosa-dosa. Korupsi, kolusi dan nepotisme, mendhalimi rakyat, melakukan pemaksaan kehendak, memicu kerusuhan, saling menghujat sudah akrab dengan kehidupan kita. Ternyata kita telah meremehkan dosa. Tak merasa sedikitpun takut bila di akhirat nanti kita bakal dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas setiap perbuatan kita di dunia ini. Walhasil, kita sudah tidak gentar lagi menantang Allah. Naudzubillah min dzalik. Ketakutan-ketakuan itu semestinya senantiasa kita tumbuhkan dalam diri kita, dalam setiap doa kita kepada Allah senantiasa kita memohon keselamatan di dunia maupun di akhirat. Seorang ibu selalu berdoa agar anaknya terhindar dari petaka dunia dan akhirat. Terhindar dari segala keburukan dan memohon kebaikan. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita, beliau selalu berdoa dalam setiap sholatnya: “Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kami berlindung kepada-Mu dari kefakiran.”[O. Solihin] 14 Juli 2001 posted by O. Solihin | 3:45 PM | 0 comments Perbuatan Yang Ihsan Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.” Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, sampai-sampai Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”
  15. 15. Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadats besar atau kecil sampai urusan muhasabah (mengoreksi) penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu senantiasa berada di jalur yang benar dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan semata berlomba-lomba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah; “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2). Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar bila akhirnya kaum muslimin kesulitan sendiri dalam melakukan berbagai amal. Malah tak jarang yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek-praktek KKN yang diduga kuat dibudayakan orde baru ternyata tradisinya masih terasa sampai sekarang. Dalam urusan amar ma’ruf nahyi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Yakni cenderung brutal dan menghalalkan segala cara. Artinya, ketika akan meluruskan kesalahan, ternyata cara yang diambil justeru bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan. Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat Al-Mulk adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali: ‘Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah swt, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi saw.” (At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq; karya Fauzy Sanqarth). Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. Insya Allah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik). Wallahu’alam bishowab [O. Solihin] 2 Maret 2001 posted by O. Solihin | 3:35 PM | 0 comments
  16. 16. Perbuatan Yang Ihsan Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.” Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, sampai-sampai Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.” Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadats besar atau kecil sampai urusan muhasabah (mengoreksi) penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu senantiasa berada di jalur yang benar dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan semata berlomba-lomba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah; “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2). Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar bila akhirnya kaum muslimin kesulitan sendiri dalam melakukan berbagai amal. Malah tak jarang yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek-praktek KKN yang diduga kuat dibudayakan orde baru ternyata tradisinya masih terasa sampai sekarang. Dalam urusan amar ma’ruf nahyi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Yakni cenderung brutal dan menghalalkan segala cara. Artinya, ketika akan meluruskan kesalahan, ternyata cara yang diambil justeru bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan. Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat Al-Mulk adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali: ‘Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah swt, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi saw.” (At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq; karya Fauzy Sanqarth).
  17. 17. Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. Insya Allah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik). Wallahu’alam bishowab [O. Solihin] 2 Maret 2001 posted by O. Solihin | 3:35 PM | 0 comments Meramal Nasib Dari Abu Musa, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak masuk surga; pecandu arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya pada sihir." (HR. Ahmad). Era reformasi ternyata begitu banyak memberikan kebebasan. Setelah pemerintah melonggarkan kebijakan di bidang pers, akhirnya banyak muncul budaya yang dulu malu-malu untuk membuka diri, seperti pornografi, misalnya. Dan era reformasi juga semakin menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dunia supranatural. Tentu saja seiring dengan berkibarnya dunia klenik, keimanan masyarakat terhadap Allah justeru melorot, bahkan bisa dikatakan sampai pada derajat titik nadir. Ini membahayakan. Berbagai iklan di media massa seolah menjadikan legalitas praktek perdukunan. Meski dalam iklan tersebut mereka memakai bahasa yang sedikit 'sopan', dunia supranatural dengan berkedok pengobatan dan lain sebagainya. Sebagai seorang muslim yang beriman, ketika menghadapi gejala tak sehat seperti ini dalam sebuah masyarakat, maka yang harus dan bahkan wajib dilakukan adalah bagaimana kita berupaya untuk tidak larut bersama budaya sesat seperti itu. Globalisasi kebodohan seperti ini pernah juga terjadi ketika Islam belum turun untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di Jazirah Arab. Namun, ketika Rasulullah dengan membawa ajaran Islam hadir dan memberi warna pada kehidupan mereka, tradisi sesat itu mulai hilang sedikit demi sedikit sampai akhirnya Rasul membersihkan segala bentuk praktek sihir. Sabdanya: "Hukuman terhadap tukang sihir itu dipenggal lehernya dengan pedang. (HR. Tirmidzi dan Daruqutni). Bila kita berkaca kepada ajaran Islam, rasanya kita akan berpikir beribu kali sebelum melibatkan emosi kita dalam dunia klenik (perdukunan alias sihir) tersebut. Kehidupan yang serba tak menentu bagi sebagian masyarakat kita, tidak lantas kemudian jatuh ke dalam pelukan para pembual alias para tukang sihir yang mencoba menggoda dengan berkedok pengobatan 'alternatif '. Ritme kehidupan yang tengah kita jalani ini tidak perlu dirusak dengan praktek perdukunan. Allah akan menjamin kehidupan setiap hambanya selama hamba tersebut percaya bahwa hanya Allah Ta'ala lah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Kita tak perlu mencoba meramal nasib, atau dengan alasan menjaga diri kemudian kita terjebak dalam dunia klenik tersebut.
  18. 18. Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini. Namun tidak berarti bahwa kemudian merasa sah-sah saja ketika harus melibatkan diri dalam dunia klenik alias perdukunan yang sembunyi di balik alasan pengobatan 'alternatif' supranatural seperti banyak diiklankan media massa. Kita tidak boleh percaya kepada apa yang dikatakan para tukang sihir yang menggoda kita bahwa mereka bisa meramal nasib, atau paling tidak mereka mengatakan bisa memberikan semacam penjagaan kepada kita. Seharusnya tak boleh terpedaya begitu saja, karena mereka itu meski kadang-kadang benar dan terbukti apa yang diucapkannya tersebut, namun itu tak lebih dari bualan saja. "Dan dari Aisyah, ia berkata: "Rasulullah saw pernah ditanya oleh sekelompok manusia tentang masalah tukang tenung (sihir), maka jawabnya: 'Mereka bukan apa-apa,' mereka pun bertanya lagi: 'Ya Rasulullah sesungguhnya mereka itu kadang-kadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar.' Maka jawab Rasulullah saw: 'Kalimat itu dari Allah yang dicuri oleh Jin lalu diulang-ulanginya ke telinga kekasihnya dengan dicampur 100 kedustaan." (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim dalam kitab Terjemah Nailul Authar Juz VI, halaman 2686) [O. Solihin] 17 Februari 2001 posted by O. Solihin | 3:33 PM | 0 comments WEDNESDAY, SEPTEMBER 01, 2004 Makna Laa Ilaaha Illallah “Katakanlah: ‘Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS: Ar R’adu: 30). Seringkali manusia lupa ketika mengatakan bahwa Allah adalah Maha Esa, namun bersamaan dengan itu, konsekuensi dari pernyataan tersebut tak pernah terwujud. Dengan kata lain, pernyataan sungguh-sungguh yang mengakui bahwa Allah memang Maha Esa tidak dibarengi dengan tindakan nyata (konsekuensi) terhadap pernyataan tersebut. Dengan demikian, ketika kita mengakui keberadaan Allah sebagai dzat yang tunggal dalam keyakinan hidup kita, maka secara naluriah, manusia akan melakukan tindakan penyembahan. Ibadah sebagai perwujudan dari taqdis (mensucikan sesuatu) yang merupakan bagian dari gharizah tadayyun (naluri beragama) harus diatur dengan jelas dan tegas. Tentu sebagai pemecahan dari problem kesalahan dalam penyembahan. Karena bila tidak diatur, dikhawatirkan manusia akan memanifestasikan pentaqdisannya kepada selain Allah. Bila kita telah mafhum dengan makna laa ilaaha illallah ini, maka kita tidak cukup hanya mengakui bahwa tidak ada pencipta selain Allah, tapi sekaligus mengakui pula bahwa tidak ada yang wajib disembah selain Allah. Dengan demikian, tentu tak adil bila kita hanya mengakui keberadaan sang pencipta, yang menciptakan alam, manusia dan kehidupan ini sementara kita menghamba kepada selain Allah. Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang kita menemui
  19. 19. orang-orang yang secara terang-terangan bahkan dengan ngotot mengatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Dialah pencipta seluruh alam dan manusia ini, namun pada praktiknya dalam kehidupan ia sama sekali tak melakukan ibadah sebagai wujud penyerahan dirinya kepada Allah. Bahkan berani menyembah selain Allah, yakni kepada makhluk-Nya. Jelas ini merupakan tindakan yang tidak fair. Setelah kita benar-benar mengakui bahwa Allah adalah Maha Pencipta, yang tidak ada lagi pencipta selain Dia. Lalu mengakui dengan sepenuh hati bahwa tidak ada yang wajib disembah selain Allah. Langkah selanjutnya sebagai konsekuensi dari dua pernyataan tadi adalah tentu saja mengakui dan membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada pembuat aturan hidup selain Allah. Pernyataan ketiga ini dengan tegas tercantum dalam Al-Qur’an sebagai kalamullah, dengan firman-Nya; “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS: Al Maaidah: 50). Inilah makna lengkap dari pernyataan laa ilaaha illallah tersebut. Ironisnya, tak semua dari kita begitu konsekuen melaksanakan pernyataan laa ilaaha illallah tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Ternyata, kita masih doyan melakukan pelanggaran dari pernyataan kita sendiri yang setiap hari diucapkan itu. Ketiga makna dari laa ilaaha illallah ini tak semuanya kita laksanakan. Padahal, agar kita bisa disebut sebagai seorang hamba yang bertakwa kepada Allah, tentu saja dari setiap pernyataan itu harus mempunyai nilai yag benar. Jangan sampai keyakinan kita tentang Allah sebagai pencipta ini dinodai dengan penyembahan yang salah, penghambaan yang menyalahi aturan Allah, juga tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya yang tercantum dalam banyak ayat Al-Qur’an. Yang pada gilirannya makna laa ilaaha illallah yang sering kita ucapkan itu menjadi hampa alias tak memiliki arti yang bisa berpengaruh terhadap kehidupan yang kita jalani. Dengan kata lain, kita mengakui Allah sebagai pencipta, tapi menolak menyembah-Nya, mangkir terhadap perintah-perintah-Nya dan malah melaksanakan larangan-larangan-Nya. Bukankah itu adalah gejala sikap seorang munafik? Wallahu ‘alam bishowab [O. Solihin] 27 November 2000 posted by O. Solihin | 10:59 AM | 0 comments Teman Baik Dalam kitab Adabul Mufrad, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Tidaklah saling mencintai dua orang dalam agama Allah Ta’ala, kecuali orang yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling besar cintanya pada sahabatnya.” (H.R. Bukhari). Hadits ini memberikan gambaran yang bagus kepada kita tentang bagaimana kita berusaha menjadi teman yang baik bagi sahabat kita. Atau juga pedoman yang bagus dalam memilih teman. Seringkali kita tidak bisa menjadi teman baik bagi teman-teman kita. Atau malah kita
  20. 20. sendiri yang ternyata salah dalam mencari teman. Sabda Rasul tersebut di atas mengajarkan kepada kita untuk saling mencintai dengan teman-teman kita. Saat ini, jarang sekali kita menyaksikan persahabatan yang sehebat di masa Rasulullah. Dikisahkan, saat Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah dari Mekkah, mereka disambut dengan suka cita oleh penduduk Anshor (Madinah). Bahkan serta merta mereka menawarkan berbagai kebaikan kepada kaum Muhajirin. Dari mulai pakaian, rumah, makanan sampai ada sahabat anshor yang rela menceraikan salah satu isteri yang dimilikinya untuk ‘diberikan’ kepada sahabatnya kaum muhajirin. Ini sebagai bukti bagaimana ia begitu mencintai sahabatnya. Dan ini betul-betul pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Malah, sikap kita dalam mencintai sahabat kita seharusnya seperti mencintai diri kita sendiri. Rasulullah bersabda; “Perumpamaan kaum muslimin dalam urusan kasih sayang dan tolong menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, sangat disayangkan, saat ini kaum muslimin telah kehilangan perasaan dan pemikiran. Bahkan sebagian dari mereka malah terpisah antara pemikiran dengan perasaannya. Ini memang memprihatinkan. Ibarat tubuh yang sudah terpecah-pecah, ia tak merasakan lagi sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya ketika kakinya dibakar api, misalnya. Karena kaki itu sudah terpisah dari tubuhnya. Keadaan kaum muslimin saat ini pun tak jauh beda dengan perumpamaan tersebut, karena ternyata kita masih beku dan hanya mampu berdiam diri ketika sebagian saudara kita mendapat musibah. Malah tak jarang yang kemudian membiarkan--dengan anggapan bahwa itu bukan familinya. Betapa rusaknya perasaan sebagian kaum kaum muslimin saat ini. Apalagi ketika mereka terpecah-pecah dalam memberikan dukungan kepada salah satu parpol peserta pemilu. Tak sedikit yang akhirnya memilih bentrok fisik dengan sesama saudaranya, sesama sahabatnya. Menyedihkan memang. Tak lagi merasakan ukhuwah di antara mereka. Bahkan tak lagi menjadikan teman baik sehingga bila perlu harus disingkirkan--demi sebuah parpol yang didukungnya. Padahal, kita semua tahu, bahwa perbedaan jangan menjadi alasan untuk tidak menjadi teman baik. Karena kita tetap satu tubuh, yakni sebagai seorang muslim. Padahal muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara. Kenapa mesti bertengkar? Pertengkaran hanya akan mengakibatkan kita terpecah dan berantakan. Kondisi ini sangat diinginkan oleh para pendengki dan pembenci Islam. Mereka akan bersorak bila ternyata kaum muslimin terpecah dan saling ‘menikam’. Teman baik ialah yang bisa memberikan kebahagiaan di saat kita mendapat musibah dan bisa mengingatkan ketika kita lalai dan berbuat maksiat. Teman yang baik tidak pernah menanamkan kebencian kepada kita dan tak pernah mengajarkan kedengkian kepada kita. Dan kita semua adalah teman, kenapa
  21. 21. harus saling menjegal dan memburu seperti kepada musuh? Kata Rasul, sahabat (teman) yang baik adalah yang tidak mendzalimi kita dan tidak menyerahkan kita kepada musuh [O. Solihin] 22 November 2000 posted by O. Solihin | 10:57 AM | 0 comments Menjadi Pemimpin Yang Baik "Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya." (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa menjadi pemimpin itu harus rela mengorbankan waktu dan pikirannya untuk mengurus rakyat. Semua urusan, dari mulai masalah mencukupi kesejahteraannya dengan pendistribusian harta yang benar, memberikan peluang untuk bekerja di sektor yang halal, melindungi mereka dari ancaman kekuatan yang akan membinasakannya. Baik ancaman dari kekuatan militer atau pemikiran yang diemban oleh para penggoyang stabilitas. Untuk urusan mencukupi kesejahteraan rakyat, dalam kisah yang sangat populer, diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab pernah menyusuri sudut kota Madinah pada malam hari untuk memantau warganya, dan ternyata menemukan seorang ibu yang sedang memasak batu—karena tidak ada makanan —untuk membujuk putranya yang kelaparan. Selanjutnya, Umar bergegas ke baitul maal dan memberikan sekarung gandum. Saking tidak ingin memakan harta milik rakyatnya, Khalifah Abu Bakkar Ashshiddiq pun rela ngemut batu menahan lapar selama perjalanannya. Atau sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menutup hidungnya ketika melakukan pengontrolan ke baitul maal hanya karena dia tak ingin menghirup minyak wangi hak rakyatnya. Kemudian dalam soal melindungi rakyat dari ancaman kekuatan musuh, para pemimpin di masa kejayaan Islam telah membuktikannya. Rasulullah SAW. pernah mengumumkan perang kepada orang-orang yahudi dari bani Nadzir dan Qunaiqa yang telah melanggar perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Karena beberapa orang pemuda mereka telah mengganggu seorang muslimah dan mempermalukannya di hadapan orang-orang. Hal yang sama pun pernah dilakukan Khalifah Al Mu’tashim ketika seorang muslimah mengaku telah dinodai kehormatannya oleh seorang pejabat Romawi. Tanpa ampun, ribuan pasukan kaum muslimin menyerang Romawi dibawah komando khalifah sendiri. Itulah beberapa contoh kasus yang berhubungan dengan tanggung jawab seorang pemimpin untuk memelihara dan melindungi rakyatnya. Yang kita sendiri sadari, nyaris tak terlihat di jaman sekarang ini. Yang ada di bumi ini justeru kerusakan dan kehinaan. Berbagai krisis muncul, dari mulai krisis ekonomi
  22. 22. sampai masalah politik, dan semua itu tak mampu diselesaikan dengan baik. Malah semakin menjadi-jadi. Seluruh dunia, merasakan hal yang sama. Karena itu, penyelesaian yang benar adalah cara yang bijaksana. Dan langkah yang tepat apabila kita mencontoh Rasulullah SAW. dan para penguasa di masa kejayaan Islam agar menjadi pemimpin yang baik. Untuk merenungkan, tak ada salahnya kita menyimak kembali firman Allah SWT: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Ruum: 41) [O. Solihin] 2 Februari 1997 posted by O. Solihin | 10:07 AM | 0 comments TUESDAY, AUGUST 31, 2004 Dunia Islam (2) Jumat, 20 Agustus 2004 Pakaian Khusus Muslim di Rumah Sakit Portland Penulis : PORTLAND -- Umat Muslim di Portland, Amerika Serikat boleh bernafas lega. Hak-haknya di ruang publik kini sedikit demi sedikit mendapat pengakuan. Kabar terbaru, rumah sakit terbesar di sana, Maine Medical Center, menyediakan baju khusus buat pasien Muslimah. Langkah ini dilakukan pihak rumah sakit setelah mengevaluasi kotak saran pengunjung. Umumnya, psien Muslim mengaku risih mengenakan baju standar yang diberikan pihak rumah sakit. Mereka pun kemudian merancang baju yang sesuai dengan keinginan pasien Muslim. Menurut Manajer Pelayanan Lintas Budaya Maine Medical Center, Dana Farris Gaya, ini merupakan sebuah tantangan yang datang dari sebuah komunitas masyarakat, yang sebenarnya pada akhirnya memberikan keuntungan bagi semua pasien. Seorang pasien, Shamso Abdi, menyatakan bahwa Maine Medical Center telah menciptakan pakaian bagi pasien yang sesuai dengan keinginan dan ajaran agamanya. ''Saya merasa bahagia bahwa mereka melakukan perubahan dan mempertimbangkan kepentingan kami,'' katanya. Ia menyatakan, sebelumnya pernah ia membatalkan janji dengan seorang dokter di rumah sakit tersebut, ketika ia harus mengenakan baju rumah sakit yang standar. Artinya ia harus melepaskan hijabnya.
  23. 23. Selain Maine Medical Center di Portland, Michigan Medical Center juga merespons kebutuhan Muslimah itu. Ini untuk memberikan pelayanan bagi orang-orang Arab Amerika di Michigan Tenggara yang jumlahnya mencapai 300 ribu. Menurut Juru Bicara Michigan Medical Center, Krista Hopson, pihak rumah sakit juga akan mengirimkan sinyal ke kamar-kamar pasien wanita ketika ada pengunjung atau staf pria yang masuk ke dalam kamar perawatannya. fer/cbsnewyork Swiss akan Miliki Pusat Kebudayaan Islam Baru NEUTCHTEL -- Swiss akan memiliki bangunan pusat kebudayaan Islam baru. Bangunan ini diperkirakan akan mampu menampung jumlah Muslim di sana yang mencapai 7000 orang. Sekitar 6000 Muslim migran dan 1000 lainnya merupakan penduduk asli Swiss. Proyek pembangunan ini akan berdiri pada lahan seluas 300 meter persegi. Proyek ini akan dikerjalan oleh Islamic Cultural Society of Neuchtel, yang merupakan anggota Muslim League of Switzerland. Tujuan pembangunan pusat kebudayaan Islam ini untuk memberikan pengajaran agama pada masyarakat Muslim di sana, selain juga menjadi tempat yang tepat bagi anak-anak. Ini juga akan menjadi tempat pembinaan bagi para mualaf. Aktivitas lainnya adalah sebagi pusat dakwah dan memberikan pelayanan sosial. Pusat kebudayaan Islam ini akan terdiri dari ruang shalat, ruang konferensi, taman kanak-kanak, perpustakaan, serta tempat olahraga. fer/iol http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp? mid=5&id=170083&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=217 posted by O. Solihin | 12:37 PM | 0 comments Murtad Demi Setengah Karung Gandum Jumat, 27 Agustus 2004 Penulis : yus/berbagai sumber Perang sipil di Tajikistan menghasilkan dua hal yang saling berlawanan. Di satu sisi, negara ini menjadi republik mandiri yang merdeka. Tapi di sisi lain, kemiskinan menyelimuti negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam ini. Dan, persoalan klasik pun muncul; kemiskinan dijadikan 'senjata' untuk mengeluarkan seoorang Muslim dari agamanya. Para misionaris dengan didanai lembaga misi internasional menyebar diri ke berbagai wilayah untuk
  24. 24. menawarkan doktrin agamanya. Imbalannya pun 'menggiurkan'; keterbebasan dari lilitan kemiskinan. "Bagi mereka yang keimanannya tidak kuat, maka demi setengah karung gandum, dia akan rela menjual agamanya. Dan demi sekarung gandum, bisa saja besok hari dia pindah agama," ujar tokoh Muslim Tajikistan, Abdullo Hakim Rahnamo. Sejak beberapa tahun belakangan, kegiatan misionaris makin menggeliat. Mereka misalnya, datang dari organisasi Kristen yang berbasis di Korea, Amerika Serikat dan negara lainnya. "Hal itu memang menjadi masalah besar bagi masyarakat kami," keluh profesor ilmu sosial di Universitas Nasional Tajikistan ini. Lebih jauh dikatakan, dalam menghadapi persoalan itu, umat Muslim di sana menemui dilema. Di satu sisi, mereka harus menjunjung tinggi azas kebebasan menjalankan agama; tapi di sisi lain, ada keinginan untuk memelihara stabilitas dan keamanan nasional. Betul, telah muncul reaksi negatif dari sejumlah anggota masyarakat dan tokoh agama menanggapi tindakan yang dilakukan oleh kelompok tertentu yang terkadang sangat agresif. Namun seruan mereka tak bergaung. Negara, secara langsung atau tidak, kini bergantung pada negara asal para misionaris itu. Sehingga, meski ada 'payung' hukum yang melarang penyebaran agama pada masyarakat yang beragama, gerakan misionaris tetap tak tersentuh. Biasanya di waktu malam, orang-orang dari kelompok itu tanpa basa basi menempelkan selebaran dan poster di sekeliling kota. Masyarakat tidak bisa melarang 'aktvitas keagamaan' mereka itu. "Namun diharapkan semenjak masalah ini telah dibahas di tingkat yang lebih tinggi, mudah-mudahan dapat diperoleh solusi terbaik bagi pemecahannya," ujarnya lagi. Ghirah tinggi saat perang sipil Menurut Rahmano, sebetulnya usai pertikaian sipil, umat Islam mempunyai 'modal' untuk berkembang lebih baik. Saat itu, umat sangat solid dan tumbuh pesat. Indikator terbaik untuk mengetahui bagaimana Islam telah bertumbuh pesat di negara itu adalah keterkaitan kaum muda dengan agama mereka. Dia melihat, pada antara tahun 1980 sampai 1990-an, ghirah (semangat keagamaan) kaum muda yang berada di kota Dushanbe, Khojand, dan Kurgan Tyube terhadap syiar Islam, amatlah tinggi. "Sebelum perang sipil meletus, kami sudah merasakan bahwa terhadap keterkaitan erat antara para pemuda dan Islam. Mereka sangat bersemangat menggali nilai-nilai keislaman dalam kegiatan pengajian yang kerap mengundang tokoh agama untuk memberikan ceramah,'' ujarnya. Akan tetapi, Rahnamo justru menilai, jika dibandingkan periode tadi dengan sekarang, perhatian kaum muda pada agama sudah berkurang. Ada tiga faktor ditengarai menjadi penyebab. Pertama, selama perang sipil, Islam terlibat dalam konflik bersenjata. Ini jelas membawa efek negatif secara psikologi. Faktor kedua yakni kondisi sosial perekonomian saat ini yang kurang menggembirakan. Masyarakat pada akhirnya akan lebih berkonsentrasi bagaimana agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan mengakibatkan agama sedikit terabaikan.
  25. 25. Sedangkan faktor ketiga berhubungan dengan peran para tokoh dan cendekiawan Muslim. "Ketika umat tidak memiliki cendekiawan Muslim dan tokoh berpendidikan yang memahami perkembangan modern, maka akan sulitlah untuk memenuhi harapan kaum muda yang selalu ingin mengembangkan pemikiran keagamaan mereka," tutur Rahnamo. Meski begitu, bukan berarti pengajaran agama Islam di Tajikistan lantas meredup. Sebaliknya, berdasarkan hasil penelitiannya, Rahnamo melihat fenomena tumbuhnya pusat- pusat pembelajaran agama di beberapa wilayah. Disebutkan, antara lain di kawasan utara, tepatnya di kota Isfara, kini telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam. Demikian pula Mastchah. Sementara di tenggara, yakni kota Duchanbe, Kofarnikhon (Vahdat), Qarotegin, Fayzabad. Di selatan adalah kota Kulyab dan Kurgan-Tyube. Sebagian besar pusat-pusat pengajaran tersebut dilaksanakan secara tradisional. Pasang surut perkembangan Islam memiliki sejarah panjang di kawasan Asia Tengah, termasuk Tajikistan. Agama yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW ini, telah hadir di sana sejak abad ke-7 melalui para pedagang Arab. Sejak saat itulah, Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Asia Tengah. Saat ini, dari 6 juta penduduk Tajikistan, 90 persennya adalah Muslim. Dari jumlah itu, 85 persen merupakan Muslim Sunni dan tiga persen adalah Ismaili. Kebanyakan mereka tinggal di wilayah Gordo Badakhshan. Meski berbeda aliran, namun antara penganut Sunni dan Ismaili tidak pernah terjadi pertentangan. Keduanya hidup berdampingan secara damai serta kerap mengadakan kegiatan keagamaan bersama. Tercatat, ada sekitar 3.082 masjid di seantero Tajikistan. Jumlah ini belum terhitung dari masjid yang dikelola oleh muslim Ismaili. Penganut Kristen berjumlah 235 ribu jiwa yang berasal dari etnis Rusia dan imigran. Mereka sebagian besar adalah penganut Kristen Ortodok serta sejumlah kecil Kristen baptis, Katolik Roma, Advent, Protestan, Lutherian dan Saksi Jehovah. Di samping itu, masih ada pemeluk agama dan kepercayaan yang lain. Di antaranya Baha'is, Zoroaster, Hare Krishna, serta Yahudi. Aliran Islam Sunni mengawali pengaruhnya di Asia Tengah, termasuk penduduk Tajik, sejak 1.200 tahun lalu. Sedangkan dalam intensitas yang lebih kecil dan menjangkau masyarakat minoritas, pengaruh Ismaili juga menjejakkan langkah pada awal abad ke-10. Perkembangan Islam di negara ini pun mengalami pasang surut. Masa paling suram terjadi selama hampir tujuh dekade ketika rezim komunis Soviet menguasai sebagian besar wilayah Asia Tengah. Kampanye anti Islam mengemuka dari tahun 1920 hingga akhir 1930-an sebagai bagian propaganda anti agama secara keseluruhan. Saat itu, ribuan pemuka Muslim terbunuh dan kehidupan beragama diawasi dengan ketat oleh pemerintah. Namun setelah invasi Jerman ke Uni Soviet tahun 1941, kebijakan terhadap Islam menjadi lebih moderat. Salah satu perubahan itu yakni diaktifkannya lagi Dewan Muslim Asia Tengah setelah lembaga ini sebelumnya dibekukan oleh Kremlin. Pada awal tahun 60-an, rezim Nikita Khrushchev kembali meningkatkan eskalasi propaganda anti Islam.
  26. 26. Hal itu kemudian berlanjut hingga tahun 70 dan 80-an. Para pemimpin Kremlin silih berganti menyerukan perlunya pembaruan upaya untuk memerangi agama, khususnya Islam. Upaya tersebut meliputi; pengalihan fungsi masjid guna keperluan sekular, pemaksaan untuk meninggalkan identitas, tradisi dan cara pandang Islam, dan peningkatan propaganda bahwa Islam adalah agama terbelakang, percaya tahyul, dan identik dengan kebodohan. Serangan bersenjata terhadap umat Islam mulai merebak tahun 1979 seiring kampanye militer Soviet ke Afganistan serta munculnya gerakan perlawanan di sejumlah negara Asia Tengah. Konflik terus berlanjut hingga setelah runtuhnya rezim komunis Soviet. Akhir tahun 1989, rezim Gorbachev berusaha meningkatkan toleransi antar umat beragama. Kebijakan ini kontan disambut gembira oleh para penganut agama. Kegiatan religius pun meningkat. Sejumlah masjid baru dibuka. Para juru dakwah dapat memulai lagi aktivitasnya dan mulai menyebar ke seantero negeri. http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp? mid=5&id=170773&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=217 posted by O. Solihin | 12:34 PM | 0 comments Panggilan Jihad Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kalam suci menentukan ku berjuang Maju serentak membela kebenaran Demi agama, bangsa dan keadilan Panggilan Jihad kobarkan, panggilan Jihad kobarkan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Putra-putri Islam harapan agama, majulah serentak Gemakan persatuan kalam Tuhan Mari kita memuji, mari kita memuja Peganglah persatuan kalam Tuhan. Kalam suci menentukan ku berjuang Maju serentak membela kebenaran Untuk agama, bangsa dan keadilan Panggilan Jihad hidupkan, panggilan Jihad hidupkan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Pemuda-pemudi Islam bangunlah, panggilan Jihad rampungkan Wasiat Muhammad peganglah, harta dan jiwa serahkan Binalah persatuan, ciptakan perdamaian Menuju persatuan Kalam Tuhan, Mari kita memuji, mari kita memuja Genggamlah persatuan kalam Tuhan. Kalam Ilahi menuntut persatuan Perpecahan meruntuhkan kekuatan Pertikaian menguntungkan musuh Tuhan Hanya Iman Tauhid dapat menyatukan
  27. 27. Tuntutan agama menjadi tujuan Hukum Allah tegakkan, hukum Allah tegakkan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Ulama pemimpin Islam dengarlah, demi agama sadarlah Hentikan pertikaian, ciptakan perdamaian, Hentikan pertikaian, ciptakan perdamaian, Menuju persatuan kalam Tuhan. Teks syair: Buya Hamka posted by O. Solihin | 12:30 PM | 0 comments Dunia Islam Jumat, 13 Agustus 2004 Pemakaman Muslim Strasbourg Jadi Objek Vandalisme Penulis : fer/gulf daily news STRASBOURG -- Sebanyak 15 kuburan Muslim di pemakaman militer Cronenbourg, Strasbourg, Prancis, menjadi korban vandalisme. Ini terbukti dengan adanya tanda swastika yang digambar oleh orang yang tak dikenal. Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis, Dominique de Villepin, bulan-bulan terakhir ini memang telah terjadi peristiwa vandalisme terhadap 300 makam Muslim. Dan peristiwa mutakhir adalah vandalisme terhadap lima belas makam tersebut. ''Kami mengecam hal ini dan terus mengidentifikasi siapa pelakunya. Segala sumber daya telah dikerahkan untuk mengidentifikasi pelau tindakan tersebut, Kemudian kami pun akan melakukan tindakan terhadap mereka,'' kata Villepin. Sementara Abdellah Boussouf, imam Masjid Strasboug, mendesak pemerintah agar secara serius menangani masalah ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya tak berharap hanya pada kecamaan maupun solidaritas politik. Hal terpenting adalah hasil dari upaya pemerintah tersebut. ''Kami merasa bahwa selama ini Muslim Prancis merupakan warga nomor dua. Oleh karenanya, kami berharap pemerintah tak hanya mengecam namun dengan serius menangani masalah ini secara tuntas. Mestinya pemerintah tak melakukan hal yang tak adil pada kami,'' katanya. Tanda 'SS' dan swastika digambar dengan warna abu-abu dan biru pada wilayah makam Muslim di pemakaman tersebut. Di pemakaman tersebut terdapat 5.500 tentara Muslim yang merupakan korban perang dunia I dan II. Selain gambar terdapat pula tulisan 'HVE Junior'. Dengan adanya tanda ini, katanya, sebenarnya telah diketahui siapa pelakunya. HVE merupakan kepanjangan dari Heimattreue Vereinigung Elsass, sebuah kelompok neo-Nazi yang telah dilarang pada 1993. Bank Ritel Islam Pertama Hadir di Inggris
  28. 28. LONDON -- Tak lama lagi bank ritel Islam akan beroperasi di Inggris dan sejumlah negara Eropa. Kepastian ini muncul setelah Islamic House of Britain (IHB) memperoleh otorisasi dari Financial Service Authority, Inggris untuk mengoperasikan bank ritel Islam. Direktur IHB, Rahman Abdul Malak, menyatakan kegembiraannya karena dengan otorisasi tersebut membuat IHB menjadi pihak yang pertama kali mengembangkan bank ritel Islam di Inggris dan Eropa. Ia menyatakan bahwa bank yang nantinya berpusat di Brimingham ini, akan diluncurkan pada September 2004. Dengan membuka cabang pertama di London dan Brimingham. Tak lama kemudian, cabang selanjutnya akan diluncurkan di Leicester. Bank ritel ini akan beroperasi dengan nama Islamic Bank of Britain. Sementara Managing Director IHB, Michael Hanlon, menyatakan pihaknya kelak melayani para nasabah dengan layanan berbasis teknologi dan komptetitif, tentunya dengan menggunakan sistem syariah. Bank ini juga akan menawarkan beragam produknya, baik kartu debit, tabungan, maupun pembiayaan bagi nasabah. Ia menambahkan, bank Islam kini telah banyak dikembangkan di negara-negara Arab dan Asia. Keberadaan bank ritel Islam ini akan mampu melayani kebutuhan 1.8 juta muslim Inggris atau 13.8 juta muslim Eropa. Polisi Inggris Investigasi Pastor Rasis NORKFOLK -- Kepolisian Norkfolk, Inggris, melakukan investigasi terhadap Pastor Alan Clifford. Ini dilakukan karena pastor dari Norwich Reformed Church ini melontarkan pernyataan bahwa Islam merupakan agama iblis. Komentar pastor tersebut di sebuah stasiun televisi, selanjutnya memang mendapatkan reaksi keras dari sejumlah kalangan agama dan kelompok anti rasis. Unit Kejahatan Ras kepolisian Norkfolk tengah mengumpulkan informasi mengenai peristiwa tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa komentar Clifford akan merusak kohesivitas masyarakat di Norkfolk. Menurut Abraham Eshetu, seorang petugas di kepolisian Norkfolk, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan investigasi mengenai pernyataan Clifford. Sedangkan Clifford menyatakan pandangannya tentang Islam merupakan persetujuan dari pernyataan yang sebelumnya dilontarkan oleh pastor lainnya, Nick Griffin. Bahkan, kata Clifford, sejumlah kalangan gereja juga menyatakan bahwa tindakan kedua pastor tersebut tak termasuk dalam kejahatan rasis. http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp? mid=5&id=169573&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=217 posted by O. Solihin | 12:28 PM | 0 comments Catatan Kang Jalal Media Massa Dalam media massa dunia berganti nama manusia menjadi berhala derita menjadi berita
  29. 29. aurat menjadi kesenian maksiat menjadi klangenan hiburan menjadi kebijakan fitnah menjadi penerangan Lewat jendela kaca yang kecil tangis bayi terdengar nyaring asalkan ia menggeliat di bumi sebelah barat Senyum putri terlihat jelas asalkan ia bergaya keren dan kece lewat kamera CNN atau BBC Tidak pernah ada agama dengan ummat yang lebih fanatik dari pengikut media massa Tidak pernah ada khotbah yang didengar lebih khusyuk dari acara media massa Tidak pernah ada ciptaan manusia yang dipuji dan dicerca yang diserang dan dibela seperti media massa Jakarta, 18 September 1997 Jalaluddin Rakhmat ----------------------------------------------- Al-Qur'an yang Berjalan Musa mendekati cahaya di puncak Sinai Ia rebah gemetar di depan api unggun Ia melemparkan tongkat dan Tuhan mengubahnya menjadi ular Ia menjulurkan tangannya dan Tuhan menjadikannya putih bersih Dengan tangan yang bersih ia menghentakkan tongkatnya di depan Fir'aun mengubah tukang sihir menjadi pecinta Tuhan membelah laut untuk membebaskan kaum tertindas dan menenggelamkan para tiran ke dasar lautan
  30. 30. Muhammad naik ke puncak bukit Nur Jibril datang membawa perintah Tuhan Muhammad rebah gemetar tenggelam dalam lautan cahaya Alam semesta bersaksi bahwa dia utusan Tuhan Suaranya bergema di bukit-bukit dan lembah Makkah Tahukah kamu orang yang mendustakan agama Dialah itu yang mengabaikan anak yatim Dan tidak berupaya memberi makan orang miskin Suaranya, tubuhnya, dan jiwanya menjadi Al-Qur'an Al-Qur'an yang berjalan ini mengubah para perompak menjadi penegak kebenaran budak-budak rendah menjadi pahlawan keadilan ia mengganti kepongahan dengan kerendahan hati rasa rendah diri dengan keluhuran budi Maka gembala-gembala unta di sahara bangkit menaklukkan dunia para tiran berjatuhan, penindas terhempas, dan suara rakyat menjadi suara Tuhan Apakah tangan para pejuang Muslim masih putih bersih sehingga berhak menggenggam tongkat Musa? Adakah penerus Al-Qur'an yang berjalan sehingga mampu menjatuhkan tiran dengan suara Tuhan? Jalaluddin Rakhmat -------------------------------------------------- Doa Hari Selasa Aku berlindung pada Allah dari kejahatan diriku sungguh nafsu menyuruh buruk kecuali yang disayangi Tuhanku Aku berlindung pada Allah dari kejahatan setan yang menambah dosa-dosaku Aku berlindung pada Allah dari semua tiran yang durhaka dari semua penguasa yang kejam dari semua musuh yang dominan
  31. 31. Ya Allah Jadikan aku di antara pasukan-Mu karena pasukan-Mu saja yang beroleh kemenangan Jadikan aku di antara kekasih-kekasih-Mu karena kekasih-Mu saja yang tidak mendapat kecemasan dan kesedihan Ya Allah Baikkan agamaku, karena itulah sandaran urusanku Baikkan akhiratku, karena itulah kampung kembaliku tempat lari menjauhi kejahatanku Jadikan kehidupan tempat menambah kebaikan Jadikan kematian tempat istirahat dari kejelekan Ya Allah Limpahkan sejahtera pada Muhammad penutup dan penyempurna para utusan kepada keluarganya yang baik dan suci kepada para sahabatnya yang pilihan (Dikutip dari buku Rintihan Suci Ahli Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat, Rosda 1988) posted by O. Solihin | 12:16 PM | 0 comments [Resonansi] Faktor Raam Sabtu, 21 Agustus 2004 Faktor Raam Oleh : Ade Armando Film Buruan Cium Gue (BCG) diprotes dan diminta ditarik dari peredaran. Sebagian pihak menganggap ini sebagai pertanda menguatnya konservatisme cara beragama di Indonesia. Memang, ada kesan bahwa keberatan datang terutama dari kalangan beragama. Yang datang ke LSF, mendatangi Kementerian Budaya dan Pariwisata, serta melakukan kampanye ''boikot BCG'' adalah Aa Gym bersama rombongan yang di dalamnya ada beberapa artis berjilbab. Begitu pula Majelis Ulama Indonesia, beberapa rohaniawan Kristen dan Katolik, bersuara. Pernyataan-pernyataan Aa Gym sendiri memang tampak ''menakutkan''. Ia misalnya menyamakan ''cium'' sebagai ajakan zina. Dalam pandangan saya, menafsirkan gerakan protes itu sebagai bentuk ketertutupan berpikir adalah salah besar. Kalau kita melihat perkembangan film nasional, justru tampak kebebasan berekspresi ditoleransi di negara ini. Misalnya ada film Arisan yang mengandung muatan tema kontroversial seperti homoseksualitas di masyarakat
  32. 32. kota. Dalam film populer seperti Ada Apa dengan Cinta (AADC) dan Novel Tanpa Huruf R (NTHR), ditampilkan karakter dengan latar belakang komunis. Bahkan NTHR, untuk derajat tertentu, menggugat Tuhan. Film-film itu sepi protes. Begitu juga ciuman. Film remaja AADC dan Eifel I'm in Love menampilkan adegan ciuman antarremaja. Ini bukannya tidak sempat diributkan. Namun masyarakat menoleransi itu, mengingat kewajaran konteks di mana adegan itu dihadirkan. Dengan kata lain, masyarakat menghormati ruang gerak para sineas selama kebebasan berekspresi itu dituangkan dalam produk kreatif yang tidak secara provokatif melecehkan tatanan nilai yang dipercaya. Kondisi saling menghormati semacam itu sebenarnya merupakan lahan subur bagi tumbuhnya produk-produk budaya populer nasional yang mencerahkan. Para sineas dengan leluasa mengekspresikan ide-ide kreatif yang berkualitas, sementara masyarakat dengan rasa hormat mendatangi gedung bioskop, atau membeli VCD original, untuk menyaksikan, menikmati, dan belajar dari karya- karya yang dilahirkan seniman Indonesia. Masyarakat beragama Indonesia sudah menunjukkan bukti bahwa mereka dengan senang hati terlibat dalam proses itu. Celakanya, selalu saja ada orang semacam Raam Punjabi dengan Multivision-nya yang berpotensi menghancurkan masa depan cerah ini. BCG adalah film buruk, bukan saja karena secara teknis film itu memang seutuhnya buruk, namun juga karena ia dengan begitu saja menghancurkan kredibilitas film nasional yang sedang dibangun dengan susah payah. BCG menjadi semacam bukti yang meneguhkan proposisi bahwa bila pembuat film dibiarkan bebas, ia akan memanfaatkan kebebasan itu untuk mengeksploitasi selera rendah manusia. BCG justru menjadi mesiu bagi mereka yang berkeras bahwa kebebasan akan membawa mudharat bukan manfaat. BCG meruntuhkan kepercayaan bahwa sineas memiliki dan mendengarkan hati nurani. Jangan salah sangka. Raam bukanlah jenis manusia yang dengan sengaja ingin menghancurkan Indonesia. Dia sekadar pedagang yang tak mengenal etika. Buat Raam, yang terpenting adalah ''dapat untung banyak''. Jangan bicara soal tanggung jawab artistik, apalagi tanggung jawab sosial. Karena, bagi pedagang sejenis Raam, pada akhirnya yang menentukan kebahagiaan di dunia ini adalah uang. Kalau untuk meraih keuntungan, Indonesia terpaksa dikorbankan, ya apa boleh buat. Dengan kata lain, kalau pada konteks tertentu, yang akan menguntungkan secara finansial adalah sinetron agama yang dibintangi Siti Nurhaliza, yang bersih dari seks, kata-kata kotor, atau pameran kemewahan; Raam tidak akan sungkan memproduksi sinetron sejenis itu. Hanya saja, saat ini yang rupanya tebersit di pikiran adalah gagasan dangkal untuk mengeksploitasi ciuman. Kebetulan pula, ada sutradara, ada produser, ada penulis skenario, ada deretan pemain yang punya cara berpikir yang sama dangkalnya. Jadilah BCG.
  33. 33. Protes terhadap BCG selayaknya dipahami secara proporsional. Yang agak menyedihkan sikap keras itu secara terbuka sejauh ini baru ditunjukkan terutama oleh kalangan agama. Padahal, BCG adalah produk yang sebenarnya menghina bukan saja kesusilaan dan asas kepantasan, namun juga akal sehat, selera beradab, kesenian, dan film nasional.[] http://republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=170117&kat_id=19 posted by O. Solihin | 12:00 PM | 0 comments Kasih Sayang Kata Nabi: “Man la yarham la yurham”. Siapa yang tidak menyayangi, ia tak akan disayangi. Rasa kasih sayang itu merupakan suatu perwujudan dari naluri mempertahankan jenis, yang juga adalah energi yang mampu menciptakan manusia menjadi seorang yang berhati lembut dan mengutamakan sesuatu yang dicintainya. Berkorban adalah salah satu bukti kecintaannya. Dalam sebuah riwayat, “Seorang perempuan miskin datang menemuiku,” kata Aisyah r.a., “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda: “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak- anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmudzi). Karena itu, Islam sebagai agama yang membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’ , mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur’an, memelihara kasih sayang dalam keluarga merupakan perintah yang sangat ditekankan: “Bertakwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (QS. Annisa:1). Namun, akhir-akhir ini rasa kasih sayang ibarat barang mahal yang sulit dicari. Sampai-sampai, rasa sayang orangtua kepada anaknya sudah mulai pudar dikikis persoalan-persoalan karir dan bisnis. Sehingga anak tumbuh dalam keadaan tanpa kasih sayang. Anak hanya dimanja dengan uang dan cukup dititipkan kepada pengasuh anak yang notabene sangat berbeda dalam mengkomunikasikan rasa kasih sayang ibu kepada anak kandungnya. Mengelupasnya rasa kasih sayang orangtua kepada anaknya, yang secara tidak langsung telah mengantarkan anak belajar sendiri tentang kehidupannya. Lepas kontrol dan cenderung destruktif. Sehingga wajar bila akhirnya kita bisa menyaksikan anak-anak yang cenderung tak mau diatur oleh orang tuanya sendiri. Bergaul dengan teman-teman sesama
  34. 34. pengguna narkotika, seks bebas dan perilaku-perilaku tak layak lainnya. Tak berlebihan jika kemudian dicap sebagai generasi amburadul. Kasih sayang yang berhasil diwujudkan oleh Rasulullah SAW. adalah mengubah kondisi masyarakat yang amburadul menjadi masyarakat yang beradab. Masyarakat yang dibalut dengan rasa kasih sayang yang berhasil tercipta dari proses keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Islam datang dengan serangkaian aturan yang menyelamatkan manusia dari keterpurukan kondisi jahiliyah. Kasih sayang Islam untuk manusia sangat besar pengaruhnya. Mengubah manusia durhaka menjadi ahli ibadah, membawa manusia sombong menjadi tawadhu. Dalam Al Qur’an Allah SWT. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”. (QS. Yunus: 44) [O. Solihin] 9 Februari 1999 posted by O. Solihin | 10:56 AM | 0 comments MONDAY, AUGUST 30, 2004 Islam Memuliakan Wanita Rasulullah SAW. membuat empat garis seraya berkata: “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi SAW. lalu bersabda: “Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imron, dan Asiyah binti Mazahi.” (Mustadrak Ash Shahihain 2:497). Sabda Rasulullah SAW. yang lain: “Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum wanita.” (H.R. Muslim). Itulah sebagai tanda cinta Islam kepada wanita. Islam memuliakan wanita, dan menempatkannya dalam kedudukan yang terhormat. Kita tahu, bahwa wanita itu makhluk yang lemah dan rentan terhadap tindak kejahatan. Pelecehan seksual kerap mendera kaum wanita. Namun kita juga sering dibuat aneh dengan sikap wanita di jaman sekarang ini. Berlindung di balik kedok emansipasi, kaum wanita malah membuat peluang untuk dilecehkan. Karena menginginkan peran ganda dalam kehidupannya dan ingin bersaing dengan laki- laki, akhirnya mereka sendiri yang kedodoran menahan gempuran pelecehan seksual yang jelas membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya. Dalam masyarakat kapitalis, wanita sudah dijadikan komoditas yang diperjual- belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah dan dieksploitasi untuk menjual barang. Dan ini telah banyak memakan korban dan merendahkan martabat wanita yang dalam Islam sangat dihormati. Wal hasil, emansipasi yang sebenarnya mengangkat wanita dari perbudakan dan dominasi kaum pria, malah membuatnya semakin amburadul.
  35. 35. Islam sangat menjunjung kehormatan dan kesucian kaum wanita. Terbukti, suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria—terletak antara wilayah Irak dan Syam—berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan itu ternyata “terdengar” oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, “kepala” pasukan sudah berada di Amuria sedangkan “ekornya” berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan. Kondisi itu sangat berbeda dengan sekarang, selain memang sistemnya tidak mendukung untuk memuliakan wanita, wanitanya sendiri malah memberi peluang pria untuk mengotori kesucian dan meruntuhkan kehormatannya. Jutaan wanita yang masih betah mengumbar auratnya ketika keluar rumah. Yang secara fakta memang menjadi faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual. Kita bisa mengambil hikmah dari perlakuan Islam terhadap kaum wanita ini. Lapangan pekerjaan wanita yang banyak di rumah, bukan berarti Islam mengucilkan dan merendahkan wanita, tapi justru memuliakannya. Bekerja di luar rumah bukan berarti tidak boleh. Mubah saja selama jenis pekerjaannya sesuai kodrat dan tidak membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya. Namun, bila jenis pekerjaannya kemudian menuntut perannya yang besar hingga melupakan kewajiban rumah tangganya, maka tentu saja tidak dibenarkan. Apalagi sampai mengancam kesucian dan merendahkan kehormatannya sebagai wanita. Dengan demikian, memang hanya dengan bercermin kepada Islam semuanya akan beres, dan kaum wanita bisa meneladani pribadi-pribadi wanita terhormat dalam hadits di atas. Dan tentu saja hanya dengan penerapan Islam sebagai aqidah dan syariat dalam mengatur kehidupan yang bakal menuntaskan berbagai problem masyarakat saat ini. [O. Solihin] 12 April 2000 posted by O. Solihin | 10:55 AM | 0 comments Berani Mengubah Diri “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah: 20) Pengertian hijrah adalah muhafazhan ‘aladdin (memelihara agama). Rasulullah saw, dan para sahabat di masa lalu pernah melakukan hijrah ketika Mekkah tak lagi menjanjikan kemaslahatan. Dan ketika hidup tak punya pilihan lain kecuali meninggalkan kota tersebut. Rasulullah dan para sahabat melakukan ‘eksodus’ keluar Mekkah semata-mata adalah untuk menyelamatkan diri dan juga aqidah
  36. 36. islam yang sudah tertanam kuat dalam keyakinan. Sementara para sahabat yang memang hidup dengan kaumnya yang tidak mengganggu baik keselamatan jiwa maupun aqidahnya, memilih diam di tempat. Hijrah di masa lalu yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat adalah meninggalkan negeri tersebut demi menyelamatkan aqidah islam. Persoalannnya sekarang, apakah hijrah masih tetap berlaku? Jawabannya masih. Karena definisi dari hijrah adalah muhafazhan ‘aladdin (memelihara agama). Di tengah maraknya budaya dan gaya hidup yang amburadul, tentu saja dituntut kejelian kita dalam mensikapinya. Di negeri ini memang kita dibiarkan bebas untuk beragama atau tidak, tidak pernah diganggu dan tidak ada ancaman ketika kita menjalankan ajaran agama kita. Persoalan yang kemudian muncul adalah kita dihadapkan pada permasalahan penyesatan aqidah. Bagaimana tidak, di satu sisi kita bebas menjalankan ajaran agama kita, tapi bersamaan dengan itu marak pula sarana-sarana yang bisa menyesatkan aqidah kita. Diskotik, bursa seks, minuman keras, narkoba, perjudian dan bentuk penyesatan aqidah lainnya marak dan nyaris tak tersentuh hukum. Dalam kondisi seperti ini, tentu bila kita tak mampu untuk membendungnya, tak ada pilihan lain kecuali hijrah. Untuk kasus seperti ini, tentu hijrah yang kita lakukan adalah berusaha untuk tidak bersentuhan dengan tempat atau perbuatan tersebut. Bila itu terjadi di tempat kita bekerja, misalnya, dan kita mampu untuk membendung dan mengubahnya, tentu yang utama adalah tetap tinggal di tempat tersebut. Tetapi bila yang terjadi adalah kebalikannya, maka sudah sepantasnya kita berhijrah dan meninggalkan tempat atau aktivitas yang bisa merusak aqidah kita. Perbuatan-perbuatan yang bisa merusak aqidah harus segera kita tinggalkan, menjauhi teman atau lingkungan yang bisa membawa kita ke dalam penyesatan aqidah adalah langkah bijaksana. Dan, bila msalah itu berkaitan dengan yang kita perbuat, maka ketika kita sadar dengan kesalahan yang selama ini kita lakukan, langkah selanjutnya kita harus berani mengambil keputusan untuk mengubah diri. Dalam berhijrah (dari kegelapan menuju cahaya), juga dituntut pengorbanan kita. Rasulullah dan para sahabat ketika terpaksa harus meninggalkan Mekkah, mereka meninggalkan orang-orang yang dicintai, rumah dan harta benda lainnya demi menyelamatkan aqidahnya. Sa’ad bin Abi Waqash dengan berat hati harus berpisah dengan ibunya yang tetap menginginkan dia kembali ke ajaran syirik nenek moyangnya. Begitu pula Mushab bin Umair yang ikhlas meninggalkan kemewahan hidup sebagai anak bangsawan untuk menyelamatkan aqidahnya ketika orangtuanya tetap menginginkan Mushab dalam kesyirikan. Tentu saja, pengorbanan para sahabat dalam berhijrah untuk menyelamatkan aqidahnya tidak akan sia-sia. Bahkan sebaliknya, orang yang lebih rela menanggalkan aqidahnya ketimbang mengorbankan harta bendanya diancam oleh Allah dalam sebuah firman-Nya: “Orang-orang itu tempatnya di neraka jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An Nissa:
  37. 37. 97) [O. Solihin] 12 April 2000 posted by O. Solihin | 10:53 AM | 0 comments Dunia Islam Jumat, 13 Agustus 2004 Pemakaman Muslim Strasbourg Jadi Objek Vandalisme Penulis : fer/gulf daily news STRASBOURG -- Sebanyak 15 kuburan Muslim di pemakaman militer Cronenbourg, Strasbourg, Prancis, menjadi korban vandalisme. Ini terbukti dengan adanya tanda swastika yang digambar oleh orang yang tak dikenal. Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis, Dominique de Villepin, bulan-bulan terakhir ini memang telah terjadi peristiwa vandalisme terhadap 300 makam Muslim. Dan peristiwa mutakhir adalah vandalisme terhadap lima belas makam tersebut. ''Kami mengecam hal ini dan terus mengidentifikasi siapa pelakunya. Segala sumber daya telah dikerahkan untuk mengidentifikasi p posted by O. Solihin | 10:30 AM | 0 comments SUNDAY, AUGUST 29, 2004 Harta dan Kekayaan Siapa pun orangnya, bila berbicara tentang harta pasti menyenangkan. Tentu saja, karena harta dan kekayaan adalah salah satu dari perhiasan dunia. Sehingga tak heran bila kemudian manusia berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Tak sedikit pula yang kemudian mengumpulkannya sebagai bekal di masa depan. Hanya saja, kadangkala kita tidak memperhatikan dari mana harta dan kekayaan yang kita raih, lalu kita pun kemudian tak mempedulikan aturan main ketika mengelola harta, bahkan cenderung mengabaikan norma-norma agama. Tentu saja ini adalah merupakan fenomena yang memprihatinkan. Rasulullah bersabda: “Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.” (HR. Bukhari). Sebagai seorang muslim, tentu saja kita wajib terikat dengan hukum syara’. Apakah perbuatan yang kita lakukan itu sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasulullah saw ataukah malah bertolak belakang? Termasuk dalam urusan mendapatkan harta dan kekayaan. Pastikan bahwa apa yang kita dapatkan dan miliki itu halal. Dengan kata lain, bukan hasil mencuri, juga bukan hasil korupsi, atau memakan harta rakyat (seperti dana JPS, misalnya). Semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT nanti, karena segala yang kita lakukan—meski luput dari perhatian manusia—Allah pasti melihatnya. Firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS: Al Isra’: 36).
  38. 38. Sabda Rasulullah saw: “Orang yang paling dirundung penyesalan pada hari kiamat ialah orang yang memperoleh harta dari sumber yang tidak halal lalu menyebabkannya masuk neraka.” (HR. Bukhari). Ini adalah peringatan bagi kita untuk tidak memiliki harta dan kekayaan dari sumber yang haram. Dalam kehidupan yang cenderung menghalalkan segala cara dan terkesan meremehkan dosa ini, tak mustahil banyak celah untuk mendapatkan harta dari sumber yang haram. Kehidupan yang bebas nilai seperti sekarang ini memang telah mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang liar. Lepas dari kendali ajaran agama. Tentu saja ini adalah awal dari sebuah kehancuran kehidupan masyarakat. Islam sangat ‘cerewet’ dalam urusan harta dan kekayaan ini. Tidak saja harus didapat dari sumber yang halal, tapi juga mengelola dan membelanjakannya juga kepada yang halal. Jadi, diperhatikan depan dan belakangnya. Didapat dari mana dan dibelanjakan (dikelola) untuk apa. Tentu, semuanya wajib halal. Imam Bukhari meriwayatkan hadits Rasulullah yang berbunyi: “Sesungguhnya orang- orang yang mengelola harta dengan tidak benar, maka bagi mereka api neraka pada hari kiamat.” Naudzu billahi mindzalik! Dengan demikian kita dilarang oleh Allah SWT untuk mengelola atau mengembangkan harta dalam bisnis minuman keras, mengedarkan narkoba, pelacuran, dan berbagai macam bisnis yang bertentang dengan ajaran Islam, termasuk membiayai para provokator yang mengusik ketentraman kehidupan masyarakat. Ya, tidak saja harta yang dikembangkannya menjadi haram, tapi juga telah berdosa karena menebar bencana di tengah-tengah masyarakat. Sabda Rasulullah saw: “Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari (jalan) yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah, maka tidak akan diterima oleh Allah, dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka.” (HR. Abu Dawud). Wallahu’alam bish showwab [O. Solihin] 2 Februari 2000 posted by O. Solihin | 10:51 AM | 0 comments

×