Kreatifitas

7,273 views
7,127 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,273
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
199
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kreatifitas

  1. 1. IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN BAKAT DAN KREATIVITASDari berbagai alasan yg dikemukakan untuk mengukur bakat kreatif, 5 alasan paling penting untukmenemukenali bakat kreatif :1. PENGAYAAN Tujuan utama tes kreatif adalah untuk mengidentifikasikan bakat kreatif anak. Keberbakatan diartikan sebagai mempunyai Intelegensi (IQ) tinggi dan tes intelengesi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasi anak berbakat intelektual. Anak berbakat intelektual diizinkan loncat kelas atau masuk kelas khusus (advanced placement class) yg menuntut mereka harus bekerja lebih banyak dan lebih keras. Kesamaan antara Intelegensi dan talenta khusus adalah apa yg disebut precocity (keadaan cepat menjadi matang). Precocity belum tentu berarti mencapai produktivitas yg orisinil. Kapasitas terakhir ini disebut prodigiousness. Child prodigy adalah yg prestasinya begitu luar biasa dan langka sehingga menakjubkan. Sebagai contoh adalah Mozzart yg sebagai anak-anak sudah mampu mengubah simfoni yg sampai sekarang masih sering dimainkan di orkes. Anak prodigy tanpa kecuali pasti kreatif, sementara ahli matematika yg prodigious belum tentu kreatif. Sebaliknya anak prodigious belum tentu IQ nya tinggi.2. REMEDIASI Alasan kedua untuk melakukan pengukuran adalah untuk menemukenali mereka yg kemampuan kreatifnya sangat rendah. Karena bermacam-macam sebab, anak-anak berbakat ini sangat miskin dalam imajinasi. Padahal imajinasi sangat penting untuk pemecahan masalah. Program remedial dalam kreativitas masih sangat langka, bahkan di Indonesia rasanya belum ada. Salah satu sebab karena kita kurang mengetahui bagaimana melakukan hal ini.3. BIMBINGAN KEJURUAN Penggunaan tes kreativitas untuk membantu siswa memilih jurusan pendidikan dan karier masih pada tahap awal. Meskipun demikian informasi mengenai kemampuan ini berguna dalam menyarankan siswa mengikuti pendidikan dan kejuruan yg memuntut kemampuan kreatif.4. EVALUASI PENDIDIKAN Pendidik sering mengalami kesulitan untuk memutuskan apakah sekolah akan menggunakan program pengembangan kreativitas. Mereka khawatir hal itu dapat menyebabkan menurunya prestasi belajar siswa. Sayangnya kurangnya evaluasi hasil pendidikan menyulitkan untuk menentukan apakah programnya efektif atau tidak.5. POLA PERKEMBANGAN KREATIF Pakar psikologi tertarik untuk mengetahui pola perkembangan kreativitas karena 2 alasan, yg pertama mereka ingin mengetahui bagaimana pertumbuhan dan penurunan kreativitas pada macam-macam tipe orang, dan kedua mereka ingin mengetahui apakah ada masa puncak dimana kreativitas sebaiknya dilatih.TUJUAN PENGGUNAAN TES KREATIVITAS• IDENTIFIKASI ANAK BERBAKAT KREATIF Dalam seleksi siswa kreatif untuk mendapat tingkat kepercayaan yg tinggi, sebaiknya menggunakan dua sumber untuk mengukur kreativitas. Misalnya dengan tes kreativitas tapi juga dengan penilaian dari guru mengenai tingakt kreativitas anak• PENELITIAN Penelitian membantu kita memahami perkembangan kreativitas. Tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan dgn 2 cara, pertama untuk mengidentifikasi orang2 kreatif dan membandingkan mereka dengan orang2 biasa, kedua, tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan untuk menilai dampak pelatihan kreativitas terhadap kekreatifan peserta.• KONSELING
  2. 2. Tes kreativitas dapat juga digunakan untuk bimbingan dan konseling siswa. Konselor atau psikolog sekolah di sekolah dasar dan menengah memerlukan informasi mengenai seorang siswa yg dikirim karena siakpnyayg apatis, tidak kooperatif, berprestasi kurang, atau karena ada masalah lain.CONTOH TES KREATIVITAS 1. Apakah ada hukum negara yang melarang seorang laki-laki untuk menikahi saudara perempuan dari jandanya yang di tinggal mati ? 2. Jika anda bangun jam 8 malam dan mengatur alarm untuk membangunkan anda pada jam 9 pagi, berapa jam yang kamu punya untuk waktu tidur ? 3. Jika kamu mempunyai sebatang korek api dan memasuki ruangan dingin dengan sebuah petromaks, sebuah lampu minyak dan satu perapian, manakah yang akan kamu nyalakan pertama kali untuk mendapatkan panas yang maksimum ? 4. Berapa banyak binatang dari setiap spesies yang dibawa Musa dalam bahteranya ketika terjadi Bah besar ? 5. Sesuai dengan hukum Internasional, jika ada pesawat terbang yang jatuh pada garis batas yang tegas di antara dua negara, apakah korban selamat yang tidak teridentifikasi dapat dikubur di negara tujuan penerbangan atau di negara asal penerbangan ? 6. Jika anda mengikuti lomba lari dan menyalip pelari di posisi terakhir, berada pada posisi berapakah anda saat itu ? 7. Tuliskan angka ganjil dari 0 antara 10 !
  3. 3. PENGUKURAN KREATIVITAS Kreativitas atau bakat kreatif dapat diukur secara langsung dan tidak langsung, dan dapatmenggunakan metode tes dan non-tes. Ada pula alat untuk mengukur ciri-ciri kepribadian kreatif,dan dapat dilakukan pengamatan langsung terhadap kinerja kreatif.Sesuai dengan definisi USOE (US Office of Education) yang membedakan enam jenis bakatdikembangkan alat identifikasi untuk masing-masing bidang tertentu.1. Untuk mengukur kemampuan intelektual umum, tes individual lebih cermat, tetapi lebih banyak memakan waktu dan biaya. Yang sudah dugunakan di Indonesia adalah tes Stanford- Binet dan Wechsler intelligence Scale for Children. Tes inteligensi kelompok lebih efisien dalam ukuran waktu dan biaya. Keterbatasannya adalah kita tidak tahu apakah prestasi anak sudah optimal. Di Indonesia yang sudah banyak digunakan adalah tes Progressive Matrices, Culture- Fair Intelligence Test dan Tes Inteligensi Kolektif Indonesia yang khusus dikontruksi untuk Indonesia.2. Tes Potensi Akademik (TPA) yang khusus dirancang untuk Indonesia, dapat digunakan untuk mengukur bakat akademik, misalnya sejah mana seseorang mampu mengikuti pendidikan tersier.3. Tes untuk mengukur bakat kepemimpinan belum banyak digunakan di Indonesia, demikian pula tes untuk mengukur bakat dalam salah satu bidang seni atau bakat psikomotorik. Tes luar negeri yang mengukur kreativitas adalah tes dari Guilford yang mengukur kemampuan berpikir divergen, dengan membedakan aspek kelancaran, kelenturan, orisionalitas dan kerincian dalam berpikir.4. Tes Torrance untuk mengukur berpikir kreatif (Torrance Test of Creative Thinking) dapat digunakan mulai usia prasekolah sampai tamat sekolah menengah, mempunyai bentuk verbal dan figural. Tes ini telah digunakan di Indonesia untuk tujuan penelitian. Tes lainnya untuk mengukur berpikir kreatif dan termasuk baru ialah Tes Berpikir Kreatif-Produksi Menggambar (Test for Creative Thinking-Drawing Production) dari Jellen dan Urban (1985). Penilaiannya mencakup sembilan dimensi.5. Tes yang khusus di konstruksi di Indonesia ialah Tes Kreativitas Verbal (Utami Munandar, 1977). Tes ini disusun berdasarkan model Struktur Intelekdari Guilford, dengan dimensi operasi berpikir divergen, dimensi konten, dimensi berpikir verbal, dan berbeda dalam dimensi produk. Untuk setiap kategori produk ada satu sub-tes. Ada enam sub-tes, yaitu permulaan kata, menyusun kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang sama, macam-macam penggunaan, dan apa akibatnya. Setiap sub-tes terdiri dari empat butir. Pada bentuk parallel (ada dua bentuk) hanya dua butir. Tes ini seperti tes Guilford: mengukur kelancaran, kelenturan, orisionalitas, dan elaborasi dalam berpikir. Tahun 1986 telah dilakukan penelitian pembakuan TK yang menghasilkan nilai baku untuk umur 10 – 18 tahun, dan pengukuran “Creative Questient”.6. Tes Kreativitas Figural diadaptasi dari Torrance “Circles Test”, dan dibukukan untuk umur 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. TKF kecuali mengukur aspek kreativitas tersebut di muka, juga mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk kombinasi antara unsur-unsur yang diberikan. Skala Sikap Kreatif yang juga khusus disusun di Indonesia mengukur dimensi efektif darikreativitas, yaitu sikap kreatif, yang dioperalisasi dalam tujuh dimensi. Skala ini disusun untuk anakSD dan SMP. Skala Penilaian Anak Berbakat oleh Guru disusun oleh Renzulli dan terdiri dari empatsub-skala, yaitu untuk mengukur fungsi kognitif (belajar), motivasi, kreativitas dan kepemimpinan.Sub-skala untuk kreativitas meliputi 10 butir untuk dinilai guru. Akibat kesulitan dalam menggunakanalat dari Renzulli, maka disusun Alat Sederhana untuk Identifikasi Kreativitas, dengan format untukSekolah Dasar dan format untuk Sekolah Menengah. Disinilah dimensi kreativitas digabungkandengan dimensi lain dari keberbakatan. Skala Nominasi Keberbakatan yang dapat digunakan olehguru, teman sebaya, dan diri sendiri dikembangkan oleh Lydia Freyani Akbar untuk siswa SD. Ketigaskala tersebut ternyata mempunyai hubungan yang bermakan dengan pengubah keberbakatan.
  4. 4. Sama dengan inteligensi, pengukuran kreativitas bisa diobyektifkan. Yaitu denganmemberikan suatu hal (misalnya: pinsil) untuk merangsang pemikiran manfaat dari benda tsb.(misalnya: untuk menulis, menggambar, mengorek, menggaris, melempar, batas halaman buku,mencungkil, dsb). Makin banyak alternatif yang bisa dikembangkan, makin tinggi skornya, yang jugaberarti makin kreatif. Skor kreativitas itu dinamakan CQ (creative quotient), yang diperoleh jugadengan cara membandingkan prestasi seseorang dengan kelompok sebayanya. Pencarian pengukuran proses kreatif, pemikiran primer didapat menggunakan deretanpemikiran divergent. Pada satu waktu, antara peneliti dan pembelajar menggunakan tes proseskreatif untuk beberapa decade, dan tes pemikiran divergent menjadi popular mengukur dari prosesdan potensial kreatif. Tes pemikiran divergent meminta individu untuk menghasilkan beberapa respon tepatkhusus, perbedaannya jelas menstandarisasi tes prestasi atau kemampuan membutuhkan satujawaban yang benar. Diantara tes pemikiran divergent pertama yang dikeluarkan oleh Guilford(1967): Structure Of The Intellect (SOI), & Torrance’s (1962, 1974): Test Of Creative Thinking(TTCT). Hampir semua dari tes-tes ini digunakan secara luas dalam penelitian dan pelajarankreatifitas. The SOI test, terdiri dari beberapa tes yang subjeknya diminta menunjukkan fakta-faktabeberapa hasil area yang berbeda. Tes SOI ini mempresentasikan beberapa aspek dari (1)ketepatan, (2) kelenturan, (3) keaslian, (4) Inovasi ide terdahulu. Getzels dan Jackson (1962) and Wallach dan kogan (1965) mengembangkan deretanpemikiran divergent yang hampir sama dengan SOI tes. Sebagai contoh, THE INSTANCES TEST: askstudent lists as many things that move on wheels (Wallach dan Kogan, 1965) di variasi daripenggunan tes student memberikan respon yang tepat “ceritakan pada saya cara berbedapenggunaan kursi”. Tes lainnya dari deretan tes kreatif memasukkan asosiasi kata, melekatkanangka atau bilangan, penyelesaian cerita, problem bangunan tugas-tugas dan interpretasi susunangambar dan warna, dan interpretasi bermacam masalah. (Sternberg, J.Robert, 1999, Handbook ofCreativity, Cambridge University Press, United State of America)CONTOH - CONTOH ALAT UKUR KREATIVITAS Tes yang mengukur kreatifitas secara langsung, sejumlah tes kreatifitas telah disusun,diantaranya tes dari Torrance untuk mengukur pemikiran kreatif (Torrance Test of CreativeThingking : TTCT) yang mempunyai bentuk verbal dan bentuk figural. Yang terakhir sudah ada yangdiadaptasi untuk Indonesia, yaitu tes lingkaran (circles test) dari Torrance. Tes ini pertama kalidigunakan di Indonesia oleh Utami Munandar (1977) dalam penelitian untuk disertasinya Creativityand Education, guna membandingkan ukuran kreativitas verbal dengan ukuran kreativitas figural.Kemudian tahun 1988 Jurusan Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesiamelakukan penelitian standarisasi tes lingkaran, dan tes ini kemudian disebut tes kreatifitas figural.Ditentukan nilai baku untuk usia 10 sampai dengan 18 tahun. Tahun 1977 diperkenankan teskreatifitas pertama yang khusus dikonstruksikan untuk Indonesia, yaitu Tes Kreatifitas Verbal olehUtami Munandar, berdasarkan konstruk Model Struktur Intelek dari Guilford. Tes yang mengukur Unsur-unsur kreatifitas, Kreatifitas merupakan suatu konstruk yang multi-dimensional, terdiri dari berbagai dimensi, yaitu dimensi kognitif (berfikir kreatif), dimensi afektif(sikap dan kepribadian), dan dimensi psikomotor (keterampilan kreatif). Masing-masing dimensimeliputi berbagai kategori, seperti misalnya dimensi kognitif dari kreatifitas-berfikir divergen-mencakup antara lain, kelancaran, kelenturan dan orisinilitas dalam berfikir, kemampuan untukmerinci (elaborasi) dan lain-lain. Untuk masing-masing unsur dikonstruksi tes tersendiri, misalnyauntuk orisinalitas. Beberapa contoh tes yang mengukur orisinalitas adalah : tes menulis cerita. Tespenggunaan batu bata yang meminta subjek untuk memikirkan berbagai macam penggunaan yangtidak lazim untuk batu bata, tes purdue yang biasanya digunakan dikawasan industry jugameminta subjek untuk memberi macam-macam gagasan untuk penggunaan benda-benda yangberkaitan dengan industry.
  5. 5. Tes yang mengukur ciri kepribadian kreatif, dari berbagai hasil ditemukan paling sedikit 50 cirikepribadian yang berkaitan dengan kreatifitas; dari ciri-ciri ini disusun skala yang dapat mengukursejauh mana seseorang memiliki ciri-ciri tersebut. beberapa tes mengukur ciri-ciri tersebut.Beberapa tes mengukur ciri-ciri khusus, diantaranya adalah: 1. Tes mengajukan pertanyaan, yang merupakan bagian dari tes Torrance untuk berfikir kreatif dan dimaksudkan untuk mengukur kelenturan berfikir. 2. Tes Risk Taking, digunakan untuk menunjukkan dampak dari pengambilan risiko terhadap kreatifitas. 3. Tes Figure Preference dari Barron-Welsh yang menunjukkan prefensi untuk ketidakteraturan, sebagai salah satu ciri kepribadian kreatif 4. Tes Sex Role Identity untuk mengukur sejauh mana seseorang mengidentifikasikan diri dengan peran jenis kelaminnya. Alat yang sudah digunakan di Indonesia ialah Ben Sex Role Inventory.Mengatasi keterbatasan dari tes kertas dan pensil untuk mengukur kreatifitas, dirancangbeberapa pendekatan alternatif: 1. Daftar periksa (Checklist) dan Kuisoner, alat ini disusun berdasarkan penelitian tentang karakteristik khusus yang dimiliki pribadi kreatif. 2. Daftar pengalaman, teknik ini menilai apa yang telah dilakukan seseorang dimasa lalu. Beberapa studi menemukan korelasi yang tinggi antara “laporan diri” dan prestasi kreatif dimasa depan. Format yang paling sederhana meminta seseorang menulis autobiografi singkat, yang kemudian dinilai untuk kuantitas dan kualitas prilaku kreatif. Bagian dari berfikir kreatif. Asumsi kita adalah bahwa kreatif proses yang bergerak salahsatunya karena suatu masalah telah teridentifikasi atau karena orang berlomba-lomba untukmenghasilkan sesuatu yang sebelumnya dianggap belum ada dan tidak mungkin, atau karenaseseorang ingin mengetahui apa yang mungkin jika suatu aktifitas telah berjalan, orang kemudianharus mulai berfikir tentang berbagai arah tujuannya. Sekarang kita sampai pada inti dari proses ide kreatif, dalam konteks ini, (Guilford, 1950)mengacu pada munculnya ide-ide ini tampak nyata ketika ide ini digunakan pada kesempatansehingga berguna atau bermanfaat, Guilford berpendapat juga bahwa kelancaran ide / gagasanadalah kapasitas untuk menghasilkan sebuah angka besar Dari ide-ide dalam periode waktu yangdiberikan, yang relevan dengan beberapa situasi, ini menjadi salah satu karakter berfikir positif. Selain itu untuk menjadi lancar dalam menghasilkan ide, pemikir kreatif juga harus menjadipemikir yang fleksibel. Pendapat Guilford, berfikir negative dapat mungkin memerlukan bahwamenjauh dari suatu kebiasaan berfikir dan meninggalkannya kemudian masuk dalam pola fikir yangbaru. Pemikir kreatif selalu menghasilkan ide yang original. Orang yang menghasilkan banyak ide-ide original, dalam pandangan Guilford adalah orang yang juga menghasilkan solusi yang kreatifuntuk sebuah masalah. Guilford menyatakan kelancaran flexibilitas, originalitas dan combinasipengukuran kedalam cara berfikir divergen. Sejauh ini bahwa Guilford menggunakan keahliannya dengan tes IQ dan pengembangan tesuntuk mengukur kapasitas berfikir, lebih lanjut lagi persamaan psikometri dengan IQ, Guilfordpercaya bahwa masing-masing orang mempunyai kemampuan berfikir kreatif. Ini berartikemampuan berfikir divergen, terditribusi dengan normal diantara populasi. Orang yang menghasilkan kemajuan-kemajuan kreatifitas (Picasso, Edison, Mozart) menjadibagian dari kapasitas berfikir divergen untuk derajat yang luar biasa, tetapi tiap orang mempunyaibeberapa kemampuan, jika satu dari kemampuan ini tidak dites dengan membuat suatu asumsi, inibisa jadi bukan tes kreatifitas dan kepribadian kreatif, oleh karena itu tes yang lain harusdiasumsikan sebagai kelanjutan diantara proses-proses (Weisberg W.Robert, 2006, Creativity-
  6. 6. Understanding Innovation in Problem Solving, Science, Inventions, And The Arts, John Wiley & Sons,Inc.)RELIABILITAS DAN VALIDITAS Pertanyaan pertama yang mesti diajukan tentang setiap instrumen pengukuran, apakah itubathroom scale atau kapasitas berfikir kreatif (creative-thinking capacity) apakah ini reliabel? artinyaapakah test itu memberikan hasil (outcomes) yang konsisten. stabilitas test melewati berbagaiadministrasi disebut “test-retest reliability” mendemonstrasikan reliabilitas test-retest merupakankepentingan kritis bagi setiap tes, karena ini berarti kita bisa memiliki rasa percaya diri dalam skoryang dihasilkan oleh orang-orang ketika mereka menggunakannya. Bentuk lain reliabilitas menjadi penting ketika sebuah instrumen pengukuran mengandungitem-item majemuk. Salah seorang menggabungkan item-item itu bersama-sama dalam menskortiap-tiap orang, karena lebih banyak item, maka skor akan lebih stabil. Itu berarti bahwa seseorangakan berharap bahwa item-item yang beragam akan memberikan support yang hampir sama, sejakmereka telah merancang mengukur kapasitas yang sama (dalam contoh ini) kapasitas berfikir secarakreatif. Untuk menentukan konsistensi beragam item itu pada tes, seseorang bisa memisahkan teskedalam bagian-bagian. Seseorang lalu bisa menentukan tiap skor orang pada masing-masing bagiantes. Jika dua perangkat item variabel dalam mengukur kapasitas yang sama skor orang yangdiberikan pada dua bagian dari tes seharusnya sama, hal ini disebut split half reliability. Studi penelitian telah menemukan bahwa tes berfikir divergent reliable; studi memberikanhasil bahwa tes-tes tersebut beralasan bersifat konsisten (Baron and Harington,1981), ini berartisebagaimana di catat, kita bisa percaya diri bahwa skor seseorang bersifat representatif,performansinya walaupun demikian ada satu penyebab yang harus dikemukan disini, kadang-kadangditemukan bahwa performance pada tes berfikir divergent dipengaruhi oleh kondisi dimana tes diberikan. Sebagai contoh jika anda memerintah orang untuk menjadi kreatif dalam respon, merekaboleh memberi skor lebih tinggi daripada bila anda tidak mengatakan sesuatu tentang menjadikreatif pada tes. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir divergent adalah sebuahstrategi yang bisa diterapkan kepada situasi pengetesan, daripada beberapa ciri menarik. Ideberubah secara otomatis atau karakteristik seseorang sehingga hal menarik dari temuan-temuan iniadalah bahwa seseorang bisa mengubah performance orang pada tes berfikir kreatif denganmengatakan kepada mereka untuk menjadi kreatif, sebagai situasi analog. dalam hal ini adalahperformance pada tes intelegensi. Kesimpulan bahwa tes-tes yang di design untuk mengukur kapasitas berfikir kreatif adalahreliable, menimbulkan pertanyaan kedua tentang apakah bahwa instrumen-instrumen mengukur?.Kenyataannya menggunakan tes didasarkan pada asumsi bahwa tes-tes itu mengukur kapasitasuntuk berfikir secara kreatif yaitu apa yang mereka (tes-tes) design untuk mengukur pertanyaan dariapakah sebuah tes mengukur sesuatu yang di design untuk mengukur adalah pertanyaan, apakah tesitu valid?. Sebuah tes yang valid mengukur apa yang disangka benar. Jika sebuah tes tidak valid,kemudian ini bisa menjadi reliabel tetapi akan menjadi tidak berguna, Bathroom scale bisa secaraekstreem reliabel tapi ini tidak berguna jika kita ingin mengukur IQ atau jumlah uang dalam rekeningtabungan. (Weisberg W.Robert, 2006, Creativity-Understanding Innovation In Problem Solving,Science, Inventions, And The Arts, John Wiley & Sons, Inc.)MACAM-MACAM PENGUKURAN KREATIVITAS• PENGUKURAN KREATIVITAS BERFIKIR Guilford merupakan salah seorang ahli yang berusaha mengembangkan instrumen yangdiperlukan untuk mengukur kreativitas berpikir. Temuan baru Guilford merupakan kemajuan pentingdalam psikologi dan pendidikan di mana kreativitas berpikir dapat diukur dan memungkinkan
  7. 7. dihubungkan dengan gejala-gejala kejiwaan lainnya. Terdapat dua hal yang dapat disimpulkan dariinstumen kreativitas berpikir yang dikembangkan oleh Guilford. Peserta didorong untuk memberikan penampilan maksimum dalam menjawab butir-butirinstrumen. Oleh karenanya, instrumen yang dipakai untuk mengukur kreativitas berpikirmerupakan instrumen jenis tes yang dikenal dengan tes kreativitas berpikir. Peserta tes tidak memberikan respons atas alternatif yang sudah disediakan, tapi harusmemproduksi sendiri jawaban atas persoalan yang diajukan. Oleh karenanya, Guilford menyebutkreativitas berpikir dengan kemampuan memproduksi secara divergen (divergent productionabilities). Tes kreativitas berpikir mengacu kepada model struktur intelektual Guilford. Dari segi operasi,tes kreativitas berpikir mengukur kemampuan berpikir divergen. Dari segi konten, proses berpikirdivergen mengolah bahan berupa figural dan simbol. Sedang dari segi produk, proses berpikirdivergen yang mengolah bahan berupa figural dan simbol akan menghasilkan produk berupa unit,kelas, hubungan, sistem, transformasi dan implikasi.CONTOH BUTIR-BUTIR TES KREATIVITAS BERPIKIR: 1. Dari bangun berikut buatlah sebanyak mungkin gambar nyata ! (waktu Anda 1 menit). 2. Buatlah sebanyak mungkin kata dengan huruf awal L dan huruf akhir N! (waktu Anda 1 menit). 3. Buatlah sebanyak mungkin gambar dengan mengkombinasikan bangun berikut! (waktu Anda 1 menit) 4. Terdapat beberapa benda sebagai berikut : a) Anak panah d) Ikan b) Lebah e) Layang-layang c) Buaya f) Perahu Dengan menuliskan huruf depannya saja, tentukan : 1) Yang dijumpai di udara, 2) Yang dijumpai di air, 3) Binatang, 4) Punya ekor. (waktu Anda 1 menit) 5. Terdapat lima angka yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5. Kombinasikan beberapa angka yang kalau dijumlahkan hasilnya 7 sebanyak mungkin ? (waktu Anda 1 menit). 6. Terdapat empat bangun sebagai berikut : Kombinasikan dengan berbagai cara untuk membentuk objek sebanyak mungkin dan namailah objek itu. (Misalnya: Wajah). (waktu Anda 1 menit) 7. Buatlah kalimat dengan petunjuk huruf berikut sebanyak mungkin. (waktu Anda 1 menit) M ------ E ------ P (Misalnya : Mengapa engkau pergi)8. Dari gambar berikut, buanglah tiga garis sehingga membuang dua kotak. Misalnya: Buatlah sebuah kotak dan hiasilah sehingga menjadi lebih bagus.9. Ada dua persamaan: B – C = D dan Z = A + D Kembangkan sebanyak mungkin persamaan baru berdasarkan kedua persamaan tersebut! (Misalnya : B – C = Z – A)
  8. 8. PERHITUNGAN SKOR KREATIVITAS BERPIKIR Dalam perhitungan skor, jawaban peserta tes atas butir-butir pertanyaan kreativitas berpikirdiubah ke dalam skor kreativitas berpikir dengan cara tertentu. Pengukuran kreativitas berpikirdilakukan dengan meminta peserta tes membuat jawaban sebanyak mungkin atas butir-butirtugas dalam waktu yang ditentukan. Untuk dapat diubah menjadi skor, jawaban diinterpretasikandalam kelancaran, keluwesan dan keaslian. Menurut Ellis dan Hunt (1993 : 280), Woolfolk danNicolich (1984 : 144), Good dan Brophy (1990 : 617), Winkel (1996 : 143) dan Rakhmat (1999 : 75),respons peserta tes akan diinterpretasikan berdasarkan tingkat kelancaran (fluency), keluwesan(flexibility) dan keaslian (originality) proses berpikir. Skor kreativitas berpikir adalah skor gabungandari ketiga unsur.1. Kelancaran menjawab berhubungan dengan kemampuan menghasilkan banyak gagasan alternatif pemecahan masalah dalam waktu yang singkat. Unsur ini mengukur kemampuan menguraikan banyak alternatif pemecahan masalah. Oleh karenanya kemampuan ini berhubungan dengan arus ide. Menurut Good dan Brophy (1999 : 75), kelancaran adalah kemampuan menghasilkan banyak gagasan pemecahan masalah dalam waktu singkat. Hal yang sama dinyatakan oleh Rakhmat (1999 : 75), kelancaran adalah kemampuan menyebutkan sebanyak mungkin. Kelancaran tidak hanya berhubungan dengan jumlah jawaban, tapi juga kesesuaian jawaban dengan masalahnya. Tes kreativitas berpikir mendorong peserta tes menyebutkan sebanyak mungkin jawaban dalam waktu tertentu dan skor diberikan dengan menghitung jumlah semua respons yang sesuai dengan masalahnya. Menurut Ellis dan Hunt (1993 : 280), kelancaran adalah kemampuan menguraikan banyak alternatif pemecahan masalah sesuai dengan perangkat yang dipersyaratkan. Sedang menurut Munandar (1992 : 49), kelancaran adalah kemampuan memberikan banyak jawaban. Jawaban yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan masalahnya. Bukan hanya kuantitatas yang diperhatikan, tapi juga kualitasnya.2. Keluwesan adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesiapan mengubah arah atau memodifikasi informasi. Keluwesan berhubungan dengan kemampuan mengubah dengan mudah pendekatan pemecahan masalah yang digunakan jika masalah atau kondisi baru membutuhkan pendekatan baru. Menurut Good dan Brophy (1990 : 617), keluwesan dapat mengubah dengan mudah pendekatan pemecahan masalah yang digunakan, jika masalah atau kondisi baru membutuhkan pendekatan atau perspektif baru. Pendapat sama dikemukakan oleh Ellis dan Hunt (1993 : 280) yang menyatakan bahwa keluwesan adalah kemampuan mengubah pendekatan dalam pemecahan masalah. Di samping itu, keluwesan memungkinkan seseorang melihat suatu masalah dari berbagai sudut tinjauan. Menurut Munandar (1992 : 49), keluwesan adalah kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut tinjauan. Dalam tes kreativitas berpikir, keluwesan ditandai oleh jumlah golongan jawaban yang berbeda. Kadar keluwesan diukur dengan menghitung jumlah kategori respons yang berbeda. Peserta tes diminta memberikan respons sebanyak mungkin, lalu skor keluwesan diberikan pada jumlah kategori atau golongan respons. Skor diberikan atas jawaban yang menunjukkan keragaman atau variasi. Menurut Woolfolk dan Nicolich (1984 : 144), keluwesan diukur dengan menghitung jumlah kategori respons yang berbeda.3. Keaslian membuat seseorang mampu mengajukan usulan yang tidak biasa atau unik dan mampu melakukan pemecahan masalah yang baru atau khusus. Dengan kata lain, keaslian adalah kemampuan untuk menghasilkan jawaban yang jarang diberikan oleh peserta tes. Jawaban original adalah jawaban yang jarang diberikan oleh anak-anak lain. Keaslian mengukur kemampuan peserta tes dalam membuat usulan yang tidak biasa atau unik. Menurut Winkel (1996 : 143), jawaban mempunyai orisinalitas apabila sangat sedikit orang yang menghasilkan pikiran seperti itu. Woolfolk dan Nicolich (1984 : 144) memberikan kriteria mengenai keaslian. Respons yang orisinal menurutnya diberikan oleh lebih sedikit dari 5 atau 10 dari 100 peserta pengambil tes. Ada pendapat yang memberikan kriteria lebih spesifik.
  9. 9. Menurutnya, respons yang diberikan oleh 5 % dari kelompok bersifat tidak biasa, dan respons yang hanya diberikan oleh 1 % dari kelompok bersifat unik.PENGUKURAN KREATIVITAS UNTUK ANAK SEKOLAH Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur Utami Munandar, Dipl. Psych., untuk menjadi individu kreatif,dibutuhkan kemampuan berpikir yang mengalir lancar, bebas, dan ide yang orisinal yang didapat darialam pikirannya sendiri. Berpikir kreatif juga menuntut yang bersangkutan memiliki banyak gagasan.Agar anak bisa berpikir kreatif, ia haruslah bisa bersikap terbuka dan fleksibel dalam mengemukakangagasan. Makin banyak ide yang dicetuskannya menandakan makin kreatif si anak. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kreativitas seorang anak, pakar pendidikan iniberupaya mengembangkan Tes Kreativitas Verbal dan Figural. Tes kreativitas verbal dilakukan padaanak berusia minimal 10 tahun karena dianggap sudah lancar menulis dan kemampuanberbahasanya pun sudah berkembang. Sedangkan tes kreativitas figural dilakukan terhadap anakmulai usia 5 tahun.Adapun unsur penilaian berfikir keratif adalah sebagai berikut: 1. Fleksibel. Anak mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda. Untuk gambar lingkaran, contohnya, anak mengasosiasikannya sebagai piring, bulan, bola, telur dadar dan sebagainya. Anak juga diminta untuk membuat sebanyak mungkin objek mati maupun hidup pada gambar lingkaran tadi. Namun, tes kreativitas ini bukan dimaksudkan sebagai tes menggambar, melainkan sebagai tes gagasan, sehingga unsur "keindahan" tidak diprioritaskan. 2. Orisinalitas. Anak mampu memberikan jawaban yang jarang / langka dan berbeda dengan jawaban anak lain pada umumnya. Dari bentuk lingkaran yang sama, contohnya, anak mahir menggambarkannya sebagai wajah orang. 3. Elaborasi. Anak mampu memberikan jawaban secara rinci sekaligus mampu memperkaya dan mengembangkan jawaban tersebut. Dia bisa melengkapi gambar wajah tersebut dengan mata, hidung, bibir, telinga, leher, rambut sampai aksesoris semisal kalung dan jepit rambut. Makin detail ornamen atau organ-organ yang digambarkannya, berarti mencirikan ia anak yang kreatif.Anak yang kreatif tak sekadar mengemukakan ide, tapi juga dapat mengembangkan gagasan yangdilontarkannya.Untuk TES KREATIVITAS FIGURAL, ada enam topik pertanyaan yang diajukan, yaitu : 1. Tes Permulaan Kata. Misalnya kepada anak diberikan huruf "k" dan "a". Kemudian ia diminta untuk membentuk sebanyak mungkin kata yang bisa dibentuk dari kedua huruf tadi. Umpamanya anak menjawab "kami", "kapal", "karung" dan sebagainya. 2. Tes Membentuk Kata. Kepada anak diberikan kata tertentu, semisal "proklamasi". Nah, berdasarkan kata tersebut anak diminta membentuk kata-kata lain sebanyak mungkin. Umpamanya anak akan menjawab "kolam", "lama", "silam" dan lain-lain. 3. Tes Kalimat 3 Kata. Misalnya kepada anak diberi tiga huruf, yakni "a", "m", dan "p". Lalu mintalah ia menyusun sebanyak mungkin kalimat-kalimat yang diawali dari huruf-huruf yang diberikan tadi, dengan urutan yang boleh diubah-ubah. Umpamanya, jawabanya adalah "Ani makan pisang" atau "Mana payung Anton". 4. Tes Kesamaan Sifat. Misalnya anak mendapat soal mengenai sifat bulat dan keras. Anak dimita untuk memikirkan dan menyebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang memiliki sifat/ciri-ciri tersebut. Jawabannya mungkin adalah bola tenis, kelereng, roda kursi, dan sebagainya. 5. Tes Penggunaan Tak Lazim. Contohnya, anak akan diberi benda yang ditemuinya sehari-hari. Akan tetapi, ia justru diminta untuk membuat sesuatu yang tak biasa dengan benda tersebut. Umpamanya, ketika anak diberi surat kabar, ia menggunakannya untuk membuat kapal- kapalan, topi, bola, dan sebagainya, bukan sebagai bahan bacaan.
  10. 10. 6. Tes Sebab-Akibat. Anak mendapat pertanyaan mengenai situasi tertentu yang dalam keadaan nyata tak pernah terjadi. Nah, mintalah anak untuk menjawab apa kira-kira akibatnya bila situasi tersebut betul-betul terjadi. Dalam hal ini, anak dituntut untuk bebas berimajinasi. Contohnya adalah pertanyaan, "Apa jadinya bila semua orang di dunia ini pandai?" atau, "Apa akibatnya jika setiap orang bisa mengetahui pikiranmu?" Menurut Utami, setiap tes tersebut terdiri dari 4 soal. Untuk tes pertama dan kedua, setiapsoal harus dijawab dalam waktu 2 menit. Sedangkan untuk tes ketiga, diberikan waktu 3 menituntuk setiap soal, sementara untuk tes berikutnya per soal diberi durasi 4 menit. Hasil akhir tes kreativitas ini sama halnya dengan tes IQ, yakni berupa skor. Anak yangmencapai skor 90-110 berarti tingkat kreativitasnya rata-rata, skor di bawah 80 dikategorikan sangatlamban, sedangkan yang mampu mencapai skor 130 ke atas tergolong sangat unggul. Namun dari pengalaman Utami selama ini, hanya sedikit anak yang bisa mencapai skorkreativitas yang tinggi. Kebanyakan berada pada kisaran skor 90-100. Sebaliknya, banyak sekali anakyang bisa mencapai skor tinggi untuk tes IQ. Menurutnya, "Hal ini disebabkan berpikir kreatif kurangdirangsang, sehingga anak tak terbiasa berpikir bermacam-macam arah." Selain pengukuran kreativitas yang sudah disebutkan, ada juga pengukuran skala sikap kreatifyang lebih menyangkut pada segi afektif. Menurut Utami, dari berbagai penelitian ternyatakemampuan berpikir kreatif belumlah cukup jika tanpa disertai sikap kreatif. Tanpa sikap kreatif inikatanya produk kreatif pun takkan terwujud. Jadi, berpikir kreatif itu sendiri harus disertai ciri-cirisikap kreatif sebagai berikut: 1. Terbuka terhadap pengalaman baru, 2. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, 3. Tidak takut melakukan kesalahan ketika mengemukakan ide, 4. Imajinatif, dan 5. Berani mengambil risiko terhadap langkah yang diambil.KREATIVITAS ANGKA Potensi kreativitas sebenarnya ada pada tiap orang dan kreativitas tersebut dapat diasah salahsatunya melalui Angka (METRIS), yaitu dalam hal kemampuan mengenali keteratutan pola bilangan.Bila daya kreativitas seseorang dalam pengenalan pola meningkat maka tentu saja dapat berimbaske jenis kreativitas yang lain, seperti peningkatan daya kreativitas pada seni, strategi bisnis atauilmu pengetahuan. Dengan begitu peningkatan kreativitas tersebut dapat dijadikan sebagaibarometer dalam merepresentasikan potensi daya kreativitas seseorang. Dengan perkembangan teknologi pengenalan pola pada cuaca seperti negara adidaya ‘UncleSam’ maka badai topan yang maha dahsyatpun dapat dikenali arah pola gerakannya sehinggamampu meminimalis jatuhnya korban jiwa. Contoh di atas membuktikan betapa pentingnyakemampuan kita dalam pengenalan pola untuk kasus tertentu. Nah, kemampuan pengenalan polatersebut dapat terus diasah, dimana salah satu caranya dapat melalui kecerdasan kreativitas metris.Apalagi ditunjang oleh fakta bahwa pengukuran kecerdasan kreativitas metris sifatnya kuantitatifsehingga kemajuannya dapat dipantau dengan lebih objektif. Mengapa siswa perlu belajar kecerdasan kreativitas angka (metris). Siswa bila telah dilatihsehingga mempunyai kemampuan pengenalan pola bilangan yang baik maka kemampuan dalammenyelesaikan permasalahan kuantitatif akan lebih cepat dan efisien. Kemampuan ini tentu sajaakan berimbas pada kemampuan memilah-milah suatu permasalahan yang kemudian mampuberusaha mengelompokannya menjadi beberapa kelompok dengan lebih baik. Bila dalammengklasifikasikan masalah sudah benar maka penyelesaiannya akan menjadi lebih mudah karenabisa tahu masalah mana yang lebih prioritas dan bisa tahu bagian apa saja yang tepat ditugaskanuntuk menyelesaikan tiap kelompok masalah tersebut. Jadi orang yang bekerja pada bidang dimanakemampuan pengenalan pola masalah sangat dibutuhkan seperti pekejaan seorang manager, maka
  11. 11. sangat diuntungkan apabila mempunyai kecerdasan kreativitas metris karena kemampuanpengenalan pola masalah tersebut dapat lebih terasah. Dalam dunia kerja kreativitas seseorang sangat dibutuhkan, misalkan seorang guru dalammengajarkan matematika kepada anak didiknya. Kita semua tahu bahwa pelajaran matematikamenjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar siswa. Oleh karena itu pengajaran yangbentuknya konkret tidak abstrak sangat penting bagi anak untuk belajar memvisualisasi suatu angkaatau bilangan. Nah disitulah letak seberapa besar kreativitas seorang guru bisa membawa materiyang diajarkan sekonkret mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Bagi seorang pengusaha (enterprenur) kemampuan mengenali pola usaha tertentu denganpotensi profit yang akan dihasilkan pada masa yang akan datang tentu saja sangat dibutuhkan.Orang sering menyebutnya kemampuan membaca pola usaha itu sebagaiintuisi bisnis. Demikian jugakemampuan menghubungan pola informasi yang satu dengan informasi yang lain sangat dibutuhkandalam dunia bisnis, dunia saham. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan kemampuan tersebut sangat penting. Misalkanterbukti dalam sejarah ketika Michelson melakukan percobaan menentukan kecepatan cahaya dariberbagai arah terbukti secara eksperimen bahwa kecepatan cahaya terbukti selalu sama. Nah,informasi ini bagi si jenius Einstein mempunyai makna yang sangat spesial. Dengan kemampuan diamengenali pola informasi dari percobaan Michelson dengan pemahaman dia saat itu maka munculkreativitas dari pemikirannya bahwa ETHER tidak perlu ada. Cahaya atau gelombang elektromagnet(gel. TV, gel. Radio, dll) dalam proses perambatannya tidak membutuhkan zat perantara atau ETHER.Nah, jadi sudah menjadi lebih jelaskan, bahwa kemampuan mengenali keteraturan pola ataumenghubungkan pola satu dengan pola yang lainnya akan memunculkan kemampuan dayakreativitas, makanya kemampuan ini sangat berguna bagi orang yang ingin sukses. Salah satu enterpreneur yang fenomenal adalah steve jobs, pendiri perusahaan komputerapple. Setelah cukup lama tidak me-lauching produk sefenomenal komputer Apple yangmenekankan pada konsep grafis, namun daya kreativitasnya tidaklah meredup. Hal ini terbuktisetelah Apple memproduksi iPod yang laku keras dan yang lebih fenomenal adalah produkiPhonenya dengan konsep inovatifnya dimana semua tombol untuk mengoperasikansebuah handphone menggunakan full-touchscreen. Ini sungguh ide kreatif yang sangat brialiansehingga produknya selalu laris diserap oleh pasar. Kemampuan kreativitas Angka (Metris) dapat diasah melalui peningkatan kemampuanpengenalan keteraturan pola bilangan dengan makin baik. Beberapa pola bilangan yang akan cobadikenali keteraturannya membutuhkan tingkat kreativitas tertentu mulai dari yang biasa (polabilangan eksplisit) hingga kreativitas tinggi (pola bilangan implisit). Kelebihan dari mengasahKreativitas melalui Angka (Metris) ini karena pengukuran kreativitas dapat dilakukan secara obyektifmelalui faktor ketepatan dan kecepatan dalam mengeksekusi pola bilangan.

×