Your SlideShare is downloading. ×
MAKALAH AGRIBISNIS
PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS
Semester genap tahun 2009
Kelompok 3
M. Rizal ( 150110080127 )
Ayu Larasati...
2
BAB 1
PENGERTIAN PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS
Persaingan dalam konteks pemasaran adalah keadaan dimana perusahaan pada pa...
3
perusahaan dalam mencapai skala ekonomis. Ketika perusahaan berada dalam keadaan pasar
global, maka hal ini akan memperl...
4
BAB 2
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA DAN TIDAK SEMPURNA
Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permin...
5
kolusi, model Cournot, model kurva permintaan yang patah dan model kepemimpinan harga.
Perusahaan-perusahaan yang memili...
6
BAB 3
KENDALA INDONESIA DALAM PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS
Untuk memenangkan persaingan usaha dibidang pertanian di jaman...
7
Piatos potato chips dengan kemasan yang menarik dan berbagai cita rasa, Begitu juga dengan
Thailand yang mengemas kripik...
8
BAB 4
STUDI KASUS PERSAINGAN PEMASARAN SALAH SATU PRODUK AGRIBISNIS
Industri Manisan Pala
Pendahuluan
Tanaman pala (Myri...
9
dikuasai, harganya baik dan pasar yang sudah terjamin. Selain itu ada juga pengusaha yang
menyatakan melakukan usaha ini...
10
wilayah survei (Nugraha, D.R, 1995 ), bahwa dari 30 pengusaha manisan pala, sebanyak 4
pengusaha (13,3%) pernah meminja...
11
Hasil produk manisan pala umumnya dipasarkan oleh pengusaha/pengrajin manisan pala
kepada pedagang pengecer dan distrib...
12
Tabel 3.4.Jumlah Industri Kecil Manisan Pala Di Kabupaten Bogor Tahun 1998
Kecamatan Desa
Unit
Usaha
Tenaga
Kerja
Inves...
13
Permintaan pasar dalam negeri untuk manisan pala secara khusus belum terdata, namun
berdasarkan hasil survei di daerah ...
14
Jan-
Maret
2001
Berat(KG) 315.464 908.947 452.690 109.734
Nilai(US$) 738.057 3.064.102 1.508.881 3.202.053
Sumber : Dep...
15
Grafik 3.2. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Produk Pala Tahun 1996 - 2000
Produk dari pala (biji, fuli dan minyak pa...
16
Sumatra Utara 203 208 228 44 59 62
Jawa Tengah 909 914 934 27 43 48
NTT 405 405 405 29 29 29
Lampung 80 80 80 20 25 25
...
17
Tabel 3.3. Perkembangan Harga Rata-Rata Produk Pala Tahun 1996-2000
Produk
Perkembangan harga (US $) pada tahun:
1996 1...
18
No Bahan PALA BASAH Satuan
Untuk 150 kg
pala basah
1. Buah Pala Mentah Buah 3.000
2. Gula Pasir kg 75
3. Garam kg 5
4.
...
19
c. Bahan Pengawet
Sebagian bahan pengawet digunakan Na-benzoat atau Natrium Bisulfit (NaHSO3). Pemakaian
asam benzoat u...
20
memerlukan gula lebih banyak. Buah pala yang dijadikan manisan pala basah biasanya berkisar
25% dari produksi manisan p...
21
DAFTAR PUSTAKA
http://agribisnis.deptan.go.id –
http://pphp.deptan.go.id
www. WARTA AGRIBISNIS.com
www. CARI ONLINE BOR...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Makalah_4 Makalah tugas agribisnis 10 persaingan pemasaran

6,759

Published on

Published in: Education
1 Comment
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
6,759
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Makalah_4 Makalah tugas agribisnis 10 persaingan pemasaran"

  1. 1. MAKALAH AGRIBISNIS PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS Semester genap tahun 2009 Kelompok 3 M. Rizal ( 150110080127 ) Ayu Larasati ( 150110080135 ) Tohom D.P.S ( 150110080153 ) Maria Orisa ( 150110080138 ) Adhi Cahya Nugraha ( 150110080148 ) Ivan Komara ( 150110080150 ) Novian Eka ( 150110080157 ) Adi Firmansyah (150110080158 ) Dhea Primasari (150110080160 ) Raden Bondan E B (150110080162 ) PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR
  2. 2. 2 BAB 1 PENGERTIAN PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS Persaingan dalam konteks pemasaran adalah keadaan dimana perusahaan pada pasar produk atau jasa tertentu akan memperlihatkan keunggulannya masing-masing, dengan atau tanpa terikat peraturan tertentu dalam rangka meraih pelanggannya (Kotler, 2002). Sedangkan menurut Porter, persaingan akan terjadi pada beberapa kelompok pesaing yang tidak hanya pada produk atau jasa sejenis, dapat pada produk atau jasa substitusi maupun persaingan pada hulu dan hilir (Porter, 1996). Sedangkan dinamika adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada periode tertentu (siapa, tahun). Dengan demikian dinamika persaingan adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap persaingan yang terjadi pada perusahaan dalam memperebutkan pelanggan pada periode periode tertentu. Faktor penyebab persaingan yang lebih kompleks. Persaingan yang lebih kompleks terjadi saat ini karena menurunnya perhatian pada pelaku industri tehadap pasar tunggal dan naiknya perhatian mereka terhadap pasar pasar global. Perubahan tingkat kompleksitas ini disebabkan oleh beberapa hal seperti 1. Adanya evolusi menuju pasar global(Mudradjad, 2009). Evolusi yang terjadi pada perusahaan membuat organisasi/ perusahaan yang ada ingin terus meningkatkan persaingannya di pasar. Salah satu bentuk evolusi yang terjadi adalah dari perusahaan domestik- perusahaan Internasional- Perusahaan Multinasional- Perusahaan Global. Pada level perusahaan domestik juga dapat terjadi evolusi karena tingkat proteksi dari pemerintah (Holland, 1987:170-171). Evolusi ini akan membentuk perubahan dari Industri Bayi (infant) menjadi Industri Remaja (adolescent) dan menjadi Industri. Perbedaan ketiga perusahaan tersebut di atas mencakup fokus, visi, orientasi, gaya operasi, strategi, struktur organisasi, strategi pemasaran, fokus lokasi riset dan pengembangan, kebijakan penempatan alokasi SDM, pola komunikasi, kebijakan pengembangan produk baru, kemitraan dan kebijakan investasi 2. Skala Ekonomis atau Belajar. Perusahaan berusaha untuk melakukan pembelajaran untuk menigkatkan kemampuannya dan skala ekonomis yang lebih baik juga mendoran perusahaan untuk menembus pasar global. Ada beberapa keuntungan yang dapat diraih dan mendorong
  3. 3. 3 perusahaan dalam mencapai skala ekonomis. Ketika perusahaan berada dalam keadaan pasar global, maka hal ini akan memperluas ukuran atau cakupan pasar membantu mencapai skala ekonomis dalam manufaktur, pemasaran, R&D atau distribusi selain juga akan dapat menyebarkan biaya ke basis penjualan yang lebih besar, meningkatkan laba per unit, keuntungan lokasi. Keadaan ini juga akan membentuk suatu pasar dengan biaya rendah yang membantu dalam pengembangan keunggulan kompetitif dan memungkinkan akses yang lebih baik ke beberapa sumber daya yang lebih murah. 3. Kemajuan teknologi informasi membuat koordinasi antar pasar menjadi lebih mudah. Kini perusahaan-perusahaan yang ada telah menggunakan sarana internet dan teknologi nir kabel lainnya untuk kepentingan bisnisnya. Hal ini membuat koordinasi dari masing-masing organisasi atau perusahaan menjadi semakin lebih kuat. Kemajuan teknologi inovasi di sisi lain juga meningkatkan daya saing perusahaan berukuran kecil dan menengah. Contoh terjadinya dinamika persaingan Pemain pertama yang masuk ke industri tertentu sering dianggap memiliki peluang pertama untuk membangun pangsa pasar, mengendalikan arah perkembangan industri, membangun merek dan saluran distribusi yang kuat, atau mengangkangi sumber daya yang langka seperti lokasi strategis atau hak paten. Banyak perusahaan, terutama di dunia teknologi, yang berlomba-lomba mengeluarkan inovasi radikal baru dengan tujuan mengunci para pengguna terlebih dahulu. Selisih masa peluncuran beberapa bulan saja sering berakibat fatal bila ada kompetitor yang mendahului. Realita, tentu saja, tidak sesederhana itu. Kadang pelopor industri memang berhasil meraup keuntungan ekonomis yang besar. Kadang penguasaan pangsa pasarnya mendekati monopoli. Tetapi banyak juga contoh-contoh pelopor yang gagal. Daftar tersebut mencakup, misalnya, Kodak yang dikalahkan Sony dalam industri kamera video 8 mm, web browser Mosaic yang dikalahkan Netscape dan kemudian Internet Explorer dari Microsoft, VisiCalc yang digulingkan Lotus 123 dan kemudian Microsoft Excel, microwave Raytheon dan VCR Ampex yang sudah tidak kedengaran namanya lagi, dan mesin video games Magnavox yang dikalahkan Atari, Nintendo, dan sekarang Sony.
  4. 4. 4 BAB 2 PASAR PERSAINGAN SEMPURNA DAN TIDAK SEMPURNA Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran di mana jumlah pembeli dan penjual sedemikian rupa banyaknya/ tidak terbatas. Ciri-ciri pokok dari pasar persaingan sempurna adalah: a. Jumlah perusahaan dalam pasar sangat banyak. b. Produk/barang yang diperdagangkan serba sama (homogen). c. Konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar. d. Tidak ada hambatan untuk keluar/masuk bagi setiap penjual. e. Pemerintah tidak campur tangan dalam proses pembentukan harga. f. Penjual atau produsen hanya berperan sebagai price taker (pengambil harga). Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar atau industri yang terdiri dari produsen- produsen yang mempunyai kekuatan pasar atau mampu mengendalikan harga output di pasar. Terdapat tiga model umum di pasar persaingan tidak sempurna, yaitu pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik dan oligopoli. Pasar monopoli merupakan industri yang terdiri dari satu perusahaan di mana terdapat hambatan bagi perusahaan-perusahaan baru untuk memasuki pasar. Beberapa hambatan masuk berupa waralaba pemerintah, paten, skala ekonomi dan keunggulan biaya lain, kepemilikan atas faktor produksi yang langka. Persaingan monopolistik merupakan industri yang memiliki banyak produsen di mana perusahaan pesaing bebas memasuki industri dan perusahaan-perusahaan mendiferensiasikan produk mereka. Diferensiasi produk dimaksudkan untuk memenuhi keinginan konsumen, membangun reputasi atas produk yang dihasilkan dan memberikan pelayanan yang baik. Selain kelebihan berupa adanya keanekaragaman produk, efisiensi dan informasi tentang produk, diferensiasi produk juga mempunyai kelemahan yaitu adanya pemborosan, harga produk yang lebih mahal, kesalahan informasi dan kejenuhan masyarakat terhadap tayangan iklan. Oligopoli adalah industri dengan sejumlah kecil perusahaan yang masing-masing cukup mampu untuk mempengaruhi harga pasar dari output yang dihasilkannya. Selain memiliki banyak bentuk dalam pasar oligopoli terdapat juga empat model yang umum dikenal yaitu model
  5. 5. 5 kolusi, model Cournot, model kurva permintaan yang patah dan model kepemimpinan harga. Perusahaan-perusahaan yang memiliki kekuatan pasar dihadapkan pada empat keputusan penting yaitu berapa output yang akan diproduksi, bagaimana memproduksinya, berapa input yang akan diminta di masing-masing pasar dan berapa harga output yang akan ditetapkan. Keputusan harga dan output oleh perusahaan dalam pasar persaingan tidak sempurna berbeda- beda tergantung pada bentuk pasar di mana perusahaan berada dan tujuan dari perusahaan adalah memaksimalkan laba total. Diskriminasi harga merupakan penetapan harga yang berbeda untuk pembeli barang yang sama atau penetapan harga di mana perbandingan antara harga dan biaya marjinal berbeda di antara para pembeli. Diskriminasi harga dibedakan menjadi tiga yaitu diskriminasi harga derajat ketiga, diskriminasi harga derajat kedua dan diskriminasi harga derajat pertama
  6. 6. 6 BAB 3 KENDALA INDONESIA DALAM PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS Untuk memenangkan persaingan usaha dibidang pertanian di jaman era globalisasi pada saat ini dalam dunia bisnis modern haruslah memiliki trend dan kreatif terhadap inovasi produk pertanian olahan. Pada prinsipnya produk pertanian olahan kita seperti produsen minuman dan makanan seperti: Virgin Coconut Oil (VCO), Nata de coco, Aloe vera, Keripik kentang (Potato Chips) Keripik Sukun, Keripik buah-buahan dan sebagainya memiliki potensi yang sangat baik bagi peluang ekspor. Pada saat pameran internasional yang diharapkan adalah for the first sight / pada pandangan pertama ketertarikan dan keunikan dari produk pertanian olahan Indonesia yang memiliki daya saing dipasar Internasional. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yang menjadi kendala dalam persaingan pasar usaha bidang produk pertanian olahan antara lain: a) Kemasan (Packaging) Yang perlu diperhatikan produk-produk pertanian olahan tersebut harus memiliki 6egar khas, unik dan menarik bagi konsumen. Kemasan (packing) yang dimaksud adalah kemasan sebagai pemanis produk sehingga penampilannya menarik minat konsumen dan pengemasannya untuk pengaman produk selama didalam perjalanan. b) Kemampuan produksi (Ability to produce) Dalam hal ini perlu diperhatikan ketika terjadi transaksi di arena pameran biasanya buyer besar akan membeli dengan jumlah besar. Biasanya kesulitan oleh produsen adalah memenuhi kuota seperti yang kita lihat adanya produk-produk herbal, medicinal herbs, produk spa dan sebagainya terkadang tidak 6ega memproduksi dengan kuantitas yang besar, jadi harus bersinergi dengan para pelaku usaha lain didalam meningkatkan kualitas dan kuantitas. c) Merek (Brand) Untuk produk olahan pertanian Indonesia usahakan 6egara merek sehingga identitas produk dapat dibedakan dengan produk lain dan memiliki hak paten untuk produknya. Dari nilai-nilai diatas yang perlu diperhatikan bagaimana kita bangsa Indonesia 6ega berdaya saing dan memiliki 6egar khas untuk produk-produk olahan Indonesia tersebut yang berorientasi ekspor. Sebagaimana yang kita ketahui Malaysia memiliki produk kentang kemasan
  7. 7. 7 Piatos potato chips dengan kemasan yang menarik dan berbagai cita rasa, Begitu juga dengan Thailand yang mengemas kripik manggis dalam kaleng. Sebenarnya kita sudah banyak memiliki produk pertanian olahan seperti kripik pisang Lampung, kripik salak Yogya dan sebagainya yang mungkin kurang promosinya. Indonesia tidak pernah kalah dengan 7egara lain dalam produk pertanian olahannya karena Indonesia memiliki berbagai macam aneka cita rasa nusantara yang memiliki daya saing untuk pasar internasional. Diharapkan dalam pameran-pameran skala internasional produk pertanian olahan unggulan daerah Indonesia dapat menjaring pasar yang lebih besar di pasar Internasional.
  8. 8. 8 BAB 4 STUDI KASUS PERSAINGAN PEMASARAN SALAH SATU PRODUK AGRIBISNIS Industri Manisan Pala Pendahuluan Tanaman pala (Myristica fragrans houtt) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman pala dikenal dengan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis. Hasil tanaman pala yang biasa dimanfaatkan adalah buah pala. Buah pala terdiri dari daging buah (77,8%), fuli (4 %), tempurung (5,1%) dan biji (13,1%). Bagian buah yang bernilai ekonomi cukup tinggi adalah biji pala dan fuli (mace) yang dapat dijadikan minyak pala. Daging buah pala dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi manisan pala, asinan pala, dodol pala, selai pala dan sirup pala. Indonesia merupakan negara pengekspor biji pala dan fuli terbesar dipasaran dunia (sekitar 60%), dan sisanya dipenuhi dari negara lainnya seperti Grenada, India, Srilangka dan Papua New Guinea. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan (2000) produksi pala Indonesia tahun 2000 adalah sebesar 19,95 ribu ton. Produksi pala relatif stabil dan cenderung meningkat sejak tahun 1994 yang berkisar antara 19,00 -19,95 ribu ton per tahun. Daging buah pala yang merupakan bagian terbesar dari hasil panen buah pala merupakan suatu potensi bahan baku yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan. Salah satu upaya pemanfaatan daging buah pala adalah pembuatan manisan pala, yang umumnya dilaksanakan oleh usaha kecil rumah tangga. Untuk itu pemberdayaan usaha kecil ini perlu terus ditingkatkan. Melalui pemberdayaan usaha kecil manisan pala ini, diharapkan produk manisan pala juga dapat menjadi komoditi ekspor Indonesia mengiringi ekspor biji, fuli dan minyak pala Profil Usaha Usaha manisan pala di wilayah survei merupakan usaha yang sudah dijalankan sejak tahun 1970/1980 dan berlangsung secara turun temurun sampai sekarang dan cenderung sebagai usaha rumah tangga. Sebagian rumah tangga menjadikan usaha ini sebagai usaha pokok dan sebagian lagi menjadikannya sebagai usaha tambahan. Beberapa alasan pengusaha manisan pala menekuni usahanya antara lain adalah tersedianya sumber bahan baku, keterampilan
  9. 9. 9 dikuasai, harganya baik dan pasar yang sudah terjamin. Selain itu ada juga pengusaha yang menyatakan melakukan usaha ini karena tidak ada usaha lain. Kegiatan usaha pembuatan manisan pala dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di daerah survei pada tahun 1995, pengelola dan tenaga kerja pada usaha pembuatan manisan pala ini umumnya wanita atau ibu rumah tangga. Dari 30 pengusaha yang disurvei sebanyak 20 unit usaha dikelola oleh wanita dan 10 lainnya dikelola oleh laki-laki (Nugraha, D.R, 1995 ). Rata-rata pengusaha manisan pala memiliki jenjang pendidikan SD dan SLTP. Keterampilan membuat manisan pala diperoleh dengan belajar sendiri dari orang tua, tetangga dan atau mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga dan instansi terkait. Dilihat dari kepemilikan usaha, seluruhnya merupakan usaha milik sendiri, dan umumnya belum memiliki badan hukum. Tenaga kerja yang terlibat berasal dari dalam dan luar keluarga. Tenaga kerja dari dalam keluarga umumnya sebagai pengelola dan tenaga pemasaran. Tenaga kerja dari luar keluarga merupakan tenaga kerja harian atau tenaga borongan. Pengelolaan usaha ini masih dilakukan masing-masing secara terpisah, tidak dalam satu kelompok, serta belum pernah dilakukan kemitraan dengan pihak lain. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, para pengusaha manisan pala menyatakan bahwa kelompok usaha pernah dibentuk namun tidak berjalan dengan baik. Menurut data dari Deperindag Kabupaten Bogor usaha manisan pala di daerah ini berjumlah sekitar 73 unit usaha, dengan tingkat produksi per unit usaha berkisar antara 10 - 15 ton manisan pala per tahun. Selain menjual produk manisan pala, pengusaha juga menjual biji (nutmeg in shell) dan fuli (mace) sebagai hasil samping. Harga jual biji dan fuli per kg jauh lebih besar dibanding manisan pala, namun jumlah kg jauh lebih kecil karena biji dan fuli hanya sebesar 13% dari seluruh bagian buah pala. Pola Pembiayaan Dalam memenuhi kebutuhan modal usaha pembuatan manisan pala disamping modal sendiri sebagian pengusaha ada yang memanfaatkan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank, ada pula pengusaha yang meminjam dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap pengusaha manisan pala di
  10. 10. 10 wilayah survei (Nugraha, D.R, 1995 ), bahwa dari 30 pengusaha manisan pala, sebanyak 4 pengusaha (13,3%) pernah meminjam modal ke Bank, 5 pengusaha (16,7%) meminjam modal ke KUD, dan sebanyak 16 pengusaha (53.33%) meminjam modal dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar serta sisanya (16,7%) menggunakan modal usaha pribadi. Bagi pengusaha yang modal kerjanya meminjam dari sesama pengusaha atau dari pedagang, pembayarannya dilakukan setelah diperoleh hasil penjualan produk manisan pala. Berdasarkan pengamatan di wilayah survei, pengusaha manisan pala yang relatif maju adalah mereka yang memiliki persediaan modal kerja yang lebih dari satu kali periode produksi atau cukup untuk satu bulan kerja. Diantara pengusaha manisan pala yang tergolong maju ada yang pernah memperoleh pinjaman dari bank. Pengusaha yang bersangkutan telah memulai usaha sejak tahun 1980 dan sudah beberapa kali mendapat pinjaman dari bank, mulai dari pinjaman pertama sekali sebesar Rp 75.000 sampai dengan diberi kepercayaan oleh bank untuk mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 22 juta dan sudah dapat dilunasi. Saat ini usaha yang dijalankan mampu menggunakan dana sendiri. Bank yang menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil umumnya terdapat di lokasi penelitian dengan status Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu. Diantara beberapa Bank yang beroperasi di wilayah penelitian, baru satu bank yang ditemui memberikan pinjaman terhadap usaha kecil manisan pala. Bank pemberi kredit sebagai kantor cabang pembantu telah menyalurkan kredit sejak tahun 1990. Sampai saat ini melalui kantor cabang pembantu bank tersebut telah membiayai sebanyak 10 unit usaha manisan pala. Dari jumlah tersebut 50% diantaranya merupakan pengusaha murni manisan pala dan 50% lainnya juga memiliki usaha lain disamping usaha manisan pala. Jumlah kredit yang disalurkan bervariasi mulai Rp 1 juta sampai dengan Rp 22 juta dengan jangka waktu pinjaman 1-2 tahun yang dicicil setiap bulannya. Dari sejumlah pinjaman yang telah disalurkan kepada usaha kecil manisan pala, sebanyak 75% diantaranya dinilai baik dalam pengembalian. Aspek Pemasaran Pemasaran
  11. 11. 11 Hasil produk manisan pala umumnya dipasarkan oleh pengusaha/pengrajin manisan pala kepada pedagang pengecer dan distributor yang telah menjadi langganan tetap, atau juga kepada para pembeli yang datang langsung. Pembeli yang datang ke lokasi jumlahnya relatif sedikit. Sebagian pengrajin sudah pernah melakukan kerjasama dengan supermarket, namun karena sistem pembayaran yang terlalu lama (1 bulan) dirasakan sebagai hambatan bagi para pengusaha manisan pala yang modal kerjanya relatif kecil. Daerah pemasaran mencakup wilayah Bogor, Jakarta, Cianjur, Tangerang dan Cilegon. Selain dipasarkan sendiri oleh para pengrajin ke pedagang, terjadi juga transaksi penjualan diantara pengusaha manisan pala sendiri. Transaksi penjualan antara pengusaha pala biasanya terjadi jika salah satu pengusaha manisan pala tersebut mengalami kekurangan stok produk manisan pala dalam memenuhi permintaan langganan/konsumennya. Persaingan dan Peluang pasar Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan diantara sekian banyak jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Kekhasan dari rasa manisan pala dan tidak disemua daerah/tempat dapat ditemui produksi manisan ini menyebabkan manisan pala tetap menjadi salah satu pilihan sebagai bingkisan untuk oleh-oleh. Manisan pala juga masih merupakan salah satu alternatif makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru. Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Berdasarkan data usaha kecil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, jumlah industri kecil manisan pala di Kabupaten Bogor Tahun 1998 berjumlah 73 unit usaha dengan kapasitas produksi mencapai 1.079 ton per tahun (Tabel 3.4).
  12. 12. 12 Tabel 3.4.Jumlah Industri Kecil Manisan Pala Di Kabupaten Bogor Tahun 1998 Kecamatan Desa Unit Usaha Tenaga Kerja Investasi (Rp.000) Produksi Bahan Baku Ton Nilai Rp 000 Nilai Rp 000 Ciomas Sukaluyu 10 25 13.600 105 630.000 367.500 Ciomas Tamansari 15 15 10.500 225 1.350.000 787.500 Dramaga Dramaga 48 338 24.000 749 4.492.8002.620.800 Jumlah 73 378 48.1001.0796.472..8003.775.800 Sumber : Deperindag Kabupaten Bogor 2001 Harga manisan pala dari tingkat produsen ke pedagang relatif sama, oleh karena itu kunci kemampuan bersaing antara unit usaha yang sama adalah kemampuan pengusaha menghasilkan produk yang berkualitas (disenangi konsumen) dengan biaya produksi serendah mungkin. Peluang pasar untuk manisan pala masih sangat besar, mengingat manisan pala yang diproduksi di daerah Bogor sampai saat ini baru dipasarkan di wilayah Jawa Barat. Di Indonesia daerah penghasil pala hanya di beberapa propinsi saja yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Maluku Selatan serta Papua, karena itu pengenalan produk ini kedaerah-daerah lain dapat membuka peluang pasar yang baru. Peluang untuk mengekspor produk manisan ini masih terbuka mengingat berdasarkan wawancara dengan responden menyatakan bahwa pernah mendapat permintaan dari pembeli di luar negeri namun belum dapat dilayani. Berbeda dengan manisan pala, produk pala lainya seperti biji pala, fuli dan minyak pala telah dilakukan ekspor sejak lama dan sampai saat ini telah dilakukan ekspor lebih ke 30 negara. Sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara penghasil utama buah pala di dunia. Negara lain yang menjadi pengekspor pala adalah Grenada, Papua New Guinea, India dan Srilangka. Permintaan Permintaan Pasar dalam Negeri
  13. 13. 13 Permintaan pasar dalam negeri untuk manisan pala secara khusus belum terdata, namun berdasarkan hasil survei di daerah sampel, penjualan rata-rata perbulan/unit usaha berkisar 1-2 ton. Permintaan manisan pala akan meningkat pada bulan-bulan tertentu, seperti pada saat lebaran, dan akhir tahun. Berdasarkan wawancara dengan seorang pedagang lokal di kota Bogor, penjualan perhari mencapai 90 kg/hari atau sekitar 2,7 ton perbulan. Umumnya pengusaha manisan pala di kota Bogor baru melayani permintaan dari dalam propinsi saja. Permintaan Ekspor Berdasarkan wawancara dengan pengusaha manisan pala, keadaan permintaan pasar terhadap manisan pala cukup baik. Selain permintaan dari dalam negeri juga ada permintaan dari luar negeri seperti dari Singapura, Kuwait dan Syria. Namun permintaan dari luar negeri ini sampai saat ini belum terealisir. Alasan yang dikemukakan pengusaha antara lain kurangnya dana dan kapasitas produksi yang masih kecil. Permintaan ekspor terhadap produk dari pala yang terbesar adalah biji pala kering (nutmeg in shell dan nutmeg shelled), fuli (mace) dan minyak pala (essential oil of nutmegs). Keadaan permintaan pasar terhadap produk pala ini (biji, fuli dan minyak atsiri dari pala) cukup baik, khususnya permintaan akan biji pala tanpa cangkang yang terus mengalami peningkatan. Permintaan terhadap fuli dan minyak pala relatif stabil pada periode antara tahun 1996-2000. Volume dan nilai ekspor beberapa produk pala dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Volume dan Nilai Ekspor Beberapa Produk Pala tahun 1996 - Maret 2001 Tahun Satuan Nutmeg In Shell Nutmeg Shelled Mace Essential Oils Of Nutmegs 1996 Berat(KG) 1.403.640 5.570.768 1.259.372 216.581 Nilai(US$) 1.707.664 8.380.719 4.082.962 3.105.894 1997 Berat(KG) 1.113.297 5.136.093 1.158.311 209.513 Nilai(US$) 1.587.152 9.371.007 5.065.976 3.778.535 1998 Berat(KG) 2.967.260 4.683.493 1.634.262 382.100 Nilai(US$) 5.197.590 13.519.184 9.997.225 10.014.413 1999 Berat(KG) 1.752.875 6.002.785 1.700.372 383.725 Nilai(US$) 4.226.430 24.534.996 10.316.131 10.046.165 2000 Berat(KG) 1.101.878 8.071.150 1.284.115 350.544 Nilai(US$) 2.284.505 39.270.109 7.583.560 9.109.814
  14. 14. 14 Jan- Maret 2001 Berat(KG) 315.464 908.947 452.690 109.734 Nilai(US$) 738.057 3.064.102 1.508.881 3.202.053 Sumber : Deperindag 2001 Lebih jelasnya kecenderungan perkembangan volume dan nilai ekspor beberapa produk pala dari tahun 1996 - 2000 dapat dilihat pada Grafik 3.1 dan Grafik 3.2. Grafik 3.1. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Produk Pala Tahun 1996-2000
  15. 15. 15 Grafik 3.2. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Produk Pala Tahun 1996 - 2000 Produk dari pala (biji, fuli dan minyak pala) telah diekspor lebih ke 30 negara. Adapun negara- negara pengimpor utama produk pala antara lain adalah Singapura, Belanda, Hongkong, Jepang, Belgia, Malaysia, Amerika Serikat, Perancis, India, Italia, Jerman, dan Thailand Penawaran Berdasarkan data statistik industri sedang dan besar, produksi manisan pala tahun 1998 adalah sebesar 24.000 kg dengan nilai Rp. 115 juta. Walaupun data nasional total produksi manisan pala dari industri kecil tidak ada, namun jumlah produksi manisan pala dari industri kecil di Kabupaten Bogor pada tahun 1998 telah mencapai 1.079 ton dengan nilai Rp. 6.472,8 juta atau sekitar 90 ton perbulan dengan nilai Rp. 539,4 juta. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah produksi manisan pala dari industri kecil lebih besar dibanding industri besar/sedang. Kapasitas produksi dari usaha pembuatan manisan pala ini adalah sebesar 2,25 ton per bulan atau sekitar 2,5% dari produksi di wilayah Bogor. Produksi biji pala untuk ekspor sebagian besar juga berasal dari industri kecil. Data ekspor biji pala tahun 1998 adalah sebesar 5.197.590 kg yang dipasok dari industri besar sebanyak 2.023.347 kg atau sekitar 39%, sisanya 61% dipasok dari industri kecil. Indonesia merupakan negara penghasil pala terbesar di dunia, produksi dan sebaran daerah penghasil pala di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.2. Tabel 3.2. Produksi Buah Pala Menurut Daerah Produksi di Indonesia Propinsi Luas Areal (Ha) Produksi (ton)) 1998 1999 2000 1998 1999 2000 Sulawesi Utara 16.965 17.015 17.140 6.750 6.950 7.074 Maluku 16.898 16.964 17.079 4.849 4.999 5.099 Nangroe Aceh D. 11.385 11.435 11.510 4.452 4.602 4.652 Papua 5.430 5.480 5.580 1.176 1.246 1.346 Sulawesi Selatan 2.302 2.352 2.427 448 548 648 Sumatra Barat 2.244 2.294 2.334 365 465 468 Jawa Barat 2.120 2.125 2.155 219 319 419 Sulawesi Tengah 580 630 705 43 68 78
  16. 16. 16 Sumatra Utara 203 208 228 44 59 62 Jawa Tengah 909 914 934 27 43 48 NTT 405 405 405 29 29 29 Lampung 80 80 80 20 25 25 Jawa Timur 9 9 9 4 4 4 Kalimantan Timur 14 14 14 2 2 2 Total Indonesia 59.544 59.925 60.600 18.428 19.359 19.954 Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia (Ditjen Perkebunan 2000) Berdasarkan data pada Tabel 3.2. tersebut di atas terlihat adanya kecenderungan terjadinya peningkatan luas areal dan produksi pala setiap tahunnya. Peningkatan produksi buah pala sendiri berkisar antara 3-5% per tahun. Berdasarkan ketersediaan potensi bahan baku, daerah- daerah yang potensial untuk pengembangan usaha manisan pala adalah daerah penghasil pala utama di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Maluku, Nangroe Aceh Darussalam, Papua, Sulawesi Selatan, Sumatra Barat dan Jawa Barat. Harga Harga produk manisan pala sangat dipengaruhi oleh beberapa variabel yang berlaku di pasaran, yaitu tingkat penawaran dan permintaan di pasar serta biaya pengadaan bahan baku. Perkembangan harga manisan pala dari tahun ke tahun relatif meningkat seiring dengan peningkatan biaya produksi. Pada tahun 1995 pengusaha manisan pala menjual produknya dengan harga Rp. 3.000 - 3.500 per kg, pada tahun 1998 meningkat menjadi Rp. 4.500 per kg dan pada saat ini (2001) harga penjualan rata-rata manisan pala kepada pedagang sekitar Rp 7.000 per kg. Harga jual manisan pala dari produsen ke pedagang sangat jauh berbeda dengan harga yang berlaku dipasaran umum/harga eceran yang dapat mencapai kisaran antara Rp. 9.000 s/d Rp. 13.500 per kg bahkan harga di supermarket mencapai Rp. 18.500 per kg Harga biji, fuli dan minyak pala dipengaruhi oleh harga yang berlaku di pasaran internasional dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Perkembangan harga ekspor rata-rata produk dari pala dapat dilihat pada Tabel 3.3. Harga biji pala kering tanpa kulit dan fuli yang saat ini berlaku ditingkat pedagang pengumpul adalah berturut-turut sebesar Rp 35.000 dan Rp 65.000.
  17. 17. 17 Tabel 3.3. Perkembangan Harga Rata-Rata Produk Pala Tahun 1996-2000 Produk Perkembangan harga (US $) pada tahun: 1996 1997 1998 1999 2000 Nutmeg in shell 1,22 1,43 1,75 2,41 2,07 Nutmeg shelled 1,50 1,82 2,89 4,09 4,87 Mace 3,24 4,37 6,12 6,07 5,91 Essensial oil of nutmegs 14,34 18,03 26,21 26,18 25,99 Aspek Produksi 1. Bahan Baku Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Penolong Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan manisan pala kering adalah sebagai berikut : Tabel 4.3. Bahan-Bahan untuk Pembuatan Manisan Pala Kering No Bahan Satuan Untuk 1 kg pala kering Untuk 300 kg pala kering 1. Buah Pala Mentah buah 16 4.800 2. Gula Pasir kg 1 300 3. Garam kg 0,016 5 4. Natrium Bisulfit (NaHSO3)/Pengawet kg 0,002 0,5 5. Bahan Pewarna g 0,32 100 6. Plastik kemasan 0,5 kg kg 4,2 7. Isi hekter pak 4 8. Air m3 ±1 9. Minyak tanah untuk kompor liter 8 Tabel 4.4. Bahan-Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan Manisan Pala Basah
  18. 18. 18 No Bahan PALA BASAH Satuan Untuk 150 kg pala basah 1. Buah Pala Mentah Buah 3.000 2. Gula Pasir kg 75 3. Garam kg 5 4. Natrium Bisulfit (NaHSO3)/Pengawet kg 0,25 5. Plastik kg 3 6. Air m3 ±1 7. Isi hekter pak 3 Data Primer (2001) Dalam pembuatan manisan pala basah untuk penghematan gula dapat menggunakan gula dari hasil penirisan pembuatan manisan pala kering. 1). Bahan Baku (buah pala) Bahan baku untuk pembuatan manisan pala adalah buah pala yang segar, oleh karena itu buah pala yang hendak dipanen sebaiknya berumur (6-7) bulan sejak berbunga. Buah pala untuk manisan pala kering dipilih yang berukuran sedang sampai besar agar mudah dibentuk. Buah pala yang berukuran kecil tidak baik untuk pembuatan pala kering, namun masih dapat digunakan untuk diolah menjadi pala basah. 2). Bahan Penolong a. Gula Pasir Bahan penolong utama yang diperlukan adalah gula pasir. Penggunaan gula pasir harus dipilih yang putih dan bersih. Gula yang berwarna kecoklatan akan memberikan hasil manisan pala yang berwarna kelam. b. Garam Garam digunakan untuk merendam buah pala berfungsi sebagai pencegah buah pala yang telah dikupas agar tidak berubah warna menjadi kecoklatan (browning) disamping juga untuk meningkatkan cita rasa. Jumlah pemakaian garam adalah 1,5% atau 16,6 gram untuk setiap 1 kg pala.
  19. 19. 19 c. Bahan Pengawet Sebagian bahan pengawet digunakan Na-benzoat atau Natrium Bisulfit (NaHSO3). Pemakaian asam benzoat untuk 1 kg pala dibutuhkan sekitar 2 gram NaHSO3. d. Bahan Pewarna Bahan pewarna digunakan untuk mewarnai daging buah pala, biasanya menggunakan warna hijau, merah atau kuning. Jumlah bahan pewarna yang digunakan adalah sebanyak 0,334 gram untuk setiap kg pala. 3). Bahan Bakar Bahan bakar berupa minyak tanah dipakai untuk pengeringan menggunakan oven. Oven untuk pengering menggunakan panas dari kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Kebutuhan minyak tanah dalam satu malam adalah sebanyak 2 liter untuk setiap kompor. 4). Pengemas Mengingat produk manisan pala semi basah masih dijumpai di toko-toko makanan maka sebaiknya sebagai pengemas/wadah utama dipilih yang tembus pandang, misalnya botol gelas berbentuk jar (untuk pala basah) dan kantung plastik yang tidak berwarna untuk pala kering. Sumber Bahan Baku dan Bahan Penolong Buah pala yang diperlukan dapat dengan mudah diperoleh oleh para pengrajin/pengusaha. Karena buah pala tidak mengenal musiman, maka relatif mudah diperoleh. Para penjual buah pala biasanya langsung datang ke pasar terdekat di daerah pengrajin, bahkan penjualan ada yang diantar sampai ke depan rumah pengrajin/pengusaha. Dilihat dari ketersediaannya, bahan penolong juga mudah diperoleh oleh para pengrajin/pengusaha di pasar-pasar tradisional. 2. JENIS DAN MUTU PRODUK Produk yang dihasilkan terdiri dari manisan pala kering dan manisan pala basah. Produk manisan pala kering jika disimpan pada tempat yang baik mampu bertahan sampai dengan 6 bulan, sedangkan produk manisan pala basah bertahan selama 2 minggu tanpa mengalami perubahan rasa dan warna. Produk manisan pala kering yang dihasilkan dalam satu periode produksi adalah sebanyak 300 kg dan produk manisan pala basah sebanyak 150 kg. Produk pala basah dihasilkan dari sisa buah pala yang tidak dapat dijadikan pala kering bentuk bunga karena ukuran buah terlalu kecil. Buah pala yang terlalu kecil sulit untuk dibentuk dan akan
  20. 20. 20 memerlukan gula lebih banyak. Buah pala yang dijadikan manisan pala basah biasanya berkisar 25% dari produksi manisan pala kering. Disamping manisan pala kering dan manisan pala basah, diperoleh pula biji pala dan fuli yang harga jual per kg jauh lebih besar dibandingkan manisan pala sendiri. Jumlah biji pala dan fuli yang dapat diperoleh adalah sebanyak 1 kg biji kering dan 0,1 kg fuli untuk setiap 500 buah pala segar. Hal ini sangat tergantung pada besar-kecil dan kematangan/ketuaan buah pala sebagai bahan baku. Untuk buah pala yang sudah cukup tua 1 kg biji dapat dihasilkan dari 150-200 buah pala. Produk yang dapat dihasilkan dari pembuatan manisan pala adalah sebagai berikut: Tabel 4.5. Produk Utama dan Hasil Samping Pembuatan Manisan Pala No. Produk yang dihasilkan Konversi dari buah pala 1. Manisan Pala kering 1 kg per 16 buah pala 2. Manisan Pala basah 1 kg per 20 buah pala 3. Biji pala kering (Nutmegs shelled) 1 kg per 500 buah pala 4. Fuli/Cempra (Mace) 0,1 kg per 500 buah pala Data Primer (2001)
  21. 21. 21 DAFTAR PUSTAKA http://agribisnis.deptan.go.id – http://pphp.deptan.go.id www. WARTA AGRIBISNIS.com www. CARI ONLINE BORNEO studi kelayakan Agribisnis www. SIPUK Bank Indonesia.com www.google.com / persaingan pasar agribisnis www.google.com/ pasar sempurna dan tidak sempurna

×