Ruqyah yang benar

1,891 views

Published on

Sejumlah dalil tentang praktik ruqyah syar'i

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,891
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ruqyah yang benar

  1. 1. Ruqyah : Terapi Ruqyah Syar’i Penulis: Ummu Mu’aadzMuroja’ah: Ustadz Aris MunandarSaudariku yang dirahmati Allah, saat ini, sering kali kita mendengar terapipengobatan ruqyah namun pengertian yang terlintas dibenak kita adalah terapi untukmengusir gangguan jin. Hal ini adalah pendapat keliru dan salah kaprah dikalanganmasyarakat saat ini. Padahal, ruqyah yang sesuai syar’i adalah sunnah Rasulullah<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang disyari’atkan untuk dilakukan bagisetiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit, baik sakit fisik maupun karenagangguan jin.Apa itu Ruqyah ?Ruqyah (dengan huruf ra’ di dhammah) adalah yaitu bacaan untuk pengobatan syar’i(berdasarkan riwayat yang shahih atau sesuai ketentuan ketentuan yang telahdisepakati oleh para ulama) untuk melindungi diri dan untuk mengobati orang sakit.Bacaan ruqyah berupa ayat ayat al-Qur’an dan doa doa yang telah diajarkan olehRasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.Tidak diragukan lagi, bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yangdiajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> berupa ruqyahmerupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna bagipenyakit hati dan fisik dan bagi penyakit dunia dan akhirat. Bagaimana mungkinpenyakit itu mampu melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika firman-firman itu turun ke gunung makai ia akan memporakporandakan gunung gunung.Oleh karena itu tidak ada satu penyakit hati maupun penyakit fisik melainkan adapenyembuhnya.Allah berfirman, “Katakanlah, ‘AlQur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagiorang orang yang beriman.’” (Qs. Fushilat: 44)Dan di surah Al Isra’ 82, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadipenawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman.”Dan di surat Yunus ayat 57, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datangkepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit penyakit(yang berada) didalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yangberiman.” (Qs. Yunus: 57)Pada masa jahiliyah, telah dikenal pengobatan ruqyah. Namun ruqyah kala itu banyakmengandung kesyirikan. Misalnya menyandarkan diri kepada sesuatu selain Allah,percaya kepada jin, meyakini kesembuhan dari benda benda tertentu, dan lainnya.Setelah Islam datang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyahkecuali yang tidak mengandung kesyirikan,‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami meruqyah di masajahiliyyah. Lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentanghal itu?’
  2. 2. Beliau menjawab, ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itutidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)Al-Qurthubi <em>rahimahullah</em>u berkata, “Hadits menunjukkan bahwa hukumasal seluruh ruqyah adalah dilarang, sebagaimana yang tampak dari ucapannya:‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang dari segala ruqyah.’Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyahmereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak bisa dipahamimaknanya. Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengansendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikianitu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang mereka dari ruqyahsecara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik).Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau bahwa merekamendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannyabagi mereka. Beliau bersabda, ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidakmengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik’.Mencegah Lebih Baik dari MengobatiSaudariku, sesungguhnya syari’at Islam telah sempurna sehingga tidak ada halmelainkan sudah ada keterangannya dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihiwasallam</em>. Karena itu, Allah telah mengabarkan apa apa yang baik bagi seoranghamba dan apa apa yang mesti ditinggalkan dengan segala hikmah yang kita ketahuimaupun yang tidak kita ketahui.Diantara apa yang diajarkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> yaituberdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan, dzikir pagi dan petang hari, ketikahendak tidur, ketika masuk dan keluar rumah, saat memakai baju, dan lainnya hinggatidur lagi. Jika kita selalu menjaga dzikir dzikir ini pada waktunya, niscaya ia akanmendapatkan kebaikan dunia dan akhirat, mencegah segala keburukan, mendatangkanberbagai manfaat dan menolak datangnya bahaya.Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Jika Allah akan memberi kuncikepada seorang hamba, berarti Alah akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanyadan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di muka pintutersebut.” Bila seseorang tidak dibukakan hatinya untuk berdoa dan berdzikir, makahatinya selalu bimbang, perasaannya gundah gulana, pikiran kalut, gelisah hasrat dankeinginannya menjadi lemah. Namun bila seorang hamba selalu berdoa dan berdzikirmemohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, niscaya hatinyamenjadi tenang karena ingat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs. Ar Ra’d: 28)Doa dan dzikir yang dilaksanakan seharusnya adalah doa dan dzikir yang adatuntunannya dari Rasulullah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,“Dzikir yang paling baik dan paling bermanfaat adalah doa dan dzikir yang diyakinidengan hati, diucapkan dengan lisan, dilaksanakan dengan konsisten dari doa dandzikir yang dicontohkan dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>serta orang yang melakukannya memahami makna dan maksud yang terkandungdidalamnya.”
  3. 3. Seorang muslim seharusnya menjaga diri semaksimal mungkin dengan hal hal yangtelah disyari’atkan Allah Ta’ala yaitu menjaga AllahTa’ala dengan benar benarmengikhlaskan diri dalam mentauhidkan-Nya, senantiasa bertaqwa, senantiasaberpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhibid’ah dan menyelisihi pada pengikut hawa nafsu.Pada artikel selanjutnya insya Allah akan dijelaskan tentang tahap-tahap meruqyah,insya Allah.Sumber:Doa dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawazDoa doa Ruqyah ,Dr.Khalid bin Abdurrahman al-JarisiTata Cara Ruqyah Yang BenarRabu, 31 Maret 2010 15:04:22 WIBTATA CARA RUQYAH YANG BENARRuqyah bukan pengobatan alternatif. Justru seharusnya menjadi pilihan pertamapengobatan tatkala seorang muslim tertimpa penyakit. Sebagai sarana penyembuhan,ruqyah tidak boleh diremehkan keberadaannya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya meruqyah
  4. 4. termasuk amalan yang utama. Meruqyah termasuk kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Para nabi dan orang shalih senantiasa menangkis setan-setan dari anakAdam dengan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya”. [1]Karena demikian pentingnya penyembuhan dengan ruqyah ini, maka setiap kaumMuslimin semestinya mengetahui tata cara yang benar, agar saat melakukan ruqyahtidak menyimpang dari kaidah syar’i.Tata cara meruqyah adalah sebagai berikut:1. Keyakinan bahwa kesembuhan datang hanya dari Allah.2. Ruqyah harus dengan Al Qur’an, hadits atau dengan nama dan sifat Allah, denganbahasa Arab atau bahasa yang dapat dipahami.3. Mengikhlaskan niat dan menghadapkan diri kepada Allah saat membaca danberdoa.4. Membaca Surat Al Fatihah dan meniup anggota tubuh yang sakit. Demikian jugamembaca surat Al Falaq, An Naas, Al Ikhlash, Al Kafirun. Dan seluruh Al Qur’an,pada dasarnya dapat digunakan untuk meruqyah. Akan tetapi ayat-ayat yangdisebutkan dalil-dalilnya, tentu akan lebih berpengaruh.5. Menghayati makna yang terkandung dalam bacaan Al Qur’an dan doa yang sedangdibaca.6. Orang yang meruqyah hendaknya memperdengarkan bacaan ruqyahnya, baik yangberupa ayat Al Qur’an maupun doa-doa dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.Supaya penderita belajar dan merasa nyaman bahwa ruqyah yang dibacakan sesuaidengan syariat.7. Meniup pada tubuh orang yang sakit di tengah-tengah pembacaan ruqyah. Masalahini, menurut Syaikh Al Utsaimin mengandung kelonggaran. Caranya, dengan tiupanyang lembut tanpa keluar air ludah. ‘Aisyah pernah ditanya tentang tiupan NabiShallallahu alaihi wa sallam dalam meruqyah. Ia menjawab: “Seperti tiupan orangyang makan kismis, tidak ada air ludahnya (yang keluar)”. (HR Muslim, kitab AsSalam, 14/182). Atau tiupan tersebut disertai keluarnya sedikit air ludah sebagaimanadijelaskan dalam hadits ‘Alaqah bin Shahhar As Salithi, tatkala ia meruqyahseseorang yang gila, ia mengatakan: “Maka aku membacakan Al Fatihah padanyaselama tiga hari, pagi dan sore. Setiap kali aku menyelesaikannya, aku kumpulkan airliurku dan aku ludahkan. Dia seolah-olah lepas dari sebuah ikatan”. [HR Abu Dawud,4/3901 dan Al Fathu Ar Rabbani, 17/184].8. Jika meniupkan ke dalam media yang berisi air atau lainnya, tidak masalah. Untukmedia yang paling baik ditiup adalah minyak zaitun. Disebutkan dalam hadits Malikbin Rabi’ah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:‫بُلاوا الزيت و ادهناوا به فنإنه من شجرة مبراركة‬ َ‫كبُ ش ْ ةَ ش ْ ةَ ةَ َّ نِ بُ نِ نِ ةَ ةَ بُ نِ ش ْ ةَ ةَ ةَ م ٍ بُ ةَ ةَ ة‬"Makanlah minyak zaitun , dan olesi tubuh dengannya. Sebab ia berasal dari
  5. 5. tumbuhan yang penuh berkah".[2]9. Mengusap orang yang sakit dengan tangan kanan. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah,ia berkata: “Rasulullah, tatkala dihadapkan pada seseorang yang mengeluh kesakitan,Beliau mengusapnya dengan tangan kanan…”. [HR Muslim, Syarah An Nawawi(14/180].Imam An Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mengusap orangyang sakit dengan tangan kanan dan mendoakannya. Banyak riwayat yang shahihtentang itu yang telah aku himpun dalam kitab Al Adzkar”. Dan menurut Syaikh Al‘Utsaimin berkata, tindakan yang dilakukan sebagian orang saat meruqyah denganmemegangi telapak tangan orang yang sakit atau anggota tubuh tertentu untukdibacakan kepadanya, (maka) tidak ada dasarnya sama sekali.10. Bagi orang yang meruqyah diri sendiri, letakkan tangan di tempat yangdikeluhkan seraya mengatakan ‫( بس نِ ال‬Bismillah, 3 kali). ‫نِ ش ْم‬ُ‫بُ بُ نِ ةَ بُ ش ْ ةَ نِ نِ نِ ش ْ ةَ ةَ نِ بُ ةَ ةَ نِ ب‬‫أعاوذ برال و قدرته من شر مرا أجد و أحراذر‬"Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari setiap kejelekan yang akujumpai dan aku takuti".[3]Dalam riwayat lain disebutkan “Dalam setiap usapan”. Doa tersebut diulangi sampaitujuh kali.Atau membaca :‫بسم ال أعاوذ بعزة ال و قدرته من شر مرا أجد من وجعي هذا‬ َ‫ةَ بُ ش ْ ةَ نِ نِ نِ ش ْ ةَ ةَ نِ بُ نِ ش ْ ةَ ش ْ نِ ش ْ ةَ ة‬ ِ‫بُ بُ نِ ّ ن‬ َ‫ة‬ ِ‫نِ ش ْ ن‬"Aku berlindung kepada keperkasaan Allah dan kekuasaanNya dari setiap kejelekanyang aku jumpai dari rasa sakitku ini".[4]Apabila rasa sakit terdapat di seluruh tubuh, caranya dengan meniup dua telapaktangan dan mengusapkan ke wajah si sakit dengan keduanya.[5]11. Bila penyakit terdapat di salah satu bagian tubuh, kepala, kaki atau tanganmisalnya, maka dibacakan pada tempat tersebut. Disebutkan dalam hadits Muhammadbin Hathib Al Jumahi dari ibunya, Ummu Jamil binti Al Jalal, ia berkata: Aku datangbersamamu dari Habasyah. Tatkala engkau telah sampai di Madinah semalam ataudua malam, aku hendak memasak untukmu, tetapi kayu bakar habis. Aku pun keluaruntuk mencarinya. Kemudian bejana tersentuh tanganku dan berguling menimpalenganmu. Maka aku membawamu ke hadapan Nabi. Aku berkata: “Kupertaruhkanengkau dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, ini Muhammad bin Hathib”. Beliaumeludah di mulutmu dan mengusap kepalamu serta mendoakanmu. Beliau Shallallahualaihi wa sallam masih meludahi kedua tanganmu seraya membaca doa:‫أذهب البأس رب النراس واشف أنت الشرافي ل شفراء إل شفراؤك شفراء ل يغرادر سقمرا‬ ً‫ةَ ش ْ نِ ش ْ ش ْ ةَ ش ْ ةَ ةَ َّ َّ نِ ةَ ش ْ نِ ةَ ش ْ ةَ َّ نِ ةَ نِ ةَ ةَ نِ َّ نِ ةَ بُ ةَ نِ ةَ اً ةَ بُ ةَ نِ بُ ةَ ةَ ا‬"Hilangkan penyakit ini wahai Penguasa manusia. Sembuhkanlah, Engkau MahaPenyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhanMu, obat yang tidakmeninggalkan penyakit"[6].
  6. 6. Dia (Ummu Jamil) berkata: “Tidaklah aku berdiri bersamamu dari sisi BeliauShallallahu alaihi wa sallam, kecuali tanganmu telah sembuh”.12. Apabila penyakit berada di sekujur badan, atau lokasinya tidak jelas, seperti gila,dada sempit atau keluhan pada mata, maka cara mengobatinya dengan membacakanruqyah di hadapan penderita. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa NabiShallallahu laihi wa sallam meruqyah orang yang mengeluhkan rasa sakit.Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin K’ab , ia berkata: “Dia bergegasuntuk membawanya dan mendudukkannya di hadapan Beliau Shallallahu alaihi wasalla,m . Maka aku mendengar Beliau membentenginya (ta’widz) dengan surat AlFatihah”.[7]Apakah ruqyah hanya berlaku untuk penyakit-penyakit yang disebutkan dalam nashatau penyakit secara umum? Dalam hadits-hadits yang membicarakan terapi ruqyah,penyakit yang disinggung adalah pengaruh mata yang jahat (‘ain), penyebaran bisaracun (humah) dan penyakit namlah (humah). Berkaitan dengan masalah ini, ImamAn Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim: “Maksudnya, ruqyah bukan berartihanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut. Namun maksudnya bahwa Beliauditanya tentang tiga hal itu, dan Beliau membolehkannya. Andai ditanya tentang yanglain, maka akan mengizinkannya pula. Sebab Beliau sudah memberi isyarat buatselain mereka, dan Beliau pun pernah meruqyah untuk selain tiga keluhan tadi”.(Shahih Muslim, 14/185, kitab As Salam, bab Istihbab Ar Ruqyah Minal ‘Ain WanNamlah).Demikian sekilas cara ruqyah. Mudah-mudahan bermanfaat. (Red).Maraji` :1. Risalatun Fi Ahkami Ar Ruqa Wa At Tamaim Wa Shifatu Ar Ruqyah AsySyar’iyyah, karya Abu Mu’adz Muhammad bin Ibrahim. Dikoreksi Syaikh Abdullahbin Abdur Rahman Jibrin.2. Kaifa Tu’aliju Maridhaka Bi Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, karya Abdullah binMuhammad As Sadhan, Pengantar Syaikh Abdullah Al Mani’, Dr Abdullah Jibrin,Dr. Nashir Al ‘Aql dan Dr. Muhammad Al Khumayyis, Cet X, Rabi’ul Akhir, Tahun1426H.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. PenerbitYayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 SelokatonGondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016begin_of_the_skype_highlighting 0271-761016 end_of_the_skype_highlighting]_______Footnote[1]. Dinukil dari Kaifa Tu’aliju Maridhaka Bi Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, hlm. 41.[2]. Hadits hasan, Shahihul Jami’ (2/4498).[3]. HR Muslim, kitab As Salam (14/189).[4]. Shahihul Jami’, no. 346.[5]. Fathul Bari (21/323). Cara ini dikatakan oleh Az Zuhri merupakan cara NabiShallallahu alaihi wa sallam dalam meniup.[6]. Al Fathu Ar Rabbani (17/182) dan Mawaridu Azh Zham-an, no. 1415-1416.
  7. 7. [7]. Al Fathu Ar Rabbani (17/183).[8]. Namlah adalah luka-luka yang menjalar di sisi badan dan anggota tubuh lainnyaRuqyah, Penyembuhan Dengan Al- Qur`an Dan As-SunnahSenin, 29 Maret 2010 16:06:31 WIBRUQYAH, PENYEMBUHAN DENGAN AL-QURAN DAN AS-SUNNAHOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasAllah menciptakan makhlukNya dengan memberikan cobaan dan ujian, lalu menuntutkonsekwensi kesenangan, yaitu bersyukur; dan konsekwensi kesusahan, yaitu sabar.Hal ini bisa terjadi dengan Allah membalikkan berbagai keadaan manusia sehinggaperibadahan manusia kepada Allah menjadi jelas. Banyak dalil-dalil yangmenunjukkan bahwa musibah, penderitaan dan penyakit merupakan hal yang lazimbagi manusia. Dan semua itu pasti menimpa mereka, untuk mewujudkan peribadahankepada Allah semata, serta untuk melihat siapa yang paling baik amalnya."Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamuyang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengampun" [Al Mulk : 2]Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian; bahkan cobaan dan ujian merupakanSunnatullah dalam kehidupan. Manusia diuji dalam segala sesuatu, baik dalam hal-halyang disenangi maupun dalam hal yang dibenci dan tidak disukai. Allah berfirman :"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengankeburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepadaKami-lah kamu dikembalikan". [Al Anbiya`: 35].Tentang ayat ini, Ibnu Abbas berkata: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan,kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram,ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan”.[1]Berbagai macam penyakit merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikankepada hambaNya. Sesungguhnya, cobaan-cobaan itu merupakan Sunnatullah yangtelah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmahNya. Ketahuilah, Allah tidakmenetapkan sesuatu, baik berupa takdir kauni (takdir yang pasti berlaku di alamsemesta ini) atau syar’i, melainkan di dalamnya terdapat hikmah yang amat besar,sehingga tidak mungkin bisa dinalar oleh akal manusia. Berbagai cobaan, ujian,penderitaan, penyakit dan kesulitan, semua itu mempunyai manfaat dan hikmah yang
  8. 8. sangat banyak.Pada zaman sekarang, banyak penyakit yang menimpa manusia. Ada yang sudahdiketahui obatnya, dan ada pula yang belum diketahui obatnya. Hal ini merupakancobaan dari Allah, yang juga akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukanmanusia. Allah berfirman:"Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatantanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". [Asy Syura : 30].Setiap penyakit pasti ada obatnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:ً‫ةَ ةَ ش ْ ةَ ةَ بُ ةَ اً نِ َّ ةَ ش ْ ةَ ةَ ةَ بُ نِ ةَ ا‬‫مرا أنزل ال داء إل أنزل له شفراء‬"Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menurunkan obatnya".[2]ِ‫نِ بُل ةَ م ٍ ةَ ةَ ,ٌ فنِ ةَ بُص ش ْ ةَ ةَ ةَ بُ َّ نِ ةَ ةَةَ بنِ ش ْ نِ ن‬‫لك ّ داء دواء, ةَنإذا أ نِيب دواء الداء برأ نِنإذن ال‬"Setiap penyakit ada obatnya. Jika suatu obat itu tepat (manjur) untuk suatu penyakit,maka akan sembuh dengan izin Allah". [3]Seorang muslim, bila ditimpa penyakit, ia wajib berikhtiar mencari obatnya denganberusaha secara maksimal. Dalam usaha mengobati penyakit yang dideritanya, makawajib memperhatikan tiga hal.Pertama : Bahwa obat dan dokter hanya sarana kesembuhan. Adapun yang benar-benar menyembuhkan penyakit hanyalah Allah.Allah berfirman, mengisahkan Nabi Ibrahim Alaihissallam."..dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku". [Asy Syu’ara’: 80]."Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapatmenghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, makatidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapayang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya, dan Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Maha penyayang". [Yunus : 107].Kedua : Dalam berikhtiar atau berusaha mencari obat tersebut, tidak boleh dilakukandengan cara-cara yang haram dan syirik.Yang haram seperti berobat dengan menggunakan obat yang terlarang atau barang-barang yang haram, karena Allah tidak menjadikan penyembuhan dari barang yangharam.Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:ٍ ‫نِ َّ ةَ ةَةَ ةَ َّ ةَ ةَ َّ ةَ ةَ ةَ ةَ ةَ ةَ ش ْ ةَ ةَ ةَ ةَ ةَ ةَ ش ْ نِ ةَ ةَ م‬‫إن ال خلق الداء والدواء , فتداووا ول تتداووا بحرام‬
  9. 9. "Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah danjanganlah berobat dengan (obat) yang haram".[4]ٍ ‫ةَ َّ ةَ ةَ ش ْ ةَ ش ْ ةَ ش ْ نِ ةَ ةَ بُ ش ْ نِ ةَ ةَ م‬‫إن ال لم يجعل شفراء كم في حرام‬"Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan (dari penyakit) kalian pada apa-apa yang haram".[5]Tidak boleh juga berobat dengan hal-hal yang syirik, seperti: pengobatan alternatifdengan cara mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal, orang pintar, menggunakanjin, pengobatan dengan jarak jauh dan sebagainya yang tidak sesuai dengan syari’at,sehingga dapat mengakibatkan jatuh ke dalam perbuatan syirik dan dosa besar yangpaling besar. Orang yang datang ke dukun atau orang pintar, ia tidak akan diterimashalatnya selama empatpuluh hari. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:ً‫ةَ ش ْ ةَ ةَ ةَ َّ اً ةَ ةَةَةَ بُ ةَ ش ْ ةَ ش ْ م ٍ ةَ ش ْ بُ ش ْ ةَ ش ْ ةَ بُ ص ةَ ,ٌ ةَ ش ْ ةَ نِ ش ْ ةَ ةَ ش ْةَ ا‬‫من أت ى عرا فاـرا فسأله عن شيء, لم تقبل له ةَالة أربعين ليلة‬"Barangsiapa yang datang kepada dukun (orang pintar atau tukang ramal), lalumenanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selamaempatpuluh malam".[6]ٍ ‫ةَ ش ْ ةَ ةَ ةَ َّ اً ةَ ش ْ ةَ نِ اً فص َّ ةَ بُ نِ ةَ ةَ بُ بُ ةَ ةَ ةَ ةَ ةَ نِ ةَ بُ نِ ةَ ةَ بُ ةَ َّ م‬‫من أت ى عرا فاـرا أو كراهنرا ةَ ةَدقه بمرا يقاول, فقد كفر بمرا أنزل عل ى محمد‬"Barangsiapa yang mendatangi orang pintar (tukang ramal atau dukun), lalu iamembenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yangditurunkan kepada Nabi Muhammad".[7]Apabila seseorang terkena sihir, guna-guna, santet, kesurupan jin dan lainnya ataupenyakit menahun yang tak kunjung sembuh, maka sekali-kali ia tidak bolehmendatangi dukun, tukang sihir atau paranormal. Perbuatan tersebut merupakan dosabesar. Begitu pula, seseorang tidak boleh bertanya kepada mereka tentang penyakitmaupun tentang hal-hal yang ghaib, karena tidak ada yang mengetahui perkara ghaib,melainkan hanya Allah saja; bahkan Rasulullah pun tidak mengetahui perkara yangghaib. Allah berfirman:"Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah adapadaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakankepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yangdiwahyukan kepadaku”. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orangyang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" [Al An’am : 50].Ketiga : Pengobatan dengan apa yang ditunjukkan dan diajarkan oleh NabiShallallahu alaihi wa sallam, seperti ruqyah, yaitu membacakan ayat-ayat Al Qur`andan do’a-do’a yang shahih; begitu juga dengan madu, habbatus sauda’(jintan hitam),air zam-zam, bekam (mengeluarkan darah kotor dengan alat bekam), dan lainnya.Pengobatan dan penyembuhan yang paling baik itu dengan ayat-ayat Al Qur`an,karena Al Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia, penyembuh dan rahmat bagikaum mukminin.Tidak diragukan lagi, bahwa penyembuhan dengan Al Qur`an dan dengan apa yang
  10. 10. diajarkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berupa ruqyah, merupakanpenyembuhan yang bermanfaat, sekaligus penawar yang sempurna. Allah berfirman:"Katakanlah: “Al Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yangberiman". [Fushshilat:44]."Dan kami turunkan dari Al Qur`an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagiorang-orang yang beriman". [Al Isra` : 82].Pengertian “dari Al Qur`an” pada ayat di atas ialah Al Qur`an itu sendiri. Karena AlQur`an secara keseluruhan ialah sebagai penyembuh, sebagaimana yang disebutkandalam ayat di atas.[9]Allah berfirman:∃"Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabbkalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, danpetunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". [Yunus : 57].Dengan demikian, Al Qur`an merupakan penyembuh yang sempurna diantara seluruhobat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia danakhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukanpenyembuhan dengan Al Qur`an. Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukansecara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan,penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidakada satu penyakitpun yang mampu melawannya untuk selamanya. Bagaimanamungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabbbumi dan langit, yang jika firman-firman itu turun ke gunung, maka ia akanmemporak-porandakan gunung-gunung tersebut? Atau jika turun ke bumi, niscaya iaakan membelahnya? Oleh karena itu, tidak ada satu penyakit hati dan juga penyakitfisik pun melainkan di dalam Al Qur`an terdapat jalan penyembuhannya,penyebabnya, serta pencegah terhadapnya bagi orang yang dikaruniai pemahamanoleh Allah terhadap KitabNya. Allah ‘Azza wa Jalla (Yang Maha perkasa lagi Mahaagung) telah menyebutkan di dalam Al Qur`an beberapa penyakit hati dan fisik, jugadisertai penyebutan penyembuhan hati dan fisik.Penyakit hati terdiri dari dua macam, yaitu: penyakit syubhat (kesamaran) atau ragudan penyakit syahwat atau hawa nafsu. Allah Yang Maha suci telah menyebutkanbeberapa penyakit hati secara terperinci disertai dengan beberapa sebab, sekaliguscara menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut.[10]Allah berfirman:"Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkankepadamu Al Kitab (Al Qur`an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnyadi dalam Al Qur`an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orangyang beriman". [Al ‘Ankabut : 51].Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengemukakan:
  11. 11. ُ. ُ. َ‫هاَ هاَ ِفْ هاَ ِفْ هاَ ِفْ ف ِ ف ِ ِفْ .ُ .ُ هاَ هاَ هاَ هاَ .ُ .ُ هاَ هاَ ِفْ هاَ ِفْ هاَ ِفْ ف ِ ف ِ هاَ هاَ هاَ ها‬‫. فمن لم يشفه القاران فال شفهاه اهلل, ومن لم يكفه فال كفهاه اهلل‬"Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al Qur`an, berarti Allah tidakmemberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh AlQur`an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya".[11]Mengenai penyakit-penyakit badan atau fisik, Al Qur`an telah membimbing danmenunjukkan kita kepada pokok-pokok pengobatan dan penyembuhannya, jugakaidah-kaidah yang dimilikinya. Kaidah pengobatan penyakit badan secarakeseluruhan terdapat di dalam Al Qur`an, yaitu ada tiga point: menjaga kesehatan,melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit dan mengeluarkanunsur-unsur yang merusak badan.[12]Jika seorang hamba melakukan penyembuhan dengan Al Qur`an secara baik danbenar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang menakjubkan dalam penyembuhanyang cepat.Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit,tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusahamengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al Fatihah, maka aku melihatpengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zam-zam danmembacakan padanya surat Al Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga akumendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebutdalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar”.[13]Demikian juga pengobatan dengan ruqaa (jamak dari ruqyah) Nabawi yangriwayatnya shahih, merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dan juga suatu do’ayang dipanjatkan. Apabila do’a tersebut terhindar dari penghalang-penghalangterkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalammenolak hal-hal yang tidak disenangi dan tercapainya hal-hal yang diinginkan.Demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfaat, khususnya yangdilakukan berkali-kali. Dan do’a juga berfungsi sebagai penangkal bala` (musibah),mencegah dan menyembuhkannya, menghalangi turunnya, atau meringankannya jikaternyata sudah sempat turun.[14]ُّ. ِ ‫هاَ هاَ .ُ .ُّ ِفْ هاَ هاَ هاَ ف ِ ا َّ .ُّ هاَ .ُ هاَ هاَ هاَ ف ِ ِفْ .ُ ف ِ ِفْ .ُ .ُ ف ِ ف ِ ا َّ ِفْ ف‬‫. ال يارد القضهاء إال الدعهاء, وال يزيد ف ي العمار إال البار‬"Tidak ada yang dapat mencegah qadha` (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yangdapat memberi tambahan umur kecuali kebijakan".[15]Tetapi yang harus dimengerti secara benar, bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’adan beberapa ta’awudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakanuntuk mengobati atau untuk ruqyah, pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir,do’a-do’a. Ta’awudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapatmenyembuhkan. Namun ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dankekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal,maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karenatidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat didalamnya yang menghalangi reaksi obat.
  12. 12. Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu daripihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati.Yang berasal dari pihak pasien, ialah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhannyadalam bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al Qur`an itusebagai penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan ta’awudzyang benar, yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakansuatu bentuk perlawanan. Sedangkan seseorang yang melakukan perlawanan, ia tidakakan memperoleh kemenangan dari musuh kecuali dengan dua hal, yaitu:Pertama : Keadaan senjata yang dipergunakan haruslah benar, bagus dan keduatangan yang mempergunakannya pun harus kuat. Jika salah satu dari keduanya hilang,maka senjata itu tidak banyak berarti; apalagi jika kedua hal di atas tidak ada, yaituhatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, tawajjuh (menghadap, bergantungsepenuhnya kepada Allah) dan tidak memiliki senjata.Kedua : Dari pihak yang mengobati dengan Al Qur`an dan As Sunnah juga harusmemenuhi kedua hal di atas [16]. Oleh karena itu, Ibnut Tiin rahimahullah berkata:“Ruqyah dengan menggunakan beberapa kalimat ta’awudz dan juga yang lainnya darinama-nama Allah adalah merupakan pengobatan rohani. Jika dilakukan oleh lisanorang-orang yang baik, maka dengan izin Allah Subhanahu wa Taala kesembuhantersebut akan terwujud”. [17]Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu:[18]Pertama : Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Subhanahu wa Taala, atauasma`dan sifatNya, atau sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Kedua : Ruqyah itu harus diucapkan dengan bahasa Arab, diucapkan dengan jelas dandapat difahami maknanya.Ketiga : Harus diyakini, bahwa yang memberikan pengaruh bukanlah dzat ruqyah itusendiri, tetapi yang memberi pengaruh ialah kekuasaan Allah. Adapun ruqyah hanyamerupakan salah satu sebab saja.[19]Wallahu a’lam bish Shawab, Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammadin Shallallahualaihi wa sallam.Maraji’:1. Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari, Cet. Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Tahun 1412 H.2. Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad, juz 4, oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah,tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir Al Arna-uth, Cet. Muassassah Ar Risalah, Tahun1415 H.3. Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, oleh Ibnu Hajar Al Asqalani, Cet. Darul Fikr.4. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, ta’lif Abdurrahman bin Hasan binMuhammad bin Abdul Wahab, tahqiq Dr. Walid bin Abdurrahman Al Furayyan,Tahun 1419 H.5. Adda’ wad Dawa’, oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan bin Halabi.6. Al ‘Ilaj Bir Ruqa` Minal Kitab Was Sunnah, oleh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthan[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. PenerbitYayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
  13. 13. Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016begin_of_the_skype_highlighting 0271-761016 end_of_the_skype_highlighting]_______Footnote[1]. Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari IX/26, no. 24588, Cet. I Darul Kutub Al ‘Ilmiyah,Beirut, Tahun 1412 H.[2]. HR Al Bukhari no. 5678 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .[3]. HR Muslim no. 2204, dari Jabir Radhiyallahu anhu .[4]. HR Ad Daulabi dalam Al Kuna, dari sahabat Abu Darda`. Sanadnya hasan,dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.1633.[5]. HR Abu Ya’la dan Ibnu Hibban (no.1397, Mawarid), lihat Shahih MawaridizhZham-an, no. 1172, dari Ummu Salamah, hasan lighairihi.[6]. HR Muslim no. 2230 (125), Ahmad IV/68, V/380 dari seorang isteri RasulullahShallallahu alaihi wa sallam[7]. HR Ahmad II/408,429,476; Hakim I/8; Baihaqi, VIII/135; dari sahabat AbuHurairah. Dishahihkan oleh Hakim dan disetujui Adz Dzahabi. Syaikh Al Albanimenshahihkan juga dalam Shahih Al Jami’ish Shaghir no.5939.[8]. Ruqyah, jama’nya adalah ruqaa. Yaitu bacaan-bacaan untuk pengobatan yangsyar’i, berdasarkan pada riwayat yang shahih, atau sesuai dengan ketentuan-ketentuanyang telah disepakati oleh para ulama.[9]. Lihat Al Jawabul Kafi Liman Sa-ala’anid Dawa-isy Syafi (Jawaban yangmemadai bagi orang yang bertanya tentang obat penyembuh yang mujarab), atau AdDa’wad Dawaa’ (penyakit dan obatnya), karya Ibnul Qayyim, hlm.7, tahqiq SyaikhAli Hasan Ali Abdul Hamid.[10]. Lihat Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim (IV/5-6).[11]. Lihat Zaadul Ma’ad (IV/352).[12]. Lihat Zaadul Ma’ad (IV/6, 352).[13]. Lihat Zaadul Ma’ad (IV/178).[14]. Lihat Adda’ Wad Dawa’, hlm.10.[15]. HR Al Hakim dan At Tirmidzi, no.2139 dari Salman z dan dihasankan olehSyaikh Al Albani. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 154.[16]. Lihat Zaadul Ma’ad (IV/67-68).[17]. Fathul Baari (X/196).[18]. Lihat Fathul Baari (X/195), juga Fatawa Al ‘Allamah Ibni Baaz (II/384).[19]. Lihat Al ‘Ilaj Bir Ruqaa Minal Kitab Was Sunnah, hlm. 83.Ruqyah Yang KeliruKamis, 1 April 2010 22:55:12 WIBRUQYAH YANG KELIRUKebenaran ruqyah sebagai pengobatan sudah dibuktikan oleh para ulama dahulu.Adapun pada masa sekarang ini (dan juga masa sebelumnya), praktek pengobatanyang dianjurkan oleh Sunnah Nabi ini, nampak mengalami beberapa pergeseran tata
  14. 14. cara dan tujuan. Terjadinya pergeseran ini, disamping telah menimbulkan kesalahanpersepsi tentang ruqyah, juga memunculkan adanya kekhawatiran menyangkutmasalah aqidah.Penyimpangan yang terjadi, di antaranya berpangkal dari dual hal. Pertama, buta ataukurang memahami permasalahan agama. Kedua, membenarkan bualan jin yangmerasuki badan seseorang. Misalnya, jin tersebut melontarkan nasihat kepada orangyang akan mengobati, dengan mengatakan –misalnya- kondisi penderita ini demikian,bacalah ayat ini ayat itu, atau tulislah Al Qur’an dengan cara tertentu kemudianlakukan ini itu. Dari sini, kemudian sang terapis menuruti petunjuk jin yang banyakmenjerumuskan orang-orang ke jurang perbuatan haram.Berikut kami sebutkan di antara kekeliruan dalam praktek ruqyah.1. Mengajak Jin Untuk Berkomunikasi Dan Membenarkan Ocehannya.Sering terjadi adanya komunikasi dengan jin dan melontarkan pertanyaan kepadanyatentang banyak permasalahan. Baik tentang nama, umurnya dan keyakinannya.Orang-orang pun mudah mempercayainya. Fenomena ini hanya akan mengantarkanmanusia menuju kerusakan dan pelanggaran. Orang-orang seolah melupakan bahwajin bukan sumber talaqqi ilmu. Sebab kedustaanlah yang mendominasi sepak terjangjin. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah:“Dia (saat ini) jujur kepadamu, tetapi ia makhluk yang pendusta”.Praktek seperti di atas mengandung unsur pelanggaran terhadap petunjuk NabiShallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani berkata: Dahulu, orang-orang yangmenangani ruqyah di hadapan orang kesurupan, hanyalah ditangani beberapa individuyang shalih dengan jumlah tidak banyak. Sedangkan sekarang ini, jumlah merekaratusan orang. Bahkan termasuk juga sekumpulan wanita mutabarrijah (pesolek).Akibatnya praktek ini menyimpang dari statusnya sebagai sarana pengobatan syar’i –yang hanya dilakukan oleh para ahlinya- berubah menjadi fenomena dan saranakehidupan yang tidak dikenal syariat ataupun ilmu kedokteran sekaligus. Justrumenurutku termasuk praktek dajl (kedustaan) dan bisikan setan kepada musuhnya,manusia…. Barangsiapa yang meminta pertolongan dengan jin dalam membuangpengaruh sihir atau ingin mengetahui jati diri jin yang sedang merasuki seseorang –jin itu laki-laki atau perempuan, muslim atau kafir- dan kemudian dibenarkan olehorang tadi dan juga orang-orang yang bersamanya, niscaya mereka ini tercakup dalamkandungan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Barangsiapa mendatangitukang ramal, atau dukun dan membenarkannya atas ucapannya, maka ia telahmengingkari risalah yang diturunkan kepada Muhammad”. [Hadits ini diriwayatkanoleh Muslim dan imam lainnya. Lihat Ghayatul Irwa`, no. 2006]. Maka aku inginmemberikan masukan untuk mereka –kalau mereka tetap menjalankannya- saatberkomunikasi dengan jin, tidak melebihi petunjuk Nabi yang hanya mengatakan“Keluarlah kamu, wahai musuh Allah”. Lihat Silsilah Shahihah, 6/1009-1010.Komunikasi dalam pengobatan ruqyah ini justru berdampak buruk, di antaranya:Pertama : Terjadinya fitnah dan perseteruan antara manusia. Sebab, tatkala jinmengatakan bahwa si Fulan adalah aktor yang menyusupkan pengaruh sihir, dan inididengar oleh orang banyak, maka dapat mengakibatkan timbulnya permusuhan dankebencian di antara kaum Muslimin. Berapa banyak tali silaturahmi yang putus,
  15. 15. rumah yang hancur dan keluarga yang tercerai-berai lantaran perkataan jin yang adadalam tubuh korban kerasukan?Kedua : Jin akan lebih lama tinggal dalam tubuh korban, lantaran bacaan Al Qur`andihentikan dengan komunikasi tersebut.2. Menyembelih Hewan Sembelihan Untuk Jin.Perbuatan ini haram, karena termasuk dalam kategori syirik. Nabi Shallallahu alaihiwa sallam bersabda: “Allah melaknati orang yang menyembelih untuk selain Allah”.3. Terlalu Bergantung Pada Pengalaman.Karena terlalu longgar, banyak peruqyah yang memiliki cara tersendiri, berbedadengan cara rekan sejawatnya yang lain. Mereka berdalih, cara ini sudah melewati ujicoba dan ternyata manjur.Sebagai contoh, mengolesi minyak pada anggota tubuh tertentu, membaca Al Qur`andi depan satu bejana air dan berwudhu dengannya, juga untuk mandi denganberlebihan, penggunaan kayu wangi (bukhur), penggunaan cara kekerasan denganintimidasi terhadap jin, keinginan untuk membakarnya, atau bahkan inginmembunuhnya. Cara yang dipakai kadang dengan pukulan, cekikan (pada korban),menggelapkan ruangan tempat terapi, membakar beberapa bagian anggota tubuhkorban. Atau dengan melakukan ruqyah di hadapan orang banyak demi menghematwaktu. Caranya, menggunakan pengeras suara di dalam masjid dengan memfokuskanpada ayat-ayat yang diklaim sebagai ayat ruqyah.Syaikh Al Albani mengatakan: “Tidak setiap pengalaman yang bermanfaatmenunjukkan, bahwa cara seperti itu sesuai dengan syariat. Sebab, seandainyamasalah ini dibuka secara bebas, maka akan membuka kelonggaran untuk kedustaan,bid’ah dan khurafat. Atau tidak menutup kemungkinan terjadinya kesyirikan”.4. Berprofesi Sebagai Pembaca Ruqyah.Ada sebagian orang yang menyibukkan diri untuk mengobati dengan cara ruqyah.Waktunya hanya habis untuk membaca di depan orang-orang yang sakit. Tempattinggal diperluas dan siap menerima kedatangan para pasien. Jadwal kunjungan punditetapkan layaknya rumah sakit. Kesibukan ini dijadikan sebagai pekerjaan untukmencari penghidupan. Fenomena ini akan menimbulkan dampak negatif.Pertama : Kebanyakan orang akan mengira, bahwa peruqyah ini mempunyaikeistimewaan tersendiri. Buktinya banyak pengunjung mendatanginya. Akibatnya,menimbulkan asumsi, jika posisi pembaca Al Qur`an melebihi kedudukan yangdibacanya, yaitu Al Quran. Oleh karena itu, segala akses yang berakibat melemahnyakepercayaan orang kepada Al Qur`an harus dicegah.Kedua : Sang peruqyah juga mungkin akan mengira dirinya mempunyai kekuatansuper sehingga setan-setan takluk di hadapannya. Sehingga penyakit ‘ujub dantakabur merasukinya, demikian juga perasaan buruk lainnya.Dahulu, pada zaman sahabat, ada sekian sahabat yang dikenal doanya terkabul, sepertiSa’ad bin Abi Waqqash, dan juga Uwais Al Qarni dari kalangan tabi’in. Meski begitu,tidak diketahui atsar yang menunjukkan adanya orang-orang memadati rumahnya
  16. 16. untuk meminta doa. Padahal doa mustajab sangat dibutuhkan orang-orang untukmemperbaiki dunia dan akhiratnya.Ketiga : Orang yang menyibukkan diri untuk meruqyah, adalah laksana orang yangmengkhususkan diri untuk mendoakan orang lain, karena jenisnya sama. Apakahpantas bagi seorang muslim mengatakan, kemarilah aku akan doakan kalian. Apalagipraktek ini mematikan semangat orang untuk meruqyah diri sendiri dan memintapenyembuhan dari Allah semata.5. Meminta Upah Dengan Berbagai Cara.Imbal balik ini dilakukan dengan beragam cara :Pertama : Memaksa agar diberi upah yang tinggi.Kedua : Menolak meruqyah kecuali setelah menerima satu nominal uang daripenderita.Ketiga : Sengaja mengulangi pengobatan dan memanjangkan waktunya sehinggadapat menerima upah untuk setiap kesempatan.Keempat : Mereka mengaku tidak meminta upah, tetapi hanya ada jual beli air“bertuah” yang sudah dibacakan ruqyah padanya. Air “bertuah” dicampur denganbeberapa ramuan alami, kemudian dijual dengan harga mahal.6. Membuat Dzikir-Dzikir Baru Dalam Agama.Dalam beberapa buku disebutkan adanya pengobatan dengan ayat Al Qur`an, dzikir-dzikir yang umum dalam syariat, namun cara ketentuan membacanya ditetapkandengan cara-cara yang khusus.Sebagai misal, adanya ketentuan agar ayat ini atau dzikir ini dibaca duapuluh kali atauseratus kali. Padahal sama sekali tidak ada keterangannya dalam agama. Contohkonkretnya dalam buku Itsbatu ‘Ilaji Jami’i Al Amradhi Bil Qur`an (ketetapanpenyembuhan segala penyakit dengan Al Qur`an). Dalam buku tersebut dijelaskan,setelah penulis menyebutkan ayat-ayat terapi, ia menambahkannya dengan ketentuan“hendaknya ditulis dalam piring buatan Cina, berwarna putih tanpa ornamen. Tentuyang seperti ini merupakan kesalahan.Disamping cara-cara ruqyah yang keliru di atas, masih ada beberapa cara yangmenyimpang lainnya, seperti:- Meyakini bahwa ruqyah benar-benar bermanfaat dan merupakan faktor penyembuh.- Membuka pengobatan dengan menanyakan nama dan nama ibu pasien.- Meminta benda-benda yang pernah dipakai pasien.- Meminta penyembelihan hewan dengan cara khusus. Dan kadang, setelah itumemerintahkan untuk melumuri badan penderita dengan darah hewan tersebut.- Menuliskan beberapa kalimat yang tidak dapat dipahami layaknya kode morse atauhuruf yang putus-putus.- Melakukan komat-kamit dengan kalimat yang tidak terpahami.- Membekali pasien dengan benda untuk dipendam di sekitar rumah.- Menyatakan mampu memberi tahu pasien tentang kondisi yang dialaminya.- Terlihatnya tanda-tanda kefasikan pada seorang peruqyah, seperti malas menunaikanshalat berjamaah.- Dalam pengobatan wanita, dengan dalih sebagai penyembuh atau dengan alasanterpaksa, kadang sang peruqyah membuka aurat wanita, melihat wanita di tengah
  17. 17. pengobatan, meletakkan tangan di tubuh pasien wanita atau mengoleskan cream dibeberapa anggota tubuhnya. Padahal, wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum lelaki.Disinilah setan berusaha menjerumuskan para terapis ke jurang pelanggaran syari’atdengan dalih penyembuhan, dan masih banyak lainnya.Demikian praktek ruqyah yang bisa dianggap bisa mewakili terungkapnya beberapakekeliruan yang terjadi seputar ruqyah. Bagi mereka yang melakukan terapi ruqyah,hendaknya berpegang teguh dengan petunjuk Al Qur`an dan Sunnah yang shahih.Jangan sampai setan mempermainkan mereka. Allah berfirman, yang artinya: Makahendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atauditimpa adzab yang pedih. [QS An Nur ayat 63]. (Red)Maraji`:1. As Sihru Wa Al’Ain Wa Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, karya Fahd bin Sulaiman AlQadhi`, Cetakan Haiah Al Amru Bil MA’rufi Wan Nahyi ‘Anil Mungkar, tanpatahun.2. Fathur Rahman Fi Bayani Hajril Qur`an, karya Abu Anas Muhammad bin FathiAlu ‘Abdul Aziz dan Abu Abdir Rahman Mahmud bin Muhammad Al Mallah, DarThayyibah Al Kadhra`, Mekkah, Cet. II, Th. 2002.3. Nazharat Wa Ta`ammulat Min Waqi’i Al Ummah, karya Dr. Muhammad binAbdur Rahman Al Khumayyis, Maktabah Ash Shabahah Sharjah Uni Emirat, Cet. I,Th. 1419 H/1998M.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. PenerbitYayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 SelokatonGondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016begin_of_the_skype_highlighting 0271-761016 end_of_the_skype_highlighting]Hukum Mengkhususkan Diri Untuk Meruqyah Dan Menjadikannya Sebagai Pekerjaan TetapSelasa, 30 Maret 2010 13:30:32 WIBHUKUM MENGKHUSUSKAN DIRI UNTUK MERUQYAH DANMENJADIKANNYA SEBAGAI PEKERJAAN TETAPOleh
  18. 18. Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasPada zaman sekarang ini, ada sebagian thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) menjaditerkenal bisa mengobati orang dengan menggunakan ruqyah. Kemampuan meruqyahmembuatnya menjadi terkenal sehingga dapat dijumpai sarana-sarana tersebut ditengah-tengah masyarakat.Dengan banyaknya imbalan yang diperoleh dari meruqyah ini, mereka relamelepaskan kesibukan-kesibukan dan mengambil jalan pintas dengan caramengkhususkan diri sebagai tukang ruqyah. Mereka pun banyak memperluas waktuuntuk itu dan selalu siap apabila ada orang yang datang untuk berobat, sehinggamembuat mereka sibuk mengatur jam-jam berobat layaknya dokter-dokter dan rumahsakit spesialis, serta menjadikan meruqyah ini sebagai pekerjaan tetap (profesi).Mereka mengkhususkan diri untuk meruqyah dan menjadikannya sebagai pekerjaantetap (mata pencaharian) sehingga menjadikan dirinya terkenal. Cara seperti ini dapatmendatangkan kemudharatan, baik bagi peruqyah itu sendiri maupun bagi merekayang diruqyah. Di antara kemudharatan itu antara lain:Dengan banyaknya pengunjung yang datang berobat kepada peruqyah, bisamenimbulkan kesalahpahaman di kalangan orang awam. Mereka menyangka, hanyadengan melihat banyaknya pengunjung yang datang kepadanya, peruqyah tadimempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga dengandemikian, pentingnya peruqyah melebihi pentingnya bacaan-bacaan yang dibaca olehperuqyah tadi, yaitu kalam Allah Subhanahu wa Taala . Bahkan orang-orang awamtersebut tidak lagi melihat pentingnya apa yang dibaca oleh peruqyah, namun hanyamelihat kepada peruqyah itu saja.Dalam hal meruqyah, yang memberi manfaat sebenarnya adalah apa yang dibaca dariAl Qur`an, sedangkan peruqyah itu sendiri hanya membacakan saja. Allah Subhanahuwa Taala berfirman:"Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu penawar dan rahmat bagi orang-orang yangberiman…" [Al Isra` : 82].Dalam surat lain Allah berfirman :"…Katakanlah: “Al Qur`an itu adalah penawar dan petunjuk bagi orang-orang yangberiman …." [Fushilat:44].Kita tidak memungkiri ada atsar dari keshalihan peruqyah, kuat keimanannya, tsiqah-nya terhadap Allah Subhanahu wa Taala, serta tawakalnya kepadaNya, namunsebenarnya, dia itu hanyalah membacakan saja. Karena yang mempunyai pengaruhkesembuhan, sebenarnya ialah kalamullah, yaitu Al Qur`an Al Karim yang dibacaoleh si peruqyah tersebut.Jadi setiap apa yang melemahkan kepercayaan seseorang terhadap kalamullah, makaseharusnya dicegah dan tidak dibiarkan.
  19. 19. Ibnul Qayyim berkata: “Maka Al Qur`an-lah yang menjadi obat sempurna bagi semuapenyakit hati, penyakit badan, maupun penyakit dunia dan akhirat. Tidak seorang punyang bisa menyembuhkannya kecuali Dia. Apabila seseorang sudah memperbaikicaranya berobat dengan menggunakan Al Qur`an, kemudian sudah dia tempatkanpada anggota badan yang sakit dengan penuh keyakinan dan keimanannya, menerimadengan lapang dada, dan dengan keyakinan yang mantap serta semua syarat-syaratnyasudah terpenuhi, maka penyakit itu tidak akan pernah menghalanginya untukmendapat kesembuhan. Sebab bagaimana mungkin penyakit dapat menghalangiataupun melawan kalam Allah Subhanahu wa Taala, Rabbnya segala apa yang ada dilangit dan di bumi; apabila Al Qur`an itu diturunkan di atas gunung, maka gunung ituakan hancur; atau kalau diturunkan di atas bumi, maka bumi itu sendiri akanterpotong dan terbelah" [1].Apabila kita melihat sirah (perjalanan hidup) Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,sirah sahabat-sahabatnya serta sejarah para ulama kaum Muslimin yang tidakdiragukan lagi keimanan dan kelebihan mereka, maka kita tidak akan menemukanseorang pun di antara mereka yang meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka danmengkhususkan diri dengan membuka praktek pengobatan melalui ruqyah. Kita jugatidak akan mendapatkan salah seorang pun di antara mereka yang menjadikan ruqyahsebagai mata pencaharian, sehingga membuat mereka menjadi terkenal di kalanganmasyarakat, apabila disebut namanya, maka disebut juga pekerjaannya ini besertanamanya.Tidak diragukan lagi, bahwa setiap zaman penyakit-penyakit itu bertambah banyak.Namun kita tidak melihat salah seorang pun dari pemimpin kaum Muslimin yangmenisbatkan dirinya sebagai tukang ruqyah seperti penisbatan kepada mufti (pemberifatwa) dan qadhi (hakim). Pada zaman dahulu, orang yang menderita suatu penyakit,dia sendirilah yang meruqyah dengan menggunakan Kitab Allah (Al Qur`an) dando’a-do’a yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan bila ada seseorangyang sakit, kemudian ia diruqyah oleh orang yang faham tentang agama, maka hal ituboleh saja. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:Ada seorang di antara kami yang digigit kalajengking pada waktu itu kami sedangduduk bersama Rasulullah, lalu ada seorang berkata,”Ya, Rasulullah. Bolehkah sayameruqyahnya?” Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:ْ َ‫ْلَ نِ ْ ْلَ ْلَ ْلَ نِ ْ ُ ْ ْلَ ْ ْلَ ْ ْلَ ْلَ ْلَ ْلَ ُ ْلَ ْ ْلَ ْ ْل‬‫من استطهاع منكم أن ينفع أخهاه فليفعل‬"Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya,hendaklah ia lakukan". [2]Seandainya mengkhususkan diri untuk meruqyah dan menjadikannya sebagaipekerjaan tetap (profesi) serta menyebarkannya di kalangan masyarakat adalah suatukebaikan, tentu para sahabat akan melakukannya lebih dahulu daripada kita. Hal ini,sama juga ketika suatu amalan yang termasuk bagian dari syari’at Islam, namundilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, kemudian dianggapbaik oleh masyarakat, maka demikian itu termasuk bid’ah. Hal ini sesuai denganpenjelasan As Salt bin Bahram, dia berkata: “Sungguh pada suatu hari Ibnu Mas’udRadhiyallahu anhu berjalan melewati seorang perempuan yang sedang memegangtasbih yang ia gunakan untuk bertasbih, maka Ibnu Mas’ud pun memotong tasbih
  20. 20. tersebut lalu membuangnya”. Kemudian beliau juga melewati seorang laki-laki yangsedang bertasbih (memuji-muji kepada Allah) dengan menggunakan batu-batu kecil,beliau pun menendang batu-batu itu dengan kakinya, lantas berkata,’Kelalaian telahmembawa kebid’ahan yang merupakan suatu kezhaliman, atau kalian telahmelampaui keilmuan para sahabat Radhiyallahu anhum ?’." [3]Sebenarnya yang membuat para tukang ruqyah pada zaman kita ini lebih terkenalialah, karena mereka menyediakan tempat-tempat khusus untuk menemui merekakapan mereka suka, sebagaimana yang dilakukan para dokter, pedagang atau pemilikperusahaan lainnya.Seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membuka tempat khusus untuk meruqyah-tentu akan banyak yang datang, dan kemudian beliau sibuk hanya untuk menemuimereka kapan mereka mau- tentu beliau tidak akan dapat mengajarkan ilmu syar’i,dan juga tidak dapat menjelaskan tentang kebenaran agama Islam kepada umat.Terlebih lagi pada zaman yang diliputi kejahilan seperti saat ini serta merebaknyakebodohan dan khurafat, ketergantungan kepada selain Allah, kepada wali-wali setan,para syaikh dan kepada tokoh tertentu.Para ulama Ahlus Sunnah tidak mengkhususkan diri mereka semata-mata untukmelayani pengobatan dengan ruqyah ini, karena mereka betul-betul faham terhadapagama Islam -semoga Allah merahmatinya-. Para ulama Ahlus Sunnah banyakmenyibukkan diri dengan menuntut ilmu untuk memahami agama Islam,mendakwahkannya dan berjihad di jalan Allah.Para setan, apabila melihat ketergantungan seseorang kepada peruqyah yang sudahmenolongnya, maka tanpa sepengetahuannya, setan itu akan berpura-pura takutkepada peruqyah, kemudian akan mengatakan bahwa dirinya akan keluar dari tubuhorang yang dimasukinya tadi dan yang semisalnya, dengan tujuan untuk menambahkepercayaan orang tadi kepada peruqyah lebih kuat daripada kepercayaannyaterhadap apa yang dibaca oleh peruqyah itu. Di samping itu, setan-setan itu jugabermaksud agar orang awam berkeyakinan, bahwa ruqyah mempunyai keanehantersendiri.Dalam riwayat Abu Dawud dengan lafazhnya sebagai berikut: dari Zainab -istriAbdullah bin Mas’ud c – berkata: Sesungguhnya Abdullah melihat benang di leherku,lalu ia berkata,”Apa ini?” Aku menjawab,”Benang untuk meruqyahku”. Zainabberkata: Lalu Abdullah mengambilnya, kemudian memotongnya, lalu ia berkata :Kamu semua, wahai keluarga Abdullah, sungguh tidak butuh kepada syirik. Aku telahmendengar Rasulullah bersabda.ٌ ْ ِ‫نِ َّ ُّ ْلَ ْلَ َّ ْلَ نِ ْلَ ْلَ َّ ْلَْلَ ْلَ ن‬‫إن الرق ى والتمهائم والتولة شرك‬"Sesungguhnya ruqyah [4], tamimah[5], dan tiwalah[6] adalah syirik".Maka aku berkata: “Waktu itu mataku berair, dan aku berobat kepada fulan Yahudi.Jika ia meruqyahku, maka aku merasa enak”.Maka Abdullah berkata: Itu hanyalah perbuatan setan. Setan itu merangsangnyadengan tangannya. Karenanya, jika ia meruqyah, ia menahannya dari rasa salah. Akan
  21. 21. tetapi cukuplah kamu mengucapkan sebagaimana Rasulullah ucapkan.‫. أذهب البأس رب النهاس, واشف أنت الشهاف ى, الشفهاء إال شفهاؤك شفهاء اليغهادر سقمها‬ ً‫ْلَ ْ نِ نِ ْ ْلَ ْ ْلَ ْلَ َّ َّ نِ ْلَ ْ نِ ْلَ ْ ْلَ َّ نِ ْلَ نِ ْلَ ْلَ نِ َّ نِ ْلَ ُ ْلَ نِ ْلَ .اً ْلَ ُ ْلَ نِ ُ ْلَ ْلَ .ا‬"Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia, dan sembuhkanlah! Engkau adalahDzat Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan Engkau, kesembuhanyang tidak meninggalkan penyakit". [7]Tipu daya setan terhadap manusia itu sangat besar, sampai-sampai tidak bisadiketahui, kecuali oleh orang-orang yang faqih dalam masalah agama. Sedangkan apayang dilakukan orang-orang awam ketika mendengar cerita-cerita aneh tentang siperuqyah, mereka hanya berlomba-lomba menemui tukang ruqyah itu danmemberikan kepada mereka upah yang tidak sedikit jumlahnya. Lebih-lebih lagiapabila mereka mendengar bahwa setan-setan berbicara dengan menggunakan lidahorang-orang yang dimasukinya tadi di depan peruqyah, kemudian peruqyah tadimembuat perjanjian dengan setan itu untuk tidak masuk lagi ke dalam tubuh orangyang dimasukinya tersebut.Semakin banyak tersebar cerita-cerita aneh seperti ini, semakin banyak pula orang-orang yang mendatangi peruqyah ini dengan maksud untuk memastikan bahwa dalamdirinya memang tidak ada jin. Seandainya keadaan seperti ini memang benarmerupakan karamah dari Allah Subhanahu wa Taala, maka seharusnya bagi peruqyahitu untuk takut dari akibat yang disebabkan oleh perbuatannya itu. Apalagi seandainyaia tidak bisa menjamin bahwa hal itu bisa mengakibatkan istidraj, atau hal itu hanyamerupakan tipu daya setan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketika kejadian-kejadian yang luar biasa itusering terjadi pada diri seseorang, maka hal itu tidaklah mengurangi derajat orangtersebut. Banyak di antara orang-orang shalih yang bertaubat dari hal seperti ini.mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Taala sebagaimana taubatnya orang-orang yang berbuat dosa-dosa, seperti dosa zina dan mencuri. Mereka mengadukanhal itu kepada yang lainnya lantas berdo’a memohon kepada Allah Subhanahu waTaala untuk menghilangkannya. Mereka juga memerintahkan kepada orang-orangyang ingin bertaubat agar jangan mengharapkan kejadian-kejadian aneh tersebut,lantas menjadikannya sebagai ambisi yang harus didapatkannya. Jangan pulaberbangga dengan hal itu kemudian menyangka, bahwa hal itu sebagai bagian darikaramah. Bagaimana seandainya, jika hal itu benar-benar perbuatan setan denganmaksud untuk menyesatkan mereka? Karena saya tahu, orang-orang yang diajakberbicara oleh tumbuh-tumbuhan, ia memberitahukan bahwa di dalam dirinya adamanfaatnya. Saya tahu, sebenarnya yang mengajak mereka berbicara itu adalah parasetan yang ada dalam tumbuh-tumbuhan tersebut. Saya juga mengerti orang-orangyang diberi tahu oleh batu, pohon; lantas batu dan pohon-pohon itu berkata kepadamereka “Mudah-mudahan dapat menyenangkanmu wahai wali Allah”. Ketikadibacakan ayat kursi kepadanya, maka hilanglah semua itu. Saya juga mengerti orang-orang yang pergi menangkap burung; lantas burung-burung itu berkata kepadanya“Bawalah diriku agar aku dimakan oleh orang-orang yang sangat membutuhkan”. Halitu bisa terjadi, karena setan masuk ke dalam tubuh burung itu; sebagaimana ia masukke dalam tubuh manusia, lalu berkata seperti yang diucapkan tadi”.[8]Bisa jadi, orang-orang yang meruqyah itu merasa bahwa dirinya adalah salah seorang
  22. 22. wali Allah yang berbakti kepadaNya, atau merasa tinggi hati dan yang lainnya. Inidisebabkan karena begitu banyak penyakit yang sudah disembuhkan oleh AllahSubhanahu wa Taala melalui ruqyahnya; demikian juga melihat bagaimana setantakut kepadanya dan langsung keluar dari orang yang kesurupan, dan yang lainnya.Para salafush shalih dahulu -semoga Allah merahmati mereka- merasa takut dankhawatir terhadap hal-hal seperti ini, dan mereka pun menutup jalan masuk perasaan-perasaan seperti itu.Orang yang meruqyah, sebagaimana yang sudah disebutkan di muka, tidaklah sepertiseorang dokter yang banyak dikunjungi para pasien untuk berobat kepadanya; karenaseorang dokter itu mengobati dengan pengobatan yang sudah diketahui, dan dia tidakmengetahui bahwa obat itu bermanfaat kecuali apabila pasien itu sendiri yangmengatakan kepadanya tentang penyakitnya. Bahkan seorang pasien meyakini, bahwakesembuhannya itu tergantung dengan obat-obatan yang diberikan oleh dokter, bukandengan dokter yang mengobatinya. Ini berbeda dengan seorang peruqyah; maka diamenyangka bahwa kesembuhan itu tergantung pada dirinya bukan kepada apa yangdibacanya, dengan alasan Al Qur`an ada pada diri setiap Muslim, mereka bisamembacanya kapan saja mereka inginkan, namun walaupun demikian, merekaberserah diri agar yang membacanya itu harus si peruqyah. Hal ini bisa memasukkanperasaan ujub dan sombong pada diri peruqyah; dia menyangka dirinya denganprasangka yang bermacam-macam. Tidak diragukan lagi, menjauhi hal seperti iniadalah lebih baik. Allahu a’lam bish shawab.Salah satu kritik yang perlu diarahkan kepada para tukang ruqyah yang menggunakantata cara yang tidak dicontohkan syar’i. Yaitu, kadang-kadang mereka berbicara tanpadidasari oleh ilmu. Misal, apabila mereka meruqyah seseorang, namun jin yang adadalam tubuh orang tersebut tidak mau berbicara, mereka dengan mudahnya berkata“tidak ada jin dalam tubuhmu, namun engkau hanya terkena ‘ain”, atau perkataan“tidak ada jin dalam tubuhmu dan tidak juga penyakit ‘ain”. Mereka juga berkata“kami tidaklah meruqyah orang kesurupan, kecuali jin itu pasti akan berbicara danberdialog dengan kami karena takutnya kepada kami, atau kepada bacaan-bacaanyang kami baca”.Hal seperti ini bukan berarti menunjukkan si peruqyah tersebut berilmu. Karenasesungguhnya orang yang kesurupan, apabila dibacakan doa dan dzikir-dzikir yangbiasa digunakan untuk meruqyah, kemudian jin yang ada di dalam tubuhnya itumerasa takut, maka disebabkan karena ketakutannya itu ia pun berbicara. Ataumungkin saja jin itu tidak berbicara dan tidak takut. Jadi, dari mana para tukangruqyah itu mengatakan dengan yakin, bahwa tidak ada jin atau penyakit ‘ain pada diriseorang kesurupan yang sedang diruqyahnya? Kesurupan seperti ini bisa terjadi,karena orang yang sakit tadi meninggalkan doa-doa yang diajarkan Nabi Shallallahualaihi wa sallam, dan sebaliknya ia yakin dengan perkataan-perkataan para tukangruqyah. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuantentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akandimintai pertanggung-jawabannya". [Al Isra`: 36].Hal yang perlu juga dikritik dari para peruqyah tersebut, yaitu cara merekamengumpulkan orang-orang yang datang berobat kepadanya, kemudian dia
  23. 23. membacakan kepada mereka sekaligus dengan satu bacaan, dengan tujuan untukmempersingkat waktu, karena begitu banyak orang yang datang berobat kepadanya.Kemudian para pengunjung tadi mengambil ludah peruqyah dengan menggunakanbejana-bejana mereka. Ataupun mengadakan majelis khusus dengan mengundangbanyak orang untuk diruqyah, kemudian diruqyah satu persatu, dengan maksudsebagai tontonan kepada masyarakat sebagai media pengobatan massal.Melihat begitu banyaknya keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan caraseperti itu oleh para peruqyah, seperti harta banyak, maka beberapa dukun maupunorang pintar dan pembohong besar berlomba-lomba menampakkan diri sebagaitukang ruqyah. Mereka pun membuka tempat-tempat khusus untuk tujuan ini,mencampurkan kebenaran dengan kebatilan sehingga membuka pintu-pintukehancuran bagi umat manusia. Dengan demikian, sulit untuk mengingkari paradukun dan orang pintar, karena semuanya bercampur dengan orang yang tidakmencampurkan bacaan mereka dengan tipuan atau ramalan yang mengakibatkansulitnya membedakan antara mereka. Dan suatu kemungkaran itu menjerumuskankepada kehancuran, maka wajib bagi kita untuk mencegahnya, sekalipun orang yangmelakukan hal itu bermaksud baik.Abdullah bin Mas’ud dan para sahabatnya serta para ulama tersohor melarang untukmenggantungkan Al Qur`an walaupun itu adalah kalamullah, sebagai cara untukmencegah kemungkaran, agar hal itu tidak menjurus pada penggantungan tama’im[9]. Dan sebagaimana hal ini difatwakan oleh Lajnah Ad Da’imah Lil Buhutsil‘Ilmiah Wal Ifta’ Saudi Arabia.[10]Orang-orang yang mengkhususkan diri untuk meruqyah dan menjadikannya sebagaipekerjaan tetap (profesi), mereka mengira jika hal itu boleh saja dilakukan dan hukummelakukannya adalah sunnah; dan sunnah termasuk salah satu hukum syar’i yangmerupakan suatu ibadah. Maka perbuatan ini bisa menjerumuskan mereka ke dalamperbuatan bid’ah, karena menjadikan ruqyah sebagai profesi tidak pernah dilakukanoleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak juga oleh para khulafa’urrasyidin.Adapun yang terjadi pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketika beberapasahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melewati sebuah sumber air yang didekatnya ada sekelompok orang. Salah seorang dari sekelompok orang tersebutdigigit binatang berbisa. Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Apakah diantara kalian ada yang dapat meruqyah karena di dekat sumber air itu ada orang yangtersengat binatang?” Kemudian pergilah salah seorang di antara para sahabatmembacakan surat Al Fatihah dengan perjanjian, apabila ia sembuh, maka ia dibayardengan seekor kambing. Setelah dibacakan, orang itu pun sembuh, lalu iamemberikan seekor kambing sesuai dengan perjanjian mereka sebelumnya. Ketikasahabat tadi kembali ke rombongannya dengan membawa seekor kambing,rombongannya tidak mau menerima kambing itu dan berkata: “Engkau telahmengambil upah dari kitab Allah”. Ketika mereka sampai di kota Madinah, merekapun melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam .Mereka berkata,”Wahai, Rasulullah. Bolehkah kita mengambil upah dari KitabAllah?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu menjawab:ِ‫نِ َّ ْلَ ْلَ َّ ْلَ ْلَ ْلَ ْ ُ ْ ْلَْلَ ْ نِ ْلَ ْ .اً نِ ْلَ ُ ن‬‫.إن أحق مها أخذتم عليه أجرا كتهاب اهلل‬
  24. 24. "Sebaik-baik upah yang kalian ambil adalah upah dari Kitab Allah".[11]Beberapa sahabat ada yang terkenal dengan doanya yang mustajab, seperti Sa’ad binAbi Waqqas. Dia termasuk salah seorang dari sepuluh orang yang diberi kabargembira untuk masuk surga, dan termasuk orang yang didoakan oleh RasulullahShallallahu alaihi wa sallam agar doanya terkabul. Sa’ad berkata: Rasulullahmendoakanku :َ‫ْلَ َّ ُ َّ ْ ْلَ نِ ْ ْلَ ُ نِ ْلَ ْلَ ْلَ ْل‬‫اللهم استجب له إذا دعهاك‬"Ya Allah, kabulkanlah doanya apabila ia berdoa kepadaMu".[12]Selain itu juga beberapa tabi’in (pengikut Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) sepertiUwais Al Qarni Radhiyallahu anhu. Namun, walau demikian keadaannya, tidaklahmembuat kaum Muslimin sangat membutuhkan kemustajaban doa mereka untukmemperbaiki dunia dan agama kaum Muslimin, meski sebenarnya tidak ada larangansyar’i untuk datang dan meminta doa kepada mereka, sebagaimana yang dilakukanUmar bin Khaththab z kepada Uwais bin Al Qarni, karena Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam memberitahukannnya untuk melakukan hal itu. Walau demikian,tidak diragukan lagi, seandainya Umar bin Khaththab melihat penduduk Madinahberkumpul di tempat Uwais untuk meminta doa, demikian juga penduduk Makkahdan Irak, tentu ia akan mencegahnya, meskipun beliau juga pernah meminta doakepada Uwais. Hal ini dia lakukan karena takut akan terjadi fitnah pada diri orang-orang tersebut dan terhadap Uwais sendiri. Dan karena kefakihan Uwais Al QarniRadhiyallahu anhu , ia berusaha menyembunyikan keberkahan doanya dan tidakmenjerumuskan diri sendiri dan orang lain terhadap fitnah.Diriwayatkan dari Usair bin Jabir. Dahulu, ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahuanhu didatangi oleh sekelompok rombongan yang datang dari negeri Yaman, beliaubertanya kepada mereka: “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais binAmir?” Sampai ia ditunjukkan kepada Uwais, kemudian beliau berkata: “Apakahengkau Uwais bin Amir?” Dia menjawab,”Ya, saya Uwais bin Amir.” Beliau berkatalagi,”Uwais yang berasal dari Bani Qarni, dari suku Murad?” Uwais menjawab,”Ya,betul.” Umar lalu melanjutkan,”Dulu engkau pernah terkena penyakit kusta, namunsetelah itu engkau pun sembuh, kecuali masih tertinggal sedikit lagi?” Uwaismenjawab,”Ya, benar.” Kemudian Umar melanjutkan,”Engkau mempunyai seorangibu?” Uwais menjawab,”Betul.” Setelah itu Umar berkata lagi,”Aku mendengarRasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,‘Akan datang kepada kalian Uwaisbin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, dia berasal dari BaniQarni dari suku Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta, namun ia punsembuh dari penyakit tersebut kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Dia sangatberbakti kepada ibunya. Apabila dia bersumpah dengan Nama Allah, karena baktinyakepada ibunya, Allah akan mengabulkan segala permintaannya. Apabila engkau mauagar dia memohonkan pengampunan untukmu kepada Allah Subhanahu wa Taala ,maka lakukanlah’.” Umar lalu berkata: “Mohonkanlah pengampunan untukku kepadaAllah Subhanahu wa Taala ”. Setelah itu Uwais pun mendoakan agar AllahSubhanahu wa Taala mengampuninya.Setelah itu Umar bertanya,”Hendak kemanakah engkau?” Dia menjawab,”Ke negeri
  25. 25. Kufah.” Umar berkata lagi,”Maukah engkau kutuliskan sepucuk surat kepadagubernur di sana?” Dia menjawab,”Aku lebih senang bersama orang-orang miskinini.” Perawi berkata: “Setelah satu tahun dari pertemuan mereka itu, salah seorangdari kepala suku Bani Qarni datang ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.Ketika kepala suku itu bertemu dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu,Umar bertanya kepadanya tentang keadaan Uwais. Kepala suku itu lalumenjawab,”Aku tinggalkan dia dalam keadaan sangat menyedihkan, miskin sekali.”Mendengar jawaban itu, Umar lalu memberitahukan apa yang disabdakan RasulullahShallallahu alaihi wa sallam kepadanya tentang Uwais. Umar berkata,”Akumendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,’Akan datang kepadakalian Uwais bin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, diaberasal dari Bani Qarni bermarga Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta,namun ia pun sembuh dari penyakit itu, kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Apabilaengkau mau agar dia memohonkan pengampunan bagimu kepada Allah Subhanahuwa Taala , maka lakukanlah’."Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, kepala suku itu pun pulang dan langsungmenemui Uwais, lantas berkata kepadanya: “Mohonkanlah ampunan bagiku kepadaAllah Subhanahu wa Taala.” Uwais menjawab,”Engkau baru saja kembali dari suatuperjalanan shalih (kebajikan). Engkaulah yang lebih pantas untuk memintakan akupengampunan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Apakah engkau bertemu denganUmar?” Kepala suku itu menjawab: “Ya, aku bertemu dengannya.” Setelah itu Uwaispun mendoakannya, sehingga orang-orang pun mengetahui tentang dirinya, lantaspergi meninggalkannya. Usair berkata: “Uwais mengenakan pakaian burdah. Dansetiap orang yang melihat pakaian tersebut, mereka pasti bertanya, dari mana Uwaismendapatkan pakaian itu?" [13]Pada hakikatnya ruqyah itu sama seperti doa, bahkan dikategorikan sebagai doa danyang semisalnya. Seandainya penduduk sebuah negeri bergantian mendatangiseseorang yang tampaknya bisa memberikan kebaikan bagi anak-anak mereka dengancara men-tahnik-nya dengan kurma atau lainnya, maka banyak juga orang yangdatang membawa anak mereka untuk di tahnik. Yang nampak sangat jelas padazaman Nabi, banyak bayi yang lahir, tetapi tidak dibawa kepada Nabi Shallallahualaihi wa sallam minta untuk di tahnik. Oleh karena itu, seharusnya orang yangmeruqyah khawatir terhadap dirinya atau terhadap mereka dari fitnah.Ironisnya pada zaman sekarang ini, ada beberapa thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i)yang didatangi oleh beribu-ribu orang dengan tujuan meminta ruqyah kepadanya,kemudian mereka meninggalkan para ulama; apakah mereka tidak merasa takutterhadap fitnah ujub, riya’, sombong dan lain sebagainya?Jika sudah jelas dalam masalah ini terdapat kerusakan terhadap masyarakat, terutamaorang-orang awam, yaitu timbulnya ketergantungan dan kepasrahan mereka terhadapperuqyah lebih besar daripada ketergantungan dan kepasrahan kepada AllahSubhanahu wa Taala dan firmanNya; mereka menyangka, kesembuhan ituberhubungan dengan peruqyah hanya karena melihat banyaknya pengunjung yangdatang menemuinya, sementara hal ini merupakan sesuatu yang tidak pernah merekalihat pada sebagian besar ulama-ulama shalih, maka tidak diragukan lagi, mencegahkehancuran lebih baik daripada mengharapkan kebaikan, khususnya apabilakehancuran yang diakibatkan lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan. Di
  26. 26. samping itu, meruqyah seperti itu juga bisa mendatangkan kerusakan pada diriperuqyah sendiri; misalnya, menjadikan dirinya tenar dan membuat dirinya merasatinggi hati, lantas memulai ruqyah dengan cara-cara yang tidak pernah dikenal dikalangan ulama-ulama salafush shalih, seperti dengan cara memukul, atau gayatertentu, atau membacakan terhadap beratus-ratus orang secara bersamaan dengansatu bacaan, lantas meniup pada bejana-bejana mereka setelah bacaan tadi. Semua iniadalah perbuatan bid’ah.Sesungguhnya orang-orang yang mengkhususkan diri untuk meruqyah, sama sepertiorang yang mengkhususkan dirinya untuk berdoa bagi orang lain; sehingga dengandemikian, ruqyah dan doa adalah sama. Jadi apakah pantas bagi seorang penuntutilmu mengatakan “kemari, datanglah kepadaku, aku akan mendoakanmu”.Ini sangat bertentangan dengan petunjuk para salafush shalih. Selain itu juga, dahuluUmar bin Khaththab Radhiyallahu anhu dan para sahabat lainnya serta para tabi’inbenci apabila ada seseorang datang meminta doa kepada mereka. Mereka berkata“apakah kami ini seorang nabi?”Dampak negatif menyebarnya hal ini, yaitu bisa menimbulkan keraguan pada diriorang awam dan orang-orang yang tidak berilmu; mereka menyangka, cara ini adalahcara yang benar dalam melakukan ruqyah, sehingga mereka pun pergi memintaruqyah kepada orang lain dan melupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam meruqyah, yaitu meruqyah diri sendiri dan menyerahkan diri di hadapanAllah Subhanahu wa Taala untuk memohon kesembuhan kepadaNya.Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwasanya mengkhususkan diri menjadiperuqyah dan menjadikannya sebagai profesi (mata pencaharian), menurut penjelasanpara ulama ahlus sunnah, tidak dibenarkan. Hal seperti ini akan menjerumuskankepada bahaya, fitnah dan lain sebagainya, sebagaimana telah dijelaskan di atas.Wallahu a’lam bish shawab.Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis, thullabul ‘ilmi dan kaum muslimin.Mudah-mudahan kita tetap ditunjuki ke jalan yang benar, mengikuti Al Qur`an danSunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.Washallahu’ala Nabiyyina Muhammadin Shallallahu alaihi wa sallam.Maraji’:1. Ar Ruqaa; ‘Ala Dhau’i Aqidati Ahli As Sunnati Wal Jama’ati Wa Hukmu AtTafarrughi Laha Wat Tikhaadzihaa Hirfah, oleh Dr. Ali bin Nufayyi’ Al Alyani, Cet.I, Darul Wathan, Th. 1411 H.2. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.3. Fatawa Al Ulama Fi ‘Ilajis Sihr Wal Mass Wal ‘Ain Wal Jann, Jam’u Wa TartibNabiyyil Bion, Muhammad Mahmud, Cet. II, Darul Qasim, Th.14221 H.4. Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad, Juz 4, oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah,tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir Al Arna-uth, Cet. Muassassah Ar Risalah, Th. 1415H.5. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, ta’lif Abdurrahman bin Hasan binMuhammad bin Abdul Wahab, tahqiq Dr. Walid bin Abdurrahman Al Furayyan, Th.1419 H.
  27. 27. 6. Risalah Fi Ahkamir Ruqaa Wat Tamaaim Wa Shifati Ruqyah Asy Syar’iyyah,Muhammad bin Ibrahim.7. Qawa’id Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, oleh Abdullah bin Muhammad binAbdurrahman As Sad-haan, Cet. Dar Al ‘Ashimah, Th. 1415 H.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. PenerbitYayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 SelokatonGondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016begin_of_the_skype_highlighting 0271-761016 end_of_the_skype_highlighting]_______Footnote[1]. Zaadul Ma’ad, IV/352.[2]. HR Muslim (no. 2199) dan Syarah Shahih Muslim, oleh Imam An Nawawi(XIV/186).[3]. Al Bida’ Wa Nahyu ‘Anha, oleh Ibnu Wadhdhah, hlm. 38 no. 31, tahqiq Amr binAbdul Mun’in Salim; dan Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah Wal Maudhu’ah, I/186, olehImam Al Albani.[4]. Ruqyah, jama’nya adalah ruqaa. Artinya adalah do’a perlindungan yang biasadipakai sebagai jampi bagi orang sakit. Do’a itu berasal dari Al Qur`an atau AsSunnah, atau selain dari keduanya yang disepakati oleh ulama dan dikenal mujarrab,serta tidak bertentangan dengan syariat.[5]. Tamimah, jamaknya tama’im. Yaitu sesuatu yang dikalungkan ke leher ataubagian dari tubuh seseorang. Tujuannya untuk mendatangkan manfaat atau menolakbahaya. Tamimah sering juga diartikan dengan jimat.[6]. Tiwalah, adalah sesuatu yang digunakan oleh wanita untuk merebut cintasuaminya (pelet), dan ini bagian dari sihir.[7]. HR Ahmad (I/381), Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3576), Ibnu Hibban(no.1412 Mawarid), Al Hakim (IV/217,418), Ath Thabrani (no.10503), Baihaqi(IX/350). Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim dan disetujui oleh Imam AdzDzahabi.[8]. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/300.[9]. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Bab VIII, Maa Ja-a Fir Ruqaa Wat Tamaa-im (hlm. 145-153) dan Al Madkhal Lil Dirasatil Islamiyyah (hlm. 150-151).[10]. Fatawa Lajnah Daimah, I/302-308 no. 992.[11]. HR Bukhari no. 5337 dari sahabat Ibnu Abbas.[12]. HR Hakim III/499. Lihat biografi sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash di dalamSiyar A’lam An Nubala, I/92 no. 5.[13]. Syarah Shahih Muslim, oleh Imam An Nawawi, XVI/95-96.[14]. Tahnik, yaitu mengunyah kurma, kemudian diberikan kepada bayi yang barulahir, dioleskan di langit-langit mulutnya.Kiat Membentengi Keluarga Dari Sihir
  28. 28. Jumat, 2 April 2010 22:53:11 WIBKIAT MEMBENTENGI KELUARGA DARI SIHIRSEKILAS TENTANG HAKIKAT SIHIRSecara etimologis, sihir artinya sesuatu yang tersembunyi dan sangat haluspenyebabnya. Sedangkan menurut istilah syariat, Abu Muhammad Al Maqdisimenjelaskan, sihir adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau pun buhul-buhul yangbisa memberi pengaruh terhadap hati sekaligus jasad, bisa menyebabkan seseorangmenjadi sakit, terbunuh, atau pun memisahkan seorang suami dari istrinya. [1]Jadi sihir benar-benar ada, memiliki pengaruh dan hakikat yang bisa mencelakakanseseorang dengan taqdir Allah yang bersifat kauni . Allah Subhanahu wa Taalaberfirman :ِ"Maَّ‫"ِ ه‬Ma ْ‫"ِ ِن‬Ma ِ"Ma َّ‫"ِ ه‬Ma ٍ ‫"ِ ِنْ ٍدَ ٍدَ إ‬Ma ِ"Ma ِ"Ma َ‫"ِ ٍدَ ِّ ٍد‬Ma ُ‫"ِ ٍدَ ٍدَ م‬Ma ِ"Ma ْ‫"ِ ٍدَ ٍدَ ِن‬Ma ْ‫"ِ ٍدَ ِنْ ٍدَ ِنْ ٍدَ ِن‬Ma ِ"Ma َ‫"ِ ِنْ مُ ٍدَ ٍدَ مُ ٍدَ ِّ مُ ٍد‬Ma َ‫ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَهَّ مُ ٍد‬‫فيتعلمنون منهمها مها َنيفرقنون به بين المرء وزوجه ومهاه م بضرآرَنين به من أحد إال بإذن الل‬"Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang bisa mereka gunakanuntuk menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka (ahli sihir) itutidak dapat memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali denganizin Allah" [Al Baqarah : 102].Demikian juga firman Allah yang memerintahkan kita berlindung dari kejahatansihir :ِ"Ma َ‫"ِ ِنْ مُ ٍد‬Ma َ‫"ِ ِنْ ٍدَ هَّ هَّ ٍد‬Ma َ‫ٍد‬‫و من شرِّ النفهاثهات ف ي العقد‬"Dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yangmenghembuskan pada buhul-buhul". [Al Falaq : 4].Seandainya sihir tidak memiliki pengaruh buruk, tentu Allah Subhanahu wa Taalatidak akan memerintahkan kita agar berlindung darinya.[2]Sihir juga pernah menimpa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Yaitu ketikaseorang Yahudi bernama Labid bin Al A’sham menyihir Beliau Shallallahu alaihi wasallam. Aisyah rahimahullah menceritakan:َّ‫"ِ ه‬Ma ِ"Ma ْ‫"ِ ِّ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ِن‬Ma ْ‫"ِ ٍدَ ٍدَهَّ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَهَّ مُ ٍدَ ِن‬Ma ُ‫"ِ ٍدَ ٍدَهَّ ٍدَ م‬Ma ْ‫ٍدَ ٍدَ ٍدَ مُ مُ هَّ ٍدَهَّ هَّ ٍدٍَدَ ِن‬‫كهان رسنول الل صلك ى الل عليه وسل م سحر حتك ى كهان َنير ى أنه َنيأت ي النسهاء وال َنيأتيهن‬ ُ‫م‬ ِ"Ma"Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah disihir, sehingga Beliau merasaseolah-olah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak melakukannya".[3]Berkaitan dengan hadits ini, Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan: “Sihir adalah salah satujenis penyakit diantara penyakit-penyakit lainnya yang wajar menimpa BeliauShallallahu alaihi wa sallam, seperti halnya penyakit lain yang tidak diingkari. Dansihir ini tidak menodai nubuwah Beliau. Adapun keadaan Beliau Shallallahu alaihiwa sallam ketika itu, seolah-olah membayangkan melakukan sesuatu, padahal BeliauShallallahu alaihi wa sallam tidak melakukannya. Hal itu tidak mengurangi kejujuranBeliau. Karena dalil dan ijma’ telah menegaskan tentang kema’shuman Nabi
  29. 29. Shallallahu alaihi wa sallam dari sikap tidak jujur. Terpengaruh sihir perkara yanghanya mungkin terjadi pada diri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam masalahduniawi yang bukan merupakan tujuan risalah Beliau Shallallahu alaihi wa sallam.Dan Beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak diistimewakan lantaran masalahduniawi pula. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia biasa yang bisatertimpa penyakit seperti halnya manusia. Maka bisa saja terjadi, Beliau Shallallahualaihi wa sallam dikhayalkan oleh perkara-perkara dunia yang tidak ada hakikatnya.Kemudian perkara itu (pada akhirnya) menjadi jelas sebagaimana yang terjadi padadiri Beliau Shallallahu alaihi wa sallam”.[4]Sihir memiliki bentuk beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Di antara contohnyaadalah tiwalah (sihir yang dilakukan oleh seorang istri untuk mendapatkan cintasuaminya/pelet), namimah (adu domba), al ‘athfu (pengasihan), ash sharfu(menjauhkan hati) dan sebagainya. Sebagian besar sihir ini masuk ke dalam perbuatankufur dan syirik, kecuali sihir dengan membubuhi racun atau obat-obatan sertanamimah, maka ini tidak termasuk syirik.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan: “Sihir termasuk perbuatansyirik ditinjau dari dua sisi.Pertama : Karena dalam sihir itu terdapat unsur meminta pelayanan danketergantungan dari setan serta pendekatan diri kepada mereka melalui sesuatu yangmereka sukai, agar setan-setan itu memberi pelayanan yang diinginkan.Kedua : Karena di dalam sihir terdapat unsur pengakuan (bahwa si pelaku)mengetahui ilmu ghaib dan penyetaraan diri dengan Allah dalam ilmuNya, danadanya upaya untuk menempuh segala cara yang bisa menyampaikannya kepada haltersebut. Ini adalah salah satu cabang dari kesyirikan dan kekufuran”.[5]Hukum mempelajari dan melakukan sihir adalah haram dan kufur. Hukuman bagipara tukang sihir adalah dibunuh, sebagaimana yang diriwayatkan dari beberapaorang sahabat [6]. Dan sihir merupakan perbuatan setan. Allah Azza wa Jallaberfirman :َ‫"ِ ٍدَ ٍدَ ٍدَ مُ مُ ٍدَِّ مُ ٍدَ هَّ ٍدَ ِّ ِنْ ٍد‬Ma َ‫"ِ مٍُدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ مٍُدَ ِنْ ٍدَ مُ ٍدٍَدَ ِّ هَّ هَّ ٍد‬Ma ْ‫"ِ مُ ٍدٍَدَ مُ ِن‬Ma َ‫هَّ ٍد‬‫واتبعنوا مها تتلنوا الشيهاطين علك ى ملك سليمهان ومهاكفر سليمهان ولكن الشيهاطين كفروا َنيعلمنون النهاس السحر‬ ُ‫ٍدَ هَّ ٍدَ مُ ٍدَ ٍدَ ِنْم‬"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaanSulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahalSulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir(mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia". [Al Baqarah : 102]PETUNJUK NABI UNTUK MENANGKAL DAN MENGOBATI SIHIRSeperti telah dijelaskan oleh para ulama, sihir termasuk jenis penyakit yang bisamenimpa manusia dengan izin Allah Azza wa Jalla . Tidaklah Allah Azza wa Jallamenurunkan satu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat penawarnya. Danseorang muslim dilarang berobat dengan sesuatu yang diharamkan Allah.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Beliaubersabda :ً َ‫"ِ ٍد‬Ma ُ‫ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍدَ م‬‫مها أنزل الل داء إال أنزل له شفهاء‬ ً َ‫ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ مُ ٍد‬
  30. 30. "Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah akan menurunkan pulaobat penawarnya".[7]Seorang muslim dilarang pergi ke dukun untuk mengobati sihir dengan sihir yangsejenis. Karena hukum mendatangi dukun dan mempercayai mereka adalah kufur.Apatah lagi sampai meminta mereka untuk melakukan sihir demi mengusir sihir yangmenimpanya, ataupun untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh anakdan sanak saudaranya, atau hubungan suami istri dan keluarga, tentang barang yanghilang, percintaan, perselisihan dan sebagainya. Hal itu merupakan perkara ghaib danhanya Allah Azza wa Jalla saja yang mengetahui. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :ٍ ‫"ِ ٍدَ ٍدٍَدَ مُ ٍدَ ٍدَ إ‬Ma ْ‫"ِ ٍدَ مُ ِن‬Ma َ‫"ِ ٍدَ ٍدَ مُ ِنْ مُ ٍدَ ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍد‬Ma ُ‫"ِ ً ٍدَ ٍدَ هَّ ٍدَ م‬Ma َ‫"ِ ً ِنْ ٍد‬Ma َ‫ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍد‬‫من أتك ى كهاهنها أو سهاحرا فصدقه بمها َنيقنول فقد كفر بمها أنزل علك ى محمد‬"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, kemudian ia membenarkan(mempercayai) perkataan mereka, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yangditurunkan kepada Muhammad".[8]Para dukun, paranormal, tukang sihir dan peramal itu hanya mengaku-ngakumengetahui ilmu ghaib berdasarkan kabar yang dibawa setan yang mencuri dengardari langit. Para dukun itu, tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan kecualidengan cara berkhidmah, tunduk dan taat serta menyembah tentara iblis tersebut. Inimerupakan perbuatan kufur dan syirik terhadap Allah Subhanahu wa Taala. AllahSubhanahu wa Taala berfirman :َ‫"ِ مُ ٍد‬Ma َ‫مُ ِنْ مُ ٍدَ هَّ ِنْ ٍدَ ٍدٍَدَ ِنْ ٍدَ مُه ِنْ ٍد‬‫هل أنبئك م علك ى من تنزل الشيهاطين }212{ تنزل علك ى كل أفهاك أثي م } 222{ َنيلقنون السمع وأكثر مُ م كهاذبنون‬ ٍ ‫"ِ إ‬Ma َ‫ٍدَ ٍدَ هَّ مُ ٍدٍَدَ مُ ِّ ٍدَ هَّ إ ٍ ٍد‬ ُ‫"ِ م‬Ma َ‫ٍدَ ِنْ مُ ٍدَِّ مُ مُ ِنْ ٍدٍَدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ هَّ مُ هَّ ٍد‬"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Merekaturun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran(kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta". [AsySyu’ara`: 221-223].Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya kepada dugaan danasumsi bahwa cara yang dilakukan para dukun itu sebagai pengobatan, misalnyatulisan-tulisan azimat, rajah-rajah, menuangkan cairan yang telah dibaca mantra-mantra syirik dan sebagainya. Semua itu adalah praktek perdukunan dan penipuanterhadap manusia. Barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpamenunjukkan sikap penolakannya, sungguh ia telah ikut tolong-menolong dalamperbuatan bathil dan kufur.[9]CARA PENECGAHAN DARI SIHIR YANG DIAJARKAN RASULULLAH[10]1- Dalam setiap keadaan senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa Jalla danbertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala bentuknya.Allah Azza wa Jalla berfirman : ِ"Ma ِ"Ma ْ‫"ِ ٍدَ مُ ِن‬Ma َّ‫"ِ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَهَّ ِنْ ٍدَ مُ ٍدَ ه‬Ma َّ‫"ِ هَّ ٍدَ مُ ِنْ ٍدَ مُ مُ ٍدٍَدَ ه‬Ma ‫إنه ليس له سلطهان علك ى الذَنين ءامننوا وعلك ى ربه م َنيتنوكلنون }99{ إنمها سلطهانه علك ى الذَنين َنيتنولنونه والذَنين ه م به‬ َ‫"ِ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍدَ هَّمُ ٍد‬Ma َِّ‫"ِ ٍدَ ٍدَ ٍدَ مُ ٍدَ ٍدٍَدَ ٍد‬Ma َّ‫"ِ هَّ مُ ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ مُ مُ ِنْ ٍدَ ٌ ٍدٍَدَ ه‬Maَ‫"ِ مُ ٍد‬Ma ْ‫مُ ِن‬‫مشركنون‬"Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman danbertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-
  31. 31. orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yangmempersekutukannya dengan Allah". [An Nahl : 99-100].Ketika Menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata :“Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi (mengalahkan)orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya semata, yang tidak adasekutu bagiNya, maka Allah Subhanahu wa Taala akan membela orang-orangmu’min yang bertawakkal kepadaNya dari setiap kejelekan setan, sehingga tidak adacelah sedikitpun bagi setan untuk mencelakakan mereka”[11]. Dan ayat-ayat semisalini banyak terdapat di dalam Al Qur`an.2- Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Taalaperintahkan, dan menjauhi setiap yang dilarang, serta bertaubat dari setiap perbuatandosa dan kejelekan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘AbbasRadhiyallahu anhu :َ‫"ِ ٍدَ ٍدَ ِنْ ٍدَ ِنْ ٍد‬Ma َ‫"ِ ٍدَ إ ٍ ِنْ ٍد‬Maَ‫"ِ مُ ٍدَِّ مُ ٍدَ ٍد‬Ma ُ‫...ٍدَ مُ ٍدَ م‬‫َنيها غالم ! إن ي أعلمك كلمهات ، احفظ الل َنيحفظك‬"Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. JagalahAllah, niscaya Allah akan menjagamu…"[12]Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan menyatakan, makna sabda Beliau Shallallahualaihi wa sallam (‫ ) احفظ الل‬adalah jagalah perintah-perintahNya, larangan- َ‫"ِ ٍد‬Ma َ‫ِنْ ٍد‬laranganNya, hukum-hukumNya serta hak-hakNya. Caranya, dengan memenuhi apa-apa yang Allah dan RasulNya perintahkan berupa kewajiban-kewajiban, sertamenjauhi segala perkara yang dilarang. Sedangkan makna (‫ ) َنيحفظك‬ialah, barangsiapa َ‫ٍدَ ِنْ ٍدَ ِنْ ٍد‬yang menjaga perintah-perintahNya, mengerjakan setiap kewajiban dan menjauhisetiap laranganNya, niscaya Allah k akan menjaganya. Karena balasan suatu amalan,sejenis dengan amal itu sendiri. Penjagaan Allah Subhanahu wa Taala terhadaphamba meliputi penjagaan terhadap dirinya, anak, keluarga dan hartanya. Jugapenjagaan terhadap agama dan imannya dari setiap perkara syubhat yangmenyesatkan”.[13]3. Tidak membiarkan anak-anak berkeliaran saat akan terbenamnya matahari.Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Jika malam telahmasuk -jika kalian berada di sore hari-, maka tahanlah anak-anak kalian.Sesungguhnya setan berkeliaran pada waktu itu. tatkala malam telah datang sejenak,maka lepaskanlah mereka". [HR Bukhari Muslim].4- Membersihkan rumah dari salib, patung-patung dan gambar-gambar yangbernyawa serta anjing. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa Malaikat (rahmat)tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal di atas. Demikian jugadibersihkan dari piranti-piranti yang melalaikan, seruling dan musik.5. Memperbanyak membaca Al Qur`an dan manjadikannya sebagai dzikir harian. DariAbu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda :ِ"Ma َ‫"ِ مُ ٍدَ مُ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍد‬Ma ِ"Ma ُ‫"ِ مُ ِنْ ٍدَم‬Ma َّ‫"ِ ه‬Ma ْ‫"ِ ِنْ ِنْ ٍدَ ِن‬Ma ُ‫"ِ م‬Ma ْ‫"ِ هَّ هَّ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ِن‬Ma َ‫"ِ ٍد‬Ma َ‫ٍدَ ٍدَ ِنْ ٍدَمُ مُ مُ ٍدَ مُ ِنْ ٍدَ ٍد‬‫ال تجعلنوا بينوتك م مقهابر إن الشيطهان َنينفر من البيت الذ ي تقرأ فيه سنورة البقرة‬
  32. 32. "Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya setanlari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah".[14]6- Membentengi diri dengan doa-doa dan ta’awudz serta dzikir-dzikir yangdisyariatkan, seperti dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat fardhu, dzikirsebelum dan sesudah bangun tidur, do’a ketika masuk dan keluar rumah, do’a ketikanaik kendaraan, do’a ketika masuk dan keluar masjid, do’a ketika masuk dan keluarkamar mandi, do’a ketika melihat orang yang mandapat musibah, serta dzikir-dzikirlainnya.Ibnul Qayyim berkata,”Sesungguhnya sihir para penyihir itu akan bekerja secarasempurna bila mengenai hati yang lemah, jiwa-jiwa yang penuh dengan syahwat yangsenanantiasa bergantung kepada hal-hal rendahan. Oleh sebab itu, umumnya sihirbanyak mengenai para wanita, anak-anak, orang-orang bodoh, orang-orangpedalaman, dan orang-orang yang lemah dalam berpegang teguh kepada agama, sikaptawakkal dan tauhid, serta orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali daridzikir-dzikir Ilahi, doa-doa, dan ta’awwudzaat nabawiyah.” [15]7. Memakan tujuh butir kurma ‘ajwah setiap pagi hari. Berdasarkan sabda NabiShallallahu alaihi wa sallam :ٌ ْ‫"ِ ِن‬Ma َ‫"ِ مُ ٌّ ٍدَ ٍد‬Ma ْ‫"ِ ٍدَ ِنْ ٍدَ ِن‬Maَ‫"ِ ٍد‬Ma ُ‫ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ هَّ ٍدَ مُ هَّ ٍدَ ِنْ إ ٍ ٍدَ ِنْ ٍدَ ٍدَ ٍدَ ٍدَ إ ٍ ٍدَ ِنْ ٍدَ ً ٍدَ ِنْ ٍدَ مُ هَّ م‬‫من تصبح كل َنينوم سبع تمرات عجنوة ل م َنيضره ف ي ذلك الينوم س م وال سحر‬"Barangsiapa yang makan tujuh butir kurma ‘ajwah pada setiap pagi, maka racun dansihir tidak akan mampu membahayakannya pada hari itu". [16]Dan yang lebih utama, jika kurma yang kita makan itu berasal dari kota Madinah(yakni di antara dua kampung di kota Madinah), sebagaimana disebutkan dalamriwayat Muslim. Syaikh Abdul ’Aziz bin Baz berpendapat, seluruh jenis kurmaMadinah memiliki sifat yang disebutkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini.Namun beliau juga berpendapat, bahwa perlindungan ini juga diharapkan bagi orangyang memakan tujuh butir kurma, selain kurma Madinah secara mutlak.[17]TERAPI PENGOBATAN SETELAH TERKENA SIHIR [18]1. Metode pertama : Mengeluarkan dan menggagalkan sihir tersebut jika diketahuitempatnya dengan cara yang dibolehkan syariat. Ini merupakan metode paling ampuhuntuk mengobati orang yang terkena sihir.[19]2. Metode kedua : Dengan membaca ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Para ulamatelah bersepakat bolehnya menggunakan ruqyah sebagai pengobatan apabilamemenuhi tiga syarat [20].Pertama : Hendaknya ruqyah tersebut dengan menggunakan Kalamullah (ayat-ayat AlQur`an), atau dengan Asmaul Husna atau dengan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, ataudengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Kedua : Ruqyah tersebut dengan menggunakan bahasa Arab, atau dengan bahasaselain Arab yang difahami maknanya.Ketiga : Hendaknya orang yang meruqyah dan yang diruqyah meyakini, bahwaruqyah tersebut tidak mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tetapi dengankekuasaan Allah Azza wa Jalla. Karena ruqyah hanyalah salah satu sebab di antara

×