Your SlideShare is downloading. ×
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Keajaiban istighfar
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Keajaiban istighfar

8,233

Published on

semoga bermanfaat

semoga bermanfaat

3 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
8,233
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
417
Comments
3
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. KEAJAIBAN ISTIGHFAR PURNAMA PUTRA 1006750455 ANGKATAN 19
  • 2. Dasar pengambilan JudulBanyaknya buku yang menulis tentang hubungan istighfar dengan rizki
  • 3. QS. Ad-Dzariyat : 56 AL-QUR’AN QS. NUH : 10-12 AKHERAT GIVEN QS.HUD :52 QS.HUD : 3 DICARI AL- HADITS Sandaran ISTIGHFAR RIZQIPermasalahan BONUS Kesimpulan 1 2 1 2 ATSAR SHAHABAT ISTIDROJ ULAMA Ibnu Katsir DUNIA Imam Qurtubi Imam Syinqity QS. Isra’ : 18-19
  • 4. PENGERTIAN ISTIGHFARKata ( ) dalam bahasa arab bermakna meminta maghfirah ( ) dan kata ( ) bermakna perlindungan dari kejelekan dosa atau penghapusan dari dosa dan pergantiannya. Pengampunan dosa ada dua jenis:1. Penghapusan, sebagaimana sabda rasulullah, “Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia.”2. Penggantian, sebagaimana firman Allah, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).
  • 5. ADAB – ADAB ISTIGHFAR1. Bersuci sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang berbunyi, “Tidak ada seorangpun yang berbuat satu dosa kemudian bangkit berwudhu lalu sholat dan beristighfar kecuali Allah Ampuni.” ( HR. Al- Tirmidzi).2. Memilih waktu terbaik yang lebih bisa khusu’ dan menhadirkan hati ketika istighfar. Waktu yang terbaik adalah waktu sahar (akhir malam) sebagaimana Allah memuji orang yang beristighfar diwaktu tersebut dalam firman-Nya, “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘imran: 17).3. Memperbanyak istighfar.4. Menjadikannya sebagai penutup perkaranya
  • 6. BACAAN ISTIGHFAR“Ya Allah ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima Taubat dan Maha Penyayang.”“Aku meminta ampun kepada Allah yang tidak ada sesembahan yang berhakdiibadahi melainkan dia yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan akuhertaubat kepada-Nya.” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi , hadits hasan)Dan yang termasuk bacaan istighfar yang paling utama adalah bacaan sayidulistighfar, doanya adalah sebagai berikut:Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa membacanya (sayidulistighfar) dari siang hari dengan yakin dengannya, maka apabila dia meninggal hariitu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan barang siapa membacanyadari waktu malam, dengan yakin dengannya, maka apabila dia meninggal hari itusebelum pagi hari maka dia termasuk ahli surga.”(HR. Bukhari)
  • 7. AL-QURANQS. NUH : 10-1210. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
  • 8. QUR’AN..1• "Artinya : Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa". [QS.Hud : 52] Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : "Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman. "Artinya : Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu" [Tafsir Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51] Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Amin, whai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
  • 9. QUR’AN..2• "Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat". [Hud : 3] Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang ber-istighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya. "Artinya : Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu". Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma adalah. Ia akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian. [Zaadul Masiir, 4/75] Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan :"Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang- orang yang dibinasakan sebelum kalian". [Tafsir Al-Qurthubi, 9/403. Lihat pula, Tafsir Ath-Thabari, 15/229- 230, Tafsir Al-Baghawi. 4/373, Fathul Qadir, 2/695 dan Tafsir Al-Qasimi, 9/63] Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata :"Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan".[Adhwaul Bayan, 3/9]
  • 10. Al-HaditsRasul melazimi istighfar 70- 100 kali sehari 1382 - Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, anaknya Abdullah bin Abdullah datang menemui Rasulullah saw. meminta agar Rasulullah saw. berkenan memberikan pakaiannya untuk digunakan mengkafani jenazah ayahnya. Beliau memenuhi permintaannya tersebut. Abdullah juga meminta agar beliau berkenan menyalatkan jenazah ayahnya. Rasulullah saw. pun berdiri hendak menyalatkan jenazah atasnya lalu Umar ikut berdiri dan menarik pakaian Rasulullah saw. seraya berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan jenazah ayahnya padahal Allah telah melarangmu untuk menyalatkannya? Rasulullah saw. bersabda: Sebenarnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku lalu beliau membaca ayat: Kamu memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampunan bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun kamu mohonkan ampunan bagi mereka berulang sampai tujuh puluh kali. Aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali. Umar berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul itu orang munafik. Rasulullah saw. tetap menyalatkan jenazah bukan orang Islam tersebut. Saat itulah Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya (hadits riwayat Bukhari-Muslim)
  • 11. • Dari Ibnu Abbas Ia berkata : Rasulullah s.a.w. telah bersabda : “ Barangsiapa selalu ber- Istighfar, maka Allah akan jadikan tiap-tiap kesempitannya jalan keluar, dari Cita-citanya menjadi kenyataan dan Allah akan memberi Rizqi kepadanya dari Jalan yang Ia tidak menduganya ”. (HR Abu Dawud - Kitab Shalat - Bab Fil Istighfar - Hadits No. 1518, HR Ibnu Majah - Kitabul Adab - Bab 57 / Al Istighfar - Hadits No. 3819 )
  • 12. • Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. "Artinya :Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka". Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya. Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada!, sekali lagi hendaknya waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.
  • 13. Permasalahanperm• Ada yang ulama meragukan tentang kuat tidaknya hadits tersebut ???Penjelasannya :Susunan sanad hadis tersebut seperti berikut : Abu Dawud As Sijistani --> Hisyam bin Ammar --> Al Walid bin Muslim --> Al Hakam bi Mush’ab --> Muhammad bi ali bi Abdillah bin Abbas --> Abihi (Bapaknya) -> Ibnu Abbas. r.a. Ulama-ulama hadits menilai Al Hakam bin Mush’ab salah Seorang rawi dalam hadits tersebut adalah Dha’if (lemah). Abu Hatim menyebutkan tentang Al Hakam bin Mush’ab ini, Saya tidak mengetahui selain dari Walid bin Muslim yang meriwayatkan dari Dia. Abu Hatim juga mengatakan Al Hakam bin Mush’ab ini Majhul (Tidak dikenal). Ibnu Hibban menyebutkan dalam “Ats Tsiqah” terkadang Ia melakukan kesalahan. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam kelompok rawi-rawi yang Dha’if. Ibnu Hajar berkata hadits tersebut mendapat sorotan Tajam dari ulama-ulama hadits , maka jika ada kesalahan dalam periwayatan maka dia adalah Dha’if. Al Azdi berkata haditsnya tidak diikuti, padanya ada yang diperhatikan oleh para ulama hadits. (Baca Tahdzibut Tahdzib Juz 2, hal. 377-378, Mizanul I’tidal juz 1 hal. 580). Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan hadits ini dengan matan sedikit berbeda yaitu ;
  • 14. KONTRADIKSI• Dari Ibnu Abas dia berkata : Telah Bersabda Rasulullah s.a.w. : Barang siapa memperbanyak Istighfar ............................ ”. (HR. Ahmad No. : 2123). • Hadts ini juga Dha’if, karena pada sanadnya terdapat rawi “Al Hakam bin Mush’ab”. karena hadits diatas sudah jelas kelemahannya, maka ia tidak boleh dijadikan Hujjah yang memastikan bahwa dengan selalu Istighfar atau memperbanyak istighfar seseorang akan mendapat banyak Rizqi dan akan dijauhkan dari segala macam kesulitan. Rizqi seseorang sama sekali tidak bergantung dengan Istighfar, yang jelas semua itu adalah kehendak Allah, bila Allah menghendaki maka Ia akan memberikan Rizqi yang berlimpah kepada Hambanya. Kesimpulan : Walaupun ulama berbeda pendapat tentang kedhoifan hadist yang perowinya Al-Hakam bin Mush’ab namun dalil dari Al-quran dan Assunah yang disajikan sebelumnya menguatkan hubungan istighfar dengan Rizki. (hadist tersebut bisa dipakai) Berikut diperkuat dengan atsar Shahabat dan qoul ulama tentang hal tersebut. Wallahu ‘alam
  • 15. Atsar dan perilaku shahabat• Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta’ala.• Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi : “Bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih 1} langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.• “Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”
  • 16. QOUL ULAMA• Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata : “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa menta’atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian, menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam- macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu “.
  • 17. Qoul Ulama• Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kpd setiap orang yg mengadukan kpd tentang kegersangan, kefakiran, sedikit keturunan dan kekeringan kebun-kebun.• Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasa ia berkata :”Ada seorang laki-laki mengadu kpd Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kpdnya, ‘Ber-istighfar-lah kpd Allah!. Yang lain mengadu kpd tentang kemiskinan maka beliau berkata kpdnya, ‘Ber-istighfar-lah kpd Allah!. Yang lain lagi berkata kpdnya, ‘Do’akanlah (aku) kpd Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kpdnya, ‘Ber-istighfar-lah kpd Allah!. Dan yg lain lagi mengadu kpd tentang kekeringan kebun maka beliau mengatakan (pula) kpdnya, ‘Ber-istighfar-lah kpd Allah!”.• Dan kami menganjurkan demikian kpd orang yg mengalami hal yg sama. Dalam riwayat lain disebutkan :”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kpdnya, ‘Banyak orang yg mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. [1]. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tdk mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.• “Arti : Mohonlah ampun kpd Tuhanmu, sesungguh Dia ialah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kpdmu dgn lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai”. [Nuh : 10-12] [2]
  • 18. Qoul Ulama• Sedang Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya tentang QS. HUD :3 mengatakan... "Inilah buah istighfar dan taubat Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidupserta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian" (Tafsir Al-Qurthubi, 9/403. Lihat pula, Tafsir Ath-Thabari, 15/229-230, Tafsir Al-Baghawi. 4/373, Fathul Qadir, 2/695 dan Tafsir Al-Qasimi, 9/63). Dan janji Tuhan Yang Maha mulia ini diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya• Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan" (Adhwaul Bayan, 3/9).
  • 19. IBADAH- SEPENUHNYAHendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimak-sud beribadahsepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupandan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud – wallahua’lam– adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya,khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan(dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedangbermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakniberibadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kami melihatNya. Jikakamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad merekaberada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.Menjelaskan sabda Rasulullah :“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”. Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya,jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadahkepada Tuhan-mu”.
  • 20. IBADAH- SEPENUHNYA1. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari AbuHurairah , dari Nabi beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.”2. Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar ia berkata, Rasulullah bersabda: “Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu dengan kesibukan.” Nabi dalam hadits tersebut menjelaskan, bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan keka-yaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.
  • 21. 4 Jenis Rizki• Rizki Given (Subsidi)• Rizki yg Harus Dicari• Rizki Bonus• Rizki Istidroj (Diangkat untuk dijatuhkan dari tingkat yg lebih tinggi)
  • 22. Rizki Asal (Rizki Subsidi)• Kepada masing-masing go- longan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemu- rahan Tuhanmu. Dan kemu- rahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Q.S.17:20)
  • 23. Rizki yang Harus Dicari
  • 24. Rizki yang Harus Dicari Apabila telah ditunaikan shalat,maka bertebaranlah kamu di mukabumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Q.S.62:10)
  • 25. Rizki Bonus …..
  • 26. Rizki Bonus ……. Dan barang siapa yangbertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiadadisangka-sangkanya.(Q.S.65:2)
  • 27. Rizki BonusDan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telahmengadakan ketentuan bagi tiap- tiap sesuatu.(Q.S.65:3)
  • 28. Rizki Istidroj
  • 29. Rizki IstidrojMaka tatkala mereka melupakanperingatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-punmembukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka…
  • 30. Rizki Istidroj ….. sehingga apabila merekabergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong- konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Q.S.6:44)
  • 31. Hidup adalah Ibadah1. QS. Ad-Dzariyat : 562. Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)3. Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Dzar dan Al Hakim)4. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)5. Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)
  • 32. Akherat sebagai Tujuan1. QS. Al-isro 18 – 192. QS. Al-Hadid 203. QS. at-Takatsur: 1-54. Dari Amr bin Auf al-Anshari r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan Abu Ubaidah al-Jarrah r.a. ke daerah Bahrain -sebuah daerah yang masuk wilayah Irak- dan kedatangannya ke situ ialah untuk mengambil pajak. Kemudian setelah selesai tugasnya, datanglah ia dengan membawa harta dari Bahrain itu. Kaum Anshar sama mendengar akan kedatangan Abu Ubaidah, mereka lalu menunaikan shalat fajar -yakni subuh- bersama Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. selesai bershalat, beliaupun lalu kembali, kemudian mereka menuju kepadanya untuk menemuinya. Rasulullah s.a.w. lalu tersenyum ketika melihat mereka itu terus bersabda: "Saya kira engkau semua sudah mendengar bahwasanya Abu Ubaidah tiba dari Bahrain dengan membawa sesuatu harta." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah." Beliau selanjutnya bersabda: "Bergembiralah engkau semua dan bolehlah mengharapkan sesuatu yang akan menyenangkan engkau semua. Demi Allah, bukannya kekafiran itu yang saya takutkan mengenai engkau semua, tetapi saya takut jikalau harta dunia ini diluaskan untukmu semua -yakni engkau semua menjadi kaya raya-, sebagaimana telah diluaskan untuk orang-orang yang sebelummu, kemudian engkau semua itu saling berlomba-lomba untuk mencarinya sebagaimana mereka juga berlomba-lomba untuk mengejarnya, lalu harta dunia itu akan merusakkan agamamu semua sebagaimana ia telah merusakkan agama mereka. (Muttafaq alaih)

×