• Like

Loading…

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

Menerawang Pembangunan Wilayah di masa depan dengan analisis skenario (skenario planning)

  • 6,099 views
Uploaded on

seri isu-isu aktual PKP2A III LAN 2007

seri isu-isu aktual PKP2A III LAN 2007

More in: Education , Business
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
6,099
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
478
Comments
2
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MENERAWANGPEMBANGUNAN WILAYAHDI MASA DEPAN denganANALISIS SKENARIO
  • 2. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan AnalisisSkenario (Scenario Planning)(119) + vii halaman, 2007Perpustakaan Nasional RI : Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)ISBN 978-979-1176-13-21. Pembangunan Wilayah 2. Masa Depan 3. Analisis SkenarioEditor :Koordinator : Tri Widodo W. Utomo, SH., MAAnggota :Diterbitkan Oleh :Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III (PKP2A III)LAN Samarinda UNDANG-UNDANG HAK CIPTA NO. 7 TAHUN 1987 Pasal 44 (1) Barangsiapa dengan sengaja tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)
  • 3. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Daftar IsiDaftar isi ............................................................................................... iiiKata Pengantar ...................................................................................... vBAGIAN PERTAMA : Pemaparan Ide Dan Diskusi InteraktifuPokok Presentasi Narasumber .......................................... Pokok - 1BAGIAN KEDUA : Sambutan Dan Makalah Pembicarau Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Sambutan Indonesia .................................................................................... 15u Kepala PKP2A III Lembaga Administrasi Negara ............ Sambutan 19u MAKALAH PEMBICARA ü PENGANTAR SCENARIO PLANNING DR. Daniel Sparingga ( Dosen Universitas Airlangga Surabaya) ........................................................................... 24 ü SKENARIO PEMBANGUNAN EKONOMI BERLANDASKAN PENGETAHUAN DI INDONESIA : IMPLIKASI UNTUK MEMACU PEMBANGUNAN INOVATIF Prof. DR. Erman Aminullah (Ahli Peneliti Utama LIPI) .......... 28 ü ANALISIS SKENARIO INDONESIA 2015 DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA PADA KONTEKS KALIMANTAN DARI PRESPEKTIF POLITIK DESENTRALISASI EKONOMI DAN PEMBANGUNAN KEWILAYAHAN Drs. Desi Fernanda, M.Soc.Sc (Deputi III LAN) ..................... 36 ü SCENARIO PLANNING KE STRATEGIC PLANNING DARI M. Ridlo Eisy ( Dosen Universitas Pasundan Bandung) ........ 54 ü MENERAWANG MASA DEPAN : SCENARIO PLANNING DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA UNTUK KALIMANTAN Dedy A. Prasetyo (Working Group for Indonesia Masa Depan) .............................................................................. 57 // iii -
  • 4. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)BAGIAN KETIGA : Materi Pendukungu PERUMUSAN SKENARIO PLANNING DALAM RANGKA MEMPERKUAT SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN KINERJA ORGANISASI DENGAN PENDEKATAN SISTEMIK Drs. H. Dadang Solihin (Direktur Sistem dan Pelaporan Evaluasi Kinerja Pembangunan - BAPPENAS) ............................................. 76u LONG-TERM FORECASTING OF TECHNOLOGY AND ECONOMIC GROWTH IN INDONESIA Prof. Prof. Erman Aminullah (Centre for Science and Technology Development Studies Indonesian Institute of Science (LIPI), Jakarta, Indonesia) .............................................. 96// iv -
  • 5. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Kata Pengantar Kepala PKP2A III LAN Buku ini merupakan proceeding dari hasil Diskusi Terbatas ForumSANKRI yang diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda. Diskusi Terbatasini didasari oleh pemikiran bahwa saat ini seluruh elemen masyarakat maupunnegara kebangsaan (nation-state) dimanapun berada menghadapi sebuah kondisiketidakpastian (uncertainty) di segala bidang. Perubahan berlangsung begitucepat (rapid) pada berbagai dimensi kehidupan (all-encompassing) dan seringkaliterjadi secara tidak terduga (unpredictable). Bahkan sebuah perubahan kadangbersifat sangat mendadak yang dapat mengakibatkan kemandegan sebuahorganisasi (sudden changes and discontinuity). Dalam kondisi seperti itu, maka adanya terobosan manajemen(managerial breakthrough) sangat dibutuhkan untuk menuntut organisasi padajalur yang benar dalam memasuki lorong masa depan. Salah satu yangdipersyaratkan disini adalah kemampuan sebuah organisasi dan jajaranpimpinannya untuk memiliki sebuah instrumen atau sistem pendukung dalamproses pengambilan keputusan strategis (decision support system - DSS). DSS tadimenjadi kebutuhan mendasar bagi sebuah organisasi karena pada dasarnya kitatidak dapat meramal masa depan, atau meminjam istilah Joe Flower (1997): "Youcant predict the future. Nobody has a crystal ball". Meramal masa depan bagi sebuah komunitas berbangsa maupun bagisebuah organisasi memang sebuah hal yang sangat sulit. Padahal, kemampuanmemetakan posisi kekuatan dan kelemahan organisasi, serta tingkat kinerja yangharus dicapai pada masa depan, adalah sebuah kebutuhan fundamental.Disinilah pentingnya analisis skenario sebagai bagian integral dari sistempengambilan keputusan dalam suatu organisasi.Analisis skenario memberikan beberapa manfaat besar bagi sebuah organisasi,antara lain:l Mengurangi kemungkinan tidak bekerjanya sistem perencanaan dan implementasi strategi dalam organisasi.l Memberikan arah atau jalan alternatif yang harus dilalui sebuah organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya. Dengan kata lain, skenario dapat mengunci tujuan / sasaran pada masa depan, sehingga akurasi dan probabilitas pencapaiannya menjadi lebih besar. // v -
  • 6. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)l menjadi cara dan instrumen yang powerful untuk membangun Skenario organisasi pembelajaran (Tony Hodgson, Strategic Thinking With Scenarios, 2003).l juga dapat menjadi sebuah "laboratorium masa depan" melalui uji Skenario coba atau "gladi bersih" terhadap suatu kemungkinan di masa depan yang dilakukan saat ini. Dengan kata lain, skenario diharapkan mampu mentransformasi strategic thinking menjadi strategic action.l Menyusun skenario berarti memungkinkan kita berpikir tentang sesuatu yang tidak terpikirkan (Thinking the Unthinkable) (Art Kleiner, "The Man Who Saw the Future, 2003). Dalam konteks pembangunan kewilayahan, analisis skenarionampaknya cukup efektif untuk membantu merumuskan strategi kebijakan dansistem perencanaan pembangunan regional di Kalimantan. Sebagaimana dimaklumi, saat ini terjadi fenomena tidak terintegrasinyapembangunan daerah di kontinen Kalimantan kedalam skema pembangunanwilayah. Fenomena seperti ini makin nampak saat digulirkannya kebijakanotonomi luas yang melahirkan daerah dengan kewenangan yang bulat dan utuh.Kewenangan yang bulat dan utuh tadi pada gilirannya menjadi trade-off bagiupaya membangun sinergi dan kohesi pembangunan antar daerah / wilayah.Setiap daerah menjadi semakin selfish atau memiliki ego yang lebih tinggi dalammemikirkan daerahnya sendiri. Padahal, dari teori ekonomi lokasi (spatialeconomy), sebuah daerah jelas memiliki keterkaitan dan ketergantungan dengandaerah lain. Konsekuensinya, kebijakan pembangunan sebuah daerah harusselalu ditempatkan dalam konteks pembangunan regional (embedding localpolicy into broader context of development). Dengan kata lain, membangunKalimantan semestinya tidak dibatasi oleh terirotial wilayah administratif saja,tetapi harus mengacu pada sebuah payung makro / grand design pembangunanKalimantan. Pembangunan trans Kalimantan tidak mungkin dapat tercapai jika sistemperencanaan pembangunan masih terkonsentrasi secara spasial provinsi. Aruskomoditas pertanian atau barang-barang ekonomi juga semestinya tidak dibatasioleh batas wilayah. Itu dalam konteks kontinen Kalimantan. Dalam skalanasional, secara geografis, Kalimantan juga sangat strategis bagi Indonesia danperlu dijadkan magnet baru pertumbuhan wilayah nasional. Selain letak geografistepat berada di tengah-tengah Indonesia, juga masih cukup banyak SDA untukmendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Sementara itu dalam lingkup yang// vi -
  • 7. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)lebih sempit, pembangunan di Kalimantan Timur, misalnya, juga membutuhkankonsep-konsep lintas wilayah, misalnya keberadaan Teluk Balikpapan danSungai Mahakam. Kedua asset ini saja pemanfaatannya sudah sangat multi sektor,lintas daerah, dan lintas pendekatan, sehingga kebijakan yang dirumuskan jugaharus betul-betul mempertimbangkan kepentingan lintas wilayah tersebut. Dalam rangka mensinergikan kebijakan dan manajemen pembangunandi wilayah Kalimantan itulah perlunya sebuah konsep yang dapat menjadipayung bagi setiap daerah otonom di Kalimantan (baik Provinsi maupunKabupaten/Kota). Konsep seperti ini, sayangnya, masih belum berkembang dankondisi Kalimantan sendiri relatif masih tetap status quo. Atas dasar pemikiran tersebut diatas, maka adanya terobosan kebijakanyang berbasis pada konsep intelektual yang matang, komprehensif dan visioner,menjadi kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Dalam hal ini,salah satu konsep intelektual yang memiliki keunggulan inovatif adalahPerencanaan Skenario (scenario planning) atau sebuah proses kreatif AnalisisSkenario. Dan mengingat pentingnya Scenario Planning sebagai managementtools untuk menopang kinerja organisasi atau pemerintahan, maka PKP2A III LANSamarinda memandang perlu mengangkat issu besar ini dalam sebuah forumdiskusi lintas stakeholder. Akhir kata, kami menyadari sepenuhnya bahwa forum-forum diskusiyang kami selenggarakan serta buku-buku publikasi yang kami sebarluaskanmasih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik dariberbagai pihak sangat kami nantikan dengan tangan dan hati terbuka. Walaupunkami sadar bahwa buku ini masih sangat dangkal, kami tetap berharap bahwapublikasi sederhana ini dapat menghasilkan manfaat yang optimal bagi bangsadan negara. Samarinda, Januari 2008 PKP2A III LAN Samarinda Kepala, Meiliana // vii -
  • 8. Bagian PertamaPEMAPARAN IDE NARASUMBER
  • 9. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) POKOK - POKOK PRESENTASI NARASUMBERPERUMUSAN SCENARIO PLANNING DALAM RANGKA MEMPERKUATSISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN KINERJA ORGANISASI DENGAN PENDEKATAN SISTEMIKPembicara I :Dr. DANIEL SPARINGGA ( Dosen Universitas Airlangga Surabaya )Ringkasan Materi Pemaparan : Secara umum pengertian scenario planning adalah sebuah narasi ataucerita yang mengenai kemungkinan masa depan yang berisikan tentang apayang mungkin terjadi atau bukan apa yang harus terjadi yang tidak dapatdiprediksi atau bukan ramalan mengenai masa depan yang dideskripsikansecara jelas di masa mendatang. Dilihat dari sejarah dan perkembangan tehnik Scenario Planning inipertama kali dikembangkan di ruang lingkup kalangan militer selama dansetelah terjadinya Perang Dunia ke II ( PD II ), lalu berlanjut tehnik ini diaplikasikan ke dalam dunia bisnis di seluruh dunia yang merupakan salah satutehnik atau metode bagi para pelaku bisnis untuk dapat membaca masa depanterutama yang berkaitan dengan usaha yang akan dan telah berjalan danterakhir tehnik atau metode ini telah banyak dimanfaatkan saat ini yangmencakup hampir seluruh bidang, dari tema yang berhubungan dengan masadepan Negara, keamanan nasional, lingkungan hidup, perdagangan, industri,pendidikan hingga terorisme dan lainnya. Dalam tehnik atau metode menggunakan Scenario Planning dapatdilakukan melalui berbagai pendekatan, dalam hal ini ada 2 pendekatan yangutama yang dapat di lihat :1. Pendekatan Pakar ( Skenario Pakar ), pendekatan ini adalah melibatkan orang atau kalangan tertentu dengan jumlah paling sedikit 50 orang sebagai aktor, misalnya saja "Mont Fleur Scenario" (di Afrika Selatan).2. Pendekatan Dialog ( Dialog Skenario ), pendekatan ini adalah melibatkan lebih banyak orang yang terdiri dari berbagai macam latar belakang yang // 1 -
  • 10. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) biasanya terdiri lebih dari 150 orang, misalnya saja tentang skenario Indonesia tahun 2010. Selain dilihat dari 2 pendekatan utama dalam Scenario Planningdiatas, terdapat tujuh langkah di dalam melakukan penyusunan ScenarioPlanning ini, yaitu sebagai berikut :1. Menetapkan Focal Concern (FC). Dalam langkah pertama ini beberapa hal yang diperlukan untuk dapat menentukan atau menetapkan Focal Concern (FC), yaitu : a. Berbagai pertanyaan strategis yang menjadi obsesi peserta. b. Merupakan jangkar bagi pembicaraan mengenai skenario. c. Perlunya time frame yang jelas. d. Focal Concern (FC) harus yang berbeda guna menghasilkan skenario berbeda juga. Dibawah ini beberapa contoh yang berkaitan dengan Focal Concern (FC), antara lain : - Masa Depan Industri Garmen Indonesia tahun 2025. - Masa Depan ASEAN tahun 2050. - Terorisme Internasional tahun 2030. - Perkembangan Perguruan Tinggi di Indonesia tahun 2020. - Posisi Partai Politik di Indonesia tahun 2025. - Dunia Perminyakan tahun 2050.2. Mengindentifikasikan Driving Force (DF). Dalam melakukan idenfikasi mengenai Driving Force (DF), ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yakni : a. Driving Force (DF) merupakan suatu pendorong terhadap adanya perubahan. b. Idenfikasi Driving Force (DF) dilakukan dengan mendaftarkan sebanyak mungkin dan selengkap mungkin hal yang dipercaya untuk dapat mempengaruhi Focal Concern (FC). c. Driving Force (DF) selalu dinyatakan kedalam bentuk atau wujud "variabel".3. Melakukan Analisis hubungan antar DF di satu pihak dan antara DFs dan FC. Pada langkah yang ketiga ini, untuk menganalisis hubungan antar DF dapat di lakukan sebagai berikut :// 2 -
  • 11. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) a. Membuat pemetaan hubungan di antara DF yang satu dengan DF yang lainnya. b. Melakukan pemetaan dari hubungan yang berdasarkan dari keseluruhan DF terhadap FC. c. Memberikan penjelasan tentang bagaimana jalinan hubungan itu dapat mempengaruhi FC.4. Memilih DF yang merupakan paling berpengaruh. Untuk dapat memilih DF sebagai faktor paling berpengaruh, maka kita harus melihat tiga kriteria mendasar ini, yaitu : a. Melakukan pemilihan DF yang memiliki hubungan langsung terhadap FC. b. Pilih DF yang memiliki pengaruh yang segera terhadap FC. c. Pilihlah DF yang paling kritis (importance and uncertain).5. Membuat atau menyusun matrik skenario. Untuk dapat membuat matrik skenario tersebut pertama kita harus menentukan matriks yang terdiri dari atas sumbu ordinat dan aksis yang dikembangkan dari dua DF terpilih, kedua menentukan kutub - kutub apa saja yang memiliki kemungkinan besar atau berpengaruh dari setiap DF yang terpilih.6. Menentukan ciri kunci pada setiap skenario. Untuk mendapatkan atau menentukan indikator kunci dalam sebuah kegiatan penyusunan scenario planning, cara yang pertama harus menentukan ciri-ciri pokok yang dari masing-masing kutub yang ada, kedua menentukan implikasi dari bertemunya ciri- ciri yang melekat pada kutub yang relevan pada satu DF dan kutub yang relevan pada DF yang lainnya, ketiga harus menentukan symbol atau fase yang asosiatif untuk masing - masing skenario.7. Menyusun narasi skenario. Pada langkah yang terakhir dalam kegiatan penyusunan skenario agar dapat menghasilkan sebuah naskah yang baik maka diperlukan beberapa cara, yaitu : a. Mengembangkan sebuah narasi untuk setiap skenario yang akan di susun. b. Dalam setiap skenario harus berisikan deskripsi elaboratif tentang // 3 -
  • 12. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) implikasi bertemunya ciri - ciri pokok yang ada relevannya dengan skenario yang akan disusun. c. Memperhatikan gaya penulisan bersifat narasi yang beraneka ragam, mulai yang menekankan proses hingga yang menekankan snapshot peristiwa dan yang menekan aktor hingga hard - facts. d. Mencari versi atau bentuk alternatif skenario, misalnya komik, cerita pendek, film, drama, dan karikatur.Pembicara II :Prof. DR. ERMAN AMINULLAH ( Ahli Peneliti Utama LIPI )Ringkasan Materi Pemaparan : Secara umum gambaran awal mengenai skenario pembangunanekonomi yang berlandaskan pengetahuan dapat di lihat dari berbagai aspekyang ada pada tahun 2005, pertama rendahnya ketahanan ekonomimenghadapi persaingan global di dunia, kedua karena ketertinggalanIndonesia menghadapi perkembangan global menuju ekonomi yangberlandaskan ilmu pengetahuan, ketiga kelambatan berkembangnya budayaIlmu pengetahuan dengan jumlah penduduk terdidik, keempat sangatlemahnya komitmen pemerintah dalam rangka membangun daya saingberlandaskan atas penguasaan IPTEK dan terakhir lemahnya pembangunankemampuan IPTEK dan rendahnya pemanfaatan kemampuan IPTEK untukpembangunan. Namun pada gambaran keadaan akhir yang terlihat pada tahun 2025adalah tingginya ketahanan ekonomi menghadapi persaingan global, keduakemajuan Indonesia menghadapi perkembangan global menuju ekonomiberlandaskan atas ilmu pengetahuan, ketiga berkembangnya secara meratabudaya IPTEK dengan dukungan jumlah penduduk yang terdidik, keempattingginya komitmen pemerintah dalam rangka membangun daya saing yangberlandaskan penguasaan IPTEK dan Kuatnya pembangunan kemampuanIPTEK dan tingginya pemanfaaatan kemapuan IPTEK untuk pembangunan. Setelah mendapat gambaran awal mengenai skenario pembangunanekonomi yang berlandaskan pengetahuan pada tahun 2005, maka untuk// 4 -
  • 13. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)dapat tercapainya gambaran akhir yang kita inginkan diperlukan berbagaicara atau langkah untuk dapat mewujudkannya. 5 langkah untuk mencapaikeadaan yang diinginkan adalah :1. Adanya prasyarat perubahan2. Dukungan dari Masyarakat yang terdidik3. Imperatif Kebijakan.4. Strategi Kebijakan.5. Evaluasi yang berkelanjutan. Dalam implikasi untuk memacu pembangunan daerah yang inovatifsangat di pengaruhi oleh berbagai macam corak daerah, yaitu :1. Daerah Urban, merupakan salah satu wilayah sebagai pusat pengetahuan bersifat kosmopolitan (jumlah penduduk yang padat dan tingginya PDRB daerah).2. Daerah Sumber Keuntungan, adalah daerah yang memiliki tingkat ekonomi yang bersifat dinamis.3. Daerah Tertinggal, adalah daerah yang memiliki jumlah penduduk jarang dan PDRB yang sangat rendah yang biasanya terdapat pada daerah yang wilayahnya di pedalaman atau perbatasan.4. Daerah Tidur, merupakan daerah yang sangat padat penduduknya tetapi sangat rendah dalam PDRB-nya. Untuk dapat memacu pembangunan terutama bagi daerah yanginovatif sudah seharusnya kemajuan perekonomian daerah dapat dilihat darikeberhasilan daerah terhadap sumber daya yang dimiliki akan tetapi haltersebut tidak secara otomatis akan menjadi ciri dari suksesnya daerah yangmencontoh. Karena hal tersebut daerah yang inovatif adalah daerah yangbelajar (learning region) yang mengandalkan kemajuan berlandaskanpenguasaan pengetahuan dan teknologi. // 5 -
  • 14. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) SKENARIO INDONESIA 2015 DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA PADA KONTEKS KALIMANTAN DARI PERSPEKTIF POLITIK DESENTRALISASI, EKONOMI DAN PEMBANGUNAN KEWILAYAHANPembicara III :Drs. DESI FERNANDA, M.Soc. Sc (Deputi III Lembaga Administrasi Negara)Ringkasan Materi Pemaparan : Metode Scenario Planning dengan pendekatan Business Idea, yangdalam hal ini akan penulis adopsi dengan mengalihbahasakannya denganistilah kepemimpinan institusional, yaitu karakteristik yang menunjukkankemampuan lembaga pemerintahan tertentu dalam pelaksanaan tugas pokokdan fungsinya secara berhasil (sukses); adalah terdiri dari beberapa langkah,sebagai berikut:Ø 1 : Menentukan Daya Saing (Competitive Advantage) Organisasi. LangkahØ 2 : Mengajukan "Devils Advocate" LangkahØ 3 : Mengembangkan Gambaran Hubungan Sebab dan Akibat. LangkahØ 4 : Penyempurnaan Diagram Business Idea. LangkahØ 5 : Mengidentifikasi Kompetensi Unggulan Organisasi. LangkahØ 6 : Penghalusan Diagram Business Idea. LangkahØ 7 : Review Business Idea. LangkahØ 8 : Merumuskan Elemen Business Idea Paling Mendasar LangkahØ 9 : Reperkusi Strategis dan Pertimbangan Implikasi Strategis Langkah Kondisi obyektif wilayah Kalimantan memang menunjukkan bahwatingkat kemajuan pembangunan di wilayah Kalimantan relatif tertinggaldibanding wilayah Indonesia bagian barat, khususnya Jawa dan Bali. Kondisiini merupakan hal yang ironis, mengingat adanya dua alasan/kondisi, yaitu: 1)Kalimantan merupakan kontinen yang memiliki kekayaan alam melimpahseperti migas dan tambang, sumber daya laut dan perikanan, kehutanan danperkebunan, dan sebagainya; serta 2) Kalimantan memberi kontribusi yangsangat besar terhadap pendapatan negara, khususnya dari sektor migas,tambang serta potensi hutan dan hasil kayu. Kalimantan sendiri jika tidak dikelola dengan baik, pada suatu ketikaakan mengalami anomali pertumbuhan pembangunan. Penyebabnya adalah,// 6 -
  • 15. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Kalimantan merupakan kawasan yang sangat dinamis (growing and dynamicregion). Pemekaran daerah masih terus berlangsung yang diimbangi oleh lajuurbanisasi dan penambahan penduduk yang cukup progresif. Investasi asingmaupun domestik masih terbuka lebar, baik di sektor primer (kehutanan,perkebunan, kelautan, pertambangan dan migas), maupun di sektor-sektorsekunder dan tersier (perdagangan, industri, dan jasa-jasa). Namun di sisi lain,potensi sumber daya alam Kalimantan lebih banyak yang bersifat tidakterbarukan (non-renewable resources) seperti tambang dan migas. Sementarasumber daya yang mestinya dapat diperbaharui (renewable resources) sepertihutan, ternyata juga mengalami kegagalan konservasi atau reservasinya.Fenomena alam seperti longsor, kebakaran hutan, banjir di perkotaan, kabutasap dan sebagainya, menunjukkan bahwa manajemen lingkungan diwilayah ini juga tidak terlalu menggembirakan. Ketertinggalan pembangunan wilayah Kalimantan serta potensiancaman sebagai konsekuensi logis dari kegagalan dalam formulasi danimplementasi kebijakan pembangunan, dapat dipersepsikan sebagai akibatkesalahan sistemik dalam konsep pembangunan secara makro nasional, ataukarena miss-management dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya lokal, atau faktor-faktor penyebab lainnya. Apapun penyebabnya, harussegera diidentifikasi dan untuk kemudian segera dirumuskan strategipembenahannya. Dalam rangka merumuskan strategi dan program-programpembangunan itulah, perlu dilakukan analisis yang mendalam dalam rangkamerumuskan dan/atau menetapkan agenda setting dan priority settingprogram pembangunan wilayah. Dalam hal ini, salah satu alat analisis yangdapat digunakan adalah dengan menggunakan analisis skenario (ScenarioPlanning). Dalam konteks Kalimantan, the Business Idea yang dimiliki antaralain berwujud luas wilayah dan potensi alam yang berlimpah. Ini merupakantahap pertama dari metodologi Scenario Planning. Selanjutnya, tahapan yangcukup krusial adalah melakukan devils advocate atas keunggulan kompetitifyang dimiliki Kalimantan. Dengan kata lain, devils advocate berguna untukmenguji berbagai keunggulan kompetitif yang melekat pada karakteristiksosial maupun alam Kalimantan. Daftar keunggulan kompetitif yang ada diKalimantan akan menjadi dasar bagi penyusunan diagram sebab akibat, // 7 -
  • 16. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)sehingga dapat disusun bagaimana mental model Business Idea dalamkeberhasilan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya menyelenggarakanotonomi daerah secara luas. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikompetensi unggulan Kalimantan sebagai kekuatan yang menghasilkankeunggulan kompetitif kontinen ini. Oleh karena itu faktor-faktor dalam diagram Business Idea Kalimantanharus disederhanakan kembali. Hal ini dapat dilakukan dengan bebarapacara, dalam hal ini, penulis akan membuat penyederhanaan denganmengkombinasikan hubungan-hubungan atau faktor-faktor yang bersifatkompleks. Dan akhirnya akan mempertahankan beberapa kompetensiunggulan serta keunggulan kompetitif lainnya, maupun faktor kesuksesan(activity specific assets) tertentu, yang secara signifikan berpengaruh terhadapkeberhasilan pelaksanaan tugas pokok Pemerintah Daerah dalammeningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tugas meningkatkan kesejahteraanmasyarakat inilah yang menjadi tujuan tertinggi dari pemberian otonomi luaskepada Pemerintah Daerah. Untuk memberikan nama pada setiap kemungkinan skenario yangmuncul menggunakan perumpamaan matahari, mulai matahari terbit,matahari bersinar terang, matahari terbenam, hingga gerhana matahari total.Perumpamaan ini tampaknya mampu merepresentasikan kondisi-kondisikompbinasi otonomi daerah dengan pemberantasan korupsi yang berhasilatau gagal, sebagai berikut:1) Matahari Bersinar (Skenario 1) : melambangkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah sangat berhasil dan terus berkembang secara progresif, sementara upaya-upaya pemberantasan korupsi juga berhasil membentuk aparatur negara/daerah menjadi bebas KKN, dan akuntabel.2) Matahari Terbit (Skenario 2) : melambangkan bahwa perkembangan penyelenggaraan pemerintahan memiliki prospek yang cerah, dan kompetensi penyelenggaraan pemerintahan daerah maupun pemerintahan negara pada umumnya menunjukkan perkembangan postif dan mengalami kemajuan secara progressif.3) Matahari Terbenam (Skenario 3) : kondisi ini melambangkan bagaimana rejim pemerintahan negara RI paska Orde Baru akan dihadapkan pada berbagai kendala teknis dan non teknis, yang menghambat laju// 8 -
  • 17. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik.4) Gerhana Matahari Total (Skenario 4) : menggambarkan bahwa pada tahun 2015 pemerintahan negara RI akan mengalami kegagalan total dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.Pembicara IV :M. RIDLO EISY ( Dosen Universitas Pasundan Bandung )Ringkasan Materi Pemaparan : Pada waktu orde baru kita mengenal dengan GBHN dan pelita yangmerupakan isi dari keinginan para pemimpin Negara mengenai masa depanyang baik dan berbagai tahapan - tahapan yang dibuat sedemikian rupa gunanmewujudkan masa depan dari bangsa ini. Tetapi pada saat sekarang setelahorde baru runtuh, GBHN dan Pelita itu digantikan dengan RPJP, RPJPD danRPJM yang berisikan hampir sama dengan GBHN dan Pelita tersebutmengenai keinginan para pemimpin di masa mendatang yang bertujuanuntuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. GBHN dan Pelita yang pernah dilakukan pada rezim orde baru,ternyata tidak dapat menyelematkan Indonesia dari krisis yang terjadi padatahun 1997 - 1998 dan membawa bangsa Indonesia terpuruk di berbagaisektor kehidupan masyarakat. Hal ini menyiratkan bahwa Indonesia sebagaimobil yang sangat baru pada saat jaman orde baru akan tetapi kurangyaperawata, sehingga menjadi rusak di tahun 1998 dan akan membuat orangyang mengendalikan mobil tersebut mengalami berbagai macampermasalahan yang tidak diharapkan. Oleh karena kita tidak pernahmembayangkan, bahwa sebuah sistem yang di buat pada jaman orde barumenjadi gagal serta membuat semakin Indonesia porak poranda. Untuk itu, alangkah baiknya sebelum dibuat suatu landasan ataumenyusun strategic planning perlu di lakukan investasi dari setiap lembagayang ada di pemerintahan dengan cara melaksanakan scenario planning.Dengan cara tersebut dapat kita melihat impian apa saja yang terbaik untukbangsa ini akan tetapi juga kita harus membayangkan apa yang akan terjadi // 9 -
  • 18. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)dari impian tersebut dari dampak negatifnya. Sehingga dampak negatiftersebut tidak membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disintegrasiyang mungkin akan lebih parah daripada Negara Unisoviet yang lalu. Berbagai versi skenario Indonesia 2010 yang dapat kita lihat, salahsatunya adalah skenario yang dibuat oleh versi Jawa Barat yang menyusunskenario Indonesia sebagai Zamrud berserakan. Skenario ini menggambarkanbahwa kesatuan Negara Indonesia terpecah belah, banyak terjadinyapelanggaran HAM yang dilakukan oleh pihak keamanan, peranan dankesadaran dari masyarakat yang sangat rendah yang akan dapat terjadinyakudeta dan membuat keadaan masyarakat menjadi tertutup dan pemerintahmelakukan berbagai intervensi terutama dalam bidang ekonomi untuk dapatbertahan hidup yang mengakibatkan masyarakat menjadi kelaparan dankemiskinan dimana - mana dan Negara Indonesia menjadi di kucilkan di matadunia. Namun dalam versi skenario Indonesia 2010 yang menggambarkanIndonesia berada di ujung tanduk, yang bermakna bahwa Negara KesatuanRepublik Indonesia bagaikan matahari yang akan tenggelam dimana rakyatakan menjadi korban kekejaman dari pemerintah dan para aparat yangseharusnya menlindungi dan mengayomi masyarakat. Dengan kata lainIndonesia seperti kapal yang terombang ambing di terjang badai dan akhirnyamenjadi pecah berantakan. Dengan demikian bagi para penyusun strategic planning haruslahfokus dan dapat melihat berbagai unsur yang bisa mengakibatkan terjadinyaskenario yang akan lebih buruk. Untuk dapat mengatasi berbagai penyebabterwujudnya scenario planning yang buruk maka pemerintah selaku pembuatkebijakan dan penguasa harus menghindarkan hal - hal yang buruk darimasyarakat untuk menuju kearah yang lebih baik dengan meminimalkanpelanggaran HAM, ketidak adilan dalam kehidupan sosial di masyarakat dansesuatu yang akan menimbulkan konflik dalam masyarakat baik secarahorizontal dan secara vertikal.// 10 -
  • 19. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Pembicara V :DEDDY A. PRASETYO, SH., LL.M ( Working Group For Indonesia MasaDepan )Ringkasan Materi Pemaparan : Skenario lebih mengarah kepada cerita yang masuk akal danmenantang tentang berbagai hal. Di dalamnya termasuk bagaimana faktor-faktor eksternal mempengaruhi perkembangan suatu organisasi atau institusiseperti kondisi politk, sikap masyarakat, regulasi, dan kekuatan ekonomi. Jadiskenario itu lebih merupakan hipotesa-hipotesa, dan bukan ramalan, yangdicipatakan dan diguanakan dalam berbagai cerita dengan kerangka skenarioyang biasnya terdiri dari 3 atau 4 skenario yang "menangkap" kemungkinan-kemungkinan dimasa depan. Cukup banyak orang terkecoh pemahaman antara strategic planningdengan scenario planning. Kegiatan ini berbeda dengan PerencanaanStrategik (strategic planning) yang berusaha mengidentifikasi cara-cara untukmenjamin keberhasilan pencapaian visi dan misi organisasi. Hasilperencanaan strategik adalah daftar langkah yang harus diambil agar tujuanbisa tercapai.3 Sementara proses scenario planning dapat digunakan untukmemfasilitasi dan memperkukuh proses strategic planning agar organisasitetap hidup dan responsif terhadap perubahan-perubahan eksternal yangterjadi. Pada tahapan ini kemudian menentukan kerangka waktu yang akandigunakan sebagai patokan. Misalnya saja 10 atau 20 tahun. Jangka waktuideal adalah menerawang 10 tahun ke depan. Semakin dinamis perubahaneksternal dan internal yang terjadi, maka durasi waktu disarankan antara 5 - 10tahun. Contohnya ketika berhubungan dengan perkembangan teknologiinformasi, maka disarankan untuk menggunakan jangka waktu yang pendektersebut. Tetapi jangka waktu pendek tidak terlalu disarankan ketikaberhubungan dengan persoalan perubahan lingkungan atau sosialkemasyarakatan. Jangka waktu panjang, 10 - 20 tahun, biasanya cukupditerima ketika berhubungan dengan fenomena yang relatif pelanperubahannya. Ada 5 tahapan yang digunakan dalam penyusunan skenario : // 11 -
  • 20. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Tahap I Tahap II Tahap III Orientasi Eksplorasi Sintesis Monitor Aksi Tahap V Tahap IV Untuk membuat suatu skenario sebagai alat dimana perubahan besardapat diimpikan dan dilakukan. Kita dapat belajar dari afrika selatan, belajardari Guatemala, belajar dari Destino Columbia. Setiap skenariomenggambarkan hasil yang sangat berbeda dari situasi negoisasi politik yangsedang berlangsung saat itu. Membuat suatu skenario masa depan Indonesia 2010, terinspirasioleh pengalaman Afrika Selatan yang mampu melewati masa transisi dengansukses. Tidak mudah menjelaskan kepada masyarakat maupun para tokohurgensi dari kebutuhan bangsa ini merupakan skenario planning. Skenariosudah telanjur dimaknai sebagai sesuatu yang negatif dan sarat nuansa politik. Skenario pertama "Diujung Tanduk" yang merupakan kombinasipemerintahan authoritarian dengan pemerintahan yang berorientasiekonomi pro-pertumbuhan. Dalam skenario ini digambarkan bahwapemerintahan yang authoritarian membawa dampak pada ketidakpuasandaerah dari berbagai sisi akibat pemerintahan yang sentralistis. Separatismedan disintegrasi menjadi konsekuensi logis dari sistem yang tidakmempedulikan aspirasi daerah. Konflik pusat-daerah melebar menjadikonflik antar-agama dan antar-etnis. Anarkisme meningkat. Ketidakpatuhansipil juga meningkat. Pendidikan dan agama dijadikan sarana untukmenseragamkan ideologi. Pertumbuhan ekonomi terjadi dikarenakan modalbesar dan high technology. Dalam skenario ini digambarkan Riaumemisahkan diri mengikuti dua wilayah lainnya yaitu Aceh dan Papua.Skenario kedua "Masuk ke Rahang Buaya" merupakan kombinasi daripemerintahan authoritarian dengan pemerintahan yang berorientasi ekonomipro-pemerataan. Dalam skenario ini digambarkan Indonesia menjadi sangat// 12 -
  • 21. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)authoritarian dan terjadi isolasi ekonomi. Untuk tetap mempertahankanpemberian subsidi kepada rakyat, pemerintah mengeksploitasi sumberdayaalam secara besar-besaran. Skenario "Mengayuh Biduk Retak" merupakan kombinasipemerintahan demokratis dengan sistem ekonomi pro-pertumbuhan.Digambarkan Indonesia menjadi Negara yang demokratis dengan kebebasanpers dan rule of law. Otonomi daerah berjalan dengan baik. Namun terjadimasalah di bidang ekonomi yang dikuasi pertumbuhan, melalui investasiasing dan penggunaan aset-aset lokal. Skenario "Lambat Asal Selamat" merupakan kombinasi daripemerintahan demokratis dengan sistem ekonomi pro-pemerataan. Hal iniditandai dengan suksesnya pelaksanaan otonomi daerah, dimanadesentralisasi-lah yang menyelamatkan Indonesia dari bahaya kehancurandisintegrasi. Demokrasi berhasil membuat wajah Indonesia tidak lagidipandang sebelah mata oleh dunia international. Investor asing kembalimenanamkan modalnya di Indonesia, ini merupakan wujud kredibilitasIndonesia yang membaik atau meningkat. Apabila inisiatif perencanaan skenario ini ternyata "menarik hati"para pemangku kepentingan di tingkat Kalimantan, khususnya KalimantanTimur, setidaknya hal-hal yang menjadi kelemahan proses di atas haruslahdihindari. Berikut adalah hal yang perlu dilakukan seandainya inisiatif iniakan dilakukan, sekurang-kurangnya:a. Pilihlah "panitia pengarah" yang merepresentasikan kelompok, partai politik, profesi, etnis, agama, dsb, secara beragam dan proporsional.b. Partisipasi peserta. Pilihlah peserta dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Hal ini akan sangat membantu dalam proses identifikasi dan penentuan Driving Forces ("predetermined elements" atau "uncertainties").c. Libatkan para penyelenggara Negara dan/atau pemerintahan di tingkat Kalimantan untuk memiliki proses tersebut.d. Disiplin dengan tahapan proses perencanaan skenario. Menghasilkan skenario bukan berarti proses selesai. Selesainya pembuatan Skenario justru merupakan langkah awal proses yang lebih besar, yaitu merancang tindak lanjut dan memonitor indikator utama (ingat: trend perubahan indikator). // 13 -
  • 22. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)e. Persiapkan sumberdaya (fasilitator, pendanaan, akomodasi, dsb) secara memadai dan transparan.f. Bentuk unit kecil "Scenario Planning Office" untuk selalu terus memonitor skenario dan tindak lanjutnya. Penyusunan skenario adalah suatu proses dialog yang mensyaratkantiga parameter dasar yakni harus ada keterbukaan (openness), kesediaanbicara (talking) dan kemauan untuk mendengar (listening). Ini merupakanprasyarat dasar suksesnya proses. Tidak terpenuhinya prasyarat dasar, yangterjadi hanya sekedar lokakarya penyusunan yang hambar dan tidakmencerminkan jiwa para peserta yang merupakan representasi dari jiwamasyarakat secara keseluruhan.// 14 -
  • 23. Bagian KeduaSAMBUTAN DAN MAKALAH PEMBICARA
  • 24. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) SAMBUTAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA Pada Diskusi Ilmiah Forum SANKRI dengan Tema: "Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario" - PKP2A III LAN Samarinda, 26 November 2007 -Yth. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur,Yth. para Narasumber,Yth. para pejabat pemerintah daerah, para peneliti, serta para undangan danhadirin sekalian yang berbahagia,Assalamualaikum wr wb.Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat TuhanYME, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, pada hari ini kita dapat bersinergidalam sebuah forum diskusi akademik guna memformulasikan strategiterobosan yang lebih manjur dalam rangka akselerasi pembangunan wilayahdi era otonomi luas. Kegiatan ini sendiri saya nilai memiliki arti yang sangat penting dalamkonteks pembenahan sistem analisis kebijakan maupun perencanaanpembangunan, baik dalam skala nasional, regional maupun lokal. Kebijakanyang akurat dan perencanaan program yang matang, menjadi syarat mutlakterhadap 3 kondisi, yakni: 1) tercapainya efektivitas dan efisiensi; 2)terbangunnya daya saing dan nilai tambah organisasi; serta 3) terjaminnyaorganisasi tetap berjalan sesuai roadmap yang dimilikinya. Persoalan yang terjadi dewasa ini, ketiga hal tersebut tidak dapatterwujud secara optimal karena lemahnya kebijakan dan sistem perencanaankita. Perencanaan kita lebih sering mengalami kegagalan (planning failures)dalam tahap implementasinya. Konsekuensi dari kegagalan perencanaan ini // 15 -
  • 25. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)dapat diamati indikasinya antara lain dari posisi Indonesia di tengahkehidupan internasional yang semakin menurun dan tertinggal dibandingnegara-negara berkembang lainnya. Beberapa indikator global seperti Corruption Perception Index,Environmental Sustainability Index, Network Readiness Index, HumanDevelopment Index, Knowledge Based Economy Index, GlobalCompetitiveness Index, dan sebagainya, menunjukkan kinerja bangsa yangtidak kunjung membaik. Sedangkan pada sisi domestik, kita juga belummampu melepaskan diri dari problematika klasik seperti kemiskinan danpengangguran, stabilitas moneter yang fluktuatif, kerusakan lingkunganhidup, pergolakan sosial, penegakan hukum yang lemah, perilaku koruptifdalam penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik yang belumberkualitas, kesenjangan antar wilayah (regional disparity), dan sebagainya. Berbagai fakta tentang buruknya kinerja bangsa tadi, sedikit banyakjelas dikontribusikan oleh proses analisis kebijakan yang kurang berbobot.Dengan kata lain, dokumen perencanaan yang kita miliki selama ininampaknya belum sanggup menjawab dan mengatasi issu-issu sentral dalamkehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Mengingat hal yang demikian, maka kegagalan perencanaan -meskipun dalam beberapa hal dapat ditolerir - harus segera dikurangi.Momentum reformasi harus kita manfaatkan untuk melakukan evaluasi secarasistemik dan komprehensif atas berbagai kegagalan pembangunan dimasalampau. Dalam hal ini, perencanaan memang bukan jaminan akanberfungsinya semua komponen sistem manajemen negara. Namun palingtidak, perencanaan yang baik, efektif, akurat, dan visioner, akan memberimodal dasar yang kokoh bagi fungsi-fungsi manajemen lainnya agar berjalanlebih efektif dan efisien.Hadirin peserta Seminar yang saya hormati, Atas dasar pola pikir yang saya sampaikan diatas, maka sayamenyambut baik inisiatif penyelenggaraan seminar tentang ScenarioPlanning ini. Disamping menawarkan alternatif dan paradigma yang relatifbaru dalam rangka mengatasi keterbatasan perencanaan konvensional,proses analisis skenario diharapkan juga dapat menjadi bagian integral dari// 16 -
  • 26. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)pembenahan sistem administrasi pembangunan. Sebagaimana kita ketahui,administrasi pembangunan adalah sistem administrasi di negara yang sedangmembangun, yakni rangkaian upaya penerapan dan pengembangan fungsi-fungsi manajemen, kebijakan publik, lembaga-lembaga, serta pranata sosial,politik dan ekonomi dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Sementara itu, dalam khazanah keilmuan maupun praktek di negaraberkembang menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan merupakanpokok substansi kebijakan publik. Hal ini mengandung pemikiran bahwamanajemen pembangunan yang baik merupakan refleksi dari kinerjakebijakan publik yang baik pula. Manajemen pembangunan sendiri, tidakmungkin berkualitas jika tidak ditopang oleh sistem perencanaan yangmodern dan berbobot. Pada gilirannya, sistem perencanaan yang majumembutuhkan dukungan instrumen analisis yang canggih, salah satunyamelalui analisis skenario. Berdasarkan logika ini, maka tidak berlebihan jikadikatakan bahwa penggunaan analisis skenario dalam sistem perencanaanpembangunan, akan membawa kontribusi positif terhadap reformasikebijakan publik secara keseluruhan. Terlepas dari kebutuhan terhadap pembaharuan manajemenperencanaan pembangunan, pada saat yang bersamaan-pun kita memerlukaninovasi terus menerus terhadap cara dan gaya berpemerintahan (the newways of governing) yang dinamis dan tidak statis. Sebab, administrasi negaradimasa mendatang akan dituntut untuk secara tepat berperan dalam suasanadimana masyarakat makin meningkat pendidikannya, makin terspesialisasikebutuhannya, serta makin keras tuntutannya pada kualitas, dalam suasanapasar yang makin terbuka dan sistem informasi yang makin canggih dancepat.Hadirin peserta Seminar yang saya hormati, Sebagai penutup sambutan, saya mengucapkan selamat berdiskusisecara produktif, semoga dari kegiatan seminar ini dapat dihasilkan butir-butirpemikiran cerdas dan inovatif untuk turut mengurai permasalahan yang kitahadapi. Kepada jajaran Pemerintah Daerah di wilayah Kalimantan yangmenjadi mitra abadi dalam implementasi program kerja LAN di daerah, sayasampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Semoga // 17 -
  • 27. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)kerjasama dan saling pengertian yang telah terjalin secara harmonis selamaini dapat lebih diperkuat dimasa-masa yang akan datang. Dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seminar ForumSANKRI dengan Tema "Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario", secara resmi saya nyatakan DIBUKA.Terimakasih,Wabillahi taufik wal hidayahWassalamualaikum wr. Wb. Lembaga Administrasi Negara RI Kepala, Sunarno// 18 -
  • 28. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) SAMBUTAN KEPALA PUSAT KAJIAN dan PENDIDIKAN dan PELATIHAN APARATUR III LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA Pada Acara, Diskusi Ilmiah Forum SANKRI Menerawang Pembangunan Wilayah Di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Samarinda, 26 November 2007Yth, Kepala LAN RI, Bpk Sunarno, SH., M.ScYth, Sekretaris Daerah Propinsi Kaltim, Bapak, Drs. Syaiful Teteng, M.,HumYth, Unsur Muspida Propinsi KaltimYth, Bupati/Walikota atau yang mewakili,Yth, Para Narasumber (Prof. Dr. Erman Aminullah, M.Sc, Drs. DesiFernanda, M.Soc.Sc, Dr. Daniel Sparingga, Dedy A. Prasetyo, dan M. RidhoEisyYth, Hadirin Peserta dan Undangan Diskusi IlmiahAssalamualaikum Wr.WbSelamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat TuhanYME, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, pada hari ini kita dapat berkumpuldi tempat yang berbahagia ini dalam keadaan sehat wal afiat, gunamendiskusikan sebuah topik yang cukup strategis yaitu PembangunanWilayah Di Masa Depan Dengan Pendekatan Analisis Skenario (ScenarioPlanning) // 19 -
  • 29. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Hadirin Peserta Diskusi yang Berbahagia Banyak kalangan menilai bahwa saat ini seluruh elemen masyarakatmaupun negara kebangsaan dimanapun berada, menghadapi sebuah kondisiketidakpastian di segala bidang. Perubahan berlangsung begitu cepat padaberbagai dimensi kehidupan dan seringkali terjadi secara tidak terduga(unpredictable). Bahkan sebuah perubahan kadang bersifat sangat mendadakyang dapat mengakibatkan kemandegan sebuah organisasi. Dalam kondisi seperti itu, maka adanya terobosan manajemen sangatdibutuhkan untuk menuntun organisasi pada jalur yang benar dalammemasuki lorong masa depan. Salah satu yang dipersyaratkan disini adalahkemampuan sebuah organisasi dan jajaran pimpinannya untuk memilikisebuah instrumen atau sistem pendukung dalam proses pengambilankeputusan strategis.Hadirin Peserta Diskusi yang Berbahagia Meramal masa depan bagi sebuah komunitas berbangsa maupun bagisebuah organisasi memang sebuah hal yang sangat sulit. Padahal,kemampuan memetakan posisi kekuatan dan kelemahan organisasi, sertatingkat kinerja yang harus dicapai pada masa depan, adalah sebuahkebutuhan fundamental. Disinilah pentingnya analisis skenario (ScenarioPlanning) sebagai bagian integral dari sistem pengambilan keputusan dalamsuatu organisasi. Analisis skenario sendiri memberikan beberapa manfaat besar bagisebuah organisasi, diantaranya yaitu :Ü Mengurangi kemungkinan tidak bekerjanya sistem perencanaan dan implementasi strategi dalam organisasi.Ü Memberikan arah atau jalan alternatif yang harus dilalui sebuah organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya.Ümenjadi cara dan instrumen yang powerful untuk membangun Skenario organisasi pembelajaran.Üjuga dapat menjadi sebuah "laboratorium masa depan" melalui Skenario uji coba atau "gladi bersih" terhadap suatu kemungkinan di masa depan yang dilakukan saat ini. Dengan kata lain, skenario diharapkan mampu mentransformasi strategic thinking menjadi strategic action.// 20 -
  • 30. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Ü skenario berarti memungkinkan kita berpikir tentang sesuatuMenyusunyang tidak terpikirkan.Hadirin Peserta Diskusi yang Berbahagia Dalam konteks pembangunan kewilayahan, analisis skenarionampaknya cukup efektif untuk membantu merumuskan strategi kebijakandan sistem perencanaan pembangunan regional di Kalimantan. Sebagaimana dimaklumi, saat ini terjadi fenomena tidakterintegrasinya pembangunan daerah di kontinen Kalimantan kedalam skemapembangunan wilayah. Fenomena seperti ini makin nampak saatdigulirkannya kebijakan otonomi luas yang melahirkan daerah dengankewenangan yang bulat dan utuh. Kewenangan yang bulat dan utuh tadi padagilirannya menjadi trade-off bagi upaya membangun sinergi dan kohesipembangunan antar daerah/wilayah. Setiap daerah menjadi semakin selfishatau memiliki ego yang lebih tinggi dalam memikirkan daerahnya sendiri.Padahal, dari teori ekonomi lokasi, sebuah daerah jelas memiliki keterkaitandan ketergantungan dengan daerah lain. Konsekuensinya, kebijakanpembangunan sebuah daerah harus selalu ditempatkan dalam kontekspembangunan regional. Dengan kata lain, membangun Kalimantansemestinya tidak dibatasi oleh terirotial wilayah administratif saja, tetapi harusmengacu pada sebuah payung makro/grand design pembangunanKalimantan. Pembangunan trans Kalimantan tidak mungkin dapat tercapai jikasistem perencanaan pembangunan masih terkonsentrasi secara spasialprovinsi. Arus komoditas pertanian atau barang-barang ekonomi jugasemestinya tidak dibatasi oleh batas wilayah. Sementara itu dalam lingkupyang lebih sempit, pembangunan di Kalimantan Timur, misalnya, jugamembutuhkan konsep-konsep lintas wilayah, misalnya keberadaan TelukBalikpapan dan Sungai Mahakam. Kedua asset ini saja pemanfaatannya sudahsangat multi sektor, lintas daerah, dan lintas pendekatan, sehingga kebijakanyang dirumuskan juga harus betul-betul mempertimbangkan kepentinganlintas wilayah tersebut. Dalam rangka mensinergikan kebijakan dan manajemenpembangunan di wilayah Kalimantan itulah perlunya sebuah konsep yang // 21 -
  • 31. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)dapat menjadi payung bagi setiap daerah otonom di Kalimantan (baik Provinsimaupun Kabupaten/Kota). Konsep seperti ini, sayangnya, masih belumberkembang dan kondisi Kalimantan sendiri relatif masih tetap status quo.Hadirin Peserta Diskusi yang Berbahagia Atas dasar pemikiran tersebut diatas, maka adanya terobosankebijakan yang berbasis pada konsep intelektual yang matang, komprehensifdan visioner, menjadi kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda-tundalagi. Dalam hal ini, salah satu konsep intelektual yang memiliki keunggulaninovatif adalah Perencanaan Skenario (scenario planning) atau sebuah proseskreatif Analisis Skenario. Dan mengingat pentingnya Scenario Planningsebagai management tools untuk menopang kinerja organisasi ataupemerintahan, maka PKP2A III LAN Samarinda memandang perlumengangkat issu besar ini dalam sebuah forum diskusi lintas stakeholder.Bapak Kepala LAN, Bapak Sekda dan Hadirin Peserta Diskusi yangBerbahagia Pada dasarnya, kegiatan diskusi ilmiah ini bertujuan untuk membukawawasan para pengambil kebijakan dan segenap stakeholdernya di daerahuntuk mengembangkan sistem perencanaan pembangunan denganmenggunakan teknik analisis manajemen baru bernama Analisis Skenarioatau scenario planning. Pada gilirannya, implementasi scenario planningdiharapkan dapat mengisi berbagai kekurangan dalam sistem perencanaankonvensional, sekaligus meningkatkan kadar keakurasian dan efektivitasperencanaan pembangunan, baik pada level nasional, regional, lokal,maupun instansional. Hasil akhir dari kegiatan diskusi ini nantinya diharapkan dapatmerumuskan beberapa butir saran kebijakan dalam pengembangan kapasitasperencanaan pembangunan, khususnya di wilayah Kalimantan.Hadirin Peserta Diskusi yang Berbahagia Mengakhiri sambutan ini, tidak lupa kami sampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada para narasumber dan para peserta sekalian.Dimana ternyata yang hadir memenuhi undangan kami tidak hanya dari// 22 -
  • 32. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)empat propinsi di Kalimantan tetapi juga ada yang hadir dari Sulawesi Selatan,Jawa Barat, Jakarta dan Propinsi Aceh yaitu Bapak Wakil Walikota Sabang,untuk itu sekali lagi kami haturkan terima kasih, dan apabila dalam prosespenyelenggaraan acara ini ada yang kurang berkenan kami selaku tuan rumahmenyampaikan permohonan maaf. Mudahan-mudahan kerjasama yang telahterjalin erat ini dapat terus kita pupuk dimasa-masa yang akan datang. Demikian beberapa hal yang dapat kami laporkan, untuk selanjutnyakami mohon perkenan Bapak Sekretaris Daerah Kalimantan Timur untukmemberikan sambutan. Dan kepada Bapak Kepala LAN kami mohonperkenannya untuk memberikan sambutan pengarahan, sekaligus membukaacara diskusi ilmiah ini.Terimakasih,Wabillahi Taufik Wal HidayahWassalamualaikum Wr. Wb. PKP2A III LAN Samarinda Kepala, Meiliana // 23 -
  • 33. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) PENGANTAR SCENARIO PLANNING1 Oleh : DR. DANIEL SPARINGGA Jika didefinisikan, pengertian Scenario Planning (SP) dapat diuraikansebagai berikut :v cerita mengenai kemungkinan-kemungkinan tentang masa Narasi atau depan.v Berisi uraian tentang apa yang mungkin terjadi, bukan apa yang harus terjadi.v Bukan prediksi (prediction) atau ramalan (forecasting) tentang masa depan.v Bukan sebuah rencana atau rekayasa.v deskripsi, bukan preskripsi tentang masa depan. Merupakan Scenario Planning biasanya dapat disebut juga dengan istilahScenario Building, Scenario Development, dan Scenario Thinking. Scenario planning pertama kali dikembangkan di kalangan militersetelah Perang Dunia Ke-II ( PD II ). Di dunia bisnis, Scenario Planningmenjadi salah satu metode untuk "membaca" masa depan. Shell OilCompany adalah salah satu organisasi bisnis yang menjadikan ScenarioPlanning sebagai metode yang memiliki aspek ilmiah dan sekaligus juga seni.Ragam Pemanfaatan Scenario Planning saat ini mencakup hampir di seluruhbidang, dari tema yang berhubungan dengan masa depan negaran, keamanannasional, lingkungan hidup, perdagangan, hingga industri, pendidikan,teorisme dan lain sebagainya. Pendekatan Scenario Planning terbagi menjadi 2 ( dua ) jenis, yaitu :o Pendekatan Pakar, yaitu pendekatan yang melibatkan sedikit orang/kalangan tertentu (<50 orang). Misalnya, "Mont Fleur Scenario" (Afrika Selatan) disebut juga sebagai skenario pakar.1 Makalah ini disajikan dalam Diskusi Ilmiah Forum SANKRI " MENERAWANG PEMBANGUNAN WILAYAH DI MASA DEPAN DENGAN ANALISIS SKENARIO ( SCENARIO PLANNING)" . diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda, Senin 26 November 2007// 24 -
  • 34. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)o Pendekatan Dialog, yaitu pendekatan yang melibatkan banyak orang dari banyak latar belakang (>150 orang). Misalnya, Skenario Indonesia 2010, disebut juga sebagai dialog skenario. Langkah-langkah dalam penyusunan Scenario Planning adalahsebagai berikut :1. Menetapkan focal concern (FC). Penetapan Focal Concern adalah langkah pertama dalam penyusunan Scenario Planning. Dalam menetapkan focal concern ( FC ) ini, kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini : r strategis yang menjadi obsesi peserta. Pertanyaan r jangkar bagi pembicaraan mengenai skenario. Merupakan rtime-frame yang jelas Perlunya r menghasilkan skenario yang berbeda. FC berbeda Beberapa contoh dari Focal Concern ( FC ) adalah sebagai berikut : r Industri Garmen Indonesia 2025 Masa depan r ASEAN 2050 Masa depan r Internasional 2030 Terorisme r Perkembangan Perguruan Tinggi di Indonesia 2020 r Politik di Indonesia 2025 Posisi Partai r Dunia Perminyakan 20502. Mengindentifikasi driving forces (DF). Pengidentifikasian driving forces (DF) merupakan langkah kedua dalam penyusunan Scenario Planning. Jika diartikan, driving forces (DF) adalah suatu pendorong perubahan. Cara mengidentifikasi driving forces adalah dengan mendaftar sebanyak dan selengkap mungkin hal yang dipercaya dapat mempengaruhi focal concerne (FC). Dan driving forces ini sendiri selalu dinyatakan dalam bentuk variabel.3. Menganalisis hubungan antar driving forces (DF). Pada langkah ketiga dalam penyusunan Scenario Planning ini, hal-hal yang harus diperhatikan adalah pemetaan hubungan di antara driving forces (DF) yang satu dengan yang lain, pemetaan hubungan keseluruhan driving forces (DF) terhadap focal concern (FC), dan memberikan penjelasan tentang bagaimana jalinan hubungan itu mempengaruhi focal concern (FC). // 25 -
  • 35. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)4. Memilih DF yang paling berpengaruh. Ada 3 ( tiga ) kriteria yang harus diperhatikan pada langkah keempat dalam penyusunan Scenario Planning ini, yaitu : 1. Pilih driving forces ( DF ) yang memiliki hubungan langsung terhadap focal concern ( FC ). 2. Pilih driving forces yang memiliki pengaruh yang segera terhadap focal concern ( FC ). 3. Pilih driving forces ( DF ) yang paling kritis ( importance and uncertain ).5. Menyusun matriks skenario. Dalam menyusun matrik skenario sebagai langkah kelima dalam penyusunan Scenario Planning ini, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : y Tentukan matriks yang terdiri atas sumbu ordinat dan aksis yang dikembangkan dari dua driving forces ( DF ) terpilih. y Tentukan kutub-kutub dari setiap driving forces ( DF ) terpilih. y misal : DF kebijakan ekonomi: ==> Kapitalisme - Sosialisme ==> Pro-Konglomerasi - Pro-UKM DF kebijakan politik : ==> Pro-Centralization - Pro-Decentralization ==> Symmetric Decentralization - Asymmetric Decentralization Contoh matriks skenario DF + 2 SKENARIO SKENARIO 1 4 DF + - SKENARIO 3 SKENARIO 2 -// 26 -
  • 36. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)6. Menentukan indikator kunci tiap skenario. Pada langkah keenam penyusunan Scenario Planning ini, yaitu dalam menentukan indikator kunci tiap skenario, kita harus menentukan ciri-ciri pokok dari masing-masing kutub, menentukan implikasi dari bertemunya ciri-ciri yang melekat pada kutub yang relevan pada satu driving forces (DF) dan kutub yang relevan pada driving forces ( DF ) lainnya, serta menentukan simbol atau frase yang asosiatif untuk masing-masing skenario.7. Menyusun narasi skenario. Dalam menyusun narasi skenario sebagai langkah terakhir penyusunan Scenario Planning, hal-hal yang perlu diketahui adalah sebagai berikut : » Kembangkan sebuah narasi untuk setiap skenario. » skenario berisi deskriptif elaboratif tentang implikasi bertemunya Setiap ciri-ciri pokok yang relevan. » penulisan narasi amat beragam; dari yang menekankan snapshot Gaya peristiwa; dari yang menekan actor hingga hard-facts. » alternatif skenario : komik, cerita pendek, film, drama dan Versi karikatur. Indonesian State Bureaucracy 2015 // 27 -
  • 37. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) SKENARIO PEMBANGUNAN EKONOMI BERLANDASKAN PENGETAHUAN DI INDONESIA : 2 IMPLIKASI UNTUK MEMACU PEMBANGUNAN DAERAH INOVATIF Oleh : Prof. DR. ERMAN AMINULLAHI. ANALISIS SKENARIO Suatu skenario akan diperlukan apabila ada suatu keadaan yang dirasakan akan berubah (memburuk atau membaik). Perubahan boleh jadi (plausible) tetapi tidak diketahui bagaimana dan kapan akan terjadi (tidak pasti). Ada alasan-alasan logis yang dapat memicu perubahan boleh jadi (memburuk atau membaik). Perencana menyusun beberapa kemungkinan urutan kejadian, jalan cerita (skenario) baik atau buruk. Perencana menyiapkan langkah antisipatif untuk menghindari kemungkinan keadaan buruk tidak diinginkan dan mencapai kemungkinan keadaan baik diinginkan. Skenario merupakan cerita kemungkinan, seperti yang dapat kita lihat dari contoh diagram di bawah ini : SKENARIO PREDIKSI? Pertumbuhan jangka Pertumbuhan tahun depan? panjang? ? ? ? ? ? ?? ? PROYEKSI SPEKULASI ??? Harga minyak Harga saham2 Makalah ini disajikan dalam Diskusi Ilmiah Forum SANKRI " MENERAWANG PEMBANGUNAN WILAYAH DI MASA DEPAN DENGAN ANALISIS SKENARIO ( SCENARIO PLANNING)" . diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda, Senin 26 November 2007// 28 -
  • 38. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Dalam tabel berikut ini, dapat kita lihat corak dan cara dari skenario: CORAK CARA DISKUSI PAKAR NARASI KUALITATIF (berdasarkan pendapat) EKSPLORATIF ANTISIPASI NORMATIF (berdasarkan pola) KAUSALITAS SIMULASI ESKTRAPOLATIF (berdasarkan model)Unsur-unsur dari skenario itu sendiri adalah :| cerita masa depan Dugaan arah| cerita masa depan Urutan jalan P dan pemicu tindakan P urutan kejadian P sebab kejadian P dampak kejadian akibat dan| keadaan awal Gambaran P asumsi termasuk| keadaan akhir Gambaran P kemungkinan (analogi keadaan) beberapa| Langkah antisipatif P perubahan Prasyarat P kebijakan Imperatif Pkebijakan StrategiII. SKENARIO PEMBANGUNAN EKONOMI BERLANDASKAN PENGETAHUAN1. DUGAAN ARAH CERITA MASA DEPAN Pendugaan cerita masa depan pembangunan ekonomi berdasarkan trendnya dapat membentuk 3 trend pertumbuhan yang dipengaruhi oleh pelaku ekonomi itu sendiri, yaitu sikap pelaku ekonomi terhadap pasar berdasarkan trend pertumbuhan masa lalu (sebelumnya) Hasil simulasi terhadap trend pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan dilihat dari sikap pelaku ekonomi serta jenis persaingan pasar dapat dilihat sebagai berikut: // 29 -
  • 39. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)2. URUTAN JALAN CERITA MASA DEPAN Penguatan ekonomi yang ditandai dengan pertuimbuhan ekonomi yang sehat sangat ditentukan oleh beberapa faktor seperti aktivitas ekonomi, investasi, inovasi teknologi, kompetisi ekonomi baik yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap penguatan tersebut. Keterkaitan 4 (empat) faktor tersebut terhadap penguatan ekonomi melalui diagram sistem thinking dapat dijelaskan sebagai berikut:// 30 -
  • 40. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)3. GAMBARAN KEADAAN AWAL (2005) Gambaran awal menunjukkan kondisi awal yang perlu diperhatikan dalam menentukan alur cerita masa depan. Kondisi awal yang terjadi pada saat akan dilakukan simulasi masa depan penguatan ekonomi di Indonesia adalah sebagai berikut : w Rendahnya ketahanan ekonomi menghadapi persaingan global. w Ketertinggalan Indonesia menghadapi perkembangan global menuju ekonomi berlandas ilmu pengetahuan. w Kelambatan berkembangnya budaya iptek dengan dukungan jumlah penduduk terdidik. w Lemahnya komitmen pemerintah dalam Membangun daya saing berlandaskan penguasaan iptek. w Lemahnya pembangunan kemampuan iptek dan rendahnya pemanfaatan kemampuan iptek untuk pembangunan.4. GAMBARAN KEADAAN AKHIR (2025) Gambaran akhir menunjukkan cerita masa depan yang kemungkinan terjadi dengan memperhatikan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi penguatan ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapaun kondisi akhir dari hasil simulasi yang telah dilakukan adalah sebagai berikut: w Tingginya ketahanan ekonomi menghadapi persaingan global. w Kemajuan Indonesia menghadapi perkembangan global menuju ekonomi berlandas ilmu pengetahuan. w Berkembang meratanya budaya iptek dengan dukungan jumlah penduduk terdidik. w Tingginya komitmen pemerintah dalam membangun daya saing berlandaskan penguasaan iptek. w Kuatnya pembangunan kemampuan iptek dan tingginya pemanfaatan kemampuan iptek untuk pembangunan.5. LANGKAH ANTISIPATIF MENCAPAI KEADAAN DIINGINKAN I) Prasyarat perubahan w Kegiatan litbang dan inovasi dalam perekonomian untuk meningkatkan efisiensi dalam iklim persaingan dan mekanisme pasar atau pertumbuhan melalui inovasi (growth through innovation); // 31 -
  • 41. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) w Peningkatan kinerja dan kesejahteraan itu diperoleh dengan penghargaan terhadap penguasaan pengetahuan (prosperity driven by knowledge) dalam masyarakat berlandaskan iptek; w Dukungan masyarakat terdidik, khususnya para elit dan pelaku ekonomi, terhadap pentignya konsistensi kebijakan antisipatif (public support for policy consistency) mewujudkan tujuan jangka panjang dengan pembelajaran dari masa depan; w pendidikan dalam univerisitas riset yang bermutu tinggi Tradisi (high standard of university tradition) untuk menghasilkan keunggulan bersaing dengan modal intelektual II) Imperatif Kebijakan w Terciptanya budaya inovatif, modal intelektual kreatif, dan komitmen penguasaan ilmu pengetahuan teknologi bagi kemajuan perekonomian. w Terciptanya kebutuhan terhadap inovasi, hasi-hasil pengembangan dan pembelajaran teknologi, serta kemampuan sarana teknologi dalam memajukan perekonomian nasional berlandas pengetahuan. III) Strategi Kebijakan Perpaduan kebijakan (set of policies) yang efektif untuk pencapaian keadaan yang diiginkan: w kebutuhan inovasi dalam perekonomian, dan; Promosi w Penguatan penguasaan kemampuan teknologi.III. IMPLIKASI UNTUK MEMACU PEMBANGUNAN DAERAH INOVATIF v CORAK DAERAH Jenis daeah berdasarkan kepadatan penduduk serta tingkat PDRBnya (Pendapatan Daerah Regional Bruto) dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) daerah, yaitu : Ä Daerah urban pusat pengetahuan bersifat kosmopolitan (penduduk padat, PDRB tinggi); Ä Daerah sumber keuntungan ekonomi bersifat dinamis (penduduk jarang PDRB tinggi), Ä Daerah tertinggal (penduduk jarang dan PDRB rendah), Ä Daerah "tertidur" (penduduk padat PDRB rendah).// 32 -
  • 42. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) v DAERAH INOVATIF CIRI-CIRI Daerah yang inovatif ditunjukkan dengan terciptanya beberapa faktor yang memadai pada beberapa faktor berikut, yaitu : Ä Sumber-sumber daerah antara lain: modal pengetahuan (kemampuan inovasi), modal manusia (tenaga terdidik), modal kapital (kelompok-kelompok industri, modal sosial). Ä Kepemimpinan daerah ditunjukkan oleh antara lain: penciptaan kerjasama antar daerah, pemilihan dan pelaksanaan strategi dan program prioritas, peran serta/ dukungan masyarakat terhadap program daerah, jaringan kerjasama pembangunan daerah dengan berbagai pihak. Ä kelembagaan yang mendukung antara lain: pelayanan Iklim dan sosial dan birokrasi, iklim bisnis, kenyamanan lingkungan hidup, citra/budaya/ identitas daerah. v PEMBANGUNAN DAERAH INOVATIF 1. Kemajuan pembangunan daerah ditentukan keunggulan kepemimpinan daerah dalam : a. Penciptaaan pengetahuan, b. Penguasaan informasi, c. Pembelajaran memunculkan keunikan ekonomi daerah. 2. Keunggulan kepemimpinan daerah yang inovatif ditandai : a. Kemampuan pembelajaran lebih cepat dapat mengejar ketertinggalan daerah; b. Percepatan perbaikan berlanjut tampak nyata dan terukur dalam pembangunan daerah; c. Keberhasilan transformasi sumber daya daerah menjadi keunggulan daerah melalui pembelajaran. v DAERAH INOVATIF MENJADI 1. Kemajuan perekonomian daerah dapat unik untuk setiap daerah, sukses suatu daerah dengan sumber daya, ciri dan kemampuan tertentu tidak otomatis akan menjadi sukses di contoh oleh daerah lain. // 33 -
  • 43. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) 2. Daerah inovatif adalah daerah yang belajar (learning region) yang mengandalkan kemajuan berlandaskan penguasaan pengetahuan dan teknologi. y CONTOH : - Mengubah masyarakat nelayan miskin terbelakang menjadi masyarakat nelayan kaya maju sejahtera dalam waktu 20 tahun. - Memajukan IKM dengan menerapkan teknologi produksi sebuah komoditi (di Chili). Ÿ 1970an, produksi ikan salmon rendah dan belum di ekspor. Ÿ 1980an, pemerintah membuat percontohan produksi salmon (dengan alih teknologi dari Norwegia) melalui BUMD. Ÿ 1990an, BUMD menyebarluaskan ke IKM cara produksi menggunakan teknologi dengan membuat pusat peragaan. Ÿ 2000an, nilai produksi satu komoditi ikan salmon dari UKM Chili bernilai US$1 milyar sebagai pengekspor utama. y KUNCI KEBERHASILAN : Kunci keberhasilan yang dapat dilakukan adalah dengan mendorong BUMD (bukan birokrasi) menyebarluaskan hasil percontohan dengan dukungan keuangan dan teknis bagi IKM untuk membeli dan menerapkan teknologi meningkatkan produktivitas dan mutu. v DAERAH INOVATIF UKURAN Keberhasilan suatu daerah menjadi daerah inovatif perlu dijelaskan dengan penciptaan/pembaruan : a. Ciri (sumber-sumber daerah) b. Cara (kepemimpinan daerah) c. Iklim (yang mendukung) Yang diukur melalui keberhasilan daerah tersebut dalam menghasilkan pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, perbaikan// 34 -
  • 44. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) kesejahteraan penduduk, dan keluaran produksi (PDRB) yang dihasilkan dari penciptaan/pemaruan ketiga faktor di atas.IV.PENUTUP w Tantangan Perekonomian Indonesian Ke Depan Membangun Ekonomi Berlandaskan Pengetahuan (Knowledge-Based Economy) w Tantangan Perekonomian Daerah Ke Depan Membangun Daerah Pembelajar (Learning Region) // 35 -
  • 45. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) ANALISIS SKENARIO INDONESIA 2015 DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA PADA KONTEKS KALIMANTAN DARI PERSPEKTIF POLITIK DESENTRALISASI3 Oleh : Drs. Desi Fernanda, M.Soc.ScI. PENGANTAR: TUNTUTAN REFORMASI PASCA ORBA Reformasi dalam konteks politik dan kepemerintahan negara Indonesia dewasa ini telah menjadi kata kunci dan sekaligus jargon komitmen nasional masyarakat bangsa Indonesia dalam kerangka pembangunan nasional pasca Orde Baru. Kata kunci tersebut mengacu kepada tuntutan masyarakat untuk keluar dari krisis multidimensional yang berkepanjangan dalam periode tahun 1997-1999 lalu. Tuntutan reformasi total di segala bidang yang menjadi aspirasi masyarakat sebagaimana dipelopori oleh gerakan massa mahasiswa, pelajar dan pemuda di seluruh Indonesia pada hakekatnya merupakan reaksi keras masyarakat terhadap kegagalan pemerintahan Soeharto dalam menanggulangi krisis multi dimensional yang secara nyata mengakibatkan kesengsaraan rakyat secara luas selama krisis tersebut berlangsung. Secara ringkas, gambaran mengenai tuntutan reformasi di segala bidang pasca Orde Baru dalam rangka mengatasi krisis multidimensional adalah sebagaimana terlihat dalam Bagan 1. Dampak negatif dari krisis multi dimensional tersebut dalam konteks global telah menurunkan posisi daya saing Indonesia, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi dan investasi, pada level yang relatif rendah, bahkan jika dibandingkan dengan sesama negara-negara ASEAN sekalipun (Gambar 1). Di samping itu, krisis yang terjadi tampaknya memiliki kaitan yang erat dengan hasil studi salah satu lembaga kajian internasional bahwa Indonesia ternyata merupakan salah satu dari negara- negara paling korup di dunia. Berdasarkan hasil penelitian Transparency3 Makalah ini disajikan dalam Diskusi Ilmiah Forum SANKRI " MENERAWANG PEMBANGUNAN WILAYAH DI MASA DEPAN DENGAN ANALISIS SKENARIO ( SCENARIO PLANNING)" . diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda, Senin 26 November 2007// 36 -
  • 46. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) International pada tahun 2005, posisi Indonesia berada pada urutan keenam dari 159 negara-negara paling korup sedunia, bersama-sama Uzbekistan, Liberia, Irak, Ethiopia, Kamerun, dan Azerbaijan. Selain itu, berdasarkan Survey Transparency International Indonesia, Barometer Korupsi Indonesia Tahun 2004, menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga pemerintahan, pelayanan publik, partai politik/DPR, bisnis/swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, bahkan Lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia dipersepsi korup oleh masyarakat (Tabel 1). Tabel 1: Barometer Korupsi Indonesia Tahun 2004 1 Partai Politik / DPR 4,4 2 Bea Cukai 4,3 3 Peradilan / Polisi 4,2 4 Pajak 4 5 Bisnis / Swasta 3,7 Pelayanan Registrasi / Perijinan 3,7 6 Militer 3,3 7 Sistem Pendidikan 3,2 8 Pekerjaan Umum 3,1 9 Pelayanan Kesehatan 3 10 Media 2,6 11 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 2,4 12 Badan Badan Keagamaan 1,8 Sumber : Transparency International Indonesia // 37 -
  • 47. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintahan Indonesia tidak memiliki opsi lain, kecuali menetapkan komitmen untuk melakukan refomasi birokrasi; serta mekanisme penyelenggaraan administrasi negara secara lebih sistemik, menyeluruh, dan berkesinambungan. Reformasi tersebut didukung pula oleh berbagai perubahan kesisteman dalam bidang perencanaan pembangunan, manajemen keuangan negara, manajemen pengawasan dan akuntabilitas kinerja, manajemen sumber daya manusia, struktur organisasi dan tata hubungan kelembagaan negara dan pemerintahan, ketatalaksanaan pelayanan publik dan sebagainya. Seluruhnya diarahkan pada terwujudnya tata kepemerintahan yang baik, bersih dan bebas KKN.// 38 -
  • 48. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Untuk menjamin keberhasilan reformasi birokrasi secara sistemik tadi, maka dibutuhkan sebuah proses transformasi sistem administrasi negara menuju terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance), sehingga mampu mendorong upaya percepatan peningkatan daya saing nasional. Proses transformasi sistem administrasi negara sendiri membutuhkan mekanisme pengungkit (leveraging mechanism) yang efektif berupa kepemimpinan institusional (institutional leadership) yang kokoh. Dengan demikian, maka dapat ditarik sebuah sintesa bahwa kepemimpinan institusional yang efektif akan mengantarkan pada berjalannya roda transformasi administrasi negara, dan ini akan menjadi fundamen yang kuat bagi terbangunnya daya saing nasional.II. METODE ANALISIS Untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana membangun kapasitas kepemimpinan institusional dalam transformasi administrasi negara sehingga mampu mewujudkan tata kepemerintahan yang baik dan akhirnya mampu memberikan konstribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan daya saing nasional, penulis menggunakan pendekatan analisis skenario dan perencanaan strategis, berdasarkan konsep "Business Idea". Konsep Business Idea atau gagasan bisnis yang dikembangkan oleh Kees Van der Heijden dalam bukunya yang berjudul "Scenarios: The Art of Strategic Conversation", diyakini sebagai konsep yang sangat kuat (powerful) dalam menjembatani gap atau kesenjangan antara analisis skenario dengan proses pemikiran strategis dan konversasi (conversation) (van der Heijden, 1996: xiii). Metode scenario planning dengan pendekatan Business Idea, yang dalam hal ini akan penulis adopsi dengan mengalihbahasakannya dengan istilah kepemimpinan institusional, yaitu karakteristik yang menunjukkan kemampuan lembaga pemerintahan tertentu dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya secara berhasil (sukses); adalah terdiri dari beberapa langkah, sebagai berikut : Langkah 1 : Menentukan Daya Saing (Competitive Advantage) Organisasi. Proses ini diawali dengan melakukan analisis SWOT, // 39 -
  • 49. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi Daya Saing organisasi Langkah 2 : Mengajukan "Devils Advocate" Dalam tahap ini akan diajukan pertanyaan "devils advocate" seperti: Apakah faktor keunikan yang dapat digunakan untuk mengeksploitasi kemampuan daya saing organisasi, dan mengapa organisasi lain tidak mampu menirunya?” Langkah 3 : Mengembangkan Gambaran Hubungan Sebab dan Akibat. Gambaran ini merupakan diagram hubungan sebab-akibat yang menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kepemimpinan institusional (Business Idea) organisasi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Langkah 4 : Penyempurnaan Diagram Business Idea Proses ini dilakukan untuk melengkapi kekurangan- kekurangan dalam penggambaran diagram Business Idea pada langkah 3, sehingga diperoleh gambaran yang bersifat plausible atau exhaustif, dan final. Langkah 5 : Mengidentifikasi Kompetensi Unggulan Organisasi Dalam proses ini akan diidentifikasi elemen-elemen dalam diagram Business Idea yang memiliki karakteristik keunikan tersendiri dalam organisasi dan tidak dimiliki oleh organisasi lainnya sebagai kompetitor, serta tidak mampu ditiru atau diemulasi oleh organisasi lain itu. Langkah 6 : Penghalusan Diagram Business Idea. Langkah ini dilakukan untuk menyempurnakan tampilan diagram Business Idea sehingga terlihat lebih rapi dengan struktur hubungan yang jelas. Kompetensi unggulan (Distinctive Competencies) organisasi dalam diagram ini akan digambarkan dalam bentuk kotak-kotak. Dalam langkah ini akan disandingkan antara SWOT analisis, yaitu kekuatan dan kelemahan organisasi, dengan Diagram Business Idea untuk mengevaluasi : w Apakah seluruh kekuatan organisasi tercermin dalam diagram ?// 40 -
  • 50. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) w Dapatkah Business Idea mengatasi kelemahan struktural yang dihadapi ? Selanjutnya berdasarkan analisis ini akan diuji elemen- elemen manakah yang menjadi daya saing organisasi yang mungkin akan cenderung dieliminasi oleh kekuatan organisasi lainnya. Proses ini akan diakhiri dengan analisis untuk menguji kemampuan daya saing organisasi dalam Diagram Business Idea dengan pendekatan 3E (Marsh, 1993), yaitu: Emulasi, Emigrasi, dan Erosi. Langkah 7 : Review Business Idea Dalam langkah ini akan disandingkan antara SWOT analisis, yaitu kekuatan dan kelemahan organisasi, dengan Diagram Business Idea untuk mengevaluasi : w Apakah seluruh kekuatan organisasi tercermin dalam diagram ? w Dapatkah Business Idea mengatasi kelemahan struktural yang dihadapi? Langkah 8 : Merumuskan Elemen Business Idea Paling Mendasar Dalam tahap ini elemen-elemen yang membentuk keunggulan kompetitif maupun keunggulan kompetensi akan disederhanakan ke dalam beberapa elemen yang paling unggul dan mendasar (strategis), tanpa harus menghilangkan arti pentingnya beberapa elemen yang dikeluarkan dari diagram. Langkah 9 : Reperkusi Strategis dan Pertimbangan Implikasi Strategis Dalam proses ini akan diuji seberapa jauh kapasitas Business Idea organisasi jika dihadapkan kepada beberapa skenario masa datang yang akan dihadapi oleh organisasi tersebut. Berdasarkan kajian ini akan dikembangkan rencana strategis untuk menghadapi berbagai implikasi strategis dari berbagai skenario yang mungkin akan muncul. // 41 -
  • 51. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)III.KARAKTERISTIK WILAYAH KALIMANTAN & PROBLEMATIKA PEMBANGUNAN Sebagaimana kita ketahui bersama, Kalimantan merupakan sebuah gugus regional yang sangat kaya dengan sumber daya alam (SDA) namun kurang ditunjang oleh keunggulan bersaing (competitive advantages) secara ekonomis. Kelemahan daya saing (competitiveness) pelayanan umum dan sektor ekonomi di Kalimantan, selain disebabkan oleh kurangnya SDM yang berkualitas di berbagai sektor (industri, jasa, pemerintahan, dsb), juga sistem manajemen pembangunan yang belum terintegrasi. Seperti disebutkan dalam TOR panitia, saat ini terjadi fenomena tidak terintegrasinya pembangunan daerah di kontinen Kalimantan kedalam skema pembangunan wilayah. Fenomena seperti ini makin nampak saat digulirkannya kebijakan otonomi luas yang melahirkan daerah dengan kewenangan yang bulat dan utuh. Kewenangan yang bulat dan utuh tadi pada gilirannya menjadi trade-off bagi upaya membangun sinergi dan kohesi pembangunan antar daerah / wilayah. Setiap daerah menjadi semakin selfish atau memiliki ego yang lebih tinggi dalam memikirkan daerahnya sendiri. Sebagai ilustrasi, pembangunan jalan raya trans Kalimantan tidak mungkin dapat tercapai jika sistem perencanaan pembangunan masih terkonsentrasi secara spasial provinsi. Demikian pula, arus komoditas pertanian atau barang-barang ekonomi dan perdagangan juga semestinya tidak dibatasi oleh batas wilayah. Kondisi obyektif wilayah Kalimantan memang menunjukkan bahwa tingkat kemajuan pembangunan di wilayah Kalimantan relatif tertinggal dibanding wilayah Indonesia bagian barat, khususnya Jawa dan Bali. Kondisi ini merupakan hal yang ironis, mengingat adanya dua alasan/kondisi, yaitu: 1) Kalimantan merupakan kontinen yang memiliki kekayaan alam melimpah seperti migas dan tambang, sumber daya laut dan perikanan, kehutanan dan perkebunan, dan sebagainya; serta 2) Kalimantan memberi kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan negara, khususnya dari sektor migas, tambang serta potensi hutan dan hasil kayu. Kalimantan sendiri jika tidak dikelola dengan baik, pada suatu ketika akan mengalami anomali pertumbuhan pembangunan.// 42 -
  • 52. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Penyebabnya adalah, Kalimantan merupakan kawasan yang sangat dinamis (growing and dynamic region). Pemekaran daerah masih terus berlangsung yang diimbangi oleh laju urbanisasi dan penambahan penduduk yang cukup progresif. Investasi asing maupun domestik masih terbuka lebar, baik di sektor primer (kehutanan, perkebunan, kelautan, pertambangan dan migas), maupun di sektor-sektor sekunder dan tersier (perdagangan, industri, dan jasa-jasa). Namun disisi lain, potensi sumber daya alam Kalimantan lebih banyak yang bersifat tidak terbarukan (non- renewable resources) seperti tambang dan migas. Sementara sumber daya yang mestinya dapat diperbaharui (renewable resources) seperti hutan, ternyata juga mengalami kegagalan konservasi atau reservasinya. Fenomena alam seperti longsor, kebakaran hutan, banjir di perkotaan, kabut asap dan sebagainya, menunjukkan bahwa manajemen lingkungan di wilayah ini juga tidak terlalu menggembirakan. Dengan situasi seperti itu, faktor kekayaan SDA pada suatu saat akan kehilangan kekuatan atau daya dukung (carrying capacity) terhadap sektor ekonomi. Jika hal ini terjadi sementara sektor ekonomi riil belum berjalan dengan optimal, maka terjadilah anomali sebagaimana disebutkan diatas. Artinya, tingkat pertumbuhan ekonomi tidak lagi seimbang dengan kebutuhan manusia yang semakin beragam serta kebutuhan untuk melakukan recovery terhadap SDA. Dalam khazanah akademik, kondisi seperti ini sering disebut dengan istilah the limit to growth. Konsep ini sesungguhnya menggambarkan bahwa proses pembangunan seringkali menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dengan kata lain, pembangunan selalu memunculkan paradoks, yang salah satunya adalah makin berkurangnya kualitas dan daya dukung (carrying capacity) lingkungan. Sebab, keseluruhan kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh alam. Oleh karena itu, dalam hal ini terjadi hubungan terbalik antara kebutuhan manusia dengan sumber daya alam atau lingkungan. Artinya, semakin banyak dan bervariasi kebutuhan manusia, maka kemampuan alam untuk menyediakannya semakin terbatas. Disisi lain, dalam rangka menyelenggarakan kebutuhannya, manusia melaksanakan usaha-usaha // 43 -
  • 53. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) ekonomi dan industri yang mau tidak mau membawa akibat sampingan berupa pencemaran atau kontaminasi lingkungan. Dalam hal ini justru terjadi hubungan tegak lurus antara kebutuhan manusia dengan pencemaran, dimana semakin banyak dan bervariasi kebutuhan manusia yang dipenuhi lewat usaha industri, maka tingkat pencemaran lingkungan dapat dipastikan semakin tinggi pula. Dan jika trend tersebut berlangsung terus-menerus, pada suatu saat akan terjadi suatu keadaan dimana pertumbuhan ekonomi tidak dapat ditingkatkan lagi, sementara kemampuan dan kualitas lingkungan sulit untuk diperbaiki kembali. Inilah yang disebut dengan the limits to growth yang diperkenalkan oleh Meadows (dalam Berry, et.al., 1993 : 110). Dalam bentuk gambar yang diprediksikan untuk jangka waktu 200 tahun (1900 - 2100) dapat dilihat bahwa pada masa-masa awal, kondisi kependudukan, orde kebutuhan manusia serta aktivitas ekonomi dan industri masih relatif rendah, sementara kondisi lingkungan berada dipuncak ketangguhannya. Namun seiring dengan penambahan jumlah penduduk, dan tingkat polusi yang melekat pada ekspansi kegiatan industri, maka kualitas dan daya dukung (carrying capacity) lingkungan menjadi sedemikian merosot, hingga pada akhirnya keseimbangan menjadi goyah dan kurva sumber daya alam menjadi sangat merosot, bahkan sama sekali tidak mampu lagi mendukung aktivitas kemanusiaan (lihat Gambar 2). Sumber : D.H. Meadows, D.L. Meadows, J. Randers and W.W. Behrens, The Limits to Growth (dalam Brian J.L. Berry, Edgar C. Conkling and D. Michael Ray, The Global Economy : Resource Use, Locational Choice and International Trade, New Jersey: Prentice Hall, 1993) (dimodifikasi). Gambar 2. Model Limits to Growth Dennis Meadows// 44 -
  • 54. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Dengan modelnya tersebut, Meadows secara berani juga memperkirakan bakal terjadinya kondisi gawat bagi penduduk dunia jika ekonomi dunia dan pertumbuhan penduduk tidak segera dibatasi secara ketat. Tentu saja, ancaman itu juga berlaku bagi Indonesia pada umumnya dan Kalimantan pada khususnya. Ketertinggalan pembangunan wilayah Kalimantan serta potensi ancaman sebagai konsekuensi logis dari kegagalan dalam formulasi dan implementasi kebijakan pembangunan, dapat dipersepsikan sebagai akibat kesalahan sistemik dalam konsep pembangunan secara makro nasional, atau karena miss-management dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya lokal, atau faktor-faktor penyebab lainnya. Apapun penyebabnya, harus segera diidentifikasi dan untuk kemudian segera dirumuskan strategi pembenahannya. Dalam rangka merumuskan strategi dan program-program pembangunan itulah, perlu dilakukan analisis yang mendalam dalam rangka merumuskan dan/atau menetapkan agenda setting dan priority setting program pembangunan wilayah. Dalam hal ini, salah satu alat analisis yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan analisis skenario (scenario planning).IV.PEMERINTAH DAERAH DAN KEBUTUHAN TRANSFORMASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DI ERA DESENTRALISASI LUAS Berdasarkan problematika pembangunan sebagaimana dipaparkan diatas, maka adanya transformasi kebijakan pembangunan di daerah, jelas menjadi kebutuhan mendesak. Pada saat yang bersamaan, dibutuhkan pula kemampuan aparat Pemerintah Daerah untuk melakukan transformasi kebijakan pembagunan dan/atau kebijakan desentralisasi. Pada dasarnya, setiap lembaga negara atau organisasi pemerintah memiliki potensi untuk menjalankan fungsi atau memfungsikan diri sebagai agent of change dalam mendorong proses transformasi administrasi penyelenggaraan pemerintahan (di daerah). Terlebih lagi di era otonomi luas dewasa ini, pemerintah daerah memiliki keleluasaan untuk melakukan inovasi kebijakan dalam rangka mengakselerasi kesejahteraan masyarakat. Namun sebaliknya, jika hak otonomi luas ini salah pemanfaatannya, maka terjadilah anomali pembangunan. Untuk itu, // 45 -
  • 55. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk melakukan transformasi kebijakan dan/atau transformasi administrasi penyelenggaraan pemerintahan harus terus-menerus ditumbuhkan, agar dapat menjadi instrumenn yang efektif untuk mewujudkan visi, misi dan cita-cita organisasi. Kemampuan untuk melakukan transformasi institusional dalam rangka mencapai kesuksesan organisasi seperti ini oleh Kees van der Heijden (1996, lihat juga Fahey dan Randall, 1998) disebut sebagai "the Business Idea", the Key to Relevant Scenarios. Dalam konteks Kalimantan, the Business Idea yang dimiliki antara lain berwujud luas wilayah dan potensi alam yang berlimpah. Ini merupakan tahap pertama dari metodologi scenario planning. Selanjutnya, tahapan yang cukup krusial adalah melakukan devils advocate atas keunggulan kompetitif yang dimiliki Kalimantan. Dengan kata lain, devils advocate berguna untuk menguji berbagai keunggulan kompetitif yang melekat pada karakteristik sosial maupun alam Kalimantan, dengan mengajukan pertanyaan yang menggoda sebagai berikut: "Apa faktor-faktor keunikan tertentu yang memungkinkan Pemerintah daerah di Kalimantan untuk mengeksploitasi atau menawarkan keunggulan kompetitifnya, dan mengapa lembaga / daerah lainnya sebagai kompetitor tidak mampu atau sulit meniru keunggulan kompetitif Kalimantan?” Daftar keunggulan kompetitif yang ada di Kalimantan akan menjadi dasar bagi penyusunan diagram sebab akibat, sehingga dapat disusun bagaimana mental model Business Idea dalam keberhasilan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya menyelenggarakan otonomi daerah secara luas. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi kompetensi unggulan Kalimantan sebagai kekuatan yang menghasilkan keunggulan kompetitif kontinen ini. Proses analisis ini menggunakan hasil pembahasan pada Langkah 2, yaitu jawaban atas pertanyaan Devils Advocate sebelumnya. Dasar analisis yang digunakan adalah 5 kriteria yang membentuk kompetensi unggulan suatu organisasi menurut Van der Heijden (1996: 64-65), yaitu : Ÿ Institutional Knowledge (Pengetahuan / Wawasan Institusional). Ÿ Embedded Processes (Proses-proses yang terkait / melekat pada kegiatan).// 46 -
  • 56. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Ÿ Reputation and Trust (Reputasi dan Kepercayaan). Ÿ protection (Proteksi Hukum dan Perundang-undangan). Legal Ÿ Activity specific assets (Kekayaan atau modal hasil kegiatan). Perlu diperhatikan disini bahwa Menurut Van der Heijden (1996: 65), kompetensi unggulan sebuah organisasi atau daerah bagaimanapun akan mengalami depresiasi dari waktu ke waktu, oleh satu dan lain sebab. Kepentingan pemerintahan maupun bisnis dalam bidang pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan, termasuk kegiatan yang cukup dinamis dan berkembang. Perubahan-perubahan kualitas dan kompetensi dalam bidang pelaksanaan tugas tersebut harus selalu menjadi bagian dari riwayat perjalanan sebuah organisasi atau daerah. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan lingkungan strategis, biasanya akan menimbulkan konflik dengan berbagai lembaga lain yang mampu mengembangkan kompetensi unggulan mereka dengan kapasitas yang lebih baik. Itulah sebabnya, setelah melakukan kajian dan analisis mengenai keberadaan kompetensi unggulan yang dimiliki oleh sebuah organisasi atau daerah sebagai faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan tugasnya dewasa ini maupun di masa datang; langkah berikutnya adalah langkah penyempurnaan diagram Business Idea Kalimantan dan sekaligus melakukan langkah mengevaluasi atau me-review diagram Business Idea Kalimantan. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa terlalu banyak unsur kompetensi akan membingungkan dalam pemanfatannya ataupun dalam pengelolaannya. Miller (1996) menyatakan bahwa "the human mind can not simultaneously retain more than some seven concepts" (Van der Heijden: 1996:168). Oleh karena itu faktor-faktor dalam diagram Business Idea Kalimantan harus disederhanakan kembali. Hal ini dapat dilakukan dengan bebarapa cara, dalam hal ini, penulis akan membuat penyederhanaan dengan mengkombinasikan hubungan-hubungan atau faktor-faktor yang bersifat kompleks. Dan akhirnya akan mempertahankan beberapa kompetensi unggulan serta keunggulan kompetitif lainnya, maupun faktor kesuksesan (activity specific assets) tertentu, yang secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas pokok // 47 -
  • 57. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tugas meningkatkan kesejahteraan masyarakat inilah yang menjadi tujuan tertinggi dari pemberian otonomi luas kepada Pemerintah Daerah.V. SKENARIO INDONESIA 2015 Gambaran umum dari kondisi yang dapat diskenariokan akan terjadi pada tahun 2015, adalah terdiri dari 4 (empat) skenario dengan karakeristik dasar kombinasi dari perkembangan otonomi daerah dan perilaku korup aparatur negara/daerah. Gambaran skenario 2015 ini memberikan indikasi bahwa dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, pemerintah akan dihadapkan kepada kecenderungan perkembangan kapasitas penyelenggaraan otonomi daerah, di bawah bayang-bayang perilaku korup aparatur sebagai akibat kegagalan maupun keberhasilan pelaksanaan pemberantasan korupsi. Untuk memberikan nama pada setiap kemungkinan skenario yang muncul menggunakan perumpamaan matahari, mulai matahari terbit, matahari bersinar terang, matahari terbenam, hingga gerhana matahari total. Perumpamaan ini tampaknya mampu merepresentasikan kondisi- kondisi kompbinasi otonomi daerah dengan pemberantasan korupsi yang berhasil atau gagal, sebagai berikut : 1. Matahari Bersinar (Skenario 1): melambangkan bahwa penye- lenggaraan otonomi daerah sangat berhasil dan terus berkembang secara progresif, sementara upaya-upaya pemberantasan korupsi juga berhasil membentuk aparatur negara/daerah menjadi bebas KKN, dan akuntabel. Kepemerintahan yang baik, bersih dan bebas KKN terwujud, masyarakat semakin sejahtera, kehidupan politik sangat demokratis dan lebih matang, kondisi daerah dan negara secara umum aman, tentram, sejahtera, adil, dan makmur. 2. Matahari Terbit (Skenario 4) : melambangkan bahwa perkembangan penyelenggaraan pemerintahan memiliki prospek yang cerah, dan kompetensi penyelenggaraan pemerintahan daerah maupun pemerintahan negara pada umumnya menunjukkan perkembangan postif dan mengalami kemajuan secara progressif. Namun demikian, perkembangan ini kurang mampu diimbangi oleh keberhasilan// 48 -
  • 58. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) pelaksanaan program pemberantasan KKN secara optimal. Sehingga kinerja pemerintahan yang demikian progresif pencapaiannya itu, masih sering terkotori oleh perilaku korup sementara oknum aparatur, baik di pusat maupun di daerah, termasuk di dalamnya para pejabat politik yang cenderung masih mendahulukan kepentingan politiknya daripada kepentingan rakyat banyak. 3. Matahari Terbenam (Skenario 2) : kondisi ini melambangkan bagaimana rejim pemerintahan negara RI paska Orde Baru akan dihadapkan pada berbagai kendala teknis dan non teknis, yang menghambat laju keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik. Kelangkaan Sumber Daya Alam Nasional sebagai sumber penerimaan negara maupun daerah semakin membatasi kemampuan keuangan negara. Sementara di sisi lain perkembangan laju pertumbuhan ekonomi terkendala oleh lambatnya atau bahkan terjadi hukum Law of Diminishing Return pada sisi penanaman modal di dalam negeri. Bahkan ekstrimnya terjadi eksodus keluarnya para penanam modal dari Indonesia, menuju destinasi yang baru di luar negeri, seperti di Cina, Vietnam, Rusia, Uzbekhistan dan sebagainya. Keberhasilan dalam pemberantasan korupsi, yang membuat aparatur negara maupun aparatur daerah menjadi lebih memiliki integritas dan akuntabilitas yang tinggi, serta anti KKN, ternyata tidak mampu membendung kecenderungan yang terjadi. Negara dan pemerintahan daerah berada dalam ancaman krisis ekonomi Jilid ke-2. 4. Gerhana Matahari Total (Skenario 3) : menggambarkan bahwa pada tahun 2015 pemerintahan negara RI akan mengalami kegagalan total danm penyelenggaraan pemerintahan negara. Pemerintahan Daerah akan dihadapkan pada krisis sumber daya daerah yang sangat berat, sehingga mengalami kemunduran dalam kualitas dan kuantitas pelayanan kepada masyarakat. Kondisi ini diperburuk dengan kegagalan tim pemberantasan korupsi dalam menyelesaikan tugasnya. Korupsi kemudian berkembang kembali secara sistemik sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan kehidupan masyarakat yang pada kenyataannya tidak mampu lagi menanggungnya. Kesejahteraan // 49 -
  • 59. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) masyarakat memburuk, kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat, sehingga menjadi ancaman bagi terjadinya kerawanan sosial serta meningkatnya kriminalitas. Krisis multidimensional berada didepan pintu gerbang negara dan bangsa Indonesia. Kegelapan yang gulita bak gerhana matahari total membayangi segala segi kehidupan masyarakat bangsa Indonesia di daerah maupun di ibukota negara.Daftar ReferensiAnwaruddin, Awang, 2006, "Transformasi Kepemimpinan Birokrasi", dalam Jurnal Borneo Administrator, Vol. 2, No. 2, PKP2A III LAN, Samarinda: Kalimantan Timur, hal. 434-455.Fahey, Liam and Robert M. Randall, eds., 1998. Learning from the Future: Competitive Foresight Scenarios, John Wiley & Sons, New York: NY.Fernanda, Desi, 2002, "Signifikansi Struktur, Kultur, Prosedur, dan Figur Dalam Reformasi Administrasi Publik Daerah Otonom", Makalah disampaikan dalam Workshop "Revitalisasi dan Reposisi Administrasi Publik di Era Otonomi Daerah" yang diselenggarakan oleh Center For Public Policy And Management Studies (CPMS), Jurusan Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Katolik Parahyangan, di Bandung, 27 April 2002.Mustopadidjaja, AR, 1997, "Transformasi Manajemen Menghadapi Globalisasi Ekonomi", dalam Jurnal Administrasi dan Pembangunan, Vol. 1, No. 1, 1997, ISSN 1410-5101, PP PERSADI, Jakarta.Nanus, Burt, 1992, Visionary Leadership, Jossey-Bass, Inc., Publishers, San Francisco: California.Ringland, Gill, 1998, Scenario Planning: Managing for the Future, John Wiley & Sons, Chichester: West Sussex.Sparingga, Daniel, 2006, Pengantar Skenario Planning, Naskah Kuliah Diklatpim Tingkat I LAN Angkatan X, Tahun 2006, Jakarta.Supeli, Karlina Leksono; M. Ridlo Eisy, dll., 2000, Skenario Indonesia 2010, cet.1, Indonesia Masa Depan-Komnas HAM, Jakarta.Tjokroamidjojo, Bintoro, 2000, Good Governance, Paradigma Baru Manajemen Pembangunan, Jakarta: UI Press.// 50 -
  • 60. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)UNDP, 1997, Governance for Sustainable Development - A Policy Document, New York: UNDP.__________, 1999, UNDP and Governance: Experiences and Lesson Learned, Lesson Learned Series No. 1, New York: UNDP Management Development and Governance Division, Downloaded internet document file.Van der Heijden, Kees, 1996, "Scenarios: The Art of Strategic Conversation", John Wiley & Sons, Chichester: West Sussex,___________, 1998, "Articulating Business Idea: The Key to Relevant Scenarios", dalam Liam Fahey and Robert M. Randall, eds., 1998. Learning from the Future: Competitive Foresight Scenarios, John Wiley & Sons, New York: NY ., pp. 335-351.Zwell, Michael, 2000, Creating a Culture of Competence, John Wiley & Sons, Inc., New York. // 51 -
  • 61. // 52 - Skenario 1: Skenario 2: Skenario 3: Skenario 4: Driving Forces Otda Progresif, dan Otda Regresif, namun Otda Regresif, dan Otda Progresif Namun Pemerintahan Bersih Pemerintahan Bersih Pemerintahan Kotor Pemerintahan Kotor Tingkat Kemiskinan Menurun Kemiskinan Relatif Kemiskinan makin menjadi, Kemiskinan meningkat Kemiskinan Signifikan dan tingkat Menurun, namun tingkat dan kesenjangan makin namun tingkat kesenjangan kesenjangan sosial makin kesenjangan sosial masih tinggi dapat diperkecil dipersempit tinggi Tingkat Penyerapan tenaga kerja Penyerapan tenaga kerja Angka pengangguran makin Penyerapan tenaga kerja di Pengangguran di sektor riil meningkat, di sektor riil meningkat, meningkat sejalan dengan sektor riil meningkat, akan dan program pemerintah daerah stagnasi ekonomi di daerah, tetapi program padat karya pembangunan model kesulitan pemda kesulitan seleng- tidak lancar, para pekerja padat karya terus menyelenggarakan garakan program pemba- dirugikan oleh ulah oknum dikembangkan Pemda program model padat ngunan, sementara program aparatur pemda yang korup karya, karena padat karya dikorupsi keterbatasan kemampuan oknum pejabat dan keuangan daerah kontraktor Partisipasi Masyarakat berperan Masyarakat berperan aktif Masyarakat dihinggapi Masyarakat cukup puas Masyarakat aktif secara kondusif dalam proses kepeme- ketidakpuasan dan ketidak- dengan pelayanan dalam berpolitik dalam proses rintahan, namun disertai percayaan atas pelayanan pemerintahan dan program kepemerintahan, demo- dengan ketidakpuasan aparatur, khususnya pemda. pembangunan, namun demo sangat berkurang, yang disampaikan secara Demo anti KKN merebak kesal dengan ulah para dan tidak ada lagi aksi lebih tertib, Rakyat dapat dan mengancam eksistensi koruptor yang masih anarkhis di daerah. mema-hami kesulitan Kepala Daerah. KKN di “berjaya”. Demo massa anti Mekanisme konsultasi pemerintah, bahkan kalangan politisi meningkat KKN masih terjadi, namun dan opini publik membantu. tertib tersalurkan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan
  • 62. Demokratisasi Kehidupan politik Perkembangan politik Konflik antara eksekutif dan Perkembangan kehidupan Politik nasional maupun lokal cukup kondusif, diwarnai legislatif pada tingkat politik lokal cukup berkembang sangat oleh hubungan yang nasional maupun lokal kondusif. Pratisipasi kondusif. Aspirasi cukup harmonis antara cenderung meruncing. masyarakat dalam masyarakat tertampung politisi partai dan Kondisi politik cenderung mekanisme konsultasi dan mampu legislatif yang kondusif panas. Persaingan publik berjalan cukup baik, direalisaikan. Peran serta dengan pihak eksekutif. penguasaan atas sumber- meski masih diwarnai oleh masyarakat dalam proses Namun demikian sumber meningkat, dan protes-protes massa akibat kepemerintahan program-program diwarnai oleh kepentingan perlakuan dan tidakan diakomodasi dan pembangunan politik sektarian. Para sewenang-wenang oknum difasilitasi dengan baik. mengalami hambatan, politisi maupun birokrat pejabat pelqayanan publik. Jumlah parpol semakin tarik-menarik alokasi cenderung korup. Praktek KKN masih berkurang, kepentingan sumber daya terjadi, Kepentingan rakyat berlangsung, namun politik sektarian tidak lagi meski dapat diselesaikan terabaikan. Demo massa menghadapi tentangan dan mengemuka secara baik merebak ke lembaga pengawasan yang ketat dari Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) legislatif masyarakat Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Profesionalitas Profesionalitas Profesionalitas dan Peningkatan kapasitas Peningkatan kapasitas Aparatur apartatur berkembang akuntabilitas aparatur pegawai mengalami dan kompetensi Negara/Daerah pesat, berkat proses negara/daerah kemunduran, moral aparatur negara kaderisasi kepemim- berkembang cukup pegawai cenderung berkembang, pengem- pian yang terencana baik, namun program menurun. Absenteism bangan karir berjalan, dengan baik. pengembangan meningkat, karena namun diwarnai oleh Akuntabilitas kinerja kapaitas dan tuntutan untuk berbagai kecurangan berkembang sangat kompetensi menambah penghasilan dan KKN, pegawai jujur baik dan menjadi terkendala sumber . Suap dan pungli terpinggirkan. Suasana dasar pengem-bangan keuangan. Kesejah- cenderung merebak kerja tidak kondusif. karir berdasarkan teraan pegawai kembali. merit berkurang dan biaya hidup tinggi// 53 -
  • 63. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) DARI SCENARIO PLANNING KE STRATEGIC PLANNING4 Oleh : M.Ridlo Eisy1. GBHN - RPJP Dahulu kita mengenal Garis Besar Haluan Negara ( GBHN ) atau Pembangunan Lima Tahun ( Pelita ). Tetapi sekarang kita mengenal RPJP, RPJPD, dan RPJM. Pada dasarnya itu semua berisi keinginan kita tentang masa depan, dan tahapan-tahapan yang harus kita lakukan untuk mewujudkan masa depan yang kita inginkan. Jadi, pada intinya GBHN - RPJP merupakan suatu Strategic Planning. Pada saat GBHN dan Pelita diberlakukan di Indonesia, ternyata Indonesia hampir berantakan pada tahun 1997 - 1998. Pada saat zaman Orde Baru ( Orba ) pada tahun 1998, Indonesia seperti mobil baru yang tidak dirawat dan rusak. Tidak pernah terbayangkan, ternyata Orde Baru gagal dan akan memporak-porandakan Indonesia. Artinya, sebaiknya sebelum menyusun suatu strategic planning, setiap lembaga hendaknya melakukan investasi dengan melaksanakan scenario planning. Hal ini dikarenakan dengan menyusun scenario planning, kita bukan hanya memimpikan apa yang terbaik yang kita inginkan, tetapi jugamembayangkan apa yang terburuk yang mungkin terjadi. Yang terburuk bagi Indonesia adalah disintegrasi. Keadaan nusantara akan lebih parah daripada bekas Uni Soviet. Dengan scenario planning, kita bukan hanya memimpikan apa yang terbaik, yang kita inginkan, tetapi juga membayangkan apa yang terburuk, yang mungkin terjadi. Yang terburuk bagi Indonesia adalah disintegrasi. Keadaan nusantara akan lebih parah daripada bekas Uni Soviet.4 Makalah ini disajikan dalam Diskusi Ilmiah Forum SANKRI " MENERAWANG PEMBANGUNAN WILAYAH DI MASA DEPAN DENGAN ANALISIS SKENARIO ( SCENARIO PLANNING)" . diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda, Senin 26 November 2007// 54 -
  • 64. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)2. a) Skenario Indonesia 2010 versi Jawa Barat m Zamrud Berserakan Skenario 1: Skenario ini menggambarkan Indonesia terpecah, pelanggaran HAM. Peranan masyarakat rendah, terjadi kudeta dan keadaan masyarakat jadi tertutup. Untuk bertahan hidup, pemerintah melakukan intervensi ekonomi yang sangat tinggi. Kelaparan di mana-mana. Indonesia dikucilkan dunia. m Riak Tangis di Nusa Damai Skenario 2: m Kawah Bergolak Skenario 3: m Fajar Menyingsing, Kabut Mulai Menyingsing Skenario 4: m Dengan driving forces: sumbu horisontal - Peranan Masyarakat, dan vertikal Intervensi Pemerintah. b) Skenario Indonesia 2010 m Di Ujung Tanduk Skenario 1: Indonesia bagaikan matahari yang akan tenggelam. Langit memerah disiram darah rakyat yang jadi korban kekejaman pemerintah dan aparatnya. Indonesia seperti kapal yang terombang ambing diterjang badai, dan pecah berantakan m Masuk ke Rahang Buaya Skenario 2: m Mengayuh Biduk Retak Skenario 3: m Lambat tapi Selamat Skenario 4: mdriving forces: sumbu horisontal - Pemerintahan Dengan otoriter/demokratis, dan vertikal Ekonomi pro pemerataan/pertumbuhan. Minimal ada dua skenario yang mungkin tercipta dari scenario planning, yaitu sesuatu yang kita inginkan, dan sesuatu yang kita takutkan terjadi. Di antara dua ekstrem itu, bisa muncul berbagai kemungkinan yang terjadi. Biasanya orang menyederhanakan menjadi tiga atau empat skenario.3. Menuju Strategic Planning Para penyusun strategic planning harus fokus melihat berbagai unsur yang bisa mengakibatkan terjadinya skenario yang terburuk. // 55 -
  • 65. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Pertama-tama energi digunakan untuk mengatasi unsur penyebab terwujudnya skenario yang terburuk. £ itu: Pelanggaran HAM, ketidakadilan, kegiatan yang tidak Penyebab pro rakyat. Sesuatu yang bisa menimbulkan konflik dalam masyarakat, horisontal maupun vertikal. £ hal yg buruk, rakyat akan menuju ke arah yang baik. Inti: Hindari £ Strategic Planning, RPJP-RPJM : ü Visi ü Misi ü Arah ü Tahapan ü pembangunan Prioritas £ Visi 2025 ü yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur Indonesia ü Iman & Taqwa, Jawa Barat, pada Tahun 2025 Sehat, Cerdas Dengan & Sejahtera ü sebagai Provinsi Termaju Jawa Barat ü Kota Jasa yang Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat dan Bandung Bersahabat £ Langkah Jawa Barat ü Melakukan investasi dengan menyelenggarakan Dialog Jawa Barat dan Dialog Sunda yang diikuti oleh pemangku kepentingan di Jawa Barat ü melahirkan Skenario Jawa Barat 2010 dan Skenario Sunda Dialog itu 2010 ü itu menuntun perancangan RPJM & RPJPD Jawa Barat Skenario ü Disintegrasi Jawa Barat untuk sementara bisa dihentikan, setelah Banten memisahkan diri sebagai provinsi tersendiri. £ Sekali lagi! ü visi itu tinggal impian, kalau ketidakadilan merajalela, Semua korupsi meraja lela, pelanggaran HAM tetap terjadi, rakyat sebagai pemangku kepentingan utama tidak dilibatkan.// 56 -
  • 66. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) MENERAWANG MASA DEPAN: SCENARIO PLANNING DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA UNTUK KALIMANTAN5 Oleh : Dedy A. Prasetyo, SH. LL.M6 (Working Group for Indonesia Masa Depan)I. Pendahuluan Perencanaan skenario (scenario planning) merupakan alat (tool) yang luar biasa berguna bagi suatu organisasi -tidak peduli besar atau kecil-dalam merancang dan mensiasati masa depan yang semakin hari semakin kompleks. Apa itu skenario? Skenario merupakan gambaran imaginasi atau cerita tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan. Tetapi, skenario bukanlah ramalan. Skenario lebih mengarah kepada cerita yang masuk akal (plausible) dan menantang (provocative) tentang berbagai hal. Di dalamnya termasuk bagaimana faktor-faktor eksternal mempengaruhi perkembangan suatu organisasi atau institusi seperti kondisi politik, sikap masyarakat, regulasi, dan kekuatan ekonomi. Jadi skenario itu lebih merupakan hipotesa-hipotesa, dan bukan ramalan, yang diciptakan dan digunakan dalam berbagai cerita dengan kerangka skenario yang biasanya terdiri dari 3 atau 4 skenario yang "menangkap" kemungkinan- kemungkinan di masa depan. Pada akhirnya skenario digunakan sebagai sandaran kita dalam mensiasati kesempatan-kesempatan dan ancaman yang mungkin terjadi di masa depan dan untuk mempertimbangkannya dalam setiap pengambilan keputusan strategis jangka pendek maupun jangka panjang.5 Makalah ini disajikan dalam Diskusi Ilmiah Forum SANKRI " MENERAWANG PEMBANGUNAN WILAYAH DI MASA DEPAN DENGAN ANALISIS SKENARIO ( SCENARIO PLANNING)" . diselenggarakan oleh PKP2A III LAN Samarinda, Senin 26 November 20076 Aktif dalam kegiatan Scenario Planning Indonesia Masa Depan 2010 pada tahun 1999-2001 yang diprakarsai oleh Komnas HAM Jakarta dan beberapa individu. // 57 -
  • 67. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Cukup banyak orang terkecoh pemahaman antara strategic planning dengan scenario planning. Kegiatan ini berbeda dengan Perencanaan Strategik (strategic planning) yang berusaha mengidentifikasi cara-cara untuk menjamin keberhasilan pencapaian visi dan misi organisasi. Hasil perencanaan strategik adalah daftar langkah yang harus diambil agar tujuan bisa tercapai7. Sementara proses scenario planning dapat digunakan untuk memfasilitasi dan memperkukuh proses strategic planning agar organisasi tetap hidup dan responsif terhadap perubahan-perubahan eksternal yang terjadi.II. Proses Dasar Perencanaan Skenario Diana Scearce et al. dari Global Business Network mengungkapkan bahwa proses perancangan skenario selalu dinamis dan penuh dengan tantangan ketika menentukan driving forces yang paling kritikal. "Settling on a scenario framework is a trial-and-error process. It requires testing various combinations of critical uncertainties until you arrive at a framework that will serve as a strong platform for your strategic conversation. Ultimately, the goal is to develop a set of plausible scenarios that tell very different stories, each of which challenges your assumptions and illuminates the strategic issues you are facing.”8 Proses pemikiran skenario (scenario thinking process) dipahami sebagai suatu proses dan sekaligus bagaimana mengambil sikap atas hal- hal yang mungkin terjadi di masa depan. Artinya, skenario itu dibuat dan digunakan sebagai strategi suatu organisasi untuk merespon perubahan- perubahan yang terjadi di masa depan. Ciri khas dari cara berpikir ini adalah memikirkan sesuatu yang tidak terpikirkan (to think the unthinkable), mengetahui apa yang tidak diketahui (to know the unknown) dan memprediksikan sesuatu yang tidak terprediksikan (to predict the unpredictable).7 Indonesia Masa Depan, "Skenario Indonesia 2010", Jakarta: Indonesia Masa Depan - Komnas HAM, 2000. hal. 10 Lampiran.8 Diana Scearce, Katherine Fulton and the Global Business Network Community, "What If? The Art of Scenario Thinking for Nonprofits," Global Business Network, 2004. hal.29.// 58 -
  • 68. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Dalam merumuskan atau merancang skenario, langkah paling awal adalah menentukan focal issues atau focal concern. Pada dasarnya focal concern atau focal issue adalah pertanyaan strategis yang menjadi acuan atau jangkar bagi perancangan skenario. Dengan demikian, focal concern/issue yang berbeda akan menghasilkan skenario yang berbeda pula. Pada tahapan ini kemudian menentukan kerangka waktu yang akan digunakan sebagai patokan. Misalnya saja 10 atau 20 tahun. Jangka waktu ideal adalah menerawang 10 tahun ke depan. Semakin dinamis perubahan eksternal dan internal yang terjadi, maka durasi waktu disarankan antara 5 - 10 tahun. Contohnya ketika berhubungan dengan perkembangan teknologi informasi, maka disarankan untuk menggunakan jangka waktu yang pendek tersebut. Tetapi jangka waktu pendek tidak terlalu disarankan ketika berhubungan dengan persoalan perubahan lingkungan atau sosial kemasyarakatan. Jangka waktu panjang, 10 - 20 tahun, biasanya cukup diterima ketika berhubungan dengan fenomena yang relatif pelan perubahannya. Secara umum, ada 5 tahapan yang digunakan dalam penyusunan skenario9 : Tahap I : Orientasi, yakni tahapan persiapan pelaksanaan perencanaan skenario yang dimulai dengan menentukan pihak yang dilibatkan, wawancara narasumber yang dibutuhkan untuk membantu dan melengkapi dalam menentukan focal concern/issue, menentukan durasi atau kerangka waktu, menetapkan focal issue/concern. Tahap II : Eksplorasi, yakni tahapan mengidentifikasi dan menganalisis driving forces ("predetermined elements" or "uncertainties") yang dapat membantu membentuk focal issue/concern. Driving forces adalah faktor pendorong atau penentu dari luar (eksternal) yang akan digunakan untuk membentuk masa depan yang dinamis baik yang terprediksi maupun tidak. Jadi, DFs itu merupakan9 Ibid. hal.24-39. // 59 -
  • 69. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) landasan utama dari rangkaian skenario. Pada tahapan ini juga menentukan DFs paling kritikal (critical uncertainties) yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam perencanaan skenario. Tahap III : Sintesis, yakni mengkombinasikan DFs yang sudah ditentukan untuk merancang skenario. Pada tahap ini disarankan untuk menentukan 2 DFs paling kritikal dan mengkombinasikannya menjadi 4 kerangka skenario. Tahap ini juga 2 akan menjabarkan ciri dari masing-masing kerangka skenario dan menuliskan narasi dalam suatu cerita yang masuk akal10. Skenario yang ada hendaknya merepresentasikan suatu pandangan alternatif tentang masa depan dan bukannya sekedar menggambarkan baik - buruk atau dunia yang dikehendaki. ( Contoh Matrik Skenario ) Ekonomi Pro Pemerataan Pemerintah Otoriter Pemerintah Demokratis Ekonomi Pro Pertumbuhan10 Arie de Geus, salah seorang pionir scenario thinking menjelaskan bahwa "Scenarios are stories. They are works of art, rather than scientific analyses. The reliability of [their content] is less important than the types of conversations and decisions they spark."// 60 -
  • 70. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Tahap IV : Aksi, yakni tahapan dimana skenario yang dihasilkan digunakan sebagai informasi dan sumber inspirasi untuk melakukan aksi atau tindakan. Pengujian terhadap apakah suatu skenario itu bagus atau kurang bukan terletak pada tingkat akurasinya melainkan sebagai strategi suatu organisasi untuk belajar, beradaptasi, dan mengambil tindakan yang efektif. Pada tahap ini, tanyakan kepada diri anda sendiri: "Bagaimana apabila skenario ini terjadi di masa depan? Tindakan apa yang saya ambil hari ini sebagai persiapan menghadapi masa depan tersebut? Adakah tindakah yang saya ambil dapat menuju ke masa depan yang saya inginkan atau akankah mengurangi dampak negatif dari skenario yang tidak diinginkan?" Jawaban dari pertanyaan ini merupakan implikasi dari skenario. Di sini anda kemudian dituntut untuk membuat agenda strategis untuk menuju atau menghindari skenario tersebut. Tahap V : Monitor, secara umum tahapan ini adalah memonitor perkembangan eksternal yang bisa berpengaruh terhadap leading indicators. Sebagai contoh, perkembangan teknologi internet di akhir 80-an membuatnya menjadi faktor yang uncertain, namun berkembangan selanjutnya bisa mengarah pada sesuatu yang certain. Tahapan ini diperlukan untuk memberikan alarm atau peringatan dini kepada organisasi bahwa ternyata leading indicators menyarankan adanya perubahan dalam strategi organisasi ke depan. Langkah ini perlu diambil karena strategi yang dipakai sekarang sudah tidak sejalan lagi dengan perkembangan atau trend yang terjadi akibat perubahan leading indicators dari yang uncertain telah menjadi cukup certain.III. Belajar dari Afrika Selatan Jadi, skenario merupakan alat dimana perubahan besar dapat // 61 -
  • 71. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) diimpikan dan dilakukan. Contoh paling fenomenal penggunaan tools ini dilakukan oleh Afrika Selatan pada tahun 1991. Saat itu, Pemerintahan De Klerk mengakhir rejim rasis apartheid dan menjanjikan 3 tahun kemudian (2004) akan dilakukan pemilu. Perencanaan skenario pun dilakukan dengan mengumpulkan 22 orang dari berbagai latar belakang -aktivis anti apartheid, politisi, akademisi, pemimpin buruh, tokoh agama, tokoh masyarakat, pebisnis, dsb-untuk bertemu dan menggunakan metodologi scenario planning. Hasil skenario kemudian dijadikan common language untuk didiskusikan dan diperdebatan di seantero Afsel, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ada 4 kemungkinan yang akan terjadi di masa depan apabila kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Intinya, setiap skenario menggambarkan hasil yang sangat berbeda dari situasi negosiasi politik yang sedang berlangsung saat itu. Skenario pertama disebut Ostrich menggambarkan apa yang akan terjadi jika negosiasi berantakan antara pemerintahan apartheid dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) pimpinan Nelson Mandela. Skenario selanjutnya adalah Lame Duck menggambarkan situasi transisi yang panjang dan tak berkesudahan yang menyisakan pemerintahan yang lemah dan tidak mampu memenuhi harapan dan kepentingan banyak kalangan. Skenario ketiga adalah Icarus yang menggambarkan Afrika Selatan berhasil dipimpin oleh Kongres Nasional Afrika pimpinan Nelson Mandela dengan pemerintahan yang populis dan terjadi pembelanjaan anggaran Negara besar-besaran yang mengakibatkan keambrukan ekonomi. Skenario keempat adalah Flight of the Flamingo yang menggambarkan bagaimana pemerintahan apartheid, ANC dan masing-masing konstituennya mampu secara perlahan namun pasti bahu membahu bersama membangun bangsa setelah masa keterpurukan ekonomi akibat sanksi global dan hidup di bawah rejim apartheid. Skenario ini sering disebut sebagai Mont Fleur Scenario yang kemudian disebarkan di seluruh penjuru Afrika Selatan. Skenario ini kemudian menjadi bahasa bersama (common language) para pemangku kepentingan dalam membantu memfasilitasi debat publik pada masa transisi menuju demokrasi.// 62 -
  • 72. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)IV. Belajar dari Guatemala Proyek scenario planning juga dilakukan oleh Guatemala sebagai respon penandatanganan perjanjian damai setelah 36 tahun terjebak dalam brutalisme perang saudara. Proyek ini bertujuan untuk membawa kembali para pihak yang bertikai untuk membuat skenario masa depan seperti apa yang mereka inginkan. Dokumen ini kemudian dikenal dengan nama "Vision Guatemala" yang berisi 3 skenario. Skenario pertama "The Illusion of the Moth", Skenario kedua "The Zigzag of the Beetle" dan Skenario ketiga "The Flight of the Firefly".V. Belajar dari Destino Columbia Pada tahun 1996-1997, sejumlah 43 orang dari berbagai pihak di Columbia duduk untuk menyusun skenario masa depan negeri yang sudah terjebak dalam suasana kekerasan selama bertahun-tahun. Menariknya dari proses penyusunan ini adalah keikutsertan pihak-pihak yang bertikai. Meskipun pemerintah menjamin keselamatan pihak gerilyawan, namun karena dianggap terlalu riskan muncul dalam lokakarya, akhirnya mereka memberikan input lewat telpon (speakerphone). Sebagian peserta senang karena ada pimpinan gerilyawan ikut dalam lokakarya meski hanya melalui speakerphone. Namun sebagian lain ketakutan apabila segala perkataan dalam lokakarya tersebut didengar oleh gerilyawan sebagai ketidakberpihakan maka mereka khawatir nyawanya terancam. Fasilitator penyusunan skenario kemudian melontarkan rasa cemas dan takut ini kepada pimpinan gerilyawan dan dijawab: "Mr Kahane, why are you surprised that people in the room are frightened? The whole country is frightened.”11 Lokakarya yang berlangsung selama tiga kali tersebut berlangsung di daerah pertanian Recinto Quirama. Lokakarya ini sendiri dijaga ketat oleh pasukan bersenjata dari pihak-pihak yang bertikai yang dengan rela mau berhenti sejenak demi mewujudkan visi masa depan11 Lihatdi ttp://www.generativedialogue.org/documents/Speaking%20Up%20in%20Colombia.pdf diakses 15 November 2007. // 63 -
  • 73. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Negara Columbia. Prasyarat dasar dari suksesnya proses penyusunan skenario adalah adanya keterbukaan, kesediaan berbicara dan kemauan untuk mendengar. Skenario yang terbentuk adalah (I) "When the Sun Rises Well See", (II) "A Bird In the Hand is Worth Two In the Bush", (III) "Forward March!", (IV) "In Unity Lies Strength".VI. Belajar dari Skenario Masa Depan Indonesia 2010 Awalnya diinspirasi oleh pengalaman Afrika Selatan yang mampu melewati masa transisi dengan sukses. Apalagi situasi politik Indonesia saat itu, 1999-2000, dianggap masa-masa yang cukup rawan dalam melewati masa transisi dari rejim authoritarian menuju rejim demokratis. Tertarik dengan cara-cara yang digunakan bangsa Afrika Selatan, sekumpulan orang yang diprakarsai oleh beberapa petinggi komisioner Komnas HAM Jakarta meluncurkan prakarsa bersama Indonesia Masa Depan 2010. Tidak mudah menjelaskan kepada masyarakat maupun para tokoh tentang urgensi dari kebutuhan bangsa ini menerapkan scenario planning. Skenario sudah terlanjur dimaknai sebagai sesuatu yang negatif dan sarat nuansa politik. Keberadaaan individu yang tergabung di dalam prakarsa bersama itu pun sempat menuai kecurigaan. Ada motif politik apa di balik prakarsa tersebut. Meskipun pada akhirnya, mereka sepakat bahwa tidak ada motif politik apapun di balik prakarsa bersama ini. Ada perbedaan pendekatan antara yang digunakan Afrika Selatan dengan Indonesia dalam hal partisipasi masyarakat. Di Afsel, mereka menggunakan pendekatan top down dimana skenario dirancang oleh para tokoh yang berjumlah 22 orang untuk membuat skenario dan didistribusikan ke seluruh penjuru negeri. Dibutuhkan political will dari para pemegang kekuasaan untuk mengamini proses ini dan menjadikannya sebagai bahasa bersama menuju masa depan yang diinginkannya. Di Indonesia, prakarsa bersama ini lebih menggunakan pendekatan partisipatori dan bottom-up. Pendekatan ini memiliki// 64 -
  • 74. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) konsekuensi dari sisi anggaran biaya pelaksanaan dan waktu. Waktu pelaksanaan penyusunan skenario saat itu 18 bulan di 17 provinsi. Dari sisi biaya yang digunakan juga cukup besar. Namun pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan, sekurang-kurangnya, antara lain proses lebih partisipatif, komposisi peserta makin beragam, keterlibatan banyak pihak lebih merepresentasi rasa kepemilikan (ownership) terhadap proses, setidaknya 600-an orang terlibat dalam prakarsa ini. Bandingkan dengan 22 orang di Afrika Selatan (!) Serangkaian proses dialog scenario planning di 17 provinsi dan beberapa lokakarya nasional berhasil menghasilkan 4 skenario masa depan Indonesia pada 2010. Pada 1 Agustus 2000 di Tugu Proklamasi Jakarta diluncurkanlah hasil skenario tersebut. Satu juta kopi disebarkan. Skenario pertama "Diujung Tanduk" yang merupakan kombinasi pemerintahan authoritarian dengan pemerintahan yang berorientasi ekonomi pro-pertumbuhan. Dalam skenario ini digambarkan bahwa pemerintahan yang authoritarian membawa dampak pada ketidakpuasan daerah dari berbagai sisi akibat pemerintahan yang sentralistis. Separatisme dan disintegrasi menjadi konsekuensi logis dari sistem yang tidak mempedulikan aspirasi daerah. Konflik pusat-daerah melebar menjadi konflik antar-agama dan antar- etnis. Anarkisme meningkat. Ketidakpatuhan sipil juga meningkat. Pendidikan dan agama dijadikan sarana untuk menseragamkan ideologi. Pertumbuhan ekonomi terjadi dikarenakan modal besar dan high technology. Dalam skenario ini digambarkan Riau memisahkan diri mengikuti dua wilayah lainnya yaitu Aceh dan Papua. Skenario kedua "Masuk ke Rahang Buaya" merupakan kombinasi dari pemerintahan authoritarian dengan pemerintahan yang berorientasi ekonomi pro-pemerataan. Dalam skenario ini digambarkan Indonesia menjadi sangat authoritarian dan terjadi isolasi ekonomi. Untuk tetap mempertahankan pemberian subsidi kepada rakyat,12 Sumatera Utara, NTB, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Jawa Timur, Papua, Lampung, dan Jakarta. Dan khusus daerah Aceh dan Maluku, mengingat daerah tersebut saat itu sedang dilanda konflik maka diputuskan penggalian informasi dilakukan melalui penelitian kualitatif. Untuk Aceh dilakukan oleh LP3ES (cq. Enceng Sobirin) sedangkan untuk Maluku dilakukan oleh IISA (cq. Edy Suhardono). // 65 -
  • 75. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) pemerintah mengeksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran. Pabrik-pabrik banyak yang tutup karena bahan baku operasional pabrik mulai langka dijumpai. Sistem tanam paksa sebagaimana di jaman kolonial dihidupkan kembali untuk menghidupi pemerintahan. Para dissident hidup dalam teror. Sementara itu di wilayah politik, tentara nasionalis melancarkan kudeta. Skenario "Mengayuh Biduk Retak" merupakan kombinasi pemerintahan demokratis dengan sistem ekonomi pro-pertumbuhan. Digambarkan Indonesia menjadi Negara yang demokratis dengan kebebasan pers dan rule of law. Otonomi daerah berjalan dengan baik. Namun terjadi masalah di bidang ekonomi yang dikuasi pertumbuhan, melalui investasi asing dan penggunaan aset-aset lokal. Skenario "Lambat Asal Selamat" merupakan kombinasi dari pemerintahan demokratis dengan sistem ekonomi pro-pemerataan. Hal ini ditandai dengan suksesnya pelaksanaan otonomi daerah, dimana desentralisasi-lah yang menyelamatkan Indonesia dari bahaya kehancuran disintegrasi. Demokrasi berhasil membuat wajah Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia international. Investor asing kembali menanamkan modalnya di Indonesia, ini merupakan wujud kredibilitas Indonesia yang membaik atau meningkat. Kekerasan vertikal maupun horizontal menyusut drastis. Keadilan menjadi dasar dalam penyelesaian konflik. Ekonomi tumbuh dengan low profile namun meyakinkan, serta pemerataan mencapai di semua pelosok negeri ini.VII. Lesson Learnt untuk Penyusunan Skenario Kalimantan 2020 Apa yang dilakukan oleh, setidaknya, Afrika Selatan, Guatemala dan Columbia memang agak berbeda dengan yang dilakukan oleh Working Group Indonesia Masa Depan (WG-IMD) ketika merancang partisipasi peserta. Pendekatan top-down digunakan oleh ketiga Negara tersebut. Sedangkan yang dilakukan WG-IMD memiliki keunggulan dalam hal tingkat kepemilikan proses (sense of ownership) karena menggunakan pendekatan bottom-up. Setidaknya 600 peserta dengan beragam latar belakang dan profesi ikut serta merancang skenario// 66 -
  • 76. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Indonesia 2010. Namun ternyata pendekatan ini pun harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Pendekatan top-down atau bottom-up pada hakekatnya tidak terlalu menjadi persoalan serius. Sebagaimana inti dari cara berpikir skenario yaitu memberikan kelenturan berpikir dan berproses. Persoalannya terletak dari kemauan politik dari para penyelenggara Negara untuk ikut serta mensukseskan proses dan hasil-hasilnya. Tiga Negara tersebut menjadi contoh menarik bahwa pemerintahan dan masyarakat terlibat dan mendukung secara aktif proses dan hasilnya. Sementara di Indonesia, seperti diungkapkan Dr Liek Wilardjo -salah seorang peserta pakar penyusunan skenario-- para politisi dan pemangku pemerintahan menganggap Skenario Indonesia 2010 seperti angin lalu dan tak berbekas. Skenario Indonesia 2010 kala itu diserahkan secara resmi kepada Ketua MPR untuk membekali anggota majelis memasuki arena sidang tahunan13 . Pelajaran lain yang bisa dipetik yaitu keputusan untuk meluncurkan Skenario Indonesia 2010 ke publik dan memberikan kebebasan untuk mereka-reka atau menebak-nebak apa yang ada dalam skenario tersebut --terserah publik memilih skenario yang mana. Publik dalam hal ini dianggap sudah mengerti. Namun sebenarnya cara atau tindakan ini kurang tepat. Setidaknya dari sisi rangkaian proses, tahapan yang dilalui pun baru sampai tahap ke-3. Padahal tahapan ke-4 dan 5 yaitu rencana aksi dan monitoring memegang peran cukup penting dalam hal mengkomunikasikan skenario agar menjadi bahasa bersama (common language). Dan tentu saja, menjaga dan terus mengingatkan pemangku kepentingan bangsa ini agar tidak terjerembab pada skenario yang buruk atau negatif.VIII. Rekomendasi : Apabila inisiatif perencanaan skenario ini ternyata "menarik hati" para pemangku kepentingan di tingkat Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, setidaknya hal-hal yang menjadi kelemahan proses di13 Liek Wilardjo, "Lambat Tapi Selamat" dalam Indonesia Masa Depan, "Skenario Indonesia 2010", Jakarta: Indonesia Masa Depan - Komnas HAM, 2000. hal. 39-43 Lampiran. // 67 -
  • 77. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) atas haruslah dihindari. Berikut adalah hal yang perlu dilakukan seandainya inisiatif ini akan dilakukan, sekurang-kurangnya: 1. Pilihlah "panitia pengarah" yang merepresentasikan kelompok, partai politik, profesi, etnis, agama, dsb, secara beragam dan proporsional. 2. Partisipasi peserta. Pilihlah peserta dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Hal ini akan sangat membantu dalam proses identifikasi dan penentuan Driving Forces ("predetermined elements" atau "uncertainties"). 3. Libatkan para penyelenggara Negara dan/atau pemerintahan di tingkat Kalimantan untuk memiliki proses tersebut. 4. Disiplin dengan tahapan proses perencanaan skenario. Menghasilkan skenario bukan berarti proses selesai. Selesainya pembuatan Skenario justru merupakan langkah awal proses yang lebih besar, yaitu merancang tindak lanjut dan memonitor indikator utama (ingat: trend perubahan indikator!). 5. Persiapkan sumberdaya (fasilitator, pendanaan, akomodasi, dsb) secara memadai dan transparan. 6. Bentuk unit kecil "Scenario Planning Office" untuk selalu terus memonitor skenario dan tindak lanjutnya.IX. Penutup 1. Kondisi politik yang cukup demokratis sekarang ini dan diterapkannya sistem pemilihan langsung serta dihapuskannya Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman menjalankan pemerintahan, skenario bisa dijadikan jawaban atas kegelisahan selama ini. Diakui atau tidak, tidak adanya GBHN maka program pemerintahan hanya didasarkan "janji-janji politik" yang seringkali keluar tanpa melalui proses mendalam dan tanpa terekam. Dengan membuat perencanaan skenario maka setidaknya para calon yang akan maju dalam pilkada sudah memiliki "GBHN". Pada akhirnya, para aparatur pemerintahan/Negara diharapkan memiliki pegangan program nasional/daerah. Sekurang-kurangnya ini sangat membantu mereka dalam mencapai skenario Indonesia seperti apa yang diinginkannya.// 68 -
  • 78. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) 2. Penyusunan scenario adalah suatu proses dialog yang mensyaratkan tiga parameter dasar yakni harus ada keterbukaan (openness), kesediaan bicara (talking) dan kemauan untuk mendengar (listening). Ini merupakan prasyarat dasar suksesnya proses. Tidak terpenuhinya prasyarat dasar, yang terjadi hanya sekedar lokakarya penyusunan yang hambar dan tidak mencerminkan jiwa para peserta yang merupakan representasi dari jiwa masyarakat secara keseluruhan.***Samarinda, 26 November 2007. // 69 -
  • 79. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Lampiran I (ilustrasi dan cerita dibawah dikutip dari “The Role of Scenario in Developing Strategy” Luis Jimenez)// 70 -
  • 80. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) // 71 -
  • 81. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)// 72 -
  • 82. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) // 73 -
  • 83. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)// 74 -
  • 84. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) // 75 -
  • 85. Bagian KetigaMATERI PENDUKUNG
  • 86. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) PERUMUSAN SKENARIO PLANNING DALAM RANGKA MEMPERKUAT SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN KINERJA ORGANISASI DENGAN PENDEKATAN SISTEMIK Oleh : Drs. H. Dadang Solihin, MAIII. PERENCANAAN Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Selain itu, perencanaan juga dapat diartikan sebagai proses pengambilan keputusan dari sejumlah pilihan untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki.sedangkan fungsi atau manfaat perencanaan itu sendiri adalah sebagai penuntun arah, untuk meminimalisasir ketidakpastian dan inefisiensi sumber daya dan sebagai penetapan standar dalam pengawasan kualitas. Perencanaan mempunyai syarat-syarat yang harus dimiliki, diketahui dan diperhitungkan, yaitu : 1. Tujuan akhir yang dikehendaki. 2. Sasaran-sasaran dan prioritas untuk mewujudkannya (yang mencerminkan pemilihan dari berbagai alternatif). 3. Jangka waktu mencapai sasaran-sasaran tersebut. 4. Masalah-masalah yang dihadapi. 5. Modal atau sumber daya yang akan digunakan serta pengalokasiannya. 6. Kebijakan-kebijakan untuk melaksanakannya. 7. Orang, organisasi, atau badan pelaksananya. 8. Mekanisme pemantauan, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaannya. Kegagalan pada sistem perencanaan dapat terjadi apabila mengalami hal-hal berikut ini : 1. Penyusunan perencanaan tidak tepat, mungkin karena informasinya kurang lengkap, metodologinya belum dikuasai, perencanaannya // 76 -
  • 87. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) tidak realistis sehingga tidak mungkin pernah bisa terlaksana atau pengaruh politis terlalu besar sehingga pertimbangan-pertimbangan teknis perencanaan diabaikan. 2. Perencanaannya mungkin baik, tetapi pelaksanaannya tidak seperti seharusnya. Contoh, kegagalan terjadi karena tidak berkaitnya perencanaan dengan pelaksanaannya, aparat pelaksana tidak siap atau tidak kompeten, atau masyarakat tidak punya kesempatan berpartisipasi sehingga tidak mendukungnya. 3. Perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar negara berkembang. Misalnya saja, orientasi semata-mata pada pertumbuhan yang menyebabkan makin melebarnya kesenjangan. Dengan demikian, yang keliru bukan semata-mata perencanaannya tetapi falsafah atau konsep di balik perencanaan itu. 4. Karena perencanaan diartikan sebagai pengaturan total kehidupan manusia sampai yang paling kecil sekalipun. Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan berkembangnya prakarsa individu dan pengembangan kapasitas serta potensi masyarakat secara penuh. Sistem ini bertentangan dengan hukum penawaran dan permintaan karena pemerintah mengatur semuanya. Perencanaan seperti inilah yang disebut sebagai sistem perencanaan terpusat ( centrally planned system ). Sedangkan sistem perencanaan yang berhasil adalah sistem perencanaan yang mendorong berkembangnya mekanisme pasar dan peran serta masyarakat. Dalam sistem ini perencanaan dilakukan dengan menentukan sasaran-sasaran secara garis besar, baik di bidang sosial maupun ekonomi, dan pelaku utamanya adalah masyarakat dan usaha swasta. Perencanaan yang Ideal dapat dilakukan dengan Interactive Planning, yaitu: Partisipatif, yang artinya masyarakat yang akan memperoleh manfaat dari perencanaan harus turut serta dalam prosesnya. 1. Kesinambungan, yang artinya perencanaan tidak hanya berhenti pada satu tahap; tetapi harus berlanjut sehingga menjamin adanya// 77 -
  • 88. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) kemajuan terus-menerus dalam kesejahteraan, dan jangan sampai terjadi kemunduran. 2 Holistik, yang artinya masalah dalam perencanaan dan pelaksanaannya tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi (atau sektor) tetapi harus dilihat dari berbagai aspek, dan dalam keutuhan konsep secara keseluruhan. 3 Mengandung sistem yang dapat berkembang (a learning and adaptive system). 4 Terbuka dan demokratis (a pluralistic social setting).II. SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ( SPPN ) adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan dan dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Tujuan SPPN itu sendiri adalah sebagai berikut : 1. Mendukung koordinasi antar-pelaku pembangunan. 2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar- Daerah, antar-ruang, antar-waktu, antar-fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. 3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. 4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. 5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Proses-proses yang dilakukan dalam perencanaan meliputi: × Pendekatan Politik: Pemilihan Presiden/Kepala Daerah menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik (public choice theory of planning), khususnya penjabaran Visi dan Misi dalam RPJM/D. × Proses Teknokratik : Menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu // 78 -
  • 89. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) × Partisipatif : Dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders, antara lain melalui Musrenbang. × Proses top-down dan bottom-up : Dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan.III. DEFINISI SKENARIO PLANNING Definisi Scenario Planning menurut beberapa pakar, yaitu : mPorter (1985) : "An internally consistent view of what the Michael future might turn out to be". m Peter Schwartz (1991) : "A tool [for] ordering ones perceptions about alternative future environments in which ones decision might be played out right". m Gill Ringland (1998) : "That part of strategic planning which relates to the tools and technologies for managing the uncertainties of the future" . m Paul Shoemaker (1995) : "A disciplined method for imaging possible futures in which organizational decisions may be played out". m Planning is a model that can be used to explore and learn Scenario the future in which a strategy is formed. It works by describing a small number of scenarios, by creating stories how the future may unfold, and how this may affect an issue that confronts the corporation. Scenarios are carefully crafted stories about the future embodying a wide variety of ideas and integrating them in a way that is communicable and useful. Scenarios help us to link uncertainties about the future to the decisions that we must make today (Royal Dutch Shell). m The scenario planning method works by understanding the nature and impact of the most uncertain and important driving forces affecting the future. It is a group process which encourages knowledge exchange and development of mutual deeper understanding of central issues that are important to the future of your business. The goal is to create and craft a number of diverging stories by extrapolating uncertain and heavily influencing driving forces. The method is most widely used as a strategic management// 79 -
  • 90. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) tool, but it is also used for enabling group discussion about a common future. Scenario planning is the combination of scenario analysis for strategic purposes and strategic planning based on the outcome of the scenario phase (Lindgren, 2003). SCENARIO Strategic Generation PLANNING Time Perbedaan antara Scenario, Forecast dan Visions jika dikelompokkan ke dalam suatu tabel adalah sebagai berikut : Scenario Forecast Visions Possible, plausible Probable futures Desired future futures Uncertainty based Based on certain Value based relations Illustrate risks Hide risk Hide risk Qualitative or Usually Quantitative quantitative qualitative Needed to know Needed to dare What we decide Energizing to decide Relatively often Rarely used Daily used used Strong in medium to - Strong in short term Function as long-term perspective perspective and low triggers For and medium to high voluntary degree of uncertainty uncertainties change // 80 -
  • 91. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Dimensi scenario planning jika digambarkan dalam sebuah diagram adalah sebagai berikut : Focus : new business Business New development Innovation thingking/ /Concept Paradigm development shift Scenario Purpose : Purpose : Strategy/ Scenario Learning prerequisite action Planning Planning for change Strategy Risk- development/O consciousness/ rganizational Evaluation Need for development renewal Focus : old business Karakteristik Traditional Planning dan Scenario Planning digambarkan dalam tabel berikut ini : Traditional Planning Scenario Planning Perspective Partial, “Everything else Overall, “Nothing else being equal” Being equal” Quantitative, objective, Qualitative, not necessarily Variables quantitative, subjective, known known or hidden Statistical, Dynamic, emerging Relationships stable structures structures// 81 -
  • 92. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) The future is the raison Explanation The past explains the present d’etre of the present Picture of future Simple and certain Multiple and uncertain Determinist and Intention analysis, Method quantitative models qualitative and stochastic (economic, models (cross impact and mathematical) systems analysis) Attitude to the Passive or adaptive (the Active and creative (the future future will be) future is created) Langkah-langkah dalam Scenario Planning (Steps in Scenario Planning) adalah sebagai berikut : 1. Identify people who will contribute a wide range of perspectives. 2. Comprehensive interviews/workshop about how participants see big shifts coming in society, economics, politics, technology, etc. 3. Group (cluster) these views into connected patterns. 4. Group draws a list of priorities (the best ideas). 5. Create rough pictures of the future, based on these priorities. Stories and rough scenarios. 6. Add further detail to get impact scenarios. Determine in what way each scenario will affect the corporation. 7. Identify early warning signals. Things that are indicative for a particular scenario to unfold. 8. The scenarios are monitored, evaluated and reviewed. Sedangkan tahapan dalam membuat Skenario adalah sebagai berikut : 1. Decide driving forces (istilah lain : drivers / drivers for change) 2. Find key uncertainties : drivers yang paling important & unpredictable. 3. Group linked drivers into a viable framework (kalau bisa, reduce to yang terpenting/strategic drivers) 4. Draft Scenarios (plot menjadi 2-4 skenario, lalu buat narasinya) // 82 -
  • 93. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) 5. Strategize (lihat strategic challenges, susun strategic options & identify early warning signs untuk each scenario) Strategic Strategic Strategic Driving Drivers Challenges Options Forces Faktor-faktor Driving Forces Berbagai arah Action Plan yang yang dapat yang paling ketidakpastian perlu disusun memicu berpengaruh Stategic Drivers untuk perubahan ( terhadap masa yang dapat mewujudkan Visi Sosial, Demografi, depan organisasi / menghambat / sekaligus Ekonomi, Tekno, Negara. Contoh : menciptakan merespon Politik, human capital, peluang dalam Strategic Lingkungan trade openness, mewujudkan Visi. Challenges Values ) governance Beberapa Perangkap/pengertian/pemahaman yang perlu dihindari tentang scenario Planning, antara lain: 1. Treating scenarios as forecasts. 2. Constructing scenarios based on too simplistic a difference. Such as optimistic and pessimistic. 3. Failing to make the scenario global enough in scope. 4. Failing to focus the scenarios in areas of potential impact on the enterprise. 5. Treating scenarios as an informational or instructional tool rather than for participative learning and/or strategy formation. 6. Not having an adequate process for engaging management teams in the scenario planning process. 7. Failing to put enough imaginative stimulus into the scenario design. 8. Not using an experienced facilitator.// 83 -
  • 94. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Level of Strategic Thinking Strategic Thinking Strong Within paradigm Paradigm strategies challenging strategies - Strategy as - Scenario as a source prolongation or of higher-level modification of the strategic thinking and past planning Strategic Thinking Weak Future trap - Scenario as science Mindless action or intellectual exercise - Tactical and action with no connection to planning strategic action Futures Focus Weak Futures Focus Strong Level of Integration Level of Future integration Integration Integrates long-term perspectives with mid- term strategies and short-term actions Strategy integration Integrates different business and products in search for strategic leverage Process integration Integrates operational procedures in search for efficient processes Time horizon // 84 -
  • 95. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Models for Scenario Project Organization Expert model Participation model model In training/ The planner With a group in the Alone organization instructing the works organization The planner takes The planner stays The planner controls part in and leads Control outside the the process the process process Is owned and Is presented by Is owned by the The Result presented by the the planner organization group The planner The planner The planner maintains passes Relationship completes a relationship with responsibility to the assignment the group the group Scenarios and Uncertainties C Uncertainty A Scenario 1 Scenario 2 Uncertainty B Scenario 3 Scenario 4 C Strong demand for digital information// 85 -
  • 96. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Wait and see Cyberworld 2010 Newspaper Newspaper conservative IT-active Business as High – tech usual production Weak demand for digital information Beberapa Contoh Skenario negara-negara Asia: mIndonesia 2010 Skenario Skenario Indonesia 2010 digambarkan sebagai berikut : Authoritarian Government Pro-Fair Pro-Growth Distribution Economic Economic Orientation Orientation Democratic Government // 86 -
  • 97. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Masing-masing skenario digambarkan sebagai berikut: q EDGE : ON THE l Authoritarian government system with a pro-growth economic orientation. l movements cause Indonesia to disintegrate. Conflicts Separatist between the regions and the centre spread to become inter- religious and inter-ethnic conflicts, labor conflicts, and anti- Chinese violence. l increases. Civil disobedience grows. Education and Anarchy religion are used to enforce ideological uniformity. l Economic growth occurs through big capital and high technology. l and Papua, Riau secedes from Indonesia. After Aceh q A LEAKY BOAT : PADDING l a democratic government system with a pro-growth Combines economic orientation. l become democratic, with a free press and the rule of Indonesia law. l autonomy works. Economic problems are overcome Regional through growth, both through foreign investment and using domestic assets. q CROCODILE PIT : INTO THE l Combines an authoritarian government with a pro-fair distribution economic orientation. l Indonesia becomes more authoritarian due to economic isolation. To keep up popular subsidies, the government over- exploits natural resources. l close, as resources grow scarce. Forced agriculture is Factories brought backs, as in colonial times. l Dissidents are kept down by terror. Nationalist soldiers join populist forces to launch a coup detat.// 87 -
  • 98. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) q SLOW BUT STEADY : l Combines a democratic government with pro-fair distribution economic orientation. l Successful regional autonomy and decentralization saves Indonesia from destruction l Democracy survives the end of the New Order. l investors return, as does international credibility. Foreign l recedes. Justice becomes the basis for resolving Violence conflict. l growth is low profile, but fait distribution reaches the Economic regions. m China 2025 Skenario q REGIONAL TIES : l Ties describes how China continues on the path of Regional reform despite an international environment that becomes increasingly difficult. Chinese leadership and vision facilitate the // 88 -
  • 99. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) forging of regional ties that help overcome historical enmities and restore prosperity in Asia. l The scenario is written as a Government White Paper, reflecting on 20 years of progress in China, a medium often used by the Chinese government to communicate to the public-at-large on a major issue, to lay out its policy or to reflect on the past. q UNFULFILLED PROMISE : l Unfulfilled Promise describes a China where the desire for economic development is not supported by the necessary structural reforms. The name reflects the general sentiment among the Chinese people that the promise made to them in terms of inclusive economic development has been largely unfulfilled. l is told as an article in a Western online journal and The story reviews Chinas development over the period 2006-2025. q ROAD : NEW SILK l Road describes the flourishing economic and cultural New Silk rise of China, a feat achieved despite the presence of substantial internal obstacles. The scenario reflects Chinas peaceful geopolitical integration and its sizeable role in the exchange of goods, services, investments and ideas. In this way it recreates the original Silk Road. l The scenario is told using the Online Encyclopaedia of the World and provides a factual account of what China has achieved over a 20-year period.// 89 -
  • 100. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) m India 2025 Skenario q BOLLY WORLD : l India" means "India First" and this is reflected in the "Pahale scenario in at least three ways: 1. people from across India put the needs of their community and country first; 2. India emerges as a global economic leader; and 3. Indias dynamic internal developments make it a source of inspiration for the rest of the world. l is told by a successful Indian business woman at the This story 40th India Economic Summit in 2025. Her keynote speech explores the reasons for Indias remarkable success. q BHARAT : ATAKTA l Bharat" describes an India "getting stuck without "Atakta direction" reflecting the lack of unified action and absence of effective leadership that, in this scenario, create a continuous and cumulative source of problems for India. // 90 -
  • 101. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) l The scenario is told as the transcript of a speech given at the monthly forum of the Hyderabad GM Crop Collective. The collective-a collaboration between the Hyderabad Farmers, Seed Developers and Rural Workers Cooperatives-is an example of one of the more positive responses made by some Indians to the multitude of troubles facing India. l The speech itself also draws attention to the importance of self- organization and self-help. Entitled "Indias last 20 years: Why we must help ourselves", it explores how initial well intentioned attempts at reform in India failed-because of corruption, inadequate planning and insufficient political will. The speaker raises a number of what he calls "if onlys" to describe how Indias future could have been very different. m Indonesia 2010 Menurut Pandangan dari Jawa Barat Skenario (Bandung, 2 Januari 2000) Intervantion Low Government Skenario 2 Skenario 4 Riak Tangis di Fajar Nusa Damai Menyingsing, Kabut Mulai Tersibak Tertutu Terbuk p a Intervantion High Government Skenario 1 Skenario 3 Zamrud Kawah Berserakan Bergolak// 91 -
  • 102. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Tinggi Skenario 1 : Zamrud Berserakan Tertutup Skenario 2 : Riak Rendah Tangis di Nusa Damai Tinggi Skenario 3 : Kawah Bergolak Terbuka Skenario 4 : Fajar Rendah Menyingsing, Kabut Mulai Tersibak DIAGRAM POHON SKENARIO INDONESIA 2010 q BERSERAKAN : ZAMRUD l terpecah, pelanggaran hak asasi manusia sering terjadi. Indonesia l masyarakat rendah, setelah terjadinya kudeta yang Peranan mengubah keadaan masyarakat terbuka menjadi masyarakat tertutup. l bertahan hidup, pemerintah melakukan intervensi Untuk ekonomi yang sangat tinggi. l terjadi di mana-mana. Pada saat yang sama Indonesia Kelaparan dikucilkan oleh masyarakat dunia. q RIAK TANGIS DI NUSA DAMAI : l ketidaksabaran masyarakat dan pemerintah Indonesia Adanya setelah menyaksikan bahwa pengambilan keputusan dan kompromi dalam masyarakat terbuka terlalu banyak memakan waktu dan energi, yang disertai dengan perdebatan sengit dan bising. Padahal masalah yang dihadapi Indonesia sangat berat dan memerlukan penanganan yang cepat. // 92 -
  • 103. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) l diambillah pilihan untuk membatasi keterbukaan Maka masyarakat, sehingga pengambilan keputusan bisa lebih cepat dan kerja bisa lebih efisien. l Di bidang ekonomi, pemerintah hanya sedikit melakukan intervensi, sehingga pertumbuhan berlangsung cepat. Namun karena kebijakan negara memprioritaskan ekonomi, dan untuk itu hak-hak rakyat banyak dikorbankan. l Pada akhirnya, masyarakat dunia tidak bisa mentoleransi lagi terhadap Indonesia, dan kampanye pemboikotan terhadap produk Indonesia dilancarkan di seluruh dunia. q BERGOLAK : KAWAH l Indonesia yang tak pernah reda sejak runtuhnya Orde Keadaan Baru. l Masyarakat terbuka merangsang perdebatan tidak ada hentinya di kalangan masyarakat. l dan energi hanya digunakan untuk berdebat dan Waktu mengatasi pergolakan politik. Padahal tekanan kemiskinan akibat krisis ekonomi perlu mendapat penyelesaian segera. lmengatasi masalah kemiskinan ini sesegera mungkin, Untuk maka pemerintah melakukan intervensi yang tinggi demi menyelamatkan masyarakat miskin, akibatnya pengurasan sumber daya alam tak terkendali sama sekali. l bagaikan kawah yang bergolak. Setiap waktu bisa Indonesia meletus dan memporakporandakan Indonesia. q FAJAR MENYINGSING, KABUT MULAI TERSIBAK : l Masyarakat dan pemerintah konsisten dan sabar untuk membangun masyarakat terbuka, yang mendorong makin kuatnya peranan masyarakat dan makin berkurangnya kekuasaan pemerintah. l Ketidaksabaran memang terus menggoda dan korban benar- benar berjatuhan. Berkali-kali masyarakat dan pemerintah tergoda untuk mengurangi keterbukaan masyarakat, tapi niat itu// 93 -
  • 104. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) dikalahkan dengan ketakutan makin terancamnya kemanusiaan dan Indonesia. l Di bidang ekonomi, pemerintah mengurangi intervensinya, kecuali beras. l Konflik-konflik horisontal yang terjadi di awal pemerintahan Gus Dur membuat orang makin takut terhadap perpecahan. Jika Indonesia pecah, maka nusantara akan kembali seperti sebelum dijajah Belanda. lantar negara baru tak akan terelakkan. Ketakutan perang Perang antar negara -pecahan Indonesia- inilah yang menjadikan masyarakat tetap menjaga kesatuan Indonesia. m 2025 Indonesia // 94 -
  • 105. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Daftar Pustaka‘Eisy, Muhammad Ridlo (2000) Pertemuan Puncak - Dialog Regional Jawa Barat Menyusun Skenario Indonesia Masa yang akan datang Pandangan dari Jawa Barat : Skenario Indonesia 2010, http://www.geocities.com/ind2010/serta.htmLINGREN, Mats and Hans Bandhold, 2003, "Scenario Planning, the Link between Future and Strategy", New York: Palgrave MacMillanHermana, Budi (2007) "Peran BI Menuju Indonesia 2025: Prahara, Sengsara, atau Nusantara Jaya?", Universitas GunadarmaRINGLAND, Gill, 2006.Scenario Planning, West Sussex: John Willey & Sons LtdUU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional"What is Scenario Planning?", http://www.12manage.com/ methods_scenario_planning.htmlWorld Economic Forum (2006) World Scenario Series, China and the World: Scenarios to 2025, www.weforum.org World Economic Forum (2006) World Scenario Series, India and the World: Scenarios to 2025, www.weforum.org// 95 -
  • 106. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) LONG-TERM FORECASTING OF TECHNOLOGY AND ECONOMIC GROWTH IN INDONESIA Oleh : Prof. Erman Aminullah14 ( Centre for Science and Technology Development Studies Indonesian Institute of Science (LIPI), Jakarta, Indonesia) (erma001@pappiptek.lipi.go.id)Summary : This paper attempts to analyze the importance of technologyinvestment strategy and its effects in influencing economic growth under theeconomic complexity of Indonesia. The model of economic dynamicsthrough innovation is applied to understand the behaviors of economicgrowth, investment, and consumption. The results of a computer simulationshow: (i) economic growth can occur under the conditions of investmentgrowth and investment reduction, while it generally occurs under thecondition of consumption growth; (ii) the fluctuation of economic growth canbe stabilized by technology investment; (iii) the initial condition oftechnology investment determines the stability of economic growth; and (iv)constant growth of technology investment will secure the stability ofeconomic growth in the long run. The model concludes that a commitment to maintain technologyinvestment in the private sector is important for a stable economic growth inIndonesia. More specifically, the choice of optimum technology investmentstrategy for increasing of Indonesian companies is a robust strategy in thelong run.Keywords: technology investment strategy, economic growth, economiccomplexity, Indonesia, R&D intensity14 This paper carries a significant change from its earlier version. The author is indebted to Dr. Kong-Rae Lee for his suggestion(s) with regard to the clarity of this paper, and I am thankful to two anonymous referees who have also given their comments and suggestions for the enrichment of this paper // 96 -
  • 107. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)1. Introduction Attention centered only on the present will blur the view of the future, while attention centered on a certain aspect will neglect many interrelated aspects. This becomes a world-view in observing the importance of technology investment strategy in the long run. Technology investment is in four components namely: business efficiency; research and development (R&D) productivity; the efficacy of government policy; and the quality of higher education. A robust strategy of technology investment is achieved by balancing between technology investment and physical capital investment to build up a strong and healthy economy in the long run. This paper explains the dynamics of Indonesian technology investment in the past, as well as its possibilities in future scenarios. The reality of past technology investment in Indonesia is a story of backwardness in technology investment, which results in instability when faced with economic turbulence and the postponement of economic recovery such as that from the 1997 Asian crisis. The scenarios of future technology investment will generate a desirable and feasible strategy to achieve a balance between technology investment and physical capital investment. Some coherent steps including a socio-technical approach, a coherent policy direction, a supportive institutional set-up, and workable policy instruments for implementing the strategy will be explained in the last part of the paper.2. Past Trends of Technology Investment in Indonesia Technology investment is different from physical capital investment. Technology investment is a cultivation of technological capability which generally goes through the internal process of technological learning, while physical capital investment is a formation of capital which mainly occurs by the external inputs of capital. Technology investment is more than R&D expenditure, and albeit it can be used as an indicator of technology investment, it would work by simultaneously investing in people, organization, information, and// 97 -
  • 108. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) techniques to create the internal process of technological learning. Generally, the cultivation of technological capability had moved slowly in Indonesia in the past. Low technology investment was inspired by a lack of awareness on the importance of building up technological capability. The dynamics of technological capability demonstrated a downward fluctuation in Indonesia. This was shown by slightly increasing and then constantly deteriorating trends in the four objectives of technology investment: technical capability, knowledge mastery, capacity to govern, and intellectual capital. At the macro level, this was reflected by deteriorating tendencies in: the business efficiency of the private sector; R&D productivity of research institutions; the efficacy of government policy on technology investments; and the quality of higher education (see Figure 1).2.1 Building up Technical Capability Technical capability, with investments in techniques, is reflected by the ways of producing goods and rendering services in the economy, starting from buying only, to the combination of buying with some producing, and then fully producing. The improvement of technical capability is associated with knowledge mastery, capacity to govern, and intellectual capital. At the macro level, the higher the technical capability, the more advanced the business efficiency. High efficiency of business is achieved by the creation of lesser inputs, faster processes, and greater outputs. The achievement is indicated by the increase in the added value of manufacturing and services. An increase in the added value per worker in the economy reflects the improvement of technical capability, mainly in producing high technology goods and services in the economy. The added value per worker in the Indonesian manufacturing sector (1990-2003), in comparison with several countries, can be explained as follows: (i) before the 1997 crisis, the added value per worker was still above that of China and the Philippines but below Malaysia; yet, after the crisis, the added value per worker in Indonesia was surpassed by China and the Philippines; ii) Singapore, // 98 -
  • 109. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) South Korea, India, and China were countries with the ability to maintain the rise of added value per worker continuously; and (iii) Thailand, Indonesia, the Philippines, Malaysia, and South Korea were experiencing a drastic fall of added value per worker on account of the 1997 economic crisis. Then, in 2003, all countries, except Indonesia, succeeded in increasing their added value per worker, exceeding their positions before the crisis. Indonesia still kept experiencing a decrease in added value per worker, which was a result of their technical capability whose main emphasis was on producing low as well as middle technology products in the economy (IIS, 2006). The aforementioned reality implies some important points: (i) a high level of technical capability is reflected by the increase in the added value of high technology goods and services in the economy; (ii) a high level of technical capability is associated with the advancement of knowledge mastery, intellectual capital, and managerial capability, as shown by Singapore and South Korea; (iii) a low level of technical capability is vulnerable against economic turbulence associated with backwardness in knowledge mastery, capacity to govern, and intellectual capital, as shown by Thailand, Indonesia, and the Philippines; and (iv) a continuous increase in technical capability can be the source of economic resilience in resisting economic turbulence, as reflected by China and India, and then become the source of economic strength in coping with the crisis, as shown by South Korea and Malaysia (see Table 1).2.2 Knowledge Mastery Knowledge mastery, or the investment in information acquisition, is performed by accumulating scientific knowledge acquired from learning and R&D activities. Formally, these activities are carried out by academic institutions, R&D institutions, and business organizations. Commonly, investment in knowledge mastery is measured by R&D expenditure (input) and patent (output). The past reality showed that the government R&D budget in Indonesia once// 99 -
  • 110. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) did not differ much from that of South Korea, around 0.4% of GDP in the early 1970s. Then, since the 1970s and until now, the Indonesian R&D expenditure has been mainly financed from the government budget and has constantly decreased, down to 0.1% of GDP in 2004, while South Korean R&D expenditure sharply rose to 2.85% of GDP in the same year, which was mostly financed by the private sector. Among five ASEAN countries (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, and the Philippines), only Indonesia failed to experience any increase in acquiring scientific knowledge through R&D, plus it constantly deteriorated and has occupied the bottom position since the year 2000. Indonesia South Indicators China India Malaysia Thailand Philippines Past Recently KoreaTechnical capability:Added value per worker in 4.24 4.22 48.19 6.59 14.30 17.97 11.01 8.24manufacturing (US$ 1997price) (1990) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003)Share of high technology in 3.50 4.30 21.52 19.00 5.08 32.19 4.20 17.80manufacturing added value(%) (1990) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003) (2003)Knowledge mastery:R&D expenditure as % ofGDP 0.39 0.10 2.85 0.44 0.78 0.69 0.26 0.11 (1972) (2004) (2004) (2004) (2001) (2002) (2003) (2002)Patents registered in USPTO 9 36 95 28 18 (1993) (2005) (2005) (2005) (2005)Capacity to govern: See explanation in textPolicy direction, institutionalset-up, and policy instrumentsIntellectual capital:Public expenditure on 1.40 0.80 3.39 5.29* 4.02 8.10 2.67 3.10educationas % of GDP (1998) (2004) (2002) (2001) (2002) (2002) (2002) (2002) // 100 -
  • 111. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Population with bachelor 0.47 2.70 18.50 2.70 3.30 8.60 17.60 degree per labor force (%) (1990) (2004) (2000) (2000) (2000) (2000) (2000) Doctoral graduate in science 245 3365 6317 180 and engineering (2004) (2002) (2003) (2003) RS&E per million population 181 282 2636 537 151 87 173 90 (1988) (2004) (1994) (1993) (1990) (1992) (1991) (1984) Researcher with doctoral degree 955** 56572 3893 (2004) (2004) (2000)Notes : * Including private expenditure ** Public R&D institution o nlySources : IIS ( 2006 ); Seong ( 2005 ); UNCTD ( 2003 ); Kim ( 2003 ); Siqurdson ( 2002 ); WB ( 1999 ) In terms of patent registration in the US Patent and Trademark Office (USPTO), the number of patents from Indonesia in the 1990s was relatively comparable with some ASEAN countries (i.e. Malaysia, Thailand, and the Philippines). Nonetheless, the Indonesian position has fallen behind Malaysia and Thailand since the year 2000. Moreover, in terms of patent registration in the Indonesian Patent Office (IPO), the number of patents registered from Indonesia also lagged far behind those registered by foreign countries (see Table 1).2.3 Strengthening Capacity to Govern Capacity to govern, by investing in organization, especially in public administration, is reflected by the course of actions in the form of various policies put into practice by the government. The generic pattern of governing the technology investment in Indonesia showed physical capital investment with limited mastery of technology in production engineering and the production process. Prior to the 1997 economic crisis, the economy grew more from export-oriented foreign direct investment (FDI) in consumer goods. In the 1990s, the export of manufacturing goods shifted toward science-based consumer goods, primarily electronic products (Okamoto, 2001). This reflects a shift toward a limited mastery of production// 101 -
  • 112. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) engineering and the production process. Then, after the 1997 economic crisis, the economy grew more from the stimulation of domestic consumption rather than by investment. In the future, the stimulation of economic growth by investment, primarily FDI, is necessary for the expansion of production. Because domestic demand is growing at a slow rate, export becomes crucial in absorbing the expansion of production from FDI. Thus, aggressive FDI policy and export incentives have become the government target after the economic crisis. Prior to the 1997 economic crisis, Indonesia implemented two lanes of industrial policies: (i) a policy for strengthening and deepening the industrial structure, which is under the coordination of the Ministry of Industry (MI) and (ii) a policy for industrial transformation through high-tech application in strategic state-owned enterprises (SSOEs), which is coordinated by the Office of the State Minister for Research and Technology (MRT). The development of private industrial technology capability was directed toward strengthening and deepening the industrial structure. Indonesia has been acknowledged for its success in building some of the strongest upstream and downstream industrial structures, such as an integrated textile industry, an integrated wood processing industry, and integrated petrochemical and fertilizer industries. Nonetheless, Indonesia has relatively failed in successfully building a strong industrial structure in the automotive and electronics industries, which up to the present are still downstream because of the limited assembly of automotive and electronics components, and consumer electronics15 . Moreover, the development of a high-tech industry in Indonesia, executed by SSOEs, has relatively failed to become the vehicle for technology-based industrial transformation16 .15 For the situation on automotive industries in Indonesia, see Okamoto (1999). Furthermore, for the situation on electronics industries in Indonesia, see Gammeltoft (2001), p.108.16 These ten SSOEs were in the areas of: aircrafts; shipbuilding; railroad wagons; electronics; telecommunication; light weapons and ammunition; explosives; engines and machinery; heavy equipment and construction material; and steel. After the 1997 economic crisis, the position of strategic industries which previously received special treatment by the Agency for the Management of Strategic Industries under the coordination of MNRT, subsequently became SOEs without special treatment under the authority of the State Minister for State-Owned Enterprises (MSOEs). // 102 -
  • 113. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) After the 1997 economic crisis, the urgent problem was unemployment. In order to abate unemployment, investments were needed. The state budget deficit reflected a lack of funding for investments. Given the circumstances of budget stress and unemployment, investments in labor intensive projects were more urgent than R&D projects, while technology investment seemed relatively less important, as reflected by the decrease in the budget ratio for S&T in the government development budget and the decreasing trend of R&D expenditure in the industrial sector17. With a very limited budget, the government encouraged the participation of private industries in public R&D activities by introducing incentives for their research activities. The government also continued its task of enhancing the quality of public R&D activities through programs called "center of excellence" and other various research programs for enhancing technological mastery. Policy instruments in the form of incentives may be categorized into fiscal, financial, and other incentives. Fiscal incentives are provided in the form of duty drawbacks and exemptions to attract FDI and to support the development of industries in the infancy stage. Tax deductions only concern income tax that can be deducted related to certain R&D costs in industry, such as purchasing costs for R&D materials and training costs for human resources in carrying out R&D. Unfortunately, until now, tax deductions are not yet extended (although often discussed) as special incentives in carrying out R&D. The government still views the tax incentives for R&D as a burden as it has a limited budget under low industrial preference toward innovation; however, a low industrial preference toward innovation is even more detrimental when it lacks government incentives. This situation explains the deteriorating position of Indonesia in terms of R&D expenditure (see Table 1). In terms of17 The ratio of the governments S&T budget to the total development budget has continued to decrease since the 1970s: 3.01% (1970); 1.61% (1980); 1.1% (1985); 0.42% (1990); 0.54% (1995); 0.43% (2000); and 0.35% (2004). As for the level of industrial R&D intensity, it was around 0.064% of the GDP in 1994, then it decreased to 0.035% of the GDP in 1999, and was approximately 0.027% of the GDP in 2003. Source: IIS (2006).// 103 -
  • 114. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) financial incentives in Indonesia, they are generally related with the promotion of R&D in public institutions (supply push), and very little incentives are utilized by industries in conducting industrial R&D (demand pull). In addition, financial incentives are generally directed to all scales of technology and not yet for the development of a specific technology. Other incentives are in the form of regulations and services for the creation of a conducive environment in stimulating R&D activities in order to protect and accelerate technological innovation. To sum up, the capacity of governing the purchase of technology embodied in physical capital investment does not always mean mastering the technology. The physical capital investment for the economic growth of Indonesia tended to disregard reinvesting the gains from the growth for the formation of intellectual capital and the accumulation of scientific knowledge, resulting in a lack of capability to digest and absorb the technology embodied in physical capital investment. This situation has placed Indonesia in a position that is under the capacity to govern the low industrial preference level toward innovation through R&D. Meanwhile, other Asian countries have consistently enhanced their capacities to govern becoming the leader of world class innovative industry (South Korea); intensifying the competitiveness based on R&D and innovation (China); becoming the home-base of the global high-tech industry (India); and giving strong support toward advancing technology intensive industries (Malaysia).2.4 Increasing Intellectual Capital The formation of intellectual capital, by investing in people, is indicated by the capacity of providing a supply of educated people, which can be measured by: education expenditure; higher educational attainment; science and engineering graduates; doctoral graduates in science and engineering; research scientists and engineers (RS&E); and researchers with doctoral degrees. Based on these indicators, the reality of investment in intellectual capital in Indonesia, in comparison to several countries, still occupied the bottom position. // 104 -
  • 115. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Public expenditure on education in Indonesia was around 0.8% of GDP in 2004. Some developing nations (India, Malaysia, the Philippines, and Thailand) have a strong commitment to invest in intellectual capital, with an education expenditure of over 4% of GDP. Among the ASEAN countries, the Philippines has the largest portion of the population with a higher educational attainment, but it still lacks the capacity to supply doctoral graduates in science and engineering. Just by looking at the number of researchers with doctoral degrees, it is evident that Malaysia has twice that of Indonesia (see Table 1).3. A Model for Technology Investment and Economic Growth3.1. Economic Dynamics through Innovation The basic concept of economic dynamics through innovation is the ability of a complex economic system to evolve in the rapidly changing free market environment; it is a life of surfing at the edge of competitive waves and cooperation. The secret of surfing on free market waves, closer to reality, is the adaptive ability for competition and, simultaneously, cooperation (Beinhocker, 1997; Pascale, 2000). In a free market, the competition is a matter of managing the power to gain self benefit, and at the same time, cooperation is a matter of having the power to manage the gains for mutual benefit (Davis, 2004). Competitiveness is revealed by the strength of the "genetic seed" in the body of the economy as a living system. It would flourish into a strong and healthy economy by interconnecting elements: (i) the power of investment financing; (ii) the activities of the economy; (iii) the nutrition of technological innovation; and (iv) the struggle to evolve in the economic competition (Witt, 1999; Bar-Yam, 1997). The interaction of those elements is called the model of "adaptive innovation policy" for building a strong and healthy economy (Aminullah, 2005). Adaptive innovation is the continuous enrichment of technology as nutrition for the living economic system to evolve into gaining the benefit of free market competition.// 105 -
  • 116. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) This model explains that a strong economy which lacks the nutrition of technology may become a sick economy because of vulnerability against shock coming from the environment of free market competition, such as the one experienced by Indonesia during the 1997 economic crisis (Keller, 2002). Thus, innovation policy should be developed and formulated adaptively to soften the pressure of free market competition. Putting the model to work through a strong economy will be achieved by the sufficient power of financing to increase the activities of the economic actor, again increasing the economic activities, which will generate additional financing power (Arthur, 1990). However, such a positive feedback loop is balanced by the following negative feedback loop: the more expansive the economic activities, the fiercer the economic competition to evolve in the free market, and the bigger the drain of financing power; and (ii) a healthy economy is achieved by the sufficient nutrition of technological innovation in line with a strong economic body. The stronger the economy, the bigger the funds needed to finance the nutrition of technology, and the more competitive the economy; again, the bigger the financing power for enhancing economic activities (see Figure 2). Figure 2. Model of Economic Dynamics through Innovation // 106 -
  • 117. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)3.2 Model Structure The interaction between economic activities and economic competition is the race of producers to capture consumers in the market, which is creating an expected demand. The competing producers always feel insecure, leading them to strengthen their competitive position by increasing production, which creates a market pressure. The bigger the unabsorbed production in the market, the heavier the market the pressure is. This is indicated by the production- consumption ratio. The bigger the production-consumption ratio the lower the production rate; on the other hand, the bigger the ratio the higher the consumption rate (B1, B2). Furthermore, the bigger the production-consumption ratio the heavier the market pressure leading to the lower expected demand. On the other hand, the higher the expected demand the higher the production rate as well as consumption rate (R2, R3). The level of production is determined by production rate, which is influenced by expected demand and capital efficiency, where capital efficiency is determined by capital- output ratio and influenced by technological innovation. The higher the capital-output ratio the lower the production rate, it is reinforced by the lower capital efficiency (R4, R5). On the other hand, the level of production is also pulled by expected demand leading to an increase of consumption rate and an increase in the level of consumption (R1, R2)18. The interconnection among investment financing, economic activities, and economic competition puts the fund for growth under uncertain circumstances, which can produce unexpected outcomes in the economy. The uncertain circumstances characterized by the five paradoxes of free market competition tend to be ignored by producers (Aminullah, 2005). An expected gain coming from an ever increasing expected demand leads to a continuous increase in the production rate (R3, R4). The production rate is influenced by capital efficiency, which is determined by the capital- output ratio (R5). Furthermore, the18 The notation of "B"means the balancing loop indicating the process of negative feedback, while the notation of "R" means the reinforcing loop indicating the process of positive feedback. For more details see Sterman// 107 -
  • 118. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) capital-output ratio is determined by the investment flow, and the ratio will further influence an investment program. The higher the capital-output ratio, the bigger the pressure to reduce the investment program, leading to a decrease in investment flow (B3). Unmanageably high capital-output ratio may end with a crisis, as what occurred in 1997. An increase of the present level of production is determined by investment flow in the past. The delay effect of investment on production can create the current situation of under investment, coinciding with a high level of production coming from the previous investment. This was the situation of Indonesia after the 1997 economic crisis. A prolonged situation of current under investment will create an extendedly low level of production in the future (R4, B3). Consequently, the moment of increase in investment will coincide with a lack of production; thus, an increase of consumers preference to consume will be met by an increase in imported consumer goods (R3). The interconnection among investment financing, technological innovation, and economic competition is the process of managing efficiency and expected demand in the economy, which can produce a stable growth in the long run. Capital efficiency is determined by capital-output ratio and is influenced by technological innovation. The higher the capital-output ratio, the lower the capital efficiency, but the more intensive the technological innovation, the higher the capital efficiency. The intensity of technological innovation is determined by the amount of technology investment in an investment program. The larger the portion of technology. Investment in the rate for a high quality of product in the economy (R6, R7)19 . Production growth driven only by physical capital investment because of ignoring technology investment will be depressing due to a lower capital efficiency, while production19 In the detailed model structure, the indect link between technological technological innovation and consumption is bridged by: (i) consumption augmentation or preferences to consume for high quality of products; and (ii) an adjustment process which needs a two-year time delay to bring the innovative product accepted by the market. In the model equations, it is represented by CONSMAUGM = Consumption augmentation. For details, see Appendix. // 108 -
  • 119. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) growth driven by a balance of technology investment and physical capital investment will advance because of a stable high capital efficiency that will create a stable growth in the economy (B3, R6). The whole structure has the following generic behaviors, namely: (i) a strong economy with the power of investment financing. By focusing on physical capital investment, the feedback will create a weak economy due to low capital efficiency, which will then result in producing an unstable economic growth while facing the pressure of economic competition. (ii) a strong and healthy economy with the power of investment financing and the nutrition of technological innovation. By maintaining a balance between physical investment and technology investment, there will be multiple feedbacks producing stable and high capital efficiency, which will then result in producing a stable economic growth even under the pressure of economic competition. The key is technology investment initiated by the actors in the economy. And while this may be difficult, it should be activated quickly and immediately in Indonesia.4. Long term & Forecasting of Technology Investment The past trends of low technology investment have created the present situation of low technological capability as described in Section 2. How this happened may be seen from the model structure in Figure 2. The positive feedback between the economy and technology did not work well. The economic growth was driven less by technology investment, and building up technological capability was inspired less by economic efficiency and productivity. A small share of industrial R&D expenditure (around 30% of total R&D expenditure in 2005) was mostly dominated by less efficient publicly owned industries. The very small share of private R&D expenditure is due to the lack of research scientists and engineers working in R&D units and governments reluctance to provide incentives for innovation in private industries. The situation reflects a weak interconnection among business efficiency, R&D productivity,// 109 -
  • 120. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) efficacy of government policy, and quality R&D personnel produced by higher education. The possibilities of future technology investment in Indonesia are developed based on the following assumptions: (i) the positive feedback between economy and technology will work well where the gains resulting from economic growth are reinvested for cultivating technological capability, and where the technology investment will affect economic growth in the long run; (ii) industrys ignorance to innovate through R&D is shifting toward the industrys preference to invest in innovation for long term business survival; and (iii) the past wishful thinking for incentives will be a cost for the governments limited budget, which should be shifted toward positive thinking in the future, that is, incentives should be an investment to create future government income. The future technology investment in terms of R&D intensity can be reflected by R&D expenditure as a percentage of GDP. There are three possibilities of the future R&D intensity of Indonesia: (i) the optimistic scenario would occur under the development of competitive economic growth, where R&D intensity would reach 1.25% of GDP, with the share of industrial R&D expenditure reaching 65% in 2025; (ii) the normal scenario would occur under the maintenance of a defensive economic growth, where R&D intensity would reach 0.6% of GDP, with the share of industrial R&D expenditure reaching 50% in 2025; and (iii) the pessimistic scenario would occur under the trap of a moderate economic growth, where R&D intensity would be constant at 0.1% of GDP, with the share of industrial R&D expenditure standing still at 30% in 2025 (see Figure 3).4.1 Long term & forecasting of Economic Growth Simulation results indicate that whatever economic policies will be adopted by the Indonesian government to increase the economic growth under a prolonged situation of current under investment, a delay period is required to achieve a significant effect of investment flow to increase the level of production in the // 110 -
  • 121. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) economy. The economic growth would possibly stay at around at 5-6% in the coming five years. After that time, the economic growth would move in the following possibilities (see Figure 3). h scenario of developing a competitive economic growth would be promising if the pattern of economic growth is driven by a balance of technology investment and physical capital investment. The technology investment would show its effect on the formation of a strong and healthy economy with high growth in the next five years. Although economic growth would demonstrate a slight decrease toward the end of the 2020s, it would still be within normal growth rates. High economic growth (approximately 7-9%) would occur under a balance of production and consumption in the economy. This could happen because an increase in production will be followed by a rising added value induced by technological innovation, and an increase in labor productivity and income, which leads to an increase in consumption. A rising added value occurs not just through an improvement in the management and organization of a business based on learning and experiences, but is parallel to a significant increase in R&D expenditure, from approximately 0.1% of GDP in 2004 to 1.25% of GDP in 2025, with the share of industrial R&D expenditure reaching 65% in 2025. It is expected in the coming five years that a massively physical capital investment to improve the economic infrastructure would be in line with the acceleration of technology investment, especially R&D expenditure in the industrial sector. The key is to apply the rule of initial condition in a complex system. That is, an intensive technological innovation by the actors of the economy in the present.// 111 -
  • 122. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) Figure 3. Technology Investment and Economic Growth Scenarios in Indonesia The scenario of maintaining a defensive economic growth would likely happen if the pattern of economic growth is driven more by physical capital investment than technology investment. A massively physical capital investment to improve the economic infrastructure would be followed by moderate technology investment, especially R&D expenditure in the industrial sector. R&D intensity would rise from approximately 0.1% of GDP in 2004 to 0.5% of GDP in 2025, with the share of industrial R&D expenditure reaching 50% in 2025. A reasonably normal economic growth (approximately 5-7%) would create a sufficiently strong but healthy economy in the long run. Although economic growth would demonstrate a rapid decrease toward the end of the 2010s, it would still be within a manageable growth. It is because the economy still has the capacity to defend its stability by easing the pressure of economic fluctuation. This would possibly happen at the end of the 2010s. The scenario of being trapped in a moderate economic growth would be undesirable but plausible if the pattern of economic growth is driven only by physical capital investment and a disregard of technology investment. A massively physical capital investment to // 112 -
  • 123. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) improve the economic infrastructure would not be followed by technology investment, especially R&D expenditure in industrial sector. R&D intensity would be maintained at 0.1% of GDP and the share of industrial R&D expenditure would be upheld to 30% until 2025. A low level of capital efficiency would again occur in the long run, as a result of pushing physical capital investment with under investment in technological innovation. The unstably low economic growth (approximately 3-5%) would create a weak and moderate economic growth against the pressure of economic fluctuation. This would possibly happen at the end of the 2010s.5. Conclusion and Policy Implications5.1 Conclusion The dynamics of past technology investment in Indonesia was on a downward trend (going up slightly and steadily going down) in the direction of technological backwardness, far behind neighboring countries formerly on a comparable level, yet some of whom have now acquired relatively advanced technology. The model of economic dynamics through innovation reveals the importance of technology investment strategy and its influences on economic growth. This system dynamics model can be applied in the understanding of the behaviors of economic growth, technology investment, and consumption. The results of computer simulation have shown that: (i) economic growth can be achieved under conditions of technology investment while it can generally be attained under the condition of consumption growth; (ii) the fluctuation of economic growth can be stabilized by technology investment; (iii) the initial condition of technology investment determines the stability of economic growth; and (iv) constant growth of technology investment will maintain the stability of economic growth in the long run. Lastly, the paper concludes that technology investment in the private sector is important for a stable economic growth in the long run. More specifically, strengthening the R&D investment of the private sector is a robust strategy to help realize the goal of economic// 113 -
  • 124. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) development through technological innovation. Thus, the strategy of technology investment in Indonesia needs four simultaneous steps: socio-technical approach, coherent policy directions, supportive institutional set-up, and workable policy instruments.5.2 Policy Implications for the Indonesian Government As stated in section 4.1, the leverage of accelerating technology investment should tackle the interconnection among four components, namely, business efficiency, R&D productivity, the efficacy of government policy, and the quality of higher education. A robust technology investment strategy therefore might be required to obtain a synergy effect among the actors of technology investment: (i) innovative business enterprises should have strong R&D units and qualified RS&E supported by effective government innovation policies; (ii) credible national R&D institution should make inventions and innovations needed by business enterprises with the support of qualified RS&E and effective government innovation policies; (iii) universities should produce qualified graduates and advance the development of science, technology, and innovation in cooperation with business enterprises and national research institutions; and (iv) effective government policies should be implemented for the promotion of innovative business enterprises, credible national R&D institutions, and high quality universities. The strategy for effective government policy thus needs the following integrated actions: approach, framework, set-up, and instruments. Applying Socio-technical Approach The obstacles of technology investment seem to partly have a social dimension in Indonesia. Technology investment is important for a competitive economy in the long run; however, the mainstream of thought tends to disregard the technology investment in Indonesia20. A shift inthe mindset is needed by applying a socio-20 Some examples of obstacles are the following: business enterprises mostly tend to think technology can be bought so // 114 -
  • 125. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) technical approach through continuously advocating the following ways of thinking in Indonesian society. Strengthening business competitiveness supported by costly sophisticated marketing is important, but competing based on the value of advancement in innovation is more important. Productivity improvement by upgrading production inputs is important, but doing so through the process of technological learning and innovation is more important. Bearing in mind the cost of public support for S&T activities is an important consideration, but the public support for S&T activities should increase as an investment for long term development. Coherent Policy Directions Accelerating technology investment needs a policy direction to guide the mechanism of the interconnection among four components, namely, business efficiency, R&D productivity, the efficacy of government policy, and the quality of higher education. This interconnection should work coherently in seeking the goal of economic development through technological innovation, balanced with economic growth by capital investment. The Indonesian economy urgently needs to promote technological innovation, particularly in the private sector, by means of transforming public R&D results into commercial purpose and stimulating the indigenous R&D activities inside the firms of private sector. This policy direction should be substantiated by supportive institutional set-ups and workable policy instruments. Supportive Institutional Set-up Indonesia needs a supportive institutional set-up, that is, a set of rules in the game linking the academia and the business community. With these institutions, R&D policy and innovation policy may spur the production of knowledge and innovation containing socio-economic why take the risk of making the technology; the academic community mostly regards technology as not the main element but a residual factor in productivity improvement; and the government still regards government incentives for innovation financing as a cost that should have quick yields for the people, yet do not consider as an investment for long term benefits.// 115 -
  • 126. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa DepanDengan Analisis Skenario (Scenario Planning) relevance. The institutional settings should facilitate the cooperation among four components, namely, the business community, the R&D institutions, universities, and government policy. An institutional set-up accelerates the formation of intellectual capital, that is, the rules of cooperation between research universities and R&D institutions, as well as between research universities and the business community, in increasing the supply of doctoral degrees in science and engineering. An institutional set-up should also promote techno- entrepreneurship and university entrepreneurship, namely, the rules of engagement between R&D institutions and the business community, as well as between research universities and the business community, in increasing the socio-economic relevance of R&D and innovation activities. Institutional set-ups may bind up protocols to support the formation of intellectual capital, techno-entrepreneurship, and entrepreneurial university. It justifies government incentives for innovation financing as an investment for long term benefits, specifically, adjustments in regulations enforcing the inter- ministerial support of government incentives for innovation financing. Workable Policy Instruments The implementation of the aforementioned rules of the game in the real world needs a set of appropriate policy instruments. First, the government of Indonesia should increase the supply of doctoral degrees in science and engineering through the formation of doctoral research by joint programs between R&D institutions and research universities, and the formation of doctoral research programs sponsored by the business community. Second, it should also increase the socio-economic relevance of R&D and innovation activities through the formation of RS&E exchange programs between academia and the business community supported by government financial incentives. Third, it should enforce the binding directions for the formation of intellectual capital, techno- entrepreneurship, and university entrepreneurship through the establishment of an umbrella institution to support their // 116 -
  • 127. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning) interconnection21. Lastly, the government should provide the financial and tax incentives for innovation in the designated sectors to realize the countrys long range plans in the field of science, technology, and innovation.ReferencesAminullah, E. (2005), "The Needs for Adaptive Innovation Policy under Free Market Complexity: The Indonesian Experiences", Paper presented in Global Network for the Economics of Learning, Innovation & Competence Building Systems (Globelicsß Africa 2005), Tshwane University of Technology, South Africa.Aminullah, E. (2006), "Technology Investment Strategy for Stable Economic Growth", Paper presented in the 4th Globelics Conference, 4 7ß October, 2006, Trivandrum, India.Arthur, B.W. (1990), "Positive Feedback in the Economy", Scientific American, No. 262.Bar Yam,Y. (1997), Dynamics of Complex Systems, Cambridge, MA: Perseus.Beinhocker, E. D. (1997), "Strategy at the Edge of Chaos", The McKinsey Quarterly, No.1.Benedetto, L. and Poglia, E. (2002), "Research Policies in the Triple Helix: The Case of Switzerland", Paper presented in the Triple Helix Conference, Turin.Davis, M. (ed.) (2004), Toward a New Literacy of Cooperation in Business: Managing Dilemmas in the 21st Century, Institute for the Future, Technology Horizons Programs (Report SR 851ß A).ßGammeltoft, P. (2001), Embedded Flexible Collaboration and Development of Technological Capability: A Case Study of the Indonesian Electronics Industry, Ph.D. Dissertation, International Development Studies, Roskilde University.21 An example of an umbrella institution is the Malaysian Industry/Government Group for High Technology (MIGHT). See UNCTD (2003), pp. 43-47.// 117 -
  • 128. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Gammeltoft, P. and Aminullah, E. (2006) "The Indonesian Innovation System at a Crossroads",in Lundval, Bengt Åke,ß P. Intarakumnerd and Vang, J. (eds.) (2006), Asias Innovation in Transition, Aldershot, UK: Edward Elgar.Hakim, L. and Aminullah, E. (2006) "Towards Effective Innovation Policy in Indonesia", Paper presented in Asian Conference on Technology Transfer organized by APCTT, Korea.Indonesian Institute of Sciences (IIS) (2006), Indonesian S&T I n d i c a t o r s 2006, Jakarta: LIPI Press (in Indonesian).Keller, W. W. and Samuel, R. J. (2002), Innovation and Crisis in Asia, MIT Japan Program, Working Paper 02.03.Kim, C.K. (2003), Industrial Development Strategy for Indonesia: Lessons from Korean Experiences, Working Paper, UNß SFIR, Jakarta.Mani, S. (2002), Government, Innovation and Technology Policy: An International Comparative Analysis, Cheltenham UK: Edward Elgar.Okamoto, Y. and Sjoholm, F. (1999), "Protection and the Dynamics of Productivity Growth: The Case of Automotive Industries in Indonesia", Working Paper Series in Economics and Finance, No. 34.Okamoto, Y. and Sjoholm, F. (2001), "Technology Development in Indonesia", EIJS Working Paper No. 12.Pascale, R.T., Millemann, M. and Gioja, L. (2000), Surfing the Edge of Chaos: The Law of Nature and the New Laws of Business, New York: Three Rivers Press.Seong, S., Popper, S.W. and Zheng, K. (2005). Strategic Choices in Science and Technology: Korea in the Era of Rising China, Rands Centre for Asia Pacific Studies.Sigurdson, J. and Polanka, K. (2002), "Technological Governance in ASEAN: Failings in Technology Transfer and Domestic Research", Institutional Change in Southeast Asia, Stockholm School of Economics, Working Paper No.162. // 118 -
  • 129. Menerawang Pembangunan Wilayah di Masa Depan Dengan Analisis Skenario (Scenario Planning)Sterman, J. (2000), Business Dynamics: Systems Thinking and Modeling for a Complex World, Irwin/McGrawß Hill.Syarif, N. (1989), Technology Atlas: A Framework for Technology Development Based Development Planning, Vol. 6, Bangkok: UNESCAP.UNCTD (2003), Investment and Technology Policies for Competitiveness: Review of Success Countries Experiences, New York: UNCTD.// 119 -