Kajian Efektivitas Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan

28,683 views
28,466 views

Published on

Kajian Internal PKP2A III LAN Tahun 2009

2 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
28,683
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
2,132
Comments
2
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kajian Efektivitas Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan

  1. 1. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan207+xiv, 2009Perpustakaan Nasional RI: Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)ISBN 978-979-1176-26-2Dr. Meiliana, SE., MM (Peneliti Utama)Drs. Andi Taufik, M.Si (Peneliti)Said Fadhil, S.IP (Peneliti)Windra Mariani, SH (Peneliti)Andi Wahyudi, S.IP (Pembantu Peneliti)Fani Heru, SE (Pembantu Peneliti)Tri Noor Aziza, SP (Pembantu Peneliti)Betha Miranti Andalina, S.IP (Pembantu Peneliti)Rustan A, SP (Koordinator)Maria AP Sari, S.Sos. (Sekretariat)Lany Erinda Ramdhani, S.Sos (Sekretariat)Fajar Iswahyudi, SE (Sekretariat)Tri Wahyuni, SH (Sekretariat)Dewi Sartika, SE (Sekretariat)Diterbitkan Oleh :Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III (PKP2A III)LAN Samarinda UNDANG-UNDANG HAK CIPTA NO. 19 TAHUN 2002 Pasal 72 (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah). (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
  2. 2. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan KATA PENGANTAR Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang besar untukmengelola dan menggerakkan sumber daya yang ada dalam rangka mewujudkan visidaerahnya dan menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Ini merupakan implikasi dariditerapkannya otonomi yang ditumpukan kepada kabupaten/kota sejak tahun 2004.Dalam melaksanakan pembangunan daerah, UU No. 25 Tahun 2004 tentang SistemPerencanan Pembangunan Nasional dan PP No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, TataCara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana PembangunanDaerah telah memberikan dasar hukum dan acuan bagi daerah untuk mengelolasumber daya tersebut melalui perencanaan pembangunan daerah. Selain itu, PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota jugatelah memberikan batasan kewenangan kabupaten/kota dalam urusan perencanaandan pengendalian pembangunan daerah. Dalam pelaksanaan pembangunan daerah, tahapan perencanaan menjadisalah satu proses yang penting, karena hasil pembangunan yang baik senantiasadidahului oleh perencanaan yang baik pula. Kajian ini mengulas proses perencanaanpembangunan daerah yang difokuskan pada penyusunan RKPD Kabupaten di tujuhkabupaten di Kalimantan, yaitu Kabupaten Kutai Barat, Berau, Kotabaru,Kotawaringin Timur, Barito Timur, Sanggau dan Bengkayang. Dimana prosesperencanaan pembangunan tersebut dilihat dari aspek proses, substansi, danpartisipasi publik. Kemudian aspek dampak sebagai hasil dari implementasipembangunan akan dikaji secara khusus dalam kajian yang lain. Dengan terlaksananya kajian ini, kami mengucapkan terima kasih kepadasemua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung turut mendukungkegiatan ini, terutama kepada para Bupati dan Kepala Bappeda beserta seluruh stafKabupaten Kutai Barat, Berau, Kotabaru, Kotawaringin Timur, Barito Timur, Sanggaudan Bengkayang yang telah memberikan fasilitasi Pelaksanaan FGD (Focus GroupDisscusion) bagi Tim Peneliti dan juga atas kebaikan hati dan kerjasama yang baiksehingga kami bisa memperoleh akses data berkaitan dengan dokumen rencanapembangunan daerah. Juga terima kasih kepada seluruh SKPD di tujuh kabupatentersebut yang telah ikut berpartisipasi dan memberikan informasi yang bermanfaatkepada Tim Peneliti baik melalui forum FGD maupun interview secara langsung. i
  3. 3. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Akhirnya dengan selesainya kajian ini kami berharap bahwa hasil kajian inibisa memberikan manfaat bagi daerah dalam penyusunan perencanaanpembangunan yang menjadi lebih baik pada masa mendatang, dan juga bagi semuapihak yang memiliki perhatian terhadap isu-isu pembangunan. Terima kasih! Samarinda, Oktober 2009ii
  4. 4. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ................................................................................................................. iDAFTAR ISI ................................................................................................................................ iiiDAFTAR TABEL ........................................................................................................................ vDAFTAR GAMBAR ................................................................................................................... viiRINGKASAN EKSEKUTIF ..................................................................................................... viiiBAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah .............................................................................. 3 C. Kerangka Berpikir .................................................................................. 3 D. Tujuan ......................................................................................................... 5 E. Ruang Lingkup ......................................................................................... 5 F. Waktu dan Tahapan Penelitian .......................................................... 5BAB II KERANGKA KONSEPTUAL PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH .............................................................................................................. 7 A. Pengertian Perencanaan Pembangunan ....................................... 7 B. Kewenangan Kabupaten/Kota Dalam Perencanaan Pembangunan .......................................................................................... 11 C. Pendekatan Perencanaan Pembangunan ..................................... 16 D. Mekanisme Perencanaan Pembangunan Daerah ...................... 21 E. Efektivitas Perencanaan Pembangunan ........................................ 27BAB III PROSES PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI DAERAH ....................................................................................................... 33 A. Kabupaten Kutai Barat .......................................................................... 33 B. Kabupaten Berau .................................................................................... 47 C. Kabupaten Kotabaru ............................................................................. 61 D. Kabupaten Kotawaringin Timur ....................................................... 84 E. Kabupaten Barito Timur ...................................................................... 106 F. Kabupaten Sanggau ............................................................................... 127 G. Kabupaten Bengkayang ....................................................................... 155BAB IV EFEKTIFITAS PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI DAERAH ............................................................ 173 A. Proses Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah ............... 173 iii
  5. 5. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan B. Prioritas dalam Perencanaan Pembangunan Daerah .............. 175 C. Partisipasi Masyarakat dalam Proses Perencanaan Pembangunan Daerah .......................................................................... 181 D. Aturan Hukum Perencanaan Pembangunan Daerah ................ 184 E. Kendala dalam Proses Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah .......................................................................... 187 F. Sinkronisasi RKPD dengan RTRW ................................................... 190 G. Efektifitas Penyusunan Perencanaan Pembangunan 194 Daerah .........................................................................................................BAB V PENUTUP ........................................................................................................... 201 A. Kesimpulan ............................................................................................... 201 B. Saran ............................................................................................................ 202DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 204iv
  6. 6. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan DAFTAR TABELTabel 1.1 Lokus Kajian 5Tabel 2.1 Urusan Kabupaten/Kota dalam Bidang Perencanaan 13 PembangunanTabel 2.2 Alternatif Pendekatan Perencanaan 20Tabel 3.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Kabupaten Kutai Barat 34 Menurut Kecamatan Tahun 2007Tabel 3.2 Daftar Usulan Pembangunan Sarana/Prasarana Fisik dan 37 Non Fisik Hasil Musrenbang Kampung Barong Tongkok Tahun 2009Tabel 3.3 Jadwal Kegiatan Pokok Perencanaan Program dan 40 Penganggaran Daerah Kab. Kubar Tahun Anggaran 2010Tabel 3.4 Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Berau 48Tabel 3.5 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Berau 49 Tahun 1997-2007Tabel 3.6 Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Berau Atas 49 Dasar Harga Berlaku (PDRB-ADHB) Tahun 2004-2007Tabel 3.7 Penduduk Kabupaten Kotabaru 2004 63Tabel 3.8 Persentase Penduduk Usia Kerja Menurut Kegiatan Utama 64 Kabupaten KotabaruTabel 3.9 PDRB ADHB Kabupaten Kotabaru (Milyar Rp) 65Tabel 3.10 Pertumbuhan PDRB Kabupaten Kotabaru Per Sektor 65Tabel 3.11 Ringkasan Perkiraan Kerangka Makro Ekonomi Kabupaten 66 Kotabaru Tahun 2006-2010Tabel 3.12 Program dan Kegiatan Pembangunan Infrastruktur 79 Penunjang Pembangunan Kabupaten KotabaruTabel 3.13 Wilayah Administrasi Kabupaten Kotawaringin Timur 84Tabel 3.14 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Kabupaten Kotawaringin 85 Timur Tahun 2007Tabel 3.15 Luas wilayah dan Jumlah penduduk Kabupaten Bartim Tahun 106 2007Tabel 3.16 Kecamatan Dalam Wilayah Kabupaten Sanggau Tahun 2007 127Tabel 3.17 Pertumbuhan Pendapatan Regional dan Angka Perkapita 130 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Sanggau Tahun 2004 – 2006Tabel 3.18 Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Sanggau Tahun 146 2009 v
  7. 7. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanTabel 3.19 Contoh Matriks Program dan Kegiatan Rencana Kerja 151 Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau Tahun 2009Tabel 3.10 Kecamatan Dalam Wilayah Kabupaten Bengkayang 156Tabel 3.11 Batas Kemampuan (Kapasitas) Fiskal Pemerintah Kabupaten 163 BengkayangTabel 4.1 Perbandingan Program Prioritas Pembangunan Daerah 177Tabel 4.2 Isu-Isu Dalam Pembangunan Daerah 180Tabel 4.3 Aturan Hukum Daerah yang Berkaitan dengan Penyusunan 186 Perencanaan Pembangunan di DaerahTabel 4.4 Pencantuman PP No. 8 Tahun 2008 sebagai Konsideran dalam 187 Dokumen RKPD 2009vi
  8. 8. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan DAFTAR GAMBARGambar 1.1 Aspek Efektivitas Perencanaan Pembangunan 4Gambar 1.2 Tahapan Penelitian 6Gambar 2.1 Posisi Strategis Bappeda Dalam Penyusunan Perencanaan 12 Pembangunan DaerahGambar 2.2 Pola S shape dalam Penyusunan Perencanaan Pembangunan 26Gambar 3.1 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Kutai Barat Atas 36 Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007Gambar 3.2 Alur Pelaksanaan Musrenbang di Kabupaten Barito Timur 117Gambar 3.3 Agenda Program dan Kegiatan Penyusunan Perencanaan 134 Pembangunan Daerah Kabupaten Sanggau Tahun 2010Gambar 3.4 Alur Pikir Perencanaan Pembangunan Kabupaten 162 BengkayangGambar 4.1 Model Hubungan RTRW dengan RPJPD dan RJPMD 192Gambar 4.2 Model Hubungan Interaksi Pemerintah, Masyarakat dan 198 DPRD dalam Musrenbang vii
  9. 9. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan RINGKASAN EKSEKUTIF Keberhasilan pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan akanterlihat dari sejauh mana perubahan yang terjadi setelah program dan kegiatanpembangunan daerah tersebut diimplementasikan. Namun demikian, pembangunanyang baik juga didahului oleh proses perencanaan yang baik pula. Karenapembangunan merupakan serangkaian proses panjang yang dimulai dariperencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Perencanaan pembangunandaerah bisa dilihat dari 2 (dua) aspek yaitu aspek proses penyusunan rencanapembangunan dan aspek isi rencana pembangunan yang akan diimplementasikan(Moeljarto Tjokrowinoto, 1993). Dalam kajian ini, dua aspek tersebut di-breakdownlagi menjadi 4 (empat) aspek yaitu aspek proses, partisipasi, substansi, dan dampak. Aspek Proses, proses perencanaan pembangunan dilihat dari jadwalpenyusunan perencanaan, instansi yang terlibat dalam penyusunan perencanaan,alat koordinasi yang digunakan, serta tahapan-tahapan yang dilalui. Aspek Substansi,dilihat apakah perencanaan pembangunan sudah mempertimbangkan faktor-faktorseperti gender sensitive, conflict sensitive, prinsip pro poor, pro job, pro lingkungan,pro investment. Aspek Partisipasi Publik, dilihat sejauh mana peran masyarakatdilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan. Aspek Dampak, dilihat sejauhmana perubahan yang terjadi dalam rangka pencapaian target, tujuan dan sasaranpembangunan yang telah ditetapkan. Berkaitan tentang aspek dampak akan dikajisecara khusus dalam kajian lain, sehingga untuk kajian ini akan difokuskan padaaspek proses, partisipasi dan substansi penyusunan perencanaan pembangunandaerah, secara spesifik adalah RKPD Kabupaten. Penyusunan perencanaan pembangunan daerah telah diatur dengan UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan PP No. 8Tahun 2007 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan EvaluasiPelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Dalam skala daerah juga telahdiamanatkan oleh UU No. 25 Tahun 2004 pasal 27 ayat (2) bahwa tata carapenyusunan RPJP Daerah, RPJM Daerah, Renstra-SKPD, RKPD, Renja-SKPD danpelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Perda). Sehinggatiga peraturan perundangan tersebut menjadi landasan hukum dan acuan bagiproses perencanaan pembangunan daerah. Kewenangan kabupaten/kota dalam Perencanaan dan PengendalianPembangunan Daerah menurut PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian UrusanPemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, danviii
  10. 10. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanPemerintahan Daerah Kabupaten/Kota adalah (1) Perumusan Kebijakan; (2)Bimbingan, Konsultasi dan Koordinasi; dan (3) Monitoring dan Evaluasi (Monev).Kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Bappeda sebagai sebuah SKPD yangmemiliki posisi strategis dalam mengkoordinasikan proses perencanaanpembangunan daerah. Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan PerencanaanPembangunan Daerah sesuai dengan PP No. 8 Tahun 2008 adalah menggunakanpendekatan (1) Politik; (2) Teknokratik; (3) Partisipatif; (4) Atas-bawah (top down),dan (5) Bawah-atas (bottom up). Pendekatan politik tercermin dari dituangkannyavisi dan misi kepala daerah terpilih ke dalam dokumen RPJM Daerah, selanjutnyaRPJM Daerah tersebut merupakan acuan bagi penyusunan RKPD. Pendekatanteknokratik bisa dilakukan dengan pelibatan tenaga ahli atau konsultan dalam prosespenyusunan rencana pembangunan. Untuk itu, penggunaan naskah akademik bisadimungkinkan sebagai upaya untuk menghasilkan rencana pembangunan yangrelevan dengan kemampuan dan kebutuhan daerah. Pendekatan partisipatif danbawah atas (bottom up) tercermin proses penyerapan yang melibatkan masyarakatdan aparat pemerintahan di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan sehinggaperencanaan yang dihasilkan bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat ditingkat bawah. Sedangkan pendekatan atas bawah (top down) merupakan peran dariBappeda yang menyusun rancangan awal rencana pembangunan daerah. Dari 7 (tujuh) daerah sampel kajian berkaitan dengan penyusunan RKPDyaitu Kabupaten Kutai Barat, Berau, Kotabaru, Kotawaringin Timur, Barito Timur,Sanggau dan Bengkayang, ternyata hanya 2 daerah saja yang telah memiliki Perdatentang tata cara penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Yaitu KabupatenKotabaru yang telah memiliki Perda No. 14 Tahun 2005, dan Kabupaten Sanggau yangtelah memiliki Perda No. 5 Tahun 2008. Di Kabupaten Berau tata cara mengenaipenyusunan perencanaan pembangunan daerah justru dituangkan ke dalamPeraturan Bupati (Perbup), bukan Perda. Sedangkan daerah lain bahkan belummemiliki Perda tersebut. Dalam penyusunan RKPD, dari proses penyerapan aspirasi masyarakatmelalui forum Musrenbang yang dimulai sejak awal bulan Januari di tingkatdesa/kelurahan ternyata ada beberapa forum insiatif yang dilakukan daerah, yaitu:1. Adanya forum “Kumpul Warga” di lingkungan RT sebelum dilakukan Musrenbang Desa/Kelurahan (Kab. Kotim)2. Pertemuan atau diskusi instansi/SKPD serumpun sebelum Forum SKPD untuk mensinkronkan program kerja agar tidak terjadi overlapping (Kab. Kotim, Berau, Kotabaru) Di satu sisi inisiatif tersebut memiliki nilai positif bagi proses pelaksanaanperencanaan pembangunan daerah, yaitu pertama bisa mempermudah pelaksanaan
  11. 11. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanMusrenbang karena materi sudah dibahas dalam forum inisiatif tersebut. Dan keduabisa memberi kesempatan masyarakat yang tidak terlibat dalam MusrenbangDesa/Kelurahan untuk menyampaikan aspirasinya dalam forum Kumpul Warga.Namun di sisi lain menambah banyak kegiatan dalam proses perencanaanpembangunan daerah sehingga tidak efisien baik dari aspek waktu maupunanggaran. Dan menjadikan pelaksanaan Musrenbang hanya menjadi formalitaskarena sudah dibahas sebelumnya dalam forum-forum tersebut. Partisipasi masyarakat yang dilakukan melalui forum Musrenbang dalampenyusunan RKPD cukup baik terlihat dari kehadiran dalam Musrenbang. Namunusulan masyarakat dalam RKPD melalui Musrenbang lebih dominan usulan proyek-proyek fisik, sedikit sekali usulan yang sifatnya non fisik seperti pemberdayaanmasyarakat, pengembangan ekonomi dan sebagainya. Di sisi lain realisasi usulanmasyarakat dalam RKPD masih minim sehingga hal ini mengakibatkan apatisme danmenurunnya antusias masyarakat untuk mengikuti proses perencanaanpembangunan melalui forum Musrenbang pada masa berikutnya. Beberapa program prioritas yang secara umum menjadi perhatian utama disemua daerah dan tertuang dalam dokumen RKPD mencakup sektor pendidikan,kesehatan, perekonomian rakyat, infrastruktur dan tata kelola pemerintahan yangbaik. Kemudian dari program prioritas yang telah ditetapkan daerah bisadiklasifikasikan ke dalam kelompok isu-isu yang pro terhadap pertumbuhan,kemiskinan, ketenagakerjaan, lingkungan, investasi, gender sensitive serta conflictsensitive. Dari program dan pengklasifikasian isu tersebut terlihat bahwa fokus danprioritas pembangunan di masing-masing daerah juga beragam. Namun secaraumum isu pertumbuhan merupakan isu utama yang dijadikan prioritas di semuadaerah yaitu melalui program pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi,atau dengan sebutan ekonomi kerakyatan dan sejenisnya. Hal ini menunjukkanbahwa pembangunan daerah masih menganggap pertumbuhan sebagai prioritaspenting yang harus segera diwujudkan di daerah. Isu-isu yang berkaitan dengan pemberantasan kemiskinan, penangananpengangguran atau ketenagakerjaan serta lingkungan juga mendapat mendapatperhatian di sebagian besar daerah. Program dan kegiatan pembangunan yang propoor terlihat menjadi perhatian di Kabupaten Kubar, Berau, Kotabaru, Barito Timurdan Sanggau. Walaupun persoalan kemiskinan selama ini dipecahkan dari berbagaiaspek seperti aspek kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan sebagainya namundalam hal ini program dan kegiatan yang secara langsung dan eksplisit menjadiperhatian utama dan secara langsung tercermin dalam program pembangunan dibeberapa daerah tersebut. Program yang pro job juga terlihat di kabupaten Kubar,Berau, Kotabaru, Barito Timur dan Sanggau. Sedangkan program yang prox
  12. 12. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantanlingkungan terlihat di Kabupaten Kubar, Kotabaru, Barito Timur, Kotawaringin Timurdan Bengkayang. Persoalan lingkungan merupakan persoalan yang cukup menonjoldi wilayah Kalimantan, namun ternyata belum semua daerah menjadikan isutersebut sebagai prioritas dalam perencanaan pembangunan di daerahnya.Selanjutnya sebagai pendukung pertumbuhan daerah yaitu program-program yangpro investasi ternyata hanya terlihat secara eksplisit di Kabupaten Kotabaru, BaritoTimur dan Sanggau. Kemudian untuk isu-isu yang gender sensitive dan conflictsensitive hanya menjadi perhatian di sedikit daerah. Masih sedikit daerah yang menjadikan isu-isu tersebut sebagai mainstreamdalam perencanaan pembangunan daerah. Kabupaten Berau menjadi isu gendersebagai mainstream dalam perencanaan pembangunan daerahnya. Sehinggapembangunan yang dilakukan oleh berbagai sektor harus memperhatikan faktorkesetaraan gender. Kemudian Kabupaten Sanggau jauh lebih luas, yaitu dengandituangkannya enam prinsip pengarusutamaan sebagai landasan operasioanlpembangunan daerah, yaitu pengarusutamaan partisipasi masyarakat,pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan, pengarusutamaan gender,pengarusutamaan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance),pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antar wilayah dan percepatanpembangunan daerah tertinggal, dan pengarusutamaan desentralisasi dan otonomidaerah. Beberapa kendala terkait proses penyusunan RKPD yang terjadi adalah:1. Minimnya sosialisasi rencana penyusunan RKPD kepada masyarakat2. Masyarakat menjadi apatis dan enggan terlibat aktif dalam perencanaan pembangunan daerah karena usulan masyarakat seringkali tidak bisa direalisasikan akibat terjadinya pemotongan/pemangkasan berbagai usulan yang masuk.3. Terjadi perubahan/tambahan kegiatan yang sebelumnya tidak masuk dalam usulan SKPD.4. Tidak ada koordinasi dan sinkronisasi antara program yang dibiayai dana community development dari perusahaan dengan program yang dibiayai APBD (Kab. Kubar)5. Pelaksanaan proses perencanaan membutuhkan proses yang cukup panjang karena adanya tupoksi yang saling bersinggungan antar SKPD (Kab. Berau, Bengkayang)6. SKPD sering terlambat/tidak tepat waktu dalam menyampaikan Renja dan daftar prioritas kegiatan kepada Bappeda sebagai bahan Musrenbang Kabupaten7. Pelaksanaan forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten terlalu singkat sedangkan bahan yang harus dibahas cukup banyak xi
  13. 13. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan8. Besarnya usulan yang masuk seringkali lebih merupakan keinginan, bukan kebutuhan daerah. Sehingga harus dilakukan pemilahan dan skala prioritas terhadap usulan-usulan yang masuk9. RKPD yang telah ditetapkan, terkadang belum digunakan sebagai pedoman oleh SKPD dalam menyusun rencana kerjanya10.Banyak instansi yang berdasarkan hasil pemeriksaan Inspektorat yang dilakukan belum memiliki Renstra (Kab. Bengkayang)11.Belum disetujuinya RTRW Provinsi oleh Pemerintah Pusat sehingga penyusunan perencanaan pembangunan daerah menjadi terhambat (Kab. Kubar dan Berau) Dari hasil penggalian data di lapangan dan analisis disimpulkan bahwapenyusunan RKPD di beberapa daerah secara umum masih kurang efektif karenabeberapa alasan:1. Dari aspek proses. Alokasi waktu pelaksanaan Musrenbang sebagai bagian penting penyusunan RKPD sangat singkat, sedangkan agenda yang dibahas banyak sehingga Musrenbang yang dilakukan untuk menyerap aspirasi masyarakat cenderung hanya bersifat formalitas untuk memenuhi persyaratan formal perencanaan pembangunan. Selain itu aktor yang terlibat dalam tahapan proses perencanaan pembangunan sering berganti-ganti mulai dari awal hingga akhir, sehingga sering kurang memahami pembahasan isu dan substansi pada tahapan sebelumnya.2. Dari aspek partisipasi. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan melalui forum Musrenbang cukup tinggi tetapi usulan-usulan dari masyarakat sering tidak bisa diakomodir dan diimplementasikan dalam RKPD sehingga keterlibatan masyarakat hanya sebagai formalitas (benign neglect) bahwa proses perencanaan telah melibatkan masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat enggan dan apatis terhadap proses penyusunan rencana pembangunan untuk masa berikutnya.3. Dari aspek prioritas. Kegiatan-kegiatan yang diusulkan menjadi prioritas dalam rencana pembangunan mudah berubah dan bahkan bisa dipangkas pada tahapan/proses tingkat selanjutnya. Dan juga persepsi para aktor tentang prioritas usulan berbeda-beda sehingga prioritas menurut masyarakat bisa dianggap bukan prioritas oleh aktor yang lain.4. Dari aspek normatif (aturan hukum). Masih banyak daerah yang belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang tata cara penyusunan perencanaan pembangunan daerah sesuai amanat UU No. 25 Tahun 2004 Pasal 27 Ayat (2). Dari beberapa daerah sampel kajian hanya Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Sanggau yang telah memiliki Perda tersebut. Selain itu masih banyak daerah belum menggunakan PP No. 8 Tahun 2008 sebagai konsiderans dalam dokumenxii
  14. 14. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan RKPD, artinya belum menggunakan PP tersebut sebagai pedoman penyusunan RKPD, kecuali Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Sanggau. Padahal PP tersebut telah terbit sebelum dokumen RKPD di beberapa daerah disahkan. Fenomena ini menunjukkan masih minimnya sosialisasi peraturan perundangan mengenai perencanaan pembangunan daerah, serta kurang aktifnya para perencana pembangunan di daerah dalam mengupdate peraturan perundangan terkait. Selanjutnya disarankan beberapa hal yang harus dilakukan daerahberkaitan dengan proses penyusunan RKPD, yaitu:1. Alokasi waktu pelaksanaan penyusunan RKPD perlu diperpanjang, berkaitan dengan pelaksanaan Musrenbang perlu agenda yang jelas berisi a. Arahan Bupati b. Arahan DPRD c. Penyampaian aspirasi perwakilan masyarakat d. Pembahasan materi dengan melibatkan legislatif2. Aktor yang mengikuti penyusunan RKPD haruslah continues (tidak berganti- ganti) dan mengikuti proses perencanaan dari awal hingga akhir urutan kegiatan3. Dilakukan penyusunan Perda tentang tata cara penyusunan perencanaan pembangunan daerah bagi daerah yang belum memilikinya dan dilakukan sosialisasi PP No. 8 Tahun 20084. Perlunya sosialisasi rencana penyusunan RKPD melalui media disertai agenda kegiatan yang jelas agar masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut;5. Pemandu Musrenbang perlu lebih aktif dalam menstimulus peserta sehingga usulan yang masuk lebih luas dan komprehensif berdasar prioritas kebutuhan masyarakat, bukan hanya usulan proyek-proyek fisik yang berdasar keinginan semata;6. Transparansi dalam alokasi dana pembangunan yang dianggarkan untuk masing- masing SKPD, sehingga setiap SKPD bisa menyusun usulan program yang sesuai dengan kuota anggaran yang ada;7. Perlu adanya pelibatan Legislatif dalam proses penyusunan RKPD dari awal termasuk dalam Musrenbang untuk meningkatkan fungsi kontrol dan sekaligus mendapatkan dukungan penganggaran terhadap hasil perencanaan pembangunan daerah;8. Meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan forum-forum Rembug Warga serta program community development di luar forum resmi RKPD;9. Perlunya penyempurnaan instrumen perencanaan pembangunan di daerah, khususnya untuk meminimalisir munculnya kemungkinan pengaruh dari kepentingan-kepentingan pragmatis dan politis dalam penyusunan program pembangunan daerah. xiii
  15. 15. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan10.Kemudian saran bagi pemerintah pusat agar segera menyelesaikan pembahasan dan persetujuan RTRW Provinsi sehingga proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah tidak terhambat. Akhirnya diharapkan selalu ada perbaikan yang secara terus menerusdilakukan dalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah dengan melakukanberbagai kombinasi pendekatan yang ada. Proses tersebut diharapkan bisamengakomodasikan berbagai aspirasi masyarakat dan juga mewujudkan rencanapembangunan daerah (RKPD) yang relevan dengan kebutuhan dan kemampuandaerah dalam rangka mewujudkan visi daerah yang telah dirumuskan.xiv
  16. 16. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanBAB I PENDAHULUAN 1
  17. 17. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan2
  18. 18. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan 3
  19. 19. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan - Jadual - Instansi Proses - Alat koordinasi - Tahapan - Gender sensitive - Conflict sensitive Subtansi - Pro-poor Efektivitas - Pro-lingkungan perencanaan - Pro-investasi pembangunan - Dis-engagement Partisipasi - Benign neglect Output, outcome, Dampak impact, benefit Gambar 1.1. Aspek Efektivitas Perencanaan Pembangunan Pada kajian ini akan dilihat aspek proses, substansi dan partisipasi publik dalam perencanaan pembangunan daerah. Sedangkan terhadap dampak implementasi perencanaan pembangunan akan dilakukan dalam kajian yang lain. Menurut PP No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan- tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan pelaksanaan tugas dan fungsi perencanaan pembangunan berada di bawah tanggung jawab Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Maka Bappeda memilik peran yang strategis dalam penyusunan perencanaan pembangunan di daerah. Efektivitas proses penyusunan perencanaan pembangunan bisa dilihat dari sejauh mana proses penyusunan perencanaan pembangunan tersebut memenuhi kaidah normatif yang ada. Serta sejauh mana pencapaian visi, misi, target dan sasaran pembangunan bisa tercapai.4
  20. 20. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanD. Tujuan Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah, isu-isu yang dijadikan pertimbangan serta peran masyarakat dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah di wilayah Kalimantan. Selanjutnya bisa dihasilkan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan perencanaan pembangunan di daerah.E. Ruang Lingkup Kajian ini dilakukan dengan mengambil wilayah/lokus di daerah Kalimantan yang mencakup empat propinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Pengambilan sampel dalam kajian/penelitian ini menggunakan metode random, dengan sampel untuk masing-masing propinsi adalah sebagai berikut: Tabel 1.1. Lokus Kajian No Wilayah Sampel 1 Kalimantan Timur 1. Kabupaten Kutai Barat 2. Kabupaten Berau 2 Kalimantan Selatan 3. Kabupaten Kota Baru 3 Kalimantan Tengah 4. Kabupaten Kota Waringin Timur 5. Kabupaten Barito Timur 4 Kalimantan Barat 6. Kabupaten Sanggau 7. Kabupaten Bengkayang Penelitian ini lebih difokuskan pada proses penyusunan perencanaan pembangunan tahunan yaitu Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) kabupaten di Kalimantan. Sedangkan dampak dari implementasi rencana pembangunan tahunan tersebut perlu dilakukan kajian tersendiri pada masa mendatang setelah implementasi perencanaan dilakukan.F. Waktu dan Tahapan Penelitian Pelaksanaan kajian ini dilakukan selama satu tahun pada tahun 2009 dikonsentrasikan pada proses pembuatan perencanaan pembangunan di daerah, dengan tahapan sebagai berikut : a. Tahapan I : Persiapan penelitian yang meliputi penyusunan proposal penelitian yang meliputi penetapan lokus dan sampel penelitian, penyusunan instrumen penelitian (questionnaire), 5
  21. 21. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan penyempurnaan desain penelitian (research design), serta persiapan administratif lainnya seperti pembentukan dan konsolidasi tim, penyusunan rencana survei lapangan, dan sebagainya. b. Tahapan II : Kegiatan pengumpulan dan penggalian data-data di lapangan melalui kuesioner, wawancara dan pengumpulan data-data sekunder dari responden maupun dari sumber lain. c. Tahapan III : Kegiatan analisis dan interpretasi terhadap data-data yang diperoleh dari lapangan. Jika masih diperlukan dan memungkinkan, data aktual yang terolah perlu dilakukan klarifikasi ulang ke lokus penelitian untuk memperoleh akurasi informasi, sehingga analisis dapat dijamin lebih akurat. d. Tahapan IV : Penyusunan laporan awal hasil penelitian yang disertai rekomendasi bagi para pengambil kebijakan berkaitan dengan permasalahan dalam perencanaan pembangunan di daerah. e. Tahapan V : Presentasi publik terhadap hasil penelitian untuk mendapatkan input dari berbagai pihak baik aktor yang terlibat dalam perencanaan pembanguan daerah maupun ahli/pakar dibidang perencanaan pembangunan f. Tahapan VI : Penyusunan laporan akhir hasil penelitian tahun pertama. Tahapan-tahapan penelitian tersebut bisa digambarkan dalam diagram alir sebagai berikut : ANALISIS DAN PERSIAPAN PENGUMPULAN INTERPRETASI PENELITIAN DATA DATA PENYUSUNAN PENYUSUNAN LAPORAN PRESENTASI AKHIR PUBLIK LAPORAN AWAL Gambar 1.2. Tahapan Penelitian Laporan akhir penelitian tersebut akan diberikan kepada pihak-pihak yang berkompeten dalam proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan daerah, lembaga penelitian, serta daerah-daerah di Kalimantan terutama yang menjadi lokus dalam kajian ini. Selanjutnya laporan ini akan dijadikan bahan dalam melakukan penelitian pada tahun berikutnya.6
  22. 22. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanBAB III PROSES PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI DAERAH Dari praktek proses perencanaan pembangunan daerah yang dijadikandaerah sampel dalam kajian ini secara umum menunjukkan kemiripan proses sejakdimulai dari Musrenbang di tingkat yang paling bawah, yaitu MusrenbangDesa/Kelurahan hingga Musrenbang Kabupaten. Namun di beberapa daerahterdapat kegiatan lain yang merupakan inisiatif dari daerah yang bersangkutan.Inisiatif tersebut antara lain seperti pertemuan pra Forum SKPD yang dilakukan olehbeberapa instansi yang serumpun. Pertemuan ini dalam rangka koordinasi dansinkronisasi program kegiatan untuk mencegah terjadinya overlapping terhadapprogram kegiatan yang diusulkan oleh kecamatan maupun desa/kelurahan.Selengkapnya praktek proses perencanaan pembangunan di daerah akan diuraikandi bawah ini.A. Kabupaten Kutai Barat A.1. Gambaran Umum Kabupaten Kutai Barat Kabupaten Kutai barat dengan ibukota Sendawar merupakan pemekaran dari wilayah sebelumnya yaitu Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang nomor 47 Tahun 1999, dengan luas sekitar 31.628,70 km2. Secara geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113o 4849” sampai dengan 116o3243” Bujur Timur serta diantara 1o 3105” Lintang Utara dan 1o 0933” Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat adalah sebagai berikut: · Sebelah utara : Kabupaten Malinau dan Serawak · Sebelah timur : Kutai Kartanegara · Sebelah Selatan : Kabupaten Penajam Paser Utara · Sebelah Barat : Propinsi Kalimantan Tengah dan Propinsi Kalimantan Barat Dengan luas wilayah kurang lebih 15% dari luas propinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Kecamatan dan 223 Kampung. Daerah kabupaten Kutai Barat didominasi topografi bergelombang, dari kemiringan landai sampai curam dengan ketinggian 33
  23. 23. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan berkisar antara 0-1.500 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan antara 0-60 persen. Daerah dataran rendah pada umumnya dijumpai dikawasan danau dan kawasan sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai). Sedangkan daerah perbukitan dan pegunungan memiliki ketinggian rata- rata lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan 30% terdapat dibagian barat laut, yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Tabel 3.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kabupaten Kutai Barat Menurut Kecamatan Tahun 2007 Luas Jumlah Kepadatan No Kecamatan Wilayah Penduduk Ruta/ Pddk/K (Km2) Km2 m2 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Bongan 2.274,40 8.429 0,96 3,71 2 Jempang 654,40 10.290 5,19 15,72 3 Penyinggahan 271,90 3.874 4,02 14,25 4 Muara Pahu 496,68 8.715 4,32 17,55 5 Muara Lawa 444,50 5.652 3,04 12,72 6 Damai 1.750,43 8.838 1,33 5,05 7 Barong Tongkok 492,21 19.357 10,32 39,33 8 Melak 287,87 10.201 8,69 35,44 9 Long Iram 1.462,01 7.705 1,48 5,27 10 Long Hubung 530,90 8.294 3,57 15,62 11 Long Bagun 4.175,25 8.812 0,48 2,11 12 Long Pahangai 3.420,40 4.772 0,38 1,40 13 Long Apari 5.490,70 4.405 0,22 0,80 14 Bentian Besar 886,60 3.247 0,90 3,66 15 Linggang Bigung 699,30 14.109 5,65 20,18 16 Siluq Ngurai 2.015,58 5.146 0,68 2,55 17 Nyuatan 1.740,70 6.363 1,26 3,66 18 Sekolaq Darat 165,46 5.996 10,99 36,24 19 Manor Bulatn 867,70 8.432 2,75 9,72 20 Tering 1.804,16 9.857 1,45 5,46 21 Laham 1.697,75 2.420 0,33 1,43 Jumlah 31.628,70 164.914 1,40 5,21 Sumber: Kutai Barat Dalam Angka Tahun 2007 Secara spesifik wilayah berbukit dan bergunung dijumpai di bagian hulu Sungai Mahakam, terutama di Kecamatan Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Kondisi wilayah dengan topografi tersebut berpotensi menimbulkan bahaya alami berupa gerakan tanah baik dalam volume besar (longsor) ataupun volume kecil (tanah retak). Besar kecilnya volume gerakan tanah tersebut dipengaruhi oleh besarnya curah hujan, jenis tanah, serta besar kemiringan lereng. Berdasarkan peta bahaya lingkungan yang34
  24. 24. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantandikeluarkan oleh BAKOSURTANAL tahun 1999, sebagian besar KabupatenKutai Barat potensial terjadi bahaya longsor karena mempunyai jenis tanahdengan tekstur berlempung, curah hujan yang tinggi, dan kemiringan lerengyang besar. Kondisi morfologi yang khas dari Kabupaten Kutai Barat secaratidak langsung akan menghambat perkembangan kegiatan perkotaan. Haltersebut disebabkan karena adanya faktor penghambat alami berupakemiringan lereng yang menyebabkan luasan lahan untuk menampungkegiatan perkotaan menjadi berkurang. Untuk memecahkan keterisolasianwilayah yang disebabkan arena kondisi morfologi wilayah maka pemerintahKabupaten Kutai Barat membagi Kabupaten Kutai Barat menjadi 3 wilayahpembangunan yaitu Wilayah Pembangunan Hulu Riam, WilayahPembangunan Dataran Tinggi, dan Wilayah Pembangunan Dataran Rendah. Selain menimbulkan masalah, kondisi yang dimiliki oleh KutaiBarat juga membawa manfaat, yaitu Kutai Barat memiliki banyak obyekwisata baik yang telah berkembang maupun yang berpotensi untukdikembangkan. Adapun obyek yang sudah berkembang dan telah memilikisarana prasarana antar lain adalah wisata danau jempang yang menawarkankeindahan alam serta wisata budaya adat Datah Bilang (Long Hubung), yangmenawarkan berbagai upacara adat dan arsitektur rumah adat dayak. Jumlah penduduk Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2007mencapai 167.706 jiwa. Di mana Kecamatan yang memiliki jumlahpenduduk terbesar adalah Kecamatan Barong Tongkok yaitu sebesar19.960jiwa atau sekitar 11,90 persen dari total populasi penduduk Kutai Barat.Sedangkan Kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalahKecamatan Laham yaitu sebesar 2.420 jiwa (1,44 %). Dibandingkan dengandata penduduk Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2006 yang tercatatsebesar 164.914 jiwa, maka laju pertumbuhan penduduk Kabupaten KutaiBarat per tahun adalah sebesar 1.69 persen. Pembangunan Sumber Daya manusia Kutai Barat yang diukurdengan indikator Index Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2002menunjukkan angka 67.8 yang lebih rendah dari rata-rata IPM PropinsiKalimantan Timur yang mencapai 69.9. Hal yang sama terjadi pada indeksmelek huruf yang menunjukkan angka paling rendah dibanding KutaiKartanegara, Kutai Barat maupun rata-rata Propinsi Kalimantan Timur. Halini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia,masih merupakan masalah penting yang harus dihadapi oleh KabupatenKutai Barat. 35
  25. 25. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Struktur ekonomi Kabupaten Kutai Barat dapat dilihat melalui kontribusi sektor-sektor produksi yang membentuk nilai PDRBnya. Sepanjang tahun 2007, Sektor Pertambangan dan Penggalian masih menjadi sektor unggulan di Kabupaten Kutai Barat dikarenakan kontribusinya yang cukup besar. Ditahun 2007 Sektor Pertambangan dan Penggalian menyumbang 47,52 persen bagi nilai PDRB Kabupaten Kutai Barat. Sektor kedua yang dapat diandalkan adalah sektor Bangunan/konstruksi dengan kontribusi sebesar 19,13 persen. Sektor yang dapat diandalkan berikutnya adalah Sektor Pertanian dengan andil sebesar 18,48 persen. Namun jika dilihat lagi, dua dari tiga sektor yang diandalkan di Kabupaten Kutai Barat adalah sektor primer yang masih sangat tergantung dengan sumber daya alam yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat harus dapat mengembangkan sektor-sektor yang lain agar perekonomian di wilayahnya tidak bergantung pada kondisi alam yang ada. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Pertambangan dan Penggalian Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 Bangunan/Kost 18.48% 6.00% Pertanian 19.13% 3.27% Perdagangan, Hotel dan Restoran 2.03% Jasa-Jasa 1.85% Persewaan dan Jasa 1.53% Perusahaan Industri Pengolahan 0.18% Pengangkutan dan 3.57% Telekomunikasi Listrik, Gas dan Air Minum 47.52% Other Gambar 3.1. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Kutai Barat Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 Nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto per kapita merupakan ukuran rata-rata nilai tambah bruto yang diciptakan oleh masing-masing penduduk akibat adanya aktifitas ekonomi sedangkan Pendapatan per kapita merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh masing-masing penduduk sebagai keikutsertaannya dalam proses produksi. Pada tahun 2007 PDRB per kapita Kabupaten Kutai Barat mencapai 23,42 juta rupiah dan besarnya pendapatan regional per kapita Kabupaten Kutai Barat adalah 8,10 juta.36
  26. 26. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di KalimantanA.2. Proses Penyusunan RKPD di Kabupaten Kutai Barat Pada dasarnya penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kutai Barat sama dengan daerah lainnya, dimana perencanaan diawali dengan penyerapan aspirasi kebutuhan masyarakat melalui Musrenbang Desa. Di Kabupaten Kutai Barat, desa lebih dikenal dengan istilah kampung, yang terbagi ke dalam 21 kecamatan dengan jumlah 223 kampung. Pelaksanaan Musrenbang Kampung mundur dari jadwal kegiatan pokok perencanaan program dan penganggaran daerah Kabupaten Kutai Barat tahun 2010 yang sudah dibuat. Jika di jadwal Musrenbang Kampung seharusnya dilaksanakan pada bulan Januari 2009, namun pada pelaksanaannya bergeser menjadi Minggu I dan II Maret 2009. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan perencanaan masing-masing kampung adalah Ketua RT, tokoh masyarakat, kepala adat, BPK serta aparat kampung. Pelaksanaan Musrenbang Kampung ini dimoderasi oleh pihak kecamatan, dimana sebelumnya pihak kecamatan sudah mendapat pelatihan dari Bappeda Kutai Barat mengenai perencanaan partisipatif. Contoh daftar usulan perencanaan yang diajukan oleh salah satu kampung yang akan dibahas dalam Musrenbang Kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 3.2. Daftar Usulan Pembangunan Sarana/Prasarana Fisik dan Non Fisik Hasil Musrenbang Kampung Barong Tongkok Tahun 2009 No Usulan Proyek Fisik Skala Prioritas Lokasi Keterangan (1) (2) (3) (4) (5) 1. Pembuatan Parit Sepanjang Sangat Mendesak Jln Umum Dibangun Baru Jalan Gajah Mada Sampai RT IV Jalan Ahmad Yani 2. Kantor Kepala Kampung Jangka Menengah - Dibangun Baru Yang Baru 3. Pengusulan Mobil Pemadam Sangat Mendesak Wilayah RT Baru Kebakaran V 4. a. Parit sepanjang 1 Km Sangat Mendesak RT III Dibangun Baru b. Koperasi Simpan Pinjam Sangat Mendesak RT III Dibangun Baru c. Pendidikan Sangat Mendesak RT III Dibangun Baru 5. a. Pengadaan bak sampah Sangat Mendesak RT XV Dibangun Baru b. Tiga ruas jalan parit Sangat Mendesak RT XV Dibangun Baru c. Semenisasi tiga (3) ruas Sangat Mendesak RT XV Dibangun Baru jalan 6. a. Proyek air bersih Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru b. Parit jalan poros Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru c. Gorong/Jembatan Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru d. Pengaspalan jalan Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru Barong Tongkok-Asa e. Pembangunan jalan Lay - Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru Busur 37
  27. 27. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan f. Peningkatan badan jalan Sangat Mendesak RT VI Dibangun Baru Yos Sudarso 7. Pendirian gedung posyandu Sangat Mendesak RT X Dibangun Baru 8. a. Semenisasi gang Sangat Mendesak RT IV Dibangun Baru Melati/Kodim b. Semenisasi gang Sangat Mendesak RT IV Dibangun Baru Kapolres Sangat Mendesak RT IV Dibangun Baru c. Rehab parit simpang tiga belintut 9. Mengususlkan pembukaan Sangat Mendesak RT IX Dibangun Baru badan jalan lingkungan Sumber: Hasil Musrenbang Kampung Barong Tongkok Tahun 2009 Daftar usulan yang sudah dibuat dan telah disepakati dalam Musrenbang Kampung, kemudian dibawa ke Musrenbang Kecamatan untuk dibahas kembali. Musrenbang Kecamatan ini sendiri dilaksanakan pada Minggu ke III bulan Maret 2009, dimana Musrenbang Kecamatan ini difasilitasi oleh Bappeda Kabupaten Kutai Barat dengan mengerahkan 60 stafnya yang disebar pada 21 kecamatan. Karena besarnya rata-rata anggaran perencanaan yang diajukan oleh kampung, maka melalui Musrenbang Kecamatan ini dilakukan pemilihan program berdasarkan skala prioritas. Adapun hasil dari Musrenbang baik kampung maupun tingkat kecamatan sudah terdokumentasi dengan baik, seperti sudah adanya berita acara disetiap Musrenbang. Sesuai dengan visi yang dimiliki Kabupaten Kutai Barat, yaitu tercapainya Masyarakat Kutai Barat yang sejahtera, cerdas, sehat dan produktif berbasiskan ekonomi kerakyatan. Maka visi pembangunan jangka menengah ini lebih ditekankan pada upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Kutai Barat ke tingkat kehidupan yang lebih sejahtera dan lebih maju dibandingkan kondisi saat ini. Dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraan itu, Pemerintah Kutai Barat menegakkan tiga pilar pembangunan yaitu: pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan yang berbasis kampung, dimana pengembangan ekonomi kerakyatan disini berfungsi sebagai “motor penggerak” atau sebagai Leading Sector. Kandungan makna dari visi tersebut merupakan aktualisasi dan implementasi dari kondisi psikologis dan karakter masyarakat yang religius, mempunyai nilai tradisional dan kearifan lokal yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dengan semangat kegotongroyongan yang tinggi untuk dapat mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai visi diatas, maka Kabupaten Kutai Barat melakukan tujuh misi sebagai berikut:38
  28. 28. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan1. Meningkatkan mutu SDM: pendidikan, kesehatan, agama, kepastian hukum, pemuda, olah raga dan pemberdayaan peran perempuan;2. Mewujudkan sistem pemerintahan yang efektif, efisien, responsif dan bertanggung jawab;3. Memfasilitasi terciptanya pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat lokal dengan cara menciptakan iklim ekonomi yang kondusif dan pola kemitraan dalam mendukung pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasiskan kampung;4. Mewujudkan infrastruktur untuk mengatasi keterisolasian wilayah fisik dan komunikasi;5. Memfasilitasi pendirian dan operasional lembaga penelitian yang hasilnya digunakan untuk kepentingan pemerintah, pendidikan, ekonomi dan masyarakat;6. Mengembangkan hubungan antar-etnik yang harmonis dan kehidupan masyarakat yang damai dan kondusif;7. Pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berbasiskan kelestarian lingkungan untuk kepentingan ekonomi, pendidikan dan pariwisata. Visi dan misi diatas menjadi dasar dalam penyusunan RencanaPembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten (RPJMD) Kutai Barat,yang menjadi dasar bagi daerah untuk membuat Rencana Kerja PemerintahDaerah yang berisi tentang kondisi umum dan permasalahan daerah, visi,misi dan prioritas pembangunan daerah; kerangka ekonomi makro dasarserta arah kebijakan dan program pembangunan daerah yang akandilaksanakan selama setahun ke depan. Dalam PP Nomor 8 Tahun 2008 pada pasal 18 disebutkan bahwaMusrenbang RKPD dilaksanakan oleh Bappeda setiap tahun dalam rangkamembahas Rancangan RKPD tahun berikutnya. Sebagaimana yangdilakukan oleh daerah lainnya, rancangan RKPD ini biasanya dibahas dalamsuatu forum yang bernama forum SKPD, di Kabupaten Kutai Barat sendiriforum ini baru berjalan di tahun 2009. Sebelum tahun 2009, masing-masingSKPD membuat rencana kerja berdasarkan Restra SKPD, kemudian masing-masing rencana kerja SKPD tersebut diserahkan kepada Bapeda untukkemudian dipilah berdasarkan skala prioritas, sehingga sering terjadiketidakterpaduan rencana kerja antar SKPD. Belum terlaksanannya forumSKPD ini salah satunya dikarenakan belum adanya Peraturan Bupati KutaiBarat yang mengatur tentang Tata Cara Perencanaan Pembangunan Daerah.Melihat hal tersebut, maka pada tahun 2009 Bappeda mencoba untukmengadakan forum SKPD yang bertujuan untuk memadukan rancangan 39
  29. 29. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan kerja antar SKPD dan rancangan pembangunan kecamatan. Namun upaya ini belum berjalan maksimal. Saat dilakukan wawancara kebeberapa SKPD, mereka menilai bahwa pelaksanaan forum SKPD ini belum efektif, karena SKPD belum terlalu dilibatkan dalam penentuan program/kegiatan atau dengan kata lain peran Bappeda masih dominan dalam menentukan program/kegiatan yang masuk dalam skala prioritas. Ironisnya lagi masih ada salah satu SKPD yang belum tahu bahwa forum tersebut pada tahun ini (2009) sudah berjalan. Mungkin karena baru sekali melaksanakan, maka koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda Kutai Barat belum maksimal. Tabel 3.3. Jadwal Kegiatan Pokok Perencanaan Program dan Penganggaran Daerah Kab. Kutai Barat, Tahun Anggaran 2010 No Kegiatan Dokumen yang Dihasilkan Penanggung Waktu Pelaksanaan Jawab Pelaksana (1) (2) (3) (4) (5) (6) I PENYELENGGARAAN MUSRENBANG TAHUN 2009 UNTUK PENYUSUNAN RKPD TAHUN 2010 1 Musrenbang Kampung Tahun Dokumen Rencana Kerja Kampung Januari Minggu I Aparat Perangkat 2009 yang terdiri dari prioritas kegiatan dan II Kampung Kampung dan pembangunan skala kampung Maret Kecamatan 2 Musrenbang Kecamatan Daftar prioritas kegiatan Februari Minggu III Camat Kecamatan Tahun 2009 pembangunan di wilayah kecamatan Maret difasilitasi yang akan dibahas pada forum SKPD oleh Bappeda 3 Forum Satuan Kerja Perangkat 1. Rancangan Renja SKPD Februari Minggu IV Kepala Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2. Prioritas kegiatan yang sudah Maret Bappeda 2009 dipilah menurut sumber pendanaan 4 Penyusunan Rencana Kerja Renja SKPD Tahun 2009 Maret Minggu IV Kepala Satuan Kerja Perangkat Bappeda Daerah (Renja-SKPD) Tahun Kepala-Kepala 2009 Bidang, 5 Musrenbang 1. Penetapan arah kebijakan, Maret Minggu IV Kepala Sekretaris, Kabupaten/Penjaringan prioritas pembangunan dan Bappeda Kepala Sub aspirasi masyarakat Tahun plafon/pagu dana, baik Bidang dan 2009 berdasarkan fungsi/SKPD Kepala Sub 2. Daftar prioritas kegiatan yang Bagian sudah dipilah berdasarkan Bappeda sumber pembiayaan dari APBD Kabupaten; APBD Pripinsi; APBN dan sumber pendanaan lainnya 3. Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Kabupaten, Propinsi dan/atau Pusat II PASCAMUSRENBANG TAHUN 2009 Penyusunan Rencana Kerja RKPD Tahun 2010 Mei Minggu I- Kepala Kepala-Kepala Pemerintah Daerah (RKPD) IV Bappeda Bidang, Tahun 2010 Sekretaris, - Penyusunan Rancangan Kepala Sub Awal RKPD Tahun 2010 Bidang dan - Pemaduserasian Kepala Sub Rancangan RKPD Tahun Bagian 2010 Bappeda - Penyusunan Draft Final RKPD Tahun 2010 Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kutai Barat40
  30. 30. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Berdasarkan jadwal kegiatan perencanaan program danpenganggaran daerah Kabupaten Kutai Barat diatas maka dapat dilihatbahwa setelah dilakukan forum SKPD, proses perencanaan dilanjutkandengan Musrenbang Kabupaten, dimana dalam Musrenbang ini Bappedasebagai tim pelaksana mencoba kembali untuk menyatukan antara usulanSKPD dan usulan kecamatan. Hasil dari Musrenbang Kabupaten adalah (1)Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan dan plafon/pagu dana,baik berdasarkan fungsi/SKPD, (2) Daftar prioritas kegiatan yang sudahdipilah berdasarkan sumber pembiayaan dari APBD Kabupaten; APBDPripinsi; APBN dan sumber pendanaan lainnya dan, (3) Daftar usulankebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Kabupaten, Propinsi dan/atauPusat Dalam Musrenbang Kabupaten, keikutsertaan Dewan mulai terlibat,dimana biasanya dewan mengajukan usulan-usulan tambahan walaupuntidak begitu banyak. Sedangkan penyusunan draft final RKPD sendiri dilakukan pascaMusrenbang Kabupaten, tepatnya di minggu keempat bulan mei. Hal ini agakberbeda dengan daerah lainnya, dimana draft final RKPD sudah bisadihasilkan pada saat Musrenbang Kabupaten. Adapun yang melaksanakanfinalisasi draft RKPD Kabupaten Kutai Barat adalah Kepala-Kepala Bidang,Sekretaris, Kepala Sub Bidang dan Kepala Sub Bagian Bappeda Mengenai pos anggaran, Bapeda membuat prediksi anggarandengan melihat trend APBD yang didapat Kabupaten Kutai Barat padatahun-tahun sebelumnya. Estimasi anggaran tersebut didasarkan padaperkembangan pendanaan APBD selama tiga tahun terakhir yaitu tahun2005 – 2007 yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), DanaPerimbangan dan Sisa Perhitungan Anggaran. Perkembangan anggaran daritahun 2005 – 2007 menunjukan peningkatan rata-rata 12,92 %.Peningkatan terjadi pada Pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitumeningkat rata-rata 35,34 % meliputi pajak daerah dan bagian laba BUMDpendapatan lain-lain dan peningkatan juga terjadi pada Pos DanaPerimbangan selama periode tahun 2005 – 2007 sebesar 10,21 %. Proses penyusunan dokumen RKPD Tahun 2009 mengacu padaRKP dan alokasi pagu indikatif sesuai Surat Edaran Bersama Menteri NegaraPerencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri DalamNegeri Nomor : 0259/M.PPN/I/2005 dan 050/166/SJ tanggal 20 Januari2005 perihal Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2005.Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kutai Barat Tahun2009 disusun dengan sistematika sebagai berikut : 41
  31. 31. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Bab I. Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang Latar Belakang Dasar Hukum, Maksud dan Tujuan serta Proses dan Sistematika dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2009. Bab II. Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Bab ini menguraikan tentang Kondisi Ekonomi, Perkembangan PDRB Sektoral, Pertumbuhan Ekonomi, Struktur Ekonomi, PDRB Per Kapita dan Pendapatan Per Kapita serta Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi. Bab III. Prioritas Pembangunan Bab ini memuat Prioritas Program berdasarkan Isu-Isu Strategis. Bab IV. Rencana Kerja dan Pendanaan Bab ini menguraikan rencana kerja dan prioritas pembangunan yang dijabarkan pada masing-masing bidang pembangunan yang selanjutnya dijabarkan lagi dalam bentuk program, kegiatan, pagu indikatif serta instansi penanggung jawab (Matrik RKPD) dan estimasi pendanaan pembangunan APBD tahun 2009. Bab V. Kondisi Umum, Sasaran, Arah Kebijakan, Program Pembangunan Bab ini menguraikan Kondisi Umum, Sasaran, Arah Kebijakan, Program Pembangunan yang meliputi Bidang Sumberdaya Manusia, Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Bidang Ekonomi Kerakyatan dan Pertanian dalam arti luas, Bidang Umum Pemerintahan dan Bidang Penunjang lainnya yang menitik beratkan pada peran APBD Kabupaten Kutai Barat Tahun Anggaran 2009. Bab VI. Penutup Bab ini mengemukakan harapan-harapan atas keberadaan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2009. Agar dapat dijadikan acuan oleh Dinas/Badan/Lembaga/kantor/ Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam pelaksanaan berbagai rencana kegiatan pada tahun tersebut. Dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah, Kabupaten Kutai Barat melakukan penentuan prioritas yang merupakan suatu upaya untuk mendahulukan dan atau mengutamakan sesuatu yang dianggap lebih penting untuk dilakukan dibanding yang lain. Hal-hal yang42
  32. 32. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan perlu dipahami dan diperhatikan dalam menentukan kriteria prioritas, yaitu: · Adanya pemahaman terhadap situasi dan kondisi yang melandasi perlunya ditetapkan prioritas tersebut; · Kemampuan dalam merancang berbagai alternatif yang dapat dilakukan pada tahun anggaran yang bersangkutan; · Pengidentifikasian berbagai konsekuensi dari implikasi dari setiap alternatif yang akan dipilih; · Pembuatan keputusan tindakan terbaik untuk dilaksanakan pada tahun anggaran yang bersangkutan; Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kutai Barat tahun 2009 sebagai dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten untuk jangka waktu 1 tahun kedepan disusun dengan maksud untuk memperhatikan dan menyelaraskan berbagai aspirasi dari seluruh potensi pembangunan di Kabupaten Kutai Barat agar terjadi kesinambungan dalam perencanaan program, kegiatan dan anggaran serta pelaksanaannya menjadi sinergis, koordinatif dan melengkapi satu dengan lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak.A.3. Prioritas Perencanaan Pembangunan di Kabupaten Kutai Barat Berbagai permasalahan yang bersifat struktural sudah berlangsung dalam jangka lama, jauh sebelum terbentuknya Kabupaten Kutai Barat. Dengan demikian maka permasalahan tersebut memerlukan perhatian dan penanganan yang serius serta senantiasa mengupayakan perbaikan ke arah yang lebih baik secara bertahap, terencana, konsisten dan berkelanjutan, yang berorientasi ke pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kutai Barat. Isu-isu strategis dan permasalahan mendasar yang masih dihadapi oleh Kabupaten Kutai Barat yang selanjutnya merupakan perhatian utama dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2009 adalah: · Kualitas SDM yang relatif masih rendah sebagai dampak dari rendahnya derajat kesehatan dan pendidikan di Kutai Barat. · Terbatasnya pelayanan infrastruktur dan telekomunikasi seiring dengan terbatasnya infrastruktur jalan, jembatan, sarana dan prasarana perhubungan darat, sungai dan udara. · Terbatasnya Sarana dan Prasarana Dasar Sosial lainnya. · Terbatasnya Produk Unggulan Daerah yang Kompetitif. · Pembangunan Daerah Perbatasan dan Terpencil. · Pertumbuhan Penduduk dan Tenaga Kerja. 43
  33. 33. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan · Masalah Kemiskinan. · Penurunan Kualitas Lingkungan. Penetapan Prioritas Pembangunan Tahun Anggaran 2009, harus berdasarkan pada kondisi riil dan kebutuhannya yang nyata, isu-isu strategis yang berkembang di masyarakat, dan kecenderungan ke depan dengan mempertimbangkan kekuatan (strenght), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan tantangan (Threats) untuk mencapai target kinerja atau tingkat pelayanan yang akan dicapai pada tahun 2009. Prioritas utama pembangunan jangka menengah Kabupaten Kutai Barat adalah: 1. Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan. 2. Pembangunan Ekonomi Kerakyatan. 3. Pembangunan Infrastruktur. 4. Pembangunan Adat Budaya Lokal. 5. Pembangunan Pelestarian Lingkungan Hidup. Mengacu dan memperhatikan prioritas utama pembangunan jangka menengah, serta mengingat ketersediaan sumber daya yang terbatas, dan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya, juga dengan memperhatikan berbagai masalah dan tantangan yang ada dan masih akan dihadapi pada pelaksanaan pembangunan mendatang, maka prioritas pembangunan tahun anggaran 2009 sebagai berikut: 1. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia dengan titik berat pada peningkatan kualitas lembaga pendidikan, kesehatan dan pelayanan keagamaan. 2. Pengembangan dan Pemberdayaan Kelembagaan Pengelolaan SDM, Ekonomi Kerakyatan dan Infrastruktur. 3. Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Sosial Ekonomi Masyarakat Kampung. 4. Pembangunan dan pengembangan infrastruktur dalam rangka membuka dan meningkatkan akses daerah dari keterisolasian wilayah, pada kecamatan dan kampung, daerah perbatasan/pedalaman dan daerah terpencil serta daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. 5. Penanganan dan upaya-upaya lanjutan terhadap penanggulangan kemiskinan. 6. Pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pembangunan pertanian dan usaha bersama kampung (UBK).44
  34. 34. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan 7. Usaha-Usaha Produktif dan UKM (kerajinan, industri rumah tangga) sehingga mampu menghasilkan produk unggulan daerah yang kompetitif. 8. Perwujudan penyelenggaraan kepemerintahan daerah yang baik (Good Governance). 9. Peningkatan dan perbaikan kualitas lingkungan hidup terutama Sumber Daya Alam Tanah, Air (sungai, danau, dan mata air) cagar alam hutan dan lingkungan tambang. 10. Pengembangan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. 11. Pengembangan Seni Budaya dan Pariwisata. 12. Pengembangan hubungan antar etnik dan pemberdayaan adat budaya lokal.A.4. Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan RKPD di Kabupaten Kutai Barat Keberhasilan perencanaan pembangunan sangat bergantung kepada peranan pemerintah dan masyarakat dimana keduanya harus mampu menciptakan sinergi. Tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah tidak akan dapat mencapai perencanaan secara optimal Perencanaan pembangunan hanya akan menciptakan produk-produk baru yang kurang berarti bagi masyarakat karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat secara proporsional cukup baik, hal ini terlihat dari partipasi masyarakat dalam Musrenbang kampung, masyarakat antusias dalam menyampaikan kebutuhan yang akan dimasukkan dalam perencanaan kampung. Selain itu partisipasi masyarakat ini juga terlihat dari daftar hadir Musrenbang Kecamatan tahun 2009, salah satunya yaitu Kecamatan Barong Tongkok. Dari 21 kampung yang ada hanya 2 kampung yang tidak hadir. Dari masing-masing kampung ini diwakili oleh petinggi kampung, BPK serta kepala adat. Walaupun partisipasi masyarakat Kabupaten Kutai Barat dinilai sudah cukup baik, namun pemerintah tetap harus memberi perhatian terhadap keterlibatan masyarakat dengan cara memberikan informasi maupun data yang akurat kepada masyarakat, mengenai arah kebijakan dan prioritas pembangunan Kabupaten Kutai Barat. Selain itu masyarakat juga perlu dibina dan dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi serta merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, sehingga dalam proses Musrenbang kampung masyarakat dapat secara konseptual menyusun usulan program dan kegiatan. 45
  35. 35. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan A.5. Kendala-Kendala dalam Penyusunan RKPD di Kabupaten Kutai Barat Jika dilihat dari pelaksanaannya maka proses penyusunan perencanaan pembangunan daerah Kutai Barat dirasakan masih belum efektif. Hal ini dikarenakan beberapa hal, antara lain belum adanya Peraturan Daerah yang mengatur tentang tata cara perencanaan pembangunan tahunan daerah. Padahal dalam UU Nomor 25 Tahun 2004, pada pasal 27 ayat (2) sangat jelas disebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah, RPJM Daerah, Renstra-SKPD, RKPD, Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah. Peraturan Daerah ini harusnya dimiliki oleh Kabupaten Kutai Barat agar daerah memiki perencanaan yang terpadu, dimana mekanisme, prosedur dan tahapan perencanaan serta pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Tidak adanya payung hukum di Kutai Barat juga menyebabkan belum maksimalnya pelaksanaan Forum SKPD, padahal forum ini sudah ditetapkan dalam PP nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, namun baru dilaksanakan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Barat di tahun 2009, itu pun belum semua SKPD yang terlibat dalam forum tersebut. Selain itu, beberapa SKPD merasa masih adanya pengaruh politik dalam proses perencanaan daerah, dimana perencanaan yang sudah dibuat oleh masing-masing SKPD dan diserahkan kepada Bapeda, ada beberapa yang mengalami distorsi, padahal kegiatan tersebut tidak masuk dalam usulan SKPD. Akibatnya banyak program dan kegiatan pembangunan yang diusulkan oleh SKPD yang dibuat berdasarkan tinjauan akademik serta kebutuhan dimasyarakat pada akhirnya tidak dimasukkan kedalam perencanaan daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa ada pesan sponsor terhadap perencanaan yang telah dibuat. Kabupaten Kutai Barat merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam, ini berimplikasi terhadap banyaknya pihak swasta yang berinvestasi di daerah, misalnya seperti perusahaan batu bara dan kayu. Perusahaan ini biasanya memiliki dana community development, yang peruntukkannya adalah bagi pengembangan daerah sekitarnya. Keberadaan dana community development ini sedianya sangat diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sebagai penunjang tambahan bagi pembangunan di daerah, baik fisik maupun non fisik. Namun pada pelaksanaannya banyak perusahaan yang tidak mau menyampaikan peruntukan dana community development yang mereka miliki, bahkan setiap46
  36. 36. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan dilakukan perencanaan pembangunan, banyak dari mereka yang tidak hadir walaupun sudah berkali-kali diundang. Pengikut sertaan swasta dalam proses perencanaan ini sangat diharapkan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan pihak swasta. Selain itu jika pihak swasta mau duduk bersama pemerintah daerah dalam proses perencanaan, maka pemerintah dapat menginformasikan kepada pihak swasta apa saja yang dapat mereka sumbang dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.B. Kabupaten Berau B.1. Gambaran Umum Kabupaten Berau Kabupaten Berau berada di bagian utara Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah 34.127 Km2 yang meliputi luas daratan dan lautan . Letak daerah ini berada tidak jauh dari Garis Khatulistiwa dengan posisi berada antara 116° sampai dengan 119° Bujur Timur dan 1° sampai dengan 2°33 Lintang Utara. Keadaan topografi Kabupaten Berau bervariasi berdasarkan bentuk relief, kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan laut. Wilayah daratan tidak terlepas dari gugusan bukit dan perbukitan yang terhampar di seluruh wilayah kecamatan. Berbagai tipe hutan utama yang biasanya terdapat di Pulau Kalimantan, terdapat di Kabupaten Berau. Hutan bakau, hutan rawa dan rawa gambut dijumpai di sepanjang pesisir dan muara sungai Berau. Hutan dipterokarpa dataran rendah tersebar dan bercampur dengan hutan kerangas dan hutan kapur dataran rendah. Di atas ketinggian 1000 m dpl (diatas permukaan laut) hutan dipterokarpa digantikan oleh hutan pegunungan rendah dan pada puncak tertinggi gunung Mantan (2457 m dpl) terdapat hutan yang selalu diliputi awan. Pada tahun 2002 Kabupaten Berau terdiri atas 9 kecamatan dengan jumlah Desa sebanyak 91 Desa dan 7 kelurahan. Sedangkan pada tahun 2004 terjadi penambahan 2 kecamatan baru yang merupakan pemekaran dari kecamatan lama, yaitu Kecamatan Maratua dan Kecamatan Tubaan. Pada tahun 2005 terjadi lagi pemekaran 2 kecamatan yaitu Kecamatan Biatan dan Kecamatan Batu Putih. Sampai dengan tahun 2007 jumlah kecamatan di Kabupaten Berau sebanyak 13 kecamatan. 47
  37. 37. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Tabel 3.4. Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Berau 2 No Nama Kecamatan Luas Wilayah (km ) (1) (2) (3) 1. Kelay 6.134,60 2. Talisayan 1.798,00 3. Tabalar 2.373,45 4. Biduk-Biduk 3.002,99 5. Pulau Derawan 3.858,96 6. Maratua 4.118,80 7. Sambaliung 2.403,86 8. Tanjung Redeb 23,76 9. Gunung Tabur 1.987,02 10. Segah 5.166,40 11. Teluk Bayur 175,70 12. Batu Putih 1.651,42 13. Biatan 1.432,04 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Berau Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa proporsi luas wilayah kecamatan relatif tidak merata. Kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Tanjung Redeb sebesar ,07 % dari total luas kabupaten. Sedangkan kecamatan dengan persentase luas terbesar adalah Kecamatan Kelay sebesar 17,98 %. Hampir semua kecamatan tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat, sedangkan satu kecamatan yaitu Kecamatan Maratua hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air karena letaknya terpisah dengan pulau utama. Kecamatan dengan jarak terjauh dari ibu kota kabupaten adalah Kecamatan Biduk- Biduk. Sedangkan kecamatan dengan jarak terdekat dengan ibu kota kabupaten adalah Kecamatan Tanjung Redeb yang sekaligus sebagai ibu kota kabupaten. Penduduk Kabupaten Berau dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Jumlah penduduk pada tahun 2005 sebanyak 157.453 jiwa dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 160.399 jiwa. Pada Tahun 2007 jumlahnya menjadi 164.501 jiwa. Dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Berau maka dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2007 adalah sebesar 2,56 % dimana mengalami peningkatan dari 1,87 % pada tahun 2006. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan total yang meliputi pertumbuhan alami karena kelahiran dan kematian serta migrasi netto yang diperoleh dari pengurangan migrasi keluar dengan migrasi masuk ke Kabupaten Berau selama kurun waktu satu tahun.48
  38. 38. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan Tabel 3.5. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Berau Tahun 1997-2007 Tahun Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan (1) (2) (3) 1997 104.607 4,88 1998 107.188 2,47 1999 109.366 2,03 2000 118.096 7,98 2001 125.571 6,33 2002 131.059 4,37 2003 136.628 4,66 2004 146.451 6,85 2005 157.453 7,51 2006 160.399 1,87 2007 164.501 2,56 Sumber: Berau Dalam Angka Tahun 2008 Berdasarkan hasil penghitungan PDRB atas dasar nilai konstanperekonomian Kabupaten Berau sangat didominasi oleh sektor-sekorekonomi yang berbasis pada sumber daya alam (SDA), terutama dari sectorpertambangan dan penggalian. Dari total PDRB Kabupaten Berau, sekitar 40persennya berasal dari sector pertambangan dan penggalian. Diikuti olehsector pertanian sebesar 21,95 persen, industri pengolahan 13,73 persen;perdagangan, hotel dan restoran 12,59 persen; angkutan dan komunikasi6,93 persen; jasa-jasa 3,08 persen; bangunan 1,03 persen; keuangan,persewaan dan jasa 0,58 persen; serta sector listrik, gas dan air minumdengan kontribusi terkecil yaitu 0,12 persen. PDRB Kabupaten Beraudihitung atas dasar harga berlaku adalah sebagaimana table berikut ini: Tabel 3.6. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Berau Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB-ADHB) Tahun 2004-2007 Lapangan Tahun No Usaha 2004 2005 2006 2007 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Pertanian 705.730,77 755.099,63 792.838,06 831.888,03 2 Pertambangan dan 755.153,75 1.369.120,17 1.496.464,26 1.638.768,92 Penggalian 3 Industri 481.179,42 517.567,29 584.757,32 642.697,61 Pengolahan 4 Listrik dan Air 5.564,63 6.186,11 7.156,99 8.675,56 Bersih 49
  39. 39. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan 5 Bangunan 37.888,95 41.776,93 43.415,15 52.515,99 6 Perdagangan, 448.064,95 474.935,58 503.993,07 562.863,57 Hotel dan Restoran 7 Pengangkutan & 289.008,20 309.916,23 339,467,75 378.996,64 Komunikasi 8 Keuangan dan Jasa 22.179,00 23.796,68 25.878,10 28.596,48 Perusahaan 9 Jasa-Jasa 146.918,82 159.039,26 176.440,98 198.154,92 Jumlah PDRB 3.385.579,63 3.657.437,88 3.970.411,68 4.343.157,72 Sumber: BPS Kabupaten Berau 2007 Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Berau tahun 2007 dihitung berdasarkan harga konstan tahun dasar 2000 tumbuh sebesar 5,95% persen terjadi kenaikan dibanding pertumbuhan ekonomi ditahun 2006 sebesar 5,08 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 masih dibawah target sebesar 6,2% (target menurut KUA 2007). Belum tercapainya target disebabkan karena industri pengolahan terutama PT Kiani Kertas belum beroperasi secara optimal, adanya penurunan PDRB di sektor jasa-jasa, dan penurunan PDRB di sector pertanian sub sektor kehutanan. B.2. Proses Penyusunan RKPD di Kabupaten Berau Dalam penyelenggaraan pembangunan daerah, diperlukan adanya perencanaan pembangunan daerah yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan propinsi dan nasional yang dilaksanakan dalam koridor perencanaan pembangunan partisipatif. Dengan melihat pertimbangan tersebut maka Kabupaten Tanjung Redeb telah menghasilkan Peraturan Bupati Berau Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Cara Perencanaan Pembangunan Tahunan Daerah yang merupakan turunan dari Undang-Undang nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Bupati Berau Nomor 3 Tahun 2008 menguraikan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan pembangunan tahunan daerah yang terdiri dari : 1. Tata cara musyawarah perencanaan pembangunan tahunan ; 2. Tata cara pelaksanaan forum SKPD 3. Tata cara penyusunan renja SKPD ; 4. Tata cara evaluasi kinerja ; 5. Tata cara penyusunan RKPD ; 6. Tata cara penyusunan Kebijakan Umum APBD ; 7. Tata cara penyusunan Rancangan APBD ; 8. Tata cara penyusunan Perubahan APBD Tahun Berjalan ;50
  40. 40. Efektivitas Perencanaan Pembangunan Daerah di Kalimantan9. Jadwal dan bagan alur perencanaan pembangunan tahunan10. Formulir kelengkapan perencanaan pembangunan tahunan daerah. Kabupaten Berau mencoba membuat perencanaan dengan polabottom up, dimana Musrenbang Desa dan Musrenbang Kecamatanmerupakan cara pemerintah Kabupaten untuk menyerap aspirasimasyarakat dari bawah (bottom). Melalui Musrenbang Desa, masing-masingdesa membuat program kegiatan yang berdasarkan urutan prioritas denganmelihat kriterianya yaitu:a. Kegiatan yang berkaitan dengan RPJMb. Kegiatan darurat / kegiatan yang sangat diperlukan oleh masyarakat, walaupun diluar visi misi Bupati Minggu pertama Januari tahun 2008 BAPEDA mulai mengedarkansurat ke desa-desa yang ada di Kabupaten Berau sebagai himbauan untukmembuat perencanaan yang akan dibahas dalam Musrenbang Desa,sedangkan pelaksana Musrenbang Desanya sendiri dimulai minggu keduasampai dengan minggu keempat Januari 2008. Hasil dari Musrenbang Desadibawa ke Musrenbang Kecamatan yang dilaksanakan pada bulan Februari.Dalam Musrenbang Kecamatan dibahas dan disepakati hasil-hasilMusrenbang Desa serta ditetapkannya prioritas kegiatan pembangunan ditingkat kecamatan yang belum tercakup dalam prioritas kegiatanpembangunan desa. Selain itu dalam Musrenbang Kecamatan juga dilakukanklasifikasi atas prioritas kegiatan pembangunan kecamatan sesuai denganfungsi SKPD kabupaten. Musrenbang Kecamatan ini dikawal oleh Bapedasebagai narasumber, SKPD dan anggota anggota DPRD sesuai daerahpemilihan kecamatan masing-masing. Karena adanya perubahan organisasi dan struktur berdasarkan PPNo. 41 Tahun 2004, maka Kabupaten Berau mencoba menyikapi perubahantersebut dengan melakukan Pra Forum SKPD setelah MusrenbangKecamatan dan sebelum Forum SKPD. Pra Forum ini dimaksudkan untukmenghindari terjadinya over lapping perencanaan program kegiatan yangdibuat oleh masing-masing SKPD, selain itu pra forum SKPD ini dibuatsebagai upaya untuk memadu serasikan antara usulan kecamatan danrencana kerja tahunan daripada SKPD, serta mencari suatu kesepakatanbersama berkaitan prioritas pembangunan tahun 2010. Jika ada aduargumentasi mengenai prioritas program kegiatan antara SKPD, makaBapeda mencoba menjembatani perbedaan tersebut dengan tetapberpegangan pada RPJP, RPJM, serta isu-isu faktual. Dalam Pra Forum SKPD penyusunan perencanaan dibagi menjadi 3kategori kelompok pembahasan yaitu: bidang ekonomi, bidang sosial dan 51

×