Persamaan dan perbedaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai

  • 413 views
Uploaded on

Persamaan dan perbedaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai adalah sebuah artikel yang menjelaskan secara singkat perbedaan diantara ke tiga sekte tersebut tanpa ada niatan untuk menjelekkan …

Persamaan dan perbedaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai adalah sebuah artikel yang menjelaskan secara singkat perbedaan diantara ke tiga sekte tersebut tanpa ada niatan untuk menjelekkan dan hanya mengungkapkan fakta sebenar-benarnya.

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
413
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
1
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA NICHIREN SHU, NICHIREN SHOSHU DAN SOKA GAKKAI Oleh : YM.Bhiksu Shoryo Tarabini Perhimpunan Buddhis Nichiren Shu Indonesia Nichiren Shu Indonesia Buddhist Association website : www.pbnshi.or.id email: DPN@pbnshi.or.id
  • 2. Pertanyaan: Saya telah melaksanakan ajaran Nichiren Shonin selama 10 tahun terakhir di SGI. Saya sudah mendengar beberapa orang mempunyai pengalaman negatif dengan Soka Gakkai dan ingin mengetahui apa yang anda pikirkan tentang organisasi ini. Ini juga bukan karena keingintahuan yang asal saja atau motivasi yang bukan pada tempatnya, tetapi untuk mengetahui lebih dalam apa yang terjadi di dalam organisasi yang telah diperkenalkan kepada kami. Beberapa tahun lalu kita juga telah melihat sejumlah kejadian yang negatif, dan ini telah menjadi masalah untuk kita. Ini tidak selalu dapat dibicarakan, mungkin anda lebih mengetahui dari kami. Jadi tolong ceritakan saja, jika perlu, tanpa mengkhawatirkan akan membuat saya sedih ! Dan juga tolong jelaskan kepada saya perbedaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai. Saya harap saya tidak menyusahkan anda dan kamu tidak keberatan menerima email dari saya. Jawaban: Terima kasih atas email dan ketulusan pertanyaan anda. Sekarang, tentang Soka Gakkai…. Saya harus mengatakan ini secara jujur, tetapi saya ragu-ragu untuk menulis tentang itu dan hal ini menyebabkan keterlambatan saya untuk membalas email dari anda. Kita berdua beragama Buddha dan Agama Buddha tidak membicarakan kejelekan orang lain, terutama sesama pengikut Buddha. Maka dari itu untuk merespons pertanyaan anda, tolong biarkan saya untuk berbicara tentang Soka Gakkai dalam pemikiran secara Agama Buddha, sejarah dan penjelasan sutra. Walaupun saya mungkin mengambil pandangan sedikit kritikal dalam satu waktu, saya dengan tulus hati berharap kata-kata saya tidak hanya memuat kebenaran tetapi juga penghormatan. Dengan hati penuh hormat, tentang kebiasaan Soka Gakkai membabarkan ajaran Buddha, walaupun sebenarnya saya tidak selalu setuju dengan metode mereka atau gaya dari mereka yang penuh kesombongan, saya harus mengatakan bahwa alangkah baiknya jika mereka mengajarkan orang untuk membaca Saddharma Pundarika Sutra dan menyebut Odaimoku “Namu Myho Renge Kyo”. Mereka sangat tulus dalam hal ini, juga mereka belajar sangat banyak, ini juga merupakan hal yang positif. Apa yang menjadi penting untuk diingat adalah kamu telah bertemu dengan Saddharma Pundarika Sutra dan kamu memenuhi janjimu pada saat sekarang. Itu karena hubungan mu dengan Buddha (dipanggil “En” dalam istilah Buddha), pada waktu lampau kamu telah bertemu dengan Saddharma Pundarika Sutra dan pada hari ini juga. Untuk itu, kamu seharusnya berbahagia kepada siapa saja yang memperkenalkan Saddharma Pundarika Sutra dan mengajarkan ajaran Nichiren Shonin dalam kehidupan ini. Akan tetapi, walaupun mereka sering menggunakan cara pemikiran yang ekstrim untuk memperkenalkan kedamaian dan budaya, dan yang merupakan hal yang aneh dalam organisasi ini adalah memiliki toleransi yang rendah kepada agama yang lain, dan terutama kepada agama Buddha dari sekte lain. Seperti yang kamu tahu, hari ini musuh besar mereka adalah Bhiksu dari bekas induk organisasi, Nichiren Shoshu dan bekas kepala kuil Taisekiji. Dalam kenyataan mereka telah hidup dalam perang yang nyata dengan satu sama lain selama 12 tahun, sejak 1990. Ini secara nyata bertentangan dengan prinsip “Kesabaran Pengajaran dari Sang Buddha”. Walaupun Nichiren Shonin yang hidup pada abad pertengahan di Jepang adalah seorang yang tegas, dalam hidupnya yang penuh dengan tantangan, Beliau sendiri adalah seorang yang penuh dengan rasa toleransi dan kesabaran yang besar. Sang Buddha Sakyamuni mengajarkan kita untuk memiliki maitri karuna kepada sesama manusia, Apakah mereka itu agama Buddha atau bukan, tidak menjadi masalah. Beliau juga memberitahukan kita untuk memiliki keinginan yang harus kita capai dan menyelamatkan sesama mahluk hidup, tidak hanya memikirkan diri sendiri dan hanya memikirkan keinginan sendiri yang harus tercapai. Ini adalah tugas dari Bodhisattva, yang harus kita jalani. Janji Bodhisattva adalah untuk mencapai Keabadian, Jalan Buddha, dan pada waktu yang sama, berusaha untuk menyelamatkan orang lain dan membantu orang disekitar mereka yang membutuhkan pertolongan. Ini adalah tujuan utama dari ajaran Buddha.. Jika mereka tidak memiliki dasar hukum ini dalam hati mereka, dan mempunyai pengertian yang sebenarnya dari Buddhisme, maka apa yang dilakukan itu bukanlah ajaran Buddha yang sesungguhnya. Dalam Saddharma Pundarika Sutra, secara detail Sang Buddha Sakyamuni mengajarkan dalam Bab II, yang berhubungan dengan pembabaran Beliau yang sebelumnya, yaitu dalam kenyataan orang dari dua kendaraan Shomon dan Engaku (Sravaka dan Pratyekabuddha) tidak bisa mencapai Keabadian yang sempurna. Tetapi, dalam Bab II bagian Hoben, Buddha Sakyamuni mengungkapkan bahwa semua orang bisa masuk dalam Jalan Buddha. Dalam bab ini, terakhir Beliau juga memberi contoh dengan menggunakan perumpamaan yang gampang untuk dimengerti yang mengambarkan makna dari bab ini. Sebagai contoh Beliau membandingkan perbedaan dari Ajaran Buddha pada Bab V dengan awan tebal yang hujan bersamaan – walaupun seluruh tumbuh-tumbuhan itu berbeda Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 1
  • 3. dalam ukuran besar, sedang atau pohon kecil, atau semak-semak atau rumput, semuanya menerima hujan yang sama. Setiap orang bersama-sama menerima Buddha, semua orang dapat mencapai Kesempurnaan, seperti hujan yang jatuh bersamaan. Dalam diri setiap orang akan mencapai hal itu dan ini merupakan keinginan atau harapan dari Buddha untuk kita semuanya. Selanjutkan kita dapat melihat pada contoh berikut ini tentang kebajikan Sang Buddha yang sempurna walau bertemu dengan orang yang membenci dia, orang yang mencoba menghancurkan ajarannya dan membunuhnya. Kita dapat membaca dalam Bab XII, Bab Devadatta dari Saddharma Pundarika Sutra, dalam bab ini Sang Buddha Sakyamuni meramalkan bahwa Devadatta mencapai Kesadaran Buddha. Dalam Bab II, disana ada 500 Bhiksu sombong yang berjalan keluar dan tidak mau mendengarkan Buddha Sakyamuni, tetapi Buddha membabarkan bahwa mereka juga menjadi para Buddha. Ini adalah Jiwa Buddha yang sesungguhnya dari semua pembabarannya dan ini juga menunjukkan kesempurnaan dari Saddharma Pundarika Sutra. Sifat-sifat ini juga dimiliki oleh Nichiren Shonin. Jika kita bilang, kita percaya, belajar dan melaksanakan Saddharma Pundarika Sutra, lalu bagaimana dengan SGI yang melakukan perang selama 12 tahun dengan Bhiksu Tertinggi Taisekiji dan para pengikutnya dari sekte asal SGI itu sendiri. Begitu juga sikap mereka terhadap agama Buddha lainnya atau kelompok yang berbeda dengan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki anti sosial yang tinggi dan sikap penghancuran. Sesuatu yang dunia ini tidak bisa kita terima. Ini lebih ektrim, tetapi saya akan mencoba memberi kamu contoh yang lain - Patung Buddha yang luar biasa dari Bamiyan - Afganistan. Patung ini diperkirakan sudah diukir di gunung batu antara abad ke 4 atau 3 A.D. dan terletak di Daerah Bamiyan, 230 km barat laut dari Kota Kabul di Afganistan. Sejak saya mengunjungi Mumbai, India tahun lalu, saya mendengar bahwa Taliban mengancam akan menghancurkan mereka. Saya sangat terkejut dan bingung bahwa mereka berpikir untuk melakukan hal yang jahat. Setelah saya meninggalkan India, mereka tetap memaksakan janji mereka dan menghancurkan patung Buddha tersebut, yang mana sudah berdiri di sana sejak dulu. Saya sangat marah saat mendengar berita sedih itu, tetapi saya tahu di dalam hati kecil saya dan walaupun saya tidak tahu banyak mengenai Taliban saat itu, saya mengatakan pada kongres di Jepang dan Itali, “Tolong jaga…. Taliban sekarang akan jatuh karena kejahatan mereka. Ini permulaan dari kehancuran mereka.” Sebagai bukti, sekarang kita melihat dalam berita tahun lalu, sejak mereka menghancurkan patung Buddha yang suci, mereka memang akhirnya jatuh, akan tetapi waktu, mereka menghancurkan patung tersebut, saya juga mengatakan kepada pengikut dalam kongres, “Jangan membenci orang-orang Taliban. Mereka akan jatuh, mereka akan mengalami kehancuran– sehubungan dengan tindakan mereka sendiri. Terutama karena penindasan dan hal lain yang mereka lakukan kepada orang mereka sendiri seperti tindakan menghancurkan patung Buddha yang suci. Akan tetapi, dalam penghancuran patung suci ini yang sudah berdiri dan menjaga orang Afganistan untuk waktu yang lama, kita harus juga menyadari bahwa sama seperti Devadatta yang mencoba membunuh Buddha, 3000 tahun yang lalu, orang-orang Taliban yang terlibat dalam tindakan penghancuran tersebut terlihat juga mempunyai kemauan yang sangat besar untuk menghancurkan Patung Buddha. Dan, konsekuensi, walaupun mereka jatuh ke dalam neraka, mereka tetap bisa diselamatkan, bebas dari penyiksaan dan pada waktunya mereka akan menjadi Buddha. Ini adalah sebuah pemahaman yang luar biasa dari ajaran Buddha dalam Saddharma Pundarika Sutra untuk menyelamatkan orang yang melukai kita atau yang mencoba menghancurkan kita.” Tidak ada kebencian di dalam Buddhism, atau di dalam ajaran atau pengajaran tradisional yang lain untuk memandang rendah orang lain. Dalam ajaran Buddhism hanya ada keinginan yang sangat besar untuk menghilangkan kesengsaraan dari segala tindakan dan memimpin mereka untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya dalam Jalan Buddha. Bahkan para iblis dan setan sekalipun, jika mereka mengubah dan mengikuti Buddha dan akan berubah menjadi dewa pelindung. Dalam contoh ada beberapa iblis dan setan seperti Kishimonjin dan Jurasetsunyo dalam Mandala Gohonzon kamu. Yang terpenting adalah berusaha membuat diri sendiri mencapai jalan suci dan tidak pernah kehilangan rasa kemanusiaan, perasaan dan penghormatan kepada orang lain. Hanya kepercayaan yang tulus dan pengorbanan untuk belajar dan pelaksanaan ajaran Buddha bisa mengembangkan kesempurnaan. Ini adalah kehidupan seorang Buddhis. Ini juga Kehidupan abadi. Saya akan menjelaskan beberapa persamaan fundamental dan perbedaan antara: 1) Nichiren Shu (dan paling dasar dari sekte Nichiren), 2) Nichiren Shoshu, dan 3) Soka Gakkai. Dalam sebuah email yang sederhana ini, saya tidak bisa menjelaskan semua persamaan dan perbedaan. Saya hanya akan menunjukkan point-point tertentu saja, bahwa mereka semua pengikut Saddharma Pundarika Sutra, membaca sutra ini dan menyebut Odaimoku “Namu Myoho Renge Kyo”. Lebih lanjut mari kita semua membaca tulisan Nichiren Shonin yang suci (disebut Gosho Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 2
  • 4. atau Goibun). Dalam Nichiren Buddhisme, ada beberapa point dan garis penting dari sekte yang mana menunjukan keaslian sekte yang dibangun oleh 6 murid paling senior dari Nichiren Shonin. Dalam Nichiren Buddhisme, ada 2 dasar aliran yaitu: “Itchi” dan “Shoretsu” garis keturunan. Dari sini, sub aliran yang lain dan gerakan, berkembang dan membuat sekte sendiri seperti Happon-ha (8 edisi garis keturunan), Fuju Fuse dan yang lainnya. Akan tetapi saya tidak akan membahas sekte itu ataupun gerakan itu sekarang. Dalam keterangan, garis keturunan “Itchi” membaca, belajar dan menyebarkan Saddharma Pundarika Sutra dengan penekanan yang spesial pada Bab ke 2 dan Bab ke 16, tetapi untuk semua Bab memang diajarkan juga dalam pembabaran. Dalam kasus garis keturunan “Shoretsu”, mereka menaruh kepercayaan dalam Bab ke 2 dan Bab ke 16, mereka hanya membaca dan mengutamakan belajar Bab ini. Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai mempunyai kemiripan, karena mereka berasal dari dasar yang sama, dimana untuk pemahaman dan pelaksanaan diambil dari pengamatan keadaan jiwa Nichiren Shonin, ajaran ini dibangun oleh Taisekiji. Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai (dikenal juga dengan SGI) adalah berasal dari garis keturunan “Shoretsu”. Di antara bermacam-macam sekte “Shoretsu”, terdapat beberapa aliran lanjutan. Taisekiji yang merupakan pusat dari sekte Nichiren Shoshu berdasarkan dari garis keturunan satu dari pengikut utama Nichiren Shonin, Nikko Shonin. Keaslian kelompok dari Nikko berdasarkan kuil dan pengikut (muridnya) (disebut “Fuji Monryu” atau garis keturunan Fuji), akan tetapi itu agak kurang tepat jika dikatakan bahwa hanya Taisekiji saja yang berasal dari garis keturunan ini. Karena tidak semua kuil dan murid dari Nikko Shonin merupakan bagian dari Nichiren Shoshu. Beberapa diantara mereka adalah bagian dari Nichiren Shu, beberapa adalah bagian dari sekte lain, dan beberapa pada hari ini menjadi sekte sendiri Kuil Nikko Shonin, yang menjadi sejarah pendirian atau tiang utama dari Kuil Taisekiji, Nichiren Shoshu, Shoshin Kai dan Soka Gakkai, semua murid Nikko Shonin dan pengikutnya percaya kepada Buddha Sakyamuni yang merupakan figure utama dari Buddhisme. Namun sekarang mereka semua yang merupakan turunan dari Nikko Shonin yang berada di Taisekiji tidak lagi menganggap Sang Buddha Sakyamuni sebagai guru utama dalam Buddhisme, dan mereka hanya mengakui satu kebenaran dari garis keturunan ini adalah Nichiren Shonin. Perubahan yang tradisional ini menjadi masalah..Walaupun tidak ada yang menyangkal penghormatan yang besar dan pemujaan terhadap Nichiren Shonin, tetapi perubahan ini jelas sekali langsung menantang apa yang diajarkan Nichiren Shonin. Nichiren Shonin mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk membawa dunia Buddhisme dari Kamakura, Jepang kembali ke ajaran yang sesungguhnya. Beliau melakukan kritikan yang tajam pada ajaran tanah suci, karena mereka tidak menganggap Buddha Sakyamuni dan mengantikan dia dengan Buddha Amida sebagai objek pemujaan. Nichiren Shonin menghabiskan seluruh hidupnya mencoba menyakinkan seluruh sekte Buddhisme dan orang-orang Jepang pada jamannya untuk kembali ke dasar dan kembali ke jiwa Buddha Sakyamuni dan ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Karena terjadi pengantian objek pemujaan dari Buddha Sakyamuni kepada Nichiren Shonin adalah bertentangan dengan apa yang Nichiren Shonin ajarkan dalam seluruh hidupnya, mempertaruhkan jiwanya untuk menghadapi hukuman dan pengasingan, kelaparan dan beberapa rintangan dalam hidupnya. Dalam Nichiren Shu, melaksanakan dan belajar Saddhama Pundarika Sutra merupakan jiwa dari sekte ini. Tetapi sekte ini juga belajar semua pembabaran dari Nichiren Shonin dari tulisan- tulisan yang ditinggalkan. Tulisan Nichiren Shonin, disebut Goibun atau Gosho, mengajarkan kita bagaimana mencapai dan menjaga Jiwa kita yang sejati yaitu Jiwa Buddha. Goibon atau Gosho ini juga membimbing kita agar kembali pada tujuan utama dan pelaksanaan utama yaitu Buddha Sakyamuni Yang Abadi dan Kesungguhan Hati Buddha untuk membabarkan tentang KeabadianNya dalam Saddharma Pundarika Sutra. Pelaksanaan dan pemikiran dari Nichiren Shonin adalah meletakkan dasar yang sesungguhnya dari Buddha Sakyamuni, ajaran ini kemudian dibawa ke Taisekiji pada tahun 1400 melalui Bhiksu Tertinggi ke-9, Nichiu Shonin (1409 – 1482). Akan tetapi pada kelanjutannya terjadi perubahan yang mendasar dan berlainan dari apa yang diajarkan semula dan semakin diperjelas oleh Bhiksu Tertinggi ke 26, Nichikan Shonin (1665 – 1726). Pemikiran yang asli pada mulanya telah berubah sehingga sekarang Taisekiji berdiri sendiri terpisah dari akar yang semula mendirikannya. Kuil pendiri Taisekiji disebut Kuil Nishiyama Honmonji didirikan oleh murid Nikko Shonin, Nichidai Shonin (1294 – 1394) masih menggunakan pemikiran yang lama dan hal ini berbeda dengan Taisekiji Pada waktu Taisekiji mengadopsi ajaran Nichiren Shonin yang telah dirubah, maka Kuil-kuil Nikko Shonin yang lainnya merasakan bahwa Taisekiji telah tersesat dan membuat ajaran sendiri, dimana Nichiren Shonin diletakkan sebagai Buddha. Hal ini berbeda sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Nikko Shonin sendiri atau oleh Nichiren Shonin. Pemahaman Taisekiji yang baru ini diikuti oleh membuat sistem yang ortodok yang mengatakan bahwa Kuil Taisekiji merupakan Kuil yang memelihara ajaran yang sebenarnya dari Nichiren Shonin. Bukanlah hal yang luar biasa jika diantara kuil-kuil Nichiren Shonin, mengatakan bahwa kuil mereka yang terbaik. Akan tetapi dalam Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 3
  • 5. kasus Taisekiji, hal ini berbeda mereka membuat doktrin baru dari prinsip “Kechimyaku” atau ‘Hubungan Darah Kejiwaan’. Doktrin baru ini, menghendaki hanya Kuil Taisekiji dan Bhiksu tertinggi yang bisa memiliki kemampuan mengajarkan ajaran Nichiren Shonin. Semua kuil yang tidak mengabungkan diri dengan Taisekiji akan disebut aliran Hobo. Lebih lanjut untuk menyakinkan yang lain bahwa apa yang mereka katakan itu benar, mereka menciptakan 2 tulisan baru tentang Nichiren Shonin yang mana belum pernah sekalipun ditulis oleh Nikko Shonin atau Nichiro Shonin (2 orang murid dari 6 murid utama) maupun oleh Nichijo Shonin yang memiliki, dokumen, katalog dan cerita tentang tulisan Nichiren Shonin. Kedua tulisan baru ini disebut Minobu dan Ikegami, ditransfer dari dokumen yang mana isinya berlawanan dengan petunjuk Nichiren Shonin yang diberikan pada ke-6 murid utama (Nissho, Nichiro, Nikko, Niko, Nitcho dan Nichiji) dan Keinginan terakhir dari Beliau agar ke-6 muridnya dapat bekerja sama dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk memelihara Nichiren Buddhisme dan menyebarkan ajaran gurunya. Puncak dari segala perubahan yang dilakukan Taisekiji adalah “Dai Gohonzon” yang mana Taisekiji mengklaim semua Mandala Gohonzon (objek dari pemujaan dan pengajaran serta Mandala yang diciptakan oleh Nichiren Shonin), bahwa jika itu tidak berasal dari Taisekiji atau kuil yang bekerja sama dengan Taisekiji, tidak akan memiliki jiwa Buddha dan tidak memiliki kekuatan. Selanjutnya dalam doktrin baru ini menginginkan hanya melalui Kuil, Bhiksu atau Gohonzon langsung dari Taisekji yang mempunyai kekuatan untuk mencapai Kesadaran Buddha. Konsep Gohonzon super yang kemampuan yang luar biasa ini, sangat berlawanan dengan pengajaran Nichiren Shonin dan akibatnya menciptakan pertentangan yang luar biasa dari Kuil-kuil Nikko Shonin. Ini menyebabkan jurang pemisah dan pada akhirnya Taisekiji benar-benar terpisah dari garis keturunan Nikko Shonin. Isu Dai Gohonzon ini menjadi sangat panas bahkan dari lingkungan Taisekiji sendiri. Karena adanya surat dari anda, saya mulai membaca sebuah nomor dari terbitan Soka Gakkai dan internet website. Saya mendapat kesimpulan dari memo Kawabe ditulis oleh seorang Bhiksu Nichiren Shoshu sebagai memorandum dalam percakapannya sebagai hadiah kepada Taisekiji untuk Bhiksu Tertinggi ke-67 Nikken Geika Shonin. Dalam memo itu terlihat adanya ketidak percayaan terhadap Dai Gohonzon itu sendiri. Mengapa Mandala Gohonzon yang disebut Dai Gohonzon di Taisekiji itu terbuat dari Kayu yang diukir sedangkan Nichiren Shonin sendiri tidak pernah mengukir Gohonzon dalam kayu. Semua Mandala Gohonzon dari Nichiren Shonin digambarkan dalam tinta dan kuas di dalam kertas. Nikko Shonin mendirikan Taisekiji, tetapi hanya tinggal disana untuk beberapa saat, kemudian Beliau meninggalkan kuil itu kepada muridnya yang paling dipercayanya, Nichimoku Shonin. Nikko Shonin lalu mendirikan kuil lain dan membuat seminar tentang Agama Buddha, disebut dengan Omosu Danjo (yang hari ini disebut kuil Kitayama Honmonji, tidak bermaksud membingungkan dengan kesamaan kuil Nishiyama Honmonji) merupakan sekte asli dari Nikko Shonin atau garis keturunan Fuji (sebelum Taisekiji merusak keaslian) yang terdiri dari kepala kuil dari Taisekiji, Kitayama Honmonji, Shimojo Myorenji, Koizumi Kuonji (keaslian kuil Renzobo dengan tempat Taisekiji), Nishiyama Honmonji, Hota Myohonji dan kuil Izu Jitsujoji. Hari ini kuil utama tersebut dari garis keturunan Fuji adalah sebagai berikut: - Taisekiji – Kuil Nichiren Shoshu (dari kuil ini kemudian pecah menjadi Shoshinkai, Myoshinko, Kenshokai, Soka Gakkai (SGI) - Kitayama Honmonji – Kuil Nichiren Shu - Koizumi Kuonji – Kuil Nichiren Shu - Hota Myohonji – Kuil Independent Movement - Shimojo Myorenji – Kuil Nichiren Shoshu - Nishiyama Honmonji –Kuil Honmon Shoshu - Kyoto Yoboji – Kuil Nichiren Honshu - Izu Jitsujoji – Kuil Nichiren Shu Hal yang sangat menarik, walaupun garis sekte Taisekiji dan kelompok yang percaya bahwa Nichiren Shonin adalah Buddha yang sesungguhnya, tetapi Nikko Shonin percaya bahwa Buddha Sakyamuni adalah Tathagata dan Guru sejati Buddhism, dan Nichiren Shonin sebagai Bodhisattva Muncul Dari Bumi, ketua dari semua Jiyu No Bosatsu atau Bodhisatva Muncul Dari Bumi. Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 4
  • 6. Akan tetapi, setelah Taisekiji mengadopsi dan merubah pemahamannya yang unik dengan menghapuskan Buddha Sakyamuni dari Buddhisme, menciptakan Dai Gohonzon dan juga ada konsep baru dari “Kechimyaku” (seperti yang hanya melalui garis keturunan orthodox yang benar) semata-mata mengalir melalui Taisekiji, pendirian mereka menjadi lebih kukuh dan lebih sempit.. Di bawah Bhiksu Tertinggi ke-54, Nichiin Shonin, hubungan Kuil Taisekiji menjadi rusak hubungannya dengan Kuil Nikko Shonin lainnya dan membentuk untuk pertama kalinya pada tahun 1912, sekte baru yang berdiri sendiri dan disebut Nichiren Shoshu. Sekte-sekte Nichiren Buddhisme lainnya terus berkembang dengan pemikiran dan pemahaman mereka sendiri. Tetapi mereka masih saling berhubungan walaupun konsep philosopi mereka dan gaya dari kepercayaannya agak sedikit berbeda. Sedangkan sekte dari Taisekiji (Nichiren Shoshu) sangat menjaga diri sendiri dan mengatakan yang lainnya adalah Hobo. Kita harus mengetahui bahwa sejak tahun 1500 di Kyoto, jumlah total kuil ada 22 kuil utama (dan tentu saja banyak sekali cabang dan kuil yang lain) dari garis keturunan Nichiren yang bermacam-macam. Ajaran Nichiren Shonin diserang oleh kuil dan sekte yang lain karena kecemburuannya akan keberhasilan dan perkembangannya. Kuil lain menyatakan perang dengan ajaran Nichiren Shonin dan berkeinginan untuk menghapuskannya dari Kyoto. Dalam kenyataan, pada waktu itu perkembangan dari ajaran Nichiren mencapai kesuksesan yang hebat. Hampir seluruh kota beralih ke ajaran Nichiren Shonin, membaca Saddharma Pundarika Sutra dan menyebut Odaimoku “Namu Myoho Renge Kyo”. Pada waktu pasukan Bhiksu yang bersenjata lengkap (dari Gunung Hiei dan sekte lain) memasuki Kyoto, mereka membakar banyak kuil dan membunuh ribuan Bhiksu dan yang percaya pada ajaran Nichiren Shonin. Hal ini pada akhirnya menyebabkan semua sekte Nichiren yang ada (termasuk Nichiren Shu, Honmon Shu, Nichiren Shoshu, Kempon Hokke Shu dan lain-lain) bersatu bersama untuk menjaga dan membantu satu sama lain, walaupun kesemua sekte Nichiren ini berbeda dalam cara pandang dan garis keturunan, semua bersatu dalam keluarga Nichiren. Semangat ini bertahan berabad-abad. Walaupun setiap garis keturunan akan mempertahankan tradisi sekte masing-masing, warisan dan kemerdekaannya sebagai sekte yang berpisah, secara keseluruhan perasaan dari semangat keluarga Nichiren masih ada. Setelah, kita semua memasuki kepercayaan dalam Saddharma Pundarika Sutra dan kita semua menyebut Odaimoku “Namu Myoho Renge Kyo”, sementara mengikuti ajaran Nichiren Shonin. Selanjutnya semua Bhiksu dari seluruh sekte (termasuk juga Bhiksu Taisekiji) belajar di universitas yang sama yakni ; Universitas Rissho, yang mana didirikan dan dimiliki oleh Nichiren Shu. Universitas Rissho adalah sebuah universitas sebagai pusat belajar Saddharma Pundarika Sutra terlengkap di Jepang. Beberapa tahun lalu, sebelum berpisah dengan Soka Gakkai, Kuil Taisekiji membentuk sebuah universitas sendiri di Tokyo dan para Bhiksunya sekolah disana dan tidak harus menghadiri kuliah di Universitas Rissho lagi. Soka Gakkai juga mendirikan universitasnya sendiri beberapa tahun kemudian. Akhirnya, mari kita melihat Tiga Pusaka Agung (Tri Ratna) dari Agama Buddha, dasar ajaran Buddha, dilihat dari keseluruhan sekte Buddha tidak peduli dari daerah mana semua mempunyai ketiga hal ini. Tiga Pusaka Agung dari Agama Buddha: 1) Buddha, 2) Dharma (hukum atau doktrin yang diikuti sekte), dan 3) Sangha (para Bhiksu, biarawati dan pengikut di lingkungan Buddha). Ketiga elemen dasar ini adalah hal mendasar dari semua sekte Agama Buddha di semua negara, tetapi bisa berbeda dari sekte atau garis keturunan. Sekarang mari melihat bagaimana mereka berbeda dari Nichiren Shu dan dua dari aliran Shoretsu yakni Nichiren Shoshu dan agama baru dari Soka Gakkai. Nichiren Shu: 1) Buddha: Buddha Sakyamuni Yang Abadi 2) Dharma: Namu Myoho Renge Kyo (Saddharma Pundarika Sutra) 3) Sangha: Nichiren Shonin (memimpin semua Bhiksu, biarawati dan pengikutnya) Nichiren Shoshu: 1) Buddha: Nichiren Shonin 2) Dharma: Namu Myoho Renge Kyo (Saddharma Pundarika Sutra) 3) Sangha: Nikko Shonin dan Bhiksu Tertinggi turun temurun dari Kuil Taisekiji Soka Gakkai (2 tipe): (A) Doktrin dalam teori yang resmi: Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 5
  • 7. 1) Buddha: Nichiren Shonin 2) Dharma: Namu Myoho Renge Kyo (Saddharma Pundarika Sutra) 3) Sangha: Nikko Shonin (B) Kenyataan yang diteliti dan diajarkan: 1) Buddha: Presiden Ikeda 2) Dharma: Ajaran dan tulisan dari Presiden Soka Gakkai 3) Sangha: Organisasi dari Soka Gakkai dan semua anggotanya Semua di atas dapat di bagi 2 divisi yakni 1) Umum (“So” dalam terminologi Jepang) dan 2) Lebih dalam (“Betsu”) aplikasi dari doktrin. Dalam kasus Soka Gakkai, saya membagi ini menjadi A dan B; Bagian A menjadi lebih Umum dan bagian B menjadi lebih dalam atau spesifik. Sebagai konsekuensi dari aplikasi ini dari Tiga Pusaka Buddha kedalam observasi yang sebenarnya dari ajaran kejiwaan, Nichiren Shu (seperti dalam kasus dengan kebanyakan sekte Nichiren lainnya) membaca semua isi Saddharma Pundarika Sutra, belajar semua ke-28 Bab dari Saddharma Pundarika Sutra, dasar lain adalah melalui pemujaan dan perghormatan terhadap Buddha Sakyamuni Yang Abadi dan ajaran dari guru besar dharma, T’ien T’ai dari China, dan semua tulisan (Goibun atau Gosho) Nichiren Shonin. Konsentrasi Nichiren Shoshu sendiri adalah membaca Saddharma Pundarika Sutra semata- mata hanya Bab 2 dan 16. Pelajarannya hanya di bab ini, dan juga mengambil ajaran dari T’ien T’ai, tetapi dasar dari semua pelajaran adalah Goibun (Gosho) atau tulisan Nichiren Shonin. Dalam kasus Soka Gakkai, pembabaran ajaran dari sutra mereka adalah sama dengan Nichiren Shoshu, dan mereka belajar sedikit dari Saddharma Pundarika Sutra, doktrin T’ien T’ai dan tulisan Nichiren Shonin, tetapi pelajaran utama adalah tulisan dari Presiden ketiga SGI dan presiden kehormatan Ikeda dan artikel lain yang diproduksi oleh departemen pembelajaran Soka Gakkai. Saya berharap bahwa latar belakang yang umum dari Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai akan dapat menjawab pertanyaan dari kamu. Saya berharap melalui penjelasan ini, kamu bisa melihat bagaimana jalan sesungguhnya dari ajaran Soka Gakkai dan Nichiren Shoshu dan bagaimana perbedaan atau persamaan dengan sekte ajaran Nichiren yang lainnya. Apa yang paling penting adalah untuk melatih jiwa kita dan belajar seperti Buddha Sakyamuni dan Nichiren Shonin mengajarkan kita, jadi kita bisa berkembang, mengerti Buddha yang sebenarnya, melatih dan hidup seperti Buddha dan Nichiren Shonin; kita dan semua orang di sekeliling kita bebas dari kesengsaraan, menjadi puas dengan kehidupan, menjadi senang dan bisa mencapai kesempurnaan seperti Buddha sendiri. Tidak perlu merasa sakit hati kepada Soka Gakkai, dan tidak juga kepada semua orang untuk masalah itu. Mungkin semua yang mereka ajarkan kepada kamu tidak seluruhnya benar, tetapi bagaimanapun pertolongan dan perhatian mereka selama ini telah menjaga kamu sampai hari ini. Mungkin mereka tersesat dari ajaran utama Sang Buddha. Tetapi mereka telah memperkenalkan kepada kamu ajaran Nichiren Shonin dan Saddharma Pundarika Sutra. Mereka telah membuka pintu untuk kamu. Dan mereka juga menciptakan beberapa keragu-raguan atau pertanyaan besar dalam hidup kamu tentang Agama Buddha. Untuk semua ini kamu seharusnya menjadi senang. Jika kamu mempunyai keragu-raguan tentang Soka Gakkai atau pertanyaan tentang hati kepercayaan kamu sendiri, saya sarankan untuk kembali ke dasar…. Berpikir tentang kenapa kamu mengambil hati kepercayaan ini ? Apa harapan kamu yang sebenarnya dari ajaran Buddha? Meneliti fakta sejarah dan doktrin. Bertanya kepada dirimu sendiri, ”Apa yang benar dan ajaran yang benar? Apakah yang benar dengan melihat sejarah dan tulisan Nichiren Shonin sendiri? Apakah yang saya percaya dan laksanakan sudah sesuai dengan kehendak Buddha? Apakah maksud Buddha yang sebenarnya ? Jika Nichiren Shonin akan kembali hari ini, apa yang akan dia katakan? Apakah dia menjadi bahagia atas apa yang dia lihat? Bagaimanapun Buddha Sakyamuni dan Nichiren Shonin menginginkan kita untuk melatih jiwa kita dan melaksanakan ajarannya? Bagaimana seharusnya Buddha hidup? Siapa yang dapat mengajarkan saya, ajaran Buddha yang sebenarnya?” Ini adalah semua pertanyaan yang kamu harus serius dalam melihat dan memikirkannya. Saya pikir kita bisa mulai menyamakan isu ini dengan membaca sutra dan menyebut Odaimoku, bersama-sama dengan membaca setiap tulisan di dalam 28 bab dari Saddharma Pundarika Sutra dan tulisan Nichiren Shonin. Setiap bab dari sutra dan setiap ajaran dari Nichiren Shonin mempunyai pesan untuk kamu, sesuatu untuk diajarkan ke kamu, sesuatu untuk membantuk kamu, berkembang. Jangan mengira atau mengubah apapun, mengatakan, ‘Ungkapan ini ditulis dalam jalan ini, tetapi mengandung ini….” Dengan membuka hati kamu, membaca kata dan mencoba untuk mengerti apa yang tertulis disana. Biarkan Buddha Sakyamuni dan Nichiren Shonin berkomunikasi melalui pesan untuk kamu. Dalam Bab XV Bodhisatva Muncul dari Bumi, Buddha Sakyamuni menyatakan dalam sajak sebagai berikut: Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 6
  • 8. Membangun kekuatan jiwaanmu, Dan lakukan dengan kesabaran yang tinggi! Kamu akan bisa mendengarkan Dharma Yang belum pernah kamu dengar sebelumnya, Sekarang saya akan melepaskan kamu. Jangan kamu ragukan aku. Jangan menjadi takut! Saya tidak mengatakan kebohongan, Kebijaksanaan saya tidak terukur. Dharma tertinggi yang saya capai Adalah amat sangat dalam dan sulit untuk dimengerti. Sekarang saya akan menjelaskan itu. Dengarkan saya dengan semua hatimu. Menyebut Odaimoku untuk mengerti dan menjadi dekat dengan Sang Buddha dan Nichiren Shonin. Kamu akan menemukan sebuah dunia baru dan kesenangan yang luar biasa…,Dunia Buddha menunggu kamu. Berusahalah menjadi bodhisattva yang asli dan berhasil mencari jalan ke Jalan Buddha. Mengambil keputusan untuk memperdalam jiwa dalam beberapa tahun, dan mengijinkan Buddha untuk masuk kedalam hidup kamu. Jika kamu sangat berharap untuk bertemu Buddha dan mengalami kehidupannya dan kesempurnaannya, kamu bisa. Itu semua mulai dari hati dan dari jiwa kamu. Sebagai seorang Bhiksu, saya di sini untuk menolong kamu dalam berbagai jalan yang bisa saya lakukan, seperti semua Bhiksu Nichiren Shu. Kami ingin membantu kamu untuk mencari pengalaman kejiwaan, berkembang dan menjadi bahagia. Kami mau kamu mengalami dan merasakan ajaran Buddha yang sesungguhnya. Saya akan menutup dengan tangan saya dalam doa (Gassho) untuk kamu, dalam penghormatan yang besar. Saya akan nunduk dan berdoa kepada Buddha yang ada dalam diri kamu. Gassho, Namu Myoho Renge Kyo Rev. Shoryo Tarabini Disadur dari email seorang penganut SGI kepada Bhiksu Shoryo Tarabini, sekarang Kepala Kuil Nichiren Shu Milano - Italia note: Gassho adalah sikap tangan anjali, menunduk menghormati Jiwa Buddha yang ada pada diri setiap mahluk hidup. Perbedaan dan Persamaan Nichiren Shu, Nichiren Shoshu dan Soka Gakkai 7