Your SlideShare is downloading. ×
Modul Peningkatan Kapasitas Pemerintah daerah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Modul Peningkatan Kapasitas Pemerintah daerah

1,610
views

Published on

Modul ini diterbitkan dalam rangka pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011, terdiri dari 4 (empat) modul.

Modul ini diterbitkan dalam rangka pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011, terdiri dari 4 (empat) modul.

Published in: Real Estate

1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
1,610
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
252
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MODUL 1 PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN PROVINSIDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2011 JAKARTA 2011
  • 2. KATA PENGANTARModul 1 ini merupakan bagian pertama dari empat modul dalam rangkaian kegiatanpeningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam hal penyiapan perencanaan pembangunanperumahan dan kawasan permukiman yang dilaksanakan dalam rangka DekonsentrasiLingkup Kemenpera Tahun 2011. Modul ini berisi panduan umum pembentukan KelompokKerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Provinsi.Modul ini digunakan sebagai panduan oleh SKPD Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011, Fasilitator Provinsi, dan stakeholder lain yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatanpeningkatan kapasitas pemerintah daerah, khususnya dalam hal pembentukan Pokja PKPProvinsi.Modul ini terdiri dari dua bagian, yaitu: Bagian 1 – Pendahuluan, merupakan bagian yangmenjelaskan latar belakang dan urgensi pembentukan Pokja PKP Provinsi dalam rangkapembangunan perumahan dan kawasan permukiman, sedangkan Bagian 2 –PanduanPelaksanaan Pembentukan Pokja PKP Provinsi yang terdiri dari rangkaian kegiatan dalamrangka pembentukan Pokja PKP Provinsi. Modul ini juga dilengkapi dengan Lampiran berupaBahan Bacaan tentang Konsep dan Kelembagaan Pokja PKP Provinsi.Tiada gading yang tak retak, begitulah pula dengan modul ini yang disusun dalam jangkawaktu relatif singkat sehingga membutuhkan saran dan kritik yang membangun untukpenyempurnaannya. Akhir kata, kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunanmodul ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Selamat membaca dan mempraktikkannya. Jakarta, Maret 2011 Tim Penyusun Modul 1 | hal i
  • 3. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ...................................................................................................................................... iDAFTAR ISI....................................................................................................................................................iiDAFTAR TABEL.......................................................................................................................................... iiiDAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................................... iiiDAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN.................................................................................................... iiiBAGIAN 1: PENDAHULUAN.....................................................................................................................1 A. Latar Belakang ..................................................................................................................................... 2 B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan Keluaran .................................................................................... 3 C. Dasar Pembentukan Pokja PKP .................................................................................................... 4 D. Ruang Lingkup Modul....................................................................................................................... 4BAGIAN 2. PANDUAN PELAKSANAAN PEMBENTUKAN POKJA PKP PROVINSI DALAM DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN 2011 .........................................5 Alur Pelaksanaan ...................................................................................................................................... 6 Kegiatan 1. Lokakarya Analisis Isu dan Permasalahan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Daerah.................................................................................................. 7 Kegiatan 2. Lokakarya Konsep Pokja PKP .................................................................................. 13 Kegiatan 3. Rangkaian Pertemuan Penyiapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi .... 19 Kegiatan 4. Lokakarya Kelembagaan Pokja PKP Provinsi ................................................... 21LAMPIRANBAHAN BACAAN 1: KONSEP POKJA PKP PROVINSI..................................................................... 26BAHAN BACAAN 2: KELEMBAGAAN POKJA PKP PROVINSI...................................................... 31Modul 1 | hal ii
  • 4. DAFTAR TABELTabel 1. Ruang Lingkup Modul Pembentukan Pokja PKP Provinsi .................................................4Tabel 2. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Analisis Isu dan Permasalahan PKP di Daerah ......................................................................................................................................9Tabel 3. Agenda dan Alokasi Pelaksanaan Lokakarya Konsep Pokja PKP ................................. 15Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyiapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi ...............................................................................................................................................20Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokakarya Kelembagaan Pokja PKP Provinsi ...............................................................................................................................................23Tabel 6. Posisi Strategis Pokja PKP Provinsi pada Seluruh Elemen Pembangunan .............31Tabel 7. Contoh Uraian Peran Gugus Tugas Pokja PKP ...................................................................... 34DAFTAR GAMBARGambar 1. Alur Pelaksanaan Pembentukan Pokja PKP Provinsi – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011...............................................................6Gambar 2. Hubungan Sinergis antar Komponen Pokja PKP Provinsi ..........................................30Gambar 3. Struktur Organisasi Pokja PKP Provinsi ............................................................................. 33Gambar 4. Skema Koordinasi Pokja PKP Pusat dan Daerah ............................................................ 38Gambar 5. Contoh Posisi Pokja PKP Terhadap Pemangku Kepentingan .................................... 38DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATANAPERSI : Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh IndonesiaBapermas : Badan Pemberdayaan MasyarakatBappeda : Badan Perencanaan Pembangunan DaerahBUMD : Badan Usaha Milik DaerahKemenpera : Kementerian Perumahan RakyatPMD : Pemeberdayaan Masyarakat DesaPKP : Perumahan dan Kawasan PermukimanPokja PKP : Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan PermukimanPU : Pekerjaan UmumREI : Real Estat IndonesiaRPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah DaerahRPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah NasionalRPJPN : Rencana Jangka Panjang NasionalSDM : Sumber Daya ManusiaSetda : Sekretariat DaerahSK : Surat KeputusanSKPD : Satuan Kerja Perangkat DaerahUUD : Undang-Undang Dasar Modul 1 | hal iii
  • 5. BAGIAN 1:PENDAHULUAN  Latar Belakang  Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran  Dasar Pembentukan Pokja PKP  Ruang Lingkup Modul Modul 1 | hal 1
  • 6. A. Latar BelakangPerumahan dan permukiman merupakan hak dasar bagi setiap Warga Negara Indonesia. Hal inisesuai dengan yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28 H ayat 1, bahwa setiap orang berhak hidupsejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan yang baik dan sehatserta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pemahaman ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 40 yang menegaskan bahwasetiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.Kondisi perumahan dan permukiman yang layak, dapat diwujudkan dengan pelaksanaanpembangunan perumahan dan kawasan permukiman (PKP) yang sinergis dan melingkupiberbagai sektor (multi sektor) dimana hasilnya langsung menyentuh salah satu kebutuhan dasarmenyangkut taraf kesejahteraan hidup masyarakat. Hingga saat ini, hampir seluruh daerah diIndonesia belum menempatkan pembangunan PKP sebagai prioritas pembangunan di daerahmasing-masing. Hal ini belum sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2004,tentang Pemerintah Daerah yang menegaskan bahwa urusan perumahan merupakan urusanwajib pemerintah daerah.Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 untukmemenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat dan mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh,maka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, menugaskanKemenpera untuk melaksanakan program dan kegiatan yang termasuk dalam prioritas BidangSarana dan Prasarana, sub bidang Perumahan dan Permukiman. Untuk mewujudkan prioritas dansasaran bidang perumahan dan permukiman, maka arah kebijakan pembangunan perumahantahun 2010–2014 yang terkait dengan Kemenpera adalah meningkatkan aksesibilitas masyarakatberpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau, dengan:1. Meningkatkan penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui (a) pembangunan 650 twin block rusunawa; (b) pembangunan 685.000 unit Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi; (c) fasilitasi pembangunan 180 tower rusunami melalui peran swasta; (d) penyediaan prasarana, sarana dan utilitas pengembangan kawasan perumahan antara lain untuk mendukung pengembangan kota baru (New Town Development); (e) fasilitasi pembangunan baru/peningkatan kualitas perumahan swadaya serta penyediaan prasarana, sarana dan utilitas perumahan swadaya; (f) pembangunan rumah khusus termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan pasca bencana; (g) fasilitasi penyediaan lahan; (h) pemanfaatan dan pengembangan sumber daya lokal, teknologi dan penelitian di bidang perumahan dan permukiman.2. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan menengah-bawah terhadap hunian yang layak dan terjangkau melalui: (a) penyediaan subsidi perumahan; (b) pengembangan fasilitasi likuiditas; (c) peningkatan mobilisasi sumber-sumber dana jangka panjang; dan (d) pengembangan tabungan perumahan nasional.3. Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan prasarana, sarana dasar, dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh.4. Meningkatkan jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) melalui fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca-sertifikasi tanah bagi masyarakat berpenghasilan rendah; serta standardisasi perijinan dalam membangun rumah.5. Meningkatkan kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman melalui (a) pengembangan regulasi dan kebijakan; (b) pemberdayaan dan kemitraan pelaku pembangunan perumahan dan permukiman; (c) peningkatanModul 1 | hal 2
  • 7. kapasitas dan koordinasi berbagai pemangku kepentingan pembangunan perumahan dan permukiman; (d) pengembangan pengelolaan aset (property management); (e) serta fasilitasi penyusunan rencana induk pengembangan permukiman daerah.6. Memantapkan pasar primer dan pembiayaan sekunder perumahan yang didukung oleh sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan melalui pengembangan informasi dan standardisasi KPR; serta pengembangan peraturan perundangan pendukungnya.Pada dasarnya, pembangunan perumahan dilaksanakan dengan prinsip pemenuhan kebutuhanakan rumah layak yang merupakan tanggung jawab masyarakat sendiri. Dalam hal ini, pemerintahmerupakan pihak yang mendukung proses tersebut melalui penciptaan iklim yangmemungkinkan masyarakat mandiri dalam mencukupi kebutuhan akan rumah layak dan melaluipenyediaan prasarana dan sarana yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan kehidupan danberpenghidupan di lingkungan PKP. Penciptaan kondisi tersebut menimbulkan konsekuensipentingnya koordinasi dan sinergi antar pihak pada berbagai sektor untuk saling mengisi sesuaidengan kebutuhan.Berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban pemerintah pusat dan daerah untuk mendukungpemenuhan kebutuhan perumahan tersebut, hingga saat ini koordinasi menjadi permasalahanutama dalam pengarusutamaan pembangunan PKP di daerah. Oleh karena itu, KementerianPerumahan Rakyat (Kemenpera) merasa perlu memfasilitasi pemerintah daerah untukmenyiapkan dan membentuk suatu wadah koordinasi pembangunan PKP yang selanjutnyadisebut Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman disingkat Pokja PKP. Fasilitasi inidilakukan melalui kegiatan Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011. Hal ini dilakukanuntuk mewujudkan sinergitas pusat-daerah dan pemberdayaan pemangku kepentingan untukpembangunan PKP.B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan KeluaranDalam konsteks Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011, maka maksud, tujuan,sasaran dan keluaran kegiatan pembentukan Pokja PKP adalah sebagai berikut:MaksudPembentukan Pokja PKP Provinsi sebagai wadah koordinasi para pemangku kepentinganyang terkait dengan bidang PKP di provinsi.TujuanMeningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan di bidang PKP.SasaranTerbentuknya wadah koordinasi dan komunikasi untuk membangun sinergi dan koordinasidemi terwujudnya pengarusutamaan perumahan di provinsi.KeluaranTerselenggaranya rangkaian kegiatan pembentukan Pokja PKP Provinsi dan tersusunnyarancangan dokumen kelembagaan Pokja PKP Provinsi. Modul 1 | hal 3
  • 8. C. Dasar Pembentukan Pokja PKPPembentukan Pokja PKP Provinsi pada dasarnya telah sejalan dengan Undang-UndangNomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang mengamanatkanpembentukan forum pengembangan PKP dengan melibatkan peran masyarakat meskipuntidak diatur secara spesifik di dalamnya. Namun hal yang mendasari pusat mendorongdaerah untuk membentuk Pokja PKP Provinsi adalah melekat pada kewajiban PemerintahDaerah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan,diperlukan komitmen yang tinggi dari pengambil kebijakan di daerah. Dan untukmenjalankan komitmen tersebut, peran kelembagaan yang mengkoordinasikanpembangunan PKP yang dilakukan oleh dinas-dinas terkait diperlukan agar pembangunanPKP berada dalam arah yang tepat dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar yangdimaksud.Dengan demikian landasan utama pembentukan Pokja PKP Provinsi adalah komitmenbersama untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan sebagai bagian dari pemenuhankebutuhan dasar yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah.Terkait dengan keberadaan Pokja sejenis dan terkait bidang PKP yang sudah terbentuk didaerah, maka pada periode atau tahun berikutnya dapat diarahkan dan dikonsolidasi kedalam Pokja PKP Provinsi dengan memperhatikan situasi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di daerah.D. Ruang Lingkup ModulModul ini berisi materi, konsep dan panduan tentang pembentukan Pokja PKP Provinsi yangdisusun dalam tiga bagian sebagaimana pada Tabel 1. Tabel 1. Ruang Lingkup Modul Pembentukan Pokja PKP Provinsi Bagian Ruang Lingkup Isi Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Maksud, Tujuan, Keluaran dan Sasaran 3. Dasar Pembentukan 4. Ruang Lingkup Modul Panduan Pelaksanaan Pembentukan 1. Lokakarya Analisis Isu dan Permasalahan PKP Pokja PKP Provinsi dalam 2. Lokakarya Konsep Pokja PKP Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera 3. Penyiapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi Tahun 2011 4. Lokakarya Kelembagaan Pokja PKP Provinsi Lampiran 1. Bahan Bacaan 1: Konsep Pokja PKP Provinsi 2. Bahan Bacaan 2: Kelembagaan Pokja PKP ProvinsiModul 1 | hal 4
  • 9. BAGIAN 2.PANDUAN PELAKSANAANPEMBENTUKAN POKJA PKP PROVINSIDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERATAHUN 2011  Alur Pelaksanaan  Kegiatan 1: Lokakarya Analisis Isu dan Permasalahan Perumahan dan Kawasan Permukiman  Kegiatan 2: Lokakarya Konsep Pokja PKP  Kegiatan 3: Penyiapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi  Kegiatan 4: Lokakarya Pembentukan Pokja PKP Provinsi Modul 1 | hal 5
  • 10. Alur PelaksanaanAlur pelaksanaan kegiatan Pembentukan Pokja PKP Provinsi dalam Dekonsentrasi LingkupKemenpera Tahun 2011 sebagaimana digambarkan pada Gambar 1. Melalui rangkaiankegiatan ini diharapkan rancangan Pokja PKP Provinsi telah tersusun dalam jangka waktu 3(tiga) bulan. Gambar 1. Alur Pelaksanaan Pembentukan Pokja PKP Provinsi Melalui Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011Modul 1 | hal 6
  • 11. Kegiatan 1. Lokakarya Analisis Isu dan Permasalahan Perumahan dan Kawasan PermukimanMaksud dan TujuanMaksud:Untuk memetakan isu dan permasalahan terkait pembangunan PKP dalam rangka (sebagaipertimbangan) pembentukan Pokja PKP Provinsi.Tujuan:Untuk memperoleh gambaran progres pembangunan PKP di daerah, dan isu-isu penting yangperlu disikapi melalui peran Pokja PKP. Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah: 1. Memetakan pelaku dan kegiatan pembangunan PKP di wilayah provinsi; 2. Memetakan progres pembangunan PKP masing-masing pelaku dan permasalahan- permasalahan yang dihadapi; dan 3. Menyepakati intervensi yang diperlukan guna membantu mengatasi permasalahan melalui Pokja PKP.Keluaran1. Daftar pelaku pembangunan PKP di wilayah provinsi pada tahun 2010 dan 2011 dan lokasi kegiatannya.2. Gambaran pokok-pokok kebijakan daerah terkait dengan pembangunan PKP.3. Gambaran status, fungsi dan peran kelembagaan terkait yang telah/pernah dibentuk untuk pembangunan PKP.4. Daftar isu dan permasalahan umum pembangunan PKP tingkat daerah dan permasalahan spesifik yang dihadapi oleh para pelaku pembangunan.5. Isu strategis pembangunan PKP di daerah.6. Rekomendasi upaya menyikapi permasalahan melalui peran koordinasi daerah.MetodologiPresentasi, tanya jawab, diskusi kelompok interaktif, dan pleno.Alat dan Bahan:Komputer, infocus, Flip Chart, Kertas Metaplan, kain rekat/Sticky Cloth, spidol, bahanpresentasi, dan bahan materi (handout).PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya Modul 1 | hal 7
  • 12. 2. Maksimal 3 (tiga) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota terdekat, masing-masing 1 (satu) orang 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.NarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerahModul 1 | hal 8
  • 13. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Alokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokakarya ini ± 2 hari, dengan rincian materi sebagaimana pada Tabel 2. Tabel 2. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Analisis Isu dan Permasalahan PKP di Daerah Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan lokakarya Peserta paham rasional dan 1. Pengantar protokol. 30 latar belakang 2. Paparan sambutan oleh Kepala Daerah/Kepala Bappeda dilanjutkan pernyataan menit diselenggarakannya lokakarya pembukaan lokakarya. 3. Istirahat selama 15 menit. Sesi 2 Pengantar lokakarya 1.Peserta saling kenal satu 1. Pengantar selamat datang oleh fasilitator dan penjelasan singkat tentang peran peserta 45 dengan lainnya untuk memberikan sumbangan pemikiran mengenai pembangunan P menit 2.Bagan alir lokakarya 2. Kehadiran peserta selama satu setengah hari akan memberikan kontribusi yang sangat dipahami oleh peserta penting dalam upaya efektivitas dan keberlanjutan pembangunan PKP. lokakarya 3. Sebelum dimulai lokakarya, terlebih dahulu dilakukan perkenalan agar peserta dapat saling kenal satu sama lain. Selain itu, peserta dapat saling mengetahui apa yang selama ini dilakukan peserta lain dalam melaksanakan pembangunan PKP. 4. Paparan singkat agenda dan proses selama lokakarya dilanjutkan klarifikasi secukupnya jika ada yang masih belum jelas. Sesi 3 Pokok-pokok 1.Posisi sektor perumahan 1. Paparan oleh SKPD yang membidangi perumahan (waktu 30 menit) dengan pokok-pokok 60 kebijakan dan rencana dalam pembangunan wilayah materi penyampaian sebagai berikut: menit pembangunan PKP di 2.Progres cakupan layanan a. Sasaran pembangunan daerah sebagaimana tercakup dalam RPJMD daerah rumah layak huni di wilayah b. Sasaran pembangunan bidang PKP daerah sampai saat ini c. Progres/status pembangunan PKP di daerah 3.Isu umum yang dihadapi d. Isu dan tantangan umum pembangunan PKP di daerah daerah dalam pemenuhan e. Kebijakan daerah bidang PKP dalam RPJMD yang sedang berjalan layanan PKP di daerah 2. Diskusi/klarifikasi dan tanya jawab dilanjutkan penyampaian pointers paparan oleh moderator (waktu 30 menit) Sesi 4 Diskusi identifikasi 1.Daftar program terkait 1. Pengantar fasilitator menjelaskan tujuan sesi dan output yang ingin dicapai. 90 pelaku pembangunan pembangunan PKP oleh 2. Peserta dibagi menjadi 2 kelompok untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan kunci. menit PKP di daerah pemerintah a. Kelompok 1:Modul 1 | hal 9 2.Daftar pengembang yang 1) Siapa saja pelaku langsung pembangunan PKP di daerah pada saat ini. melaksanakan kegiatan 2) Dimana saja lokasi pembangunan yang dilakukan pembangunan PKP di daerah 3) Berapa target unit yang akan dibangun 3.Status progres terakhir 4) Berapa capaian target sampai saat ini. pembangunan PKP di wilayah Modul 1 | hal 9
  • 14. Durasi Kegiatan Output Proses Format hasil diskusi kelompok 1 sebagai berikut:Modul 1 | hal 10 Nama program/kegiatan Lokasi Target Pencapaian (pemerintah/swasta/masyarakat) pembangunan b. Kelompok 2: Tuliskan pihak-pihak mana saja yang berkepentingan dengan program pembangunan PKP di daerah saat ini dan peran-peran mereka: Peran Nama Tupoksi program Upaya yang telah dilakukan Kebijakan Pembiayaan Penyedia sarana Penerima manfaat Kelembagaan Lainnya? 3. Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya, kelompok lain memberikan komentar, masukan, pertanyaan dan klarifikasi. 4. Fasilitator menyampaikan pokok-pokok hasil diskusi dan komentar peserta. Sesi 5 Diskusi identifikasi isu 1.Daftar permasalahan umum 1. Sesi ini merupakan kelanjutan diskusi sebelumnya mengenai pemetaan pelaku 60 dan permasalahan pemerintah yang pembangunan PKP. Peserta diminta untuk kembali ke kelompok masing-masing untuk menit daerah dan terklarifikasi sumber memetakan isu dan permasalahan berdasarkan diskusi sebelumnya. permasalahan spesifik permasalahannya 2. Pertanyaan kunci untuk masing-masing kelompok adalah sebagai berikut: pelaku pembangunan 2.Daftar permasalahan spesifik a. Permasalahan apa saja yang sedang dan akan dihadapi oleh pelaku dan pemerintah PKP di daerah yang dihadapi pelaku daerah dalam pembangunan PKP; dan pembangunan PKP yang b. Faktor apa saja yang menjadi penyebab munculnya permasalahan tersebut. memerlukan peran Gambaran format hasil diskusi tersebut adalah sebagai berikut: pemerintah Level permasalahan Masalah Faktor penyebab Pengambil kebijakan SKPD/Dinas terkait Pelaku/penyedia Penerima manfaat Modul 1 | hal 10
  • 15. Durasi Kegiatan Output Proses 3. Selesai diskusi kelompok, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi, dan kemudian anggota kelompok lain mengomentari. Sesi 6 Pointers/wrap up hasil Fasilitator menyampaikan catatan penting hasil lokakarya hari pertama mencakup: 30 lokakarya hari 1. Pokok-pokok kebijakan pembangunan PKP di daerah menit pertama 2. Pokok-pokok capaian layanan PKP di daerah 3. Daftar pelaku pembangunan PKP dan ruang lingkup perannya. 4. Daftar permasalahan/tantangan yang dihadapi daerah dalam pembangunan PKP. Kata kunci sesi ini penegasan bahwa pada pertemuan hari kedua akan difokuskan pada penyepakatan isu strategis yang perlu direspon oleh daerah dalam pembangunan PKP. Selain itu, akan dibahas pula mengenai rekomendasi apa saja yang perlu disampaikan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti. Sesi 7 Diskusi analisis Kesepakatan prioritas 1. Pada awal sesi, fasilitator menjelaskan kembali secara garis besar hal-hal penting yang 90 prioritas permasalahan yang perlu telah dicapai pada hari pertama. menit permasalahan yang ditangani dalam jangka 2. Melalui pleno, fasilitator menayangkan daftar isu dan permasalahan pembangunan PKP, perlu ditangani dalam mendesak dan rangkuman hasil diskusi hari pertama. Berdasarkan daftar permasalahan tersebut, pembangunan PKP di fasilitator meminta kesepakatan dengan peserta, mengenai permasalahan mana saja yang daerah dinilai yang strategis (fasilitator mendorong bahwa persoalan koordinasi menjadi salah satu permasalahan strategis) Gambaran format hasil diskusi adalah sebagai berikut: Daftar Bobot Respon Daerah terhadap Skor permasalahan yang permasalahan permasalahan (Bobot x dianggap prioritas (total = 100%) (rating 1-4) rating) dst 3. Berdasarkan analisis tersebut kita menetapkan prioritas permasalahan berdasarkan urutan skor dari yang paling tinggi sampai nilai tertentu yang disepakati. 4. Akhir sesi ini ditegaskan bahwa permasalahan strategis sebagaimana yang disepakati pendekatan koordinasi dan sinergi pembangunan merupakan langkah penting yang perlu dilakukan daerah. Untuk itu suatu kelompok kerja (Pokja) yang bisa menampung aspirasiModul 1 | hal 11 semua pihak perlu dibentuk. Modul 1 | hal 11
  • 16. Durasi Kegiatan Output ProsesModul 1 | hal 12 Sesi 8 Menyepakati Berita acara hasil dan 1. Sesi sebelumnya telah menghasilkan kesepakatan prioritas permasalahan yang perlu 45 rekomendasi rekomendasi lokakarya untuk ditangani oleh pemerintah provinsi. Selanjutnya, peserta dipandu fasilitator diminta untuk menit lokakarya membentuk Pokja PKP menetapkan rekomendasi yang perlu dilakukan oleh propinsi. Penetapan rekomendasi ini dilakukan melalui pleno. 2. Perlu dipastikan penyiapan Pokja PKP menjadi prioritas utama. 3. Catatan: rekomendasi disiapkan dalam bentuk berita acara hasil lokakarya, dan ditandatangani bersama oleh peserta. Selanjutnya rekomendasi tersebut disampaikan kepada Kepala Daerah melalui Bappeda. Sesi 9 Wrap up dan 1. Penegasan pokok-pokok rekomendasi lokakarya oleh fasilitator 30 kesepakatan rencana 2. Penegasan pentingnya penyiapan Pokja PKP menit aksi dalam rangka 3. Fasilitator meminta langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan sampai dengan lokakarya lanjutan terselenggaranya lokakarya lanjutan mengenai konsep Pokja Modul 1 | hal 12
  • 17. Kegiatan 2. Lokakarya Konsep Pokja PKPMaksud dan TujuanMaksud:Untuk membangun kesepakatan bersama mengenai Pokja PKP sebagai bentuk tindak lanjutlokakarya sebelumnya.Tujuan: 1. Memetakan eksisting kelembagaan yang telah atau pernah dibentuk untuk pelaksanaan program pembangunan PKP. 2. Menjelaskan dan menawarkan konsep Pokja sebagai Pokja PKP. 3. Menggali masukan dan membangun kesepakatan mengenai nama kelembagaan Pokja sesuai dengan kesepakatan. 4. Menggali masukan dan membangun kesepakatan awal mengenai fungsi dan peran Pokja dalam penyelenggaraan pembangunan PKP di daerah. 5. Menggali masukan dan kesepakatan awal mengenai kenggotaan dan struktur sesuai dengan kebutuhan daerah. 6. Menggali masukan dan kesepakatan awal mengenai kriteria keanggotaan. 7. Menggali masukan bentuk legalitas kelembagaan yang dibutuhkan dalam rangka menjalankan fungsi dan perannya.Keluaran 1. Gambaran eksisting kelembagaan yang telah ada dalam rangka pembangunan PKP. 2. Pemahaman peserta mengenai konsep Pokja sebagai Pokja PKP. 3. Kesepakatan awal yang selanjutnya akan dibahas dalam lokakarya pembentukan Pokja PKP antara lain: a. Nama kelembagaan yang akan dibahas lebih lanjut dalam lokakarya pembentukan kelembagaan Pokja PKP. b. Ruang lingkup, fungsi, dan peran Pokja PKP. c. Struktur dan kriteria keanggotaan kelembagaan Pokja PKP. d. Bentuk legalitas kelembagaan Pokja PKP 4. Terbentuknya tim kecil penyusun rancangan kelembagaan Pokja PKP Provinsi 5. Rencana tindak lokakarya.MetodologiPresentasi, tanya jawab, diskusi kelompok interaktif, dan pleno.Alat dan Bahan:Komputer, infokus, Flip chart, kertas metaplan, kain rekat/ Sticky Cloth, spidol, bahanpresentasi lokakarya, dan handout.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011. Modul 1 | hal 13
  • 18. PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya 2. Maksimal 3 (tiga) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota terdekat, masing-masing 1 (satu) orang 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.NarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerahModul 1 | hal 14
  • 19. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Alokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokakarya ini ±2 hari, dengan rincian materi sebagaimana pada Tabel 3. Tabel 3. Agenda dan Alokasi Pelaksanaan Lokakarya Konsep Pokja PKP Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan lokakarya Peserta paham rasional dan latar 1. Pengantar protokol 30 menit belakang diselenggarakannya 2. Paparan sambutan oleh kepala Bappeda dilanjutkan pernyataan lokakarya pembukaan lokakarya 3. Istirahat selama 15 menit Sesi 2 Pengantar lokakarya 1. Peserta saling kenal satu Pengantar selamat datang oleh fasilitator dan penjelasan singkat “peserta 45 menit dengan lainnya diundang dalam rangka peransertanya untuk memberikan sumbangan 2. Bagan alir lokakarya dipahami pemikiran mengenai pembangunan PKP di wilayah”. oleh peserta lokakarya Sesi 3 Paparan konsep Pokja sebagai 1. Peserta memiliki pemahaman Fasilitator memaparkan konsep Pokja PKP mencakup beberapa informasi 60 menit Pokja PKP yang baik mengenai apa dan kunci sebagai berikut: siapa yang dimaksud Pokja PKP 1. Pokja PKP adalah wadah aspirasi dan koordinasi antar pemangku 2. Peserta memahami konsep kepentingan pembangunan PKP. fungsi dan peran Pokja PKP 2. Siapa yang dimaksud Pokja PKP, adalah para pemangku kepentingan 3. Peserta memahami posisi pembangunan PKP yang memiliki kepedulian atau menaruhkan strategis Pokja PKP dalam kepentingannya terhadap efektivitas dan keberlanjutan pembangunan pembangunan daerah bidang PKP. 3. Pokja PKP diperlukan sebagai upaya mengawal, mendorong dan memastikan sektor PKP mendapatkan perhatian oleh pengambil kebijakan daerah, sebagai salah satu prioritas pembangunan dalam rangka memenuhi akses rumah layak huni bagi masyarakat, khususnya MBR dan MBM. 4. Posisi strategis Pokja PKP dalam pembangunan daerah, adalah menjadi mitra pemerintah dalam melaksanakan fungsi fasilitasi terhadap penyelenggaraan program pembangunan PKP yang efektif dan berkelanjutan. 5. Pokja PKP menjalankan fungsinya sejak proses perencanaan,Modul 1 | hal 15 pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi program: a. Dalam perencanaan; Pokja PKP sebagai inisiator dan mitra dalam memberikan masukan mengenai isu-isu penting yang perlu dipertimbangkan dalam proses perencanaan. Selain itu Pokja PKP juga menjadi mitra dalam mendorong peran serta masyarakat untuk Modul 1 | hal 15
  • 20. Durasi Kegiatan Output ProsesModul 1 | hal 16 terlibat dalam perencanaan. b. Dalam pelaksanaan; Pokja PKP menjadi mitra dalam pelaksanaan sosialisasi kebijakan daerah untuk pembangunan PKP. Pokja PKP juga melakukan upaya membangun sinergi dan koordinasi antar pelaku pembangunan PKP, serta memberikan layanan konsultasi dalam rangka membahas berbagai permasalahan dan solusi yang lebih baik. c. Dalam monitoring dan evaluasi; Pokja PKP mengkoordinasikan proses penyelenggaraan monitoring dan evaluasi pembangunan PKP secara terpadu dari berbagai sumber pembiayaan/program. Selain itu, Pokja PKP juga menyelenggarakan pertemuan periodik untuk membahas progres pencapaian pembangunan dan memfasilitasi pengembangan rencana aksi dalam menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi. Setelah presentasi disampaikan, kemudian dilanjutkan dengan forum tanya jawab dan klarifikasi. 60 menit ISTIRAHAT Sesi 4 Diskusi pemetaan eksisting 1. Nama-nama kelembagaan Sesi ini diawali penggalian informasi secara umum melalui pleno dengan 90 menit kelembagaan terkait terkait PKP yang telah dibentuk pertanyaan kunci; selama 10 tahun terakhir kelembagaan apa sajakah yang pembangunan PKP yang 2. Status fungsi dan peran telah/pernah dibentuk untuk pelaksanaan program yang berkaitan dengan telah/pernah dibentuk kelembagaan yang telah pembangunan PKP. Hasil identifikasi disajikan dalam format sebagai berikut: dibentuk 3. Isu dan permasalahan yang Nama Kelembagaan Dibentuk Oleh Dibentuk pada tahun dihadapi oleh kelembagaan yang telah dibentuk Setelah identifikasi, selanjutnya peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan pemetaan lebih lanjut dengan pertanyaan kunci: untuk maksud dan tujuan apa kelembagaan tersebut dibentuk, bagaimana statusnya saat ini, dan masalah apa saja yang dihadapi oleh kelembagaan tersebut?. Format hasil diskusi kelompok sebagai berikut: Status fungsi Permasalahan Nama Kelembagaan Tujuan saat ini yang dihadapi Modul 1 | hal 16
  • 21. Durasi Kegiatan Output Proses Selesai diskusi kelompok dipresentasikan kepada kelompok lain untuk mendapatkan masukan dan tambahan informasi. Sesi 5 Diskusi menggali masukan dan Nama yang disepakati untuk Dengan menggunakan hasil diskusi sebelumnya fasilitator memandu diskusi 90 menit kesepakatan awal mengenai bentuk kelembagaan Pokja PKP. dengan pertanyaan kunci: Pokja PKP yang lebih efektif. 1. Bagaimana caranya mempersatukan kelembagaan-kelembagaan yang pernah dibentuk ke dalam wadah bersama yang lebih inklusif sebagai Pokja PKP. 2. Apa nama yang tepat untuk Pokja tersebut (perlukah memberi nama baru atau nama salah satu wadah yang telah ada dan masih berfungsi efektif dengan esensi peran sebagai Pokja). Peserta dibagi menjadi 2 (dua) kelompok dengan format baru (setengah dari kelompok sebelumnya menjadi kelompok satu dan setengah yang lain menjadi kelompok kedua). Format hasil diskusi adalah sebagai berikut: Langkah/cara mempersatukan Nama kelembagaan yang kelembagaan yang ada disepakati Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok lain. Berdasarkan hasil diskusi kelompok, fasilitator memandu untuk menyatukan pendapat kelompok satu dan dua tentang langkah mempersatukan dan penyepakan nama kelembagaan yang akan dibentuk atau dioptimalkan. Sesi 6 Diskusi menyepakati struktur Kesepakatan struktur 1. Sesi ini diawali dengan paparan singkat struktur Pokja PKP untuk 90 menit kelembagaan Pokja PKP kelembagaan Pokja PKP sesuai mendapatkan masukan dari peserta. dengan kebutuhan daerah 2. Setelah paparan dilakukan, peserta diminta untuk memberikan masukan dari struktur yang dipaparkan. Hal ini untuk mengetahui apakah masih ada yang perlu ditambah atau dikurangi.Modul 1 | hal 17 Sesi 7 Diskusi menyepakati fungsi dan 1. Uraian tugas umum Sesi ini diawali dengan penayangan pokok-pokok fungsi dan peran Pokja 45 menit peran kelembagaan yang telah kelembagaan Pokja PKP PKP sebagaimana paparan konsep Pokja PKP. Fasilitator menegaskan inti disepakati 2. Uraian tugas spesifik masing- dari peran Pokja PKP adalah peran koordinasi, advokasi, serta monitoring masing bagian dalam dan evaluasi. kepengurusan kelembagaan Peserta lokakarya diminta untuk menjabarkan lebih lanjut mengenai ruang Pokja PKP. lingkup peran masing-masing dengan cara diskusi dalam tiga kelompok : Modul 1 | hal 17
  • 22. Durasi Kegiatan Output ProsesModul 1 | hal 18 1. Kelompok 1: Menguraikan ruang lingkup peran koordinasi dari kelembagaan yang telah disepakati 2. Kelompok 2: Menguraikan ruang lingkup peran advokasi dari kelembagaan yang telah disepakati 3. Kelompok 3: Menguraikan ruang lingkup peran monitoring dan evaluasi kelembagaan yang telah disepakati. Selesai diskusi selesai, masing-masing kelompok mempresentasikan kepada kelompok lainnya. Sesi 8 Wrap up dan kesepakatan 1. Terbentuknya tim kecil 1. Penyepakatan peserta yang akan mengikuti rangkaian pertemuan 30 menit rencana aksi dalam rangka penyusun Pokja PKP Provinsi penyiapan pembentukan Pokja PKP lokakarya lanjutan 2. Rencana Tindak Lanjut 2. Penegasan pokok-pokok hasil lokakarya oleh fasilitator 3. Pokok-pokok kesepakatan/hasil lokakarya ini akan dibawa ke lokakarya selanjutnya dengan stakeholders yang lebih luas. 4. Lokakarya selanjutnya adalah lokakarya puncak untuk pembentukan kelembagaan atau Pokja PKP, dengan nama sementara Pokja PKP atau nama lain yang telah disepakati dalam lokakarya ini. Modul 1 | hal 18
  • 23. Kegiatan 3. Rangkaian Pertemuan Penyiapan Pembentukan Pokja PKP ProvinsiMaksud dan TujuanMaksud:Merupakan tindak lanjut lokakarya identifikasi alternatif kelembagaan Pokja PKP yangdimaksudkan untuk menghasilkan format kelembagaan yang tepat dan disepakati olehsemua dinas/lembaga terkait bidang PKP. Penyusunan rancangan ini dilakukan setelahmelalui konsultasi dan koordinasi dengan para pengambil kebijakan, dimana para pengambilkebijakan tersebut diharapkan akan menduduki posisi sebagai tim pengarah. Kegiatanpenyiapan naskah rancangan kelembagaan dilaksanakan melalui serangkaian kegiatanpertemuan tim terbatas dan konsultasi.Tujuan: 1. Menyusun rancangan bentuk/model kelembagaan koordinasi perumahan. 2. Mengkonsultasikan rencana struktur kelembagaan, fungsi, dan peran yang akan dijalankan oleh Pokja PKP. 3. Menyepakati peran, tugas dan mekanisme koordinasi antara Pokja PKP dengan kelembagaan SKPD yang mengurusi PKP. 4. Menyiapkan rancangan legalitas Pokja PKP dan memperoleh masukan-masukan dari bagian hukum dalam rangka proses legalitas lebih lanjut.Keluaran 1. Draf kelembagaan Pokja PKP serta bentuk legalitasnya yang akan diusulkan dan dibawa pada forum lokakarya pemangku kepentingan. 2. Draf rumusan uraian tugas masing-masing bidang dalam kepengurusan Pokja PKP. 3. Draf usulan mekanisme kerja antara Pokja PKP Provinsi dengan Dinas/Lembaga yang terkait bidang PKP.MetodologiRapat kerja, koordinasi dan diskusi yang dilaksanakan oleh tim kecil yang telah disepakatipada Lokakarya Konsep PokjaAlat dan BahanLaporan hasil analisis alternatif kelembagaan, kertas flip chart, spidol, dan infokus.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkatprovinsi, antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya. Modul 1 | hal 19
  • 24. Agenda dan Alokasi Waktu PelaksanaanAlokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokakarya ini ± 3 hari dengan rincian 1 haripertemuan fullday yang dilakukan sebanyak 3 kali. Rincian materi yang dibahas padarangkaian pertemuan ini adalah sebagaimana pada Tabel 4.Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyiapan Pembentukan Pokja PKP ProvinsiDurasi Kegiatan Output Proses1 hari Kegiatan 1: Penyusunan Tersusunnya rancangan 1. Kilas balik balik hasil lokakarya rancangan dan model dan model kelembagaan identifikasi alternatif kelembagaan Pokja PKP Pokja PKP kelembagaan 2. Analisis kekurangan dan kelebihan pilihan-pilihan model kelembagaan 3. Analisis konsekuensi kebutuhan/dukungan yang diperlukan setiap pilihan model kelembagaan1 hari Kegiatan 2: Konsultasi Rancangan kelembagaan 1. Penjelasan konsep dan rancangan kelembagaan Pokja PKP telah rancangan kelembagaan kepada dan legalitas Pokja PKP terkonsultasikan masing-masing pimpinan SKPD terkait 2. Telaah draf rancangan kelembagaan dan dokumen kelembagaan dengan bagian yang menangani hukum di provinsi1 hari Kegiatan 3: Pertemuan Tersusunnya uraian 1. Diskusi penyusunan rumusan penyiapan uraian tugas tugas dan rancangan mandat fungsi dan peran Pokja Pokja PKP dan mekanisme koordinasi PKP rancangan mekanisme Pokja PKP 2. Diskusi uraian tugas Pokja PKP koordinasi 3. Penyepakatan mekanisme koordinasi antara Pokja PKP dengan SKPD dan kelembagaan lainnyaModul 1 | hal 20
  • 25. Kegiatan 4. Lokakarya Pembentukan Pokja PKP ProvinsiMaksud dan TujuanMaksud:Dalam rangka pembentukan Pokja PKP Provinsi (atau dengan sebutan lainnya), sebagaiwadah koordinasi dan sinergi pembangunan PKP, dengan keanggotaan yang lebih inklusifyang memerankan fungsi advokasi, fasilitasi, intermediasi dan sebagai mitra daerah dalampembangunan PKP.Tujuan:1. Melakukan sosialisasi urgensi pembentukan Pokja PKP di daerah2. Memperoleh dukungan pengambil kebijakan dan publik untuk pembentukan Pokja PKPKeluaran1. Peserta lokakarya memahami urgensi dibentuknya Pokja PKP2. Dipahaminya konsep, fungsi dan peran Pokja PKP di daerah3. Masukan peserta lokakarya mengenai struktur, keanggotaan, fungsi dan peran, serta dokumen kelembagaan Pokja PKPMetodologiPresentasi, diskusi kelompok interaktif dan presentasi bergerak.Alat dan BahanBahan presentasi, rancangan kelembagaan pokja, flip chart, kertas metaplan, dan Sticky ClothPelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari:1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya2. Maksimal 3 (tiga) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota terdekat, masing-masing 1 (satu) orang3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.NarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain:1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerah Modul 1 | hal 21
  • 26. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Alokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokakarya ini ±2 hari, sebagaimana pada Tabel 5. Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokakarya Kelembagaan Pokja PKP Provinsi Durasi Kegiatan Output Proses Fasilitasi Sesi 1 Pembukaan lokakarya Perserta paham rasional dan latar 1. Pengantar protokol 45 belakang diselenggarakannya lokakarya 2. Paparan sambutan oleh kepala Bappeda dilanjutkan pernyataan menit pembukaan lokakarya 3. Istirahat selama 15 menit Sesi 2 Paparan kebijakan dan Perserta paham kebijakan dan sasaran Paparan kebijakan dan sasaran pembangunan PKP disampaikan oleh 45 sasaran pembangunan PKP pembangunan PKP nasional serta narasumber dari pusat dengan pokok-pokok materi sebagai berikut: menit nasional urgensi Pokja PKP Provinsi 1. Latar belakang pentingnya Pokja PKP Provinsi 2. Sasaran pembangunan nasional bidang PKP 3. Kebijakan nasional dalam pencapaian sasaran pembangunan bidang PKP 4. Pesan-pesan pentingnya daerah untuk menempatkan sektor PKP menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah Sesi 3 Paparan kilas balik progres Perserta paham kebijakan dan sasaran 1. Presentasi Bappeda/SKPD yang ditunjuk untuk menjelaskan status 60 dan isu-isu umum pembangunan PKP, isu dan progres pembangunan PKP (rencana vs realisasi), pokok-pokok menit pembangunan PKP di wilayah permasalahan dalam pemenuhan kebijakan daerah terkait pembangunan PKP, serta isu dan permasalahan provinsi perumahan di provinsi. umum yang dihadapi daerah dalam pemenuhan layanan perumahan bagi masyarakat. 2. Selesai paparan dilanjutkan tanya jawab dan klarifikasi secukupnya. 60 ISTIRAHAT menit Sesi 4 Diskusi penajaman isu dan Uraian isu dan permasalahan 1. Sesi ini merupakan sesi interaktif dan partisipatif untuk menggali dan 90 permasalahan pembangunan pembangunan perumahan dan kawasan melengkapi daftar isu dan permasalahan pembangunan PKP yang telah menit PKP di daerah permukiman yang berkaitan dengan dihasilkan pada lokakarya pertama. sebagai berikut: 2. Peserta dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing mendiskusikan isu 1. Sosial/peran serta masyarakat dan permasalahan pembangunan PKP berdasarkan aspek sosial/peran 2. Kelembagaan serta masyarakat, kelembagaan, pembiayaan, kualitas sarana, danModul 1 | hal 23 3. Pembiayaan /investasi lingkungan. 4. Kualitas sarana dan prasarana a. Kelompok 1; menguraikan isu dan permasalahan pembangunan PKP 5. Dampak lingkungan yang berkaitan dengan sosial/peran serta masyarakat. b. Kelompok 2; menguraikan isu dan permasalahan pembangunan PKP yang berkaitan dengan kelembagaan. c. Kelompok 3; menguraikan isu dan permasalahan pembangunan PKP Modul 1 | hal 22
  • 27. Durasi Kegiatan Output Proses FasilitasiModul 1 | hal 24 yang berkaitan dengan pembiayaan/investasi. d. Kelompok 4; menguraikan isu dan permasalahan pembangunan PKP yang berkaitan dengan kualitas sarana dan prasarana. e. Kelompok 5; menguraikan isu dan permasalahan pembangunan PKP yang berkaitan dengan dampak lingkungan. 3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui pleno, fasilitator menjelaskan pokok-pokok hasil diskusi serta keterkaitan kelima aspek yang telah didiskusikan. Sesi 5 Paparan konsep kelembagaan 1. Diperolehnya komentar dan masukan 1. Inti paparan ini adalah menegaskan pentingnya Pokja PKP dan sinergi 60 Pokja PKP Provinsi peserta tentang Pokja PKP Provinsi dalam upaya mengatasi berbagai isu pembangunan PKP menit 2. Disepakatinya pokok-pokok penting 2. Pokok-pokok paparan mencakup : tentang kelembagaan Pokja PKP a. Rasional pentingnya kelembagaan Pokja PKP. Provinsi b. Nama generik Pokja PKP atau sebutan lainnya. c. Ruang lingkup fungsi dan peran dalam pembangunan PKP d. Rekomendasi struktur dan keanggotaan berdasarkan hasil lokakarya sebelumnya. 3. Setelah paparan selesai, kemudian dilanjutkan dengan diskusi klarifikasi dan masukan peserta tentang konsep Pokja PKP. Sesi 6 Diskusi proses pembentukan 4. Melalui pleno, proses pembentukan kelembagaan dipimpin oleh 60 kelembagaan moderator. menit 5. Moderator menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai kelembagaan, kemudian ditanggapi oleh peserta. Setelah tanggapan dianggap cukup, kemudian dilakukan pernyataan kesepakatan. Format hasil diskusi ini adalah sebagai berikut: Pokok-pokok kesepakatan 1. Nama Pokja 2. Pengertian (definisi) kelembagaan yang kita sepakati 3. Keanggotaan dan masa kepengurusan 4. Fungsi utama kelembagaan yang disepakati 5. Struktur kelembagaan yang disepakati Sesi 7 Diskusi perumusan visi misi 1. Terumuskannya Visi dan Misi Pokja 1. Setelah nama, struktur, dan peran utama Pokja disepakati, diskusi lebih 90 sasaran dan program PKP Provinsi diarahkan untuk menyepakati visi dan misi melalui diskusi kelompok. menit prioritas kelembagaan yang 2. Terumuskannya prioritas program Peserta dibagi menjadi 3 kelompok. disepakati hasil penjabaran misi Diskusi 1: Modul 1 | hal 23
  • 28. Durasi Kegiatan Output Proses Fasilitasi 3. Terumuskannya kegiatan hasil Masing-masing kelompok merumuskan visi dan misi (Pokja PKP). penjabaran program Format hasil diskusi kelompok adalah sebagai berikut: Kata kunci: “Pokja PKP menjadi ............................................. ........................................pada tahun xxxx ” Misi 1 Misi 2 Misi 3 Catatan; kata kunci misi; merubah, mendorong dsb. 2. Dari hasil rumusan tiga kelompok, selanjutnya dirumuskan melalui pleno, rumusan visi dan misi bersama. Dari misi gabungan (3 misi), selanjutnya disepakati prioritas program apa saja yang akan dilakukan dari masing- masing misi (satu misi maksimal 2 program) sehingga total program menjadi 6. Diskusi 2: Peserta kembali ke kelompok masing-masing. Setiap kelompok menjabarkan 2 program ke dalam kegiatan yang akan dilaksanakan selama 5 tahun mendatang. Format hasil diskusi adalah sebagai berikut: Program Prioritas kegiatan Sesi 8 Diskusi masukan dokumen Masukan dokumen kelembagaan Pokja Sesi ini merupakan sesi akhir sebelum penutupan dipimpin oleh Bappeda 30 kelembagaan Pokja PKP PKP (nama yang disepakati) untuk meminta masukan tentang dokumen kelembagaan Pokja yang akan menit (nama yang disepakati) dikonsultasikan dan diproses oleh bagian hukum. Dokumen kelembagaan ini telah dipersiapkan sebelum lokakarya berlangsung, didasarkan pada hasil lokakarya sebelumnya. Sesi 9 Wrap up (penajaman hasil Dipandu oleh fasilitator, disampaikan pokok-pokok hasil yang telah 30 lokakarya) disepakati selama lokakarya. menitModul 1 | hal 25 Modul 1 | hal 24
  • 29. LAMPIRAN  Bahan Bacaan 1: Konsep Pokja PKP Provinsi  Bahan Bacaan 2: Kelembagaan Pokja PKP ProvinsiModul 1 | hal 25
  • 30. BAHAN BACAAN 1:KONSEP POKJA PKP PROVINSI  Pengertian Pokja PKP  Urgensi Pembentukan Pokja PKP Provinsi  Sifat dan Karakteristik Pokja PKP Provinsi  Komponen Pokja PKP Provinsi  Kedudukan Pokja PKP Provinsi  Posisi Strategis Pokja PKP Provinsi  Manfaat Pokja PKP ProvinsiModul 1 | hal 26
  • 31. A. Pengertian Pokja PKPPokja merupakan tempat berkumpul para pemangku kepentingan untuk saling bekerjasamadan berkoordinasi untuk mewujudkan rencana secara komprehensif. Dibentuknya Pokjamerupakan suatu inisiatif dalam upaya meningkatkan atau pencapaian kinerja terhadap sebuahtujuan disebabkan tujuan tersebut tidak akan mampu diselesaikan oleh satu pihak saja.Penyiapan Pokja merupakan satu konsekuensi untuk membangun sinergi dan koordinasi untuksuatu pekerjaan yang melibatkan berbagai elemen/pihak.Pokja PKP adalah wadah yang dibentuk atas dasar komitmen bersama para pemangkukepentingan perumahan sebagai tempat untuk mensinergikan beberapa kegiatan, tukar pikiran,dan partisipasi. Pokja PKP merupakan instrumen pembangunan PKP dalam mewujudkan danmenjamin keseimbangan peran dan akses pemangku kepentingan dalam seluruh prosespembangunan PKP. Wadah ini diharapkan dapat terbentuk secara formal sehingga dapatdilembagakan melalui surat keputusan Kepala Daerah. Dalam menjalankan perannya, wadah inibekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan tanggung jawab yang diembannya. Pokja PKPmerupakan istilah/nama generik yang digunakan dalam mendukung peningkatan koordinasipembangunan PKP.Melalui Pokja PKP, dapat terwujud sinergisitas para pemangku kepentingan dalammelaksanakan pembangunan perumahan secara sistematis yang berorientsi pada tujuan.Masing-masing komponen diharapkan saling mengisi sesuai dengan tugas dan fungsinya. Hal inisangat efektif dalam mencapai tersedianya perumahan yang layak huni, termanfaatkan danterpelihara secara berkelanjutan. Pengertian ini mengandung makna bahwa:  Pokja PKP fokus pada bidang pembangunan PKP.  Pemangku kepentingan memiliki arah dan pandangan serta tujuan yang sama terhadap efektivitas penyediaan perumahan.  Pemangku kepentingan memahami fungsi dan perannya dalam penyelenggaraan pembangunan PKP di daerahnya.  Pokja PKP memiliki program dan rencana serta melaksanakannya untuk mewujudkan fungsi dan perannya.  Pokja PKP bersifat legal dan memiliki dasar hukum serta menjadi bagian dalam konstelasi pembangunan perumahan yang selanjutnya diatur dalam mekanisme kerja.B. Urgensi Pembentukan Pokja PKP ProvinsiPokja PKP Provinsi dibentuk untuk menjawab isu penyediaan perumahan dan pengelolaankawasan permukiman di provinsi. Untuk mengatasi permasalahan dan kendala tersebutdiperlukan peran pemangku kepentingan secara inklusif melalui Pokja. Selain itu diperlukanjuga sinergi dan komunikasi yang mampu menjembatani antar regulator, penyedia jasa dan penerimamanfaat. Atas dasar pertimbangan tersebut urgensi pembentukan Pokja PKP Provinsi adalah:  Pentingnya upaya antisipatif untuk mengurangi potensi permasalahan yang ditimbulkan oleh faktor yang berkaitan dengan koordinasi dan sinergi antar pihak dalam pelaksanaan program dan pembangunan perumahan.  Diperlukannya upaya advokatif untuk pelaksanaan pembangunan PKP yang berkelanjutan dan berkeadilan. Modul 1 | hal 27
  • 32.  Diperlukannya upaya sistematis dalam pengarusutamaan pencapaian sasaran pembangunan nasional bidang PKP untuk dapat dijabarkan ke dalam perencanaan yang terukur dan pencapaian hasilnya dapat diagregasi secara nasional.  Diperlukannya peran penyiapan dan pengawalan program pemerintah daerah dalam pelaksanaan program pembangunan PKP.  Upaya penguatan kapasitas pemangku kepentingan melalui proses pembelajaran dan knowledge management yang diselenggarakan melalui fungsi dan peran Pokja PKP.  Upaya untuk pencapaian dan pelaksanaan: 1. Millenium Development Goals terkait bidang perumahan 2. RPJMN, sasaran pembangunan nasional bidang perumahan 3. Rencana Strategis Kementerian/Lembaga terkait bidang perumahan 4. RPJMD, sasaran pembangunan bidang perumahan 5. Rencana Strategis SKPD terkait bidang perumahan 6. Kebijakan Nasional terkait percepatan pemenuhan perumahanC. Sifat dan Karakteristik Pokja PKP ProvinsiPokja PKP Provinsi bersifat inklusif, bukan pelaksana program/proyek dan bukan asosiasispesifik untuk kepentingan/bisnis tertentu. Oleh karena itu, kedudukan organisasi atau asosiasiterkait merupakan bagian dari Pokja PKP Provinsi, baik sebagai pengurus maupun anggota.Anggota Pokja PKP Provinsi mencakup unsur regulator, operator, dan penerimamanfaat/masyarakat luas.Pokja PKP Provinsi memiliki karakteristik sebagai berikut:  Bersifat inklusif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang peduli terhadap bidang PKP.  Dibentuk dan dilaksanakan atas dasar komitmen bersama.  Kesetaraan peran antar pengurus dan anggota.  Menjadi wadah sinergi antar pelaku dan pemangku kepentingan program pembangunan PKP.  Keanggotaan bersifat terbuka, akan tetapi pengurus inti bersifat mengikat atas fungsi dan peran yang telah ditetapkan dalam menjalankan tugas yang diemban. Oleh karena itu Pokja PKP perlu didukung dengan adanya legalitas dari Kepala Daerah.D. Komponen Pokja PKP ProvinsiKomponen Pokja PKP Provinsi terdiri dari regulator, operator, dan masyarakat.1) Regulator Regulator adalah pemerintah yang memiliki kewenangan dalam menetapkan kebijakan dan arah pembangunan PKP yang terdiri dari unsur eksekutif (Kepala Daerah) dan legislatif. Regulator dalam Pokja PKP Provinsi menjadi pengarah atas fungsi dan peran serta dukungannya dalam penyelenggaraan pembangunan PKP. Pokja PKP Provinsi menjadi bagian dari regulator yang berfungsi dalam penguatan kapasitas pelaksana pembangunan PKP.Modul 1 | hal 28
  • 33. 2) Operator Operator adalah para pelaku pembangunan PKP secara langsung dari unsur mitra pemerintah yang meliputi: kalangan pengembang (swasta atau developer/pengembang), penyedia jasa (kontraktor) dan layanan keuangan dari pihak perbankan. Dalam konteks program, operator juga termasuk dinas teknis yang melaksanakan program pembangunan dengan mekanisme swakelola masyarakat. Dalam keanggotaan Pokja PKP Provinsi, operator program dari SKPD yang membidangi perumahan menjadi pengurus tim teknis. Pihak lain dari luar struktur pemerintah menjadi anggota atau format lain disesuaikan dengan kebutuhan daerah.3) Masyarakat Masyarakat terdiri dari penerima manfaat dan kelompok peduli mencakup kalangan pers/media, akademisi, dan kelompok penerima dampak akibat pembangunan PKP. Masyarakat penerima manfaat dan penerima dampak merupakan sasaran yang akan difasilitasi dan dimediasi oleh Pokja PKP Provinsi dalam penyaluran aspirasi dan pemenuhan hak-hak serta kewajibannya. Peran masyarakat dari kalangan akademisi, pers dan organisasi terkait lainnya menjadi bagian dari keanggotaan Pokja PKP Provinsi atau format lain disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Hubungan sinergis antar komponen dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2. Hubungan Sinergis antar Komponen Pokja PKP ProvinsiE. Posisi Strategis Pokja PKP ProvinsiPosisi strategis Pokja PKP Provinsi adalah kedudukan yang diharapkan dapat memberikandampak menyeluruh terhadap perbaikan kinerja pembangunan PKP di provinsi.PKP dengan segala aspeknya perlu didukung peran pihak yang mampu menggerakkan fungsiseluruh elemen pembangunan yang dibutuhkan. Elemen yang dimaksud antara lainsebagaimana pada Tabel 6. Modul 1 | hal 29
  • 34. Tabel 6. Posisi Strategis Pokja PKP Provinsi pada Seluruh Elemen Pembangunan Elemen Kondisi yang diperlukan Fungsi PokjaKebijakan Adanya kebijakan yang mampu mengakomodasi Fasilitasi dan advokasi kepentingan seluruh pelakuPerencanaan  PKP menjadi skala prioritas Fasilitasi dan advokasi  Perencanaan yang mengarah pada upaya mengatasi masalah secara sistematis dan menjawab kebutuhanPembiayaan  Terciptanya mekanisme pembiayaan yang mampu Fasilitasi dan menjawab keterbatasan masyarakat kurang mampu mediasi  Tersedianya lembaga keuangan yang dapat membantu jalan keluar keterbatasan masyarakat tidak mampuKapasitas  SDM pelaku program yang mampu menjalankan Fasilitasi programnya secara efektif dan efisien  SDM yang memiliki kemampuan dalam proses perencanaan, pengendalian dan pengelolaan paska programTata kelola  Adanya wadah komunikasi dan saluran aspirasi Fasilitasi, komunikasi,  Adanya mekanisme penyelesaian konflik mediasi, dan resolusi konflikDari uraian pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa Pokja PKP Provinsi memiliki posisi strategisdalam upaya mewujudkan hasil PKP yang efektif melalui peran advokasi, fasilitasi, komunikasi,mediasi dan apabila diperlukan dapat melakukan peran resolusi konflik.F. Manfaat Pokja PKP ProvinsiPembentukan Pokja PKP Provinsi akan memberikan manfaat bagi daerah sebagai berikut:  Terlaksananya proses pembangunan PKP yang mampu mengakomodasi kepentingan pemerintah sebagai regulator, pengembang sebagai penyedia, dan penerima manfaat sehingga dapat mengurangi potensi konflik yang tidak diinginkan.  Pemerintah Pusat dan Daerah akan terbantu dalam proses sosialisasi mengenai kebijakan- kebijakan terkait pembangunan PKP.  Terbangunnya koordinasi yang lebih baik dalam mensinergikan arah pembangunan PKP sesuai dengan tujuan pembangunan daerah.  Tersedianya jalur komunikasi dan artikulasi kepentingan seluruh pemangku kepentingan PKP di daerah.Modul 1 | hal 30
  • 35. BAHAN BACAAN 2:KELEMBAGAAN POKJA PKP PROVINSI  Struktur Organisasi Pokja PKP Provinsi  Fungsi dan Peran Pokja PKP Provinsi  Pelaksanaan Fungsi dan Peran Pokja PKP Provinsi  Koordinasi Pokja PKP Pusat dan Daerah  Program Kerja Pokja PKP Provinsi  Tahapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi Modul 1 | hal 31
  • 36. A. Struktur Organisasi Pokja PKP ProvinsiUntuk personel yang duduk dalam struktur terdiri dari pemangku kepentingan yang secaralangsung menangani dan pihak lain termasuk tokoh masyarakat yang berkepentingan terhadappembangunan PKP. Struktur organisasi/susunan kepengurusan Pokja PKP Provinsi di daerahmencakup posisi tim pengarah, tim pelaksana dan tim sekretariat sebagaimana Gambar 3. Gambar 3. Struktur Organisasi Pokja PKP ProvinsiKeterangan:Tim Pengarah (steering comittee)Terdiri dari pimpinan SKPD terkait dan unsur pengambil kebijakan daerah yang membidangiatau menangani program pembangunan PKP di daerah seperti Kepala Bappeda, Kepala DinasPekerjaan Umum, Kepala Dinas Kebersihan, Kepala Dinas Lingkungan, dan lain-lain.Tim pengarah memiliki tugas dan peran dalam pengambilan keputusan terkait sektor PKP, danmemberikan arahan dan kebijakan untuk ditindaklanjuti oleh Pokja PKP Provinsi.Tim PelaksanaTim pelaksana merupakan pengurus inti Pokja PKP Provinsi yang terdiri dari pejabat teknis(kepala bidang dan atau kepala seksi) dari SKPD yang membidangi perumahan dan pihak-pihaklain di luar unsur SKPD, seperti LSM atau Perguruan Tinggi yang memiliki kepedulian terhadapsektor PKP.Tim pelaksana terdiri dari unsur ketua yang selanjutnya disebut sebagai ketua pokja, sekretarisdan gugus tugas/bidang sesuai bidang pekerjaan yang disepakati di daerah. Tim pelaksanapokja menjalankan fungsi koordinasi, advokasi dan fasilitasi dalam pembangunan PKP didaerah.Dalam pelaksanaan kegiatan, tim pelaksana pada pokja dibagi atas gugus tugas sesuai bidangpekerjaannya, dan setiap gugus tugas terdiri dari koordinator dan anggota. Sesuai denganfungsinya, bidang pekerjaan pokja mencakup peran koordinasi, advokasi dan fasilitasi, makaModul 1 | hal 32
  • 37. setidak-tidaknya gugus tugas pokja mencakup gugus tugas koordinasi, gugus tugas advokasidan gugus tugas fasilitasi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan apabila daerahmemandang perlu adanya gugus tugas lainnya seperti gugus tugas peran serta masyarakat,gugus tugas kemitraan dan sebagainya. Contoh uraian peran gugus tugas Pokja PKPsebagaimana pada Tabel 7. Tabel 7. Contoh Uraian Peran Gugus Tugas Pokja PKP Gugus Tugas Uraian Advokasi dan Mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi advokasi, antara lain:  Mendorong pengambil kebijakan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) untuk menempatkan PKP sebagai program prioritas  Sosialisasi kebijakan dan rencana pembangunan PKP Koordinasi dan Mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Sinergi koordinasi dan sinergi antar pelaku pembangunan PKP, antara lain:  Pertemuan koordinasi perencanaan  Pertemuan koordinasi pendataan  Pertemuan koordinasi monitoring  Pertemuan berbagi pengalaman dan penyelesaian permasalahan- permasalahan teknis Fasilitasi Mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan fasilitasi, antara lain:  Penyelenggaraan lokakarya/pelatihan bagi pelaku pembangunan PKP  Mediasi kerjasama antara pelaku pembangunan dengan lembaga keuangan  Penyediaan informasi dan konsultasi tentan proses perijinan Peran serta Mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat peranserta masyarakat dalam pembangunan PKP, antara lain:  Pembentukan kelembagaan pengelolaan lingkungan PKP di tingkat masyarakat  Melakukan promosi/kampanye kepedulian masyarakat untuk kebersihan lingkungan PKP DstTim SekretariatTim sekretariat bertugas untuk menjalankan aktivitas organisasi sehari-hari antara lainpengaturan agenda, korespondensi, dan sebagai penyelenggara pertemuan-pertemuan.Sekretariat terdiri dari pimpinan sekretariat dan tim operasional yang berasal dari unsur SKPDatau direkrut secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. Pimpinansekretariat adalah sekretaris Pokja PKP Provinsi yang akan melaporkan danmengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan atau program yang telah disepakati oleh timpelaksana Pokja PKP Provinsi. Modul 1 | hal 33
  • 38. B. Fungsi dan Peran Pokja PKP ProvinsiPokja PKP Provinsi merupakan instrumen dalam pelaksanaan program perumahan di tingkatprovinsi dan sebagai wadah publik dalam penyaluran aspirasi bidang PKP. Oleh karena itu,keanggotaan Pokja PKP Provinsi bersifat multi pihak. Dalam menjalankan tugasnya, Pokja PKPProvinsi memiliki fungsi dan peran sebagai berikut: 1) Mitra Pemerintah Pokja PKP Provinsi memiliki fungsi sebagai mitra pemerintah dalam beberapa kegiatan strategis antara lain:  Sosialisasi atau pengkomunikasian kebijakan-kebijakan pembangunan PKP kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait;  Proses penjaringan aspirasi masyarakat terhadap rencana pengembangan kebijakan atau rencana pembangunan dan kawasan permukiman;  Penguatan kapasitas SDM pengelola program PKP;  Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program PKP. 2) Advokasi Dalam fungsi advokasi, Pokja PKP Provinsi diharapkan dapat mendorong pelaksanaan pembangunan PKP, serta menerapkan prinsip-prinsip good governance. Kondisi good governance yang perlu diciptakan melalui fungsi ini antara lain:  Pembangunan PKP berpihak kepada kelompok masyarakat miskin yang perlu mendapatkan fasilitasi dalam mendapatkan hak dasarnya;  Kondisi keterbukaan dalam proses perencanaan dan penetapan kebijakan terkait, sehingga kebijakan tersebut pro-rakyat (keputusan tetap memperhatikan kepentingan rakyat);  Pelaksanaan pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan norma dan hukum yang berlaku. Fungsi advokasi Pokja PKP Provinsi diharapkan mampu mendorong pemerintah untuk menempatkan PKP sebagai program prioritas dalam pembangunan. Ruang lingkup advokasi dalam konteks pembangunan PKP antara lain advokasi anggaran, advokasi kebijakan penyelenggaraan dan advokasi kepedulian masyarakat. a) Advokasi anggaran Advokasi ini ditujukan untuk memastikan pemerintah terpanggil untuk meningkatkan alokasi anggaran pemerintah yang memadai dalam mengatasi permasalahan PKP, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam mendapatkan akses perumahan layak huni. Advokasi anggaran termasuk proses penetapan dan perencanaan anggaran serta pemanfaatannya agar memenuhi kaidah akuntabilitas. b) Advokasi kebijakan penyelenggaraan pembangunan PKP Advokasi kebijakan bertujukan untuk mendorong adanya kebijakan daerah yang dapat menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pembangunan PKP yang efektif. 1) Jika daerah belum memiliki kebijakan, maka didorong untuk melahirkan kebijakan bidang PKPModul 1 | hal 34
  • 39. 2) Jika kebijakan telah disiapkan akan tetapi tidak/kurang pro-publik maka Pokja PKP Provinsi mendorong agar kebijakan tersebut diperbaiki 3) Jika kebijakan sudah baik akan tetapi belum efektif penerapannya maka Pokja PKP Provinsi ikut berupaya melalui serangkaian upaya agar kebijakan tersebut dapat terlaksana 4) Jika kebijakan yang ada bertentangan dengan kepentingan publik atau tidak berpihak, dan akan manghasilkan kondisi kontra produktif, maka Pokja PKP Provinsi mendorong agar kebijakan tersebut dicabut dan digantikan dengan kebijakan baru yang lebih baik c) Advokasi kepedulian masyarakat Advokasi ini ditujukan untuk menciptakan kondisi PKP yang sehat. Dalam upaya menciptakan kondisi ini Pokja PKP Provinsi melakukan serangkaian kegiatan untuk membangun kepedulian masyarakat dalam menjaga dan mewujudkan lingkungan yang lebih baik.3) Intermediasi Pembangunan PKP selalu dihadapkan pada potensi konflik kepentingan antara pemerintah, penyedia dan calon penerima manfaat serta pihak-pihak yang menerima dampak akibat pembangunan misalnya persoalan pembebasan lahan. Fungsi intermediasi dimaksudkan sebagai upaya untuk membantu para pihak yang merasa terabaikan kepentingan dan haknya melalui proses yang kondusif untuk menghasilkan keputusan yang berimbang. Fungsi ini khususnya ditujukan dalam upaya mengatasi konflik antara pengembang dengan penerima manfaat maupun dengan pemerintah.4) Wadah Komunikasi dan Sinergi Banyaknya pemangku kepentingan khususnya dari dinas/lembaga pemerintah yang membidangi perumahan, akan berpotensi menimbulkan ego sektoral. Sebagai wadah komunikasi, entitas Pokja PKP Provinsi akan menjadi tempat untuk mengkomunikasikan rencana dan kegiatan antar pelaku. Selain itu Pokja PKP Provinsi juga sebagai forum untuk mendapatkan rekomendasi dalam memastikan hasil pembangunan yang keberlanjutan dan efektif menjawab kebutuhan. Modul 1 | hal 35
  • 40. C. Pelaksanaan Fungsi dan Peran Pokja PKP ProvinsiFungsi dan peran Pokja PKP Provinsi dilaksanakan dalam seluruh tahapan atau prosespembangunan sejak perencanaan sampai dengan paska pembangunan.1) Dalam perencanaan pembangunan  Memberikan masukan dalam penetapan arah pembangunan daerah dalam upaya pemenuhan perumahan.  Fasilitator atau peran bantu kepada pemerintah dalam rangka melakukan perencanaan strategis pembangunan PKP.  Melakukan advokasi untuk memastikan PKP menjadi salah satu prioritas pembangunan.2) Dalam pelaksanaan pembangunan  Melakukan upaya membangun sinergi dan koordinasi antar pelaku pembangunan PKP.  Memberikan layanan informasi, konsultasi dan mediasi kepada masyarakat.  Melakukan penguatan kapasitas dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pengelolaan pembangunan PKP yang berkelanjutan.  Terlibat dalam pelaksanaan monitoring terpadu untuk memastikan pembangunan PKP sesuai dengan arah yang digariskan oleh pemerintah.3) Dalam pengelolaan hasil pembangunan Melakukan upaya advokasi dan kampanye publik untuk mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan lingkungan PKP yang sehat.4) Dalam pengendalian hasil pembangunan Terlibat dalam proses evaluasi hasil pembangunan PKP dalam rangka pengembangan kebijakan dan perencanaan lanjutan daerah.D. Koordinasi Pokja PKP Pusat dan Daerah1) Koordinasi Pokja PKP Pusat dan Daerah Pokja PKP tingkat nasional dan Pokja PKP tingkat daerah merupakan kesatuan peran dalam mendorong terselenggaranya pembangunan PKP yang efektif menjawab kebutuhan dan sejalan dengan arah kebijakan dan sasaran pembangunan nasional. Tata hubungan dan koordinasi antara Pokja PKP Pusat dan daerah digambarkan pada Gambar 4.Modul 1 | hal 36
  • 41. PUSAT : Menteri Terkait Sinergi Pelaku (Contoh): 1. Bappenas Pokja Pusat 2. Kemenpera Perumahan 3. KemenPU Prog Nasional 4. Kemendagri, dll. PROVINSI/Gubernur Sinergi Pelaku (Contoh): 1. Bappeda Pokja PKP 2. SKPD terkait Provinsi Pelaksanaan 3. Swasta Prog Nas & Prov Keterangan Fasilitasi KAB/KOTA Bupati/Walikota Informasi Sinergi Pelaku (Contoh): Koordinasi 1. Bappeda dan Sinergi Pokja PKP Pelaksanaan 2. SKPD terkait Kab/Kota Prog Nasional, 3. Swasta 4. Masyarakat Prov., Kab/Kota Gambar 4. Skema Koordinasi Pokja PKP Pusat dan DaerahHubungan pada Gambar 4 menjelaskan bahwa Pokja PKP Pusat memberikan dukungan(fasilitasi) dan pembinaan kepada Pokja PKP Provinsi. Selanjutnya Pokja PKP Provinsimemberikan dukungan (fasilitasi) dan pembinaan kepada Pokja PKP Kabupaten/Kota. Dalamgaris informasi Pokja PKP Kabupaten/Kota menyampaikan informasi mengenai progres ataukegiatan-kegiatan terkait PKP kepada Pokja PKP Provinsi, demikian pula dari Pokja PKPProvinsi kepada Pokja PKP Pusat. Dinas PU Cipta Tim Teknis Karya Program Bappeda Perumahan Dinas PMD/ Kebersihan Bapermas Pokja PKP Provinsi Dinas Tata Dan Lain- Ruang dan Lain Permukiman Dinas Asosiasi Lingkunga n REI Gambar 5. Contoh Posisi Pokja PKP Terhadap Pemangku Kepentingan Modul 1 | hal 37
  • 42. E. Program Kerja Pokja PKP ProvinsiFungsi dan peran Pokja PKP diimplementasikan melalui serangkaian program kerja.Operasionalisasi program kerja tersebut dapat didanai oleh daerah melalui APBD. Programkerja Pokja PKP Provinsi mencakup Program Internal Kelembagaan Pokja PKP Provinsi danProgram Peningkatan Peran Pokja PKP Provinsi dalam pelaksanaan pembangunan.1) Program Internal Kelembagaan Pokja Program internal kelembagaan mencakup pengembangan kelembagaan, perencanaan strategis Pokja PKP Provinsi, pengembangan dan penguatan SDM serta optimalisasi fungsi dan peran. a) Pengembangan Kelembagaan Program pengembangan kelembagaan Pokja PKP Provinsi mencakup:  Pengembangan struktur tata kerja antar pengurus.  Pengembangan koordinasi antar stakeholder PKP di wilayahnya.  Fasilitasi proses pembentukan Pokja PKP di daerah. b) Perencanaan Strategis Pokja PKP Perencanaan strategis perlu disiapkan sebagai arah pelaksanaan program dan kegiatan untuk:  Mengarusutamakan program-programnya sejalan dengan sasaran pembangunan PKP.  Memperkuat koordinasi dan sinergi pelaksanaan program tingkat provinsi dan kabupaten/kota. c) Pengembangan dan Penguatan SDM Kegiatan strategis yang perlu dilaksanakan oleh Pokja PKP dalam pengembangan dan penguatan SDM, antara lain:  Pelatihan perencanaan strategis PKP untuk daerah.  Pelatihan advokasi dan komunikasi.  Pelatihan fasilitasi untuk petugas atau tenaga pendamping program PKP.  Pelatihan monitoring dan evaluasi partisipatif.  Topik-topik lain yang dianggap strategis. d) Optimalisasi Fungsi dan Peran Kegiatan strategis yang perlu dilaksanakan oleh Pokja PKP dalam optimalisasi fungsi dan peran, antara lain:  Penyelenggaraan lokakarya review kinerja pembangunan PKP daerah.  Penyelenggaraan lokakarya manajemen pengetahuan (knowledge management) sebagai proses pembelajaran antar daerah  Pengembangan alat bantu perencanaan, monitoring dan evaluasi program PKP.  Penyediaan layanan konsultasi dan komunikasi antar Pokja PKP Provinsi  Penyelenggaraan kajian/studi tematik PKP.Modul 1 | hal 38
  • 43. 2) Program Peningkatan Peran Pokja dalam Pelaksanaan Pembangunan Program peningkatan peran Pokja terdiri dari kajian isu dan permasalahan, fasilitasi pengembangan rencana aksi pemerintah, perencanaan dan kebijakan serta fasilitasi pelaksanaan pembangunan. a) Identifikasi isu dan permasalahan Identifikasi isu dan permasalahan dilakukan dengan cara mengamati fakta, mendengarkan aspirasi, menganalisis potensi permasalahan yang lebih besar serta peluang-peluang. Pokja PKP Provinsi diharapkan dapat memetakan situasi riil yang terjadi dan potensi permasalahan yang perlu diselesaikan melalui peran Pokja PKP. Hal ini dilakukan melalui kajian/studi dan lokakarya antar pemangku kepentingan PKP. Hasil yang diperoleh melalui proses ini adalah informasi akurat mengenai kondisi eksisting pembangunan PKP. b) Fasilitasi Pengembangan Rencana Aksi Pemerintah Hasil identifikasi akan menjadi masukan dan pertimbangan penting Pokja PKP dalam memetakan tindakan strategis yang diperlukan dan prioritas aksi yang akan dijalankan. Cara yang dilakukan dalam langkah ini melalui serangkaian pertemuan pengurus Pokja PKP. Hasil yang diperoleh merupakan road map atau peta aksi untuk mengatasi permasalahan, apa yang akan dilakukan, bagaimana melaksanakannya serta siapa yang akan menjalankannya diantara pengurus dan anggota Pokja. Dengan rencana aksi yang disusun melalui proses analisis secara bertahap dan sistematis, Pokja PKP menjalankan misi dalam seluruh proses dan tahapan pembangunan PKP. c) Fasilitasi Perencanaan dan Perumusan Kebijakan  Memberikan masukan mengenai kondisi berdasarkan hasil kajiannya untuk diakomodasi dalam rencana pembangunan daerah.  Ikut serta dalam proses perencanaan partisipatif melalui penilaian dan pemetaan kebutuhan perumahan serta kegiatan penguatan kapasitas.  Melakukan fasilitasi lokakarya sinergi perencanaan pembangunan PKP. d) Fasilitasi Pelaksanaan Pembangunan  Ikut serta dalam proses monitoring terpadu penyelenggaraan program PKP.  Melakukan fasilitasi pertemuan koordinasi dan lokakarya review progres pencapaian pembangunan PKP.  Menyampaikan temuan-temuan penting untuk ditindaklanjuti dalam upaya perbaikan kualitas pelaksanaan pembangunan.  Menyelenggarakan kegiatan penguatan kapasitas pelaksana pembangunan PKP. Modul 1 | hal 39
  • 44. F. Tahapan Pembentukan Pokja PKP Provinsi1) Analisis Isu dan Permasalahan Perumahan Analisis isu dan permasalahan ini merupakan proses pemetaan pelaku pembangunan PKP di daerah dalam rangka memperoleh gambaran isu dan permasalahan pokok PKP di daerah dan tindak lanjut penanganannya.2) Sosialisasi Konsep Kepokjaan Sosialisasi dimaksudkan untuk membangun pemahaman bersama mengenai konsep kepokjaan khususnya yang terkait bidang PKP, serta dukungan dalam rangka pembentukannya.3) Persiapan Pembentukan Rancangan Kelembagaan Pokja PKP Provinsi Penyusunan Rancangan Kelembagaan Pokja PKP merupakan rangkaian pertemuan oleh perwakilan SKPD/ pemangku kepentingan yang terkait bidang PKP yang dimaksudkan untuk menyusun bentuk kelembagaan, struktur, fungsi, dan peran Pokja PKP yang akan dibentuk.4) Pembentukan Pokja PKP Provinsi Lokakarya Pembentukan Pokja PKP Provinsi terkait bidang PKP merupakan proses partisipatif dalam memahami lebih lanjut mengenai konsep, fungsi dan peran Pokja PKP Provinsi.5) Legalisasi Kelembagaan Pokja PKP Provinsi Legalisasi Pokja PKP merupakan tindak lanjut lokakarya pembentukan Pokja PKP. Legalisasi ini diperlukan Pokja PKP dalam menjalankan fungsi dan perannya.Modul 1 | hal 40
  • 45. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MODUL 2 MANAJEMEN PENDATAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMANDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2011 JAKARTA 2011
  • 46. KATA PENGANTARModul 2 ini merupakan bagian kedua dari empat modul dalam rangkaian kegiatan peningkatankapasitas pemerintah daerah dalam hal penyiapan perencanaan pembangunan perumahan dankawasan permukiman yang dilaksanakan dalam rangka Dekonsentrasi Lingkup KemenperaTahun 2011. Modul ini berisi panduan umum manajemen pendataan perumahan dan kawasanpermukiman.Modul ini digunakan sebagai panduan oleh SKPD Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011, Fasilitator Provinsi, dan stakeholder lain yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatanpeningkatan kapasitas pemerintah daerah, khususnya dalam halmanajemen pendataanperumahan dan kawasan permukiman.Modul ini terdiri dari dua bagian, yaitu: Bagian 1 – Pendahuluan, merupakan bagian yangmenjelaskan latar belakang dan urgensi manajemen pendataan perumahan dan kawasanpermukiman dalam rangka pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, sedangkanBagian 2 –Panduan Pelaksanaan Manajemen Pendataan Perumahan dan Kawasan Permukimanyang terdiri dari rangkaian kegiatan pelatihan manajemen pendataan dan penyusunan profilperumahan dan kawasan permukiman. Modul ini juga dilengkapi dengan Lampiran berupaBahan Ajar Mekanisme Pelaksanaan Manajemen Pendataan Perumahandan KawasanPermukiman, Bahan Bacaan tentang Manajemen Pendataan dan Kawasan Permukiman, sertaDiagramAlur Mekanisme Pelaksanaan dan Penjelasan Singkat.Tiada gading yang tak retak, begitulah pula dengan modul ini yang disusun dalam jangka wakturelatif singkat sehingga membutuhkan saran dan kritik yang membangun untukpenyempurnaannya. Akhir kata, kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunanmodul ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Selamat membaca dan mempraktikkannya. Jakarta, Maret 2011 Tim Penyusun Modul 2 | hal i
  • 47. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ...........................................................................................................................................iDAFTAR ISI........................................................................................................................................................ iiDAFTAR TABEL...............................................................................................................................................iiiDAFTAR GAMBAR ..........................................................................................................................................iiiDAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN......................................................................................................... ivBAGIAN 1. PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1 A. Latar Belakang ...................................................................................................................................... 2 B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan Keluaran ..................................................................................... 3 C. Ruang Lingkup Modul ........................................................................................................................ 3BAGIAN 2. PANDUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN PENDATAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN 2011 ............................................. 4 Alur Pelaksanaan ....................................................................................................................................... 5 Kegiatan 1. Lokalatih Manajemen Pendataan PKP ..................................................................... 6 Kegiatan 2. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Profil PKP Provinsi ............................... 12 Pertemuan 1: Tindak Lanjut Lokalatih....................................................................................12 Pertemuan 2: Evaluasi Kemajuan dan Substansi Profil....................................................14 Pertemuan 3: Finalisasi Profil.....................................................................................................16LAMPIRANBAHAN AJAR: MEKANISME PELAKSANAAN MANAJEMEN PENDATAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN ....................................................................................19 Kegiatan 1. Identifikasi Pelaku Pendataan dan Penyedia Data............................................ 20 Kegiatan 2. Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format Pendataan ...................................... 22 Kegiatan 3. Pelatihan Pengisian Format Pendataan Hasil Sinkronisasi dan Restrukturisasi................................................................................................................. 27 Kegiatan 4. Pengumpulan Data ......................................................................................................... 28 Kegiatan 5. Analisis Data ..................................................................................................................... 29 Kegiatan 6. Pelaporan dan Publikasi Hasil Pendataan............................................................ 31BAHAN BACAAN: KONSEP MANAJEMEN PENDATAAN....................................................................37 A. Pengertian Manajemen Pendataan ............................................................................................ 38 B. Urgensi Pendataan Pembangunan PKP.................................................................................... 38 C. Siklus Manajemen Pendataan....................................................................................................... 39 D. Klasifikasi Data dalam Manajemen Pendataan ..................................................................... 41 E. Instrumen Pengumpulan Data..................................................................................................... 43DIAGRAM ALUR MEKANISME PELAKSANAAN DAN PENJELASAN SINGKAT.............................44Modul 2 | hal ii
  • 48. DAFTAR TABELTabel 1. Ruang Lingkup Modul Manajemen Pendataan ………………...................………………………. 3Tabel 2. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokalatih Manajemen Pendataan PKP ….… 7Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 1 ………………………..……………….. 8Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 2 ……………………..….…………….. 13Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 3 ………………….…………………… 15Tabel 6. Contoh Identifikasi Kelembagaan Terkait Pendataan ……………..……………….…………. 17Tabel 7. Contoh Checklist Persiapan Lokakarya ……….……………………………………….……………… 21Tabel 8. Contoh Materi Lokakarya Sinkronisasi Format dan Restrukturisasi Pendataan .....… 24Tabel 9. Contoh Agenda Pelatihan Pendataan…………………………………………………………………… 26Tabel 10. Contoh Alokasi Jumlah Peserta Lokalatih ………………………………….....…………………… 31Tabel 11. Lima Aspek dalam manajemen Komunikasi ………..……………………….....………………… 28DAFTAR GAMBARGambar 1. Alur Pelaksanaan Manajemen Pendataan Perumahan – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011 ………………………….…………………… 5Gambar 2. Siklus Pelaksanaan Manajemen Pendataan ………….…………..………………………………. 20Gambar 3. Contoh Bagian Formulir Pendataan yang Disinkronisasi ………………………………… 23Gambar 4. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat Kabupaten/Kota ……………………. 32Gambar 5. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat Provinsi ……………………………….. 33Gambar 6. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat Pusat ……………………………………. 34Gambar 7. Diagram Korelasi Data dan Kinerja Pembangunan …………………………………………. 41Gambar 8. Siklus Manajemen Pendataan ……………………………………………………………………….. 42Gambar 9. Proses Pengolahan Data ………………………………………………………………………………. 43Gambar 10. Hubungan Analisis dan Pengolahan Data ………………………………………………………. 43Gambar 11. Klasifikasi Kuesioner Berdasarkan Sasaran dan Bentuk ………………………………… 45 Modul 2 | hal iii
  • 49. DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATANAPBD : Anggaran Pendapatan Belanja DaerahAPERSI : Asosiasi Pengembang Perumahan Dan Permukiman Seluruh IndonesiaBappeda : Badan Perencanaan Pembangunan DaerahBPS : Badan Pusat StatistikBUMD : Badan Usaha Milik DaerahFLPP : Fasilitas Likuiditas Pembiayaan PerumahanKemenpera : Kementerian Perumahan RakyatLSM : Lembaga Swadaya MasyarakatMBM : Masyarakat Berpenghasilan Menengah BawahMBR : Masyarakat Berpenghasilan RendahPDAM : Perusahaan Daerah Air MinumPKP : Perumahan dan Kawasan PermukimanPokja PKP : Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan PermukimanPSU : Prasarana Sarana dan UtilitasPU : Pekerjaan UmumREI : Real Estat IndonesiaRenstra : Rencana StrategisRP4D : Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di DaerahRPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah DaerahRPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah NasionalSetda : Sekretariat DaerahSBU : Standar Biaya UmumSKPD : Satuan Kerja Perangkat DaerahSPM : Standar Pelayanan MinimalModul 2 | hal iv
  • 50. BAGIAN 1.PENDAHULUAN  Latar Belakang  Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran  Ruang Lingkup Modul Modul 2 | hal 1
  • 51. A. Latar BelakangProses pembangunan perumahan dan kawasan permukiman (PKP) merupakan suatu sikluskegiatan yang berkesinambungan yang terdiri dari perencanaan, implementasi, monitoring danevaluasi. Agar pembangunan PKP berjalan efektif dan efisien, diperlukan data dan prosespendataan yang akurat, valid dan terpercaya sebagai input dalam siklus tersebut. Ketersediaandata yang akurat dan valid serta pengelolaan pendataan yang baik mampu meningkatkankualitas proses pembangunan secara keselurahan. Selain itu, kegiatan pendataan sangatdiperlukan untuk pengembangan kebutuhan data dan informasi PKP dari aspek program,pendanaan, regulasi dan kelembagaan.Pembelajaran dari pelaksanaan pendataan dan monitoring pada Dekonsentrasi LingkupKementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Tahun 2010 di daerah menunjukkan bahwatidak seluruh daerah kabupaten/kota maupun provinsi dapat menyampaikan informasi ataumengisi kuesioner pendataan sebagaimana yang diharapkan. Kegiatan pendataan masihdifokuskan pada upaya menghasilkan output. Kesulitan yang dihadapi daerah antara laindisebabkan oleh keterbatasan kapasitas pelaksana/petugas pendataan, keterbatasan waktu dankompleksitas format isian pendataan.Berbagai isu dalam pendataan PKP, yang selanjutnya disebut pendataan, baik di daerah maupundi pusat, antara lain: 1) Perlunya kesamaan pemahaman para pelaku pembangunan PKP tentang pentingnya data PKP yang selanjutnya disebut data dan pengelolaannya. 2) Perlunya pemetaan fungsi dan peran SKPD yang membidangi perumahan dalam manajemen pendataan PKP, yang selanjutnya disebut manajemen pendataan. 3) Perlunya kesepakatan tentang struktur data yang minimal harus dimiliki, mekanisme konsolidasi data, dan hal-hal yang menyangkut updating (pembaharuan) data. 4) Perlu dikembangkan media publikasi dan diseminasi data yang mudah diakses para pemangku kepentingan terkait dan pihak yang lebih luas baik di daerah maupun pusat. 5) Perlunya peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam manajemen pendataan. melalui pelatihan.Kualitas perencanaan pembangunan PKP sangat bergantung pada strategi yang diterapkandalam manajemen pendataan baik dari sisi proses maupun output. Strategi ini dibutuhkandalam pengelolaan data dan penyusunan profil PKP, yang selanjutnya disebut profil, di berbagaitingkatan. Kegiatan manajemen pendataan tidak semata-mata berhenti pada dihasilkannyaoutput pendataan, tetapi mengupayakan terjadinya proses internalisasi pendataan, pendataanyang berkelanjutan, peningkatan kapasitas pelaksana/petugas pendataan, dan serta prosesdiseminasi dan publikasi hasil pendataan.Kegiatan peningkatan kapasitas melalui pelatihan manajemen pendataan perlu dilakukan untukmempermudah pemangku kepentingan pembangunan PKP di daerah dalam pengumpulan,pengolahan, penyajian dan diseminasi data. Agar pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitasini berlangsung sesuai dengan harapan, maka diperlukan suatu panduan/modul manajemenpendataan sebagai pegangan SKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Tahun 2011 ataupunKelompok Kerja Perumahan dan kawasan Permukiman yang selanjutnya disingkat Pokja PKP diProvinsi jika sudah terbentuk.Modul 2 | hal 2
  • 52. B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan KeluaranDalam konteks Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011, maka maksud, tujuan, sasarandan keluaran kegiatan manajemen pendataan adalah sebagai berikut:MaksudMemberikan pengetahuan dan keterampilan tentang pengelolaan data dan profil PKP kepadaaparat pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait lainnya.TujuanMeningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan PKP.SasaranMeningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam hal pengelolaan data dan penyusunan profil.Keluaran kegiatan ini adalah: 1) Terselenggaranya rangkaian kegiatan manajemen pendataan dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 di provinsi. 2) Tersusunnya profil PKP provinsi yang berisi informasi-informasi yang diperoleh dari pengolahan hasil pendataan pada Dekonsentrasi Tahun 2010.C. Ruang Lingkup ModulModul ini berisi materi, konsep dan panduan tentang manajemen pendataan yang disusundalam tiga bagian sebagaimana pada Tabel 1.Tabel 1. Ruang Lingkup Modul Manajemen Pendataan Bagian Ruang Lingkup Isi Pendahuluan 1. Latar belakang 2. Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran 3. Ruang Lingkup Modul Panduan Pelaksanaan Manajemen 1. Kegiatan 1. Lokalatih Manajemen Pendataan Pendataan PKP – Dekonsentrasi 2. Kegiatan 2. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Profil Lingkup Kemenpera Tahun 2011 Pertemuan 1: Tindak Lanjut Lokalatih Pertemuan 2: Evaluasi Kemajuan dan Substansi Profil Pertemuan 3: Finalisasi Profil Lampiran 1. Bahan Ajar: Mekanisme Pelaksanaan Manajemen Pendataan 2. Bahan Bacaan: Modul Manajemen Pendataan 3. Diagram Alur Mekanisme Pelaksanaan dan Penjelasan Singkat Modul 2 | hal 3
  • 53. BAGIAN 2.PANDUAN PELAKSANAANMANAJEMEN PENDATAAN PERUMAHAN DANKAWASAN PERMUKIMANDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN2011  Alur Pelaksanaan  Lokalatih Manajemen Pendataan PKP  Rangkaian Pertemuan Penyusunan Profil PKP ProvinsiModul 2 | hal 4
  • 54. Alur PelaksanaanAlur pelaksanaan kegiatan manajemen pendataan dalam Dekonsentrasi Lingkup KemenperaTahun 2011 sebagaimana pada Gambar 1. Gambar 1. Alur Pelaksanaan Kegiatan Manajemen Pendataan– Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 Modul 2 | hal 5
  • 55. Kegiatan 1. Lokalatih Manajemen Pendataan PKPMaksud dan TujuanLokalatih ini dilakukan dengan tujuan umum meningkatkan pemahaman pemangkukepentingan terhadap isu dan permasalahan serta mekanisme manajemen pendataan PKP.Secara khusus tujuannya adalah: 1. Mengidentifikasi peran lembaga/program dalam kegiatan manajemen pendataan; 2. Menyepakati indikator (variabel) dan format pendataan berdasarkan sinkronisasi dan restrukturisasi format dan struktur pendataan eksisting PKP sesuai kebutuhan daerah; 3. Mengidentifikasi dan menyepakati mekanisme manajemen pendataanKeluaran 1. Teridentifikasinya isu dan masalah dalam manajemen pendataan; 2. Meningkatnya pemahaman peserta terhadap pentingnya manajemen pendataan; 3. Meningkatnya pemahaman akan peran dinas/lembaga yang terkait dalam pembangunan PKP, informasi pendataan dan mekanismenya; 4. Disepakatinya indikator, format dan struktur pendataan pembangunan perumahan sesuai kebutuhan daerah; 5. Disepakatinya mekanisme monitoring dalam pembangunan perumahan; 6. Rencana tindak lanjut.MetodologiLokakarya dilakukan dengan metode partisipasi dengan prinsip Pendekatan Orang Dewasa(POD). 1. Presentasi Pleno dan Presentasi Kelompok 2. Diskusi Kelompok, Diskusi Pleno 3. Penugasan Individu dan Penugasan KelompokAlat dan Bahan 1. LCD 2. Laptop, minimal 2 buah 3. Wireless Microphone 4. Sticky Cloth, 4-6 buah dan masking tape (perlengkapan terkait) 5. Metaplan, minimal 4 warna setiap bentuk,masing-masing 100 lembar 6. Spidol (BG-12/besar) sejumlah peserta 7. Flip Chart dan Tripod-nya, sejumlah kelompok diskusi 8. Data eksisting kabupaten/kota dan provinsi, dibawa oleh Tim Pendataan dan Monitoring Kabupaten sebelumnya maupun pemangku kepentingan lainnya 9. Panduan diskusi kelompokModul 2 | hal 6
  • 56. PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011PesertaJumlah peserta kurang lebih 30-63 orang, tergantung jumlah kabupaten/kota di suatu provinsi,yang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya; 2. Seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota sebanyak 1 orang dari Tim Pendataan dan Monitoring Dekonsentrasi Tahun 2010 (diutamakan) atau dari Bappeda; 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll. Tabel 2. Contoh Alokasi Peserta Lokalatih No Instansi/Lembaga Jabatan Jumlah1 SKPD Provinsi (pelaksana dekon) Kepala/Kabid 22 Bappeda Kepala/Kabid 23 Dinas PU (sejenis) Kepala/Kasubdin 24 Pemberdayaan Masyarakat Kepala/Kasubdin 15 Kesehatan Kepala/Kasubdin 16 Transmigrasi Kepala/Kasubdin 17 Badan Informasi dan pendataan elektronik daerah Kepala/Kabid 18 BPS Kepala/Kabid 19 REI Kepala/Kasubdin 110 LSM Kepala/Kasubdin 111 Kontraktor Perumahan Kepala/Kasubdin 112 APERSI Kepala/Kasubdin 113 Perguruan Tinggi Kepala/Kabid 114 PDAM Kepala/Kabid 115 Tim Pendataan Provinsi16 DLL, lembaga terkait perumahan di daerah Total peserta provinsi 2517 Perwakilan Kab/Kota Tim Pendataan 2010, 5-38 (tergantung jumlah kab/kota) masing-masing 1 orang Jumlah (orang) = 30-63 tergantung provinsiNarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerah Modul 2 | hal 7
  • 57. Agenda dan Alokasi Waktu PelaksanaanModul 2 | hal 8 Alokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokalatih ini ±1,5 hari, dengan rincian materi (catatan: lokalatih ini merupakan sesi 1,5 hari pertama dari 3 hari lokalatih untuk manajemen pendataan dan monev pembangunan perumahan): Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokalatih Manajemen Pendataan PKP Fasilitator/ Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses Moderator/ Narasumber Hari I Sesi 1 Persiapan dan Panitia siap di tempat lokakarya dan peserta mengisi Panitia 30 Registrasi absensi/daftar ulang dan memperoleh seminar kit menit Sesi 2 Pembukaan 1. Ucapan terima kasih dan 1. Pembawa acara mempersilahkan peserta untuk duduk pada Gubernur/Sekda 30 selamat datang tempatnya, karena acara akan segera dimulai menit 2. Penekanan pentingnya 2. Pembukaan dan arahan oleh Bupati/Sekda/Kepala Bappeda manajemen pendataan 3. Doa (wakil peserta) 3. Mendorong agar pemangku kepentingan terlibat terus menerus dalam manajemen pendataan Sesi 3 Pengantar lokakarya Perkenalan 1. Fasilitator memberikan pengantar tentang makna sebuah Fasilitator 30 perkenalan. menit 2. Jelaskan bahwa acara perkenalan akan dilakukan dengan cara berikut ini : a. Masing-masing peserta diminta untuk menggambar/sketsa kondisi PKP di sekitar tempat tinggal mereka b. Masing-masing peserta melihat hasil gambar peserta lainnya c. Setelah selesai peserta diminta bergabung/kelompok seuai gambar/sketsa yang yg mirip/sama, menurut persepsi masing-masing d. Dalam kelompok, peserta melakukan perkenalan: nama, instansi, dan lain-lain e. Setelah ada dalam kelompok peserta diminta untuk Modul 2 | hal 8
  • 58. Fasilitator/ Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses Moderator/ Narasumber tentukan gambar yang paling dapat merepresentasikan kelompok, perkenalan dalam kelompok dan buat yel-yel kelompok 3. Peserta diminta mempresentasikan gambar kelompok, dan menyebutkan nama dan instansi anggota kelompoknya Alur Lokakarya dan Kontrak Fasilitator mempresentasikan alur lokakarya dan menyampaikan Belajar hal-hal yang perlu disepakati selama lokakarya 15 Rehat Kopi menit Sesi 4 Presentasi kondisi dan 1. Gambaran kondisi PKP di 1. Moderator memperkenalkan narasumber dan mempersilakan Kepala Bappeda 75 situasi pembangunan Provinsi dan Kabupaten memulai materi (Narasumber menit PKP di daerah 2. Kebijakan Daerah terkait PKP, 2. Nara sumber mempresentasikan materi Daerah), Moderator RPJMD, Renstra SKPD terkait, 3. Moderator memandu sesi klarifikasi/tanya jawab RP4D (jika ada) 4. Moderator memberikan kesimpulan/catatan dan menutup sesi 60 Ishoma menit Sesi 5 Urgensi Manajemen 1. Isu dan Kebijakan Pemerintah 1. Moderator memperkenalkan narasumber dan mempersilakan Narasumber Pusat 60 Pendataan dalam pusat terkait PKP memulai materi menit Program 2. MDG, RPJMN 2010-2014, dan 2. Nara sumber mempresentasikan materi Pembangunan PKP Renstra Kemenpera 3. Moderator memandu sesi klarifikasi/tanya jawab 3. Gambaran kondisi pendataan 4. Moderator memberikan kesimpulan/catatan dan menutup secara nasional sesi 4. Penekanan pentingnya data dalam pembangunan PKPModul 2 | hal 9 Modul 2 | hal 9
  • 59. Fasilitator/ Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses Moderator/Modul 2 | hal 10 Narasumber Sesi 6 Identifikasi Isu/ 1. Kondisi pembangunan PKP 1. Fasilitator memberikan pengantar singkat Fasilitator dan 60 Permasalahan dan 2. Permasalahan pendataan 2. Fasilitator membagi peserta dalam 3-5 kelompok , peserta menit Peran Pelaku Dalam 3. Kegiatan pembangunan PKP (berdasarkan latar belakang peserta atau bila campuran, Manajemen Pendataan yang sudah dilakukan para tergantung situasi) (diskusi kelompok) pemangku kepentingan 3. Peserta berdiskusi di kelompok, berdasarkan key word yang 4. Data yang dimiliki oleh sudah disiapkan oleh fasilitator pemangku kepentingan 4. Lakukan presentasi dengan metode Delphi 5. Refleksi atas kesamaan atau Lembaga Kegiatan Data yang Dimiliki perbedaan data yang dimiliki masing-masing pihak 15 Rehat Kopi Panitia menit Sesi 7 Presentasi Konsep, dan 1. Format pendataan yang sudah 1. Moderator memperkenalkan nara sumber dan Narasumber Pusat 75 Format Pendataan dikembangkan oleh mempersilakan memulai materi menit Kemenpera 2. Narasumber mempresentasikan materi 2. Permasalahan dan tantangan 3. Moderator memandu sesi klarifikasi/tanya jawab dalam pengumpulan data 4. Moderator memberikan kesimpulan/catatan dan menutup sesuai format pusat sesi Sesi 8 Identifikasi Daerah 1. Pemahaman peserta terhadap 1. Fasilitator memberikan pengantar singkat SKPD Provinsi, 60 terhadap Konsep dan konsep pendataan yang 2. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok bebas, 2-3 Fasilitator dan menit Format Pendataan dikembangkan oleh kelompok Perwakilan kelompok Kemenpera 3. Peserta berdiskusi di kelompok, berdasarkan keyword 2. Analisis kesesuian dengan (template) yang sudah disiapkan oleh fasilitator kondisi daerah berdasarkan 4. Peserta mempresentasikan hasil sumber daya tersedia 5. Klarifikasi dan kesepakatan konsep pendataan sesuai kebutuhan daerah Hari II Sesi 1 Review hasil Hari I Fasilitator memberikan evaluasi atas hasil hari pertama dan 15 meminta tambahan/klarifikasi dari peserta atau yang sudah menit ditunjuk sebelumnya Sesi 2 Mekanisme dan 1. Bagaimana data dikumpulkan 1. Moderator memperkenalkan narasumber dan mempersilakan Narasumber Pusat 75 struktur pengelolaan dan dianalisis memulai materi menit data 2. Bagaimana mekanisme 2. Narasumber mempresentasikan materi pembaharuan (updating) 3. Moderator memandu sesi klarifikasi/tanya jawab singkat Modul 2 | hal 10
  • 60. Fasilitator/ Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses Moderator/ Narasumber 3. Bagaimana data 4. Moderator memberikan kesimpulan/catatan dan menutup disebarluaskan sesi 4. Bagaimana mekanisme integrasi pelaporan dari pusat hingga kab/kota 15 Rehat Kopi menit Sesi 3 Restrukturisasi format 1. Variabel apa yang perlu untuk 1. Fasilitator memberikan pengantar singkat Pokja PKP dan 90 dan indikator daerah. Propinsi dan pusat 2. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok bebas, 2-3 Fasilitator menit Pendataan di Daerah 2. Variabel apa yang dapat kelompok (diskusi kelompok) diperoleh di tingkat kab/kota, 3. Peserta berdiskusi di kelompok, berdasarkan keyword propinsi dan pusat (template) yang sudah disiapkan oleh fasilitator 3. Definisi masing-masing 4. Peserta mempresentasikan hasil varibel 5. Klarifikasi dan kesepakatan variabel sesuai kebutuhan daerah Jenis Lingkup kebutuhan Instansi Definisi Variabel (pusat/ prop/ kab) penyedia data Sesi 13 Diskusi Rencana 1. Penekanan pentingnya 1. Fasilitator memberikan pengantar penyusunan Rencana Pokja PKP 30 Tindak Lanjut (RTL) komitmen untuk RTL Tindak menit Lokakarya 2. Penugasan kelompok atau 2. Peserta diminta menyusun RTL sesuai format yang disiapkan pleno untuk menyusun Kegiatan Out- Waktu Penang Dukungan yang rencana tindak rencana put gung-jawab diperlukan Sesi 14 Penutupan 1. Ucapan terima kasih 1. Pembawa acara menyampaikan kesiapan acara penutupan Gub/ Sekda/ Kepala 15 2. Komitmen untuk dan meminta perhatian peserta Bappeda menit pembaharuan dan manajemen 2. Pejabat berwenang menyampaikan pidato penutupan data 3. Doa penutup (wakil peserta atau yang ditunjuk) 3. Komitmen untuk partisipasiModul 2 | hal 11 yang berkelanjutan dari peserta 4. Komitmen untuk implementasi RTL Modul 2 | hal 11
  • 61. Kegiatan 2. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Profil PKP ProvinsiPertemuan 1: Tindak Lanjut LokalatihMaksud dan Tujuan 1. Memperdalam substansi yang dihasilkan dalam lokalatih manajemen pendataan 2. Menetapkan jadwal/agenda tim kecil hasil kesepakatan dari lokalatih manajemen pendataan yang selanjutnya disebut tim kecil untuk penyusunan profilKeluaran 1. Rancangan materi, struktur dan format pendataan final untuk kebutuhan daerah 2. Agenda pertemuan lanjutan, untuk tim kecil maupun Pokja PKPMetodologiPertemuan koordinasi dalam bentuk rapat kerja oleh tim kecil.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flipchart serta peralatan lainnya jika dibutuhkan.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 2 | hal 12
  • 62. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan dilakukan dalam 1 hari, dengan kebutuhan waktu 5 (lima) hingga 8 (delapan) jam, sesuai dengan kondisi dan rekomendasi/tindak lanjut lokalatih. Alokasi waktu tersebut tidak termasuk dan waktu istirahat (makan snack, makan siang). Rincian agenda kegiatan pertemuan 1 adalah sebagai berikut: Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 1 Durasi Tahapan Ouput Proses 60 Pembukaan dan Pengantar 1. Terbinanya suasana rapat yang 1. Pimpinan rapat membuka rapat menit Pertemuan oleh Pimpinan Rapat kondusif 2. Fasilitator atau anggota Pokja PKP Provinsi menyajikan [kembali] (Bappeda/Pokja PKP/ SKPD 2. Peserta memahami dan hasil dan catatan pelatihan agar seluruh peserta ingat Provinsi) menyepakati output pertemuan 3. Diskusi dan masukan 120 Review hasil pertemuan 1. Peserta pertemuanmengingat 1. Fasilitator mempersilahkan salah seorang anggota Pokja PKP Provinsi menit kembali kegiatan lokalatih dan peserta pertemuan mereview hasil lokalatih 2. Menyapakati format dan struktur 2. Peserta rapat memberi masukan terhadap format dan struktur pendataan pendataan 3. Menyepakati mekanisme 3. Peserta rapat memberikan masukan terhadap mekanisme pendataan pendataan 4. Kesimpulan bersama 4. Perbaikan-perbaikan 120 Penyusunan jadwal kerja tim kecil 1. Disepakatinya kegiatan yang 1. Pembahasan susunan keangotaan tim kecil menit perlu dilakukan tim kecil 2. Pimpinan rapat meminta masukan kegiatan, output dan durasi, yang 2. Tersusunnya jadwal detail tim perlu segera dilakukan tim kecil kecil 3. Mengidentikasi kebutuhan pendanaan dan administrasi yang perlu untuk tim kecil 4. Pimpinan rapat menjelaskan mengapa tim kecil perlu dibentuk 60 Rencana tindak Agenda pertemuan berikutnya Pimpinan sidang meminta peserta menyampaikan hal-hal yang perlu menit ditindaklanjuti bersama setelah pertemuan tersebutModul 2 | hal 13 6 Jam Total Rapat ditutup oleh Pimpinan Rapat dan meninta agar pada pertemuan berikutnya masing-masing pihak yang diberi tugas memberi laporan kemajuan. Modul 2 | hal 13
  • 63. Pertemuan 2: Evaluasi Kemajuan dan Substansi ProfilMaksud dan TujuanMaksud adanya Pertemuan 2 ini adalah untuk melakukan evaluasi progres pertemuan pertamadan membahas lebih detail usulan tim kecil tentang format profil.Tujuan pertemuan 2 ini adalah: 1. Mengevaluasi pencapaian dan kemajuan tugas masing-masing pihak yang disepakati dalam pertemuan pertama. 2. Mendengarkan dan memberi masukan usulan profil dari tim kecil. 3. Menetapkan jadwal/agenda pertemuan selanjutnyaKeluaranKeluaran dari Pertemuan 2 ini adalah: 1. Laporan kemajuan masing-masing pihak 2. Konsep usulan materi profil yang sudah disusun oleh tim kecil 3. Jadwal dan agenda pertemuan lanjutan, untuk tim kecil maupun Pokja PKPMetodologiPertemuan koordinasi dalam bentuk rapat kerja oleh tim kecil.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flipchart serta peralatan lainnya jika dibutuhkan.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 2 | hal 14
  • 64. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan dilakukan dalam 1 hari, dengan kebutuhan waktu minimal 5 (lima) hingga 8 (delapan) jam, sesuai dengan kondisi dan rekomendasi/tindak lanjut lokalatih. Alokasi waktu tersebut tidak termasuk dan waktu istirahat (makan snack, makan siang). Rincian agenda kegiatan pertemuan 2 adalah sebagai berikut: Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 2 Durasi Tahapan Ouput Proses 30 Pembukaan dan Pengantar pertemuan 1. Terbinanya suasana rapat yang 1. Pimpinan rapat membuka rapat menit oleh Pimpinan rapat (Bappeda atau kondusif 2. Fasilitator atau anggota Pokja PKP mengingatkan kembali hasil SKPD terkait Perumahan) 2. Peserta memahami dan kesepakatan pertemuan 1 menyepakati output pertemuan 60 Paparan progres dari masing-masing Hal yang sudah ditindaklajuti peserta 1. Masing-msing mempresentasikan hal-hal yang dilakukan sesuai menit pihak terinformasi kesepakatan pertemuan 1 2. Diskusi dan masukan 60 Paparan tim kecil tentang usulan profil Format usulan profil disampaikan 1. Tim kecil mempresentasikan usulan profil berdasarkan format menit data sebelumnya 2. Diskusi dan tanyajawab 3. Kesimpulan bersama 120 Diskusi Format draft usulan tim kecil 1. Peserta memberi masukan 1. Pimpinan rapat meminta masukan peserta terhadap usulan format 2. Format profil difinalkan sesuai profil yang dipersiapkan tim kecil masukan 2. Diskusi dan tanya jawab 3. Kesepatan data yang akan 3. Kesimpulan bersama disampaikan dalam profil 30 Rencana tindak Agenda pertemuan berikutnya Pimpinan sidang meminta peserta menyampaikan hal-hal yang perlu menit ditindaklanjuti bersama setelah pertemuan tersebut 5 Jam Total Rapat ditutup oleh Pimpinan Rapat dan meminta agar pada pertemuan berikutnya masing-masing pihak yang diberi tugas memberi laporan kemajuan.Modul 2 | hal 15 Modul 2 | hal 15
  • 65. Pertemuan 3: Finalisasi ProfilMaksud dan TujuanMaksud dari kegiatan Pertemuan 3 ini adalah tindak lanjut dan pembahasan akhir profilperumahan yang dihasilkan oleh tim kecil.Tujuan pertemuan 3 adalah: 1. Mengevaluasi pencapaian dan kemajuan tim kecil 2. Menyepakati isi dan materi pembuatan profil. 3. Menetapkan jadwal/agenda pertemuan selanjutnyaKeluaranKeluaran dari pertemuan 3 ini adalah: 1. Substansi final untuk profil perumahan 2. Jadwal publikasi dan pengadaan buku profil perumahanMetodologiPertemuan koordinasi dalam bentuk rapat kerja oleh tim kecil.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flipchart serta peralatan lainnya jika dibutuhkan.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 2 | hal 16
  • 66. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan dilakukan dalam 1 hari, dengan kebutuhan waktu minimal 5 (lima) hingga 8 (delapan) jam, sesuai dengan kondisi dan rekomendasi/tindak lanjut lokalatih. Alokasi waktu tersebut tidak termasuk dan waktu istirahat (makan snack, makan siang). Rincian agenda kegiatan pertemuan 3 adalah sebagai berikut: Tabel 6. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pertemuan 3 Durasi Tahapan Ouput Proses 30 Pembukaan dan Pengantar pertemuan oleh 1. Terbinanya suasana rapat yang kondusif 1. Pimpinan rapat membuka rapat menit Pimpinan rapat (Bappeda atau SKPD terkait 2. Peserta memahami dan menyepakati output 2. Fasilitator atau anggota Pokja PKP mengiatkan Perumahan) pertemuan kembali hasil kesepakatan pertemuan 2. 90 Paparan tim kecil tentang status Substansi profil tersampaikan 1. Tim kecil mempresentasikan materi dan draft profil menit penyusunan profil 2. Tanya jawab dan klarifikasi 120 Diskusi substansi profil 1. Peserta memberi masukan 1. Pimpinan rapat meminta masukan peserta terhadap menit 2. Substansi profil difinalkan sesuai masukan usulan materi dan subtansi profil yang dipersiapkan tim kecil 2. Diskusi dan tanya jawab 3. Kesimpulan bersama 60 Kesepakatan Menyepakati format dan materi profil Pimpinan rapat mendengarkan pandangan setiap SKPD, menit dan mitra, tentang materi profil 60 Rencana tindak Agenda pertemuan berikutnya Pimpinan sidang meminta peserta menyampaikan hal- menit hal yang perlu ditindaklanjuti, antara lain: jadwal konsultasi kepada pengambil kebijakan, pencetakan dan publikasi 6 Jam Total Rapat ditutup oleh Pimpinan Rapat dan meninta agar pada pertemuan berikutnya masing-masing pihak yang diberi tugas memberi laporan kemajuan.Modul 2 | hal 17 Modul 2 | hal 17
  • 67. LAMPIRANModul 2 | hal 18
  • 68. BAHAN AJAR:MEKANISME PELAKSANAAN MANAJEMENPENDATAAN PERUMAHAN DAN KAWASANPERMUKIMAN  Kegiatan 1: Identifikasi Pelaku Pendataan dan Penyedia Data Perumahan  Kegiatan 2: Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format Pendataan  Kegiatan 3: Pelatihan Pengisian Format Pendataan Hasil Sinkronisasi dan Restrukturisasi Pendataan  Kegiatan 4: Pengumpulan Data  Kegiatan 5: Analisis Data  Kegiatan 6: Pelaporan dan Publikasi Hasil Pendataan Modul 2 | hal 19
  • 69. Pelaksanaan manajemen pendataan merupakan suatu siklus, terdiri dari 6 kegiatan utama yangmengacu pada konsep manajemen pendataan sebagaimana dijelaskan di Bagian 2. Secara rinci,mekanisme pelaksanaan manajemen pendataan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2. Identifikasi Pelaku Pendataan dan Sumber Data Pelaporan dan Sinkronisasi dan Publikasi Hasil Restrukturisasi Pendataan Format Pendataan Pelatihan Analisis Data Pengisian Format Pendataan Pengumpulan Data Gambar 2. Siklus Pelaksanaan Manajemen PendataanKegiatan 1. Identifikasi Pelaku Pendataan dan Penyedia DataIdentifikasi dan pemetaan pelaku atau lembaga terkait pendataan dimaksudkan untukmemastikan bahwa pendataan melibatkan pemangku kepentingan dan format pendataan dapatdijawab/direspon oleh pemangku kepentingan tersebut. Sedangkan identifikasi penyedia datadilakukan untuk memetakan dinas/lembaga mana saja yang mempunyai/menyediakan datayang terkait dengan PKP.A. Identifikasi Pelaku PendataanIdentifikasi pelaku pendataan dapat dilakukan secara singkat dan tidak formal dalam sebuahpertemuan/rapat/lokakarya di tingkat provinsi ataupun dalam kesempatan tertentu, dengancara sebagai berikut: 1) Pengelompokan peserta berdasarkan optimisme peserta (Optimis/Pesimis/Ragu-ragu) terhadap pencapaian target pembangunan PKP yang tertuang dalam suatu dokumen perencanaan (RPJMD ataupun Renstra SKPD); 2) Masing-masing kelompok (dikategorikan dalam Optimis/Pesimis/Ragu-ragu) mendiskusikan alasannya dan memfokuskannya pada ketersediaan data; 3) Hasil diskusi kelompok dituliskan dalam flip chart atau metaplan dan ditempelkan di kain rekat (sticky cloth) di dinding; 4) Setiap perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya; 5) Rangkum hasil diskusi dengan memberikan penekanan keterkaitan ketersediaan data dengan kinerja pembangunan.Modul 2 | hal 20
  • 70. Dalam melakukan identifikasi pelaku, perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1) Bahwa pemangku kepentingan tersebut memiliki program/kegiatan yang berhubungan langsung dengan sektor PKP; 2) Bahwa pemangku kepentingan tersebut berasal dari pelaksana kebijakan baik dari SKPD maupun non-SKPD namun terkait langsung; 3) Bahwa pemangku kepentingan adalah mitra langsung pemerintah dalam penyelenggaraan program PKP dan/atau mitra tidak langsung tetapi memiliki potensi untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan program PKP; 4) Bahwa pemangku kepentingan dianggap memiliki mekanisme tersendiri dalam pendokumentasian kegiatan/program terkait PKP.B. Identifikasi Penyedia DataKegiatan Identifikasi ini dilakukan oleh SKPD yang membidangi perumahan ataupun melaluikoordinasi Pokja PKP (jika sudah terbentuk) dalam suatu pertemuan. Kegiatan ini dapat bersifatinternal maupun melibatkan pihak eksternal. Untuk melaksanakan ini, diperlukan: (1) TORbeserta daftar peserta yang diundang; (2) Tempat pertemuan; (3) Pimpinan Rapat;(4) Notulensi; dan (5) Dokumen terkait yang digunakan sebagai bahan telaah (dapat berupaprofil organisasi, laporan proyek/program PKP, leaflet dan sebagainya).Contoh tabel yang dapat membantu Pokja PKP untuk mengidentifikasi kelembagaan terkaitpendataan sebagaimana pada tabel 7. Tabel 7. Contoh Identifikasi Kelembagaan Terkait Pendataan Apakah Memiliki Data Terkait Contact Person/ Program PKP Penan Nama Uraian Kegiatan Utama ggung Lembaga Terkait PKP - Ya Tidak JawabBappeda Perencanaan Program PKP V (berupa data anggaran APBD tahun #### untuk PKP)Dinas Perencanaan dan pembangunan VPerumahan Rumah Sejahtera Tapak/ (berupa lokasi dan Rumah Sederhana Sehat ## jumlah rumah unit dan Rumah khusus XX unit terbangun) di Desa XPT. Pembangunan 200 unit Rumah V Bpk. PeraPerumahan Sejahtera Tapak/ Rumah (berupa penyebaran 08xxxxxx Sederhana Sehat di Kec.X lokasi, investasi, infrastruktur)Bank NNN Data nama orang yang kredit V Bpk. WWW rumah 08xx Modul 2 | hal 21
  • 71. Harian SSS Tidak ada V Ibu. RRR (berupa data sekunder 08xxxxx daftar perusahaan yang membangun perumahan karyawan)Dst...Berdasarkan kategori dan kelengkapan data, Pokja PKP dapat mengambil keputusan untukmenetapkan pihak mana saja yang perlu dilibatkan dalam kegiatan pendataan, berdasarkanurgensi keterlibatan dan ketersediaan informasi.Agar proses identifikasi berjalan lancar, diperlukan peralatan/hal-hal seperti: (1) LCD, (2) FlipChart, (3) Spidol, (4) Data eksisting atau laporan kegiatan (dibawa peserta), (5) Format isianpeserta tentang program PKP, dan (6) Laptop/PC.Kegiatan 2. Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format PendataanSinkronisasi dan restrukturisasi format pendataan dilakukan dalam rangka efektivitas danefisiensi format pendataan yang digunakan di Dekonsentrasi Tahun 2010 (format pendataaneksisting), sehingga lebih mudah dimengerti dan dilakukan.Sinkronisasi FormatSinkronisasi format dimaksudkan untuk menyamakan persepsi pemangku kepentinganterhadap indikator-indikator dalam format pendataan dan definisinya. Untuk mendapatkandata yang diinginkan, SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP (jika sudahterbentuk) berkewajiban menyampaikan dan sekaligus meminta masukan dari pemangkukepentingan tentang indikator PKP yang sesuai dengan kondisi lokal. Hal ini dapat dilakukanmelalui lokakarya multi-stakeholders tentang sinkronisasi format pendataan.Contoh: dalam format sebagaimana pada gambar 3, pertanyaan no 1 pada formulir K.2.1,tentang makna indikator “mempunyai” harus diperjelas, apakah maknanya adalah dokumenfinal (dalam arti sudah disahkan dengan peraturan) atau dengan definisi lain.Modul 2 | hal 22
  • 72. Gambar 3. Contoh Bagian Formulir Pendataan yang DisinkronisasiDengan contoh ini, SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi perlumelakukan penyepakatan bersama tentang makna indikator tersebut.Restrukturisasi DataRestrukturisasi format dimaksudkan menyusun ulang variabel-variabel yang dikumpulkansecara terstruktur dalam format yang mudah dipahami dan diperoleh oleh petugas pendataandi lapangan. Restrukturisasi format juga akan membantu proses analisis data dan pelaporan.Untuk memastikan bahwa format tersebut disepakati dan mudah diperoleh, SKPD yangmembidangi perumahan atau Pokja PKP (jika sudah terbentuk) perlu melakukan pertemuanterbatas atau pertemuan luas. Hal ini dapat dilakukan melalui lokakarya pemangku kepentinganluas (multi-stakeholders).Contoh, dalam format di atas, pertanyaan no. 6, pada formulir K.2.1, tentang makna indikator“permasalahan”, bisa multi persepsi, karena hal itu mempunyai pengertian yang luas, sehinggatidak memberikan makna khusus atas jawaban dari responden. Hal yang sama untukpertanyaan no 8, yang difokuskan pada pengukuran kinerja deputi tertentu. Berdasarkancontoh ini, peserta kegiatan sinkronisasi ini perlu melakukan restrukturisasi format sesuai jenispertanyaan yang memiliki nuansa yang sama. Modul 2 | hal 23
  • 73. Restrukturisasi juga meliputi pengelompokan data yang bersifat umum dan sektoral. Data yangbersifat umum dapat diacu dari lembaga terpercaya, sehingga tidak perlu dicari/ditanyakankembali. Sedangkan data khusus/sektoral menjadi fokus pencarian. Hal ini dilakukan denganmengkaji-ulang format pendataan eksisting dan mengelompokkannya berdasarkan kategoriumum, khusus atau lainnya, sesuai kesepakatan pada saat lokakarya.Pelaksanaan Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format PendataanSetelah diidentifikasi dan ada kesepakatan terhadap pihak yang dilibatkan, selanjutnya SKPDyang membidangi perumahan atau Pokja PKP (jika sudah terbentuk) dapat melakukanlokakarya atau bentuk pertemuan lainnya untuk sinkronisasi dan restrukturisasi terhadapformat pendataan eksisting. Pertemuan ini didesain untuk mendapatkan kesepakatan indikatoryang diperlukan dalam penggambaran kondisi PKP saat ini dan kondisi yang akan datang dimasing-masing kabupaten/kota atau provinsi. Pada saat lokakarya, dapat didahului ataudikembangkan dengan advokasi kepada pengambil keputusan. Tahapan lokakarya adalahsebagai berikut:Persiapan Lokakarya Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format PendataanKegiatan awal dalam bentuk kordinasi/konsultasi ini dimaksudkan untuk menyamakanpersepsi dan membangun kesepakatan seluruh SKPD yang membidangi perumahan ataupunPokja PKP (jika sudah terbentuk) untuk kegiatan lokakarya. Dalam tahapan ini, SKPD yangmembidangi perumahan atau Pokja PKP melakukan penggalian informasi untuk mengenalicalon peserta dan atau nara sumber yang akan hadir dalam lokakarya.Indikator untuk menentukan pemilihan peserta adalah: 1) Apakah instansi/orang tersebut memiliki program yang berkelanjutan yang terkait dengan PKP? 2) Apakah instansi/orang tersebut memiliki informasi/pengetahuan/kecakapan dalam isu PKP? dan/atau kapasitas dalam pengelolaan data?Dalam pertemuan persiapan ini, perlu disepakati pengaturan waktu dan siapa yang menjadipenanggungjawab pelaksanaan serta administrasi penunjang dan waktu hitung mundur selamamasa persiapan. Checklist untuk persiapan lokakarya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8. Contoh Checklist Persiapan Lokakarya Penanggung Status Kegiatan Target waktu jawab PenyelesaianPersiapan LokakaryaPenyiapan proposal dan kerangka acuanPenyiapan undangan danpendistribusiannyaKonfirmasi kehadiran calonpeserta/undanganKesiapan tempat dan ruang pertemuanUndangan kepada narasumberKonfirmasi kesiapan narasumberPengumpulan dan penggandaan materiModul 2 | hal 24
  • 74. Penanggung Status Kegiatan Target waktu jawab PenyelesaianPenyiapan ATK dan alat pendukungPelaksanaan LokakaryaPembagian tugas selama proses lokakaryaProtokol dan pembukaanTim NotulensiPenanggung jawab notulensiSeksi kesiapan dan kelengkapanDokumentasiPenggandaan materiTindak lanjut LokakaryaPembuatan prosidingPenyiapan bahan/format pendataan yangdisepakati untuk difinalkanPublikasiDalam tahapan persiapan ini, Kerangka Acuan Kerja (Term of Reference/TOR) perlu disusun dandifinalkan. Dalam TOR perlu dijelaskan latar belakang, tujuan, keluaran, waktu dan tempat,metodologi, peserta, proses dan agenda. Contoh TOR dapat dilihat pada panduan pelaksanaan diBagian 3. Perhitungan biaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah peserta,narasumber, tempat, durasi lokakarya, peralatan dan sebagainya, dengan mengacu padaketentuan Standar Biaya Umum (SBU).Pelaksanaan Lokakarya Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format PendataanSetelah persiapan dan mengirimkan undangan lokakarya, SKPD yang membidangi perumahanatau Pokja PKP (jika sudah terbentuk) menyelenggarakan lokakarya. Agar lokakaryaberlangsung lancar perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1) Konfirmasi peserta yang telah diundang 2) Konfirmasi kesediaan narasumber 3) Kepastian tempat dan waktu pelaksanaan. 4) Bahan, material dan alat bantu untuk lokakarya telah siap dan tersedia. 5) Modul diskusi dan format data eksisting sudah tersedia. 6) Petugas pencatat/notulen, fasilitator dan moderator sudah tersedia. 7) Setting tempat duduk yang partisipatif.Alat dan bahan yang diperlukan dalam lokakarya ini adalah Flipchart, Metaplan, Spidol, LCD, dan Kainrekat.Lokakarya dilakukan dengan materi sebagaimana pada Tabel 9. Modul 2 | hal 25
  • 75. Tabel 9. Contoh Materi Lokakarya Sinkronisasi dan Restrukturisasi Format Pendataan Fasilitator/No Agenda Keluaran session Moderator/ Narasumber1. Pengantar lokakarya 1) Peserta saling kenal dan tercipta suasana belajar yang cair dan menyenangkan 2) Peserta siap mengikuti lokakarya dalam suasana partisipatif 3) Peserta berkomitmen untuk mengikuti seluruh agenda lokakarya2. Presentasi kondisi eksisting 1) Informasi tentang perkembangan Narasumber pembangunan PKP di daerah pembangunan PKP 2) Isu dan permasalahan terkait pembangunan PKP3. Urgensi Manajemen Pendataan 1) Rasional mengapa pendataan penting Narasumber dalam Pembangunan PKP 2) Informasi tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam manajemen pendataan4. Diskusi Kelompok (peserta dibagi 1) Informasi tentang kegiatan yang Fasilitator dan berdasarkan perannya dalam dilakukan masing-masing lembaga Presenter pembangunan PKP, mis: lembaga 2) Gambaran informasi yang dihasilkan dan kelompok yang lebih banyak dalam bidang dibutuhkan berdasarkan peran perencanaan, pembiayaan, (perencanaan, pembiayaan, dll) pembangunan)5. Diskusi pleno dan Pembulatan hasil6. Presentasi Konsep Pendataan 1) Informasi tentang variabel yang Narasumber digunakan dalam pendataan 2) Gambaran mekanisme pelaksanaan pendataan7. Analisis materi konsep pendataan 1) Pemahaman dan masukan terhadap Fasilator (diskusi kelompok) definisi variabel yang digunakan Presenter 2) Pemahaman dan masukan terhadap kelompok mekanisme pelaksanaan8. Analisis Materi Konsep Pendataan 1) Kesepakatan terhadap data yang bersifat (lanjutan ) umum dan khusus, 2) Data yang diperoleh di kab/kota, provinsi dan pusat9. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok (Metode Delphi)10. Restrukturisasi Format Pendataan 1) Rasional mengapa restrukturisasi Fasilitator (pengantar, sebagai lanjutan atas pendataan diperlukan masukan dari sesi analisis konsep 2) Langkah-langkah yang diperlukan untuk pendataan) restrukturisasi pendataan11. Diskusi Kelompok Pembahasan 1) Usulan terhadap struktur format Strukur Format Pendataan pendataan di tingkat kab/kota 2) Usulan terhadap struktur format pendataan di tingkat provinsi12. Presentasi hasil Diskusi Masukan peserta terhadap struktur format Kelompok pendataan di setiap level13. Pengantar Analisis Pendataan Gambaran bentuk dan hasil analisis data14. Peran dan Fungsi Kelembagaan Gambaran peran dan fungsi masing-masing Dalam Pendataan lembaga terkait program PKP kontribusi yang diberikan15. Diskusi Rencana Tindak lanjut Rencana kerja tindak lanjut lokakarya Lokakarya16. Pembulatan dan Kesepakatan Kesepakatan Rencana Tindak, Waktu dan Tindak Lanjut Pengorganisasian KegiatanModul 2 | hal 26
  • 76. Finalisasi Format PendataanFinalisasi format pendataan merupakan kegiatan lanjutan pasca lokakarya. Tujuannya adalahuntuk memfinalkan format pendataan yang telah disepakati oleh pemangku kepentingan.Finalisasi dilakukan melalui pertemuan atau rapat terbatas yang dihadiri SKPD yangmembidangi perumahan atau Pokja PKP (jika sudah terbentuk) dan sebaiknya pada tahap inimelibatkan BPS. Langkah-langkah yang diperlukan dalam finalisasi adalah sebagai berikut: 1) Bahan hasil kesepakatan lokakarya sebelumnya telah dikonsolidasikan oleh Pokja PKP; 2) Dilakukan penyempurnaan atas masukan-masukan lokakarya sebelumnya terhadap: format, variabel, definisi, struktur dan mekanisme; 3) Mendapatkan masukan dari BPS atau pihak terkait tentang metodologi pendataan hasil kesepakatan lokakarya; 4) Format, variabel, definisi, struktur dan mekanisme pendataan disepakati.Kegiatan 3. Pelatihan Pengisian Format Pendataan Hasil Sinkronisasi dan RestrukturisasiPelatihan ini dilakukan setelah kesepakatan dan finalisasi format, struktur dan mekanismependataan telah selesai. Pelatihan ini adalah langkah awal sebagai persiapan untukmenjalankan proses pengumpulan data.TujuanMeningkatkan pengetahunan dan ketrampilan dalam melakukan pendataan.Target PesertaTenaga pendataan yang terpilih untuk melakukan pendataan. Tenaga tersebut bisa berasal dariSKPD yang membidangi perumahan, Pokja PKP (jika sudah terbentuk) atau pihak-pihak lainyang ditugaskan, baik dari tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.Materi pelatihan: 1) Pembentukan dan pencairan suasana 2) Pemahaman varibel, indikator dan definisi 3) Teknik pengisian format pendataan 4) Mekanisme dan prosedur pelaksanaan pendataan 5) Praktik dan simulasi 6) Teknik komunikasi dan audiensiMetodologi pelatihanmetode pendidikan orang dewasa, dengan teknik partisipatori dan komunikasi. Contoh agendapelatihan kepada petugas pendataan terpilih sebagaimana ditunjukkan Tabel 10. Modul 2 | hal 27
  • 77. Tabel 10. Contoh Agenda Pelatihan PendataanNo Materi 1. Pembukaan 2. Pengantar lokakarya dan pencairan suasana 3. Penjelasan format, struktur pendataaan (tahap 1) 4. Pemahaman variabel dan indikator pendataan 5. Simulasi pengisian format-format (tahap 1): definisi-definisi dan cara pengisian 6. Umpan balik proses simulasi pengisian format dan definisi 7. Lanjutan: simulasi pengisian format varibel dan indikator: definisi dan cara pengisian 8. Evaluasi simulasi lanjutan. 9. Penjelasan format, struktur pendataan (tahap 2)10. Simulasi pengisian format-format data (tahap 2): langkah-langkah dan cara pengisian11. Evaluasi simulasi lanjutan (tahap 2 lanjutan)12. Komunikasi, audiensi dan tips praktis13. Mekanisme dan prosedur pengumpulan data dan logistik14. Penyusunan rencana kerja15. Wrap up dan penutupanKegiatan 4. Pengumpulan DataProses Pengumpulan DataPengumpulan data dilakukan oleh petugas pendataan yang telah dipilih dan telah diberikanpelatihan serta bekerja dalam kelompok/tim.Informan/sumber informasi dalam proses pengumpulan data ini adalah Dinas/Lembaga terkaitdan pihak yang memiliki kepentingan dengan kegiatan pembangunan PKP, misalnya: REI,APERSI, Perbankan, LSM, dan sebagainya. Kepentingan dan keterlibatan pihak-pihak tersebutsebagai sumber informasi tergantung dari kebutuhan data dan kedalaman informasi yangdiperlukan.Proses pengumpulan data dapat dilakukan dalam bentuk kunjungan ke masing-masing sumberinformasi atau dilakukan dalam pertemuan khusus yang dapat menghadirkan seluruh atausebagian sumber informasi. Pemilihan metode ini tergantung pada kondisi dan waktu keduabelah pihak.Format pendataan yang telah disepakati oleh Pokja PKP menjadi acuan utama dalam prosespengumpulan data. Bila diperlukan petugas dalam tim pendataan dapat dilengkapi denganidentitas khusus. Hal-hal yang perlu dilakukan tim pendataan yaitu 1) Melakukan penjadwalan, baik waktu dan tempat serta kompetensi informan/sumber informasi yang akan dimintai informasi; 2) Memilah jenis-jenis informasi utama (sesuai format) yang diperlukan dari setiap informan/sumber informasi; dan 3) Meminta keterangan tambahan tentang informasi utama tersebut atau informasi lain yang belum diperoleh dari informan/sumber informasi sebelumnya.Modul 2 | hal 28
  • 78. Bila cara mengumpulkan data adalah kunjungan ke masing-masing Dinas/Lembaga/alamat/kantor, maka tim pendataan perlu memastikan bahwa pertanyaan yang ditanyakan sudahmendapat informasi yang sesuai dan terkonfirmasi, agar menghindari kunjungan balik untukkonfirmasi ulang.Waktu yang diperlukan untuk mendata atau mendapatkan informasi, sangat tergantung darikesediaan informan/sumber informasi, namun diharapkan agar proses pengumpulan datadapat dilakukan tidak lebih dari 2 minggu.Monitoring ProsesSKPD yang membidangi perumahan dan Pokja PKP (jika sudah terbentuk) perlu melakukanmonitoring proses dalam setiap tahapan pendataan, melalui kaji ulang pertanyaan (uji petik)kepada informan/sumber informasi yang telah memberikan jawaban. Monitoring proses inidiperlukan tidak saja untuk memastikan bahwa proses sudah dilakukan dengan benar, tetapijuga sekaligus memastikan bahwa informasi yang diberikan adalah akurat dan valid.Cara-cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Mengambil salah satu format pendataan, yang telah terisi, secara random. 2) Mengkonfirmasi kepada informan/sumber informasi tersebut tentang informasi yang terdapat dalam format (kuesioner) pendataan dan proses yang dilakukan saat itu. 3) Bila ditemukan ada hal-hal yang yang kurang sesuai, dapat dilakukan wawancara ulang kepada informan/sumber informasi tersebut . 4) Hal ini dapat diulang tergantung dari kesesuaian dan kebenaran informasi yang telah disampaikan dalam kuesioner. 5) Bila dalam proses ini (uji petik) ditemukan sedikitnya 1/4 dari informan/sumber informasi yang meragukan, maka sebaiknya tim pendataan perlu melakukan pendataan ulang.Verifikasi dan KompilasiProses verifikasi dilakukan oleh SKPD yang membidangi perumahan dan Pokja PKP (jika sudahterbentuk) untuk memastikan bahwa seluruh informasi dalam kuesioner telah terisi danjawaban sesuai dengan pertanyaan (khususnya untuk pertanyaan yang bersifat terbuka, bilaada).Kegiatan 5. Analisis DataProses selanjutnya, analisis data, dikoordinir oleh SKPD yang membidangi perumahan danPokja PKP (jika sudah terbentuk). Proses ini dilakukan setelah seluruh kuesioner terisi danverifikasi sudah dilakukan. Analisis data merupakan upaya untuk menemukan fakta ataumemberikan arti pada gambaran yang direpresentasikan oleh indikator-indikator. Modul 2 | hal 29
  • 79. Hal penting yang diperlukan dalam analisis data adalah: 1) Kemampuan dalam membaca data dan menghubungkan berbagai fakta sebagai suatu hubungan sebab akibat ataupun simultan. Latihan dan pengalaman akan sangat membantu setiap orang untuk dapat meningkatkan kemampuannya sebagai seorang analis. 2) Tersedianya data dan informasi yang mendukung. Argumentasi seseorang akan menjadi kuat dan tidak terbantahkan jika argumentasi tersebut memang sesuai dengan fakta yang ada yang digambarkan oleh data dan informasi. Tanpa data dan informasi berarti tidak ada bukti atau alasan kuat yang bisa dijadikan sebagai landasan ataupun input suatu kebijakan.Data dan informasi bisa dianalisis jika memiliki ciri-ciri tertentu yang kemungkinannya apabilaadanya perbandingan. Ciri-ciri tersebut antara lain: 1) Merupakan sejumlah/sederet angka yang mewakili jangka waktu tertentu (indikator deret waktu) sehingga memungkinkan melihat perubahan dari waktu-ke waktu. 2) Merupakan sejumlah/sederet angka yang mewakili beberapa daerah tertentu (indikator antar daerah) atau sub-kelompok tertentu dalam masyarakat sehingga memungkinkan melihat perbedaan (kesenjangan) antar daerah atau sub kelompok dalam masyarakat. 3) Merupakan sejumlah/sederet angka yang mewakili beberapa daerah tertentu atau sub- kelompok tertentu dalam masyarakat untuk jangka waktu tertentu (indikator antar daerah/sub kelompok antar waktu) sehingga memungkinkan melihat perbedaan (kesenjangan) antar daerah atau sub-kelompok dalam masyarakat dan perubahannya dari waktu ke waktu.Secara umum tahapan analisis data terdiri dari pengolahan data dan analisis. Secara konseptual,proses pada kedua tahapan tersebut mengikuti alur sebagaimana pada Bahan Bacaan padaLampiran modul ini. Namun implementasi pada tahapan pengolahan kemungkinan akandikembangkan oleh Pemerintah Pusat berupa sistem informasi database PKP yang diharapkanmampu menyimpan serta mengolah data sesuai dengan kebutuhan.Hal-hal yang diperlukan dalam kegiatan analisis data adalah sebagai berikut: 1) Memastikan bahwa tersedia tenaga untuk mengoperasikan sistem komputerisasi pendataan. 2) Memastikan bahwa format/kuesioner telah diisi dan diverifikasi. 3) Software/program untuk pengolahan data telah tersedia (installed). Software ini dapat berupa sistem informasi database PKP yang khusus dikembangkan oleh Pemerintah Pusat. 4) keterlibatan seluruh SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP dalam proses analisis data. 5) Bila diperlukan, dilakukan latihan khusus, baik dalam bentuk micro-teaching, kepada tim pendataan sehingga memiliki ketrampilan mengoperasikan sistem dan/atau melakukan interpretasi terhadap hasil analisa. 6) Perlunya diadakan pertemuan untuk membahas hasil analisis pendataan dan mengkonsultasikannya dengan pengambil kebijakan sesuai tingkatannya.Tahapan ini dilakukan pada semua tingkatan (pusat/provinsi/kab-kota) sesuai peruntukan danjenis informasi yang hendak dianalisis.Modul 2 | hal 30
  • 80. Kegiatan 6. Pelaporan dan Publikasi Hasil PendataanPelaporan dan hasil pendataan dimaksudkan untuk memastikan bahwa keseluruhan prosespendataan telah dilakukan dengan baik, sesuai kesepakatan dan terkoordinir. Pelaporan danpendataan dilakukan secara berjenjang baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusatdengan langkah-langkah sebagai berikut:Pelaporan Hasil PendataanTingkat Kabupaten/Kota 1. Hasil pengumpulan data oleh tim pendataan diserahkan kepada SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Kab/Kota (jika sudah terbentuk) selambatnya 1 minggu setelah masa /proses pengumpulan data berakhir. 2. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Kab/Kota melakukan pertemuan untuk verifikasi/kompilasi hasil pendataan, selambatnya 1 minggu setelah data terkumpul. 3. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Kab/Kota melakukan analisis data. Penggunaan software sangat disarankan untuk mempermudah analisis pendataan, misalya: excell, SPSS, dan sebagainya. Sesuai kebutuhan dan ketersediaan sumber daya di kabupaten/kota. Analisis data dilakukan selambatnya 1 minggu setelah verifikasi dan diharapkan berlangsung tidak lebih dari 2 minggu. 4. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Kab/Kota melakukan pertemuan untuk membahas hasil analisis data dan memverifikasi temuan/fakta. 5. Pembahasan sebaiknya dilakukan/diikuti oleh pejabat SKPD terkait lainnya yang berkompeten dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam program pembangunan PKP. 6. Hasil pembahasan final selanjutnya didokumentasikan, dalam bentuk publikasi yang disepakati. Publikasi dalam bentuk pembuatan buku atau profil lebih menarik dibanding dalam bentuk laporan formal. Alur mekanisme pelaporan Hasil Tingkat Kabupaten/Kota sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4. Mekanisme Pelaporan Hasil Tingkat Kabupaten/Kota Pendokumentasian Pembahasan Hasil Analisis Data Kompilasi , koding dan review Pengumpulan Data Gambar 4. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat Kabupaten/Kota Modul 2 | hal 31
  • 81. Tingkat Provinsi 1. Tahapan pelaporan provinsi dilakukan dalam 3 segmen, yaitu, segmen pertama adalah pelaporan hasil pengumpulan data di tingkat provinsi, dan segmen kedua adalah kompilasi laporan hasil pengumpulan data dari kabupaten/kota serta segmen ketiga adalah sinkronisasi hasil pendataan provinsi dan hasil pendataan kabupaten/kota. 2. Hasil pengumpulan data oleh tim pendataan diserahkan kepada SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi (jika sudah terbentuk) selambatnya 1 minggu setelah masa /proses pengumpulan data berakhir. 3. Hasil pembahasan final pendataan tingkat kabupaten yang diterima oleh SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi 4. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi melakukan melakukan pertemuan untuk verifikasi/kompilasi hasil pendataan, selambatnya 1 minggu setelah data (kabupaten dan provinsi) terkumpul. 5. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi melakukan analisis data. Penggunaan software sangat disarankan untuk mempermudah analisis pendataan, misalya: excell, SPSS, dan sebagainya. Sesuai kebutuhan dan ketersediaan sumber daya di kabupaten/kota. Analisis data dilakukan selambatnya 1 minggu setelah verifikasi dan diharapkan berlangsung tidak lebih dari 2 minggu. 6. SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi melakukan pertemuan untuk membahas hasil analisis data dan memverifikasi temuan/fakta. 7. Pembahasan sebaiknya dilakukan/diikuti oleh pejabat SKPD terkait lainnya yang berkompeten dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam program pembangunan PKP. 8. Hasil pembahasan final selanjutnya didokumentasikan, dalam bentuk publikasi yang disepakati. Publikasi dalam bentuk pembuatan buku lebih menarik dibanding dalam bentuk laporan formal. Alur mekanisme pelaporan Hasil Tingkat Provinsi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5. Mekanisme Pelaporan Hasil Tingkat Provinsi Pendokumentasian Pembahasan Hasil Analisis Data (sinkronisasi hasil kab/kota dan propinsi) Kompilasi Hasil Kabupaten Hasil Pendataan Pengumpulan data di tingkat Provinsi kabupaten/kota Gambar 5. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat ProvinsiModul 2 | hal 32
  • 82. Tingkat Pusat1. Tahapan pelaporan provinsi dilakukan dalam 2 segmen. Yaitu, segmen pertama adalah penerimaan laporan hasil pengumpulan data di tingkat provinsi dan kabupaten, dan segmen kedua pemilahan data kabupaten dan provinsi sesuai kebutuhan masing-masing kedeputian.2. Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemenpera atau Pokja PKP Pusat menerima laporan hasil pengumpulan data oleh SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP di daerah.3. Kemenpera atau Pokja PKP Pusat melakukan melakukan pertemuan untuk verifikasi/kompilasi hasil pendataan, selambatnya 1 minggu setelah data (kabupaten/kota dan provinsi) terkumpul.4. Kemenpera atau Pokja PKP Pusat melakukan analisis data. Analisis data dilakukan selambatnya 1 minggu setelah verifikasi dan diharapkan berlangsung tidak lebih dari 2 minggu.5. Kemenpera atau Pokja PKP Pusat melakukan pemilahan data, berdasarkan (i) kebutuhan data untuk Kemenpera secara umum dan (ii) kebutuhan internal di masing-masing kedeputian. Masing-masing kedeputian mengolah data tersebut untuk kebutuhan internalnya baik dalam kepentingan perencanaan, monitoring maupun publikasi.6. Kemenpera atau Pokja PKP Pusat melakukan pertemuan untuk membahas hasil analisis data dan memverifikasi temuan/fakta7. Pembahasan sebaiknya dilakukan/diikuti oleh pejabat yang berkompeten dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam program pembangunan PKP.8. Hasil pembahasan final selanjutnya didokumentasikan, dalam bentuk publikasi yang disepakati. Publikasi dalam bentuk pembuatan buku lebih menarik dibanding dalam bentuk laporan formal. Alur mekanisme pelaporan Hasil Tingkat Provinsi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6. Mekanisme Pelaporan Hasil Tingkat Pusat Pendokumentasian Pendokumentasian Masing-Masing Deputi Pembahasan Hasil Pembahasan Hasil Masing-masing Deputi Analisis Data Pemilahan/ Kompilasi Hasil Provinsi dan Disaggregasi Data Kab./Kota Pemerintah Pusat/ Pengiriman Hasil Pendataan KEMENPERA Provinsi dan Kab./Kota POKJA PERUMAHAN NASIONAL (jika sudah terbentuk) Gambar 6. Mekanisme Pelaporan Hasil Pendataan Tingkat Pusat Modul 2 | hal 33
  • 83. Publikasi Hasil PendataanPublikasi merupakan langkah penting dalam proses manajemen pendataan. Publikasi tidak sajaberguna untuk transparansi, tetapi memiliki dampak positif terhadap kinerja dan penerimaanpihak luar terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh SKPD yang membidangiperumahan atau Pokja PKP (jika sudah terbentuk). Tahapan publikasi dalam modul inidisampaikan secara umum. Kesesuaian metode atau bentuk pelaksanaan publikasi di daerahsangat tergantung sumber daya yang tersedia.Tahapan pelaksanaan publikasi pendataan dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu persiapanpenyusunan bahan publikasi, legalisasi dan publikasi hasil pendataan.Perlu dipastikan bahwa publikasi dilakukan setelah proses pendataan (pengumpulan hinggaanalisis dan penyepakatan) telah final.Tahap 1. Penyusunan Bahan Publikasi PendataanPenyusunan bahan publikasi dimaksudkan untuk mengemas informasi pendataan menjadi lebihmudah dipahami, menarik dan mampu menarik minat siapapun untuk mengetahui lebih lanjuttentang informasi pembangunan PKP. Langkah-langkah yang perlu dilakukan: 1) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP memastikan bahwa tersedia ahli komunikasi di lingkungannya. Ahli komunikasi dapat dicari dari anggota Pokja PKP baik di daerah maupun pusat, Pemerintah Pusat, SKPD atau pihak luar yang memiliki kompetensi. Namun, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa bahan-bahan yang akan dipublikasikan telah final dan mendapat persetujuan dari pejabat yang berkompeten 2) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi melakukan pertemuan untuk identifikasi kebutuhan dan kesepakatan tentang bentuk bahan publikasi yang sesuai dan mendiskusikan dalam Pokja PKP dengan mempertimbangkan berbagai hal baik dari sisi desain, isi dan audiens termasuk masukan dari ahli komunikasi. Untuk hal ini, dapat menggunakan perangkat “five aspects in management communication” agar hasilnya lebih optimal sebagaimana ditunjukkan pada tabel 11. Tabel 11. Lima Aspek dalam Manajemen KomunikasiTujuan Publikasi/Komunikasi :................... Perilaku Pesan yang ingin Aud disampaAudiens ien ikan Saluran (Media Monitoring (Aud s Chann Komu ience (K/ (Expected eling) nikasi s) Message A/P ) )1.2.dstSelanjutnya, SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP melakukan proses desain danModul 2 | hal 34
  • 84. produksi bahan publikasi.Tahap 2. Legalisasi Hasil PendataanLegalisasi hasil pendataan dimaksudkan agar seluruh informasi yang dipublikasikan adalahbersifat final dan resmi. Proses legalisasi ini juga menjadi mekanisme advokasi kepadapengambil kebijakan agar meningkatkan dukungan terhadap pembangunan PKP. Proseslegalisasi berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu/dapat dilakukan di setiap tingkatan(provinsi atau kabupaten/kota), namun memerlukan penyesuaian sesuai kondisi masing-masing. Proses legalitas ini dapat dilakukan bersamaan (atau setelah) proses penyiapanpublikasi dilakukan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP melakukan pertemuan untuk menyepakati bentuk legalitas yang diperlukan. 2) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk proses pengajuan legalitas. 3) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP menentukan pihak penanggungjawab atau membentuk tim kecil untuk memproses legalitasi. 4) Tim kecil akan berkonsultasi dengan bagian hukum untuk kesepakatan bentuk legalitasi yang paling diperlukan dan paling dimungkinkan (urgency and importance).Tahap 3. Publikasi DataPublikasi hasil pendataan ditujukan untuk menginformasikan kepada publik tentang profil.Kegiatan ini sekaligus meningkatkan jaringan dan kemitraan Pokja PKP Pusat dan Daerah/Kemenpera/SKPD dalam implementasi dan monitoring program pembangunan PKP. Publikasidata dikemas dalam berbagai bentuk sesuai dengan kondisi setempat dan ketersediaan sumberdaya.Publikasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: 1) Ekspose umum (Public Expose), misalnya: pameran, leaflet, booklet, website, newsletter, dan sebagainya. Kegiatan ini dipilih jika tujuan yang diharapkan adalah menyampaikan kepada publik tentang hal-hal yang terkait profil dan kinerja pembangunan PKP tanpa bermaksud mendapatkan masukan terhadap materi/bahan informasi PKP yang dipublikasikan tersebut. 2) Bedah buku/seminar Kegiatan ini dipilih jika tujuan yang diharapkan adalah adanya umpan balik (feedback) terhadap substansi/bahan informasi pembangunan PKP yang dipublikasikan tersebut. 3) Media gathering Kegiatan ini khusus dilakukan dengan pelaku media, dengan maksud agar media menjadi saluran penyampaian informasi PKP yang hendak dipublikasikan. 4) Atau cara lain yang sesuasi dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Modul 2 | hal 35
  • 85. Hal-hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam kegiatan publikasi ini adalah sebagai berikut: 1) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi memastikan bahwa metode/cara yang dipilih dapat dilakukan dengan mudah 2) SKPD yang membidangi perumahan atau Pokja PKP Provinsi menetapkan tim khusus/tim kecil untuk mempersiapkan proses publikasi data tersebut. 3) Tersedia tempat yang memadai dan representatif sesuai kebutuhan. 4) Tim kecil dan panitia mempersiapkan Kerangka Acuan Kegiatan (KAK), pendanaan, narasumber, bahan-bahan yang siap dipublikasi dengan jumlah yang cukup.Modul 2 | hal 36
  • 86. BAHAN BACAAN:KONSEP MANAJEMEN PENDATAAN  Konsep Manajemen Pendataan  Urgensi Pendataan Pembangunan Perumahan  Siklus Manajemen Pendataan  Klasifikasi Data dalam Manajemen Pendataan  Instrumen Pengumpulan Data Modul 2 | hal 37
  • 87. A. Pengertian Manajemen PendataanManajemen pendataan diartikan sebagai suatu cara untuk membuat data perumahan menjadivital/penting melalui proses pembaharuan dan intervensi. Pendekatan manajemen pendataanharus mampu mengenali kebutuhan pendataan beserta perkembangannya yang terintegrasidari tingkat pusat hingga daerah. Pendekatan ini tentu saja harus dapat diukur dengan indikatoryang sesuai. Manajemen pendataan bukan sesuatu yang berorientasi kepada penyelesaianformat dan keluaran pendataan namun juga harus disertai dengan proses peningkatankapasitas manajemen pendataan, melalui partisipasi pemangku kepentingan yang lebih luas danterseleksi.Peran dan tanggung jawab pelaksanaan manajemen pendataan dilakukan oleh SKPD yangmembidangi perumahan. Pokja PKP diharapkan dapat mengkoordinasikan danmengkonsolidasi hasil pelaksanaan pendataan perumahan. Pokja PKP di daerah atau Bappedaberkewajiban melibatkan partisipasi para pemangku kepentingan di sektor PKP dalam prosesmanajemen pendataan agar data yang dihasilkan sejalan dengan kebutuhan (demandable),kegunaan (usable), ketepatan (reliable), dan berorientasi pada kearifan lokal/kondisi setempat(local-based).B. Urgensi Pendataan Pembangunan PKPUU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman pada Pasal 16 huruf bmengamanatkan bahwa Pemerintah dalam melakukan pembinaan mempunyai wewenangmenyusun dan menyediakan basis data PKP. Hal ini mengisyaratkan kepada pemangkukepentingan terkait bahwa ketersediaan data PKP sangat diperlukan khususnya dalamperencanaan dan penyiapan kebijakan sektor PKP. Kenyataannya, data yang tersedia masihsangat terbatas, sehingga belum sepenuhnya dapat menunjang perencanaan program dankegiatan pembangunan PKP.Proses manajemen pendataan dan keluarannya memiliki nilai yang sama pentingnya dalampengelolaan pembangunan PKP. Dalam proses manajemen pendataan, urgensi pendataan harusditanamkan/diinternalisasikan kepada pemangku kepentingan agar terbentuk kesadaranbersama yang selanjutnya menciptakan komitmen untuk perbaikan dan dukungan pendataan.Urgensi dan keandalan data, penting dipenuhi untuk mengukur kinerja SKPD dan Kemenperadalam pencapaian target dan kinerja pembangunan PKP. Pemahaman dan internalisasi sasaranstrategis PKP harus menjadi pegangan pemangku kepentingan yang memiliki peran dalamprogram PKP, untuk mengukur keberhasilan dan capaiannya. Proses internalisasi dilakukansecara berkelanjutan, diawali dengan menumbuhkan kesadaran kemudian peningkatanpengetahuan hingga implementasi pendataan. Internalisasi akan menciptakan pengetahuanbahwa ketersediaan data berkorelasi dengan kinerja pembangunan PKP sebagaimana padaGambar 7.Modul 2 | hal 38
  • 88. Kinerja Pembangunan: Perencanaan, Penganggaran, Monitoring, Evaluasi Kebijakan Pengendalian dan Pengawasan: Evaluasi: DATA yang tersedia akurat DATA yang tersedia akurat Gambar 7. Diagram Korelasi Data dan Kinerja PembangunanNilai pentingnya pendatan perumahan juga dapat dilihat dari hal-hal berikut, yaituTracking: digunakan untuk melakukan penilaian dan atau mengetahui pencapaian- pencapaian program PKP sesuai indikator yang telah ditetapkan.1. Bahan Komunikasi dan Advokasi: Berdasarkan fakta dan kondisi yang terdata, dapat dikembangkan materi komunikasi dan advokasi, untuk menumbuhkan Pengetahuan- Perilaku-Praktik (Knowledge, Attitude, Practice) dalam pelaksanaan program PKP.2. Manfaat Praktis Dalam Pembangunan PKP: Pendataan yang lengkap dan terkelola mempermudah proses pengambilan kebijakan, penyusunan rencana strategis dan aksi, penyusunan target dan pengalokasian sumber daya.3. Tanggap Kebutuhan: Manajemen pendataan akan membuka peluang terhadap penyesuaian variabel, terminologi baru sesuai kondisi kekinian. Kegiatan ini juga akan memastikan bahwa lingkup variabel/terminologi yang digunakan masih relevan dan memenuhi kebutuhan.C. Siklus Manajemen PendataanManajemen pendataan merupakan suatu siklus kegiatan yang dilakukan secara periodik danberkesinambungan. Kegiatan ini terdiri dari 5 (lima) elemen utama yaitu: pengumpulan data,pengolahan data, analisis data, diseminasi data dan pembaharuan data sebagaimana terlihatpada Gambar 8. Modul 2 | hal 39
  • 89. Pembaruan Pengumpulan Data Data Diseminasi Pengolahan Data Data Analisis Data Gambar 8. Siklus Manajemen PendataanPengumpulan DataPengumpulan data dapat dilakukan melalui dua cara yaitu teknik komunikasi dan teknikobservasi. Teknik komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan/atauwawancara. Sedangkan teknik observasi dilakukan dengan cara survey ke lokasi untuk melihatatau mencatat secara langsung perubahan fisik ataupun waktu pada obyek yang didata.Pengolahan DataPengolahan data merupakan proses menyaring, menggabungkan dan mengintegrasikan datayang terkumpul menjadi informasi yang berguna bagi pemakainya. Pada tahapan ini datadiproses dengan menggunakan metode konvensional dan atau dengan menggunakan bantuanperangkat lunak/software. Penggunaan bantuan software database untuk mengolah data yangterkumpul memudahkan pengguna dari segi penyimpanan, pendistribusian serta penggaliandata tertentu jika diperlukan. Oleh karena itu, keberadaan software ini menjadi penting saatpengambil keputusan dituntut cepat dalam mengambil suatu keputusan. Alur proses ini dapatdilihat pada Gambar 9. PENGOLAHAN Penyimpanan Data (Arsip) DATA DATA Pemrosesan Distribusi Data Penggalian INFORMASI Data Data Gambar 9. Proses Pengolahan DataModul 2 | hal 40
  • 90. Analisis DataSelain diolah menjadi informasi, data-data yang telah diolah kemudian diproses berdasarkananalisis kebutuhan data dan tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini, kebutuhan datauntuk bahan perencanaan boleh jadi berbeda dengan kebutuhan data untuk keperluan lainnyaseperti pembuatan profil. Apabila dikemudian hari diperlukan analisis terhadap kebutuhan datalainnya maka terjadi perubahan tujuan analisis (repurposing) sehingga data yang tersedia perludiolah untuk dapat dianalisis sesuai dengan peruntukannya. Alur analisis data dapat dilihatpada Gambar 10. Analisis Data Pengolahan Penentuan Data Ulang Tujuan Gambar 10. Hubungan Analisis dan Pengolahan DataDiseminasi DataDiseminasi data merupakan upaya untuk menyampaikan hasil analisis atau informasi baikkepada publik maupun internal organisasi. Hasil diseminasi dapat berupa profil ataupun bukudata yang dapat dipublikasikan untuk dikonsumsi oleh umum ataupun terbatas. Pada tahapanini, laporan pendataan akan dikonsultasikan baik secara internal pemerintah maupun secarapublik yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat seperti asosiasi, perbankan, ataupunakademisi dalam rangka mendapatkan masukan-masukan ataupun umpan balik dari kegiatanmanajemen pendataan.Pembaharuan DataPembaharuan data merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan data yangterkini. Dalam kegiatan ini, masukan-masukan, rekomendasi dan umpan balik diperoleh daripelaksanaan manajemen data sebelumnya. Kegiatan ini meliputi penambahan data baruterhadap field/pertanyaan yang sama; perubahan struktur data yang mengakibatkanbertambahnya atau berkurangnya objek data; perubahan teknik pengumpulan data; perubahaninstrumen pengumpulan data; dll.D. Klasifikasi Data dalam Manajemen Pendataan1. Berdasarkan Cara Memperolehnya Data Primer Data primer adalah data yang secara langsung diambil dari objek-objek pendataan oleh petugas data dan digunakan secara langsung oleh petugas pendatan itu sendiri/instansi petugas pendataan bekerja. Contoh: observasi kawasan kumuh di perkotaan secara langsung oleh petugas pendataan. Modul 2 | hal 41
  • 91. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek yang didata. Petugas mendapatkan data yang sudah jadi, yang dikumpulkan oleh pihak lain atau organisasi lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah petugas yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah ataupun dari lembaga formal penghimpun data seperti BPS.2. Berdasarkan Sumber Data Data Internal Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal: data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb. Data Eksternal Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya: jumlah rumah yang dihuni, jumlah Kepala Keluarga yang menghuni rumah susun sewa, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.3. Berdasarkan Jenis Data Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah penduduk, jumlah kawasan permukiman, jumlah kelurahan dalam suatu kecamatan, dan lain-lain. Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi masyarakat/ individu terhadap insentif bantuan perumahan, persepsi MBR dan MBM terhadap program bantuan FLPP.4. Berdasarkan Waktu Pengumpulannya Data Cross Section Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan jumlah penduduk per 31 Desember 2010, data pemohon program FLPP di bank yang terpilih sampai dengan Januari 2011, dan lain sebagainya. Data Time Series/ Berkala Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah jumlah penduduk di suatu provinsi dari tahun ke tahun, dll.Modul 2 | hal 42
  • 92. E. Instrumen Pengumpulan DataInstrumen yang sering dipakai dalam pengumpulan data adalah kuesioner dan wawancara.Penjelasan detail tentang kedua instrumen tersebut sebagai berikut:1. Kuesioner Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab Klasifikasi kuesioner berdasarkan sasaran dan bentuk jawabannya dapat dibedakan secara skematis sebagaimana pada Gambar 11. Gambar 11. Klasifikasi Kuesioner Berdasarkan Sasaran dan Bentuk2. Wawancara Wawancara (interview) dalam riset dapat berfungsi untuk: 1) Mendapat informasi langsung dari responden (metode primer). 2) Mendapatkan informasi, jika metode lain tidak dapat dipakai (metode sekunder). 3) Menguji kebenaran teknik kuesioner atau observasi (metode kriteria). Syarat terpenting dalam wawancara yaitu terjalinnya hubungan yang baik dan demokratis antara responden dengan penanya. Klasifikasi wawancara berdasarkan cara menjawab responden, adalah sebagai berikut: 1) Wawancara bebas (unguided) 2) Wawancara terstruktur (structured interview) 3) Wawancara terfokus (focused interview). Modul 2 | hal 43
  • 93. DIAGRAM ALUR MEKANISME PELAKSANAANDAN PENJELASAN SINGKATModul 2 | hal 44
  • 94. PERSIAPAN PENGUMPULAN DATADidampingi tim Manajemen Data Kementerian PerumahanRakyat, SKPD/Pokja yang telah dibentuk Gubernurmengidentifikasi Pelaku Pendataan dan Sumber dataPerumahan.Metodologi : FGD, PartisipatifKegiatan 1 (K 1.) (halaman 15)Format awal Kuesioner Pendataan PerumahanSKPD bersama Pemangku kepentingan lain melakukanSinkronisasi Indikator dan Restrukturisasi KuesionerFormat Awal menjadi Kuesioner Final .Metodologi : PartisipatifK 2. (halaman 17)Kuesioner Final Pendataan PerumahanSKPD mensosialisasikan Kuesioner dan melakukanPelatihan Pendataan kepada Pokja .Metodologi : PartisipatifK 3. (halaman 23) Modul 2 | hal 45
  • 95. PENGUMPULAN DATA K 4. (halaman 24) Kuesioner final digunakan dalam rangkaian proses pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan oleh tim pendataan yang telah dipilih serta diberikan pelatihan. Dinas/Lembaga yang mengurusi perumahan atau Pokja Perumahan Daerah (jika sudah terbentuk) perlu melakukan monitoring proses dalam setiap tahapan pendataan, melalui kaji ulang pertanyaan (uji petik) kepada informan/sumber informasi yang telah memberikan jawaban. Proses verifikasi dilakukan oleh Dinas/Lembaga yang mengurusi perumahan atau Pokja Perumahan Daerah (jika sudah terbentuk) untuk memastikan bahwa seluruh informasi dalam kuesioner telah terisi dan jawaban sesuai dengan pertanyaan (khususnya untuk pertanyaan yang bersifat terbuka, bila ada). Dinas/Lembaga yang mengurusi perumahan atau Pokja Perumahan Daerah (jika sudah FORM terbentuk) membuat laporan singkat LAPORAN & KUESIONER pengumpulan data dilampiri kuesioner yang telah melalui proses diatas. PENGIRIMAN DATA Copy Laporan dan Kuesioner disimpan di Database Kabupaten (anggota Pokja Manajemen Data) Laporan dan kuesioner yang telah diproses di Kabupaten dikirim ke SKPD Propinsi yang akan mengolah data-data tersebut lebih lanjut.Modul 2 | hal 46
  • 96. ANALISIS DATA (K 5.) danPELAPORAN (K 6.)Tingkat PropinsiK 5. (halaman 25)K 6. (halaman 26)Manajemen data tingkat Propinsi mempunyaifungsi menghimpun seluruh kuesioner dariseluruh Kabupaten yang berada di bawahkoordinasinya. Kegiatan kegiatan manajemendata yang dilakukan di tingkat Propinsi adalahsebagai berikut:receiving dan batching (pembukuan), editingdan koding, perekaman data (entry) danpengecekan data elektronik (cleaning data).Manajemen data di tingkat Propinsidiperlukantenaga petugas receiving dan batching, editor,pengentry, cleaning data dan jaringan/LANyang dikoordinir oleh Tim Manajemen datadengan dukungan tim Pengolahan Data dimasing-masing Propinsi.Alur Manajemen data di Tingkat Propinsi:1. Petugas receiving dan batching menerima dan menginventarisasi kuesioner yang datang dengan mencocokkan form hasil laporan dengan kuesioner dari masing- masing kabupaten.2. Petugas receiving dan batching memeriksa seluruh kuesioner. Kemudian mencatat semua3. kuesioner yang masuk dalam buku kontrol.4. Petugas receiving dan batching memilah kuesioner yang kemudian disusun di tempat yang telah disiapkan di Propinsi masing-masing.5. Petugas receiving dan batching data Propinsi melakukan distribusi kuesioner kepada editor untuk melakukan editing dan koding. Setiap kuesioner yang diserahkan kepada editor harus dicatat di buku kontrol (kolom editor). Editor sebelum melakukan tugasnya harus diberikan pelatihan terlebih dahulu oleh Tim Manajemen Data untuk menyamakan persepsi.6. Setelah kuesioner selesai diedit, kuesioner diserahkan kepada petugas receiving dan7. batching untuk dicatat pada buku kontrol (kolom editor). Modul 2 | hal 47
  • 97. 8. Kuesioner yang telah diedit dikembalikan kepada Tim Manajemen data dengan membuat laporan hal-hal yang patut dilaporkan seperti data harus di drop out (DO) dan lain sebagainya. Penanganan kuesioner yang di-DO harus sepengetahuan Tim Manajemen Data karena harus dilihat kasus perkasus apakah memang benar-benar harus di-DO atau tidak. Kuesioner yang di-DO dipisahkan. 9. Kuesioner yang layak, kemudian dilakukan penomoran pada kuesioner. Penomoran- penomoran ini dicatat pada buku kontrol. 10. Kuesioner yang telah diberi nomor kemudian dapat didistribusikan ke petugas entry dan pendistribusian inipun harus tercatat di buku kontrol (kolom entry). Petugas entry sebelum melakukan tugasnya harus dilakukan pelatihan terlebih dahulu. 11. Setelah kuesioner selesai dientry, petugas entry menyerahkan kuesioner kepada petugas receiving dan batching. Pengembalian dicatat pada buku kontrol dan kuesioner diberi tanda bahwa sudah dientry. 12. Petugas receiving dan batching menyusun dan meletakkan kuesioner yang telah dientry di tempat yang sudah disiapkan. 13. Tim manajemen data dan tim Pengolahan Data mengembangkan sistem jaringan untuk kemudahan penyimpanan data elektronik. 14. Hasil entry dikompilasi setiap hari yang kemudian dilakukan cleaning data dibawah koordinasi Tim manajemen data. 15. Setelah data melalui proses cleaning data, disimpan dalam beberapa file dan dibuatkan backup data. 16. Data elektronik yang telah ‘clean sementara’ dikirim ke tim data manajemen pusat disertai dengan laporan hal-hal yang harus dilaporkan seperti daftar jumlah sampel untuk dilakukan proses imputasi.Modul 2 | hal 48
  • 98. Tingkat Pusat (Kemenpera)Tim Manajemen data tingkat pusat bertugasmulai dari pembuatan program entry danmengelola semua jenis data yang diterimasudah dalam keadaan clean dari Propinsi(SKPD). Di tingkat pusat juga melakukan mulaidari receiving dan batching, editing, entrysampai dengan cleaning sebagai berikut :1. Petugas receiving dan batching menerima dan mencatat kuesioner dari masing- masing SKPD (Propinsi).2. Petugas receiving dan batching data di pusat melakukan distribusi kuesioner kepada reviewer untuk melakukan editing, resume dan koding . Setiap kuesioner yang diserahkan kepada reviewer harus dicatat di buku kontrol (kolom editor).3. Reviewer sebelum melakukan tugasnya harus diberikan pelatihan terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi oleh Tim Manajemen Data tingkat Pusat.4. Jika terdapat permasalahan pada saat edit/ review dapat dikonsultasikan kepada Tim Pusat. Kuesioner yang di-DO harus sepengetahuan Penanggung Jawab kuesioner, karena harus dilihat kasus perkasus apakah memang benar-benar harus di-DO atau tidak. Kuesioner yang di- DO diberi tanda.5. Setelah kuesioner selesai diedit/ review, kuesioner diserahkan kepada petugas receiving dan batching untuk dicatat pada buku kontrol (kolom editor dan/ atau reviewer). Kuesioner yang di-DO dipisahkan.6. Kuesioner yang layak, kemudian dilakukan pengelompokan sesuai dengan jenis Kuesioner. Masing-masing kelompok kuesioner tersebut dilakukan penomoran dari 1, 2, 3, .... dan seterusnya. Penomoran ini dicatat pada buku kontrol .7. Kuesioner yang sudah diberi nomor dapat didistribusikan ke petugas entry dan pendistribusian inipun harus tercatat di buku kontrol (kolom entry). Petugas entry sebelum melakukan tugasnya harus dilakukan pelatihan terlebih dahulu. Modul 2 | hal 49
  • 99. 8. Setelah kuesioner selesai dientry, petugas entry menyerahkan kuesioner kepada petugas receiving dan batching. Pengembalian dicatat pada buku kontrol dan kuesioner diberi tanda bahwa sudah dientry. 9. Petugas receiving dan batching menyusun kuesioner yang telah dientry di tempat yang sudah disiapkan . 10. Penanggung Jawab tim Manajemen Data dan tim Pengolahan data mengembangkan sistem jaringan untuk kemudahan penyimpanan data elektronik. 11. Hasil entry dikompilasi secara berkala yang kemudian dilakukan cleaning data dibawah koordinasi Penanggung Jawab Tim Manajemen Data. 12. Setelah data melalui proses cleaning data, disimpan dalam beberapa file dan dibuatkan backup data. 13. Data elektronik yang telah ‘clean’ digabung untuk kemudian dilakukan imputasi data 14. Membuatkan buku kode untuk tim analisis 15. Memberikan data yang telah siap dianalisis berikut dengan buku kode ke tim analisis untuk mendapatkan PROFIL PERUMAHAN RAKYAT.Modul 2 | hal 50
  • 100. Modul 2 | hal 51
  • 101. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MODUL 3 PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN PROVINSIDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2011 JAKARTA 2011
  • 102. KATA PENGANTARModul 3 ini merupakan bagian ketiga dari empat modul dalam rangkaian kegiatan peningkatankapasitas pemerintah daerah dalam hal penyiapan perencanaan pembangunan perumahan dankawasan permukiman yang dilaksanakan dalam rangka Dekonsentrasi Lingkup KemenperaTahun 2011. Modul ini berisi panduan umum penyusunan dokumen perencanaan pembangunanperumahan dan kawasan permukiman.Modul ini digunakan sebagai panduan oleh SKPD Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011, Fasilitator Provinsi, dan stakeholder lain yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatanpeningkatan kapasitas pemerintah daerah, khususnya dalam halpenyusunan dokumenperencanaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.Modul ini terdiri dari dua bagian, yaitu: Bagian 1 – Pendahuluan, merupakan bagian yangmenjelaskan latar belakang dan urgensi penyusunan dokumen perencanaan dalam rangkapembangunan perumahan dan kawasan permukiman, sedangkan Bagian 2 –PanduanPelaksanaan Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Pembangunan Perumahan dan KawasanPermukiman yang terdiri dari rangkaian kegiatan dalam rangka penyusunan dokumenperencanaan dan pembangunan kawasan permukiman. Modul ini juga dilengkapi denganLampiran berupa Bahan Ajar Mekanisme Pelaksanaan Penyusunan Dokumen PerencanaanPembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi serta Bahan Bacaan tentangMateri Dokumen Perencanaan Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi.Tiada gading yang tak retak, begitulah pula dengan modul ini yang disusun dalam jangka wakturelatif singkat sehingga membutuhkan saran dan kritik yang membangun untukpenyempurnaannya. Akhir kata, kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunanmodul ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Selamat membaca dan mempraktikkannya. Jakarta, Maret 2011 Tim Penyusun Modul 3 | hal i
  • 103. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ............................................................................................................................................iDAFTAR ISI......................................................................................................................................................... iiDAFTAR TABEL................................................................................................................................................ iiiDAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................................... ivDAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN............................................................................................................vBAGIAN 1. PENDAHULUAN ...........................................................................................................................1 A. Latar Belakang ........................................................................................................................................... 2 B. Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran ......................................................................................... 3 C. Ruang Lingkup Modul............................................................................................................................. 3BAGIAN 2. PANDUAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN 2011 ...............................................4 Alur Pelaksanaan................................................................................................................................................ 5 Kegiatan 1. Lokalatih Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP................. 6 Kegiatan 2. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ..............................................................................................................14 Pertemuan 1: Penyusunan Draf Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP...............14 Pertemuan 2: Penyusunan Draf 2 Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP...........16 Pertemuan 3: Penyusunan Draf Final Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ...18 Konsinyasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ............................................20 Konsultasi Publik Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ...............................22REFERENSILAMPIRANBAGIAN AJAR: MEKANISME PELAKSANAAN PENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN.........................27 Kegiatan 1. Pemetaaan Kondisi PKP ....................................................................................................28 Kegiatan 2. Lokakarya Pengembangan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ..............................................................................................................30 Kegiatan 3. Penyiapan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Provinsi ....................47 Kegiatan 4. Penyempurnaan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP............51 Kegiatan 5. Legitimasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP.......................................52BAHAN BACAAN: DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN.......................................................................................54Modul 3 | hal ii
  • 104. DAFTAR TABELTabel 1. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis 3Tabel 2. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokalatih Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 8Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyusunan Draf Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 15Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyusunan Draf 2 Rancangan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 17Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyusunan Draf Final Rancangan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 19Tabel 6. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Konsinyasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 21Tabel 7. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Konsultasi Publik Rancangan Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP 24Tabel 8. Dokumen yang Diperlukan dari Masing-Masing SKPD yang Membidangi PKP ….……….29Tabel 9. Contoh Hasil Pertemuan Koordinasi Persiapan Penyusunan Dokumen Perencanaan di Daerah 29Tabel 10. Contoh Kesimpulan Hasil Pertemuan 30Tabel 11. Contoh Format Identifikasi Pelaku Pembangunan PKP 33Tabel 12. Contoh Matrik Klarifikasi Mandat 34Tabel 13. Contoh Potensi (Kekuatan-Peluang) dan Permasalahan (Kelemahan-Ancaman) 38Tabel 14. Contoh Analisis Faktor Strategis Kategori Internal 39Tabel 15. Contoh Analisis Faktor Strategis Kategori Eksternal 40Tabel 16. Contoh Skoring Isu Strategis 41Tabel 17. Contoh Kerangka Isu, Tujuan, Sasaran dan Kebijakan Strategis 43Tabel 18. Contoh Perubahan Isu Strategis Menjadi Tujuan Strategis 43Tabel 19. Contoh Turunan Tujuan Strategis Menjadi Sasaran Strategis 44Tabel 20. Contoh Turunan Sasaran Strategis Menjadi Kebijakan Strategis 45Tabel 21. Contoh Pengukuran Kebijakan Strategis 46Tabel 22. Contoh Rumusan Program Strategis 46Tabel 23. Contoh Program Strategis Terkait dengan Waktu, Sumber Pembiayaan dan SKPDPenanggung Jawab 47Tabel 24. Contoh Indikator Kinerja Program Strategis 48Tabel 25. Contoh Rencana Kerja Penyusunan Dokumen Perencanaan 48Tabel 26. Outline Dokumen Rencana Perumahan Daerah 50Tabel 27. Ragam Dokumen Perencanaan yang Terkait Pembangunan PKP di Daerah 61 Modul 3 | hal iii
  • 105. DAFTAR GAMBARGambar 1. Alur Pelaksanaan Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 …………………………………………..…… 5Gambar 2. Alur Proses Penyusunan Dokumen Perencanaan di Daerah…………………………………33Gambar 3. Tahapan Proses Penyusunan Visi yang Partisipatif …………………………………………….35Gambar 4. Contoh Analisis Isu Strategis………………………………………………………………………………42Gambar 5. Letak Strategis Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ………………………………..57Gambar 6. Keterkaitan Dokumen Perencanaan terhadap Dokumen Perencanaan Lainnya di Daerah ………………………………………………………………………………………………………………61Gambar 7. Skenario Penyusunan Perencanaan Pembangunan Perumahan pada saat Daerah telah Memiliki RP4D pada Awal Periode ……………………………………………………………..63Gambar 8. Skenario Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D sedang Disusun……..64Gambar 9. Skenario Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D belum Disusun…...….64Modul 3 | hal iv
  • 106. DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATANAPERSI : Asosiasi Perumahan Seluruh IndonesiaAPBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja DaerahBappenas : Badan Perencanaan Pembangunan NasionalBappeda : Badan Perencanaan Pembangunan DaerahBPS : Badan Pusat StatistikCSR : Coorporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan)DAK : Dana Alokasi KhususEFAS : External Factors Analysis Summary (Ringkasan Analisis Faktor Eksternal)Kemenpera : Kementerian Perumahan RakyatIFAS : Internal Factors Analysis Summary (Ringkasan Analisis Faktor Internal)LAN : Lembaga Administrasi NegaraLSM : Lembaga Swadaya MasyarakatMBR : Masyarakat Berpenghasilan RendahMDGs : Millenium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium)Pemda : Pemerintah DaerahPemprov : Pemerintah ProvinsiPermendagri : Peraturan Menteri Dalam NegeriPerda : Peraturan DaerahPergub : Peraturan GubernurPerbub : Peraturan BupatiPerwali : Peraturan WalikotaPKP : Perumahan dan Kawasan PermukimanPMD : Pemerintahan Masyarakat DesaPP : Peraturan PemerintahPU : Kementerian Pekerjaan UmumRAD : Rencana Aksi DaerahRenja : Rencana KerjaREI : Real Estat IndonesiaRKPD : Rencana Kerja Pembangunan DaerahRP4D : Rencana Pengembangan Pembangunan Perumahan dan Permukiman DaerahRPJPN : Rencana Pembangunan Jangka Panjang NasionalRPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah NasionalRPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah DaerahRTRW : Rencana Tata Ruang dan WilayahSK : Surat KeputusanSKPD : Satuan Kerja Perangkat DinasSWOT : Strength-Weakness-Opportunity-Treath (Kekuatan-Kelemahan-Peluang- Ancaman)Tupoksi : Tugas Pokok dan FungsiUUD : Undang-Undang DasarUU : Undang-UndangUKM : Usaha Kecil dan Menengah Modul 3 | hal v
  • 107. Modul 3 | hal vi
  • 108. BAGIAN 1.PENDAHULUAN  Latar Belakang  Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran  Ruang Lingkup Modul Modul 3 | hal 1
  • 109. A. Latar BelakangPembangunan perumahan dan kawasan permukiman (PKP) di Indonesia memasuki era baruyang ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahandan Kawasan Permukiman. Salah satu substansi dari UU ini adalah pemerintah dan/ataupemerintah daerah wajib memberikan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah bagiMBR.Salah satu peran strategis Pemerintah Pusat dalam upaya percepatan pembangunan perumahanadalah penyediaan berbagai kebijakan, norma, standar, panduan dan manual bagi daerah. Halini sesuai dengan amanat PP 38 tahun 2007 tentang pembagian kewenangan pemerintah pusatdan daerah, dimana urusan perumahan sudah merupakan urusan wajib pemerintah daerah.Proses pembangunan selalu diawali dengan tahapan perencanaan. Hanya dengan perencanaanyang strategis, proses pembangunan akan berhasil dan berdaya guna serta tepat sasaran.Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi dalam penentuan strategiatau arah kebijakan, pengalokasian sumber daya (termasuk modal dan sumber daya manusia)serta pengambilan keputusan untuk mencapai target yang telah ditetapkan, dan merupakanproses yang sistematis dan berkelanjutan. Di samping itu merupakan kebutuhan nyata untukmengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pembangunan. Implementasinyabertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan PKP.Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) merasa adanyaurgensi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan PKP di seluruh Indonesia,yang melibatkan pemerintah daerah dalam proses pembangunannya. Oleh karena itu,dibutuhkan suatu dokumen strategis terkait pembangunan PKP di daerah, yang terpadu dengandokumen pembangunan lainnya. Dokumen strategis tersebut merupakan dasarpengarusutamaan pembangunan PKP berdasarkan sinkronisasi terhadap berbagai dokumenpembangunan daerah yang ada.Melihat kebutuhan akan dokumen perencanaan pembangunan PKP di daerah, yang selanjutnyadisebut dokumen perencanaan, maka Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) merasaperlu memfasilitasi pemerintah daerah untuk melaksanakan penyusunan dokumen tersebutmelalui Dekonsentrasi Lingkup Kementerian Kemenpera Tahun 2011. Kegiatan ini adalah untukmeningkatkan kapasitas pemerintah daerah terkait dengan penyusunan dokumen perencanaanyang bersifat multisektor dan implementatif serta terpadu dengan dokumen perencanaan yangterkait dengan pembangunan PKP lainnya di daerah. Kegiatan penyusunan dokumenperencanaan tersebut dilaksanakan dengan harapan bahwa keluaran dari kegiatan ini dapatdigunakan untuk mendukung realisasi pelaksanaan pembangunan bidang PKP di daerah yangefektif dan efisien.Modul 3 | hal 2
  • 110. B. Maksud, Tujuan, Sasaran, dan KeluaranDalam konteks Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011, maka maksud, tujuan, sasarandan keluaran kegiatan penyusunan dokumen perencanaan adalah sebagai berikut:MaksudSinkronisasi seluruh dokumen perencanaan yang terkait dengan pembangunan PKP di provinsi,sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan bagi pemerintah provinsi.TujuanMeningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan PKP.SasaranTersedianya dokumen perencanaan yang mampu mensinergikan pembangunan PKP yangbersifat multisektor, sehingga dapat mendorong pengarusutamaan pembangunan PKP ke dalamperencanaan pembangunan provinsi.KeluaranTersedianya dokumen perencanaan yang menjadi arahan-arahan pembangunan PKP di provinsiserta menjadi pedoman bagi program pembangunan PKP di kabupaten/kota.C. Ruang Lingkup ModulModul ini berisi materi, konsep dan panduan tentang penyusunan dokumen perencanaan yangdisusun dalam tiga bagian sebagaimana pada Tabel 1. Tabel 1. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis Bagian Ruang Lingkup IsiPendahuluan 1. Latar Belakang 2. Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran 3. Ruang Lingkup ModulPanduan Pelaksanaan 1. Alur PelaksanaanPenyusunan Dokumen 2. Lokalatih Penyusunan Dokumen PerencanaanPerencanaan 3. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Dokumen PerencanaanPembangunan PKP 4. Konsinyasi Profil dan Dokumen PerencanaanProvinsi dalam 5. Konsultasi Profil dan Dokumen PerencanaanDekonsentrasi LingkupKemenpera Tahun 2011Lampiran 1. Bahan Ajar: Mekanisme Pelaksanaan Penyusunan Dokumen Perencanaan 2. Bahan Bacaan: Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Modul 3 | hal 3
  • 111. BAGIAN 2.PANDUAN PELAKSANAANPENYUSUNAN DOKUMEN PERENCANAANPEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASANPERMUKIMANDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN2011  Alur Pelaksanaan  Lokalatih Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Rangkaian Pertemuan Penyiapan Rancangan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Konsinyasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Konsultasi Publik Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPModul 3 | hal 4
  • 112. Alur PelaksanaanAlur pelaksanaan penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP dalam DekonsentrasiLingkup Kemenpera Tahun 2011 sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Melalui rangkaiankegiatan ini diharapkan rancangan dokumen perencanaan telah tersusun dalam jangka waktu 4(empat) bulan. Gambar 4. Alur Pelaksanaan Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011 Modul 3 | hal 5
  • 113. Kegiatan 1. Lokalatih Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Pelaksanaan lokalatih dimaksudkan untuk membantu kesiapan daerah dalam penyusunanDokumen Perencanaan Pembangunan PKP secara partisipatif dan mandiri sesuai kaidah danteori perencanaan mutakhir.Tujuan:Meningkatnya kemampuan peserta dalam menyusun dokumen perencanaan.KeluaranPeserta memiliki keterampilan dan pengetahuan perencanaan dalam penyusunan dokumenperencanaan yang strategis dan partisipatif.MetodologiLokalatih diselenggarakan dengan menggunakan metode partisipatif serta mengedepankanprinsip-prinsip Pendidikan Orang Dewasa (POD). Seluruh peserta lokalatih dalam metode iniadalah narasumber dan warga belajar yang setara. Penghargaan terhadap pengalaman masing-masing peserta selalu dikedepankan. Fungsi fasilitator hanya sebatas mengawal lalu lintasdialog, memediasi perbedaan pandangan yang mungkin timbul serta pembulatan hasil darisetiap sesi lokalatih. Beberapa teknik yang digunakan dalam metodologi ini adalah curahpendapat, tanya jawab, presentasi, diskusi terfokus, kerja kelompok, dan bermain peran.Alat dan BahanLCD, Spidol, Meta Plan, Flip Chart, dan Kain Rekat.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya 2. Maksimal 3 (tiga) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota terdekat, masing-masing 1 (satu) orang 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.Modul 3 | hal 6
  • 114. NarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerah Modul 3 | hal 7
  • 115. Agenda dan Alokasi Waktu PelaksanaanModul 3 | hal 8 Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 2 hari atau 10 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lokalatih Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan 1. Arah dan kebijakan Pembukaan lokalatih disesuaikan protokoler daerah 30 pembangunan PKP nasional menit maupun daerah 2. Isu-isu tematik PKP yang dianggap signifikan saat ini dan mendatang 3. Kerangka regulasi terkait PKP yang ada saat ini dan efektifitas pelaksanaannya 4. Harapan kondisi PKP di masa mendatang Sesi 2 Pengantar Lokalatih 1. Peserta memahami maksud 1. Fasilitator mengajak peserta untuk berkenalan dengan cara menggambar 30 tujuan dan ruang lingkup kondisi PKP sesuai pengalaman masing-masing peserta dalam kertas flip menit pembahasan dalam lokalatih chart. Fasilitator kemudian mempersilahkan peserta untuk menempelkannya 2. Terciptanya suasana di atas kain rekat kondusif partisipatif 2. Masing-masing peserta melakukan perkenalan tentang dirinya dengan cara 3. Pre Test menjelaskan dan mengkaitkan hasil gambar yang dibuat 3. Fasilitator mengajak peserta mengambil pembelajaran dari proses perkenalan dengan media gambar 4. Fasilitator menjelaskan maksud, tujuan, dan ruang lingkup lokalatih 5. Fasilitator menjelaskan alur lokalatih 6. Fasilitator dibantu panitia melakukan pre test melalui kuis terhadap seluruh peserta 7. Fasilitator mengajak peserta untuk menyepakati tata tertib selama lokalatih (do dan don’t) Sesi 3 Pengantar Penyusunan Dokumen 1. Pemahaman mengenai 1. Fasilitator menjelaskan proses penyusunan dokumen perencanaan dari awal 30 Perencanaan Pembangunan PKP konsep, batasan pengertian hingga akhir dengan menggunakan LCD menit dokumen perencanaan 2. Fasilitator mengingatkan bahan dan data-data yang diperlukan selama perumahan dan posisinya lokalatih berlangsung Modul 3 | hal 8
  • 116. Durasi Kegiatan Output Proses terhadap produk perencanaan lainnya 2. Pemahaman mengapa harus menyusun dokumen perencanaan 3. Pemahaman ruang lingkup dokumen perencanaan 4. Pemahaman mengenai langkah-langkah praktis penyusunan dokumen perencanaan Sesi 4 Identifikasi Pelaku 1. Teridentifikasinya secara 1. Fasilitator mengajak peserta untuk mengidentifikasi pelaku PKP dengan 20 tajam pelaku pembangunan menggunakan metode metaplan, yakni masing-masing peserta menuliskan menit daerah sebanyak-banyaknya pelaku PKP yang diketahui (satu pelaku satu 2. Pernyataan kategori pelaku metaplan/kartu) internal dan eksternal PKP 2. Fasilitator mengajak peserta mengelompokkan pelaku-pelaku yang sama 3. Hasil pengelompokkan dibuat dalam satu daftar 4. Fasilitator mengajak peserta untuk menetapkan pelaku internal dan eksternal PKP berdasarkan kedekatan urusan PKP dalam keseharian dan tupoksi dari masing-masing pelaku. List Pelaku Sangat terkait Cukup terkait Kurang terkait 5. Penetapan pelaku internal dan eksternal secara tegas akan banyak membantu dalam mempercepat proses analisa faktor lingkungan Pelaku Internal Pelaku Eksternal Sesi 5 Terklarifikasinya mandat secara Klarifikasi Mandat 1. Fasilitator menjelaskan apa itu mandat dan kenapa perlu diklarifikasi 20 tajam tentang alasan daerah 2. Fasilitator mengajak peserta mengidentikasi sumber-sumber mandat berikut harus menyusun Dokumen substansi dari masing-masing mandatModul 3 | hal 9 menit Perencanaan Pembangunan PKP No Sumber Mandat Subtansi Mandat Modul 3 | hal 9
  • 117. Durasi Kegiatan Output ProsesModul 3 | hal 10 Sesi 6 Tersusunnya rumusan visi-misi Perumusan Visi-Misi dan Nilai 1. Fasilitator menjelaskan proses penyusunan visi-misi dan nilai yang partisipatif 45 dan nilai pembangunan PKP sesuai standar yang ada menit 2. Fasilitator mengajak peserta untuk merumuskan visi pembangunan PKP yang paling tepat menurut masing-masing peserta dengan cara menuliskannya pada kartu metaplan dan menempelkannya di kain rekat 3. Sebelum peserta menempelkannya di kain rekat, pastikan peserta telah menggarisbawahi satu kata dalam rumusan visi mereka yang dianggap sebagai kata kunci 4. Fasilitator membacakan satu persatu secara cepat hasil rumusan visi. Selanjutnya peserta diminta untuk memilih secara aklamasi, pernyataan visi yang dianggap paling tepat, dan setelah itu diperbaiki pernyataan kalimatnya sehingga menjadi rumusan visi bersama. Jika tidak tercapai aklamasi, maka fasilitator memilih cara lain dengan mendaftar semua kata-kata kunci dari masing-masing visi individu, kemudian dua atau tiga orang peserta diminta merumuskannya dalam satu pernyataan visi. 5. Pastikan rumusan visi bernuansa kalimat pasif dan tidak lebih dari 10 kata serta tertutup (menggunakan angka tahun) 6. Setelah pernyataan visi disepakati, maka perlu dites apakah rumusan visi tersebut memuat hal yang ideal, strategic thinking, set expectation, dream, longterm perspective dan anticipate future 7. Proses pelaksanaan perumusan misi sama dengan perumusan visi, yakni dimulai dari rumusan individu baru kemudian rumusan bersama 8. Misi adalah cara mencapai visi sehingga pastikan rumusannya bernuansa aktif, dan lebih baik tidak lebih 3 rumusan. 9. Setelah rumusan misi disepakati, maka perlu dites, apakah pernyataan misi tersebut memuat hal citra diri, arahan umum, motivasi dan atmosfer/iklim 10. Hampir sama dengan perumusan visi dan misi, rumusan nilai juga dilakukan dengan cara yang sama. List nilai bisa diperkaya dengan menjelaskan substansi dari masing-masing nilai. No Nilai Definisi Kerja Visi-Misi dan Nilai Sesi 7 1. Identifikasi dan analisis faktor Analisis Lingkungan Internal 1. Fasilitator menjelaskan secara singkat metode dan langkah-langkah analisis 90 lingkungan internal (IFAS) dan Eksternal SWOT menit 2. Identifikasi dan analisis faktor 2. Fasilitator mengajak peserta untuk mendaftar sebanyak-banyaknya faktor eksternal (EFAS) kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pembangunan PKP 3. Fasilitator mengajak peserta untuk membuat daftar pendek kekuatan, Modul 3 | hal 10
  • 118. Durasi Kegiatan Output Proses kelemahan, peluang dan ancaman pembangunan PKP 4. Fasilitator mengajak peserta untuk menganalisis ke-empat faktor tersebut dengan cara menganalisis kelemahan dan kekuatan (analisis internal) serta peluang dan ancaman (analisis eksternal) dengan format sebagai berikut: Faktor Internal Diskripsi Respon Pemda Faktor Eksternal Diskripsi Respon Pemda Selanjutnya fasilitator mengajak peserta untuk melakukan pembobotan terhadap keduanya dengan format sbb: Rating Bobot Skor Ranking Kekuatan Kelemahan Rating Bobot Skor Ranking Peluang Ancaman Bobot bergerak dari angka 1 s/d 100, (penentuan bobot terkait dengan seberapa besar respon Pemda terhadap masing-masing faktor) sedangkan rating bergerak dari 1 s/d 5 (1=sangat buruk, 2=buruk, 3=sedang, 4=bagus, 5=sangat bagus), terhadap kemampuan antisipasi Pemda terhadap masing- masing faktor. Guna untuk mencari isu strategis (negatif) maka peserta diajakModul 3 | hal 11 memperhatikan dengan seksama hasil pembobotan di kelemahan dan ancaman. Kesemua faktor kelemahan dan ancaman adalah isu strategis. Sesi 8 Terumuskannya isu strategis Perumusan Isu Strategis Fasilitator mengajak peserta untuk menyepakati isu strategis dengan cara 30 berdasarkan hasil analisa SWOT menetapkan isu strategis hasil dari SWOT, kemudian mengaitkannya dengan menit & setelah menimbang hasil pernyataan visi-misi-nilai serta klarifikasi mandat dan hasil identifikasi pelaku Modul 3 | hal 11
  • 119. Durasi Kegiatan Output ProsesModul 3 | hal 12 identifikasi pelaku, klarifikasi mandat serta pernyataan visi- misi dan nilai Sesi 9 Terumuskannya tujuan strategis Penetapan Tujuan Strategis Fasilitator mengajak peserta mengubah nuansa negatif isu strategis menjadi 15 positif. Jika sudah selesai, inilah yang dikatakan tujuan strategis menit Sesi 10 Terumuskannya sasaran Perumusan Sasaran Strategis 1. Berdasarkan hasil tujuan strategis, fasilitator mengajak peserta untuk 45 strategis yang indikatif menurunkannya menjadi kedala sasaran strategis (indikatif) yang disesuaikan menit dengan sasaran RPJMN dan RPJMD (jika ada) 2. Hasil rumusan sasaran strategis harus dites dengan alat SMART (specific, measubrale,achivable,rationable & time bond) 3. Satu tujuan strategis bisa saja akan menghasilkan dua atau lebih sasaran strategis Sesi 11 Terumuskannya kebijakan Perumusan Kebijakan Strategis 1. Fasilitator menjelaskan perumusan kebijakan strategis berikut cara efektif 45 strategis berdasarkan masing- dalam penyusunannya menit masing sasaran strategis 2. Sebelum merumuskan kebijakan strategis terlebih dahulu peserta harus mampu merumuskan apa yang dinamakan faktor keberhasilan (dukungan dan hambatan) berdasarkan sasaran strategis, kemudian atas dasar faktor keberhasilan, fasilitator mengajak peserta merumuskan kebijakan strategis. Bahasa kebijakan strategis memang sedikit umum (tidak indikatif) namun hal ini tidak menjadi masalah, karena kebijakan strategis merupakan turunan dari masing-masing sasaran strategis (yang indikatif) Sesi 12 1. Pilihan-pilihan program setiap Perumusan Program Strategis 1. Fasilitator menjelaskan terkait lingkup program strategis 45 kebijakan pencapaian sasaran 2. Fasilitator mengajak peserta menurunkan kebijakan strategis ke program menit dan kebijakan strategis serta strategis dengan cara mengaitkannya dengan dua hal yakni intervensi dan kebijakan umum asumsi. Jika intervensi dan asumsi sudah jelas maka barulah kemudian 2. Kesepakatan program program strategis dapat dirumuskan. Setiap program hendaknya dibuat strategis dan indikator tujuan, sumber pendanaan, waktu dan durasi pelaksanaan, serta SKPD (mempertimbangkan faktor penanggungjawabnya. strategis pilihan program terhadap pencapaian tujuan strategis) Modul 3 | hal 12
  • 120. Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 13 Terumuskannya indikator Perumusan indikator kinerja Fasilitator menjelaskan pentingnya merumuskan indikator kinerja dari masing- 30 kinerja dari masing-masing masing item program menit program strategis Program Input Output Outcome Dampak Sesi 14 1. Terpastikannya keseluruhan 1. Review, 1. Fasilitator mengajak peserta melihat kembali hasil-hasil rumusan sejak visi 30 hasil tahapan lokalatih dalam 2. Terbentuknya tim kecil hingga program strategis, untuk memastikan runutan logika menit satu logika runtutan yang logis penyusunan dokumen 2. Fasilitator mengajak peserta pertemuan menentukan tim kecil penyusunan 2. Penyepakatan tim kecil perencanaan dokumen (koordinator dan anggota) penyusunan dokumen 3. Tersusunnya dan 3. Fasilitator mengajak peserta untuk menyepakati mekanisme kerja perencanaan disepakatinya mekanisme kerja Sesi 15 1. Peserta mampu menilai Post Test, evaluasi dan 1. Fasilitator mengajak peserta untuk menjawab pertanyaan dalam kuis post test, 10 kemampuan dirinya sendiri Penyusunan Rencana Tindak guna melihat perbedaan kemampuan peserta sebelum dan sesudah lokalatih menit terkait dokumen perencanaan 2. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan evaluasi bersama terhadap sebelum dan sesudah lokalatih keseluruhan proses lokakarya 2. Peserta mampu melakukan 3. Fasilitator mengajak peserta untuk menyusun rencana tindak paska lokalatih evaluasi secara mandiri terhadap keseluruhan tahapan lokalatih 3. Peserta mampu merumuskan rencana tindak paska lokalatih Sesi 16 Arahan tentang pentingnya Pentupan Acara Protokoler 10 tindak lanjut lokalatih berupa menit kegiatan penyusunan dokumen perencanaan 10 Jam JumlahModul 3 | hal 13 Modul 3 | hal 13
  • 121. Kegiatan 2. Rangkaian Pertemuan Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPPertemuan 1: Penyusunan Draf Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Menyusun outline dokumen perencanaan, bagian pendahuluan dan kondisi PKP.Tujuan:Tersepakatinya outline dokumen perencanaan, tersusunnya bagian pendahuluan dan kondisiPKP.Keluaran 1. Tersusunnya outline dokumen perencanaan secara sistematis 2. Tersusunnya bagian pendahuluan dokumen perencanaan yang terdiri dari latar belakang, permasalahan, maksud dan tujuan, garis besar dokumen 3. Tersusunnya kondisi perumahanMetodologiMetode partisipatif serta mengedepankan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa. Seluruhpeserta pertemuan adalah narasumber dan warga belajar yang setara. Fungsi fasilitator hanyasebatas mengawal lalu lintas dialog, memediasi perbedaan pandangan yang mungkin timbulserta pembulatan hasil pertemuan. Teknik yang efektif dalam melakukan pertemuan ini adalahdengan cara curah pendapat dan diskusi terfokusAlat dan BahanLCD, Spidol, dan Flip Chart.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 3 | hal 14
  • 122. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 1 hari efektif atau 6 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Pendampingan Penyusunan Draf Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan dan Pengantar 1. Terbinanya suasana rapat yang kondusif 1. Koordinator Pokja Perumahan membuka rapat secara resmi 30 pertemuan 2. Peserta memahami dan menyepakati output 2. Fasilitator mengajak peserta pertemuan untuk mengingat hasil menit pertemuan capaian lokalatih 3. Fasilitator menjelaskan alur proses rapat Sesi 2 Perumusan dan penetapan Tersusun dan tersepakatinya outline dokumen Fasilitator mengajak peserta pertemuan untuk menyepakati outline 120 outline dokumen perencanaan dokumen perencanaan dengan cara membandingkannya dengan menit perencanaan outline dari sebuah RPJMD Sesi 3 Perumusan bagian Tersusunya draf kasar bagian pendahuluan Fasilitator mengajak peserta untuk merumuskan bagian 90 pendahuluan dokumen perencanaan yang siap dikembangkan pendahuluan dokumen perencanaan yang sesuai dengan outline yang menit telah disekapati Sesi 4 Perumusan kondisi Tersusunnya kondisi pembangunan PKP (bagian Fasilitator mengajak peserta mempelajari data-data PKP yang ada 120 pembangunan PKP dua dokumen perencanaan) dan merumuskannya menjadi kondisi PKP sebagaimana bagian menit kedua dari dokumen perencanaan Sesi 5 Kesimpulan dan penutupan Pernyataan kesiapan peserta menyelesaikan 1. Fasilitator memotivasi peserta agar dapat menyelesaikan secara 30 bagian pendahuluan, kondisi PKP (bagian dua baik tugas yang diembankan menit dokumen perencanaan) 2. Pimpinan rapat/ Ketua Pokja PKP jika sudah terbentuk menutup rapat secara resmi 6 Jam TotalModul 3 | hal 15 Modul 3 | hal 15
  • 123. Pertemuan 2: Penyusunan Draf 2 Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Membantu peserta penyusun dokumen dan/atau Pokja PKP dalam menyusun visi-misi dan nilai,perumusan isu strategis, tujuan strategis, sasaran strategis, kebijakan strategis, programstrategis dan indikator program strategis.Tujuan:Menyelesaikan rumusan visi-misi dan nilai, isu strategis, tujuan strategis, sasaran strategis,kebijakan strategis, program strategis dan indikator program strategis.KeluaranDraf visi-misi-nilai; Draf isu, tujuan dan sasaran strategis; Draf kebijakan dan program strategisdan Draf indikator program strategisMetodologiMetodologi pelaksanaan pertemuan 2 sama dengan metodologi pertemuan 1 yakni denganmenggunakan metode partisipatif serta mengedepankan prinsip-prinsip pendidikan orangdewasa. Seluruh peserta pertemuan adalah narasumber. Fungsi fasilitator hanya sebatasmengawal lalu lintas dialog, melakukan mediasi perbedaan pandangan yang mungkin timbulserta pembulatan hasil pertemuan. Teknik yang efektif dalam melakukan pertemuan ini adalahdengan cara curah pendapat dan diskusi terfokus.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flip ChartPelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 3 | hal 16
  • 124. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 1 hari atau 6 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada tabel 4. Tabel 4. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyusunan Draf 2 Rancangan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan dan Pengantar pertemuan 1. Terbinanya suasana rapat yang 1. Koordinator Pokja PKP membuka rapat secara resmi 30 kondusif 2. Fasilitator mengajak peserta pertemuan untuk mengingat menit 2. Peserta memahami dan hasil capaian pertemuan sebelumnya (outline, bagian menyepakati output pertemuan pendahuluan dan kondisi perumahan). 3. Fasilitator menjelaskan alur proses pertemuan Sesi 2 Pengembangan dan penyempurnaan Terumuskannya pernyataan visi-misi Fasilitator mengajak peserta untuk menyempurnakan 60 pernyataan visi-misi dan nilai dan nilai secara final berikut definisi pernyataan visi-misi-nilai yang telah dihasilkan ketika menit kerjanya lokalatih berlangsung Sesi 3 Pengembangan dan penyempurnaan Perbaikan pernyataan isu strategis, Fasilitator mengajak peserta untuk menyempurnakan 90 pernyataan isu strategis, tujuan strategis dan tujuan strategis dan sasaran strategis pernyataan isu strategis, tujuan strategis dan sasaran menit sasaran strategis strategis Sesi 4 Pengembangan dan penyempurnaan Perbaikan kebijakan strategis, Fasilitator mengajak peserta untuk menyempurnakan 180 kebijakan strategis, program strategis dan program strategis dan indikator kebijakan strategis, program strategis dan indikator program menit indikator program strategis program strategis strategis Sesi 5 Kesimpulan dan penutupan Pernyataan kesiapan peserta 1. Fasilitator memotivasi peserta agar dapat menyelesaikan 30 menyempurnakan hasil-hasil secara baik tugas yang diembankan menit pertemuan 2. Pimpinan rapat/Ketua Pokja PKP jika sudah terbentuk menutup rapat secara resmi 6 Jam Total 1.Modul 3 | hal 17 Modul 3 | hal 17
  • 125. Pertemuan 3: Penyusunan Draf Final Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Membantu peserta penyusun dokumen perencanaan dan Pokja PKP dalam menyusun bagiankesimpulan dan rekomendasi daftar singkatan, istilah, tabel dan gambar.Tujuan :Menyelesaikan rumusan kesimpulan dan rekomendasi daftar singkatan, istilah, tabel dangambar.KeluaranDraf final Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMetodologiMetodologi pelaksanaan pertemuan 3 sama dengan metodologi pertemuan 1 dan 2 yaknidengan menggunakan metode partisipatif serta mengedepankan prinsip-prinsip pendidikanorang dewasa. Seluruh peserta pertemuan adalah narasumber. Fungsi fasilitator hanya sebatasmengawal lalu lintas dialog, memediasi perbedaan pandangan yang mungkin timbul sertapembulatan hasil pertemuan. Teknik yang efektif dalam melakukan pertemuan ini adalahdengan cara curah pendapat dan diskusi terfokus.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flip ChartPelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.Pesertamerupakan tim kecil maksimum 25 orang yang terdiri dari unsur pemerintah tingkat provinsi,antara lain: Kanwil BPN, BPS, Bappeda, Dinas/Lembaga yang membidangi PKP, danDinas/Lembaga terkait PKP lainnya.Modul 3 | hal 18
  • 126. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 1 hari atau 6 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada tabel 5. Tabel 5. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Penyusunan Draf Final Rancangan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses Sesi 1 Pembukaan dan 1. Terbinanya suasana rapat yang kondusif 1. Koordinator Pokja PKP membuka rapat secara resmi 30 pengantar pertemuan 2. Peserta memahami dan menyepakati output 2. Fasilitator mengajak peserta pertemuan untuk mengingat menit pertemuan hasil capaian pertemuan sebelumnya 3. Fasilitator menjelaskan alur proses rapat Sesi 2 Review hasil pertemuan 1. Peserta pertemuan tersegarkan ingatannya 1. Fasilitator mempersilahkan salah seorang peserta untuk 120 pertama dan kedua terhadap hasil-hasil kegiatan penyusunan mereview hasil capaian pertemuan pertama dan kedua menit dokumen perencanaan sebelumnya 2. Fasilitator mempersilahkan peserta untk memberikan 2. Perbaikan-perbaikan tanggapan dan masukan Sesi 3 Perumusan bagian Terumuskannya bagian kesimpulan dan Fasilitator mengajak peserta untuk merumuskan kesimpulan 120 kesimpulan dan rekomendasi dari dokumen perencanaan dan rekomendasi dari hasil penyusunan dokumen, yang menit rekomendasi sekaligus juga merupakan bagian akhir dari dokumen Sesi 4 Penyusunan daftar Tersusunya secara sistematis daftar singkatan, Fasilitator mempersilahkan peserta menyusun daftar 90 singkatan, istilah, tabel istilah, tabel dan gambar singkatan, istilah, tabel dan gambar secara sistematis menit dan gambar Sesi 5 Kesimpulan dan Pernyataan kesiapan peserta mengajukan 1. Fasilitator memotivasi peserta agar dokumen 30 penutupan legalisasi dokumen perencanaan kepada perencanaan segera dilegalkan dalam bentuk peraturan menit Gubernur Gubernur 2. Pimpinan Rapat/Ketua Pokja PKP menutup rapat secara resmi 6 Jam TotalModul 3 | hal 19 Modul 3 | hal 19
  • 127. Konsinyasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Membantu peserta penyusun dokumen dan Pokja PKP dalam memfinalkan dan penyempurnaanDokumen Perencanaan Pembangunan PKP Daerah.Tujuan:Menyelesaikan profil dan dokumen perencanaan sesuai kaidah-kaidah perencanaanpembangunan.KeluaranFinalisasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMetodologiMetodologi pelaksanaan yakni dengan menggunakan metode partisipatif serta mengedepankanprinsip-prinsip pendidikan orang dewasa. Seluruh peserta konsultasi publik adalahnarasumber. Fungsi fasilitator hanya sebatas mengawal lalu lintas dialog, memediasi perbedaanpandangan yang mungkin timbul serta pembulatan hasil pertemuan. Teknik yang efektif dalammelakukan pertemuan ini adalah dengan cara presentasi, tanya jawab dan diskusi kelompok.Alat dan BahanLCD, Spidol dan Flip ChartPelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari unsur pimpinan/kepala pemerintahan ditingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yangmembidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnyaNarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerahModul 3 | hal 20
  • 128. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 2 hari atau 10 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Konsinyasi Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses 60 Pembukaan dan 1. Terbinanya suasana konsinyasi 1. Ketua Bappeda atau Koordinator Pokja PKP membuka acara konsinyasi menit Pengantar yang kondusif secara resmi konsinyasi publik 2. Peserta memahami dan 2. Fasilitator mengajak peserta untuk menyegarkan ingatan terhadap draf menyepakati output pertemuan dokumen perencanaan yang telah disusun konsultasi publik 3. Fasilitator menjelaskan alur proses konsinyasi 120 Paparan Peserta mengetahui dan mengerti 1. Koordinator Pokja PKP atau Koordinator peserta penyusunan dokumen menit dokumen muatan dokumen perencanaan memaparkan draf dokumen perencanaan perencanaan 2. Fasilitator mengajak peserta menyimak dengan seksama paparan draf dokumen perencanaan 240 Penyempurnaan Daftar poin-poin penyempurnaan Fasilitator membagi peserta kedalam 3 kelompok diskusi. Kelompok 1, menit dokumen membahas dan menyempurnakan bagian pendahuluan dan bagian profil. perencanaan Kelompok 2 membahas dan menyempurnakan klarifikasi mandat, visi-misi- nilai, analisis lingkungan, isu strategis dan tujuan strategis. Kelompok 3 membahas dan menyempurnakan sasaran, kebijakan, program dan indikator kinerja serta bagian kesimpulan dan sasaran 120 Presentasi hasil Dokumen perencanaan 1. Fasilitator mempersilahkan masing-masing kelompok mempresentasikan menit diskusi kelompok tersempurnakan hasil diskusinya 2. Fasilitator mempersilahkan peserta untuk memberikan tanggapan dan masukan terhadap hasil presentasi kelompok 60 Kesimpulan dan Pernyataan draf dokumen Kepala Bappeda/ Ketua Pokja PKP menutup pertemuan konsinyasi dengan menit penutupan perencanaan telah tersempurnakan resmiModul 3 | hal 21 10 Total Jam Modul 3 | hal 21
  • 129. Konsultasi Publik Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPMaksud dan TujuanMaksud:Mendapatkan dukungan publik utamanya publik/pelaku perumahan terhadapkeberadaan/implementasi profil dan dokumen perencanaan.Tujuan:Melakukan sosialisasi dokumen guna memperoleh masukan pihak luar dalam rangkapenyempurnaan. Secara spesifik konsultasi publik dilakukan untuk: 1. Menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa Pemerintah Daerah telah menyusun profil dan dokumen perencanaan 2. Memperoleh masukan mengenai isu dan permasalahan pembangunan perumahan menurut perspektif masyarakat luas 3. Menjadikan profil dan dokumen perencanaan menjadi bagian dari milik keseluruhan pelaku perumahan 4. Memperoleh dukungan terhadap penerapan dokumen perencanaan dalam upaya mewujudkan pembangunan perumahan yang berkelanjutan sebagaimana yang diharapkan masyarakat luas.Keluaran 1. Informasi mengenai isu dan permasalahan relevan yang belum sempat tergali dalam proses penyiapan dokumen. 2. Komentar/ tanggapan dan masukan/harapan spesifik dari publik mengenai profil dan dokumen perencanaandan pelaksanaannyaMetodologiMetodologi pelaksanaan konsultasi publik sama dengan metodologi pertemuan konsinyasi.Seluruh peserta konsultasi publik adalah narasumber. Fungsi fasilitator hanya sebatasmengawal lalu lintas dialog, memediasi perbedaan pandangan yang mungkin timbul sertapembulatan hasil pertemuan. Teknik yang efektif dalam melakukan pertemuan ini adalahdengan cara presentasi dan curah pendapat.Alat dan BahanLCD, Spidol, dan Flip ChartPelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30 orang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnyaModul 3 | hal 22
  • 130. 2. Maksimal 3 (tiga) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota terdekat, masing-masing 1 (satu) orang 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.NarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerah Modul 3 | hal 23
  • 131. Agenda dan Alokasi Waktu PelaksanaanModul 3 | hal 24 Kegiatan ini akan dilangsungkan dalam 1 hari atau 6 jam efektif. Agenda dan alokasi waktu pelaksanaan ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Konsultasi Publik Rancangan Profil dan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Durasi Kegiatan Output Proses 60 Pembukaan dan 1. Terbinanya suasana konsultasi 1. Kepala Bappeda atau Koordinator Pokja PKP membuka acara menit pengantar konsultasi yang kondusif konsultasi publik secara resmi publik 2. Peserta memahami dan 2. Fasilitator mengajak peserta konsultasi publik untuk saling mengenal menyepakati output pertemuan satu sama lain konsultasi publik 3. Fasilitator menjelaskan alur proses konsultasi publik 120 Paparan dokumen Peserta mengetahui dan 1. Koordinator Pokja PKP atau Koordinator peserta penyusunan dokumen menit perencanaan mengerti muatan profil dan memaparkan rancangan profil dan dokumen perencanaan dokumen perencanaan 2. Fasilitator mengajak peserta menyimak dengan seksama paparan rancangan profil dan dokumen perencanaan 30 Tanya jawab Daftar pertanyaan 1. Fasilitator mempersilahkan peserta memberikan masukan, tanggapan menit dan kritikan terhadap keseluruhan rancangan yang telah dipaparkan. Pemberian masukan ini dibagi kedalam beberapa termin 2. Fasilitator mempersilahkan koordinator Pokja PKP atau Koordinator peserta penyusunan dokumen untuk memberikan tanggapan dan jawaban terhadap keseluruhan pertanyaan dan kritikan peserta 120 Pembulatan hasil Daftar masukan perbaikan dan Fasilitator membulatkan hasil penyempurnaan profil dan dokumen menit konsultasi publik kritikan perencanaan. 60 Kesimpulan dan Pernyataan bahwa profil dan 1. Fasilitator meminta persetujuan bahwa proses penyusunan profil dan menit penutupan dokumen perencanaan telah selesai dokumen perencanaan pembangunan sudah selesai 2. Pimpinan Rapat/Ketua Pokja PKP menutup pertemuan konsinyasi dengan resmi 6 Jam Total Modul 3 | hal 24
  • 132. REFERENSICreating and Implementing Your Strategic Plan, A Workbook for Public and Nonprofit Organizations-John M.Bryson and Farnum K.Alston, tahun 1996Perencanaan Strategik Institusi Pemerintah, Lembaga Administrasi Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan, tahun 2000.Bagian II: Langkah-langkah Perencanaan Strategik, Ning I Susilo, Universitas Indonesia tahun 2000.UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan DaerahUU No 25 Tahun 2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)Modul 2: Manajemen Stratejik, Lembaga Adiministrasi Negara dan Kemendagri, Juni tahun 2007Panduan Penyusunan Renstra Pembangunan AMPL, Pokja AMPL Nasional Tahun 2007 Modul 3 | hal 25
  • 133. LAMPIRANModul 3 | hal 26
  • 134. BAHAN AJAR:MEKANISME PELAKSANAAN PENYUSUNANDOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNANPERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN  Pemetaan Kondisi PKP  Lokakarya Pengembangan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Penyiapan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Penyempurnaan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Legitimasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Modul 3 | hal 27
  • 135. Kegiatan 1. Pemetaaan Kondisi PKPPemetaan kondisi PKP dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi lengkap mengenai kondisidan situasi PKP di daerah. Hasil kegiatan ini dapat digunakan sebagai acuan atau dasar dalamperencanaan. Penyusunan dokumen perencanaan memerlukan dukungan informasi dan datadasar yang kuat dan akurat sehingga perumusan sasaran pembangunan PKP dapat lebihterukur.1. Tujuan Pemetaan kondisi perumahan bertujuan untuk: 1.1 Memperoleh gambaran kondisi dan permasalahan PKP; 1.2 Memperoleh gambaran potensi-potensi yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan dalam upaya pemenuhan perumahan di daerah; dan 1.3 Memperkuat analisis dan akurasi informasi kondisi dan permasalahan PKP berdasarkan data sekunder. Sebagai sebuah data dasar, hasil pemetaan perlu diperbaharui sesuai perkembangan di daerah. Adanya data dasar perumahan akan memudahkan daerah untuk menilai kinerja implementasi rencana PKP secara menyeluruh.2. Informasi yang Diperlukan Informasi yang dikumpulkan dalam pemetaan PKP setidak-tidaknya sebagai berikut: 2.1 Kondisi infrastruktur  Kondisi sarana dan prasarana, estimasi kebutuhan perbaikan, dan penambahan sarana dan prasarananya;  Kondisi fungsi dan keberlanjutan sarana dan prasarana yang telah dibangun pemerintah selama ini; dan  Faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sarana dan prasarana secara umum. 2.2 Eksisting kebijakan daerah  Kebijakan/Perda yang yang telah dimiliki daerah terkait PKP; dan  Pelaksanaan/efektivitas kebijakan. 2.3 Kemampuan keuangan daerah untuk pembangunan PKP  Besaran alokasi APBD untuk pembangunan PKP rata-rata pertahun, selama lima tahun terakhir;  Kecenderungan peningkatan alokasi biaya untuk pembangunan PKP pertahun, selama lima tahun terakhir;  Mitra pemerintah dalam pembiayaan sektor PKP sampai saat ini; dan  Potensi sumber pembiayaan sektor PKP di daerah yang belum dimanfaatkan. 2.4 Peran serta masyarakat  Peran serta dan bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan PKP; dan  Kemampuan membayar masyarakat dalam program PKP.Modul 3 | hal 28
  • 136. 3. Pelaksanaan Pemetaan Pemetaan dilakukan melalui dua cara yaitu kajian atau studi pustaka (dokumen) dan lokakarya pemangku kepentingan atau stakeholders. Lokakarya/pertemuan ini dihadiri stakeholders PKP yang bertujuan untuk menetapkan pokok-pokok hasil kajian data sekunder. Pembahasan dalam lokakarya/pertemuan ini adalah untuk menyepakati data dasar yang akan digunakan, menetapkan isu, potensi dan permasalahan umum yang dihadapi daerah dalam pembangunan PKP. Dalam pertemuan ini, perwakilan SKPD yang membidangi perumahan diharapkan membawa data laporan terkait pembangunan PKP. Contoh laporan/dokumen yang perlu disediakan oleh masing-masing SKPD tersebut sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8. Dokumen yang Diperlukan dari Masing-Masing SKPD yang Membidangi PKP Instansi Dokumen yang harus dipersiapkan Bappeda  RPJMD  RTRW  RKPD tahun berjalan dan tahun akan datang  Kabupaten/kota dalam angka Dinas PU  Renstra SKPD PU  Renja SKPD PU  Laporan/data PKP yang telah dibangun  Data lain yang sesuai Dinas Kesehatan  Renstra SKPD Kesehatan  Renja SKPD Kesehatan  Data rumah sehat dan layak huni Dinas Pemberdayaan Masyarakat  Renstra SKPD Pemberdayaan Masyarakat  Renja SKPD Pemberdayaan Masyarakat  Data kelembagaan masyarakat Lain-Lain Contoh lembar-lembar isian sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 9 dan 10 dapat membantu proses pengumpulan data sekunder. Tabel 9. Contoh Hasil Pertemuan Koordinasi Persiapan Penyusunan Dokumen Perencanaan Provinsi Kebutuhan Informasi Sumber data Data Umum  Jumlah penduduk saat ini dan komposisinya BPS  Prediksi jumlah penduduk 5 tahun ke depan  dst. dst. Data Investasi/kemampuan keuangan daerah  Jumlah APBD tahun berjalan dan jumlah rata-rata selama 3 tahun yang lalu Bappeda  Jumlah alokasi APBD untuk sektor PKP  dst. dst. Data potensi PKP  Inventarisasi lahan peruntukan perumahan Bappeda dan Kanwil BPN  Jumlah proyek PKP dari luar APBD berikut unit dan volumenya Bappeda/Dinas PU  dst. dst. Modul 3 | hal 29
  • 137. Kebutuhan Informasi Sumber data Data Kebijakan Daerah  Visi dan misi RPJMD berjalan Dokumen RPJMD  Kebijakan untuk sektor PKP  Sasaran dan target pembangunan sektor PKP  Perda/atau peraturan lain yang berhubungan dengan sektor PKP Bappeda  dst. dst. Data kelembagaan PKP  Jumlah pengurus lembaga PKP (jika sudah ada) Bappeda  Tahun pembentukan lembaga PKP  dst. dst. Tabel 10. Contoh Kesimpulan Hasil Pertemuan Permasalahan Uraian Permasalahan 1. Permasalahan peran serta/dukungan masyarakat …………………………………………………………….. 2. Permasalahan data …………………………………………………………….. 3. Permasalahan perencanaan …………………………………………………………….. 4. Permasalahan kelembagaan/koordinasi …………………………………………………………….. 5. Permasalahan sinergi antar dinas …………………………………………………………….. 6. Permasalahan teknologi dan kualitas sarana …………………………………………………………….. 7. Permasalahan pemanfaatan/fungsi sarana …………………………………………………………….. 8. Permasalahan dengan lingkungan …………………………………………………………….. 9. Permasalahan kemampuan keuangan daerah …………………………………………………………….. 10. Permasalahan yang berhubungan dengan …………………………………………………………….. kebijakan/dukungan politis pengambil kebijakan 11. Lain-Lain …………………………………………………………….. Kesepakatan sementara prioritas permasalahan yang perlu ditangani selama lima tahun mendatang: 1. ................................................................................................................................ 2. DstKegiatan 2. Lokakarya Pengembangan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPUraian berikut meliputi penyiapan kerangka acuan lokakarya dan bagaimana lokakaryatersebut dilakukan.1. Penyiapan Kerangka Acuan Kerangka acuan perlu dipersiapkan dengan tepat untuk memastikan tujuan pengembangan materi dokummen perencanaan di daerah agar tercapai. Kerangka acuan mencakup uraian: a. Latar belakang pelaksanaan lokakarya; b. Pernyataan tujuan dan keluaran lokakarya; c. Topik yang akan dibahas dan ruang lingkupnya; d. Peserta yang akan dihadirkan; e. Waktu dan tempat penyelenggaraan; f. Penjelasan biaya dan sumbernya dan; dan g. Susunan acara yang dilaksanakan selama lokakarya berlangsung.Modul 3 | hal 30
  • 138. 2. Panduan Pelaksanaan Lokakarya Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dengan baik sebelum lokakarya dimulai antara lain: a. Calon peserta yang diundang sudah mengkonfirmasi kehadirannya. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan orang yang hadir adalah orang yang tepat sebagaimana yang diharapkan b. Materi atau bahan presentasi yang akan disampaikan sudah siap dan digandakan sesuai dengan kebutuhan c. Ringkasan data atau hasil pertemuan koordinasi sebelumnya sudah siap dan digandakan untuk bahan diskusi d. Peralatan pendukung lokakarya sudah disiapkan antara lain; infokus, laptop, sticky cloth (kain rekat) beserta kertas metaplan, dan spidol sejumlah peserta sudah disiapkan e. Printer dan komputer untuk pencatatan ringkasan hasil setiap diskusi disiapkan beserta petugas notulensinya Untuk memastikan lokakarya akan berjalan mulus sesuai yang diharapkan lakukan pertemuan dengan fasilitator, panitia dan petugas perekam proses. Perlu dicatat bahwa lokakarya sepenuhnya untuk kepentingan daerah. Tugas utama fasilitator adalah mengantarkan proses, sedangkah hasil lokakarya akan menjadi milik daerah sepenuhnya. 2.1. Acara Pembukaan Sebagaimana pelaksanaan lokakarya lain, pembukaan lokakarya akan dilakukan oleh pejabat yang dianggap sesuai. Untuk lokakarya dokumen perencanaan ini diharapkan setidak-tidaknya dibuka oleh Kepala Bappeda dan akan lebih baik kalau dibuka oleh Kepala Daerah atau Gubernur. Pada acara ini perlu dimasukkan pesan tentang pentingnya lokakarya dilakukan, pernyataan mengikuti lokakarya sampai selesai, dan pentingnya dokumen perencanaan yang akan disusun. 2.2. Sesi: Pengantar Lokakarya a) Penjelasan Maksud dan Tujuan Lokakarya Pengantar lokakarya dimaksudkan untuk menjelaskan maksud dan tujuan serta alur proses lokakarya sampai selesai. Untuk memastikan peserta siap dan menciptakan suasana yang kondusif, sangat penting untuk dilakukan perkenalan antar peserta dalam suasana yang santai. Perkenalan bisa diawali oleh peserta dengan menyebutkan nama, asal dinas/lembaga dan tugas sehari hari yang dilakukan. Untuk menciptakan suasana yang lebih akrab, disamping menyebutkan identitasnya, peserta diminta menceritakan dengan singkat pengalaman unik yang terkait dengan perumahan. b) Paparan Kemajuan dan Kebijakan Daerah dalam Pembangunan PKP Paparan ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi umum eksisting pembangunan PKP kepada peserta lokakarya, khususnya bagi peserta yang tidak mengikuti kegiatan pemetaan kondisi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Paparan ini disampaikan oleh Bappeda dengan bahan presentasi ringkasan hasil kegiatan pemetaan. Penting untuk disampaikan dalam paparan ini yaitu penegasan isu dan permasalahan yang perlu mendapatkan respon bersama, prioritas langkah dan program, dan kegiatan pembangunan PKP di masa Modul 3 | hal 31
  • 139. mendatang. Presentasi ini diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dan dilengkapi bersama antara lain: (1) Kemanakah arah pembangunan PKP? (2) Sasaran pencapaian apa sajakah yang harus dicapai dalam pembangunan PKP selama lima tahun mendatang? (3) Isu strategis apa saja yang perlu disepakati sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan PKP? (4) Hambatan dan permasalahan apa saja yang perlu diantisipasi?. (5) Kebijakan apa yang harus diambil untuk menjamin tercapainya sasaran pembangunan PKP di masa mendatang? (6) Program prioritas apa saja yang perlu disepakati dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman selama lima tahun mendatang? Dari paparan ini, selanjutnya fasilitator menegaskan bahwa diskusi yang akan dilakukan selama lokakarya pada dasarnya akan menjawab beberapa pertanyaan di atas. Untuk itu peran serta seluruh peserta selama diskusi dangat diperlukan. c) Paparan Perundang-Undangan/Kebijakan Nasional PKP Paparan ini perlu disampaikan untuk memberikan bekal pemahaman kepada peserta tentang prinsip-prinsip keberlanjutan pembangunan dan pokok-pokok kebijakan nasional yang perlu dijadikan masukan dan pertimbangan dalam pengembangan materi dokumen perencanaan pada diskusi-diskusi yang akan dilaksanakan selama lokakarya. 2.3. Sesi: Penjelasan Pengantar Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Tujuan dari sesi ini adalah memberikan penjelasan/gambaran mengenai konsep dan pemikiran, serta batasan pengertian dan ruang lingkup perencanaan pembangunan PKP. Hal-hal yang akan dijelaskan oleh fasilitator adalah tahapan diskusi pengembangan materi dokumen perencanaan, informasi kunci yang harus dihasilkan setiap tahap diskusi, dan bagaimana menggunakan informasi tersebut dalam penyusunan dokumen perencanaan. Untuk mengantarkan diskusi selanjutnya, fasilitator menjelaskan outline dokumen perencanaan dan hubungan antara bagian satu dengan bagian lain sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Alur Proses Penyusunan Dokumen Perencanaan di DaerahModul 3 | hal 32
  • 140. Penting untuk disampaikan bahwa lokakarya bukan proses dan hasil akhir, melainkan masih perlu ditindaklanjuti dengan melakukan uji silang antara data sekunder dan data lapangan, dan juga rumusan permasalahan yang kita hasilkan dengan hasil kajian lapangan. Hasil lokakarya ini, akan menjadi bahan inti penyusunan draf dokumen perencanaan. Setelah draf dokumen perencanaan selesai disiapkan, masih diperlukan lokakarya lanjutan dengan mengundang pemangku kepentingan yang lebih luas untuk memberikan komentar dan masukan dalam rangka penyempurnaan sekaligus mendapatkan legitimasi dari publik. a) Sesi: Identifikasi Pelaku Pembangunan PKP Sesi identifikasi pelaku ini dimaksudkan untuk memetakan pelaku yang terkait dengan bidang PKP di daerah pada saat ini sampai dengan lima tahun mendatang. Pemetaan pelaku dilakukan dengan menuliskan nama-nama proyek/program, pelaku, waktu pelaksanaan dan target. Proses pembahasan dilakukan dengan cara diskusi dalam pleno. Contoh hasil diskusi pada sesi ini sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 11. Tabel 11. Contoh Format Identifikasi Pelaku Pembangunan PKP Nama Waktu Target No Pelaku Sumber Dana Volume Proyek/Program Penyelesaian KK 1 Perumahan Koperasi Tabungan Anggota 2010-2013 150 unit 150 KK sederhana Tahu Tempe dan Kredit Bank 2 Rehab rumah tidak Dinas APBD 2011 50 unit 60 KK layak huni Perumahan 3 Dst Hasil sesi ini dapat memberikan gambaran potensi yang dimiliki daerah dalam upaya mencapai target pemenuhan layanan PKP melalui program yang ada. Hasil ini sekaligus dapat memperkirakan jumlah unit bangunan serta keluarga yang dilayani oleh program/proyek tersebut. b) Sesi: Klarifikasi Mandat Pembangunan PKP Sesi ini untuk merumuskan alasan atau rasional pentingnya daerah menyusun dokumen perencanaan. Hal yang dirumuskan meliputi aspek hukum dan perundangan atau peraturan yang menyatakan bahwa daerah perlu menyiapkan strategi pembangunan PKP serta alasan yang bersifat kontekstual. Tabel 12 menunjukkan contoh matrik hasil diskusi klarifikasi mandat. Tabel 12. Contoh Matrik Klarifikasi Mandat Sumber Mandat Substansi MandatUUD 1945 Ps.28 H ayat 1 Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkanlingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.UU No 1/2011 Ps 19 ayat 2 tentang PKP Penyelenggaraan rumah dan perumahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau setiap orang untuk menjamin hak setiap warga negara untuk menempati, menikmati, dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur Modul 3 | hal 33
  • 141. Sumber Mandat Substansi MandatUU No 1/2011 Ps 14 butir f Pemerintah Provinsi dalam melaksanakan pembinaan mempunyai tugas menyusun rencana pembangunan dan pengembangan PKPUU No 39/1999 Ps 40 tentang HAM Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta kehidupan yang layakUU No 25/2005 tentang SPPN Sistem Perencanaan Pembangunan NasionalUU No 32/2004 Bab VII Tentang Perencanaan Pembangunan DaerahPemerintahan DaerahPP No 38/2007 tentang Pembagian Bidang Perumahan Salah Satu Urusan Wajib yang SudahUrusan Pemerintahan Prov dan Kab/Kota Diserahkan Pemerintah Pusat ke DaerahPerpres No 5 tahun 2010 tentang RPJMN Target Pembangunan Perumahan Nasional 2010-20142010-2014DstPerda No........Pergub/Perbub/PerwaliKearifan lokal/Adat istiadat c) Sesi: Merumuskan Visi, Misi, Tujuan dan Nilai Tujuan dari sesi ini adalah merumuskan visi, misi, tujuan dan nilai/prinsip dalam dokumen perencanaan. Sesi ini diawali dengan penjelasan secukupnya mengenai batasan pengertian visi, misi, tujuan dan nilai, serta cara merumuskannya. 1) Diskusi 1: Merumuskan Visi Rumusan Visi Individu Rumusan Visi Kelompok Rumusan Visi Bersama Gambar 3. Tahapan Proses Penyusunan Visi yang Partisipatif Tata cara perumusan visi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3 adalah sebagai berikut: (a) Masing-masing peserta merumuskan kondisi yang diharapkan terhadap kondisi PKP di masa mendatang; (b) Selanjutnya masing-masing peserta diminta membuat rumusan visi PKP menurut mereka secara individu berdasarkan hasil rumusan harapan-harapan yang telah disusun sebelumnya; (c) Hasil pernyataan visi individu diarahkan menjadi visi kelompok dengan dua cara. Cara pertama, setelah semua peserta membaca atau mendengar pernyataan visi dari masing-masing individu, pesertaModul 3 | hal 34
  • 142. diminta secara aklamasi untuk memilih salah satu visi individu yang paling dianggap tepat, kemudian secara bersama-sama mempertajam visi tersebut. Cara kedua, jika aklamasi tidak disetujui maka peserta dapat mengambil kata-kata kunci dari masing-masing pernyataan visi individu (cukup satu kata), kemudian peserta menyepakati dua atau tiga orang dari mereka untuk merumuskan pernyataan visi berdasarkan kumpulan kata-kata kunci yang sudah diperoleh. Dengan begitu, proses partisipatif penyusunan tetap terjaga. Batasan Pengertian Sebelum diskusi dimulai, perlu dipahami beberapa batasan pengertian dan kriteria visi. (a) Visi yang tertera dalam dokumen perencanaan adalah gambaran kondisi ideal yang akan diciptakan melalui pembangunan PKP; (b) Visi yang tertera dalam dokumen perencanaan fokus pada sektor PKP, serta dibatasi kapan kondisi tersebut akan dicapai; (c) Visi bersifat inspiratif, mengandung sebuah impian dan memberikan justifikasi perlunya daerah melakukan upaya khusus untuk mencapainya (bukan sekedar pernyataan kondisi saja); (d) Pernyataan visi merupakan kalimat pasif, biasanya berawalan kata “ter” (terwujudnya atau terciptanya); (e) Diusahakan tidak lebih dari sepuluh kata, agar mudah diingat dan diserap oleh segenap pelaku dan khalayak; (f) Tertutup, dalam artian pernyataan visi memuat angka tahun akhir pencapaian visi; (g) Setiap kata dalam rumusan visi yang dianggap multi tafsir, wajib dirumuskan batasan pengertiannya. Menurut Steven Covey, sebuah pernyataan visi dikatakan final jika muatan visi tersebut mengandung 6 (enam) unsur subtansi yakni: (1) Memuat hal yang ideal (Idealistic) (2) Bermuatan mimpi (Dream); (3) Mengantisipasi masa depan (Anticipate Future); (4) Berpersfektif jangka panjang (Long Term Perspective); (5) Memuat pikiran-pikran strategik (Strategic Thinking); (6) Membentuk suatu harapan (Set Expectation).2) Diskusi 2: Merumuskan Misi Proses penyusunan misi identik dengan proses perumusan visi, yaitu dimulai dari individu kemudian baru rumusan bersama (kelompok). Rumusan misi berupa pernyataan tentang cara efektif untuk menggapai visi, namun dalam konteks yang umum atau luas. Awal kalimat yang tepat untuk pernyataan misi adalah “mengembangkan…..”, “memberdayakan…..”, “meningkatkan…..” dsb. Modul 3 | hal 35
  • 143. Batasan Pengertian Beberapa batasan pengertian dan kriteria misi adalah sebagai berikut: (a) Misi merupakan upaya khusus (bukan kegiatan rutin dan normatif) yang dilakukan untuk mencapai visi; (b) Rumusan misi merupakan kalimat aktif atau kata kerja; (c) Rumusan misi diawali dengan kerangka berfikir logis “faktor apa yang mempengaruhi dan harus dilakukan agar kondisi ideal tersebut dapat tercapai”; (d) Jika pernyataan misi dibuat dalam bentuk poin maka usahakan tidak lebih dari tiga poin. Sama seperti pernyataan visi, agar poin-poin misi mudah diingat serta diresapi oleh segenap pelaku dan khalayak. Menurut Lembaga Administrasi Negara (LAN), sebuah pernyataan misi dikatakan final jika muatan misi tersebut mengandung 4 (empat) unsur subtansi yakni: arahan umum, motivasi, citra diri, dan iklim/atmosfir. 3) Diskusi 3: Merumuskan Nilai Diskusi proses perumusan nilai juga sama dengan proses diskusi sebelumnya, yaitu dimulai dari rumusan individu kemudian menjadi rumusan nilai bersama. Batasan Pengertian Pernyataan nilai/prinsip adalah kata-kata luhur yang menunjukkan jati diri daerah dalam upaya pemenuhan perumahan misalnya prinsip-prinsip good governance, nilai agama, nilai universal dan nilai adat daerah. Contoh nilai universal: partisipatif, tanggap kebutuhan, demokratis, transparan, dll. Sedangkan contoh nilai spesifik/adat daerah: “marsipature hutanabe“ yang mengandung arti komitmen, individu dan kelompok dalam pembangunan perumahan secara mandiri dengan menjunjung tinggi azas kebersamaan (gotong royong). d) Sesi: Identifikasi Faktor Lingkungan Internal dan Eksternal Sesi ini dimaksudkan untuk merumuskan, mengelompokkan dan menjabarkan isu dan permasalahan mendasar ke dalam sasaran pencapaian pembangunan PKP. Daftar isu dan permasalahan sebagaimana yang dimaksud adalah hasil diskusi pada sesi paparan kemajuan pembangunan PKP sebelumnya. Secara berurutan yang dilakukan dalam sesi ini adalah sebagai berikut: (1) Mengelompokkan isu dan permasalahan ke dalam dua kategori internal dan eksternal; (2) Selanjutnya kategori internal dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu kekuatan dan kelemahan/keterbatasan; (3) Sedangkan kategori eksternal dikelompokkan menjadi peluang/kesempatan dan ancaman/tantangan;Modul 3 | hal 36
  • 144. (4) Mengelompokkan kekuatan dan peluang/kesempatan menjadi kelompok potensi; (5) Selanjutnya kelemahan/keterbatasan dan ancaman/tantangan dimasukkan ke dalam kelompok permasalahan. Batasan Pengertian Beberapa batasan pengertian dan kriteria misi adalah sebagai berikut: (1) Yang dimaksud internal adalah Pemerintah sendiri sebagai pemilik dokumen perencanaan, dalam hal ini mencakup eksekutif dan legislatif. Sedangkan yang dimaksud eksternal adalah masyarakat dan pihak-pihak di luar pemerintah daerah. (2) Hal-hal yang dapat mempengaruhi pencapaian pembangunan PKP perlu menjadi perhatian dalam merumuskan potensi dan permasalahan Beberapa contoh rumusan potensi dan permasalahan pembangunan PKP sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 13. Contoh Potensi (Kekuatan-Peluang) dan Permasalahan (Kelemahan-Ancaman) Potensi Permasalahan Kekuatan Peluang Kelemahan Ancaman (Internal) (Eksternal) (Internal) (Eksternal)Pokja PKP telah Dana Dekonsentrasi Lemahnya koordinasi Rendahnya kepedulianterbentuk antar SKPD masyarakat tentang rumah layak huniDaerah sedang Beberapa Koperasi Kurangnya perhatian Pengembang perumahanmenyusun draf Karyawan melakukan pengambil kebijakan swasta yang engganRPJMD program terkait terhadap sektor PKP bermitra dan berkoordinasi pembangunan dengan PemdaDukungan Kepala Skema kredit yang Ego sektoral Rendahnya partisipasiDaerah dalam fleksibel dari Bank masyarakat dalam prosespercepatan Daerah pembangunanpembangunan PKPDst. Dst. Dst. Lemahnya dukungan tokoh- tokoh pengusaha terhadap program PKP Harga material perumahan yang fluktuatif Semakin luasnya kawasan yang kumuh Dst. Setelah merumuskan potensi dan permasalahan, selanjutnya dilakukan analisis faktor. Daftar potensi dan permasalahan sebagaimana pada Tabel 13, kemudian dipindahkan ke Tabel 14 untuk dianalisis. Analisis faktor ini dilakukan secara terpisah antara kekuatan dan kelemahan internal dengan eksternal. Pada tabel analisis faktor strategis internal dan eksternal diberikan uraian alasan, nilai strategis dan rating respon. Alasan/rasional uraian mengapa hal tersebut dikatakan strategis terhadap pencapaian tujuan pembangunan perumahan, yaitu: Modul 3 | hal 37
  • 145. (1) Bobot strategis: tingkat strategisnya terhadap keberhasilan implementasi rencana perumahan; (2) Respon: upaya yang telah dilakukan oleh pengambil kebijakan terhadap pemanfaatan potensi (kekuatan) dan upaya mengatasi kelemahan selama ini dalam pembangunan perumahan; (3) Rating respon: tingkat kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk mendorong pengambil kebijakan untuk meningkatkan respon yang lebih baik terhadap kekuatan dan kelemahan. Catatan:  Nilai rating (R) strategis adalah antara 1 sampai 5 (1: sangat buruk , 2: buruk, 3, sedang, 4 baik dan 5 sangat baik);  Angka bobot respon (B) adalah 1 sampai 100 dengan (penilaian tinggi diberikan seberapa besar respon Pemda terhadap pemanfaatan potensi dan mitigasi kelemahan) Yang perlu diperhatikan adalah total bobot dari seluruh kekuatan dan kelemahannya. Total bobot seluruh faktor kekuatan dan kelemahan harus sama dengan 100. Hal ini berlaku baik untuk kategori internal maupun eksternal. Untuk mempermudah, langkah pertama adalah membagi secara rata 100 dibagi jumlah item kekuatan dan kelemahan. Dari rata-rata tersebut mana yang pantas dinaikkan dan mana yang pantas diturunkan nilai ratingnya. Besar nilai rating/bobot didasarkan atas kesepakatan bersama. Untuk jelasnya dapat dilihat contoh pada Tabel 14 dan Tabel 15. Tabel 14. Contoh Analisis Faktor Strategis Kategori Internal Respon Pemda/upaya- upaya yang telah Faktor B R SKOR Rasional/Alasan dilakukan terhadap kekuatan dan kelemahanKekuatanPokja PKP telah Memberikan dukungan dana 17,5 4 70 Berpotensi sebagai motorterbentuk operasional melalui APBD penggerak koordinasi dan Dukungan SK dan diperbarui sinergi pembangunan PKP setiap tahunDaerah sedang Belum ada pihak yang 17,5 4 70 Materi dokumenmenyusun draf mendorong/meyakinkan perencanaan dapat dijadikanRPJMD sektor PKP perlu mendapat muatan dalam RPJMD untuk perhatian sebagai program sektor PKP prioritasKelemahanLemahnya koordinasi Belum ada perhatian secara 20 4 80  Mempertajam ego sektoralantar SKPD signifikan  pembangunan PKP tidak mengarah pada tujuanKurangnya perhatian PKP masih dipandang 20 4 80 Sektor PKP akan semakinpengambil kebijakan sebagai sektor yang tidak tertinggal dibandingkanterhadap sektor PKP produktif sektor lainEgo sektoral Belum ada upaya spesifik 15 3 45 Inefisiensi pembangunan PKPSeringnya mutasi Belum ada upaya spesifik 10 3 30 Mempeburuk kinerja Pokjaanggota Pokja PKP PKP 100Modul 3 | hal 38
  • 146. Dari Tabel 8, cukup dipilih nilai akhir yang tinggi saja, misalnya nilai 70 dan 80. Dengan demikian, faktor internal yang dianggap strategis adalah: (1) Kekuatan: kita telah memiliki Pokja PKP dan daerah sedang menyusun RPJMD; (2) Kelemahan: lemahnya koordinasi dan kurangnya perhatian pengambil kebijakan terhadap sektor perumahan. Tabel 15. Contoh Analisis Faktor Strategis Kategori Eksternal Respon Pemda/upaya- upaya yang telah Faktor Rasional/Alasan B R SKOR dilakukan terhadap peluang dan ancamanPeluang/KesempatanTersedianya dana Memberikan kontribusi 12 4 48 Belum terkoordinasi dengandekonsentrasi PKP percepatan pemenuhan baik perumahanBeberapa koperasi Memberikan kontribusi 10 3 30 Belum ada kemitraan Pemdakaryawan melakukan percepatan pemenuhan dengan Koperasi Karyawanprogram terkait perumahanpembangunan PKPSkema kredit yang fleksibel Memberikan kontribusi 10 4 40 Telah dimanfaatkan untukdari Bank Daerah percepatan pemenuhan promosi program perumahan pembangunanTantangan /AncamanRendahnya kepedulian Melambatnya serapan 8 4 32 Belum ada upaya khususmasyarakat tentang rumah penjualan rumah layaklayak huni huniPengembang perumahan Kurang terarahnya pola 12 4 48 Perda Tata Ruang belumswasta yang enggan pembangunan PKP optimal dimasyarakatkanbermitra dan berkoordinasidengan PemdaRendahnya partisipasi Terhambatnya program 12 4 48 Program peningkatanmasyarakat dalam proses perumahan layak huni partisipasi masyarakat masihpembangunan lemahLemahnya dukungan tokoh- Terhambatnya program 13 4 52 Belum ada upaya spesifiktokoh pengusaha terhadap perumahan layak huniprogram PKPHarga material perumahan Maraknya spekulan 13 4 52 Belum ada upaya spesifikyang fluktuatif hargaSemakin luasnya kawasan Semakin beratnya biaya 10 3 30 Program penataan kawasanyang kumuh pembangunan PKP kumuh Pemda tidak berjalan 100 Berdasarkan Tabel 15 dapat diambil nilai yang tinggi sebagai berikut: (1) Peluang/Kesempatan: (a) Tersedianya dana dekonsentrasi PKP dari pusat; (b) Skema kredit yang fleksibel dari Bank Daerah. (2) Tantangan/Ancaman: (a) Pengembang swasta yang enggan bermitra dan berkoordinasi dengan Pemda; (b) Rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Modul 3 | hal 39
  • 147. Dari analisis faktor strategis, selanjutnya dilakukan analisis permasalahan dengan menggabungkan pilihan faktor strategis dari kelemahan dan ancaman kemudian dilakukan pembobotan, penilaian rating, dan skoring ulang sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 16. Tabel 16. Contoh Skoring Isu Strategis Faktor Kelemahan dan Ancaman (Isu Strategis) Rating Bobot SkorKelemahan  Lemahnya koordinasi antar SKPD 4 20 80  Kurangnya perhatian pengambil kebijakan terhadap sektor PKP 4 15 60Ancaman  Rendahnya kepedulian masyarakat tentang rumah layak huni 4 15 60  Pengembang perumahan swasta yang enggan bermitra dan 4 15 60 berkoordinasi dengan Pemda  Rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan 4 15 60  Lemahnya dukungan tokoh-tokoh pengusaha terhadap program PKP 4 20 80 100 Dari hasil analisis kelemahan dan ancaman pada Tabel 16 diperoleh gambaran angka yang hampir berimbang. Jika daerah memandang bahwa keenam rumusan kelemahan dan ancaman tersebut sebagai hal yang strategis maka keenamnya bisa diambil. Namun apabila dari rumusan tersebut ada yang memiliki kesamaan, sebaiknya diambil salah satu saja. Hal ini dikarenakan apabila masalah yang diambil dapat diatasi, maka masalah yang tidak dipilih juga akan ikut terselesaikan. e) Sesi: Menetapkan Isu Strategis Setelah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, dan melakukan analisis faktor, pada sesi ini akan dibahas cara memilih dan menetapkan isu strategis. Isu strategis dalam dokumen perencanaan adalah permasalahan yang dianggap mendasar yang dihadapi oleh daerah dalam implementasi rencana pembangunan perumahan dan kawasan pemukiman. Untuk itu diperlukan upaya spesifik dalam bentuk strategi yang dituangkan dalam dokumen perencanaan. Suatu permasalahan dikatakan strategis apabila permasalahan tersebut memiliki dampak yang luas dan menyeluruh jika tidak ditangani. Sebaliknya jika masalah tersebut diatasi maka dapat menyelesaikan beberapa masalah yang lain. Contoh isu strategis: “semakin luasnya kawasan kumuh”. Perluasan kawasan disebabkan banyak faktor dan menghasilkan dampak negatif sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4.Modul 3 | hal 40
  • 148. Faktor Penyebab Urbanisasi, rendahnya kepedulian masyarakat, kegiatan ekonomi yang terpusat, lemahnya penegakan aturan Isu Strategis: Meluasnya kawasan kumuh Dampak (akibat) Tingginya resiko sakit, penurunan derajat kesehatan, meningkatnya biaya pengobatan, meningkatnya kriminalitas Gambar 4. Contoh Analisis Isu Strategis Diskusi untuk menetapkan masalah strategis dilakukan dengan cara memaparkan hasil skoring kelemahan dan ancaman sebagaimana dihasilkan pada sesi sebelumnya. Dengan menggunakan kerangka berfikir bahwa “isu strategis” adalah permasalahan yang memiliki dampak luas terhadap upaya pemenuhan pembangunan, maka rangkuman skoring kekuatan dan kelemahan perlu dirunut dan dilihat kembali. (1) Apakah semuanya memiliki dampak yang luas/menyeluruh; (2) Apakah ada diantara rumusan tersebut memiliki kesamaan substansi sehingga bisa digabungkan; dan (3) Apakah permasalahan tersebut memang menjadi domain sektor PKP, atau penanganannya bisa diupayakan melalui peran Pokja PKP, atau sebagian telah menjadi tugas pokok dan fungsi salah satu SKPD. Kesimpulan akhir dalam penetapan isu strategis disepakati bersama oleh peserta lokakarya.f) Sesi: Merumuskan Strategi Pembangunan PKP Sesi ini merupakan sesi puncak dalam lokakarya pengembangan materi dokumen perencanaan. Sesi ini bertujuan untuk merumuskan tujuan strategis, sasaran pencapaian, dan kebijakan daerah dalam pembangunan PKP. Target keluaran dari sesi ini adalah kesepakatan tujuan strategis, sasaran pencapaian dan kebijakan strategis daerah dalam pembangunan PKP dengan mempertimbangkan faktor potensi/pendukung dan hambatan/ancaman. Melalui proses partisipatif, pada sesi ini akan dihasilkan rumusan-rumusan penting. Contoh kerangka isu, tujuan, sasaran dan kebijakan strategis sebagaimana pada Tabel 17. Modul 3 | hal 41
  • 149. Tabel 17. Contoh Kerangka Isu, Tujuan, Sasaran dan Kebijakan Strategis Sasaran Isu Tujuan Faktor Kebijakan pencapaianStrategis Strategis strategis daerah pembangunan Pendukung Hambatanisu strategis Tujuan sasaran 1.1tujuan 1 strategis1 sasaran 1.2isu strategis Tujuan sasaran 2.1tujuan 2 strategis2. sasaran 2.2isu strategis Tujuan sasaran 3.1tujuan 3 strategis3 sasaran 3.2 Dst. Dst. 1) Diskusi 1: Merumuskan tujuan strategis Sesi sebelumnya telah menghasilkan kesepakatan isu strategis sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 17. Melalui diskusi pleno, peserta diajak merumuskan bersama-sama tujuan strategis berdasarkan isu strategis sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 18. Tabel 18. Contoh Perubahan Isu Strategis Menjadi Tujuan Strategis Isu Strategis Tujuan StrategisLemahnya koordinasi antar SKPD Optimalisasi koordinasi pembangunan PKP antar SKPDKurangnya perhatian pengambil kebijakan Dukungan komitmen Kepala Daerah dan SKPDterhadap sektor PKP terhadap program PKPRendahnya kepedulian masyarakat tentang rumah Peningkatan kepedulian masyarakat tentanglayak huni rumah layak huniPengembang perumahan swasta yang enggan Dst.bermitra dan berkoordinasi dengan PemdaRendahnya partisipasi masyarakat dalam proses Dst.pembangunanLemahnya dukungan tokoh- tokoh pengusaha Dst.terhadap program PKP Dari contoh Tabel 17, prinsip perumusan tujuan strategis adalah membalik pernyataan negatif dari isu strategis ke dalam pernyataan positif yang lebih mudah dipahami. 2) Diskusi 2: Merumuskan Sasaran Pencapaian Sasaran pencapaian pembangunan PKP merupakan inti dari dokumen perencanaan. Dari sasaran ini kita akan mengetahui arah pembangunan PKP selama lima tahun mendatang. Rumusan sasaran yang didasarkan pada tujuan strategis harus memuat 5 (lima) unsur substansi, yang sering disebut dengan SMART.Modul 3 | hal 42
  • 150.  Specific: pernyataan kalimat sasaran harus spesifik dan fokus;  Measurable: sasaran harus terukur (unit, volume, dsb);  Achievable: kalimat sasaran memuat dorongan untuk maju ke depan;  Rationable: kalimat sasaran harus masuk akal dan realistis; dan  Timebound: sasaran harus mempunyai jangka waktu pencapaian. Sasaran perencanaan PKP daerah harus mengacu pada sasaran pencapaian nasional dengan tolok ukur yang sama. Selain itu dikembangkan pula sasaran yang disesuaikan dengan tujuan strategis dan isu strategis daerah. Hal ini penting untuk memastikan sinergi antara pencapaian sasaran pembangunan PKP daerah dan rangkaian proses pencapaian sasaran nasional. Atas dasar acuan sasaran nasional, maka dapat diilustrasikan sasaran strategis sebagai turunan dari tujuan strategis sebagaimana pada Tabel 19. Tabel 19. Contoh Turunan Tujuan Strategis Menjadi Sasaran Strategis Tujuan Strategis Sasaran Strategis (Visi Praktis)Optimalisasi koordinasi pembangunan PKP Pada akhir tahun...........seluruh pelaksanaanantar SKPD pembangunan PKP berada dalam satu SKPDDukungan komitmen Kepala Daerah dan SKPD Pada akhir tahun .......... anggaran pembangunanterhadap program PKP PKP sebesar 5 % dari total APBDPeningkatan kepedulian masyarakat tentang Pada akhir tahun.........sebanyak 70 %rumah layak huni masyarakat yang bermukim di lokasi kumuh telah memiliki rumah layak huniDst. 3) Diskusi 3: Merumuskan Kebijakan Daerah. Penetapan kebijakan mempertimbangkan faktor pendukung dan kendala spesifik untuk setiap pencapaian sasaran. Selain itu, faktor kunci yang mempengaruhi pencapaian sasaran dari sisi pemerintah juga perlu dipertimbangkan. Tabel 20 mengilustrasikan analisis logis dalam penetapan kebijakan pembangunan PKP berdasarkan sasaran pencapaian. Batasan Pengertian Strategi rencana bidang PKP dalam dokumen ini mencakup: (1) Tujuan strategis, ditetapkan berdasarkan isu strategis; (2) Sasaran strategis pencapaian pembangunan PKP; (3) Faktor pendukung dan penghambat, yang berhubungan secara langsung dengan sasaran yang ingin dicapai; (4) Rumusan kebijakan dalam upaya mencapai sasaran dengan mempertimbangkan faktor pendukung dan penghambat serta menggunakan referensi dari hasil analisis faktor strategis dari kekuatan dan peluang; (5) Asumsi-asumsi dan intervensi; (6) Rumusan program strategis. Modul 3 | hal 43
  • 151. Tabel 20. Contoh Turunan Sasaran Strategis Menjadi Kebijakan Strategis Faktor Kebijakan Sasaran Strategis Pendukung Kendala Strategis Pada akhir tahun...........seluruh Pokja PKP telah Masih adanya Menjadikan sektor pelaksanaan pembangunan PKP terbentuk ego sektoral PKP sebagai berada dalam satu wadah koordinasi antar SKPD program prioritas Pada akhir tahun .......... anggaran Dukungan dan Sektor PKP daerah pembangunan PKP sebesar 5 % dari komitmen Kepala belum menjadi total APBD Daerah perhatian Pada akhir tahun.........sebanyak 70 % Dukungan dari CSR Keterbatasan Pemberdayaan masyarakat yang bermukim di lokasi dan LSM dalam kemampuan masyarakat dalam kumuh telah memiliki rumah layak perbaikan dalam pembangunan PKP huni lingkungan kumuh pembiayaan Dst. Dari analisis pada Tabel 20 dihasilkan beberapa rumusan kebijakan daerah yang akan mampu mendorong pencapaian sasaran implementasi rencana terkait bidang PKP. Namun terdapat kemungkinan adanya kesamaan substansi diantara kebijakan-kebijakan untuk salah satu sasaran. Untuk itu perlu dirumuskan ulang rumusan kebijakan yang menggabungkan beberapa kebijakan yang memiliki kesamaan. Analisis di atas menghasilkan dua rumusan kebijakan yaitu: (1) Menjadikan sektor PKP sebagai program prioritas daerah; dan (2) Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan PKP. Perlu juga diperhatikan aspek keberlanjutan pembangunan perumahan yang mencakup aspek: sosial/masyarakat, kelembagaan, teknologi, keuangan dan lingkungan. Selanjutnya perlu dilakukan pengukuran kebijakan strategis untuk mengetahui apakah dua rumusan kebijakan di atas telah memenuhi aspek keberlanjutan pembangunan. Contoh pengukuran kebijakan strategis tersebut sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 21. Tabel 21. Contoh Pengukuran Kebijakan Strategis Aspek Relevansi dari dua rumusan kebijakan keberlanjutan Sosial 1. Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan PKP 2. Penguatan kapasitas Kelembagaan 1. Optimalisasi koordinasi dan sinergi dalam pembangunan PKP (pemerintah) 2. Menjadikan sektor PKP sebagai program prioritas 3. Penegakan regulasi PKP 4. Penguatan kapasitas Teknologi Ketersediaan pilihan-pilihan teknologi Keuangan Kemitraan pembangunan PKP (untuk mengatasi keterbatasan kemampuan pembiayaan) Lingkungan Revitalisasi kawasan kumuhModul 3 | hal 44
  • 152. 4) Diskusi 4: Merumuskan Program Strategis Setiap kebijakan strategis dapat diturunkan menjadi sejumlah program strategis. Untuk menghasilkan program strategis perlu terlebih dahulu dilakukan identifikasi terhadap asumsi-asumsi yang dibangun guna pencapaian/realisasi kebijakan strategis. Asumsi yang digunakan adalah asumsi yang rasional serta berkaitan dengan force majeur (kondisi di luar kemampuan). Selain itu dapat dirumuskan juga perkiraan intervensi dari pihak luar yang dibutuhkan untuk mencapai kebijakan strategis. Tabel 22 memberikan contoh sederhana dari hasil identifikasi asumsi dan intervensi. Tabel 22. Contoh Rumusan Program Strategis Kebijakan Asumsi Intervensi Program Strategis StrategisPemberdayaan Konsistensi dukungan Konsistensi 1. Mapping dan Assessmentmasyarakat dalam pimpinan SKPD yang dukungan tokoh- kebutuhan masyarakat akanpembangunan PKP membidangi tokoh masyarakat perumahan perumahan terhadap dan LSM terhadap 2. Penguatan kapasitas masyarakat program pemberdayaan 3. Rintisan kerjasama Bank dengan pemberdayaan masyarakat dalam kelompok-kelompok masyarakat masyarakat terkait pembangunan PKP terkait pembangunan PKP PKPMenjadikan sektor Dst. Dst. Dst.PKP sebagai programprioritas daerah Selanjutnya, setiap program strategis dirinci menurut tujuan, waktu pelaksanaan, durasi terkait umur dokumen perencanaan, sumber pembiayaan, dan SKPD penanggung jawab dari masing-masing program. Tabel 23 merupakan contoh rincian program strategis tersebut. Tabel 23. Contoh Program Strategis Terkait dengan Waktu, Sumber Pembiayaan dan SKPD Penanggung Jawab Sumber SKPD Program Strategis Tujuan antara Waktu Durasi Pembiayaan Pn.Jawab Mapping dan Assesment Tersedianya peta dan 3 bulan Tahun I APBD Bappeda kebutuhan masyarakat kebutuhan perumahan akan perumahan dalam skala kota Penguatan kapasitas Kesiapan masyarakat 1 tahun Tahun I APBD BPM masyarakat dalam pengelolaan s.d perumahan berbasis Tahun II keswadayaan Rintisan kerjasama Bank Tersedianya kredit 1 tahun Tahun III APBD Dinas dengan kelompok- lunak tanpa agunan Koperasi kelompok masyarakat pembangunan dan UKM terkait pembangunan perumahan oleh Bank perumahan Dst. Modul 3 | hal 45
  • 153. 5) Diskusi 5: Merumuskan Indikator Kinerja Program Strategis Perumusan indikator kinerja program strategis disesuaikan dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 serta amandemennya yakni Permendagri nomor 59 tahun 2007 tentang pengelolaan keuangan daerah. Dalam Permendagri ini diamanatkan adanya indikator input, output dan outcome. Mengingat dokumen perencanaan akan ditujukan juga kepada pihak-pihak non-pemerintah meliputi swasta, LSM, dan masyarakat, sebaiknya indikator kinerja dilengkapi dengan indikator benefit dan dampak sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 24. Tabel 24. Contoh Indikator Kinerja Program Strategis Program Input Output Outcome Benefit DampakMapping dan  Dana Tersedianya peta Pembangunan Efektivitas MeningkatnyaAssessment kebutuhan  Fasilitator dan kebutuhan perumahan anggaran derajatmasyarakat terkait  Assessment perumahan dalam tepat sasaran kesehatanperumahan Tools skala kota dan efisien masyarakatPenguatan kapasitas Dst.masyarakatRintisan kerjasamaBank dengan kelompok-kelompok masyarakatterkait pembangunanperumahan g) Sesi: Penyusunan Rencana Kerja Yang dimaksud dengan rencana kerja di sini adalah rencana kerja penyusunan dokumen perencanaan. Dalam langkah ini perlu disepakati peserta yang akan berpartisipasi dalam penyusunan dokumen. Pemilihan peserta harus mempertimbangkan keterlibatan secara aktif sejak tahapan pengumpulan data sekunder, persiapan dan pelaksanaan lokakarya. Peserta tersebut harus memiliki kompetensi terkait perencanaan dan/atau yang tugas sehari-harinya membidangi sektor PKP. Hasil dari sesi ini sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 25. Tabel 25. Contoh Rencana Kerja Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggung Kegiatan Target Hasil Waktu jawabPertemuan pembagian tugas Kesepakatan pembagian tugasKonsolidasi kemajuan 1. Draf 1 Dokumenpenulisan draf dokumen 2. komentar dan masukanKonsolidasi kemajuan 1. Draf 2 Dokumenperbaikan draf 2. komentar dan masukanLokakarya finalisasi Masukan dalam rangka finalisasiDokumen Perencanaan dokumenKonsultasi publik Dokumen 1. Respon dan dukungan masyarakatPerencanaan terhadap Dokumen Perencanaan 2. Masukan akhir dari masyarakatLegalisasi Dokumen Kata sambutan ditandatangani olehPerencanaan Gubernur dan penerbitan SK/PergubDst.Modul 3 | hal 46
  • 154. Kegiatan 3. Penyiapan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Provinsi1. Penjelasan Umum Penyiapan dokumen perencanaan dapat dilaksanakan setelah seluruh data yang dibutuhkan sudah disiapkan. Penulisan dokumen memerlukan konsentrasi penuh dan tidak harus melibatkan banyak orang. Sebelum penulisan dokumen perencanaan dimulai, perlu disepakati terlebih dahulu outline atau daftar isi dokumen. Penyepakatan outline ini penting dilakukan agar masing-masing yang bertugas mengetahui dengan jelas ruang lingkup pekerjaan yang harus dilakukan. Hal lain yang perlu disepakati antara lain; format halaman, huruf, ukuran dan penggunaan spasi serta ukuran huruf pada tabel.2. Outline Dokumen Perencanaan Dokumen perencanaan terdiri dari beberapa bagian dan bab. Dokumen ini diawali dengan halaman judul, bagian pengantar, dan sambutan Gubernur. Isi dokumen dimulai dengan Bab Pendahuluan mencakup uraian latar belakang, maksud dan tujuan penyusunan dokumen, mandat penyusunan dokumen, ruang lingkup, posisi dokumen perencanaan terhadap perencanaan pembangunan lainnya, metode penyusunan, dan diakhiri dengan sistematika penyajian dokumen perencanaan. Bab Profil dan Potensi Daerah dalam pembangunan PKP mencakup uraian gambaran umum daerah, pengelolaan pembangunan, pelaku pembangunan, peran serta masyarakat, dan aspek pembiayaan pembangunan PKP. Bab Konsepsi Pengembangan dan Pembangunan PKP mencakup dasar-dasar penetapan rencana, pernyataan visi-misi-nilai/prinsip, dan arahan pengembangan sumber daya pembangunan PKP. Bab Isu Strategis Pembangunan PKP menguraikan tinjauan faktor lingkungan internal dan eksternal, hasil analisis SWOT, dan rumusan isu strategis yang harus disikapi berdasarkan visi-misi pembangunan PKP. Bab Strategi Pembangunan PKP mencakup uraian tujuan strategis, sasaran strategis, kebijakan strategis, program strategis dan rencana aksi daerah per tahun dalam upaya pencapaian sasaran pembangunan PKP. Bab Penutup menguraikan penegasan pentingnya dokumen perencanaan untuk dijadikan acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan PKP. Gambaran secara jelas mengenai outline dokumen perencanaan dapat dilihat pada Tabel 26. Modul 3 | hal 47
  • 155. Tabel 26. Outline Dokumen Rencana Perumahan DaerahHalaman JudulLogo Pemerintah Daerah terletak di tengah baris paling atas. Di bawah logo kop pemerintah “PemerintahProvinsi XXX”Di bawah kop dituliskan judul “ DOKUMEN PERENCANAAN PROV TAHUN XXX – XXXKata PengantarUcapan terima kasih dari tim penyusun atas disusunnya dokumen perencanaan sebagai dasar dan arahpembangunan bidang PKP. Harapan semoga dokumen perencanaan ini dapat membantu semua SKPDterkait dan pihak lain dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan PKP.Sambutan GubernurPernyataan-pernyataan politis dukungan terhadap disusunnya dokumen perencanaan. Dokumen inidiharapkan dapat membantu mempercepat daerah dalam pemenuhan layanan dasar bidang PKP.Penegasan agar semua SKPD menindaklanjuti dokumen perencanaan kedalam program operasionaldalam kerangka penjabaran RPJMD.Bab 1 Pendahuluan1.1. Latar BelakangBerisi informasi konteks perencanaan perumahan skala nasional dan skala daerah. Tantangan umumdaerah dalam pembangunan PKP. Informasi yang dimasukkan pada bagian ini adalah ringkasan hasilpertemuan koordinasi persiapan penyusunan dokumen perencanaan dan hasil penelusuran informasidari situs sebagaimana diuraikan pada bab II memahami isu pembangunan PKP. Rangkaian informasidari skala nasional sampai dengan daerah diakhiri dengan paragraf “dalam upaya percepatanpembangunan PKP yang berkelanjutan di provinsi... maka Dokumen Perencanaan Pembangungan PKPdisusun untuk dijadikan acuan seluruh dinas SKPD terkait dalam pengembangan rencana dan programserta kegiatan sektor PKP.”1.2. Maksud dan Tujuan PenyusunanUraikan secara ringkas dalam poin-poin, maksud dan tujuan daerah menyusun dokumen perencanaan.Berikut adalah contoh uraian maksud dan tujuan penyusunan dokumen perencanaan:Penyusunan dokumen perencanaan dimaksudkan untuk menetapkan arah bagi daerah dalam upayaimplementasi rencana terkait pembangunan PKP. Tujuan umum penyusunan dokumen adalahmeningkatkan kinerja daerah dalam pemenuhan kebutuhan PKP, dan secara khusus bertujuan:  Menjabarkan sasaran dan kebijakan daerah dalam pemenuhan kebutuhan sektor PKP secara terintegrasi dan sistematis;  Memberikan pedoman dan arahan bagi seluruh SKPD dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan PKP; dan  Mensinergikan pembangunan PKP antar SKPD yang membidangi perumahan dan pihak-pihak lain.1.3. Mandat Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPBagian ini berisi uraian dasar yang dipakai dalam rangka penyusunan dokumen mencakup peraturanpemerintah pusat, peraturan daerah dan produk hukum terkait serta alasan-alasan yang bersifat lokaltermasuk kasus-kasus PKP yang mengharuskan daerah menyusun dokumen perencanaan.1.4. Ruang LingkupPada bagian ini diuraikan ruang lingkup isi dokumen perencanaan secara keseluruhan dan penjelasannaratif mengenai ruang lingkup batasan lokasi penggunaan dan batasan waktu dari umur dokumenperencanaan.1.5. Posisi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP terhadap Dokumen Perencanaan Pembangunan Lainnya di DaerahDokumen perencanaan disusun dalam upaya membantu SKPD yang membidangi perumahan, tidakdimaksudkan untuk menggantikan dokumen perencanaan yang lain, akan tetapi bersifat saling mengisi.Pada bagian ini perlu digambarkan secara ilustratif bagan posisi dokumen perencanaan.1.6. Metode Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPKata kunci bagian ini adalah “Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP disusun secara partisipatifmelibatkan seluruh pemangku kepentingan“. Selanjutnya diuraikan proses penyusunan dokumen yangdilakukan melalui serangkaian kegiatan (jelaskan apa saja proses yang telah dilakukan).Modul 3 | hal 48
  • 156. 1.7. Sistematika Penyajian Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPBerisi Uraian sistematika penyajian dokumen pada masing-masing bab dan cakupannya.Bab 2 Profil dan Potensi Daerah dalam Pembangunan PKP2.1. Gambaran Umum DaerahBerisi uraian gambaran umum daerah mencakup kondisi geografis, topografi dan kependudukan, uraiankondisi kesejahteraan masyarakat atau status ekonomi masyarakat, gambaran umum kemiskinan sertauraian kondisi PKP.2.2. Pengelolaan Pembangunan PKPBerisi uraian pengelolaan PKP secara keseluruhan, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Jelaskan pulakeadaan PKP di daerah Untuk melengkapi informasi ini, gambarkan kondisi PKP dengan tabel.2.3. Pelaku Pembangunan PKPBerisi uraian secara rinci pelaku yang terlibat dalam pembangunan PKP untuk menunjukkan alurpelaksanaan pembangunan bidang PKP yang efektif dan efisien. Jelaskan juga tantangan ataupermasalahan daerah terkait pelaku pembangunan PKP, yaitu dalam masing-masing pelaku dan jugakoordinasi antar pelaku.2.4. Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan PKPBerisi uraian secara rinci tentang peran dan kemampuan rata-rata masyarakat dalam mendukungpembangunan PKP. Jelaskan pula tantangan atau permasalahan daerah dalam meningkatkan peran sertamasyarakat dalam pembangunan PKP.2.5. Aspek Pembiayaan Pembangunan PKPBerisi uraian secara rinci tentang rencana terkait aspek pembiayaan yang digunakan dalampembangunan PKP. Pada bagian ini dijelaskan pula tantangan atau permasalahan daerah terkait aspekpembiayaan dalam pembangunan PKP di daerah.Bab 3 Konsepsi Pengembangan dan Pembangunan PKP3.1. Dasar-Dasar Penetapan RencanaMerupakan konsep pengembangan yang digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensipembangunan bidang PKP di daerah3.2. Visi-Misi dan Nilai Pembangunan PKPBerisi visi, misi dan nilai pembangunan PKP yang telah disepakati. Visi dan misi tersebut hanya akantercapai efektif jika semua pelaku memiliki nilai-nilai yang dianut dan dikembangkan bersama. Dalamkonteks PKP, penjabaran nilai-nilai mengacu pada tugas pokok pemerintah. Salah satu tugas pokokpemerintah adalah tugas di bidang pelayanan publik (yang sangat kompleks). Setiap pejabat pemerintahharus mempunyai nilai yang terinternalisasi dalam dirinya dalam rangka melakukan pelayanan publik.Misalkan dalam melakukan fasilitasi, mediasi atau advokasi, seorang aparat harus mempunyai nilaiprofesionalisme. Aparat pemerintah yang melakukan fasilitasi, mediasi atau advokasi yang tidakmempunyai profesionalisme di bidang ini, hanya akan menjadi beban masyarakat yang dilayani.3.3. Arahan Pengembangan Sumberdaya PKPArahan pengembangan sumber daya merupakan faktor pendukung terciptanya implementasi rencanaPKP yang mencakup pertimbangan dan penjelasan mengenai faktor perijinan, pusat layanan teknis, sertapengendalian dan pengawasan proses pembangunan PKP di daerah.Bab 4 Isu Strategis Pembangunan PKP4.1. Tinjauan Faktor Lingkungan Internal dan EksternalPenjabaran hasil tinjauan faktor lingkungan internal dan eksternal dilakukan dengan menggunakan alatanalisa SWOT (mengidentifikasi dan mengukur faktor kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman).Uraikan secara sistematis langkah-langkah analisa SWOT yang terdiri dari:  Identifikasi daftar panjang faktor kekuatan,kelemahan, kesempatan dan ancaman;  Daftar pendek (prioritas) faktor kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman;  Diskripsi dan renspon pemerintah terhadap masing-masing faktor; dan  Hasil pembobotan dan rating dari masing-masing faktor. Modul 3 | hal 49
  • 157. 4.2. Hasil Analisis SWOT Pencapaian Tujuan Pembangunan PKPBerisi uraian tentang keseluruhan hasil analisa SWOT dan kaitkan dengan butir-butir tujuanpembangunan PKP di daerah. Dalam uraian ini harus terlihat secara jelas prioritas yang harus ditanganiserta apa-apa saja yang harus ditingkatkan guna pencapaian tujuan pembangunan.4.3. Rumusan Isu Strategis Pembangunan PKPBerisi uraian tentang rumusan isu strategis sepenuhnya merupakan uraian dari faktor kelemahan danancaman yang paling besar nilai bobot dan ratingnya (hasil analisa SWOT). Masing-masing faktor inikemudian menjadi rumusan isu strategis. Uraian selanjutnya adalah uraian keterkaitan substansial antaraisu strategis, misi dan visi.Bab 5 Strategi Pembangunan PKP5.1. Batasan Pengertian Strategi Pembangunan PKPBerisi uraian tentang batasan pengertian strategi pembangunan secara tepat, jangan sampaipengertiannya sama dengan taktik atau cara. Strategi pembangunan PKP terdiri dari 3 (tiga) komponenyakni tujuan, sasaran dan kebijakan strategis. Hasil rumusan batasan pengertian akan membantumemberikan rambu dan pembeda dalam merumuskan tujuan, sasaran dan kebijakan strategis.5.2. Tujuan Strategis Pembangunan PKPTujuan strategis didapatkan dengan cara mengubah nuansa negatif pernyataan isu strategis menjadinuansa positif.5.3. Sasaran Strategis Pembangunan PKPBerisi uraian tentang rumusan sasaran pembangunan PKP secara indikatif, baik waktu, volume dan unit.Semakin indikatif sebuah sasaran maka semakin mudah menguraikannya kedalam kebijakan, programdan kegiatan. Hal ini akan menunjukkan semakin rasionalnya sebuah perencanaan yang disusun. Jika satutujuan menghasilkan dua atau lebih sasaran maka usahakan rumusan penguraiannya memiliki perbedaanyang sangat tajam. Jika tidak, maka sasaran tersebut pada dasarnya bisa digabung satu dengan lainnya.5.4. Kebijakan dan Program Strategis Pembangunan PKPBerisi uraian tentang rumusan kebijakan daerah yang mampu mendorong pencapaian sasaran strategispembangunan PKP. Dalam perumusan kebijakan strategis perlu mempertimbangkan faktor pendukungdan kendala spesifik setiap pencapaian sasaran. Selain itu, aspek keberlanjutan yang mencakup aspek:sosial (masyarakat), kelembagaan, teknologi, keuangan, dan lingkungan.Program strategis merupakan penjabaran kebijakan strategis menjadi sejumlah kegiatan strategis. Padabagian ini, program strategis dirinci menurut tujuan, waktu pelaksanaan, durasi yang terkait umurdokumen perencanaan, sumber pembiayaan dan SKPD penanggung jawab kegiatan.5.5. Rencana Aksi DaerahMemuat dengan jelas nama kegiatan; targetnya/sasarannya dan indikator dgn kriteria terukursecara kuantitatif baik jangka pendek dan jangka menengah; Unit pelaksananya/penanggungjawab/unit-unit mana saja; Anggaran (Jumlah dan Sumber); Jelas Lokasi (dimanalokasi desa/kelurahan); Waktunya/Kapan; dan Bagaimana Cara Melaksanakan.5.6. Indikator Kinerja Program Strategis Pembangunan PKPBerisi uraian tentang indikator input, output dan outcome, serta benefit dan dampak dari programstrategis yang dirumuskan.Bab PenutupBerisi uraian pentingnya dokumen perencanaan untuk dijadikan acuan dalam perencanaan PKP. Selainitu, dijelaskan pula pentingnya pelaksanaan program oleh masing-masing SKPD yang membidangiperumahan.LampiranLampiran I. Target PembangunanDalam bentuk tabel yang berisi tentang program atau kegiatan pokok, outcome, output, indikatorkegiatan, target pelaksanaan, dan pelaksana program (SKPD yang membidangi perumahan).Lampiran II. Kebutuhan PembiayaanDalam bentuk tabel yang terdiri dari indikator kegiatan, tahun anggaran, dan pelaksana program.Modul 3 | hal 50
  • 158. 3. Penulisan Dokumen Perencanaan PKP Terdapat beberapa kaidah umum dalam penyusunan dokumen perencanaan yang harus diikuti, yakni: a) Dokumen ini harus jelas dan tegas. Hal ini dikarenakan dokumen perencanaan merupakan dokumen resmi untuk dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan; b) Wujud penampilan dokumen harus menarik dan menggunakan bahasa yang lugas. Hal ini dimaksudkan agar pembaca akan tertarik dan mudah untuk menangkap isi dokumen; c) Informasi yang dianggap penting untuk ditonjolkan dapat ditampilkan dalam kotak (box). Melalui dokumen ini diharapkan pengambil kebijakan dapat dengan mudah menangkap apa yang harus mereka respon atau mereka lakukan; d) Sebaiknya menggunakan huruf yang secara umum dipakai dalam dokumen misalnya times new roman dan arial. Besar huruf yang mudah untuk dibaca adalah 12 dengan satu setengah spasi. Perlu dihindari penggunaan huruf yang harus memerlukan waktu lama untuk membacanya e) Penggunaan tabel dan gambar grafik yang menjelaskan sebuah alur kerja dalam pembangunan PKP akan membantu pembaca untuk mudah memahami dan menangkap pesan dari dokumen perencanaan. Untuk itu penyajian tabel perlu diupayakan sejelas mungkin serta mudah untuk dipahami.Kegiatan 4. Penyempurnaan Materi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPRumusan visi, misi, tujuan, isu strategis, sasaran pencapaian dan kebijakan, sebagaimana yangdihasilkan dalam lokakarya, perlu dilakukan pendalaman dan penyempurnaan lebih lanjut olehtim penyusun dokumen. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan rumusan tersebut benar-benarmenggambarkan kondisi yang ingin dicapai.Pendalaman dan penyempurnaan dokumen ini dilakukan melalui pertemuan antara timpenyusun dokumen dengan pihak-pihak yang terkait lainnya. Pertemuan koordinasidimungkinkan untuk dilakukan beberapa kali, tergantung kebutuhan dan kesepakatan daerah.Pertemuan ini penting dilakukan untuk memastikan seluruh rumusan dalam dokumendisepakati oleh anggota Pokja PKP dan pihak-pihak terkait pelaku program PKP di daerah.Di dalam pertemuan ini, tim penyusun dokumen perlu melakukan uji silang dengan data dasar,sebagaimana termuat dalam buku profil PKP daerah. Untuk membantu peserta dalammemberikan masukan terhadap rumusan-rumusan di atas, sebaiknya rangkuman data kondisipembangunan PKP dibagikan kepada semua peserta untuk dipelajari. Modul 3 | hal 51
  • 159. Kegiatan 5. Legitimasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP1. Konsinyasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Tujuan Melakukan sosialisasi internal Pemerintah Daerah tentang dokumen perencanaan, guna memperoleh masukan dari SKPD yang membidangi perumahan dalam rangka penyempurnaan. Keluaran Finalisasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP. Materi Konsinyasi a. Pembukaan dan Pengantar konsinyasi; b. Paparan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP ; c. Penyempurnaan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP; d. Kesimpulan dan penutupan.2. Konsultasi Publik Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Tujuan Melakukan sosialisasi dokumen guna memperoleh masukan pihak luar dalam rangka penyempurnaan. Secara spesifik konsultasi publik dilakukan untuk: a. Menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa Pemerintah Daerah telah menyusun dokumen perencanaan; b. Memperoleh masukan mengenai isu dan permasalahan pembangunan PKP menurut perspektif masyarakat luas; c. Menjadikan dokumen perencanaan menjadi bagian dari milik keseluruhan pelaku PKP; dan d. Memperoleh dukungan terhadap penerapan dokumen perencanaan dalam upaya mewujudkan pembangunan PKP yang berkelanjutan sebagaimana yang diharapkan masyarakat luas. Hasil Yang Diharapkan a. Informasi mengenai isu dan permasalahan yang relevan namun belum sempat tergali dalam proses penyiapan dokumen; dan b. Komentar/tanggapan dan masukan/harapan spesifik dari publik mengenai dokumen perencanaan dan pelaksanaannya. Metodologi Konsultasi publik dapat dilaksanakan melalui beberapa cara antara lain: a. Penyelenggaraan pertemuan peserta yang spesifik misalnya dengan REI, APERSI, dan para Camat, untuk sosialisasi visi, misi, tujuan, isu strategis, sasaran pencapaian dan kebijakan daerah; b. Road show;Modul 3 | hal 52
  • 160. c. Dialog interaktif melalui radio lokal bekerja sama dengan media elektronik dan cetak untuk menempatkan dokumen perencanaan sebagai topik berita atau acara; dan d. Meminta tokoh kunci untuk memberikan komentar atau ulasan mengenai dokumen perencanaan dan komentar tersebut dipublikasikan. Yang terpenting adalah kita perlu mendengar dan mencatat dengan baik apa yang menjadi komentar masyarakat tentang isu pembangunan PKP, serta saran/masukan untuk penyempurnaan dokumen.3. Finalisasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Dokumen perencanaan direvisi sesuai masukan yang diperoleh dari konsultasi publik. Hasil revisi merupakan dokumen final yang kemudian akan ditindaklanjuti dengan proses legalisasi.4. Legalisasi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Dokumen perencanaan harus mendapatkan legalisasi agar penggunaannya diakui secara sah. Bentuk legal dari dokumen perencanaan bergantung pada kesepakatan di daerah. Kepentingan legalisasi ini adalah untuk memberlakukan dokumen ini sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan bidang PKP oleh SKPD. Idealnya jika proses penyiapan dokumen dilakukan bersama-sama dan atas kepentingan bersama, pemanfaatan dokumen ini sebenarnya tidak harus menunggu turunnya peraturan atau surat keputusan. Sambil menunggu proses legalisasi, dokumen perencanaan sudah bisa dioperasionalisasikan. Hal ini dilakukan, karena pada prinsipnya dokumen perencanaan bukan pengganti dokumen rujukan perencanaan yang telah ada, akan tetapi mewujudkan sinergitas pembangunan PKP. Modul 3 | hal 53
  • 161. BAHAN BACAAN:DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNANPERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN  Pengertian  Pentingnya Sektor PKP  Pentingnya Daerah Memiliki Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP  Posisi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP di Daerah terhadap Dokumen Perencanaan Lainnya  Prasyarat Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP di DaerahModul 3 | hal 54
  • 162. A. PengertianPenyusunan dokumen perencanaan merupakan proses penyusunan rencana strategis bidangPKP yang berorientasi kepada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu (3-5 tahun)dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul disektor PKP. Analisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal merupakan langkah yangsangat penting dalam memperhitungkan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan.Dokumen yang dihasilkan dari proses perencanaan ini disebut dengan nama dokumenperencanaan pembangunan PKP. Format dokumen perencanaan perumahan ini, setidaknyamengandung informasi tentang hal-hal sebagai berikut: Where do we want to be? Merupakan arah masa depan pembangunan PKP yang ingin dituju (Visi-Tujuan dan Sasaran Strategis) Where are we now? Analisis organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) tentang nilai-nilai luhur yang dimiliki, kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan kendala (SWOT analysis) serta tugas pokok dan fungsi utama SKPD yang membidangi perumahan. How do we get there? Merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh Pemda dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Langkah-langkah ini biasanya dituangkan dalam kebijakan, program dan kegiatan organisasi. How do we measure our progress? Berkaitan dengan bagaimana cara Pemda menetapkan ukuran keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi dalam mencapai tujuan dan sasaran. Oleh karena itu, setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan harus dapat diukur dengan seperangkat indikator kinerja atas keluaran yang dihasilkan.Ilustrasi alur informasi dalam dokumen perencanaan sebagaimana pada Gambar 5. A. Kondisi B. Kondisi Ketersediaan Ketersediaan perumahan Dokumen perumahan saat ini Perencanaan masa mendatang Perumahan C. Strategi Pencapaian Gambar 5. Letak Strategis Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP Modul 3 | hal 55
  • 163. Berdasarkan penjelasan pada bagian pengertian, dapat ditarik kata kunci sebagai berikut:Proses yang 1. Perencanaan dilakukan tidak hanya sekaligus, akan tetapi memerlukanberkelanjutan tinjauan terhadap hasil sebelumnya dan dijabarkan dalam perencanaan selanjutnya. 2. Untuk memastikan semua pihak menerima dan menjalankan rencana strategis, proses penyusunannya dilakukan secara partisipatif melibatkan semua pelaku yang berkepentingan di bidang PKP.Sistematis Mempergunakan struktur/kerangka berfikir logis, mengidentifikasi isu dan permasalahan yang dihadapi, menetapkan arah untuk masa mendatang, menetapkan misi, isu strategis, sasaran, kebijakan serta program.Pembuatan Mencakup keputusan-keputusan yang harus diambil untuk dilaksanakankeputusan dalam rangka mencapai kondisi perumahan yang lebih baik di masa mendatang.Resiko Mempertimbangkan faktor konsekuensi yang harus dihadapi dalam upaya mencapai sasaran pembangunan perumahan dan kawasn permukiman.Antisipatif Berorientasi pada kondisi masa mendatang dan memperhitungkan faktor peningkatan kebutuhan yang sejalan dengan pertambahan penduduk.Pengukuran Berorientasi pada pencapaian yang bisa diukur dengan menetapkan indikatorhasil pencapaian untuk setiap sasaran pembangunan PKP.B. Pentingnya Sektor PKPPerubahan dan tuntutan masyarakat selalu bergerak dengan dinamis. Oleh karena itu, untukmempertahankan eksistensinya, Pemda harus selalu mengelola setiap SKPD sesuai dengandinamika serta kompleksitas situasi. Pada bidang PKP, tantangan tersebut semakin tinggi dalamera otonomi, karena merupakan salah satu urusan wajib pemerintah daerah. Hal ini berartibidang PKP merupakan salah satu bidang strategis yang harus ditangani oleh setiap Pemda.Alasan lain mengapa bidang PKP menjadi bidang yang strategis, karena: 1. Bidang ini memiliki posisi yang strategi dalam meningkatkan status kesejahteraan masyarakat. 2. Banyak pihak yang menangani bidang PKP. Untuk itu perlu disinergikan dan disatukan dalam arah dan semangat yang sama guna keberlanjutan pembangunan PKP.C. Pentingnya Daerah Memiliki Dokumen Perencanaan Pembangunan PKPPentingnya daerah memiliki perencanaan strategis bidang perumahan tidak terlepas denganagenda nasional dan kewajiban daerah terhadap pemenuhan perumahan. Dalam dokumenRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 telah ditetapkansasaran pencapaian pembangunan bidang perumahan adalah:Modul 3 | hal 56
  • 164. “Tersedianya akses bagi masyarakat terhadap perumahan baik perumahan baru maupun peningkatan kualitas perumahan dan lingkungan permukiman serta kepastian hukum bagi 5,6 juta rumah tangga.”Untuk mewujudkan sasaran tersebut setiap daerah perlu menerjemahkannya secara sistematiske dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di daerah, sesuai kewenangan tingkatprovinsi dan kabupaten/ kota.Manfaat dokumen perencanaan adalah: 1. Pemenuhan kewajiban daerah dalam pembangunan PKP. a) Daerah akan memiliki arah serta landasan yang jelas dalam pengembangan rencana, program dan kegiatan pembangunan PKP; b) Daerah memiliki gambaran yang jelas tentang isu dan permasalahan kondisi PKP, upaya spesifik yang perlu dilakukan serta perhitungan kebutuhan investasi perumahan; c) Setiap SKPD akan memiliki kemudahan dalam pengembangan program dan kegiatan pembangunan PKP sebagaimana yang digariskan dalam dokumen perencanaan; dan d) Secara keseluruhan dokumen perncanaan menjadi alat atau instrumen yang efektif dalam pengarusutamaan pencapaian tujuan pembangunan PKP nasional serta tujuan pembangunan daerah sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJMD dan Renstra SKPD terkait. 2. Peningkatan dukungan pihak luar terhadap program-program pembangunan PKP di daerah. a) Daerah akan memiliki alat jual yang dapat ditawarkan kepada berbagai pihak agar tertarik untuk berkontribusi dalam pembangunan PKP di daerahnya khususnya dari Pemerintah Pusat, donor potensial dan swasta melalui CSR; b) Daerah akan lebih siap dalam mengembangkan rencana alokasi program yang berasal dari dukungan pihak luar sesuai karakteristik dari program tersebut khususnya yang terkait PKP; dan c) Daerah memiliki alat bantu untuk meyakinkan berbagai pihak untuk percepatan pembangunan PKP di daerah. Modul 3 | hal 57
  • 165. D. Posisi Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP di Daerah terhadap Dokumen Perencanaan LainnyaRagam dokumen perencanaan daerah yang terkait dengan dokumen perencanaan sebagaimanaditunjukkan pada Tabel 27 Tabel 27. Ragam Dokumen Perencanaan yang Terkait Pembangunan PKP di Daerah Nama Jangka Dasar Legalisasi Fakta Dokumen Waktu Penyusunan Dokumen UU 32/2004 dan UU Belum semua daerah RPJP Daerah 25 tahunan Perda 25/2004 memiliki RPJP Belum semua daerah UU 32/2004 dan UU memprioritaskan RPJMD 5 tahunan Perda 25/2004 sektor perumahan dalam pembangunan UU 32/2004 dan UU Pergub/Perbub/ Ada Renstra SKPD 5 tahunan 25/2004 Perwali Pergub/Perbub/ Ada Renja SKPD 1 tahunan UU 32/2004 Perwali Belum semua daerah Kepmen memiliki RP4D serta RP4D 15 tahun Perda 09/KPTS/M/IX/1999 belum ada yang berbentuk Perda Batas akhir Pergub/Perbub/ penyelesaian RAD RAD MDGs 5 tahun Inpres 3/2010 Perwali MDGs pada bulan Juni 2011 RTRW 20 tahun UU 26/2007 Perda AdaSedangkan keterkaitan dokumen perencanaan terhadap dokumen perencanaan lainnya didaerah dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Keterkaitan Dokumen Perencanaan terhadap Dokumen Perencanaan Lainnya di DaerahModul 3 | hal 58
  • 166. Penjelasan tentang posisi dokumen perencanaan sebagaimana pada Gambar 6, adalah sebagaiberikut:1. RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Dokumen perencanaan pada dasarnya merupakan piranti atau alat untuk menerjemahkan salah satu sasaran atau kebijakan yang tertera dalam RPJMD terkait pemenuhan ketersediaan perumahan. Dengan demikian dokumen perencanaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan RPJMD. Skala waktu antara RPJMD dengan dokumen perencanaan adalah sama yakni jangka waktu 5 tahunan. Terdapat 2 (dua) kondisi terkait keberadaan dokumen perencanaan dengan RPJMD, yakni : a. Ketika dokumen perencanaan telah selesai disusun, dan waktunya bersamaan dengan proses Pilkada atau masa akhir dari jabatan seorang Kepala Daerah, maka dokumen tersebut akan menjadi bahan efektif yang bisa diajukan oleh SKPD yang membidangi perumahan ataupun Pokja PKP. Hal ini dimaksudkan agar keseluruhan atau sebagian dari muatan dokumen perencanaan masuk dalam dokumen RPJMD yang tengah disusun. Seorang Kepala Daerah terpilih berkewajiban untuk menyelesaikan dokumen RPJMD paling lambat 3 (tiga) bulan setelah yang bersangkutan dilantik. Kondisi ini adalah yang ideal dalam penyusunan dokumen perencanaan. b. Ketika RPJMD telah selesai disusun, maka dokumen perencanaan yang sedang dan akan selesai disusun dapat dinyatakan sebagai penjabaran lebih teknis dan luas dari bidang pembangunan PKP yang tertera dalam dokumen RPJMD. Sehingga dengan demikian proses penyusunan dokumen perencanaan harus diawali dengan persetujuan atau pernyataan formal dari Kepala Daerah atau Pimpinan SKPD Perumahan atau Bappeda sebagai pemegang tupoksi penyusunan perencanaan pembangunan daerah.2. Rencana Strategis (Renstra) SKPD Perumahan dengan Dokumen Perencanaan Terdapat 2 (dua) kondisi terkait keberadaan Renstra SKPD Perumahan dengan dokumen perencanaan, yakni : a. Jika suatu daerah telah memiliki Renstra SKPD Perumahan, maka proses dan hasil penyusunan dokumen perencanaan dapat dikawal secara efektif oleh SKPD tersebut. Sangat dimungkinkan muatan dan substansi dokumen perencanaan mempunyai banyak kesamaan dengan Renstra SKPD Perumahan. Akan tetapi dokumen perencanaan tetaplah berbeda dengan Renstra SKPD Perumahan, karena dokumen perencanaan meliputi seluruh kepentingan SKPD lain. Hal ini berarti dokumen perencanaan juga merupakan dasar bagi SKPD lain yang membidangi perumahan dalam menyusun perencanaan internal SKPD. b. Jika suatu daerah belum memiliki Renstra SKPD Perumahan, maka Dokumen perencanaan dapat menjadi acuan dalam penyusunan Renstra SKPD Perumahan.3. Rencana Kerja (Renja) SKPD dengan Dokumen Perencanaan Penyusunan Renja SKPD yang membidangi perumahan akan banyak terbantu dengan keberadaan dokumen perencanaan. SKPD yang bersangkutan dapat memilih dan memilah program atau kegiatan yang sudah dicantumkan dalam dokumen perencanaan. Modul 3 | hal 59
  • 167. 4. Renstra Kemenpera atau dokumen Rencana Terkait Lainnya dengan Dokumen Perencanaan Renstra Kemenpera dan dokumen rencana terkait lainnya dapat menjadi bahan dalam masukan dalam penyusunan dokumen perencanaan. Salah satu contoh dokumen rencana lainnya adalah RAD MDGs (Rencana Aksi Daerah – Millenium Development Goals) dimana salah satu bagian dari RAD MDGs adalah penanganan permasalahan pembangunan PKP di daerah khususnya yang terkait dengan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).5. Rencana Pengembangan Pembangunan Pemukiman Perumahan Daerah (RP4D) dengan Dokumen Perencanaan RP4D merupakan dokumen yang bersifat spesifik terkait dengan perencanaan pembangunan perumahan dan permukiman di daerah, yang difasilitasi oleh Kemenpera. Sejumlah daerah yang telah menyusun RP4D akan lebih siap dalam menyusun dokumen perencanaan oleh karena sebagian muatannya secara substansial sama dengan muatan RP4D. Begitu juga sebaliknya, jika daerah yang telah memiliki dokumen perencanaan, maka akan lebih siap dalam penyusunan RP4D. Terkait dengan penyusunan dokumen perencanaan, terdapat 3 (tiga) skenario yang dapat dilakukan oleh daerah dengan memperhatikan entitas RP4D. Skenario 1: Pembuatan Dokumen Perencanaan Pembangunan Perumahan Daerah pada saat Daerah telah Memiliki RP4D Pada kondisi ini, dokumen perencanaan yang dirancang akan mengacu kepada RP4D sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 7. Dokumen perencanaan yang dirancang akan memberikan rincian rencana tindak berdasarkan arahan pembangunan dalam dokumen RP4D dengan tambahan masukan dari Renstra SKPD dan dokumen rencana terkait lainnya di daerah. Gambar 7. Skenario Penyusunan Perencanaan Pembangunan Perumahan pada saat Daerah telah Memiliki RP4DModul 3 | hal 60
  • 168. Skenario 2: Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D sedang disusunPada kondisi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 9, dokumen perencanaan disusunpada saat RP4D sedang disusun. Muatan data dan arahan kebijakan serta strategi yangberlaku di dokumen perencanaan harus sesuai dengan RP4D yang sedang disusun. RenstraSKPD, RPJMD dan dokumen rencana terkait lainnya yang berlaku pada periode tersebutjuga menjadi bahan tambahan dalam penyusunan dokumen perencanaan. Gambar 8. Skenario Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D sedang DisusunSkenario 3: Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D belum DisusunPada kondisi dimana daerah tidak memiliki RP4D sebagaimana ditunjukkan pada gambar10, maka dokumen perencanaan akan berisi muatan dokumen perencanaan yang berlakudi daerah tersebut seperti RPJMD, Renstra SKPD, dan dokumen rencana terkait lainnya didaerah. Dokumen perencanaan disusun dengan mensinkronisasi dokumen pembangunandaerah yang berlaku, khususnya yang berkaitan dengan bidang PKP.Komplikasi yang terjadi pada skenario ini adalah ketika RPJMD yang berlaku di daerahtidak memiliki nuansa perumahan. Komplikasi ini menyebabkan penyusunan dokumenperencanaan harus melihat secara rinci arahan kebijakan dan strategi pembangunan padadokumen lainnya, yaitu Renstra SKPD dan dokumen rencana terkait lainnya di daerah yangspesifik berkaitan dengan bidang PKP. Gambar 9. Skenario Pembuatan Dokumen Perencanaan pada saat RP4D belum Disusun Modul 3 | hal 61
  • 169. E. Prasyarat Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP di DaerahDokumen perencanaan adalah salah satu upaya media strategis dalam pengarusutamaanpemenuhan perumahan di daerah. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan komitmen dankeberpihakan SKPD yang membidangi perumahan. Mereka diharapkan mampu melakukanproses penyusunan dan pengawalan implementasi perencanaan pembangunan PKP secaraterpadu dan partisipatif. Mereka juga diharapkan mampu menyepakati data dasar yang akandijadikan acuan dalam penetapan sasaran dan target pembangunan PKP dalam periode durasidokumen perencanaan tersebut.Prasyarat lain adalah keharusan daerah dalam memahami secara baik setiap kebijakan nasionaldan sasaran serta permasalahan strategis pembangunan PKP.Secara sistematis uraian prasyarat tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. Gambaran kondisi PKP di daerah Gambaran ini mencakup: data dasar perumahan, kesepakatan isu dan permasalahan bidang perumahan yang dihadapi daerah, serta tantangan nyata di masa mendatang. 2. Komitmen daerah Komitmen daerah diwujudkan dalam kesepakatan bersama untuk menyusun dokumen perencanaan dengan dukungan penuh dari Kepala Daerah, dan seluruh pimpinan SKPD yang membidangi perumahan. Bentuk lain komitmen ini adalah kesediaan masing-masing SKPD untuk menyiapkan data yang dimiliki untuk dikaji bersama dan disepakati sebagai dasar penyusunan dokumen. 3. Memahami arah dan kebijakan nasional dalam pembangunan PKP Seluruh pihak yang akan terlibat dalam proses penyusunan dokumen perencanaan perlu memahami secara benar kebijakan nasional terkait pembangunan PKP. 4. Memahami arah dan kebijakan daerah dalam pembangunan PKP Seluruh pihak yang akan terlibat dalam penyusunan dokumen perencanaan perlu memiliki pemahaman tentang kebijakan pembangunan daerah baik RPJPD, RPJMD dan produk perencanaan jangka panjang lainnya seperti RTRW, jika daerah telah memilikinya.Modul 3 | hal 62
  • 170. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MODUL 4 PELATIHAN MONITORING DAN EVALUASIPEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMANDEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2011 JAKARTA 2011
  • 171. KATA PENGANTARModul 4 ini merupakan bagian terakhir dari empat modul dalam rangkaian kegiatan peningkatankapasitas pemerintah daerah dalam hal penyiapan perencanaan pembangunan perumahan dankawasan permukiman yang dilaksanakan dalam rangka Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011. Modul ini berisi panduan umum pelatihan monitoring dan evaluasi pembangunanperumahan dan kawasan pemukiman.Modul ini digunakan sebagai panduan oleh SKPD Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011,Fasilitator Provinsi, dan stakeholder lain yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan peningkatankapasitas pemerintah daerah, khususnya dalam halmonitoring dan evaluasi pembangunanperumahan dan kawasan permukiman.Modul ini terdiri dari dua bagian, yaitu: Bagian 1 – Pendahuluan, merupakan bagian yangmenjelaskan latar belakang dan urgensi pelatihan monitoring dan evaluasi dalam rangkapembangunan perumahan dan kawasan permukiman, sedangkan Bagian 2 –Panduan PelaksanaanPelatihan Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Modul inijuga dilengkapi dengan Instrumen Monev dan Bahan Ajar yang berisi Pelaksanaan MonevPembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Bahan Bacaan tentang KonsepMonitoring dan Evaluasi.Tiada gading yang tak retak, begitulah pula dengan modul ini yang disusun dalam jangka wakturelatif singkat sehingga membutuhkan saran dan kritik yang membangun untukpenyempurnaannya. Akhir kata, kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan modulini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Selamat membaca dan mempraktikkannya. Jakarta, Maret 2011 Tim Penyusun Modul 4| hal i
  • 172. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR..................................................................................................................................................iDAFTAR ISI .............................................................................................................................................................. iiDAFTAR TABEL .....................................................................................................................................................iiiDAFTAR GAMBAR.................................................................................................................................................iiiDAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ...............................................................................................................iiiBAGIAN 1. PENDAHULUAN................................................................................................................................ 1 A. Latar Belakang...........................................................................................................................................................2 B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan Keluaran ..........................................................................................................2 C. Ruang Lingkup Modul.............................................................................................................................................3BAGIAN 2. PANDUAN PELAKSANAAN PELATIHAN MONITORING DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN 2011.................................................... 4 Alur Pelaksanaan ................................................................................................................................................................5 Lokalatih Monev PKP ........................................................................................................................................................5 Maksud dan Tujuan ......................................................................................................................................................5 Keluaran ............................................................................................................................................................................6 Metodologi........................................................................................................................................................................6 Alat dan Bahan/Materi................................................................................................................................................6 Pelaksana ..........................................................................................................................................................................6 Peserta ...............................................................................................................................................................................6 Narasumber .....................................................................................................................................................................7 Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan.............................................................................................................8LAMPIRAN..............................................................................................................................................................11FORMAT 1: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Tingkat Kabupaten/Kota ............... 12FORMAT 2: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Tingkat Provinsi ............................... 13FORMAT 3: Lembar Pertanyaan Kajian Lapangan Tim Provinsi..................................................................... 14BAHAN AJAR: MEKANISME PELAKSANAAN MONITORING DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN ...................................................................... 16BAHAN BACAAN: KONSEP MONITORING DAN EVALUASI .....................................................................27Modul 4| hal ii
  • 173. DAFTAR TABELTabel 1. Ruang Lingkup Modul Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Perumahan …………..……. 3Tabel 2. Contoh Alokasi Peserta Lokalatih ……………………………………………………………………………….. 7Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Anggaran …………………………..…………………………………………….. 8Tabel 4. Contoh Rencana Kerja Monev……………………………………….……………………………………………..22Tabel 5. Contoh Informasi pada Kajian Lapangan ……………………………………………………...…………….24Tabel 6. Contoh Kerangka Acuan Pelaksanaan Lokakarya………………………………………………………….24Tabel 7. Format Pengumpulan Informasi Progres Pembangunan PKP ………………….………..………..26Tabel 8. Format Diskusi ……………………………………………………………..……………………………………………27Tabel 9. Perbandingan Pendekatan Monev Partisipatif dan Konvensional ………………………….……..32DAFTAR GAMBARGambar 1. Alur Pelaksanaan Monev PKP – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011 …………………..…………………………………. 5Gambar 2. Arus Informasi Monev PKP ………………………………………………………………………..……………21Gambar 3. Skenario Lokakarya Nasional Evaluasi dan Perencanaan Program PKP ………….………28Gambar 4. Skema Waktu Pelaksanaan Monev …………………………………………………………………………34DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATANAPBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja DaerahAPERSI : Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh IndonesiaBappeda : Badan Perencanaan Pembangunan DaerahBUMD : Badan Usaha Milik DaerahFGD : Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Terfokus)Kemenpera : Kementerian Perumahan RakyatKK : Kepala KeluargaMonev : Monitoring dan EvaluasiOrmas : Organisasi MasyarakatPKP : Perumahan dan Kawasan PermukimanPokja : Kelompok KerjaPU : Pekerjaan UmumREI : Real Estat IndonesiaRenstra : Rencana StrategisRTL : Rencana Tindak LanjutSetda : Sekretariat DaerahSKPD : Satuan Kerja Perangkat DaerahTupoksi : Tugas Pokok dan Fungsi Modul 4| hal iii
  • 174. Modul 4| hal iv
  • 175. BAGIAN 1.PENDAHULUAN Latar Belakang Maksud, Tujuan, Sasaran dan Keluaran Ruang Lingkup Modul Modul 4 | hal 1
  • 176. A. Latar BelakangRumah merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat. Penyediaan perumahan merupakansalah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya bagi masyarakatberpenghasilan rendah (MBR). Upaya pemenuhan perumahan dilakukan oleh beberapaKementerian teknis antara lain; Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umumdan beberapa Kementerian teknis lainnya. Banyaknya pihak yang ikut menangani pembangunanbidang perumahan dan kawasan permukiman (PKP), menuntut suatu hasil pembangunan yangmampu mengatasi permasalahan PKP khususnya di kawasan perkotaan padat penduduk.Penyediaan perumahan bagi MBR tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah, urusan perumahan merupakan salah satu urusan yang wajib diselenggarakan olehPemerintah Daerah. Penyelenggaraannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) PeraturanPemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, terdapat bagian urusanPemerintah yang bersifat kongkuren (concurrent) atau menjadi urusan bersama antara Pemerintah(Pusat – Daerah).Dalam pembangunan PKP, diperlukan suatu perencanaan yang berkelanjutan dan memilikisinergitas berbagai pihak yang menangani pembangunan bidang PKP. Berbagai pihak tersebutmemiliki program-program pembangunan PKP berdasarkan tupoksinya masing-masing. Agarberjalan lancar, pemantauan dan pengendalian terhadap jalannya pelaksanaan program-programtersebut perlu dilakukan agar isu dan permasalahan yang timbul dapat dimonitor dan dievaluasisejak awal. Selain memonitor pelaksanaanya, evaluasi hasil pembangunan perlu dilakukan gunamemberikan masukan-masukan dalam pengembangan kebijakan atau langkah-langkah yang lebihefektif.Atas dasar latar belakang tersebut, modul monev PKP yang selanjutnya disebut sebagai monev PKP,disiapkan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), sebagai panduan pemerintah daerahagar isu dan permasalahan dalam pelaksanaan pembangunan PKP di daerah dapat teridentifikasisejak awal. Hal ini dimaksudkan agar dapat diambil upaya-upaya pencegahan ataupun penangananpermasalahan tersebut.B. Maksud, Tujuan, Sasaran dan KeluaranDalam konsteks Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011, maka maksud, tujuan, sasarandan keluaran kegiatan Monev PKP adalah sebagai berikut:MaksudMemberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mendeteksi secara dini isu dan permasalahanpada pelaksanaan pembangunan PKP serta mengidentifikasi upaya-upaya dalam mengangani isudan permasalahan tersebut secara sinergis dengan melibatkan seluruh stakeholder yang terkaitbidang pembangunan PKP.Modul 4| hal 2
  • 177. TujuanMeningkatkan efektifitas dan efisiensi pembangunan di bidang PKP.SasaranMeningkatnya pemahaman peserta tentang mekanisme pelaksanaan monev PKP.KeluaranTerselenggaranya kegiatan pelatihan monev PKP dalam rangka pelaksanaan DekonsentrasiLingkup Kemenpera Tahun 2011 di provinsi.C. Ruang Lingkup ModulModul ini berisi materi, konsep dan panduan tentang monev PKP yang disusun dalam tiga bagiansebagaimana pada Tabel 1. Tabel 1. Ruang Lingkup Modul Monitoring dan Evaluasi Pembangunan PKP. Bagian Ruang Lingkup Isi Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Maksud, Tujuan, Keluaran dan Sasaran 3. Ruang Lingkup Modul Panduan Pelaksanaan Pelatihan Maksud dan Tujuan; Keluaran; Metodologi; Alat dan Bahan/Materi; Monev PKP – Dekonsentrasi Pelaksana Lokalatih; Peserta Lokalatih; Narasumber Lokalatih; dan Lingkup Kemenpera Tahun 2011 Agenda dan Alokasi Waktu Pelaksanaan Lampiran 1. Instrumen Monev, terdiri dari: 1.1. Format 1: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Daerah 1.2. Format 2: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Tingkat Provinsi 1.3. Format 3: Lembar Pertanyaan Kajian Lapangan Tim Provinsi 2. Bahan Ajar: Mekanisme Pelaksanaan Monev PKP, terdiri dari: 2.1. Kegiatan yang Dimonitor dan Dievaluasi 2.2. Informasi yang Perlu Dikumpulkan 2.3. Teknik Penyelenggaraan 2.4. Persiapan Pelaksanaan Monev PKP 2.5. Pelaksanaan Monev PKP 3. Bahan Bacaan: Konsep Monev PKP Modul 4 | hal 3
  • 178. BAGIAN 2. PANDUAN PELAKSANAAN PELATIHAN MONITORING DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENPERA TAHUN 2011  Alur Pelaksanaan  Lokalatih Monev PKPModul 4| hal 4
  • 179. Alur PelaksanaanAlur pelaksanaan kegiatan monev PKP dalam Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011sebagaimana digambarkan pada Gambar 1. Gambar 1. Alur Pelaksanaan Monev PKP – Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun2011Lokalatih Monev PKPMaksud dan TujuanLokalatih ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dan pelatihan tentang monev PKPkhususnya dalam mengidentifikasi isu dan permasalahan berserta rencana tindak lanjut kepadaaparat pemerintah provinsi.Tujuan kegiatan lokalatih adalah: 1. Menjelaskan konsep monev PKP; 2. Menjelaskan proses penyelenggaraan monev PKP; 3. Membangun pemahaman cara penggunaan modul monev PKP. Modul 4 | hal 5
  • 180. KeluaranKeluaran dari lokalatih ini adalah: 1. Terselenggaranya pelatihan monev PKP di propinsi 2. Meningkatnya pemahaman peserta lokalatih tentang konsep monev PKP; 3. Meningkatnya pemahaman peserta lokalatih tentang cara penggunaan panduan penyelenggaraan monev PKP; 4. Rencana aksi penyelenggaraan monev PKP di propinsi.MetodologiLokalatih dilakukan dengan metode partisipasi dengan prinsip pendekatan orang dewasa (POD).Format penyelenggaraan metode tersebut yakni: 1. Presentasi konsep dan pelaksanaan monev; 2. Diskusi Kelompok dan Diskusi Pleno; 3. Simulasi Pelaksanaan Monev Penugasan individu dan Penugasan Kelompok.Alat dan Bahan/MateriAlat dan bahan/materi untuk pelaksanaan lokalatih monev terdiri dari: LCD, Laptop, minimal 2buah, Sticky Cloth sebanyak 2-3 buah dan masking tape; Metaplan minimal 4 warna setiap bentuk,masing-masing 100 lembar; Spidol (BG-12/besar) sejumlah peserta; Flip Chart dan Tripod-nya,sejumlah kelompok diskusi; data Perumahan, dibawa Tim Pendataan dan Monitoring Kabupatenmaupun pemangku kepentingan lainnya; data Perumahan eksisting Provinsi; Panduan diskusikelompok; dan peralatan lainnya sesuai keperluan.PelaksanaSKPD Provinsi Pelaksana Dekonsentrasi Lingkup Kemenpera Tahun 2011.PesertaJumlah peserta kurang lebih 30-63 orang, tergantung jumlah kabupaten/kota di suatu provinsi,yang terdiri dari: 1. Unsur pimpinan/kepala pemerintahan di tingkat provinsi: Kepala Kanwil BPN, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Kepala Dinas yang membidangi PKP, dan Kepala Dinas/Lembaga terkait PKP lainnya; 2. Seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota sebanyak 1 orang dari Tim Pendataan dan Monitoring Dekonsentrasi Tahun 2010 (diutamakan) atau dari Bappeda; 3. Unsur pimpinan/kepala dari pemangku kepentingan lainnya terkait PKP tingkat provinsi: Perumnas, PLN, pihak Perbankan, LKNB, APERSI, REI, Akademisi, dll.Modul 4| hal 6
  • 181. Tabel 2. Contoh Alokasi Peserta Lokalatih No Instansi/Lembaga Jabatan Jumlah1 SKPD Provinsi (pelaksana dekon) Kepala/Kabid 22 Bappeda Kepala/Kabid 23 Dinas PU (sejenis) Kepala/Kasubdin 24 Pemberdayaan Masyarakat Kepala/Kasubdin 15 Kesehatan Kepala/Kasubdin 16 Transmigrasi Kepala/Kasubdin 17 Badan Informasi dan pendataan elektronik daerah Kepala/Kabid 18 BPS Kepala/Kabid 19 REI Kepala/Kasubdin 110 LSM Kepala/Kasubdin 111 Kontraktor Perumahan Kepala/Kasubdin 112 APERSI Kepala/Kasubdin 113 Perguruan Tinggi Kepala/Kabid 114 PDAM Kepala/Kabid 115 Tim Pendataan Provinsi16 DLL, lembaga terkait perumahan di daerah Total peserta provinsi 2517 Perwakilan Kab/Kota Tim Pendataan 2010, 5-38 (tergantung jumlah kab/kota) masing-masing 1 orang Jumlah (orang) = 30-63 tergantung provinsiNarasumberPemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau pihak lainnya yang dianggap perlu. Perannarasumber pada kegiatan ini antara lain: 1. Sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang PKP 2. Memfasilitasi kegiatan ini dengan didampingi oleh fasilitator provinsi 3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ini di daerah Modul 4 | hal 7
  • 182. Agenda dan Alokasi Waktu PelaksanaanModul 2 | hal 8 Alokasi waktu efektif untuk penyelenggaraan lokalatih ini ±1,5 hari, dengan rincian materi sebagaimana Tabel 3 (catatan: lokalatih ini merupakan sesi 1,5 hari kedua dari 3 hari lokalatih untuk manajemen pendataan dan monev PKP). Tabel 3. Agenda dan Alokasi Waktu Anggaran Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses Sesi 1 Persiapan dan Panitia siap di tempat lokakarya dan peserta mengisi absensi/daftar ulang dan 30 Registrasi memperoleh seminar kit menit Sesi 2 Pembukaan 1. Ucapan terima kasih dan selamat 1. Pembawa acara mempersilahkan peserta untuk duduk pada tempatnya, karena 30 datang acara akan segera dimulai menit 2. Penekanan pentingnya pengendalian 2. Pembukaan dan arahan oleh Bupati/Sekda/Kepala Bappeda pembangunan melalui monev 3. Doa (wakil peserta) 3. Mendorong agar pemangku kepentingan terus menerus terlibat dalam monev PKP Sesi 3 Konsep dan Prinsip 1. Monev partisipasif dan monev non- 1. Moderator memperkenalkan narasumber dan mempersilakan memulai materi 60 partisipasi dalam partisipatif 2. Narasumber mempresentasikan materi Menit Monev PKP 2. Aspek dan deskripsi yang perlu 3. Moderator memandu sesi klarifikasi/tanya jawab singkat diperhatikan dalam keduanya 4. Moderator memberikan kesimpulan/catatan dan menutup sesi 3. Diskusi dan penajaman Sesi 4 Mengidentifikasi 1. Kondisi pembangunan PKP di daerah 1. Fasilitator memberi pengantar singkat 60 kebutuhan dan 2. Prosedur dan mekanisme 2. Peserta dibagi 2-3 kelompok Menit mekanisme Monev keterlibatan para pihak dalam 3. Peserta berdiskusi berdasarkan keyword yang disampaikan oleh fasilitator PKP di Derah monev progres pembangunan 4. Gunakan panduan monev (panduan tersendiri) perumahan Sesi 5 Pengembangan 1. Hal-hal yang perlu diidentifikasi 1. Fasilitator memberi pengantar singkat 75 indikator kinerja dalam monev 2. Peserta dibagi 2-3 kelompok menit dalam monev PKP 2. Indikator monev yang sesuai 3. Peserta berdiskusi berdasarkan keyword yang disampaikan oleh fasilitator kebutuhan daerah 4. Gunakan panduan monev PKP (panduan tersendiri) Sesi 6 Presentasi 1. Monev partisipasif dan monev non- 1. Lakukan presentasi kelompok 30 Kelompok dan partisipatif 2. Peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan dan klarifikasi menit Klarifikasi 2. Aspek dan deskripsi yang perlu 3. Bila pertanyaan masih banyak, silakan peserta menuliskannya dalam metaplan dan diperhatikan dalam keduanya ditempel di sticky cloth Modul 4| hal 8
  • 183. Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses 3. Diskusi dan penajaman 4. Fasilitator memberikan catatan penutup (wrap up) dan menentukan reviewer untuk esok harinya Sesi 7 Review Hari Kedua Fasilitator memberikan evaluasi atas hasil hari kedua dan meminta 30 (jika dilanjutkan tambahan/klarifikasi dari peserta atau yang sudah ditunjuk sebelumnya menit pada hari berikutnya - tentative) Sesi 8 Pengembangan 1. Identifikasi kegiatan berdasarkan 1. Pengantar singkat dari fasilitator 120 instrumen monev aspek kelembagaan, pendanaan dan 2. Peserta dibagi atas 3-4 kelomopok menit PKP (diselingi sebagainya 3. Peserta mengkaji instrumen tersedia, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan istirahat jika 2. Mengkaji format instrumen (format daerah atau propinsi diperlukan) 1 dan 2) dan merancang sesuai 4. Memberikan perbaikan dan penyempurnaan sesuai kebutuhan daerah, dengan kebutuhan daerah menetapkan kegiatan yang perlu dimonev, target dan realisasi kegiatan beserta isu dan permasalahan pada saat pelaksanaan kegiatan Sesi 9 Pelaporan dan 1. Hal-hal yang perlu dilaporkan 1. Peserta mempelajari format monev (lampiran 3) 90 Mekanisme 2. Mekanisme pelaporan setiap 2. Peserta memberi masukan dan umpan balik terhadap format tersebut menit Kelembagaan tingkatan 3. Peserta merancang mekanisme pengumpulan informasi, distribusi informasi dari Dalam Monev PKP tingkat kab/kota, propinsi hingga pusat. Sesi 10 Simulasi Kelas 1. Studi kasus dan kertas kerja 1. Peserta dibagi 3-4 kelompok sesuai jumlah peserta 30 Pelaksanaan 2. Kelompok mendeskripsikan hal-hal 2. Fasilitator membagikan kertas kerja/studi kasus kondisi pembangunan di daerah X menit Pendataan dan yang perlu didata dan dimonev 3. Kelompok mendiskripsikan hal-hal yang perlu dilakukan monev 3. Merancang tahapan 4. Kelompok merancang proses pendataan dan monev Pembangunan 4. Role play 5. Kelompok melakukan kegiatan pendataan-monev sesuai proses dan role play. Perumahan 6. Para pihak dalam role play: SKPD, Kontraktor, Perbankan, Masyarakat, Asosiasi, dsb Sesi 11 Refleksi Simulasi 1. Pengalaman peserta ketika simulasi 1. Fasilitator meminta peserta mencatat hal-hal yang dianggap unik selama simulasi 30 2. Kelebihan dan kekurangan saat (dalam metaplan) menit simulasi 2. Kartu metaplan ditempel pada sticky cloth dan dikelompokkan 3. Hal-hal yang perlu dihindariModul 2 | hal 9 3. Minta peserta menceritakan hal-hal yang terjadi saat simulasi sesuai tema yang pengelompokan Modul 4 | hal 9
  • 184. Waktu Agenda Cakupan Substansi Proses 4. Fasilitator mengajukan pertanyaan hal-hal apa yang perlu dihindari dalamModul 2 | hal 10 pelaksanaan monev Sesi 12 Perancangan 1. Hal-hal yang perlu dipersiapkan 1. Fasilitator menekankan pentingnya mempersiapkan kegaitan monev secara matang 45 Kegiatan Monev dalam kegiatan monev 2. Fasilitator memberikan pengantar urgensi integrasi kegiatan monev kab/kota menit PKP 2. Menetapkan jenis kegiatan yang hingga pusat akan dimonitor di tingkat kab, 3. Peserta dibagi 3-4 kelompok (tergantung jumlah peserta), dimana peserta kab/kota propinsi dan pusat dibuat menjadi 1-2, dan 1-2 kelompok untuk peserta propinsi 3. Merancang bagaimana hasil monev 4. Peserta diminta menetapkan jenis kegiatan yang perlu dimonitor di setiap level tersebut terkoneksi dari kab/kota (kab/kota, prop, pusat) hingga pusat 5. Setiap kelompok mempresentasikan hasilnya sesuai tabel 4. Penugasan kelompok 6. Kel: XX Hal yang dilakukan Deskripsi Kab Prop Pusat Hal yang perlu dipersiapkan Keg/hal yang perlu dimonitor Bagaimana monev dijalankan Kebutuhan sumber daya manusia Sesi 13 Diskusi Rencana 1. Penekanan pentingnya komitmen 1. Fasilitator memberikan pengantar penyusunan Rencana Tindak 30 Tindak lanjut untuk RTL 2. Peserta diminta menyusun RTL sesuai format yang disiapkan menit Lokakarya 2. Penugasan kelompok atau pleno Penang Dukungan Kegiatan Out- untuk menyusun rencana tindak Waktu gung- yang rencana put jawab diperlukan Sesi 14 Penutupan 1. Ucapan terima kasih 1. Pembawa acara menyampaikan kesiapan acara penutupan dan meminta perhatian 15 2. Komitmen untuk monev PKP peserta menit 3. Komitmen untuk partisipasi yang 2. Pejabat berwenang menyampaikan pidato penutupan berkelanjutan peserta 3. Doa penutup (wakil peserta, atau yang ditunjuk) 4. Komitmen untuk implementasi RTL Modul 4| hal 10
  • 185. LAMPIRAN Format 1: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Daerah Format 2: Laporan Perkembangan Pembangunan Perumahan Tingkat Provinsi Format 3: Lembar Pertanyaan Kajian Lapangan Tim Provinsi Bahan Ajar: Mekanisme Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman Bahan Bacaan: Konsep Monitoring dan Evaluasi Modul 4 | hal 11
  • 186. FORMAT 1: LAPORAN PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN TINGKAT KABUPATEN/KOTAModul 2 | hal 12 (Contoh Pointer Format 1) Kabupaten/Kota Realisasi di Kuartal Informasi Pembangunan Target Isu dan Permasalahan I II III IV Kelembagaan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan kelembagaan/SKPD ataupun pembentukan suatu forum yang terkait PKP) 1. Pembentukan forum/pokja koordinasi PKP 2. Penguatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam pembangunan 3. Pembentukan SKPD yang khusus menangani perumahan 4. Dst Perencanaanan pembangunan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang berhubungan dengan penyusunan dokumen perencanaan yang terkait pembangunan PKP) 1. Tersedianya Renstra atau dokumen perencanaan yang khusus untuk pembangunan PKP 2. Jika belum tersedia, apakah ada rencana waktu penyusunan dokumen yang dimaksud? 3. ….. 4. Dst Pelaksanaan pembangunan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang direncanakan dalam Renstra SKPD ataupun dokumen perencanaan yang terkait pembangunan PKP) 1. Pembangunan Rumah Sejahtera Sehat di Kecamatan X 2. Pembangunan Rumah Susun 3. … 4. dst. Isu dan permasalahan lainnya terkait pembangunan PKP dampat pembangunan PKP (social, ekonomi, kesehatan, dll) Modul 4| hal 12
  • 187. FORMAT 2: LAPORAN PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN TINGKAT PROVINSI (Contoh Pointer Format 1) Provinsi Realisasi di Kuartal Informasi Pembangunan Target Isu dan Permasalahan I II III IV Kelembagaan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan kelembagaan/SKPD ataupun pembentukan suatu forum yang terkait PKP) 1. Pembentukan forum/pokja koordinasi PKP 2. Penguatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam pembangunan 3. Pembentukan SKPD yang khusus menangani perumahan 4. Dst Perencanaanan pembangunan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang berhubungan dengan penyusunan dokumen perencanaan yang terkait pembangunan PKP) 1. Tersedianya Renstra atau dokumen perencanaan yang khusus untuk pembangunan PKP 2. Jika belum tersedia, apakah ada rencana waktu penyusunan dokumen yang dimaksud? 3. ….. 4. dst Pelaksanaan pembangunan PKP (Pelaksanaan program/kegiatan yang direncanakan dalam Renstra SKPD ataupun dokumen perencanaan yang terkait pembangunan PKP) 1. Pembangunan Rumah Sejahtera Sehat di Kecamatan X 2. Pembangunan Rumah Susun 3. … 4. dst. Isu dan permasalahan lainnya terkait pembangunan PKP dampat pembangunan PKP (sosial, ekonomi, kesehatan, dll)Modul 2 | hal 13 Modul 4 | hal 13
  • 188. FORMAT 3: LEMBAR PERTANYAAN KAJIAN LAPANGAN TIM PROVINSI  Format : Diskusi Terfokus  Peserta : Dinas/Lembaga terkait pembangunan perumahan, Pokja Kabupaten/Kota (tim teknis) dan unsur swasta, ormas  Waktu : 120 menit untuk FGD ditindaklanjuti dengan kunjungan atau observasi lapanganDaftar Pertanyaan FGDPertanyaan 1: Mohon dijelakan progres pembangunan perumahan selama kuartal iniPokok-pokok Jawaban:Lanjutkan pertanyaan klarifikasi untuk jawaban yang belum dimengertiJawaban klarifikasi: (catat pokok-pokok jawaban)Pertanyaan 2: apakah progres hasil kegiatan dalam kuartal ini telah sesuai dengan rencana yang telahditetapkan sebelumnya?Pokok-pokok jawabanPertanyaan 3: Permasalahan apa saja yang dihadapi daerah dalam pembangunan perumahan selama kuartalini?Pokok-pokok jawabanPertanyaan 3: isu penting apa saja yang perlu dihadapi daerah selama kuartal mendatang?Pokok-pokok jawabanPertanyaan 5. Kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan selama kuartal yang akan adatang?Pokok-pokok JawabanModul 4| hal 14
  • 189. Kunjungan lapanganLokasi yang dikunjungi: ....................................................................................................Catatan hasil observasi fisik:Catatan hasil wawancara dengan pelaku programCatatan hasil wawancara dengan penerima manfaatPOKOK-POKOK KESIMPULAN HASIL KAJIAN LAPANGAN Modul 4 | hal 15
  • 190. BAHAN AJAR:.MEKANISME PELAKSANAAN MONITORING DANEVALUASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN DANKAWASAN PERMUKIMAN  Kegiatan yang Dimonev  Informasi yang Perlu Dikumpulkan  Teknik Penyelenggaraan  Persiapan Pelaksanaan Monev Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman  Pelaksanaan Monev Pembangunan Perumahan dan Kawasan PermukimanModul 4| hal 16
  • 191. A. Kegiatan yang DimonevKegiatan yang dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan kegiatan terkait pembangunan PKPsebagaimana yang dituangkan dalam rencana daerah. Rencana daerah yang dimaksud adalahmencakup dokumen perencanaan pembangunan PKP (apabila sudah tersusun), Rencana Strategis(Renstra) SKPD yang membidangi perumahan, Rencana Kerja SKPD dan Program Kerja Pokja PKP(apabila sudah terbentuk.1. Pelaksanaan Dokumen Perencanaan Pembangunan PKP dan/atau Renstra SKPD yang Membidangi Perumahan beserta HasilnyaDokumen perencanaan/Renstra mencakup visi, misi, sasaran pembangunan, kebijakan danprogram pembangunan PKP. Yang dimonitor adalah pelaksanaan kebijakan dan program-programpembangunan PKP untuk memastikan apakah program yang telah ditetapkan, dilaksanakan sesuaidengan kebijakan yang berlaku. Sedangkan yang dievaluasi adalah pencapaian sasaranpembangunan PKP sebagaimana yang ditetapkan.2. Pelaksanaan Rencana Kerja SKPD yang Membidangi PKP beserta HasilnyaRencana kerja SKPD yang membidangi perumahan mencakup kegiatan-kegiatan dalam rangkapencapaian sasaran pembangunan PKP dalam periode satu tahun anggaran. Yang dimonitor adalahproses pelaksanaan kegiatan, apakah kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan rencanadan kebijakan yang telah digariskan. Sedangkan yang dievaluasi adalah pencapaian target tahunberjalan, setelah melalui proses kegiatan yang dilaksanakan, telah tercapai atau tidak.3. Pelaksanaan Program Kerja Pokja PKP beserta HasilnyaApabila Pokja PKP di provinsi sudah terbentuk, pelaksanaan rencana/program kerja tahunan PokjaPKP juga perlu dimonitor dan dievaluasi. Dalam hal ini, yang dimonitor dan dievaluasi adalahpelaksanaan kegiatan dan hasil yang telah dicapai sesuai dengan target yang direncanakan.B. Informasi yang Perlu DikumpulkanPelaksanaan program pembangunan PKP akan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lainkelembagaan, penjabaran rencana kerja ke dalam kegiatan, dan efektivitas pelaksanaan kegiatan.Dari serangkaian kegiatan tersebut, kemudian dapat disimpulkan target pembangunan pada tahunberjalan tercapai atau tidak. Untuk itu beberapa informasi penting perlu dikumpulkan dalamproses monitoring dan evaluasi.Untuk memastikan hasil yang diharapkan dari monev ini, diperlukan informasi yang lengkap sesuaidengan masing-masing hasil/target yang diharapkan.1. Informasi mengenai Kelembagaan PKP di DaerahRuang lingkup informasi mengenai kelembagaan pembangunan PKP antara lain:Status Pokja PKP/Forum Koordinasi PKPInformasi mengenai Pokja PKP/forum koordinasi mencakup status pembentukan Pokja/forum,legalitas Pokja/forum, rencana kerja Pokja/forum dan fungsi serta peran Pokja/forum dalampelaksanaan pembangunan pada periode berjalan. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Modul 4 | hal 17
  • 192.  Apakah daerah telah membentuk suatu pokja PKP/forum koordinasi?Jika sudah terbentuk, perlu ditanyakan:  Apakah pokja/forum tersebut telah mendapatkan legalitas dari pimpinan daerah?  Apakah pokja/forum tersebut didukung dengan biaya operasional melalui APBD?  Apakah pokja/forum tersebut telah memiliki rencana atau program kerja?  Apakah rencana/program kerja tersebut telah dilaksanakan?Jika belum terbentuk, perlu ditanyakan:  Mengapa?  Apa masalahnya?  Kapan rencana pokja/forum tersebut akan dibentuk?  Dukungan apa yang diperlukan agar pokja/forum tersebut bisa segera dibentuk?2. Informasi mengenai Perencanaan Pembangunan PKPRuang lingkup informasi ini mencakup status perencanaan pembangunan PKP. Pertanyaan kunciuntuk informasi ini antara lain:  Apakah daerah telah memiliki Renstra atau perencanaan sejenis mengenai pembangunan PKP?  Kapan disusun?  Apakah perencanaan tersebut dilengkapi dengan legalitas dari daerah?  Apakah rencana tersebut dijabarkan setiap tahun oleh SKPD yang membidangi perumahan?  Apakah rencana strategis tersebut cukup efektif mendorong percepatan pencapaian layanan perumahan di daerah?  Jika tidak/kurang, faktor apa saja yang menjadi kendala atau hambatan?3. Informasi mengenai Pelaksanaan Pembangunan PKPInformasi penting yang perlu dikumpulkan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembangunanPKP antara lain pelaksanaan kebijakan dan prinsip-prinsip yang telah digariskan untuk efektivitasdan efisiensi pembangunan PKP.Pertanyaan-pertanyaan kunci untuk informasi ini antara lain:  Apakah pembangunan PKP yang telah direncanakan mengacu pada tujuan pembangunan daerah?  Apakah rencana pembangunan telah disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat?  Apakah pelaksanaan pembangunan telah melibatkan peran serta masyarakat?  Apakah masyarakat terlibat aktif dalam pelaksanaan program pembangunan PKP?  Siapa yang mengambil keputusan dalam program pembangunan PKP?  Bagaimana keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan?4. Informasi mengenai Isu dan Permasalahan yang perlu Mendapatkan PenangananRuang lingkup informasi mengenai isu dan permasalahan adalah hal-hal penting yangmempengaruhi kelancaran pembangunan serta permasalahan atau hambatan dalam pembangunanModul 4| hal 18
  • 193. PKP. Isu-isu atau permasalahan yang perlu dipetakan antara lain lahan, perijinan, daya beli,pemanfaatan rumah, kelembagaan, regulasi, pembiayaan, dan konflik masyarakat dengan pengembang.Isu lahanAdakah persoalan pembebasan tanah untuk perumahan? Jika ada, apa yang diupayakan? Lalubagaimana jalan keluarnya?Isu perijinanApakah pembangunan PKP mengalami kesulitan soal perijinan? Jika ya, seperti apa kesulitannya?Isu Daya Beli  Apakah ketidakmampuan masyarakat untuk membeli rumah menjadi masalah? Jika ya, mengapa dan apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasinya? Apakah bunga bank dirasakan memberatkan? Dan apa rekomendasi pemecahan masalahnya?  Apakah harga rumah dirasakan terlalu mahal, sehingga tidak terjangkau oleh golongan masyarakat perpenghasilan rendah? Jika ya, apa saja yang telah diupayakan oleh pemerintah? Dan apakah upaya tersebut cukup efektif?Isu Pemanfaatan Rumah  Apakah rumah yang telah dibangun dimanfaatkan secara optimal? Jika tidak, mengapa dan apa saja yang selama ini telah dilakukan?  Permasalahan apa saja yang dihadapi terkait dengan pemanfaatan perumahan (rumah)?Isu Kelembagaan  Apakah masing-masing daerah telah memiliki SKPD yang secara khusus membidangi perumahan? Jika tidak, lalu SKPD mana yang menangani program perumahan?  Apakah kelembagaan-kelembagaan yang selama ini telah dibentuk untuk pembangunan PKP masih berfungsi dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan PKP?  Apakah Pokja PKP di daerah telah memiliki kapasitas yang cukup untuk mengawal pelaksanaan program pembangunan PKP? Jika tidak, lalu kapasitas atau kemampuan apa saja yang perlu ditingkatkan?Isu Regulasi atau Peraturan  Apakah regulasi atau peraturan daerah telah mengatur secara jelas mengenai pembangunan PKP?  Jika sudah, apakah pelaksanaanya sudah cukup efektif? Jika belum, upaya strategis apa yang perlu dilakukan?Isu Pembiayaan  Apakah ada permasalahan dengan kredit? Jika ada, apa masalahnya?  Upaya apa yang telah dilakukan pemerintah dengan sektor perbankan?Isu Konflik Masyarakat dengan Pengembang  Apakah pengembang menghadapi hambatan atau kendala dengan masyarakat khususnya dalam proses pembebasan lahan? Jika ya, peran mediasi apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah? Modul 4 | hal 19
  • 194.  Apabila masih ada isu lain, dapat dijabarkan sesuai dengan kondisi dan permasalahan masing-masing daerah.5. Informasi mengenai Dampak Pembangunan PKPRuang lingkup dampak dari program PKP mencakup dampak sosial, ekonomi, kesehatan, sertalingkungan. Informasi yang perlu dikumpulkan dalam pelaksanaan monev PKP mengenai dampakini antara lain:  Pemenuhan perumahan terhadap peningkatan status ekonomi;  Pemenuhan perumahan terhadap status sosial bagi penghuninya;  Pemenuhan perumahan terhadap status kesehatan.Informasi tersebut merupakan hasil utama dari evaluasi. Dikarenakan dampak pembangunandipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya dari program PKP, maka perlu dilakukan kajiansecara tersendiri dan terpisah untuk bisa melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan. Hasilevaluasi tersebut selanjutnya menjadi bahan dalam pembahasan dan masukan dalam pengambilankeputusan daerah maupun pusat.C. Teknik PenyelenggaraanYang dimaksud teknik penyelengaraan disini adalah teknik pengumpulan informasi yangdibutuhkan sebagaimana diurakan pada bagian B. Secara garis besar pelaksanaan monev PKPdilakukan melalui dua pendekatan yaitu pengumpulan informasi lapangan dan pembahasaninformasi tersebut.1. Pengumpulan Informasi LapanganPengumpulan informasi lapangan dilakukan melalui dua cara yaitu penyampaian laporan progrespembangunan secara periodik dan kunjungan/kajian lapangan secara selektif.Pengumpulan laporan progres pembangunan dimaksudkan untuk menghasilkan gambaranmenyeluruh pencapaian target pembangunan PKP secara agregat. Sedangkan kajian lapangandimaksudkan untuk mengetahui isu dan permasalahan untuk menarik pembelajaran sebagaimasukan bagi pengambil keputusan daerah maupun nasional.2. Pembahasan Informasi (Laporan)Pembahasan informasi dimaksudkan untuk menganalisis progres pelaksanaan pembangunan PKP.Kegiatan ini dilaksanakan melalui forum pertemuan periodik seluruh stakeholder PKP/Pokja PKP diprovinsi dan lokakarya khusus yang menghadirkan perwakilan dari masing-masing kabupaten/kota. Penyelenggaraan monev PKP secara menyeluruh dilakukan dengan beberapa cara antara lain:  Pengumpulan data perkembangan pembangunan secara periodik bulanan atau tiga bulanan;  Kunjungan kajian lapangan secara periodik setiap enam bulan oleh Pokja PKP provinsi ke daerah;  Pertemuan rutin stakeholder PKP/Pokja PKP di provinsi membahas progres pembangunan PKP setiap bulan dan pertemuan koordinasi dengan menghadirkan perwakilan dari masing- masing daerah setiap enam bulan;  Lokakarya nasional satu tahun sekali membahas progres pembangunan PKP selama satu tahun dan penyusunan program kerja nasional untuk tahun berikutnya.Modul 4| hal 20
  • 195. Arus informasi monev PKP sebagaimana digambarkan pada Gambar 2. kabupaten Pokja Provinsi Pokja Pusat monev monev Laporan kab/kota Laporan provinsi Laporan Nasional Pertemuan koordinasi Pertemuan koordinasi Pertemuan koordinasi periodik periodik dan lokakarya periodik dan lokakarya provinsi nasional Gambar 2. Arus Informasi Monev PKP Kata kunci: Pelaksanaan monev PKP dilakukan dengan cara: 1. Pengumpulan informasi melalui laporan periodik daerah dan provinsi; 2. Kajian lapangan untuk mengumpulkan informasi mengenai isu dan permasalahan serta pembelajaran; 3. Pertemuan koordinasi periodik tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional; 4. Lokakarya tingkat provinsi dan nasional; 5. Agregasi capaian hasil pembangunan perumahan dan kawasan permukiman tingkat provinsi dan nasional.D. Persiapan Pelaksanaan Monev PKPPelaksanaan monev akan efektif apabila direncanakan dan dipersiapkan dengan baik dan matang.Hal-hal penting yang perlu dipersiapkan dalam rangka pelaksanaan monev PKP antara lainpenyiapan rencana kerja monev, penyiapan instrumen, dan pertemuan persiapan.1. Menyusun Rencana Kerja Monev PKPRencana kerja monev diperlukan sebagai acuan pelaksanaan yang mencakup waktu pelaksanaan,lokasi, langkah-langkah pelaksanaan serta pelaksana monev.Yang penting dari rencana kerja ini adalah uraian dalam bentuk silabus yang berisi tentang tujuanserta keluaran dari setiap langkah kegiatan yang akan dilakukan. Rencana kerja monev diuraikansebagaimana pada Tabel 4. Modul 4 | hal 21
  • 196. Tabel 4. Contoh Rencana Kerja Monev Nama Instrumen dan Maksud Kegiatan Waktu penanggung bahan jawab Pengumpulan data Pengumpulan laporan Maret, Juni, Format 1: laporan kab/kota progres kuartal progres September dan Format 2: laporan provinsi pembangunan PKP pembangunan PKP Desember Mengkaji isu dan Kunjungan lapangan April, Juli, Oktober, Panduan diskusi terfokus permasalahan Januari (FGD) pembangunan PKP Pembahasan progres Pertemuan koordinasi April, Juli, Oktober,  Kompilasi laporan pembangunan PKP Januari triwulan  Hasl kajian lapangan Pembahasan progres Pertemuan koordinasi Setiap hari kamis  Laporan kegiatan masing- pelaksanaan minggu terakhir masing SKPD program Pokja PKP  Daftar isu atau Provinsi permasalahan mendesak2. Instrumen Monev PKPInstrumen yang digunakan dalam pelaksanan monev PKP terdiri dari:  Format 1, laporan pembangunan PKP tingkat kabupaten/kota dikirimkan ke provinsi;  Format 2, laporan pembangunan PKP tingkat provinsi agregasi/kompilasi laporan kabupaten/kota dikirimkan ke pusat;  Panduan kunjungan/kajian lapangan, digunakan oleh Pokja PKP Provinsi ke kabupaten/kota dan Pokja PKP di pusat ke provinsi;  Laporan kajian lapangan oleh Pokja PKP Provinsi dan kajian lapangan oleh Pokja PKP di Pusat;  Check List pelaksanaan program kerja Pokja PKP Provinsi dan Pokja PKP Kabupaten (jika sudah terbentuk).3. Pertemuan Persiapan/ LokalatihPertemuan dimaksudkan untuk memahami bersama setiap kegiatan yang akan dilaksanakan daninstrumen yang akan dipakai. Lebih lanjut, pertemuan ini juga dimaksudkan untuk pembagian timserta mengidentifikasi kebutuhan operasional dalam pelaksanaan monev. Pertemuan ini sebaiknyadiselenggarakan dalam bentuk lokalatih atau lokakarya dengan mengundang narasumber/fasilitator yang berpengalaman dalam kegiatan monev.E. Pelaksanaan Monev PKP1. Pengumpulan Laporan DaerahSebagaimana diuraikan sebelumnya, setiap daerah menyampaikan laporan perkembanganpembangunan PKP dengan menggunakan Format 1 untuk laporan dari kabupaten ke provinsi danFormat 2 untuk laporan dari provinsi ke pusat. Laporan provinsi merupakan kompilasi laporankabupaten/kota.Laporan ini dipersiapkan oleh masing-masing SKPD yang membidangi perumahan. Sumberinformasi yang dimasukkan dalam laporan ini berasal dari beberapa sumber program ataukegiatan. Penjelasan secara rinci mengenai Format 1 dan Format 2 diuraikan pada bagian lampiran(instrumen monev).Modul 4| hal 22
  • 197. 2. Kajian LapanganKajian lapangan merupakan kegiatan pokok dalam rangka penggalian informasi secara langsunguntuk memetakan isu dan permasalahan pembangunan PKP di daerah.Ruang lingkup kajian lapangan mencakup daerah-daerah yang berada di wilayah provinsi secaraselektif. Proses pengumpulan informasi dilakukan melalui FGD (forum diskusi terfokus) denganbeberapa pelaku pembangunan PKP di daerah yang dikunjungi. Kemudian secara terpisah jugadilakukan penggalian informasi kepada penerima manfaat.Daftar pertanyaan untuk kajian lapangan ini secara detail diuraikan pada Format 3 bagian lampiran(instrumen monev).Informasi penting yang dilakukan melalui kajian lapangan ini dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Contoh Informasi pada Kajian Lapangan Informasi Sumber informasi Teknik Progres secara umum cakupan pembangunan PKP di SKPD/dinas terkait Diskusi terfokus daerah Isu-isu penting dalam pelaksanaan pembangunan PKP SKPD/dinas terkait, Diskusi terfokus, Pengembang/pelaku Wawancara Tingkat pemanfaatan/hasil pembangunan PKP Masyarakat pengguna Wawancara dan oservasi Catatan: jika ada permasalahan spesifik penggalian informasi bisa diperdalam misalnya menggali informasi dengan lembaga keuangan (bank) jika masalah tersebut berhubungan dengan pembiayaan3. Lokakarya Review Progres Pembangunan PKP di provinsiLokakarya ini diselenggarakan untuk membahas progres pembangunan PKP, dan mendiskusikanberbagai isu dan permasalahan yang telah dikumpulkan melalui kajian lapangan. Gambaranpelaksanaan lokakarya ini adalah sebagaimana contoh kerangka acuan pada Tabel 6. Tabel 6. Contoh Kerangka Acuan Pelaksanaan Lokakarya Kegiatan Lokakarya Review Progres Pembangunan PKP Waktu 2 hari efektif Tujuan Secara umum tujuan monev PKP adalah memperoleh gambaran progres dan hasil pelaksanaan program pembangunan PKP. Secara khusus bertujuan: a) Memetakan progres pencapaian pelaksanaan pembangunan PKP; b) Memastikan seluruh kegiatan pembangunan dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan arah tujuan pembangunan daerah bidang PKP; c) Mengidentifikasi isu, permasalahan dan kendala pelaksanaan pembangunan PKP; d) Menyusun rekomendasi dalam upaya perbaikan kinerja pembangunan PKP. Hasil yang ingin diperoleh a) Laporan progres pelaksanaan pembangunan dari masing-masing pelaku/dinas SKPD terkait; b) Gambaran efektivitas pelaksanaan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan pemerintah; c) Daftar isu dan permasalahan pelaksanaan program PKP; d) Rekomendasi; e) Rencana tindak lokakarya. Proyek/program-program yang akan dimonitor dan dievaluasi Proyek i) ........................................., ii). ......................................., iii) .............................. dll Peserta Lokakarya diikuti oleh .... orang terdiri dari unsur Pokja PKP Provinsi dan Pokja/SKPD perumahan dari masing-masing kabupaten/kota Modul 4 | hal 23
  • 198. PelaksanaanSebelum lokakarya dimulai, perlu dipastikan seluruh material dan alat bantu telah dipersiapkandengan baik antara lain: Kertas metaplan, Spidol, Kain rekat (sticky cloth), Flip chart, Daftarpertanyaan, Petugas pencatat/perekam proses, Petugas perlengkapan dan peralatan lainnya yangdibutuhkan.Perlu diperhatikan oleh fasilitator untuk memastikan lokakarya akan mencapai tujuan secaraefektif antara lain:  Seluruh kebutuhan alat, perlengkapan dan petugas sudah siap;  Petugas pencatat siap dengan perlengkapan untuk melakukan pencatatan dan telah memahami pokok-pokok pertanyaan dan cara mengambil kata kunci setiap jawaban atau pendapat peserta selama diskusi;  Lakukan pembagian tugas dari tim pencatat.Proses DiskusiSetelah acara pembukaan dan arahan dari pimpinan SKPD atau kepala Bappeda pelaksanaandiskusi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:Langkah 1: Presentasi progres pembangunan PKP propinsi Presentasi disampaikan oleh SKPD atau ketua Pokja PKP. Bahan presentasi adalah hasil kompilasi laporan dari masing-masing kabupaten/kota. Ruang lingkup materi meliputi:  Arah dan kebijakan pembangunan wilayah untuk PKP.  Progres pencapaian pembangunan PKP di daerah.  Isu-isu umum pembangunan PKP di daerah.  Tantangan ke depan pembangunan PKP di daerah.Langkah 2: Review progres pembangunan oleh masing-masing daerah Untuk efektivitas pelaksanaan review pembahasan dilakukan melalui diskusi kelompok berdasarkan wilayah. Satu kelompok terdiri dari beberapa kabupaten/kota disesuaikan dengan propinsi. Sebelum diskusi dimulai, fasilitator memberikan penjelasan pengantar tentang proses diskusi. Penjelasan difokuskan progres umum pelaksanaan dan pencapaian program pembangunan PKP di kabupaten/kota. Cara pengumpulan informasi:  Masing-masing kabupaten mengisi atau menjawab beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan pada kain rekat;  Setiap informasi ditulis pada kertas metaplan dengan ketentuan satu informasi satu kertas kemudian ditempel pada kolom pertanyaan yang sesuai;  Pembahasan dalam kelompok dilakukan setelah semua pertanyaan dijawab oleh masing- masing kabupaten. Format pengumpulan informasi progres pembangunan PKP di daerah sebagaimana pada Tabel 7.Modul 4| hal 24
  • 199. Tabel 7. Format Pengumpulan Informasi Progres Pembangunan PKPNo Pertanyaan kunci Kab X Kab Y Kab Z Dst1 Kegiatan apa sajakah yang dilakukan oleh kab/kota dalam semester ini untuk pembangunan PKP2 Jumlah target pemenuhan layanan PKP dalam tahun ini3 Jumlah target yang telah terpenuhi sampai periode ini4 Permasalahan apa saja yang dihadapi oleh daerah dalam pembangunan PKP sampai dengan periode ini. Pembahasan dalam kelompok  Klarifikasi mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan di daerah apabila ada informasi yang belum jelas.  Memastikan jumlah target dalam bentuk angka. Jika jawaban peserta berupa prosentase, minta untuk diangkakan berdasarkan jumlah KK yang ada.  Pada kolom permasalahan, masing-masing daerah perlu dikelompokkan untuk jenis perma- salahan yang sama, dan selanjutnya setiap kelompok permasalahan diberi judul yang sesuai.Langkah 3: Presentasi hasil diskusi Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi diwakili oleh salah satu peserta. Presentasi diikuti oleh kelompok lain dan diberikan kesempatan untuk klarifikasi dan bertanya maksimum untuk tiga pertanyaan. Demikian seterusnya untuk kelompok lainnya. Catatan: Selama diskusi kelompok berlangsung, fasilitator mencatat isu/permasalahan utama setiap kelompok dan diketik untuk ditayangkan pada saat pleno.Langkah 4: Pembahasan dalam pleno Fasilitator menayangkan catatan penting hasil diskusi kelompok untuk selanjutnya ditanggapi atau ditambahkan jika masih ada permasalahan lain yang belum tercakup. Berdasarkan daftar masalah tersebut, fasilitator bersama peserta menetapkan urutan prioritas permasalahan untuk selanjutnya akan dibahas pada diskusi lebih lanjut.Langkah 5: Diskusi kelompok membahas upaya yang perlu dilakukan Peserta kembali ke kelompok masing-masing (sebagaimana diskusi sebelumnya) untuk mendiskusikan upaya apa saja yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan sebagaimana yang telah disepakati dalam pleno. Pertanyaan kunci: Upaya apa saja yang perlu dilakukan daerah dalam mengatasi pemasalahan pembangunan PKP? Format diskusi adalah sebagaimana Tabel 8. Tabel 8. Format Diskusi Upaya yang akan Dukungan yang diperlukan Dukungan yang diperlukanNo Masalah dilakukan daerah dari provinsi *) dari pusat *) *) Yang dimaksud dukungan adalah dukungan selain dana. Modul 4 | hal 25
  • 200. Langkah 6: Menyepakati rencana tindak Sebelum lokakarya ditutup dilakukan kesepakatan mengenai kegiatan-kegiatan atau agenda utama yang akan dilakukan selama satu semester ke depan dan hasilnya akan dibahas pada lokakarya selanjutnya.4. Lokakarya Nasional Evaluasi dan Perencanaan Program PKPLokakarya ini pada prinsipnya merupakan forum umpan balik hasil pembangunan PKPberdasarkan laporan dari masing-masing provinsi. Peserta yang diundang adalah seluruh anggotaPokja PKP dan pejabat terkait di Kementerian serta perwakilan dari masing-masing provinsi dariunsur SKPD, Bappeda dan Ketua Pokja PKP.Skenario penyelenggaraan sama dengan lokakarya di provinsi akan tetapi wilayah pembahasannyadalam lingkup nasional. Diskusi kelompok terdiri dari provinsi ditambah kelompok dari unsurasosiasi dan lembaga perbankan yang terlibat dalam program PKP.Skenario lokakarya ini dapat digambarkan pada Gambar 3. Pembukaan dan arahan Paparan progres pembangunan nasional Hasil diskusi kelompok dari Hasil diskusi kelompok unsur provinsi asosiasi Rangkuman progres, isu dan permasalahan Rencana Aksi Gambar 3. Skenario Lokakarya Nasional Evaluasi dan Perencanaan Program PKPModul 4| hal 26
  • 201. BAHAN BACAAN:KONSEP MONITORING DAN EVALUASI  Pengertian Monitoring  Pengertian Evaluasi  Prinsip-prinsip dalam Pelaksanaan Monev Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman  Pendekatan dan Metode Pelaksanaan Monev Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman  Hasil yang Diharapkan dari Monev Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman Modul 4 | hal 27
  • 202. A. Pengertian MonitoringYang dimaksud monitoring adalah serangkaian proses untuk melihat dan memastikan apakahsebuah program telah dilaksanakan sesuai dengan langah-langkah dan prosedur yang telahditetapkan. Asumsinya, apabila sebuah program atau proyek dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah dan prosedur, maka output akan dicapai.Dalam pembangunan PKP yang dimaksud monitoring adalah kegiatan untuk mengetahui: 1. Apakah pembangunan PKP telah dilaksanakan sebagaimana prosedur dan kebijakan baik kebijakan pembangunan PKP nasional maupun daerah; 2. Apa saja yang telah dicapai selama proses pembangunan PKP; 3. Apa saja isu dan permasalahan yang dihadapi baik oleh pemerintah maupun pelaku pembangunan PKP; 4. Apa saja yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kegiatan lebih lanjut. Kata kunci: Tujuan, kebijakan, prosedur, kesesuaian antara pelaksanaan dengan prosedur, keluaran yang telah dicapai, daftar permasalahan yang perlu mendapatkan penanganan dan rencana aksi yang perlu dilakukan.B. Pengertian EvaluasiYang dimaksud evaluasi adalah serangkaian proses untuk menilai dan menyimpulkan apakahsebuah program, telah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisienberdasarkan indikator yang disepakati. Selanjutnya penilaian tersebut digunakan untukmemberikan umpan balik bagi peningkatan kualitas kinerja program, baik dalam prosesperencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan juga pengendalian program selanjutnya.Dalam konteks pembangunan PKP, yang dimaksud evaluasi adalah menganalisa efisiensi danefektivitas proses pelaksanaan pembangunan yang telah dilaksanakan, pencapaiankeluaran/output dan pemanfaatan hasil, serta menyimpulkan apakah indikator keberhasilanpembangunan PKP telah dicapai atau belum. Hasil analisa ini selanjutnya akan digunakan sebagaimasukan dalam mengambil keputusan untuk program pembangunan PKP selanjutnya.Contoh:Jika salah satu indikatornya adalah memenuhi akses masyarakat terhadap rumah layak huni makaevaluasi ditujukan untuk melihat dan mengumpulkan informasi serta fakta-fakta apakah benarmasyarakat telah mendapatkan akses rumah layak huni.Jika indikatornya adalah memenuhi kebutuhan rumah bagi 1000 keluarga, maka evaluasi ditujukanuntuk melihat, menganalisis serta menghitung capaian demi capaian dan menyimpulkan apakahbenar 1000 keluarga telah terpenuhi kebutuhan perumahannya.Jika indikatornya adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemenuhan kebutuhanperumahan bagi golongan tidak mampu, maka hasil evaluasinya adalah apakah benar masyarakattelah berpartisipasi aktif dalam pembangunan PKP. Kata kunci: melihat hasil monitoring, menganalisa, terhadap setiap capaian dan menyimpulkan apakah indikator keberhasilan secara keseluruhan telah dicapai.Modul 4| hal 28
  • 203. C. Prinsip-prinsip Dalam Pelaksanaan Monev PKPMonitoringMonitoring dilaksanakan dalam upaya memastikan bahwa program telah dilaksanakan sesuaidengan prosedur dan langkah serta kebijakan yang telah digariskan. Pelaksanaan monitoring harusmemperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Mengacu pada desain program dan rencana kerja program atau kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya; 2. Mengumpulkan informasi selengkap mungkin, sehingga progres program dapat dipahami secara utuh; 3. Informasi diperoleh dari sumbernya secara langsung untuk menghindari bias dalam pengambilan keputusan; 4. Informasi yang diperoleh, dianalisa dan dibahas dengan pengambil keputusan/ pimpinan/menejemen program, untuk dicarikan langkah-langkah yang perlu ditindaklanjuti; 5. Diakumulasikan dengan hasil monitoring sebelumnya sehingga dapat diketahui kemajuan yang telah dihasilkan dalam periode tertentu; 6. Ditindaklanjuti dengan rencana aksi atau rencana tindak yang jelas, seperti penentuan pelaksana beserta tugasnya, serta waktu pelaksanaan.EvaluasiEvaluasi dilaksanakan dalam rangka menyimpulkan apakah tujuan program telah dicapai. Selainitu, evaluasi juga dilaksanakan untuk melihat sejauh mana program telah mencapai tujuan yangtelah ditetapkan. Untuk itu perlu memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut: 1. Fokus pada tujuan atau target yang telah ditetapkan; 2. Melibatkan pelaku dan penerima manfaat program dalam proses penggalian informasi; 3. Melihat tingkat pemanfaatan hasil oleh penerima dari program yang telah dilaksanakan; 4. Mengidentifikasi potensi-potensi keberlanjutan terhadap sarana yang telah dibangun atau program yang telah dilaksanakan; 5. Melihat apakah program yang telah dilakukan dapat mengatasi permasalahan mendasar terkait dengan pembangunan PKP; 6. Melihat indikasi peningkatan kemampuan penerima program dalam mengatasi isu dan permasalahan terkait dengan pelaksanaan dan pemanfaatan hasil program; 7. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi mengapa program tidak berhasil dan program berhasil; 8. Trianggulasi; artinya informasi yang telah diperoleh dari narasumber dicocokkan dengan hasil lapangan dengan cara observasi; 9. Dilakukan pembahasan dengan pengambil kebijakan dalam rangka pengambilan keputusan untuk program berikutnya. Modul 4 | hal 29
  • 204. D. Pendekatan dan Metode Pelaksanaan Monev PKPPendekatanSecara umum pendekatan monev dapat digolongkan menjadi dua yaitu: 1. Monev partisipatif; dan 2. Monev konvensional.Masing-masing pendekatan memiliki keunggulan dan keterbatasan. Pemilihan pendekatan yangakan dipakai perlu disesuaikan dengan tujuannya. Untuk mendapatkan progres secara menyeluruhdan relatif cepat, maka pendekatan konvensional lebih tepat. Akan tetapi jika monev dimaksudkanuntuk mendapatkan informasi secara mendalam, pendekatan partisipatif lebih tepat.Persamaan dan perbedaan antara pendekatan monev konvensional dan partisipatif sebagaimanadijelaskan pada Tabel 9. Tabel 9. Perbandingan Pendekatan Monev Partisipatif dan Konvensional Aspek Partisipatif Konvensional Tujuan Memperoleh gambaran proses pelaksanaan Memperoleh gambaran proses program pelaksanaan program Hasil yang ingin  Disamping laporan program juga ditujukan Laporan pelaksanaan program diperoleh untuk mendapat gambaran mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program  Rencana aksi yang disepakati atas dasar temuan masalah Pelaksana Pihak luar berperan untuk memandu proses Pihak luar langsung sebagai pengumpulan informasi dari sumber informasi pengumpul informasi Partisipasi Seluruh pelaku dan pihak yang berkepentingan Yang aktif petugas pengumpul dengan program ikut terlibat secara aktif dalam informasi sementara sumber penggalian informasi (dua arah) informasi pasif (satu arah) Pengambilan  Langsung oleh masyakat sendiri mengenai hal- Oleh menejemen atau pimpinan keputusan hal yang mereka lakukan sendiri program terhadap hasil  Manajemen program dalam rangka dukungan bagi penerima program dalam rangka mengatasi permasalahannyaDikarenakan cakupan monev PKP yang luas, maka diperlukan informasi yang mendalam untukbeberapa aspek tertentu agar keduanya bisa dipakai dengan pertimbangan: 1. Untuk melihat perkembangan cakupan pembangunan PKP secara agregat berdasarkan laporan dari masing-masing daerah; 2. Untuk menjadikan hasil pembangunan yang efektif dan berkelanjutan, faktor-faktor penting baik hambatan maupun keberhasilan, perlu dikaji dalam rangka masukan pengambilan keputusan yang tepat. Oleh karena itu, kajian terhadap faktor-faktor tersebut perlu dilakukan. Kata kunci: Monev partisipatif, kajian permasalahan, umpan balik dan rencana tindak oleh masyarakat, masukan kepada menejemen dan keputusan. Monev konvensional, pengumpulan informasi secara masif, agregasi, laporan progres pencapaian target, keputusan.Modul 4| hal 30
  • 205. MetodeYang dimaksud metode dalam hal ini adalah cara pengumpulan data atau informasi. Metodepengumpulan data dilakukan dengan cara: 1. Pengumpulan data sekunder melalui kompilasi laporan daerah; 2. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara penggalian informasi langsung dengan pelaku pembangunan dan penerima manfaat.Dalam pelaksanaan monev PKP, kedua metode tersebut akan ditempuh. Pengumpulan data melaluilaporan periodik untuk mendapatkan data cakupan secara menyeluruh, dan pengumpulaninformasi secara langsung untuk mengkaji isu dan permasalahan, dimaksudkan untukmendapatkan pembelajaran sebagai masukan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan.E. Hasil yang Diharapkan dari Monev PKPHasil yang ingin diperoleh dari monev PKP adalah pelaksanaan dan hasil pembangunan PKP yangsejalan dengan arah, sasaran dan kebijakan pembangunan PKP di daerah. Tolok ukur hasil monevini adalah: 1. Pembangunan yang dilaksanakan mengacu pada langkah-langkah dan prosedur yang telah ditetapkan; 2. Pembangunan sejalan dengan upaya pencapaian target pemenuhan PKP di daerah; 3. Hasil pembangunan mampu menjawab dan mengatasi permasalahan sebagaimana latar belakang dilaksanakannya pembangunan tersebut; 4. Rekomendasi dan masukan terhadap strategi yang dilaksanakan ke arah strategi yang lebih efektif.F. Waktu Pelaksanaan MonevDalam konteks program atau proyek, monitoring dilaksanakan pada saat atau selama pelaksanaanprogram/proyek. Sedangkan evaluasi dilaksanakan pada tengah masa/periode program/proyekyang lazim disebut evaluasi tengah masa dan evaluasi akhir. Sesuai tujuannya, monitoringdigunakan untuk melihat proses, sedangkan evaluasi digunakan untuk melihat hasil. Skema waktupelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagaimana pada Gambar 4. Gambar 4. Skema Waktu Pelaksanaan MonevSecara utuh, monev dilaksanakan secara periodik dan terjadwal. Hasil monev menggunakan dasarhasil monev sebelumnya dan pada akhirnya akan diketahui kegiatan mana yang seharusnya sudahdilakukan tetapi belum dilakukan, dan output mana yang seharusnya dicapai akan tetapi belumdicapai serta efisiensi dan efektivitas pelaksanaannya. Modul 4 | hal 31