Your SlideShare is downloading. ×
0
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Tujuh Tahun SANIMAS. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan PERCIK Edisi Khusus Maret 2010. Tema SANIMAS. Bagian Pertama (dari Tiga bagian)

4,493

Published on

diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan sejak tahun 2003. Khusus pada edisi ini bekerjasama dengan BORDA.

diterbitkan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan sejak tahun 2003. Khusus pada edisi ini bekerjasama dengan BORDA.

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
4,493
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
217
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Pembangunan Sanitasi Lebih dari Sekadar Pembangunan Fisik EDISI KHUS US Maret 2010 Edisi Khusus , Maret 2010
  • 2. Cover 1
  • 3. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Daftar Isi Dari Redaksi ............................................................................................................. 3 Suara Anda................................................................................................................ 5 Laporan Utama Potret Pembangunan Sanitasi di Indonesia ................................................ 8 Diterbitkan oleh: Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman....................... 2 1 Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Kabar Terbaru ......................................................................................................... 24 (Pokja AMPL) Wawancarara Utama bekerja sama dengan: Aspek Sanitasi Masih Tertinggal Jauh........................................................26 BORDA, BALIFOKUS, LPTP, BEST Pembangunan Sanitasi untuk Lima Tahun Ke Depan ............................... 29 Pelaku Tahap I Penanggung Jawab: Oswar Mungkasa Sanimas Itu Harus Memberdayakan Masyarakat..................................... 35 Frank Fladerer Ujicoba Sanimas jadi Karir Terbaik Saya....................................................41 Pelaku Tahap II Pemimpin Redaksi: Agar Tak Ada Lagi Monumen Cipta Karya..................................................60 Oswar Mungkasa Dukungan BORDA untuk Target MDG’s.....................................................64 Dewan Redaksi: Pelaku Tahap III Surur Wahyudi Saya Ingin Sanimas Lebih Massif................................................................77 Yuyun Ismawati Wawancara Khusus Ibnu Singgih Pranoto Sanimas dan Konsep Pemberdayaan di Pekalongan..................................86 Hamzah Harun Al-Rasyid Pencapaian: Peta Persebaran Sanimas di Indonesia (2003-2009)........................... 90 Redaktur Pelaksana: Praktik Unggulan Z. Rahcmat Sugito Berharap Adipura Berbuah Biogas...........................................................103 Gressiadi Muslim Sanitasi Para Santri..................................................................................106 Sisi Lain: Sanimas Tak Selalu Berhasil.................................................................... 130 Desain dan Produksi: Kabar AKSANSI: AKSANSI dan Keberlanjutan Sanimas ......................................... 134 Agus Sumarno Helmi Satoto Testimoni: Kisah Sanimas dari Balik Layar................................................................. 141 Sirkulasi/Distribusi: Mereka yang Bergelut dengan Tinja........................................................151 Agus Syuhada Tinjauan: Halimatussadiah Tinjauan Konsep Pemberdayaan Masyarakat Dalam Sanimas.................158 Alamat Redaksi: Kajian Teknologi IPAL Sanimas.................................................................175 Jl. RP Suroso 50, Jakarta Pusat. Pembelajaran: Telp./Faks.: (021) 31904113 Sanimas Model Sanitasi bagi Pemda Otonom ........................................181 e-mail: redaksipercik@yahoo.com Orang Miskin Juga Bisa Bayar Iuran.........................................................190 redaksi@ampl.or.id Wawasan: oswar@bappenas.go.id Aspek Gender Dalam Sanimas.................................................................201 Redaksi menerima kiriman Pengelolaan Aset Sanitasi: Pemikiran dan Pembelajaran .......................208 tulisan/artikel dari luar. Jejaring Sanimas: Replikasi dan Adaptasi Sanimas di Luar Negeri........................220 Isi berkaitan dengan air minum Regulasi: Perundangan Terkait Pengelolaan Air Limbah di Indonesia................... 222 dan penyehatan lingkungan Info Buku: Kisah Sukses Sanimas........................................................................... 228 dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Info Situs ............................................................................................................... 229 Sertakan identitas diri. Info Pustaka........................................................................................................... 232 Redaksi berhak mengeditnya. Galeri Foto............................................................................................................. 244 Silahkan kirim ke alamat di atas. Agenda Konferensi dan Pameran........................................................................... 248 Fakta Sanitasi dan Sanimas......................................................................249Dapat diperbanyak sendiri tanpa merubah isinya dan dapat diakses di Suplemen: situs AMPL: http://ampl.or.id Buku Pintar Sanimas................................................................................A-L dan digilib AMPL: http://digilib.ampl.net HIA: Menakar Dampak Sanimas.............................................................M-0 This Publication was financed through funds allocated by The Ministry for Economic Cooperation and Development of The Federal Republic of Germany 2
  • 4. Dari RedaksiT idak terasa kita sudah memasuki tahun 2010. CLTS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air Walaupun terlambat kami mengucapkan minum rumah tangga (PAM-RT), pengelolaan sampah, Selamat Tahun Baru. Semoga tahun ini dan pengelolaan air limbah. Sementara di perkotaan, lebih baik dari tahun lalu khususnya kinerja pemerintah mempunyai program Sanitasi oleh Masyarakat pembangunan AMPL di Indonesia. (Sanimas) yang telah menjangkau 37.451 KK atau 172.619 Memasuki tahun 2010, perhatian terhadap AMPL di jiwa yang tersebar pada 420 lokasi di 124 kota danIndonesia terutama sanitasi terasa semakin membaik. kabupaten pada 22 propinsi dalam 7 tahun kiprahnya.Dimulai dengan Konperensi Sanitasi II yang berlangsung Peningkatan perhatian pemerintah ini dipuncaki dengansukses di akhir tahun 2009, yang merupakan kelanjutan tercantumnya target ”tidak ada lagi praktek BABS padadari Konperensi Sanitasi tahun tahun 2014” dalam RPJMN 2010-2007. Konperensi tersebut dibuka 2014.oleh Wakil Presiden yang sekaligus Dalam upaya menangkapmencanangkan program Percepatan momentum inilah kemudianPembangunan Sanitasi Permukiman Percik mencoba menyajikan(PPSP). Berikutnya dalam East Asia pembangunan sanitasi dalamSanitation (EASAN) Conference II Percik edisi khusus kali ini. Programdi Manila Februari 2010, Indonesia STBM telah kami tampilkan padaditunjuk sebagai tuan rumah EASAN edisi Desember 2008. SekarangIII tahun 2012 di Denpasar Bali giliran Sanimas yang kamiberdasar pertimbangan kemajuan tampilkan.pembangunan sanitasi di Indonesia . Salah satu sisi yang menarik Sementara di awal tahun 2010 dari Sanimas adalah kisah panjangjuga, dalam sebuah lokakarya mulai dari proses lahirnya sampairegional Community-led Total tersebar luas seperti saat ini. IdeSanitation (CLTS) di Phnom Penh awalnya adalah upaya menemukanKamboja, delegasi Indonesia solusi masalah sanitasi perkotaanmenjadi nara sumber utama melalui uji coba terhadap Kebijakanterkait pembelajaran pelaksanaan Nasional Pembangunan Air MinumCLTS. Indonesia dianggap sukses dan Penyehatan Lingkungandalam 2 (dua) hal yaitu dalam Berbasis Masyarakat yangwaktu empat tahun telah berhasil disepakati pada tahun 2003. Untuk ZENmerubah perilaku BABS (Buang Air itu, Sanimas dimulai dalam bentukBesar Sembarangan) dari sekitar 4 juta penduduk, dan uji coba pada tahun pertama melalui hibah pemerintahmembebaskan sekitar 2.000 desa/dusun dari praktek Australia pada tahun 2003. Kemudian dilanjutkanBABS. Selain itu, Indonesia satu-satunya negara peserta uji coba tahun kedua dengan dana pemerintah yangdalam lokakarya tersebut yang dipandang keterlibatan dikoordinasikan oleh Bappenas melalui Kelompok Kerjapemerintahnya sangat aktif dalam pembangunan sanitasi. (Pokja) AMPL Nasional. Selanjutnya dijadikan program Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa saat ini nasional oleh Departemen Pekerjaan Umum sejak tahunpemerintah sedang gencar meningkatkan akses sanitasi 2006. Tidak sebagaimana biasanya, yaitu hibah luarmelalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat negeri berlanjut menjadi pinjaman luar negeri, Sanimas(STBM) dan Sanitasi oleh Masyarakat (Sanimas), sebagai langsung didanai oleh pemerintah pada tahun kedua. Halujung tombak pencapaian target Tujuan Pembangunan ini menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah dalamMilenium (Millenium Development Goals/MDGs) dan upaya menjadikan Sanimas sebagai program andalanRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sanitasi. Hal menarik lainnya adalah sumber(RPJMN) 2010-2014. STBM merupakan penyempurnaan dana, yang beragam mulai dari pemerintahdari CLTS, yang merupakan program sanitasi skala rumah pusat, pemerintah propinsi, pemerintahtangga yang terdiri dari 5 pilar yaitu Stop BABS (dulunya kabupaten/kota, LSM BORDA, 3
  • 5. dan masyarakat. Tentunya yang paling mendasar adalah Penerbitan edisi khusus kali ini merupakan kerjasamaprinsip utamanya yang berbasis masyarakat. Pesan kuat keduakalinya dengan BORDA dan mitranya, setelahyang ingin disampaikan dengan keterlibatan masyarakat edisi khusus Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.adalah ”sanitasi lebih dari sekedar pembangunan fisik”. Awalnya edisi khusus kami tampilkan karena ketiadaan Hal ini kemudian menjadikan Sanimas merupakan dana pada tahun 2009, sehingga mendorong kamisumber pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi bekerjasama dengan pihak lain dalam penerbitan Percik.pemangku kepentingan AMPL di Indonesia, bahkan di Tetapi kedepannya Percik akan terbit sekaligus dalammancanegara. Sehingga Sanimas juga telah mulai di adopsi bentuk edisi reguler dan edisi khusus. di beberapa negara Afrika dan dalam waktu dekat juga Proses penyusunan edisi khusus ini tentunya melaluiPilipina. jalan yang cukup panjang, mulai dari penentuan rubrik, Dalam edisi khusus ini, Sanimas kami tampilkan pengumpulan data dan informasi, penulisan artikelmulai dari proses paling awal sampai saat ini, dengan internal dan eksternal, menghubungi nara sumber baikmenampilkan semua pihak yang terlibat mulai dari langsung maupun melalui telpon dan email. Tentu sajapemerintah pusat sampai pemerintah daerah, LSM, dan tidak semua data dan informasi kami dapatkan serta naratentunya masyarakat. Informasi tersebut kami tampilkan sumber berhasil kami jumpai. Walaupun demikian, apadalam berbagai bentuk mulai wawancara, testimoni, yang kami sajikan ini kami harapkan sudah dapat mewakilisuara anda, sampai tulisan para ahli dan pelaku, termasuk keseluruhan gambaran Sanimas. Untuk itu, terima kasihjuga foto-foto proses dan hasil pelaksanaan Sanimas. kepada semua pihak yang telah membantu sehingga edisiKesemuanya diharapkan dapat memberi gambaran kali ini dapat kami tampilkan. Kritik dan saran tetap kamilengkap tentang Sanimas, sebuah program sanitasi nantikan demi perbaikan Percik ke depan. Akhir kata,unggulan. selamat membaca. Semoga bermanfaat. n (OM). BORDADari Redaksi 4
  • 6. Suara Anda calon pengguna adalah RT 02–06/RW 6 dan sekitar lokasi kampung seperti pasar dan sebagainya. Umumnya penduduk bekerja sebagai buruh pabrik, pedagang dan serabutan. Minimnya pengetahuan dan ke- ingintahuan masyarakat tentang dampak negatif dari per- masalahan sanitasi, disebabkan karena minimnya tingkat pendidikan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar (BAB) masyarakat biasanya menggunakan saluran sungai, tanah kebun, saluran air, tetapi sarana tersebut tanpa di- BORDA lengkapi sistem pengolahan sehingga kotoran mengalir dan menimbulkan bau kurang sedap se­ ingga berdampak hJalanpun bisa untuk IPAL: pada pencemaran lingkungan, kebiasaan BAB yang tidakPercikan Sanimas memperhatikan kebersihan ini tentu saja memberi dampakdi Pucung, Magelang negatif pada kese­ atan, berbagai penyakit muncul seperti h Di Kabupaten Magelang pertama kali dibangun IPAL per- diare, muntaber, typus, dan lain-lain.pipaan komunal tanpa digester dengan lokasi di jalan, warga Dengan sosialisasi yang diberikan tentang masalahsangat berantusias untuk menyambung ke IPAL se­ ingga h sanitasi, yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan,kita sebagai fasilitator sangat kewalahan untuk menentukan adanya program Sanimas sangat membantu menjadi solusimana saja rumah yang akan mengakses. Sangat tidak mung- dalam mengatasi problem sanitasi di wilayah tersebut,kin semua rumah dapat menyambung karena di Dusun masyarakat yang semula tidak peduli lingkungan menjadiKarang Kulon Pucang jumlah total kepala keluarga sebanyak paham bahwa menjaga lingkungan sangat penting, bahkan130 KK dengan jumlah rumah sebanyak 106 rumah, semen- mereka sangat antusias dan bersemangat dalam pemba­tara yang bisa menyambung hanya 50. Dan paling hebatnya ngunan, ini juga tidak lepas dari bantuan KSM Belik Sarisemua warga/KK yang bisa atau tidak bisa menyambung yang membantu dalam sosialisasi.semua mau berkontribusi in kind ataupun in cash, mereka nDodi, TFL Kabupaten Kendal, Jawa Tengahmenganggap walaupun semua tidak bisa menyambungtetapi itu merupakan proyek semua warga. Jadi semua Brebes: Sarana Sanitasimerasa senang susah ditanggung bersama. Mewah Biaya Murah Dalam perjalanan pembangunan IPAL ada beberapawarga yang kecewa dan protes kenapa tidak ada digester Sebagian besar warga yang belum mempunyai WCtapi mungkin warga yang bicara tersebut tidak ikut so- berala­ an tidak mempunyai cukup uang untuk membuat ssialisasi dari awal jadi mereka belum memahami kenapa WC sendiri. “Dari pada hanya untuk membuat lubang ko-tidak dibangun digester di IPAL tersebut. Setelah dijelaskan toran mendingan duit yang ada untuk makan,” ujar salahbahwa lokasi di jalan sehingga tempat/lokasi untuk memba­ satu warga beralasan. Sarana sanitasi ini terbilang sangatngun digester tidak ada akhirnya warga memahami dan murah, karena Kang Idin, Enjat, Wak Dus, Mas Agus, danmereka sudah puas adanya pembangunan perpipaan ko- warga dukuh Pemaron lain yang tidak memiliki WC dapatmunal di Dusun Karang Kulon, Pucang, Secang. Keberadaan menikmati MCK Plus++ milik mereka sendiri tanpa intimi-IPAL sudah mengurangi setengah dari pencemaran pem- dasi atau bahkan ancaman disintegrasi.buangan limbah dari rumah-rumah yang sebelumnya lang- Namun demikian, pembangunan sarana sanitasi inisung di buang ke sungai. memakan biaya yang tidak sedikit. Bagaimana tidak? Ba-n Nur Aisiah Ulfa, TFL Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ngunan ini dibuat dengan konstruksi yang sangat kokoh dan arsitektur yang sangat megah untuk ukuran MCK umum.Dari Boja Menuju Kendal Sehat Sehingga wajar jika Wasmun, seorang warga Pemaron, berandai kalau anggaran Sanimas digunakan untuk mem- Kampung Bada’an, Desa Bebengan, adalah salah satu bangun rumah, bisa cukup untuk membangun 2dari kampung padat dan miskin yang ada di Kabupaten Ken- unit rumah. Bahkan Pak Waryono, ketua KSM,dal yang menjadi lokasi Sanimas. Lokasi Sanimas tepatnya membayangkan anggaran tersebut adalahber­ da di wilayah RT 03/RW 06 seluas 100 m3, sedangkan a miliknya, dia akan membeli 40 5
  • 7. ton bibit bawang merah untuk ditanam di lahan seluas 20 SANIMAS 3 in 1hektar. Yang lebih menggelikan lagi, Mas Yusuf membayang-kan dana tersebut untuk membeli kerupuk, bisa jadi berapa Sanimas rasanya cukup sukses sebagai pionir programratus kantong, ya? penanganan air limbah di perkotaan dalam skala komunalnZaki + Nur, TFL Kabupaten Brebes, Jawa Tengah 50-200 KK. Namun demikian masih tetap diperlukan suatu inovasi dalam implementasinya.Pemalang: Tempat Angon Bebek Sebagai contoh, penanganan sanitasi di satu wilayahjadi MCK Plus dampingan Sanimas akan lebih baik bila tidak hanya terfokus pada aspek air limbah saja, tetapi juga dapat Kampung Gumelem RW I kelurahan Mulyoharjo meru- mengintegrasikannya dengan persampahan dan mungkinpakan salah satu lokasi Sanimas 2009 di Kabupaten Pema- juga drainase dalam satu kawasan yang sama. Dengan itulang. Lokasi yang sekarang dibangun MCK plus tersebut ada- dampak yang diharapkan menjadi lebih terlihat karena lah tempat angon bebek, yang kumuh, kotor, menjijikkan permasalahan di perkotaan terasa makin kompleks.dan juga ditambah sebagian besar warga yang BAB (buang Dengan demikian penerapan "program 3 in 1" sepertiair besar) di sepanjang saluran. itu dapat menjadi program komprehensif dalam persoalan Sungguh, sangat mengharukan melihat kondisi sekarang, sanitasi di kawasan padat permukiman.masyarakat melakukan hal yang sama di tempat yang sama Inovasi dan kreativitas program perlu dikembangkantetapi berbuah sesuatu yang bisa dimanfaatkan yaitu bio- hingga Sanimas tidak menjadi program yang instan dangas. Bila kita melihat pemandangan sekarang dan sebelum- monoton. Pengalaman membuktikan opsi simple seweragenya sudah terjadi perubahan yang luar biasa, dan semoga system yang ditawarkan Sanimas lebih bisa berkelanjutan,sarana MCK plus yang dibangun ditempat angon bebek terutama dalam operasional dan perawatan. Initersebut bisa optimal dalam penggunaan bagi masyarakat. menyebabkan Sanimas layak diprioritaskan, dengan tetap Memang harus diakui, untuk mengubah perilaku membuka opsi kepada pilihan sistem yang telah ada,masyarakat tidaklah seperti membalikkan telapak tangan n I Made Yudi Arsana, Koordinator Sanimas BaliFokustetapi dibutuhkan keteladanan, keseriusan dan perjuangan (2003-2008)yang tiada ternilai, dan nampaknya memang terasa mudahuntuk diucapkan “mengubah tempat angon bebek” menjadi Sanimas: Dari Masyarakat“tempat angon manusia”. untuk MasyarakatnJamroni, TFL Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah Partisipasi masyarakat merupakan hal pokok da-Sirampog, Sanimas lam pengembangan Sanimas. Melalui proses partisipasiTerbesar di Indonesia masyarakat bisa merencanakan, melaksanakan dan melaku- kan evaluasi terhadap setiap aktivitas yang dilakukan. Ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan untuk Setelah masyakat mempunyai kesadaran bersama akankemajuan program Sanimas. Jumlah kamar mandi dan WC se- pentingnya sarana saniatasi, maka tahap kontruksi atau pem-banyak 27 unit yang terbangun, Pondok Pesantren Al-Hikmah bangunan sarana akan sangat mudah, karena masarakat akan2 di Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, terlibat secara aktif dalam pembangunanya. Ini akan melahir-merupakan Sanimas terbesar di Indonesia. Prestasi ini tidak kan rasa memliki yang tinggi terhadapa sarana yang dibangunlepas dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Al-Mutho- dan juga akan mau merawatnya dengan baik.haroh yang menjadi panitia pembangunan Sanimas. Semula Tahap yang pasti akan dilalui setelah pelaksanaan pem-dari rencana awal hanya terbangun 10 unit WC, tetapi dengan bangunan sarana Sanimas adalah tahap pemanfaatan dankontribusi tunai mencapai Rp.97.979.000 dan tenaga menca- perawatan oleh masyarakat yang dikoordinir oleh badanpai Rp.10.987.600, maka terwujudlah bangunan Sanimas den- pengelola/KSM. Itu sebabnya KSM dibekali pengetahuangan kapasitas daya tampung pengguna mencapai 1.000 jiwa. mengenai perawatan dan pengelolaan.Untuk 27 unit yang terbangun masing-masing unit terdiri dari 1 Dari proses yang dilakukan dalam program ini jelas SanimasWC duduk dan shower untuk mandi. WC yang digunakan ada- mengarusutamakan perubahan perilaku. Kalau hanya mem-lah WC duduk agar air sabun tidak dapat masuk lubang WC, buat bangunan fisik relatif mudah, tapi tak kalah pentingnyasedangkan penggunaan shower agar air yang digunakan lebih adalah keterlibatan/partisipasi masyarakat agar program ini hemat dari pada menggunakan model bak mandi. benar-benar dari oleh dan untuk masyarakat sendiri. nPandhu, TFL Bumiayu, Jawa Tengah nDanar Pramono, Senior TFL wilayah Provinsi DI YogyakartaSuara Anda 6
  • 8. Bustaman Semarang: Dari Sanimas Bisa Bikin Balai RW Kami tinggal di perkampungan di tengah Kota Semarang yang luas wilayahnya ± 5 hektar, dengan jumlah penduduk 990 jiwa, yang terdiri dari 330 KK. Di sini, pada umumnya penduduk bekerja sebagai wiraswasta dengan rata-rata penghasilan Rp. 750.000 per-bulan. Warga kami yang memiliki jamban sekitar 55%, selebihnya menggunakan MCK umum. Sebelum Sanimas masuk ke tempat kami, warga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan buang air besar, dikarenakan MCK umum tidak dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah, karena 45% warga tidak mempunyai jamban sendiri. Kebanyakan masyarakat buang air besar menggunakan Kali Semarang sebagai jamban umum. Kebiasaan anak-anak kecil di kampung kami buang air besar di selokan dan banyak yang ISTIMEWA akhirnya terserang penyakit diare. Setelah Sanimas masuk ke wilayah kami, banyak perubahan yang dirasakan masyarakat, baik dari segi kebiasaan buang hajat sampai kebersihan lingkungan. Anak- anak kecil buang hajat di MCK Plus++. Setelah selesai, cuci tangan. Dan yang menarik, orang dewasa ikut kebiasaan anak kecil (setelah selesai langsung cuci tangan). Inilah perubahan perilaku masyarakat dari yang jorok menjadi yang bersih, karena tempat kami dijuluki PAKUMIS (Padat Kumuh dan Miskin). Proses mendapatkan program Sanimas tidak semudah apa yang kami bayangkan. Semua melalui proses-proses yang kami tempuh, karena kebiasaan masyarakat kami sulitBanjarnegara: Ada Air Siap Minum diajak untuk musyawarah. Itulah tantangan kami untukdi Sanimas mewujudkan kampung yang bersih dan higienis, serta mengubah perilaku masyarakat. Sanimas yang dibangun pada tahun 2009 mendapatkan Alhamdulillah, melalui tahapan-tahapan yang sulit kamijulukan Sanimas termewah di Kabupaten Banjarnegara. lalui, akhirnya Sanimas dapat dirasakan oleh masyarakatFasilitasnya berupa MCK++ yang secara resmi beroperasi dan sangat berguna bagi lingkungan sekitarnya. Dari hasilpada bulan Februari 2010. Sanimas ini merupakan kerja MCK Plus++, kami dapat membangun tempat balai RW yangsama antara BORDA, LPTP, DPU, BAPPEDA, Pemda Ban- terletak di atas MCK Plus dan melaksanakan pavingisasijarnegara dan masyarakat Sokanandi. Sarana terdiri dari (memasang paving block) di lingkungan kampung dan jugakamar mandi, toilet, tempat cuci, dilengkapi dengan biogas. dapat membantu warga yang salah satu anggotanya wafat.Memasak di sini akan lebih ringan biayanya daripada meng- Dan sekarang, Sanimas di kampung kami menjadi Sanimasgunakan gas elpiji atau minyak tanah. Selain itu, dilengkapi percontohan di Jawa Tengah.juga alat air minum kesehatan RO (Reverse Osmosis) yang MCK Plus++ di lingkungan kami merupakan bantuandapat menghasilkan air minum. Air dari sumur langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kotabisa diminum dengan lebih sehat jika dibanding dengan Semarang dan BORDA yang dibangun mulai Desembermemasak air. 2005 hingga Mei 2006. Total telah menghabiskan dana 280 Karena bangunan MCK Plus++ yang mewah dan bersih juta (Pemprov sebesar Rp. 85 juta, Pemkot sebesar Rp. 135sering warga sekitar menggunakan untuk duduk-duduk juta, Borda sebesar Rp. 50 juta dan swadayasambil mengobrol. Anak-anak bermain di kolam air mancur masyarakat sebesar Rp. 10 juta). dan sering sehabis pulang sekolah singgah dulu ke MCK++. n Azhar, Ketua KSM Pangrukti Luhur, Kotan Adi, TFL Kabupaten Banjarnegara Semarang 7 Suara Anda
  • 9. Laporan Utama Potret Pembangunan Sanitasi IndonesiaS SACHA ecara sederhana sanitasi dapat diartikan sebagai Namun, sejarah panjang ini ternyata tidak menjadikan upaya pencegahan terjadinya kontak langsung negara kita maju di bidang sanitasi. antara manusia dengan kotoran ataupun bahan Meskipun sistem ini kemudian dikembangkan di berbahaya lainnya, melalui penyediaan solusi- berbagai tempat, namun hingga saat ini baru tersedia di solusi teknis, perekayasaan maupun penerapan 10 kota besar dan 2 kota kecil di seluruh Indonesia yangperilaku hidup bersih dan sehat. Pengertian inilah yang hanya melayani sekitar 2,13 persen penduduk secarakemudian menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk nasional. Selain proyek Denpasar Sewerage Developmentberlomba-lomba menemukan cara terbaik pencegahan Project (DSDP) di Bali, sepertinya penerapan sistem inikontak langsung tersebut. Sanitasi sendiri saat ini, secara masih belum dikembangkan secara signifikan untukpraktisnya, diartikan sebagai kegiatan penanganan air memenuhi layanan bagi masyarakat. Mengingat bahwalimbah, persampahan dan drainase. satu sambungan dari sistem ini menghabiskan Rp 5-6 juta, mungkin saja sistem ini memang terlalu mahal untuk Fakta Sanitasi diterapkan di Indonesia pada saat ini. Sejarah pembangunan sanitasi kita sebenarnya Lalu bagaimana dengan sistem lain yang diterapkan?amatlah panjang. Misalnya, sistem penanganan air limbah Dengan memasukkan sistem setempat (on-site) dan perpipaan (off site) telah ada sejak jaman penjajahan komunal pun ternyata cakupan layanan air limbah hanya di Bandung, Cirebon, Surakarta, dan mencapai sekitar 69 persen tanpa memperhatikan Yogyakarta pada tahun 1910. kualitasnya. Sehingga bila dihitung secara kasar, masih 70 8
  • 10. juta penduduk melakukan Buang Air Besar Sembarangan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Tidak hanya itu,(BAB), baik di sungai, kebun dan tempat lainnya. taraf kualitas hidup individu pun menjadi menurun. Selanjutnya pembangunan persampahan, meskipun Pendapat umum bahwa perluasan lapangan kerjahampir setiap pemerintah daerah terlihat begitu adalah solusi terbaik bagi perbaikan tingkat kesejahteraanantusias untuk menangani permasalahan sampah ekonomi yang kelak berujung pada pengentasanmelalui penganggaran setiap tahunnya, namun faktanya kemiskinan bisa jadi benar adanya. Akan tetapi untukcakupan layanan secara nasional baru mencapai 20,63%. memastikan pencapaian tujuan tersebut, kontribusiArtinya baru sekitar 20 persen sampah yang terangkut pembangunan sanitasi dan peningkatan layanan airke Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Kemudian kondisi ini minum tetap diperlukan. Sebab keberadaan layanandiperburuk dengan kenyataan bahwa 98 persen TPA masih sanitasi yang baik dapat mencegah berkurangnyamenggunakan sistem open dumping. pendapatan penduduk sehingga membantu memutus Sementara penanganan drainase juga tidak jauh salah satu mata rantai penyebab kemiskinan yang nyata dilebih baik. Mari kita amati lingkungan tempat tinggal hadapan kita.kita. Hampir bisa dipastikan drainase di lingkungan kitabercampur dengan air limbah rumah tangga (grey water), Isu Utamameskipun di perumahan kelas menengah. Bahkan di Uraian sekilas potret sanitasi di atas sepertinya begitubeberapa kawasan kumuh, tidak sulit menemukan limbah mengerikan. Lalu apa penyebabnya? Pada Konferensitinja bercampur dalam aliran drainase. Berdasar data yang Sanitasi Nasional (KSN) II di bulan Desember 2009, Deputiada, hanya 52,83 persen saluran drainase yang berfungsi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas menyampaikan 5dengan baik. Sisanya mungkin memang tidak terawat atau (lima) permasalahan pembangunan sanitasi diyang paling sering kita temui adalah sampah yang begitu Indonesia, yaitu (i) ketersediaan sumber dana h yang minim yang berujung pada investasi lururakus memenuhi ruang drainase ini. Secara sinis,mungkin kondisi ini dapat kita sebut sebagai ir se an i p d kurang memadai. Kepedulian pemerintahsistem terpadu (integrated system) sampah Hamkota aten dlum sudah cukup baik dalam beberapa tahun up bedan air limbah dalam saluran drainase. kabnesia unyai terakhir namun alokasi dana masih o p belum memadai. Di sisi lain, skema Ind memncana an Dampak Buruknya Sanitasi re nga an n g pembiayaan yang bersumber dari Secara sederhananya, apa saja yang dihasilkan na asi y ai pe nit ad non-pemerintah masih belumdari kondisi sanitasi seperti yang digambarkan sa em optimal, baik dalam bentuksebelumnya? Paling mudah, kita mulai saja dari praktik m investasi swasta maupun CorporateBABS, yang ternyata menghasilkan sekitar 14.000 ton Social Responsibility (CSR); (ii) kesadarantinja plus 176.000 m3 urine yang terbuang setiap harinya pelaku yang masih rendah. Masih tingginya jumlahke lingkungan. Akibatnya sekitar 75 persen sungai sebagai penduduk yang melakukan praktik BABS, dan rendahnyasumber utama air baku PDAM tercemar berat dan di utilisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) danperkotaan sebagian besar air tanah tercemar oleh bakteri Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) merupakan buktie-coli yang berasal dari tinja manusia. dari kurangnya kesadaran pelaku baik masyarakat maupun Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa pemerintah daerah, serta masih rendahnya kesediaanburuk dampak dari kondisi sanitasi yang kurang memadai membayar dari masyarakat; (iii) perangkat peraturanini? Sebuah studi bertajuk Economic Impact of Sanitation belum memadai. Terkait penanganan air limbah, regulasiin Indonesia, yang dilaksanakan oleh WSP Bank Dunia yang mengatur hanya berupa satu pasal dalam Undang-tahun 2008 menyimpulkan bahwa beragam dampak dari Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Dayakondisi sanitasi buruk di antaranya adalah (i) kehilangan Air, yaitu pasal 21 ayat 2, yang menyatakan bahwawaktu produktif akibat sakit seperti diare, (ii) kehilangan perlindungan dan pelestarian sumber air salah satunyapendapatan untuk biaya pengobatan; (iii) menurunnya dilakukan melalui pengaturan sarana dan prasaranaproduktifitas sektor tertentu seperti pariwisata, dan sanitasi; (iv) institusi pengelola yang kurang profesional.perikanan; (iv) biaya pengolahan air limbah meningkat. Pengelolaan sanitasi masih belum menerapkan prinsipSemuanya bermuara pada kerugian bagi keseluruhan manajemen yang baik; (v) belum tersedia rencana indukperekonomian. Di Indonesia ancaman kerugian ekonomi pengelolaan sanitasi. Hampir seluruh kota dandan finansial akibat kondisi sanitasi buruk tersebut kabupaten di Indonesia belum mempunyaimencapai Rp.58 triliun per tahunnya atau sekitar Rp.225 rencana penanganan sanitasi yang memadai.ribu per kapita (data tahun 2007) atau setara 2,3 persen 9 Laporan Utama
  • 11. (CTPS), Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAM- RT), pengelolaan sampah, dan pengelolaan sampah (selengkapnya dapat dilihat pada Percik Edisi Desember 2008). Sementara program kedua adalah Sanitasi oleh Masyarakat (Sanimas). STBM mulai diperkenalkan pada tahun 2004, dan setelah melalui uji coba selama 2 tahun kemudian dilakukan replikasi sejak tahun 2006, sehingga akhirnya dicanangkan menjadi program nasional STBM pada tahun 2008 oleh Menteri Kesehatan. Saat ini STBM telah berhasil membebaskan sekitar 2.000 desa/dusun dari praktik BABS, yang menjangkau sekitar 4 juta orang. Ini merupakan perubahan yang cukup berarti dengan memperhatikan hal tersebut berhasil dicapai hanya dalam waktu 6 tahun. Prinsip yang berbeda dari STBM dibanding pendekatan terdahulu adalah PU ditiadakannya subsidi pemerintah bagi pembangunan Upaya Pemerintah jamban, dan fokusnya lebih pada perubahan perilaku. Sebelum era tahun 2000, perhatian pemerintah dalam Di samping itu, pemerintah Indonesia juga dianggappembangunan sanitasi masih jauh dari memadai. Namun, sangat peduli terhadap pembangunan sanitasi. Olehsejak 7-8 tahun terakhir pemerintah mulai menyadari karena itu, Indonesia telah menjadi salah satu negarapentingnya sanitasi. Hal ini terlihat dari disepakatinya yang menjadi kiblat pembelajaran pilar Stop BABS atauKebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan di mancanegara dikenal sebagai Community-Led TotalPenyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat. Sanitation (CLTS). Konsep Kelompok Kerja Air Minum danMengapa berbasis masyarakat? Hal ini sebagai upaya Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) sebagai focal pointmerubah pendekatan pemerintah yang top down dan pembangunan sanitasi bahkan akan diadopsi beberapatarget oriented. Selama ini, hasil pembangunan diukur negara di Asia.hanya melalui target masif seperti sejuta jamban, dan Sementara Sanimas sendiri mulai diperkenalkan jauhbanyak program sejuta lainnya. Akibatnya keberlanjutan lebih awal dari STBM yaitu pada tahun 2003 melingkupi 7fasilitas yang dibangun menjadi rendah. Tidak sulit kota di Jawa Timur dan Bali. Sanimas awalnya merupakanmenemukan monumen MCK (Mandi, Cuci, Kakus) di bagian dari upaya uji coba terhadap Kebijakan Nasionalseputar kita, yang bahkan diplesetkan menjadi Monumen Pembangunan Air Minum dan Penyehatan LingkunganCipta Karya. Sebenarnya lebih tepatnya adalah Monumen Berbasis Masyarakat. Ciri khasnya masyarakatCiptaan Kita semua. ikut berkontribusi dana dan material serta Sejak 7-8 hir berhasil, kemudian sejak tahun 2006, Kebijakan ini memberi ruang bagi terlibat dalam prosesnya. Setelah dianggapmasyarakat untuk terlibat dalam proses rak tahun teintah Departemen PU telah menjadikan Sanimaspembangunan bahkan diberi tanggungjawabdalam pengelolaan fasilitas. Fokus menjadi pemer i program nasional bekerja sama  dengan mula ilebih pada memenuhi kebutuhan masyarakat menyadnya ar lebih dari 100 pemerintah daerah dengandengan menjadikan masyarakat sebagai subyek didukung oleh LSM BORDA dan mitradan bukan sekedar obyek. penting si kerjanya (selengkapnya tentang Sanimas Langkah selanjutnya adalah mencoba sanita pada tulisan di halaman lain).menerapkan kebijakan ini dengan pendekatan Walaupun tidak ditegaskan pembedaanyang berbeda. Secara umum perbedaan lokasi kedua program ini, tetapi secara umum Sanimasmendasarnya di antaranya adalah ketersediaan lahan cenderung dilaksanakan di daerah perkotaan dengandi perkotaan relatif lebih sulit, kepadatan penduduk ciri ketersediaan lahan yang terbatas dan kepadatanlebih tinggi, dan terdapat peluang mempunyai sistem penduduk tinggi. Sementara STBM lebih fleksibel. terpusat. Untuk itu, dirancang dua program berbeda Belajar dari Sanimas, kemudian dirancang upaya yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan melaksanakan pembangunan sanitasi perkotaan secara 5 (lima) pilarnya yaitu stop BABS (SBABS), lebih baik dan terarah. Salah satu isu yang mengemuka Cuci Tangan Pakai Sabun adalah pembangunan sanitasi yang bersifat sporadis.Laporan Utama 10
  • 12. Pemerintah daerah tidak mempunyai rencana dan sanitasi. Forum antarinstansi pemerintah sendiri telaharah yang jelas. Untuk itu, sejak tahun 2007 mulai ada sejak lama yang dikenal sebagai Pokja AMPL atau didiperkenalkan konsep Strategi Sanitasi Kota (SSK) di 6 beberapa daerah dengan nama Pokja Sanitasi.kota. SSK ini merupakan panduan pemerintah daerah Kemitraan juga dilakukan melalui pemanfaatan danadalam melaksanakan pembangunan sanitasi sehingga Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaanhasilnya dapat lebih optimal. SSK dibuat bersama oleh swasta. Sehingga saat ini pembangunan sanitasi perkotaanseluruh pemangku kepentingan di daerah. Sebagai bagian telah menjadi perhatian semua, baik pemerintah,dari penerapan SSK, dilakukan kegiatan peningkatan masyarakat dan swastakapasitas bagi pemerintah daerah. Saat ini sudah lebihdari 10 daerah yang melaksanakan konsep SSK. Agenda Berikutnya Untuk lebih meningkatkan kinerja pembangunan Target sanitasi berupa tidak ada lagi praktik BABSsanitasi, sejak tahun 2009 dicanangkan Program di tahun 2014 telah tercantum secara jelas dalamPercepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). RPJMN 2010-2014. Pencapaian target tersebut menjadiWakil Presiden dalam pembukaan Konperensi Sanitasi agenda utama kita semua paling tidak sampai tahunNasional II di akhir Desember 2009 sekaligus juga 2014. Program nasional PPSP telah dicanangkan sebagaimeresmikan pelaksanaan PPSP. Program STBM dan payung bagi pembangunan sanitasi ke depan. ProgramSanimas merupakan bagian dari PPSP. STBM dan Sanimas telah mulai dilaksanakan secara luas. Puncak dari semua upaya ini tentunya penetapan Walaupun demikian dibutuhkan upaya yang lebih kerassanitasi sebagai salah satu target dalam Rencana agar kemudian pembangunan sanitasi menjadi prioritas,Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010- dan program PPSP dengan ujung tombaknya STBM dan2014. Terkait sanitasi khususnya air limbah, secara jelas Sanimas menjadi arus utama pembangunan sanitasi ditercantum ”Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar daerah. Dengan demikian, target meniadakan praktikSembarangan (BABS) hingga akhir tahun 2014”. BABS pada tahun 2014 akan tercapai. Pembangunan sanitasi perkotaan juga diwarnai oleh Namun perlu dicamkan juga bahwa dalam pelaksanaankesalahkaprahan berupa pandangan bahwa pembangunan pembangunan sanitasi, masyarakat merupakansanitasi hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. subyek dari keseluruhan prosesnya. Keberlanjutan dariUntuk itu, sejak tahun 2007 telah dibentuk suatu forum pembangunan sanitasi akan sangat tergantung padakemitraan diantara pemangku kepentingan yang diberi keterlibatan dari masyarakat secara utuh. Untuk itu,nama Jejaring AMPL. Forum ini dimaksudkan untuk kesiapan pemerintah daerah dan keterlibatan masyarakatmenyinergikan upaya pembangunan AMPL termasuk menjadi suatu keniscayaan. Siapkah kita?n (OM dan Yudhi) BORDA 11 Laporan Utama
  • 13. Program PercepatanPembangunan Sanitasi PermukimanP embangunan sanitasi harus lengkap, yaitu pada tahap 2 ini. Di antaranya adalah pelibatan secara komprehensif dan terpadu. Untuk secara aktif pemerintah provinsi dan penyederhanaan itu diperlukan suatu strategi pembangunan dokumentasi SSK menjadi lebih kompak sehingga lebih sanitasi yang mencakup aspek pendanaan, mudah dipahami. peraturan, perubahan perilaku, dan Secara paralel pada rentang waktu 2008–2009kelembagaan untuk menjamin keberlanjutannya. sejumlah kabupaten/kota juga mereplikasikan pendekatan Semua pihak harus belajar bahwa permasalahan untuk mendorong pemerintah daerah untuk menyusunsanitasi tidak melulu karena kecilnya anggaran. Namun SSK melalui berbagai program yang diselenggarakan olehlebih pada kurangnya perencanaan yang baik sehingga mitra-mitra pemerintah, seperti Environmental Servicesumber daya yang ada selama ini tidak termanfaatkan Program (ESP). Hingga saat ini, tercatat 24 kabupaten/secara optimal dan hasil pembangunan pun tidak tepat kota telah menyusun Strategi Sanitasi Kota. sasaran bahkan mubazir. Bahasa lugasnya: Danapenting, tapi lebih penting rencana yang baik. It’s Prinsip Strategi Sanitasi Kota Dana p tap entingnot about money, it’s about a good plan. Prinsip utama penyusunan SSK Untuk itu kemudian diperkenalkan konsep pentin i lebih , adalah (i) dari, oleh, dan untuk kota; (ii) grStrategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK) yang bencana komprehensif, berskala kota (city wide), dansebagai bagian dari upaya melaksanakan It’s no aik. multi sektor; (iii) berdasarkan data empiris mo t aboupembangunan sanitasi secara terencana. t dan; (iv) perpaduan antara pendekatan topPenyusunan SSK ini merupakan bagian dari abouney, it’s tagProgram Percepatan Pembangunan Sanitasi plan oodPermukiman (PPSP). Penyusunan Strategi Sanitasi Kota Menyadari pentingnya strategi pembangunan sanitasi,pemerintah mencoba untuk merumuskannya. Diawalidengan program sanitasi perkotaan di 6 kota percontohanmelalui Indonesia Sanitation Sector Development Program(ISSDP) pada tahun 2006 hingga awal 2008. Ke enam kotalaboratorium sanitasi tersebut, yaitu: Denpasar, Blitar,Surakarta, Banjarmasin, Payakumbuh, dan Jambi didoronguntuk menghasilkan suatu perencanaan strategis jangkamenengah untuk pembangunan sanitasi kotanya melaluifasilitasi dari pemerintah pusat. Perencanaan strategis ini kemudian disebut sebagaiStrategis Sanitasi Kota (SSK). SSK inilah yang akan menjadiacuan bagi pembangunan sanitasi kota (atau kabupaten)selama minimal 5 tahun ke depan bagi pemerintahsetempat dengan target dan sasaran yang jelas. Danyang lebih penting dapat mengikat seluruh pemangkukepentingan untuk bersama-sama melaksanakannya. Menilai capaian hasil yang positif, program ini dilanjutkan menjadi ISSDP tahap 2 yang kembali menyasar 6 kota di 3 provinsi. Berbagai perbaikan dan disempurnakanLaporan Utama 12
  • 14. Komprehensif, berskala kota (city wide), dan multi sektor Prinsip kedua ini mengharuskan SSK dapat memasukkan ketiga sub-sektor sanitasi dan mencakup seluruh kota. Sehingga tidak bersifat tambal ataupun parsial. Dan tentu saja SSK ini harus disusun oleh seluruh pemangku kepentingan kota, terutama sejumlah SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang terkait dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi. Seluruh pemangku kepentingan tersebut akan duduk bersama dalam lembaga ad hoc yang biasa disebut sebagai Pokja Sanitasi ataupun Pokja AMPL. Berdasarkan data empiris BORDA Prinsip inilah yang akan mendasari akurasi dari suatudown dan bottom up. perencanaan strategis. Sejumlah data dan informasi Dari, oleh, dan untuk kota tentang kondisi sanitasi suatu wilayah kabupaten/kota Selama proses penyusunan SSK, seluruh tahapan akan dilengkapi data primer dari hasil survei. Data ini akandilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah memperkuat arahan pembangunan ke depan sekaliguspusat, provinsi, bahkan konsultan yang disediakan skala prioritas yang diperlukan dalam pentahapanhanya mendorong dan memfasilitasinya. Proses ini tentu implementasi.saja diharapkan bisa menumbuhkan rasa kepemilikan Perpaduan antara pendekatan top down dan bottom(ownership) yang kuat terhadap produk itu sendiri dan upselanjutnya akan lebih mudah untuk ditindaklanjuti atau Prinsip terakhir ini dimaksudkan untuk menutupdilaksanakan. berbagai kesenjangan yang selama ini terjadi. Seringkali program yang bersifat top down tidak sesuai dengan BORDA kebutuhan masyarakat. Tidak jarang pula program yang mengadopsi pendekatan bottom up tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya karena kurang didukung oleh penguasa. Perpaduan kedua pendekatan tersebut merupakan upaya memadukan aspirasi masyarakat dengan visi dan misi kota yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Manfaat SSK Sebagai suatu perencanaan strategis yang disusun secara komprehensif dan koordinatif, SSK merupakan cetak biru pembangunan sanitasi kota jangka menengah. Pemerintah daerah dapat memastikan arah pembangunan sanitasi dan target-target yang ingin dicapai dengan memperhatikan keberlanjutannya. Berbagai program sanitasi lainnya yang akan ataupun sedang dilakukan dapat diintegrasikan dalam kerangka SSK. Mengingat era otonomi daerah mengamanatkan pemenuhan layanan dasar menjadi tanggung jawab daerah, maka pemerintah setempat harus mengutamakan implementasi kegiatan pembangunan sanitasi yang dapat dilakukan secara mandiri. Namun, bila ada kegiatan yang memerlukan dukungan eksternal, maka SSK telah siap mengakomodasi pilihan tersebut. Sebagai contoh, bila suatu kabupaten/kota menerima bantuan melalui 13 Laporan Utama
  • 15. program Sanimas maka akan dengan mudah pemerintah telah mengimpelementasikan kegiatan bersakala kota.daerahnya menentukan lokasi yang paling membutuhkan Secara ringkas 6 komponen program atau tahapandan siap untuk mengelolanya. Begitu pula bila ada PPSP, pentahapan sasaran kabupaten/kota selama rentangbantuan teknis dari luar, maka pemerintah kabupaten/ waktu 5 tahun dan peran masing-masing pemangkukota dapat secara cepat menempelkannya kepada proyek kepentingan dapat dilihat pada tabel berikut.fisik yang akan dilaksanakan sesuai daftar kegiatan yang Berdasar tabel di atas, target Pemerintah pada tahunada dalam SSK. Jumlah Kota Sasaran Peran dan Momentum Sejarah No. Tahapan 2009 2010 2011 2012 2013 2014 tanggung jawabSanitasi Kampanye, edukasi, Pusat, Propinsi, Selama era pembangunan 1. advokasi dan pendampingan 41 49 62 72 82 (100) dan Donorsanitasi yang mendorong 2. Pengembangan 41 49 62 72 82 (100) Pusat, Provinsi Kelembagaan dan Peraturanpenyusunan strategi dan Penyusunan Rencanaberbagai upaya advokasi 3. Strategis (SSK) 24 41 49 62 72 82 Kabupaten/Kotadi tingkat daerah dan Penyusunan Memorandum 4. 3 21 35 45 56 65 Pusatnasional, profil sanitasi Programmengalami peningkatan 5. Implementasi 3 24 59 104 160 Pusat, Propinsi, Kab/Kota, Donorluar biasa. Diawali deklarasi Pemantauan,bertemakan sanitasi di 6. Pembimbingan, Evaluasi, 27 65 108 166 232 307 Pusat, Propinsitingkat kota berupa Deklarasi dan PembinaanBlitar, dan Payakumbuh,Jambi, sanitasi naik ke panggung nasional melalui 2010 adalah mendorong 41 kabupaten/kota untuk dapatberbagai perhelatan besar berupa Konferensi menyusun SSK sesuai komponen tahap 3. Selain itu,Sanitasi Nasional ke-1 pada tahun 2007 dan Pemerintah juga harus melakukan tahapKonvensi Sanitasi Perkotaan pada tahun 2008. Wapre menyiapkan 49 kabupaten/kota lainnya Boedio s Puncaknya, pada pembukaan Konferensi sec no agar dapat menyusun SSK pada tahun 2010Sanitasi Nasional ke-2 tanggal 8 Desember menara eksplisit melalui komponen tahap 1 dan 2. d2009, sejarah mencatat program sanitasi suatuukung agar Untuk tahap 4, Pemerintah harus progradisuarakan seorang Wakil Presiden. Wapres sa i m memfasilitasi dan memberikan bantuanBoediono secara eksplisit mendukung yangndtasi teknis untuk kegiatan pembangunan yangagar suatu program sanitasi yang dapat dilaksa apat memerlukan dokumen pelengkap melalui secara nakandilaksanakan secara nasional, yaitu nasion memorandum program. Sedang tahap 5 seluruhProgram Percepatan Pembangunan al pemangku kepentingan secara bersama-samaSanitasi Permukiman. mulai mengupayakan implementasi dari rencana program/kegiatannya. Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahap terakhir atau ke-6 merupakan proses(PPSP) menyeluruh yang harus terus dilakukan pada seluruh Pada dasarnya, program ini merupakan replikasi secara tahapan sebelumnya di setiap kota. Seluruh tahapannasional penyusunan SSK. Kota sasarannya meliputi tahunan tersebut harus terus berlangsung secara paralel330 kabupaten/kota di seluruh Indonesia selama kurun dan berurutan hingga tahun 2014.2010-2014. Adapun target PPSP sendiri tercantum dalam Penjelasan di atas cukup menunjukkan bahwaRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, pembangunan sanitasi 5 tahun ke depan amatlahyaitu (i) Stop BAB Sembarangan (Stop BABS) di wilayah berat dan menantang. Pada kesempatan Konferensiperkotaan dan pedesaan pada 2014; (ii) perbaikan Sanitasi Nasional 2009, Dirjen Cipta Karya Kementerianpengelolaan persampahan, melalui implementasi 3R Pekerjaan Umum, Budi Yuwono, menyampaikan bahwa(Reduce, Reuse, Recycle) dan TPA berwawasan lingkungan kita membutuhkan 55 triliyun untuk memenuhi seluruh(sanitary landfill dan controlled landfill); (iii) pengurangan pelaksanaan PPSP tersebut. Dan diperkirakan kuranggenangan di sejumlah kota/kawasan perkotaan seluas dari setengahnya saja yang dapat dialokasikan oleh 22.500 Ha. Ketiga target itu diharapkan dapat dicapai Pemerintah. Jadi, meskipun anggaran sanitasi kita akan bila 330 kabupaten/kota telah menyusun meningkat secara luar biasa, tetap ada pekerjaan rumah SSK dan 169 di antaranya bersama untuk menutupi kekurangan tersebut. n (Yudhi)Laporan Utama 14
  • 16. SeputarSanimasS BORDA Apa itu Sanimas? anitasi oleh Masyarakat atau lebih dikenal dengan Sanimas merupakan salah satu pilihan program untuk peningkatan kualitas di bidang sanitasi khususnya pengelolaan air limbah yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggaldi kawasan padat kumuh miskin perkotaan denganmenerapkan pendekatan berbasis masyarakat.Prinsip Utama Sanimas Penetapan prinsip utama Sanimas didasarkan padaupaya untuk memastikan sarana sanitasi yang dibangundapat berkelanjutan (sustainable), yaitu digunakan dandikelola serta dirawat dengan baik oleh masyarakat. Untuk itu, berdasarkan pembelajaran pembangunansanitasi selama ini ditetapkan 6 prinsip utama Sanimasyaitu (i) pendekatan tanggap kebutuhan (Demand lokasi/masyarakat. Untuk seleksi kota/kabupaten akanResponsive Approach), (ii) seleksi sendiri (self-selection), ditentukan salah satunya berdasarkan berapa besarnya(iii) pilihan sarana teknologi sanitasi (technology informed alokasi dana yang disiapkan oleh APBD; semakin besarchoices), (iv) pendanaan multi sumber (multi-source alokasi dana yang disiapkan oleh APBD maka semakin siapof fund), (v) pemberdayaan (capacity building) dan (vi) kota/kabupaten tersebut untuk melaksanakan programpartisipasi (participative). Sanimas, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk seleksi lokasi/masyarakat, masyarakat dibantu (difasilitasi) a. Pendekatan Tanggap Kebutuhan untuk melakukan identifikasi potensi dan kekurangan Pendekatan tanggap kebutuhan (Demand Responsive yang dimiliki secara obyektif, berdasarkan kenyataanApproach/DRA) dalam Sanimas ini diartikan sebagai yang ada di lapangan. Kemudian hasil identifikasipemenuhan kebutuhan yang diikuti oleh kemauan untuk tersebut yang informasinya bersifat kualitatif kemudianberkontribusi. dikuantifisir dengan sistem angka yang kemudian dibuat Prinsip DRA ini diterapkan pada semua tahap skor. Kemudian skor tersebut dibawa ke pertemuanpelaksanaan Sanimas. Pertama, pada tahap seleksi kota/ yang disebut pertemuan stakeholders masyarakat untukkabupaten, dimana HANYA kota/kabupaten yang butuh melakukan penentuan lokasi secara bersama-sama dandan ada kemauan untuk mengalokasikan dananya saja terbuka.yang akan difasilitasi. Kedua, dalam tahap seleksi lokasi/ Dalam pertemuan tersebut, skor dari satu lokasimasyarakat, dimana HANYA lokasi/masyarakat yang butuh akan dibandingkan dengan skor yang dimiliki oleh calondan ada kemauan berpartisipasi dan berkontribusi saja lokasi lain. Prinsipnya, semakin besar skor yang diperolehyang akan difasilitasi. Dan prinsip DRA ini juga diterapkan oleh suatu lokasi/masyarakat maka dinilai lebih siappada saat masyarakat harus memiliki sarana teknologi untuk melaksanakan program Sanimas. Seleksi akansanitasinya karena masyarakat harus mempertimbangkan menentukan jumlah lokasi yang terpilih disesuaikanbiaya operasi dan pemeliharaan yang harus ditanggung. dengan ketersediaan dana. Setelah acara penentuan lokasi tersebut selesai, b. Seleksi Sendiri kemudian dibuat berita acara seleksi Seleksi sendiri masyarakat atau community self- masyarakat yang ditandatangani oleh semuaselection adalah satu kegiatan untuk melakukan wakil masyarakat dan pemda serta fasilitator.seleksi, baik seleksi kota/kabupaten maupun seleksi 15 Laporan Utama
  • 17. c. Pilihan Sarana Teknologi Sanitasi APBD kota/kabupaten. Berdasarkan pengalaman Sanimas, Dalam Sanimas disediakan katalog yang dikenal porsi pembiayaan tersebut adalah sebagai berikut: Pusatsebagai ICC atau Informed Choice Catalogue yang berisi (25%), Propinsi (14%), kota/kabupaten (53%), masyarakatberbagai pilihan sarana teknologi sanitasi sebagai sebuah (4%).menu yang akan bisa dipilih oleh masyarakat untuk Proporsi seperti ini jelas sekali menunjukkan bahwamemecahkan masalah sanitasinya. Alternatif teknologi tanggungjawab terbesar ada pada pemerintah kota/sanitasi beragam mulai dari yang paling sederhana kabupaten. Namun sayangnya, mulai 2010 pendanaansampai ke teknologi yang lebih canggih. Katalog tersebut Sanimas ini justru diubah dimasukkan kedalam DAKjuga dilengkapi dengan informasi tentang kelebihan dan sehingga konsep berbagi (sharing) pendanaan tersebutkekurangan masing-masing teknologi, perkiraan harga kemudian sudah sulit diterapkan. Akibatnya banyaksetiap teknologi sanitasi dan seterusnya. pemerintah kota/kabupaten yang membatalkan alokasi Pilihan sarana teknologi sanitasi tersebut mencakup: kontribusi dananya.sarana sanitasi di tingkat rumah tangga, sistem penyaluran Padahal meyakinkan pemerintah daerah untukair limbah domestik, pengolahan limbah domestik dan berpartisipasi dalam pembiayaan multi sumber ini cukuppembuangan limbah setelah diolah termasuk berat. Pada awal dilaksanakannya Sanimas tahunpenanganan lumpur tinja. Jenis limbah yang harus Pem 2003, bahkan BORDA pernah diusir oleh salah biayaa satu Pemda karena permintaan agar alokasiditangani mencakup limbah rumah tangga (grey sanita n d p si dilaauatwater) dan tinja (black water). dana pemda lebih dari 50 persen. Bagi Pemda Penyediaan informasi dalam bentuk k denga kan sebesar 10itu, dana pendamping biasanya hanya pada saatkatalog pilihan teknologi sanitasi ini belum “gotonn cara persen.pernah dilakukan oleh program-program royon g-sanitasi sebelumnya. Katalog ini penting g” e. Pemberdayaanuntuk membiasakan masyarakat memilih Pemberdayaan adalah satu prinsip dalamdan menentukan sarana teknologi sanitasinya sendiri. Sanimas yang diterapkan pada seluruh tahapanMasyarakat memiliki kesempatan untuk mempelajari, program. Pemberdayaan atau peningkatan kapasitas inimengkaji, menganalisis serta menyimpulkan teknologi diartikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuksanitasi mana yang cocok dan sesuai dengan kondisi yang meningkatkan kapasitas berbagai pelaku penangananada di masyarakat. Pada saat memilih, masyarakat juga sanitasi berbasis masyarakat. Pemberdayaan atauharus mempertimbangkan tingkat kemudahan, keahlian peningkatan kapasitas ini dilakukan pada tataranyang diperlukan serta biaya yang yang harus ditanggung penyiapan kapasitas tenaga yang dipersiapkan sebagaiuntuk operasional dan perawatannya. Apabila masyarakat fasilitator, baik pada tingkat pemda maupun lembagakurang jelas akan tentang suatu jenis teknologi sanitasi pemberdayaan masyarakat. Baik staf pemda maupunmaka fasilitator teknis Sanimas akan membantu lembaga swadaya masyarakat dipersiapkan untuk menjadimemberikan informasi. fasilitator pelaksana Sanimas di lapangan. Peningkatan kapasitas berikutnya adalah pada tingkat d. Pendanaan Multi Sumber masyarakat sebagai calon pengguna sarana agar bisa Salah satu pembelajaran yang dapat diambil dari mengelola kegiatan mulai dari persiapan, pembangunanprogram Sanimas adalah sistem pendanaan sanitasi serta operasional dan perawatan. Masyarakat yangyang bersumber dari berbagai sumber, mulai dari APBN, dilatih adalah mereka yang sudah dipilih oleh masyarakatAPBD Propinsi, APBD Kota/Kabupaten, swasta/LSM, dan untuk menjadi pengurus Kelompok Swadaya Masyarakatmasyarakat, atau akrab disebut sebagai sistem pendanaan sebagai pengelola sarana sanitasi. Mereka ditingkatkanmulti sumber. kemampuan dan keterampilannya untuk mengelola Selama pelaksanaan program Sanimas dalam 6 kegiatan, mengelola keuangan, dan mengawasi kualitastahun yang dimulai sejak tahun 2003 sampai 2009, pola bangunan yang nantinya akan dikelola sendiri.pembiayaan seperti ini ternyata dapat dilakukan secara Pelatihan juga diberikan kepada masyarakat yangbaik. Artinya pembiayaan sanitasi dapat dilakukan dengan akan bekerja untuk pembangunan fisik sarana sanitasinyacara “gotong-royong”. Program sanitasi yang selama ini seperti tukang, mandor serta tenaga kerja lainnya.lebih banyak dibebankan kepada APBN, sedikit demi Termasuk pelatihan bagi operator yang akan mengelola sedikit, melalui program Sanimas, beban pembiayaan dan merawat sarana sanitasi masyarakat tersebut sehari- tersebut mulai bergeser menjadi porsinya hari. lebih banyak dibebankan padaLaporan Utama 16
  • 18. f. Partisipasi Perkembangan Sanimas Partisipasi masyarakat adalah hal krusial dalam Program Sanimas ini telah berlangsung sejak tahunprogram Sanimas, dan juga program-program lain 2003, merupakan inisiatif kerjasama Pemerintahyang berbasis masyarakat, karena sarana sanitasi yang Indonesia dengan Pemerintah Australia melalui Australiandibangun nantinya harus digunakan dan dikelola oleh International Agency for International Developmentmasyarakat secara terus-menerus. Bisa dipastikan bahwa (AusAID) dan dikelola oleh Water and Sanitation Programapabila tidak ada partisipasi maka masyarakat tidak akan (WSP) World Bank. Bremen Overseas Research andmau menggunakan, tidak mau mengelola, apalagi ada Development Association (BORDA), bersama mitrarasa memiliki. LPTP, BEST, BALIFOKUS, YIS dan LPKP, bertindak sebagai Partisipasi diartikan sebagai pelibatan masyarakat pelaksana (executing agency).di dalam seluruh proses, sejak dari perencanaan, Sebagai uji coba (pilot project), pada tahun 2001-2003pelaksanaan pembangunan dan evaluasi. Namun dalam program ini dilaksanakan di 2 propinsi yang termasukimplementasinya, biasanya para pelaku akan terjebak paling padat di Indonesia yakni propinsi Jawa Timur danpada 2 pilihan sulit: pertama, partisipasi penuh dimana Bali. Di dua propinsi tersebut dipilih 7 kota/kabupatenseluruh proses sejak dari gagasan, perencanaan, dengan menggunakan prinsip Demand Responsive BORDA Approach (DRA) atau pendekatan tanggap terhadap kebutuhan. Pemilihan kota/kabupaten berdasarkan kondisi obyektif terkait sanitasi dan adanya minat dari pemerintah kabupaten/kota bersangkutan. Setelah program uji coba ini dianggap berhasil, kemudian pada tahun 2004 atas inisiatif BAPENAS melalui Pokja AMPL Nasional dan BORDA dengan menggunakan pendekatan yang sama, Sanimas berhasil direplikasikan di 7 kota/ kabupaten yang sama di kedua propinsi tersebut. Oleh karena itu, kemudian pada tahun 2005, atas inisiatif dari Departemen KIMPRASWIL dengan pendanaan APBN dan BORDA, program ini diperluas menjadi 4 provinsi yakni Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah dan DIY, yang bila ta mencakup 15 kota/kabupaten. partisi k ada Keberhasilan pelaksanaan uji coba dan p maka asi replikasi terbatas Sanimas dianggap berhasil, masya r tidak a akat sehingga pada tahun 2006, Direktorat kan Pengembangan Penyehatan Lingkungan mengmau gunak Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta karya, an Departemen Pekerjaan Umum, melakukan evaluasi dan penyempurnaan program.pelaksanaan, evaluasi dilakukan oleh masyarakat. Kedua, Setelah itu kemudian Sanimas direplikasikan dipartisipasi proporsional dimana masyarakat akan terlibat 22 provinsi di seluruh Indonesia dengan target 100 lokasipada bagian pekerjaan yang prinsip. yang kemudian terealisasi 79 lokasi di 67 kota/kabupaten Dalam program Sanimas, dengan sistem pendanaan dengan pendanaan dari pemerintah pusat, pemerintahmulti sumber dan dana pemerintah dibatasi oleh kota/kabupaten, masyarakat dan BORDA. Selanjutnya,waktu per Desember, bentuk partisipasi juga harus pada tahun 2007, diimplementasikan di 132 lokasi dimenyesuaikan. Partisipasi masyarakat dimulai dari proses 29 propinsi dan tahun 2008 di 17 propinsi di 129 kota/seleksi lokasi ketika masyarakat terlibat dalam proses kabupaten. Sedangkan untuk tahun 2009, dilakukan ditersebut, atau yang disebut community self-selection 17 propinsi, 65 kota/kabupaten, 97 titik/lokasi. Programprocess. Proses seleksi dilakukan secara cepat, dilakukan Sanimas akan terus dilanjutkan di tahun-tahun berikutnyadalam waktu sehari dengan cara identifikasi potensi dan agar akses masyarakat yang tinggal di perkampungankekurangan yang dimiliki dilanjutkan dengan pertemuan padat dan berpendapatan rendah di perkotaanpelaku masyarakat untuk penentuan lokasi, dengan sistem terhadap sanitasi yang layak semakinskor. Lokasi yang skornya lebih tinggi akan menjadi lokasi meningkat, sekaligus untuk mendorongyang paling siap untuk melaksanakan program Sanimas. pencapaian target MDGs 2015. 17 Laporan Utama
  • 19. kat Masyara arikTahapan Sanimas yang tert c. Seleksi kampung rus Secara umum terdapat 6 (enam) tahapan kem udian haan Seleksi kampung atau seleksi masyarakat kSanimas, yaitu (i) road show, berupa seminar mengirim ngan dengan pendekatan seleksi mandiri yang damulti kabupaten/kota; (ii) pelatihan tenaga surat un dinas dimulai dari daftar panjang (long list) dan kepa da jawab daftar pendek (short list) kampung danfasilitator lapangan kabupaten/kota terpilih; pen anggung ilitasi as(iii) seleksi kampung; (iv) penyusunan Rencana untuk dif penjelasan program Sanimas kepadaKerja Masyarakat (RKM); (v) konstruksi dan masyarakat yang masuk dalam daftar pendek.peningkatan kapasitas; (vi) operasional dan Masyarakat yang tertarik kemudian harus mengirimkanpemeliharaan. surat undangan kepada dinas penanggungjawab untuk difasilitasi. Jika peminat dalam satu kota/kabupaten lebih a. Seminar multi-kota/kabupaten. banyak dari ketersediaan dana, dilakukan proses seleksi Dalam seminar tersebut dijelaskan tentang beberapa dengan menggunakan metode RPA (Rapid Participatoryhal diantaranya (i) pentingnya penanganan masalah Appraisal) dengan sistem skor. Masyarakat menilai sendirisanitasi, terutama di lingkungan masyarakat berpenduduk kemampuannya kemudian berdasarkan nilai yang adapadat dan miskin di kawasan perkotaan, dan sanitasi sudah bisa ditentukan sendiri pemenangnya denganmenjadi tanggungjawab semua pihak, (ii) garis besar sistem urutan (ranking). Model seleksi ini dilakukanprogram Sanimas termasuk prinsip dan tahap-tahap dengan cara transparan dan adil dalam sebuah pertemuanpelaksanaan Sanimas dan pendanaannya, peran berbagai dengan para wakil masyarakat. Hasil dari seleksi kemudianpihak dalam pelaksanaan Sanimas, serta jangka waktu disepakati dengan penandatanganan Berita Acara olehimplementasi. Sekembali dari seminar, pemerintah kota/ semua pelaku yang hadir dalam pertemuan tersebut.kabupaten yang berminat harus mengirimkan suratminat ke departemen PU, untuk kemudian dilakukan d. Penyusunan dokumen rencana kerja masyarakatpenandatanganan kesepakatan MoU. atau disingkat RKM Penyusunan RKM dilakukan secara partisipatif. b. Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Masyarakat diberikan ruang seluas mungkin untuk Pemerintah kota/kabupaten yang telah mengambil keputusan untuk menangani masalahmenandatangani MoU kemudian mengirimkan tenaga sanitasinya sendiri. Kegiatan ini dimulai dari penentuanfasilitator dari dinas penanggungjawab dan wakil calon penerima manfaat program, pemetaan wilayahmasyarakat untuk mengikuti pelatihan Tenaga Fasilitator pelayanan, pemilihan sarana teknologi sanitasi,Lapangan (TFL) selama satu minggu bersama dengan TFL penyusunan detail engineering design (DED),dari kota/kabupaten lain. Selama pelatihan, mereka diberi penyusunan rencana anggaran dan belanja (RAB),pembekalan berupa pengetahuan dan keterampilan untuk penentuan kelompok swadaya masyarakat (KSM)memfasilitasi masyarakat dalam penerapan Sanimas. pengguna, penentuan dan kesepakatan iuran baik untuk Peta Sebaran Sanimas Sumatera Utara Sulawesi Sumatera Barat Utara Riau Kalimantan Bangka Timur Sumatera Selatan Belitung Kalimantan Sulawesi Tengah Barat Bengkulu Kalimantan Sulawesi Lampung Selatan Tenggara Jawa Tengah Sulawesi Banten Jawa Selatan Jawa Barat Timur Yogyakarta Bali BORDA-Network partner NTB Konsultan PULaporan Utama 18
  • 20. Rekapitulasi Sanimas 2003-2009 Jumlah Pilihan Teknologi Pengguna Tahun Kota/ MCK Komunal Kombinasi MCK Pengelola Provinsi Lokasi KK Jiwa Kab Plus Perpipaan Plus dan Pemipaan AusAID, pemda, 2003 2 6 6 3 3   248 1.239 BORDA, masyarakat Pokja AMPL, pemda, 2004 2 7 8 6 2   615 3.075 BORDA, masyarakat Dep. PU, pemda, 2005 3 10 11 9 2   733 3.665 BORDA, masyarakat 2006 20 53 65 54 8 3 5.700 23.886 2007 22 80 125 100 22 3 11.894 55.753 Dep. PU, pemda, Pemprop, BORDA, 2008 16 69 108 81 17 10 11.061 48.984 masyarakat 2009 17 65 97 74 14 9 7.200 36.017 Total 22 124 420 327 68 25 37.451 172.619pembangunan maupun operasional dan perawatan, serta serta keberadaan dan fungsi KSM sebagai pengelola.legalisasi dokumen RKM. Dukungan juga bisa dilakukan oleh pemerintah kota/ kabupaten dan institusi terkait dalam bentuk pemberian e. Konstruksi dan peningkatan kapasitas insentif kepada masyarakat yang mengelola limbahnya (capacity building) sendiri. Pada tahap ini mulai dilakukan pelatihan-pelatihankepada KSM sebagai penanggungjawab pekerjaan Capaian Programpembangunan, pelatihan tukang dan mandor, persiapan Hingga akhir tahun anggaran 2009, Sanimas telahpekerjaan konstruksi, pengadaan barang, pengawasan dibangun di 22 propinsi, 124 kota/kabupaten, 420 titik/kualitas barang dan kualitas pekerjaan, pengerahan lokasi di seluruh Indonesia, khususnya di lingkungantenaga kerja, sampai komisioning bangunan serta masyarakat yang tinggal di perkampungan padat dankeuangan dan kelembagaan. Setelah semua pekerjaan kumuh serta miskin atau sering disebut PAKUMIS. Bagipembangunan selesai, juga diberikan pelatihan kota-kota yang telah memiliki sistem perpipaan terpusatoperasional dan pemeliharaan kepada KSM, operator dan (sewerage), maka Sanimas adalah komplementer,masyarakat pengguna agar masyarakat tahu cara-cara namun bagi kota/kabupaten yang belum memiliki sistempenggunaan fasilitas sanitasi dengan benar dan operator perpipaan terpusat, Sanimas menjadi solusi denganbisa merawat dengan baik agar bangunan aman dan pembiayaan yang terjangkau.tahan lama, serta KSM tahu tanggungjawab yang harus Gambar Pilihan Teknologi Sanitasidiemban selama masa operasionaldan pemeliharaan sarana sanitasi ini, Septik Tankterutama mengelola iuran masyarakat Bersamapengguna. f. Dukungan operasional dan Sistem Perpipaan pemeliharaan sarana Sanimas. Komunal Agar sarana sanitasi yangteah dibangun tersebut benar-benar berkelanjutan (sustainable)dibutuhkan dukungan terhadapKSM, masyarakat dan operator.Selama masa ini, dilakukan kegiatan MCKPlus ++monitoring kualitas efluen agarkualitas limbah cair rumah tangga yangdibuang ke sungai terpantau sesuaipersyaratan baku mutu lingkungan.Monitoring juga dilakukan terhadapaspek keuangan (iuran pengguna) 19 Laporan Utama
  • 21. Fasilitas yang dibangun sesuai preferensi masyarakatadalah sistem terdesentralisasi (decentralized system)yang bisa melayani antara 50–150 KK. Secara umum,fasilitas yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah (1)pemipaan langsung dari rumah/komunal, (2) MCK plusdan (3) kombinasi keduanya. Sampai tahun 2009, fasilitas yang telah dibangunsebanyak 420 unit terdiri dari 327 unit MCK plus, 68 unitpemipaan komunal, dan 25 unit kombinasi MCK plus danpemipaan komunal. Sanimas sudah berhasil meningkatkanakses terhadap sanitasi yang baik bagi warga masyarakatyang tinggal di perkampungan padat, kumuh dan miskinsebanyak 37.451 KK atau sekitar 172.619 jiwa. Fasilitassanitasi tersebut tidak saja permanen tetapi juga bagusdan indah, bahkan sekaligus telah dimanfaatkan sebagairuang publik dan media komunikasi antar warga. Hal inipenting mengingat di daerah perkotaan semakin sulituntuk mendapatkan ruang-ruang publik. Selain itu, efluen fasilitas Sanimas sudah tidak lagimencemari lingkungan karena air limbah yang merekabuang sudah memenuhi baku mutu pembuangan airlimbah domestik sesuai peraturan yang ada. Total airlimbah domestik yang diolah setiap harinya adalah BORDAsebanyak 6.348 m3/hari yang dibuang ke badan air atau di perkotaan tersebut, sejak tahun 2003 sampai tahunke sungai. Berikut adalah contoh perbandingan kaualitas 2008 telah dikeluarkan dana untuk pembangunan sarana warna air limbah fisik hampir mencapai Rp. 80 miliar, yang bersumber dari sebelum dan sesudah APBN, APBD provinsi, APBD kota/kabupaten, masyarakat, diolah yang siap LSM/donor, dengan porsi pendanaan dari pemerintah dibuang ke badan kota/kabupaten paling besar yakni sekitar 53 persen. sungai. Di samping capaian-capaian tersebut, sampai tahun Untuk penyediaan 2008, Sanimas juga telah berhasil mendidik tenaga sarana sanitasi fasilitator lapangan sekaligus memberikan lapangan bagi masyarakat pekerjaan bagi 180 orang yang memiliki latar belakang yang tinggal di beragam mulai dari latar belakang teknik sipil, teknik perkampungan padat, lingkungan, arsitektur, sosiologi, ekonomi bahkan kumuh dan miskin pendidikan agama. Dari sekian orang TFL juga telah berhasil menjadi senior TFL Tabel Pendanaan Sanimas Tahun 2003-2008 (dalam ribuan Rupiah) (STFL) karena telah memiliki Pemerintah Pemerintah Pemerintah pengalaman lebih dari 5 tahun Kontribusi Masyarakat Kota/ Propinsi Pusat BORDA dengan tanggungjawab yang Tahun Kabupaten TOTAL lebih luas meliputi aspek Tenaga/ Peningkatan Tunai Tunai Tunai Tunai Tunai manajemen. TFL dan STFL ini Material Kapasitas 2003 39.519 41.140. 986.044 - 448.362 29.073 - 1.544.139 telah menjadi salah satu pelaku kunci sanitasi di wilayahnya. 2004 51.862 32.930 1.008.879 - 552.825 350.115 200.000 2.196.613 Di tingkat masyarakat juga 2005 92.920 43.797 1.687.126 - 856.783 299.182 275.000 3.254.809 telah muncul para pelaku 2006 502.912 292.912 8.330.124 - 4.900.000 1.175.000 1.800.600 17.001.548 sanitasi langsung berupa 2007 610.659 382.922 15.538.842 250.000 8.400.000 - 2.345.000 27.527.425 operator sebanyak 292 orang yang setiap hari mengurusi 2008 263.175 394.763 14.866.166 750.000 9.045.000 - 3.050.000 28.369.105 air limbah rumah tangga yang TOTAL 1.561.048 1.188.467 42.417.184 1.000.000 24.202.971 1.853.370 7.670.600 79.893.642 dibuang oleh warga, suatuLaporan Utama 20
  • 22. dari pemda, sebelum pemda bisa/mampu membangun KONTRIBUSI STAKEHOLDERS SANIMAS sarana sanitasi kota. 2003-2008 Masyarakat c. Sanitasi bisa dikelola dengan prinsip cost recovery- 3.4% BORDA basis dalam lingkup unit terkecil di tingkat masyarakat. Pusat 30.3% 11.9% Artinya, dengan biaya mandiri dari masyarakat, dana tersebut bisa berputar sehingga mencukupi untuk biaya operasional dan perawatan. d. Sarana Sanimas juga telah menjadi salah satu Propinsi alternatif public space yang jumlahnya semakin 1.3% berkurang di wilayah perkotaan, apalagi di daerah padat penduduk. Tidak jarang bisa dilihat sekarang, ibu-ibu Kota/Kab 53.1% sedang melakukan aktifitas menyuapi anak balita di MCK karena tempatnya bersih dan tidak berbau, bahkan tempat tersebut telah menjadi sarana untuk bertemupekerjaan yang pada umumnya dihindari orang karena antarwarga pemukiman. Dengan makin sering bertemudianggap kotor, berbau, sama sekali tidak bergengsi. Para maka komunikasi antarwarga menjadi lebih baik. Selainoperator ini berada di bawah naungan 292 KSM yang itu, banyak IPAL komunal yang dimanfaatkan oleh wargasetiap bulan menyelenggarakan pertemuan membahas menjadi lapangan olahraga.masalah sanitasi dikampungnya. Setiap bulan dana yang e. Sebanyak 292 orang warga memperoleh pekerjaandikelola oleh KSM tidak kurang dari Rp 287.000.000, tetap sebagai operator sarana sanitasi, baik pada sistemyang berasal dari iuran warga pengguna sarana Sanimas pemipaan maupun MCK plus, dengan pendapatanyang notabene adalah warga yang miskin. Dana ini minimal sesuai dengan standar upah minimum propinsimerupakan dana yang digunakan untuk biaya operasional (UMP)dan pemeliharaan fasilitas sanitasi. Lebih jauh lagi, f. Dampak tidak langsung Sanimas di bidang ekonomiKSM dan operator Sanimas tersebut sekarang telah juga dapat dirasakan oleh masyarakat. Seiring denganmembentuk AKSANSI (Asosiasi KSM dan Operator Sanimas membaiknya kondisi kesehatan masyarakat, produktifitasSeluruh Indonesia) yang merupakan forum komunikasi mereka semakin meningkat. Hal ini tentunya akanantarpelaku Sanimas dan telah memberikan Sanimas lebih menaikkan taraf kesejahteraan karena merekaAWARD kepada KSM dengan kinerja pengelolaan fasilitas bekerja dengan lebih optimal sehingga pendapatan yangyang terbaik. diterima meningkat, sementara di sisi lain, pengeluaran untuk pengobatan penyakit yang terkait dengan sanitasiDampak Sanimas menurun. Secara umum, dampak kegiatan Sanimas yang bisadirasakan adalah sebagai berikut: Kendala a. Adanya perubahan cara pandang terhadap Kendala yang umumnya masih terus-menerussanitasi. Perubahan cara pandang ini terjadi dibeberapa diperdebatkan antara lain:tingkatan yang berbeda yaitu pemerintah, masyarakat a. Pemahaman konsep partisipatif, masih banyak yangdan juga LSM/donor atau swasta. Di tingkat pemerintah, beranggapan bahwa pendekatan partisipatif tidak bolehperhatian terhadap sanitasi mulai meningkat terlihat dari dibuat target waktu. Memang banyak pihak berpandanganpenyediaan alokasi dana sanitasi secara terus menerus. seperti itu, sehingga Sanimas tidak bisa digolongkan keDi tingkat masyarakat juga mulai ada anggapan bahwa air dalam pendekatan partisipatif. Banyak kalangan yang tidaklimbah bukan sesuatu yang harus dibuang dan dihindari mengerti bahwa partisipatif untuk masyarakat perkotaantetapi harus dikelola dan diolah agar tidak mencemari esensinya adalah dialog.lingkungan dan menimbulkan penyakit. b. Pendanaan, sebenarnya Sanimas mengkombinasikan b. Sanimas bisa menjadi salah satu pilihan dalam upaya antara pendekatan pemberdayaan dan pendanaanpenanganan terhadap masalah sanitasi, khususnya air dari berbagai pelaku, terutama pemerintah karenalimbah rumah tangga di perkotaan. Sistem penanganan permasalahan sanitasi sampai hari ini adalah merupakanair limbah terdesentralisasi (decentralized) bisa menjadi tanggung jawab publik. Memang kegiatanalternatif yang terjangkau dari segi biaya, mudah cara pemberdayaan butuh waktu lama, namunperawatannya, masyarakat (pengguna) bisa mengelola penggunaan dana publik (pemerintah)sendiri, mengurangi subsidi operasional dan perawatan juga harus sesuai dengan 21 Laporan Utama
  • 23. aturan penganggaran. Oleh karena itu, Sanimas Agenda Kedepanharus mengkombinasikan dua pendekatan tersebut, Terselesaikannya proses pembangunan fasilitasshingga sering terjebak pada kegiatan yang berbasis Sanimas, merupakan awal dari upaya menjaminanggaran, meski harus terus diupayakan bahwa aspek berkelanjutannya fasilitas yang ada. Untuk itu, beberapapemberdayaan masyarakat tidak bisa dilupakan. Karena agenda yang perlu mendapat perhatian diantaranyadengan melupakan proses pemberdayaan masyarakat adalah:maka sistem Sanimas tidak akan berkelanjutan. l Mendorong proses internalisasi Sanimas dalam c. Jadwal implementasi, pada umumnya, penyelesaian arus utama perencanaan pembangunan di daerahpekerjaan fisik (konstruksi) Sanimas berlangsung sampai bersangkutan. Dibutuhkan upaya advokasi padabulan Januari atau Februari pada tahun berikutnya, pengambil keputusan agar program Sanimassehingga hal ini sering menjadi masalah bagi para tercantum dalam dokumen perencanaan daerahpelaksana. Beberapa mengusulkan agar jadwal seperti RPJMD, dan Renstra SKPD. Denganpelaksanaan Sanimas dibuat menjadi dua tahun anggaran demikian terdapat jaminan teralokasikannya dana(multi-year budgeting). Tetapi aspek terpenting sebetulnya pendampingan bagi KSM secara rutin.adalah menjaga semangat masyarakat yang baru saja l Menyusun rencana strategis sanitasi kota/menjadi “pemenang” lokasi. Untuk mulai membangun kabupaten untuk memastikan keterpaduan diantaramembutuhkan energi dan keswadayaan masyarakat berbagai program pembangunan sanitasi di daerahyang juga lebih tinggi lagi, maka memanfaatkan momen termasuk program Sanimas. Termasuk dalam hal inisemangat masyarakat adalah sangat penting apalagi di antaranya adalah:menyangkut masalah sanitasi yang tidak pernah menjadi m Mempertahankan kualitas air buangan dariprioritas masyarakat. Jangankan bagi masyarakat, bahkan IPAL Sanimas agar selalu memenuhi standar.pemerintah daerah pun tidak meletakkan sanitasi menjadi Diperlukan langkah test efluen secara rutin olehprioritas pembangunan. pemerintah daerah melalui dinas atau Badan d. Salah satu faktor penyebab terlambatnya Lingkungan Hidup kota/kabupaten bekerjasamapenyelesaian pembangunan dengan KSM.fasilitas Sanimas adalah terjadinya m Dibutuhkan rencana pengelolaan lumpur tinja kan Janganakat,keterlambatan pencairan dana APBD yar n mas hka (septage management) skala kota/kabupaten,kota/kabupaten. Belum terjadi proses ba intah diantaranya dengan melakukan Desludging, atauinternalisasi program Sanimas dalam pemerun tidak penyedotan lumpur tinja tiap 5 tahun sekali. daerah pakkan i let enjadproses pembangunan di daerah, me m Idealnya dilakukan oleh Dinas/Badan Lingkungansehingga sepertinya pemda kabupaten/ sanitasi ritas prio Hidup kota/kabupaten bekerjasama dengan nankota kurang memberi cukup perhatian. pe mbangu KSM.Konsekuensinya lainnya bahwa proses m Melakukan rehabilitasi fisik (jika diperlukan)pemberdayaan masyarakat kurang optimal khususnya ketika perbaikan sarana fisikkarena waktu pelaksanaan yang pendek disebabkan membutuhkan biaya cukup besar, seperti akibatmulainya pekerjaan yang terlambat gempa/bencana. Idealnya dilakukan oleh Dinas e. Ketidaktersediaan air dan listrik menjadi salah satu Pekerjaan Umum kota/kabupaten.kendala utama dalam pengoperasian fasilitas. Ditengarai m Penyuluhan kesehatan secara rutin untukproses pemilihan lokasi tidak mempertimbangkan agar tercipta perubahan perilaku sehat padaketersediaan air dan listrik. masyarakat secara berkelanjutan. Idealnya f. Keterkaitan dengan program sejenis di daerah kurang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota/kabupatenmendapat perhatian sehingga dalam banyak kondisi bekerjasama dengan KSM.terjadi inefisiensi disebabkan tumpang tindih lokasi. m Penguatan KSM berupa pendampingan KSM g. Kondisi budaya masyarakat setempat juga Sanimas agar secara kelembagaan bisa lebih kuatmenimbulkan beberapa permasalahan pada saat dan bisa berdampak positif terhadap masyarakatimplementasi Sanimas. Permasalahan yang muncul dan lingkungan sekitar. Idealnya oleh Dinasberkaitan dengan budaya masyarakat setempat Pemberdayaan Masyarakat kota/kabupatenbervariasi dari satu daerah dengan daerah lain, sehingga bekerjasama dengan KSM. n (Surur Wahyudi/OM). memerlukan penanganan yang berbeda pula.Laporan Utama 22
  • 24. 23
  • 25. Kabar Terbaru Organisasi Perempuan Peduli PU Sanimas Bhayangkari, Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB), dan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Ibu Negara, Ani Yudhoyono, bahkan cukup aktif mengikuti upaya pemerintah untuk mengentaskan persoalan sanitasi ini dengan meresmikan pengoperasian Sanimas di Kampung Cijangkar, Kecamatan Cikole, Sukabumi, pada 29 Juni 2009. Saat itu, Ani Yudhoyono melakukan peresmian di sela peresmian Rumah Pintar di tempat yang sama. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Negara juga mendapat penjelasan tentang rencana pembangunan Sanimas dari Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Budi Yuwono.P Ani Yudhoyono mengharapkan agar masyakarat para pengguna fasilitas Sanimas bisa memanfaatkan fasilitas itu ersoalan sanitasi, harus diakui, lebih banyak dengan sebaik-baiknya sekaligus turut aktif merawat dan diurusi dan dihadapi oleh kaum perempuan. mengelolanya. Dalam pidato sambutannya, ditekankan Peran mereka sebagai ibu rumah tangga bahwa: “Perbaikan MCK dan pembangunan SANIMAS, mengharuskan mereka berhadapan dengan bantuan dari Departemen Pekerjaan Umum dan yang banyak hal yang terkait dengan soal sanitasi: masih dalam tahap pembangunan, merupakan bentukkebersihan dapur dan kamar mandi, ketersediaan air bersih, kepedulian pemerintah guna meningkatkan derajatjuga tugas-tugas mengurus sampai memandikan anak. kebersihan lingkungan di wilayah ini. Oleh karena itu, saya Sudah sepatutnya jika upaya mengentaskan persoalan berharap agar fasilitas yang ada dapat dipelihara bersama,sanitasi di masyarakat itu juga dilakukan dengan agar dapat digunakan dengan waktu yang lebih lama.”mendengar, menyimak dan memperhatikan aspirasi Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) jugadan suara kaum perempuan. Kaum perempuan layak turut secara aktif mensosialisasikan sekaligus mendoronguntuk diberi peran lebih besar terkait upaya mengatasi pengembangan Sanimas di Indonesia. Ada banyakpersoalan sanitasi. kesempatan dan momen SIKIB menggelar kegiatan terkait Dengan latar belakang itulah langkah yang dilakukan pengembangan program Sanimas. Tiga bulan sebelum AniDirektorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Yudhoyono berkunjung ke Cikole, Sukabumi, SIKIB jugaUmum, untuk menggandeng beberapa organisasi meresmikan pengoperasian Sanimas di Kampung Nelayanperempuan di Indonesia dalam program pengembangsan I, Sungailiat, Bangka (23 April 2009).Sanitasi oleh Masyarakat (Sanimas) patut diberi apresiasi SIKIB diwakili langsung oleh Lies Djoko Kirmanto,yang memadai. Sampai saat ini, tujuh organisasi istri Menteri Pekerjaan Umum, departemen yangperempuan yang berhasil digandeng itu adalah Solidaritas sejak 2006 melakukan replikasi Sanimas di ratusan Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Dharma Wanita kota dan kabupaten di Indonesia. Pada kesempatan Persatuan (DWP) Pusat, Pemberdayaan dan itu, ditandatangani prasasti peresmian sekaligus Kesejahteraan Keluarga (PKK), pengguntingan pita. 24
  • 26. Dalam sambutannya, Lies Djoko Kirmanto di Jakarta, Rabu (17 Desember 2009). Seminar dihadirimengharapkan masyarakat bisa menjaga fasilitas MCK oleh sebagian besar anggota DWP Pusat dan daerah, baikyang sudah dibangun oleh pemerintah dan masyarakat. propinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia.Pembangunan Sanimas di Sungailiat itu menurutnya juga Seorang peserta, Citra dan beberapa rekannya yangperlu dukungan Pemerintah Daerah untuk keberlanjutan mewakili DWP Propinsi Sulawesi Selatan mengaku tertarikdan replikasinya di tempat-tempat yang lain. mengikuti pelatihan fasilitator. Selain sebagai anggota Lies juga menjelaskan, SIKIB sudah secara aktif DWP Propinsi Sulsel, ia juga mengaku menjadi dosen danmenggandeng Departemen Pekerjaan Umum dalam upaya memiliki masyarakat binaan. “Saya tertarik mengikutimendorong replikasi Sanimas di lokasi-lokasi yang lain. pelatihan fasilitator agar tahu bagaimana mengajak“Program ini telah disepakati bersama antara Departemen masyarakat sekitar saya memperbaiki lingkungannya.PU dengan SIKIB pada 11 Mei 2008 yang lalu,” ujarnya lagi. Apalagi katanya peserta pelatihan fasilitator akan Organisasi perempuan lain yang juga ikut mendorong mendapatkan sertifikat internasional,” jelas Citra.pengembangan program Sanimas di Indonesia adalah Pada kesempatan itu, Direktur PengembanganBhayangkari, organisasi istri anggota Polri. Ketua Umum Penyehatan Lingkungan PermukimanBhayangkari, Nanny Bambang Hendarso, bahkan sempat Ditjen Cipta Karya,meresmikan fasilitas Sanimas yang berada di kampung Susmono,Bloto, kecamatan Prajurit Kulon, kota Mojokerto, pada 19Mei 2009 lalu. Pada kesempatan itu, Nanny bahkanmenyebutkan peran baru yang sudahselayaknya mulai dilakukan oleh anggotaBhayangkari (istri polisi) yaitu terlibat aktifterjun ke masyarakat untuk melakukanpenyadaran mengenai pentingnya menghilangkankebiasaan buang air besar (BAB) di sembarangtempat. Pada kesempatan yang sama, Nanny jugamenyebutkan keterlibatan Bhayangkari terhadapprogram Sanimas lebih karena keinginan untukberpartisipasi menyukseskan ‘’Tahun Sanitasi mengakui selama iniInternasional’’. Selain itu, keterlibatannya juga sebagai mengadakan pelatihan sanitasi,tindak lanjut dari program kesepakatan bersama baik untuk berbagi pengalaman maupunantara tujuh organisasi wanita dengan Departemen membentuk fasilitator. Untuk pelatihan fasilitator selamaPekerjaan Umum (PU). Kerjasama itu atas prakarsa ini memakan waktu satu tahun yang terbagi dalam empatSolidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). kali sesi kelas (masing-masing dua pekan), dan setiap Sanitasi dikatakannya, termasuk sejalan dengan habis kelas langsung praktek lapangan. Biaya pelatihanprogram Ibu Negara, Indonesia Hijau dan Indonesia Sehat. tersebut menurutnya ditanggung oleh pemerintah, namunSelain sanitasi masih ada pengembangan ruang terbuka setiap kabupaten dibatasi maksimal dua orang.hijau (RTH) dan penyediaan air minum. Untuk mendukung Selain SIKIB dan Bhayangkari, organisasi-organisasiprogram tersebut, utamanya sanitasi, pihaknya sudah perempuan lainnya juga sudah mempunyai lokasi Sanimasmenyiapkan sejumlah langkah. binaannya masing-masing. KOWANI, misalnya, punya Yang lebih menarik, cukup banyak anggota organisasi lokasi Sanimas binaan di kampung Leuwianyar, kecamatanperempuan di atas, misalnya anggota Dharma Cipedes, Tasikmalaya. Peresmian lokasi Sanimas di sanaWanita, yang bahkan tertarik untuk menjadi fasilitator berlangsung pada 25 Juni 2009. Sementara PKK PusatSanimas yang diadakan Direktorat Jenderal Cipta Karya memilih lokasi binaan Sanimas di kelurahan TanjungDepartemen Pekerjaan Umum. Dengan menjadi fasilitator, Marulak Hilir, kota Tebing Tinggi. Peresmiannya sendirimereka ingin mengajak masyarakat di daerahnya untuk berlangsung pada 25 Maret 2009. Lalu Organisasi Dharmameningkatkan kualitas lingkungan melalui pembenahan Pertiwi punya lokasi binaan Sanimas di kelurahan Seiperilaku hidup bersih msayarakat. Jingah di kota Banjarmasin yang peresmiannya Hal itu terungkap dalam tanya jawab seminar Pening- dilakukan pada 3 Juni 2009. nkatan Perempuan dalam Kepemimpinan Keluarga yangdiadakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat 25 Kabar Terbaru
  • 27. Wawancara Utama WawancaraDr. Ir. Dedy Supriadi Priatna, MSc(Deputi Meneg PPN/Kepala Bappenas Bidang Sarana dan Prasarana)Sanitasi Masih Tertinggal Jauh Pemerintah mengambil langkah besar pada ribu meter kubik urine terbuang setiap harinya ke badanpembangunan sanitasi dengan meluncurkan Program air, tanah, danau dan pantai. Dampaknya, 75 persenPercepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). sungai tercemar berat dan 80 persen air tanah tercemarApa yang terjadi sehingga kemudian sanitasi mendapat limbah manusia. Akibatnya, masyarakat harus membayarperhatian yang jauh lebih besar? rata-rata 25 persen lebih mahal untuk air minum Ada banyak alasan kenapa pemerintah Indonesia perpipaan.melakukan percepatan pembangunan sanitasi. Beberapa Ketiga, dampak kesehatan masyarakat jadi memburuk.alasan yang terpenting itu adalah: Dari setiap 1.000 bayi yang lahir, 50 diantaranya Pertama, akses sanitasi penduduk Indonesia masih meninggal akibat diare sebelum usia 5 tahun. Buruknyasangat rendah. Sekitar 70 juta penduduk Indonesia belum sanitasi turut menurunkan nilai Indeks Pembangunanmemiliki akses terhadap sanitasi. Sembilan belas juta Manusia [Human DevelopmentI Index/HDI], sehinggadi antaranya hidup di perkotaan dengan daya dukung Indonesia hanya menempati urutan 41 dari 102 negaralingkungan yang kritis. berkembang di dunia. Kedua, lingkungan yang masih amat buruk. Kondisi di Keempat, potensi kerugian ekonomi yang sangat tinggi.atas menghasilkan setidaknya 14 ribu ton tinja dan 176 Berdasarkan studi Bank Dunia pada tahun 2007 potensi zen 26
  • 28. kerugian ekonomi akibat sanitasi buruk mencapai Rp.58 Bisa dijelaskan lebih rinci apa saja itu?triliun per tahun. Jumlah ini setara dengan 2,3 persen Pertama, untuk sanitasi, yaitu mengurangi kebiasaanProduk Domestik Bruto (PDB) atau sama saja dengan buang air besar sembarangan (BABS) pada akhir 2014kebocoran pada angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. yang ditandai dengan tersedianya akses terhadap sistem Kelima, investasi sanitasi yang masih belum memadai. pengelolaan air limbah (off-site) bagi 10 persen totalDalam lima tahun terakhir, investasi sanitasi sudah penduduk, baik melalui sistem pengelolaan air limbahmeningkat pesat, yaitu Rp.5.000,- per kapita per tahun. terpusat skala kota sebesar 5 persen maupun sistem pengelolaan air limbah terpusat skala komunal sebesar 5 persen serta penyediaan akses dan peningkatan kualitas terhadap sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site) yang layak bagi 90 persen total penduduk. Kedua, untuk pengelolaan sampah, tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 persen rumah tangga di daerah perkotaan. Ketiga, soal genangan air, mengurangi genangan air di perkotaan sebesar 22 ribu hektar di kawasan-kawasan strategis. Bagaimana dengan target masing-masing aspek di atas? PPSP sendiri tentu saja memancang target-target tertentu. Untuk pengembangan pelayanan air limbah na melalui sistem sewerage di 16 kota dan l darlukan sistem setempat dan komunal di 226 Tota ipe ksa- kota. Belum lagi target stop buang g d la yan tuk pe SP ini air besar sembarangan. Sementara un an PP rakan untuk sampah, ada target penerapan na perki pai BOWO praktik 3 R secara nasional danKondisi investasi pada periode tahun 1994-2004 di enca ilyun m 6 tr peningkatan sistem Tempathanya mencapai Rp. 200,- per kapita per tahun. Rp .5 Pengolahan Akhir (TPA) sampahNamun peningkatan tersebut masih jauh dari ideal menjadi sanitary landfill untukkarena baru 10 persen dari kebutuhan pelayanan melayani 240 kawasan perkotaan.sanitasi dasar yang seharusnya yakni Rp.47.000 -per Terakhir, untuk soal genangan air,kapita per tahun. diharapkan ada 100 kawasan perkotaan dengan luas lahan 22.500 hektar sudah bisa bebas dari genangan air. Bisa dibilang program PPSP itu untuk mengejarketertinggalan kita di bidang pembangunan sanitasi ya? PPSP sendiri merupakan peta jalan pembangunan Jelas. Semua angka-angka dan data-data di atas sanitasi di Indonesia. Tetapi ada kesan bahwa sanitasimenunjukkan betapa sanitasi Indonesia telah tertinggal perkotaan yang menjadi fokus. Apakah memangjauh. Butuh rancangan dan strategi yang lebih serius dan perkotaan saja yang penuh dengan masalah sanitasi?komprehensif untuk mengejar ketertinggalan itu. Dan itu Bagaimana dengan di pedesaan?tak bisa ditunda lagi, tak bisa menunggu lebih lama lagi. Penetapan PPSP seyogyanya tidak diartikan sebagai penetapan kawasan perkotaan sebagai fokus sehingga Mengenai PPSP sendiri, apakah PPSP juga tercantum pedesaan tidak lagi diperhatikan. Penetapan PPSPdalam RPJMN 2010-2014? merupakan langkah awal dalam percepatan pembangunan Tentu saja. Target yang ditetapkan pada PPSP sanitasi yang ditempuh untuk mengatasi keterbatasanmengacu pada target yang tercantum dalam RPJMN sumber daya. Pentahapan sesuai prioritas2010-2014. Target yang ingin dicapai pada akhir tahun tersebut didasarkan pada dampak kerugian2014 sebagaimana yang tercantum dalam RPJMN itu yang paling besar ditimbulkan apabila tidakmenyangkut soal sanitasi, sampah dan genangan air. terjadi perbaikan terhadap 27 Wawancara Utama
  • 29. kondisi sanitasi. Bagaimana peluang PPSP mendapat dukungan dari Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pembangunan lembaga-lembaga donor?sanitasi yang pernah dilakukan serta mengacu pada Total dana yang diperlukan untuk pelaksanaan PPSPrekomendasi yang merupakan hasil studi Bank Dunia ini diperkirakan mencapai Rp. 56 trilyun. Ketersediaanmaka ditetapkan bahwa prioritas pertama yang perlu dana yang kurang memadai mendorong pemerintah untukdilakukan adalah melakukan intervensi pada kawasan mencari alternatif pendanaan lain. Untuk itu beberapaperkotaan, terutama kawasan yang belum terlayani serta lembaga donor telah menyatakan dukungan terhadapkawasan kumuh di perkotaan. program pemerintah pada peningkatan kualitas sanitasi. Salah satunya adalah pemerintah Belanda, melalui Bisa dijelaskan rincian berapa jumlah kota atau dukungannya pada program air minum dan sanitasikawasan-kawasan yang dituju? yang dijalankan bersama UNICEF dan WSP, Bank Dunia, Pertama, 57 kota/kawasan perkotaan yang rawan telah menyatakan komitmen mereka untuk turut aktifmasalah air limbah, persampahan dan drainase menyukseskan penerapan PPSP ini, khususnya padalingkungan. Kedua, sebanyak 87 kota/kawasan perkotaan pendanaan di fase persiapan. Adapun fase bridgingyang rawan masalah air limbah dan persampahan. atau persiapan ini utamanya berisikan kegiatan advokasiKetiga, sebanyak 19 kota/kawasan perkotaan yang rawan kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota,masalah air limbah dan drainase perkotaan. Keempat, peningkatan kapasitas dan pembentukan kelompok kerjasebanyak 16 kota/kawasan perkotaan yang rawan di tingkat pemerintah daerah penerima program sertamasalah persampahan dan drainase perkotaan. Kelima, persiapan rekrutmen fasilitator.sebanyak 63 kota/kawasan perkotaan yang rawan air Selain menyatakan secara eskplisit dukungannyalimbah. Keenam, 80 kota/kwasan yang rawan masalah terhadap PPSP, terdapat lembaga donor lain yang turutpersampahan. Ketujuh, 8 kota/kawasan perkotaan yang berkontribusi terhadap peningkatan kondisi sanitasirawan masalah drainase perkotaan. di Indonesia. Seperti misalnya, pemerintah Australia –melalui AusAid—yang bersedia untuk memberikan hibah Sekali lagi pertanyaannya adalah: bagaimana dengan bagi perluasan cakupan sewerage system (sistem terpusatpedesaan? skala kota) di beberapa kota besar di Indonesia. Ada juga Sama sekali tidak diabaikan, tidak mungkin pedesaan pemerintah Jepang melalui pinjaman bagi pembangunandiabaikan begitu saja. Hanya saja, peningkatan sanitasi di sewerage system di Denpasar, Bali, dan ADB melaluipedesaan tetap dilakukan walaupun melalui pendekatan proyek MSMHP (Metropolitan Sanitation Managementyang berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan and Health Project) dan CWSHP (Community Waterkarakteristik sosial dan lingkungan yang berdampak pada Supply, Sanitation and Health Project). nperbedaan teknologi, partisipasi masyarakatnya maupunkelembagaannya. BALIFOKUSWawancara Utama 28
  • 30. Ir. Budi Hidayat, M.Eng.Sc(Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas)Pembangunan Sanitasiuntuk Lima Tahun Mendatang ZEN Pemerintah sedang meluncurkan Program Nasional 69.3 persen dari target pada tahun 2015 sebesar 65.5Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) persen. Walaupun target tersebut telah tercapai, namun2010-2014? Bisa dijelaskan tentang PPSP tersebut? pencapaian tersebut belum memperhatikan aspek kualitas Dalam Program Nasional PPSP 2010-2014 ini dari fasilitas sanitasi yang ada, sehingga masih diperlukanditargetkan sasaran pembangunan sanitasi yang terkait upaya keras untuk mencapai kondisi fasilitas sanitasi yangdengan sektor air limbah, persampahan, dan drainase. layak. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia yangSecara spesifik target pembangunan sanitasi 2010- masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS)2014 adalah sebagai berikut: (1) Stop Buang Air Besar (BPS, 2007) adalah sebesar 18,2 juta jiwa penduduk diSembarangan (STOP BABS), baik di perkotaan maupun perkotaan dan perdesaan sebesar 52,3 juta jiwa pendudukperdesaan; (2) berkurangnya timbulan sampah dari atau total sebesar 70,5 juta jiwa penduduk. Survei jugasumbernya dan pengelolaan sampah yang berwawasan menunjukkan bahwa pencemaran ke badan air dan lahanlingkungan seperti penerapan sistem sanitary landfill atau akibat buangan tinja mencapai 14.000 ton tinja/hari. Halcontrolled landfill untuk TPA, serta penerapan teknologi tersebut telah mengancam rusaknya 75 persen sumber airlain yang aman; dan (3) Berkurangnya luasan genangan di minum.sejumlah kawasan strategis perkotaan. Nah, untuk mencapai target-target tersebut diatas Apa yang sebenarnya membuat kondisi sanitasi diakan dilakukan dua upaya penting. Pertama, Penambahan Indonesia relatif masih buruk sehingga butuh strategilayanan jaringan air limbah terpusat sampai dengan 5 yang mendalam dan jangka panjang?persen dari jumlah penduduk perkotaan atau 5 (lima) Buruknya kondisi sanitasi bukan saja disebabkanjuta jiwa penduduk, di 16 kota dan pembangunan oleh terbatasnya akses penduduk terhadap fasilitassanimas di setiap kota/kabupaten dengan prioritas di sanitasi yang layak, tetapi juga disebabkan oleh masih226 kota/kabupaten terpilih. Kedua, pelaksanaan praktik rendahnya kesadaran masyarakat tentang isu-isu sanitasi3R (reduce, reuse, recycle) untuk mengurangi timbulan dan kesehatan. Di lain pihak, masih terbatasnya kapasitassampah sebesar 20 persen dan perbaikan pengelolaan dalam membuat perencanaan pembangunanpelayanan persampahan kota di 240 kota prioritas. sanitasi yang komprehensif, multisektor, Hingga tahun 2007, proporsi penduduk yang tanggap kebutuhan, dan berkelanjutanmendapatkan akses terhadap fasilitas sanitasi adalah juga merupakan salah satu 29 Wawancara Utama
  • 31. kendala dalam pembangunan sanitasi. Hal ini terlihat senang menggunakan dan memeliharanya. Sanimasdari banyaknya kota/kabupaten yang belum memiliki menumbuhkan sustainable behavioral changes, yaiturencana pembangunan sanitasi, yang pada akhirnya proses menuju kondisi stop buang air besar sembarangan.mengakibatkan daerah tersebut tidak menyadari akan Kedua, Hasil evaluasi pelaksanaan Sanimas menunjukkankondisi sanitasi di daerahnya dan membatasi akses daerah bahwa sebanyak 14% dari pengguna Sanimas telahtersebut ke sumber-sumber pendanaan yang ada. membangun sarana jamban sendiri dirumahnya. Dengan Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Pusat dan kata lain, Sanimas telah mampu meningkatkan aksesDaerah serta masyarakat tidak lagi dapat memandang kepemilikan sendiri terhadap sarana jamban.persoalan sanitasi sebagai business as usual. Ketiga, Sanimas merupakan intermediateOleh karena itu, diperlukan suatu strategi untuk solution dalam penanganan air limbah,mempercepat pembangunan sanitasi demi memenuhi BOR DA diharapkan nantinya MCK yang dibangunkebutuhan pelayanan sanitasi dasar rakyat Indonesia. melalui sanimas tersebut dapatStrategi tersebut dituangkan oleh Tim Teknis tersambung ke sistem pengolahan airPembangunan Sanitasi (TTPS) dalam limbah terpusat (sewerage system).sebuah roadmap pembangunan Keempat, Sanimas adalah kegiatansanitasi 2010-2014 dalam yang dilaksanakan berbasisskema yang bertajuk masyarakat, sehingga saranaProgram Nasional Percepatan tersebut dapat memberikanPembangunan Sanitasi manfaat kepada masyarakatPermukiman (PPSP) 2010-2014 secara berkelanjutan. Keenam,itu tadi. Memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat Apakah Sanimas merupakan penggunanya.bagian daripada skenario besartersebut? ...masih MDGs 2015 merupakan Tentu saja. Seperti terlihat dalam diperlukan salah satu target yang haruspencapaian target pembangunan air upaya keras dicapai oleh Pemerintah saatlimbah yang ditetapkan, salah satu upaya yang untuk ini. Bagaimana program PPSPakan dilakukan dalam mencapai target adalah melalui mencapai 2010-2014 bisa menyumbangpembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) kondisi fasilitas pencapaian target tersebut?di 226 kota/kabupaten terpilih. Sanimas merupakan sanitasi yang Program PPSP 2010-2014salah satu solusi dalam penyediaan prasarana layak tentu saja mendukung pencapaiandan sarana air limbah permukiman khususnya target pembangunan sanitasibagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di seperti tercantum dalamlingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan MDGs tujuan 7 target 10, yaitusanitasi. “menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap Sanimas merupakan sebuah inisiatif untuk fasilitasi sanitasi dasar sebesar separuhnya pada tahunmempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air 2015.” Dukungan program PPSP 2010-2014 dalamlimbah permukiman yang berbasis masyarakat dengan mencapai target MDGs 2015 dalam pembangunan sanitasipendekatan tanggap kebutuhan. Pencapaian target PPSP dapat terlihat dari beberapa indikator:2010-2014 perlu didukung oleh kegiatan seperti Sanimas, Pertama, peningkatan alokasi pendanaan untukdimana dari pelaksanaan Sanimas 2006-2008 telah mendukung pembangunan sanitasi. Untuk mendukungdidapatkan manfaat baik bagi masyarakat maupun bagi terjadinya kenaikan alokasi pendanaan bagi pembangunanpemerintah dalam menciptakan kondisi sanitasi yang baik. sanitasi perlu didukung oleh adanya suatu perencanaan yang baik di masing-masing daerah. Seperti yang telah Mengapa Sanimas merupakan salah satu komponen diketahui, banyak dana yang dapat dimobilisasi untukyang penting dalam skenario pencapaian target PN-PPSP pembangunan sanitasi, namun dikarenakan belum adanya2010-2014? perencanaan yang baik maka sumber-sumber pendanaan Pertama, melalui sanimas, masyarakat memiliki citra tersebut tidak dapat diakses oleh pemerintah pusat baru sarana MCK sebagai sarana yang tidak maupun daerah. kumuh sehingga masyarakat Kedua, adanya kenaikan alokasi pendanaan dari APBNWawancara Utama 30
  • 32. untuk pembangunan sanitasi 2010-2014. Pemerintah Apa saja yang telah disiapkan oleh Bappenas untukPusat dalam mempercepat sanitasi pun –sebagai implikasi mendukung PPSP?adanya program PPSP 2010-2014- telah berkomitmen Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Bappenasuntuk mengalokasikan dana bagi pembangunan sanitasi pada tahun 2009 sebagai tahap persiapan pelaksanaan2010-2014 (seperti yang tercantum dalam Rencana program PPSP 2010-2014 adalah sebagai berikut: (i)Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Menyusun program PPSP 2010-2014 beserta roadmapnya2010-2014) yaitu sebesar Rp. 10,5 Trilyun rupiah atau serta mengkoordinasikannya dengan seluruh Kementerian/sekitar Rp. 2 Trilyun per tahun, atau 2 kali lipat lebih besar Lembaga terkait; (ii) Memastikan program PPSP 2010-dari rata-rata anggaran sanitasi per tahunnya. Dengan 2014 dapat didukung oleh departemen teknis, diantaranyakenaikan anggaran tersebut diharapkan, pada tahun 2015 melalui koordinasi penyusunan program-programIndonesia dapat mencapai target MDGs untuk penyediaan pembangunan sanitasi yang dilakukan oleh masing-masingakses kepada fasilitas sanitasi yang layak. departemen teknis dan memastikan departemen tersebut Ketiga, daerah memiliki suatu perencanaan yang memiliki ketersediaan anggaran untuk melaksanakantepat dalam mendukung pencapaian target MDGs di programnya; (iii) Menggali sumber pendanaan lain untukdaerahnya. Pencapaian target MDGs untuk sektor sanitasi mendukung pembiayaan program PPSP 2010-2014,saat ini belum mendapatkan dukungan penuh dari termasuk diantaranya pendanaan untuk kegiatan persiapanPemerintah Daerah. Hal ini dikarenakan banyak daerah (bridging phase) yang antara lain telah didanai olehyang belum terlalu menyadari apa itu MDGs dan apa Pemerintah Belanda melalui dukungannya pada program airperan Pemerintah Daerah dalam mendukung pencapaian minum dan sanitasi yang dijalankan bersama UNICEF dantarget MDGs tersebut. Adanya Strategi Sanitasi Kota WSP, Bank Dunia; (iv) Penyelenggaraan Konferensi Sanitasi(SSK) sebagai tahap awal dari program PPSP 2010-2014 Nasional (KSN) II 2009, yang dalam forum ini diresmikandapat mendukung pencapaian target MDGs, khususnya Program Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 2010-di daerah tersebut. Dengan SSK, Pemerintah Daerah 2014 pada tanggal 7 Desember 2009 oleh Wakil Presiden RImengetahui seberapa besar target yang harus dicapai dan di Istana Wakil Presiden, Kebon Sirih Jakarta.usaha serta dukungan apa saja yang perlu dilakukan dalammencapai target tersebut. Apa fungsi dari Tim Pengarah Pembangunan Air OM Minum dan Penyehatan Lingkungan yang dilengkapi dengan keberadaan Tim Teknis Pembangunan Air Minum dan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi dalam PPSP dan pembangunan sanitasi secara umum di Indonesia? Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi bersama dengan Tim Teknis Pembangunan Air Minum dan Tim Teknis Pembangunan Sanitasi dibentuk agar tercipta sinergi dalam penyusunan dan pelaksanaan program pembangunan air minum dan sanitasi di Indonesia. Sementara itu, fungsi dari Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi seperti tertuang dalam Surat Kepu­ tusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor : Kep 314/M.PPN/10/2006 tentang Pembentukan Tim Pengarah Pembangunan Air Minum dan Sanitasi adalah (1) merumuskan kebijakan, strategi, dan program pembangunan air minum dan sanitasi; (2) melakukan koordinasi, pengendalian, dan pemantapan pelaksanaan pembangunan air minum dan sanitasi; (3) memberikan arahan dalam upa­ ya pencapaian target MDGs bidang air minum dan sanitasi; (4) mengembangkan dan mengarahkan pelaksanaan pembangunan air minum dan sani­ a­ i dengan t s sum­ er pembiayaan dalam dan luar negeri; (5) b membentuk Tim Teknis untuk membantu pe­ laksanaan tugas Tim Pengarah. n 31 Wawancara Utama
  • 33. Ir. Nugroho Tri Utomo(Kasubdit Air Minum dan Air Limbah, Bappenas)Masa Depan SistemSanitasi Skala Perkotaan Bagaimana situasi sanitasi di Indonesia terkait target Terkait sanitasi di perkotaan, seperti apaMDG’s 2015? situasinya? Apa saja problem-problem utama dan yang Dalam target MDG’s untuk persoalan sanitasi itu kan mendasarinya?disebutkan mengenai “akses sanitasi dasar”. Tapi apa Persoalan sanitasi biasanya menjadi lebih kompleksyang dimaksud dan kriteria “akses sanitasi dasar” itu di kawasan penduduk yang jumlah penduduknya padat,diserahkan kepada tiap negara dalam penafsirannya. dengan bangunan yang rapat dan berhimpitan, sertaKalau semata “akses sanitasi dasar”, kita tidak perlu tata ruangnya yang tidak terpola. Umumnya, kota-kotamenunggu tahun 2014 untuk memenuhinya. Tahun 2008 di Indonesia tumbuh dan dibangun secara tambal sulam.pun kita sudah memenuhinya, karena jamban yang paling Jarang kota yang dibangun dari nol yang tata kotanyasederhana seperti “cubluk” pun itu sudah bisa masuk lantas dirancang sedemikian rupa perencanaannya.kriteria “akses sanitasi dasar”. Situasi itulah yang membuat solusi-solusi yang Hanya saja, standar dan kriteria dari target “akses coba diterapkan untuk memecahkan persoalan sanitasisanitasi dasar” macam itu terlalu luwes atau terlalu seringkali lebih sukar, kalau pun bisa dilakukan biasanyasederhana. Persoalan sanitasi bukan cuma soal ada membutuhkan biaya yang besar. Mau bikin instalasijamban atau tidak, tapi juga menyangkut bagaimana pengolahan limbah lahannya susah, kalaukualitas jambannya, sudah sesuai standar kesehatan mau dibeli mahal. Mau menanam pipaatau belum, dan bagaimana hubungannya dengan sumur akan membuat situasi jalanan jadiresapan, sumber air, sungai, dan lain-lain. macet, belum lagi penolakan warga Untuk pengertian yang lebih tinggi seperti itu, “akses yang enggan penanaman konstruksisanitasi dasar” jelas tak sekadar orang punya jamban. atau pipa-pipa untuk kepentinganTidak bisa dikatakan "cubluk" itu sudah memenuhi standar sanitasi membuat lingkungan jadikesehatan dan lingkungan untuk persoalan sanitasi. berantakan, seperti yang sempatKita masih perlu bekerja lebih keras untuk memenuhi muncul di Denpasar.ketentuan akses sanitasi dasar dalam pengertiannya yanglebih luas itu. Dibutuhkan anggaran 5 trilyun per tahun Lantas apa solusi yanguntuk bisa menuntaskannya. Padahal, tahun kemarin saja, paling ideal untuk memecahkantotal anggaran untuk sanitasi, yang sudah menggabungkan persoalan sanitasi di perkotaan?anggaran pusat dan semua daerah, itu hanya mencapai Yang paling ideal adalahsekitar 20 persen dari anggaran ideal sebesar 5 triliun per sistem perpipaan air limbahtahun. berskala kota, di mana pipa-pipa itu menjangkau rumah per rumah Dari situ makanya muncul Program Percepatan lalu mengalir ke satu InstalasiSanitasi Perkotaan (PPSP)? Pengolahan Lumpur Kira-kira begitu. Mulanya memang Tinjabernama Program PercepatanSanitasi Perkotaan, tapi kemudiandiubah menjadi Program PercepatanSanitasi Permukiman. Perubahan dari“Perkotaan” menjadi “Permukiman” ini untuk memberi porsi kepada kawasan-kawasan yang di luar perkotaan, termasuk di pedesaan. ZENWawancara Utama 32
  • 34. Alternatif lainnya adalah sistem perpipaan komunal dengan pipa-pipa dari rumah yang bermuara pada satu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sistem pipa komunal ini bisa dibagi dua lagi, yaitu yang sifatnya permanen dan yang satunya adalah yang dirancang untuk suatu saat bisa terintegrasi dengan sistem perpipaan air limbah berskala kota. Jadi dari masing-masing IPALBORDA komunal itu tinggal menyambung pada pipa yang akan (IPLT) yang tersentralisasi. Tapi itu biayanya sangat mahal. memindahkan limbah dari IPAL komunal ke IPAL kota atau Kalau kita menilik kota-kota besar lainnya di negara lain, IPLT yang tersentralisasi. polanya itu hampir sama: sistem perpipaan air limbah skala perkotaan itu hanya bisa maksimal jika pendapatan Bagaimana dengan tangki septik konvensional yang per kapita kota itu sudah mencapai 3 ribu dolar. Itu kan dibuat satu buah per rumah? masih sangat jauh angkanya dari pendapatan per kapita Harus diakui, 80 persen fasilitas sanitasi di Indonesia kita. masih dengan model satu rumah satu septic-tank. Jakarta adalah salah satu kota dengan jumlah septic tank Tapi tidak berarti tidak mungkin dilakukan, bukan? terbanyak di dunia. Kualitas air sudah tercemar dan air di Tentu saja. Sampai skala tertentu, sudah ada delapan sungai pun sudah masuk ketagori limbah. kota di Indonesia yang sudah memiliki sistem perpipaan Ini menjadi problem yang jelas-jelas ada di depan air limbah berskala perkotaan. Delapan mata, tapi justru yang paling diabaikan. kota itu adalah Jakarta, Medan, Bandung, Penting untuk segera mencari jalan Cirebon, Solo, Jogja, Denpasar dan Persoalan pemecahan, bahkan harus segera. Tapi, Banjarmasin. Hanya saja, coverage atau luas sanitasi perlu dicatat juga, ini pemecahannya jangkauan sistem di delapan kota itu masih biasanya relatif mudah dan pemecahannya juga terbatas. menjadi lebih bisa melibatkan swasta: yaitu penyedotan Jakarta malah menjadi yang terkecil luas kompleks di tinja dari septic-tank secara berkala. Perlu jangkauannya. Yang terbesar baru Denpasar, kawasan digalakkan secara serius rutinitas dan itu pun hanya bisa menjangkau sekitar penduduk penjadwalan penyedotan tinja. Banyak sepertiga luas wilayah. Denpasar merasa yang jumlah septic tank yang tak pernah disedot setelah perlu untuk melakukan itu karena mereka penduduknya bertahun-tahun. Mungkin merasa septic- berhitung untuk mempertahankan Bali padat tank miliknya tidak bermasalah, padahal itu sebagai kawasan industri pariwisata. Akan sudah bocor, limbahnya sudah merembes ke susah mempertahankan reputasi itu jika tanah. kualitas sanitasinya masih buruk. Penyedotan tinja secara berkala ini sudah mulai banyak Untuk kasus Denpasar, digunakan teknologi jacking. terlihat. Bahkan orang-orang mau 125 ribu untuk sekali Teknologi ini digunakan karena banyak warga yang sedot untuk dua tahun sekali. Padahal paling sebenarnya keberatan jika penanaman konstruksi dan pemasangan hanya sekitar 35 atau 40 ribu sekali sedot. Belum lagi pipa-pipa itu akan merusak banyak bangunan dan melihat peluang pengolahan limbah hasil penyedotan itu. membuat lingkungan jadi berantakan. Teknologi jacking Ini peluang usaha di mana swasta bisa masuk ke dalam itu kira-kira membuat lubang tiap 50 meter. Nah dari upaya memecahkan persoalan sanitasi. masing-masing lubang itulah pipa-pipa dibor sedemikian rupa sehingga tiap lubang terhubung satu sama lain. Tapi Bagaimana dengan Sanimas yang sudah ini teknologi yang juga mahal. dikembangkan sejak 2003? Ada catatan khusus terkait Kendati demikian, kita punya target, pada 2014 ada Sanimas? Mungkinkah bisa dijadikan salah satu pilihan delapan kota baru yang sudah merintis upaya membangun pemecahan masalah sanitasi di perkotaan? sistem perpipaan air limbah berskala perkotaan, sehingga Yang paling menonjol dari Sanimas adalah total menjadi sekitar 16 kota. Skala jangkauannya atau pemberdayaan masyarakatnya. Kita sudah memikirkan coverage-nya pun akan terus digenjot. dan merancang soal itu sejak 1998 dan untuk Sanimas sendiri baru mulai digalakkan sejak Jika sistem perpipaan air limbah skala kota terlalu 2003. mahal, apa ada alternatif lainnya? Di situ ada sedikit anomali. 33 Wawancara Utama
  • 35. Dulu mungkin banyak yang berpikir konsep Sanimas yang Dengan demikian, Sanimas berpotensi untuklebih mahal daripada sekadar toilet umum itu hanya dijadikan salah satu opsi alternatif memecahkanbisa dibangun oleh orang-orang dengan pendapatan persoalan sanitasi di perkotaan?menengah ke atas. Tapi ternyata tidak. Mereka rata-rata Sangat mungkin. Menurut saya, konsep sanimas harussudah punya rumah yang baik kendati dengan septic tank disiapkan dan diletakkan dalam kerangka tiga modelyang masih konvensional. Mereka sudah merasa nyaman pengelolaan sanitasi perkotaan yaitu sistem perpipaan airdengan itu sehingga sukar untuk tergerak. limbah berskala perkotaan, sistem komunal atau septic- Tapi pada masyarakat miskin, yang mulanya agak tank per rumah. Apalagi jika visi ke depan sebuah kotasedikit diremehkan, mereka justru mau, bisa dan mampu dalam soal sanitasi adalah membangun sistem perpipaanikut membiayai dan berpartisipasi dalam pengembangan air limbah berskala kota. Sistem komunal ala Sanimas (baikdan pembangunan Sanimas. Mungkin karena mereka model MCK Plus++ atau perpipaan dari rumah ke rumah)tidak punya banyak pilihan. Tapi nyatanya bisa. Bahkan bisa langsung diintegrasikan dengan sistem perpipaan airkendati kita mensyaratkan bahwa warga harus ikut limbah skala perkotaan yang kelak akan dikembangkan.berpartisipasi dalam pendanaan sebesar 4 persen daritotal biaya, mereka tetap bisa, mau dan BORDA Anda sendiri menganggapmampu. lebih cocok dengan teknologi Sempat banyak yang mengatakan kalau MCK Plus++ atau PerpipaanSanimas ini sebenarnya mau bantu apa komunal?malah mau menyusahkan warga miskin? Tapi, Mungkin perpipaan komunal.sharing dana sebesar 4 persen itu sebenarnya Dengan alasan yang samaadalah ajang latihan, semacam pengkondisian, yaitu dari sana bisa langsungagar mereka suatu saat siap dan bisa mencari diintegrasikan jika kota tersebutdana jika fasilitas Sanimas dalam pengelolaan sudah mengembangkan sistemdan pengoperasiannya itu bermasalah. perpipaan berskala kota. Lagi pula, perpipaan dari rumah ke Itukah yang dimaksud mengajak rumah juga membuat tiap rumahwarga berpatisipasi? Semacam punya jamban sendiri-sendiri,pendekatan partisipatoris? San sehingga tidak perlu pergi ke MCK Kurang lebih begitu. im Plus++ tiap kali hendak buang airMisalnya soal sharing 4 persen mepalingas besar. Hanya saja, memang, dana yang dibutuhkan npembiayaan itu tadi, hal itu pem ada onjo juga lebih besar daripada MCK Plus++.merupakan partisipasi warga ma ber lah lsehingga rasa memiliki sya day Bagaimana dengan Sanimas yang direplikasikan rak aamereka pun menjadi atn n oleh PU? Ada kekhawatiran, replikasi yang masiftinggi. Jika sudah memiliki rasa ya akan mengurangi kekuatan aspek pemberdayaankepemilikan, masalah-masalah yang masyarakatnya. Menurut Anda?mungkin akan muncul di kemudian hari lebih Sebelum diambil alih oleh PU dalam program replikasimudah mereka atasi sendiri. Mereka akan mencari pada 2005, paling banyak lokasi Sanimas itu tidak sampaisolusi-solusinya secara mandiri. Saya sering menemukan 15 yang dibangun antara 2003-2005. Tiba-tiba PUproblem-problem dalam pengembangan Sanimas, baik menginginkan membangun 100-an buah pada satu tahun.saat pra-pembangunan atau paska pembangunan, bisa Itu angka yang sangat besar sekali. Kami dulu khawatirdiatasi dan dicarikan solusinya oleh warga sendiri. apakah kualitas pemberdayaan masyarakatnya tetap Ini adalah perubahan paradigma. Jika dulu top down, berjalan?sekarang bottom up. Jika dulu dalam proyek-proyek Tapi tampaknya perlahan PU mulai mencoba mencaripembangunan itu teknologinya yang di depan, baru solusinya. Sejak 2008, misalnya, PU tidak asal memberikemudian manusia/warganya diberi pelatihan, sekarang lokasi Sanimas, tapi mencari kota atau kabupatensebaliknya. Manusia atau warganya sendiri yang diberi yang bersedia. Jika bersedia, kota atau kabupatenpengertian, pemahaman, diajak mencari solusi bersama, diminta mengirimkan tiga calon fasilitator yang akan dikondisikan untuk membangun konsensus bersama. dilatih oleh PU. Dari fasilitator inilah diharapkan Setelah itu baru teknologi masuk. kualitas pemberdayaan masyarakat yang jadi prasyarat pembangunan Sanimas tetap bisa dijaga kualitasnya. nWawancara Utama 34
  • 36. Ir. Basah Hernowo, MA Pelaku Tahap I(Mantan Direktur Permukiman dan Uji Coba (2001-2003)Perumahan Bappenas -- Direktur Kehutanan danKonservasi Sumber Daya Air Bappenas)Sanimas Itu HarusMemberdayakan Masyarakat Bisa diceritakan bagaimana awal mula keterlibatan saja kekurangan dan kelemahannya. Ternyata apa yangAnda dalam pengembangan Sanimas di Indonesia? Apa sudah kita susun dalam tataran kebijakan terbukti dikira-kira latar belakang yang mendasari pemerintah lapangan. Bahwa kalau masyarakat memang diberdayakantertarik dengan Sanimas? dan dilibatkan, maka program pemerintah akan jauh Sanimas mulai diujicoba pada 2003, saya waktu itu lebih berjalan dengan lancar dalam pelaksanaan dansudah menjabat Direktur Permukiman dan Perumahan pengelolaannya.di Bappenas. Tapi tahapan awalnya, terutama dalam Itu bukan hal yang terlalu baru, karena kita juga sudahkaitannya dengan peran saya, itu sudah jauh sebelum itu. melakukannya dalam program WSLIC. Hanya saja, untuk Bappenas sudah punya kerjasama dengan AusAid WSLIC itu kan sasarannya adalah masyarakat di pedesaan,sejak 1998 dan juga sudah punya kerja sama dengan sementara Sanimas ini untuk wilayah perkotaan. TapiWorld Bank. Jadi hubungan tiga pihak ini (pemerintah aspek mendasarnya sama saja, warga dilibatkan, diajakIndonesia, World Bank dan AusAid, red) makin baik. berpartisipasi, bahkan dimintai sharing dana dalam prosesLalu kami berinisiatif mengajak dua pihak itu untuk pembangunannya.bekerjasama melakukan sesuatu yang riil di lapangan, dan Dulu beberapa teman yang berpengalaman di WSLICbukan hanya di tataran policy. Tapi kami sejak itu sudah itu mengevaluasi soal air minum dan sanitasi. Merekaingin menekankan beberapa aspek yang harus dilakukan, sudah lama bergelut dengan persoalan air dan sanitasiterutama ada pemberdayaan masyarakat dan juga bagi masyarakat. Dari situ mereka bisa melihat bahwamasyarakat harus diajak berpartisipasi. kegagalannya karena warga tidak dilibatkan, sementara Lalu kita cari kira-kira siapa yang bisa melakukannya. dalam WSLIC masyarakat dilibatkan melalui sharing.Kira-kira tahun 2001, kami bertemu dengan beberapa Dari situlah lantas aspek sharing yang sukses dalamteman-teman LSM. Ada BaliFokus, LPTP sampai Best. WSLIC itu coba diaplikasikan dalam Sanimas. Dan terbukti,BORDA sendiri waktu itu memang sudah Sanimas memang selalu berhasil kalau masyarakatpunya teknologi yang bisa diaplikasikan. diberdayakan lebih dulu, partisipasinyaDari situlah lantas dimulai tahap pilotting dipersiapkan lebih dulu. Jangandi tujuh lokasi, enam di Jawa Timur dan bangunan dulu dibangun lantassatu di Denpasar pada 2003. masyarakat baru diajak bicara. Maka kita minta BORDA Apa evaluasi dari tahap pilotting untuk membantuitu? Dari yang sudahdilakukan itu,kita lantasmempelajariapa ZEN 35
  • 37. dalam soal teknologinya dengan DEWATS. Tapi teman- Kasubdit waktu itu. Dari situlah masuk Pak Handy Legowo,teman BORDA waktu itu minta agar dibantu dalam misalnya. Pak Susmono sendiri dulu masih di posisiaspek pemberdayaan dan membangun partisipasi sebagai Kepala Seksi. Ini memangkas banyak hambatanmasyarakatnya. Maka kita siapkan bantuan dari teman- birokrasi, karena relatif sejajar. Kami memulai denganteman yang lain itu, seperti LPTP, BEST dan BaliFokus. semangat dan visi yang sama. Tidak sama sekali berpikir ego-sektoral. Kenapa lokasi terbanyak dalam tahap pilotting itu di Jangan heran kalau dulu Pokja Sanitasi itu tidak adaJawa Timur? SK-nya. Sampai ada yang bertanya, ini kelompok liar apa Karena memang banyak pemerintah kota dan lagi? Tapi saya tekankan, daripada ada SK tapi kita tidakkabupaten di Jawa Timur yang apresiatif terhadap kerja, lebih baik tidak usah ada SK. Ini membuat kendalatawaran Sanimas ini. Mereka pro-aktif, bersemangat koordinasi dan hambatan birokrasi menjadi mudahmengikuti pertemuan-pertemuan dan terlihat dari untuk diatasi. Kita bisa luwes bertemu, berdiskusi, salingsitu mereka memang punya kemauan yang lebih kuat mencarikan solusi, kadang juga sesekali ‘bertengkar’dibanding yang lain. Jawa Tengah waktu itu tidak terlalu untuk mempertahankan argumentasi.antusias, sementara Jawa Barat cenderung wait and Pokja AMPL juga sama, terutama dalamsee. Baik provinsi dan tingkat II di Jawa Timur banyak pengembangan Sanimas. Tanpa Pokja AMPL akanmenyokong. Jadi karena memang Jawa Timur yang banyak sukar sekali koordinasinya. Bagusnya lagi, satu samamenampakkan kemauan dan semangat. lain memang tidak punya ambisi untuk menonjolkan prestasinya masing-masing. Tampaknya semua sadar kalau Apa kekurangan yang muncul dalam tahap ini program kolektif untuk memecahkan satu persoalanpilotting ini? riil yang sudah kompleks dan karenanya Ya, namanya juga tahap ujicoba yang sangat membutuhkan banyak tangan untukawal, masih trial and error, tentu saja masih Tan bekerja memecahkannya. Pok pabanyak kekurangannya. Salah satunya adalahketidaksabaran pemerintah untuk mengikuti Ada kesulitan dalam soaltahap pemberdayaan sesuai prosedur. Kalau AM ja menyebarkan konsep pemberdayaantidak salah di Mojokerto. Karena tidak sabarbarangkali, akhirnya sharing masyarakat P suk akan L masyarakat di kalangan pemerintah? Iya. Di awal-awal saya berbicara soal koo ar seitu di take-over atau diambil alih oleh rdin kal pemberdayaan masyarakat, partisipasipemerintah. Maksudnya mungkin asin i ya BORDAbaik, tapi karena aspek sharingmasyarakatnya tidak dipenuhi, jaditidak maksimal dalam pengelolaansetelah beroperasi. Bagaimana dimulaimembangun kerja sama lintasinstansi? Bagaimana mengelolakoordinasinya jika yang dilibatkanadalah orang-orang lintasdepartemen? Saya mengambil inisiatif darilevel terbawah dulu. Tidak mungkinkita langsung bicara di sesamalevel eselon satu, misalnya. Itulebih susah. Saya memulai denganteman-teman yang, katakanlah, adadi bawah. Saya sendiri masih jadi ..........................Pelaku Tahap I 36
  • 38. BORDAwarga, dan lain-lain., banyak yangkomplain. Mereka bilang, ngapain kitabicara pada masyarakat? Mereka maupakai atau nggak itu terserah mereka.Kira-kira begitulah. Tidak mudahuntuk meyakinkan pentingnya konseppemberdayaan masyarakat. Saya sendiri teryakinkan dengansoal ini karena pernah melihatlangsung jauh sebelumnya diMaumere. Saya lihat ada dua proyekpemerintah di sana dengan nasib yangberbeda. Di lokasi satu jalan dan bagus,yang kedua itu mangkrak. Saya tanyapada warga, kenapa? Mereka bilang,ini punya kami, karena kami terlibatmembangun, ikut membayar dansharing, makanya kami jaga. Yang lainitu punya pemerintah, bukan punyakami. Itu yang saya dengar langsungdan saya sangat terkesan dengan itu. tah Walikota Blitar. Dia bagus sekali kemauan eriniri politiknya untuk menuntaskan soal-soal sanitasi. Bagaimana setelah AusAid tidak Pemend ak s tid Hasilnya? Saat dia maju lagi, menang dia. u t tentu targeimeneruskan dana hibah Sanimas? Apa Sekarang, saya kira isu sanitasi sudahyang membuat yakin Sanimas untuk ma DG in t harus lebih menjadi isu krusial lagi. Apalagiterus? M lese kita punya target MDG yang harus dipenuhi Karena kita memang sudah melihat hasil me pada 2014. Itu tantangan di depanSanimas tahap pilotting atau ujicoba yang mata, sesuatu yang riil, konkrit, butuhrelatif berhasil. Apalagi saya sendiri melihat pemecahan, bukan cuma omong-omongbahwa konsep pemberdayaan masyarakat yang di atas meja. Saya kira itu pula yang membuat isujadi kunci Sanimas itu memang bisa memecahkan sanitasi mulai dperhitungkan. Pemerintah sendiri tentupersoalan pengelolaan proyek pembangunan yang tidak mau target MDG ini meleset. Biar bagaimana pun iniseringkali tidak terkelola dengan baik oleh masyarakat. bukan hanya soal pemenuhan hajat hidup riil masyarakat,Saya masih ingat kejadian yang di Maumere seperti yang tapi juga soal pencapaian pemerintah itu sendiri.saya sebutkan sebelumnya. Apa pengalaman mengesankan yang Anda alami Apakah sejak ada Sanimas ini pelan tapi pasti isu selama terlibat dalam Sanimas?Sanitasi mulai menjadi sesuatu yang dianggap penting? Saya datang ke satu lokasi, saya lupa ProbolinggoAtaukah masih dianggap isu sekunder saja? atau Pasuruan, ada nenek-nenek yang datang dan Dulu itu kan anggaran untuk sanitasi itu kecil. Kita mencari-cari saya. Dia bertanya, “Yang namanya Paksering mendengar, anggaran untuk air minum segini, Basah mana ya?” Ternyata dia mencari-cari saya. Dan diauntuk jalan segini, tapi untuk sanitasinya mana? Kecil berterimakasih sekali pada saya karena merasa merekasekali dulu biasanya. Sanitasi masih dianggap sebagai mendapatkan air bersih itu karena saya. Tentu saja tidakisu yang minor. Padahal ini isu yang riil, persoalan yang seperti itu persisnya karena ini sebenarnya adalah kerjalangsung menyentuh masyarakat. Tiap orang kan per hari banyak orang. Saya sendiri memang meminta padabuang air besar, kan? teman-teman untuk menggunakan nama saya kalau di Makanya, jangan heran, kalau pemimpin daerah lapangan ada kendala. Mungkin karena itulah warga diyang sukses menuntaskan persoalan-persoalan riil beberapa tempat, termasuk nenek-nenek tadi,di wilayahnya, akan punya peluang besar untuk menganggap saya yang berperan, padahal ya--katakanlah-- memenangkan pemilihan kepala daerah tidak begitu-begitu amat. nberikutnya seumpama dia maju lagi. Contohnya adalah 37 Pelaku Tahap I
  • 39. Alfred Lambertus(World Bank) Ajang Pembelajaran bagi LSMdan Pemerintah Bisa diceritakan bagaimana awal keterlibatan Anda Terhadap Kebutuhan”, masyarakat sebagai pengelola dandengan pengembangan Sanimas di Indonesia? pemelihara pembangunan, dan konsep pemberdayaan Saya sebagai Task Team Leader Sanimas. Tugas masyarakat lainnya yang ada dalam tataran konsep perlusaya adalah mengidentifikasi dan menyeleksi mitra dibuktikan di lapangan. Sanimas dilaksanakan dengankerja berupa Perusahaan atau LSM yang bisa tujuan membumikan konsep-konsep tersebut, yangmemahami konsep Sanimas. Selanjutnya, dalam tahap merupakan pembelajaran dari proyek sukses maupunpelaksanaannya, saya juga bertugas memantau kegiatan gagal sebelumnya, baik itu di dalam maupun luar negeri.pembangunan dan pengembangan Sanimas di banyaklokasi. Apa pengalaman menarik yang Anda alami dan temui dalam kerjasama pengembangan Sanimas ini? Bagaimana sebenarnya keterlibatan WSP-EAP dalam Bagi saya yang paling menarik adalah bagaimanapengembangan Sanimas di Indonesia? dua kutub yang yang berseberangan dalam hal konsep Bappenas, Pokja AMPL dan WSP-EAP adalah pembangunan, yaitu LSM dan Pemerintah, ternyatapenyelenggara WASPOLA yang bertujuan menerbitkan bisa bekerja sama secara harmonis. Inilah keberhasilanKebijakan Nasional AMPL. Konsep-konsep: “Tanggap utama Sanimas. Saya berpikir, awalnya kedua kubu akan BORDAPelaku Tahap I 38
  • 40. saling tidak menyukai dan saling tidak percaya. Ternyata WASPOLA 2 dan seterusnya jadi tampaknya donortidak demikian kenyataannya. Sanimas merupakan ajang menilai keseluruhan kegiatan ini (termasuk Sanimas) tidakpembelajaran yang baik bagi keduanya untuk mengenal bisa dibilang gagal. Dari sisi tujuan proyek, yaitu upayakekurangan dan kelebihan masing masing pengarus-utamaan atau mainstreamingsehingga bisa saling mengisi. sanitasi berbasis masyarakat (perkotaan), Dari sisi penerapan “pendekatan”, tujuan ini tampaknya mencapai sasarannya.ternyata pelaksanaan di lapangan juga Terus terangtidak semudah seperti di tataran konsep. saya tidak yakin Dalam pengembangan Sanimas, PokjaContohnya, “Tanggap Terhadap Kebutuhan”. pemerintah AMPL menjadi focal point dari sekianDasar pemikirannya adalah yang “tidak punya keberani- banyak instansi dan lembaga yang terlibat.butuh buat apa dilayani?“. Konsep ini an itu jika Pokja Apa komentar Anda terkait peran yangbetul-betul diuji di dalam Sanimas. Satu AMPL belum dimainkan Pokja AMPL?pertanyaan yang dilontarkan dari kawan terbentuk Salah satu kelemahan birokrasiLSM dalam uji pendekatan ini adalah: adalah komunikasi. Komunikasi yang“Bagaimana jika tidak ada satupun kota yang tersendat-sendat, apalagi kalau sampaiberminat?” Itu pertanyaan yang tersumbat, menjadi hambatanbetul-betul valid. utama pembangunan. Dalam Pokja Jawaban saya ZEN AMPL, hambatan ini terpangkas,sederhana: “Jika komunikasi antar anggota menjadibegitu hasilnya tidak kaku, tidak selalu harusmaka proyek ini formal, informasi dari mana sajabubar.” bisa sampai dalam waktu cepat. Sanimas pada waktu itu sangat Bagaimana dengan membutuhkan prasaranaseleksi calon penerima seperti itu dan syukurnya haldi masing-masing kota? itu tersedia. Di Bali dan Jatimteridentifikasi 21 kota Apa komentar Anda ihwal sikapdengan pendapatan per pemerintah yang tetap melanjutkan Sanimaskapita di atas 300 ribu kendati tidak ada lagi dana hibah dari AusAid? Adakah(tahun 2001). Kepada 21 kota ini di situ Pokja AMPL berperan?diperkenalkan Konsep Sanimas. Selanjutnya “Bridging“ yang dilakukan pemerintah saat itukepada mereka diinformasikan adanya pertemuan sebenarnya penuh dengan risiko. Dari uji di lima tempatlanjutan untuk membahas Sanimas secara lebih dalam. itu langsung dilanjutkan dengan dana APBN. MenurutSyaratnya mereka menyediakan transportasi ke Surabaya, saya itu merupakan suatu keberanian karena belum tentusedangkan hotel dan akomodasi disediakan. Dari 21 kota ujicoba awal yang skalanya terbatas itu terlalu sahih. Terusada 15 kota yang hadir. Dalam pertemuan didiskusikan terang saya tidak yakin pemerintah punya keberanian ituapa saja komitmen yang harus dipenuhi kota jika berminat jika Pokja AMPL belum terbentuk.terhadap proyek ini. Dari 15 hanya 6 yang mempunyaikomitmen untuk menindaklanjuti. Ternyata kota-kota yang Pemerintah menggandeng LSM BORDA sebagai mitraberminat tersebar di kawasan yang luas, dari Blitar sampai strategis dalam pengembangan Sanimas di Indonesia.Pamekasan, dari Denpasar sampai Pasuruan. Kota yang Ada komentar mengenai Borda dan adakah catatantersebar jelas memerlukan dana manajemen yang juga menarik yang patut diperhatikan?besar. Sedangkan dana tidak mudah untuk dikempiskan Keterlibatan BORDA dilakukan melalui pemilihanatau dikembangkan. sistem pengadaan Bank Dunia yang ketat dan diumumkan secara terbuka. BORDA dan mitra lainnya, seperti LPTP, Menurut Anda bagaimana penilaian donor tentang Balifokus, Best, atau YIS, terpilih secara profesional.keberhasilan atau kegagalan program di lapangan? Sebenarnya, awalnya konsep pembangunan Saya sulit menilai hal ini karena saya bukan lembaga berbasis masyarakat menjadi ajangdonor. Tetapi kalau kita melihat bagaimana donor perdebatan yang cukup sengit antara WSP(AusAID) melanjutkan WASPOLA 1, dilanjutkan menjadi dan BORDA. Perbedaan 39 Pelaku Tahap I
  • 41. ZEN lumpendapat itu sehat dan bisa menghasilkan ma s beyai hambatan ini sedikit demi sedikit akansesuatu yang lebih baik. Sani empun ang terkikis. Salah satu kelebihan BORDA yang m tegi y enai Terlepas dari kelebihannya yangpatut dicatat adalah mereka tidak kaku, stra mengaan s sudah terbukti di banyak lokasi,baik dalam manajemen maupun dalam jelaengelol nya apa sebenarnya kekurangan dankeuangan. Setiap proyek mempunyai batas p mpur kelemahan Sanimas?dan juga jelas ukurannya, begitu juga dengan lu Di dunia tak ada yang sempurna.Sanimas. BORDA bisa memutuskan dengan Namun saya lihat saat ini (mungkin sayacepat untuk menambahkan dananya sendiri jika salah) Sanimas belum mempunyai strategi yang jelasmemang diperlukan sepanjang untuk kepentingan mengenai pengelolaan lumpurnya, misalnya: bagaimanamasyarakat tanpa harus berlama-lama dan tertahan membuangnya? Ke mana? Tanggung jawab siapa? Untukoleh birokrasi yang berbelit belit. Misalnya, dalam apa? Apakah ada dananya? Apakah ada rencana membuatpembangunan turap yang sebenarnya tidak ada dalam tempat pengering lumpur (sludge drying bed)? rancangan awal. Tapi BORDA dengan mudah saja Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan jawaban.mengeluarkan dana. Sampai saat ini saya tidak melihat Sanimas mengupayakan jawabannya. Sanimas hanya salah satu opsi yang ada Bagaimana dengan keterlibatan lintas departemen? untuk mengelola limbah cair manusia serta bagaimanaApa kira-kira kendalanya? mengkombinasikan opsi-opsi ini di satu kawasan sehingga Sebagai orang awam saya melihat bahwa konsep sanitasi di wilayah tersebut bisa membaik.Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) menghambat kerja sama Selain itu, saat ini Sanimas hanya dilayani 2 jenisantardinas atau departemen. Seharusnya Pokja AMPL pelayanan, yaitu: MCK Plus ++ (dominan) dan perpipaanbisa menjadi jalan keluar, namun anggota Pokja AMPL dari rumah ke rumah yang tersambung pada IPALpun (notabene menjadi bagian dari direktorat/dinas Komunal. Sanimas sebenarnya diharapkan tidak terbatastertentu) masih terikat tugas di instansi asalnya. Menurut kepada dua jenis ini, misalnya seperti: septic tanksaya, selama Pokja (juga di daerah) masih belum bisa bersama, MCK yang dikombinasikan dengan warung/menentukan satu sasaran (one target one priority) yang kios di atasnya. Siapa tahu terobosan-terobosan itu bisa sama (baik wilayah/lokasi maupun pendanaan) tanpa menjamin kelanjutan operasional. dibebani konsep “pemerataan” tapi lebih Jika hal-hal di atas itu bisa diperbaiki, maka Sanimas kepada skala prioritas, maka akan menjadi semakin baik dan akan lebih meyakinkan. nPelaku Tahap I 40
  • 42. Andy Ulrich(Direktur BORDA-HQ, Team Leader Sanimas 2001-2003)Ujicoba Sanimas jadiKarir Terbaik Saya DOK. PRI. Untuk memberi gambaran kepada yang jelas untuk mencapai kesuksesan danpembaca, bisakah anda menjelaskan terdapat semangat yang besar dari semuaperan anda pada saat awal Sanimas? mitra. Semua profesional dan tenaga ahli Keterlibatan dan peran saya pada tahap yang terlibat mempunyai semangat "semuaawal Sanimas sebagai Koordinator Borda di pasti bisa dikerjakan" (can do spirit), kecualiIndonesia, yang bertanggungjawab dalam kadang-kadang Pak Alfred Lambertus (WSP)pengembangan konsep pelaksanaan proyek sedikit pesimis sebab beliau meragukansejak tahun 1991. Saya membaca iklan bahwa Sanimas dapat terlaksana.tawaran pekerjaan pelaksanaan Sanimas diHarian Jakarta Post bersama pak Hamzah Dalam pelaksanaan sehari-hari, Pokja(Best Tangerang) sehabis menghadiri acara AMPL banyak berperan sebagai focal pointterkait Hari Air Dunia Tahun 2000. pada tahap uji coba Sanimas. Seperti apa peran Pokja AMPL yang signifikan dalam Bagaimana latar belakang keterlibatan Borda dalam hal ini?Sanimas. Sebagai mitra pemerintah, peran apa yang Menurut pendapat saya, Pokja AMPL berperandilakukan oleh Borda? sangat penting sebagai organisasi profesional yang Bersama dengan 2 (dua) LSM yaitu LPTP (Solo) dan dapat menjembatani kesenjangan antara koordinasiBEST (Tangerang), BORDA sejak 1999 melaksanakan lintas departemen dan pelaksanaan di lapangan. Pokjaproyek air limbah tedesentralisasi dan sanitasi berbasis AMPL juga dapat menjembatani multi institusi di internalmasyarakat, yang bermitra dengan sejumlah kabupaten pemerintah daerah dan berbagai institusi pemerintahdan kota di Indonesia. pusat. Pada masa 1989-1998, BORDA telah melaksanakanprogram pengembangan perkotaan dan pedesaan terpadu Menurut anda, apa yang mendorong pemerintah(termasuk biogas, pengomposan, sanitasi) bersama BEST pusat kemudian melalui Pokja AMPL meneruskan ujidan LPTP. Program didanai oleh pemerintah Jerman dan BORDAdilaksanakan hanya pada 4 (empat) kabupaten di JawaTengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sanimas dimulai dengan uji coba di tujuh kabupaten,dan merupakan kerjasama banyak pihak yaitupemerintah (pusat dan daerah), lembaga donor, LSMdan masyarakat. Adakah pengalaman menarik darikerjasama ini. Apakah terdapat kendala dalam halkoordinasi? Apakah kerjasama ini tidak terkendala olehmasih kurangnya pengalaman dalam bermitra denganpemerintah? Saya menganggap tahap uji coba Sanimas merupakansalah satu bagian terbaik dari kiprah profesional saya.Kerjasama antara beragam mitra sangat terbuka, tidakada agenda tersembunyi, semua mempunyai keinginan 41 Pelaku Tahap I
  • 43. coba Sanimas pada tahun kedua dan ketiga setelah dana Pada tahap uji coba, keterlibatan lintas departemenhibah Australia tidak lagi tersedia? masih terlihat tetapi kemudian setelah direplikasi Konsep utama Sanimas terlaksana dengan baik. Konsep keterlibatan lintas departemen menjadi kurang terlihat.tersebut juga berhasil mengubah program dari World Apakah ini sesuai dengan yang direncanakan pada tahapBank-consultant-contractor level yang mahal menjadi uji coba? Kalau tidak bagaimana sebaiknya?program pengembangan sanitasi yang dapat dilaksanakan Kami menganggap bahwa setelah berjalan beberapaterutama ketika dibiayai dari dana pemerintah. tahun, Sanimas telah memperlancar pemahaman BORDA bahwa lebih baik satu departemen yang mengkoordinasikan sanitasi. Saya percaya bahwa pengaturan seperti ini mengurangi waktu dan biaya. Sekiranya waktu dapat diputar kembali, hal apa yang sebaiknya perlu dilakukan tetapi tidak sempat terlaksana pada saat uji coba tersebut? Kita sebaiknya fokus pada pemetaan sanitasi, sebagai contoh mempersiapkan rencana peningkatan sanitasi skala kota memanfaatkan konsep Sanimas. Dengan begitu, pelaksanaan Sanimas akan berkelanjutan dan terpadu. Selain juga kita sebaiknya menetapkan target cakupan Sanimas, katakanlah 10-20 persen dari total rumah tangga. Ini merupakan komitmen bagi setiap kota untuk meningkatkan kondisi sanitasi dengan cara an g yang terstruktur. ua yat Semerlib yai Apakah Sanimas saat ini seperti t pun mem angat yang diinginkan pada saat uji coba seman do dahulu? "c irit" Pendanaan saat ini untuk satu Hal yang menarik dari Sanimas adalah sp lokasi Sanimas masih sama denganketerlibatan banyak pihak, namun yang paling kondisi pada tahun 2003 sekitarmenarik adalah keterlibatan BORDA sebagai 200 juta rupiah. Jika kita ingin tetapmitra pemerintah. Bagaimana prosesnya sehingga memelihara cakupan yang sama seperti padakemudian BORDA terlibat dalam Sanimas? Bagaimana saat uji coba, kita sebaiknya meningkatkan alokasi danapengalaman bermitra dengan pemerintah pada saat itu? fasilitas fisik setidaknya sebesar 25 persen. Pengalaman bekerjasama sangat menarik bagi BORDA.Sejak Orde Baru berakhir, kami mempunyai hubungan Terlepas dari keberhasilan Sanimas, apakah terdapatyang baik dan efektif dengan institusi pemerintah kelemahan dari Sanimas? Paling tidak hal yang perluIndonesia. Selama pemerintahan Orde Baru, pemerintah diperbaiki? Apakah yang sebaiknya dilakukan dalamtidak bersedia bekerjasama langsung dengan LSM meningkatkan kinerja Sanimas.asing. Bagi kami, lebih mudah bekerjasama dengan Saya percaya kita perlu memulai layanan pengelolaanpemerintah Indonesia karena kami adalah LSM yang lumpur tinja di setiap kota yang terlayani Sanimas. Inidananya seluruhnya berasal dari pemerintah Jerman atau berarti tersedianya Instalasi Pengolahan Lumpur Tinjakatakanlah LSM pelat merah, sehingga mudah memahami (IPLT) yang berfungsi baik, truk penyedot tinja, danmisi dan visi dari pemerintah Indonesia. Dari sisi pandang besarnya tarif yang dapat menutup biaya layanan. Layanankewiraswastaan, kami menyukai pengarusutamaan dan pengelolaan lumpur tinja dapat disatukan dengan layanan replikasi skala besar. Hanya kalau ini terbukti, program Sanimas, juga tangki septik individual. Tanpa layanan dapat dianggap berhasil. pengolahan lumpur tinja yang rutin, masalah lingkungan tidak seluruhnya terselesaikan. nPelaku Tahap I 42
  • 44. I Made Sukawardika(Kepala Bappeda Kota Blitar)Dari Sanimaske Kampung Iklim NEZ Seperti apa keterlibatan Anda pada awal-awal ujicoba persoalan sanitasi masyarakat perkotaan, solusi yangSanimas? sifatnya komprehensif, terutama menyangkut buang Pada saat itu saya masih bertugas di Bappeda, di air besar, ketiadaan air bersih, dan pengolahan limbahbagian Fisik dan Sarana Prasarana. Pada saat itu ada cair domestik. Kami berpikir, selain harus komprehensif,data yang masuk mengenai tingginya angka penyakit diperlukan pendekatan baru yang bisa membawamuntaber dan diare, terutama di kelurahan Sukorejo, perubahan secara signifikan.Turi, Pekunden, juga Kauman. Setelah diselidiki, ternyata Sanimas dengan pendekatan pemberdayaanbanyak rumah yang belum memiliki jamban keluarga, masyarakat menjadi salah satu alternatif yang waktusehingga mereka buang air besar ke sungai atau tempat itu dianggap cukup memadai. Kami cukup yakin bahwalainnya yang tidak higienis. dengan pemberdayaan masyarakat, persoalan sanitasi Persoalan penyehatan lingkungan kebetulan memang bisa digarap dengan lebih maksimal, karena di situ bukanmenjadi salah satu tugas saya sebagai Kepala Bagian hanya pemerintah saja yang bekerja, melainkan warga punFisik dan Sarana Prasarana di Bappeda. Pada saat itulah diajak partisipasinya. Nah, partisipasi warga itu yang jadiada presentasi mengenai konsep Sanimas dari tim Borda faktor kunci dari Sanimas, karena tidak mungkin persoalansekitar awal 2003. Bahkan Pak Andy Ulrich juga hadir sanitasi yang sangat riil dan kompleks hanya ditanganiwaktu itu. Kepala Bappeda saat itu adalah Pak Taufik. Dari secara top down.situlah kami menyusun rencana yang dipresentasikan Sudah sering dibangun MCK atau toilet umum,kepada Bapak Bupati. Sejak itulah mulai Sanimas tapi sering tidak berjalan maksimal, karena partisipasidikembangkan di Blitar. warganya tidak disiapkan. Sebab, jika masyarakat tidak menghendaki, apa pun yang pemerintah Bisa Anda ceritakan bagaimana Blitar tertarik untuk berikan sukar akan langgeng dan maksimalmengembangkan Sanimas? atau berkelanjutan. Pada saat itu kami mulai mencari solusi-solusi atas 43 Pelaku Tahap I
  • 45. Bagaimana dengan tawaran teknologi Sanimas? akan menjadikan ini sebagai batu loncatan untukApakah itu juga menarik perhatian pada waktu itu? mengkampanyekan hal yang lebih besar yaitu mengenai Ya, tentu saja. Apalagi Sanimas juga menawarkan perubahan iklim. Pada 2009 Blitar memang terpilihteknologi IPAL komunal yang menurut hemat kami jauh sebagai kota percontohan program adaptasi perubahanlebih efektif dan efisien. Warga tidak harus membuat iklim bersama Bandar Lampung dan Semarang. Untuk kotaseptic-tank sendiri-sendiri. Itu bisa jadi solusi menyangkut kecil sendiri hanya Blitar.lahan di perkotaan yang sempit dan sudah banyak Kami sedang merancang semacam “kampung iklim”bangunan. Selain itu, kualitas air juga akan terjaga karena dan sudah ada tiga kandidat kampungnya. Sanimas yangIPAL dirancang untuk menahan agar limbah di dalamnya berbasis kolektivitas dan pemberdayaan warga jadi contohtidak akan merembes ke luar. sekaligus pelajaran bagi kami untuk mengaplikasikan gagasan “kampung iklim”. Konsep itu pun berbasis Bagaimana setelah Sanimas berhasil dikembangkan masyarakat, seperti halnya Sanimas. Lokasi-lokasidi Blitar? Apakah Sanimas layak jadi solusi kandidat “kampung iklim” juga yang pernahalternatif memecahkan persoalan ng merasakan bagaimana konsep pemberdayaansanitasi di perkotaan? . ..yaonjol s masyarakat yang partisipatoris seperti a Saya kira, selain konsep pemberdayaan men anim rga Sanimas. S wamasyarakat, yang menonjol dari Sanimas i daralah ikanadalah warga dikondisikan untuk bekerja ad kondis se- Sanimas ini kan dibangun dengansecara kolektif. Bukan hanya IPAL-nya saja di ekerja ektif pendanaan yang multi sumber. Adayang kolektif, tapi juga harus ada kesepakatan b a kol catatan menarik tentang pendanaandan pemahaman yang sama ihwal pentingnya c ar multi-sumber dalam Sanimas?memecahkan persoalan sanitasi. Di kota, Konsep pendanaan multi-sumber ini mulanyaumumnya, warga cenderung individualis. Padahal, agak menyulitkan, terutama terkait mekanismekompleksitas persoalan di kota itu sudah saling kait pertanggungjawaban anggaran. Sekarang sudah mulaimengait, sehingga butuh partisipasi warga secara kolektif mudah karena pendanaannya sudah diposkan sebagaidan serentak. Inilah barangkali yang membuat Sanimas dana hibah yang langsung datang kepada masyarakat. Inilayak dijadikan altenatif memecahkan persoalan sanitasi di seperti yang dulu pernah kami lakukan dengan programperkotaan. block grant di mana per kecamatan diberi dana sebesar 3 milyar. Tiap desa bisa menyusun tawaran program apa, dari situ naik ke kecamatan dan akhirnya dipilih oleh pemerintah kabupaten. Itu lebih mudah dari segi pertanggungjawaban pendanaan. Selain multi-sumber dari segi sumber pendanaan, program Sanimas ini juga melibatkan banyak pihak. Apakah ini tidak menyulitkan dalam soal koordinasi? Pada awal-awalnya memang cukup sulit. Biasanya pembangunan-pembangunan pemerintah itu mudah koordinasinya karena hanya melibatkan antar instansi terkait, misalnya PU dengan kontraktor. Tapi kali ini tidak, belum lagi konsep dan metodenya juga berbeda. Pada waktu itu kita diajak pendekatan baru, BORDA pembangunan sanitasi dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang partisipatoris. Waktu itu kami kesulitan, Bagi Blitar sendiri apakah ke depan Sanimas akan apalagi dalam soal sanitasi ini tidak banyak yangterus diaplikasikan di kawasan-kawasan padat penduduk sepenuhnya mengerti. Tapi berkat pendampingan BORDAdi perkotaan lainnya? yang intensif, pelan-pelan kami bisa melakukannya dan Tentu saja. Sanimas akan jadi basis pemecahan mengembangkannya secara lebih mandiri. Dari situ persoalan sanitasi di perkotaan. Ini sudah berjalan kami bisa merancang program-program pemberdayaan di beberapa lokasi dan hasilnya baik. masyarakat lainnya, terutama program-program yang Pemerintah Blitar sendiri terkait sanitasi.Pelaku Tahap I 44
  • 46. Saya khawatir ini akan jadi set-back seperti pola-pola pembangunan di masa lalu yang serba top-down. Mungkin ada daerah lain yang lebih suka dengan sistem kontraktual, tapi karena di Blitar ini sudah terbiasa dengan konsep pemberdayaan masyarakat yang partisipatif, kami berharap pembangunan sanitasi dengan dana DAK itu tetap menggunakan konsep Sanimas. Kami percaya, pembangunan dengan melibatkan partisipasi masyarakat akan lebih bertahan lama, akan lebih berkelanjutan dan lebih mendidik masyarakat untuk terlibat aktif memecahkan persoalan-persoalan yang ada di lingkungannya masing-masing. Dengan program Sanimas ini apakah Blitar bisa memenuhi target MDGs? BORDA Untuk masyarakat miskin dan perumahan padat kita perkirakan persoalan sanitasi bisa terselesaikan pada Bisa dijelaskan apa saja program-program lanjutan 2015. Sehingga untuk aspek sanitasi dalam programyang masih ada kaitannya dengan sanitasi dan konsep MDG’s, kami yakin bisa tercapai. Tinggal soal air minumpemberdayaan masyarakat yang partisipatoris itu? yang perlu kerja keras. Kami sudah menyiapkan program- Tadi saya sudah ceritakan soal Kampung Iklim, tapi itu program lainnya untuk mengejar ketertinggalan di bidangbukan satu-satunya. Untuk 2015 kami sedang mencoba selain sanitasi, seperti air minum itu tadi.menggagas sistem sanitasi per kecamatan. Jadi kita akanmerangkai sistem sanitasi komunal ala Sanimas itu akan Sanimas sudah berjalan hampir sepuluh tahun sejakdihubungkan ke dalam satu sistem [IPAL] di satu tempat. tahapan uji coba dan mulai memasuki tahap penggunaanKami belajar dari Bangkok untuk soal metode ini. Kami dana DAK. Sanimas juga sudah dibangun di banyak sekalimasih merancang bagaimana agar teknologinya bisa lebih lokasi, bahkan luar Jawa. Adakah saran yang bisa Andamurah tapi tanpa mengurangi efisiensinya. berikan terkait pengembangan Sanimas ini? Kita sudah menyiapkan juga titik awalnya yaitu di Saya berharap Sanimas terus dikembangkan. SelamaKecamatan Sukorejo, di salah satu titik pojok barat ini konsepnya kan masih kepada masyarakat yangSukorejo. Kawasan Sukorejo ini juga yang dulunya jadi titik kondisinya setara, seperti sama-sama masyarakat relatifawal program Sanimas. Kami menganggap masyarakat miskin, di perumahan atau pemukiman padat. Kenapadi sana sudah tidak asing lagi dengan program-program Sanimas tidak diterapkan dalam perumahan-perumahan?pembangunan yang berbasiskan pemberdayaan Kebetulan di Blitar ada sekitar 15 perumahan, danmasyarakat. semuanya dengan konsep sanitasi lama yaitu satu rumah satu septic tank. Ini kan tidak bagus. Di atasnya saja Untuk 2010 sendiri, pemerintah Blitar masih rumah-rumahnya bagus, bagaimana dengan di bawahnya:berencana membangun fasilitas Sanimas tidak? Kira-kira kualitas tanah dan airnya bagimana? Mereka kan bisaada berapa lokasi? membayar sendiri untuk membangun IPAL. Atau, sedari Untuk 2010 kami sebenarnya merancang ada tiga awal para pengembang diwajibkan untuk mengadopsilokasi untuk Sanimas, dua perumahan dan satu di konsep IPAL komunal.pesantren, seperti yang bisa kita lihat di Pondok Pesantren Makanya kalau boleh menyarankan, tidak ada salahnyaNurul Ulum itu. Tapi kami masih menunggu bagaimana kalau teman-teman pegiat Sanimas mulai menyentuhmekanisme pelaksanaannya karena tiga lokasi itu area yang selama ini belum tersentuh itu. Jika ini tidakrencnanya akan menggunakan dana DAK. Kami belum segera dimulai, saya khawatir setelah kawasan masyarakattahu, apakah konsep Sanimas akan dipraktikkan lagi atau miskin dan perumahan padat penduduk bisa diselesaikanmenggunakan konsep kontraktual karena sampai sekarang problem sanitasinya, malah kawasan-kawasan masyarakatbelum ada kejelasan soal ini. menengah ke atas ini yang sanitasinya belum Kelemahan dari prosedur kontraktual itu kan mencapai tahap ideal. nmasyarakat tidak diajak omong, minim partisipasi,dan aspek pemberdayaannya kurang diperhatikan. 45 Pelaku Tahap I
  • 47. M. Taufik, SH, M.AP(Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Kota Blitar) Blitar Sudah Biasadengan Pemberdayaan Bisa diceritakan bagaimana awal mula keterlibatan memulai mempraktikkan konsep pemberdayaanAnda dengan pengembangan Sanimas? Bagaimana Blitar masyarakat dalam program-program pembangunan,akhirnya tertarik dengan Sanimas? terutama yang menggunakan dana APBD. Sejak otonomi Waktu itu saya menjadi Kepala Bappeda Kota Blitar. daerah, pelan tapi pasti Blitar merasa pembangunanLalu ada presentasi dari BORDA. Pak Surur Wahyudi dan berbasis masyarakat sudah harus segera dilakukan, danPak AnDy Ulrich sendiri datang waktu itu. Saat itu kami kami sudah mulai melakukannya sejak 2001.menerima penjelasan tentang konsep baru penanganansanitasi yaitu dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Berarti saat ada presentasi mengenai programPenjelasan-penjelasan yang diberikan itu cukup Sanimas itu Anda dan teman-teman di pemerintahanmeyakinkan sehingga kami waktu itu merasa ini mungkin Blitar merasa tidak terlalu asing dengan konsep berbasisbisa diandalkan sebagai solusi memecahkan persoalan masyarakat yang partisipatoris itu?sanitasi di perkotaan, terutama di kawasan padat dan Betul, itu sebabnya kami lebih mudah menerimadengan tingkat pendapatan yang relatif rendah dan penjelasan teman-teman BORDA terkait program sanitasiterbatas. berbasis masyarakat. Kami berpikir waktu itu, tidak ada Tawaran salahnya jika konsep pemberdayaan masyarakat itu jugaprogram Sanimas diterapkan dalam upaya kami memecahkan persoalandengan konsep sanitasi di perkotaan.pemberdayaanmasyarakat itu Ada pengalaman menarik dengan pelaksanaanterasa sinkron pembangunan Sanimas untuk yang pertama kali dikarena di Blitar?Blitar sendiri Jelas ada. Tempat yang jadi tahap uji coba yangsejak 2001 pertama itu adalah Sukorejo. Itu kawasan yang bisasudah dibilang “kawasan merah”. Penduduknya padat, banyak premannya. Memang kawasan yang dekat terminal rata- ZENPelaku Tahap I 46
  • 48. rata hampir seperti itu. Kampung itu juga banyak dihuni tidak ada kesulitan. Kami sudah memulai programgelandangan dan pengemis. Itu tantangan yang sangat pemberdayaan masyarakat itu sejak 2001, melaluiberat. Tapi berkat pendekatan yang terus menerus dan program block grant, di mana dana itu diserap langsungtidak kenal lelah dari teman-teman BORDA di lapangan oleh masyarakat. Waktu itu kami sudah punya sedikitdan juga teman-teman fasilitator dari pemerintah, pengalaman untuk program-program seperti ini.akhirnya program Sanimas bisa dilaksanakan di Sukorejo.Dan menurut saya bukan cuma bisa dilaksanakan, tapi Selain multi sumber dari segi pendanaan, Sanimasjuga berhasil. Buat saya itu sungguh-sungguh prestasi. juga kan multi stake-holder. Ada dari BORDA, ada dari Itu membuat kami lebih optimis saat mencoba untuk AusAid di fase ujicoba, ada dari pusat. Bagaimanayang berikutnya. Kami berpikir, kalau di kawasan koordinasinya?seperti Sukorejo saja sudah berhasil, tentu di Waktu itu Bappeda menjadi titik sentralkawasan lain yang lebih familiar akan relatif bisa Ka koordinasi berbagai pihak yang terlibat. Darilebih mudah. Kebetulan lokasi Sanimas yang mi internal pemerintah saja kan sudah lintaskedua dan ketiga memang lebih mudah, yaitu no berp tida sektor, ada dari PU, Dinas Kesehatan, mi ik kdi Karang Tengah dan Kauman. na ir Dinas Lingkungan, ada pihak kelurahan kn tap lny ow i a, led BORDA Bagaimana dengan Sanimas di lokasi gepondok pesantren yang dimulai di PondokPesantren Nurul Ulum? Tentu lebih mudah dan kami tidak rumit sepertimemikirkan pertama kali di Sukorejo, kendatitantangannya juga ada dan jelas berbeda. Hanyasaja pembangunan Sanimas di Pondok PesantrenNurul Ulum itu juga menarik untuk dicatat karenakarakternya berbeda dengan tiga lokasi pertama diSukorejo, Karang Tengah dan Kauman. Jika tiga lokasipertama itu ada di kawasan pemukiman warga, diPesantren itu kan berbeda, itu tempat pendidikan.Itu semacam babat alas yang kedua, sementaraSukorejo itu babat alas yang pertama. Sanimas ini kan konsep pendanaannya multisumber. Di tahap uji coba ada dana dari Australiamealui AusAid, dari BORDA, dari pemerintah pusat dan kecamatan. Dan itu relatif bisa menyelesaikandan dari APBD sendiri. Adakah kesulitan terkait konsep hambatan-hambatan birokrasi.pendanaan yang multi sumber itu? Sementara dalam kaitannya dengan pihak eksternal, Waktu itu kami tidak berpikir berapa dana yang karena Sanimas ini juga melibatkan LSM dan pihak-diberikan kepada kami dari sumber luar, baik itu pihak lainnya, kami menerapkan manajemen satu pintu.dari AusAid, BORDA atau pusat. Kami tidak berpikir Maksudnya, kalau ada masalah di lapangan, mereka tidaknominalnya, tapi kami lebih menilai pada knowledge, harus datang ke instansi tertentu satu per satu, misalnyapengetahuan apa yang bisa kami pelajari, bisa kami ke PU atau Dinas Kesehatan atau Bappeda atau instansiaplikasikan, bisa kami gunakan. Lagi pula kami merasa mana pun yang mereka butuhkan. Bappeda lagi-lagi yangkekurangan dana masih bisa ditutupi oleh APBD kami menjadi pintu koordinasnya pada tahap ujicoba itu.sendiri. Bagaimana menurut Anda peranan pemerintah pusat Bagaimana dengan persoalan akuntabilitas dan dalam pengembangan program pembangunan yangpertanggungjawabannya, mengingat di daerah lain ada lintas-sektor seperti Sanimas ini?kesulitan soal ini? Pertama, pemerintah pusat tentu saja Dulu saya yang mengawal sendiri soal ini, saya berperan sebagai regulator, menyusun dansendiri yang menandatangani MoU-nya dan saya merasa membuat mekanisme kerja, 47 Pelaku Tahap I
  • 49. ZEN dan pengaturan-pengaturan lain Pokja sanitasi ini bekerja secara fungsional, semacam rasa ..sayamas yang sifatnya kebijakan. Kedua, lembaga ad hoc, jadi tidak terikat pada struktur. Itu . ni pemerintah pusat juga menjadi sebabnya saat saya sudah tidak di Bappeda, saya Sa dah su baik mediator antara pemerintah masih memegang Pokja Sanitasi di Blitar. Jadi, yang t sanga tingkat II dengan Pemerintah diperhitungkan itu adalah kemampuan dan kapasitas Provinsi, karena tidak masing-masing, bukan jabatan atau strukturnya, karena menutup kemungkinan ada jabatan itu bisa berpindah dan berubah. problem-problem yang muncul dalam kerja sama dan koordinasi juga kesepahaman Ada pengalaman menarik selama Anda terlibatantara pemerintah tingkat II dengan pemerintah provinsi. dengan program pengembangan Sanimas ini?Beruntung di Jawa Timur ini hubungan antara kami di Yang menarik buat saya adalah ikhtiar mengubah polapemerintah tingkat II dengan provinsi relatif harmonis. berpikir dan perilaku masyarakat, terutama di kawasan Ketiga, pemerintah pusat juga bisa ikut menjamin dengan masyarakat yang kompleks seperti di Sukorejo.supaya program-program pembangunan di daerah itu bisa Saya tidak membayangkan sebelumnya bisa masukterus berlanjut, salah satunya dengan ikut mencarikan ke “kawasan merah” seperti Sukorejo dan lebih tidakjalan untuk mendapatkan dana-dana alternatif dari membayangkan lagi kami bisa pelan-pelan mengubahluar. Pemerintah pusat bisa menjadi fasilitator dan perilaku keseharian mereka, terutama dalam soal sanitasi,pendampingan, semacam memberi bekal. Kan tidak seperti buang air besar, dan lain-lain.semua daerah punya pengalaman dalam soal menggalidana-dana alternatif, terlebih dana-dana hibah dari luar Jika waktu dapat diputar kembali, apa yang akannegeri. anda lakukan untuk membuat Sanimas lebih baik saat diterapkan di Blitar? Di pusat, ada Pokja AMPL yang jadi focal point Apa ya? Menilik keberhasilan Sanimas pada tahappengembangan sanitasi, terutama Sanimas. Bagaimana ujicoba di kawasan Sukorejo, saya rasa Sanimas sudahdi tingkat kota seperti di Blitar? Apa masih Bappeda? sangat baik. Sudah cukup ideal, kira-kira. Tapi saya Khusus untuk sanitasi, kami juga sudah membentuk punya harapan untuk replikasi Sanimas, terutama yangpokja, yaitu pokja sanitasi, dari mulai tingkat kota, menggunakan konsultan dengan konsep kontraktual.kecamatan sampai kelurahan. Pokja di tingkat kelurahan Saya berharap, fase paska pembangunan itu dibakukanitu bukan KSM, karena KSM itu mengelola fasilitas pola maintenance-nya, harus lebih dimatangkan sebelum sanimas masing-masing. Pokja kelurahan itu diperlukan para konsultan yang membangun itu selesai dengan jika dalam satu kelurahan ada beberapa kontraknya. Ini untuk menghindari kemungkinan lempar titik-titik kegiatan. tanggung jawab jika ada masalah di kemudian hari. nPelaku Tahap I 48
  • 50. Nyoman Sudarsana(Lurah Ubung, Denpasar, Bali) Karena Sanimas Ubung Jadi Terkenal Kelurahan Ubung di Denpasar dikenal sebagai salah Kalau tidak salah lokasi di Gang Jempiring juga yangsatu kelurahan yang sering menjadi lokasi pilot project jadi awal program sanitasi di era 2000-an?pengembangan sanitasi. Sejak kapan hal itu dimulai? Betul. Pada 2002 ada pertemuan yang diselenggarakanApakah sejak diperkenalkannya Sanimas? oleh BaliFokus bersama BORDA yang berhasil Sebenarnya jauh sebelum Sanimas mulai merumuskan masalah dan solusinya. Pendekatannyadikembangkan di Denpasar, kelurahan Ubung sudah berbeda dengan MCK zaman dulu, melainkan di sinimengenal program sanitasi. Pada era Orde Baru, sekitar masyarakat diajak berembuk, diajak bicara, diberikantahun 1980-an, di kelurahan Ubung itu sempat dibangun sosialisasi, dan dilibatkan partisipasinya. Jadi bukan lagibeberapa bangunan MCK, mungkin sekitar 4 buah. top down.Masyarakat di sini biasa menyebutnya MCK Moerdiono Dari situlah lantas terealisasi MCK model baru, yangkarena peresmiannya memang oleh Moerdiono yang sama sekali berbeda dengan MCK Moerdiono. Orangwaktu itu sebagai Mensesneg. Lokasinya ada di Gang menyebutnya MCK Plus++. Selain septic-tank-nya kedapJempiring. Itu kawasan yang mayoritas penduduknya air, masyarakat juga bisa menikmati air bersih di situdari luar Bali. Mereka mengontrak tanah atau rumah dari untuk kepentingan mandi atau mencuci. Dan septic-tankwarga Bali sendiri. penampung MCK itu juga bisa menghasilkan biogas. Karena tingkat kepadatan yang tinggi, MCK Moerdiono Fasilitas itu pengoperasiannyaitu pun lama-lama tidak sanggup menampung lagi. diresmikan langsung olehBelum lagi persoalan kepedulian dan rasa kepemilikan Walikota Denpasar pada 6warga yang memang rendah. Tidak aneh, saat septic-tank Agustus 2003.MCK itu sudah penuh dan bermasalah karena tidak bisadisedot, maka MCK itu ditinggalkan begitu saja. Dan warga Bersamaan denganakhirnya kembali membuang kotoran ke selokan atau pengentasan problemsungai. sanitasi di Gang Jempiring, di titik Apa yang jadi penyebab MCK Moerdiono itu yang berdekatan jugatidak maksimal? Apakah karena tidak ada aspek kemudian dibangunpemberdayaannya? hal yang sama, yaitu di Saya tidak tahu tepatnya karena periode itu sudah Gang Pucuk Sari. Bisasangat lama. Mungkin masalahnya memang kompleks, dijelaskan masalah dijadi bukan cuma karena tidak ada pemberdayaanmasyarakatnya. ZEN 49 Pelaku Tahap I
  • 51. sana? Apakah sama dengan di Gang Jempiring? Di Pucuk Sari masalahnya lebih kompleks lagi.Di sana itu banyak sekali industri tahu dan tempe.Limbahnya itu dibuang ke selokan dan sungai begitusaja. Ini membuat selokan dan sungai jadi kotor, airnyahitam dan mengakibatkan bau. Ini mengganggu wargadi sekitarnya dan mereka komplain kepada pemerintah.Karena komplain itulah pemerintah mengancam menutupindustri tahu tempe itu jika para pengusahanya tidakmau membangun instalasi pengolahan limbah industri.Lingkungannya juga kumuh, kepadatannya tinggi. Jadi di sana selain soal sanitasi dari limbah cairdomestik, juga ada limbah industri tahu dan tempe. Iniyang membuat di sana permasalahannya berbeda danberkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Apa yang membuat di Pucuk Sari bisa jadi kumuhseperti itu? Kenapa sejak awal mereka tidak membuatIPAL? Mereka itu kebanyakan pendatang yang tinggalmengontrak. Jadi mereka memang tidak punyalahan untuk membangun septic-tank atau ... soal aninstalasi pengolahan limbah. Mulanya sihtidak masalah karena tingkat kepadatan masihrendah dan jumlah industri masih sedikit. Tapi sanitabiahs d limmakin lama makin banyak sehingga kawasan itu mestipelan-pelan menjadi salah satu kawasan paling industr-isamakumuh di Denpasar. sama gani Sementara limbah industri sendiri dibuang ditan Bagaimana pemecahan persoalan dike selokan dan ke sawah. Tapi seiring terus Pucuk Sari itu?meningkatnya jumlah industri dan bertambahnya Pemecahannya tidak bisa sepertitingkat kepadatan, maka banyak juga lahan- yang dilakukan di Jempiring. Di sana, sanitasi yang terkaitlahan sawah yang akhirnya dibangun. Ini membuat air limbah domestik atau tinja dan limbah industri harustempat mereka membuang limbah juga makin berkurang diselesaikan bersamaan, holistik dan tidak bisa setengah-sementara produksi limbahnya malah terus bertambah. setangah. Lagi-lagi dengan bantuan BaliFokus dan BORDA, OM juga dengan konsep yang sama-sama melibatkan warga, disepakatilah untuk dibangun Sanimas dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri tahu tempe. Untuk Sanimas dibangun menggunakan sarana perpipaan komunal, bukan MCK Plus++ seperti di Jempiring. Setelah keduanya berjalan dan beroperasi, terbukti bahwa memang untuk Pucuk Sari pemecahannya tidak bisa satu per satu atau parsial. Solusinya memang harus holistik, di mana soal sanitasi dan limbah industri mesti sama-sama ditangani. Kalau waktu itu cuma salah satu saja, saya tidak yakin situasinya bisa seperti sekarang. Memang seperti apa hasilnya sekarang? Kalau Anda pernah ke Pucuk Sari pada awal 2000- an, di situ memang lokasinya kumuh, padat, kotor dan juga bau. Hujan sedikit ada genangan di mana-mana,Pelaku Tahap I 50
  • 52. buangan limbah seperti di Pucuk Sari. Tiap-tiap rumah juga rata-rata sudah punya jamban sendiri. Tangki septik bagaimana? Apa masih satu rumah satu tangki septik? Kedap air tidak tangki septiknya? Kondisinya memang begitu. Tiap rumah yang punya jamban pribadi otomatis punya septic-tank sendiri. Jadi masih satu septic tank untuk satu rumah. Kebanyakan juga belum kedap air. Itu sebabnya saya berpikir di Kelurahan Ubung itu masih memungkinkan dikembangkan kembali program Sanimas. Hanya saja mungkin ini perlu kajian lebih mendalam lagi, karena biasanya Sanimas itu kan di lokasi yang rumahnya belum punya jamban. Anda sudah mendengar lahan yang menjadi lokasi IPAL industri tahu dan tempe di Pucuk Sari itu adalah lahan sewaan? Bagaimana jika kontraknya habis? Sebentar lagi, sekitar 2013 itu akan habis. Apakah pemerintah Kelurahan Ubung sudah memikirkan pemecahannya? Saya tentu saja tahu persoalan ini. Memang belum ada pembicaraan dengan para pemilik tanah mengenai kemungkinan perpanjangan sewa. Kami pikir itu masih ZEN relatif lama. Tapi memang tidak ada salahnya dibicarakan jauh-jauh hari. Kami sendiri bersedia dan memang kin... Ub harus memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak, tem i m un antara pengelola IPAL, warga dan pemilik lahan. jun pa enja g Diharapkan akan ditemukan titik temunya. g tselokan penuh, got-got meluap. ba an s kun diSekarang itu sudah berkurang nd tud - Sebagai pemimpin tertinggi di Kelurahan Ubung,jauh. Bau sudah tidak ada ing i apakah Anda sendiri merasa Sanimas sudah sangatlagi. Debit air di got-got itu juga membantu memecahkan persoalan sanitasi di wilayahmenyusut drastis. Genangan kalau hujan yang Anda pimpin?juga hilang, terutama setelah masuk program Tentu saja. Itu sudah jelas. Tentu masih ada persoalanpenataan permukiman penduduk di perkotaan yang belum terpecahkan. Misalnya penduduk yang ada diyang berhasil memasang paving block di gang-gang di dekat sungai masih ada yang membuang kotoran rumahPucuk Sari. tangganya ke sungai. Namun angkanya sudah berkurang Itu dari segi penampilan luar. Dari sisi kesehatan, amat signifikan. Tapi secara keseluruhan, Sanimaskualitasnya juga meningkat. Sejauh laporan yang saya memang amat membantu memecahkan persoalan itu.terima, angka penyakit akibat demam berdarah atau diare Ubung yang dulu dikenal kelurahan yang kumuh,atau muntaber juga berkurang. Ini akibat pola sanitasi padat dan kotor, perlahan-lahan mulai bisa mengubahyang lebih baik. Sudah tidak ada lagi yang buang ke sungai citra dan reputasinya. Ubung kini bahkan sering menjadiLempuyang. Ngapain ke sungai, di tiap rumah sekarang tempat kunjungan orang-orang yang ingin belajar atausudah ada jamban sendiri-sendiri, kok. studi banding mengenai pemecahan persoalan sanitasi di perkotaan, terutama di kawasan padat penduduk. Bukan Kalau di kawasan lain di Kelurahan Ubung bagaimana cuma mahasiswa atau peneliti, tapi para pejabat darikondisinya? Apakah rata-rata seperti di Jempiring atau daerah lain sudah sering berkunjung ke mari. Saya sudahPucuk Sari juga? biasa menerima pejabat atau orang-orang Kalau di kawasan lain sih tidak separah seperti di penting dari negara lain yang berkunjung keJempiring atau Pucuk Sari. Tidak ada kawasan yang di Ubung, terutama ke Pucuk Sari. nsatu lokasi menjadi sentra industri rumah tangga dengan 51 Pelaku Tahap I
  • 53. Abdul Mukti(Kelompok Mekar Sari Jaya, Pucuk Sari, Ubung, Denpasar) Tak Ada Masalah dengan Kelangkaan Minyak ZEN Bagaimana ceritanya sampai prosesnya. Di sini sendiri memang adawarga di Gang Pucuk Sari, Ubung, masalah dengan sanitasi. Tidak banyakDenpasar, ini bisa memiliki fasilitas yang punya septic-tank, maklum kamiSanimas? semua pendatang, rata-rata lahannya Di sini kebanyakan warga terbatas. Akhirnya buang air besarpendatang dan banyak di antara ke Sungai Lempuyang. Jadi ada duamereka memiliki industri kecil masalah waktu itu, limbah industriberskala rumah tangga, seperti pabrik dan limbah cair.tempe dan tahu atau usaha potong Waktu itu Kelompok Mekarayam. Waktu itu limbah industri Sari Jaya yang membawahi paradibuang begitu saja ke selokan dan pengusaha kecil di sini berembugsungai. Ini tentu lama-lama merusak dengan BaliFokus, juga darilingkungan, membuat selokan kotor, pemerintah. Akhirnya disepakatidan baunya itu mengganggu warga bahwa antara limbah industri dandi kawasan lain. Pada 2003, karena limbah tinja itu tidak bisa diselesaikanpengaduan dari masyarakat yang satu per satu, harus utuh dan terpadu.merasa terganggu dengan bau dan Akhirnya mulailah dibangun Instalasilimbah industri kecil ini, terjadi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untukpenutupan paksa usaha industri industri dengan dua IPAL. Sementararumah tangga tahu, tempe, dan untuk Sanimas ada satu IPAL. Sistempotong ayam oleh Dinas Ketertiban yang digunakan untuk Sanimas adalahdan Ketentraman Kota Denpasar. perpipaan komunal. Kami waktu itu diminta untukmembuat instalasi pengolahan Kapan itu mulai direalisasikanlimbah yang bisa mengurangi kualitas pembangunannya?lingkungan, terutama baunya yang Saya lupa persisnya, tapi kira-menyengat itu. Kami sanggupi, karena kira pada Agustus atau Septembertidak mungkin kami menutup pabrik 2003. Pada februari 2004, satutahu dan tempe atau usaha potong lokasi IPAL industri tahu tempe diayam. Tapi kami kan tidak tahu Pucuk Sari Selatan diresmikan olehbagaimana caranya. Akhirnya datang Walikota Denpasar yang diwakilibantuan dari BaliFokus. oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar. Saat yang sama juga Tapi itu kan bukan limbah cair diresmikan penggunaan sistem domestik atau limbah tinja? Sanimas. Sementara IPAL satunya Hampir bersamaan, lagi di Pucuk Sari Utara menyusul kok, kemudian.Pelaku Tahap I 52
  • 54. 5000,- per bulan. Alhamdulillah relatif tidak terlalu bermasalah dalam penarikan iuran ini. Warga saya nilai terhitung cukup kooperatif. Ada satu dua yang suka menunda, tapi saya kira itu masih dalam batas toleransi. Warga cukup sadar bahwa iuran mereka memang dibutuhkan untuk pengelolaan Sanimas. Operator yang bertugas mengontrol bak penampung, mengecek pipa- pipa dan membereskan jika ada sumbatan itu juga kan butuh honor. Nah, dari iuran itulah honor itu diberikan. Petugas lapangan mendapat honor sebesar 500 ribu rupiah, sementara untuk yang mengurus IPAL industri tahu dan tempe mendapat honor sekitar 300 ribu rupiah. Honor untuk petugas perawatan fasilitas Sanimas lebih besar karena IPAL-nya memang harus lebih sering dicek. Bak penampungnya juga secara berkala perlu untuk diperiksa, terlebih pada musim hujan. Apa persoalan yang kerap kali muncul dalam perawatan dan pengelolaan fasilitas Sanimas? Sumbatan pada pipa-pipa sambungan rumah itu yang kerap muncul. Masih ada warga yang s tak eka membuang sampah padat ke jamban, wa ad ran seperti kain, pembalut, dan lain-lain. Itu ZEN bu rga a la g menyumbat sambungan pipa dari rumah. Apa kendala yang muncul dalam g be ang yang i Kami cukup sering memberi pemahamanpembangunan Sanimas? sar air Lemsun d bahwa jangan sampai membuang sampah- pu gai i Kendala yang dihadapi saat sampah padat ke saluran pipa, tapi masih kadanghendak membangun Sanimas ada yang mengulanginya.itu sama saja dengan kendala yan Selain itu, kadang, IPAL masih suka mengeluarkanyang muncul dalam pembangunan g bau, terutama saat musim hujan. Tapi itu tidak sering.IPAL industri tahu dan tempe, yaitu Artinya masih dalam batas normal. Masih jauh lebihketiadaan lahan. Susah di sini mencari lahan. bagus daripada bau yang dulu muncul saat belum ada IPALKalau pun ada, harganya mahal, dan tidak ada biaya Sanimas maupun IPAL industri tahu dan tempe.untuk itu. Akhirnya untuk IPAL industri tahu dan tempedipecahkan solusinya dengan menyewa tanah selama Menurut Anda, apa hasil paling terlihat setelah di10 tahun. Sementara untuk lokasi IPAL Sanimal akhirnya Pucuk Sari ini ada fasilitas Sanimas?menggunakan badan jalan di wilayah Pucuk Sari Selatan. Yang jelas, wilayah ini lebih bersih. Dulu, kawasan ini terkenal sebagai tempat yang kumuh, kotor dan bau. Ada berapa rumah yang sistem sanitasinya terhubung Selokannya mengeluarkan bau. Got-got di depan rumahdengan pipa-pipa Sanimas? itu airnya hitam. Warga juga buang air besar di sungai Ada sekitar 150 Kepala Keluarga (KK) yang ikut Lempuyang dengan sembarangan. Sekarang, setelah adaSanimas. Ada beberapa rumah yang tidak terhubung IPAL Sanimas dan terutama IPAL industri tahu dan tempe,dengan pipa-pipa Sanimas, tapi bukan karena mereka kawasan ini menjadi jauh lebih rapi dan bersih. Dulu, kalautidak mau bergabung, melainkan letak rumahnya itu tidak hujan sebentar, genangan sudah di mana-mana, serbamemungkinkan mereka ikut terhubung dengan pipa-pipa becek. Sekarang sudah tidak lagi. Got-got kecil itu jugaSanimas. debit airnya sudah berkurang drastis. Dari situ kan kualitas kesehatan warga juga kian membaik. Berapa iuran yang harus dibayar tiap-tiap rumah per Kemudian dari segi perilaku masyarakat.bulannya? Sekarang tak ada lagi warga yang buang air Tiap-tiap rumah diwajibkan membayar sebesar Rp. besar di sungai Lempuyang. 53 Pelaku Tahap I
  • 55. Orang-orang jelas memilih buang air besar di jamban Sejak 2003 di sini sudah ada Sanimas. Sekarangrumahnya sendiri-sendiri. Jelas mereka malu kalau harus memasuki tahun 2010, artinya sudah 7 tahun. Itu waktubuang air besar di sungai Lempuyang lagi. Sementara yang tidak sebentar. Apa harapan Anda ke depan?untuk generasi baru, yaitu anak-anak yang berada di Untuk Sanimas mungkin saya berharap IPAL-nya itubawah usia 10 tahun, praktis sejak kecil mereka sudah tak bisa terus bertahan. Tapi untuk IPAL industri tempe danpernah buang air besar di sungai atau kebun. Sejak awal tahu itu yang ada masalah. Seperti yang sudah sayamereka hanya tahu buang air besar ya di rumah sendiri. utarakan, kami menyewa dua lahan untuk lokasi IPAL industri tahu dan tempe selama 10 tahun. Bagaimana dengan biogasnya? Apakah Per tahunnya itu dulu 1,5 juta. Nah, tidak lamasudah keluar? Apakah digunakan oleh uh tujang lagi sewanya itu akan habis. Kami harapkanwarga? da y ada solusi untuk persoalan ini. Memang Biogas di sini tidak menunggu lama .. a ah guna-s . m kami belum membicarakan dengan pemilikuntuk keluar. Tidak sampai 3 bulan ru eng ioga tanah, tapi tidak ada salahnya berjaga-beroperasi kalau saya tidak salah ingat sudah m an b jaga.bisa keluar biogasnya. Hanya saja, biogas yang k Jangan sampai saat kontrak hampirmuncul itu tidak bisa digunakan untuk industri habis ternyata tidak bisa diperpanjang. Ini akantahu dan tempe. Energinya tidak mencukupi. repot. Masak kita harus membangun IPAL lagi? BerapaPaling untuk rumah tangga saja. Di Pucuk Sari Utara biaya lagi yang harus dikeluarkan? Kami menganggap iniada tujuh rumah yang menggunakan biogas dari Sanimas. penting untuk mulai dipikirkan. Karena kalau SanimasSementara di Pucuk Sari Selatan ada delapan rumah yang masih berjalan sementara IPAL untuk industri tahu danmemanfaatkan biogas. Rumah saya sendiri salah satu yang tempe ada masalah, itu sama saja efeknya nanti. nmenggunakannya. Sejak itu, praktis saya tak perlu lagimembeli minyak tanah. Sesekali kadang macet, tapi itu ZENcuma sebentar. Jadi kalau orang-orang ribut kelangkaanminyak tanah, saya tidak lagi merasakannya.PU ZENPelaku Tahap I 54
  • 56. Riani(Ketua RW 2 Lingkungan Balongcok, Balongsari, Kota Mojokerto)Tak Ada BABSLagi Warga yang Bagaimana kondisi lingkungan yang menjadi wilayah tim yang siap menerima dan melaksanakan sanimas.kerja Anda sebagai Ketua RW? Bagaimana kualitaslingkungannya dan fasilitas sanitasinya? Apakah akses Setelah diresmikan dan beroperasi, bagaimanawarga Anda terhadap sanitasi sudah cukup baik? pengelolaannya? Apa masih baik dan lancar? Bagaimana Setelah ada Sanimas jelas lingkungan di wilayah kami dengan partisipasi warga?jauh lebih sehat, terlihat bersih dan indah.  Menurut Alhamdulillah. Sampai saat ini Sanimas masihkami Sanimas merupakan awal dari sebuah perubahan beroperasi dengan lancar. Partisipasi masyarakat masihterhadap sanitasi. Akses masyarakat pun cukup baik. cukup bagus. Hanya saja menurut kami perlu ada penyegaran atau semacam review kembali tentang Bisa diceritakan bagaimana awal mula kampung yang sanimas. Misalnya ada kunjungan dari tim untukAnda pimpin akhirnya memiliki fasilitas Sanimas? Sejak bersosialisasi mengumpulkan warga dan anggota KSMkapan? Apa yang membuat warga menginginkan dan sehingga ada semangat dan rasa handarbeni (rasamembutuhkannya dan seberapa bersemangat memiliki) tidak akan luntur.warga dalam mengupayakan untukmendapatkan Sanimas? Apa saja manfaat yang sekarang Sejak tahun 2003 yang lalu dirasakan warga setelah ada Sanimas?kebetulan saya ikut terlibat Adakah perubahan perilaku wargalangsung dalam proses sanimas dalam soal sanitasi? Apakah masihini. Bermula saya dan para banyak yang melakukan buang airketua RT/RW serta tokoh besar sembarangan (BABS)?masyarakat dari lingkungan Satu hal yang pasti manfaatBalongcok dan Sumolepen dari Sanimas adalah perubahandiundang  Pak Lurah untuk perilaku. Tidak ada lagi masyarakatsosialisasi sanimas. Waktu itu BABS.dari 2 lingkungan yang sama-sama membutuhkan Sanimas Bisakah dibandingkan bagaimanaini diuji/diseleksi sejauh kesehatan dan kebersihan lingkunganmana kesiapan masyarakat di wilayah antara saat sebelum adamelakanakan sanimas. Melalui Sanimas dan sesudahnya?proses yang cukup panjang Jelas jauh berbeda. Jika dibandingdan akhirnya kami beserta dengan beberapa tahun yang laluwarga kami di lingkungan sebelum ada Sanimas, masihBalongcok dinilai oleh banyak warga yang 55 Pelaku Tahap I
  • 57. BORDA Satu hal yang pastiBuang Air Besar Sembarangan (BABS) seperti manfaat dari Teknologi, dapat  dilihat dari hasildi got/saluran depan rumah, di sawah, Sanimas adalah biogas dari pengelolaan IPAL yang dapatdi tong sampah (kotoran dimasukkan tas perubahan dinikmati masyarakat sekitar lokasikresek dibuang di tong sampah), kalau pun perilaku. Tidak sanimas.  Mengubah perilaku, dapatada Kakus (WC plung)  kotorannya masuk ada lagi dibuktikan bahwa dengan adanya Sanimaske saluran. Wah, pokoknya pemandangan masyarakat tidak ada lagi masyarakat yang BAB diyang menjijikkan. Saat itu kami juga berpikir BABS sembarang tempat.   apa yang bisa kami lakukan. Alhamdulillahdatanglah dewa penolong Sanimas. Sebagai warga Kota Mojokerto, Anda Dari tahun ke tahun Pemerintah juga tentu cukup mengenal karakter  masyarakatmemperhatikan usulan dari warga akan perbaikan saluran, Mojokerto dan kondisi serta gambaran umumperbaikan jalan dan pelebarannya hingga warga pun tak lingkungannya. Apa pendapat Anda terhadap kualitasenggan menghibahkan tanahnya untuk sarana pelebaran sanitasi di Kota Mojokerto? Seperti apa penilaian Andajalan. Dapat disimpulkan bahwa Sanimas adalah awal dari terhadap pemkot Mojokerto dalam soal sanitasi ini?perubahan sanitasi lingkungan. Saya pikir kondisi sanitasi di Kota Mojokerto sudah cukup bagus. Pemerintah Kota sendiri sangat serius. Menurut Anda, apa yang paling menonjol dalam Hal ini terbukti selalu ada dana pendamping dalamSanimas? Teknologinya? Konsep pemberdayaan pendanaan sanimas dari awal hingga tahun ini. Bahkanwarganya? Atau apa? dua tahun terakhir ini Pemkot sudah melaksanakan Menurut saya, Sanimas itu program sanitasi program Sanimas dana dari pusat (DAK). Namun demikianyang profesional. Mulai dari konsep pemberdayaan, masih satu lingkungan yakni Lingkungan Sumolepenteknologinya  termasuk merubah perilaku masyarakat dari Kelurahan Balongsari sampai saat ini tidak dapatkebiasaan buruk menjadi lebih baik. menerima Sanimas karena tidak ada lahan. Sementara Konsep pemberdayaan ini dapat kami rasakan ketika warga sekitar tidak mampu berswadAya penuh karenakami menjadi anggota KSM yang dipercaya melaksanakan mahalnya harganya harga tanah. Kondisinya  masih banyakpekerjaan fisik hingga pengelolaannya. Waktu itu saya dan yang membuat ”jamban plung”  yang kotorannya masukteman-teman diberikan pelatihan tentang  pembukuan, ke saluran. Hal ini sudah menjadi pemikiran pemkot untukcara pembuatan laporan dan lain sebaginya. Juga ada ilmu tahun 2011 diharapkan dapat teratasi.sanitasi. Saya juga berkesampatan menghadiri workshop/seminar dan sejenisnya baik di tingkat  regional maupun Anda sudah merasakan sendiri seperti apa Sanimas, nasional. Ini tentu merupakan ilmu yang bermanfaat apakah Sanimas juga bisa diharapkan menjadi solusi yang dapat kami sampaikan kepada persoalan sanitasi di Kota Mojokerto? anggota KSM dan masyarakat. Sangat bisa dan ini sudah terbukti. nPelaku Tahap I 56
  • 58. Oswar Mungkasa(Kelompok Kerja Air Minum dan Pelaku Tahap IIPenyehatan Lingkungan/Pokja AMPL) Penyempurnaan (2004-2005)Semua Pihak InginSanimas Berhasil Untuk memberi gambaran kepada pembaca, bisakah utama adalah hibah pemerintah Australia melalui AusAID,anda menjelaskan peran anda dalam tahap awal kesulitan tersebut belum terasa. Tetapi memasuki tahunSanimas? kedua ketika dana hibah digantikan oleh dana pemerintah Saya mulai terlibat dalam kegiatan Sanimas ketika Indonesia yang dikoordinasikan melalui Pokja AMPLmulai bergabung dengan Direktorat Permukiman dan Nasional, terdapat kendala dalam menyinergikan berbagaiPerumahan Bappenas pada pertengahan tahun 2002. sumber dana tersebut. Dana pemerintah pusat ternyataSalah satu tugas pertama saya adalah bekerjasama hanya dapat digunakan untuk penyediaaan material.dengan Pak Alfred Lambertus (WSP) agar uji coba Sehingga perlu pengaturan agar dana pemerintah kota,Sanimas berjalan lancar. Keterlibatan saya secara intensif LSM Borda, dan masyarakat dapat dialokasikan untuksampai pada tahun ketiga uji coba, sebelum Sanimas pemberdayaan masyarakat dan kegiatan lainnya. Kendaladilaksanakaan oleh Departemen Pekerjaan Umum. lainnya adalah waktu yang tersedia untuk penyerapan Setelah itu saya hanya menjadi pengamat saja. dana hanya kurang dari 6 bulan. Sementara penyiapanSekali-sekali diundang menjadi pembicara masyarakat harus dilakukan sejak awal tahun.dalam lokakarya. Saya punya pengalaman Berbeda dengan kekhawatiran awal bahwalucu. Dalam salah satu kunjungan saya ke kerjasama dengan LSM akan sulit, ternyata hallapangan untuk melihat proyek AMPL, salah tersebut tidak ditemui atau paling tidak bukanseorang fasilitator Sanimas yang kebetulan merupakan masalah besar. Mungkin karenahadir mendekati saya dan dengan tulus ingin semua pihak yang terlibat sama punyamenjelaskan program Sanimas kepada saya. keinginan besar untuk menyukseskan ujiMungkin dia menganggap saya tidak paham coba ini.  akan program Sanimas.   Dalam pelaksanaan sehari-hari, Sanimas dimulai dengan uji coba di tujuh Pokja AMPL banyak berperankabupaten, dan merupakan kerjasama sebagai focal point padabanyak pihak yaitu pemerintah (pusat tahap uji coba Sanimas.dan daerah), lembaga donor, Seperti apa peranLSM dan masyarakat. Bisa Pokja AMPL yang DY ED Manda jelaskan pengalaman signifikan dalammenarik dari kerjasama ini. hal ini?Apakah terdapat kendala Peran utamadalam hal koordinasi? dari Pokja AMPL Sebenarnya banyak terutama dalampengalaman menarik. memfasilitasiYang paling teringat WSP-EAP Bankadalah kesulitan Dunia danmemadukan sumberdana yang berbeda.Pada tahun pertamaketika sumber dana 57
  • 59. LSM Borda dalam menjalin kerjasama dengan pemerintah Hal yang menarik dari Sanimas adalah keterlibatandaerah. Kemudian tentunya yang penting adalah banyak pihak, namun yang paling menarik adalahmenyediakan sebagian dana yang cukup besar di tahun keterlibatan LSM BORDA sebagai mitra pemerintah.kedua dan ketiga. Tetapi yang jauh lebih penting bahwa Dapatkah anda menceritakan sedikit pengalamandengan keterlibatan yang total dari Pokja AMPL Nasional bermitra dengan LSM BORDA?menunjukkan keinginan yang besar dari pemerintah untuk Secara umum, pengalaman bermitra dengan Bordamempunyai jawaban terhadap permasalahan sanitasi merupakan pengalaman pertama bagi Pokja AMPLperkotaan. Inilah yang saya rasa menjadi sinyal kuat bagi Nasional. Namun keberhasilan kemitraan ini sebenarnyapemerintah daerah, LSM Borda, dan masyarakat untuk terletak pada tidak adanya keinginan diantara kami untuklebih bersemangat lagi.   saling menonjolkan keberhasilan masing-masing pihak. Perlu diingat bahwa pada saat itu, banyak yang Semuanya adalah hasil kerja bersama pemerintah (pusatmasih belum yakin akan keberhasilan uji coba ini. dan daerah), BORDA dan masyarakat. KeberhasilanKeraguan itu kadang-kadang muncul. Tentunya Sanimas adalah keberhasilan semua. Istilahresiko kegagalan uji coba ini akan ditanggung ... kerennya, semua berdarah-darah tanpa pamrih. be semterutama oleh kami yang ada di Pokja AMPL r Bahkan sekarang banyak pelaku Sanimas tidakNasional.  dadarah a u mengetahui bahwa sebenarnya semua itu r pa tanpah - berawal dari kerjasama donor, pemerintah, LSM, mr a dan masyarakat.  ih. .. Kemitraan, khususnya Pokja AMPL Nasional, dengan LSM BORDA tersebut bahkan berlanjut sampai saat ini. Kemitraan tersebut sudah meluas tidak hanya dalam pengembangan Sanimas tetapi juga dalam bentuk kegiatan lain seperti pengelolaan sampah berbasis masyarakat, penerbitan majalah Percik edisi Khusus, dan penyelenggaraan seminar.   Pada tahap uji coba, keterlibatan lintas departemen masih terlihat tetapi kemudian setelah direplikasi keterlibatan lintas departemen menjadi kurang terlihat. Menurut anda, apakah ini sesuai dengan yang anda rencanakan di tahap uji coba? Kalau tidak bagaimana BOWO sebaiknya? Sebenarnya satu hal yang saya sayangkan dari Apa yang mendorong agar pemerintah pusat melalui pengembangan Sanimas setelah dilaksanakan olehPokja AMPL Naional meneruskan uji coba Sanimas pada Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaantahun kedua dan ketiga setelah dana hibah Australia Umum adalah kentalnya nuansa bahwa Sanimas adalahtidak lagi tersedia? proyek sektoral/pusat. Sebenarnya kami rancang Sanimas Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa ini menjadi kegiatan pemerintah daerah melalui fasilitasipemerintah pada saat itu sedang berusaha memperoleh pemerintah pusat, sehingga di daerah tidak hanya dinascara yang efektif dalam mengatasi masalah sanitasi PU yang berperan tetapi juga dinas lainnya seperti dinasperkotaan. Pada uji coba tahun pertama terlihat hasilnya kesehatan, dan badan pemberdayaan. Hal ini didasaricukup menjanjikan. Walaupun demikian kami di Pokja pada kenyataan bahwa sanitasi adalah kegiatan lintasAMPL Nasional belum sepenuhnya yakin terhadap hasil departemen atau lintas dinas. Kedepannya sebaiknya diuji coba tahun pertama tersebut. Sehingga disepakati daerah dinas lainnya juga dilibatkan. untuk melanjutkan uji coba paling tidak selama duatahun lagi dengan memanfaatkan dana pemerintah pusat Keterlibatan Bappenas dan Pokja AMPL terutamamenggantikan dana hibah pemerintah Australia. Terus pada masa awal Sanimas. Walaupun anda sudah tidakterang dukungan Pak Basah sebagai Ketua Pokja AMPL terlibat lagi, namun sekiranya waktu dapat diputar Nasional pada saat itu merupakan modal yang sangat kembali, hal apa yang menurut anda sebaiknya perlu besar bagi kami untuk melanjutkan uji coba dilakukan tetapi tidak sempat terlaksana pada saat uji ini.   coba tersebut?Pelaku Tahap II 58
  • 60. Secara umum pelaksanaan pembangunan sebaiknya pemahaman dan kapasitas dari pemerintah daerah.melalui tiga tahapan yaitu  (i) kegiatan peningkatan Sanimas masih belum menjadi bagian dari programpemahaman pengambil keputusan di daerah, baik pemerintah daerah. Belum terjadi proses institusionalisasieksekutif maupun legislatif,  (ii) institusionalisasi dan di daerah. Mudah-mudahan hal ini bisa segera kita benahi.  pengarusutamaan; (iii) pelaksanaan. Kegiatan pertamadapat berupa road show yaitu berupa kunjungan ke Terlepas dari keberhasilan Sanimas, apakah andawalikota dan anggota DPRD termasuk kepala dinas terkait melihat kelemahan dari Sanimas?. Paling tidak hal yanguntuk menjelaskan latar belakang kegiatan. Kemudian perlu diperbaiki? Apakah yang sebaiknya dilakukandilanjutkan dengan upaya memasukkan kegiatan dalam dalam meningkatkan kinerja Sanimas?rencana daerah melalui fasilitasi pemerintah pusat, Salah satu persyaratan utama dari program sepertisehingga kegiatan ini menjadi bagian kegiatan pemerintah Sanimas adalah tersedianya fasilitator yang handal.daerah. Hal ini diantaranya dapat tergambarkan dalam Ketika kemudian Sanimas menjadi program nasionalbentuk masuknya kegiatan Sanimas dalam dokumen dan dilaksanakan di banyak lokasi pada saat bersamaan,perencanaan daerah. Setelah itu barulah dilaksanakan ketersediaan fasilitator ini yang menjadi kendala. Sayapembangunan fisik. melihat kita kesulitan mendapatkan fasilitator yang Hal pertama dan kedua ini yang tidak sempat handal. Patut diingat bahwa pada saat yang bersamaandilaksanakan karena kami semua terfokus pada pemerintah juga melaksanakan kegiatan yang sejenispelaksanaan uji coba fisik di daerah.   seperti Pamsimas, WSLIC-2, ProAIR, CWSH yang kesemuanya membutuhkan fasilitator handal. Ini salah Apakah Sanimas saat ini seperti yang anda bayangkan satu kelemahan Sanimas.pada saat uji coba dahulu? Sehingga ke depan pelaksanaan kegiatan pelatihan Sebagian besar ya. Tetapi saya melihat banyak daerah terus menerus menjadi suatu keniscayaan. Selain itu,yang melaksanakan Sanimas hanya sebagai bagian dari peningkatan pemahaman dan kapasitas pemerintahupaya mendampingi alokasi dana yang disediakan oleh daerah menjadi sesuatu yang perlu ditambahkan secarapemerintah pusat. Ketika dana pemerintah pusat tidak khusus dalam Sanimas. Berbasis masyarakat akan berjalantersedia lagi maka pemerintah daerah pun berhenti baik ketika pemerintah daerahnya paham dan mengertimelaksanakan Sanimas. Kemungkinan karena kita hanya fungsinya sebagai fasilitator, pendukung, pendampingfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan masyarakat. nfisik tetapi kurang memberi perhatian pada peningkatan PU 59 Pelaku Tahap II
  • 61. Ir. Handy B. Legowo(Kasubdit Air Limbah, Direktorat PLP, Departemen Pekerjaan Umum)Agar Tak Ada Lagi Monumen Cipta Karya Bisa diceritakan bagaimana keterlibatan Anda dalam perkembangannya, termasuk beberapa kali turun kepengembangan Sanimas? lapangan. Ternyata, fasilitator turun banyak setelah Saya sudah terlibat sejak tahap pertama yaitu di tahap shalat maghrib, setelah orang-orang pulang bekerja.pilotting pada 2003. Kami diajak omong dan berembug Mereka telaten sekali melakukan pendekatan. Itu ternyataoleh teman-teman yang lain, seperti dari BORDA, membuat masyarakat tersentuh dan akhirnya mau terlibattermasuk dalam soal teknologinya, metodenya, dan lain- dan dilibatkan. lain. Tapi waktu itu kami masih “tukang Dulu itu kan otak saya otak top-down. Di otak saya insinyur”, yang tidak tahu apa-apa cuma buat desain yang bagus, tidak terlalu memikirkan soal social engineering dan masyakarat mau terima apa tidak, yang penting pemberdayaan masyarakat. dibangun dulu saja. Ternyata tidak sesederhana itu. Waktu itu saya baru tahu Pemberdayaan masyarakat pelan-pelan mulai bisa masuk kalau lokasi-lokasi yang dan diterima sebagai sebuah konsep pendekatan yang akan dibangun berada di layak untuk dipertimbangkan. Sebenarnya kami pernah perkotaan. Terus terang membuat beberapa program dengan konsep yang juga mulanya saya pesimis pemberdayaan, seperti WSLIC, tapi untuk Sanimas ini mengingat karakter warga berbeda, karena unsur pemberdayaan masyarakatnya di kota yang sibuk, cuek, jauh lebih kuat. tidak seperti di pedesaan. Tapi saya pendam saja Pengembangan Sanimas itu kan melibatkan banyak itu dalam hati sembari pihak, instansi dan stake holder. Bagaimana agar tidak saya tetap mengikuti ada problem dalam soal koordinasi di antara masing- dari hari ke hari masing pihak yang terlibat? Pertama, kita sama-sama tahu tugas dan kemampuan masing-masing. Pengetahuan dan pemahaman tentang tugas dan kemampuan masng-masing itu penting untuk mengeliminasi kemungkinan bertabrakannya peran satu sama lain. Kedua, yang jauh lebih penting, adalah Pokja AMPL yang memang lintas sektoral, lintas departemen dan lintas bidang. Dari Pokja itulah semua bergerak serentak, seperti total football kalau dalam sepakbola. Relasi yang intensif di Pokja pula yang banyak menghemat waktu, terutama terkait hambatan-hambatan birokrasi. Tanpa itu semua, bisa dibayangkan berapa waktu yang harus dihabiskan untuk merencanakan rapat? Harus kirim surat inilah, itulah.... Relasi antar personal di Pokja itu yang cair dan luwes ZENPelaku Tahap II 60
  • 62. ZENitu membuat koordinasi menjadi lebih mudah, tidak ribet masyarakat dan partisipatoris, hasilnya ternyata berbeda.dan tidak terhambat oleh rangkaian birokrasi yang bisa Itu sebabnya lantas mulai terpikir, mungkin konsep yangsaja menghambat. Jika ada sesuatu, kami bisa dengan seperti ini yang bisa menjadi solusi dari persoalanmudah langsung menghubungi yang lain, kadang yang dihadapi selama ini.hanya via sms. Ini mungkin bisa dilihat dari itupembentukannya. Dulu kami mulai bekerja wa m ktuasih PU kan menjadi penanggung jawabtanpa SK, semua berjalan dan bekerja ... mi ng sekaligus leading sector dalam replikasikarena punya visi dan semangat yang sama. ka tuka ur Sanimas sejak tahun 2005 dan 2006. BisaBelakangan saja baru ada SK pembentukan tim y diceritakan bagaimana prosesnya?teknisnya. i nsin Pada tahap ujicoba itu kan per Dan ketiga sebagai ujung tombak kampanye tahun pembangunan Sanimas relatif bisauntuk memperkenalkan sekaligus memperjuangan dihitung dengan jari, kadang cuma 9 atau 10. Tidakgagasan dan konsep yang diusung. Ini bukan hanya banyak. Tapi pada tahap replikasi, Dirjen Cipta Karyakampanye atau sosialisasi ke jajaran terkait saja, tapi tidak mau kalau cuma kecil angkanya, tidak signifikan.juga kepada para pemimpin di masing-masing instansi, Maunya seratusan begitu. Saya iyakan saja. Lantas teman-pemerintah daerah, sampai kalau perlu ya lembaga- teman di Pokja banyak yang kaget, ngomel-ngomel danlembaga donor. Karena Sanimas ini tidak akan bisa jalan menganggap saya gila karena belum pernah terbayangkankalau salah satu dari itu tidak menghendaki. Misalnya, membangun Sanimas per tahun mencapai ratusan lokasi.pemerintah pusat sudah mau, tapi kalau di daerah tidak Mulanya saya diamkan saja reaksi teman-teman itu.mau tetap tidak akan bisa jalan. Setelah mereka semua selesai bicara, baru saya ngomong: “Jangan cuma ngomel-ngomel doang, bantuin gue dong, Apa kira-kira yang membuat pemerintah melalui PU harus bagaimana dan mulai dari mana?”mau mereplikasi Sanimas kendati tidak ada lagi danahibah AusAid? Pada tahap replikasi ini apa masih lintas departemen? Di PU sendiri, konsep pemberdayaan masyarakat Saya kira masih. Tidak mungkin Sanimas dikembangkanyang partisipatoris itu memang hal baru. Bahkan sampai tanpa lintas sektor. Itu jika kita bicara soal programsekarang masih tetap ada yang bilang hal itu sebagai sanitasi yang berbasis masyarakat loh, ya.buang-buang waktu. Saya selalu bilang pada mereka,kita sudah melakukan hal macam itu sejak 20 tahun lalu, Apakah Anda tetap optimis replikasihasilnya betul-betul jadi MCK alias Monumen Cipta Karya. Sanimas ini bisa mencapai target, bukanKetika ada Sanimas dengan konsepnya yang berbasis hanya secara kuantitas, tapi 61 Pelaku Tahap II
  • 63. juga kualitas? replikasi sekitar 7 hari dengan materi yang hampir sama, Saya optimis, tapi tidak satu atau dua tahun, mungkin hanya lebih dipadatkan.sekitar 5 tahun. Dengan lokasi yang sekarang tersebardi 449 kota/kabupaten, saya agak khawatir apa bisa ini Bagaimana dengan koordinasi dan kerja samaberjalan secara masksimal. Untuk amannya setiap tahun dengan pemerintah kabupaten atau kota? Apa kendalaitu sekitar 100 lokasi, itu pun saya tidak cukup yakin bisa yang seringkali muncul?sukses semuanya, mungkin sekitar 10 sampai 15 lokasi Kendala dalam relasi dengan pemerintah di daerahgagal. salah satunya dalam soal pendanaan. Beberapa kali ada Yang jadi masalah memang tidak ada LSM yang seperti kasus di mana anggaran gagal cair pada waktunya karenaLSM BORDA. Mereka bukan cuma bawa orang, tapi juga faktor sepele, seperti terlambat dimasukkan dalam APBD,mereka punya anggaran sendiri. Alokasi anggaran untuk sehingga terpaksa masuk ke APBD Perubahan. Ini kadangpemberdayaan itu dari mereka. Nah, tidak semua NGO menghambat terutama di awal-awal saat suatu daerahbisa seperti itu. Ada yang cuma bawa orang saja, dan baru memulai mengaplikasikan Sanimas.malah minta digaji oleh pemerintah. Selain itu adalah soal pergantian pejabat di daerah. Kadang di daerah itu rotasi dan mutasi jabatan itu sangat Nah, terkait BORDA, yang menjadi mitra kerja dinamis. Kita sudah menjalin relasi yang bagus denganpemerintah dalam program Sanimas. Ada pengalaman seorang pejabat di daerah, dia sudah punya pemahamanmenarik terkait kerjasama dengan BORDA dan LSM? dan pengertian yang cukup mengenai Sanimas dan Saya sendiri sebelumnya jarang sekali atau bahkan pola relasi kerja dan hubungannya,tidak pernah berhubungan dengan LSM. Baru pertama tiba-tiba yang bersangkutan haruskali ada LSM yang masuk ke ruangan saya ini ya ...kendala pindah ke instansi lain. Itu cukupmungkin BORDA dan BORDA juga pertama kali masuk denganke sini itu ya ke ruangan saya. Kalau di Bappenas itu pemerintah relatif sering juga dan itu memang merepotkan terjadi.mungkin mereka dengan Pak Basah Hernowo atau Pak daerah salah Itu sebabnya secara berkala, di satunya soaOswar Mungkasa. Saya sendiri tidak tahu bagaimana di antara kami pendanaan lterbangun kepercayaan. Saya masih ingat bagaimanamereka bilang bahwa kalau mereka membutuhkankepercayaan, butuh dipercayai. Tapi itu yang memangakhirnya berlangsung. Kami tidak ribet waktu itu.Misalnya, kami beritahu kalau kami punya sekian lokasiSanimas, saya langsung tawarkan BORDA mau bantu dilokasi yang mana? Ya, sudah. Semua langsung berjalan. Awalnya tentu tidak semudah itu. Pada saat tahappilotting atau ujicoba antara 2003-2005 masih salingmenjajaki. Begitu semua harus dikerjakan oleh PUsejak Sanimas mulai direplikasi pada 2005, kami sudahsaling memiliki kesepahaman. Dan di awal-awal saat PUmenggandeng BORDA, itu tidak ada MoU-nya, walau punkalau sudah di tingkat titik kegiatan pasti ada MoU-nya. Bisa Anda jelaskan beberapa perbedaanpengembangan atau pembangunan Sanimas di erapilotting dengan era replikasi setelah 2006? Salah satu perbedaan Sanimas era ujicoba ataupilotting dengan setelah periode replikasi salah satunyaadalah soal durasi waktu. Ada lokasi pada tahap pilottingyang butuh waktu sampai dua tahun. Lebih panjang-lah kira-kira waktunya. Dulu pelatihan fasilitatornya (TFL) membutuhkan waktu sampai 2 tahun, sementara pada tahapPelaku Tahap II 62
  • 64. setiap tahun, kita terus mengadakan pelatihan untuk adalah pilihan yang rasional.aparat-aparat pemerintah daerah. Ini untuk terus Tapi saya secara berkala tetap turun ke lapangan.menjaga kelangsungan konsep Sanimas, setidaknya di Biar bagaimana pun kita harus bisa memahami situasilevel pemahaman dan pengertian, dari yang sifatnya dan kondisi dengan mata kepala sendiri, tidak hanyakonseptual sampai hal ihwal yang sifatnya teknis. mengandalkan laporan orang lain atau konsultan. Biasanya saya datang ke lokasi-lokasi yang relatif sulit atau Setelah direplikasi secara masif, dengan sebaran di sana ada banyak persoalan. Kalau di lokasi-lokasi yanglokasi yang berjauhan, tidakkah itu menjadi problem lancar dan mulus serta tidak ada masalah untuk apa sayatersendiri dalam rentang kendali? datang ke sana? Soal rentang kendali itu sempat jadi persoalantersendiri. Di unit yang saya pimpin, awalnya hanya ada Apa pengalaman yang menurut Anda paling menarikempat orang, dan itu harus mengawasi pengembangan dan mengesankan selama terlibat dalam pengembanganSanimas pada tahap replikasi yang mencapai hampir Sanimas?seratus titik per tahun. Sekarang sudah sedikit lebih Saya merasakan apresiasi yang tulus dari masyarakat.banyak karena menjadi delapan orang. Tapi itu tidak Beberapa kali saya turun ke lapangan dan saya disambutberarti sudah memadai rasionya. Dengan orang segitu macam pahlawan. Semua macam-macam makananharus mengawasi dari Sabang sampai Merauke, 33 dihidangkan. Itu sesuatu yang tidak ternilai harganya.provinsi dan 500 lebih kota dan kabupaten. Mengharukan mendengar orang-orang berterimakasih Itu sebabnya sejak awal replikasi kita outsourcing dengan tulus pada saya. Kadang kita kan membutuhkanuntuk menggunakan jasa konsultan. Merekalah yang apresiasi semacam itu.turun ke lapangan, melakukan monitoring, mengawasisituasi dan kondisi di lapangan. Kami tidak mungkin Tentu Sanimas sendiri tidak lepas dari kekuranganmelakukannya sendiri dengan tenaga yang terbatas ini. dan kelemahan. Apa yang masih perlu dibenahi dariOutsourcing dengan memanfaatkan tenaga konsultan itu pengembangan Sanimas di masa depan? BORDA Ada perbedaan antara Sanimas yang pemberdayaannya didampingi oleh fasilitator dari LSM dengan konsultan. Kalau dari LSM, mereka bekerja dengan hati. Mereka tidak masalah harus turun ke lapangan berkali-kali. Kalau konsultan itu kan bekerja berdasarkan kontrak kerja. Jadi mereka mencoba efisien, termasuk dalam soal anggaran yang bisa berimbas pada frekuensi turun ke lapangan. Selanjutnya adalah soal exit strategy. Perlu ada standar soal kapan dan dalam situasi apa kita bisa meninggalkan lokasi secara tepat waktu, juga tanpa meninggalkan persoalan-persoalan. Ini belum terstandarisasi dengan baik. Penting juga ditekankan soal pemberdayaan terkait dengan anggaran. Soal pemberdayaan ini tidak bisa dilakukan dengan keharusan selesai dalam satu anggaran. Pemberdayaan itu sesuatu yang kompleks. Ada kawasan yang mudah dan cepat, ada kawasan yang sangat sukar dan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Kan, repot kalau pemberdayaan setahun belum selesai, sementara anggaran sudah berganti dan pembangunan belum dimulai karena fase pemberdayaannya belum tuntas. Saya beberapa kali meminta pada teman-teman di Bappenas untuk meminta agar pihak Departemen Keuangan mencarikan solusi untuk persoalan macam ini. n 63 Pelaku Tahap II
  • 65. Frank Fladerer(Koordinator BORDA South East Asia) Dukungan BORDA untuk Target MDGs dari beragam pemangku kepentingan (pemerintah pusat/ Bappenas melalui Pokja AMPL, pemerintah daerah, BORDA, dan masyarakat) perlu diatur untuk menutupi biaya fasilitasi dan pembangunan fisik. Pada saat itu, saya ditugaskan sebagai Direktur Wilayah BORDA, dan bersama dengan Bappenas, Departemen PU, wakil mitra LSM (Best, Bali Fokus, dan LPTP), termasuk pemerintah daerah, bersama-sama menyempurnakan desain program Sanimas, yang merupakan dasar bagi DOK. PR I. skema pelaksanaan skala nasional saat ini. Apa perbedaan dalam keterlibatan BORDA antara tahap uji coba dengan tahap selanjutnya? Sepanjang uji coba, BORDA bekerjasama dalam tim Bagaimana awal mula keterlibatan Anda dalam proyek dari WSP-EAP yang berfungsi sebagai institusiprogram Sanimas? pelaksana. Pada saat itu, kami mempunyai kebutuhan Ketika uji coba Sanimas dilaksanakan pada tahun mengembangkan perangkat program. Ini merupakan2003, saya baru saja bergabung di BORDA. Pada saat itu, kerja pionir dalam mengembangkan paket layanan yangpembangunan fisik uji coba Sanimas sedang berlangsung, menjadi jawaban berkelanjutan penanganan sanitasirencana kerja masyarakat telah selesai dan KSM telah bagi penduduk miskin perkotaan. Namun, uji coba tetapterbentuk. Sebagai uji coba Sanimas angkatan pertama, uji coba dan kami semua sadar akan hal itu, bahwa satu-dibutuhkan pembelajaran. Kami menyelenggarakan satunya kesempatan meningkatkan layanan kebutuhanlokakarya, mengundang komunitas penerima manfaat dasar sanitasi bagi penduduk miskin perkotaan dandan TFL termasuk juga ahli pengembangan masyarakat mendukung komitmen pemerintah Indonesia dalamdari LSM mitra kerja dan pemerintah terkait untuk mencapai target sanitasi MDG adalah ketika replikasi dansaling berbagi pengalaman pelaksanaan dan menyusun pelaksanaan skala luas dapat terlaksana. Ketika itulahrekomendasi ke depan. keterlibatan utama BORDA dimulai. Lokakarya internal lantas ditindaklanjuti dengan Sementara pada tahap diseminasi, BORDA tetaplokakarya nasional di Bali untuk mendokumentasikan berkomitmen untuk menyumbang secara signifikanpembelajaran bagi pengembangan keseluruhan program. terhadap pembangunan sanitasi, khususnya bagiDua bulan kemudian BORDA, berdasar hasil diskusi dengan masyarakat berpendapatan rendah di Indonesia. KamiWSP-EAP Bank Dunia, menyepakati akan melanjutkan mengubah struktur kerjasama dari melaksanakan uji coba kerjasama dengan Bappenas dalam mendukung dan kepada menyelenggarakan diseminasi. Ini merupakan memfasilitasi uji coba tahap berikutnya. masa yang menantang bagi jejaring LSM kami. Diperlukan Pengaturan sumber dana pengembangan standar pengelolaan berkualitas, pelatihanPelaku Tahap II 64
  • 66. bersertifikasi dan sertifikasi staf dalam melakukan Jika waktu dapat diputar kembali, apa yang inginpekerjaan secara benar, memantapkan pengelolaan Anda perbaiki dari tahap uji coba?pengetahuan (knowledge management), dan sistem Kami terlalu fokus pada pelaksanaan kegiatan dipemantauan dalam kemitraan kami. lapangan dan tidak memberi cukup perhatian pada Melaksanakan uji coba tidak sulit, tetapi melakukan kampanye publik. Bahkan hal ini masih menjadi isureplikasi dan dalam skala besar dan tetap menjaga kualitas sampai saat ini, tetapi mungkin ini hal yang lumrah bagiadalah sebuah tantangan. Banyak uji coba yang berhasil mereka yang banyak melaksanakan kegiatan di lapangan.tetapi hanya sedikit yang berhasil dilaksanakan dalam Tidak tersedia banyak waktu lagi utuk mempublikasikanskala besar. Kami memulai melakukan pendekatan pengalaman di lapangan dan juga dana kami banyakkepada Pemda sejak uji coba pertama Sanimas terpakai untuk pelaksanaan di lapangandan memperluas kerjasama dengan kota lainnya. ... repmelSelain dana dari PU, BORDA juga menawarkan Apakah Sanimas yang Anda bayangkan da lika akuksejumlah dana yang cukup signifikan untuk saat periode uji coba itu sudah terealisasimenjadi sumber dana tambahan bagi be lam si d an sekarang?kegiatan fisik maupun non fisik. Namun, sa sk an Paket layanan telah mencakupdengan bertambahnya cakupan tet r ser ala keseluruhan elemen yang kami bayangkanSanimas, dana yang tersedia tersebut ku men ap ta ketika uji coba dimulai. Termasuk telahsudah tidak dapat lagi membiayai lahalita jaga melibatkan semua komponen partisipatif sepertiseluruh lokasi. tan sebs ad penilaian partisipatif bagi pemilihan komunitas, Sejak 2006, BORDA hanya tan ua a- rencana kerja masyarakat, pendanaan multi sumber,mendukung sebesar 50 persen dari gan h aplikasi teknologi berbiaya kelola rendah sepertibiaya fasilitasi komunitas. Semua dana DEWATS untuk menjamin keberlanjutan dan memenuhisisanya dibiayai oleh PU, pemerintah daerah, standar air buangan. Alat Penilaian Dampak Kesehatandan komunitas. Ini saat yang tepat menyampaikan kami menunjukkan perbaikan signifikan dari kesehatanpenghargaan dan rasa terima kasih kami kepada semua masyarakat yang terlayani Sanimas. Namun, Sanimasmitra kerja dari berbagai institusi, LSM, dan komunitas sebagai sebuah program, memerlukan replikasi danyang telah membantu terlaksananya skema pendanaan pelaksanaan dalam skala besar. Kami telah melaksanakanmulti sumber ini, dan berkelanjutan sampai saat ini. Salah Sanimas lebih dari 100 unit setiap tahun, menjangkausatu kunci utama kesuksesan terletak pada kemitraan ini. lebih dari 100 ribu penduduk miskin, namun dampaknya BORDA 65 Pelaku Tahap II
  • 67. masih rendah dalam skala nasional. dana dan prioritas pembangunan. Selain kebutuhan Kami perkirakan bahwa 30 persen dari penduduk untuk pembangunan skala besar, terdapat kebutuhanperkotaan dapat dilayani dengan Sanimas, bersama penyediaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja yangdengan sistem layanan terpusat skala kota. Jadi memadai. Setelah 3 atau 4 tahun sebagian lumpur tinjapelaksanaan harus meningkat dari 100 unit menjadi perlu untuk disedot dari tangki septik. Volumenya jauh1.000 unit atau lebih setiap tahun. Sumber dana tersedia lebih sedikit dari sistem konvensional (sekitar 1/20)baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Isu tetapi tetap perlu dikelola. Pemerintah daerah haruskunci adalah keterbatasan dana fasilitasi, yang sangat melakukan investasi ini, menyiapkan kerangka regulasipenting bagi keberlanjutan. Sampai saat ini, BORDA dan dan mendukung pengelolaan lumpur tinja bagi komunitaspemerintah daerah adalah sponsor utama untuk dana berpendapatan rendah setiap 3-4 tahun.fasilitasi, sumber dana tambahan dibutuhkan untukreplikasi dan pelaksanaan skala besar. Apa yang membuat pemerintah dan BORDA, terutama pemerintah, bisa mudah bekerjasama dengan Menurut Anda, apakah Sanimas cukup potensial program BORDA?untuk dimasukkan ke dalam program pengembangan Sesuai dengan pelaksanaan Undang-undang Otonomi sanitasi perkotaan untuk Daerah yang menyerahkan tanggung jawab penanganan ZEN jangka menengah dan sanitasi kepada pemerintah daerah, pemerintah panjang? daerah menjadi lebih peduli dan tanggap terhadap Sanimas perlu untuk pentingnya investasi sanitasi. Prioritas investasi sanitasi dimasukkan dalam mulai meningkat di banyak pemerintah daerah. Hal ini program pengembangan memudahkan untuk memperoleh pendanaan sanitasi sanitasi perkotaan jangka dari pemerintah daerah. Kita akan melihat bagaimana ini pendek dan panjang. bekerja ketika DAK diimplementasikan pada tahun 2010. Pelaksanaannya Skema dana pendamping membantu dalam memicu dapat dilakukan minat awal dari pemerintah daerah untuk membiayai secara bertahap infrastruktur. Dana PU dan BORDA mendorong pegawai sesuai dengan Pemda untuk memperoleh alokasi dana dari kantong ketersediaan pemerintah daerah. Setelah beberapa tahun berjalan dana pemda telah dapat teralokasikan secara rutin dalam APBD. Rekan-rekan di Bappenas, Pokja AMPL, dan PU berkontribusi besar dalam ... teknologi yang ditawarkan Sanimas menjembatani dan menginspirasi kerjasama BORDA-pemerintah. adalah berbiaya Belum lagi teknologi yang ditawarkan Sanimas kelola rendah... adalah teknologi dengan biaya kelola rendah, menggunakan material lokal dan mudah diperoleh. Hal ini memudahkan bagi pemerintah daerah untuk bergabung dalam program Sanimas. Pelatihan TFL di Pemda juga membantu menjembatani komunikasi diantara fasilitator LSM dan pemerintah daerah. Terakhir adalah pendekatan berorientasi kebutuhan. Rencana kerja BORDA dan donornya, yaitu pemerintah Jerman, memungkinkan fleksibilitas dalam bekerjasama dengan pemerintah daerah. Berdasar pada seminar multi kota dan lokakarya diseminasi, pemerintah daerah diminta untuk mengirim surat peminatan ke PU dan mitra BORDA. Perencanaan kami disesuaikan. Banyak proyek yang tidak memungkinkan fleksibilitas seperti ini dan jika pelaksanaan pekerjaan terhambat oleh kurangnya dukungan pemerintah daerah, akan mudah untuk mengubah.Pelaku Tahap II 66
  • 68. Tentu pelaksanaan Sanimas tidak selalu lancar. Apa teknologi DEWATS (teknologi yang digunakan dalamsaja kendala yang pernah dihadapi? Sanimas) sejak awal pembangunan permukiman Sebagaimana diketahui bahwa skema pendanaan akan mengurangi biaya investasi secara signifikan danberasal dari berbagai pelaku dengan kebutuhan yang memungkinkan pengelolaan dan pemeliharaan secaraberbeda, penyusunan RAB menjadi isu yang kompleks, benar sejak awal.dengan mempertimbangkan semua kebutuhan, dari Kedua, kami juga berharap Pemda tidak lepastingkat nasional, daerah dan BORDA. Penyaluran tangan begitu fasilitas Sanimas sudah beroperasi.dana ke rekening masyarakat yang dilakukan Jika terjadi masalah di tingkat KSM, bantuanbersama oleh masyarakat, LSM pelaksana dan fas fasilitasi dibutuhkan. Jika tidak tersedia,pemerintah daerah cukup dapat menjawab ter ilit ma ha asi KSM mungkin dalam kesulitan. Dalambeberapa masalah. sy d rangka mengatasi resiko ini, Asosiasi Pemerintah daerah sendiri belum da tid arakap KSM Sanitasi Seluruh Indonesia (AKSANSI) pa a amemutuskan dinas mana yang kan t di k t telah dibentuk. Yang akan mendukungakan bertanggungjawab terhadap ko o be pemantauan dan pemantapan struktur ko nsul leh ri-pembangunan sanitasi di daerah. ntr ta pengelolaan KSM jika dibutuhkan.Pembiayaan pendamping untuk akt n/ Ketiga, fasilitasi terhadap masyarakatfasilitasi sulit untuk dipadukan ordengan proyek infrastruktur yangdidanai Pemda. Bahkan sistemadministrasi Pemda menghadapikesulitan dalam menemukanprosedur administrasi yangsesuai untuk menyalurkan danakebutuhan fasilitasi tersebut. Kami juga mengalami kesulitankalau Pemda tetap berkeinginanmenggunakan pihak ketiga(kontraktor) untuk pelaksanaanpembangunan infrastruktur. Kamimenghadapi kesulitan dalammemfasilitasi KSM ketika hasilnyakurang memenuhi persyaratankualitas yang ditetapkan. Sukar bagitim teknis kami untuk melakukancampur tangan jika ada kondisiseperti ini. Apa yang harus lebihdiperhatikan dalampengembangan Sanimas di masamendatang? PU Pertama, Sanimas beradadi daerah berpenduduk miskin dan sangat padat di tidak dapat diberikan oleh kontraktor atau konsultan.perkotaan. Daerah ini merupakan daerah yang terbangun Masyarakat mempunyai struktur yang berbeda dandan sulit mendapatkan lahan kosong bagi pembangunan membutuhkan fasilitasi yang berbeda. Hanya LSM, yanginstalasi pengolah air limbah. Di lain pihak, banyak terlatih sebagai penyedia layanan, ketersediaan dananyadibangun daerah perumahan bagi penduduk miskin fleksibel, dapat menunaikan tugas tersebut. Hal inioleh pemerintah dan pengembang swasta. Saat ini tidak membatasi kesempatan melakukan replikasitersedia regulasi di Indonesia, yang mendorong bahwa atau pelaksanaan skala besar sepanjangsebuah daerah perumahan baru tersebut dilengkapi dukungan bagi LSM terbatas hanya daridengan sistem pengelolaan air limbah. Keterpaduan sedikit lembaga donor. n 67 Pelaku Tahap II
  • 69. Ir. Muhamad Anwar(Kepala Satker Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Jawa Timur 2005-2007) Sanimas Tetap Bisa BOR DA Dilanjutkan dapat teratasi. Sedangkan untuk meyakinkan masyarakat, dilakukan studi banding kelompok masyarakat yang menjadi kandidat dibangunnya Sanimas. Mereka diberikan contoh konkrit/bentuk fisik secara nyata tentang program ini.  Hal menarik dari Sanimas adalah keterlibatan banyak pihak, termasuk keterlibatan LSM BORDA sebagai mitra pemerintah. Dapatkah Anda menceritakan sedikit pengalaman bermitra dengan LSM BORDA?  Bermitra dengan LSM BORDA sangat baik. Tim mereka cukup berpengalaman dan profesional dalam bidang masing-masing. Baik bidang fisik maupun administrasi. Mereka menguasai dan memiliki Bisa teknologi yang digunakan dalam Sanimas. Itu sangatdigambarkan membantu sekali dan terbukti di lapangan.peran Anda saatmerintis program Sanimas di Apa hal menarik yang Anda alami terkait kerjasamaJawa Timur? antara pemerintah pusat dan donor dalam tahap pilot Pertama, saya melakukan sosialisasi ihwal project Sanimas?pentingnya penanganan sanitasi bagi peningkatan Yang sangat menarik buat saya adalah adanya upayakesehatan masyarakat dan mengenalkan kepada serius untuk memadukan program, terutama antarapemerintah daerah se-Jawa Timur tentang program program pemerintah dan donor yang disesuaikan denganSanitasi yang merupakan program sinergis antara budaya/kearifan lokal masing-masing daerah yangpemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten serta lembaga menerima bantuan. Ini membuat program Sanimas relatifdonor. Pelaksanaan sosialisasi, selain secara kelompok/ bisa diterima dan didukung oleh semua pihak terkait,klasikal, saya juga roadshow ke beberapa daerah.  terutama oleh masyarakat yang tempatnya terpilih untuk dibangunnya fasilitas Sanimas. Kendala apa yang mulanya Anda hadapi saatmensosialisasikan Sanimas dan bagaimana kendala itu Sekiranya waktu dapat diputar kembali, hal apa yangdiatasi? menurut Anda sebaiknya perlu dilakukan tetapi tidak Pada awalnya ada beberapa kendala dalam sosialisasi sempat terlaksana pada saat uji coba tersebut?Sanimas yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari peran Hal yang menurut saya perlu dilakukan tapi belummasing-masing pihak dan proses tertib administrasi sempat sampai saat ini adalah regulasi penetapan asetkepemerintahan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sanimas. Ini terkait dengan pendanaan yang datangnya Namun secara bertahap dan koordinasi antarinstansi dari berbagai sumber. Ini perlu dipikirkan agar tidak terjadi terkait yang dilakukan secara terus- masalah di kemudian hari terkait dengan kepemilikan menerus, kendala tersebut aset. Pelaku Tahap II 68
  • 70. Apakah Sanimas saat ini seperti yang Anda bayangkan pada saat uji coba dahulu? Apakah yang sebaiknya dilakukan dalam meningkatkan kinerja Sanimas? Secara fisik dan pengelolaan, Sanimas saat ini sudah sesuai konsep awal Sanimas yang dikenalkan pertama kali dulu. Namun untuk meningkatkan kinerja Sanimas, perlu dibentuk Forum Komunikasi Pengelola Sanimas dan dilakukan pembinaan secara terus-menerus melalui Tabloid Khusus Sanimas, mungkin merupakan anak dari majalah Percik. Dari situ bisa diberitakan hal-hal yang sifatnya memandu pengelola Sanimas untuk lebih maju lagi dan memfasilitasi mereka ikut lomba Toilet Internasional. Ke depan pengelolaan Sanimas ini perlu dilengkapi ke arah program IT (teknologi informasi) dan database. Paguyuban Pengelola Sanimas se-Indonesia akan sama pentingnya dengan eksistensi Perpamsi di PDAM.  Sekiranya dana dari pemerintah pusat sudah tidak mengucur lagi untuk Sanimas, apakah Sanimas masih dapat berlanjut di daerah Anda?  Bisa berlanjut bila kategori pengembangan Sanitasi masuk dalam penilaian Adipura dan adanya apresiasi bagi Pemerintah Daerah yang mengembangkan Sanimas PU dengan dana APBD plus sharing dana dengan masyarakat. Seperti yang sekarang dilakukan melalui PKPD PU untuk Apa yang menjadi dasar keyakinan Anda pada saat itu bidang air minum. sehingga tetap mendorong pelaksanaan uji coba Sanimastahun kedua dan ketiga di daerah Anda? Terlepas dari keberhasilan Sanimas, apakah Anda Keberhasilan Sanimas tahun pertama, baik secara melihat kelemahan dari Sanimas?fisik atau pengelolaan, menjadi ujung tombak program Sanimas masih ada beberapa kelemahanSanimas berikutnya. Setelah kita evaluasi bersama antara lain masalah regulasi aset. KarenaBORDA bahwa secara fisik, proses dan aset fasilitas umum yang ada sekarang harus hpengelolaan dinilai cukup berhasil, masi ditentukan statusnya agar tidak bermasalahmaka Sanimas lanjutan perlu masberapa a di kemudian hari. Kemudian belum ada pula Sani be tar ada ahan an hdilaksanakan pada tahun berikutnya. database yang bisa diakses oleh siapa sajaBahkan di Jawa Timur telah ditanda m la yang memerlukan data lengkap tentang keleain masa settangani MoU antara Pemerintah dengan l ulasi a Sanimas serta kondisinya, termasuk dataPerum Jasa Tirta I untuk secara sinergis re g pengelolaannya dan kondisi keuangannya. mengembangkan Sanimas Pipa Komunal Hal lain adalah belum dikajinya secaradi sepanjang daerah aliran sungai Brantas. khusus cara praktis/kendala cara pengurasan lumpurProgram itu diperlukan untuk memperkecil Sanimas setelah mencapai waktu sesuai desain sertapolutan dari limbah domestik yang masuk ke sungai cara pemanfaatan pupuk padatnya. Ini terkait denganBrantas yang rencananya akan digunakan sebagai air baku belum ada buku panduan pengelolaan Sanimas yangPDAM Surabaya. bisa jadi standar sekaligus sudah sesuai dengan rencana Perlu juga diberikan apresiasi khusus bagi pemerintah umur teknis dan ekonomisnya. Itu sebabnya mungkindaerah yang sudah melaksanakan replikasi Sanimas dari perlu melibatkan para pengamat lingkungan dari unsurdana APBD sendiri. Juga masyarakat setempat yang tanpa perguruan tinggi agar bisa mengevaluasi daridukungan APBN yang bersemangat untuk mempercepat berbagai aspek untuk kemajuan Sanimas kepeningkatan cakupan layanan sanitasi di masa yang akan depan. ndatang.  69 Pelaku Tahap II
  • 71. Ir. Adhyaksa(Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta) ZEN Sanimas Bisa Mengubah Perilaku Warga Bagaimana awal keterlibatan Anda dalam Setelah pemerintah Surakarta memutuskan untukpengembangan Sanimas di Surakarta? mengembangkan Sanimas di Surakarta, apa yang lantas Pada 2005 awal saya masih jadi Kasubdin Cipta Karya, dilakukan?Dinas PU, yang memang menjadi penanggungjawab Begitu kami mengambil keputusan untuk berpartisipasipembangunan Sanimas. Di tahun pertama itu ada tiga dalam pengembangan Sanimas di Surakarta, kamilokasi yaitu ada dua di Kadipiro [IPAL Komunal] dan di langsung mencari lokasi yang bisa menerima program ini.Sangkrah. Kami undang beberapa wakil masyarakat dari pelbagai Waktu itu kami memang menilai ini program yang wilayah untuk mengetahui seberapa mungkin mereka bisabagus. Program Sanimas bisa berefek baik bukan hanyapada kualitas tanah, tapi juga kualitas air, dan sungai.Kami waktu itu memang belum punya infrastruktur yangmemadai untuk memecahkan persoalan sanitasi. DiSurakarta ada dua instalasi pengolahan limbah yang cukupbesar. Di sisi lain kami masih punya instalasi pengolahanlimbah yang merupakan peninggalan Belanda. Dan itu punmasih juga belum memadai. Coverage-nya itu masih jauhdari ideal dalam konteks untuk bisa melayani warga kotaSurakarta. Kami juga tertarik dengan konsep pemberdayaanmasyarakat. Ini kami harapkan bisa mengubah mindsetdan perilaku masyarakat dalam soal kesehatan sanitasi.Kami juga cukup tertarik karena konsep pembiayaannyayang multi sumber. Ada dana dari pusat melaluiAPBN yang diberikan dalam bentuk material. Dari pemkot sendiri jelas melalui APBD. BORDA juga menyiapkan dana, termasuk dalam soal pemberdayaannya.Pelaku Tahap II 70
  • 72. diberikan bantuan untuk pengembangan Sanimas. dengan baik, kami sebenarnya ingin ngebut, istilahnya Hal itu penting karena prinsip pemberdayaan itu ingin lari dan langsung banyak. Tapi teman-temanmasyarakat memang menjadi kunci Sanimas. Dengan BORDA sendiri tampaknya kerepotan kalau langsungitu, kami ingin mengukur (i) apakah mereka memang massal di satu kota, karena mereka juga punya banyakmembutuhkan dan bukan sekadar ingin, (ii) kesanggupan lokasi garapan lain, selain juga mungkin terkait denganuntuk berpartisipasi dalam pembangunannya dan (iii) hambatan atau keterbatasan lainnya.kesediaan untuk mengelola jika sudah mulai beroperasi.Dari situlah akhirnya akan diketahui siapa yang layak Surakarta sudah mengadopsi Sanimas dan sudahuntuk dipilih. cukup banyak lokasi Sanimas di Surakarta. Apakah Ini juga yang membuat Sanimas itu kan sporadis, dengan itu Sanimas bisa dianggap memadai sebagaidalam arti dia tidak bisa dengan pasti ditentukan di satu alternatif pemecahan persoalan sanitasi perkotaan dikota itu ada 10 per tahun. Itu tergantung kompetisi para Surakarta?calon penerima Sanimas. Kalau hasilnya memang tidak Sanimas sebenarnya cukup baik sebagai solusiada yang dianggap benar-benar membutuhkan, pemecahan persoalan sanitasi di perkotaan. Hanyakan tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan saja, seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya,harus ada sementara para kandidat penerima cakupannya ini masih sporadis. Yang idealitu sebenarnya tidak terlalu membutuhkan Kam itu kan sebenarnya sistem pengolahan cuk i jugatau enggan berpartisipasi, hasilnya tidak ta up a limbahnya itu berskala kota, di manaakan maksimal. Nanti pengelolaannya bisa konrik karter- pipa-pipa dari rumah terhubung padaberantakan. Hasilnya bisa seperti toilet e biaysep pe na penampungan komunal, dan lalu dialirkan keumum biasa saja, bukan seperti Sanimas yan aann m- pusat penampungan. Itu baru berskala kota.yang konsepnya memang berbasis g m ya sum ulti Kita punya dua instalasi, tapi itu kan peninggalanmasyarakat dan menekankan juga ber Belanda dulu, dan itu pun masih belum ideal,partisipasi warga. terutama dalam soal coverage-nya. Bagaimana perkembangannya setelah pertama Anda sendiri menilai apakah kota Surakartakali mengembangkan Sanimas? Apakah makin sudah menganggap isu sanitasi sebagai sesuatu yangbersemangat? mendesak? Sejak pertama kali kami mengadopsi Sanimas, kami Saya kira iya. Kami juga sudah bekerja maksimal dantidak pernah putus, tiap tahun selalu ada lokasi baru tinggal publik sendiri yang menilai. Yang jelas, padaSanimas di Surakarta. Begitu kami tahu dan melihat bulan Juni 2010, Surakarta akan menjadi tuan rumahsendiri kalau Sanimas dengan konsepnya ini berhasil Asia Pacific Minister’s Conference on Housing and Urban BORDA Development. Lokasi konferensinya itu di Hotel Sultan. Ini kami anggap sebagai salah satu apresiasi yang kami terima sebagai bukti bahwa Surakarta dinilai punya semangat yang kuat dalam soal memecahkan persoalan urban, baik itu sampah, air minum maupun sanitasi. Menurut Anda, lokasi Sanimas mana yang jadi unggulan di Surakarta? Salah satu lokasi Sanimas di Surakarta akan menjadi salah satu lokasi field trip. Ya, semacam dipamerkan lah pada peserta yang datang. Tapi Surakarta bukan hanya Karangasem saja yang menarik Sanimas-nya, ada juga di kampung Kragilan, Kadipiro. Di sana adalah kampung yang mayoritasnya adalah para penyandang cacat. Di sebelahnya ada kampung para seniman. Mulanya hanya warga dari kampung penyandang cacat saja, terlebih mereka memang membutuhkannya, karena bagi mereka tentu berat kalau tiap hari harus bolak balik ke toilet 71 Pelaku Tahap II
  • 73. umum. Tapi pelan-pelan akhirnya beberapa rumah di sudah terbiasa buang air besar gratisan dan sembarangan.kampung seniman pun ikut bergabung dengan pipa-pipaSanimas. Apa pengalaman yang paling berkesan selama Anda Ketua KSM di Kragilan itu bahkan sering diundang terlibat dalam pengembangan Sanimas ini?untuk berbicara di banyak daerah, terakhir di Surabaya Saat sosialisasi di Kragilan itu kan rapat tidak sekali,bersama saya juga. Dia sering diminta untuk menceritakan sering malam hari. Pernah saya ikut pertemuan wargapengalamannya membangun solidaritas kolektif di sampai jam 1 malam. Banyak warga yang tetap antusiaslingkungannya agar bisa kompak dalam Sanimas, baik walau pertemuan sampai selarut itu. Ada seorang wargadalam pembangunannya maupun pengelolaannya setelah tuna netra, saya perhatikan dari awal hanya duduk, diamberoperasi. Dia diundang terutama untuk menyemangati dan manggut-manggut. Tapi ternyata saat ia berbicara,warga-warga di tempat lain agar tertarik mereplikasi dia bagus kalimat-kalimatnya, pertanyaannya, jugaSanimas di tempatnya masing-masing. usulannya. Itu tandanya dia mengikuti pertemuan itu dari awal dengan penuh konsentrasi dan antusias. Ini cukup Apakah Sanimas bisa dianggap cukup berhasil mengharukan buat saya. Tidak sering sayamengubah perilaku warga, terutama dalam kesehatan menemukan hal seperti itu.lingkungan terkait sanitasi? Biasanya ya warga kalau mau Sanimas ini bisa dibilang memang berhasil mengubah San imas ini ada pembangunan ya cumaperilaku warga. Sepertinya karena dari awal memang bisa d ngibilang diam dan menunggu saja. Iniwarga dilibatkan, bahkan diwajibkan untuk ikut mem a mungkin karena dari awalberpartisipasi, kalau tidak mau berpartisipasi mereka tidak b erhasil Sanimas sudah dirancangmungkin terpilih untuk penerima Sanimas. Perubahan me ngubah untuk pemberdayaan,itu sudah terlihat sekarang. Dulu mungkin mereka buang per ilaku sehingga warga pun dariair saja sembarangan. Sekarang mereka diwajibkan war ga awal sudah menyesuaikanmembayar pun tetap mau dan tetap berpartisipasi. Itu dengan pola dan konsepkan perubahan yang tidak sepele, apalagi bagi warga yang ini. n ZENPelaku Tahap II 72
  • 74. Abdullah Basri(LSM Bina Ekonomi Sosial Terpadu Surabaya) Halal Haram Biogas dari Sanimas Anda bergerak di wilayah Jawa Timur dan tahap dari lokasi ujicoba. Ini penting supaya mereka tidakujicoba Sanimas yang terbanyak justru di Jawa Timur. perlu lama-lama mengenal medan. Mereka juga sedikitBisa diceritakan bagaimana keterlibatan Anda dalam banyak sudah mengetahui situasi dan kondisi di lapangan,pengembangan Sanimas di Jawa Timur? karakter masyarakat dan hal-hal lain yang akan susah Bina Ekonomi Sosial Terpadu (BEST) itu sudah dikuasai oleh fasilitator yang tidak mengenal wilayah itu.berpartner dengan BORDA sejak lama. Jadi ketika pada2003 BEST dan BORDA terlibat dengan Sanimas, itu bukan Sebagai pemimpin BEST di Jawa Timur, tentu ituhal baru. Saya sendiri memang menjadi pemimpin BEST bukan pekerjaan mudah, karena bukan hanya satuuntuk Jawa Timur. Jadi tentu saja saya sudah terlibat sejak dua lokasi pembangunan Sanimas yang menjaditahap pilotting atau ujicoba di enam lokasi awal di Jawa tanggungjawabnya, tapi banyak, terlebih setelah tahapTimur. ujicoba dianggap sukses. Bisa diceritakan apa saja yang Sejak awal tahap pilotting, BEST dilakukan selain mengawasi lokasi-lokasi pembangunansudah menyiapkan tenaga Sanimas?fasilitator lapangan. Kami BEST memang menyediakan tenaga fasilitatormelakukan rekrutmen lapangan yang bekerja sama dengan tenaga fasilitatordi kota yang di dari masing-masing pemkot atau pemkab. Mereka berduasana akan yang menjadi fasilitator dalam proses pemberdayaanmenjadi masyarakat. Fasilitator inilah yang menjadi jembatantempat antara masyarakat dan pemerintah, juga antarauji coba masyarakat dengan LSM yang ditunjuk, baik itu BESTpelaksanaan atau BORDA atau BaliFokus untuk wilayah Bali. JadiSanimas. kami harus menyiapkan pelatihan fasilitatorArtinya, tiap yang bisa menjawab kebutuhan dan kualifikasifasilitator yang fasilitator yang seperti itu, dan kami juga yangkami rekrut harus melakukan rekrutmennya.berasal Tapi saya sendiri sebagai pemimpin BEST tidak hanya mengurusi itu. Saya harus juga terlibat dalam pertemuan dan lobi-lobi dengan para stakeholder di pemerintah. Tentu saja ini bukan lobi- lobi politik, melainkan relasi kerja yang secara sadar memang dibangun untuk memperlancar koordinasi antara kita, pemerintah, fasilitator di lapangan sampai dengan warga. zen 73 Pelaku Tahap II
  • 75. Saat pertama kali ujicoba di Jawa Timur, berdasar baik. Sementara Sidoarjo pada tahun 2009 tidak ada lagipengamatan dan laporan yang dikumpulkan dari Sanimas.lapangan, dari enam lokasi di Jawa Timur apakah ada Tapi dari segi keseriusan pemerintah masing-masingyang kurang maksimal? untuk terus mengembangkan upaya memecahkan Mungkin di Mojokerto. Tahap pilotting di Mojokerto persoalan sanitasi, barangkali kota Kediri dan kota Blitarkurang maksimal. Waktu itu masih top down itu layak diberi apresiasi dan catatan khusus. Di keduapenunjukannya. Bermasalah dalam penentuan tanah. wilayah itu, pemerintahnya terasa benar sudah mulaiMulanya warga sepakat di tanah yang dekat aliran sungai, menganggap persoalan sanitasi itu sebagai sesuatu yangtapi tidak dapat izin dari dinas perairan penting dan patut mendapat perhatiankarena memang tidak boleh membangun di lebih.daerah sempadan sungai. Akhirnya mereka Sementaramencari lokasi tanah yang lain. Sayangnya Bagaimana perkembangan program Sidoarjo padatanah pengganti itu justru agak jauh dari sanitasi pada 2009? Bukankah sudah tahun 2009 tidakperumahan warga yang membutuhkannya, ada beberapa wilayah yang menerima ada lagimalah lebih dekat dari perumahan dana DAK untuk sanitasi dengan sistem Sanimaswarga yang orangnya relatif lebih tinggi kontraktual?pendapatannya dan sudah banyak yang Ya, itu benar. Sidoarjo sendiri yangmemiliki septic tank di rumah. Jadi tidak notabene dekat sekali dengan kantormaksimal. BEST di Jawa Timur sendiri sudah tidak lagi membangun Sanimas pada 2009. Mereka membangun fasilitas sanitasi Dari enam kota dan kabupaten yang pertama kali dengan dana DAK. Terus terang kita sendiri berjuangterlibat ujicoba Sanimas di Jawa Timur, mana yang untuk mendorong Departemen Pekerjaan Umum yangmenurut Anda punya konsistensi dalam pengembangan menjadi penanggungjawab DAK Sanitasi agar aspekSanimas? pemberdayaan masyarakat itu tetap disiapkan. Kalau bisa Dari tahap pilotting di Jawa Timur, Mojokerto itu standar Sanimas tetap dijaga dan diaplikasikan. Kalau bisakonsisten, Kediri juga ada. Blitar juga bagus. Malang sudah itu disebutkan dalam Juknis.mulai replikasi sendiri. Pasuruan juga selalu pada tiap Terus terang saya khawatir jika programtahun sejak awal tahap ujicoba. Pamekasan juga relatif pengembangan sanitasi tidak mewajibkan adanya ZENPelaku Tahap II 74
  • 76. partisipasi warga, pemberdayaan masyarakat dan lokasi Sanimas yang menurut saya salah satu yang terbaiksemuanya diserahkan pada kontraktor untuk membangun di Sidoarjo. KSM-nya berjalan dengan baik, kinerja merekadari awal sampai akhir. Kekhawatiran saya adalah sanitasi juga layak diberi apresiasi. Lalu masyarakat sendiri sudahyang dibangun dengan metode yang tidak melibatkan terbiasa dengan pola pemberdayaan seperti dalampartisipasi warga dan pemberdayaan masyarakat bisa Sanimas. Dari situ saya mulai masuk ke soal persampahan.membuat kita kembali ke masa lalu, di mana bangunan- Kebetulan tanahnya luas, berasal dari tanah hibah wargabangunan didirikan tapi setelah itu pengelolaannya tidak sendiri untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat.maksimal, tidak memiliki keberlanjutan atau sustainability. Jadi ada tanah yang cukup untuk dimanfaatkan sebagaiIni kan sayang kalau terjadi demikian. tempat instalasi pengolahan sampah. Maka mulailah kami melaksanakan program Anda khawatir para kontraktor yang sampah di Janti. Ini menarik karena selain tahapditunjuk sebagai pembangun ujicoba, ini juga terintegrasi dengan Sanimas. Lokasifasilitas Sanimas akan semata MCK Plus++ di sana itu ya bersebelahan dengan si MCK a Loka+ di sa nmengejar keuntungan? instalasi pengolahan sampahnya. Plus+itu ya an Sebenarnya tidak begitu juga.Saya tidak menjelekkan kontraktor. Apa yang membuat BEST tertarik untuk lahSebagai kontraktor, mereka tentu sebe an ber deng menindaklanjuti keberhasilan dalam Sanimas ini asimencari keuntungan melalui selisih, ke bidang lain yaitu persampahan?kan? Itu tidak masalah. Saya cuma nstallahan i o Sejak 2006 kita memang mulai menyentuhingin agar ada konsistensi. Jika dari pengpahnya isu dan problem persampahan di perkotaan.awal A ya tetap A, jangan dibelokkanapa yang sudah disepakati sejak awal. sam Kita sendiri sudah banyak yang tahu persoalan sampah ini. Banyak yang bicara masalah sampah, tapi sampah tetap saja ada dan Kabarnya untuk lokasi di Janti BEST terus bertambah. Kami lantas mencoba mendiskusikan inimelanjutkan program Sanimas menjadi program dan kami belajar ke banyak tempat, termasuk ke Bangkok,terpadu pengolahan sampah? Bisa diberikan gambaran Manila dan beberapa kota-kota lain di luar negeri. Daribagaimana itu bisa dimulai? situ kami tahu sampah itu pertama-tama bukan soal Di Janti itu awalnya Sanimas. Dan di sana salah satu teknologi, tapi sampah itu adalah soal manajemen pengelolaan sampah. Bagaimana sampah itu dikumpulkan dari rumah, bagaimana sampah itu dipilah antara yang organik dan non-organik, dan bagaimana itu akhirnya diolah. Kami masuk dengan pendekatan skala lingkungan atau kampung atau kelurahan. Kalau ada yang mau pilah di rumah dan punya waktu untuk itu, silakan. Kalau dicampur, ya... nanti akan dipilah oleh petugas. Oke, kita coba sosialisasikan itu. Lalu dari rumah sudah dipilah- dipilah, ternyata sampah rumah tangga itu diangkut oleh instansi terkait itu dengan cara mencampur lagi, sehingga antara sampah yang organik dan non-organik yang sudah dipilah jadi teracak lagi. Belum lagi di tempat pembuangan sampah juga teracak lagi. Tercampur baur lagi. Itu sebabnya kami masuk dengan pendekatan skala kecil itu tadi. Dalam hal lokasi di Janti yang menjad pilot project, kami menggunakan skala kampung. Ada dua kampung yang terintegrasi dengan sistem pengolahan sampah yang kami kembangkan dan satu perumahan. Apakah konsep pembangunannya mengadopsi Sanimas? Bukan teknologinya, tapi proses penentuan 75 Pelaku Tahap II
  • 77. lokasi sampai pembentukan kelompoknya apakah Benar ya betul-betul ada kasus seperti itu? Andajuga mengajak partisipasi warga dan sendiri sempat menghadapi langsung persoalan itu?memberdayakannya? Ada, dan saya sendiri pernah menghadapinya Betul, dalam soal itu, pengolahan sampah langsung. Di Pamekasan, ada kyai khos yangyang kami kembangkan juga mengadopsi bertanya pada saya apa makanan yang ... aprinsip-prinsip Sanimas, terutama aspek m pa dimasak dengan biogas hasil pengolahanpemberdayaan dan partisipasi warganya. yan akana tinja itu halal atau haram. Saya bilang,Penunjukan tempat pengolahan sampah di den g dim n saya bukan ahli fiqh, jadi bukan bagian gan asakJanti sebagai percontohan juga mengadopsi bi saya, itu bagian pak kyai. Tapi saya bisakonsep Sanimas, mengedapankan pen hasil ogas jelaskan prosesnya.pemberdayaan, dan lain-lan. tinja golah Pak Kyai itu meminta saya menjelaskan. itu h an alal Saya jelaskan, sebenarnya Allah memberikan Kembali kepada Sanimas. Apa yang DA ? bakteri pada kotoran kita. Itu bukti bahwa BORkhas dari Jawa Timur terkait apa pun yang diberikan Allah itu bermanfaat,dengan pengembangan termasuk kotoran dan sampah. Tapi itu hanyaSanimas? berguna untuk orang-orang yg berpikir, untuk orang yang tahu ilmunya. Lalu saya bilang, tinja itu ditempatkan di tempat yang seperti perut. Bentuknya juga bulat dengan mengerucut di atas, untuk mengerucutkan atau mengumpulkan titik-titik energi di bagian atas. Namanya biodigester. Dari situlah berkumpul 70 persen gas metan dari pengolahan bakteri tinja dalam IPAL. Karena gas metan itu mudah terbakar, maka dari situlah ada biogas. Sederhananya begitu saya jelaskan pada Pak Kyai. Lalu saya tanya balik: itu halal atau haram? Akhinya kata pak kyai bilang: itu halal. Saya tanya beliau, apa Kyai mau makan? Oke, saya mau. Katanya, panggil wartawan, saya akan makan. Lalu masuk itu ke Radar Madura. Ke depan, apa yang Anda harapkan terhadap program Sanimas? Apa kira-kira yang masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan? Jawa Untuk Sanimas sendiri saya berharap tetap berlanjut, Timur terkenal dengan dengan atau tanpa nama Sanimas. Ini terkait dengan NU-nya, sehingga dari awal konsep pemberdayaan masyarakat, partisipasi warga dan saya sudah mengusulkan agar ada lokasi pendidikan mengenai sanitasi yang harus pastisipatoris. Sanimas di pesantren. Ini penting agar biogas Kita tahu untuk dana DAK 2010 ini cukup besar, nah…yang dihasilkan IPAL di pesantren itu bisa digunakan kita menunggu seperti apa petunjuk teknis (juknis) yanguntuk memasak itu hasil makanannya juga dimakan oleh akan dikeluarkan PU. Seperti yang saya utarakan di atas,para santri. Hal itu cukup penting menurut saya karena saya harapkan sanitasi DAK tetap memperhitungkanada kalangan yang menganggap makanan yang dimasak proses pembangunan yang melibatkan partisipasi warga.dengan biogas hasil pengolahan limbah tinja itu tidak Pendeknya, konsep Sanimas masih diadopsi di sana.halal. Di Mojokerto sempat ada juga yang begitu. Sampai- Saya, sekali lagi, tidak mempersoalkan nama Sanimassampai fasilitator kami di lapangan dan pihak pemerintah dipakai atau tidak. Saya hanya khawatir dan sekaligusjuga sampai mencarikan fatwa kepada ulama setempat. menyayangkan jika proses yang sudah kita jalani sejak lama itu ditinggalkan begitu saja. Padahal saya kira sudah cukup banyak keberhasilan Sanimas dengan konsepnya itu. nPelaku Tahap II 76
  • 78. Susmono (Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pelaku Tahap III dan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Program Nasional (2006-.....) Departemen Pekerjaan Umum) Saya Ingin Sanimas Lebih MasifSecara umum masih sama, tapi kita tak serta merta mengaplikasi begitu saja konsep Sanimas yang kita dengar pertama saat presentasi di Bali itu. Ada beberapa hal yang berbeda, tapi yang terutama adalah pada aspek pendanaan. Cukup jelas uang dari kita [baca: pemerintah pusat] tidak diberikan dalam bantuan langsung yang tunai sifatnya, tapi uang itu dikonversikan ke dalam bahan- bahan bangunan atau material yang dibutuhkan dalam proses pembangunan fasilitas Sanimas. Kita juga memutuskan tidak akan menunjuk kota mana yang akan menjadi penerima program Sanimas. Yang kita lakukan adalah kita melakukan advokasi, menggelar roadBOWO show sampai sarasehan untuk mempresentasikan Sanimas Bisa diceritakan bagaimana keterlibatan Anda dalam ke kota/kabupaten. Dari situlah kita nantinya menerima pengembangan Sanimas di Indonesia? usulan kota/kabupaten mana saja yang tertarik dan ingin Saya waktu itu masih Kepala Sub Direktorat Wilayah membangun Sanimas. Tengah II yang membawahi Jawa Tengah dan Timur Kota/kabupaten yang mengusulkan dirinya itulah diundang ke Bali untuk mendengarkan konsep Sanimas yang menjadi calon penerima, tidak mungkin dan yang dipresentasikan oleh Alfred Lambertus. Waktu itu tidak akan kota/kabupaten yang tidak mengajukan diri Bank Dunia minta direplikasi. Saya sendiri masih ragu, akan mendapat bantuan Sanimas. Karena cukup jelas, terutama karena biayanya mahal. Kalau dulu kan buat Sanimas ini tidak mungkin hanya ditangani oleh pusat, ini toilet cukup sekitar 15 juta, kalau ini ratusan juta. Ini agak justru butuh partisipasi masyarakat dan juga kontribusi menjadi bahan pemikiran juga waktu itu. pemerintah kabupaten/kota, termasuk dalam soal Lalu kita terima usulan itu, tapi tidak langsung pembiayaan. Karena seperti yang sudah dibilang di awal, replikasi, melainkan di-ujicoba-kan di 7 lokasi, termasuk kita hanya bisa sharing atau membantu untuk penyediaan 6 di Jawa Timur yang menjadi area tanggungjawab kerja material. saya. Dari situlah akhirnya sampai pada tahap replikasi yang menjadi salah satu program utama Direktorat Cipta Apa yang membuat PU tertarik untuk Karya sejak 2006. mengembangkan Sanimas sampai-sampai PU mempercepat program replikasi Sanimas yang Adakah bedanya antara konsep Sanimas yang bisa mencapai 100an buah per tahun? dipresentasikan waktu itu dengan yang dikembangkan Selama ini sanitasi hanya ada dua tipe oleh PU pada tahap replikasi sejak 2006? yaitu tipe individual [tiap 77
  • 79. rumah] dan MCK. Hanya saja itu tidak maksimal. Saya Tidakkah saat replikasi Sanimas itu rentang kendaliberpikir ini satu lubang yang harus saya isi. Kalau saya dan monitoring juga menjadi lebih susah karena tersebarhanya bikin 7 lokasi, untuk apa? Makanya saya ingin ini di lokasi yang sangat banyak?lebih masif lagi. Saya pernah bilang ke Pak Basah Hernowo Saya menyadari kalau replikasi Sanimas berskala(Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas saat itu. massal itu rentan mengurangi kualitasnya, karenaRed), saya mau 100. Kalau cuma tujuh itu tidak akan ada jumlahnya yang sangat banyak, sehinggagaungnya. monitoring dan rentang kendali Ken Orang banyak yang terkejut dan pesimis. Saya dire dati s pun jadi sangat luas, belumsendiri dianggap ambisius. Tapi ini tetap dijalankan p men likas udah lagi kemungkinan ada tahapan- gramjadi pi dandan berjalan terus dari tahun ke tahun. Ada kritik tahapan yang belum maksimal tapiyang saya terima karena ada juga memang PU, ro langsung diloncati. Salah satu upayaSanimas yang tidak berjalan secara maksimal. tid kamutama - kami untuk mengurangi kemungkinanTapi itu tidak berarti membuat kita harus melak mu i tetap itu adalah dengan membuat pelatihanmundur. aku ngk bagi calon fasilitator. Untuk para sen kannyin fasilitator pun akan ada pelatihan untuk diri a Apa yang Anda lakukan agar replikasiSanimas ini juga bergaung? Banyak yang akhirnya meniru apa yang sudahdilakukan. Saya justru senang dengan itu. Misalnya USAIDkan bikin MCK Plus++ juga, yang duludikunjungi Hillary Clinton saat berkunjungbeberapa waktu lalu dalam kapasitasnyasebagai Menlu Amerika. Itu membuatkonsep Sanimas ini jadi punya gaung. Sayasendiri terus berusaha mempromosikanini. Kalau ada acara-acara tertentu, sayaselalu memasangkan poster-poster,termasuk jika ada pejabat-pejabat tinggiyang datang. Dari situ mereka mulai tahu. Dari situ saya bisa mengajak banyakorang lain untuk sama-sama terlibatdalam pengembangan Sanimas ini.Terakhir saya bekerjasama denganorganisasi-organisasi wanita di Indonesia,dari Kowani sampai istri anggota kabinetIndonesia bersatu. Kami merasa inicukup penting karena persoalan sanitasimemang membutuhkan banyak tangan PUuntuk bekerja. terus meningkatkan skill dan kemampuan mereka. Bagaimana capaian dari upaya pengembangan Setelah mereka di lapangan, saya meminta LSM yangsanitasi dalam kerangka target MDG 2014? jadi partner kami, terutama BORDA, untuk mengawasi Sebenarnya sumbangan Sanimas untuk pencapaian di lapangan. Tapi BORDA sendiri kan tidak mungkintujuan MDG itu tidak terlalu besar, tapi ini memang mengawasi semuanya karena mereka juga punyaharapannya bisa menjadi efek bola salju. Kita lagi keterbatasan. Itulah sebabnya kami menggunakanmemikirkan bagaimana itu juga diadopsi dalam DAK konsultan untuk mengawasi titik-titik pembangunanSanitasi. Ini masih terus diperjuangkan. Saya masih terus Sanimas di lapangan. Kita juga punya Satker-satker (satuanmengutarakan agar pembangunan sanitasi dengan dana kerja. Red) di masing-masing wilayah. Dengan itu mudah- DAK itu bukan bangun fisiknya saja, harus disertakan mudahan situasi dan perkembangan di lapangan bisa pemberdayaan masyarakatnya. dikendalikan, bersama LSM yang jadi partner kita dan para konsultan.Pelaku Tahap III 78
  • 80. Bagaimana dengan keterlibatan instansi lain di luar Selain lintas instansi dan departemen, Sanimas jugaPU? menggandeng LSM, terutama BORDA. Bisa diceritakan Kendati sudah direplikasi dan menjadi program utama bagaimana kerja sama ini dimulai? Adakah yangPU, kami tetap tidak mungkin melakukannya sendiri. menarik?Bappenas, Depdagri dan instansi lain tetap dibutuhkan. Pengalaman dengan BORDA itu mula-mula karenaMasing-masing punya keahliannya sendiri-sendiri dan memang kita membutuhkan mereka. Direktoratharus bekerja sama, karena persoalan sanitasi kalau ingin Pengembangan Penyehatan Lingkungan dan Permukimandiselesaikan secara komprehensif ya harus melibatkan itu kan baru terbentuk, saya sendiri dulu praktis diangkatbanyak pihak. Saya kalau mau mengumpulkan para bupati, masih sendiri, belum ada kantor sendiri, dan lain-lain.misalnya, ya harus menggandeng Depdagri. Itu salah satu Karena itulah kita membuka diri untuk membangun kerjacontoh saja. sama dengan mitra yang mungkin tertarik. Dalam Sanimas, kami tidak mencoba membangun Dan waktu itu yang pertama kali merespons adalahkeharusan atau kesan bahwa karena ini program PU BORDA. Kalau yang merespons pertama LSM lainmaka di kabupaten atau kota itu harus dinas PU juga mungkin akan berbeda. Dan saya cek ke Jerman, merekayang menjadi leading sector-nya. Di masing-masing kota reputasinya baik. Dan BORDA memang sangat menjaga komitmen. Dulunya kita komitmen dan saling percaya, ya sudah, langsung jalan. MoU baru per lokasi. Kita tidak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan LSM lain, tidak masalah itu. Kita juga sudah ajak beberapa yang lain, tapi sukar karena memang belum ada kesepahaman. Kita ajak LSM tertentu, tapi mereka tidak mau keluar dari lokasi utama mereka, misalnya di NTT saja, itu menyulitkan. Kadang ada LSM yang tidak mau mengubah metode kerja mereka yang sayangnya tidak bisa kami lakukan karena kami terkait dengan pelbagai aturan birokrasi. Mereka tidak mau menyesuaikan dengan kami yang memang dibatasi oleh sejumlah peraturan. BORDA amat membantu dan mereka memahami persoalan itu. Mereka fleksibel dan tidak kaku, sehingga ini sangat membantu kami yang selalu berusaha bekerja sesuai koridor dan aturan main yang berlaku. Padahal kami membutuhkan partner LSM selain BORDA, karena hasilnya berbeda kalau kita outsourcing dengan para konsultan. PU Di tingkat pusat kan ada Pokja AMPL yang memainkan peran besar di tingkat koordinasi lintas departemen dan instansi. Bagaimana menurut bapak?dan kabupaten bisa beda-beda siapa leader-nya. Tapi Apa tidak sebaiknya pola serupa juga diterapkan dikalau sudah menyangkut sanitasi dengan dana DAK PU, daerah?memang ada sedikit kesulitan. Jangan sampai karena ini Tentu saja Pokja AMPL sangat berperan, kalau tidakdana DAK PU maka orang-orang yang ahli dari instansi lain memang akan banyak kendala koordinasi dan hambatanjadi tidak bisa dilibatkan. birokrasi yang sifatnya struktural. Untuk itulah ke Saya akan meminta bupati atau walikota agar depannya memang kita berharap hal itu pula yang akanpengerjaan sanitasi dengan dana DAK PU pun tetap bisa berkembang di daerah. Sekarang kan ada sekitar 80 Pokjamelibatkan orang-orang ahli dari instansi lain. Semacam di daerah, tahun 2010 kita harapkan sudah ada sekitarkerja-kerja fungsional yang bukan struktural, seperti 120-an Pokja.ad hoc gitu kira-kira. Lain soal kalau di tiap kota atau Di daerah sendiri belum semua parakabupaten sudah ada Pokja, tapi dari semua kabupaten pemimpin daerah punya pemikiran danatau kota kan belum semua punya Pokja. pemahaman yang merata soal pentingnya sanitasi. Kebanyakan daerah 79 Pelaku Tahap III
  • 81. yang punya concern terhadap upaya memecahkan ketertarikan dengan persoalan sanitasi. Dulu ini bukanpersoalan sanitasi ya di daerah yang pernah mengadopsi isu yang menarik. Sempat ada audiensi dengan anggotaSanimas atau kota/kabupaten. Atau kota dan kabupaten DPR mengenai soal sanitasi, termasuk pengembanganyang masuk ke dalam Program Percepatan Sanitasi Sanimas. Waktu itu ada anggota dewan yangPermukiman (PPSP). mempertanyakan kenapa Pemda/Pemkot harus sharing pembiayaan. Tampaknya teman-teman di dewan sudah Apa lagi yang coba dilakukan untuk terus mendorong mendengar bahwa sharing yang diberikan oleh pemkot/isu sanitasi ini agar bisa lebih punya gaung? pemkab itu lebih besar. Kita sendiri akan membuat semacam jambore sanitasi. Kemudian saya jelaskan soal konsep SanimasKita akan undang tokoh-tokoh dan orang-orang yang ini, yang memang konsepnya bottom-up, berbasisterlibat dalam program sanitasi. Dari mulai masyarakat dan memang sudah menjadi programpara pengurus masyarakat atau KSM, daerah. Seharusnya daerah itu malah 100 persenpara fasilitator, sampai para bupati ita g K n dalam pembiayaannya. Mereka kan harus bekerja a kanatau walikota. Ini untuk membangun sed iap keras untuk menuntaskan target memenuhipengertian yang sama mengenai y MDG, termasuk dalam soal buang air besarpersoalan sanitasi. Supaya mereka tahu men ajian is k em sembarang. Nah, dana yang diberikan pusat d naikomitmen pemerintah itu besar untuk aka nge asi itu tidak lebih sebagai stimulan saja. darimengentaskan soal sanitasi. Tahun lalu me Sanit Artinya, sudah mulai ada perhatian RUUkita juga membuat jambore yang sama tapi Dewan terhadap isu sanitasi. Kalau duluuntuk para pelajar. Dari situlah kami ingin kan apa-apa yang ditanyakan ke PU itumengembangkannya tahun ini menjadi lebih adalah jalan-jalannya bagaimana, saluran irigasinyabesar. bagaimana, jembatan Suramadu, dan infrastruktur- Dari situ saya berharap akan ada denyut insfrastruktur besar yang kasat mata dan menonjol.yang berskala nasional mengenai persoalan sanitasi. Kitaingin membangkitkan kembali kegiatan-kegiatan positif, Terkait regulasi, apakah PU sedang menyiapkanseperti gerakan jumat bersih pada masa lalu. Kita ingin semacam regulasi setingkat UU yang ada kaitannyaada gerakan-gerakan periodik, denyut-denyut sanitasi dengan sanitasi?yang berjalan terus, yang akan memuncak pada konferensi Ada. Kita sedang menyiapkan kajian akademisnasional sanitasi. Nah, jambore ini sebagai titik awal. mengenai RUU Sanitasi. Kita sudah beberapa kali Kami juga sudah menyiapkan program-program yang membuat workshop. Sebenarnya draft-nya sudah mulaimenindaklanjuti program sanitasi berbasis masyarakat kelihatan. Teman-teman di DPR tampaknya lebih sukaseperti Sanimas. Kita sedang menyiapkan Sanitary istilah ”sanitasi”, karena istilah itu lebih populer. PadahalImprovement Program [SIP] yang akan mengedukasi secara akademis lebih tepat ya ”air limbah”. Nanti kitamasyarakat untuk meningkatkan kualitas sanitasi di bandingkan mana yang lebih tepat. Kita harapkan 2012rumah-rumah. Awalnya tidak apa-apa rumah-rumah itu ini sudah akan dibahas. Kalau sekarang sih statusnya barujambannya masih sederhana, tidak ada septic-tank-nya, terdaftar. Dewan tampaknya akan lebih memprioritaskandindingnya mungkin cuma kain saja. lebih dulu revisi sejumlah UU, seperti UU Permukiman. Melalui SIP, kita akan membantu masyarakat untuk Tapi kalau dibutuhkan, kita siap saja maju pada 2011. memperbaiki kualitas jamban di masing-masing rumah.Intinya kita mengharapkan ada improvement. Kita tentu Apa yang kira-kira masih perlu ditingkatkan darisaja akan bekerja sama dengan Departemen Kesehatan pengembangan Sanimas?yang punya sejumlah program kampanye hidup bersih Saya masih berpikir Sanimas ini masih terlalu mahal.yang jangkauannya individual, seperti kampanye cuci Sekarang memang sudah mulai turun. Awalnya kan itutangan, dan lain-lain. bisa sampai 400 juta lebih, sekarang pelan-pelan mulai ditekan menjadi lebih rendah lagi, sampai ada yang sekitar PU sudah menggarap replikasi Sanimas sampai di 200an juta. Tapi memang tidak bisa juga pembiayaannyaratusan kabupaten dan kota. Apakah ada imbasnya itu ditekan sampai minimal karena standar Sanimas itudalam isu sanitasi? Bagaimana perhatian banyak tinggi. Ada sejumlah aspek teknis pembangunannya yang kalangan terhadap sanitasi, misalnya Legislatif? tidak bisa ditawar-tawar, misalnya untuk membangun Teman-teman di Senayan [parlemen] instalasi pengolahan limbah agar bisa menghasilkan sudah mulai memiliki biogas. nPelaku Tahap III 80

×