Your SlideShare is downloading. ×
KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYATREPUBLIK INDONESIAJl. Raden Patah I No. 1, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110Telepon/Fax (02...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    1/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    2/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    3/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    4/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    5/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    6/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    7/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    8/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    9/...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    10...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    11...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    12...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    13...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    14...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    15...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    16...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    17...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    18...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    19...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    20...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    21...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    22...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    23...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    24...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    25...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    26...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    27...
Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    28...
Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat      Lampira...
Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat      Lampira...
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman

1,889

Published on

disiapkan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Kemenpera, tahun 2011

Published in: Real Estate
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,889
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
160
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Laporan Penyiapan Grand Design Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman"

  1. 1. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYATREPUBLIK INDONESIAJl. Raden Patah I No. 1, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110Telepon/Fax (021) 72799056, (021) 7245751, (021)7226601(sentral)www.kemenpera.go.idLaporan PenyiapanGRAND DESIGNBidang Perumahandan Kawasan Permukiman2011
  2. 2. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    1/  28    BAB  I  PENDAHULUAN    1.1.    Latar  Belakang  Perumahan   dan   Kawasan   Permukiman   (PKP)   merupakan   sektor   penting   dalam  pembangunan   karakter   dan   peningkatan   kesejahteraan   rakyat   Indonesia.   Sebagai  sebuah   product,   wujud   rumah   merupakan   sintesis   antar   rantai   produksi   material,  pencapaian  teknologi,  serta  daya  dukung  lingkungan  sebagai  penyedia  bahan  mentah  maupun  tapak  hunian;;  sebagai  sebuah  process,  pembangunan  perumahan  dipengaruhi  oleh  kemampuan  pembiayaan  individu  serta  faktor  pembentuk  daya  beli  yang  bersifat  makro.    Faktor  yang  mempengaruhi  suplai  perumahan1  sedemikian  kompleks  sehingga,  dengan  struktur   kelembagaan   Indonesia   saat   ini,   membutuhkan   kordinasi   antar   sektor/  Kementerian/  Lembaga.  Efektivitas  kordinasi  inter-­sektoral  program  PKP  ini  seyogianya  bermula   sejak   fase   perencanaan   hingga   implementasi   sedemikian   sehingga   dapat  memperkecil  kesenjangan  konsep  dengan  implementasinya,  menihilkan  benturan  antar  peraturan,   mereduksi   konflik   kewenangan   dan   multi-­tafsir   implementasi   kebijakan.  Berdasar   pada   harapan   tersebut,   dengan   memperhatikan   karakteristik   penanganan  persoalan   perumahan   yang   cenderung   jangka   panjang2,   mempertimbangkan   sistem  perencanaan  pembangunan  Nasional,  maka  suatu  Grand  Design  PKP  dinilai  berpotensi  menjadi   landasan   penanganan   persoalan   PKP   yang   terencana,   sistematis   dan  berkesinambungan.    Upaya   formulasi   Grand   Design   PKP   ini   dimulai   dari   tahap   penyiapan   yang   memuat  kegiatan   kajian   teknis,   inventarisasi   aspirasi   dan   informasi   sektoral,   lalu   dimatangkan  melalui   konsensus   yang   hasil-­hasilnya   terumuskan   dalam   Laporan   Penyiapan   Grand  Design   bidang   Perumahan   dan   Permukiman   ini.   Sebagai   suatu   langkah   mula  pengembangan   dokumen   yang   representatif   dan   strategis   maka   ketepatan   isu,   visi,  strategi   memainkan   peran   penting   sehingga   penyempurnaannya   membutuhkan  dukungan   informasi   yang   kontinu.  Oleh   karena   itu,   laporan   ini   diproyeksikan   menjadi  modal  awal  yang  akan  melalui  berbagai  tahap  konsolidasi  mengingat  komprehensivitas  isu  yang  hendak  ditangani,  jangkauan  waktu  yang  hendak  dikelola,  variasi  stakeholders                                                                                                                        1Lima  faktor  penentu  harga  rumah  yakni  harga  tanah,  biaya  prasarana  jalan,  biaya  bangunan,  harga  dana,  dan  perizinan.  Lihat:  Komarudin,  1997,  Menelusuri  Pembangunan  Perumahan  dan  Permukiman.  hal.  347,  Jakarta:  Yayasan  REI  –  PT.  Rakasindo.  Pada   tingkat   Nasional   maupun   Daerah,   5   faktor   tersebut   ditangani   oleh   Kementerian/Lembaga   yang   berlainan;;   ini  merupakan   dasar   kebutuhan   pengembangan   platform   inter-­sektoral   agar   pasokan   mampu   mengimbangi   kebutuhan  perumahan.    2Tenor  dalam  penyediaan  perumahan  formal  pada  umumnya  berlangsung  selama  15  tahun.  
  3. 3. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    2/  28    yang   terlibat,   maupun   dinamika   variabel   yang   mendeterminasi   backlog   dan   kualitas  perumahan.    1.2.    Tujuan  Dan  Sasaran  1.2.1.  Tujuan  Grand   Design   PKP   bertujuan   memberi   arah   kebijakan   pencapaian   sasaran  pembangunan  bidang  PKP  dan  menjadi  pedoman  penyusunan  roadmap  tahun    2015-­2019,   2020-­2024   di   lingkungan   Kementerian/Lembaga,   Pemerintah   Daerah,  Masyarakat  dan  Dunia  Usaha.  1.2.2.  Sasaran  Sasaran   umum   Grand   Design   PKP   diarahkan   untuk   meningkatkan   koordinasi   antar  pemangku  kepentingan  bidang  PKP,  penyediaan  sistem  pembiayaan  jangka  panjang  yang  mampu  diakses  oleh  berbagai  tipe  kelompok  penerima  manfaat,  pengembangan  produk   perumahan   yang   terjangkau   dan   berwawasan   lingkungan   dalam   upaya  mewujudkan   reduksi   backlog,   peningkatan   kualitas   bermukim,   serta   pengentasan  kawasan  kumuh.    1.3.    Pengertian  Grand  design  terdiri  atas  2  kata  yakni  (i)  grand  yang  berarti  hal  yang   paling  penting,  besar,  menjadi  induk3,  serta  (ii)  design  yang  berarti  suatu  skema  pengaturan  (sinonim  dari  designing),  sesuatu  yang  ditujukan  sebagai  pedoman  untuk  melaksanakan  sesuatu  lainnya  (sinonim  dari  blueprint),  suatu  anticipated  outcome  yang  ingin  dicapai  (sinonim  dari   aim).4   Secara   praktikal,   grand   design   kerap   diterjemahkan/diimplementasikan  sebagai  rencana  induk5  atau  kerangka  utama6.    Sebagai   sebuah   rencana   induk   maka   grand   design   merujuk   pada   dokumen  pembangunan   Nasional   serta   memuat   visi,   arah   kebijakan,   visi   dan   misi,   tujuan   dan  sasaran,  sasaran  5  tahunan  (roadmap)7;;  rencana  induk  ini  bertujuan  untuk  memberikan  arah   kebijakan8   pelaksanaan   selama   kurun   waktu   tertentu   secara   efektif,   efisien,                                                                                                                        3Sonny  Harry  B.  Harmadi,  2011,  Desain  Induk  Kependudukan,  slide    4,  Jakarta:  Lembaga  Demografi  FEUI.  4  Ibid.    5Suratman   Woro,   Sudibyakto,   Suyono,   30   Agustus   2003,   ”Penyusunan   Rencana   Induk   (Grand   Design)   Pengelolaan  Lingkungan  Hidup,  Kasus:  SWS  Bengawan  Solo”  Prosiding  Lokakarya  Nasional  ”Menuju  Pengelolaan  Sumberdaya  Wilayah  Berbasis  Ekosistem  untuk  Mereduksi  Potensi  Konflik  Antar  Daerah”,  Yogyakarta:  Fakultas  Geografi  UGM.  Anonim,  Mei-­Juni  2011,  Reformasi  Birokrasi  Ditjen  Bina  Marga,  Slide  15,  Jakarta.  Anonim,  19  April  2011,  Grand  Design  Program,  Kegiatan  2011  dan  Konsep  PHBK,  slide  5,  Jakarta:  Direktorat  Kerjasama  Pendidikan  Kependudukan  6  Anonim,  2009  a,  Petunjuk  Teknis  Penyusunan  Standar  Biaya  Khusus  Departemen  Keuangan  Direktorat  Jenderal  Anggaran  2009,  hal.  6,  Jakarta.  7  Adaptasi  dari  Gambar  4.  Kerangka  Pikir  Grand  Design  Reformasi  Birokrasi  2010-­2025.Lampiran  Perpres  RI  No.  81  Tahun  2010  Grand  Design  Reformasi  Birokrasi  2010  –  2025,  hal  12.  8Anonim,  19  April  2011,  Op.  cit.,  slide  8.  
  4. 4. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    3/  28    terukur,   konsisten,   terintegrasi,   melembaga   dan   berkelanjutan.9   Sebagai   kerangka  utama   maka   grand   design   merupakan   gambaran   umum   secara   menyeluruh   tentang  program  dan  kegiatan  yang  dilaksanakan  oleh  Kementerian  Negara/Lembaga  (K/L)  dan  dimaksudkan   untuk  memberikan   arah  kebijakan   dan   keterkaitan   antara   kegiatan,   sub  kegiatan   dengan   program-­program   yang   telah   ditetapkan.10   Memberi   arah   kebijakan,  pedoman   K/L   dalam   perencanaan   pembangunan,   rujukan   penyusunan   roadmap  merupakan  sejumlah  ciri  grand  design  yang  telah  berjalan  selama  ini.    1.4.    Kedudukan  Selain   dilatarbelakangi   oleh   kebutuhan   terhadap   kesamaan   persepsi,   suatu   grand  design  juga  diperlukan  untuk  menyelesaikan  sejumlah  hal  seperti  kesenjangan  tataran  konsep   maupun   implementasinya,   benturan   antar   peraturan,   perbedaan   pendapat,  konflik   kewenangan,   multi-­tafsir   implementasi   kebijakan.   Guna   mencapai   tujuan  tersebut  serta  posisinya  yang  menjadi  acuan  antar  K/L  maka  grand  design  diharapkan  pula   menjadi   bagian   dari   aturan   perundang-­undangan.11   Adapun   kedudukan   Grand  Design  dalam  kaitannya  dengan  berbagai  dokumen  perencanaan  pembangunan  lainnya  [RPJPN  2005-­2025  (UU  No.17  Tahun  2007),  RPJMN  2010-­2014  (Perpres  No.5  Tahun  2010)]  dapat  ditampilkan  sebagai  berikut:        Gambar  1-­1.  Kedudukan/Keterkaitan  Grand  Design    dengan  Dokumen  Perencanaan  Pembangunan12                                                                                                                        9  Lampiran  Perpres  Presiden  RI  No.  81  Tahun  2010  Grand  Design  Reformasi  Birokrasi  2010  –  2025,  hal  12  10  Anonim,  2009  a,  Op.cit.,  hal.  8.  11Anonim,   2009   b,   Grand   Design   Desentralisasi   Fiskal,   hal.5,   Jakarta:   Direktorat   Jenderal   Perimbangan   Keuangan,  Departemen  Keuangan  12  Adaptasi  terhadap  diagram  kedudukan  Grand  Design  Reformasi  Birokrasi  dengan  RPJPN  2005-­2025  dan   RPJMN  2010-­2014,  2015-­2019,  2020-­20254  .  Lihat:  Lampiran  Perpres  Presiden  RI  No.  81  Tahun  2010  Grand  Design  Reformasi  Birokrasi  2010  –  2025,  hal  12  
  5. 5. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    4/  28    Grand   Design   merupakan   rancangan   induk   yang   diderivasi   mengacu   kepada   RPJPN  (UU   No.17   Tahun   2007)   serta   minimum   dikukuhkan   melalui   Peraturan   Presiden13;;  bilamana   suatu   Grand   Design   diproyeksikan   untuk   menjadi   acuan   K/L   sekaligus  Pemerintah   Daerah   maka   kedudukan   Grand   Design   dapat   berada   di   atas   RPJMN  (ditetapkan   oleh   Peraturan   Presiden14).   Adapun   roadmap   merupakan   bentuk  operasionalisasi  Grand  Design  selama  5  tahun  dalam  mencapai  suatu  tahap  maupun  beralih   ke   tahap   lainnya;;   roadmap   bersifat   living   document15     dan   ditetapkan   melalui  Peraturan   Menteri   agar   dapat   memiliki   fleksibilitas   dalam   mengadaptasi   berbagai  dinamika  penyelenggaraan  pemerintahan  pada  masanya.      Sebagaimana   disajikan   secara   ideal   dalam   Gambar   I-­1,   dapat   dijelaskan   bahwa  dokumen   Roadmap   PKP   mendapat   pengaruh   langsung   dari   Grand   Design   PKP  sedangkan   RPJMN   menginternalisasi   Grand   Design   PKP   melalui   Roadmap   PKP.  Terkait  dengan  penyiapan  Grand  Design  PKP  yang  direncanakan  pada  lingkup  waktu  2015-­2025   maka   secara   praktikal,   Roadmap   PKP   2015-­2014   merupakan  operasionalisasi   Grand   Design   PKP   pada   periode   2015-­2019   yang   akan   menjadi  rujukan  penyusunan  RPJMN  2020-­2024;;  Roadmap  PKP  2015-­2019  hingga  2020-­2024  akan   mengalami   pemutakhiran   sesuai   dengan   hasil   pelaksanaan   RPJMN,   Roadmap  PKP  periode  sebelumnya,  serta  dinamika  penyelenggaraan  pemerintahan.    1.5.    Ruang  Lingkup  Ruang   lingkup   Grand   Design   PKP   mencakup   (i)   lingkup   jangkauan   waktu,   yakni  memberi  arah  penyelenggaraan  bidang  PKP  untuk  kurun  waktu  2015-­2025,  (ii)  lingkup  sistem  perencanaan  yakni  merupakan  acuan  perencanaan  bagi  dokumen  roadmap  PKP  dan  RPJMN,  serta  (iii)  lingkup  pemangku  kepentingan,  yakni  mengintegrasikan  segenap  upaya   dan   mendistribusikan   peran   Kementerian/Lembaga,   Pemerintah   Daerah,  Masyarakat  dan  Dunia  Usaha.                                                                                                                                13  Ibid.,  hal  4.  Terdapat  pula  pendapat  yang  menyatakan  bahwa  bentuk  hukum  formal  Grand  Design  ini  sebaiknya  tidak  lebih  rendah  dari  Undang-­Undang.  Lihat:  Anonim,  2009  b,  Op.cit.,  hal.  5.  Adapun   hirarki   legislasi   Indonesia,   dari   yang   tertinggi   hingga   terendah,   sebagai   berikut:     Undang-­undang   Dasar   1945,  Undang-­undang/Peraturan   Pemerintah   Pengganti   Undang-­undang,   Peraturan   Pemerintah,   Peraturan   Presiden,   Peraturan  daerah.  14  Undang-­Undang  Republik  Indonesia  Nomor  25  Tahun  2004  Tentang  Sistem  Perencanaan  Pembangunan  Nasional  pasal  19  menyebutkan  bahwa  RPJM  Nasional  ditetapkan  dengan  Peraturan  Presiden  Paling  Lambat  3  (Tiga)  Bulan  Setelah  Presiden  Dilantik  15   Living   document   diartikan   sebagai   dokumen   yang   harus   mengalami   revisi   atau   mengalami   pemutakhiran   seiring   dengan  perubahan  yang  terjadi.  
  6. 6. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    5/  28    1.6.    Metode  1.6.1.   Jalur  Formulasi  Berdasar  kedudukan  grand  design  terlihat  bahwa  RPJPN  berperan  sebagai  rujukan  utama  sumber  derivasi.  Selain  itu  ditemukan  pula  dokumen  yang  berperan  sebagai  pedoman  terkait  penyelenggaraan  perumahan  dan  permukiman,  yakni  Kebijakan  dan  Strategi  Nasional  Perumahan  dan  Permukiman  (KSNPP)16.  Sementara  itu  terdapat  fakta   bahwa   sejumlah   pelaku   pembangunan   non-­Pemerintah   secara   independen  mengimplementasikan   strategi   yang   berdampak   positif   bagi   penerima   manfaat  bidang   PKP   meski   tanpa   merujuk   pada   dokumen   bidang   PKP   yang   dihasilkan  Pemerintah   (Lampiran   1).   Pada   sisi   lain,   sejumlah   program   PKP   yang   telah  diselenggarakan  Pemerintah  sejak  periode  2004-­2009  juga  memiliki  kontribusi  yang  signifikan  dalam  upaya  memenuhi  kebutuhan  bidang  PKP  (Lampiran  2).      Pertimbangan   terhadap   kondisi   tersebut   serta   kebutuhan   untuk   memperkecil  gap/inkoherensi   yang   terdapat   dalam   dokumen   kebijakan   perumahan   dan  permukiman  kemudian  memunculkan  strategi  formulasi  Grand  Design  PKP  menjadi  3  jalur  (Gambar  1-­2)  yakni:  (i)  jalur  kajian  dokumen  kebijakan,(ii)  jalur  kajian  praktik  unggulan   dan   pembelajaran,   (iii)   jalur   kajian   akademik.   Sebagaimana   tertera   pada  gambar  1-­2,  proses  formulasi  tersebut  dimulai  melalui  jalur  kajian  dokumen  kebijakan  yang   diarahkan   guna   menelaah   dokumen   RPJPN   dan   KSNPP   (Lampiran   3)  sehingga   isu,   visi,   dan   strategi   bidang   PKP,   yang   akan   menjadi   sumber   derivasi,  dapat   teridentifikasi.     Selanjutnya,   praktik   unggulan   dan   pembelajaran   bidang   PKP  yang  dilakukan  oleh  pemerintah  maupun  non-­pemerintah  (Lampiran  4)  dikaji  untuk  mencermati  tentang  efektivitas  program  eksisting  terhadap  penyelesaian  persoalan  bidang  PKP  yang  telah  dideksripsikan  dalam  dokumen  RPJPN  dan  KSNPP.                                                                                                                            16   “Kebijakan   dan   Strategi   Nasional   Perumahan   dan   Permukiman   (KSNPP)   merupakan   arahan   bagi   Instansi   terkait   dalam  rangka  koordinasi  dan  sinkronisasi  program  penyelenggaraan  perumahan  dan  permukiman  dengan  tetap  mengacu  pada  Propenas  dan  Propeda.”  “Kebijakan  dan  Strategi  Nasional  Perumahan  dan  Permukiman  (KSNPP)  digunakan  sebagai  pedoman  untuk  penyiapan  pengaturan  dan  rencana  penyelenggaraan  perumahan  dan  permukiman  baik  di  Pusat  maupun  di  Daerah  sesuai  kondisi  dan  potensi  setempat.”  Lihat:  Surat  Keputusan  Menteri  Permukiman  dan  Prasarana  Wilayah  selaku  Ketua  BKP4N,  No.  217/KPTS/M/2002  tanggal  13   Mei   2002   tentang   Kebijakan   dan   Strategi   Nasional   Perumahan   dan   Permukiman   (KSNPP),   Bagian   Pertama,   hal   iii,  Jakarta:  Kementerian  Permukiman  dan  Prasarana  Wilayah.  “Maksud.  Kebijakan  dan  Strategi  Nasional  Perumahan  dan  Permukiman  (KSNPP)  ini  dimaksudkan  sebagai  pedoman  di  dalam   penyusunan   kebijakan   teknis,   perencanaan,   pemrograman,   dan   kegiatan   yang   berada   dan   atau   terkait   di   dalam  penyelenggaraan  perumahan  dan  permukiman,  baik  di  lingkungan  Departemen,  Lembaga  Pemerintah  Non  Departemen,  Pemerintah  Daerah,  maupun  bagi  Masyarakat  dan  Dunia  Usaha.”  “Tujuan.   Kebijakan   dan   Strategi  Nasional  Perumahan   dan  Permukiman   sebagaimana   dimaksud   di   atas   bertujuan  untuk  mendukung   pencapaian   sasaran   pembangunan   sektor   perumahan   dan   permukiman   melalui   peningkatan   keterpaduan  yang  efektif  di  dalam  penyusunan  rencana,  program,  dan  pelaksanaan  kegiatan  secara  keseluruhan,  baik  di  lingkungan  Departemen,  Lembaga  Pemerintah  Non  Departemen,  Pemerintah  Daerah,  maupun  oleh  Masyarakat  dan  Dunia  Usaha.”  Lihat:  Ibid.,  Bagian  Kedua,  hal  2.    
  7. 7. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    6/  28      Gambar  1-­2.  Kedudukan  dan  Keterkaitan  Jalur  Formulasi  Grand  Design  PKP      Pada   sisi   lain,   jalur   kajian   akademik   (Lampiran   5)   dibangun   untuk   (i)   mengurai  kompleksitas   persoalan   bidang   PKP   ke   dalam   komponen   dan   faktor   pembentuk  rumah/perumahan,   serta   (ii)   memberi   alur   logika   yang   koheren   atas   derivasi   di  tingkat   dokumen   grand   design.   Penetapan   isu   dilakukan   melalui   analisis   korelasi  antara   tren   faktor   pembentuk   komponen   rumah   dengan   tren   realisasi   program  pemerintah.  Sementara    visi  dibentuk  melalui  hasil  kajian  dokumen  kebijakan  yang  didukung   verifikasi   atas   realisasi   program   yang   tengah   berjalan.   Adapun   strategi  dikembangkan   berdasar   preseden   praktik   unggulan   dan   pembelajaran   untuk  mengatasi  kesenjangan  antara  kondisi  faktual  dengan  kondisi  ideal  yang  diharapkan.  Hasil-­hasil   yang   diperoleh   dari   3   jalur   kajian   tersebut   pada   hakikatnya   bersifat  teknokratis.   Oleh   karena   itu,   forum   konsultasi/Focussed   Group   Discussion   (FGD)  diselenggarakan  untuk  memverifikasi  hasil  kajian  lalu  menghasilkan  konsensus  yang  menjadi  materi  dasar  Grand  Design  PKP.      1.6.2.   Pemangku  Kepentingan  Identifikasi  pemangku  kepentingan  penyusunan  Grand  Design  PKP  didasarkan  pada  kesesuaian   tugas   pokok   dan   fungsi   kelembagaan,   rekam   jejak   dan   kompetensi  terhadap   pengembangan   perumahan   dan   kawasan   permukiman.   Pada   akhirnya  teridentifikasi   33   pemangku   kepentingan   yang   menjadi   mitra   inti   dalam   forum  
  8. 8. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    7/  28    konsensus,   yaitu:   5   peserta   dari   Kementerian   Perumahan   Rakyat,   11   peserta   dari  Kementerian/Lembaga  tingkat  Pusat,  14  dari  Lembaga  Profesi,  Swasta,  LSM,  serta  3  peserta  Perguruan  Tinggi  (Lampiran  6).    1.6.3.   Metode  Focused  Group  Discussion  (FGD)    FGD   dilaksanakan   dengan   mendistribusikan   peserta   berdasar   kedekatan   lingkup  kelembagaan  dan  kontribusi  ke  dalam    4  (empat)  kelompok    isu  strategis,  yakni:  a.   Kelompok   I   membahas   isu   1   “Sinergitas   manajemen   penyelenggaraan  perumahan   dan   permukiman   melalui   keterpaduan   antar   kementerian/lembaga,  relasi  pusat  dan  daerah,  interaksi  desa-­kota”.  b.   Kelompok   II   membahas   isu   2   “Sistem   pembiayaan,   desain   skema   pembiayaan  dan  kelembagaan  keuangan  bidang  perumahandan  permukiman”.  c.   Kelompok   III   membahas   isu   3   “Penyediaan   lahan,   pengendalian  harga,penggunaan,  alih  fungsi  dan  redistribusi  kepemilikanlahan“.  d.   Kelompok   IV   membahas   isu   4   “Pembangunan   perumahan   yang   berwawasan  pembangunan   berkelanjutan”   dan   isu   5   “Pengembangan   teknologi   dan   material  lokal   untuk   peningkatan   kualitas   rumah,   Prasarana   Sarana   Utilitas   (PSU)   dan  infrastruktur  permukiman”.    1.6.4.   Pengembangan  Roadmap  Pengembangan  pentahapan  implementasi  (roadmap)  Grand  Design  PKP  dilakukan  melalui   kombinasi   antara   (i)   derivasi   atas   periodisasi   RPJPN   2005–2025,   yakni  periode   2005-­2009,   2010-­2014,   2015-­2019,   2020-­2024,   (ii)   hasil   FGD   yang  mengamanatkan   tema   pokok   “akselerasi   pemenuhan   kebutuhan   perumahan,  transformasi  konteks  perumahan  ke  dalam  welfare  state  dan  multi-­moda  penyediaan  perumahan17”  serta  (iii)  teori  perubahan  organisasi.  Akibat  penyiapan  Grand  Design  PKP   bermula   pada   tahun   2011,   dengan   proyeksi   penyempurnaan   2   tahun,   maka  roadmap   secara   praktikal   akan   dialokasikan   pada   periode     2015-­2019,   2020-­2024  (Lampiran  7).                                                                                                                                17Multi   moda   penyediaan   perumahan   merupakan   suatu   proses   dan   cara-­cara   tertentu   dalam   penyediaan   perumahan  sedemikian  sehingga  tujuan  penyediaan  dapat  dicapai.  Hal  ini  dilakukan  melalui  pemahaman  terhadap  pelaku  dalam  suatu  moda   (upaya   penguasaan   dan   pengelolaan   sumberdaya)   untuk   kemudian   mengambil   keputusan   dan   melakukan  serangkaian  aksi  menghasilkan  produk  perumahan  dan  permukiman.  Lihat:   M.   Jehansyah   Siregar,   “Multi-­moda   Penyediaan   Perumahan   Rakyat”   dalam   Ismet   Belgawan   Harun,   Editor,   2010,  Realita  dan  Visi  ke  Depan  Perumahan  dan  Permukiman  di  Indonesia,  hal.  170,  Bandung:  Sekolah  Arsitektur,  Perencanaan  dan  Pengembangan  Kebijakan  (SAPPK),  Institut  Teknologi  Bandung  (ITB).  
  9. 9. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    8/  28    1.7.    Sistematika  Dokumen  ini  terbagi  dalam  5  (lima)  bagian  utama,  yaitu  BAB  I     Pendahuluan  Bab   ini   memuat   latarbelakang,   tujuan   dan   sasaran,   pengertian,  kedudukan,  ruang    lingkup,  dan  metode  Grand  Design.  Bab  II   Hasil  Kajian  Dokumen  Bab  ini  mendeskripsikan  sejumlah  temuan  yang  merupakan  hasil  dari  kajian  dokumen   kebijakan,   praktik   unggulan   dan   pembelajaran,   maupun   kajian  akademik  menjelang  forum  konsensus  penyiapan  Grand  Design  PKP.  Bab  III     Visi  dan  Isu  Perumahan  Dan  Kawasan  Permukiman  (PKP)  Bagian  ini  menjabarkan  visi  dan  isu  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman   (PKP)   yang   diharapkan   menjadi   rujukan   berbagai   pemangku  kepentingan  di  Pusat  maupun  Daerah.  Bab  IV     Strategi  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  (PKP)  Bab   ini   menguraikan   sejumlah   strategi   Nasional   yang   diharapkan   dapat  terinternalisasi   dalam   penjabaran   operasional   di   berbagai   dokumen  pembangunan  sesuai  penahapan  yang  direncanakan  Bab  V     Peta  Jalan  (Roadmap)    Bagian   ini   merupakan   penahapan   implementasi   Grand   Design   PKP   sesuai  periode   tertentu,   yakni   2015-­2019,   2020-­2024.   Selain   penahapan   yang  bersifat  umum  sebagai  derivasi  RPJPN  2005-­2025,  terdapat  pula  penahapan  akselerasi   yang   diproyeksikan   sebagai   upaya   percepatan   pemenuhan  kebutuhan  perumahan  dan  kawasan  permukiman.    
  10. 10. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    9/  28       BAB  II    HASIL  KAJIAN  DOKUMEN      Ketiadaan  Grand  Design  PKP  yang  menjadi  acuan  lintas  sektor  dan  merespon  intensifikasi  persoalan   backlog   perumahan,   UU   No.   1/2011   tentang   Perumahan   dan   Kawasan  Permukiman,   strategi   multi-­moda   penyediaan   perumahan,   serta   aspirasi   akelerasi  pemenuhan   kebutuhan   menyebabkan   penurunan   keterjangkauan   terhadap   perumahan,  ketidakjelasan   distribusi   peran   sehingga   memicu   konflik   di   level   penerima-­manfaat   dan  penurunan   kualitas   perumahan.   Suatu   Grand   Design   PKP   yang   dikembangkan   melalui  pendekatan   teknokratis   dan   konsensus,   diformulasi   melalui   partisipasi   pemangku  kepentingan  PKP,  serta  didukung  oleh  komitmen  implementasi  merupakan  pencapaian  yang  diharapkan;;   melalui   kondisi   tersebut   kesenjangan   antara   konsep   dan   implementasi   dapat  direduksi;;   konflik   di   tingkat   penerima-­manfaat,   akibat   multi-­tafsir   implementasi  kebijakan,dapat   dieliminasi.   Pendekatan   teknokratis   penyusunan   Grand   Design   PKP  diupayakan   melalui   konsolidasi   berbagai   jalur   kajian   (kajian   dokumen   kebijakan,   praktik  unggulan   dan  kajian   akademik)   atas   pertimbangan   bahwa   pembangunan   perumahan   dan  kawasan  permukiman  diselenggarakan  berlandaskan  beragam  panduan  yang  memiliki  nilai  solutifnya  masing-­masing.        2.1.    Kajian  Dokumen  Kebijakan  Grand   Design   PKP   secara   struktural   merupakan   derivasi   dari   RPJPN   2005–2025;;  memperhatikan  bahwa  terdapat  pula  dokumen  KSNPP  yang  berperan  sebagai  acuan  pemangku   kepentingan   perumahan   dan   permukiman   maka   format   analisis   kebijakan  akan   berfokus   pada  kedua   dokumen  tersebut  (Lampiran   3).   Sejumlah   informasi   yang  teridentifikasi  dalam  proses  kajian  ini  dapat  dinyatakan  sebagai  berikut:       Pada   domain   visi,   RPJPN   2005–2025   memfokuskan   pada   pembiayaan   jangka  panjang,  kelengkapan  prasarana-­sarana  pendukung  dan  pengurangan  permukiman  kumuh.  Sementara,  KSNPP  memfokuskan  pada  rumah  layak  dan  terjangkau.     Pada   domain   isu,   dua   isu   (suplai   dan   reformasi   intersektoral)   dalam   RPJPN  dikembangkan   ke   dalam   tiga   isu   KSNPP,   yang   relatif   lebih   kompleks.   Sebagai  ilustrasi:   isu   suplai   dalam   RPJPN   diterjemahkan   oleh   KSNPP   sebagai   isu  kesenjangan   pelayanan   yang   muncul   akibat   keterbatasan   peluang   untuk  memperoleh  pelayanan  dan  kesempatan  berperan  dalam  pembangunan  perumahan;;  sedangkan   isu   reformasi   intersektoral   dimaknai   sebagai   isu   manajemen  pembangunan  yang  dipengaruhi  oleh  keterbatasan  kinerja  dalam  tata  pemerintahan.  Isu-­isu   perumahan   dan   permukiman   dalam   KSNPP   adalah   sebagai   berikut:   (i)   isu  
  11. 11. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    10/  28    kesenjangan   pelayanan   muncul   karena   terbatasnya   peluang   untuk   memperoleh  pelayanan   dan   kesempatan   berperan   di   bidang   perumahan   dan   permukiman,  khususnya   bagi   kelompok   masyarakat   miskin   dan   berpendapatan   rendah;;   (ii)   isu  lingkungan   pada   kawasan   perumahan   dan   permukiman   umumnya   muncul   karena  dipicu   oleh   tingkat   urbanisasi   dan   industrialisasi   yang   tinggi,   serta   dampak  pemanfaatan  sumber  daya  dan  teknologi  yang  kurang  terkendali;;  (iii)  isu  manajemen  pembangunan  muncul  umumnya  karena  dipengaruhi  oleh  keterbatasan  kinerja  tata  pemerintahan   di   seluruh   tingkatan,   sehingga   berdampak   pada   lemahnya  implementasi  kebijakan  yang  telah  ditetapkan,  inkonsistensi  di  dalam  pemanfaatan  lahan  untuk  perumahan  dan  permukiman,  dan  munculnya  dampak  negatif  terhadap  lingkungan.  18     Pada   domain   strategi,   RPJPN   secara   tersamar   melekatkan   strategi   ke   dalam   tiga  arah   kebijakan   (penyelenggaraan   perumahan   yang   berkelanjutan,   membangkitkan  pembiayaan   non-­Pemerintah,   serta   keseimbangan   lingkungan   hidup);;   KSNPP  mengembangkan   strateginya   dalam   bentuk   pengembangan   aspek   regulasi,  pemenuhan   kebutuhan   rumah   layak   dan   terjangkau,   serta   perwujudan   lingkungan  permukiman  yang  berkelanjutan.      2.2.    Praktik  Unggulan  dan  Pembelajaran  2.2.1.   Praktik  Unggulan  Secara   umum,   praktik   unggulan   penerapan   kebijakan   dan   metode   pembangunan  perumahan   dan   kawasan   permukiman   memiliki   sejumlah   karakteristik   sebagai  berikut:       pada   aspek   pembiayaan   dan   kelembagaan,   masyarakat   yang   terkategori   non  bankable   pada   dasarnya   mampu   diberdayakan   untuk   memenuhi   kebutuhan  perumahan  melalui  kombinasi  dana  bergulir  (revolving  fund)  berbasis  tabungan,  kredit,  dan  dana  donor  yang  disalurkan  kepada  penerima-­manfaat  dalam  format  kelompok.     mutu  bangunan,  PSU,  penyediaan  lahan  yang  terjangkau,  serta  harga  konstruksi  atau  keterjangkauan  harga  rumah  merupakan  faktor  penting  dalam  pembangunan  perumahan;;       percepatan  implementasi  program  dapat  dilakukan  melalui  kantor  pelayanan  satu  atap19   yang   menyederhanakan   proses   perizinan   serta   mengurangi   inefisiensi  ekonomi   biaya   tinggi   (Lampiran   4).   Metode   ini   layak   dikembangkan   di   berbagai                                                                                                                        18  Kepmen  Permukiman  dan  Prasarana  Wilayah  no.  217/KPTS/M/2002  tentang  KSNPP.  Hal  13.  19  Contoh  badan  pelayanan  terpadu  satu  atap  ialah  Badan  Rehabilitasi  dan  Rekonstruksi  (BRR)  serta  Multi  Donor  Fund  (MDF)  untuk  pasca  bencana  gempa-­tsunami  di  Aceh-­Nias  dan  Java  Reconstruction  Fund  (JRF)  untuk  pasca  gempa  di  Yogyakarta  dan  Klaten-­Jawa  Tengah.  
  12. 12. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    11/  28    daerah,  khususnya  yang  terdampak  bencana,  karena  menguntungkan  bagi  MBM  dan   MBR   di   perkotaan.   Selain   itu   terdapat   manfaat   berupa   waktu   pengurusan  singkat,  administrasi  sederhana,  biaya  murah,  serta  tepat  sasaran.    2.2.2.   Pembelajaran  Pembelajaran  atas  penerapan  kebijakan  dan  metode  pembangunan  perumahan  dan  kawasan   permukiman   dalam   penyelenggaraan   perumahan   mencatat   sejumlah   hal  (Lampiran  4),  yakni:     Aspek   sosial-­budaya   penerima   manfaat   merupakan   penentu   pemerimaan  sebuah   program.   Skema   pembiayaan   perbaikan   rumah   yang   diluncurkan   PT  Permodalan   Nasional   Madani   (PNM)   melalui   lembaga   keuangan   mikro   (LKM)  bank  dan  non-­bank  ternyata  dipersepsi  secara  berbeda  oleh  MBR  di  Kota  Palu,  Sulawesi  Tengah  dan  Kabupaten  Bulukumba,  Sulawesi  Selatan.  Calon  penerima  manfaat,   terutama   para   pekerja   informal,   telah   memiliki   cara   pandang   positif  terhadap   LKM   non-­bank   (seperti:   bank   perkreditan   rakyat   (BPR),   badan   kredit  desa   (BKD),   baitul   mal   wal-­attanwil   (BMT)   dan   koperasi)   yang   pelayanannya  jemput-­bola   (pick   up   services)   dan   ramah   sesuai   kondisi   sosial-­ekonomi  nasabahnya.   Dengan   demikian   di   daerah-­daerah   tertentu,   masyarakat   lebih  memilih  LKM  non-­bank  daripada  bank  formal.     Kriteria  layak  bank  (bankable)  bagi  MBR  calon  pemanfaat  program  perumahan  patut  dikaji  ulang,  mengingat  MBR  pada  umumnya  bermasalah  secara  legalitas.  Perlu   terobosan   kebijakan   yang   tidak   semata-­mata   aman   (prudence)   bagi  lembaga   keuangan   maupun   pemerintah,   namun   semestinya   juga   aman   (safe)  dan   terjangkau   bagi   pemanfaat   demi   berlangsungnya   program   PKP   yang  berkelanjutan.   Perubahan   kriteria   tentang   kenaikan   batas   penghasilan   pokok20  pada  program  Fasilitas  Likuiditas  Pembiayaan  Perumahan  (FLPP)21  merupakan  revisi   yang   patut   diapresiasi   dalam   upaya   mendorong   perbankan   dan  pengembang  perumahan  untuk  berperan  lebih  banyak  dalam  penyelenggaraan  perumahan  bagi  MBR.                                                                                                                                20  Batas  penghasilan  pokok  maksimal  MBR  untuk  Rumah  Sejahtera  tapak  berubah  dari  Rp2,5  juta  per  bulan  menjadi  Rp.3,5  juta  per  bulan,  dan  untuk  Rumah  Sejahtera  susun  berubah  dari  Rp.  4,5  juta  per  bulan  menjadi  Rp.  5,5  juta  per  bulan.  Suku  bunga  tetap  (fixed  rate)  kredit  pemilikan  rumah  (KPR)  FLPP  turun  dari  8,15-­9,85  persen  menjadi  7,25  persen,  jangka  waktu  pinjaman  (tenor)  15  tahun,  perbandingan  sumber  dana  penyertaan  pemerintah  dan  bank  menjadi  50:50  (semula  60:40).  Nilai  KPR  maksimal  rumah  tapak  menjadi  Rp63  juta  (semula  Rp80  juta)  dan  Rp126  juta  untuk  rumah  susun  (semula  Rp135  juta),  luas  lantai  rumah  tapak  minimal  36  meter-­persegi  (semula  hanya  sampai  dengan  36  meter-­persegi).  21    Permenpera  Nomor  4  Tahun  2012  dan  Permenpera  Nomor  5  Tahun  2012.  
  13. 13. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    12/  28    2.3.  Kajian  Akademik  Kompleksitas  persoalan  dan  keterkaitan  antar  komponen  dalam  bidang  perumahan  dan  kawasan   permukiman   membutuhkan   penelusuran-­ulang   agar   rantai   reaksi   yang  berujung   pada   upaya   pemenuhan   kebutuhan   perumahan   dapat   dipetakan.   Kajian  akademik  mengidentifikasi  sejumlah  komponen  inti  yang  memformulasi  eksistensi  rumah  beserta  infrastrukturnya,  yakni  (i)  lahan  dan  Prasarana,  Sarana,  Utilitas  (PSU)  dengan  faktor  determinan  berupa  ketersediaan  lahan  yang  sesuai,  dukungan  aspek  legal  tata-­ruang   terhadap   tata-­guna   lahan   perumahan,   nilai   strategis   lahan,   harga   lahan   untuk  perumahan,   serta   perizinan,   (ii)   daya   beli   dengan   faktor   determinan   berupa   pola  konsumsi,  ketersediaan  alokasi  dana  untuk  rumah,  sistem  pembiayaan  perumahan  dan  (iii)  bangunan  rumah  denganfaktor   determinan  berupa  ketersediaan  material,  teknologi  pembangunan  rumah,  serta  desain  dan  standardisasi  rumah  (Lampiran  5).      Beberapa   hal   yang   terdapat   dalam   kajian   akademik   tersebut   (lahan   dan   PSU,  ketersediaan   lahan,   aspek   legal   tata-­guna   lahan   perumahan,   harga   lahan,   perizinan,  daya   beli,   sistem   pembiayaan,   material   ,  teknologi   dan   standarisasi   bangunan  rumah)  telah  menjadi  pengetahuan  umum  sebagaimana  tercatat  dan  ditanggapi  dalam  berbagai  dokumen  kebijakan  PKP  pra  Grand  Design  PKP  2012.  Terdapat  pula  sejumlah  hal  baru  yang   kiranya   dapat   menjadi   informasi   komplementer   dalam   perumusan   upaya   yang  diperlukan  demi  ketepatan  perencanaan  perumahan,  meliputi:     Perumahan  dan  kawasan  permukiman  di  Indonesia  selalu  berada  dalam  salah  satu  siklus  kebencanaan  (tanggap  darurat,  rehabilitasi-­rekonstruksi,  kesiapsiagaan)  yang  berimplikasi   pada   kebutuhan   untuk   menginternalisasi   manajemen   dan   prinsip  penanganan   bencanadalam   perencanaan   kawasan   permukiman.   Secara   khusus,  prinsip   build   back   better   pada   tahap   rekonstruksi   akan   menyebabkan   kebutuhan  lahan   baru   akibat   relokasi   bila   lokasi   eksisting   tak   lagi   mampu   mendukung   fungsi  permukiman;;   solusi   yang   selama   ini   berkembang,   seperti   land   banking,   sosialisasi  bermukim  di  hunian  vertikal,  teknologi  rumah  ramah  bencana  agaknya  akan  semakin  diperlukan  di  masa  mendatang  seiring  tren  kebencanaan  yang  terus  meningkat.     Nilai  pendapatan/pola  pengeluaran  keluargadan  inflasi  perlu  ditangani  secara  integral  dalam  sistem  pembiayaan  perumahan.  Hal  ini  terkait  dengan  kriteria  alokasi  30%  dari  pendapatan  sebagai  prasyarat  akses  kredit  formal  perumahan.  Upaya  penanganan  hal   ini   dipengaruhi   oleh   pembinaan   pola   konsumsi   yang   efisien   serta   sejauhmana  Pemerintah  Daerah  memperbaiki  iklim  investasinya  yang  berujung  pada  peningkatan  daya   saing   dan   upah   minimum.   Oleh   karena   itu,   suatu   pedoman   pengelolaan  komponen   daya   beli   secara  inter-­sektoral   yang   terpadu   dalam   sistem   pembiayaan  
  14. 14. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    13/  28    perumahan  seyogianya  dikembangkan  sebagai  upaya  penyelenggaraan  pembiayaan  perumahan  yang  berkelanjutan.     UN-­Habitat  mendefinisikan  hunian  yang  memadai  (adequate  shelter)  sebagai  hunian  yang   memiliki   karakteristik   minimum   sebagai   berikut:   privasi,   ruang   (space)   yang  memadai,   aksesibilitas,   keamanan,   jaminan   kepemilikan   (security   of   tenure),  stabilitas  dan  durabilitas  struktural,  kecukupan  pencahayaan,  pemanas  dan  ventilasi,  dukungan  infrastruktur-­dasar  (air,  sanitasi  dan  manajemen  limbah),  lingkungan  dan  faktor-­terkait-­kesehatan   yang   berkualitas,   aksesibilitas   lokasi   ke   tempat   kerja   dan  fasilitas  dasar,  serta  keterjangkauan  biaya  untuk  mewujudkan  kritera-­kriteria  tersebut  di   atas.   Berdasar   deskripsi   tersebut   maka   teknologi   perumahan,   pembangunan  berwawasan   lingkungan,   tata   ruang   dan   sistem   pembiayaan   memiliki   konektivitas  yang   sebaiknya   dikonsolidasikan   dalam   setiap   penyelenggaraan   pembangunan  perumahan.                                                  
  15. 15. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    14/  28    BAB  III  VISI  DAN  ISU    PERUMAHAN  DAN  KAWASAN  PERMUKIMAN  (PKP)    3.1.    Visi  Sebagaimana   kedudukan   Grand   Design   dalam   konstelasi   dokumen   perencanaan  pembangunan   Nasional   (Gambar   1-­1)   seyogyanya   visi   Grand   Design   PKP   diderivasi  dari  RPJPN  (2005-­2025),  yakni  “Indonesia  yang  mandiri,  maju,  adil  dan  makmur“22.  Visi  pembangunan   Nasional   tersebut   ditempuh   melalui   8   misi,   diantaranya   misi   ke   5  “Mewujudkan   pemerataan   pembangunan   dan   berkeadilan”23   yang   ukuran  pencapaiannya   (20   tahun)   berupa   “Terpenuhi   kebutuhan   hunian   yang   dilengkapi  dengan  prasarana  dan  sarana  pendukungnya  bagi  seluruh  masyarakat  yang  didukung  oleh   sistem   pembiayaan   perumahan   jangka   panjang   yang   berkelanjutan,   efisien   dan  akuntabel   untuk   mewujudkan   kota   tanpa   permukiman   kumuh“(Lampiran   8).   Berdasar  hal  tersebut  dapat  diformulasikan  bahwa  visi  Grand  Design  PKP  yaitu  setiap  keluarga  Indonesia   mampu   memenuhi   kebutuhan   rumah   yang   layak   dan   terjangkau   pada  lingkungan  yang  sesuai  dengan  kriteria  teknis,  administratif,  tata  ruang  dan  ekologis.    3.2.  Isu  3.2.1.   Sinergitas  Manajemen  Upaya  pemenuhan  backlog  perumahan,  mengurangi  luasan  permukiman  kumuh  dan  sistem   penyelenggaraan   perumahan   yang   berkelanjutan   terletak   pada   sinergitas  manajemen   melalui   keterpaduan   antar   Kementerian/Lembaga,   relasi   Pusat-­Daerah  dan   interaksi   Desa-­Kota   (Lampiran   9).   Isu   ini   merupakan   implikasi   atas   persoalan  pembagian   peran   antar   lembaga   dan   integrasi   implementasi   yang   belum  terselesaikan,  keragaman  produk  perumahan  yang  memicu  konflik  di  tingkat  penerima  manfaat,  serta  kapasitas  Pemerintah  Daerah  yang  belum  optimum.      Ilustrasi   yang   terkait   dengan   isu   sinergitas   ini   dapat   dideskripsikan   melalui   hal-­hal  sebagai   berikut:   (i)   permasalahan   pasokan:   kesenjangan   antara   kebutuhan   dan  kemampuan   pasokan   yang   mencapai   800.000   unit/tahun   ditambah   backlog   yang  mencapai  lebih  dari  8.600.000  unit  sementara  kemampuan  pasokan  rata-­‐rata  hanya                                                                                                                        22Lampiran   Undang-­Undang   Republik   Indonesia   Nomor   17   tahun   2007   tentang   Rencana   Pembangunan   Jangka   Panjang  Nasional  tahun  2005–2025,  hal.  36  23Ibid.,  hal  39.  Mewujudkan   pemerataan   pembangunan   dan   berkeadilan   adalah   meningkatkan   pembangunan   daerah;;   mengurangi  kesenjangan  sosial  secara  menyeluruh,  keberpihakan  kepada  masyarakat,  kelompok  dan  wilayah/daerah  yang  masih  lemah;;  menanggulangi  kemiskinan   dan  pengangguran   secara   drastis;;  menyediakan   akses   yang  sama   bagi  masyarakat  terhadap  berbagai  pelayanan  sosial  serta  sarana  dan  prasarana  ekonomi;;  serta  menghilangkan  diskriminasi  dalam  berbagai  aspek  termasuk  gender.  
  16. 16. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    15/  28    100.000  unit/tahun;;  (ii)  kurangnya  dukungan  Pemda;;  adanya  rusunami  yang  disegel  dan   didenda   oleh   Pemda   menunjukkan   kurangnya   perhatian   dan   koordinasi   antar  kebijakan  Pemerintah24;;  (iii)  kurangnya  dukungan  infrastruktur  vital,  yaitu  listrik  dan  air  bersih   menjadi   permasalahan   pembangunan   sebagaimana   laporan   dari   REI   dan  APERSI  mencatat  bahwa  ada  lebih  dari  100.000  rumah  RSH  yang  terbangun  namun  belum  tersambung  listrik;;  (iv)  layanan  publik  biaya  tinggi,  yang  mencakup  biaya-­‐biaya  pengurusan  ijin  pembangunan,  pengurusan  sertifikat,  pengurusan  kredit,  pengurusan  bantuan  uang  muka  yang  dirasakan  masih  berbelit  danwaktu  yang  kurang  menentu.25    3.2.2.  Keterjangkauan  Perumahan    Isu   ini   merupakan   implikasi   atas   produk   dan   skema   pembiayaan   perumahan   yang  belum  dikembangkan  sepenuhnya  berdasar  pada  keragaman  karakteristik  kelompok  sasaran   (multi   moda)   serta   pengendalian   faktor   pembentuk   harga   rumah  (ketersediaan  lahan,  biaya  infrastruktur,  nilai  subsidi,  material,  perizinan)  yang  masih  terkendala  regulasi  dan  kordinasi  kelembagaan  (Lampiran  9).  Selain  faktor  tersebut,  keterjangkauan   perumahan   turut   dipengaruhi   oleh   penghasilan,   pola   konsumsi   dan  inflasi  yang  membutuhkan  penanganan  di  tingkat  ekonomi  regional  serta  tergantung  pada  daya  saing  Daerah.      Ilustrasi   yang   terkait   dengan   isu   tersebut   dideskripsikan   melalui   hal-­hal   sebagai  berikut:   (i)   marjin   RSH   dan   Rusunami   masih   kurang   menarik   animo   pengembang,  karena   kurang   atraktif   dibandingkan   marjin   properti   mewah,   sedangkan   proses  bisnisnya   menghadapi   kesulitan   yang   hampir   sama;;   (ii)   daya   beli   Masyarakat  Berpenghasilan   Rendah   (MBR)   terus   terkikis   dan   sangat   bergantung   pada  ketersediaan   KPR   (pembeli   RSH   via   KPR   mencapai   95%);;   (iii)   keterbatasan   modal  pengembang   RSH,   khusunya   untuk   pengadahan   lahan   yang   membutuhkan   modal  yang  cukup  besar  sementara  sekitar  80%  pengembang  RSH  masuk  dalam  kategori  UKM;;  (iv)  beban  pajak  dan  retribusi  yang  berlebihan,  yang  terdiri  dari  BPHTB  (5%),  APPKD,  PBB,  kompensasi  makam,  retribusi  IMB,  PPN  jasa  konstruksi  (10%),  PPh  1%  dan  beban-­‐beban  lainnya;;  (v)  pengadaan  lahan  skala  besar  belum  bisa  terealisasikan  karena   belum   ada   kebijakan   pemerintah,   belum   ada   kelembagaan   yang   menangani                                                                                                                        24Terbitnya   Pergub   DKI   Jakarta   No.   27/2009   sebagai   revisi   atas   Pergub   No.136/2007   terlalu   lama   (10   bulan),   sementara  pengembang  sudah  mulai  kegiatan  konstruksinya  dan  pemasaran  sehingga  konsumen  sudah  membayar  uang  muka  dan  akadkredit  indent.  Oleh  karena  itu  penghentian  pembangunan  karena  penyegelan  dapat  berdampak  negatif  pada  konsumen  karena   waktu   penyelesaian   yang   tidak   tepat,   kehilangan   kepercayaan,   mengundurkan   diri   dan   peralatan   serta   bahan  bangunan  dan  juga  tenaga  kerja  terpaksa  tidak  dapat  difungsikan.    Lihat:  Faisal  Basri,  dkk.,  2009,  RoadmapPembangunanEkonomi  Indonesia2009  –  2014,  hal  104,  Jakarta:  Kamar  Dagang  dan  Industri  Nasional  (KADIN).  25Ibid.  
  17. 17. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    16/  28    dan  belum  tersedianya  anggaran  khusus;;  (vi)  ketersediaan  lahan  yang  sesuai  untuk  fungsi  perumahan  di  perkotaan  dan  perdesaan  semakin  menyusut.26    3.2.3.  Pembangunan  Berkelanjutan  Pembangunan   berkelanjutan   mencakup   perencanaan,   pengembangan   teknologi,  material  dan  pengelolaan  yang  memenuhi  kriteria  keseimbangan  antara  ketersediaan  sumberdaya   alam,     pembangunan   ekonomi,   dan  kesejahteraan  sosial  (Lampiran  9).  Isu  ini  merupakan  implikasi  atas  alokasi  lahan  dan  infrastruktur  yang  menekan  daya  dukung   lingkungan,   pengembangan   material   bangunan   yang   tidak   berbasis  sumberdaya   lokal,  inefisiensi   sistem  konstruksi  sehingga  menghasilkan  limbah   yang  tak   sepenuhnya   tertangani   lewat   reuse   dan   recycle,   serta   kebutuhan   mengatasi  penurunan  kualitas  lingkungan  perumahan.      Ilustrasi  yang  terkait  dengan  isu  tersebut  dapat  dideskripsikan  melalui  hal-­hal  sebagai  berikut:   (i)   inefisiensi   dana   dan   material   dalam   pembangunan   perumahan   akibat  ketiadaan   standardisasi   komponen   rumah27,   (ii)   amanat   Undang-­undang   mengenai  pemenuhan   kriteria   teknis,   ekologis,   administrati28   dalam   pembangunan   perumahan  belum   sepenuhnya   diimplementasikan;;   namun   demikian   terdapat   kecenderungan  umum   yang   mengindikasikan   perbaikan   situasi   sebagaimana   terlihat   dari   Jumlah  Rumah   Tidak   Layak   Huni   mengalami   tren   menurun29   demikian   pula   halnya   dengan  Jumlah  Rumah  Rentan  Tidak  Layak  Huni30.                                                                                                                                26Analisis  proyeksi  berdasar  Variabel  Persentase  Rumah  Tangga  menurut  Provinsi  dan  Lokasi/  Letak  Rumah  di  daerah  rawan  bencana  2001-­2029  mengindikasikan  kecenderungan  peningkatan  (tren  perkotaan  +  153%,  tren  perdesaan  +323%)  yang  berarti  bahwa  kuantitas  lahan  yang  sesuai  (suitable)  dengan  fungsi  perumahan  semakin  menyusut.  27Pada  Pelita  IV  nilai  yang  terbuang  sekitar  Rp.  450  Milyar.  Lihat:  Komarudin,  1997,  Menelusuri  Pembangunan  Perumahan  dan  Permukiman,  hal.  348,  Jakarta:  Yayasan  REI  –  PT.  Rakasindo.  28Penjelasan  Pasal  34,  UU  4  tahun  1992  tentang  Perumahan  dan  Permukiman  menyatakan  bahwa  pembangunan  perumahan  dan   permukiman   selalu   diusahakan   dengan   memanfaatkan   hasil  penelitian   dan   pengembangan   teknologi,   industri,   bahan  bangunan,  jasa  konstruksi  dan  rancang  bangun  yang  sesuai  dengan  lingkungan  dan  sejauh  mungkin  menggunakan  bahan  bangunan  lokal  secara  bijaksana  dan  hemat  energi  serta  sejauh  mungkin  menggunakan  tenaga  kerja  setempat.  Lihat:  Ibid.,  hal.  359  Pasal  26,  ayat  1,  UU  1  tahun  2011  tentang  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  menyatakan  bahwa  hasil  perencanaan  dan  perancangan  rumah  harus  memenuhi  persyaratan  teknis,  administratif,  tata  ruang,  dan  ekologis.  Pasal   32,   ayat   2,   UU   1   tahun   2011   tentang   Perumahan   dan   Kawasan   Permukiman   menyatakan   bahwa   pembangunan  perumahan   dilakukan   dengan   mengembangkan   teknologi   dan   rancang   bangun   yang   ramah   lingkungan   serta  mengembangkan  industri  bahan  bangunan  yang  mengutamakan  pemanfaatan  sumber  daya  dalam  negeri  dan  kearifan  lokal  yang  aman  bagi  kesehatan.  Pasal   32,   ayat   3,   UU   1   tahun   2011   tentang   Perumahan   dan   Kawasan   Permukiman   menyatakan   bahwa   industri   bahan  bangunan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  wajib  memenuhi  Standar  Nasional  Indonesia.  29Berdasar   data   BPS,   analisis   tren   periode   2008-­2029   terhadap   variabel   Rumah   Tidak   Layak   Hunimenghasilkan   nilai   tren-­148.72  yang  mengindikasikan  bahwa  teknologi  (sanitasi  dan  sumber  energi  listrik)  yang  berkembang  telah  mampu  diakses  kelompok  sasaran.  30Berdasar  data  BPS,  analisis  tren  periode  2008-­2029terhadap  variabel  Rumah  Rentan  Tidak  Layak  Hunimenghasilkan  nilai  tren  -­262.30yang  mengindikasikan  bahwa  pengembangan  material  (lantai)  telah  mampu  diakses  oleh  kelompok  sasaran.  
  18. 18. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    17/  28    BAB  IV  STRATEGI    PERUMAHAN  DAN  KAWASAN  PERMUKIMAN    Strategi   PKP   ini   diharapkan   menjadi   muatan   yang   terinternalisasi   dalam   penjabaran  operasional   di   berbagai   dokumen  resmi   pemerintah   yang   secara   struktural   merujuk   pada  Grand  Design  PKP  sesuai  penahapan  yang  direncanakan.  Selain  itu,  berbagai  pemangku  kepentingan,   baik   di   Pusat   maupun   di   Daerah,   seyogianya   mampu   mengakomodasi,  menyesuaikan   dan   menerjemahkan   substansinya   seiring   pencapaian   kapasitas  kelembagaan   pada   tahap   tersebut.   Selanjutnya   strategi   Perumahan   dan   Kawasan  Permukiman  (PKP)  meliputi:      Srategi   1.   Pengembangan   pusat   data   dan   informasi   yang   dirujuk   oleh   pemangku  kepentingan   sebagai   dasar   perencanaan   dan   evaluasi   pada   berbagai  tingkat  penyelenggaraan  PKP,  baik  di  Pusat  maupun  Daerah.  Strategi  ini      Realisasi   strategi   ini   diharapkan   memunculkan   komunikasi   antar   berbagai  pemangku   kepentingan   dan   mendorong   efektivitas   kordinasi   antar   lembaga  Pemerintah   seiring   prakarsa   pihak   swasta   serta   masyarakat   untuk   turut  mengatasi  kesenjangan  pemenuhan  kebutuhan  perumahan.        Gambar  4-­1.  Keterkaitan  Strategi  Pengembangan  Pusat  Data  dan  Informasi  PKP  dengan  Penyelesaian  Isu  Sinergitas  Manajemen    
  19. 19. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    18/  28    Penggunaan  konsep,  variabel,  dan  indikator  output-­outcome  pemrograman  yang  terstandardisasi   dalam   suatu   sistem   data   dan   informasi   PKP   merupakan  prakondisi   atas   upaya   mengintegrasikan   potensi   kontribusi   pemangku  kepentingan  PKP.  Konsensus  atas  sejumlah  konsep  dasar  ((backlog,  kelompok  sasaran,   permukiman   kumuh,   hunian   layak)   akan   terjembatani   melalui  pencermatan   dan   analisis   terhadap   data   yang   dipaparkan   dalam   forum   antar  pemangku-­kepentingan  menjelang  internalisasi  hasil-­hasilnya  ke  dalam  program  internal   masing-­masing   lembaga;;   hal   ini   akan   menjadi   landasan   sinergi  perencanaan-­implementasi-­pengawasan-­evaluasi   para   penyelenggara   bidang  PKP.      Pencapaian   atas   kondisi   tersebut   akan   memperjelas   konsep,   peran,   moda  penyediaan   PKP,   dan   jenis   kontribusi   yang   dapat   diberikan   oleh   Pemerintah,  Swasta,   dan   Masyarakat.   Seiring   hal   tersebut,   melalui   penetapan   target  pencapaian  dan  realisasi  yang  transparan  maka  komitmen  para  penyelenggara  bidang   PKP   akan   terpantau   oleh   kelompok   sasaran   sehingga   mendorong  peningkatan  peran  pelaku  pembangunan  PKP  [I-­6].      Pararel   terhadap   strategi   tersebut,   kebutuhan   terhadap   penjaminan   kualitas  bidang   PKP   tentu   menjadi   perhatian   bagi   para   pemangku   kepentingan   yang  beragam   kapasitasnya;;   peningkatan   status   dokumen   teknis   perencanaan-­implementasi-­pengawasan-­evaluasi  ke  tahap  Standar  Nasional  Indonesia  (SNI)  menjadi   solusi   logis   sekaligus   memperkuat   komunikasi   dan   sinergi   yang   telah  dibina   mengingat   bahwa   proses   penetapan   SNI   selalu   menyertakan   tahap  konsensus  dan  jajak  pendapat  kepada  para  pelaku  kepentingan.  31    Dampak  ikutan  dari  informasi  yang  terakses  oleh  publik  tersebut  ialah  peluang  untuk   turut   melakukan   pengawasan   terhadap  ketepatan-­sasaran   bantuan   PKP  [I-­7].   Publik  akan  mampu  mengidentifikasi  siapa  (regulator,  operator,  penerima  manfaat)   yang   berperan   dalam   program   tersebut   sekaligus   mencermati   mutu  realisasinya.  Oleh  karena  itu,  pengembangan  pusat  data  dan  informasi  bidang  PKP   ini   seyogianya   dibangun   secara   hirarkis   dari   level   administratif   Desa  sehingga   membentuk   jaringan   di   level   Nasional;;   interkonektivitas   data                                                                                                                        31   Proses   dan   tahapan   perumusan   SNI   telah  mengikuti   prosedur  secara   berurutan,   yaitu:   (1)   pencermatan  kebutuhan  SPM  melalui   diagram   pohon   (family   tree);;   (2)   kajian   naskah   akademik;;   (3)   kajian   subpantek   (rapat   teknis   dan   konsensus);;   (4)  pemutakhiran  pantek  dalam  bentuk  RSNI  maupun  pedoman;;  (5)  jajak  pendapat  (public  hearing)  terhadap  stakeholder  terkait;;  (6)  proses  penetapan  ke  BSN;;  dan  (7)  pemberlakuan  SNI.  Lihat:  Agus  Taufik   Mulyono,   2009,   “   Capaian   Program   Standardisasi   Bidang   Bahan   Konstruksi   Bangunan   Dan   Rekayasa  Sipil   Dalam   Penyelenggaraan   Infrastruktur   Ke-­PU-­an   (2004   -­   2008)”,   Prosiding   PPI   Standardisasi   2009   -­   Jakarta,   19  November  2009,  hal.  3,  Jakarta.  
  20. 20. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    19/  28    dibutuhkan   untuk   memahami   dinamika   interaksi   Desa-­Kota   sedangkan  konsistensi   data   di   berbagai   level   sangat   diperlukan   sebagai   justifikasi  pengambilan  keputusan  yang  verifikatif.    Selanjutnya,  data  (numerik  dan  spasial)  dan  program  PKP  yang  terkomunikasikan  ke  ranah  publik  akan  mempermudah:  (i)   percepatan   proses   identifikasi   berbagai   kesenjangan   dalam  penyelenggaraan  PKP  melalui  umpanbalik  ke  dalam  sistem  informasi  PKP;;  (ii)   memperluas   potensi   dukungan   yang   dibutuhkan   (penelitian,   sistem  informasi,  dan  pendidikan  [I-­2])  yang  pelaksanaan  dan  pengembangannya  membutuhkan   justifikasi   data   yang   kontinu.   Dukungan   tersebut   termasuk  pula   adopsi   SNI   dan   sertifikasi   kompetensi   bidang   PKP   yang   ditujukan  untuk   meningkatkan   kapasitas   penyelenggara   dalam   membangun   dan  mengelola  berbagai  moda  PKP  [I-­1],  khususnya  Kawasan  Siap  Bangun  [III-­6],   sehingga   berbagai   persoalan   yang   menyertai   siklus   proyek   dan   usia  produk  PKP  dapat  diupayakan  solusinya  secara  terencana.      Selain   solusi   konvensional,   solusi   alternatif   penyediaan   perumahan   juga  perlu   dieksplorasi;;   karakter   kelembagaan,   ekonomi,   budaya   masyarakat  perdesaan  diperkirakan  mampu  menjadi  obyek  penelitian  yang  berpotensi  melahirkan   pola-­alternatif   pemberdayaan   [I-­4]   di   luar   skema   formal   yang  telah   berkembang.   Pada   tahap   normal/siapsiaga   maupun   rehabilitasi-­rekonstruksi   kebencanaan   maka   peningkatan   kapasitas   ke   taraf  profesionalisme   dalam   penyediaan   lahan,   pemberdayaan   kelompok  sasaran  di  tahap  operasional-­pemeliharaan,  dan  peremajaan  produk  PKP  menjadi  faktor  yang  berkontribusi  dalam  reduksi  backlog  perumahan  [I-­3].    (iii)    memperjelas   perencanaan   dan   proyeksi   tataguna   lahan   PKP   sehingga  efektivitas   tata   ruang   meningkat   [I-­8]   seiring   manfaat   praktisnya,   yakni  menjadi   panduan   investasi   dan   kepastian   hukum   pembangunan   bidang  PKP.  Tata  ruang  yang  diimplementasikan  secara  konsisten  serta  didukung  penegakan   hukum   merupakan   unsur   penting   dalam   perencanaan   dan  alokasi   spasial   bidang   PKP   karena   melaluinya   penyusunan   Rencana  Pembangunan  dan  Pengembangan  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  (RP3KP)   secara   implisit   dapat   mereduksi   deviasi   dalam   perencanaan  manajemen  lahan  (redistribusi  kepemilikan  lahan  [III-­2],  pengendalian  harga  lahan  [III-­5],  penyediaan  lahan  perumahan  [I-­9,  III-­4])  maupun  alokasi  PSU  dan  infrastruktur  wilayah  [I-­5].    
  21. 21. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    20/  28    Srategi  2.  Penguatan  sistem  pembiayaan  perumahan  jangka  panjang.    Penyelenggaraan   pembiayaan   perumahan   jangka   panjang   dapat   berlangsung  apabila  memenuhi  beberapa  persyaratan,  yaitu  (i)  sumber  dana  jangka  panjang,  (ii)  dasar  hukum  pembiayaan  berupa  undang-­undang,  (iii)  inflasi  yang  terkendali,  serta  (iv)  pengelolaan  secara  profesional.  Sumber  pembiayaan  jangka  panjang  dapat   berasal   dari   (i)   Anggaran   Pendapatan   dan   Belanja   Negara   (APBN),   (ii)  dana   yang   dibentuk   dan   dimiliki   oleh   negara   melalui   penerbitan   obligasi  (investment   grade),   (iii)   dana   dari   Badan   Usaha   Milik   Negara   (BUMN)   melalui  penerbitan   surat   berharga32.   Pemenuhan   terhadap  syarat-­syarat   tersebut  akan  mampu   membentuk   lembaga   pembiayaan   sektor   perumahan   [II-­9]   yang  berperan   signifikan   terutama   terkait   mekanisme   penyampaian   (delivery  mechanism)  dana  kepada  kelompok  sasaran  (target  group).        Gambar  4-­2.  Keterkaitan  Strategi  Penguatan  Sistem  Pembiayaan  Perumahan  Jangka  Panjang  dengan  Penyelesaian  Isu  Keterjangkauan  Perumahan    Salah   satu   produk   pembiayaan   jangka   panjang   ialah   Fasilitas   Likuiditas  Pembiayaan   Perumahan   (FLPP)   yang   diselenggarakan   sejak   tahun   2010.  Penerapan   suku   bunga   tetap   (fixed   rate)   dalam   FLPP   merupakan   solusi  pengelolaan   subsidi   bunga   yang   berkelanjutan   [II-­3].   Sementara,   stabilitas  tersebut   bisa   mengatasi   dampak   inflasi   terhadap   penghasilan   masyarakat                                                                                                                        32   Darmin   Nasution,   9   Desember     2011,   “Mewujudkan   Keseimbangan   yang   Efisien   Menuju   Pertumbuhan   yang  Berkesinambungan”,  dalam  Kompas,  20  September,  Bank  Infrastruktur:  Kuncinya  pada  Pembiayaan  Jangka  Panjang.  
  22. 22. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    21/  28    sehingga  mobilisasi  tabungan  masyarakat  untuk  perumahan  [II-­4]  tetap  memiliki  peran  karena  nilai  uang  yang  relatif  tetap  selama  tenor  yang  direncanakan.      Upaya   memperluas   akses   MBR   terhadap   FLPP   dilakukan   melalui   revisi   atas  sejumlah   persyaratan   FLPP,   yakni   kriteria   sasaran   penerima   kredit,   nilai  maksimum   kredit,   dan   harga   maksimum   rumah33.   Meskipun   demikian,   FLPP  tetap   dipandang   belum   cukup   terjangkau   MBR   selama   masih   mensyaratkan  uang   muka,   peminat   FLPP   harus   memenuhi   kriteria   layak-­bank   (bankable)34,  dan  tipe  rumah  sederhana  sehat  tidak  boleh  kurang  dari  36  meterpersegi  (Tipe  36)35.  Prinsip  kehati-­hatian  (prudent),  dalam  bentuk  kriteria  bankable,  yang  kerap  menjadi   kendala   pengembangan   skema   alternatif   pembangunan   perumahan  sebenarnya   dapat   diwujudkan   dalam   format   penyaluran   melalui   kelembagaan  berbasis   komunitas   dan   pembentukan   kelompok   penerima-­manfaat   yang  menganut   sistem   responsibilitas   kolektif   atau   tanggung   renteng   (collegial  liability).36   Kombinasi   antara   sistem   tersebut   dan   ketersediaan   dana   jangka  panjang   akan   membuka   potensi   diversifikasi   skema   kredit   perumahan   [II-­2]  sesuai   dengan   beragamnya   kelompok   sasaran   dan   aspek   peubah   (variable)  lainnya   seperti   lokasi,   jenis   produk   pembiayaan   maupun   kemampubayaran  (payment  capacity)37.      Diversifikasi   skema   kredit   perumahan   merupakan   dukungan   langsung   bagi  penerima-­manfaat  yang  kawasan  hunian  produktif  [II-­5],  komunitas  perdesaan,  dan  kalangan  berpenghasilan  rendah  (MBR)  [II-­7];;  akses  ini  diharapkan  mampu  meningkatkan  keterjangkauan   harga   rumah  [II-­1]   serta   mengurangi   pengalihan  aset   pertanian   sebagai   sumber   pendanaan   perumahan   sedemikian   sehingga  mengurangi   alih   fungsi   lahan   pertanian   [III-­3].   Variasi   skema   pembiayaan   dan  multi   moda   penyediaan   perumahan   merupakan   potensi   untuk   memperluas  lingkup   dukungan   swasta   terhadap   pembiayaan   perumahan   [II-­8]   karena                                                                                                                        33    Permenpera  Nomor  4  Tahun  2012  tentang  Pengadaan  Perumahan  melalui  Kredit/  Pembiayaan  Pemilikan  Rumah  Sejahtera  dengan   Dukungan   FLPP   dan     Permenpera   Nomor   5   Tahun   2012   tentang   Petunjuk   Pelaksanaan   Pengadaan   Perumahan  melalui  Kredit/  Pembiayaan  Pemilikan  rumah  dengan  Dukungan  FLPP.  34  Uang  muka  yang  disyaratkan  dalam  FLPP  merupakan  kendala  utama  bagi  MBR  yang  pada  umumnya  tidak  layak  bank  (non  bankable).   Selain   itu,   sekitar   43.000   unit   rumah   dengan   luas   kurang   dari   36   meterpersegi   yang   dibangun   pengembang  anggota  APERSI  tidak  bisa  dipasarkan  sebagai  dampak  UU  Nomor  1  Tahun  2011  tentang  PKP.  Lihat:  Kompas,  27  Maret  2012.  35  Undang-­undang  Nomor  1  Tahun  2011  tentang  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  (PKP),  Pasal  22  Ayat  3;;  36    Program  PNPM  Mandiri  Perkotaan  menyalurkan  dana  pembangunan  melalui  Lembaga  Keswadayaan  Masyarakat  (LKM)/  Unit  Pengelola  Keuangan  (UPK)  kepada  individu  berkategori  miskin  yang  tergabung  dalam  Kelompok  Swadaya  Masyarakat  (KSM).   Prinsip   kehati-­hatian   (prudent),   sebagaimana   berlaku   pada   skema   penyaluran   formal,   diimplementasikan   melalui,  antara  lain:    uji  kelayakan  peminjam,  analisis  5C  (character,  condition,  capacity,  capital  dan  collateral)  terhadap  pinjaman  anggota  KSM,  serta  adopsi  Loan  at  Risk  (LAR)  dan  Portfolio  at  Risk  (PAR)  sebagai  indikator  kinerja  pinjaman  bergulir.  Lihat:  Anonim,  2008,  Pinjaman  Bergulir,  hal  14-­24,  Jakarta:  Direktorat  Jenderal  Cipta  Karya,  Departemen  Pekerjaan  Umum.  37  Bank  BTN  mengantisipasi  proyek  perumahan  di  bawah  Tipe  36  yang  terlanjur  dibangun  melalui  suku  bunga  pinjaman  tetap  (fixed   rate)   8,5   persen   dengan   jangka   waktu   (tenor)   dua   tahun,   selanjutnya   diberlakukan   suku   bunga   komersial.   Lihat:  Kompas,  27  Maret  2012.  
  23. 23. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    22/  28    ketersediaan  sejumlah  alternatif  produk  selain  produk  konvensional;;  peluang  ini  diharapkan   pula   dipergunakan   pihak   swasta   untuk   ikut   berperan   dalam  pengendalian   harga   lahan   [III-­5]   karena   lahan   merupakan   komponen   integral  dalam   penyediaan   perumahan   tersebut.   Ketersediaan   pembiayaan   jangka  panjang,   keterjangkauan   harga   rumah,   dan   pengendalian   harga   lahan  merupakan   bentuk   perpaduan   yang   menjadi   solusi   bagi   pembiayaan   kawasan  siap  bangun  [II-­6].    Keselarasan   antara   pembangunan   perumahan,   konservasi,   dan   produktivitas  ekonomi   akan   memperbesar   potensi   penyelenggaraan   kawasan   siap   bangun  dan   kawasan   hunian   yang   memperhatikan   aspek   kearifan   lokal   [V-­1].  Internalisasi   sejak   dini   atas   prinsip   tersebut   ke   dalam   dokumen   Rencana  Pembangunan   dan   Pengembangan   Perumahan   dan   Kawasan   Permukiman  (RP3KP)   akan   menjadi   solusi   pemenuhan   kebutuhan   perumahan   dan  permukiman  akibat  dampak  bencana  alam  dan  kerusuhan  sosial  [II-­10].    Srategi   3.   Penerapan   Standar   Nasional   Indonesia   (SNI)   di   berbagai   tahap  pembangunan  perumahan.    Amanat   untuk  menerapkan   Standar   Nasional   Indonesia   (SNI)   telah   diutarakan  secara   eksplisit   dalam   UU   Nomor   1   Tahun   201138.   Pada   bidang   PKP,  pencantuman   ayat   tersebut   merupakan   kemajuan   penting   dalam   upaya  mempertegas   peran   penting   SNI   dan   dukungan   penguatan   terhadap   berbagai  regulasi   [IV-­1]   sebagaimana   telah   diupayakan   pula   oleh   Undang-­Undang   RI  Nomor   18   Tahun   1999   tentang   Jasa   Konstruksi   maupun   Keputusan   Presiden  (Keppres)  RI  Nomor  80  Tahun  2003  tentang  Pedoman  Pengadaan  Barang/Jasa  Pemerintah.   Dalam   jangka   pendek,   pengembangan   dan   penelitian   material  untuk  peningkatan  kualitas  rumah  dan  PSU  [V-­5]  akan  terpacu  untuk  memenuhi  persyaratan   tersebut.   Pada   jangka   menengah-­panjang,   memenuhi   kriteria   SNI  berarti   menjadi   bagian   dari   mewujudkan   tujuan   standardisasi   nasional   yakni  pelestarian   fungsi   lingkungan   hidup.39   Sebagai   fokus   implementasi,   industri  bahan   bangunan   yang   sesuai   dengan   SNI   akan   mengadopsi   proses   produksi  ramah   lingkungan   dan   menjadi   simpul   yang   menarik   rantai   produksi   tautan-­suplai   (backward   linkage)   untuk   bertransformasi   ke   dalam   sistem   yang                                                                                                                        38   Pasal   32,   ayat   3:   Industri   bahan   bangunan   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (2)   wajib   memenuhi   Standar   Nasional  Indonesia.  39   Tujuan   standardisasi   Nasional   ialah   meningkatkan   perlindungan   kepada   konsumen,   perilaku   usaha,   tenaga   kerja,   dan  masyarakat  lainnya  baik  untuk  keselamatan,  keamanan,  kesehatan  maupun  pelestarian  fungsi  lingkungan  hidup.  Lihat:  Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  102  Tahun  2000  Tentang  Standardisasi  Nasional,  Bab  III,  Tujuan  Standardisasi  Nasional,  Pasal  3  
  24. 24. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    23/  28    berkelanjutan   pula.   Pemenuhan   terhadap   tuntutan   tersebut,   optimasi   dengan  variabel  ekonomi,  sekaligus  suplai  end-­product  yang  bermutu  akan  mendorong  pengembangan   penelitian   dan   implementasi   teknologi   untuk   peningkatan  kualitas  rumah  dan  PSU  [V-­6].      Gambar  4-­3.  Keterkaitan  Strategi  Penerapan  SNI  dengan  Penyelesaian  Isu  Pembangunan  Berkelanjutan    Seiring   dengan   peningkatan   potensi   implementasi   SNI,   misal   SNI   mengenai  konservasi   energi40,   maka   wawasan   dan   praktik   pembangunan   berkelanjutan  akan  terinternalisasi  dalam  penyelenggaraan  bidang  PKP  sedemikian  sehingga  akan  menjadi  determinan  atas  perencanaan  baru  maupun  restrukturisasi  produk-­produk   PKP.   Praktik   berbasis   pembangunan   berkelanjutan   secara   inheren  bersandar  pada  teknologi  ramah  lingkungan  atau  green  technology.    Penetapan  kewajiban   implementasi   teknologi   ini   akan   memicu   eksistensi   pasokan   dan  permintaan  yang  selanjutnya  menghasilkan  pasar  yang  berupaya  memenuhi  tren  tersebut.   Skema   kredit   teknologi   yang   diusung   lembaga   keuangan   akan  terdorong  untuk  muncul41  sebagai  bagian  dari  transformasi  pasar  menuju  green  development.   Pada   tahap   inilah,   inovasi   teknis   akan   terakselerasi   bersamaan                                                                                                                        40  SK  SNI  T-­14-­1993-­03  tentang  Tata  Cara  Perencanaan  Teknis  Konservasi  Energi  pada  Bangunan  Gedung  dan  SNI  03-­6389-­2000  tentang  Konservasi  Energi  Selubung  Bangunan  Pada  Bangunan  Gedung.  41   International   Finance   Corporation   (IFC)   merupakan   lembaga   keuangan   yang   muncul   seiring   dengan   pengembangan  Peraturan  Gubernur  DKI  tentang  Bangunan  Hijau.  
  25. 25. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    24/  28    dengan   ketersediaan   dana   [IV-­2]   domestik   maupun   internasional.   Dampak  lanjutan   yang   dihasilkan   pencapaian   tersebut  ialah   penyelenggaraan   kawasan  siap  bangun  dan  kawasan  hunian  yang  memperhatikan  aspek  kearifan  lokal  [V-­1],   peningkatan   kualitas   Rumah   Tidak   Layak   Huni   (RTLH)   melalui   penerapan  teknologi  dan  material  yang  berwawasan  lingkungan  [V-­2],  peningkatan  kualitas  dan   ketersediaan   PSU   melalui   penerapan   teknologi   dan   material   yang  berwawasan  lingkungan  [V-­3].    Pada  sisi  lain,  karakteristik  kebencanaan  di  Indonesia  telah  lama  menjadi  faktor  pembentuk   keberadaan   standardisasi   yang   diorientasikan   untuk  mengakomodasi   kriteria   keselamatan,   keamanan,   maupun   kesehatan.   Sejalan  dengan   strategi   pengembangan   sistem   data   dan   informasi   PKP   yang   dapat  diakses   publik   maka   perencanaan   kesesuaian   lahan   (land   suitability)   berbasis  kebencanaan,   land   banking,   dan   poyeksi   alokasi   pemukiman-­kembali  (resettlement)   dapat   dipersiapkan   sejak   dini.   Keseluruhan   proses   dan   produk  tersebut   membutuhkan   konsensus   berbagai   pihak   dan   standarisasi   prosedur  implementasi   agar   tidak   menimbulkan   konflik   antar   pemangku   kepentingan.  Produk   SNI,   khususnya   dalam   format   pedoman,   merupakan   solusi   untuk  mendukung  pemenuhan  kebutuhan  perumahan  dan  permukiman  akibat  dampak  bencana  alam  dan  kerusuhan  sosial  [V-­4].      Pada   akhirnya,   dalam   rangka   memperkecil   kesenjangan   implementasi  (kompetensi   sumberdaya   manusia,   komitmen,   kehandalan   alat   uji)   maka  pengembangan   SNI   perlu   didukung   pengembangan   perangkat   hukum   [IV-­3]  yang   dapat   dibangun   berdasar   praktik   unggulan   Internasional   (misal:   pola  council   dan   rating   system)   maupun   kearifan   lokal   (misal:   pengaturan   jadual  eksploitasi   bahan   mentah   untuk   konstruksi   bangunan).   Pada   fase   awal,   pola  tersebut   dapat   bersifat   sukarela   (voluntary);;   bila   cukup   teruji   kehandalannya  maka   praktik   unggulan   tersebut   dapat   diadopsi   ke   dalam   regulasi  Pemerintah  yang   skala   pengaturannya   lebih   luas   dan   lebih   mengikat  (mandatory).  Sejalan  dengan   manfaat   yang   dirasakan   oleh   berbagai   pemangku   kepentingan   PKP,  pengembangan   perangkat   hukum   berpotensi   besar   dan   merupakan   bagian  integral   untuk   mendukung   pembangunan   perumahan   berwawasan   lingkungan  [IV-­3]    .        
  26. 26. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    25/  28    BAB  V  PETA  JALAN  (ROADMAP)    5.1.  Periode  2010-­2014  Penahapan   RPJPN   2005–2025   periode   II   (2010-­2014)   berfokus   pada   memantapkan  penataan  kembali  Indonesia  di  segala  bidang  dengan  menekankan  upaya  peningkatan  kualitas   sumber   daya   manusia   termasuk   pengembangan   kemampuan   ilmu   dan  teknologi  serta  penguatan  daya  saing  perekonomian42.  Berdasar  hal  ini  maka  derivasi  arah   Grand   Design   PKP   berupa   pemantapan   penataanulang   aspek   teknis   dan  kelembagaan  penyelenggaraan  PKP;;  pentahapan  yang  dilakukan  mencakup:    Penahapan  Umum:     Pengembangan  visi  dan  pengomunikasian  visi  kepada  pemangku  kepentingan,  yakni  penyiapan  materi  Grand  Design  PKP  melalui  pendekatan  teknokratis  dan  konsensus  lalu   mematangkannya   melalui   proses   partisipatif   seiring   peningkatan   komitmen  implementasi  berbagai  pemangku  kepentingan.     Konsolidasi  pemangku  kepentinganuntuk  meningkatkan  kinerja  internal  dan  kordinasi  inter-­sektoral,   yakni   meningkatkan   pemenuhan   kebutuhan   PKP   melalui   penataan  internal  kelembagaan  serta  kerjasama  antar  lembaga.    Penahapan  Akselerasi43:     Pengembangan   pusat   data   dan   informasi   PKP,   yakni   melakukan   standardisasi  terminologi,   metode   survey   dan   sampling,   serta   data   sharing   terkait   bidang   PKP  sebagai   langkah   untuk   melakukan   pemetaan   menyeluruh   dan   dukungan   teknis  terhadapmulti  moda  penyediaan  perumahan.     Aktivasi  pembahasan  PKP  di  kantor  Wakil  Presiden,  yakni  meningkatkan  tema  PKP  ke  level  konteks  welfare  state44  yang  menetapkan  pemenuhan  perumahan  sebagai  bagian  dari  kriteria  kesejahteraan  rakyat.                                                                                                                        42Lampiran   Undang-­Undang   Republik   Indonesia   Nomor   17   tahun   2007   tentang   Rencana   Pembangunan   Jangka   Panjang  Nasional  tahun  2005–2025,  hal.  93.  43KADIN  juga  mengidentifikasi  kebutuhan  akselerasi  ini,  sebagaimana  usulan  untuk  melakukan  akselerasi  pembebasan  lahan  dan  akselerasi  pembangunan  infrastruktur  pada  tahun  ke  III  (2012)  dan  akselerasi  pembangunan  pada  tahunke  IV  (2013)  dan  V  (2014).  Lihat:  Faisal  Basri,  et.al,  2009,  Op.  cit.,  hal  106  44   Welfare   state   atau   negara   kesejahteraan   menunjuk   pada   sebuah   model   ideal   pembangunan   yang   difokuskan   pada  peningkatan  kesejahteraan  melalui  pemberian  peran  yang  lebih  penting  kepada  negara  dalam  memberikan  pelayanan  sosial  secara   universal   dan   komprehensif   kepada   warganya.   Negara   kesejahteraan   ditujukan   untuk   menyediakan   pelayanan-­pelayanan  sosial  bagi  seluruh  penduduk  –  orang  tua  dan  anak-­anak,  pria  dan  wanita,  kaya  dan  miskin  sebaik  dan  sedapat  mungkin.   Ia   berupaya   untuk   mengintegrasikan   sistem   sumber   dan   menyelenggarakan   jaringan   pelayanan   yang   dapat  memelihara  dan  meningkatkan  kesejahteraan  (well-­being)  warga  negara  secara  adil  dan  berkelanjutan.  Lihat:  Edi  Suharto,  2006,  Negara  Kesejahteraan  dan  Reinventing  Depsos,  hal.  6-­7,  Jakarta.  
  27. 27. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    26/  28       Desain   platform/pedoman   kolaborasi   inter-­sektor,   yakni   acuan   teknis   mengenai  distribusi   peran,   bentuk   intervensi,   serta   tata   laksana   lainnya   sebagai   upaya  peningkatan  integrasi,  efektivitas,  serta  mereduksi  konflik  di  level  penerima-­manfaat.     Revitalisasi   dan   reposisi   lembaga   kordinasi/   pokja/Badan   Kebijaksanaan   Dan  Pengendalian  Pembangunan  Perumahan  dan  Permukiman  Nasional  (BKP4N),  yakni  menghidupkan  kembali  berbagai  bentuk  kordinasi  yang  relevan  sebagai  modal  untuk  pembentukan  kelembagaan  yang  sesuai  dengan  transformasi  posisi  PKP  ke  dalam  konteks  welfare  state.    5.2.  Periode  2015-­2019  Penahapan   RPJPN   2005–2025   periode   III   (2015-­2019)   berfokus   pada  memantapkan  pembangunan  secara  menyeluruh  di  berbagai  bidang  dengan  menekankan  pencapaian  daya  saing  kompetitif  perekonomian  berlandaskan  keunggulan  sumber  daya  alam  dan  sumber   daya   manusia   berkualitas   serta   kemampuan   ilmu   dan   teknologi   yang   terus  meningkat.45   Berdasar   hal   ini   maka   derivasi   arah   Grand   Design   PKP   berupa  pemantapan   berbagai   aspek   (teknis,   kelembagaan,   pembiayaan   dan   regulasi)  penyelenggaraan  PKP.    Penahapan  Umum:     Pemanfaatan   pusat   data   dan   informasi   PKP   sebagai   mitra-­kerja   dalam   proses  perencanaan   internal   dan   inter-­sektoral,   yakni   penggunaan   rujukan   databaseyang  sama  sebagai  dasar  proses  penyusunan  perencanaan  maupun  evaluasi  pencapaian  internal  maupun  antar  lembaga.     Distribusi  peran  pemangku  kepentinganPKP  yang  semakin  jelas  seiring  peningkatan  efektivitas  kordinasi  implementasi  program.     Revisi  dan  pengembangan  regulasi  untuk  meningkatkan  kemampuan  implementasi  nyata  bidang  PKP,  yakni  pengakajian-­ulang  terhadap  berbagai  regulasi  yang  menjadi  kendala   pemenuhan   kebutuhan   PKP   serta   mengembangkan   regulasi   yang  berkontribusi   terhadap   upaya   memperkecil   kesenjangan   antara   konsep   normatif  dengan  operasionalisasi.     Pengembangan   aspek   pembiayaan   Public-­Private   Partnership46   dan   dukungan  terhadap   pembiayaan   swadaya,   yakni   mengembangkan   terobosan   dalam  penyediaan   sumber   pembiayaan   PKP   melalui   kemitraan   dengan   swasta   maupun                                                                                                                        45Lampiran   Undang-­Undang   Republik   Indonesia   Nomor   17   tahun   2007   tentang   Rencana   Pembangunan   Jangka   Panjang  Nasional  tahun  2005–2025,  hal.  94.  46KADIN  mengemukakan  program  pelaksanaan  PPP  pada  setiap  kawasan  pengembangan  sebagai  usulan  program  di  tahun  ke  IV  (2013)  dan  V  (2014).  Lihat:  Faisal  Basri,  et.al,  2009,  Op.  cit.,  hal  106  
  28. 28. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    27/  28    komunitas;;  khusus  swadaya  maka  suatu  sistem  dukungan  pembiayaan  yang  sesuai  karakteristik  bankable.     Pengembangan   proyek   perintis   PKP   di   Kota-­kota   Besar   Indonesia,47   yakni  pembangunan   proyek   perintis   yang   mengintegrasikan   berbagai   moda   perumahan  dalam   satu   kawasan   seiring   dengan   dukungan   Pemerintah   Daerah,   pihak   swasta,  maupun  masyarakat  yang;;  proyek  perintis  ini  diarahkan  sebagai  strategi  pemenuhan  backlog  perumahan.    5.3.  Periode  2020-­2024  Penahapan   RPJPN   2005–2025   periode   IV   (2020-­2024)   berfokus   pada   mewujudkan  masyarakat  yang  mandiri,  maju,  adil  dan  makmur  melalui  percepatan  pembangunan  di  berbagai  bidang  dengan  terbangunnya  struktur  perekonomian  yang  kokoh  berlandaskan  keunggulan   kompetitif   di   berbagai   wilayah   yang   didukung   oleh   SDM   berkualitas   dan  berdaya   saing.48   Berdasar   hal   ini   maka   derivasi   arah   Grand   Design   PKP   berupa  perkuatan  berbagai  aspek  menuju  sistem  yang  berkelanjutan.    Penahapan  Umum:     Evaluasi  pencapaian  jangka  panjang,  yakni  memapankan  sistem  yang  efektif  serta  merevisi/menyempurnakan  sistem  yang  kurang  berdampak  positif.     Konsolidasi  untuk  menghadapi  tahap  pertumbuhan  mendatang,  yakni  menghimpun  pemangku   kepentingan   PKP   untuk   bekerjasama   -­   sesuai   peran,   fungsi   dan  kapasitasnya  -­  mengelola  dinamika  yang  akan  muncul.                                                                                                                                47KADIN  mengemukakan  studi  pembangunan  wilayah  di  10  Kota  Besar  sebagai  usulan  program  di  tahun  ke  IV  (2013)  dan  V  (2014).  Lihat:  Faisal  Basri,  et.al,  2009,  Op.  cit.,  hal  106  48Lampiran   Undang-­Undang   Republik   Indonesia   Nomor   17   tahun   2007   tentang   Rencana   Pembangunan   Jangka   Panjang  Nasional  tahun  2005–2025,  hal.  96.  
  29. 29. Draft  Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat    28/  28          Gambar  5-­1.  Tahapan  Roadmap  
  30. 30. Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat      Lampiran  _0/46                                        LAMPIRAN  
  31. 31. Laporan  Final  Penyiapan  Grand  Design  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat      Lampiran  _1/46    LAMPIRAN  1  PELAKU  PKP  INDEPENDEN  Nama  Lembaga   Program  Kerja  Terkait  Perumahan  dan  Kawasan  Permukiman  Tahun   Sasaran  Kegiatan  Multi  Donor  Fund1   (1)   bermitra  dengan  Pemerintah  Indonesia  (MDF  merupakan  penyumbang  utama  bagirekonstruksi  dan  rehabilitasi  infrastrukturskala  besar  di  Aceh  dan  Nias  USD227,04juta);;  2005-­2012   Penyediaan  perumahan  berikut  infrastruktur  dan  PSU  bagi  penduduk  terdampak  bencana  secara  sinergi  dengan  kebijakan  dan  program  Pemerintah  RI;;  World  Bank  dan  Asian  Development  Bank2  (2)   Program  sertifkasi  tanah  bebas-­biaya  untuk  lahan  perumahan  dan  kawasan  permukiman  pasca  bencana  di  Aceh  dan  Nias  periode  2005-­2008  (Land  Acquisition  Program,  LARAS);;  2005-­2008   Penyediaan  lahan  perumahan  bagi  penduduk  terdampak  bencana  yang  berketetapan  hukum;;  Asian  Development  Bank3  dan  World  Bank4  dibawah  koordinasi  Badan  Rehabilitasi  dan  Rekonstruksi  (BRR)  (1)   Asian  Development  Bank:  Earthquake  and  Tsunami  Emergency  Support  Project  (ETESP)  2005-­2009  (Grant  INO-­0002)5;;  (2)  Asian  Development  Bank:Japan  Fund  for  Poverty  Reduction  (Grant  9074-­INO),  Seismically  Upgraded  Housing  in  Nanggroe  Aceh  Darussalam  and  North  Sumatera  2006-­20096;;  (3)   World  Bank7:  Multi  Donor  Fund  for  Aceh  and  Nias  2005-­2012;;  2005-­2012   Penyelenggaraan  perumahan  yang  mengedepankan  kearifan  lokal  bagi  penduduk  terdampak  bencana  gempa  bumi-­tsunami  di  Propinsi  Nanggroe  Aceh  Darussalam  dan  Sumatera  Utara;;      World  Bank   Java  Relief  Fund8:   2006-­2008   Perbaikan  dan  pembangunan  rumah  yang  menyertakan  aspek  kearifan  lokal  bagi  penduduk  terdampak  bencana  gempa  bumi  di  Yogyakarta  dan  Jawa  Tengah;;  Asian  Development  Bank   Water  Supply  Sector  Project9;;   2001   Adopsi  model  penyediaan  air  bersih  yang  dikelola  masyarakat  untuk  menjangkau  mereka  yang  tidak  mendapatkan  pasokan  air  memadai10;;  Asian  Development  Bank   (1)    Roadmap  for  Development11;;    2007-­2011   pemberdayaan  ekonomi  melalui  penyediaan  PSU  dan  infrastruktur;;  Multi  Donor  Fund12:      (2)   Projek  Pemulihan  Masyarakat  Pasca  Bencana  di  Aceh  dan  Nias;;  2005-­2011   Keberhasilan  proyek  pemulihan  masyarakat  MDF:  pendekatan  berbasismasyarakat  berhasil  guna  pada                                                                                                                        1  Multi  Donor  Fund,  2011,    Laporan  Kemajuan  per  Desember  2011:  Kemitraan  untuk  Mencapai  Keberlanjutan,  hal.19.  2  Asian  Development  Bank,  2010,  Project  Report:  Earthquake  and  Tsunami  Emergency  Support  Project  (ETESP).  3Ibid.    4  World  Bank,  2008,  Multi  Donor  Fund  (MDF):  Investing  in  Institution,  Sustaining  Reconstruction  and  Economic  Recovery,  Four  Years  After  the  Tsunami.  5  Asian  Development  Bank,  2010,  Project  Report:  Earthquake  and  Tsunami  Emergency  Support  Project  (ETESP).  6  Asian  Development  Bank,  2010,  Project  Report:  Japan  Fund  for  Poverty  Reduction  (9074-­INO),  Seismicallay  Upgraded  Housing  in  Nanggroe  Aceh  Darussalam  and  North  Sumatera.  7  World  Bank.  2010,  Multi  Donor  Fund  (MDF):  Progress  Report.  8  World  Bank.  2009,  Project  Report:  Java  Relief  Fund.  9  Asian  Development  Bank,  2001,  Project  Audit  Report:  Water  Supply  Sector  Project  (Loan  1069-­INO).  10Ibid.,  Appendix  1,  p.2.  11  Asian  Development  Bank,  2012,  Mid-­term  Review  of  the  IMT-­GT  Roadmap  for  Development  2007-­2011.  12  Multi  Donor  Fund,  2011,  Op.  cit.  

×