Your SlideShare is downloading. ×
Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035. Buku 2
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035. Buku 2

3,630
views

Published on

dipublikasikan oleh Kementerian koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat tahun 2012

dipublikasikan oleh Kementerian koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat tahun 2012


2 Comments
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
3,630
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
442
Comments
2
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 i GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT 2012
  • 2. ii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 3. GRAND DESIGN PEMBANGUNANKEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 iii Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kementerian Dalam Negeri Kementerian Perencanaan Pembangunan/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Kesehatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Sosial Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 © Pemegang Copyright Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Diproduksi oleh : Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Editor : Sekretariat Tim Penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011 - 2035 Tim Penyusun : 1. Kelompok Kerja Bidang Pengendalian Kuantitas Penduduk 2. Kelompok Kerja Bidang Peningkatan Kualitas Penduduk 3. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Keluarga 4. Kelompok Kerja Bidang Penataan Persebaran dan Pengaturan Mobilitas Penduduk 5. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan database Kependudukan Kontributor: 1. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gajah Mada 2. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia Cetakan pertama 2012 Hak cipta dilindungi undang-undang Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, et. al. Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035; — cet. 1 —Jakarta : Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2012, 126 hlm, 210 x 297 mm ISBN ____________________978-602-9476-28-6 GRANDDESIGN PEMBANGUNANKEPENDUDUKAN TAHUN2011-2035 iii
  • 4. iv GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 5. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 v MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT R.I Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga penyusunan dokumen Grand Design Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 dapat diselesaikan. Kerja keras dan kerja cerdas semua pihak diwakili oleh kelompok-kelompok kerja yang secara bertahap, berhasil menyelesaikan dokumen acuan bagi Pembangunan Kependudukan di Indonesia. Masukan dari berbagai pihak telah memberikan kontribusi yang signifikan yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi pelaksanaan pembangunan kependudukan secara lintas sektor. Terdapat 3 (tiga) aspek penting dalam kebijakan pembangunan kependudukan. Pertama, secara internal, dinamika kependudukan memasuki tahap krusial dengan ditandai oleh adanya perubahan kondisi demografi “di luar perkiraan”. Kondisi itu nampak dari perubahan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak bergerak maju (stagnan). Terlepas dari perbedaan interpretasi mengenai keadaan tersebut, kondisi ini perlu dicermati dan diantisipasi dengan kebijakan kependudukan yang tepat. Kedua, kebijakan pembangunan kependudukan belum sepenuhnya menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan. Hal ini tidak selaras dengan hasil ICPD (International Conference on Population and Development) tahun 1994 di Kairo yang mengamanatkan agar, pengintegrasian kebijakan kependudukan ke dalam kebijakan pembangunan nasional. Ketiga, pada waktu yang bersamaan dinamika kependudukan sedang mengarah ke fase windows of opportunity yang datangnya hanya sekali dan akan memberikan peluang untuk memperoleh bonus demografi. Ketiga hal tersebut merupakan alasan mengapa dibutuhkan suatu dokumen grand design pembangunan kependudukan untuk dijadikan arah bagi perumusan kebijakan dan program kependudukan. Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) selain diperlukan sebagai arah bagi kebijakan kependudukan di masa depan juga diharapkan dapat sejalan dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI). Dalam konteks KATAPENGANTAR
  • 6. vi GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 pelaksanaannya diperlukan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Pembangunan Kependudukan dengan Pembangunan Ekonomi Nasional serta Penanggulangan Kemiskinan. Dengan telah selesainya penyusunan dokumen ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi secara aktif. Kritik dan saran konstruktif sangat diharapkan dalam rangka penyempurnaan dokumen ini. Semoga Grand Design Pembangunan Kependudukan ini bermanfaat bagi pembangunan Nasional. Jakarta, Desember 2012 Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia H.R. AGUNG LAKSONO
  • 7. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 vii KATA PENGANTAR .........................................................................................................v DAFTAR ISI ..........................................................................................................vii DAFTAR TABEL ...........................................................................................................ix DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ...............................................................................x BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................................1 1.1. Latar Belakang ............................................................................................1 1.2. Dasar Hukum............................................................................................... 5 1.3. Visi ............................................................................................................ 6 1.4. Misi ............................................................................................................ 6 1.5. Arah Kebijakan............................................................................................7 1.6. Tujuan .......................................................................................................... 7 1.7. Sasaran .......................................................................................................... 8 BAB 2. KONDISI KEPENDUDUKAN INDONESIA SAAT INI ........................9 2.1. Kuantitas Penduduk....................................................................................9 2.2 Kualitas Penduduk.....................................................................................14 2.2.1. Pendidikan ......................................................................................14 2.2.2. Kesehatan .......................................................................................17 2.2.3. Pendapatan per Kapita .................................................................25 2.2.4. Indeks Pembangunan Manusia ....................................................27 2.2.5. Kondisi Kesetaraan dan Keadilan Gender ................................28 2.3. Pembangunan Keluarga............................................................................32 2.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ......................................................34 2.5. Data dan Informasi Kependudukan ......................................................40 BAB 3. KONDISI YANG DIINGINKAN ................................................................47 3.1. Kuantitas Penduduk..................................................................................47 3.2. Kualitas Penduduk.....................................................................................49 3.3. Kondisi Keluarga.......................................................................................50 3.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ......................................................51 3.5. Database Kependudukan .........................................................................53 3.6. Permasalahan dan Tantangan ..................................................................55 3.6.1. Kuantitas Penduduk ......................................................................56 3.6.2. Kualitas Penduduk.........................................................................59 3.6.3. Persebaran dan Mobilitas Penduduk ..........................................65 DAFTARISI
  • 8. viii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 BAB 4. POKOK-POKOK PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN ..................69 4.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk .........................................................69 4.1.2. Pengaturan Fertilitas ....................................................................69 4.1.3. Penurunan Mortalitas ...................................................................70 4.1.4. Strategi Pengendalian Kuantitas ..................................................71 4.2 . Peningkatan Kualitas.................................................................................72 4.2.1. Dimensi Kesehatan .......................................................................72 4.2.2. Dimensi Pendidikan ......................................................................72 4.2.3. Dimensi Ekonomi .........................................................................72 4.2.4. Strategi Pengendalian Kualitas .....................................................72 4.3. Pembangunan Keluarga............................................................................74 Strategi Pembangunan Keluarga .............................................................75 4.4. Persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk.................................77 4.5. Pembangunan Database Kependudukan...............................................96 Strategi Pembangunan Database Kependudukan ................................96 BAB 5. ROADMAP ........................................................................................................103 5.1. Umum .......................................................................................................103 5.1.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk............................................103 5.1.2. Peningkatan Kualitas Penduduk ................................................104 5.1.3 Pembangunan Keluarga..............................................................106 5.1.4 Penataan Persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk ......................................................................................106 5.1.5. Pembangunan Data dan Informasi Kependudukan ..............109 BAB 6. PENUTUP ........................................................................................................111 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................114 LAMPIRAN : Keputusan Menko Kesra No. 27 Tahun 2011, Tentang Tim Penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan, Tahun 2011-2035 ........................................................................................................115
  • 9. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 ix Tabel 2.1 Angka Partisipasi Sekolah Kasar dan Murni menurut Pendidikan 2000–2008 ..................................................................................15 Tabel 2.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Umur, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2006.......................................................................................16 Tabel 2.3 Angka Harapan Hidup Beberapa Negara di ASEAN, 1980-2011..........23 Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Angka Kemiskinan Tahun 2011 .............26 Tabel 2.5 Nilai IPM Beberapa Negara ASEAN1990-2011.......................................28 Tabel 2.6 Karakteristik Kepala Keluarga menurut Mata Pencaharian, 2008..........31 Tabel 3.1 Proyeksi TFR 2010-2035 ..............................................................................47 Tabel 3.2 Persentase Pengangguran Terbuka*) menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2007-2010 .......................................................62 Tabel 3.3 Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah Tahun 1998-2011 .............................................................................63 Tabel 3.4 Kondisi Migrasi Internasional Tahun 2007-2009......................................66 Tabel 4.1 Kelas Ruang ....................................................................................................83 Tabel 4.2 Kelas Penduduk .............................................................................................84 Tabel 4.3 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera .......................85 Tabel 4.4 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan ...................87 Tabel 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku- Maluku Utara..................................................................................................88 Tabel 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua .............................90 Tabel 4.7 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara .....91 Tabel 5.1 Roadmap Pengendalian Kuantitas Penduduk..........................................103 Tabel 5.2 Perkiraan Rata-Rata Lama Bersekolah (MYoS).......................................104 Tabel 5.3 Perkiraan Harapan Rata-Rata Lama Bersekolah (EYoS) .......................104 Tabel 5.4 Perkiraan Angka Partisipasi Murni 2015-2050.........................................105 Tabel 5.5 Perkiraan Angka Harapan Hidup 2015-2035...........................................105 Tabel 5.6 Perkiraan GNI per Kapita Indonesia 2011-2050....................................106 Tabel 5.7 Roadmap Pembangunan Keluarga ............................................................106 Tabel 5.8 Pokok-Pokok Roadmap Grand Design Pengarahan Mobilitas Penduduk 2010-2035 ...................................................................................107 Tabel 5.9 Roadmap Pmebangunan Data Base Kependudukan .............................109 DAFTARTABEL
  • 10. x GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 1.1 Tujuan Pembangunan Kependudukan Selama 2011-2035 .....................8 Gambar 2.2 Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971 dan 2010...........................11 Gambar 2.3 Melek Huruf Dewasa di Indonesia .........................................................17 Gambar 2.4 Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu 1991-2007 ...........................................................................18 Gambar 2.5 Angka Kematian Bayi di Indonesia .........................................................19 Gambar 2.6 Disparitas Indeks Kematian Bayi dan Kematian Balita di Indonesia, 1991-2007 ............................................................................20 Gambar 2.7 Tren Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk IndonesiaTahun 1989 – 2010 .................................................................................................21 Gambar 2.8 Angka Harapan Hidup Indonesia 1980–2011 ........................................22 Gambar 2.9 Persentase Rumah Tangga yang Mendapatkan Air Bersih di Indonesia 2000-2008 .............................................................................23 Gambar 2.10 Persentase Rumah Tangga yang Mengakses Jamban dan Septic Tank di Indonesia 2000-2008..........................................................24 Gambar 2.11 Pendapatan per Kapita di Indonesia 1980-2011 (Metode Atlas, US$)...................................................................................25 Gambar 2.12 Perkembangan Jumlah dan Angka Kemiskinan di Indonesia, 2004-2011 ....................................................................................................25 Gambar 2.13 Profil Persebaran Penduduk Tahun 1930 – 2010 ..................................35 Gambar 2.14 Peta Persebaran Kategori Kota ................................................................36 Gambar 2.15 Peta Ketimpangan Populasi dan Ekonomi.............................................37 Gambar 2.16 Kesenjangan Ekonomi Wilayah di Indonesia ........................................39 Gambar 2.17 Data Dasar (Database) Kependudukan di Indonesia ...........................42 Gambar 3.1 Perkembangan Rasio Ketergantungan Usia Anak-anak (< 15 tahun); produktif (15-64 tahun), Lansia (>65 tahun) serta Rasio Ketergantungan di Indonesia Tahun 1950-2050.........................49 Gambar 3.2 Kondisi Persebaran Penduduk yang Diinginkan pada Tahun 2035 ....51 Gambar 3.3 Kondisi Migrasi Internasional yang Diinginkan Tahun 2035 ..............52 Gambar 3.5 Pertumbuhan dan Ketimpangan Ekonomi di Indonesia .....................63 Gambar 4.1 Unsur-Unsur Pembangunan Sumber Daya Manusia ............................73 Gambar 4.2 Tema Pembangunan dan Interkoneksi Koridor Ekonomi (KE) ........82 DAFTARGAMBAR DANGRAFIK
  • 11. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 xi Gambar 4.3 Strategi Penataan Persebaran Penduduk .................................................82 Gambar 4.4 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera ......................................................................................................85 Gambar 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan .................................................................................................87 Gambar 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku-Maluku Utara ...............................................................89 Gambar 4.7 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua ............................................................................................90 Gambar 4.8 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara...................................................................................92 Gambar 4.9 Kerangka Penyelarasan Isu-Isu Strategis Grand Design SAK............96 Gambar 4.10 Tahap-tahap Penerapan KTP Berbasis NIK Nasional........................98 Gambar 4.11 Mekanisme Pembangunan Database Kependudukan dan Pemutakhirannya .......................................................................................99 Gambar 4.12 Pemanfaatan Database untuk Instansi/Lembaga, Masyarakat Dunia Usaha, dan Kepentingan Lainnya .............................................100 Gambar 4.12 dan 4.13 Pemanfaatan Database Kependudukan dan e-KTP untuk Mendukung Pemilu......................................................................101 Grafik 2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2010 menurut Provinsi .....................................................................................................10 Grafik 2.2 Perkembangan IPG Periode 2004-2010.................................................28 Grafik 2.3 Perkembangan Komponen IPG, 2009-2010 .........................................29 Grafik 2.4 Perkembangan IDG Tahun 2004-2010..................................................30 Grafik 2.5 Penduduk 15 ke Atas Bekerja Sebagai Tenaga Profesional Kepemimpinan, Administrasi, Teknisi, 2009-2010...............................31
  • 12. xii GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Grafik 2.6 Persentase PNS Perempuan, 2007-2010 ................................................31 Grafik 2.7 Persentase PNS yang Menduduki Jabatan Struktural, 2007-2010 ...................................................................................................32 Grafik 3.4 Ratio Ketergantungan 1971-2010 ...........................................................52 Grafik 3.5 Rasio Ketergantungan menurut Provinsi ..............................................53
  • 13. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1 1.1. Latar Belakang Kebijakan kependudukan di Indonesia sampai saat ini telah menunjukkan keberhasilannya, terutama jika dilihat dari sisi kuantitas penduduk. Sebagai contoh adalah penurunan angka kelahiran total (TFR) dan penurunan pertumbuhan penduduk secara konsisten selama periode 1970-2000. Akan tetapi, hasil sensus penduduk maupun survei akhir-akhir ini, misalnya Sensus Penduduk 2010 dan SDKI 2007, menunjukkan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 misalnya menunjukkan bahwa TFR mengalami stagnasi. Demikian juga halnya dengan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 yang secara nasional menunjukkan TFR dalam keadaan stalling. Hasil lain dari SP 2010 menunjukkan bahwa angka pertumbuhan penduduk meningkat dibandingkan dengan SP tahun 2000 meskipun peningkatannya tidak signifikan. Ada indikasi bahwa kedua hal tersebut berkaitan: stagnasi atau peningkatan TFR telah menjadi penyebab peningkatan pertumbuhan penduduk, me- ngingat bahwa secara nasional migrasi dianggap tidak berpengaruh terhadap perubahan jumlah penduduk. Jika hal ini berlangsung terus, dikhawatirkan tujuan kebijakan kependudukan dari sisi kuantitatif untuk mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2015 seperti tercantum dalam RPJMN tidak dapat dicapai. Bahkan, bukan hanya target yang telah dicanangkan tidak dapat dicapai, tetapi perubahan tersebut akan menimbulkan masalah baru, baik dibidang kependudukan maupun masalah pembangunan pada umumnya. Bagi sebagian pengambil kebijakan, pertumbuhan penduduk yang meningkat dianggap tidak merisaukan. Akan tetapi, bagi sebagian yang lain, pertumbuhan penduduk yang meningkat dianggap sebagai salah satu hambatan dalam mencapai tujuan pembangunan secara luas. Sebagai salah satu ilustrasi, perubahan jumlah penduduk akan mempengaruhi BBBBBABABABABAB Pendahuluan 1 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1
  • 14. 2 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 demand yang kemudian harus dipenuhi oleh sektor lainnya, misalnya penyediaan kebutuhan dasar manusia, yaitu papan, pangan dan pakaian. Kekhawatiran banyak or- ang tentang keamanan pangan misalnya, secara langsung berhubungan dengan peningkatan jumlah penduduk yang tidak terkontrol. Demikian juga halnya dengan kebutuhan dasar lainnya. Memang hubungan antara keduanya tidak bersifat eksklusif karena ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kompleksitas hubungan, yaitu tehnologi dan orgarnisasi. Akan tetapi aspek kependudukan merupakan aspek penting dalam pembangunan, dan tidak dapat diabaikan. Salah satu isu penting lainnya yang terkait dengan perkembangan kuantitas penduduk di Indonesia adalah perubahan komposisi penduduk, khususnya menurut umur. Dengan tren perubahan komposisi penduduk menurut umur di masa lalu, diperkirakan Indone- sia akan mencapai tahap windows of opportunity tahun 2030-an. Hal ini hanya akan terjadi jika pengelolaan kuantitas penduduk, khususnya fertilitas, dilakukan dengan benar. Jika tidak, maka tahap tersebut akan terlewatkan dan Indonesia akan kehilangan momen- tum untuk mengakselerasi percepatan pencapaian tujuan pembangunan nasional. Tahap windows of opportunity ditandai dengan angka ketergantungan yang paling rendah dalam perkembangan perubahan komposisi penduduk menurut umur. Kondisi tersebut disertai dengan besarnya jumlah penduduk usia produktif, menurunnya jumlah penduduk usia anak-anak, dan meningkatnya jumlah penduduk lansia. Tahap ini merupakan kesempatan yang hanya datang sekali dan harus direspons dengan kebijakan yang memadai agar opportunity berubah menjadi bonus demografi. Jika tahap ini terjadi dan tidak ada intervensi yang tepat, maka kesempatan tersebut akan berubah menjadi disas- ter. Dengan cara berpikir tersebut, maka seharusnya telah disusun suatu arah dan penahapan pencapaian pembangunan kuantitas yang mampu mendorong terealisasinya tahap tersebut. Selain persoalan yang terkait dengan pertumbuhan dan komposisi penduduk, Indone- sia masih dihadapkan pada masalah ketimpangan distribusi penduduk, antara Jawa dan luar Jawa, atau antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur. Demikian juga halnya antara desa dan kota. Persolan ketimpangan distribusi penduduk pada dasarnya erat kaitannya dengan persoalan lingkungan. Di satu pihak ketimpangan distribusi penduduk melahirkan persoalan overpopulation yang ditunjukkan oleh, diantaranya, adalah kepadatan penduduk dan tekanan penduduk, di pihak lain muncul persoalan optimalisasi sumber daya alam, khususnya di daerah yang kaya sumber daya alam tetapi jumlah penduduknya sedikit. Persoalan kependudukan yang dihadapi Indonesia menjadi lebih kompleks karena selain masalah kuantitas, juga dihadapkan pada persoalan kualitas penduduk (terutama bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan pemerataan ekonomi). Contoh yang paling jelas
  • 15. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 3 adalah rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia jika dibandingkan denganIPMdinegaratetanggaASEAN.Indonesiasemakinjauhtertinggaldenganbeberapa negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Permasalahan kuantitas dan kualitas penduduk pada akhirnya bukan hanya menggambarkan persoalan kependudukan, tetapi lebih dari itu, persoalan tersebut merupakan permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi Indonesia. Hal tersebut berkaitan juga dengan pemikiran secara konseptual bahwa hubungan antara kependudukan dan pembangunan ekonomi bersifat resiprokal (atau timbal balik). Dari satu sisi, ketika variabel kependudukan diletakkan sebagai variabel bebas, maka setiap intervensi untuk mengatasi permasalahan kependudukan tersebut akan memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah pembangunan lainnya. Sementara itu, perubahan lingkungan strategis, baik pada skala internasional maupun internal, telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kebijakan kependudukan di Indonesia. Pada skala internasional, kesepakatan internasional, baik hasil dari ICPD di Kairo tahun 1994, MDGs, dan juga kesepakatan internasional lainya, telah menyebabkan perubahan orientasi kebijakan kependudukan juga. Sebagai contoh, prinsip-prinsip ICPD yang belum sepenuhnya tertuang dalam UU No. 10 Tahun 1992 menjadi salah satu pertimbangan penting dilakukannya amandemen UU tersebut yang kemudian menjadi UU No. 52 Tahun 2009. Arah kebijakan pembangunan kependudukan dan hasil ICPD yang menekankan pentingnya hak dan kesehatan reproduksi telah mewarnai program keluarga berencana di Indonesia pasca-ICPD. Selain itu, Indonesia memiliki komitmen untuk mengadopsi 20 tahun Plan of Action (PoA) ICPD yang mencakup tujuan penting kebijakan penduduk dan pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development), pendidikan, kesetaraan gender, penurunan kematian maternal, anak dan bayi, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk keluarga berencana dan kesehatan seksual. Kesepakatan hasil MDGs tahun 2000 berpengaruh sangat penting dalam mengarahkan pembangunan kependudukan. Target yang tertuang dalam MDGs, menjadi rujukan pokok penentuan indikator pencapaian pembangunan kependudukan sampai dengan saat ini. Bukan hanya dalam konteks pembangunan kependudukan, arah kebijakan pembangunan secara umum juga sangat diwarnai dan dipengaruhi MDGs. Sementara itu, dalam skala nasional ada dua aspek penting yang perlu dicatat. Pertama adalah perubahan pemerintahan dari Orde Baru ke Orde Reformasi yang diawali dengan krisis multidimensional tahun 1998. Krisis ekonomi telah menyebabkan menurunnya kemampuan ekonomi pemerintah untuk mendukung kebijakan kependudukan, khususnya program keluarga berencana, sebagaimana dilakukan pada masa Orde Baru.
  • 16. 4 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Krisis politik telah memengaruhi fokus perhatian pemerintah yang lebih pada kebijakan politk. Oleh karena itu kebijakan kependudukan di tahun-tahun awal reformasi terabaikan. Kedua, sejalan dengan perubahan pemerintahan tersebut, pemerintah melaksanakan otonomi daerah yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menyusun, melaksanakan, serta melakukan moni- toring dan evaluasi pembangunan, termasuk di dalamnya kebijakan kependudukan. Seperti halnya yang terjadi di pusat, pemerintah kabupaten/kota lebih memfokuskan pada pembangunan politik dan ekonomi serta cenderung mengabaikan pembangunan kependudukan. Akibatnya adalah komitmen politik menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya. Oleh banyak kalangan, hal ini diklaim sebagai salah satu faktor yang ikut memengaruhi penurunan kinerja kebijakan kependudukan di Indonesia. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut di atas, diperlukan suatu acuan bagi pembangunan kependudukan di masa mendatang, baik dari sisi kebijakan umum dalam bentuk Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK). Hal ini merupakan tindak lanjut atau operasionalisasi Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Usaha untuk menyusun GDPK diawali oleh Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dengan melibatkan semua pemangku kepentingan yang terkait dengan kebijakan kependudukan melalui pembentukan kelompok kerja (working group). Melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 27 Tahun 2011 tentang penyusunan Grand Design terkait Pembangunan Kependudukan Tahun 2011-2035 telah terbentuk lima kelompok kerja untuk menyusun GDPK yang masing-masing bertanggung jawab untuk menyusun grand design termasuk roadmap pembangunan kependudukan. Kelima kelompok kerja tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kelompok Kerja Bidang Pengendalian Kuantitas Penduduk (Kelompok Kerja I) 2. Kelompok Kerja Bidang Peningkatan Kualitas Penduduk (Kelompok Kerja II) 3. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Keluarga (Kelompok Kerja III) 4. Kelompok Kerja Bidang Penataan Persebaran dan Pengaturan Mobilitas Penduduk (Kelompok Kerja IV) 5. Kelompok Kerja Bidang Pembangunan Database Kependudukan (Kelompok Kerja V) Kelima kelompok kerja tersebut telah bekerja secara maksimal dan telah menghasilkan draf konsep grand design. Hasil dari kelima kelompok kerja tersebut merupakan sumber utama dalam penyusunan GDPK pembangunan kependudukan ini. Dengan kata lain, dokumen GDPK ini merupakan integrasi dan penyempurnaan hasil kerja dari kelima kelompok kerja. Diharapkan dokumen GDPK ini dapat menjadi landasan dan acuan bagi perumusan pro- gram atau kegiatan operasional untuk mengatasi permasalahan kependudukan di Indonesia serta mengintegrasikannya dengan dokumen pembangunan yang lainnya.
  • 17. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 5 GDPK merupakan arahan kegiatan dalam tahapan lima tahunan pembangunan kependudukan Indonesia dengan melihat target pencapaian sampai dengan tahun 2035. Dengan demikian, dalam dokumen ini dicantumkan pula roadmap yang berisi kebijakan yang diperlukan untuk tiap lima tahunan sampai tahun 2035 sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas langkah-langkah yang perlu diambil oleh setiap kementerian/ lembaga dalam mendukung implementasi pembangunan kependudukan di Indonesia. Selain itu, penyusunan GDPK juga memerhatikan beberapa dokumen yang telah ada terlebih dulu, misalnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dan Masterplan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI), Serta yang tidak kalah pentingnya adalah acuan regulasi yang terkait dengan kependudukan. Diharapkan dengan menggunakan referensi tersebut, GDPK yang dihasilkan merupakan dokumen yang komprehensif, akomodatif, dan terstruktur. 1.2. Dasar Hukum Beberapa peraturan yang menjadi dasar dalam penyusunan Grand Design Pembangunan Kependudukan adalah sebagai berikut. 1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (Pembukaan, Pasal 28B, pasal 33, dan pasal 34) 2. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Perkawinan 3. Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian 5. Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia 6. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) 7. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 9. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 10. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan 11. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) 12. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional 13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri 14. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI 15. Undang Undang No 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan 16. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 17. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang 18. Undang-Undang No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial
  • 18. 6 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 19. Undang-UndangNo. 32 Tahun 2009TentangPerlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian 21. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009TentangKesehatan 22. Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga 23. Undang-Undang No. 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin 24. Undang-Undang No. 35 tahun 2010 tentang Narkotika 25. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 Tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 26. Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. 27. Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional; 28. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 29. Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang Berkeadilan 1.3.Visi: “Terwujudnya penduduk yang berkualitas sebagai modal pembangunan untuk mencapai Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan sejahtera”. Penekanan visi pada pembangunan kualitas penduduk adalah jawaban kunci terhadap terjadinya “windows of opportunity” sehingga “bonus demografi” dapat dimanfaatkan sebagai modal dasar pembangunan. Dalam rangka mencapai visi tersebut, GDPK memiliki misi: 1.4. Misi: 1. Menempatkan aspek kependudukan sebagai titik sentral pembangunan dan mengintegrasikan kebijakan kependudukan ke dalam kebijakan pembangunan sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup 2. Mendorong tercapainya jejaring (networking) kebijakan antarpemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah dalam membangun tata kelola kependudukan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan 3. Menciptakan sinkronisasi antarberbagai peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah tentang kependudukan 4. Memfasilitasi perkembangan kependudukan ke arah yang seimbang antara jumlah, struktur, dan persebaran penduduk dengan lingkungan hidup, baik yang berupa daya dukung alam maupun daya tampung lingkungan serta kondisi perkembangan sosial dan budaya 5. Mengintegrasikan kegiatan ekonomi secara sinergis antara wilayah pertumbuhan
  • 19. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 7 dengan wilayah perdesaan menjadi suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang mampu menarik gerak keruangan penduduk yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau 6. Membangun potensi dan sinergi aktor kependudukan, baik pada level individu, keluarga maupun masyarakat untuk meningkatkan kualitas penduduk yang mendukung pembangunan berkelanjutan 7. Membangun keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender serta mampu merencanakan sumber daya keluarga dan jumlah anak yang ideal 8. Mewujudkan migrasi tenaga kerja internal dan internasional secara terarah, tertib, teratur, dan terlindungi 9. Membuka peningkatan partisipasi masyarakat dan transparansi kebijakan dalam membangun tata kelola kependudukan yang berpusat pada manusia, termasuk membangun sistem informasi dan data kependudukan yang transparan dan akuntabel 10. Membangun kesadaran, sikap, dan kebijakan bagi kesamaan hak dan kewajiban antarkelompok, termasuk kesadaran gender bagi terciptanya kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan Sementara itu, arah kebijakan dari GDPK dapat dirumuskan adalah: 1.5. Arah Kebijakan: 1. Pembangunan kependudukan yang menggunakan pendekatan hak asasi sebagai prinsip utama 2. Pembangunan kependudukan yang mengakomodasi partisipasi semua pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat, daerah maupun masyarakat 3. Pembangunan kependudukan yang mendasarkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan, yaitu penduduk sebagai pelaku (subjek) maupun penikmat (objek) pembangunan 4. Pembangunan kependudukan yang mampu menjadi bagian dari usaha untuk mencapai pembangunan berkelanjutan 5. Pembangunan kependudukan yang mampu menyediakan data dan informasi kependudukan yang valid dan dapat dipercaya Arah kebijakan ini seterusnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan GDPK sebagai berikut: 1.6. Tujuan 1. Tujuan utama pembangunan kependudukan adalah tercapainya kualitas penduduk yang tinggi sehingga mampu menjadi faktor penting dalam mencapai kemajuan bangsa. Hal itu dilakukan melalui pencapaian tujuan sebagai berikut.
  • 20. 8 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 1.1 Tujuan Pembangunan Kependudukan Selama 2011-2035 Penduduk berkualitas sebagai modal pembangunan untuk mencapai Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan sejahtera Peningkatan Kualitas Penduduk Pengembangan Sistem Informasi Data Kependudukan yang berkualitas dan terintegrasi PengelolaanKuantitas penduduk PengarahanMobilitas Penduduk PembangunanKeluarga 1.7. Sasaran 1. Terwujudnya pembangunan berwawasan kependudukan yang berdasarkan pada pendekatan hak asasi untuk meningkatkan kualitas penduduk dalam rangka mencapai pembangunan berkelanjutan 2. Pencapaian windows of opportunity melalui pengelolaan kuantitas penduduk dengan cara pengendalian angka kelahiran, penurunan angka kematian, dan pengarahan mobilitas penduduk 3. Keluarga berkualitas yang memiliki ciri ketahanan sosial, ekonomi, budaya tinggi serta mampu merencanakan sumber daya keluarga secara optimal 4. Pembangunan database kependudukan melalui pengembangan sistem informasi data kependudukan yang akurat, dapat dipercaya, dan terintegrasi a. mewujudkan tercapainya tahap windows of opportunity melalui pengelolaan kuantitas penduduk yang berkaitan dengan jumlah, struktur/komposisi, pertumbuhan, dan persebaran penduduk b. mewujudkan keseimbangan sumber daya manusia dan lingkungan melalui pengarahan mobilitas penduduk serta pengelolaan urbanisasi c. mewujudkan keluarga yang berketahanan, sejahtera, sehat, maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender serta mampu merencanakan sumber daya keluarga 2. Terwujudnya data dan informasi kependudukan yang akurat (valid) dan dapat dipercaya serta terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi data kependudukan Secara konseptual, tujuan pembangunan kependudukan selama 2011-2035 dapat digambarkan sebagai berikut:
  • 21. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 9 Kondisi Kependudukan Indonesia Saat Ini 2.1. Kuantitas Penduduk Dalam banyak tulisan disebutkan bahwa salah satu masalah kependudukan klasik di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan saat ini menduduki peringkat keempat tertinggi di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Berdasarkan asumsi bahwa jumlah yang besar tanpa disertai dengan kualitas yang memadai akan menjadi “beban” pembangunan, maka kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk memperoleh justifikasinya. Pada waktu yang bersamaan, kebijakan tersebut disertai dengan usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk dalam rangka mengubah “beban” menjadi “aset” pembangunan. 2 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 9
  • 22. 10 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Grafik 2.1. Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2010 menurut Provinsi Sumber: SP 2000 dan 2010, BPS, Statistik Indonesia 2011 Kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia telah menunjukkan hasil yang ditandai dengan penurunan laju pertumbuhan penduduk. Pada periode 1971-1980 pertumbuhan penduduk Indonesia tercatat 2,32 persen kemudian menurun menjadi 1,97 persen pada periode 1980-1990. Sepuluh tahun berikutnya, 1990-2000, angka tersebut turun menjadi 1,45 persen. Akan tetapi, pada periode berikutnya ada kecenderungan pertumbuhan penduduk justru naik, yaitu menjadi 1,49 persen, dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa.
  • 23. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 11 Terlepas dari kontroversi yang ada, kecenderungan bahwa angka pertumbuhan penduduk tahun 2000-2010 tidak menurun seperti yang diharapkan merupakan alarm bagi kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dengan melihat tren yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan tahun 2000-2010 pertumbuhan penduduk mencapai 1,27 persen dengan jumlah penduduk tahun 2010 sebesar 234,2 juta jiwa. Dengan demikian, hasil Sensus Penduduk tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan. Jumlah penduduk tahun tersebut menunjukkan sekitar 3,5 juta yang lebih besar 0,4 persen daripada proyeksi atau perkiraan dan pertumbuhan penduduk selama periode 2000-2010. Gambar 2.2. Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971 dan 2010 Sumber: Hasil Sensus Penduduk BPS, Tahun 2010, www.sp2010.bps.go.id Satu hal yang perlu dicatat adalah angka pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak homogen. Terdapat disparitas angka pertumbuhan menurut provinsi dan dalam konteks kebijakan kependudukan, hal ini harus menjadi perhatian tersendiri. Sebagai ilustrasi, pada umumnya angka pertumbuhan penduduk di provinsi-provinsi di Jawa lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di luar Jawa. Namun karena jumlah penduduk sangat besar di Jawa, maka pertumbuhan penduduk yang rendah di wilayah ini akan memberikan tambahan jumlah penduduk yang besar. Sebaliknya, di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur, dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit walaupun angka
  • 24. 12 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 pertumbuhan penduduk lebih tinggi, kontribusi terhadap pertambahan jumlah penduduk secara absolut juga kecil. Dari sisi komposisi penduduk, telah terjadi perubahan yang cukup mencolok selama periode 1971-2010. Gambar 2.2 memperlihatkan bahwa tahun 1971 bentuk piramida penduduk Indonesia termasuk tipe ekspansif. Hal ini ditandai dengan bagian dasar (kelompok anak-anak) yang jauh lebih lebar dibandingkan dengan usia di atasnya. Di pihak lain bagian atas yang menunjukkan usia lansia cenderung mengecil sejalan dengan meningkatnya umur. Bentuk ini berubah secara drastis tahun 2010. Bagian bawah, yaitu pada kelompok 0-5 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan usia 10-14 tahun serta pada waktu yang bersamaan usia produktif di tengah cembung dan kelompok lansia semakin membesar. Penduduk Indonesia dapat dikategorikan sebagai penduduk menengah karena memiliki umur me- dian sebesar 27,2 tahun, yaitu pemusatan penduduk terjadi pada kelompok umur 25-29 tahun. Pada 1971, penduduk Indonesia termasuk dalam kategori penduduk muda dengan umur media sebesar 18,5 tahun. Secara keseluruhan, tahun 2010 provinsi-provinsi di Indonesia mempunyai umur media kategori “muda”, kecuali empat provinsi yang termasuk kategori “tua”, yaitu DI Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Perubahan bentuk piramida ini sekaligus menggambarkan suatu proses demografi yang telah berlangsung selama hampir 40 tahun terakhir, yaitu perubahan fertilitas, kematian. dan mobilitas penduduk. Semakin mengecilnya penduduk usia anak-anak menggambarkan penurunan angka fertilitas dan meningkatnya penduduk usia lansia merupakan implikasi dari meningkatnya usia harapan hidup yang merupakan konsekuensi dari menurunnya angka kematian. Sementara itu, secara nasional angka migrasi tidak memengaruhi struktur penduduk secara signifikan sehingga kelompok usia produktif yang meningkat merupakan konsekuensi logis dari baby boom yang terjadi di masa-masa setelah kemerdekaan. Aspek lain yang penting untuk dibahas dari sisi komposisi penduduk adalah perubahan rasio ketergantungan. Pada 1971 tercatat rasio ketergantungan di Indonesia sangat tinggi, Jumlah penduduk Indonesia sesuai dengan hasil sensus 2010 adalah 237,6 juta jiwa merupakan nomor 4 dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat; Laju pertumbuhan penduduk pada periode 1970 sampai tahun 2010 memperlihatkan bahwa selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan penduduk Indone- sia mengalami stagnasi, yaitu berkisar antara 1,4-1,5 persen per tahun; Terjadi Perubahan rasio ketergantingan dari 86,8 (1971), 79,3 (1980), 67,8 (1990), 53,8 (2000), 51,3 (2010) jika kecenderungan penurunan ini berlangsung terus, maka diharapkan Indonesia akan segera mencapai fase ketika rasio ketergantungan mencapai titik terendah, yang disebut dengan windows of opportunity.
  • 25. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 13 yaitu 86,8. Ini berarti setiap 100 penduduk produktif menanggung 86,8 penduduk tidak produktif yang terdiri dari lansia dan anak-anak. Angka tersebut turun menjadi 79,3 tahun 1980; 67,8 tahun 1990; 53,8 tahun 2000; dan 51,3 tahun 2010. Perubahan ini merupakan gambaran bahwa jumlah penduduk usia produktif semakin meningkat relatif terhadap pertambahan jumlah penduduk usia tidak produktif. Jika kecenderungan penurunan ini berlangsung terus, maka diharapkan Indonesia akan segera mencapai fase ketika rasio ketergantungan mencapai titik terendah, yang disebut dengan windows of opportunity. Sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya, seiring dengan perubahan lingkungan strategis sejak akhir tahun 1990-an, kebijakan kependudukan di Indonesia mengalami “kemunduran” yang ditandai dengan melemahnya program keluarga berencana (KB). Salah satu indikator melemahnya program KB dapat dilihat dari pencapaian angka peserta KB (CPR) yang stagnan. Berdasarkan data dua SDKI terakhir (tahun 2002 dan 2007), CPR relatif tidak berubah, yaitu sekitar 60 persen dan angka fertilitas total (TFR) sebesar 2,4 anak per perempuan. Di sisi lain angka kebutuhan kontrasepsi tidak terpenuhi (unmet need) KB justru meningkat dari 8,6 persen (2002) menjadi 9,1 persen (2007). Seperti halnya angka pertumbuhan penduduk, terdapat disparitas pencapaian program KB antarprovinsi. Disparitas pencapaian program ini sangat besar yang, antara lain, dapat ditunjukkan dari range peserta KB yang berkisar dari 40 persen (Maluku) sampai dengan 74 persen (Bengkulu). Angka prevalensi tersebut masih didominasi oleh pemakaian jenis kontrasepsi jangka pendek (67 persen). Hal ini diperburuk dengan persoalan yang lain, yaitu tingginya kebutuhan kontrasepsi tidak terpenuhi KB (unmet demand). Seperti halnya CPR, kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi juga memiliki kesenjangan yang cukup lebar antara provinsi yang satu dengan yang lain, yaitu antara 3,2 persen (Babel) sampai dengan 22,4 persen (Maluku) (lihat SDKI 2007). Dalam waktu yang bersamaan disparitas juga terjadi untuk angka fertilitas total. Agka fertilitas total antarprovinsi tercatat memiliki gap yang cukup besar, yaitu dari 1,8 per perempuan (DIY) sampai dengan 4,2 (NTT). Disahkannya Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga merupakan dasar untuk melakukan revitalisasi kebijakan kependudukan di Indonesia. Dari sisi kelembagaan, UU tersebut memberikan kesempatan yang besar untuk mengelola kebijakan kependudukan secara memadai dengan mengubah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, UU No. 52 Tahun 2009 mengamanatkan terbentuknya BKKBD (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah) di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Namun sampai dengan akhir tahun 2012 hanya beberapa kabupaten/ kota yang telah membentuk BKKBD dan belum ada satu pun provinsi yang
  • 26. 14 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 membentuknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara nasional masalah kependudukan di Indonesia dari aspek pengendalian kuantitas adalah adanya kecenderungan stagnasi kinerja pembangunan kependudukan. Disamping itu, indikator kuantitas penduduk semuanya memperlihatkan adanya disparitas antar provinsi (bahkan juga antar kabupaten/kota). Hal ini tampaknya bersumber dari belum maksimalnya kebijakan pengendalian pertumbuhan dan jumlah penduduk. 2.2 Kualitas Penduduk 2.2.1 Pendidikan a. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk, terutama usia muda yang masih sekolah. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan, seperti pertumbuhan jumlah murid, lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Dengan demikian, naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Pada 2009, Indonesia menargetkan Angka Partisipasi Kasar (Gross Enrollment Rate) di Sekolah Dasar (SD) sebesar 100 persen dan 96 persen pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Granado, et.al., 2007). Jika dilihat dalam Tabel 2.1, tampak bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan, baik dalam Angka Partisipasi Murni (APM) maupun Angka Partisipasi Kasar (APK) di tingkat SD dan SMP. Masih menurut Granado, sejak tahun 1970, enrollment rates di Indonesia meningkat secara signifikan sebagai dampak Angka partisipasi sekolah usia 19-24 di wilayah perdesaan masih jauh dari harapan, yaitu berkisar 5,94 persen. Terdapat kesenjangan yang cukup besar Angka Melek Huruf antara laki-laki (94,79 persen) dengan perempuan (89,97 persen). Kesenjangan Angka Melek Huruf juga terjadi antara perkotaan (96,32 persen) dan perdesaan (88,33 persen). Sesuai data Riskesdas 2010, prevalensi gizi kurang dan anak pendek (stunting) yaitu masing-masing 17,9 persen dan 35,6 persen. Dimana Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah anak pendek terbanyak setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan. Data yang dirilis oleh UNDP 2011 menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup orang Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun yaitu 57,6 (1980); 65,7 (2000); 69,4 (2011).
  • 27. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 15 Tabel 2.1 Angka Partisipasi Sekolah Kasar dan Murni menurut Pendidikan 2000–2008 Sumber: BPS, SUSENAS. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMA, tampak bahwa APM mengalami peningkatan dari tahun 1994, yakni 33,22 persen, meningkat menjadi 39,33 persen tahun 2000 dan 43,50 persen tahun 2005 serta tahun 2010 menjadi 45,48 persen. APM untuk perguruan tinggi juga mengalami peningkatan dari 7,92 persen tahun 1994 menjadi 7,95 persen tahun 2000, kemudian 8,71 persen tahun 2005, dan terakhir tahun 2010 meningkat pesat menjadi 11,01 persen. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan APM tertinggi tercatat di tingkat SMP dan SMA. Sementara itu, untuk tingkat SD, karena telah mencapai angka yang tinggi (hampir 100 persen), maka peningkatannya paling lambat. Tabel 2.2 lebih jelas menunjukkan adanya ketidakmerataan angka partisipasi sekolah di Indonesia. Wilayah perkotaan dalam segala kelompok umur umumnya memiliki tingkat partisipasi sekolah lebih tinggi, baik jika dilihat dari jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Perbedaan paling mencolok adalah pada kelompok usia 16-18 yang umumnya menduduki Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada pendidikan ini, perbedaan dapat mencapai sekitar 20 persen. dari pembangunan sekolah di seluruh wilayah negeri. Peningkatan ini cukup menggembirakan: APM SD tahun 1975 adalah sebesar 72 persen yang meningkat secara menyeluruh. Pada 2008 APM SD telah mencapai 93,96 persen. Untuk SMP, peningkatannya lebih mencengangkan karena sejak tahun 1970 yang angkanya masih berkisar 18 persen, tahun 2008 telah mencapai 66,98 persen.
  • 28. 16 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah perdesaan lebih banyak anak tidak melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi karena cukup sulit mengakses SMA di wilayah perdesaan. Pada umumnya SMA hanya terdapat di ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten sehingga biaya sekolah untuk transportasi dan asrama meningkat bagi siswa dari perdesaan yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Sementara itu, untuk partisipasi sekolah pada penduduk usia 19-24, perbedaan antara perdesaan dan perkotaan juga cukup tinggi. Angka partisipasi sekolah untuk usia ini di wilayah perdesaan masih jauh dari harapan, yaitu berkisar 5,94 persen. Gap antara perdesaan dan perkotaan untuk kelompok umur ini adalah berkisar 11,76 persen. Peningkatan yang cukup menggembirakan terhadap angka partisipasi murni (net enroll- ment) pada level nasional hingga mencapai 90 persen ternyata tidak terjadi secara merata. Menurut data Susenas tahun 2005, net enrollment rate terendah untuk SD adalah Papua sebesar 80 persen dan tertinggi adalah Kalimantan Tengah sebesar 95 persen. Untuk SMP, Provinsi Papua masih juga masuk dalam kategori terendah sekitar 41 persen, sedangkan tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tabel 2.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Umur, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2006 Sumber: Susenas, 2006
  • 29. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 17 b. Angka Melek Huruf Menurut United Nation Development Program tahun 2005, angka melek huruf di Indonesia menduduki urutan ke-95, yaitu sebesar 87,9 persen. Menurut data BPS tahun 2007, anak usia 10-14 tahun yang mampu membaca dan menulis huruf latin sebesar 98,2 persen, tidak banyak perbedaan yang besar antara perkotaan dan perdesaan (98,8 persen dan 97,7 persen). Sementara itu, berdasarkan data Susenas, dari tahun 2000 hingga tahun 2008, jumlah penduduk yang melek huruf mengalami peningkatan dan rasio perempuan yang melek huruf lebih rendah daripada laki-laki, seperti yang tampak pada Gambar 2.3. Gambar 2.3. Melek Huruf Dewasa di Indonesia Sumber: BPS, 2000-2008. Data terakhir menurut Sensus Penduduk 2010 menunjukkan angka melek huruf di Indonesia tercatat 92,37 persen. Terdapat kesenjangan yang cukup besar antara laki- laki (94,79 persen) dengan perempuan (89,97 persen). Pada waktu yang bersamaan kesenjangan juga masih muncul antara perkotaan (96,32 persen) dan perdesaan (88,33 persen). Kesenjangan antarprovinsi ditunjukkan dengan tingginya angka melek huruf di DKI Jakarta (90,09 persen) dan rendahnya angka melek huruf di Papua (63,85 persen). 2.2.2. Kesehatan a. Angka Kematian Ada kemajuan yang konsisten pada indikator kesehatan, terutama angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (U5MR), dan rasio kematian ibu (AKI). Untuk semua indikator tersebut, telah terjadi penurunan secara signifikan meskipun masih di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kematian ibu menurun dari 390 per 100.000 kelahiran hidup tahun 1991 menjadi 307 per 100.000 KH tahun 2002 dan 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007. Angka kematian bayi juga menurun, dari 68 per
  • 30. 18 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1000 KH tahun 1991 menjadi 35 per 1000 KH tahun 2002. Namun terjadi perlambatan penurunan AKB, tahun 2007 AKB hanya turun 1 point menjadi 34 per 1000 KH.Sementara itu, prevalensi gizi buruk menurun dari 25,8 persen tahun 2003 menjadi 18,4 persen tahun 2007 (lihat Gambar 2.4). Penurunan ini memang membuktikan dampak positif dari upaya pembangunan, khususnya kesehatan anak. Akan tetapi, jika dilihat pada besarnya penurunan, ada indikasi perlambatan penurunan pada era setelah desentralisasi. Pengurangan besarnya penurunan terlihat dari tingkat penurunan tahunan (ARR). Sebagai contoh, ARR untuk AKB, dan U5MR, angkanya telah turun dari tiga persen pada periode sebelum desentralisasi menjadi satu persen setelah desentralisasi. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu pencapaian target MDGs. Sementara itu, angka kematian neonatal telah berkurang dari 32 per 1000 per KH tahun 1991 menjadi 19 per 1000 KH tahun 2007. Proporsi kematian neonatal jika dibandingkan dengan kematian bayi cukup tinggi yaitu 47% tahun 1991 dan terjadi peningkatan menjadi 57% tahun 2002. Namun tahun 2007, proporsi kematian neonatal turun menjadi 56% dari seluruh kematian bayi. Masih tingginya kematian kematian neonatal mencerminkan dua faktor kunci: masih tingginya persalinan di rumah dan belum optimalnya penerapan intervensi neonatal yang efektif dan tepat waktu. Gambar 2.4. Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu 1991-2007 Sumber: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002/2003, 2007
  • 31. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 19 Selain isu perlambatan penurunan dan peningkatan proporsi, ada juga isu kesenjangan pencapaian antar daerah (lihat Gambar 2.5). Kesenjangan terjadi antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta di antara berbagai status sosial ekonomi. Misalnya, angka kematian di bawah usia 5 tahun yang berkisar 22 di DI Yogyakarta dibandingkan dengan 96 di Sulawesi Barat. Angka kematian di bawah usia 5 tahun juga jauh lebih tinggi bagi anak- anak yang tinggal di daerah perdesaan (60 kematian per 1.000 kelahiran hidup) dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan (38 kematian per 1.000 kelahiran hidup). Data lainnya memperlihatkan bahwa secara nasional 46 persen kelahiran berlangsung di fasilitas kesehatan. Pada tingkat subnasional, terdapat variasi yang sangat tajam antardaerah dalam penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan, yaitu berkisar dari 91 persen di Bali sampi 8 persen di Sulawesi Selatan. Perbedaan yang sama juga terjadi antar kelompok sosial ekonomi. Jika 83 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi melahirkan di fasilitas kesehatan, maka angka tersebut jauh lebih rendah, yaitu hanya 14 persen bagi perempuan dalam kuintil terendah. Sementara itu, persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi saat melahirkan mendapat bantuan dan hanya 65 persen dari mereka dalam kuintil terendah yang mendapat bantuan. Gambar 2.5. Angka Kematian Bayi di Indonesia Sumber: SDKI, 2007
  • 32. 20 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.6. Disparitas Indeks Kematian Bayi dan Kematian Balita di Indonesia, 1991-2007 Sumber: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002/3, 2007 Berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan, maka pola yang sama juga muncul. Hal itu ditunjukkan oleh fakta yang memperlihatkan 83 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi dan hanya 14 persen perempuan dalam kuintil terendah, yang memanfaatkan fasilitas kesehatan. Sementara 34 persen perempuan dalam kuintil kekayaan tertinggi dibantu oleh dokter kandungan/ginekolog (OB/Gyn), hanya satu persen dari mereka dalam kuintil termiskin yang dibantu oleh OB/Gyn. Jika ditarik indeks kesenjangan dari dua indikator utama kesehatan anak serta tingkat kematian bayi dan balita, yaitu angka kematian jelas, tampak bahwa kesenjangan meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. b. Angka Gizi Buruk Kondisi kesehatan lain yang memengaruhi kualitas penduduk adalah masih tingginya angka gizi kurang dan gizi buruk, serta anak pendek karena ketidaksesuaian antara tinggi badan dengan usia standar (stunting) pada balita. Pada 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek masing-masing 18,4 persen (dengan kasus gizi buruk sebesar 5,4 persen) dan 36,8 persen sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90 persen kontribusi masalah gizi dunia (UN-SC on Nutrition 2008). Walaupun tahun 2010 prevalensi gizi kurang dan pendek menurun menjadi masing- masing 17,9 persen dan 35,6 persen, masih terjadi disparitas antarprovinsi yang perlu mendapat penanganan karena sifatnya yang spesifik di wilayah rawan pangan (Riskesdas, 2010). Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah anak pendek terbanyak
  • 33. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 21 setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan. Tinggi standar anak berusia 5 tahun adalah 110 cm. Namun tinggi rata-rata anak Indonesia umur lima tahun tahun 2010 diketahui lebih pendek 6,7 cm untuk anak laki-laki dan lebih pendek 7,3 cm pada anak perempuan. Gambar 2.7. Tren Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk IndonesiaTahun 1989 – 2010 Sumber: UN-SC on Nutrition, 2008 Penyebab anak-anak bertubuh pendek adalah karena kurang gizi kronis sejak dalam kandungan. Parahnya kekurangan gizi ini banyak dipengaruhi oleh faktor kemiskinan dan kekurangtahuan orang tua sehingga anak dan ibu hamil tidak mendapat asupan gizi sesuai kebutuhan. Kurang gizi pada ibu hamil menyebabkan 11,1 persen bayi telah lahir dengan berat badan rendah, yaitu kurang dari 2.500 gram. Masalah gizi sangat terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas pangan penduduk. Berdasarkan data BPS, tahun 2009 jumlah penduduk sangat rawan pangan (asupan kalori <1.400 Kkal/orang/hari) mencapai 14,47 persen. Angka ini, telah meningkat dibandingkan dengan kondisi tahun 2008, yaitu 11,07 persen. Rendahnya aksesibilitas pangan (kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan bagi anggota keluarganya) mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya ini akan berdampak pada semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan, yaitu ibu, bayi, dan anak.
  • 34. 22 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 c. Angka Harapan Hidup Data yang dirilis oleh UNDP 2011 (lihat Gambar 2.8) menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup penduduk Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika tahun 1980 usia harapan hidup Indonesia masih 57,6, maka tahun 2000 mengalami peningkatan menjadi 65,7. Pada 2011 rata-rata harapan hidup orang Indonesia menjadi 69,4 yang berarti sedikit di bawah rata-rata dunia, yaitu 69,8 tahun, tetapi jauh di bawah Norwegia (peringkat pertama dalam HDR 2011), yaitu 81,1 tahun. Gambar 2.8. Angka Harapan Hidup Indonesia 1980–2011 Sumber: UNDP, 2011 Angka harapan hidup Indonesia telah naik sebanyak 11,8 tahun sepanjang 1980-2011 (lihat Tabel 2.3). Viet Nam tahun 1980 memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia, tetapi tampak bahwa keadaan di Indonesia tahun 2011 jauh tertinggal dibandingkan dengan angka harapan hidup Viet Nam yang mencapai 75,2 tahun. Hal ini berarti bahwa di bidang kesehatan, pencapaian pembangunan Indo- nesia masih belum sebaik Viet Nam. Angka Harapan Hidup ini mencerminkan kondisi kesehatan seseorang dilihat dari asupan gizi, terhindar dari penyakit infeksi dengan imunisasi lengkap, cara hidup yang bersih dan sehat, kualitas pelayanan kesehatan yang baik, serta sehat mental dan perilaku. Seperti halnya dengan indikator lainnya, terdapat kesenjangan angka harapan hidup antarprovinsi. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa angka harapan hidup tertinggi tercatat di DKI Jakarta (74,7 tahun) dan terendah di Gorontalo (63,2 tahun). Masih terdapat sembilan provinsi yang memiliki angka harapan hidup di bawah rata- rata nasional.
  • 35. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 23 Tabel 2.3. Angka Harapan Hidup Beberapa Negara di ASEAN, 1980-2011 Sumber: www.undp/org d. Air dan Sanitasi Pada 1992, hanya 14,7 persen rumah tangga Indonesia memiliki akses terhadap air minum perpipaan, tetapi tahun 2000 jumlah ini telah meningkat menjadi 19,2 persen. Namun angka tersebut turun 14,6 persen tahun 2009. Sementara itu, jumlah rumah tangga dengan akses nonpipa pelayanan air minum, seperti sumur dan sumber air yang dilindungi, terus meningkat dari 38,2 persen tahun 1994 menjadi 43,4 persen tahun 2000 dan selanjutnya meningkat menjadi 54,1 persen tahun 2009. Dengan demikian, jumlah orang yang memiliki akses ke air minum yang aman (pipa air minum dan dilindungi nonpipa air minum) terus meningkat dari 54,4 persen tahun 1994 menjadi 68,7 persen tahun 2009. Dari data 1994 yang mencapai 54,4 persen, target MDGs telah meningkat menjadi 77,2 persen tahun 2009. Data inilah yang digunakan sebagai pengganti data lainnya. Secara umum, upaya untuk mencapai target MDGs telah berada dalam jalur yang benar. Gambar 2.9 Persentase Rumah Tangga yang Mendapatkan Air Bersih di Indonesia 2000-2008 Sumber: Susenas 2000-2008
  • 36. 24 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.9 memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih selama periode 2001-2008. Namun tampak dengan jelas bahwa di awal tahun 2000-an kondisinya masih belum stabil yang terlihat dari kecenderungan penurunan selama periode 2000-2003. Kondisi membaik setelah tahun 2003 ditunjukkan oleh peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih secara konsisten. Sehubungan dengan fasilitas sanitasi dasar, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (yang harus memenuhi kriteria menjadi keluarga dengan jamban berventilasi dan septic tank) terus meningkat antara tahun 1995 dan 2009. Angkanya mencapai 18,2 persen tahun 1995 dan meningkat menjadi 42,5 persen tahun 2009. Gambar 2.10 memperlihatkan bahwa selama periode 2000-2008 jumlah rumah tangga dengan sanitasi yang layak meningkat secara signifikan dari 33,44 persen menjadi hampir separuh (49,54 persen). Dalam waktu yang bersamaan indeks disparitas mengalami penurunan dari 0,33 tahun 2000 menjadi 0,22 tahun 2008. Hal ini sekaligus menggambarkan perbaikan sanitasi rumah tangga, tetapi perlu juga dicatat bahwa masih terdapat 50 persen rumah tangga yang belum memiliki sanitasi yang layak. Gambar 2.10. Persentase Rumah Tangga yang Mengakses Jamban dan Septic Tank di Indonesia 2000-2008 Sumber: Susenas 2000-2008
  • 37. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 25 2.2.3. Pendapatan per Kapita Data pada Gambar 2.11 menunjukkan bahwa GNI per kapita Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2000. Hal yang sama pula terjadi dengan kelompok negara lain di wilayah Asia Pasifik dan negara kelompok berpendapatan rendah. Dibandingkan dengan beberapa negara berkembang di Asia Pasifik, peningkatan yang dialami Indonesia relatif lebih lambat, tetapi tetap berada di atas negara berpendapatan menengah rendah. Pendapatan per kapita yang meningkat ternyata belum diimbangi dengan pemerataan. Hal ini ditandai dengan indeks gini dari 0,31 (2000) meningkat menjadi 0,41 tahun 2011. Di pihak lain, peningkatan pendapatan per kapita tersebut juga masih menyisakan persoalan lain yang cukup serius, yaitu jumlah penduduk miskin yang masih sangat besar. Gambar 2.11. Pendapatan per Kapita di Indonesia 1980-2011 (Metode Atlas, US$) Sumber: diolah dari data Bank Dunia, 2011 Gambar 2.12. Perkembangan Jumlah dan Angka Kemiskinan di Indonesia, 2004-2011 Sumber: BPS, 2011
  • 38. 26 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Indonesia mengalami fase terburuk selama Orde baru ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1998. Hal itu ditandai dengan angka kemiskinan yang mencapai 24,2 persen yang meningkat dari 15,1 persen tahun 1990. Pada 2011, angka kemiskinan menurun menjadi 12,4 persen. Gambar 2.12 memperlihatkan bahwa pada periode 2004-2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin dan juga angka kemiskinan. Pada periode setelahnya jumlah penduduk miskin dan angka kemiskinan secara konsisten mengalami penudukan. Meskipun angka kemiskinan menurun, secara absolut jumlah penduduk miskin sangat besar, yaitu lebih dari 30 juta orang. Hal ini menjadi isu penting dalam program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Tabel 2.4 memperlihatkan bahwa terdapat kesenjangan antarpulau. Sebagai konsekuensi dari jumlah penduduk yang terkonsentrasi di Jawa, maka jumlah penduduk miskin terbesar terdapat di Jawa kemudian disusul oleh Sumatera. Akan tetapi, jika dibandingkan angka kemiskinan antarpulau, terlihat adanya pola yang berbeda. Jawa, Sumatera, dan Sulawesi adalah pulau dengan angka kemiskinan yang hampir sama, yaitu sekitar 12 persen. Kalimantan adalah pulau dengan angka kemiskinan terendah dan Maluku bersama dengan Papua adalah pulau dengan angka kemiskinan tertinggi. Tabel 2.4. Jumlah Penduduk Miskin dan Angka Kemiskinan Tahun 2011 Sumber: BPS, 2011 Indonesia juga berhasil menurunkan jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 per hari (PPP). Pada 1990 tercatat jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 per hari adalah 20,6 persen dan turun menjadi 5,9 persen tahun 2008. Sementara itu, jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 2 per hari menurun dari 56,1 persen tahun 2007 menjadi 46,1 persen tahun 2010. Terlepas dari penurunan ini, jumlah absolut penduduk yang berpenghasilan kurang dari USD 1 maupun USD 2 masih sangat besar.
  • 39. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 27 Berdasarkan kriteria garis kemiskinan yang digunakan jumlah penduduk miskin sangat besar dan akan lebih besar lagi jumlahnya jika menggunakan pendekatan human capabil- ity. Banyak penduduk tidak mampu mengakses kebutuhan dan layanan dasar untuk hidup layak. Melalui 12 program penanganan kemiskinan dengan dana yang amat besar dari Rp18 trilliun (2000) yang meningkat menjadi Rp64,6 trilliun (2010), tetap saja penurunan jumlah penduduk miskin relatif lambat dibandingkan dengan peningkatan jumlah anggaran untuk penanganan kemiskinan. 2.2.4. Indeks Pembangunan Manusia Dengan memerhatikan sejumlah indikator pembangunan kualitas manusia sebagaimana telah dijelaskan di atas, implikasinya adalah pada nilai IPM Indonesia secara umum. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menurut data UNDP tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-108 dari 169 negara. Peringkat 108 tersebut adalah termasuk kategori medium. Peringkat ini memang belum memuaskan karena masih cukup banyak indikator pembangunan manusia yang belum mencapai hasil sebagaimana diharapkan jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, khususnya negara tetangga ASEAN. Dibandingkan dengan negara ASEAN, Indonesia berada pada urutan keenam dari 10 negara. Peringkat tersebut mengalami penurunan tahun 2011, tetapi masih masuk dalam kategori medium human development dan menduduki peringkat 124 dari 187 negara dengan nilai HDI sebesar 0,617. Nilai setiap indikator dalam HDI tersebut terdiri dari angka harapan hidup saat lahir 69,4 tahun, Adult years of schooling 5,8 tahun dan expected years of schooling 13,2 tahun; dan GNI per kapita PPP sebesar $ 3.716. Posisi Indonesia tahun 2011 ini jauh di bawah sesama negara ASEAN: Singapura (26), Brunei Darussalam (33), Malay- sia (61), Thailand (103), dan Filipina (112); serta China (101). Akan tetapi, posisi Indonessia masih lebih tinggi dibandingkan dengan Viet Nam (128), India (134), dan Timor Leste (147) . Kendati peringkat menurun, tren angka indeks sesungguhnya mengalami peningkatan secara absolut. Grafik di bawah menunjukkan bahwa IPM Indonesia tahun 1980 sebesar 0,423. Rata-rata pertumbuhan nilai HDI sebesar 1,23 persen per tahun (1980-2011). Namun khusus rata-rata pertumbuhan HDI antara periode 2000-2011 adalah sebesar 1,17 persen per tahun. Dengan demikian, selama periode 2000-2011 nilai HDI mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
  • 40. 28 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 2.5 Nilai IPM Beberapa Negara ASEAN1990-2011 Sumber: www.undp.org 2.2.5 Kondisi Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) Kondisi pencapaian pembangunan gender di Indonesia dari waktu ke waktu memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik seperti terlihat pada Grafik 2.2. Tahun 2004 IPG secara nasional sebesar 63,94, kemudian naik menjadi 65,81 tahun 2007 dan bergerak naik lagi secara perlahan hingga menjadi 67,20 tahun 2010. Meskipun meningkat tetapi hasil yang dicapai upaya pembangunan kualitas hidup masih menguntungkan penduduk laki-laki seperti tampak pada indikator komposit yang digunakan untuk menilai kesenjangan gender, yaitu IPG menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding IPM, yaitu selama kurun waktu 2004-2010 secara nasional IPG selalu Grafik 2.2. Perkembangan IPG Periode 2004-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  • 41. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 29 menunjukkan posisi lebih rendah dibandingkan IPM dengan rasio perbandingan antara IPG terhadap IPM pada kisaran 93 persen. Artinya, meskipun IPG selalu meningkat selama periode 2004-2010, tetap kesenjangan gender masih terjadi. Komponen IPG yang mempunyai kontribusi terhadap kenaikan IPG adalah sumber pendapatan, angka harapan hidup, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah seperti dalam grafik berikut. Grafik 2.3. Perkembangan Komponen IPG, 2009-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011. Meskipun pertumbuhan komponen IPG relatif lambat namun upaya peningkatan perlu terus dilakukan untuk itu diperlukan program peningkatan kapasitas dasar yang mencakup berbagai pelayanan dasar kesehatan, maupun pendidikan, termasuk kemudian akses ekonomi yang diberikan pemerintah kepada semua penduduk, termasuk juga bidang- bidang sosial lainnya agar kualitas sumberdaya perempuan semakin membaik dan pada gilirannya kualitas hidup manusia Indonesia akan meningkat. Pertumbuhan yang lain yang perlu diperhatikan dalam melihat KKG adalah IDG. IDG dibentuk berdasarkan tiga komponen, yaitu keterwakilan perempuan dalam parlemen, perempuan sebagai tenaga profesional, teknisi, kepemimpinan dan ketatalaksanaan, dan sumbangan pendapatan.
  • 42. 30 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tampak bahwa peranan perempuan dalam pengambilan keputusan tahun 2004 baru mencapai sebesar 59,70 persen dari peranan yang dijalankan laki-laki, kemudian meningkat menjadi 68,15 persen tahun 2010. Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011 Peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di Indonesia yang diukur melalui IDG memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik namun persamaan dalam peranan bagi perempuan lebih bermakna pemberdayaan perempuan yang mengandung upaya peningkatan kapabilitas perempuan untuk berperan serta dalam berbagai bentuk pengambilan keputusan serta memiliki kesempatan dalam kegiatan ekonomi secara strategis. Berikut ini adalah kondisi terkini dari komponen IDG yang menunjukkan kondisi yang menunjukkan peranan perempuan dalam pengambilan keputusan. Grafik 2.4. Perkembangan IDG Tahun 2004-2010 Tabel 2.6. Perkembangan Jumlah Anggota DPR RI, 1955-2009 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  • 43. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 31 Grafik 2.5. Penduduk 15 ke Atas Bekerja Sebagai Tenaga Profesional Kepemimpinan, Administrasi, Teknisi, 2009-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011 Grafik 2.6. Persentase PNS Perempuan, 2007-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011. Grafik 2.7. Persentase PNS yang Menduduki Jabatan Struktural, 2007-2010 Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak, 2011.
  • 44. 32 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 2.3. Pembangunan Keluarga Sebagian besar dari 62,3 juta keluarga Indonesia masih belum mampu menjalankan peran dan fungsi keluarga secara optimal, baik fungsi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Fungsi ekonomi diharapkan dapat mendorong keluarga agar dapat membina kualitas kehidupan ekonomi keluarga, sekaligus dapat bersikap realistis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga. Fungsi pendidikan, bukan hanya berhubungan dengan kecerdasan, melainkan juga termasuk pendidikan emosional dan juga pendidikan spiritualnya. Fungsi kesehatan berintikan bahwa setiap keluarga dapat menerapkan cara hidup sehat dan mengerti tentang kesehatan reproduksinya. Termasuk di dalamnya adalah pemahaman tentang alat kontrasepsi maupun pengetahuan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi para remaja. Tidak berfungsinya sistem keluarga secara baik terutama disebabkan oleh masih banyak keluarga In- donesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, kurang sejahtera, dan kurang berketahanan sosial. Hal ini dapat dilihat dari data berikut ini. a. Hasil pendataan keluarga tahun 2010 menemukan masih terdapat Keluarga Sejahtera I dan prasejahtera atau keluarga miskin sebesar 44,8 persen. b. Data penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Pusdatin 2009 menunjukkan fakir miskin (2,9 juta), keluarga miskin (6,9 juta), keluarga hampir miskin/rentan (7,6 juta) RTLH ( 5,9 juta), anak terlantar (3,2 juta), anak jalanan (83,776), WTS (97,403). Tabel 2.7 menunjukkan karakteristik Kepala Keluarga (KK) menurut mata pencaharian tahun 2008. Uniknya adalah KK miskin di perkotaan cukup banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian (30,02 persen) dan sebanyak 14.71 persen tidak bekerja. Untuk mereka yang tinggal di pedesaan, masih menggantungkan hidupnya pada pertanian (68,99 persen). Untuk kelompok rumah tangga tidak miskin di perkotaan, lebayankan KK banyak bekerja (12,19 persen), tetapi 15.38 persen banyak yang tidak bekerja. Sebaliknya rumah tangga tidak miskin di perdesaan dominan masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian 55,2 persen dan 7,91 persen yang tidak bekerja. Hasil pendataan keluarga tahun 2010 menemukan masih terdapat Keluarga Sejahtera I dan prasejahtera atau keluarga miskin sebesar 44,8%, Sesuai dengan data penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Pusdatin 2009 menunjukkan fakir miskin (2,9 juta), keluarga miskin (6,9 juta), keluarga hampir miskin/rentan (7,6 juta) dan RTLH ( 5,9 juta). Angka ini tergolong tinggi dan perlu usaha untuk pemberdayaan ekonomi keluarga untuk memperbaiki kondisi tersebut. Kepala Keluarga miskin di perkotaan cukup banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian (30,02 persen) dan sebanyak 14.71 persen tidak bekerja, di pedesaan, masih menggantungkan hidupnya pada pertanian (68.99 persen).
  • 45. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 33 Tabel 2.7. Karakteristik Kepala Keluarga menurut Mata Pencaharian, 2008 Sumber: Badan Pusat Statistik Dampak dari tidak berfungsinya keluarga secara optimal adalah munculnya beberapa permasalahan dari sisi internal maupun eksternal keluarga. Dari sisi internal keluarga, beberapa dampak yang teridentifikasi adalah sebagai berikut. 1. Penyikapan terhadap pola berkeluarga Sebagian keluarga belum memahami pola keluarga yang ideal sehingga ketidakpahaman ini menghambat implementasi pola keluarga ideal. 2. Pemenuhan hak dasar keluarga Pemenuhan hak dasar keluarga, seperti partisipasi dalam pendidikan serta akses terhadap pelayanan kesehatan, perumahan, dan sosial, belum sepenuhnya tercapai. 3. Berkaitan dengan ketahanan keluarga • Rendahnya tingkat partisipasi keluarga terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial • Adanya konflik antarkelompok di beberapa daerah • Rendahnya partisipasi keluarga untuk terlibat dalam kegiatan organisasi di masyarakat • Rendahnya kemampuan keluarga dalam memelihara kearifan lokal dan dalam mengelola sumber daya Dampak eksternal keluarga yang dapat dicatat adalah sebagai berikut. 1. Daya dukung lingkungan Pertambahan penduduk yang tidak terkendali menyebabkan daya dukung lingkungan berkurang, seperti beralih fungsinya lahan produktif (sawah dan perkebunan) untuk permukiman dan makin berkurangnya ketersediaan air bersih. Penduduk yang bertambah mengakibatkan mobilitas yang tinggi dan meningkatkan jumlah alat transportasi. Hal ini menyebabkan pencemaran udara yang akan berpengaruh pada gangguan kesehatan. Pertambahan penduduk meningkatkan jumlah limbah rumah
  • 46. 34 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 tangga/industri dan sampah sehingga meningkatkan pencemaran lingkungan yang akan menyebabkan gangguan kesehatan. 2. Penyikapan terhadap program yang prokeluarga. Kebijakan dan program pendukung kesejahteraan keluarga yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat belum terintegrasi dan terkoordinasi. 2.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk MasalahkependudukanklasikdiIndonesia,selainjumlah penduduk yang besar, adalah persebaran penduduk yang tidakmerata,baikantarpulau,provinsimaupunantardesa dan kota. Kesenjangan pembangunan antarwilayah merupaan salah satu penyebab terjadinya permasalahan persebaran penduduk. Kesenjangan tersebut akan memengaruhi pola, arah, dan tren mobilitas penduduk. Kecenderungannya adalah arus mobilitas penduduk berasal dari daerah yang belum maju menuju ke daerah yang lebih maju. Di pihak lain, mobilitas penduduk semakin meningkat seiring dengan peningkatan sarana dan prasarana transportasi, komunikasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa faktor tersebut turut menjadi penentu arah, arus, dan volume mobilitas penduduk dari daerah-daerah padat penduduk, seperti Jawa, Bali, dan NTB, ke beberapa wilayah perkembangan ekonomi baru, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Kawasan Timur In- donesia. Hal ini seiring dengan peningkatan secara signifikan perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Namun perlu dicermati pula adanya arus balik mobilitas penduduk dari wilayah-wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia timur ke Jawa, khususnya kaum terpelajar dan kaya dari beberapa daerah tersebut. Di samping itu, ada pula penurunan jumlah migrasi atau mobilitas penduduk kelas menengah ke bawah dari Jawa ke luar Jawa akibat kebijakan-kebijakan dan kondisi daerah tujuan yang kurang kondusif. Data menunjukkan bahwa tahun 1970, sekitar 65 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Hasil Sensus Penduduk tahun 1980 menunjukkan 62 persen penduduk yang ada masih berkonsentrasi di Pulau Jawa dan untuk periode dua sensus selanjutnya (1990 dan 2000) masih sekitar 60 persen penduduk tinggal di Pulau Jawa. Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan sedikit penurunan, yaitu Pulau Jawa masih dihuni oleh Pulau Jawa yang luasnya 6,8% dihuni oleh 57,5% penduduk, sementara 5 Pulau lain (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua) yang luasnya 89,5% dihuni oleh 37% penduduk. Dalam konteks ini persebaran penduduk menjadi hal penting dalam rangka mendukung keberhasilan MP3EI, terutama dikaitkan dengan kualitas penduduk. Ketidakseimbangan pembangunan antara desa dan kota, sebagai akibat dari urban bias policy, telah menyebabkan terjadinya migrasi dari desa ke kota yang mengakibatkan tingkat urbanisasi meningkat dengan cepat.
  • 47. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 35 Gambar 2.13. Profil Persebaran Penduduk Tahun 1930 – 2010 Sumber: BPS, 2011 Keterangan: Untuk persebaran penduduk Indonesia dari tahun 1930 – 2010, penduduk di Pulau Jawa mengalami penurunan walaupun tidak terlalu signifikan (dari 69 persen menjadi 58 persen). Sementara itu, penduduk yang berdomisili di luar Pulau Jawa mengalami kenaikan dari 39 persen menjadi 42 persen. Gambar 1.14 dan 1.15 menunjukkan ketidakseimbangan persebaran penduduk yang disebabkan oleh terkonsentrasinya kota-kota metropolitan dan kota-kota besar di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera. Hanya sedikit kota besar di luar kedua pulau besar ini, yaitu sebagian di Kalimantan dan Sulawesi. Kota metropolitan kategori besar dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta orang adalah Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kota metropolitan kategori kecil dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta orang adalah Palembang, Semarang, dan hanya satu kota di Kawasan Timur Indonesia, yakni Makassar. Wilayah Indonesia Timur biasanya hanya berada pada kategori kota sedang. Memusatnya keberadaan kota metropolitan dan kota besar di Jawa-Bali dan Sumatera ini berdampak pada terkonsetrasinya penduduk yang lebih besar di kedua pulau tersebut. sekitar 58 persen penduduk Indonesia. Dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia, Pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.
  • 48. 36 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.14. Peta Persebaran Kategori Kota Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Keterangan: Kondisi Kota MetropolitanAktual (penduduk > 1 juta) tahun 2010 adalah Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang digolongkan sebagai kota metropolitan besar. Kemudian kota metropolitan kecil adalah Palembang dan Semarang. Jumlah migran risen terus meningkat dari waktu ke waktu. Migran risen adalah penduduk pada lima tahun terakhir mempunyai tempat tinggal yang berbeda (baik provinsi, kabupaten atau kota). Hasil Sensus Penduduk 2010 mencatat 5,396 juta jiwa penduduk atau 2,5 persen penduduk merupakan migran masuk risen antarprovinsi. Persentase migran risen di daerah perkotaan tiga kali lipat lebih besar daripada migran risen di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 3,8 dan 1,2 persen. Menurut jenis kelamin, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 2,83 juta jiwa berbanding 2,6 juta jiwa. Seks rasio migran risen adalah 110,3. Data tersebut menunjang teori bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran adalah Kepulauan Riau, Papua Barat, dan DI Yogyakarta. Daerah-daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindahnya para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau sekolah. Seperti halnya migran risen, jumlah migran seumur hidup juga meningkat dari waktu ke waktu. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mencatat 27.975.612 penduduk atau 11,8 persen penduduk merupakan migran masuk seumur hidup antarprovinsi. Persentase
  • 49. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 37 migran seumur hidup di daerah perkotaan hampir tiga kali lipat daripada migran seumur hidup di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 17,2 dan 6,3 persen. Menurut jenis kelamin, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan: 14.736.632 berbanding 13.238.980 orang. Rasio jenis kelamin migran seumur hidup adalah 111,3. Data tersebut menunjang teori bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran adalah Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. Daerah tersebut mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindahnya para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau melanjutkan sekolah. Indonesia mengalami peningkatan urbanisasi yang cukup pesat. Pada 1990, urbanisasi atau daerah yang dikategorikan daerah urban masih berjumlah sekitar 30 persen, meningkat terus menjadi 42 persen tahun 2000, dan meningkat lagi menjadi 54 persen pada Sensus Penduduk tahun 2010. Gambar 2.15. Peta Ketimpangan Populasi dan Ekonomi Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Keterangan: Luas Pulau Jawa adalah sekitar 7 persen dari seluruh luas daratan Indonesia dan ditempati sekitar 60 persen penduduk Indonesia (2010). Kontribusi Pulau Jawa terhadap Produk Domestik Regioal Bruto Nasional adalah 59 persen.
  • 50. 38 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Hubungan antara migrasi dan ketimpangan pembangunan ekonomi antarwilayah bersifat resiprokal. Di satu pihak pola migrasi seperti yang telah disebutkan di atas menyebabkan ketimpangan ekonomi antardaerah. Akan tetapi, ketimpangan ekonomi antarwilayah dapat memengaruhi volume dan arah migrasi. Oleh karenanya, dalam pengelolaan migrasi, sifat hubungan seperti ini harus menjadi perhatian. Pola kesenjangan ekonomi wilayah di Indonesia secara umum dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Wilayah Jawa dan Bali • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 62 persen PDRB 62,00 • Pertumbuhan ekonomi: 5,89 persen PE 5,89 • Pendapatan per kapita: Rp11,27 juta PPK 11,27 • jumlah penduduk miskin: 20,19 juta jiwa (12,5 persen) JPM 12,50 2. Wilayah Sumatera • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 21,55 persen PDRB 21,55 • Pertumbuhan ekonomi: 4,65 persen PE 4,56 • Pendapatan per kapita: Rp 9,80 juta PPK 9,80 • Jumlah penduduk miskin: 7,3 juta jiwa (14,4 persen) JPM 14,40 3. Wilayah Kalimantan • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 8,83 persen PDRB 8,83 • Pertumbuhan ekonomi: 5,26 persen PE 5,26 • Pendapatan per kapita: Rp13,99 juta PPK 13,99 • Jumlah penduduk miskin: 1,21 juta jiwa (9 persen) JPM 9,00 4. Wilayah Sulawesi • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 4,6 persen PDRB 4,60 • Pertumbuhan ekonomi: 7,72 persen PE 7,72 • Pendapatan per kapita: Rp. 4,98 juta PPK 4,98 • Jumlah penduduk miskin: 2,61 juta jiwa (17,6 persen) JPM 17,60 5. Wilayah Papua • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 1,28 persen PDRB 1,28 • Pertumbuhan ekonomi: 0,6 persen PE 0,60 • Pendapatan per kapita: Rp. 8,96 juta PPK 8,96 • Jumlah penduduk miskin: 0,98 juta jiwa (36,1 persen) JPM 0,98 6. Wilayah Maluku • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 0,32 persen PDRB 0,32 • Pertumbuhan ekonomi: 4,94 persen PE 4,94 • Pendapatan per kapita: Rp. 2,81 juta PPK 2,81 • Jumlah penduduk miskin: 0,49 juta jiwa (20,5 persen) JPM 20,50
  • 51. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 39 Gambar 2.16. Kesenjangan Ekonomi Wilayah di Indonesia Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Secara spasial ketimpangan ekonomi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.16. Data dan gambar tersebut menunjukkan bahwa Jawa dan Bali masih merupakan pusat pertumbuhan. Kontribusi Jawa dan Bali terhadap PDB sangat dominan, yaitu hampir dua pertiga. Pulau lain yang memiliki kontribusi terhadap PDB terbesar kedua adalah Sumatera, yaitu sekitar 20 persen, disusul oleh Kalimantan dengan sekitar delapan persen. Pulau-pulau lainnya memiliki kontribusi yang sangat rendah, bahkan kontribusi Maluku kurang dari satu persen. Memerhatikan hal ini tidak aneh jika kemudian arus migrasi cenderung ke Jawa Bali dan juga ke Sumatera. Namun ada hal menarik yang dapat menjadi dasar dalam pengarahan mobilitas penduduk di masa depan. Sulawesi memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi. Hal ini merupakan 7. Wilayah Nusa Tenggara • Kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) nasional: 1,42 persen PDRB 1,42 • Pertumbuhan ekonomi: 3,5 persen PE 3,50 • Pendapatan per kapita: Rp. 3,18 juta ; PPK 3,18 • Jumlah penduduk miskin: 2,17 juta jiwa (24,8 persen) JPM 24,80
  • 52. 40 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 potensi dan jika didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai, maka di masa depan Sulawesi akan memiliki peran ekonomi lebih besar. Tren mobilitas penduduk di Indonesia pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, yakni kebijakan ekonomi makro, kebijakan politik nasional, gaya hidup, dan globalisasi. Kebijakan ekonomi makro pada era Orba (1967-1998) telah menghasilkan pemusatan ekonomi di Jawa dan kota besarnya sehingga mendorong mobilitas desa- kota secara besar-besaran khusunya ke kota-kota di Jawa. Sementara itu, persebaran penduduk melalui transmigrasi mati suri seiring dengan berakhirnya era Orba dan digantikan era reformasi (yang menghasilkan kebijakan desentralisasi). Pengembangan transmigrasi saat ini lebih bertumpu pada transmigrasi swakarsa dan kerja sama antardaerah provinsi/(kabupaten/kota) yang didukung oleh kebijakan pengembangan kawasan pusat pertumbuhan ekonomi terpadu (Kapet). Munculnya era Otonomi Daerah dalam beberapa hal menurunkan minat dan tingkat penduduk melakukan transmigrasi yang dicirikan oleh munculnya kebijakan di beberapa daerah yang melakukan pembatasan migrasi masuk penduduk (atau mensyaratkan syarat yang memberatkan pendatang). Kondisi ini mendorong semakin meningkatnya migran spontan dan migrasi keluarga. Secara umum dapat digambarkan bahwa fenomena mobilitas penduduk di Indonesia ditandai dengan tetap meningkatnya mobilitas antardaerah dan hanya di beberapa daerah terjadi penurunan, peningkatan konsentrasi penduduk di perkotaan, peningkatan mobilitas nonpermanen, peningkatan mobilitas internasional, peningkatan arus mobilitas tenaga kerja dari luar negeri (khususnya perempuan untuk ke wilayah Asia). 2.5. Data dan Informasi Kependudukan Dalam pembangunan kependudukan, administrasi kependudukan sebagai suatu sistem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adminstrasi pemerintahan dan administrasi negara dalam rangka pemberian perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk, melalui pelayanan publik dalam bentuk penerbitan dokumen kependudukan (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Akta Catatan Sipil). Sesuai amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagai landasan hukum pelaksanaan kebijakan administrasi kependudukan dan data dasar (database) kependudukan nasional dan terwujudnya tertib administrasi kependudukan, pada gilirannya nanti akan dapat didayagunakan untuk kepentingan-kepentingan perumusan kebijakan pemerintahan dan perencanaan pembangunan yang berbasis administrasi kependudukan, sehingga akan terwujud pembangunan administrasi kependudukan yang berkelanjutan. Sumber data kependudukan dapat diambil dari beberapa sumber. Pertama, sensus penduduk dengan informasi yang dikumpulkan bersifat umum, dilakukan di seluruh
  • 53. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 41 Indonesia, untuk semua penduduk, tidak menggunakan sampel penduduk atau sampel wilayah, dan dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Kedua, survei kependudukan untuk pengumpulan data umum dan khusus. Data kependudukan yang umum didapatkan dari SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) yang dilaksanakan 10 tahun sekali dan yang khusus misalnya Sakernas untuk bidang ketenagakerjaan yang dikumpulkan dua kali dalam setahun. Disamping itu, Indonesia juga melaksanakan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang terdiri dari Susenas inti untuk pengumpulan data pokok bidang sosial ekonomi yang dilakukan sekali setahun dan Susenas Modul untuk data yang lebih rinci atau khusus, seperti pendapatan, pengeluaran, kesehatan, pendidikan, perumahan, lingkungan tempat tinggal, dan sosial budaya lainnya yang dilakukan setiap tiga tahun. Di luar kedua survei ini, masih ada yang lain, seperti SDKI serta Survei Upah dan Perjalanan dan lain sebagainya. Ketiga, registrasi atau pendaftaran penduduk yang dilakukan setiap saat apabila ada perubahan status kependudukan. Dalam sistem ini, penduduk dan/atau rumah tangga harus melaporkan perubahan status kependudukan mulai dari RT, RW, dan dusun. Apabila penduduk atau rumah tangga pasif melaporkan kepada petugas pencatatan dan pelaporan, akan terjadi kekurangan cacah perubahan status kependudukan yang terjadi. Sifat pasif dalam melaporkan perubahan status kependudukan merupakan kelemahan utama dari pelaksanaan registrasi/pendaftaran penduduk. Secara normatif, registrasi penduduk merupakan sumber data yang paling ideal. Hal ini didasarkan pada karakteristik data registrasi penduduk. Pertama, dari sisi cakupan, registrasi penduduk dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia mencaku unit administrasi terkecil, yaitu desa/ kalurahan. Hal ini memungkikan penggunaan hasil registrasi penduduk untuk perencanaan pembangunan secara menyeluruh. Kedua, registasi penduduk dilaksanakan secara kontinyu, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan setiap waktu. Sebagai sumber data yang ideal, registrasi penduduk sampai dengan saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu masalahnya adalah kualitas data yang rendah. Sumber masalah tersebut diantaranya adalah penggunaan sistem pasif yang dalam tingkat tetentu bersamaan dengan kurangnya kesadaran penduduk untuk melaporkan kehadian demografis, menyebabkan data yang terkumpul underreporting. Persoalan yang perlu dicari pemecahannya adalah membuat penduduk lebih proaktif untuk melaporkan perubahan status kependudukan kepada petugas yang berwenang pada tingkat dusun dan desa, bahkan RT sebagai ujung tombak pendaftaran penduduk. Memperkuat pemahaman dalam pencatatan dan pelaporan pada lini paling bawah ini sangat penting karena kelengkapan dan kualitas data berada pada tingkat desa. Pada tingkat desa inilah sebagian besar daftar isian atau formulir pencatatan tersedia secara lengkap. Data dan informasi kependudukan di Indonesia belum tertata dengan baik, meskipun usaha untuk membangun Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) sebagai amanat UU No. 23 tahun 2006 telah dilaksanakan.
  • 54. 42 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 2.17. Data Dasar (Database) Kependudukan di Indonesia Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Data dasar (database) kependudukan adalah kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang tersimpan secara sistematik, terstruktur, dan saling berhubungan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras, dan jejaring komunikasi data. Untuk itu, diperlukan adanya penataan administrasi kependudukan yang merupakan rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan, serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Untuk membangun data dasar (database) kependudukan, saat ini sedang dibangun Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam kerangka administrasi kependudukan, yang terdiri dari hal-hal berikut. 1. Sistem Pendaftaran Penduduk (Dafduk) • Pencatatan biodata penduduk per keluarga • Pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan • Pendataan penduduk rentan kependudukan • Pelaporan penduduk yang tidak dapat melapor sendiri
  • 55. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 43 2. Sistem Pencatatan Sipil (Capil) • Pencatatan kelahiran • Pencatatan lahir mati • Pencatatan perkawinan • Pencatatan pembatalan perkawinan • Pencatatan perceraian • Pencatatan pembatalan perceraian • Pencatatan kematian • Pencatatan pengangkatan pengesahan dan pengakuan anak • Pencatatan perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan • Pencatatan peristiwa penting • Pelaporan penduduk yang tidak dapat melapor sendiri Hasil yang telah dicapai tahun 2010 adalah pemutakhiran data dasar (database) kependudukan di semua kabupaten dan kota serta penerbitan Nomor Identitas Kependudukan (NIK) di 329 kabupaten dan kota. NIK adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal, dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia. NIK berlaku seumur hidup dan selamanya, yang diberikan oleh pemerintah dan diterbitkan oleh instansi pelaksana kepada setiap penduduk setelah dilakukan pencatatan biodata. NIK dicantumkan dalam setiap dokumen kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan paspor, surat izin mengemudi, nomor pokok wajib pajak, polis asuransi, sertifikat hak atas tanah, dan penerbitan dokumen identitas penduduk lainnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa masalah data dan informasi kependudukan yang muncul di Indonesia adalah belum tertatanya administrasi kependudukan dalam rangka membangun sistem pembangunan, pemerintahan, dan pembangunan yang berkelanjutan. Penataan sistem penyelenggaraan administrasi kependudukan telah dimulai sejak tahun 1960-an, tetapi hingga saat ini belum terwujud. Walaupun telah ada peraturan tentang pengelolaan sistem informasi kependudukan, sampai saat ini belum dapat terwujud sistem informasi kependudukan yang memadai. Masih banyaknya permasalahan administrasi kependudukan, seperti Kartu Tanda Penduduk ganda dan kesulitan pengurusan akta kelahiran. Selanjutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumen kependudukan dan tertib administrasi pun belum memadai. Bank data sebagai data dasar kependudukan juga belum tersedia. Sementara itu, secara khusus beberapa permasalahan yang dihadapi terkait dengan kondisi Administrasi Kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut.
  • 56. 44 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 1). Regulasi • Regulasi Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil, baik di tingkat pusat maupun daerah, masih belum lengkap dan memadai. Hal ini menyebabkan lembaga legislatif sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan TIK yang sangat pesat. • Harmonisasi regulasi antarinstansi terkait dengan pemanfaatan database kependudukan dari pelayanan aplikasi SIAK masih perlu diintensifkan menuju konvergensi seluruh regulasi yang saling mendukung dalam rangka tertib administrasi kependudukan. 2). Kelembagaan • Sinkronisasi struktur organisasi dengan tupoksi Sinkronisasi struktur organisasi dengan tupoksi masih belum optimal. Oleh karena itu, pekerjaan setiap direktorat atau Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan tupoksinya menjadi terhambat. • Koordinasi kegiatan antarunit yang bermuara pada pencapaian visi Kegiatan antarunit yang bermuara pada pencapaian visi belum terkoordinasi secara baik sehingga pencapaian visi itu pun menjadi terhambat. 3). Sumber Daya Manusia Kemampuan SDM dalam mendukung penerapan aplikasi SIAK sebagai subsistem pengelola database kependudukan masih perlu ditingkatkan. Pemahaman SDM terhadap sistem ini masih sangat rendah dan jumlahnya masih sedikit. Hal ini akan berakibat terhambatnya penerapan dan pemanfaatan aplikasi SIAK. 4). Aplikasi dan Database SIAK • Penerapan aplikasi SIAK masih belum optimal karena terbatasnya kesiapan infrastruktur. • Konsolidasi database dari kabupaten/kota kemudian ke pusat data pusat dan provinsi masih rendah. Meskipun daerah telah mengimplementasikan SIAK, konsolidasi data ke jenjang berikutnya (provinsi dan ke pusat) masih belum optimal. • Penerapan tata kelola IT (governance) yang mendukung tercapainya tata administrasi kependudukan belum optimal. • Pemanfaatan database kependudukan masih mengalami kendala dan belum sesuai harapan. 5). Nomor Induk Kependudukan dan Kartu Tanda Penduduk Elektronik • Nomor Induk Kependudukan Kondisi NIK yang ada masih belum pasti tunggal yang diindikasikan dengan masih terdapatnya penduduk yang memiliki beberapa NIK. Walaupun NIK yang diterbitkan adalah unik, beberapa NIK yang unik tersebut dimiliki oleh penduduk
  • 57. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 45 yang sama. Hal ini karena setiap database kependudukan belum tersambung melalui jaringan komunikasi data dan terkonsolidasi secara nasional serta belum termanfaatkannya faktor ketiga dalam proses pemastian ketunggalan, yaitu karakteristik yang melekat pada diri seseorang, yaitu biometri sidik jari. Apabila NIK tunggal telah direalisasikan, maka pemanfaatan NIK tunggal sebagai kunci akses pelayanan dapat memudahkan penduduk dalam registrasi dan transaksi, baik untuk layanan pemerintahan maupun nonpemerintahan. • Kartu Tanda Penduduk Elektronik Masih banyak beredar KTP palsu dan KTP ganda yang dimanfaatkan untuk hal- hal ilegal, terorisme, kriminal, dan pemalsuan identitas. KTP yang bersifat nasional masih kurang dipercaya sehingga banyak kebijakan lokal maupun institusi yang “mengharuskan” penduduk agar memiliki KTP di tempat penduduk tersebut bertransaksi. Hal ini tersebut tampak dalam praktik berikut ini. • Di lapangan beberapa instansi “mengharuskan” penduduk memiliki KTP di tempat kejadian transaksi walaupun orang tersebut telah memiliki KTP dari tempat asal. Hal ini mendorong maraknya penerbitan KTP “lokal”, yang secara nasional akan berakibat pada penerbitan KTP ganda. Kebijakan yang melarang kepemilikan KTP ganda, baik untuk urusan administrasi pemerintahan maupun urusan nonpemerintah, telah dikeluarkan. Namun permasalahan koordinasi, sosialisasi, dan penegakan (enforcement) kebijakan dengan lembaga/instansi terkait masih lemah sehingga praktik KTP ganda tetap berlangsung. • Potensi manipulasi data biodata penduduk tidak semua dapat terdeteksi dalam proses
  • 58. 46 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 verifikasi dan validasi untuk penerbitan dokumen kependudukan. Pada banyak kasus, data invalid masih dapat dideteksi pada proses verifikasi dan validasi, tetapi sengaja dibiarkan agar dapat menerbitkan dokumen kependudukan. Sistem verifikasi dan validasi, serta kontrol prosedur/SOP masih dapat dimanipulasi oleh faktor manusia. Diperlukan suatu sistem dan mekanisme verifikasi dan validasi dari otentitas jati diri penduduk yang lebih kebal manipulasi (robust). Sistem e-KTP didesain lebih kebal manipulasi yang disebabkan oleh faktor manusia. • KTP belum dapat dijadikan sebagai kartu identitas pemilih dalam pemilu nasional. Kegiatan pendaftaran penduduk untuk pembuatan Daftar Pemilih Tetap (DPT) harus melalui tahapan proses dan verifikasi sehingga hasil akhir DPT masih menimbulkan masalah. Pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009, permasalahan DPT menyebabkan Mahkamah Konstitusi melegalkan penggunaan KTP, dengan syarat tambahan tertentu, pada saat–saat terakhir menjelang dilaksanakannya pemilu. Namun hal tersebut bukanlah suatu solusi permanen. Sistem e-KTP akan lebih mempermudah kebijakan penggunaan KTP sebagai kartu identitas pemilih. 6. Infrastruktur TIK Kondisi infrastruktur yang tersedia di lingkungan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri maupun di daerah masih terbatas. Untuk itu, perlu ditingkatkan pemerataan sarana dan prasarana infrastruktur pendukung operasional aplikasi SIAK.
  • 59. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 47 3.1. Kuantitas Penduduk Dalam jangka panjang, kondisi kependudukan yang diinginkan adalah tercapainya penduduk stabil dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Untuk mencapai kondisi ini jumlah bayi yang lahir diharapkan sama (seimbang) dengan jumlah kematian sehingga penduduk menjadi stasioner. Indikator pencapaian penduduk tumbuh seimbang (PTS), adalah angka kelahiran total (TFR) sama dengan 2,1 per perempuan atau Net Reproduc- tion Rate (Angka Reproduksi Bersih=NRR) sebesar 1 per perempuan. Dalam RPJMN, TFR sama dengan 2,1 diperkirakan tercapai pada tahun 2015. Selanjutnya TFR diperkiakan menurun menjadi 1,88 dan NRR menjadi 0,89 tahun 2020. Kondisi ini akan dipertahankan terus sampai dengan tahun 2035. Akan tetapi target tersebut berbeda dengan perkiraan yang dilakukan oleh PBB. Seperti halnya RPJMN, diperkirakan TFR sama dengan 2,1 akan tercapai pada tahun 2015 tetapi pada periode berikutnya penurunan TFR akan melambat yaitu mencapai 1,94 pada periode 2020-2025; 1,86 pada periode 2025-2030 dan 1,85 pada periode 2030- 2035. Oleh UN angka ini dibuat konstan sampai dengan tahun 2050. Hasil proyeksi penduduk (sementara) yang dilakukan oleh BPS menunjukkan bahwa TFR sama dengan 2,1 juga lebih lambat dibandingkan target RPJMN. Kondisi Yang Diinginkan Tabel 3.1. Proyeksi TFR 2010-2035 Tabel 3.1 memperlihatkan bahwa dengan skenario paling optimis TFR sama dengan 2,1 akan tercapai pada tahun 2020. Kondisi inilah yang inginj dicapai, sebab jika memperhatikan dua skenario lainnya, pencapaian TFR sama dengan 2,1 terjadi pada periode yang lebih lambat dan akan memiliki implikasi terhadap perubahan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. 3 BBBBBABABABABAB Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 47
  • 60. 48 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Berdasarkan pencapaian TFR tersebut dan perkiraan IMR yang didasarkan pada target program, maka tahun 2015 jumlah penduduk diperkirakan akan mencapai 254,0 juta, dan tahun 2035 diperkirakan menjadi 304,7 juta. Jika perkiraan ini menjadi kenyataan jika pertumbuhan penduduk per tahun dapat ditekan menjadi 1,35 persen pada periode 2010-2015; 1,19 persen pada periode 2015- 2020; 1,03 persen pada periode 2020-2025; 0,89 persen pada periode 2025-2030 dan 0,75 persen pada periode 2030-2035. Di samping itu, dari sisi perubahan komposisi penduduk menurut umur, tahun 2027 diharapkan Indonesia berada pada fase ketika rasio ketergantungan mencapai angka terendah, yaitu kurang dari 44,8. Pencapaian ini mirip dengan hasil perhitungan UN (lihat Gambar 3.1), meskipun dengan rasio ketergantungan yang lebih tinggi. Kondisi ini penting karena akan memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mencapai bonus demografi. Salah satu tandanya adalah dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai puncak, yaitu kira-kira 70 persen dari jumlah penduduk. Kondisi ini merupakan kondisi yang diharapkan agar sejak sekarang dapat disusun kebijakan untuk optimalisasi kesemapatan tersebut. Pencapaian tahap ini sangat tergantung kepada pengelolaan pertumbuhan penduduk melalui pengendalian angka kelahiran. Jika angka kelahiran meningkat seperti halnya indikasi yang muncul dari berbagai sumber data, maka tahap tersebut akan tertunda atau bahkan hilang sama sekali. Gambar 3.1 Perkembangan Rasio Ketergantungan Usia Anak-anak (< 15 tahun); produktif (15-64 tahun), Lansia (>65 tahun) serta Rasio Ketergantungan di Indonesia Tahun 1950-2050. Sumber: Adioetomo, 2005. Dalam jangka panjang, kondisi kependudukan yang diinginkan adalah tercapainya penduduk stabil (penduduk tumbuh seimbang) dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Untuk mencapai kondisi penduduk tumbuh seimbang (PTS), diharapkan angka kelahiran total (TFR) akan berada pada 2,1 per perempuan atau Net Reproduction Rate (NRR) sebesar 1 per perempuan tahun 2020. Selanjutnya secara berlanjut angka fertilitas total menjadi 2,04 pada tahun 2025, 1,99 pada thun 2030 dan 1,97 pada tahun 2035.
  • 61. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 49 Perlu untuk dicatat bahwa kondisi ini adalah kondisi di tingkat nasional. Pada tingkat provinsi atau kabupaten/kota, kondisinya sangat bervariasi. Bagi wilayah yang angka TFR rendah misalnya DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, kondisinya akan sangat berbeda dengan NTT yang masih memiliki TFR cukup tinggi. Disamping itu, variabel lain yang tidak kalahpentingnya adalah migrasi, karena besar dan kecilnya migrasi akan sangat memengaruhi komposisi penduduk. 3.2. Kualitas Penduduk Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan, dan hidup layak (UU No. 52 Tahun 2008 Pasal 1 ayat 5). Pengembangan kualitas penduduk dilakukan untuk mewujudkan manusia yang sehat jasmani dan rohani, cerdas, mandiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pembangunan kualitas penduduk difokuskan pada unsur pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Darisisipendidikantargetutamaadalahangkamelekhuruf mencapai 100 persen. Hal ini didukung oleh angka partisipasi murni (APM) untuk SD mencapai 100 persen dari 94,0 persen pada tahun 2008, meskipun sebenarnya pencapaian target tersebut dapat dilakukan pada periode sebelumnya melalui program wajib belajar. Sementara itu APM untuk tingkat SLP mencapai 100 persen dari 66,9 tahun 1998. Pencapaian ini cukup realistis dengan memerhatikan tren selama 30 tahun terakhir yang memperlihatkan knaikan cukup impresif. Pada 2010 APM pada tingkat SLA telah mencapai hampir 46persen,makapencapaian70-80persentahun2035adalahmasuk akal. Pada 2035 APM pada jenjang perguruan tinggi diharapkan meningkat menjadi 20-25 persen dari 11 persen tahun 2010. Berdasarkan target program, angka kematian bayi tahun 2015 diharapkan akan menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup dan terus menurun secara berlanjut hingga pada periode 2035 menjadi sekitar 14,5 per 1.000 kelahiran hidup. Sejalan dengan menurunnya angka kematian bayi, usia harapan hidup juga meningkat menjadi dari 71,4 tahun tahun 2015 menjadi 74, 9 tahun pada 2035. Pemerintah dalam visi 2025 menargetkan PDB mencapai 3,8-4,5 triliun dolar AS dengan pendapatan per kapita 13.000-16.000 dolar AS dari kurang lebih 3000 dolar AS tahun Angka kematian bayi pada kurun waktu 2010-2015 diharapkan akan menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup dan terus menurun secara berlanjut hingga pada periode 2030-2035 menjadi sekitar 12 per 1.000 kelahiran hidup. Sejalan dengan menurunnya angka kematian bayi, usia harapan hidup juga meningkat dari 71,4 tahun tahun 2015 menjadi 74,9 tahun tahun 2035.
  • 62. 50 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 2010 dari 3500-3600 dolar AS tahun 2011. Sebagai sasaran antara, tahun 2015 ditargetkan pendapatan per kapita akan meningkat menjadi 5500 dolar AS. Jika target ini dijadikan dasar untuk menentukan pencapaian tahun 2035, tampaknya sulit dilakukan. Keinginan untuk mencapai pendapatan per kapita dua kali lipat lebih tahun 2025 dibandingkan tahun 2005 mengakibatkan angkanya tahun 2035 akan lebih besar lagi. Untuk mencapaini perlu didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi (kurang lebih 10 persen per tahun). Angka paling realistis adalah bahwa tahun 2035 GNI per kapita penduduk In- donesia berkisar antara 8000-9000 dolar AS (lihat pada pembahasan Roadmap). Terdapat isu yang lebih penting dari sekedar kenaikan pendapatan per kapita, yaitu pemerataan pendapatan. Pada 2012 Gini ratio diperkirakan berada pada kisaran 0,4, artinya tidak berubah banyak deari kondisi terakhir tahun 2010. Angka ini harus ditekan serendah mungkin tahun 2035 agar kesenjangan pendapatan yang merupakan salah satu sumber kemiskinan dapat ditekan. Wakil Presiden Boediono menyatakan bahwa tahun 2014 angka kemiskinan ditargetkan turun menjadi 8-10 persen. Pada tahun 2011 angka kemiskinan tercatat 12,5 persen. Artinya selama satu tahun pemerintah berupaya untuk menurunkan angka kemiskinan sebesar 2,5-4,5 persen. Jika perkiraan ini menjadi acuan maka tidak mustahil untuk mengharapkan tahun 2035 angka kemiskinan akan turun menjadi 5-7 persen. 3.3. Kondisi Keluarga Kondisi yang diinginkan melalui pembangunan keluarga adalah terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas, sejahtera, dan berketahanan sosial yang meliputi: • Keluarga yang bertakwa kepada Tuhan YME, yaitu keluarga berdasarkan pernikahan yang sah menurut hukum negara • Keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dengan jumlah anak yang ideal sesuai kemampuan keluarga tersebut • Keluarga yang berketahanan sosial, yaitu. - Keluarga yang memiliki perencanaan sumber daya keluarga - Keluarga berwawasan nasional, yaitu keluarga yang mengembangkan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia - Keluarga yang berkontribusi kepada masyarakat, yaitu keluarga yang mampu berperan serta dalam kegiatan sosial kemasya- rakatan dan memiliki kepedulian terhadap lingkungannya - Keluarga yang berkontribusi kepada bangsa dan negara serta berpartisipasi dalam kegiatan bela negara, taat membayar pajak, patuh terhadap peraturan perundangan yang berlaku Terwujudmya keluarga Indonesia yang berkualitas berdasarkan perkawinan yang sah dan bertakwa kepada Tuhan YME, dalam menuju keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, dengan jumlah anak yang ideal dan harmonis yang berkeadilan dan berkestaraan gender, keluarga yang berketahanan sosial memiliki perencanaan sumberdaya keluarga, berwawasan nasional, berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
  • 63. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 51 3.4. Persebaran dan Mobilitas Penduduk Dari aspek mobilitas penduduk, kondisi yang diinginkan adalah terjadinya persebaran penduduk yang lebih merata ke luar Pulau Jawa sehingga konsentrasi penduduk tidak semakin besar di Pulau Jawa yang memang sangat padat penduduk. Demikian juga halnya dengan urbanisasi, diharapkan agar penduduk tidak berbondong-bondong datang ke perkotaan yang pada gilirannya menimbulkan masalah baru yang tidak kalah peliknya. Namun patut disadari bahwa urbanisasi tidak semata-mata karena perpindahan penduduk dari desa ke kota, tetapi juga karena daerah-daerah dengan kategori urban semakin banyak jumlahnyakarena fasilitas dan hasil pembangunan yang merata. Kondisi persebaran penduduk yang diinginkan adalah persebaran penduduk yang merata dan pengaturan mobilitas sesuai dengan potensi daerahnya. Tentunya yang diharapkan adalah adanya penataan dan persebaran yang proporsial sesuai daya dukung alam dan lingkungan. Ini berarti pemerintah harus dapat menata keberadaan penduduk melalui perpindahan penduduk dari Pulau Jawa. Gambar 3.2. Kondisi Persebaran Penduduk yang Diinginkan Tahun 2035 Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Keterangan: Kota metropolitan potensial tahun 2035 adalah • Berkembangnya kota metropolitan besar dari empat menjadi 14 • Berkembangnya kota metropolitan kecil dari tiga menjadi 18 berkembangnya kota besar dari 17 menjadi 44 • Kota metropolitan aktual: Medan, Palembang, Jakarta, Surabaya, dan Makassar • Kota metropolitan yang harus ditingkatkan: Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Menado, Kupang,Ambon, Sorong, Jayapura, dan Merauke • Kota metropolitan yang harus dikendalikan bebannya: Bandung dan Semarang
  • 64. 52 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Dari segi Mobilitas, kondisi yang diinginkan adalah mendorong urbanisasi tahun 2010/2011 (sekitar 52 persen berada di pulau Jawa) men jadi tahun 2025/ 2035 (> 65 persen). Penjelasannya adalah sebagai berikut. • Persebaran penduduk di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa tahun 2010/2011 (60 persen/40 persen) menjadi kurang dari 50 persen dan lebih dari 50 persen tahun 2025-2035. • Konsentrasi pusat pelayanan publik diubah dengan mendorong mengalirnya penduduk perdesaan ke perkotaan (pada metropolitan potensial, terutama luar Pulau Jawa) • Distribusi pusat pelayanan publik diubah dan wilayah perdesaan menjadi pusat perekonomian. Gambar 3.3. Kondisi Migrasi Internasional yang Diinginkan Tahun 2035 Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Terjadinya persebaran penduduk yang lebih merata ke luar Pulau Jawa sehingga konsentrasi penduduk tidak semakin besar di Pulau Jawa yang memang sangat padat penduduk. Meskipun demikian pemerataan distribusi penduduk harus dikaitkan dengan kebutuhan SDM di masing- masing wilayah dalam rangka mendorong terwujudnya tujuan MP3EI dan MP3KI. Tercapainya persebaran penduduk yang merata dan pengaturan mobilitas harus sesuai dengan potensi daerahnya dan yang proporsial sesuai daya dukung alam dan lingkungan.
  • 65. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 53 3.5. Database Kependudukan Kondisi yang diinginkan dari pembangunan data dan informasi kependudukan secara umum dapat diuraikan sebagai berikut. 1. tersusunnya sistem survei dan pengumpulan data kependudukan yang sesuai dengan kebutuhan kementerian terkait dan pihak swasta yang membutuhkan 2. tersusunnya sistem database kependudukan sehingga diharapkan dapat diperoleh data dan informasi kependudukan yang andal, akurat, riil, dan dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara cepat Enam kategori isu-isu strategis: Regulasi dan Kebijakan, Kelembagaan, Sumber Daya Manusia (SDM), Aplikasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), NIK, dan Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saling terkait satu sama lain. Demikian pula untuk prioritas pemecahan masalah dari setiap isu-isu strategis tersebut. Regulasi dan kebijakan yang berkenaan dengan kependudukan telah ada, tetapi masih perlu penjelasan yang lebih rinci, terutama untuk operasionalisasi regulasi dan kebijakan tersebut di daerah-daerah. Operasionalisasi regulasi dan kebijakan tersebut harus diiringi dengan enforcement dan pemberian sanksi bagi yang melanggar regulasi dan kebijakan. Di samping itu, regulasi dan kebijakan tersebut perlu secara sistematis disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan yang terkait dengan data kependudukan. Sosialisasi tersebut dapat berupa pelatihan-pelatihan cara menerjemahkan regulasi dan kebijakan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih operasional dan pembuatan alur kerja (work flow) tertib administrasi kependudukan. Pembuatan operasionalisasi alur kerja ini akan menjamin standardisasi pelaksanaan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK). Regulasi dan perundang-undangan serta standardisasi ini tidak akan dapat berjalan secara optimal jika sekiranya tidak didukung oleh kelembagaan yang baik. Kelembagaan di lingkungan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil telah tertata dengan baik. Semua fungsi SAK dan SIAK telah terbagi ke dalam unit-unit yang adaSetiap unit memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang terdefinisikan dengan jelas. Beberapa unit masih perlu menyiinkronkan dan mengoordinasikan pelaksanaan tupoksinya. Di samping itu, perlu ditetapkan indikator kinerja setiap unit agar irama kerja sama antarunit dapat menghasilkan produk layanan yang optimal. Sementara itu, kelembagaan yang menangani SAK dan SIAK di daerah masih beravariasi. Ada daerah yang secara jelas dan tegas menetapkan Dinas Kependudukan untuk menangani SAK dan SIAK, tetapi masih ada daerah yang menetapkan penanganan SAK dan SIAK ini di bawah dinas Kondisi yang diinginkan dari pembangunan data dan informasi kependudukan adalah tersusunnya sistem survei dan pengumpulan data kependudukan yang sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah terkait dan pihak swasta yang membutuhkan, dan tersusunnya sistem database kependudukan sehingga diharapkan dapat diperoleh data dan informasi kependudukan yang andal, akurat, riil, dan dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara cepat
  • 66. 54 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 yang lain walaupun jumlah hanya satu dua daerah saja. Untuk itu, perlu mendesakkan adanya standardisasi struktur organisasi penanganan SAK di daerah. Struktur organisasi yang menangani SAK dan SIAK, baik yang di pusat maupun yang di daerah, tidak akan berjalan jika tidak didukung oleh SDM yang berkualitas. SDM TIK yang menangani SAK dan SIAK seyogianya disusun berdasarkan hierarki kelembagaan yang mengelola SAK dan SIAK tersebut. Setiap tingkatan pada hierarki tersebut memerlukan kompetensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu ditetapkan SDM yang sesuai dengan kompetensinya pada setiap unit. SDM ini secara terus-menerus perlu ditingkatkan kapasitasnya, baik pengetahuan maupun keterampilannya dalam menangani SAK dan SIAK. Pelatihan untuk SDM ini perlu dilakukan secara berkala, terjadwal, dan berkelanjutan. Terutama untuk SDM TIK yang telah dilatih, mereka tidak boleh dimutasikan ke bidang non-TIK, tetapi perlu disediakan jenjang karier yang jelas. Hal ini perlu dilakukan agar SDM TIK tersebut tetap dapat merespond perubahan-perubahan infrastruktur TIK yang sangat pesat. Aplikasi SIAK itu tersendiri terdiri dari dua modul utama, yaitu modul pendaftaran penduduk dan modul pencatatan sipil. Setiap modul utama tersebut dibagi lagi atas berbagai submodul yang digunakan, baik di pusat maupun di daerah. Oleh karena itu, perlu direviu sejauh mana aplikasi SIAK diterapkan, baik yang di pusat maupun yang di daerah. Seyogianya, aplikasi SIAK tersebut mengalir mulai dari titik layanan kependudukan (kelurahan atau kecamatan), lanjut ke kabupaten/kota, dan pusat serta ke provinsi. Secara proporsional dan terdistribusi, aliran aplikasi SIAK ini harus disesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing. Bersamaan dengan aplikasi SIAK tersebut, maka database kependudukan dapat dikonsolidasikan secara bertingkat. NIK dan KTP elektronik adalah salah satu informasi identitas dan dokumen kependudukan sebagai keluaran dari aplikasi SIAK yang sangat penting dan berdampak luas. NIK, selain sebagai identitas penduduk Indonesia, juga merupakan kunci akses dalam melakukan verifikasi dan validasi data jati diri seseorang guna mendukung pelayanan publik. Ketunggalan NIK secara efektif dimulai sejak diterbitkannya kepada seorang menggunakan SIAK. Pada saat ini untuk menjamin autentitas NIK hanya digunakan dua faktor, yaitu faktor yang menyatakan sesuatu yang Anda ketahui dan faktor yang menyatakan sesuatu yang Anda miliki. Dalam rangka memastikan ketunggalan NIK, dilakukan konsolidasi antar-database kabupaten/kota, provinsi, dan nasional secara sistem tersambung (on-line). Pada saat bersamaan, setiap database kependudukan kabupaten/kota dimuktakhirkan untuk membersihkan unsur yang menjadikan NIK ganda, NIK yang tidak merepresentasikan pemiliknya, satu NIK dimiliki oleh dua orang, dan seterusnya dengan mekanisme konsolidasi secara on-line dan verifikasi 1: N.
  • 67. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 55 Dalam rangka meningkatkan ketunggalannya NIK seseorang, maka seluruh penduduk wajib KTP akan direkam karakteristik yang melekat pada diri seseorang berupa biometri seluruh sidik jari dan disimpan dalam server database sidik jari (AFIS). Sistem database ini terintegrasi database SIAK sehingga seseorang wajib KTP dapat diakses biodata termasuk NIK dan biometri sidik jarinya. KTP elektronik sebagai KTP ber-chip yang memuat biodata, sidik jari, dan foto penduduk bersangkutan adalah upaya untuk meniadakan kepemilikan KTP palsu dan KTP ganda, serta kurangnya kepercayaan terhadap KTP bersifat nasional. Untuk itu, secara bertahap akan diterapkan KTP elektronik sesuai amanat Perpres No. 26 Tahun 2009 tentang KTP Berbasis NIK Secara Nasional. Infrastruktur TIK untuk mendukung kegiatan SAK dan SIAK akan terus berkembang dan berubah. Sering kali perkembangan dan perubahan TIK ini tidak sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki pegawai. Dapat saja pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sekarang tidak berlaku lagi bagi TIK di masa yang akan datang. Agar terjadi kesinambungan dalam penanganan infrastruktur TIK, maka perlu disusun suatu tata kelola TIK (IT Governance) untuk SAK dan SIAK. Tata kelola TIK ini menjamin TIK yang digunakan untuk SAK dan SIAK memberikan manfaat yang optimal bagi unit-unit yang menangani administrasi kependudukan. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, infrastruktur TIK, seperti server, jaringan internet, dan komputer pribadi, perlu di-upgrade secara berkala dan berkelanjutan. Perlu dipertimbangkan untuk melakukan- outsource pengelolaan infrastruktur TIK ini agar SDM TIK yang menangani SAK dan SIAK dapat lebih fokus pada masalah-masalah yang substantif. Oleh karena itu, perlu dijalin kerja sama antara Ditjen Adminduk dengan penyedia jasa TIK, terutama untuk mendukung kegiatan aplikasi SIAK agar memberikan hasil yang optimal. 3.6. Permasalahan dan Tantangan Secara umum, sebagai mana dapat dilihat pada Bab 1, disparitas antar wilayah merupakan permasalahan pokok di bidang kependudukan. Semua indikator kuantitas penduduk, kualitas penduduk, pembangunan keluarga, mobilitas penduduk dan juga pembangunan data base memperlihatkan bahwa masih ada kesenjangan antara satu wilayahdengan wilayah yang lain. Artinya adalah bahwa di masa mendatang Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk memeratakan hasil-hasil pembangunan. Penjelasan di bawah ini merupakan ilustrasi singkat mengenaipermasalahan dan tantangan pembangunan kependudukan di Indonesia di tingkat nasional. Penjelasannya perlu dipahami dalam konteks seperti telah disebutkan di atas yaitu permasalahan tersebut tidak bersifat tunggal, tetapi bervariasi antar wilayah. Pendalaman lebih lanjut sangat diperlukan untuk dijadikan dasar perumusan kebijakan.
  • 68. 56 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 3.6.1. Kuantitas Penduduk a. Pencapaian Bonus Demografi Bonus demografi akan terjadi di tanah air pada kurun waktu 15 tahun ke depan atau mulai 2025. Bonus “ledakan” kaum muda dan angkatan kerja produktif ini sangat krusial jika SDM yang tumbuh tidak berkualitas. Bonus demografi terjadi apabila mayoritas penduduk Indonesia adalah usia angkatan kerja. Penduduk yang berada di usia angkatan kerja tersebut dapat menjadi potensi bagi Indonesia menjadi negara maju, tetapi juga dapat menjadi bumerang apabila kualitas sumber daya manusia usia produktif itu rendah. Modal untuk pembangunan adalah kualitas SDM. Salah satu tanda bonus demografi adalah angka ketergantungan di bawah 50 persen, artinya satu orang penduduk nonproduktif ditanggung oleh 1-2 orang penduduk usia produktif. Berdasarkan kelompok umur, penduduk dapat dibedakan atas tiga kategori, yaitu muda (0-14 tahun), menengah (15-64 tahun), dan tua (65 tahun keatas). Pada tahun 2010, proporsi penduduk lanjut usia sebesar 5 persen dengan proporsi di daerah perkotaan sebesar 4,3 persen dan di perdesaan sebesar 5,8 persen. Dibandingkan dengan sensus penduduk tahun sebelumnya, proporsi penduduk lanjut usia mempunyai tren meningkat dengan rata-rata peningkatan 0,6 persen. Peningkatan persentase penduduk lansia dapat diinterpretasikan sebagai hasil perbaikan derajat kesehatan masyarakat, peningkatan gizi, dan perbaikan pola hidup. Proporsi penduduk lansia di daerah perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan. Grafik 3.4 . Ratio Ketergantungan 1971-2010 Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 69. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 57 Pengelompokan penduduk yang terkait dengan kemampuan berproduksi secara ekonomi dapat diklasifikasikan menjadi penduduk nonproduktif dan penduduk usia produktif. Penduduk nonproduktif terdiri dari penduduk yang berumur 0-14 tahun dan penduduk yang berumur 65 tahun. Kelompok penduduk usia produktif adalah penduduk yang berumur 15-64 tahun. Angka beban ketergantungan Indonesia sebesar 51,3 persen, yang artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 52 penduduk nonproduktif. Hasil sensus tahun sebelumnya menunjukkan tren yang semakin menurun yang berarti beban penduduk usia produktif semakin kecil sehingga diharapkan tingkat kesejahteraan penduduk mengalami peningkatan. Secara umum di tingkat provinsi menunjukkan angka rasio ketergantungan yang menurun. Data BPS menunjukkan bahwa rasio ketergantungan penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 51,33 persen. Sekitar 80 juta penduduk usia tidak produktif di Indonesia bergantung pada sekitar 157 juta penduduk pada usia produktif (15—64 tahun). Angka tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan rasio ketergantungan penduduk sebelum penerapan program Keluarga Berencana tahun 1970 yang sekitar 80 persen. Grafik 3.5 . Rasio Ketergantungan menurut Provinsi Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 70. 58 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Rasio ketergantungan penduduk antarprovinsi di Indonesia ternyata tidak merata karena hampir setengah dari 33 provinsi di Indonesia memiliki rasio ketergantungan penduduk di bawah rata-rata nasional. Rasio ketergantungan provinsi masih timpang dengan adanya rasio tertinggi di Nusa Tenggara Timur sebesar 73,23 persen dan rasio terendah di DKI Jakarta sebesar 36,95 persen. Pemerintah dapat memanfaatkan mobilitas penduduk untuk meratakan angka ketergantungan penduduk antarprovinsi di Indonesia. Dengan adanya kebijakan tersebut, penduduk usia produktif dari provinsi lain disediakan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi di wilayah dengan rasio ketergantungan penduduk yang tinggi. Beban ketergantungan merupakan indikator yang tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk muda, tetapi juga ditentukan oleh jumlah penduduk tua. Peningkatan derajat kesehatan yang sangat memadai pada titik tertentu akan berdampak pada membesarnya kelompok ini yang secara langsung akan meningkatkan angka bebean ketergantungan penduduk usia produktif. Dengan kata lain, seiring dengan perjalanan waktu beban ketergantungan tidak ditentukan oleh besarnya angka kelahiran, tetapi dengan meningkatnya derajat kesehatan. Lansia yang panjang umur, sehat, dan tidak tergantung merupakan langkah yang harus dipersiapkan untuk menjemput penduduk “tua”. Penurunan kualitas fisik dan psikis lansia dapat disikapi secara bijak sehingga kelemahan yang ada dapat dimanfaatkan menjadi suatu modal pembangunan. Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam membicarakan bonus demografi adalah kualitas penduduk usia “dewasa” atau produktif. Menyiapkan generasi muda yang berkualitas dari aspek pendidikan dan kesehatan merupakan modal utama untuk membekali generasi muda melakukan kompetisi mendapatkan pasar kerja yang lebih berkualitas. Pengangguran terdidik dan peningkatan angkatan kerja perempuan di satu sisi, sedangkan di sisi yang lain lapangan pekerjaan yang semakin terbatas merupakan tantangan tersendiri bidang ketenagakerjaan. Satu hal yang perlu disikapi adalah besarnya jumlah penduduk usia kerja yang kemudian disebut dengan bonus demografi benar-benar merupakan jendela kesempatan di bidang ekonomi, bukan sebaliknya sebagai petaka yang menyertai ledakan penduduk usia kerja ini. b. Pengaturan angka kelahiran Pencapaian bonus demografi sangat tergantung kepada usaha pengaturan fertilitas. Memerhatikan kecederungan perubahan angka fertilitas, baik dari hasil sensus penduduk maupun SDKI, tantangan terbesar di bidang kuantitas penduduk adalah tetap
  • 71. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 59 mempertahankan penurunan angka fertilitas sehingga dicapai angka replacement level yaitu TFR sama dengan 2,1 per perempuan. Target yang dicanangkan dalam RPJMN, yaitu TFR sama dengan 2,1 diharapkan tercapai tahun 2015 dan jika kemudian kecenderungan penurunan TFR berlanjut terus maka pencapaian angka ketergantungan paling rendah akan dicapai tahun 2030. Akan tetapi memerhatikan TFR yang cenderung stagnan, atau bahkan meningkat, tampaknya Indonesia akan mengalami masalah yang cukup serius. Oleh karena itu tantangan ke depan adalah bagaimana TFR dapat diturunkan secara konsisiten sehingga mencapai 2,1 tahun 2020. Tampaknya kondisi tersebut berkaitan dengan menurunnya kinerja program keluarga berencana (KB), khususnya sejak krisis ekonomi di akhir tahun 1990an. Ada indikasi bahwa CPR cenderung stagnan dan unmet demand meningkat. Jika penurunan fertilitas menjadi salah satu tujuan kebijakan kependudukan di bidang kuantitas penduduk, maka revitalisasi program keluarga berencana menjadi tantangan di tahun-tahun mendatang. Dalam konteks ini ada empat tantangan utama yang perlu diperhatikan, yaitu bagaimana mengembangkan aspek kelembagaan sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 52 tahun 2009; mengembangkan komitmen politik dalam bidang KB di tingkat provinsi dan kabupaten/kota; mengubah orientasi program keluarga berencana dari supply ke de- mand driven; serta bagaimana meningkatkan akes dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduski, khsusunya bagi kelompok miskin. 3.6.2. Kualitas Penduduk a. Pendidikan Salah satu masalah penting pendidikan di Indonesia adalah masih rendahnya partisipasi murni di tingkat SLA dan perguruan tinggi. Untuk tingkat SD sudah hampir 95 persen dan SLP hampir 70 persen. Dengan program wajib belajar 12 tahun tampaknya masalah tersebut akan segera teratasi. Akan tetapi jika di lihat di tingkat SLA dan PT maka terlihat bahwa angkanya masih relatif rendah. Hal ini menggambarkan rendahnya akses penduduk untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SLA dan PT. Akses penduduk dapat dilihat dari dua sisi, yaitu akses ekonomi dan akses fisik. Keterbatasan akses secara ekonomi terutama terjadi pada penduduk miskin yang tidak mampu membeayai pendidikan di jenjang SLA dan PT. Keterbatasan akses dari sisi fisik mengacu kepada keterbatasan sarana dan prasarana serta kondisi geografis. Sementara itu, dilihat dari rata-rata tahun sekolah (mean years of schooling) Indonesia tergolong masing rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Kondisi ini merupakan indikasi besarnya jumlah murid yang drop out dari pendidikan SD atau SLP. Sekali lagi hal ini terkait dengan persoalan alkses terutama akses ekonomi.
  • 72. 60 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Pendidikan Indonesia juga berhadapan dengan tantangan untuk meningkatkan kompetensi dan kompetisi penduduk. Berhadapan dengan globalisasi peningkatan daya kompetensi dan kompetisi menjadi salah satu kunci. Hal ini sekaligus untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan sebagaimana tertuang dalam MP3EI. b. Kesehatan 1. Perilaku Kesehatan Salah satu tantangan terbesar di bidang kesehatan adalah berkaitan dengan perilaku kesehatan. Kesadaran penduduk untuk berperlaku sehat masih rendah. 2. Kesehatan Lingkungan Tantangan dalam bidang ini menyangku kondisi lingkungan fisik dan biologis yang belum memadai 3. Pelayanan Kesehatan Paling tidak ada dua tantangan yang perlu diperhatikan. Pertama adalah berkaitan dengan masih rendahnya akses penduduk terhadap pelayanan kesehatan, khusunya bagi penduduk miskin. Akses terhadap pelayanan dapat dibagi menjadi dua yaitu akses dari sisi fisik yang terkaitdengan kondisi geografis yang tidak menguntungkan. Kedua, adalah akses penduduk yang rendah karena kemampuan ekonomi yang tidak memadai. Hal ini terkait dengan ketersediaan dan distribusi pelayanan kesehatan. Kedua adalah kualitas pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan yang baik belum merata di seluruh wilayanh Indonesia sehingga belum semua penduduk dapat menikmati pelayanan yang prima. Sumbernya adalah masih terbatasnya tenaga kesehatan yang profesional serta distribusi tenaga kesehatan yang timpang. 4. Status Gizi Selama periode 1989-2010, persentase penduduk dengan status gizi kurang dan buruk menurun secara signifikan. Akan tetapi, untuk status gizi buruk angkanya cenderung fluktuatif dan penurunan selama periode tersebut relatif rendah. Dengan kata lain Indonesia masih berhadapan dengan masalah gizi buruk dan hal ini erat kaitannya dengan persoalan kemiskinan. 5. Perubahan Pola Penyakit Di bidang penanggulangan penyakit, saat ini Indonesia berada di persimpangan jalan. Penanganan dan penanggulangan penyakit yang mudah diberantas dan murah biayanya belum sampai tuntas dilakukan telah muncul berbagai tipe penyakit yang sulit diberantas dan memerlukan biaya sangat mahal. Transisi epidemiologi tidak berjalan sebagaimana mestinya karena munculnya penyakit degeneratif masih diikuti tingginya insiden penyakit infeksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri sebab angka kematian bayi pada umumnya berkaitan dengan penyakit infeksi, sedangkan kematian
  • 73. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 61 penduduk usia dewasa pada umumnya disebabkan karena oleh penyakit degeneratif. Persoalan yang menyangkut penentuan skala prioritas menjadi problematik. c. Ekonomi 1. Kesempatan Kerja dan Pengangguran Jumlah penduduk tahun 1971 sekitar 118,3 juta dan meningkat menjadi 237,6 juta tahun 2010. Angka pertumbuhan penduduk periode 1971-1980 adalah 2,32 persen per tahun dan menurun menjadi 1,49 persen per tahun pada periode 2000-2010. Persebaran penduduk antara Jawa dan Luar Jawa sangat timpang. Pada 1971 sekitar 64,2 persen penduduk bertempat tinggal di Jawa dan menurun menjadi 59,1 persen tahun 2010. Ketimpangan ini menyebabkan terkurasnya sumber daya alam atau daya dukung lingkungan di Jawa. Sebaliknya, sumber daya alam yang ada di Luar Jawa kurang dimanfaatkan secara optimal karena kekurangan sumber daya manusia. Dilihat menurut struktur umur, terutama usia 0-14, dari sekitar 25,4 persen atau 63,0 juta tahun 2015 akan terjadi penurunan menjadi 18,9 persen atau 56,6 juta tahun 2035. Penduduk usia kerja (15+) tahun 2015 hanya sekitar 74,6 persen atau 185,2 juta dan akan meningkat menjadi 81,1 persen atau 243,0 juta tahun 2035. Dengan menggunakan TPAK 69,2 persen (Sakernas, 2011), maka jumlah angkatan kerja yang tahun 2015 mencapai sekitar 128,1 juta akan bertambah menjadi 168,2 juta tahun 2035. Apabila angka pengangguran terbuka hanya sekitar 6,7 persen dan angka setengah pengangguran hanya 29,5 persen, maka jumlah pengangguran terbuka sekitar 8,6 juta meningkat menjadi 11,3 juta tahun 2035. Kemudian pekerja setengah penganggur meningkat dari 37,8 juta tahun 2015 menjadi 49,6 juta tahun 2035. Apabila pemerintah dan swasta nasional berhasil memperluas kesempatan kerja sebanyak 50 persen hingga 2035, maka jumlah pengangguran terbuka dan pekerja setengah penganggur masih sekitar 30 juta penduduk. Hal ini merupakan pekerjaan yang berat, tetapi harus dilakukan untuk menciptakan kesempatan kerja yang baru. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan kesempatan kerja yang memadai bagi angkatan kerja baru. Setiap tahun pertambahan jumlah angkatan kerja diperkirakan 2 juta sehingga untuk mempertahankan jumlah pengangguran terbuka pada angka yang sama dengan tahun sebelumnya ada tuntutan penambahan kesempatan kerja dalam yang sama. Jika targetnya adalah penurunan jumlah pengangguran terbuka, maka kesempatan kerja yang diciptakan harus lebih besar dari pada jumlah angkatan kerja baru.
  • 74. 62 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 3.2 Persentase Pengangguran Terbuka*) menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2007-2010 Sumber: SurveiAngkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2004 - 2011 Keterangan: *) mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja Permasalahan lain yang dihadapi Indonesia adalah bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tinggi diikuti oleh peningkatan kesenjangan. Salahsatu indikatornya adalah kenaikan gini rasio. Sejak tahun 2007 hingga 2011 angka gini rasio meningkat dari 0,33 menjadi 0,41. Ketimpangan pendapatan adalah salah satu faktor pentig yang menyebabkan munculnya kemiskinan. Disamping itu, ketimpangan merupakan sumber dariinstabilitas sosial dan politik, sehingga tantangannya adalah bagaimana tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan dalam waktu yang bersamaan menurunkan ketimpangan. 2. Kemiskinan Karakteristik rumah tangga atau penduduk miskin, antara lain, berada pada keadaan 4L, yaitu the last, the least, the lowest, dan the lost atau mereka yang tercecer di belakang. Menurut Bappenas (2007), batasan kemiskinan adalah sekelompok orang atau seseorang yang tidak mampu memenuhi hak-hak dasar untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermanfaat. Hak-hak dasar, antara lain, adalah terpenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan dan air bersih, merasa aman dari tindak kekerasan, serta mempunyai hak berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik. Konsep operasional kemiskinan model Bappenas tersebut sebagian sulit diukur sehingga perhitungan kemiskinan yang digunakan adalah dengan pendekatan makro dan dilakukan oleh BPS dengan data sampel dari Susenas modul konsumsi. Hasil perhitungan menyajikan jumlah dan persentase penduduk miskin serta tidak dapat menunjukkan siapa dan lokasi penduduk miskin. Metode ini dilakukan sejak 1984 sampai sekarang. Perkembangan persentase dan jumlah penduduk miskin di In- donesia tersajikan pada tabel berikut.
  • 75. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 63 Tabel 3.3 Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah Tahun 1998-2011 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Naisonal (Susenas) Gambar 3.5. Pertumbuhan dan Ketimpangan Ekonomi di Indonesia Sumber: BPS
  • 76. 64 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Persoalan kemiskinan tidak lepas dari ketimpangan pendapatan antargolongan di In- donesia yang diukur dari rasio Gini. Data menunjukkan bahwa rasio Gini setelah tahun 2006 mengalami peningkatan, sebaliknya pertumbuhan ekonomi setelah tahun 2007 hingga 2009 mengalami penurunan. Data lain menunjukkan bahwa secara nasional penurunan rasio Gini hanya terjadi di perkotaan dari 0,362 menjadi 0,352, sedangkan di perdesaan justru meningkat menjadi 0,297 dari 0,288. 3. Ketahanan Pangan Pembahasan kebutuhan dasar makanan dan minuman mencakup satu dari 52 komoditas saja, yaitu beras. Kebutuhan pangan beras dihitung berdasarkan Kebutuhan Hidup Pantas (KHP), yaitu 10 kg beras per kapita per bulan atau 120 kg beras per kapita per tahun. Pada 2011 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan telah mencapai 242 juta, tahun 2015 sekitar 257,3 juta, dan tahun 2035 minimal telah menjadi 307,2 juta. Menggunakan kriteria di atas, maka kebutuhan pangan beras sekitar 2.575 juta kg per bulan atau 30.900 juta kg per tahun. Jumlah ini akan meningkat menjadi 308,2 juta kg per tahun atau 36.984 juta kg per tahun. Ini baru kebutuhan pangan beras, belum termasuk kacang, kedelai, jagung, gula, garam, ikan, daging, dan lain-lain. Persediaan beras sebagai pangan nasional menurun terus akibat dari berbagai hal, seperti penyusutan lahan pertanian pangan menjadi peruntukan nonpangan, gagal panen karena hama dan penyakit, serta musim kemarau yang panjang. Solusi paling mudah adalah mengimpor beras yang banyak menguras devisa negara. Jika pengendalian jumlah penduduk gagal, maka jumlah beras itulah yang akan muncul. Kebijakan penciptaan tanah pertanian pangan yang baru di Jawa-Madura sangat sulit dilakukan dan yang terjadi adalah alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi tempat tinggal, industri, dan jasa. Memperlambat cepatnya penyusutan lahan pertanian dalam jangka panjang sampai 2035 agaknya sulit dilakukan, tetapi ini harus dilakukan. Penciptaan lahan pertanian baru di luar Jawa adalah pilihan utama sambil mempelajari kegagalan pencetakan lahan pertanian sejuta hektar di Kalimantan. Pemberian subsidi input pertanian juga diperlukan, utamanya dalam bentuk pupuk, bibit unggul lokal, pestisida, dan infrastruktur irigasi teknis. Perlu juga dilakukan perluasan kesempatan kerja di luar sektor pertanian dan pemberdayaan upah sekaligus mengerem urbanisasi desa-kota. Apabila beberapa hal tersebut gagal dilaksanakan, ada kemungkinan Indonesia akan tetap menjadi pengimpor produk pertanian terbesar di dunia. Hal yang sama juga terjadi dalam hal negara pengimpor garam yang cukup besar jumlahnya, padahal Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia
  • 77. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 65 3.6.3. Persebaran dan Mobilitas Penduduk Salah satu tantangan pembangunan kependudukan yang perlu memperoleh perhatian serius adalah persebaran penduduk. Hal ini perlu memperoleh perhatian karena masalah persebaran penduduk tidak hanya masalah kependudukan, tetapi terkait dengan pembangunan pada umumnya. Dari sisi pembangunan ekonomi, distribusi penduduk erat kaitannya dengan kesenjangan wilayah. Daerah padat penduduk merupakan daerah yang secara ekonomi maju, sebaliknya daerah yang tidak padat penduduk adalah daerah yang secara ekonomi kurang menguntungkan. Dalam konteks ini, dikotomi Jawa+Bali dengan Luar Jawa Bali dan/atau kota dengan desa merupakan representasi dari perbandingan antara daerah maju dengan yang belum atau tidak maju. Tantangan ke depan adalah membuat suatu wilayah di satu pihak tidak menanggung beban terlalu besar karena menjadi tempat akumulasi penduduk dan pada saat yang sama ada wilayah lain yang tidak mampu melakukan optimalisasi pemanfaat sumber daya alam karena kekurangan syumber daya manusia. Hal ini menjadi lebih penting ketika dikaitkan dengan MP3EI ketika setiap koridor yang telah ditetapkan berkembang dengan dukungan sumber daya manusia yang memadai. Dalam konteks mobilitas penduduk di Indonesia dewasa ini, terdapat beragam tantangan yang perlu menjadi perhatian, yakni transmigrasi, urbanisasi, migrasi tenaga kerja TKI/ TKW, IDPs, pencari suaka ilegal, resettlement, dan lain-lain. Tiga kecenderungan migrasi di Indonesia sejak tahun 2000 adalah sebagai berikut. • Pertama adalah mobilitas akibat globalisasi. Migran masuk dengan kualifikasi tenaga ahli dari luar negeri dan diiringi dengan migrasi tenaga kerja dengan keterampilan rendah ke luar negeri mengalami peningkatan. • Kedua adalah proses akselerasi, yakni pertumbuhan pesat suatu daerah akibat proses migrasi (dengan beragam alasan), sebagai contoh adalah Kota Jakarta, Balikpapan, dan Batam. • Ketiga adalah proses feminisasi, yakni meningkatnya jumlah migran perempuan yang akhirnya menjadi mayoritas di berbagai tingkatan dan kawasan. Feminisasi pada proses mobilitas penduduk terjadi pada mobilitas internasional oleh tenaga migran TKW/TKI migran. Sebagian besar mereka masih bekerja pada sektor in- formal, seperti sebagai pembantu rumah tangga dan beberapa pekerjaan rendahan. Beberapa tahun terakhir mulai muncul pekerja migran yang masuk ke sektor for- mal sebagai perawat.
  • 78. 66 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 3.4. Kondisi Migrasi Internasional Tahun 2007-2009 Sumber: Bappenas, Badan Pusat statistik Bentuk mobilitas lain yang cukup mengemuka dalam satu dasawarsa terakhir di Indo- nesia adalah pengungsian (displacement) akibat bencana alam, konflik sosial, kerusuhan lokal, serta intervensi-investasi ekonomi yang akhirnya mendorong sebagian penduduk terusir dari tanah kelahiran dan tempat tinggalnya lalu terpaksa untuk pindah ke tempat lain. Dalam konteks di Indonesia, fenomena pengungsian terjadi secara besar-besaran terkait dengan berbagai konflik sosial dan politik. Sementara itu, perpindahan terpaksa akibat konflik laten antarelemen masyarakat pada satu dasawarsa terakhir akibat munculnya sentimen antipendatang di beberapa wilayah Indonesia yang semakin mengemuka. Pengungsi dalam negeri atau Internally Displaced Oersons (IDPs) dalam satu dasawarsa terakhir semakin meningkat dengan berbagai alasan. Perlu adanya kebijakan nasional maupun lokal yang kondusif bagi seluruh penduduk sehingga mengurangi bias kepentingan lokal, etnis, dan kelompok. Konflik lokal yang marak dalam beberapa tahun terakhir harus mampu dikelola dengan baik dan dicarikan solusi dalam kerangka kepentingan nasional. Apabila negara gagal melakukan hal ini, maka tidak dapat dihindari terjadinya mobilitas penduduk dari penduduk nonlokal yang meninggalkan daerah nonasal etnis, meninggalkan daerah mayoritas religi akibat adanya diskriminasi kelompok minoritas, dan proses-proses reclaiming kelompok masyarakat atas aset tanah kelompok masyarakat yang lain (pendatang). Hal yang sangat khas Indonesia adalah pada saat ini fenomena IDPs (sukarela maupun terpaksa) belum dianggap sebagai masalah penting. Belum muncul kebijakan maupun aksi nyata untuk menangani penduduk terusir ini, baik pada tingkatan nasional maupun lokal. Pada kenyataannya, masalah ini sebenarnya semakin meningkat dalam satu dasawarsa terakhir seiring dengan menguatnya isu kedaerahan dalam kebijakan politik saat ini.
  • 79. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 67 Konflik di berbagai tempat merupakan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Dalam konteks IDPs, kebijakan mobilitas penduduk harus mampu menjadi bagian dari penyelesaian masalah terebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa konflik yang terjadi di berbagai tempat merupakan ekses dari mobilitas penduduk yang tidak dikelola secara baik. Konflik berdarah yang terjadi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir telah menyebabkan tidak kurang dari 1,2 juta manusia yang tersebar di 20 provinsi harus mengungsi di negara sendiri. Meskipun telah ada strategi penanganan pengungsi yang mencakup normalisasi, relokasi, dan pemberdayaan, penanganan pengungsi belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa beberapa dampak dan masalah yang timbul dari mobilitas kependudukan adalah sebagai berikut. Fenomena dan Dampak Migrasi Internal 1. Migrasi Sirkuler (commuting) • Peningkatan secara eksponensial jumlah kendaraan bermotor mengakibatkan peningkatan kemampuan jarak tempuh > 50 km per hari dari desa ke kota. • Paling tidak ada seorang anggota dari 25 persen rumah tangga perdesaan melakukan ulang-alik desa-kota-desa. • Sulitnya memperoleh pekerjaan/mengembangkan usaha di perdesaan mengakibatkan ulang-alik dan bekerja/berusaha di sektor informal di perkotaan. • Jumlah wilayah perkotaan yang terbatas, utamanya di Jawa, dengan infrastruktur dan pelayanan yang tidak memadai serta penegakan hukum yang lemah menyebabkan kekumuhan perkotaan dan kemacetan lalu lintas. 2. Migrasi Musiman (temporary) • Terbukanya lapangan kerja berbasis usaha migas dan berbasis pertanian/kehutanan di luar Jawa (wilayah perdesaan) yang tanpa keberpihakan kepada masyarakat setempat telah menarik penduduk luar wilayah tersebut bermigrasi masuk secara musiman. • Buruknya konektivitas antarwilayah mengakibatkan masuknya penduduk yang berketerampilan tinggi, cukup pengalaman, dan cukup modal sehingga memicu disparitas di perdesaan. • Secara nasional terjadi disparitas tingkat upah dan pengangguran antarwilayah, padahal aliran informasi antarwilayah cukup memadai sehingga berpotensi terjadinya kecemburuan sosial. Migrasi internal yang lebih spesifik di Indonesia adalah transmigrasi yang telah dikenal sejak zaman kolonisasi sampai otonomi daerah. Cukup banyak lokasi penempatan transmigrasi dari Jawa-Madura dan Bali yang telah berkembang pesat dan daerah tersebut
  • 80. 68 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 menjadi kabupaten/kota, seperti di Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan Sumatera Utara. Demikian pula yang terjadi di semua provinsi di Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan timur Indonesia. Persoalan utama yang tidak pernah terselesaikan adalah tanah garapan (pekarangan, ladang, dan sawah) untuk jaminan kegiatan ekonomi rumah tangga migran internal termasuk di dalamnya pelayanan kebutuhan dasar. Sejak otonomi daerah diberlakukan, kerja sama dalam penerimaan dan pengiriman antardaerah pengirim dan penerima lebih diintensifkan dalam arti calon transmigran diberi kesempatan untuk datang dan melihat lokasi yang akan ditempati. Termasuk pula daerah pemerima harus menyiapkan calon transmigran lokal (translok) dari penduduk setempat atau dari sekitar lokasi penempatan transmigrasi. Dengan demikian, proses asimilasi antara pendatang dan penduduk lokal dapat segera tercapai dan sekaligus menghilangkan prasangka buruk di antara kedua kelompok tersebut. Model translok dengan menyisipkan ke dalam transmigrasi umum dalam beberapa hal dapat mengurangi aspek negatif atau saling curiga. Tidak hanya itu, tanah yang disiapkan untuk transmigrasi tidak sekadar diklaimkan sebagai tanah ulayat yang tidak dapat diberikan pada transmigran umum. Pembangunan sarana prasarana pelayanan kebutuhan dasar tidak hanya terbatas pada lokasi penempatan transmigrasi, tetapi terkondisi dengan daerah-daerah pinggirannya. Studi banding untuk translok, bahkan sering didampingi oleh pemerintah daerah Jawa Bali. Fenomena dan Dampak Migrasi Internasional • Belum semua profesi pekerjaan berstandar kompetensi internasional sehingga kesempatan kerja di pasar kerja internasional tidak termanfaatkannya secara opti- mal. • Hanya pekerjaan D3 (dirty-dark-dangerous) di pasar kerja internasional yang dapat dimanfaatkan oleh TKI nonprofesional. Hal ini melemahkan perlindungan bagi tenaga kerja. Investasi asing yang mengalir tanpa batas dan dikuti dengan kehadiran tenaga kerja asing dan lemahnya regulasi migrasi internasional dalam konteks Perjanjian Perdagangan Bebas menimbulkan persaingan tenaga kerja.
  • 81. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 69 Prinsip mengenai integrasi kebijakan kependudukan ke dalam kebijakan pembangunan harus menjadi prioritas, karena hanya dengan menerapkan prinsip tersebut pembangunan kependudukan akan berhasil. Untuk itu strategi pertama yang harus dilakukan adalah melakukan population mainstreaming. Semua kebijakan pembangunan harus dilakukan dengan mendasarkan pada prinsip people centered development untuk mencapai pembangunan yang berwawasan kependudukan. Pelaksanannya harus mendasarkan pada pendekatan hak asasi. Untuk itu langkah pertama adalah melakukan capacity building untuk seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten. Langkah berikutnya adalah melakukan integrasi kebijakan kependudukan dengan kebijakan pembangunan sejak tahap perumusan, implementasi sampai dengan evaluasi dan monitoring. Dengan memerhatikan bahwa kondisi dari semua aspek di In- donesia tidak homogen, maka disparitas yang terjadi antar- provinsi, terlebih lagi antar- kabupaten/kota, harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan strategi. Strategi yang dirumuskan tidak harus bersifat tunggal, tetapi dise- suaikan dengan kondisi dan permasalahan di setiap daerah. Oleh karena itu, dalam menyusun strategi diperlukan mekanisme yang saling melengkapi antara bottom-up dan top-down. 4.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk Pengendalian kuantitas penduduk dilakukan melalui pengaturan dua komponen utama kependudukan, yaitu pengaturan fertilitas dan penurunan mortalitas. 4.1.2. Pengaturan Fertilitas Pokok-Pokok Pembangunan Kependudukan4 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 69
  • 82. 70 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Pengaturan fertilitas dilakukan melalui program KB yang mengatur (1) usia ideal perkawinan, (2) usia ideal melahirkan, (3) jarak ideal melahirkan, dan (4) jumlah ideal anak yang dilahirkan. Kebijakan pengaturan fertilitas melalui program KB pada hakikatnya dilaksanakan untuk membantu pasangan suami istri mengambil keputusan dan memenuhi hak-hak reproduksi yang berkaitan dengan hal berikut. (1) Pengaturan kehamilan yang diinginkan, (2) penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, (3) peningkatan akses dan kualitas pelayanan, (4) peningkatan kesertaan KB pria, serta (5) promosi pemanfaatan air susu ibu. Pengaturan fertilitas melalui program KB juga dilakukan dengan cara berikut. (1) Peningkatan akses dan kualitas KIE serta pelayanan kontrasepsi di daerah, (2) larangan pemaksaan pelayanan KB karena bertentangan dengan HAM, (3) pelayanan kontrasepsi dilakukan sesuai dengan norma agama, budaya, etika, dan kesehatan, serta (4) perhatian bagi penyediaan kontrasepsi bagi penduduk miskin di daerah terpencil, tertinggal, dan perbatasan. 4.1.3 Penurunan Mortalitas Penurunan angka kematian bertujuan untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan berkualitas pada seluruh dimensinya. Penurunan angka kematian ini diprioritaskan pada upaya (1) penurunan angka kematian ibu hamil, (2) penurunan angka kematian ibu melahirkan, (3) penurunan angka kematian pasca melahirkan, serta (4) penurunan angka kematian bayi dan anak. Upaya penurunan angka kematian diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui upaya-upaya proaktif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai peraturan perundang-undangan dan norma agama. Di samping itu, upaya penurunan angka kematian difokuskan pada (1) kesamaan hak reproduksi pasangan suami istri (pasutri), (2) keseimbangan akses, kualitas KIE, dan pelayanan, (3) pencegahan dan pengurangan risiko kesakitan dan kematian, serta (4) partisipasi aktif keluarga dan masyarakat. Pengaturan fertilitas dilakukan melalui : (1) Peningkatan akses dan kualitas KIE serta pelayanan kontrasepsi di daerah, (2) larangan pemaksaan pelayanan KB karena bertentangan dengan HAM, (3) pelayanan kontrasepsi dilakukan sesuai dengan norma agama, budaya, etika, dan kesehatan, serta (4) perhatian bagi penyediaan kontrasepsi. Penurunan angka kematian ini diprioritaskan pada upaya (1) penurunan angka kematian ibu hamil, (2) penurunan angka kematian ibu melahirkan, (3) penurunan angka kematian pasca melahirkan, serta (4) penurunan angka kematian bayi dan anak.
  • 83. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 71 4.1.4 Strategi Pengendalian Kuantitas Untuk mencapai tahap yang diinginkan, yaitu pertumbuhan penduduk yang terkendali dan pencapaian windows of opportunity, maka pengendalian angka kelahiran sangat penting. Untuk itu, diperlukan revitalisasi program KB di Indonesia. Dalam melakukan revitalisasi program KB, pendekatan pelaksanaan program KB perlu diubah orientasinya dari sup- ply ke demand side approach. Strategi yang dikembangkan adalah melakukan integrasi, desentralisasi, kemitraan, dan pemberdayaan serta fokus pada penduduk miskin. Berikut adalah penjelasan detailnya. Integrasi adalah implementasi program KB ke dalam program pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi. Sementara itu, desentralisasi dilakukan melalui lima cara. Pertama, memberikan otoritas yang lebih besar kepada provinsi dan kabupaten/kota dalam implementasi program KB, salah satunya adalah dengan memperkuat kelembagaan. Tujuannya adalah melakukan sinkronisasi dan menghindarkan overlap fungsi dan peran antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Seperti telah diamanatkan dalam UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga, BKKBD (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah) perlu segera dibentuk. Pemerintah memfasilitasi pembentukan BKKBD dengan merevisi regulasi, khususnya yang terkait dengan otonomi daerah, yang menghambat terbentuknya lembaga tersebut. Kedua, melakukan pemberdayaan SDM di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka capacity building. Ketiga, memperkuat komitmen politik, khususnya di tingkat kabupaten/kota dalam pelaksanaan program KB. Keempat, memperkuat infrastruktur untuk mendukung pelaksanaan program KB di tingkat kabupaten/kota. Kelima, mendelegasikan kewenangan operasional di tingkat kabupaten/kota untuk memberikan otoritas yang lebih besar pada kabupaten/kota dalam rangka mengembangkan program dan melaksanakannya berdasarkan kondisi spesifik setiap daerah. Sementara itu, strategi kemitraan dilakukan dengan cara memperkuat kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil. Tujuan strategi ini adalah untuk lebih mengembangkan keterlibatan pihak swasta dan masyarakat sipil dalam pelaksanaan pro- gram KB. Kemitraan tidak terbatas dilakukan secara internal, tetapi juga dengan lembaga internasional dengan prinsip kesetaraan dan mutual benefits. Pemberdayaan dilakukan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan untuk memperkuat jejaring antarpemangku kepentingan, baik secara vertikal maupun horizontal, nasional maupun intenasional. Sejalan dengan program penanggulangan kemiskinan, pelaksanaan program KB difokuskan pada masyarakat miskin dengan cara memberikan subsidi pelayanan kesehatan
  • 84. 72 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 reproduksi dan KB. Dalam pelaksanaannya, strategi ini perlu memerhatikan kondisi sosial, budaya, demografi, dan ekonomi kelompok sasaran 4.2 . Peningkatan Kualitas 4.2.1. Dimensi Kesehatan Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka menurunkan angka kematian dan meningkatkan angka harapan hidup 4.2.2. Dimensi Pendidikan • Meningkatkan kompetensi dan daya kompetisi penduduk Indonesia melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal dalam rangka memenuhi kebutuhan pembangunan nasional, khsususnya dalam rangka mendukung tercapainya MP3EI dan MP3KI • Mengurangi kesenjangan pendidikan menurut jenis kelamin melalui peningkatan akses perempuan untuk memperoleh pendidikan 4.2.3. Dimensi Ekonomi • Meningkakan status ekonomi penduduk melalui perluasan kesempatan kerja dan pengurangan pengangguran dan setengah pengangguran. • Mengurangi kesenjangan ekonomi sebagai salah satu usaha untuk menurunkan angka kemiskinan 4.2.4. Strategi Peningkatan Kualitas Strategi peningkatan kualitas penduduk merupakan aspek yang sangat penting dalam pembangunan kependudukan. Di samping itu, strategi peningkatan kualitas penduduk merupakan bagian integral dari strategi pengendalian kuantitas penduduk, pembangunan keluarga, dan pengarahan mobilitas penduduk. Penduduk merupakan pelaku, pelaksana, dan penikmat pembangunan. Dengan kualitas yang tinggi, penduduk akan lebih banyak berperan sebagai pelaku dan pelaksana pembangunan. Selain itu, pembangunan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam dan teknologi, tetapi justru lebih bergantung pada kualitas penduduknya. Dengan tersedianya sumber daya manusia yang memadai dalam arti kuantitas dan kualitas, maka tantangan di masa yang akan datang dapat diatasi dengan baik. Kualitas sumber daya manusia yang ada sekarang masih perlu ditingkatkanagar tantangan tersebut diatasi dengan baik.
  • 85. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 73 Gambar 4.1. Unsur-Unsur Pembangunan Sumber Daya Manusia PEMBANGUNAN EKONOMI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN SDM PEMBANGUNAN KESEHATAN Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Pembangunan kualitas penduduk Indonesia ditentukan oleh tiga hal: pembangunan ekonomi, pembangunan kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, kondisi yang ingin dicapai dalam peningkatan kualitas penduduk tahun 2035 adalah penduduk yang sehat, cerdas, produktif, dan berakhlak mulia serta berkarakter. Kondisi inilah yang harus dicapai oleh seluruh penduduk Indonesia. Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, dan kecerdasan. Hal itu dianggap sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan, dan hidup layak. Penduduk yang sehat tidak hanya berumur panjang sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup, tetapi juga produktif, cerdas, dan berdaya saing. Penduduk dengan kualitas seprti itu diharapkan dapat mengatasi arus pasar global yang semakin menguat. Dengan memerhatikan unsur-unsur tersebut, maka strategi peningkatan kualitas penduduk harus fokus pada tiga dimensi, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Strategi di bidang kesehatan dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak serta kematian maternal. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia mengalami pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi pada penyakit kronis dan degeneratif. Untuk itu, strategi utama yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan dan treat- ment penyakit infeksi, khususnya pada bayi dan anak-anak. Di samping itu, sejalan dengan meningkatnya penyakit kronis dan degenratif sebagai penyebab kematian orang dewasa, maka alokasi sumber daya kesehatan harus juga diarahkan untuk pencegahan dan treat- ment penyakit tersebut. Akan tetapi, dengan memerhatikan diversitas kondisi kesehatan antardaerah, terutama dalam hal penyakit, maka setiap strategi, sekali lagi, tidak dapat bersifat homogen atau tunggal, tetapi harus merespons kondisi spesifik setiap daerah.
  • 86. 74 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Sementara itu, strategi penurunan kematian maternal sangat erat kaitannya dengan pro- gram KB sehingga strategi yang dijalankan untuk pelaksanaan program KB juga akan memberikan kontribusi terhadap penurunan angka kematian maternal. Hal tersebut harus ditopang dengan pengembangan pelayanan prenatal maupun antenatal. Dari sisi pendidikan, strategi yang harus dilakukan adalah memberikan akses yang sebesar-besarnya kepada kelompok rentan, khususnya penduduk miskin, untuk memperoleh pendidikan. Penurunan gender gap dalam hal akses terhadap pelayanan pendidikan juga penting sebagai prioritas, khususnya untuk mengatasi masalah di berbagai daerah yang masih lebar kesenjangan pendidikan antara laki-laki dan perempuannya. Karena di berbagai provinsi angka melek huruf masih rendah, maka untuk pendidikan nonformal maupun informal perlu memperoleh prioritas. Dalam rangka mendukung tercapainya MP3EI, maka kebijakan pendidikan juga harus disusun berdasarkan kebutuhan kualifikasi SDM di setiap koridor. Sejauh ini dokumen MP3EI belum sepenuhnya memerhatikan kebutuhan SDM, terutama dari segi kualitas, sebagai bagian penting dalam mencapai percepatan pembangunan ekonomi di setiap koridor. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan tersebut. Dari sisi ekonomi, pemerintah telah menyusun MP3KI dan juga MP3EI, maka yang tertuang dalam master plan tersebut merupakan bagian dari strategi peningkatan kualitas penduduk dari sisi ekonomi. Karena persoalan pemerataan hasil pembangunan merupakan masalah mendesak dan penting di Indonesia, maka strategi untuk mengatasi masalah tersebut, baik yang tertuang dalam MP3EI maupun MP3KI, harus menjadi prioritas. Strategi di tiga dimensi tersebut sekaligus merupakan strategi untuk meningkatkan IPM. Namun karena ketertinggalan Indonesia dalam hal IPM dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya adalah pada bidang pendidikan, maka tampaknya sektor tersebut perlu menjadi prioritas dalam strategi peningkatan IPM. 4.3. Pembangunan Keluarga Pokok-pokok pembangunan keluarga memuat pokok-pokok kegiatan membangun keluarga yang bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa; membangun iklim berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah; membangun keluarga berketahanan, sejahtera, sehat, Strategi Peningkatan Kualitas melalui peningkatan pendidikan formal, nonformal maupun informal dalam rangka memenuhi kebutuhan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka mendukung tercapainya MP3EI dan MP3KI; peningkatan status ekonomi penduduk yang berkeadilan melalui perluasan akses ke pasar kerja sebagai bagian integral dari program penanggulangan kemiskinan; peningkatan peringkat IPM Indonesia di antara negara- negara ASEAN melalui peningkatan derajat kesehatan, pendidikan, dan status ekonomi penduduk; pencegahan dan treatment penyakit infeksi, khususnya pada bayi dan anak-anak; penurunan kematian maternal
  • 87. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 75 maju, mandiri, dan harmonis yang berkeadilan dan berkesetaraan gender; membangun keluargayangberwawasannasionaldanberkontribusikepadamasyarakat,bangsa,dannegara; serta membangun keluarga yang mampu merencanakan sumber daya keluarga. Sasaran dari pokok kegiatan pembangunan keluarga tersebut adalah seluruh keluarga Indonesia yang terdiri dari keluarga dengan siklus keluarganya; keluarga yang memiliki potensi dan sumber kesejahteraan sosial; keluarga rentan secara ekonomi, sosial, lingkungan, maupun budaya; serta keluarga yang bermasalah secara sosial ekonomi dan sosial psikologis. Strategi Pembangunan Keluarga a. Membangun keluarga yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa Strategi Dalam upaya membangun keluarga yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, strategi yang disuguhkan adalah pembangunan keluarga melalui Pendidikan Etika, Moral, dan Sosial Budaya secara formal maupun informal. Indikator keberhasilan Pembangunan keluarga yang bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa mempunyai indikator keberhasilan yang dilihat dari hal berikut. • Keluarga yang menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing • Keluarga yang menaati nilai, norma, dan aturan agama • Keluarga yang memelihara kerukunan antarumat beragama b. Membangun iklim berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah Strategi Strategi untuk membangun iklim berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah dilakukan dengan hal berikut. • Meningkatkan pelayanan lembaga penasihat perkawinan • Meningkatkan peran kelembagaan keluarga • Komitmen Pemerintah Indonesia yang hanya mengakui perkawinan antara laki- laki dan perempuan • Perkawinan yang dilakukan menurut hukum agama dan negara • Perkawinan yang mensyaratkan diketahui oleh keluarga dan masyarakat Pembangunan keluarga melalui pembangunan keluarga yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa; pembangunan iklim berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah; pembangunan keluarga harmonis, sejahtera, sehat, maju, dan mandiri; pembangunan keluarga yang berwawasan nasional dan berkontribusi kepada bangsa dan Negara; pembangunan keluarga yang mampu merencanakan sumber daya dengan pendampingan manajemen sumber daya keluarga.
  • 88. 76 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Indikator keberhasilan Indikator keberhasilan dalam membangun iklim berkeluarga berdasarkan perkawinan yang sah adalah. • Keluarga dibangun dari perkawinan menurut hukum agama dan negara. • Keluarga dibangun dari perkawinan antara laki-laki dan perempuan, bukan perkawinan dengan sejenis kelamin. • Keluarga dibangun dari perkawinan yang diketahui oleh keluarga dan masyarakat. • Setiap perkawinan tercatat di lembaga yang berwenang dengan dibuktikan oleh kepemilikan akta nikah. c. Membangun keluarga harmonis, sejahtera, sehat, maju, dan mandiri Strategi Beberapa strategi untuk membangun keluarga harmonis, sejahtera, sehat, maju, dan mandiri adalah sebagai berikut. 1. Peningkatan ketahanan keluarga berwawasan gender berbasis kelembagaan lokal Strategi ini dijalankan melalui kegiatan konsultasi dan advokasi keluarga, pendampingan keluarga rentan, pengembangan nilai keluarga dan keadilan gender, pembagian peran gender yang berkeadilan dan berkesetaraan, serta optimalisasi fungsi keluarga menuju kesejahteraan dan ketahanan keluarga. 2. Pengembangan perilaku hidup sehat pada keluarga (sehat fisik/reproduksi, sehat psikologis, sehat sosial, dan sehat lingkungan) 3. Pendidikan dan pengasuhan anak agar berkarakter baik 4. Pengembangan ketahanan keluarga dan ketahanan pangan keluarga. Strategi ini dilaksanakan dengan pemanfaatan pekarangan dan dukungan sosial lingkungan. Indikator keberhasilan 1. Keluarga berketahanan (kuat, bertahan hidup, beradaptasi) 2. Keluarga sejahtera (pendapatan per kapita/bulan tidak miskin, rumah layak huni, mempunyai tabungan) 3. Keluarga sehat (kecukupan pangan dan gizi, morbiditas rendah, tidak berpenyakit, sehat psikologis) 4. Keluarga maju (partisipasi pendidikan, partisipasi kerja) 5. Keluarga mandiri (kemandirian sosial ekonomi) 6. Keluarga harmonis (tidak bercerai, penurunan tingkat kekerasan dalam rumah tangga, penurunan tingkat perdagangan manusia, penurunan tingkat kenakalan anak) d. Membangun keluarga yang berwawasan nasional dan berkontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara Strategi
  • 89. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 77 Strategi yang digunakan adalah penyadaran melalui pendidikan, pembinaan, dan penyuluhan. Strategi ini dilakukan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) keluarga, seperti penguatan kapasitas keluarga, pembangunan sebuah keluarga berketahanan sosial, pemilihan keluarga pionir, dan peningkatan peran serta keluarga dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Indikator keberhasilan Indikator keberhasilannya adalah keluarga yang berketahanan sosial, berwawasan ke depan (menguasai iptek), serta berkontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara (berperan serta dalam kegiatan sosial kemasyarakatan). e. Membangun keluarga yang mampu merencanakan sumber daya keluarga Strategi Strategi yang dapat dilakukan adalah untuk membangun keluarga yang mampu merencanakan sumber daya dengan pendampingan manajemen sumber daya keluarga. Kegiatan lainnya adalah dengan konsultasi perkawinan, pengasuhan anak, manajemen keuangan rumah tangga, manajemen stres, serta manajemen waktu dan pekerjaan keluarga. Indikator keberhasilan Indikator keberhasilan dari kegiatan ini adalah. 1. Keluarga mampunyai perencanaan berkeluarga. 2. Keluarga mempunyai perencanaan investasi anak. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi sekolah wajib belajar, tabungan/asuransi pendidikan anak, dan angka drop-out menurun. 3. Keluarga mempunyai perencanaan keuangan. Hal ini dapat diukur dari tabungan keluarga, partisipasi keluarga menabung di bank, dan perencanaan membeli rumah. 4.4. Persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk Pokok-pokok Pembangunan Kependudukan pada penataan persebaran dan pengerahan mobilitas, dapat diuraikan sebagai berikut, 1. Pengarahan mobilitas penduduk yang didorong dan mendukung pembangunan pembangunan daerah yang berkeadilan 2. Pengelolaan urbanisasi yang mengarah pada pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 3. Pengarahan persebaran penduduk untuk mencapai tujuan MP3EI dan MP3KI sesuai dengan kebutuhan setiap koridor
  • 90. 78 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 4. Pencegahan munculnya faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya IDPs 5. Pemberian perlindungan kepada tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri secara maksimal Strategi Pengarahan Mobilitas dan Distribusi Penduduk Strategi mencapai tujuan-tujuan kebijakan pengarahan mobilitas penduduk sebagai berikut. • Menumbuhkan kondisi kondusif bagi terjadinya migrasi internal yang harmonis • Melindungi penduduk yang terpaksa pindah karena keadaan (pengungsi) • Memberikan kemudahan, perlindungan, dan pembinaan terhadap para migran internasional dan keluarganya • Menciptakan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan daya dukung dan daya tampung lingkungan • Mengendalikan kuantitas penduduk di suatu daerah/wilayah tertentu • Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru • Memperluas kesempatan kerja produktif • Meningkatkan ketahanan dan pertahanan nasional • Menurunkan angka kemiskinan dan mengatasi pengangguran • Meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia • Meningkatkan infrastruktur permukiman, meningkatkan daya saing wilayah baru, meningkatkan kualitas lingkungan, dan meningkatkan penyediaan pangan bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengarahan mobilitas penduduk perlu dilakukan dengan beberapa strategi sebagai berikut. 1) Mengupayakan peningkatan mobilitas nonpermanen dengan cara menyediakan berbagai fasilitas sosial, ekonomi, budaya, dan administrasi di beberapa daerah yang diproyeksikan sebagai daerah tujuan mobilitas penduduk 2) Mengurangi mobilitas penduduk ke kota megapolitan, seperti Jakarta dan supaya hal itu tidak terulang di luar Jawa, dengan adanya penataan wilayah penyangga untuk mengembangkan daerah tujuan transmigrasi yang secara khusus diintegrasikan dengan kota besar sekitarnya. Transmigrasi seharusnya tidak terkesan membuang penduduk ke wilayah terpencil, tetapi benar-benar menonjolkan napas distribusi penduduk . Untuk tujuan ini, perlu tiga pendekatan dalam kebijakan pengarahan mobilitas penduduk. 1) Mengurangi peran pusat dan meningkatkan promosi daerah-daerah tujuan baru sehingga penduduk terangsang untuk melakukan perpindahan secara spontan 2) Membuat regulasi yang menguntungkan bagi daerah tujuan dengan sasaran menghambat/mengurangi minat penduduk yang tidak berkualitas berpindah ke Penataan persebaran dan pengaturan mobilitas penduduk dilakukan melalui pengurangan peran pusat dan meningkatkan promosi daerah-daerah tujuan baru sehingga penduduk terangsang untuk melakukan perpindahan secara spontan; membuat regulasi yang menguntungkan bagi daerah tujuan dengan memacu minat penduduk berkualitas sebaliknya menghambat/mengurangi minat penduduk yang tidak berkualitas untuk berpindah ke daerah lain (mobilitas bukan sekadar pemindahan kemiskinan)
  • 91. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 79 daerah lain (mobilitas bukan sekadar pemindahan kemiskinan). Penduduk miskin adalah tanggung jawab daerah asal/kelahiran. 3) Membuat kebijakan yang berskala nasional dan berujung pada kepentingan nasional, misalnya transmigrasi ke pulau terdepan, peningkatan kualitas prasarana dan sarana ekonomi, serta peningkatan akulturasi dan asimilasi kultural antara pendatang dan penduduk asli Penyusunan roadmap kebijakan pengarahan mobilitas penduduk tidak semata-mata atas dasar pertimbangan hukum, tetapi juga didasari oleh fakta sosiologis dan dinamika lingkungan sosio-kultural dan politik Indonesia pasca reformasi. Berdasarkan pertimbangan ini, maka roadmap pengarahan mobilitas penduduk secara tegas berbasis pada UU No. 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional, UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025, UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Inpres No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembanguan Nasional, Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang Berkeadilan, serta Perpres No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Sementara itu, basis kondisi sosiologis serta dinamika sosio-kultural dan politik mengamanatkan penyusunan strategi pengerahan mobilitas penduduk perlu mempertimbangkan berbagai kondisi perkembangan lingkungan global, nasional, dan daerah. Basis ini pun secara nyata mencermati sejauh mana komitmen pemerintah provinsi dan kota/kabupaten terhadap aspek mobilitas penduduk sehingga menjadi bagian yang integral dan menentukan bagi perkembangan dan keberhasilan pembangunan penduduk dan pembangunan berkelanjutan di wilayahnya dalam koridor kepentingan nasional. Pada titik ini, pengerahan mobilitas penduduk perlu menjamin kepastian pelibatan elemen nonpusat. Fakta yang berkembang menunjukkan bahwa pengerahan mobilitas penduduk saat ini tidak semata dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga elemen masyarakat sipil dan pasar. Oleh karena itu, penting untuk mereposisi dan mengidentifikasi peran yang harus dimainkan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Mereka memiliki kewenangan dan perannya masing-masing. Demikian juga peran dan kewenangan LSM maupun Civil Society Organization (CSO). Semua elemen harus memiliki peran strategis dalam pelaksanaan pembangunan kependudukan. Kebijakan mobilitas daerah harus memerhatikan perkembangan-perkembangan spesifik daerah, misalnya kemungkinan dampak masuknya penduduk ke daerah industri baru, cara mengantisipasi dan memitigasi kemungkinan dampak negatif bagi daerah tujuan, dampak bagi keseimbangan penduduk lokal dan pendatang, serta kemungkinan marginalisasi penduduk lokal. Dengan demikian, penting dirumuskan sebuah kebijakan lokal yang dapat merespons hal-hal tersebut, misalnya melalui perda pengendalian penduduk.
  • 92. 80 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Berbicara tentang pengerahan penduduk, maka dalam jangka pendek maupun menengah dan panjang, perlu dirumuskan beberapa sasaran pengarahan mobilitas penduduk yang antara lain meliputi hal berikut. 1. Pemodelan rekayasa sosial yang memungkinkan integrasi antara penduduk pendatang dan penduduk asli 2. Pengembangan kebijakan lokal yang pro masyarakat asli tanpa mengurangi hak hidup pendatang 3. Pengembangan regulasi yang memungkinkan adanya migration selection berdasarkan kapasitas pendidikan dan keterampilan, aspek politik, dan kelembagaan 4. Penguatan peran elemen masyarakat sipil (CSO, NGO, dan universitas) dalam ca- pacity building permukiman baru hasil kebijakan mobilitas formal 5. Pengembangan forum komunikasi antarwarga di daerah-daerah tujuan mobilitas 6. Penguatan kelembagaan keluarga migran dalam konteks kebijakan kesehatan reproduksi 7. Strategi pengembangan daerah penyangga perkotaan dan pengembangan ekonomi perdesaan sehingga mengurangi minat penduduk desa melakukan urbanisasi 8. Pemodelan pengembangan ekonomi makro dan distribusi kesejahteraan yang merata sehingga semakin mengurangi distorsi biaya hidup antarwilayah 9. Memikirkan kembali keterkaitan antara pendidikan dan kesempatan kerja 10. Desentralisasi kewenangan pengarahan mobilitas penduduk 11. Pengembangan kajian akademis terkait pemodelan mobilitas penduduk dan dikaitkan dengan kepentingan nasional (sesuai dengan dokumen perundangan), dengan tujuan pengembangan dan mengonstruksikan proposisi/teori menengah terkait dengan proses-proses migrasi yang berhasil diidentifikasi dari studi terkait kondisi masyarakat Indonesia untuk menjawab tantangan tujuan-tujuan pengerahan penduduk, mengaitkan kebijakan pengerahan mobilitas penduduk dengan konteks perkembangan ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan fisik migran, baik lokal, regional maupun global, membangun kerangka konseptual baru yang memungkinkan untuk menjawab tantangan pengarahan mobilitas penduduk, serta pengembangan strategi-strategi baru terkait dengan pengarahan mobilitas penduduk, baik internal maupun internasional Untuk tercapainya tujuan-tujuan pengarahan mobilitas penduduk tersebut, maka perlu sejak awal dipastikan bahwa PP, perda, dan berbagai aturan pelaksana lainnya telah dapat diselesaikan. Beberapa peraturan yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan tujuan itu adalah sebagai berikut. a. Penataan dan penyebaran penduduk ke daerah perbatasan antarnegara b. Kebijakan mobilitas penduduk nonpermanen c. Penataan persebaran penduduk melalui kerja sama antardaerah
  • 93. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 81 d. Pengarahan mobilitas penduduk melalui pengembangan daerah penyangga e. Pedoman pengelolan urbanisasi di perkotaan f. Pedoman pelayanan terhadap penduduk musiman serta tata cara pengumpulan data, analisis mobilitas, dan persebaran penduduk. Sementara itu, pada tataran perda, dibutuhkan adanya perda tentang kebijakan mobilitas penduduk. Pada tataran operasional, pengarahan mobilitas penduduk dalam konteks dukungan terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi dilakukan melalui manajemen terpadu pada koridor utama pembangunan wilayah sebagai berikut. 1) Mengembangkan potensi ekonomi wilayah di enam Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua–Kepulauan Maluku 2) Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected) 3) Memperkuat kemampuan SDM dan iptek nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi. Keinginan dan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menebar kekuatan ekonomi ke seluruh penjuru Nusantara ini semakin kentara melalui percepatan pembangunan ekonomi nasional berbasis koridor (ruang) ekonomi dengan delapan program utamanya. Komitmen ini diawali dengan percepatan penyediaan infrastruktur: (1) industri, (2) pertambangan, (3) pertanian, (4) kelautan, (5) pariwisata, (6) telekomunikasi, (7) energi, dan (8) ekonomi Kawasan. Koridor ekonomi yang dalam hal ini berbasis “ruang pulau” terbagi menjadi enam koridor sebagai berikut. 1. Pulau Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi serta lumbung energi nasional 2. Pulau Jawa sebagai pendorong industri manufaktur dan jasa nasional 3. Pulau Kalimantan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang serta lumbung energi nasional 4. Pulau Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional 5. Pulau Bali, NTB, dan NTT sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional 6. Pulau Papau-Maluku sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi, dan pertambangan nasional (di Papua)
  • 94. 82 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 4.2. Tema Pembangunan dan Interkoneksi Koridor Ekonomi (KE) Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Gambar 4.3. Strategi Penataan Persebaran Penduduk Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan “Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi dan Pertambangan Nasional” “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional” “Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional” “Pendorong Industri dan Jasa Nasional” Pusat Ekonomi Mega “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang dan Lumbung Energi Nasional” “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional” Jakarta dan P. Jawa sebagai pusat segala-galanya (Poleksosbud) TERSEBARNYA WILAYAH PERKOTAAN SEBAGAI PUSAT PELAYANAN YANG TERINTEGRASI DENGAN WILAYAH PEDESAAN SEBAGAI WILAYAH PRODUKSI PERTANIAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM Persebaran Penduduk yang serasi dan seimbang dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan SKENARIO GDPK P3MP MENDORONG TERJADINYA PERUBAHAN PETA RUANG DAN PESEBARAN ORANG INDONESIA
  • 95. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 83 Koridor ekonomi ini, dengan demikian, merupakan ruang yang secara sengaja dirancang untuk tempat tumbuh dan berkembangnya komoditas dan/atau usaha unggulan tertentu yang terintegrasi dengan kawasan permukiman dan membentuk pusat-pusat pelayanan baru atau mendukung pusat-pusat pelayanan yang ada. Pola pikir penataan persebaran adalah dengan cara mengembangkan dan membangun sentra-sentra ekonomi di luar Pulau jawa. Strategi yang dilaksanakan adalah dengan menciptakan kota-kota metropolitan potensial dari empat kota metropolitan besar menjadi 14 kota metropolitan besar, kota metropolitan kecil dari tiga menjadi 18, kota besar dari 17 menjadi 44, serta penciptaan kota sedang, kota kecil, dan pusat-pusat pertumbuhan (pusat kegiatan lokal). Strategi Penataan Persebaran Penduduk dapat dilihat pada skema di bawah ini. Penataan persebaran penduduk disesuaikan dengan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia dan diarahkan pada pulau-pulau luar Jawa yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan potensial. Diharapkan wilayah-wilayah tersebut menjadi kota-kota metropolitan baru dan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang akan menarik penduduk untuk bertempat tinggal di dalamnya. Pengembangan Daerah Metropolitan Dalam pengembangan daerah metropolitan, diperlukan pemahaman Kelas Ruang (KR) dan Kelas Penduduk (KP). Kelas ruang merupakan jarak jalajah pelayanan maksimum, sedangkan kelas penduduk merupakan penggambaran jumlah penduduk yang ada di kota tersebut. Tabel tersbut dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan 4.2. Tabel 4.1. Kelas Ruang Sumber: Hugh Denney, 1972, De Congesting Metropolitan America, It Can be Done, University of Missoury, Extension Divission
  • 96. 84 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 4.2. Kelas Penduduk Sumber: Hugh Denney, 1972, De Congesting MetropolitanAmerica, It Can be Done, University of Missoury, Extension Divission Pengembangan Kota Metropolitan di wilayah Indonesia terutama di luar Jawa diuraikan sebagai berikut. Sumatera Di Pulau Sumatera secara administratif terdapat 10 wilayah provinsi. Secara aktual keruangan, wilayah Sumatera memiliki dua metropolitan ber-KR 10 (Medan dan Palembang). Kedua pusat ruang ini berdasarkan kelas penduduk dengan sedirinya akan menjadi dan bersama kota-kota lainnya berpotensi sebagai titik-titik pusat KR-9 (Gambar 4.4). Teridentifikasi bahwa seluruh ibukota provinsi di Sumatera dapat menjadi pusat KR 9, kecuali Pekanbaru (ibukota Provinsi Riau) yang digantikan peran dan fungsinya oleh Dumai serta Batam menggantikan Tanjung Pinang (ibukota Provinsi Kepulauan Riau). Dalam hal ini Batam tetap di bawah pengaruh dan sebagai daerah belakang Singapura. Kota-kota metropolitan di luar Sumatera yang dianggap membatasi pengaruh dan mempunyai pengaruh timbal balik adalah Penang (Malaysia) terhadap Medan dan Banda Aceh, Kuala Lumpur (Malaysia) terhadap Dumai (Riau), Singapura terhadap Dumai, Jambi, dan Pangkal Pinang (Babel); Pontianak terhadap Pangkal Pinang, serta Jakarta terhadap Bandar Lampung dan Pangkal Pinang. Dengan adanya sepuluh pusat KR 9 dan dua di antaranya sudah ber KR 10 di wilayah Sumatera ini, diperkirakan potensi tambahan penduduk yang dapat diakomodasikan mencapai sekitar 14,4 juta jiwa.
  • 97. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 85 Tabel 4.3. Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Gambar 4.4.Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sumatera Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan
  • 98. 86 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Kalimantan Di Pulau Kalimantan terdapat empat provinsi dengan tiga kota aktual yang diproyeksikan sebagai pusat KR 10 dan satu di antaranya (Balikpapan) secara aktual merupakan kota otonom yang bukan ibukota provinsi. Dengan demikian, berdasarkan kelas penduduk, di pulau ini terdapat limakota potensi metropolitan ber- KR 9, dengan rincian tiga di antaranya secara otomatis karena telah ber-KR 10 dan dua lainnya (Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kaltim dan Palangkaraya sebagai ibukota Kalteng) diproyeksikan sebagai salah satu alternatif pengganti DKI Jaya untuk menjadi ibukota negara. Samarinda, bahkan dalam hal ini dipersyaratkan untuk beraglomerasi dengan Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kertanegara. Selengkapnya Lihat Gambar 4.5. Dengan memperhitungkan kapasitas daya tampung terhadap lima pusat KR 9 yang tiga di antaranya telah ber-KR 10, potensi tambahan jumlah penduduk di kota-kota metro- politan baru di wilayah Kalimantan ini adalah sekitar 12,1 juta jiwa. Tabel 4.4 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 99. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 87 Gambar 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Kalimantan Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Melalui analisis spasial KR 9, diketahui bahwa bagian terbesar wilayah kabupaten dan kota perbatasan, baik di Provinsi Kalbar maupun Kaltim, berada di bawah pengaruh kota-kota negara tetangga (Kuching-Serawak-Malaysia untuk Kalbar, serta Bandar Seribegawan-Brunei Darussalam dan Tawao-Sabah-Malaysia untuk Kaltim). Sementara itu, KR 9 yang saling memengaruhi dalam lingkup domestik antarpulau adalah Palu- Sulteng untuk Samarinda, Memuju-Sulbar untuk Balikpapan, serta Pangkal Pinang-Ba- bel dan Singapura untuk Pontianak. Sulawesi-Maluku-Maluku Utara Di wilayah ini terdapat tiga kota yang diproyeksikan sebagai pusat untuk KR 10, yaitu Makassar, Manado, dan Ambon. Berdasarkan gambaran spasial dan kelas penduduk wilayah ini, untuk KR 9 teridentifikasi selain tiga kota tersebut yang telah menjadi pusat KR 10, adalah ibukota-ibukota provinsi se-Sulawesi lainnya (Mamuju-Sulbar ketimbang
  • 100. 88 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Palopo-Sulsel, Palu-Sulteng, dan Kendari-Sultra). Sementara itu, untuk Maluku Utara, tetap Ternate yang konglomerasi dengan Tidore untuk dijadikan pusat kegiatan ekonomi KR 9, bukannya Sofifi yang hanya difungsikan sebagai pusat pemerintahan provinsi (Gambar 4.6). Ketujuh kota ber- KR 9 tersebut, termasuk tiga yang telah ber-KR 10, diperhitungkan dapat menampung potensi tambahan jumlah penduduk sekitar 13,9 juta jiwa. Tabel 4.5 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku-Maluku Utara Mamuju (ibukota Provinsi Sulbar) dengan segala keterbatasan infrastrukturnya saat ini lebih berorientasi ke luar ketimbang Palopo (salah satu kota otonom di Sulsel yang lebih berorientasi ke dalam). Mamuju juga dapat menjadi akses utama keluar masuk (seaway) bagi salah satu titik di Kabupaten Luwu Utara (Sulsel) bila terpilih menjadi salah satu alternatif bagi letak ibukota negara. Kota-kota antarpulau yang dominan membatasi ruang pengaruh pusat-pusat ber-KR 9 di wilayah ini adalah Samarinda (Kaltim) untuk Palu, Balikpapan (Kaltim) dan Banjarmasin (Kalsel) untuk Mamuju, serta Sorong (Papua Barat) untuk Ternate dan Ambon. Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 101. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 89 Gambar 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Sulawesi-Maluku-Maluku Utara Papua Wilayah tertimur NKRI ini memiliki tiga pusat untuk KR 10 (Sorong di Papua Barat serta Jayapura dan Merauke yang keduanya ada di Papua). Dengan kondisi alam yang relatif miskin infrastruktur ini, pusat–pusat untuk KR 9 berdasarkan kelas penduduk selain tiga kota tadi, yang juga diproyeksikan adalah Timika (ibukota Kabupaten Mimika- Papua), Kota Biak (Papua), dan Manokwari (ibukota Provinsi Papua Barat). Lihat selengkapnya Gambar 4.7. Dengan memperhitungkan potensi daya tampung keenam kota yang diproyeksikan menjadi pusat KR 9, tiga di antaranya telah ber-KR 10 dengan jumlah penduduk yang dapat mencari dan menggerakkan kehidupan di metropolitan baru tersebut sekitar 14 jutaan jiwa. Jayapura dan Merauke yang keduanya diproyeksikan menjadi pusat KR 10 tetap diarahkan dapat memengaruhi wilayah pantai utara PNG dan ibukota negara NPG. Bila tidak, tentunya dalam jangka menengah-panjang akan terjadi fenomea saling pengaruhi atau bahkan dipengaruhi. Khusus Sorong, pengaruh ruangnya akan dibatasi oleh Ternate (Malut) dan Ambon (Maluku). Khusus Sorong dan Jayapura, sejak awal harus Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 102. 90 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 merencanakan aglomerasinya masing-masing dengan Aimas (ibukota Kabupaten Sorong) dan Sentani (ibukota Kabupaten Jayapura). Wilayah ini secara keseluruhan dalam jangka pendek-menengah masih tetap didominasi oleh sistem angkutan laut dan udara, yang dalam jangka menengah panjang harus telah dilengkapi dengan system transportasi jalan raya Trans-Papua. Tabel 4.6 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua Gambar 4.7 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Papua Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 103. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 91 Bali-Nusa Tenggara Wilayah ini dalam konstelasi KR 10 berada di bawah pengaruh Surabaya (Jatim), Makassar (Sulsel), dan Kupang (NTT). Untuk analisis spasial berdasarkan kelas penduduk, di wilayah ini teridentifikasi kota-kota yang diproyeksikan menjadi pusat-pusat KR 9, selain Kupang, adalah Atambua (ibukota Kabupaten Belu yang juga diproyeksikan sebagai salah satu kota Pusat Kegiatan Strategis Nasional/PKSN di wilayah perbatasan), Bima (sebagai kota otonom di Pulau Sumbawa ketimbang Mataram di Pulau Lombok yang tetap diproyeksikan menjadi pusat pemerintahan provinsi dan di bawah pengaruh Denpasar), dan Denpasar sendiri yang menjadi ibukota Provinsi Bali (Gambar 16). Empat potensi metropolitan ber-KR 9 di wilayah ini (termasuk Kota Kupang yang diproyeksikan sebagai pusat KR 10) diperhitungkan dapat mengakomodasikan potensi jumlah tambahan sekitar 7 jutaan jiwa penduduk. Tabel 4.7. Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metropolitan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Secara keruangan, batas pengaruh pusat-pusat ber-KR 9 di wilayah ini dengan wilayah lainnya hanya terdapat di sebelah timur, yaitu Ambon-Kendari-Makassar, terutama Atambua dan Darwin (Australia) untuk Kupang. Kupang sebagai pusat KR 10 melalui Atambua, Kefamenanu, dan Kalabahi secara khusus diproyeksikan dapat memengaruhi semua wilayah Negara Timor Leste. Sementara itu, untuk sebelah barat adalah Surabaya (Jatim) yang saling pengaruhi terhadap Denpasar. Ada kekhasan dalam sistem transportasi di wilayah ini, yaitu satu entitas kepulauan yang terkoneksi melalui jalan raya didukung dengan angkutan penyeberangan, selain seaways dan airways untuk menghubungkan antarwilayah (dengan Pulau Jawa khususnya) pada kelas ruang di atasnya dengan metropolitan Surabaya sebagai salah satu pusat KR 10 yang memengaruhinya.
  • 104. 92 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 4.8 Potensi Tambahan Jumlah Penduduk Kota-Kota yang Diproyeksikan sebagai Metro- politan Besar dan Kecil Wilayah Bali-Nusa Tenggara Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Dari tabel dan gambar di atas dapat diuraikan potensi pertambahan pendudukan untuk kota yang diproyeksikan sebagai kota metropolitan besar dan kecil pada wilayah tersebut. • Pulau Sumatera mampu menampung tambahan penduduk sebesar 13,6 juta jiwa. • Pulau Kalimantan mampu menampung tambahan penduduk sebesar 12,1 juta jiwa, • Pulau Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara mampu menampung tambahan penduduk sebesar 13,7 juta jiwa. • Pulau Papua mampu menampung tambahan penduduki sebesar 14 juta jiwa, • Pulau Bali dan Nusa Tenggara mampu menampung tambahan penduduk sebesar 7 juta jiwa. Oleh karena itu, potensi perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa sampai dengan tahun 2035 adalah sebesar sekitar 70,5 juta jiwa. Sementara itu, potensi penduduk yang dapat dipindahkan dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa sehubungan dengan proyeksi terbentuknya kota besar adalah sebagai berikut : • Pulau Sumatera sebesar 9,2 juta jiwa. • Pulau Kalimantan sebesar 10,9 juta jiwa.
  • 105. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 93 • Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara sebesar 12,8 juta jiwa. • Papua sebesar 15,6 juta jiwa. • Bali dan Nusa Tenggara sebesar 2,9 juta jiwa. Oleh karena itu, potensi perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa sampai dengan tahun 2035 adalah sebesar sekitar 51,5 juta jiwa. Dengan diterapkannya strategi pembentukan kota-kota metropolitan besar, kecil, dan kota besar di luar Pulau Jawa, potensi penduduk yang dapat dipindahkan dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa sampai dengan tahun 2035 sebesar adalah sekitar 125 juta jiwa. Selain strategi pembentukan kota-kota metropolitan besar, kecil, dan kota besar di luar Pulau Jawa, pengaturan dan penataan persebaran serta mobilitas penduduk dilaksanakan melalui fokus intervensi perubahan sebagai berikut. 1. Komitmen politik pada kebijakan kependudukan dengan menerbitkan regulasi 2. Pemisahan lokalitas antara pusat pemerintahan dengan pusat pelayanan ekonomi, sosial budaya, dan bisnis 3. Penataan, penggunaan dan pengendalian tata ruang dan tata wilayah 4. Reorientasi dan keberpihakan pembangunan dan investasi ekonomi ke pulau-pulau luar Jawa 5. Pengarahan mobilitas penduduk secara spasial dan vertikal 6. Penguatan kelembagaan Fokus intervensi perubahan dijabarkan dalam kebijakan penataan persebaran dan pengaturan mobilitas penduduk sebagai berikut. 1. Percepatan pembangunan dan pengembangan antarwilayah dengan sekaligus penataan persebaran dan pengaturan mobilitas penduduk yang berbasis spasial 2. Pengembangan wilayah diprioritaskan pada pengembangan pusat pertumbuhan di luar Pulau Jawa berbasis pemberdayaan ekonomi lokal 3. Pemihakan alokasi dan belanja APBN dan APBD bagi daerah-daerah di luar Pulau Jawa 4. Pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan 5. Pembangunan dan pengembangan kehidupan bermasyarakat berbasis kearifan lokal 6. Penghormatan kepada hak asasi setiap warga negara untuk bertempat tinggal, bekerja, dan membangun kehidupan di wilayah NKRI 7. Fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri sebagai alternatif peluang pasar kerja global 8. Penghapusan diskriminasi 9. Pembangunan berlandaskan hukum 10. Penetapan zonasi permukiman yang bebas dari potensi bencana
  • 106. 94 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 11. Peningkatan Komunikasi Informasi dan Edukasi pada penduduk potensial bencana untuk menyadari besarnya potensi risiko keselamatan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas 12. fasilitasi perpindahan penduduk yang terpaksa pindah akibat menempati ruang yang tidak sesuai dengan peruntukkannya Kebijakan tersebut dilaksanakan dengan strategi berikut. 1. Penciptaan iklim investasi yang berpihak ke kawasan di luar Pulau Jawa melalui penyederhanaan Standar Pelayanan Minimal dan Norma Standar Prosedur dan Kriteria yang terkait dengan the Ease of Doing Business 2. Pewilayahan komoditas unggulan dan industri turunannya 3. Peningkatan infrastruktur yang mampu mendorong investasi dan pergerakan penduduk secara keruangan 4. Restrukturisasi sistem penganggaran 5. Penyediaan perangkat regulasi yang adil 6. Penegakan hukum yang adil dan berpihak kepada masyarakat Pengaturan mobilitas penduduk bertujuan untuk mewujudkan persebaran penduduk optimal yang didasarkan pada keseimbangan jumlah penduduk dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan. Mobilitas penduduk dibagi menjadi dua katagori, yaitu mobilitas nasional dan internasional. Mobilitas penduduk internal mencakup: mobilitas penduduk permanen dan nonpermanen, mobilitas penduduk ke daerah penyangga dan pusat pertumbuhan ekonomi baru, penataan persebaran penduduk melalui kerja sama antardaerah,serta urbanisasi dan persebaran penduduk ke daerah perbatasan, daerah tertinggal, dan pulau- pulau kecil terluar. Pengarahan penduduk internal dilakukan dengan menghormati hak setiap penduduk untuk bebas bergerak, berpindah, dan bertempat tinggal dalam wilayah NKRI. Pemerintah daerah menetapkan kebijakan pengarahan mobilitas penduduk sepanjang tidak bertentangan dengan kebijakan nasional. Perencanaan pengarahan mobilitas penduduk dan/atau persebaran penduduk dilakukan menggunakan data dan informasi persebaran penduduk dengan memerhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah. Sistem informasi kesempatan kerja yang memungkinkan penduduk untuk melakukan mobilitas ke daerah tujuan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya perlu dikembangkan.
  • 107. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 95 Pengarahan mobilitas internasional dilaksanakan melalui kerja sama internasional dengan negara pengirim dan penerima migran internasional ke dan dari Indonesia sesuai dengan perjanjian internasional yang telah diterima dan disepakati pemerintah. Dalam pengaturan mobilitas penduduk terdapat sepuluh prinsip pengelolaan migrasi internasional sesuai IOM-ILO-RED CROSS/CRECENT sebagai berikut. 1. Fokus pada kebutuhan dan kerentanan migran 2. Bagian dari program kemanusiaan 3. Perhatikan dan dukung aspirasi migran 4. Pengakuan dan penghormatan pada hak para migran 5. Bantuan, perlindungan, dan advokasi kemanusiaan sebagai satu kesatuan upaya bagi migran 6. Bangun kemitraan upaya lintas pemangku kepentingan bagi migran 7. Pengawalan dan pelayanan sepanjang jalur migrasi 8. Bantuan bagi kepulangan/pemulangan migran 9. Atasi kejadian migrasi terpaksa 10. Atasi tekanan akibat migrasi terhadap masyarakat setempat Secara garis besar pokok-pokok penataan persebaran dan pengaturan mobilitas penduduk sebagai berikut. 1. Pembangunan dan pengembangan kawasan perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam yang mempunyai keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan dengan pusat-pusat pertumbuhan yang terkait dengan kota- kota kecil, kota menengah, kota besar, dan kota metropolitan 2. Peningkatan kerja sama pembangunan antardaerah (desa-kota, kota-kota, antarprovinsi) 3. Peningkatan pelayanan investasi 4. Pengembangan kegiatan usaha berbasis komoditas unggulan dan kebutuhan pasar 5. Peningkatan kualitas SDM dengan memprioritaskan pada penduduk setempat dan pekerja migran untuk menjadi wirausahawan yang handal dan pekerja yang kompeten 6. Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan 7. Peningkatan infrastruktur intra dan antarwilayah 8. Pengarahan gerak keruangan penduduk dengan mengadopsi visi jangka panjang untuk tata ruang urban demi perencanaan penggunaan lahan yang lestari, dan mendukung strategi urbanisasi secara terpadu 9. Reviu menyeluruh untuk memperkirakan dampak positif dan negatif kebijakan migrasi (lalu lintas penduduk) internasional yang harus terintegrasi dengan paket (R/O) liberalisasi perdagangan dalam kerangka FTA (barang dan jasa)
  • 108. 96 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 10. Penyiapan SDM yang kompeten berstandar internasional sejak dari dunia pendidikan hingga ke/dan selama di dunia kerja sebagai kebutuhan mutlak dan merupakan salah satu alat perlindungan utama dalam hubungan kerja 11. Peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik 4.5. Pembangunan Database Kependudukan Kebijakan umum pembangunan database kependudukan dilakukan dengan mengembangkan database kependudukan yang memiliki akurasi dan tingkat kepercayaan yang tinggi serta dikelola dalam suatu sistem yang integratif, mudah diakses oleh para pemangku kepentingan, serta menjadi bagian dari Decision Support System (DSS). Kondisi ini didukung oleh penguatan kapasitas sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi, infrastruktur yang memadai, serta sistem kelembagaan yang kuat. 4.5.1. Strategi Pembangunan Database Kependudukan Salah satu aspek penting dalam penyusunan strategi adalah menyikapi isu-isu strategis (strategic issues) di lingkungan nasional maupun global serta pengembangan berbagai ukuran atau indikator kinerja untuk mengakui keberhasilan implementasi untuk setiap rencana aksi. Penahapan strategi yang dimaksud adalah sebagai berikut. Gambar 4.9. Kerangka Penyelarasan Isu-Isu Strategis Grand Design SAK Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 109. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 97 • Periode 2010-2015: fokus utama periode ini adalah pemantapan layanan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) untuk instansi pemerintah terkait lainnya atau lebih dikenal dengan konsep Government to Government (G2G), layanan SAK untuk masyarakat atau dikenal dengan istilah Government to Citizen (G2C), layanan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK) untuk dunia bisnis (G2B), dan Pemantapan Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) dengan berbagai penyempurnaan dan penyesuaian fitur agar sesuai dengan amanat UU No. 23 Tahun 2006. Pada periode ini juga mulai dikembangkan sistem identifikasi pengenal tunggal dengan teknologi biometrik. Pendekatan pengembangan dan penerapan, baik sisi fitur teknologi maupun dari sisi implementasi di lapangan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. • Periode 2016-2020: fokus periode ini terletak pada cara SAK dapat memberikan layanan prima untuk mendukung hubungan sesama instansi pemerintah (G2G), hubungan kepada masyarakat (G2C) dan hubungan dengan dunia bisnis, atau dikenal dengan Goverment to Business (G2B). Pada periode ini, ditargetkan database kependudukan untuk menjadi acuan bagi perencanaan pemerintah secara nasional dan pemanfaatan dunia bisnis, seperti untuk kebutuhan marketing research, e-payment, e-commerce, dan transaksi bisnis berbasis elektronik lainnya. • Periode 2021–2025: fokus pada periode ini adalah pemantapan fungsi dan peranan Database Kependudukan Nasional yang berlandaskan pada tertib administrasi kependudukan dan layanan prima administrasi kependudukan. Database Kependudukan Nasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemerintah, dunia bisnis, dan dunia internasional. Pada periode ini Database Kependudukan Nasional telah memiliki tingkat kepercayaan (trust) yang tinggi dan diakui oleh dunia internasional. Kepercayaan yang tinggi terhadapa Database Kependudukan Nasional dapat digunakan untuk mendukung kerja sama multilat- eral bidang pertahanan dan keamanan, seperti cross border cyber crime, bidang perekonomian (international investment), dan bidang lainnya, sehingga Indonesia memiliki daya saing yang tinggi untuk menghadapi persaingan global. Pada periode ini juga diharapkan peranan SAK menjadi faktor daya saing bangsa dan sebagai akselerator dalam mewujudkan iklim masyarakat informasi (Information Society) dan masyarakat berpengetahuan (Knowledge base society). • Periode 2026-2030: Fokus strategi periode ini untuk mengembangkan database yang ada terintegrasi dengan data lain terkait. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan sistem yang terhubung dengan data lain yang berasal dari berbagai lembaga dan sesuai dengan data yang telah ada. Sistem ini dikembangkan agar mudah diakses oleh pemangku kepentingan. • Periode 2031-2035: Strategi yang dilakukan adalah mengembangkan sistem yang telah terbangun menjadi bagian dari DSS (Decision Support System) yang terintegratif. Tujuannya adalah memfasilitasi pengambil kebijakan untuk menggunakan data dan
  • 110. 98 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 informasi yang tersedia untuk pengambilan keputusan atau penanganan suatu permasalahan secara cepat. Dalam jangka pendek, strategi disusun berdasarkan kegiatan yang telah, sedang, dan akan dijalankan sampai dengan tahun 2012 seperti pada Gambar 4.10. Gambar 4.10. Tahap-tahap Penerapan KTP Berbasis NIK Nasional Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka dalam jangka waktu pendek database kependudukan akan tersedia dan termutakhirkan setiap saat dengan gambaran sebagai berikut. Gambar 4.11 menjelaskan bahwa pada tahap awal, untuk mendapatkan database kependudukan yang dari kabupaten/kota, maka seluruh kabupaten/ kota (497 kabupaten/kota) melakukan kegiatan pemutakhiran data tahun 2010 dan di antaranya ada 330 kabupaten/kota yang selanjutnya melaksanakan penerbitan NIK. Penerbitan NIK untuk kabupaten/kota sisanya, yaitu 167 kabupaten/kota, diselesaikan tahun 2011. Untuk Pembangunan sistem data dan informasi kependudukan melalui pemantapan layanan Sistem Administrasi Kependudukan (SAK), pengembangan database kependudukan untuk menjadi acuan bagi perencanaan pemerintah secara nasional dan pemanfaatan dunia bisnis, pemantapan fungsi dan peranan Database Kependudukan Nasional yang berlandaskan pada tertib administrasi kependudukan dan layanan prima administrasi kependudukan, pengembangan sistem yang terhubung dengan data lain yang berasal dari berbagai lembaga dan sesuai dengan data yang telah ada, pengembangan sistem yang telah terbangun menjadi bagian dari DSS (Decision Support System) yang terintegratif
  • 111. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 99 Gambar 4.11. Mekanisme Pembangunan Database Kependudukan dan Pemutakhirannya penerapan e-KTP, diselesaikan akhir tahun 2012 dan pada saat itu akan didapat database yang benar-benar dijamin keakuratannya. Update database kependudukan agar data kependudukan yang ada sesuai dengan kondisi nyatanya dilakukan secara regular melalui pelayanan pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, dan pelayanan e-KTP secara regular juga. Terbangunnya database kependudukan berbasis NIK secara nasional akan memberikan banyak sekali keuntungan dari berbagai sektor pembangunan dan pelayanan publik. Database kependudukan melalui NIK diintegrasikan dengan sidik jari sebagai kunci akses sehingga data kependudukan terjamin validitasnya dan secara mudah diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkan. Secara garis besar, aksesibilitas database kependudukan dapat digambarkan pada ilustrasi berikut. Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 112. 100 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Gambar 4.12. Pemanfaatan Database Database kependudukan juga dapat digunakan untuk kepentingan pemilu dan pemilukada, baik itu melalui data kependudukan yang telah dimutakhirkan dan diverifikasi dengan bimoterik dalam program e-KTP (Gambar 4.12) maupun melalui pemanfaatan e-KTP untuk kegiatan pelaksanaan pemungutan suara di TPS-TPS (Gambar 4.12. dan 4.13). Berikut adalah gambarannya. Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 113. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 101 Gambar 4.12 dan 4.13 Pemanfaatan Database Kependudukan dan e-KTP untuk Mendukung Pemilu Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 Departemen/ Instansi Lain Dirjen Adminduk (Departemen Dalam Negeri) Badan Pusat Statistik (Nondepartemen) Sistem Pendataan sesuai Kebutuhan Departemen/Instansi Sistem Pendataan Pasif Sistem Pendataan Aktif 1.Sensus a. Sensus Penduduk b. Sensus Ekonomi c. Sensus Pertanian 2.Survei Kependudukan a. SUPAS b. Sakernas c. Susenas Kov d. Susenas Modul e. SDKI f. Lain-lain 1. Kartu Keluarga (KK) 2. Laporan Kelahiran 3. Laporan Kematian 4. Laporan Migrasi Masuk 5. Laporan Migrasi Keluar 6. KTP 7. Akta Kelahiran 8. Akta Kematian 9. Akta Pernikahan 10. Akta Adopsi 11. Lain-lain Kebutuhan Departemen/ Instansi Pengolahan dan Publikasi Pengolahan dan Publikasi Pengolahan dan Publikasi Penyesuaian Data Tertentu sensus/survei dan registrasi Pendukung DIAGRAM DATABASE KEPENDUDUKAN
  • 114. 102 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 102 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 115. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 103 5.1. Umum Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan, antara lain, dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, keluarga berencana, dan dengan cara pengembangan kualitas penduduk, melalui pewujudan keluarga kecil yang berkualitas dan mobilitas penduduk yang terarah. Dalam kaitan itu, aspek penataan data dan informasi kependudukan merupakan hal penting dalam mendukung perencanaan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah. 5.1.1. Pengendalian Kuantitas Penduduk Roadmap Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk ini mencakup kurun waktu 2010 sampai dengan 2035 dengan periode lima tahunan. Roadmap dibuat untuk mengetahui sejauh mana sasaran-sasaran pengendalian kuantitas penduduk telah dapat dicapai, baik yang mencakup fertilitas maupun mortalitas. Dengan demikian, tujuan roadmap ini dapat berjalan secara sistematis dan terencana sehingga dapat diketahui sasaran-sasaran yang harus dicapai pada setiap periode, serta kebijakan, strategi, dan program yang perlu dilakukan. Roadmap 5 BBBBBABABABABAB Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 103 Tabel 5.1. Roadmap Pengendalian Kuantitas Penduduk
  • 116. 104 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 5.1.2. Peningkatan Kualitas Penduduk Sasaran Pembangunan Kualitas Penduduk Lima Tahunan Rata-Rata Lama Bersekolah Tabel di bawah adalah target rata-rata lama bersekolah untuk jangka waktu lima tahunan. Skenario rendah yang menggunakan model asimtot 11,3 tahun berdasarkan asumsi rata-rata lama bersekolah negara-negara very high developed saat ini adalah sebesar 11,3 tahun. Skenario sedang menggunakan model asimtot 12,6 tahun berdasarkan asumsi maksimal rata-rata lama bersekolah adalah sebesar 12,6 tahun dan skenario tinggi menggunakan model tanpa asimtot. Tabel 5.2. Perkiraan Rata-Rata Lama Bersekolah (MYoS) Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Harapan Rata-Rata Lama Bersekolah (EYoS) Skenario rendah menggunakan model asimtot 15,9 tahun berdasarkan asumsi expected years of schooling negara-negara very high developed saat ini adalah sebesar 15,9 tahun. Skenario sedang menggunakan model asimtot 18 tahun berdasarkan asumsi maksimal expected years of schooling. Skenario tinggi menggunakan model tanpa asimtot. Tabel 5.3. Perkiraan Harapan Rata-Rata Lama Bersekolah (EYoS) Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan
  • 117. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 105 Angka Partisipasi Murni SMA Skenario rendah dengan asimtot APM SMA adalah 100 persen. Skenario sedang dengan asimtot APM SMA adalah 100 persen dengan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat 1,5 persen per tahun dan skenario tinggi tanpa asimtot. Tabel 5.4. Perkiraan Angka Partisipasi Murni 2015-2050 Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan Angka Harapan Hidup Skenario rendah menggunakan model asimtot 80 tahun berdasarkan asumsi dari AHH negara-negara very high developed saat ini adalah sebesar 80 tahun. Skenario sedang menggunakan model asimtot 83,4 tahun berdasarkan asumsi maksimal AHH sebesar 83,4 tahun. Skenario tinggi menggunakan model tanpa asimtot. Tabel 5.5. Perkiraan Angka Harapan Hidup 2015-2035 GNI per Kapita (Purchasing Power Parity/PPP$) Skenario rendah menggunakan model asimtot 10.000 berdasarkan asumsi GNI per kapita PPP$ rata-rata dunia saat ini adalah sebesar 10.000 per kapita PPP$ (HDR 2011). Skenario sedang menggunakan model asimtot 12.000 tahun berdasarkan asumsi GNI per kapita PPP$ negara Eropa dan Asia Tengah saat ini adalah sebesar 12.000 per kapita PPP$ (HDR 2011). Skenario tinggi menggunakan tren (model tanpa asimtot). Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 118. 106 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 5.6. Perkiraan GNI per Kapita Indonesia 2011-2050 Sumber: Draf Rancangan Umum Pembangunan Kependudukan 5.1.3 Pembangunan Keluarga Pembangunan keluarga dilakukan untuk mencapai kondisi keluarga yang harmonis, sejahtera, dan damai yang siap menghadapi perubahan-perubahan yang sangat cepat. Ketahanan keluarga diharapkan dapat menjadi sandaran bagi kelangsungan berkehidupan yang aman, damai, dan sejahtera. Adapun kegiatan untuk setiap periode dapat dilihat pada tabel 5.7. Tabel 5.7. Roadmap Pembangunan Keluarga Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012 5.1.4 Penataan persebaran dan Pengarahan Mobilitas Penduduk Merujuk pada UU No. 52 Tahun 2009 pasal 33:1, pengarahan mobilitas penduduk bertujuan untuk tercapainya persebaran penduduk optimal dan didasarkan pada keseimbangan jumlah penduduk dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan. Mobilitas penduduk meliputi mobilitas internal dan internasional. Pasal 16A PP No. 57 Tahun 2009 menegaskan bahwa mobilitas penduduk dilaksanakan secara
  • 119. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 107 permanen dan/atau nonpermanen. Mobilitas penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi mobilitas penduduk dalam kabupaten/kota, mobilitas penduduk antarkabupaten/kota dalam provinsi, dan mobilitas penduduk antarkabupaten/kota antarprovinsi. Pasal 16B menjelaskan bahwa mobilitas sebagaimana dimaksud dalam pasal 16A dapat dilakukan atas kemauan sendiri, fasilitas pemerintah, dan/atau fasilitas pemerintah daerah. Pasal 16J menegaskan dalam penyelenggaraan pengarahan mobilitas penduduk, pemerintah daerah provinsi pengumpulan dan analisis data-data mobilitas/persebaran penduduk sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah; pengembangan sistem informasi kesempatan kerja, peluang usaha dan pasar kerja serta kondisi daerah tujuan; pengembangan sistem database dan penertiban pelaksanaan pengumpulan/laporan, pengolahan, analisis data dan informasi yang berkaitan dengan mobilitas penduduk; sosialisasi dan advokasi mengenai kebijakan pengarahan mobilitas penduduk pada instansi terkait; komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kebijakan dan pengelolaan pengarahan mobilitas penduduk kepada masyarakat; pembinaan dan fasilitasi pengarahan mobilitas penduduk pada seluruh instansi terkait; pelaporan data statistik mobilitas penduduk; pemantauan dan evaluasi serta pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pengarahan mobilitas penduduk; pengendalian dampak mobilitas penduduk terhadap pembangunan dan lingkungan. Dalam hal mobilitas internal, beberapa aspek perlu diperhatikan, antara lain, adalah mobilitas permanen dan nonpermanen, mobilitas ke daerah penyangga dan ke pusat pertumbuhan ekonomi baru, penataan persebaran penduduk melalui kerja sama antardaerah, kebijakan urbanisasi, serta penyebaran penduduk ke daerah perbatasan antarnegara, daerah tertinggal, dan pulau-pulau kecil terluar (UU No. 52 Tahun 2009 pasal 33:3). Selanjutnya, pengerahan mobilitas penduduk dilakukan menggunakan data dan informasi serta persebaran penduduk yang memerhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (pasal 36:1), di samping juga pengembangan sistem informasi kesempatan kerja yang memungkinkan untuk melakukan mobilitas ke daerah tujuan sesuai kemampuan yang dimilikinya (UU No. 52 Tahun 2009 pasal 36:2). Dalam hal migrasi internasional, pengarahan dilakukan melalui kerja sama internasional dengan negara pengirim dan penerima migran internasional ke dan dari Indonesia sesuai dengan perjanjian internasional yang telah diterima dan disepakati oleh pemerintah (UU No. 52 Tahun 2009 pasal 33:4). Sebagai arahan kebijakan, berikut adalah Pokok-Pokok Roadmap Grand Design Pengerahan Penduduk 2010-2034.
  • 120. 108 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Tabel 5.8 Pokok-Pokok Roadmap Grand Design Pengarahan Mobilitas Penduduk 2010-2035 Sumber: Data Sekunder, Diolah, 2012
  • 121. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 109 5.1.5. Pembangunan Data dan Informasi Kependudukan Pada prinsipnya roadmap pembangunan data dan informasi kependudukan dibagi menjadi lima periode. Setiap periode merupakan penahapan yang sangat terkait dengan pencapaian tujuan dari pengembangan data dan informasi kependudukan, yaitu menciptakan suatu sistem yang terintegrasi, mudah diakses, dan menjadi bagian dari Decision Support System (DSS). Adapun pentahapannya dapat dilihat pada Tabel 5.9. Tabel 5.9. Roadmap Pembangunan Database Kependudukan
  • 122. 110 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 110 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 123. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 111 Tantangan besar persoalan kependudukan di Indonesia di masa depan adalah bagaimana meraih bonus demografi. Dengan tren perubahan komposisi penduduk menurut umur di masa lalu, diperkirakan Indonesia akan mencapai tahap windows of opportunity tahun 2030-an dengan asumsi bahwa jika pengelolaan kuantitas penduduk, khususnya fertilitas dilakukan dengan benar. Selain itu, kunci utama meraih bonus demografi ini terletak pada kualitas SDM sebagai modal dasar pembangunan. Oleh karena itu, visi GDPK ini diarahkan pada terwujudnya penduduk yang berkualitas sebagai modal dasar dalam pembangunan untuk tercapainya masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan sejahtera. Terwujudnya penduduk yang berkualitas ini harus ditopang oleh upaya yang terarah dan terencana hingga tahun 2035 melalui komponen peningkatan kualitas penduduk baik dari sisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Pembangunan kualitas penduduk ini tidak dapat berdiri sendiri jika tidak ditopang oleh tiga komponen besar GDPK yang lain yakni pengendalian kuantitas penduduk, pembangunan keluarga, dan pengarahan mobilitas penduduk. Sebagai dasar perencanaan dan pengembangan dari semua komponen GDPK di atas adalah tersedianya system data dan informasi kependudukan yang memadai. Permasalahan utama kualitas penduduk Indonesia adalah masih rendahnya kualitas yang dapat diukur dari angka IPM yang masih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di kawasan ASEAN. Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, PPPPPenenenenenutuputuputuputuputup 6 BBBBBABABABABAB GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 111
  • 124. 112 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan, dan hidup layak (UU No. 52 Tahun 2008 Pasal 1 ayat 5). Pengembangan kualitas penduduk dilakukan untuk mewujudkan manusia yang sehat jasmani dan rohani, cerdas, mandiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pembangunan kualitas penduduk difokuskan pada peningkatan kapasitas pendidikan, terjaminnya kesehatan, serta kapasitas perekonomian. Permasalahan utama kuantitas penduduk adalah pertumbuhan yang masih cukup tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi kependudukan yang diinginkan adalah tercapainya penduduk stabil dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Dari kondisi ini diharapkan bahwa jumlah bayi yang lahir diharapkan sama (seimbang) dengan jumlah kematian sehingga penduduk menjadi stasioner. Untuk mencapai kondisi penduduk tumbuh seimbang (PTS), diharapkan angka kelahiran total (TFR) akan berada pada 2,1 per perempuan atau Net Reproduction Rate (NRR) sebesar 1 per perempuan tahun 2015. Selanjutnya secara berlanjut angka fertilitas total menjadi 1,88 per perempuan dan NRR menjadi 0,89 tahun 2020. Kondisi ini akan dipertahankan terus sampai dengan tahun 2035. Permasalahan utama pembangunan keluarga adalah masih banyaknya keluarga yang berada dalam kemiskinan atau hampir (rentan) miskin. Kondisi yang diinginkan melalui pembangunan keluarga adalah terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas, sejahtera, dan berketahanan sosial yang mampu melaksanakan fungsi keluarga secara maksimal. Persoalan lain yang masih menjadi kendala besar dalam pembangunan kependudukan adalah tidak tersebarnya mobilitas penduduk secara merata. Lebih banyak penduduk yang terkonsentrasi di kota-kota besar khususnya di Jawa. Ketidakmerataan ini berdampak pada lambatnya perkembangan ekonomi antar daerah sehingga terjadi ketimpangan ekonomi antar daerah. Dari aspek mobilitas penduduk, kondisi yang diinginkan adalah terjadinya persebaran penduduk yang lebih merata ke luar Pulau Jawa sehingga konsentrasi penduduk tidak semakin besar di Pulau Jawa yang memang sangat padat penduduk. Demikian juga halnya dengan urbanisasi, diharapkan agar penduduk tidak berbondong-bondong datang ke perkotaan yang pada gilirannya menimbulkan masalah baru. Kondisi persebaran penduduk yang diinginkan adalah persebaran penduduk yang merata dan pengaturan mobilitas sesuai dengan potensi daerahnya. Tentunya yang diharapkan adalah adanya penataan dan persebaran yang proporsial sesuai daya dukung alam dan lingkungan.
  • 125. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 113 Sebagai penopang dari keempat komponen kependudukan di atas adalah tersedianya sistem data dan informasi kependudukan yang memadai. Namun sayangnya kualitas sistem ini belum tercapai oleh sebab adanya berbagai kendala baik dari regulasi, kelembagaan, kapasitas SDM maupun kewenangan pusat daerah pasca diterapkannya otonomi daerah. Seharusnya dikembangkan sistem survei dan pengumpulan data kependudukan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga pemerintah terkait dan pihak non-pemerintah seperti swasta dan kelompok masyarakat sipil lainnya yang membutuhkan. Selain itu, kebijakan seharusnya diarahkan pada tersusunnya sistem da- tabase kependudukan sehingga diharapkan dapat diperoleh data dan informasi kependudukan yang andal, akurat, riil, dan dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara cepat.
  • 126. 114 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 Daftar Pustaka Adioetomo, Sri Murtiningsih. 2005. “Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan antara Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Ekonomi” Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Ekonomi UI. Jakarta: FE-UI Badan Pusat Statistik. 2000. Sensus Penduduk 2000. Jakarta. ——. 2002. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002. Jakarta. ——. 2007. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta. ——. 2010. Sensus Penduduk 2010. Jakarta. ——. 2011. Survei Angkatan Kerja Nasional 2011. Jakarta. Bappenas. 2007. Denny, Hugh. 1972. De Congesting Metropolitan America, It Can be Done. University of Missoury, Extension Divission. Granado, et.al. 2007. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta. UN-SC on Nutrition. 2008. Saleh, Harry Heriawan, Mengurai Benang Kusut Metropolitan (Bumi Nusantara untuk Manusia Indonesia). Jakarta.
  • 127. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 115 Lampiran
  • 128. 116 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 129. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 117
  • 130. 118 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 131. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 119
  • 132. 120 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 133. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 121
  • 134. 122 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 135. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 123
  • 136. 124 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035
  • 137. GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035 125
  • 138. 126 GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN TAHUN 2011-2035