Kumpulan Panduan Fasilitasi WASPOLA
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 
  • 1,547 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,547
Views on SlideShare
1,547
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
153
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Luar Biasa ! nggak ada komentar yang pantas untuk Bapak satu ini kecuali ' Luar Biasa '
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kumpulan Panduan Fasilitasi WASPOLA Kumpulan Panduan Fasilitasi WASPOLA Document Transcript

  • Buku 5 PANDUANModul 01Panduan Fasilitasi LokakaryaOperasionalisasi Kebijakan NasionalPembangunan AMPL BM di DaerahModul 2Panduan Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasidalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan NasionalPembangunan AMPL BM di DaerahModul 3Panduan Fasilitasi Orientasi MPA-PHASTModul 4Panduan Fasilitasi LokalatihPenyusunan RenstraPembangunan AMPL BM di DaerahModul 5Panduan Fasilitasi Lokalatih Pengelolaan CLTS Waspola Bekerjasama denganKelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Jakarta 2008
  • Buku 5, PANDUANMODUL 1, MODUL 2, MODUL 3, MODUL 4, MODUL 5Diterbitkan oleh WASPOLA bekerjasama dengan Kelompok KerjaAir Minum dan Penyehatan Lingkungan: - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional - Departemen Keuangan - Departemen Dalam Negeri - Departemen Pekerjaan Umum - Departemen Kesehatan - Departemen Pendidikan Nasional - Departemen Perindustrian - Kementerian Lingkungan HidupSekretariat : Jl. Cianjur No. 4, Jakarta 10310Telp./Fax. : (62-21) 314 2046E-mail : waspola1@cbn.net.idWebsite : www.waspola.org, www.ampl.or.idTim Pengarah: Oswar M Mungkasa Gary D SwisherTim Penulis: Editor : Sofyan Iskandar Koordinator Buku 1, 2 : Subari Koordinator Buku 3 : Nugroho Tomo Koordinator Buku 4 : Nur Apriatman Desain dan Produksi : Dormaringan SaragihKontributor: Bambang Purwanto, Zainal Nampira, Rheidda Pramudi, Togap Siagian, Helda Nusi, Adelina Hutahuruk, Huseiyn Pasaribu, Bambang Pudjiatmoko, Dormaringan Saragih, Agus Priatna, Purnomo, Nastain Gasba, Syarifuddin, Alma Arief, Wiwit Heris, Udi Maadi, Ardi Adji, Ida Nuraida, Ratna Tunjung Luih, A Tenriola, Sriaty, H Ridwan Somad, Haryono Moelyo, H Nuryanto, Triyatno, Budiono, Ishak Jon, Sugeng Hariyanto, Johanes Robert, Rafid, Isman Uge, Rusman Zakaria, Rewang Budiyana, Iim Ibrahim, Meytri Wilda Ayuantri.Produksi : April 2008Proyek Penyusunan Kebijakan dan Rencana Kegiatan Air Minum dan Penyehatan LingkunganTahap Kedua (WASPOLA-2) dilaksanakan di bawah Koordinasi Pemerintah Indonesia, melaluiKelompok Kerja lintas departemen yang diketuai oleh BAPPENAS, dengan mayoritas danahibah dari Pemerintah Australia melalui AusAID, dan dukungan langsung Water and SanitationProgram for East Asia and the Pacific (WSP-EAP) atas nama AusAID dan Bank Dunia.
  • BUKU 5 Kata Sambutan REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONALR eformasi kebijakan dalam Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) merupakan proses dinamis dan berlangsung terus menerus, baik di tingkat pusat maupundaerah, khususnya dalam upaya pencapaian target MDGs Goal 7,khususnya Target 10.Dengan demikian proses penguatan kapasitas pemangkukepentingan, khususnya dari kalangan pemerintah menjadi sangatrelevan dan penting adanya.Dalam mencapai tujuan ini, Kebijakan Nasional PembangunanAir Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat,telah disusun oleh Pemerintah melalui proses partisipatif denganmelibatkan pemangku kepentingan secara luas. Saat ini, kebijakanitu telah diimplementasikan di berbagai propinsi dan kabupaten diIndonesia, khususnya yang difasilitasi WASPOLA, dan daerah-daerahlain yang diintervensi melalui kegiatan proyek terkait air minumdan sanitasi, misalnya: WES dari Unicef, ProAir-GTZ, CWSHP-ADB,PAMSIMAS-Bank Dunia, SWASH-CIDA, Plan International (LSM),Sanimas dan lain-lain. KATA SAMBUTAN
  • BUKU 5Inisiatif WASPOLA untuk menerbitkan dan menyebarluaskan BukuPanduan tentang pelaksanaan kebijakan nasional pembangunanAMPL, patut disyukuri dan diapresiasi. Buku Panduan, yangdisusun atas 5 seri (buku 1 hingga buku 5) menjelaskan tahapanpelaksanaan implementasi kebijakan secara lugas dan terstruktur,sehingga mudah dipahami dan diikuti. Masing-masing bukumemiliki tujuan dan lingkup pembahasan yang berbeda, walaupunsecara keseluruhan masih saling berangkai.Kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun buku sertakontributor, baik yang berasal dari Kelompok Kerja AMPL baik ditingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota atas kerja kerasdan inisiatifnya. Masukan positif dan tidak ternilai harganya, sangatmembantu proses pengembangan dan finalisasinya.Diharapkan melalui penerbitan buku panduan ini, proses reformasidan implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum danPenyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat, dapat terus berjalandan tersebarluaskan dengan membuka ruang partisipasi publik danketerlibatan berbagai pihak.Kami juga memberikan kesempatan kepada berbagai pihak yangingin mengadopsi pendekatan dalam reformasi dan implementasikebijakan, dengan menggunakan buku ini sebagai acuan danreferensi.Semoga bermanfaat dan selamat menindaklanjutinya. Budi Hidayat, Direktur Permukiman dan Perumahan KATA SAMBUTAN
  • Buku 5 Panduan Pelaksanaan Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat di Daerah MODUL 1 Panduan Fasilitasi Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional PembangunanAir Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL BM) di Daerah Waspola Bekerjasama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Jakarta 2008
  • MODUL 1 Panduan Fasilitasi Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional PembangunanAir Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL BM) di Daerah
  • BUKU 5 Kata PengantarD okumen Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Indonesia telah disusun melalui program Penyusunan Kebijakan dan Penyusunan Rencana Kerja bidang AMPL (WASPOLA), yangberlangsung dari tahun 1998 sampai dengan 2003. Kegiatan ini dilaksanakanatas kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia melaluiAusAID yang difasilitasi oleh Water and Sanitation Program for East Asia andthe Pacific – World Bank.Serangkaian kegiatan partisipatif penyusunan kebijakan dilaksanakan oleh TimKerja AMPL dibawah koordinasi Bappenas dengan anggota seluruh departementerkait yang terdiri dari Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan,Departemen Dalam Negeri dan Departemen Keuangan. Sampai saat inidokumen kebijakan telah disepakati dan ditandatangani oleh Tim PengarahPusat (Project Coordination Committee) yang terdiri dari para pejabat Eselon1 dari masing-masing instansi tersebut. .Uji coba pelaksanaan kebijakan di empat propinsi terpilih telah dilaksanakanpada tahun 2002/2003, dan dilanjutkan sampai sekarang, sehingga jumlahlokasi sampai saat ini adalah 49 kabupaten/kota di 9 propinsi. Dari prosestersebut telah diperoleh masukan yang berguna, baik dalam penyempurnaansubstansi kebijakan, maupun dalam metodologi pelaksanaannya di daerah.Berdasarkan pengalaman implementasi pelaksanaan kebijakan tersebut diatas,akhirnya terkumpul berbagai panduan kegiatan fasilitasi operasionalisasikebijakan di daerah, untuk kemudian ditulis ulang, sehingga akhirnya menjadikumpulan panduan operasionalisasi kebijakan AMPL di daerah, sebagaimananaskah panduan iniUntuk itu, agar memudahkan pada tingkat operasional, disusunlah PanduanFasilitasi Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPLBerbasis Masyarakat. Dengan panduan ini, mudah mudahan semua fihakyang akan memanfaatkan panduan ini akan menjadi lebih mudah untukmemanfaatkannya di lapangan.Demikian, semoga panduan ini dapat menjadi alat bagi pembelajaran kitasemua.Sekretariat WASPOLA - Jakarta MODUL 1: Panduan Fasilitasi Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL BM di Daerah
  • Modul 1 Panduan Fasilitasi Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL BM) di Daerah Contoh Kerangka Acuan Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Daerah Anyer, Banten dan Surabaya, 30 Mei – 1 Juni 2006A. Latar Belakang Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat telah diimplementasikan di 49 kabupaten/kota di 9 propinsi lokasi WASPOLA. Sebagai kegiatan tambahan diseminasi kebijakan dilaksanakan atas kerja sama dengan proyek CWSH di 8 kabupaten pada 4 propinsi. Disamping itu kebijakan juga telah disosialisasikan dalam berbagai forum pertemuan diseminasi nasional dan publikasi melalui media kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Agar terjadi efektifitas dan pencapaian sasaran yang tepat serta operasionalisasi kebijakan yang terarah di daerah, maka sebagai tindak lanjut dari Lokakarya Nasional Diseminasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat di Surabaya lalu, beberapa hal penting yang perlu ditindaklanjuti antara lain; • Penajaman pemahaman stake holder daerah mengenai substansi kebijakan dan bagian-bagian penting yang minimal harus dikuasai • Pemberdayaan stake holder daerah agar mampu berperan untuk melakukan diseminasi kebijakan • Menyusun rencana kerja implementasi kebijakan di daerahnya masing masing Hal terpenting dari lokakarya ini adalah upaya transformasi kebijakan kepada stake holder daerah, sehingga mereka mampu berperan sebagai fasilitator yang akan menyebarluaskan dan mengoperasionalisasikan kebijakan nasional tersebut di daerahnya masing-masing.
  • B. Tujuan Secara umum lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman stakeholder daerah mengenai kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat dan proses operasionalisasinya di daerah. Secara khusus bertujuan untuk; 1. Membantu peserta dalam memahami kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat 2. Membantu peserta dalam memahami aspek keberlanjutan pembangunan AMPL 3. Membantu peserta dalam penyamaan persepsi terhadap 11 pokok kebijakan dan strategi pelaksanaannya di daerah 4. Membantu peserta dalam melakukan penajaman Rencana Kerja Daerah sebagai tindak lanjut lokakarya nasional diseminasiC. Hasil yang Ingin Dicapai Melalui proses partisipatif lokakarya ini dirancang untuk menghasilkan; 1. Pemahaman tentang isu/permasalahan keberlanjutan AMPL daerah, serta membangkitkan kepedulian untuk menanggulangi isu tersebut 2. Kesamaan persepsi tentang 11 pokok kebijakan dan strategi pelaksanaannya dalam konteks daerah. Peserta diharapkan memahami pokok-pokok kebijakan, potensi pelaksanaan, hambatan, dan cara mengatasinya. 3. Dipahaminya tiga elemen kunci keberhasilan implementasi kebijakan di daerah (regulasi, kelembagaan, serta perencanaan, dan pengganggaran) yang perlu menjadi perhatian 4. Pemahaman proses operasionalisasi kebijakan di daerah serta alokasi sumber daya yang diperlukan. Peserta diharapkan memahami alur proses implementasi kebijakan, tahap-tahapannya, serta kegiatan-kegiatan yang perlu diselenggarakan, serta memahami alokasi sumber daya untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut 5. Rencana Kerja Daerah yang disusun berdasarkan road maping implementasi kebijakan dan diperbaharui berdasarkan kondisi daerah Rencana kerja ini minimal memuat kegiatan-kegiatan utama yang disyaratkan dalam implementasi kebijakan, seperti penyelenggaraan beberapa lokakarya daerah dan keikutsertaan daerah dalam program peningkatan kapasitas, serta kegiatan lain yang dianggap perluD. Materi Untuk pencapaian tujuan dan hasil yang diharapkan beberapa materi yang akan dibahas dalam lokakarya ini sebagai berikut: 1. Latar belakang, maksud dan tujuan kebijakan
  • 2. Pokok-pokok kebijakan dan strategi 3. Pendalaman pokok kebijakan dan strategi a. Exercise; identifikasi isu pembangunan AMPL daerah, prioritas penanganan b. Exercise; pengertian pokok-pokok kebijakan, potensi pelaksanaan, hambatan yang mungkin terjadi, serta antisipasi dan cara mengatasinya c. Exercise; menyusun urutan prioritas operasionalisasi 11 pokok kebijakan nasional berbasis masyarakat sesuai dengan kebutuhan daerah d. Exercise; memahami proses operasionalisasi kebijakan nasional berbasis masyarakat di semua tingkatan e. Exercise; memahami tiga elemen kunci keberhasilan implementasi kebijakan di daerah (regulasi, kelembagaan, serta perencanaan, dan pengganggaran) yang perlu ditindak lanjuti di daerah 4. Pendalaman roadmapping implementasi kebijakan di kabupaten/kota untuk penajaman Rencana Kerja Daerah sesuai dengan kemampuannya masing masingE. Metoda 1. Berbagi pengalaman 2. Curah pendapat 3. Diskusi kelompok 4. Presentasi dan tanya jawab.F. Alat dan Bahan 1. Buku Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat 2. Bahan presentasi 3. Kain rekat, metaplan, selotif, kertas flipchart 4. LCD, KomputerG. Waktu dan Tempat Pelaksanaan 1. Lokakarya ini akan dilakukan secara simultan di dua tempat dalam waktu bersamaan 2. Waktu pelaksanaan: 30 Mei s/d 1 Juni 2006, 3. Wilayah Indonesia Barat akan dilaksanakan di : Hotel Jayakarta Anyer, Banten 4. Wilayah Indonesia Timur akan dilaksanakan di : Hotel Summerset, Surabaya
  • H. Peserta: Wilayah Barat Wilayah Timur No Propinsi/Kabupaten/Kota ∑ Orang No Propinsi/Kabupaten/Kota ∑ Orang 1. Sumatera Barat 2 1. Nusa Tenggara Barat 2 1. Tanah Datar *) 2 1. Lombok Timur*) 2 2. Kota Payakumbuh*) 2 2. Sumbawa*) 2 3. Kota Bukittinggi 3 3. Lombok Tengah 3 4. Pesisir Selatan 3 4. Bima 3 2. Bangka Belitung 2 5. Dompu 3 1. Bangka Barat*) 2 2. Sulawesi Selatan 2 2. Bangka Utara*) 2 1. Takalar*) 2 3. Kota Pangkalpinang*) 2 2. Selayar*) 2 4. Bangka Tengah 3 3. Gowa 3 5. Bangka Induk 3 4. Wajo 3 3. Banten 2 5. Soppeng 3 1. Pandeglang*) 2 6. Jeneponto 3 2. Kota Tangerang*) 2 3. Sulawesi Tenggara 2 3. Kota Cilegon 3 1. Konawe 3 4. Serang 3 2. Konawe Selatan 3 5. Tangerang 3 4. Nusa Tenggara Timur 2 4. Gorontalo 2 1. Timor Tengah Selatan 3 1. Pohuwato*) 2 2. Rote Ndao 3 2. Bone Bolango*) 2 5. Jawa Tengah 2 3. Boalemo 3 1. Pekalongan*) 2 4. Kota Gorontalo 3 2. Grobogan*) 2 5. Kalimantan Barat 2 3. Brebes 3 1. Sambas 2 4. Pemalang 3 6. Kalimantan Tengah 2 5. Cilacap 3 1. Kotawaringin Timur 2 6. Purbalingga 3 7. Bengkulu 2 6. Pokja AMPL Pusat 3 1. Bengkulu Selatan 2 7. WASPOLA 8 8. Jambi 2 1. Muaro Jambi 2 9. Pokja AMPL Pusat 3 10. WASPOLA 7 Jumlah 79 Jumlah 78 Persyaratan Peserta : Sangat diharapkan untuk peserta kabupaten/kota dampingan lama *) mengirimkan peserta baru yang belum pernah mengikuti acara WASPOLA.
  • I. Fasilitator: 1. Wilayah Indonesia Timur : • Pokja AMPL Pusat : 3 orang • Sekretariat WASPOLA : NT, SBR, PUR, NG, AA, SYAF, JM 2. Wilayah Indonesia Barat : • Pokja AMPL Pusat : 3 orang • Sekretariat WASPOLA : NA, HP, BP, AP, DS, DHS, NYJ. Kondisi dan Akomodasi 1. Panitia menyiapkan akomodasi peserta lokakarya secara twin share (satu kamar untuk dua peserta), biaya transportasi udara dan darat dari/ke tempat lokakarya menajdi tanggungan daerah masing-masing 2. Diharapkan paling kurang 3 hari sebelum pelaksanaan lokakarya semua peserta telah memberikan konfirmasi kehadirannya untuk kepentingan pengaturan akomodasi. 3. Penambahan peserta diluar daftar yang ditentukan menjadi tanggung jawab yang bersangkutan.K. Sumber Pembiayaan 1. Sekretariat WASPOLA 2. Pokja AMPL Pusat, dalam hal ini untuk dukungan kehadiran anggota Pokja AMPL Pusat ke daerah 3. Pokja AMPL Propinsi/Kabupaten/Kota untuk biaya transportasi udara dan darat/lokal
  • L. Bagan Alir Lokakarya Pelaksanaan Operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat Pembukaan dan arahan Pre Test Review Pemahaman Presentasi (brief) kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Pendalaman Kebijakan Berbagi pengalaman Batasan dan definisi pokok-pokok implementasi kebijakan kebijakan Road Mapping dan Rencana Kerja Daerah Exercise; identifikasi isu/permasalahan AMPL daerah Exercise; prioritas operasionalisasi 11 pokok kebijakan sesuai kebutuhan daerah Exercise; Proses perasionalisasi kebijakan di semua level Exercise; 3 elemen kunci keberhasilan implementasi kebijakan d idaerah: regulasi, kelembagaan serta perencanaan dan pengganggaran Post Test Penutupan
  • M. Jadual Lokakarya Waktu Acara/Topik FasilitatorTanggal 30 Mei 200611.00 – 12.00 Check in dan registrasi Panitia12.30 – 13.00 Istirahat, sholat dhuhur, makan siang Panitia13.00 – 15.00 Upacara Pembukaan dan Sambutan Pengarahan Lokakarya oleh Direktur Fasilitator & Pokja AMPL Permukiman dan Perumahan BAPPENAS Pengantar lokakarya : a. Pre Test b. Perkenalan c. Identifikasi harapan dan tantangan d. Alur lokakarya e. Aturan main pelaksanaan lokakarya15.00 – 15.30 Rehat kopi, shalat ashar Panitia15.30 – 17.30 Presentasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat Fasilitator & Pokja AMPL17.30 – 19.30 Istirahat, sholat, makan malam. Panitia19.30 – 21.30 Diskusi identifikasi isu/permasalahan pembangunan AMPL di daerah Fasilitator & Pokja AMPL21.30 – 06.00 Istirahat PanitiaTanggal 31 Mei 200606.00 – 08.00 Persiapan diri dan makan pagi Panitia08.00 – 08.15 Review hari pertama Fasilitator & Pokja AMPL08:15 – 10.00 Diskusi pemahaman 11 pokok kebijakan dan penyusunan skala prioritas Fasilitator & Pokja AMPL berdasarkan kebutuhan daerah10.00 – 10.15 Rehat Kopi Panitia10.15 – 12.15 Lanjutan, presentasi hasil diskusi pemahaman 11 pokok kebijakan dan Fasilitator & Pokja AMPL penyusunan skala prioritas berdasarkan kebutuhan daerah12.15 – 13.00 Istirahat, sholat, makan malam Panitia13.00 – 15.30 Diskusi proses operasionalisasi kebijakan di semua level Fasilitator & Pokja AMPL15.30 – 16.00 Istirahat, sholat dan rehat kopi Panitia16.00 – 17.30 Diskusi kaitan hasil studi desentralisasi dan strategi pelaksanaan kebijakan di Fasilitator & Pokja AMPL daerah17.30 – 19.30 Istirahat, sholat, makan malam Panitia19.30 – 21.30 Acara rekreatif : Drama 5 menit setiap propinsi mengenai isu/permasalahan Fasilitator & Pokja AMPL AMPL daerah21.30 – 06.00 Istirahat PanitiaTanggal 1 Juni 200606.00 – 08.00 Persiapan diri dan makan pagi Panitia08.00 – 08.15 Review hari kedua Fasilitator & Pokja AMPL08.15 – 09.15 Berbagi pengalaman implementasi kebijakan Fasilitator & Pokja AMPL09.15 – 10.30 Road Maping Implementasi Kebijakan di Kabupaten/Kota Tahun 2006 Fasilitator & Pokja AMPL10.30 – 10.45 Rehat Kopi Panitia10.45 – 11.30 Penajaman Rencana Kerja Kabupaten/Kota Tahun 2006 Fasilitator & Pokja AMPL11.30 – 12.30 Post Test Fasilitator & Pokja AMPL Evaluasi Penutupan.12.30 – 13.30 Istirahat, sholat dhuhur, makan siang Panitia13.30 ........... Peserta kembali ke kabupaten/kotanya masing masing Fasilitator & Pokja AMPL
  • Proses Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan NasionalPembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakat di DaerahSESSI 01 : PEMBUKAANTUJUAN : Pemahaman tentang arah dan tujuan lokakarya operasionalisasi kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakatMETODE : Upacara seremonialWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : Bahan sambutan Direktur Perumahan dan Permukiman BappenasLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia.2. Presentasi Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas3. Dialog dan tanya jawab.Moderator :Notulen :
  • SESSI 02 : PENGANTAR LOKAKARYATUJUAN : 1. Peserta mengerti kondisi peserta ttg. Pemahaman Kebijakan Nasional AMPL-BM 2. Suasana rileks dan informal. tercipta 3. Tujuan lokakarya dapat dimengerti peserta 4. Agenda lokakarya disepakati oleh semua peserta. 5. Aturan main pelaksa-naan lokakarya dise- pakatiMETODE : 1. Pretest, 2. Perkenalan, 3. Identifikasi harapan & tantangan 4. Alur lokakarya, 5. Aturan main pelaksanaan lokakaryaWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat, 2. Kertas dot 3. Kertas HVS ukuran kuarto 4. Metaplan 5. Spidol 6. Selotape 7. PostcardLANGKAH PENYAJIAN :1. Intoduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini.2. Penjelasan tentang pre-test dan pelaksanaan pre-test dengan metode penempelan dot pada kain rekat yg sudah disiapkan dalam matriks : ☺ Pengetahuan tentang Pengetahuan tentang Pengetahuan tentang Pengetahuan tentang kebijakan umum keberlanjutan AMPL 11 pokok kebijakan road mapping AMPL BM implementasi kebijakan3. Perkenalan, jelaskan model perkenalan yang akan dilakukan : • Fasilitator memberikan potongan post card (puzzle) dan dibagikan secara acak kepada para peserta. (Postcard dipotong menjadi 10 potong atau lebih tergantung dari jumlah peserta).
  • • Kemudian peserta diminta untuk mencari pasangan postcard yang telah terpotong tadi menjadi gambar postcard utuh. • Setelah genap menjadi postcard utuh, peserta diminta untuk menyepakati untuk memberi nama kelompoknya. • Kemudian, masing-masing peserta dalam kelompok itu diminta untuk menggambar yang menggambarkan pengalaman individu dalam perjuangan untuk mendapatkan sebuah keberhasilan, dalam bidang AMPL • Setelah selesai dalam setiap kelompok mengungkapkan gambar yang telah dibuat kepada rekan- rekannya dalam kelompok. Sekaligus kelompok menetapkan gambar siapa yang paling menarik. • Peserta yang gambarnya paling menarik diminta untuk menyampaikan kepada kelompok yang lain. • Akhiri acara perkenalan ini dengan menyampaikan antara lain bahwa “mengenal orang lain tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat seperti sekarang ini, oleh karenanya selama lokakarya ini bapak/ibu dapat berproses mengenal lebih dekat”4. Identifikasi harapan dan kekhawatiran selama lokakarya berlangsung: • Ajak kembali peserta untuk ke melingkar di ruangan tengah lokakarya • Bagikan kertas metaplan & spidol. Minta kepada mereka untuk kembali ke kelompok tadi. • Minta setiap peserta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran pada kertas metaplan. • Diskuisikan dalam kelompoknya untuk memilih 2 terpenting menurut kesepakatan kelompok, dari harapan dan kekhawatiran tadi. Tempelkan di kain rekat. • Lakukan pengelompokan, lalu sepakati judul dari hasil setiap pengelompokkan tadi. Ingatkan kembali atas sisa hasil identifikasi harapan dan kekhawatiran yang belum ditempelkan. Minta kepada peserta untuk menempelkan pada kelompok yang paling relevan. Tanyakan kepada mereka apakah dengan penambahan ini sudah relevan dengan kesepakatan judul tadi.
  • • Berdasarkan kesepakatan tadi, ingatkan, mana saja harapan yang dapat dipenuhi. Bahas pula tentang kekhawatiran. Ingatkan bahwa antara harapan dan kekhawatiran yang dibahas adalah dalam kerangka implementasi kebijakan nasional AMPL. NOTE: Kait rekat yang berisi harapan & kekhawatiran tetap berada di ruang kelas sampai akhir lokakarya, dengan maksud sebagai sarana evaluasi di akhir lokakarya5. Presentasi alur lokakarya, agar semua fihak memahami apa saja yang akan dibahas selama lokakarya berlangsung.6. Berdasarkan alur tersebut, bahas tentang aturan main pelaksanaan lokakarya, sampai semua fihak menyepakati aturan main lokakarya. Aturan main yang disepakati menyangkut : jadual dan tata tertib pelaksanaan lokakarya.Fasilitator utama :Fasilitator perkenalan :Fasilitator identifikasi harapan :Fasilitator alur lokakarya :Fasilitator tata tertib :Notulen :
  • SESSI 03 : PRESENTASI KEBIJAKAN NASIONAL AMPL BERBASIS MASYARAKATTUJUAN : Peserta mengerti latar belakang, kerangka kerja, proses penyusunan kebi-jakan dan operasionali-sasi kebijakan sampai saat iniMETODE : 1. Presentasi 2. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Bahan tulisan ringkasan Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat • LCD & komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Pengantar presentasi2. Presentasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat3. Diskusi dan tanya jawab.4. RangkumanModerator :Presenter :Notulen :
  • Bahan presentasi tentang kebijakan AMPL berbasis masyarakat : KEBIJAKAN NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN AIR MINUM DAN PEMBANGUNAN AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT BERBASIS MASYARAKAT Disampaikan oleh Disampaikan oleh Pokja AMPL/WASPOLA Pokja AMPL/WASPOLA LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG • Pada saat ini >100 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap layanan air minum dan sanitasi dasar yang layak • Sarana AMPL yang telah dibangun kurang efektif dan efisien • Air masih dipandang hanya sebagai benda sosial Foto:PDAM Makasar • Penyehatan lingkungan belum menjadi perhatian dan prioritas • Belum adanya kebijakan dan peraturan yang terpadu dan menyeluruh mengenai pembangunan AMPL, yang ada selama ini masih bersifat parsial Foto:YSI
  • Kondisi Air Minum Kita Proportion of households with sustainable access to an improved water source, Indonesia, 2002 DKI Jakarta Bali D.I. Yogyakarta East Java Banten North Sulawesi Central Java West Java West Nusa Tenggara INDONESIA Maluku (2001) North Sumatera Southeast Sulawesi South Sulawesi Central Sulawesi East Kalimantan Riau West Sumatera Gorontalo East Nusa Tenggara Bangka Belitung Jambi Lampung South Sumatera West Kalimantan South Kalimantan Bengkulu Papua (2001) North Maluku (2001) Central Kalimantan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 % Source: SUSENAS as published in Welfare Statistics by BPS Indonesia The definition comprises clean water (piped, pumped, covered well/spring, rain and bottled water) Kondisi Penyehatan lingkungan Kita Proportion of households with sustainable access to sanitation, Indonesia, 2002 DKI Jakarta D.I. Yogyakarta Lampung Riau North Sulawesi Bali East Kalimantan North Sumatera North Maluku (2001) East Nusa Tenggara East Java Bengkulu INDONESIA South Sumatera South Sulawesi Central Java Banten Jambi Southeast Sulawesi Bangka Belitung South Kalimantan West Kalimantan West Java Central Kalimantan Central Sulawesi Papua (2001) West Sumatera Maluku (2001) Gorontalo West Nusa Tenggara 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100Source: SUSENAS %The definition comprises septic tank or hole as a final excreta disposal site.
  • PembelajaranPembelajaranPembangunan AMPL di IndonesiaPembangunan AMPL di Indonesia• Masyarakat terlibat dalam seluruh proses menunjukkan bukti: – Pemb. AMPL lebih efektif dan berkeberlanjutan – Partisipasi masyarakat lebih besar dalam O&M• Semakin tepat guna sarana AMPL, semakin tinggi efektivitas penggunaan dan keberlanjutannya.• Keterlibatan perempuan, masy. kurang beruntung dalam pengambilan keputusan memiliki efektifitas yang tinggi untuk keberlanjutan pembangunan.• Kampanye perubahan PHBS menjadi salah satu kunci program penyehatan lingkunganPembelajaranPembelajaranPembangunan AMPL di IndonesiaPembangunan AMPL di Indonesia • Efektifitas, keberlanjutan dan percepatan layanan akan tercapai apabila: – Semakin banyak pilihan teknologi yang ditawarkan, semakin besar kesempatan masyarakat untuk menentukan pilihannya. – Pilihan pelayanan dan konsekuensi biaya ditentukan langsung oleh masyarakat. • Pengguna AMPL memiliki kemampuan untuk membayar layanan sejauh hal tersebut menjawab kebutuhan.
  • Beberapa Tantangan ke DepanBeberapa Tantangan ke Depan • Target MDG, pada tahun 2015 memenuhi layanan 50% dari penduduk yang belum memiliki akses air minum dan sanitasi dasar • Laju pertumbuhan penduduk vs kemampuan percepatan layanan • Semakin langkanya cadangan air baku untuk pemenuhan air minum • Permasalahan penyehatan lingkungan (sanitasi) akan semakin kompleks • Belum tersedianya data capaian AMPL yang akurat sebagai acuan di semua level • Semakin terbatasnya kemampuan Pemerintah Karakteristik Karakteristik • Pembangunan AMPL yang KEBIJAKAN berorientasi keberlanjutan dan penggunaan efektif NASIONAL • Percepatan layananPEMBANGUNAN dengan memanfaatkan AMPL semua potensi dan peran aktif masyarakat BERBASIS • Kerangka strategis MASYARAKAT pembangunan AMPL yang berkelanjutan dan efektif
  • Operasionalisasi Operasionalisasi • Menjadi acuan bagi semua pihak dalam pelaksanaan KEBIJAKAN pembangunan AMPL yang NASIONAL berkelanjutanPEMBANGUNAN • Dijabarkan kedalam langkah AMPL dan strategi pembangunan oleh pemerintah daerah BERBASIS • Ditindaklanjuti ke dalam MASYARAKAT rencana dan pelaksanaan pembangunan di Daerah Struktur Kebijakan Struktur Kebijakan Kesepakatan Internasional MDG, Johanessburg Summit, Kyoto Declaration Pengalaman internasional dan nasional Tujuan Umum Tujuan 11 Pokok 16 strategi Terwujudnya Khusus Kebijakan Pelaksanaan kesejahteraan Keberlanjutan dan masyarakat melalui penggunaan efektif. pengelolaan AMPL yang Prinsip berkelanjutan. Dublin-Rio Dasar Hukum UU no 22 th 1999, UU no 25 th 1999, Propenas, PP dll. UU no 22 tahun 1999 diperbarui menjadi UU no 32 tahun 2004
  • Tujuan KebijakanTujuan Kebijakan Tujuan Umum Terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan Tujuan Khusus• Keberlanjutan, meliputi keberlanjutan aspek pembiayaan, aspek teknik, aspek lingkungan hidup, aspek kelembagaan dan aspek sosial.• Penggunaan Efektif, prasarana dan sarana yang tersedia tepat tujuan, tepat sasaran, dan layak dimanfaatkan serta memenuhi standar teknis, kesehatan, dan kelembagaan, serta memperhatikan perubahan perilaku masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk mengelola prasarana dan sarana.11 Kebijakan Umum11 Kebijakan Umum Air Merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi Pilihan yang Diinformasikan sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan. Pembangunan Berwawasan Lingkungan Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Keberpihakan pada Masyarakat Miskin Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan Akuntabilitas Proses Pembangunan Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator Peran Aktif Masyarakat Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya
  • Fasilitasi Operasionalisasi Kebijakan diDaerah• Tujuan; Membantu daerah dalam mengembang- kan kerangka strategi pembangunan AMPL berkelanjutan Proses; Proses; – Kaji Ulang Pembangunan AMPL selama ini, Identifikasi isu dan permasalahan, pengembangan prioritas dan langkah kegiatan yang perlu dilakukan. – Penyusunan Rencana Kerja Daerah Sektor AMPL• Propinsi sebagai pemegang peran kunci dalam fasilitasi operasionalisasi kebijakan di daerahManfaat Bagi DaerahManfaat Bagi DaerahKabupaten – Memiliki gambaran permasalahan dan potensi layanan AMPL – Memiliki arahan yang jelas dalam pengembangan rencana kerja – Memiliki rencana kerja dalam rangka layanan AMPL yang berkelanjutan – Sinergi pelaksanaan pembangunan AMPL yang berkelanjutanPropinsi – Memiliki gambaran permasalahan dan potensi layanan AMPL – Memiliki arahan yang jelas sesuai dengan TUPOKSINYA dalam pengkoordinasian pembangunan AMPL di daerah – Memiliki kerangka monitoring capaian layanan AMPL di daerah – Sinergi pelaksanaan pembangunan AMPL yang berkelanjutan
  • Road Mapping Operasionalisasi KebijakanTOT operasionalisasi Petatihan Pert. Koordinasi Lokakarya kebijakan dan Metodologi Pokja Pusat, Nasional Konsolidasi penyusunan renstra Perencanaan Propinsi Hasil Pelaksanaan Partisipatif Dan Kabupaten Kebijakan Lokakarya Sinergi Lokakarya Lokakarya Konso- Pembangunan Konsolidasi lidasi Rencana Kerja AMPL Daerah Data AMPL Kabupaten Strategi Daerah Pertemuan Pembangunan Koordinasi AMPL- 2015 Visi Faktor Isu dan Penyiapan data internal Rencana & dan program AMPL daerah strategis Kerja Misi eksternal Kajian lapangan Dialog KebijakanDukungan Yang Diharapkan dari Daerah• Menempatkan AMPL sebagai salah satu prioritas pembangunan dalam AKU• Dukungan peningkatan alokasi dana sektor AMPL• Keterlibatan aktif legislatif dalam kegiatan penyusunan renstra AMPL• Optimalisasi fungsi dan peran Pokja dan institusi yang menangani AMPL
  • SESSI 04 : PENDALAMAN IDENTIFIKASI MASALAH PEMBANGUNAN AMPL DI DAERAHTUJUAN : 1. Peserta mampu melakukan identifikasi isu dan masalah lokal pembangunan AMPL 2. Peserta mampu mengkaitkan antara isu dan masalah pembangunan AMPL daerah dengan keberlanjutan AMPLMETODE : 1. Diskusi kelompok 2. Presentasi 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 240 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. SelotifLANGKAH PENYAJIAN :Bagian pertama :1. Pengantar dan tujuan diskusi kelompok, tentang identifikasi masalah pembangunan AMPL di daerah2. Lakukan urun rembug untuk membahas : a. issue b. masalah – yang terkait dengan pembangunan AMPL daerah3. Lakukan pembagian kelompok atas dasar propinsi untuk melakukan identifikasi isu dan masalah pembangunan AMPL di propinsi dan kabupaten/kota4. Diskusi kelompok untuk membahas isu dan masalah AMPL daerah : Masalah sekarang Kondisi yang Gap Alternatif diharapkan yang rencana tindak terjadi masih yang mungkin dimasa terjadi dilakukan mendatang daerah Masalah yang akan datang
  • Tempelkan di kain rekat masing masing propinsi. Rekam dengan kamera digital untuk dokumentasi.5. Lakukan presentasi secara round robin, berikan kesempatan tanya jawab untuk pengkayaan wawasan.6. Lakukan rangkuman : bahwa hasil kesimpulan Alternatif Rencana Tindak yang mungkin dilakukan daerah; dapat menjadi dasar untuk penyusunan Rencana Kerja Daerah.Bagian kedua :1. Ingatkan peserta dengan hasil diskusi isu dan permasalahan AMPL daerah kemarin.2. Minta kepada setiap kelompok untuk memilih 5 isu atau masalah utama daerahnya, bawa ke kain rekat utama, lalu tempelkan.3. Ajak peserta untuk mengelompokkan isu dan masalah AMPL daerah. Lalu, ajak diskusi peserta untuk membuat judul kelompok masalah tersebut.4. Berdasarkan pengelompokkan tersebut, minta setiap daerah untuk mengambil kertas meta-plannya yang paling relevan dengan hasil pengelompokkan tersebut, dan tempelkan pada kelompok yang paling relevan.5. Ajak peserta untuk membuat garis garis yang menghubungkan hubungan antar kelompok masalah tersebut.6. Jelaskan bahwa dengan pengelompokkan tersebut, serta dengan adanya garis garis yang saling menghubungkan dan mempengaruhi tadi, adalah aspek aspek yang harus diperhitungkan dalam rangka menuju keberlanjutan AMPL
  • SESSI 05 : DISKUSI PENDALAMAN 11 POKOK KEBIJAKAN DAN PENYUSUNAN SKALA PRIORITAS BERDASARKAN KEBUTUHAN DAERAHTUJUAN : 1. Peserta dapat merumuskan batasan dan definisi pokok-pokok kebijakan 2. Peserta dapat menyusun urutan prioritas implementasi sesuai kebutuhan daerah 3. Peserta dapat berbagi informasi mengenai batasan dan definisi pokok-pokok kebijakan; serta urutan prioritas implementasi sesuai kebutuhan daerah 4. Peserta dapat memahami permasalahan AMPL yang dihadapi dan dikaitkan dengan aspek keberlanjutan AMPLMETODE : 1. Diskusi kelompok 2. Presentasi 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 240 menitALAT/BAHAN : 1. Buku Kebijakan 2. Kain rekat 3. Metaplan 4. Spidol 5. SelotifLANGKAH PENYAJIAN :Bagian pertama :1. Introduksi tentang pentingnya refleksi diri setiap daerah dalam kesiapan kita memahami Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat sebagai persiapan untuk melakukan diseminasi secara meluas.2. Bagikan peserta kedalam kelompok secara campuran antar daerah sebanyak 5 kelompok.3. Minta kepada setiap kelompok untuk membahas : Pokok2 Upaya yang akan Definisi kerja Tantangan kebijakan dilakukan 1. Air ....... 2. Pilihan ……. dst 11. Penerapan
  • Catatan :1. Lihat kondisi peserta, serta alokasi waktu yang tersedia, apabila sulit setiap kelompok untuk membahas semua dari 11 pokok kebijakan, maka setiap kelompok cukup membahas 2 atau 3 pokok kebijakan saja.2. Buat pembagian 11 pokok kebijakan dengan cara yang paling terlihat kaitan antara kebijakan yang satu dan yang lainnya3. Apabila alternatif ini yang dipilih, maka ketika presentasi, kelompok lainnya harus betul betul menyimak dan menyempurnakan hasil diskusi tersebut. Untuk itu, diperlukan kejelian fasilitator pemandu dalam memandu presentasi.Bagian kedua :1. Fasilitator pleno menjelaskan tentang tata cara diskusi secara round robin, ajak peserta untuk berdiskusi secara berkeliling, dengan route : • Semua peserta menuju Kelompok 1 • Semua peserta menuju Kelompok 2 • Semua peserta menuju Kelompok 3 • Semua peserta menuju Kelompok 4 • Semua peserta menuju Kelompok 5 • Fasilitator dan notulen tetap berada di kelompok awal, dan memandu diskusi untuk pengkayaan wawasan dan atau menambahkan hal hal yang dianggap perlu.2. Fasilitator pleno menjelaskan tentang tata cara diskusi secara berkeliling : Pada setiap kelompok disediakan waktu antara 20-25 menit untuk presentasi dan tanya jawab untuk penyempurnaan dari hasil diskusi kelompok sebelumnya Masukan yang berasal dari kelompok lainnya dituliskan dan ditambahkan dengan menggunakan kertas metaplan dan atau flipchart yang baru. Dan akan menjadi bahan bagi notulen untuk melengkapi tulisan hasil kelompoknya.3. Fasilitator pleno bersama fasilitator dan notulen kelompok kecil menyampaikan catatan penting yang diperoleh dari diskusi berkeliling tersebut.
  • SESSI 06 : ANALISIS STAKEHOLDERTUJUAN : 1. Peserta memahami tentang peran stakeholder dalam implementasi kebijakan 2. Peserta memahami tentang peran stakeholder dalam tahapan pembangunan AMPLMETODE : 1. Ceramah singkat 2. Diskusi kelompok 3. Presentasi dan Tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Kain rekat • Metaplan • Spidol • SelotifLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi tentang pentingnya pemahaman peserta tentang peran stakeholder dalam implementasi kebijakan dan tahapan pembangunan AMPL berbasis masyarakat2. Bagikan peserta kedalam kelompok secara campuran antar daerah sebanyak 4 kelompok yang berbeda3. Jelaskan tugas pertama yang akan dilakukan dikelompok : membuat analisis stakeholder peran stakeholder dalam implementasi kebijakan
  • Peran stakeholder dalam : Level Regulasi Perencanaan dan Penganggaran Kelembagaan Pusat : DPR Bappenas Dept PU Dept Kesehatan Depdagri Depdiknas Dept Keuangan Kementrian LH Propinsi : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidikan Kabupaten : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidikan Masyarakat Catatan : instansi terkait dapat ditambahkan sesuai dengan kesepakatan kelompok4. Setelah 20 menit, hentikan kegiatan, lakukan diskusi secara round robin. Tidak ada presentasi, kelompok lain hanya diminta untuk menyempurnakan dengan menambahkan dengan tulisan dalam metaplan dengan warna yang berebeda.5. Buat rangkuman singkat, bahwa kita telah dapat memetakan peran masing masing stakeholder dalam pelaksanaan kebijakan.6. Hentikan kegiatan, ajak peserta untuk bergerak kekain rekat untuk melakukan : menentukan peran stakeholder dalam tahapan pembangunan AMPL, dengan cara menempelkan kertas dot pada matriks berikut ini :
  • Peran stakeholder dalam : Operasi dan Level Persiapan sosial Perencanaan Pelaksanaan Pemeliharaan Pusat : DPR Bappenas Dept PU Dept Kesehatan Depdagri Dept Keuangan Propinsi : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidikan Kabupaten : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidika Masyarakat7. Tutup sessi ini dengan mengatakan bahwa dengan memetakan peran stakeholder dalam implementasi kebijakan dan tahapan pembangunan diharapkan memudahkan peserta dalam menyusun agenda kegiatan di daerahnya masing masing.
  • SESSI 07 : ACARA REKREATIF : DRAMA 5 MENITTUJUAN : Peserta mampu menggambarkan isu terkini tentang kondisi AMPL daerahnya dalam bentuk acara rekreatifMETODE : DramaWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Panggung acara • Bahan bahan sesuai dengan kebutuhan daerahLANGKAH PENYAJIAN :1. Peserta per propinsi diminta untuk menyiapkan drama/pantomim yang akan dibawakan selama 5 menit yang menggambarkan isu AMPL terkini didaerahnya masing masing.2. Drama dipertunjukkan selama 5 menit setiap propinsi3. Pemberian hadiah untuk propinsi paling kreatifCatatan :1. Sebagai persiapan jelaskan sejak Alur Pelaksanaan Lokakarya, serta pada saat pembahasan Isu dan Masalah Pembangunan AMPL Daerah, sehingga pada saat drama 5 menit ini betul betul akan mengekspresikan daerahnya masing masing.2. Acara dapat dilanjutkan dengan kegiatan hiburan lainnya.
  • SESSI 08 : Berbagi pengalaman implementasi kebijakanTUJUAN : Peserta mendapatkan pengkayaan wawasan dari pengalaman implementasi kebijakan yang telah dilakukan selama iniMETODE : Ceramah singkat dan Tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Bahan tulisan ringkasan pengalaman implementasi kebijakan • LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi tentang tata cara berbagi implementasi Kebijakan Nasional AMPL : baik dari Wilayah Barat maupun Wilayah Timur, disertai dengan catatan : daerah lama lainnya menambahkan dan menyempurnakan.2. Minta kepada anggota kelompok kerja AMPL lama untuk menjelaskan tentang apa yang telah dihasilkan selama implementasi kebijakan didaerahnya, seraya minta kepada daerah lama lainnya untuk menyempurnakan atau malah dengan menambahkan sesuatu yang baru sama sekali4. Fasilitator memberikan kesempatan untuk tanya jawab.5. Buat rangkuman tentang beberapa kunci keberhasilan implementasi kebijakan selama ini, kaitkan dengan pembahasan hari kedua kemarin.
  • SESSI 09 : ROAD MAPPING IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DI DAERAH TUJUAN : Gambaran langkah-langkah implementasi didaerah propinsi dan kabupaten METODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. Diskusi kelompok WAKTU : 30 menit ALAT/BAHAN : 1. Format road mapping, 2. Kain rekat 3. Metaplan 4. Spidol 5. Selotif LANGKAH PENYAJIAN : 1. Penjelasan tentang maksud dan tujuan perlunya Road Mapping Implementasi Kebijakan bagi propinsi dan kabupaten, 2. Jelaskan Road Mapping Implementasi Kebijakan. Berikan kesempatan untuk tanya jawab GAMBARAN CAKUPAN AMPL DAERAH Lokasi # Desa # Penduduk # Pend terlayani AM # Pend terlayani sanitasi # proyek AM PL 5 th terakhirKecamatan 1 GAMBARAN PROGRAM INVESTASI AMPL DAERAHKecamatan 2 Lokasi 2006 2007 2008 dst # KecamatanKecamatan 3 # DesaKecamatan 4 # PendudukKecamatan 5 # Sistem AMdst # Sistem sanitasi # Perkiraan Biaya ESTIMASI KEBUTUHAN PELAYANAN AMPL SD TAHUN 2015 Lokasi air minum estimasi biaya sanitasi estimasi biaya Total Biaya AM PL baru GAMBARAN KEMAMPUAN PEMBIAYAAN DAERAH DALAM INVESTASI AMPL Sumber 2006 2007 2008 dstKecamatan 1 MasyarakatKecamatan 2 APBDKecamatan 3 DAKKecamatan 4 Sumber lainKecamatan 5 Gapdst TOTAL
  • 3. Peserta dibagi dalam kelompok kerja masing-masing propinsi dengan kabupaten/kota-nya masing masing4. Minta semua kabupaten/kota dalam wilayah propinsinya membahas tahapan dan pelaksanaan kebijakan di daerahnya, kemudian masing-masing kabupaten/kota dan propinsi membahas konsekuensi dari pelaksanaan roadmapping tersebut.
  • SESSI 10 : PENAJAMAN RENCANA KEGIATAN DAERAHTUJUAN : Setiap daerah menyusun Rencana Operasional Daerah seperti misalnya : rencana road show daerah, lokakarya.daerah, dan kegiatan diseminasi kebijakan di daerah lainnyaMETODE : PenugasanWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : 1. Format Format Rencana Kerja 2. Kain rekat 3. Metaplan 4. Selotif 5. Hasil Lokakarya Nasional Konsolidasi Rencana KerjaLANGKAH PENYAJIAN :1. Session ini sangat berkaitan erat dengan session sebelumnya (roadmapping) sebagai penjabaran dari road mapping kedalam rentang waktu2. Sedikit penjelasan tentang penjabaran road mapping pada rentang waktu3. Kelompok kerja dalam wilayah propinsi menajamkan kembali Penajaman Rencana Kegiatan Daerah 2006.4. Setelah selesai kerja kelompok, secara round robin hasil kerja di presentasikan.
  • SESSI 11 : POST TEST EVALUASI AKHIRTUJUAN : Peserta mengerti pencapaian lokakarya saat ituMETODE : PenugasanWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : • Format Post Test • Format Evaluasi Akhir • Kain rekat • Metaplan • Selotif Hasil loknas SurabayaLANGKAH PENYAJIAN : Bagian pertama Pengisian kembali kain rekat post test, dengan metode penempelan dot pada kain rekat yg sudah disiapkan dalam matriks :☺ Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan tentang tentang tentang 11 pokok tentang road kebijakan umum keberlanjutan kebijakan mapping AMPL BM AMPL implementasi kebijakanBagian keduaEvaluasi akhir dengan menggunakan format evaluasi akhir, dimana setelah diisidikembalikan ke fasilitator.Note: Perlu penekanan bahwa yang paling penting hasil lokakarya inibukan ditentukan hanya didalam kelas ini tetapi bagaimana penerapannyadi daerah masing-masing
  • LEMBAR EVALUASI AKHIR KEGIATAN LOKAKARYA OPERASIONALISASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN AMPL BERBASIS MASYARAKATAsal Wilayah: ___________________________________________________________Ketentuan : berikan tanda √ pada kolom angka atau score yang sesuai dari angka 1 sangatkurang sampai 5 sangat baik pada setiap item pernyataan. ITEM EVALUASI SCORE NO 1 2 3 4 5 1. Seberapa jauh lokakarya ini memenuhi harapan anda (harapan umum) 2. Seberapa jauh lokakarya ini memberikan kejelasan dan wawasan – wawasan tentang Operasionalisasi Kebijakan Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dan kaitannya dengan konsep kesinambungan program AMPL 3. Seberapa jauh anda mendapatkan informasi atau pemahaman serta ketrampilan yang bermanfaat bagi pekerjaan anda yang berkaitan dengan Kelompok Kerja AMPL dan penggunaan Operasionalisasi Kebijakan Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat untuk kesinambungan program AMPL 4. Seberapa jauh metode atau teknik penyajian dalam lokakarya ini membantu anda dalam memahami materi yang disampaikan 5. Seberapa keaktifan peran serta peserta dalam lokakarya ini 6. Bagaimana kemampuan fasilitator dalam membangun dinamika pembahasan 7. Seberapa jauh materi yang disajikan dalam lokakarya ini sesuai dan memenuhi harapan anda 8. Seberapa jauh pengaturan tempat lokakarya membantu anda dalam memperlancar proses dan hasil belajar anda 9. Apakah waktu yang dialokasikan pada lokakarya ini mencukupi 10. Apakah sarana belajar (bahan, peralatan belajar) yang disediakan cukup memadai untuk membantu anda dalam proses belajar 11. Apakah fasilitas pendukung lainnya seperti akomodasi, konsumsi dan sebagainya untuk lokakarya ini memadaiCatatan : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik dan 5 = sangat baik
  • KOMENTAR-KOMENTAR ANDA YANG SANGAT BERHARGA :HAL-HAL POSITIF/KEKUATAN DALAM KEGIATAN LOKAKARYA INIKELEMAHAN /ATAU HAL NEGATIF DALAM KEGIATAN LOKAKARYA INISARAN-SARAN UNTUK PERBAIKAN KEDEPAN
  • PROSES TABULASIa. Pindahkan isi format evaluasi ke dalam format rekap hasil evaluasi kolom 4, 6, 8, 10, 12b. Isi kolom 5, 7, 9, 11, 13 dengan mengalikan nilai score dengan nilai pada kolom 4, 6, 8, 10, 12c. Isi kolom 14 dengan cara menjumlahkan isi pada kolom 5, 7, 9, 11 dan 13d. Isi kolom 15 dengan cara membagi isi kolom 14 dengan jumlah peserta/suara pada kolom 3e. Isi kolom 16 dengan cara berikut : Kolom (15)/5 x 100 %f. Komentar dan saran ditulis pada kertas tersendiri.
  • SESSI 12 : PENUTUPANTUJUAN : Peserta mendapatkan arahan tentang apa yang harus dilakukan pasca lokakaryaMETODE : Upacara seremonialWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : Sambutan penutupan lokakaryaLANGKAH PENYAJIAN : 1. Fasilitator menyampaikan maksud dan tujuan penutupan lokakarya 2. Sambutan arahan dari Pokja AMPL.
  • Final DraftAlur Proses Kegiatan Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat, 30 Mei – 1 Juni 2006 Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator BahanHari Pertama, 30 Mei 200610.00 – 12.00 Check in12.00 – 13.00 Makan siang13.00 – 15.00 Pembukaan & Pemahaman tentang Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia. Direktur Bahan Pengarahan arah lokakarya Pengarahan Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas atau yang mewakili Perumahan Pengarahan operasionali-sasi Dialog dan tanya jawab. dan ter- sedia dlm kebijakan nasional Moderator : SBR (Wil.Timur); HP (Wil.Barat) Permukiman format power AMPL berbasis Notulen : PUR (Wil.Timur); AP (Wil.Barat) Bappenas point Pengantar masyarakat atau yg lokakarya: 1. Peserta mengerti 1. Penjelasan tentang pre-test dan pelaksanaan pre-test dengan metode penempelan dot mewakili - Pretest, kondisi peserta pada kain rekat yg sudah disiapkan dalam matriks : - Perkenalan, ttg. pemahaman . Pokja AMPL - Identifikasi hara- pan & Kebijakan Nasional AMPL-BM ☺ WASPOLA • Kain rekat, • Kertas dot tantangan 2. Suasana rileks dan • Kertas HVS - Alur informal. tercipta ukuran lokakarya, 3. Tujuan lokakarya kuarto - Aturan main dapat dimengerti • Metaplan pe- laksanaan peserta Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan • Spidol lokakarya 4. Agenda lokakarya tentang tentang tentang 11 tentang road • Selotape disepakati oleh kebijakan keberlanjutan pokok mapping • Postcard semua peserta. 5. Aturan main umum AMPL AMPL kebijakan implementasi pelaksa-naan BM kebijakan lokakarya dise- pakati 2. Perkenalan, jelaskan model perkenalan yang akan dilakukan : • Fasilitator memberikan potongan post card (puzzle) dan dibagikan secara acak kepada para peserta. (Postcard dipotong menjadi 10 potong atau lebih tergantung dari jumlah peserta). • Kemudian peserta diminta untuk mencari pasangan postcard yang telah terpotong tadi menjadi gambar postcard utuh. • Setelah genap menjadi postcard utuh, peserta diminta untuk menyepakati untuk memberi nama kelompoknya. • Kemudian, masing-masing peserta dalam kelompok itu diminta untuk menggambar yang menggambarkan pengalaman individu dalam perjuangan untuk mendapatkan sebuah keberhasilan, dalam bidang AMPL • Setelah selesai dalam setiap kelompok mengungkapkan gambar yang telah dibuat kepada rekan-rekannya dalam kelompok. Sekaligus kelompok menetapkan gambar siapa yang paling menarik. • Peserta yang gambarnya paling menarik diminta untuk menyampaikan kepada kelompok yang lain.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan • Akhiri acara perkenalan ini dengan menyampaikan antara lain bahwa “mengenal orang lain tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat seperti sekarang ini, oleh karenanya selama lokakarya ini bapak/ibu dapat berproses mengenal lebih dekat” 3. Identifikasi harapan dan kekhawatiran selama lokakarya berlangsung: • Ajak kembali peserta untuk ke melingkar di ruangan tengah lokakarya • Bagikan kertas metaplan & spidol. Minta kepada mereka untuk kembali ke kelompok tadi. • Minta setiap peserta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran pada kertas metaplan. • Diskuisikan dalam kelompoknya untuk memilih 2 terpenting menurut kesepakatan kelompok, dari harapan dan kekhawatiran tadi. Tempelkan di kain rekat. • Lakukan pengelompokan, lalu sepakati judul dari hasil setiap pengelompokkan tadi. Ingatkan kembali atas sisa hasil identifikasi harapan dan kekhawatiran yang belum ditempelkan. Minta kepada peserta untuk menempelkan pada kelompok yang paling relevan. Tanyakan kepada mereka apakah dengan penambahan ini sudah relevan dengan kesepakatan judul tadi. • Berdasarkan kesepakatan tadi, ingatkan, mana saja harapan yang dapat dipenuhi. Bahas pula tentang kekhawatiran. Ingatkan bahwa antara harapan dan kekhawatiran yang dibahas adalah dalam kerangka implementasi kebijakan nasional AMPL. NOTE: Kait rekat yang berisi harapan & kekhawatiran tetap berada di ruang kelas sampai akhir lokakarya, dengan maksud sebagai sarana evaluasi di akhir lokakarya 4. Presentasi alur lokakarya, agar semua fihak memahami apa saja yang akan dibahas selama lokakarya berlangsung. 5. Berdasarkan alur tersebut, bahas tentang aturan main pelaksanaan lokakarya, sampai semua fihak menyepakati aturan main lokakarya. Aturan main yang disepakati menyangkut : jadual dan tata tertib pelaksanaan lokakarya. Fasilitator utama : NT (wilayah timur); NA (wilayah barat) Fasilitator perkenalan : PUR (wilayah timur); BP (wilayah barat) Fasilitator identifikasi harapan : NG (wilayah timur); AP (wilayah barat) Fasilitator alur lokakarya : SBR (wilayah timur); DS (wilayah barat) Fasilitator tata tertib : SYAF (wilayah timur); HP (wilayah barat) Notulen : AA (wilayah timur); DHS (wilayah barat15.00 – 15.30 Rehat kopi15.30 – 17.30 Presentasi Peserta mengerti latar 1. Pengantar presentasi Pokja AMPL • Kain rekat Kebijakan belakang, kerangka 2. Presentasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat WASPOLA • Metaplan Nasional AMPL kerja, proses 3. Diskusi dan tanya jawab. • Spidol Berbasis penyusunan kebi- 4. Rangkuman • Selotif Masyarakat jakan dan Moderator : NT (wilayah timur); DHS (wilayah barat) • LCD& operasionali-sasi Presenter : Wakil Pokja AMPL Pusat (wilayah timur); Wakil Pokja AMPL Pusat (wilayah barat) komputer kebijakan sampai saat Notulen : AA (wilayah timur); AP (wilayah barat) ini
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan17.30 – 19.30 Istirahat, makan malam19.30 – 21.00 Pendalaman Isu dan masalah lokal 1. Pengantar dan tujuan diskusi kelompok, tentang identifikasi masalah pembangunan Pokja AMPL • Kain rekat identifikasi pembangunan AMPL AMPL di daerah WASPOLA • Metaplan masalah teridentifikasi 2. Lakukan urun rembug untuk membahas : • Spidol pembangunan a. issue • Selotif AMPL di daerah b. masalah – yang terkait dengan pembangunan AMPL daerah 3. Lakukan pembagian kelompok atas dasar propinsi untuk melakukan identifikasi isu dan masalah pembangunan AMPL di propinsi dan kabupaten/kota 4. Diskusi kelompok untuk membahas isu dan masalah AMPL daerah : Masalah sekarang Kondisi Gap Alternatif yang yang rencana tindak diharapkan terjadi masih yang mungkin terjadi dilakukan dimasa Masalah daerah mendatang yang akan datang Tempelkan di kain rekat masing masing propinsi. Rekam dengan kamera digital untuk dokumentasi. 5. Lakukan presentasi secara round robin, berikan kesempatan tanya jawab untuk pengkayaan wawasan. 6. Lakukan rangkuman : bahwa hasil kesimpulan Alternatif Rencana Tindak yang mungkin dilakukan daerah; dapat menjadi dasar untuk penyusunan Rencana Kerja Daerah. Fasilitator Pleno: SBR (wilayah timur); NA (wilayah barat) Fasilitator kelompok: No. Barat Timur Propinsi Fasilitator Propinsi Fasilitator 1. Sumatera Barat DHS Jawa Tengah PUR 2. Bangka Belitung DS Nusa Tenggara Barat NT 3. Banten AP Nusa Tenggara Timur AA 4. Gorontalo BP Sulawesi Selatan NG 5. Propinsi CWSHP HP Sulawesi Tenggara SYAF21.00 – 06.00 IstirahatHari Kedua, 31 Mei 200606.00 – Persiapan diri, makan pagi08.0008.00 – Review pokok Pemahaman tentang Review : • Kain rekat
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan08..15 pokok hasil pokok pokok hasil 1. Introduksi tentang review pokok pokok hasil lokakarya hari pertama • Metaplan hari ke 1 lokakarya hari 1 2. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok • Spidol hasil lokakarya hari 1 • Selotif 3. Minta peserta lainnya untuk menambahkan Fasilitator : PUR (wilayah timur); DS (wilayah barat) Notulen : AA (wilayah timur); BP (wilayah barat)08.15 – Lanjutan Kaitan antara isu dan 1. Ingatkan peserta dengan hasil diskusi isu dan permasalahan AMPL daerah kemarin. Pokja AMPL • Kain rekat10.00 pendalaman masalah 2. Minta kepada setiap kelompok untuk memilih 5 isu atau masalah utama daerahnya, WASPOLA • Metaplan identifikasi pembangunan AMPL bawa ke kain rekat utama, lalu tempelkan. • Spidol masalah daerah dengan 3. Ajak peserta untuk mengelompokkan isu dan masalah AMPL daerah. Lalu, ajak diskusi • Selotif pembangunan keberlanjutan AMPL peserta untuk membuat judul kelompok masalah tersebut. AMPL di daerah 4. Berdasarkan pengelompokkan tersebut, minta setiap daerah untuk mengambil kertas menuju meta-plannya yang paling relevan dengan hasil pengelompokkan tersebut, dan keberlanjutan tempelkan pada kelompok yang paling relevan. AMPL 5. Ajak peserta untuk membuat garis garis yang menghubungkan hubungan antar kelompok masalah tersebut. 6. Jelaskan bahwa dengan pengelompokkan tersebut, serta dengan adanya garis garis yang saling menghubungkan dan mempengaruhi tadi, adalah aspek aspek yang harus diperhitungkan dalam rangka menuju keberlanjutan AMPL10.00 – Rehat kopi10.1510.15 – Diskusi a. Batasan dan 1. Introduksi tentang pentingnya refleksi diri setiap daerah dalam kesiapan kita Pokja AMPL • Buku12.15 pendalaman 11 definisi pokok- memahami Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat sebagai persiapan untuk WASPOLA Kebijakan pokok kebijakan pokok kebijakan melakukan diseminasi secara meluas. • Kain rekat dan penyusunan b. Urutan prioritas 2. Bagikan peserta kedalam kelompok secara campuran antar daerah sebanyak 5 • Metaplan skala prioritas implementasi kelompok. • Spidol berdasarkan sesuai kebutuhan 3. Minta kepada setiap kelompok untuk membahas : • Selotif kebutuhan daerah daerah Pokok2 kebijakan Definisi kerja Tantangan Upaya yang akan dilakukan 1. Air ....... 2. Pilihan ……. dst 11. Penerapan Catatan : 1. Lihat kondisi peserta, serta alokasi waktu yang tersedia, apabila sulit setiap kelompok untuk membahas semua dari 11 pokok kebijakan, maka setiap kelompok cukup membahas 2 atau 3 pokok kebijakan saja. 2. Buat pembagian 11 pokok kebijakan dengan cara yang paling terlihat kaitan antara kebijakan yang satu dan yang lainnya 3. Apabila alternatif ini yang dipilih, maka ketika presentasi, kelompok lainnya harus betul betul menyimak dan menyempurnakan hasil diskusi tersebut. Untuk itu, diperlukan kejelian fasilitator pemandu dalam memandu presentasi. Fasilitator Pleno: SBR (wilayah timur); HP (wilayah barat) Fasilitator kelompok:
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan No. Barat Timur Kelompok Fasilitator Kelompok Fasilitator 1. Kelompok 1 DHS Kelompok 1 PUR 2. Kelompok 2 DS Kelompok 2 NT 3. Kkelompok 3 AP Kkelompok 3 AA 4. Kelompok 4 BP Kelompok 4 NG 5. Kelompok 5 NA Kelompok 5 SYAF12.15 – Istirahat, makan siang13.3013.30 – Lanjutan diskusi c. Berbagi informasi 1. Fasilitator pleno menjelaskan tentang tata cara diskusi secara round robin, ajak peserta Pokja AMPL • Buku15.30 kelompok batasan dan untuk berdiskusi secara berkeliling, dengan route : WASPOLA Kebijakan pendalaman 11 definisi pokok- • Semua peserta menuju Kelompok 1 • Kain rekat pokok kebijakan pokok kebijakan; • Semua peserta menuju Kelompok 2 • Metaplan dan penyusunan serta urutan • Semua peserta menuju Kelompok 3 • Spidol skala prioritas prioritas • Semua peserta menuju Kelompok 4 • Selotif berdasarkan implementasi • Semua peserta menuju Kelompok 5 kebutuhan sesuai kebutuhan • Fasilitator dan notulen tetap berada di kelompok awal, dan memandu diskusi untuk daerah daerah pengkayaan wawasan dan atau menambahkan hal hal yang dianggap perlu. d. Pemahaman 2. Fasilitator pleno menjelaskan tentang tata cara diskusi secara berkeliling : tentang Pada setiap kelompok disediakan waktu antara 20-25 menit untuk presentasi dan permasalahan dan tanya jawab untuk penyempurnaan dari hasil diskusi kelompok sebelumnya aspek Masukan yang berasal dari kelompok lainnya dituliskan dan ditambahkan dengan keberlanjutan menggunakan kertas metaplan dan atau flipchart yang baru. Dan akan menjadi AMPL bahan bagi notulen untuk melengkapi tulisan hasil kelompoknya. 3. Fasilitator pleno bersama fasilitator dan notulen kelompok kecil menyampaikan catatan penting yang diperoleh dari diskusi berkeliling tersebut. Fasilitator pleno : SBR (wilayah timur) : HP (wilayah barat) Notulen : masing masing fasilitator diatas15.00 – Rehat kopi15.3015.30 – Analisis e. Pemahaman 1. Introduksi tentang pentingnya pemahaman peserta tentang peran stakeholder dalam •17..30 stakeholder peserta tentang implementasi kebijakan dan tahapan pembangunan AMPL berbasis masyarakat peran stakeholder 2. Bagikan peserta kedalam kelompok secara campuran antar daerah sebanyak 4 dalam kelompok yang berbeda implementasi 3. Jelaskan tugas pertama yang akan dilakukan dikelompok : membuat analisis kebijakan stakeholder peran stakeholder dalam implementasi kebijakan f. Pemahaman peserta tentang peran stakeholder dalam tahapan pembangunan AMPL
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Peran stakeholder dalam : Level Regulasi Perencanaan dan Kelembagaan Penganggaran Pusat : DPR Bappenas Dept PU Dept Kesehatan Depdagri Depdiknas Dept Keuangan Kementrian LH Propinsi : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidikan Kabupaten : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidika Masyarakat Catatan : instansi terkait dapat ditambahkan sesuai dengan kesepakatan kelompok 4. Setelah 20 menit, hentikan kegiatan, lakukan diskusi secara round robin. Tidak ada presentasi, kelompok lain hanya diminta untuk menyempurnakan dengan menambahkan dengan tulisan dalam metaplan dengan warna yang berebeda. 5. Buat rangkuman singkat, bahwa kita telah dapat memetakan peran masing masing stakeholder dalam pelaksanaan kebijakan. 6. Hentikan kegiatan, ajak peserta untuk bergerak kekain rekat untuk melakukan : menentukan peran stakeholder dalam tahapan pembangunan AMPL, dengan cara menempelkan kertas dot pada matriks berikut ini :
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Peran stakeholder dalam : Level Persiapan Perencanaan Pelaksanaan Operasi dan sosial Pemeliharaan Pusat : DPR Bappenas Dept PU Dept Kesehatan Depdagri Dept Keuangan Propinsi : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidikan Kabupaten : Pimpinan Daerah DPRD Bappeda Dinas PU Dinas Kesehatan BPMD Bapedalda Dinas Pendidika Masyarakat 7. Tutup sessi ini dengan mengatakan bahwa dengan memetakan peran stakeholder dalam implementasi kebijakan dan tahapan pembangunan diharapkan memudahkan peserta dalam menyusun agenda kegiatan di daerahnya masing masing. Fasilitator Pleno Peran Stakeholder Dalam Implementasi Kebijakan : PUR (wilayah timur); BP (wilayah barat) Fasilitator Pleno Peran Stakeholder Dalam Tahapan Pembangunan AMPL : SBR (wilayah timur); NA (wilayah barat)
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Fasilitator kelompok: No. Barat Timur Kelompok Fasilitator Kelompok Fasilitator 1. Kelompok 1 DHS Kelompok 1 PUR 2. Kelompok 2 DS Kelompok 2 NT 3. Kkelompok 3 AP Kkelompok 3 AA 4. Kelompok 4 HP Kelompok 4 SYAF17.30 – Istirahat, makan malam19.3019.30 - Acara rekreatif: Peserta memahami 1. Peserta per propinsi diminta untuk menyiapkan drama/pantomim yang kan dibawakan Pokja AMPL/ Peralatan, dan21.30 Drama 5 menit praktek isu AMPL selama 5 menit yang kemuat isu daerahnya. WASPOLA ruangan, serta daerah 2. Drama dipertunjukkan selama 5 menit setiap propinsi hadiah untuk 3. Pemberian hadiah untuk propinsi paling kreatif pemenang Pembawa acara : PUR ( wilayah timur ) DHS ( wilayah barat ) Juri : Tim WASPOLA dan Pokja AMPL Catatan : 4. Sebagai persiapan jelaskan sejak Alur Pelaksanaan Lokakarya, serta pada saat pembahasan Isu dan Masalah Pembangunan AMPL Daerah, sehingga pada saat drama 3 menit ini betul betul akan mengekspresikan daerahnya masing masing. 5. Acara dapat dilanjutkan dengan kegiatan hiburan lainnya.21.30 – Istirahat06.00 Hari Ketiga, 1 Juni 200606.00 – 08.00 Persiapan diri, makan pagi08.00 – 08.15 Review hasil hari Pemahaman tentang 1. Introduksi tentang review Pokja AMPL • Buku II pokok pokok hasil 2. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok WASPOLA Kebijakan lokakarya hari II hasil lokakarya hari II • Kain rekat 3. Minta peserta lainnya untuk menambahkan • Metaplan Fasilitator : NG (wilayah timur); BP (wilayah barat) • Spidol Notulen : SYAF (wilayah timur); AP (wilayah barat) • Selotif
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan08.15 – 09.15 Berbagi Peserta mendapatkan 1. Introduksi tentang tata cara berbagi implementasi Kebijakan Nasional AMPL : Pokja AMPL • Buku pengalaman pengkayaan wawasan i. Wilayah Barat : Kabupaten Lebak WASPOLA Kebijakan implementasi dari pengalaman ii. Wilayah Timur : Kabupaten Lombok Barat • Kain rekat kebijakan implementasi iii. Catatan : daerah lama lainnya menambahkan dan menyempurnakan. • Metaplan kebijakan yang telah 2. Minta kepada anggota kelompok lama untuk menjelaskan tentang apa yang telah • Selotif dilakukan selama ini dihasilkan selama implementasi kebijakan didaerahnya, seraya minta kepada daerah lama lainnya untuk menyempurnakan atau malah dengan menambahkan sesuatu yang baru sama sekali 3. Fasilitator memberikan kesemmpatan untuk tanya jawab. 4. Buat rangkuman tentang beberapa kunci keberhasilan implementasi kebijakan selama ini, kaitkan dengan pembahasan hari kedua kemarin. Fasilitator : SBR (wilayah timur); DS (wilayah barat) Notulen : AA (wilayah timur); DHS (wilayah barat)09.15 – 10.30 Road Mapping Gambaran langkah- 1. Penjelasan tentang maksud dan tujuan perlunya Road Mapping bagi propinsi dan Pokja AMPL • Format Implementasi langkah implementasi kabupaten, WASPOLA road Kebijakan di didaerah propinsi dan 2. Jelaskan Road Mapping Implementasi Kebijakan di Kabupaten/Kota 2006. Berikan mapping, Kabupaten/Kota kabupaten kesempatan untuk tanya jawab • Kain rekat 2006 3. Peserta dibagi dalam kelompok kerja masing-masing propinsi dengan kabupaten/kota- • Metaplan nya masing masing • Selotif 4. Pertama semua kabupaten/kota dalam wilayah propinsinya membahas tahapan dan pelaksanaan kebijakan di daerahnya, kemudian masing-masing kabupaten/kota dan propinsi membahas konsekuensi dari pelaksanaan roadmapping tersebut. Hentikan sementara untuk rehat kopi. Fasilitator : NT (wilayah timur); SI (wilayah barat) Notulen : NG (wilayah timur); AP (wilayah barat)09.30 – 09.45 Rehat kopi09.45 – 11.00 Penajaman Rencana Operasional Session ini sangat berkaitan erat dengan session sebelumnya (roadmapping) sebagai Pokja AMPL • Format Rencana Daerah 2006 seperti penjabaran dari road mapping kedalam rentang waktu WASPOLA Rencana Kegiatan Daerah mi- salnya rencana 1. Sedikit penjelasan tentang penjabaran road mapping pada rentang waktu Kerja 2006 road show daerah, 2. Kelompok kerja dalam wilayah propinsi menajamkan kembali Penajaman Rencana • Kain rekat lokakarya.daerah, dan Kegiatan Daerah 2006. • Metaplan kegiatan diseminasi 3. Setelah selesai kerja kelompok, secara round robin hasil kerja di presentasikan. • Selotif kebijakan lainnya di Fasilitator : PUR (wilayah timur); HP (wilayah barat) • Hasil loknas daerah Notulen : NG (wilayah timur); AP (wilayah barat) Surabaya11.00 – 11.30 Post test Peserta mengerti 1. Pengisian kembali kain rekat post test, Pokja AMPL Lembar Evaluasi akhir pencapaian lokakarya 2. Evaluasi dengan menggunakan dengan metode “Rope Rating Scale” dengan tabel : WASPOLA postest saat itu No. Aspek yang dinilai Tinggi Sedang Kurang 1 Tujuan 2 Dinamika peserta 3 Fasilitator 4 Metodologi 5 Akomodasi dan material
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 3. Buat rangkuman Note: Perlu penekanan bahwa yang paling penting hasil lokakarya ini bukan ditentukan hanya didalam kelas ini tetapi bagaimana penerapannya di daerah masing-masing Fasilitator : NT (wilayah timur); NA (wilayah barat) Notulen : NG (wilayah timur); BP (wilayah barat)11.30 – 12.00 Penutupan Peserta mendapatkan Sambutan arahan dari Pokja AMPL Direktur Sambutan arahan tentang apa Moderator : SBR (wilayah timur); DHS (wilayah barat) Perumahan penutupan yang harus dilakukan Notulen : AA ( wilayah timur ); AP ( wilayah barat ) dan lokakarya pasca lokakarya Permukiman Bappenas12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang13.00 - Peserta kembali ke daerah masing masingKeterangan :AA : Alma Arief, AP : Agus Priatna, NA : Nur Apriatman, BP : Bambang Pujiatmoko, NG : Nasthain Gasba, PUR : Purnomo, HP : Huseyn Pasaribu, SYAF: Syarifuddin, SI : Sofyan Iskandar, DHS : Dormaringan Saragih; SBR : Subari; DS : Devi Setiawan; NY : Nuri Yusnita; JM : Jenny Mamuaya;Pembagian tugas notulensi dan prosiding : Barat Timur Penanggung jawab : NA Penanggung jawab : NT Koordinator notulensi/prosiding : DS Koordinator notulensi/prosiding : PUR Koordinator notulensi hari pertama : AP Koordinator notulensi hari pertama : NG Koordinator notulensi hari kedua : BP Koordinator notulensi hari kedua : SYAF Koordinator notulensi hari ketiga : HP Koordinator notulensi hari ketiga : AA
  • Buku 5 Panduan Pelaksanaan Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat di Daerah MODUL 2 Panduan Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi Dalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan NasionalPembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Daerah Waspola Bekerjasama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Jakarta 2008
  • MODUL 2 Panduan Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi Dalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan NasionalPembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Daerah
  • BUKU 5 Kata PengantarD okumen Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL BerbasisMasyarakat di Indonesia telahdisusun melalui programPenyusunan Kebijakan danPenyusunan Rencana Kerjabidang AMPL (WASPOLA), yangberlangsung dari tahun 1998sampai dengan 2003. Kegiatanini dilaksanakan atas kerjasamaPemerintah Indonesia denganPemerintah Australia melalui AusAID yang difasilitasi oleh Water and Sanitation Programfor East Asia and the Pacific – World Bank.Serangkaian kegiatan partisipatif penyusunan kebijakan dilaksanakan oleh Tim Kerja AMPLdibawah koordinasi Bappenas dengan anggota seluruh departemen terkait yang terdiridari Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeridan Departemen Keuangan. Sampai saat ini dokumen kebijakan telah disepakati danditandatangani oleh Tim Pengarah Pusat (Project Coordination Committee) yang terdiridari para pejabat Eselon 1 dari masing-masing instansi tersebut. .Pelaksanaan kebijakan saat ini telah dilaksanakan di 9 propinsi serta di 49 kota/kabupaten.Dari proses tersebut telah diperoleh masukan yang berguna, baik dalam penyempurnaansubstansi kebijakan, maupun dalam metodologi pelaksanaannya di daerah. Berdasarkanpengalaman implementasi pelaksanaan kebijakan inilah akhirnya terkumpul berbagaipanduan kegiatan fasilitasi operasionalisasi kebijakan di daerah, untuk kemudian ditulisulang, sehingga akhirnya menjadi kumpulan panduan fasilitasi operasionalisasi kebijakanAMPL di daerah, sebagaimana naskah panduan ini.Untuk itu, agar memudahkan pada tingkat operasional, disusunlah Panduan FasilitasiLokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi Dalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan NasionalPembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di daerah. Dengan panduan ini, mudahmudahan semua fihak yang akan memanfaatkan panduan ini akan menjadi lebih mudahuntuk memanfaatkannya di lapangan.Demikian, semoga panduan ini dapat menjadi alat bagi pembelajaran kita semuaSekretariat WASPOLA - Jakarta MODUL 2: Panduan Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi dalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL BM di Daerah
  • Modul 2 Panduan Lokakarya dan Pelatihan (Lokalatih) Keterampilan Dasar Fasilitasi dalam Rangka Pelaksanaan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL BM) di Daerah Kerangka Acuan Lokakarya dan Pelatihan Keterampilan Dasar FasilitasiA. Gambaran umum Keberlanjutan pembangunan AMPL akan dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan proyek. Terlibatnya masyarakat dalam seluruh proses terbukti dapat meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat, sehingga mereka akan merasa bertanggung jawab dalam keberlanjutan AMPL. Dari serangkaian proses diskusi dan lokakarya partisipatif mengenai isu pembangunan AMPL di daerah, beberapa temuan dari pelajaran penting yang dipetik dari proyek AMPL yang tidak berkelanjutan di beberapa daerah antara lain di karenakan masih lemahnya kemampuan aparatur pemerintah tentang metodologi dasar fasilitasi program AMPL. Metodologi dasar fasilitasi program AMPL adalah salah satu piranti metode untuk meningkatkan efektifitas fasilitasi masyarakat dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat dalam pembangunan AMPL. Dalam kerangka fasilitasi masyarakat, pemahaman mengenai metodologi fasilitasi dalam program AMPL dirasa penting untuk dimiliki oleh fasilitator khususnya dari kelompok kerja AMPL pusat dan daerah serta pemegang andil lainnya khususnya dari kalangan perguruan tinggi dan LSM yang peduli terhadap pembangunan AMPL. Sementara itu, sebagaimana diketahui bahwa sampai pada tahun 2006 ini WASPOLA telah dan akan memberikan pelayanan diseminasi kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat di 7 propinsi lama dan 2 propinsi baru, yaitu : Propinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo; serta NTT dan Sulawesi Tenggara meliputi lebih dari 21 kabupaten/kota. Dari pengalaman melaksanakan diseminasi tersebut diperoleh kesan bahwa beban pekerjaan fasilitasi nampaknya perlu menjadi perhatian bersama antara WASPOLA, Pokja Nasional dan Pokja Daerah. Mengapa demikian?
  • Pertama, peran-peran fasilitasi telah nampak dilakukan oleh para birokrat baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun demikian masih perlu ditingkatkan menjadi peran-peran kunci yang berarti. Kedua, kedepan bentuk pelayanan diseminasi kebijakan akan bergeser pada pelayanan yang berbentuk pelatihan-pelatihan. Ketiga, area pelayanan WASPOLA akan berkembang ke wilayah diluar 9 propinsi layanan yaitu layanan ke wilayah WSLIC2, CWSH, Plan International, Unicef dan lain sebagainya. Keempat, sumber daya manusia yang dimiliki oleh WASPOLA dan Pokja AMPL Pusat serta daerah terbatas. Kelima, hasil dari temuan lapangan selama WASPOLA mendampingi daerah, terlihat bahwa kemampuan Pokja AMPL daerah dalam hal memfasilitasi masih perlu ditingkatkan. Keenam, hasil asesmen daerah maupun dari lokakarya lokakarya nasional menunjukkan adanya kebutuhan peningkatan kemampuan dalam bidang fasilitasi. Oleh karena itu, atas dasar pertimbangan di atas, maka sudah selayaknya kalau kemampuan di tingkat propinsi dan kabupaten perlu ditingkatkan khususnya dalam melaksanakan fasilitasi kebijakan AMPL berbasis masyarakat.B. Tujuan Secara umum lokakarya ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan dasar fasilitasi anggota Kelompok Kerja AMPL untuk operasionalisasi kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat dan proses operasionalisasinya di daerah. Secara khusus mempunyai tujuan : • Meningkatkan kemampuan peserta untuk menyusun agenda fasilitasi agar prinsip prinsip kebijakan dapat difahami oleh berbagai pemangku kepentingan • Meningkatkan kemampuan peserta dalam hal kompetensi fasilitator • Menyusun rencana kerja fasilitasi dalam rangka operasionalisasi kebijakanC. Keluaran • Pemahaman peserta terhadap kerangka kebijakan sebagai dasar untuk menyusun agenda fasilitasi • Peningkatan kemampuan keterampilan dasar fasilitasi • Rencana tindak dalam rangka fasilitasi pelaksanaan kebijakan di daerah
  • D. Materi No. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Jam Efektif1 PENGANTAR LOKAKARYA :1.1 Pembukaan 0,41.2 Pre Test 0,21.3 Perkenalan 0,41.4 Ungkapan harapan peserta 0,41.5 Alur lokalatih 0,31.6 Aturan main dan pengorganisasian peserta 0,32 KEBIJAKAN :2.1 Diskusi pendalaman langkah langkah fasilitasi operasionalisasi kebijakan pembangunan 2 AMPL berbasis masyarakat3 KOMPETENSI FASILITATOR :3.1 Dasar dasar fasilitasi 43.2 Metoda dan pendekatan partisipatori 43.3 Etika fasilitator 23.4 Teknik komunikasi 23.5 Media fasilitasi 23.6 Penjajagan kebutuhan fasilitasi 23.7 Menyusun kerangka acuan fasilitasi 23.8 Menyusun kurikulum fasilitasi 24 SIMULASI FASILITASI DI LAPANGAN:4.1 Persiapan simulasi fasilitasi 24.2 Pelaksanaan praktek fasilitasi 84.3 Acara kreatifitas kelompok 24.4 Refleksi praktek fasilitasi 25 PEMBULATAN DAN RKTL :5.1 Pembulatan pelatihan 0,65.2 Rencana Kerja Tindak Lanjut 0,45.3 Post Test 0,25.4 Evaluasi akhir pelatihan 0,45.6 Penutupan 0,4 Jumlah 40E. Metoda : 1. Berbagi pengalaman 2. Curah pendapat 3. Diskusi kelompok 4. Presentasi dan tanya jawab.F. Alat dan bahan : 1. Bahan presentasi Keterampilan Dasar Fasilitasi 3. Kain rekat, metaplan, selotif, kertas flipchart 4. LCD, KomputerG. Peserta Untuk setiap angkatan maksimal 45 orang.H. Lokasi Disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
  • I. Waktu Disesuaikan dengan jadual dan roadmaping pelaksanaan kebijakan.J. Kondisi dan Akomodasi 1. Panitia menyiapkan akomodasi peserta lokakarya secara twin share (satu kamar untuk dua peserta), 2. Biaya transportasi udara dan darat dari/ke tempat lokakarya menjadi tanggungan daerah masing-masing 3. Diharapkan paling kurang 3 hari sebelum pelaksanaan lokakarya semua peserta telah memberikan konfirmasi kehadirannya untuk kepentingan pengaturan akomodasi.K. Bagan Alur Proses Lokakarya Dan Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi PEMBUKAAN PENGANTAR LOKAKARYA KEBIJAKAN AMPL KOMPETENSI FASILITATOR : BERBASIS MASYARAKAT Dasar dasar fasilitasi pendalaman langkah2 fasilitasi Metoda dan pendekatan partisipatori Etika fasilitator operasionalisasi kebijakan Teknik komunikasi Media fasilitasi Penjajagan kebutuhan fasilitasi Menyusun kerangka acuan fasilitasi Menyusun kurikulum fasilitasi SIMULASI FASILITASI di lapangan, 3 lokasi identifikasi isu, prioritas, menyusun rencana pengembangan program PEMBULATAN DAN PENYUSUNAN RKTL PENUTUPAN
  • L. Jadual Lokakarya Dan Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi HariWAKTU Hari Pertama Hari Kedua Hari Ketiga Hari Kelima Keempat06.00 – Persiapan diri Persiapan diri Persiapan diri08.0008.00 – Dasar dasar Pelaksanaan Refleksi praktek10.00 Media fasilitasi fasilitasi praktek fasilitasi fasilitasi10.00 – Registrasi peserta Rehat kopi Rehat kopi Rehat kopi10.15 1. Pembulatan10.15 – Pelaksanaan lokalatih Metoda & Penjajagan12.15 praktek fasilitasi 2. RKTL pendekatan kebutuhan 3. Evaluasi akhir partisipatori fasilitasi 4. Penutupan12.15 – Isoma Isoma Isoma Isoma Isoma13.1513.15 – 1. Pembukaan Metoda & Menyusun Pelaksanaan15.15 2. Pengantar pendekatan kerangka praktek fasilitasi Lokalatih partisipatori acuan fasilitasi15.15 – Rehat kopi Rehat kopi Rehat kopi15.45 Diskusi pendalaman langkah langkah15.45 – fasilitasi Menyusun Pelaksanaan17.45 operasionalisasi Etika fasilitator kurikulum Peserta kembali praktek fasilitasi kebijakan kegiatan ke daerahnya pembangunan fasilitasi masing masing AMPL berbasis masyarakat17.45 – Isoma Isoma Isoma Isoma19.30 Persiapan19.30 – Dasar dasar Teknik Acara kreatifitas simulasi21.30 fasilitasi komunikasi kelompok fasilitasi21.00 – Istirahat Istirahat Istirahat panjang Istirahat panjang06.00 panjang panjang
  • SESSI 01 : PEMBUKAANTUJUAN Pemahaman tentang arah dan tujuan lokakarya dan pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi dan relevansinya dengan operasionalisasi kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakatMETODE : Upacara seremonialWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : Sambutan pengarahanLANGKAH PENYAJIAN : 1. Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia. 2. Presentasi Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas 3. Dialog dan tanya jawab.
  • SESSI 02 : PENGANTAR LOKALATIH : - Pretest, - Perkenalan, - Identifikasi hara- pan & tantangan - Alur lokakarya, - Aturan main pelaksanaan lokakaryaTUJUAN : 1. Suasana rileks dan informal. tercipta 2. Tujuan lokakarya dapat dimengerti peserta 3. Agenda lokakarya disepakati oleh semua peserta. 4. Aturan main pelaksanaan lokakarya disepakatiMETODE : 1. Penugasan 2. Permainan 3. Ceramah singkat dan tanya jawabWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : • Rencana lay out ruangan • Kain rekat, • Kertas dot • Kertas HVS ukuran kuarto • Metaplan • Spidol • Selotape • Format biodata peserta • Kartu keluarga : kucing, ayam, bebek, kambing, kuda, kodok, kelinci, dan sapiLANGKAH PENYAJIAN :Persiapan Bersama :1. Sebelumnya persiapkan ruangan dengan disain berikut ini : a. Lay out ruangan sebagai berikut : Alur Lokakarya Sticky Cloths Sticky Cloths Layar Hrpn & Khwtrn Meja LCD & Tata Tertip Laptop Pretest Baner Meja ATK Tumpukan Meja Panitia Sticky Cloths Sticky Cloths Kursi & Meja
  • b. Bahan yang dipersiapkan adalah : • Kain rekat untuk identifikasi harapan dan kekhawatiran, tulis : - Apa yang diharapkan dapat diperoleh peserta dalam lokalatih ini ? Peserta menulis dalam metaplan biru - Apa yang dikhawatirkan oleh peserrta dalam lokalatih ini ? Peserta menulis dalam metaplan merah • Kain rekat untuk tata tertib, tulis : - Apa yang boleh dilakukan selama pelatihan ? Peserrta menulis dalam metaplan hijau - Apa yang tidak boleh dilakukan selama pelatihan ? Peserta menulis dalam metaplan kuning • Kain rekat untuk menjelaskan alur lokakarya • Kain rekat untuk mengisi pre test • Sisa kain rekat dan selotif, letakkan di 3 tempat masing masing 2 kain rekat dan 1 gulung selotip besar, serta tempelkan tulisan : MARI KITA PASANG KAIN REKAT INI BERSAMA SAMA. • Meja untuk menyimpan LCD dan Laptop serta layarnya. • Meja untuk menyimpan metaplan bulat terkecil, serta selotif, serta buat tulisan : silahkan ambil 1, untuk menuliskan nama panggilan anda ! • Meja untuk menyimpan tas dan agenda WASPOLA, serta buat tulisan : silahkan ambil 1, serta isi daftar tanda terima seminar kit. c. Letakkan juga sejumlah kursi yang belum disusun, disudut ruangan. Tempelkan juga tulisan : SILAHKAN AMBIL MASING MASING 1, LALU KITA SUSUN BERSAMA DIRUANGAN INI !2. Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia.3. Kemudian berikan pengantar : SILAHKAN AMATI SELURUH RUAGAN INI, SERTA LAKUKAN SESUAI DENGAN PETUNJUK SECARA BERSAMA SAMA !4. Lakukan pengamatan, biarkan peserta bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri ! Berikan waktu sekitar 30 menit !5. Hentikan kegiatan, ketika set up ruangan sudah memadai untuk memulai acara lokalatih.6. Lakukan pembahasan makna acara kreatif yang baru saja dilalui di awal lokakarya.7. Hentikan kegiatan pembahasan, lakukan acara pengantar pembukaan lokakarya.
  • Pretest1. Penjelasan tentang pre-test dan pelaksanaan pre-test dengan metode penempelan dot pada kain rekat yg sudah disiapkan dalam matriks :☺ Dasar Teknik Metoda & Etika Media Penjajagan Menyusun Menyusun dasar komunikasi Pendekatan fasilitator fasilitasi kebutuhan kerangka kurikulum fasilitasi Partisipatori fasilitasi acuan fasilitasi fasilitasi2. Perkenalan, jelaskan model perkenalan yang akan dilakukan : a. Fasilitator memberikan pengantar tentang makna sebuah perkenalan. b. Jelaskan bahwa acara perkenalan akan dilakukan dengan cara berikut ini : • Setiap peserta akan mencari anggota keluarganya : anak, ibu, ayah, bibi, paman, kakek dan nenek • Keluarganya terdiri dari keluarga : kucing, ayam, bebek, kambing, kuda, kodok, kelinci, dan sapi • Untuk menemukan anggota keluarganya setiap peserta akan mendapatkan bekal berupa potongan kartu yang bertuliskan, misalnya : anak kucing, ibu ayam, ayah bebek, bibi kambing, paman kuda, kakek kodok, atau nenek sapi, dlsb. • Cara untuk mendapatkan atau mengumpulkan keluarganya adalah dengan cara : menirukan suaranya dan atau menirukan gerakannya. c. Berikan kesempatan peserta mengelompok secara alamiah sesuai dengan keluarganya masing masing. Berikan kesempatan kepada kelompok kelompok yang telah terbentuk tersebut untuk saling berkenalan. d. Hentikan kegiatan, berikan kepada wakil dari setiap kelompok yang terbentuk untuk memperkenalkan anggota kelompoknya, serta menceritakan proses bertemunya anggota keluaga di kelas pleno. e. Bahas secara bersama sama, apa makna dari perkenalan tersebut. Ajak peserta untuk menyampaikan ide lainnya untuk topik perkenalan, untuk pengkayaan wawasan dan menambah koleksi metoda perkenalan.
  • f. Akhiri acara perkenalan ini dengan menyampaikan antara lain bahwa “mengenal orang lain tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat seperti sekarang ini, oleh karenanya selama lokakarya ini bapak/ibu dapat berproses mengenal lebih dekat”3. Identifikasi harapan dan kekhawatiran selama lokakarya berlangsung: • Ajak kembali peserta untuk ke melingkar di ruangan tengah lokakarya • Bagikan kertas metaplan & spidol. Minta kepada mereka untuk kembali ke kelompok tadi. • Minta setiap peserta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran pada kertas metaplan. • Diskusikan dalam kelompoknya untuk memilih 2 terpenting menurut kesepakatan kelompok, dari harapan dan kekhawatiran tadi. Tempelkan di kain rekat. • Lakukan pengelompokan, lalu sepakati judul dari hasil setiap pengelompokkan tadi. Ingatkan kembali atas sisa hasil identifikasi harapan dan kekhawatiran yang belum ditempelkan. Minta kepada peserta untuk menempelkan pada kelompok yang paling relevan. Tanyakan kepada mereka apakah dengan penambahan ini sudah relevan dengan kesepakatan judul tadi. • Berdasarkan kesepakatan tadi, ingatkan, mana saja harapan yang dapat dipenuhi. Bahas pula tentang kekhawatiran. Ingatkan bahwa antara harapan dan kekhawatiran yang dibahas adalah dalam kerangka implementasi kebijakan nasional AMPL. NOTE: Kain rekat yang berisi harapan & kekhawatiran tetap berada di ruang kelas sampai akhir lokakarya, dengan maksud sebagai sarana evaluasi di akhir lokakarya4. Presentasi alur lokakarya, agar semua fihak memahami apa saja yang akan dibahas selama lokakarya berlangsung.5. Berdasarkan alur tersebut, bahas tentang aturan main pelaksanaan lokakarya,
  • sampai semua fihak menyepakati aturan main lokakarya. Aturan main yangdisepakati menyangkut : jadual dan tata tertib pelaksanaan lokakarya.NOTE: Setiap peserta diminta untuk mengisi Biodata untuk kepentinganpenyusunan database peserta kegiatanWASPOLA.
  • Lokakarya dan Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi Foto 3 x 4 Denpasar, 24 – 28 Juli 2006 Bisa diserahkansaat lokakarya BIODATA PESERTA 1. Nama lengkap : ............................................................................ 2. Tempat dan tanggal lahir : ............................................................................ 3. Utusan dari : Propinsi/Kabupaten/Kota: 4. Asal Instansi/dinas : ............................................................................ 5. Jabatan : ............................................................................ 6. Alamat & telepon rumah/HP : ............................................................................ ............................................................................ 7. Alamat, telepon dan fax kantor ............................................................................ : ............................................................................ 8. Alamat E-mail (bila ada) : ............................................................................ 9. Tupoksi anda dalam Pokja AMPL (bila ............................................................................ ada) : ............................................................................ ............................................................................ 10. a. Berapa sering mengikuti Pelatihan/ ..... kali Lokakarya/ Seminar selama 2 tahun terakhir ini? b. Bila ada, sebutkan pelatihan/ Nama Pel/Lok/Smnr Penyelenggara lokakarya/seminar apa yang pernah 1. ............................................................................ diikuti tersebut terkait dengan air 2. ............................................................................ minum dan penyehatan lingkungan 3. ............................................................................ dan sebutkan pula penyelenggaranya? 4. ............................................................................ (Apabila ruang dirasa kurang mohon tulis disebaliknya) 11. Harapan penting yang ingin diperoleh 1. ........................................................................... selama lokakarya ini 2. ........................................................................... 3. ........................................................................... 4............................................................................. (Apabila ruang dirasa kurang mohon tulis disebaliknya) ........................................, 2006 (Tanda tangan & nama terang peserta)
  • ANAK ANAK ANAK ANAK ANAK ANAK ANAK ANAKKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPI AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAHKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPI IBU IBU IBU IBU IBU IBU IBU IBUKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPIPAMAN PAMAN PAMAN PAMAN PAMAN PAMAN PAMAN PAMANKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPI BIBI BIBI BIBI BIBI BIBI BIBI BIBI BIBIKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPINENEK NENEK NENEK NENEK NENEK NENEK NENEK NENEKKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPIKAKEK KAKEK KAKEK KAKEK KAKEK KAKEK KAKEK KAKEKKUCING AYAM BEBEK KAMBING KUDA KODOK KELINCI SAPI
  • SESSI 03 : DISKUSI PENDALAMAN LANGKAH LANGKAH FASILITASI OPERASIONALISASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN AMPL BERBASIS MASYARAKATTUJUAN : Pemahaman tentang tahap tahap fasilitasi implementasi kebijakan pembangunan AMPL berbasis masyarakat (diasumsikan bahwa peserta sebelumnya telah memperoleh masukan tentang prinsip-prinsip dan operasionalisasi kebijakan AMPL-Berbasis Masyarakat)METODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. Diskusi kelompok 3. Presentasi dan tanya jawanWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Kain rekat • Metaplan • Spidol • Selotif • LCD dan computer • Roadmaping implementasi kebijakanLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator memberikan introduksi tentang tujuan sessi ini.2. Berikan pengantar, pergunakan one sheet power point yogyakarta. Berikan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab.
  • AMPL – Apa yang kita harapkan? Pusat/ Donor Swasta Prasarana- Pemda Sarana AMPL LSM Masyarakat DAYA DUKUNG LINGKUNGAN3. Fasilitator meminta peserta yang bersedia menjadi volunter menceritakan pengalamannya dalam melaksanakan proses adopsi kebijakan4. Minta peserta untuk membagi diri kedalam 3 kelompok, dengan cara meinghitung 1,2,3 dst.5. Minta kepada setiap kelompok untuk menginventarisir : Apa yang telah dilakukan oleh daerah Apa yang masih dibutuhkan oleh daerah- -- -- -Dst Dst6. Ajak peserta untuk melakukan pengelompokkan pendapat peserta.7. Bahas pengelompokkan peserta, untuk kemudian sekali lagi jelaskan kembali tentang roadmaping pelaksanaan kebijakan AMPL berbasis masyarakat. Lakukan diskusi dan tanya jawab.8. Rangkum hasil proses disksusi bahwa : a. Kita telah mengetahui alur proses pelaksanaan kebijakan di daerah b. Hal kedua yang akan dilakukan adalah : bagaimana kita melakukan proses fasilitasi agar hasil akhir pelaksanaan kebijakan dapat tercapai.
  • SESSI 04 : DASAR DASAR FASILITASITUJUAN : Peserta mengetahui pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang fasilitatorMETODE : 1. Curah pendapat 2. Diskusi Kelompok 3. Penugasan : a. Isi Kuisener b. Diskusi Kelompok Terarah c. Diskusi Partisipatif Isu AMPL Daerah 4. Ceramah singkat dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Kain rekat • Metaplan • Spidol • Selotif • Bahan penugasan : - Kuisener - Topik FGD : Air sebagai benda sosial dan benda ekonomi - Foto untuk diskusi partisipatifLANGKAH PENYAJIAN :Bagian pertama :1. Fasitator memulai kegiatan dengan pooling pendapat dengan pertanyaan utama: “Pengetahuan dan keterampilan apa saja yang diperlukan sebagai fasilitator” Pengetahuan dan keterampilan yang dimaksud tidak terbatas pada Implementasi Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat, tetapi dalam arti seluas-luasnya terutama yang berkaitan dengan kondisi daerah, misalnya yang berkaitan dengan sumber daya, kondisi ekonomi, penyebab kemiskinan, konflik, musim, dan lain-lain.2. Pertanyaan tersebut diajukan kepada peserta lokalatih dimana masing-masing peserta menuliskan jawabannya dalam kartu (satu jawaban satu kartu, bedakan warna kartu untuk laki-laki dan perempuan), fasilitator ( kita sebagai fasilitator ) juga dapat membantu menuliskan apa-apa yang mungkin terlupa oleh para peserta. Jawaban-jawaban tersebut kemudian ditempelkan secara keseluruhan di dinding/sticky cloth.3. Sementara para peserta membuat jawaban, fasilitator menyiapkan matriks dengan kartu sebagai berikut:
  • 1 Jawaban Yang Diketahui Fasilitator • Jawaban-jawaban hasil pooling • Idem • Dst 2. Jawaban Yang Telah Diketahui Peserta • Jawaban-jawaban hasil pooling • Idem • Dst4. Jawaban dari peserta kemudian diletakkan pada kolom pertama atau kedua dengan cara menanyakan pada peserta dimana dari masing-masing jawaban seharusnya ditempatkan. (tentang apa yang diketahui fasilitator dan apa yang diketahui oleh peserta).5. Setelah itu selesai kemudian kelompokkan kembali jawaban- jawaban tersebut ke dalam apa- apa yang tidak diketahui fasilitator (biasanya seperti kondisi lokal masyarakat, perilaku, kebiasaan, adat istiadat, kedekatan dan lain-lain), dan apa yang tidak diketahui peserta6. Ketika semua jawaban (kartu) telah dimasukkan ke dalam matriks, tanyakan pada peserta untuk mengemukakan kesimpulan dari apa yang mereka lihat. Rangkum pelajaran yang didapat pada akhir materi : Partisipan menyadari bahwa baik peserta maupun fasilitator tidak mengetahui semuanya. Lokalatih ini berarti untuk mengeluarkan pengetahuan lokal seorang partisipan dan menambah pengetahuan tersebut dengan pengetahuan dari luar yang diberikan oleh fasilitator, demikian juga dengan fasilitator, untuk menciptakan kapasitas fasilitasi terbaik yang memungkinkan untuk Implementasi Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat.7. Dari matriks tersebut pada akhirnya diharapkan akan terlihat adanya gabungan pengetahuan antara fasilitator dan peserta. Hasil yang diharapkan • Dari ice breaker: tidak terjadi lagi kekakuan dalam pelaksanaan lokalatih selanjutnya. • Dari exercise: Peserta memahami bahwa mereka adalah sumber daya yang juga berperan dalam melakukan fasilitasi aktif serta memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai modal untuk menjadi fasilitator yang baik.Catatan :Setiap hari dilakukan evaluasi dengan menggunakan Pocket Voting denganpertanyaan :
  • Topik bahasan apa yang paling menarik ? Bagaimana situasi kelas hari ini ? Bagaimana peningkatan pengetahuan hari ini? Bagaimana peran serta peserta hari ini? Bagaimana fasilitator membangun dinamika hari ini?Sehingga dapat dibahas sebagai bahan review harian esok harinyaBagian kedua :1. Fasilitator memberikan introduksi tentang tujuan sessi ini : mengajak peserta untuk memahami dasar dasar fasilitasi.2. Fasilitator meminta peserta mengutarakan pendapatnya tentang fasilitasi dalam melaksanakan proses pelaksanaan kebijakan di daerah. Catat pendapat peserta di metaplan, dan tempelkan di kain rekat. Ajak peserta untuk menyepakati apa sebenarnya yang dimaksud dengan fasilitasi. Dan jelaskan kenapa kita memilih pendekatan ini untuk pelaksanaan kebijakan di daerah. Ceritakan bahwa kebijakan yang sudah tersusun dan menjadi buku tersebut, proses penyusunannya melalui berkali kali lokakarya partisipatif, di daerah maupun di pusat.3. Untuk itu, minta peserta untuk membagi diri kedalam 3 kelompok, dimana masing masing kelompok akan melakukan kegiatan yang berbeda untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda : Kelompok 1 : Pilihan kegiatan yang dilakukan : mengisi kuisener a. Fasilitator memberikan pengantar tentang kuisener yang akan disi oleh peserta.
  • KUESIONER (K1) Evaluasi Kinerja Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat(Penelitian ini dilakukan untuk menilai secara objektif kebijakan dan penerapannya.Untuk itu responden diminta menjawab secara jujur berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya) Tanggapan responden terhadap logika kebijakan dan peluang penerapannya Keterangan: 1=Tidak bisa, 2=Kurang, 3=Bisa, 4=Sangat bisa Secara Dapat Kebijakan Umum logika diterapka No (dicuplik dari dokumen Kebijakan Nasional AMPL dapat n di Berbasis Masyarakat) diterima daerah 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Air Merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi 2 Pilihan yang Diinformasikan Sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan 3 Pembangunan Berwawasan Lingkungan 4 Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 5 Keberpihakan pada Masyarakat Miskin 6 Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan 7 Akuntabilitas Proses Pembangunan 8 Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator 9 Peran Aktif Masyarakat 10 D. Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran 11 Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya Catatan (apabila ada sesuatu yang penting tentang hal di atas, baik komentar, saran, dll)………………………………………..………………….…………………….…… ………………………………………………………………….………………..……… ………………………………..…………………………………………………………
  • KUESIONER (K-2)Evaluasi Kinerja Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Daerah (Penelitian ini dilakukan untuk menilai secara objektif kinerja implementasi kebijakan Untuk itu responden diminta menjawab secara jujur berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya) Tanggapan responden terhadap kinerja implementasi di daerah sebelum dan sesudah mendapat fasilitasi dari Proyek WASPOLA Keterangan: Beri nilai 1 sampai dengan 4. 1 untuk nilai terendah/terburuk, dan 4 untuk nilai tertinggi/terbaik SEBELUM SESUDAHNo ITEM FASILITASI FASILITASI 1 2 3 4 1 2 3 41 KELEMBAGAAN1. Koordinasi pembangunan AMPL antar dinas11. Pengetahuan dan pemahaman terhadap pendekatan2 pembangunan partisipatif khususnya dalam bidang AMPL.1. Prioritas pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat31. Pelibatan stakeholder di luar pemerintah dalam pembangunan4 AMPL berbasis partisipasi masyarakat2 PEMBIAYAAN2. Alokasi anggaran daerah pembangunan fisik AMPL berbasis1 partsipasi masyarakat2. Alokasi anggaran daerah untuk mendukung kegiatan2 pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya untuk pelatihan, monitoring dan evaluasi kegiatan3 REGULASI3. Produk peraturan yang mendukung pembangunan AMPL1 berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya PERDA, SK BUPATI, dll.3. Produk perencanaan yang mendukung pembangunan AMPL2 berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya RENSTRA, RPJM, dll.Catatan (apabila ada sesuatu yang penting tentang hal di atas, baik komentar,saran, dll)…………………. ………………………………………………………………….……….………………………………………..………………………………………………………………………………………………………………………………………………… b. Bagikan kuisener tersebut, minta peserta mengisi kuisener tersebut. c. Hentikan kegiatan pengisian kuisener, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ?
  • • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ?d. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya.Kelompok 2 :Pilihan kegiatan yang dilakukan : melaksanakan FGDa. Fasilitator menjelaskan tentang topik FGD yang akan dilakukan : Air Sebagai Benda Ekonomi dan Benda Sosial.b. Sepakati bersama, siapa diantara peserta yang akan menjadi : • Pemimpin diskusi • Notulenc. Berikan kesempatan kepada kelompok untuk melakukan FGD.d. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan FGD, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ?e. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya.Kelompok 3 :Pilihan kegiatan yang dilakukan :melaksanakan fasilitasi Bahasa Foto,dalam rangka identifikasi isu AMPLdaeraha. Fasilitator menjelaskan tentang kegiatan diskusi dalam rangka identifikasi isu AMPL daerah, minta peserta untuk duduk melingkar didepan salah satu kain rekat yang telah tertempel di dindingb. Sebar dan perlihatkan foto foto yang telah dipersiapkan dilantai.c. Minta kepada setiap peserta untuk memilih satu foto.d. Setelah memilih, minta setiap peserta untuk memperlihatkan foto pilihannya,
  • serta menjelaskan alasannya kenapa memilih foto tersebut. e. Berikan kesempatan kepada kelompok untuk berdiskusi, guna memilih 3 foto yang menggambarkan kondisi AMPL saat ini. Lalu tempelkan di kain rekat. f. Ajak kelompok untuk mendiskusikan : dengan melihat foto kondisi AMPL SAAT INI tersebut, SIAPA dan MELAKUKAN APA yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. g. Hentikan, lalu minta peserta untuk memilih 3 foto yang menggambarkan KONDISI IDEAL yang diharapkan. Kalau tidak ada fotonya, peserta dapat membuat gambar sendiri. h. Ajak kelompok untuk mendiskusikan : dengan melihat KONDISI IDEAL yang diharapkan, SIAPA dan MELAKUKAN APA yang memungkinkan kondisi tersebut terjadi. i. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan diskusi partisipatif, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ? j. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya.4. Hentikan kegiatan di tiga kelompok, secara bergiliran ajak peserta untuk beranjang sana ke kelompok lainnya. Berikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk diskusi dan tanya jawab secukupnya.5. Bahas makna ketiga kegiatan dengan menggunakan matriks dengan menggunakan metaplan : Kapan Caranya Nama kegiatan Kelebihan Kekurangan digunakan bagaimana Untuk mengisi matriks tersebut, peserta dapat mengambil hasil diskusi kelompok, dan menyempurnakannya secara bersama sama6. Berdasarkan pembahasan tersebut, ingatkan kepada semua peserta bahwa dengan fasilitasi secara partisipatif, maka semua yang hadir dalam sebuah lokakarya atau pertemuan apapun dalam kerangka implementasi kebijakan, adalah narasumber, sehingga semua harus saling berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dengan sesama yang hadir dalam pertemuan tersebut.Catatan :Peserta dapat membaca ringkasan bahan bacaan dalam bentuk powerpoint.
  • SESSI 05 : METODA & PENDEKATAN PARTISIPATORITUJUAN : 1. Peserta mengetahui berbagai jenis pendekatan partisipatori 2. Peserta mengetahui berbagai metoda yang dapat dipakai dalam fasilitasiMETODE : 1. Ceramah singkat dan Tanya jawab 2. Penugasan 3. Diskusi plenoWAKTU : 240 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Bahan penugasan : - Kuisener perkenalan - Bahan Fish Bowl Discusion : Demand vs needLANGKAH PENYAJIAN :Bagian pertama :1. Fasilitator menjelaskan bahwa setelah memahami dasar fasilitasi, langkah selanjutnya yang harus difahami adalah : pendekatan partisipatori untuk pelaksanaan Program AMPL berbasis masyarakat.2. Jelaskan secara partisipatif disertai contoh contoh yang kongkrit, tentang pendekatan pendekatan partisipatori, yang antara lain terdiri dari : a. Social Assessment b. Analisis stake holder c. Participatory Rural Appraisal d. Participatory Monitoring & Evaluation e. Beneficiary Assessment f. SARAR -> PHAST -> MPA g. Video Conference h. Internet/Website Berikan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab secukupnya. Catatan : Sebelumnya fasilitator menuliskan di kertas metaplan jenis jenis pendekatan, berikut contoh contoh dari setiap jenis pendekatan partisipatori tersebut. Sehingga penjelasan menggunakan metaplan dan kain rekat, sekaligus sebagai contoh lain dalam presentasi dan tanya jawab.3. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab dalam rangka mengeksplorasi setiap pendekatan partisipatori tersebut.4. Karena WASPOLA bermain dalam ranah kebijakan, jelaskan secara lebih rinci : Analisis stake holder. Berikan kesempatan untuk tanya jawab.
  • 5. Berdasarkan pembahasan tersebut, jelaskan bahwa partisipatori adalah kata kunci untuk peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat, yang mempunyai sasaran keberlanjutan, dimana intinya adalah penggunaan efektif.Bagian kedua :1. Fasilitator mengingatkan tentang pendekatan partisipatori yang telah dibahas pada pagi tadi. Sekarang, ajak peserta untuk mengkaji masalah metoda penyampaiannya.2. Ajak peserta untuk melakukan kegiatan sebagai salah satu bentuk metoda : a. Berikan penjelasan tentang kemungkinan penggunaan metoda untuk kegiatan perorangan : lembar perkenalan b. Bagikan lembar perkenalan :No. Hobby/kebiasaan Nama Daerah Paraf 1. Berenang 2. Membaca 3. Menonton film 4. Mendengarkan musik 5. Berkebun 6. Memelihara ikan hias 7. Memasak nasi goreng 8. Lari pagi 9. Main basket10. Traveling11. Menulis12. Memainkan gitar13. Mendaki gunung14. Nonton bola bareng15. Mengumpulkan perangko16. Menyanyikan lagu daerah17. Bermain suling18. Bermain basket c. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ?3. Ajak peserta untuk melakukan kegiatan Fish Bowl Discusion sebagai salah satu bentuk metoda lainnya:
  • a. Siapkan kursi secara melingkar ditengah ruangan, usahakan ada kursi untuk setiap perwakilan tiap propinsi untuk mendiskusikan tentang perbedaan antara demand dan need dalam diskusi sebagai peserta tetap sampai akhir diskusi. b. Serta disiapkan 1 kursi panas untuk peserta dari luar lingkaran agar dapat memberikan pendapat atau berkomentar untuk membantu menemukan kesepakatan bersama. Waktu yang disediakan untuk kursi panas sangat terbatas, untuk memberikan kesempatan peserta lain terlibat dan berpendapat. Sisa peserta lainnya sebagai pengamat. c. Hentikan kegiatan, apabila diskusi dinilai telah mencukupi mendapatkan masukan tentang demand dan need. d. Lakukan pembahasan bersama untuk memahami tentang demand dan need.4. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ?5. Bahas makna ketiga kegiatan dengan menggunakan matriks dengan menggunakan metaplan : Nama Kapan Caranya Kelebihan Kekurangan kegiatan digunakan bagaimana6. Ajak peserta untuk menambahkan metoda apa lagi biasa digunakan dalam sebuah lokakarya dan atau lokalatih, apabila cukup waktu, lakukan uji coba pelaksanaan metoda tersebut. Bahas dengan menggunakan format diatas.7. Diskusikan juga mengenai efektifitas pemanfaatan berbagai metoda dalam sebuah lokakarya.8. Ingatkan juga bahwa pemilihan metoda juga berkaitan dengan ketersediaan sumber daya lokakarya, dan atau lokalatih yang diselenggarakan9. Tutup dengan rangkuman : yang terpenting adalah menemukan metoda yang paling pas sesuai dengan ketersediaan sumber daya kita untuk menyampaikan sebuah topik tertentu.
  • SESSI 06 : ETIKA FASILITATORTUJUAN : Peserta mengetahui etika fasilitator, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang fasilitatorMETODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. Diskusi kelompok 3. Presentasi 4. Diskusi plenoWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. SelotifLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya memahami etika seorang fasilitator.2. Bagi peserta kedalam 3 kelompok, untuk membahas tentang : apa yang boleh ditampilkan/dilakukan dan tidak boleh ditampilkan/dilakukan oleh seorang fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi.3. Kegiatan diskusi kelompok : a. Fasilitator menugaskan pada peserta untuk menulis apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi b. Apa yang boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, pada metaplan warna hijau c. Apa tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, pada metaplan warna merah d. Tempelkan di kain rekat masing masing kelompok e. Lakukan diskusi kelompok, minta kepada masing masing peserta untuk menyepakati dan memilih masing masing 5 metaplan apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi4. Ajak semua peserta untuk menempelkan pilihan 5 metaplan apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator di kain rekat yang baru.5. Ajak peserta untuk mengelompokkan metaplan merah dan hijau secara terpisah dari 5
  • metaplan pilihan dan kesepakatan kelompok tersebut. Setelah mengelompok, ajak peserta untuk memberi judul pada hasil pengelompokkan tersebut.6. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap paling relevan.7. Ingatkan peserta tentang apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, arahkan pembahasan tentang Etika Fasilitator yang ditekankan sesuai dengan hasil kesepakatan kita dalam lokalatih ini
  • SESSI 07 : TEKNIK KOMUNIKASITUJUAN : Peserta mengetahui jenis jenis komunikasi dan keterampilan teknis komunikasiMETODE : 1. Permainan Broken T 2. Presentasi 3. Diskusi pleno 4. Ceramah singkat dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Permainan Broken T 2. Kertas manila karton, ½ halaman 3. Kain rekat 4. Metaplan 5. Spidol 6. Selotif 7. Gambar mendengar, bertanya dan fasilitatorLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan tentang hal lain yang perlu dikuasai oleh fasilitator : komunikasi2. Jelaskan kepada peserta tentang permainan yang akan dilakukan : Broken T3. Jelaskan aturan main pelaksanaan permainan Broken T : a. Bagi peserta kedalam kelompok yang terdiri dari 3 orang; minta seoang menjadi komunikator, 2 orang menjadi komunikan b. Atur tempat duduk seperti : - Komunikator duduk di lantai dibelakang sandaran kursi - Komunikan duduk berdua di lantai di depan tempat duduk kursi - Diatas tempat duduk kursi tersebut, ditutup dengan kertas ukuran setengah plano, dengan sasaran agar komunikator tidak dapat melihat komunikator bekerja atas dasar perintah komunikator K u r s i
  • c. Permainan dilakukan dalam tiga tahap : - Tahap pertama, komunikator hanya memberikan instruksi, komunikator tidak dapat bertanya, dan langsung harus mengerjakan tugasnya - Tahap kedua, komunikator boleh menjawab pertanyaan komunikan secukupnya, lalu komunikan harus langsung mengerjakan tugasnya - Tahap ketiga, komunikator dan komunikan dapat berdialog, agar tugas yang harus dikerjakan dapat diselesaikan dengan sempurna d. Tugas yang harus diselesaikan komunikan adalah : menyusun Broken T e. Dengan aturan main tersebut, peserta melakukan permainan Broken T selama tiga babak, sesuai dengan instruksi fasilitator.4. Lakukan pembahasan dengan menggunakan matriks berikut: Jenis Kapan Caranya Kelebihan Kekurangan komunikasi digunakan bagaimana5. Bahas dengan peserta bahwa komunikasi dialogislah yang paling cocok dalam pendekatan partisipatori, untuk pelaksanaan fasilitasi pelaksanaan kebijakan ini.6. Lanjutkan pembahasan, agar pendapat peserta dalam sebuah kegiatan lokakarya keluar – dimana semua peserta aktif, ada dua hal yang harus diperhatikan : a. Teknik Mendengar b. Teknik bertanya7. Simpulkan pembahasan komunikasi dengan 3 gambar berikut ini :
  • SESSI 08 : MEDIA FASILITASITUJUAN : Pemahaman tentang media yang biasa dimanfaatkan dalam proses fasilitasiMETODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. Diskusi kelompok 3. Presentasi 4. Diskusi plenoWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : • Kain rekat • Metaplan • Spidol SelotifLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya media fasilitasi.2. Bagi peserta kedalam tiga kelompok, minta kepada setiap kelompok untuk menginventarisir sebanyak mungkin media yang diketahui dan atau pernah dimanfaatkan dalam proses fasilitasi.3. Minta setiap kelompok untuk mengambil 10 jenis media yang diketahui dan atau pernah dimanfaatkan dalam proses fasilitasi. Tempelkan dikain rekat baru.4. Ajak peserta untuk mengelompokkan media yang diketahui dan atau pernah dimanfaatkan dalam proses fasilitasi. Beri judul dari pengelompokkan tersebut.5. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap paling relevan.6. Berikan contoh peserta tentang pengelolaan kain rekat dan metaplan, lengkap kenapa perlu berwarna, serta kenapa ada beberapa bentuk metaplan. ( Sebelumnya persiapkan terlebih dahulu di kain rekat yang berbeda ).7. Ingatkan peserta tentang pemilihan media harus disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan kesesuaian topik.
  • SESSI 09 : PENJAJAGAN KEBUTUHAN FASILITASITUJUAN : Pemahaman tentang pentingnya penjajagan kebutuhan fasilitasiMETODE : Ceramah singkat dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Bola karet 2. Kain rekat 3. Metaplan 4. Amplop besar 5. Kertas flipchart 6. Spidol 7. Selotif 8. Format penjajagan kebutuhanLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya penjajagan kebutuhan fasilitasi.2. Bagi peserta kedalam tiga kelompok, untuk kemudian diajak bermain lempar bola karet.3. Jelaskan aturan mainnya : a. Peserta berdiri dalam keadaan berbaris dari depan ke belakang b. Peserta diminta untuk melemparkan bola melalui selangkangannya dari depan ke belakang, lurus, tidak boleh kena kaki orang lain. Kalau terkena kaki orang lain harus diulangi, sampai bola tersebut benar benar sampai di orang yang paling belakang. c. Minta kepada setiap orang untuk menuliskan : apa yang paling dibutuhkan dalam pelatihan dalam kerangka peningkatan kapasitas untuk pelaksanaan kebijakan didaerah. d. Setelah itu, metaplan dimasukkan kedalam amplop besar yang telah disediakan sebelumnya e. Peserta yang telah memasukkan metaplan tadi, kemudian melemparkan bola seperti tadi, sampai bola benar benar sampai tepat di orang paling belakang f. Kegiatan diteruskan, sampai setiap orang mendapatkan kesempatan untuk melempar bola dan menuliskan kebutuhannya dalam metaplan4. Berdasarkan aturan main tersebut, minta setiap kelompok untuk memainkan lempar bola karet.5. Setelah selesai, ajak peserta berdiri melingkar, ajak peserta untuk mengungkapkan makna dari lempar bola :
  • a. Pentingnya untuk melihat langsung, makna dari bola sampai di ujung peserta paling belakang b. Pentingnya untuk tetap ingat pada tujuan, makna lain dari bola tidak boleh terkena dikaki peserta yang bukan terletak diujung c. Voice dan choice, makna menulis dan memasukkan metaplan kedalam amplop, setiap orang yang hadir memiliki hak yang sama d. Dsb6. Kembalikan kedalam kelompok, buka amplop, dan minta peserta untuk menempelkan metaplan tersebut di kain rekat kelompoknya. Lakukan pengelompokkan.8. Minta setiap kelompok untuk mengambil 10 jenis kebutuhan : pelatihan dalam kerangka peningkatan kapasitas untuk pelaksanaan kebijakan didaerah. Tempelkan dikain rekat baru.9. Ajak peserta untuk mengelompokkan keebutuhan tersebut. Beri judul dari pengelompokkan tersebut.7. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap paling relevan.8. Jelaskan bahwa pada dasarnya ada tiga pengelompokkan kebutuhan pelatihan dan atau lokakarya, atau lokalatih : a. Aspek sikap b. Aspek pengetahuan c. Aspek keterampilan9. Setelah itu, jelaskan pula format penjajagan kebutuhan untuk ketiga aspek tersebut :Mengapa anda membutuhkan suatu pelatihan untuk lembaga/institusianda?(Pilih jawaban yang tepat) Adanya kebutuhan untuk memperoleh Adanya kebutuhan untuk menyiapkan ketrampilan baru tenaga untuk tugas atau posisi baru Adanya kebutuhan untuk perubahan sikap Adanya kebutuhan untuk mempersiapkan tenaga untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, Adanya kebutuhan untuk memperoleh mempelajari bagaimana meningkatkan informasi atau pengetahuan baru performance yang lebih baik, dan peningkatan hasil dari upaya yang dilakukan.
  • Contoh: 1. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN KETERAMPILAN1. Apa peran dan tugas yang akan dilakukan?2. Apa keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan peran dan tugas ini?3. Keterampilan apa yang dapat mereka tunjukan sekarang?4. Keterampilan-keterampilan apa yang masih perlu untuk ditingkatkan?5. Berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh di atas, rumuskan tujuan anda sendiri untuk pelatihan ini? 2. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN PENGEMBANGAN SIKAP1. Mengapa anda berkeinginan untuk merubah sikap kelompok atau institusi anda?2. Uraikan sikap-sikap kelompok atau institusi anda?3. Sikap-sikap apa yang anda inginkan dapat diperoleh?4. Perubahan sikap apa yang diharapkan terjadi?5. Berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh di atas, sebutkan tujuan pribadi anda untuk pelatihan ini? 3. NEED ASSESSMENT UNTUK SALING TUKAR INFORMASI DAN PENGETAHUAN1. Pengetahuan apa yang anda harapkan untuk disampaikan agar dapat menjadi pelajaran untuk kelompok/institusi?2. Mengapa anda menginginkan mereka agar mereka belajar tentang pengetahuan seperti yang disebutkan di atas?3. Apa yang telah mereka ketahui tentang pengetahuan yang disebutkan di atas?4. Informasi atau pengetahuan lainnya yang dibutuhkan selain yang telah disebutkan di atas ?5. Berdasarkan assesmen yang telah dilakukan di atas, rumuskan tujuan pelatihan ini menurut anda?
  • 4. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN PERAN DAN TUGAS BARU DALAM PEKERJAAN APA PERAN DAN PENGETHAUAN, KETRAMPILAN DAN DARI YANG TELAH TUGAS YANG SIKAP APA YANG DIPERLUKAN AGAR TERCANTUM YANG MANA YANG MANA YANG BELUM HARUS PERAN DAN TUGAS DAPAT YANG TELAH MEREKA MEREKA MILIKI DILAKSANAKAN? BERJALAN? MILIKI? Pengetahuan Ketrampilan SikapBerdasarkan assessment ini, rumuskan tujuan pelatihan ini: 5. NEED ASSESSMENT UNTUK PERTUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN KELOMPOK1. Lakukan identifikasi kelompok/institusi anda pada tingkat apa pada saat ini dalam hubungannya dengan fungsi dn tugas, hubungan antar manusia. Dengan menggunakan model pertumbuhan dan perkembangan kelompok.2. Berikan indikasi kelompok/institusi anda pada tingkat mana berdasarkan identifikasi yang anda lakukan FUNGSI DAN TUGAS: HUBUNGAN ANTAR MANUSIA3. Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap apa yang menurut anda dibutuhkan untuk meningkatkan pada tingkat pertumbuhan yang diharapkan? PENGETAHUAN
  • KETRAMPILAN SIKAP4. Berdasarkan assessmen di atas, rumuskan tujuan pelatihan ini
  • SESSI 10 : MENYUSUN KERANGKA ACUAN FASILITASITUJUAN : Peserta mengetahui tata cara menyusun kerangka acuanMETODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. PenugasanWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Kertas HVSLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator memberikan penjelasan mengenai tujuan yang ingin dicapai dalam menyusun kerangka acuan fasilitasi2. Fasilitator menugaskan pada masing-masing peserta untuk : a. Minta kepada peserta untuk mempersiapkan alat tulisnya. b. Jelaskan bahwa setiap peserta diminta untuk menulis sebuah cerita yang menggambarkan tentang upaya yang ingin dilakukan untuk mencapai kondisi AMPL yang ideal c. Minta kepada 1-2 relawan untuk membacakan ceritanya. Kemudian bahas, dan arahkan pada pentingnya menyusun Kerangka Acuan Fasilitasi.3. Fasilitator menjelaskan mengenai sistematika penulisan Kerangka Acuan Fasilitasi : a. Latar belakang b. Tujuan c. Materi d. Strategi pelaksanaan e. Peserta f. Lokasi, waktu dan tempat g. Biaya h. Bagan alir i. Jadual4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang dianggap kurang dimengerti5. Berdasarkan uraian tersebut diatas, berikan kesempatan kepada peserta untuk menulis draft kerangka acuan pertemuan untuk menemukan isu pembangunan AMPL daerah6. Fasilitator memberikan penegasan mengenai pokok-pokok materi dan dihubungkan dengan materi sebelumnya
  • SESSI 11 : MENYUSUN KURIKULUM KEGIATAN FASILITASITUJUAN : Peserta mengetahui tata cara kurikulum fasilitasiMETODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. PenugasanWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Kertas HVSLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator memberikan penjelasan mengenai : tujuan sessi menyusun kurikulum kegiatan fasilitasi2. Tugas kelompok : a. Minta 6 orang sukarelawan untuk tampil kedepan untuk memainkan : Memasukan gantungan paku kedalam botol. b. Ajak peserta lainnya untuk mengamati jalannya permainan ini. c. Bahas makna permainan ini kearah : tujuan, penggunaan alat, cara, dlsb. Arahkan pembicaraan kepada penyusunan kurikulum, yang ada kaitannya dengan masalah masalah tersebut diatas.3. Fasilitator menjelaskan kepada peserta mengenai kurikulum dengan menggunakan tabel berikut ini : Pokok Tujuan Proses Media/alat Fasilitator Waktubahasan4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang dianggap kurang dimengerti5. Fasilitator membagi peserta menjadi 5 kelompok untuk mengerjakan tugas secara berkelompok. Adapun tugasnya: Sesuai dengan format tersebut diatas, minta peserta secara berkelompok untuk menyusun kurikulum pertemuan untuk menemukan isu pembangunan AMPL daerah6. Fasilitator memberikan penegasan mengenai intisari menyusun kurikulum
  • SESSI 12 : ACARA KREATIFITASTUJUAN : Peserta menampilkan kreatifitas kelompok mengenai isu AMPL dengan menggunakan berbagai metoda dan atau media fasilitasi serta budaya di propinsinya masing masingMETODE : Penampilan kreatifitas propinsiWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Gift untuk hadiah 6. Bahan untuk penampilan sesuai dengan kebutuhan kelompokLANGKAH PENYAJIAN :1. Peserta per kelompok diminta untuk menyiapkan kegiatan kreatif yang akan dibawakan selama 5 menit yang menampilkan salah satu isu AMPL dengan menggunakan meoda dan atau media fasilitasi2. Acara Kreatifitas Kelompok dipertunjukkan selama 5 menit setiap kelompok3. Pemberian hadiah untuk kelompok paling kreatifCatatan :Sebagai persiapan jelaskan sejak Alur Pelaksanaan Lokakarya, sehinggapada saat acara kreatif ini betul betul akan mengekspresikan isu, metodadan media yang dipilih. Acara dapat dilanjutkan dengan kegiatan hiburanlainnya.
  • SESSI 13 : PERSIAPAN SIMULASI FASILITASITUJUAN : Peserta mengetahui tata cara mempersiapkan simulasi fasilitasiMETODE : 1. Ceramah singkat dan tanya jawab 2. Penugasan dalam kelompok 3. Simulasi fasilitasi sesuai kebutuhaan kelompokWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Panduan simulasi fasilitasi lapangan 6. Perlengkapan simulasiLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan hal hal yang perlu dipersiapkan untuk persiapan simulasi.2. Fasilitator menjelaskan beberapa aspek yang akan dilakukan dalam simulasi fasilitasi : a. Praktek akan dilakukan di 5 kelurahan di Kota Denpasar b. Materi praktek fasilitasi : Masalah sekarang Alternatif Kondisi Gap rencana tindak yang yang yang mungkin diharapkan masih dilakukan terjadi terjadi kelompok Masalah dimasa masyarakat mendatang yang akan datang Penyusunan skala prioritas Berdasarkan skema tersebut, sessi sessi simulasi dirancang sebagai berikut : - Sessi 1, 60 menit, identifikasi isu AMPL lainnya setelah pelaksanaan program selama ini, seperti issue yang berkaitan dengan sanitasi seperti jamban, PHBS dan lain sebagainya yang relevan dengan program yang akan dilakukan dengan ISSDP - Sessi 2, 60 menit, menyusun skala prioritas untuk melaksanakan program selanjutnya - Sessi 3, 60 menit, menyusun rencana kerja sesuai dengan kemampuan masyarakat c. Peserta, akan dibagi menjadi 5 kelompok terdiri dari sekitar 9 orang
  • d. Praktek akan dilakukan malam hari, selama 3 jam efektif3. Fasilitator membagi peserta menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 9 orang, disesuaikan dengan kemampuan peserta, sejauh yang berhasil direkam tim fasilitator4. Kelompok simulasi mengorganisasikan diri untuk persiapan simulasi : - Pembagian tugas - Pengorganisasian kelompok - Mempersiapkan materi dan perlengkapan simulasi - Uji coba simulasi apabila memungkinkan - Persiapkan inform choice untuk membantu masyarakat5. Setelah selesai, fasilitator berdiskusi dengan peserta tentang pengalaman bagaimana mempersiapkan simulasi lapangan, agar dapat diaplikasikan di daerahnya masing masing
  • Panduan simulasi fasilitasi lapangan Lokalatih KeterampilanDasar FasilitasiLokasi simulasi fasilitasi lapangan :1. Kelurahan Ubung, Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar2. Desa Tegalkertha, Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar3. Kelurahan Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar4. Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar5. Desa Sanurkaja, Kecamatan Denpasar Selatan, DenpasarTim simulasi :Peserta Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi Pokja AMPL – WASPOLA, sebanyakkurang lebih 9 orang setiap kelompok/lokasiWaktu simulasi :Kamis, 27 Juli 2006, jam 19.00 – 22.00Alat dan bahan yang diperlukan :1. Kain rekat2. Metaplan3. Spidol4. Kertas flipchat5. Selotif yertas yang dapat dirobek6. Makanan kecilDraft disain proses simulasi :Secara garis besar, simulasi fasilitasi kelompok masyarakat di lima kelurahan danatau desa di Denpasar, disesuaikan dengan skema berikut ini : Masalah saat ini Alternatif Kondisi Gap rencana tindak yang yang yang mungkin diharapkan masih dilakukan terjadi terjadi kelompok dimasa masyarakat Masalah mendatang yang akan datang Penyusunan skala prioritas
  • Hasil akhir yang diharapkan :Alternatif rencana tindak pelaksanaan Program AMPL yang mungkindilakukan kelompok masyarakatLangkah langkah yang harus dilakukan : Waktu1. Perkenalan, silahkan cari alternatif yang dikuasai oleh Tim Simulasi 20 menit2. Fasilitator menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan 5 menit3. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan identifikasi masalah 20 menit AMPL saat ini. Tulis dikertas metaplan, tempelkan di kain rekat.4. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan identifikasi perkiraan 20 menit masalah AMPL dimasa mendatang. Tulis dikertas metaplan, tempelkan di kain rekat.5. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan identifikasi kondisi 20 menit AMPL yang diharapkan. Tulis dikertas metaplan, tempelkan di kain rekat.6. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan identifikasi gap yang 20 menit masih terjadi antara masalah AMPL saat ini dan yang akan datang dengan kondisi AMPL yang diharapkan. Tulis dikertas metaplan, tempelkan di kain rekat.7. Fasilitator mengajak peserta untuk menyusun skala prioritas dari 30 menit penyelesaian gap yang masih terjadi antara masalah AMPL saat ini dan yang akan datang dengan kondisi AMPL yang diharapkan. Tulis dikertas metaplan, tempelkan di kain rekat.8. Fasilitator mengajak peserta untuk menyusun : Alternatif rencana 30 menit tindak yang mungkin dilakukan kelompok masyarakat.9. Penutup dan rangkuman 15 menit Total 180 menitUntuk fasilitasi tersebut, gunakan matriks berikut.
  • Alternatif rencana tindak yang mungkin dilakukan kelompok masyarakat Kondisi yang Masalah yang Gap yang Penyusunan skalaMasalah saat diharapkan akan datang masih terjadi prioritas ini terjadi dimasa Kegiatan Keluaran Waktu Penang. Biaya Berdasarkan kebutuhan mendatang Jawab dan kesepakatan warga
  • SESSI 14 : PELAKSANAAN PRAKTEK FASILITASITUJUAN : Peserta mendapatkan kesempatan simulasi fasilitasi di lapanganMETODE : 1. Simulasi fasilitasi 2. PengamatanWAKTU : 180 menitALAT/BAHAN : Bis Perlengkapan simulasi Snack Format pengamatan Handicam & Kaset/DVDLANGKAH PENYAJIAN : 1. Fasilitator melakukan pengecekan kelengkapan anggota kelompok simulasi dan pelengkapan yang dibutuhkan 2. Rombongan sesuai dengan kendaraannya berangkat menuju lokasi, jam 18.30 3. Kelompok melakukan fasilitasi di kelurahan selama 3 jam 4. Rombongan kembali ke hotel, jam 22.00
  • FORMAT PENGAMATANNO ASPEK KURANG CUKUP BAIK 1 Sistematika penyampaian materi2 Metode fasilitasi3 Media fasilitasi4 Alokasi waktu5 Cara Berdiri6 Cara Memandang7 Cara Berbicara8 Intonasi Suara9 Membuka kegiatan fasilitasi10 Menutup kegiatan fasilitasi11 Cara Bertanya12 Penggunaan Bahasa13 Pemanasan14 Cara Menjawab15 Dinamika Peserta
  • SESSI 15 : REFLEKSI PRAKTEK FASILITASITUJUAN : Peserta mendapatkan umpan balik terhadap pelaksanaan simulasi di lapanganMETODE : 1. Curah pendapat 2. Presentasi 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Rekaman gambar simulasi & pengamatanLANGKAH PENYAJIAN : 1. Fasilitator menjelaskan tentang manfaat yang akan diperoleh dari refleksi simulasi lapangan 2. Fasilitator mempersilahkan masing masing kelompok menyampaikan hasil pengamatannya, kelompok lain dapat menambahkan. 3. Fasilitator memutarkan cuplikan gambar pelaksanaan simulasi. 4. Fasilitator mengajak peserta untuk diskusi hal hal apa yang sudah baik untuk dipertahankan, serta hal hal apa yang masih harus ditingkatkan.5. Tim fasilitator menyampaikan beberapa hal kunci mengenai pelaksanaan simulasi di lapangan.6. Fasilitator memberikan penjelasan bahwa : pengalaman, jam terbang, akan membuat kita semua semakin memahami dan matang dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi
  • SESSI 16 : 1. PEMBULATAN LOKALATIH 2. RKTL 3. POST TEST 4. EVALUASI AKHIR 5. PENUTUPANTUJUAN : 1. Peserta mendapatkan kesimpulan umum terhadap materi pelatihan 2. Peserta mempunyai RKTL 3. Peserta mengerti pencapaian lokakarya saat ituMETODE : 1. Diskusi dan tanya jawab 2. Penugasan 3. Upacara seremonialWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Metaplan 3. Spidol 4. Selotif 5. Roadmaping pelaksanaan kebijakan 6. Format RKTL 7. Lembar postest 8. Kertas dot 9. Sambutan penutupan lokakaryaLANGKAH PENYAJIAN :Pembulatan1. Fasililitator menjelaskan pentingnya melakukan pembulatan materi pelatihan2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapatnya tentang pengalaman, pengetahuan, keterampilan yang diperolehnya selama loka latih ini. Pendapat peserta ditulis di metaplan lalu ditempelkan di kain rekat3. Fasilitator menambahkan hal hal yang terlupakan oleh peserta. Untuk kemudian fasilitator merangkainya menjadi sebuah kesatuan yang utuh : dasar dasar fasilitasi.4. Fasilitator kemudian mengajak peserta membandingkannya dengan alur lokakarya yang dijelaskan diawal lokalatih.RKTL1. Fasilitator mengingatkan kembali tentang roud maping pelaksanaan kebijakan di daerah, serta langkah langkah fasilitasi yang harus dilakukan2. Fasilitator membagi peserta kedalam propinsinya masing masing.3. Peserta dengan propinsinya masing menyusun RKTL sesuai dengan ketersediaan dana tahun ini, serta sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan kebijakan selanjutnya di
  • daerahnya masing masing; misal : propinsi mengadakan TOT, WASPOLA dan Pokja AMPL Pusat sebagai nara sumber.4. Satu copy rencana kerja diserahkan kepada fasilitator untuk kepentingan monitoring dan evaluasiPOST TEST1. Fasilitator menjelaskan pentingnya dilaksanakan post test, sebagaimana yang telah dilakukan pada saat pre-test2. Fasilitator memberikan kesempatan untuk melakukan pengisian kembali kain rekat post test :☺ Dasar Teknik Metoda & Etika Media Penjajagan Menyusun Menyusun dasar komu- Pendekatan fasilitator fasilitasi kebutuhan kerangka acuan kurikulum fasilitasi nikasi Partisipatori fasilitasi fasilitasi fasilitasiEVALUASI AKHIRSelepas post test, peserta diajak untuk melakukan evaluasi akhir lokakarya denganmenggunakan format evaluasi akhirPENUTUPAN Sambutan Pokja AMPL Pusat dengan penekanan pentingnya aplikasi dilapangan untuk menggunakan keterampilan dasar fasilitasi dalam rangka operasionalisasi kebijakan AMPL berbasis masyarakat Note: Perlu penekanan bahwa yang paling penting hasil lokakarya ini bukan ditentukan hanya didalam kelas ini tetapi bagaimana penerapannya di daerah masing-masing
  • Jadual Pelaksanaan Kebijakan Tahun 2006 April 06 Mei 06 Juni 06 Juli 06 Agst 06 Sept 06 Tr-1 Tr-4 Tr-6 Loknas Rakornas-1 Diseminasi Tr-3 Kebijakan Lokakarya Analisis WS-1 Pelatihan Dasar2 Tr-2 Kebijakan & Fasilitasi Lokalatih MPA- Lokalatih Penyusun- Pelaksanaanya PHAST an Renstra AMPL Lokakarya Daerah Identifikasi Isu dan Permasalahan AMPL a. Renc. Kerja b. Pemb. Pokja c. Kajian Lapang d. Dialog Tematik e. Kajian Data Okt 06 Nov 06 Des 06 Jan 07 Feb 07 Maret 07 Lokakarya Nasional Tr-5 Pelatihan CLTS Tr-6 Rakornas-2 Konsolidasi & Evaluasi WS-2 WS-3 Pelaksanaan Kebijakan Lok. Daerah Strategi Lokakarya Akhir Pembangunan AMPL Review Hasil Tr-7 Pelaksanaan Kebijakan Proses penyusunan strategi dan rencana kerja AMPL daerah KETERANGAN TEMPAT PESERTATR-1 Lokakarya ini dirancang untuk memahami secara komprehensif pokok-pokok kebijakan dan strategi operasionalisasinya di tingkat daerah.Hasil lokakarya ini adalah kesamaan Anyer 2-3 orag setiap persepsi terhadap setiap pokok kebijakan, proses operasionalisasi di semua level, tantangan dan upaya yang perlu dilakukan serta dukungan yang diperlukan. Surabaya daerahWS-1 Lokakarya ini dirancang untuk bersama-sama melakukan identifikasi isu dan permasalahan keberlanjutan AMPL di masing-masing kabupaten/kota sebagai pertimbangan dalam Kabupaten/ 40 orang setiap pengembangan strategi dan rencana kerja. Keluaran lokakarya adalah RENCANA KERJA untuk; pembentukan kelompok kerja, kajian langan mengenai keberlanjutan proyek Kota kabupaten/kota AMPL, dialog tematik untuk menggali masukan dari berbagai pihak mengenai keberlanjutan AMPL, pengembangan sistem informasi dan data AMPLTR-4 Pelatihan ini dimaksudkan untuk membantu daerah dalam meningkatkan keterampilan dasar fasilitasi kebijakan bagi pokja AMPL propinsi dan kabupaten. Hasil dari pelatihan ini Semarang, 2-3 orang setiap adalah kesiapan kelompok kerja AMPL daerah dalam memfasilitasi pelaksanaan kebijakan Denpasar daerahTR-2 Pelatihan ini dimaksudkan untuk membantu peserta dalam memahami aplikasi metodologi asesmen partisipatif sebagai bekal dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi dalam Yogyakarta 2 – 3 orang setiap pembangunan AMPL berbasis masyarakat Mataram daerahTR-3 Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penyusunan rencana strategis pembangunan AMPL. Padang 2-3 orang setiap Makasar daerahWS-2 Lokakarya ini sebagai kelanjutan dari pelatihan penyusunan rencana strategis AMPL. Dilaksanakan di masing-masing kabupaten mengundang semua pihak terkait bersama-sama Kabupaten/ 40 orang setiap melakukan identifikasi terhadap isu dan permasalahan pembangunan AMPL yang telah diperoleh dari hasil kajian lapangan, dialog tematik dan kajian data. Keluaran dari Kota kabupaten/kota lokakarya ini adalah rencana tindak penyusunan strategi pembangunan AMPL daerah yang akan diselesaikan lebih kurang 3-6 bulan berikutnya.TR-6 Pertemuan ini ditujukan untuk melakukan review terhadap pelaksanaan kebijakan di daerah dilaksanakan secara regional wilayah timur dan barat diikuti oleh kelompok kerja Bandung 2-3 orag setiap Pusat dan perwakilan dari masing-masing propinsi dan kabupaten Makasar daerahTR-5 Pelatihan ini dirancang untuk memberikan keterampilan teknis dalam melakukan pemicuan terhadap perubahan perilaku BAB di sembarang tempat tanpa subsidi. Aplikasi dari Pangkalpinang 2 – 3 orang setiap metodologi ini masyarakat akan sadar untuk merubah kebiasaan BAB disembarang tempat Gorontalo daerahWS-3 Lokakarya ini dirancang untuk melakukan konsolidasi hasil pelaksanaan kebijakan di daerah, draf strategi dan rencana kerja pembangunan AMPL dipresentasikan kepada publik Kabupaten/ 40 orang setiap untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari berbagai pihak untuk disempurnakan sebelun diproses lebih lanjut dalam bentuk regulasi Kota daerah Lokakarya ini dirancang untuk melakukan konsolidasi terhadap keseluruhan pelaksanaan kebijakan di daerah dihadiri oleh seluruh perwakilan propinsi dan kabupaten. Hasil TBN 2-3 orang setiapTR-7 daerah lokakarya ini berupa masukan bagi Pemerintah pusat dalam rangka pengembangan strategi diseminasi kebijakan pada tahap selanjutnya.
  • FORMAT RENCANA KERJA TINDAK LANJUT LOKALATIH KETERAMPILAN DASAR FASILITASI PENANGGUNGNO KEGIATAN WAKTU BIAYA JAWAB 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121314
  • LEMBAR EVALUASI AKHIR KEGIATAN LOKALATIH KETERAMPILAN DASAR FASILITASIAsal Wilayah: ___________________________________________________________Ketentuan : berikan tanda √ pada kolom angka atau score yang sesuai dari angka 1 sangatkurang sampai 5 sangat baik pada setiap item pernyataan. SCORE NO ITEM EVALUASI 1 2 3 4 5 1. Seberapa jauh lokalatih ini memenuhi harapan anda (harapan umum) 2. Seberapa jauh lokalatih ini memberikan kejelasan dan wawasan – wawasan tentang Keterampilan Dasar Fasilitasi dan kaitannya dengan konsep kesinambungan program AMPL 3. Seberapa jauh anda mendapatkan informasi atau pemahaman serta ketrampilan yang bermanfaat bagi pekerjaan anda yang berkaitan dengan Kelompok Kerja AMPL dan penggunaan Keterampilan Dasar Fasilitasi untuk kesinambungan program AMPL 4. Seberapa jauh metode atau teknik penyajian dalam lokalatih ini membantu anda dalam memahami materi yang disampaikan 5. Seberapa keaktifan peran serta peserta dalam lokalatih ini 6. Bagaimana kemampuan fasilitator dalam membangun dinamika pembahasan 7. Seberapa jauh materi yang disajikan dalam lokalatih ini sesuai dan memenuhi harapan anda 8. Seberapa jauh pengaturan tempat lokalatih membantu anda dalam memperlancar proses dan hasil belajar anda 9. Apakah waktu yang dialokasikan pada lokalatih ini mencukupi 10. Apakah sarana belajar (bahan, peralatan belajar) yang disediakan cukup memadai untuk membantu anda dalam proses belajar 11. Apakah fasilitas pendukung lainnya seperti akomodasi, konsumsi dan sebagainya untuk lokalatih ini memadaiCatatan : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik dan 5 = sangat baik
  • KOMENTAR-KOMENTAR ANDA YANG SANGAT BERHARGA :HAL-HAL POSITIF/KEKUATAN DALAM KEGIATAN LOKALATIH INIKELEMAHAN /ATAU HAL NEGATIF DALAM KEGIATAN LOKALATIH INISARAN-SARAN UNTUK PERBAIKAN KEDEPAN
  • PROSES TABULASIa. Pindahkan isi format evaluasi ke dalam format rekap hasil evaluasi kolom 4, 6, 8, 10, 12b. Isi kolom 5, 7, 9, 11, 13 dengan mengalikan nilai score dengan nilai pada kolom 4, 6, 8, 10, 12c. Isi kolom 14 dengan cara menjumlahkan isi pada kolom 5, 7, 9, 11 dan 13d. Isi kolom 15 dengan cara membagi isi kolom 14 dengan jumlah peserta/suara pada kolom 3e. Isi kolom 16 dengan cara berikut : Kolom (15)/5 x 100 %f. Komentar dan saran ditulis pada kertas tersendiri.
  • MENGELOLA KEGIATAN FASILITASIDALAM RANGKA PENINGKATAN KAPASITASDALAMsebuah kiat yang disusun berdasarkan pengalaman lapangan
  • Proyek Penyusunan Kebijakan dan Rencana Kegiatan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan TahapKedua (WASPOLA-2) dilaksanakan di bawah Pimpinan Pemerintah Indonesia, melalui KelompokKerja lintas departemen yang diketuai oleh BAPPENAS, dengan mayoritas dana hibah dariPemerintah Australia melalui AusAID, dan dukungan langsung Water and Sanitation Program forEast Asia and the Pacific (WSP-EAP) atas nama AusAID dan Bank Dunia.
  • A. PENGANTARImplementasi Kebijakan Nasional Pembangunan AirMinum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakat telah dilaksanakan di 4 kabupaten padatahun 2002/2003; 7 kabupaten di 7 propinsi padatahun 2004; 21 kabupaten/kota di 7 propinsi padatahun 2005; dan ditahun 2006 ini dilaksanakan di 24kabupaten/kota di 9 propinsi lokasi WASPOLA.Ditambah dengan 8 kabupaten pada 4 propinsi lokasiproyek CWSH. Kebijakan nasional ini telahdisosialisasikan pula di berbagai forum pertemuannasional dan dipublikasikan ke pemerintah daerah di seluruh Indonesia melalui berbagaimacam media termasuk majalah Percik.Untuk efektifitas kesinambungan, pencapaian sasaran yang tepat dan terarah di daerahdalam rangka operasionalisasi kebijakan nasional, perlu upaya-upaya penting antara lain;• Pemahaman substansi kebijakan nasional yang minimal harus dikuasai oleh stake holder daerah,• Pemberdayaan peran stake holder daerah agar mampu melakukan diseminasi kebijakan• Penyusunan rencana kerja diseminasi kebijakan di masing-masing daerah.Karena itu, kapasitas Kelompok Kerja AMPL Daerah dan segenap multi stake holder pentingdan mendesak untuk ditingkatkan. Dengan harapan layanan AMPL 2015 dapat tercapaidan berkelanjutan. Atas dasar itulah, tulisan : MENGELOLA KEGIATAN FASILITASI DALAMRANGKA PENINGKATAN KAPASITAS dapat dipakai sebagai pegangan untuk mencapaitujuan layanan AMPL yang berkelanjutan.B. PENGEMBANGAN KAPASITAS1. Kapasitas (kemampuan) Pencapaian tujuan secara efektif dan efisien sangat tergantung pada kapasitas (kemampuan) individu dalam sebuah organisasi atau sistem dalam memainkan fungsi- fungsinya. Seperti fungsi memformulasikan kerangka kerja yang berkesinambungan, melakukan adaptasi terhadap perkembangan dan tuntutan masyarakat.2. Apakah yang dimaksud dengan “pengembangan kapasitas”? ”Pengembangan kapasitas adalah sebuah proses peningkatan kemampuan individu,organisasi atau sistem untuk mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan (Brownet.al.2001). Pengembangan kapasitas dapat dilihat sebagai suatu proses tindakan, atau
  • menggerakkan perubahan individu, kelompok, organisasi dan sistem secara berjenjang,kearah peningkatan kemampuan diri individu dan organisasi sehingga tanggap terhadaplingkungan sosial, ekonomi dan politik yang terus menerus mengalami perubahan.(Morrison 2001). Dengan demikian, pengembangan kapasitas adalah menciptakanorganisasi pembelajaran (learning organisation). Pengembangan kapasitas bersifat spesifikterhadap tugas. Pengembangan kapasitas harus disesuaikan dengan situasi yang khususyang sedang melingkupi individu, organisasi maupun sistem (Milen 2001). Pengembangankapasitas terdiri atas fase-fase pengkajian, perumusan strategi, pelaksanaan tindakan-tindakan, pemantauan dan evaluasi, yang berkaitan secara erat satu sama yang lainnyawalaupun tidak harus terjadi dalam urutan yang linier (Milen 2001). Pengembangankapasitas harus melingkupi tingkatan yang berbeda, seperti tingkatan individu, tingkatankelembagaan (organisasi), dan tingkatan system (UNDP 1998).Pengembangan kapasitas dapat didefinisikan sebagai suatu proses peningkatankemampuan individu, kelompok, organisasi, atau masyarakat agar mampu (i) menganalisalingkungannya, (ii) mengidentifikasi masalah, kebutuhan, isu dan kesempatan, (iii)merumuskan strategi pengatasan masalah, isu dan kebutuhan, dan menggunakannya padakesempatan yang tepat, (iv) merancang rencana aksi, dan (v) mengumpulkan dan efektifmenggunakan sumberdaya yang terus menerus mampu mengawasi dan mengevaluasirencana aksi tersebut, serta (vi) menggunakan umpan balik sebagai proses pembelajaran(ACBF 2001).3. Pengembangan kapasitas lebih dari sekedar lokakarya atau lokalatih!Lokakarya maupun lokalatih pada dasarnya merupakan salah satu cara untukmeningkatkan keahlian dan kompetensi para individu (misalnya staf yang bekerja di kantorpemerintah daerah, para anggota DPRD, para anggota organisasi kemasyarakatan daerah,LSM – terkait dengan pembangunan AMPL). Hal penting dalam pengembangan kapasitasadalah terbukanya peluang semua pihak memperoleh akses peningkatkan kemampuanbaik secara individu, organisasi maupun sistem kerja melalui lokakarya atau lokalatih, tukarpengalaman, membangun kesadaran publik, pendampingan, advokasi, membangunjaringan informasi AMPL, dan cara-cara intervensi lainnya yang mudah diterima dan diikutioleh kelompok yang membutuhkan.
  • Skema berikut ini, menggambarkan pengembangan kapasitas yang efektif danberkelanjutan yang berlangsung dalam tiga tingkatan : Pengetahuan, Tingkatan kemampuan, Individu penguasaan persoalan, etos kerja Hubungan yang positif antar unsur Tatacara pengambilan tata pemerintahan Tingkatan keputusan, struktur (Masyarakat, Organisasi organisasi, budaya Pemerintah, LSM, kerja Swasta, Kelompok Profesi, Perguruan Tinggi, dll) Tingkatan Kerangka aturan, Sistem kebijakan pendukung Tingkatan sistem, yakni kerangka peraturan, kebijakan dan faktor lingkungan yang mendukung atau menghambat pencapaian tujuan kebijakan tertentu. Tingkatan kelembagaan/badan, menyangkut struktur organisasi, proses pengambilan keputusan, tata cara dan mekanisme kerja, perangkat pengelolaan, hubungan dan jaringan antar organisasi. Tingkatan individu, menyangkut kemampuan dan kualifikasi individu dalam organisasi, meliputi pengetahuan, sikap, etos kerja dan motivasi.4. Pengembangan kapasitas adalah suatu proses, bukan suatu keluaran.Pengembangan kapasitas adalah upaya membangun individu, organisasi dan sistem agarmampu menghadapi tantangan dan tanggap kebutuhan. Dengan kata lain, pengembangankapasitas merupakan suatu proses yang bersifat terus menerus, terjadi karena adanyaperubahan yang terus-menerus baik dilingkungan pemerintahan sendiri dan masyarakat.Keadaan ini mengharuskan suatu organisasi senantiasa mengidentifikasi perubahan dantantangan-tantangan baru. Perubahan itu bisa terjadi di sektor pembangunan ekonomi,sosial dan budaya, teknologi, dan sikap politik masyarakat. Hal ini akan menentukan jenislayanan dan kegiatan yang dibutuhkan suatu organisasi. Misalnya layanan seperti apa yangperlu disediakan suatu dinas di daerah. Bisa terjadi layanan yang saat ini dianggap baik danmemadai, mungkin esok tidak sesuai dan tidak dibutuhkan lagi. Manajemen sektor publikjuga diharapkan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan seperti ini danmenyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan ini. Dengan demikian tidak akan adaproduk atau keluaran tunggal yang bersifat kekal dari pengembangan kapasitas.5. Siapa yang menentukan kebutuhan dan prioritas pengembangan kapasitas?Masing-masing kelompok masyarakat atau stakeholder boleh merumuskan kebutuhanpengembangan kapasitasnya sendiri. Setiap dinas misalnya harus menentukankebutuhannya. DPRD harus membicarakan bidang kinerja apa saja yang perlu diperkuat
  • oleh lembaga atau anggotanya dalam rangka meningkatkan kemampuan daya saingnya.Sekretariat Daerah misalnya, sebagai satuan utama dari pemerintah daerah tentumembutuhkan pengembangan kapasitas. Demikian pula kelompok-kelompok masyarakatseperti kelompok pemakai air, kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok industri kecil,kelompok pengusaha, kelompok masyarakat kehutanan, kelompok profesi, atau lembagaswadaya masyarakat daerah juga perlu memperkuat kapasitasnya agar tanggap terhadaptata pemerintahan daerah. Jika dirumuskan dalam satu kerangka, pengembangan kapasitasnampak saling melengkapi satu sama lain guna memperoleh sumberdaya yang benar-benarutuh.6. Kapan pengembangan kapasitas dibutuhkan?Sebagaimana disebutkan di atas, organisasi akan selalu menghadapi perubahan yangterjadi dalam lingkungan strategis organisasinya dan tanggap menghadapi tuntutan dantantangan baru. Karenanya pengembangan kapasitas selalu dibutuhkan setiap saat. Halinilah yang menjadi pusat perhatian konsep “Pembelajaran Organisasi”: organisasi yangsecara terus menerus mengamati dan menganalisa lingkungan operasionalnya, danmengambil langkah-langkah penyesuaian diri yang diperlukan (seperti strukturnya,mekanisme kerjanya, sumberdayanya) dengan kondisi yang baru. Namun demikian, padakenyataannya kegiatan pengembangan kapasitas jarang sekali dirumuskan secaraterencana. Akan tetapi dikaitkan dengan terjadinya perubahan besar dalam organisasi, ataudisaat organisasi dihadapkan opsi strategis jangka menengah dan panjang.7. Apa saja yang menjadi indikasi kebutuhan pengembangan kapasitas?Bisa terjadi mutu layanan atau keluaran suatu organisasi kurang memuaskan, atau jumlahlayanan yang kurang. Bisa pula suatu organisasi menyediakan layanan dan hasil yang tidakdiperlukan, sementara layanan yang diperlukan justru diabaikan. Survei kepuasan konsumen dapat dijadikan suatu umpan balik bagi organisasi tentang kinerja mereka. Penetapan tolak ukur (benchmarking), yakni, dengan membandingkan kinerja organisasi yang sejenis dimanapun, dapat dijadikan bukti untuk lebih lanjut mengkaji kapasitas yang diperlukan. Pengkajian kapasitas organisasi yang dilakukan sendiri (self-assessment – seperti yang pernah dicoba pada lokakarya nasional konsolidasi Pokja AMPL di Surabaya) merupakan umpan balik yang mampu mendorong paraanggota kelompok kerja untuk bertindak dalam rangka peningkatan kapasitas organisasimereka. Dalam tataran pengawasan pemerintah daerah, tingkatan pemerintah yang lebihtinggi dapat mengidentifikasi kekurangan pemerintah dibawahnya atau jajarannya yangmemerlukan peningkatan kapasitas.8. Tujuan pengkajian kebutuhan pengembangan kemampuanUntuk mendapatkan informasi yang memadai sebagai landasan penyusunan programpeningkatan kemampuan stakeholder sektor Air Minum dan Penyehatan LingkunganBerbasis Masyarakat di daerah.
  • 9. Hasil yang diharapkanSerangkaian penilaian kapasitas yang ada saat ini dan kebutuhan kapasitas mendatangguna peningkatan kinerja individu, organisasi dan sistim yang melingkupinya.10. Langkah utama10.1 Kajian kebutuhan peningkatan kapasitas• Menetapkan ruang lingkup dan tujuan rencana pengembangan kapasitas,• Mengidentifikasi tingkat kemampuan individu, organisasi atau lembaga• Mengenali kendala dan hambatan individu, organisasi atau lembaga dalam mencapai kebutuhan kapasitas yang diharapkan,• Menetapkan kebutuhan untuk perbaikan berdasarkan hasil analisis diatas,• Menyusus kisi-kisi dan pertanyaan-pertanyaan kritis/kunci sebagai panduan pengumpulan informasi yang dibutuhkan.10.2 Perumusan rencana tindakan peningkatan kemampuan• Identifikasi semua kebutuhan peningkatan kapasitas• Sebutkan semua dukungan dari luar (misalnya tenaga ahli, fasilitator, atau dukungan politis misalnya persetujuan pimpinan)• Tentukan skala prioritas berdasarkan dampak positif yang dapat ditimbulkan dan ketersediaan sumberdaya (dana, waktu, alat, tenaga, dll)• Tentukan mekanisme kerjasama dengan pihak lain (stakeholder)• Susunlah rencana kegiatan berdasarkan ketersediaan sumberdaya pendukung.10.3 Evaluasi dan perencanaan ulang• Menetapkan dan mendefinisikan indikator- indikator keberhasilan peningkatan kemampuan dari sisi peningkatan kinerja, derajat manfaat dan kesinambungan,• Menentukan pihak-pihak yang terlibat dalam proses evaluasi,• Melaksanakan evaluasi yang partisipatif,• Mencatat semua temuan positif dan negatif yang relevan dengan upaya peningkatan kapasitas.• Manfaatkan temuan tersebut untuk perbaikan kegiatan peningkatan kapasitas.
  • PANDUAN UNTUK KELOMPOK KERJA TAHAP PENGKAJIAN KEBUTUHAN PENINGKATAN KAPASITASNo. Gagasan Pertanyaan kritis 1 Tujuan peningkatan kapasitas Untuk apa dilakukan peningkatan kapasitas? 2 Ruang lingkup Sampai sejauh mana peningkatan kapasitas akan dicapai? Siapa saja individu yang akan ditingkatkan kapasitasnya? 3 Persoalan yang dihadapi oleh Bagaimana kemampuan kita menjalankan tugas dengan baik dan lancar? individu, organisasi dan sistem Apakah mampu mencapai target kerja tepat waktu? Apakah organisasi dapat berjalan dengan baik? Apakah lingkungan sosial (working environment) cukup mendukung dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan? 4 Identifikasi upaya-upaya yang Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi kendala dan permasalahan harus dilakukan untuk tersebut? menyelesaikan persoalan. Apakah kemampuan kita saat ini dapat untuk mengatasi masalah tersebut? PANDUAN UNTUK KELOMPOK KERJA TAHAP PERENCANAAN PROGRAM PENINGKATAN KAPASITASNo. Gagasan Pertanyaan Kritis 5 Identifikasi kebutuhan Sebutkan semua kebutuhan peningkatan kapasitas peningkatan kapasitas (pengetahuan dan ketrampilan) yang sangat relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan 6 Kebutuhan sumberdaya Sebutkan bahan, alat, tenaga yang sudah tersedia Sebutkan semua dukungan dari luar (misalnya tenaga ahli, fasilitator, atau dukungan politis misalnya persetujuan dari pimpinan) 7 Prioritas kegiatan Kegiatan apa saja yang paling mungkin dilaksanakan berdasarkan dampak positif yang dapat ditimbulkan dan ketersediaan sumberdaya (dana, waktu, alat, tenaga dll)? PANDUAN UNTUK KELOMPOK KERJA TAHAP PEMANTAUAN DAN EVALUASINo. Gagasan Pertanyaan Kritis 8 Menentukan dan mendefinisikan Apa buktinya kalau kegiatan pengembangan kapasitas cukup indikator-indikator berhasil? Informasi apa yang diperlukan untuk mengetahui keberhasilan tersebut? 9 Pihak-pihak yang akan dilibatkan Siapa saja yang dapat mengetahui hasil dari pengembangan dalam proses evaluasi kapasitas? Siapa yang dapat merasakan dampak dari peningkatan kapasitas?
  • C. FASILITATORAgar individu termotivasi atau terdorong sehingga dapat optimalbekerja, termasuk Pokja AMPL dalam mendiseminasikan danmengoperasionalkan kebijakan nasional AMPL-BM. Diperlukanorang lain yang berperan mempermudah pencapaian tujuan yangtelah ditetapkan. Orang lain ini kemudian dikenal dengan sebutanfasilitator.1. PENGERTIAN FASILITATORDalam konteks AMPL-BM, fasilitator adalah sosok pribadi atau lembaga yang ikut sertadalam proses menumbuh kembangkan keterampilan semua stakeholdermengoperasionalkan kebijakan nasional AMPL-BM dan mengimplementasikanpembangunan sarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis masyarakat. Syaratutama fasilitator adalah kesediaan untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan baikdiantara sesama anggota tim fasilitator, apabila lembaga atau team bertugas menjadifasilitator.Memfasilitasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh fasilitator dan mitrakerjanya, dalam rangka merubah pengetahuan, keterampilan, dan sikap pihak yangdifasilitasi kearah yang lebih baik. Dengan harapan tumbuh dan berkembangnyakeswadaya dan kemandirian dalam kerangka pembangunan Air Minum dan PenyehatanLingkungan berbasis masyarakat secara berkelanjutan.2. PERAN DAN FUNGSI FASILITATORPeran FasilitatorKegiatan memfasilitasi tentu sangat terkait dengan tujuan program khususnya fasilitasi itusendiri. Karena hakekatnya proses komunikasi termasuk komitmen bersama antarafasilitator dengan yang difasilitasi merupakan hal yang utama. Komitmen bersama, adalahkomitmen untuk mencapai tujuan bersama dengan menciptakan suasana kooperatif,kondusif, dan kesetaraan. Komitmen ini sebagai upaya membawa multi stakeholdermenuju kearah tujuan yang telah dtetapkan. Oleh karena itu, penting bagi fasilitator untukmemahami peran, fungsi, dan tugas yang menjadi tanggung jawab fasilitator dan pihakyang difasilitasi.Ciri khas fasilitator dapat dilihat dari kepribadiannya, sikap, dan perilaku. Disamping itudapat dilihat dari kecakapan/keterampilan melaksanakan fasilitasi. Karena dengan ciri itusemua, maka suasana, arah dan kelancaran fasilitasi lebih terjamin mencapai sasarannya.Sikap-sikap yang perlu dimiliki oleh fasilitator antara lain :
  • Fasilitator yang baik KeteranganBersikap sabar Aspek utama partisipatori adalah proses saling belajar. Jika kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu, berarti kita telah mengambil alih kesempatan belajar.Mendengarkan dan tidak Kegiatan partisipatori menekankan warga belajar adalah “subyek”, kita lebihmendominasi banyak menjadi pemerhati dan pendengar. Hanya dengan memberi kesempatan agar peserta aktif, pengalihan peran dari pemandu kepada warga belajar dapat dilakukan sedikit demi sedikit.Menghargai dan rendah hati Pengetahuan dan pengalaman warga belajar merupakan sumber belajar utama yang dihargai. Penghargaan itu bukan hanya secara pribadi orang per orang, namun juga secara kelompok. Jangan membangun kesan bahwa kita lebih tahu.Mau belajar Fasilitator dalam program partisipatoris harus memiliki spirit mau belajar dari orang lain dan daerahnya. Seperti, adat istiadat, tata nilai, dan kearifan tradisional, teknologi lokal, serta semua hal yang dimiliki peserta. Kerja sama tidak terbangun, apabila kita tidak mau belajar dari mereka.Bersikap sederajat Mengembangkan sikap kesederajatan agar diterima sebagai teman atau mitra, sehingga memudahkan kita membangun komunikasi yang konstruktif dan menghindari adanya ‘benteng’ perbedaan antara fasilitator dan peserta.Bersikap akrab dan melebur Hubungan dengan peserta sebaiknya dilakukan dengan informal, akrab, dan santai, sehingga tercipta suasana setara. Suasana gembira dan penuh homur akan sangat membantu menciptakan keakraban ini.Tidak menggurui Meskipun di dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebaiknya menunjukan kesungguhan di dalam bekerja, tetapi tidak menggurui. Dengan demikian, peserta akan menghargainya. Penghargaan ini juga akan diberikan apabila kita memiliki wawasan yang cukup tentang fasilitasi, maupun program yang sedang diusung.Tidak memihak, menilai dan Di tengah proses fasilitasi seringkali terjadi pertentangan pendapat. Kita tidakmengeritik boleh menilai dan mengeritik semua pendapat, juga tidak boleh bersikap memihak. Secara netral kita berusaha memfasilitasi lalu lintas komunikasi perbedaan pendapat, untuk bersama mencari jalan keluarnya.Bersikap terbuka Sebagai fasilitator, perlu membangun suasana terbuka agar rasa enggan, malu, bahkan takut, dapat dihilangkan sehingga peserta bersedia menyampaikan realita. Rasa percaya kepada fasilitator perlu ditumbuhkan. Namun juga jangan ragu, untuk melempar pertanyaan ke peserta lain apabila memang fasilitator tidak bisa menjawab. Sehingga dipahami bahwa semua orang masih perlu selalu belajar.Bersikap positif Seorang fasilitator sebaiknya selalu membangun suasana positif. Artinya kita mengajak untuk mengenali potensi-potensi yang dimiliki, bukan sebaliknya mengeluh kelemahan yang dimiliki. Perlu diingat, potensi terbesar perubahan kearah yang lebih baik ada pada kemauan manusia itu sendiri untuk berubah.Ada pendapat bahwa kemajuan suatu kelompok kerja tidak diukur menurut banyaknyapertemuan, melainkan menurut eratnya pertautan hati dan jiwa antar anggotanya. Dengankata lain sebagai fasilitator perlu membangun “emphaty” dengan harapan dapat terciptasuasana kondusif dan kesediaan untuk berpartisipasi. Untuk itu, fasilitator harus berusahamenghindari tindakan-tindakan yang merusak, seperti :a. Bersikap agresif, dengan mengecam dan menyerang dengan kata, sikap dan tindakan.b. Bersikap menghambat dengan bermalas-malasan, berdebat secara bertele-tele, membicarakan hal di luar pokok permasalahan, dsb.c. Bersikap bersaing negatif : mau menonjolkan diri, mengalahkan orang lain.d. Bersikap mengacau dengan melucu secara tidak tepat waktu dan tempat, memotong pembicaraan orang lain tanpa perlu, dsb.
  • e. Bersikap pasip dan tidak ambil bagian dalam kebersamaan kelompok, acuh tak acuh, pasip, tidak bersedia menerima tanggung jawab.Dengan mempelajari hal-hal diatas, maka dapat diperoleh berbagai macam sebutan peranuntuk faslilitator seperti : motivator, inspirator, dinamisator, komunikator, katalisator,negosiator dsb.Fungsi FasilitatorApapun sebutannya, ada 3 fungsi utama fasilitator yaitu :Fungsi pengawasan (supervising): fasilitator tidak terkait dengan pekerjaan operasional. Kelanjutan hasil fasilitasi ditangani dan dikembangkan oleh kelompok kerja itu sendiri, fasilitator hanya memberikan arahan dan rambu- rambunya.Fungsi konseling : yakni fasilitator lebih mengarahkan peran dan perhatiannya pada suatu permasalahan atau perencanaan. Fasilitator berperan sebagai “second opinion”, memberi saran alternatif penyelesaian masalah yang dihadapi oleh kelompok kerja. Fasilitator memberikan kelancaran dan kemudahan untuk berkembang, namun bukan pengambil keputusan. Akan tetapi fasilitator dapat juga berperan sebagai inspirator. Fungsi pengembangan SDM : yakni peningkatan kualitas SDM menjadi sasaran fasilitasi dalam konteks implementasi kegiatan yang sesungguhnya. Dalam rangka ini fasilitator senantiasa harus meningkatkan kapabilitasnya sendiri dengan cara membaca, belajar, kursus atau lainnya sehingga dapat mengikuti kebutuhan dan perkembangan kelompok kerja yang difasilitasinya.
  • Indikator Keberhasilan Fasilitator FEATURE POSITIF NEGATIFPersiapan Rencana Jelas – Dipersiapkan dan terorganisir Tidak dipersiapkan, seperti berita tidak siap dengan baik untuk dicatatWaktu/Timing Bergerak cepat tanpa tergesa-gesa Melangkah perlahan-lahan tidak ada momentumPengaturan Suasana Bersahabat, senyum, bersemangat, panggil Lemah dalam usaha mencairkan suasana nama, humor, suasana rileks kakuPercaya diri Yakin akan dirinya sendiri Lemah, emosionalKontak Mata Pandangan yang baik pada setiap orang, Hanya memandang orang tertentu, hanya termasuk ketika menggunakan flipchart melihat pada flipchartBahasa Tubuh Membuat gerakan yang baik terhadap orang Lemah, berdiri sebagai patung, penggunaan – relaks – gunakan tangan secara efektif tangan merusak perhatianSuara Keras, jelas, tidak terlalu cepat, bervariasi. Lemah/terlalu pelan, butuh proyeksi suaraTeknik Bertanya Pertanyaan yang jelas, buat pertanyaan untuk Pertanyaan tidak jelas, Pertanyaan diarahkan seluruh kelompok, kemudian setelah langsung kepada individu, Pertanyaan beberapa saat arahkan kepada individu terlalu tergesa-gesa / kasar.Pertanyaan Lanjutan Lanjutkan dengan probing untuk menggali Tidak ada pertanyaan lanjutan – menerima informasi lebih banyak dan mengklarifikasi. segalanya tanpa mengecek ulang.Teknik Partisipasi Libatkan semua anggota kelompok kerja, buat Hanya melibatkan sebagian dari kelompok. lingkaran dan dapatkan pendapat dari setiap Tidak ada usaha untuk mengajak partisipasi orang. Lemparkan kembali pertanyaan kepada kelompokMembentuk Tugas yang jelas – chek pemahaman. Secara Instruksi untuk tugas tidak jelas, tidakkelompok kerja fisik terbagi dalam kelompok kerja mencoba mengklarifikasi – orang jadi bingungCiptakan suasana Mengamati partisipasi yang rendah dan Orang tidak diperhatikan dan berbicara haluntuk menguji dan mengajak yang diam. Beri semangat untuk lain – tidak ada usaha untuk menghentikanmemperoleh membangunkan orang hal tersebuttanggapanMendengar dan Mendengar dengan baik, mengulang banyak Tidak ada pengulangan, jadi beberapa pointmengulang jawaban poin membantu memahami hilang / tidak dimengertiPenggunaan Menunjukan gambar secara sistematis Mengontrol sendiri gambar sehingga tidakgambar-gambar sehingga semua orang melihatnya; letakkan ada rasa memiliki oleh peserta – harus gambar dilantai dan mengajak setiap orang membiarkan peserta untuk membuat tugas untuk berpartisipasi dengan gambar yang adaProcessing/ Menyimpulkan dan mengklarifikasi poin-poin. Tidak ada processing – membiarkanMenyimpulkan Beri fokus yang jelas pada setiap topik sederetan daftar point yang panjang dalam flipchartMenghubungkan Menghubungkan antara topik/ide dengan Tidak ada hubungan – selalu lompat ke baik topik berikutMencatat dalam Tulis dengan jelas dan cukup besar, Fasilitator Kecil, tulisan tangan yang jelek, Men-catatflipchart harus cek bahwa poin-point telah di catat terlalu lambat – menulis kalimat yang dengan benar panjang, tidak ada kata kunci.Kerjasama Tim Pencatat membantu fasilitator jika ia keluar Kerjasama team yang kurang – ketika jalur atau pada saat mengklarifikasikan poin- fasilitator dalam masalah/kesulitan tidak ada poin. usaha untuk membantunya.3. SYARAT TAMBAHAN SEBAGAI FASILITATORA. Memperhatikan masalah gender dan kemiskinanPerempuan dan warga miskin adalah pihak yang palingterkena dampak buruk dari suatu pembangunan termasukpembangunan AMPL. Oleh karenanya 2 pihak ini perludiperankan tidak sekedar obyek, melainkan juga sebagaisubyek dalam setiap tahapan kegiatan pembengunan AMPL.
  • Anda dapat membantu meningkatkan peran perempuan dan warga miskin dengan cara :• Undangan pertemuan untuk orang miskin yang biasanya buta huruf disampaikan lewat pengeras suara atau datang langsung ke rumahnya.• Waktu pertemuan disesuaikan dengan waktu yang tepat bagi mereka,• Tempat pertemuan disesuaikan dengan kemudahan bagi mereka untuk bersedia datang. Misalnya tidak di Balai Desa tetapi di sekitar tempat tinggal mereka.• Membuka peluang seluas-luasnya agar mereka menyampaikan pendapat dan pertanyaan,Sebagai fasilitator, kita terkadang melupakan peran kaum perempuan dan warga miskinpadahal mereka adalah sasaran utama dalam program AMPL yang paling terkena dampakburuk pembangunan yang tidak berwawasan perempuan dan berpihak warga miskin.Karena anggapan yang salah pada diri kita bahwa mereka bodoh, cukup diberi dandibangunkan sarana tanpa dihargai sebagai manusia yang bisa berfikir dan berpendapat.Sehingga mereka tidak dilibatkan secara penuh.B. Semua Peserta Adalah Sama DerajatnyaPada prinsipnya, untuk membangun adanya pengertian bahwa pertemuan, lokakarya,pelatihan dan lain sebagainya adalah milik kita bersama. Maka, diantara peserta dan jugafasilitator perlu meleburkan diri dalam kesetaraan dan kebersamaan. Artinya dalam konteksini tidak ada atasan-bawahan, senior-yunior, namun semuanya adalah peserta atau wargabelajar yang dipandu oleh fasilitator. Sehingga dengan dilepaskannya atribut-atribut ini,barrier untuk berkomunikasi bisa hilang dan muncul kesediaan untuk berpendapat danberpartisipasi akan lebih mengalir. Pada gilirannya tujuan fasilitasi kita akan dengan mudahdapat tercapai.C. Tidak Ada Satu Jawaban pun yang Mutlak BenarKegiatan partisipatori sifatnya terbuka. Artinya tidak mengenal satu hasil atau jawabanyang mutlak benar. Keputusan yang diambil oleh kelompok mencerminkan sesuatu yangbenar bagi kelompok sehingga ini yang disebutkan sebagai kesepakatan kelompok. Karenapada dasarnya semua peserta telah ikut andil, dalam hal ini menyampaikan pendapatnya,sehingga diperoleh rumusan bersama.Jika tujuan pertemuan untuk mencari prioritas kegiatan, atau rencana untuk memperbaikimutu perilaku hidup bersih dan sehat. Maka perlu dikembangkan diskusi menarik, artinyapeluang bagi semua peserta untuk berpendapat atau berpartisipasi dibuka seluas-luasnya.Bukan salah atau benar, akan tetapi semua pendapat dihargai dan tidak ada pendapat yangmutlak benar. Agar mereka dapat menggunakan peluang ini, salah satu cara adalah padaawal sessi dibuka dengan permainan sebagai cara untuk memecah kebekuan (ice breaking).D. Bagaimana Mengatasi Orang yang Mempunyai Watak DominanJika ini terjadi, carilah keterangan apakah orang tersebut memang telah diangkat sebagaipemimpin kelompok mereka, atau hanya seorang pesaing atau seorang yang agresif yangtidak mempunyai pengaruh di kelompok itu. Pesaing atau orang agresif itu dapat dibawake samping dan diyakinkan akan pentingnya kerja kelompok, atau mereka diberi tugas-tugas tertentu agar selalu sibuk sementara kerja kelompok berjalan terus. Jika orangtersebut adalah pemimpin informal, dekati mereka secara resmi atau secara pribadi sejakawal proses perencanaan tersebut, jelaskan kepada mereka proses yang dikehendaki, dancoba mintakan dukungannya. Mudah-mudahan Anda dapat meyakinkannya dan anggota
  • masyarakat dapat berpartisipasi secara setara untuk menghasilkan pengembangankepribadian dan perbaikan untuk semua.E. Petunjuk Umum untuk Semua Kegiatan a. Siapkan semua bahan-bahan (material) lokakarya atau lokalatih sebelum kegiatan dimulai b. Semua bahan harus berukuran cukup besar, seperti metaplan, agar bisa mudah dilihat oleh semua peserta. c. Usahakan untuk membatasi jumlah peserta tidak lebih dari 40 orang. d. Usahakan agar sesama peserta dapat berbicara dengan mudah, sedapat mungkin duduk melingkar atau dalam bentuk tapal kuda, e. Mulailah sesi dengan kegiatan pemanasan, misalnya permainan atau nyanyian. f. Baca dan laksanakan kegiatan langkah demi langkah serta ikuti petunjuk dengan seksama. g. Sewaktu memfasilitasi perhatikan kebutuhan-kebutuhan peserta. Waktu yang diberikan hanyalah bersifat perkiraan. h. Pada waktu memberikan tugas kepada peserta pakailah bahasa dan istilah yang mudah dimengerti. i. Hargailah masukan-masukan yang disampaikan peserta dan hargai masukan itu. j. Fasilitasi mereka tapi jangan mengarahkan. k. Usahakan untuk memberi dorongan agar tercapai partisipasi aktif dari setiap anggota kelompok. Hati-hati jangan sampai mengeluarkan komentar yang bernada kritik. l. Pertimbangkan tingkat kemampuan baca tulis kelompok peserta, dan upayakan agar mereka bisa membuat catatan atas apa yang sudah dibicarakan dan disepakati. m. Usahakan agar kelompok bisa menyimpan catatan mereka di tempat yang aman. n. Pada akhir suatu kegiatan mintalah peserta untuk memberikan evaluasinya, hal-hal apa yang mereka anggap sebagai tambahan pengetahuan atau pengalaman baru, hal-hal apa yang mereka sukai, serta hal-hal apa yang tidak mereka sukai. o. Sehabis suatu sesi berilah ucapan selamat kepada semua anggota atas usaha-usaha mereka dan berilah uraian singkat apa yang akan dibicarakan dalam sesi yang berikutnya. p. Pada awal pertemuan baru, mintalah kelompok untuk meninjau atas apa yang telah mereka capai sejauh ini dan keputusan-keputusan apa yang telah mereka ambil dan sepakati.Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pengelolaan kegiatan memfasilitasimeliputi perencanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan fasilitasi. Berarti keterampilanlain yang perlu dikuasai penyusunan perencanaan, dan melaksanakan monitoring danevaluasi kegiatan.
  • PerencanaanPerencanaan adalah proses menyusun tindakan aksi yang akan terjadi dalam kurunwaktu tertentu. Perencanaan mencakup perencanaan di tingkat kelompok yangdifasilitasi, maupun di tingkat lembaga fasilitator bekerja, seperti merancang materifasilitasi. Perlu diperhatikan bahwa, rancangan fasilitasi harus didasarkan padakebutuhan lapangan atau kebutuhan kelompok sasaran yang difasilitasi. MonitoringMonitoring adalah proses pengumpulan informasi kemajuan kegiatan proyek.Informasi dikumpulkan terus-menerus secara periodik, menelaah apakah kegiatanberjalan seperti yang telah direncanakan. Kegiatan monitoring akan mencatat :faktor-faktor pendorong dan penghambat kelompok sasaran itu berkembang,mendesain upaya fasilitasi lebih lanjut sebagai tindakan dari hasil monitoring, dsb.Monitoring di lapangan tidak saja bermanfaat untuk melaporkan perkembangankelompok yang difasilitasi dalam artian formal, tetapi lebih jauh bagi kepentingankegiatan memfasilitasi lebih lanjut. EvaluasiKegiatan evaluasi atau penilaian terhadap kelompok sasaran juga bagian darikegiatan memfasilitasi. Berkenaan dengan evaluasi maka kita memerlukan sejumlahinformasi yang berkaitan dengan kelompok yang kita fasilitasi, membandingkanatau mengukur data informasi awal dengan informasi akhir dengan ukuran-ukurankeberhasilan yang telah disepakati sebelumnya. Kemudian dilakukan telaah,misalnya mengapa hal itu bisa berhasil dan mengapa pula tidak. Hasil evaluasibermanfaat untuk penyusunan rencana tindak lanjut. Evaluasi menghasilkansejumlah informasi untuk pengembangan program, penyelenggaraan fasilitasi danpenyempurnaan sistem laporan kegiatan memfasilitasi itu sendiri. Adalah pentingbahwa evaluasi diselenggarakan secara rutin dengan cara yang dapat dipercaya danobyektif. Jika tidak maka terjadi kekeliruan dalam mengambil kesimpulan. Perlumenjadi perhatian, sebenarnya kalau monitoring dapat dilaksanakan secarakonsekuen dan konsisten dari segi kaidah, prosedur, dan waktu (timeframe), makaakan mempermudah pelaksanaan evaluasinya.4. SEPULUH PERAN DAN KETERAMPILAN KUNCI DALAM MEMFASILITASI MASYARAKATPenggerak (mobilizer) Bekerja langsung dengan dinas/lembaga/ormas/ forum/kelompok masyarakat/ LSM/ikatan profesi/pelaku usaha untuk memotivasi aksi pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. Keterampilan kunci : • Memfasilitasi, identifikasi dan mengkonsolidasikan menjadi sebuah kekuatan
  • • Mendinamisasi, mendorong seluruh potensi elemen masyarakat menjadi kekuatan nyata • Memotivasi, kemampuan untuk menumbuhkan semangat agar mau melakukan sesuatu • Membina relasi, kemampuan untuk membangun jejaring • Kemampuan komunikasi massaPengorganisir (organizer) Mengorganisir unsur-unsur didalam jejaring antar dinas, lembaga, ormas, forum, kelompok masyarakat, LSM, ikatan profesi, pelaku usaha untuk melakukan aksi kolektif pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. Keterampilan kunci : • Mampu menggalang kerjasama, membina hubungan dengan unsur jejaring • Memiliki gaya kepemimpinan untuk mempengaruhi • Memiliki kemampuan manajerial untuk mengelola kegiatan dalam jejaringFasilitatorMemandu proses alih pengetahuan dan keterampilan danmemberi pencerahan baru kepada pemeran pembangunan AirMinum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis MasyarakatKeterampilan kunci : • Memahami proses pembelajaran bagi orang dewasa. • Memahami karakteristik dan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa • Memiliki sikap dasar fasilitatorMitra (partner)Menjadi rekan sekerja yang mempunyai visi dan misi yang sama serta memiliki rasakepedulian dalam mengembangkan pembangunan Air Minum dan Penyehatan LingkunganBerbasis MasyarakatKeterampilan kunci : • Kemampuan Komunikasi interpersonal • Mampu menjalin hubungan baik melalui pendekatan organisatoris maupun individualMediator (liason)Menghubungkan masyarakat dan jejaringnya dengan sumber dan akses lain dalammengembangkan pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakat. Misalnya dengan lembaga lain, LSM, donor, dan lain sebagainya.Keterampilan kunci : • Kemampuan analisa sosial • Kemampuan advokasi kebijakan • Kemampuan komunikasi
  • Penasehat (advisor)Membantu masyarakat dan jejaringnya yang membutuhkan/meminta nasehat dan bantuankonsultantif dalam mengembangkan pembangunan Air Minum dan PenyehatanLingkungan Berbasis Masyarakat.Keterampilan kunci : • Kemampuan untuk menguasai isu pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis masyarakat • Kemampuan untuk memecahkan masalah • Kemampuan komunikasi • Kemampuan untuk memberikan rekomendasiAdvocateMendukung upaya masyarakat dan jejaringnyauntuk mengakses perubahan kebijakan dalammengembangkan pembangunan Air Minum danPenyehatan Lingkungan Berbasis MasyarakatKeterampilan kunci : • Kemampuan untuk menganalisis data dan informasi • Kemampaun untuk memetakan pusat kebijakan • Kemampuan untuk meyakinkan dan mempengaruhi orang • Kemampuan untuk menemukan landasan hukum dan kebijakanPenggalang Dana ( Fund Raiser )Mendukung upaya bersama untuk mendanai inisiatif kegiatan di masyarakat untukmempromosikan pesan pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakatKeterampilan kunci : • Kemampuan untuk penggalangan dana, termasuk mencari peluang sumber pendanaan • Kemampuan pengelolaan dana • Kemampuan untuk menganalisa kelayakan usulan kegiatanPenjual (marketer)Berbagi pengalaman dengan pihak lain guna replikasi dan perluasan informasi sosial dalammengembangkan pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakatKeterampilan kunci : • Kemampuan untuk menjual isu program • Kemampuan untuk menetapkan penerima manfaat • Kemampuan untuk menganalisa dan mempresentasikan manfaat program
  • NegosiatorMendukung upaya masyarakat dan jejaringnya agar semua fihak yang berkepentingandapat berperan dan berfungsi sesuai dengan tanggung jawabnya – tupoksinya, dalammengembangkan pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan BerbasisMasyarakatKeterampilan kunci : • Kemampuan untuk meyakinkan bahwa program pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis masyarakat penting dalam konteks pengentasan kemiskinan • Kemampuan untuk menganalisa dan menetapkan pembagian peran dan fungsi sesuai dengan tupoksinya • Kemampuan untuk menetapkan kontribusi sesuai dengan tupoksinya Kunci Sukses FasilitasiKebijakan Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis MasyarakatBekerja secara tim, dengan kesiapan untuk berbagi peran dan tanggung jawabsesuai bakat, keahlian dan kontribusi yang mungkin dilakukan, sesuai dengansumber daya yang dimiliki masing-masing dan mengacu pada sepuluh peran danketerampilan kunciD. MENGELOLA KEGIATAN FASILITASI YANG PARTISIPATIF1. PENDAHULUANPada hakekatnya peserta yang difasilitasi dalamrangka implementasi kebijakan pembangunannasional AMPL berbasis masyarakat, adalah orangdewasa yang telah banyak memiliki bermacampengalaman – baik yang berhubungan dengankegiatan AMPL maupun proses fasilitasi.Pengalaman-pengalaman itu bisa pengalaman baikdan juga pengalaman buruk, secara komunalmaupun individu yang tentunya membutuhkanbantuan kita bersama untuk mengatasinya.Sebagai fasilitator, kita sering mengalamihambatan untuk melakukan perubahan terhadap orang dewasa. Hambatan terjadi karenafasilitator sering menganggap dirinya sebagai seorang guru dan peserta dianggap sebagaimuridnya. Pendekatan seperti kurang tepat, karena pusat belajar adalah guru dan muridsebagai obyek. Sehingga guru sangat sentralistis.
  • Untuk itu, para reformis pendidikan memperkenalkan konsep baru dalam pembelajaranorang dewasa yang kemudian kita kenal sebagai Pendidikan Orang Dewasa, atauAndragogi. Konsep pendidikan ini secara rinci akan dijelaskan lebih lanjut pada butir D.3.2. SEKILAS TENTANG PARTISIPATIFKata partisipasi sudah lebih dari satu dasawarsa menjadi kata kunci dalam bahasapembangunan, namun dalam implementasinya pembangunan yang diterapkan masihberwarna sentralistis dan keterlibatan masyarakat cenderung hanya sebagai konsep diataskertas dan dalam tataran wacana.Pembangunan partisipatif dalam kerangka pemberdayaan masyarakat merupakan satukebutuhan, dengan memposisikan masyarakat sebagai subyek (pelaku) bukannya sebagaiobyek pembangunan. Dalam kerangka pemberdayaan masyarakat tersebut, peranpemerintah yang selama ini memposisikan diri sebagai pelaku dan penggerakpembangunan harus mereposisi dan meredefinisi tugasnya menjadi fasilitator dalampelayanan umum (public service).Pengertian PartisipasiPada saat ini, konsep partisipasi dimaknai sebagai “ masyarakat memainkan peran aktifuntuk mengurus kehidupan mereka sendiri dengan cara berbagi kekuasaan dalammelaksanakan kegiatan politik dan administratif”.Partisipasi mempunyai bermacam-macam pengertian tergantung dari sudut pandangmelihatnya, oleh sebab itu berdasarkan sudut pandang : 1. Politik : partisipasi berarti memberikan kekuasaan kepada masyarakat untuk mengambil keputusan secara otonom. 2. Teknis : partisipasi berarti keikutsertaan masyarakat didalam setiap tahapan kegiatan (Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan Hasil, Monitoring dan Evaluasi.)Pembangunan yang berwawasan partisipasi pada umumnya berhubungan dengankelompok masyarakat yang tertinggal dari pembangunan. Kelompok ini biasanya tinggal diwilayah pedesaan, terpencil, dan miskin. Untuk mendorong terjadinya partisipasi secaratotal, digunakan kredo seperti berikut : • Belajar Dari Mereka. • Merencanakan Bersama Mereka. • Bekerja dengan Mereka. • Mulai dari yang Mereka Ketahui. • Membangun dengan yang Mereka Punyai. • Mengajar berdasarkan Teladan. • Bukannya pernik-pernik tetapi Pola. • Bukan Rombengan tetapi Sistem. • Bukan untuk Menyesuaikan tetapi untuk Mengubah. • Bukan Bantuan tetapi Pembebasan.Tujuan Partisipasi dalam konteks program pembangunan diantaranya adalah :
  • 1. Berbagi Biaya Proyek : masyarakat memberikan kontribusi berupa uang, tenaga kerja atau bahan/material lokal. 2. Meningkatkan Efisiensi Proyek : masyarakat ikut membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. 3. Meningkatkan Efektivitas Proyek : masyarakat ikut memberikan pendapatnya dalam merancang dan melaksanakan proyek. 4. Meningkatkan Kemampuan Masyarakat : masyarakat ikut berperan dalam tugas-tugas manajemen dan tanggung jawab operasional. 5. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat : masyarakat diberi peluang andil dalam kekuasaan dan meningkatkan kesadaran politik dan mempengaruhi terciptanya manfaaat-manfaat pembangunan.TIPOLOGI PARTISIPASIBerbagai macam pendapat tentang partisipasi mengindikasikan adanya kepentingan-kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Bass, et.al (1995)merumuskan jenis-jenis partisipasi dalam beberapa tipologi. Tipologi ini disusun denganmengacu pada pengamatannya atas proyek-proyek kehutanan.1. Partisipasi Manipulatif• Partisipasi masyarakat ditunjukkan dengan penempatan wakil masyarakat dalam suatu lembaga resmi• Namun wakil tersebut tidak dipilih oleh masyarakat itu sendiri dan tidak memiliki kewenangan yang jelas• Masyarakat diwakili oleh lembaga “yang tidak punya akar di masyarakat” yang tidak representatif.2. Partisipasi Pasif• Masyarakat hanya menikmati hasil pembangunan,• Pengelola proyek tidak menghiraukan komentar atau saran masyarakat,• Sumber informasi yang dihargai oleh pengelola proyek hnaya yang berasal dari profesional.3. Partisipasi Konsultatif• Masyarakat dimintai tanggapannya atas suatu hal.• Pihak luar yang merumuskan permasalahan, mengumpulkan informasi dan melakukan analisis.• Bentuk konsultasi tidak melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan• Dan pihak luar tersebut pada dasarnya tidak berkompeten untuk “mewakili” pandangan masyarakat.4. Partisipasi dengan Imbalan Material• Masyarakat berpartisipasi dengan cara memberikan kontribusi sumberdaya yang dimilikinya, misalnya dengan tenaga kerja untuk memperoleh imbalan makanan, uang tunai, maupun imbalan material lainnya.• Masyarakat boleh terlibat dalam proses eksperimentasi dan pembelajaran.
  • • Proses ini selama ini lazim disebut partisipasi.• Namun masyarakat tidak mempunyai kemampuan melanjutkan kegiatan ketika imbalan dihentikan.5. Partisipasi Fungsional• Partisipasi masyarakat dipandang oleh pihak luar sebagai cara untuk mencapai tujuan proyek, khususnya untuk mengurangi biaya.• Masyarakat membentuk kelompok yang sesuai dengan tujuan proyek yang telah ditetapkan sebelumnya.• Keterlibatan boleh jadi bersifat interaktif dan masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan, namun hal itu cenderung terjadi setelah keputusan pokoknya dibuat oleh pihak luar.• Lebih buruk lagi, masyarakat lokal tetap sekedar dijadikan pelayan untuk merealisasikan tujuan-tujuan eksternal.6. Partisipasi Interaktif• Masyarakat berpartisipasi dalam tahapan analisis, pengembangan rencana kegiatan dan dalam pembentukan dan pemberdayaan institusi lokal.• Partisipasi dipandang sebagai hak bukannya sebagai cara untuk mencapai tujuan proyek• Proses tersebut melibatkan metodologi multidisiplin yang membutuhkan perspektif majemuk serta membutuhkan proses pembelajaran yang sistemik dan terstruktur.• Masyarakat memegang kendali sepenuhnya atas keputusan lokal dan kebijakan pendayagunaan sumberdaya yang tersedia.• Masyarakat memiliki kewenangan yang jelas untuk memelihara struktur dan kegiatannya.7. Mobilisasi Swakarsa• Masyarakat mengambil inisiatif secara mandiri untuk melakukan perubahan sistem.• Mereka membangun hubungan konsultatif dengan lembaga-lembaga eksternal mengenai masalah sumberdaya dan masalah teknikal yang mereka butuhkan tetapi tetap memegang kendali menyangkut pendayagunaan sumberdaya.• Partisipasi seperti ini akan berkembang pesat jika pemerintah dan LSM menyediakan kerangka kerja pendukung.• Partisipasi seperti ini ada kemungkinan akan mengganggu distribusi kekuasaan dan kesejahteraan aktual.Kontinuum PartisipasiPartisipasi bisa dipandang sebagai cara dan tujuan untuk sebuah perubahan, karenapartisipasi : 1. membangun ketrampilan dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan dan memperbaiki taraf hidup. 2. berperan untuk terwujudnya kebijakan pembangunan dan penyelenggaraan proyek yang lebih baik.
  • Sebagai cara dan tujuan, maka pembangunan partisipasi itu sendiri berkembang bersamawaktu atau lebih merupakan proses, sehingga tingkat partisipasi sebuah masyarakatbergerak dalam suatu kontinum. Kontrol penuh Konsultasi Tak ada oleh pihak Aktif hubungan dan Harapan berwenang kontribusi dari stakeholders Stakeholders meningkat Membentuk Konsensus Kontribusi, Negosiasi utk terlibat komitmen, Berbagi Kontrol dan dalam pembuatan antara pihak akuntabilitas keputusan dan berwenang stakeholder membuat kesepakatan dengan utk hal-hal tertentu stakeholders Berbagi wewenang dan tanggung jawab secara formal Tak ada hubungan dan Kontrol kontribusi dari penuh oleh pihak Transfer Wewenang Stakeholder berwenang dan tanggung jawab
  • Hambatan untuk BerpartisipasiSebagai sebuah proses perubahan masyarakat, maka membangun partisipasi dalam sebuahmasyarakat bukanlah hal yang mudah. Beberapa hambatan yang sering muncul dalammengembangkan suasana partisipatif dalam sebuah masyarakat adalah : a. Rasa rendah diri dihadapan penguasa. b. Ketakutan untuk mengungkapkan gagasannya dalam pertemuan kelompok. c. Rasa percaya diri yang rendah. d. Ketidakpercayaan kepada pemegang kekuasaan. e. Enggan mengambil risiko. f. Takut akan akibat ekonomis atau kehilangan peran sosial. g. Takut akan kritik untuk mengambil langkah-langkah diluar kebiasaan. h. Kubu-kubuan. i. Rasa tidak berdaya dan pasrah. j. Kurang pengalaman bekerja dalam kelompok. k. Kurang ketrampilan dalam perencanaan dan pemecahan masalah.Refleksi PartisipasiPemahaman tentang partisipasi antara orang satu dan lainnya berbeda, karena adanyaperbedaan latar belakang individu dan kepentingan. Untuk mengetahui sejauh manapartisipasi dipahami, ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan: 1. Apakah yang dimaksud dengan partisipasi ? 2. Jenis partisipasi yang seperti apa yang diharapkan? Siapa yang berpartisipasi ? Laki-laki atau perempuan atau kedua-duanya? Apa bentuk partisipasinya ? Pada tingkatan mana? Peran apa yang diambil? Untuk kepentingan apa? 3. Siapa yang akan mendapatkan keuntungan dari adanya proyek itu ? Dengan cara apa keuntungan diraih ? 4. Apa yang perlu dilakukan agar proses partisipasi itu bisa berlangsung? 5. Indikator apa (termasuk perilaku) yang bisa menggambarkan bahwa proses berlangsung efektif?.3. PENDIDIKAN ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)3.1 Perbedaan Andragogi dengan PedagogiIstilah pedagogi berasal dari bahasa Yunani, yaitu paid berarti anak dan agogos berartimemimpin atau membimbing. Secara khusus, pedagogi diartikan sebagai ilmu dan senidalam mengajar anak-anak. Sedangkan istilah Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaituandra berarti orang dewasa dan agogos yang berarti memimpin atau membimbing. Makadengan demikian andragogi dirumuskan sebagai suatu ilmu dan seni dalam membantuorang dewasa belajar termasuk belajar bersama diantara semua fihak yang terlibat dalamsebuah kegiatan fasilitasi.Ada empat perbedaan mendasar antara andragogi dan pedagogi :
  • Pedagogi Andragogi Citra Diri Warga belajar adalah anak anak yang Warga belajar adalah orang dewasa mandiri tergantung pada orang lain. Guru dapat membuat keputusan untuk diri sendiri. mengarahkan murid, yang membangun sifat Implikasinya pada hubungan fasilitator-peserta ketergantungan. yang bersifat timbal balik dan saling membantu. Pengalaman Anak anak masih kurang pengalaman. Orang dewasa banyak pengalaman. Pendekatan Pendekatan proses pedagogi terjadi alih proses andragogi, pengalaman orang dewasa pengalaman dari guru ke murid. dijadikan sumber belajar bersama. Kesiapan Guru yang memilih materi pelajaran serta kapan Warga belajar memutuskan apa yang akan Belajar materi tersebut diajarkan dipelajari berdasarkan kebutuhannya. Arah Belajar Belajar merupakan proses mengumpulkan Belajar dipandang sebagai proses penemuan dan informasi yang akan digunakan kemudian hari. pemecahan masalah secara nyata pada masa kini untuk dimanfaatkan segeraAhli pendidikan orang dewasa berkesimpulan bahwa peserta yang sedang melakukanproses belajar bersama memegang peranan utama dalam proses pendidikan orangdewasa.3.2 DAUR PENDIDIKAN ORANG DEWASA Proses belajar bersama yang terjadi dalam Pengalaman Nyata sebuah pendekatan andragogi akan berjalan mengikuti daur belajar sebagai berikut : Pengujian Pengamatan Kesimpulan dalam Dan Situasi Baru Permenungan Penyimpulan Dan Generalisasi3.3 PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASAPendidikan orang dewasa didasarkan pada asumsi-asumsi tentang orang dewasa, yangmembawa implikasi pada prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa.3.3.1 Orang dewasa mempunyai konsep diriKonsep diri pada anak adalah ketergantungan kepada pihak lain, hampir seluruhkehidupannya diatur oleh orang yang sudah dewasa. Sedangkan konsep diri orang dewasaadalah bahwa dirinya sudah mampu untuk mengatur dirinya sendiri (mandiri). Implikasipada prinsip pembelajaran orang dewasa :a. Iklim belajar perlu disesuaikan dengan rasa nyaman orang dewasa saling berbagi pengalaman seperti pengaturan ruangan, kursi, meja, lantai ruangan, dan sejenisnya.b. Peserta diikutsertakan dalam mendiagnosa kebutuhan belajarnyac. Peserta dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya, menyusun kontrak belajar
  • d. Proses belajar mengajar adalah tanggung jawab bersama antara fasilitator dan peserta.e. Evaluasi belajar dalam proses belajar andragogik menggunakan cara mawas diri.3.3.2 Orang dewasa mempunyai pengalamanPengalaman bagi orang dewasa adalah pengalaman diri sendiri yang telah terstruktur.Sedangkan bagi anak-anak pengalamannya merupakan rangsangan yang berasal dari luaryang mempengaruhi dirinya dan bukan merupakan bagian yang terpadu dengan dirinya.Karenanya orang dewasa mampu merumuskan siapa dia, dan menciptakan identitas dirinyaatas dasar seperangkat pengalamannya yang unik. Implikasi pada prinsip pembelajaranorang dewasa :a. Proses belajar lebih berorientasi pada menggali pengalaman mereka, melalui kelompok diskusi, metode kasus, metode insiden kritis, simulasi, permainan peran, latihan praktek, dan lain sebagainya.b. Penekanan proses belajar pada aplikasi praktis.c. Penekanan tanggung jawab terhadap cara belajarnya sendiri melalui penemuan sendiri atau bagaimana belajar secara bersama dengan pertolongan temannya dan bukan berkompetisi dengan mereka dan bagaimana belajar dengan menganalisis pengalamannya sendiri.3.3.3 Orang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajarOrang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajar. Penampilan orang dewasa dalammelaksanakan peranan sosialnya berubah sejalan dengan perubahan fase masa dewasa(awal, pertengahan, dan akhir), sehingga hal ini mengakibatkan pula perubahan dalamkesiapan belajar. Implikasi pada prinsip pembelajaran :a. Urutan kurikulum dalam proses belajar orang dewasa disusun berdasarkan tugas perkembangannya dan bukan disusun berdasarkan urutan logis materi atau berdasarkan kebutuhan kelembagaan.b. Adanya konsep mengenai tugas-tugas perkembangan pada orang dewasa akan memberikan petunjuk dalam belajar secara kelompok dengan anggota heterogen atau homogen.3.3.4 Orang dewasa mempunyai pandangan untuk segera menerapkan perolehan belajarnya (Orientasi terhadap Belajar )Dalam belajar, antara orang dewasa dengan anak-anak berbeda dalam perspektifwaktunya. Anak-anak cenderung mempunyai perspektif untuk menunda aplikasi apa yangia pelajari. Bagi anak-anak, pendidikan dipandang sebagai suatu proses penumpukanpengetahuan dan keterampilan, yang nantinya diharapkan akan bermanfaat dalamkehidupannya kelak. Sebaliknya bagi orang dewasa, mereka cenderung untuk mempunyaiperspektif untuk secepatnya mengaplikasikan apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu,pendidikan bagi orang dewasa dipandang sebagai suatu proses untuk meningkatkankemampuannya dalam memecahkan masalah hidup yang ia hadapi. Implikasi pada prinsippembelajarana. Fasilitator bukan berperan sebagai guru, tetapi pemberi bantuan/pemandu kepada peserta.b. Kurikulum pendidikan orang dewasa berorientasi kepada masalah.c. Pengalaman belajar yang dirancang berdasarkan pada masalah atau perhatian yang ada pada benak mereka.
  • 3.3.5 Orang dewasa dapat belajarKemampuan belajar pada manusia akan menurun perlahan-lahan setelah mencapai usia 20tahun, namun penurunan kemampuan itu hanya pada kecepatan belajarnya, bukan dalamintensitas intelektualnya, dikarenakan perubahan faktor fisiologik, seperti menurunnyapendengaran, penglihatan, atau tenaga. Implikasi pada prinsip pembelajaran : Fasilitatorperlu mendorong dan membantu peserta belajar (orang dewasa) untuk belajar sesuaidengan langkah yang mereka inginkan dan tetapkan sendiri.3.3.6 Belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri orang dewasaSetiap warga belajar (orang dewasa) akan mengontrol langsung proses belajarnya sendiridengan melibatkan semua potensi dirinya, termasuk potensi intelektual, emosi, danfisiknya. Berorientasi pada proses pemenuhan kebutuhan applikatif dan pencapaian tujuanbelajar. Proses belajar akan terpusatkan pada pengalaman sendiri melalui interaksi antaradirinya dengan lingkungannya. Implikasi pada prinsip pembelajaran orang dewasa :Perlunya penggunaan metode dan teknik pembelajaran yang melibatkan pesertasecara intensif di dalam mendiagnosis kebutuhan belajar, merumuskan tujuanbelajar, merangsang dan melaksanakan kegiatan belajar, dan menilai proses, hasil,serta dampak belajarnya.Dengan demikian pendidikan orang dewasa memiliki prinsip-prinsip :1. Kegiatan pembelajaran orang dewasa didasarkan pada kebutuhan belajar.2. Kegiatan pembelajaran orang dewasa direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya.3. Kegiatan pembelajaran orang dewasa berpusat pada warga belajar, didasarkan dan disesuaikan dengan latar belakang kehidupan warga belajar.4. Kegiatan pembelajaran orang dewasa disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang telah dipelajari serta pengalaman yang telah dimiliki oleh warga belajar.Langkah-Langkah Proses Pembelajaran Bersifat Andragogi :1. Menciptakan suasana belajar yang kondusif untuk orang dewasa2. Menciptakan struktur organisasi untuk perencanaan yang bersifat partisipatif.3. Mendiagnosis kebutuhan belajar4. Merumuskan tujuan dan materi belajar yang dapat memenuhi kebutuhan5. Mengembangkan rancangan kegiatan belajar6. Melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik dan sarana belajar yang tepat7. Mengevaluasi kegiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar
  • 3.4. BAGAIMANA ORANG DEWASA BELAJARAku mendengar, kulupa; Aku melihat, kuingat; Aku mengerjakan, kupahami,(Peribahasa lama dari Cina)Berjilid-jilid pengkajian, riset, sebaris buku di perpustakaan ditulis orang tentang bagaimanaorang dewasa belajar. Banyak segi teoritis dan fisiologis – seperti kreativitas otak kananlawan logika otak kiri – masih ramai diperdebatkan, tetapi para ahli nampak sepakat dalambeberapa hal, yakni :1. Bagi orang dewasa harus ada keinginan belajar. Kita perlu melihat adanya keuntungan pribadi jangka panjang atau (lebih baik lagi) yang seketika.2. Orang dewasa belajar sambil melakukan. Agar informasi “melekat”, kita membutuhkan kesempatan untuk mempraktekannya.3. Orang dewasa belajar dengan caranya sendiri yang khas, tidak sama dengan orang lain, dan kebanyakan antara kita tanggap terhadap berbagi jenis metoda pengajaran.Dean N. Osterman, direktur pengembangan instruksional dan staff pengajar pada OregonState University menyarankan agar pelajar dewasa dikelompokan dalam empat kategori.Keempat pengelompokan itu timbul dari risetnya dan pengalaman mengajar orang dewasa,dengan menggunakan instrumentasi seperti Inventarisasi Gaya Belajar ciptaan Bernice McCarthy dari Excel Inc, dan tulisan Carl Jung. Di bawah ini rincian keempat kelompok pelajardewasa :Jenis pertama : Yang mengutamakan perasaan. Mereka mencari penerapansecara bermakna dari pengetahuan yang disajikan. Mereka belajar darimendengarkan dan berbagi gagasan. Bila ada perbedaan pendapat dalamkelompok, mereka mencari kesepakatan. Mereka belajar paling baik melaluirembukan dan keterlibatan pribadi. Pertanyaan kegemarannya ialah Mengapa ?Metoda pengajaran yang paling disukainya ialah diskusi kelompok.Jenis kedua : Yang mengutamakan pikiran. Mereka sebagai manusia analitisdan pragmatis mencari fakta dan informasi yang tegas. Mereka adalah pengumpuldata. Mereka mungkin cenderung tidak sabar menghadapi diskusi kelompokberkepanjangan, karena mereka tidak datang ke lokakarya untuk mendengarkanpendapat peserta; mereka ingin mendengar dari ahlinya. Minat mereka kurangterhadap manusia, lebih tertuju pada gagasan dan konsep. Pertanyaankegemarannya ialah Apa ? Metoda pengajaran paling cocok untuk mereka adalahceramah.Jenis ketiga : Yang mengutamakan indera. Mereka dibimbing oleh akal sehatdalam upayanya memahami cara kerja sesuatu. Singkirkan teori bagi mereka;mereka tertarik pada penerapan praktis. Mereka belajar dengan menguji gagasan;dan mereka lebih suka memecahkan masalah daripada diberikan jawaban. Merekamenyenangi latihan pemecahan masalah selama lima menit dengan prosedur dansasaran yang jelas. Bagaimana ? merupakan pertanyaan kegemarannya. Carapengajaran yang efektif bagi mereka adalah metoda lokakarya atau lokalatihindividual, atau suatu peragaan yang cermat dilanjutkan oleh penerapan langsung.
  • Jenis keempat : Yang mengutamakan naluri. Mereka yang pembaharu,bermotivasi, mencari alternatif bagi situasi belajar tradisional. Mereka beranimengambil risiko, tertarik pada situasi yang mengandung keragaman dankeluwesan. Mereka belajar dengan baik melalui percobaan dan kegagalan danpenemuan diri. Mereka suka melakukan sesuatu. Mereka mengalihklan konsepmenjadi tindakan dan meraih tujuan. Pertanyaan kegemaran mereka ialah Kalau…? Mereka belajar dari pengujian pra dan pasca kegiatan serta tantanganterpimpin.Untuk menggambarkan lebih lanjut gaya belajar yang berbeda itu, Ostermanmenggunakan contoh sebuah batu bata. “Apa yang akan anda lakukan dengansebuah batu bata ?” tanyanya.Jenis pertama akan mendiskusikan segala kemungkinan penggunaannya,mencapai kesepakatan, dan menggunakannya untuk membangun sebuah strukturdalam warna-warna serasi. Atau mereka membungkusnya dalam kertas berwarnacerah dan memakainya sebagai penindih surat-surat.Jenis kedua akan menganalisanya untuk mengetahui berapa beratnya, apawarnanya, dan mengukur panjangnya, tingginya, lebarnya, serta dimensi lainnya.Jenis ketiga akan membangun pembakaran atau memakainya sebagai pengganjalpintu.Jenis keempat akan mencari penggunaan batu bata itu secara baru dan kreatif.Mungkin akan digunakannya untuk memandikan seekor gajah.3.5 ORANG DEWASA SEBAGAI PELAJAROrang dewasa yang mengikuti suatu kegiatan belajar, baik di kursus, di lokakarya,di seminar, dan sebagainya, mempunyai ke-khas-an (yang berbeda dengan anakkecil), seperti :3.5.1 Pengalaman.• Tentang masalah yang kita bahas.• Dalam sukses dan kegagalan• Cara dulu, cara lain mengenai masalah yang dibahas• Mengikuti situasi belajar lain, mungkin lebih baik mungkin lebih buruk• Dikecewakan/dipuaskan oleh pengalaman masa lampau• Digurui di masa sekolah duluPengalaman peserta dapat memudahkan tugas fasilitator; dapat pula menyulitkan.Perlu ditentukan metoda yang akan dipakai berpegang pada kontinum dibawah ini:
  • Proses Penataan Proses Perluasan Pengalaman (Penataan Kembali) Pengalaman Penggunaan pengalaman peserta sendiri Eksperensial Didaktik penggunaan pengalaman pihak lain (teori, riset, konsep, dan sebagainya) intensif pertumbuhan Kelompok experiences Structered Instrumentasi playing) Pemeranan (role- Case study partisipatif Latihan Diskusi Ceramah Bacaan3.5.2 KebiasaanPada orang dewasa kebiasaan lebih sukar dirubah dibandingkan dengan kebiasaan anakkecil.• Menonjolkan diri• Menentang hal/cara baru yang tidak dikenalnya• Banyak bicara• Berbicara dengan rekan selagi fasilitator bicara• Berdiam diri• Menggambar tanpa arti sambil mendengarkan• Duduk di bangku paling belakang/jauh atau depan/dekat• Merokok• Minum kopi/teh/air putih/makan nyamilDan mempunyai kebiasaan berprasangka terhadap kegiatan yang belum diikutinyasecara tuntas, seperti reaksi-reaksi dibawah ini : “ Ini sih begitu-begitu juga. Tak ada yang baru “ “ Semua ini tidak ada. Yang cocok untuk keadaanku “ Harapan yang dikandung adalah mendapatkan hal baru. Setiba Di dalam pendidikan sering kali pembahasan dan diskusi bersifat di pertemuan, itu-itu juga yang terdengar, maka kebosanan umum. Dibutuhkan ketrampilan untuk menghubungkan yang mulai menyelinap. umum dengan kondisi nyata yang dihadapi “ Itu kan teorinya. Prakteknya dalam kenyataan “ Hebat sekali bermanfaat sekali bagaimana?” untuk kita “ Tingkah begini timbul kalau orang mendengar bagaimana Kadang-kadang orang terlalu anthusias, apalagi kalu seharusnya, dan mengalami yang menjadi kenyataan lain sama penyajiannya menarik. Tetapi anthusias yang berlebihan suka sekali atau ia mendengar teori yang muluk, sehingga meragukan cepat menyurut. kemungkinan penerapannya dalam praktek. “ Katakan bagaimana mestinya, kan anda ahli ?“ “ Kebiasaan kita kan sudah baik. mengapa mesti merubahnya “ Memang sukar menerima perubahan. Diperlukan keberanian Diharapkan akan didapat resep-resep dan petunjuk lengkap dan keterbukaan. Dalam situasi belajar apalagi kalau untuk memecahkan masalah. Padahal orang dewasa mencari pembimbing memakai cara menggurui, sering nampak tingkah pemecahan sendiri laku tegar begini.
  • 3.5.3 Harga DiriLebih daripada anak kecil orang dewasa mempunyai harga diri maunya diakui, dihargai :• Sebagai orang terdidik, berpengetahuan, berpengalaman• Sebagai orang berkedudukan, berumur• Mempunyai keinginan, harapan, hak-hak azasi, kebebasan• Mempunyai pendapat, pandangan, pikiran, perasaan• Mempunyai kebanggaan nasional, daerah, suku, profesi• Di rumah sendiri dipatuhi, di kampung sendiri dihormati• Mempunyai kekurangan, tapi bukan untyuk ditonjolkan3.5.4 Sifat Fisik Dan Psikisa. Fisik :• Penglihatan makin kurang,dekat maupun jauh• Memerlukan makin banyak cahaya untuk melihat jelas• Persepsi kontras warna mengurang, sehingga memerlukan warna cerah dan kontras untuk alat peraga• Pendengaran makin kurangb.Psikis :• Tidak mau digurui, mesti dimotivasi untuk belajar• Hanya mau belajar hal-hal yang mengandung arti bagi dirinya pribadi• Belajar mungkin menyakitkan bagi orang dewasa, karena harus menerima hal baru, merubah kebiasaan lama.• Belajar lebih banyak dari MENGALAMI daripada mendengar teori dan nasehat• Proses belajarnya khas dan individual, artinya dengan kecepatannya sendiri, dan sebanyak yang ia bersedia terima• Sumber terkaya adalah dirinya sendiri : pengalamannya, pengetahuannya, keinginannya, kepentingannya• Bersifat emosional dan intelektual, artinya menyangkut perasaan maupun kecerdasannya• Dalam kerjasama dengan manusia lain• Proses evolusi, harus berkembang pelan – pelan, tak dapat dipaksakan cepat melaju.3.5.5 Waktu• Banyak pilihan untuk mengisi waktu pada saat ini : nonton bioskop, nonton TV, makan, di restoran, bertandang ke rumah kawan, membaca buku, mencari penghasilan tambahan, mengikuti kursus lain, dsb.• Ingin mulai tepat pada waktunya dan cepat selesai• Ingin selesai tepat menurut rencana (ada janji lain)• Tak sabar mendengarkan omong kosong yang membuang waktu.
  • 4. BENTUK KEGIATAN4.1 LOKAKARYA DAN LOKALATIH PARTISIPATIFPartisipasi akan berlangsung secara optimal manakala peserta mempunyai pemahamanterhadap persoalan yang dihadapi, mampu menyampaikan pikirannya secara obyektif, danberdaya dalam mencari alternatif pemecahan persoalan yang dihadapi. Untukmengembangkan kemampuan seperti ini dibutuhkan model atau pendekatan yangmemungkinkan mereka aktif berpartisipasi. Disinilah arti penting dari proses lokakarya ataulokalatih yang partisipatif sebagai salah satu cara intervensi dalam peningkatan kemampuanmasyarakat.SasaranMateri materi ini ditujukan kepada mereka yang yang berminat atau akanmelaksanakan tugas atau kegiatan memberikan lokakarya atau lokalatih dalambidang implementasi kebijakan AMPL berbasis masyarakat.ManfaatDengan memahami lokakarya atau lokalatih ini diharapkan para peserta dapatmenyelenggarakan lokakarya atau lokalatih yang partisipatif dengan isi yang lebihsesuai dengan kebutuhan peserta dengan metode yang sesuai dan menarik.Dengan memahami materi ini diharapkan para peserta akan : memahami arti membangun manusia lewat kegiatan konkrit, menyadari arti pentingnya keterbukaan terampil bekerjasama dan berkomunikasi terampil menciptakan iklim, sehingga banyak pihak bersedia berpartisipasi dan mampu berkreasi memiliki keterampilan teknis berpengetahuan yang sesuai dengan bidang tugasnyaDengan tambahan keterampilan tersebut peserta diharapkan mampumenyelenggarakan kegiatan implementasi kebijakan AMPL berbasis masyarakatdengan prinsip partisipatif.4.1.1 Pendekatan dalam pelaksanaan lokakarya atau lokalatihMengorganisir lokakarya atau lokalatih berarti menampung dan memberikemudahan agar semua yang sudah ditetapkan dapat dilaksanakan dengan baikdan tujuan dapat tercapai. Agar dapat mengorganisir lokakarya atau lokalatihsecara baik yang perlu diingat dan dijadikan pertimbangan utama adalah : tujuan,metode, kurikulum, jangka waktu dan peserta lokakarya atau lokalatih itu sendiri.Dengan demikian pengorganisasian lokakarya atau lokalatih harus mampu : Menciptakan suasana belajar bagi para peserta dan fasilitator • Tempat lokakarya atau lokalatih yang memadai dari segi akomodasi dan perlengkapan • Suasana belajar dirancang untuk memberikan keleluasaan kepada peserta mengembangkan kapasitasnya
  • Menciptakan forum komunikasi antar peserta, penyelenggara dan lembaga pengirim, termasuk kemudahan bagi peserta, penyelenggara dan lembaga pengutus saling memberi umpan balik. • Berikan peluang agar peserta dan fasilitator dapat berkomunikasi secara langsung maupun tidak langsung • Fasilitasi agar setiap persoalan dapat dibahas dan diselesaikan secara bersama • Fasilitasi ke arah pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat • Ciptakan suasana yang interaktif agar peserta dapat menyampaikan pendapatnya dengan tenang dan cermat • Kendalikan proses belajar agar tepat waktu4.1.3 Metoda lokakarya atau lokalatihUntuk mencapai tujuan lokakarya ataulokalatih, metode-metode yang digunakandalam peyampaian materi mempunyaipengaruh yang cukup besar. Ada beberapametode yang dapat dipakai, namun belumtentu sesuai untuk lokakarya atau lokalatihyang lain. Masing-masing metode mempunyaikelebihan dan kelemahan, dan tidak ada satumetode pun yang sesuai untuk segala bentuklatihan. Untuk itu setiap metode lokakaryaatau lokalatih memerlukan penyesuaian terhadap suasana, peserta, target yangdinginkan dan tingkat kedalamannya.Bentuk-bentuk metode lokakarya atau lokalatih antara lain : Curah pendapat Ceramah Diskusi Permainan peranan Permainan Kunjungan lapangan Studi kasus WawancaraMetode Curah PendapatFasilitator memberikan kesempatan seluas luasnyakepada peserta untuk mengeluarkan pendapat,pengalaman terhadap sebuah topik yang akan dibahas.
  • Tujuannya : - Mendapatkan sebanyak mungkin pendapat dan pengalaman dari peserta - Meningkatkan partisipasi peserta dalam lokalatih dan atau lokakaryaManfaat : untuk mendapatkan sebanyak mungkin masukan dari pesertaCara : - Fasilitator menyampaikan tentang topik pembicaraan yang akan dimintai pendapat dan pengalamannya dari peserta - Pada akhir pengumpulan pendapat dari peserta disampaikan rangkuman kesimpulan sesuai dengan topik yang dibahasKelebihan : - Mendapatkan masukan yang lebih dari cukup dari peserta tentang sebuah topik yang akan dibahas - Laktu dapat diatur sesuai dengan kehendak fasilitator - Luasnya materi dapat diatur oleh fasilitator - Peserta dapat mencatat semua pendapat yang terkumpul - Peserta bersama fasilitator dapat menyimpulkan bersama tentang sebuah topik yang dibahasKelemahan : - Tidak semua peserta berani mengeluarkan pendapatnya dalam sebuah kelas besar - Peserta kurang aktif kalau topik yang dibahas tidak sesuai dengan minatnyaJalan Keluar : - Fasilitator memberi kesempatan kepada semua peserta untuk mengemukakan pendapatnya - Fasilitator menyebutkan nama peserta untuk memberikan kesempatan mengemukakan pendapatnya - Curah pendapat dimulai di dalam kelompok kelompok kecil - Menggunakan alat peraga : kertas metaplan, kain rekat, papan tulis, power point, dll.Metode CeramahMateri disampaikan dengan uraian-uraiandan penjelasan dari fasilitator.Tujuannya : - Menyampaikan materi tertentu kepada peserta - Meningkatkan pengetahuan pesertaManfaat : Untuk menyampaikan hal-hal baru kepada pesertaCara : - Fasilitator menyampaikan materi dengan menerangkan dan menguraikannya kepada peserta - Pada akhir ceramah disampaikan kesimpulan dan kemungkinan- kemungkinan penerapannya.Kelebihan : - Lebih mudah bagi fasilitator untuk menyampaikan materi secara sistematis
  • - Waktu dapat diatur sesuai dengan kehendak fasilitator - Luasnya materi dapat diatur oleh fasilitator - Peserta dapat mencatat secara sistematisKelemahan : - Peserta cepat bosan - Peserta kurang aktif - Tidak ada umpan balik, sehingga tidak tahu apakah materinya sudah sesuai dengan kebutuhan pesertaJalan Keluar : - Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan pada waktu ceramah berlangsung - Ceramah diselingi humor - Cara ceramah dikaitkan dengan cara diskusi (kelompok diskusi untuk mendalami materi) - Menggunakan alat peraga, papan tulis, power point, dll.Metode diskusiPara anggota diskusi saling bertukar pengalaman danpendapat tentang masalah yang sedang dibahas.Tujuannya : - Meningkatkan kemampuan berpartisipasi secara aktif - Memantapkan teori yang sudah diperoleh dengan mengkaitkan pengalaman peserta - Mencari jalan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi.Manfaat : - Memberi kesempatan para peserta bertukar pikiran dan pengalaman - Kemampuan peserta berdiskusi bertambahCara : - Fasilitator menyiapkan bahan diskusi yang merupakan pertanyaan- pertanyaan, bahan bacaan, atau gabungan keduanya. - Fasilitator menjelaskan tema atau masalah yang akan didiskusikan kepada peserta dan waktunya. - Peserta dibagi dalam kelompok kecil supaya diskusi berjalan efektifKelebihan : - Semua peserta bisa aktif dalam diskusi - Peserta mempunyai kesempatan mengemukanan pendapat/ pengalaman dan belajar dari pendapat/pengalaman peserta lain. - Materi dapat dikaitkan dengan pengalaman peserta - Memperluas pandangan peserta - Dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam hal mendengarkan, menampung, dan mempertimbangkan pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapatnya.Kelemahan : - Membutuhkan waktu relatif lama
  • - Materi dapat berkembang tidak sesuai dengan konsep yang telah disiapkan - Sering diskusi kurang terarah, tidak ada kesimpulan.Jalan Keluar : - Fasilitator menyiapkan materi yang akan dibawakan - Sebelum diskusi dipilih seseorang untuk memimpin diskusi - Mengamati kelompokBentuk bentuk diskusi :Fish Ball DiscussionDalam diskusi dengan metoda Fish Bowl, adaperwakilan dari setiap perwakilan kelompok danatau daerah asal peserta untuk mendiskusikantentang topik tertentu, misalnya perbedaanantara demand dan need – dalam lokalatihMPA-PHAST, dalam satu lingkaran kursiditengah tengah ruangan lokakarya, sementarapeserta lainnya bertindak sebagai pengamat,dan memberikan kesempatan untuk setiappeserta untuk duduk di kursi panas. Disiapkan 1 kursi panas untuk peserta dari luarlingkaran bisa memberikan pendapat atau berkomentar. Waktu yang disediakanuntuk kursi panas sangat terbatas, untuk memberikan kesempatan peserta lainduduk di kursi panas tersebut dan berpendapat.Metode Bermain Peran (roleplay)Bermain peran adalah suatu situasi tertentu diperankandengan pelaku-pelakunya yang diambil dari pesertasesuai dengan tabiat yang ditentukan.Tujuannya :- Memberikan pengertian tentang bagaimana penerapan peran dalam kehidupan sehari-hari.- Memperoleh bahan dari pengalaman sendiri untuk kemudian menganalisa hal-hal yang berkenaan dengan faktor manusiawi- Meningkatkan kepekaan peserta terhadap perasaan orang lainManfaat :- Menjembatani antara pengertian dan penerapannya- Peserta dapat mencoba keterampilan baru sebelum menerapkan dalam keadaan sebelumnya- Membantu peserta untuk lebih obyektif terhadap peran yang bisa diambil.Cara :- Fasilitator memilih peserta yang mewakili sikap yang diperankan dan bermain peran
  • - Dijelaskan peran apa yang akan dilakukan serta sikap-sikap yang harus diperankan- Pengamat dipilih dan diberi petunjuk tentang hal-hal yang perlu diamati- Para pemain membawakan peran dengan cara yang sedapat mungkin mendekati kenyataan- Selama permainan pengamat mencatat sesuai dengan pengarahan yang diberikan- Permainan dihentikan jika hal-hal yang akan dibahas sudah muncul- Laporan pengamat dan kesan dari pemain dibahas dan dianalisa sesuai dengan pokok bahasan.Kelebihan:- Semua atau sebagian besar peserta dapat ikut secara aktif- Suasana kelas menjadi hidup- Memperoleh bahan diskusi langsung dari sesuatu yang baru saja dialamai- Dapat dipakai untuk memperjelas berbagai bahan, misalnya : menganalisa masalah, menyelesaikan masalah dll.Kelemahan :- Kadang-kadang peserta kurang mampu membawakan perannya dengan meyakinkan- Sulit mendekatkan situasi dengan kenyataan- Fasilitator harus mantap dalam pembahasannya padahal cukup sulit, terutama dalam mengkaitkan kasus yang muncul dengan konsep yang dibawakan.Jalan Keluar :- Peserta memilih peran yang ingin mereka bawakan, jangan memaksakan peserta untuk bermain, fasilitator memilih dengan hati-hati- Fasilitator perlu menyiapkan diri dengan baik terutama harus mempunyai gambaran jelas tentang kesimpulan yang dikehendaki dari hasil pembahasan.Metode permainan dinamika kelompok Dalam permainan ini peserta dapat memperoleh pengalaman tertentu yang dibahas untuk dijadikan pegangan bagi peserta. Tujuan : - Meningkatkan kesadaran peserta tentang perlunya pengembangan sikap dan keterampilan tertentu - Memperkenalkan aspek-aspek tertentu dalam materi yang dibawakanManfaat :- Kemungkinan diskusi tentang pokok tertentu berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama permainan.
  • Cara :- (sama dengan Permainan Peranan)Kelebihan :- Semua atau sebagian peserta dapat ikut secara aktif- Suasana kelas hidup- Memperoleh bahan diskusi langsung dari sesuatu yang baru dialami.Kelemahan :- Kadang-kadang fasilitator kurang memahami makna permainan sehingga tidak dibahas untuk memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang berguna bagi peserta- Kadang-kadang peserta menganggap permainannya hanya sekedar permainan.Jalan Keluar :- Fasilitator menyiapkan diri dengan baik, termasuk memahami dengan jelas tujuan permainan dan cara membahasnya.- Fasilitator harus mampu menghubungkan permainan dengan bahan latihan sebelum dan sesudah permainan berlangsung.Metode kunjungan lapanganPeserta lokakarya dan lokalatih berkunjung kemasyarakat untuk mempelajari keadaannya. Kunjungandapat berlangsung selama beberapa jam maupunbeberapa hari.Tujuan :- Menguji teori yang diperoleh dengan kenyataan yang ada di lapangan- Memantapkan teori serta meningkatkan penguasaan bahan- Mengenal kegiatan-kegiatan baru- Merangsang untuk melaksanakan hal-hal yang baru- Meningkatkan keterampilan serta mengembangkan sikapManfaat :- Dapat menambah gairah peserta latihan maupun para pelaksana di masyarakat- Dapat memanfaatkan teori dengan mengkaitkannya pada kenyataan.Cara :- Menentukan wilayah yang akan dikunjungi dan mempersiapkan akomodasinya- Memberikan penjelasan kepada peserta secara garis besar tentang keadaan daerah, adat istiadat, dan hal-hal yang dapat dipelajari di lapangan.- Memberikan pengarahan dan pembagian tugas dan sasaran yang ingin dicapai- Penulisan laporan hasil kunjungan lapangan tentang pelajaran positif dan negatif yang dapat dipetik untuk didiskusikan bersama peserta lainnya.Metode studi KasusDalam metode ini fasilitator menyampaikan bahandengan menyuguhkan kasus yang diambil daripengalaman kepada peserta untuk didiskusikan.
  • Tujuan : - Merangsang peserta untuk berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hariManfaat :- Peserta dapat meningkatkan keterampilan dalam hal menganalisa dan mencari jalan keluar dari masalah- Dapat memantapkan teori dengan mengkaitkannya pada kenyataan- Dapat meningkatkan partisipasi pesertaCara :- Memilih dan mempersiapkan kasus (sebaiknya ditawarkan kepada dan disepakati oleh peserta), yang terdiri dari kasus keberhasilan atau kasus kegagalan.- Fasilitator membuat cerita tentang suatu kejadian secara singkat dan jelas (bisa juga dilakukan dengan media audio visual : gambar, video, poster, kliping koran dll)- Peserta mencoba mencari sebab-sebab masalah, langkah-langkah yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah atau untuk memperbesar keberhasilan.- Peserta mendiskusikan hasil analisanya dalam kelompok.- Hasil kelompok dibahas dalam pleno.Kelebihan :- Mengajak peserta untuk selalu menganalisa masalah yang dihadapi- Mengajak peserta ke hal-hal yang mendekati kenyataan- Semua peserta aktif (dalam kelompok kecil)Kelemahan :- Sulit memberi semua data yang diperlukan- Dapat terjadi bahwa ada peserta yang belum pernah menghadapi kasus serupa sehingga merasa kurang dapat menyumbang- Tidak semua kasus dapat dipakai untuk diskusi- Memakan waktu cukup lamaJalan Keluar :- Menyiapkan kasus dengan mantap dan berusaha memberi semua faktor yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas- Pilih kasus yang berhubungan langsung dengan pengalaman peserta dan tidak terlalu rumit- Fokuskan kasus yang dibahas dengan tujuan yang ingin dicapai4.2 KEGIATAN PENDAMPINGAN BANTUAN KONSULTASI TEKNISPeningkatan kapasitas, selain dilakukan didalam kelas, pada sebuah lokakarya dan ataulokalatih; juga dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan pendampingan yang isinya berupabantuan konsultasi teknis, dimana semua fihak dapat melakukan dan memperolehpembelajaran bersama. Untuk itu, perlu dipelajari berbagai bentuk kegiatannya, daripengalaman yang selama ini kita dapatkan, bentuk kegiatannya antara lain dapat berupa :4.2.1 ObservasiAdalah metode pengamatan untuk memperolehinformasi tentang prilaku manusia, kehidupan sosial,
  • yang sukar diperoleh dengan metode lain. Metode ini bukanlah pekerjaan mudahterutama untuk mencapai tingkat ke-valid-an suatu data. Prinsip observasi terletakpada upaya pengamatan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha yangdisengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau memanipulasikannya. (Lihat :Nasutiuon, MA, Dr, Prof, Metode Research, Jemmars, 1982) .4.2.2 WawancaraWawancara atau interview adalah suatu bentukkomunikasi verbal yang bertujuan memperolehinformasi yang dilakukan secara tatap muka. Namundapat pula melalui telpon. Wawancara merupakanalat yang ampuh untuk mengungkapkan kenyataanhidup, apa yang dipikirkan atau dirasakan orangtentang berbagai aspek kehidupan. Melalui tanyajawab kita dapat memasuki alam pikiran orang lain,sehingga diperoleh gambaran tentang dunia mereka. Pewawancara harus dapatdengan cepat menangkap maksud orang, cepat pula bereaksi untuk memperolehketerangan yang lebih mendalam. Pewawancara harus mempunyai keterampilanagar responden yang diwawancarai dengan bebas mengungkapkan apa yangdirasakan. Pewawancara harus memiliki teknik membangkitkan kesediaanresponden yang untuk diwawancarai. Untuk memperoleh keterangan yang lebihjelas perlu dilakukan pendalaman informasi atau lazim disebut dengan “probing”.(Lihat: Nasutiuon, MA, Dr, Prof, Metode Research, Jemmars, 1982; MasriSingarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta,1982) .4.2.3 Brainstorming (Curah Pendapat)Adalah metode partisipasi yang paling dasar yangdimaksudkan untuk memperoleh sebanyak mungkininformasi atau pendapat dari semua orang yang hadirdalam suatu pertemuan. Apapun pendapat yangdisampaikan diterima, dan pada tahap ini tidak bolehada kritik/penilaian terhadap gagasan yang muncul.Brainstorming bisa dilakukan dengan cara lisan atautertulis. Cara tertulis, misalnya pada kertas lebar(plano) maupun dalam kertas berbentuk kartu(metaplan). (Lihat: Hetifah Sj Sumarto, Inovasi, Partisipasi dan GoodGovernance, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2004)4.2.4 Diskusi kelompok campuranAdalah salah satu metode untuk memberikankesempatan kepada seluruh peserta pertemuan/diskusidalam rangka memberikan pendapat, tanggapan,gagasan, sanggahan terhadap suatu topik. Setiappeserta mempunyai hak dan kesempatan yang sama.
  • Dikatakan diskusi kelompok campuran karena yang menjadi peserta adalah darilatar belakang yang berbeda, misalnya: perempuan, laki-laki, orang tua, dewasadan remaja, dari golongan kaya, golongan miskin, pejabat, pengangguran, danelemen masyarakat lainnya. Tujuan khusus dari diskusi ini adalah memperolehkesepakatan atau rumusan terhadap suatu pandangan dari topik yang dibahas.4.2.5 Diskusi PlenoAdalah diskusi yang diikuti oleh masyarakat/pesertayang biasanya diskusi ini merupakan kelanjutan daridiskusi kelompok dan atau diskusi kelompok campuran.Diskusi kelompok biasanya dianggap masih sedikitpesertanya sehingga ada kemungkinan keputusannyabaru menurut sedikit orang, dalam hal ini diskusi plenodibutuhkan, karena pesertanya terdiri dari beberapakelompok, artinya semakin banyak orang yang terlibatdalam memberikan keputusan. Diskusi pleno ini akan banyak dipergunakan dengantujuan agar yang menjadi kesepakatan merupakan hasil keputusan banyak orang.4.2.6 Focus Group Discussion (FGD)Adalah salah satu metode dasar untuk memberikankesempatan kepada peserta diskusi untuk memberikanpandangannya tentang suatu topik. Kegiatan inimemungkinkan setiap peserta diskusi menyumbangkanperspektif yang berbeda satu sama lain. FGD adalahdiskusi yang direncanakan secara hati-hati untukmembangun suasana yang memungkinkan pesertadiskusi bisa mengemukakan pendapatnya secaraterbuka tanpa rasa takut. Proses FGD dipimpin olehmoderator dan didampingi oleh asisten moderator yang bertugas mencatat seluruhisi dari proses diskusi. (Lihat: Hetifah Sj Sumarto “Inovasi, Partisipasi dan GoodGovernance” 2004).FGD dipergunakan untuk menggali informasi dalam rangka studi, memperbaikirencana dan desain program baru, maupun mengevaluasi program yang sedangberjalan. Focus Group, adalah kelompok khusus yang dipandang dari segi tujuan,ukuran, komposisi dan prosedurnya. Biasanya focus group terdiri dari 7 sampai 10orang yang dipilih karena mereka memiliki suatu karakteristik tertentu yang sama,seperti kelompok miskin, perempuan dan lain sebagainya. Jumlah pesertaditentukan oleh dua aspek, harus cukup kecil sehingga setiap orang berkesempatanmengemukakan pendapatnya, dan cukup besar untuk menampilkan keragamanpersepsi. Kalau jumlah peserta terlalu banyak, ada tendensi terpecah. Sedangkan
  • jumlah peserta yang kecil memberikan keuntungan dalam hal akomodasi tetapi adakemungkinan tidak mendapatkan gagasan yang lengkap tentang suatu topik.Beberapa aspek yang mempengaruhi efektivitas FGD adalah kualitas pertanyaanyang diajukan, keterampilan moderator, serta ketepatan peserta yang terlibat.Untuk memperoleh informasi lebih lanjut dapat dibaca tulisan: RichardKrueger, Focus Groups: A Pratical Guide for Applied Research, SagePublication, 1988; Susan Dawson, Lenore Manderson, and Veronica L. Tallo,A Manual for the Use of Focus Group, INFDC, USA, 1993; Hetifah Sj Sumarto,Inovasi, Partisipasi dan Good Governance, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,2004.Nominal Group Technique Diskusi kelompok diharapkan dapat melakukan pendalaman terhadap sebuah topik bahasan dalam sebuah lokakarya atau pertemuan biasa. Tentu dengan alokasi waktu yang tersedia, dan jumlah peserta yang ada, efisiensi termasuk yang harus diperhitungkan. Efisiensi termasuk terhadap hasil yangdiperoleh, juga terhadap proses interaksi antar dan jumlah anggota yang ada dikelompok tersebut. Nominal Group Technique, adalah salah satu persiapan yangdapat kita lakukan bersama. Yang dimaksud adalah sebelum diskusi kelompokdilakukan, terlebih dahulu ditetapkan berapa perkiraan jumlah anggota kelompokdiskusinya, apakah 3, 5, atau 7 orang. Yang menjadi patokan adalah menetapkanberapa jumlah anggota kelompok yang akan dipilih, dibandingkan denganperkiraan atas hasil dan proses yang dapat diperoleh, sehingga diharapkan akandicapai hasil yang efektif dan efisien.Musyawarah desa Istilah lain dari Musyawarah Desa adalah Rembuk Desa, Pleno Desa, Lokakarya Desa, mini lokakarya desa atau istilah-istilah lain yang disesuaikan dengan bahasa setempat. Pada metode ini dapat diartikan sama yakni merupakan forum rembuk yang dihadiri oleh seluruh warga desa dalam rangka memusyawarahkan rencana pembangunan, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangkapanjang. Kegiatan ini biasanya dipandu oleh moderator yang mampu mengaturarus diskusi atau musyawarah secara adil dan terarah.Kunjungan lapanganKunjungan lapangan adalah salah satu upaya mengajakpeserta pada kenyataan lapangan. Peserta dapat belajardari kelebihan dan kekurangan suatu program yang
  • berbasis masyarakat. Dengan menghayati dan belajar dari lapangan, diharapkanmampu merubah paradigma para peserta tentang pendekatan partisipasi yangseharusnya. Cara ini dipakai pada waktu Lokakarya Nasional Diseminasi KebijakanAMPL Berbasis Masyarakat di Surabaya. Kajian lapangan, dilakukan untuk melihatefektifitas pelayanan AMPL di masyarakat serta kajian keberhasilan dan kegagalanpelayanan AMPL, yang dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara langsungterhadap keberlanjutan AMPL. Proses pengumpulan informasi yang dilakukandalam tahap ini dengan wawancara melalui diskusi kelompok terfokus dengananggota kelembagaan AMPL di daerah (tim koordinasi) dan di masyarakat (UPS/KPSatau sebutan lainnya) untuk memperoleh gambaran pengetahuan, sikap danprakteknya dalam melaksanakan fungsi dan perannya. Dalam kajian lapangan jugadimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara lengkap mekanismepelaksanaan kelembagaan AMPL mencakup; struktur, pedoman pelaksanaan(uraian tugas), kegiatan yang telah dilakukan, hasil yang telah dicapai,permasalahan yang dihadapi. Targetnya adalah memberikan wawasan dari temuanlapangan dan pembelajaran yang dapat diperoleh dari keberhasilan dan ataukegagalan pengelolaan program di lapangan. Dari pengalaman yang diperolehselama ini, kegiatan lapangan berhasil memberikan ’benturan’ agar pentingnyadilakukan perubahan paradigma dalam melaksanakan pendampingan masyarakatdalam meningkatkan akses terhadap sarana air minum dan penyehatan lingkungan.Dialog pemangku kepentingan Dialog interaktif antar pemangku kepentingan, merupakan salah satu cara dialog tentang kebijakan AMPL berbasis masyarakat, sehingga terdapat akses yang cukup luas bagi masyarakat untuk ikut membicarakannya. Untuk itu perlu dipromosikan jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat tahu dan siap mengalokasikan waktunya untuk mendengarkan danmengikuti acara. Yang penting untuk diperhatikan adalah pentingnyamenghubungi dan mendapatkan komitmen bagi pihak-pihak yang akan terlibat danterkait dengan materi yang akan dibahas. Peran pemandu/presenter sangatmenentukan jalannya dialog, sehingga mereka perlu diberikan pemahamanterhadap materi yang akan dibahas serta isu-isu terkait dengan materi tersebut.Bentuk kegiatan dialog antara lain : dialog interaktif/talk show di radio, televisi,round table discussion, dialog tematik, dlsb.Bimbingan teknisKegiatan penyusunan Renstra AMPL misalnya, sebuahkegiatan yang tidak dapat selesai dalam sekalipertemuan, memerlukan kegiatan berulang ulang.Memerlukan pemahaman yang utuh tentang Renstra itusendiri, menguasai data dan permasalahan AMPLdaerahnya, serta mempunyai keterampilan untuk
  • menuliskannya. Salah satu bentuk pendampingan yang dilakukan adalahmemberikan bimbingan teknis proses penyusunan Renstra AMPL tadi. Denganbimbingan teknis, Pokja AMPL Propinsi misalnya, memberikan bantuan tekniskepada Pokja AMPL Kabupaten/Kota dalam proses penyusunan Renstra AMPLtersebut. Bimbingan teknis biasanya dilakukan secara terjadual, sehingga dapatdilakukan evaluasi bersama atas capaian dari hasil pekerjaan dari setiap tahapantertentu, sesuai dengan kesepakatan kedua belah fihak.Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah salah satu target implementasi kebijakan di tingkat masyarakat, agar tujuan umum kebijakan : peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Upaya untuk mencapai PHBS di tingkat masyarakat, adalah sebuah upaya untuk perubahan perilaku. Untuk terjadinya perubahan perilaku, diperlukan intervensi dari pengelola program AMPL secara berkelanjutan. Salahsatu upaya tersebut adalah dengan penyuluhan. Karena penyuluhan adalah sebuahupaya untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, misalnya tentangpentingnya PHBS, agar masyarakat mau berubah dari kondisi yang kurang baik,menjadi kondisi yang lebih baik. Penyuluhan dilakukan sejak penyuluhan tingkatdesa/kelurahan agar secara menyeluruh masyarakat tahu tentang pentingnya PHBS.Ditindak lanjuti dengan penyuluhan di kelompok masyarakat, misalnya di Posyanduatau kelompok pengajian. Apabila perlu, dilanjutkan dengan kunjungan rumah olehkader setempat untuk pentingnya memanfaatkan jamban keluarga, agar air tidaktercemar bakteri e-coli misalnya. Dengan penyuluhan terprogram dan terjadual,diharapkan masyarakat akan menuju kondisi yang ideal tadi : terjadinya PHBS.Saresehan Dari pelaksanaan program pembangunan AMPL berbasis masyarakat, biasanya diketemukan model model pengelolaan yang khas yang kita ketemukan di daerah, misalnya : Program Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas di Rungkut Surabaya. Agar model model pembangunan berbasis masyarakat tersebut dapat direplikasi sehingga implementasinya dapat meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas,diperlukan sebuah kegiatan untuk menyebar luaskan model tersebut. Saresehanadalah salah satu bentuk penyebar luasan model program tersebut. Dalamsaresehan, konsep dari model tersebut akan dibahas : persiapan, perencanaan,pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sampai pada rencanya pengembangannya.Dibahas pula : temuan temuan lapangannya bagaimana; pembelajaran yangdiperoleh apa : kunci keberhasilan, titik titik kritis yang menyebabkan kegagalan,serta usulan solusinya agar ketika direplikasi daerah lain tidak perlu melewati hal hal
  • yang tidak perlu, sehingga dapat menghemat waktu dan lebih cepat untukmendapatkan keberhasilan.Future Search ConferenceMengingat hampir 100 juta penduduk miskin Indonesiabelum memiliki akses terhadap sarana AMPL, tentudiperlukan upaya upaya yang besar pula. Oleh karena itu,future search conference adalah salah satu tahapan yangdapat dilalui. Yang dimaksud adalah sebuah rekayasa untukmerancang pertemuan untuk merancang program, dengantarget untuk mendapatkan keluaran yang berupa garisbesarnya saja, dengan masukan tersebut diharapkan akanmendapatkan perkiraan tentang disain sebuah program yang akan dijalankan.Scenario planning Implementasi kebijakan di daerah tentu memerlukan sebuah perencanaan, yang disesuaikan dengan karakteristik daerahnya masing masing. Oleh karena itu, pada tahap awal sebaiknya dirancang abstraksi dari apa yang dapat kita bayangkan tentang rancangan implementasi kebijakan tersebut didaerah. Dari abstraksi tersebut kemudian dinarasikan tentang skenario implementasi kebijakan yang akan dilaksanakan di daerah tersebut, untuk selanjutnyadibuatkan petunjuk teknis pelaksanaan implementasi kebijakan tersebut.Strategic planningTanggung jawab pemangku kepentingan AMPL adalahbagaimana membuat rencana aksi untuk mencapai layananAMPL 2015 berkelanjutan. Maka strategi pendampinganyang dilakukan adalah membantu kabupaten/kota dalammenyusun Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan AMPLBerbasis Masyarakat. Sehingga dengan Renstra tersebut,akan diketahui siapa pemangku mandat pelaksanaanpembangunan AMPL di daerahnya, bagaimana visi, misi dannilai yang dianut, apa kelebihan, kekurangan, peluang dan ancamannya,perumusan strategi program sampai dengan rancangan kegiatan yang akandilaksanakan sesuai dengan tupoksi dari dinas instansi yang terkait.
  • Field support Ketika rancangan program – misalnya implementasi kebijakan di daerah sudah tersedia, maka tahapan selanjutnya yang dibutuhkan adalah merancang field support, yang dimaksud adalah menyusun agenda agenda lapangan yang dibutuhkan daerah dalam kerangka implementasi kebijakan tersebut. Misalnya : asesmen, berupa penjajagan kebutuhan daerah dalam rangka implementasi kebijakan; kegiatan peningkatankapasitas – baik berupa lokalatih maupun bantuan konsultasi teknis; maupunmonitoring dan evaluasi yang partisipatif, disesuaikan dengan rencana kerjadaerahnya.On going supportKetika rencana kerja implementasi kebijakan sudahtersusun, pelaksanaannya sudah mulai berjalan, makayang dibutuhkan adalah : On going support. Yangdimaksud adalah pelaksanaan asistensi kepada daerahyang dapat berupa : pemberian motivasi agarpelaksanaan kegiatan tetap sesuai dengan rencanakerja yang disepakati, membantu mengidentifikasidan mencari alternatif penyelesaian permasalahanyang dihadapi secara bersama, serta kegiatan kegiatan supporting lainnya sesuaidengan kebutuhan daearah.Monitoring dan evaluasi partisipatifMonitoring evaluasi partisipatif adalah suatu prosesmonitoring dan evaluasi yang melibatkan semua pihakyang secara bersama-sama menilai kinerja kegiatan,menemukan masalah serta menyiapkan langkah tindaklanjut perbaikan. Model ini memberdayakan semuafihak, agar kegiatan berjalan dengan baik, transparan,objektif dan mampu melibatkan semua pihak.Pengertiannya adalah :Monitoring Melihat perkembangan suatu kegiatan yang sedang berjalanEvaluasi Menilai dan mengukur pencapaian keberhasilan dan efektifitasPendampingan Menemukan kekuatan dan masalah, mencarikan solusi, dan menguatkan intervensiSedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah :a. Mendokumentasi perkembangan kegiatanb. Mengukur pencapaian dan keberhasil dilapanganc. Mengangkat masalah yang ditemukan dilapangan dan mencarikan solusi yang sifatnya lokal
  • Jenis monitoring dan evaluasi serta pendampingan dapat diklasifikasikan padabeberapa bentuk kegiatan berikut ini:1. Monitoring per-kegiatan2. Pendampingan3. Dokumen refleksi5. Rencana Tindak Lanjut6. Laporan Kegiatan7. Focus Group Discussion (bila diperlukan)Sedangkan prinsip monitoring dan evaluasi serta pendampingan adalah : pelibatanpemeran/peserta dan keterbukaan4.3 PENILAIANMenilai lokakarya atau lokalatih adalah pekerjaan yangtidak sulit dilakukan dan membawa manfaat banyak.Sesuai dengan bentuk latihan yang partisipatif, makapenilaian ini juga dilakukan secara partisipatif, artinyapenilaian dilaksanakan oleh peserta dan fasilitator. Padaakhirnya justru ditekankan agar peserta sendirimengevaluasi dirinya sendiri.Manfaat Penilaian:- Memberi gambaran terhadap jalannya lokakarya atau lokalatih- Memberi kesempatan kepada peserta untuk menyumbang saran-saran- Memberi gambaran tentang keberhasilan lokakarya atau lokalatih, apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai- Memperoleh bahan guna usaha perbaikan lokakarya atau lokalatih yang akan datangYang perlu dinilai :- Pencapaian tujuan baik tujuan kelompok maupun tujuan perorangan- Peran fasilitator (penampilan, gaya, penguasaan materi, metode, dll)- Peran peserta ( kesungguhan mengikuti lokakarya atau lokalatih, daya serap terhadap materi lokakarya atau lokalatih, sikap peserta mengenai keterbukaanm kerjasama, motivasi terhadap tugas yang diberikan, hubungannya dengan peserta lain)- Proses (pelaksanaan, kurikulum, jadwal, peralatan, partisipasi peserta, interaksi antara peserta dengan peserta lain dan fasilitator, kelancaran proses lokakarya atau lokalatih)- Penerapan materi di lapangan (umpan balik)
  • CONTOH FORMAT PROSES FASILITASI URUTAN PENYAJIAN WAKTU KETERANGAN : Metode/ alat bantuORIENTASI1. Perkenalan Ilustrasi/ fakta-fakta yang 5’ Slide 1,22. Sasaran melatarbelakangi masalah utama 5’PENGEMBANGAN MATERI1. Definisi Definisi, lingkup 30’ Slide 3,4,5,62. Bagaimana Cara kerja 30’APLIKASI1. Contoh Pembahasan kasus 60’ Lembar kasus2. Praktek Diskusi 30’KONFIRMASI Beri pertanyaan 10’ Tes kecilKONSOLIDASI Review kata kunci 10’ Slide 1,2Contoh-contoh Rancangan Modul Lokakarya atau LokalatihModul Media Lokakarya atau Lokalatih PartisipatifTujuanSetelah menyelesaikan modul ini peserta mampu untuk : • Menjelaskan dan menguraikan berbagai jenis dan tujuan penggunaan media lokakarya atau lokalatih. • Beberapa persyaratan dasar pemilihan dan penentuan media lokakarya atau lokalatih dalam lokakarya atau lokalatih partisipatif.Waktu yang dibutuhkan : 60 menitRingkasan MateriSalah satu alat bantu untuk mempermudah proses belajar untuk mencapai tujuan adalah “Media Lokakarya atau lokalatih”.Berbagai jenis media lokakarya atau lokalatih dapat dipergunakan dalam satu lokakarya atau lokalatih, baik yang bersifatvisual maupun audio atau bersigat audio visual. Namun demikian, dalam lokakarya atau lokalatih partisipatif, media lokakaryaatau lokalatih yang dipergunakan berbeda dengan media lokakarya atau lokalatih yang dipergunakan untuk lokakarya ataulokalatih konvensional (Paedagogis). Media lokakarya atau lokalatih yang tepat untuk lokakarya atau lokalatih partisipatifadalah media yang mampu merangsang dan mendorong timbulnya pemikiran kritis sebagai langkah untuk diskusi lebih jauh.Media lokakarya atau lokalatih partisipatif hendaknya tidak bersifat instruksional, namun mengikuti Siklus Belajar berdasarkanpengalaman.Metoda : • Curah Pendapat • Ceramah • Diskusi PlenoMateri / bahan yang dibutuhkan Bagi Fasilitator : • Media Visual (papan tulis, alat tulis, flipchart, gambar, poster dll), atau Bahan-bahan dalam bentuk trasparansiPengaturan tempatTempat duduk disusun dan diatur dalam bentuk “ U “Langkah – Langkah (proses)1. Lakukan kaji ulang Modul terutama tentang unsur-unsur pokok lokakarya atau lokalatih dengan menayangkan dan jelaskan secara singkat kaitkan dengan “Tujuan Modul”.2. Lakukan sumbang saran peserta dengan mengajukan pertanyaan : “Media lokakarya atau lokalatih apa saja yang telah dipergunakan dalam lokakarya atau lokalatih sekarang ini?”. Catatlah seluruh sumbang saran yang disampaikan peserta.3. Lakukan kategorisasi terhadap isi sumbang saran tentang media lokakarya atau lokalatih berdasarkan jenis – jenis media sebagai berikut : • Media Visual Dua Dimensi tidak transparan • Media Visual Dua Dimensi yang transparan • Media Visual Tiga Dimensi • Media Audio • Media Audio Visual4. Mintalah peserta untuk membentuk lima kelompok untuk mendiskusikan topik sebagai berikut : • “Kekuatan dan kelemahan dari lima jenis media tersebut diatas” • “Apa saja yang perlu diperhatikan dalam menentukan media lokakarya atau lokalatih dalam lokakarya atau lokalatih partisipatif”?.
  • 5. Mintalah masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya melalui “Bursa Informasi” secara bergiliran mendatangi “tempat masing-masing kelompok kerja”. 6. Mintalah satu orang peserta untuk memandu diskusi dan membuat rangkuman yang disepakati semua pihak berdasarkan hasil-hasil diskusi kelompok. 7. Lakukan penutupan modul ini dengan memberikan berbagai penegasan seperlunya dengan menayangkan Jenis – Jenis Media Lokakarya atau Lokalatih dan Persyaratan Media Lokakarya atau Lokalatih Partisipatif”. ” Ringkasan hasil yang diharapkan • Adanya berbagai contoh – contoh konkrit berbagai media lokakarya atau lokalatih yang telah dan sedang dipergunakan dalam lokakarya atau lokalatih selama ini. • Adanya penggolongan berbagai jenis media lokakarya atau lokalatih yang dapat dipergunakan dalam lokakarya atau lokalatih yang terdiri dari : Media Visual Dua Dimensi tidak transparan Media Visual Dua Dimensi yang transparan Media Visual Tiga Dimensi Media Audio Media Audio VisualModul Praktek Memfasilitasi Lokakarya atau Lokalatih PartisipatifTujuanSetelah menyelesaikan modul ini peserta mampu untuk :• Mempraktekkan berbagai ketrampilan memfasilitasi• Memperoleh umpan balik proses memfasilitasiWaktu yang dibutuhkan : - - menitRingkasan MateriPada hakekatnya, memfaslitasi lokakarya atau lokalatih merupakan sebuah perbuatan yang kompleks, yang memadukan sejumlahketrampilan untuk membantu dan mendorong terjadinya proses belajar secara mandiri. Keterpaduan berbagai ketrampila yang dilandasioleh seperangkat teori serta dipengaruhi seluruh komponen pembelajaran, yaitu tujuan yang ingin dicapai, fasilitas dan lingkungan belajar,pemanfaatan metoda dan media serta fasilitator itu sendiri dalam arti kualifikasi serta wawasan tentang diri dalam misinya sebagaifasilitator.Memfasilitasi lokakarya atau lokalatih adalah kegiatan yang mengandung secara serempak unsur-unsur teknologi, ilmu, seni dan nilai.Selain itu, ketrampilan memfasilitasi yang menterpadukan semua unsur-unsur diatas dapat dipilah-pilahkan menjadi berbagai macamketrampilan, antara lain mencakup ketrampilan mengajukan pertanyaan, memberikan penguatan / penegasan, mengadakan variasimemfasilitasi, membimbing diskusi, mengatur irama dan kondisi belajar, membimbing kelompok dan lain sebagainya. Ketrampilan –ketrampilan tersebut hanya dapat ditingkatkan melalui praktek.Metoda :Praktek (Micro Learning / Teaching)Materi / Bahan yang dibutuhkan :Sediakan berbagai Buku Panduan Lokakarya atau lokalatih sejumlah kelompok praktek.Pengaturan ruang kelas• Tempat duduk dan meja disusun dalam bentuk “U”• Sediakan tempat untuk diskusi kelompokLangkah – Langkah (proses)1. Berikan penjelasan singkat “Ringkasan Materi”. Modul ini dan Tujuan Modul ini. Kemudian mintalah peserta untuk membentuk “Team Praktek Memfasilitasi” dengan jumlah anggota 2 orang/ team.2. Mintalah masing-masing Team Praktek Memfasilitasi untuk mempersiapkan “Satu Sesi” untuk mempraktekkan memfasilitasi dalam bentuk Micro Teaching dari berbagai “Buku Panduan Lokakarya atau lokalatih” yang ada.3. Berikan waktu secukupnya ( 30 – 60 menit) bagi “Team Praktek Memfasilitasi” untuk memfasilitasi lokakarya atau lokalatih (Micro Teaching / Learning).4. Mintalah “Team Praktek Memfasilitasi “ lain untuk menjadi “Pengamat” untuk memberikan umpan balik. Misalkan, Team 1 sedang praktek memfasilitasi maka team lima menjadi observer atau pengamat. Berikan formulir pengamatan untuk dapat diisi oleh team pengamat.5. Lakukan diskusi dan berikan umpan balik seperlunya terhadap kinerja Team Praktek Memfasilitasi dengan menggunakan “formulir yang ada”.Ringkasan hasil yang diharapkan• Adanya berbagai umpan balik terhadap “Team Praktek Memfasilitasi” terhadap kelebihan dan kekurangan dalam memfasilitasi lokakarya atau lokalatih.• Adanya berbagai “Tip” yang dapat dimanfaatkan oleh peserta lokakarya atau lokalatih untuk meningkatkan ketrampilannya memfasilitasi lokakarya atau lokalatih.
  • Sumber :1. Panduan Pelaksanaan Lokakarya Operasionalisasi Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat, Sekretariat WASPOLA, 20062. Panduan Perencanaan Partisipatif, Participatory Health and Sanitation Appraisal, PCI Pandeglang, 20063. Panduan Fasilitator TFM - WSLIC2 Jawa Timur dan Sumatera Selatan, 2002 – 2003 Laboran Pelaksanaan Lokalatih MPA-PHAST di Bandung, Sekretariat WASPOLA, 20054. Hetifah Sj Sumarto, Inovasi, Partisipasi dan Good Governance, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2004.5. Panduan Mobilisasi Sosial Awal Sehat Untuk Hidup sehat, Departemen Kesehatan, Path, Usaid, 20036. Panduan Sanitasi Masyarakat, WSP-EAP-Borda, 20027. Rianingsih Djohani (Editor) Acuan Penerapan PRA - Berbuat Bersama Berperan Serta, 1996)8. Prabowo Adi Nugroho (penyunting), PRA - Memahami Desa Secara Patisipatif, Kanisius, Yogyakarta, 1996;9. Susan Dawson, Lenore Manderson, and Veronica L. Tallo, A Manual for the Use of Focus Group, INFDC, USA, 1993;10. Walter Fernandes dan Rejesh Tandon: Riset Partisipatoris Riset Pembebasan, Gramedia, Jakarta, 1993;11. Richard Krueger, Focus Groups: A Pratical Guide for Applied Research, Sage Publication, 1988;12. Nasution, MA, Dr, Prof, Metode Research, Jemmars, 1982;13. Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1982).
  • Final Draft 21 Juli 2006 Contoh : Alur Proses Kegiatan Lokalatih Keterampilan Dasar Fasilitasi, Denpasar 24-28 Juli 2006 Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator BahanHari Pertama, 24 Juli 200610.00 – 12.00 Check in12.00 – 13.00 Makan siang13.00 – 15.00 Pembukaan 1. Peserta mengerti Persiapan Bersama : Pokja AMPL • Rencana lay kondisi peserta ttg. 1. Sebelumnya persiapkan ruangan dengan disain berikut ini : WASPOLA out ruangan pemahaman . a. Lay out ruangan sebagai berikut : • Kain rekat, Kebijakan Nasional • Kertas dot Pengantar AMPL-BM • Kertas HVS lokakarya: 2. Suasana rileks dan ukuran - Pretest, informal. tercipta kuarto - Perkenalan, 3. Tujuan lokakarya • Metaplan - Identifikasi hara- dapat dimengerti • Spidol pan & tantangan peserta • Selotape - Alur lokakarya, 4. Agenda lokakarya • Kartu - Aturan main pe- disepakati oleh semua peserta. keluarga : laksanaan 5. Aturan main kucing, lokakarya pelaksa-naan ayam, lokakarya dise- bebek, pakati kambing, kuda, kodok, kelinci, dan sapi b. Bahan yang dipersiapkan adalah : a. Kain rekat untuk identifikasi harapan dan kekhawatiran, tulis : - Apa yang diharapkan dapat diperoleh peserta dalam lokalatih ini ?
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Peserta menulis dalam metaplan biru - Apa yang dikhawatirkan oleh peserrta dalam lokalatih ini ? Peserta menulis dalam metaplan merah b. Kain rekat untuk tata tertib, tulis : - Apa yang boleh dilakukan selama pelatihan ? Peserrta menulis dalam metaplan hijau - Apa yang tidak boleh dilakukan selama pelatihan ? Peserta menulis dalam metaplan kuning c. Kain rekat untuk menjelaskan alur lokakarya d. Kain rekat untuk mengisi pre test e. Sisa kain rekat dan selotif, letakkan di 3 tempat masing masing 2 kain rekat dan 1 gulung selotip besar, serta tempelkan tulisan : MARI KITA PASANG KAIN REKAT INI BERSAMA SAMA. f. Meja untuk menyimpan LCD dan Laptop serta layarnya. g. Meja untuk menyimpan metaplan bulat terkecil, serta selotif, serta buat tulisan : silahkan ambil 1, untuk menuliskan nama panggilan anda ! h. Meja untuk menyimpan tas dan agenda WASPOLA, serta buat tulisan : silahkan ambil 1, serta isi daftar tanda terima seminar kit. c. Letakkan juga sejumlah kursi yang belum disusun, disudut ruangan. Tempelkan juga tulisan : SILAHKAN AMBIL MASING MASING 1, LALU KITA SUSUN BERSAMA DIRUANGAN INI ! 2. Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia. 3. Kemudian berikan pengantar : SILAHKAN AMATI SELURUH RUAGAN INI, SERTA LAKUKAN SESUAI DENGAN PETUNJUK SECARA BERSAMA SAMA ! 4. Lakukan pengamatan, biarkan peserta bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri ! Berikan waktu sekitar 30 menit ! 5. Hentikan kegiatan, ketika set up ruangan sudah memadai untuk memulai acara lokalatih. 6. Lakukan pembahasan makna acara kreatif yang baru saja dilalui di awal lokakarya. 7. Hentikan kegiatan pembahasan, lakukan acara pengantar pembukaan lokakarya. Fasilitator utama : NA Co fasilitator : BP Notulen : Pretest
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 8. Penjelasan tentang pre-test dan pelaksanaan pre-test dengan metode penempelan dot pada kain rekat yg sudah disiapkan dalam matriks : ☺ Dasar Teknik Metoda Etika Media Penjajag Menyusun Menyusun dasar komunik & fasilitato fasilitasi an kerangka kurikulum fasilitasi asi Pendekat r kebutuh acuan fasilitasi an an fasilitasi Partisipa fasilitasi tori 9. Perkenalan, jelaskan model perkenalan yang akan dilakukan : a. Fasilitator memberikan pengantar tentang makna sebuah perkenalan. b. Jelaskan bahwa acara perkenalan akan dilakukan dengan cara berikut ini : • Setiap peserta akan mencari anggota keluarganya : anak, ibu, ayah, bibi, paman, kakek dan nenek • Keluarganya terdiri dari keluarga : kucing, ayam, bebek, kambing, kuda, kodok, kelinci, dan sapi • Untuk menemukan anggota keluarganya setiap peserta akan mendapatkan bekal berupa potongan kartu yang bertuliskan, misalnya : anak kucing, ibu ayam, ayah bebek, bibi kambing, paman kuda, kakek kodok, atau nenek sapi, dlsb. • Cara untuk mendapatkan atau mengumpulkan keluarganya adalah dengan cara : menirukan suaranya dan atau menirukan gerakannya. c. Berikan kesempatan peserta mengelompok secara alamiah sesuai dengan keluarganya masing masing. Berikan kesempatan kepada kelompok kelompok yang telah terbentuk tersebut untuk saling berkenalan. d. Hentikan kegiatan, berikan kepada wakil dari setiap kelompok yang terbentuk untuk memperkenalkan anggota kelompoknya, serta menceritakan proses bertemunya anggota keluaga di kelas pleno. e. Bahas secara bersama sama, apa makna dari perkenalan tersebut. Ajak peserta untuk menyampaikan ide lainnya untuk topik perkenalan, untuk pengkayaan wawasan dan menambah koleksi metoda perkenalan. f. Akhiri acara perkenalan ini dengan menyampaikan antara lain bahwa “mengenal orang lain tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat seperti sekarang ini, oleh karenanya selama lokakarya ini bapak/ibu dapat berproses mengenal lebih dekat” 10. Identifikasi harapan dan kekhawatiran selama lokakarya berlangsung: • Ajak kembali peserta untuk ke melingkar di ruangan tengah lokakarya • Bagikan kertas metaplan & spidol. Minta kepada mereka untuk kembali ke kelompok tadi. • Minta setiap peserta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran pada kertas
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan metaplan. • Diskuisikan dalam kelompoknya untuk memilih 2 terpenting menurut kesepakatan kelompok, dari harapan dan kekhawatiran tadi. Tempelkan di kain rekat. • Lakukan pengelompokan, lalu sepakati judul dari hasil setiap pengelompokkan tadi. Ingatkan kembali atas sisa hasil identifikasi harapan dan kekhawatiran yang belum ditempelkan. Minta kepada peserta untuk menempelkan pada kelompok yang paling relevan. Tanyakan kepada mereka apakah dengan penambahan ini sudah relevan dengan kesepakatan judul tadi. • Berdasarkan kesepakatan tadi, ingatkan, mana saja harapan yang dapat dipenuhi. Bahas pula tentang kekhawatiran. Ingatkan bahwa antara harapan dan kekhawatiran yang dibahas adalah dalam kerangka implementasi kebijakan nasional AMPL. NOTE: Kain rekat yang berisi harapan & kekhawatiran tetap berada di ruang kelas sampai akhir lokakarya, dengan maksud sebagai sarana evaluasi di akhir lokakarya 11. Presentasi alur lokakarya, agar semua fihak memahami apa saja yang akan dibahas selama lokakarya berlangsung. 12. Berdasarkan alur tersebut, bahas tentang aturan main pelaksanaan lokakarya, sampai semua fihak menyepakati aturan main lokakarya. Aturan main yang disepakati menyangkut : jadual dan tata tertib pelaksanaan lokakarya. Fasilitator utama : NA Fasilitator perkenalan : BP Fasilitator identifikasi harapan : NT Fasilitator alur lokakarya : NA Fasilitator tata tertib : AP Notulen : SYAF & NG15.00 – 15.30 Rehat kopi15.30 – 17.30 Diskusi pendalaman Pemahaman tentang 1. Fasilitator memberikan introduksi tentang tujuan sessi ini. Pokja AMPL • Kain rekat langkah langkah tahap tahap fasilitasi 2. Berikan pengantar, pergunakan one sheet power point yogyakarta. Berikan WASPOLA • Metaplan fasilitasi implementasi kebijakan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab. • Spidol operasionalisasi pembangunan AMPL 3. Fasilitator meminta peserta yang bersedia menjadi volunter menceritakan • Selotif kebijakan berbasis masyarakat pengalamannya dalam melaksanakan proses adopsi kebijakan • LCD dan pembangunan (diasumsikan bahwa 4. Minta peserta untuk membagi diri kedalam 3 kelompok, dengan cara meinghitung computer AMPL berbasis peserta sebelumnya 1,2,3 dst. • Roadmaping masyarakat telah memperoleh 5. Minta kepada setiap kelompok untuk menginventarisir : implementasi masukan tentang Apa yang telah dilakukan oleh daerah Apa yang masih dibutuhkan oleh daerah kebijakan prinsip-prinsip dan - - operasionalisasi - - kebijakan AMPL- 6. Ajak peserta untuk melakukan pengelompokkan pendapat peserta. Berbasis Masyarakat) 7. Bahas pengelompokkan peserta, untuk kemudian sekali lagi jelaskan kembali tentang roadmaping pelaksanaan kebijakan AMPL berbasis masyarakat. Lakukan diskusi dan tanya jawab. 8. Rangkum hasil proses disksusi bahwa : a. Kita telah mengetahui alur proses pelaksanaan kebijakan di daerah b. Hal kedua yang akan dilakukan adalah : bagaimana kita melakukan proses fasilitasi
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan agar hasil akhir pelaksanaan kebijakan dapat tercapai. Fasilitator utama : BP Fasilitator kelompok 1 : NT Fasilitator kelompok 2 : AP Fasilitator kelompok 3 : NG Notulen : SYAF17.30 – 19.30 Istirahat, makan malam19.30 – 21.00 Dasar dasar Peserta mengetahui 1. Fasitator memulai kegiatan dengan pooling pendapat dengan pertanyaan utama: Pokja AMPL • Kain rekat fasilitasi pengetahuan dan “Pengetahuan dan keterampilan apa saja yang diperlukan sebagai fasilitator” WASPOLA • Metaplan keterampilan seorang Pengetahuan dan keterampilan yang dimaksud tidak terbatas pada Implementasi • Spidol fasilitator Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat, tetapi dalam arti seluas-luasnya terutama yang • Selotif berkaitan dengan kondisi daerah, misalnya yang berkaitan dengan sumber daya, kondisi ekonomi, penyebab kemiskinan, konflik, musim, dan lain-lain. 2. Pertanyaan tersebut diajukan kepada peserta lokalatih dimana masing-masing peserta menuliskan jawabannya dalam kartu (satu jawaban satu kartu, bedakan warna kartu untuk laki-laki dan perempuan), fasilitator ( kita sebagai fasilitator ) juga dapat membantu menuliskan apa-apa yang mungkin terlupa oleh para peserta. Jawaban- jawaban tersebut kemudian ditempelkan secara keseluruhan di dinding/sticky cloth. 3. Sementara para peserta membuat jawaban, fasilitator menyiapkan matriks dengan kartu sebagai berikut: 1 Jawaban Yang Diketahui Fasilitator • Jawaban-jawaban hasil pooling • Idem • Idem • Idem 2. Jawaban Yang Telah Diketahui Peserta • Jawaban-jawaban hasil pooling • Idem • Idem • Idem 4. Jawaban dari peserta kemudian diletakkan pada kolom pertama atau kedua dengan cara menanyakan pada peserta dimana dari masing-masing jawaban seharusnya ditempatkan. (tentang apa yang diketahui fasilitator dan apa yang diketahui oleh peserta). 5. Setelah itu selesai kemudian kelompokkan kembali jawaban-jawaban tersebut ke dalam apa-apa yang tidak diketahui fasilitator (biasanya seperti kondisi lokal masyarakat, perilaku, kebiasaan, adat istiadat, kedekatan dan lain-lain), dan apa yang tidak diketahui peserta 6. Ketika semua jawaban (kartu) telah dimasukkan ke dalam matriks, tanyakan pada peserta untuk mengemukakan kesimpulan dari apa yang mereka lihat. Rangkum pelajaran yang didapat pada akhir materi : Partisipan menyadari bahwa baik peserta maupun fasilitator tidak mengetahui semuanya. Lokalatih ini berarti untuk mengeluarkan pengetahuan lokal seorang partisipan dan menambah pengetahuan tersebut dengan pengetahuan dari luar yang diberikan oleh fasilitator, demikian juga
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan dengan fasilitator, untuk menciptakan kapasitas fasilitasi terbaik yang memungkinkan untuk Implementasi Kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat. 7. Dari matriks tersebut pada akhirnya diharapkan akan terlihat adanya gabungan pengetahuan antara fasilitator dan peserta. Hasil yang diharapkan • Dari ice breaker: tidak terjadi lagi kekakuan dalam pelaksanaan lokalatih selanjutnya. • Dari exercise: Peserta memahami bahwa mereka adalah sumber daya yang juga berperan dalam melakukan fasilitasi aktif serta memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai modal untuk menjadi fasilitator yang baik. Catatan : Setiap hari dilakukan evaluasi dengan menggunakan Pocket Voting dengan pertanyaan : Topik bahasan apa yang paling menarik ? Bagaimana situasi kelas hari ini ? Bagaimana peningkatan pengetahuan hari ini? Bagaimana peran serta peserta hari ini? Bagaimana fasilitator membangun dinamika hari ini? Sehingga dapat dibahas sebagai bahan review harian esok harinya Fasilitator utama : NA Co Fasilitator : BP Notulen : AP & NG21.00 – 06.00 IstirahatHari Kedua, 25 Juli 200606.00 – 08.00 Persiapan diri, makan pagi08.00 – 08.15 Review hari Pemahaman tentang Review : Pokja AMPL • Kain rekat pertama pokok pokok hasil 1. Introduksi tentang review pokok pokok hasil lokakarya hari pertama. WASPOLA • Metaplan lokakarya hari 1 2. Sampaikan hasil evaluasi harian hari pertama • Spidol 3. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok • Selotif hasil lokakarya hari 1, minta peserta lainnya untuk menambahkan 4. Fasilitator merangkum pendapat peserta, menambahkan hal hal yang masih perlu, seraya menjelaskan rencana sesi hari kedua Fasilitator utama : AP Co Fasilitator : BP Notulen : NG08.15 – 09.15 Pengarahan Pokja Pemahaman tentang 1. Pengarahan Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas atau yang mewakili Direktur Bahan AMPL Pusat arah yang ingin dicapai 2. Dialog dan tanya jawab Perumahan Pengarahan lokalatih keterampilan dan ter- sedia dlm dasar fasilitasi Permukiman format power Bappenas point08.15 – 10.00 Dasar dasar Peserta dapat 1. Fasilitator memberikan introduksi tentang tujuan sessi ini : mengajak peserta untuk Pokja AMPL • Kain rekat fasilitasi membandingkan memahami dasar dasar fasilitasi. WASPOLA • Metaplan beberapa bentuk 2. Fasilitator meminta peserta mengutarakan pendapatnya tentang fasilitasi dalam • Spidol fasilitasi melaksanakan proses pelaksanaan kebijakan di daerah. Catat pendapat peserta di • Selotif metaplan, dan tempelkan di kain rekat. Ajak peserta untuk menyepakati apa • Kuisener K1
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan sebenarnya yang dimaksud dengan fasilitasi. Dan jelaskan kenapa kita memilih dan K2 pendekatan ini untuk pelaksanaan kebijakan di daerah. Ceritakan bahwa kebijakan • Foto kondisi yang sudah tersusun dan menjadi buku tersebut, proses penyusunannya melalui berkali AMPL kali lokakarya partisipatif, di daerah maupun di pusat. • Kertas HVS 3. Untuk itu, minta peserta untuk membagi diri kedalam 3 kelompok, dimana masing masing kelompok akan melakukan kegiatan yang berbeda untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda : Kelompok 1 : Pilihan kegiatan yang dilakukan : mengisi kuisener a. Fasilitator memberikan pengantar tentang kuisener yang akan disi oleh peserta. KUESIONER (K1) Evaluasi Kinerja Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (Penelitian ini dilakukan untuk menilai secara objektif kebijakan dan penerapannya. Untuk itu responden diminta menjawab secara jujur berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya) Tanggapan responden terhadap logika kebijakan dan peluang penerapannya Keterangan: 1=Tidak bisa, 2=Kurang, 3=Bisa, 4=Sangat bisa Kebijakan Umum Secara logika Dapat (dicuplik dari dokumen No dapat diterapkan Kebijakan Nasional AMPL diterima di daerah Berbasis Masyarakat) 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Air Merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi 2 Pilihan yang Diinformasikan Sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan 3 Pembangunan Berwawasan Lingkungan 4 Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 5 Keberpihakan pada Masyarakat Miskin 6 Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan 7 Akuntabilitas Proses Pembangunan 8 Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 9 Peran Aktif Masyarakat 10 Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran 11 Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya Catatan (apabila ada sesuatu yang penting tentang hal di atas, baik komentar, saran, dll)………………………………………..………………….…………………….…… ………………………………………………………………….………………..…… …………………………………..……………………………………………………… … KUESIONER (K-2) Evaluasi Kinerja Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Daerah (Penelitian ini dilakukan untuk menilai secara objektif kinerja implementasi kebijakan Untuk itu responden diminta menjawab secara jujur berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya) Tanggapan responden terhadap kinerja implementasi di daerah sebelum dan sesudah mendapat fasilitasi dari Proyek WASPOLA Keterangan: Beri nilai 1 sampai dengan 4. 1 untuk nilai terendah/terburuk, dan 4 untuk nilai tertinggi/terbaik SEBELUM SESUDAH No ITEM FASILITASI FASILITASI 1 2 3 4 1 2 3 4 1 KELEMBAGAAN 1.1 Koordinasi pembangunan AMPL antar dinas 1.2 Pengetahuan dan pemahaman terhadap pendekatan pembangunan partisipatif khususnya dalam bidang AMPL. 1.3 Prioritas pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat 1.4 Pelibatan stakeholder di luar pemerintah dalam pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat 2 PEMBIAYAAN 2.1 Alokasi anggaran daerah pembangunan fisik AMPL berbasis partsipasi masyarakat 2.2 Alokasi anggaran daerah untuk mendukung kegiatan pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya untuk pelatihan, monitoring dan evaluasi kegiatan
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 3 REGULASI 3.1 Produk peraturan yang mendukung pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya PERDA, SK BUPATI, dll. 3.2 Produk perencanaan yang mendukung pembangunan AMPL berbasis partisipasi masyarakat. Misalnya RENSTRA, RPJM, dll. Catatan (apabila ada sesuatu yang penting tentang hal di atas, baik komentar, saran, dll) …………………. ………………………………………………………………….……… .………………………………………..…………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… b. Bagikan kuisener tersebut, minta peserta mengisi kuisener tersebut. c. Hentikan kegiatan pengisian kuisener, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ? d. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya. Kelompok 2 : Pilihan kegiatan yang dilakukan : melaksanakan FGD a. Fasilitator menjelaskan tentang topik FGD yang akan dilakukan : Air Sebagai Benda Ekonomi dan Benda Sosial. b. Sepakati bersama, siapa diantara peserta yang akan menjadi : • Pemimpin diskusi • Notulen c. Berikan kesempatan kepada kelompok untuk melakukan FGD. d. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan FGD, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ? e. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Kelompok 3 : Pilihan kegiatan yang dilakukan : melaksanakan fasilitasi Bahasa Foto, dalam rangka identifikasi isu AMPL daerah a. Fasilitator menjelaskan tentang kegiatan diskusi dalam rangka identifikasi isu AMPL daerah, minta peserta untuk duduk melingkar didepan salah satu kain rekat yang telah tertempel di dinding b. Sebar dan perlihatkan foto foto yang telah dipersiapkan dilantai. c. Minta kepada setiap peserta untuk memilih satu foto. d. Setelah memilih, minta setiap peserta untuk memperlihatkan foto pilihannya, serta menjelaskan alasannya kenapa memilih foto tersebut. e. Berikan kesempatan kepada kelompok untuk berdiskusi, guna memilih 3 foto yang menggambarkan kondisi AMPL saat ini. Lalu tempelkan di kain rekat. f. Ajak kelompok untuk mendiskusikan : dengan melihat foto kondisi AMPL SAAT INI tersebut, SIAPA dan MELAKUKAN APA yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. g. Hentikan, lalu minta peserta untuk memilih 3 foto yang menggambarkan KONDISI IDEAL yang diharapkan. Kalau tidak ada fotonya, peserta dapat membuat gambar sendiri. h. Ajak kelompok untuk mendiskusikan : dengan melihat KONDISI IDEAL yang diharapkan, SIAPA dan MELAKUKAN APA yang memungkinkan kondisi tersebut terjadi. i. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan diskusi partisipatif, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ? j. Tunjuk juru bicara yang akan menjelaskan kepada kelompok lain yang akan beranjang sana ke kelompoknya. 4. Hentikan kegiatan di tiga kelompok, secara bergiliran ajak peserta untuk beranjang sana ke kelompok lainnya. Berikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk diskusi dan tanya jawab secukupnya. 5. Bahas makna ketiga kegiatan dengan menggunakan matriks dengan menggunakan metaplan : Nama kegiatan Kelebihan Kekurangan Kapan Caranya digunakan bagaimana Untuk mengisi matriks tersebut, peserta dapat mengambil hasil diskusi kelompok, dan menyempurnakannya secara bersama sama 6. Berdasarkan pembahasan tersebut, ingatkan kepada semua peserta bahwa dengan
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan fasilitasi secara partisipatif, maka semua yang hadir dalam sebuah lokakarya atau pertemuan apapun dalam kerangka implementasi kebijakan, adalah narasumber, sehingga semua harus saling berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dengan sesama yang hadir dalam pertemuan tersebut. Catatan : Peserta dapat membaca ringkasan bahan bacaan dalam bentuk power point. Fasilitator utama : NA Fasilitator kelompok 1: BP Fasilitator kelompok 2 : NT Fasilitator kelompok 3 : AP Notulen : SYAF & NG10.00 – 10.15 Rehat kopi10.15 – 12.15 Metoda & Peserta mengetahui 1. Fasilitator menjelaskan bahwa setelah memahami dasar fasilitasi, langkah selanjutnya Pokja AMPL • Kain rekat pendekatan berbagai jenis yang harus difahami adalah : pendekatan partisipatori untuk pelaksanaan Program WASPOLA • Metaplan partisipatori pendekatan AMPL berbasis masyarakat. • Spidol partisipatori 2. Jelaskan secara partisipatif disertai contoh contoh yang kongkrit, tentang pendekatan • Selotif pendekatan partisipatori, yang antara lain terdiri dari : a. Social Assessment b. Analisis stake holder c. Participatory Rural Appraisal d. Participatory Monitoring & Evaluation e. Beneficiary Assessment f. SARAR -> PHAST -> MPA g. Video Conference h. Internet/Website Berikan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab secukupnya. Catatan : Sebelumnya fasilitator menuliskan di kertas metaplan jenis jenis pendekatan, berikut contoh contoh dari setiap jenis pendekatan partisipatori tersebut. Sehingga penjelasan menggunakan metaplan dan kain rekat, sekaligus sebagai contoh lain dalam presentasi dan tanya jawab. 3. Berikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab dalam rangka mengeksplorasi setiap pendekatan partisipatori tersebut. 4. Karena WASPOLA bermain dalam ranah kebijakan, jelaskan secara lebih rinci : Analisis stake holder. Berikan kesempatan untuk tanya jawab. 5. Berdasarkan pembahasan tersebut, jelaskan bahwa partisipatori adalah kata kunci untuk peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat, yang mempunyai sasaran keberlanjutan, dimana intinya adalah penggunaan efektif. Fasilitator utama : RI Co Fasilitator : BP Notulen : AP & NG12.15 – 13.30 Istirahat, makan siang13.30 – 15.30 Metoda & Peserta mengetahui 1. Fasilitator mengingatkan tentang pendekatan partisipatori yang telah dibahas pada pagi Pokja AMPL • Kain rekat pendekatan berbagai metoda yang tadi. Sekarang, ajak peserta untuk mengkaji masalah metoda penyampaiannya. WASPOLA • Metaplan
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan partisipatori dapat dipakai dalam 2. Ajak peserta untuk melakukan kegiatan sebagai salah satu bentuk metoda : • Spidol fasilitasi a. Berikan penjelasan tentang kemungkinan penggunaan metoda untuk kegiatan • Selotif perorangan : lembar perkenalan • Format b. Bagikan lembar perkenalan : perkenalan No. Hobby/kebiasaan Nama Daerah Paraf • Manila 1. Berenang karton 2. Membaca 3. Menonton film 4. Mendengarkan musik 5. Berkebun 6. Memelihara ikan hias 7. Memasak nasi goreng 8. Lari pagi 9. Main basket 10. Traveling 11. Menulis 12. Memainkan gitar c. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ? • Caranya bagaimana ? 3. Ajak peserta untuk melakukan kegiatan Fish Bowl Discusion sebagai salah satu bentuk metoda lainnya: a. Siapkan kursi secara melingkar ditengah ruangan, usahakan ada kursi untuk setiap perwakilan tiap propinsi untuk mendiskusikan tentang perbedaan antara demand dan need dalam diskusi sebagai peserta tetap sampai akhir diskusi. b. Serta disiapkan 1 kursi panas untuk peserta dari luar lingkaran agar dapat memberikan pendapat atau berkomentar untuk membantu menemukan kesepakatan bersama. Waktu yang disediakan untuk kursi panas sangat terbatas, untuk memberikan kesempatan peserta lain terlibat dan berpendapat. Sisa peserta lainnya sebagai pengamat. c. Hentikan kegiatan, apabila diskusi dinilai telah mencukupi mendapatkan masukan tentang demand dan need. d. Lakukan pembahasan bersama untuk memahami tentang demand dan need. 4. Setelah dirasa cukup, hentikan kegiatan, dan bahas makna dari pengalaman kegiatan tersebut : • Apa yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut ? • Apa kelebihannya ? • Apa kekurangannya ? • Sebaiknya kapan digunakan ?
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan •Caranya bagaimana ? 5. Bahas makna ketiga kegiatan dengan menggunakan matriks dengan menggunakan metaplan : Kapan Caranya Nama kegiatan Kelebihan Kekurangan digunakan bagaimana 6. Ajak peserta untuk menambahkan metoda apa lagi biasa digunakan dalam sebuah lokakarya dan atau lokalatih, apabila cukup waktu, lakukan uji coba pelaksanaan metoda tersebut. Bahas dengan menggunakan format diatas. 7. Diskusikan juga mengenai efektifitas pemanfaatan berbagai metoda dalam sebuah lokakarya. 8. Ingatkan juga bahwa pemilihan metoda juga berkaitan dengan ketersediaan sumber daya lokakarya, dan atau lokalatih yang diselenggarakan 9. Tutup dengan rangkuman : yang terpenting adalah menemukan metoda yang paling pas sesuai dengan ketersediaan sumber daya kita untuk menyampaikan sebuah topik tertentu. Fasilitator utama : NT Co Fasilitator : NA Notulen : SYAF & BP15.00 – 15.30 Rehat kopi15.30 – 17.30 Etika fasilitator Peserta mengetahui 1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya memahami etika seorang fasilitator. Pokja AMPL • Kain rekat etika fasilitator, mana 2. Bagi peserta kedalam 3 kelompok, untuk membahas tentang : apa yang boleh WASPOLA • Metaplan yang boleh dan tidak ditampilkan/dilakukan dan tidak boleh ditampilkan/dilakukan oleh seorang • Spidol boleh dilakukan oleh fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi. • Selotif seorang fasilitator 3. Kegiatan diskusi kelompok : a. Fasilitator menugaskan pada peserta untuk menulis apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi b. Apa yang boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, pada metaplan warna hijau c. Apa tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, pada metaplan warna merah d. Tempelkan di kain rekat masing masing kelompok e. Lakukan diskusi kelompok, minta kepada masing masing peserta untuk menyepakati dan memilih masing masing 5 metaplan apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator dalam sebuah kegiatan fasilitasi 4. Ajak semua peserta untuk menempelkan pilihan 5 metaplan apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator di kain rekat yang baru. 5. Ajak peserta untuk mengelompokkan metaplan merah dan hijau secara terpisah dari 5 metaplan pilihan dan kesepakatan kelompok tersebut. Setelah mengelompok, ajak peserta untuk memberi judul pada hasil pengelompokkan tersebut. 6. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan paling relevan. 7. Ingatkan peserta tentang apa yang boleh ditampilkan dan tidak boleh ditampilkan oleh seorang fasilitator, arahkan pembahasan tentang Etika Fasilitator yang ditekankan sesuai dengan hasil kesepakatan kita dalam lokalatih ini Fasilitator utama : NA Fasilitator kelompok 1: AP Fasilitator kelompok 2 : NT Fasilitator kelompok 3 : SYAF Notulen : BP & NG17.30 – 19.30 Istirahat, makan malam
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan19.30 - 21.30 Teknik komunikasi Peserta mengetahui 1. Fasilitator menjelaskan tentang hal lain yang perlu dikuasai oleh fasilitator : komunikasi Pokja AMPL • Permainan jenis jenis komunikasi 2. Jelaskan kepada peserta tentang permainan yang akan dilakukan : Broken T WASPOLA Broken T dan keterampilan teknis • Kertas komunikasi manila karton, ½ halaman • Kain rekat • Metaplan • Spidol • Selotif 3. Jelaskan aturan main pelaksanaan permainan Broken T : a. Bagi peserta kedalam kelompok yang terdiri dari 3 orang; minta seoang menjadi • Gambar komunikator, 2 orang menjadi komunikan mendengar, b. Atur tempat duduk seperti : bertanya dan fasilitator - Komunikator duduk di lantai dibelakang sandaran kursi - Komunikan duduk berdua di lantai di depan tempat duduk kursi - Diatas tempat duduk kursi tersebut, ditutup dengan kertas ukuran setengah plano, dengan sasaran agar komunikator tidak dapat melihat komunikator bekerja atas dasar perintah komunikator k u r s i c. Permainan dilakukan dalam tiga tahap : i. Tahap pertama, komunikator hanya memberikan instruksi, komunikator tidak dapat bertanya, dan langsung harus mengerjakan tugasnya ii. Tahap kedua, komunikator boleh menjawab pertanyaan komunikan secukupnya, lalu komunikan harus langsung mengerjakan tugasnya iii. Tahap ketiga, komunikator dan komunikan dapat berdialog, agar tugas yang harus dikerjakan dapat diselesaikan dengan sempurna d. Tugas yang harus diselesaikan komunikan adalah : menyusun Broken T e. Dengan aturan main tersebut, peserta melakukan permainan Broken T selama tiga babak, sesuai dengan instruksi fasilitator. 4. Lakukan pembahasan dengan menggunakan matriks berikut: Jenis Kelebihan Kekurangan Kapan digunakan Caranya bagaimana komunikasi 5. Bahas dengan peserta bahwa komunikasi dialogislah yang paling cocok dalam pendekatan partisipatori, untuk pelaksanaan fasilitasi pelaksanaan kebijakan ini. 6. Lanjutkan pembahasan, agar pendapat peserta dalam sebuah kegiatan lokakarya keluar – semua peserta aktif, ada dua hal yang harus diperhatikan : Teknik Mendengar dan Teknik bertanya 7. Simpulkan pembahasan komunikasi dengan 3 gambar berikut ini : Fasilitator utama : NT Co Fasilitator : BP Notulen : SYAF & NG
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan21.30 – 06.00 IstirahatHari Ketiga, 26 Juli 200606.00 – 08.00 Persiapan diri, makan pagi08.00 – 08.15 Review hari kedua Pemahaman tentang Review : Pokja AMPL • Kain rekat pokok pokok hasil 1. Introduksi tentang review pokok pokok hasil lokakarya hari kedua WASPOLA • Metaplan lokakarya hari 2 2. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok • Spidol hasil lokakarya hari 2 • Selotif 3. Minta peserta lainnya untuk menambahkan 4. Fasilitator merangkum pendapat peserta, menambahkan hal hal yang masih perlu, seraya menjelaskan rencana sesi hari ketiga Fasilitator : BP Notulen : SYAF08.15 – 10.00 Media fasilitasi Pemahaman tentang 1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya media fasilitasi. Pokja AMPL • Kain rekat media yang biasa 2. Bagi peserta kedalam tiga kelompok, minta kepada setiap kelompok untuk WASPOLA • Metaplan dimanfaatkan dalam menginventarisir sebanyak mungkin media yang diketahui dan atau pernah • Spidol proses fasilitasi dimanfaatkan dalam proses fasilitasi. • Selotif 3. Minta setiap kelompok untuk mengambil 10 jenis media yang diketahui dan atau pernah dimanfaatkan dalam proses fasilitasi. Tempelkan dikain rekat baru. 4. Ajak peserta untuk mengelompokkan media yang diketahui dan atau pernah dimanfaatkan dalam proses fasilitasi. Beri judul dari pengelompokkan tersebut. 5. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap paling relevan. 6. Berikan contoh peserta tentang pengelolaan kain rekat dan metaplan, lengkap kenapa perlu berwarna, serta kenapa ada beberapa bentuk metaplan. ( Sebelumnya persiapkan terlebih dahulu di kain rekat yang berbeda ). 7. Ingatkan peserta tentang pemilihan media harus disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan kesesuaian topik. Fasilitator utama : NA Fasilitator kelompok 1: NT Fasilitator kelompok 2 : BP Fasilitator kelompok 3 : AP Notulen : SYAF & NG10.00 – 10.15 Rehat kopi10.15 – 12.15 Penjajagan Pemahaman tentang 1. Fasilitator menjelaskan tentang pentingnya penjajagan kebutuhan fasilitasi. Pokja AMPL • Bola karet kebutuhan fasilitasi pentingnya penjajagan 2. Bagi peserta kedalam tiga kelompok, untuk kemudian diajak bermain lempar bola WASPOLA • Kain rekat kebutuhan fasilitasi karet. • Metaplan 3. Jelaskan aturan mainnya : • Amplop a. Peserta berdiri dalam keadaan berbaris dari depan ke belakang besar b. Peserta diminta untuk melemparkan bola melalui selangkangannya dari depan ke • Kertas belakang, lurus, tidak boleh kena kaki orang lain. Kalau terkena kaki orang lain flipchart harus diulangi, sampai bola tersebut benar benar sampai di orang yang paling • Spidol belakang. • Selotif c. Minta kepada setiap orang untuk menuliskan : apa yang paling dibutuhkan dalam • Format
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan pelatihan dalam kerangka peningkatan kapasitas untuk pelaksanaan kebijakan penjajagan didaerah. kebutuhan d. Setelah itu, metaplan dimasukkan kedalam amplop besar yang telah disediakan sebelumnya e. Peserta yang telah memasukkan metaplan tadi, kemudian melemparkan bola seperti tadi, sampai bola benar benar sampai tepat di orang paling belakang f. Kegiatan diteruskan, sampai setiap orang mendapatkan kesempatan untuk melempar bola dan menuliskan kebutuhannya dalam metaplan 4. Berdasarkan aturan main tersebut, minta setiap kelompok untuk memainkan lempar bola karet. 5. Setelah selesai, ajak peserta berdiri melingkar, ajak peserta untuk mengungkapkan makna dari lempar bola : a. Pentingnya untuk melihat langsung, makna dari bola sampai di ujung peserta paling belakang b. Pentingnya untuk tetap ingat pada tujuan, makna lain dari bola tidak boleh terkena dikaki peserta yang bukan terletak diujung c. Voice dan choice, makna menulis dan memasukkan metaplan kedalam amplop, setiap orang yang hadir memiliki hak yang sama d. Dlsb 6. Kembalikan kedalam kelompok, buka amplop, dan minta peserta untuk menempelkan metaplan tersebut di kain rekat kelompoknya. Lakukan pengelompokkan. 7. Minta setiap kelompok untuk mengambil 10 jenis kebutuhan : pelatihan dalam kerangka peningkatan kapasitas untuk pelaksanaan kebijakan didaerah. Tempelkan dikain rekat baru. 8. Ajak peserta untuk mengelompokkan keebutuhan tersebut. Beri judul dari pengelompokkan tersebut. 9. Kemudian ingatkan kepada peserta pada sisa metaplan yang ada di kelompoknya masing masing, silahkan bawa, dan tempelkan pada hasil pengelompokkan tadi, yang dianggap paling relevan. 10. Jelaskan bahwa pada dasarnya ada tiga pengelompokkan kebutuhan pelatihan dan atau lokakarya, atau lokalatih : g. Aspek sikap h. Aspek pengetahuan i. Aspek keterampilan 11. Setelah itu, jelaskan pula format penjajagan kebutuhan untuk ketiga aspek tersebut : Mengapa anda membutuhkan suatu pelatihan untuk lembaga/institusi anda? (Pilih jawaban yang tepat) Adanya kebutuhan untuk Adanya kebutuhan untuk memperoleh ketrampilan baru menyiapkan tenaga untuk tugas atau posisi baru
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Adanya kebutuhan untuk Adanya kebutuhan untuk mempersiapkan tenaga untuk perubahan sikap menyelesaikan masalah yang dihadapi, mempelajari bagaimana meningkatkan performance yang Adanya kebutuhan untuk lebih baik, dan peningkatan hasil memperoleh informasi atau dari upaya yang dilakukan. pengetahuan baru Contoh: 1. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN KETERAMPILAN 1. Apa peran dan tugas yang akan dilakukan? 2. Apa keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan peran dan tugas ini? 3. Keterampilan apa yang dapat mereka tunjukan sekarang? 4. Keterampilan-keterampilan apa yang masih perlu untuk ditingkatkan? 5. Berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh di atas, rumuskan tujuan anda sendiri untuk pelatihan ini? 2. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN PENGEMBANGAN SIKAP 1. Mengapa anda berkeinginan untuk merubah sikap kelompok atau institusi anda? 2. Uraikan sikap-sikap kelompok atau institusi anda? 3. Sikap-sikap apa yang anda inginkan dapat diperoleh?
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 4. Perubahan sikap apa yang diharapkan terjadi? 5. Berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh di atas, sebutkan tujuan pribadi anda untuk pelatihan ini? 3. NEED ASSESSMENT UNTUK SALING TUKAR INFORMASI DAN PENGETAHUAN 1. Pengetahuan apa yang anda harapkan untuk disampaikan agar dapat menjadi pelajaran untuk kelompok/institusi? 2. Mengapa anda menginginkan mereka agar mereka belajar tentang pengetahuan seperti yang disebutkan di atas? 3. Apa yang telah mereka ketahui tentang pengetahuan yang disebutkan di atas? 4. Informasi atau pengetahuan lainnya yang dibutuhkan selain yang telah disebutkan di atas ? 5. Berdasarkan assesmen yang telah dilakukan di atas, rumuskan tujuan pelatihan ini menurut anda? 4. NEED ASSESSMENT UNTUK PELATIHAN PERAN DAN TUGAS BARU DALAM PEKERJAAN
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan APA PERAN DAN PENGETHAUAN, DARI YANG YANG MANA TUGAS YANG KETRAMPILAN DAN TELAH YANG BELUM HARUS SIKAP APA YANG TERCANTUM MEREKA MILIKI DILAKSANAKAN? DIPERLUKAN AGAR YANG MANA PERAN DAN TUGAS YANG TELAH DAPAT BERJALAN? MEREKA MILIKI? Pengetahu an Ketrampilan Sikap Berdasarkan assessment ini, rumuskan tujuan pelatihan ini: 5. NEED ASSESSMENT UNTUK PERTUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN KELOMPOK 1. Lakukan identifikasi kelompok/institusi anda pada tingkat apa pada saat ini dalam hubungannya dengan fungsi dn tugas, hubungan antar manusia. Dengan menggunakan model pertumbuhan dan perkembangan kelompok. 2. Berikan indikasi kelompok/institusi anda pada tingkat mana berdasarkan identifikasi yang anda lakukan FUNGSI DAN TUGAS: HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 1. Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap apa yang menurut anda dibutuhkan untuk meningkatkan pada tingkat pertumbuhan yang diharapkan? PENGETAHUAN KETRAMPILAN SIKAP 2. Berdasarkan assessmen di atas, rumuskan tujuan pelatihan ini Fasilitator utama : DJOKO WARTOMO DEPKES Fasilitator kelompok 1: NA Fasilitator kelompok 2 : NT Fasilitator kelompok 3 : BP Notulen : AP & NG12.15 – 13.30 Istirahat, makan siang13.30 – 15.30 Menyusun Peserta mengetahui 1. Fasilitator memberikan penjelasan mengenai tujuan yang ingin dicapai dalam menyusun Pokja AMPL • Kain rekat kerangka acuan tata cara menyusun kerangka acuan fasilitasi WASPOLA • Metaplan fasilitasi kerangka acuan 2. Fasilitator menugaskan pada masing-masing peserta untuk : • Spidol a. Minta kepada peserta untuk mempersiapkan alat tulisnya. • Selotif b. Jelaskan bahwa setiap peserta diminta untuk menulis sebuah cerita yang • Kertas HVS menggambarkan tentang upaya yang ingin dilakukan untuk mencapai kondisi AMPL yang ideal c. Minta kepada 1-2 relawan untuk membacakan ceritanya. Kemudian bahas, dan arahkan pada pentingnya menyusun Kerangka Acuan Fasilitasi. 3. Fasilitator menjelaskan mengenai sistematika penulisan Kerangka Acuan Fasilitasi : a. Latar belakang b. Tujuan c. Materi
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan d. Strategi pelaksanaan e. Peserta f. Lokasi, waktu dan tempat g. Biaya h. Bagan alir i. Jadual 4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang dianggap kurang dimengerti 5. Berdasarkan uraian tersebut diatas, berikan kesempatan kepada peserta untuk menulis draft kerangka acuan pertemuan untuk menemukan isu pembangunan AMPL daerah 6. Fasilitator memberikan penegasan mengenai pokok-pokok materi dan dihubungkan dengan materi sebelumnya Fasilitator utama : NT Co Fasilitator : BP Notulen : SYAF15.00 – 15.30 Rehat kopi15.30 – Menyusun Peserta mengetahui 1. Fasilitator memberikan penjelasan mengenai : tujuan sessi menyusun kurikulum Pokja AMPL • Kain rekat17..30 kurikulum kegiatan tata cara kurikulum kegiatan fasilitasi WASPOLA • Metaplan fasilitasi fasilitasi 2. Tugas kelompok : • Spidol a. Minta 6 orang sukarelawan untuk tampil kedepan untuk memainkan : Memasukan • Selotif gantungan paku kedalam botol. • Kertas HVS b. Ajak peserta lainnya untuk mengamati jalannya permainan ini. c. Bahas makna permainan ini kearah : tujuan, penggunaan alat, cara, dlsb. Arahkan pembicaraan kepada penyusunan kurikulum, yang ada kaitannya dengan masalah masalah tersebut diatas. 3. Fasilitator menjelaskan kepada peserta mengenai kurikulum dengan menggunakan tabel berikut ini : Pokok bahasan Tujuan Proses Media/alat Fasilitator Waktu 4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang dianggap kurang dimengerti 5. Fasilitator membagi peserta menjadi 5 kelompok untuk mengerjakan tugas secara berkelompok. Adapun tugasnya: Sesuai dengan format tersebut diatas, minta peserta secara berkelompok untuk menyusun kurikulum pertemuan untuk menemukan isu pembangunan AMPL daerah 6. Fasilitator memberikan penegasan mengenai intisari menyusun kurikulum Fasilitator utama : NA Co Fasilitator : BP Notulen : NG17.30 – 19.30 Istirahat, makan malam
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan19.30 - 21.30 Acara kreatifitas Peserta menampilkan 1. Peserta per kelompok diminta untuk menyiapkan kegiatan kreatif yang akan Pokja AMPL • Kain rekat kelompok kreatifitas kelompok dibawakan selama 5 menit yang menampilkan salah satu isu AMPL dengan WASPOLA • Metaplan mengenai isu AMPL menggunakan meoda dan atau media fasilitasi • Spidol dengan menggunakan 2. Acara Kreatifitas Kelompok dipertunjukkan selama 5 menit setiap kelompok • Selotif berbagai metoda dan 3. Pemberian hadiah untuk kelompok paling kreatif • Gift untuk atau media fasilitasi Pembawa acara : BP hadiah Juri : Tim WASPOLA dan Pokja AMPL Catatan : Sebagai persiapan jelaskan sejak Alur Pelaksanaan Lokakarya, sehingga pada saat acara kreatif ini betul betul akan mengekspresikan isu, metoda dan media yang dipilih. Acara dapat dilanjutkan dengan kegiatan hiburan lainnya.21.30 – 06.00 IstirahatHari Keempat, 27 Juli 200606.00 – 08.00 Persiapan diri, makan pagi08.00 – 08.15 Review hari ketiga Pemahaman tentang Review : Pokja AMPL • Kain rekat pokok pokok hasil 1. Introduksi tentang review pokok pokok hasil lokakarya hari kedua WASPOLA • Metaplan lokakarya hari 3 2. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok • Spidol hasil lokakarya hari 3 • Selotif 3. Minta peserta lainnya untuk menambahkan 4. Fasilitator merangkum pendapat peserta, menambahkan hal hal yang masih perlu, seraya menjelaskan rencana sesi hari keempat Fasilitator : NT Notulen : SYAF08.15 – 17.00 Persiapan simulasi Peserta mengetahui 1. Fasilitator menjelaskan hal hal yang perlu dipersiapkan untuk persiapan simulasi. Pokja AMPL • Kain rekat fasilitasi tata cara 2. Fasilitator menjelaskan beberapa aspek yang akan dilakukan dalam simulasi fasilitasi : WASPOLA • Metaplan mempersiapkan a. Praktek akan dilakukan di 5 kelurahan di Kota Denpasar • Spidol simulasi fasilitasi b. Materi praktek fasilitasi : • Selotif • Panduan Masalah simulasi sekarang Alternatif fasilitasi Kondisi Gap rencana tindak lapangan yang yang yang mungkin • Perlengkapa diharapkan masih dilakukan n simulasi terjadi terjadi kelompok Masalah dimasa masyarakat mendatang yang akan datang Penyusunan skala prioritas Berdasarkan skema tersebut, sessi sessi simulasi dirancang sebagai berikut : - Sessi 1, 60 menit, identifikasi isu AMPL lainnya setelah pelaksanaan program
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan selama ini, seperti issue yang berkaitan dengan sanitasi seperti jamban, PHBS dan lain sebagainya yang relevan dengan program yang akan dilakukan dengan ISSDP - Sessi 2, 60 menit, menyusun skala prioritas untuk melaksanakan program selanjutnya - Sessi 3, 60 menit, menyusun rencana kerja sesuai dengan kemampuan masyarakat c. Peserta, akan dibagi menjadi 5 kelompok terdiri dari sekitar 9 orang d. Praktek akan dilakukan malam hari, selama 3 jam efektif 3. Fasilitator membagi peserta menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 9 orang, disesuaikan dengan kemampuan peserta, sejauh yang berhasil direkam tim fasilitator 4. Kelompok simulasi mengorganisasikan diri untuk persiapan simulasi : i. Pembagian tugas ii. Pengorganisasian kelompok iii. Mempersiapkan materi dan perlengkapan simulasi iv. Uji coba simulasi apabila memungkinkan v. Persiapkan inform choice untuk membantu masyarakat 5. Setelah selesai, fasilitator berdiskusi dengan peserta tentang pengalaman bagaimana mempersiapkan simulasi lapangan, agar dapat diaplikasikan di daerahnya masing masing Catatan : Apabila kelompok simulasi telah menyelesaikan tugasnya, peserta dapat melakukan acara bebas, dengan catatan, jam 17 harus sudah kembali ke hotel, untuk persiapan berangkat ke lokasi simulasi Fasilitator utama : NA Kelompok 1 : NT Kelompok 2 : BP Kelompok 3 : AP Kelompok 4 : SYAF Kelompok 5 : NG Perekam gambar : AH17.00 – 19.00 Istirahat, makan malam19.00 - 22.00 Pelaksanaan Peserta mendapatkan 1. Fasilitator melakukan pengecekan kelengkapan anggota kelompok simulasi dan Pokja AMPL • Bis praktek fasilitasi kesempatan simulasi pelengkapan yang dibutuhkan WASPOLA • Perlengkapa fasilitasi di lapangan 2. Rombongan sesuai dengan kendaraannya berangkat menuju lokasi, jam 18.30 n simulasi 3. Kelompok melakukan fasilitasi di kelurahan selama 3 jam • Snack 4. Rombongan kembali ke hotel, jam 22.00 • Format Fasilitator utama : NA pengamatan Kelompok 1 : NT • Handicam & Kelompok 2 : BP Kaset/DVD Kelompok 3 : AP Kelompok 4 : SYAF Kelompok 5 : NG21.30 – 06.00 Istirahat
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Hari Kelima, 28 Juli 200606.00 – 08.00 Persiapan diri, makan pagi08.00 – 08.15 Review hari Pemahaman tentang Review : • Kain rekat keempat pokok pokok hasil 1. Introduksi tentang review pokok pokok hasil lokakarya hari kedua • Metaplan lokakarya hari 4 2. Minta kepada salah satu peserta untuk menyampaikan review tentang pokok pokok • Spidol hasil lokakarya hari 4 • Selotif 3. Minta peserta lainnya untuk menambahkan Fasilitator : NT Notulen : NG08.15 – 09.45 Refleksi praktek Peserta mendapatkan 1. Fasilitator menjelaskan tentang manfaat yang akan diperoleh dari refleksi simulasi Pokja AMPL • Kain rekat fasilitasi umpan balik terhadap lapangan WASPOLA • Metaplan pelaksanaan simulasi di 2. Fasilitator mempersilahkan masing masing kelompok menyampaikan hasil • Spidol lapangan pengamatannya, kelompok lain dapat menambahkan. • Selotif 3. Fasilitator memutarkan cuplikan gambar pelaksanaan simulasi. • Rekaman 4. Fasilitator mengajak peserta untuk diskusi hal hal apa yang sudah baik untuk gambar dipertahankan, serta hal hal apa yang masih harus ditingkatkan. simulasi & 5. Tim fasilitator menyampaikan beberapa hal kunci mengenai pelaksanaan simulasi di pengamatan lapangan. 6. Fasilitator memberikan penjelasan bahwa : pengalaman, jam terbang, akan membuat kita semua semakin memahami dan matang dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi Fasilitator utama : NT Co Fasilitator : BP Notulen : SYAF09.45 – 10.00 Rehat kopi10.00 – 11.00 1. Pembulatan Peserta Pembulatan Pokja AMPL • Kain rekat lokalatih mendapatkan 1. Fasililitator menjelaskan pentingnya melakukan pembulatan materi pelatihan WASPOLA • Metaplan 2. RKTL kesimpulan umum 2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapatnya • Spidol terhadap materi tentang pengalaman, pengetahuan, keterampilan yang diperolehnya selama loka latih • Selotif pelatihan ini. Pendapat peserta ditulis di metaplan lalu ditempelkan di kain rekat • Roadmaping Peserta mempunyai 3. Fasilitator menambahkan hal hal yang terlupakan oleh peserta. Untuk kemudian pelaksanaan RKTL fasilitator merangkainya menjadi sebuah kesatuan yang utuh : dasar dasar fasilitasi. kebijakan 4. Fasilitator kemudian mengajak peserta membandingkannya dengan alur lokakarya • Format RKTL yang dijelaskan diawal lokalatih. RKTL 1. Fasilitator mengingatkan kembali tentang roud maping pelaksanaan kebijakan di daerah, serta langkah langkah fasilitasi yang harus dilakukan 2. Fasilitator membagi peserta kedalam propinsinya masing masing. 3. Peserta dengan propinsinya masing menyusun RKTL sesuai dengan ketersediaan dana tahun ini, serta sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan kebijakan selanjutnya di daerahnya masing masing; misal : propinsi mengadakan TOT, WASPOLA dan Pokja AMPL Pusat sebagai nara sumber. 4. Satu copy rencana kerja diserahkan kepada fasilitator untuk kepentingan monitoring dan evaluasi Fasilitator utama : NA
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan Co Fasilitator : BP Notulen : NG 11.00 – 11.30 Post test Peserta mengerti 1. Fasilitator menjelaskan pentingnya dilaksanakan post test, sebagaimana yang telah Pokja AMPL Lembar Evaluasi akhir pencapaian lokakarya dilakukan pada saat pre-test WASPOLA postest saat itu 2. Fasilitator memberikan kesempatan untuk melakukan pengisian kembali kain rekat post Kertas dot test : ☺ Dasar Teknik Metoda Etika Media Penjajag Menyusun Menyusun dasar komunik & fasilitato fasilitasi an kerangka kurikulum fasilitasi asi Pendekat r kebutuh acuan fasilitasi an an fasilitasi Partisipa fasilitasi tori 3. Selepas post test, peserta diajak untuk melakukan evaluasi akhir lokakarya dengan menggunakan lembar evaluasi akhir. Note: Perlu penekanan bahwa yang paling penting hasil lokakarya ini bukan ditentukan hanya didalam kelas ini tetapi bagaimana penerapannya di daerah masing-masing Fasilitator : NT Notulen : NG 11.30 – 12.00 Penutupan Peserta mendapatkan Sambutan arahan dari Pokja AMPL Direktur Pe- Sambutan arahan tentang apa Moderator : NA rumahan penutupan yang harus dilakukan Notulen : AP dan lokakarya pasca lokalatih Permukiman Bappenas 12.00 – 13.00 Istirahat, makan siang 13.00 - Peserta kembali ke daerah masing masingKeterangan :Tim Fasilitator : RI : Ratna Indrawati, AP, Agus Priatna, NA : Nur Apriatman, BP : Bambang Pujiatmoko, NG : Nasthain Gasba, SYAF : Syarifuddin, NT : Nugroho Tomo, AH : Anto HardiyantoPembagian tugas :Penanggung jawab : NA Tim fasilitasi : NA, NT, BP dan AP Tim notulensi dan dokumentasi : AP, NG, SYAF dan AH Supporting staf : Jenny Mamuaya
  • Buku 5 Panduan Pelaksanaan Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat di Daerah MODUL 3Panduan Fasilitasi Orientasi MPA-PHAST Waspola Bekerjasama denganKelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Jakarta 2008
  • MODUL 3Panduan Fasilitasi Orientasi MPA-PHAST
  • BUKU 5 Kata PengantarD okumen Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Indonesia telah disusunmelalui program Penyusunan Kebijakan danPenyusunan Rencana Kerja bidang AMPL(WASPOLA), yang berlangsung dari tahun 1998sampai dengan 2003. Kegiatan ini dilaksanakanatas kerjasama Pemerintah Indonesia denganPemerintah Australia melalui AusAID yangdifasilitasi oleh Water and Sanitation Programfor East Asia and the Pacific – World Bank.Serangkaian kegiatan partisipatif penyusunan kebijakan dilaksanakan oleh Tim Kerja AMPLdibawah koordinasi Bappenas dengan anggota seluruh departemen terkait yang terdiridari Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeridan Departemen Keuangan. Sampai saat ini dokumen kebijakan telah disepakati danditandatangani oleh Tim Pengarah Pusat (Project Coordination Committee) yang terdiridari para pejabat Eselon 1 dari masing-masing instansi tersebut. .Uji coba pelaksanaan kebijakan di empat propinsi terpilih telah dilaksanakan pada tahun2002/2003, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan kebijakan tahap selanjutnya, sehinggasekarang berhasil mencapai 49 kabupaten/kota di 9 propinsi. Dari proses tersebut telahdiperoleh masukan yang berguna, baik dalam penyempurnaan substansi kebijakan, maupundalam metodologi pelaksanaannya di daerah. Berdasarkan pengalaman implementasipelaksanaan kebijakan inilah akhirnya terkumpul berbagai panduan kegiatan fasilitasioperasionalisasi kebijakan di daerah, untuk kemudian ditulis ulang, sehingga akhirnyamenjadi kumpulan panduan operasionalisasi kebijakan AMPL di daerah, sebagaimananaskah panduan ini.Untuk itu, agar memudahkan pada tingkat operasional, disusunlah Panduan FasilitasiOrientasi MPA-PHAST bagi Pokja AMPL di daerah. Dengan panduan ini, mudah mudahansemua fihak yang akan memanfaatkan panduan ini akan menjadi lebih mudah untukmemanfaatkannya di lapangan. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Mitra Samyadan rekan rekan fasilitator MPA-PHAST yang telah memberikan kontribusi bagi tersusunnyapanduan ini.Demikian, semoga panduan ini dapat menjadi alat bagi pembelajaran kita semua.Sekretariat WASPOLA - Jakarta MODUL 3: Panduan Fasilitasi Orientasi MPA-PHAST
  • Modul 3 Panduan Fasilitasi Orientasi MPA-PHAST Kerangka Acuan Lokakarya Orientasi MPA-PHASTGambaran umumKeberlanjutan pembangunan AMPL akandipengaruhi oleh beberapa aspek antaralain keterlibatan masyarakat dalam prosespengambilan keputusan dan pelaksanaanproyek. Terlibatnya masyarakat dalamseluruh proses terbukti dapatmeningkatkan rasa kepemilikanmasyarakat terhadap sarana sehinggamereka akan merasa bertanggung jawabdalam keberlanjutan sarana. Dariserangkaian proses diskusi dan lokakaryapartisipatif mengenai isu pembangunanAMPL di daerah, terdapat beberapatemuan dari pelajaran penting yang dipetik dari proyek AMPL yang tidak berkelanjutan dibeberapa daerah antara lain dikarenakan adanya beberapa tahapan yang hilang dalamproses pembangunan AMPL berbasis masyarakat tersebut. Hal ini juga dipengaruhi olehtidak adanya proses keterlibatan masyarakat untuk memilih dan bersuara terutama merekayang masuk golongan miskin,ini mengakibatkan kurang akuratnya perencanaan kegiatan,yang berujung pada tidak adanya alokasi anggaran untuk pendampingan masyarakat sejakpersiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pada monitoring dan evaluasi.MPA-PHAST adalah salah satu piranti perencanaan pembangunan AMPL yangpendekatannya dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas perencanaan agarmasyarakat dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan di dalampembangunan AMPL. Penerapan MPA-PHAST ini antara lain dilakukan oleh proyekWSLIC-2 di beberapa propinsi di Indonesia. Dalam kerangka operasionalisasi kebijakannasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat, pemahaman mengenai MPA-PHASTdan penerapannya dalam proyek AMPL dirasa penting untuk dimiliki oleh pelaku
  • pembangunan AMPL. hal ini dirasakan untuk memenuhi terjadinya keberlanjutandalam pembangunan AMPL. Untuk itu perlu ada: • Perubahan pola berfikir pengelolaan pembangunan AMPL berbasis masyarakat yang harus menitik beratkan pada Pendekatan Tanggap terhadap Kebutuhan atau Demand Responsive, yang akan menghasilkan peningkatan penggunaan efektif dan keberlanjutan • Perlunya masukan bagi anggota Kelompok Kerja AMPL Daerah yang baru, baik di lokasi lama yang dikarenakan adanya mutasi, maupun lokasi baru operasionalisasi kebijakan, serta untuk konsultan baru dari WASPOLA.Orientasi ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai MPA-PHAST mencakup; kerangka kerja dan piranti yang digunakan, teknik penggunannya,proses penerapannya dalam perencanaan dan monitoring serta evaluasi pembangunanAMPL berbasis masyarakat.ObjektifMeningkatkan pemahaman peserta tentang MPA-PHAST (konsep dan penerapaannya)dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan AMPL berbasis masyarakatKeluaran- Pemahaman peserta terhadap konsep dan metode MPA-PHAST sebagai piranti perencanaan, monitoring, evaluasi dan pengambilan keputusan pembangunan AMPL yang berkelanjutan.- Pemahaman kerangka kerja MPA-PHAST- Pengetahuan peserta tentang tata cara penggunaan piranti MPA-PHAST- Pemahaman peserta mengenai keterkaitan MPA-PHAST dengan kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat- Komitmen untuk penerapan prinsip partisipatori dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan AMPL berbasis masyarakat sesuai dengan relevansi antara MPA-PHAST dengan kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat.Sasaran- Pokja AMPL Pusat dan Daerah- Pemegang andil lainnya dalam bidang AMPLLokasiTergantung kesepakatan bersama dan ketersediaan danaWaktu- Durasi, 6 malam 7 hariPeserta1 batch lokakarya, 45 orang
  • BiayaTergantung ketersediaan dana Agenda OrientasiWaktu Agenda NarasumberHari pertama12.00 – 15.30 Check in15.30 – 16.00 Pembukaan Pokja AMPL Penjelasan alur lokakarya16.00 – 17.30 Perkenalan, penyegaran suasana, menggali harapan peserta Fasilitator17.30 – 19.30 Persiapan diri, makan malam19.30 – 21.30 Acara bebasHari kedua08.00 – 08.10 Review hasil dan proses hari I Peserta08.10 – 10.00 Konsep pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan AMPL yang berkelanjutan Fasilitator10.00 – 10.15 Istirahat sejenak10.15 – 12.00 Konsep kesetaraan akses dalam pembangunan AMPL Fasilitator12.00 – 13.00 Istirahat makan malam, salat Dhuhur13.00 – 15.00 Kerangka kerja MPA-PHAST Fasilitator15.00 – 15.30 Istirahat sejenak, shalat Ashar15.30 – 17.30 Keterkaitan MPA-PHAST dengan kebijakan Fasilitator17.30 – 19.30 Persiapan diri, makan malam19.30 - 21.30 Acara bebasHari ketiga08.00 – 08.10 Review hasil dan proses hari II Peserta08.10 – 10.00 Pengenalan piranti MPA-PHAST Fasilitator10.00 – 10.15 Istirahat sejenak10.15 – 12.00 Simulasi piranti MPA-PHAST Fasilitator12.00 – 13.00 Istirahat sejenak, salat Dhuhur13.00 – 15.00 Simulasi piranti MPA-PHAST Fasilitator15.00 – 15.30 Istirahat sejenak, shalat Ashar15.30 – 17.30 Simulasi piranti MPA-PHAST untuk outcomes Fasilitator Persiapan praktek lapangan17.30 – 19.00 Persiapan diri, makan malam19.00 – 21.00 Acara kelompok praktek lapangan secara mandiri Hari keempat08.00 – 17.30 Praktek lapangan MPA-PHAST Fasilitator17.30 – 19.30 Persiapan diri, makan malam19.30 - 21.30 Acara kelompok praktek lapangan secara mandiri Penyusunan laporan hasil Praktek lapangan MPA-PHASTHari kelima08.00 – 17.30 Praktek lapangan MPA-PHAST Fasilitator17.30 – 19.30 Persiapan diri, makan malam19.30 - 21.30 Acara kelompok praktek lapangan secara mandiri Penyusunan laporan hasil Praktek lapangan MPA-PHASTHari keenam08.00 – 08.10 Review hasil dan proses hari V08.10 – 10.00 Meneruskan Penyusunan laporan hasil Praktek lapangan MPA-PHAST10.00 – 10.15 Istirahat sejenak10.15 – 12.00 Presentasi hasil Praktek lapangan MPA-PHAST Desa Praktek 112.00 – 13.00 Istirahat sejenak, salat Dhuhur13.00 – 15.00 Presentasi hasil Praktek lapangan MPA-PHAST Desa Praktek 215.00 – 15.30 Istirahat sejenak15.30 – 17.30 Presentasi hasil Praktek lapangan MPA-PHAST Desa Praktek 317.30 – 19.00 Persiapan diri, makan malam19.00 – 21.00 Acara bebasHari ketujuh08.00 – 08.10 Review hasil dan proses hari IV08.10 – 10.00 Review Hasil Praktek lapangan MPA-PHAST dan pembelajaran yang diperoleh Fasilitator10.00 – 10.10 Istirahat sejenak
  • Agenda OrientasiWaktu Agenda Narasumber10.10 – 10.30 Review hasil lokakarya secara keseluruhan Fasilitator10.30 – 11.00 Penyusunan rencana kerja aplikasi MPA PHAST dalam operasionalisasi kebijakan dan implementasi Fasilitator pembangunan AMPL berbasis masyarakat11.00 – 11.15 Evaluasi Akhir Lokakarya Fasilitator11.15 – 11.30 Penutupan Fasilitator11.30 ......... Peserta, fasilitator dan panitia kembali ke daerah masing masingProses Lokakarya orientasi MPA-PHASTSESSI 00 : PENATAAN RUANGAN SECARA PARTISIPATIFTUJUAN : 1. Peserta dapat mengatur setting ruangan secara kreatif 2. Peserta terdorong untuk secara kreatif memulai & berinisiatif dalam penataan ruangan dan perlengkapannyaMETODE : Penugasan secara tertulis dan PengamatanWAKTU : 60 menitALAT/BAHAN : Sticky cloths, dot sticker, metaplan, selotipe, kertas HVS, Spidol, lembar sketsa setting ruanganLANGKAH PENYAJIAN : 1. Pastikan peserta masuk kelas pada jam tertentu. 2. Pada kisaran jam tsb peserta yang datang dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan dalam ruangan yang ditulis besar-besar atau dengan menggunakan lembar sketsa ruangan : Alur Lokakarya Sticky Cloths Sticky Cloths Layar Hrpn & Khwtrn Meja LCD & Tata Tertip Laptop Pretest Baner Meja ATK Tumpukan Meja Panitia Sticky Cloths Kursi & Meja Sticky Cloths3. Siapkan 1 atau 2 orang yang memulai supaya yang lain mengikuti.4. Mendorong terus setiap peserta untuk melakukan sesuatu dalam setting ruangan yang bisa mendukung proses belajar dalam kelas secara nyaman dan informal
  • Catatan :(ide ini masih opsional). Opsi lain adalah panitia dan Tim Fasilitatormempersiapkan setting ruangan sehingga peserta masuk, siap memulai prosesbelajar dan mengajar.SESSI 01 : PEMBUKAANTUJUAN : Pemahaman tentang : 1. Prinsip dasar lokakarya orientasi MPA-PHAST 2. Apa dan bagaimana Pokja AMPL 3. Apa, Siapa dan bagaimana WASPOLA 4. Mengapa ada Lokakarya Orientasi MPA-PHAST 5. Konsep umum strategi dan metode yang akan dilalui selama lokakarya orientasi MPA-PHASTMETODE : Upacara seremonialWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : Sambutan pengarahanLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini dari panitia.2. Presentasi Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas3. Dialog dan tanya jawab.Moderator :Notulen :
  • SESSI 02 : PENGANTAR LOKAKARYATUJUAN : 1. Pencairan suasana agar menjadi rileks dan informal. 2. Kejelasan tentang tujuan lokakarya 3. Agenda lokakarya disepakati oleh semua peserta. 4. Kesepakatan aturan main pelaksanaan lokakaryaMETODE : 1. Penugasan, 2. Diskusi Tanya Jawab, 3. PresentasiWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : 1. Kain rekat 2. Kertas metaplan 3. Spidol 4. Kertas flipchart 5. Selotif 6. Bagan alir pelatihan 7. Dot sticker 8. LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Intoduksi dan ucapan selamat datang pada lokakarya ini.2. Pemetaan kemampuan peserta, jelaskan model pemetaan kemampuan yang akan dilakukan : a. Siapkan di kain rekat tabel berikut ini : Aspek 0 25 50 75 100 Pengetahuan tentang konsep kesinambungan program AMPL Pemahaman tentang konsep gender dan kemiskinan Pengetahuan tentang konsep DRA (demand responsive approach) Pengetahuan tentang Konsep-konsep dasar MPA/PHAST Pemahaman tentang perangkat MPA/PHAST b. Jelaskan tata cara evaluasi yang akan dilakukan : - Bagikan kepada setiap orang stiker dot, sesuai dengan jumlah kolom yang merupakan aspek aspek yang akan dievaluasi - Jelaskan arti dari skala penilaian : 0 artinya tidak paham sama sekali, 25 artinya kurang paham, 50 artinya cukup memahami, 75 artinya memahami serta 100 artinya sangat memahami. - Minta kepada setiap peserta untuk menempelkan kertas dot-nya masing masing pada setiap kolom aspek penilaian - Lakukan penghitungan ketika acara evaluasi telah diikuti oleh seluruh peserta - Jika ingin detail, penilaian dapat dilakukan berdasarkan daerah asal, dengan membedakan warna stiker dot-nya
  • 3. Perkenalan, jelaskan model perkenalan yang akan dilakukan : • Bagi peserta kedalam beberapa kelompok, dengan jumlah anggota kelompok sekitar 10 – 12 orang • Berikan pada setiap kelompok untuk berkenalan : nama, asal, jabatan, umur, jumlah anak, dlsb. • Setelah selesai, minta kepada peserta untuk berbaris kembali. Jelaskan bahwa selanjutnya kita akan main lempar bola melalui selangkangan kita kebelakang, sampai anggota paling belakang menerima bola. • Permainan dimulai oleh anggota paling depan, yang menerima lemparan bola, akan menuliskan nama dan keterangan lainnya yang diketahuinya tentang orang yang melemparkan bola, di papan flipchart • Begitu seterusnya, sampai semua menerima lemparan bola, serta menuliskan nama temannya di papan flipchart. • Bahas apa yang dirasakan, serta makna dari acara perkenalan ini.4. Identifikasi harapan dan kekhawatiran selama lokakarya berlangsung: a. Ajak kembali peserta untuk ke melingkar di ruangan tengah lokakarya b. Bagikan kertas metaplan dan spidol c. Minta setiap peserta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran pada kertas metaplan. Tempelkan pada kain rekat. d. Lakukan pengelompokan, sepakati mana saja harapan yang dapat dipenuhi. Bahas pula tentang kekhawatiran. Ingatkan bahwa antara harapan dan kekhawatiran yang dibahas adalah dalam kerangka memanfaatkan MPA-PHAST dalam implementasi kebijakan nasional AMPL.5. Presentasi alur lokakarya, agar semua fihak memahami apa saja yang akan dibahas selama lokakarya berlangsung.6. Berdasarkan alur tersebut, bahas tentang aturan main pelaksanaan lokakarya, sampai semua fihak menyepakati aturan main lokakarya. Aturan main yang disepakati menyangkut : jadual dan tata tertib pelaksanaan lokakarya.
  • SESSI 03 : KONSEP DASAR KESINAMBUNGANTUJUAN : 1. Peserta mengerti dan faham tentang konsep dasar kesinambungan dalam program AMPL. 2. Peserta memahami hubungan antar aspek dalam kesinambungan dan mampu memberikan contoh- contoh pengalaman riil lapangan tentang hubungan antar aspek kesinambungan.METODE : 1. Diskusi kelompok 2. Diskusi pleno 3. Ceramah dan Tanya jawabWAKTU : 45 menitALAT/BAHAN : Metaplan warna-warni, spidol, plano, flow chart, LCD, tali dari potongan kertas plano, tulisan dalam kartu oval (Sosial, Teknis, Kelambagaan, Financial, Lingkungan).LANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator menjelaskan bahwa pembahasan konsep kesinambungan akan menggunakan kasus pengalaman program SAB sesuai dengan pengalaman sehari-hari peserta dalam membangun SAB di daerahnya.2. Bagi peserta menjadi 2-3 kelompok dan minta setiap kelompok menghadap ke kain tempel yang akan didampingi seorang fasilitator.3. Dalam setiap kelompok ditempel pertanyaan yang ditulis dalam metaplan besar dan panjang ”Mengapa program SAB seperti dalam kasus bisa berhasil dan sinambung?”. ”Dalam pengalaman sehari-hari, mengapa proyek SAB/S gagal dan tidak sinambung?”: a. Minta setiap peserta menuliskan jawaban atas pertanya-an tsb dalam kartu- kartu, 1 kartu untuk 1 jawaban. b. Setiap kartu pendapat ditempel dalam kain rekat. Fasilitator mengupayakan pengelompokan, selanjutnya minta perwakilan kelompok untuk mengambil peran dalam pengelompokan kartu-kartu tsb. c. Jika sudah menemukan beberapa kelompok berdasarkan aspek-aspek tertentu, tulis judul aspek dalam kartu yang berbentuk lain. Uji dengan pertanyaan ”apakah ada hubungan antara satu kelompok kartu (misalnya sosial dengan SDM/Kelembagaan)”?. Jika ada pengalaman minta peserta memberikan contoh riil yang berhubungan antara satu aspek dengan aspek lain. d. Buat hubungan dengan menarik garis dari satu aspek ke aspek lain dengan menggunakan kertas.
  • e. Ajak peserta untuk menarik kesimpulan ”Kalau begitu apa sebenarnya yang disebut dengan berkesinambungan?”. f. Berikan penegasan sebagai berikut : RINGKASAN KONSEP KESINAMBUNGAN DALAM SAB/S 1. Pelayanan SAB/S yang berkesinambungan secara efektif adalah sarana yang dapat secara teratur dan handal menyediakan cukup air bersih dengan kualitas yang dapat diterima, sehingga pengguna mendapat kepuasan yang tinggi serta bersedia menggunakan & memelihara sarana. 2. Secara teknis kerusakan jarang terjadi dan perbaikan cepat dilakukan, serta keuangan setempat menutupi setidaknya biaya yang dibutuhkan secara teratur untuk operasional, pemeliharaan dan perbaikan.3. Rumah tangga atau sebagian besar masyarakat selalu menggunakan SAB minimal untuk minum dan penggunaannya ramah lingkungan (ada drainase dan tidak ada air yang menggenang).4. Secara sosial, masyarakat menerima teknologi SAB/S dan digunakan untuk menunjang serta memperoleh manfaat kesehatan atau tingkat perubahan kebiasaan penggunaan SAB serta melestarikan lingkungan.
  • SESSI 04 : KONSEP SOSIAL, GENDER EQUITY, PEMBERDAYAAN, DRA.TUJUAN : Peserta memahami konsep kesetaraan akses (perempuan, laki-laki, kaya dan miskin) dalam pembangunan AMPLMETODE : 1. Quiz Gender 2. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 105 menitALAT/BAHAN : 1. Bahan tulisan : Konsep kesetaraan akses dalam pembangunan AMPL 2. Tabel perhitungan Quiz Gender 3. Kain rekat 4. Empat lembar metaplan : biru, hijau, kuning dan merah untuk setiap peserta 5. Spidol 6. Selotif 7. LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi pentingnya konsep kesetaraan akses dalam pembangunan AMPL2. Lakukan Quiz Gender untuk membahas kesetaraan akses dalam pembangunan AMPL, dengan tata cara : a. Bagikan empat lembar kertas metaplan : merah, kuning, hijau, biru untuk menunjukkan secara berturut turut : laki laki, perempuan, kaya dan miskin; kepada setiap peserta. b. Jelaskan bahwa setiap orang diminta untuk menunjukkan pilihannya sesuai dengan persepsi dan pengalamannya masing masing untuk setiap pertanyaan yang diberikan dengan cara menunjukkan dan mengangkat tangan dari 4 pilihan warna metaplan yang dibagikan c. Lakukan pilihan tentang akses perempuan dan kemiskinan tersebut, sampai semua pertanyaan terjawab oleh peserta. d. Lakukan perhitungan dan tuliskan dari setiap pertanyaan yang diberikan dalam tabel berikut ini :
  • Jawaban berdasarkan jenis kelamin danNo Pertanyaan kaya miskin Laki-laki Perempuan Kaya Miskin 1. Siapa yang biasanya diundang dalam rapat membicarakan rencana program 2. Siapa yang biasanya mendapat informasi mengenai suatu program Sarana Air Bersih 3. Siapa yang biasanya terlibat dalam penentuan jenis pilihan teknologi sarana 4. Siapa yang sering terlibat dalam menentukan lokasi dan rancang bangun sarana yg akan dibangun 5. Siapa yang sering terlibat dalam pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan sarana 6. Siapa yang sering dilibatkan dalam proses pembangunan sarana? 7. Siapa yang biasanya terlibat dalam pengambilan keputusan di setiap tahapan pembangunan 8. Siapa yang paling sering duduk dalam badan pengelola sarana 9. Siapa yang paling banyak dilibatkan dalam proses monitoring dan evaluasi program10. Siapa yang paling banyak berhubungan / menggunakan air3. Setelah selesai lakukan perhitungan, serta lakukan pembahasan klasifikasi kaya miskin dalam kesetaraan akses dalam pembangunan AMPL4. Setelah itu fasilitator mengundang 2 peserta (laki dan perempuan, upayakan yang laki besar dan gemuk dan yang perempuan kurus dan kecil), yang laki-laki berdiri didepan dan perempuan dibelakang, kemudian fasilitator menanyakan pada peserta “apakah melihat secara utuh keduanya?” Kemudian minta peserta perempuan berdiri sejajar. Tanyakan hal yang sama. Kemudian fasilitator bertanya “apa akibatnya jika perempuan tidak ditempatkan sejajar dengan laki ?5. Lakukan kegiatan yang sama dengan relawan yang berbeda untuk membahas : ada atau tidak adanya keadilan antara kaya dan miskin ”?. Tanyakan kepada peserta apa yang terjadi terhadap pembangunan sarana SAB/S bila keseteraan gender dan kesetaraan sosial itu tidak terjadi. Tulis jawaban peserta pada kertas plano. Tanyakan kembali apa yang terjadi bila Kesetaraan Gender dan Kesetaraan Sosial di “mainstreming”kan pada suatu program/proyek.6. Lakukan pembahasan, ini adalah contoh pandangan kita terhadap perempuan yang tidak setara dengan laki-laki, serta antara kaya dan miskin.7. Lakukan diskusi dan tanya jawab secukupnya, simpulkan jawaban peserta untuk menjawab pertanyaan mengapa kesetaraan Gender dan Sosial sangat penting yaitu : untuk kesinambungan sarana SAB/S dan keadilan sosial.
  • SESSI 05 : KERANGKA KERJA MPA-PHAST DAN TOOLS-NYATUJUAN : 1. Pemahaman yang baik semua peserta tentang pendekatan tanggap kebutuhan. 2. Pemahaman yang baik semua peserta tentang kerangka dasar MPA untuk keberlanjutan dan efektifitas pemakaian serta pelayanan serta kaitannya dengan implementasi konsep DRA.METODE : 1. Diskusi metoda Fish Bowl 2. Presentasi 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Bahan tulisan tentang Kerangka Kerja MPA-PHAST. 2. Kain rekat 3. Kertas metaplan 4. Tulisan atau simbol kursi panas 5. Spidol 6. Selotif 7. LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi tentang pentingnya difahami konsep dan kerangka kerja MPA-PHAST.2. Jelaskan bahwa untuk memahami hal ini, langkah awal kita akan berdiskusi dengan metoda Fish Bowl dengan cara : a. Siapkan kursi secara melingkar ditengah ruangan, usahakan ada kursi untuk setiap perwakilan tiap daerah untuk mendiskusikan tentang perbedaan antara demand dan need dalam diskusi sebagai peserta tetap sampai akhir diskusi. b. Serta disiapkan 1 kursi panas untuk peserta dari luar lingkaran agar dapat memberikan pendapat atau berkomentar untuk membantu menemukan kesepakatan bersama. Waktu yang disediakan untuk kursi panas sangat terbatas, untuk memberikan kesempatan peserta lain terlibat dan berpendapat. c. Sisa peserta lainnya sebagai pengamat. d. Hentikan kegiatan, apabila diskusi dinilai telah mencukupi mendapatkan masukan tentang demand dan need. e. Lakukan pembahasan bersama untuk memahami tentang demand dan need. 3. Berdasarkan masukan dari diskusi tadi, lakukan ceramah singkat tentang konsep dan kerangka kerja MPA-PHAST. 4. Berikan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab
  • SESSI 06 : PENGENALAN PIRANTI MPA-PHAST TAHAP I : Inventaris data komunitas, Klasifikasi Kesejahteraan, Pemetaan sosial, Perencanaan TW dan FGD ( 3 tahap diatas dilakukan sesuai sekuensi diatas ), Transek, Tinjauan Badan Pengelola ( Card Sorting CM), Tinjauan pengelolaan keuangan ( Card Sorting Fin ), Penilaian pelatihan, Kontribusi, Kantong suara SAB dan SS, Conroute, Pengambilan keputusan, Ladder 2, Ladder 1 dan Pleno masyarakatTUJUAN : Peserta memahami piranti MPA-PHAST dan tata cara penggunaannya.METODE : 1. Ceramah singkat 2. Simulasi kelompok 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Bahan tulisan : Inventaris data komunitas, Klasifikasi Kesejahteraan, Pemetaan sosial, Perencanaan TW dan FGD ( 3 tahap diatas dilakukan sesuai sekuensi diatas ), Transek, Tinjauan Badan Pengelola ( Card Sorting CM), Tinjauan pengelolaan keuangan ( Card Sorting Fin ), Penilaian pelatihan, Kontribusi, Kantong suara SAB dan SS, Conroute, Pengambilan keputusan, Ladder 2, Ladder 1 dan Pleno masyarakat 2. Kain rekat 3. Kertas metaplan 4. Spidol 5. Selotif 6. LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi tentang pentingnya pengenalan piranti MPA-PHAST2. Bagi peserta kedalam kelompok terdiri dari 12 – 15 orang, dengan 1 orang fasilitator untuk setiap kelompok.Dalam setiap kelompok : Jelaskan secara bertahap piranti MPA-PHAST dan tata cara penggunaannya, sesuai dengan jumlah tools yang terpilih untuk dijelaskan yaitu :3. Inventaris Sosial Masyarakat : a. Fasilitator memulai dengan metode brainstorming, menggali pendapat peserta tentang inventaris sosial masyarakat b. Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA untuk proses inventaris sosial masyarakat; pertemuan dengan aparat desa/kelurahan, inventaris data komunitas, sejarah SAB/S dan promosi kesehatan, klasifikasi kesejahteraan, pemetaan sosial, Rapid Technical Assessment (RTA), Perencanaan Transect Walks.
  • c. Fasilitator menjelaskan maksud dan tujuan penggunaan tools-tools tsb satu persatu d. Fasilitator mensimulasikan alat-alat kajian tsb satu persatu hingga peserta benar- benar faham dan merasa yakin dapat melakukannya. e. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan kemudian melakukan penegasan f. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi g. Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips yang harus dilakukan saat penerapan tools.4. Tinjauan Pengelolaan Sarana a. Fasilitator mengawali kegiatan dengan metode brainstorming, menggali pemahaman peserta tentang tinjauan pengelolaan sarana b. Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA untuk melakukan tinjauan pengelolaan sarana yaitu; pengelolaan dan pengambilan keputusan (CM), sejarah partisipasi saat pembangunan sarana (H), penilaian pelatihan (TR), dan pengelolaan keuangan (FIN). c. Fasilitator mendemonstrasikan ke-empat tools tsb satu persatu hingga peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat melakukannya d. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan e. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi dalam beberapa kelompok yang didampingi seorang fasilitator. f. Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips dalam menerapkan tools tsb5. Untuk piranti lainnya, didiskusikan langkah langkah operasional memakai piranti MPA-PHAST tersebut.6. Tahap-Tahap Monitoring Kesinambungan a. Fasilitator memulai proses dengan metode brainstorming, menggali pemahaman peserta tentang tahap-tahap pelaksanaan monitoring kesinambungan b. Fasilitator menjelaskan 4 tahapan pelaksanaan monitoring kesinambungan dalam proyek WSLIC-2 c. Fasilitator menjelaskan piranti MPA-PHAST yang digunakan untuk setiap tahapan monitoring kesinambungan tsb. d. Fasilitator menerangkan tentang MIS dan grafik kesinambungan e. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan7. Diakhir acara, buat rangkuman bersama tentang : pengenalan piranti MPA-PHAST tahap awal yang akan dipakai pada praktek lapangan, dan nanti akan diperdalam di persiapan praktek lapangan.
  • SESSI 07 : PERSIAPAN PRAKTEK LAPANGAN I Pembagian Kelompok Lapangan dan tugas-tugas kelompokTUJUAN : Peserta mengetahui tata cara praktek lapangan, terdiri : Pembagian Kelompok Lapangan dan tugas-tugas kelompok : 1. Peserta terbagi dalam 7 kelompok lapangan (desa). 2. Setiap kelp memahami tugas-tugas yang akan dijalankan selama kerja lapangan. Persiapan Lapangan I : 1. Peserta memahami gambaran umum lokasi WSLIC-2 2. Adanya desain (informasi tahap I-IV & pembagian tugas fasilitasi 3. Adanya jadwal kerja lapangan 4. Adanya format visualisasi dan pelaporan 5. ATK dan material lainnyaMETODE : Penugasan kelompokWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : Metaplan, plano, spidol, lembar informasi awal kondisi lapangan, data baseline, RKM, format laporan & paket ATK praktik lapanganLANGKAH PENYAJIAN :1. Jelaskan tata cara praktek lapangan MPA-PHAST : b. Setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok @ 5-10 orang, tergantung jumlah peserta secara keseluruhan yang menghadiri lokakarya orientasi MPA- PHAST-nya ini. c. Setiap kelompok akan melaksanakan praktek di lapangan di dusun pada desa lokasi praktek d. Setiap kelompok akan menyusun laporan hasil praktek untuk dipresentasikan besoknya2. Pembagian Kelompok Lapangan dan tugas-tugas kelompok : a. Panitia membacakan siapa yang masuk dalam kelompok desa yang mana. b. Fasilitator menjelaskan tugas-tugas berdasarkan tahapan monitoring kesinambungan yang harus dilakukan di lapangan.3. Persiapan Lapangan I : Gambaran umum lokasi, Desain (informasi tahap I-IV & pembagian tugas fasilitasi), Jadwal kerja lapangan, Format visualisasi dan pelaporan, ATK dan material lainnya : a. Fasilitator menjelaskan tentang status kegiatan di desa & komunitas yang akan menjadi lokasi try out
  • b. Fasilitator membagi peserta menjadi 7 kelompok (@ 5-6 orang) sekaligus menetapkan lokasi prakteknya masing-masing. c. Fasilitator membagikan lembar informasi awal mengenai desa lokasi praktek (print out), dan setiap kelompok juga akan mendapatkan RKM masing-masing desa lokasi praktek. d. Fasilitator membagikan data baseline untuk desa tahap II-IV, sehingga bisa digunakan untuk membaca kecenderungan perubahan yang terjadi e. Fasilitator meminta setiap kelompok untuk menyusun jadwal kerja lapangan f. Fasilitator membagikan lembar format pelaporan dan menjelaskan visualisasi yang harus dibuat serta bagaimana menyusun pelaporan lapangan g. Membagikan ATK dan material kebutuhan praktik lapangan 4. Persiapan mandiri setiap tim/kelompok desa. Fasilitator mendampingi setiap kelompok mempersiapkan terutama terkait dengan tools dan pembagian tugas, format scoring dan lain sebagainya.Catatan :1. Perlu dipersiapkan kondisi desa untuk menampung peserta praktek yang berkisar 12-15 orang. Selain itu, transportasi untuk berangkat dari hotel di hari pertama, serta kembali ke hotel di hari kedua.2. Apabila tidak memungkinkan, peserta bolak balik dari hotel ke tempat praktek, untuk itu perlu dipersiapkan transportasi untuk 2 hari berturut turut.
  • SESSI 08 : PRAKTEK LAPANGAN MPA-PHAST, FASILITASI DI MASYARAKAT : 1. Monitoring kesinambungan Tahap I (Klp I dan Kelp II) Baseline Desa Jontlak dan Desa Batujai 2. Monitoring kesinambungan Tahap II (Klp III) Draft RKM Desa Mertak Tombok 3. Monitoring kesinambungan Tahap III (Klp IV dan Klp V) Konstruksi, Desa Teruwai dan Desa Gapura. 4. Monitoring kesinambungan Tahap IV (Klp VI dan Klp VII) Pasca Konstruksi, Desa Perina dan Desa Aik Darek.TUJUAN : Peserta mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan piranti MPA-PHAST di tengah tengah masyarakat, untuk tahapan I sampai IVMETODE : Praktek fasilitasi masyarakatWAKTU : 1 hariALAT/BAHAN : Perlengkapan praktek lapangan MPA-PHASTLANGKAH PENYAJIAN :1. Peserta berangkat ke lokasi praktek jam 08.00 ke lokasi prakteknya masing masing.2. Peserta melaksanakan praktek piranti MPA- PHAST di tengah tengah masyarakat : a. Monitoring kesinambu-ngan Tahap I (Klp I dan Kelp II) Baseline Desa Jontlak dan Desa Batujai : • Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi • Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap I (Baseline) b. Monitoring kesinambungan Tahap II (Klp III) Draft RKM Desa Mertak Tombok • Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi • Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap II (Draft RKM)
  • c. Monitoring kesinambungan Tahap III (Klp IV dan Klp V) Konstruksi, Desa Teruwai dan Desa Gapura. • Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi • Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap III (Konstruksi) d. Monitoring kesinambungan Tahap IV (Klp VI dan Klp VII) Pasca Konstruksi, Desa Perina dan Desa Aik Darek. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap IV(Pasca Konstruksi)3. Peserta akan kembali ke hotel untuk penyusunan laporan praktek lapangan hari pertama. Sehingga, peserta bolak balik dari hotel ke desa untuk 2 hari praktek.
  • SESSI 09 : PENDOKUMENTASIAN (PROSES, HASIL DAN PEMBELAJARAN)TUJUAN : 1. Peserta dapat membuat pelaporan desa (site) 2. Adanya draft laporan desaMETODE : PenugasanWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : Kertas A4, mistar, spidol kecil warna,LANGKAH PENYAJIAN :1. Peserta bergabung dengan kelompoknya masing masing, untuk penyusunan laporan hasil praktek lapangan MPA-PHAST2. Masing-masing kelompok melakukan pendokumentasian (proses, hasil dan pembelajaran) dengan memakai recording book MPA-PHAST dan catatan-catatan lapangan.3. Setiap peserta secara khusus diminta untuk menuliskan pembelajaran utama dari proses praktik lapangan yang sudah dilakukannya.4. Lakukan asistensi sesuai dengan kebutuhan.
  • SESSI 10 : PRESENTASI DAN REFLEKSI PRAKTEK I 1. Proses & hasil praktik monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) 2. Refleksi pembelajaranTUJUAN : 1. Kelompok dapat mempresentasikan proses & hasil praktik monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) 2. Kelompok dapat merefleksikan pembelajaran yang telah diperoleh dalam try outMETODE : Presentasi Ceramah singkat dan Tanya jawabWAKTU : 90 menitALAT/BAHAN : Laporan hasil praktek lapangan, baik dalam bentuk deskripsi & grafikLANGKAH PENYAJIAN : 1. Fasilitator meminta masing- masing kelompok untuk mempresentasikan laporan proses dan hasil praktik lapangan termasuk pembelajaran yang didapat secara bergantian 2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya/klarifikasi 3. Dst, …… fasilitator kemudian memberikan penegasan akhir
  • SESSI 11 : PENGENALAN PIRANTI MPA-PHAST TAHAP II : meneruskan penjelasan Tahap ITUJUAN : Peserta memahami piranti MPA-PHAST dan tata cara penggunaannya. Transect Walks : 1. Peserta mengerti tentang transect walks “perjalanan transect” beserta maksud dan tujuannya 2. Peserta mengetahui dan dapat menerapkan tools-tools dalam melakukan transect walks FGD Menurut Gender dan Kelas Sosial : 1. Peserta mengerti tentang FGD menurut gender dan kelas sosial beserta maksud dan tujuannya 2. Peserta mengetahui dan dapat menerapkan tools-tools dalam melakukan FGD menurut gender dan kelas sosialMETODE : 1. Ceramah singkat 2. Simulasi kelompok 3. Diskusi dan tanya jawabWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Bahan tulisan : sama dengan penjelasan Tahap I 2. Kain rekat 3. Kertas metaplan 4. Spidol 5. Selotif 6. LCD dan komputerLANGKAH PENYAJIAN :1. Introduksi tentang pentingnya pengenalan piranti MPA-PHAST2. Bagi peserta kedalam kelompok terdiri dari 12 – 15 orang, dengan 1 orang fasilitator untuk setiap kelompok.Dalam setiap kelompok : Jelaskan secara bertahap piranti MPA-PHAST dan tata cara penggunaannya, sesuai dengan jumlah tools yang terpilih untuk dijelaskan yaitu : a. Transect walks • Fasilitator mengawali proses dengan metode brainstorming, menggali pemahaman peserta tentang maksud dan tujuan perjalanan transect • Fasilitator memperkenalkan beberapa tools MPA untuk pelaksanaan transect walks yaitu; pengelolaan sumber air (SM), penilaian tingkat kualitas kerja (WR), penilaian pelayanan oleh kelompok pengguna laki & perempuan (TW), dan kunjungan masyarakat yang tidak terlayani (UP).
  • • Fasilitator mensimulasikan ke-empat tools tsb satu persatu hingga peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat melakukannya • Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal- hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan • Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi • Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips dalam menerapkan tools tsbb. FGD menurut Gender dan Status Sosial • Fasilitator memulai kegiatan dengan metode brainstorming, menggali pemahaman peserta tentang maksud dan tujuan dari FGD menurut gender dan kelas sosial • Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA yang digunakan dalam FGD menurut gender dan kelas sosial yaitu; efektifitas penggunaan SAB/S (EU), manfaat, kebutuhan dan nilai terhadap biaya (BC), pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja (DIV), hak suara dan pilihan dalam pengambilan keputusan (VC), alur penularan penyakit dan penghambatnya1, serta pertemuan pleno masyarakat. • Fasilitator mensimulasikan tools-tools tsb satu persatu hingga peserta benar- benar faham dan merasa yakin dapat melakukannya • Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan • Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi • Fasilitator memberikan penegasan akhir dengan tips-tips penerapan tools tsb3. Diakhir acara, buat rangkuman bersama tentang : pengenalan piranti MPA- PHAST tahap awal yang akan dipakai pada praktek lapangan, dan nanti akan diperdalam di persiapan praktek lapangan.
  • SESSI 12 : PERSIAPAN LAPANGAN II 1. Desain jadwal kerja lapangan 2. Format visualisasi dan pelaporan 3. ATK dan material lainnyaTUJUAN : 1. Peserta mendesain jadwal kerja lapangan 2. Peserta membuat format visualisasi dan pelaporan 3. Persiapan ATK dan material lain yang dibutuhkanMETODE : PenugasanWAKTU : 120 menitALAT/BAHAN : 1. Laporan deskripsi dan grafik praktek I 2. Bahan praktek II sesuai dengan kebutuhanLANGKAH PENYAJIAN :1. Kelompok Monitoring Kesinambungan Tahap II yang pada hari ini tidak kembali ke lapangan, anggotanya akan dipecah dan bergabung dengan Kelompok I dan II ( Monitoring kesinambungan Tahap I ). Sementara Kelompok VI (Monitoring kesinambungan Tahap IV ) akan bergabung ke Klp IV ( Monitoring kesinambungan Tahap III ), dan Klp VII ( Monitoring kesinambungan Tahap IV ) bergabung ke Klp V (Monitoring kesinambungan Tahap III ).2. Fasilitator meminta kepada kelompok untuk mendesain rencana kegiatan praktik lapangan II untuk menerapkan tools-tools MPA-PHAST yang belum dilakukan pada praktik lapangan I3. Fasilitator membagikan lembar format pelaporan dan menjelaskan visualisasi yang harus dibuat serta bagaimana menyusun pelaporan4. Membagikan ATK yang dibutuhkan untuk try out lapangan II kepada masing- masing kelompok
  • SESSI 13 : FASILITASI DI MASYARAKAT : 1. Monitoring kesinambungan Tahap I (lanjutan) (Kelompok I dan Kelompok II) Baseline, Desa Jontlak dan Desa Batujai. 2. Monitoring kesinambungan Tahap III (lanjutan) (Kelompok IV dan Kelompok V) Konstruksi, Desa Teruwai dan Desa Gapura.TUJUAN : Peserta melakukan praktik lapangan di desa dengan tools MPA untuk monitoring tahap I dan IIIMETODE : SimulasiWAKTU : 5 x 60 menitALAT/BAHAN : Hasil praktek tahap I Bahan dan materi praktek tahap IILANGKAH PENYAJIAN :1. Peserta berangkat ke lokasi praktek jam 08.00 ke lokasi prakteknya masing masing.2. Peserta melaksanakan praktek piranti MPA-PHAST di tengah tengah masyarakat : a. Monitoring kesinambungan Tahap I • Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi • Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan menggunakan tools dan field book MPA- PHAST Tahap I (Baseline) yang belum dilakukan pada try out lapangan I b. Monitoring kesinambungan Tahap III • Setiap kelompok berangkat ke desa dengan didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi • Peserta (kelp) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan tools dan field book MPA-PHAST Tahap III (Konstru-ksi) yang belum dilakukan pada try out lapangan I3. Peserta akan kembali ke hotel untuk penyusunan laporan praktek lapangan hari pertama. Sehingga, peserta bolak balik dari hotel ke desa untuk 2 hari praktek.
  • SESSI 14 : PRESENTASI DAN REFLEKSI HASIL PRAKTEK LAPANGAN MPA-PHAST : 1. Proses & hasil praktik monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) 2. Refleksi pembelajaranTUJUAN : 1. Kelompok dapat mempresen-tasikan proses & hasil praktik monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) 2. Kelompok dapat merefleksikan pembelajaran yang telah diperoleh dalam try outMETODE : Presentasi, diskusi dan tanya jawab.WAKTU : 3 x 120 menit.ALAT/BAHAN : Hasil praktek lapangan MPA-PHASTLANGKAH PENYAJIAN : 1. Introduksi tentang tata cara presentasi hasil praktek lapangan MPA-PHAST 2. Fasilitator meminta setiap kelompok mempresentasikan laporan proses & hasil praktik lapangan termasuk pembelajaran yang didapat secara bergantian 3. Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya/klarifikasi 4. Dst, …… fasilitator kemudian memberikan penegasan akhir.
  • SESSI 15 : PENYUSUNAN RENCANA KERJA APLIKASI MPA PHAST DALAM OPERASIONALISASI KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN AMPL BERBASIS MASYARAKATTUJUAN : Peserta memiliki rencana kerja pasca lokakarya dalam rangka memanfaat MPA PHASTMETODE : Diskusi kelompok, presentasi dan diskusi Tanya jawabWAKTU : 30 menitALAT/BAHAN : Format rencana kerjaLANGKAH PENYAJIAN :1. Fasilitator bersama sama peserta membuat rangkuman tentang orientasi MPA- PHAST2. Kembalikan peserta kedalam kelompok propinsinya masing masing. Minta pada setiap kelompok untuk menggali gagasan pemanfaatan MPA PHAST dalam operasionalisasi kebijakan. Lakukan prioritasi pelaksanaan gagasan tersebut sesuai dengan kebutuhan daerahnya masing masing. Masukkan kedalam format yang tersedia.3. Lakukan presentasi rencana kerja untuk pengkayaan wawasan dan penyempurnaan rencana kerja.4. Tutup sessi ini dengan penegasan semoga rencana kerja ini dapat diimplementasikan di lapangan.
  • SESSI 16 : EVALUASI LOKAKARYA 1. Pemetaan pemahaman akhir setiap peserta 2. Evaluasi Akhir PesertaTUJUAN : 1. Terpetakannya pemahaman akhir peserta thd konsep kesinambu-ngan program AMPL, konsep gender dan kemiskinan, konsep DRA (demand responsive approach), konsep dasar MPA- PHAST, dan perangkat MPA-PHAST 2. Peserta dapat melakukan penilaian secara partisipatif terhadap penyelenggaraan orientasi MPA-PHAST 3. Melakukan penegasan seluruh proses dan hasil orientasi dalam kaitannya dengan implementasi kebijakanMETODE : Penugasan individualWAKTU : Secukupnya sesuai dengan kebutuhan jenis evaluasiALAT/BAHAN : - Kain rekat - Metaplan - Spidol - Stiker dot - Kertas dan kantung suara - Lambang skala penilaian - Kertas flipchartLANGKAH PENYAJIAN : 1. Evaluasi Pemetaan pemahaman akhir setiap peserta : Fasilitator menjelaskan tentang postest dengan metode penempelan dot sticker pada sticky cloths yang sudah disiapkan sebelumnya dalam matriks : Aspek 0 25 50 75 100 Pengetahuan tentang konsep kesinambungan program AMPL Pemahaman tentang konsep gender dan kemiskinan Pengetahuan tentang konsep DRA (demand responsive approach) Pengetahuan tentang Konsep-konsep dasar MPA/PHAST Pemahaman tentang perangkat MPA/PHAST
  • 2. Evaluasi akhir Fasilitator menjelaskan tentang tata cara melakukan evaluasi akhir dengan format yang sudah disediakan Fasilitator membagikan lembar evaluasi kepada peserta untuk diisi. Apabila sudah selesai, lakukan perhitungan bersama – fasilitator mempersiapkan format besar untuk diisi bersama sebelumnya, berdasarkan evaluasi dari masing- masing peserta. Fasilitator membuat penegasan atas hasil evaluasi dari seluruh peserta Fasilitator meminta kepada peserta (wakil dari masing-masing daerah) untuk membuat rekomendasi bagi diri dan daerahnya masing-masing terkait dengan implementasi kebijakan partisipatif berbasis masyarakat dalam kerangka AMPL.
  • LEMBAR EVALUASI AKHIR KEGIATAN ORIENTASI MPA/PHASTAsal Wilayah: ___________________________________________________________Ketentuan : berikan tanda √ pada kolom angka atau score yang sesuai dari angka 1 sangatkurang sampai 5 sangat baik pada setiap item pernyataan. ITEM EVALUASI SCORE NO 1 2 3 4 5 1. Seberapa jauh orientasi ini memenuhi harapan anda (harapan umum) 2. Seberapa jauh orientasi ini memberikan kejelasan dan wawasan – wawasan tentang MPA/PHAST dan kaitannya dengan konsep kesinambungan program AMPL 3. Seberapa jauh anda mendapatkan informasi atau pemahaman serta ketrampilan yang bermanfaat bagi pekerjaan anda yang berkaitan dengan Kelompok Kerja dan penggunaan pendekatan MPA/PHAST untuk kesinambungan program AMPL 4. Seberapa jauh metode atau teknik penyajian dalam orientasi ini membantu anda dalam memahami materi yang disampaikan 5. Seberapa keaktifan peran serta peserta dalam orientasi ini 6. Bagaimana kemampuan fasilitator dalam membangun dinamika pembahasan 7. Seberapa jauh materi yang disajikan dalam orientasi ini sesuai dan memenuhi harapan anda 8. Seberapa jauh pengaturan tempat orientasi membantu anda dalam memperlancar proses dan hasil belajar anda 9. Apakah waktu yang dialokasikan pada orientasi ini mencukupi 10. Apakah sarana belajar (bahan, peralatan belajar) yang disediakan cukup memadai untuk membantu anda dalam proses belajar 11. Apakah fasilitas pendukung lainnya seperti akomodasi, konsumsi dan sebagainya untuk orientasi ini memadaiCatatan : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik dan 5 = sangat baik
  • Komentar-komentar Anda yang sangat berhargaHAL-HAL POSITIF/KEKUATAN DALAM KEGIATAN ORIENTASI INIKELEMAHAN /ATAU HAL NEGATIF DALAM KEGIATAN ORIENTASI INISARAN-SARAN UNTUK PERBAIKAN KEDEPAN
  • Proses Tabulasi a. Pindahkan isi format evaluasi ke dalam format rekap hasil evaluasi kolom 4, 6, 8, 10,12 b. Isi kolom 5,7,9,11,13 dengan mengalikan nilai score dengan nilai pada kolom 4,6,8,10,12 c. Isi kolom 14 dengan cara menjumlahkan isi pada kolom 5,7,9,11 dan 13 d. Isi kolom 15 dengan cara membagi isi kolom 14 dengan jumlah peserta/suara pada kolom 3 e. Isi kolom 16 dengan cara berikut : Kolom (15)/5 x 100 % f. Komentar dan saran ditulis pada kertas tersendiri.
  • SESSI 17 : PENUTUPANTUJUAN : Peserta mendapatkan penegasan tentang pentingnya pemanfaatan MPA PHAST untuk implementasi kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat di daerahnya masing masingMETODE : Upacara semi seremonialWAKTU : 15 menitALAT/BAHAN : Sambutan penutupan lokakaryaLANGKAH PENYAJIAN :1. Pengantar dari panitia2. Penyampaian kesan kesan dari peserta3. Sambutan penutupan lokakarya4. Penyampaian do’a5. Foto bersama seluruh peserta, fasilitator dan panitia
  • CONTOH PANDUAN PROSES KEGIATAN ORIENTASI MPA-PHAST NOVOTEL LOMBOK, 27 AGUSTUS S/D 1 SEPTEMBER 2006 Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator BahanHari Pertama, Minggu 27 Agustus 200612.00-15.30 Check in Peserta15.30-16.00 Penataan Peserta dapat mengatur setting 1. Pastikan peserta masuk kelas pada jam tertentu. (hal ini Tim Sticky cloths, Ruangan Secara ruangan secara kreatif diharapkan telah dilakukan melalui undangan, antara jam bersama dot sticker, Partisipatif Peserta terdorong untuk secara kreatif 15.30 – 16.00. Hari minggu, 27 Agustus 2006). Panitia metaplan, (ide ini masih memulai & berinisiatif dalam penataan 2. Pada kisaran jam tsb peserta yang datang dipandu dengan selotipe, kertas opsional). Opsi ruangan dan perlengkapannya pertanyaan-pertanyaan dalam ruangan yang ditulis besar- HVS, Spidol, lain adalah panitia besar atau dengan menggunakan lembar sketsa ruangan : lembar sketsa dan Tim Fasilitator setting mempersiapkan Sticky Sticky Cloths Alur Lokakarya ruangan setting ruangan Layar Cloths Hrpn & Khwtrn sehingga peserta Meja LCD & masuk, siap Tata Tertip Laptop memulai proses Pretest Baner relajar dan mengajar. Meja ATK Tumpukan Meja Panitia Sticky Cloths Sticky Cloths Kursi & Meja 3. Siapkan 1 atau 2 orang yang memulai supaya yang lain mengikuti. 4. Mendorong terus setiap peserta untuk melakukan sesuatu dalam setting ruangan yang bisa mendukung proses belajar dalam kelas secara nyaman dan informal16.00-16.30 Pembukaan Peserta memahami : 1. Pengantar panitia Pokja AMPL, Powerpoint ;(30’) Prinsip dasar lokakarya orientasi MPA- 2. Ceramah & Presentasi WASPOLA, Prinsip Dasar PHAST 3. Tanya jawab Lokakarya, Apa dan bagaimana Pokja AMPL Pokja AMPL, Apa, Siapa dan bagaimana WASPOLA WASPOLA, Mengapa ada Lokakarya Orientasi Latar Belakang MPA-PHAST & Konsep Konsep umum strategi dan metode Umum Strategi yang akan dilalui selama lokakarya Metode orientasi MPA-PHAST Lokakarya.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan16.30-17.15 Perkenalan 1. Peserta saling mengenal nama dan 1. Fasilitator menjelaskan teknik/game perkenalan yang akan Tim Kartu lingkaran(45’) asal (utusan dari mana) dilakukan termasuk sosiogram dengan diagram venn (dot sticker) 2. Tercipta suasana yang rileks dan 2. Panduan Sosiogram/Diagram Venn berdasarkan daerah asal warna-warni, informal dengan warna kartu lingkaran yang disepakati bersama kain rekat 3. Setiap peserta diminta mengambil satu kertas lingkaran (sticky cloths), berdasarkan warna daerahnya spidol besar, 4. Kartu lingkaran tsb ditulisi nama dengan spidol besar selotipe 5. Disiapkan satu tempat lebar yang berisi kain rekat, setiap peserta menempelkan lingkaran namanya dengan melihat & merekatkan di dekat nama peserta lain yang paling dekat dengan dirinya, dst. 6. Peta tsb akan melihat interaksi antar peserta yang perlu dibangun.17.15-17.45 Negosiasi 1. Pemetaan Harapan Peserta 1. Setelah cukup akrab dan saling mengenal satu sama lainnya,(30’) (Pengetahuan, Keterampilan dan fasilitator mengajak para peserta untuk menggali harapan dan Sikap) apa yang diharap-kan selama 5 kekhawatiran peserta selama lokakarya hari bisa dicapai) 2. Setiap peserta diberikan 3 warna kartu (@ jumlahnya maksimal 2. Hal-hal yang perlu diantisipasi selama 3 kartu). Sehingga setiap peserta akan mendapat 6 kartu dari lokakarya 3 warna. Setiap warna menunjukkan Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap sedangkan 3 menunjukkan jumlah maksimal setiap orang menulis harapannya. 1. Alur Lokakarya, agenda dan waktu 1. Dijelaskan alur lokakarya, ditawarkan agenda dan waktunya. Alur lokakarya 2. Aturan main Jika menggunakan Baliho besar, kartu-kartu bertuliskan dibuat dalam (materi, metode, peserta, dll-nya) dari setiap tahapan ditempel kertas plano dalam gambar tsb. atau 2. Brainstorming per daerah tentang aturan main sela-ma proses menggunakan lokakarya. Pertanyaan kuncinya adalah ”Apa dan bagaimana baliho besar cara mengelola kegiatan lokakarya ini supaya berjalan lancar, milik WSLIC- dinamis dan penuh semangat”. NTB sebagai media menuliskan alur.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan17.45 -18.15 Pemetaan Terpetakannya pemahaman awal peserta 1. Fasilitator menjelaskan cara pemetaan kondisi awal peserta Tim Matriks(30’) Pemahaman Awal tentang konsep kesinambungan program dengan metode penempelan dot sticker pada sticky cloths Pemetaan Peserta AMPL, konsep gender dan kemiskinan, yang sudah disiapkan sebelumnya dalam matriks : pemahaman konsep DRA (demand responsive 0 25 50 75 100 awal peserta, approach), konsep dasar MPA/PHAST, dan Sanga Dot sticker Tidak perangkat MPA/PHAST Aspek Kuran Cuku Luma t paha g p yan paha m m Pengetahuan tentang konsep kesinambungan program AMPL Pemahaman tentang konsep gender dan kemiskinan dalam program AMPL Pengetahuan tentang konsep DRA (demand responsive approach) Pengetahuan tentang Konsep-konsep dasar MPA/PHAST Pemahaman tentang perangkat MPA/PHAST18.15-19.45 Istirahat, Makan Malam(1,5 jam)19.45-21.30 Konsep Dasar 1. Peserta mengerti dan faham tentang 1. Fasilitator menjelaskan bahwa pembahasan konsep Tim Metaplan(45’) Kesinambungan konsep dasar kesinambungan dalam kesinambungan akan menggunakan kasus pengala-man warna-warni, program AMPL. program SAB dan akan dibahas dalam kelom-pok. Sumber spidol, plano, 2. Peserta memahami hubungan antar belajar lain adalah pengalaman sehari-hari peserta dalam flow chart, aspek dalam kesinambungan dan membangun SAB di desa. LCD, tali dari mampu memberikan contoh-contoh 2. Bagikan kasus kepada setiap peserta, minta peserta membaca potongan pengalaman riil lapangan tentang kasus tsb selama 5 menit. kertas plano, hubungan antar aspek 3. Bagi peserta menjadi 2-3 kelompok dan minta setiap tulisan dalam kesinambungan. kelompok menghadap ke kain tempel yang akan didampingi kartu oval seorang fasilitator. (Sosial, Teknis, 4. Dalam setiap kelompok ditempel pertanyaan yang ditulis Kelambagaan, dalam metaplan besar dan panjang ”Mengapa program SAB Financial, seperti dalam kasus bisa berhasil dan sinambung?”. ”Dalam Lingkungan). pengalaman sehari-hari, mengapa proyek SAB/S gagal dan tidak sinambung?”: 5. Minta setiap peserta menuliskan jawaban atas pertanya-an tsb dalam kartu-kartu, 1 kartu untuk 1 jawaban. 6. Setiap kartu pendapat ditempel dalam kain rekat. Fasilitator mengupayakan pengelompokan, selanjutnya minta perwakilan kelompok untuk mengambil peran dalam pengelompokan kartu-kartu tsb. 7. Jika sudah menemukan beberapa kelompok berdasarkan
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan aspek-aspek tertentu, tulis judul aspek dalam kartu yang berbentuk lain. Uji dengan pertanyaan ”apakah ada hubungan antara satu kelompok kartu (misalnya sosial dengan SDM/Kelembagaan)”?. Jika ada pengalaman minta peserta memberikan contoh riil yang berhubungan antara satu aspek dengan aspek lain. 8. Buat hubungan dengan menarik garis dari satu aspek ke aspek lain dengan menggunakan kertas. 9. Ajak peserta untuk menarik kesimpulan ”Kalau begitu apa sebenarnya yang disebut dengan berkesinambungan?”. 10. Berikan penegasan sebagai berikut : RINGKASAN KONSEP KESINAMBUNGAN DALAM SAB/S 1. Pelayanan SAB/S yang berkesinambungan secara efektif adalah sarana yang dapat secara teratur dan handal menyediakan cukup air bersih dengan kualitas yang dapat diterima, sehingga pengguna mendapat kepuasan yang tinggi serta bersedia menggunakan & memelihara sarana. 2. Secara teknis kerusakan jarang terjadi dan perbaikan cepat dilakukan, serta keuangan setempat menutupi setidaknya biaya yang dibutuhkan secara teratur untuk operasional, pemeliharaan dan perbaikan. 3. Rumah tangga atau sebagian besar masyarakat selalu menggunakan SAB minimal untuk minum dan penggunaannya ramah lingkungan (ada drainase dan tidak ada air yang menggenang). 4. Secara sosial, masyarakat menerima teknologi SAB/S dan digunakan untuk menunjang serta memperoleh manfaat kesehatan atau tingkat perubahan kebiasaan penggunaan SAB serta melestarikan lingkungan.21.30-21.35 Self Monitoring - Setiap peserta bisa memberikan 1. Dengan menggunakan metode Kantung Suara seperti Visual dalam(5’) Harian pendapat atas apa yang mereka panduan TERLAMPIR. Aspek-aspek opsional yang dinilai kertas flipchart rasakan dalam sehari. setiap peserta yaitu (Bagaimana situasi kelas hari ini?, besar dan - Sebagai input untuk proses Bagaimana peran serta peserta dalam proses hari ini?, ditempel di selanjutnya. Bagaimana fasilitator membangun dinamika hari ini?, kain rekat. Bagaimana Peningkatan pemahaman sampai hari ini?, Pengetahuan konsep kesinambungan sampai saat ini?, dll.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator BahanHari Kedua, Senin 28 Agustus 200608.00-09.30 Konsep Sosial, 1. Peserta mengerti dan faham tentang 1. Fasilitator memulai kegiatan dengan polling pendapat peserta(90’) Gender equity, konsep sosial, gender equity dan tentang; kesinambungan, sosial, gender equity, Pemberdayaan, pemberdayaan. pemberdayaan. Pertanyaannya adalah : DRA. 2. Peserta memahami tentang Siapa yang paling banyak berhubungan atau yang pentingnya maninstream konsep menggunakan air? gender dan sosial dalam proyek AMPL. Siapa yang biasanya diundang dalam rapat pertemuan 3. Peserta mengerti dan faham tentang membicaran suatu rencana program? pendekatan tanggap kebutuhan (DRA) Siapa yang biasanya mendapat informasi mengenai rincian suatu program/proyek? Siapa yang terlibat dalam penentuan jenis pilihan teknologi sarana? Siapa yang terlibat dalam penempatan loksi, dan rancang bangun dari sarana yang akan terbangun? Siapa yang sering terlibat dalam pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan sarana? Siapa yang biasanya terlibat dalam pengambilan keputusan dalam tahapan perumusan dan perencanaan kegiatan di tingkat masyarakat? Siapa yang sering dilibatkan dalam proses pembangunan sarana? Siapa yang lebih sering duduk dalam badan pengelola untuk mengelola ksinambungan sarana? Siapa yang paling banyak dilibatkan dalam proses monitoring dan evaluasi suatu program/proyek? 2. Minta 2 peserta laki-laki dan perempuan untuk maju ke depan kelas (upayakan yang laki besar dan gemuk dan yang perempuan kurus dan kecil). Bariskan mereka depan-belakang, yang di depan laki-laki dan si kaya, sedangkan yang dibelakang perempuan dan si miskin. Role-playkan 2 orang tsb untuk memberi pengerti Kesetaraan Gender dan Kesetaraan Sosial. 3. Tanyakan kepada peserta apa yang terjadi terhadap pembangunan sarana SAB/S bila keseteraan gender dan kesetaraan sosial itu tidak terjadi. Tulis jawaban peserta pada kertas plano. Tanyakan kembali apa yang terjadi bila Kesetaraan Gender dan Kesetaraan Sosial di “mainstreming”kan pada suatu program/proyek. 4. Simpulkan jawaban peserta untuk menjawab pertanyaan mengapa kesetaraan Gender dan Sosial sangat penting yaitu : untuk kesinambungan sarana SAB/S dan keadilan sosial.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan09.30-10.00 Kerangka Kerja 1. Peserta mengerti dan faham tentang 1. Fasilitator menjelaskan kerangka kerja MPA-PHAST dengan Tim 1 set kartu(30’) MPA/PHAST dan kerangka kerja MPA/PHAST kaitannya skema dan alur secara bertahap. yang berisi Tools-nya dengan implementasi konsep DRA. 2. Setelah kerangka kerja dijelaskan, berikan kesempatan tulisan bagian kepada peserta untuk memberikan klarifikasi. A sampai G 3. Lanjutkan dengan menguraikan tools yang digunakan dalam dari kerangka setiap bagian kerangka dan sub indikator dalam skema. kerja MPA- Tempel satu per satu dan jelaskan secara ringkas. PHAST lengkap dengan nama- nama tools.10.00–10.15 Coffee break10.15-13.00 Piranti MPA- 1. Peserta mengerti tentang tahap 1. Fasilitator memulai dengan metode brainstorming, menggali Tim Metaplan(2 jam 45’) PHAST inventaris sosial masyarakat beserta pendapat peserta tentang inventaris sosial masyarakat warna-warni, 1. Inventaris maksud dan tujuannya 2. Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA untuk proses plano, A4, Sosial 2. Peserta mengetahui dan dapat inventaris sosial masyarakat; pertemuan dengan aparat spidol, biji- Masyarakat menerapkan tools MPA untuk desa/kelurahan, inventaris data komunitas, sejarah SAB/S dan bijian, melakukan inventaris sosial masyarakat promosi kesehatan, klasifikasi kesejahteraan, pemetaan sosial, tali/benang, Rapid Technical Assessment (RTA), Perencanaan Transect spi-dol kecil Walks. warna-warni, 3. Fasilitator menjelaskan maksud dan tujuan penggunaan tools- lem, pensil, tools tsb satu persatu karet 4. Fasilitator mensimulasikan alat-alat kajian tsb satu persatu penghapus, hingga peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat selotipe, melakukannya. mistar, 5. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk gunting/cater, menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan kemudian lembar skoring, melakukan penegasan format tools 6. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi 7. Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips yang harus dilakukan saat penerapan tools.13.00-14.00 Isshoma14.00-16.30 2. Tinjauan 1. Peserta mengerti tentang tinjauan 1. Fasilitator mengawali kegiatan dengan metode brainstorming, Tim Metaplan(150’) Pengelolaan pengelolaan sarana beserta maksud menggali pemahaman peserta tentang tinjauan pengelolaan warna-warni, Sarana dan tujuannya sarana plano, spidol, 2. Peserta mengetahui dan dapat 2. Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA untuk melakukan dot sticker/ biji- menerapkan tools MPA untuk tinjauan pengelolaan sarana yaitu; pengelolaan dan bijian, format melakukan tinjauan pengelolaan pengambilan keputusan (CM), sejarah partisipasi saat tools, lembar sarana pembangunan sarana (H), penilaian pelatihan (TR), dan skoring (CM, pengelolaan keuangan (FIN). FIN, TR, H), 3. Fasilitator mendemonstrasikan ke-empat tools tsb satu persatu gambar MPA hingga peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan melakukannya 4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan 5. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi dalam beberapa kelompok yang didampingi seorang fasilitator. 6. Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips dalam menerapkan tools tsb16.30-17.30 3. Tahap-Tahap 1. Peserta mengetahui tentang tahap- 1. Fasilitator memulai proses dengan metode brainstorming, Tim Metaplan,(60’) Monitoring tahap pelaksanaan monitoring menggali pemahaman peserta tentang tahap-tahap plano, A4, Kesinambunga kesinambungan proyek SAB/S pelaksanaan monitoring kesinambungan spidol, lem, n 2. Peserta mengetahui cara dan piranti 2. Fasilitator menjelaskan 4 tahapan pelaksanaan monitoring gunting, tabel yang digunakan dalam monitoring kesinambungan dalam proyek WSLIC-2 MIS (Tahap I- kesinambungan 3. Fasilitator menjelaskan piranti MPA-PHAST yang digunakan IV), contoh untuk setiap tahapan monitoring kesinambungan tsb. grafik ke- 4. Fasilitator menerangkan tentang MIS dan grafik sinambungan kesinambungan 5. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan17.30-18.00 1. Pembagian 1. Peserta terbagi dalam 7 kelompok 1. Panitia membacakan siapa yang masuk dalam kelompok Tim 7 set material(30’) Kelp Lapangan lapangan (desa). desa yang mana. lapangan. dan Tugas- 2. Setiap kelp memahami tugas-tugas 2. Fasilitator menjelaskan tugas-tugas berdasarkan tahapan tugas yang akan dijalankan selama kerja monitoring kesinambungan yang harus dilakukan di kelompok lapangan. lapangan.18.00-19.30 Isshoma19.30-21.00 Persiapan Lapangan I(90’) 1. Gambaran 1. Peserta memahami gambaran umum 1. Fasilitator menjelaskan tentang status kegiatan di desa & Team Metaplan, umum lokasi lokasi WSLIC-2 komunitas yang akan menjadi lokasi try out Leader plano, spidol, 2. Desain 2. Adanya desain (informasi tahap I-IV & 2. Fasilitator membagi peserta menjadi 7 kelompok (@ 5-6 WSLIC-2 lembar (informasi pembagian tugas fasilitasi orang) sekaligus menetapkan lokasi praktiknya masing- NTB, Mitra informasi awal tahap I-IV & 3. Adanya jadwal kerja lapangan masing. Samya kondisi pem-bagian 4. Adanya format visualisasi dan 3. Fasilitator membagikan lembar informasi awal mengenai desa lapangan, data tugas fasilitasi pelaporan lokasi praktik (print out), dan setiap kelompok juga akan baseline, RKM, 3. Jadwal kerja 5. ATK dan material lainnya mendapatkan RKM masing-masing desa lokasi praktik. format laporan lapangan 4. Fasilitator membagikan data baseline untuk desa tahap II-IV, & paket ATK 4. Format sehingga bisa digunakan untuk membaca kecenderungan praktik visualisasi dan perubahan yang terjadi lapangan pelaporan 5. Fasilitator meminta setiap kelompok untuk menyusun jadwal
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 5. ATK dan kerja lapangan material 6. Fasilitator membagikan lembar format pelaporan dan lainnya menjelaskan visualisasi yang harus dibuat serta bagaimana menyusun pelaporan lapangan 7. Membagikan ATK dan material kebutuhan praktik lapangan21.00-21.30 Persiapan mandiri 1. Fasilitator mendampingi setiap kelompok mempersiapkan Tim 1 set material(30’) setiap terutama terkait dengan tools dan pembagian tugas, format untuk kerja tim/kelompok scoring dan lain sebagainya. lapangan. desa.Hari Ketiga, Selasa 29 Agustus 200607.30-17.30 Fasilitasi di Masyarakat Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan Kelompok, Paket ATK kesinambu-ngan desa dengan tools MPA untuk monitoring didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan Fasilitator & Praktik Tahap I (Klp I dan tahap I 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, Kelp II) Baseline 2. Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan material Desa Jontlak dan menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap I lainnya …. Desa Batujai (Baseline) Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan Kelompok, Paket ATK kesinambu-ngan desa dengan tools MPA untuk monitoring didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan Fasilitator, Praktik Tahap II (Klp III) tahap II 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, Draft RKM Desa 2. Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan material Mertak Tombok menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap II (Draft lainnya …. RKM) Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan Kelompok, Paket ATK kesinambu-ngan desa dengan tools MPA untuk monitoring didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan Fasilitator, Praktik Tahap III (Klp IV tahap III 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, dan Klp V) 2. Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan material Konstruksi, Desa menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap III lainnya …. Teruwai dan Desa (Konstruksi) Gapura. Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan Kelompok, Paket ATK kesinambu-ngan desa dengan tools MPA untuk monitoring didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan Fasilitator, Praktik Tahap IV (Klp VI tahap IV 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, dan Klp VII) Pasca 2. Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan material Konstruksi, Desa menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap lainnya …. Perina dan Desa IV(Pasca Konstruksi) Aik Darek.
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan17.30-18.30 Perjalanan Ke Hotel16.30-20.00 Ishoma20.00-21.30 Pendokumentasian 1. Peserta dapat membuat pelaporan 1. Masing-masing kelompok melakukan pendokumen-tasian Kelompok, Kertas A4, (Proses, Hasil dan desa (site) (proses, hasil dan pembelajaran) dengan memakai recording Fasilitator & mistar, spidol Pembelajaran) 2. Adanya draft laporan desa book MPA-PHAST dan catatan-catatan lapangan. Ass kecil warna, …. 2. Setiap peserta secara khusus diminta untuk menuliskan Fasilitator pembelajaran utama dari proses praktik lapangan yang sudah Mitra dilakukannya. Samya, CFHari Keempat, 30 Agustus 200607.30-10.00 Presentasi dan Refleksi 1. Proses & hasil 1. Kelompok dapat mempresen-tasikan 1. Fasilitator meminta masing-masing kelompok untuk praktik proses & hasil praktik monitoring mempresentasikan laporan proses dan hasil praktik lapangan monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) termasuk pembelajaran yang didapat secara bergantian kesinambung 2. Kelompok dapat merefleksi-kan 2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok lain an (deskripsi pembelajaran yang telah diperoleh untuk bertanya/klarifikasi & grafik) dalam try out 3. Dst, …… fasilitator kemudian memberikan penegasan akhir 2. Refleksi pembelajaran10.00-10.15 Break10.15-12.30 Piranti MPA-PHAST 1. Transect Walks 1. Peserta mengerti tentang transect 1. Fasilitator mengawali proses dengan metode brainstorming, Mitra Metaplan, walks “perjalanan transect” beserta menggali pemahaman peserta tentang maksud dan tujuan Samya spidol, plano, maksud dan tujuannya perjalanan transect A4, tali, 2. Peserta mengetahui dan dapat 2. Fasilitator memperkenalkan beberapa tools MPA untuk meteran (rating menerapkan tools-tools dalam pelaksanaan transect walks yaitu; pengelolaan sumber air scale), lembar melakukan transect walks (SM), penilaian tingkat kualitas kerja (WR), penilaian pelayanan skoring (SM, oleh kelompok pengguna laki & perempuan (TW), dan WR, TW), kunjungan masyarakat yang tidak terlayani (UP). format ca-tatan 3. Fasilitator mensimulasikan ke-empat tools tsb satu persatu skoring (SM, hingga peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat WR, TW, UP) melakukannya 4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan 5. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi 6. Fasilitator memberikan penegasan akhir dan tips-tips dalam menerapkan tools tsb12.30-14.00 Isshoma14.00-18.00 Lanjutan Piranti MPA
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan 2. FGD Menurut 1. Peserta mengerti tentang FGD 1. Fasilitator memulai kegiatan dengan metode brainstorming, Mitra Metaplan, Gender dan menurut gender dan kelas sosial menggali pemahaman peserta tentang maksud dan tujuan Samya plano, spidol, Kelas Sosial beserta maksud dan tujuannya dari FGD menurut gender dan kelas sosial gambar MPA 2. Peserta mengetahui dan dapat 2. Fasilitator memperkenalkan tools-tools MPA yang digunakan (EU, DIV, VC, menerapkan tools-tools dalam dalam FGD menurut gender dan kelas sosial yaitu; efektifitas Cont-Route & melakukan FGD menurut gender dan penggunaan SAB/S (EU), manfaat, kebutuhan dan nilai Block), lembar kelas sosial terhadap biaya (BC), pembagian kerja berdasarkan gender dan skoring (EU, waktu kerja (DIV), hak suara dan pilihan dalam pengambilan BC, DIV, VC), keputusan (VC), alur penularan penyakit dan penghambatnya1, format catatan serta pertemuan pleno masyarakat. skoring, 3. Fasilitator mensimulasikan tools-tools tsb satu persatu hingga gunting, biji- peserta benar-benar faham dan merasa yakin dapat bijian melakukannya 4. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal-hal yang kurang jelas dan melakukan penegasan 5. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bersimulasi 6. Fasilitator memberikan penegasan akhir dengan tips-tips penerapan tools tsb18.00-19.30 Isshoma19.30-21.30 Persiapan Lapangan II 1. Desain jadwal 1. Peserta mendesain jadwal kerja 1. Kelompok III yang pada hari ini tidak kembali ke lapangan, kerja lapangan anggotanya akan dipecah dan bergabung dengan Kelompok I lapangan 2. Peserta membuat format visualisasi dan II. Sementara Kelompok VI akan bergabung ke Klp IV, dan 2. Format dan pelaporan Klp VII bergabung ke Klp V. visualisasi dan 3. Persiapan ATK dan material lain yang 2. Fasilitator meminta kepada kelompok untuk mendesain pelaporan dibutuhkan rencana kegiatan praktik lapangan II untuk menerapkan tools- 3. ATK dan tools MPA-PHAST yang belum dilakukan pada praktik material lapangan I lainnya 3. Fasilitator membagikan lembar format pelaporan dan menjelaskan visualisasi yang harus dibuat serta bagaimana menyusun pelaporan 4. Membagikan ATK yang dibutuhkan untuk try out lapangan II kepada masing-masing kelompok1 Peserta dibedakan menurut jenis kelamin dan usia (sekolah/ masyarakat) tetapi tidak dibedakan berdasarkan kelas sosial
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator BahanHari Kelima, 31 Agustus 200607.30-12.30 Fasilitasi di Masyarakat Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Masing-masing kelompok berangkat menuju ke desa dengan Kelompok, Paket ATK kesinambungan desa dengan tools MPA untuk monitoring didampingi 1 orang fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan Fasilitator, Praktik Tahap I (lanjutan) tahap I 1 orang CF WSLIC-2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, (Klp I dan Klp II) 2. Peserta (kelompok) melakukan fasilitasi di masyarakat dengan material Baseline, Desa menggunakan tools dan field book MPA-PHAST Tahap I lainnya …. Jontlak dan Desa (Baseline) yang belum dilakukan pada try out lapangan I Batujai. Monitoring Peserta melakukan praktik lapangan di 1. Setiap kelp berangkat ke desa dengan didampingi 1 orang Kelompok, Paket ATK kesinambngan desa dengan tools MPA untuk monitoring fasilitator, 1 orang assistant fasilitator, dan 1 orang CF WSLIC- Fasilitator, Praktik Tahap III (lanjutan) tahap III 2 yang bertugas di lokasi CF Lapangan, (Klp IV dan Klp V) 2. Peserta (kelp) melakukan fasilitasi di masy dengan tools dan material Konstruksi, Desa field book MPA-PHAST Tahap III (Konstru-ksi) yang belum lainnya …. Teruwai dan dilakukan pada try out lapangan I Gapura.15.00-16.00 Pendokumentasian 1. Peserta dapat membuat pelaporan 1. Masing-masing kelompok melakukan pendokumentasian Kelompok, Kertas A4, (Proses, Hasil dan desa (site) (proses, hasil dan pembelajaran) dengan menggunakan Fasilitator, mistar, spidol Pembelajaran) 2. Adanya draft laporan desa (gabungan recording book MPA-PHAST dan catatan-catatan lapangan. CF kecil warna, …. dengan hasil try out I) 2. Setiap peserta secara khusus diminta untuk menuliskan pembelajaran utama dari proses praktik lapangan yang sudah dilakukannya.16.00-16.30 Break16.30-18.30 Presentasi & Refleksi 1. Proses & hasil 1. Kelompok dapat mempresen-tasikan 1. Fasilitator meminta setiap kelompok mempresentasi-kan praktik proses & hasil praktik monitoring laporan proses & hasil praktik lapangan terma-suk monitoring kesinambungan (deskripsi & grafik) pembelajaran yang didapat secara bergantian kesinambungan 2. Kelompok dapat merefleksikan 2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok lain (deskripsi & pembelajaran yang telah diperoleh untuk bertanya/klarifikasi grafik) dalam try out 3. Dst, …… fasilitator kemudian memberikan penegasan akhir 2. Refleksi pembelajaran18.30-20.00 Isshoma20.00-21.30 Lanjutan Presentasi & RefleksiHari Keenam, 1 September 200607.30-09.45 Evaluasi & Penutupan Pemetaan Terpetakannya pemahaman akhir peserta 1. Fasilitator menjelaskan tentang postest dengan metode Mitra Matriks
  • Waktu Agenda Keluaran Proses Fasilitator Bahan pemahaman akhir thd konsep kesinambu-ngan program penempelan dot sticker pada sticky cloths yang sudah Samya pemetaan, Dot setiap peserta AMPL, konsep gender dan kemiskinan, disiapkan sebelumnya dalam matriks : sticker konsep DRA (demand responsive Aspek 0 25 50 75 100 approach), konsep dasar MPA- PHAST, Pengetahuan tentang konsep dan perangkat MPA-PHAST kesinambungan program AMPL Pemahaman tentang konsep gender dan kemiskinan Pengetahuan tentang konsep DRA (demand responsive approach) Pengetahuan tentang Konsep- konsep dasar MPA/PHAST Pemahaman tentang perangkat MPA/PHAST Evaluasi Akhir Peserta dapat melakukan penilaian secara 1. Fasilitator menjelaskan tentang tata cara melakukan evaluasi Tim Lembar Peserta partisipatif terhadap penyelenggaraan akhir dengan format yang sudah disediakan evaluasi orientasi MPA-PHAST 2. Fasilitator membagikan lembar evaluasi kepada peserta dan peserta, Format Melakukan penegasan seluruh proses dan mempersiapkan format besar untuk diisi bersama berdasarkan evaluasi akhir hasil orientasi dalam kaitannya dengan evaluasi dari masing-masing peserta. (Lembar terlampir). (kertas besar), implementasi kebijakan 3. Fasilitator membuat penegasan atas hasil evaluasi dari seluruh metaplan, peserta plano, spidol, 4. Fasilitator meminta kepada peserta (wakil dari masing-masing mistar daerah) untuk membuat rekomendasi bagi diri dan daerahnya masing-masing terkait dengan implementasi kebijakan partisipatif berbasis masyarakat dalam kerangka AMPL.09.45-10.00 Break10.00-11.00 Penutupan Penutupan kegiatan orientasi oleh Pengantar, Ceramah, dan penutupan Pejabat dari …. pejabat/instansi terkait instansi terkait12.00-13.30 Perjalanan ke Mataram (Bandara Selaparang)
  • Field Book MPA/PHAST BUKU KERJAMPA - PHAST
  • Field Book MPA/PHAST PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN MONITORING KESINAMBUNGAN DAN EFEKTIFITAS PENGGUNAAN SARANA AIR BERSIH DAN SANITASI (OUTCOME AND PROCESS MONITORING) 1 TAHAP I (BASELINE DATA) Disiapkan Oleh : MITRA SAMYA Lembaga Studi Partisipasi Dan Demokrasi Institute Study for Research and Democracy Jl. Sultan Salahudin 17 Tanjung Karang Mataram Lombok NTB Telp./Fax ; 0370-624232, Email ; Mitrasamya@indo.net.id1 Sebagai Bahan Orientasi MPA-PHAST Di Novotel Lombok, 27 Agustus – 1 September 2006Panduan Proses MPA/PHASTDisampaikan pada Orientasi MPA/PHAST bagi Kelompok Kerja AMPL DaerahNTB, 27 Agustus - 1 September 2006
  • Field Book MPA/PHAST TAHAP I ANALISIS SITUASI (BASELINE DATA)TUJUAN• Merekam data (situasi baseline) berdasarkan kondisi yang terjadi saat ini terhadap sarana yang sudah ada, termasuk kondisi keuangan dan pengelolaannya.• Dari analisa bersama masyarakat, keinginan untuk peningkatan SAB/S biasanya muncul dengan jelas. Selama pembangunan masyarakat berkeinginan membayar/membiayai demi perbaikan atas kebutuhan mereka.• Mendorong masyarakat untuk merencanakan sendiri dan membuat sarana pelayanan baru yang lebih berkesinambungan dan merata, secara proporsional bagi semua bagian/ organisasi lokal di desa dan semua kelompok masyarakat merasa puas.INSTRUMENT YANG DIGUNAKAN :1. Klasifikasi Kesejahteraan (P)2. Pemetaan Sosial (M)3. Interview Dengan Badan Pengelola (sarana sebelumnya) • Pengelolaan dan Pengambilan Keputusan (CM) • Pengelolaan Keuangan (FIN)4. Pembagian Kerja Berdasarkan Gender dan Waktu Kerja (DIV)5. Transect Walks • Pengelolaan Sumber Air (SM) • Penilaian Tingkat Kualitas Kerja (WR) • Penilaian Pelayanan oleh Kelompok Pengguna (TW)6. Efektifitas Penggunaan Sarana (EU)7. Hak Suara dan Pilihan Dalam Pengambilan Keputusan (VC)SIAPA YANG MELAKUKAN• Kegiatan tahap I dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi CF2 dan prosesnya harus dimonitoring oleh PMC3.• Hasil pengisian instrument harus sampai pada skoring dan sebagai bahan penyusunan RKM4• Arsip disimpan TKM5, dan CF bisa membuat copy-nya untuk diinsert ke dalam MIS6 di DPMU7 setelah diverifikasi (scoring sheet) oleh PMC.2 Community Facilitator3 Process Monitoring Consultant4 Rencana Kerja MasyarakatPanduan Proses MPA/PHASTDisampaikan pada Orientasi MPA/PHAST bagi Kelompok Kerja AMPL DaerahNTB, 27 Agustus - 1 September 2006
  • Field Book MPA/PHAST 1 KLASIFIKASI KESEJAHTERAAN (M)TUJUANMengklasifikasi penduduk desa kedalam kategori tingkatan ekonomi (seperti kaya, miskin, menengah, dst)menurut kriteria setempat dan sesuai istilah lokal. Klasifikasi ini digunakan untuk mengidentifikasi kelompokyang terlibat dalam diskusi (FGD), pemetaan akses orang miskin dan kaya terhadap sarana air bersih dan sanitasi,fungsi dan pekerjaannya, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat partisipasi masyarakat, dsb.BAHAN-BAHAN• Kertas/karton• Spidol/alat tulis• Kertas Flip chart• Batu/benih/kacangPROSES1. Mulailah diskusi kelompok (dengan menyertakan perempuan dari masyarakat dan perwakilan setiap lingkungan) tentang bagaimana membedakan rumah tangga dalam penduduk desa.2. Fasilitator menyediakan kertas kosong dan meminta satu kelompok membuat gambar orang kaya di desa, kelompok lainnya membuat gambar orang menengah dan miskin. Kegiatan ini sekaligus sebagai “ice breaking”, karena biasanya hasil gambar bisa memecahkan kebekuan. Untuk istilah kaya/miskin/menengah dan lainnya diambil dari istilah lokal agar dapat dimengerti dan diterima.3. Minta masing-masing kelompok menjelaskan ciri setiap kategori satu persatu. Letakkan jawaban yang muncul di bawah gambar yang sesuai. Akan cukup menolong, jika dimulai dengan kategori “kaya”, “miskin” dan selanjutnya “menengah”. Langkah ini dilanjutkan hingga sekurangnya ada 6 - 7 ciri yang muncul dari setiap kategori.4. Fasilitator harus menggali keterangan yang rasional atau alasan khusus dari mayarakat di balik ciri-ciri yang muncul. Juga dapat diklarifikasi dengan menayakan kepada setiap KK, Bagaimana kebiasanaan mereka? Bagaimana keadaan sosial ekonomi mereka?5. Minta kelompok mendistribusikan 100 biji/kerikil (yang menunjukkan total populasi masyarakat) menurut kategori yang muncul dimana jumlah biji akan menunjukan proporsi setiap kategori dalam populasi penduduk.6. Kemudian kelompok menunjukkan karakteristik dan persentase hasil diskusi dalam lembaran kertas besar sebagai acuan untuk memulai kegiatan selanjutnya yang membutuhkan pengelompokan orang kaya dan miskin.INFORMASI MINIMUM YANG DIHARAPKAN• Kesepakatan kriteria klasifikasi keluarga kaya, miskin dan menengah• Perkiraan distribusi keluarga/rumah tangga untuk setiap kategori yang muncul• Memberikan informasi tersebut di atas untuk proses pemetaan sosial dan identifikasi peserta untuk berpartisipasi dalam kelompok terfokus5 Tim Kerja Masyarakat6 Management Information System7 District Project Management UnitPanduan Proses MPA/PHASTDisampaikan pada Orientasi MPA/PHAST bagi Kelompok Kerja AMPL DaerahNTB, 27 Agustus - 1 September 2006
  • Field Book MPA/PHAST KLASIFIKASI KESEJAHTERAAN LEMBAR SKOR DAN KODE Nama Desa : ..................................................................................................................................................... Nama Kecamatan/Kabupaten/Propinsi : ........................................................................................................ Proyek : WSLIC-2 Tanggal : ..................................................................................................................................................... Nama Pimpinan Tim : Bpk/Ibu …………………........................................................................................... Nama Anggota Tim : Bpk/Ibu ………………...................................... Asal ............................................................................... Bpk/Ibu …………