Laporan Foto. Cerita dari Ciwalengke

478 views

Published on

diterbitkan oleh Cita Citarum Tahun 2010

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
478
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan Foto. Cerita dari Ciwalengke

  1. 1. Foto: Veronica Wijaya, Diella DachlanTeks & Layout: Diella DachlanEditor: Candra Samekto
  2. 2. Cerita dari CiwalengkeKampung Ciwalengke terletak di tepian jalan utama di Kabupaten Majalaya, Jawa Barat, diapit oleh sederetanpabrik dan hamparan sawah. Kampung itu sendiri terdiri dari rumah-rumah sederhana yang dibangunrapat satu sama lain. Jalan utama dikampung itu sempit, berliku-liku dan becek di-sana-sini.Di beberapa tempat terlihat rumah-rumah petak seluas 2x3 meter persegi yang disewakan sehargaRp 70.000,-/bulan kepada warga pendatang yang sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik atau pedagangkeliling. Terlihat banyak pula warga yang saat ini tidak memiliki pekerjaan tetap dan bekerja serabutanuntuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. xx
  3. 3. Terdapat kesamaan pada sebagian besar warga kampung Ciwalengke, Majalaya. Hampir seluruh warganya terlihat mengalami gatal-gatal pada kulit. “Kalau digaruk jadi makin parah, sering sampai berdarah-darah” Kata Pak Jajang (38 tahun), sambil menunjukkan kulitnya yang mengelupas di bagian kakinya. Sementara Ruhayati (17 tahun) berusaha mencegah Kisha, bayinya yang berusia 7 bulan, menggaruk-garuk kepalanya. “Kalau bayi lebih susah, karena gak bisa dilarang menggaruk. Jadinya rewel banget dia”keluh Ruhayati. .Salah satu MCK di Ciwalengke.. Air di saluran ini juga menerima buangan limbah dari pabrik. Warga menggunakan air yang sama untuk kebutuhan sehari-hari xx
  4. 4. Menurut warga yang menempati rumah- rumah kontrakan, di dalam rumah tidak terdapat kamar mandi. “Untuk sehari-hari kami mandi dan mencuci di kamar mandi umum yang dibangun oleh pemilik kontrakan” cerita Ibu Ida (24 tahun). “Air yang digunakan di unit-unit kamar mandi warga kontrakan di sini, sumbernya mengambil langsung dari saluran irigasi yang melewati kampung ini”. “Masalahnya pabrik-pabrik itu buang limbahnya ke sini juga, dan air ini yang kami pakai. Jadi ya gak heran kalau jadinya gatal- gatal begini” Kata Pak Ali (26 tahun) menduga penyebab gatal yang dialaminya. Melihat kondisi air ini, warga mengaku tidak berani menggunakan air tersebut untuk air minum meski sudah dimasak. Sebagian warga memiliki sumur resapan, meski ternyata air yang masuk ke dalam sumur tersebut berasal dari rembesan air dari saluran yang sama. Hal ini disadari oleh warga.xx
  5. 5. Beberapa warga mencoba membuat saringan sederhana, tetapi hasilnya tidak banyak membantu. Airtetap keruh dan gatal-gatal masih dialami.Untuk air minum, warga memilih memilih berlangganan air botol isi ulang seharga Rp 3.500,- per galonnya.Namun, beberapa warga mengaku jika sedang tidak memiliki uang, mereka akhirnya menggunakan airsumur yang dimasak untuk minum.
  6. 6. xx
  7. 7. Meskipun demikian, tetap ada juga warga yangmemanfaatkan sumber air tersebut untuk sumberpenghidupan. Misalnya mencuci plastik bekas yangselanjutnya dijual untuk didaur ulang.Menurut salah satu pengumpul plastik, mencuci plastikbekas di saluran yang berdekatan dengan pabrik tersebutbisa membuat plastik menjadi lebih bersih. xx
  8. 8. Menurut warga setempat, bukan hanya masalah air, tetapihampir setiap hari, udara di seputar kampung itu berbaumenyengat. Warga menduga hal ini ada kaitannya denganbatubara yang sejak beberapa tahun terakhir digunakansebagai bahan bakar industri.Menghadapi kondisi seperti ini, hampir seluruh warga yangditemui mengaku enggan untuk pindah. “Ini rumah kamidan sumber penghidupan kami ya disini, mau kemana lagi?.Saya sih kepingin situasinya lebih baik dari sekarang. Minimalgak bau lagi setiap hari dan gak gatal-gatal lagi” Kata Ibu Ita(45 tahun) dengan mimik penuh harap. xx
  9. 9. Cerita Ibu Ita Ibu Ita (45 tahun) warga Kampung Ciwalengke, mengaku sangat mengkhawatirkan suaminya, Pak Ojan (50 tahun). Pasalnya beberapa tahun terakhir ini kondisi suaminya terus menurun.”Dokter bilang, beliau sakit paru-paru, yang sebelah sudah tidak lagi berfungsi dengan baik” cerita Ibu Ita, sambil menunjukkan hasil rontgen paru-paru suaminya. Pak Ojan bekerja sebagai tukang batagor keliling untuk menghidupi istri dan ke-empat anaknya. Menurut Ibu Ita, awalnya Pak Ojan sering batuk-batuk dan demam. Tapidemi menghidupi keluarganya, Pak Ojan seringkali tidak memperdulikan kondisi kesehatannya. Hujanangin pun sering diabaikan beliau, pulang ke rumah hingga larut malam.Karena keterbatasan dana, Pak Ojan hanya memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Oleh puskesmas,beliau dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk di-rontgen, dengan keringanan biaya. Namun, meskipunharus beristirahat dan berobat intensif, Pak Ojan memilih untuk tetap bekerja dan berobat jalan dirumah.Menurut Ibu Ita, keluarga mereka ditawari pindah dan tinggal di kampung oleh kerabatnya. Tetapitawaran ini ditampiknya. “Ini rumah kami dari dulu, dan mata pencaharian kami pun disini. Di kampungbingung mau kerja apa. Biarpun kondisi di sini sudah tidak terlalu nyaman dengan udara yang baudan air yang kurang bagus, tapi kami akan tetap tinggal disini”.
  10. 10. xx
  11. 11. Seputar GatalDi kampung Ciwalengke, ketika ditanya, berapa banyak warga yang mengalami gatal-gatal, mereka berpandangandan saling bertanya “Memangnya ada yang tidak gatal-gatal?”
  12. 12. Hampir seluruh warga menduga bahwa penyebab gatal-gatal adalah air yang berasal dari saluran irigasi sungaiCitarum yang dipakai untuk mandi dan mencuci. Menurutwarga, aliran air seringkali hitam, kecoklatan dan berbau,terutama kalau sedang ada “buangan” (begitu wargamenyebutnya ) dari pabrik. Namun disisi lain, wargamenyadari bahwa menutup pabrik bukanlah solusi, karenaakan banyak keluarga dan sanak saudara mereka yangakan kehilangan pekerjaan.“Kami hanya ingin air bersih, biar tidak lagi gatal-gatal,namun apa jalan keluarnya?” xx
  13. 13. Akses air yang bersih, kamar mandi dan sistem sanitasi yang layak (kedap air dan ramah lingkungan) semoga dapat terwujud di masa mendatang
  14. 14. www.citarum.org

×