Makalah iis

6,698 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,698
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
120
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah iis

  1. 1. MAKALAH TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR KONSERVASI SECARA MEKANIK Oleh: Iis Istikayah NIM A1H009059KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telahmelimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikantugas terstruktur Teknik Pengawetan Tanah dan Air yang berjudul ”KonservasiSecara Mekanik”. Tanpa adanya bantuan dan dorongan serta petunjuk dari berbagai pihak,makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulismengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalampenyelesaian makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih memiliki banyak kekurangan.Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demiperbaikan dimasa yang akan datang. Harapan penulis semoga makalah ini dapatbermanfaat bagi kita semua terutama bagi pembaca. Purwokerto, 10 April 2012 Penyusun
  3. 3. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai daerah tropis, erosi tanah oleh air merupakan bentukdegradasi tanah yang sangat dominan. Praktik deforestarisasi merupakanpenyebab utamanya baik di hutan produksi ataupun di hutan rakyat, yangmenyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Di samping itu, praktekusaha tani yang keliru di daerah hulu yang tidak memperhatikan kaidah-kaidahkonservasi akan menyebabkan terjadinya kemerosotan sumberdaya lahan yangakan berakibat semakin luasnya lahan kritis. Hal ini terbukti pada tahun 1990-anluas lahan kritis di Indonesia 13,18 juta hektar, namun sekarang diperkirakanmencapai 23,24 juta hektar, sebagian besar berada di luar kawasan hutan (65%)yaitu di lahan milik rakyat dengan pemanfaatan yang sekedarnya atau bahkancenderung diterlantarkan. Keadaan ini justru akan membawa dampak lahansemakin kritis dan kekeringan panjang terjadi dimusim kemarau. Arti tanah dan air bagi semua makluk hidup mempunyai peranan pentingdalam kehidupannya sejak diciptakan di planet bumi ini. Sejarah mencatat bahwaperjalanan peradaban manusia yang dimulai sejak manusia purba sampai saat iniselalu berada dekat dengan air atau sumber air. Essensi tanah dan air bagi manusiamenyebabkan munculnya adaptasi dan budaya yang berkaitan dengan hal tersebut.Di negara kita dan juga beberapa negara lain, air mempunyai nilai agama, budaya,sosial, ekonomi dan bahkan politik. Begitu eratnya ikatan masyarakat dengantanah dan air, sehingga perlu dilakukan upaya konservasi untuk mempertahankeberadaannya sehingga tetap terpeliharanya kompenen utama bagi kehidupanmanusia tersebut tetap terpelihara. Erosi, kekurangan air dan unsur hara adalah masalah yg paling serius didaerah lahan kering. Paket-paket teknologi untuk mananggulangi masalah-masalah tersebut juga sudah banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkankarena tidak begitu signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah
  4. 4. lahan kering. Memang perlu kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan kering,karena meningkatkan produktivitas lahan di daerah lahan kering yang kondisilahannya sebagian besar kritis dan potensial kritis tidaklah mudah. Produksi pertanian, perikanan dan penggunaan sumberdaya alam yangberkaitan dengan air akan menurun. Upaya pencegahan erosi dan sedimentasidapat dilakukan dengan perbaikan pola penggunaan lahan dan melakukan usahakonservasi tanah dan air. Upaya ini umumnya masih dilakukan parsial terutamakarena aktivitas ini masih dihitung sebagai biaya sosial dan bukan sebagaiaktivitas ekonomi yang menguntungkan. Untuk itu perlu dikembangkanpendekatan tindakan pengendalian erosi dalam rangka konservasi tanah dan airuntuk pertanian berkelanjutan. Kegiatan yang secara siginifikan menyebabkan meningkatnya laju erositanah adalah pembukaan lahan, pembangunan sarana dan prasarana perkebunandan penanaman. Kegiatan pembukaan lahan akan menyebabkan terjadinyapeningkatan laju erosi maksimal sebesar 1014,28 % dari kondisi sebelumnya,kegiatan sarana dan prasarana akan meningkatkan laju erosi maksimal sebesar66,88 % dan penanaman akan meningkatkan laju erosi maksimal sebesar 50,59 %.Dalam rangka menurunkan laju erosi maka perlu melaksanakan tindakankonservasi tanah dan air. Salah satu yang dapat dilakukan adalah pembuatan terassederhana atau teras berdasar lebar. Tindakan konservasi tanah ini akan dapatmenurunkan laju erosi minimal 125.255 kali lebih kecil dari laju erosisebelumnya. Konservasi tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukupmampu menanggulangi masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasitanah dan air diharapkan bisa menanggulangi erosi, menyediakan air danmeningkatkan kandungan hara dalam tanah serta menjadikan lahan tidak kritislagi. Ada 3 metode dalam dalam melakukan konservasi tanah dan air yaitu metodefisik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkanvegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta metodekimia yaitu memanfaatkan bahan-bahan kimia untuk mengawetkan tanah.
  5. 5. B. Tujuan1. Mengetahui pengertian konservasi secara mekanik2. Mengetahui cara-cara konservasi tanah dan air secara mekanik
  6. 6. II. ISI Dalam rangka pembangunan pertanian berkelanjutan, maka pengelolaanlahan harus menerapkan suatu teknologi yang berwawasan konservasi. Suatuteknologi pengelolaan lahan yang dapat mewujudkan pembangunan pertanianberkelanjutan bilamana memiliki ciri seperti dapat meningkatkan pendapatanpetani, komoditi yang diusahakan sesuai dengan kondisi biofisik lahan dan dapatditerima oleh pasar, tidak mengakibatkan degradasi lahan karena laju erosi kecil,dan teknologi tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat (Sinukaban, 1994). Tanah sebagai komponen utama usaha tani yang harus dipelihara,dimodifikasi bila perlu, sangat mempengaruhi produksi dan penampilan tanaman.Pada dasarnya teknik konservasi dapat dikelompokkan menjadi (i) tenikkonservasi vegetatif seperti sistem agroforestri, sistem tumpangsari, dan sistempertanian lainnya dan (ii) teknis seperti teras, gulud, cek dam, serta perlindungansaluran drainase dengan tanaman rumput. Teknik konservasi melalui caravegetatif pada umumnya lebih mudah penerapannya dan lebih murah biayanya(Sudirdja, 2008). Apapun teknik konservasi yang dipilih perlu disesuaikan dengan masalahyang ada di lapangan. Pada dasarnya masalah erosi berkaitan tingginya erosivitashujan, sifat tanah yang mudah tererosi (erodibilitas tanah yang tinggi), bentukanlahan (landform) dengan lereng yang curam dan panjang, serta penggunaan lahanyang terlalu intensif dan tidak sesuai dengan kemampuan lahannya. Erosivitashujan yang tinggi biasanya spesifik untuk berbagai wilayah dan hampir tidakdapat diubah. Namun demikian, pengaruh erosivitas yang tinggi dapat dikurangidengan jalan melemahkan energi kinetik butiran hujan sebelum sampai dipermukaan tanah, misalnya dengan menutup permukaan tanah. Penutupanpermukaan tanah dapat dilakukan melalui penggunaan mulsa, sistem pertanamancampuran atau multi strata, peningkatan kerapatan tanaman, bertanam secaratumpangsari (beberapa jenis tanaman sekaligus), tumpang gilir (menanam
  7. 7. tanaman baru sebelum tanaman yang lama dipanen), dan menanam tanamanpenutup tanah. Teknik konservasi yang dipilih perlu disesuaikan dengan masalah apayang akan dipecahkan. Misalnya untuk memecahkan masalah erodibilitas tanahyang tinggi disebabkan oleh struktur tanah yang mudah terdispersi (agregat tanahtidak stabil atau mudah pecah) dapat diatasi dengan peningkatan kandungan bahanorganik tanah. Pilihan teknik pengelolaan tanah untuk meningkatkan kandunganbahan organik tanah, misalnya sistem tanam campuran, pemberian mulsa,pemupukan, pemberian pupuk kandang. Selain berdasarkan masalah tanah, iklimdan topografi, pilihan perlu disesuaikan dengan biaya dan tenaga kerja yangtersedia, keadaan sistem usahatani di lokasi setempat, luas dan statuskepemilikkan lahan (tenure), dan orientasi pertanian (subsisten atau komersial)(Sudirdja, 2008). Gambar 1. Alur Pemilihan Teknik Pengendalian Erosi
  8. 8. A. Pengertian Konservasi Tanah dan Air Konservasi merupakan upaya untuk melestarikan sumberdaya alam dankualitas lingkungan hidup, serta menyelamatkannya dari kerusakan, hilang ataupunah. Di wilayah perkotaan muatan konservasi ini terutama ditujukan padasumberdaya atmosfer, tanah dan air. Dalam arti luas konservasi termasuk jugausaha rehabilitasi dan reklamasi, merupakan upaya membuat lingkunganperkotaan atau lahan marginal menjadi lebih baik dan lebih produktif yang dapatdipertahankan kesinambungannya. Dengan demikian sistem pertanaman konservasi menggunakan pendekatanyang menyeluruh (holistik) dan terpadu dalam memanfaatkan sumber daya alam,baik pada lingkungan lahan kritis atau marginal agar lebih produktif dan lestaripotensinya dan memperhatikan kaidah keterkaitan yang saling menguntungkanantara komponen-komponennya. Hasil pemantauan pengaruh status lahan terhadap konservasi tanahmenunjukkan bahwa:- Pemilik lahan (dengan sertifikat pemilikan) lebih memperhatikan konservasi tanah daripada mereka yang bukan pemilik lahan (penggarap lahan tersebut secara turun temurun yang tidak dilengkapi dengan sertifikat atau keterangan yang memperkuat).- Sistem sakap, sewa dan gadai menghambat usaha penghijauan konservasi karena cenderung untuk memanfaatkan lahan secara maksimal dengan biaya minimal. Untuk mempertahankan dan memulihkan fungsi lahan kembali sesuaidengan peruntukannya, perlu dilakukan konservasi tanah. Konservasi tanah inidiarahkan pada tiga perlakuan pokok, yaitu: (1) perlindungan tanah dari butir-butir hujan dengan cara meningkatkan jumlah tutupan tanah dengan bahanorganik dan tajuk tanaman; (2) mengurangi jumlah aliran permukaan melaluipeningkatan infiltrasi, kandungan bahan organik; dan (3) mengurangi kecepatanaliran permukaan sehingga kecepatan erosi dapat dikurangi. Konservasi tanah adalah serangkaian strategi pengaturan untuk mencegaherosi tanah dari permukaan bumi atau terjadi perubahan secara kimiawi atau
  9. 9. biologi akibat penggunaan yang berlebihan, salinisasi, pengasaman,atauakibat kontaminasi lainnya. Strategi yang biasanya dipakai, yaitu: pemilihan vegetasi penutup lahan pencegahan erosi pengaturan kadar garam pengendalian keasaman meningkatkan kelestarian organisme tanah yang menguntungkan pencegahan dan remediasi tanah dari kontaminasi mineralisasi Strategi lainnya yang biasa dipergunakan dalam bidang pertanian yaitu: pertanian tanpa pengolahan tanah pengolahan tanah berkontur alur penahan angin (windbreak) rotasi tanaman penggunaan pupuk alami mengistirahatkan lahan Pengolahan tanah merupakan kebudayaan yang tertua dalam pertanian dantetap diperlukan dalam pertanian modern. Tujuan pengolahan tanah adalah untukmenyiapkan tempat pesemaian, tempat bertanam, menciptakan daerah perakaranyang baik, membenamkan sisa tanaman, dan memberantas gulma. Carapengolahan tanah sangat mempengaruhi struktur tanah alami yang baik yangterbentuk karena penetrasi akar atau fauna tauna, apabila pengolahan tanah terlaluintensif maka struktur tanah akan rusak. Kebiasaan petani yang mengolah tanahsecara berlebihan dimana tanah diolah sampai bersih permukaannya merupakansalah satu contoh pengolahan yang keliru karena kondisi seperti inimengakibatkan surface sealing yaitu butir tanah terdispersi oleh butir hujan ,menyumbat pori-pori tanah sehingga terbentuk surface crusting. Untuk mengatasipengaruh buruk pengolahan tanah, maka dianjurkan beberapa cara pengolahantanah konservasi yang dapat memperkecil terjadinya erosi. Cara yang dimaksudadalah :
  10. 10. 1. Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman sebelum-nya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman. Penanaman dilakukan dengan tugal. Gulma diberantas dengan menggunakan herbisida. 2. Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah. 3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng. Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah. Rotasi tanaman, tanaman penutup lahan, dan tanaman penahan angindikatakan sebagai cara yang paling baik dalam mencegah erosi permukaan tanah.Rotasi tanaman adalah proses pergantian tanaman yang konvensional dan mudahdilakukan, untuk mencegah pengambilan nutrisi tanah yang berlebihan oleh satujenis tanaman saja. Tanaman penutup berfungsi sebagai pencegah tanah dari erosi,pertumbuhan gulma, dan evapotranspirasi berlebihan, namun tanaman penutupjuga memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas kimia tanah; misalnyatanaman Leguminoceae untuk kelestarian kandungan nitrogen dalam tanah dantanaman Mucuna pruries untuk fosfor. Tanaman penahan angin ditanam denganalur yang cukup padat atau barisan pepohonan yang ditanam dengan alur yangparalel terhadap arah angin. Dengan dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering diharapkanmampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yangakhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah-tanah di daerah lahankering sangat rentan terhadap erosi. Daerah lahan kering biasanya mempunyaicurah hujan yg rendah dan intensitas yg rendah pula, dengan kondisi seperti itu
  11. 11. menyebabkan susahnya tanaman-tanaman tumbuh dan berkembang, padahaltanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan tidak berbenturlangsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan tanah mudahterurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya terjadierosi. Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan air selain sebagaipenghambat benturan juga berguna sebagai penghambat aliran permukaan,memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan kadar air tanah. Sedangkan menurut Sitanala Arsyad (1989), Konservasi Tanah adalahpenempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengankemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syaratyang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Airmenurut Deptan (2006) adalah upaya penyimpanan air secara maksimal padamusim penghujan dan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau.Konservasi tanah dan konservasi air selalu berjalan beriringan dimana saatmelakukan tindakan konservasi tanah juga di lakukan tindakan konservasi air.B. Konservasi Tanah dan Air Secara Mekanik Secara garis besar, teknik pengendalian erosi dibedakan menjadi dua, yaituteknik konservasi mekanik dan vegetatif. Konservasi tanah secara mekanik adalahsemua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untukmengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuantanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Pada prinsipnya konservasimekanik dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitupenggunaan tumbuhan/tanaman dan sisa-sisa tanaman/tumbuhan (misalnya mulsadan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaantanah sepanjang tahun. Menurut Arsyad (1989) metode mekanik merupakan perlakuan fisikmekanis terhadap terhadap tanah sehingga mampu mengurangi laju aliranpermukaan dan erosi dengan cara pembangunan bagunan yang akhirnya mampumeningkatkan kemampuan penggunaan lahan. Adapun fungsi dari metodemekanik adalah (1) untuk mengurangi laju aliran permukaan, (2) menampung dan
  12. 12. menyalurkan aliran permukaan sehingga kekuatan aliran permukaan tidakmerusak, (3) meningkatkan kapisitas infiltrasi tanah dan memperbaiki aerasinyadan (4) mampu menyediakan air bagi tanaman. terasering merupakan metodekonservasi tanah mekanik yang berfungsi untuk mengurangi panjang lerengsehingga dapat mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan yangakhirnya mampu menekan laju erosi, fungsi lainnya adalah untuk menangkap airsehingga mampu menyediakan air bagi tanaman. Teknik konservasi tanah secara mekanis atau disebut juga sipil teknisadalah upaya menciptakan fisik lahan atau merekayasa bidang olah lahanpertanian hingga sesuai dengan prinsip konservasi tanah sekaligus konservasi air.Teknik ini meliputi: guludan, pembuatan teras gulud, teras bangku, teras individu,teras kredit, pematang kontur, teraskebun, barisan batu, dan teras batu. Khususuntuk tujuan pemanenan air, teknik konservasi secara mekanis meliputipembuatan bangunan resapan air, rorak, dan embung. Cara mekanik adalah cara pengelolaan lahan tegalan (tanah darat) denganmenggunakan sarana fisik seperti tanah dan batu sebagai sarana konservasitanahnya. Tujuannya untuk memperlambat aliran air di permukaan, mengurangierosi serta menampung dan mengalirkan aliran air permukaan (Seloliman, 1997).Termasuk dalam metode mekanik untuk konservasi tanah dan air di antaranyapengolahan tanah. Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadaptanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagipertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah menyiapkantempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkansisa-sisa tanaman dan memberantas gulma (Arsyad, 1989). Pengendalian erosi secara teknis-mekanis merupakan usaha-usahapengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahanpertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usahaperbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambataliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliranpermukaan dengan daya pengikisan tanah yang tidak merusak.
  13. 13. Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah(pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehinggaterbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotonglereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan danmencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi di daerah kering.Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknyapenghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air danmenghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim keringpengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi ini.Pembuatan terras adalah untuk mengubah permukaan tanah miring menjadibertingkat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahanserta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah melaluiproses infiltrasi (Sarief, 1986). Menurut Arsyad (1989), pembuatan teras berfungsiuntuk mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangikecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan olehtanah, dengan demikian erosi berkurang. Prinsip dasar dari konservasi air adalah menyimpan sebanyak-banyaknyaair pada musim hujan dan memanfaatkan kembali pada musim kemarau.Meskipun cukup banyak teknik konservasi air yang dapat diimplementasikan dilahan kering, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh kondisi biofisik, sosialekonomi, dan keinginan petani. Hal tersebut perlu dicermati mengingat tidak adasatupun teknik konservasi air yang sempurna. Setiap teknik konservasi airkonservasi membutuhkan persyaratan tertentu agar teknik tersebut efektif. Halyang paling penting dari penerapan suatu teknik konservasi dalam pengembanganlahan kering adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat. Sistem microcatchment merupakan teknik pemanenan air yang telah lamadikembangkan untuk memanfaatkan air hujan sebagai sumber air bagi pertanianpada daerah beriklim kering. Menurut Critchley dan Siegert (1991) teras gulud(contour ridges) merupakan salah satu bentuk sistem microcatchment yang cocokuntuk tanaman pertanian yang diusahakan pada lahan kering berlereng. DiIndonesia telah diperkenalkan teras gulud yang dibangun dengan membuat
  14. 14. saluran menurut kontur dan tanah galian ditumpukkan sebagai guludan sepanjangsisi bagian hilir saluran. Namun biasanya saluran digunakan untuk membuangkelebihan air hujan yang menjadi aliran permukaan. Mengingat pentingnya airhujan sebagai sumber air bagi pertanian lahan kering, upaya meningkatkanefektivitas teras gulud sebagai sistem microcatchment perlu dilakukan. Untuk supaya sistem microcatchment tersebut dapat diterapkan di daerahdengan curah hujan tinggi maka perlu dilakukan modifikasi agar saluran dapatlebih efektif untuk menampung dan meresapkan air ke dalam tanah. 1. Teras Gulud Teras Gulud merupakan sistem pengendalian erosi secara mekanis yangberupa barisan gulud yang dilengkapi rumput penguat gulud dan saluran air dibagian lereng atas. Bermanfaat untuk mengurangi laju limpasan permukaan danmeningkatkan resapan air ke dalam tanah. Teras gulud dapat diterapkan padatanah dengan infiltrasi/permeabilitas tinggi dan tanah-tanah agak dangkal denganlereng 10-30%. Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air dibagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran.Bagian bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah(Gambar 2). Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaituuntuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalamtanah. Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah kesaluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalammenanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanamanpenguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangkujuga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasidari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengantanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dansebagainya.
  15. 15. Gambar 2. Sketsa penampang samping teras gulud Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud: 1. Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif. 2. Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. 2. Teras Bangku atau Teras Tangga Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjanglereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretanbangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usahatani lahan kering, fungsiutama teras bangku adalah: 1. memperlambat aliran permukaan; 2. menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak; 3. meningkatkan laju infiltrasi; dan 4. mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o)dengan bidang horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring
  16. 16. beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar(bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistemlahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe terasbangku dapat dilihat pada Gambar 2. Teras bangku miring ke dalam (golerkampak) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agarair yang tidak segera terinfiltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir keluar melalui talud di bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal dimana aliran permukaan dan infiltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya diareal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif lebihmahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar,karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah. Efektivitas teras bangkusebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguatteras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanamanyang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagaitanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Terasbangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya padatampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu.Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangkuadalah: 1. Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan >40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit. 2. Tidak cocok pada tanah dangkal (<40 cm) 3. Tidak cocok pada lahan usaha pertanian yang menggunakan mesin pertanian. 4. Tidak dianjurkan pada tanah dengan kandungan aluminium dan besi tinggi. 5. Tidak dianjurkan pada tanah-tanah yang mudah longsor.
  17. 17. Gambar 3. Teras Bangku 3. Teras Individu Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman,terutama tanaman tahunan (Gambar 4). Jenis teras ini biasa dibangun di arealperkebunan atau pertanaman buah-buahan. Gambar 4. Sketsa teras individu pada areal pertanaman tahunan
  18. 18. 4. Teras Kebun Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanamanpekebunan dan buah-buahan. Teras dibuat dengan interval yang bervariasimenurut jarak tanam (Gambar 5). Pembuatan teras bertujuan untuk: 1. meningkatkan efisiensi penerapan teknik konservasi tanah, dan 2. memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), di antaranya untuk fasilitas jalan kebun, dan penghematan tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun. Gambar 5. Teras kebun Teras kebun dibuat pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng antara 30– 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman jenis tanaman perkebunan.Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal tersebutterdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutuptanah. Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jeniskomoditas. Dalam pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua terasyang berdampingan dibiarkan tidak diolah. (Sukartaatmadja, 2004). Dalam Yuliarta, et. al., 2002, dijelaskan bahwa teras kebun merupakanbangunan konservasi tanah berupa teras yang dibuat hanya pada bagian lahanyang akan ditanami tanaman tertentu, dibuat sejajar kontur dan membiarkanbagian lainnya tetap seperti keadaan semula, biasanya ditanami tanaman penutuptanah. Teras ini dibuat pada lahan dengan kemiringan 10 – 30 %, tetapi dapatdilakukan sampai kemiringan 50 % jika tanah cukup stabil / tidak mudah longsor.
  19. 19. 5. Teras Datar Teras datar adalah teknik konservasi tanah berupa tanggul tanah sejajarkontur yang dilengkapi saluran di atas dan di bawah tanggul, bidang olah tidakdiubah dari kelerengan permukaan asli. Syarat teknis kemiringan lereng < 5 %. Teras datar atau teras sawah (level terrace) adalah bangunan konservasitanah berupa tanggul sejajar kontur, dengan kelerengan lahan tidak lebih dari 3 %dilengkapi saluran di atas dan di bawah tanggul (Yuliarta, 2002). Menurut Arsyad (1989), teras datar dibuat tepat menurut arah garis konturdan pada tanah-tanah yang permeabilitasnya cukup besar sehingga tidak terjadipenggenangan dan tidak terjadi aliran air melalui tebing teras. Teras datar padadasarnya berfungsi menahan dan menyerap air, dan juga sangat efektif dalamkonservasi air di daerah beriklim agak kering pada lereng sekitar dua persen. Dalam Sukarta atmadja (2004) dijelaskan bahwa tujuan pembuatan terasdatar adalah untuk memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah, yaitudengan pembuatan selokan menurut garis kontur. Tanah galian ditimbun di tepiluar sehingga air dapat tertahan dan terkumpul. Di atas pematang sebaiknyaditanami tanaman penguat teras berupa rumput makanan ternak. Menurut Schwab et al (1966), tujuan utama dari teras datar ini adalahkonservasi air / kelembaban tanah, sedangkan pengendalian erosi adalah tujuansekunder. Karena itu teras tipe ini dibangun di daerah dengan curah hujan rendahsampai sedang untuk menahan dan meresapkan air ke lapisan tanah. Di daerahyang permeabilitasnya tinggi, teras tipe ini dapat digunakan untuk tujuan yangsama di daerah dengan curah hujannya tinggi.
  20. 20. Gambar 6. Penampang Melintang Teras Datar 6. Teras Kredit Teras kredit merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanahatau batu sejajar kontur, bidang olah tidak diubah dari kelerengan tanah asli. Teraskredit merupakan gabungan antara saluran dan guludan menjadi satu (Priyono, etal., 2002). Teras kredit biasanya dibuat pada tempat dengan kemiringan lereng antara3 sampai 10 persen, dengan cara membuat jalur tanaman penguat teras (lamtoro,kaliandra, gamal) yang ditanam mengikuti kontur. Jarak antara larikan 5 sampai12 meter. Tanaman pada larikan teras berfungsi untuk menahan butir-butir tanahakibat erosi dari sebelah atas larikan. Lama kelamaan permukaan tanah bagianatas akan menurun, sedangkan bagian bawah yang mendekat dengan jalurtanaman akan semakin tinggi. Proses ini berlangsung terus-menerus sehinggabidang olah menjadi datar atau mendekati datar. (Sukartaatmadja, 2004). Gambar 7. Penampang Teras Kredit
  21. 21. 7. Pengolahan Tanah Konservasi (Minimum dan Tanpa Olah) Pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadaptanah dengan tujuan untuk memudahkan penanaman, menciptakan keadaantanah yang gembur bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sekaligusmerupakan upaya pemberantasangulma. Dalam kaitannya dengan konservasitanah dan air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja. Untuktanah yang berlereng curam pengolahan tanah sebaiknya diminimumkan, bahkanditiadakan. Kegiatan pengolahan tanah biasa atau konvensional (dengan caramencangkul atau membajak tanah dua kali dan diikuti denganmenghaluskan bongkahan tanah satu atau dua kali sebelum bertanam) lebihbanyak bertujuan untuk memberantas gulma. Jika gulma dapat diatasi misalnyadengan penggunaan mulsa atau penggunaan herbisida, maka pengolahan tanahdapat dikurangi atau malah ditiadakan. Pengolahan tanah minimum adalah teknik konservasi tanah dimanagangguan mekanis terhadap tanah diupayakan sesedikit mungkin. Dengan cara inikerusakan struktur tanah dapat dihindari sehingga aliran permukaan danerosi berkurang. Teknik ini juga mengurangi biaya dan tenaga kerja untukpengolahan tanah dan mengurangi biaya / tenaga kerja untuk penyiangan secaramekanik. Pengolahan tanah minimum cukup efektif dalam mengendalikan erosi,dan biasa dilakukan pada tanah-tanah yang berpasir dan rentan terhadap erosi.Pengolahan tanah minimum hanya dapat dilakukan pada tanah yang gembur.Tanah gembur dapat terbentuk sebagai hasil dari penggunaan mulsa secara terusmenerus dan / atau pemberian pupuk hijau / pupuk kandang / kompos dari bahanorganik yang lain secara terusmenerus. Penerapan teknik pengolahan tanahminimum selalu perlu disertai pemberianmulsa. Keuntungan: Menghindari kerusakan struktur tanah. Mengurangi aliran permukaan dan erosi. Memperlambat proses mineralisasi, sehingga penggunaan zat-zat hara dalam bahan- bahan organik lebih berkelanjutan.
  22. 22. Tenaga kerja yang lebih sedikit daripada pengelolaan penuh, sehingga mengurangi biaya produksi. Dapat diterapkan pada lahan-lahan marginal yang jika tidak dengan cara ini mungkintidak dapat diolah. Kelemahan: Persiapan bedengan yang kurang memadai dapat menyebabkan pertumbuhan yangkurang baik dan produksi yang rendah, terutama untuk tanaman seperti jagung dan ubi. Perakaran mungkin terbatas dalam tanah yang berstruktur keras. Lebih cocok untuk tanah yang gembur Keunggulan dari tanaman tahunan adalah bahwa hampir semuanyatanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah. Hal ini dimungkinkan karenasetelah tajuknya berkembangmenaungi permukaan tanah pertumbuhan gulmaakan sangat berkurang. Olah tanah konservasi adalah suatu sistem pengolahan tanah dengan tetapmempertahankansetidaknya 30% sisa tanaman menutup permukaan tanah. Olahtanah konservasi dilakukandengan cara: • Pengolahan tanah dalam bentuk larikan memotong lereng atau dengan mencangkul sepanjang larikan untuk memudahkan penanaman. • Tanpa olah tanah adalah sistem di mana permukaan tanah hanya dibersihkan darigulma baik secara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Sesudah pembersihan, tanaman langsung ditugalkan. Jika penugalan sulit dilakukan, dapatdigunakan cangkul untuk memudahkan penanaman. Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah(pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehinggaterbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotonglereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan danmencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi di daerah kering.Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknyapenghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan
  23. 23. menghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim keringpengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi 8. Rorak Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat dibidang olah atau saluran resapan yang dibuat memotong lereng yang berfungsiuntuk menampung dan meresapkan air aliran permukaan (Gambar 7). Pengertianlain dari rorak adalah lubang-lubang buntu dengan ukuran tertentu yang dibuatpada bidang olah dan sejajar dengan garis kontur. Fungsi rorak adalah untukmenjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimendari bidang olah. Rorak adalah bangunan konservasi tanah dan air yang relatif mudah diuat.Adanya rorak akan menjebak aliran permukaan dan memberikan kesempatankepada air hujan untuk terinfiltrasi ke dalam tanah. Dengan demikian rorak akanmenurunkan aliran permukaan yang keluar dari persil lahan secara signifikan. Halini tentu saja akan ikut berkontribusi terhadap pengendalian banjir. Pembuatanrorak bertujuan untuk (1) memperbesar peresapan air ke dalam tanah danmenampung tanah yang tererosi; (2) memperlambat limpasan air pada saluranperesapan; (3) sebagai pengumpul tanah yang tererosi, sedimen tanah lebih mudahdikembalikan ke bidang olah. Ukuran rorak sangat bergantung pada kondisi dankemiringan lahan serta besarnya limpasan permukaan. Umumnya rorak dibuatdengan ukuran panjang 1-2 m, lebar 0,25-0,50 m dan dalam 0,20-0,30 m, ataupanjang 1-2 m, lebar 0,3-0,4 m dan dalam 0,4-0,5 m. Jarak antar-rorak dalamkontur adalah 2-3 m dan jarak antara rorak bagian atas dengan rorak di bawahnya3-5 m. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempatpemanen air hujan dan aliran permukaan. Dimensi rorak yang disarankan sangatbervariasi, misalnya kedalaman 60 cm, lebar 50 cm, dan panjang berkisar antara50-200 cm. Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng. Jarak kesamping antara satu rorak dengan rorak lainnya berkisar 100-150 cm, sedangkanjarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m padalereng yang lebih curam. Dimensi rorak yang akan dipilih disesuaikan dengan
  24. 24. kapasitas air atau sedimen dan bahan-bahan terangkut lainnya yang akanditampung. Sesudah periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atauserasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terus-menerus, bahan-bahanyang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru. Gambar 7. Rorak dengan teras gulud 9. Sengkedan Sengkedan adalah teknik konservasi tanah dengan cara menempatkanbatang, cabang, ranting kayu atau bamboo mengikuti garis kontur dengan jaraktertentu. 10. Embung Merupakan bangunan penampung air yang berfungsi sebagai pemanenlimpasan air permukaan dan air hujan. Embung bermanfaat untuk menyediakanair pada musim kemarau. Agar pengisian dan pendistribusian air lebih cepat danmudah, embung hendaknya dibangun dekat dengan saluran air dan pada lahandengan kemiringan 5-30%. 11. Mulsa Tanah-tanah bertekstur liat dan atau lempung sangat cocok untukpembuatan embung. Mulsa adalah bahan-bahan (sisa-sisa panen, plastik, dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Mulsabermanfaat untuk mengurangi penguapan (evaporasi) serta melindungi tanah daripukulan langsung butir-butir hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. 12. Saluran Air / Parit Jebakan Membuat saluran air/ parit jebakan dimaksudkan untuk menahan air diparit sehingga mempertinggi kelembaban tanah di bagian hilirnya. Cara inidilaksanakan secara lokal ataupun regional dalam suatu kawasan tertentu.
  25. 25. 13. Dam Penahan / Pengendali Bendungan/ reservoir/ waduk dapat dimanfaatkan sebagai penyedia airirigasi, PLTA, air industri dan domistik, pengendali banjir, serta untuk pariwisata.Checkdam merupakan bangunan melintang sungai untuk menahan bahan sedimenserta melandaikan kemiringan dasar sungai. Cara ini dilaksanakan secararegional. 14. Dam Parit Dam parit adalah suatu cara mengumpulkan atau membendung aliran airpada suatu parit dengan tujuan untuk menampung aliran air permukaan, sehinggadapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya. Dam parit dapat menurunkanaliran permukaan, erosi, dan sedimentasi.Keunggulan: Menampung air dalam volume besar akibat terbendungnya aliran air di saluran/parit. Tidak menggunakan areal/lahan pertanian yang produktif. Mengairi lahan cukup luas, karena dibangun berseri di seluruh daerah aliran sungai (DAS). Menurunkan kecepatan aliran permukaan, sehingga mengurangi erosi dan hilangnya lapisan tanah atas yang subur serta sedimentasi. Memberikan kesempatan agar air meresap ke dalam tanah di seluruh wilayah DAS, sehingga mengurangi risiko kekeringan pada musim kemarau. Biaya pembuatan lebih murah, sehingga dapat dijangkau petani. Pada prinsipnya teknologi ini bertujuan dan berfungsi untuk (1)Menurunkan debit puncak, yaitu debit yang paling tinggi yang terjadi pada alirantersebut. Biasanya pada musim penghujan debit air pada suatu parit / saluransangat tinggi sehingga dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor serta erosidengan membawa serta lapisan tanah atas yang subur. Dengan dibangunnya damparit yang memotong aliran, itu akan mengurangi kecepatan aliran parit. (2)Memperpanjang waktu respon, yaitu memperpanjang selang waktu antara saatcurah hujan maksimum dengan debit maksimumnya. Dengan lamanya air tertahan
  26. 26. dalam DAS, maka sebagian air akan meresap kedalam tanah untuk mengisi(recharge) cadangan air tanah dan sebagian air dapat dialirkan ke l;ahan yangmembutuhkan air / lahan yang tidak pernah mendapat air irigasi melalui parit-parit. Pada parit-parit itu pun selanjutnya juga dibuat dam / bendung lagi.Demikian seterusnya, sehingga luas lahan yang dapat dialiri dapat dimaksimalkan. 15. Bangunan Terjun (Drop Structures) Bangunan terjunan adalah bangunan yang dibuat di tempat tertentumemotong saluran, dimana aliran air setelah melewati bangunan tersebut akanmenyerupai terjunan. Bangunan terjunan perlu dibangun pada daerah berbukitdimana kemiringan saluran dibatasi, agar tidak terjadi suatu gerusan. Selain itupada saluran terbuka bangunan tersebut berfungsi untuk mengubah kemiringansaluran yang pada awalnya cukup curam agar menjadi landai, dimana padakeadaan tersebut kecepatan aliran akan berubah menjadi kecepatan aliran tidakkritis. Secara keseluruhan bangunan terjun juga dapat berfungsi untuk : Mengendalikan erosi pada selokan dan sungai. Mengendalikan tinggi muka air pada saluran. Mengendalikan kecuraman saluran alam maupun buatan. Mengendalikan air yang keluar, pada spillway atau pipa. Menahan arus dan menghindari kerusakan dasar saluran. Mengurangi energi dan kecepatan aliran air yang tinggi yang mengalir melalui saluran yang miring Menurut jenisnya bangunan terjun dapat dibagi menjadi dua, yaitu :Bangunan terjun tegak. Bangunan ini digunakan bila beda tinggi energi tidak lebihdari 1,5 meter. Bangunan terjun miring. Bangunan ini digunakan bila beda tinggienergi lebih dari 1,5 meter. Kemiringan bangunan ini dibuat securam mungkindengan perbandingan maksimum 1 : 1, agar didapat bangunan yang efisien darisegi biaya. Dalam merencanakan struktur bangunan terjun perlu memperhatikan hal-hal berikut ini : Bangunan harus dapat menahan gaya guling dan gaya gelincir.
  27. 27. Bangunan harus dapat menahan gaya desakan air tanah pada pondasi. Bangunan harus memperhitungkan gaya uplift terhadap apron dan kolam olak. Perlu diperhatikan kekuatan tanah untuk pondasi pada saat perencanaan. Pembangunan bangunan terjun juga memerlukan pembuatan kolam padabagian hilir terjunan, karena kedua bangunan ini merupakan kesatuan yang tidakdapat dipisahkan. Dimensi kolam yang direncanakan harus memperhitungkanenergi air yang datang dari bangunan terjun, karena itu kolam harusdiperhitungkan sedemikian panjang sehingga pada akhir kolam energi air sudahtidak ada. Bila pada kenyataannya panjang kolam dirasa terlalu berlebihan, makadapat diperpendek dengan cara menambah bangunan pemecah energi di dasarkolam. Pada bagian hilir kolam olak perlu dipertimbangkan suatu konstruksiperalihan dari pasangan batu/beton menjadi saluran tanah, karena meskipun energiair dari bangunan terjun sudah dipecahkan pada daerah tersebut, namun perubahankecepatan dari tinggi ke rendah tetap terjadi. Untuk mengatasinya maka padadasar saluran dan sayap transisi tebing saluran konstruksi peralihan tersebut perluditaruh pasangan batu kosong. Adapun panjang pasangan batu kosong sebaiknyalebih dari empat kali kedalaman air dan minimum sama dengan panjang sayaptransisi.
  28. 28. III. PENUTUP Konservasi merupakan upaya untuk melestarikan sumberdaya alam dankualitas lingkungan hidup, serta menyelamatkannya dari kerusakan, hilang ataupunah. Di wilayah perkotaan muatan konservasi ini terutama ditujukan padasumberdaya atmosfer, tanah dan air. Dalam arti luas konservasi termasuk jugausaha rehabilitasi dan reklamasi, merupakan upaya membuat lingkunganperkotaan atau lahan marginal menjadi lebih baik dan lebih produktif yang dapatdipertahankan kesinambungannya. Dari uraian sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yangdapat dirangkum dibawah ini : 1. Teknik konservasi tanah secara mekanis atau disebut juga sipil teknis adalah upaya menciptakan fisik lahan atau merekayasa bidang olah lahan pertanian hingga sesuai dengan prinsip konservasi tanah sekaligus konservasi air. Teknik ini meliputi: guludan, pembuatan teras gulud, teras bangku, teras individu, teras kredit, pematang kontur, teraskebun, barisan batu, dan teras batu. Khusus untuk tujuan pemanenan air, teknik konservasi secara mekanis meliputi pembuatan bangunan resapan air, rorak, dan embung. 2. Cara-cara konservasi tanah dan air secara mekanik yaitu dengan Teras Gulud, Teras Bangku atau Teras Tangga, Teras Individu, Teras Kebun, Teras Datar , Teras Kredit, Pengolahan Tanah Konservasi (Minimum dan Tanpa Olah), Rorak, Sengkedan, Embung, Mulsa, Saluran Air / Parit Jebakan, Dam Penahan / Pengendali, Dam Parit, Pengertian Bangunan Terjun (Drop Structures).
  29. 29. DAFTAR PUSTAKAAnonim. Teknologi Budidaya pada Sistem Usaha Tani Konservasi. Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan.Agus, F., E. Surmaini, dan N. Sutrisno. 2002. Teknologi Hemat air dan Irigasi Suplemen Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Balitbang Pertanian Departemen Pertanian. BogorArsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. BogorArsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.Critchley, W. and K. Siegert. 1991. Water Harvesting. A Manual for Design and Construction of Water Harvesting Schemes for Plant Production. FAO. Rome.Fahmuddin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. Bogor: WORLD AGROFORESTRY CENTRE ICRAF Southeast Asia. Hal 59-60Riri Fithriadi dkk (1997). Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia; Kumpulan Informasi. Bogor: Pusat Penyuluhan Kehutanan.Sudirja, R. 2008. Rekayasa Teknik Manajemen Konservasi Tanah dan Air di Indonesia. Jurusan Ilmu Tanah dan Manajemen Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran. Bandung.Sinukaban, N. 1994. Membangun pertanian menjadi lestari dengan konservasi. Faperta IPB. Bogor.

×