Your SlideShare is downloading. ×
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Permasalahan dalam belajar
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Permasalahan dalam belajar

2,992

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,992
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
58
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Laporan Observasi Permasalahan Dalam Belajar Teori Belajar dan Pembelajaran Disusun oleh Nama : Nofita Aini No.reg : 2315115527 Jurusan : Pend. Bhs Prancis
  • 2. Keterangan Observasi Nama : Donny Satria Putra Kelas : VII SMP Sekolah : SMP Negri 267 Ulujami, Jakarta Selatan SSE (Status Sosial Ekonomi) : Menengah Permasalahan dalam belajar : Tidak mudah paham denganyang dikatakan guru terhadap materi belajar biologi
  • 3. BAB I A. Latar belakang observasi Saat ini terdapat banyak masalah – masalah yang dihadapi seorang peserta didik terhadap pembelajaran nya.Baik faktor secara eksternal maupun internal.Salah satu dari faktor eksternal adalah sulitnya seorang peserta didik memahami materi pelajaran.Hal ini biasanya tidak disebabkan oleh si peserta didik, tetapi bisa disebabkan oleh seorang guru.Cara materi belajar yang diterapkan guru bermacam – macam di tiap sekolah bahkan di setiap kelas.Oleh karna itu, penulis (saya) tertarik untuk menganalisis permasalahan ini dan mengkaji metode seperti apa yang dapat digunakan guna menangani masalah ini. B. Permasalahan Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
  • 4. Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tingi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu baik yang berasal dari luar maupundari dalam dirnya dalam mencapai hasil belajar. Dampaknya, peserta didik menunjukkan prestasi yang rendah/di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas. C. Tujuan observasi Observasi ini ditujukan untuk mengetahui permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh peserta didik dalam pembelajaran nya. Dengan adanya observasi ini, penulis dapat mengetahui dan mengkaji metode apa yang dapat digunakan dalam menangani kasus permasalahan dalam belajar agar nantinya metode tersebut dapat diaplikasikan terhadap seluruh peserta didik. Dan juga, observasi ini dilakukan sebagai nilai dalam mata kuliah teori belajar dan pembelajaran.
  • 5. BAB II Teori Belajar Konstruktivisme Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya.. Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasilkan menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang.Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
  • 6. Dengan teori konstruktivisme peserta didik dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Peserta didik akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu peserta didik terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Konsep untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
  • 7. BAB III Analisis kasus Belajar adalah suatu kewajiban yang harus dilalui oleh setiap anak.Jenjang – jenjang yang biasanya dilalui diantaranya Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.Dalam setiap jenjang pendidikan yang dilewati, terkadang tidak semua peserta didik dapat melewati pembelajaran dengan mudah. Seperti pada kasus yang saya analisis.Seorang peserta didik pada tingkatan menengah (SMP) memiliki permasalahan dalam belajarnya.Donny adalah seorang peserta dididik yang cukup pintar dalam semua mata pelajaran dalam tingkat menengah.Tetapi dalam pembelajaran biologi dia merasa sedikit mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan materi yang diberikan oleh guru. Dia mendapati gurunya hanya memberi materi secara lisan tanpa bertanya apakah Donny paham terhadap penjelasan guru tersebut, guru tersebut tidak pernah memberikan penjelasan dengan media – media alat bantu penunjang mata pelajaran biologi. Dan juga dia tersendat untuk memahami istilah – istilah biologi dalam pelajaran biologi.Guru sepertinya hanya memindahkan pengetahuan nya kepada peserta didik.Akibatnya, Donny merasa menjadi memiliki batasan terhadap pemahaman materi biologi tersebut, Donny mendapatkan nilai standar atau pas-pas an dalam mata pelajaran biologi (sesui dengan nilai KKM), Donny menjadi sedikit malas hanya pada mata pelajaran ini dan juga dia menjadi kurang paham terhadap segala materi biologi.
  • 8. Dalam kasus seperti ini, teori yang saya ambil untuk menangani kasus ini adalah teori belajar konstruktivisme.Teori pembelajaran konstruktivisme yang merupakan pandangan terbaru di mana pengetahuan akan dibangun sendiri oleh pelajar berdasarkan pengetahuan yang ada pada mereka. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang menjadi tahu dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran konstruktivisme. Dalam wawasan ini, sebenarnya peserta didiklah yang mempunyai peranan penting dalam belajar, sedangkan guru secara fleksibel menempatkan diri sebagaimana diperlukan oleh siswa dalam proses memahami dunianya. Metode yang dapat dilakukan dalam kasus ini adalah Donny dapat membuat rangkaian pembelajaran pada mata pelajaran biologi. Setelah Donny mencatat penjelasan guru secara lisan, dia dapat pergi ke perpustakaan sekolah atau perpustakaan nasional guna mendapatkan informasi lebih dari berbagai buku agar dia lebih paham terhadap penjelasan sang guru dan istilah – istilah biologi yang dia tidak pahami. Untuk media alat bantu, sebagai gantinya jika sang guru tidak pernah memberikan penjelasan dengan alat pembantu misalnya dalam pembelajaran tentang kerangka manusia, organ dalam tubuh manusia Donny dapat menggambar ulang kedalam kertas kosong sebagai alat bantu dia mengingat bentuk – bentuk pada organ tubuh manusia atau kerangka manusia beserta namanya. Dan juga, Donny dapat mencari partner sebagai bahan diskusi dan tukar pikiran dan menyerap pengetahuan yang dijelaskan oleh partnernya. Kasus yang seperti ini memang Donny lah yang harus menggali dirinya lebih dalam dan waktu belajar lebih banyak dari mata pelajaran yang lain nya.
  • 9. BAB IV Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Berdasarkan kasus yang telah saya teliti, saya menyimpulkan bahwa tidak semua peserta didik paham dengan penjelasan seorang guru hanya dengan lisan.Terkadang peserta didik harus lebih berusaha belajar lebih giat lagi dalam pelajaran tertentu yang sulit dipahami oleh nya. Dengan ada nya teori pembelajaran konstruktivisme, kasus ini bisa ditangani dengan metode teori tersebut dimana sang peserta didik membangun metode pembelajaran nya sendiri.Yang terpenting adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Guru hanya sebagai fasilitator penunjang belajar sang peserta didik tersebut.Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa . B. Saran Saran saya, akan jauh lebih baik guru tersebut diganti oleh guru baru. Karna menurut saya selain sebagi fasilitator, guru seharusnya memahami peserta didik yang tidak paham terhadap penyampaianmateri yang diberikan
  • 10. olehnya, juga menanyakan pertanyaan – pertanyaan terhadap peserta didik tentang materi yang baru diberikan, dapat menjadi seorang partner ketika sang peserta didik tidak paham terhadap materi yang diberikan. Dan tidak sepenuhnya teori belajar konstruktivisme dapat dilakukan oleh seluruh peserta didik yang memiliki guru seperti itu.Teori tersebut juga memilik kekurangan – kekurangan dalam penerapannya.Dalam bahasan, kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung, dan lebih luas cakupan makna dan sulit dipahami.
  • 11. BAB V Daftar Pustaka http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/teoripembelajaran/ http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/07/teori-belajarkonstruktivisme.html http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/teori-belajar-konstruktivisme/

×