Your SlideShare is downloading. ×
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Kumpulan cerita rakyat
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Kumpulan cerita rakyat

22,214

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
22,214
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
68
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Asal Mula Telaga BiruDibelahan bumi Halmahera Utara tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengahketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumahatau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluardari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuksebuah telaga.Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadianini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah iniberkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuatfenomena ini terjadi?Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulitair. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelaruntuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupapemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Joumaduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulude i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskanair mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawaberkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akandisampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiranangin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun jugatidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibukmenghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahuibahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama keduaanak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona)dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabatsudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergianMajojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak merekasudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akankembali.Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergimerantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti,bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jikatidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanyamenghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petirdisiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketikamendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolahmenjadi bumerang kematian.Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembarimenenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisahcintanya.Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terusmengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawahpohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.
  • 2. Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endoLisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memeliharatelaga yang mereka namakan Telaga Biru.(Legenda Rakyat Halmahera Utara diceritakan kembali oleh Theo S. Sosebeko)
  • 3. Asal Mula Selat BaliPada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yangsangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta bendadan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anakyang mereka namai Manik Angkeran.Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifatyang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkanharta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayarhutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasadan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, SidiMantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna NagaBesukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau memberi sedikit hartanya.”Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepikawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra danmemanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengarmaksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas danintan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yangdidapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentusaja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi mintabantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. ManikAngkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajarmengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktuayahnya tidur.Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan maintakutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan ManikAngkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untukmengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niatjahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilatdipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeransegera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, ManikAngkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.Mendengar kematian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera diamengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Nagamenyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, SidiMantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf danberjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia jugamengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Ditempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadilaut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya.Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
  • 4. Batu GologPada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplahsebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama AmaqLembainMata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desamenawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, iasedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekattempat ia bekerja.Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik.Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: “Ibu batu inimakin tinggi.” Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, “Anakkutunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk.”Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hinggamelebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, InaqLembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makinsayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan.Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknyasudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya.Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggalBatu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian.Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karenamenyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama DasanBatu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potonganterakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberinama Montong Teker.Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung.Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Olehkarena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.
  • 5. Legenda Aryo MenakDikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangatlebat. Ladang-ladang padi menguning.Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Padasuatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnyacahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahayatadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersendagurau disana.Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorangdiantara mereka. Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuahselendang dari bidadari-bidadari itu.Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannyamasing-masing. Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itutidak dapat terbang tanpa selendangnya. Iapun sedih dan menangis.Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudahkehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih.Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.”Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Iapun tidak menolak ketika AryaMenak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menakmelamarnya. Bidadari itupun menerimanya.Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasihanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya.Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurangmeskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada dirumah, ia mengendap kedapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaibisterinya sirna.Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras darilumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasarlumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembulselendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulangke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnyamenjadi ringan, iapun dapat terbang ke istananya.Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejaksaat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi( Disadur dari Ny. S.D.B. Aman,”Aryo Menak and His Wife,” Folk Tales From Indonesia,Jakarta: Djambatan, 1976)
  • 6. Legenda Pesut MahakamDi Kalimanatan terdapat sebuah sungai yang terkenal yaitu Sungai Mahakam. Di sungai tersebutterdapat ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Pesut. Sebenarnya pesut bukanlah ikan tetapimamalia air sebagaimana Lumba-lumba dan Paus. Menurut penduduk sekitar sungai tersebutPesut bukanlah sembarang ikan tetapi adalah jelmaan manusiaCeritanya pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami olehbeberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupunnelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakanpesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukundan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dandua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karenamereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitupula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidupdengan bahagia selama bertahun-tahun.Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapaorang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia.Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalamkesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayahmenjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahuapa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi.Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan,namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan iniberlangsung cukup lama.Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan danhiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yangcantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bilaia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turutmenyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hinggabanyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sangayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri didepan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnyapertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geliatau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayahtersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yangmemujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara sigadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan samasekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anaktersebut.Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh makadilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Danberakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru.Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sangayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal dirumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lamakelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu barudiberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumiperbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya,seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua
  • 7. orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruhmengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anaktirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tigakali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunyabanyak dikumpulkan. Mengerti?!”“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masihcukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalianpemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahubahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetapakan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menujuhutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang dimintaibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondokseseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulahmereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengahhari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapasaat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka.Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri merekadan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagiuntuk meneruskan pekerjaan.“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunanbelukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampaikenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilahsekarang juga!”Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempatyang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beranekamacam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yangtelah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapagading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebuthingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapatkembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sangibu tiri.Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsursemuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikankeadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibutiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta bendadidalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembalilagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya.Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apagerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Merekamemberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang ibakemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu.Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementaraperbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yangberbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke
  • 8. arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat keduaorangtua mereka.Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedangduduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepadasang kakek tua dan memberi salam.“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencilini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtuha kami. ApakahDatok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusahakeras untuk mengingat-ingat sesuatu.“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” katasi kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kaliancari?”“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Kearah mana mereka pergi, Tok?”“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, merekaingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru.Cobalah kalian cari di seberang sana.”“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kamike seberang sungai?”“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh,“Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanjiakan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka.Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju keseberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembirasetelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang danmenambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalandengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekalipenduduknya.Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahanmereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga danmemanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga iamenemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnyayang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itumemang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sangayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondokdan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yangdiletakkan diatas api yang masih menyala. Didalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadibubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedangdikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takuttidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik takterhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencarisungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secarabergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba ditepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghunipondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketikamelihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusandan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hinggake dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudianmelaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan
  • 9. mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telahlayu dan hangus.Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemarididalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetankejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tibaistrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sangsuami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sangistri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untukmenyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengankepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul dipermukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itumemperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkanikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atauPesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.
  • 10. Si LancangAlkisah tersebutlah sebuah cerita, di daerah Kampar, Riau, pada zaman dahulu hiduplah siLancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua bekerja sebagaipetani.Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia memintaijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancangselalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang janganmenjadi anak yang durhaka.Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancangmenyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kuekegemaran Si Lancang.Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagaryang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyaitujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya,masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuhisterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik.Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutradan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesankemewahan dan kekayaan Si Lancang.Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untukmenyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakankain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dianaik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang.Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yangmempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mauberanjak. Ia ngotot minta untuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itumenimbulkan keributan.Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinyamendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compangcamping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, “Engkau Lancang …anakku! Oh … betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknyaLancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, “mana mungkin aku mempunyai ibuperempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini.”Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu iamengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambilberdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya. Ia pun berkata,“ya Tuhanku … hukumlah si Anak durhaka itu.”Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehinggadalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal ituhancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain sutranyamelayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnyaterlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Ogong. Tembikarnya melayang menjadiPasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danauyang diberi nama Danau Si Lancang.

×