Golongan Darah
Darah dibagi dalam berbagai golongan berdasrkan tipe antigen yang terdapat didalam sel.
Membran eritrosit m...
maka dapat menyebabkan kelainan eritroblastosis fetalis.
Eritroblastosis Fetalis
Seorang ibu Rh- dan ayah Rh+ dapat memili...
PEMASANGAN INFUS
Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit,
obat intravena...
- Vena Median lengan bawah
- Vena radialis
? Permukaan Dorsal kaki
- Vena Savenamagna
- Fleksus Dorsalis
- Ramus Dorsalis
...
arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum,
atau Atusukan@ berulang pada ...
Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan volume darah secara
nyata. Keuntungan menggunakan PR...
Komponen ini terdiri dari darah lengkap dengan isi seperti RBCs, plasma dihilangkan 80 % ,
biasanya tersedia dalam volume ...
c. Intervensi:
1. Hentikan tranfusi
2. Ambil kultur darah pasien
3. Pantau tanda vital setiap 15 menit
4. Berikan antibiot...
setelah tranfusi.
c. Intervensi:
1. Monitor tekanan darah dan pantau adanya syok
2. Hentikan tranfusi
3. Lanjutkan infus n...
Menggigil, hipotensi, aritmia jantung, henti jantung/cardiac arrest
c. Intervensi:
1. Hentikan tranfusi
2. Hangatkan pasie...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Transfusi darah

964

Published on

Transfusi darah

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
964
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Transfusi darah"

  1. 1. Golongan Darah Darah dibagi dalam berbagai golongan berdasrkan tipe antigen yang terdapat didalam sel. Membran eritrosit mengandung dua antigen yaitu tipe-A dan tipe-B. Antigen ini disebut aglutinogen. Sebaliknya, antibodi yang terdapat dalam plasma akan bereaksi spesifik terhadap antigen tipe-A atau tipe-B yang dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan) eritrosit. Antibody plasma yang menyebabkan penggumpalan aglutinogen disebut aglutinin. Ada dua macam aglutinin, yaitu aglutinin-a (zat anti-A) dan aglutinin-b (zat anti-B). Aglutinogen-A mempunyai enzim glikosil tranferase yang mengandung asetil glukosamin pada rangka glikoproteinnya. Sedangkan aglutinogen-B mengandung enzim galaktosa pada rangka glikoprotennya. Aglutinogen-AB adalah golongan yang memiliki kedua jenis enzim tersebut. Ahli imunologi (ilmu tentang kekebalan tubuh) kebangsaan Austria bernama Karl Landsteiner (1868-1943) mengelompokkan golongan darah manusia. Berdasarkan ADA ATAU TIDAK ADANYA AGLUTINOGEN maka golongan darah dikelompokkan menjadi golongan darah A, B, AB, dan O.  Golongan darah A, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan aglutinin-b dalam plasma darah.  Golongan darah B, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-B dan aglutinin-a dalam plasa darah.  Golongan darah AB, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan B, dan plasma darah tidak meiliki aglutinin.  Golongan darah O, yaitu jika eritrosit tidak memiliki agutinogen-A dan B, dan plasma darah memiliki aglutinin-a dan b. Uji Golongan Darah Tes darah dilakukan untuk mengetahui golongan darah seseorang. Cara melakukan tes darah adalah dengan mengambil sampel darah orang yang akan di tes golongan darahnya, kemudian sampel darah tersebut ,masing- masing akan ditetesi oleh serum anti A, anti B dan anti AB. Serum tersebut identik dengan aglutinin sehingga serum tersebut dapat menggumpalkan darah apabila bercampur dengan darah yang memiliki aglutinogen yang sesuai. Contohnya seseorang dengan golongan darah A jika ditetesi dengan serum anti A maka darahnya akan menggumpal, karena aglutinogen pada darah orang tersebut bercampur dengan serum anti A yang identik dengan aglutinin a. Sedangkan ketika ditetesi serum anti B darahnya tidak menggumpal karena orang tersebut tidak memiliki aglutinogen B sehingga serum anti B tidak menggumpalkan darah. Metode Rhesus Cara lain dalam mengelompokan golongan darah adalah dengan menggunakan metode Rhesus. Tipe Rhesus ini pertama kali ditemukan pada eritrosit kera spesies Maccacus rhesus. Rhesus positif (+) maka di dalam eritrositnya terdapat aglutinogen/ antigen rhesus (Disebut juga aglutinogen D). Rhesus negative (-) maka di dalam eritrositnya tidak terdapat aglutinogen/ antigen rhesus (Aglutinogen D). Kira-kira 85% dari seluruh bangsa berkulit putih adalah Rh negatif, sedangkan pada bangsa Afrika yang berkulit hitam 100% adalah Rh positif. Golongan darah rhesus ini dapat mempengaruhi keturunan dan jika terjadi ketidakcocokan
  2. 2. maka dapat menyebabkan kelainan eritroblastosis fetalis. Eritroblastosis Fetalis Seorang ibu Rh- dan ayah Rh+ dapat memiliki janin yang Rh+. Selama kehamilan atau persalinan antigen Rh (aglutinogen Rh) dari bayi dapat masuk ke peredaran darah ibu melalui plasenta dan darah ibu akan bereaksi dengan memproduksi aglutinin anti Rh. Makin sering si ibu hamil maka akan semakin banyak aglutinin Rh yang dibentuk si ibu. Aglutinin Rh ini kemudian akan masuk kedalam peredaran darah janin melalui plasenta, dan akan menimbulkan aglutinasi dan hemolisis eritrosit janin, dan timbul anemia pada janin. Untuk mengatasi anemia ini, sumsum merah, hati, limfa janin melepaskan eritroblas yang belum matang ke peredaran darah, sehingga timbul penyakit yang disebut eritroblastosis fetalis. Karena terjadi hemolisis maka kadar bilirubin janin dapat meningkat. Kehamilan pertama biasanya hanya menimbulkan efek kecil terhadap janin, tetapi pada kehamilan-kehamilan berikutnya janin dapat mati didalam rahim. Transfusi Darah Transfusi darah adalah pemberian darah seseorang kepada orang lain. Orang yang berperan sebagai pemberi darah disebut dengan DONOR dan yang menerima darah disebut RESIPIEN. Donor perlu memperhatikan jenis aglutinogen di dalam eritrosit, sedangkan resipien perlu memperhaitkan jenis aglutinin dalam plasma darah. Sebelum melakukan transfusi perlu menentukan golongan darah resipien dan golongan darah donor. Proses penentuan golongan darah dilakukan dengan cara Tes Darah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah diketahui jenis golongan darah antara donor dan resipien barulah proses transfusi darah dapat dilakukan. Golongan darah O adalah DONOR UNIVERSAL karena dapat di transfusikan ke seluruh golongan darah Golongan drah AB adalah RESIPIEN UNIVERSAL karena dapat menerima semua jenis golongan darah Golongan darah O, eritrositnya tidak mempunyai aglutinogen sehingga tidak dapat bereaksi dengan salah satu serum anti-A atau anti-B. Golongan darah A mempunyai aglutinogen-A sehingga beraglutinasi dengan aglutinin anti-A. Golongan darah AB mempunyai aglutinogen B sehingga beraglutinasi dengan kedua jenis aglutinin. Golongan darah AB adalah resipien universal karena dapat menerima semua jenis golongan darah. Sebaliknya golongan darah O adalah donor universal karena dapat ditransfusikan kepada seluruh golongan darah. Tetapi transfusi darah yang terbaik adalah transfusi darah dari golongan darah yang sejenis. Jika transfuse dilakukan dengan jenis golongan darah yang berbeda, meskipun itu memungkinkan, misalnya golongna darah O ditransfusikan ke golongan darah AB, masih mungkin terjadi penggumpalan walaupun sedikit. Alasan terbanyak melakukan transfuse adalah karena penurunan volume darah. Transfusi juga sering digunakan untuk pengobatan anemia atau member resipien beberapa unsur lain dari darah.
  3. 3. PEMASANGAN INFUS Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa. Tindakan ini merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai cairan ke dalam kompartemen intravaskuler. Anatomi ? Permukaan dorsal tangan - Vena Sevalika - Vena supervisial dorsalis - Ramus Vena Dorsalis - Vena Basilika ? Pemukaan lengan bagian dalam - Vena Basilika - Vena Sevalika - Vena kubital median
  4. 4. - Vena Median lengan bawah - Vena radialis ? Permukaan Dorsal kaki - Vena Savenamagna - Fleksus Dorsalis - Ramus Dorsalis Sifat pembuluh darah Pembuluh darah dapat diibaratkan sebagai selang yang bersifat elastis, yaitu diameternya dapat membesar atau mengecil. Sifat elastis ini sangat bermanfaat untuk mempertahankan tekanan darah yang stabil. Sebagai contoh, apabila tekanan di dalam pembuluh darah meningkat, maka diamater pembuluh darah akan melebar sebagai bentuk adaptasi untuk menurunkan tekanan yang berlebih agar menjadi normal. Bila pembuluh darah mengalami kekakuan maka ia menjadi kurang fleksibel sehingga tidak dapat mengantisipasi terhadap kenaikan/penurunan tekanan darah. Elastisitas pembuluh darah tidak tetap, pembuluh darah akan menjadi kaku seiring bertambahnya usia (misal oleh karena terjadi pengapuran pada dindingnya) oleh karena itu tekanan darah pada orang lanjut usia cenderung sedikit lebih tinggi dari pada orang muda,. Penyebab lain dari kekakuan pembuluh darah adalah karena adanya tumpukan kolesterol pada dinding sebelah dalam pembuluh darah, kolesterol juga menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang kaku akan menyebabkan hipertensi (penyakit darah tinggi), walau sebenarnya tidak semua penyakit darah tinggi disebabkan karena kekakuan pembuluh darah. Apabila pembuluh darah menjadi kaku dan disertai penyempitan pada sebagian besar pembuluh darah dalam tubuh seseorang, maka tekanan darahnya dapat menjadi sangat tinggi (hipertensi berat). TUJUAN ? Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral. ? Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit. ? Memperbaiki keseimbangan asam basa. ? Memberikan tranfusi darah. ? Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena. ? Membantu pemberian nutrisi parenteral. KONTRAINDIKASI ? Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau thrombosis ? Daerah yang berwarna merah, kenyal, bengkak dan hangat saat disentuh ? Vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area flebitis ? Vena yang sklerotik atau bertrombus ? Lengan dengan pirai arteriovena atau fistula ? Lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah, atau kerusakan kulit ? Lengan pada sisi yang mengalami mastektomi (aliran balik vena terganggu) ? Lengan yang mengalami luka bakar. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: 1. Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah
  5. 5. arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau Atusukan@ berulang pada pembuluh darah. 2. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. 3. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. 4. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah. PERSIAPAN PERALATAN Larutan yang benar 1. Cairan hipotonik. Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. 2. Cairan Isotonik. Adalah cairan infuse yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). 3. Cairan hipertonik. Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga Amenarik@ cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin. MEMBERIKAN TRANSFUSI DARAH Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Jenis Transfusi darah 1. Transfusi PRC
  6. 6. Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan darah jenuh adalah : ? Kenaikan Hb dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. ? Mengurangi kemungkinan penularan penyakit. ? Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis ? Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan overload berkurang. ? Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain. 2. Transfusi suspensi trombosit Tujuan transfusi suspensi trombosit adalah menaikkan kadar trombosit darah. Dosis suspensi trombosit yang diperlukan dapat dihitung kira-kira sebagai berikut : 50 ml suspensi trombosit menaikkan kadar trombosit 7500-10.000/mm pada resipien yang beratnya 50 kg. Suspensi trombosit diberikan pada penderita trombositopeni bila : 1) didapat perdarahan 2)untuk mencegah perdarahan pada keadaan dimana ada erosi yang dapat berdarah bila kadar < 35.000/mm. 3) untuk mencegah perdarahan spontan bila kadar trombosit < 15.000/mm 3. Transfusi dengan suspensi plasma beku (Fresh Frozen Plasma) Komponen ini digunakan untuk memperbaiki dan menjaga volume akibat kehilangan darah akut. Komponen ini mengandung semua faktor pembekuan darah (factor V, VIII, dan IX). Pemberian dilakukan secara cepat, pada pemberian FFP dalam jumlah besar diperlukan koreksi adanya hypokalsemia, karena asam sitrat dalam FFP mengikat kalsium. Shelf life 12 bulan jika dibekukan dan 6 jam jika sudah mencair. Perlu dilakukan pencocokan golongan darah ABO dan system Rh. Indikasi: a) Pencegahan perdarahan postoperasi dan syok b) Pasien dengan defisiensi faktor koagulasi yang tidak bisa ditentukan c) Penyakit hati dan mengalami defisiensi faktor pembekuan. Fresh Frozen Plasma (PIT) tidak digunakan untuk mengobati kebutuhan faktor VIII dan faktor IX (Hemofilia); untuk ini digunakan plasma Cryoprecipitate. Pada transfusi dengan FFP biasanya diberikan 4-8 kantong (175-225 ml) tiap 6-8 jam bergantung kebutuhan. 4. Transfusi dengan darah penuh (Whole Blood) Tranfusi darah lengkap hanya untuk mengatasi perdarahan akut dan masif, meningkatkan dan mempertahankan proses pembekuan. Darah lengkap diberikan dengan golongan ABO dan Rh yang diketahui. Infuskan selama 2 sampai 3 jam, maksimum 4 jam/unit. Dosis pada pediatrik rata-rata 20 ml/kg, diikuti dengan volume yang diperlukan untuk stabilisasi. Bisanya tersedia dalam volume 400-500 ml dengan masa hidup 21 hari. Hindari memberikan tranfusi saat klien tidak dapat menoleransi masalah sirkulasi. Hangatkan darah jika akan diberikan dalam jumlah besar. Indikasi: a) Penggantian volume pada pasien dengan syok hemoragi, trauma atau luka bakar b) Klien dengan perdarahan masif dan telah kehilangan lebih dari 25 persen dari volume darah total. 5. White Blood Cells (WBC atau leukosit)
  7. 7. Komponen ini terdiri dari darah lengkap dengan isi seperti RBCs, plasma dihilangkan 80 % , biasanya tersedia dalam volume 150 ml. Dalam pemberian perlu diketahui golongan darah ABO dan sistem Rh. Apabila diresepkan berikan dipenhidramin. Berikan antipiretik, karena komponen ini bisa menyebabkan demam dan dingin. Untuk pencegahan infeksi, berikan tranfusi dan disambung dengan antibiotik. Indikasi : Pasien sepsis yang tidak berespon dengan antibiotik (khususnya untuk pasien dengan kultur darah positif, demam persisten /38,3 C dan granulositopenia) EFEK TRANFUSI 1. Alergi a. Penyebab: 1. Alergen di dalam darah yang didonorkan. 2. Darah hipersensitif terhadap obat tertentu. b. Gejala: Anaphilaksis (dingin, bengkak pada wajah, edema laring, pruritus, urtikaria, wheezing), demam, nausea dan vomit, dyspnea, nyeri dada, cardiac arrest, kolaps sirkulasi c. Intervensi: 1. Lambatkan atau hentikan tranfusi 2. Berikkan normal saline 3. Monitor vital sign dan lakukan RJP jika diperlukan 4. Berikan oksigenasi jika diperlukan 5. Monitor reaksi anafilaksis dan jika diindikasikan berikan epineprin dan kortikosteroid 6. Apabila diresepkan, sebelum pemberian tranfusi berikan diphenhidramin. 2. Anafilaksis a. Penyebab: Pemberian protein IgA ke resipien penderita defisiensi IgA yang telah membentuk antibodi IgA b. Gejala: Tidak ada demam, syok, distress pernafasan (mengi, sianosis), mual, hipotensi, kram abdomen, terjadi dengan cepat setelah pemberian hanya beberapa milliliter darah atau plasma. c. Intervensi: 1. Hentikan tranfusi 2. Lanjutkan pemberian infus normal saline 3. Beritahu dokter dan bank darah 4. Ukur tanda vital tiap 15 menit 5. Berikan ephineprine jika diprogramkan 6. Lakukan resusitasi jantung paru (RJP) jika diperlukan d. Pencegahan: Tranfusikan sel darah merah (SDM) yang sudah diproses dengan memisahkan plasma dari SDM tersebut, gunakan darah dari donor yang menderita defesiensi IgA. 3. Sepsis a. Penyebab: Komponen darah yang terkontaminasi oleh bakteri atau endotoksin. b. Gejala: Menggigil, demam, muntah, diare, penurunan tekanan darah yang mencolok, syok
  8. 8. c. Intervensi: 1. Hentikan tranfusi 2. Ambil kultur darah pasien 3. Pantau tanda vital setiap 15 menit 4. Berikan antibiotik, cairan IV, vasoreseptor dan steroid sesuai program d. Pencegahan: Jaga darah sejak dari donasi sampai pemberian. 4. Urtikaria a. Penyebab: Alergi terhadap produk yang dapat larut dalam plasma donor b. Gejala: Eritema lokal, gatal dan berbintik-bintik, biasanya tanpa demam c. Intervensi: 1. Hentikan tranfusi 2. Ukur vital sign tiap 15 menit 3. Berikan antihistamin sesuai program 4. Tranfusi bisa dimulai lagi jika demam dan gejala pulmonal tidak ada lagi d. Pencegahan: Berikan antihistamin sebelum dan selama pemberian tranfusi. 5. Kelebihan sirkulasi a. Penyebab: Volume darah atau komponen darah yang berlebihan atau diberikan terlalu cepat b. Gejala: Dyspnea, dada seperti tertekan, batuk kering, gelisah, sakit kepala hebat, nadi, tekanan darah dan pernafasan meningkat, tekanan vena sentral dan vena jugularis meningkat c. Intervensi: 1. Tinggikan kepala klien 2. Monitor vital sign 3. Perlambat atau hentikan aliran tranfusi sesuai program 4. Berikan morfin, diuretik, dan oksigen sesuai program d. Pencegahan: Kecepatan pemberian darah atau komponen darah disesuaikan dengan kondisi klien, berikan komponen SDM bukan darah lengkap, apabila diprogramkan minimalkan pemberian normal saline yang dipergunakan untuk menjaga kepatenan IV. 6. Hemolitik a. Penyebab: Antibody dalam plasma resipien bereaksi dengan antigen dalam SDM donor, resipien menjadi tersensitisasi terhadap antigen SDM asing yang bukan dalam system ABO b. Gejala: Cemas, nadi, pernafasan dan suhu meningkat, tekanan darah menurun, dyspnea, mual dan muntah, menggigil, hemoglobinemia, hemoglobinuria, perdarahan abnormal, oliguria, nyeri punggung, syok, ikterus ringan. Hemolitik akut terjadi bila sedikitnya 10-15 ml darah yang tidak kompatibel telah diinfuskan, sedangkan reaksi hemolitik lambat dapat terjadi 2 hari ataulebih
  9. 9. setelah tranfusi. c. Intervensi: 1. Monitor tekanan darah dan pantau adanya syok 2. Hentikan tranfusi 3. Lanjutkan infus normal saline 4. Pantau keluaran urine untuk melihat adanya oliguria 5. Ambil sample darah dan urine 6. Untuk hemolitik lambat, karena terjadi setelah tranfusi, pantau pemeriksaan darah untuk anemia yang berlanjut d. Pencegahan: Identifikasi klien dengan teliti saat sample darah diambil untuk ditetapkan golongannya dan saat darah diberikan untuk tranfusi (penyebab paling sering karena salah mengidentifikasi). 7. Demam Non-Hemolitik a. Penyebab: Antibody anti-HLA resipien bereaksi dengan antigen leukosit dan trombosit yang ditranfusikan. b. Gejala: Demam, flushing, menggigil, tidak ada hemolisis SDM, nyeri lumbal, malaise, sakit kepala c. Intervensi: 1. Hentikan tranfusi 2. Lanjutkan pemberian normal saline 3. Berikan antipiretik sesuai program 4. Pantau suhu tiap 4 jam d. Pencegahan: Gunakan darah yang mengandung sedikit leukosit (sudah difiltrasi). 8. Hiperkalemia a. Penyebab: Penyimpanan darah yang lama melepaskan kalium ke dalam plasma sel b. Gejala: Serangan dalam beberapa menit, EKG berubah, gelombang T meninggi dan QRS melebar, kelemahan ekstremitas, nyeri abdominal. 9. Hipokalemia a. Penyebab: Berhubungan dengan alkalosis metabolik yang diindikasi oleh sitrat tetapi dapat dipengaruhi oleh alkalosis respiratorik b. Gejala: Serangan bertahap, EKG berubah, gelombang T mendatar, segmen ST depresi, poliuria, kelemahan otot, bising usus menurun. 10. Hipotermia a. Penyebab: Pemberian komponen darah yang dingin dengan cepat atau bila darah dingin diberikan melalui kateter vena sentral. b. Gejala:
  10. 10. Menggigil, hipotensi, aritmia jantung, henti jantung/cardiac arrest c. Intervensi: 1. Hentikan tranfusi 2. Hangatkan pasien dengan selimut 3. Ciptakan lingkungan yang hangat untuk pasien 4. Hangatkan darah sebelum ditranfusikan 5. Periksa EKG.

×