Review Artikel Imaji Kebebasan Pluralitas

1,229
-1

Published on

Published in: Education, Technology, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,229
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Review Artikel Imaji Kebebasan Pluralitas

  1. 1. Critical Review mengenai “Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas” Ulina Christina Natalia 110610016 Dalam tulisan mengenai Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas mempertanyakan beberapa hal seperti, Apa yang membuat kebebasan bernilai untuk dikejar atau dimiliki, dan bagaimana kebebasan individu ternyata masih dapat dibela dengan penuh komitmen tanpa harus terjatuh dalam doktrin purba tentang universalisme dan keseragaman. Kemudian pernyataan-pernyataan selanjutnya menjelaskan opini-opini mengenai kemungkinan-kemungkinan solusi atau akar permasalahan dari pluralisme, universalisme, multikultural, dan beberapa hal lainnya. Fakta yang menurut opini saya crusial adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat plural atau majemuk, namun selama ini tidak diimbangi dengan kesadaran dan keinsyafan untuk mengelola pluralitas/kemajemukan tersebut menjadi modal sosial pembangunan bangsa. Seringkali kekuasaan (Orde Baru) menjadikan isu pluralitas/kemajemukan ini sebagai ancaman dan kejahatan terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Orde baru berusaha membangun semangat kemanunggalan dalam perbedaan, yaitu: (1) pendekatan asimilasionisme (minoritas membaur dalam mayoritas); dan (2) pendekatan diferensialisme (mengurangi atau menghapus kontak minoritas dengan mayoritas). Semangat kemanunggalan atau ketunggalan sebagaimana yang ditunjukkan Orde Baru sebagai resep untuk menyukseskan pembangunan telah menempatkan peranan negara (state) yang lebih kuat vis-à-vis masyarakat. Konsep tersebut memang cocok bila diaplikasikan terhadap masyarakat Indonesia yang seharusnya memiliki kesatuan pikiran, meskipun terdiri dari beragam kultur, sehingga hal-hal seperti Timor- Timur yang memisahkan diri, tentunya dapat dicegah. Namun, untuk mencapai kesatuan pikiran tersebut, bukankah harus ada yang menjadi dasar, mungkin negara mengklaim, semua prinsip atau konsep dasar dibentuk berdasarkan dasar negara sehingga seharusnya dapat mewakilkan seluruh suku bangsa. Namun pada prakteknya, pendekatan asimilasionisme dan pendekatan diferensianisme bukannya membawa pluralisme ke arah positif, dimana alih-alih pluralisme dapat membantu masyarakat mencapai ke-universal-an malah menimbulkan 1 Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial
  2. 2. Critical Review mengenai “Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas” Ulina Christina Natalia 110610016 politik identitas, karena masyarakat malah semakin memperjuangkan pengakuan atas keseragaman budaya, orang berbicara atas nama satu kelompok budaya tertentu, dengan identitas tertentu—yang mengacu pada etnisitas, ras, agama, atau daerah. Karena perjuangan untuk mendapatkan hak terkait dengan identitas budaya tertentu, maka dengan sendirinya muncul persoalan mengenai kepemilikan terhadap identitas tersebut: siapa yang berhak bicara atas namanya. Pendekatan asimilasionisme dan pendekatan difrensianisme yang menyatakan bahwa minoritas membaur dengan mayoritas ataupun mengurangi kontak minoritas dengan mayoritas, memicu kelompok untuk berjuang agar mendapatkan hak terkait dengan identitas budayanya. Di Indonesia, dalam era otonomi daerah, misalnya, orang mulai bicara tentang “putra daerah”, mulai mencari unsur-unsur daerah masing-masing yang paling asli dan otentik untuk dihidupkan kembali atau diangkat untuk mewakili kedaerahan tersebut. Penekanan yang berlebihan pada identitas budaya (daerah, agama, suku, dan ras) yang esensialis justru akan memperkuat sekat interaksi budaya antar kelompok dan memunculkan gesekan-gesekan antar kelompok yang ada di masyarakat. Ekslusifisme kelompok dan “pengusiran” atau diskriminasi terhadap kelompok lain menjadi eksesnya. Sehingga terkadang dalam beberapa kasus, hal tersebut seolah-olah membentuk konsep dimana kelompok yang kuat bisa dikategorikan sebagai kelompok yang dominan dan menjadi mayoritas, bisa secara kuantitas atau kekuasaan, dan kelompok yang kurang “menang” bisa secara kuantitas atau kekuasaan dikategorikan sebagai kelompok minoritas. Furnivall menggambarkan masyarakat Indonesia sebagai gambaran masyarakat majemuk yang menarik, dimana orang-orang bisa hidup berdampingan secara fisik, tetapi karena perbedaan budaya sosial budaya mereka terpisah dan tidak tergabung dalam suatu unit politik. Dimana menunjukkan bahwa pluralisme sebenarnya mungkin saja bisa berjalan sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, pemahaman akan multikulturalisme perlu diiringi dengan pemahaman akan konsep-konsep yang relevan, seperti demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, suku bangsa, kesukubangsaan, kebudayaan suku bangsa, 2 Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial
  3. 3. Critical Review mengenai “Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas” Ulina Christina Natalia 110610016 keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan sebagainya Will Kymlica (1995, dalam Burhanuddin, 2003) menyatakan bahwa konservasi budaya tidak hanya menjadi hak individual, tetapi juga hak kolektif sebagai garansi setiap kelompok untuk mengembangkan budayanya. Inilah maksud dari jargon “bhinneka tunggal ika” yang seharusnya diletakkan dalam mosaik keberagaman yang tidak menindas satu sama lain. Kemudian muncul pemikiran yang menganggap multikulturalisme sebagai Paradigma Baru Perayaan Pluralitas. Menurut Parsudi Suparlan (2002), acuan utama untuk membangun Indonesia Baru dari hasil reformasi adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat bangsa seperti Indonesia) dilihat mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik (Fay, 1996; Jary & Jary, 1991; Watson, 2000; dalam Suparlan, 2002). Di dalam mosaic tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik tersebut (Reed, 1997, dalam Suparlan, 2002 Wacana tentang multikulturalisme tampaknya cukup menjawab perihal bagaimana pluralisme itu “seharusnya” dirayakan. Multikulturalisme setidaknya mampu membuka ruang baru bagi munculnya emansipasi dan partisipasi bagi semua aktor, baik di tingkat individu maupun sosial, terutama bagi mereka yang selama ini dipinggirkan dan bahkan ditindas identitas, eksistensinya, dan kepentingannya. Dalam tulisan tersebut kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah kita tidak bisa merayakan kebebasan individu dalam keniscayaan pluralisme? Apakah imaji kebebasan individu memang benar-benar bagian dari proyek modernisme yang kadaluarsa sehingga harus dikubur bersama imaji universalisme Pencerahan? Pada posisi ini kita bisa sedikit menengok percikan pemikiran liberal Isaiah Berlin, sejarawan 3 Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial
  4. 4. Critical Review mengenai “Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas” Ulina Christina Natalia 110610016 ide dan filosof Inggris keturunan Rusia. Posisi liberal Berlin menarik untuk disimak karena ia adalah pembela kebebasan individu yang gigih, tanpa harus mengurangi kekritisannya dalam melucuti universalisme Pencerahan. Pijakan dasar pemikiran Berlin (2004) ada dalam kesadarannya bahwa ternyata benih-benih totalitarianisme justru berasal dari hasrat manusia untuk pembebasan. Tetapi pembebasan yang dimaksud Berlin di sini adalah pembebasan yang bersandarkan pada keyakinan akan kebenaran absolut dan universal, sebagaimana yang dianut kaum esensialisme. Pluralisme Berlin, sebagaimana yang diungkap Ahmad Sahal dalam kata pengantarnya Empat Esai Kebebasan, adalah pluralisme dengan tragic sense of life, karena mengharuskan individu untuk selalu memilih tetapi pada saat yang sama menyadari selalu ada yang hilang dan tak tergantikan di setiap pilihan kita. Tetapi itulah situasi tragis manusia yang harus dijalani. Bila diposisikan untuk memilih apakah sebenarnya pluralisme itu baik untuk dilakukan. Saya tentunya akan setuju. Memang saat ini muncul berbagai pihak yang terus mempromosikan pluralisme sebagai prinsip penting dalam berbangsa dan bernegara, namun hal itu ternyata belum cukup untuk menghilangkan berbagai pengingkaran terhadap pluralisme. Beberapa prinsip penting dalam pluralisme seperti kebebasan dasar (fundamental freedom) terus dilanggar dan dibelenggu, ruang yang memungkinkan hidupnya perbedaan dikekang, serta pengingkaran atas keberagaman sosial berlangsung dimana-mana. Namun sedikit koreksi untuk tulisan tersebut adalah kurangnya pembahasan mengenai jawaban mengenai pertanyaan apa yang membuat kebebasan bernilai untuk dikejar atau dimiliki, dan bagaimana kebebasan individu ternyata masih dapat dibela dengan penuh komitmen tanpa harus terjatuh dalam doktrin purba tentang universalisme dan keseragaman. Memang terdapat penjelasan ada pembebasan negatif. Pembebasan yang dimaksud Berlin di sini adalah pembebasan yang bersandarkan pada keyakinan akan kebenaran. Namun masih kurang detail dalam menjawab pertanyaan tersebut. Dan kurang mengulas hal konkret apa yang seharusnya dilakukan, untuk membangun 4 Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial
  5. 5. Critical Review mengenai “Imaji Kebebasan Individu dalam keniscayaan pluralitas” Ulina Christina Natalia 110610016 Pluralitas memang bertujuan untuk menyetarakan posisi setiap kelompok dalam masyarakat. Yang diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan atau gap antar kelompok masyarakat yang sebenarnya terhubung sebagai satu kesatuan sebagai warga negara Indonesia. Bagaimana kita bisa membangun multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Konsep masyarakat Indonesia yang lebih memilih untuk menonjolkan dan mengutamakan kepentingan kelompoknya diatas kepentingan umum secara nasionalis, menjadi suatu momok hambatan yang menggambarkan bahwa impian membangun multikulturalisme yang mengharapkan masyarakat dapat mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, tentunya akan sangat sulit sekali tercapai. Bagaimana bisa membangun mindset masyarakat Indonesia, yang sejak dulu sudah terbentuk dengan politik identitas, dimana individu sebagai anggota dari suatu kelompok telah tertanam bahwa kelompoknya lebih baik dari kelompok lain, bahwa kelompoknya lebih tinggi dari kelompok lain. Sehingga bagaimana mengubah mindset individu atau dalam pembahasan kelompok tadi agar memiliki pemahaman kesederajatan antar kelompok. Dimana pemahaman tersebut mengantarkan suatu kelompok untuk memandang kelompok lain dengan menggunakan kacamata yang lebih positif, yang tentunya akan menciptakan kesejahteraan nasional. Namun, bagaimana memupuk pemikiran seperti itu, sedangkan perbedaan kelompok yang biasanya memicu konflik secara kasat mata sudah mendarah daging di dalam tubuh masyarakat Indonesia. 5 Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial

×