Your SlideShare is downloading. ×
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Pendekatan manajemen kelas perubahan perilaku (behavior modification) di sdn semen 5 blitar (KELOMPOK 7)

6,307

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
6,307
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS PERUBAHAN PERILAKU(BEHAVIOR MODIFICATION) di SDN SEMEN 5 KABUPATEN BLITAR LAPORAN PENELITIAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Kelas Yang dibina oleh Bapak Achmad Supriyanto dan Bapak Supriyanto Oleh: Nastiti Rahajeng 109151415406 Dwi Mitasari 109151415426 Kurnia Lilin PA 109151422300 The Learning University UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR November 2011
  • 2. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnyasehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian ini dengan baik. Penulisan Laporan Penelitian yang berjudul ” Pendekatan Manajemen KelasPerubahan Perilaku (Behavior Modification) di SDN Semen 5 Kabupaten Blitar“ yaituuntuk mengetahui implementasi Behavior Modification di SD. Penulisan Laporan Penelitian ini disusun berdasarkan observasi, wawancara, danangket di SDN Semen 5 untuk mencari informasi mengenai implementasi BehaviorModification. Tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih atas semua pihak yang ikut membantuakan penyelesaian tugas ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh darikesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan gunamenyempurnakan tulisan ini dalam kesempatan berikutnya. Semoga penulisan LaporanPenelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmupengetahuan. Amin. Malang, November 2011 Penulis
  • 3. BAB I PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG Pendekatan dalam pembelajaran ada bermacam-macam. Guru harus paham dan mengetahui bermacam-macam pendekatan tersebut agar dapat mengimplementasikannya di dalam kelas. Setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing tentunya guru harus paham bagaimana karakterisrik dari masing-masing pendekatan agar dalam memadukan berbagai pendekatan dapat dipergunakan guru dengan baik sehingga memperoleh suatu pendekatan yang cocok untuk diterapkan kepada murid-murid di kelas. Kegiatan modifikasi perilaku (behavior modification) secara umum didasari psikologi behavioristik, khususnya teori stimulus respon dari pavlov yang kemudian dikembangkan oleh B. F. Skinner. (Sunanto, 2006:2). Semua yang kita lakukan dapat disebut sebagai perilaku (Joko Yuwono, 2009:50). Secara umum perilaku (behavior) didefinisikan sebagai suatu yang dikatakan atau dilakukan oleh seseorang (Marthin dan Pear dalam Juang Sunanto, 2006:4). Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku ialah semua tindakan seseorang yang dapat dilihat, didengar, atau dirasakan oleh orang lain atau diri sendiri. Kegiatan modifikasi perilaku sebagian besar diaplikasikan dalam perilaku manusia. Pada umumnya perilaku yang diharapkan dapat dibentuk seperti dalam proses pembelajaran. Sebaliknya perilaku yang tidak diharapkan dapat dihilangkan. Melalui laporan penelitian ini penulis membahas bagaimana behavior modification dan melakukan penelitian pengimplementasian behavior modification di salah satu sekolah yang terletak di Kabupaten Blitar.
  • 4. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa saja teori belajar yang melandasi pendekatan manajemen kelas Behavior Modification? 2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan manajemen kelas Behavior Modification? 3. Bagaimana prinsip-prinsip dasar pendekatan manajemen kelas Behavior Modification? 4. Bagaimana strategi yang dapat digunakan dalam Pendekatan manajemen kelas Behavior Modification?C. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengetahui landasan teori dari pendekatan manajemen kelas Behavior Modification. 2. Untuk mengetahui pendekatan manajemen kelas Behavior Modification. 3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar pendekatan manajemen kelas Behavior Modification. 4. Untuk mengetahui strategi yang dapat digunakan dalam pendekatan manajemen kelas Behavior Modification.D. TINJAUAN PUSTAKA 1. Teori-Teori Belajar Perilaku Studi secara ilmiah tentang belajar baru dimulai pada akhir abad ke-19. Dengan menggunakan teknik-teknik dari sains (phisical scienses), para ahli mulai melakukan eksperimen-eksperimen untuk memahami bagaimana manusia dan hewan belajar. Semua yang kita lakukan dapat disebut sebagai perilaku (Joko Yuwono, 2009:50). Secara umum perilaku (behavior) didefinisikan sebagai suatu yang
  • 5. dikatakan atau dilakukan oleh seseorang (Marthin dan Pear dalam Juang Sunanto,2006:4). Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku ialahsemua tindakan seseorang yang dapat dilihat, didengar, atau dirasakan oleh orang lainatau diri sendiri. Perilaku itu ada yang dapat diamati dan ada yang tidak dapat diamati.Perilaku yang dapat diamati misalnya senyum, makan, minum, berjalan, menangis,berbicara dan sebagainya. Perilaku yang tidak dapat diamati misalnya berfikir,menghayal dan sebagainya. Berkaitan dengan modifikasi perilaku, perilaku juga terdiri dari perilaku adaptifdan perilaku maladaptif. Perilaku adaptif misalnya belajar, menolong orang lain,duduk di dalam kelas dll. Perilaku maladaptif misalnya memukul teman, mencuri,berkelahi dll.a. Ivan Pavlov (Classical Conditioning) Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenaldengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenangdarinya hingga kini. Ia tidak pernah memiliki hambatan serius dalam sepanjangkariernya meskipun terjadi kekacauan dalam revolusi rusia. Pavlov lahir di kota kecildi Rusia tengah, anak seorang pendeta ortodoks pedesaan. Pada awalnya ia berniatmengikuti jejak ayahnya, namun mengurungkan dan pergi ke universitas di St.Petersburg untuk mengajar pada tahun 1870. Dari sinilah karir seorang Pavlov mulaiberjalan hingga ia memimpin Institut Fisiologi Pavlovian di Akademi IlmuPengetahuan Rusia. Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral,seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini,eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov menggunakan anjing sebagai subyekpenelitian.
  • 6. Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas: Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) makasecara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR). Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon ataumengeluarkan air liur. Gambar ketiga. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuahmakanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjingakan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan. Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang,maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secaraotonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR). Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agarketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapuntanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak meresponapapun ketika mendengar bunyi bel. Jika anjing secara terus menerus diberikanstimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah
  • 7. hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untukmenimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction ataupenghapusan. Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisidan penghapusan sebagai berikut: 1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan 2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan. 3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur 4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan. Menilik psikologi behavioristik menggunakan suatu pendekatan ekperimental,refleksiologis objektif pavlov tetap merupakan model yang luar biasa dan tidaktertandingi. Bila dicontohkan dalam kehidupan nyata teori pavlov ini bisa diterapkan.Sebagai contoh untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda mempunyaipasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu(CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secaraotonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda. Berdasarkan teori, ketika
  • 8. hal itu dilakukan secara berulang-ulang, selanjutnya cukup dengan bertemu dengananda tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka(CR) dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS,UCR, dan CR seperti ekperimen yang telah dilakukan oleh pavlov.b. E.L. Thorndike (Hukum Pengaruh) Dalam studi Thorndike terdahulu ia memandang perilaku sebagai responterhadap stimulus-stimulus dalam lingkungan (perhatikan kesesuaian dengan Pavlov).Pandangan ini, bahwa stimulus-stimulus dapat mengeluarkan respons-respons,merupakan titik tolak dari teori stimulus-respons (S—R) yang dikenal sekarang.Seperti para ahli teori perilaku sebelumnya, Thorndike menghubungkan perilaku padarefleks-refleks fisik seperti mengangkat sekonyong-konyong lutut ke atas bila lutut itudipukul, terjadi tanpa diproses dalam otak. Dihipotesiskan bahwa perilaku yang lainjuga ditentukan secara refleksif oleh stimulus yang ada di lingkungan dan bukan olehpikiran yang sadar atau tidak sadar. Dalam sejumlah eksperimen-eksperimennya, Thordike menempatkan kucing-kucing dalam kotak-kotak. Dari kotak-kotak ini, kucing-kucing itu harus keluar untukmemperoleh makanan. Ia mengamati bahwa sesudah selang beberapa saat, kucing-kucing itu belajar bagaimana dapat keluar dari kotak-kotak itu lebih cepat denganmengulangi perilaku-perilaku yang mengarah pada keluar dan tidak mengulangiperilaku-perilaku yang tidak efektif. Dari eksperimen-eksperimen ini, Thorndikemengembangkan hukumnya yang dikenal dengan Hukum Pengaruh (Law of Effect). Hukum Pengaruh Thorndike mengemukakan bahwa jika suatu tindakan diikutioleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, memungkinkan bahwatindakan itu diulangi dalam situasi-situasi yang mirip akan meningkat. Tetapi bilasuatu perilaku diikuti oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan,
  • 9. memungkinkan bahwa perilaku itu diulangi akan menurun. Jadi konsekuensi dari perilaku seseorang pada suatu saat, memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya (Dahar, 1988). c. B.F. Skinner (Operant Conditioning) Skinner berpendapat bahwa perilaku operant hanya mewakili sebagian kecil dari semua perilaku-perilaku. Sebab perilaku-perilaku ini beroperasi terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus tak terkondisi apapun, misalnya makanan. Studi skinner berpusat pada hubungan antara perilaku dan konsekuensi-konsekuensinya, contoh: bila perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan, orang itu akan lebih sering terlibat dalam perilaku tersebut. Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku disebut Operant Conditioning. Eksperimen Skinner dipusatkan pada penempatan subjek-subjek dalam situasi yang terkontrol dan mengamati perubahan dalam perilaku subjek itu yang dihasilkan dengan mengubah secara sistematis konsekuensi dari perilaku subjek tersebut. Skinner terkenal dengan pengembangan dan penggunaan aparatus yang biasa disebut “kotak Skinner”, dengan kotak ini ia meneliti perilaku hewan, biasanya tikus dan burung merpati. Pekerjaan Skinner dengan tikus dan burung merpati menghasilkan sekumpulan prinsi-prinsip tentang perilaku yang telah ditunjang oleh beratus-ratus studi yang melibatkan manusia maupun hewan.2. Pendekatan Manajemen Kelas Pengubahan Perilaku (Behavior Modification) Pendekatan pengubahan perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Pendekatan ini dapat pula diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah
  • 10. laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Prinsip utama yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar. Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang menyimpan. Ahli dari pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik yang berperilaku menyimpang disebabkan oleh salah satu dari dua alasan yaitu: a. Peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai b. Peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai Perubahan perilaku berakar dari hasil kerja Watson dan yang paling akhir dari Skinner (Ornstein dalam Punaji, 1999). Perubahan perilaku ini mencakup berbagai teknik dan metode, mulai dari pemberian hadiah yang sederhana hingga elaborasi latihan penguatan. Para pakar yang berkecimpung dalam pendekatan ini beranggapan bahwa perilaku itu dibentuk melalui lingkungan dan sedikit sekali perhatiannya pada sebab-sebab masalah. Para guru yang menggunakan pendekatan perubahan perilaku ini sedikit sekali menggunakan waktunya pada diri siswa secara personal atau pada upaya untuk mencari atau menemukan alasan-alasan untuk suatu masalah khusus. Mereka berusaha meningkatkan kejadian perilaku yang kurang sesuai melalui hukuman.3. Prinsip – Prinsip Behavior Modification Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua asumsi utama yaitu empat proses dasar belajar dan pengaruh kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar yang oleh sebagian para ahli juga disebut sebagai prinsip psikologi, prinsip tersebut meliputi: 1. Tindakan penguatan positif, yaitu memberikan stimulus positif, berupa ganjaran atau pujian terhadap perilaku atau hasil yang memang diharapkan. Pemberian
  • 11. penghargaan setelah terjadi suatu perbuatan menyebabkan perbuatan yang dikuatkan itu semakin meningkat sehingga perbuatan yang dihargai tersebut diperkuat dan diulangi di kemudian hari. Misalnya berupa ungkapan seperti "Nah seperti ini kalau mengerjakan tugas, tulisannya rapi mudah dibaca". Jenis-jenis penguatan positif itu ada dua: a. Penguatan primer (dasar) yaitu penguatan-penguatan yang tidak dipelajari dan selalu diperlukan untuk berlangsungnya hidup, seperti, makanan, air, udara yang segar dan sebagainya. Suasana seperti ini dapat membentuk perilaku siswa yang baik dan betah di dalam kelas. b. Penguatan sekunder bersyarat yang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar atau dipelajari, seperti diperhatikan, pujian (penguat sosial), nilai angka, rangking (penguatan simbolik), kegiatan atau permainan yang disenangi siswa (penguatan bentuk kegiatan). Ditinjau dari segi waktu, penguatan positif bisa diberikan secara:  Terus menerus pada setiap kali terjadi perbuatan baik atau yang diharapkan  Tenggang waktu atau berkala, yaitu setelah jangka jam pelajaran dimulai, atau setiap "sekian" kali perbuatan. Ada dua macam penjadwalan dalam panguatan berkala yaitu: Penjadwalan interval yaitu pemberian penguatan siswa setiap jangka waktu tertentu. Misalnya setiap satu jam, seperti gambar berikut:Keterangan : 0 = pemberian penguatan + = tingkah laku yang dimaksud
  • 12. Penjadwalan rasio Pada umumnya, penjadwalan interval lebih efektif untuk "Mempertahankan"tingkah laku yang dimaksud terus menerus terjadi. Dan penjadwalan rasio lebihefektif untuk "Meningkatkan frekuensi penampilan tingkah laku yang dimaksud".Yang perlu diperhatikan guru juga adalah bahwa makna suatu penguat bersifat"Unik" artinya sangat tergantung pada si pemberi dan si penerima penguat tersebut.Apa yang oleh seorang siswa dianggap sebagai penguat, bagi siswa lain belum tentuditerima demikian. Dalam hal ini, pemahaman guru terhadap kondisi psikologis siswaakan sangat membantu. Ada tiga cara yang dikenal dalam upaya pemilihan danpenerapan tindakan penguat, yaitu: Memperhatikan gelagat/tanda-tanda atau petunjuk khusus dengan cara mengamati hal-hal apa yang ingin dilakukan oleh siswa. Memperhatikan petunjuk-petunjuk tambahan dengan mengamati apa yang terjadi setelah siswa menampilkan perilaku tertentu. Dalam hal ini guru mencoba menetapkan tindakan dan perilaku apa yang dilakukan guru dan temanteman siswa itu yang tampaknya menguatkan perilaku siswa yang bersangkutan. Memperoleh petunjuk-petunjuk tambahan dengan cara langsung bertanya kepada siswa yang bersangkutan apa yang ingin dimilikinya, dan untuk apa untuk siapa biasanya siswa itu melakukan sesuatu yang berarti.Contoh: Nana membuat karya tulis yang sangat rapi, kemudian karya tulis itudiserahkan kepada guru (=perbuatan/tingkah laku). Guru memuji karya tulis itu danmengatakan bahwa karya tulis yang rapi lebih mudah dan enak dibaca daripadakarya tulis yang tidak rapi (=penguatan positif). Dalam karya tulis selanjutnya, Nana
  • 13. lebih bersungguh-sungguh dan tulisannya lebih rapi (=frekuensi perbuatan yang dikuatkan lebih meningkat).2. Tindakan penghukuman, yaitu suatu penampilan perangsang yang tidak diinginkan atau tidak disukai, dengan harapan menurunkan frekuensi pemunculan tingkah laku yang tidak dikehendaki. Tindakan hukuman dalam pengelolaan kelas masih bersifat kontroversial (dipertentangkan). Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, sekaligus merupakan contoh "yang tidak dikehendaki" bagi siswa lain. Sebagian lain melihat bahwa akibat sampingan dari hubungan pribadi antara guru (yang menghukum) dan siswa (terhukum) menjadi terganggu atau siswa yang dihukum menjadi “Pahlawan” di mata teman-temannya. Contoh: Tari membuat dan menyerahkan makalah yang tulisannya tidak rapi kepada gurunya (=perilaku peserta didik). Guru menegur Tari karena dia tidak membuat pekerjaan secara rapi. Guru mengatakan kepadanya bahwa tulisan yang tidak rapi sukar dibaca. Guru menyuruh Tari menulis kembali makalah itu (=hukuman). Dalam makalah berikutnya, tulisan Tari bertambah baik (=frekuensi perbuatan yang dihukum berkurang).3. Tindakan penghilangan atau penghentian, yaitu tidak memberikan ganjaran yang diharapkan seperti yang lalu (menahan pemberian penguatan positif), atau pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan siswa. Terkadang, penghentian menyebabkan menurunnya frekuensi perbuatan yang sebelumya dihargai.
  • 14. Contoh: Marni yang pekerjaannya rapi selalu dipuji oleh guru. Ia menyiapkan sebuah karya tulis dengan tulisan yang rapi. Kemudian menyerahkannya kepada guru (=perbuatan peserta didik yang sebelumnya dikuatkan oleh guru). Guru menerimanya, kemudian mengembalikannya kepada Marni tanpa member komentar apapun (=menahan penguatan positif). Pekerjaan Marni menjadi kurang rapi dalam membuat makalah berikutnya atau bisa saja tetap rapi karena Marni ingin mendapat nilai yang bagus tanpa harus ada pujian/hadiah (=frekuensi perbuatan yang sebelumnya dikuatkan menjadi menurun).4. Tindakan penguatan negatif, yaitu meniadakan perangsang yang tidak menyenangkan atau tidak disukai. Atau dengan kala lain menghilangkan hukuman. Contoh : Wawan yang waktu sebelumnya dimarahi Pak guru karena pekerjaannya tidak benar dan tidak rapi, pada pengumpulan tugas berikutnya Pak guru tidak memarahinya lagi. Harapan dari tindakan-tindakan tersebut dapat menghentikan atau mengurangi perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki serta dapat meneruskan atau meningkatkan perilaku-perilaku yang dikehendaki.Seperti digambarkan pada contoh-contoh di atas, guru dapat menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki pada diri siswa melalui penerapan penguatan positif danpenguatan negatif. Dan guru mengurangi perilaku siswa yang tidak dikehendaki melaluipenerapan penghukuman dan penghilangan. Berdasarkan uraian di atas dapatdisimpulkan bahwa penerapan pendekatan perubahan tingkah laku (behaviormodivication) mengandung prinsip.
  • 15.  Mengabaikan persetujuan atas tingkah laku yang tidak diinginkan, menunjukan persetujuan atas tingkah laku yang diinginkan, itu sangat efektif menumbuhkan tingkah laku yang baik pada siswa. Menunjukan persetujuan atas tingkah laku yang baik merupakan kunci pengelolaan kelas yang efektif. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan diagram prinsip penguatan tingkah laku berikut ini:Prinsip-prinsip dasar pendekatan perubahan perilaku (dalam Punaji, 1999) adalah sebagaiberikut:a. Perilaku dibentuk melalui konsekuensinya, bukan oleh penyebab-penyebab masalah pada diri individu atau kondisi-kondisi kelompok
  • 16. b. Perilaku diperkuat oleh penguatan-penguatan secara langsung. Pengukuhan secara positif berupa penghargaan dan ganjaran. Pengukuhan-pengukuhan negatif mengurangi atau menghentikan sesuatu yang tidak disukai siswa. Misalnya siswa ditegur oleh guru, siswa dituntut agar berperilaku sesuai dengan aturan kelas dan kemudian guru menghentikan teguran itu. Dalam situasi pengukuhan yang bersifat negatif siswa berperilaku secara demikian sehingga menghindari stimuli yang tidak dikehendaki (mengomel, menggurutu dan ancaman) dan lingkunganc. Perilaku itu diperkuat oleh pengukuhan yang sistematis (positif atau negatif). Perilaku itu lemah jika tidak diikuti oleh penguatand. Pembelajar merespon lebih baik terhadap pengukuhan yang bersifat positif daripada hukuman (stimuli yang dihindari). Hukuman dapat dipakai untuk mengurangi perilaku yang tidak sesuai, tetapi dilakukan secara hati-hatie. Apabila seorang pembelajar tidak mendapat ganjaran dari perilaku yang memadai atau perilaku adaptif, maka perilaku yang tidak sesuai atau mal-adaptif mungkin menjadi semakin dominan dan akan dipakai sebagai alat untuk memperoleh penguatanf. Penguatan yang bersifat konstan yaitu penguatan dari suatu perilaku yang dilakukan atau terjadi setiap saat, menimbulkan hasil yang amat baik, khususnya dalam mempelajari sesuatu yang baru atau situasi yang dipersyaratkang. Pada saat perilaku telah dipelajari lebih baik dipelihara melalui pengukuhan yang bersifat sementara yaitu pengukuhan tentang suatu perilaku yang hanya terjadi secara berkalah. Jadwal pengukuhan yang sementara mencakup:  Variable ratio  yang memberikan penguatan dalam interval yang tidak dapat diprediksi
  • 17.  Fixed Ratio  yang memberikan penguatan setelah sejumlah respon yang diberikan sebelumnya  Fixed Interval  pemberian penguatan dalam interval yang diberi sebelumnya (Biehler & Snowman dalam Punaji, 1999)i. Ada beberapa tipe penguat masing-masing bersifat positif atau negatif. Contoh penguatan positif adalah:  Penguatan sosial  seperti komentar-komentar yang bersifat verbal, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan tubuh  Pengukuhan grafis  kata-kata yang bernada dorongan secara tertulis, tanda bintang dan tanda check  Pengukuhan yang bisa diamati  kue, lencana bagi anak-anak, sertifikat bagi orang dewasa  Pengukuhan yang berkaitan dengan aktivitas  mengawasi atau duduk dekat guru dan bekerja bersama teman (Charles dalam Punaji, 1999)j. Aturan-aturan ditetapkan dan ditegakkan. Pebelajar yang mematuhi aturan mendapat ganjaran dan penghargaan dalam beberapa bentuk. Pebelajar yang melakukan pelanggaran tehadap aturan atau mengabaikan akan diberi peringatan untuk berperilaku yang sesuai atau hukuman secara langsung. Pemberian hukuman terhadap pelaku pelanggaran berbeda menurut perbedaan variasi pendekatan perubahan perilaku (Reese dalam Punaji, 1999)4. Strategi Pendekatan Behavior Modification Guru menyadari bahwa pujian dan dorongang semua adalah pendorong sosial yang sangat kuat. Pendekatan perubahan perilaku menawarkan sejumlah strategi
  • 18. managerial kepada guru yang semuanya mengandung penggunaan dorongan. Berikutini merupakan strategi-srategi yang ditawarkan dalam memanajemeni kelas.a. Mempergunakan model Model adalah proses dimana peserta didik dengan mengamati cara berperilaku orang lain mendapatkan perilaku yang baru. Sebagai suatu strategi manajemen, model dapat dipandang suatu proses dimana guru melalui tingkah lakunya menampilkan nilai dan sikap, yang dikehendaki, dimiliki, dan ditampilkan oleh peserta didik.b. Mempergunakan pembentukan Pembentukan adalah suatu prosedur dimana guru meminta pesrta didik menampilkan serangkaian perilaku yang mendekati atau mirip dengan perilaku yang diinginkan. Dan setiap kali peserta didik menampilakan perilaku yang mendekati itu guru memberikan dorongan kepada peserta didik sehingga ia mampu secara konsisten perilaku yang diinginkan tersebut. Jadi pembentukan adalah pembentukan perilaku yang dipergunakan untuk mendorong perkembangan perilaku yang baru.c. Mempergunakan sistem hadiah Sistem hadiah biasanya terdiri-dari tiga unsur yang dimaksudkan untuk menghubah perilaku sekelompok peserta didik unsur-unsur itu berupa 1. Seperangkat instruksi tertulis yang disiapkan dengan teliti, yang menggambarkan perilaku peserta didik yang hendak dikuatkan atau didorong oleh guru. 2. Suatu sistem yang dirancang dengan baik untuk menghadiahkan barang yang menghadiahkan barang kepada peserta didik yang menampilakan perilaku yang sesuai.
  • 19. 3. Seperangkat prosedur yang memberikan kesempatan pada peserta didik saling bertukar hadiah yang mereka peroleh sebgai penghargaan, atau memberikan kesempatan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.d. Mempergunakan kontrak perilaku Kontrak perilaku adalah suatu persetujuan guru dan peserta didik yang berperilaku menyimpang. Persetujuan itu menentukan perilaku yang dipersetujui oleh peserta didik untuk ditampilkan dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya apabila peserta didik menempilkan perilaku-perilaku tersebut. Kontrak adalah suatu kesepakatan antara guru dan peserta didik yang merinci apa yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik dan ganjaran atau konsekuaensi yang diperolehnya apabila melakukan hal-hal yang disepakati itu.e. Mempergunakan jatah kelompok Pergunakan jatah kelompok adalah penggunaan prosedur dimana konsekuensi tidak hanya tergantung kepada perilaku seseorang pesrta didik sendiri, melainkan kepada perilaku kelompoknya. Penghargaan terhadap setiap anggota kelompok tergantung pada perilaku salah seorang atau lebih atau pada perilaku seluruh anggota kelompok lainnya.f. Penguatan alternatif yang tidak serasi Penyuluhan perilaku adalah suatu proses yang meliputi pertemuan pribadi antara guru dan peserta didik. Penyuluhan perilaku ini bertujuan untuk membantu peserta didik yang berperilaku menyimpang mengetahui bahwa perilakunya tidak sesuai dan merencanakan perubahan. Pertemuan seperti itu akan membantu peseta didik memahami hubungan antara tindakannya dengan konsekuensinya dan mempertimbangkan tindakan-tindakan alternatif yang mungkin dapat mengahasilkan konsekuensi yang diinginkan.
  • 20. g. Mempergunakan penyuluhan perilaku Penilaian perilaku adalah suatu proses yang meliputi pertemuan pribadi antara guru dan peserta didik. Penyuluhan perilaku ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik yang berperilaku menyimpang mengetahui bahwa perilakunya tidak sesuai dan merencanakan perubahan. Pertemuan seperti itu akan membantu peserta didik memahami hubungan antara tindakannya dengan konsekuensinya, dan memepertimbangkan tindakan-tindakan alternatif yang mungkin dapat menghasilkan konsekuensi yang diinginkan.h. Mempergunakan pemantauan sendiri Pemantauan diri sendiri diartikan sebagai pengelolaan diri sendiri dimana peserta didik mencatat aspek-aspek perilakunya agar ia dapat merubahnya. Pemantauan diri sendiri secara sistematis akan meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap perilaku yang diharapkan dihilangkan atau dikurangi. Pemantauan diri sendiri meningkatkan kesadaran diri sendiri melalui pengamatan atas dirinya.i. Mempergunakan syarat Isyarata dalah suatu proses untuk merangsang berbuat atau tindakan mengingatkan secara verbal atau nonverbal yang digunakan oleh guru kepada peserta didik. Hal ini dilakukan apabila ia merasa peserta didiknya berperilaku menyimpang. Suatu isyarat dapat digunakan untuk mendorong atau mencegah perilaku tertentu. Berlainan dengan pendorong, isyarat mendahului respon.
  • 21. BAB II METODE PENELITIANA. PENDEKATAN JENIS PENELITIAN Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif (Suharsimi, 2010) yaitu: (1) tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung, (2) mempunyai latar belakang alami sebagai sumber data langsung, yakni situasi kelas penelitian yang bersifat wajar adanya, tanpa dimanipulasi, (3) bersifat deskriptif, karena data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau kalimat bukan berbentuk angka, (4) lebih mementingkan proses dari pada hasil karena yang diteliti terlihat jelas didalam proses, (5) makna merupakan hasil yang esensial karena perhatian penelitian terpusat pada siswa, (6) kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti, (7) desain penelitiannya adalah fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya. Sesuai dengan ciri-ciri tersebut jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif.B. KEHADIRAN PENELITI Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul, penganalisis, penafsir data, dan sebagai pelapor hasil penelitian. Selama penelitian ini penulis bertindak sebagai perencana penelitian yang mengumpulkan data, melaksanakan penelitian, menganalisis data dan melaporkan hasil penelitian.C. LOKASI PENELITIAN Penelitian dilakukan di SDN Semen 5 Jalan Kawi no 1, Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar
  • 22. D. SUMBER DATA Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan pihak sekolah, hasil observasi secara langsung, hasil dokumentasi serta angket yang dibagikan kepada siswa sebagai bahan rujukan teori peneliti menggunakan kajian teori yang tertera dalam BAB I.E. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam hal ini, peneliti menggunaan metode pengamatan (observasi) dan dokumentasi 1) Observasi Yang dimaksud dengan metode observasi adalah suatu cara untuk mengumpulkan data yang di inginkan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung. Observasi meliputi observasi sistematis dan observasi non sistematis. Observasi sistematis adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan instrumen pengamatan. Sedangkan observasi non sistematis adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti tanpa menggunakan instrumen pengamatan. Penulis menggunakan observasi sistematis yang menggunakan pedoman berupa format observasi. 2) Wawancara Wawancara adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan. Sebelumnya dilakukan penyusunan daftar pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber.
  • 23. 3) Dokumentasi Dokumentasi adalah metode penelitian ilmiah yang menggunakan dokumen-dokumen sebagai bahan acuan untuk kepentingan penelitian. Metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah mencari data-data mengenai pendekatan manajemen kelas behavior modification di SDN Semen 5 Blitar. 4) Angket Angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan kepada responden untuk dijawab. Metode ini untuk mengetahui perlakuan yang diberikan guru kepada siswa-siswi SDN Semen 5 Blitar.F. ANALISIS DATA Analisis data menurut Patton adalah Proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Langkah- langkah yang kami lakukan dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Mereduksi Data Mereduksi data dilakukan setelah semua data dari hasil observasi dan dokumentasi terkumpul. 2. Penyajian Data Data yang sudah diperoleh dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan tabel, sehingga dapat terlihat dengan jelas implementasi teori dalam pelaksanaannya di lapangan/sekolah. 3. Penarikan Kesimpulan, Verifikasi, dan Refleksi Penarikan kesimpulan dilakukan setelah selesai proses observasi dan wawancara, yang selanjutnya dilakukan verifikasi atau pengecekan keabsahan data. Dari data- data tersebut dilakukan refleksi sehingga diperoleh kesimpulan akhir.
  • 24. G. TAHAP – TAHAP PENELITIAN Alur penelitiannya meliputi beberapa tahap sebagai berikut: 1. Studi literatur Sebelum melaksanakan penelitian, perlu membekali diri sendiri dengan beberapa literatur yang tepat dan akurat, sehingga ketika melaksanakan penelitian di lapangan dapat dengan mudah mencocokkan atau mengimplementasikan teori dengan prakteknya. 2. Perencanaan tindakan Pada tahap ini, dilakukan penyusunan daftar pertanyaan yang akan diajukan ke SD beserta daftar cheklisnya. 3. Observasi, wawancara dan angket Penelitian ini dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara langsung dengan kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang bersangkutan serta angket yang diberikan kepada siswa-siswi kelas 4 dan 5 SDN Semen 5 Blitar.
  • 25. BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIANA. Hasil Wawancara dan Dokumentasi Secara umum pendekatan pembelajaran terutama dalam pendekatan pengubahan di SDN Semen 5 Blitar sudah terlaksana dengan baik. Hal ini diperoleh dari hasil observasi, wawancara, serta penyebaran angket di kelas 4, 5 serta pengamatan pembelajaran di kelas 3 SD sebagai sampelnya. Adapun hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada guru dan siswa adalah sebagai berikut. Wawancara dilakukan kepada wali kelas V di SDN Semen 5 yaitu Bapak Sunarji S.Pd. hasilnya sebagai berikut. 1. Bagaimana cara guru menciptakan suasana agar siswa betah di dalam kelas? Jawab : Dengan cara memberikan motivasi kepada anak supaya betah belajar didalam kelas. Sejauh ini motivasi yang diberikan berupa kalimat-kalimat motivasi dan motivasi tertulis yang ditempel di dinding kelas, menghargai hasil karya siswa dengan cara menempel pekerjaan siswa yang baik di mading kelas. Menciptakan ruangan kelas yang nyaman untuk belajar dengan cara menghiasi kelas dengan pajangan hasil karya siswa, foto pahlawan, media pembelajaran,dll. Semuanya ditata dengn rapi sehingga indah untuk dipandang
  • 26. 2. Apakah di sekolah ini terdapat perilaku siswa yang menyimpang? Bila ada berupa perilaku seperti apa? Jawab: Mengenai perilaku menyimpang siswa pasti ada namun perilaku tersebut masih pada batas kewajaran kenakalan anak. Perilaku tersebut berupa tidak mengerjakan PR, ramai dalam kelas, bertengkar dengan teman, main PS berlebihan, tidak membawa peralatan sekolah,ada aeorang siswa merokok, dll.3. Bagaimana cara guru untuk mengubah perilaku siswa yang kurang sesuai? Tindakan yang dilakukan guru untuk mengubah perilaku tersebut ialah. a. Guru berperan sebagai model yang baik bagi siswa dengan cara memberikan contoh perilaku yang baik yang biasa dilakukan di masyarakat.
  • 27. b. Memberikan hukuman kepada siswa berdasarkan tingkat kesalahannya. Misalkan jika tidak mengerjakan pr maka siswa dihukum mengelilingi lapangan, dicubit, dipukul dengan kemoceng dan buku, tidak membawa buku dihkum dengan cara di penceng hidung. Berkeliaran di dalam kelas diberi hukuman di jiwit, jalan jongkok bagi siswa yang terlambat.4. Apakah guru juga memberi penguatan kepada siswa saat pembelajaran? Dalam bentuk apa penguatan tersebut? Jawab: Iya, penguatan selalu diberikan kepada siswa. Penguatan yang diberikan berupa kata-kata motivasi, kata-kata pujian, pemberian hadiah kepada siswa yang memperoleh ranking 1,2, dan 3 hadiahnya berupa buku tulis, pemberian hadiah berupa uang kepada siswa kelas 6 yang memperoleh nilai 10 di UASBN.5. Apakah siswa pernah diberi kebebasan dalam menentukan permainan saat pembelajaran? Jawab: Tidak pernah, sering kali pengkonsepan pembelajaran selalu dari guru.
  • 28. 6. Bagaimanakah cara menentukan waktu yang tepat untuk memberi penguatan kepada siswa? Jawab: Penguatan selalu diberikan kepada siswa setiap saat dan penguatan ini selalu diberikan kepada siswa atas tindakan positif yang dilakukan.7. Apakah guru pernah memberi pujian kepada siswa? Kapan pujian itu diberikan? Bagaimana bentuk pujian yang diberikan tersebut? Jawab: Iya pernah, guru selalu memberikan pujian atas tindakan siswa, pujian tersebut sebagai apresiasi positif dari guru. Pujian selalu diberikan setiap saat kepada siswa. Contoh bentuk pujian tersebut yaitu bila siswa mendapat nilai bagus guru memberikan pujian “Wah Pintar, hebat,Pertahankan ya, bagus nak” dll.8. Apakah guru pernah menghukum siswa? Kapan hukuman diberikan kepada siswa? Bagaimana bentuk hukuman tersebut? Jawab: Iya, saya pernah menghukum siswa. Hukuman diberikan apabila siswa melakukan kesalahan dan perbuatan yang menyimpang. Bentuk hukuman yang diberikan berupa kata-kata menggertak, cubitan, jewer, jalan jongkok, lari keliling lapangan,dll.9. Apakah terjadi perubahan tingkah laku siswa ketika dipuji atau pun dihukum?
  • 29. Ada, yaitu bila siswa diberikan pujian maka dia akan mempertahankan perilaku baiknya bahkan berusaha untuk meningkatkan prestasi tersebut. Sedangkan bagi siswa yabng menerima hukuman dia akan merasa jera akan hukuman tersebut sehingga terjadinya kesalahan dapat diminimalisir.10. Apakah dengan menghentikan pujian yang sebelumnya diberikan akan mengurangi semangat siswa dalam belajar? Jawab: Sejauh ini pujian tidak pernah dihentikan, pujian selalu diberikan kepada siswa setiap kali siswa berlaku baik.11. Apakah dengan menghentikan hukuman yang sebelumnya diberikan akan menambah semangat siswa dalam belajar? Jawab: Hukuman selalu diberikan kepada siswa berdasarkan tingkat kesalahannya namun hukuman tersebut juga disertai dengan arahan dari guru.12. Apakah guru memberlakukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi siswa saat di kelas? siapakah yang membuat peraturan tersebut? Apakah siswa dilibatkan dalam pembuatan peraturan? Jawab: Iya, peraturan inti yang harus dibuat oleh guru sedangkan kesepakatan kelas diatur oleh kesepakatan kelas. Siswa hanya dilibatkan pada pembuatan peraturan kelas contohnya siswa menyepakati adanya pemberian hukuman kepada siswa yang ramai karena siswa merasa terganggu oleh siswa yang ramai tersebut.
  • 30. 13. Metode apa yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar? Jawab : Dalam pembelajaran di kelas guru menggunakan beberapa metode diantaranya ceramah, tanya jawab, demonstrasi, drill soal, pemberian tugas dan pembelajaran di luar kelas untuk IPA, IPS, ORB. Hasil dokumentasi yang lain Gambar proses wawancara terhadap narasumber yaitu Bapak Sunarji selaku wali kelas 5 SDN Semen 05 Blitar
  • 31. Gambar foto bersama kelas 5 dan kelas 4Gambar pembiasaan yang positif bagi perilaku siswa dengan cara berjabat tanganmeskipun bukan kepada guru di sekolah mereka.Gambar saat siswa-siswi mengisi angket
  • 32. Gambar siswa yang ranking 1 dan 2 Gambar siswa yang sedang menjawab pertanyaan wawancaraC. Hasil Angket Berdasarkan hasil angket yang telah diberikan kepada siswa kelas 4 dan 5 SDN Semen 5 Blitar menunjukkan bahwa. 1. Sebagian besar dari mereka suka belajar dikelas. 2. Guru pernah siswa apabila siswa tidak mengerjakan PR. 3. Sebagian besar siswa pernah dipuji guru ketika berbuat baik. 4. Guru memberikan hadiah kepada siswa yang mendapat nilai bagus. 5. Siswa selalu belajar di dalam kelas. 6. Semua siswa suka dengan penampilan guru mereka. 7. Sebagian besar siswa senang diajar oleh guru.
  • 33. 8. Siswa selalu berjabat tangan ketika bertemu guru. Gambar ketika siswa mengisi angket
  • 34. BAB IV PEMBAHASAN Dalam pelaksaan pembelajaran guru SDN Semen 5 Blitar menerapkan beberapa teoriBehavior Modification. Guru melakukan beberapa pengontrolan kepada siswa-siswanyasupaya mereka berperilaku dan bersikap sesuai dengan apa yang diinginkan, karenaseringkali siswa menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan norma seperti bertengkardengan teman, menggangu kelancaran belajar seperti berbuat gaduh dikelas, serta perilakulain yang tidak sesuai ditunjukkan oleh anak seumuran mereka seperti merokok. Beberapakebiasaan siswa yang lain juga akan menggangu jalannya pelajaran karena ada anak yangtidak mengerjakan PR dan tidak membawa peralatan sekolah. Untuk mengatasi permasalahantersebut guru berusaha menjadi model yang baik bagsi siswa tetapi selain itu jugamemberikan penguatan negatif dan pemberian hukuman agar siswa memunculkan sikap yangdiinginkan. Dengan adanya tindakan penghukuman yang dilakukan guru menyebabkan beberapasiswa jera dengan kesalahan yang mereka lakukan tetapi tetap saja kadangkala masih sajamuncul tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. Kejadian ini menyebabkan guru tidakpernah menghentikan tindakan penghukuman. Penghukuman selalu diberikan ketika siswaberbuat salah. Beberapa penghukuman yang sering diberikan guru adalah dengan caramencubit, lari mengelilingi lapangan, jalan jongkok, dipukul dengan menggunakan penggarisdari kayu, dan dengan cara memencet hidung. Penghukuman-penghukuman tersebutdiberikan sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan siswa. Ketika guru memberikanhukuman,beliau juga memberikan nasihat ataupun arahan yang baik supaya siswa tidakmengulangi kesalahannya lagi.
  • 35. Selain pemberian hukuman, dalam proses belajar mengajar pastinya tidak mungkinsiswa selalu menampilkan sifat yang jelek, siswa juga memunculkan sifat-sifat yang baik.Untuk terus memupuk, mempertahankan dan meningkatkan sifat positif tersebut, maka gurumemberikan penguatan positif. Penguatan positif itu dapat berupa ucapan ataupun bendakonkrit. Penguatan positif ucapan itu misalnya berupa pujian kepada siswa sehingga siswasemakin bersemangat dan berusaha mempertahankan perilakunya, contoh pujiannya yaitu: “Wah pintar”. “Bagus”, “ Tulisannya Rapi sekali”, “Hebat sekali”, dll. Sedangkan penguatanpositif yaang berupa benda konkrit yaitu pemberian hadiah kepada siswa yang mendapatperingkat 1,2, dan 3, serta mendapat nilai 100 ketika UASBN. Selanjutnya mengenai pelaksanaan manajemen kelas di sekolah ini, pada umumnyamenerapkan pendekatan pengubahan perilaku yang masih bersifat konvensional. Meskipuncukup efektif untuk membentuk perilaku siswa yang sesuai dengan aturan, namun pendekatanini juga berdampak pada fisik dan psikis anak karena cenderung menggunakan hukuman fisikpada anak yang berbuat salah atau melanggar aturan. Pendekatan ini akan mencapai hasilyang optimal apabila digunakan dengan cara yang bijak dalam menentukan jenis dan waktupemberian tindakan dari prinsip-prinsip pendekatan behavior modification.
  • 36. BAB V PENUTUPA. SIMPULAN Penekanan Teori Behviorisme adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi prosesbelajar dalam diri siswa. Teori Belajar Behavioristik mengandung banyak variasi dalam sudutpandangan. Pelopor-pelopor pendekatan Behavioristik pada dasarnya berpegang padakeyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karenaitu, dapat diubah dengan belajar baru. Behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinantentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorakpsikologis, yaitu : 1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya. 2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri,menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri. 3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar. 4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
  • 37. DAFTAR RUJUKANBrennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.RajaGrafindo PersadaDahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: DIKTIEl-Ghaniy, Arini. 2009. Saat Anak Harus Dihukum. Jogjakarta: POWER BOOK (IHDINA)Fadli. 2010. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK JOHN WATSON (1878 – 1958), (Online),(http://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-behavioristik-john-watson-1878-1958/, diakses 11 Nopember 2011)Nuryadi. 2009. Teori Belajar B.F Skinner dan Aplikasinya, (Online),(http://made82math.wordpress.com/2009/06/05/teori-belajar-b-f-skinner-dan-aplikasinya/,diakses 11 Nopember 2011)Sunanto, J. (2006). Penelitian Dengan Subyek Tunggal. Bandung: UPI Press.Setyosari, Punaji. 1999. Pendekatan-pendekatan Manajemen Kelas. Malang: UM FIP TEPYuwono, J. (2009). Memahami Anak Autistik (Kajian Teoritik dan Empirik). Bandung:Alfabeta.
  • 38. Lampiran 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA GURU 1. Bagaimana cara guru menciptakan suasana agar siswa betah di dalam kelas? 2. Bagaimana cara guru untuk mengubah perilaku siswa yang kurang sesuai? 3. Apakah guru juga memberi penguatan kepada siswa saat pembelajaran? Dalam bentuk apa penguatan tersebut? 4. Apakah siswa pernah diberi kebebasan dalam menentukan permainan saat pembelajaran? 5. Bagaimanakah cara menentukan waktu yang tepat untuk memberi penguatan kepada siswa?. 6. Apakah guru pernah memberi pujian kepada siswa?. Kapan pujian itu diberikan? Bagaimana bentuk pujian yang diberikan tersebut? 7. Apakah guru pernah menghukum siswa? Kapan hukuman diberikan kepada siswa? Bagaimana bentuk hukuman tersebut? 8. Apakah terjadi perubahan tingkah laku siswa ketika dipuji atau pun dihukum? 9. Apakah dengan menghentikan pujian yang sebelumnya diberikan akan mengurangi semangat siswa dalam belajar? 10. Apakah dengan menghentikan hukuman yang sebelumnya diberikan akan menambah semangat siswa dalam belajar? 11. Apakah guru memberlakukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi siswa saat di kelas? siapakah yang membuat peraturan tersebut? Apakah siswa dilibatkan dalam pembuatan peraturan? 12. Metode apa yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar?
  • 39. Lampiran 2 ANGKET JAWABANNO PERNYATAAN YA TIDAK1. Saya senang belajar di kelas2. Saya dihukum guru ketika saya tidak mengerjakan PR3. Saya dipuji guru ketika berbuat baik Saya pernah mendapat hadiah dari guru ketika mendapat4. nilai bagus5. Saya pernah belajar di luar kelas bersama guru6. Saya senang diajar guru7. Saya suka dengan penampilan guru8. Saya berjabat tangan ketika bertemu guru (salim)
  • 40. Lampiran 3 LEMBAR OBSERVASINO POKOK-POKOK OBSERVASI CATATAN1. Penampilan guru2. Kebiasaan siswa (mis. Berbaris di depan kelas sebelum masuk)3. Bentuk-bentuk penguatan positif yang dilakukan guru4. Bentuk-bentuk hukuman yang ditemukan5. Peraturan yang diberlakukan dikelas6. Metode yang dilaksanakan di kelas7. Kondisi kelas (mis. Murid pasif)

×