Your SlideShare is downloading. ×
KATA PENGANTARPelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional, Peraturan Pemerintah Republ...
DAFTAR ISIKATA PENGANTAR............................................................................................. iiiD...
Belajar Untuk Masa Depanku                                             BAB I                                         PENDA...
Belajar Untuk Masa Depanku    harapan. Sebagian besar siswa menyatakan senang mengikuti program    BC dan merasa yakin dap...
Belajar Untuk Masa Depanku            berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu,            pro...
Belajar Untuk Masa Depanku                              BAB II             KONSEP PEMBELAJARAN PADA BRIDGING COURSE  A. Ko...
“Belajar Untuk Masa Depanku”    biak dengan beranak karena termasuk mamalia. Dengan demikian,    terjadi perubahan skema b...
Belajar Untuk Masa Depanku                              ATAU KEBUTUHAN?                                                   ...
“Belajar Untuk Masa Depanku”    Seseorang yang mempunyai hobi bermain catur akan segera tertarik    ketika TV menayangkan ...
Belajar Untuk Masa Depanku            Artinya siswa sudah mampu melakukan operasi atau manipulasi tetapi            berdas...
“Belajar Untuk Masa Depanku”     yang menyenangkan (joyful learning), dan (3) pembelajaran     berdasarkan masalah. Tentu ...
Belajar Untuk Masa Depanku            Siswa SMP kelas VII pada umumnya masih dalam taraf berpikir            operasional k...
“Belajar Untuk Masa Depanku”     pemahaman kelompok. Artinya nilai kelompok akan berpengaruh     terhadap penilaian indivi...
Belajar Untuk Masa Depanku                                  BAB III                     POLA PENGATURAN DAN PELAKSANAAN   ...
Belajar Untuk Masa Depanku     Apakah semua mata pelajaran perlu diikutkan dalam program BC atau     hanya mata pelajaran ...
Belajar Untuk Masa Depanku            1. Melaksanakan sosialisasi dan penjelasan tentang konsep dan               penyelen...
Belajar Untuk Masa Depanku           sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan           Propinsi, dan ar...
Belajar Untuk Masa Depanku            Pendidikan Kabupaten/Kota. Untuk sosialisasi tingkat provinsi            dilaksanaka...
Belajar Untuk Masa Depanku     komite sekolah dari sekolah yang menjadi sasaran perluasan     pelaksanaan BC adalah pihak ...
Belajar Untuk Masa Depanku            terpadu, dan para peserta dari kelompok mata pelajaran Sejarah,            Geografi,...
Belajar Untuk Masa DepankuC. Unsur-Unsur terkait dengan Perluasan Pelaksanaan   Program Bridging Course     Pelaksana prog...
Belajar Untuk Masa Depanku            2. Menyusun rencana program.            3. Menyerahkan proposal kepada TTK.         ...
Belajar Untuk Masa Depanku                                                BAB IV                                          ...
Belajar Untuk Masa DepankuLampiran:Contoh program pelatihan/pembekalan bridging course     Jadwal Pelaksanaan Pelatihan/Pe...
Belajar Untuk Masa Depanku    Jadwal Pelatihan Bridging Course : Diskusi Kelompok Guru Mapel                              ...
Belajar Untuk Masa Depanku22             Direktorat PSMP
Panduan pelaksanaan bridging course smp
Panduan pelaksanaan bridging course smp
Panduan pelaksanaan bridging course smp
Panduan pelaksanaan bridging course smp
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Panduan pelaksanaan bridging course smp

1,819

Published on

Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,819
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
56
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Panduan pelaksanaan bridging course smp"

  1. 1. KATA PENGANTARPelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentangWajib Belajar, Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan NasionalPercepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun danPemberantasan Buta Aksara merupakan indikasi yang sangat nyata upayaPemerintah Indonesia dalam peningkatan mutu sumberdaya manusia agar mampubersaing dalam era keterbukaan dan globalisasi.Di lingkungan Direktorat Pembinaan SMP Ditjen Mandikdasmen, KementerianPendidikan Nasional, diantara dampak realisasi dari peraturan-peraturanperundangan tersebut dapat diukur dari Angka Partisipasi Kasar (APK)SMP/MTs/Sederajat pada akhir tahun 2009 mencapai 98,11%. Angka ini melebihitarget yang diharapkan dapat dicapai akhir tahun 2008, yaitu 95.0%. Dengan telahtercapainya target APK di atas, maka orientasi pembinaan pendidikan pada jenjangSMP lebih ditekankan pada peningkatan mutu pendidikan.Dalam rangka peningkatan mutu tersebut, Direktorat Pembinaan SMP telahmenyusun berbagai kebijakan dan strategi yang kemudian dijabarkan dalam bentukprogram dan kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. Dengankebijakan dan program tersebut, diharapkan misi 5 K Kementerian PendidikanNasional terkait dengan Ketersediaan, Keterjangkauan, Kualitas, Kesetaraan danKepastian juga diharapkan dapat terpenuhi.Agar program dan/atau kegiatan tersebut dapat mencapai target yang telahditetapkan, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada, Direktorat PembinaanSMP menerbitkan berbagai Buku Panduan Pelaksanaan untuk masing-masingprogram dan/atau kegiatan, baik yang pengelolaannya di tingkat pusat, provinsi,kabupaten/kota, maupun yang dilaksanakan langsung oleh sekolah.Dengan buku panduan ini diharapkan pihak-pihak terkait dengan penyelenggaraanprogram di semua tingkatan dapat memahami dan melaksanakan dengan amanah,efektif dan efisien seluruh proses kegiatan mulai dari penyiapan rencana,pelaksanaan, sampai dengan monitoring, evaluasi dan pelaporannya.Akhirnya, kami mengharapkan agar semua pihak terkait mempelajari denganseksama dan menjadikannya sebagai pedoman serta acuan dalam pelaksanaanseluruh program atau kegiatan pembangunan pendidikan pada jenjang SekolahMenengah Pertama tahun anggaran 2010. Jakarta, Januari 2010 Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Didik Suhardi, SH., M.Si NIP. 196312031983031004 iii
  2. 2. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR............................................................................................. iiiDAFTAR ISI ............................................................................................................ vBAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A. Latar Belakang ........................................................................................... 1 B. Tujuan ........................................................................................................ 3BAB II KONSEP PEMBELAJARAN PADA BRIDGING COURSE..................... 5 A. Konsep Bridging Course ............................................................................ 5 B. Pola Pembelajaran Pada Program Bridging Course ................................... 9BAB III POLA PENGATURAN DAN PELAKSANAAN PROGRAMBRIDGING COURSE DI SEKOLAH ................................................................... 13 A. Pengaturan Program Bridging Course di Sekolah .................................... 13 B. Desain Pelaksanaan Bridging Course di Sekolah..................................... 14 C. Tahap Pelaksanaan Perluasan Pelaksanaan Bridging Course................... 16 D. Unsur-Unsur Derkait dengan Perluasan Pelaksanaan Program Bridging Course................................................................................................. 20BAB IV PENUTUP................................................................................................ 21Lampiran: Contoh program pelatihan/pembekalan bridging course....................... 20 v
  3. 3. Belajar Untuk Masa Depanku BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah tingkat kesiapan lulusan SD ketika memasuki jenjang SMP. Keragaman dan rendahnya mutu pendidikan di SD menyebabkan lulusan SD tidak siap mengikuti pendidikan di SMP. Pola pendidikan yang saat ini berlangsung memberi kemungkinan lulusan SD, walaupun dengan dengan tingkat penguasaan “terbatas” dapat lulus dan berhak melanjutkan ke SMP. Kondisi seperti itu kemudian menjadi masalah bagi guru di SMP, yakni kesulitan memulai pelajaran karena bekal awal yang dimiliki oleh siswa (lulusan SD) tidak memadai untuk mengikuti pelajaran di SMP. Siswa baru SMP yang kurang siap mengikuti pelajaran baru, dan terutama ketidakmerataan kesiapan juga terjadi di sebagian besar sekolah. Ketidakmerataan mutu SD dan rendahnya mutu di sebagian SD menjadi penyebab pokok. Dengan adanya program Wajib Belajar sekolah tidak dapat menolak lulusan SD yang memiliki bekal awal yang tidak memadai, sehingga akhirnya mereka tidak siap mengikuti pelajaran baru di SMP. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dicari jalan keluar agar siswa baru di SMP siap untuk mengikuti pelajaran ketika tahun pelajaran dimulai. Mengingat mutu lulusan SD belum optimal, maka perlu dilakukan program bridging course (BC) di awal tahun pelajaran SMP supaya siswa baru siap untuk mengikuti pelajaran di SMP dengan baik. Program BC ini adalah semacam program matrikulasi untuk meningkatkan kemampuan awal siswa di tingkat SMP. Pelaksanaan BC dapat diintegrasikan dengan masa orientasi siswa (MOS) bagi siswa baru atau dapat pula dilaksanakan secara terpisah dari kegiatan MOS. Pada tahun 2003 telah diujicobakan program BC di 4 (empat) sekolah, yaitu SMPN 1 Cisarua, SMPN 1 Parung, SMPN 1 Taktakan Serang dan SMPN 16 Bekasi. Hasil uji coba tersebut sangat menggembirakan. Tes sebelum dan sesudah mengikuti BC menunjukkan hasil yang signifikan pada seluruh mata pelajaran, walaupun dari nilai nominalnya masih belum cukup mencolok. Dari isian kuesioner siswa justru memberikan gambaran yang memberikan 1QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  4. 4. Belajar Untuk Masa Depanku harapan. Sebagian besar siswa menyatakan senang mengikuti program BC dan merasa yakin dapat mengikuti pelajaran dengan baik di SMP, serta tidak merasa takut terhadap mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit, yaitu Matematika dan Fisika. Para guru dan kepala sekolah juga menyatakan bahwa siswa menjadi lebih yakin, karena materi BC lebih mirip dengan mengulang pelajaran SD secara singkat dan kemudian disambungkan dengan pelajaran awal di SMP. Pola pembelajaran juga menyenangkan, sehingga siswa merasa nyaman terhadap mata pelajaran. Pada tahun 2004 telah dilaksanakan perluasan pelaksanaan BC pada 25 SMP yang tersebar di 13 provinsi, yaitu Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Walaupun tidak dilakukan monitoring pada awalnya, laporan tertulis yang disusun oleh pihak sekolah menunjukkan bahwa program BC memberikan dampak signifikan terhadap kesiapan siswa baru untuk mengikuti pelajaran di kelas VII. Sekolah juga melaporkan bahwa MOS menjadi menarik, karena ada kegiatan yang terkait langsung dengan persiapan pelajaran. Pada tahun 2006, pelaksanaan program BC diperluas lagi menjadi 246 SMP yang tersebar di 30 provinsi. Hasil analisis terhadap monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada tahun 2006 dan laporan yang dikirimkan oleh beberapa sekolah menunjukkan bahwa program BC memberi manfaat yang sangat baik. Namun demikian, terdapat catatan bahwa sekolah mengalami kesulitan keuangan dalam menggandakan bahan tercetak satu set untuk setiap siswa baru, sehingga proses pembelajaran ketika program BC dilaksanakan belum dapat berjalan secara ideal. Perkembangan program BC cukup menggembirakan. Sejak tahun 2006 sampai sekarang, lebih banyak sekolah yang mengimplementasikan program BC. Pola dan materi BC yang diterapkan di sekolah juga berkembang sesuai dengan kebutuhan siswa dan potensi sekolah. Kekurangsiapan siswa untuk mengikuti pelajaran baru juga terjadi pada saat pembelajaran MIPA bilingual dilaksanakan, terutama di SMP RSBI. Dalam Kurikulum SD tidak ada mata pelajaran Bahasa Inggris, meskipun terdapat SD yang memberikannya dalam bentuk muatan lokal. Akibatnya bekal awal bahasa Inggris siswa kurang memadai untuk mengikuti pelajaran MIPA dengan pengantar bahasa Inggris, dan yang lebih menyulitkan adalah bekal awal tersebut sangat2 Direktorat PSMP - QEC24711 ”
  5. 5. Belajar Untuk Masa Depanku berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, program BC juga penting dilakukan untuk siswa baru yang mengikuti program bilingual.B. Tujuan Tujuan utama dilaksanakannya program BC adalah menyiapkan siswa baru di SMP, sehingga memiliki kesiapan memadai dalam mengikuti pelajaran. Tujuan ini dapat dirinci sebagai berikut: 1. Meningkatkan bekal awal siswa baru SMP dengan cara membahas materi-materi esensial (misalnya materi di SD) yang sangat penting untuk persiapan mengikuti pelajaran di SMP. 2. Menyamakan bekal awal siswa baru SMP, agar antara satu siswa dengan siswa lainnya tidak jauh berbeda, sehingga guru lebih mudah dalam memulai pelajaran. 3QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  6. 6. Belajar Untuk Masa Depanku BAB II KONSEP PEMBELAJARAN PADA BRIDGING COURSE A. Konsep Bridging Course Program BC merupakan program pembelajaran pada beberapa mata pelajaran yang dilaksanakan untuk meningkatkan bekal kemampuan awal siswa baru SMP, sehingga pada saat pembelajaran, siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, lancar, dan mampu menguasai materi pelajaran secara optimal. Bekal awal sangat penting bagi siswa dalam proses pembelajaran. Bekal awal tersebut akan berfungsi sebagai “modal” dalam memahami informasi yang dipelajari. Proses pemahaman pada dasarnya merupakan interaksi secara asimilasi atau akomodasi informasi yang baru diterima dengan bekal awal yang telah dimiliki sebelumnya. Sebagai contoh, ketika siswa SD belajar perkalian, maka mereka akan menggunakan kemampuan penjumlahan berulang sebagai bekal awal. Jika siswa belum menguasai penjumlahan, maka mereka akan sangat sulit mempelajari perkalian. Oleh karena itu, banyak ahli menyebut penjumlahan sebagai prasyarat belajar perkalian. Pola tersebut juga terjadi pada topik-topik pada mata pelajaran Matematika dan mata pelajaran lainnya. Secara teoretik, orang belajar pada dasarnya merupakan proses pengembangan skema berpikir yang bertolak dari skema yang telah ada sebelumnya. Makin dekat antara skema berpikir yang telah dimiliki dengan skema yang dipelajari akan semakin mudah orang belajar. Proses belajar pada dasarnya merupakan proses asimilasi dari skema yang telah ada, yaitu perluasan “skema” lama akibat adanya penambahan informasi baru. Misalnya kita telah memahami tentang peta jalan raya di kota Jakarta. Setelah itu, kita mempelajari peta jalan kereta api sehingga kita dapat menggabungkan kedua peta tersebut dan dapat mengetahui cara naik kereta api dari stasiun jatinegara turun di stasiun kota dan akan ke ancol naik angkutan kota. Proses belajar dapat juga merupakan proses akomodasi, yaitu jika informasi baru mengubah atau mengoreksi skema lama menjadi skema baru. Misalnya semula kita telah belajar dan menyimpulkan bahwa ikan paus berkembang biak dengan cara bertelur karena termasuk jenis ikan. Kemudian belajar tentang ikan secara lebih mendalam dan menjumpai informasi bahwa ikan paus berkembang 5QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  7. 7. “Belajar Untuk Masa Depanku” biak dengan beranak karena termasuk mamalia. Dengan demikian, terjadi perubahan skema berpikir dari ikan paus termasuk jenis ikan menjadi ikan paus termasuk jenis mamalia. Jika terjadi perubahan pemahaman secara utuh, yaitu bahwa ikan paus termasuk mamalia, walaupun bentuk ikan, tetapi berkembang biak dengan cara beranak, seperti pada ciri mamalia. Berarti telah terjadi proses akomodasi pada skema berpikir siswa. Baik proses asimilasi maupun akomodasi memerlukan skema lama yang secara sederhana disebut bekal awal atau prasyarat. Kelemahan atau kekurangan bekal awal akan menyulitkan siswa belajar karena yang bersangkutan tidak memiliki skema berpikir yang dapat dikaitkan dengan apa yang dipelajari. Jika dipaksakan, informasi akan dihafal tanpa pemahaman dan dalam waktu cepat akan mudah dilupakan. Pola pembelajaran seperti itu akan menyebabkan pendidikan tidak bermakna (meaningless), karena siswa tidak memahami apa yang sedang dipelajari. Di samping itu, pembelajaran menjadi penumpukan informasi tanpa disertai pemaknaan dan perangkaian antara berbagai fakta, konsep, dan teori. Akibatnya siswa akan menjadi sangat terbebani ketika belajar. Seperti dinyatakan oleh Ausuble, pembelajaran haruslah berlangsung secara bermakna (meaningful) bagi anak, agar yang bersangkutan merasakan manfaat dari apa yang dipelajari, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar mereka. Belajar bermakna dapat terjadi jika anak memahami apa yang dipelajari atau mengerti kaitan antara satu konsep dengan konsep lainnya sehingga menjadi suatu rangkaian konsep yang komprehensif. Proses pembelajaran sebenarnya merupakan proses pengolahan informasi, yaitu siswa yang sedang belajar mengolah informasi yang diperoleh dari bacaan, penjelasan guru, dan fenomena yang diamati dari lingkungan. Proses pengolahan informasi tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.6 “Direktorat PSMP - QEC24711 ”
  8. 8. Belajar Untuk Masa Depanku ATAU KEBUTUHAN? DAPAT DIPAHAMI SESUAI DG HOBI? SARINGAN II: SARINGAN I: STIMULUS YA MEMORI YA MEMORI JANGKA JANGKA PENDEK PANJANG TIDAK TIDAK TIDAK ADA PERHATIAN TERLUPAKAN Bagan 1: Proses Pengolahan Informasi Pada gambar tersebut tampak bahwa informasi yang di terima berupa stimulus akan disaring oleh sebuah penyaring untuk menguji apakah menarik perhatian atau tidak. Jika tidak mampu menarik perhatian seseorang, informasi akan segera hilang (terabaikan). Sebagai contoh, ketika penjual mi goreng lewat di depan rumah sambil menawarkan, tetapi kita tidak menaruh perhatian karena baru makan. Ini berarti bahwa informasi adanya mi goreng tidak mampu menarik perhatian kita. Ketertarikan seseorang terhadap stimulus informasi, biasanya terkait dengan dua hal, yaitu (1) sesuai dengan kebutuhan saat itu, dan (2) sesuai dengan hobinya. Pada contoh di atas, kita tidak memberikan perhatian ketika ada penjual mi goreng yang lewat, karena sedang kenyang. Sebaliknya jika kita sedang lapar, maka kita akan segera tertarik jika ada penjual makanan yang lewat. Jika motor kita sedang rusak dan kita kebingungan memperbaiki, kemudian di TV ada penjelasan cara mereparasi motor, maka kita akan tertarik. Sebab, informasi itu sedang kita perlukan, seperti halnya adanya penjual mi goreng pada saat kita sedang lapar. 7QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  9. 9. “Belajar Untuk Masa Depanku” Seseorang yang mempunyai hobi bermain catur akan segera tertarik ketika TV menayangkan pertandingan catur. Sebaliknya bagi orang yang tidak mempunyai hobi catur, tayangan pertandingan catur tidak akan menarik perhatiannya. Seorang anak kecil yang hobi main layang-layang akan segera tertarik, jika diajak membuat layang- layang. Sebaliknya, bagi anak yang tidak mempunyai hobi bermain layang-layang akan kurang tertarik ketika diajak membuat layang- layang. Jika mampu menarik perhatian seseorang, maka informasi tersebut akan masuk memori jangka pendek (short-term memory). Artinya informasi tersebut sudah masuk ke ingatan kita, walaupun memori jangka pendek sangat mudah terlupakan. Selanjutnya informasi akan masuk ke saringan berikutnya dan diuji apakah dapat dipahami oleh yang bersangkutan atau tidak. Tahap ini sangat kritis, karena seringkali informasi yang diminati tidak dapat dipahami. Misalnya kita tertarik dengan informasi tentang reparasi sepeda motor di TV, tetapi ternyata informasinya begitu rumit sehingga kita tidak paham. Akhirnya kita akan meninggalkan tayangan tersebut dan informasinya segera terlupakan. Sebaliknya, jika tayangan tentang reparasi sepeda motor tersebut dapat kita pahami, kita akan tertarik mengikuti terus dan akhirnya menjadi “pengetahuan baru” bagi kita. Pengetahuan baru seperti itu akan tersimpan dalam memori jangka panjang yang dapat diungkap kembali jika diperlukan. Misalnya jika suatu saat motor kita rusak lagi, kita akan mencoba mengingat kembali penjelasan di TV atau bahkan pengalaman kita membetulkan sepeda motor pada masa lalu. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar informasi itu dapat mudah dipahami oleh seseorang? Nah, di sinilah pentingnya bekal awal sebagaimana disinggung pada bagian terdahulu. Intinya untuk mempelajari sesuatu, siswa memerlukan bekal awal yang cukup, berupa pengetahuan lain yang terkait dan menjadi dasar apa yang saat ini dipelajari. Dalam istilah pendidikan seringkali bekal awal tersebut disebut sebagai prasyarat, yaitu pengetahuan yang menjadi prasyarat untuk mempelajari sesuatu. Pada contoh di atas, penjumlahan berulang merupakan prasyarat untuk belajar perkalian. Terkait dengan prinsip di atas, penting diingat bahwa menurut Piaget, perkembangan berpikir siswa SMP kelas VII pada umumnya masih pada taraf operasi konkrit. Bahkan menurut hasil-hasil penelitian di Indonesia, banyak siswa SMP masih dalam taraf berfikir konkrit.8 “Direktorat PSMP - QEC24711 ”
  10. 10. Belajar Untuk Masa Depanku Artinya siswa sudah mampu melakukan operasi atau manipulasi tetapi berdasarkan obyek fisik yang konkrit. Dengan demikian, setiap penjelasan yang diberikan harus bertitik tolak dari fenomena fisik yang sudah diketahui atau dipahami siswa. Di samping prasyarat pengetahuan sebagai bekal awal, keberhasilan siswa ketika belajar juga dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya keyakinan dia mampu menguasai apa yang sedang dipelajari dan kesungguhan dalam belajar. Jika pada saat belajar, siswa sudah merasa tidak akan mampu menguasai apa yang dipelajari, maka akan terjadi apa yang sering disebut “kalah sebelum bertanding”. Artinya, siswa sudah takut atau menyerah sebelum berusaha. Ketakutan seperti itu seringkali disebabkan oleh pengalaman yang lalu. Misalnya pada waktu lalu, seseorang selalu kesulitan belajar matematika, maka dia seakan sudah merasa akan mengalami kesulitan juga ketika akan belajar topik Matematika berikutnya. Akibatnya, dia seakan menyerah sebelum mulai belajar dan pada akhirnya tidak berusaha secara maksimal. Kesungguhan dalam belajar terkait dengan kadar intensitas saat belajar. Siswa yang sungguh-sungguh dalam belajar, akan belajar dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, walaupun dia duduk belajar dalam waktu yang sama dengan teman lainnya (misalnya 120 menit), sesungguhnya dia belajar dalam waktu yang lebih banyak, karena selama 120 menit tersebut dia bersungguh-sungguh. Siswa yang tidak sungguh-sungguh, seringkali “mencuri” waktu belajar untuk memikirkan hal lain. Misalnya ketika sedang mengerjakan soal Matematika, dia memikirkan bermain bola. Kesungguhan belajar antara lain disebabkan keyakinan apakah yang dipelajari bermanfaat bagi dirinya. Jika siswa merasa apa yang dipelajari memberi manfaat tinggi, dia akan belajar dengan sungguh- sungguh, sebaliknya jika tidak memberi manfaat akan malas dalam belajar. B. Pola Pembelajaran pada Program Bridging Course Cara melaksanakan pembelajaran dalam program BC terkait erat dengan upaya agar siswa belajar dengan mudah, penuh keyakinan akan mampu menguasai apa yang dipelajari dan sungguh-sungguh dalam belajar. Prinsip pembelajaran yang dapat memunculkan tiga hal di atas, antara lain: (1) pembelajaran kontekstual, (2) pembelajaran 9QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  11. 11. “Belajar Untuk Masa Depanku” yang menyenangkan (joyful learning), dan (3) pembelajaran berdasarkan masalah. Tentu masih banyak pola pembelajaran lain yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik anak didik dan kondisi sekolah serta lingkungannya. Pembelajaran kontekstual artinya pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa dan konteks apa yang sudah diketahui oleh siswa. Misalnya ketika guru IPS menerangkan hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi, dalam mengajar guru memulai dengan meminta siswa membandingkan harga buah-buahan pada saat musim panen dan pada saat tidak musim panen. Tentu siswa paham bahwa pada saat musim panen harga buah lebih murah dibanding pada saat tidak panen. Hal serupa juga terjadi pada harga barang-barang lainnya. Fenomena yang sudah diketahui sebelumnya itu dapat digunakan sebagai awalan dan konteks untuk menjelaskan hukum permintaan dan penawaran. Bahkan pada tahap tertentu pola pembelajaran kontekstual dapat diteruskan dengan mendorong siswa menarik kesimpulan sendiri, sehingga seakan-akan mereka menemukan “teori” atau “hukum” baru. Misalnya ketika siswa menyebutkan “ya saat panen produksi buah mangga banyak sehingga harganya turun”. Setelah itu siswa dapat dipancing dan didorong untuk membandingkan jumlah penawaran dan permintaan, sehingga dapat menyimpulkan “ketika jumlah penawaran melebihi permintaan harga akan turun, sementara jika penawaran lebih sedikit dibanding permintaan harga akan naik.” Ketika itu guru dapat menyebutkan “itulah hukum penawaran dan permintaan dan kalian telah menemukan sendiri”. Tentu mereka akan bangga, karena merasa mampu menemukan hukum itu tanpa diajari oleh orang lain. Kebanggaan seperti itu menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi belajar. Pembelajaran yang menyenangkan artinya pembelajaran yang dapat membuat siswa senang dan bukan merasa terpaksa ikut pelajaran. Agar siswa senang dalam belajar, maka prinsip pemrosesan informasi patut diperhatikan. Siswa akan menyenangi situasi belajar jika apa yang dipelajari sesuai dengan apa yang diperlukan atau sesuai dengan hobinya, paling tidak terkait dengan apa yang dibutuhkan atau hobinya. Di samping itu, siswa akan senang belajar jika situasinya menyenangkan. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengkaitkan pembelajaran dengan apa yang pada umumnya disenangi oleh siswa dan menyelipkan humor yang dapat menarik perhatian siswa.10 “Direktorat PSMP - QEC24711 ”
  12. 12. Belajar Untuk Masa Depanku Siswa SMP kelas VII pada umumnya masih dalam taraf berpikir operasional konkrit sehingga pembelajaran yang pada umumnya disenangi adalah yang terkait atau paling tidak dapat dikaitkan atau mengambil contoh kehidupan remaja sehari-hari. Adapun pokok bahasan yang sedang dipelajari akan menjadi menarik bagi siswa jika dikaitkan kehidupan mereka sehari-hari. Interaksi antar teman juga merupakan aktivitas yang disenangi oleh remaja seusia siswa SMP. Oleh karena itu, aktivitas kelompok merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Jika proses pembelajaran dapat diwujudkan dalam kerja kelompok atau paling tidak siswa dapat mendiskusikan dengan teman akan membuat situasi pembelajaran lebih menyenangkan. Pembelajaran berdasarkan masalah artinya pembelajaran didasarkan pada problema sehari-hari dan dalam pembelajaran siswa diajak untuk memecahkannya. Melalui pembelajaran semacam itu siswa akan merasa ditantang untuk mengajukan gagasan. Biasanya akan muncul berbagai gagasan dan siswa akan saling memberikan alasan dari gagasan yang diajukan. Dalam proses pembahasan gagasan itu akan terjadi interaksi dan pemaduan gagasan yang pada akhirnya mengarah pada saling melengkapi. Siswa biasanya sangat senang karena merasa mampu memecahkan masalah yang diberikan. Contoh pembelajaran berdasarkan masalah adalah kegiatan belajar tentang cara mengatur kebersihan di sekolah. Mata pelajaran PKn dapat menggunakan masalah kebersihan sekolah sebagai tema untuk membahas topik tanggung jawab sosial. Tema kebersihan juga dapat digunakan sebagai tema Matematika dalam topik yang sesuai. Kegiatan yang paling pokok dalam pembelajaran berdasarkan masalah adalah dicari masalah sehari-hari yang dihadapi siswa, kemudian masalah itu dipecahkan dengan topik yang akan diajarkan. Karena bekal awal siswa baru SMP pada umumnya sangat beragam, maka pembelajaran kooperatif (cooperative learning) sangat cocok untuk diterapkan. Pada pola ini siswa dikelompokkan dalam kelompok setara, tetapi anggota masing-masing kelompok terdiri dari individu yang heterogen dilihat dari bekal awalnya. Sederhananya, dalam setiap kelompok terdapat siswa yang pandai, sedang dan kurang. Selama pembelajaran, setiap kelompok dirancang untuk bekerjasama dan didorong agar semua anggota kelompok memahami apa yang dipelajari. Penilaian bukan hanya berdasarkan atas pemahaman masing-masing anggota kelompok, tetapi juga 11QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  13. 13. “Belajar Untuk Masa Depanku” pemahaman kelompok. Artinya nilai kelompok akan berpengaruh terhadap penilaian individu yang menjadi anggotanya. Jadi siswa yang pandai akan terimbas oleh nilai siswa yang kurang pandai, jika siswa tersebut tetap tidak paham materi yang dipelajari pada saat penilaian.12 “Direktorat PSMP - QEC24711 ”
  14. 14. Belajar Untuk Masa Depanku BAB III POLA PENGATURAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM BRIDGING COURSE DI SEKOLAH A. Pengaturan Program Bridging Course di Sekolah Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, program BC dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan bekal awal siswa SMP, sehingga pada saat pembelajaran untuk kurikulum SMP, siswa dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Oleh karena itu, seharusnya program BC dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Selain itu, BC dapat juga dilaksanakan untuk penyiapan program tertentu. Misalnya BC bahasa Inggris untuk mempersiapkan siswa-siswa yang akan mengikuti program pembelajaran dalam bahasa Inggris. Pada awal tahun pelajaran, sekolah sudah memiliki program Masa Orientasi Siswa (MOS) yang bertujuan untuk mengenalkan siswa yang baru lulus SD kepada situasi kehidupan dan pembelajaran di SMP. Dengan demikian, antara MOS dan BC memiliki kaitan yang erat. MOS lebih berfokus pada kehidupan secara umum di sekolah, sementara BC berfokus pada peningkatan bekal awal siswa. Oleh karena itu keduanya dapat dan sebaiknya diintegrasikan menjadi kegiatan penyiapan siswa baru agar lebih siap mengikuti kegiatan pembelajaran baik yang menyangkut materi ajar (lewat BC) maupun kehidupan sosial di sekolah (lewat MOS). Namun demikian, sekolah dapat mengalokasikan waktu yang lebih lama dari waktu yang diperuntukkan pada program MOS. Untuk keperluan tersebut, sekolah dapat melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat untuk keperluan pembinaan. Mekanisme pengintegrasian program BC dengan MOS di sekolah, sangat tergantung pada program yang direncanakan oleh sekolah. Sekolah dapat mengatur sesuai dengan kondisi sekolah dan karakteristik siswa baru. Sebagai contoh, BC dapat dijadikan topik yang dibahas, sedangkan cara pembahasan dalam kehidupan sehari- hari di sekolah menerapkan prinsip MOS. Tentu saja ada beberapa substansi MOS yang juga perlu untuk diangkat menjadi topik, misalnya topik mengenal diri yang berasal dari MOS dipadukan dengan topik PKn atau bahkan Matematika. di SD yang dianggap sukar oleh siswa. 13QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  15. 15. Belajar Untuk Masa Depanku Apakah semua mata pelajaran perlu diikutkan dalam program BC atau hanya mata pelajaran tertentu? Sekolah yang harus menentukan hal ini. Prinsipnya program BC ingin membantu siswa baru SMP agar memiliki bekal awal cukup baik sehingga dapat mengikuti proses pembelajaran di SMP dengan baik. Pada mata pelajaran juga dipilih pokok bahasan atau topik yang pada umumnya sulit bagi siswa dan pokok bahasan yang merupakan prasyarat bagi pembahasan pokok bahasan lainnya. Namun harus dipahami bahwa waktu pelaksanaan BC tidak terlalu banyak. Pada ujicoba di Kabupaten Bogor, Serang dan Kota Bekasi, waktu yang digunakan bervariasi antara 1–2 minggu yang sudah diintegrasikan dengan program MOS. Namun demikian, sekolah dapat menentukan sendiri lama waktu yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. Dengan demikian, jadwal atau struktur program BC tidak harus seragam antara sekolah satu dengan lainnya, termasuk materi yang akan digunakan dalam program BC. Setiap sekolah dapat mengatur sesuai dengan karakteristik siswa baru dan kondisi sekolah sehingga siswa dapat mengikuti program dengan senang seperti yang diharapkan agar siswa dapat lebih siap untuk mengikuti program- program berikutnya di sekolah. B. Desain Pelaksanaan Bridging Course di Sekolah Pelaksanaan BC di sekolah perlu dirancang sedemikian rupa, yang dapat digunakan sebagai dasar pedoman sekolah dalam penyelenggaraannya. Perancangan yang baik akan menghasilkan dan mencapai tujuan BC seperti yang diinginkan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pelaksanaan BC menjadi satu dengan kegiatan masa orientasi siswa (MOS), meskipun tidak menutup kemungkinan dilaksanaan pada kegiatan-kegiatan lain selain pada saat MOS dengan tujuan yang juga berbeda. Misalnya pada saat waktu luang setelah kenaikan kelas, yang bertujuan untuk memberikan bekal umum kepada siswa untuk mempersiapkan materi di jenjang berikutnya. Oleh karena itu, untuk menjamin terselenggaranya BC dengan baik dan lancar perlu dibuat suatu desain atau rancangan yang memadukan antara kedua kegiatan tersebut. Sebagai suatu gambaran dalam perencanaan pelaksanaan BC di sekolah, perlu disusun komponen kegiatan pokok sebagai berikut:14 Direktorat PSMP
  16. 16. Belajar Untuk Masa Depanku 1. Melaksanakan sosialisasi dan penjelasan tentang konsep dan penyelenggaraan BC kepada warga sekolah dan stakeholder dengan melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota; 2. Membentuk kepanitiaan untuk penyelenggaraan BC; 3. Melaksanakan pre-test kepada siswa baru untuk mengetahui kompetensi atau kemampuan awal siswa; 4. Melaksanakan pembelajaran kepada siswa sasaran dengan menggunakan materi (modul) yang telah disediakan sebelumnya, dengan rambu-rambu komponen dan kegiatan yang ada antara lain meliputi: a. Terdapat pembagian tugas antara pelaksanaan BC dengan MOS, jika program BC disubstitusikan dengan kegiatan MOS; b. Penyiapan atau pembekalan terhadp fasilitator atau guru yang akan melaksanakan program BC untuk mata pelajaran tertentu (sesuai dengan yang sudah diputuskan oleh sekolah); c. Terdapat penjadwalan yang menjamin terjadinya pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan, tidak monoton; d. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dan relevan; e. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan relevan; f. Penggunaan sistem evaluasi yang tepat dan relevan; g. Penambahan sumber-sumber belajar yang relevan; h. Dan lain-lain komponen / kegiatan yang diperlukan. 5. Melaksanakan post-test untuk mengetahui hasil pelaksanaan pembelajaran atau kompetensi/kemampuan siswa atau tanggapan siswa terhadap pelaksanaan program yang bertujuan untuk mengetahui kondisi peserta didik antara sebelum dan sesudah pelaksanaan BC; 6. Melaksanakan monitoring dan evaluasi mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan akhir kegiatan (purna BC); 7. Membuat laporan yang berisi tentang: hasil-hasil BC dan penyelenggaraan BC, dengan dilampiri berbagai dokumen yang relevan termasuk beberapa rekomendasi untuk keperluan pelaksanaan program sejenis di masa yang akan datang. Laporan ini dibuat rangkap sesuai dengan kebutuhan yang diperuntukkan pada unsur-unsur dan dinas terkait, misalnya untuk: komite 15QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  17. 17. Belajar Untuk Masa Depanku sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan arsip sekolah. Penyelenggaraan program BC diharapkan dapat dibiayai sendiri oleh sekolah atau lembaga penyelenggara program. Besarnya dana yang diperlukan untuk menyelenggarakan program BC di sekolah tergantung kepada lama berlangsungnya program dan jumlah sasaran murid yang mengikuti program BC. Dana peruntukan dengan keperluan sebagai berikut: (1) biaya operasional persiapan program (misalnya: rapat), dan (2) biaya operasional pelaksanaan (misalnya: honor guru, transportasi, konsumsi, penggandaan materi, media, dan ATK). C. Tahap Pelaksanaan Perluasan Pelaksanaan Bridging Course Tahap Persiapan Pada tahap ini beberapa yang perlu dilaksanakan di antaranya adalah: a. Kegiatan rapat-rapat persiapan sekolah termasuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Pada tahap persiapan ini juga dilakukan penetapan mekanisme pelaksanaan program secara menyeluruh oleh sekolah berdasarkan hasil evaluasi terhadap program BC yang sudah dilakukan sebelumnya jika sekolah sudah pernah melakukan program ini. b. Penentuan materi yang akan disampaikan pada saat BC. Penentuan materi ini sangat penting mengingat perlu disadari bahwa pola penyampaian materi dalam program BC ini berbeda dengan pola penyampaian materi pada pembelajaran yang biasa dilakukan. Oleh karena itu penentuan dan pengembangan materi harus dilakukan secara berhati-hati dengan mempertimbangkan tujuan program BC dilakukan. Materi yang telah dikembangkan kemudian digandakan oleh panitia pelaksana. Pada tahap ini juga akan dilaksanakan persiapan-persiapan yang bersifat administratif. Sosialisasi Program Sosialisasi yang dilakukan oleh sekolah dilakukan dalam bentuk rapat yang melibatkan warga sekolah termasuk Komite Sekolah dan unsur dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Sedangkan sosialisasi di tingkat pusat dilakukan melalui rapat koordinasi tingkat pusat yang diikuti oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kepala Dinas16 Direktorat PSMP
  18. 18. Belajar Untuk Masa Depanku Pendidikan Kabupaten/Kota. Untuk sosialisasi tingkat provinsi dilaksanakan melalui rapat koordinasi tingkat provinsi yang diikuti oleh Ketua TTK, Subdin Program, dan Konsultan Kab/Kota. Sosialisasi tingkat Kabupaten/Kota dilakukan melalui rapat kerja yang diikuti oleh Kepala Sekolah SMP, Ketua Komite Sekolah, dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. Program ini sejak tahun 2007 sudah tidak disediakan dana dari pusat. Oleh karena itu mulai tahun 2007 pelaksanaan program ini diserahkan ke sekolah secara mandiri, dengan pengawasan dan koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat. Tahap Verifikasi dan Penentuan Sekolah Pelaksana Program Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat menentukan sekolah yang harus melaksanakan program ini. Namun demikian, sekolah dapat melakukan program ini secara mandiri asal daya dukung yang dimiliki oleh sekolah tersebut memungkinkan. Dalam penentuan sekolah yang harus melaksanakan program BC, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat menempuh mekanisme tertentu melalui tahapan verifikasi. Verifikasi dapat diawali dengan menentukan kriteria. Berdasarkan kriteria tersebut Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan seleksi terhadap SMP yang mengajukan proposal program BC, yakni dengan langkah berikut: (1) mengumpulkan proposal program penggalangan partisipasi masyarakat di bidang pendidikan dari berbagai lembaga, dan (2) berdasarkan proposal yang masuk, TTK melakukan seleksi proposal sesuai dengan ketentuan: (a) menilai proposal yang diajukan oleh lembaga, (b) melakukan kunjungan lapangan untuk melakukan verifikasi data dan program-program yang diusulkan oleh lembaga penyusun proposal, serta (c) berdasarkan hasil penilaian proposal dan verifikasi lapangan, tim membuat rangking lembaga calon pelaksana program. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota berdasarkan hasil seleksi tersebut menentukan sekolah-sekolah yang mampu atau selayaknya melaksanakan program BC. Tahap Pelatihan bagi Pelaksana Program Sekolah-sekolah yang baru memulai program BC, perlu mendapatkan pelatihan. Pelatihan bagi pelaksana program BC yang baru ini merupakan kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan program ini. Dalam hal ini guru-guru, kepala sekolah, dan salah satu anggota 17QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  19. 19. Belajar Untuk Masa Depanku komite sekolah dari sekolah yang menjadi sasaran perluasan pelaksanaan BC adalah pihak pelaksana program yang perlu mengikuti pelatihan. Guru yang diikutsertakan untuk mengikuti pelatihan ini adalah guru yang akan memberikan BC kepada para siswa. Misalnya untuk program BC yang disubstitusikan dengan kegiatan MOS, dapat dilibatkan guru yang terdiri atas 5 (lima) mata pelajaran, yaitu: matematika, IPA (fisika, biologi), PKN, IPS (geografi, sejarah, ekonomi), dan bahasa Indonesia. Mengingat mulai tahun 2007, Direktorat Pembinaan SMP tidak lagi mengadakan pelatihan secara terpusat untuk sekolah-sekolah yang akan melaksanakan program ini, maka Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat melaksanakan kegiatan pelatihan dengan melibatkan sumber daya manusia yang berasal dari sekolah-sekolah yang sebelumnya sudah melaksanakan program BC. Untuk keperluan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat memodifikasi struktur program yang selama ini diterapkan oleh Direktorat Pembinaan SMP (terlampir). Materi pelatihan lebih menekankan pada memberi pembekalam kepada sekolah (dalam hal ini kepala sekolah) dan guru dalam melaksanakan program BC. Untuk peserta kepala sekolah dan komite, materi lebih menitikberatkan pada perencanaan pelaksanaan BC dengan produk akhir adalah dihasilkannya proposal kegiatan BC termasuk mekanisme pelaksanaan BC di sekolah dan bagaimana mengevaluasi keterlaksanaan program ini di sekolah. Untuk guru mata pelajaran, lebih menitikberatkan pada memberikan pembekalan kepada mereka bagaimana penyampaian materi pembelajaran dalam program BC dengan konsep-konsep yang melandasinya. Instruktur dalam pelatihan ini dapat melibatkan para guru yang sebelumnya sudah melaksanakan program BC di sekolah atau para guru yang sudah mengembangkan materi untuk keperluan implementasi program BC di sekolah. Di samping itu, akan lebih baik jika pelatihan ini juga melibatkan instruktur dari perguruan tinggi yang memahami atau berkompeten dalam bidangnya. Pelatihan akan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan kerja kelompok. Metode ceramah digunakan untuk materi tentang konsep BC. Melalui kegiatan diskusi diharapkan para peserta tidak akan merasa digurui. Melalui kerja kelompok, para peserta dikelompokkan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu masing-masing. Di samping itu, para peserta dari kelompok mata pelajaran Biologi dan Fisika disatukan untuk memperoleh materi hakikat IPA dan IPA18 Direktorat PSMP
  20. 20. Belajar Untuk Masa Depanku terpadu, dan para peserta dari kelompok mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi disatukan untuk memperoleh materi hakikat dan IPS terpadu. Kegiatan lain yang dilakukan adalah diskusi kelompok yang diikuti oleh kepala sekolah, dan komite sekolah. Diskusi dimaksudkan untuk membuat rancangan pelaksanaan program BC di masing-masing sekolah. Tahap Pelaksanaan Program Tahap ini merupakan tahap yang terpenting dalam pelaksanaan program BC. Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan BC sebagaimana telah dirancang oleh masing-masing sekolah pelaksana program atas persetujuan dan koordinasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dalam tahap ini di masing-masing sekolah akan berlangsung beberapa kegiatan berikut: (a) konsolidasi program sekolah, (b) sosialisasi bagi warga sekolah, (c) proses pelaksanaan BC, serta (d) kegiatan-kegiatan lain yang mendukung kelancaran kegiatan BC. Tahap Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan Tahap ini digunakan untuk melihat apakah program yang telah direncanakan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Evaluasi semacam ini perlu dimasukkan ke dalam laporan akhir sehingga pihak-pihak yang akan menyelenggarakan kegiatan serupa dapat mengambil manfaat dari hasil evaluasi ini. Laporan setidak-tidaknya memuat: Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan program, sasaran, dan hasil yang diharapkan. Bab II Pelaksanaan, berisi persiapan kegiatan, proses pelaksanaan kegiatan, dan hasil yang dicapai. Bab III Pembahasan, berisi tentang hasil pelaksanaan kegiatan dan hambatan-hambatan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan, dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi hambatan- hambatan yang terjadi. Bab IV Penutup, berisi kesimpulan dan rekomendasi. 19QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  21. 21. Belajar Untuk Masa DepankuC. Unsur-Unsur terkait dengan Perluasan Pelaksanaan Program Bridging Course Pelaksana program ini adalah sekolah melalui persetujuan dan koordinasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Pelaksana di Kabupaten/Kota adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal ini. Tim Teknis Kabupaten/Kota (TTK), dengan tugas pokok berikut. 1. Menetapkan pedoman program. 2. Melakukan pemetaan terhadap SMP yang siswa barunya mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah tersebut. 3. Mensosialisasikan program kepada masyarakat di wilayahnya. 4. Melakukan seleksi lembaga calon pelaksana program dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) menilai proposal yang diajukan oleh lembaga, (b) melakukan kunjungan lapangan untuk memverifikasi data dan program-program yang diusulkan oleh lembaga penyusun proposal, serta (c) berdasarkan hasil penilaian proposal dan verifikasi lapangan, tim membuat peringkat lembaga calon pelaksana program. 5. Memberi masukan kepada lembaga yang mengajukan proposal program untuk merevisi proposalnya. 6. Menerima proposal yang telah direvisi dari lembaga. 7. Mengesahkan proposal program dengan melakukan penandatanganan berita acara pengesahan proposal. 8. Memantau dan mengevaluasi penyaluran dana dan penggunaan dana program di wilayahnya masing-masing. 9. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program di wilayahnya. 10. Memberikan pembinaan kepada lembaga pelaksana program terkait dengan pengembangan, pelaksanaan, dan penggunaan dana program. Pelaksana pada tingkat sekolah adalah panitia yang dibentuk oleh sekolah untuk melaksanakan program BC. Panitia tersebut memiliki tugas pokok sebagai berikut: 1. Melakukan sosialisasi program ke berbagai pihak, terutama kepada orangtua siswa baru.20 Direktorat PSMP
  22. 22. Belajar Untuk Masa Depanku 2. Menyusun rencana program. 3. Menyerahkan proposal kepada TTK. 4. Mengikuti perkembangan proses dan hasil seleksi proposal. 5. Merevisi proposal program berdasarkan masukan dari TTK. 6. Menyerahkan proposal yang telah direvisi kepada TTK. 7. Memanfaatkan dana program untuk merealisasikan program seperti tertuang dalam proposal program yang telah disetujui oleh TTK. 8. Membukukan semua jenis pemasukan dan pengeluaran dana program. 9. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program. 21QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  23. 23. Belajar Untuk Masa Depanku BAB IV PENUTUPPelaksanaan program BC yang diintegrasikan dengan kegiatan MOS inimerupakan program yang dapat digunakan untuk menginisiasi agar prosesbelajar mengajar selanjutnya di SMP dapat berlangsung lebih baik dengankesiapan awal siswa yang lebih baik dan relatif lebih seragam. Dengandemikian, pola pengorganisasian dan pengelolaan kelas akan lebih mudahsehingga prestasi belajar siswa dapat dicapai, termasuk mengurangi angkadrop out. Namun demikian pola pembinaan dari Dinas Pendidikan provinsidan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sangat diperlukan terkait denganpola pengaturan waktu antara MOS dan BC mengingat banyaknya masukandari lapangan bahwa program MOS di beberapa Kabupaten/Kota tidakboleh diintegrasikan dengan program BC. 21QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  24. 24. Belajar Untuk Masa DepankuLampiran:Contoh program pelatihan/pembekalan bridging course Jadwal Pelaksanaan Pelatihan/Pembekalan Bridging CourseHari/Tanggal Waktu Kegiatan Pemateri Keterangan 14.00 - Check in 19.00-19.30 Pembukaan H-1 Konsep Bridging 1 nara sumber Pleno: Course Kepala 19.30 – Sekolah, 21.00 Komite Sekolah, Guru Mapel Desain 1 nara sumber Pleno: Kepala Pelaksanaan Sekolah, 07.30 – Bridging Course Komite 08.30 di Sekolah Sekolah, Guru Mapel Diskusi 1 nara sumber Kelompok per Kelompok sekolah 08.30 – Perancangan 09.30 Bridging Course di tiap Kabupaten / Kota 09.30 – ISTIMIN 10.00 Melanjutkan 1 nara sumber Kelompok per H-2 Diskusi sekolah Kelompok 10.00 – Perancangan 12.00 Bridging Course di tiap Kabupaten / Kota 12.00 – ISHOMA 13.30 Catatan : peserta 13.30 masuk ke kelas mapel20 Direktorat PSMP
  25. 25. Belajar Untuk Masa Depanku Jadwal Pelatihan Bridging Course : Diskusi Kelompok Guru Mapel 21QEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP
  26. 26. Belajar Untuk Masa Depanku22 Direktorat PSMP

×