Dayah (Pesantren)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Dayah (Pesantren)

on

  • 6,208 views

Dayah Adalah suatu lembaga yang telah melahirkan peradaban

Dayah Adalah suatu lembaga yang telah melahirkan peradaban

Statistics

Views

Total Views
6,208
Views on SlideShare
6,205
Embed Views
3

Actions

Likes
3
Downloads
159
Comments
0

1 Embed 3

http://sigrup.blogspot.com 3

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Dayah (Pesantren) Dayah (Pesantren) Document Transcript

    • DAYAH : PERADABAN ISLAM DI ACEH1A. Pendahuluan Munculnya dayah (pesantren) sebagai lembaga pendidikan Islam tradisionalyang sangat disegani dan telah banyak membawa perubahan di bumi Aceh, tidakterlepas dari faktor-faktor penyebab yang melatarbelakangi kemunculannya. Katadayah merupakan hasil adopsi dari bahasa Arab, ini sebagai isyarat bahwa dayah(Zawiyah dalam bahasa Arab) telah mulai berkembang sejak masa Rasulullsh SAW.Dan juga harus di akui bahwa “Dayah dan Aceh bukanlah sebuah alternatif satu samalain, melainkan ia adalah sebuah realitas historis”. Dalam sejarah peradaban Islam di Aceh, Dayah memiliki peranan yang sangatpenting dalam membina dan membangun pranata kehidupan masyarakat Aceh padakhususnya, dan peradaban Islam masyarakat Indonesia pada umumnya. Beranjak dariitulah penulis akan mencoba menjelaskan peranan pesantren di Aceh sebaga sebuahperadaban Islam yang mana dalam makalah ini akan memuat, pengertianpesantren(dayah), dayah dalam kajian sejarah, serta pengaruh dalam dalam pranatakehidupan masyarakat dan tentunya upaya dayah dalam mewujudakan peradabanIslam di Aceh dengan proses transformasi sosial.B. Pengertian Pesantren Istilah Pesantren berasal dari bahasa Sangsekerta yang kemudian memilikipengertian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Pesantren berasal dari kata santri yangdiberi awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan arti tempat, jadi berarti tempatsantri. Kata santri itu sendiri merupakan gabungan dua suku kata, yaitu sant(manusia baik) dan tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempatpendidikan untuk membina manusia menjadi orang baik.2 1 Dipresentasikan Dalam Seminar Kelas, 8 Juni 2011 Oleh Mukhlisuddin (Nim 10 HUKI1966) Mahasiswa PPS IAIN SUMUT Prodi Hukum Islam, Dosen Pembimbing Prof. Abd. Mukti,Sebagai Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) Semester II (Dua). 2 Abu Hamid, “Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan”, dalamAgama dan Perubahan Sosial, (ed) Taufiq Abdullah, (Jakarta: Rajawali Press, 1983), h. 328. 1
    • Sementara itu, A.H. Johns, sebagaimana dikutip oleh Zamakhsyari,berpendapat bahwa pesantren memiliki kata dasar santri. Kata santri itu sendiriberasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan Berg mengatakanbahwa kata santri berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orangyang tahu buku-buku agama suci Hindu, atau seorang sarjana yang ahli kitab suciagama Hindu. Kata shastri ini berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci,buku-buku agama tentang ilmu pengetahuan.3 Dari segi terminologis, pesantren diberi pengertian oleh Mastuhu adalahsebuah lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami,menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnyamoral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Pengertian ini dapatdikatakan lengkap apabila didalam pesantren itu terdapat elemen-elemen sepertipondok, masjid, Kyai (pimpinan/guru) dan pengajaran kitab-kitab klasik. Dengandemikian, pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam sebagaimana dalamdefinisi Mastuhu, dan apabila ia memiliki elemen-elemen tersebut.4 Abdurrahman Wahid memaknai pesantren secara teknis sebagai a placewhere santri (student) live.5 Abdurrahman Mas’ud menulis, the word pesantren stemsfrom ‘santri’ which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the wordpesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live inand acquire knowledge.6 Dan masih banyak lagi para peneliti yang memberikanpengertian tersendiri tentang pesantren berdasarkan konteks pemahaman dan sudutpandangnya masing-masing. Dari berbagai definisi diatas menunjukkan bahwa betapa pentingnya 3 Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1982), h. 18. 4 Mastuhu, Dinamika system Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1988), h. 6. 5 Abdurrahman Wahid, ”Principles The Pesantren Education”, dalam Manfred Oepen andWolfgang Karcher (eds.), The Impact of Pesantren, P3M, Jakarta, 1998. Lihat juga Ahmad Muthohar,AR, Ideologi Pendidikan Pesantren “Pesantren ditengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan”,(Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007), h. 12. 6 Abdurrahman Mas’ud, “Why the Pesantren as Center for Islamic Studies Remains Uniqueand Stronger in Indonesia”, makalah Seminar Internasional, Prince of songkla University Pattani,tanggal 25-28 Juni 1998. Lihat juga Ahmad Muthohar, AR, Ideologi Pendidikan Pesantren “Pesantrenditengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan”, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007), h. 12. 2
    • keberadaan pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sangat dekat dengankehidupan masyarakat, baik didalam makna maupun nuansanya secara menyeluruh.Apalagi pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia dantelah banyak memberikan kontribusi pada pembangunan bangsa, terutamapembangunan moril dan mental serta pendidikan masyarakat Indonesia. Sedangkan di Aceh sendiri, istilah pesantren lebih dikenal dengan sebutan“Dayah”. Kata dayah berasal dari kata zawiyah yang dalam bahasa Arab berartisudut atau pojok mesjid (kamus A.W. Munawwir, 1997).7 Kata zawiyah pertamanyadikenal di Afrika Utara pada awal perkembangan Islam, yang dimaksud denganzawiyah pada masa itu adalah satu pojok sebuah mesjid yang menjadi halqah parasufi, para sufi ini biasanya berkumpul, bertukar pengalaman, diskusi, berzikir danbermalam serta berbagai aktivitas lainnya di mesjid. Pada masa Rasulullah SAWsudah dikenal beberapa istilah lain dalam khazanah pendidikan Islam antara lain;Shuffah yaitu tempat yang digunakan untuk aktivitas pendidikan, Maktab yaitusebuah lembaga pendidikan Islam yang paling dasar disamping zawiyah dan shuffah,Majelis yaitu tempat berlansungnya proses belajar mengajar, Halaqah yaitu lingkarandimana para murid duduk melingkari gurunya dan mendengar setiap sesuatupenjelasan dari guru, Ribath yaitu tempat para sufi mengkonsentrasikan dirinya dalamber’ubudiyah kepada Allah SWT, juga pada kegiatan keilmuwan yang biasanyadipimpin oleh seorang Mursyid (guru besar).8 Dilihat dari definisi masing-masing istilah tersebut dan apa yang kita dapatiserta yang terjadi dalam lingkungan dayah di Aceh sekarang ini, maka istilah-istilahdimaksud kesemuanya terdapat dalam lingkungan dayah di Aceh. Balai (shuffah)sebagai ciri khas dayah yang dijadikan sebagai tempat aktivitas pendidikan danproses belajar-mengajar, Tingkatan kelas (maktab) merupakan pemisahan tingkatkeilmuwan di dayah bagi para murid (Tajzi, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, ‘Aliyah dan 7 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, Cet.XIV, 1997), h. 595. 8 Zarkasyi, Paradigma Baru Pendidikan Dayah, dalam Muslim Thahiry, dkk, ”WacanaPemikiran Santri Aceh”, (Banda Aceh, BRR NAD-Nias, PKPM & Wacana Press, 2007), h. 148-150. 3
    • Takhasshus), Halaqah merupakan metode pembelajaran yang diterapkan di dayahdari dulu sampai sekarang, Mushalla (ribath) merupakan urat nadi dayah dimanaselain sebagai tempat ber’ubudiyah juga digunakan untuk kegiatan ilmuwan(mubahatsah). Dalam lintas sejarah pendidikan Islam di Aceh, sebahagian besar dayah salafisering kita perdapatkan keberadaannya di pelosok desa atau kawasan pesisirpedalaman yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan perkotaan. Sehingga sungguh tepatapabila kita memahami makna dayah atau zawiyah adalah sudut/pojok. Akan tetapi,kultur masyarakat Aceh menyebutnya dengan nama dayah bukan berdasarkan padaletak geografis dayah itu sendiri yang lazimnya di daerah pedalaman, melainkanistilah dayah merupakan hasil adopsi dari Timur Tengah yang di bawa pulang olehUlama Aceh dahulu. Merujuk dari definisi pesantren dan dayah merupakan satu kesamaan maknadan nuansa secara menyeluruh, maka perbedaan sebutan pada dua istilah tersebuthanyalah terletak pada perbadaan tempat dan kultur daerah. Kata pesantren lebihbanyak digunakan di daerah Jawa dan sebagian besar daerah lain di Indonesia,sedangkan kata dayah khusus digunakan oleh masyarakat Aceh dan kata surau lazimdigunakan oleh masyarakat Minangkabau.C. Pesantren dalam catatan Sejarah Pada periode Mekkah, dimana kaum muslimin menjadi golongan minoritasyang tertindas, bahaya yang setiap saat mengancam kehidupan mereka dari golonganyang berkuasa yaitu kaum kafir Quraisy, akan tetapi pendidikan untuk mencetakkader-kader Islam terus dilaksanakan oleh Nabi Saw. Dengan mengambil tempat dirumaah Arqam bin Abi Arqam, yang terletak di daerah Shafa, Rasulullah Sawmelakukan pendidikan Islam secara tekun selama hampir 3 (tiga) tahun. DisinilahRasulullah Saw mendidik dan menggembleng calon-calon pemimpin dan ulamaseperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin AbiThalib (sahabat khulafaur rasyidin), Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf, 4
    • Arqam bin Arqam, Sa’ad bin Zaid, Mas’ud bin Amir, Bilal bin Dabah, ‘Ammar binYaser dan sepuluh orang lainnya. Hasil dari pendidikan di rumah Arqam inilah lahirkader-kader Islam yang militant dan tangguh, yang kemudian hari mampumengembangkan Islam ke daerah-daerah kekuasaan Persia di timur dan Romawi dibarat, hanya dalam kurun waktu 35 tahun.9 Kemudian hijrahnya Rasulullah Saw dengan para sahabatnya dari Mekkah keMadinah tidak menyebabkan usaha pendidikan Islam itu terhenti. Bahkan mesjidNabawi di Madinah dijadikan pusat pendidikan Islam dengan menambahkan ruangansuffa, yang dibangun disebelah utara mesjid sebagai tempat tinggal bagi mereka yangingin mendalami tentang agama Islam.10 System pendidikan seperti yang dipraktikkan oleh Rasulullah Saw terusdikembangkan dan dilanjutkan oleh para sahabat khulafaur rasyidin dan thabi’in.Masjid yang semula merupakan pusat pendidikan tunggal, lambat laun berkembangmenjadi pusat pendidikan Islam sampai tingkat tinggi. Pada masa Pemerintahan BaniUmayyah didirikanlah “Al-Kuttab” sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anaktingkat dasar (TPQ/TPA untuk masa sekarang). Pemerintahan Abbasyiyah diBaghdad periode Harun Al Rasyid mendirikan “Duwarul Hikmah” dan “DuwarulIlmi” lahir di Mesir di bawah kekuasaan Fathimiyah.11 Perkembangan kemajuan umat Islam, yang dimulai pada abad VI terusmenanjak dan pada abad X atau abad IV Hijriyah lahir pula satu lembaga pendidikanIslam yang bernama “Madrasah”, yang pada masa sahabat dan thabi’in belumdikenal. Lembaga pendidikan Madrasah yang paling tua didirikan di Nisyapur,dengan nama Madrasah Al Baihaqiyah. Kemudian di Baghdad berdiri MadrasahNizamiyah pada tahun 457 Hijriyah, pada masa pemerintahan Nazhamul Mulk. Lalu 9 Abdullah Nasheh, ‘Ulwan, Tarbiyatul Awlad fil Islam, (Beirut: Daral Islam, 1981), h.1082-1083. 10 Siti Gazalba, Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pusat Antara, 1962), h.22. 11 Abdul Qadir Djaelani, Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam diIndonesia, Surabaya, Bina Ilmu, 1994, h. 10. 5
    • lembaga model dakwah Madrasah ini ditiru orang dimana-mana.12 Dari data sejarah yang terungkap diatas, membuktikan bahwa mesjid danMadrasah merupakan lembaga pendidikan yang sangat berpengaruh dan telah banyakmelahirkan kader-kader ulama dan cendikiawan muslim sampai dengan sekarang.Oleh karena demikian, setelah Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh pada abad-abad pertama Hijriyah, maka pola pendidikan Islam yang telah berkembang subur diTimur Tengah, telah diterapkan oleh umat Islam di Indonesia. Pertumbuhanpendidikan Islam di Indonesia mulai subur berkembang, setelah Kesultanan SamudraPasai berdiri megah di Indonesia. Para ulama telah mendirikan lembaga pendidikanIslam seperti Madrasah di Timur Tengah, dengan nama “Pondok Pesantren/ Dayah”,yaitu dengan Mesjid sebagai pusat pendidikan, ditambah dengan ruangan-ruangankelas (balai) dan asrama pemondokan santri (bilek dalam bahasa Aceh). Nama-namadayah itu terkenal dengan nama para ulama yang mendirikan dan memimpinnyaseperti antara lain Teungku di Geurreudong, Teungku cot Mamplam dan lain-lain.Kemegahan lembaga pendidikan Dayah memuncak pada masa Kesultanan IskandarMuda, sehingga dari sanalah lahir ulama-ulama besar seperti Syeikh Nuruddin ArRaniri, Syeikh Ahmad Khatib Langin, Syeikh Syamsuddin As Sumatrawi, SyeikhHamzah Fansuri, Syeikh Abdur Rauf As Singkili, Syeikh Burhanuddin (ulama besardi Minangkabau).13 Berdasarkan fakta sejarah perkembangan Islam di Indonesia, Samudra Pasai(Aceh) merupakan awal mula perkembangan Islam di Indonesia dan menjadi pusatpendidikan Islam yang pertama di Indonesia. Dari sinilah terus mengalir danberkembang ke berbagai daerah di Indonesia, antara lain ke daerah Jawa. MaulanaMalik Ibrahim yang berasal dari Aceh, merupakan wali songo pertama yangmensyiarkan Islam di daerah Jawa, dengan mendidik para muridnya melalui lembagapendidikan Pondok Pesantren yang didirikannya. Setelah Maulana Malik Ibrahimwafat, Raden Rahmat (Sunan Ampel) melanjutkan kegiatan pendidikan yang 12 Abdul Qadir Djaelani, …, h. 10-11. 13 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta, Hidakarya Agung,1982), h. 172. 6
    • didirikan oleh ayahnya. Pola pendidikan yang diterapkan oleh dua wali songo inimengikuti pola pendidikan pesantren/dayah yang ada di Pasai (Aceh). Pada realitanya, system pendidikan pondok pesantren (dayah) ternyata tidakhanya berkembang dan terdapat di Aceh dan Jawa atau Indonesia secara umum, akantetapi juga didapatkan di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, dengan istilahsebutan yang berbeda-beda karena historis kultur budaya masing-masing, namundengan system pendidikan yang sama. Persamaan system pendidikan Islam di AsiaTenggara dengan Mesjid dan Madrasah sebagai pusat pendidikannya, tidak terlepasdari historis perjalanannya yaitu bermuara dari pusat kekuasaan dan kebudayaan sertapendidikan Islam di Timur Tengah. Kenyataan seperti ini juga didukung denganperadaban Islam yang mencapai puncak kejayaannya pada masa itu, sehingga Islammenjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di dunia. System pendidikan Islam dengan Mesjid dan Madrasah sebagai pusatpendidikannya, yang di Indonesia dinamakan dengan pondok pesantren dan di Acehdinamakan dengan dayah, menurut Roger Garaudy, adalah merupakan systempendidikan yang paling popular di dunia Islam, seperti yang dijumpai pada MasjidKarawizyn di Fes Marokko, di Samarkand dan Cordova Spanyol.14 Kemudian, seiring dengan perjalanan waktu dan pertukaran masa sertaperkembangan zaman, pondok pesantren (dayah) terus berkembang dan tersebarhampir diseluruh pelosok pendesaan di Aceh khususnya. Kedudukan pondokpesantren tersebut mempunyai arti penting dalam kehidupan umat, yaitu sebagaibenteng pertahanan Islam yang paling kokoh dan sulit dihancurkan oleh kaumorientalis misionaris (musuh-musuh Islam). Hal ini dapat dilihat dari upaya paramusuh-musuh Islam dari dulu masa penjajahan sampai dengan sekarang, yang terusmelakukan praktik pemurtadan dengan berbagai cara dan pendekatan, tetapikenyataannya umat Islam tidak murtad. Umat Islam secara kuantitatif tetap utuh padaaqidah keislamannya, berkat peran dan fungsi pondok pesantren yang memposisikandirinya sebagai benteng pertahanan umat Islam. 14 Roger Garaudy, Janji-Janji Islam (Terjemahan), (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h. 117. 7
    • D. Peranan Dayah; Peradaban Islam di Aceh Ulama merupakaan waritsatul anbiya (pewaris para Nabi). Dalammengembankan tugas dan fungsinya sebagai penyambung lidah para Nabi, ulamaharus mengikuti metode atau pola perjuangan yang telah dilakukan oleh RasulullahSaw. Metode atau pola tersebut harus dimulai dengan dakwah dan pendidikan. Dengan Islam, Nabi Muhammad SAW mampu menggulirkan transformasisosial yang dahsyat hingga berhasil menancapkan akar peradaban besar di dunia. Atasjasanya yang besar itu, kalau boleh meminjam bahasanya Gramsci, Muhammadadalah seorang intelektual organik. Sosok intelektual yang tidak cukup puasberteriak : "revolusi!" Tapi setelah itu langsung duduk di atas kursi empuk sambilmenyeruput kopi. Namun dalam hal ini, beliau benar-benar terjun langsung menjadieksekutor lapangan, bekerja keras mengorganiser kekuatan untuk melawanketidakadilan dan memberantas kejahilan. Dari situlah awal mula proses transformasisocial secara monumental dalam pengembangan umat dan perubahan pranatakehidupan umat manusia secara menyeluruh segala aspek kehidupan manusia. Dalam konteks historis Islam, peristiwa hijrah merupakan momentum palingpenting dan monumental. Hijrah telah membawa perubahan dan pembaharuan besardalam pengembangan Islam dan masyarakatnya kepada sebuah peradaban yang majudan berwawasan keadilan, persaudaraan, persamaan, penghargaan Hak AzasiManusia (HAM), demokratis, inklusif, kejujuran, menjunjung supremasi hukum,yang kesemuanya dilandasi dan dibingkai dalam koridor nilai-nilai syariah. Hijrah juga telah mengantarkan terwujudnya negara madani yang sangatmodern, bahkan dalam konteks masyarakat pada waktu itu, terlalu modern. Hijrahbukanlah pelarian untuk mencari suaka politik atau aksi peretasan keperihatinankarena kegagalan mengembangkan Islam di Mekkah, melainkan sebuah praktisreformasi yang penuh strategi dan taktik jitu yang terencana dan sitematis. bahwaperistiwa hijrah merupakan titik balik dari sejarah dunia. Berdasarkan kenyataan itulah Sayyidina Umar bin Khattab menetapkannya 8
    • sebagai awal tahun hijriyah. Dalam konteks ini ia menuturkan : "al hijrah farraqatbainal haq wal bathil fa-arrikhuha" (Artinya : hijrah telah memisahkan antara yanghaq dan yang bathil, maka jadikanlah momentum itu sebagai awal penanggalankalender Islam). Apabila kita cermati makna filosofis hijrah secara mendalam, hijrahsesungguhnya mengandung makna reformasi yang sangat luar biasa. Semangatreformasi tersebut terlihat dari langkah-langkah strategis yang dilakukan NabiMuhammad SAW ketika beliau menetap di Madinah, baik dalam bidang sosialkeagamaan, politik, hukum maupun ekonomi. Rasulullah SAW Kemudian meletakkan tiga hal yang menjadi tonggakpembentukan masyarakat baru, yaitu: 1. Memperkokoh hubungan kaum muslim dan Tuhannya dengan membangun masjid. 2. Memperkokoh hubungan intern umat Islam dengan mempersaudarakan kaum pendatang Muhajirin dari Mekah dengan penduduk asli Madinah, yaitu kaum Anshar. 3. Mengatur hubungan umat Islam dengan orang-orang diluar Islam, baik yang ada di dalam maupun di sekitar kota dengan cara mengadakan perjanjian perdamaian. Melalui tiga hal di atas, Rasulullah SAW berhasil membangun masyarakatideal. Masyarakat ini terwujud dalam suatu negara, yang beliau beri nama Madinah,artinya “kota” atau “tempat peradaban”. Di dalam masyarakat itu, Rasulullah SAWsecara bertahap menerapkan sistem yang dapat melindungi mereka dengan kehidupanyang damai dan makmur. Pada akhirnya, disebabkan melihat suasana damai itu,banyak penduduk kota Madinah dan sekitarnya yang menyatakan masuk Islam. Sehingga sangat layak dan pantas bahwa Nabi Muhammad SAW merupakansosok revolusi dan reformasi peradaban dunia. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat,perubahan dan pengembangan moralitas umat manusia dilanjutkan secara estafet olehpara sahabat, thabi’, thabi’in dan para ulama-ulama setelah itu, kesemuanya 9
    • merupakan waratsatul anbiya yang mengemban tugas mengayomi umat dan berperanaktif dalam tranformasi social umat manusia. Dengan demikian, perubahan pranata dan peradaban kehidupan manusia tidakmungkin berhasil tanpa perubahan sistem nilai yang mendukung pembangunanperadaban masyarakat, yang kemudian diikuti oleh transformasi sosial untuk menjadipondasi dalam persiapan penerimaan keadaan yang baru. Dalam konteks Indonesia, kita patut bertanya apa tawaran solusi konkritlembaga-lembaga keagamaan Islam semacam MUI, NU, Muhammadiyyah dan ICMIterhadap masalah-masalah yang menimpa bangsa dan masyarakat seperti krisis moral,kemiskinan struktural, korupsi, penggusuran, pengangguran, kerusakan lingkungandan sebagainya. Lembaga-lembaga keagamaan tersebut justru sibuk dengan duniasendiri yang jauh dari hiruk pikuk masyarakat. Bahkan tak jarang ikut terseretmendukung program atau proyek besar neoliberal yang cenderung menindas. Dari realitas itu kita tahu bahwa Islam tiba-tiba kehilangan citra diri sebagaipewaris gerakan pembebasan dan penegak keadilan. Hilangnya citra transformatifdan liberatif Islam tersebut seolah meneguhkan kepercayaan dan keyakinannonmuslim bahwa mereka telah berhasil meracuni pemikiran umat Islam. Islam olehlembaga-lembaga formalnya hanya difungsikan untuk memberi wejangan-wejangandalam bentuk ritualisme absurd dan tidak memberi tawaran nyata untuk mengatasiproblemtika sosial yang menghimpit umat, padahal Islam adalah Rahmatan Lil‘Alamin. Selain dari itu, dan ini yang paling naif, Islam justru banyak dipolitisir dandikomersialisasikan oleh para pemeluknya sendiri. Parpol Islam banyak bermunculan,perda-perda syariat diciptakan dan bank-bank syariah didirikan, tapi semua itu hanyasebatas strategi untuk menarik massa demi kepentingan pribadi atau kelompoktertentu. Melihat realitas sosial sekarang yang pengap, timpang dan menindas, Islamharus ditampilkan sebagai agama yang penuh gairah transformasi. Problematikasosial yang tengah menghimpit sekarang ini harus menjadi agenda utama seluruhinstitusi agama Islam. Namun, dari sekian banyak institusi dan lembaga-lembaga 10
    • Islam yang ada sekarang ini, hanya pesantren yang masih eksis dalammemepertahankan gairah transformasi. Walaupun gairah tersebut terkadang sedikitluntur karena berbagai macam permasalahan yang terjadi dalam lingkunganpesantren. Kelunturan itu pun dianggap wajar, mengingat keberadaan pesantren yangmandiri dalam pengembangannya. Sebatas pemahaman kita selama ini, ada 3 (tiga) elemen yang membuatpesantren (dayah) mampu menjadi sub-kultur tersendiri, yaitu:15 1. Pola kepemimpinan yang mandiri dan tidak terkooptimasi kepentingan- kepentingan berjangka pendek. Elemen ini sungguh sangat penting bagi pesantren. Artinya, atasan seorang kiai (pimpinan pesantren)16 itu hanyalah Allah. Tidak ada kelompok politik, aparatur negara, birokrat, atau manusia lain, yang bisa mengintervensi terlalu jauh di dunia pesantren. Pola kepemimpinan seperti itu membuat pesantren menjadi unik. 2. Kitab-kitab rujukan yang digunakan di banyak pesantren, umumnya terdiri dari warisan peradaban Islam dari berbagai abad. Kalau itu dikaji betul, pengetahuan yang akan diserap para santri pesantren akan sangat luas sekali. Dari situ mereka tidak hanya belajar bagian fikih yang rigid, sempit, kaku, hitam-putih (kitab kuning), dan halal-haram saja, tapi juga ilmu-ilmu ushul fikih, ilmu kalam, tasawuf, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan kearifan dan keindahan Islam. Mestinya itu akan membentuk wawasan keislaman yang padu dan utuh bagi santri, karena mereka mendalami agama tidak sekadar pilihan hitam-putih yang nampak di permukaan. 3. Sistem nilai atau values system yang diterapkan di pesantren itu sendiri. Sistem nilai itulah yang nantinya akan dibawa dalam proses kehidupan mereka di masyarakat. Di sini kita mengenal nilai-nilai dasar pesantren, 15 Lily Zakiyah Munir, Pesantren Harus Pertahankan Jati Dirinya, Wawancara Novriantonidan Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Lily Zakiyah Munir, direkturCenter for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes), www.islamlib.com, diakses pada tanggal 6Juni 2011 16 Kiai merupakan sebutan bagi seorang pimpinan pesantren dalam kultur masyarakat Jawa.Sedangkan di Aceh, sebutan bagi pimpinan pesantren adalah Abon, Abi, Abu, Waled, Teungku, dll. 11
    • seperti al-ushûl khamsah (lima prinsip dasar) yang diadopsi dari paham Ahli Sunnah. Nilai-nilai dasar tersebut adalah: a. Tawâsuth, tidak memihak atau moderasi b. Tawâzun, menjaga keseimbangan dan harmoni c. Tasâmuh, toleransi d. Adl, sikap adil e. Tasyâwur, prinsip musyawarah “Pancasila” pesantren itu tidak hanya sekadar hiasan kata dan teori belaka,akan tetapi dibuktikan dengan terinternalisasi dan diprektikkan dalam duniapesantren. Sebab, komunitas pesantren itu hidup seperti dalam akademi militerselama 24 jam, dan menjalankan aktivitas pendidikan sejak sebelum subuh sampaikembali tidur. Jadi, dunia pesantren sesungguhnya membuat miniatur dunia idealmereka sendiri sebagai bekal mentrasfomasikannya kepada masyarakat. Berbekal elemen-elemen dan nilai-nilai dasar pesantren yang tersebut diatas,dalam semangat transformasinya, pesantren diharapkan bisa menjadi martil ataskuatnya sistem dan idiologi pembangunan modern. Idiologi pembangunan modernterbukti telah gagal menciptakan keadilan dan kemakmuran. Janji-janji kesejahteraanyang ditawarkannya hanya omong kosong dan pemanis mulut belaka, yang terjadijustru eksploistasi dan dominasi oleh kelompok pemodal terhadap kelompok lemah.Dengan demikian orang-orang yang jauh dari lingkaran kapital, hidupnya semakintermsarginalkan.E. Transformasi Sosial Pesantren; Upaya Mewujudkan Peradaban. Pesantren (Dayah) merupakan sebuah kampung peradaban bagi kehidupanmanusia, khususnya bagi masyarakat pesisir yang berdomisili di pesisir dan pelosokpendesaan Aceh dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Keberadaannyadidambakan, tetapi pesonanya sering kali tidak mampu membetahkan penghuninya.Bahkan ada segilintir kelompok menusia yang mengatakan pesantren sebagai bagian 12
    • dari kamuflase17 kehidupan, alasannya karena pesantren lebih banyak mengurusiurusan ukhrawiyah dibandingkan dengan urusan duniawiyah. Pesantren seringdilabelkan sebagai pusat kehidupan fatalis18, karena memprioritaskan danmenanamkan kehidupan zuhud yang mengabaikan kehidupan dunia materi. Padahal,komunitas pesantren menikmati kesederhanaan kehidupannya sebagai bagian daripanggilan moralitas keberagamaan. Bagi mereka, dunia merupakan “alat atau media”untuk menggapai tujuan yaitu negri akhirat. Karena manusia tidak mungkin sampaiketujuan yang dicita-citakan tanpa ada alat atau media yang dijadikan sebagai sarana,begitu juga halnya seorang hamba tidak mungkin menikmati kehidupan akhirat tanpamembangun peradaban dunia yang baik. Mengapa misalnya, pesantren menjadi “besar” dan “berjasa” justru ditengahkesederhanaan dan ketulusan para tokohnya dalam memimpin lembaganya denganberazaskan tanggung jawab moral islami dan dengan sikap tak lebih dari sekedarmengabdi pada sebuah profesi? Mengapa misalnya, pesantren menjadi “hebat” dan“kuat” justru ditengah kejujuran dan ketegaran para tokohnya dalam mengembanamanah umat dengan sikap lebih dari sekedar istiqamah? Mengapa misalnya,pesantren menjadi “hancur” dan “lenyap” justru ketika para tokohnya melakukan“lompat pagar” kedalam arena politik praktis yang menjanjikan kekayaan materi? Mengapa pesantren dan transformasi social? Karena, sulit membayangkanbahwa seorang ulama yang mendirikan dan memimpin sebuah pesantren besar danternama di sebuah wilayah, mencurahkan segala infrastruktur intelektualnya, tanpamelakukan transformasi social. Bahkan peranan tersebut, menurut hemat penulis,jauh lebih besar dan kompleks daripada kajian ilmiah yang pernah dipublikasikan,baik dalam bentuk buku, skripsi, tesis, disertasi, artikel atau sebuah laporan sebuahmajalah/tabloid ternama sekalipun. Peranan mereka (komunitas pesantren;ulama/teungku dan santri), jauh lebih riil dan monumental dalam proses transformasi 17 Penyamaran dan pengelabuan. (Tim Balai Pustaka Depdiknas, Kamus Besar BahasaIndonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Ed. III, Cet. III, 2007, hal. 499). 18 Orang yang percaya atau menyerah saja pada nasib. (Tim Balai Pustaka Depdiknas, Ibid,hal. 314). 13
    • social ketimbang hasil telaah di ruang terbatas yang sangat mungkin telah melewatiproses penyederhanaan masalah. Pesantren sebagai salah satu pintu transformasi sosial, memang telahmembuktikan keterlibatannya dalam menyiapkan tunas agama dan bangsa dimasadepan. Sumbangsih pesantren dalam menciptakan dan melahirkan generasi penerussebagai pewaris tongkat estafet agama dan bangsa merupakan yang palingmonumental, khususnya dalam sejarah pendidikan Islam di Aceh. Pesantren telahmenjadi “agent of change” bagi umat Islam Indonesia dan Aceh khususnya.Pesantren juga telah menyiapkan dan memberikan apa yang diminta dan dibutuhkanoleh negri ini; “Dayah (Pesantren) dan Aceh bukanlah sebuah alternatif satu samalain, melainkan ia adalah sebuah realitas historis”. Nurcholish Madjid mengatakan,efektifitas dayah (pesantren) untuk menjadi agent of change sebenarnya terbentukkarena sejak awal keberadaannya, pesantren juga menempatkan diri sebagai pusatbelajar masyarakat, community learning centre.19 Secara tradisi, sebuah institusi pendidikan Islam sekaligus sebagai lembagadakwah dapat disebut “pesantren” kalau ia memiliki elemen-elemen utama yanglazim dikenal di dunia pesantren. Menurut studi Zamakhsyari Dhofir (TradisiPesantren, LP3ES, 1990), Elemen-elemen utama itu antara lain; (1) pondok (bilekdalam khazanah keacehan), (2) mesjid/mushalla, (3) santri, dan (4) Kyai/Ulamasebagai pimpinan (Abon, Abu, Waled, dll dalam khazanah keacehan). Berbagai studitentang pesantren menyimpulkan bahwa di antara empat elemen utama di atas,elemen kyai/ulama-lah yang paling menentukan masa depan sebuah dayah. Gejala pesantren sebagai “kampung peradaban” dan pusat “transformasisosial” mulai terasa sejak beberapa alumninya mampu menjadi pionir20 intelektualitasdi Aceh. Mereka telah menyebarkan daya tarik tersendiri dan memberikan godaancerdas terhadap publik, bahwa dunia pesantren dengan segala kesederhanaan dan 19 Dr. Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta:Paramadina, Cet I, 1997), h. 125. 20 Perintis atau pelopor. (Tim Balai Pustaka Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta: Balai Pustaka, Ed. III, Cet. III, 2007, h. 878). 14
    • kekurangannya justru menyimpan potensi besar untuk melakukan transformasiperadaban Islam yang universal. Caranya beraneka ragam, bisa melalui jalur politik,dunia bisnis (perniagaan), bidang pertanian, perkebunan, lembaga pendidikan, lebih-lebih lagi terjun ke dunia dakwah (jurnalis), dan lain sebagainya. Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini bukan hanya disebabkanoleh kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu seperti terlihatdi atas, tetapi juga lebih banyak disebabkan oleh karakter eksistensialnya. Karakteryang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan oleh Nurcholish Madjid, pesantrentidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi jugamengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga yang murniberkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalamansosiologis masyarakat lingkungannya, sehingga antara pesantren dengan komunitaslingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. Hal ini tidakhanya terlihat dari hubungan latar belakang pendirian pesantren dengan lingkungantertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri melaluipemberian wakaf, shadaqah, hibah, dan sebagainya. Sebaliknya, pihak pesantrenmelakukan ‘balas jasa’ kepada komunitas lingkungannya dengan bermacam cara,termasuk dalam bentuk mendidik masyarakat, bimbingan sosial, kultural, danekonomi. Atas kemandirian pesantren ini, Martin van Bruinessen, salah seorang penelitikeislaman dari Belanda, meyakini bahwa di dalam pesantren terkandung potensi yangcukup kuat dalam mewujudkan masyarakat sipil (civil society). Sungguhpundemikian, menurutnya, demokratisasi tetap tidak bisa diharapkan melaluiinstrumentasi pesantren. Sebab, dalam pandangan Martin, kiai-ulama di pesantrenadalah tokoh yang lebih dominan didasarkan atas nilai kharisma. Sementara, antarakharisma dan demokrasi, keduanya tidak mungkin menyatu.21 Walaupun demikian,menurut Martin, kaum tradisional (termasuk pesantren) di banyak negara berkembang 21 Ellyasa K.H. Darwis, Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil, (Yogyakarta: LKiS, Cet. I,1994), h. 77-78. 15
    • tidak dipandang sebagai kelompok yang resisten dan mengancam modernisasi.22 DAFTAR BACAAN Abdul Qadir Djaelani, Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan PolitikIslam di Indonesia, Surabaya, Bina Ilmu, 1994. Abdullah Nasheh, ‘Ulwan, Tarbiyatul Awlad fil Islam, Beirut: Daral Islam,1981 Abdurrahman Wahid, ”Principles The Pesantren Education”, dalam ManfredOepen and Wolfgang Karcher (eds.), The Impact of Pesantren, P3M, Jakarta, 1998. Abu Hamid, “Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di SulawesiSelatan”, dalam Agama dan Perubahan Sosial, (ed) Taufiq Abdullah,. Jakarta:Rajawali Press, 1983. Ahmad Muthohar, AR, Ideologi Pendidikan Pesantren “Pesantren ditengahArus Ideologi-Ideologi Pendidikan”, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: PustakaProgresif, Cet. XIV, 1997. Dr. Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan,Jakarta: Paramadina, Cet I, 1997. Ellyasa K.H. Darwis, Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil, Yogyakarta: LKiS,Cet. I, 1994. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, HidakaryaAgung, 1982. Mastuhu, Dinamika system Pendidikan Pesantren,.Jakarta: INIS, 1988. Pengantar LKiS dalam Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasiKuasa, Pencarian Wacana Baru, Yogyakarta: LKiS, 1994. Roger Garaudy, Janji-Janji Islam (Terjemahan), Jakarta: Bulan Bintang,1982. Siti Gazalba, Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PusatAntara, 1962. Tim Balai Pustaka Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: BalaiPustaka, Ed. III, Cet. III, 2007. Zarkasyi, Paradigma Baru Pendidikan Dayah, dalam Muslim Thahiry, dkk,”Wacana Pemikiran Santri Aceh”, Banda Aceh, BRR NAD-Nias, PKPM & WacanaPress, 2007. 22 Pengantar LKiS dalam Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa,Pencarian Wacana Baru, (Yogyakarta: LKiS, 1994), h. vi. 16