Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
Ringkasan buku fiqh ikhtilaf (fikih perbedaan pendapat) dr yusuf qardhawi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Ringkasan buku fiqh ikhtilaf (fikih perbedaan pendapat) dr yusuf qardhawi

  • 2,262 views
Published

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,262
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
86
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Fikih IkhtilafI. PrologAdalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan jika Islammenghadapi musuh dari luar atau yang kita sebut sunnatut tadaafu‘(sunnahpertarungan) antara yang haq dan bathil, karena ini merupakan ketetapanAllah,‫ففف ى‬َ‫ ى‬ ‫ك‬َ‫ ى‬ ‫و‬َ‫ ى‬ ‫نو‬َ‫ ى‬ ‫منيفف‬ِ‫ني‬ ‫ر‬ِ‫ني‬ ‫ج‬ْ‫ِر‬ ‫م‬ُ‫ْج‬ ‫ل‬ْ‫ِر‬ ‫نو ا‬َ‫ ى‬ ‫م‬ِّ ‫واو‬ًّ‫ا‬ ‫د‬ُ‫ْج‬ ‫ع‬َ‫ ى‬ ‫يو‬ٍّ ‫ب‬ِ‫ني‬ ‫ن‬َ‫ ى‬ ‫لو‬ِّ ‫ك‬ُ‫ْج‬ ‫ل‬ِ‫ني‬ ‫ن او‬َ‫ ى‬ ‫ل‬ْ‫ِر‬ ‫ع‬َ‫ ى‬ ‫ج‬َ‫ ى‬ ‫كو‬َ‫ ى‬ ‫ل‬ِ‫ني‬ ‫ذ‬َ‫ ى‬ ‫ك‬َ‫ ى‬ ‫و‬َ‫ ى‬ ‫و‬‫را‬ً‫ا‬ ‫صني‬ِ‫ني‬ ‫ن‬َ‫ ى‬ ‫و‬َ‫ ى‬ ‫ي او‬ً‫ا‬ ‫د‬ِ‫ني‬ ‫ه ا‬َ‫ ى‬ ‫كو‬َ‫ ى‬ ‫ب‬ِّ ‫ر‬َ‫ ى‬ ‫ب‬ِ‫ني‬“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk danpenolong.” (QS Al-Furqân, 25: 31)Yang perlu dikhawatirkan justeru jika musuh itu datang dari dalamtubuh Islam itu sendiri. Diantara ancaman yang paling berbahaya adalahperpecahan di tubuh umat.Perbedaan yang terlalu dibesar-besarkan dandisalahpahami terkadang menjadi pemicu timbulnya perpecahanTidaksekadar perbedaan pendapat, tetapi mengarah pada kericuhan hati, bahkanperselisihan yang mengancam kesatuan umat. Oleh sebab itu, kita sangatmemerlukan kesadaran yang utuh dan mendalam mengenai apa yangdisebut Fiqh al-Ikhtilâf.Sesungguhnya Fikih Ikhtilaf merupakan salah satu dari 5 (lima)bidang kajian fikih:1. Fiqh al-Maqâshid (Tujuan Syariat), membahas tentang sasaran atautujuan syari’at dalam segal aspek kehidupan2. Fiqh al-Aulawiyyât, skala prioritas3. Fiqh as-Sunnah, menyangkut sunnah kauniyyah dan ijtimâ’iyyah.4. Fiqh al-Muwâzanah Bain al-Mashâlih wa al-Mafâsid, fikih komparasiantara mashalat dan mudharat5. Fiqh al-Ikhtilâf, fikih perbedaan pendapat.II. PendahuluanMacam-macam dan sebab ikhtilaf atau perselisihan pendapat:1
  • 2. A. Faktor AkhlaqAntara lain disebabkan oleh:1. gemar membangga-banggakan diri dan kagum terhadappendapat sendiri2. buruk sangka dan mudah menuduh orang tanpa bukti3. egoisme dan mengikuti hawa nafsu4. fanatik kepada pendapat orang tertentu, mazhab atau golongan5. fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama’ah atau pemimpinKesemuanya ini adalah akhlaq yang tercela dan hal yangmencelakakan. Kita wajib menghindari sifat-sifat tersebut.B. Faktor PemikiranTimbul karena perbedaan sudut pandang mengenai suatumasalah:1. masalah ilmiah, perbedaan menyangkut cabang syari’at danbeberapa maslah aqidah yang tidak menyentuh hal-hal prinsipyang sudah pasti2. masalah alamiah, perbedaan mengenai sikap politik danpengabilan keputusan atas berbagai masalah3. masalah politik, perbedaan yang bersifat politis dan fiqhi4. ikhtilaf fikriah, perbedaan pandangan mengenai penilaianterhadap sebagian ilmu pengetahuan atau mengenai penilaianterhadap sebagian peristiwa sejarah.Perbedaan yang terbesar umumnya adalah mengenai fiqhi danaqidah.BAGIAN PERTAMA:Persatuan Adalah Kewajiban, Perpecahan Adalah Dosa1. Persatuan Adalah Suatu Kewajiban IslamSasaran kerja para da’i dan aktivitas Islam adalah persatuan, ta’lifulqulub, kerapihan dan kekokohan barisan. Kita harus menjauhi perselisihan2
  • 3. dan perpecahan serta menghindari segal hal yang dapat memecahbelahjama’ah. Perselisihan akan menimbulkan kerusakan pada hubungan baiksesama saudara dan melemahkan agama, umat dan dunia.QS Âli ‘Imrân, 3: 100–107 merupakan ajakan serius kepada persatuanpandangan hidup dan kesatuan barisan Muslim diatas landasan Islam.Ayat-ayat tersebut mengandung:a. peringatan agar berhati-hati terhadap intrik-intrik orang-orang diluar Islamb. mengungkapkan bahwa perstauan merupakan buah keimanan danperpecahan adalah buah kekafiran.c. berpegang teguh pada tali Allah, dari semua pihak merupakan asaspersatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Tali Allah adalah Islam danAl Qur’an.d. mengingatkan bahwa ukhuwah imaniyah, setelah beranekapermusuhan dan peperangan jahiliyah, merupakan nikmat terbesarsesuah nikmat iman.e. tidak ada sesuatu yang dapat mempersatukan umat kecuali jika umatmemiliki sasaran besar dan risalah yang diperjuangkan. Dan tidakada sasaran yang lebih besar selain dakwah kepada kebaikan yangdibawa oleh Islamf. sejarah telah mencatat bahwa orang-orang sebelum kita telahberpecah-belah dan berselisih dalam masalah agama, kemudianmereka binasa, walaupun mereka telah mendapatkan penjelasan danpengetahuan dari Allah sebelumnya.Dalam Al-Qur’an dijelaskan mengenai ukhuwah (QS Al-Hujurat, 49:10) dan sejumlah adab dan akhlak utama (QS Al-Hujurat, 49: 11 – 12). Jugasangat mengecam perpecahan (QS Al-An’am, 6: 65, QS Al-An’am, 6: 159, QSAsy-Syura, 42: 13)Dalam As-Sunnah juga banyak sekali menyinggung masalah ini. As-Sunnah mengajak kepada kehidupan berjamaah, persatuan, mengecamtindakan nyeleneh dan perpecahaan, mengajak kepada ukhuwah danmahabbah. As -Sunnah mencela permusuhan dan perselisihan.3
  • 4. ، ‫ء‬ُ، ‫ضضضءا‬َ‫ءا‬ ‫غ‬ْ‫َض‬ ‫ب‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫ولا‬َ‫ءا‬ ، ‫د‬ُ، ‫سضض‬َ‫ءا‬ ‫ح‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ : ‫م‬ْ‫َض‬ ‫ض‬‫ض‬‫ك‬ُ، ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫ب‬ْ‫َض‬ ‫ق‬َ‫ءا‬ ‫م‬ِ ‫ق‬ ‫ض‬‫ض‬‫م‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ُ، ‫لا‬ ‫ء‬ُ، ‫دلا‬َ‫ءا‬ ‫م‬ْ‫َض‬ ‫ض‬‫ض‬‫ك‬ُ، ‫ي‬ْ‫َض‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫إ‬ِ ‫ق‬ ‫ب‬َّ ‫د‬َ‫ءا‬‫ق‬ُ، ‫ض‬‫ض‬‫ل‬ِ ‫ق‬ ‫ح‬ْ‫َض‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ُ، ‫ضلو‬‫ض‬‫ق‬ُ، ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ضل ي‬‫ض‬‫ن‬ِّ‫ي‬ ‫إ‬ِ ‫ق‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫م‬َ‫ءا‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ، ‫ة‬ُ، ‫ض‬‫ض‬‫ق‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ِ ‫ق‬ ‫حءا‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ ‫ل ي‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ه‬ِ ‫ق‬ ‫ء‬ُ، ‫ضءا‬‫ض‬‫ض‬َ‫ءا‬ ‫غ‬ْ‫َض‬ ‫ب‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫ولا‬َ‫ءا‬‫س‬ُ، ‫فض‬ْ‫َض‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫ذ ي‬ِ ‫ق‬ ‫لض‬َّ ‫ولا‬َ‫ءا‬ : ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫قءا‬َ‫ءا‬ ‫م‬َّ ‫ث‬ُ، ، ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫َني‬‫د‬ِّ‫ي‬ ‫لال‬ ‫ق‬ُ، ‫ل‬ِ ‫ق‬ ‫ح‬ْ‫َض‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ْ‫َض‬ ‫ك‬ِ ‫ق‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫و‬َ‫ءا‬ ، ‫ر‬َ‫ءا‬ ‫ع‬ْ‫َض‬ ‫ش‬َّ ‫لال‬‫نلولا‬ُ، ‫م‬ِ ‫ق‬ ‫ؤ‬ْ‫َض‬ ‫ت‬ُ، ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫و‬َ‫ءا‬ ، ‫نلولا‬ُ، ‫م‬ِ ‫ق‬ ‫ؤ‬ْ‫َض‬ ‫ت‬ُ، ‫تت ى‬َّ ‫ح‬َ‫ءا‬ ‫ة‬َ‫ءا‬ ‫ن‬َّ ‫ج‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫للو‬ُ، ‫خ‬ُ، ‫د‬ْ‫َض‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ه‬ِ ‫ق‬ ‫د‬ِ ‫ق‬ ‫ي‬َ‫ءا‬ ‫ب‬ِ ‫ق‬ ‫د‬ٍ ‫ِب‬ ‫م‬َّ ‫ح‬َ‫ءا‬ ‫م‬ُ،‫بلولا‬ُّ ‫حءا‬َ‫ءا‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫تت ى‬َّ ‫ح‬َ‫ءا‬"Penyakit umat sebelum kamu telah menjangkit kepada kalian; kedengkian danpermusuhan. Permusuhan adalah pencukur, Aku tidak mengatakan mencukurrambut tetapi pencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya,kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak berimansampai kalian saling mencintai." (HR at-Tirmidzi dari Zubair bin ‘Awwam)2. Islam Membenci PerpecahanIslam sangat membenci perpecahan dan perselisihan sampaiRasulullah s.a.w memerintahkan kepada orang yang sedang membaca AlQur’an agar menghentikan bacaannya jika bacaannya itu akanmengakibatkan perpecahan.« ‫ذلا‬َ‫ءا‬ ‫إ‬ِ ‫ق‬ ‫ض‬‫ض‬‫ف‬َ‫ءا‬ ‫م‬ْ‫َض‬ ‫ك‬ُ، ‫ب‬ُ، ‫ضلو‬‫ض‬‫ل‬ُ، ‫ق‬ُ، ‫ه‬ِ ‫ق‬ ‫ض‬‫ض‬‫ي‬ْ‫َض‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫ع‬َ‫ءا‬ ‫ت‬ْ‫َض‬ ‫ض‬‫ض‬‫ف‬َ‫ءا‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫ئ‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫م‬َ‫ءا‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫رنآ‬ْ‫َض‬ ‫ض‬‫ض‬‫ق‬ُ، ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ ‫ءولا‬ُ، ‫ر‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ق‬ْ‫َض‬ ‫لا‬‫مضضضضضضضضضضضضضلولا‬ُ، ‫قلو‬ُ، ‫ف‬َ‫ءا‬ ‫ه‬ِ ‫ق‬ ‫فيضضضضضضضضضضضضض‬ِ ‫ق‬ ‫م‬ْ‫َض‬ ‫تضضضضضضضضضضضضض‬ُ، ‫ف‬ْ‫َض‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫خ‬ْ‫َض‬ ‫لا‬ »"Bacalah al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jikakalian berselisih makan hentikanlah bacaan itu." (HR Bukhari dan Muslim dariAbdullah al-Bajali)Kendati keutamaan membaca Al-Qur’an sangat besar, namun Nabis.a.w tidak mengizinkan membacanya jika bacaan itu membawa kepadaperselisihan dan pertentangan. Jika perselisihan mengangkut pemahamanmakna maka harus dibaca dengan berpegang teguh kepada pemahamandan pengertian yang akan menumbuhkan kesatuan.4
  • 5. Jika terjadi perselisihan atau timbul suatu keraguaan maka hendaklahbacaan itu ditinggalkan dan berpegang teeguh pada yang Muhkam yangakan membawa persatuan.3. Mengapa Harus Menjaga Persatuan Dan Kesatuan?Manfaat dan pengaruh positifnya sangat banyak, antara lain:1. memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagiyang sudah kuat.2. merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran.4. Perpecahan Umat Bukan Suatu KelazimanAda yang berpendapat bahwa perpecahan adalah lazim (umum,dianggap biasa dan merupakan ketetapan yang telah ditetapkan Allah,dengan alasan:a. Adanya sejumlah hadits yang mengabarkan bahwa Allahmenimpakan keganasan sebagian umat kepada sebagian yang lain« ‫ضت ى‬‫ض‬‫ن‬ِ ‫ق‬ ‫ع‬َ‫ءا‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫م‬َ‫ءا‬ ‫و‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ِ ‫ق‬ ‫ض‬‫ض‬‫ي‬ْ‫َض‬ ‫ت‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ْ‫َض‬ ‫ث‬ِ ‫ق‬ ‫نت ى‬ِ ‫ق‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫ط‬َ‫ءا‬ ‫ع‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ف‬َ‫ءا‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫ث‬ً‫ف ا‬ ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ث‬َ‫ءا‬ ‫ضت ى‬‫ض‬‫ب‬ِّ‫ي‬ ‫ر‬َ‫ءا‬ ‫ت‬ُ، ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫س‬َ‫ءا‬‫ة‬ِ ‫ق‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫س‬َّ ‫بءال‬ِ ‫ق‬ ‫ضت ى‬‫ض‬‫ت‬ِ ‫ق‬ ‫م‬َّ ‫أ‬ُ، ‫ك‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ل‬ِ ‫ق‬ ‫ه‬ْ‫َض‬ ‫َني‬ُ، ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ضت ى‬‫ض‬‫ب‬ِّ‫ي‬ ‫ر‬َ‫ءا‬ ‫ت‬ُ، ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫س‬َ‫ءا‬ ‫ة‬ً‫ف ا‬ ‫د‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ح‬ِ ‫ق‬ ‫ولا‬َ‫ءا‬‫ق‬ِ ‫ق‬ ‫ر‬َ‫ءا‬ ‫غ‬َ‫ءا‬ ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫ب‬ِ ‫ق‬ ‫ضت ى‬‫ض‬‫ت‬ِ ‫ق‬ ‫م‬َّ ‫أ‬ُ، ‫ك‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ل‬ِ ‫ق‬ ‫ه‬ْ‫َض‬ ‫َني‬ُ، ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ه‬ُ، ‫ت‬ُ، ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫س‬َ‫ءا‬ ‫و‬َ‫ءا‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫ه‬َ‫ءا‬ ‫ني‬ِ ‫ق‬ ‫طءا‬َ‫ءا‬ ‫ع‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ف‬َ‫ءا‬‫م‬ْ‫َض‬ ‫ض‬‫ض‬‫ه‬ُ، ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫ي‬ْ‫َض‬ ‫ب‬َ‫ءا‬ ‫م‬ْ‫َض‬ ‫ه‬ُ، ‫ض‬‫ض‬‫س‬َ‫ءا‬ ‫أ‬ْ‫َض‬ ‫ب‬َ‫ءا‬ ‫ل‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫ع‬َ‫ءا‬ ‫ج‬ْ‫َض‬ ‫َني‬َ‫ءا‬ ‫ال‬َ‫ءا‬ ‫ن‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ه‬ُ، ‫ت‬ُ، ‫ل‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ض‬‫ض‬‫س‬َ‫ءا‬ ‫و‬َ‫ءا‬ ‫ضءا‬‫ض‬‫ه‬َ‫ءا‬ ‫ني‬ِ ‫ق‬ ‫طءا‬َ‫ءا‬ ‫ع‬ْ‫َض‬ ‫أ‬َ‫ءا‬ ‫ف‬َ‫ءا‬‫هءا‬َ‫ءا‬ ‫ني‬ِ ‫ق‬ ‫ع‬َ‫ءا‬ ‫ن‬َ‫ءا‬ ‫م‬َ‫ءا‬ ‫ف‬َ‫ءا‬ »."Aku meminta kepada Allah tiga hal lalu Dia memberiku dua hal danmenolak yang satu. Aku meminta kepada Allah agar membinasakan umatkudengan bencana kelaparan lalu Dia mengabulkannya. Aku meminta-Nyaagar tidak membinasakan Umatku dengan bencana banjir lalu Diamengabulkannya. Dan aku meminta-Nya agar tidak menimpakan keganasansebagian umatku kepada sebagian yang lain tetapi Dia menolak5
  • 6. permintaanku ini." (HR Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, danhadits-hadits lainnya yang serupa)Hadits itu dan juga hadits lainnya yang semakna menunjukkanbahwa Allah menjamin 2 hal bagi umat Nabi-Nya, yaitu:1) Allah tidak akan membinasakan Umat Nabi s.a.w dengan bencanayang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu2) Allah tidak akan menguasakan musuh atas mereka sampaikepada batas menindas dan melenyapkan eksistensi mereka samasekali.Permintaan Nabi s.a.w agar Allah tidak menimpakanperpecahan kepada umat ini ditolak. Artinya persoalan tersebutdiserahkan kepada sunnah kauniyah, sunnah ijtima’iah dan hukumsebab akibat lainnya. Dalam hal ini umat ini berkuasa penuh atasdirinya. Allah tidak memaksakan sesuatu kepadanya dan tidak pulamemberi kekhususan.Semua tergantung dari umat itu sendiri apakah menyambutperintah Rabbnya, perintah NabiNya, menyatukan kalimat,merapikan barisan dan berhasil merebut kemenangan atas musuhAllah. Atau berpecah belah dan dikuasai musuh.Hadits tersebut tidak mengisyaratkan bahwa perpecahan adalahlazim, karena justeru banyak ayat Al-Qur’an yang mengecamperpecahan.b. Hadits tentang perpecahan umat menjadi 73 golonganHadits ini tidak termasuk dalam kitab Bukhari dan Muslim, yangberarti hadits ini tidak shahih menurut salah satu syarat darikeduanya.Sebagian riwayat lain tidak menyebutkan tambahan ,“Semuagolongan akan masuk neraka kecuali satu.“. Hadits tersebutdiriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majahdan Ibnu Hibban. Akan tetapi perawinya Muhammad bin Amr,dinilai sebagai orang yang jujur tapi banyak kelemahannya6
  • 7. Sedang hadits yang dengan tambahan, diriwayatkan oleh Abdullahbin Amr, Mu’awiyah, Auf bin Malik dan Anas r.a.. Tetapi semuanyabersanad lemah.Hadits tersebut dengan tambahannya dapat menimbulkanperpecahan dan menyesatkan dan saling mengkafirkan kalanganumat Islam. Oleh karena itu beberapa ulama menolak hadits tersebutbaik dari segi sanad maupun makna.Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa tambahan iniadalah palsu.BAGIAN KEDUA:Landasan Pemikiran Bagi Fiqh al-Ikhtilâf1. Perbedaan Masalah Furû‘: Kemestian; Rahmat dan KeleluasaanUpaya penyatuan adalah suatu hal yang tidak mungkin, malah akanmempeluas perbedaan itu sendiri dan perselisihan. Upaya-upaya seperti ituhanya menunjukkan kedunguan. Perbedaan merupakan suatu kemestiandan tidak dapat dihindari.Antara lain dapat disebabkan karena:a. tabi’at agama, adanya ayat-ayat mutasyabihat yang memangmenuntut kita untuk berijtihadb. tabi’at bahasa, adanya pemahaman yang berbeda dari makna yangterkandungc. tabi’at manusia, yang diciptakan berbeda-beda dan memilikikepribadian, tabi’at, pemikiran sendiri-sendiri. Hal ini merupakanperbedaan macam atau variasi dan bukan merupakan perbedaanyang mengarah ke pertentangand. tabi’at alam dan kehidupan; alam diciptakan bervariasi dan berbeda-beda.Perselisihan yang ditolerir: ketika seseorang melakukan amalperbuatan yang didasarkan pada hujjah atau pengetahuan orang sebagaidasar untuk melakukannya tanpa disertai permusuhan dan celaan kepadaorang yang berbeda dengannya.7
  • 8. Perbedaan yang tercela:a. yang bermotif pembangkangan, kedengkian, dan mengikuti hawanafsu.b. yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan umat2. Mengikuti Manhaj Pertengahan dan Meninggalkan Sikap BerlebihanDalam AgamaMengikuti manhaj pertengahan yang mencerminkan tawazun ataukeseimbangan dan keadilan, jauh dari sikap berlebihan atau mengurangiajaran.Hadits Rasulullah s.a.w.:‫ن‬ِ ‫ِني‬‫د‬ِّ‫ال‬ ‫ف ي‬ِ ‫و‬ِّ ‫ل‬ُ‫ّو‬‫غ‬ُ‫ّو‬ ‫ل‬ْ‫غ‬‫بلا‬ِ ‫م‬ْ‫غ‬ ‫ك‬ُ‫ّو‬ ‫ل‬َ‫ُك‬‫ب‬ْ‫غ‬‫ق‬َ‫ُك‬ ‫ن‬َ‫ُك‬ ‫كلا‬َ‫ُك‬ ‫ن‬ْ‫غ‬ ‫م‬َ‫ُك‬ ‫ك‬َ‫ُك‬ ‫ل‬َ‫ُك‬‫ه‬َ‫ُك‬ ‫ملا‬َ‫ُك‬ ‫ن‬َّ‫م‬‫إ‬ِ‫ف‬َ‫ُك‬ ، ‫وف‬َّ‫م‬ ‫ل‬ُ‫ّو‬‫غ‬ُ‫ّو‬ ‫ل‬ْ‫غ‬‫وا‬َ‫ُك‬ ‫م‬ْ‫غ‬ ‫ك‬ُ‫ّو‬ ‫ِنيلا‬َّ‫م‬‫إ‬ِ“Jauhilah sikap berlebihan, karena telah binasalah orang-orang yang bersikapberlebihan“. (HR Ahmad dari Abdullah bin Abbas)Orang-orang yang berlebihan ini menurut Imam an-Nawawi adalahorang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampauibatas.Ciri lainnya adalah selalu memperbanyak pertanyaan yang hanyaakan menghasilkan kesusahan dan kesempitan. Prinsip umum darishahabiyah r.a. adalah tashîl/memudahkan dan musâmahah/toleransi.3. Mengutamakan Muhkamat Bukan MutasyabihatBerdasarkan QS Âli ‘Imrân, 3: 7, “apabila ayat-ayat muhkamatditinggalkan maka terbukalah pintu perdebatan dan perbantahan”.Rasulullah s.a.w. mengecam tindakan mempertentangkan satu ayat alQur’an dan ayat lainnya dan tidak mengembalikan ayat mutasyabihatkepada ayat-ayat muhkamat.Tindakan mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lainbiasanya terjadi karena mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang beragampenunjukkannya dan nampak secara lahiriah saling bertentangan. Jikadikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat niscaya pertentangan akan sirna.8
  • 9. 4. Tidak Memastikan dan Menolak Dalam Masalah-masalah IjtihadiyahPara ulama kita menegaskan tidak boleh ada penolakan dariseseorang kepada orang lain dalam masalah ijtihadiyah.5. Menela’ah Perbedaan Pendapat Para UlamaAgar kita mengetahui beragamnya mazhab dan bervariasinya sumberpengambilan, juga sudut pandang dan dalil-dalil yang mendasarinya. Halini membantu lahirnya sikap toleransi dan tenggang rasa.Yang penting diingat adalah tidak mengagumi pendapat sendiri dantidak mencela pendapat orang lain.6. Membatasi Pengertian dan IstilahKita harus membatasi beberapa pemahaman yang menjadi sebabterjadinya perselisihan itu. Seringkali suatu istilah dipertentangan dengansengit.Harus dibatasi, diluruskan, dijelaskan pemahamannya agar tidakdisalahpahami oleh orang-orang yang dapat mengakibatkan vonis sesat danmenyesatkan.7. Menggarap Masalah Besar Yang Dihadapi UmatUmat memiliki permasalahan yang lebih besar dibandingkan harusmempermasalahkan perbedaan yang ada. Apabila kita sepaham mengenaimasalah besar yang kita hadapai dan menjadikan cita-cita bersama dantujuan kita bersama, niscaya perbedaan yang ada tidak akan diperbesarkandan dipersilisihkan.Sebaiknya energi dan pikiran kita dipusatkan ke situ, antara lain:a. IPTEKb. Sosial ekonomic. Politikd. Ghazwul fikrie. Zionismef. Perpecahan dan sengketa di Dunia Arab dan Islamg. Dekadensi moral9
  • 10. 8. Bekerjasama Dalam Masalah Yang DisepakatiMasalah khilafiyah hendaknya tidak dibesar-besarkan sehinggamenghabiskan dan menguras waktu dan tenaga. Persoalan kaum musliminbukanlah terletak pada perbedaan masalah-masalah khilafiah yangdidasarkan pada ijtihad, akan tetapi terletak pada tidak difungsikannyaakal, pembekuan fikiran, pembisuan kehendak, pemasungan kebebasan,perampasan hak asasi, pengabaian kewajiban, tersebarnya egoisme,pengabaian sunnah-sunnah Allah tentang alam dan masyarakat,kesewenangan atas kebenaran dan sebagainya.Masalah-masalah umat yang bisa kita sepakati sangat banyak,sebaiknya kita bekerjasama menyelesaikannya.9. Saling Toleransi Dalam Masalah Yang DiperselisihkanToleransi dalam masalah yang diperselisihkan dapat dilakukan jikakita tidak fanatik terhadap satu pendapat yang bertentangan denganpendapat yang lain.Prinsipnya:a. menghormati pendapat orang lainb. menyadari kemungkinan beragamnya kebenaranc. kesadaran dan kenyataan bahwa berbagai perselisihan yang kitasaksikan bukan tentang hukum syar’i10. Menahan Diri Dari Orang Yang Mengucapkan ”Lâ Ilâha Illallâh“Tindakan yang paling berbahaya yang dapat menghancurkanpersatuan umat ialah takfîr (pengkafiran) sesama muslim.Rasulullah s.a.w mengecam takfîr (tuduhan kafir) ini dalam berbagaihaditsnya, salah satu yang diriwayatkan Ibnu Umar,« ‫م ا‬َ‫ ا‬ ‫ه‬ُ‫َم‬ ‫د‬ُ‫َم‬ ‫ح‬َ‫ ا‬ ‫أ‬َ‫ ا‬ ‫ه ا‬َ‫ ا‬ ‫ب‬ِ‫ه‬ ‫ء‬َ‫ ا‬ ‫ب ا‬َ‫ ا‬ ‫د‬ْ ‫ب‬ ‫ق‬َ‫ ا‬ ‫ف‬َ‫ ا‬ . ‫ر‬ُ‫َم‬ ‫ف‬ِ‫ه‬ ‫ك ا‬َ‫ ا‬ ‫ي ا‬َ‫ ا‬ ‫ه‬ِ‫ه‬ ‫خهي‬ِ‫ه‬ ‫ل‬َ‫ ا‬ ‫ل‬َ‫ ا‬ ‫ق ا‬َ‫ ا‬ ‫ئ‬ٍ ‫ق‬ ‫ر‬ِ‫ه‬ ‫م‬ْ ‫ب‬ ‫ا‬ ‫م ا‬َ‫ ا‬ ‫ي‬ُّ‫م‬ ‫أ‬َ‫ ا‬‫ه‬ِ‫ه‬ ‫هي‬ْ ‫ب‬ ‫ل‬َ‫ ا‬ ‫ع‬َ‫ ا‬ ‫ت‬ْ ‫ب‬ ‫ع‬َ‫ ا‬ ‫ج‬َ‫ ا‬ ‫ر‬َ‫ ا‬ ‫ل‬ّ ‫إ‬ِ‫ه‬ ‫و‬َ‫ ا‬ ‫ل‬َ‫ ا‬ ‫ق ا‬َ‫ ا‬ ‫م ا‬َ‫ ا‬ ‫ك‬َ‫ ا‬ ‫ن‬َ‫ ا‬ ‫ك ا‬َ‫ ا‬ ‫ن‬ْ ‫ب‬ ‫إ‬ِ‫ه‬ ».10
  • 11. "Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, wahai si kafir, maka panggilan itukembali kepada salah satu jika ia seperti apa yang dikatakan. Tetapi jika tidak, makapanggilan itu akan kembali kepada yang mengucapkan.“ (HR Muslim)Dalam hadits lain,‫ه‬ِ ‫ل‬ِ‫ت‬ْ‫ِل‬‫ق‬َ‫ْت‬‫ك‬َ‫ْت‬ ‫وك‬َ‫ْت‬ ‫ه‬ُ‫َو‬ ‫ف‬َ‫ْت‬ ‫رك‬ٍ ‫ف‬ ‫ف‬ْ‫ِل‬‫ك‬ُ‫َو‬ ‫ب‬ِ ‫ن اك‬ً‫ ا‬‫م‬ِ ‫ؤ‬ْ‫ِل‬ ‫م‬ُ‫َو‬ ‫م ىك‬َ‫ْت‬ ‫ر‬َ‫ْت‬ ‫نك‬ْ‫ِل‬ ‫م‬َ‫ْت‬“Barangsiapa menuduh kafir seorang mukmin maka ia seperti membunuhnya.“(HR Ath-Thabrani dari Hisyam bin ‘Amir)[Sumber: http://catatanhati.blogsome.com/2003/01/20/fiqh-perbedaan/(dengan sedikit perubahan dan edit) dalamhttp://www.ufukislam.com/2011/09/ringkasan-buku-fiqh-ikhtilaf-fikih.html]11