Menjadi muslim, siapkah diri kita

  • 327 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
327
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
10
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 Menjadi Muslim: “Siapkah Diri Kita?” (Disampaikan dalam Pengajian I’tikaf Ramadhan, PCM Piyungan, Bantul. DIY, Ahad 4 Agustus 2013) Oleh: Muhsin Hariyanto Kepribadian yang kita miliki adalah semua corak perilaku dan kebiasaan diri kita yang terhimpun dalam diri kita dan kita gunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada setiap orang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama seseorang masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya. Bersediakah kita berproses untuk menjadi muslim? Iftitâh: Suara Hati dan Fitrah Manusia Di dalam diri manusia ada “ruang kosong” yang harus kita isi dengan hal-hal yang baik. Jika kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang baik, maka ruang kosong itu, otomatis akan diisi dengan hal-hal yang buruk. Ibarat sebuah roda, ruang kosong itu adalah yang menjadikannya sebagai roda. Metafor ini bisa dipakai untuk manusia: ruang kosong itulah yang menjadikan kita berarti secara spiritual sebagai manusia. Itulah: “suara hati”, atau hati nurani. Suara hati (conscience) ini dalam Islam digambarkan dengan berbagai nama, shadr, qalb, fuâd, lûbb, rûh, sirr, `aql, dan semua derivasinya, yang semuanya berhubungan dengan pengertian kesadaran, atau biasa disebut dalam wacana Islam sebagai "hati" (qalb, kalbu) saja, dari kata qalaba yang artinya "membalik" -- berpotensi bolak-balik: di suatu saat merasa senang, dan di saat lain merasa susah, di suatu saat menerima, di saat lain menolak. Sehingga hati seringkali tidak konsisten, sehingga dibutuhkanlah cahaya Ilahi (maka disebut "hati-nurani" – yang maknanya hati yang bercahaya). Hati bisa "berbolak-balik" sebab, kadangkala ia menerima bisikan malaikat (lammah malakîyah), kadangkala bisikan setan (lammah syaithânîyah), dan kadangkala bisikan nafsunya sendiri.
  • 2. 2 Kedudukan hati ini sangat penting dalam Islam. Walaupun kata "hati" ini barangkali kurang mengena bagi manusia modern dewasa ini yang terbiasa dengan wacana ilmu pengetahuan yang rasional, tetapi asing dengan istilah-istilah metafor -- seperti "hati" yang lebih banyak merupakan tamsil-ibarat dari ilmu-ilmu kearifan. Tetapi justeru inti ajaran agama – yang membawa manusia pada moralitas luhur (al-akhlâq al-karîmah) ada dalam wacana suara hati ini. Imam al-Ghazali membahas soal suara hati ini dalam salah satu babnya dalam buku Ihyâ’ Ulûm-i al-Dîn yang sangat terkenal. Pembahasan al-Ghazali tentang hati dalam buku tersebut, dapat dibandingkan dengan pembahasan tentang “Kecerdasan Emosi” (Emotional Intelligence [EI], Emotional Quotient [EQ]) dan “kecerdasan spiritual” (Spiritual Intelligence [SI], Spiritual Quotient [SQ]) dalam Psikologi Kontemporer. Dalam buku tersebut, al-Ghazali menjelaskan “hati” sebagai acuan yang harus dikembangkan dalam pencapaian kehidupan ruhani. Bahkan ia menafsirkan hati sebagai esensi dari kemanusiaan itu sendiri. Ia membandingkan hati dengan sebuah kaca yang mencerminkan segala sesuatu di sekelilingnya. Jika hati ada dalam situasi yang kacau, di mana akal-budi (`aql) yakni potensi yang dapat mengembangkan suara hati ini ditaklukkan dan tak dikenali, maka hati menjadi “mendung dan gelap” (artinya orang mengalami perasaan- perasaan negatif, sering disebut negative ego, dalam spiritualitas), akibatnya menjadi kurang cerdas secara emosi dan spiritual, yang biasa disebut dalam kajian akhlak sebagai "penyakit hati". Sebaliknya jika keseimbangan yang benar ditegakkan, kaca hati tersebut akan mencerminkan kecemerlangan bidang ruhani, dan dengan demikian terbukalah sifat-sifat langit, dan terpantullah akhlak Allah. Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh banyak orang sebagai hadis Nabi s.a.w., “Hiasilah dirimu dengan akhlak Allah.” Yang dikomentari oleh Ibn Qayyim al-Jauziyah dengan kalimat “lâ ashla lah” dalam kitab “Madârij as-Sâlikîn”, juz III, hal. 341, dan dengan kata “bâthil”, dalam kitab “Adh-Dha’îfah”, hal. 2822. Melalui dzikir kepada Allah, dan terhiasinya sifat-sifat positif dari akhlak-Nya, maka suara hati ini (kesadaran moral) pun mencapai apa yang dalam agama disebut “jiwa yang tenang” (al-nafs al-muthmainnah)
  • 3. 3 yang membuka pintu bagi kedekatan kepada Allah. Sehingga hati menjadi tempat bagi ingatan akan Allah, sehingga akhirnya hati ini menjadi cahaya Allah. Hal ini seperti diungkap dalam al-Qur’an, QS an- Nûr, 24: 35, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus [Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang- barang lain], yang di dalamnya ada pelita besar; pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) [Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Islam menyebut bahwa melalui hati inilah manusia menemukan kesadaran ketuhanannya, yang nantinya akan mempunyai segi konsekuensial pada kesadaran moral dan sosialnya. Kesadaran yang disebut ketaqwaan ini tumbuh dalam hati; sebaliknya dosa dan kekafiran juga berkembang dalam hati. Memahami Suara Hati Manusia Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan dalam fitrah (kesucian}. Dalam perkembangan selanjutnya sang manusia fitrii yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci). Karena
  • 4. 4 dosanya hatinya pun menjadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang disebut penyucian, seorang manusia dilatih kembali untuk lepas dari inferno-nya, dari neraka dirinya. Inilah proses ke alam purgatorio, alam pembersihan diri, di mana dari sini akan terbuka kembali alam kefitrahannya, yang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini: “keadaan hati yang ada dalam kecemerlangannya”. Fitrah ini bukanlah sesuatu yang didapatkan atau diusahakan, tetapi sesuatu yang “ditemukan kembali.” Kembali ke fitrah artinya kembali ke alam paradise -- surga diri -- alam kefitrahan manusia, "kembali kepada kecemerlangan suara hati"; asal dari penciptaannya. Itulah kurang lebih makna firman Alah: "Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu." (QS ar- Rûm, 30:30). Menjadi Manusia Muslim Manusia Muslim adalah “manusia” yang di dalam dirinya terpenuhi seluruh unsur-unsur kekepribadiannya. Mereka yang dapat mengelola potensi dirnya secara sinergis. Islam mengenal istilah “Mukmin, Munafik dan Kafir”. Mukmin adalah cermin kepribadian utuh di mana secara keyakinan (hati), ucapan (pikiran) dan perilakunya bersesuaian dan tidak saling bertentangan. Lain halnya munafiq dan Kafir, mereka adalah cermin kepribadian terbelah (split-personality), di mana antara hati, ucapan (pikiran) dan perilaku tidak saling bersesuaian. Dua tipologi manusia terakhir inilah yang dalam al-Quran disebut sebagai manusia yang mengalami “sakit” dan “kematian” dalam hatinya. Manusia dikatakan sebagai muslim yang sempurna (kâffah) manakala syarat ke”mukminan”nya terpenuhi. Karakteristik muslim ideal -- walaupun sampai hari ini belum ditemukan alat ukur yang pasti untuk mengukur kepribadian manusia -- yang setidaknya bisa memenuhi potensi kemuslimannya. Tapi paling tidak kalau semua sifat ini terdapat dalam diri seorang muslim maka ia akan menjadi seorang
  • 5. 5 muslim yang tangguh dan siap berkompetisi dalam setiap zaman dan keadaan, karena ia memiliki identitas, keyakinan, spiritualitas, moralitas, integritas, ilmu, kekuatan, visi, prinsip, loyalitas dan keteladanan. Di mana seluruh sifat ini tidak lagi banyak kita jumpai dalam diri seorang muslim yang sedang dikuasai “hawa nafsunya”. Tipe Pribadi Muslim: Konstruktif dan Mandiri Kepriribadian Muslim adalah “kepribadian yang utuh”, yaitu konstruktif dan mandiri. Pribadi yang memiliki kemampuan me-manage diri dan orang lain, berdedikasi tinggi dan setiap yang dilakukannya tidak pernah merugikan dan selalu membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain. Itulah buah dari kebersihan aqidah dan keikhlasan dalam beribadah.  Kepribadian Konstruktif Model kepribadian tipe ini sejak muda umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan dan pola kehidupannya. Sejak muda perilakunya positif dan konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik di rumah, di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis, sehingga setelah selesai mengikuti studi ia mendapatkan pekerjaan juga dengan mudah dan dalam bekerja pun tidak bermasalah. Karier dalam pekerjaan juga lancar begitu juga dalam kehidupan berkeluarga; tenang dan damai semua berjalan dengan normatif dan lancar. Dapat dikatakan bahwa tipe kepribadian model ini adalah tipe ideal, seolah-olah orang tidak pernah menghadapi permasalahan yang menggoncangkan dirinya, sehingga hidupnya terlihat stabil dan lancar. Jika tipe kerpibadian ini terlihat seolah-olah tidak pernah bermasalah hal itu terjadi karena tipe kepribadian model ini mudah menyesuaikan diri, dalam arti juga pandai mengatasi segala permasalahan dalam kehidupannya. Sifatnya -- pada masa dewasa -- adalah mempunyai rasa toleransi yang tinggi, sabar, bertanggung jawab dan fleksibel, sehingga dalam menghadapi tantangan dan gejolak selalu dihadapi dengan kepala dingin dan sikap yang mantap. Pada masa tuanya model kepribadian ini dapat menerima kenyataan, sehingga pada saat memasuki usia pensiun – misalnya -- ia dapat menerima dengan suka rela dan tidak menjadikannya sebagai suatu masalah, karena itu post power sindrome juga tidak dialami. Pada umumnya karena orang-orang dengan kepribadian semacam ini sangat produktif dan selalu aktif, walaupun mereka sudah pensiun akan banyak
  • 6. 6 yang menawari pekerjaan sehingga mereka tetap aktif bekerja di bidang lain ataupun di tempat lain. Itulah gambaran tipe kepribadian konstruktif yang sangat ideal, sehingga mantap sampai masa tua dan tetap eksis di hari tua.  Kepribadian Mandiri Model kepribadian tipe ini sejak masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering menolak pertolongan atau bantuan orang lain. Tipe kepribadian ini seolah-olah pada dirinya memiliki prinsip “jangan menyusahkan orang lain” tetapi menolong orang lain itu penting. Jika mungkin segala keperluannya diurus sendiri, baik keperluan sekolah, pakaian sampai mencari pekerjaan dan mencari pasangan adalah urusan sendiri. Begitu juga setelah bekerja, dalam dunia kerja ia sangat mandiri dan sering menjadi pimpinan karena aktif dan dominan. Perilakunya yang aktif dan tidak memiliki pamrih, justeru memudahkan gerak langkahnya, biasanya ia mudah memperoleh fasilitas atau kemudahan-kemudahan lainnya sehingga kariernya cukup menanjak, apalagi jika ditunjang pendidikan yang baik, maka akan mengantarkan model kepribadian yang mandiri menjadi pimpinan atau manajer yang tangguh. Dalam kehidupan bermasyarakat model kepribadian ini umumnya sangat dominan dalam mengurus urusan-urusan kemasyarakatan. Semua dipimpin dan diatur dengan cekatan sehingga – pada umumnya -- “semua beres”. Seolah-olah -- dalam benaknya -- orang lain tidak boleh “kerepotan” dan jangan (sampai) merepotkan orang lain. Model tipe ini – misalnya -- adalah ayah atau ibu yang sangat perhatian pada anak-anak dengan segala kebutuhannya. Menggabungkan kedua tipe di atas tidak mudah. Tetapi itulah yang harus kita lakukan untuk menjadikan diri kita bermakna bagi siapa pun, termasuk untuk diri kita sendiri. Khâtimah: “Menjadi Muslim, Sebuah Proses Yang Berkesinambungan” Kepribadian Muslim yang selalu tegak di atas kemurnian aqidah, yang nantinya akan menentukan falsafah hidupnya secara menyeluruh, baik mengenai prinsip, perjalanan, maupun tujuan akhirnya. Dia merupakan jawaban atas tiga pertanyaan mendasar, yaitu: dari mana, ke
  • 7. 7 mana, dan untuk apa manusia itu diciptakan (hidup), yang dengan jawaban itu melukiskan bahwa mereka adalah manusia yang bertauhid, dan tidak menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun. Mereka tegak di atas nilai-nilai ibadah yang memperkuat hubungannya dengan Allah SWT dalam amal baik yang lahir maupun bathin. Dengan itulah mereka beribadah, bahkan seluruh aktivitasnya adalah dalam rangka “beribadah” kepada Allah SWT. Mereka pun tegak di atas prinsip dan pemahaman yang wâdhih (jelas) yang membuat mereka mampu meluruskan amal, sikap kepribadian yang standar dan sikap dalam “bermadzhab” (cara beramal) melalui standarnya yang unik yang tidak bersandar pada aliran kanan atau ke kiri. Ia adalah manusia “fikri” yang cerdas serta memiliki prinsip yang kuat sehingga berani berbeda dengan siapa pun dalam mempertahankan idealismenya. Mereka juga tegak di atas akhlak dan kemuliaan sebagai wujud dari keyakinan mereka terhadap agama dan syari'atnya. la adalah manusia yang bermoral tinggi. Demikian juga mereka pun tegak di atas tata kehidupan dan tradisi yang Islami sehingga menjadikan mereka memiliki ciri khash, tersendiri. Mereka tidak taqlid kepada orang lain dari kalangan umat- umat terdahulu maupun yang datang kemudian kecuali atas dasar pijakan ilmu yang jelas. Sebagaimana mestinya, mereka juga tegak di atas nilai-nilai kemanusiaan yang mulia yang selalu diidam-idamkan oleh seluruh umat manusia. Yang saya maksud dengan "al-Qiyâm al-Insâniyyah" (nilai-nilai kemanusiaan) adalah nilai-nilai yang tegak berdasarkan penghormatan terhadap hak-hak asasi dan kemuliaan manusia. Baik kebebasan dan kemerdekaannya, nama baik dan eksistensinya, kehormatannya dan hak- haknya, dan juga memelihara darahnya, hartanya serta kerabat keturunannya dalam kedudukan mereka sebagai individu/anggota masyarakat. Akhirnya, kita pun sadar dan harus selalu sadar, bahwa pembinaan dan pengembangan kepribadian muslim harus menjadi komitmen kita bersama. Keislaman yang kokoh hanya akan tegak dan kokoh ketika ditopang oleh mereka yang memiliki kepribadian utuh dan unggul. Soliditas karakter yang sudah menjiwai setiap muslim inilah yang akan mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus
  • 8. 8 meninggalkan prinsip dan menghilangkan identitasnya sebagai seorang muslim, dengan kepribadian muslim yang utuh ia raih dunia untuk kepentingan ibadahnya kepada Allah. Simaklah dengan seksama pernyataan Hawariyyûn: “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Hawariyyûn (para sahabat setia Nabi Isa pun) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (QS Âli ‘Imrân, 3: 52) Siapkah kita bersikap seperti hawariyyûn? Insyâallah. Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.