Artipenting dzikir dan doa

698 views
485 views

Published on

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
698
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Artipenting dzikir dan doa

  1. 1. Artipenting Dzikir dan DoaKita bersyukur kepada Allah SWT, karena pada setiap peristiwapenting atau dianggap penting, kita seringkali melakukan kegiatan dzikirdan doa. Tentu hal ini adalah perbuatan yang sangat terpuji, karena dzikirdan doa merupakan perintah Allah SWT dan karena itu dimasukkan kedalam kategori ibadah.Dzikir bermakna ingat, yaitu mengingat Allah dengan lisan dantindakan serta mengingat Allah dengan hati (rahasia). Sebagaimana firmanAllah:‫ر‬ِ ‫درو‬ُ‫ِرو‬‫ص‬ُّ ‫تا ال‬ِ ‫ذا‬َ‫تا‬‫ب‬ِ ‫ما‬ٌ ‫لمي‬ِ‫ع‬َ‫تا‬ ‫ها‬ُ‫ِرو‬ ‫ن‬َّ‫ه‬‫إ‬ِ ‫ها‬ِ ‫ب‬ِ ‫ررواا‬ُ‫ِرو‬ ‫ه‬َ‫تا‬ ‫ج‬ْ‫ه‬ ‫روا ا‬ِ ‫أ‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫م‬ْ‫ه‬ ‫ك‬ُ‫ِرو‬ ‫ل‬َ‫تا‬‫و‬ْ‫ه‬ ‫ق‬َ‫تا‬ ‫ررواا‬ُّ ‫س‬ِ ‫أ‬َ‫تا‬‫رو‬َ‫تا‬“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia MahaMengetahui apa yang bergejolak di dalam dada.” (QS al-Mulk, 67: 13)Adz-Dzikr al-Jahriy adalah dzikir yang diucapkan atau dinyatakandengan tindakan. Antara lain dzikir yang dilaksanakan setelah mengerjakanshalat, untuk memohon perlindungan Allah dari segala gangguan danserangan setan yang selalu mengajak ke jalan kesesatan sehingga melanggarperintah Allah dan shalat itu sendiri.Iblis pun (pernah) menjawab tantangan Allah:) ‫ما‬َ‫تا‬‫قمي‬ِ‫ت‬َ‫تا‬‫س‬‫س‬‫س‬ْ‫ه‬ ‫م‬ُ‫ِرو‬ ‫ل‬ْ‫ه‬‫كا ا‬َ‫تا‬ ‫ط‬َ‫تا‬ ‫را‬َ‫تا‬ ‫س‬‫س‬‫ص‬ِ ‫ما‬ْ‫ه‬ ‫س‬‫س‬‫ه‬ُ‫ِرو‬ ‫ل‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫ن‬َّ‫ه‬ ‫د‬َ‫تا‬‫س‬‫س‬‫ع‬ُ‫ِرو‬ ‫ق‬ْ‫ه‬‫أل‬َ‫تا‬ ‫ن يا‬ِ‫ت‬َ‫تا‬‫ي‬ْ‫ه‬‫و‬َ‫تا‬ ‫س‬‫س‬‫غ‬ْ‫ه‬ ‫أ‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫س ا‬‫س‬‫م‬َ‫تا‬ ‫ب‬ِ‫ف‬َ‫تا‬ ‫لا‬َ‫تا‬ ‫س ا‬‫س‬‫ق‬َ‫تا‬١٦‫م‬َّ‫ه‬‫ثس‬ُ‫ِرو‬ ‫ا‬( ‫ا‬‫م‬ْ‫ه‬ ‫ه‬ِ ‫ل‬ِ‫ئ‬ِ‫مئآ‬َ‫تا‬ ‫شسس‬َ‫تا‬ ‫ع نا‬َ‫تا‬ ‫رو‬َ‫تا‬ ‫ما‬ْ‫ه‬ ‫ه‬ِ ‫ن‬ِ‫م ا‬َ‫تا‬ ‫ي‬ْ‫ه‬‫أ‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫ ن‬ْ‫ه‬ ‫ع‬َ‫تا‬ ‫رو‬َ‫تا‬ ‫ما‬ْ‫ه‬ ‫ه‬ِ ‫ف‬ِ‫ل‬ْ‫ه‬‫خ‬َ‫تا‬ ‫ نا‬ْ‫ه‬ ‫م‬ِ ‫رو‬َ‫تا‬ ‫ما‬ْ‫ه‬ ‫ه‬ِ ‫دي‬ِ‫ي‬ْ‫ه‬‫أ‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫ ن‬ِ ‫مي‬ْ‫به‬َ‫تا‬ ‫م نا‬ِّ ‫هما‬ُ‫ِرو‬ ‫ن‬َّ‫ه‬‫مي‬َ‫تتا‬ِ‫ا ل‬) ‫ نا‬َ‫تا‬ ‫ري‬ِ ‫ك‬ِ ‫ش ا‬َ‫تا‬ ‫ما‬ْ‫ه‬ ‫ه‬ُ‫ِرو‬ ‫ر‬َ‫تا‬ ‫ث‬َ‫تا‬‫ك‬ْ‫ه‬ ‫أ‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫د‬ُ‫ِرو‬‫ج‬ِ ‫ت‬َ‫تا‬ ‫الا‬َ‫تا‬ ‫رو‬َ‫تا‬١٧ )“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benarakan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian sayaakan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan darikiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”(QS al-A’râf, 7: 16-17)Adz-Dzikr al-Jahriy dilakukan dengan lisan, dengan menyebut-nyebutbacaan (lafazh): Istighfâr, Tasbîh, Tahmîd, Tahlîl, Takbîr, dan lain-lain, ayat Al-Qur’an atau wirid, atau bisa juga dengan tindakan nyata.Adz-Dzikr as-Sirriy atau Adz-Dzikr Al-Khafiy -- dzikir yangtersembunyi -- karena ia dilakukan di dalam hati, tidak menggunakan lisan,1
  2. 2. melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di dalam qalbu.Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta AllahSWT saja yang dapat mengetahuinya. Dengan Adz-Dzikr as-Sirriy atau Adz-Dzikr Al-Khafiy kita berusaha menghadirkan Allah di dalam hati terusmenerus, 24 jam penuh, tanpa terbatas ruang dan waktu.Dalam Adz-Dzikr as-Sirriy atau Adz-Dzikr Al-Khafiy orang mengingatAllah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalamqalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat,seakan melihat Allah. Itulah ihsân, dimana dalam ibadahmu kamu merasamelihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah SWT. Inilahdzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah SWT tidak terjadidengan tubuh jasmaninya melainkan dengan qalbunya.Firman Allah dalam QS al-Ahzâb, 33: 41-42:‫را‬ً‫ا‬ ‫س‬‫س‬‫ثمي‬ِ‫ك‬َ‫تا‬ ‫راا‬ً‫ا‬ ‫ك‬ْ‫ه‬ ‫ذ‬ِ ‫للا‬َّ‫ه‬َ‫تا‬ ‫ررواا ا‬ُ‫ِرو‬ ‫ك‬ُ‫ِرو‬ ‫ذ‬ْ‫ه‬ ‫نواا ا‬ُ‫ِرو‬‫م‬َ‫تا‬ ‫ءا‬َ‫تا‬ ‫ نا‬َ‫تا‬ ‫ذي‬ِ‫ل‬َّ‫ه‬‫ا‬ ‫ه اا‬َ‫تا‬ ‫ي‬ُّ‫أ‬َ‫تا‬‫ ا‬‫ي‬َ‫تا‬)٤١(‫ه‬ُ‫ِرو‬‫حو‬ُ‫ِرو‬ ‫ب‬ِّ‫س‬‫س‬‫س‬َ‫تا‬ ‫رو‬َ‫تا‬ ‫ا‬‫ل‬ً‫ا‬ ‫صمي‬ِ ‫أ‬َ‫تا‬‫رو‬َ‫تا‬ ‫ةا‬ً‫ا‬‫ر‬َ‫تا‬ ‫ك‬ْ‫ه‬ ‫ب‬ُ‫ِرو‬)٤٢ )Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama)Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya(41)Dan bertasbihlah kepada-Nyadi waktu pagi dan petang(42).Sedangkan doa adalah ucapan permohonan dan pujian kepada AllahSWT dengan cara-cara tertentu, disertai kerendahan hati untuk mendapatkankemaslahatan dan kebaikan yang ada di sisi-Nya. Secara khusus, doabiasanya dilafazhkan dengan lisan, meskipun – sebenarnya -- bisa jugadinyatakan di dalam hati.Dan di dalam sebuah hadis riwayatImam Empat dari Numan bin Basyir,Rasulullah s.a.w. bersabda:‫ة‬ِ‫د‬َ‫تا‬‫ب ا‬َ‫تا‬‫ع‬ِ ‫ل‬ْ‫ه‬‫حا ا‬ُّ ‫م‬ُ‫ِرو‬ ‫ءا‬ُ‫ِرو‬ ‫ع ا‬َ‫تا‬ ‫د‬ُّ‫ال‬Sesungguhnya doa itu adalah otak(intisari) ibadah.2
  3. 3. Kutipan kalimat di atas diambildari sebuah hadits yang menerangkantentang salah satu makna dari doa.Dimana dikatakan bahwa Doa adalahotaknya ibadah. Mengapa bisademikian?Seperti yang kita ketahui, yangdisebut dengan doa adalah sebuahpermohonan yang mengarah padakebaikan. Baik itu permohonan untukdiri sendiri, keluarga, maupun untukorang lain. Jadi pada prinsipnya ketikakita berdoa itu berarti kitamenginginkan kebaikan untuk dapatterwujud.Sedangkan ibadah adalah segalaperbuatan baik yang kita lakukansesuai dengan tuntunan dan aturanagama yang kita anut. Baik itumenyangkut pada perbuatan baik3
  4. 4. terhadap Allah, perbuatan baikterhadap sesama manusia, maupunperbuatan baik pada lingkungan danmakhluk hidup di sekitar kita.Adapun kaitan antara doa denganibadah seperti yang diterangkan diatas, dimana dikatakan doa adalahotaknya ibadah, dapat kita kaji darimempelajari apa sebenarnya fungsidari otak kita?Otak adalah sebuah organ tubuhyang sangat penting, dimana salahsatunya otak berfungsi memberikanperintah kepada anggota tubuh yanglain untuk menangkap hal-hal yangdibutuhkan ataupun untukmelakukan sesuatu sebagai respondari perintah yang diberikan oleh otakkita.4
  5. 5. Jika ada gangguan pada otak kita,maka dapat menyebabkan kitamelakukan sesuatu di luar kesadaranataupun keinginan kita. Dengan katalain, kita tidak dapat mengontrol apayang akan dilakukan oleh organ tubuhkita yang lain.Hal ini jika kita kaitkan denganpengertian Doa adalah otaknyaibadah, maka jelas bahwa doa adalahpemberi arah dari setiap ibadah yangkita lakukan. Ketika kita berdoa untukmenjadi anak yang soleh misalnya,maka setiap ibadah yang kita lakukanakan mencerminkan atau menjadikankita untuk dapat bersikap santun,bertutur kata yang lembut ataupunmelakukan sesuatu yang berarti padakedua orang tua kita.5
  6. 6. Begitu juga ketika kita berdoa agarmenjadi orang yang berguna bagimasyarakat, maka kita akansenantiasa melakukan ibadah padaorang lain dengan cara tidakmerugikan orang lain, menolongorang yang membutuhkan bantuan,dan selalu bersikap baik dan sopanpada orang lain.Dan ketika kita jarang berdoaataupun lupa untuk berdoa dalamhidup kita, maka tentunya kita akanlebih banyak bersikap di luar konteksibadah. Seperti, kita akanmenghalalkan segala cara termasukdengan merugikan orang lain, demimencapai keinginan kita. Atau kitaberlaku semena-mena dan menindasorang lain. Bahkan kita bisa sajameninggalkan nilai-nilai kebaikkan6
  7. 7. yang telah diajarkan kepada kita baikitu melalui pendidikan keagamaan,maupun pendidikan sosial yangberupa norma-norma yang ada, hanyauntuk kesenangan yang semu.Mungkin saja banyaknyapelanggaran dan kejahatan yangterjadi saat ini, itu disebabkan karenakita lupa atau lalai dalam berdoa.Karena itu, yang kita lakukan menjadisesuatu yang tidak terkontrol bahkanbersifat merusak seperti halnya ketikaSeringkali kita ingat untuk berdoa ketika mendapatkan musibah.Padahal, dalam keadaan ‘tanpa’ musibah pun kita seharusnya tetap berdoa.Karena ‘kita’ selalu harus mengikatkan diri kita kepada Allah.Pada umumnya, manusia memahami bahwa setiap musibahmengandung suatu makna yang sangat dalam, bahwa apapun yang terjadi,hakikatnya berasal dari Allah SWT, dan karena itu seluruh kehidupan kitaharus ditata dan dibangun kembali sesuai dengan ketentuan-Nya. Musibahyang terjadi pasti akan berubah menjadi nikmat dan rahmat, bila melahirkankesadaran tauhid dan keimanan yang mendalam yang terefleksikan dalamperbuatan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupundengan sesama manusia.Sebaliknya, musibah akan berubah menjadi azab dan laknat, apabilatidak melahirkan kesadaran dan keimanan sedikitpun. Maksiat tetapdilakukan, demikian pula kezaliman dan perbuatan merusak lainnya tetapdilaksanakan.7
  8. 8. Karena itu, dzikir dan doa pada hakikatnya adalah untuk mendorongkita bertobat dan bertingkah laku sesuai dengan aturan Allah SWT sertameninggalkan perbuatan-perbuatan yang mengundang murka-Nya. Semogadengan berdzikir dan berdoa, hati akan bertambah tenang, pikiranbertambah jernih, dan tingkah laku bertambah baik.Harus diyakini bahwa orang yang bertakwa bukanlah orang yang tidakpernah melakukan kesalahan, akan tetapi orang yang kalau melakukankesalahan segera bertobat dan tidak mengulangi kembali perbuatan salahnyaitu. Hal ini sebagaimana dikemukakan pada QS Âli ‘Imrân, 3: 135.‫ل‬‫ل‬‫لل‬َّ‫ه‬ُ ‫َلَو‬ ‫للا ا‬‫ل‬َّ‫ه‬ ‫إ‬ِ‫ل‬ ‫للا‬‫ب‬َ ‫نبو‬ُ ‫َلَو‬‫ذ‬ُّ‫ل‬‫ل‬‫للا ال‬‫ر‬ُ ‫َلَو‬ ‫ف‬ِ‫ل‬‫غ‬ْ‫ِف‬ ‫ي‬َ ‫للا‬‫ن‬ْ‫ِف‬ ‫م‬َ ‫و‬َ ‫للا‬‫م‬ْ‫ِف‬ ‫ه‬ِ‫ل‬ ‫ب‬ِ‫ل‬‫نبو‬ُ ‫َلَو‬‫ذ‬ُ ‫َلَو‬‫ل‬ِ‫ل‬ ‫للا‬‫ا‬‫رو‬ُ ‫َلَو‬ ‫ف‬َ ‫غ‬ْ‫ِف‬ ‫ت‬َ ‫س‬ْ‫ِف‬ ‫فسا‬َ ‫للا‬‫لل‬َّ‫ه‬َ ‫للا ا‬‫ا‬‫رو‬ُ ‫َلَو‬ ‫ك‬َ ‫ذ‬َ ‫للا‬‫م‬ْ‫ِف‬ ‫ه‬ُ ‫َلَو‬ ‫س‬َ ‫ف‬ُ ‫َلَو‬‫ن‬ْ‫ِف‬‫أ‬َ ‫للا‬‫ا‬‫مبو‬ُ ‫َلَو‬ ‫ل‬َ ‫ظ‬َ ‫للا‬‫و‬ْ‫ِف‬ ‫أ‬َ ‫للا‬‫ة‬ً ‫أ‬ ‫ش‬َ ‫ح‬ِ‫ل‬ ‫فسا‬َ ‫للا‬‫ا‬‫لبو‬ُ ‫َلَو‬‫ع‬َ ‫ف‬َ ‫للا‬‫ا‬‫ذ‬َ ‫إ‬ِ‫ل‬ ‫للا‬‫ن‬َ ‫ذي‬ِ‫ل‬‫ل‬َّ‫ه‬‫ا‬‫و‬َ ‫للا‬‫ن‬َ ‫مبو‬ُ ‫َلَو‬ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ‫ِف‬ ‫ي‬َ ‫للا‬‫م‬ْ‫ِف‬ ‫ه‬ُ ‫َلَو‬ ‫و‬َ ‫للا‬‫ا‬‫لبو‬ُ ‫َلَو‬‫ع‬َ ‫ف‬َ ‫للا‬‫سا‬‫م‬َ ‫للا‬‫ ى‬‫ل‬َ ‫ع‬َ ‫للا‬‫ا‬‫رو‬ُّ ‫ص‬ِ‫ل‬ ‫ي‬ُ ‫َلَو‬ ‫للا‬‫م‬ْ‫ِف‬ ‫ل‬َ ‫و‬َ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji ataumenganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohonampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapatmengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidakmeneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”Wallâhu Alam bi ash-Shawâb.8

×