Majalah gerbang
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Majalah gerbang

on

  • 3,288 views

 

Statistics

Views

Total Views
3,288
Views on SlideShare
1,498
Embed Views
1,790

Actions

Likes
0
Downloads
3
Comments
0

3 Embeds 1,790

http://gerbang.borneo.ac.id 1787
https://www.google.com 2
http://webcache.googleusercontent.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Majalah gerbang Document Transcript

  • 1. lhamdulillah. Dengan memuja danmemuji-Nya, dengan segenap kekuatanpikir, imajinasi dan kesehatan lahirAbathin yang telah dikucurkan-Nya, akhirnyamajalah sastra GERBANG berhasilditerbitkan untuk pertama kalinya.Usaha pembuatan dan penerbitan majalahini dilakukan secara berdarah-darah. Tapi,demi membuat wadah dan ruang tegursapa kreativitas seluruh anak bangsa diIndonesia, khususnya di kawasanKalimantan (Timur) bagian utara, Gerbangdihadirkan.Terbitnya majalah ini disemangati olehimajinasi dan mimpi. Bahwa kitamembutuhkan wadah pemersatu,setidaknya dalam level imajinasi. Media inidiharapkan menjadi ruang bersama bagibertemunya beragam gagasan dariberbagai latar belakang etnis, bahasa,agama, bahkan aspek lain. Tentunya dalamkonteks sastra. Majalah ini juga hadir olehsebab kekuatan mimpi. Segenap timpengelola menyadari pentingnya mediasebagai kekuatan mengubah sejarah, bukanmengikutinya.Terakhir, inilah ruang bersama, tempat kitamenyemai bibit ide-ide luar biasa, yangmengubah hal-hal biasa menjadi luar biasa.Selamat berkreativitas dan berkarya. Tabik.Salam.Sapa Redaksisapa redaksiEdisi01/tahun I/2012 1
  • 2. Konsultan SastraKorrie Layun RampanSuminto A. SayutiJhoni AriadinataPemimpinUmumMuhammadThobroniPimpinanRedaksiSyamsulBachriPemimpinPerusahaanMuhammadAzniAnggotaTheodorus,AlvianSekretarisRedaksiYeyenPurwiyantiDewan RedaksiErna Wahyuni, S.S.,M.A (Redaktur Ahli)Dwi Cahyono Aji, M.A.Iva Ani Wijiati, S.PdSiti Sulistyani Pamuji, S.PdSiti Fatonah, S.PdRita Kumalasari, S.Pd.Anggota RedaksiTry RubiantoTunggal HardiantoJenny Eka MaryantyNovitasariSUSUNAN PENGELOLARedaksiAlamat : Jurusan PendidikanBahasa Sastra Indonesia dandaerah, Fakultas Keguruan danIlmu Pendidikan, UniversitasBorneo Tarakan, Jalan Amal LamaNo 1 Kota Tarakan;Website :http://majalahgerbang.blogspot.com ;Twiter: @majalahgerbang ;E-mail/Facebook:Gerbangmajalah@yahoo.co.id ;Contact Person Redaksi :082152930851 (YeyenPurwiyanti)Hotline Iklan : 085247848611(Muhammad Azni)Redaksi menerima kiriman tulisan dalam bentuk cerpen, puisi, esai sastra, resensi(buku sastra, film, drama, dan sebagainya), serta photo dan kartun. Tulisan, photodan kartun yang dimuat akan diberikan tanda bukti majalah terbit dan kenang-kenangan.Model Sampul :Yuni AstutiMahasiswa Pendidikan Sastra,Bahasa dan Daerah FakultasKeguruan dan PendidikanUniversitasBorneoTarakan.Dokumen PribadiMAJALAH SASTRA GERBANGDiterbitkan oleh Lembaga PenerbitanJurusan Pendidikan Bahasa, SastraIndonesia dan Daerah, FakultasKeguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Borneo TarakanGerbang2 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 3. Edisi01/tahun I/2012 3Daftar IsiSAPA REDAKSIREDAKSIDAFTAR ISICERPEN UTAMACERPEN 2GELAPKorrie Layun RampanMY IDOL ARROGANTNovitasariGuru UleSyamsul BahriCERPEN 1ESAIPUISI-PUISICERITA ANAKULASANMenanti Tumbuhnya KantongSastra di KaltimSunaryo BrotoPuisi-puisi AmienWangsitalaja:Mendirikan Malam 1Mendirikan Malam 2The Spirit of MeccaPengantin (1)Puisi-puisi Heri Sucipto (DenCipto):Pesona Ruhui RahayuTepian oh TepianKapal KayuPuisi Eka Haditia:Untuk Anak-anakkuPuisi Asri Rubianto:HITAM_PUTIHPuisi Ariani:Pangeran HatikuPuisi Rusli Badi:Kehidupan Anak JalananPuisi Yusriadi Hasan Basri:Dipasung SunyiPuisi Yeyen Purwiyanti:Cucuran KeringatHasna dan Bebek KecilSeksualitas dalam Lelaki dariSelatanGERBANG123412182228293031313132323436
  • 4. Cerpen UtamaTak ada yang menduga bahwasituasi dapat berganti dengan cepat danbersuasana aneh. Bunga-bunga kertasyang bergantungan dan bunga-bungahidup yang menghiasi ruangan tampakjadi layu seketika, seperti diserangwabah api yang menghanguskan segalabenda. Keserasian yang selama berhari-hari mengorak di seluruh rumah, dalamruangan, dan kamar-kamar—bahkansehingga ke sumur, beranda danhalaman rumah—tiba-tiba menjadingelangut dalam warna yang bermuramdurja. Kemuraman itu serasa menitisemua hati dan memukul perasaan. Padaorang tua Erna pukulan itu terasademikian keras!“Pelajaran paling pahit yangkita alami,” suara ayah Erna. “Ibu terlalumenuruti kemauan sendiri. Akhirnya kitajuga yang memetik hasilnya. Rasa maludan….”“Bapak jangan menyalahkanIbu. Mengapa Bapak tidak mampumencegah anak itu lari? Bapak memangtak bertanggung jawab!”“Tanggung jawab? Ibu yangharus bertanggung jawab. Karena Ibuyang memaksa kehendak sendiri. Sudahkukatakan, jangan memaksa kehendaksendiri seperti mengukur baju orang dibadan kita. Nah, Ibu sendiri yang merasaakibatnya.”“Bapak juga menerima akibatnya.Karena Bapak tidak bijaksana!”“Tidak bijaksana? Kan sudah kubilang,kita rundingkan dengan Erna. Kalaumemang ia menolak Suparno, ya, kitajangan memaksa. Bukankah yangmenjalani hidup berumah tangga ituErna sendiri?”“Tapi ia perlu diatur, agar iamendapatkan kebahagiaan. Tidakmenjadi gembel!”“Diatur? Kayak kita ini hidup di zamanSiti Nurbaya saja. Orang yang kreatifuasana yang begitu meriah dan penuhtawa itu tiba-tiba berubah menjadiSkeadaan yang menggelisahkan. Suara-suara lembut yang penuh bunga kesenangantiba-tiba berubah dalam nada-nada kerasdan penuh ancaman. Di antaranya adalahsuara tangis yang mula-mula lirih, tiba-tibaada yang melengking dan membentuksemacam paduan suara yang menggemakanrasa duka.GELAPKorrie Layun RampanGerbang4 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 5. tidak akan suka diatur dengan carabegitu. Ibu sudah cukup mengaturmakan-minumnya semenjak bayi, tapisetelah ia dewasa, ia berhakmenentukan masa depannya sendiri.”“Bapa memang begitu. Sekarang punmembela anak yang mencorengkanarang di kening. Lalu maumubagaimana?”“Semuanya sudah terlanjur begini. Takaada cara kita untuk mengubah keadaan,selain dari hanya mengikuti arus.Kenyataan pahit macam apa pun kitaharus terima. Yang pertama kita harusminta maaf kepada keluarga calon suamiErna, juga kepada Suparno sendiri. Kitajuga harus minta maaf kepada seluruhundangan. Langkah selanjutnya akan kitaatur kemudian.”“Tapi Erna sendiri bagaimana? Di manaia sekarang? Dan Suparno? Adakah diamampu memaafkan Erna, memaafkankita?”“Kan ini semuanya Ibu yang mengatur.Mengapa Ibu jadi merasa khawatir?”“Aku merasa sangat malu!”“Karena itu Ibu aturlah dengan caraterbaik agar beban malu itu dapattertutupi.”“Aku justru mengkhawatirkan Erna.”“Dia sudah dewasa.”“Tapi Erna satu-satunya anak kita. Akusudah memberikan yang terbaik untukdia. Aneh rasanya, air susu yangkuberikan justru dibalas dengan airtuba.”“Air tuba?”“Apalagi kalau bukan air tuba? Yangbaik dibalas yang jahat. Yang kuberikanmenjanjikan kenyamanan dankebahagiaan hidup, justru dibalasdengan kesusahan dan dukacita.”“Itulah salahnya Ibu memandang.Segala yang baik dan segala yangberkenan di hati Ibu, Ibu berikan dansuapi pada Erna. Semasa ia kanak-kanakia dapat menerima perlakuan seperti itu,tapi setelah ia dewasa, setelah iasarjana. Ia punya arah tuju. Ia punyakeinginan dan kemauaan yang harus ialaksanakan sendiri. Yang baik menurutIbu, mungkin yang terburuk bagi dia.Kalau ia merasa tidak mungkin mencintaiSuparno karena ia mencintai Rinto?”“Anak berandal tengik itu? Apa yangakan diberikannya kepada Erna?Mampukah ia membahagiakan Erna?”“Mereka punya jalan sendiri-sendiri.Menurut kaca mata Ibu, Rinto buruk.Anak berandal. Anak nakal. Tapi dia jugasarjana. Dia bisa menalar sendiri . Diamampu mendukung kehidupankeluarganya. Mungkin saja mereka akanberbahagia, walaupun mereka sekarangtak punya apa-apa.”“Suparno telah mempunyai apa yangmungkin membuat Erna berbahagia.Anehnya Bapak selalu membela Ernadan Rinto,”“Aku membela yang baik. Sikap otoriteryang telah Ibu pegang selama ini justrumembuat semuanya berantakan.Bukankah itu berarti Ibu telah gagal?”“Aku tak pernah gagal. Aku yakin akubisa mengendalikan Erna. Yangkuinginkan adalah sikap Bapak sebagaikepala keluarga. Bagaimana cara terbaikyang harus kita lakukan agar kita bisaterlepas dari lingkaran rasa malu yangmencoreng wajah kita. Bagaimana kitamembasuh….”Ayah Erna tak memjawab. Tiba-tiba iamerasa disergap rasa welas pada istrinyayang bersikap otoriter. Ia juga merasakerinduan yang begitu datang tiba-tibapada Erna. Anak satu-satunya, putri lagi.Selama ini ia lupa melihat Erna. Ia lupakalau putri tunggalnya itu telah dewasa.Telah lulus sarjana. Telah mampumenentukan jalan sendiri. Ia merasaanaknya masih bayi. Masih kanak-kanakyang ceria, ayu dan kemayu. Kanak-Cerpen UtamaEdisi01/tahun I/2012 5
  • 6. kanak yang penuh tawa dan canda, yangbanyak merebut perhatiannya semasaErna masih kecil dan manja. Tetapiserentak kegiatan bisnisnya meningkatdan Erna meningkat remaja, sampai lulusperguruan tinggi, waktu untuk putritunggalnya itu makin sedikit. Semuanyaia serahkan kepada istrinya. Dan sangistrilah yang mengatur semuanya,sampai-sampai pada perkawinan. Dankini ia dihadapi oleh kenyataan yanglebih pahit dari empedu. Ternyata di haripernikahan itu, Erna minggat. Entah kemana ia pergi, hanya besar dugaannyaErna minggat bersama pacarnya, Rinto,pemuda yang tak disukai istrinya.Beberapa kali ia dapat berbincang-bincang dengan Rinto, dan ia merasamenyukai pemuda itu. Sikap Rinto yangterbuka, tutur katanya yang sopan,pikirannya yang maju, dankecerdasannya yang membuat ia meraihgelar sarjana, walaupun keadaanekonomi keluarganya terbilang sangatmundur. Ia sendiri tidak memilih siapayang akan menjadi pendampinganaknya, yang ia kehendaki adalahkebahagiaan sang anak. Masih teringatakan percakapannya yang terakhirdengan Rinto.“Jadi setelah lulus sarjana, Rinto akanmengabdi di desa?” ia bertanya karenaRinto mengatakan ia akan bertugas dipedalaman.“Rencanan Rinto memang demikian,Oom. Tapi tak tahu bagaimanaresliasasinya. Rinto ingin membukasekolah di pedalaman. Mungkin dipedalama Irian atau pedalamanKalimantan.”“Baik sekali,” ia memuji. “Sekolah apa,misalnya?”“Sekolah pertanian. Yaitu pertanianyang cocok dengan kondisi tanahsetempat. Rinto pikir, sering kalipenerapan pertanian di beberapakawasan Tanah Air kita salah, terutamapada bentuk pengelolaan tanah.”“Mungkin ada benarnya,” ia tiba-tibaseperti setuju.“Maaf, Pak. Bukan hanya mungkinBapak,” Rinto meyakinkan. “Tanah mudaseperti di Irian dan Kalimantan tidakakan cocok digarap seperti kitamenggarap tanah di Jawa.. Apalagi diKalimatan dan Irian sedikit gunung api,sehingga kondisi tanahnya jadi lain,termasuk kesuburan. Pori-pori tanahyang besar dan lebar. Itu sebabnya sulitdibuat pengairan di dataran yang agaktinggi di Irian dan Kalimatan. Kecuali didataran rendahnya. Tapi dataran rendahdi dua pulau itu selalu berada disepanjang sungai. Sedangkan sungai-sungai itu selalu banjir di sepanjangtahun.”“Lalu cara mengatasinya?”“Sawah hanya bisa dibuka di bagianlembah yang tidak dilewati sungai besar.Atau dibuka tanah di daerah pasangsurut. Bisa juga dibuat sawah di bagianpenghuluan sungai, yaitu di bagian-bagian udik sekali, di kawasan tanahyang agak datar dengan tetapmenetapkan kawasan konservasi.Sedangkan tanah-tanah dataran tinggisangat baik dijadikan areal perkebunan.Kebun vanili, kebun cokelat, kebun buah-buahan, kebun cengkeh, kalapa sawit,dan sebagainya. Kalau tanah yang luasitu dapat dibuka, kita tidak akantergantung pada minyak saja, Bapak.”“Kamu betul, Rinto,” ia merasa hatinyabersorak.“Tapi itu baru hanya cita-cita saya,Bapak. Kenyataannya masih jauh kedepan. Hanya Rinto merasa yakinterhadap semua apa yang baik. Sepertitelah terbayang hamparan kebun dengandaun yang menghijau. Seperti terbayangsawah yang terhampar luas di kawasanlembah dalam. Berhektar-hektar padiCerpen UtamaGerbang6 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 7. menguning, berkilometer kebun buahdan pohon berharga yang menghasilkandevisa. Itu semua menuntut cinta akankerja, Bapak,” Rinto menatap ayah Erna.“Ya, ya, memang benar.”Bayang-bayang Rinto tiba-tibamenyeruak dalam bayangan Suparno.Sulit bagi ayah Erna untukmembayangkan Suparno. Apakahmelihat dari kepribadiannya atau melihatkekayaannya. Kalau menilik kecerdasandan kepribadian Suparno, anak muda itujauh di bawah Rinto. Akan tetapi kalauukurannya pada harta kekayaannya, iaadalah pemuda yang pantasdiperhitungankan. Namun harta itu punperlu dipertanyakan, apakah hasiltetesan keringatnya sendiri ataulimpahan dari orang tuanya Karenamemang orang tua Suparno tergolongorang yang sangat berada. Tampaknyaibu Erna lebih terpikat oleh harta bendaketimbang kemampuan membentukmasa depan yang hanya terbayangdalam rancangan. Rinto memang barumerancang, belum menjalaninya, karenakesempatan tampaknya baru akandatang setelah ia lulus sebagai sarjana.Masih dalam senggukannya ibu Ernamerasakan bahwa dirinya menjadi ibuyang malang. Anak yang dikasihi dandipelihara dengan segala daya dankekuatan tiba-tiba terbang bagai burungyang baru lepas dari angkar emas. TerasaErna begitu tega meninggalkan rencanayang telah dibuat, tanpa memberipenolakan secara keras. Walaupunmemang saat lamaran itu disampaikan,ia pernah berbicara dengan Erna. Gadisitu memang menunjukkan sikap yangmenolak, walaupun tidak dengan nadaberontak yang tajam. Itu yang membuatibu Erna merasa yakin bahwa Ernamenerima Suparno.“Erna telah memilih Rinto, Ibu. Karenaitu rasanya tak mungkin Erna menerimaSuparno.”“Kau rasa tak mungkin, itu berartimungkin Erna. Masa Depanmu akanlebih terjamin jika engkau bersamaSuparno, Nak. Ibu merasa plong jikamelepaskanmu bersama Suparno.”“Plong pada Ibu, tapi tidak pada Erna,Bu.”“Bersama Rinto hidupmu akan menjadimusibah, Erna. Suparno telah memilikiapa-apa yang engkau butuhkan.Sedangkan Rinto? Apa yang Ernaharapkan dari hanya gelar sarjana?”“Cinta dan kerja keras, Bu.”“Cinta? Jika Erna memahami arti hidupyang sesungguhnya, Erna akanmemahami makna cinta. Kalau misalnyakau sedang kelaparan, apakah mungkinengkau makan cinta? Dan kerja keras?Kau boleh berleha-leha dengan Suparno.Tanpa kerja keras, Erna sudahmakmur….”“Tapi Erna ingin bekerja keras,menciptakan masa depan sendiri, Bu.Jika Erna hanya menerima hasil keringatorang lain, itu rasanya tidak nikmat.Terasa sangat tidak berharga. Dan untukmencapai itu Erna bertekadmelakukannya bersama Rinto.”“Aneh, Erna. Ada pemuda yangmencintai engkau dan bersediamembahagiakan engkau, tetapi kau tidakCerpen UtamaEdisi01/tahun I/2012 7
  • 8. menerimanya. Sesungguhnya, kalauengkau belajar mencintai Suparno,engkau akan dapat memetik hasilnya.Bahwa hidupmu akan terjamin. Kau akanberbahagia.”“Apakah bahagia itu terletak padabanyaknya harta benda?”“Kalau kau tak berharta dan menjadikere, adakah bahagia itu akanmenjenguk hidupmu? Erna terlalu mudauntuk dapat memikirkan masalah hidupyang ruwet. Oleh karena itu, denganmenerima cinta Suparno, Erna akandibimbing untuk mereguk bahagia yangsegera tiba.”“Itu kalau Erna Ibu. Tetapi Ernasendiri?”“Erna kan belum menjalaninya.”“Menjalani pernikahan? Perkawinan,begitu? Amit-amit!”“Apa lagi? Jika Erna sudahmenjalaninya, Erna akan dapat belajarbagaimana yang disebut hidup berumahtangga itu. Bahwa cinta saja tidak cukup.Ia harus dilengkapi dengan uang, hartabenda, rumah, kendaraan, salingmemahami, dan turunan. Erna akanmerasakan bahwa cinta hanya elemenkecil dari sebuah bangunanperkawinan.”“Maksud Ibu sangat baik, dan Ernasangat berterima kasih. Tapi Erna tidakmampu menjadikan diri Erna adalah Ibu.Oleh karena itu, sebaiknya Ibumenyampaikan baik-baik pada MasSuparno bahwa Erna belum mampuberumah tangga, dan sebaiknya iamenyampaikan lamaran kepada gadislain. Bukan Erna….”“Tapi Ibu sudah menerimanya. Lalu Ibuharus berbuat apa. Ibu akan bertindakbagaimana?”“Ibu menerima lamaran MasSuparno?”“Karena Ibu yakin Erna akanmenerimanya.”Ibu Erna kembali terguguk karenasenggukan tangis yang menyendat. Takpernah ia merasa kehilangan yang begitubesar seperti kehilangan anak satu-satunya ini. Ada rasa sesal yang demikianmendera saat ia mengenang kembalisuka dan deritanya melahirkan danmembesarkan Erna. Dari bayi merahhingga menjadi gadis yang cantik jelita.Ia merasa dirinya menitis ke dalam tubuhdan jiwa Erna, tetapi mengapa tiba-tibatitisan darah itu menyeleweng darikehendaknya? Apakah ia telah keliru dangagal sebagai ibu?Ayah dan Ibu Erna sama-sama panik.Keluarga yang ikut serta dalam pestaitu pun merasa serba salah. Wajahmereka serasa dibakar dengan api,serasa disulut dengan aliran listrik yangbervoltage ribuan watt. Semua merekayang sedang mengharapkan sukacitayang besar dalam pesta yang sangatmewah, tetapi justru berbuahkan ratapdan tangisan yang mengiris hati. Terikyang memancar dari langit serasamenggayut mendung setinggi gunung.Udara yang segar terasa begitu sumpekdan berbau busuk. Semuanya terasaburuk dan muram yang menyembuldalam warna-warna hitam kelam.Walapun sudah seminggu Ernamenghilang, tetapi warna muram masihsaja menggayut di dalam rumahkeluarganya. Sedangkan saat itu Ernasudah berada di atas kapal motor wisatadi Danau Toba. Bersama Rinto, suaminya,mereka berdua sedang mengakhirikunjungan ke danau itu, dan selanjutnyaakan memasuki dunia cita-cita dipedalaman.Pada saat hari pernikahan Erna, iadapat meloloskan diri dan kemudianbersama Rinto berangkat ke Jakarta.Rinto sendiri merasa terpukul karenalamarannya yang telah ditolak secaramentah-mentah oleh Ibu Erna. OlehCerpen UtamaGerbang8 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 9. bantuan kawan-kawan Rinto di Jakarta,akhirnya mereka berdua dapatdinikahkan di depan penghulu.Selanjutnya mereka berduamenghilangkan jejak ke Danau Toba.Udara sangat cerah. Mereka berduapergi menyewa speedboat dan kemudianmengarungi danau. Indahnya alamdanau itu seperti menyerahkankeindahan dunia untuk direguk sampaike dasar. Di dalam perjalanan itu merekaberdua terus merancangkan idekehidupan masa depan. Apa yang harusdilakukan di pedalaman nanti. Dan disaat itu pula di rumah Erna terjadiperdebatan yang mendekatipertengkaran karena kepergian Erna.Keluarga pihak ayah dan keluarga pihakibu Erna saling menyalahkan, sehinggaterjadi perdebatan keluarga. Dan di saatitu pula di atas speedboat itu terdengarsuara Rinto.“Kita memang telah menyakitkankeluarga, tapi tidak ada jalan lain. Ibumumenolak aku, sedangkan Erna sendirimenolak Suparno. Dan di atas semuanyaitu kita tak mampu hidup sendiri-sendiri,karena kita memang ditakdirkan untukbersatu.”“Memang demikian, Mas Rinto. Akibatdari pelarian kita memang besar. Tapiakan lebih besar akibatnya jika Ernaharus menikah dengan lelaki yang takErna cintai. Mas Rinto akan menderita,dan Erna akan menderita lebihberlipat ganda.”“Aku pikir di suatu ketika merekaakan memaafkan kita. Mereka akamemahami bahwa cinta dapatmembuat orang menjadi nekat.Bahwa kita tidak main-main.”“Memang tampaknya merekamenganggap kita hanya main-mainkarena kita dianggap sebagaikanak-kanak tanggung yang takmampu berpikir sendiri. Sementarakenyataannya kita telah lewat dua satu,dan kita telah sama-sama sarjana.”“Bukan soal sarjananya. Soalnya kitatelah dibebaskan dari pengampuan, dankita telah mampu menentukan jalanhidup sendiri. Yang menanggung danmenerima susah senang hidup kitaadalah kita berdua, kan?”“Memang kita, Mas Rinto.”“Karena itu maka rencana kita untukmembuka kawasan pedalaman itu harussecara cepat direalisasikan. Kita satukantabungan kita berdua, kita beli alat-alatpertanian yang sederhana, dan kitamulai bersama-sama dengan pendudukyang sudah ada.”“Ya, kita mulai setelah kita berada disana….”“Kita mulai dari yang sedikit.”“Untuk mencapai yang banyak.”“Tapi anak kita tak usah banyak.”“Berapa?”“Dua.”“Dua? Lelaki dan perempuan?”“Lelaki atau perempuan sama saja.Asal sehat rohani dan jasmani. Erna danMas Rinto sama saja. Kita sama-sama….”“Mencitai?”“Saling melengkapi.”“Saling isi-mengisi.”“Ya, isi-mengisi….”Matahari sudah turun dalamkecondongan hampir senja. Saatspeedboat itu memutar ke jalan pulang,Cerpen UtamaEdisi01/tahun I/2012 9
  • 10. udara yang cerah telah tampakbermendung dalam gayutan yangmenyimpan hujan. Angin yang tadisangat santai tiba-tiba berubah menjaditiupan yang menggetarkan pepohonandan menimbulkan gelombang besar.Tampaknya awan memang menyimpantopan, dan angin akan membawa awanberhujan ke atas danau. Sedangkantepian pelabuhan masih beberapakilometer lagi. Pengemudi speedboatmenjadi gugup saat gelombang sepertibukit mendaki pada dinding cakrawala.Hujan yang mengandung topan sepertikecepatan kilat ikut pula membuatsuasan menjadi menakutkan. Butiranhujan yang besar saat jatuh di atas dirimembuat rasa sakit seperti ditusukjutaan jarum suntik yang majal. Dan disaat topan limbubu mengandung hujanberguntur memusar di atas danau danmengolengkan speedboat, hati ketigapenumpang kendaraan itu seperti disilet.Jantung serasa putus dan hati sepertimenciut dalam nyali yang seperti lukaberdarah. Di bawah kelebatan hujan dankekelaman yang memusar, gelombangyang ditimbulkan oleh limbubumengungkit speedboat seperti membalikikan teri dalam wajan penggorengan.Dalam kejap yang singkat, speedboat itutak mampu dikendalikan dan tergulungombak yang menggunung.Mesin speedboat mati dan kendaraanitu karam. Rinto menyambar dua bilahanpapan dan menggaet istrinya, karenamotoris lupa membawa pelampung.“Kita harus selamat,” ia berkata dengangugup karena ingat Erna tak bisaberenang. “Ingat anak kita yang akanlahir….”“Anak dua?”“Anak dua dan lahan pertanian kita dipedalaman.”“Kita hidup berbahagia di sana.”“Ya, kita hidup berbahagia.”“Mas cinta Erna?”“Erna cinta Rinto?”“Erna melahirkan dua anak.”“Anak Erna dan Rinto….”Angin deras dan hujan tak henti sepertipancuran raksasa yang diguyur darilangit. Dua hari kemudiannya suasanamenjadi gempar di rumah orang tuaErna. Berita yang ditulis koran pagitentang kecelakaan pasangan pengantinbaru di danau itu membuat semuanyaserba hitam bagi ibu dan ayah Erna. IbuErna tiba-tiba seperti pohon tua terkenatimpukan angin puyuh. Sesekali limbungdan akhirnya roboh dalam pingsan.Keluarga yang lain saling terisak,beberapa di antara mereka ada yangmenangis keras-keras. Dalam kelamuranmata karena air yang memancar, ayahErna masih sempat mengulang bacaberita yang ditulis koran itu. “Telahditemukan dua jasad pengantin baruyang berwisata di Danau Toba. Dari KTPdiketahui nama mereka: ErnaSukowiyono dan Rinto Harjanto.Speedboat yang dipakai ditemukan ditepi danau berikut jasad pengemudinya.Saat berita ini diturunkan, keluargakedua korban baru dihubungi olehkeamanan setempat….”Ayah Erna merasa matanya makinlamur. Pandangannya terasa sangatgelap!Samarinda, 21 Maret 2012Cerpen UtamaTentang Penulis :Korrie Layun Rampan. Adalahsastrawan senior. Telah malangmelintang di blantika sastraIndonesia. Karya-karyanya tersebardi Koran, majalah dan buku. Kinimenjadi penggerak sastra di wilayahKalimantan Timur.Gerbang10 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 11. Edisi01/tahun I/2012 11
  • 12. Sebulan yang lalu...“Alan! Alan!” teriakku pada malamitu.Malam itu adalah kedatangan AlanChistian datang ke kotaku. Dan akuikut dalam robongan penggemar Alanuntuk menjemputnya di bandara.Malam itu sangat terasa panas,meskipun di bandara memiliki banyakpendingin udara tetap saja udara didalam sana sangat panas karenabegitu banyak manusia terutama yangmenunggu kedatangan Alan.Ketika Alan keluar bandara begitubanyak para penggemar berusahamendekatinya. Aku tahu aku tidakmungkin bisa mendekatinya meskipundalam jarak satu meter. Dan akumendapat ide untuk mengetahuitempat dia akan beristirahat.Aku adalah penggemar berat Alan“Aku berjanji, ketika kau bangun akuberjanji akan bersamamu. Selamanya”suara seorang pria yang agak asing ditelingaku itu masih tergiang-ngiang dikepalaku. Masih ingat aku setiap detailkata yang keluar dari mulutnya.Aku menatap wajah kedua orangtuaku satu persatu dan itu bukan suaradari mereka. Aku mencoba untukmencermati suara kakak perempuankudan itu juga bukan suaranya. Akusangat yakin kalau itu adalah suaraseorang pria bukan suara yang biasaaku kenal dalam sehari – hari.Ini hari ke tiga setelah aku bangundari keadaan komaku. Sebuahkecelakaan yang membuatku sepertiorang mati, tertidur selama satu bulan.Aku ingat sedikit demi sedikit detik-detik kecelakaan itu dan aku berhasilmenyusun kembali serpihan-serpihaningatan yang sudah susah payah akususun itu***my idol arrogantNovitasariCerpen 1Gerbang12 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 13. Chistian. Dia adalah pria yang sangattampan, pandai dan sangat ramah –tamah. Sudah setahun ini aku terusmengikuti perkembangan Alan dan iniakhirnya, bisa melihat wajahnya secaralangsung apa lagi bisa memegangwajahnya.Dengan sepeda motor yang akukendarai sendiri menuju bandara, akujuga mulai mengikuti mobil yangmembawa Alan dan ternyata bukanhanya aku saja yang memiliki ide untukmencaritahu tempat peristirahatan Alantapi juga beberapa anak – anak remajamengikuti mobil Alan. Dan saat itu jugakejadian naas itu terjadi...Aku memacu kendaraanku dengankecepatan 70km/jam dan itu masihbelum bisa mengalahkan kecepatanmobil yang membawa Alan itu. Akuberusaha mendekati mobil itu tapi tidakbisa. Akhirnya aku memberanikan dirikuuntuk melebihi kecepatan kendaraankudari yang sebelumnya. Terfokus padamobil yang membawa Alan, aku bahkantidak menyadari kalau lampu lalu lintasyang ada di depanku saat itu sudahberubah menjadi merah dan yangkuingat saat itu hanya lampu terang yangsangat cepat menuju kearahku.***Aku melihat kesekelilingku, akumelihat kedua orangtuaku hanya berdiridi belakang orang-orang yang tak akukenal sambil terus mengarahkankameranya padaku, begitu juga dengankakak perempuanku – Raisa yang daritadi hanya tersenyum tipis padaku.“Apa komentar anda nona Raika?”seorang perempuan yang kira – kiraseumuran dengan Raisa mencobamengajakku bicara.“A... Hmm...” hanya gumaman yangkeluar dari mulutku. Aku bingung harusmenjawab apa karena aku benar-benartidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.“Biarkan dia istirahat dulu.Wawancaraitu bisa kapan sajakan?” suara ituterdengar kembali. Suara yang samadengan suara yang aku dengar waktu itu.Aku berusaha memicingkan mata,memfokuskankan pengelihatanku padapintu dan masuklah seorang pria denganstelan jas. Ia berjalan mendekatikuperlahan tapi pasti dan aku bisa katakandengan penuh keyakinan kalau ituadalah Alan Chistian.Aku bahkan perlu memperhatikannyadengan seksama agar aku tidak kelirukalau itu benar-benar Alan Chistian. Iaberbicara pada kru yang ada di kamar itulalu kru-kru itu pergi, mungkin karenaaku terlalu fokus padanya sehingga akutidak mendengar apa yang ia katakan.Sadar-sadar tangannya sudah menjulurpadaku.“Ayo kita pergi dari sini. Aku inginmengajakmu ke suatu tempat yangindah” lalu ia tersenyum padaku.Tanpa sadar aku meraih tangannyadan ikut bersamanya. Ia membuka pintumobil lalu ia memasangkan sabukpengaman padaku. Masih belum adakata-kata yang keluar dari mulutku. Iamemacu mobilnya pergi meninggalkanrumah sakit. Sepanjang jalan ia hanyadiam begitu juga denganku dansampailah kami di sebuah danau. Lalu iaturun dari mobil, aku hanya melihat kearahnya dan berinisiatif untuk turunjuga.Aku berdiri di sebelahnya, melihatnyadari samping ia kelihatan sangat tampanbahkan lebih tampan daripada ketika akumelihatnya di televisi. Lalu tiba-tiba iamelihat ke arahku dan aku sangat kagetdengannya.“Jangan anggap semua ini sungguhan.Cerpen 1Edisi01/tahun I/2012 13
  • 14. Ini hanya permainan untuk menaikkanrating filmku. Ingat! Ini hanyapermainan. Jangan pernah kaumenganggap kalau akubenaran sukadenganmu!” Alan tiba-tiba membentakku.Senyuman yang sedaritadi terus menghiasiwajahku langsung lenyapbegitu saja. Aku sangatterkejut dengan sikapnyayang sangat berbeda 180ºdari yang aku lihat ditelevisi. Tanpa sadar yangmuncul dari wajahkuadalah wajah kekesalan.“Kau dengar akutidak?” ia tersenyum “Akutahu kau adalahpenggemar beratku. Ketika pertama kalikita ketemu langsung aku bisa membacawajahmu kalau kau suka denganku.Iyakan?!” ia kembali tersenyum. “Tapijangan harap kalau aku akan jatuh cintadengan cewek biasa sepertimu.”Seketika itu juga aku langsungmenamparnya. Enak saja ia berkataseperti itu, kalau aku tahu diamempunyai sikap seperti itu lebih baikaku tidak perlu mengidolakannya. Tanpamengatakan apapun aku pergimeninggalkannya.Ia memegangi pipi kanannya yangmemerah akibat tamparanku karenakesal ia menarik tanganku dengan keraslalu spontan aku injak kaki kirinya dan itucukup berhasil membuatnya melepaskangenggamannya padaku. Lalu ia kembalimengejarku dan langsung berusahamenciumku tentu saja dengan susahpayah aku melawannya.“Bukankah ini yang kau inginkan!Dicium oleh idola terkenal sepertiku!”Aku pun akhirnya menggigit bibirnyasangking kesalnya. Aku benar-benartidak pernah bertemudengan orang sebrengsekdia. Ia mengatasnamakanseorang idola tapi sikapnyaini tidak lebih dari seorangmaniak mesum.Aku meninggalkannya,di belakang akumendengarnya berteriakkepadaku dan aku tetaptidak menghiraukannya.“Lihat saja nanti, akutidak akan pernah maumenemuimu lagi. Janganharap seumur hidupmubisa bertemu denganku!!!”itu kata terakhir yang akudengar darinya.***“Kapan aku bisa keluar dari rumahsakit?” aku menanyakan hal itu berulangkali kepada Raisa. Aku sudah merasasangat bosan dengan keadaan di rumahsakit.“Nanti” itu jawaban singkat dariRaisan sambil terus membacamajalahnya yang baru saja ia beli.Aku menghela nafas “Apa kau tidakbisa tidak usaha membaca majalah itu didepanku?”“Kenapa?”“Kenapa? Tentu saja karena coverdepan majalahmu muka si brengsek itu!”Ia melihat cover majalah itu dan wajahAlan terpampang di halaman depanmajalah itu “Oh... bukannya kau sangatsuka padanya. Sekarang nikmatikeberuntunganmu saat ini.”“Keberuntungan?! Ini bukankeberuntungan tapi kesialan?!”Cerpen 1Gerbang14 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 15. “Memangnya kenapa kau? Baru dibawa pergi satu kali saja sudah merasakalau Alan sudah jadi milikmu.” Ia masihbelum beranjak dari bacaannya.“Itu karena? Karena? Arg! Lupakansaja!”Tiba-tiba pintu kamar terbuka danbegitu banyak wartawan masuk kedalam dan di depan wartawan-wartawanitu ada si Brengsek Sialan itu – Alan.Melihat hal itu Raisa langsung bangkitdari tempat duduknya.“Ini dia gadis yang beruntung yangakan kencan denganku dalam seharipenuh ini”Aku hanya bisa ternganga kesal...***Alan berusaha menemukan sebuahbaju yang cocok denganku di sebuahbutik yang cukup terkenal di kotaku danaku hanya bisa diam menatapnya.“Aku sudah menemukannya!” iatampak kegirangan. “Cobalah ini, pastiakan sangat cantik ketika kaumemakainya.”Aku berjalan perlahan menujunya danmemegang baju ini lalu ia menariktanganku “Berusahalah untuk tersenyumselama seharian penuh ini.” Berikutdengan nada menjengkelkannya itu.Aku meliriknya lalu pergi ke ruangganti sambil membawa baju itu. di dalamruang ganti aku hanya bisa mencibirnya.Aku harus tenang, itu yang ada di dalampikiranku saat ini. Setelah selesai akumemakai baju itu aku keluar. Aku sangatterkejut karena baju itu sangat pasdenganku. Alan tahu memprediksikanukuran bajuku???“Sangat cantik! Aku sangat suka” ituyang keluar dari mulutnya bukan ejekanatau hinaan yang keluar. Ia tersenyumpadaku dan seketika itu dalam hitunganbeberapa detik aku sempat terpesonadengan senyumannya itu.Aku menggeleng-gelengkan kepalakudan aku hadir ke dalam dunia nyata lagi.Dia bukan seorang pangeran tapi diseorang penjagal. Lalu kami pergi kedanau tempat kami dulu berkelahi. Kamiberdua duduk di pinggir danau untukpengambilan gambar. Pura-pura ngobroldengan asyik saling mengakrabkan diri.Aku dan Alan saling mengucapkanterima kasih pada para kru. Setelah parakru pergi tinggallah kami berdua.“Bersabarlah sedikit, tinggal bagianmakan malam lagi setelah itu kita tidakakan bertemu lagi” kali ini cara bicaranyatidak begitu menjengkelkan seperti yangkemarin-kemarin.Ia melihat ke arahku dan akumengacuhkannya, aku hanya melihat kearah danau. Dan sepertinya ia menunggujawabanku karena tidak ada jawaban iapergi. Tidak jauh ia pergi tiba-tiba akuingin mengerjainya.Cerpen 1“Tolong!” aku menceburkan dirikuke danau dan pura-pura tidak bisaberenang.Aku melihatnya hanya berdiam diridi atas sekilas aku melihat wajah panikdarinya. Ia melihat kesekelilingnyatidak ada orang dan akhirnya iamenceburkan dirinya. Dan bukannyadatang menyelamatkanku ia malahmeminta tolong juga. Ternyata ia tidakbisa berenang.Secepat kilat aku berenangmendekatinya, membawanya kepinggir danau. Ia pingsan, aku punmulai panik. Aku mendekatkantelingaku ke hidungnya dan tidakterdengar ada nafasnya. Aku melihatkesekelilingku dan tetap tidak adaorang. Akhirnya aku memberikanEdisi01/tahun I/2012 15
  • 16. nafas buatan untuknya, aku memangtidak tahu caranya tapi tidak adasalahnya mencoba.Beberapa kali aku memberinya nafasbuatan akhirnya ia sadar. Ia terbatuk dansadar lalu tanpa sadar aku memeluknyasambil menangis.“Maafkan aku... maafkan aku...maafkan aku” hanya itu yang bisa keluardari mulutku selain tangisan.***Alan lalu berdiri mendekatiku danmenuju ke arah belakangaku lalu iamemasangkan sebuah kalung yangsangat indah. Setelah itu ia kembali ketempat duduknya sambil terusmenebarkan senyumannya padaku.Saat pertama kali aku sampai di danauitu, pinggiran danau itu sudah di sulapoleh para kru menjadi sebuah tempatyang sangat indah. Di pinggir danauterdapat sebuah meja makan dan duabuah kursi dengan beberapa hidanganyang terlihat sederhana tapi sangat enak.Aku ingat ketika baju indah ini sampai dirumahku dan aku membaca surat yangada di dalamnya.“Aku harap kau mau memakai baju ini.Alan” itu isi suratnya. Tapi sepertinyasangat berarti bagiku.Aku mendekat, semakin dekat dengantempat duduk itu, lalu Alan datang tiba-tiba di belakangaku danmempersilahkanku duduk. Ia tampakkelihatan sangat tampan dengan setelanjas yang ia gunakan.Lalu ia berbisik padaku “Kau sangatcantik malam ini.”Tanpa sadar aku tersenyum. Alan yangaku lihat malam itu adalah Alan yangselalu aku impikan selama ini sangatberbeda dengan Alan yang aku temuibeberapa hari lalu. Dan kami mulaiberbincang-bincang dengan santaimenikmati malam itu.Sampai acara pengambilan gambaruntuk sebuah reality show itu selasaikami masih nyaman dengan keadaansaat itu. Semua kru sudah mulai bersiap-siap untuk pulang.“Boleh aku meminta satu halpadamu?” tanya Alan padaku.“Tentu saja. Apa?”“Aku ingin kau selalu menyimpankalung itu selamanya.”Aku tersenyum “Aku akan selalumenyimpannya.”Ia menatapku “Tapi aku ingin kaubukan hanya menyimpan kalung itu didalam lemari atau laci di kamarmu tapiyang aku inginkan adalah kau selalumenyimpan kalung itu di dalam hatimu.”Aku sedikit heran dengan perkataanAlan “Tapi kalung tidak bisa di simpan diha-” kata-kata itu terhenti ketika Alanlangsung menciumku.***Cerpen 1Tentang Penulis :Novitasari. Mahasiswa JurusanPendidikan Bahasa, Sastra Indonesiadan Daerah, Fakultas Keguruan danIlmu Pendidikan, Universitas BorneoTarakan. Sedang belajar kerasmenulis karya-karya sastra, baikpuisi maupun prosa. Salah satunaskah novelnya telah selesaidikerjakan. Kini masih menungguproses diterbitkan. Selain kuliah, iabergabung menjadi redakturmajalah sastra GERBANG danmengikuti berbagai lombapenulisan sastra.Gerbang16 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 17. Edisi01/tahun I/2012 17
  • 18. Long Buang nama desa kecil yangdibanggakan Guru Ule. Long Buang sangatkaya isi alam. Di Long Buang apa saja bisadicari. Asalkan berbau alam. Berburuhewan payau adalah hobi Guru Ule.Bermodal senjata kaleber laras panjangrakitan sendiri. Dia bisa membawa pulangpayauhasiltangkapan.Uleadalahlaki-lakisabar. Tabah. Paling suka makan pucuksingkong. Ditumbuk halus dengan alatpenumbuk. Mereka namakan alatpenumbukitulesung.Lesung terbuat dari kayu ulinberbentuk petak. Ditengahnya lubangyang semakin dalam semakin kecil.Mereka namakan makanan itu tung ubimeca. Pucuk singkong ditumbuk halusdan ditumis. Menghaluskannya denganpenumbuk lesung. Itu makanan kesukaanUle. Dia sangat lahap jika makan denganlauk tung ubi meca. Ule ramah terhadaporangsekitar.Jugaberbudipekertiluhur.SD Tungun Paku nama sekolah Ulemengajar. Saban pagi Ule mendidik anak-anak kampong. Agar menjadi anak-anakcerdas. Ule ingin menaikan derajat orangkampong. Agar tidak buta huruf.Setidaknya bisa membaca dan menulis.Agar tidak mudah tertipu saat pergi kekota.Long Buang melekat adat istiadat sukudayak. Telinga berlubang besarbergelantungan banyak besi bundarsebagai anting. Tato ukiran dayak ditangan dan kaki. Itu ciri khas orang tertuasukudayak.Ule mengajar penuh ikhlas. Sangatbersemangat. Dia mengajarkan muridmulai pelajaran hitung sampai bahasaindonesia. Di kampung Ule sudah biasamengajar bahasa daerah (dayak)bercampur Bahasa Indonesia . Murid-muridnya tidak terlalu paham Bahasaindonesia. Ule pelopor mendidik danUle namanya.Kerjanya jadi guru diwilayah suku dayakpunan. Sebuah kampungsangat jauh dari kota. Parapakar menyebutnyadaerahpedalaman.Guru UleSyamsul BahriCerpen 2Gerbang18 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 19. mengajarkan bahasa indonesia. MuridUle belum menggunakan seragamsekolah. Sekolah mereka tidak dihiraukanpemerintah.Jarak membuat masalah. Dari LongBuang butuh sehari perjalanan.Mengunakan perahu kecil bermesinkanketinting 15 PK. Baru tembus ke kota. Airsungai dangkal penuh bebatuan.Membentuk giram kecil. Kampung Ule takdapat ditembus perahu besar. Airnyadangkal.Ule tak pernah mengeluh. Diabersemangat mengajar murid. Walau gajiguru terbatas untuk hidup keluarga. Ulemengharap kebijakan pemerintahmemperbaiki sekolah. Tempat merekamengajar sudah bocor. Rusak. Merekajugainginkenaikangajiguru.Khususnyadidaerah pedalaman. Bukan Ule bila tidakberjuang keras. Ule model orang pekerjakeras.Setiap pulang sekolah, Ule mencariikan. Dengan jala buatan sendiri. Tak lupadia membawa dulang di punggung.Persiapanmencariemas.LongBuangkayadengankekayaanalam.Selain mencari emas, Ule juga petanirajin. Saat menjala ikan dan mencariemas, Ule tak lupa membawa istri dananak laki-lakinya. Mereka menggunakanperahu kecil dan mesin ketinting.Melawanarussangatderas.Canda tawa selalu menghiasi keluargaitu. Ule mengajarkan anaknya menjala.Agar suatu saat anaknya bisa mencari ikandengan jala. Saat ikan mulai berkurangdan emas mulai susah, musim bercocoktanam tiba. Kampung Ule mempunyaitradisi gotong royong dalam bercocoktanam.Caranya bergantian dari ladang keladang lain. Masyarakat Long Buangberjiwa sosial. Penuh semangat. Maubekerja keras. Saat musim bercocoktanam semua warga kampung sibukdengan ladang masing-masing. Biasanyasekolah diliburkan. Agar anak-anakmembantuorangtua.Nugal bahasa keren mereka bercocoktanam di pergunungan. Beras panenandinamakan beras gunung. Wargakampung harus melakukan itu. Untukkebutuhan bertahan hidup. Bila panentiba, mereka menaruh hasil panen dilumbung. Lumbung padi sengaja dibuatuntuk menampung padi panenan. Untukkebutuhansehari-hari.Cerpen 2Edisi01/tahun I/2012 19
  • 20. Ule mulai membuat ribuan lubang ditanah berbukit. Anak dan istri menaburbenih ke dalam lubang. Agar padi harumdan enak. Alam membuat bibit subur.Beda dengan menanam padi di sawah.Mereka harus menyemai padi lebih dulu.DikampungUlecukupmembersihkandanmembakar dedaunan dan pohon yangsudah kering serta tumbang. Tempatnyadaerah perbukitan menjadi pupuk alam.Ule dan istri sering menunggui benih padiagartidakdimakanhewanliar.Semakin lama padi itu sudah siap untukdipanen. Ule dan istri senang kerenapanennya memuaskan. Tak lupa Ulebersedekah kepada orang yang tidakmempunyai lading. Ule membagi hasilpanen dengan tulus ikhlas. Inilah caratuhan membagikan rezeki untukumatnya. Dari tangan Ule membagi rezekiyangberlimpahdarituhan.Usai bercocok tanam, Ule menjadiguru. Ule mengajar anak anak sepertibiasa. Dengan semangat. Dengan candatawa. Anak-anak riang gembira. Itumewakili rasa haru beriak dalam jiwa ule.Pulang mengajar, Ule bertemu temanlama dari kota. Dia mengadakanpenelitian budaya suku dayak di LongBuang. Teman ule bernama Ilham.Sepontan Ule mengajak Ilham berbincangmasa sekolah dulu. Tentang kenakalan.Sering bolos. Sering ngerjain guru. Semuamembuat Ule tertawa lepas. Seakanbebanbertumpukhilang.Ule mengajak ilham berbincang dirumah. Sambil berjalan mereka bercerita.Di rumah Ule, mereka duduk lesehan. Uleberteriak,“uwe…ohwe…”Itu panggilan Ule terhadap istri. BahasadayakartinyaIbu.Istrinya keluar. Katanya, “Inu ikomengin-menginake?”Adaapakamupangil-panggilsaya?Ule menyahut, “Uyan sungai areng”.Buatairminumduluuntuktamu.Istrinya bergegas membuatkan kopikhas dayak. Diolah sendiri menjadi bubukkopi yang dasyat enaknya. Beraroma jahesegar.KopidisodorkankepadaIlham.“Kopi apa ini kok terasa segar danwangi?”cetusilham.“sedapsekalirasakopiini!”“Tentusaja!”sahutulebangga.“Kopi itu buatan istriku. Khas longbuang. Kau tahu, aku sekarang mengajarSekolahDasardikampungini.”“Oh begitu. Apa muridmu pintar-pintarkayagurunya?”“Muridku sangat cerdas dan kreatif yahtidak kalah dengan anak-anak di kota sanalah!”Dan perbincangan itu terus melaju.Seperti tak kenal waktu. Itulah kisah Ule,guru dari Long Buang. Esok, bila kauketemu banyak orang, bilang: itulah Ule,Si Guru dari pedalaman Long Buang.Pejuang tangguh tak mengeluh. Bekerjatakkira-kira.Tanpaberharaptandajasa.***Tentang Penulis :Syamsul Bahri. Mahasiswa JurusanPendidikan Bahasa, Sastra Indonesiadan Daerah, Fakultas Keguruan danIlmu Pendidikan, Universitas BorneoTarakan. Sedang belajar kerasmenulis karya-karya sastra, baikpuisi maupun prosa. Salah satunaskah novelnya berjudul RomanticTelepati telah selesai dikerjakan. Kinimasih menunggu proses diterbitkan.Selain kuliah, ia bergabung menjadiredaktur majalah sastra GERBANGdan mengikuti berbagai lombapenulisan sastra.Cerpen 2Gerbang20 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 21. Edisi01/tahun I/2012 21
  • 22. Beberapa hari sebelumnya saya jugamengikuti tulisan beliau di koran yangsama tanggal 1 September 2007 berjudulMencari Akar Kebudayaan Kalimantandan di Tribun Kaltim pada waktu yangsama berjudul Provinsi Borneo Raya. Halitu menunjukkan kepedulian beliauterhadap kebudayaan Kalimantan,termasuk juga sastranya.Sekitar tahun 2003, Korrie jugamenulis tentang Peningkatan KualitasPenulisan Seni Sastra di Kaltim yangdimuat Kaltim Post sebanyak tiga seridari tanggal 15 Juni 2003. Korriemengawali tulisan dengan LintasanSejarah sastra di Kaltim dan mengatakanbahwa peran media massa cukup besar.Pada tulisan kedua, Korie menyebutbahwa Sastra di Kaltim tidakmenampakkan pembaharuan dan padatulisan ketiga menyoroti bahwapemerintah daerah kurang menghargaikarya sastra.Sebelum ini belum pernah saya jumpaitulisan lengkap seperti dituliskan olehKorrie. Bahwa banyak nama-namasastrawan Kaltim yang disebutkan Korrietetapi sedikitpun saya tak mengenalkaryanya. Hanya sedikit saja yang dapatsaya jumpai tulisannya. Di antaranyaDjumrie Obeng (ada beberapa bukunyayang beredar di toko buku), MugniBaharuddin (Pernah bertemu pada acaraSastra Purnama di Bontang), Syafril TehaNoer (karena menjadi wartawan dienarik sekali artikel darisastrawan nasional asal Kaltim,MKorrie Layun Rampan di Kaltim Post, 5September 2007 berjudul SegitigaSastra di Wilayah Borneo. Segitigasastra yang dimaksud adalah tumbuhdan berkembangnya eksistensi sastradi wilayah Borneo dan Kalimantan.Istilah Borneo dalam kaca mata Korriemeliputi Negara Brunei Darussalam,Malaysia Timur (Labuan, Serawak danSabah) dan wilayah Kalimantanmencakup empat provinsi, termasukKaltim (Kalimantan Timur).Menanti TumbuhnyaKantong Sastra di KaltimSunaryo BrotoEsaiGerbang22 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 23. Kaltim Post), Tatang Dino Hero (karenaharian Suara Kaltim) dll. Selebihnyasangat jarang saya jumpai tulisannya.Semua terjadi mungkin karenaketerbatasan saya membaca beberapakarya sastra di Kaltim dan juga intensitaspergaulan dengan kalangan sastrawanKaltim.Dari tulisan Korrie tersebut sayamenjadi tahu bahwa sudah lama sekalikepedulian terhadap perkembangansastra di Borneo-Kalimantandihembuskan. Salah satunya dalamDialog Borneo-Kalimantan di Miri,Serawak, 27-29 November 1987. Dialogtersebut merupakan kegiatanindependent yang berada di bawahpayung Mastera (Majelis Sastra AsiaTenggara). Ada hal yangmenggembirakan. Dalam Dialog Borneo-Kalimantan IX, Agustus 2007 di BruneiDarussalam pada Dialog Borneo-Kalimantan X di Kaltim, tahun 2009 akandiberikan Hadiah Sastra Sultan HassanahBolkiah untuk para penulis sastra diwilayah segitiga sastra.Saya memang belum pernah bertemulangsung dengan bapak Korrie yangsekarang menjadi politikus tersebut. Tapijauh sebelumnya sewaktu masih kuliahdi Yogyakarta saya sudah mengenaltulisannya. Dan belakangan setelahbermukim di Bontang saya jadi tahuternyata beliau asli Kaltim. Hal inimemberi harapan saya akan bisatumbuhnya kantong sastra di Kaltim.Sebelumnya saya agak pesimis kalau halitu bisa tumbuh.Karya Sastra di KaltimUntuk mendukung harapan Korrieakan tumbuhnya karya sastra yangberkualitas di Kalimantan -khususnyaKaltim- perlu membuat iklim yangkondusif untuk tumbuhnya sastra diKaltim.Iklim yang kondusif itu apa?Sebenarnya banyak hal tetapi yangutama adalah dukungan apresiasi danpublikasi. Apresiasi bisa melaluikompetisi dan hadiah-hadiah atauperhatian yang signifikan pada pelakusastra. Diadakan beberapa lomba ataupenerbitan untuk antologi sastra.Penerbitan ditandai dengan penerbitanbuku atau adanya tempat atau kaplinglembaran sastra di koran setempat.Sebuah kenyataan, sebatas publikasidi media bahwa hampir tak ada karyasastra di Kaltim. Media massa yang ada–Kaltim Post, Tribun Kaltim, SwaraKaltim, Balikpapan Post, Samarinda Post-- belum memberikan ruangan khususuntuk pemuatan karya sastra daripenulis Kaltim. Kaltim Post belakanganmenyediakan sedikit ruangannya tetapinampaknya belum optimal. Tidak sepertimedia massa nasional yang biasanyamempunyai ruang khusus sastra danEsaiEdisi01/tahun I/2012 23
  • 24. budaya pada hari Minggu denganredaktur budayanya yang mengulasnya.Di Republika ada pemuatan cerpen, puisidan kritik sastra pada satu halamanpenuh. Di Kompas, ada rubrik Bentarayang memuat karya sastra seperti essay,puisi, cerpen dll. Di Media Indonesia,Koran Tempo, Suara Karya, SuaraPembaharuan, Jawa Pos begitu juga. Dibeberapa koran daerah seperti SuaraMerdeka dari Jawa Tengah, Bernas,Kedaulatan Rakyat dari Jogjakarta,Pikiran Rakyat dari Bandung jugamenyediakan halamannya untuk ruangsastra. Di beberapa daerah lain saya kirajuga begitu.Kenapa di Kaltim belum? Ada duakemungkinanya. Pertama, tak ada tulisanberbau sastra yang masuk. Kedua,redaktur tak ada yang concern padamasalah sastra sehingga tak menyisakanruang. Bila kemungkinan pertama yangada, kita wajib prihatin terhadapperkembangan sastra di Kaltim. Siapayang salah? Para calon sastrawan ataumedia massa? Tak perlu diperdebatkan.Yang utama adalah saling mendoronguntuk membuat iklim berkarya di Kaltim.Senimannya harus mempunyai semangatberkarya yang tinggi. Media massasebaiknya memberi ruang denganpemuatan karya sastra padahalamannya. Lembaga atau institusiharus menciptakan iklim bersastra diKaltim dengan berbagai lomba ataumemanfaatkan even-even tertentumembuat iklim berkarya. Tanpa itu, akanperlu waktu yang lebih lama untukmenikmati sastra Kaltim yang bernas.Nama Kaltim pun tak akan ada danmewarnai perkembangan sastranasional.Bila media massa tak ada dukunganbiasanya dari institusi pendidikan.Meskipun bukan sebuah kepastian,tetapi pada beberapa daerahperkembangan sastra biasanya seiringdengan adanya institusi perguruan tinggiyang ikut mendorong perkembangansastra.Mungkin tidak secara langsung, tetapibiasanya ada semacam apresiator dariperguruan tinggi yang ada fakultassastranya. Di Jogja misalnya, ada FakultasSastra UGM dan FKIP di UniversitasNegeri Jogjakarta. Dari situmemungkinkan munculnya “provokator”pembuat iklim bersastra. Di Jogja adanama-nama Umar Kayam (alm), BakdiSumanto, Rahmat Djoko Pradopo, FarukHT, Iman Budi Santosa, DarmantoJatman (pindah ke Semarang), Rendra,Putu Wijaya dll. Di Jakarta ada namaSapardi Djoko Damono.Di beberapa kota yang disebutkan diatas, rata-rata mempunyai perguruantinggi yang ada fakultas sastranya.Sedang di Kaltim, dengan UniversitasMulawarman-nya belum ada FakultasSastra. Yang ada hanya Fakultas FKIPjurusan Bahasa Indonesia yang sampaisekarang belum terdengar gaungsastranya.Tetapi bila kemungkinan kedua yangmuncul, kita hanya bisa menghimbaupada media massa untuk peduli padaperkembangan sastra di Kaltim. Siapayang dapat mengapresiasikannya selainpara redaktur media. Siapa yang dapatmempublikasikan karya-karya sastraselain redaktur media?Bisa saja media lain sepertipementasan, lomba, penerbitan buku dlltetapi yang paling jelas dan luasdampaknya adalah pemuatan di mediaEsaiGerbang24 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 25. massa.Penulis merasa mendapat ruanggeraknya dan pembaca lain dapatmengapresiasikannya. Lebih baik lagikalau disertai ulasan sepertipengantarnya Sutardji C Bachri diKompas atau HB Yasin di MajalahIndonesia sewaktu awal-awalmengapresiasi karya sastra. Bahkan saatitu saya andaikan seperti tumbuhnyakantong-kantong sastra di daerahdengan dukungan koran daerah.Seperti di Yogya yang sangatmonumental pada tahun 70-an denganadanya Persada Study Club di HarianPelopor dengan “Presiden PenyairMalioboro” Umbu Landu Paranggisebagai pengasuhnya. Saat itu sangatkondusif untuk iklim bersastra hinggaada –apa yang disebut Emha AinunNadjib- poros Malioboro-Gampingan-Bulaksumur untuk mengatakan ada linkantara ketiga tempat tersebut dalamiklim bersastra. Malioboro mewakili paraseniman jalanan, Gampingan mewakililokasi Sekolah Tinggi Seni danBulaksumur mewakili UGM. Saat itukeluar nama-nama anak muda yangakhirnya menjadi wakil–wakil iklimbersastra. Nama-nama seperti EmhaAinun Nadjib, Darmanto Djatman, RagilSuwarno, Linus Suryadi (juga Ebiet GAde) menemukan popularitasnya jugadiawali dengan publikasi tulisannya dimedia massa setempat.Pada tahun 1990-an ada kantong-kantong sastra di daerah yang biasanyange-link dengan peran koran daerah. DiYogya, Bandung, Tegal, Tangerang. Adayang cukup fenomenal seperti KSI(Komunitas Sastra Indonesia) yangdimotori Wowok Hesti Prabowo yangrajin mengadakan forum apresiasi sastra.Adakah hal itu terasa di Kaltim?Sepengetahuan saya setelah bermukimdi Bontang, Kaltim sejak tahun 1992,geliat bersastra belum nampak. Yangsaya rasakan -sekedar memantau darimedia massa- sangat jarang ada karyasastra muncul di koran daerah. JugaEsaiEdisi01/tahun I/2012 25
  • 26. rubrik semacam agenda budaya. Keduakoran harian besar di Kaltim juga belumsecara khusus menyediakanlembarannya untuk karya-karya sastraKaltim. Satu-dua muncul tetapi masihbelum terasa gregetnya. Ada beberapanama tetapi seperti Shantined(Balikpapan) malah muncul di korannasional.Sekedar informasi, sekitar tahun 1993,menyambut kedatangan Emha AinunNadjib ke Bontang, saya bersama teman-teman menerbitkan Antologi PuisiBontang yang berisi beberapa puisi karyasendiri secara terbatas. Puisi-puisitersebut dibaca oleh penyairnya sendirimengiringi Emha Baca Puisi. Puisi-puisitersebut lalu saya kirim ke HarianRepublika dan dimuat pada rubrik Oasedan diberi judul oleh redakturnya, Puisidari Kalimantan. Dan puisi saya dimuatpada tulisan Puisi dari Kaltim bersamadengan puisi lain dari provinsi lainKalimantan. Tak ada yang lain.Hal ini menunjukkan betapa minimnyasastra Kaltim berpartisipasi pada HarianNasional. Setelah itu beberapa kali baikpuisi atau artikel sastra saya dimuatSuara Kaltim atau Kaltim Post tetapitetap tak ada kelanjutan atau sambutantulisan dari penulis lain. Tulisan langsunghilang tak berbekas. Tak ada sedikitpungemanya.Sewaktu Rendra ke Bontang, Kaltimdalam pentas drama mini kataRambateraterata sekitar tahun 2001,saya menulis di Kaltim Post yangberjudul Rendra dan PerkembanganSastra Kaltim. Pementasan Rendratersebut atas inisiatif wartawan KaltimPost Safriel Teha Noer dengan partisipasiPupuk Kaltim. Saya sendiri –saat itu-sebagai karyawan Pupuk Kaltim yangberkontribusi terhadap dukungan PupukKaltim akan pentasnya Rendra.Tulisan saya tak beda jauh dengankeprihatinan Korrie tentang kondisisastra di Kaltim. Saat itu saya menulisbahwa kedatangan Rendra di Kaltim yangmendapat publisitas hebat di Kaltim Postsebisa mungkin harus dimanfaatkanuntuk mendongkrak kondisi sastra(berkesenian?) di Kaltim.Saat itu saya juga menyoroti peranmedia massa yang tak memberikanruang pada perkembangan sastra Kaltim,bahkan saya menyontohkan kondisi Jogjasebagai salah satu kantong sastra daerahbisa berkembang sangat baik berkatdukungan sekian media massanya.Setelah tulisan saya dimuat, sayamendapat undangan dari DewanKesenian Kaltim melalui ketuanya ARizani Asnawi untuk menghadiri diskusisastra di Samarinda. Tetapi karenawaktunya belum tepat saya tidak bisamenghadiri undangan tersebut. Sayaberharap ada dokumentasi hasil diskusiyang dimuat di harian Kaltim, tetapiternyata setelah saya cari tak adaliputannya.Memang saya pernah terlibat sedikitdengan nuansa bersastra di Kaltim,sewaktu sekitar Juli 1994 dalam tajukSastra Purnama. Saat itu bertemudengan Hamdani (wartawan SuaraKaltim), Mugeni Baharuddin (PNS danpenyair), Rendy (Pernah jadi kontributorTempo) dll dan kami berdiskusi sambilbaca puisi di Bontang. Setelah itu belumterdengar gemanya. Satu dua penerbitanantologi puisi terdengar tetapipublikasinya kecil dan distribusinyabelum merata ke daerah lain.Mungkin ada kantong sastra yangEsaiGerbang26 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 27. tumbuh di daerah di Kaltim tetapigemanya belum seperti tumbuhnyakantong sastra di Jawa.Ada beberapa catatan yang terjadi diBontang. Beberapa penerbitan bukuyang dimotori oleh Muthi Masfuah dariLingkar Pena Kaltim juga perlu dicatat.Bidang yang dekat dengan sastra jugatelah tumbuh dengan adanya TeaterTimur dan Teater Kronis. Satu duapenulis juga lahir tetapi belum menjadiseperti kantong karya. Ada nama MayaWulan (Bontang) yang sudahmenerbitkan beberapa novel juga layakdicatat meskipun kiprah dia juga tidakmelalui Kaltim tetapi lewat Yogya karenadia kuliah di sana. Sebagai pribadi-pribadi mungkin puisi itu sudah tertulistetapi sebagai penerbitan belummenemukan apresiasinya. Sekedarberusaha –untuk menyebut salah satucontoh-, penulis dengan beberapateman dalam waktu dekat juga akanmenerbitkan buku Antologi Puisi diBontang.Kantong Sastra Kaltim, Mungkinkah?Pertanyaan selanjutnya adalahterbentuknya kantong sastra Kaltim,mungkinkah? Sangat mungkin. Bibitpenyair saya rasa dimana pun beradapasti ada. Hanya berbeda skalanya.Dengan penduduk sekitar 2,5 jutaan danada komunitas perguruan tinggi rasanyaakan lahir beberapa penulis. Jugakehadiran beberapa industri yangmenyertakan karyawannya sebagai salahseorang pecinta sastraHal yang sangat penting adalahtempat publikasi. Dua koran besar danbanyak terbitan daerah dapatmendukung adanya iklim bersastradengan memuat karya-karya mereka.Yang lebih penting lagi adalah semacampembimbing untuk membuat iklimberkarya. Bapak Korrie Layun Rampanyang reputasi dan karyanya telah dikenalluas dapat berperan sebagaipembimbing. Mungkin dapat sepertiUmbu di Yogya atau Ahmadun YosiHerfanda di Republika atau SutardjiColsum Bachri or Radhar Panca Dahanadi Kompas.Ada harapan lain, dibuka Penerbitanbersama berupa media massa sejenisHorison dari Mastera dan penerbitanbuku-buku sastra yang dikelola parasastrawan di dalam wilayah “segitigasastra”. Hadiah Sultan Brunei HasanahBolkiah juga bisa sebagai pemicu. Yanglebih penting adalah dukungan korandaerah sehingga jejak sastra sebagaisebuah karya dapat diapresiasi. Denganadanya karya sastra –terlebih dengansetting daerah- maka daerah tersebutakan bisa dikenang oleh kalayakpembaca.Kapan harus dimulai? Apa menunggukarya-karya hanya tersimpan di lipatan-lipatan buku atau tak ada geliat karyasastra dan yang ada hanya tumbuhnyaindustri yang menggantikan hutan-hutanyang dulu lebat. Rasanya hidup perlukeseimbangan.TentangPenulisSunaryo Broto. Karyawan PupukKaltim dan penikmat sastra. Aktif dikomunitas Club Buku CB33 danStudio Kata, Bontang. Alamatrumah Jl. Aster No14 PC VI KomplekPupuk Kaltim, Bontang. Email:sbroto@pupukkaltim.com, HP0 8 1 1 5 5 1 4 5 1 , s i t u s :sbroto.multiply.comEsaiEdisi01/tahun I/2012 27
  • 28. Puisi-puisi Amien Wangsitalaja:Puisi - PuisiMendirikan Malam 1akuyang pertama mendengar dendangdindapada malamyang kita ingat ia pernah dibagi tigaini mungkin pada sepertiga yang keduasaat jam beranjak dari angka kosongnyaaku mengaduk tasawuf akhlaqdi dalam tiris nafasmuyang membasahi ceruk rindukemarilah kubisiki, sayangada hasrat berundan-undansemizan syariat seribu bulanini mungkin pada sepertiga yang terakhirkuseduh dzikir kuramu syiirdi palung mahabbahmudi palung mahabbahmulaut asin mengingatkanku pada khidziraku berjanjiaku tidak akan banyak bertanya padamusenyampang malamsaat kita sepakat melubangi sampankemarilah sayang, kubisikiMendirikan Malam 2The Spirit of Meccaakumeminangmu untuk menjadi aisyahsehabis khadijaho sayangku, yang kemerah-merahantertunduk diamkita menghitung detak jamderit daun pintudan desah yang disapukankita merundingkan bilangan rakaatdi sepertiga terakhirmalamdan dengan manjaengkau menawar bilangan dzurriyyatmelebihi aisyah melebihi khadijahsepadan angano kurasaaku ingin memukulmu bertubi-tubimenggemaskan--kutandai, inilah ranah sufidi kota tempat kita menangkarasmaraaku berhasilmengukur kerudungmu yang lebarmengukur rahasiaaku melamunkan kiswahdan hitam hajarGerbang28 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 29. aku melamunkan hatimuyang sejak dari ruknul yamanisudah kuincarinilahranah sufibisikku pada gamismu yang besarsaat hujan membuat sadarada syahdu datang berdenyar(saat ituaku teringat pada sejarahdi kota haramgerimis pun jarang tumpah)ssst, ini rahasia”aku menemukan marwah””aku menemukan mar-ah”lihatlahkepalakutersungkurdi jabal nurdi jabal rahmahdan di ghari hirainilahPesona Ruhui RahayuHentak gantar menyebar senyum manispersada negeri Odah EtamAyunan kusak menyapa lembutteriakan angkuh modernisasi zamanNafas sahaja cermin kearifanadat tua MahakamBilah mandausiratkan benteng kokoh peradabanRiwat elegidi Lamin dan Upacara BelianDamai raga dalam cinta abadi, selaluGemulai pesut melukis elokriam-riam hulu pedalamanOrang utan membelai manjadi sela rimbun keperkasaan ulin danrotanKicauan enggang mencumbu mesrasemesta jamrud kathulistiwaDiri perut bumi Ruhui Rahayumasih suci perawanSenandung panorama eksotisHarmoni dalam jejak kebesaran nadianak-anak DayakSemoga lestari sampai akhir fana nanti,AminBukan nostalgia emas dan dongeng cucukesayanganKutelusuriKerajaan Bukit Pinang menjijikkanSinggasana kumuh dinasti sampahMerdeka dengan kasta buanganBergulat waktuBercengkrama bauTerasingPenuh ketimpanganTepian oh TepianPengantin (1)aku gemas pada hud hudyang gemetar mengabarkan pesonamuaku gemas pada pemilik ilmuyang berhasil menyatakansinggasana kecantikanmulebih cepat dari kedip bola matakudanaku lebih gemas padamukerana engkau lah sudi mengunjungirelung istanakumakakutawarkan lantai hatiyang sejernih kolamsehingga betis asmaramutersingkapPuisi-puisi Heri Sucipto (Den Cipto):Puisi - PuisiEdisi01/tahun I/2012 29
  • 30. Jauh dari mapanDari Bukit PalaranTampak jejak Mahakam penuh historiJalan tambal sulamLaksana rombeng pasar malamSarat lalu lalangTunggangan kuda besiApatis tanpa etika sapaGorong-gorong penuh dosa nistaPeradaban kaum hedonisDari Bukit BerambaiTerperangaBelantara hijau nan perawanKini hanya fatamorganaDirampas kehormatannyaJadi rimbun hutan-hutan betonUlah kongkalikong cukong ompongAnak-anak benanga murkaTanpa permisiMengembara liar ke pusat kotaDari Bukit SeliliHatiku miris dan ironisBerjuta keringatKolong Karang MumusDininabobokan janji surga penguasaSenyiur, Borneo dan VictoriaRamayana, Lembuswana serta PlasaMuliaCermin pasungan sadisGlamoritas budak metropolisSerba praktis dan matrealistisKemegahan Bandara Samarinda Barudan Universitas MulawarmanIslamic Center serta Stadion UtamaPalaranIkon etalase keangkuhan benua etamRomansa indah antara Samarinda danSendawarDitemani sorak sorai gulita angin malamDisambut nyanyian gemericik air nanmerduAlunan mesin kapal yang selaras nansyahduKemeriahan koloni pesutYang ikut bergoyang mesraDi kedalam arus belantara Ruhui RahayuPanggung dunia bahariLiak-liuk Sang Kapal PrimadonaBintang semalam hulu MahakamLekuk lekak menyayat ombakGemulai membelah arus sungaiPesona gemerlap lampu angkasaYang bertaburan membahanaDi jagad langit rayaDalam pentas harmoni semestaKapal KayuUntuk Anak-anakkuTak ada yang dapatku berikankepadamu, anak-anakkuSelain hanya nasehat demi kemajuanmuTak ada yang dapatku wariskankepadamuWahai putra-putri bangsakuSelain hanya ilmu pengetahuan yang kumilikiTak banyak yang ku minta darimu,permata bangsakuSelain hanya keteguhan jiwamumeneruskan perjuangankuTekadmu, semangatmuDoa dan harapankuTeruskan anak-anakkuMenjadi putra-putri bangsa yang sejatiPutra-putri yang dapat membangunnegeriMajulah generasi bangsakuNegeri ini menanti senyum pertiwiPuisi Eka Haditia:Puisi - PuisiGerbang30 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 31. Puisi Asri Rubianto:Puisi Ariani:HITAM_PUTIHBiar hati yang bicaraDengar suara itu dan ikutiBiar hati yang membawaPasti kau kan damaiHati itu hitam dan putihBahagia kau menghapus hitamnyaMerugilah kau tak membersihkannyaPeka kan hatimumelihat sekitarmumendengar disampingmerasakan disekelilingJika kau mampu ituMaka ikutilah diaPenuntun hidupmuSuara hatiPangeran HatikuHanya dirimu yang aku sayanghanya dirimu yang aku cintadan… hanya dirimu didalam hatiku..Cinta ku yang dulu hilangkini telah kembali lagituhan mengirimkan kuseorang pria yang menjadipenjaga hatiku…Terima kasih tuhanengkau telah mengirimkandia didalam hidup kusemoga hari-hari kupenuh dengan cintacinta yang membahagiakandiriku dan dirimu…Kehidupan Anak JalananBersanding pelangi ku berdiriMenatap harapan nan tiada pastiSetiap kata hanya air mataMenghapus luka diantara deritaKu terbuangKu tersingkirSebagian makna dari gelandanganBukan itu yang aku inginkanKu hanya sebagai alas anBeribu penjelasan keadilan danperikemanusiaanTerbingkai kesewenanganKu ingin kepeduluanTak hanya harapan dalam khayalanTerbuai mimpiKokoh berdiri dalam negeri iniIronis yang pastiBerjuta aku… calon pemimpin negeriPuisi Rusli Badi:Puisi - PuisiEdisi01/tahun I/2012 31
  • 32. Dipasung SunyiMalam ini dukuRembulan mengasingkan diri dariratapan malamKecewa,Cahaya yang kala itu purnamaDibalas dengan lolongan serigalaJadi tak perlu kau bawa tangismuYang air matanya dustaAku bukan pangeranmu…!Singkirkan ratapanYang isinya kebohongan ituJauh dari telingakuAku muak…Aku benci ini…!Wajahmu yang rupawanMenjadikanmu elok dan menawanTapi aku terlanjur luka, bidadari !Sejak ituKubiarkan hati dipasung sunyiPuisi Yusriadi Hasan Basri:“CUCURAN KERINGAT”Tertutup dan mungkin tiada yang tahuRuntuh dan berguguran kian tak tampakTerlihat terbit,Juga terbenam,Entah esokEntah senja…..Rindu… seakan ingin ada di antaradua bahu !!!Ingin rasanya ada yang memangkudan memikulBeberapa butir mulai bercucuranTak terhitung …Juga tak dapat dihitung…Puisi Yeyen Purwiyanti:Pernah membacakan puisi di Sandakan, Sabah, Malaysiadalam rangkaian acara pertemuan sastrawan antarnegara“Dialog Borneo-Kalimantan VIII” (2005). Menghadiri danmenjadi pembentang kertas kerja dalam pertemuansasterawan antarnegara “Dialog Borneo-Kalimantan VIII”pada Juli 2005 di Sandakan, Sabah, Malaysia. Menjadipemakalah dalam “Seminar Kritik Sastra” Pusat BahasaDepdiknas pada September 2005 di Jakarta. Blog:www.amienwangsitalaja.blogspot.com. Alamat e-mail:wangsitalaja@yahoo.com. HP: +628164282866 atau+6285348859414.HERI SUCIPTO, S.Pd. Lebih dikenal dengan panggilan dencipto. Bekerja sebagai Guru Bahasa Indonesia di SMKNegeri 11 Samarinda. Untuk komunikasi bisa berhubungandengan HP.081346536100, email: den_cipto@yahoo.com, akunfacebook: Heri Sucipto. Alamat rumah: Jalan Banggerisnomor 17 RT. 3 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan SungaiKunjang, Samarinda, Kalimantan Timur, kode pos 75127.EKA HADITIA. Ia merupakan Guru SMPN 4 Tarakan. Di selakesibukan mengajar, ia rajin menulis, khususnya menuliskarya-karya sastra.ASRY RUBIANTO. Adalah mahasiswa Universitas BorneoTarakan. Sedang berusaha keras menyelesaikan kuliahnya.ARIANI adalah Siswi SMA Muhammadiyah Tarakan.RUSLI BADI adalah Siswa SMPN 4 Tarakan.YUSRIADI HASAN BASRI adalah Siswa SMPN 4 TarakanYEYEN PURWIYANTI adalah …………..Puisi - PuisiTentang PenyairAMIEN WANGSITALAJA. Buku kumpulan puisi tunggalnyaadalah Seperti Bidadari Aku Meminangmu Buyung (1995),Kitab Rajam (Indonesiatera, Magelang, 2001), danPerawan Mencuri Tuhan (Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2004).Sementara itu, puisi-puisinya juga tersebar dalambeberapa antologi bersama, di antaranya Serayu (CV HartaPrima, Purwokerto: 1995), Oase (Titian Ilahy Press,Yogyakarta: 1996), Fasisme (Kalam Elkama, Yogyakarta:1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta:1996), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa, Bandung: 1997),Tamansari (DKY, Yogyakarta: 1998), Embun Tajalli (DKY,Yogyakarta: 2000), Malam Bulan (MSJ, Jakarta: 2002),Bentara: Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, Jakarta: 2003),Mahaduka Aceh (PDS H.B. Jassin, Jakarta: 2005), ZiarahOmbak (Lapena, Aceh, 2005), Perkawinan Batu (DKJ,Jakarta, 2005), Yogya 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka,Yogyakarta, 2006), 142 Penyair Menuju Bulan (KelompokStudi Sastra Banjarbaru, Kalimatan Selatan, 2006), KenduriPuisi (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2008), Tanah Pilih(Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jambi, Jambi,2008), Antologia de Poeticas Kumpulan Puisi Indonesia,Portugal, Malaysia (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,2008), Antologi Puisi Penyair Nusantara Musibah GempaPadang (eSastera Enterprise, Kuala Lumpur, Malaysia,2009), Percakapan Lingua Franca (Dinas Kebudayaan danPariwisata Kota Tanjungpinang, Kepri, 2010), Akulah Musi(Dewan Kesenian Sumatera Selatan, 2011), danKalimantan dalam Puisi Indonesia (Pustaka Spirit,Samarinda, 2011).Tiga kali diundang membaca puisi di Taman Ismail Marzuki(TIM) Jakarta oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yaitupada acara “Mimbar Penyair Abad 21” (1996), “Baca PuisiTiga Kota” bersama alm. Hamid Jabbar dan IverdixonTinungki (2003), dan “Cakrawala Sastra Indonesia” (2005).Gerbang32 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 33. Edisi01/tahun I/2012 33
  • 34. apak bekerja sebagai guru. Ibubekerja di kantor pemerintah.BKeduanya berangkat pagi. Lalupulang sore hari. Hasna sering merasasedih. Ia jarang dapat bermain bersamabapak dan ibu. Saat sore, bapak dan ibuterlalu capek. Sehingga tidak sempatdiajak bermain. Begitu pun saat hariSabtu dan Minggu.Bapak memiliki banyak acara di harilibur. Kerja bakti membersihkankampung, membangun masjid, rapat RT,ronda, mencuci baju, membersihkanrumah, dan sebagainya. Begitu pundengan ibu. Harus berbagi pekerjaandengan bapak. Ibu harus memasak, ataumenyetrika baju. Semua selalu sibuk.Dan Hasna sering merasa sendirian.Hasna sering iri dengan Alang. BapakAlang seorang pengarang. Jadi seringtinggal di rumah. Alang sering dapatbermain dengan bapaknya. Ibu Alangjuga di rumah. Ibu Alang berjualan kue.Jadi mereka bekerja di rumah sendiri.Hasna menjadi sedih bila melihatkeluarga Alang. Hasna mengeluh bapakdan ibu sering tidak di rumah.”Huh, betapa enaknya jadi Alang!Setiap hari bersama bapak dan ibu. Bisabermain petak umpet, main kuda-kudaan, juga menggambar. Sedangkanaku? Aku selalu sendiri. Apa enaknya?Nonton televisi, tidur, makan. Selaluseperti ini. Apa asyiknya?” keluh Hasna.Hasna ingin pergi bermain ke luarrumah. Tapi, bapak dan ibu berpesanuntuk istirahat sepulang sekolah. Sorehari adalah waktu mengerjakan PR.Malam hari belajar pelajaran esok hari.Begitu terus-menerus. Hasna punmenjadi sedih. Di sekolah ia jugamurung. Ia menjadi sulit bermainbersama. Ia lebih suka menyendiri.Di rumah, Hasna sering merenung.Hasna tidak ingin menyalahkan bapakdan ibu. Mereka bekerja mencari uang.Juga mengabdi pada masyarakat. Hasnasering berpikir, apa yang bisadilakukannya seorang diri? Suatu hari, iamelongok jendela rumah. Di luar tidakada orang. Semua penghuni perumahanbekerja. Yang tersisa adalah parapembantu rumah tangga. Parapembantu sibuk dengan pekerjaanHasna dan Bebek KecilM. ThobroniCerita AnakGerbang34 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 35. masing-masing. Bapak dan ibu tidakmemiliki pembantu. Karena itu Hasnatetap sendirian.Hasna termangu di dekat jendela. Iasedikit terhibur dengan warna-warnibunga. Kupu-kupu hinggap untukmenyerap madu. Capung berkejarantiada henti. Lalu kupu dan cabungterbang jauh. Hasna kembali sedih.Hasna mencari-cari mainan dikeranjang mainan. Dibongkarnya seluruhmainan. Ia mengeluh lagi. Tidak adasatupun mainan yang menarik hati.Semua mainan sudah pernah digunakan.Bosan.”Kwek-kwek-kwek.”Hasna terkejut. Mengapa ada suarabebek di dalam rumah? Apakah bapakdan ibu hendak beternak bebek? Tetapi,dimana hendak beternak? Rumah inibegitu sempit. Halaman rumah jugatidak luas. Dimanakah bebek hendakditernakkan? Juga, dimana merekahendak mencari makan. Perumahan inijauh dari sungai. Juga tidak terdapatsawah. Mengapa ada bebek di dalamrumah? Hasna memandang kesana-kemari. Ia coba mencari sumber suarabebek. Beberapa lama ia mencari. Tetaptidak ditemukannya bebek.”Kwek-kwek-kwek.”Hasna tergagap. Suara bebek beradapersis di belakangnya. Ia berbalik. Iamemandang cermat. Bebek itu tetaptidak ditemukan. Tetapi, ada sebuahboneka kecil. Boneka bebek. Hasnaterkesiap. Bebek itu tersenyum manis.Hasna ikut tersenyum. Rupanya ”bebek”itulah yang bersuara. Hasna mendekati”bebek” itu.”Apakah kamu yang bersuara tadi?””Ya, kamu tidak perlu takut.”Hasna tersenyum. Ia tidak takut.Justeru senang ada yang mengajaknyaberbicara.”Maukah kamu menjadi temanku?”tanya Hasna.”Bebek” kecil itu mengangguk-angguk.Lucu sekali. Hasna girang bukan main.Kini saatnya ia bermain dengan riang.Menghilangkan kesedihan.Siang itu, mereka bermain tebak-tebakan. Bernyanyi bersama. Menaribersama. Hingga Hasna terlihat lelah.Hasna meminta istirahat dulu.”Sudahlah. Hari ini kita cukupkanbermain.””Baik. Tapi sediakah engkaumerahasiakan ini semua?” pinta”bebek”.Hasna menyanggupipermintaan itu. ”Bebek” punsegera ”tertidur”. Sepertisemula. Ia tak lagi bergerak. Jugatidak bersuara. Hasna punmenyusul. Ia berbaring diranjang. Lalu tertidur. Hasnatidur dengan tersenyum manis.Mulai saat itu, Hasna tidak sedihlagi. Ia tidak sendirian lagi. Iasudah punya teman bermain.Cerita AnakEdisi01/tahun I/2012 35
  • 36. ada mulanya adalah larangan.Agama dan etika datang mengiringPhidup manusia. Agama dan etikapula yang mula-mula mengenalkanlarangan pada manusia. Adam dan Hawaadalah sosok awal yang merasakan,betapa buah larangan kelak akanmengirim mereka ke dunia. Setelahsurga, dunia adalah jalan lain Adam danHawa dalam menyusuri anugerah hidupdari Tuhan mereka. Adam dan Hawa,juga anak cucunya, harus menentukan:Apakah dunia akan menjadi surga atauneraka bagi mereka?Rustam memang bukan Adam danHawa, tapi ia adalah buah darikenekadan Adam dan Hawa sekian abadsilam. Tanpa keberanian Adam dan Hawamenciptakan takdir kehidupan mereka,Rustam dan juga kita, entah akan hidupdi mana. Rustam, dengan demikian,seperti mengenalkan kembali bagaimanakita musti memandang dan menghayatihidup ini. Meski Rustam hidup dalamdunia imajinasi; Lakon yang bergerakmenyusuri cerita dalam novel Lelaki dariSelatan karya Tan Tjin Siong.Sebuah novel –seperti halnya puisi,drama, atau cerpen- terlahir dan terciptatidak dari ruang yang vakum. Iaberkomunikasi, bertegursapa, dandibidani oleh denyut nadi kehidupan.Gerak laju kehidupan, seperti kita tahu,tak lepas dari jalin-kelindan keberadaanTuhan, alam dan manusia. Sastra,demikian sabda Abrams, dapatmencerminkan apa yang patut dipotretdari lingkungan di mana (sastra) kelakdilahirciptakan.Sastra pula yang bertanggungjawabuntuk mengantar manusia –sebagaipembacanya- untuk menyusuri lorong-lorong sunyi; Dimana ruang-ruang ituSeksualitasdalamLelakidari SelatanJudul : Lelaki dari SelatanPengarang : Tan Tjin SiongPenerbit : Grasindo, JakartaCetakan I : 2004Tebal : 149 halamanUlasanGerbang36 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 37. boleh jadi dianggap keramat atau angker.Tarikh telah menorehkan segalaperistiwa dalam lembar-lembar mushafsejarah hidup manusia, berapa banyakkorban jatuh karena keberanianmelawan tirani. Darah dan air matatumpah-ruah, membanjiri bumi di manamanusia melakoni kehidupannya. Dan,sastra akan mengajarkan, bagaimanamanusia dapat arif dan bijaksanamenempuh itu semua.Tak terhitung lagi, sastra membongkartabu, tirani, dan angkara murka.Bungkus-bungkus apapun, kelak akangagal membendung kewiraan sastra.“Bila politik bengkok, puisi akanmeluruskannya!” ujar John F Kennedy,dari negeri luar sana. Para sastrawandalam negeri meneguhkan ujaran itu,kata mereka: “Bila politik bengkok,sastra akan meluruskannya!”Demikianlah. Novel Lelaki dari Selatanini adalah cerita tentang petualangan.Sastra menyebutnya dengan ziarahkehidupan. Dominasi seksualitas, baikdalam dialog maupun peran, yanggencar dimunculkan di dalamnya,tidaklah kemudian mampu menutupbegitu saja, betapa novel ini berceritatentang banyak hal: Anak yang bengal,kesabaran orang tua, kedermawanan,persahabatan, iri-dengki, hingga santet.Pembaca tak saja harus menggeleng-gelengkan kepala gara-gara disuguhianeka problema masyarakat, tapi jugaharus menghela napas karena memasukigaya hidup sebuah suku.Daerah Tapal Kuda, di mana cerita inidibuatkan setting-nya, sebagian besarpenghuninya termasuk dari sukutersebut. Suku Osing, demikian parapakar menyebutnya, terbiasamenyelesaikan masalah dengan banyakcara. Syukur-syukur bila sebuah masalahterselesaikan lewat jalan kasat mata,alias lahiriah. Namun, bila kurangberhasil apalagi gagal, tidak ada carayang lebih afdhol selain menggunakandunia lain. Novel ini mengajarkan kitauntuk lebih peka melihat segalanya,bahwa tidak semua yang di dunia initertangkap indera. Ada wilayah-wilayahtertentu di mana manusia harus belajaruntuk mengenal, mengakrabi, danbersikap lebih takdzim kepadanya. Itulahdunia lain. (halaman 110-116)Membaca novel ini seperti mengenaldan mengakrabi model konselingkeluarga. Kita secara terpaksa, disuguhiberbagai persoalan keluarga, mulai darimasalah hutang hingga persoalanranjang. Novel ini seakan mencibirfenomena masyarakat modern dari duasisi sekaligus. Di satu sisi, novel iniseperti memandang sinis perilakukeluarga-keluarga kelas menengah yanggagap dalam memandang seksualitas,sehingga seksualitas menjadi masalahserius dalam hidup mereka.Adalah rahasia umum, bila saat iniorang telah sangat gila kerja, sehinggatak jarang mengabaikan pasangannya.Lalu, kita mengenal apa yang disebutsebagai PIL atau Pria Idaman Lain, danWIL alias Wanita Idaman Lain. Itu pulayang meneguhkan tesis hingga kini,bahwa banyak tante girang, tidur siangbareng, wanita simpanan, dansebagainya. Selebihnya, penuh-sesaknyakompleks lokalisasi dan kamar hoteldengan eksekutif muda, dan lelakiseparuh baya.Namun di sisi lain, novel ini juga inginmengingatkan, bahwa seksualitas dalamsebuah keluarga bukanlah segalanya.Keluarga membutuhkan banyak hal:perhatian, kasih sayang, kepekaan,kerjasama, komunikasi, dan tentu sajagenerasi penerus di masa mendatang.Hubungan seks dan keharmonisan jelasUlasanEdisi01/tahun I/2012 37
  • 38. penting untuk membangun keluargabahagia, namun ketiadaan anak jugadiperlukan. Lagi-lagi, novel ini inginberbisik pada kita: Bersabarlah menitibahtera keluarga!Buku ini cocok dibaca siapa saja,kecuali anak-anak TK atau SD yang masihmemerlukan pendampingan orang tua.Para remaja perlu membaca novel ini,sebagai alternatif dan jalan lainmengasah hati dan emosi mereka. Sastraakan membiasakan remaja untukmelembutkan hati, dan meningkatkanketajaman otak kiri. Kekuatan otak kananyang menghasilkan pemikirancemerlang, harus diimbangi dengan otakkiri yang mumpuni sehingga dayaestetisnya tajam. Wawasan yangberbasis intelektual, harus diiringi akalbudi, dan pekerti. Sastra, adalah jalanlain untuk mengasah akal budi danpekerti.Bagi remaja, membaca novel inisungguh penting. Dengan mengenaljalan hidup Rustam, respon bapak, ibu,istri, dan kakak, begitu penting bagiremaja untuk menyiapkan segalanya dimasa mendatang. Novel ini menyediakangambaran alternatif bagi remaja,bagaimana sesungguhnya dunia yangdihadapinya, kini dan mendatang.Orang tua, guru, konselor, psikolog,seksolog, atau siapapun yang mengakudewasa, harus merasa perlu membacanovel ini sebagai referensi penting:Bahan kajian, referensi persoalan,pembanding hidup, dan melayani orang-orang di sekitarnya.Inilah jalan lain Lelaki dari Selatan. Iabukan fiksi klangenan, yang lahir darisekadar angan-angan. Lelaki dari Selatanadalah jalan lain kita untuk menikmatidan menghayati kehidupan. “Engkauharus menemukan kelelakianmu!” pesanPak Misto pada Rustam, dalam novel ini.Pesan itu seperti tidak saja tertuju padaRustam, tapi juga beribu-ribu danberjuta-juta anak muda yang harusmembacanya.Barangkali, dominasi seksualitas yangditampilkan hampil vulgar, sekaligus yangmenjadi kelemahan novel ini. Orangakan membanding-bandingkan novel inidengan novel-novel populer yangdigemari para remaja, atau cerpen-cerpen romantis di majalah remaja. Tapi,inilah pilihan. Seperti halnya Fredy S,Mira W, Nasjah Djamin, dan MotinggoBusye pernah melakukannya.Dan Tan Tjin Song, harus diacungijempol! Keberaniannya memilih novelber-style macam Lelaki dari Selatan ini,akan menunjukkan pada semua, bahwasastra adalah ruang tanpa batas.Sekaligus mengajarkan, bahwa hidupharuslah saling menghormati danmenghargai, bukan saling menihilkandan mematikan. (urotul aliyah)UlasanGerbang38 Sastra Menyatukan Bangsa
  • 39. Mengapa Anda Harus Pasang Iklan di Sini?Karena Majalah Sastra Gerbang adalah pintu masuk …..üMajalah ini dibaca dosen dan mahasiswa Universitas Borneo Tarakan, khususnyadi lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.üMajalah ini dibaca guru dan siswa SMP/MTs, SMA/SMK/MA di Tarakan,Bulungan, Nunukan (Nunukan, Sebatik, Sembakung, Krayan, Sebuku, Lumbis),Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Berau, dan Kabupaten/kota di KalimantanTimur.üMajalah ini dibaca pegawai pemerintah daerah, anggota DPRD, LembagaSwadaya Masyarakat, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Sosial Keagamaan,Perusahaan Swasta dan Masyarakat luas di Kota Tarkan dan sekitarnya.üMajalah ini dibaca mahasiswa dan dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan SastraIndonesia Perguruan Tinggi di Indonesia.üMajalah ini dibaca para penulis dan sastrawan Indonesia.üMajalah ini dibaca para pengusaha, karyawan, dan pemilik perusahaan diIndonesia.COVER BELAKANG (FULL COLOUR)a. 1 HALAMAN 10.000.000b. 1/2 HALAMAN 6.000.000c. ¼ HALAMAN 4.000.000d. 1/8 HALAMAN 2.500.00Halaman Cover Dalam (depan dan belakang, hitam putih)a. 1 halaman 7.000.000b. ½ halaman 4.000.000c. ¼ halaman 2.500.000d. 1/8 halaman 1.500.000Halaman Isi (hitam putih)a. 1 halaman 5.000.000b. ½ halaman 3.000.000c. ¼ halaman 2.000.000Pemasangan Logo Perusahaan di Cover depana. 1/8 halaman 7.500.000TARIF IKLANHubungi: 085247848611 (Muhammad Azni)Siapa Pembaca Majalah Ini?Edisi01/tahun I/2012 39
  • 40. Gerbang40 Sastra Menyatukan Bangsa