Your SlideShare is downloading. ×
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

No. 2-mei-2010

5,539

Published on

Published in: Economy & Finance, Technology
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
5,539
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 1 DAMPAK PROGRAM DANA BERGULIR BRR NAD–NIAS MELALUI KOPERASI DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PENERIMA MANFAAT DI PROVINSI ACEH M. HaykalAbstract: The objective of this research is to identify factors explaining an increase inbeneficiaries’ income as an impact of revolving fund program of Badan Rehabilitasi andRekontruksi (BRR) of Aceh and Nias through micro-finance enterprises and cooperatives inAceh Province. Data utilized in this study were collected from various sources rangingfrom direct interview with related respondents and agencies to detailed analysis onfinancial reports of cooperative and micro-finance enterprises. Descriptive and linearregression method are carried out to quantify the impact of the BRR’s revolving fund onbeneficiaries’ income. Besides, the statistical technique is designated as a tool to elaboratehow dependent and independent variables interacts one another. The distribution ofrevolving fund has a positive impact upon beneficiaries’ income. The magnitude of impactof BRR’s revolving fund on beneficiaries’ average income is considerably higher than thatbefore fund distributed. By undertaking a paired test, there existed a 82.09 percent value ofcorrelation. Partial correlation test also showed that positive impact occurred afterbeneficiaries utilized the fund to support their economic activities. Since the revolving fundhas a key role in helping the people to improve their welfare, local government isencouraged to deliver continuously the fund to the poor as a measure to boost theirincomes. However, fund receivers must have been equipped with sufficient managerialskills to make use of the fund efficiently and effectively.Keywords: income education, age, and working hours____________________________________________________________________ M. Haykal, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 2. 2 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010PENDAHULUAN Dampak bencana gempa dan tsunami telah membawa sebagian besar masyarakatProvinsi Aceh (NAD) dan Kepuluan Nias Sumatera Utara kehilangan mata pecaharian.Kondisi ini tidak dapat segera dipulihkan. Demikian juga sarana dan prasarana ekonomimenjadi rusak atau bahkan hilang sama sekali. Dampak terparah dirasakan oleh paranelayan dan sektor perikanan. Oleh karena itu, program bantuan sosial kepada masyarakatpada dasarnya merupakan amanah untuk menanggulangi kondisi dari kenyataan yangdisebutkan di atas, sekaligus sesuai dengan amanah “Blue Print” Pembangunan MasyarakatNAD dan Nias, yang harus dilakukan oleh BRR–Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Badan ini dibentuk dengan Keppres No 63 Tahun 2005 dan Undang-UndangNomor 10 Tahun 2005 yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan kembali Acehdan Nias pasca Gempa Bumi dan Tsunami 26 Desember 2004, dan Gempa 28 Maret 2005yang melanda Aceh dan Nias. Bidang Ekonomi dan Usaha BRR mempunyai kegiatandalam bidang pemulihan aset produktif dan microfinance, sistem pendukung usaha danmicrofinance, pengembangan usaha rumah tangga dan kelompok usaha, dan kegiatanlainnya dalam mendukung pemulihan ekonomi Aceh dan Nias pasca bencana. Data memperlihatkan bahwa betapa besarnya kerusakan akibat gempa bumi dantsunami, antara lain 130.000 jiwa meninggal dunia, 37.000 jiwa hilang, 500.000kehilangan tempat tinggal, sekitar 100.000 usaha kecil dan menengah kehilangan matapencahariannya, diperkirakan lebih dari USD 2,1 miliar sektor produktif mengalamikerusakan, 5 persen proyeksi penurunan ekonomi Aceh, 20 persen proyeksi penurunanekonomi di Nias, 32 persen pendapatan perkapita menurun, 5.176 UMKM rusak/hancur,7.529 warung usaha rusak/hancur, 1.191 restoran rusak/hancur, 25 unit bank umumrusak/hancur, 4 unit BPR rusak/hancur, 20 Lembaga Keuangan Mikro rusak/hancur, dan195 pasar rusak/hancur (BRR Renstra 2005-2009). Program pemberdayaan ekonomi dan pengembangan usaha telah banyakdilakukan oleh BRR, antara lain melalui Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dengansistem dana bantuan (revolving fund) yang disalurkan melalui BRR Satker Koperasi danUsaha Kecil Menengah kepada Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro dalam rangkapemberdayaan usaha kecil dan menengah. Secara umum program dana bantuan bertujuanuntuk (1) meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan, (2) meningkatkan volume usahakoperasi dan UKM, (3) meningkatkan penyerapan tenaga kerja, (4) meningkatkansemangat berkoperasi, (5) meningkatkan pendapatan anggota dan (6) membangkitkan etoskerja. Program dana bantuan yang dikembangkan BRR NAD–Nias sampai saat adabeberapa sumber, pada Tahun Anggaran 2005/2006-Luncuran dan 2006 BRR SatkerKoperasi dan Usaha Kecil Menengah telah membina sebanyak 146 LKM dengan jumlahdana yang telah disalurkan mencapai Rp 124,009,279,000,- miliar yang masing-masingLKM menerima dana berkisar antara Rp 410 juta sampai dengan Rp 2,03 miliar. Dari 146LKM yang telah dibina sebagian besar bantuan dana bantuan disalurkan kewilayah yangmengalami musibah Tsunami. Program dana bantuan yang diamati dan dibahas dalam tulisan ini adalah programdana bantuan yang bersumber dari BRR NAD–Nias. Program dana bantuan ini diaturdalam beberapa petunjuk teknis yang berkaitan dengan dana bantuan untuk pengembanganusaha koperasi dan lembaga keuangan mikro. Berbagai permasalahan muncul dalamprogram ini, seperti tidak tepat sasaran penentuan LKM dan koperasi pengelola, penerima
  • 3. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 3manfaat, rendahnya kualitas SDM pengelola dana, tidak tersedianya laporan keuangan(sesuai yang diharapkan), bahkan sebagian dari dana tersebut diselewengkan oleh penguruskoperasi. Efektifitas dari program ini sangat diragukan, hal ini dapat dilihat dari sebagianbesar dari LKM belum transparan dan akuntabel, dan jeleknya persepsi masyarakatterhadap koperasi (Hasil Evaluasi Dewan Pengawas BRR NAD–Nias tahun 2008).Kenyataan yang didapat tersebut mengundang banyak pertanyaan diantaranyakemungkinan program tersebut kurang tepat sasaran, atau tidak adanya kelanjutan dariprogram tersebut. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada Dampak Program Danabantuan BRR NAD–Nias Melalui Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro TerhadapPeningkatan Pendapatan Masyarakat Penerima Manfaat di Provinsi Aceh Darussalam.TINJAUAN PUSTAKAPendapatan Data mengenai pendapatan yang diperoleh rumahtangga sangat sulit diperoleh,sehingga biasanya data pendapatan didekati melalui data pengeluaran rumahtangga. Suaturumahtangga yang pengeluaran per kapitanya di bawah garis kemiskinan makadikatagorikan miskin (berpendapatan rendah). Penentuan yang digunakan BPS iniberdasarkan pada standar kecukupan pangan setara 2100 kilo kalori per kapita per hari(Widya Karya Pangan dan Gizi, 1978), ditambah dengan kebutuhan minimum bukanmakanan (nonmakanan). Komponen kebutuhan nonmakanan antara lain kebutuhanperumahan (sewa rumah, pemeliharaan rumah, bahan bakar, penerangan, air, fasilitasjamban, perlengkapan mandi), sandang (pakaian dan alas kaki), pendidikan (seperti iuranSPP dan BP3, buku pelajaran, alat tulis), kesehatan (berobat sendiri, berobat ke Puskesmas,berobat ke dokter/mantri kesehatan), transportasi/ongkos angkutan, rekreasi, kasur, bantal,sapu, pisau, kompor, periuk, pajak bumi bangunan, dan kebutuhan dasar nonmakananlainnya (BPS:2000).Tingkat Pendidikan Data yang ada membuktikan bahwa pendidikan memang memiliki pengaruh yangpositif terhadap promosi pertumbuhan ekonomi. Tersedianya tenaga kerja terampil danterdidik sebagai syarat penting berlangsungnya pembangunan ekonomi secaraberkesinambungan tidak perlu diragukan lagi. Adanya korelasi positif antara tingkatpendidikan seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya seumur hidup. Mereka yangberpendidikan sekolah menengah keatas mempunyai penghasilan 300-800 persen lebihtinggi daripada pekerja yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau dibawahnya (Todarodan Smith, 2003:458).Jam Kerja Berdasarkan Konsep Ketenagakerjaan (The Labour Force Concept) ILO seseorangdapat digolongkan sebagai pekerja penuh atau setengah penganggur berdasarkan jamkerjanya. Mereka yang bekerja 35 jam per minggu keatas digolongkan sebagai pekerjapenuh, sedangkan yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dikatagorikan sebagaisetengah penganggur (BPS, 2004).STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 4. 4 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Usia Pekerja Penelitian Arya dan Antara (1993) menyatakan bahwa usia berpengaruh terhadapproduktivitas tenaga kerja dan dalam batas-batas tertentu, semakin bertambah usiaseseorang, semakin produktif tenaga kerja yang dimiliki (dalam Diliana, 2005).Lebih lanjutBecker (1993) menguraikan bahwa produktivitas marjinal dari mereka yang menerimatambahan pendidikan (pelatihan kerja, sekolah, dan tambahan pengetahuan lainnya) jugatergantung pada faktor usia. Tingkat pendapatan akan lebih banyak meningkat padagolongan usia muda daripada usia tua. Selama masa pelatihan pendapatan yang diterimaakan lebih rendah daripada marjinal produk dan sesudah masa pelatihan.Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan dan hasil penelitian sebelumnya dapatdiajukan hipotesis pada penelitian ini adalah : 1. Program dana bantuan BRR NAD – Nias berdampak positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat di Provinsi Aceh. 2. Faktor–faktor pendidikan, jam kerja, umur dapat menjelaskan peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat sebelum program. Jumlah dana, jam kerja, pendidikan, jumlah dana bantuan, umur dan menerima dana dari sumber lain selain BRR dapat menjelaskan pendapatan penerima manfaat setelah program dana bantuan BRR NAD–Nias di Provinsi Aceh.METODE PENELITIANRuang Lingkup Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) denganmemilih sebanyak 11 kabupaten dari 23 kabupaten yang mendapat bantuan progaram danabantuan. Penelitian ini dilakukan pada koperasi dan LKM binaan BRR NAD-Nias tahunanggaran 2005 dan 2006 di 11 Kabupaten/Kota dalam wilayah NAD.Teknik Penarikan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat penerima program bantuan danabantuan BRR NAD - Nias Tahun Anggaran 2005 dan Tahun Anggaran 2006. Teknikpengambilan sampel dilakukan dengan cara two stage cluster random sampling, yaitupengambilan sampel yang dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah yang menjadiobjek penelitian ini. Sesuai dengan masalah yang ingin dibahas dan mengingat keterbatasan waktu,tenaga dan biaya, maka pemilihan responden untuk menjadi responden dari populasi yangada ditentukan secara two stage cluster random sampling. Nazir (2003: 315)mengemukakan bahwa dalam two cluster random sampling tidak semua unit elimenterdalam Primary Sampling Unit (PSU) digunakan. Akan tetapi ditarik lagi sample dari tiap-tiap PSU dengan sampling fraction yang berimbang dengan jumlah anggota atau unitelimenter dalam tiap PSU. Pengambilan sampel dengan metode ini dianggap cukup untukmewakili populasi yang akan diteliti.
  • 5. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 5Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.Data Primer diperoleh dari wawancara dengan penerima manfaat. Sedangkan data sekunderdiperoleh melalui laporan keuangan koperasi/LKM, data pendukung lainnya dari BRRSatker Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Laporan Dewan Pengawas BRR NAD-Nias.Model Analisis Dalam menganalisa dampak Program Dana bantuan BRR NAD–Nias melaluiKoperasi dan LKM data yang telah terkumpul, terlebih dahulu ditabulasi dan kemudiandiolah dengan menggunakan rumusan secara deskriptif melalui analisa cross tab, uji bedadua rata-rata dan uji statistik secara parsial melalui linear by linerar association danpearson’s R. Sementara untuk mengetahui besarnya kemampuan variabel bebas dalammenjelaskan pendapatan usaha kepala keluarga penerima manfaat sebagai variabeldependen (Y) dihitung dengan model regresi linear berganda, yaitu sebagai berikut :Yi = f (dana bantuan, jamkerja, dik, FB, umur, dummy)Ln Yi = β0+β1 Lndana + β2 Lnjamkerja + β3 Lndik + β4 LnFB + β5 Lnumur +β6Lndummy+ εiDimana : Y : Pendapatan usaha KK Penerima Manfaat sebelum dan sesudah (Rp.) dana : jumlah dana bantuan yang diterima terakhir (Rp) jamkerja : Jam Kerja (jam) dik : Lama Pendidikan Penerima Manfaat (tahun) FB : Frekuensi dana bantuan diterima (kali) umur : Umur Penerima Manfaat (tahun) Dummy : Variabel dummy yang menerima dana bantuan lainnya (NGO, Pemda, dll = 1 ; tidak menerima bantuan lainnya = 0) β0 : Konstanta β1, β2, β3 …. β n. : Koefisien regresi εi : Faktor pengganggu (Error term). Yi : 1,2,3 1 = Pendapatan KK sebelum program 2 = Pendapatan KK sesudah program 3 = Pendapatan sesudah dikurangi pendapatan sebelum programDefinisi Operasional Variabel Adapun variabel yang digunakan sebagai bahan analisis dalam penelitian inidiartikan sebagai berikut:1. Program Dana bantuan adalah bantuan penguatan masyarakat ekonomi lemah dalam bentuk uang atau barang yang disalurkan melalui koperasi/LKM kepada masyarakat untuk peningkatan pendapatan masyarakat desa terutama masyarakat miskin, dengan sumber dana dari BRR NAD–Nias, yang diukur dengan satuan rupiah.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 6. 6 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 20102. Frekuensi Dana bantuan Diterima adalah banyaknya dana tersebut mampu di gulirkan kepada masyarakat penerima manfaat, yang diukur dengan frekuensi penerimaan.3. Umur Penerima Manfaat adalah usia penerima maanfaat pada saat menerima dana bantuan untuk menjalankan kegiatan ekonomi keluarga, yang diukur dalam tahunan.4. Pendapatan usaha kepala keluarga adalah besarnya penghasilan yang diterima oleh kepala kelaurga dari usaha utama yang mereka kerjakan dan usaha ini pernah diberikan modal usaha oleh BRR NAD–Nias melalui lembaga keuangan mikro atau koperasi, yang diukur dalam satuan rupiah.5. Jam Kerja adalah jumlah waktu yang dialokasikan untuk melakukan kegiatan ekonomi produktif, dalam hal ini adalah waktu yang dihabiskan untuk mengelola usaha yang pernah mendapatkan modal usaha dari BRR NAD–Nias melalui LKM/koperasi, yang diukur dalam satuan jam.6. Lama pendidikan penerima manfaat adalah jenjang pendidikan yang ditempuh oleh penerima manfaat sebelum menerima dana bantuan BRR NAD–Nias, yang diukur dalam tahunan.7. Frekuensi penerimaan dana bantuan dari BRR NAD–Nias adalah banyaknya kucuran dana bantuan yang diterima oleh koperasi/LKM setiap tahunnya, yang diukur dalam satuan.8. Perkembangan Penerima Manfaat adalah selisih penerima manfaat sebelum dengan setelah penerimaan dana bantuan.9. Pendapatan Selisih adalah Pendapatan setelah program dikurangi dengan pendapatan sebelum program yang diukur dalam satuan rupiah.10. Menerima Bantuan Lainnya (Dummy) adalah bantuan yang diterima selain dari BRR NAD–Nias baik dari NGO maupun dari pemerintah.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANPendapatan Rata-rata pendapatan usaha penerima manfaat (laki-laki dan perempuan) sebelummenerima bantuan adalah Rp 2.275.863. Diantara mereka ada yang berpendapatan hanyaRp 200.000, sebaliknya disisi lain ada pula yang berpenghasilan hingga Rp 20 juta. Jikadikelompokkan menurut jenis kelamin, pendapatan usaha penerima manfaat pada kelompokperempuan rata-rata sebesar Rp 1.829.592 per bulan. Sedangkan kelompok laki-lakimemperoleh pendapatan lebih besar, yaitu Rp 2.459.622. Setelah penerima manfaatmemperoleh bantuan BRR NAD-Nias yang jumlahnya bervariasi, pada umumnya merekamemperoleh pendapatan yang lebih banyak sekitar Rp 625.000. Pendapatan penerimamanfaat kelompok perempuan rata-rata meningkat menjadi Rp 2.466.327 dan kelompoklaki-laki menjadi Rp 3.086.134. Pendapatan penerima manfaat pada umumnya meningkat setelah menerima bantuan.Peningkatan pendapatan terjadi pada penerima manfaat kelompok umur 60 tahun keatas.Kemudian pada kelompok umur setingkat di bawahnya (meningkat Rp 800 ribu), danberturut-turut hingga kelompok umur 30-39 tahun (naik Rp 162 ribu).
  • 7. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 7 Tabel 1: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima Manfaat Sebelum dan Sesudah Menerima Bantuan BRR Menurut Kelompok Umur kelompok Jenis kelamin Total Periode umur Laki-laki Perempuan < 30 sebelum 1.613.333 362.500 1.350.000 sesudah 793.333 462.500 723.684 30-39 sebelum 1.153.276 1.150.000 1.152.317 sesudah 1.319.655 1.300.000 1.313.902 40-49 sebelum 1.815.957 1.710.000 1.784.328 sesudah 2.240.000 2.150.500 2.213.284 50-59 sebelum 2.730.769 2.460.000 2.613.043 sesudah 3.653.846 3.099.000 3.412.609 >= 60 sebelum 7.613.333 5.200.000 7.211.111 sesudah 9.766.667 7.500.000 9.388.889 sebelum 2.459.622 1.829.592 2.275.863 Total sesudah 2.936.555 2.325.510 2.758.333Sumber: Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Jam Kerja Penerima manfaat laki-laki umumnya bekerja lebih lama daripada penerima manfaatperempuan, masing-masing tercatat 8,22 jam dan 7,88 jam per hari. Hal ini terjadi bisaterjadi akibat peran ganda perempuan, yaitu disamping bekerja mencari pendapatan di luarrumah, ia juga harus melakukan kegiatan wilayah domestik untuk mengurus keluarganya.Lama Pendidikan Penerima Manfaat Lama pendidikan penerima manfaat rata-rata 9,49 tahun, berarti mereka telah lulussekolah lanjutan tingkat pertama (SMP) atau telah lulus pendidikan dasar 9 tahun. Antaralaki-laki dan perempuan hampir sama masing-masing 9,38 tahun dan 9,76 tahun. Jikaseorang penerima manfaat hanya menamatkan sekolah dasar, rata-rata pendapatan yang iaperoleh setelah menerima bantuan sebesar Rp 2,057 juta. Jika ia menamatkan SMA,pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 3,2 juta. Andaikan ia menamatkan pendidikanhingga perguruan tinggi, ia dapat menghasilkan pendapatan Rp 5,2 juta setelah menerimaprogram bantuan.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 8. 8 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 2: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima Manfaat Sebelum dan Sesudah Menerima Bantuan BRR Menurut Tingkat Pendidikan Pendapatan Rata-Rata Pendidikan Sebelum Sesudah Total Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan SD 2.079.865 845.000 2.270.270 1.270.000 1.616.284 SMP 1.976.857 1.405.000 2.505.714 1.802.500 1.922.518 SMA 2.244.643 2.080.000 3.244.643 3.080.000 2.662.322 Sarjana 4.405.263 3.588.889 5.510.526 4.588.889 4.523.392 Total 2.676.657 1.979.722 3.382.788 2.685.347 2.681.129Sumber: Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Analisis Regresi Jika dilihat dari nilai koefisien determinasi, maka sekitar 74,7 persen variasi daripendapatan penerima manfaat sesudah mendapatkan bantuan dapat dijelaskan oleh modelini. Sedangkan sekitar 25 persen lainnya dipengaruhi oleh variabel lain. Jika dilihat secaraparsial setiap variabel bebas, hasil pengujian menunjukkan bahwa setiap variabel yangdiduga mempengaruhi pendapatan penerima manfaat setelah memperoleh bantuan. Semuavariabel tersebut dengan nyata mampu menjelaskan terhadap pendapatan penerima manfaat(Tabel 4.2). Variabel jumlah dana yang diterima misalnya, variabel ini paling besarpengaruhnya terhadap pendapatan sesudah menerima bantuan. Hal ini juga diperkuat olehuji hubungan dan kekuatan hubungan itu. Lebih jauh secara teoritis, jika modal yangdigunakan besar, semakin besar pula omset dan keuntungan yang diperoleh. Pada bahasan sebelumnya diketahui bahwa model regresi tersebut signifikan,pengujian dilanjutkan dengan uji masing-masing parameter dengan menggunakan statistikuji Wald yang mengikuti sebaran χ2(0,05;1), atau pada bagian coefficients dalam regresi. Nilait hitung dapat dilihat pada kolom nilai t (Tabel 4.12 di bawah ini dan signifikansinya padakolom Sig.). Jika suatu variabel mempunyai nilai Sig.<0,05, berarti dapat disimpulkanbahwa variabel tersebut mempengaruhi pendapatan. Penghitungan yang menghasilkan nilait besar akan menunjukkan bahwa variabel tersebut sangat signifikan mempengaruhipendapatan. Nilai statistik uji Wald berlawanan dengan nilai signifikansinya (Sig.), semakinbesar nilai semakin kecil nilai Sig. dan artinya semakin signifikan mempengaruhipendapatan. Pada model pendapatan penerima manfaat sebelum menerima bantuan, semuavariabel bebas, kecuali variabel dummy secara signifikan mempengaruhi pendapatan.Berturut-turut variabel pendidikan mempunyai signifikansi paling kuat, diikuti variabel jamkerja, dan umur. Namun demikian ternyata variabel jam kerja mempunyai pengaruh sedikitlebih besar daripada variabel pendidikan. Ini terlihat dari nilai β yang tercatat 0,352sedangkan β pendidikan 0,351.
  • 9. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 9 Tabel 3: Hasil Regresi Parsial Model Pendapatan Penerima Manfaat Sebelum Menerima Bantuan Unstandardized Standardized Coefficients Variable Coefficients t Sig. Std. β Beta Error (Constant) 7.447 0.644 11.558 0.000 Lndik 0.677 0.133 0.351 5.092 0.000 lnjamkerja 1.393 0.294 0.352 4.740 0.000 Lnumur 0.658 0.253 0.200 2.598 0.010 Dummy 0.020 0.082 0.011 0.239 0.811 2 R = 814 R = 0,656 F = 107,243 A Dependent Variabel: lnYsebSumber : Data Primer Hasil Penelitian (diolah) Parameter β pada model pendapatan penerima manfaat sesudah menerima bantuanuntuk semua variabel signifikan termasuk dummy variable/penerimaan bantuan dari pihaklain. Pada model ini ternyata variabel jumlah dana bantuan yang diterima penerima manfaatmempunyai pengaruh paling besar dan paling kuat dibandingkan dengan variabel lainnya.Dengan β=0,329 menunjukkan bahwa pendapatan akan naik 33 persen dari peningkatanjumlah dana bantuan. Variabel berikut ini adalah jam kerja, pendidikan, umur, frekuensibantuan, serta variabel penerimaan bantuan dari pihak lain yang merupakan variabeldummy. Tabel 4: Hasil Regresi Parsial Model Pendapatan Penerima Manfaat Sesudah Menerima Bantuan Unstandardized Standardized Model Coefficients Coefficients t Sig. β Std. Error Beta (Constant) 5.741 0.742 7.738 0.000 lndanaX 0.317 0.060 0.329 5.241 0.000 lnjamkerja 0.708 0.204 0.226 3.471 0.001 Lndik 0.340 0.095 0.223 3.566 0.000 lnFB 0.383 0.145 0.126 2.645 0.009 Dummy -0.181 0.056 -0.132 -3.247 0.001 Lnumur 0.535 0.179 0.206 2.986 0.003 R = 0,870 R2 = 0,747 F = 82,859 Dependent Variabel: A lnYsdhSumber : Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Pengujian Asumsi Regresi Multikolinearitas adalah hubungan yang sempurna antara beberapa atau semuavariabel bebas (X) dalam model regresi yang digunakan. Jika terjadi multikolinearitas yangSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 10. 10 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010serius di dalam model maka pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabeltidak bebas (Y) tidak dapat dipisahkan, sehingga estimasi yang diperoleh akan menyimpang(bias). Adapun cara untuk melihat ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model adalahdengan cara membandingkan nilai koefisien korelasi antara sesama variabel-variabel bebas(r) dengan nilai koefisien korelasi antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (R).Apabila nilai R memiliki nilai yang lebih kecil dari nilai r maka dengan tegas dapatdisimpulkan bahwa multikolinearitas yang terdapat dalam model dinyatakan sebagaimasalah yang serius, tetapi apabila R memiliki nilai yang lebih besar dari nilai r makadengan tegas dapat disimpulkan bahwa multikolinearitas tidak terdapat dalam model. Dari hasil regresi dapat dijelaskan bahwa r parsial baik sebelum maupun sesudahprogram dana bantuan sesama masing-masing variabel bebasnya ternyata lebih kecildibandingkan dengan R (0,814: sebelum program), R (0,870: setelah program). Begitu jugahalnya untuk model selisih dimana nilai R lebih besar dari r dimana nilai R mencapai 0,617pada estimasi model regresi yang diperoleh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwatidak terdapat hubungan sempurna antar variabel bebas (multikolinearitas) pada ketigamodel yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji gejala multikolinearitas terhadapmodal selisih juga memperlihatkan terbebas model ini terbebas dari gejala multikolinearitaskarena r lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai R. Asumsi heteroskedastisitas berkaitan dengan varian variabel pengganggu, yaitumenguji kekonstanan varian variabel pengganggu. Evaluasi terhadap keberadaanheteroskedastisitas dilakukan melalui analisis pada gambar scatterplot. Dari ketiga gambar(lampiran 3), terlihat bahwa sebelum, sesudah dan model selisih sesudah dengan sebelumdana bantuan scatterplot tidak berpola, sehingga disimpulkan tidak terjadiheteroskedastisitas pada model. Pengujian model regresi terhadap gejala autokorelasidilakukan dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (D-W test). Untuk autokorelasi,Disturbance terms atau variabel pengganggu yang terbentuk dalam model diasumsikantidak mempunyai hubungan serial yang tinggi atau berbahaya, tingginya hubungan inidievaluasi melalui koefesien Durbin Watson (DW) yang dihasilkan oleh model, bilabesarnya berada diantara dU dan 4-dU dinyatakan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi.Berdasarkan hasil regresi diperoleh besarnya koefesien DW masing-masing adalah 1,886(model sebelum program), 1,917 (model setelah program) dan 1,799 (model selisih setelahdikurangi sebelum). Pada gambar dibawah ditunjukan koefesien tersebut berada di daerahtidak terjadi autokorelasi atau tidak terjadi pelanggaran. Sedangkan untuk mengevaluasi hubungan antar variabel bebas, bila diketahuimemiliki hubungan kuat dinyatakan terjadi multikolinieritas. Kuatnya hubungan tersebutdilihat dari nilai koefesien Variance Inflation Factor (VIF), hasil pengujian menemukannilai VIF masing-masing variabel bebas untuk model sebelum program berkisar antarasebesar 1,065 sampai dengan 2,830, untuk nilai VIF setelah program dari yang terendahsampai yang tertinggi adalah 1,086 sampai dengan 3,122 dan untuk model selisih nilai VIFberkisar antara 1,043 sampai dengan 1,789. Karena masing-masing variabel bebas VIFnyatidak lebih dari 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi pelanggaran multikolinieritas, dengankata lain model regresi linier berganda terbebas dari asumsi klasik dan dapat digunakandalam model.
  • 11. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 11KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1. Penerima manfaat laki-laki umumnya bekerja lebih lama daripada penerima manfaat perempuan. Pendapatan responden lebih tinggi setelah menerima program dana bantuan dibandingkan dengan sebelum menerima dana bantuan walaupun penggunaan jam kerjanya sama.2. Hasil survei menunjukkan bahwa lamanya pendidikan mempunyai pengaruh pada pendapatan yang diperoleh. Sesudah responden menerima bantuan, pendapatan yang diperoleh lebih besar dari sebelumnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang penerima manfaat, pendapatan yang diperoleh semakin besar.3. Besarnya pengaruh dana bantuan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat dapat dilihat dari tingkat pendapatan rata-rata responden setelah program lebih besar dibandingkan sebelum program dana bantuan dijalankan, nilai uji statistik linear by linear association jauh lebih besar setelah program dibandingkan sebelum program dan nilai uji beda dua rata-rata yang membuktikan bahwa adanya dampak yang singnifikan antara pendapatan sebelum dengan sesudah program dengan nilai Thitung lebih besar dari Ttabel dengan korelasi mencapai 82,09 persen.4. Pengujian parameter menggunakan statistik uji Wald/nilai t hitung menunjukkan bahwa program dana bantuan BRR NAD–Nias berpengaruh nyata dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat, kecuali variabel dummy yang tidak signifikan.Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat disarankan kebijakan yang perludilakukan sebagai berikut:1. Diharapkan kepada pemerintah daerah melalui instansi terkait agar meningkatkan kegiatannya dalam upaya mencerdaskan masyarakat terutama di sektor pendidikan dan pelatihan. Khusus untuk masyarakat dengan latar belakang ekonomi lemah ini diperlukan perhatian khusus dengan membina secara bertahap dan berkelanjutan dalam bentuk pendampingan, pelatihan manajemen/perencanaan termasuk teknik pembukuan/akuntansi sederhana untuk memastikan mereka dapat melakukan kegiatan ekonomi secara optimal.2. Diharapkan kepada lembaga keuangan mikro untuk dapat meningkatkan pelayanan secara prima kepada masyarakat melalui perbaikan mekanisme administrif yang cepat, tepat dan efektif dengan tidak mengabaikan prinsip kehati-hatian agar tidak terjebak dalam kridit macet pasca penyaluran dana.3. Diharapkan kepada dinas terkait dan koperasi/LKM untuk memperbaiki moral hazard, khusus untuk masyarakat penerima manfaat supaya memanfaatkan dana bantuan BRR NAD–Nias dalam bentuk modal usaha secara benar dan bertanggung jawab agar dana tersebut terus bergulir ditengah-tengah masyarakat dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat Aceh.4. Diharapkan kepada koperasi/LKM untuk menjalin kerjasama baik dengan bank umum maupun LKM lainnya yang telah berpengalaman dan berhasil dalam pengelolaan dana bantuan. Bentuk kerjasama diutamakan dalam hal magang staff dan bidang lainnyaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 12. 12 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Lembaga Keuangan Mikro pengelola dana bantuan BRR NAD – Nias.DAFTAR PUSTAKAAgresti, Alan. 1990. Catagorical Data Analysis. Canada: John Wiley & Sons.Ananta, Aris. 1988. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Demografi Universitas Indonesia.Angkat, Marine Sohadi. 2004. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Makanan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003. (Tesis). Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.Ackley, Gardener. 1986. Teori Ekonomi Makro. Terjemahan Paul Sihotang. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.Akhirmen. 1993. Pengaruh Karakteristik Terhadap Pendapatan Pedagang Kecil Sektor Informal di Pasar Raya Kotamadya Padang (Laporan Penelitian). Padang: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang.Badan Pusat Statistik (BPS). 2004. Metodologi dan Profil Kemiskinan 2004. Jakarta: BPS._______. 2004. Aceh Dalam Angka 2004. Banda Aceh: BAPPEDA dan BPS Provinsi NAD._______. 2004. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2004. Jakarta: BPS._______. 2005. Press Release: Rumahtangga Penerima Kompensasi BBM. Banda Aceh: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam._______. 2005. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000- 2004. Banda Aceh: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam._______. 2005. 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: BPS._______. 2005. Penduduk dan Kependudukan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Hasil SPAN 2005. Jakarta: BPS.Becker, G.S. 1993. Human Capital A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education. Chicago: The University of Chicago Press.DeWeever, Avis Jones. 2002. Marriage Promotion and Low-Income Communities: An Examination of Real Needs and Real Solutions. The Institute for Women’s Policy Research (IWPR). http://www.iwpr.orgDiliana, Fransiska Bonita. 2005. Perbandingan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Magelang Tahun 2003. Jakarta: STIS.Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: LP3ES.Dornbush, R. dan S. Fisher. 1984. Ekonomi Makro. Terjemahan. Jakarta: Erlangga.Fein, David J. 2004. Married and Poor: Basic Characteristics of Economically Disadvantaged Couples in the U.S. Abt Associates. Virginia: MDRC.Fisher, Gordon M. 1994. From Hunter to Orshansky: An Overview of (Unofficial) Poverty Lines in the United States from 1904 to 1965. Washington D.C.: Census Bureaus Poverty Measurement.Friendly. M. 1995. Catagorical Data, Part 6: Logistic Regression.
  • 13. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 13Harun, Tommy. 1997. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Pekerja: Kasus Pekerja Migran di Indonesia (Analisis Data Sakerti 1993. (Tesis). Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.Howell, David C. 2001. Advance Statistical Method.Johnston, Richard A. and Dean W. Wichern. 1992. Applied Multivariate Statistical Analysis. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.Lanjouw, Jean Olson. 1995. Demystifying Poverty Lines.Mankiw, Gregory. 2002. Pengantar Ekonomi. Jakarta: Erlangga.Michaud, Pierre-Carl and Arthur van Soest. 2004. Health and Wealth of Elderly Couples: Causality Tests Using Dynamic Panel Data Models. Bonn: Tilburg University and IZA (The Institute of the Study of Labor) Bonn.Mukhyi, Mohammad A. 2002. Analisis Faktor Penentu Tingkat Gaji di Jakarta. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis 3. No. 7: 108-111.Nachrowi, Nachrowi Djalal dan Hardius Usman. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.Neter, John, William Waserman, Michael H. Kutner. 1985. Applied Linear Regression Model. Boston: Irwin Richard D. Inc.Santoso, Singgih. 2001. SPSS versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta: Elex Media Komputindo.Simon, Steve. 2005. Using SPSS to Develop a Logistic Regression Model. Children’s Mercy.Subramanian dan Kawachi. 2004. Income Inequality and Health: What Have We Learned So Far? The Department of Society, Human Development, and Health, Harvard School of Public Health, Boston, MA.Tjiptoherijanto, Prijono dan Soesetyo. 1996. Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.Todaro, Michael P, Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. (Jilid 1 dan 2, Terjemahan Haris Munandar). Jakarta: Erlangga.Winkelried, Diego. 2005. Income Distribution and the Size of Informal Sector. Cambridge: St. John’s College and University of Cambridge.World Bank Institute. 2002. Dasar-dasar Analisis Kemiskinan. (Terjemahan Ali Said dan Aryago Mulia). Jakarta: Institut Bank Dunia.Wuensch, Karl L. 2004. Binary Logistic Regression with SPSS. http://www2.gasou.edu/edufound.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 14. 14 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE ON EPEROLEHAN DESIGN Nor Hadza binti Nor YadzidAbstract: To cultivate a knowledge-rich society in Malaysia and take the country into theInformation Age, the Malaysian Government embarked upon the Multimedia SuperCorridor (MSC) initiative in 1996 and Malaysian government has initiated ElectronicGovernment with a primary aim of to create a virtually paperless administration, with aneye towards the widespread use of electronic and multimedia networks in the Government.The electronic procurement system, better known as ePerolehan or eProcument byMalaysian government is a focus of this study to represent one of MIS used by thegovernment. ePerolehan streamlines government procurement activities that hopes toimproves the quality of service it provides. ePerolehan converts traditional manualprocurement processes in the Government to electronic procurement on the Internet. Closeco-operation with the users lead to good systems analysis and design allowing softwaredevelopers to gain an understanding of the user requirements. However an organizationalculture that bounding an organization and in this case the Malaysian government mightalso have an implication in understanding the users requirement and thus the designing ofthe required system. Therefore the objective of this study is to describe the relationshipbetween organizational culture of Malaysian government agencies and the design ofePerolehan system in order for the system to run successfully in meeting its objectives andat the same time are able to meet the needs of all users.KeyWords: management information system, electronic procurement, organizational culture, culture dimension____________________________________________________________________ Nor Hadza binti Nor Yadzid, Master of Accountancy Graduate School of Business, National University of Malaysia, Malaysia
  • 15. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 15INTRODUCTIONTechnology has created new information alternatives that may influence the wayinformation system users make decisions. Accounting information systems (AIS) provideinput for decision making. Technology has availed many new information alternatives suchas a presentation features that could change the way decisions are made. An access to adatabase of basic transaction information makes it possible to acquire detailed accountingdata and aggregate it differently for each decision situation. A good system can provideflexible, interactive user interfaces that immediately respond to a myriad of informationrequests. Management information system (MIS) is part of AIS and it is a subset of theoverall internal controls of a business covering the application of people, documents,technologies, and procedures by management accountants to solve business problems suchas costing a product, service or a business-wide strategy. Management information systemsare distinct from regular information systems in that they are used to analyze otherinformation systems applied in accounting and operational activities in the organization tosupport of human decision making. By referring to Malaysian perspective, in order to cultivate a knowledge-rich societyin Malaysia and take the country into the Information Age, the Malaysian Governmentembarked upon the Multimedia Super Corridor (MSC) initiative in 1996 and set up theMultimedia Development Corporation (MDC) to oversee its development. The MDC aimsto be a "one-stop super shop" focused on publicizing the advantages of the MSCworldwide, regulating laws and policies related to the development of the MSC, andoverseeing the overall development of the MSC infrastructure. The MSC comprises sevenflagship applications, designed to facilitate the development of the country towardsbecoming a key player in the Information Age. The Current waves of E-Government are rising through public organizations andpublic administration across the world. More and more governments are using ICTespecially Internet or web-based network, to provide services between governmentagencies and citizens, businesses, employees and other non-governmental agencies(Zaharah, 2007; Ndou, 2004; Donnelly & McGruirk, 2003; Fang, 2002). The Malaysiangovernment has envisioned a technologically advanced society and implicitly, atechnologically enabled government through its Vision 2020 (Hazman et al.., 2006;Maniam, 2005). The move towards a digital government is progressing slowly along thegovernment-to-government (G2G) route and also along the government-to-citizen (G2C)and government-to-business (G2B) path. Malaysian government has initiated Electronic Government with a primary aim ofto create a virtually paperless administration, with an eye towards the widespread use ofelectronic and multimedia networks in the Government. Programmes under this initiativeinclude Project Monitoring System, Human Resource Management Information System,Generic Office Environment, Electronic Procurement, E-Services, E-Government and E-Syariah. Electronic and multimedia infrastructure will eventually encompass all levels ofgovernment, and it doing so, information flows and processes related to government affairswill be made faster and more efficient. The electronic procurement system, better known as ePerolehan by Malaysiangovernment is a focus of this study to represent one of MIS in Malaysia. ePerolehanstreamlines government procurement activities that hopes to improves the quality of serviceSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 16. 16 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010it provides. ePerolehan converts traditional manual procurement processes in theGovernment to electronic procurement on the Internet. Through ePerolehan suppliers maypresent their products on the World Wide Web, receive, manage and process purchaseorders and receive payment from government agencies via the Internet. The suppliersproduct catalogue is converted into the form of an electronic catalogue or eCatalogue,which can be viewed from any desktop with a web browser. Besides that, supplier is able tosubmit quotations, obtain tender document, submit tender bid and also to register or renewtheir registration with the Ministry of Finance through the internet via ePerolehan.Suppliers are also able to submit application, check application status and pay registrationfees easily through ePerolehan. With a high competition in the private and public sector, organizations aredemanded to provide a greater efficiency, quality and more flexibility of services. Thiscondition imposes additional demands on the organization’s information processingcapabilities. In trying to achieve these strategic objectives, organizations adopt moresophisticated and comprehensive management information systems (MISs) (Choe, 1996;Ghorab, 1997). These provide top managers with a comprehensive and broad range ofinformation about multiple dimensions of the firm’s operations (Choe, 1996, 2004),facilitating decision-making and performance achievement (Kaplan & Norton, 1996; Kim& Lee, 1986). Government as an organizations would have different organizational culturethat will affect the designing of ePerolehan that later will help them to achieve theirstrategic performance successfully. Malaysian government has developed its own MIS and by developing a tailor madeinformation system, it is belief may increase the functionalities to meet specific userrequirements. The success of a tailor made MIS depends very much on the co-operationbetween the users and the developers. Close co-operation with the users lead to goodsystems analysis and design allowing software developers to gain an understanding of theuser requirements. However an organizational culture that bounding an organization and inthis case the Malaysian government might also have an implication in understanding theusers requirement and thus the designing of the required system. Culture refers to an organizations values, beliefs, and behaviors. In general, it isconcerned with beliefs and values on the basis of which people interpret experiences andbehave, individually and in groups. Firms with strong cultures achieve higher resultsbecause employees sustain focus on the way of doing things. Culture is shaped by corporatevision, shared values, beliefs, assumptions, past experience, learning, leadership andcommunication. Organizational culture on the other hand is an idea in the field of organizationalstudies and management which describes the psychology, attitudes, experiences, beliefs andvalues (personal and cultural values) of an organization. It has been defined as "the specificcollection of values and norms that are shared by people and groups in an organization andthat control the way they interact with each other and with stakeholders outside theorganization. This definition continues to explain organizational values also known asbeliefs and ideas about what kinds of goals members of an organization should pursue andideas about the appropriate kinds or standards of behavior organizational members shoulduse to achieve these goals. From organizational values develop organizational norms,guidelines or expectations that prescribe appropriate kinds of behavior by employees in
  • 17. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 17particular situations and control the behavior of organizational members towards oneanother. Organizational culture is also commonly held in the mind framework oforganizational members. This framework contains basic assumptions and values. Thesebasic assumptions and values are taught to new members as the way to perceive, think, feel,behave, and expect others to behave in the organization. Edgar Schein (1999) says thatorganizational culture is developed over time as people in the organization learn to dealsuccessfully with problems of external adaptation and internal integration. It becomes thecommon language and the common background. So culture arises out of what has beensuccessful for the organization. Culture starts with leadership, is reinforced with theaccumulated learning of the organizational members, and is a powerful (albeit oftenimplicit) set of forces that determine human behavior. An organization’s culture goesdeeper than the words used in its mission statement. Culture is the web of tacitunderstandings, boundaries, common language, and shared expectations maintained overtime by the members. These have arises to a questions of: • Is there any relationship between organizational culture with the design of ePerolehan? • Does organizational culture of Malaysian government agencies would have an influence of on the design of it ePerolehan? • What are the areas of organizational culture that have an influence on ePerolehan design? Therefore the objective of this study is to describe the relationship betweenorganizational culture of Malaysian government agencies and the design of ePerolehan inorder for the system to run successfully in meeting its objectives and at the same time areable to meet the needs of all users namely government agencies and suppliers.LITERATURE REVIEWManagement Information System and CultureAdapting an organization’s management systems, structure, and culture to rapidly changingrequirements of the external environment is becoming more and more critical fororganizations bound to the economy. This criticality is even more pronounced when theorganization uses the Internet for interaction with its members and customers. MIS must beimplemented to meet only the most important requirements plus those of the rest needed toensure the coherence of the system containing the most important requirements C. McPhee(2002), F. Moisiadis (1998), B. Nuseibeh (2000).ePerolehan SystemMalaysian government has created Electronic procurement (ePerolehan) and was developedby commerce dot com. It is a system which enables suppliers to sell goods and services toGovernment agencies through the Internet. Suppliers may advertise their goods, presenttheir pricing, process orders and deliveries, and make collections. The entire process isSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 18. 18 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010done electronically, through the Internet, from the desktop. Malaysian Electronicprocurement has four modules namely supplier registration (SR) module direct purchasemodule, quotation module tender module and Central Contract (CC) module. Potential supplier need to register their company and product or services offeredunder the supplier registration (SR) module. This module was first launched in 2000 andserves as a single point of registration for Government Suppliers. All approvals for theapplications remain with the Ministry of Finance. Services available in the SupplierRegistration module includes new registration, renewal, application for additional category,application for Bumiputera status and facility to update supplier profile. Direct purchasewas launched in 2002 and this module is for procurements not exceeding RM100,000 invalue. It begins with sourcing from selected suppliers and proceeds into the orderfulfillment stage once all terms are agreed. A quotation module is for any purchase with atotal value between RM100,000 to RM 200,000. Through the quotation process, aninvitation is sent out to a minimum of 5 suppliers who are required to respond through theePerolehan system within a specified time frame. Upon evaluation, one supplier will beawarded. A tender module was launched in 2003. This module was designed for bothclosed and open tenders for any purchase with a total value above RM200,000. Theprocesses involved in tenders are requisition approval, formation of committees,specification preparation, tender notice, issuance of tender document, tender submission,evaluation decision and award, contract preparation and signing and order fulfillment.Central Contract (CC) module was launched in 2000 and it is a procurement mode usedacross ministries for specific products contracted to selected suppliers.Organizational Culture DimensionThe theoretical basis drawn of developing this research is organizational culture theory anda framework by Detert et al.(2000). Detert et al. derived the dimensions of culture in theirframework from a content analysis of synthesis of what have repeatedly emerged as thecomponents of culture in other organizational culture research (Detert et al., 2000). One oftheir goals was to provide a basis upon which future theoretical and empirical work onorganizational culture could be conducted. This framework supports assessment ofdimensions of organizational culture and the practices or artifacts that arise out of thosedimensions. It focuses on organizational culture as a system of shared values that definewhat is important and that guide organizational members’ attitudes and behaviors. Theeight dimensions of culture included in Detert et al.’s theoretical framework can be used toidentify behaviors related to cultural values that underlie system design in order to informtheory about the way these cultural dimensions influence the MIS design used byMalaysian government agencies. The term organization here refers to Malaysiangovernment agencies.Orientation to change (stability vs. change)Some organizations are change oriented and are characterized by a focus on continuousimprovement (S.J. Fox-Wolfgramm et al., 1998). Change is often more widely accepted inthese firms because organizational members are accustomed to change and view it aspositive (S.L. Brown et al., 1997) Others are more stability oriented. Change often requires
  • 19. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 19organizational members to understand a new way of performing processes, as well as howand why their processes have changed ( R. Jamieson and M. Handzic, 2003).Control, coordination, and responsibility (concentrated vs. autonomous decision making)Organizations vary in the degree to which the structure of decision making is concentratedor shared. Where decision making is fairly concentrated, the rules of a few guide thebehavior and actions of the majority, and decisions making is centralized (P.D. Reynolds,1986). In organizations where it is shared, organizational members are encouraged to beautonomous in their decision making (J. Pfeffer, 1998). An overriding norm in manyorganizations is silo behavior where individual divisions, units, or functional areas operateas silos or independent agents within the organization (B. Caldwell &T. Stein,1998; T.H.Davenport,1994; M.C. Jones,2001).Orientation to collaboration (isolation vs. collaboration)Perceptions about the relative value of working alone or collaboratively are motivated byunderlying beliefs about how work is best accomplished (Detert et al., 2000). A culture thatvalues individual efforts more than collaborative ones places more value on individualautonomy and believes that collaboration is inefficient (C. O’Dell & C.J. Grayson,1998).On the other hand, organizations that believe collaboration is more efficient and effectivethan individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people (P.D. Reynolds, 1986).Orientation and focus (internal vs. external)Orientation and focus addresses the relationship between a firm and its environment. Thisincludes ideas about the extent to which the firm is focused on its internal or externalenvironment (P.D. Reynolds, 1986). For example, many firms assume that the key toorganizational success is to focus on the processes and people within the organization,whereas others focus primarily on external constituents.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 20. 20 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010A summary of these four dimensions is provided in Table 1. Table 1: Dimension of Organizational CultureOrganizationalCulture Dimension Detert et al. LiteratureOrientation to change An extent to which organizations Some organizations are change oriented and are have a propensity to maintain a characterized by a focus on continuous(stability stable level of performance that is improvement and some are stable oriented (S.J. vs. good enough or a propensity to Fox-Wolfgramm et al., 1998). change) seek to always do better through innovation and changeControl, coordination, An extent to which organizations Where decision making is fairly concentrated, theand have decision making structures rules of a few guide the behavior and actions of theresponsibility centered around a few vs. decision majority, and decisions making is centralized (P.D. making structures centered around Reynolds, 1986).(concentrated dissemination of decision making responsibilities throughout the In organizations where it is shared, organizationalvs. organization. members are encouraged to be autonomous in their decision making (J. Pfeffer, 1998).autonomous decisionmaking)Orientation to An extent to which organizations A culture that values individual efforts more thancollaboration encourage collaboration among collaborative ones places more value on individual individuals and across tasks or autonomy and believes that collaboration is(isolation encourage individual efforts over inefficient (C. O’Dell and C.J. Grayson,1998).vs. team-based efforts.collaboration) Organizations that believe collaboration is more efficient and effective than individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people ( P.D. Reynolds, 1986).Orientation to work An extent to which organizational A culture that values individual efforts more than improvements are driven by a collaborative ones places more value on individual(process focus on internal process autonomy and believes that collaboration isvs. improvements or by external inefficient (C. O’Dell & C.J. Grayson,1998).results) stakeholder desires. Organizations that believe collaboration is more efficient and effective than individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people (P.D. Reynolds, 1986).CONCEPTUAL FRAMEWORKUsing Detert et al.’s four dimensions of culture as a theoretical lens, an investigation onhow these dimensions influence ePerolehan design can be made. The conceptualframework is provided in Figure 1.
  • 21. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 21 Orientation to change Orientation to collaboration ePerolehan Control, coordination and responsibility Orientation and focus Figure 1: Conceptual FrameworkCONCLUSIONOrganizational culture is a commonly held –in-the-mind framework of organizationalmembers and organizational culture is developed over time as people in the organizationlearn to deal successfully with problems of external adaptation and internal integration.When e-Perolehan was introduced and implemented with the entire process of purchasing isdone electronically through the internet, the success of the four modules namely supplierregistration (SR) module direct purchase module, quotation module tender module andCentral Contract (CC) module is still in question. A study on whether organizationalculture would influence the designing of ePerolehan would help managers in facilitatingthem making a decision as managers ultimately responsible for strategy management andorganizational performance. This study will also help to provide some clarification on therelationship between organizational culture and e-Perolehan design by using the fourdimension of organizational culture by Detert et al.(2000).REFERENCESB. Caldwell, T. Stein, Beyond ERP :New IT agenda, A second wave of ERP activity promises to increase efficiency and transform ways of doing business, InformationWeek 30 (1998 November) 34–35.B. Nuseibeh, S. Easterbrook, Requirements Engineering: A Roadmap, in: A. Finkelstein (Ed.), The Future of Software Engineering 2000, ACM, Limerick, Ireland, 2000.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 22. 22 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010C. McPhee, A. Eberlein, Requirements engineering for time-tomarket projects, in: Proceedings of the Ninth Annual IEEE International Conference and Workshop on the Engineering of Computer- Based Systems (ECBS 2002), Lund, Sweden, 8–11 April 2002.Choe, J. M. (1996). The relationships among performance of accounting information systems, influence factors and evolution level of information systems. Journal of Management Information Systems, 215–239.D. Leonard, S. Sensiper, The role of tacit knowledge in group innovation, California Management Review 40 (3) (1998) 112– 132.E.W. Stein, B. Vandenbosch, Organizational learning during advanced systems development: opportunities and obstacles, Journal of Management Information Systems 13 (2) (1996) 115– 136.F. Moisiadis, A framework for prioritizing use cases, in: Proceedings of the Conference on Advanced Information Systems Engineering, CAiSE98, Pisa, Italy, 8–9 June 1998.Ghorab, K. E. (1997). The impact of technology acceptance considerations on system usage, and adopted level of technological sophistication: An empirical investigation. International Journal of Information Management, 17(4), 249–259.Issues of Accounting Information System in year 2000, Y. Chuck and Pak K. AuyeungJ. Pfeffer, Seven practices of successful organizations, California Management Review 40 (2) (1998) 96 – 124 (Winter).J.R. Detert, R.G. Schroeder, J.J. Mauriel, A framework for linking culture and improvement initiatives in organizations, Academy of Management Review 25 (4) (2000) 850– 863.J.R. Hackman, R. Wageman, Total quality management: empirical, conceptual, and practical issues, Administrative Science Quarterly 40 (1995) 309– 342.J.V. Saraph, P.G. Benson, R.G. Schroeder, An instrument for measuring the critical factors of quality management, Decision Sciences 20 (1989) 810–829.Kaplan, R. S., & Norton, D. S. (1996). Using the scorecard as a strategic management system. Harvard Business Review, 75–85Kim, E., & Lee, J. (1986). An exploratory contingency model of user participation and MIS use. Information & Management, 11, 87–97.
  • 23. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 23M.C. Jones, The role of organizational knowledge sharing in ERP implementation, Final Report to the National Science Foundation Grant SES 0001C.O’Dell, C.J. Grayson, If only we knew what we know: identification and transfer of internal best practices, California Management Review 40 (3) (1998) 154– 174.998, 2001.P.D. Reynolds, Organizational culture as related to industry, position, and performance: a preliminary report, Journal of Management Studies 23 (1986) 414– 437.R. Jamieson, M. Handzic, A framework for security, control, and assurance of knowledge management systems, in: C.W. Holsapple (Ed.), Handbook on Knowledge Management: Knowledge Matters, Springer-Verlag, New York, 2003, pp. 477– 505.R.E. Quinn, J. Rohrbaugh, A spatial model of effectiveness criteria: towards a competing values approach to organizational analysis, Management Science 29 (1983) 363–377.S.J. Fox-Wolfgramm, K.B. Boal, J.G. Hunt, Organizational adaptation to institutional change: a comparative study of first order change in prospector and defender banks, Administrative systems. Information & Management, 41, 669–684.Schein, E. (1999). The corporate culture survival guide. San Francisco: Jossey Bass. Science Quarterly 43 (19 8) 87– 126..T. Kayworth, D. Leidner, Organizational culture as a knowledge resource, in: C.W. Holsapple (Ed.), Handbook on Knowledge Management: Knowledge Matters, Springer-Verlag, New York, 2003, pp. 235– 252.T.H. Davenport, Saving IT’s soul: human-centered information management, Harvard Business Review (1994 March–April) 119– 131.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 24. 24 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Abstrak: ANALISIS TERHADAP PERATAAN LABA: STUDY EMPIRIS PADA EMITEN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Nuraini A RahmayanaAbstract: Earnings smoothing is the way management used to reduce fluctuations inreported earnings to match the desired target both artificial and real. The practice of incomesmoothing is considered as a common action undertaken by management to achieve certainpurposes, but the practice of income smoothing can lead to disclosure in financialstatements to be inadequate. As a result the financial statements do not reflect the realsituation. This study aims to examine and analyze the factors that influence the practice ofincome smoothing that is a bonus plan, operating leverage, and earnings per share bothtogether and partial. The study was a descriptive analytical study on the issuer which ismanufacturing in Indonesia Stock Exchange (BEI) in 2006-2008. Data collection is by wayof field research and library research with the sampling technique of purposive samplingmethod. Analysis of data for testing hypotheses using logistic regression analysis with thehelp of the program Statistical Package for Social Science (SPSS). The results showed that13 companies were identified to income smoothing of the total sample of 35 companies.The test results showed that the bonus plan hypothesis, operating leverage, and earnings pershare is jointly significant effect on income smoothing. Partially, only the bonus planaffects income smoothing, while operating leverage and earnings per share did not affectincome smoothing.Keywords: bonus plan, operating leverage, earning per share, earnings smoothing____________________________________________________________________ Nuraini A, Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala
  • 25. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 25PENDAHULUAN Laporan keuangan merupakan sarana utama untuk memperoleh informasi keuanganyang dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambilkeputusan ekonomi. Salah satu informasi yang sangat penting untuk pengambilankeputusan adalah laba. Pentingnya informasi laba ini disadari oleh manajemen sehinggamanajemen cenderung melakukan praktik perataan laba. Pengumuman laba perusahaanmerupakan informasi penting yang mencerminkan nilai perusahaan di pasar (Mawarti,2007). Dari deskriptif tersebut, penulis berasumsi bahwa tidak menutup kemungkinanterdapat indikasi perataan laba pada beberapa perusahaan-perusahaaan yang terdaftar diBursa Efek Indonesia. Fenomena menunjukkan bahwa laporan laba rugi dari PT Citra Tubindo Tbk dan PTKalbe Farma Tbk terindentifikasi adanya perataan laba yang dilakukan oleh pihakmanajemen, hal dapat dilihat dari besarnya laba yang relatif stabil dari tahun ke tahun yaituRp. 23.305.359, Rp. 23.404.730 untuk tahun 2006 dan 2007 sementara PT.Kalbe FarmaRp. 706.822.146.190 dan Rp. 705.694.196.679. Informasi laba sering menjadi perhatianinvestor tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi labatersebut. Kecenderungan sering memperhatikan laba inilah yang disadari oleh manajemen,dan mendorong manajer untuk melakukan manajemen atas laba (earning management) ataumanipulasi laba (earning manipulation). Salah satu hipotesis yang dapat menjelaskanmanajemen laba adalah earning smoothing hypothesis atau income smoothing hypothesis(Beattie et al, 1994) dalam Masodah (2007). Isu perataan laba telah banyak dibicarakan baik dalam teori maupun dalampenelitian beberapa dekade ini. Subekti (2005) mengatakan bahwa perataan labamerupakan perilaku yang rasional yang didasarkan atas asumsi dalam positive accountingtheory, dimana manajemen merupakan individual yang rasional yang memperhatikankepentingan dirinya dan melakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkankepentingannya. Sedangkan menurut Belkaouli (2002:232) perataan laba didorong olehkeinginan untuk mempertinggi keandalan prediksi yang didasarkan pada laba dan untukmengurangi risiko yang mengitari angka-angka akuntansi. Heyworth (1953) dalamMursalim (2005), menyatakan bahwa motivasi yang mendorong dilakukannya incomesmoothing adalah untuk memperbaiki hubungan antara perusahaan dengan pihak luarperusahaan seperti: investor, kreditur, dan pemerintah serta meratakan siklus bisnis melaluiproses psikologis. Gordon (1964) dalam Mursalim (2005) mengemukakan beberapa halberkaitan dengan perataan laba, yang pada prinsipnya bahwa manajemen melakukanperataan laba dengan cara memilih metode akuntansi untuk memaksimumkan kepuasan dankemakmurannya. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah dilakukan olehMasodah (2007) dan Chandra & Irawati (2005) yang menguji tentang isu perataan labapada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan uraian diatas, makapenulis termotivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh BonusPlan, Operating Leverage, dan Earning per Share terhadap Perataan Laba pada PerusahaanManufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 26. 26 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah bonus plan,operating leverage, dan earning per share berpengaruh terhadap perataan laba. Sedangkankegunaannya adalah:1. Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh bonus plan, operating leverage, dan earning per share terhadap perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur.2. Bagi investor dapat memberikan informasi tambahan mengenai praktik perataan laba sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.3. Memberikan referensi tambahan terhadap penelitian di bidang perataan laba bagi penelitian selanjutnya dan referensi guna meningkatkan pengetahuan mahasiswa akuntansi.Study Sebelumnya dan Hipotesis Penelitian Perataan laba merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja untukmengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atassaham perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham perusahaan(Assih dan Gudono, 2000). Perusahaan melakukan perataan laba dengan harapan dapatmenghindari reaksi pasar yang terlalu besar pada saat perusahaan mengumumkan informasilaba. Hal ini dikarenakan dengan tingkat variabilitas yang kecil pada laba yang diumumkan,maka pelaku pasar dapat melakukan prediksi atas laba perusahaan mendatang dengan lebihbaik, dan perusahaan dapat mengurangi reaksi pasar yang besar pada saat laba di umumkan.Bieldman dalam Belkaouli (2000:56) menyatakan bahwa perataan laba didefinisikansebagai upaya yang sengaja dilakukan untuk memperkecil fluktuasi pada tingkat laba yangdianggap normal bagi perusahaan. Adapun tujuan perataan laba menurut Foster (1986) dalam Suwito dan Herawaty(2005) adalah sebagai berikut: a. Memperbaiki citra perusahaan di mata pihak luar, bahwa perusahaan tersebut memiliki risiko yang rendah. b. Memberikan informasi yang releven dalam melakukan prediksi terhadap laba di masa mendatang. c. Meningkatkan kepuasan relasi bisnis. d. Meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemampuan manajemen. e. Meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen. Subekti (2005) mengatakan bahwa perataan laba merupakan perilaku yang rasionalyang didasarkan atas asumsi dalam positive accounting theory, dimana manajemenmerupakan individual yang rasional yang memperhatikan kepentingan dirinya danmelakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkan kepentingannya. Perusahaan yangmelakukan praktik perataan laba dapat diketahui dari nilai indeks perataan laba, yaitu nilaiperbandingan perubahan laba dengan nilai perbandingan perubahan penjualan. Perusahaanyang melakukan prektik perataan laba memiliki indeks perataan laba lebih dari satu.
  • 27. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 27Hubungan Bonus Plan dengan Perataan laba Bonus plan adalah salah satu faktor yang memotivasi manajemen untuk mengaturlaba agar dapat membuat perencanaan bonus yang akan diterima dimasa yang akan datang,karena semakin meningkat laba yang akan dihasilkan perusahaan semakin meningkat bonusyang akan diterima. Manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung menggunakanmetode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini. Keberadaan rencana kompensasi (compensation plan) merupakan faktor yangmemotivasi manajemen untuk meratakan laba (Healy:1985). kompensasi manajemendidesain dengan menggunakan laba sebagai dasar pembagian bonus maka manajemencenderung memilih prosedur akuntansi yang menstabilkan bonus atau kompensasi yangditerimanya. Penelitian lainnya yang terkait dengan motivasi bonus menyatakan bahwamanajer berusaha memanipulasi laba untuk memaksimalkan nilai sekarang daripembayaran bonus (Holhausen, 1995) dalam Astuti (2007). Penelitian yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz(1998) keberadaan perencanaanbonus di sektor industri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong praktikperataan laba. Earning menjadi hal utama dalam kaitannya dengan bonus untuk manajer.Angka laba memiliki kandungan informasi yang bermanfaat bagi pasar yang terlihat darihubungan antara unexpected earning dengan abnormal return pada sekitar tanggalpengumuman informasi laba perusahaan (Masodah :2007). Berdasarkan kajian teoritis danpenelitian sebelumnya maka hipotesis I yang diajukan adalah : H1: Bonus Plan berpengaaruh terhadap perataan laba.Hubungan Operating Leverage dengan Perataan Laba Operating Leverage adalah suatu indikator perubahan laba bersih yang diakibatkanoleh besarnya volume penjualan (Suwito dan herawati :2005). Ashari et al, (1994) dalamSuwito dan Herawati (2005) berhasil membuktikan bahwa Operating Leverage merupakansalah satu pendorong terjadinya perataan laba. Zuhroh (1996) meneliti faktor-faktor yangdapat dikaitkan dengan terjadinya praktik perataan laba dengan kesimpulan bahwa hanyaoperating Leverage perusahaan saja yang memiliki pengaruh terhadap praktik perataan labayang dilakukan perusahaan di Indonesia. Hasil penelitian Chandra dan Irawati (2005)menunjukkan bahwa operating leverage berpengaruh terhadap perataan laba perusahaanmanufaktur pada masa sebelum krisis moneter tahun 1992-1996, sedangkan pada masakrisis moneter variabel operating leverage tidak berpengaruh terhadap perataan labaperusahaan manufaktur pada masa krisis moneter tahun 1998-2000. sehingga hipotesis 2yang diajukan adalah : H2 : Operating Leverage berpengaruh terhadap perataan laba.Hubungan Earning per Share dengan Perataan Laba Earning Per Share (EPS) merupakan salah satu informasi akuntansi yangmemberikan analisis rasio keuntungan bersih per lembar saham yang mampu dihasilkanoleh perusahaan. Kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih per lembar sahammerupakan indikator fundamental keuangan perusahaan yang sering dipakai sebagai acuanuntuk mengambil keputusan investasi dalam saham. Salah satu pusat perhatian pemodaladalah laba per lembar saham (Earning per Share/EPS) dalam melakukan analisis. Karenaitu kita perlu memahami bagimana Earning per Share diperoleh dan menunjukkan apaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 28. 28 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010angka tersebut (Husnan, 2005:328). Bagi investor, informasi EPS merupakan informasiyang dianggap paling mendasar dan berguna karena biasanya menggambarkan prospekearning perusahaan dimasa depan (Tandelilin, 2001:233). Dalam hal ini manajer akanberusaha untuk memperlihatkan laporan keuangan dengan kinerja yang stabil untukmencerminkan earning per share yang akan diperoleh oleh investor. Biasanya sebelummelakukan investasi investor akan melihat kemampuan laba serta earning per share yangtinggi pada perusahaan yang akan diinvestasinya. Oleh sebab itu adanya hubungan antaralaba dengan earning per share. Sehingga hipotesis yang diajukan adalah: H3 : Earning Per Share berpengaruh terhadap perataan laba.METODE PENELITIANSampel dan Data Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BursaEfek Indonesia periode tahun 2006-2008. Pemilihan sampel dilakukan denganmenggunakan purposive sampling dengan kriteria sampel sebagai berikut:1. Perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan lengkap dan telah diaudit dengan tahun berakhir per buku 31 Desember.2. Perusahaan memperoleh laba berturut-turut untuk melihat praktik perataan laba.3. Perusahaan yang menjadi sampel diasumsikan menerapkan program bonus plan atau compensation plan. Berdasarkan kriteria di atas maka jumlah sampel yang yang menjadi unit analisissebesar 35 perusahaan.Analisis Data Model analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi logistik(logistic regretion). Regresi logistik digunakan karena variabel dependennya metric danvariabel independennya merupakan kombinasi antara metric dan nonmetric. Regresilogistik dapat digunakan tanpa memenuhi asumsi multivariat normalitas (Hair, 2006:19).Persamaan logistik regresi yang digunakan adalah : Ln PL/1-PL = a + b1(BP) + b2(OL) + b3(EPS) + e Adapun kriteria pengujian hipotesis sebagai berikut :1. Jika nilai Wald dengan tingkat signifikansi 5% (P value < 0,05), maka artinya bonus plan, operating leverage, dan earning per share secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perataan laba.2. Jika nilai Wald dengan tingkat signifikansi 5% (P value > 0,05), maka artinya bonus plan, operating leverage, dan earning per share secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perataan laba.
  • 29. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 29 Definisi Variabel Penelitian Definisi dan operasional variabel secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1: Definisi dan Operasional Variabel Variabel Definisi Indikator Dependen (Y) Usaha manajemen untuk mengurangi Indek perataan laba Perataan Laba variabilitas laba selama satu atau beberapa CV ∆I periode tertentu sehingga laba tidak terlalu = berfluktuasi (Harahap:2007). CV ∆S Dimana: CV ∆I atau CV ∆S ∑(∆xi − ∆x ) 2 = : ∆x n −1 Independen(X) Bonus plan adalah salah satu faktor yang Laba bersih setelah pajakBonus Plan(X1) memotivasi manajemen untuk mengatur laba agar dapat membuat perencanaan bonus yang akan diterima dimasa yang akan datang, karena semakin meningkat laba yang akan dihasilkan perusahaan semakin meningkat bonus yang akan diterima.Variabel ini diproksikan pada jumlah angka laba bersih setelah pajak (Masodah :2007) Operating Operating Leverage merupakan rasio antara Leverage (X2) total biaya depresiasi dan amortisasi dibagi Total Biaya Depresiasi dan Amortisasi dengan total biaya yang meliputi biaya Total Biaya harga pokok penjualan, biaya penjualan, dan biaya administrasi dan umum (Suwito dan Herawati :2005). Earning per Share Earning per Share merupakan laba per Laba bersih (X3) saham yang diperoleh dengan membagi laba yang telah dikurangi dividen saham Jumlah Saham Beredar preferen dengan jumlah tertimbang saham beredar (Irwansyah dan Puji Lestari: 2007) Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Perataan laba diukur menggunakan indeks eckel. Perhitungan tersebut dimaksudkan untuk menemukan kategori suatu perusahaan melakukan tindakan perataan laba atau tidak melakukan perataan laba. Perusahaan dikategorikan melakukan tindakan perataan laba apabila memperoleh CV S lebih besar dari CV I, sedangkan perusahaan yang memperoleh CV S lebih kecil dari CV I maka perusahaan di kategorikan sebagai perusahaan yang tidak melakukan tindakan perataan laba. Berdasarkan hasil analisis data terdapat 13 perusahaan yang melakukan perataan laba, dan 22 perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 30. 30 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Hasil pengujian regresi logistik dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2: Hasil Pengujian Regresi Logistik Nama Variabel B S.E Wald Sig. Bonus Plan .398 .119 11.193 .001 Operating Leverage .001 .004 .156 .692 Earning per Share .000 .000 .009 .925 Konstanta (a) 10.663 3.052 12.205 .000 2 Cox & Snell – R = .125 a. Predictors: (constant): Nagelkerke – R2 = .171 Bonus Plan, Operating Leverage, dan Earning Chi Square = 20.033 per Share. Sig. = .010 b. Dependent variabel: Perataan laba Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa Bonus plan berpengaruh terhadapindek manajemen laba pada tingkat signifikasi 0,001 dengan koefisien regressi sebesar0,398. Semakin besar bonus plan akan meningkatkan indeks perataan laba. Setiap kenaikan1% bonus plan akan menaikkan indeks perataan laba sebesar 39.8%. sementara operatingleverage dan Earning per share tidak berpengaruh terhadap indek manajemen laba.Sehingga hasil penelitian ini menerima H1 dan Menolak H2 dan H3. Bonus merupakan dorongan bagi manajer perusahaan dalam melaporkan laba yangdiperolehnya sesuai dengan target bonus yang akan diperoleh (Mardiah:2003). Parameter-parameter dari bonus plan disetting sesuai dengan bonus yang diberikan dalam beberapatahun dan jika bonus diberikan dalam jumlah maksimum adalah sesuai dengan fungsi linearpositif dari earning yang dilaporkan. Hal ini mengasumsikan bahwa kompensasi manajerberdasarkan bonus plan meningkat seiring dengan peningkatan earning (Alfiana, 2006).Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz (1998),yang menunjukan bahwa Bonus plan berpengaruh terhadap perataan laba.Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh bonus plan, operatingleverage, dan earning per share terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yangterdaftar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa:1. Bonus plan berpengaruh positif terhadap tindakan perataan laba. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar tingkat bonus plan akan meningkatkan perataan laba. Dengan demikian, apabila perusahaan memiliki nilai bonus plan yang besar, maka nilai perataan laba juga semakin besar.2. Operating leverage dan earning per share secara parsial tidak berpengaruh terhadap perataan laba.Keterbatasan dan saran Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan antara lain:
  • 31. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 311. Penggunaan model Indeks Eckel (1981) yang mungkin berpengaruh terhadap kesimpulan penelitian. Dalam metode ini kesederhanaan kriteria dan proses klasifikasi sampel menjadi perata dan bukan perata dapat mengaburkan sisi metodologi penelitian yang berkaitan dengan isu perataan laba, seperti tidak adanya tingkat batasan maksimum dan minimum rasio CV s dan CV I yang akan dibandingkan untuk mengklasifikasi sampel.2. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, akibatnya hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan secara luas untuk setiap perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.3. Dalam penelitian ini mengasumsikan bahwa semua sampel menerapkan atau melakukan program bonus plan/compensation plan, oleh karena itu diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat memeriksa apakah perusahaan yang menjadi sampel benar-benar menerapkan program bonus/compensation plan yang dapat dilihat dari annual report nya. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, dapat dikemukakan saran-saransebagai berikut:1. Bagi Investor Sebaiknya lebih teliti dalam menilai laporan keuangan perusahaan khususnya yang berkaitan dengan informasi laba untuk menilai kinerja perusahaan, karena praktik perataan laba ini telah dilakukan oleh beberapa perusahaan di Indonesia.2. Untuk Penelitian Selanjutnya Dapat menggunakan metode lain selain indeks Eckel, seperti model Michelson (1995) dalam mengklasifikasikan perusahaan yang melakukan perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Jika penggunaan indeks Eckel tetap dipertahankan, hendaknya penelitian selanjutnya menggunakan angka laba selain laba bersih setelah pajak, seperti laba operasi dan laba sebelum pajak. Agar dapat diperoleh perbandingan dalam setiap angka laba tersebut untuk menambah informasi dalam mengambil kesimpulan. Sebaiknya penelitian selanjutnya dapat menambah variabel lain yang berhubungan dengan perataan laba seperti harga saham, net profit margin, dan rasio profitabilitas mengingat variabilitas perataan laba yang dapat dijelaskan oleh bonus plan, operating leverage dan earning per share sangat rendah.DAFTAR KEPUSTAKAANAbdullah, Syukriy dan Abdul Halim (2000), Perataan Laba oleh Perusahaan Manufaktur di Indonesia: Analisis Hubungan Rasio-rasio Keuangan yang digunakan Investor, Jurnal telaah Bisnis, Vol 1, No.2.Achmad, Komarudin, Imam Subekti dan Sari Atmini (2007), Investigasi Motivasi dan Strategi Manajemen Laba pada Perusahaan Publik di Indonesia, Simposium nasional Akuntansi X, Makassar.Alfiana, Yeni (2006) Creative Accounting ditinjau dari Teori Akuntansi Positif dan Teori Keagenan. Mandiri, Vol.9, No,1.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 32. 32 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Apristyana, Liza (2007), Pengaruh Total Aktiva, ROI, ROE, dan Leverage Operasi terhadap Perataan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. Tesis Universitas Airlangga.Arfan, Muhammad (2006) Pengaruh Arus Kas Bebas, Set Kesempatan Investasi, dan Financial Leverage terhadap Manajemen Laba (Studi pada Emiten Manufaktur di BEJ). Disertasi, Universitas Padjajaran, bandung.Astuti, Dewi Saptantinah Puji (2007), Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi Manajemen Laba di Seputar Right Issue, jurnal Universitas Slamet Riyadi Surakarta.Assih, P. & M. Gudono (2000), Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.3, No.1.Atmini, Sari (2000) Standar Akuntansi yang Memberi Peluang bagi Manajemen untuk Melakukan Praktik Perataan Laba. MANDIRI, vol.1, No.8.Belkaouli, Ahmed Riahi (2001) Teori Akuntansi, Edisi pertama, Buku 2. Terjemahan Marwata, dkk. Jakarta: Salemba Empat._____ (2002) Teori Akuntansi, Jilid 2. Terjemahan Herman Wibowo dan Marianus Sinaga. Jakarta: Salemba Empat.Chandra, Siuliany dan Irine Irawati (2005), Analisis Perbandingan Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage Operasi terhadap Indeks Perataan Laba. Skripsi Universitas Kristen Petra.Garrison, Ray H dan Eric W.Noreen (2000), Jilid 1. Terjemahan A.Totok Budisantoso,SE,Akt. Jakarta: Salemba Empat. (2001), Jilid 2. Terjemahan A.Totok Budisantoso,SE,Akt. Jakarta: Salemba Empat.Hair, Joseph F, et al. (2006) Multivariate Data Analysis, Sixth Edition. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc.Harahap, Sofyan Safri (2007) Teori Akuntansi, Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Hendriksen, Heldon S (1999) Teori Akuntansi, edisi Keempat, Jakarta: Erlangga.Hidayati, Siti Munfiah dan Zulaikha (2003), Analisis Perilaku Earning management:Motivasi Minimalisasi Income Tax, Simposium Nasional Akuntansi VI, Surabaya.Ikatan Akuntan Indonesia (2007) Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat.Irwansyah dan Puji Lestari (2007), Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba, Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi, Vol 9, No.2.Jin, Liauw She dan Mas’ud Machfoedz (1998), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 1, No.2.Kuncoro, Mudrajad (2007) Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk bisnis dan Ekonomi, Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.Kustiani, deasy dan Erni Ekawati (2006), Analisis Perataan Laba dan faktor-faktor yang Mempengaruhi, jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan.
  • 33. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 33Mawarti, Yuliana (2007) Pengaruh Income Smoothing (Perataan Laba) terhadap Earning Response (Reaksi Pasar) pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta(BEJ). Skripsi, Universitas Negeri Semarang.Masodah (2007) Praktik Perataan Laba Sektor Industri Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya dan Faktor yang Mempengaruhinya. Procceeding PESAT Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus.Mursalim (2005) Income Smoothing dan Motivasi Investor: Studi Empiris pada Investor di BEJ. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Rivard, Richard. J., Eugene B dan Gay B.H. Morris (2003) Income Smoothing Behaviour of V.S Banks Under Revised International.Subekti, Imam (2005) Asosiasi Antara Praktik Perataan Laba dan Reaksi Pasar Modal di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Suwito, Edy dan Arleen Herawaty (2005) Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tindakan Perataan Laba yang Dilakukan oleh Perusahaan yang Terdaftar di Bursa efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Tandelilin, Eduardus (2001) Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi 1. Yogyakarta: BPFE.Yusuf, M. dan Soraya (2004), “ Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba Perusahaan Asing dan Non Asing Di Indonesia”, JAAI, Vol 8, No.1Zuhroh, Diana (1997), ”Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Tindakan Perataan Laba pada Perusahaan Go Public di Indonesia, Tesis, Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 34. 34 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 KOMITMEN PEKERJA DITINJAU DARI KUALITAS HUBUNGAN ATASAN-BAWAHAN DAN PERSEPSI TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR KARYAWAN INDUSTRI KERAJINAN ENCENG GONDOK, MUARA BATU, KABUPATEN ACEH UTARA HafnidarAbstract: The unemployment and poverty rate in Indonesia is higher and higher from yearto year. The causal factor is because lack of Human Resources in their commitment onworking. According to Tosi and friends (1990), the employees’ commitment on their work isrelated to the quality between underling and higher authority and so does perception of theemployees themselves on career development. After a long conflict and tsunami raisedAceh couple years ago, the industrial of Enceng Gondok in Gampong Mane, Muara Batu isone of potential job demand on career development and skilled occupation for thecommunities. This research is purposed on knowing the relationship between employees’commitment with the quality between underling and higher authority and perception oncareer development to the Engceng Gondok Industrial employees in Muara Batu sub-district, North Aceh. The research is performed on workers of Enceng Gondok industrial inMuara Batu sub-District of North Aceh. The Likerty Model Scale is used as data collectingmethod that is commitment scale, quality scale on relationship quality between underlingand higher authority and perception on career development. The additional data is earnedby using qualitative research method by using filling analysis in indicative principle. Dataanalysis by using regression analysis for double predictor. The result is: 1) there is apositive relationship between a commitment and a perception on career development toEnceng Gondok Industrial workers at Gampong Mane Tunong, Muara Batu sub-District ofNorth Aceh. 2) There is a positive relationship between a commitment and relationshipquality on underling and higher authority to Enceng Gondok Industrial workers inGampong Mane Tunong, Muara Batu sub-District of North Aceh.Key words: commitment, relationship quality between underling and higher authority____________________________________________________________________ Hafnidar, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehPENDAHULUAN Industri Kerajinan Enceng Gondok di Gampoeng Mane Tunong Kecamatan MuaraBatu Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu Industri kecil menengah yang sedangberkembang di Kabupaten Aceh Utara. Karyawan Industri ini diberi ketrampilan mengolahtumbuhan Enceng Gondok menjadi perabotan rumah tangga yang menarik dan unik.
  • 35. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 35Konsumen perabotan produksi Industri Kerajinan Enceng Gondok ini sebagian besarmasyarakat menengah ke atas, perkantoran dan hotel, bahkan banyak yang diekspor ke luarnegeri. Industri Kerajinan Enceng Gondok ini memiliki harapan besar untuk terusberkembang, namun demikian Industri sering mengalami masalah dalam hal komitmenpekerja terhadap pekerjaan dan organisasi kerjanya. Karyawan mudah sekali meninggalkanpekerjaan untuk beberpa waktu dengan berbagai alasan. Padahal disisi lain tidak mudahbagi Industri untuk mendapatkan karyawan yang telah terlatih dan berpengalaman.Akibatnya Industri harus mengeluarkan banyak cost untuk rekuritment dan pelatihan. Tosidkk (1990) mengatakan bahwa komitmen pekerja terhadap suatu pekerjaan adahubungannya dengan kualitas hubungan atasan-bawahan serta persepsi pekerja itu sendiriterhadap pengembangan karir. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan antara komitmen pekerja dengan kualitas hubungan atasan-bawahan dan persepsiterhadap pengembangan karir pada pengrajin enceng gondok di Kecamatan Muara Batu.METODOLOGISubjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah Karyawan pada Industri Kerajinan EncengGondok di Gampoeng Mane Tunong Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Populasipenelitian berjumlah 42 orang. Dikarenakan populasi penelitian jumlahnya terbatas, makasample penelitian adalah semua individu yang ada dalam populasi penelitian yang disebutdengan Subjek penelitian.Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dengan menggunakan Skala atau Angket dengan model selfreport yaitu metode yang berdasarkan pada laporan tentang diri sendiri. Penyusunan alatukur dimulai dari pemilihan aspek, indikator dan definisi yang tepat, kemudian dibuat suatudefinisi operasional untuk mendapatkan penjelasan yang tepat dari variabel-variabel yangakan diteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga Skala atau Angketdengan tambahan satu identitas diri pada awal pemberian Skala atau Angket. KetigaSkala/Angket sebagai alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala/AngketKomitmen Pekerja; Skala/Angket Kualitas Hubungan Atasan – Bawahan; Skala/AngketPersepsi Pekerja Terhadap Pengembangan Karir. Skala/Angket ini disusun dalam bentukSkala Likert yang terdiri dari pertanyaan yang diikuti oleh beberapa pilihan jawabanresponden dengan menghilangkan alternative jawaban R (Ragu-ragu). Setiap aitemSkala/angket merupakan pertanyaan atau pernyataan yang bersifat favorable (mendukung)dan unfavorable (tidak mendukung). Pertanyaan atau pernyataan tersebut memiliki empatkemungkinan jawaban berdasarkan pertimbangan subjektif responden. Empat kemungkinanjawaban tersebut adalah SS (Sangat sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai) dan STS (SangatTidak Sesuai). Masing-masing aitem memiliki skor dengan rentang satu sampai empat.Semakin tinggi skor yang didapat, maka semakin tinggi pula komitmen; kualitas hubungan;dan persepsi terhadap pengembangan karir yan dimiliki oleh responden. Ketiga skala/angket di atas sebelum digunakan dalam penelitian dilakukan uji cobauntuk mengukur seberapa cermat alat ukur tersebut melakukan fungsi ukurnya (ujivaliditas), mengetahui keterandalannya (uji realibilitas). Uji coba untuk mengukur kualitasSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 36. 36 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010aitem pada kedua skala dilakukan dengan menggunakan uji korelasi aitem-total (daya bedaaitem) dan Reliabilitas.Metode Analisis Data Analisis data inferensial yaitu pengambilan kesimpulan dengan pengujian hipotesis.Analisa data dilakukan dengan menggunakan program komputer Statistical Packages forSocial Science (SPSS) versi 12.0. Teknik statistik yang dipakai adalah analisis regresisederhanaHASIL DAN PEMBAHASANHasil Analisis dan Interpretasi Data Tabel 1: Gambaran Umum Hasil Skor Variabel-variabel Penelitian Variabel Statistik Hipotetik Empiris Komitmen Skor minimal 37 90 Skor maksimal 148 144 Mean 93 117,89 SD 19 11,343 Persepsi Thd Skor minimal 18 42 Pengemb Karir Skor maksimal 72 72 Mean 45 54,89 SD 9 5,600 Kualitas Hub Skor minimal 17 39 Ataan-bawahan Skor maksimal 68 62 Mean 43 51,73 SD 9 4.926 Dari table di atas dapat ditetapkan kategori dalam penelitian ini sebagai berikut :sangat rendah (≤ x – 1,5SD), rendah (x – 1,5 SD < X ≤ x – 0,5 SD), sedang (x – 0,5 SD < X≤ x + 0,5 SD), tinggi (x – 0,5 SD < X ≤ x + 1,5 SD) dan sangat tinggi ( X ≥ x + 1,5 SD).Berikut penetapan kategorisasi variabel-variabel penelitian yang dibuat berdasarkan satuandeviasi standar dengan memperhitungkan rentangan angka-angka minimal dan maksimalteoritis menurut rumus di atas:
  • 37. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 37 Kategori Komitmen I II III IV V IIIIIIIIIIIIIII 64,5 83,5 102,5 121,5 Kategori Persepsi terhadap Pengembangan Karir I II III IV V IIIIIIIIIIIIIIII 31,5 40,5 49,5 58,5 Kategori Kualitas Hubungan Atasan Bawahan I II III IV V IIIIIIIIIIIIIII 29,5 38,5 47,5 56,5Keterangan:I : Sangat rendahII : rendahIII : sedangIV : tinggiV : sangat tinggi Pembagian kriteria di atas dilakukan untuk mengetahui baik tidaknya posisi subjekuntuk masing – masing variable. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa KaryawanIndustri Kerajinan Enceng Gondok di Gampoeng Mane Tunong Kecamatan Muara Batu –Aceh Utara, memiliki tingkat Komitmen yang tinggi terhadap pekerjaannya, begitu jugadengan persepsi terhadap pengembangan karir dan kualitas hubungan atasan bawahan. Haltersebut mengindikasikan bahwa karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondok diGampoeng Mane Tunoeng memandang penting adanya pengembangan karir, begitu jugadengan kualitas hubungan atasan bawahan. Karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondokdi Gampong Mane Tunoeng menilai penting adanya kualitas hubungan antara atasan danbawahan dalam pekerjaannya.Uji hipotesisUji hubungan antara Komitmen dengan Persepsi Terhadap Pengembangan Karir Uji hubungan antara komitmen dengan Persepsi terhadap Pengembangan Karirditunjukkan oleh skor korelasi sebesar (rxy) = 0,493 dengan signifikansi sebesar 0.000(p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komitmendengan Persepsi Terhadap Pengmebangan Karir Pada Karyawan Industri Kerajinan EncengGondok di Gampong Mane Tunoeng Kecamatan Muara Batu. Nilai (rxy) yang positifmenunjukkan bahwa arah hubungan kedua variabel adalah positifSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 38. 38 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 (rxy) Signifikansi Probabilitas 0,493 0,000 p<0,05 Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian iniyaitu ada hubungan positif antara Komitmen dengan Persepsi Terhadap PengembanganKarir dapat diterima. Perhitungan statistik selengkapnya dengan menggunakan teknikregresi sederhana dapat dilihat berikut ini: Deskripsi Statistik Penelitian Variabel Mean Standar Deviasi N Komitmen 54,89 5,600 93 Persepsi Thd 117,89 11,343 93 Pengemb Karir Rangkuman Analisis Regresi Sederhana Variabel Penelitian Model Sum of Df Mean F Sig Square Square Regression 700,686 1 700,686 29,192 0,000 Residual 2184,239 91 24,003 Total 2884,925 92 Koefisien Determinasi Penelitian Model R R Square Adjusted R Standard Eror of The Square Estimates 1 Total 0,493 0,243 0,235 4,899 Tabel di atas terlihat bahwa koefisien determinasi yang ditunjukkan oleh R Squaresebesar 0,243. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komitmen memiliki sumbangan efektifsebesar 24,3% terhadap Persepsi terhadap Pengembangan karir. Hasil tersebutmenunjukkan bahwa variabel Persepsi terhadap Pengembangan karir dapat dijelaskan olehvariabel komitmen sebesar 23,4 %. Sisanya sebesar 75,7% ditentukan oleh faktor-faktorlain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.Uji hubungan antara Komitmen dengan Kualitas hubungan atasan Bawahan Uji hubungan antara Komitmen dengan Kualitas Hubungan Atasan Bawahanditunjukkan oleh skor korelasi sebesar (rxy) = 0,467 dengan signifikansi sebesar 0.000(p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Komitmendengan Kualitas Hubungan Atasan Bawahan pada Karyawan Industri Kerajinan EncengGondok di Gampong Mane Tunoeng, Kecamatan Muara Batu-Aceh Utara. Nilai (rxy) yangpositif menunjukkan bahwa arah hubungan kedua variabel adalah positif.
  • 39. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 39 (rxy) Signifikansi Probabilitas 0,467 0,000 p<0,05 Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian inidapat diterima. Perhitungan statistik selengkapnya dengan menggunakan teknik regresisederhana dapat dilihat pada tabel berikut ini: Deskripsi Statistik Penelitian Variabel Mean Standar Deviasi N Komitmen 51,73 4,926 93 Kualitas Hubub 117,89 11,343 93 Rangkuman Analisis Regresi Sederhana Variabel Penelitian Model Sum of Df Mean F Sig Square SquareRegression 487,145 1 487,145 25,402 0,000 Residual 1745,135 91 19,177 Total 2232,280 92 Koefisien Determinasi Penelitian Model R R Square Adjusted R Standard Eror of The Square Estimates 1 Total 0,467 0,218 0,210 4,379 Koefisien determinasi yang ditunjukkan oleh R Square adalah 0,218. Nilai tersebutmenunjukkan bahwa Komitmen memiliki sumbangan efektif sebesar 21,8%. Hasil tersebutmenunjukkan bahwa variabel Kualitas hubungan atasan bawahan dapat dijelaskan olehvariabel Komitmen sebesar 21,8%, sisanya sebesar 78,2 % ditentukan oleh faktor-faktorlain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini sesuai dengan Landy (1989) bahwa Keterikatan personal dansosial yang terjadi ini akan menghindarkan bawahan dari rasa keterasingannya diperusahaan, dan selanjutnya meningkatkan komitmen karyawan atau pekerja terhadaporganisasi kerjanya. Sebaliknya pada kualitas hubungan atasan-bawahan yang rendah,komitmen kerja karyawan menjadi rendah pula. Bila hubungan atasan-bawahan yangterjadi berkualitas tinggi, maka seorang atasan akan sering berdiskusi dengan bawahannyatentang masalah-masalah pribadi dan pekerjaan. Atasan sangat tertarik untuk membantukesulitan yang dialami bawahan. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterikatan personal dansosial antara atasan dan bawahan. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan apa yangdikatakan oleh Mowday, dkk (dalam Kuntjoro, 2002) bahwa pegawai yang memilikikomitmen yang tinggi akan merasakan adanya loyalitas dan rasa saling memiliki baikkepada organisasi maupun satu sama lain sesama anggota organisasi. Loyalitas dan rasasaling memiliki akan melahirkan perilaku saling membantu dan kerjasama yang baik.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 40. 40 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Kesediaan menolong baik urusan organisasi maupun urusan pribadi merupakan salah satuaspek kualitas hubungan atasan bawahan menurut Landy (1989).Analisis Tambahan Berdasarkan analisis isi dari data observasi, wawancara dan angket didapatkanbahwa komitmen pekerja terhadap pekerjaannya cukup baik, hal ini dapat dilihat daribeberapa factor yang mempengaruhi Subjek untuk memiliki komitmen yang tinggi. Faktor-faktor tersebut adalah:Masa kerja Sebagian besar Subjek memiliki masa kerja diatas empat tahun yaitu sebanya Hasilpenelitian ini sesuai dengan Landy (1989) bahwa Keterikatan personal dan sosial yangterjadi ini akan menghindarkan bawahan dari rasa keterasingannya di perusahaan, danselanjutnya meningkatkan komitmen karyawan atau pekerja terhadap organisasi kerjanya.Sebaliknya pada kualitas hubungan atasan-bawahan yang rendah, komitmen kerjakaryawan menjadi rendah pula. Lebih lanjut Landy (1989) menambahkan bahwa bilahubungan atasan-bawahan yang terjadi berkualitas tinggi, maka seorang atasan akan seringberdiskusi dengan bawahannya tentang masalah-masalah pribadi dan pekerjaan. Atasansangat tertarik untuk membantu kesulitan yang dialami bawahan. Hal ini menunjukkanbahwa ada keterikatan personal dan sosial antara atasan dan bawahan. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Mowday, dkk(dalam Kuntjoro, 2002) bahwa pegawai yang memiliki komitmen yang tinggi akanmerasakan adanya loyalitas dan rasa saling memiliki baik kepada organisasi maupun satusama lain sesama anggota organisasi. Loyalitas dan rasa saling memiliki akan melahirkanperilaku saling membantu dan kerjasama yang baik. Kesediaan menolong baik urusanorganisasi maupun urusan pribadi merupakan salah satu aspek kualitas hubungan atasanbawahan menurut Landy (1989).Karakteristik Pekerjaan Ditinjau dari karakteristik pekerjaan, Karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondokdituntut untuk memiliki ketrampilan khusus (skill) dalam menangani pekerjaannya. Skill inidapat diperoleh Subjek dengan mengikuti pelatihan khusus yang diadakan oleh organisasi.Guna menghasilkan produk yang berkualitas, ketrampilan yang memadai mutlakdibutuhkan Subjek. Adanya pelatihan pengembangan skill, merupakan salah satu faktoryang mendukung komitmen Subjek terhadap organisasi kerjanya.Tabel berikut inimenjelaskan tentang jumlah Subjek yang pernah dan belum pernah mengikuti pelatihan.Gaji/Upah Sebagian besar Subjek yaitu sebanyak 54,76% menerima upah maksimalRp.450.000 perbulan. Jumlah pendapatan yang demikian adalah dibawah standar upahminimum rakyat (UMR) yang ditetapkan Pemerintah. Namun demikian, pihak managementatau pengurus Industri mengatakan bahwa Gaji/upah yang diterima sekarang ini sudahsesuai dengan produktifitas kerja yang dilakukan, dengan kata lain waktu yang digunakankaryawan untuk bekerja rata-rata kurang dari lima jam per hari.
  • 41. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 41 Kurangnya produktivitas kerja Karyawan disebabkan oleh kurang tersedianya bahanbaku sehingga keinginan Subjek untuk bekerja maksimal tidak ditunjang oleh kesempatanyang ada. Padahal disisi lain, sebagian besar Subjek mengaku memiliki motivasi yang besaruntuk meningkatkan produktifitasnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan.Lapangan Kerja Faktor ketersediaan lapangan kerja yang memadai di Aceh juga menjadipertimbangan utama bagi Karyawan untuk menentukan komitmennya terhadap pekerjaan.Ketersediaan lapangan kerja bagi Karyawan tersebut juga dipengaruhi oleh tingkatpendidikan dan skill yang mereka miliki. Rata-rata karyawan memiliki tingkat pendidikanakhir SD s/d SLTP. Sedikit sekali dari mereka yang pernah duduk di bangku SLTA.Kesimpulan1. Ada hubungan positif antara komitmen dengan persepsi terhadap pengembangan karir pada Karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondok di Gampoeng Mane Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Semakin kuat komitmen Karyawan, semakin baik pula persepsi karyawan tersebut terhadap pengembangan karirnya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah komitmen karyawan semakin buruk pula persepsinya terhadap pengembangan karir.2. Ada hubungan positif antara komitmen dengan kualitas hubungan atasan bawahan pada Karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondok di Gampoeng Mane Tunong, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Semakin kuat komitmen Karyawan, semakin baik pula kualitas hubungan atasan bawahan pada Karyawan. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah komitmen Karyawan semakin buruk pula kualitas hubungan atasan bawahan pada Karyawan tersebut. Dalam hal ini Komitmen dan persepsi terhadap pengembangan karir pada Karyawan Industri Kerajinan Enceng Gondok di Kecamatan Muara Batu berada pada katagori tinggi.3. Pengrajin Enceng Gondok di Kecamatan Muara Batu memiliki komitmen, persepsi terhadap pengembangan karir dan kualitas hubungan atasan bawahan yang tinggi.4. Komitmen yang tinggi pada pengrajin Enceng Gondok di Kecamatan Muara Batu ditentukan oleh faktor Kualitas hubungan atasan bawahan sebanyak 21,8 %, faktor persepsi terhadap pengembangan karir sebanyak 23,4 %. Sisanya sebanyak 45,2 % ditentukan oleh faktor lain seperti karakteristik pekerjaan, masa kerja, gaji/upah dan ketersediaan lapangan kerja.5. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, faktor karakteristik pekerjaan dan gaji/upah merupakan variabel lain yang dapat menurunkan komitmen Karyawan, sedangkan faktor masa kerja dan ketersediaan lapangan kerja merupakan variabel lain yang dapat mendukung Karyawan untuk tetap komitmen terhadap pekerjaannya.Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas, terdapat beberapa saran yang bisa dikemukakanyaitu:1. Bagi Subjek penelitian diharapkan dapat mempertahankan komitmennya, yang pada saat penelitian ini berada pada kategori Tinggi. Usaha tersebut diharapkan dapat mengarahkan Karyawan untukSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 42. 42 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 memiliki persepsi yang baik terhadap pengembangan karir dan kualitas hubungan atasan – bawahan.2. Bagi pihak manajemen Industri Kerajinan Enceng Gondok di Kecamatan Muara Batu diharapkan dapat meningkatkan program kerja yang berkaitan dengan pembinaan ketrampilan pekerja dan penyediaan bahan baku, sehingga dapat mempertahankan komitmen Karyawan yang pada saat penelitian berada pada kategori tinggi.3. Bagi Pemerintah, Swasta dan masyarakat umum. Diharapkan dapat memberi inisiatif program bagi peningkatan program kerja dan penyediaan bahan baku bagi peningkatan produktifitas karyawan.4. Bagi Penelitian Selanjutnya a. Dapat meneliti hubungan variabel-variabel lain selain persepsi terhadap pengembangan karir dan kualitas hubungan atasan – bawahan yang berpengaruh terhadap komitmen seperti usia, masa kerja, karakteristik personal, peranan/jabatan, karakteristik pekerjaan dan karakteristik struktural. b. Menciptakan metode budidaya tanaman Enceng Gondok secara efektif dan efisien pada lahan kosong. c. Mempertimbangkan faktor pengembangan ketrampilan sebagai variabel moderator yang memungkinkan turut memperkuat hubungan komitmen dengan persepsi terhadap pengembangan karir.DAFTAR PUSTAKAAzwar, S., 1998. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.Baker, M.A. 1987. People Produktivity: An Experience in positive living. Tokyo: Asian Produktivity Organization.Groberg, D.H. 1987. Inner productivity: Tapping the inner source of productivity through balancing vision, skill, and reinforcement. Tokyo: Asian Produktivity Organization.Hadi, S dan Pamardiyanto, S. 1994. Manual Seri Program Statistik (SPS). Paket Midi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Hordes, M.W. 1987. White Collar productivity improvement. Tokyo: Asian Productivity OrganizationKrishnamurthy, V. 1987. Developing a work ethos for people productivity. Tokyo: Asian Productivity Organization.Lemme, B. H. 1995. Development in Adulthood. Boston:Allyn dan BaconMathieu, J.E. and Zajac, D.M. 1990. A Review and Meta Analysis of the Antecedents, Correlates, and Consequences of Organizational Commitment. Psychological Bulletin. 108, 171 – 194Pfeffer, J. 1996. Keunggulan Bersaing Melalui Manusia (Terjemahan). Jakarta: Binarupa AksaraShaw, M.E. 1971. Group dynamics: The psychology of small group behavior. Boston: Allin and BaconSteers, R.M. and Porter, L.W. 1983. Motivation and Work Behavior. USA:McGrawHill Book Co.Sugiyono. 1999. Statistika untuk penelitian. Cetakan ke-2. Bandun: CV-AlfabetaTosi, H.L., Rizzo, J.R., and Carroll, S.J. 1990. Managing Organizational Behavior. 2nd edition. New York: Herper Collins Publishers.
  • 43. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 43 PENGARUH PENGENDALIAN INTERN DAN AUDIT MANAJEMEN TERHADAP KINERJA MANAJERIAL PADA BUMN DI KOTA BANDA ACEH Raida Fuadi Fakultas Ekonomi Universitas Syiah KualaAbstract: This study aims to examine the effect of internal control and audit the management ofmanagerial performance in SOEs in the city of Banda Aceh. The population in this study is theState-Owned Enterprises are legal entities and Perum Persero PT or residing in the city of BandaAcehs population of 31 companies. The withdrawal of a sample is performed using all elements ofthe so-called population census. The respondent for each firm is the head of branch (topmanagement), managers and internal auditors as a source of information about internal control,audit and performance management. Data used in this study are primary data that is data obtaineddirectly from respondents by means of field research (field research). obtained by circulating aquestionnaire questions comprised 44 items statement, consisting of 18 statements for internalcontrol, 18 a statement to the implementation of management audit and 8 statement to managerialperformance, in order to gather information from respondents in the SOEs in the city of BandaAceh. Data analysis method using statistical tools namely multiple linear regression analysis. Theresults found that simultaneously shows that the internal control variable (x1), and implementationof management audit (x2), jointly affect the managerial performance of the SOEs in the city ofBanda Aceh. While the partial variable having the greatest regression coefficient value (dominant),is a management audit (x2) has a dominant influence on the managerial performance of SOEs, witha coefficient value of 0593, this shows that the implementation of management audit, which is oneindicator that can improve managerial performance of SOEs in achieving the target company thathas been determined.Keywords: internal control, audit the management, managerial performancePENDAHULUAN Dalam sistem perekonomian Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN)memegang peranan yang sangat penting jika dilihat dari sejarah perkembangannya. BadanUsaha Milik Negara (BUMN) merupakan bagian dari perusahaan negara yang berbentukPerseroan Terbatas (PT). BUMN telah memberikan andil yang tidak kecil, baik dalammenopang keuangan negara maupun dalam melayani peningkatan kesejahteraan rakyatIndonesia. Masih dapat dibayangkan, bagaimana ketika sektor swasta belum mempunyaikemampuan yang memadai untuk berperan di bidang produksi, distribusi, perdagangan,perbankan, transportasi, teknologi dan sebagainya. BUMN merupakan andalanperekonomian Indonesia disamping Badan Usaha Milik Swasta dan Koperasi. Baik atau buruknya kinerja perusahaan di BUMN terkait dengan pelaksanaanpengendalian intern didalam perusahaan. Dengan adanya persaingan, memaksa manajemenuntuk lebih profesional dalam menjalankan operasi perusahaan agar unggul dalamSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 44. 44 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010persaingan, dalam hal ini manajemen harus berjalan dalam fungsi manajemen yang telahditetapkan. Salah satunya adalah fungsi pengendalian. Dalam fungsi pengendalian inimanajemen dapat memestikan bahwa tindakan yang dilaksanakan oleh karyawanperusahaan benar-benar masih dalam tujuan yang telah ditetapkan. Pengendalian terdiri dari pengendalian ekstern dan pengendalian intern.Pengendalian ekstern merupakan pengendalian dari pihak luar organisasi yangberkepentingan terhadap perusahaan, sedangkan pengendalian intern adalah pengendalianyang terdiri dari kebijakan dan prosedur-prosedur untuk menyediakan jaminan yangmemadai bahwa tujuan-tujuan perusahaan dapat dicapai. Perusahaan telah memiliki sistempengendalian internal yang menjamin keandalan sistem akuntansi. Sistem pengendalianinternal diberlakukan untuk memberikan jaminan yang wajar dalam hubungannya menjagaasset dari penyalahgunaan dan peralihan kepemilikan secara tidak sah, menjaga keabsahancatatan akuntasi dan keandalan informasi keuangan yang dapat dipercaya yang digunakanPerusahaan maupun yang dipublikasikan. Dalam rangka meninjau keefektifan kinerja BUMN perlu ditinjau aspekekonomisasi, efisiensi, dan efektifitas operasi BUMN seharusnya semakin ekonomis,semakin efisien dan semakin efektif suatu perusahaan dikelola maka akan semakin baikpula kinerja perusahaan tersebut. Untuk melihat sejauh mana perusahan dikelola secaraekonomis, efisisien, dan efektif diperlukan audit ekonomisasi, efesiensi,dan efektifitasoperasi manajerial perusahaan yang dikenal sebagai audit manajemen dimana hal tersebuttidak bisa dipenuhi hanya dengan melakukan audit keuangan. Apabila dilakukan secarabaik dan benar, audit manajemen secara potensial menjadi alat evaluasi yang sangatberguna. ( Pratolo 2007). Berdasarkan pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruhpengendalian intern dan audit manajemen terhadap kinerja manajerial pada BUMN di kotaBanda Aceh.TINJAUAN KEPUSTAKAANPenelitian ini difokuskan pada variabel pengendalian interen dan audit manajemen yangdihubungkan dengan kinerja manajerialKinerja Manajerial Menurut Tim Studi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (2000) kinerjadiartikan sebagai prestasi yang dicapai organisasi dalam suatu periode tertentu. Sedangkankinerja manajerial merupakan kinerja individu anggota organisasi dalam kegiatan-kegiatanmanajerial, (Mahoney, 1963) antara lain: a. Perencanaan, dalam arti kemampuan untuk menentukan tujuan, kebijakan dan tindakan/pelaksanaan, penjadwalan kerja, penganggaran, merancang prosedur, dan pemrograman. b. Investigasi, yaitu kemampuan mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan dan rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, dan analisis pekerjaan. c. Pengkoordinasian, yaitu kemampuan melakukan tukar menukar informasi dengan orang lain di bagian organisasi yang lain untuk mengkaitkan dan menyesuaikan program, memberitahu bagian lain, dan hubungan dengan manajer lain.
  • 45. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 45 d. Evaluasi yaitu kemampuan untuk menilai dan mengukur proposal, kinerja yang diamati atau dilaporkan, penilaian pegawai, penilaian catatan hasil, penilaian laporan keuangan, pemeriksaan produk. e. Pengawasan (supervisi), yaitu kemampuan untuk mengarahkan, memimpin dan mengembangkan bawahan, membimbing, melatih dan menjelaskan peraturan kerja pada bawahan, memberikan tugas pekerjaan dan menangani bawahan. f. Pengaturan staff, yaitu kemampuan untuk mempertahankan angkatan kerja di bagian anda, merekrut, mewawancarai dan memilih pegawai baru, menempatkan, mempromosikan dan memutasi pegawai. g. Negosiasi, yaitu kemampuan dalam melakukan pembelian, penjualan atau melakukan kontrak untuk barang dan jasa, menghubungi pemasok, dan tawar menawar. h. Perwakilan (representatif), yaitu kemampuan dalam menghadiri pertemuan- pertemuan dengan perusahaan lain. Pertemuan perkumpulan bisnis, pidato untuk acara-acara kemasyarakatan, pendekatan kemasyarakatan, mempromosikan tujuan umum perusahaan. Seorang yang memegang posisi manajerial diharapkan mampu menghasilkan suatukinerja manajerial. Kinerja dapat diartikan sebagai prestasi kerja yang dikaitkan denganusaha mencapai tujuan yang telah diselesaikan. Setiap organisasi akan mendorong tingkatprestasi kerja manajerialnya secara maksimal untuk mencapai visi, misi dan tujuan bisnisyang telah direncanakan. Kinerja manajerial dapat digambarkan sebagai fungsi proses darirespon individu terhadap ukuran kinerja yang diharapkan organisasi yang mencakup desainkerja, proses pemberdayaan dan pembimbingan serta sesuatu dari individu itu sendiri yangmencakup keterampilan, kemampuan dan pengetahuan. Kinerja manajerial merupakan hasilsuatu proses perpaduan kapasitas individual dengan sikap individu terhadap aspekpekerjaan dan organisasi.Pengendalian InternPengertian Pengendalian Intern Manajer bertanggung jawab untuk membentuk suatu lingkungan pengendalian padaorganisasi, hal ini merupakan bagian tanggung jawab mereka dalam penggunaan sumberdaya. Manajer pada organisasi harus memahami pentingnya menerapkan dan memeliharapengendalian intern yang efektif yang merupakan tanggung jawabnya. Pengendalian intern menurut COSO 1992 (Akmal, 2007:25-26). Adalah suatuproses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personal satuan usahalainnya yang dirancang untuk mendapatkan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan,dalam hal-hal berikut ini: 1. Keandalan pelaporan keuangan 2. Kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku 3. Efektivitas dan efisiensi operasi Definisi COSO tentang pengendalian intern memperjelas bahwa pengendalianintern bukan hanya mempengaruhi laporan keuangan yang reliabel tetapi juga menunjukkanSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 46. 46 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010bahwa pengendalian seharusnya efektif untuk semua operasi. Pengendalian Internmerupakan aktivitas yang berusaha untuk menjamin pencapaian tujuan dan sasaranorganisasi. Tujuan utama dari Pengendalian intern adalah tercapainya: 1. Reliabilitas dan integritas informasi. 2. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, hukum dan kebijakan. 3. Pengamanan asset. 4. Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien. 5. Pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan untuk operasi dan progarm. Dari definisi di atas menjelaskan struktur pengendalian intern diterapkan untukmencapai tujuan tertentu dari suatu usaha. Di dalam struktur pengendalian intern initerdapat berbagai tujuan beserta kebijaksanaan dan produser yang diciptakan untukmemberikan jaminan yang memadai agar tujuan organisasi dapat dicapai. Pada umumnyakebijaksanaan dan prosedur tersebut adalah mengenai kemampuan suatu usaha untukmencatat, memproses, mengikhtisarkan dan melaporkan data keuangan, sehingga mampumemberikan jaminan bahwa tujuan yang diinginkan dapat tercapai.Audit ManajemenPengertian Audit manajeman Audit manajemen lahir di Inggris pada tahun 1932. Audit manajemen merupakanperkembangan audit keuangan, audit operasional dan konsultansi manajemen. Auditmanajemen merupakan pemeriksaan untuk menilai apakah tujuan perusahaan telahdilaksanakan sebagaimana mestinya. Agar audit manajemen berhasil dilakukan makadukungan dan akseptasi manajemen dan pemberian jasa kepada organisasi perludidapatkan. Audit manajemen harus memiliki status pelaporan dalam perusahaan yangmenjamin pertimbangan yang benar dari temuan rekomendasi pemeriksaan intern. Sejauh ini audit manajemen masih jarang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaandi Indonesia, jika dibandingkan dengan audit keuangan. Hal ini terjadi karena tidak adaperaturan yang mengharuskan perusahaan menerapkan audit manajemen. Pemeriksaanmanajemen berkaitan dengan penilaian pencapaian tujuan organisasi oleh manajemen.Secara tradisional pemeriksaan selalu berorientasi pada keuangan namun setelah bertahun-tahun tekanannya berubah bahwa informasi yang dibutuhkan bukan hanya informasikeuangan. Bagian dari fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian,pelaksanaan, pengawasan, pengambilan keputusan serta tindakan manajemen yang cukupmenentukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, jadi titik utamanya adalahmenilai kemampuan manajer untuk melaksanakan fungsinya. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa karkteristik pemeriksaanmanajemen yaitu: 1. Memberikan informasi tentang efektifitas, efisiensi, dan ekonomisasi operasional perusahaan kepada manajemen. 2. Penilaian efektifitas, efesiensi dan ekonomisasi didasarka pada standar-standar tertentu. 3. Audit diarahkan kepada operasional sebagian atau seluruh struktur organisasi. 4. Audit ini dapat dilakukan oleh akuntan maupaun bukan akuntan. 5. Hasil audit manajemen berupa rekomendasi perbaikan kepada manajemen.
  • 47. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 47 Bayangkara (2008: 12-14) menyatakan manajemen audit merupakan pemeriksaanatas: ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna)merupakan tiga hal penting yang tidak dapat yang harus dicapai perusahaan dalammeningkatkan kemampuan bersaingnya. a. Ekonomisasi, merupakan ukuran input yang digunakan dalam berbagai program yang dikelola. Artinya, jika perusahaan mampu memperoleh sumber daya yang akan digunakan dalam operasi dengan pengorbanan yang paling kecil, ini berarti perusahaan telah mampu memperoleh sumber daya tersebut dengan cara yang ekonomis. b. Efisiensi, berhubungan dengan metode kerja (operasi) dalam hubungan dengan konsep input – proses – output. Efisiensi dalam rasio antar output dan input, merupakan proses. Efisiensi berhubungan dengan bagaimana perusahaan melakukan operasinya, sehingga dicapai optimalisasi penggunaan sumber daya yang dimiliki. c. Efektivitas, dapat dipahami sebagai tingkat keberhasilan suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya. Merupakan ukuran dari output.Model Penelitian Adapun model penelitian untuk penelitian ini adalah: Pengendalian Intern Kinerja Manajerial Audit Manajemen Gambar 1: Model PenelitianSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 48. 48 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Penelitian Sebelumnya Tabel 1: Penelitian Sebelumnya Peneliti Judul Penelitian Hasil PenelitianPratolo (2007) Pengaruh audit manajemen, Terdapat hubungan antara audit komitmen organisasional manajemen, komitmen manajer pada manajer, pengendalian intern organisasi, dan pengendalian intern terhadap penerapan prinsip- menunjukan bahwa ketiga variabel prinsip good corporate tersebut saling mendukung dalam rangka governance dan kinerja badan pengaruhnya terhadap variabel penerapan usaha milik negara di prinsip-prinsip good corporate Indonesia governance dan kinerja perusahaan.Prasetyono dan Nurul Analisis kinerja rumah sakit menunjukkan hubungan yang signifikan(2007) daerah dengan pendekatan antara variabel komitmen organisasi dan balanced scorecard pengendalian intern terhadap good berdasarkan komitmen corporate governance. Dan secara parsial organisasi, pengendalian variabel komitmen organisasi, intern dan penerapan prinsip- pengendalian intern dan good corporate prinsip good corporate governance berpengaruh positif terhadap governance (GCG) kinerja Rumah Sakit Daerah.Monarsyah (2003) Pengaruh stuktur pengendalian stuktur pengendalian intern berpengaruh intern terhadap kinerja BUMN secara signifikan terhadap kinerja. di kota Banda Aceh.Sumber: Olahan Penulis (2009)Hipotesis Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah:H1: Pengendalian intern dan audit manajemen berpengaruh secara simultan terhadap kinerja perusahaan pada BUMN di Kota Banda Aceh.H2: Pengendalian intern dan audit manajemen berpengaruh secara parsial terhadap kinerja perusahaan pada BUMN di Kota Banda Aceh.METODE PENELITIANPopulasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbadanhukum PT atau Persero dan Perum yang berada di Kota Banda Aceh yang berjumlah 31perusahaan. Adapun Penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan denganmenggunakan seluruh elemen populasi yang disebut dengan sensus. sebaiknya penelitimempertimbangkan untuk menginvestasikan seluruh elemen populasi jika elemen- elemenpopulasi relatif sedikit. Adapun responden untuk setiap perusahaan adalah kepala cabang(pimpinan perusahaan), manajer dan auditor internal sebagai sumber informasi tentangpengendalian intern, audit manajemen dan kinerja menajerial. Daftar nama perusahaanBUMN sebagai populasi dapat dilihat pada lampiran.
  • 49. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 49Data dan Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yangdiperoleh langsung dari responden dengan cara penelitian lapangan (field research). Dataprimer diperoleh dengan cara mengedarkan angket pertanyaan (kuesioner) yang disusundengan kisi-kisi penulisan instumen yang telah disiapkan terlebih dahulu. Yaitumenggunakan daftar pernyataan terstruktur yang terdiri atas 44 item pernyataan, terbagiatas 18 pernyataan untuk pengendalian intern, 18 pernyataan untuk pelaksanaan auditmanajemen dan 8 pernyataan untuk kinerja manajerial, dengan tujuan untukmengumpulkan informasi dari responden pada BUMN di kota Banda Aceh. Sumber datadalam penelitian ini adalah skor masing-masing indikator variabel yang diperoleh daripengisian kuesioner oleh responden tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan metodesurvey. Pengedaran kuesioner dilakukan dengan cara mengentarkan langsung kepadaresponden dan memberikan waktu pengisian. Kuesioner akan dikumpulkan kembali secaralangsung oleh peneliti. Cara ini ditempuh dengan pertimbangan untuk menghindarikehilangan data tidak kembali.Defenisi dan Operasional Variabel Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner untuk masing-masing variabel dalampenelitian ini diukur dengan menggunakan skala Likert yaitu suatu skala yang digunakanuntuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang tentangfenomena sosial. Jawaban dari responden bersifat kualitatif dikuantitatifkan, dimanajawaban diberi skor dengan menggunakan 5 (lima) point jawaban atas pernyataan-pernyataan, dengan skala Likert.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 50. 50 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 3: Difinisi dan Operasional Variabel Skala Variabel Definisi Indikator Pengukuran 1. Kinerja Merupakan hasil kerja yang Perencanaan, Interval Manajerial dapat dicapai oleh Investigasi, (Y) seseorang atau sekelompok Pengkoordinasian, orang dalam organisasi, Evaluasi, sesuai dengan wewenang Pengawasan, dan tanggung jawab Pengaturan staff, masing-masing, dalam Negosiasi, rangka mencapai tujuan Perwakilan. organisasi. 2. Pengendalian Proses yang dipengaruhi Lingkungan Interval Intern oleh dewan direksi, pengendalian, (x1) manajer, serta personil lini Penilaian risiko, dalam suatu entitas, yang Aktivitas dirancang untuk pengendalian, memberikan jaminan yang Informasi dan layak berkaitan dengan komunikasi, pencapaian berbagai tujuan Pemantauan. perusahaan. 3. Audit Audit Manajemen yaitu Ekonomisasi, Interval Manajemen mencakup penelitian dan Efisiensi, (x2) evaluasi atas semua fungsi Efektivitas. dari manajer, untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektiv dan efisien.Sumber: Olahan Penulis (2009)Pengujian Validitas dan Reabilitas Sebelum analisa data, dilakukan pengujian instrument penelitian denganmenggunakan uji validitas dan reliabilitas. Pengujian ini dimaksudkan memastikan bahwainstrument tersebut telah digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dankeandalan kuesioner (Indriantoro, 1999 : 182). Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan uji pearson product momentcoefficient of correlation. Instrumen akan dinyatakan valid jika memiliki tingkat signifikandibawah 5%. Sedangkan pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metodeGronbanch Alpha yang dapat menafsirkan korelasi antara skala yang dibuat dengan skala
  • 51. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 51variabel yang ada. Pengukuran reliabilitas ini dianggap handal berdasarkan koefisien alphadiatas 0,50 (Indriantoro dan Supomo,1999).Metode Analisis Data Data yang telah terkumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan alatstatistik yaitu analisis regresi linear berganda (multiple regression analysis). Adapunbentuk matematisnya adalah sebagai berikut: Y = α + β1X1 + β2X2 + e Keterangan: Y = Kinerja manajerial α = Konstanta β1- β2 = Koefisien regresi X1 = Pengendalian intern X2 = Audit manajemen e = Error term Analisis data dengan regresi linier berganda yang bertujuan untuk menguji danmenganalisis, baik secara simultan maupum parsial pengaruh pengendalian intern dan auditmanajemen terhadap kinerja perusahaan pada BUMN di kota Banda Aceh. Data diolahdengan program Statistik Package For Social Science (SPSS), dengan model regresi linierberganda yang dituliskan diatas.Pengujian Hipotesis Setelah dilakukan pengukuran variabel dalam penelitian ini. Dilanjutkan melakukanpengujian untuk setiap hipotesisnya, untuk menentukan menerima atau menolak hipotesisyang diajukan. Dilakukan dengan 2 cara yaitu : uji secara simultan/bersama-sama dan ujisecara parsial. Kesimpulan langsung diambil dari nilai koefisien regresi masing-masingvariabel independen. Untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama-samaterhadap variabel dependen, dilakukan dengan langkah-langkah berikut:1. Menentukan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (HA) sebagai berikut : H10 : β1 =β2= 0; Pengendalian intern dan audit manajemen secara bersama-sama tidak mempengaruhi kinerja manajerial. H1A : paling sedikit ada satu βi (i = 1,dan 2) ≠ 0 ; Pengendalian intern dan audit manajemen secara bersama-sama mempengaruhi kinerja manajerial.2. Menentukan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis. Jika β1 =β2 = 0 ; H0 tidak ditolak. Artinya variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel dependen. Jika paling sedikit ada satu βi (i = 1, dan 2) ≠ 0 ; H0 ditolak atau mempengaruhi. Untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (HA). Hipotesis kedua (H2) H20 : β1 = 0 ; Pengendalian intern tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. H2A : β1 ≠ 0 ; Pengendalian intern berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Hipotesis ketiga (H3) H30 : β2 = 0 ; Audit manajemen tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 52. 52 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 H3A : β2 ≠ 0 ; Audit manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial. b. Menentukan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis. Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah sebagai berikut : Jika β1 =β2 = 0 : H0 tidak ditolak. Artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen Jika β1 =β2 ≠ 0 : H0 ditolak.Artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.Selanjutnya untuk analisis data dari seluruh bentuk pengujian dalam penelitian inidiselesaikan dengan menggunakan fasilitas paket program komputer “Statistical Packagefor Social science (SPSS) vers. 15.0”.HASIL DAN PEMBAHASANPengaruh Pengendalian Intern dan Audit Manajemen Terhadap Kinerja ManajerialSecara Simultan Hubungan antar sistem di dalam organisasi dalam hal ini pengendalian intern danaudit manajemen. Audit manajemen tanpa disertai pengendalian intern yang efektifmemungkinkan audit manajemen tersebut tidak optimal, sebaliknya pengendalian internyang bertujuan untuk menjaga reliabilitas dan integritas informasi, kepatuhan terhadapkebijakan, rencana, prosedur, hukum dan kebijakan, pengamanan asset, penggunaansumber daya secara ekonomis dan efisien, pencapaian tujuan dan sasaran yang telahditetapkan untuk operasi dan program yang tidak disertai dengan pelaksanaan auditmanajemen maka pengendalian intern tersebut tidak akan efektif (Pratolo, 2007). Denganadanya pengendalian intern dan audit manajemen yang baik maka pengelolaan suatuperusahan akan semakin baik pula hal ini yang disebut dengan meningkatnya kinerjamanajerial pada perusahaan. Dalam penelitian ini akan dilihat variabel-variabel yangmempengaruhi kinerja manajerial pada BUMN di kota Banda Aceh. Variabel-variabeltersebut meliputi pengendalian intern dan audit manajemen. Berdasarkan hasil pengujianhipotesis menunjukkan bahwa semua koefisien korelasi dari variabel yang mempengaruhikinerja manajerial tidak sama dengan nol. Dengan demikian dapat diambil kesimpulanbahwa hipotesis yang diajukan dapat diterima. Hal ini berarti secara simultan pengendalianintern dan audit manajemen memiliki pengaruh terhadap kinerja manajerial. Hasil penelitian ini konsisten dan sejalan dengan hasil penelitian Suryo Pratolo(2007), Prasetyo dan Nurul (2007), Monarsyah (2003) dan Hiro Tugiman (2000), yangdilakukan pada BUMN di seluruh Indonesia, yang menyatakan bahwa terdapat pengaruhsignifikan variabel audit manajemen dan pengendalian intern terhadap kinerja perusahaandengan pengaruh baik langsung ataupun tidak langsung.
  • 53. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 53 Tabel 6: Pengaruh Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat Standar Nama Variabel ß t Sig Error Konstanta 1.113 0.695 1.601 0.116 Struktur pengendalian intern (x1) 0.310 0.143 2.163 0.035 Pelaksanaan audit manajemen (x2) 0.593 0.133 4.462 0.000 Koefisien Korelasi ( R ) 0.626 a Predictors: (Constant), Audit 2 0.392 Manajemen, Pengendalian Koefisien Determinasi ( R ) 2 Adjusted ( R ) 0.366 Intern b Dependent Variable: Kinerja ManajerialSumber: Data Sekunder (diolah), 2009Pengaruh Pengendalian Intern dan Audit Manajemen Terhadap Kinerja ManajerialSecara ParsialPengaruh Pengendalian Intern Terhadap Kinerja Manajerial Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, hasil output menunjukkan nilai koefisienregresi dari pengendalian intern yaitu sebesar 0,310 (β≠0), maka dapat disimpulkan bahwapengendalian intern berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial.Hasil penelitian ini sejalan dan konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh SuryoPratolo (2007), Prasetyo dan Nurul (2007), Monarsyah (2003),dan Hiro Tugiman (2000).yang menunjukkan bahwa pengendalian intern berpengeruh terhadap kinerja manajerial.Hal ini berarti kinerja manajerial pada BUMN akan meningkat dan optimal jika perusahaandapat menerapkan pengendalian intern dengan baik. Pengendalian intern yang lemah akanberpengaruh kuat terhadap penerapan prinsip-prinsip good corporate governance dankinerja (Pratolo, 2007).Pengaruh Audit Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Hasil penelitian menunjukkan audit manajemen berpengruh secara positif dansignifikan terhadap kinerja manajerial. Hal ini dapat dilihat dari hasil output yangmenunjukkan nilai koefisien regresi dari audit manajemen yaitu sebesar 0,593 (β≠0). Hasilpenelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryo Pratolo (2007) yaituaudit manajemen berpengaruh secara langsung terhadap kinerja. Temuan ini menunjukkanbahwa dalam rangka peningkatan kinerja pada BUMN maka audit manajemen perluditingkatkan. Artinya untuk memaksimalkan kinerja BUMN, maksimalisasi auditmanajemen juga diperlukan.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan Dari hasil pengujian yang telah dilakukan terhadap permasalahan yang dirumuskandalam hipotesis penelitian dengan menggunakan uji regresi linier berganda, maka dapatditarik kesimpulan sebagai berikut :STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 54. 54 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010a. Dari hasil penelitian ini, maka dapat diformulasikan persamaan regresi linier berganda berikut ini: Y = 1.113 + 0,310x1 + 0.593x2 + eb. Berdasarkan hasil pengujian secara simultan diperoleh bahwa variabel Pengendalian intern (x1), dan Pelaksanaan audit manajemen (x2), secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada BUMN di kota Banda Aceh.c. Sementara secara parsial variabel yang mempunyai nilai koefisien regresi paling besar (dominan), adalah pelaksanaan audit manajemen (x2) mempunyai pengaruh dominan terhadap kinerja manajerial BUMN, dengan nilai koefisien sebesar 0.593, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan audit manajemen yang merupakan salah satu indikator yang dapat meningkatkan kinerja manajerial BUMN dalam mencapai target perusahaan yang telah ditentukan.d. Secara parsial variabel pengendalian intern (x1) berpengaruh terhadap kinerja manajerial (Y),e. Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,626 yang menunjukkan bahwa derajat hubungan (korelasi) antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (x1 dan x2) sebesar 62,6%. Artinya kinerja manajerial BUMN mempunyai hubungan erat dengan pengendalian intern (x1), pelaksanaan audit manajemen, sedangkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,392. Artinya sebesar 39,2% perubahan-perubahan dalam variabel dependen kinerja manajerial (Y) dapat dijelaskan oleh perubahan-perubahan dalam variabel-variabel independennya pengendalian intern (x1), pelaksanaan audit manajemen (x2) dari para pimpinan perusahaan, manajer, danauditor internal pada BUMN di kota Banda Aceh. Sedangkan selebihnya yaitu sebesar 60,8% dijelaskan oleh faktor-faktor variabel lain diluar daripada penelitian ini.Keterbatasan Penelitian ini mempunyai beberapa kelemahan yang membatasi kesempurnaanya.Oleh sebab itu, keterbatasan ini perlu diperhatikan dalam penelitian selanjutnya. Adapunketerbatasan tersebut adalah sebagai berikut :a. Sampel penelitian ini masih terbatas pada responden tertentu, khususnya hanya pada pimpinan perusahaan, manajer, dan auditor internal pada BUMN di kota Banda Aceh dan yang menjadi sampel hanya sebanyak 49 orang responden pada BUMN di kota Banda Aceh, sehingga memungkinkan adanya perbedaan hasil penelitian dan kesimpulan apabila penelitian dilakukan menambah atau mengganti pada objek dan daerah penelitian yang berbeda.b. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner. Kurangnya sikap kepedulian dan keseriusan dalam menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, masalah subjektivitas dari responden dapat mengakibatkan hasil penelitian ini rentan terhadap biasnya jawaban responden. Keadaan seperti ini merupakan hal yang tidak dapat dikendalikan karena berada diluar kemampuan peneliti.
  • 55. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 55Saran-saran Berdasarkan keterbatasan penelitian yang telah dipaparkan diatas, maka penelitimemberikan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya sebagai berikut :a. Variabel yang mempengaruhi kinerja manajerial pada penelitian ini terbatas pada faktor pengendalian intern dan pelaksanaan audit manajemen saja. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kinerja manajerial, seperti faktor internal dan faktor eksternal dari luar perusahaan.b. Pengukuran kinerja pada penelitian ini terbatas pada metode evaluasi diri sendiri sehingga kemungkinan responden yang baru bekerja pada BUMN di kota Banda Aceh, masih belum bisa mengukur kinerjanya sendiri, sehingga diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk menggabungkan metode antara evaluasi bawahan terhadap atasan dan evaluasi atasan terhadap bawahannya, agar penelitian yang dilakukan bisa digeneralisasikan dalam upaya memberikan dukungan empiris terhadap teori yang diajukan.c. Untuk penelitian selanjutnya diharapakan kepada calon peneliti untuk memasukkan variabel-variabel lain yang memiliki pengaruh terhadap kinerja manajerial dalam mendukung peningkatan kinerja dalam mengelola BUMN di kota Banda Aceh.DAFTAR PUSTAKAAkmal, (2007). Pemeriksaan Intern (internal Audit). IndeksArens, Alvin A, (2003). Auditing dan Pelayanan Verifikasi. Jakarta: IndeksBayangkara, IBK, (2008). Audit Manajemen Prosedur dan Implementasi. Jakarta: Selemba EmpatGarisson / Norren, Budisantoso, A. Totok, (2000). Akuntansi Manajerial. Jakarta: Salemba Empat.Ghozali, imam, (2001). Aplikasi Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: UNDIP.Ismaya, Sujana, (2005). Kamus Akuntansi. Bandung: Pustaka Grafika.Kamal, Maulana (2001) Hubungan Diantara Gaya Evaluasi Kinerja Anggaran, Tekanan Kerja dan Kinerja Manajerial. Jurnal Manajemen & Bisnis Vol.3, No. 1Laksamana, Arsono, (2002). Pengaruh Teknologi Informasi, Saling Ketergantungan, Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial. Surabaya.Muljono, Teguh Pudjo, (1999). Aplikasi Manajemen Audit dalam Industri Perbankan.Yogyakarta: BPFEMulyadi, (2002). Auditing. Jakarta: Salemba Empat.Monarsyah, (2003). Pengaruh Struktur Pengendalian Intern terhadap kinerja BUMN Di Kota Banda Aceh.Prasetyono, dan Kompyurini Nurul, (2007). analisis kinerja rumah sakit daerah dengan pendekatan balanced scorecard berdasarkan komitmen organisasi, pengendalian intern dan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG). Makasar: Simponsium Nasional Akuntansi X.Pratolo, Suryo, (2007). Pengaruh Audit Manajemen, Komitmen Organisasional Manajer, Pengendalian Intern Terhadap Penerapan Prinsip-Prinsip Good CorporateSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 56. 56 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Governance dan Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Surabaya: Pascasarjana UPNV Jatim.Samryn, L.M, (2001). Akuntansi Manajerial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Sekaran, Uma, (2006). Research Methods For Business (metodologi Penelitian Untuk Bisnis). edisisi 4, Jakarta: Penerbit salemba empat.Siagian, P. Sondang, (2001). Audit Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.Suharli, Michell, (2006). Audit Finansial, Audit Manajemen dan Sistem Pengendalian Intern. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia.Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2005). Edisi ketiga. Departemen Pendidikan Nasional: Balai Pustaka.Tim Studi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, (2000). Pengukuran Kinerja. Jakarta: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).Tjirosidojo, Soemarjono, (1980). Bunga Rampai Menuju Pemeriksaan Pengelolaan (Manejement Auditing). Jakarta: PT. Ichtisar Baru.Tunggal, Amin Widjaja (2000) Pemeriksaan Intern. Jakarta: Rineka Cipta.
  • 57. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 57 PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUTUSAN PASIENMELAKUKAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PADA LABORATORIUM BADAN PELAYANAN KESEHATAN RSU DR.ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH Teuku EdyansyahAbstract: One of the strategies done by the management of Health Laboratory inmaintaining or increasing the number of consumer is by giving qualified service. By havingthe best qualified service, it is expected that Health Laboratory will be able to meet theconsumer’s expectation on the services given by Health Laboratory, able to win thecompetition, and able to gain maximal profit. The problems of this study are: (1) how arethe influences of service quality of health laboratory which consist of tangible, reliability,responsibility, assurance and empathy on the patient decision to have health examinationat Health Service Body Laboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh; (2) how therelation of health examination service system given to the patient at Health Service BodyLaboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh with the standard of health examinationdecided by Health Department of Republic of Indonesia. The research analyse resultsshows that R-Square = 0.683, it means that the variable of patient decision is able to beexplained by service quality as 68.3%, while the rest as 31.7% is explained by other freevariables which are not included in the research model. The result of all tests is servicequality which consists of tangible, reliability, responsibility, assurance and empathyinfluence most significantly on the patient decision to have health examination at HealthService Body Laboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, and the variable of empathyis partially positive but it does not influence, while the variables of tangible, reliability,responsibility and assurance influence significantly on the patient decision to have healthexamination at Health Service Body Laboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Thevariable which influence most dominantly on the patient decision to have healthexamination at Health Service Body Laboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh is thevariable of assurance. The service system of health examination at Health Service BodyLaboratory RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh relates to the standard of healthexamination which is decided by Health Department of Republic of Indonesia.Key words : Service, Patient Decision, Health Laboratory____________________________________________________________________ Teuku Edyansyah, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 58. 58 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta naiknya tingkat pendapatan,telah membuka cakrawala pemikiran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidupsehat. Dewasa ini, kesehatan dipandang sebagai salah satu indikator penting dari tingkatkesejahteraan dan kualitas hidup seseorang. Dalam hal pemilihan sarana kesehatan, baik berupa klinik, rumah sakit, dokter,paramedis, maupun laboratorium kesehatan, seorang pasien akan senantiasa memperhatikankualitas. Sebahagian besar pasien bertindak selektif untuk menghindari resiko yangmungkin timbul akibat dari pelayanan yang seadanya. Terutama dalam hal pemilihanlaboratorium kesehatan, resiko yang mungkin timbul akibat kesalahan hasil pemeriksaanakan sangat fatal karena dapat menyebabkan kesalahan diagnosis oleh dokter, yangakhirnya akan mengakibatkan kesalahan terapi. Laboratorium kesehatan dinyatakan baik apabila telah memiliki peralatan yanglengkap, modern dan cocok dengan jenis pemeriksaan, sehingga hasil menjadi akurat.Disamping itu juga memiliki tenaga-tenaga profesional, serta pelayanan yangmenyenangkan. Salah satu strategi yang dilakukan oleh pengelola laboratorium kesehatandalam mempertahankan atau meningkatkan jumlah pasiennya adalah dengan memberikanpelayanan yang berkualitas (service quality). Dengan kualitas pelayanan yang optimal,diharapkan laboratorium kesehatan akan mampu memenuhi harapan dari pasien terhadapjasa yang dihasilkan laboratorium kesehatan, mampu memenangkan persaingan, danmampu memperoleh keuntungan yang maksimal. Laboratorium Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr.Zainoel Abidin(BPK RSUZA) Banda Aceh merupakan salah satu laboratorium kesehatan yang terlengkapdan terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Laboratorium kesehatan ini sempatrusak dan hancur pada tanggal 26 Desember 2004 akibat gempa dan gelombang Tsunami.Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh kembali aktif berfungsi pada awalPebruari 2005, setelah mendapat bantuan baik dari dalam maupun dari luar negeri, sehinggapada tanggal 31 Maret 2005 tercatat 22 donatur dan 48 NGO yang telah membantu BPKRSUZA Banda Aceh. Hingga saat ini, laboratorium kesehatan (Patologi Klinik) BPKRSUZA Banda Aceh melayani pasien untuk lima jenis pemeriksaan, yaitu Urinalisa,Hematologi, Serologi, Kimia Klinik, dan Mikrobiologi. Laboratorium kesehatan ini jugadidukung fasilitas tambahan lainnya seperti tempat parkir yang luas, taman yang asri,mesjid, kantin, dan minimarket. Jumlah kunjungan pasien ke Laboratorium Kesehatan (Patologi Klinik) BPKRSUZA Banda Aceh pada tahun 2007 berjumlah 18.491 orang, dengan rata-rata perbulanmencapai 1.541 orang. Pihak manajemen BPK RSUZA Banda Aceh berharap, pasien yangdatang untuk memeriksakan kesehatannya ke laboratorium ini tidak hanya bagi merekayang sakit atau terganggu kesehatannya, melainkan juga bagi mereka yang sehat untukdiketahui perkembangan kesehatannya. Oleh karena itu kualitas pelayanan padalaboratorium kesehatan tersebut perlu ditingkatkan lagi. Disini peneliti melihat adanya fenomena yang menarik dari LaboratoriumKesehatan BPK RSUZA Banda Aceh, dimana sejumlah pasien mengeluhkan kurangnyaempati pegawai saat melakukan pemeriksaan kesehatan di laboratorium tersebut. Jika halini terus berlanjut, maka dapat dipastikan pasien yang datang untuk memeriksakan
  • 59. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 59kesehatannya ke laboratorium ini akan menurun jumlahnya. Hal ini berlawanan denganharapan pihak manajemen BPK RSUZA Banda Aceh. Berdasarkan fenomena yang ada, penulis membuat rumusan masalah sebagaiberikut: (1) Bagaimana pengaruh kualitas pelayanan laboratorium kesehatan yang terdiridari ; bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati terhadap keputusan pasienmelakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh?. (2)Bagaimana hubungan antara sistem pelayanan pemeriksaan kesehatan yang diberikankepada pasien pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh dengan standar pemeriksaankesehatan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia?.TINJAUAN PUSTAKA Armstrong dan Kotler (1996), menyatakan bahwa: “Service is any activity or benefitthat one party can offer to another that is essentialy intangible and does not result in theownership of anything”. Sedangkan Payne (2000), menyatakan bahwa ; “Jasa adalah suatukegiatan yang memiliki beberapa unsur ketakberwujudan yang berhubungan dengannya,melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau dengan properti dalamkepemilikannya, dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan”. Stanton dalam Hurriyati (2005), menyatakan bahwa ; “Jasa merupakan sesuatu yangtidak berwujud, yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen karena dapatmemenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Untuk memproduksi jasa dapat digunakanbantuan produk fisik, namun dapat juga tidak. Selain itu pada umumnya dikonsumsibersamaan pada saat diproduksi, dan jasa tidak mengakibatkan terjadinya pemindahankepemilikan secara fisik”. France et al. (1992), dalam “Journal of Health Care Marketing” menyatakan bahwa: “There are severall differences between health care and other consumer services : 1. Health care is probably the must intangible of all services. 2. Mismatch between customer expectations and actual delivery may be greater for the health care product. 3. Demand for a health care product is less predictable. 4. Distinguishing the decision maker from the customer may be more convoluted for the health care product. 5. More often than not, the patient does not directly exchange money for the health care product”. Menurut Kotler (2003), “Jasa memiliki empat ciri utama yang sangat mempengaruhirancangan program pemasaran, yaitu sebagai berikut : a. Tidak berwujud (intangible) Hal ini menyebabkan konsumen tidak dapat melihat, mencium, meraba, mendengar dan merasakan hasilnya sebelum mereka membelinya. Untuk mengurangi ketidakpastian, konsumen akan mencari informasi tentang jasa tersebut, seperti lokasi perusahaan, para penyedia dan penyalur jasa, peralatan dan alat komunikasi yang digunakan serta harga produk jasa tersebut. Beberapa hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kepercayaan calon konsumen yaitu sebagai berikut: 1) meningkatkan visualisasi jasa yang tidak berwujud menjadi berwujud, 2)STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 60. 60 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 menekankan pada manfaat yang diperoleh, 3) menciptakan suatu nama merek (brand name) bagi jasa, atau 4) memakai nama orang terkenal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. b. Tidak terpisahkan (inseparability) Jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, yaitu perusahaan jasa yang menghasilkannya. Jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Jika konsumen membeli suatu jasa maka ia akan berhadapan langsung dengan sumber atau penyedia jasa tersebut, sehingga penjualan jasa lebih diutamakan untuk penjualan langsung dengan skala operasi terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan dapat menggunakan strategi-strategi, seperti bekerja dalam kelompok yang lebih besar, bekerja lebih cepat serta melatih pemberi jasa supaya mereka mampu membina kepercayaan konsumen. c. Bervariasi (variability) Jasa yang diberikan seringkali berubah-ubah tergantung dari siapa yang menyajikannya, kapan dan dimana penyajian jasa tersebut dilakukan. Ini mengakibatkan sulitnya menjaga kualitas jasa berdasarkan suatu standar. d. Mudah musnah (perishability) Jasa tidak dapat disimpan atau mudah musnah sehingga tidak dapat dijual pada masa yang akan datang, keadaan mudah musnah ini bukanlah suatu masalah jika permintaannya stabil, karena mudah untuk melakukan persiapan pelayanan sebelumnya. Jika permintaan berfluktuasi, maka perusahaan akan menghadapi persoalan yang sulit dalam melakukan persiapan pelayanannya. Untuk itu perlu dilakukan perencanaan produk, penetapan harga, serta program promosi yang tepat untuk mengatasi ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran jasa”. Griffin dalam Lupiyoadi (2001), menyatakan bahwa ; “Jasa memiliki karakteristiksebagai berikut : 1. Intangibility. Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tidak berwujud yang dialami konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan atau rasa aman. 2. Unstorability. Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga tidak dapat dipisahkan (inseparability) mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. 3. Customization. Jasa juga seringkali didisain khusus untuk kebutuhan pelanggan sebagaimana pada jasa asuransi dan kesehatan”. Albrecht dan Zemke dalam Ratminto (2007) menyatakan bahwa ; “Terdapat empatelemen dasar dalam memproduksi jasa (strategi, sistem, manusia, dan pelanggan)”. 1. Strategi. Strategi merupakan pandangan filosofi yang berguna untuk menuntun segala aspek pelayanan jasa. Strategi harus menemukan kebutuhan serta keinginan pelanggan, sistem harus mengikuti strategi secara logis, manusia (karyawan/ pegawai) harus mengikuti sistem dan menjalankan strateginya.
  • 61. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 61 2. Sistem. Sistem merupakan prosedur fisik yang digunakan. Sistem (prosedur dan peralatan/fisik) yang dirancang harus sesuai dengan keinginan pelanggan (konsumen). 3. Manusia. Manusia dimaksudkan adalah karyawan/pegawai yang memproduksi jasa (produsen), manusia harus mengikuti sistem dan strategi yang dijalankan dalam organisasi manajemen. 4. Pelanggan. Pelanggan merupakan konsumen yang menikmati kemasan bermacam- macam jasa yang diberikan oleh produsen, strategi, sistem dan manusia/karyawan yang harus berfokus kepada pelanggan (customer focus). Kotler (1993), menyatakan bahwa faktor-faktor utama yang menjadi penentu mutujasa adalah sebagai berikut ; 1. Akses. Jasa harus mudah dijangkau dalam lokasi yang mudah dicapai pada saat yang tidak merepotkan dan cepat. 2. Komunikasi. Jasa harus diuraikan dengan jelas dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh konsumen. 3. Kompetensi. Karyawan yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan. 4. Kesopanan. Karyawan harus bersikap ramah, penuh hormat dan penuh perhatian. 5. Kredibilitas. Perusahaan dan karyawan harus bisa dipercayai dan memahami keinginan utama yang diharapkan konsumen. 6. Realibilitas. Jasa harus dapat dilaksanakan dengan konsisten dan cepat. Menurut Simamora (2001) “Pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yangditawarkan suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidakmengakibatkan kepemilikan apapun”. Moenir (2004) “Pelayanan adalah proses pemenuhankebutuhan melalui aktivitas orang lain”. Sedangkan menurut Ivencevich et al.(dalamRatminto dan Winarsih, 2005) “Pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat mata(tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha-usaha manusia dan menggunakan peralatan”.Menurut Hornby (2000) ”Service is a system that provides something that the public needs,organized by the government or a private company”. Yang artinya Pelayanan adalah suatusistem yang memenuhi sesuatu kebutuhan publik, diorganisasikan baik oleh pemerintahmaupun perusahaan swasta. Moenir (1992) menyebutkan mengenai komponen-komponenyang dapat mendukung suatu pelayanan agar lebih berhasil, yaitu ; 1. Kesadaran para pejabat serta petugas yang berkecimpung dalam pelayanan. 2. Aturan yang menjadi landasan kerja pelayanan. 3. Organisasi yang merupakan alat serta kerja pelayanan. 4. Pendapatan yang memenuhi kebutuhan hidup. 5. Keterampilan petugas. 6. Sarana dalam pelaksanaan tugas. Ada beberapa jenis pelayanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan pada pasar,pelayanan ini dapat merupakan bagian terkecil atau bagian utama dari keseluruhanpenawaran tersebut. Penawaran biasa saja berupa barang pada satu sisi dan layanan murnipada sisi lain.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 62. 62 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Penawaran dari suatu perusahaan dapat diklasifikasikan, menurut Simamora (2001)yaitu ; a. Produk berwujud murni, penawaran semata-mata hanya terdiri dari produk fisik misalnya sabun mand, pasta gigi, atau sabun cuci tanpa pelayanan lainnya yang menyertai produk tesebut b. Produk berwujud disertai dengan layanan pendukung, pada kategori ini penawaran terdiri dari suatu produk fisik disertai dengan satu atau beberapa layanan untuk meningkatkan daya tarik pada konsumennya. Disini layanan didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk pelanggan yang telah membeli produknya. Misalnya seperti seseorang yang baru membeli sepeda motor Honda, maka konsumen tersebut akan diberi pelayanan(service) sepeda motor gratis untuk beberapa bulan c. Hybrid, penawaran yang terdiri dari barang dan layanan dengan proporsi yang sama d. Pelayanan utama yang disertai barang dan layanan tambahan, penawaran terdiri dari suatu layanan pokok bersama-sama dengan layanan tambahan(pelengkap) dan barang-barang pendukung lainnya e. Pelayanan Murni, penawaran seluruhnya berupa layanan, seperti konsultsi psikologi Fitz-Simmons dalam Soetjipto (1997), menyatakan bahwa ; “Service qualitydidefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan parapelanggan atas layanan yang mereka terima/peroleh”. Goetsh dan Davis dalam Yamit(2002), mendefinisikan bahwa ; “Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yangberhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi ataumelebihi harapan”. Pendekatan definisi di atas menegaskan bahwa kualitas bukan hanyamenekankan pada aspek hasil akhir (produk dan jasa) tapi juga menyangkut kualitasmanusia, kualitas proses dan kualitas lingkungan. Menilai kualitas jasa dapat dilihat darifaktor output jasa (spesifikasi) dan cara pemberian jasa (pelayanannya). Setiap perusahaanmemerlukan pelayanan yang unggul yakni suatu sikap atau cara karyawan dalam melayanipelanggan secara memuaskan. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa, memuaskankebutuhan pelanggan berarti perusahaan harus memberikan pelayanan berkualitas (servicequality) kepada pelanggan. Menurut Kotler (1993), “Terdapat dua pendekatan pelayanan yang berkualitas yangpopuler digunakan di kalangan bisnis. Pendekatan pertama dikemukakan oleh Albrecht danZemke yang mendasarkan pada dua konsep pelayanan berkualitas yaitu:a. Segitiga layanan (service triangle) Merupakan model interaktif manajemen pelayanan yang menghubungkan antara perusahaan dengan pelanggan. Model tiga jenis pemasaran jasa, yang terdiri dari tiga elemen dengan pelanggan sebagai titik fokus, elemen tersebut adalah : 1. Strategi pelayanan (service strategy) Strategi pelayanan adalah strategi untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan kualitas sebaik mungkin sesuai standar yang telah ditetapkan perusahaan. Standar pelayanan ditetapkan sesuai keinginan dan harapan pelanggan sehingga tidak terjadi kesenjangan antara pelayanan yang diberikan dengan harapan pelanggan. Strategi pelayanan harus pula dirumuskan dan diimplementasikan
  • 63. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 63 seefektif mungkin sehingga mampu membuat pelayanan yang diberikan kepada pelanggan tampil beda dengan pesaingnya. Untuk merumuskan dan mengimplementasikan strategi pelayanan yang efektif, perusahaan harus fokus pada kepuasan pelanggan sehingga perusahaan mampu membuat pelanggan melakukan pembelian ulang bahkan mampu meraih pelanggan baru. 2. Sumber daya manusia yang memberikan pelayanan (service people) Orang yang berinteraksi secara langsung maupun yang tidak berinteraksi langsung dengan pelanggan harus memberikan pelayanan kepada pelanggan secara tulus (emphaty), responsif, ramah, fokus dan menyadari bahwa kepuasan pelanggan adalah segalanya. Untuk itu perusahaan harus pula memperhatikan kebutuhan pelanggan internalnya (karyawan) dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, rasa aman dalam bekerja, penghasilan yang wajar, manusiawi, sistem penelitian kinerja yang mampu menumbuhkan motivasi. Tidak ada gunanya perusahaan membuat strategi pelayanan dan menerapkannya secara baik untuk memuaskan pelanggan eksternalnya, sementara pada saa yang sama perusahaan gagal memberikan kepuasan kepada pelanggan internalnya, demikian pula sebaliknya. 3. Sistem pelayanan (service system) Sistem pelayanan adalah prosedur pelayanan kepada pelanggan yang melibatkan seluruh fasilitas fisik termasuk sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Sistem pelayanan harus dibuat secara sederhana, tidak berbelit dan sesuai standar yang telah ditetapkan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mampu mendisain ulang sistem pelayanannya jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan pelanggan. Desain ulang sistem pelayanan tidak berarti harus merubah total sistem pelayanan tapi dapat dilakukan hanya bagian tertentu yang menjadi titik kritis penentu kualitas pelayanan. Misalnya dengan memperpendek prosedur pelayanan atau karyawan diminta melakukan pekerjaan secara general sehingga pelanggan dapat dilayani secara cepat dengan menciptakan one stop service. b. Pelayanan Mutu Terpadu (Total Quality Service) Merupakan kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan berkualitas kepada orang yang berkepentingan dengan pelayanan (stakeholders). Pendekatan kedua adalah Conceptual Model of Service Quality yang dikembangkan oleh Parasuraman et al. yang berupaya mengenali kesenjangan (gaps) pelayanan yang terjadi dan mencari jalan keluar untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kesenjangan pelayanan tersebut. Secara umum, kesenjangan pelayanan dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu : 1. Kesenjangan yang muncul dari dalam perusahaan (company gaps) Kesenjangan ini dapat menghambat kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan berkualitas. Kesenjangan yang muncul dari dalam perusahaan dapat dibedakan ke dalam empat jenis kesenjangan yaitu : a) Kesenjangan 1: tidak mengetahui harapan konsumen akan pelayanan. b) Kesenjangan 2: tidak memiliki disain dan standar pelayanan yang tepat. c) Kesenjangan 3: tidak memberikan pelayanan berdasar standar pelayanan. d) Kesenjangan 4: tidak memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 64. 64 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 2. Kesenjangan yang muncul dari luar perusahaan. Disebut kesenjangan 5, terjadi karena ada perbedaan antara persepsi konsumen dengan harapan konsumen terhadap pelayanan”. Menurut Lupiyoadi (2001), “Salah satu pendekatan kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset adalah model SERVQUAL (service quality) yang dikembangkan oleh Parasuraman et al. SERVQUAL dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan/diinginkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari yang diharapkan, maka layanan dikatakan bermutu sedangkan jika kenyataan kurang dari yang diharapkan maka layanan dikatakan tidak bermutu. Dan apabila kenyataan sama dengan harapan maka layanan disebut memuaskan. Dengan demikian, service quality dapat didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dengan harapan pelanggan atas layanan yang mereka terima/peroleh”. Agar pelayanan memiliki kualitas dan memberikan kepuasan kepada pelangganmereka, maka perusahaan harus memperhatikan berbagai dimensi yang dapat menciptakandan meningkatkan kualitas pelayanannya. Menurut Parasuraman et al. dalam Lupiyoadi (2001), “Terdapat lima dimensi SERVQUAL, yaitu : 1. Tangibles, atau bukti fisik yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa, meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi) serta penampilan pegawainya. 2. Reliability, atau keandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. 3. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. 4. Assurance, atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menimbulkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy). 5. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan”.
  • 65. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 65 Perusahaan harus menyadari bahwa suatu sistem layanan pelanggan tidak ada yangsempurna, oleh karena itu perusahaan harus tetap bekerja untuk mengevaluasi setiap sistemyang diterapkannya. Tujuan perusahaan harus diarahkan untuk tetap menemukanpelanggan. Dalam hal ini, perusahaan perlu menyadari bahwa pelanggan saat ini lebihterdidik dari pada sebelumnya. Mereka lebih berhati-hati dalam setiap pembelian yangmereka lakukan dan uang yang mereka keluarkan. Pelanggan menginginkan nilai yangsebanding dengan uang yang dikeluarkannya. Pelanggan juga menginginkan layanan yangbaik dan bersedia membayarnya. Ratminto (2007) menyatakan bahwa ; “Sistem merupakanprosedur fisik yang digunakan. Sistem (prosedur dan peralatan/fisik) yang dirancang harussesuai dengan keinginan pelanggan (konsumen)”. Selanjutnya Albrecht dan Zemke dalam Yamit (2002), menyatakan bahwa; “Sistempelayanan (service system) adalah : prosedur pelayanan kepada pelanggan yang melibatkanseluruh fasilitas fisik termasuk sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Sistempelayanan harus dibuat secara sederhana, tidak berbelit dan sesuai standar yang telahditetapkan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mampu mendisain ulang sistempelayanannya jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan pelanggan. Disain ulangsistem pelayanan tidak berarti harus merubah total sistem pelayanan tapi dapat dilakukanhanya bagian tertentu yang menjadi titik kritis penentu kualitas pelayanan. Misalnyadengan memperpendek prosedur pelayanan atau karyawan diminta melakukan pekerjaansecara general sehingga pelanggan dapat dilayani secara cepat dengan menciptakan onestop service”. Dalam rangka mempertahankan pelanggan, Mowen dan Minor (2002), memberikantujuh langkah menuju sistem layanan pelanggan yang sukses, yaitu : 1. Komitmen manajemen total. 2. Kenalilah pelanggan anda. 3. Kembangkan standar kinerja layanan yang berkualitas. 4. Pekerjakan, latih dan berilah penghargaan kepada staf yang baik. 5. Berilah penghargaan atas penyelesaian layanan. 6. Tetaplah dekat ke pelanggan anda. 7. Bekerjalah menuju perbaikan yang berkesinambungan. Program layanan pelanggan tidak bisa sukses tanpa ada komitmen dari manajemenpuncak perusahaan. Sampai tingkat managing director, kepala eksekutif bahkan pemilikperusahaan sendiri harus mengembangkan konsep yang jelas dan visi layanan yang terarahbagi perusahaan. Kemudian menejemen harus mengkomunikasikan visinya kepada seluruhkaryawan, sehingga karyawan dapat mengerti dan dapat melaksanakannya. Perusahaantidak hanya perlu mengenali pelanggannya tetapi juga harus memahami pelanggan secaramenyeluruh. Perusahaan perlu mengetahui apa yang disukai pelanggan, apa yang tidakdisukai, perubahan apa yang diinginkan, bagaimana mereka menginginkan perusahaantersebut, kebutuhan apa yang mereka perlukan, dan apa harapan-harapan mereka. Layananpelanggan bukanlah konsep yang tidak dapat dilihat. Setiap usaha memiliki kegiatan usahayang khas serta dapat dikembangkan. Sebagai contoh, berapa kali telepon berderingsebelum seseorang mengangkatnya, berapa pemrosesan suatu pesanan, dan lain-lain. JikaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 66. 66 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010standar ditetapkan untuk kegiatan usaha yang teratur, maka karyawan juga akanmenunjukkan kinerja yang superior. Layanan kebaikan pelanggan dan program mempertahankan keefektifan pelanggan,dapat dilakukan hanya oleh orang yang berkompeten dan mampu. Layanan perusahaanharuslah seprofesional orang yang memberikannya. Jika perusahaan ingin tampak baikdimata orang, maka harus memperkerjakan orang yang baik pula. Selanjutnya karyawantersebut harus dilatih agar memberikan hasil terbaik dalam layanan dan programmempertahankan pelanggan. Perusahaan sebaiknya memberikan penghargaan kepada setiapkaryawan, karena karyawanlah yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Perusahaanseharusnya menyediakan penghargaan materi maupun psikologis secara intensif bagistafnya. Kemudian perusahaan juga sebaiknya memberikan penghargaan kepada pelangganyang berperilaku baik. Memberi perhatian kepada pelanggan akan menjadikan merekabertahan dan akan memberi rujukan kepada orang lain. Tetaplah berhubungan dengan pelanggan, dan sebaiknya dilakukan riset yangberkesinambungan untuk mempelajari mereka. Hubungan perusahaan dengan pelanggandimulai setelah transaksi selesai. Dalam hal ini perusahaan harus menjalankan programmempertahankan pelanggan dan pelanggan akan mengetahui sejauh mana perusahaanmemperhatikan mereka. Perusahaan harus memahami bahwa sistem layanan pelanggantidak ada yang sempurna, oleh karena itu perusahaan harus selalu mengevaluasi setiapsistem yang diterapkannya. Perusahaan perlu menyadari bahwa pelanggan saat ini lebihterdidik daripada yang sebelumnya. Mereka umumnya lebih berhati-hati dalam setiappembelian yang mereka lakukan dan uang yang mereka keluarkan. Schiffman dan Kanuk (2000), menyatakan bahwa ; “The term consumer behaviorcan be defined as the behavior that consumers display in searching for purchasing, using,evaluating, and disposing of products, services and ideas which they expect will satisfytheir needs”. The American Marketing Association dalam Peter dan Olson (2002),mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut : “Consumer behavior as the dynamicinteraction of affect and cognition, behavior and the environment by which human beingconduct the exchange aspects of their lives”. Menurut Zaltman dan Wallendorf dalam Mangkunegara (2002), “Perilakukonsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan sosial yang dilakukan individu,kelompok dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan, suatu produk, jasa dansumber lainnya sebagai suatu akibat dari pengalamannya dengan produk, jasa dan sumber-sumber lainnya tersebut”. Menurut Engel et al. dalam Sumarwan (2003), “Perilakukonsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi danmenghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikutitindakan ini”. Menurut Mowen et al. dalam Hurriyati (2005), “Perilaku konsumen adalahstudi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran (exchange process) yangmelibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang dan jasa, pengalaman serta ide-ide”. Definisi ini mengandung dua konsep penting. Pertama, proses pertukaran (exchangeprocess) dimana segala sumber daya ditransfer diantara kedua belah pihak antar konsumendengan perusahaan yang melibatkan serangkaian langkah-langkah dimulai dari tahapperolehan atau akuisisi, lalu ke tahap konsumsi dan berakhir dengan tahap disposisi produkatau jasa. Kedua, unit pembelian (buying units), hal ini dikarenakan pembelian dilakukan
  • 67. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 67oleh kelompok ataupun individu, dimana keputusan pembelian dilakukan oleh individu atausekelompok orang. Menurut Armstrong dan Kotler (2003), “Consumer purchases are influencedstrongly by cultural, social, personal and psychological characteristics : 1. Cultural factors exert a broad and deep influence on consumer behavior. The marketer needs to understand the role played by the buyer’s culture, subculture and social class. 2. Social factors. A consumer’s behavior also is influenced by social factors, such as the consumer’s small groups, family and social roles and status. 3. Personal factors. A buyer’s decisions also are influenced by personal characteristics such as the buyer’s age and life-cycle stage, occupation, economic situation, lifestyle and personality and self-concept. 4. Psychological factors. A person’s buying choices are further influenced by four major psychological factors : motivation, perception, learning and beliefs and attitudes. Kanuk dalam Hurriyati (2005), menyatakan bahwa ; “Ada dua faktor yangmempengaruhi perilaku konsumen dalam proses pengambilan keputusan dalam pembelianatau penggunaan suatu produk barang atau jasa, yaitu : 1. Faktor internal, mencakup karakteristik individu, yang terdiri dari sumber daya konsumen, motivasi, keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, nilai dan gaya hidup. 2. Faktor eksternal, mencakup dua aspek yaitu aspek kinerja bauran pemasaran dan aspek lingkungan sosial budaya. Melalui input kedua aspek eksternal tersebut, individu secara komprehensif internal memproses input bersamaan dengan pengalaman kebutuhan dan keinginan psikologis yang dimilikinya. Setelah semua aspek dikaji, maka individu tersebut akan mengambil keputusan. Apabila cocok dengan jasa tersebut, maka ia akan cenderung mengulang pembelian produk jasa tersebut di masa yang akan datang”. Menurut Hawkins et al. dan Engel et al. dalam Tjiptono (2002), “Prosespengambilan keputusan dibagi dalam tiga jenis, yaitu : 1. Pengambilan keputusan yang luas (extended decision making) Proses pengambilan keputusan yang luas merupakan jenis pengambilan keputusan yang paling lengkap, bermula dari pengenalan masalah konsumen yang dapat dipecahkan melalui pembelian beberapa produk. Untuk keperluan ini, konsumen mencari informasi tentang produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya. Evaluasi produk atau merek akan mengarah kepada keputusan pembelian. Selanjutnya konsumen akan mengevaluasi hasil dari keputusannya. Proses pengambilan keputusan yang luas terjadi untuk kepentingan khusus bagi konsumen atau untuk pengambilan keputusan yang membutuhkan tingkat keterlibatan tinggi, misalnya pembelian produk-produk yang mahal, mengandung nilai prestise, dan dipergunakan untuk waktu yang lama, bisa pula untuk kasus pembelian produk yang dilakukan pertama kali. 2. Pengambilan keputusan yang terbatas (limited decision making)STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 68. 68 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Proses pengambilan keputusan terbatas terjadi apabila konsumen mengenal masalahnya, kemudian mengevaluasi beberapa alternatif produk atau merek berdasarkan pengetahuan yang dimiliki tanpa berusaha (atau hanya melakukan sedikit usaha) mencari informasi baru tentang produk atau merek tersebut. Ini biasanya berlaku untuk pembelian produk-produk yang kurang penting atau pembelian yang bersifat rutin. Dimungkinkan pula bahwa proses pengambilan keputusan terbatas ini terjadi pada kebutuhan yang sifatnya emosional atau juga pada environmental needs, misalnya seorang memutuskan untuk membeli suatu merek atau produk baru dikarenakan ‘bosan’ dengan merek yang sudah ada, atau karena ingin mencoba/merasakan sesuatu yang baru. Keputusan yang demikian hanya mengevaluasi aspek sifat/corak baru (novelty or newness) dari alternatif- alternatif yang tersedia. 3. Pengambilan keputusan yang bersifat kebiasaan (habitual decision making) Proses pengambilan keputusan yang bersifat kebiasaan merupakan proses yang paling sederhana, yaitu konsumen mengenal masalahnya kemudian langsung mengambil keputusan untuk membeli merek favorit/ kegemarannya (tanpa evaluasi alternatif). Evaluasi hanya terjadi bila merek yang dipilih tersebut ternyata tidak sebagus/sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Armstrong dan Kotler (2003), “The buyer decision process consists of fivestages : need recognition, information search, evaluation of alternatives, purchase decisionand postpurchase behavior”. Menurut Setiadi (2003), “Pengambilan keputusan konsumen adalah prosespemecahan masalah yang diarahkan pada sasaran”. Pemecahan masalah konsumensebenarnya adalah suatu aliran tindakan timbal balik yang berkesinambungan di antarafaktor lingkungan, proses kognitif dan afektif, serta tindakan perilaku. Periset dapatmembagi aliran ini ke dalam beberapa tahap dan subproses yang berbeda untukmenyederhanakan masalah (problem solving). Model generik pemecahan masalahkonsumen terdiri atas lima tahap atau proses dasar, yaitu : pemahaman adanya masalah,pencarian alternatif informasi, evaluasi alternatif, pembelian, penggunaan pasca pembeliandan evaluasi ulang alternatif yang dipilih. “Laboratorium kesehatan adalah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran,penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan yang bukanberasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatandan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat”(Depkes RI, 2004). Untuk mengoptimalkan fungsi pelayanan laboratorium, ada beberapahal penting yang perlu diperhatikan, diantaranya : koordinasi dengan program-programkesehatan ; standardisasi peralatan, bahan-bahan kimia, dan regensia ; kebijakan pembeliandan pemasokan ; pemeliharaan dan perbaikan peralatan ; kepercayaan terhadap peralatandan regensia produksi sendiri ; perencanaan personil, produksi dan manajemen ; standarteknis laboratorium ; pedoman laboratorium ; supervisi dan dukungan ; sistem rujukan ;laporan dan informasi ; fasilitas komunikasi dan transportasi ; serta program jaminankualitas (Sharma, et al., 1994).
  • 69. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 69 Secara lebih terperinci hal-hal tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:1. Koordinasi dengan program-program kesehatan Pelayanan laboratorium dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam usaha pemeliharaan kesehatan dan mengurangi penyebaran penyakit, dengan cara selalu melakukan koordinasi dan kerjasama dengan program-program kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini di bawah koordinasi departemen kesehatan, serta badan-badan lainnya.2. Standardisasi peralatan, bahan kimia dan regensia Kualitas hasil pemeriksaan sangat ditentukan oleh peralatan, bahan-bahan kimia, dan regensia yang digunakan. Oleh karena itu setiap peralatan yang digunakan harus telah lulus uji kelayakan oleh badan-badan yang berwenang. Selain itu, semua bahan-bahan kimia, regensia, media, biological, dan alat diagnosis harus selalu dievaluasi dan distandarkan pemakaiannya oleh laboratorium pusat.3. Kebijakan pembelian dan pemasokan Untuk menjaga tersedianya peralatan dan berbagai kebutuhan diagnosis lainnya, perlu diusahakan sistem pembelian dan pemasokan yang baik, yang menyangkut pemilihan pemasok yang bonafit ; pengawasan persediaan ; sistem komunikasi ; dan fasilitas transportasi.4. Pemeliharaan dan perbaikan peralatan Umumnya laboratorium yang berada di negara-negara berkembang termasuk Indonesia cenderung mengabaikan aspek pemeliharaan dan perbaikan peralatan. Untuk itu perlu adanya instruksi terhadap manajemen laboratorium untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan peralatan, menjaga tersedianya suku cadang, dan melatih teknisi dengan baik.5. Percaya terhadap peralatan dan regensia produksi sendiri Peralatan-peralatan diagnosis laboratorium umumnya diproduksi oleh perusahaan- perusahaan besar, tetapi harga dan biaya pemeliharaannya cukup mahal karena produksi umumnya diperuntukkan bagi negara-negara industri. Sementara negara- negara berkembang memerlukan peralatan dengan biaya yang lebih murah, karena itu diperlukan tersedianya peralatan yang diproduksi dari sumber-sumber lokal dengan biaya yang cukup murah.6. Perencanaan sumber daya manusia, produksi dan manajemen Kualitas personil sangat menentukan efektivitas dan efisiensi pelayanan laboratorium. Karena itu manajemen perlu merencanakan rekrutmen serta pelatihan ahli dan teknisi laboratorium dengan sebaik-baiknya.7. Standar teknis laboratorium Untuk menghindari akan adanya resiko kesalahan serta kebingungan pada saat penyediaan peralatan-peralatan dan bahan-bahan kimia baru diperlukan adanya suatu metode teknis yang standar.8. Pedoman laboratorium Dalam upaya menjaga keseragaman dengan laboratorium-laboratorium lain maka WHO Manual of Basic Techniques for a Health Laboratory dapat dijadikan pedoman dasar operasional laboratorium. Pedoman ini diantaranya meliputi ; program-program kesehatan laboratorium, pemeliharaan peralatan, jaminan kualitas, biosafety, serta pengumpulan dan pengemasan specimen.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 70. 70 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 20109. Pengawasan dan dukungan Pengawasan dari level atas kepada level bawah sangat penting untuk menjaga efektivitas dan efisiensi fungsi laboratorium. Supervisor mengontrol aktivitas level bawah laboratorium, dan level atas memberi dukungan baik ekonomi maupun manajemen.10. Sistem penyerahan Sistem penyerahan sampel dari level bawah ke level atas pada laboratorium, akan menentukan ketepatan waktu mendapatkan hasil test. Oleh karena itu instruksi yang jelas, dukungan bahan yang memadai, serta manajemen yang fleksibel sangat dibutuhkan untuk mempermudah pengiriman specimen.11. Informasi dan pelaporan Informasi dan laporan dari level bawah dan menengah menjadi dasar bagi pusat laboratorium dalam aktivitas diagnosis. Disamping itu berbagai informasi tersebut juga diperlukan untuk menyusun program-program pencegahan wabah penyakit, pengawasan kualitas, serta kontrol persediaan dan peralatan.12. Fasilitas transportasi dan telekomunikasi Sistem transportasi yang efisien dan komunikasi yang baik sangat dibutuhkan untuk mendukung penyediaan logistik, sistem penyerahan sampel, serta pengiriman laporan dan informasi kepada manajemen.13. Program jaminan kualitas Jaminan kualitas dalam laboratorium sangat penting untuk menyediakan hasil diagnosis yang terpercaya, tepat waktu dan akurat dalam rangka mendukung perlindungan pasien secara optimal, pencegahan wabah penyakit, dan keperluan riset. Peningkatan mutu pelayanan laboratorium kesehatan dilaksanakan melalui berbagaiupaya, antara lain peningkatan kemampuan manajemen dan kemampuan teknis tenagalaboratorium kesehatan, peningkatan teknologi laboratorium, peningkatan rujukan, danpeningkatan kegiatan pemantapan mutu. Pemantapan mutu laboratorium kesehatan adalahsemua kegiatan yang ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaanlaboratorium, dilaksanakan melalui berbagai kegiatan, antara lain pemilihan metode yangtepat, pengambilan spesimen yang benar, pelaksanaan pemeriksaan laboratorium olehtenaga yang memiliki kompetensi dan pelaksaan kegiatan pemantapan mutu internal sertapemantapan mutu eksternal. Pemantapan mutu eksternal adalah kegiatan pemantapan mutuyang diselenggarakan secara periodik oleh pihak oleh pihak diluar laboratorium yangbersangkutan untuk menilai secara retrospektif adanya kesamaan hasil pada berbagailaboratorium dan mendeteksi adanya penyimpangan. Pemantapan mutu internal adalahkegiatan pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing –masinglaboratorium secara terus menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat dan teliti. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilaksanakan sejak tahap pra analitik, tahapanalitik sampai dengan tahap pasca analitik. Tahap pra analitik yaitu tahap mulaimempersiapkan pasien, menerima spesimen, memberi identitas spesimen, mengambilspesimen, mengirimkan spesimen, menyimpan spesimen sampai dengan menguji kualitasair/reagen/antigen-antisera/media. Tahap analitik yaitu tahap mulai dari mengolahspesimen, mengkalibrasi perlatan laboratorium, sampai dengan menguji ketelitian-
  • 71. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 71ketepatan.Tahap pasca analitik yaitu tahap mulai dari mencatat hasil pemeriksanan,interpretasi hasil sampai dengan pelaporan”.(Depkes RI, 1997). Menurut Donebean (1996) menyatakan bahwa “Standar laboratorium kesehatanadalah menaikkan ketepatan kualitatif atau kuantitatif yang spesifik dari komponenstruktural dalam sistem pelayanan kesehatan yang didasarkan pada proses atau hasil suatuharapan”. Selanjutnya, Mahendrata (1995) mendefinisikan bahwa ; “Standar adalah suatupatokan pencapaian berbasis pada tingkat”. Manfaat Standar Kesehatan (Depkes RI, 2004) : 1. Standar kesehatan menetapkan norma dan memberi kesempatan anggota masyarakat dan perorangan mengetahui bagaimanakah tingkat pelayanan kesehatan yang diharapkan/diinginkan. Karena standar tersebut tertulis sehingga dapat dipublikasikan/diketahui secara luas. 2. Standar kesehatan menunjukkan ketersediaan yang berkualitas dan berlaku sebagai tolok ukur untuk memonitor kualitas kinerja. 3. Standar kesehatan berfokus pada inti dan tugas penting yang harus ditunjukkan pada situasi aktual dan sesuai dengan kondisi lokal. 4. Standar kesehatan meningkatkan efisiensi dan mengarahkan pada pemanfaatan sumber daya dengan lebih baik. 5. Standar kesehatan meningkatkan pemanfaatan staf dan motivasi staf. 6. Standar kesehatan dapat digunakan untuk menilai aspek praktis baik pada keadaan dasar maupun post-basic pelatihan dan pendidikan. Standar pemeriksaan pada laboratorium kesehatan (Depkes RI, 2004) adalah :1. Tahap Pra Analitik a. Formulir permintaan pemeriksaan Identitas pasien, identitas pengirim (dokter dan laboratorium pengirim), No. laboratorium, tanggal pemeriksaan, permintaan pemeriksaan harus sudah lengkap dan jelas. b. Persiapan Pasien Persiapan pasien sesuai persyaratan. c. Pengambilan dan penerimaan spesimen Spesimen dikumpulkan secara benar, dengan memperhatikan jenis spesimen.2. Tahap Analitik a. Pemeriksaan Alat/instrumen berfungsi dengan baik.3. Tahap Pasca Analitik a. Pembacaaan Hasil Penghitungan, pengukuran, identifikasi dan penilaian sudah benar. b. Pelaporan Hasil Kecenderungan hasil pemeriksaan laboratorium dengan diagnosis dokter sesuai.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 72. 72 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan (Patologi Klinik) BPKRSUZA Banda Aceh, yang beralamat di Jalan Tgk. Daud Beuereueh No.108 BandaAceh.Penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus 2008 sampai dengan bulan Januari2009. Pendekatan dalam penelitian ini adalah studi kasus dilakukan di LaboratoriumKesehatan (Patologi Klinik) BPK RSUZA Banda Aceh, didukung dengan survey padapasien Laboratorium Kesehatan (Patologi Klinik) BPK RSUZA Banda Aceh. MenurutUmar (2000) “Studi kasus merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu objek tertentuselama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh termasuklingkungan dan kondisi masa lalunya”. Kerlinger (1995) mengemukakan “bahwa,penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil,tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut,sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antarvariabel sosiologis maupun psikologis”. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang akan mengujipengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari ; bukti fisik, keandalan, daya tanggap,jaminan, dan empati terhadap keputusan pasien, serta hubungan antara sistem pelayanandengan standar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan oleh Departemen KesehatanRepublik Indonesia pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, kemudianmenganalisisnya melalui rumus-rumus statistik. Menurut Sugiyono (2003) “Metodepenelitian deskriptif kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang didasarkanpada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu,pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifatkuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan ”. Sifat penelitian adalah menguraikan atau menjelaskan (descriptive explanatoryresearch). Menurut Sugiyono (2003) “Penelitian deskriptif eksplanatory, yaitu penelitianyang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubunganantara satu variabel dengan variabel yang lain”. Populasi dari penelitian ini adalah pasien Laboratorium Kesehatan BPK RSUZABanda Aceh yang terdata pada Bagian Administrasi dan Pelayanan LaboratoriumKesehatan BPK RSUZA Banda Aceh, yang pada tahun 2007 yang lalu berjumlah 18.491orang. Umar (2003) menyatakan bahwa, “untuk menentukan minimal sampel yangdibutuhkan jika ukuran populasi diketahui, dapat digunakan rumus Slovin”. Adapun rumusSlovin adalah sebagai berikut : N n= 1+ N e 2 Dimana : n = jumlah sampel N = jumlah populasi e = asumsi taraf kesalahan = 10% (0,10) Dengan demikian jumlah sampel adalah : 18.491 n= = 99.46 1 + 18.491 (0.10) 2
  • 73. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 73 Atau dibulatkan menjadi 100 pasien (responden). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling aksidentaladalah “Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan bagi siapa saja yang bertemudengan peneliti dan dianggap cocok sebagai sumber data dapat dijadikan sampel”,(Sugiyono, 2003). Sampel penelitian ini adalah pasien yang sedang berkunjung keLaboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh pada saat peneliti melakukan penelitiandan sampel dipilih secara acak. Wawancara dilakukan langsung kepada pihak yang berhakdan berwenang memberi data dan informasi sehubungan dengan penelitian. Daftarpertanyaan (questionaire) diberikan kepada pasien Laboratorium Kesehatan BPK RSUZABanda Aceh yang dijadikan responden. Studi dokumentasi, dilakukan denganmengumpulkan dan mempelajari data pendukung yang diperoleh dari LaboratoriumKesehatan BPK RSUZA Banda Aceh, yang relevan untuk digunakan dalam penelitianseperti data tentang pendidikan dan jumlah pegawai, serta jumlah pasien. Data primer yang diperoleh langsung dari wawancara (interview) dan daftarpertanyaan (questionaire).Data sekunder yang diperoleh melalui pengumpulan data dariLaboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh, berupa data pendidikan dan jumlahpegawai, serta jumlah pasien. Berdasarkan perumusan masalah, kerangka berpikir danhipotesis yang diajukan maka variabel-variabel dalam penelitian ini diidentifikasikansebagai berikut:1. Identifikasi variabel hipotesis pertama Variabel bebas/Independent Variable (X), yaitu kualitas pelayanan yang terdiri dari; bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) yang mempengaruhi Variabel terikat/Dependent Variable yaitu keputusan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh (Y).2. Identifikasi variabel hipotesis kedua Sistem pelayanan (X) dihubungkan dengan standar pemeriksaan kesehatan (Y) yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Definisi operasional variabel adalah menjelaskan variabel penelitian dan skalapengukurannya, sebagai berikut :a. Bukti fisik (X1), yaitu bukti nyata yang dapat dilihat pada laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, meliputi peralatan laboratorium kesehatan yang lengkap dan canggih, peralatan fisik (gedung, fasilitas pendukung di laboratorium kesehatan) yang bersih dan nyaman, penampilan pegawai yang bersih dan rapi serta lokasi yang strategis, diukur dengan skala Likert.b. Keandalan (X2), yaitu kemampuan untuk mewujudkan jasa sesuai dengan yang telah dijanjikan secara tepat pada laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, meliputi ketepatan waktu layanan, pelayanan yang sama untuk semua pasien tanpa kesalahan dan keakuratan penanganan/ pengadministrasian dokumen serta hasilnya diukur dengan skala Likert.c. Daya tanggap (X3), yaitu keinginan untuk membantu pasien dan menyediakan jasa/pelayanan yang dibutuhkan pasien pada laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, meliputi kesediaan pegawai dalam membantu pasien, keluangan waktu pegawai untuk menanggapi permintaan pasien dengan cepat, dan kejelasan informasi waktu penyampaian jasa, diukur dengan skala Likert.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 74. 74 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010d. Jaminan kepastian (X4), yaitu kemampuan sumber daya yang dimiliki laboratorium kesehatan dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar yang diharapkan pada laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, meliputi pengetahuan dokter ahli dan pegawai, kemampuan dokter ahli dan pegawai dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pegawai, diukur dengan skala Likert.e. Empati (X5), yaitu kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, keramahan, komunikasi dan kemampuan memahami kebutuhan pasien pada laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, meliputi perhatian khusus kepada pasien, komunikasi yang baik dan kemudahan dalam menjalin relasi, diukur dengan skala Likert.f. Keputusan pasien (Y)¸ yaitu upaya atau tindakan pasien dalam mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh meliputi inisiatif kebutuhan, pencarian informasi, mengevaluasi penawaran, ketepatan dalam memutuskan pilihan, dan dampak psikologis setelah memutuskan, diukur dengan skala Likert.g. Sistem Pelayanan (X), yaitu prosedur pelayanan kepada pasien yang melibatkan seluruh fasilitas fisik termasuk sumber daya manusia yang dimiliki Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh.h. Standar Pemeriksaan Kesehatan (Y), yaitu menaikkan ketepatan kualitatif atau kuantitatif yang spesifik dari komponen struktural dalam sistem pelayanan kesehatan yang didasarkan pada proses atau hasil suatu harapan, khusus dalam hal ini adalah tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik. Teknik skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert yangmerupakan bagian dari jenis attitude scales. Skala Likert adalah dimana respondenmenyatakan tingkat setuju atau tidak setuju mengenai berbagai pernyataan tentang perilaku,objek, orang atau kejadian (Kuncoro, 2003). Menurut Santoso (2005), skala Likertdigunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orangterhadap fenomena sosial.PEMBAHASAN HASIL PENELITIANUji Validitas Untuk mengetahui apakah instrumen angket yang dipakai cukup layak digunakansehingga menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurannya, maka dilakukanuji validitas. Sugiyono (2003), menyatakan “Pengukuran validitas internal menggunakanuji validitas setiap butir pertanyaan dengan cara mengkorelasikan skor item masing-masingvariabel dengan skor total masing-masing variabel sehingga akan terlihat butir instrumenyang layak dan tidak layak untuk mengukur variabel penelitian ini”. Koefisien korelasidikatakan baik atau valid apabila lebih r ≥ 0.3. Menurut Umar (2003), “Jumlah respondenuntuk uji coba disarankan minimal 30 orang, agar distribusi skor (nilai) akan lebihmendekati kurva normal”.Uji Reliabilitas Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan perangkat lunak StatisticPackage for Social Sciences (SPSS) versi 10.00. Setelah uji validitas dilakukan, maka
  • 75. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 75selanjutnya terhadap kuesioner yang akan disebarkan kepada responden sampel dilakukanuji reliabilitas untuk melihat konsistensi jawaban. Pengujian dilakukan dengan caramencobakan instrument sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan tekniktertentu, dalam hal ini teknik yang digunakan adalah teknik Alpa Cronbach. Suatu variabeldikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alfa > 0.60 (Ghozali, 2003). Tabel 1. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel N Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan Of Items Variabel Bukti Fisik 0.755 5 Reliabel Variabel Keandalan 0.709 3 Reliabel Variabel Daya Tanggap 0.703 3 Reliabel Variabel Jaminan Kepastian 0.715 5 Reliabel Variabel Empati 0.743 3 Reliabel Variabel Keputusan Pasien 0.723 5 Reliabel Variabel Sistem Pelayanan 0.725 2 Reliabel Variabel Standar Pemeriksaan 0.883 7 Reliabel KesehatanSumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah) Menurut Sekaran (2006), bahwa “reliabilitas yang kurang dari 0.6 adalah kurangbaik, sedangkan 0.7 dapat diterima dan reliabilitas dengan cronbach’s alpa 0.8 ataudiatasnya adalah baik.” Berdasarkan output yang diperoleh pada tabel di atas, diperolehnilai koefisien reliabilitas pada variabel standar pemeriksaan kesehatan lebih besar dari 0.8(>0.8) adalah baik dan nilai koefisien reliabilitas pada variabel lainnya lebih besar dari 0.7(>0.7) dapat diterima, maka variabel – variabel yang digunakan pada instrumen tersebutadalah reliabel untuk digunakan dalam penelitian.Hasil Uji Hipotesis Pertama Hipotesis pertama menyatakan bahwa kualitas pelayanan yang terdiri atas buktifisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), dan jaminan kepastian (X4) berpengaruhterhadap keputusan pasien (Y) melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPKRSUZA Banda Aceh, sedangkan empati (X5) tidak berpengaruh terhadap keputusan pasien(Y) melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Jikapihak manajemen Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh meningkatkan kualitaspelayanan maka keputusan pasien untuk melakukan pemeriksaan kesehatan padaLaboratorium BPK RSUZA Banda Aceh akan semakin bertambah. Misalnya kualitaspelayanan ditingkatkan sebesar 1 kali, maka keputusan pasien untuk melakukanpemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh bertambah menjadi2.328. Berdasarkan pada Tabel 2 dibawah ini, maka persamaan regresi linier bergandadalam penelitian adalah: Ŷ = 1.266 + 0.207X1 + 0.205X2 + 0.170X3 + 0.385X4 + 0.095X5STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 76. 76 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 2. Hasil Uji Koefisien Regresi Hipotesis Pertama Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. B Beta Error 1 (Constant) 1.266 1.703 Bukti Fisik .207 .099 .197 Keandalan .205 .099 .225 Daya Tanggap .170 .084 .146 Jaminan Kepastian .385 .088 .413 Empati .095 .079 .073 a Dependent Variable: Keputusan Pasien Sumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah) Pada persamaan tersebut dapat dilihat bahwa bukti fisik (X1), keandalan (X2), dayatanggap (X3), dan jaminan kepastian (X4) memiliki kemampuan untuk mempengaruhikeputusan pasien (Y) melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZABanda Aceh. Bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), dan jaminan kepastian(X4) mempunyai koefisien regresi positif yang membuktikan kontibusinya terhadapkeputusan pasien. Sedangkan empati (X5) tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhikeputusan pasien (Y) melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZABanda Aceh. Nilai koefisien determinasi (R2) dipergunakan untuk mengukur besarnya pengaruhvariabel bebas yakni bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan kepastian(X4), dan empati (X5) terhadap keputusan pasien (Y) melakukan pemeriksaan kesehatanpada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Berdasarkan Tabel 3 diperoleh nilaikoefisien determinasi sebesar 0.683. Hal ini menunjukan bahwa 68.3% variabel bukti fisik(X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan kepastian (X4), dan empati (X5)menjelaskan terhadap variabel keputusan pasien (Y), sedangkan 31.7% adalah merupakanpengaruh dari variabel bebas lain yang tidak dijelaskan oleh model penelitian, antara lainseperti biaya pemeriksaan, rekomendasi lingkungan sekitar (keluarga, teman, tetangga danlain-lain), dan lain-lain. Tabel 3. Hasil Uji Determinasi Hipotesis Pertama Adjusted R Std. Error of the Model R R Square Square Estimate 1 .826(a) .683 .666 .73742a Predictors: (Constant), Empati, Bukti Fisik, Daya Tanggap, Jaminan Kepastian,Keandalanb Dependent Variable: Keputusan PasienSumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)
  • 77. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 77Uji Serempak Hipotesis Pertama Hasil pengujian hipotesis pertama secara serempak dapat dilihat pada Tabel 4 sebagaiberirkut: Tabel 4. Hasil Uji F Hipotesis Pertama Sum of Mean Model df F Sig. Squares Square Regressio 1 109.884 5 21.977 40.414 .000(a) n Residual 51.116 94 .544 Total 161.000 99a Predictors: (Constant), Empati, Bukti Fisik, Daya Tanggap, Jaminan Kepastian,Keandalanb Dependent Variable: Keputusan PasienSumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah) Berdasarkan Tabel 4 di atas diperoleh bahwa nilai Fhitung (40.414) lebih besardibandingkan dengan nilai Ftabel (2.31), dan sig. α (0.000a) lebih kecil dari alpha 5% (0.05).Hal ini mengindikasikan bahwa hasil penelitian menolak H0 dan menerima H1. Dengandemikian secara serempak kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, dayatanggap, jaminan dan empati berpengaruh terhadap keputusan pasien melakukanpemeriksaan kesehatan pada Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh, dengantingkat pengaruh yang sangat signifikan. Dalam hal ini, berarti pihak LaboratoriumKesehatan BPK RSUZA Banda Aceh telah berhasil dalam menerapkan kualitas pelayananyang baik terhadap pasiennya, sesuai dengan harapan dari pihak manajemen BPK RSUZABanda Aceh. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari pihak manajemen BPK RSUZABanda Aceh dapat dirasakan oleh semua pasiennya selaku pengguna jasa. Hal ini ditandaijuga dengan banyaknya pasien yang mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaankesehatan pada Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 78. 78 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Uji Parsial Hipotesis Pertama Hasil pengujian hipotesis pertama secara parsial dapat dilihat pada Tabel 5 berikut: Tabel 5. Hasil Uji Parsial Hipotesis Pertama Unstandardized StandardizedModel Coefficients Coefficients t Sig. B Std. Error Beta1 (Constant) 1.266 1.703 .743 .459 Bukti Fisik .207 .099 .197 2.098 .039 Keandalan .205 .099 .225 2.064 .042 Daya Tanggap .170 .084 .146 2.028 .045 Jaminan Kepastian .385 .088 .413 4.390 .000 Empati .095 .079 .073 1.198 .234 a Dependen Variabel: Keputusan Pasien Sumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)Berdasarkan Tabel 5 di atas diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Nilai thitung untuk variabel bukti fisik (2.098) lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (1.66), atau nilai sig. t untuk variabel bukti fisik (0.039) lebih kecil dari alpha (0.05). Hal ini berarti bahwa setiap pasien menginginkan laboratorium pemeriksaan kesehatan yang akan dikunjunginya memiliki fasilitas laboratorium yang lengkap, canggih serta bersih sehingga akan menimbulkan kepercayaan pada dirinya bahwa hasil pemeriksaan yang diberikan itu benar. 2. Nilai thitung untuk variabel keandalan (2.064) lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (1.66), atau nilai sig. t untuk variabel keandalan (0.042) lebih kecil dari alpha (0.05). Hal ini berarti bahwa kurangnya informasi akan jenis penyakit yang diderita akan menimbulkan keresahan dalam diri pasien. Keresahan itu merupakan perasaan yang harus segera dihilangkan melalui hasil pemeriksaan laboratorium.Semakin canggih fasilitas laboratorium kesehatan, maka hasil pemeriksaannya juga semakin cepat, jadi perasaan keresahaan tersebut akan cepat berlalu. Dengan demikian kecepatan dan ketepatan pemeriksaan serta memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat sangat diperhatikan oleh pasien. 3. Nilai thitung untuk variabel daya tanggap (2.028) lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (1.66), atau nilai sig. t untuk variabel daya tanggap (0.045) lebih kecil dari alpha (0.05). Hal ini berati bahwa pasien menginginkan pemeriksaan yang sesegera mungkin dari petugas laboratorium kesehatan ketika pasien tiba di laboratorium kesehatan tersebut. 4. Nilai thitung untuk variabel jaminan kepastian (4.390) lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (1.66), atau nilai sig. t untuk variabel jaminan kepastian (0.000) lebih kecil dari alpha (0.05). Hal ini berarti bahwa pasien sangat memperhatikan kredibilitas dan profesionalitas dari petugas laboratorium kesehatan. Semakin kredibel dan profesional petugasnya, maka pasien akan semakin yakin dengan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan serta ketepatan hasil pemeriksaannya.
  • 79. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 79 5. Nilai thitung untuk variabel empati (1.198) lebih kecil dibandingkan dengan nilai ttabel (1.66), atau nilai sig. t untuk variabel empati (0.234) lebih besar dari alpha (0.05). Hal ini berarti bahwa pasien menginginkan pemeriksaan secara langsung dan sesegera mungkin dari petugas laboratorium kesehatan, mereka tidak menginginkan untuk membicarakan atau melakukan hal-hal selain dari ketentuan pemeriksaan kesehatan. Dalam hal ini, berarti pihak Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Acehtelah berhasil dalam menerapkan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan,daya tanggap dan jaminan kepastian yang baik terhadap pasiennya, sesuai dengan harapandari pihak manajemen BPK RSUZA Banda Aceh. Sehingga apa yang menjadi tujuan daripihak manajemen BPK RSUZA Banda Aceh dapat dirasakan oleh semua pasiennya selakupengguna jasa. Sedangkan variabel empati belum memenuhi harapan pasien. Namundemikian hal ini tidak mempengaruhi pasien untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.Oleh karena itu dipandang perlu oleh pihak manejemen BPK RSUZA Banda Aceh untuklebih memperbaiki nilai empati dari pegawai yang ada pada Laboratorium Kesehatan BPKRSUZA Banda Aceh.Hasil Uji Hipotesis Kedua Pengujian hipotesis kedua dilakukan menggunakan statistik nonparametrik denganteknik Korelasi Jenjang Spearman (Rank Correlation Spearman Method). Karena MetodeKorelasi Jenjang Spearman adalah suatu metode untuk mengukur keeratan hubungan antaradua variabel, dimana dua variabel itu tidak mempunyai joint normal distribution danconditional variance tidak diketahui sama kedua sampel bersifat independen dan datanyabersifat ordinal (Siegel, 1986). Tabel 6. Uji Nonparametric Correlations Hipotesis Kedua Sistem Standar Pelayanan Spearmans rho Sistem Pelayanan Correlation 1.000 .713(**) Coefficient Sig. (2-tailed) . .000 N 100 100 Standar Correlation .713(**) 1.000 Coefficient Sig. (2-tailed) .000 . N 100 100** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).Sumber: Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah) Hasil pengujian dengan teknik Korelasi Jenjang Spearman (Rank CorrelationSpearman Method) dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan pada tabel di atas diperolehhasil dimana nilai rs hitung (0.713) lebih besar dari rs tabel (0.200) dengan Asymp. Sig (2-tailed) 0.000 lebih kecil dibandingkan dengan nilai α (0.05). Hal ini berarti hasil penelitianmenolak H0 dan menerima H1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ada hubunganSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 80. 80 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010antara sistem pelayanan dengan standar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan olehDepartemen Kesehatan Republik Indonesia pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Ini menunjukkan korelasi sedang (0.50 – 0.79) antara sistem pelayananpemeriksaan kesehatan dengan standar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan olehDepartemen Kesehatan Republik Indonesia yang berarti semakin tinggi standarpemeriksaan kesehatan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesiamaka akan semakin tinggi/meningkat sistem pelayanan pemeriksaan kesehatan padaLaboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Hal ini menjelaskan bahwa selama ini sistempelayanan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada Laboratorium BPK RSUZA BandaAceh telah baik dan ada hubungan dengan standar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkanoleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.KESIMPULAN Kualitas pelayanan mempengaruhi keputusan pasien untuk melakukan pemeriksaankesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Nilai R– Square = 0.683mencerminkan bahwa variasi kualitas pelayanan mampu menjelaskan keputusan pasiensebesar 68.3 %. Secara serempak kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik,keandalan, daya tanggap, jaminan kepastian dan empati berpengaruh sangat signifikanterhadap keputusan pasien untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada LaboratoriumBPK RSUZA Banda Aceh. Secara parsial ada empat variabel kualitas pelayanan yangberpengaruh signifikan terhadap keputusan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan padaLaboratorium BPK RSUZA Banda Aceh, yaitu variabel bukti fisik, keandalan, dayatanggap, dan jaminan kepastian, sedangkan variabel empati tidak berpengaruh terhadapkeputusan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZABanda Aceh. Dari kelima variabel bebas, yang paling dominan mempengaruhi keputusanpasien melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA Banda Acehadalah variabel jaminan kepastian. Sistem pelayanan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZA BandaAceh berhubungan dengan standar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan olehDepartemen Kesehatan Republik Indonesia. Ini ditunjukkan oleh adanya nilai korelasisebesar 0.713 yang merupakan korelasi sedang (0.50 – 0.79) yang berarti semakin tinggistandar pemeriksaan kesehatan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RepublikIndonesia maka akan semakin tinggi/meningkat sistem pelayanan pemeriksaan kesehatanpada Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh. Kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminankepastian dan empati secara parsial memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadapkeputusan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan pada Laboratorium BPK RSUZABanda Aceh. Untuk itu pihak Laboratorium BPK RSUZA Banda Aceh sebaiknyamempertahankan perhatian terhadap variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, danjaminan kepastian kepada pasien, karena keempat variabel tersebut telah memberikanpengaruh yang signifikan terhadap keputusan pasien. Variabel empati walaupun tidakmempengaruhi keputusan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan pada LaboratoriumBPK RSUZA Banda Aceh namun harus ditingkatkan karena di masa yang akan datangvariabel ini diharapkan dapat bersaing dengan Laboratorium kesehatan lainnya yang ada diBanda Aceh. koefisien determinasi atau R – Square = 68.3%, berarti variasi keputusan
  • 81. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 81pasien dapat dijelaskan oleh kualitas pelayanan sebesar 68.3%. Dengan kata lain masihbanyak faktor lain diluar model yang perlu diperhatikan oleh pihak LaboratoriumKesehatan BPK RSUZA Banda Aceh sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah pasien.Bagi peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji keputusan pasien melakukanpemeriksaan kesehatan pada Laboratorium Kesehatan BPK RSUZA Banda Aceh agarmeneliti variabel lain untuk mengetahui 31.7% lagi variabel lain yang dapat menjelaskanvariasi keputusan pasien.DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, JakartaArmstrong, Gary, dan Philip, Kotler. 1996. Principles of Marketing. International Edition, Seventh Edition, Prentice-Hall, New Jersey._________________________. 2003. Marketing : An Introduction. International Edition, Sixth Edition, McGraw-Hill, New York.Djarwanto. 2003. Statistik Nonparametrik. BPFE-Yogyakarta, YogyakartaDonebean, Sale. 1996. Quality Assurance for Nurses and Other Members of The Health Care Team. Second Edition. MacMillian, London.Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Edisi Ketiga. Universitas Diponegoro, Semarang.Hornby, A. S. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford University Press, New York.Hurriyati, Ratih. 2005. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Cetakan Pertama, CV. Alfabeta, Bandung.Kerlinger, Fred N. 1995. Asas-asas Penelitian Behavioral. Edisi Ketiga. Cetakan Keempat. Penerjemah Landung R. Simatupang. Gadjah Mada University, Yogyakarta.Kotler, Philip. 1993. Manajemen Pemasaran Analisis Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Edisi Keenam. Jilid I dan II, Penerjemah Herujati Purwoko, Erlangga, Jakarta.Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis. Erlangga, Jakarta.Lupiyoadi, Rambat. 2001. Manajemen Pemasaran Jasa Teori dan Praktik. Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Revisi, Refika Aditama, Bandung.Moenir, HAS. 1992. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Cetakan Kedua, Bumi Aksara, Jakarta.___________. 2004. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Cetakan Ketujuh, Bumi Aksara, Jakarrta.Mowen, John C. dan Michael Minor, 2002. Perilaku Konsumen. Jilid I, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.Payne, Andrian, 2000. Pemasaran Jasa (The Essence of Service Marketing). Terjemahan Fandy Tjiptono, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 82. 82 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Peter, J.Paul., Jerry C.Olson. 2002. “Consumer Behavior and Marketing Strategy”. Sixth Edition, McGraw-Hill, New York.Ratminto. 2007. Manajemen Pelayanan : Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.Santoso, Singgih. 2001. SPSS Versi 10 : Mengolah Data Statistik secara Profesional. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta._____________. 2005. SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.Schiffman, Leon G., Leslie Lazar Kanuk. 2000. Consumer Behavior. 7th Edition, Prentice- Hall, New Jersey.Sekaran, Umar, 2006. Metode Penelitian Untuk Bisnis, Edisi Keempat, Penerjemah : Kwan Men Yon, Salemba Empat : Jakarta.Setiadi, Nugroho J., 2003. Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Edisi Pertama, Penerbit Prenada Media, Jakarta.Siegel, Sidney. 1986. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial. Penerjemah Zanzawi Suyuti dan Landung Simatupang, PT. Gramedia, Jakarta.Simamora, Bilson. 2001. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitable. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta, Bandung.Sumarwan, Ujang. 2003. Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran. Penerbit Andi, Yogyakarta.Umar, Husein. 2000. Research Methods in Finance and Banking. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.___________. 2003. Metode Riset Perilaku Organisasi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Winardi.1993. Asas-asas Marketing. CV. Mandar Maju, Bandung.______. 1994. Marketing dan Perilaku Konsumen. CV. Mandar Maju, Bandung.Yamit, Zulian, 2002. Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, Penerbit Ekonisia, Yogyakarta.Zeithaml, Valarei A., Mary Jo Bitner. 2004. Services Marketing : Integrating Customer Focus Across The Firm. 3rd Ed., McGraw Hill, New York.Depkes RI. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Laboratorium Kesehatan. Pusat Laboratorium Kesehatan, Jakarta.Depkes RI. 2004. Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar. Dirjen Yanmedik Dirlabkes, Jakarta.France, Karen Russo, Grover, Rajiv. 1992. What Is the Health Care Product ?. Journal of Health Care Marketing, Vol. 12.Mahendrata, Yodi. 1995. Petunjuk Teknis Penyusunan Prosedur Tetap Kegiatan Rumah Sakit Swadana. Direktorat UMDK, Dirjen Yanmedik. DepKes RI, Jakarta.Sriwiyanti, Eva. 2006. Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Keputusan Pasien Memilih Untuk Dirawat di Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar (Studi Kasus di Unit Instalasi Rawat Inap). Tesis. Program Magister Ilmu Manajemen, Sekolah Pascasarjana USU, Medan (Tidak Dipublikasikan).
  • 83. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 83Sharma, K.B., et.al, 1994. Health Laboratory Services : in Support of Primary Health Care in Developing Countries. New Delhi : World Health Organization (WHO) Regional Office for South-East Asia.Soetjipto, Budi W. 1997. Service Quality, Manajemen Usahawan, FE UI, Jakarta.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 84. 84 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN USAHA KECIL DI KOTA LHOKSEUMAWE NazirAbstract: This paper explain which determine incomes of small bussines in Lhokseumawe.Factor which determine, for example; working capital , labour, and experience of effort(Winardi.1994, Nasution. 2002 Solossa. 2000, Nusantara. 2004, Nazir And Nasir. 2006.Sasmita. 2006). Problems faced small bussines in Lhokseumawe its minim made availableworking capital, is thereby expected to add the working capital which is more amount ofwith searching other external fund source, more and more working capital used evergreater hence income accepted. And the working capital represent the most dominantfactor in determine mount its incomes. Andthen labour shall be more be improved again itswork productivity because at the height of its productivity hence ouput yielded by moreamount of thereby can improve the incomes, and also enhance the its effort experience, byenhancing experience hence can provide and serve the consumer requirement and in theend affect at of incomes.Key words: Small Bussines, Income, Lhokseumawe____________________________________________________________________ Nazir, Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh
  • 85. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 85PENDAHULUAN Peran usaha kecil dalam suatu daerah bahkan negara memberikan andil yang besarterhadap pertumbuhan perekonomian. Bank Indonesia (2001) mencatat beberapa perananstrategis dari usaha kecil, antara lain jumlahnya yang besar dan terdapat dalam sejumlahsektor ekonomi dan potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja karena setiapinvestasi pada sektor usaha kecil dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerjadibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha menengah dan besar serta memilikikemampuan untuk memanfaatkan bahan baku lokal dan manghasilkan barang dan jasa yangdibutuhkan masyarakat dengan harga yang terjangkau. Perekonomian suatu daerah dimulai dari kontribusi usaha kecil kemudian diikutioleh usaha menengah dan besar. Usaha kecil mampu berdiri sendiri yang merupakankinerja sektor riil yang berbasis perekonomian rakyat yang terdapat baik di perkotaanmaupun di perdesaan, yang kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan taraf hidupmasyarakat, baik dari hasil kinerjanya dan kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja danmengurangi angka kemiskinan. Namun demikian pengembangan usaha kecil masihterkendala dengan terbatasnya sumber daya yang dimilikinya seperti terbatasnya modalkerja, sedikitnya jumlah tenaga kerja serta terbatasnya pengalaman dalam berusaha. Setiap entitas bisnis termasuk usaha kecil dalam menjalankan usahanya tentunyamengharapkan pendapatan. Adapun yang mendeterminasi pendapatan usaha kecil antaralain modal kerja, tenaga kerja dan pengalaman dalam berusaha. Akan tetapi pendapatanyang akan diperoleh antara usaha kecil yang satu dengan usaha kecil lainnya berbeda.Perbedaan tersebut disebabkan oleh bedanya dalam mengalokasikan modal kerjanya jugabedanya jumlah tenaga kerja yang digunakan serta berbedanya pengalaman dalamberusaha.KAJIAN LITERATURTeori Pendapatan Menurut Kuswadi (2008) “pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaatekonomi yang timbul akibat normal perusahaan selama satu periode, arus masuk itumengakibatkan kenaikan modal (ekuitas) dan tidak berasal dari kontribusi penanam modal.Arus masuk dimaksud adalah hasil dari penjualan produk perusahaan”. KemudianManurrung (2006) berpendapat bahwa pendapatan suatu perusahaan bisa merupakanpenjualan barang dan jasa yang diberikan. Peningkatan penjualan barang dan jasa dapatdisebabkan kenaikan harga barang yang ditentukan perusahaan karena adanya kenaikanbahan baku, upah buruh dan sebagainya atau kenaikan penjualan karena kuantitas barangyang meningkat. Selanjutnya Sukirno (2003) mengatakan pendapatan dalam kegiatanperusahaan, keuntungan ditentukan dengan cara mengurangi berbagai biaya yangdikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Kemudian menurut Antonio (2002) “pendapatan adalah kenaikan kotor dalam assetatau penurunan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang dipiliholeh pernyataan pendapat yang berakibatkan dari investasi yang halal, perdagangan,memberikan jasa atau aktivitas lain yang bertujuan meraih keuntungan”. Simamora (2000)“Pendapatan merupakan potensi pasar yang paling indikatif bagi sebagian besar produkkonsumsi dan industri serta jasa”. Sementara Nanga (2004) mendifinisikan “pendapatanSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 86. 86 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010perorangan yaitu pendapatan agregat yang berasal dari berbagai sumber yang secara aktualditerima oleh seseorang atau rumah tangga”. Menurut Mankiw (2004) “Pendapatan Perorangan (personal income) adalahpendapatan yang diterima oleh rumah tangga dan usaha yang bukan perusahaan.Selanjutnya Ningsih (2001) “pendapatan merupakan hasil kerja dari suatu usaha yang telahdilakukan”. Rizal (2001:13) mengemukakan bahwa ”setiap kegiatan seseorangmengharapkan imbalan atau pendapatan, pendapatan yang dimaksud disini adalah adalahpendapatan yang diterima dari hasil kerja dan hasil usaha yang dilakukan secara maksimaldalam suatu pekerjaan.Kemudian menurut Longenecker, et.al (2001:266) ”pendapatanmerupakan jumlah yang dihasilkan oleh perusahaan selama periode tertentu, sering kalidalam waktu satu tahun”. Nudirman (2001:11) juga mengemukakan bahwa “pendapatanadalah nilai yang didapat dari suatu usaha yang telah dilaksanakan dalam waktu kuruntertentu”.Pengertian Usaha Kecil Pengertian usaha kecil di Indonesia masih sangat beragam. Sebelum dikeluarkannyaUndang-undang No. 9 tahun 1995, setidaknya ada lima instansi yang merumuskan usahakecil dengan caranya masing-masing. Kelima instansi itu adalah Biro Pusat Statistik (BPS),Departemen Perindustrian, Bank Indonesia, Departemen Perdagangan serta Kamar Dagangdan Industri (Kadin). Pada kelima instansi itu, kecuali BPS, usaha kecil pada umumnyadirumuskan dengan menggunakan pendekatan finansial. Biro Pusat Statistik (BPS)Indonesia manggambarkan bahwa perusahaan dengan jumlah tenaga kerja 1 sampai 4 orangdigolongkan sebagai industri kerajinan dan rumah tangga, perusahaan dengan tenaga kerja5 sampai 19 orang sebagai industri kecil, perusahaan dengan tenaga kerja 20 sampai 99orang sebagai industri sedang atau menengah dan perusahaan dengan tenaga kerja lebihdari 100 orang sebagai industri besar. Winardi, (2002) menyatakan bahwa usaha kecil adalah usaha produktif, terutamadalam bidang produksi atau pemasaran tertentu yang menggunakan jasa-jasa, misalnya:transportasi, jasa perhubungan yang menggunakan modal dan tenaga kerja yang relatifkecil. Sedangkan dalam SK Menperindag No. 254 tahun 1997 dijelaskan, usaha keciladalah sebagai suatu kegiatan usaha industri yang memiliki nilai investasi sampai dengan200 juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Wheelen dan Hungerdalam Sugidarma (2002), berpendapat bahwa usaha kecil dioperasikan dan dimiliki secaraindependen, tidak dominan dalam daerahnya dan tidak menggunakan praktek-praktekinovatif. Tapi usaha yang bersifat kewirusahaan adalah usaha yang pada awalnya bertujuanuntuk tumbuh dan menguntungkan serta dapat dikarakteristikkan dengan praktek-praktekinovasi strategis. Menurut Suryana, (2001) “ usaha kecil umumnya mencantumkan karakteristikperusahaan yang tergolong usaha kecil : 1) biasanya bersifat bebas, tidak terikat denganidentitas bisnis lain, misalnya sebagai cabang, anak perusahaan atau divisi dari perusahaanyang lebih besar, 2) biasanya sepenuhnya dikendalikan oleh pemiliknya yang biasanyaadalah owner-manager yang memberikan kontribusi kepada hampir semua hal, tidak hanyaterbatas pada modal kerja, 3) otoritas pengambilan keputusan dipegang penuh oleh pemilikusaha”.
  • 87. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 87Determinan Pendapatan Usaha Kecil Winardi (1994) menyatakan bahwa “modal merupakan salah satu faktor produksiyang dapat mempengaruhi pendapatan”. Nasution (2002) berpendapat bahwa salah satufaktor determinan pendapatan adalah rutinitas yaitu kegiatan yang dilakukan secara terusmenerus, dalam hal ini pengalaman dalam berusaha. Nusantara (2004) dalam penelitiannyamencoba memasukkan variabel pengalaman kerja dalam mendeterminasi pendapatan. Nazirdan Nasir (2006) serta sasmita (2006) memasukkan variabel modal kerja, tenaga kerja danpengalaman sebagai faktor determinan pendapatan.Modal Kerja Alwi (1991) mengemukakan bahwa “modal kerja mengandung dua pengertianpokok yaitu gross working capital yang merupakan keseluruhan dari aktiva lancar dan networking capital yang merupakan selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar.Kemudian Ahmad (1997) mengemukakan modal kerja dari segi konsepnya yaitu modalkerja secara umum dapat berarti: 1). Seluruh aktiva lancar atau modal kerja kotor (grossworking capital) atau konsep kuntitatif, 2). Aktiva lancar dikurangi utang lancar (networking capital) atau konsep kuantitatif, 3). Keseluruhan dana yang diperlukan untukmenghasilkan tahun berjalan atau functional working capital atau konsep fungsional. Noor(2007) mengartikan modal dari sudut sumber dananya, dikatakan bahwa sumber danajangka panjang yang ada dalam perusahaan, terdiri dari modal sendiri (equity) dan utangjangka panjang. Kemudian Sartono (2001) berpendapat bahwa “ada dua pengertian modal kerjayaitu gross working capital adalah keseluruhan aktiva lancar, sementara net working capitaladalah kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar. Lebih lanjut Sartono (2001)mengemukan bahwa “konsep modal kerjanol (zero working capital) merupakan selisihantara persediaan ditambah dengan piutang dikurangi dengan hutang jangka pendek”,konsep ini tidak termasuk di dalamnya alat-alat yang paling likuid dalam harta lancar,seperti kas, efek atau sekuritas, akan tetapi yang termasuk di dalamnya adalah persediaandan piutang. Kasmir (2006) ”modal kerja yaitu modal yang digunakan untuk membiayaioperasional perusahaan pada saat perusahaan sedang beroperasi”. Dengan demikian modalkerja selalu dipergunakan oleh suatu badan usaha untuk membiayai kegiatan usahanyasehari-hari secara terus menerus. Menurut Weston, et.al (1990) ”modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktivajangka pendek yaitu kas, sekuritas yang mudah di pasarkan, persediaan dan piutang usaha”.Modal kerja didefinisikan oleh para ahli bermacam ragam, mereka memandang darimasing-masing konsep modal kerja itu sendiri. Brealey, et.al (2004) yang menyatakanbahwa “Working capital is current assets minus current liabilities. Often called workingcapital” modal kerja adalah harta lancar dikurangi dengan hutang lancar yang seringdisebut dengan modal kerja. Longenecker, et.al (2001) “modal kerja merupakan aktivalikuid yang dapat diubah menjadi kas dalam siklus operasi sebuah perusahaan”.Tenaga Kerja Pengertian Ketenagakerjaan menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 ayat (1) adalah segala hal yang berhubungan denganSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 88. 88 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Sedangkan pengertianTenaga Kerja dalam Pasal 1 ayat (2) adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaanguna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupununtuk masyarakat. Menurut Soemitro (2010), ”tenaga kerja (man power) adalah bagian dari angkatankerja yang berfungsi dan ikut serta dalam proses produksi serta menghasilkan barang ataujasa”. Sedangkan di dalam Data Statistik Indonesia (2010) dijelaskan bahwa tenaga kerja(man power) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yangpotensial dapat memproduksi barang dan jasa. Sementara kerja merupakan sesuatu yangdibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam berkembang dan berubah,bahkan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Seorang pekerja ada sesuatu yang rendahdicapainya dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukan akan membawanyakepada suatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan sebelumnya (As’ad, 1999). Menurut Fran (1998), menyatakan pekerjaan adalah kegiatan yang direncanakan,jadi pekerjaan itu memerlukan pemikiran yang khusus. Kegiatan yang dilaksanakan tidakhanya karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri yang menyenangkan melainkan karena kitamau dengan sungguh mencapai suatu hasil yang kemudian berdiri sendiri. Menurut Smith(2000) menyatakan bahwa tujuan dari kerja adalah untuk hidup. Sedangkan Miller danform (1998) menyatakan bahwa motivasi untuk bekerja tidak dapat dikaitkan hanya padakebutuhan-kebutuhan ekonomi sebab orang tetap akan bekerja walaupun mereka sudahtidak membutuhkan hal-hal yang bersifat materil jadi kerja merupakan bagian yang tidakbisa dipisahkan dari kehidupan manusia.Pengalaman Usaha Nasution (2002) berpendapat bahwa salah satu faktor determinan pendapatan adalahrutinitas yaitu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, dalam hal ini pengalamandalam berusaha. Pengalaman usaha tentu tidak terlepas dari kegiatan wirausaha, lamawaktu atau berbagai macam kegiatan usaha yang pernah dilakukan di masa lampau disebutsebagai pengalaman usaha. Kata wirausaha atau “pengusaha” diambil dari bahasa Perancis“entrepreneur” yang pada mulanya berarti pemimpin musik atau pertunjukkan (Jhingan,1999). Kemampuan dan keahlian seseorang dilatarbelakangi oleh pendidikan danpengalaman, karena pendidikan membutuhkan proses yang panjang, begitu juga denganpengalaman. Pengalaman muncul akibat dari panjangnya waktu yang dipergunakan dalambekerja atau berusaha pada lapangan usaha tertentu. Melalui pengalaman tersebut timbulkeahlian, kemampuan dan keuletan serta pengetahuan. Pada umumnya semakinberpengalaman seseorang semakin mudah menjalankan usahanya kearah keberhasilan, daripengalaman tersebut seseorang terus belajar dan berusaha memperbaiki dari keadaan yangtidak menguntungkan kepada arah yang lebih baik dan menguntungkan. Gitosudarmo (1999) mengemukakan bahwa “bertambahnya pengalaman pekerjamaka dia mampu melakukan efisiensi atau menekan biaya seminimal mungkin yang padaakhirnya berdampak pada tingkat pendapatan yang diperoleh”. Faktor penentuproduktivitas dari modal manusia ditujukan pada pengatahun dan keahlian yang diperolehpekerja melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman. Modal manusia meliputi keahlian-keahlian yang diperoleh, juga pelatihan-pelatihan kerja (Mankiw,2004).
  • 89. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 89METODE PENELITIANPopulasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh usaha kecil yang tersebar di wilayahKota Lhokseumawe. Berhubung jumlah populasi tidak diketahui di kota Lhokseumawemaka teknik penarikan sampel dilakukan dengan non probabilty sampling dengan metodePurposive Sampling, yaitu suatu metode pengambilan sampel yang bersifat tidak acak dansampel dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ataupun kriteria-kriteria tertentu(Arikunto, 1997). Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pengusahakecil yang tempat usahanya diwilayah kota Lhokseumawe yang berjumlah 100 orang.Model Analisis Data Adapun model analisis data yang digunakan untuk menjawab yang mendeterminasipendapatan usaha kecil adalah multiple regresion analysis atau analisis regresi bergandadengan persamaan sebagai berikut LnY = ß0 + ß1LnX1 + ß2LnX2 + ß3LnX3 + e Dimana: Y = Pendapatan Usaha Kecil X1 = Modal Kerja X2 = Tenaga Kerja X3 = Pengalaman Usaha ß0 = Intercep atau Konstanta ß1 – ß3 = Parameter regresi e = Error termHASIL DAN PEMBAHASANAnalisis Determinan Pendapatan Usaha Kecil di Kota LhokseumaweKoefisien Korelasi dan Determinasi Koefisien korelasi berguna untuk melihat sejauhmana hubungan antara variabelindependen terhadap variabel dependen. Hasil analisis koefisien korelasi (R) ditemukansebesar 0,829. Hal ini berarti hubungan variabel dependen yaitu pendapatan usaha kecilterhadap variabel independen yang terdiri dari modal kerja, tenaga kerja dan pengalamanusaha sebesar 82,9%. Selanjutnya koefisien determinasi (R Square) digunakan untukmengukur sejauhmana variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Hasilanalisis koefisien determinasi didapatkan (R Square) sebesar 0,687. Nilai ini menunjukkanbahwa kemampuan variabel independen yang terdiri dari modal kerja, tenaga kerja danpengalaman usaha dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen yaitupendapatan usaha kecil di Kota Lhokseumawe sebesar 68,7% , sedangkan sisanya 31,7%dipengaruhioleh variabel lain di luar dari model penelitian ini (Tabel. 1)STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 90. 90 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 1: Koefisien Korelasi dan Determinasi Adjusted R Model R R Square Square Std. Error of the Estimate .829(a) .687 .678 .17522 a Predictors: (Constant), Modal Kerja, Tenaga Kerja, Pengalaman Usaha Sumber : Hasil Penelitian, 2010 (Data diolah)Pengujian Simultan (Uji F) Uji secara simultan (Uji-F) dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabelindependen berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependensecara statistik atau sebaliknya. Dari hasil pengujian secara bersama-sama (simultan)sebagaimana yang disajikan pada Tabel 1 di atas dapat dilihat nilai Fhitung sebesar 70,345dengan signifikansi alpha sebesar 0,000 pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan Ftabel v1= n-k (100 –4 = 96) dan v2 = k-1 (4 - 1= 3) diperoleh nilai sebesar 5,66 pada α = 0,05.Maka Fhitung > Ftabel, yaitu 70,345 > 5,66 dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.Dengan demikian menolak Ho dan menerima Ha, yang berarti modal kerja, tenaga kerjadan pengalaman usaha secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadappendapatan usaha kecil di Kota Lhokseumawe (Tabel 2). Tabel. 2 Hasil Pengujian Secara Simultan Sum of Model Squares df Mean Square F Sig. Regression 6.480 3 2.160 70.345 .000(a) Residual 2.948 96 .031 Total 9.427 99a Predictors: (Constant), Modal Kerja, Tenaga Kerja, Pengalaman Usahab Dependent Variable: Pendapatan Usaha KecilSumber : Hasil Penelitian, 2010 (Data diolah)Pengujian Secara Parsial (Uji t) Uji secara parsial (Uji t) dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independensecara individual (parsial) terhadap variabel dependen secara statistik. Adapun hasilpengujian secara parsial dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
  • 91. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 91 Tabel. 3 Hasil Pengujian Secara Parsial Standardized Model Unstandardized Coefficients Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 9.987 .623 16.032 .000 Modal Kerja .242 .049 .348 4.962 .000 Tenaga .044 .008 .344 5.229 .000 Kerja Pengalaman .040 .008 .342 4.939 .000 Usahaa Dependent Variable: Pendapatan Usaha KecilSumber : Hasil Penelitian, 2010 (Data diolah) Berdasarkan Tabel 3 di atas, maka persamaan regresi linear berganda sebagaiberikut: LnY = 9,987+ 0,242LnX1+ 0,044LnX2+ 0,040LnX3 Dari hasil uji parsial sebagaimana di sajikan pada Tabel 3 di atas dapat dilihatbahwa semua variabel independen memiliki nilai thitung > ttabel dan signifikan pada tarafuji 95% dengan nilai signifikan < α = 0,05, di mana ttabel dengan (df)= n-k (100–4 =96)pada α = 0,05 diperoleh nilai 1,980. Dengan demikian seluruh variabel independen yaitumodal kerja, tenaga kerja dan pengalaman usaha berpengaruh signifikan terhadap variabeldependen yaitu pendapatan usaha kecil di Kota Lhokseumawe pada taraf kepercayaan 95%.Dari ketiga variabel independen dalam penelitian ini yang paling dominan mempengaruhipendapatan usaha kecil di Kota Lhokseumawe yaitu variabel modal kerja yang mempunyainilai koefisien sebesar 0,242 dan niai signifikansi 0,000 pada α = 0,05. Variabel modal kerja (X1) mempunyai koefisien sebesar 0,242 yang berarti bahwaapabila menambahnya modal kerja Rp.1 maka akan meningkatnya pendapatan usaha kecilsebesar Rp. 0,25 dengan asumsi ceteris paribus. Hasil ini menunjukkan bahwa setiappenambahan modal kerja dalam berusaha maka dapat meningkatkan pendapatan. Modalkerja tersebut merupakan variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkatpendapatan usaha kecil di Kota Lhokseumawe, karena dengan menambahnya modal kerjatersebut dapat ditingkatkan lagi bahan bakunya dengan jumlah yang lebih besar lagi. Hasilpenelitian ini sejalan dengan konsep Winardi (1994) modal merupakan salah satu faktorproduksi yang dapat mempengaruhi pendapatan. Hasil penelitian ini juga konsisten denganhasil penelitian Nusantara (2004) yang menemukan bahwa pengalaman kerja berpengaruhterhadap pendapatan pekerja non farm. Kemudian juga konsisten dengan penelitian Nazirdan Nasir (2006) yang menemukan variabel modal usaha berpengaruh signifikan terhadaptingkat pendapatan pengrajin garam. Kemudian sejalan dengan hasil penelitian Sasmita(2006) yang menemukan variabel modal usaha berpengaruh signifikan terhadap tingkatpendapatan usaha nelayan. Variabel tenaga kerja (X2) mempunyai koefisien sebesar 0,044 yang berarti bahwaapabila menambahnya tenaga kerja 1 orang maka akan meningkatnya pendapatan usahakecil sebesar Rp.0,05 dengan asumsi ceteris paribus. Dari hasil penelitian ini jugaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 92. 92 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010menunjukkan bahwa menambahnya tenaga kerja dalam bekerja pada usaha kecil maka akanmeningkatkan pendapatannya. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Nusantara(2004), Nazir dan Nasir (2006) dan Sasmita (2006) yang menemukan dalam penelitiannyatenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Variabel pengalaman usaha (X3) mempunyai koefisien sebesar 0,040 menunjukkanbahwa apabila menambahnya pengalaman 1 tahun maka akan meningkatnya pendapatanusaha kecil sebesar Rp.0,04 dengan asumsi ceteris paribus. Dari hasil penelitianmenunjukkan bahwa menambahnya pengalaman dalam berusaha maka dapat meningkatkanpendapatannya. Hasil penelitian ini juga sejalan sejalan dengan konsep Nasution (2002)yang menyatakan bahwa salah satu faktor determinan pendapatan adalah rutinitas yaitukegiatan yang dilakukan secara terus menerus, rutinitas tersebut membutuhkan waktu yanglama, dalam hal ini pengalaman dalam berusaha. Penelitian ini juga konsisten dengan hasilpenelitian Nusantara (2004), Nazir dan Nasir (2006) dan Sasmita (2006) hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa pengalaman dalam berusaha berpengaruh signifikan terhadappendapatan.REKOMENDASI Pendapatan usaha kecil di kota Lhokseumawe sangat ditentukan oleh modal kerja,tenaga kerja dan pengalaman usaha. Untuk lebih meningkatkan tingkat pendapatan usahakecil diharapkan agar mempergunakan modal kerja dengan jumlah yang lebih banyak lagidengan mencari sumber-sumber dana lainnya, karena modal kerja merupakan variabel yangpaling dominan dalam menentukan tingkat pendapatannya. Disamping itu agar lebihditingkatkan lagi produktivitas kerja dari tenaga kerja, supaya dapat menghasilkan outputatau produk yang lebih banyak lagi, dengan sendirinya dapat meningkatkan pendapatannya.Kemudian menambahkan pengalaman usahanya, dengan menambahkan pengalaman makadapat menyediakan dan melayani kebutuhan konsumen dan pada akhirnya berdampak padapeningkatan pendapatan.REFERENSIAhmad, Kamaruddin. 1997. Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja. Rineka Cipta, Jakarta.Alwi, Syafaruddin. 1991. Alat-Alat Analisis Dalam Pembelanjaan, Edisi Revisi, Andi Offset, Yogyakarta.Antonio, Muhammad Syafi’i. 2002. Bank Syariah Dari Teori ke Praktek. Gema Insani Press, Jakarta.Arikunto, Suharsimi. 1997. Metode Penelitian, Penerbit Bina Aksara, JakartaAs’ad, Moh .1999. Kader Kesehatan Masyarakat, Penerbit Ege, JakartaAshari. 2006. Potensi Keuangan Mikro (LKM) Dalam Pembangunan Ekonomi Pedesaan Dan Kebijakannya Pengembangannya, Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 4 No.2, Juni 2006 : 146-164, BogorBadan Statistik Indonesia Index Artikel tentang Tenaga Kerja, http://www.datastatistik.indonesia.com/content/view/801/801, diakses hari Kamis, tanggal 17 Maret 2010.
  • 93. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 93Bank Indonesia. 2001. Sejarah Peranan Bank Indonesia Dalam Pengembangan Usaha Kecil, Biro Kredit, Bank Indonesia, JakartaFran. 1998. Produktivitas Tenaga Kerja, Penerbit PT. Jaya Baya, BogorGhozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Penerbit Badan Penerbit Universitas Diponogoro, SemarangGitisudarmo, Indriyo. 1999. Manajemen Operasi, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.Jhingan, M.L. 1999. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Penerbit Rajawali Pers, JakartaKasmir.2006. Kewirausahaan, Penerbit Raja Grafindo Persada, JakartaKuswadi. 2008. Memahami Rasio-Rasio Keuangan Bagi Orang Awam, Cetakan Kedua, Penerbit PT. Alex Media Komputindo, JakartaLongenecker, et.al. 2001. Kewirausahaan “Manajemen Usaha Kecil, Buku 1,. Salemba Empat, Jakarta.Mankiw, N. Gregory. 2004. Principles of Economics ”Pengantar Ekonomi Makro , Edisi Ketiga, Alih Bahasa Criswan Sungkono, Salemba Empat, JakartaMankiw, N. Gregory. 2004. Principles of Economics ”Pengantar Ekonomi Makro” , Edisi Ketiga, Alih Bahasa Criswan Sungkono, Salemba Empat, JakartaManurung, Adler Haymans. 2006. Cara Menilai Perusahaan, Penerbit PT. Alex Media Komputindo, JakartaMiller dan Form.1998. Motivasi Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja, Penerbit Gasindo, BandungNanga, Muana. 2004. Makro Ekonomi “Teori, Masalah dan Kebijakan”, Edisi Perdana, Raja Grafindo Persada, Jakarta.Nasution, Mulia. 2002. Teori ekonomi Makro “Pendekatan Pada Perekonomian Indonesia”, Djambatan, JakartaNazir dan Nasir. 2006. Analisis Determinan Pendapatan Pengrajin Garam di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Malikussaleh, LhokseumaweNingsih, Surya. 2001. Manajemen Pemasaran, Pelita, Jakarta.Noor, Henry Faizal. 2000. Ekonomi Manajerial. Raja Grafindo Persada, JakartaNurdirman. 2001. Manajemen Tugas, Tanggung Jawab, Praktek, Gramesia, JakartaNusantara, Ambo Wonua. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pekerja Pada Sektor Non Farm Di Pedesaaan Jawa: Eksplorasi Data Sakerti 2000, Tesis Universitas Gadjah Mada, YogyakartaRizal. 2001. Teknik-Teknik Manajemen Modern, Pena Tinta, JakartaSartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan “Teori dan Aplikasi, Edisi Empat, Badan Penerbit Fakultas Ekonomi,YogyakartaSasmita, Nanda. 2006. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Nelayan Di Kabupaten Asahan, Tesis, Universitas Sumatera Utara, MedanSimamora, Henry. 2000. Manajemen Pemasaran Internasional, Jilid 1, Salemba Empat, Jakarta.Smith, May. 2000. Efektifitas Tenaga Kerja, Penerbit Putra Bangsa, SurabayaSoemitro, Djojohadikusumo. Modul Online, Pengertian Kesempatan, Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja, http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid= 6&fname=eko202_10.htm diakses hari Kamis, tanggal 17 Maret 2010.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 94. 94 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Sukirno, S.1994. Pengantar Penelitian Bisnis, Penerbit Alfabeta, BandungSurat Keputusan Menteri Perindustrian No. 286/M/SK/10/1989 dan Bank Indonesia, JakartaUndang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, JakartaWeston, J Fred dan Eugene F Brigham. 1990. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Jilid 1. Edisi Kesembilan, Alih bahasa Alfonsus Sirait, Erlangga, Jakarta.Winardi, J. 2002. Manajemen perilaku organisasi, Penerbit Kanisius, Jakarta
  • 95. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 95 PENGARUH KOMPENSASI DAN PROMOSI TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PT. PLN (PERSERO) CABANG LHOKSEUMAWE NurmalaAbstract: To possess high – achieving employee is an aim of every company. Whether it isachieved on will depend on the policy taken by a particular company. Employee’s workperformances are influenced by some factors, nomely ability, work motivation, opportunityto achieve, job’s description clarity, hope certainty, job feed back & job repayment.Thisresearch aims to find out compasation and promotion toward employee’s workperformance in PT. PLN Lhokseumawe, NAD.The object of the research employee in PT.PLN. The sample of this research is 54 respondents who are employee. Data are collectedby using abservation techniques, interview and quetionaire. Double linear regressionanalysis and SPSS testing system are used. To find out the influence of compasation andpromotion, a long with F test, and test on trust 95% or @ = 0,05.The f significantion value,hipothesis testing simultaneously is 0,000 compared with real level @ =0,05 which means fsignificant value is smaller than real level. This shows that simultaneously compensationvariable and promotion has significant influences to employee’s work performance. Basedon coefisien standardized value, it is found that partially compensastion variable hasdominant influence.R-square or determination-coefficient of 0,514 showed that 51,4% ofemployees work could be cleared by both compensastion and promotion, 48,6% could becleared by unobserved variables. The result of this research showed that ether by ssimultaneoyusly or partially, compensation and promotion influence work performancessignificantly at PT. PLN Lhokseumawe- NAD.Key words: compasation, promotion, performance____________________________________________________________________ Nurmala, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 96. 96 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010PENDAHULUAN PT. PLN (Persero) Cabang Lhoseumawe merupakan perusahaan negara yangbergerak dalam bidang kelistrikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yang memilikimisi antaranya menjadikan yang terbaik dalam bisnis kelistrikan dan memenuhi tolak ukurmutakhir dan terbaik, serta mengelola usahanya dengan mengedepankan pemberdayaanpotensi insane secara maksimal. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan prestasi kerja adalah denganstimulus melalui kompensasi. Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima karyawansebagai balas jasa untuk kerja mereka. Masalah kompensasi merupakan fungsi yangkompleks atas dasar logis, rasional, dan dapat dipertahankan. Hal ini menyangkut banyakfactor emosional dari sudut pandang para karyawan. Bonus dari organisasi mungkin takcukup membuat semua karyawan puas dan senang dalam bekerja. Mestinya manajemenmulai memahami keinginan karyawan. Kompensasi bisa dirancang secara benar untuk mencapai keberhasilan bersamasehingga karyawan merasa karyawan merasa puas dengan jerih payah mereka dantermotifasi untuk mencapai tujuan dan sasaran bersama manajemen. Tingkat kompensasiakan menentukan skala kehidupan ekonomi karyawan, sedangkan kompensasi relativemenunjukkan status dan harga karyawan. Dengan demikian, apabila karyawan memandangbahwa bila kompensasi tidak memadai maka produktivitas, prestasi kerja, dan kepuasankerja karyawan akan turun. Begitu juga dengan promosi akan memberikan peran penting bagi setiap karyawan,bahkan menjadi idaman yang selalu dinanti-nantikan. Dengan promosi berarti adakepercayaan dan pengakuan mengenai kemampuan serta kecakapan karyawanbersangkutan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi. Dengan demikian, promosiakan memberikan status social, wewenang (authority), tanggung jawab (responsibility),serta penghasilan (outcomes) yang semakin besar karyawan. Jika ada kesempatan bagi setiap karyawan dipromosikan berdasarkan asas keadilandan objektifitas, karyawan akan terdorong bekerja giat, bersemangat, berdisiplin, danberprestasi kerja sehingga sasaran perusahaan secara optimal dapat dicapai. Adanyakesempatan untuk dipromosikan juga akan mendorong penarikan (recruiting) pelamar yangsemakin banyak memasukkan lamarannya ehingga pengadaan (procurement) karyawanyang baik bagi perusahaan akan lebih mudah. Sebaliknya, jika kesempatan untukdipromosikan relative kecil tidak ada gairah kerja, semangat kerja, disiplin kerja, danprestasi kerja karyawan akan menurun. Begitu besarnya peranan promosi karyawan makasebaiknya manajer personalia harus menetapkan program promosi sertamenginformasikannya kepada para karyawan. Program promosi harus memberikan informasi tentang asas-asas, dasar-dasar jenis-jenis dan syarat-syarat karyawan yang dapat dipromosikan dalam perusahaan bersangkutan.Program promosi harus diinformasikan secara terbuka, baik asas, dasar, jenis, persyaratan,maupun metode penilaian karyawan yang akan dilakukan dalam perusahaan. Jika hal inidiinformasikan dengan baik, akan menjadi motivasi bagi karyawan untuk bekerja sungguh-sungguh. Pencapaian prestasi kerja karyawan dipengaruhi oleh factor-faktor kemampuan,minat menjalankan pekerjaan, peluang bertumbuh dan maju, tujuan yang terdefinisikandengan jelas, kepastian tentang apa yang diharapkan, umpan balik mengenai seberapa baik
  • 97. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 97mereka mengerjakan. Nilai yang dirasakan dari sebuah pekerjaan dan penghargaan yangditerima seseorang karyawan merupakan faktor yang penting untuk kepuasan ataskompensasi. Dengan demikian kompensasi merupakan penetu apakah seseorang bersediauntuk bekerja baik sehingga menghasilkan prestasi kerja yang tinggi.KERANGKA KONSEP Kenyataan yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa motivasi dasar bagi kebanyakanorang menjadi pegawai/karyawan pada suatu organisasi tertentu, adalah untuk mencarinafkah. Berarti apabila di satu pihak seseorang menggunakan pengetahuan, ketrampilan,tenaga dan sebagian waktunya untuk berkarya pada suatu organisasi/ perusahaan, di pihaklain ia mengharapkan menerima kompensasi tertentu. Berangkat dari pandangan demikian,dewasa ini masalah kompensasi dipandang sebagai salah satu tantangan yang harusdihadapi oleh manajemen suatu organisasi. Dikatakan merupan tantangan, karenakpmpensasi oleh para pekerja tidak dipandang semata-mata sebagai alat pemuas kebutuhanmaterinya, akan tetapi sudah dikaitkan dengan harkat dan martabat manusia. Peranan dalammengembangkan suatusistem kompensasi tertentu, kepentiangan organisasi dankepentingan para pekerja mutlak perlu diperhitungkan. Menurut Rivai (2004), menyatakan bahea kompensasi merupakan sesuatu yangditerima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan. Pemberiankompensasi merupakan salah satu pelaksanaan fungsi Manajemen Sumber Daya Manusiayang berhubungan dengan semua jenis penghargaan individual sebagai pertukaran dalammelakukan tugas keorganisasian Milkovich dan Newman (1999) menyatakan, bahwa, secara harfiah kompensasiberarti untuk member imbalan, mengganti¸memperbaiki. Hal ini berarti suatu pertukaran.Secara tradisional, kompensasi dianggap sebagai sesuatu yang diberikan oleh seorangatasan. “Leterally , compensation means to counterbalance, to offset, to make up for itImplies an exchange … Traditionally, compensation is thought of as something given byone”s supervisor”. Dessler dalan Molan (1997) menyatakan: Bahwa kompensasi karyawan merujukpada semua bentuk upah atau imbalan yang berlaku bagi dan muncul dari pekerjaanmereka, dan mempunyai dua komponen. Ada pembayaran keuangan langsung dalambentuk upah, gaji, insentif, komisi, bonus dan ada pembayaran yang tidak langsung dalambentuk tunjangan keuangan seperti asuransi dan uang liburan yang dibayarkan majikan. Simamora (1997) menyatakan bahwa kompensasi sebagai imbalan-imbalanfinansial (financial reward) yang diterima oleh orang-orang melalui hubungankepegawaian dengan sebuah organisasi sebagai ganti bagi kontribusi kepada organisasi.Selanjutnya Davis and Wenther (1996) menyatakan: bahwa kompensasi mempunyai artilebih dari gaji ataupun upah, tetapi juga termasuk insentif yang dapat mendorong karyawanuntuk bekerja dan mempunyai hubungan dengan biaya produktivitas. Selain itu tunjangandan services juga merupakan bagian kompensasi yang turut mempengaruhi seorangbekerja. Menurut Invacevich (1995), kompensasi adalah balas jasa yang berupa financialmaupun non financial. Kompensasi finansial yang langsung berbentuk pembayaran padakaryawan yang dapat berupa upah, gaji, bonus dan komisi. Sedangkan kompensasi finansialSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 98. 98 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010yang tidak langsung berupa tunjangan dan semua balas jasa yang bersifat tetap, tetapi balasbukan termasuk kompensasi financial langsung. Untuk balas jasa non financial dapatberupa pujian, harga diri, dan pengakuan terhadap prestasi yang telah dilakukan karyawan.Mondy dan Noe (1993) menyatakan bahwa: manajemen sumber daya manusia merupakanpemanfaatan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangkan bagipegawai, salah satu tujuan bekerja adalah untuk memperoleh imbalan (kompensai) sebagaitimbale balik dari pekerjaan yang dilakukannya.Promosi Menurut Moenir (2001) promosi adalah kegiatan pemindahan pegawai dari suatujabatan kepada jabatan yang lain yang lebih tinggi. Dengan demikian promosi akan selaludiikuti oleh tugas, tanggung jawab dan wewenang yang lebih tinggi daripada jabatan yangdiduduki sebelumnya atau pengangkatan pegawai untuk memangku suatu tugas/jabatantertentu. Rivai (2004) berpendapat bahwa”promosi terjadi apabila seorang karyawandipindahkan dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain yang lebih tinggi dalam pembayaran,tanggung jawab dan atau level”. Menurut sastrohadiwiryo (2002), promosi dapat diartikan sebagai proses perubahandari suatu pekerjaan kepekerjaan lain dalam hirarki wewenang dan tanggung jawab yanglebih tinggi daripada dengan wewenang dan tanggung jawab yang telah diberikan kepadatenaga kerja pada waktu sebelumnya. Menurut suagian (2003) promosi ialah apabilaseseorang pegawai dipindahkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang tanggungjawabnya lebih besar, tingkatannya dalam hirarki jabatan lebih tinggi dan penghasilannyapun lebih besar pula. Hasibuan (2003) menyatakan bahwa promosi (promotion)memberikan peran penting bagi setiap karyawan, bahkan menjadi idaman yang selaludinanti-nantikan. Dengan promosi berarti ada kepercayaan dan pengakuan mengenaikemampuan serta kecakapan karyawan bersangkuta untuk menduduki suatu jabatan yanglebih tinggi. Dengan demikian, promosi akan memberikan status social, wewenang(authority), tanggung jawab (responsibility), serta penghasilan (Outcomes) yang semakinbesar bagi karyawan.Prestasi Kerja Menurut hasibuan (2003), “Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapaiseseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkanatas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu”. Selanjutnya Hasibuanmenyatakan bahwa”Hasil kerja perlu dinilai. Penilaian prestasi kerja adalah kegiatanmanejer untuk mengavaluasi perilaku dan prestasi kerja karyawan serta menetapkankebijaksanaan selanjutnya”. Gibson skk (1992) menyatakan bahwa, pengertian prestasikerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawaidalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Menurut dharma (1985). “Prestasi kerja adalah suatu yang dikerjakan atau produkdan jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang. Dengandemikian prestasi kerja perlu dinilai untuk mengetahui bagaimana hasil kerja yang dicapaioleh karyawan. Schuler dan Jackson (1999) menyatakan bahwa: Dalam penilaian prestasidengan mengacu kepada suatu system formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, danmempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan hasil, termasuk
  • 99. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 99tingkat ketidakhadiran, adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan danapakah ia bisa berkinerja sama atau lebih pada masa yang akan dating, sehingga karyawan,organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat.METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di PT. PLN (Persero) Cabang Lhokseumawe. Dengan jumlahsampel 54 orang karyawan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder dan datasekunder dan data primer. Jenis penelitian yang dilakukan dengan metode survey.Sedangkan analisa data dilakukan secara deskriptif kualitatif.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil penelitiana. Uji Normalitas Untuk pengujian normalitas dala dalam penelitian ini dideteksi melalui grafik yangdihasilkan melalui perhitungan regresi dengan SPSS. Hasil pengujian normalitas dapatdilihat pada gambar 1 berikut: Sumber: Hasil pengolahan SPSS Gambar 1: Uji Normalitas Dari gambar grafik di atas, dapat disimpulkan bahwa data yang digunakanmenunjukkan indikasi normal. Santoso (2000) menyatakan bahwa, jika data menyebardisekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhiasumsi normalitas, dan sebaliknya jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan /atauSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 100. 100 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010tidak mengikuti arah garis diagonal, mak model regresi tidak memenuhi asumsi-asumsinormalitas.Pengujian Hipotesis Berdasarkan hasil regresi dari data primer yang diolah dengan menggunakanprogram SPSS diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1: Hasil Regresi kompensasi dan promosi terhadap prestasi kerja Unstandardized Standardized t Sig Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Model B Std Beta Toleranc VIF Error e 1 (Constant) .870 .298 2.921 .005 Kompensasi .208 .074 .249 2.815 .006 .756 1.323 Promosi .569 .090 .560 6.325 .000 .756 1.323a. Dependen Variabel: Prestasi Kerja Sumber: Hasil pengolahan SPSS Tabel 2: Hasil Uji Determinasi R Square Adjusted R Stand.Error of Model R Square the Estimate 1 .717 .514 .502 .1758 Predictors: (Constant), Promosi, kompensasi b Dependent Variabel:Prestasi Kerja Sumber: Hasil Pengolahan SPSS Berdasarkan Tabel 2 di atas, dapat dibuat persamaan sebagai berikut: Y=0,870+ 0,208X1+ 0,569X2 Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa koefisient regresi X1 (kompensasi)mempunyai tanda positif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kompensasi adalah searahdengan prestasi kerja. Dengan adanya kebijakan promosi mempunyai pengaruh positifterhadap prestasi kerja. Koefosien regresi X2 (promosi) mempunyai tanda positif, hal inimenunjukkan bahwa pengaruh promosi adalah searah dengan prestasi kerja. Denganadanya kebijakan promosi mempunyai pengaruh pengaruh positif terhadap prestasi kerja.Sedangkan untuk mengetahui besarnya koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel4-2 tersebut, diketahui bahwa besarnya koefisien determinasi atau angka R Square adalahsebesar 0,514, hal ini berarti bahwa variable-variabel bebas dapat menjelaskan 51,4%terhadap variable terikatnya. Sedangkan sisanya 48,6% dijelaskan oleh variabel-variabelbebas lain yang tidak diteliti.Uji Serempak Hasil uji secara serempak pengaruh variable kompensasi dan promosi terhadapprestasi kerja karyawan dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut:
  • 101. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 101 Tabel 3: Hasil Uji Serempak Model Sum of Df Mean Square F Sig. Squares 1 Regression 2.679 2 1.339 43.324 .000 Residual 2.535 82 3.092E-02 Total 5.214 84a. Predictors: (Constant), Promosi, Kompensasib. Dependen Variabel: Prestasi KerjaSumber: Hasil Pengolah SPSS Dari Tabel 3 diatas, diperoleh nilai F hitung sebesar 43,324 dengan tingkatsignifikansi 0,000. Karena signifikansi 0,000 jauh lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilaiF hitung sebesar 43,324 lebih besar dari F tabel pada tingkat kepercayaan 95% @ = 0,05adalah 2,43. Makah hal ini memberikan arti bahwa variable bebas kompensasi dan promosisecara serempak mempunyai pengaruh positif terhadap prestasi kerja karyawan pada PT.PLN (persero) Cabang Lhokseumawe. Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa tidakterdapat pengaruh kompensasi dan promosi secara bersama-sama terhadap prestasi kerjakaryawan pada PT. PLN (Persero) ditolak, berarti Ha yang menyatakan terdapat pengaruhkompensasi dan promosi secara bersama-sama terhadap prestasi kerja karyawan padaPT. PLN (Persero) diterima.Uji Parsial Hasil Uji pengaruh secara parsial variable kompensasi dan promosi terhadapprestasikerja karyawan dapat dilihat dalam tabel 4. Tabel 4: Hasil Uji Parsial Model Unstandardized t Sig. Coefficients B 1 (Constant) .870 2.921 .005 Kompensasi .208 2.815 .006 Promosi .569 6.325 .000 a. Dependen Variabel: Prestasi Kerja Karyawan Sumber: Hasil Pengolahan SPSSPengaruh Kompensasi Terhadap Prestasi Kerja Berdasarkan Tabel 4-4 diketahui nilai t hitung pengaruh variable kompensasi (X1)sebesar 2.815 dengan nilai signifikansi 0,006 , sedangkan t tabel pada tingkat kepercayaan95% atau @ = 0,05 adalah 1.999 ini berarti bahwa t hitung lebih besar t tabel (2.815> 1.999). Maka dapat dikatakan bahwa variable kompensasi mempunyai pengaruh yangsiknifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Dari hasil uji signifikansi tersebut maka Ho ditolak, dan sebaliknya Ha yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif yangsignifikansi kompensasi terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN dapat diterima.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 102. 102 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Pengaruh Promosi terhadap Prestasi Kerja Berdasarkan tabel 4 diketahui nilai t hitung pengaruh promosi (X2) sebesar 6.325dengan nilai siknifikansi 0.000, sedangkan t tabel pada tingkat kepercayaan 95 % atau @ =0,05 adalah 1,999. Oleh karena itu t tabel lebih besar dari t tabel (6.325 > 1,999). Makadapat dikatakan bahwa variable promosi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadapprestasi kerja. Dari hasil uji signifikan tersebut maka Ho di tolak, dan sebaliknya Ha yangmenyatakan terdapat pengaruh promosi terhadap prestasi kerja karyawan pada PT. PLN diterima, hal ini menunjukkan bahwa kebijakan Promosi yang diterapkan oleh PT. PLNsangat mempengaruhi prestasi kerja karyawan yang terlihat melalui dedikasi, loyalitas danprestasi karyawan. Berdasarkan dari hasil pengujian pada Tabel 4 - 4 dapat diketahui bahwa variabledominan terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (persero) adalah promosi, dimanaunstandardized coefficient promosi sebesar 0,569 lebih besar dari kompensasisebesar 0,208.KESIMPULAN 1. Kompensasi dan promosi berpengaruh positif terhadap prestasi kerja karyawan. Salah satu maksud orang bekerja disuatu perusahaan adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mengimplementasikan kompetensi dan komitmennya secara maksimal dengan mendapatkan kompensasi, dengan dsemikian kebijakan kompensasi secara financial langsung seperti gaji, tunjangan dan financial tidak langsung seperti hak cuti, fasilitas serta kompensasi non finasial dapat mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Kebijakan kesempatan promosi atas dasar criteria-kriteria promosi kepada pegawai mempengaruhi prestasi kerja karyawan 2. Promosi mempunyai pengaruh dominan terhadap kepuasan kerja pegawai dibandingkan dengan kompensasi terhadap prestasi kerja karyawan. Promosi akan memberikan status sosial, wewenang, tanggung jawab serta penghasilan yang semakin besar bagi karyawan.DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimin, 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek Penerbit Bumi Aksara JakartaSugiono, 2003, Metode Penelitian Bisnis, CV. Alfabeta, BandungSastrodiryo, B. Siswanto, 2002. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Bumi Aksara, JakartaRivai, Veithzal, 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan, dari Teori ke praktek, PT. Raja Grafindo Persada, JakartaDavis,Keith dan Newstorm, J.W, 1993, Perilaku dalam Organisasi, Edisi kesembilan, Terjemahan Agus Dharma, Penerbit Erlangga, JakartaGibson, James L. Invacevich, Jhon M, dan Donnely Jr.James H. 1992. Organisasi dan Manajemen: Perilaku Struktur dan Proses. Penerjemahan. Djerban Wahid. Penerbit Erlangga Jakarta.
  • 103. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 103Hasibuan, Malayu S.P. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Bumi Aksara Jakarta.Milkovich, George T, and Boundreau, Jhon. B. 1997, Human Resouce Management, Eighth Edition, Irwin Bokk TeamSimamora, Henry, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Jakarta.Schuler, Randall S. dan Jackson, Susan E. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia Menghadapi Abad ke 21. Edisi keenam Jilid 2. Penerbit ErlanggaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 104. 104 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 PENGARUH KERAGAMAN PRODUK DAN PELAYANAN TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA SUPERMARKET HARUN SQUARE DI KOTA LHOKSEUMAWE Mariyudi T. ZulkarnaenAbstak: Abstract: This study aims to find out is any influence of the diversity of productsand services to consumers on supermarket loyalty Harun Square in the city ofLhokseumawe. Primary data were collected by distributing questionnaires to 150respondents who are a loyal consumer to Harun Square Supermarket in the city ofLhokseumawe. The sampling technique used to take samples is the technique of accidental(accidental sampling). Furthermore, these data were analyzed using statistical tools andmethods of multiple linear regression test data is done using SPSS (Statistical Package ForSocial Science). The results showed that the correlation coefficient (R) of 0.840 or 84%.The coefficient of determination (R2) of 0.705 or 70.5%. Regression coefficient of productdiversity (X1) and services (X2) has positive and significant impact on customer loyalty inthe Harun Square in the city of LhokseumaweKeywords: influence, diversity, products, services, loyalty____________________________________________________________________ Mariyudi, Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh T. Zulkarnaen, Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh
  • 105. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 105PENDAHULUAN Perkembangan bisnis ritel di Indonesia pada akhir-akhir ini semakin berkembang.Hal ini ditandai dengan semakin banyak investor yang melakukan investasi dibidangtersebut. Bisnis ritel di Indonesia berkembang dari gerai tradisional ke gerai modern berupasupermarket. Supermarket dan departemen store pertama di Indonesia adalah Sarinah, yangdidirikan pada tahun 1962 di Jakarta. Supermarket dan departemen store baru berkembangbeberapa tahun kemudian. Konsep yang muncul berikutnya dalam bisnis ritel adalah “one-stop shopping”,yaitu suatu tempat berbelanja yang memenuhi semua kebutuhan individu dan keluarga.Seiring dengan ini muncul suatu model yang berkembang, yaitu chainstore, yangmerupakan bersatunya beberapa gerai yang beroperasi di wilayah-wilayah yang berbedadalam suatu pengelolaan tim manajemen, gerai-gerai itu serupa dalam hal tampilan (luardan dalam), barang-barang yang dijual, dan dalam hal sistem operasionalnya. Selanjutnyabisnis ritel berkembang lagi dengan munculnya pusat perbelanjaan dengan format baruyang lebih memikat konsumen, yaitu mall. Pusat perbelanjaan atau mall memberikan nilaitambah lain yaitu berupa hiburan dan kenyamanan berbelanja yang ditandai dengan geraibermain, restoran yang beragam, bank atau anjungan tunai mandiri (ATM), ruang publikindoor yang nyaman dan menarik, serta area parkir yang luas, halal ini akan menimbulkanpersaingan diantara perusahaan-perusahaan tersebut. Agar perusahaan dapat memenangkanpersaingan mereka memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang ada dan berusaha untukmenerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka untuk menguasai pasar.Penguasaan pasar merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilaksanakanoleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupusahanya, berkembang dan mendapatkan laba semaksimal mungkin. Hal tersebut bisatercapai bila konsumen merasa puas akan kinerja produk yang ditawarkan oleh pengusaha. Menurut Schanaars (dalam Tjiptono 2000:24) kepuasan pelanggan merupakan salahsatu kunci keberhasilan suatu usaha, hal ini dikarenakan dengan memuaskan konsumen,organisasi atau perusahaan dapat meningkatkan tingkat keuntungannya dan mendapatkanpangsa pasar yang lebih luas. Sedangkan Tjiptono (1997:162) pada dasarnya tujuan darisuatu bisnis adalah menciptakan para pelanggan yang merasa puas. Terciptanya kepuasanpelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara perusahaandan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulangdan terciptanya loyalitas pelanggan, dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut kemulut (word-of-mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan Tjiptono (2000:68). Konsumen yang loyal merupakan kunci sukses suatu bisnis atau usaha.Mempertahankan konsumen yang loyal memang harus mendapatkan prioritas yang utamadari pada mendapatkan pelanggan yang baru, kondisi ini disebabkan bahwa untuk merekutatau mendapatkan pelanggan baru bukanlah hal yang mudah karena akan memerlukanbiaya yang banyak, maka sangatlah rugi bila perusahaan melepas konsumen yang loyal ataupelanggan secara begitu saja. Menurut Swatha dan Irawan (2002:122) faktor-faktor yang mempengaruhi akanloyalitas adalah harga, penggolongan dan keragaman barang, lokasi penjual yang strategisdan mudah dicapai, desain fisik toko, service yang ditawarkan pada pelanggan, kemampuantenaga penjual dan pengiklanan serta promosi di toko. Salah satu unsur kunci dalamSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 106. 106 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010persaingan diantara bisnis eceran adalah agam produk yang disediakan oleh pengecer. Olehkarena itu, pengecer harus membuat keputusan yang tepat mengenai keragaman produkyang dijual, karena dengan adanya macam-macam produk dalam arti produk yang lengkapmulai dari merk, ukuran, kualitas dan ketersediaan produk setiap saat seperti yang telahdiuraikan diatas. Dengan hal tersebut maka akan memudahkan konsumen dalam memilihdan membeli berbagai macam produk sesuai dengan keinginan mereka. Sesuatu yang diinginkan oleh konsumen adalah bagaimana cara untuk mendapatkanbarang-barang yang dibutuhkan serta menyediakaan beranekaragam produk dan alternatifpilihan, harga yang bersaing, pelayanan dan fasilitas yang memuaskan serta suasanaberbelanja yang nyaman semuanya terdapat dalam satu toko atau dengan nama lain yaitupasar swalayan. Disamping memperhatikan keragaman produk perusahaan yang bergerakdibidang retail harus juga berupaya untuk memberikan pelayanan yang baik, sebabpelayanan yang berkualitas merupakan salah satu cara untuk menarik dan mempertahankankonsumen. Pelayanan harus diperhatikan karena dalam memilih suatu produk atau jasakonsumen selalu berupaya untuk memaksimalkan nilai yang dirasakan. Apabila konsumenmerasa nilai yang dirasakan lebih tinggi dari pada yang diharapkan maka konsumen akanmerasa puas dan cenderung akan loyal. Swalayan merupakan sebuah toko yang menganut operasi swalayan, volume hargabarang tinggi, laba sedikit dan berbiaya murah. Toko ini dirancang untuk memenuhikebutuhan konsumen baik makanan, minuman ataupun barang-barang rumah tangga yanglain yang tidak memerlukan keterangan lebih lanjut. Keberadaan supermarket HarunSquare merupakan tempat perbelanjaan yang strategis dan terletak di pusat kota yang jugamerupakan pusat keramaian kota. Konsumen dimungkinkan tidak mengalami kesulitanuntuk datang, hal ini dikarenakan alat transportasi yang mudah ditemui sehinggaSupermarket Harun Square mudah untuk dijangkau. Kepuasan konsumen yang menimbulkan loyalitas konsumen merupakan penentuankonsumen untuk berbelanja. Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis mengenaikeragaman produk dan pelayanan. Sedangkan untuk penggolongan, lokasi, promosi tidakdijelaskan karena supermarket Harun Square tidak melakukan promosi dan tiap-tiap produkyang dijual di swalayan merupakan tanggung jawab produsen untuk melakukan promosibagi produknya masing-masing. Masalah yang akan diteliti berdasarkan pada judul danlatar belakang permasalahan adalah sebagai berikut: adakah pengaruh keragaman produkdan pelayanan terhadap loyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square di KotaLhokseumawe. Secara garis besar, keragaman produk dan pelayanan mempengaruhitingkat loyalitas konsumen dapat dilihat didalam bagan dibawah beriktu ini:
  • 107. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 107 Keragaman Produk (X1) Kelengkapan produk yang ditawarkan Merk produk yang ditawarkan Loyalitas (Y) Variasi ukuran produk yang ditawarkan Lamanya konsumen Variasi kualitas produk dalam berlangganan yang ditawarkan Frekuensi berbelanja konsumen dalam satu Pelayanan (X1) bulan Tingkat keinginan atau Keandalan beralih pada pasar Keresponsifan swalayan lain Keyakinan Empati Berwujud Gambar 1. Kerangka Pikir PenelitianMETODE Lokasi penelitian ini adalah di Kota Lhokseumawe, alasan pemilihan lokasitersebut didasari pada data yang didapatkan lebih relevan dan tepat dengan judul yangdianalisis. Ruang lingkup penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh keragaman produkdan pelayanan terhadap loyalitas konsumen dalam berbelanja di Kota Lhokseumawe, gunauntuk mendapatkan data-data yang relevan dengan judul yang dianalisis. Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996:115). Dalampenelitian ini tidak diambil seluruh pembeli atau konsumen Supermarket Harun Squaresebagai responden karena selain memakan waktu juga terbatasnya tenaga dan dana. Jumlahkonsumen Supermarket Harun Square tidak terbatas, sehingga populasinya tidak terbatas.Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 1996:117). sampelyang diambil minimal 150 responden. Adapun sampel akan diambil berdasarkan hariberkunjung yang ramai dan sepi dari pengunjung. Teknik sampling yang digunakan untukmengambil sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik aksidental (accidentalsampling). Dalam hal ini pengumpulan data dilakukan melalui konsumen yang saat itudijumpai sedang melakukan pembelian di Supermarket Harun Square Lhokseumawe. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka teknik yangdigunakan adalah :1. Library Research, yaitu dengan membaca buku-buku, majalah, artikel, informasi dari internet atau sumber bacaan lain yang relevan dengan penelitian ini.2. Field Research, yaitu dengan mengumpukan data secara langsung pada lokasi dan objek penelitian. Proses ini di lakukan dengan cara : a. Observasi, yaitu dengan mengamati secara langsung objek penelitianSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 108. 108 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 b. Interview, yaitu melakukan wawancara dengan Responden dan Pemberi Jasa. c. Kuisioner, yaitu memberi pertanyaan-pertanyaan secara tertulis kepada responden berhubungan dengan permasalahan yang di teliti. Aspek pengukuran terhadap data-data yang dianalisis dilakukan denganpembentukan indikator pada setiap pertanyaan yang diajukan dengan menggunakan skalalikert (likert scale) dimana setiap pertanyaan mempunyai interval jawaban antara 1 (SangatTidak Setuju) dan 5 (Sangat Setuju). Hal ini harus dilakukan mengingat dalammenganalisis model penelitian ini data yang digunakan adalah data primer yang bersumberdari kuisioner. Secara spesifik teknik pengukuran dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1: Aspek Pengukuran Indikator Penelitian Bobot/score nilai satu indikator Variabel SS S N TS STS Loyalitas Konsumen (Y) 5 4 3 2 1 Keragaman Produk (X1) 5 4 3 2 1 Pelayanan (X2) 5 4 3 2 1 Keterangan : Masing-masing variabel observasi terdiri dari 5 indikator Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik statistika inferensial.Teknik ini digunakan untuk mengukur hubungan dan pengaruh terhadap variabel bebasterhadap variabel terikat. Untuk menguji sifat signifikansi pengaruh variabel tersebutdigunakan uji-t dan uji-F. Penggujiannya dilakukan dengan menggunakan peralatanstatistika berupa regresi linear berganda dan pengujian data dilakukan dengan programSPSS (Statistical Package for Social Science). Adapun peralatan statistik yang digunakandalam penelitian ini, dengan pendekatan regresi linier berganda, yaitu mencari hubunganantara dependent variabel dengan independent variabel dengan formula sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + eDimana : Y = Loyalitas Konsumen X1 = Keragaman Produk X2 = Pelayanan a = Konstanta (intersep) b1,2,3, = Koefisien arah regresi (slope) e = Error term Data yang telah dikumpulkan, kemudian di analisa dan dilakukan pengujianterhadap hipotesis penelitian. Analisa dan uji hipotesis dilakukan dengan bantuan programSPSS (Statistic Package for Social Science).Pengujian Hipotesis secara simultan ( Uji F )dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independent mempunyai pengaruhyang sama terhadap variabel dependen. Untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakanuji distribusi F dengan cara membandingkan antara nilai F-hitung dengan F-table, apabila
  • 109. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 109perhitungan F-hitung > F-table maka Ho ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa variabelbebas dari regresi dapat menerangkan variabel terikat secara serentak. Sebaliknya jika F-hitung < F-table maka Ho diterima sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas tidakmenjelaskan variabel terikat. Pengujian hipotesis secara parsial (Uji t) dimaksudkan untuk mengetahui apakahvariabel independent (X) secara individual dapat berpengaruh signifikan atau tidak terhadapvariabel dependen (Y). Apabila nilai hitung t-hitung ≤ t-tabel maka Ho diterima artinyasecara parsial variabel independen (X) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y).Dan sebaliknya apabila nilai t-hitung ≥ t-tabel maka Ho ditolak artinya secara parsialvariabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y).HASILKarakteristik Responden Berikutnya adalah uraian tentang karakteristik responden yang diringkas dalamTabel 2. dengan indikator ciri-ciri seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, statusperkawinan, dan lama menjadi pelanggan Supermarket Harun Square Lhokseumawe.Responden yang menjadi sampel penelitian dari segi usia terbanyak antara 31 – 40 tahunsebanyak 129 orang (86%), berjenis kelamin perempuan 126 orang (84%), tingkatpendidikian lulusan SLTA/SMK sebanyak 113 orang (75,33%), status menikah sebanyak133 orang (88,67%) dan lama menjadi pelanggan pada Supermarket Harun Square lebihdari 7 bulan sebanyak 115 orang (76,67%). Tabel 2. Karakteristik Responden No Variabel Frekuensi Persentase 1 Usia a. Dibawah 20 Tahun 3 2,00 b. 21- 30 Tahun 13 8,67 c. 31- 40 Tahun 129 86,00 d. 41- 50 Tahun 5 3,33 e. Diatas 51 Tahun 0 0 2 Jenis Kelamin a. Laki-laki 24 16,00 b. Perempuan 126 84,00 3 Tingkat Pendidikan a. Lulus SD 0 0 b. Lulus SLTP/MTS 20 13,33 c. Lulus SLTA/SMK 113 75,33 d. D1/D2/D3 3 2,00 e. Sarjana/S1 14 9,33 f. Pascasarjana S2/S3 0 0STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 110. 110 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 4 Status a. Belum menikah 17 11,33 b. Menikah 133 88,67 c. Janda/Duda 0 0 5 Lama Menjadi Pelanggan a. Kurang dari 1 bulan 0 0 b. 1 – 3 bulan 8 5,33 c. 4 – 6 bulan 27 18,00 d. Lebih dari 7 bulan 115 76,67Sumber : Data diolah, 2009Deskriptif Variabel Penelitian Analisis deskriptif persentase dilakukan untuk memberikan gambaran dari masing-masing variabel dalam penelitian ini yaitu keragaman dan pelayanan dalam pembentukanloyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe sebagai berikut:Keragaman Produk Keragaman produk Supermarket Harun Square Lhokseumawe menggunakan 9 butirpertanyaan dan masing-masing pertanyaan skornya antara 1 sampai 5. Berdasarkan datahasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor keragaman produk adalah 82 % dantermasuk kategori baik. Secara lebih rinci ditinjau dari jawaban masing-masing respondendiperoleh hasil seperti terlihat pada diagram batang berikut: Gambar 2. Deskripsi Distribusi Keragaman Produk Berdasarkan Gambar 2. menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu 82%menyatakan keragaman produk Supermarket Harun Square Lhokseumawe baik, sedangkanselebihnya yaitu 8% menyatakan sangat baik, 6,67% netral dan 3,33% menyatakan tidakbaik.
  • 111. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 111Pelayanan Pelayanan pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe menggunakan 8 butirpertanyaan dan masing-masing pertanyaan skornya antara 1 sampai 5, berdasarkan datahasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pelayanan adalah 70,67 % dan termasukkategori baik. Secara lebih rinci ditinjau dari jawaban masing-masing responden diperolehhasil seperti terlihat pada diagram batang berikut: Gambar 3. Deskripsi Distribusi Pelayanan Gambar 3. di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu 70,67%menyatakan pelayanan Supermarket Harun Square Lhokseumawe baik, sedangkanselebihnya yaitu 24,67% menyatakan netral, 2,67% sangat baik dan 2% menyatakan tidakbaik.Loyalitas Loyalitas pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe menggunakan 7 butirpertanyaan dan masing-masing pertanyaan skornya antara 1 sampai 5, berdasarkan datahasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor loyalitas adalah 86 % dan termasukkategori baik. Secara lebih rinci ditinjau dari jawaban masing-masing responden diperolehhasil seperti terlihat pada diagram batang berikut:STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 112. 112 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Gambar 4. Deskripsi Distribusi Loyalitas Gambar 4. diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu 86%menyatakan loyalitas pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe baik, sedangkanselebihnya yaitu 8% menyatakan tidak bai, 3,33% netral serta 1,33% masing-masingmenyatakan sangat baik dan sangat tidak baik.Pengaruh Keragaman Produk dan Pelayanan terhadap Loyalitas Konsumen Analisis regresi dalam analisis statistika digunakan dalam mengembangkan suatupersamaan untuk meramalkan hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain.Variabel yang dianalisis dalam regresi ini adalah faktor keragaman produk, pelayanan danloyalitas konsumen. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini menganalisispengaruh keragaman produk (X1) dan pelayanan (X2) yang menjadi variabel bebas(Independent Variable) sementara loyalitas konsumen dilambangkan dengan Y dansekaligus merupakan variabel terikat (Dependent Variable) di samping itu, tentunyaloyalitas konsumen juga dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian iniyang selanjutnya dinamakan dengan faktor pengganggu (error term). Berdasarkan hasil estimasi terhadap variabel yang diteliti melalui hasil perhitunganregresi berganda secara keseluruhan menggunakan program SPSS 11.0 diperoleh parameteruntuk masing-masing variabel dapat dilihat sebagai berikut :
  • 113. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 113 Tabel 3: Pengaruh Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat Standar Nama Variabel B thitung ttabel Sig Error Kostanta 3,823 1,361 2,809 1,960 0,107 Keragaman Produk (X1) 0,512 0,092 5,565 1,960 0,000 Pelayanan (X2) 0,364 0,073 4,986 1,960 0,002 a Koefisien Korelasi ( R) = 0,840 a. Predictors : (Constant) Koefisien Determinasi (R²) = 0,705 Keragaman produk (X1), Pelayanan Fhitung = 63,905 (X2) Ftabel = 2,60 b. Dependent Variabel : F Sig = 0.000a Loyalitas konsumen (Y). Sumber: Data Primer, 2009 (diolah) Berdasarkan hasil estimasi terhadap variabel yang diteliti melalui hasil perhitunganregresi berganda secara keseluruhan menggunakan program SPSS 11.0 diperoleh parameteruntuk masing-masing variabel dapat dilihat sebagai berikut : Y = 3, 823 + 0, 512 X1 + 0,364 X2 Persamaan regresi diatas memiliki makna sebagai berikut: Konstanta a = 3,823. Apabila variabel keragaman produk dan pelayanan diasumsikan konstan atau 0, maka pembentukan loyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe sudah ada sebesar 3,823. Koefisien X1 = 0,512. Keragaman produk memiliki koefisien regresi sebesar 0,512 dan signifikan pada α=5%, karena signifikan (0.000) lebih kecil dari 5% Ho ditolak dan Ha diterima. Jika variabel keragaman produk berubah (kenaikan) satu satuan maka loyalitas konsumen akan berubah sebesar nilai konstanta ditambah nilai koefisien keragaman produk dikali dengan perubahan variabel keragaman produk, sehingga perubahan keragaman produk terhadap loyalitas sebesar 2,335 poin. Koefisien X2 = 0,364. Pelayanan memiliki koefisien regresi sebesar 0,364 dan signifikan pada α =5%, karena signifikan (0,002) lebih kecil dari 5% Ho ditolak dan Ha diterima. Jika variabel pelayanan berubah (kenaikan) satu satuan maka loyalitas konsumen akan berubah sebesar nilai konstanta ditambah nilai koefisien pelayanan dikali dengan perubahan variabel pelayanan, sehingga perubahan pelayanan terhadap loyalitas sebesar 2,187 poin.Uji Simultan (Uji-F) Berdasarkan hasil pengujian secara simultan diperoleh nilai Fhitung sebesar 63,905,sedangkan Ftabel pada tingkat signifikansi α = 5% adalah sebesar 2,60. Hal inimemperlihatkan, bahwa berdasarkan perhitungan uji statistik Fhitung menunjukkan bahwanilai Fhitung > Ftabel, dengan tingkat probabilitas 0,000. Dengan demikian hasil perhitunganini dapat di ambil suatu keputusan bahwa hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan dapatditerima dan menolak hipotesis nol, artinya keragaman produk dan pelayanan secaraSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 114. 114 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen padaSupermarket Harun Square Lhokseumawe. Derajat hubungan antara keragaman produk dan pelayanan terhap loyalitaskonsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe dapat diketahui dari hargakorelasi secara simultan atau R. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan programkomputasi SPSS for Windows release 11 diperoleh harga koefisien korelasi sebesar 0,840,dan berarti bahwa keeratan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yangtinggi sehingga model persamaan regresi yang diperoleh untuk memprediksi loyalitas baik. Besarnya pengaruh keragaman produk dan pelayanan terhadap loyalitas konsumenpada Supermarket Harun Square Lhokseumawe dapat diketahui dari harga R² . Berdasarkanhasil analisis diperoleh R² sebesar 0,705. Dengan demikian menunjukkan bahwakeragaman produk dan pelayanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen padaSupermarket Harun Square Lhokseumawe sebesar 70,5% dan sisanya yaitu 29,5% dariloyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe dipengaruhi oleh faktorlain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.Uji Parsial (Uji-t) Untuk menguji pengaruh keragaman produk dan pelayanan terhadap loyalitaskonsumen secara parsial (masing-masing variabel) dapat dilihat dari hasil uji-t. Dimanadapat diketahui besarnya nilai t-hitung untuk masing-masing variabel dengan tingkatkepercayaan atau signifikansi sebesar α = 5%. Variabel pengaruh keragaman produk (X1)mempunyai nilai t-hitung sebesar 5,565 sedangkan t-tabel sebesar 1,960, hasil perhitunganini menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000 atauprobabilitas jauh dibawah α = 5% Dengan demikian hasil perhitungan statistikmenunjukkan bahwa secara parsial variabel keragaman produk (X1) berpengaruh secarasignifikan terhadap loyalitas konsumen Supermarket Harun Square Lhokseumawe. Variabel pelayanan (X2) mempunyai nilai t-hitung sebesar 4,986 sedangkan t-tabelsebesar 1,960, hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel dengan tingkatsignifikansi sebesar 0.002 atau probabilitas jauh dibawah α = 5% (0,05). Dengan demikianhasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa secara parsial variabel pelayanan (X2)berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen Supermarket Harun SquareLhokseumawe.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1. Variabel keragaman produk dan pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen Supermarket Harun Square Lhokseumawe.2. Derajat hubungan antara keragaman produk dan pelayanan terhap loyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe dapat diketahui dari harga korelasi secara simultan atau R. Koefisien korelasi sebesar 0,840, berarti bahwa keeratan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang tinggi sehingga model persamaan regresi yang diperoleh untuk memprediksi loyalitas baik.
  • 115. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 1153. Besarnya pengaruh keragaman produk dan pelayanan terhadap loyalitas konsumen pada Supermarket Harun Square Lhokseumawe dapat diketahui dari harga R². Berdasarkan hasil analisis diperoleh R² sebesar 0,705 yang menunjukkan bahwa keragaman produk dan pelayanan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen sebesar 70,5% dan sisanya yaitu 29,5% dari loyalitas konsumen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.4. Pengujian hipotesis menunjukkan hasil bahwa secara simultas maupun parsial variabel keragaman produk (X1) dan pelayanan (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen Supermarket Harun Square Lhokseumawe.Saran-saran1. Supermarket Harun Square Lhokseumawe hendaknya berusaha untuk senantiasa meningkatkan keragaman produk terutama pada ketersediaan produk secara lengkap baik dalam merek, ukuran, dan kualitas dan pelayananan yang diberikan kepada konsumen terutama dalam keamanan dan kenyamanan serta peningkatan kecepatan pramuniaga agar konsumen semakin puas dalam berbelanja.2. Karyawan Supermarket Harun Square Lhokseumawe hendaknya selalu tanggap dengan segala kebutuhan pengunjung serta lebih cepat dan tepat, baik dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan pengunjung khususnya untuk pengunjung- pengunjung yang kesulitan dalam mencari produk yang diinginkan agar mereka mendapatkan kepuasan atas jasa yang dibelinya dan akan kembali untuk melakukan pembelian ulang.3. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya untuk memperluas obyek penelitian, tidak hanya variabel keragaman produk dan pelayanan tetapi juga variabel-variabel lainnya (seperti harga, promosi, fasilitas, dan lain-lain) sehingga diperoleh informasi yang lebih lengkap tentang faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen pada supermarket.DAFTAR RUJUKANArikunto, Suharsimi. (2000). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka cipta. Jakarta.Assaury (1990). Manajemen Pemasaran. Liberti, Yogyakarta.Barner, G. James. (2001). Secret Of Customer Relationship Management : Rahasia Manajemen Hubungan Pelanggan. Bumi Aksara. Yogyakarta.Edi, N Prastyo. (2007). Pengaruh Keragaman Produk dan Pelayanan terhadap Loyalitas Konsumen pada Swalayan Assgros Sartika Gemolong di Kabupaten Sragen, Thesis pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, tidak dipublikasikan.Engel, James F dan Blacwell, Roger D dan Miniard, Paul W. (1994) Consumer Behavior. Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.Ghozali, Imam. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Universitas Diponegoro. Semarang.Griffin, Jill. (2002). Customer Loyalty. Erlangga. Jakarta.Kotler, P dan Amstrong, (1992). Dasar-dasar Pemasaran, Jilid I, Penerbit Prenhalindo, Jakarta.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 116. 116 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010_____________, (1997). Dasar-dasar Pemasaran, Jilid II, Penerbit Prenhalindo, Jakarta._____________, (2001) Prinsip-Prinsip Pemasaran. penerbit Erlangga, Jakarta.Kotler, Philip. (1993) Manajemen Pemasaran. Penerbit Erlangga, Jakarta._____________. (1999). Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Jilid I, Edisi keenam penerbit Erlangga, Jakarta.Lovelock (1992) Service Marketing:Text, Cases and Reading, Prentice Hall, engle wod clift, Penerbit Prenhalindo, Jakarta.Lupiyoadi, Rambat. (2001). Manajemen Pemasaran Jasa. Salemba Empat. Jakarta.Lytle, Jhon F. (1996). Cara Jitu Memuaskan Pelanggan (What Do Your Customers Really Wants) Terjemahan Agus Sharno. Abdi Tandur. JakartaMcCarthy, D. Perreault, Jr, (1994). Basic Marketing , Irwin 1984 eight edition homewood Ilionis 60430.Mursyid (1997) Manajemen Pemasaran dan Analisa Perilaku Konsumen, Penerbit Rineka Cipta, Bandung.Payne, Adrian (2000), The Essence Of Service MarketingShadily dan M. Echols., (1995). Manajemen Pemasaran, Jilid Satu. Edisi Ketujuh, Binarupa Aksara, JakartaStanton, William J. (1985) Prinsip Pemasaran. Erlangga Jakarta.Swastha, Basu dan Irawan. (2002). Manajemen Pemasaran Modern. Liberty. Yogyakarta.Swastha, Basu dan T Hani Handoko. (1997). Manajemen Pemasaran: Analisis Perilaku Konsumen. BPFE. Yogyakarta._____________. (1992) Manajemen Pemasaran Analisa Prilaku Konsumen BPFE, Yogyakarta._____________. (1997). Manajemen Pemasaran Analisis Perilaku Konsumen. Liberti, Yogyakarta.Tjiptono, Fandy. (1997). Strategi Pemasaran. Edisi II. Andi Offset. Yogyakarta._____________. (2000). Strategi Pemasaran. Andi Offset. Yogyakarta._____________. (2005). Pemasaran Jasa. Bayu Media. Malang.Winardi (1991). Marketing dan Perilaku Konsumen. CV. Mandar Maju, Bandung._____________. (1996). Aspek – Aspek Manajemen Pemasaran. Mandar Maju. Bandung.Zethaml, Valerie.A, Marry Jo, Bitner (1996) Service Marketing, The MC Grow Hill Companies, Penerbit Salemba Empat. Jakarta
  • 117. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 117 PENGARUH RASIO FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP RETURN ON EQUITY (ROE) PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA IswadiAbstract: This study examines the effect of financial leverage ratio on return on equity inmanufacturing Company in Indonesian Stock Exchange. The data used are secondary datain the form of financial statements in 2003-2006 for companies listed on the IndonesianStock Exchange. To test the hypothesis the author using SPSS (Statistical Package ForSocial Science). Independent variable is a debt to ratio and debt to equity ratio and returnon equity dependent variables. Results of analysis of data obtained by the coefficient ofdetermination of 0.377 (37.7%). This reflects that the dependent variable can be explainedby changes in the independent variable is the debt ratio and debt to equity ratio, while62.3% explained by other causes of times interest earned ratio. While the correlationcoefficient (R) of 0.614 (61.4%) which means that the independent variables had significantassociations with the dependent variable.Keywords : debt ratio, debt to equity ratio dan return on equity___________________________________________________________________STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 118. 118 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Iswadi, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehPENDAHULUAN Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang bisa bersaing danmempertahankan kinerja perusahaannya. Kinerja perusahaan dapat diukur antara lain darikemampuan manajemen dalam mengelola sumber dana yang bersumber dari hutang(leverage) dan modal. Perusahaan tidak mampu beroperasi jika modal sendiri yang dimilikisedikit, karena kegiatan perusahaan semakin berkembang yang memerlukan modal dalamjumlah yang cukup besar, sehingga diharuskan untuk meminjam modal dari luar berupahutang yang sering disebut financial leverage. Sumber-sumber dana tersebut harus dapat dikelola dengan baik sehingga dapatditentukan kombinasi pembelanjaan yang terbaik bagi perusahaan dalam rangkapeningkatan Return On equity (ROE) yang tinggi. Pengelolaan sumber dana jangkapanjang dan modal sendiri yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan diharapkandapat meningkatkan keuntungan. Dengan pengelolaan sumber dana yang baik akanmemberikan kepercayaan bagi investor untuk menginvestasikan dananya kepadaperusahaan. Perusahaan manufaktur pada umunya masalah Return On Equity adalah lebih pentingdaripada masalah laba. Laba yang besar belum menjadi tolak ukur bahwa perusahaan itutelah dapat bekerja dengan efisien. ROE dapat dihitung dengan membandingkan laba yangdiperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut atau dengankata lain ialah menghitung rentabilitasnya. Perusahaan dalam menggunakan sumbermodalnya sebagian besar berasal dari saham yang disebut dengan modal saham. Modaltersebut merupakan modal sendiri (equity) yang pembiayaan berasal dari luar (eksternal)perusahaan. Di samping modal saham juga pembiayaan perusahaan berasal dari modalpinjaman khususnya dalam bentuk pinjaman jangka panjang. Dengan demikian semuaperusahaan bisa dipastikan dalam membiayai operasionalnya juga sebagian besar berasaldari modal pinjaman, khususnya dalam bentuk pinjaman jangka panjang, dengan demikiantimbullah financial leverage tidak terkecuali pada perusahaan manufaktur di Bursa EfekJakarta. Financial Leverage merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalammenganalisa kinerja perusahaan dalam kaitannya dengan siklus bisnis, Financial Leveragedapat menjelaskan bagaimana penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap denganharapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada bebantetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham,dengan demikian alasan yang kuat untuk menggunakan dana dengan beban tetap adalahuntuk meningkatkan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham. Keberhasilan perusahaan dalam menjalankan operasionalnya dapat dilihat darikeuntungan yang diperoleh dimana salah satu pengukuran kinerja keuangan adalahFinancial Leverage dan Return on Equity (ROE). Rasio Financial Leverage digunakanuntuk mengukur seberapa banyak dana yang disupply oleh pemilik perusahaan dalamproporsinya dengan dana yang diperoleh dari kreditur. Pengukuran Financial Leverage inididasarkan pada rasio yang digunakan perusahaan yaitu Debt to Ratio, Debt to EquityRatio, Time Interest Earned Ratio dan Fixed Charge Coverage. Pengukuran tingkat hutang
  • 119. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 119biasanya menggunakan Debt to Ratio dan Debt to Equity Ratio, semakin tinggi rasio-rasioini semakin besar jumlah hutang yang digunakan dalam operasi perusahaan dan semakinlama perusahaan tersebut mengembalikan modal yang ditanamkan (Return on Equity).Sedangkan pengukuran kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajibantetap yang timbul dari penggunaan modal pinjaman ataupun kewajiban financial lainnyaseperti pembayaran lease atau sewa dan dividen saham preferen, dapat digunakanperhitungan Time Interest Earned Ratio dan Fixed Charge Coverage. Semakin tinggi rasio-rasio ini maka semakin baik keadaan atau kemampuan suatu perusahaan dalampengembalian atas Return on Equtiy. Debt Ratio adalah rasio leverage yang dihitung dengan membagi total hutang dengantotal asset. Rasio ini menunjukkan seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Hutangbisa berarti buruk bisa juga berarti bagus selama ekonomi sulit dan suku bunga tinggi,perusahaan yang memiliki debt rasio yang tinggi dapat mengalami masalah Keuangan,sebaliknya juga selama ekonomi baik dan suku bunga renndah hutang dapat meningkatkankeuntungan. Debt to Equity Ratio (DER) dipergunakan untuk mengukur tingkat penggunaanhutang terhadap modal sendiri (equitas) yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi DERmenunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luarsehingga beban perusahaan juga semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hakpemegang saham (dalam bentuk deviden). Tingginya DER akan mempengaruhi minatinvestor terhadap saham perusahaan tertentu, karena investor pasti lebih tertarik padaperusahaan yang tidak menanggung terlalu banyaj hutang. Penggunaan kedua variabel tersebut Debt to rasio dan Debt to equity rasiodisebabkan kedua variabel tersebut menggunakan total hutang sebagai alat ukur. Dimanarasio Financial Leverage adalah kemampuan perusahaan menggunakan biaya financialtetap untuk memperbesar pengaruh dan perubahan EBIT terhadap laba bersih ataupendapatan per lembar saham biasa (EPS). Rasio ROE untuk mengukur tingkat pengembalian pada ekuitas (Return on Equity).ROE adalah sebuah ukuran dari besarnya jumlah laba dari sebuah perusahaan yangdihasilkan dalam 1 tahun terakhir dibandingkan dengan nilai ekuitasnya. Tidak seperti yanglain, satuan dari ROE ini adalah persentase. ROE juga memberikan gambaran tentangbesarnya keuntungan yang dapat dihasilkan dari penanaman modal sendiri. Berdasarkanlatar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahansebagai berikut berapa besar pengaruh debt to rasio dan debt to equity rasio terhadap returnon equity?KAJIAN KEPUSTAKAANPengertian Leverage Istilah Leverage biasanya dipergunakan untuk menggambarkan penggunaan assetsdan sumber dana (sources of funds) oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (FixedCost) dengan maksud meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham. Denganmemperbesar tingkat leverage maka hal ini akan berarti bahwa tingkat ketidakpastian(uncertainty) dari return yang akan diperoleh akan semakin tinggi pula, tetapi pada saatyang sama hal tersebut juga akan memperbesar jumlah return yang akan diperoleh. TingkatSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 120. 120 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010leverage ini bisa saja berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaanlainnya, atau dari satu periode ke periode lainnya di dalam satu perusahaan, dengandemikian semakin tinggi tingkat leverage akan semakin tinggi resiko yang dihadapi sertasemakin besar tingkat return atau penghasilan yang diharapkan. Menurut Syamsuddin (1999:89) “Leverage merupakan kemampuan perusahaanuntuk menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap (fixed cost assets offunds) dalam memperbesar tingkat penghasilan (revenue) bagi pemilik perusahaan”.Menurut Kartadinata (1993:89) “leverage adalah suatu alat atau sarana untuk sesuatudengan sesuatu tujuan”, sedangkan menurut Riyanto (2001:48) “leverage adalahperbandingan rasio jumlah hutang dengan total aktiva”. Sementara Weston (1997:503) menyatakan “leverage merupakan total hutangterhadap jumlah aktiva atau total hutang terhadap modal sendiri”, dalam hal ini leveragemenunjukkan sampai seberapa besar hutang dengan modal sendiri. Sedangkan menurutHorne dan Wachowict (1998:440) “leverage merupakan penggunaan biaya tetap dalammeningkatkan keuntungan”. Sedang menurut Harahap (2002:306) “leveragemenggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun asset”.Dalam hal ini leverage menunjukkan seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang ataupihak luar dngan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (equity). Daripengertian tersebut dapat kita pahami bahwa salah satu penyebab meningkatnyakeuntungan (profit) melalui biaya tetap.Menurut Muslich (2003:21) ada tiga macam leverage sebagai berikut : 1. Operating leverage, yaitu kemampuan perusahaan dalam menggunakan biaya operasi tetap (fixed operating cost) untuk memperbesar pengaruh dari perubahan penjualan pendapatan sebelum dikurangi dengan bunga dan pajak (EBIT). 2. Financial leverage, yaitu kemampuan perusahaan menggunakan biaya financial tetap (fixed financial cost) untuk memperbesar pengaruh dan perubahan EBIT terhadap laba bersih atau pendapatan per lembar saham biasa (EPS). 3. Total Leverage, yaitu kemampuan perusahaan dalam menggunakan fixed cost baik operating maupun financial cost untuk memperbesar pengaruh dari perubahan penjualan terhadap laba bersih atau tingkat EPS.Pengertian Financial Leverage Financial Leverage timbul karena adanya kewajiban-kewajiban finansial yangsifatnya tetap (fixed financial charges) yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.Kewajiban-kewajiban finansial yang tetap ini tidaklah berubah dengan adanya perubahantingkat EBIT dan harus dibayar tanpa melihat sebesar apapun tingkat EBIT yang dicapaioleh perusahaan. Ada dua kewajiban finansial yang sifatnya tetap yaitu bunga atas hutang dandeviden untuk saham preferen. Financial leverage berkenaan dengan perubahan EBITdalam hubungannya dengan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham biasa (earningavailable for common stockholder) yang diasumsikan bahwa deviden untuk pemegangsaham preferen selalu dibayar dalam setiap periode karena tujuan utama dari financialleverage adalah untuk mengetahui berapa jumlah uang yang sesungguhnya tersedia bagipemegang saham biasa setelah bunga dan deviden untuk tingkat kepekaan return untuksetiap saham (EPS) karena perubahan dari pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT).
  • 121. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 121 Menurut Husnan (2000:319) “leverage financial menyangkut penggunaan danayang diperoleh pada biaya tetap tertentu dengan harapan bisa meningkatkan bagian pemilikmodal sendiri”. Sedangkan menurut definisi yang dikemukan oleh Syamsuddin (1992:109)“financial leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam menggunakan kewajiban-kewajiban financial yang sifatnya tetap untuk memperbesar pengaruh perubahanpendapatan per lembar saham biasa”. Menurut Horne dan Wachowicz (1998:440)“pengungkit keuangan adalah penggunaan pendanaan biaya tetap perusahaan”.Pengukuran Financial Leverage Pengukuran Financial Leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan hutanguntuk membiayai investasinya. Menurut Sartono (2001:121) financial leverage dapatdiukur dengan mempergunakan formula sebagai berikut : Total Hu tan g Debt to ratio = Total Aktiva Hasil dari rasio menunjukkan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan di biayaioleh hutang, semakin tinggi rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi olehperusahaan dan investor juga akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Total Hu tan g Debt to equity ratio = Total mod al sendiri Debt to Equity Rasio digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutangterhadap equitas yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi Debt to Equity rasiomenunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luarsehingga beban perusahaan juga semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hakpemegang saham (dalam bentuk deviden). Tingginya Debt to Equity rasio akanmempengaruhi minat investor terhadap saham perusahaan tertentu, karena investor lebihtertarik pada perusahaan yang tidak menanggung terlalu banyak beban hutang. laba sebelum bunga dan pajak Time int erest earned ratio = beban bunga Time interest earned ratio adalah rasio antar laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)dengan beban bunga. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi bebantetapnya berupa bunga, atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpaperusahaan mengalami kesulitan keuangan karena tidak mampu membayar bunga. laba sebelum bunga dan pajak Time int erest earned ratio = bunga + pembayaran sewa Fixed cahrge coverage ratio, mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untukmenutupi beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuranpinjaman dan sewa. Karena tidak jarang perusahaan menyewa aktivanya dari perusahaanleasing dan harus membayar angsuran tertentu.Pengukuran Return on Equity (ROE) Return On Equity (ROE) merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)yang tersedia bagi pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegangsahan preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan. Secara umumSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 122. 122 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010tentu saja semakin tinggi return atau penghasilan yang diperoleh semakin baik kedudukanpemilik perusahaan. Dalam perhitungannya secara umum Return On Equity (ROE)dihasilkan dari pembagian laba dengan equitas selama setahun terakhir. Secara umum Return On Equity (ROE) menurut Gitosudarmo (2001:233) dapatdianalisis dengan menggunakan formula sebagai berikut : Earnings After Taxe ROE = & Jumla h Modal Sendiri Laba yang diperhitungkan untuk menghitung Return On Equity (ROE) adalah labausaha setelah dikurangi dengan bunga modal asing dan pajak perseroan atau income tax.Sedangkan modal yang diperhitungkan hanyalah modal sendiri yang bekerja didalamperusahaan (Riyanto, 1995:44) Sedangkan menurut Riyanto (2001:129) Return On Equity (ROE) dapat dirumuskansebagai berikut : Keuntungan neto sesudah pajak ROE = & Jumla h Modal Sendiri Gie (1999:185) menyatakan bahwa seandainya rentabilitas seluruh perusahaan lebihrendah dari tingkat bunga modal pinjaman, adanya modal pinjaman di perusahaanmerupakan kerugian. Ini jelas bahwa penggunaan modal pinjaman akanmenaikkan/menurunkan Return On Equity kalau rentabilitas dari modal seluruhnya lebihtinggi/lebih rendah dari pada tingkat bunga modal pinajaman.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Return On Equity (ROE) Menurut Weston dan Copeland (1998:281). Hasil pengembalian atas modal ( Returnon Equity) melibatkan tiga faktor pokok yaitu perputaran, margin dan leverage Perputaran Aktiva x Margin Terhadap Penjualan x Leverage Keuangan = Hasil Pengembalian atas Modal (ROE)Menurut Hinggins (1996:41), Return On Equity (ROE) di pengaruhi oleh 3 faktor yaitu : 1. Margin keuntungan (profit margin), mengikhtisarkan kinerja perhitungan rugi laba yang di peroleh dari perbandingan antara laba dengan total penjualan. Perbandingan tersebut sangat penting karena mencerminkan strategi penetapan harga jual yang di tetapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha. 2. Perputaran aktiva (assets turnover), menggambarkan penjualan yang dicapai oleh tiap dollar aktiva, rasio perputaran aktiva ini memusatkan perhatian kepada sisi kiri neraca dan menunjukkan efisiensi penggunaan aktiva perusahaan oleh manajemen. 3. Struktur Modal (Financial Leverage) menggambarkan perbandingan penggunaan hutang jangka panjang dengan modal sendiri untuk pembelanjaan pasif perusahaan. Return on Equity memiliki keterkaitan antara faktor-faktor yang mempengaruhinya,karena pada dasarnya return on equity merupakan hasil perkalian antara profit margin,assets turnover dan financial leverage.
  • 123. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 123Hubungan Antara Rasio Financial Leverage dengan Return on Equity Menurut Riyanto (1995:51) pengaruh rasio hutang terhadap Return on Equity (ROE)dapat bersifat positif, dapat negatif ataupun dapat tidak mempunyai pengaruh sama sekali.Pengaruh positif artinya makin besar rasio ini mengakibatkan makin besarnya return onequity. Hal ini akan terjadi kalau rentabilitas ekonomi lebih besar daripada tingkat bunga.Pengaruh negative terjadi dalam keadaan ekonomi yang sebaliknya yaitu dalam keadaanrentabilitas modal sendiri. Hal ini akan terjadi kalau rentabilitas ekonomi lebih kecildaripada tingkat bunga. Tidak berpengaruh sama sekali apabila rentabilitas ekonomi samabesarnya dengan tingkat bunga pinjaman. Penggunaan hutang (leverage) mempunyai keuntungan dan kelemahan di manaperusahaan yang menggunakan hutang yang lebih besar akan semakin menguntungkanpemegang saham. Tetapi juga akan menurunkan return on equity tetapi jika ROA membaikperusahaan bisa memperoleh return on equity yang besar. Perusahaan yangmempergunakan leverage secara maksimal dapat memperoleh manfaat jika bunga yangdipinjam dengan bunga tertentu dapat digunakan untuk memperoleh tingkat keuntunganyang lebih tinggi daripada bunga pinjamannya. Sebab perusahaan yang mampu berinvestasidengan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi daripada bunga yang berlaku, akanmemperoleh manfaat besar jika “menukar modal sendiri” (trade on equity), artinyamembuat pinjaman sebanyak mungkin berdasarkan perhitungan yang hati-hati, kemudianmenumbuhkan modal sendiri menjadi besar karena tingkat keuntungannya yang lebih tinggidaripada bunga yang harus dibayar.Hipotesis Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, maka penulis cenderung mengemukakanhipotesis penelitian sebagai berikut :Ho : Diduga Debt to ratio dan Debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.Ha : Diduga Debt to ratio dan Debt to equity ratio berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.METODE PENELITIANObjek dan Ruang Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini penulis membahas tentang Analisis Pengaruh Rasio FinancialLeverage Terhadap Return on Equity pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesiayang beralamat di Jln. Jend. Sudirman Kav. 52-53, telepon (021) 5150515 Jakarta 12190.dalam hal ini penulis membatasi objek pada perusahaan manufaktur di Bursa EfekIndonesia.Populasi Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalamsuatu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus.Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukanSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 124. 124 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010(Santoso dan Tjiptono, 2002, 79). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaanmanufaktur yang Go Publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, dengan laporankeuangan tahunan 2003,2004,2005 dan 2006, yang dimuat dalam Indonesia Capital MarketDirectory 2003 dan laporan keuangan perusahaan tahun 2006. Emiten yang terdaftarpada Bursa Efek Indonesia hingga Desember 2006 berjumlah 386 perusahaan, yangtermasuk dalam industry manufaktur berjumlah 156 perusahaan yang terdiri dari 3 sektoryaitu: • Basic Industri And Chemical (Industri Dasar & Kimia) • Micelleneous Industry (Aneka Industri) • Consumer Goods (Industri Barang Konsumsi)Sampel Sampel adalah semacam miniature (mikrokosmos) dari populasinya (Santoso danTjiptono, 2002, 80). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya satu sektor, yaitusektor manufaktur dikarenakan untuk menghindari perbedaan karakteristik antaraperusahaan manufaktur dan non manufaktur. Pemilihan sampel dalam penelitian inimenggunakan purposive sampling yaitu metode yang dilakukan dengan pengambilansampel dengan sudah ada tujuannya dan sudah tersedia rencana sebelumnya. Biasanyasudah ada predefinisi terhadap kelompok-kelompok dan kekhususan khas yang dicari.Adapun kriteria-kriteria dalam pemilihan sampel dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Laporan Keuangan perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel dapat diakses di internet melalui situs www.jsx.co.id 2. Perusahaan telah mempublikasikan laporan Keuangan per 31 Maret 2006 dan telah diaudit. 3. Perusahaan manufaktur yang memperoleh laba dan tidak merugi pada tahun berjalan. Dari kriteria-kriteria di atas, maka didapat jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak32 perusahaan (lihat lampiran 1), seperti tampak pada tabel berikut. Tabel 1. Seleksi Sampel No Kriteria Sampel Jumlah 1 Kriteria 1 156 perusahaan 2 Kriteria 2 61 perusahaan 3 Kriteria 3 32 perusahaanTeknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuanganperusahaan tahun 2003, 2004, 2005, 2006 untuk perusahaan manufaktur yang terdaftar diBursa Efek Jakarta. Menurut Indriantoro dan Supomo (2002 :47 ), data sekunder yaitusumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui mediaperantara yaitu dengan mengakses internet di situs www.jsx.co.id serta mempelajarisumber-sumber terbitan, keputusan-keputusan dimana bahan-bahan penelitian ini dapat
  • 125. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 125juga diperoleh dari buku-buku, majalah, tabloid dan literature lainnya yang berhubungandengan objek penelitian.Definisi Operasional Variabel. Operasional Variabel yang digunakan didalam penelitian ini adalah: 1. ROE (Y) adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau keuntungan dari seluruh modal yang dimilikinya. Rentabilitas dapat diukur dengan menggunakan alat ukur persentase rentabilitas. Keuntungan neto sesudah pajak ROE = & Jumla h Modal Sendiri Debt to Rasio (X1) adalah kemampuan perusahaan untuk mengukur berapa besar aktiva yang dimiliki dibiayai oleh hutang. Total Hu tan g Debt to ratio = Total Aktiva 2. Debt to Equity Rasio (X2) adalah kemampuan perusahaan untuk menggunakan hutang dan modal sendiri dalam pendanaan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Financial Leverage dapat diukur dengan menggunakan rumus : Total Hu tan g Debt to equity ratio = Total mod al sendiriMetode Analisis DataUji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik ini dilakukan untuk mengetahui apakah model estimasi yangdipergunakan memenuhi asumsi regresi linear klasik. Hal ini penting dilakukan agardiperoleh parameter yang valid dan andal. Uji diagnostik terdiri dari :a. Uji Normalitas, uji ini dilakukan untuk mengetahui normalitas variabel penganggu (residual). Regresi linear normal klasik mengasumsikan bahwa tiap ± (residual) didistribusikan secara normal. Untuk 2 variabel yang didistribusikan secara normal, µ dan µ tidak hanya tidak berkorelasi tetapi juga didistribusikan secara independent (Gujarati, 1999 : 166). Residual variabel yang terdistribusi normal akan terletak disekitar garis horizontal (tidak terpencar jauh dari garis diagonal).b. Uji Multikolinearitas, Multikolinearitas yaitu adanya hubungan yang kuat antara variabel-variabel independent dalam persamaan regresi. Adanya multikolinearitas dalam model persamaan regresi yang digunakan akan mengakibatkan ketidakpastian estimasi, sehingga mengarahkan kesimpulan untuk menerima hipotesis nol. Hal ini menyebabkan koefisien regresi menjadi tidak signifikan dan standar deviasi sangat sensitive terhadap perubahan data (Gujarati, 1999). Dengan demikian, variabel- variabel yang mempunyai indikasi kuat terhadap pelanggaran asumsi klasik akan dikeluarkan dari model penelitian. Untuk mendeteksi apakah antara variabel-variabel independent yang digunakan mempunyai kolinearitas yang tinggi atau tidak digunakan variance inflation factor (VIP) dan tolerance. Batas nilai tolerance adalah 0,10 dan batas VIP adalah 10,00, jika nila tolerance < 0,10 atau nilai VIP > 10,00 maka terjadi multikolinearitas.c. Uji AutokorelasiSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 126. 126 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Autokorelasi yaitu adanya hubungan antara kesalahan-kesalahan yang muncul pada data runtun waktu (time series). Apabila terjadi gejala autokorelasi maka estimator least square masih tidak bias, tetapi menjadi tidak efisien. Dengan demikian koefisien estimasi yang diperoleh menjadi tidak akurat (Gujarati, 1999). Pengujian autokorelasi dapat dilakukan dengan menghitung nilai Durbin Watson (d) dengan membandingkan nilai d terhadap dl dan du. Setelah menghitung nilai d statistic selanjutnya dibandingkan dengan nilai d dari tabel dengan tingkat signifikan 5%. Bila dihitung berada diantara : • d < du berarti ada korelasi • d > du berarti tidak autokorelasi • d diantara dl dan du, berarti tidak bisa dipastikan (meragukan) • d hitung berada diantara interval nilai du dan 4-du, maka tidak terjadi autokorelasi • d hitung berada di luar interval nilai du dan 4-du, maka terjadi autokorelasi.Model Analisis Data Untuk menganalisis data dalam penelitian ini digunakan alat analisis regresi linearberganda dengan persamanaan : Y = a + b1 x1 + b2 x2 + εDi mana : Y = Return on Equity (ROE) a = Konstanta b = Parameter yang dicari X1 = Debt to rasio X2 = Debt to equity rasio ε = Error termPengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara, yaitu:1. Pengujian secara simultan Untuk menguji pengaruh rasio financial terhadap return on equity secara simultan dapat dilakukan dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel. Jika hasil penelitian dan pengolahan data dijumpai nilai Fhitung > Ftabel dengan tingkat signifikansi 5% maka Ha diterima. Artinya financial laverage (debt to ratio dan debt to equity ratio) secara simultan berpengaruh terhadap ROE. Sebaliknya jika Fhitung < Ftabel dengan tingkat signifikansi 5% maka penelitian ini harus menerima Ho dan menolak Ha. Artinya debt to ratio dan debt to equity ratio secara simultan tidak berpengaruh terhadap ROE.2. Pengujian secara parsial Untuk menguji pengaruh rasio financial terhadap return on equity secara parsial dapat dilakukan dengan membandingkan Thitung dengan Ttabel. Jika hasil penelitian dan pengolahan data dijumpai nilai Thitung > Ttabel maka Ha diterima. Artinya debt to ratio dan debt to equity ratio secara parsial berpengaruh terhadap ROE. Sebaliknya jika
  • 127. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 127 Thitung < Ttabel maka penelitian ini harus menerima Ho dan menolak Ha. Artinya debt to ratio dan debt to equity ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap ROEHASIL PENELITIANPerkembangan Financial Leverage Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BursaEfek Indonesia Berdasarkan data perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta,selama 4 (empat) tahun dapat diketahui bahwa perkembangan Financial Leverageperusahaan manufaktur berfluktuatif, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawahini.Tabel 2: Debt to Ratio 32 Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2003– 2006) No Kode Debt to Ratio 2003 2004 2005 2006 Miscellaneous Industry (Aneka Industri) 1 ACAP 2.944170269 2.307101997 1.657247283 2.01760429 2 AUTO 2.454062181 1.520285732 1.411429911 0.42601071 3 BATA 1.261364379 1.24204832 0.748429262 0.334781759 4 BRAM 2.505090809 1.143645182 1.235987704 0.58444606 5 GDYR 5.463959472 4.189591576 0.573514528 0.350933005 6 KOMI 1.055437886 1.06691444 1.261198102 0.175566997 7 PBRX 1.245445395 1.898964111 2.428689348 0.669017805 8 PRAS 3.97599654 6.443033263 0.690519933 0.71484683 9 SMSM 1.297817524 1.602921715 1.383605268 0.472818387 Consumer Goods (Industri Barang Konsumsi) 10 AQUA 1.446377772 1.501096475 0.484573552 0.471773758 11 DLTA 2.314955454 2.591967894 0.949144218 0.223550046 12 DNKS 1.173322875 1.033698901 1.006524901 0.451439528 13 GGRM 1.133982108 1.665922266 1.52074408 0.40830349 14 HMSP 2.144436642 1.998169821 1.392249461 0.552302609 15 INDF 1.225447717 1.488269735 0.732580847 0.728377619 16 KLBF 1.04220172 0.756929248 0.661427392 0.595873947 17 MERK 1.199766643 3.615569591 1.202153445 0.23168421 18 MLBI 4.395438988 4.61456289 0.444524269 0.526544267 19 MRAT 3.884280074 0.176265783 1.60928683 0.159003338 20 MYOR 1.281117551 1.192754464 1.15226159 0.321247007 21 SHDA 1.401868349 0.959873653 1.020275182 0.160963783 22 TCID 2.592776538 2.675609001 0.378285326 0.158003185 23 TSPC 6.847270212 0.766823765 1.227641459 0.200369717 24 ULTJ 2.023253287 1.465846032 0.499750321 0.377085774 25 UNVR 2.108043736 0.993612892 0.386566249 0.373125977 Basic Industry and Chemical (Industri Dasar dan Kimia) 26 EKAD 5.245152906 1.024444927 1.825523082 0.15143637 27 INCI 1.36961646 0.764459974 0.379352578 0.147251213 28 JPRS 2.471003856 1.254100265 1.246948885 0.46965137 29 LION 1.34215371 1.050748325 0.98641057 0.178541842 30 LMSH 1.769993006 1.824946237 0.750569414 0.317192058 31 SMGR 1.529310291 0.528529234 0.491763645 0.448788156 32 UNIC 1.603008026 0.558178198 1.591744683 0.644614455STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 128. 128 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Tabel 3: Debt to Equity Ratio oleh 32 Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2003– 2006) No Kode Debt to Equity Ratio 2003 2004 2005 2006 Miscellaneous Industry (Aneka Industri) 1 ACAP 2.2647328 1.88617159 1.986519698 2.53142222 2 AUTO 2.09601765 2.08617485 1.475337468 1.457237468 3 BATA 1.27823158 2.07261916 2.359598129 1.648457987 4 BRAM 1.32893613 1.02307175 0.955812926 0.984333319 5 GDYR 2.82674141 0.42658181 4.545431884 1.239642847 6 KOMI 1.12300798 1.20255633 0.946293519 1.179127033 7 PBRX 4.21407282 1.36972209 1.881197061 1.8233835 8 PRAS 4.43288576 4.83777007 0.917097315 0.906302597 9 SMSM 1.01447937 1.2510354 1.330101665 0.896879509 Consumer Goods (Industri Barang Konsumsi) 10 AQUA 2.07926647 2.34950824 0.940141032 0.893128209 11 DLTA 12.8154715 0.62269173 1.181990635 0.570897889 12 DNKS 10.7565023 11.4617035 0.84178438 1.169889208 13 GGRM 1.86015795 0.90043988 0.580448717 1.510814026 14 HMSP 3.1980677 0.88757469 0.411642724 0.902665127 15 INDF 3.56300671 0.90545399 1.02957894 1.271824924 16 KLBF 4.78562499 0.86875583 0.747242265 2.540754225 17 MERK 1.06064439 0.82478581 0.882901296 1.600068489 18 MLBI 7.62471833 7.7475516 0.800258669 0.960827924 19 MRAT 2.19226361 0.63037459 1.475633867 0.996812261 20 MYOR 1.43017798 0.79280574 0.597233256 1.048504056 21 SHDA 1.20110928 1.10798542 0.965914126 0.191843665 22 TCID 3.37048127 0.83215738 1.016559933 1.193362255 23 TSPC 1.09661865 0.27603991 0.889655197 0.834572832 24 ULTJ 0.91504572 1.88752491 0.999001784 1.840020005 25 UNVR 1.13055615 0.5803224 0.630167885 0.595216843 Basic Industry and Chemical (Industri Dasar dan Kimia) 26 EKAD 0.92828019 0.61602986 1.025101584 0.365263592 27 INCI 0.87348681 1.62588584 0.85646349 0.172678302 28 JPRS 2.74791824 1.91972885 2.411099893 0.885552152 29 LION 0.16732273 0.14556473 1.17067724 1.876950685 30 LMSH 7.31874721 9.87423894 0.227696645 1.348595663 31 SMGR 0.82282671 0.81536592 0.967588487 1.633776951 32 UNIC 1.04557056 0.86163853 0.938085984 0.978664073
  • 129. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 129 Tabel 4: Return on Equity 32 Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2003– 2006) No Kode Return on Equity 2003 2004 2005 2006 Miscellaneous Industry (Aneka Industri) 1 ACAP 2.1832853 1.6855542 0.1135274 0.17695245 2 AUTO 1.1522311 1.2008295 0.1727604 0.15956794 3 BATA 1.752253 1.0959972 0.2267904 0.20076669 4 BRAM 1.6186872 0.8713702 0.116359 0.05968634 5 GDYR 1.9778738 0.608136 0.0614906 0.08733977 6 KOMI 1.1817082 1.5683474 0.0683386 0.15265214 7 PBRX 1.1146708 1.6520313 0.0792701 0.10680298 8 PRAS 2.5978865 4.4989593 0.104572 0.09592513 9 SMSM 1.6750356 1.7299396 0.1340462 0.16718577 Consumer Goods (Industri Barang Konsumsi) 10 AQUA 0.8976419 0.7524285 0.2344861 0.25850677 11 DLTA 2.5115645 1.1686112 0.1175923 0.1095044 12 DNKS 2.9237282 0.6955553 0.3181576 0.33512654 13 GGRM 1.1084592 0.9358569 8.714E-05 7.6331E-05 14 HMSP 1.4310506 1.3403629 0.1379561 0.40989416 15 INDF 1.1641825 0.2191371 0.1474106 0.08882792 16 KLBF 1.506814 1.5654314 0.3895066 0.30539472 17 MERK 1.2267096 1.2558649 0.317111 0.3716269 18 MLBI 11.009097 0.6540262 0.3362766 0.32642262 19 MRAT 1.7521203 1.5841666 0.0468242 0.05311253 20 MYOR 1.1651164 1.2372389 0.1051953 0.09790891 21 SHDA 0.91891 1.2862685 0.225749 0.17767666 22 TCID 1.309348 2.4981246 0.1813979 0.20740758 23 TSPC 1.0364755 1.2618301 0.2071747 0.1894887 24 ULTJ 1.4411089 1.5576399 0.0133487 0.00545013 25 UNVR 1.1498959 0.4843421 0.6187605 0.63937616 Basic Industry and Chemical (Industri Dasar dan Kimia) 26 EKAD 5.0722342 0.5815641 0.0872129 0.0835291 27 INCI 3.7292711 0.8652346 0.0552362 0.07709704 28 JPRS 1.2548477 0.2345947 0.1776631 0.48003903 29 LION 1.1163678 0.1256643 0.1206504 0.19544263 30 LMSH 2.5550345 0.8961113 0.2081161 0.37169971 31 SMGR 1.3655895 1.4881696 0.1117378 0.14222383 32 UNIC 0.890361 0.6715149 0.0744554 0.15268285Deskripsi Data Penelitian Analisa dilakukan sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan. Data yang diujimeliputi, laba bersih setelah pajak dan modal sendiri selama periode 2003, 2004, 2005 dan2006. Data tersebut untuk melihat return on equity (ROE) sebagai variabel dependent (Y),debt to ratio (X1) dilihat dari total hutang dan total aktiva perusahaan selama periode 2003,2004, 2005 dan 2006 (variable independent), sedang untuk debt to equity ratio (X2) dilihatSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 130. 130 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010dari proposi total hutang dan total modal sendiri selama periode pengamatan (variableindependent). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yangterdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2003 sampai dengan 2006 yang berjumlah32 perusahaan. Data dalam penelitian ini merupakan pooling data dengan periode waktu2003 sampai dengan 2006 sehingga dari 32 sampel perusahaan diperoleh 128 pengamatan(observasi) yaitu 32 perusahaan dikalikan dengan periode waktu 4 tahun pengamatan. Padatabel 4.4.di bawah ini dapat dilihat statistic deskriptif dari data penelitian: Tabel 5. Statistik Deskriptif Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Debt to Ratio 128 .1472512 6.8472702 1.383117822 1.243504093 Debt to Equity 128 .1455647 12.81547 1.830363514 2.150000616 Return on Equity 128 .0000763 11.00910 .887930613 1.267504442 Valid N (listwise) 128 Berdasarkan table di atas dapat dilihat nilai terendah, tertinggi dan rata-rata darivariabel yang diteliti dengan 128 observasi. Debt to ratio terendah 0,1472512 atau 14,725%oleh perusahaan PT. Intan Wijaya Chamical Industry Tbk (INCI) yaitu pada tahun 2006,tertinggi 6,8472702 atau 684,727% dimiliki oleh perusahaan PT. Tempo Scan Pacifik Tbk(TSPC) pada tahun 2003 dan rata-rata debt to ratio adalah 1,3831178 atau 138.312%dengan standar deviasi 1,243504093 atau 124,35%. Debt to equity ratio terendah 0,145564atau 14,556 % dimiliki oleh perusahaan PT. Lion Metal Works Tbk (LION) pada tahun2004, tertinggi 12, 81547 atau 1281,547% dimiliki oleh perusahaan PT. Delta Djakarta Tbk(DLTA) pada tahun 2003 dan rata-rata Debt to equity ratio 1,830363514 atau 183,0364%dengan standar deviasi 2,1500006 atau 215,00006%. Untuk return on equity terendah0,0000763 atau 0,076% di miiki oleh perusahaan PT. Gudang Garam Tbk (GGRM) padatahun 2006, tertinggi 11,00910 atau 1100,91% dimiliki oleh perusahaan PT. Multi BintangIndonesia Tbk (MLBI) pada tahun 2003 dan rata-rata return on equity sebesar 0,887930613atau 88,793% dengan standar deviasi 1,26754442 atau 126,7544%. Penelitian ini akanmembahas mengenai pengaruh debt to ratio dan debt to equity ratio terhadap return onequity yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta(BEJ).Hasil Pengujian Asumsi Klasik Dengan menggunakan regresi linier berganda pada pembahasan analisa data, makadilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu. Uji asumsi klasik ini dilakukan untukmengetahui apakah model estimasi yang digunakan memenuhi asumsi regresi linier klasik.Dimana dalam penelitian ini ada 3 jenis asumsi klasik yang digunakan yaitu:a. Uji Normalitas Asumsi klasik yang pertama diuji adalah normalitas. Uji ini dilakukan untukmengetahui normalitas variabel pengganggu (residual). Regresi linier normal klasik
  • 131. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 131mengasumsikan bahwa ± (residual) didistribusikan secara normal. Untuk 2 variabel yangdidistribusikan secara normal, µ dan µ tidak hanya tidak berkorelasi tetapi jugadidistribusikan secara independent (Gujarati, 1999 : 166). Residual variabel yangterdistribusi normal akan terletak di sekitar garis horizontal (tidak terpencar jauh dari garisdiagonal). Berdasarkan dari gambar normal partial regresi plot di bawah ini menunjukkansebaran standarrized residul berada dalam kisaran garis diagonal, ini menandakan bahwadata terdistribusi secara normal. Jadi persyaratan normalitas bisa dipenuhi. Gambar 6. Uji Normalitas Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Return on Equity 1.00 .75 .50 Expected Cum Prob .25 0.00 0.00 .25 .50 .75 1.00 Observed Cum Probb. Pengujian Multikolinearitas Multikolinearitas berarti adanya hubungan yang kuat antara beberapa variabel atausemua variabel independen dalam model regresi. Untuk menguji ada tidaknyamultikolinearitas di antara variabel independen maka digunakan nilai Varian InflatingFactor (VIF) dan nilai tolerance. Bila nilai tolerance < 0,10 atau nilai VIF > 10 makaterjadi multikolinearitas. Bila nilai tolerance > 0,10 atau nilai VIF < 10 makamultikolinearitas ditolak. Berdasarkan tabel di bawah ini nilai VIF untuk masing-masing variabel independensebesar 1,087 dengan nilai tolerance sebesar 0,920 ini menunjukkan bahwa tidak adanyakolerasi yang cukup kuat antara sesama variabel independen. Dimana nilai VIF lebih kecildari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10 maka dapat disimpulkan tidak terdapatmultikolinearitas diantara variabel independen. Tabel 7. Uji Multikolinearitas Variabel Independen Tolerance VIF Keterangan Debt to Ratio (X1) 0,920 1,087 Non multikolinearitas Debt to Equity Ratio (X2) 0,920 1,087 Non multikolinearitas Sumber: Data Primer, (diolah)STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 132. 132 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010c. Pengujian Autokolerasi Penjelasan buku Gujarati (1999:201) yaitu serangkaian observasi yang menurutwaktu (seperti dalam deretan waktu) atau ruang untuk mengetahui apakah autokolerasiterdapat dalam kejadian tertentu yaitu dengan menggunakan test Durbin-Watson (DW).Dasar pengambilan keputusan dalam uji autokolerasi adalah jika du < d < 4-du maka tidakada serial autokolerasi baik positif maupun negatif dari model regresi. Tabel 8. Uji Autokorelasi Model Summaryb M Change Statistics o Adjusted Std. Error R d R R of the Square F df Sig. F Durbin- el R Square Square Estimate Change Change 1 df2 Change Watson 1 .614a .377 .367 1.0085098 .377 37.803 2 125 .000 1.810 a. Predictors: (Constant), Debt to Ratio, Debt ro Equity b. Dependent Variable: Return on Equity Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada tingkat signifikan 5% nilai d (DW) untuk128 observasi dari 2 variabel yang menjelaskan dan termasuk dalam intersep adalah du(batas atas) = 1,66 dan 4-du adalah sebesar 2,34. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel4.7. menunjukkan d = 1,810 sehingga (1,66 < 1,810 < 2,34), dengan demikian tidakterdapat autokolerasi positif dan negatif dalam model penelitian, yang berarti tidak terdapatautokolerasi baik positif maupun negatif.PEMBAHASANHasil Pengujian Regresi Linier Berganda Dalam upaya mengetahui pengaruh debt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2)terhadap Return On Equity (Y), maka dapat digunakan regresi linier berganda.Berdasarkan lampiran 3 pengaruh masing-masing variabel independent terhadap variabeldependen secara terinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 9: Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen Nama Variabel B Standar Thitung Ttabel Sig Error Konstanta (a) -0,080 0,143 -0,558 1,9787 0,578 Debt to Ratio (X1) 0,499 0,075 6,657 1,9787 0,000 Debt to Equity Ratio (X2) 0,151 0,043 3,483 1,9787 0,001 Koefisien Kolerasi (R) 0,614a a. Predictor : (constant): Debt to Koefisien Determinasi 0,377 Ratio, Debt to Equity (R2)/R square b. Dependent variable: ROE Adjusted (R2) 0,367 F hitung 37,803 F tabel 3,067 Sig 0,000a
  • 133. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 133 Dari hasil perhitungan statistik dengan menggunakan bantuan program SPSS(statistical package for social sciences) seperti terlihat pada tabel di atas, maka diperolehpersamaan regresi linear berganda sebagai berikut: Y = -0,080 + 0,499X1 + 0,151X2 + E Dari persamaan regresi di atas dapat diketahui hasil penelitian sebagai berikut:• Koefisien kolerasi (R) : 0,614a yang menunjukkan derajat hubungan (kolerasi) antara variabel independen dengan variabel dependen sebesar 61,4%. Artinya ROE (Y) mempunyai hubungan yang signifikan dengan faktor debt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2), karena diperoleh nilai koefisien kolerasi lebih besar dari 0,5 atau 50%.• Koefisien determinasi atau R square (R2) sebesar 0,377 (adalah pengkuadratan dari koefisien korelasi artinya sebesar 37,7% perubahan-perubahan dalam variabel dependen (ROE) dapat dijelaskan oleh perubahan-perubahan dalam faktor debt to ratio(X1) dan debt to equity ratio(X2). Sedangkan sisanya (100% - 37,7% = 62,3% ) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yaitu time interest earned ratio dan fixed charge coverage. R square berkisar pada angka 0 sampai 1, dengan catatan semakin kecil angka R square, semakin lemah hubungan kedua variabel begitu sebaliknya semakin besar R square mendekati 1 semakin kuat hubungan kedua variabel. Hal ini menunjukkan bahwa debt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap (ROE) pada beberapa perusahaan yang dijadikan sampel.• Koefisien regresi (B): Konstanta sebesar -0,080, Artinya jika faktor-faktor debt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2) dianggap konstan, maka besarnya tindakan ROE sebesar -8%• Koefisien regresi debt to ratio (X1) sebesar 0,499 Artinya setiap penambahan satu tahun debt to ratio, maka secara relatif akan meningkatkan hasil pengembalian ROE sebesar 49,9%. Jadi semakin lama perusahaan berdiri, maka akan semakin meningkat pengembaliannya (ROE).• Koefisien regresi debt to equity ratio (X2) sebesar 0,151 Artinya setiap 100% perubahan debt to equity ratio, maka secara relatif akan menurunkan tingkat pengembalian ROE sebesar 15,1%. Jadi dengan adanya debt to equity ratio, maka akan menurunkan hasil pengembalian ROE.Hasil Uji Statistik secara Simultan (Uji-F) Untuk menguji apakah debt to ratio dan debt to equity ratio berpengaruh terhadapROE pada perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Jakarta digunakan uji Fstatistik seperti tampak pada tabel di bawah ini:STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 134. 134 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 10. Pengujian Hipotesis secara Simultan ANOVA b Sum of Model Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 76.898 2 38.449 37.803 .000a Residual 127.136 125 1.017 Total 204.034 127 a. Predictors: (Constant), Debt to Equity, Debt to Ratio b. Dependent Variable: Return on Equity Berdasarkan hasil pengujian secara simultan diperoleh nilai Fhitung sebesar 37,803dengan tingkat signifikansi/probabilitas sebesar 0,000 (lebih kecil dari α = 0,05). Nilai iniakan dibandingkan dengan nilai Ftabel pada tingkat kepercayaan 95%. Dari tabel F untuksignifikansi ( α ) = 5% dan derajat bebas (2,125) adalah sebesar 3,0687, karena Fhitung >Ftabel atau (37,803) > (3,0687), dengan tingkat signifikansi/probabilitas maka hipotesisaltenatif (Ha) yang diajukan dapat diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak. Artinya dengantingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan daridebt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2) secara simultan terhadap ROE padabeberapa perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan keduavariabel independen tersebut memiliki hubungan satu sama lain. Perusahaan yang telahlama berdiri atau beroperasi akan dapat menarik minat investor atau kreditor untukmelakukan investasi.Hasil Pengujian Statistik Secara Partial (Uji-t)Pengaruh Debt to Ratio terhadap ROE Untuk menguji faktor-faktor yang mempunyai pengaruh terhadap ROE secaraparsial (masing-masing variabel) dapat dilihat dari hasil uji-t. Hasil perhitungan inidiperlihatkan pada tabel di bawah ini. Tabel 11. Pengujian Hipotesis secara Parsial Coefficients a Standardi zed Unstandardized Coefficien Collinearity Coefficients ts Statistics Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF 1 (Constant) -8.0E-02 .143 -.558 .578 Debt to .499 .075 .490 6.657 .000 .920 1.09 Ratio Debt to .151 .043 .256 3.483 .001 .920 1.09 Equity a. Dependent Variable: Return on Equity
  • 135. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 135 Hasil penelitian terhadap variabel dari debt to ratio (X1) menunjukkan bahwasignifikansi/probabilitas sebesar 0,000 (lebih kecil dari α = 0,05) maka Ha diterima danmenolak Ho. Kesimpulan yang sama juga didapat dengan membandingkan nilai thitungdengan ttabel. Dimana thitung (6,657) lebih besar dari ttabel (1,9787) yang berarti Ha diterimadan Ho ditolak. Dengan demikian hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa secaraparsial variabel debt to ratio (X1) berpengaruh terhadap ROE. Berpengaruhnya faktor debtto ratio (X1) terhadap ROE karena debt to ratio (X1) dapat mencerminkan seberapa jumlahhutang yang dijamin oleh aktiva perusahaan untuk bertahan dalam lingkungannya. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap ROE Berdasarkan tabel 4.10. hasil penelitian terhadap variabel dari debt to equity ratio(X2) menunjukkan bahwa signifikansi/probabilitas sebesar 0,001 (lebih kecil dari α = 0,05)maka Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan yang sama juga didapat denganmembandingkan nilai thitung dengan ttabel. Dimana thitung (3,483) lebih kecil dari ttabel (1,9787)yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hasil perhitungan statistikmenunjukkan bahwa secara parsial variabel debt to equity ratio (X2) berpengaruh secarasignifikan dan positif terhadap ROE, atau dengan kata lain semakin besar debt to equityratio maka rasio ROE juga akan semakin besar. Berpengaruhnya debt to equity ratio (X2)terhadap ROE dapat mencerminkan tingkat resiko perusahaan yang ditanggung denganketergantungan modal perusahaan terhadap pihak luar.PENUTUPKesimpulan.1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa financial leverage yaitu debt to ratio (X1) dan debt to equity ratio (X2) mempunyai pengaruh yang signifikan positif terhadap ROE.2. Pada model regresi yang digunakan untuk membuktikan hipotesis menunjukkan bahwa debt to ratio (X1= 0.499) dan debt to equity ratio (X2 = 0.151) secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ROE.3. Pengujian secara parsial untuk empat tahun pengamatan menunjukkan bahwa debt to ratio (X1= 6.657) dan debt to equity ratio (X2 = 3.483) mempunyai pengaruh terhadap ROE artinya semakin besar proporsi utang perusahaan (debt to ratio X1 dan debt to equity ratio X2 maka rasio ROE juga semakin besar.Saran1. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan keempat pengukuran financial leverage yang akan mempengaruhi ROE tersebut.2. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan sample yang lebih luas. Hal ini dimaksudkan agar kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tersebut memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya pada perusahaan manufaktur saja.3. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan rentang waktu yang lebih lama agar hasilnya dapat lebih menggambarkan kondisi yang ada dan memberikan hasil yang lebih baik.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  • 136. 136 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mempunyai keterbatasan. Berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasanyang ada antara lain sebagai berikut:1. Rentang waktu data yang digunakan kurang optimal yaitu hanya 4 tahun pengamatan yaitu dari periode 2003 sampai 2006.2. Sampel pada penelitian ini dibatasi hanya pada perusahaan manufaktur saja, sehingga tidak dapat dilakukan generalisasi untuk semua jenis industri.DAFTAR PUSTAKAGie, Kwik Kian (1999) Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Gitosudarmo, H. Indriyo (2001) Manajemen Strategis, Penerbit BPFE UGM, Yogyakarta.Hanafi, Mamduh dan Halim Abdul (2005) Analisis Laporan Keuangan, Penerbit Unit Penerbitan dan Percetakan AMP – YKPN, Yogyakarta.Harahap, Sofyan Safri (2002) Analisis Atas Laporan Keuangan, penerbit PT. Radja Grafindo Persada, Jakarta.Helfert, Erich A (1997) Teknik Analisis Keuangan, Penerbit PT. Erlangga, Jakarta.Husnan, Suad (1998) Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, Penerbit BPFE UGM, Yogyakarta.Indiantoro, Nur dan Bambang Supomo (2002) Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Penerbit BPFE-UGM, Yogyakarta. Kasmir (2003) Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Muslich, Muhammad (2003) Manajemen Keuangan Modern, Analisis Perencanaan dan Kebijaksanaan, Penerbit PT. Bumi Aksara, Jakarta.Prawirosentono, Suyadi (2002) Pengantar Ekonomi Modern, Penerbit PT. Bumi Aksara, Jakarta.Riyanto, Bambang (1994) Manajemen pembelanjaan, Penerbit PT. Erlangga, Jakarta.Sawir, Agnes (2003) Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Syamsuddin, Lukman (2002) Manajemen Keuangan Perusahaan, Konsep Aplikasi dalam Perencanaan Pengawasan dan Pengambilan Keputusan, Penerbit PT. Radja Grafindo Persada, Jakarta.Undang-undang Pasar Modal Bab. 28, Instrumen Keuangan Derivatif.Gujarati, Damodar (1999) Ekonometika Dasar, Terjemahan, Penerbit PT. Erlangga, Jakarta

×