Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   1       DAMPAK PROGRAM DANA BERGULIR BRR NAD–NIAS...
2       Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010PENDAHULUAN         Dampak bencana gempa dan tsunami telah m...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   3manfaat, rendahnya kualitas SDM pengelola dana, ...
4       Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Usia Pekerja       Penelitian Arya dan Antara (1993) menyata...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   5Teknik Pengumpulan Data       Data yang digunaka...
6       Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 20102. Frekuensi Dana bantuan Diterima adalah banyaknya dana ter...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   7   Tabel 1: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima ...
8       Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010   Tabel 2: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima Manfaat Sebe...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   9   Tabel 3: Hasil Regresi Parsial Model Pendapat...
10      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010serius di dalam model maka pengaruh masing-masing variabel b...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   11KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1. Penerima manfa...
12      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010     dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia L...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   13Harun, Tommy. 1997. Faktor-faktor yang Mempenga...
14      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010            THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE ON      ...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   15INTRODUCTIONTechnology has created new informat...
16      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010it provides. ePerolehan converts traditional manual procurem...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   17particular situations and control the behavior ...
18      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010done electronically, through the Internet, from the desktop....
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   19organizational members to understand a new way ...
20           Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010A summary of these four dimensions is provided in Table...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   21     Orientation to     change      Orientation...
22      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010C. McPhee, A. Eberlein, Requirements engineering for time-to...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   23M.C. Jones, The role of organizational knowledg...
24       Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010     Abstrak: ANALISIS TERHADAP PERATAAN LABA: STUDY EMPIRI...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   25PENDAHULUAN        Laporan keuangan merupakan s...
26      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Tujuan dan Kegunaan Penelitian       Adapun tujuan dari pene...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   27Hubungan Bonus Plan dengan Perataan laba       ...
28      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010angka tersebut (Husnan, 2005:328). Bagi investor, informasi ...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......                 29       Definisi Variabel Peneliti...
30      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010       Hasil pengujian regresi logistik dapat dilihat pada T...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   311. Penggunaan model Indeks Eckel (1981) yang mu...
32      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Apristyana, Liza (2007), Pengaruh Total Aktiva, ROI, ROE, da...
Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan......   33Mawarti, Yuliana (2007) Pengaruh Income Smoothi...
34      Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010       KOMITMEN PEKERJA DITINJAU DARI KUALITAS HUBUNGAN     ...
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
No. 2-mei-2010
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

No. 2-mei-2010

5,565

Published on

Published in: Economy & Finance, Technology
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
5,565
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "No. 2-mei-2010"

  1. 1. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 1 DAMPAK PROGRAM DANA BERGULIR BRR NAD–NIAS MELALUI KOPERASI DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PENERIMA MANFAAT DI PROVINSI ACEH M. HaykalAbstract: The objective of this research is to identify factors explaining an increase inbeneficiaries’ income as an impact of revolving fund program of Badan Rehabilitasi andRekontruksi (BRR) of Aceh and Nias through micro-finance enterprises and cooperatives inAceh Province. Data utilized in this study were collected from various sources rangingfrom direct interview with related respondents and agencies to detailed analysis onfinancial reports of cooperative and micro-finance enterprises. Descriptive and linearregression method are carried out to quantify the impact of the BRR’s revolving fund onbeneficiaries’ income. Besides, the statistical technique is designated as a tool to elaboratehow dependent and independent variables interacts one another. The distribution ofrevolving fund has a positive impact upon beneficiaries’ income. The magnitude of impactof BRR’s revolving fund on beneficiaries’ average income is considerably higher than thatbefore fund distributed. By undertaking a paired test, there existed a 82.09 percent value ofcorrelation. Partial correlation test also showed that positive impact occurred afterbeneficiaries utilized the fund to support their economic activities. Since the revolving fundhas a key role in helping the people to improve their welfare, local government isencouraged to deliver continuously the fund to the poor as a measure to boost theirincomes. However, fund receivers must have been equipped with sufficient managerialskills to make use of the fund efficiently and effectively.Keywords: income education, age, and working hours____________________________________________________________________ M. Haykal, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  2. 2. 2 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010PENDAHULUAN Dampak bencana gempa dan tsunami telah membawa sebagian besar masyarakatProvinsi Aceh (NAD) dan Kepuluan Nias Sumatera Utara kehilangan mata pecaharian.Kondisi ini tidak dapat segera dipulihkan. Demikian juga sarana dan prasarana ekonomimenjadi rusak atau bahkan hilang sama sekali. Dampak terparah dirasakan oleh paranelayan dan sektor perikanan. Oleh karena itu, program bantuan sosial kepada masyarakatpada dasarnya merupakan amanah untuk menanggulangi kondisi dari kenyataan yangdisebutkan di atas, sekaligus sesuai dengan amanah “Blue Print” Pembangunan MasyarakatNAD dan Nias, yang harus dilakukan oleh BRR–Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Badan ini dibentuk dengan Keppres No 63 Tahun 2005 dan Undang-UndangNomor 10 Tahun 2005 yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan kembali Acehdan Nias pasca Gempa Bumi dan Tsunami 26 Desember 2004, dan Gempa 28 Maret 2005yang melanda Aceh dan Nias. Bidang Ekonomi dan Usaha BRR mempunyai kegiatandalam bidang pemulihan aset produktif dan microfinance, sistem pendukung usaha danmicrofinance, pengembangan usaha rumah tangga dan kelompok usaha, dan kegiatanlainnya dalam mendukung pemulihan ekonomi Aceh dan Nias pasca bencana. Data memperlihatkan bahwa betapa besarnya kerusakan akibat gempa bumi dantsunami, antara lain 130.000 jiwa meninggal dunia, 37.000 jiwa hilang, 500.000kehilangan tempat tinggal, sekitar 100.000 usaha kecil dan menengah kehilangan matapencahariannya, diperkirakan lebih dari USD 2,1 miliar sektor produktif mengalamikerusakan, 5 persen proyeksi penurunan ekonomi Aceh, 20 persen proyeksi penurunanekonomi di Nias, 32 persen pendapatan perkapita menurun, 5.176 UMKM rusak/hancur,7.529 warung usaha rusak/hancur, 1.191 restoran rusak/hancur, 25 unit bank umumrusak/hancur, 4 unit BPR rusak/hancur, 20 Lembaga Keuangan Mikro rusak/hancur, dan195 pasar rusak/hancur (BRR Renstra 2005-2009). Program pemberdayaan ekonomi dan pengembangan usaha telah banyakdilakukan oleh BRR, antara lain melalui Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dengansistem dana bantuan (revolving fund) yang disalurkan melalui BRR Satker Koperasi danUsaha Kecil Menengah kepada Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro dalam rangkapemberdayaan usaha kecil dan menengah. Secara umum program dana bantuan bertujuanuntuk (1) meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan, (2) meningkatkan volume usahakoperasi dan UKM, (3) meningkatkan penyerapan tenaga kerja, (4) meningkatkansemangat berkoperasi, (5) meningkatkan pendapatan anggota dan (6) membangkitkan etoskerja. Program dana bantuan yang dikembangkan BRR NAD–Nias sampai saat adabeberapa sumber, pada Tahun Anggaran 2005/2006-Luncuran dan 2006 BRR SatkerKoperasi dan Usaha Kecil Menengah telah membina sebanyak 146 LKM dengan jumlahdana yang telah disalurkan mencapai Rp 124,009,279,000,- miliar yang masing-masingLKM menerima dana berkisar antara Rp 410 juta sampai dengan Rp 2,03 miliar. Dari 146LKM yang telah dibina sebagian besar bantuan dana bantuan disalurkan kewilayah yangmengalami musibah Tsunami. Program dana bantuan yang diamati dan dibahas dalam tulisan ini adalah programdana bantuan yang bersumber dari BRR NAD–Nias. Program dana bantuan ini diaturdalam beberapa petunjuk teknis yang berkaitan dengan dana bantuan untuk pengembanganusaha koperasi dan lembaga keuangan mikro. Berbagai permasalahan muncul dalamprogram ini, seperti tidak tepat sasaran penentuan LKM dan koperasi pengelola, penerima
  3. 3. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 3manfaat, rendahnya kualitas SDM pengelola dana, tidak tersedianya laporan keuangan(sesuai yang diharapkan), bahkan sebagian dari dana tersebut diselewengkan oleh penguruskoperasi. Efektifitas dari program ini sangat diragukan, hal ini dapat dilihat dari sebagianbesar dari LKM belum transparan dan akuntabel, dan jeleknya persepsi masyarakatterhadap koperasi (Hasil Evaluasi Dewan Pengawas BRR NAD–Nias tahun 2008).Kenyataan yang didapat tersebut mengundang banyak pertanyaan diantaranyakemungkinan program tersebut kurang tepat sasaran, atau tidak adanya kelanjutan dariprogram tersebut. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada Dampak Program Danabantuan BRR NAD–Nias Melalui Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro TerhadapPeningkatan Pendapatan Masyarakat Penerima Manfaat di Provinsi Aceh Darussalam.TINJAUAN PUSTAKAPendapatan Data mengenai pendapatan yang diperoleh rumahtangga sangat sulit diperoleh,sehingga biasanya data pendapatan didekati melalui data pengeluaran rumahtangga. Suaturumahtangga yang pengeluaran per kapitanya di bawah garis kemiskinan makadikatagorikan miskin (berpendapatan rendah). Penentuan yang digunakan BPS iniberdasarkan pada standar kecukupan pangan setara 2100 kilo kalori per kapita per hari(Widya Karya Pangan dan Gizi, 1978), ditambah dengan kebutuhan minimum bukanmakanan (nonmakanan). Komponen kebutuhan nonmakanan antara lain kebutuhanperumahan (sewa rumah, pemeliharaan rumah, bahan bakar, penerangan, air, fasilitasjamban, perlengkapan mandi), sandang (pakaian dan alas kaki), pendidikan (seperti iuranSPP dan BP3, buku pelajaran, alat tulis), kesehatan (berobat sendiri, berobat ke Puskesmas,berobat ke dokter/mantri kesehatan), transportasi/ongkos angkutan, rekreasi, kasur, bantal,sapu, pisau, kompor, periuk, pajak bumi bangunan, dan kebutuhan dasar nonmakananlainnya (BPS:2000).Tingkat Pendidikan Data yang ada membuktikan bahwa pendidikan memang memiliki pengaruh yangpositif terhadap promosi pertumbuhan ekonomi. Tersedianya tenaga kerja terampil danterdidik sebagai syarat penting berlangsungnya pembangunan ekonomi secaraberkesinambungan tidak perlu diragukan lagi. Adanya korelasi positif antara tingkatpendidikan seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya seumur hidup. Mereka yangberpendidikan sekolah menengah keatas mempunyai penghasilan 300-800 persen lebihtinggi daripada pekerja yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau dibawahnya (Todarodan Smith, 2003:458).Jam Kerja Berdasarkan Konsep Ketenagakerjaan (The Labour Force Concept) ILO seseorangdapat digolongkan sebagai pekerja penuh atau setengah penganggur berdasarkan jamkerjanya. Mereka yang bekerja 35 jam per minggu keatas digolongkan sebagai pekerjapenuh, sedangkan yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dikatagorikan sebagaisetengah penganggur (BPS, 2004).STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  4. 4. 4 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Usia Pekerja Penelitian Arya dan Antara (1993) menyatakan bahwa usia berpengaruh terhadapproduktivitas tenaga kerja dan dalam batas-batas tertentu, semakin bertambah usiaseseorang, semakin produktif tenaga kerja yang dimiliki (dalam Diliana, 2005).Lebih lanjutBecker (1993) menguraikan bahwa produktivitas marjinal dari mereka yang menerimatambahan pendidikan (pelatihan kerja, sekolah, dan tambahan pengetahuan lainnya) jugatergantung pada faktor usia. Tingkat pendapatan akan lebih banyak meningkat padagolongan usia muda daripada usia tua. Selama masa pelatihan pendapatan yang diterimaakan lebih rendah daripada marjinal produk dan sesudah masa pelatihan.Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan dan hasil penelitian sebelumnya dapatdiajukan hipotesis pada penelitian ini adalah : 1. Program dana bantuan BRR NAD – Nias berdampak positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat di Provinsi Aceh. 2. Faktor–faktor pendidikan, jam kerja, umur dapat menjelaskan peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat sebelum program. Jumlah dana, jam kerja, pendidikan, jumlah dana bantuan, umur dan menerima dana dari sumber lain selain BRR dapat menjelaskan pendapatan penerima manfaat setelah program dana bantuan BRR NAD–Nias di Provinsi Aceh.METODE PENELITIANRuang Lingkup Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) denganmemilih sebanyak 11 kabupaten dari 23 kabupaten yang mendapat bantuan progaram danabantuan. Penelitian ini dilakukan pada koperasi dan LKM binaan BRR NAD-Nias tahunanggaran 2005 dan 2006 di 11 Kabupaten/Kota dalam wilayah NAD.Teknik Penarikan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat penerima program bantuan danabantuan BRR NAD - Nias Tahun Anggaran 2005 dan Tahun Anggaran 2006. Teknikpengambilan sampel dilakukan dengan cara two stage cluster random sampling, yaitupengambilan sampel yang dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah yang menjadiobjek penelitian ini. Sesuai dengan masalah yang ingin dibahas dan mengingat keterbatasan waktu,tenaga dan biaya, maka pemilihan responden untuk menjadi responden dari populasi yangada ditentukan secara two stage cluster random sampling. Nazir (2003: 315)mengemukakan bahwa dalam two cluster random sampling tidak semua unit elimenterdalam Primary Sampling Unit (PSU) digunakan. Akan tetapi ditarik lagi sample dari tiap-tiap PSU dengan sampling fraction yang berimbang dengan jumlah anggota atau unitelimenter dalam tiap PSU. Pengambilan sampel dengan metode ini dianggap cukup untukmewakili populasi yang akan diteliti.
  5. 5. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 5Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.Data Primer diperoleh dari wawancara dengan penerima manfaat. Sedangkan data sekunderdiperoleh melalui laporan keuangan koperasi/LKM, data pendukung lainnya dari BRRSatker Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Laporan Dewan Pengawas BRR NAD-Nias.Model Analisis Dalam menganalisa dampak Program Dana bantuan BRR NAD–Nias melaluiKoperasi dan LKM data yang telah terkumpul, terlebih dahulu ditabulasi dan kemudiandiolah dengan menggunakan rumusan secara deskriptif melalui analisa cross tab, uji bedadua rata-rata dan uji statistik secara parsial melalui linear by linerar association danpearson’s R. Sementara untuk mengetahui besarnya kemampuan variabel bebas dalammenjelaskan pendapatan usaha kepala keluarga penerima manfaat sebagai variabeldependen (Y) dihitung dengan model regresi linear berganda, yaitu sebagai berikut :Yi = f (dana bantuan, jamkerja, dik, FB, umur, dummy)Ln Yi = β0+β1 Lndana + β2 Lnjamkerja + β3 Lndik + β4 LnFB + β5 Lnumur +β6Lndummy+ εiDimana : Y : Pendapatan usaha KK Penerima Manfaat sebelum dan sesudah (Rp.) dana : jumlah dana bantuan yang diterima terakhir (Rp) jamkerja : Jam Kerja (jam) dik : Lama Pendidikan Penerima Manfaat (tahun) FB : Frekuensi dana bantuan diterima (kali) umur : Umur Penerima Manfaat (tahun) Dummy : Variabel dummy yang menerima dana bantuan lainnya (NGO, Pemda, dll = 1 ; tidak menerima bantuan lainnya = 0) β0 : Konstanta β1, β2, β3 …. β n. : Koefisien regresi εi : Faktor pengganggu (Error term). Yi : 1,2,3 1 = Pendapatan KK sebelum program 2 = Pendapatan KK sesudah program 3 = Pendapatan sesudah dikurangi pendapatan sebelum programDefinisi Operasional Variabel Adapun variabel yang digunakan sebagai bahan analisis dalam penelitian inidiartikan sebagai berikut:1. Program Dana bantuan adalah bantuan penguatan masyarakat ekonomi lemah dalam bentuk uang atau barang yang disalurkan melalui koperasi/LKM kepada masyarakat untuk peningkatan pendapatan masyarakat desa terutama masyarakat miskin, dengan sumber dana dari BRR NAD–Nias, yang diukur dengan satuan rupiah.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  6. 6. 6 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 20102. Frekuensi Dana bantuan Diterima adalah banyaknya dana tersebut mampu di gulirkan kepada masyarakat penerima manfaat, yang diukur dengan frekuensi penerimaan.3. Umur Penerima Manfaat adalah usia penerima maanfaat pada saat menerima dana bantuan untuk menjalankan kegiatan ekonomi keluarga, yang diukur dalam tahunan.4. Pendapatan usaha kepala keluarga adalah besarnya penghasilan yang diterima oleh kepala kelaurga dari usaha utama yang mereka kerjakan dan usaha ini pernah diberikan modal usaha oleh BRR NAD–Nias melalui lembaga keuangan mikro atau koperasi, yang diukur dalam satuan rupiah.5. Jam Kerja adalah jumlah waktu yang dialokasikan untuk melakukan kegiatan ekonomi produktif, dalam hal ini adalah waktu yang dihabiskan untuk mengelola usaha yang pernah mendapatkan modal usaha dari BRR NAD–Nias melalui LKM/koperasi, yang diukur dalam satuan jam.6. Lama pendidikan penerima manfaat adalah jenjang pendidikan yang ditempuh oleh penerima manfaat sebelum menerima dana bantuan BRR NAD–Nias, yang diukur dalam tahunan.7. Frekuensi penerimaan dana bantuan dari BRR NAD–Nias adalah banyaknya kucuran dana bantuan yang diterima oleh koperasi/LKM setiap tahunnya, yang diukur dalam satuan.8. Perkembangan Penerima Manfaat adalah selisih penerima manfaat sebelum dengan setelah penerimaan dana bantuan.9. Pendapatan Selisih adalah Pendapatan setelah program dikurangi dengan pendapatan sebelum program yang diukur dalam satuan rupiah.10. Menerima Bantuan Lainnya (Dummy) adalah bantuan yang diterima selain dari BRR NAD–Nias baik dari NGO maupun dari pemerintah.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANPendapatan Rata-rata pendapatan usaha penerima manfaat (laki-laki dan perempuan) sebelummenerima bantuan adalah Rp 2.275.863. Diantara mereka ada yang berpendapatan hanyaRp 200.000, sebaliknya disisi lain ada pula yang berpenghasilan hingga Rp 20 juta. Jikadikelompokkan menurut jenis kelamin, pendapatan usaha penerima manfaat pada kelompokperempuan rata-rata sebesar Rp 1.829.592 per bulan. Sedangkan kelompok laki-lakimemperoleh pendapatan lebih besar, yaitu Rp 2.459.622. Setelah penerima manfaatmemperoleh bantuan BRR NAD-Nias yang jumlahnya bervariasi, pada umumnya merekamemperoleh pendapatan yang lebih banyak sekitar Rp 625.000. Pendapatan penerimamanfaat kelompok perempuan rata-rata meningkat menjadi Rp 2.466.327 dan kelompoklaki-laki menjadi Rp 3.086.134. Pendapatan penerima manfaat pada umumnya meningkat setelah menerima bantuan.Peningkatan pendapatan terjadi pada penerima manfaat kelompok umur 60 tahun keatas.Kemudian pada kelompok umur setingkat di bawahnya (meningkat Rp 800 ribu), danberturut-turut hingga kelompok umur 30-39 tahun (naik Rp 162 ribu).
  7. 7. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 7 Tabel 1: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima Manfaat Sebelum dan Sesudah Menerima Bantuan BRR Menurut Kelompok Umur kelompok Jenis kelamin Total Periode umur Laki-laki Perempuan < 30 sebelum 1.613.333 362.500 1.350.000 sesudah 793.333 462.500 723.684 30-39 sebelum 1.153.276 1.150.000 1.152.317 sesudah 1.319.655 1.300.000 1.313.902 40-49 sebelum 1.815.957 1.710.000 1.784.328 sesudah 2.240.000 2.150.500 2.213.284 50-59 sebelum 2.730.769 2.460.000 2.613.043 sesudah 3.653.846 3.099.000 3.412.609 >= 60 sebelum 7.613.333 5.200.000 7.211.111 sesudah 9.766.667 7.500.000 9.388.889 sebelum 2.459.622 1.829.592 2.275.863 Total sesudah 2.936.555 2.325.510 2.758.333Sumber: Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Jam Kerja Penerima manfaat laki-laki umumnya bekerja lebih lama daripada penerima manfaatperempuan, masing-masing tercatat 8,22 jam dan 7,88 jam per hari. Hal ini terjadi bisaterjadi akibat peran ganda perempuan, yaitu disamping bekerja mencari pendapatan di luarrumah, ia juga harus melakukan kegiatan wilayah domestik untuk mengurus keluarganya.Lama Pendidikan Penerima Manfaat Lama pendidikan penerima manfaat rata-rata 9,49 tahun, berarti mereka telah lulussekolah lanjutan tingkat pertama (SMP) atau telah lulus pendidikan dasar 9 tahun. Antaralaki-laki dan perempuan hampir sama masing-masing 9,38 tahun dan 9,76 tahun. Jikaseorang penerima manfaat hanya menamatkan sekolah dasar, rata-rata pendapatan yang iaperoleh setelah menerima bantuan sebesar Rp 2,057 juta. Jika ia menamatkan SMA,pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 3,2 juta. Andaikan ia menamatkan pendidikanhingga perguruan tinggi, ia dapat menghasilkan pendapatan Rp 5,2 juta setelah menerimaprogram bantuan.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  8. 8. 8 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Tabel 2: Rata-rata Pendapatan Usaha Penerima Manfaat Sebelum dan Sesudah Menerima Bantuan BRR Menurut Tingkat Pendidikan Pendapatan Rata-Rata Pendidikan Sebelum Sesudah Total Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan SD 2.079.865 845.000 2.270.270 1.270.000 1.616.284 SMP 1.976.857 1.405.000 2.505.714 1.802.500 1.922.518 SMA 2.244.643 2.080.000 3.244.643 3.080.000 2.662.322 Sarjana 4.405.263 3.588.889 5.510.526 4.588.889 4.523.392 Total 2.676.657 1.979.722 3.382.788 2.685.347 2.681.129Sumber: Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Analisis Regresi Jika dilihat dari nilai koefisien determinasi, maka sekitar 74,7 persen variasi daripendapatan penerima manfaat sesudah mendapatkan bantuan dapat dijelaskan oleh modelini. Sedangkan sekitar 25 persen lainnya dipengaruhi oleh variabel lain. Jika dilihat secaraparsial setiap variabel bebas, hasil pengujian menunjukkan bahwa setiap variabel yangdiduga mempengaruhi pendapatan penerima manfaat setelah memperoleh bantuan. Semuavariabel tersebut dengan nyata mampu menjelaskan terhadap pendapatan penerima manfaat(Tabel 4.2). Variabel jumlah dana yang diterima misalnya, variabel ini paling besarpengaruhnya terhadap pendapatan sesudah menerima bantuan. Hal ini juga diperkuat olehuji hubungan dan kekuatan hubungan itu. Lebih jauh secara teoritis, jika modal yangdigunakan besar, semakin besar pula omset dan keuntungan yang diperoleh. Pada bahasan sebelumnya diketahui bahwa model regresi tersebut signifikan,pengujian dilanjutkan dengan uji masing-masing parameter dengan menggunakan statistikuji Wald yang mengikuti sebaran χ2(0,05;1), atau pada bagian coefficients dalam regresi. Nilait hitung dapat dilihat pada kolom nilai t (Tabel 4.12 di bawah ini dan signifikansinya padakolom Sig.). Jika suatu variabel mempunyai nilai Sig.<0,05, berarti dapat disimpulkanbahwa variabel tersebut mempengaruhi pendapatan. Penghitungan yang menghasilkan nilait besar akan menunjukkan bahwa variabel tersebut sangat signifikan mempengaruhipendapatan. Nilai statistik uji Wald berlawanan dengan nilai signifikansinya (Sig.), semakinbesar nilai semakin kecil nilai Sig. dan artinya semakin signifikan mempengaruhipendapatan. Pada model pendapatan penerima manfaat sebelum menerima bantuan, semuavariabel bebas, kecuali variabel dummy secara signifikan mempengaruhi pendapatan.Berturut-turut variabel pendidikan mempunyai signifikansi paling kuat, diikuti variabel jamkerja, dan umur. Namun demikian ternyata variabel jam kerja mempunyai pengaruh sedikitlebih besar daripada variabel pendidikan. Ini terlihat dari nilai β yang tercatat 0,352sedangkan β pendidikan 0,351.
  9. 9. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 9 Tabel 3: Hasil Regresi Parsial Model Pendapatan Penerima Manfaat Sebelum Menerima Bantuan Unstandardized Standardized Coefficients Variable Coefficients t Sig. Std. β Beta Error (Constant) 7.447 0.644 11.558 0.000 Lndik 0.677 0.133 0.351 5.092 0.000 lnjamkerja 1.393 0.294 0.352 4.740 0.000 Lnumur 0.658 0.253 0.200 2.598 0.010 Dummy 0.020 0.082 0.011 0.239 0.811 2 R = 814 R = 0,656 F = 107,243 A Dependent Variabel: lnYsebSumber : Data Primer Hasil Penelitian (diolah) Parameter β pada model pendapatan penerima manfaat sesudah menerima bantuanuntuk semua variabel signifikan termasuk dummy variable/penerimaan bantuan dari pihaklain. Pada model ini ternyata variabel jumlah dana bantuan yang diterima penerima manfaatmempunyai pengaruh paling besar dan paling kuat dibandingkan dengan variabel lainnya.Dengan β=0,329 menunjukkan bahwa pendapatan akan naik 33 persen dari peningkatanjumlah dana bantuan. Variabel berikut ini adalah jam kerja, pendidikan, umur, frekuensibantuan, serta variabel penerimaan bantuan dari pihak lain yang merupakan variabeldummy. Tabel 4: Hasil Regresi Parsial Model Pendapatan Penerima Manfaat Sesudah Menerima Bantuan Unstandardized Standardized Model Coefficients Coefficients t Sig. β Std. Error Beta (Constant) 5.741 0.742 7.738 0.000 lndanaX 0.317 0.060 0.329 5.241 0.000 lnjamkerja 0.708 0.204 0.226 3.471 0.001 Lndik 0.340 0.095 0.223 3.566 0.000 lnFB 0.383 0.145 0.126 2.645 0.009 Dummy -0.181 0.056 -0.132 -3.247 0.001 Lnumur 0.535 0.179 0.206 2.986 0.003 R = 0,870 R2 = 0,747 F = 82,859 Dependent Variabel: A lnYsdhSumber : Data Primer Hasil Penelitian (diolah)Pengujian Asumsi Regresi Multikolinearitas adalah hubungan yang sempurna antara beberapa atau semuavariabel bebas (X) dalam model regresi yang digunakan. Jika terjadi multikolinearitas yangSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  10. 10. 10 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010serius di dalam model maka pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabeltidak bebas (Y) tidak dapat dipisahkan, sehingga estimasi yang diperoleh akan menyimpang(bias). Adapun cara untuk melihat ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model adalahdengan cara membandingkan nilai koefisien korelasi antara sesama variabel-variabel bebas(r) dengan nilai koefisien korelasi antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (R).Apabila nilai R memiliki nilai yang lebih kecil dari nilai r maka dengan tegas dapatdisimpulkan bahwa multikolinearitas yang terdapat dalam model dinyatakan sebagaimasalah yang serius, tetapi apabila R memiliki nilai yang lebih besar dari nilai r makadengan tegas dapat disimpulkan bahwa multikolinearitas tidak terdapat dalam model. Dari hasil regresi dapat dijelaskan bahwa r parsial baik sebelum maupun sesudahprogram dana bantuan sesama masing-masing variabel bebasnya ternyata lebih kecildibandingkan dengan R (0,814: sebelum program), R (0,870: setelah program). Begitu jugahalnya untuk model selisih dimana nilai R lebih besar dari r dimana nilai R mencapai 0,617pada estimasi model regresi yang diperoleh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwatidak terdapat hubungan sempurna antar variabel bebas (multikolinearitas) pada ketigamodel yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji gejala multikolinearitas terhadapmodal selisih juga memperlihatkan terbebas model ini terbebas dari gejala multikolinearitaskarena r lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai R. Asumsi heteroskedastisitas berkaitan dengan varian variabel pengganggu, yaitumenguji kekonstanan varian variabel pengganggu. Evaluasi terhadap keberadaanheteroskedastisitas dilakukan melalui analisis pada gambar scatterplot. Dari ketiga gambar(lampiran 3), terlihat bahwa sebelum, sesudah dan model selisih sesudah dengan sebelumdana bantuan scatterplot tidak berpola, sehingga disimpulkan tidak terjadiheteroskedastisitas pada model. Pengujian model regresi terhadap gejala autokorelasidilakukan dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (D-W test). Untuk autokorelasi,Disturbance terms atau variabel pengganggu yang terbentuk dalam model diasumsikantidak mempunyai hubungan serial yang tinggi atau berbahaya, tingginya hubungan inidievaluasi melalui koefesien Durbin Watson (DW) yang dihasilkan oleh model, bilabesarnya berada diantara dU dan 4-dU dinyatakan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi.Berdasarkan hasil regresi diperoleh besarnya koefesien DW masing-masing adalah 1,886(model sebelum program), 1,917 (model setelah program) dan 1,799 (model selisih setelahdikurangi sebelum). Pada gambar dibawah ditunjukan koefesien tersebut berada di daerahtidak terjadi autokorelasi atau tidak terjadi pelanggaran. Sedangkan untuk mengevaluasi hubungan antar variabel bebas, bila diketahuimemiliki hubungan kuat dinyatakan terjadi multikolinieritas. Kuatnya hubungan tersebutdilihat dari nilai koefesien Variance Inflation Factor (VIF), hasil pengujian menemukannilai VIF masing-masing variabel bebas untuk model sebelum program berkisar antarasebesar 1,065 sampai dengan 2,830, untuk nilai VIF setelah program dari yang terendahsampai yang tertinggi adalah 1,086 sampai dengan 3,122 dan untuk model selisih nilai VIFberkisar antara 1,043 sampai dengan 1,789. Karena masing-masing variabel bebas VIFnyatidak lebih dari 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi pelanggaran multikolinieritas, dengankata lain model regresi linier berganda terbebas dari asumsi klasik dan dapat digunakandalam model.
  11. 11. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 11KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1. Penerima manfaat laki-laki umumnya bekerja lebih lama daripada penerima manfaat perempuan. Pendapatan responden lebih tinggi setelah menerima program dana bantuan dibandingkan dengan sebelum menerima dana bantuan walaupun penggunaan jam kerjanya sama.2. Hasil survei menunjukkan bahwa lamanya pendidikan mempunyai pengaruh pada pendapatan yang diperoleh. Sesudah responden menerima bantuan, pendapatan yang diperoleh lebih besar dari sebelumnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang penerima manfaat, pendapatan yang diperoleh semakin besar.3. Besarnya pengaruh dana bantuan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat dapat dilihat dari tingkat pendapatan rata-rata responden setelah program lebih besar dibandingkan sebelum program dana bantuan dijalankan, nilai uji statistik linear by linear association jauh lebih besar setelah program dibandingkan sebelum program dan nilai uji beda dua rata-rata yang membuktikan bahwa adanya dampak yang singnifikan antara pendapatan sebelum dengan sesudah program dengan nilai Thitung lebih besar dari Ttabel dengan korelasi mencapai 82,09 persen.4. Pengujian parameter menggunakan statistik uji Wald/nilai t hitung menunjukkan bahwa program dana bantuan BRR NAD–Nias berpengaruh nyata dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat penerima manfaat, kecuali variabel dummy yang tidak signifikan.Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat disarankan kebijakan yang perludilakukan sebagai berikut:1. Diharapkan kepada pemerintah daerah melalui instansi terkait agar meningkatkan kegiatannya dalam upaya mencerdaskan masyarakat terutama di sektor pendidikan dan pelatihan. Khusus untuk masyarakat dengan latar belakang ekonomi lemah ini diperlukan perhatian khusus dengan membina secara bertahap dan berkelanjutan dalam bentuk pendampingan, pelatihan manajemen/perencanaan termasuk teknik pembukuan/akuntansi sederhana untuk memastikan mereka dapat melakukan kegiatan ekonomi secara optimal.2. Diharapkan kepada lembaga keuangan mikro untuk dapat meningkatkan pelayanan secara prima kepada masyarakat melalui perbaikan mekanisme administrif yang cepat, tepat dan efektif dengan tidak mengabaikan prinsip kehati-hatian agar tidak terjebak dalam kridit macet pasca penyaluran dana.3. Diharapkan kepada dinas terkait dan koperasi/LKM untuk memperbaiki moral hazard, khusus untuk masyarakat penerima manfaat supaya memanfaatkan dana bantuan BRR NAD–Nias dalam bentuk modal usaha secara benar dan bertanggung jawab agar dana tersebut terus bergulir ditengah-tengah masyarakat dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat Aceh.4. Diharapkan kepada koperasi/LKM untuk menjalin kerjasama baik dengan bank umum maupun LKM lainnya yang telah berpengalaman dan berhasil dalam pengelolaan dana bantuan. Bentuk kerjasama diutamakan dalam hal magang staff dan bidang lainnyaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  12. 12. 12 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Lembaga Keuangan Mikro pengelola dana bantuan BRR NAD – Nias.DAFTAR PUSTAKAAgresti, Alan. 1990. Catagorical Data Analysis. Canada: John Wiley & Sons.Ananta, Aris. 1988. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Demografi Universitas Indonesia.Angkat, Marine Sohadi. 2004. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Makanan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003. (Tesis). Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.Ackley, Gardener. 1986. Teori Ekonomi Makro. Terjemahan Paul Sihotang. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.Akhirmen. 1993. Pengaruh Karakteristik Terhadap Pendapatan Pedagang Kecil Sektor Informal di Pasar Raya Kotamadya Padang (Laporan Penelitian). Padang: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang.Badan Pusat Statistik (BPS). 2004. Metodologi dan Profil Kemiskinan 2004. Jakarta: BPS._______. 2004. Aceh Dalam Angka 2004. Banda Aceh: BAPPEDA dan BPS Provinsi NAD._______. 2004. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2004. Jakarta: BPS._______. 2005. Press Release: Rumahtangga Penerima Kompensasi BBM. Banda Aceh: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam._______. 2005. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000- 2004. Banda Aceh: BPS Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam._______. 2005. 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: BPS._______. 2005. Penduduk dan Kependudukan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Hasil SPAN 2005. Jakarta: BPS.Becker, G.S. 1993. Human Capital A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education. Chicago: The University of Chicago Press.DeWeever, Avis Jones. 2002. Marriage Promotion and Low-Income Communities: An Examination of Real Needs and Real Solutions. The Institute for Women’s Policy Research (IWPR). http://www.iwpr.orgDiliana, Fransiska Bonita. 2005. Perbandingan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Magelang Tahun 2003. Jakarta: STIS.Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: LP3ES.Dornbush, R. dan S. Fisher. 1984. Ekonomi Makro. Terjemahan. Jakarta: Erlangga.Fein, David J. 2004. Married and Poor: Basic Characteristics of Economically Disadvantaged Couples in the U.S. Abt Associates. Virginia: MDRC.Fisher, Gordon M. 1994. From Hunter to Orshansky: An Overview of (Unofficial) Poverty Lines in the United States from 1904 to 1965. Washington D.C.: Census Bureaus Poverty Measurement.Friendly. M. 1995. Catagorical Data, Part 6: Logistic Regression.
  13. 13. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 13Harun, Tommy. 1997. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Pekerja: Kasus Pekerja Migran di Indonesia (Analisis Data Sakerti 1993. (Tesis). Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.Howell, David C. 2001. Advance Statistical Method.Johnston, Richard A. and Dean W. Wichern. 1992. Applied Multivariate Statistical Analysis. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.Lanjouw, Jean Olson. 1995. Demystifying Poverty Lines.Mankiw, Gregory. 2002. Pengantar Ekonomi. Jakarta: Erlangga.Michaud, Pierre-Carl and Arthur van Soest. 2004. Health and Wealth of Elderly Couples: Causality Tests Using Dynamic Panel Data Models. Bonn: Tilburg University and IZA (The Institute of the Study of Labor) Bonn.Mukhyi, Mohammad A. 2002. Analisis Faktor Penentu Tingkat Gaji di Jakarta. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis 3. No. 7: 108-111.Nachrowi, Nachrowi Djalal dan Hardius Usman. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.Neter, John, William Waserman, Michael H. Kutner. 1985. Applied Linear Regression Model. Boston: Irwin Richard D. Inc.Santoso, Singgih. 2001. SPSS versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta: Elex Media Komputindo.Simon, Steve. 2005. Using SPSS to Develop a Logistic Regression Model. Children’s Mercy.Subramanian dan Kawachi. 2004. Income Inequality and Health: What Have We Learned So Far? The Department of Society, Human Development, and Health, Harvard School of Public Health, Boston, MA.Tjiptoherijanto, Prijono dan Soesetyo. 1996. Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.Todaro, Michael P, Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. (Jilid 1 dan 2, Terjemahan Haris Munandar). Jakarta: Erlangga.Winkelried, Diego. 2005. Income Distribution and the Size of Informal Sector. Cambridge: St. John’s College and University of Cambridge.World Bank Institute. 2002. Dasar-dasar Analisis Kemiskinan. (Terjemahan Ali Said dan Aryago Mulia). Jakarta: Institut Bank Dunia.Wuensch, Karl L. 2004. Binary Logistic Regression with SPSS. http://www2.gasou.edu/edufound.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  14. 14. 14 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE ON EPEROLEHAN DESIGN Nor Hadza binti Nor YadzidAbstract: To cultivate a knowledge-rich society in Malaysia and take the country into theInformation Age, the Malaysian Government embarked upon the Multimedia SuperCorridor (MSC) initiative in 1996 and Malaysian government has initiated ElectronicGovernment with a primary aim of to create a virtually paperless administration, with aneye towards the widespread use of electronic and multimedia networks in the Government.The electronic procurement system, better known as ePerolehan or eProcument byMalaysian government is a focus of this study to represent one of MIS used by thegovernment. ePerolehan streamlines government procurement activities that hopes toimproves the quality of service it provides. ePerolehan converts traditional manualprocurement processes in the Government to electronic procurement on the Internet. Closeco-operation with the users lead to good systems analysis and design allowing softwaredevelopers to gain an understanding of the user requirements. However an organizationalculture that bounding an organization and in this case the Malaysian government mightalso have an implication in understanding the users requirement and thus the designing ofthe required system. Therefore the objective of this study is to describe the relationshipbetween organizational culture of Malaysian government agencies and the design ofePerolehan system in order for the system to run successfully in meeting its objectives andat the same time are able to meet the needs of all users.KeyWords: management information system, electronic procurement, organizational culture, culture dimension____________________________________________________________________ Nor Hadza binti Nor Yadzid, Master of Accountancy Graduate School of Business, National University of Malaysia, Malaysia
  15. 15. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 15INTRODUCTIONTechnology has created new information alternatives that may influence the wayinformation system users make decisions. Accounting information systems (AIS) provideinput for decision making. Technology has availed many new information alternatives suchas a presentation features that could change the way decisions are made. An access to adatabase of basic transaction information makes it possible to acquire detailed accountingdata and aggregate it differently for each decision situation. A good system can provideflexible, interactive user interfaces that immediately respond to a myriad of informationrequests. Management information system (MIS) is part of AIS and it is a subset of theoverall internal controls of a business covering the application of people, documents,technologies, and procedures by management accountants to solve business problems suchas costing a product, service or a business-wide strategy. Management information systemsare distinct from regular information systems in that they are used to analyze otherinformation systems applied in accounting and operational activities in the organization tosupport of human decision making. By referring to Malaysian perspective, in order to cultivate a knowledge-rich societyin Malaysia and take the country into the Information Age, the Malaysian Governmentembarked upon the Multimedia Super Corridor (MSC) initiative in 1996 and set up theMultimedia Development Corporation (MDC) to oversee its development. The MDC aimsto be a "one-stop super shop" focused on publicizing the advantages of the MSCworldwide, regulating laws and policies related to the development of the MSC, andoverseeing the overall development of the MSC infrastructure. The MSC comprises sevenflagship applications, designed to facilitate the development of the country towardsbecoming a key player in the Information Age. The Current waves of E-Government are rising through public organizations andpublic administration across the world. More and more governments are using ICTespecially Internet or web-based network, to provide services between governmentagencies and citizens, businesses, employees and other non-governmental agencies(Zaharah, 2007; Ndou, 2004; Donnelly & McGruirk, 2003; Fang, 2002). The Malaysiangovernment has envisioned a technologically advanced society and implicitly, atechnologically enabled government through its Vision 2020 (Hazman et al.., 2006;Maniam, 2005). The move towards a digital government is progressing slowly along thegovernment-to-government (G2G) route and also along the government-to-citizen (G2C)and government-to-business (G2B) path. Malaysian government has initiated Electronic Government with a primary aim ofto create a virtually paperless administration, with an eye towards the widespread use ofelectronic and multimedia networks in the Government. Programmes under this initiativeinclude Project Monitoring System, Human Resource Management Information System,Generic Office Environment, Electronic Procurement, E-Services, E-Government and E-Syariah. Electronic and multimedia infrastructure will eventually encompass all levels ofgovernment, and it doing so, information flows and processes related to government affairswill be made faster and more efficient. The electronic procurement system, better known as ePerolehan by Malaysiangovernment is a focus of this study to represent one of MIS in Malaysia. ePerolehanstreamlines government procurement activities that hopes to improves the quality of serviceSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  16. 16. 16 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010it provides. ePerolehan converts traditional manual procurement processes in theGovernment to electronic procurement on the Internet. Through ePerolehan suppliers maypresent their products on the World Wide Web, receive, manage and process purchaseorders and receive payment from government agencies via the Internet. The suppliersproduct catalogue is converted into the form of an electronic catalogue or eCatalogue,which can be viewed from any desktop with a web browser. Besides that, supplier is able tosubmit quotations, obtain tender document, submit tender bid and also to register or renewtheir registration with the Ministry of Finance through the internet via ePerolehan.Suppliers are also able to submit application, check application status and pay registrationfees easily through ePerolehan. With a high competition in the private and public sector, organizations aredemanded to provide a greater efficiency, quality and more flexibility of services. Thiscondition imposes additional demands on the organization’s information processingcapabilities. In trying to achieve these strategic objectives, organizations adopt moresophisticated and comprehensive management information systems (MISs) (Choe, 1996;Ghorab, 1997). These provide top managers with a comprehensive and broad range ofinformation about multiple dimensions of the firm’s operations (Choe, 1996, 2004),facilitating decision-making and performance achievement (Kaplan & Norton, 1996; Kim& Lee, 1986). Government as an organizations would have different organizational culturethat will affect the designing of ePerolehan that later will help them to achieve theirstrategic performance successfully. Malaysian government has developed its own MIS and by developing a tailor madeinformation system, it is belief may increase the functionalities to meet specific userrequirements. The success of a tailor made MIS depends very much on the co-operationbetween the users and the developers. Close co-operation with the users lead to goodsystems analysis and design allowing software developers to gain an understanding of theuser requirements. However an organizational culture that bounding an organization and inthis case the Malaysian government might also have an implication in understanding theusers requirement and thus the designing of the required system. Culture refers to an organizations values, beliefs, and behaviors. In general, it isconcerned with beliefs and values on the basis of which people interpret experiences andbehave, individually and in groups. Firms with strong cultures achieve higher resultsbecause employees sustain focus on the way of doing things. Culture is shaped by corporatevision, shared values, beliefs, assumptions, past experience, learning, leadership andcommunication. Organizational culture on the other hand is an idea in the field of organizationalstudies and management which describes the psychology, attitudes, experiences, beliefs andvalues (personal and cultural values) of an organization. It has been defined as "the specificcollection of values and norms that are shared by people and groups in an organization andthat control the way they interact with each other and with stakeholders outside theorganization. This definition continues to explain organizational values also known asbeliefs and ideas about what kinds of goals members of an organization should pursue andideas about the appropriate kinds or standards of behavior organizational members shoulduse to achieve these goals. From organizational values develop organizational norms,guidelines or expectations that prescribe appropriate kinds of behavior by employees in
  17. 17. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 17particular situations and control the behavior of organizational members towards oneanother. Organizational culture is also commonly held in the mind framework oforganizational members. This framework contains basic assumptions and values. Thesebasic assumptions and values are taught to new members as the way to perceive, think, feel,behave, and expect others to behave in the organization. Edgar Schein (1999) says thatorganizational culture is developed over time as people in the organization learn to dealsuccessfully with problems of external adaptation and internal integration. It becomes thecommon language and the common background. So culture arises out of what has beensuccessful for the organization. Culture starts with leadership, is reinforced with theaccumulated learning of the organizational members, and is a powerful (albeit oftenimplicit) set of forces that determine human behavior. An organization’s culture goesdeeper than the words used in its mission statement. Culture is the web of tacitunderstandings, boundaries, common language, and shared expectations maintained overtime by the members. These have arises to a questions of: • Is there any relationship between organizational culture with the design of ePerolehan? • Does organizational culture of Malaysian government agencies would have an influence of on the design of it ePerolehan? • What are the areas of organizational culture that have an influence on ePerolehan design? Therefore the objective of this study is to describe the relationship betweenorganizational culture of Malaysian government agencies and the design of ePerolehan inorder for the system to run successfully in meeting its objectives and at the same time areable to meet the needs of all users namely government agencies and suppliers.LITERATURE REVIEWManagement Information System and CultureAdapting an organization’s management systems, structure, and culture to rapidly changingrequirements of the external environment is becoming more and more critical fororganizations bound to the economy. This criticality is even more pronounced when theorganization uses the Internet for interaction with its members and customers. MIS must beimplemented to meet only the most important requirements plus those of the rest needed toensure the coherence of the system containing the most important requirements C. McPhee(2002), F. Moisiadis (1998), B. Nuseibeh (2000).ePerolehan SystemMalaysian government has created Electronic procurement (ePerolehan) and was developedby commerce dot com. It is a system which enables suppliers to sell goods and services toGovernment agencies through the Internet. Suppliers may advertise their goods, presenttheir pricing, process orders and deliveries, and make collections. The entire process isSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  18. 18. 18 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010done electronically, through the Internet, from the desktop. Malaysian Electronicprocurement has four modules namely supplier registration (SR) module direct purchasemodule, quotation module tender module and Central Contract (CC) module. Potential supplier need to register their company and product or services offeredunder the supplier registration (SR) module. This module was first launched in 2000 andserves as a single point of registration for Government Suppliers. All approvals for theapplications remain with the Ministry of Finance. Services available in the SupplierRegistration module includes new registration, renewal, application for additional category,application for Bumiputera status and facility to update supplier profile. Direct purchasewas launched in 2002 and this module is for procurements not exceeding RM100,000 invalue. It begins with sourcing from selected suppliers and proceeds into the orderfulfillment stage once all terms are agreed. A quotation module is for any purchase with atotal value between RM100,000 to RM 200,000. Through the quotation process, aninvitation is sent out to a minimum of 5 suppliers who are required to respond through theePerolehan system within a specified time frame. Upon evaluation, one supplier will beawarded. A tender module was launched in 2003. This module was designed for bothclosed and open tenders for any purchase with a total value above RM200,000. Theprocesses involved in tenders are requisition approval, formation of committees,specification preparation, tender notice, issuance of tender document, tender submission,evaluation decision and award, contract preparation and signing and order fulfillment.Central Contract (CC) module was launched in 2000 and it is a procurement mode usedacross ministries for specific products contracted to selected suppliers.Organizational Culture DimensionThe theoretical basis drawn of developing this research is organizational culture theory anda framework by Detert et al.(2000). Detert et al. derived the dimensions of culture in theirframework from a content analysis of synthesis of what have repeatedly emerged as thecomponents of culture in other organizational culture research (Detert et al., 2000). One oftheir goals was to provide a basis upon which future theoretical and empirical work onorganizational culture could be conducted. This framework supports assessment ofdimensions of organizational culture and the practices or artifacts that arise out of thosedimensions. It focuses on organizational culture as a system of shared values that definewhat is important and that guide organizational members’ attitudes and behaviors. Theeight dimensions of culture included in Detert et al.’s theoretical framework can be used toidentify behaviors related to cultural values that underlie system design in order to informtheory about the way these cultural dimensions influence the MIS design used byMalaysian government agencies. The term organization here refers to Malaysiangovernment agencies.Orientation to change (stability vs. change)Some organizations are change oriented and are characterized by a focus on continuousimprovement (S.J. Fox-Wolfgramm et al., 1998). Change is often more widely accepted inthese firms because organizational members are accustomed to change and view it aspositive (S.L. Brown et al., 1997) Others are more stability oriented. Change often requires
  19. 19. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 19organizational members to understand a new way of performing processes, as well as howand why their processes have changed ( R. Jamieson and M. Handzic, 2003).Control, coordination, and responsibility (concentrated vs. autonomous decision making)Organizations vary in the degree to which the structure of decision making is concentratedor shared. Where decision making is fairly concentrated, the rules of a few guide thebehavior and actions of the majority, and decisions making is centralized (P.D. Reynolds,1986). In organizations where it is shared, organizational members are encouraged to beautonomous in their decision making (J. Pfeffer, 1998). An overriding norm in manyorganizations is silo behavior where individual divisions, units, or functional areas operateas silos or independent agents within the organization (B. Caldwell &T. Stein,1998; T.H.Davenport,1994; M.C. Jones,2001).Orientation to collaboration (isolation vs. collaboration)Perceptions about the relative value of working alone or collaboratively are motivated byunderlying beliefs about how work is best accomplished (Detert et al., 2000). A culture thatvalues individual efforts more than collaborative ones places more value on individualautonomy and believes that collaboration is inefficient (C. O’Dell & C.J. Grayson,1998).On the other hand, organizations that believe collaboration is more efficient and effectivethan individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people (P.D. Reynolds, 1986).Orientation and focus (internal vs. external)Orientation and focus addresses the relationship between a firm and its environment. Thisincludes ideas about the extent to which the firm is focused on its internal or externalenvironment (P.D. Reynolds, 1986). For example, many firms assume that the key toorganizational success is to focus on the processes and people within the organization,whereas others focus primarily on external constituents.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  20. 20. 20 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010A summary of these four dimensions is provided in Table 1. Table 1: Dimension of Organizational CultureOrganizationalCulture Dimension Detert et al. LiteratureOrientation to change An extent to which organizations Some organizations are change oriented and are have a propensity to maintain a characterized by a focus on continuous(stability stable level of performance that is improvement and some are stable oriented (S.J. vs. good enough or a propensity to Fox-Wolfgramm et al., 1998). change) seek to always do better through innovation and changeControl, coordination, An extent to which organizations Where decision making is fairly concentrated, theand have decision making structures rules of a few guide the behavior and actions of theresponsibility centered around a few vs. decision majority, and decisions making is centralized (P.D. making structures centered around Reynolds, 1986).(concentrated dissemination of decision making responsibilities throughout the In organizations where it is shared, organizationalvs. organization. members are encouraged to be autonomous in their decision making (J. Pfeffer, 1998).autonomous decisionmaking)Orientation to An extent to which organizations A culture that values individual efforts more thancollaboration encourage collaboration among collaborative ones places more value on individual individuals and across tasks or autonomy and believes that collaboration is(isolation encourage individual efforts over inefficient (C. O’Dell and C.J. Grayson,1998).vs. team-based efforts.collaboration) Organizations that believe collaboration is more efficient and effective than individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people ( P.D. Reynolds, 1986).Orientation to work An extent to which organizational A culture that values individual efforts more than improvements are driven by a collaborative ones places more value on individual(process focus on internal process autonomy and believes that collaboration isvs. improvements or by external inefficient (C. O’Dell & C.J. Grayson,1998).results) stakeholder desires. Organizations that believe collaboration is more efficient and effective than individual effort encourage teamwork and organize tasks around groups of people (P.D. Reynolds, 1986).CONCEPTUAL FRAMEWORKUsing Detert et al.’s four dimensions of culture as a theoretical lens, an investigation onhow these dimensions influence ePerolehan design can be made. The conceptualframework is provided in Figure 1.
  21. 21. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 21 Orientation to change Orientation to collaboration ePerolehan Control, coordination and responsibility Orientation and focus Figure 1: Conceptual FrameworkCONCLUSIONOrganizational culture is a commonly held –in-the-mind framework of organizationalmembers and organizational culture is developed over time as people in the organizationlearn to deal successfully with problems of external adaptation and internal integration.When e-Perolehan was introduced and implemented with the entire process of purchasing isdone electronically through the internet, the success of the four modules namely supplierregistration (SR) module direct purchase module, quotation module tender module andCentral Contract (CC) module is still in question. A study on whether organizationalculture would influence the designing of ePerolehan would help managers in facilitatingthem making a decision as managers ultimately responsible for strategy management andorganizational performance. This study will also help to provide some clarification on therelationship between organizational culture and e-Perolehan design by using the fourdimension of organizational culture by Detert et al.(2000).REFERENCESB. Caldwell, T. Stein, Beyond ERP :New IT agenda, A second wave of ERP activity promises to increase efficiency and transform ways of doing business, InformationWeek 30 (1998 November) 34–35.B. Nuseibeh, S. Easterbrook, Requirements Engineering: A Roadmap, in: A. Finkelstein (Ed.), The Future of Software Engineering 2000, ACM, Limerick, Ireland, 2000.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  22. 22. 22 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010C. McPhee, A. Eberlein, Requirements engineering for time-tomarket projects, in: Proceedings of the Ninth Annual IEEE International Conference and Workshop on the Engineering of Computer- Based Systems (ECBS 2002), Lund, Sweden, 8–11 April 2002.Choe, J. M. (1996). The relationships among performance of accounting information systems, influence factors and evolution level of information systems. Journal of Management Information Systems, 215–239.D. Leonard, S. Sensiper, The role of tacit knowledge in group innovation, California Management Review 40 (3) (1998) 112– 132.E.W. Stein, B. Vandenbosch, Organizational learning during advanced systems development: opportunities and obstacles, Journal of Management Information Systems 13 (2) (1996) 115– 136.F. Moisiadis, A framework for prioritizing use cases, in: Proceedings of the Conference on Advanced Information Systems Engineering, CAiSE98, Pisa, Italy, 8–9 June 1998.Ghorab, K. E. (1997). The impact of technology acceptance considerations on system usage, and adopted level of technological sophistication: An empirical investigation. International Journal of Information Management, 17(4), 249–259.Issues of Accounting Information System in year 2000, Y. Chuck and Pak K. AuyeungJ. Pfeffer, Seven practices of successful organizations, California Management Review 40 (2) (1998) 96 – 124 (Winter).J.R. Detert, R.G. Schroeder, J.J. Mauriel, A framework for linking culture and improvement initiatives in organizations, Academy of Management Review 25 (4) (2000) 850– 863.J.R. Hackman, R. Wageman, Total quality management: empirical, conceptual, and practical issues, Administrative Science Quarterly 40 (1995) 309– 342.J.V. Saraph, P.G. Benson, R.G. Schroeder, An instrument for measuring the critical factors of quality management, Decision Sciences 20 (1989) 810–829.Kaplan, R. S., & Norton, D. S. (1996). Using the scorecard as a strategic management system. Harvard Business Review, 75–85Kim, E., & Lee, J. (1986). An exploratory contingency model of user participation and MIS use. Information & Management, 11, 87–97.
  23. 23. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 23M.C. Jones, The role of organizational knowledge sharing in ERP implementation, Final Report to the National Science Foundation Grant SES 0001C.O’Dell, C.J. Grayson, If only we knew what we know: identification and transfer of internal best practices, California Management Review 40 (3) (1998) 154– 174.998, 2001.P.D. Reynolds, Organizational culture as related to industry, position, and performance: a preliminary report, Journal of Management Studies 23 (1986) 414– 437.R. Jamieson, M. Handzic, A framework for security, control, and assurance of knowledge management systems, in: C.W. Holsapple (Ed.), Handbook on Knowledge Management: Knowledge Matters, Springer-Verlag, New York, 2003, pp. 477– 505.R.E. Quinn, J. Rohrbaugh, A spatial model of effectiveness criteria: towards a competing values approach to organizational analysis, Management Science 29 (1983) 363–377.S.J. Fox-Wolfgramm, K.B. Boal, J.G. Hunt, Organizational adaptation to institutional change: a comparative study of first order change in prospector and defender banks, Administrative systems. Information & Management, 41, 669–684.Schein, E. (1999). The corporate culture survival guide. San Francisco: Jossey Bass. Science Quarterly 43 (19 8) 87– 126..T. Kayworth, D. Leidner, Organizational culture as a knowledge resource, in: C.W. Holsapple (Ed.), Handbook on Knowledge Management: Knowledge Matters, Springer-Verlag, New York, 2003, pp. 235– 252.T.H. Davenport, Saving IT’s soul: human-centered information management, Harvard Business Review (1994 March–April) 119– 131.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  24. 24. 24 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Abstrak: ANALISIS TERHADAP PERATAAN LABA: STUDY EMPIRIS PADA EMITEN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Nuraini A RahmayanaAbstract: Earnings smoothing is the way management used to reduce fluctuations inreported earnings to match the desired target both artificial and real. The practice of incomesmoothing is considered as a common action undertaken by management to achieve certainpurposes, but the practice of income smoothing can lead to disclosure in financialstatements to be inadequate. As a result the financial statements do not reflect the realsituation. This study aims to examine and analyze the factors that influence the practice ofincome smoothing that is a bonus plan, operating leverage, and earnings per share bothtogether and partial. The study was a descriptive analytical study on the issuer which ismanufacturing in Indonesia Stock Exchange (BEI) in 2006-2008. Data collection is by wayof field research and library research with the sampling technique of purposive samplingmethod. Analysis of data for testing hypotheses using logistic regression analysis with thehelp of the program Statistical Package for Social Science (SPSS). The results showed that13 companies were identified to income smoothing of the total sample of 35 companies.The test results showed that the bonus plan hypothesis, operating leverage, and earnings pershare is jointly significant effect on income smoothing. Partially, only the bonus planaffects income smoothing, while operating leverage and earnings per share did not affectincome smoothing.Keywords: bonus plan, operating leverage, earning per share, earnings smoothing____________________________________________________________________ Nuraini A, Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala
  25. 25. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 25PENDAHULUAN Laporan keuangan merupakan sarana utama untuk memperoleh informasi keuanganyang dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambilkeputusan ekonomi. Salah satu informasi yang sangat penting untuk pengambilankeputusan adalah laba. Pentingnya informasi laba ini disadari oleh manajemen sehinggamanajemen cenderung melakukan praktik perataan laba. Pengumuman laba perusahaanmerupakan informasi penting yang mencerminkan nilai perusahaan di pasar (Mawarti,2007). Dari deskriptif tersebut, penulis berasumsi bahwa tidak menutup kemungkinanterdapat indikasi perataan laba pada beberapa perusahaan-perusahaaan yang terdaftar diBursa Efek Indonesia. Fenomena menunjukkan bahwa laporan laba rugi dari PT Citra Tubindo Tbk dan PTKalbe Farma Tbk terindentifikasi adanya perataan laba yang dilakukan oleh pihakmanajemen, hal dapat dilihat dari besarnya laba yang relatif stabil dari tahun ke tahun yaituRp. 23.305.359, Rp. 23.404.730 untuk tahun 2006 dan 2007 sementara PT.Kalbe FarmaRp. 706.822.146.190 dan Rp. 705.694.196.679. Informasi laba sering menjadi perhatianinvestor tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi labatersebut. Kecenderungan sering memperhatikan laba inilah yang disadari oleh manajemen,dan mendorong manajer untuk melakukan manajemen atas laba (earning management) ataumanipulasi laba (earning manipulation). Salah satu hipotesis yang dapat menjelaskanmanajemen laba adalah earning smoothing hypothesis atau income smoothing hypothesis(Beattie et al, 1994) dalam Masodah (2007). Isu perataan laba telah banyak dibicarakan baik dalam teori maupun dalampenelitian beberapa dekade ini. Subekti (2005) mengatakan bahwa perataan labamerupakan perilaku yang rasional yang didasarkan atas asumsi dalam positive accountingtheory, dimana manajemen merupakan individual yang rasional yang memperhatikankepentingan dirinya dan melakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkankepentingannya. Sedangkan menurut Belkaouli (2002:232) perataan laba didorong olehkeinginan untuk mempertinggi keandalan prediksi yang didasarkan pada laba dan untukmengurangi risiko yang mengitari angka-angka akuntansi. Heyworth (1953) dalamMursalim (2005), menyatakan bahwa motivasi yang mendorong dilakukannya incomesmoothing adalah untuk memperbaiki hubungan antara perusahaan dengan pihak luarperusahaan seperti: investor, kreditur, dan pemerintah serta meratakan siklus bisnis melaluiproses psikologis. Gordon (1964) dalam Mursalim (2005) mengemukakan beberapa halberkaitan dengan perataan laba, yang pada prinsipnya bahwa manajemen melakukanperataan laba dengan cara memilih metode akuntansi untuk memaksimumkan kepuasan dankemakmurannya. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah dilakukan olehMasodah (2007) dan Chandra & Irawati (2005) yang menguji tentang isu perataan labapada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan uraian diatas, makapenulis termotivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh BonusPlan, Operating Leverage, dan Earning per Share terhadap Perataan Laba pada PerusahaanManufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  26. 26. 26 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah bonus plan,operating leverage, dan earning per share berpengaruh terhadap perataan laba. Sedangkankegunaannya adalah:1. Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh bonus plan, operating leverage, dan earning per share terhadap perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur.2. Bagi investor dapat memberikan informasi tambahan mengenai praktik perataan laba sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.3. Memberikan referensi tambahan terhadap penelitian di bidang perataan laba bagi penelitian selanjutnya dan referensi guna meningkatkan pengetahuan mahasiswa akuntansi.Study Sebelumnya dan Hipotesis Penelitian Perataan laba merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja untukmengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atassaham perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga saham perusahaan(Assih dan Gudono, 2000). Perusahaan melakukan perataan laba dengan harapan dapatmenghindari reaksi pasar yang terlalu besar pada saat perusahaan mengumumkan informasilaba. Hal ini dikarenakan dengan tingkat variabilitas yang kecil pada laba yang diumumkan,maka pelaku pasar dapat melakukan prediksi atas laba perusahaan mendatang dengan lebihbaik, dan perusahaan dapat mengurangi reaksi pasar yang besar pada saat laba di umumkan.Bieldman dalam Belkaouli (2000:56) menyatakan bahwa perataan laba didefinisikansebagai upaya yang sengaja dilakukan untuk memperkecil fluktuasi pada tingkat laba yangdianggap normal bagi perusahaan. Adapun tujuan perataan laba menurut Foster (1986) dalam Suwito dan Herawaty(2005) adalah sebagai berikut: a. Memperbaiki citra perusahaan di mata pihak luar, bahwa perusahaan tersebut memiliki risiko yang rendah. b. Memberikan informasi yang releven dalam melakukan prediksi terhadap laba di masa mendatang. c. Meningkatkan kepuasan relasi bisnis. d. Meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemampuan manajemen. e. Meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen. Subekti (2005) mengatakan bahwa perataan laba merupakan perilaku yang rasionalyang didasarkan atas asumsi dalam positive accounting theory, dimana manajemenmerupakan individual yang rasional yang memperhatikan kepentingan dirinya danmelakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkan kepentingannya. Perusahaan yangmelakukan praktik perataan laba dapat diketahui dari nilai indeks perataan laba, yaitu nilaiperbandingan perubahan laba dengan nilai perbandingan perubahan penjualan. Perusahaanyang melakukan prektik perataan laba memiliki indeks perataan laba lebih dari satu.
  27. 27. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 27Hubungan Bonus Plan dengan Perataan laba Bonus plan adalah salah satu faktor yang memotivasi manajemen untuk mengaturlaba agar dapat membuat perencanaan bonus yang akan diterima dimasa yang akan datang,karena semakin meningkat laba yang akan dihasilkan perusahaan semakin meningkat bonusyang akan diterima. Manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung menggunakanmetode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini. Keberadaan rencana kompensasi (compensation plan) merupakan faktor yangmemotivasi manajemen untuk meratakan laba (Healy:1985). kompensasi manajemendidesain dengan menggunakan laba sebagai dasar pembagian bonus maka manajemencenderung memilih prosedur akuntansi yang menstabilkan bonus atau kompensasi yangditerimanya. Penelitian lainnya yang terkait dengan motivasi bonus menyatakan bahwamanajer berusaha memanipulasi laba untuk memaksimalkan nilai sekarang daripembayaran bonus (Holhausen, 1995) dalam Astuti (2007). Penelitian yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz(1998) keberadaan perencanaanbonus di sektor industri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong praktikperataan laba. Earning menjadi hal utama dalam kaitannya dengan bonus untuk manajer.Angka laba memiliki kandungan informasi yang bermanfaat bagi pasar yang terlihat darihubungan antara unexpected earning dengan abnormal return pada sekitar tanggalpengumuman informasi laba perusahaan (Masodah :2007). Berdasarkan kajian teoritis danpenelitian sebelumnya maka hipotesis I yang diajukan adalah : H1: Bonus Plan berpengaaruh terhadap perataan laba.Hubungan Operating Leverage dengan Perataan Laba Operating Leverage adalah suatu indikator perubahan laba bersih yang diakibatkanoleh besarnya volume penjualan (Suwito dan herawati :2005). Ashari et al, (1994) dalamSuwito dan Herawati (2005) berhasil membuktikan bahwa Operating Leverage merupakansalah satu pendorong terjadinya perataan laba. Zuhroh (1996) meneliti faktor-faktor yangdapat dikaitkan dengan terjadinya praktik perataan laba dengan kesimpulan bahwa hanyaoperating Leverage perusahaan saja yang memiliki pengaruh terhadap praktik perataan labayang dilakukan perusahaan di Indonesia. Hasil penelitian Chandra dan Irawati (2005)menunjukkan bahwa operating leverage berpengaruh terhadap perataan laba perusahaanmanufaktur pada masa sebelum krisis moneter tahun 1992-1996, sedangkan pada masakrisis moneter variabel operating leverage tidak berpengaruh terhadap perataan labaperusahaan manufaktur pada masa krisis moneter tahun 1998-2000. sehingga hipotesis 2yang diajukan adalah : H2 : Operating Leverage berpengaruh terhadap perataan laba.Hubungan Earning per Share dengan Perataan Laba Earning Per Share (EPS) merupakan salah satu informasi akuntansi yangmemberikan analisis rasio keuntungan bersih per lembar saham yang mampu dihasilkanoleh perusahaan. Kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih per lembar sahammerupakan indikator fundamental keuangan perusahaan yang sering dipakai sebagai acuanuntuk mengambil keputusan investasi dalam saham. Salah satu pusat perhatian pemodaladalah laba per lembar saham (Earning per Share/EPS) dalam melakukan analisis. Karenaitu kita perlu memahami bagimana Earning per Share diperoleh dan menunjukkan apaSTRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  28. 28. 28 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010angka tersebut (Husnan, 2005:328). Bagi investor, informasi EPS merupakan informasiyang dianggap paling mendasar dan berguna karena biasanya menggambarkan prospekearning perusahaan dimasa depan (Tandelilin, 2001:233). Dalam hal ini manajer akanberusaha untuk memperlihatkan laporan keuangan dengan kinerja yang stabil untukmencerminkan earning per share yang akan diperoleh oleh investor. Biasanya sebelummelakukan investasi investor akan melihat kemampuan laba serta earning per share yangtinggi pada perusahaan yang akan diinvestasinya. Oleh sebab itu adanya hubungan antaralaba dengan earning per share. Sehingga hipotesis yang diajukan adalah: H3 : Earning Per Share berpengaruh terhadap perataan laba.METODE PENELITIANSampel dan Data Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BursaEfek Indonesia periode tahun 2006-2008. Pemilihan sampel dilakukan denganmenggunakan purposive sampling dengan kriteria sampel sebagai berikut:1. Perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan lengkap dan telah diaudit dengan tahun berakhir per buku 31 Desember.2. Perusahaan memperoleh laba berturut-turut untuk melihat praktik perataan laba.3. Perusahaan yang menjadi sampel diasumsikan menerapkan program bonus plan atau compensation plan. Berdasarkan kriteria di atas maka jumlah sampel yang yang menjadi unit analisissebesar 35 perusahaan.Analisis Data Model analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi logistik(logistic regretion). Regresi logistik digunakan karena variabel dependennya metric danvariabel independennya merupakan kombinasi antara metric dan nonmetric. Regresilogistik dapat digunakan tanpa memenuhi asumsi multivariat normalitas (Hair, 2006:19).Persamaan logistik regresi yang digunakan adalah : Ln PL/1-PL = a + b1(BP) + b2(OL) + b3(EPS) + e Adapun kriteria pengujian hipotesis sebagai berikut :1. Jika nilai Wald dengan tingkat signifikansi 5% (P value < 0,05), maka artinya bonus plan, operating leverage, dan earning per share secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perataan laba.2. Jika nilai Wald dengan tingkat signifikansi 5% (P value > 0,05), maka artinya bonus plan, operating leverage, dan earning per share secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perataan laba.
  29. 29. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 29 Definisi Variabel Penelitian Definisi dan operasional variabel secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1: Definisi dan Operasional Variabel Variabel Definisi Indikator Dependen (Y) Usaha manajemen untuk mengurangi Indek perataan laba Perataan Laba variabilitas laba selama satu atau beberapa CV ∆I periode tertentu sehingga laba tidak terlalu = berfluktuasi (Harahap:2007). CV ∆S Dimana: CV ∆I atau CV ∆S ∑(∆xi − ∆x ) 2 = : ∆x n −1 Independen(X) Bonus plan adalah salah satu faktor yang Laba bersih setelah pajakBonus Plan(X1) memotivasi manajemen untuk mengatur laba agar dapat membuat perencanaan bonus yang akan diterima dimasa yang akan datang, karena semakin meningkat laba yang akan dihasilkan perusahaan semakin meningkat bonus yang akan diterima.Variabel ini diproksikan pada jumlah angka laba bersih setelah pajak (Masodah :2007) Operating Operating Leverage merupakan rasio antara Leverage (X2) total biaya depresiasi dan amortisasi dibagi Total Biaya Depresiasi dan Amortisasi dengan total biaya yang meliputi biaya Total Biaya harga pokok penjualan, biaya penjualan, dan biaya administrasi dan umum (Suwito dan Herawati :2005). Earning per Share Earning per Share merupakan laba per Laba bersih (X3) saham yang diperoleh dengan membagi laba yang telah dikurangi dividen saham Jumlah Saham Beredar preferen dengan jumlah tertimbang saham beredar (Irwansyah dan Puji Lestari: 2007) Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Perataan laba diukur menggunakan indeks eckel. Perhitungan tersebut dimaksudkan untuk menemukan kategori suatu perusahaan melakukan tindakan perataan laba atau tidak melakukan perataan laba. Perusahaan dikategorikan melakukan tindakan perataan laba apabila memperoleh CV S lebih besar dari CV I, sedangkan perusahaan yang memperoleh CV S lebih kecil dari CV I maka perusahaan di kategorikan sebagai perusahaan yang tidak melakukan tindakan perataan laba. Berdasarkan hasil analisis data terdapat 13 perusahaan yang melakukan perataan laba, dan 22 perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  30. 30. 30 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 Hasil pengujian regresi logistik dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2: Hasil Pengujian Regresi Logistik Nama Variabel B S.E Wald Sig. Bonus Plan .398 .119 11.193 .001 Operating Leverage .001 .004 .156 .692 Earning per Share .000 .000 .009 .925 Konstanta (a) 10.663 3.052 12.205 .000 2 Cox & Snell – R = .125 a. Predictors: (constant): Nagelkerke – R2 = .171 Bonus Plan, Operating Leverage, dan Earning Chi Square = 20.033 per Share. Sig. = .010 b. Dependent variabel: Perataan laba Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa Bonus plan berpengaruh terhadapindek manajemen laba pada tingkat signifikasi 0,001 dengan koefisien regressi sebesar0,398. Semakin besar bonus plan akan meningkatkan indeks perataan laba. Setiap kenaikan1% bonus plan akan menaikkan indeks perataan laba sebesar 39.8%. sementara operatingleverage dan Earning per share tidak berpengaruh terhadap indek manajemen laba.Sehingga hasil penelitian ini menerima H1 dan Menolak H2 dan H3. Bonus merupakan dorongan bagi manajer perusahaan dalam melaporkan laba yangdiperolehnya sesuai dengan target bonus yang akan diperoleh (Mardiah:2003). Parameter-parameter dari bonus plan disetting sesuai dengan bonus yang diberikan dalam beberapatahun dan jika bonus diberikan dalam jumlah maksimum adalah sesuai dengan fungsi linearpositif dari earning yang dilaporkan. Hal ini mengasumsikan bahwa kompensasi manajerberdasarkan bonus plan meningkat seiring dengan peningkatan earning (Alfiana, 2006).Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz (1998),yang menunjukan bahwa Bonus plan berpengaruh terhadap perataan laba.Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh bonus plan, operatingleverage, dan earning per share terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yangterdaftar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa:1. Bonus plan berpengaruh positif terhadap tindakan perataan laba. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar tingkat bonus plan akan meningkatkan perataan laba. Dengan demikian, apabila perusahaan memiliki nilai bonus plan yang besar, maka nilai perataan laba juga semakin besar.2. Operating leverage dan earning per share secara parsial tidak berpengaruh terhadap perataan laba.Keterbatasan dan saran Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan antara lain:
  31. 31. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 311. Penggunaan model Indeks Eckel (1981) yang mungkin berpengaruh terhadap kesimpulan penelitian. Dalam metode ini kesederhanaan kriteria dan proses klasifikasi sampel menjadi perata dan bukan perata dapat mengaburkan sisi metodologi penelitian yang berkaitan dengan isu perataan laba, seperti tidak adanya tingkat batasan maksimum dan minimum rasio CV s dan CV I yang akan dibandingkan untuk mengklasifikasi sampel.2. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, akibatnya hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan secara luas untuk setiap perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.3. Dalam penelitian ini mengasumsikan bahwa semua sampel menerapkan atau melakukan program bonus plan/compensation plan, oleh karena itu diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat memeriksa apakah perusahaan yang menjadi sampel benar-benar menerapkan program bonus/compensation plan yang dapat dilihat dari annual report nya. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, dapat dikemukakan saran-saransebagai berikut:1. Bagi Investor Sebaiknya lebih teliti dalam menilai laporan keuangan perusahaan khususnya yang berkaitan dengan informasi laba untuk menilai kinerja perusahaan, karena praktik perataan laba ini telah dilakukan oleh beberapa perusahaan di Indonesia.2. Untuk Penelitian Selanjutnya Dapat menggunakan metode lain selain indeks Eckel, seperti model Michelson (1995) dalam mengklasifikasikan perusahaan yang melakukan perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Jika penggunaan indeks Eckel tetap dipertahankan, hendaknya penelitian selanjutnya menggunakan angka laba selain laba bersih setelah pajak, seperti laba operasi dan laba sebelum pajak. Agar dapat diperoleh perbandingan dalam setiap angka laba tersebut untuk menambah informasi dalam mengambil kesimpulan. Sebaiknya penelitian selanjutnya dapat menambah variabel lain yang berhubungan dengan perataan laba seperti harga saham, net profit margin, dan rasio profitabilitas mengingat variabilitas perataan laba yang dapat dijelaskan oleh bonus plan, operating leverage dan earning per share sangat rendah.DAFTAR KEPUSTAKAANAbdullah, Syukriy dan Abdul Halim (2000), Perataan Laba oleh Perusahaan Manufaktur di Indonesia: Analisis Hubungan Rasio-rasio Keuangan yang digunakan Investor, Jurnal telaah Bisnis, Vol 1, No.2.Achmad, Komarudin, Imam Subekti dan Sari Atmini (2007), Investigasi Motivasi dan Strategi Manajemen Laba pada Perusahaan Publik di Indonesia, Simposium nasional Akuntansi X, Makassar.Alfiana, Yeni (2006) Creative Accounting ditinjau dari Teori Akuntansi Positif dan Teori Keagenan. Mandiri, Vol.9, No,1.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  32. 32. 32 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010Apristyana, Liza (2007), Pengaruh Total Aktiva, ROI, ROE, dan Leverage Operasi terhadap Perataan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. Tesis Universitas Airlangga.Arfan, Muhammad (2006) Pengaruh Arus Kas Bebas, Set Kesempatan Investasi, dan Financial Leverage terhadap Manajemen Laba (Studi pada Emiten Manufaktur di BEJ). Disertasi, Universitas Padjajaran, bandung.Astuti, Dewi Saptantinah Puji (2007), Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi Manajemen Laba di Seputar Right Issue, jurnal Universitas Slamet Riyadi Surakarta.Assih, P. & M. Gudono (2000), Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.3, No.1.Atmini, Sari (2000) Standar Akuntansi yang Memberi Peluang bagi Manajemen untuk Melakukan Praktik Perataan Laba. MANDIRI, vol.1, No.8.Belkaouli, Ahmed Riahi (2001) Teori Akuntansi, Edisi pertama, Buku 2. Terjemahan Marwata, dkk. Jakarta: Salemba Empat._____ (2002) Teori Akuntansi, Jilid 2. Terjemahan Herman Wibowo dan Marianus Sinaga. Jakarta: Salemba Empat.Chandra, Siuliany dan Irine Irawati (2005), Analisis Perbandingan Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage Operasi terhadap Indeks Perataan Laba. Skripsi Universitas Kristen Petra.Garrison, Ray H dan Eric W.Noreen (2000), Jilid 1. Terjemahan A.Totok Budisantoso,SE,Akt. Jakarta: Salemba Empat. (2001), Jilid 2. Terjemahan A.Totok Budisantoso,SE,Akt. Jakarta: Salemba Empat.Hair, Joseph F, et al. (2006) Multivariate Data Analysis, Sixth Edition. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc.Harahap, Sofyan Safri (2007) Teori Akuntansi, Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Hendriksen, Heldon S (1999) Teori Akuntansi, edisi Keempat, Jakarta: Erlangga.Hidayati, Siti Munfiah dan Zulaikha (2003), Analisis Perilaku Earning management:Motivasi Minimalisasi Income Tax, Simposium Nasional Akuntansi VI, Surabaya.Ikatan Akuntan Indonesia (2007) Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat.Irwansyah dan Puji Lestari (2007), Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba, Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi, Vol 9, No.2.Jin, Liauw She dan Mas’ud Machfoedz (1998), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 1, No.2.Kuncoro, Mudrajad (2007) Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk bisnis dan Ekonomi, Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.Kustiani, deasy dan Erni Ekawati (2006), Analisis Perataan Laba dan faktor-faktor yang Mempengaruhi, jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan.
  33. 33. Aniek Indrawati dan Teuku Zulkarnaen, Analisis Faktor Lingkungan...... 33Mawarti, Yuliana (2007) Pengaruh Income Smoothing (Perataan Laba) terhadap Earning Response (Reaksi Pasar) pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta(BEJ). Skripsi, Universitas Negeri Semarang.Masodah (2007) Praktik Perataan Laba Sektor Industri Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya dan Faktor yang Mempengaruhinya. Procceeding PESAT Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus.Mursalim (2005) Income Smoothing dan Motivasi Investor: Studi Empiris pada Investor di BEJ. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Rivard, Richard. J., Eugene B dan Gay B.H. Morris (2003) Income Smoothing Behaviour of V.S Banks Under Revised International.Subekti, Imam (2005) Asosiasi Antara Praktik Perataan Laba dan Reaksi Pasar Modal di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Suwito, Edy dan Arleen Herawaty (2005) Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tindakan Perataan Laba yang Dilakukan oleh Perusahaan yang Terdaftar di Bursa efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo.Tandelilin, Eduardus (2001) Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi 1. Yogyakarta: BPFE.Yusuf, M. dan Soraya (2004), “ Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba Perusahaan Asing dan Non Asing Di Indonesia”, JAAI, Vol 8, No.1Zuhroh, Diana (1997), ”Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Tindakan Perataan Laba pada Perusahaan Go Public di Indonesia, Tesis, Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.STRUKTUR PEMBELANJAAN DAN KINERJA PERUSAHAAN................................... (APRIDAR)
  34. 34. 34 Jurnal E-Mabis FE-Unimal, Volume 11, Nomor 2, Mei 2010 KOMITMEN PEKERJA DITINJAU DARI KUALITAS HUBUNGAN ATASAN-BAWAHAN DAN PERSEPSI TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR KARYAWAN INDUSTRI KERAJINAN ENCENG GONDOK, MUARA BATU, KABUPATEN ACEH UTARA HafnidarAbstract: The unemployment and poverty rate in Indonesia is higher and higher from yearto year. The causal factor is because lack of Human Resources in their commitment onworking. According to Tosi and friends (1990), the employees’ commitment on their work isrelated to the quality between underling and higher authority and so does perception of theemployees themselves on career development. After a long conflict and tsunami raisedAceh couple years ago, the industrial of Enceng Gondok in Gampong Mane, Muara Batu isone of potential job demand on career development and skilled occupation for thecommunities. This research is purposed on knowing the relationship between employees’commitment with the quality between underling and higher authority and perception oncareer development to the Engceng Gondok Industrial employees in Muara Batu sub-district, North Aceh. The research is performed on workers of Enceng Gondok industrial inMuara Batu sub-District of North Aceh. The Likerty Model Scale is used as data collectingmethod that is commitment scale, quality scale on relationship quality between underlingand higher authority and perception on career development. The additional data is earnedby using qualitative research method by using filling analysis in indicative principle. Dataanalysis by using regression analysis for double predictor. The result is: 1) there is apositive relationship between a commitment and a perception on career development toEnceng Gondok Industrial workers at Gampong Mane Tunong, Muara Batu sub-District ofNorth Aceh. 2) There is a positive relationship between a commitment and relationshipquality on underling and higher authority to Enceng Gondok Industrial workers inGampong Mane Tunong, Muara Batu sub-District of North Aceh.Key words: commitment, relationship quality between underling and higher authority____________________________________________________________________ Hafnidar, Fakultas Ekonomi Universitas MalikussalehPENDAHULUAN Industri Kerajinan Enceng Gondok di Gampoeng Mane Tunong Kecamatan MuaraBatu Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu Industri kecil menengah yang sedangberkembang di Kabupaten Aceh Utara. Karyawan Industri ini diberi ketrampilan mengolahtumbuhan Enceng Gondok menjadi perabotan rumah tangga yang menarik dan unik.

×