Your SlideShare is downloading. ×
Proposal Penelitian Tindakan Kelas
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Proposal Penelitian Tindakan Kelas

15,003
views

Published on

Published in: Education

2 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Terima kasih banyak. Terima kasih banyak juga untuk esai yang Anda tulis karena sudah membantu saya dengan esai tersebut ketika saya menyusun skripsi tahun 2006 lalu.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Tema bahasan yang menarik.Terima kasih juga telah menggunakan landasan teori berdasarkan esai saya. Semoga bermanfaat untuk para pembaca. -Ujianto Sadewa-
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
15,003
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
413
Comments
2
Likes
6
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 PENINGKATAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI MENGGUNAKAN MUSIKALISASI PUISI BERDASARKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau dikenal juga dengan sebutanKurikulum 2004 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yakniKurikulum 1994. Kurikulum ini menitikberatkan pembelajaran pada pencapaianatau pembentukan kompetensi siswa, yaitu apa yang dapat dilakukan siswa secaraterus-menerus (menetap) sebagai perwujudan dari hasil belajarnya, sehinggadiharapkan setelah siswa menyelesaikan pendidikan, mereka akan memilikipengetahuan, keterampilan, serta pola berpikir dan bertindak sebagai refleksi daripemahaman dan penghayatan dari segala yang telah dipelajarinya. 1 Lahirnya KBK ini tentu merupakan satu hal yang baik bagi duniapendidikan. Selain untuk kemajuan sistem pendidikan, KBK ini juga akanmembuka cakrawala baru bagi para pengajar untuk turut menjalankannya.Mengubah suatu sistem yang ada dengan tatanan sistem yang baru bagi duniapendidikan. Namun, mengubah suatu paradigma yang telah lama menjadi kebiasaanternyata bukanlah hal yang mudah. Kenyataan yang ada tidaklah sepenuhnyaseperti yang diharapkan. Guru cenderung menyajikan materi pembelajaran secara 1 Akademik LPMP Sulawesi Selatan, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching andLearning: http://www.bpgupg.go.id/buletin/akademik.php), hlm.1
  • 2. 2terus menerus agar siswa lebih mudah menghafal dan menguasai materi.Pembelajaran seperti itu memang efektif bagi pembelajaran jangka pendek,artinya siswa dapat mengingat materi yang diajarkan sebanyak-banyaknya. Akantetapi, cara semacam ini ternyata kurang efektif atau dengan kata lain belummampu mencapai target jangka panjang. Siswa cenderung mampu mengingat,namun pada waktu kemudian lupa pada apa yang dihafalnya. Hal ini dikarenakansiswa hanya sekadar menghafal dan tidak dilandasi dengan pemahaman. Meningkatkan mutu pendidikan merupakan tujuan yang ingin dicapai olehKurikulum Berbasis Kompetensi. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukanlebih banyak usaha baik dari pihak pemerintah maupun dari para pengajar. Akantetapi, pada kenyataannya suatu kegiatan pembelajaran memang tidak hanyamemerlukan konsep, namun yang terpenting adalah proses, yaitu bagaimanakurikulum dapat benar-benar diterapkan dengan baik di sekolah-sekolah sehinggatujuan pendidikan yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran dapat benar-benarterlaksana. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL )merupakan salah satu dari berbagai pendekatan yang muncul seiring denganperkembangan KBK. Pendekatan ini merupakan sebuah konsep belajar yangmembantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunianyata siswa. Pendekatan ini juga mendorong siswa memperhatikan hubunganantara pengetahuan yang mereka miliki dengan penerapannya dalam kehidupanmereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam pendekatan ini prosesbelajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja danmengalami, bukan sekedar mengalihkan pengetahuan dari guru kepada siswa. 1
  • 3. 3Dalam proses pembelajaran, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripadahasil, sehingga apa yang dipelajari siswa akan benar-benar membekas dalam dirimereka.2 Dalam konteks tersebut jelaslah bahwa pendekatan ini mengedepankanpemahaman secara mendalam pada diri siswa, sehingga diharapkan siswa dapatmengerti makna belajar, manfaat belajar, dalam status apa mereka, dan bagaimanamencapai tujuan pembelajaran tersebut. Dengan kesadaran penuh siswa akanmengetahui bahwa mereka membutuhkan bekal untuk kehidupan kelak. Untukmencapai hal tersebut mereka memerlukan guru sebagai pendamping danpembimbing bahkan dapat bertindak sebagai pengarah. Pendekatan kontekstual dalam strateginya memang diperlukan untukmenunjang pembelajaran. Hal ini dikarenakan selain pendekatan ini tidakmemerlukan perubahan tatanan kurikulum, pendekatan ini juga dapat diterapkandalam berbagai mata pelajaran. Meskipun demikian tetap diperlukan strategi yangsesuai dengan kebutuhan dari masing-masing mata pelajaran tersebut. Menurut Depdiknas, secara umum, tidak ada perbedaan mendasar antaraprogram pembelajaran konvensional dan program pembelajaran kontekstual.Perbedaan yang paling mendasar hanya pada penekanannya. Programpembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akandicapai, sedangkan program untuk pembelajaran kontekstuallebih menekankanpada skenario pembelajaran.3 Oleh karena itu maka kemampuan seorang gurudalam menyajikan pembelajaran menjadi hal yang sangat penting dalampelaksanaan CTL ini. Seorang pengajar harus mampu menyajikan strategiterbaiknya untuk digunakan dalam pembelajaran. Penguasaan dan pemahaman 2 Ibid, hlm.1. 3 Depdiknas, Pendekatan Contextual Teaching and Learning (Jakarta: Depdiknas, 2003),hlm. 23.
  • 4. 4seorang pengajar dalam membuat dan mengembangkan skenario pembelajaranakan sangat berarti bagi kelangsungan pembelajaran. Pembelajaran Apresiasi Puisi merupakan bagian dari pembelajaran sastrayang diajarkan di sekolah. Akan tetapi, pada kenyataannya, pembelajaranapresiasi puisi di sekolah-sekolah masih terasa belum efektif dikarenakanbeberapa hal, antara lain; kurangnya waktu yang tersedia untuk mempelajari puisisecara lebih seksama, kurangnya minat siswa terhadap puisi dengan alasanpengajaran yang digunakan membosankan, dan banyak hal lain yangmenyebabkan pembelajaran apresiasi puisi masih dirasakan belum mencapaifungsinya. Selain itu, inisiatif guru Bahasa Indonesia untuk mengembangkansastra masih kurang. Maka, tak heran jika puisi di sekolah mengalamikemandekan karena masih terikat dengan pola lama. Selain itu, pemahamantentang apresiasi puisi dari segi teori maupun segi praktik haruslah dikuasaidengan baik. Dengan demikian, siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebihbaik tentang puisi dan cara mengapresiasinya. Itu pula yang pada akhirnya akanmenumbuhkan kecintaan siswa terhadap puisi, sehingga langsung ataupun tidak,proses apresiasi itu akan berjalan dengan lebih alamiah. Seiring berkembangnya KBK, pembelajaran sastra kini menjadi bagianyang terpisah dari pembelajaran bahasa. Dengan demikian, pengajar mempunyairuang gerak yang lebih luas untuk menerapkan strategi-strategi baru di dalamkelas. Cara ini diharapkan dapat lebih menarik minat siswa terhadap pembelajaransastra, khususnya pembelajaran apresiasi puisi. Selain itu, dengan strategi-strategiyang tepat seorang pengajar dapat memberikan peluang kepada siswa untuk lebihmengembangkan kreativitasnya dalam belajar, sehingga apa yang ingin dicapai
  • 5. 5pada setiap pembelajaran akan menjadi hal yang nyata membekas dalam dirisiswa. Dalam KBK Sekolah Menengah Atas (SMA) dijelaskan bahwa standarkompetensi mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikatpembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi danbelajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya.3Dengan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran sastra di sekolahmerupakan suatu usaha yang dilakukan dengan tujuan untuk mengasah kepekaansiswa terhadap segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan. Secara konkret, terdapat beberapa bentuk dari apresiasi puisi, antara lainmembaca, memahami, dan mencipta puisi. Dari ketiga bentuk apresiasi tersebut,membaca puisi merupakan bentuk apresiasi yang paling mudah untuk dinilai.Oleh karena itu peneliti mengkhususkan apresiasi puisi dalam penelitian ini padapembacaan puisi. Memilih strategi dalam pembelajaran puisi memang dapat dilakukandengan berbagai cara, mengingat kegiatan mengapresiasi memang tak hanya satubentuk, mengingat pembelajaran apresiasi puisi juga terdapat dalam beberapabentuk. Dalam kurikulum SMA terdapat beberapa indikator yang mengarah padakemampuan siswa untuk mengapresiasi puisi, baik dalam bentuk membaca puisi,memahami puisi, maupun mencipta puisi. Dengan demikian, seorang pengajarmemerlukan berbagai variasi pengajaran, sehingga siswa tidak merasa bosandengan strategi yang sama untuk pembelajaran apresiasi, ekspresi, dan kreasi. 3 Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi MataPelajaran Bahasa Indonesia (Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, Jakarta: DepartemenPendidikan Nasional, 2003), hlm.1
  • 6. 6Selain itu, dengan mencobakan strategi yang bervariasi tentunya pengajar dapatmengetahui strategi mana yang lebih tepat dalam pembelajaran puisi pada siswaSMA. Salah satu strategi dalam pembelajaran sastra yang sudah tidak asingadalah bentuk musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi merupakan kombinasi bunyiantara puisi dengan musik. Dengan kata lain, musikalisasi puisi ini menyajikanpuisi dalam bentuk lagu. Musikalisasi puisi sebenarnya bukan hal baru dalamdunia sastra, hanya saja perkembangannya tidak begitu pesat. Para pengajar sastramemiliki banyak kendala dalam mengajarkan puisi dengan bentuk musikal.Kendala-kendala tersebut dapat berupa keterbatasan waktu atau karenaketerbatasan pengetahuan dan penguasaan terhadap seni musik. Di sisi lainsebenarnya musik sangat diminati oleh siswa. Sebuah lagu dapat dianggap sebagai suatu alat dan bahan yang efektifuntuk pembelajaran apresiasi puisi. Menurut Orlava (dalam Forum, 1997: 41) lagudianggap sebagai suatu alat yang efektif untuk pengajaran bahasa. Orlava jugamengemukakan beberapa alasan untuk memperkuat pernyataannya, yaitu antaralain: (1) lagu dapat menampilkan fungsi yang berbeda dalam pengajaran bahasa (terutama puisi), (2) lagu dapat menjadi pendorong untuk melakukan percakapan di kelas, (3) lagu dapat memotivasi suatu pendekatan emosional untuk belajar bahasa, (4) lewat lagu siswa dapat mengekspresikan sikapnya terhadap apa yang telah dia dengar, dan (5) lagu juga dapat membantu perkembangan estetis seseorang.4 4 Mislinatul Sakdiyah, Menggauli Puisi Lewat Lagu (Gelar Karya Esai Cybersastra:www.cybersastra.net, 2002), hlm.1
  • 7. 7 Berkembangnya KBK memberi waktu yang lebih banyak kepada pengajarsastra untuk menyajikan pembelajaran apresiasi puisi dengan berbagai strategi.Dengan demikian masalah waktu tidak boleh lagi menjadi kendala bagi pengajar,untuk dapat bereksperimen dengan metode-metode baru yang tentunya lebihmenjanjikan peningkatan hasil belajar. Melihat konteks di atas, maka dapat dikatakan bahwa pendekatankontekstual melalui musikalisasi puisi dapat menjadi satu pilihan dari strategipembelajaran apresiasi puisi yang menarik bagi siswa. Selain menuntut dayakreativitas siswa, musikalisasi puisi tidak hanya akan menarik minat siswa yangmenyenangi seni sastra terutama puisi, tetapi juga dapat menarik minat siswayang menyenangi seni musik.1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan, dapatdiidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:1) Apakah Kurikulum Berbasis Kompetensi telah diterapkan di SMA terutama untuk pembelajaran sastra?2) Bagaimanakah menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran sastra?3) Bagaimanakah meningkatkan pembelajaran apresiasi puisi di SMA?4) Bagaimanakah menerapkan strategi musikalisasi puisi dalam pembelajaran apresiasi puisi di SMA?5) Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran apresiasi puisi melalui musikalisasi puisi pada siswa SMA?
  • 8. 81.3 Pembatasan Masalah Melihat banyaknya masalah yang teridentifikasi, maka masalah dalampenelitian ini dibatasi hanya pada penerapan pendekatan kontekstual dalampembelajaran apresiasi puisi melalui musikalisasi puisi siswa SMA.1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalahdalam penelitian ini sebagai berikut, “Bagaimanakah penerapan pendekatankontekstual dalam pembelajaran apresiasi puisi melalui musikalisasi puisi siswaSMA?1.5 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:1) Peneliti; membantu peneliti dalam mendalami pembelajaran sastra di sekolahdengan menerapkan strategi yang sesuai, dan dapat memperluas pengetahuantentang pembelajaran apresiasi puisi di SMA.2) Para pengajar sastra; memberikan masukan atau ide-ide baru dalampembelajaran, sastra khususnya apresiasi puisi di SMA. Selain itu memotivasipara pengajar sastra untuk dapat menerapkan metode-metode pembelajaran baruyang sesuai dengan KBK, guna meningkatkan mutu pendidikan khususnya dibidang kesastraan.3) Pembelajar sastra; menumbuhkembangkan minat siswa terhadap sastrakhususnya puisi dan dapat meningkatkan hasil belajar sastra.
  • 9. 9 BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR2.1 Landasan Teori2.1.1 Hakikat Musikalisasi Puisi Secara istilah kata musikalisasi puisi biasa dipahami sebagai suatuperpaduan antara dua cabang seni yang berbeda, yaitu seni musik dan seni sastra.Istilah ini secara gramatik terbentuk dari kata musik dan puisi. 5 Ditilik daripenjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memahami hakikatmusikalisasi puisi harus terlebih dahulu memahami musik dan puisi. MenurutEnsiklopedi Nasional Indonesia (1990:413), musik adalah sebuah letusan ekspresiperasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Secaraetimologi musik itu berasal dari bahasa Yunani yaitu mousike yang diambil darinama dewa Yunani kuno, Mousa, yang memimpin seni dan ilmu.6 Pandangan lain datang dari Yapi Tambayong (1992:55) yang dinyatakanoleh Sadewa dengan cukup filosofis mengatakan bahwa orang berhak menyebutmusik untuk segala substansi yang ada hubungannya dengan bunyi dan substansiitu sah dibilang musik karena ia bukan merupakan benda yang sebelumnya punyanama dan nama itu diterima sebagai persetujuan yang berlaku, misalnya batu,kertas darinya dapat lahir musik,maka sejauh batu dan kertas itu mengeluarkanbunyi, dan bunyi itulah yang dimanfaatkan sebagai substansi.7 Kedua penjelasan tersebut tentu merupakan sebuah penjelas yangmemberikan gambaran bahwa musik itu sebagai bunyi, dan siapa pun berhak 5 Ujianto Sadewa, Musikalisasi Puisii: esai (Bandung: www.cybersastra.net:2002), hlm.1 6 Ibid, hlm.1 7 Ibid, hlm.1 8
  • 10. 10menyebut segala sumber sebagai substansi yang dikatakan sebagai musik. Pakarmusik, Leon Dahlin (1965: 1), menyatakan perihal eksistensi musik sebagaiberikut: “Music from the dawn of civilization has been an integral part of man’s culture. Human has beings have ekspressed themselves in pitches and rhytms throughout the hundreds of years of recorded history and far thousands of years before” (Musik berasal dari kemasyarakatan yang menyatu dan merupakan bagian dari manusia. Manusia mengekspresikan dirinya dalam pola-pola titinada dabn irama-irama sepanjang ratusan tahun catatan sejarah dan selama ribuan tahun sebelumnya).8Leon Dahlin lebih lanjut mengemukakan bahwa musik merupakan suatu bagianyang menyatu dengan masyarakat dan budaya. Musik telah lama dikenalmasyarakat, dan telah ribuan tahun lalu dikenal dan berkembang di masyarakat.Selain itu ditambahkannya bahwa musik memiliki titinada dan pola irama-iramayang berasal dari ekspresi manusia. Pengertian musik tersebut dapat dipergunakan untuk memahamimusikalisasi puisi, yang terdiri dari unsur musik serta puisi . Menurut Herman J.Waluyo, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran danperasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikansemua kekuatan dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.9 Dalam pengertian tersebut, Waluyo menekankan pada struktur fisik danstruktur batin yang dimiliki oleh puisi, bahwa puisi merupakan suatu ekspresipenyair. Adapun penjelasan selanjutnya mengenai kedua struktur tersebut adalahbahwa struktur fisik puisi adalah apa yang dapat dilihat pembaca melalui bahasayang tampak, sedangkan struktur batin atau struktur makna dalam puisi adalah 8 Ibid, hlm.1 9 Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi (Jakarta:Erlangga,1987), hlm.25
  • 11. 11makna yang terkandung di dalam puisi yang tidak secara langsung dapat dihayatioleh pembaca.10 Berbicara mengenai fisik maupun batin dalam puisi, Aminuddinmenyatakan bahwa: Secara etimologi, puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’ dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’ karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri , yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.11Penjelasan ini lebih menekankan pada hakikat penciptaan atau pembuatan puisi.Melalui puisi seorang penyair dapat menyampaikan pesan atas gambaran-gambaran kehidupan yang dilihatnya. Pesan tersebut terangkum dalam strukturfisik maupun struktur batin puisinya. Menurut Sadewa musikalisasi puisi adalah pengubahan puisi sebagai teksmenjadi puisi sebagai musik atau pemusikan puisi. Disini berarti bahwamusikalisasi puisi merupakan sebuah ekspresi baru yang didasari oleh suatuinterpretasi terhadap puisi, seperti halnya deklamasi dan dramatisasi puisi.12Penjelasan tersebut sebenarnya sebagai suatu penerangan bahwa musikalisasi ituadalah sebuah hasil dari gubahan puisi menjadi musik. Mengacu pada hakikat puisi yang dikemukakan oleh Slametmulyana, yangmenyatakan bahwa puisi sebagai bentuk sastra dalam pengulangan suara ataukata yang menghasilkan rima, ritme, dan musikalitas, akan lebih mudah dipahamibahwa memang sejak awal puisi itu telah mengandung unsur musikalitas. Hal ini 10 Ibid, hlm. 26 11 Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: Sinar Baru Agensindo Offset,2000), hlm.134 12 Ujianto sadewa, Musikalisasi Puisi:esai (bandung: www.cybersastra.net, 2002), hlm.1
  • 12. 12tentu memperjelas pernyataan Sadewa tersebut, bahwa puisi dapat digubahmenjadi musik. Memperkuat pernyataan Slametmulyana, didapatkan pula penjelasan AgusR. Sarjono (Ketua Bidang Program Dewan Kesenian Jakarta) dalam sebuahdiskusi sastra yang menuturkan bahwa puisi itu selalu mempunyai musikalitas,dan tugas musikalisasi puisi adalah mengubah musikalitas pada puisi menjadilebih terasa menjadi suatu musik yang bisa didengar. 13 Dalam diskusi yang sama,Ratna Sarumpaet mengemukakan bahwa dalam musikalisasi puisi sebenarnyakita jangan hanya bertumpu pada puisinya, namun juga harus memperkuat danmemperhatikan musiknya untuk mencari spirit/roh dari puisi itu sendiri. 14Pernyataan tersebut tentu menambah pemahaman kita bahwa dalam musikalisasipuisi seseorang tidak hanya harus memperhatikan puisinya, akan tetapi harus puladapat memperkuat musiknya. Memperkuat musik berarti ketika suatu puisi dimusikalisasikan, harus diperhatikan atau disesuaikan pula musik yang menjadiunsur pembentuknya. Karena dengan musik yang tepat, diharapkan makna daripuisi tersebut semakin lebih dapat dihayati oleh penikmatnya. Selain itu, musikjuga sangat mendukung adanya penjiwaan terhadap puisi tersebut. Penjelasan musikalisasi yang selanjutnya datang dari Sanggar Matahari(tim Musikalisasi Puisi ) yang menyatakan bahwa: Kalau kita membuka Kamus Besar Bahsa Indonesia, misalnya, akan kita jumpai keterangan tentang kata musikalisasi, yaitu ‘hal menjadikan bersifat musikal.’ Kata musikal sendiri berarti ‘berkenaan dengan musik’, ;mempunyai kesan musik’, dan ‘mempunyai rasapeka terhadap musik’. Kata musikal itu bertalian dengan kata musik yang tidak lain artinya adalah ‘ilmuatau seni menyusun nada atau suara di urutan kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai 13 Musikalisasi Bisa Jadi genre yang berwibawa: artikel (www.cybersastra.net), hlm. 1 14 Ibid, hlm.2
  • 13. 13 kesatuan dan keseimbangan’ atau ‘nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi tersebut)’.15 Selanjutnya, dijelaskan pula dalam sumber yang sama bahwa musikalisasimerupakan upaya untuk lebih menonjolkan unsur musikal tersebut sehingga sajaksebagai karya sastra yang berbentuk puisi dapat lebih jelas lagi berdiri di depankhalayaknya. Jadi, unsur musikal merupakan jembatan bagi khalayak untuk“berhubungan” dengan sajak.16 Semakin jelas bahwa musikalisasi itu memang bertujuan untukmenonjolkan unsur musikal yang telah ada dalam sebuah puisi. Sehingga ketikapuisi tersebut disajikan di depan khalayak, ada warna atau aroma baru yang dapatmemperkuat daya tarik terhadap puisi tersebut. Pada dasarnya musik dapatdijadikan jembatan untuk berhubungan dengan sajak dalam hal ini puisi. Pada penerapannya, pembelajaran apresiasi puisi ini akan dilakukandengan menggunakan pendekatan kontekstual. Mengingat pembelajaran ini akandisesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada saat ini, yaitu KBK. Olehkarena itu, peneliti merasa perlu untuk menjelaskan mengenai pendekatankontekstual ini dan hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Pendekatan kontekstual dalam pengantar buku pendekatan kontekstualmenurut Drs. Umaedi, M.Ed, menyatakan bahwa: Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan 15 Fredie Arsie, Proses Musikalisasi Puisi Deavis sanggar Matahari (Jakarta: Balai Pustaka,1996), hlm.3 16 Ibid, hlm.4
  • 14. 14 melibatkannya dalam tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), permodelan (Modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assasement). 17Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pendekatan kontekstual itumerupakan suatu strategi dalam pembelajaran yang memiliki tujuh komponenpenting yang melandasinya. Pada sumber lain didapatkan penjelasan mengenaipendekatan kontekstual sebagai berikut: Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning- CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.18 Pendapat tersebut senada dengan pendapat sebelumnya mengenai hakikatpendekatan kontekstual. Penjabaran hakikat tersebut makin memperjelaspemahaman tentang pendekatan kontekstual. Selain itu dalam penjabarannyadijelaskan bahwa pendekatan kontekstual mengajarkan kepada siswa untukmerekonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan yang pada akhirnyamenjadi tujuan dari suatu proses pembelajaran. Pendekatan kontekstual sebenarnya bukan suatu strategi baru dalam duniapendidikan. Seperti yang penulis dapatkan. Pendekatan ini sebenarnya berakardari penelitian John Dewey (1916) yang menurut Rosyidah menyimpulkan bahwasiswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang 17 Akademik LPMP Sulawesi Selatan, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching andLearning): (http://www. Bpgupg.go.id/buletin/akademik.php), hlm.4 18 Nurhadi, Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 103
  • 15. 15telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi disekelilingnya.19Jadi, dalam pembelajaran yang berbasis kontekstual, siswa harus menghubungkanapa yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata, bahkan mengaitkan apa yangdipelajarinya dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Dalam penerapannya di kelas, CTL tidak terlalu sulit. Secara garisbesar langkah penerapannya dapat dilakukan sebagai berikut:1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya!2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic!3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!4) Ciptakan ;masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)!5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran!6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan!7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara !20 Langkah-langkah pembelajaran kontekstual di atas merupakanpengembangan dari tujuh komponen yang telah disebutkan sebelumnya.Penjabaran seperti itu dilakukan untuk mempermudah guru mengingat danmenerapkan pembelajaran kontekstual dengan komponen lengkap pada saatmengajar. Dengan melihat penjelasan tersebut, maka dapat dipahami hakikatpendekatan kontekstual yang akan diterapkan dalam penelitian ini, yaitu peneliti 19 Fima Rosyidah, Pengembangan KBK Melalui Strategi Pembelajaran Kontekstual(http://artikel. us/art 05-96.html) 20 Nurhadi, Op.Cit, hlm.106
  • 16. 16akan mencoba menerapkan pendekatan ini dengan komponen-komponenpembentuknya dalam proses pembelajaran apresiasi puisi melalui musikalisasipuisi.2.1.3 Hakikat Pembelajaran Apresiasi Puisi Siswa SMA. Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian katapembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang atau makhluk hidupbelajar, sedangkan kata belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atauilmu. Jadi dapat dipahami bahwa dalam sebuah proses pembelajaran yang dilihatadalah sebuah proses belajar untuk pencapaian pengetahuan, demikian jugahalnya dengan pembelajaran apresiasi puisi. Menurut Sumardi dan Abdul Rozak, apresiasi puisi pada dasarnyamerupakan sikap jiwa pembaca terhadap sajak yang dibaca. Sebagai sikap jiwa,apresiasi puisi menyiratkan suatu kualitas rohaniah menghadapi obyek yangdisikapi, yakni sajak21. Apabila menilik pada pengertian tersebut, maka jelas bahwa yangmerupakan hal penting dalam kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan membacapuisi. Atau dapat dikatakan bahwa untuk melihat tingkat apresiasi seseorangterhadap puisi adalah sikap jiwa ketika ia menghadapi obyek yaitu puisi tersebut. Herman J. Waluyo menyatakan bahwa untuk memahami sebuah puisiyang besar dan sangat terkenal dapat digunakan pendekatan objektif, ataupendekatan melalui unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada puisi tersebut. Akantetapi, untuk memahami puisi-puisi yang sukar dan belum termashur atau puisi-21 Sumardi dan Abdul Rozak,Pedoman Pengajaran Apresiasi SLTP dan SLTA untuk Guru danSiswa (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 7
  • 17. 17puisi gelap yang bersifat khas diperlukan adanya usaha menghubungkan puisitersebut dengan faktor di luar unsur-unsur intrinsiknya. 22 Ini berarti dalammemahami sebuah puisi, seseorang tidak dapat hanya melihat unsur-unsurpembentuk puisi seperti tema, amanat, diksi, dan sebagainya. Akan tetapi,diperlukan juga adanya pengkajian unsur-unsur lain yang berada di luar puisi,misalnya latar belakang pengarang, kondisi kejiwaan pengarang saat menciptapuisi, lingkungan sosial masyarakat, dan sebagainya. Penjelasan Waluyo tersebut tergambar pula dalam sumber lain yangmenyatakan bahwa yang dimaksud dengan penghayatan yaitu pengalaman batin.Si pembaca sebaiknya memahami apa yang dirasakan penyair pada saatmenciptakan puisi tersebut. Paling tidak terjadi dialog batin antara si pembacapuisi dengan si penyair yang karyanya dibacakan melalui deretan kata-kata yangbernama puisi.25 Jadi dapat dipahami bahwa dalam proses pemahaman danpenghayatan puisi, diperlukan adanya kajian dari berbagai unsur dan berbagaipendekatan. Setelah mengetahui secara mendasar apa itu pembelajaran dan apaitu apresiasi maka akan lebih mudah kiranya untuk memahami makna harfiah daripembelajaran apresiasi puisi siswa SMA. Dalam penerapannya, suatu kegiatan pembelajaran apresiasi puisibertujuan untuk mengetahui seberapa jauh siswa mamnpu mengapresiasi puisi.Oleh karena itu diperlukan adanya alat ukur yang dapat dijadikan sebagailandasan apakah seseorang telah mampu mengapresiasi puisi dengan baik atautidak.22 Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi (Jakarta: Erlangga, 1987),hlm. 2 2
  • 18. 18 Telah dikemukakan oleh Sumardi bahwa apresiasi puisi adalah sikap jiwamemperlakukan sajak sesuai dengan kadar seni dan kandungan isinya . Sumardipun menjelaskan lebih lanjut bahwa kemampuan mengapresiasi ini terwujuddalam berbagai bentuk, antara lain kegemaran membaca sajak dan keterampilanmendeklamasikan sajak itu. Sedangkan untuk tingkat apresiasi yang lebih tinggikemampuan apresiasi puisi dapat berupa keterampilan menulis esei tentangpuisi, kemampuan menemukan dan merumuskan makna sajak itu dalam bentuktulisan yang dapat dibaca dan difahami orang lain. Akan tetapi dijelaskankembali bahwa kemampuan tersebut hanya dapat dicapai apabila seseorang telahberulang-ulang terlibat dalam pengalaman puitis, pengalaman membaca danmenikmati sajak secara langsung, bukan melalui teori atau kaidah-kaidah umumyang diutarakan buku pelajaran23. Penjelasan tersebut tentu mengedepankan pentingnya suatu pengalamanapresiasi puisi dalam bentuk membaca puisi. Hal ini selain untuk melihatkemampuan mengapresiasi puisi juga pada dasarnya merupakan langkah untukmenuju pada tingkat apresiasi puisi yang lebih tinggi. Dalam penilaian apresiasi itu sendiri, Sumardi dan Abdul Rozakmengemukakan kriteria penilaian yang terdiri dari penjiwaan, suara, dan gerak.Penjelasan lebih lanjut adalah bahwa penjiwaan mencakup pada keutuhan maknasajak dan penyampaian pesan atau amantnya, suara meliputiartikulasi, intonasi,nada, dan irama. Sedangkan untuk gerak atau acting membaca puisi sebaiknyatidak berlebihan242 23 Sumardi dan Abdul Rozak, Op.Cit, hlm 7-8 24 Ibid, hlm. 79-81
  • 19. 19 Pada sumber lain didapatkan tambahan bahwa gerak itu tidak hanyaterlihat bergoyang saja, melainkan ekspresi tau mimik (gerak muka) gesture(gerak tangan), dan pantomimik (gerak tubuh). Selain itu ditambahkan pulabahwa gerak itu bukan gerak yang dciptakan oleh pembaca puisi melainkan gerakyang yang diciptakan oleh puisi itu sendiri.25 Berdasarkan penjabaran di atas dapat dikatakan bahwa penerapanpendekatan kontekstual dalam pembelajaran apresiasi puisi melalui musikalisasipuisi adalah upaya meningkatkan kemampuan apresiasi puisi khususnyamembaca puisi melalui musikalisasi puisi dengan menerapkan pendekatankontekstual dalam proses pembelajaran di kelas. Sedangkan tolak ukur yangdigunakan sebagai penilaian adalah penjiwaan, suara, dan gerak siswa dalammembaca puisi2.2 Kerangka Berpikir Berdasarkan teori-teori pada bagian sebelumnya, peneliti mengambilsuatu kerangka berpikir bahwa apresiasi puisi adalah suatu kegiatan dalammenghargai atau mengapresiasi puisi dengan menunjukkan sikap jiwa seseorangketika membaca sebuah puisi. Sikap jiwa itu meliputi penjiwaan, suara, dan gerakseseorang ketika membaca puisi, sehingga suasana dalam puisi tersebut dapatsampai kepada orang yang mendengarkan atau menyaksikan pembacaan puisitersebut. Musikalisasi puisi adalah suatu teknik pembelajaran puisi yangmenggabungkan unsur musik dan unsur sastra dalam hal ini unsur puisi. Padamusikalisasi puisi, sebuah puisi yang telah tercipta disajikan dengan musik untuk 25 Sri Suhita, Apresiasi Puisi (Jakarta: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UniversitasNegeri Jakarta, 2004), 40.
  • 20. 20dinikmati sebagai suatu bentuk lain dari puisi. Akan tetapi, bentuk lain dalampenyajian puisi ini harus tetap menjaga makna atau isi yang dimiliki puisi,sehingga pemaknaan puisi tersebut tidak berubah.. Untuk penerapannya di kelas, digunakan pendekatan kontekstual yangmerupakan salah satu pendekatan berlandaskan pada KBK yang di dalamnyamemiliki tujuh komponen pembentuk antara lain: konstruktivisme(constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakatbelajar (learning community), permodelan (modelling), penilaian sebenarnya(authentic assasement), dan refleksi (reflection). Dalam pendekatan inikomponen atau unsur pembentuknya juga berperan dalam proses pembelajaran,sehingga pendekatan ini tidak hanya terpaku pada penilaian hasil, akan tetapimementingkan pula penilaian selama proses pembelajaran berlangsung.2.3 Hipotesis Tindakan Kemampuan apresiasi puisi siswa khususnya dalam membaca puisi dapatmeningkat dengan menggunakan pendekatan kontekstual melalui musikalisasipuisi.2.3 Definisi Konseptuala) Kemampuan mengapresiasi puisi adalah kemampuan untuk menunjukkan sikap jiwa terhadap puisi yang dibaca dalam bentuk penjiwaan, suara, dan gerak ketika membaca puisi.b) Catatan kolaborator (peneliti) adalah catatan yang diperoleh peneliti pada saat turun langsung ke lapangan sebagai pengamat atau penelitic) Catatan guru adalah catatan yang diperoleh guru pada saat mengajar
  • 21. 212.4 Definisi Operasionala) Kemampuan mengapresiasi puisi adalah kemampuan untuk menunjukkan sikap jiwa terhadap puisi yang dibaca dalam bentuk penjiwaan, suara, dan gerak ketika membaca puisi.b) Catatan kolaborator adalah catatan peneliti yang diperoleh dengan melihat proses pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas 1 di SMA Negeri 77 Jakarta, yang menerapkan pendekatan kontekstual melalui musikalisasi puisi dalam pembelajarannya.c) Catatan guru adalah catatan atau penilaian yang didapatkan oleh guru dalam proses dan hasil pembelajaran apresiasi puisi pada siswa kelas I di SMA Negeri 77 Jakarta dengan penerapan pendekatan kontekstual melalui musikalisasi puisi.
  • 22. 22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan kemampuanmengapresiasi puisi pada siswa SMA kelas 1 SMA Negeri 77 Jakarta denganmenerapkan pendekatan kontekstual melalui musikalisasi puisi.3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di SMA Negeri77 Jakarta. Waktu penelitiandilaksanakan pada semester 1 (satu) tahun pelajaran 2006 /2007.3.3 Setting Kelas SMA Negeri 77 Jakarta merupakan salah satu SMA yang terletak didaerah Jakarta Pusat. Sekolah ini terdiri dari 18 kelas yang masing-masingtingkatan terdiri dari enam kelas. Lingkungan di sekitar sekolah adalahperumahan penduduk yang cukup kondusif, karena selain sepi, pada lingkunganini pun terdapat beberapa sekolah lain. Oleh karena itu dapat dikatakanlingkungan sekitar SMAN 77 Jakarta merupakan lingkungan pendidikan yangcukup kondusif. Penelitian ini dilakukan pada kelas 1, dengan pertimbangan padakurikulum terbaru yang digunakan sebagai acuan, kelas 1 merupakan kelas yangpaling banyak mempelajari materi puisi. Untuk menentukan kelas mana yang akan digunakan dalam penelitian ini,maka ditentukan dengan sistem acak atau random. Dari enam kelas yang ada,kelas yang dipilih merupakan hasil dari undian.
  • 23. 23 Adapun penelitian yang akan dilakukan terdiri dari 1 siklus, yang tiap-tiap siklus terdiri dari beberapa pertemuan. Siklus 1 terdiri dari 3 pertemuan .Seluruh pertemuan dalam penelitian memiliki beberapa langkah pembelajaranyang terdiri dari tiga langkah penting.Pertama; langkah awal dengan meminta siswa mengapresiasi puisi dalam bentukmembaca puisi. Penilaian diberikan pada penjiwaan, sura, dan gerak siswa ketikamembaca puisi.Kedua; langkah inti meliputi pemberian materi musikalisasi puisi. Dilanjutkandengan proses belajar siswa dalam mengapresiasi puisi secara berkelompokdengan memberikan pemaknaan secara bebas terhadap sebuah puisi yangdisajikan dalam bentuk musikalisasi puisi. Adapun tujuan ini dilakukan untukmelihat seberapa jauh kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi dalambentuk lagu.Langkah ketiga; guru akan memberikan tugas pada setiap siswa untukmengapresiasi puisi dalam bentuk pembacaan puisi. Penilaian yang dilakukanadalah pada penjiwaan, suara, dan gerak siswa ketika membacakan puisi.3.4 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode action research yaitu suatumetode dengan karakteristik yang khas, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:1) Masalah yang diteliti adalah masalah yang nyata,2) Berorientasi pada pemecahan masalah,3) Bertujuan meningkatkan kualitas.,4) Menggunakan data penelitian, dan5) Adanya tindakan (action).
  • 24. 24 Adapun penelitian ini dilakukan dengan siklus yang masing-masing siklusterdiri atas:1) Perencanaan (planning),2) Tindakan (acting),3) Refleksi (reflecting). 3.4.1. Siklus 1) Perencanaan (Planning)Pada siklus ini akan digunakan model pembelajaran menggunakan pendekatankontekstual yang berdasarkan KBK. Siklus ini dilakukan sebanyak 3 kalipertemuan, dengan alokasi waktu 6 jam pelajaran. Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti dalam siklus ini,meliputi:1. peneliti memberikan tes apresiasi puisi kepada siswa untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca puisi.2. Peneliti menyiapkan model pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual yang lebih rinci tersaji dalam rencana pengajaran/skenario pembelajaran sebanyak 3 buah ( untuk 3 kali pertemuan) dengan strategi pembelajarn yang berbeda pada tiap pertemuan Untuk kegiatan belajar mengajar disampaikan oleh guru kelas. Hal ini bertujuan agar data penelitian ini merupakan data yang alami dan akurat, karena siswa telah terbiasa diajar oleh guru kelas.3. Pembelajaran berlangsung dengan berpedoman pada skenario pembelajaran yang dibuat pada tiap pertemuan. Adapun sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung pada setiap pertemuan, terlebih dahulu guru dan
  • 25. 25 peneliti mendiskusikan rencana pembelajaran yang akan disajikan oleh guru. Setelah kegiatan belajar mengajar di kelas selesai disajikan, guru dan peneliti mengevalusi proses dan hasil belajar siswa pada kegiatan belajar mengajar tersebut.3. Guru memahami musikalisasi puisi sebagai suatu bentuk penyajian puisi dalam bentuk lagu. Selanjutnya memberikan contoh bentuk musikalisasi puisi dengan menggunakan model sesuai dengan media yang tercantum dalam skenario pembelajaran.4. Dalam setiap pertemuan, siswa diminta mengapresiasi puisi dalam bentuk membaca puisi.5. Guru dan peneliti menyusun catatan tersendiri sebagai hasil observasinya terhadap proses dan hasil kegiatan belajar mengajar di kelas yang dilakukan guru.6. Pada setiap akhir pertemuan, siswa diminta untuk mengapresiasi puisi dalam bentuk membaca puisi secara perseorangan dengan penilaian yang meliputi penjiwaan, suara, dan gerak yang baik. Pada akhir siklus, akan diadakan evaluasi atas 3 pertemuan yang telah dilakukan, untuk melihat peningkatan apresiasi puisi siswa dengan penerapan pendekatan kontekstual melalui musikalisasi puisi dengan proses dan hasil yang paling baik. Tolak ukur yang digunakan dalam penilaian ini adalah kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi berdasarkan kriteria penilaian yang dibuat. 2) Tindakan (acting) Pada siklus ini, peneliti menyajikan suatu kegiatan belajar mengajar yangdilakukan oleh guru kelas menggunakan strategi pembelajaran dengan media
  • 26. 26yang berbeda pada tiap pertemuan. Strategi yang digunakan juga merupakan carayang bervariasi dan menarik minat siswa untuk belajar. Hal ini disesuaikandengan pendekatan kontekstual yang menerapkan metode belajar yang bervariasipada proses pembelajaran. Setiap pertemuan akan diisi dengan kegiatan belajaryang memaksa siswa untuk aktif dan produktif. Peneliti meneliti jalannya proses pembelajaran yang disampaikan olehguru. Baik guru maupun peneliti akan mencatat dan memonitor kejadian-kejadianselama kegiatan belajar mengajar belangsung, mulai dari proses sampai hasil. Inidilakukan untuk mempersiapkan perbaikan dan tindakan pada siklus selanjutnya. 3) Pengamatan (observasi) Pada tahap ini peneliti akan melakukan pengamatan terhadap prosesbelajar siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Reaksi dantanggapan siswa terhadap proses pembelajaran akan dicatat oleh peneliti. Reaksitersebut dapat berupa sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung danhasil dari kegiatan belajar siswa yang ditunjukkan pada saat mengapresiasisebuah puisi dalam bentuk membacakan puisi yang disajikan oleh guru. Semuaitu akan dicatat oleh peneliti pada kolom keterangan. Selain itu, guru kelas jugamemberikan penilaian sesuai dengan format penilaian yang telah dibuat. 4) Refleksi (reflection) Pada tahap ini peneliti dan guru kelas akan mendiskusikan hasil observasikegiatan yang berupa kemampuan siswa dalam mengapresiasi sebuah puisimelalui catatan dan penilaian yang dibuat pada setiap pertemuan. Jika pada siklusini indikator yang ingin dicapai dianggap belum tercapai maka akan dilakukan
  • 27. 27langkah-langkah pengembangan strategi yang akan dilakukan pada siklusselanjutnya.3.4.2 Indikator Keberhasilan Untuk melihat seberapa jauh tingkat keberhasilan siswa dalammengapresiasi puisi pada siklus ini, peneliti dan guru berlandaskan kepada hasilpenilaian yang bersifat autentik. Ini disesuaikan dengan komponen pendekatankontekstual authentic asssasement. Akan tetapi untuk penilaian proses, guru danpeneliti akan memberikan penilaian secara terpisah. Tingkat keberhasilan siswa dalam mengapresiasi puisi melaluimusikalisasi puisi ini mengacu pada penilaian pada tingkat apresiasi yangmeliputi kemampuan siswa dalam membaca puisi meliputi penjiwaan, suara, dangerak pada saat membaca puisi. Adapun bobot penilaiannya adalah:Penjiwaan 50%Suara 25%Gerak 25%Jumlah 100%3.5 Pengumpulan Data Data diambil dari hasil penelitian dengan menggunakan lembar catatankolaborator (peneliti), lembar catatan guru, dan nilai apresiasi puisi.Langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut:1) Nilai awal diperoleh dari tes awal siswa mengapresiasi puisi dalam benntukmembaca puisi dengan kriteria penilaian pada penjiwaan, suara, dan gerak siswaketika membaca puisi.
  • 28. 282) Catatan kolaborator (peneliti ) dan catatan guru diperoleh sebagai hasilpengamatan dan penilaian terhadap peroses kegiatan belajar mengajar siswaselama siklus3) Nilai siklus diperoleh dari tiga pertemuan dalam proses pembelajaran apresiasiPuisi melalui tes apresiasi puisi seperti pada tes awal.3.6 Instrumen penelitianInstrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:1) Lembar catatan peneliti,2) Lembar catatan guru3) Format penilaian apresiasi puisi/ nilai autentik kemampuan mengapresiasi puisi Dengan pedoman penelitian sebagai berikut:1) Catatan kolabolator (peneliti) adalah mencari jawaban bagaimana dan seberapa jauh intervensi telah menghasilkan perubahan secara signifikan.2) Catatan guru adalah seberapa jauh tindakan telah membawa perubahan, pada apa dan dalam bentuk apa perubahan itu terjadi, mengapa demikian, apa kelebihan dan kekurangannya, serta langkah-langkah penyempurnaan apa yang harus dilakukan.3) Penilaian autentik kemampuan mengapresiasi puisi yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi dalam bentuk membaca puisi dengan penjiwaan, suara, dan gerak yang baik ketika membaca puisi..
  • 29. 29 Format Penilaian Kemampuan Membaca Puisi:No. Nama Puisi Penilaian keterangan Penjiwaan Suara Gerak Jumlah Akhir Siswa 50% 25% 25%Tabel penilaian ini dikutip dari Sumardi dan Abdul Rozak Proposal Seminar Skripsi
  • 30. 30 PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAMPEMBELAJARAN APRESIASI PUISI MELALUI MUSIKALISASI PUISI PADA SISWA KELAS I SMA NEGERI Marlina 2115020101 JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2005