Metodologi Pembelajaran

2,935 views
2,781 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,935
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Metodologi Pembelajaran

  1. 1. PEMBELAJARAN INTEGRATIF MEMBACA-MENULIS KELAS BAHASAINDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) PROGRAM DARMASISWA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Oleh: Marlina 2009 1
  2. 2. DAFTAR ISI HalamanDaftar Isi.........................................................................................................................iBAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 11.1Latar Belakang.......................................................................................................... 31.2Perumusan Masalah.................................................................................................. 41.3Tujuan Pengamatan.................................................................................................. 41.4Teknik Pengamatan .................................................................................................. 4BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................................2. 1 Hakikat Pembelajaran Integratif ............................................................................. 52.2 Hakikat Pembelajaran Membaca-Menulis............................................................... 8BAB III HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS............................................................3.1 Deskripsi Data Pembelajaran................................................................................... 123.2 Analisis Data Pengamatan....................................................................................... 163.3 Pembahasan............................................................................................................16BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................18DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 20 i 2 i
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Pembelajaran bahasa merupakan pembelajaran yang memfokuskan pada empat keterampilan berbahasa. Empat keterampilan berbahasa dibagi menjadi dua jenis keterampilan, yakni yang bersifat reseptif dan bersifat produktif. Termasuk dalam keterampilan reseptif adalah keterampilan membaca dan menyimak atau mendengar. Sementara yang termasuk dalam keterampilan bahasa yang bersifat produktif adalah keterampilan menulis dan berbicara. Masing-masing jenis keterampilan dalam pelaksanannya di kelas akan terus saling berhubungan dan berkelanjutan. Pada umumnya, ketika pembelajar disajikan sebuah bentuk keterampilan reseptif maka akan ditindaklanjuti dan berkesinambungan dengan keterampilan yang sifatnya produktif. Kelas membaca-menulis yang disediakan dalam program pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) Darmasiswa UNJ merupakan kelas yang menggabungkan dua keterampilan sekaligus dalam pelaksanaannya. Dalam prosesnya, di kelas ini siswa disajikan kegiatan reseptif berupa kegiatan membaca yang dapat melatihnya menerima informasi melalui bacaan dan selanjutnya siswa melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan melakukan keterampilan menulis untuk dapat memproduksi sebuah tulisan. Kelas ini dibuat sebagai salah satu bentuk pembelajaran terintegratif yang menggabungkan lebih dari satu keterampilan berbahasa. Di samping itu, khususnya dalam pembelajaran BIPA, setiap proses pembelajaran yang terjadi tak bisa dilepaskan dari pembelajaran kosakata dan tatabahasa. Kedua hal tersebut menjadi bagian terintegratif yang juga tak terlepas dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, dalam kelas membaca-menulis ini secara tidak langsung melibatkan kelas tatabahasa yang membahas bentuk tatabahasa yang benar 1 3
  4. 4. dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, pembelajaran kosakata tercakup dalam proses pembelajaran, karena kemampuan menulis siswa akan dibantu dengan penguasaan kosakata yang banyak, seperti halnya dalam pembelajaran-pembelajaran bahasa pada umumnya. Program BIPA Darmasiswa adalah program yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) RI bagi para pembelajar asing yang menginginkan belajar bahasa Indonesia. Adapun tujuan dari diselengarakannya program ini dinyatakan oleh Depdiknas sebagai berikut. Program Darmasiswa adalah pemberian beasiswa RI kepada mahasiswa asing dari negara-negara sahabat untuk belajar bahasa Indonesia, seni musik tradisional, seni tari tradisional, dan seni kriya. Peserta dapat memilih tempat studi pada lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan program. Tujuan program Darmasiswa adalah untuk menyebarluaskan bahasa dan budaya Indonesia kepada negara-negara sahabat. Di samping itu sebagai upaya timbal balik terhadap tawaran beasiswa yang telah diberikan oleh negara-negara sahabat kepada Indonesia serta merupakan salah satu unsur diplomasi budaya. 1 Para peserta program darmasiswa adalah orang-orang asing yang secara khusus diberi kesempatan oleh pemerintah Indonesia untuk mengenal dan mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Para peserta program kemudian diserahkan pada universitas-universitas yang ada di Indonesia. Salah satu universitas yang menerima peserta darmasiswa adalah Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mengacu pada tujuan program, kelas membaca-menulis ini pada dasarnya disajikan sebagai pengenalan bahasa dan budaya Indonesia pada para pembelajar asing. Meskipun demikian, dari segi pembelajaran bahasa, tentu saja tujuan dari pembelajaran ini adalah agar para pembelajar dapat mengembangkan kemampuan berbahasanya dan memiliki keterampilan membaca-menulis yang baik, sehingga pemahaman dan penguasaannya terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa target akan menjadi lebih baik. Demikian juga kemampuan pembelajar berkenaan dengan1 Depdiknas, Program Darmasiswa RI Bagi Mahasiswa Asing Tahun Akademik 2008/2009,(http://pkln.diknas.go.id/news.php?id=97, diakses Februari 2008) 4
  5. 5. penguasaan kosakata dan tatabahasa yang diterapkan dalam pembelajaran juga merupakan target pencapaian penguasaan bahasa yang ingin dicapai. Dalam upaya pencapaian tujuan, upaya-upaya telah dilakukan oleh penyelenggara program. Pemilihan bahan bacaan dan metode pengajaran menjadi langkah penting guna tercapainya tujuan penyelenggaraan program. Termasuk di dalamnya adalah upaya para pengajarnya. Pengajar sebagai penyaji pembelajaran melakukan sebuah proses panjang hingga akhir pembelajaran. Ini merupakan sebuah proses bertahap yang membutuhkan langkah-langkah sistematis dan menyeluruh. Pentingnya proses pembelajaran dikarenakan melalui proses inilah pencapaian tujuan belajar dapat terlaksana. Proses ini tentu bukan sebuah hal yang mudah sampai akhirnya sampai pada penilaian hasil belajar. Melihat begitu panjangnya proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan belajar, peneliti merasa perlu melakukan sebuah observasi dalam rangka mengamati berlangsungnya proses belajar. Mengingat bahwa aktivitas belajar tersebut akan memberikan gambaran sukses atau tidaknya sebuah pembelajaran yang diselenggarakan. Selain itu, melalui proses pembelajaran itu pula dapat dilihat keberhasilan sebuah pembelajaran hingga proses penilaian akhir yang akan mengindikasikan pula tercapainya tujuan program di akhirnya.1.2 Perumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimanakah proses yang terjadi dalam pembelajaran membaca-menulis program BIPA Darmasiswa Universitas Negeri Jakarta?”1.3 Tujuan Penelitian 5
  6. 6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas membaca-menulis program BIPA Darmasiswa Universitas Negeri Jakarta.1.4 Teknik Pengamatan Pengamatan ini merupakan pengamatan yang dilakukan secara langsung guna mengetahui proses pembelajaran secara kualtatif. Hasil pengamatan ini akan dideskripsikan secara kualitatif dan dijabarkan secara menyeluruh. BAB II 6
  7. 7. LANDASAN TEORETIS2.1 Hakikat Pembelajaran Terintegratif Menurut Joni dalam Trianto, pembelajaran terintegrasi / terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. 2 Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran terpadu merangkum tiga prinsip keilmuan, yakni holistik, bermakna, dan autentik. Suatu pembelajaran dipandang sebagai hal yang holistik karena seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, suatu materi pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan materi yang lain. Suatu pembelajaran bersifat menyeluruh atau tidak terpisah. Pembahasan suatu materi hendaknya dilihat secara menyeluruh atau dipahami dari berbagai sudut pandang dan berbagai disiplin ilmu. Dengan memandang suatu pembelajaran secara terpadu serta mengaplikasikan pembelajaran secara terpadu, membuat pembelajaran bermakna, yakni bermanfaat dan berguna, tidak sekadar teoritis. Ilmu yang diperoleh siswa mampu merangsang daya pikir dan kreativitasnya sehingga ilmu tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membangun pembelajaran yang bermakna ini pula diperlukan materi pembelajaran yang autentik, yakni pembelajaran yang ada, factual, dan dekat dengan kehidupan siswa. Keautentikan pembelajaran ini akan menentukan kebermaknaan dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran. 1. Karakteristik Pembelajaran Integratif2 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik (Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher, 2007), p.6. 5 7
  8. 8. Landasan teori kedua yakni prinsip pembelajaran integrative. Dikutip dari Depdiknas didapatkan bahwa pembelajaran terpadu merupakan sebuah proses dengan karakteristik atau ciri-ciri holistik, bermakna, otentik, dan aktif. a. Holistik Pemahaman ini mengacu pada pendidikan holistik yang dijelaskan sebagai suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Lebih lanjut, dapat diuraikan bahwa siswa memeroleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein). 3 Pembelajaran holistik (holistic learning) dapat juga dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan keterkaitannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa. Mengacu pada kajian filsafat dan pendekatan di atas, dapat dikatakan ciri-ciri holistik dalam pembelajaran terpadu adalah adanya gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran melibatkan beberapa bidang kajian sekaligus. Dalam hal ini, diciptakannya suatu proses pemahaman melalui kegiatan belajar yang menghubungkan materi yang diajarkan dengan kehdiupan siswa di3 Akhmad Sudrajat. Pendidikan Holistik (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/pendidikan-holistik/) 8
  9. 9. dunia nyata. Misalnya, menghubungkan manfaat kegiatan belajar dengankehidupan social siswa di masyarakat. Hal ini memungkinkan siswa untukmemahami suatu fenomena dari segala sisi. Dengan demikian, akan terjadipembentukan karakter siswa yang arif dan bijak dalam menyikapi ataumenghadapi kejadian yang ada di hadapan mereka.b. BermaknaKebermaknaan dalam pembelajaran integratif mengacu pada adanya rujukan atassegala konsep yang diperoleh dengan kaitannya dengan konsep-konsep lainnya.Dengan kondisi demikian maka anak akan mampu menerapkan perolehanbelajarnya untuk memcahkan masalah-masalah yang muncul dalamkehidupannya.c. AutentikPembelajaran terpadu memungkinkan anak memahami secara langsung prinsipdan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung.Pemahaman yang diperoleh anak berasal dari hasil belajarnya sendiri, bukansekadar dari yang diberitahukan oleh pengajar. Informasi dan pengetahuantersebut dianggap lebih otentik. Pada hakikatnya, pengajar hanya sebagaifasilitator dan katalisator sementara anak bertindak sebagai aktor pencariinformasi dan pengetahuan.d. AktifPembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baiksecara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapainya hasil belajar.Hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat, dankemampuan mereka sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar.Dalam kerangka proses belajar-mengajar (bahasa) terdapat dua konsep yangdijadikan landas pijak dalam mencapai kompetensi berbahasa, yakni proseslearning dan proses aquisition. Proses aquisition sering diidentikkan denganpemerolehan bahasa pertama (B-1) atau bahasa ibu, sedangkan proses learning 9
  10. 10. lebih dicurahkan untuk kepentingan pembelajaran bahasa kedua (B2) atau bahasa asing. Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai alat komunikasi dan alat pemersatu bangsa bagi masyarakat Indonesia, termasuk bagi siswa-siswa di Indonesia, bisa berfungsi sebagai B1, bisa juga sebagai B2. Kondisi ini mengharuskan guru bahasa Indonesia (pada semua tataran jenjang pendidikan) mempertimbangkan keputusan instruksional yang harus diambil agar mencapai hasil belajar (bahasa) yang tepat guna dan berhasil guna. Berkaitan dengan hal ini, ada baiknya jika kita melihat dan menelusuri konsep-konsep dasar pendekatan pengajaran bahasa yang secara Pengintegrasian pendekatan gramatika dan pendekatan komunikatif dalam kemasan komunikatif-integratif bukanlah hal yang mudah. Sebuah upaya untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya struktur dalam suatu situasi yang communicatively-oriented perlu dipikirkan dan direncanakan secara matang. Para guru bahasa perlu memahami suatu model pengajaran gramatika yang dibangun atas pemahaman yang mendalam atas temuan-temuan riset mengenai pemerolehan bahasa kedua. Model dimaksud harus kompetibel dengan kerangka pikir komunikatif yang menekankan interaksi bermakna berdasarkan input di kelas. Karenanya, diperlukan suatu pengintegrasian antara pendekatan pengajaran gramatika secara eksplisit (Explicit Grammar Instruction atau EGI) dengan pendekatan pengajaran bahasa komunikatif (Communicative Language Teaching atau CLT).2.2 Hakikat Pembelajaran Membaca-menulis Penjelasan mengenai empat aspek keterampilan berbahasa dinyatakan Depdiknas sebagai berikut: 1. Menyimak Mendengarkan, memahami, memberikan tanggapan terhadap gagasan, pendapat, kritikan, dan pesan orang lain dalam berbagai bentuk wacana lisan. 10
  11. 11. 2. Berbicara Berbicara secara efektif dan efisien untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, kritik, perasaan dalam berbagai bentuk kepada pelbagai mitra bicara sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan. 3. Membaca Membaca dan memahami pelbagai jenis wacana, baik secara tersirat maupun tersirat untuk berbagai tujuan. 4. Menulis Menulis secara efektif dan efisien pelbagai jenis karangan dalam berbagai konteks.4 Secara lebih spesifik dijelaskan mengenai keterampilan membaca sebagai berikut: Kemampuan berbahasa dalam kegiatan membaca dapat memilih materi pembelajaran berupa teks nonsastra. Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif, sehingga dalam memilih materi ajar, guru sebaiknya memperhatikan betul isi bacaan tersebut. Tujuan dari kegiatan membaca adalah siswa mampu membaca dan memahami berbagai teks bacaan nonsastra dengan berbagai teknik membaca. Oleh karena siswa melalui kegiatan membaca ini akan menerima sebuah informsi baru, maka bahan bacaan sebaiknya berupa bahan bacaan yang memberikan informasi positif dan pengetahuan baru bagi siswa. Adapun teknik membaca yang dipelajari oleh siswa di kelas antara lain adalah membaca cepat, membaca memindai, membaca secara intensif dan ekstensif, dan membaca untuk berbagai macam tujuan. Dengan banyaknya teknik membaca tersebut maka guru harus pandai memilah dan memilih jenis bacaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membaca yang dilakukan. Selain itu, perlu pula diperhatikan oleh guru bahwa bahan bacaan yang4 Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003), hlm.3-4. 11
  12. 12. diberikan kepada siswa bukan dengan maksud untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diapresiasi oleh siswa.5 Teks-teks nonsastra untuk kepentingan pembelajaran membaca dapat diambil oleh guru dari berbagai sumber seperti artikel dari surat kabar, majalah, atau tabloid, teks iklan, spanduk, poster, pengumuman, brosur, buku-buku yang memuat informasi tertentu, Yellow Page, kamus, kamus istilah, dan ensiklopedi. Teks tersebut juga sebaiknya bermanfaat bagi kecakapan hidup siswa, baik kecakapan hidup yang bersifat umum maupun kecakapan hidup yang bersifat khusus.Agar aktivitas membaca siswa optimal, aktivitas guru dibatasi pada: (a) memilihkan dan menyiapkan bahan bacaan sesuai tujuan, tingkat perkembangan siswa, kompetensi bahasa, minat, dan tingkat kesukaran (b) membimbing kegiatan membaca siswa untuk mencapai tujuan khusus (c) mengembangkan pemahaman, ketepatan serta kecepatan membaca Sementara itu, sebagai sebuah keterampilan produktif dan ekspresif, Tarigan menyatakan bahwa dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil dalam menggunakan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. 6 Mengacu pada pendapat tersebut, terdapat hubungan keterampilan menulis dengan kosakata. Adapun perihal kosakata dijelaskan Soenardi bahwa dalam komunikasi melalui bahasa, kosakata merupakan unsur yang sangat penting. Makna suatu wacana sebagai bentuk penggunaan bahasa, sebagian besar ditentukan oleh kosakata yang digunakan dalam pengungkapannya. 7 Hakikat kosakata banyak diuraikan oleh para ahli bahasa. Burhan Nurgiyantoro mengungkapkan bahwa kosakata, perbendaharaan kata, atau kata saja, juga: leksikon5 Hasan Alwi, Kebijakan Pengajaran BIPA. Prosiding KIPBIPA III, (. Bandung : UPI, 2000) , p. 13.6 Henry Guntur Tarigan, Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1994), p.p. 3-47 M. Soenardi Djiwandono, Tes Bahasa dalam Pengajaran (Bandung: ITB, 1996), p. 43. 12
  13. 13. adalah kekayaan kata yang dimiliki oleh (terdapat dalam) suatu bahasa. 8 Burhan membatasi hakikat kosakata sebagai kekayaan kata atau perbendaharaan kata suatu bahasa. Pendapat ini merupakan definisi kosakata secara sempit. Sementara itu, Tarigan menyatakan perihal tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat mengomunikasikan antara pikiran dan perasaan. 9 Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa ketika menulis maka penulis tersebut harus dapat menuangkan pikirannya guna mengungkapkan apa yang dirasakannya. BAB III HASIL PENGAMATAN8 Burhan Nurgiyantoro, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra (Yogyakarta: BPFE, 1988),p.. 198.9 Tarigan, Op. Cit., p. 7. 13
  14. 14. 3.1 Deskripsi Data Pengamatan Pengamatan dilakukan di kelas membaca-menulis pada program BIPA Darmasiswa yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta pada semester genap tahun akademik 2008/2009. Objek penelitian adalah mahasiswa BIPA program Darmasiswa tingkat menengah yang sudah memasuki semester kedua masa belajar. Jumlah pembelajar di kelas tersebut sebanyak 6 orang dengan latar belakang bahasa dan bangsa yang berbeda. Pengamatan dilakukan pada tanggal . Di kelas ini terdapat satu orang pengajar yang secara khusus memberikan pembelajaran membaca-menulis kepada para pembelajar. Adapun proses belajar yang terjadi di kelas tersebut sebagai berikut. a. Tahap Pendahuluan Pada tahap pendahuluan, pengajar membuka pembelajaran dengan memberikan sapaan dalam bahasa Indonesia kepada para pembelajar. Pembelajar menjawab pertanyaan pembelajar dalam bahasa Indonesia. Pembelajaran dilanjutkan dengan pengajar meminta pembelajar untuk membuka jadwal akademik yang telah diberikan oleh koordinator program pada pertemuan sebelumnya. Di dalam jadwal tersebut terdapat materi-materi yang akan dibahas untuk setiap pertemuan. Pada pertemuan ini, tema yang diangkat atau disajikan adalah tentang makanan. Untuk mengingatkan pembelajar maka pengajar bertanya ulang perihal tema pertemuan minggu ini. Pembelajar pun menjawab bahwa pada minggu ini tema yang disajikan adalah tentang makanan. 12 14
  15. 15. Pengajar kemudian memberikan informasi kepada para pembelajar bahwa untuk temaini akan dibahas tentang makanan Indonesia. Penyajian secara khusus diberikandalam bentuk bacaan yang berjudul ”Gado-gado”.Pada saat menginformasikan hal tersebut kepada para pembelajar, para pembelajarmulai berbicara dan berkomentar tentang judul bacaan. Pengajar lalu bertanya kepadapara pembelajar tentang pengalaman pembelajar dengan makanan khas Indonesiayang disebut gado-gado. Beberapa pembelajar berkata bahwa mereka sudahmencicipi makanan tersebut. Namun, beberapa pembelajar lain mengatakan belumtahu makanan khas Indonesia yang bernama Gado-gado.b. Tahap IntiPengajar lalu mengajak pembelajar untuk berkonsentrasi dengan bacaan yang sudahdidapatkannya. Pengajar meminta para pembelajar membaca nyaring gunamendengarkan pelafalan pembeajar. Sambil mendengarkan pembelajar membaca tiapparagraf secara berantai, pengajar menulis komentar-komentar berupa penilaianterhadap kemampuan membaca pembelajar.Selesai membaca, pengajar lalu memberikan komentarnya kepada pembelajar perihalkemampuan membaca pembelajar dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yangditemukan seperti pada pelafalan, kejelasan pengucapan, dan kelancaran membaca.Pengajar lalu meminta pembelajar untuk membaca ulang bacaan tersebut danmenandai kata-kata yang belum dipahami. Pengajar mengarahkan pembelajar untukmenggunakan kamus bahasa masing-masing untuk menemukan kata-kata di dalambacaan. Namun, apabila terdapat kata yang belum dapat mereka pahami dan tidakditemukan dalam kamus maka pembelajar diminta untuk bertanya kepada pengajar.Dalam tahap pemahaman isi bacaan ini pembelajar menanyakan bebebrapa kata yangtidak ditemukan maknanya dalam kamus. Kata-kata yang diajukan pada umunyamerupakan kata-kata bentukan. Secara umum adalah kata-kata yang sudah 15
  16. 16. mengalami pengimbuhan. Dalam kegiatan belajar ini pengajar mencoba memberikanpenjelasan perihal proses pembentukan kata tersebut dan meminta siswa untukmemahami makna kata setelah diberi imbuhan. Selain itu, kata-kata lain yang bukanberupa kata bentukan juga ditanyakan maknanya oleh pembelajar. Pada tahapan ini,pengejar mencoba memberikan penjelasan kepada pembelajar menggunakan kata-kata bersinonim atau melalui penjabaran melalui deskripsi dengan kata yang lebihsederhana atau bahkan melalui contoh sampai seluruh pembelajar di kelas tersebutmemahami maknanya.Proses pemahaman bacaan ini terlihat cukup komleks karena pengajar harus memilikikosakata yang sangat memadai untuk dapat memberikan penjelasan kepada parapembelajar.Namun demikian, dengan kemampuan menjelaskan maka para pembelajar punterlihat dapat memahami isi bacaan dengan mudah.Setelah selesai memhami isi bacaan, pengajar meminta pembelajar untuk membacasoal bacaan yang disajikan setelah bacaan.Soal-soal yang disajikan dalam bacaantersebut sifatnya subjektif bagi pembelajar karena berdasarkan pengalaman pribadipembelajar.Pembelajar kemudian diminta untuk menjawab satu demi satu pertanyaan tersebutdan mengerjakan itu sebagai tugas. Salah satu soal dalam bacaan tersebut adalahperintah untuk membuat tulisan berkenaan dengan salah satu makanan khas dinegara masing-masing yang memiliki kemiripan dengan gado-gado. Baik itu dari segibahan-bahannya atau dari segi penyajian makanannya.Format penulisan yang digunakan dan butir-butir tulisan yang diminta oleh pengajarbentuknya sama dengan isi bacaan yang telah dibaca. Pembelajar diminta untukmencontoh sistematikayang sudah didapatkannya dari bacaan tersebut. 16
  17. 17. Pembelajar selanjutnya membuat tulisan sederhana dengan sistematika peniruancontoh yang ada. Pada saat menulis, pembelajar diberikan kesempatan oleh pengajaruntuk bertanya apabila memiliki kata yang ingin dituangkannya namun tidak tahuharus menggunakan kata apa. Pengajar bertindak sebagai pengarah bagi pembelajardalam proses tersebut. Selama ini berlangsung beberapa pembelajar bertanya kepadapengajar untuk memilih kata dalam tulisan mereka.Setelah selesai membuat tulisan tentang makanan di engara masing-masing,pembelajar diminta membaca satu per satu. Ketika membacakan hasil tulisannya,pengajar membuat catatan kesalahan pembelajar baik dari segi pengucapan,kosakata, atau struktur kalimat dari tulisan tersebut.Setelah semua pembelajar selesai membaca, pengejar kemudian meminta hasiltulisan pembelajar untuk diserahkan kepada pengajar. Sementara itu, kesalahan-kesalahan yang ditangkap oleh pengajar dan tercatat disampaikan secara langsungkepada pembelajar guna diperbaiki. Namun, untuk hasil tulisan selanjutnya akandikoreksi oleh pengajar untuk mengetahui secara lebih jelas kesalahan-kesalahanpembelajar dalam pemilihan kata, tanda baca, maupun struktur kalimatnya.c. Tahap PenutupSetelah selesai mengumpulkan tugas tersebut pengajar lalu bertanya kepada parapembelajar tentang pendapat mereka terhadap bacaan. Para pembelajarmengucapkan komentar yang berbeda. Beberapa pembelajar merasa semakinpenasaran untuk mencicipi makanan khas Indonesia tersebut dan ingin segeramenyampaikan pengalaman dan pendapatnya tentang gado-gado.Pembelajaran kemudian ditutup dengan sebelumnya pengajar mengingatkanpembelajar tema bacaan untuk pertemuan selanjutnya. 17
  18. 18. 3.2 Analisis Data Pengamatan Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat dijabarkan hal-hal sebagai berikut: a. Pembelajaran membaca-menulis merupakan pembelajaran terintegratif yang menggabungkan dua keterampilan berbahasa. b. Pembelajaran tersebut juga mencakup pembelajaran kosakata dan tatabahasa di dalam proses pelaksanaannya. c. Dalam langkah yang disajikan pengajar, pengajar bertindak sebagai pengarah, pembimbing, dan penilai yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. d. Pembelajar dalam proses belajar ini mengalami beberapa tahapan pembelajaran yang mengasah keterampilan mereka secara menyeluruh. e. Penilaian secara langsung dan tidaklangsung dilakukan leh pengajar untuk beberapa aspek penting berkenaan dengan kegiatan membaca dan menulis pembelajar. Selain itu, dilibatkan juga penilaian proses di dalam hal ini. f. Refleksi pembelajar dilakukan secara terus menerus sehingga pembelajar dapat secara langsung mengetahui kelemahan mereka guna memperbaiki ke depan potensi mereka.3.3 Pembahasan Berdasarkan pengamatan yang dilakukan jelas terlihat bahwa kegiatan pembelajaran membaca-menulis memang merupakan kegiatan pembelajaran yang menggabungkan dua keterampilan berbahasa. Selain untuk melatih keterampilan membaca yang dilakukan dengan kegiatan membaca nyaring dan kegiatan memahami bacaan, pembelajar juga dilatih untuk dapat membuat tulisan-dalam hal ini sebagai sebuah kegiatan produktif berbahasa-. Selain mencakup dua kegiatan keterampilan berbahasa, kegiatan dalam pembelajaran membaca-menulis juga melatih pembelajar dalam pembelajaran kosakata dan tata bahasa. Hal ini terlihat dari adanya kegiatan menemukan kata-kata di dalam kamus dan menemukan kata-kata yang sudah mengalami pembentukan kata, khususnya kata yang sudah mendapatkan imbuhan. Dengan pembelajaran semacam ini pembelajar menjadi tahu bahwa kata-kata dasar yang ada dapat 18
  19. 19. mengalami proses pembentukan kata sehingga menjadikan kata tersebut memilikimakna baru yang agak sulit ditemukan di kamus. Pembelajarn ini dapat dianggapsebagai pembelajaran tatabahasa secara tidak langsung yang diberikan olehpengajar.Cara pengajar memberikan penjelasan melalui sinonim kata dan melalui kalimat-kalimat sederhana dan pilihan kata yang lebih mudah dan sederhana merupakansebuah bentuk pembelajaran kosakata yang dapat membantu pembelajar untuk dapatmemilih kata yang tepat. Demikian juga halnya dengan contoh-contoh yang diberikansebagai penjelasan. Ini merupakan langkah yang sangat kontekstual bagi pembelajaruntuk dapat dengan lebih mudah memahami makna suatu kata.Melalui bahan bacaan yang dipilih, informasi yang diberikan kepada pembelajarmecakup informasi budaya yang digabungkan dalam proses pembelajaran bahasa.Ini merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan secara bertahap denganmaksud pembelajar memiliki penguasaan dalam kebahasaan namun tetapmemasukkan unsur-unsur pengenalan budaya Indonesia sebagai tujuan akhir dariprogram darmasiswa.Pemahaman pembelajar terhadap isi bacaan merupakan upaya pembelajaran gunapengembangan kemampuan berbahasa pembelajar dan juga upaya pengenalanbudaya terhadap pembelajar, sehingga terdapat dua tujuan utama yang ingindiberikan kepada pembelajar. Pengembangan kebahasaan pembelajar dapat dilihatdari kemampuan pembelajar dalam membaca dan menulis yang di dalamnyamencakup pembelajaran kosakata dan pembelajaran tatabahasa. 19
  20. 20. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN4.1 Kesimpulan Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pembelajaran membaca-menulis yang disajikan dalam program BIPA Darmasiswa Universitas Negeri Jakarta merupakan sebuah pembelajaran terintegrasi yang mengabungkan dua keterampilan berbahasa dan di dalamnya juga tercakup pebelajaran kosakata dan tatabahasa. Dalam pelaksanaan pembelajaran, pengajar berperan sebagai penyaji materi, pengarah, pembimbing, dan penilai secara langsung yang terlibat di dalam kelas pembelajaran. Selain itu, pengajar juga harus memiliki kemampuan penyajian berbahasa yang memadai guna membantu pembelajar dalam memhami isi bacaan yang disajikan. Penilaian dalam kelas pembelajaran ini dilakukan secara terus menerus oleh pengajar sehinggapembelajar dapat merefleksi secara langsung dirinya baik dari segi keterampilan berbahasa maupun dalam penguasaan kosakata dan tatabahasa Indonesia.4.2 Saran Agar pembelajaran membaca-menulis bagi para penutur asing menjadi lebih menarik, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut: 1) Penyajian bahan bacaan sebaiknya adalah bahan bacaan yang memberikan informasi budaya. 18 20
  21. 21. 2) Bahan bacaan yang dipilih harus disesuaikan dengan tingkatan kemampuan pembelajar, mengingat dalam kelas BIPA terdapat beberapa tingkatan, yakni tingkat dasar, menengah, dan mahir.3) Komunikasi antara pengajar dan pembelajar di dalam kelas dapat dihubungkan dengan pengelaman-pengalaman nyata pembelajar dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual.4) Berikan contoh-contoh nyata dan dekat dengan pembelajar dalam menjelaskan hal-hal yang rumit, khususnya untuk kata-kata abstrak, sehingga pembelajar dapat memahami dengan lebih mudah.5) Penilaian sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan baik sepanjang proses maupun di akhir pembelajaran.6) Penggunaan penilaian secara langsung kepada pembelajar dapat membantu pembelajar untuk lebih dapat merefleksi diri sehingga dapat melakukan perbaikan- perbaikan untuk dirinya di kemudian hari. 21
  22. 22. Daftar PustakaAlwi, Hasan. 2000. Kebijakan Pengajaran BIPA. Prosiding KIPBIPA III. Bandung : UPI.Depdiknas. Darmasiswa Scholarship Program Academic Year 2007-2008. Jakarta: Depdiknas. 2007.Depdiknas. Program Darmasiswa RI Bagi Mahasiswa Asing Tahun Akademik 2008/2009. (http://pkln.diknas.go.id/news.php?id=97, diakses Februari 2008). 2008.Djiwandono, M. Soenardi. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB. 1996.Nurgiyantoro,Burhan. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastr. Yogyakarta: BPFE. 1988.Sudrajat, Akhmad. Pendidikan Holistik. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/pendidikan-holistik/)Tarigan,Henry Guntur. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. 1994.Trianto. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher. 2007. 22

×