Pancasila menurut soekarno

3,888 views
3,731 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,888
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
84
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pancasila menurut soekarno

  1. 1. PANCASILA MENURUT SOEKARNO(ANALISIS HERMENEUTIKA DILTHEY PADA PIDATO “LAHIRNYA PANCASILA” I JUNI 1945) SKRIPSI Nama : Leo Budiman NIM : 0541500450 Program Studi : Ilmu Komunikasi Peminatan : Public Relations FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA 2010
  2. 2. PANCASILA MENURUT SOEKARNO(ANALISIS HERMENEUTIKA DILTHEY PADA PIDATO “LAHIRNYA PANCASILA” I JUNI 1945) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S. I.Kom) Nama : Leo Budiman NIM : 0541500450 Program Studi : Ilmu Komunikasi Peminatan : Public Relations FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA 2010
  3. 3. LEMBAR PERSETUJUAN Setelah dilakukan bimbingan, maka skripsi dengan judul ” PANCASILAMENURUT SOEKARNO (ANALISIS HERMENEUTIKA DILTHEY PADAPIDATO “LAHIRNYA PANCASILA” I JUNI 1945) yang diajukan oleh LeoBudiman-0541500450 disetujui dan siap untuk dipertanggungjawabkan dihadapan penguji pada saat sidang skripsi strata satu (S-1), program studikomunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur. Dosen Pembimbing (Liza Dwi Ratna Dewi, M.Si) ii
  4. 4. LEMBAR PENGESAHAN Diterima dan disetujui oleh Tim Penguji Program Studi Ilmu Komunikasi,Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Budi Luhur Jakarta, gunamelengkapi tugas-tugas dan memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh GelarSarjana Strata Satu (S-1) program studi ilmu komunikasi. Jakarta, Desember 2010Tim Penguji : 1. Rusmulyadi, M.Si (.................................) 2. Murdiani, M.Si (.................................) 3. Liza Dwi Ratna Dewi, M.Si (.................................) Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi (Bambang Pujiyono, S.Sos, MM., M.Si.) iii
  5. 5. iv
  6. 6. HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITASSkripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip, maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar Nama : Leo budiman NIM : 0541500450 Tanda Tangan : ...................... Tanggal : 17 Desember 2010 v
  7. 7. ABSTRAKNama : Leo BudimanNIM : 0541500450Jurusan : Ilmu KomunikasiBidang Konsentrasi : Public RelationsJumlah Halaman : xi + 70 halamanJumlah Literatur : 27 Buku, 2 Jurnal dan sumber dari situs internetJudul : Pancasila Menurut Soekarno (Analisis Hermeneutika Dilthey pada Pidato “Lahirnya Pancasila” 1 Juni 1945) Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia telah mengalir di dalamdarah Bangsa Indonesia sejak dulu kala karena memang berasal dari kebudayaanbangsa ini. Namun sayangnya, Pancasila yang pertama kali diutarakan oleh Ir.Soekarno pada rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, yang merupakan hasilpenggalian kembali dari budaya dan nilai-nilai bangsa, mengalami pergeseranmakna pada masa Orde Baru. Proses pendoktrinan Pancasila pada masa OrdeBaru menjadikan keseragaman pemahaman yang sesungguhnya justru berbedadengan apa yang dimaksudkan Ir. Soekarno saat menawarkan konsep Pancasilakepada peserta rapat BPUPKI. Pasca kejatuhan rezim Orde Baru, banyak tokoh masyarakat yangmenafsirkan Pancasila berbeda-beda dan menawarkannya kembali kepadamasyarakat untuk mendapatkan dukungan dalam panggung politik. LaluBagaimana interpretasi Ir. Soekarno Mengenai Sistem Demokrasi Pancasiladi dalam Pidatonya pada Rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945? Hal inilah yangingin dicari tahu oleh peneliti. Penelitian ini bermaksud untuk memahami konsepPancasila yang sesungguhnya seperti yang diinginkan oleh Ir. Soekarno. Penelitian ini menggunakan metode Hermeneutika Dilthey dengantujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan tujuan dari penelitian.Metode Hermeneutika Dilthey memahami teks dengan menggunakan autobiografidari komunikator agar mendapatkan pandangan yang sesubjektif mungkin darikomunikator. Kesimpulan yang peneliti dapatkan dalam penelitian ini adalah bahwakonsep Pancasila yang ditawarkan oleh Ir. Soekarno merupakan hasilpenggaliannya terhadap kebudayaan Bangsa Indonesia sejak masa kejayaanSriwijaya dan Majapahit. Konsep Pancasila yang ditawarkan Ir. Soekarno dapatkita pahami dengan menyelami autobiografi Ir. Soekarno dan menganalisisnyadengan menggunakan metode Hermeneutika Dilthey.v Universitas Budi Luhur
  8. 8. KATA PENGANTARSalam Sejahtera, Pertama-tama saya panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan YangMaha Esa atas segala rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya, lalu kepadaorang tua dan seluruh keluarga saya, yang telah memberikan segalanya dalamkehidupan ini, sehingga saya bisa menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul”Pancasila Menurut Soekarno (Analisis Hermeneutika Dilthey Pada Pidato“Lahirnya Pancasila” 1 Juni 1945)”. Penulisan skripsi ini adalah untukmemenuhi salah satu syarat menyelesaikan kesarjanaan Strata (S-1) pada programstudi ilmu komunikasi. Dalam penulisan skripsi ini, saya telah banyak mendapatkanbimbingan, bantuan serta dorongan baik berupa moril maupun materil dariberbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasihyang sebesar-besarnya kepada : 1. Liza Dwi Ratna Dewi, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta dan Dosen Pembimbing dalam penelitian ini. Terima kasih ibu atas kesabarannya selama membimbing saya dalam penelitian ini. 2. Bambang Pujiyono, S.Sos, MM., M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyusun skripsi ini walaupun telah memakan waktu yang terlalu lama.vi Universitas Budi Luhur
  9. 9. 3. Ibu Nawiroh Vera dan ibu Riyodina G. Pratikto dan seluruh dosen serta staf sekretariat FIKOM Univesitas Budi Luhur yang berbaik hati menyemangati, membuka wacana, dan bimbingan kepada saya selama ini. 4. Keluarga besar KM Universitas Budi Luhur yang selalu bersedia menjadi teman diskusi dan mengingatkan serta menyemangati saya selama penyusunan skripsi ini. 5. Ketiga kakak penulis yang dengan senantiasa bersabar mengingatkan penulis untuk menyelesaikan kuliah secepatnya. 6. Khusus kepada Irwansyah Nuzar, Parlin Siagian, Helsusandra Syam, Tina Dornauli dan seluruh keluarga KM Jakarta yang telah membuka wacana saya tentang Pancasila. 7. Rekan-rekan organisasi Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) dan Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) yang telah memberikan pengalaman dan pemahaman kepada saya selama ini. 8. Kepada Lisa Andriyani yang telah menjadi pasangan yang setia menyemangati dan mengerti dengan sabar sifat dan karakter saya. 9. Terakhir kepada semua teman-teman dan pihak yang telah disebutkan maupun yang tidak disebutk an, terima kasih banyak atas pengertian dan dukungan kalian selama ini. Penulis merasa bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya pengetahuan penulis. Namun, hal ini bukanlah penghalang bagi penulis untuk berusaha menyempurnakan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan penuhvii Universitas Budi Luhur
  10. 10. kerendahan hati penulis akan menerima saran dan kritik yang bersifat membangun agar segala langkah yang akan datang dapat lebih baik. Akhir kata, semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, bagi pihak Universitas Budi Luhur maupun Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM). Penulis juga berharap agar penulisan skripsi ini berguna sebagai acuan dan masukan bagi pembacanya.viii Universitas Budi Luhur
  11. 11. DAFTAR ISILembar Persetujuan ............................................................................................... iiLembar Pengesahan............................................................................................... iiiLembar Pernyataan Orisinalitas.……...…………………………………………. ivAbstraksi ................................................................................................................ vKata Pengantar ...................................................................................................... viDaftar Isi ............................................................................................................... ixDaftar Gambar ....................................................................................................... xiBab I Pendahuluan1.1. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 11.2. Permasalahan ……........................................................................................... 51.3. Tujuan Penelitian ............................................................................................ 61.4. Manfaat Penelitian …...................................................................................... 61.5. Sistematika Penulisan ..................................................................................... 7Bab II Tinjauan Pustaka2.1. Kajian Teori ………….................................................................................... 92.1.1. Komunikasi ……………….......................................................................... 92.1.2. Retorika ……….......................................................................................... 122.1.3. Demokrasi ….............................................................................................. 152.1.4. Hermeneutik................................................................................................ 172.2. Tinjauan Penelitian......................................................................................... 222.3. Kerangka Pemikiran ...................................................................................... 27Bab III Metodologi Penelitianix Universitas Budi Luhur
  12. 12. 3.1. Paradigma Penelitian ..................................................................................... 293.2. Pendekatan Penelitian ................................................................................... 313.3. Metode Penelitian .......................................................................................... 323.4. Objek Penelitian ............................................................................................ 333.5. Sumber Data ……………………………………………..………………... 333.6. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................ 343.7. Teknik Analisis Data ..................................................................................... 35Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan4.1. Hasil Penelitian …......................................................................................... 384.1.1 Sejarah Indonesia ………............................................................................ 384.1.2 BPUPKI dan Rapat BPUPKI ….................................................................. 424.1.3 Ir. Soekarno …………………………………............................................. 454.2. Pembahasan ……………………................................................................... 494.2.1. Analisis Dasar Pertama ......……………………………………………… 514.2.2. Analisis Dasar Kedua …………………………………………………… 574.2.3. Analisis Dasar Ketiga …………………………………………………… 604.2.4. Analisis Dasar Keempat ………………………………………………… 634.2.5. Analisis Dasar Kelima ……………….………………………………….. 67Bab V Kesimpulan dan Saran5.1. Kesimpulan .................................................................................................. 705.2. Saran ............................................................................................................ 71Daftar PustakaLampiran-lampiranx Universitas Budi Luhur
  13. 13. DAFTAR GAMBAR1. Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian .................................................. 282. Gambar 4.1 Hasil Keputusan Kongres Pemuda ............................................ 40xi Universitas Budi Luhur
  14. 14. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Manusia, sebagai mahluk sosial dan mahluk individu, memiliki kebutuhanuntuk hidup bersama dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu,manusia cenderung hidup berkelompok. Salah satu bentuk pengelompokkanmanusia di dunia adalah bangsa. Manusia di dunia terbagi ke dalam bangsa-bangsa dimana dia lahir dan membawa nilai-nilai yang dipercaya atau dianut olehbangsa tersebut. Bangsa menurut Ernest Renan (1968)1 adalah sekelompokmanusia yang telah mengalami pengalaman historis bersama dalam waktu yangcukup lama. Setiap bangsa memiliki nilai-nilai yang dipegang dalam menjalanikehidupan sehari-hari selama berabad-abad. Hal ini termasuk bagaimana seorangindividu memandang individu lain baik di dalam bangsanya ataupun di dalambangsa lain, juga termasuk didalamnya bagaimana bangsa tersebut memandangalam disekitarnya. Nilai-nilai inilah yang disebut juga Philosofisch grondslag2.Philosofisch grondslag lahir dari proses pemikiran yang mendalam sebagai upayamanusia memahami kodratnya berada di dunia ini, yang tentu saja setiap bangsamemiliki Philosofisch grondslag yang berbeda tergantung pada keadaan yangdialami oleh bangsa tersebut dalam lahir dan berkembang di dunia ini.1 Ernest Renan adalah seorang pujangga besar berkebangsaan Perancis. Penjelasan mengenaibangsa disampaikan oleh Ernest Renan dengan judul : “Qu’est ce qu’une nation ?” di UniversitasSorbonne (Paris) pada 11 Maret 1882 yang disalin kembali kedalam Bahasa Indonesia oleh Prof.Sunario S.H2 Philosaofiche Grondslag (Bahasa Belanda) atau disebut juga Weltanschauung (Jerman) yangberarti dasar pemikiran, fondasi, dasar falsafah, jiwa, pikiran dan hasrat yang sedalam-dalamnya. 1 Universitas Budi Luhur
  15. 15. 2 Bangsa Indonesia, yang dalam sejaranya, pernah mengalami masakeemasan lama sebelum para penjajah datang bersama VOC. Tercatat dalamsejarah Bangsa Indonesia, yang menempati wilayah nusantara, pernah ada palingtidak dua kerajaan besar disamping ratusan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.Terdapat ribuan raja besar yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. KerajaanSriwijaya dan Kerajaan Majapahit termasuk kerajaan yang memiliki wilayah yangterluas, luas wilayah Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Pulau Sumatera dansekitarnya sampai dengan wilayah Malaysia dan Filiphina. Sedangkan WilayahKerajaan Majapahit berpusat di Pulau Jawa sampai dengan pantai barat Afrika. Nusantara pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit memiliki wilayahkekuasaan yang sangat luas hingga meliputi dari kepulauan Nusantara sampai keMadagaskar pantai Afrika Timur. Seperti Romawi dan Yunani, bangsa Indonesiasaat itu telah memiliki Philosofisch grondslag sendiri yang merupakan hasilpemikiran mendalam dari para Empu (filsuf) yang ada. Philosofisch grondslag inipertama kali dikemukakan Empu Prapanca dengan sebutan Pancasila yangdisebutkan dalam karya sastra Kakawin Desa Warnnana Uthawi NagaraKrtagama3. Kemudian seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia yangjatuh dan bangkit serta terjajah oleh bangsa lain selama berabad-abad,Philosofisch grondslag ini (Pancasila) digali dan diperkenalkan lagi oleh Ir.3 Di dalam kitab diceritakan tentang masa kejayaan majapahit yang dipimpin oleh raja HayamWuruk dan dapat memiliki wilayah yang luas berkat patih Gajah mada. Selain itu, diceritakan pulasejarah raja-raja majapahit dan penyebab kejayaan majapahit di bawah pimpinan hayam wurukyang bijaksana.nilai-nilai yang dirumuskan oleh empu prapanca diteruskan secara turun temurunmelalui cerita-cerita rakyat yang sering ditampilkan sebagai hiburan rakyat melalui cerita wayang Universitas Budi Luhur
  16. 16. 3Soekarno pada Rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan RepublikIndonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945. Pancasila dari kelahirannya kembali dalam Rapat BPUPKI tersebutmampu merasuk ke dalam jiwa Bangsa Indonesia karena bukan merupakan halyang baru bagi Bangsa Indonesia. Pancasila juga mampu bersaing dan bertahandari besarnya pengaruh dari dua Philosofisch grondslag yang ada di dunia saat itudan Indonesia pada saat Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarnomampu bertahan dari derasnya tekanan bangsa-bangsa lain yang menganutKapitalisme dan Sosialisme yang pada saat itu sedang bersaing menanamkanpengaruh pada negara-negara yang ada di dunia dengan porosnya negara-negaraEropa Barat dan Amerika untuk Kapitalisme serta Uni Soviet dan China untukSosialisme. Pancasila, sebagai sebuah pesan yang disampaikan dengan tehnik retorikayang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada rapat BPUPKI tersebut, menjadi sebuahjawaban bagi upaya untuk mempersatukan Bangsa Indonesia yang terpecah belahkarena politik devide et impera (adu domba) yang dijalankan oleh para penjajahuntuk memecah belah bangsa Indonesia. Negara dan Bangsa Indonesia yang padasaat itu sudah sangat merindukan kemerdekaan setelah lebih dari 350 tahundijajah bangsa lain masih memiliki pertanyaan besar yang harus dijawab parapemimpin bangsa, yaitu mengenai Dasar Negara Indonesia setelah merdeka, dasarnegara dan bangsa yang bersatu dan merdeka. Dalam pidatonya, Ir. Soekarnomenyampaikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai kebutuhan dan Universitas Budi Luhur
  17. 17. 4tantangan yang akan dihadapi oleh Bangsa Indonesia setelah merdeka, dan Ir.Soekarno juga menjelaskan bagaimana Pancasila menjadi jawaban atas segalakebutuhan dan tantangan tersebut. Dalam pidato tersebut juga dijelaskan bentuk demokrasi yang sesuaidengan Bangsa Indonesia. Bukan Demokrasi Liberal, juga bukan DemokrasiSosialis-Komunis tapi melainkan Demokrasi Pancasila yang berasal dari nilai-nilai Bangsa Indonesia. Pada saat itu, para tokoh perjuangan yang mewakilikelompok-kelompoknya4 bangsa percaya dan yakin bahwa Pancasila merupakanjalan yang paling tepat untuk Bangsa Indonesia sehingga kemudian Pancasiladitetapkan sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka. Penjelasan lebih rincimengenai Pancasila diperjelas lagi oleh Ir. Soekarno pada buku Pancasila SebagaiDasar Negara yang ditulis dari kumpulan kuliah umum yang diberikan oleh Ir.Soekarno pada tahun 1958 sampai tahun 1959. Namun pada pelaksanaannya selama perjalanan Bangsa IndonesiaMerdeka, Pancasila yang dipercaya sebagai dasar pendirian Bangsa tidakdijalankan dengan benar. Hal ini disebabkan oleh terjadinya beberapa kali prosespenyeragaman pemahaman tentang Pancasila yang dilakukan oleh pemerintahsejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada masa Orde Lama, proses indoktrinasi(penyeragaman pemahaman) terhadap Pancasila dilakukan oleh Ir. Soekarnomelalui kuliah umum-kuliah umum yang diadakan di beberapa universitas besar4 Rapat BPUPKI tanggal 1 juni 1945 dihadiri oleh tokoh-tokoh besar dari kelompok-kelompoksocial yang ada di Indonesia saat itu, setidaknya terdapat Soetardjo, Dr. Soekiman, Ki BagoesHadikoesomo, M. Yamin, Ki Hajar Dewantara, Sanoesi, Abi Koesno, Lim Koen Hian, danperwakilan dari kerajaan-kerajaan yang ada. Universitas Budi Luhur
  18. 18. 5di tanah air. Selanjutnya pada masa Orde Baru yang dipimpin oleh Soehartosebagai presiden, proses indoktrinasi dilakukan melalui suatu sistem pendidikanyang kita kenal dengan sebutan P4 (Pendidikan Pelatihan Pengamalan Pancasila)yang diadakan dengan satu tujuan politis yaitu desoekarnoisasi (penghancurancitra Soekarno di masyarakat). Pancasila sebagai sebuah dasar negara dan sebagaisebuah pesan, memberikan ruang interpretasi yang sangat luas bagi siapa sajauntuk menafsirkannya, terutama bagi pemerintah yang memegang kekuasaan. Halini menyebabkan interpretasi dan pemahaman tengtang Pancasila yang sesuaidengan apa yang dimaksudkan oleh komunikatornya semakin bias. Pancasila yang disampaikan sebagai sebuah pesan dalam retorika yangdikomunikasikan oleh Ir. Soekarno pada Rapat BPUPKI tersebut telah sejak lamadipikirkan olehnya. Pesan tersebut tentunya sangat dipengaruhi oleh perjalananhidup dan nilai-nilai yang dipercaya oleh Ir. Soekarno sebagai komunikatornya,oleh karena itu untuk dapat memahami dengan benar Pancasila dan untuk dapatmenjalankannya dengan tepat di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara makasebaiknya kita memahami arti Pancasila dari sudut pandang Ir. Soekarno sebagaikomunikator dalam proses komunikasi tersebut.1.2. Permasalahan Melihat latar belakang yang peneliti buat, maka peneliti mengangkatrumusan permasalahan di penelitian ini adalah: Bagaimana Interpretasi Ir.Soekarno mengenai Pancasila di komunikasikan melalui Pidatonya dalam rapatBPUPKI 1 Juni 1945? Universitas Budi Luhur
  19. 19. 61.3. Tujuan Penelitian Dari rumusan permasalahan yang peneliti kemukakan di atas, maka tujuandari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mencari interpretasi Pancasila yangdimaksudkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya pada Rapat BPUPKI 1 Juni1945.1.4. Manfaat Penelitian 1) Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembanganIlmu Komunikasi khususnya dalam bidang Fenomenologi Komunikasi. Dalam halini memberikan pemahaman tentang Pancasila yang dipresentasikan oleh Ir.Soekarno melalui retorikanya tanggal 1 Juni 1945 pada Rapat BPUPKI. 2) Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat terhadap wawasan ilmu danpengetahuan di bidang Ilmu Komunikasi pada umumnya dan pengetahuan dalambidang Hermeneutika Komunikasi pada khususnya. Terutama dalam aplikasinyaterhadap proses interpretasi dan pemahaman terhadap teks sebagai pesan yangdisampaikan pada komunikasi publik, maupun aplikasinya secara pribadi. Sertauntuk menggali dan mengenalkan kembali nilai-nilai luhur bangsa yang terdapatdi dalam Pancasila kepada masyarakat luas khususnya kaum muda intelektualyang menjadi penentu perubahan dan kemajuan bangsa ini. Universitas Budi Luhur
  20. 20. 71.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan ini mempunyai tujuan memberikan gambarankepada pembaca mengenai uraian yang akan dibahas, sehingga pembaca akanmudah memahami isi dari karya tulis ini. Penulisan karya tulis ini terdiri dari limabab, yaitu:BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini peneliti menjelaskan secara singkat mengenai latar belakang masalah, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan penelitian.BAB II : KERANGKA TEORI Dalam bab ini peneliti menjabarkan teori-teori yang digunakan sebagai landasan berfikir untuk memahami permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.BAB III : METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini peneliti menjelaskan tentang Paradigma Penelitian, Pendekatan Penelitian, Metode Penelitian, Objek Penelitian, Sumber Data, Teknik Pemilihan Informan, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data. Universitas Budi Luhur
  21. 21. 8BAB IV : PEMBAHASAN Dalam bab ini peneliti menjelaskan hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh serta pembahasan hasil analisis penelitian.BAB V : PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan hasil penelitian dan saran–saran yang diberikan peneliti untuk dijadikan sebagai bahan masukan. Universitas Budi Luhur
  22. 22. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Kajian Teori Mengacu pada pokok permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya,peneliti menggunakan beberapa tinjauan pustaka sebagai landasan pemikirandalam melakukan penelitian sebagai berikut:2.1.1 Komunikasi Komunikasi dapat diartikan oleh J. B Wahyudi (1986:19) sebagai: Proses komunikasi yaitu bila seseorang atau kelompok melempar lambang atau ide yang ditunjukkan kepada orang lain atau kelompok lain, dengan tujuan agar terjadi persamaan pendapat diantara yang terlibat komunikasi, di dalam mengartikan lambang atau ide itu. Komunikasi ini dapat dilakukan secara langsung dengan atau tanpa media, dan dapat pula berlangsung secara rutin tetapi dapat pula secara tidak rutin. Bernard Berelson dan Gary Steiner menyatakan bahwa komunikasi adalah “Transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut dengan komunikasi.”(dalam Mulyana, 2000:54) Menurut Everret M. Rogers dan D. Lawrence Kincaid, komunikasi adalah “Suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi pengertian yang mendalam.”(Cangara, 2005:19) 9 Universitas Budi Luhur
  23. 23. 10 Jane Pauley (1999) memberikan definisi khusus atas komunikasi. Diaberkata “Komunikasi merupakan: (1) transmisi informasi; (2) transmisipengertian; yang (3) menggunakan simbol-simbol yang sama. Jadi, kalau satukomponen kurang maka komunikasi tidak akan terjadi.”(Liliweri, 2007:7) Komunikasi memiliki beberapa tipe atau bentuk yang telah dikelompok-kelompokan oleh para pakar. Pengelompokan tersebut berdasarkanpada sudut pandang masing-masing pakar menurut pengalaman dan bidangstudi para pakar, dan masing-masing pihak memiliki sumber yang cukupberalasan. Dengan memperhatikan pandangan para pakar, Hafid Cangara,(2005:34) dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi membagi komunikasike dalam empat tipe, yakni komunikasi dengan diri sendiri, komunikasiantarpribadi, komunikasi publik dan komunikasi massa. Peneliti di sini hanya akan menjelaskan mengenai komunikasi publikyang berhubungan dengan penelitian ini. Komunikasi publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking, dan komunikasi khalayak (audience communication). Apa pun namanya, komunikasi publik menunjukan suatu proses komunikasi di mana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar. (Cangara, 2005:34) Universitas Budi Luhur
  24. 24. 11 Berdasarkan penjelasan mengenai komunikasi publik yang diutarakanoleh Hafid Cangara, dapat disimpulkan bahwa komunikasi publik, padaumumnya, ditemui dalam berbagai aktifitas seperti kuliah umum, khotbah,rapat akbar, pengarahan, ceramah, dan sebagainya. Lebih lanjut Hafid Cangara mengatakan, Ada kalangan tertentu menilai bahwa komunikasi publik bisa digolongkan komunikasi massa bila melihat pesannya yang terbuka Tetapi terdapat beberapa kasus tertentu di mana pesan yang disampaikan itu terbatas pada segmen khalayak tertentu, misalnya pada rapat anggota, diskusi panel, seminar, dan pengarahan. Karena itu komunikasi publik dapat juga dikatakan sebagai komunikasi kelompok jika dilihat dari segi tempat dan situasi (Cangara, 2005:34) Melihat dari keterbukaan pesan yang disampaikan dalam komunikasipublik, maka hal ini dapat juga digolongkan ke dalam komunikasi massa,namun pada beberapa keadaan, komunikasi publik tidak dapat dikategorikanke dalam komunikasi massa bila khalayaknya terbatas pada segmen tertentu. Dari beberapa definisi dan penjelasan mengenai komunikasi publikyang telah disampaikan, peneliti menyimpulkan, bahwa komunikasi adalahproses antara dua orang atau lebih dalam melakukan transmisi informasi, ide,atau gagasan melalui simbol-simbol yang dapat berupa bahasa, gambar,grafik, figur, dan sebagainya, guna mencapai pengertian yang mendalam diantara mereka, baik secara langsung atau pun menggunakan media perantara. Universitas Budi Luhur
  25. 25. 122.1.2 Retorika “Craig membagi dunia komunikasi ke dalam tujuh tradisi pemikiran: (1) Semiotik; (2) Fenomenologis; (3) Sibernetika; (4) Sosiopsikologis; (5) Sosiokultural; (6) Kritis; (7) Retoris.”(Litlejohn, 2009:53) Craig meletakkan retorika sebagai tradisi pemikiran dalam ilmu komunikasi, namun Aristoteles mendefinisikan retorika sebagai: Someone who is always able to see what is persuasive. Correspondingly, rhetoric is defined as the ability to see what is possibly persuasive in every given case. This is not to say that the rhetorician will be able to convince under all circumstances. Rather he is in a situation similar to that of the physician: the latter has a complete grasp of his art only if he neglects nothing that might heal his patient, though he is not able to heal every patient. Similarly, the rhetorician has a complete grasp of his method, if he discovers the available means of persuasion, though he is not able to convince everybody.(www.plato.stanford.edu, 2002) Jadi dapat dikatakan bahwa retorika adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara persuasif. Seorang retoris harus mampu memahami dan menempatkan dirinya baik sebagai komunikator atau pun sebagai komunikan untuk dapat menjadi persuasif sehingga dapat mempengaruhi lawan bicaranya. Retorika dalam perkembangannya, mengalami banyak perubahan penggunaan yang mengakibatkan berubahnya definisi retorika mengikuti penggunaannya dalam setiap periode sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena perbedaan penggunaan retorika pada setiap periodenya. Oleh karena itu muncul keragaman dalam tradisi retorika antara lain : Periode Universitas Budi Luhur
  26. 26. 13Klasik, Periode Pertengahan, Periode Renaissance, Periode Pencerahan,Periode Kontemporer, dan Periode Post-Modern. Saat ini, retorika sering mengalami penyempitan makna--kosong atau kata-kata ornamen yang berlawanan dengan tindakan. Kajian retorika secara umum didefinisikan sebagai simbol yang digunakan manusia. Pada awalnya ilmu ini berhubungan dengan persuasi, sehingga retorika adalah seni penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian, berkembang sampai meliputi proses “adjusting ideas to people and people to ideas” dalam segala jenis pesan.(Littlejohn, 2009:73) Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss dalam bukunya Theories ofHuman Communication (2009:74-76), menjelaskan Retorika dari sejarahpenggunaannya dari masa ke masa. Penulis merangkum penuturan sejarahretorika sebagai berikut:1. Retorika di zaman klasik (abad ke-5 sampai abad ke-1 sebelum masehi), didominasi oleh usaha-usaha untuk mendefinisikan dan menyusun peraturan dari seni retorika. Instruksi retorika paling awal diajarkan oleh para guru-guru pengembara, Sophist, dengan mengajarkan seni berdebat di kedua sisi pada sebuah kasus.2. Pada Zaman pertengahan (400-1400 Masehi) retorika berfokus pada permasalahan penyusunan dan gaya. Secara pragmatis, kegunaan retorika pada zaman pertengahan adalah untuk penulisan surat karena pada abad ini banyak keputusan yang dibuat secara pribadi dalam dekrit dan surat. Sedangkan permasalahan tentang gaya ditekankan dalam pengajaran mengadaptasi pelapisan, bahasa, dan format untuk audiensi khusus.3. Pada Zaman Renaissance (1300-1600 Masehi) disokong oleh Zaman Pertengahan, memandang kembali retorika sebagai filosofi seni. Yang menjadi tren pada zaman ini adalah Rasionalisme, sehingga para pemikir seperti Rene Descartes mencoba untuk menentukan apa yang dapat diketahui secara absolut dan objektif oleh pikiran manusia. zada zaman ini pun, logika atau pengetahuan juga terpisah dari bahasa dan retorika hanya menjadi cara untuk menyampaikan kebenaran ketika kebenaran tersebut diketahui.4. Zaman Pencerahan (1600-1800 Masehi), retorika dibatasi karena gayanya, sehingga memunculkan pergerakan belles lettres-yang arti harfiahnya surat-surat indah atau menarik. Dengan adanya ketertarikan dalam gaya, selera, dan estetika tidak mengherankan jika sebuah gerakan seni Universitas Budi Luhur
  27. 27. 14 deklamasi mengajarkan pelafalan serta sistem gerak tubuh dan gerakan pembicara juga muncul ke permukaan.5. Retorika Kontemporer (beriringan pada abad ke-20), dimana abad ini pengaruh simbol-simbol meningkat sehingga retorika bergeser fokusnya dari pidato ke semua jenis penggunaan simbol. Dengan kata lain secara harfiah, tidak ada bentuk penggunaan simbol yang tidak dapat diteliti oleh para akademisi retorika. Selain itu, hal yang paling penting pada periode ini adalah adanya sebuah pemahaman mengenai retorika sebagai epistemika – sebagai sebuah cara untuk mengetahui dunia, bukan hanya sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu tentang dunia.6. Retorika post-modern (akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21). Retorika zaman ini mengistimewakan pendirian akan ras, kelas, gender, dan seksualitas ketika mereka masuk ke dalam pengalaman kehidupan khusus seseorang daripada mencari teori-teori yang luas dan penjelasan- penjelasan mengenai retorika. Berdasarkan kutipan penggunaan retorika dalam beberapa periodesejarah, dapat disimpulkan bahwa secara umum retorika ialah senimanipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional denganmenggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengarmelalui pidato. “Selanjutnya, retorika jauh berbeda dengan tanpa arti, kosong, ataupembicaraan ornamental. Hal ini merupakan seni dasar dan praktikkomunikasi manusia.” (Littlejohn, 2009:76) Dari kutipan di atas, maka dalam keberagaman konteks komunikasiyang ada, tradisi retorika tidak memiliki bagian tersendiri karena teori-teoriretorika banyak yang tercakup dalam tradisi lain yang sesuai. Dengan ini, adaperbedaan antara retorika klasik dan praktek kontemporer dari retorika yangtermasuk analisa atas teks tertulis dan visual. Universitas Budi Luhur
  28. 28. 15 Berdasarkan pada penjelasan yang telah disampaikan, peneliti menarik kesimpulan bahwa retorika adalah seni berbicara secara manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, dengan tujuan membuat orang lain memiliki pandangan dan pemikiran yang sama dengan kita sehingga bertindak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Untuk itu, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan mereka. Retorika dapat dilakukan pada komunikasi kelompok dan juga komunikasi antarpribadi melalui komunikasi langsung ataupun menggunakan media.2.1.3 Demokrasi Demokrasi, sebuah kosakata politik yang begitu sering digunakan dan diperdengarkan dalam wacana sosial politik kenegaraan. Demokrasi yang dijalankan oleh negara-negara di dunia sangatlah beragam jenisnya, ada demokrasi liberal, demokrasi sosialis, demokrasi komunis, demokrasi rakyat, demokrasi terpimpin, dan lain sebagainya. “Demokrasi secara etimologis berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “demos” yang berarti rakyat atau penduduk setempat dan “creatain” atau “cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan rakyat.”(www.hminews.com) Dengan bahasa lain demokrasi adalah pemerintahan rakyat: pemerintahan yang diikuti oleh rakyat secara suka rela dan bukan karena takut atau paksa. Universitas Budi Luhur
  29. 29. 16 Jadi, dalam demokrasi, rakyat adalah sumber legislasi dan sumber kekuasaan (source of legislation and authority). Dalam demokrasi kebebasan harus diwujudkan bagi setiap individu rakyats. Ada 4 jenis kebebasan yang dianut: (1) kebebasan beragama (freedom of religion), (2) kebebasan berpendapat (freedom of speech), (3) kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), dan (4) kebebasan berperilaku (personal freedom).(www.hminews.com) Demokrasi dalam konteks kontemporer, Harris Soche, “Demokrasiadalah pemerintahan rakyat karena itu kekuasaan melekatpada rakyat.” (Elvani, 2007) Dapat disimpulkan demokrasi mengakui kehendak rakyat sebagailandasan bagi legitimasi dan kewenangan pemerintahan (kedaulatan rakyat)dan kehendak itu akan dinyatakan dalam sebuah iklim politik yang terbukamelalui pemilihan umum yang bebas dan berkala. Sedangkan menurut C.F. Strong (seperti yang di kutip oleh MalkianElvani, 2007) , “Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dalam manamayoritas anggota dewan dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistemperwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirnyamempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.” Menurut Henry B. Mayo, system politik demokratis adalahmenunjukkan kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat, dan didasarkan atas kesamaanpolitik dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. (Elvani, 2007) Universitas Budi Luhur
  30. 30. 17 International Commision for Jurist, merumuskan “Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan untuk membuat keputusan politik diseleng- garakan oleh wakil wakil yang dipilih dan bertanggung jawab kepada mereka melalui pemilihan yang bebas.” (Elvani, 2007) Sedangkan, Samuel Huntington, “system politik sebagai demokratis sejauh para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam system itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan semua orang dewasa mempunyai hak yang sama memberikan suara.” (Elvani, 2007) Maka dapat disimpulkan, Sistem Demokrasi adalah sistem pemerintahan suatu negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat yang sepenuhnya dan seutuhnya baik melalui sistem perwakilan ataupun secara langsung. Sebuah sistem demokrasi bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya.2.1.4 Hermeneutik Engkus Kuswarno (2008:25) dalam bukunya Etnografi Komunikasi mengatakan “Hermeneutik adalah cabang filsafat yang menguji teori tentang pemahaman dan penafsiran.” Selanjutnya, beliau juga mengatakan “Sebuah proses dipandang sebagai sesuatu yang sirkuler, jadi orang hanya dapat memahami sesuatu dalam kaitannya dengan bagian-bagiannya. Namun bagian-bagian tersebut juga hanya dapat dipahami dari keseluruhannya.” Universitas Budi Luhur
  31. 31. 18 “Secara etimologis, Hermeneutik berasal dari kata Yunani Hermeneuein yang berarti menafsirkan, kata bendanya Hermenia dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi.”(Steve JM, 2008:3) Dalam mitologi Yunani, kata hermeneutik sering dikaitkan dengan tokoh bernama Hermes, seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Tugas menyampaikan pesan berarti juga mengalihbahasakan ucapan para dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Pengalihbahasaan sesungguhnya identik dengan penafsiran. Dari situ kemudian pengertian kata Hermeneutika memiliki kaitan dengan sebuah penafsiran atau interpretasi.(Saidi, 2008) Ada banyak tokoh dalam Hermeneutika. Sebut saja, misalnya, Friedrich Ernst Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Hans George Gadamer, Jurgen Habermas, dan Paul Ricoeur. Peneliti tidak akan menjelaskan pemikiran Hermeneutik semua tokoh tersebut. Dalam penulisan penelitian ini, penjelasan Hermeneutika yang akan disarikan adalah yang dikemukakan oleh Wilhelm Dilthey.2.1.4.1 Hermeneutik Wilhelm Dilthey Wilhelm Dilthey adalah seorang filsuf Jerman. Ia terkenal dengan riset historisnya dalam bidang hermeneutik. “Ia berambisi menyusun dasar epistemologis baru bagi pertimbangan sejarah tentang pemahaman yang memandang dunia sebagai wajah interior dan eksterior.” (Steve JM, 2008:8) Ia sangat tertarik pada karya-karya Schleiermacher dan kehidupan intelektualnya, tertanam pada kemampuan intelektualnya dalam menggabungkan teologi dan kesusastraan dengan karya-karya kefilsafatan, serta kagum pada karya terjemahaan dan interpretasinya atas dialog Plato. (Steve JM, 2008:8) Universitas Budi Luhur
  32. 32. 19 Pemikiran Dithey banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato danSchleiermacher. Dia memandang hidup dan kehidupan adalah “sebuah prosesyang sedang berlangsung, suatu entitas yang secara kodrat mengalir(Bergson). Sejarah tidak dapat dipahami kecuali melalui teori-teori dansebaliknya teori juga tidak dapat dipahami kecuali melalui sejarah.” (SteveJM, 2008:11) Menurut Dilthey, “Hermenuetik sendiri pada dasarnya bersifatmenyejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah ‘berhenti padasatu masa’ saja, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah.” (SteveJM, 2008:11) Dilthey mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalamtiga proses: • Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. • Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. • Menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarahwan itu hidup. Menurut Dilthey, “memahami berarti menggabungkan semua dayapikiran kita dalam pengertian.” (Steve JM, 2008:11). Dapat dikatakan bahwadalam memahami kita mengikuti proses mulai dari sistem keseluruhan yangkita terima dalam pengalamana hidup sehingga kita dapat mengerti, sampaike pemahaman tentang diri sendiri. Universitas Budi Luhur
  33. 33. 20 Proses pemahaman terdiri dari dua bagian; pertama, pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya dan kedua, rekosntruksi berbagai peristiwa. Tentang sistem penyebaban, Dilthey membagi menjadi dua jenis Kausalzusammenhang (nexus sebab dan akibat yang bersifat mekanis) dan Wirkungszusanmmenhang (sistem dinamis). Pemikiran filsafat Dilthey dikenal dengan ’filsafat hidup’ karena iaberupaya untuk menganalisis proses pemahaman yang membuat kita dapatmengetahui kehidupan pikiran (kejiwaan) kita sendiri dan kejiwaan oranglain. Tugas hermeneutika menurut Dilthey adalah untuk melengkapi teoripembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemarioleh pandangan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Interpretasi nampaknya niscaya berupa suatu proses yang melingkar,yaitu setiap bagian dari suatu karya sastra misalnya dapat ditangkap lewatkeseluruhannya, adapun sebaliknya keseluruhannya hanya dapat ditangkaplewat bagian-bagiannya. Dengan demikian kita dihadapkan pada suatulingkaran logis. Lingkaran yang sama juga dijumpai manakala kita mencobamemahami pengaruh-pengaruhnya yang dialami oleh pengarang atas suatukaryanya. Kita dapat memahami situasi apa yang terdapat di benaknya hanyajikalau kita telah mengetahui apa yang sudah dipikirkan. Lingkaran tersebutsecara logis berpautan, tidak terpecahkan, akan tetapi dalam praktek dapatkita pecahkan setiap saat kita memahaminya. Proses hermeneutika selanjutnya bahwa arti suatu karya dapatterungkap secara lebih penuh lewat karya-karya lain si pengarang, dan artikarya-karya lain tersebut dapat dibaca lewat hidup dan watak si pengarang.Dari pengertian inilah dapat diperoleh suatu pemahaman keadaan-keadaannya Universitas Budi Luhur
  34. 34. 21sewaktu dia masih hidup, kemudian dipahami tulisan-tulisannya sebagaisuatu kejadian dalam suatu proses sejarah budaya atau sejarah sosial yangjauh melampaui dirinya dan merupakan suatu bagian besar kisah umatmanusia. (Kaelan, 1998: 190-193) Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Dilthey memperlakukanteks tertulis dalam sebuah karya sastra di hadapannya sebagai sebuah objekinterpretasi. Ia melihat teks sebagai ekspresi dari si pengarang dan interpretasiadalah sebuah upaya untuk memahami maksud dari pengarang tersebut. Iapercaya bahwa dengan menyelami teks kita dapat menemukan intensi daripengarang tersebut, dan dapat ditemukan metode untuk menyelami tekstersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi maknaadalah hal yang mungkin dalam kehidupan kita. Bagi Dilthey, pemahamanakan ungkapan orang lain mengikuti logika yang sama sebagaimanaseseorang memahami kegiatan dalam autobiografinya sendiri. Autobiografimerupakan alat yang paling baik dalam memahami hidup dan kejadian dalamhidup kita Penjelasan Autobiografi menurut Dilthey: Autobiography is the roots of all historical comprehension. Autobiography is all about understanding one’s self and the meaning of events in one’s own life. We understand how events and meanings are related in our own lives through reflection on our autobiographies. We understand why we did this or said that because we know the history that led up to those events and the consequences that arose as a result of them. Universitas Budi Luhur
  35. 35. 22 Autobiografi mencerminkan akar dari semua pemahaman sejarah. Autobiografi berkaitan dengan pemahaman diri seseorang dan makna berkaitan dengan hidup kita sendiri melalui refleksi atas autobiografi kita. Kita dapat mengerti mengapa kita melakukan sesuatu karena kita tahu dari sejarah yang menuntun kita pada kejadian-kejadian tersebut. (Radford, 2005:163) Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang menjadi objek interpretasi dalam penelitian ini adalah teks tertulis yang merupakan transkrip dari sebuah pidato yang disampaikan dalam sebuah rapat. Untuk menerjemahkan dan menginterpretasikan aspek-aspek tersebut, peneliti harus menginduksi autobiografi si retoris. Jadi, kegunaan hermeneutik atau interpretasi dalam penelitian ini adalah untuk memahami obyek dalam konteks ruang dan waktu dimana obyek tersebut berada, terkait di dalamnya keseluruhan aspek kondisi sosial, ekonomi, budaya, pandangan hidup maupun sejarahnya.2.2 Tinjauan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti turut memberikan beberapa penelitian pendahulu yang memiliki kesamaan baik metodologi, metode, teori, ataupun objek penelitian. Beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian ini antara lain:2.2.1 Konstruksi Argumentasi dalam Retorika Soekarno (Kasus: PidatoSoekarno pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI)Oleh Liza Dwi Ratna Dewi dalam Tesis S2 Universitas Indonesia tahun 2007 Di dalam penelitian ini, peneliti (Liza Dwi Ratna) meneliti dan menjelaskan mengenai proses penyusunan bahasa dan kata-kata yang digunakan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya di Rapat BPUPKI tanggal 1 Universitas Budi Luhur
  36. 36. 23Juni 1945. Peneliti beranggapan bahwa penyusunan bahasa dan kata-katayang disampaikan sebagai pesan oleh Ir. Soekarno saat itu dilakukandengan penuh pertimbangan dan maksud. Berdasarkan pada teori bahasaBakhtin, terdapat dua objek yang dituju oleh seorang komunikator dalammengeluarkan pesannya, objek yang nyata disebut addressee dan objekyang abstrak adalah supperaddressee. Lebih jauh, peneliti menjelaskanbahwa yang dimaksud addressee adalah orang yang dituju dari proseskomunikasi yang dilakukan (komunikan) sedangkan supperaddresseeadalah latar belakang komunikan seperti ideologi, pendidikan, paradigm,nilai-nilai budaya, dll. yang mempengaruhi respon komunikan dalammenerima dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan dalam proseskomunikasi. Peneliti mengambil pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945sebagai penelitiannya karena Ir. Soekarno sangat terkenal dengankemampuannya dalam berpidato. Selain itu, peneliti juga berpendapatbahwa pidato tanggal 1 Juni 1945 mempunyai isu yang dimainkan denganpiawai oleh Ir. Soekarno karena pada saat itu sedang dilakukanpembahasan mengenai Dasar Negara Indonesia Merdeka dan dihadiri olehtokoh-tokoh pemimpin pergerakkan kemerdekaan yang berasal dari latarbelakang yang berbeda-beda. Untuk memahami dan mencapai tujuan penelitian, penelitimenggunakan paradigma konstruktivis yang memandang bahwa realitas Universitas Budi Luhur
  37. 37. 24 kehidupan sosial bukanlah realitas yang netral, tetapi hasil dari konstruksi. Peneliti juga menggunakan pendekatan kualitatif yang memahami realitas yang diteliti secara menyeluruh dan berfokus pada hubungan-hubungan antara bagian-bagian yang terpisah. Selain itu peneliti juga menggunakan metode Hermeneutika Wilhelm Dilthey yang mengatakan bahwa individu membentuk ddan dibentuk oleh konteks budaya di mana dia hidup.2.2.2 Kedai Tiga Nyonya Sebagai Representasi Budaya Peranakan Cina-JawaOleh Lisa Andriani dalam Skripsi S1 FIKOM Universitas Budi Luhur tahun 2009 Proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi disebut akulturasi (acculturation). Salah satu akibat dari proses akulturasi adalah hibriditas. Hibriditas budaya (budaya peranakan) adalah budaya baru yang dihasilkan melalui proses perkawinan silang dari dua jenis budaya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menggambarkan salah satu jenis hibriditas budaya di Indonesia, yaitu budaya peranakan Cina-Jawa yang terwujud dalam Kedai Tiga Nyonya. Kedai Tiga Nyonya bisa dikatakan sebagai pemain kuliner pertama di Jakarta yang merangkul makanan Cina peranakan. Dengan demikian, yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Kedai Tiga Nyonya Sebagai Representasi Budaya Peranakan Cina-Jawa”. Universitas Budi Luhur
  38. 38. 25 Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yangmemandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap sociallymeaningful action melalui pengamatan langsung. Teori representasi yangdigunakan untuk menginterpretasikan data penelitian ini adalahHermeneutika Wilhelm Dilthey. Pendekatan dari penelitian ini adalahpendekatan kualitatif, karena secara umum digunakan untuk memperolehhasil penelitian yang bersifat deskriptif berupa kata-kata dari suatu objekpenelitian. Metodologi penelitian ini adalah metode etnografi, karenametode ini dapat menggambarkan, menjelaskan dan membangun hubungandari kategori-kategori dan data yang ditemukan. Selain itu, ciri khaspenelitian lapangan etnografi adalah bersifat holistik, integratif, thickdescription, dan analisis kualitatif untuk mendapatkan native’s point ofview. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kedai Tiga Nyonyamerepresentasikan budaya peranakan Cina-Jawa. Budaya peranakan Cina-Jawa yang terwujud dalam Kedai Tiga Nyonya, ditampilkan dan diartikansesuai latar belakang atau riwayat hidup dari pemilik Kedai. Kedai TigaNyonya selain menjadi bangunan secara utuh, juga berperan padapembentukan ruang-ruang sosial dan simbolik, sebuah “ruang” menjadicerminan dari perancang dan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pendekkata, Kedai Tiga Nyonya menjadi cerminan budaya dari pemilik Kedai -Paul B. Nio yaitu budaya Peranakan Cina-Jawa (Semarang). Universitas Budi Luhur
  39. 39. 262.2.3 Wacana feminism dalam Novel Ayu Manda (Studi AnalisisHermeneutika)Oleh Fitria Lestari dalam Skripsi S1 FIKOM Universitas Budi Luhur tahun 2010 Novel merupakan salah satu media massa cetak yang dapat memberbanyak inspirasi bagi para pembacanya. Alur cerita dalam sebuah novel dapatmembentuk sebuah imajinasi dan menimbulkan interpretasi yang berbeda-bedadari masing-masing pembaca. Oleh karena itu, teks bersifat polisemis, yaitu dapatmengandung dan menimbulkan banyak makna. Dalam novel ini, diangkatnyatema feminism membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian.Permasalahan yang terdapat dalam novel ini berkaitan dengan feminism adalahmasalah poligami, posisi perempuan dalam budaya Bali, seperti dalam hal hokumwaris dan dalam struktur kasta, serta budaya patriarki dalam kaitannya denganketidaksetaraan gender. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana wacanafeminism ditampilkan dalam novel Ayu Manda. Metodologi penelitian yang digunakan adalah hermeneutika dari PaulRicouer. Metode hermeneutika dilakukan melalui sebuah proses interpretasi untukmengetahui makna dari sebuah makna. Ada berbagai segi yang diperhatikandalam meneliti suatu teks yaitu dari segi bahasa, segi latar belakang penulis, segilingkungan teks, segi kaitan dengan teks lain, serta “dialog” dengan pembaca.Dalam hermeneutika, pembaca secara sengaja dan hati-hati melakukan interpretasiserta penafsiran tentang apa yang dibacanya, dalam hal ini teks novel Ayu Manda. Universitas Budi Luhur
  40. 40. 27 Hasil penelitian yang diperoleh yaitu mengenai bagaimana masalahpoligami dalam perspektif dua orang tokoh perempuan dalam novel ini, yaitusebagai istri pertama dan istri kedua. Selain itu novel ini juga menggambarkanbagaimana budaya patriarki telah melahirkan ketidakadilan gender terhadapperempuan serta posisi perempuan dalam kebudayaan Bali yang direpresentasikanlewat seorang tokoh utama dalam novel ini yaitu Ayu Manda. Kesimpulan yang penulis buat berdasarkan hasil penelitian di atas adalahtentang budaya patriarki yang sangat erat kaitannya dengan lahirnya sebuahgerakan feminism. Patriarki dianggap sebagai sumber dimana perempuanditempatkan tidak sejajar dalam tatanan masyarakat. Kemudian saran yang dapatpenulis sampaikan adalah ditujukan kepada seluruh perempuan Indonesia agarterus berjuang menunjukan eksistensi dirinya dengan semangat feminism.2.3 Kerangka Pemikiran Berdasarkan pada penjelasan landasan teori yang telah peneliti jelaskan di atas, maka kerangka pemikiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Universitas Budi Luhur
  41. 41. 28 Konsep ide Pancasila Ir. Soekarno Pada Rapat BPUPKI (Tanggal 1 Juni 1945) Hermeneutika Wilhelm Dilthey Interpretasi Sistem Demokrasi Pancasila GAMBAR 2.1 KERANGKA PEMIKIRAN Gambar 2.1 menunjukan bahwa penelitian ini akan menjelaskaninterpretasi dari Sistem Demokrasi Pancasila yang berdasarkan pada teksretorika Ir. Soekarno pada Rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Sistem DemokrasiPancasila yang sebenarnya menurut Ir. Soekarno dengan mendeskripsikandan menganalisis tanda-tanda verbal maupun non verbal dari naskah retorikaIr. Soekarno pada rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Perspektif teori yangdigunakan untuk menginterpretasikan data yang diperoleh dalam penelitianini adalah teori interpretasi Hermeneutika Wilhelm Dilthey yakni dengan caramenginduksi autobiografi Ir. Soekarno dan menganalisa teks retorika Ir.Soekarno pada Rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Universitas Budi Luhur
  42. 42. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil Penelitian4.1.1 Sejarah Indonesia Pra Kolonial Bangsa Indonesia yang telah menetap di wilayah kepulauan nusantara selama beribu-ribu tahun, hal ini ditandai dengan ditemukannya fosil manusia tertua di dunia yang di kenal dengan sebutan paleo javanicus5, mempunyai kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Bangsa Indonesia sejak dahulu telah memiliki sistem pemerintahan dengan bukti adanya kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Kerajaan yang tertua adalah Kerajaan Kutai yang berada di Pulau Kalimantan. Selain itu juga dikenal banyak kerajaan-kerajaan lainnya seperti Singosari, Samudra Pasai, Sriwijaya, Mataram, Demak, Majapahit dan lain sebagainya. Dua kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan terbesar adalah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang juga dikenal dengan sebutan Kerajaan Nusantara.5 Berasal dari bahasa latin yang artinya Manusia Jawa 38 Universitas Budi Luhur
  43. 43. 39 Kerajaan-kerajaan nusantara sangat membuka diri dengan bangsa lain dalam semangat perdagangan. Banyak pedagang bangsa lain yang dating dan kemudian menetap di wilayah nusantara seperti China, India, Arab, dan Eropa. Jaman Kolonial Bangsa Asing yang pertama kali menjajah nusantara adalah Belanda. Belanda atau lebih tepatnya VOC6 pertama kali datang ke Indonesia pada abad ke 16 di Semenanjung Malaka. Setelah itu VOC langsung memonopoli perdagangan dan menjajah Bangsa Indonesia selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya. VOC bangkrut pada abad ke 18, dan setelah pemerintahan kolonial Inggris yang pendek, Belanda mengambil alih kembali penjajahan atas Indonesia. Penjajahan Belanda atas Indoensia berangsung dengan banyak pasang surut, dengan banyaknya perlawanan di setiap daerah dan beberapa kali terjadi pergantian gubernur jendral.7 Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia di bawah kolonialisme Belanda sangatlah menderita. Terdapat banyak pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintahan kolonialisme. Salah satunya adalah pembatasan pendidikan dimana hanya keturunan para raja dan priyai saja yang dapat memperoleh6 VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) merupakan sebuah kamar dagang atau perusahaanpemerintah Belanda. Diberikan hak untuk memonopoli perdagangan dan aktivitas kolonial olehparlemen Belanda pada tahun 1602. Bermarkas di Batavia yang sekarang bernama Jakarta7 Gubernur Jendral adalah sebutan untuk pimpinan tertinggi pemerintah kolonial di daerahjajahannya yang merupakan perwakilan langsung dari Ratu Belanda. Universitas Budi Luhur
  44. 44. 40 pendidikan formal. Selain itu Bangsa Indonesia juga dilarang untuk berserikat dan berkumpul. Namun pada tanggal 2 Mei 19088, berdiri serikat pertama yang bernama Boedi Oetomo yang dideklarasikan oleh tiga orang yang dikenal sebagai Tiga Serangkai. Organisasi Boedi Oetomo bergerak dalam dunia pendidikan terutama untuk rakyat kecil yang tidak dapat masuk ke dalam sekolah-sekolah buatan belanda. Setelah itu, kejadian besar yang perlu disoroti dalam garis sejarah Bangsa Indonesia adalah Kongres Pemuda9 yang menjadi tanda dari persatuan perjuangan kemerdekaan di seluruh wilayah nusantara. Kongres Pemuda ini lalu mengeluarkan keputusan yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Gambar 4.1 Hasil Keputusan Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta.8 Kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.9Sumpah Pemuda, (28 Oktober 1928) deklarasi yang di gagas oleh para pemuda Indonesia untukbersatu dalam perjuangan memerdekakan Bangsa Indoensia dari penjajahan. Di tandai denganpembacaan sumpah untuk mengakui Tanah air, kebangsaan, dan Bahasa yang digunakan. Universitas Budi Luhur
  45. 45. 41 Selanjutnya perjuangan kemerdekaan berlangsung terus menerusdisetiap daerah dengan semangat yang baru, bukan lagi semangat kedaerahmelainkan semangat persatuan se Indonesia. Pada tahun 1942, bangsa Jepang yang ingin menaklukan negara-negara sekutu berhasil menghancurkan pangkalan militer Amerika di PearlHarbour. Kejayaan Bangsa Jepang saat itu sampai ke Indonesia denganmemukul mundur Belanda dari Nusantara. Namun hal ini tidak menjadikanBangsa Indonesia merdeka melainkan mendapat penjajah baru yaitu BangsaJepang. Pada awal penjajahannya, Bangsa Jepang begitu baik sehingga parapejuang kemerdekaan menjadi kooperatif. Bangsa Jepang menjanjikankemerdekaan Bangsa Indonesia jika membantu peperangan melawan sekutupada perang dunia kedua. Pada tahun 1945 pemerintahan kolonial Jepangmembentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia(BPUPKI) untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. BPUPKI yanghanya berumur beberapa bulan saja lalu digantikan oleh Panitia persiapanKemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada pertengahan tahun 1945 Amerika membom atom kotaHiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syaratke[ada sekutu dan mengakhiri perang. Dengan kekalahan Jepang dari sekutu,maka terjadi kekosongan pemerintahan kolonial di Indonesia, hal inilah yangdimanfaatkan oleh para pemuda Indonesia untuk mendesak Ir. Soekarno danMohammad Hatta yang pada saat itu merupakan tokoh sentral perjuangan Universitas Budi Luhur
  46. 46. 42 kemerdekaan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda menculik ke dua tokoh tersebut dan membawanya ke daerah Rengas Dengklok dengan tujuan agar tidak mendapat pengaruh dari pihak-pihak yang dapat menghalangi usaha kemerdekaan.4.1.2 BPUPKI dan Rapat BPUPKI Mulai tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam melawan tentara Sekutu. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura) No. 23. Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia. Universitas Budi Luhur
  47. 47. 43 Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, danmengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 - 1 Juni 1945. Dalamsidang pertama ini yang dibicarakan khusus mengenai calon dasar negarauntuk Indonesia merdeka nanti. Pada sidang pertama itu, banyak anggotayang berbicara dan menyampaikan pandangannya mengenai pendirian NegaraIndonesia Merdeka namun kemudian pada tahun 1984, Lembaga Soekarno –Hatta menerbitkan buku Sejarah Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 danPancasila, yang mengatakan bahwa hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidakbisa dilepaskan dari Soekarno. Sebab Soekarno adalah satu-satunya orangyang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara di depan sidangBPUPKI 29 Mei - 1 Juni 1945. Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul mengenaicalon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu: (1) Nasionalisme(Kebangsaan Indonesia), (2) Internasionalisme (Perikemanusiaan), (3)Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, dan (5) Ketuhanan yangBerkebudayaan. Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebihlanjut Bung Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperasmenjadi Trisila, yaitu: 1. Sosio-nasionalisme, 2. Sosio-demokrasi, 3.Ketuhanan. Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadiEkasila yaitu Gotong Royong. Universitas Budi Luhur
  48. 48. 44 Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggotaBPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnyaadalah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya sertamelaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberikesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengantanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapanorang, yaitu Ir. Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Wachid Hasjim, Mr.Muh. Yamin, M. Sutardjo Kartohadikusumo, Mr. A.A. Maramis, R. OttoIskandar Dinata, dan Drs. Muh. Hatta. Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara PanitiaKecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yangdicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil PenyelidikUsul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang, yaitu: Ir.Soekarno, Drs. Muh. Hatta, Mr. A.A. Maramis, K.H. Wachid Hasyim, AbdulKahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Mr. AhmadSubardjo, dan Mr. Muh. Yamin. Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggalitu juga melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon MukadimahHukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “PiagamJakarta”. Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 Juli 1945, hasil yangdicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus.Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Universitas Budi Luhur
  49. 49. 45 (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.4.1.3 Ir. Soekarno Penjelasan tentang Ir. Soekarno pada sub bab ini merupakan ringkasan peneliti dari berbagai sumber yang didapat seperti buku Soekarno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia tulisan Cindi Adams yang ditulis dari hasil wawancaranya dengan Ir. Soekarno. Wawancara yang dilakukan merupakan permintaan langsung dari Ir. Soekarno untuk menuliskan riwayat hidupnya pada masa akhir hidup Soekarno. Selain buku tersebut ada pula beberapa sumber lain yang digunakan oleh peneliti dengan upaya untuk benar-benar dapat memahami alam pikiran Ir. Soekarno semasa ia hidup. Ir. Soekarno lahir di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Beliau adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah menggali kembali Pancasila dari sari pati Universitas Budi Luhur
  50. 50. 46Bangsa Indonesia. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersamadengan Mohammad Hatta yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno semenjak kecil sudah sangat cerdas dan mempunyaikemampuan memimpin yang terbawa sejak lahir. Kedua orang tuanya sangatpercaya bahwa dia akan menjadi seorang pemimpin besar karena dilahirkanpada saat fajar tiba. Sejak keccil ayahnya sudah merencanakan pendidikanyang akan diberikan kepada Soekarno agar ia dapat menjadi orang besar.Ayahnya menggunnakan haknya sebagai keturunan dari keluarga raja untukmemasukan Soekarno ke sekolah untuk anak-anak Belanda, karena hanyadari sekolah itulah Soekarno dapat melajutkan pendidikan formalnya sampaike perguruan tinggi seperti yang direncanakan oleh ayahnya. Pekerjaan ayahnya sebagai seorang guru menjadikan Soekarnosangat dekat dengan ruang pendidikan dan menganggap bahwa pendidikansangatlah penting untuk menjadi sukses dalam hidup. Hal ini mempengaruhiSoekarno sehingga ia sangat gemar membaca dan mendengarkan orangberdiskusi, ia juga sangat gemar belajar dan lebih meluangkan waktunyasemasa remaja untuk belajar.Latar belakang dan pendidikan Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnyabernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa.Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali. Ketikakecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada Universitas Budi Luhur
  51. 51. 47 usia 14 tahun, seorang kawan dari ayahnya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa). Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij10. Semasa kecilnya, Soekarno sangat gemar dengan pertunjukan wayang. Dengan tinggal bersama dengan kakeknya, Soekarno kecil sering diajak untuk ikut menonton pertunjukan wayang. Soekarno kecil dengan kecerdasannya dapat memahami inti dari cerita wayang yang ia tonton. Di usia muda, Soekarno dititipkan kepada Tjokroaminoto yang saat itu sangat aktif dalam Serikat Islam (SI). Soekarno mendapatkan pemahaman tentang Islam yang lebih mendalam dari Tjokroaminoto dan teman-temannya di SI. Selain mendapatkan pengetahuan tentang Islam, Soekarno juga mendapatkan kemudahan dalam membaca buku-buku pengetahuan yang dimiliki oleh Tjokroaminoto, terutama yang menjadi kesukaannya adalah buku-buku tentang filsafat.10 Partai Nasional Indonesia (Bahasa Belanda) Universitas Budi Luhur
  52. 52. 48 Selanjutnya Soekarno meneruskan sekolahnya di TBS di Bandung.Di sana dia tinggal di rumah temannya Tjokroaminoto. Ketika bersekolah diTBS, Soekarno memulai aktifitas pergerakan politiknya untuk menentangpenjajah. Ia mulai menulis artikel-artikel perlawanan, selain aktif dalamkelompok-kelompok diskusi. Salah satu tulisannya yang terkenal berjudulNasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang di muat dalam SuluhIndonesia. Sedangkan kelompok diskusi yang ia buat berkembang menjadiPartai Nasional Indonesia (PNI). Karena aktifitas politiknya, Soekarno ditangkap dan diadili olehPemerintah Kolonial Belanda. Pada saat itulah Soekarno menyampaikanpledoinya yang terkenal dengan judul Indonesia Menggugat di hadapanhakim dari Belanda. Berdasarkan keputusan pengadilan, Soekarno pun dipenjara di rumah tahanan di Bandung. selain di penjara, Soekarno jugabeberapa kali diasingkan, namun semua hal itu tidak menurunkan semangatSoekarno untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan. Soekarno juga memimpin organisasi Putera pada masa penjajahanJepang. Hal ini karena janji Perdana Mentri Jepang yang akan memberikankemerdekaan kepada Bangsa Indonesia di kemudian hari jika bersediamembantu Jepang dalam perang. Namun pada saat Jepang mengalamikekalahan perang, para pemuda Indonesia segera menemui danmengamankan Soekarno dan Hatta dengan membawa mereka ke RengasDengklok. Di sana, para pemuda Indonesia mendesak Soekarno untuk segera Universitas Budi Luhur
  53. 53. 49 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan tidak lama setelah itu mereka berdua di tetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama.4.2 Pembahasan Dalam penelitian ini, hasil penelitian dan pembahasan merupakan hasil dari interpretasi yang penulis lakukan terhadap teks-teks dalam pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945. Ada beberapa alasan mengapa penulis memilih teks-teks yang akan diteliti kemudian adalah yaitu pertama adalah karena teks ini merupakan sebuah momen sejarah yang sangat penting karena dikenal juga sebagai Kelahiran Pancasila. Kedua, pidato ini disampaikan dan menjadi jawaban dalam rapat BPUPKI yang pada saat itu sedang membahas persoalan bangsa mengenai Dasar Indonesia Merdeka. Proses pemaknaan tersebut menggunakan metode hermeneutika Wilhelm Dilthey. Berikut ini adalah hasil penelitian dan pembahasan untuk mengetahui seperti apa pemahaman Pancasila yang dimaksud oleh Ir. Soekarno. Ir. Soekarno memberikan lima dasar yang disebut Pancasila untuk menjadi Dasar Negara Indonesia Merdeka, kelima dasar itu adalah: 1. Kebangsaan, 2. Internasionalisme, Universitas Budi Luhur
  54. 54. 50 3. Musyawarah mufakat, perwakilan, 4. Keadilan sosial, dan 5. Ketuhanan Yang Maha Esa Penjelasan makna kelima dasar di atas adalah sebagai berikut:1. Nasionalisme, yang memiliki pemahaman bahwa perlu adanya kecintaan Bangsa Indonesia terhadap tanah airnya yang meliputi seluruh wilayah nusantara dari utara Pulau Sumatera sampai selatan Pulau Irian dan rasa persatuan dengan memahami bahwa semua suku di dalamnya merupakan satu bangsa yang sama yaitu Bangsa Indonesia. Dasar ini di kemudian hari kita kenal sebagai sila Persatuan Indonesia.2. Peri Kemanusiaan atau Internasionalisme, dasar ini memiliki pemahaman bahwa perlu adanya perilaku menghargai bangsa lain dan menghindari pemahaman yang meninggikan bangsa sendiri di atas bangsa lain, memahami bahwasannya setiap bangsa setara dan sejajar kedudukannya. Dasar ini kita kenal sebagai sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.3. Permusyawaratan perwakilan, dasar ini dapat dipahami sebagai demokrasi yang dalam mengambil keputusan lebih mengedepankan musyawarah untuk mufakat dan dengan persamaan hak untuk setiap golongan untuk memberikan perwakilan-perwakilannya di lembaga parlemen yang ada. Dasar Universitas Budi Luhur
  55. 55. 51 ini kita kenal sebagai sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. 4. Keadilan Sosial, dasar ini melengkapi dan menyempurnakan sistem demokrasi Indonesia yang dapat dipahami bahwa demokrasi Indonesia bukan hanya memberikan keadilan dalam politik tetapi juga menjamin keadilan dalam ekonomi. Demokrasi yang menjamin akan terciptanya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dasar ini kemudian kita kenal sebagai sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa, dasar ini dapat kita pahami bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan, tetapi Tuhan yang berkebudayaan. Ketuhanan yang saling menghargai perbedaan pendapat dan keyakinan dalam semangat persatuan Kebangsaan Indonesia. Ketuhanan yang saling menghormati dan saling menghargai antar umat beragama.4.2.1 Analisis Dasar Pertama Di bawah ini merupakan teks yang memberikan gambaran mengenai dasar pertama Pancasila yaitu dasar Kebangsaan yang di maksudkan oleh Ir. Soekarno pada pidato di dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945: Universitas Budi Luhur
  56. 56. 52 … itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat11, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah orang Indonesia, nenek Tuan pun bangsa Indonesia, datuk datuk Tuan, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan Negara Indonesia…(Lahirnya Pancasila) Dalam kutipan di atas, Ir. Soekarno menghendaki adanya rasa Kebangsaan di antara seluruh rakyat Indonesia. Kebangsaan dalam arti yang luas yaitu yang telah terjalin sejak masa leluhur kita. Lebih lanjut, Ir. Soekarno mengatakan: Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t. membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun – jikalau ia melihat peta dunia – ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau pulau di antara 2 lautan yang besar, Lautan Pacific dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan.(Lahirnya Pancasila) Di sini disampaikan dan ditekankan bahwa kesatuan Bangsa Indonesia dan merupakan tanah air Bangsa Indonesia sejak jaman leluhur yang mencakup seluruh Kepulauan Nusantara, dari ujung utara Sumatera sampai ujung selatan Irian, merupakan sebuah kesatuan yang telah11 Nationale staat, berasal dari Bahasa Belanda yang artinya Negara Nasional Universitas Budi Luhur
  57. 57. 53 ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya perkataan di atas diperkuat lagi dengan logika ilmiah dari ilmu Geopolitik melaui perkataan: Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesia lah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah s.w.t. menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita!(Lahirnya Pancasila) Penekanan selanjutnya untuk menegaskan maksud maksud di atas disampaikan melaui kalimat: Pendek kata, bangsa Indonesia – Natie Indonesia – bukanlah sekadar satu golongan orang yang hidup dengan “le desir d’etre ensemble”12 di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia manusia yang, menurut geopolitik yang telah ditentukan oleh Allah s.w.t., tinggal di kesatuannya semua pulau pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! Seluruhnya!(Lahirnya Pancasila) Perkataan selanjutnya yang menerangkan mengenai maksud dari dasar kebangsaan yang diinginkan oleh Ir. Soekarno adalah: Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama sama. Karena itu, jikalau Tuan tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama sama menjadi dasar satu nationale staat.(Lahirnya Pancasila)12 le desir d’etre ensemble atau l’ame et le desir, bahasa Perancis yang berarti persatuan jiwa dankehendak Universitas Budi Luhur
  58. 58. 54 Kalimat di atas menegaskan bahwa Negara Indonesia harusdibangun bersama-sama oleh seluruh Bangsa Indonesia, bukan hanyapenduduk Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali atau pun suku bangsa lainnyatetapi keseluruhan penduduk kepulauan nusantara seperti yang pernahdibangun oleh leluhur bangsa pada masa Sriwijaya dan Majapahit.Selanjutnya, untuk merangkul pula rakyat Indonesia yang merupakanketurunan Tionghoa, pada rapat itu diwakili oleh Liem Koen Hian, Ir.Soekarno menyampaikan: Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun”. Itu terjadi pada tahun ’17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh The Three People’s Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat sehormat hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk ke lobang kubur.(Lahirnya Pancasila) Kutipan di atas dimaksudkan untuk merangkul rakyat Indonesiaketurunan Tionghoa yang sejak lama menjadi bagian dari Bangsa Indonesia.Pada teks di atas juga menerangkan bahwa paham kebangsaan yang dimaksudoleh Ir. Soekarno sama seperti yang dimaksudkan oleh Sun Yat Sen di dalam Universitas Budi Luhur
  59. 59. 55 prinsipnya yang terkenal sebagai San Min Chu I atau The Three People’s Principles13. Keseluruhan kutipan pidato di atas yang peneliti sajikan menjelaskan dasar pertama dari Pancasila yaitu dasar Kebangsaan atau Nasionalisme. Nasionalisme yang dimaksud adalah rasa cinta, rasa memiliki, serta rasa persatuan terhadap tanah air yang ada di hati seluruh rakyat Indonesia dari utara Sumatera sampai selatan Irian. Bukan lagi terpisah-pisah berdasarkan kerajaan-kerajaan atau suku-suku bangsa. Melainkan keseluruhan kepulauan Nusantara seperti yang terjadi pada masa Sriwijaya dan majapahit. Selain itu Ir. Soekarno juga menekankan perlunya dan pentingnya rasa persatuan dan persamaan tanah air di antara setiap suku bangsa dan golongan yang ada di Indonesia untuk membangun Negara Indonesia Merdeka. Metode analisa Hermeneutika Dilthey menggunakan autobiografi komunikator sebagai dasar analisis, dalam penelitian ini peneliti menggunakan autobiografi Ir. Soekarno. Berikut ini adalah kutipan dari buku autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams. … Aku adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, asalnja dari keturunan bangsawan. Radja Singaradja jang terachir adalah paman ibu. Bapakku berasal dari Djawa. Nama lengkapnja Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dan bapak berasal~dari kieturunan Sultan Kediri ….13 San Min Chu I atau The Three People’s Principles adalah tiga prinsip yang dibuat oleh Dr. SunYat Sen untuk membentuk Negara China yang demokratis (Taiwan). Berisi tiga pedoman yaituNasionalisme, Demokrasi, dan Sosialisme. Universitas Budi Luhur
  60. 60. 56 Kutipan berikutnya dari buku yang sama yang menguatkanpandangannya mengenai dasar pertama ini adalah: … Mengapa nasib kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad ?” “Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri- sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut jang ketjil didaerah jang terbatas," Alimin mendjawab. “0., mereka kalah karena tidak bersatu," kataku … Maka pendapat Ir. Soekarno mengenai dasar pertama ini dapatdimengerti dengan mengingat bahwa dia merupakan anak dari perkawinancampuran antara dua suku yang berbeda yaitu Suku Jawa dan Suku Bali. Selain itu, jika kita ingat bahwa dia seringkali diasingkan ke pulauterpencil oleh Pemerintah Kolonial, Ir. Soekarno selalu diterima dengan baikoleh penduduk setempat tanpa memandang dari suku apa dia berasal. Laludapat kita lihat juga melalui tulisannya yang berjudul Nasionalisme,Islamisme, dan Marxisme yang dia buat di atas keprihatinannya terhadapkeadaan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu terpecah belahdi dalam tiga golongan yaitu golongan nasionalis, islamis dan komunis. Ir.Soekarno menginginkan persatuan di ketiga golongan karena ia berpendapatbahwa hanya dengan bersatulah Indonesia merdeka dapat tercapai karenadengan tidak adanya persatuan maka setiap perlawanan menjadi lemah dansituasi itulah yang diinginkan oleh Penjajah agar Bangsa Indonesia tetapterpecah belah. Universitas Budi Luhur

×