• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Proposal
 

Proposal

on

  • 7,779 views

 

Statistics

Views

Total Views
7,779
Views on SlideShare
7,779
Embed Views
0

Actions

Likes
3
Downloads
120
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Proposal Proposal Document Transcript

    • BAB I PENDAHULUANLatar BelakangHalusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi (Kaplan danSadock, 2007). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising ataumendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentukkalimat yang agak sempurna.Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yangdialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suarahalusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicarakeras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak.Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluartubuhnya.Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus esksternal, jugapengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterpretasikan oleh stimulus yangditerima. Jika diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realitadapat terganggu. Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus.Persepsi juga melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan.Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensori penglihatan, pendengaran,penciuman, perabaan dan pengecapan (Lewis, 2007).
    • BAB II TINJAUAN TEORITISA. HALUSINASI 1. Konsep dasar a. Pengertian Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien mengalami perubahan persepsi sensori seperti merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penciman. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Selain itu perubahan persepsi sensori halusinasi biasa juga diartikan sebagai persepsi sensori tentang suatu obyek, gambaran, dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar meliputi semua sistem penginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan atau pengecapan) (Nita Fitria, 2009). b. Rentang respon Respon adaptif respon mal adaptif Pikiran logis pikiran kadang gangguan pikiran Menyimpang / waham Persepsi akurat ilusi halusinasi Emosi konsisten reaksi emosi kesulitan untuk berlebihan/ memproses berkurang emosi Perilaku sesuai perilaku ganjil ketidakteraturan Hubungan menarik diri isolasi sosial Sosial
    • c. Penyebab Salah satu penyebab dari perubahan sensori halusinasi yaitu isolasi sosial berupa menarik diri. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Tanda dan Gejala : 1) Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul. 2) Menghindar dari orang lain (menyendiri). 3) Komunikasi kurang/ tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/ perawat. 4) Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk. 5) Berdiam diri di kamar / klien kurang mobilitas. 6) Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. 7) Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari. Menurut Stuart and Sudeen (2007) faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah : 1) Faktor predisposisi a) Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian- penelitian berikut : (1) Penelitian pencitraan otak yang sudah menunjukkan keterlibatan otak yang luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. (2) Beberapa zat-zat kimia dengan perilaku psikotik. Neurotransmiter yang berlebihan dan masalah pada sistem reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. (3) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia yang kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
    • b) Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap/keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. c) Sosial budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realitas seperti : kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stres. 2) Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stresor dan masalah koping dapat mengindikasikan kekambuhan.d. Jenis –jenis halusinasi Halusinasi terdiri dari tujuh jenis : 1) Pendengaran Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahkan klien disuruh untuk melakukan sesuatu yang kadang dapat membahayakan. 2) Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster. 3) Penghidung Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau demensia.
    • 4) Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin, atau feses. 5) Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. 6) Cenestetik Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di arteri atau vena, pencernaan makanan atau pembentukkan urine. 7) Kinestetik Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.e. Tanda dan gejala Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution (2003), seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu: 1) Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. 2) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara. 3) Gerakan mata abnormal. 4) Respon verbal yang lambat. 5) Diam. 6) Bertindak seolah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan. 7) Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah. 8) Penyempitan kemampuan konsenstrasi. 9) Dipenuhi dengan pengalaman sensori. 10) Mungkin klien kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. 11) Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya. 12) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. 13) Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
    • 14) Berkeringat banyak. 15) Tremor. 16) Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk. 17) Perilaku menyerang teror seperti panik. 18) Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain. 19) Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi. 20) Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks. 21) Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.f. Fase-fase halusinasi Tahapan halusinasi, karakteristik dan prilaku yang ditampilkan Tahap karakteristik Prilaku klien Tahap I: Mengalami ansietas, Tersenyum, tertawa kesepian,rasa bersalah sendiri. Memberi rasa dan ketakutan. Menggerakan bibir nyaman. Mencoba berfokus pada tanpa suara. pikiran yang dapat Pergerakan mata cepat. menghilangkan ansietas. Respon verbal yang Tingkat ansietas Pikiran dan pengalaman lambat. sedang. sensori masih ada dalam Diam dan kontrol kesadaran non berkonsentrasi psikotik. Secara umum halusinasi merupakan suatu kesenangan Tahap II: Pengalaman sensori Terjadi peningkatan Menyalahkan menakutkan. denyut jantung, Merasa dilecehkan oleh pernapasan dan tekanan Tingkat pengalaman sensori darah. kecemasan berat. tersebut. Perhatian dengan Mulai merasa kehilangan lingkungan berkurang.
    • Secara umum control. Konsentrasi terhadap halusinasi Menarik diri dari orang pengalaman sensorinya. menyebabkan lain. Non psikotik Kehilangan kemampuan rasa antipasti membedakan halusinasi dengan realitas. Tahap III : Klien menyerah dan Perintah halusinasi Mengontrol menerima pengalaman ditaati. sensorinya (halusinasi). Sulit berhubungan Tingkat Isi halusinasi menjadi dengan orang lain. kecemasan berat. atraktif. Perhatian terhadap Kesepian bila pengalaman lingkungan berkurang, Pengalaman sensori berakhir psikotik, hanya beberapa detik. halusinasi tidak Tidak mampu dapat ditolak lagi mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat. Tahap IV: Prilaku panik . Klien sudah Resiko tinggi dikuasai oleh mencederai. halusinasi Agitasi atau kataton. Klien panic Tidak mampu berespon terhadap lingkungan. (Rasmus, 2001 : 24-25)B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian merupakan tahap yang paling menentu bagi tahap berikutnya (Rohman,2009:24). Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian menurut Keliat (2006) meliputi beberapa faktor antara lain: 1) Identitas
    • Yang perlu dkaji yaitu : nama , umur, jenis kelamin,agama, suku, status,pendidikan,pekerjaan dan alamat2) Alasan masuk rumah sakit Umumnya klien halusinasi dibawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.3) Factor presdiposisi a) Faktor perkembangan terlambat (1) Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman. (2) Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi. (3) Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan. b) Faktor komunikasi dalam keluarga (1) Komunikasi peran ganda. (2) Tidak ada komunikasi (3) Tidak ada kehangatan. (4) Komunikasi dengan emosi berlebihan. (5) Komunikasi tertutup. (6) Orang tua yang membandingkan anak – anaknya, orang tua yang otoritas dan komplik orang tua. c) Factor sosial budaya Isolasi sosial pada usia lanjut, cacat/sakit kronis, tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi. d) Factor psikologis Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif. e) Factor biologis Factor biologis adanya kejadian terhadap fisik,berupa : atrofi otak, pembesaran ventrikel, perubahan besar dalan bentuk sel korteks dan limbik. f) Faktor genetik
    • Telah diketahui bahwa genetik skizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4, 8, 5 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara Dizygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia maka akan berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %4) Faktor presipitasi a) Berlebihannya proses informasi pada sistem saraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak. b) Mekanisme penghataran listrik di saraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal). c) Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya.5) Mekanisme koping Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi meliputi : a) Regresi, menjadi malas beraktivitas sehari-hari b) Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda. c) Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus eksternal. d) Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.6) Perilaku Respon prilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri, tidak membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata. Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda-tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar
    • mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi : a) Isi halusinasi Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium, jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap, jika halusinasi pengecapan, dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan. b) Waktu dan frekuensi Waktu dan frekuensi dapat dikaji dengan menanyakan klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi-informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi. c) Situasi pencetus halusinasi Perawat mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga biasa mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyatan klien. d) Respon klien Respon klien dikaji untuk menentukan sejauhmana halusinasi telah mempengaruhi klien. Dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya ataukah sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.7) Pemeriksaan fisik Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.8) Status mentalPengkajian pada status mental meliputi : a) Penampilan : tidak rapi, tidak serasi, dan cara berpakaian.
    • b) Pembicaraan : terorganisir atau berbelit-belit c) Aktivitas motorik : meningkat atau menurun d) Alam perasaan : suasana hati dan emosi e) Afek : sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan ambivalen. f) Interaksi selama wawancara : respon verbal dan non verbal. g) Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai dengan informasi. h) Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik dan dapat dipengaruhi proses pikir. i) Isi pikir : berisikan kenyakinan berdasarkan penilaian realitas. j) Tingkat kesadaran : orientasi waktu, tempat dan orang. k) Memori : (1) Memori jangka panjang : mengingat peristiwa setelah lebih setahun berlalu. (2) Memori jangka pendek : mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan pada saat dikaji. 9) Kemampuan konsentrasi dan berhitung : kemampuan menyelesaikan tugas dan berhitung sederhana.2. Pohon masalah Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (akibat) Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran (Masalah utama) Isolasi sosial : menarik diri (penyebab) Gangguan konsep diri : harga diri rendah
    • 3. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperwatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap pola respon klien baik aktual maupun potensial (Rohman,2009). Menurut Keliat,2006, klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga dapat membahayakan orang lain serta dengan melihat dari pohon masalah maka muncul tiga diagnosa pada kllien halusinasi yaitu : 1) Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri. 3) Isolasi diri : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.4. Intervensi 1) Resiko mencederai diri sendiri ,orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran TUM : Tidak terjadi tindakan kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri , orang lain dan lingkungan TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya Kriteria evaluasi : a) Setelah 1x pertemuan klien dapat menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat : ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, menjawab salam mau duduk dengan perawat. b) Klien dapat mengungkapkan perasaanya dan keadaan saat ini secara verbal. Intervensi dan Rasional : a) Bina hubungan saling percaya : (1) Salam terapeutik (2) Perkenalkan diri (3) Ciptakan lingkungan yang tenang (4) Buat kontrak yang jelas
    • (5) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali pertemuan R/ Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi yang terapeutik antara perawat- klien. b) Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya. R/ Ungkapan perasaanklien kepada perawat sebagai bukti bahwa klien mulai percaya kepada perawat. c) Dengarkan ungkapan klien dengan empati. R/ Rasa empati akan meningkatkan hubungan saling percaya.TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya. Kriteria evaluasi : a) Klien dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata setelah 3x pertemuan dengan menceritakan hal-hal yang nyata. b) Klien dapat menyebutkan situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi : sifat, isi, waktu, frekuensi halusinasi setelah 3x pertemuan. Intervensi dan Rasional a) Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap : 5 menit setiap 1 jam 10 menit setiap 1jam 15 menit setiap 1 jam R/ Mengurangi waktu kosong bagi klien sehingga dapat mengurangi frekuensi halusinasi b) Observasi tingkah laku verbal yang berhubungan dengan halusinasi : bicara sendiri. R/ Halusinasi harus dikenal terlebih dahulu oleh perawat agar intervensinya efektif. c) Gambarkan tingkah laku halusinasi pada klien “apa yang terdengar/terlihat” R/ Klien mungkin tidak mampu untuk mengungkapkan persepsinya maka perawat dapat memfasilitasi klien untuk mengungkapkan secara terbuka d) Terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien , tetapi bukan bagi perawat (tidak membenarkan dan tidak menyangkal) R/ Meningkatkan orientasi realita klien dan rasa percaya klien. e) Bersama klien mengidentifikasi situasi-situasi yang dapat menimbulkan dan yang tidak menimbulkan halusinasi : sifat, isi, waktu, frekuensi halusinasi.
    • R/ Peran serta aktif klien sangat menetukan efektifitas tindakan keperawatan yang dilakukan.f) Bersama klien menentukan factor pencetus halusinasi “apa yang terjadi sebelum dan sesudah halusinasi” R/ Membantu klien untuk mengontrol halusinasinya bila factor pencetusnya telah diketahui.g) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaanya ketika halusinasi. R/Upaya untuk memutuskan halusinasi perlu dilakukan oleh klien sendiri agar halusinasi tidak berlanjut.TUK 3 : klien dapat mengontrol halusinasi.Kriteria evaluasi :a) Klien dapat menyebutkan tindakan yang bisa dilakukan bila sedang halusinasi setehah 3x pertemuan.b) Klien dapat menyebutkan 2 dari 3 cara memutus halusinasi.c) Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengontrol halusinasi.Intervensi dan Rasionala) Identifikasi bersama klien tindakan apa yang dilakukan bila sedang halusinasi. R/ Tindakan yang bisa dilakukan klien merupakkan upaya mengatasi halusinasi.b) Beri pujian terhadap ungkapan klien tentang tindakannya R/ Penguatan akan meningkatkan harga diri.c) Diskusikan cara memutus halusinasi. R/ Meminimalkan resiko kekerasan.d) Dorong klien untuk menyebutkan kembali cara memutus halusinasi. R/ Merupakan suatu tanda konsentrasi pikir dapat difokuskan.e) Beri pujian atas upaya klien. R/ Meningkatkan motivasi dan harga diri klien.f) Dorong klien untuk memilih tindakan yang akan dilakukan. R/ Memberi kesempatan pada klien untuk memutuskan tindakan akan meningkatkan harga diri klien.g) Dorong klien untuk mengikuti TAK. R/ Membantu melupakan halusinasi dan meningkatkan harga diri.h) Beri pujian bila dapat melakukannya.
    • R/ Memotivasi klien mengulang hal positif. TUK 4 : Klien dapat memanfaatkan obat untuk mengontrol halusinasinya. Kriteria evaluasi : a) Setelah 3x pertemuan klien dapat menyebutkan manfaat minum obat, kerugian , nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping. Intervensi dan Rasional a) Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengotrol halusinasi. R/ Meningkatkan pengetahuan dan memotivasi klien untuk minum obat secara teratur. b) Bantu klien untuk memastikan klien telah minum obat secara teratur untuk mengontrol halusinasi. R/ Memastikan bahwa klien minum obat teratur. c) Beri pujian jika klien minum obat dengan benar. R/ Meningkatkan rasa percaya diri. TUK 5 : Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya. Kriteria evaluasi : a) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya. Intervensi danRasional a) Dorong klien untuk memberitahu keluarga ketika halusinasi timbul. R/ sebagai upaya latihan klien sebelum berada di rumah b) Lakukan kunjungan rumah (home visite) kenalkan keluarga pada halusinasi klien. Bantu dalam memutuskan tindakan untuk mengontrol halusinasi klien,ajarkan cara merawat klien di rumah, informasikan cara memodifikasi lingkungan agar mendukung realitas dan dorong keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan, obat dalam mengontrol halusinasi. R/ Keluarga yang mampu merawat klien dengan halusinasi paling efektif mendukung kesembuhan klien dengan masalah halusinasi.5. Evaluasi
    • Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakankeperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien terhadaptindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaituyaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan pada saat setiap selesai melakukantindakan keperawatan dan evaluasi hasil atau submatif yang dilaukan denganmembandingkan respon klien dengan tujuan yang telah ditentukan. Pada kasus nyataevaluasi yang dilakukan ialah evaluasi proses dan evaluasi hasil. Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika klien menunjukkankemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan cara yang efektif yang dipilihnya.Klien juga diharapkan sudah mampu dalam melaksanakan program pengobatanberkelanjutan mengingat sifat penyakitnya yang kronis. Evaluasi asuhan keperawatan berhasil jika keluarga klien juga menunjukkankemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien mengatasi masalahgangguan jiwanya. Kemampuan merawat di rumah dan menciptakan lingkungan kondusifbagi klien di rumah menjadi ukuran keberhasilan asuhan keperawatan, di sampingpemahaman keluarga untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai jika muncul gejala-gejala relaps (Akemat , 2002).
    • BAB III TINJAUAN KASUSRUANG RAWAT : PURI MITRA TANGGAL DIRAWAT : 19 NOV 2011 I. IDENTITAS KLIEN Inisial : Tn.N.H (L/P) Tanggal Pengkajian : 22 nov 2011 Umur : 46 Tahun RM No : 003324 Informan : Pasien dan Rekam medik II. ALASAN MASUK Pasien masuk ± 10 hari yang lalu,ngamuk dan ngomel-ngomel,mengejar-ngejar ayahnya dengan membawa palu,obeng,dan lain-lain.membanting-banting barang(piring,gelas,dll)pasien ngamuk dengan alasan ada yang mengintip serta banyak yang membenci dia.III. KELUHAN UTAMA Klien mendengar bisikan yang menyuruhnya menbanting-banting barang.IV. FAKTOR PREDISPOSISI 1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu,sempat berobat tetapi tidak berhasil karena pasien tidak rutin minum obat. Masalah keperawatan : Regimen terapi inefektif 2. Tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 3. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan Pasien pernah menikah dan memiliki seorang anak tetapi bercerai.semenjak bercerai pasien stress dan jarang berinteraksi dengan orang lain dan menyendiri.
    • Masalah keperawatan :  koping individu inefektif  menarik diriV. FISIK 1. Tanda vital : TD: 120/80 MMHG N : 88x/.menit S : 2. Ukur : TB : 3. Keluhan Fisik :klien tidak memiliki keluhan fisik Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatanVI. PSIKOSOSIAL 1. Genogram : pasien anak kedua dari 5 bersaudara,sudah menikah dan memiliki satu anak dan bercerai . Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 2. Konsep diri : Ketika ditanya bagian tentang bagian tubuh yang disukai klien dapat menjawab kalau ia menyukai rambutnya dan tidak menyukai giginya,tetapi ketika ditanya tentang identitas sampai dengan harga diri rendah klien menjawab ngelantur dan tidak sesuai dengan pertanyaan Masalah kepereawatan : gangguan komunikasi verbal 3. Hubungan social : Ketika ditanya orang yang berarti bagi klien,klien mengatakan tidak ada orang yang berarti dalam hidupnya.klien selalu mengikuti kegiatan kerja bakti dimasyarakat dan tidak ada hambatan dalam berhubungan dengan orang lain. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 4. Spiritual : Klien beragama islam dan sebelum dibawah ke RSJ menur,klien melaksanakan ibadah sholat tetapi setelah masuk RSJ klien tidak pernah melaksanakan sholat Masalah keperawatan : distres spritual.
    • VII. STATUS MENTHAL 1. Penampilan : Pakaian tampak kusut,beruban,wajah lebih tua dari umur Masalah keperawatan : defisit perawatan diri 2. Pembicaraan Pasien selalu menjawab pertanyaan dan ada kontak mata Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 3. Aktivitas motorik : Klien terlihat biasa saja tidak tampak lesu tegang ataupun gelisah Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 4. Alam perasaan : Ketika ditanya sesuatu yang tidak lucu,klien selalu tertawa. Maslah keperawatan : gangguan alam perasaan 5. Afek : Wajah klien tampak senang ketika bercerita deengan perawat Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 6. Interaksi selama wawancara Saat diawancara klien cukup kooperatif dan ada kontak mata walaupun kadang ngelantur dalam pembicaraan 7. Persepsi Klien mengatakan mendengar yang menyuruh untuk membanting barang Masalah keperawatan : halusinasi keperawatan
    • 8. Proses pikir pembicaraan klien kadang ngelantur,berbelit-belit dan tidak sampai pada tujuan Masalah keperawatan : gangguan proses piker 9. Isi piker Saat ditanya klien menjawab dengan baik walaupun kadang ngelantur dan klien tidak mengalami kepercayaan yang salah,klien percaya pada kebesaran allah yang mengatur seluruh kehidupan didunia Maslah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 10. Tingkat kesadaran Ketika ditanya klien mengalami disorientasi tempat,klien dapat mmembedakan siang dan malam tetapi tidak tahu dimana dia berada masalah keperawatan : perubahan proses pikir 11. Memori klien tidak tahu kenapa dia dibawah ke RSJ Masalah keperawatan : gangguan daya ingat 12. Tingkat konsentrasi dan berhitungan Daya hitung klien masih baik klien dapat berhitung sederhana misalnya disuruh menghitung satu sampai sepuluh klien dapat melakukannya. Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 13. Kemampuan penilaian Ketika disuruh memilih antara makan dulu baru minum obat atau minum obat dulu baru makan,dan klien menjawab makan dulu baru minum obat. masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan . 14. Daya tilik diri Klien mengatakan bahwa ia tidak sakit Maslah keperawwatan : prerubahan proses pikirVIII. KEBUTUHAN PULANG 1. Kemampuan klien memenuhi/menyediakan kebutuhan : Klien dapat makan sendiri, porsi makan dihabiskan dan setelah makan klien menaruh sendiri tempat makanya dan jika air habis klien dapat mengambil sendiri di dapur. 2. Kegiatan hidup sehari-hari : a. Perawatan diri :
    • Klien mampu mandi,ganti pakaian dan BAB atau BAK sendiri masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan b. Nutrisi Klien mengatakan puas dengan makanan di RSJ Menur dengan frekuensi makan 3x sehari dengan selingan snake 1x sehari dengan nafsu makannya meningkat,dan pasien juga tidak mempunyai diet khusus. c. Tidur Pada saat tidur, klien terlihat gelisah dan sulit untuk memulai tidur. Masalah keperawatan: perubahan pola istirahat tidur 3. Klien memiliki system pendukung Klien memiliki orang-orang yang mendukungnya,keluarganya. Maslah keperawatan: tidak ada masalah keperawatanIX. MEKANISME KOPING Adaptif 1. Olahraga Maladaptif 1. Reaksi lambat / berlebihan 2. Bekerja berlebihan 3. Mencederai diriX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN Masalah dengan dukungan kelompok : keluarga pernah menjenguk klien Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik : klien mengatakan seriing mengikuti kegiatan dilingkungannya seperti kerja bakti Masalah dengan pendidikan, spesifik : klien lulusan SMA Masalah dengan perumahan, spesifik : klien tinggal dengan orang tuannya Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik : jika klien sakit selalu dibawah kerumah sakit Masalah Keperawatan :tidak ada masalah keperawatanXI. PENGETAHUAN TENTANG Klien tidak mengetahui tentang penyakit jiwa dan obat-obatan Maslah keperawatan : kurang pengetahuan
    • XII. DATA LAIN-LAIN Hasil laboratorium tanggal 20 November 2011 Mode Male Billirubin direck 0, 18 mg/dl < 0, 25 Billirubin total 0, 51 mg/dl 0, 2 – 1, 0 Gamma ST 31 v/L L : 11 -50 P : 7 - 32 SGOT 18 v/L L < 37 P : < 51 SGPT 17 v/L L < 40 P : < 31 Faal Ginjal BON 9, 8 mg/dl L/P : 75 - 115 Creatinin 0, 8 mg/dl L/P : < 140 Asam Urat 50 mg/dl L/P : 62 Gula Darah Gula Puasa 125 mg/dl L/P : 72.115 Gula 2 jam PP 130 mg/dl L/P : < 140 Lemak Kolesterol 123 mg/dl L/P : < 200 Trighthida 112 mg/dl L/P : <100 HDL 87 mg/dl L/P : > 35 LDL 64 mg/dl L/P : < 150XIII. ASPEK MEDIK Diagnosa Medik : Skizofrenia Terapi Medik : Ins. Lodomer 1 ampul IM Cp2 0 – 0 – 100 mg.XIV. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN Regimen terapi inefektif Koping individu inefekktif Menarik diri Harga diri rendah Defisit perawatan diri
    • Gangguan komunikasi verbalHalusinasiDisorientasi waktu dan tempatGangguan alam perasaanGangguan proses pikirGangguan daya ingatKurang pengetahuan tentang halusinasiGangguan daya tilik diriGangguan istirahat tidurKetidakefektifan regimen terapiutikKurang pengetahuan tentang penyakit jiwa, obat – obatan dan koping individu tidakefektifDistres spiritual
    • XV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko tinggi mencederai diri , orang lain dan lingkungan berhubungan dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan isolasi social : menarik diri Prioritas diagnosa keperawatan : Resiko tinggi mencederai diri b/d gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran