Materi ajar bahasa Indonesia

8,776
-1

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
8,776
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
130
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Materi ajar bahasa Indonesia

  1. 1. Maret2012 Siti Lailatus Saadah (100210402110) “Analisa Buku Teks Sekolah (Pelajaran Bahasa Indonesia)” PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2012 ELA “Tugas Mata Kuliah Analisa Buku Teks Sekolah”
  2. 2. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 1) 10 jenis kata: 1. Kata benda atau Noun 2. Kata kerja atau Verb 3. Kata sifat atau Adjective 4. Kata ganti atau Pronoun 5. Kata keterangan atau Adverb 6. Kata sambung atau Conjunction 7. Kata bilangan atau Numeralia 8. Kata depan atau Preposition 9. Kata sandang atau Determiner 10. Kata seru atau Interjeksi 2) Contoh dari 10 jenis kata: 1. Kata benda atau Noun Kata benda nyata: Contohnya: kereta,kuda.penggaris,dll. Kata benda abstrak: Contohnya:keadilan,kemanusiaan,kecantikan,dll. 2. Kata kerja atau Verb Kata kerja transitif ialah kata kerja yang mesti disertai oleh objek, yaitu kata nama. Contohnya: Atan mendengar radio. -mendengar ialah kata kerja transitif -radio ialah objek (kata nama) Kata kerja transitif menggunakan imbuhan men, men ...i, men ...kan, memper, memper...i, dan memper...kan. Contohnya: 1. Kucing itu menangkap seekor burung. 2. perempuan itu menjual sayur. 3. Bapa sedang menulis surat. Kata kerja intransitif ialah kata kerja yang dapat berdiri sendiri dalam ayat, yakni tidak memerlukan objek lagi. 2
  3. 3. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Kata kerja intransitif ada yang berbentuk asal dan ada yang berimbuhan ber,men,ter,ber...an,dan ber...kan. Contohnya: (a) Ravi belum datang lagi. (b) Murid-murid sedang belajar. (c) Sungai itu mengalir deras. Peringatan Tiap-tiap kata kerja tak transitif boleh dijadikan kata kerja transitif dengan menambah „kan‟ atau „ I‟ di hujungnya. Contohnya: 1. Mereka menjalankan jentera itu. 2. Emak sedang menidurkan adik. 3. Pekerja itu menurunkan barang-barang dari atas lori. 4. Halim mengikuti perbualan mereka. 5. Saya sudahi syarahan saya ini dengan ucapan salam. Kata Kerja Pasif 1. Kata kerja pasif ialah kata kerja yang berasal daripada kata kerja transitif tetapi yang tidak berawalan men. Contohnya:angkat, atasi, berikan, percepat, pelajari, persilakan, dan sebagainya. 2. Ada tiga jenis kata kerja pasif. (a) kata kerja pasif diri pertama Kata kerja pasif diri pertama ialah kata kerja pasif yang berimbuhan ku-. Contohnya: kuangkat, kuatasi, kuberikan, kupercepat, kupelajari, dan kupersilakan. (b) kata kerja pasif diri kedua Kata kerja pasif diri kedua ialah yang berimbuhan ka-. Contohnya: kauangkat, kauatasi, kauberikan, kaupercepat, kaupelajari, dan kaupersilakan. (c) kata kerja pasif diri ketiga Kata kerja pasif diri ketiga ialah yang berimbuhan di-. Contohnya: diangkat, diatasi, diberikan, dipercepat, dipelajari, dan dipersilakan 3
  4. 4. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 3. Kata sifat atau Adjective Contohnya:pintar,cantik,rajin,dll 4. Kata ganti atau Pronoun Kata ganti orang  Kata ganti orang pertama(tunggal:aku/saya;jamak:kami/kita)  Kata ganti orang kedua(tunggal:kamu;jamak:kalian)  Kata ganti orang ketiga(tunggal:dia/ia;jamak:mereka) Kata ganti kepunyaan:misalnya “mu” dalam milikmu,dll Kata ganti penunjuk:misalnya di sana,di situ,dll 5. Kata keterangan atau Adverb Contohnya:lusa,besok,hari ini,terkadang,kemarin,dll. 6. Kata sambung atau Conjunction Contohnya:sedangkan,dan,atau,namun. 7. Kata bilangan atau Numeralia Contohnya:satu,dua,tiga,pertama,kedua,ketiga. 8. Kata depan atau Preposition Contohnya:dari,pada,di atas,di bawah,di antara. 9. Kata sandang atau Determiner Contohnya:si,sang,seorang,dll. 10. Kata seru atau Interjeksi Contohnya:wah,wow,ah. 3) Jenis-jenis frase: Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya), frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris. 1. Frasa Endosentris Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga: Frasa Endosentris Koordinatif Frasa Endosentris Atributif Frasa Endosentris Apositif 2. Frasa Eksosentris Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya., frasa dibagi menjadi enam: 1. Frasa Nomina 4
  5. 5. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 2. Frasa Verba 3. Frasa Ajektifa 4. Frasa Numeralia 5. Frasa Preposisi 6. Frasa Konjungsi 4) Penjelasan jenis-jenis frase dan contohnya: Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya), frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris. 1. Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dpat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat. Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P). Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya „Sejumlah di teras‟ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, „Sejumlah mahasiswa‟ adalah frasa endosentris. Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga. Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) „dan‟ atau „atau‟. Contoh: 1. rumah pekarangan 2. suami istri dua tiga (hari) 3. ayah ibu 4. pembinaan dan pembangunan 5
  6. 6. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 5. pembangunan dan pembaharuan 6. belajar atau bekerja. Frasa Endosentris Atributif, yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan. Contoh: 1. pembangunan lima tahun 2. sekolah Inpres 3. buku baru 4. orang itu 5. malam ini 6. sedang belajar 7. sangat bahagia. Keterangan: Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atasseperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya. Frasa Endosentris Apositif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain. Contoh: Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar. Ahmad, …….sedang belajar. ……….anak Pak Sastro sedang belajar. 6
  7. 7. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Unsur „Ahmad‟ merupakan unsur pusat, sedangkan unsur „anak Pak Sastro‟ merupakan aposisi. Contoh lain: 1. Yogya, kota pelajar 2. Indonesia, tanah airku 3. Bapak SBY, Presiden RI 4. Mamad, temanku. Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif, atributif, dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frasa endosentris apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif. Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris koordinatif 2. Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya., frasa dibagi menjadi enam. 1. Frasa Nomina, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa: nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan 7
  8. 8. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 pronomina contoh: dia itu musuh saya nama contoh: Dian itu manis kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba. 2. Frasa Verba, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata „sedang‟ untuk verba aktif, dan kata „sudah‟ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata‟ sangat‟, dan biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Dia berlari. 8
  9. 9. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata „sedang‟ yang menunjukkan verba aktif. 3. Frasa Ajektifa, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah- nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Rumahnya besar. Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata „sedang‟ atau „sudah‟. Tetapi bisa diberi kata „sangat‟). 4. Frasa Numeralia, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain. Contoh: dua buah tiga ekor lima biji duapuluh lima orang. 5. Frasa Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. 9
  10. 10. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh: Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman dari sekolah untuk saya 6. Frasa Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat. Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ. Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi. 5) 5 jenis klausa: 1. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. 1. Klausa Lengkap 1. Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. 2. Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S. 2. Klausa Tidak Lengkap 2. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P. 1. Klausa Positif 2. Klausa Negatif 3. Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. 10
  11. 11. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 1. Klausa Nomina 2. Klausa Verba 3. Klausa Adjektiva 4. Klausa Numeralia 5. Klausa Preposisiona 6. Klausa Pronomia 4. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat 1. Klausa Bebas 2. Klausa terikat 5. Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat. 1. Klausa Atasan 2. Klausa Bawahan 6) Contoh dari 5 jenis klausa: 2. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S, sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir. Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya, berikut klasifikasinya : 2. Klausa Lengkap Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir.Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi : 2. Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Contoh : -Kondisinya sudah baik. -Rumah itu sangat besar. -Mobil itu masih baru. 11
  12. 12. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 3. Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S. Contoh : -Sudah baik kondisinya. -Sangat besar rumah itu. -Masih baru mobil itu. 3. Klausa Tidak Lengkap Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan. 3. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P. Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak, tak, bukan, belum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan : 2. Klausa Positif Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. Contoh : -Ariel seorang penyanyi terkenal. -Mahasiswa itu mengerjakan tugas. -Mereka pergi ke kampus. 3. Klausa Negatif 12
  13. 13. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. Contoh : -Ariel bukan seorang penyanyi terkenal. -Mahasiswa itu belum mengerjakan tugas. -Mereka tidak pergi ke kampus. Keterangan: Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Tetapi, dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara sematik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Kalau yang dimaksudkan Dia tidak mengambil sesuatu apapun, maka kata negasi itu menegatifkan O. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok. 4. Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi : 2. Klausa Nomina Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. Contoh : -Dia seorang sukarelawan. -Mereka bukan sopir angkot. -Nenek saya penari. 13
  14. 14. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 3. Klausa Verba Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Contoh : -Dia membantu para korban banjir. -Pemuda itu menolong nenek tua. 4. Klausa Adjektiva Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. Contoh : -Adiknya sangat gemuk. -Hotel itu sudah tua. -Gedung itu sangat tinggi. 5. Klausa Numeralia Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. Contoh : -Anaknya lima ekor. -Mahasiswanya sembilan orang. -Temannya dua puluh orang. 6. Klausa Preposisiona Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. 14
  15. 15. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : -Sepatu itu di bawah meja. -Baju saya di dalam lemari. -Orang tuanya di Jakarta. 7. Klausa Pronomia Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. Contoh : -Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah. -Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya. 5. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas : 2. Klausa Bebas Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat. Contoh : -Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin. -Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa. 15
  16. 16. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 -Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah. 3. Klausa terikat Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum : pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram. Contoh : -Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum. -Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia. -Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya. 6. Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat. Oscar Rusmaji (116) berpendapat mengenai beberapa jenis klausa. Menurutnya klausa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat. Berdasarkan tatarannya dalam kalimat, klausa dapat dibedakan atas : 2. Klausa Atasan Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain. Contoh : Ketika paman datang, kami sedang belajar. Meskipun sedikit, kami tahu tentang hal itu. 3. Klausa Bawahan Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. Contoh : Dia mengira bahwa hari ini akan hujan. Jika tidak ada rotan, akarpun jadi. 16
  17. 17. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 7) Lima jenis kalimat: 1. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. 1. Kalimat minor. Kalimat minor dibedakan atas: Kalimat minor berstruktur, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:  Kalimat elips  Kalimat jawaban  Kalimat sampingan  Kalimat urutan Kalimat minor tak berstruktur,dibedakan atas:  Panggilan.  Seruan  Judul  Semboyan  Salam  Inskripsi 2. Kalimat mayor, kalimat mayor dapat dibedakan atas: Kalimat majemuk subordinatif Kalimat majemuk koordinat Kalimat majemuk rapatan 2. Berdasarkan response yang diharapkan, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat pernyataan 2. Kalimat pertanyaan 3. Kalimat perintah 3. Berdasarkan hubungan actor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas : 1. Kalimat aktif 2. Kalimat pasif 3. Kalimat medial 4. Kalimat respirokal 4. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama, kalimat dibedakan atas : 17
  18. 18. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 1. Kalimat firmatif 2. Kalimat negative 8) Penjelasan dari kelima jenis kalimat beserta contohnya: Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. 1. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas: Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:  Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal. Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja)  Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan. Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan.  Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat. Contoh : Cepat) Meskipun hujan. (Dia tetap datang)  Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263) Contoh : Karena itu, harga minyak naik. 18
  19. 19. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas:  Panggilan. Contoh : Bakso!  Seruan, biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. Contoh : Halo!  Judul, merupakan suatu ungkapan topic atau gagasan. Contoh : Dampak negative penayangan TV.  Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa. Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.  Salam Contoh : Selamat pagi!  Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.). Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928. 2. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsure pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas: Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain. 19
  20. 20. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : Yang berkaca mata hitam itu teman saya. Orang itu badannya sangat gemuk. Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong. Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa- klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri, 1985:316). Contoh : Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu. Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya. Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan. Contoh : Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak. Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang. Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja. Berdasarkan response yang diharapkan, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan) (Ramlan, 1981:10). Contoh : Cita-cita anak itu sangat mulia. Saya tidak membawa uang sama sekali. Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera. 20
  21. 21. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 2. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan. Contoh : Kakak sudah menikah? Mengapa anak itu tidak tidur? Siapa pemilik rumah itu? 3. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan. Contoh : Masuklah! Marilah kita belajar bersama-sama! Jangan membuang sampah di sembarang tempat! Berdasarkan hubungan actor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas : 1. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau – kan. Contoh : Anak itu memetik bunga di taman. Ayah membelikan kakak baju baru. 21
  22. 22. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Pembantu itu sedang menyapu halaman. 2. Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri, 1985:434) Contoh : Badannya dilumuri minyak. Kita apakan barang-barang ini? Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu. 3. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut. Contoh : Jangan menyiksa diri sendiri. Wanita itu berhias di depan cermin. 4. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan (Samsuri, 1985:198). Contoh : Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan. Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi. Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan. 22
  23. 23. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : Petani itu membajak sawah. Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman. Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir. 2. Kalimat negative, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. Unsure negative tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsure negative jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri, 1985:250) Contoh : Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat. Bukan buku itu yang saya cari. Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia. 9) Jenis-jenis penalaran: Perluasan (generalisasi) Penyempitan (spesialisasi) Penurunan (peyorasi) Peninggian (ameliorasi) Sinestesia Asosiasi Perubahan Makna Total Penghalusan (eufimisme Pengasaran (disfemia) 10) Penjelasan penalaran beserta contohnya: Perluasan (generalisasi) Perluasan makna kata terjadi apabila makna kata sekarang lebih luas dari makna asalnya. Contoh: kata berlayar yang dahulu berarti “mengarungi lautan dengan kapal layar” sekarang berganti menjadi “pergi kelaut dengan berbagai macam kapal” (Darmawati, 2008). 23
  24. 24. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Penyempitan (spesialisasi) Perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja (Chaer, 1990: 147). Misalnya kata sarjana yang tadinya bermakna “orang cerdik pandai”, tetapi kini bermakna “lulusan perguruan tinggi” seperti pada kalimat Ardi adalah seorang sarjana sastra dari Univeristas Indonesia. Peninggian (ameliorasi) Ameliorasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi dari asalnya. Contoh: kata wanita yang dahulu berarti “perempuan biasa” sekarang menjadi “perempuan yang dihormati”. Penurunan (peyorasi) Menurut Parera (2004: 128) berdasarkan latar belakang pemakaian makna kata dan pengalaman pemakaian makna kata dalam situasi dan konteks yang kurang menyenangkan, maka makna kata tersebut cenderung mengalami peyorasi. Misalnya kata amplop dalam konteks tertentu telah mengalami peyorasi menjadi “uang sogokan”. Hal ini terlihat pada kalimat warung itu menjual amplop dengan kalimat pejabat itu mendapat amplop. Sinestesia Menurut Darmawati (2008) sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Contoh: kata pedas yang dahulu hanya digunakan untuk menggambarkan rasa cabe (indera pengecap) sekarang berarti “kasar”, “melukai perasaan” (indera pendengaran). Asosiasi Asosiasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: kata amplop yang dahulu berarti “tempat menyimpan surat” sekarang berarti “uang suap (biasanya ditempatkan pada amplop)”. Perubahan Makna Total Menurut Chaer (1990: 147) perubahan makna total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Chaer (2003: 314) juga 24
  25. 25. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 menambahkan makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Misalnya kata ceramah dahulu bermakna “cerewet, banyak cakap”, sekarang bermakna “uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak”. Penghalusan (eufimisme) Penghalusan adalah upaya mengganti kata-kata sehingga maknanya lebih halus atau lebih sopan (Chaer, 2003: 314-315). Misalnya kata korupsi diganti dengan ungkapan menyalahgunakan jabatan. Kata menyalahgunakan dianggap lebih halus atau lebih sopan dari kata korupsi. Kata pemecatan diganti dengan ungkapan pemutusan hubungan kerja. Pengasaran (disfemia) Menurut Chaer (1990: 149) pengasaran adalah usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Misalnya kata mengambil diganti dengan kata mencaplok; atau ungkapan memasukkan ke penjara diganti dengan menjebloskan ke penjara. 11) Lima jenis karangan: a. Narasi b. Deskripsi c. Eksposisi d. Argumentasi e. Persuasi 12) Penjelasan dan contoh dari kelima jenis karangan: a. Narasi Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam. 25
  26. 26. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir. Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda. Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam- macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri. Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba. 1. (What) Apa yang akan diceritakan, 2. (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya, 3. (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, 4. (Who) Siapa pelaku ceritanya 5. (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan 6. (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan. Contohnya: Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno 26
  27. 27. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949. Contoh narasi berisi fakta: saya hari ini akan tidur dan akan mati untuk selamanya b. Deskripsi Karangan yang menggambarkan sesuatu atau melukiskan sesuatu,sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, merasakan, atau mengalami sendiri seperti hal atau sesuatu yang dideskripsikan. Contohnya: Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara-suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang-orang yang masih tidur. serta dapat ku lihat burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Dari timur sang surya menyapaku dengan malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Aku berjalan ke halaman depan rumah tepat dihadapan ku ada sebuah jalan besar untuk berlalu lintas dari kejauhan tampak sawah-sawah milik petani yang ditanami padi masih berwarna hijau terlihat sangat sejuk, indah, dan damai. Dari kejauhan pula terlihat seorang petani yang sedang membajak sawahnya yang belum ditanami tumbuhan, dan ada juga petani yang sedang mencari rumput untuk makan binatang peliharaannya seperti kambing, sapi, dan kerbau. Didesaku rata-rata penduduknya sebagai petani. Pagi ini terlihat sangat sibuk, di jalan" terlihat ibu-ibu yang sedang berjalan menuju pasar untuk berjualan sayur. Tetanggaku seorang peternak bebek yang juga tidak kalah sibuknya dengan orang". Pagi-pagi sekali dia berjalan menggiring bebeknya kerawah dekat sawah untuk mencari makan, bebek yang pintar berbaris dengan rapi pengembalanya. Sungguh pemandangan yang sangat menarik dilihat ketika kita bangun tidur. Dihalaman rumah kakekku yang menghadap ketimur terdapat pohon-pohon yang rindang, ada pohon mangga yang berbuah sangat lebat, disamping kiri potehon mangga dapat pula pohon jambu air yang belum berbuah karena belum musimnya. Dan disebelah kanan rumah ada pohon rambutan yang buahnya sangat manis rasanya. sungguh pemandangan yang sangat indah yang sangat asri dan damai ini adalah tempat tinggal kakek ku dan tempat kelahiran ku. Desa yang bernama NAMBAHDADI ini adalah tempat yang paling aku kunjungi saat liburan. Selain bisa bertemu kakek dan nenek aku juga bias melihat pemandangan yang indah nan damai. 27
  28. 28. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 c. Eksposisi Karangan yang bersifat memaparkan, menjelaskan, menerangkan, atau menguraiakan proses terjadinya sesuatu. Langkah menyusun eksposisi: * Menentukan topik/tema * Menetapkan tujuan * Mengumpulkan data dari berbagai sumber * Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih *Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi. Contohnya: Baru-baru ini, para ahli purbakala menemukan sebuah jaring laba-laba kuno di Timur Tengah. Menurut penelitian, jaring laba-laba yang tersimpan dalam batu ambar tersebut berusia sekitar 120 juta tahun. Batu ambar dulunya berasal dari getah pepohonan. Setelah berusia jutaan tahun, getah tersebut mengeras seperti batu. Karena getah tersebut berwarna bening, maka bagian tengah batu ambar pun terlihat dengan jelas. Biasanya batu ini berisi berbagai hewan kecil pada jaman purba, seperti serabngga dan laba-laba. Karena sangat keras, maka isi di dalamnya pun tersimpan dengan aman selama jutaan tahun. d. Argumentasi Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut. Langkah menyusun argumentasi: *Menentukan topik/tema *Menetapkan tujuan *Mengumpulkan data dari berbagai sumber *Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih *Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi Contohnya: 28
  29. 29. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang. e. Persuasi Karangan ini bertujuan memengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu atau karangan yang besifat mengajak. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya. Langkah menyusun persuasi: *Menentukan topik/tema *Merumuskan tujuan *Mengumpulkan data dari berbagai sumber *Menyusun kerangka karangan *Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi Contohnya: Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga, karena semua itu perlu proses dan cara yang berlanjut. 13) Jenis-jenis imbuhan:  Awalan (Prefiks)  Sisipan (Infiks)  Akhiran (Sufiks)  Awalan Dan Akhiran (Konfiks) 14) Penjelasan dan contoh dari jenis-jenis imbuhan:  Awalan (Prefiks) Awalan adalah imbuhan yang diberikan di awal kata. Contoh : me-, ber- di-, ke-, pe-, ter- Awalan me – 29
  30. 30. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Pemakaian awalan me- bervariasi yaitu mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- Contoh : melapor, membaca, menarik, menyanyi, menghitung, dan mengecat Makna awalan me- : 1. Melakukan perbuatan/tindakan. Contoh : mengambil, menjual. 2. Melakukan perbuatan dengan alat. Contoh : memotong, menyapu. 3. Menjadi atau dalam keadaan. Contoh : menurun, meluap. 4. Membuat kesan. Contoh : mengalah, membisu. 5. Menuju ke. Contoh : mendarat, menepi. 6. Mencari. Contoh : mendamar, merotan. Awalan di- Awalan di mempunyai makna suatu perbuatan aktif. Awalan di- merupakan kebalikan dari awalan me- yang bermakna aktif. Contoh : di + siram à disiram di + tanam à ditanam di + beli à dibeli Awalan ber- Pemakaian awalan ber- mempunyai kaidah sebagai berikut. 1. Apabila diikuti kata dasar yang berhuruf (r) dan beberapa kata dasar yang suku pertamanya berakhir huruf (er), bentuk awalan ber berubah menjadi be-. Contoh : ber + rantai à berantai ber + kerja à bekerja 30
  31. 31. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 2. Apabila awalan ber- bertemu dengan kata dasar ajar, ber- berubah menjadi bel- Contoh : ber + ajar à belajar 3. Apabila awalan ber- diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, ber- tetap tanpa perubahan. Contoh : ber + lari à berlari ber + nyanyi à bernyanyi Makna awaln ber- 1. Mempunyai. Contoh : beranak, berhasil 2. Memakai/menggunakan/mengendarai. Contoh : bersepeda, bersepatu 3. Mengeluarkan. Contoh : berkata, bertelur 4. Menyatakan sikap mental. Contoh : berbahagia, berbaik hati. 5. Menyatakan jumlah. Contoh : berdua, berempat. Awalan Pe-(N) Pemakaian awalan pe-(n) memiliki variasi sebagaimana yang berkalu pada awalan me-(n). Makna awalan pe-(n) : 1. Menyatakan yang melakukan perbuatan. Contoh : penulis, pembaca. 2. Menyatakan pekerjaan. Contoh : perpanjang, perlebar. 3. Menyatakan alat. Contoh : penghapus, penggaris. 4. Menyatakan memiliki sifat. Contoh : pemaaf, pemalu. 5. Menyatakan penyebab. Contoh : pemanis, pemutih Awalan Ke- 31
  32. 32. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Makna awalan ke- 1. Menyatakan kumpulan yang terdiri dari jumlah. Contoh : kesebelasan. 2. Menyatakan urutan. Contoh : kesatu, kedua, ketiga Awalan ter- 1. Awalan ter- hampir sama dengan awalan di-. Awalan ter- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif. Contoh : ter + tendang à tertendang ter + bakar à terbakar 2. Awalan ter- ada pula yang termasuk golongan kata sifat. Contoh : ter + pandai à terpandai ter + kecil à terkecil  Makna awalan ter- 1. Sudah di atau dapat di. Contoh : tertutup, terbuka. 2. Ketidaksengajaan. Contoh : terbawa, terlihat. 3. Tiba-tiba. Contoh : teringat, terjatuh. 4. Dapat atau kemungkinan. Contoh : ternilai, terbagus. 5. Pelaing atau super. Contoh : terpandai, tertua. Awalan Pe- Umumnya tidak bias digunakan secara mandiri. Pemakaian awlan per- membutuhkan imbuhan lain misalnya –kan dan –an. Contoh : per-kan + kembang à perkembangan per-an + usaha à perusahaan Awalan Se- Makna awalan se- 1. Menyatakan satu. 32
  33. 33. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : selembar, seribu. 2. Menyatakan seluruh. Contoh : sekota, sedesa. 3. Menyatakan sama. Contoh : sepandai, seindah. 4. Menyatakan setelah. Contoh : sekembali  Sisipan (Infiks) Sisipan adalah imbuhan yang diberikan di tengah kata. Contoh : -el, -em, dan –er. Makna sisipan : 1. Menyatakan internsitas atau frekuensi. Contoh : geletar, gemetar 2. Menyatakan banyak dan bermacam-macam. Contoh : temali, gemerincing 3. Memiliki sifat yang disebut dalam kata dasarnya. Contoh : temurun, gemilang, telunjuk, pelatuk, gelembung, telapak  Akhiran (Sufiks) Imbuhan yang diberikan di akhir kata. Contoh : -kan, -I, -an, -kah, -tah, dan –pun. Akhiran -i Makna akhiran –I : 1. Mengandung arti membentuk kalimat perintah. Contoh :Turuti perintahnya ! 2. Menyebabkan sesuatu jadi. Contoh :menyakiti hati, menghargai dia 3. Menyarakan intensitas (pekerjaan yang berulang-ulang) Contoh :menembaki, memukuli Akhiran –kan Makna akhiran –kan : 1. Secara umum mengandung arti perintah. Contoh :Dengarkan baik-baik ! 2. Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan. 33
  34. 34. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh :menusukkan pisau, melemparkan batu 3. Menyebabkan atau menjadikan sesuatu. Contoh :membesarkan, menjatuhkan 4. Menyatakan arti bahwa suatu pekerjaan dilakukan untuk orang lain. Contoh :meminjamkan, mengembalikan 5. Mentransitifkan kata kerja ke dinding Contoh :memantulkan Akhiran –an Makna akhiran –an 1. Menyatakan tempat. Contoh : pangkalan, kubangan 2. Menyatakan alat. Contoh : ayunan, timbangan 3. Menyatakan hal atau cara. Contoh : didikan, pimpinan 4. Menyatakan akibat, hasil perbuatan. Contoh : hukuman, balasan 5. Menyatakan sesuatu yang di. Contoh : catatan, suruhan 6. Menyatakan seluruh, kumpulan. Contoh : lautan, sayuran 7. Menyatakan menyerupai. Contoh : anak-anakan, kuda-kudaan 8. Menyatakan tiap-tiap. Contoh : tahunan, mingguan 9. Menyatakan mempunyai sifat. Contoh : asinan, manisan Akhiran –isme dan –isasi Merupakan jenis imbuhan serapan. -Makna akhiran –isme adalah paham atau ajaran : Contoh : komunisme, animisme, liberalisme -Makna akhiran –isasi adalah proses atau menjadikan sesuatu. 34
  35. 35. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : swastanisasi, lebelisasi Akhiran – i , – iah, – is, – wi Merupakan jenis imbuhan serapan. - i berasal dari bahasa Inggris. - iah, – is, – wi berasal dari bahasa Arab Makna akhiran – i, – iah, – is, – wi adalah membentuk kata sifat. Contohnya: Insan : memiliki sifat keinsanian Alamiah : memiliki sifat alamiah, natural Agamais : menujukkan sifat orang yang taat beragama Manusiawi : bersifat kemanusiaa  Awalan Dan Akhiran (Konfiks) Awalan dan akhiran adalah imbuhan yang berupa gabungan dari awalan dan akhiran. Contoh : me-kan, pe-an, ber-an, se-nya, meper-kan -Awalan dan Akhiran me-kan, dan memper-kan Makna me-kan: 1. Melakukan pekerjaan orang lain. Contoh : Adik memesankan ibu makanan. 2. Menyebabkan atau membuat jadi. Contoh : Lemparan bola itu memecahkan kaca jendela kamar. 3. Melakukan perbuatan. Contoh : Gajah menyemburkan air dari belalainya. 4. Mengarahkan. Contoh : Ayah meminggirkan kendaraannya. 5. Memasukkan. Contoh : Polisi memenjarakan penjahat itu di tahanan POLDA. Makna memper-kan : 1. Menyebabkan atau membuat jadi : Contoh : Rini mempertotonkan kebolehannya bermain biola. -Awalan dan Akhiran ber – an Makna : 1. Menyatakan jumlah pelaku yang banyak. 35
  36. 36. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : berdatangan, berterbangan 2. Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang Contoh : bergulingan, berlompatan 3. Menyatakan hubungan antara dua pihak. Contoh : bersamaan, bersebelahan, berduaan. 4. Menyatakan hubungan timbal balik. Contoh : bersahutan, bersalaman -Awalan dan Akhiran pe – an Makna : 1. Menyatakan hal Contoh : pendidikan, penanaman 2. Menyatakan proses atau perbuatan. Contoh : pendaftaran, penelitian. 3. Menyatakan hasil. Contoh : pengakuan, peghasilan 4. Menyatakan tempat. Contoh : penampungan, pemandian 5. Menyatakan alat. Contoh : penglihatan, pendengaran -Awalan dan Akhiran per- an Makna : 1. Menyatakan tempat. Contoh : perhentian, perusahaan 2. Menyatakan daerah. Contoh : perempatan, pertigaan 3. Menyatakan hasil perbuatan. Contoh : pertahanan, perbuatan 4. Menyatakan perihal. Contoh : perbukuan, perkelahian 5. Menyatakan banyak. Contoh : persyaratan, persaudaraan -Awalan dan Akhiran se –nya Makna : 1. Menyatakan makna tingkatan yang paling tinggi yang dapat dicapai. 36
  37. 37. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Contoh : sebagus-bagusnya, setinggi-tingginya 1. Sering disertai dengan kata ulang. Contoh : sebaik-baiknya, semerah-merahnya 15) Jenis-jenis kata ulang: Kata ulang murni atau pengulangan seluruh atau dwilingga Kata ulang berimbuhan atau kata ulang sebagian Kata ulang berubah bunyi atau bervariasi fonem Kata ulang suku awal atau dwipurwa kataulang semu atau kata dasar berulang 16) Penjelasan dan contoh jenis-jenis kata ulang: Kata ulang adalah kata jadian yang terbentuk dengan pengulangan kata. Bentuk kata ulang : Kata ulang murni atau pengulangan seluruh atau dwilingga, yaitu pengulangan seluruh kata dasar. Contoh : -ibu-ibu hitam-hitam -kuda-kuda danau-danau Kata ulang berimbuhan atau kata ulang sebagian, yaitu bentuk pengulangan kata dengan mendapat awalan, sisipan,akhiran atau gabungan imbuhasebelum atau sesudah kata dasarnyadiulang. Contoh :- berlari-lari – bermain-main - menari-nari – hormat-menghormati - bunga-bungaan – kekanak-kanakan Kata ulang berubah bunyi atau bervariasifonem, baik vokal maupun konsonan. Contoh :- lauk-pauk - serta-merta - warna-warni - gerak-gerik- mondar-mandir Kata ulang suku awal atau dwipurwa, yaitubentuk pengulangan suku pertama kata dasarnya, biasanya disertai variasi e pepet. Contoh :- lelaki laki-laki ~ lalaki ~ lelaki - sesama 37
  38. 38. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 sama-sama ~ sasama ~ sesama - tetangga tangga-tangga ~ tatangga ~ tetangga Selain bentuk kata ulang di atas, terdapat kataulang semu atau kata dasar berulang. Contoh : - cumi-cumi - paru-paru - laba-laba - pura-pura - biri-biri -kura-kura - kupu-kupu - kunang-kunang 17) Jenis-jenis perubahan makna: A. Perluasan(generalisasi) B. Penyempitan(spesialisasi) C. Peninggian(ameliorasi) D. Penurunan(peyorasi) E. Sinestesia F. Asosiasi G. Perubahan Makna Total H. Penghalusan(eufimisme) I. Pengasaran(disfemia) 18) Penjelasan dan contoh enis-jenis perubahan makna: A. Perluasan(generalisasi) Perluasan makna kata terjadi apabila makna kata sekarang lebih luas dari makna asalnya. Contoh: kata berlayar yang dahulu berarti “mengarungi lautan dengan kapal layar” sekarang berganti menjadi “pergi kelaut dengan berbagai macam kapal” (Darmawati, 2008). B. Penyempitan(spesialisasi) Perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi 38
  39. 39. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 terbatas hanya pada sebuah makna saja (Chaer, 1990: 147). Misalnya kata sarjana yang tadinya bermakna “orang cerdik pandai”, tetapi kini bermakna “lulusan perguruan tinggi” seperti pada kalimat Ardi adalah seorang sarjana sastra dari Univeristas Indonesia. C.Peninggian(ameliorasi) Ameliorasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi dari asalnya. Contoh: kata wanita yang dahulu berarti “perempuan biasa” sekarang menjadi “perempuan yang dihormati”. D.Penurunan(peyorasi) Menurut Parera (2004: 128) berdasarkan latar belakang pemakaian makna kata dan pengalaman pemakaian makna kata dalam situasi dan konteks yang kurang menyenangkan, maka makna kata tersebut cenderung mengalami peyorasi. Misalnya kata amplop dalam konteks tertentu telah mengalami peyorasi menjadi “uang sogokan”. Hal ini terlihat pada kalimat warung itu menjual amplop dengan kalimat pejabat itu mendapat amplop. E.Sinestesia Menurut Darmawati (2008) sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Contoh: kata pedas yang dahulu hanya digunakan untuk menggambarkan rasa cabe (indera pengecap) sekarang berarti “kasar”, “melukai perasaan” (indera pendengaran). F.Asosiasi Asosiasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: kata amplop yang dahulu berarti “tempat menyimpan surat” sekarang berarti “uang suap (biasanya ditempatkan pada amplop)”. G.Perubahan Makna Total Menurut Chaer (1990: 147) perubahan makna total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Chaer (2003: 314) juga menambahkan makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Misalnya kata ceramah dahulu bermakna “cerewet, banyak 39
  40. 40. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 cakap”, sekarang bermakna “uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak”. H.Penghalusan(eufimisme) Penghalusan adalah upaya mengganti kata-kata sehingga maknanya lebih halus atau lebih sopan (Chaer, 2003: 314-315). Misalnya kata korupsi diganti dengan ungkapan menyalahgunakan jabatan. Kata menyalahgunakan dianggap lebih halus atau lebih sopan dari kata korupsi. Kata pemecatan diganti dengan ungkapan pemutusan hubungan kerja. I.Pengasaran(disfemia) Menurut Chaer (1990: 149) pengasaran adalah usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Misalnya kata mengambil diganti dengan kata mencaplok; atau ungkapan memasukkan ke penjara diganti dengan menjebloskan ke penjara. 19) Macam-macamnya teknik pidato: (a)Metode Naskah (b)Metode Menghafal (c) Metode Spontanitas (d) Metode Penjabaran Kerangka 20) Penjelasan tentang macam-macamnya teknik pidato: (a)Metode Naskah, yaitu pidato yang digunakan untuk pidato resmi dan dibacakan secara langsung. Cara demikian dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan, karena setiap kata yang diucapkan dalam situasi resmi, akan disebarluaskan dan dijadikan figur oleh masyarakat dan dikutuip oleh media massa. (b)Metode Menghafal, yaitu naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk dihafal. (c) Metode Spontanitas, yaitu metode pidato yang tidak dilakukan persiapan/pembuatan naskah tertulis terlebih dahulu. Biasanya dilakukan hanya oleh orang-orang yang akan tampil secara mendadak. (d) Metode Penjabaran Kerangka. 40
  41. 41. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 yaitu metode berpidato dengan menjabarkan materi pidato yang terpola secara lengkap adalah teknik yang sangat dianjurkan dalam berpidato. Maksud dari terpola yaitu materi yang akan disampaikan harus disiapkan garis-grais besar isinya dengan menuliskan hal-hal yang dianggap paling penting untuk disampaikan. 21) Penjelasan tentang singkatan dan akronim: Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. *Keterangan: Khusus untuk pembentukan akronim, hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengn mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim. Pedoman pembentukan singkatan dan akronim diatur dalam Keputusan Mendikbud RI Nomor 0543a/U/198, tanggal 9 September 1987 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. 1. Singkatan a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya : Muh. Yamin Suman Hs. M.B.A. (master of business administration) M.Sc. (master of science) S.Pd. (Sarjana Pendidikan) Bpk. (bapak) Sdr. (saudara) Kol. (Kolonel) 41
  42. 42. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti tanda titik. Misalnya : MPR (Majelis Perwakilan Rakyat) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) KTP (Kartu Tanda Penduduk) c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik. Mislnya : dsb. (dan sebagainya) hlm. (halaman) sda. (sama dengan atas) d. Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf, setiap huruf diikuti titik. Mislnya : a.n. (atas nama) d.a. (dengan alamat) u.b. (untuk beliau) u.p. (untuk perhatian) e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya : Cu (kuprum) cm (sentimeter) l (liter) kg (kilogram) Rp (rupiah) 2. Akronim a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya : ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) LAN (Lembaga Administrasi Negara) SIM (surat izin mengemudi) 42
  43. 43. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya: Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi) Pramuka (Praja Muda Karana) c. Akronim yang buka nama diri yang berupa gabungan, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu( pemilihan umum) rapim (rapat pimpinan) rudal (peluru kendali) tilang (bukti pelanggaran) 22) Contoh penulisan daftar pustaka dengan 4 nama: Nama penulis lebih dari satu kata Jika nama penulis terdiri atas 2 nama atau lebih, cara penulisannya menggunakan nama keluarga atau nama utama diikuti dengan koma dan singkatan nama-nama lainnya masing-masing diikuti titik. Contoh :Soeparna Darmawijaya ditulis : Darmawijaya, S. Shepley L. Ross ditulis : Ross, S. L. Nama yang diikuti dengan singkatan Nama utama atau nama keluarga yang diikuti dengan singkatan, ditulis sebagai nama yang menyatu. Contoh : Mawardi A.I. ditulis : Mawardi, A.I. William D. Ross Jr., ditulis Ross Jr., W.D. Nama dengan garis penghubung Nama yang lebih dari dua kata tetapi merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dirangkai dengan garis penghubung. Contoh : Ronnie McDouglas ditulis: McDouglas, R. Hassan El-Bayanu ditulis: El-Bayanu, H. Edwin van de Sart ditulis: van de Sart, E. 23) Bagian-bagian surat dinas: 43
  44. 44. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 1. Kepala Surat. Berisi nama organisasi, lambang organisasi, alamat dan garis penutup. 2. Tanggal Surat. Diketik di sebelah kanan sebaris dengan nomor surat jika ada kepala surat, tanggal tidak diberi tempat/ daerah pembuatan surat. 3. Nomor Surat. Berisikan nomor urut surat, kode jabatan, kode unit kerja, kode hal, dan tahun pembuatan surat. 4. Lampiran Surat. Diketik di bawah nomor dan tidak diketik apabila tidak ada yang dilampirkan. 5. Hal Surat. Diketik dibawah kata lampiran. 6. Alamat yang dituju. Diketik dibawah kata hal dan diawali dengan singkatan Yth. Kemudian diikuti nama orang yang dituju.Nama tempat alamat tujuan surat tidak didahului kata di. 7. Paragraf pembuka surat. Awal kalimat pembuka diketik di bawah dan sejajar dengan alamat tujuan surat. 8. Paragraf isi surat Berisikan uraian dari inti surat. 9. Paragraf penutup surat. Berisikan kalimat penutup yang mengakhiri Surat Dinas. 10. Penutup surat Dinas : Nama jabatan penanda tangan, Tanda tangan, Nama pejabat, Nomor Induk Pegawai (NIP), Tembusan, (jika ada). 24) Unsur intrinsik karya satra: Secara umum unsur-unsur intrinsik karya sastra adalah: 1. Tokoh /karakter 2. Alur / plot 3. latar/ setting 44
  45. 45. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 4. sudut pandang (point of view) 5. tema 6. amanat 25) Penjelasan unsur Intrinsik Karya Sastra: Unsur intrinsik karya satra: adalah unsur-unsur yang secara organik membangun sebuah karya sastra dari dalam Contoh unsur intrinsik: • Contoh-contoh Unsur Intrinsik Menurut M. Saleh Saad tokoh, peristiwa, latar, alur, dan pusat pengisahan. • Unsur intrinsik prosa menurut Stanton adalah: (1) tokoh (2) alur (3) latar, (4) judul (5) sudut pandang (6) gaya dan nada CATATAN: Ada sementara orang yang masih memisahkan istilah struktur (bentuk) dengan tema/ amanat/ isi. Akan tetapi pada perkembangan terakhir cenderung memandang struktur sebagai keseluruhan bangunan karya sastra. Jadi isi, tidak terpisah dari bentuk. Secara umum unsur-unsur intrinsik karya sastra prosa adalah: 1. Tokoh /karakter 2. Alur / plot 3. latar/ setting 4. sudut pandang (point of view) 5. tema 6. amanat Keterangan: Karakter/tokoh adalah orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa- peristiwa atau sebagian peristiwa-peristiwa yang digambarkan di dalam plot. Keterangan: Pembedaan Tokoh: A. Dilihat dari segi peranan/ tingkat pentingnya/ keterlibatan dalam cerita 45
  46. 46. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 1. tokoh utama (main/ central character) yaitu tokoh yang diutamakan penceritaannya 2. tokoh tambahan (peripheral character) penceritaan relatif pendek (tidak mendominasi) B. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh 1. Protagonis memberikan simpati, empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang disikapi demikian disebut tokoh protagonis. • Tokoh protagonis adalah tokoh yang: 1. kita kagumi 2. Pengejawantahan norma-norma 3. pengejawantahan nilai-nilai ideal 4. menampilkan sesuatu sesuai dengan pandangan kita 5. pengejawantahan harapan-harapan kita 2. Antagonis - tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik - beroposisi dengan tokoh protagonis - Peran antagonis dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. tokoh antagonis 2. kekuatan antagonis (tak disebabkan oleh seorang tokoh) Contoh: bencana alam, kecelakaan, nilai-nilai sosial, lingkungan alam, nilai moral, kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi, dan sebagainya. Bagaimana memilah antara tokoh antagonis dan protagonis? • menentukannya memang tidak mudah • tokoh yang tak mencerminkan harapan dan norma kita kadang justru yang diberi simpati • kemungkinan tokoh yang lebih banyak diberi kesempatan untuk mengemukakan visinya lebih banyak mendapat simpati. • misalnya seorang penjahat jika cerita ditulis dari kacamata seorang penjahat, maka simpati akan tertuju padanya. • pencuri, pembunuh, pemerkosa, penipu, bisa mendapatkan simpati pembaca jika diberi kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara faktual ia dibenci 46
  47. 47. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 oleh masyarakat. C. Berdasarkan Perwatakannya 1. Tokoh Sederhana/ Simple/ Flat Tokoh yang hanya mempunyai satu kualitas pribadi (datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak tertentu). Biasanya dapat dirumuskan dengan satu kalimat 2. Tokoh Bulat/ Complex/ Round Diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupan, kepribadian, dan jati dirinya. Bertentangan, sulit diduga, dan mempunyai unsur surprise. Keduanya tidak bersifat bertentangan, hanya merupakan gradasi saja. D. Berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh • Tokoh Statis adalah tokoh tak berkembang yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi. • Tokoh Berkembang • mengalami perkembangan perwatakan dalam penokohan yang bersifat statis biasanya dikenal tokoh hitam dan tokoh putih E. Berdasarkan Kemungkinan Pencerminan Tokoh terhadap Manusia dari Kehidupan Nyata • Tokoh Tipikal pada hakekatnya dipandang sebagai reaksi, tanggapan, penerimaan, tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata. Contoh guru, pejuang, dan lain- lain. • Tokoh Netral tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi. Plot /alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungan dengan hukum sebab-akibat. Latar adalah latar peristiwa yang menyangkut tempat, ruang, dan waktu. θ Konflik Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar: -Konflik internal 47
  48. 48. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut -Konflik eksternal Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya. θ Tema adalah gagasan pokok yang terkandung dalam drama yang berhubungan dengan arti (mearning atau dulce) drama itu; bersifat lugas, objektif, dan khusus. Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca yang berhubungan dengan makna (significance atau utile) drama itu; bersifat kias, subjektif, dan umum. θ Sudut pandang Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya. Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita. Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata „kamu‟ atau „Anda.‟ Teknik ini jarang dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita. Orang ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia. 26) Unsur ekstrinsik karya sastra: 1) Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya itu mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. 2) Keadaan psikologis, baik psikologis pengarang, psikologis pembaca, maupun penerapan prinsip psikologis dalam karya. 3) Keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, sosial, dan politik. 4) Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni, agama, dan sebagainya. dll. 27) Penjelasan unsur ekstrinsik karya sastra: 48
  49. 49. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Secara lebih spesifik dapat dikatakan bahwa unsur ekstrinsik berperan sebagai unsur yang mempengaruhi bagun sebuah cerita. Oleh karena itu, unsur esktrinsik karya sastra harus tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting. Unsur-unsur Ekstrinsik Sebagaimana halnya unsur intrinsik, unsur ekstrinsik pun terdiri atas beberapa unsur. Menurut Wellek & Warren (1956), bagian yang termasuk unsur ekstrinsik tersebut adalah sebagai berikut. 1. Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya itu mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. 2. Keadaan psikologis, baik psikologis pengarang, psikologis pembaca, maupun penerapan prinsip psikologis dalam karya. 3. Keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, sosial, dan politik. 4. Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni, agama, dan sebagainya. Latar belakang kehidupan pengarang sebagai bagian dari unsur ekstrinsik sangat mempengaruhi karya sastra. Misalnya, pengarang yang berlatar belakang budaya daerah tertentu, secara disadari atau tidak, akan memasukkan unsur budaya tersebut ke dalam karya sastra. Menurut Malinowski, yang termasuk unsur budaya adalah bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian. Unsur-usnru tersebut menjadi pendukung karya sastra. Sebagai contoh, novel Siti Nurbaya sangat kental dengan budaya Minangkabau. Hal ini sesuai dengan latar belakang pengarangnya, Marah Rusli, yang berasal dari daerah Minangkabau. Begitu pula novel Upacara karya Korrie Layun Rampan yang dilatarbelakangi budaya Dayak Kalimantan karena pengarangnya berasal dari daerah Kalimantan. Begitu pula dalam Novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, kita akan menemukan unsur intrinsik berupa nilai-nilai budaya. Terutama, yang berkaitan dengan sistem mata pencaharian, sistem teknologi, religi, dan kesenian. Mata pencaharian yang ditekuni para tokoh dalam novel tersebut sebagai pencari damar dan rotan di hutan. Alat yang digunakan masih tradisional. 49
  50. 50. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 Selain budaya, latar belakang keagamaan atau religiusitas pengarang juga dapat memengaruhi karya sastra. Misalnya, Achdiat Kartamihardja dalam novel Atheis dan Manifesto Khalifatullah, Danarto dalam novel Kubah, atau Habiburahman El-Shirazi dalam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Latar belakang kehidupan pengarang juga menjadi penting dalam memengaruhi karya sastra. Sastrawan yang hidup di perdesaan akan selalu menggambarkan kehidupan masyarakat desa dengan segala permasalahannya. Misalnya, dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dengan demikian, unsur ekstrinsik tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan karya sastra. Unsur ekatrinsik memberikan warna dan rasa terhadap karya sastra yang pada akhirnya dapat diinterpretasikan sebagai makna. Unsur-unsur ektrinsik yang mempengaruhi karya dapat juga dijadikan potret realitas objektif pada saat karya tersebut lahir. Sehingga, kita sebagai pembaca dapat memahami keadaan masyarakat dan suasana psikologis pengarang pada saat itu. 28) Jenis-jenis majas: Majas perbandingan 1. Personifikasi 2. Metafora 3. Simile/Perumpamaan 4. Alegori Majas pertentangan 1. Hiperbola 2. Litotes 3. Ironi 4. Oksimoron Majas pertautan 1. Metonimia 2. Sinekdoke 3. Alusio 4. Inversi Majas perulangan 1. Aliterasi 2. Antanaklaris 3. Repetisi 50
  51. 51. Maret Siti Lailatus Saadah (100210402110)2012 4. Paralelisme 29) Penjelasan dan contoh dari jenis-jenis majas: Majas atau gaya bahasa adalah bahasa kias yang digunakan untuk mempertajam maksud. Majas perbandingan 5. Personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda yang tidak bernyawa seolah-olah dapat bertindak seperti manusia. Contoh : a. Bulan menangis menyaksikan manusia saling bunuh. b. Daun-daun memuji angin yang telah menyapanya. 6. Metafora, yaitu membandingkan dua hal/benda tanpa menggunakan kata penghubung. Contoh : a. Bumi itu perempuan jalang. b. Tuhan adal;ah warga negara yang paling modern. 7. Simile/Perumpamaan, yaitu membandingkan dua hal/benda dengan menggunakan kata penghubung. Contoh : a. Wajahnya bagai bola api. b. Tatapannya laksana matahari. c. Seperti angin aku melayang kian kemari. 8. Alegori, membandingkan hal/benda secara berkelanjutan membentuk sebuah cerita. Contoh : Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing- tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Majas pertentangan 5. Hiperbola, mempertentangkan secara berlebih-lebihan. Contoh : a. Saya telah berusaha setengah mati menyelesaikan soal itu. b. Kekayaannya selangit. 6. Litotes, mempertentangkaan dengan merendahkan diri. 51

×