Skripsi Jargon pada Komunitas Jejaring Sosial KASKUS

8,634 views
8,394 views

Published on

Sebuah tugas akr skripsi untuk mendapatkan gelas sarjana...

Published in: Education
0 Comments
11 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,634
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
84
Comments
0
Likes
11
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi Jargon pada Komunitas Jejaring Sosial KASKUS

  1. 1. 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suatu kenyataan bahwa manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana komunikasi vital dalam hidup ini. Bahasa adalah suatu ciri utama pembeda, antara manusia dengan mahluk hidup yang lainya di dunia ini. Manusia tidak lepas dari komunikasi dengan manusia lain, dalam menjalankan rutinitas kehidupanya. Semua hal yang di lakukan manusia di dunia ini tidak lepas dari penggunaan bahasa. Untuk mendorong memenuhi kebutuhan dalam kehidupan ini setiap manusia melakukan komunikasi dengan manusia lain. Dan dalam kegiatan komunikasi inilah manusia menggunakan bahasa sebagai alatnya. Setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistik, disuatu pihak dia bertindak sebagai pembicara di pihak lain sebagai penyimak (Tarigan, 2009:5). Dalam penggunaan bahasa, bahasa dapat dijadikan identitas suatu kelompok, hal tersebut dapat di buktikan dengan terbentuknya berbagai bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri yang unik yang menyebabkan berbeda dengan bahasa yang lainya. Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini disamping ada kesamaanya ada juga perbedaanya, atau ciri khasnya masing-masing (Chaer, 2012:71). Dalam kehidupan bermasyarakat, ada beberapa anggota kelompok yang menggunakan bahasa tertentu, yang tidak biasa didengar sebelumnya dan kadang kala kurang dipahami oleh orang luar kelompok tersebut. 1
  2. 2. 2 Bahasa itu sering di gunakan antar anggota kelompok, yang secara tidak langsung membuat mereka berbeda dengan yang lainya. Salah satu kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa tertentu antar anggota kelompoknya adalah Komunitas Kaskus Jejaring Sosial Terbesar di Indonesia. Kaskus adalah situs forum komunitas maya terbesar dan nomor 1 Indonesia dan penggunanya disebut dengan Kaskuser. Kaskus lahir pada tanggal 6 November 1999 oleh tiga pemuda asal Indonesia yaitu Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan, Kaskus memiliki lebih dari 3,4 juta pengguna terdaftar. Pengguna Kaskus umumnya berasal dari kalangan remaja hingga orang dewasa yang berdomisili di Indonesia maupun di luar Indonesia. Kaskus, yang merupakan singkatan dari Kasak Kusuk, bermula dari sekedar hobi dari komunitas kecil yang kemudian berkembang hingga saat ini. Kaskus dikunjungi sedikitnya oleh 900 ribu orang, dengan jumlah page view melebihi 15.000.000 setiap harinya. Hingga bulan September 2011, Kaskus sudah mempunyai lebih dari 416 juta posting. Pada bulan September 2011 Kaskus berada di peringkat 251 dunia dan menduduki peringkat 7 situs yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Forum ini adalah murni karya anak bangsa. (Sangjaya, Sabri. “Sejarah Kas-kus.”. Bloger 69. 27 Maret 2012. http://www.4bri.blogspot.com/sejarah-kaskus.html diakses 21 Juni 2013) Browsing atau berselancar di internet merupakan kegiatan yang sering di lakukan oleh masyarakat moderen, mereka mencari informasi atau berbagi informasi dengan mudah dapat dilakukan dengan internet. Hal ini dilakukan untuk
  3. 3. 3 memenuhi kebutuhan hidupnya diera perkembangan zaman yang modern. Komunitas jejaring sosial kaskus merupakan sekumpulan orang yang memiliki hobi dan berkecimpung di bidang jejaring sosial. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi antar anggota kaskus, mereka sering menggunakan bahasa-bahasa yang khusus dan hanya dipahami oleh kelompok tersebut. Bahasa itu lazim disebut dengan jargon. Jargon merupakan pemakaian bahasa dalam setiap bidang kehidupan, bidang keahlian, lingkungan, pekerjaan yang tiap-tiap bidang kehidupan, mempunyai bahasa khusus yang tidak dimengerti oleh kelompok lain. Komunitas jejaring sosial kaskus, menggunakan kosakata yang tidak biasa, lucu dan mengacu pada pekerjaan yang sering mereka lakukan. Dari pengunaan bahasanya, penulis mengolongan pengunaan jargon dalam bentuk, fungsi, dan makna jargon dalam kajian Semiotik. Semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata-kata lain, pengirimannya, dan penerimaannyan oleh mereka yang mempergunakannya ( Wikipedia. “semiotika” 6 April 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotika, diakses 6 Juni 2013). Pengertian semiotik atau semiotika berhubungan dengan pengertian sematik karena dua pengrtian itu meliput makna dan kemaknaan dalam berkomunikasi antar manusia (Parera, 2004: 41). Pada pengunaan jargon dalam berkomunikasi, tidak lepas dari adanya bentuk jargon yang mereka gunakan. Sebagai contohnya, Jargon juga di gunakan
  4. 4. 4 oleh komunitas penambang pasir. Jargon mereka memeiliki bentuk, yang tidak lazim di pakai pada umumnya seperti: nyekrop, ngunjal, peresan, nyetik, umprik, angok, gronjongan, lebo, slenger, nyedot, padas, tong, mbojog, bego, manol, untul, cintung, cikrak, galangan, nyentoti. jargon ini hanya dipahami oleh komunitas penambang pasir dan jarang di pahami oleh komunitas lain. Pengunaan jargon juga tidak lepas dari fungsinya, fungsi jargon ini yaitu, memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan sesama penambang, karena bahasa yang mereka gunakan lebih familiar dan mudah di mengerti, serta jarang di mengerti oleh kelompok lain. Salah satu contoh pengunaan jargon ini yaitu : X : Mbah, ki pasire diiseni peresan, opo sak bak? Lek peresan kudu ngunjal. ‘X: Mbah, ini pasirnya diisi penuh, apa satu garis? Kalau penuh harus dua kali kerja.’ Y: Sak bak ae, peresan pasire koyo lebo, angel dol-dolane. ‘Y: Satu garis saja, penuh pasirnya seperti tanah, sulit untuk dijual. Peristiwa tutur diatas, terdapat empat jargon yaitu: peresan, ngunjal, sak bak, lebo. Penutur (X) ingin menanyakan berapa banyak penutur (Y) membeli pasir, dan penutur (Y) menjawab dia membeli beberapa saja karena pasirnya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dalam peristiwa tutur tersebut di ketahui bahwa fungsi pemakaian jargon yaitu, menanyakan suatu hal, serta agar dalam kumunikasi lebih mudah dipahami oleh sesama komunitas.
  5. 5. 5 Pengunaan jargon diatas memiliki makana yang di sampaikan. Setiap kosakata yang ditututrkan memiliki makana yang sengaja disimbolkan atau disandikan agar terkesan rahasia, atau agar lebih mudah di mengerti. Contoh data: X : Mbah, ki pasire diiseni peresan, opo sak bak? Lek peresan kudu ngunjal. ‘X: Mbah, ini pasirnya diisi penuh, apa satu garis? Kalau penuh harus dua kali kerja.’ (peresan, sak bak maknanya yaitu sebuah ukuran/ satuan untuk setiap pembelian pasir, sedangkan Ngunjal memiliki makana bahawa memindahkan dari satu tempat ke tempat lain agar sampai pada tujuan) Y: Sak bak ae, peresan pasire koyo lebo, angel dol-dolane. ‘Y: Satu garis saja, penuh pasirnya seperti tanah, sulit untuk dijual. (lebo dalam hal ini memiliki makana bahawa pasir tersebut terlalu halus atau seperti tanah). Maka berkaitan dengan kenyataan tersebut, pada skripsi ini ditampilkan judul: “JARGON PADA KOMUNITAS KASKUS JEJARING SOSIAL TERBESAR DI INDONESIA” B. Ruang Lingkup Telah diidentifikasi bahwa bahasa memiliki aneka ragam. Anggota masyarakat suatu bahasa, biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai
  6. 6. 6 setatus sosial dan berbagai latar belakang budayanya yang tidak sama. Anggota masyarakat bahasa itu, ada yang berpendidikan ada yang tidak; ada yang tinggal di kota ada yang tinggal di desa; ada orang dewasa ada pula kanak-kanak. Ada yang berprofesi sebagai dokter, petani, nelayan, penambang, pedagang dan sebagainya. Oleh karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi berfariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain seringkali memiliki perbedaan yang besar (Chaer, 2012:55). Dalam kegiatanya, diketahui bahwa Kaskus merupakan tempat berkumpulnya masyarakat yang memiliki hobi sama. Mereka dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda, sehingga diperlukan sebuah kesepakatan dalam berkomunikasi. Jargon merupakan bahasa yang telah disepakati oleh anggota komunitas. Makna simbol ditentukan oleh manusia berdasarkan kesepakatan diam yang bersifat konvensional, tetapi dinamis sesuai dengan perkembangan perpikiran manusia pemakainya. Menurut Chaer (2012:47) meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkanya bersifat arbiter, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konfensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Suatu komunitas pasti memiliki keinginan untuk membedakan dirinya dengan komunitas lain. Dalam komunitas jejaring sosial ada bebrapa hal yang membedakan antara satu kelompok dengan kelompok lain. Diantaranya seperti desain tampilan jejaring sosialnya dan bahasa yang mereka gunakan.
  7. 7. 7 Bahasa yang di gunakan dalam komunitas selain untuk ciri khas pembeda juga untuk keakraban dan kerahasiaan dalam berkomunikasi. Sehingga mereka menciptakan dan menyepakati kosakata baru agar mudah dimengerti dalam berkomunikasi. Dalam komunitas jejaring sosial Kaskus, bentuk kosakata yang mereka gunakan beraneka ragam. Serta memiliki kekhasan yang mewakili kelompoknya. C. Pertanyaan Penelitian Bertolak dari pemaparan latar belakang masalah dan ruang lingkup penelitian di atas, dirumuskan pertanyaan penelitian yang lebih spesifik dan operasional. Dalam penelitian ini ditentukan tiga pertanyaan, yaitu: 1. Bagaimana bentuk jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia? 2. Bagaimana fungsi jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia? 3. Bagaimana makna jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia? D. Tujuan Penelitian Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Jargon pada komunitas Jejaring sosial Kaskus terbesar di Indonesia.
  8. 8. 8 Adapun tujuan secara khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan bentuk jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia. 2. Mendeskripsikan fungsi jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia. 3. Mendeskripsikan makna jargon yang digunakan pada komunitas Kaskus jejaring sosial terbesar di Indonesia. E. Kegunaan Penelitian Penelitian dikatakan berhasil bila dapat bermanfaat bagi semua orang, termasuk peneliti sendiri. Adapun penelitian tentang deskripsi jargon pada komunitas Jejaring sosial Kaskus terbesar di Indonesia ini, diharapkan mampu bermanfaat dan berguna bagi mahasiswa, masyarakat umum, serta guru bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai sarana penelitian bahasa. Dengan demikian, mahasiswa mengetahui bentuk, fungsi dan makna jargon sehingga mereka dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk modal penelitian bahasa jargon berikutnya. Selain itu, penelitian ini juga dapat berguna bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui bagaimana bahasa yang digunakan dalam komunikasi di jejaring sosial Kaskus ataupun jejaring sosial lainya. Dengan harapan masyarakat umum dapat mengetahui bagaimana bentuk, fungsi dan makna jargon. Dengan
  9. 9. 9 demikian, kegiatan berkomunikasi yang dilakukan dapat dipahami dan dimengerti dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh guru bahasa Indonesia sebagai sarana pembelajaran bahasa mengenai keanekaragaman bahasa. Dengan harapan para siswa dapat mengetahui bagaimana bentuk, fungsi dan makna dalam jargon.
  10. 10. 10 BAB II LANDASAN TEORI A. Bahasa Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana dalam Chaer, 2012:32). Dari pendapat beberapa ahli, dapat diambil sifat atau ciri, antara lain adalah (1) bahasa itu berupa bunyi, (2) bahasa itu brwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu berfariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahas aitu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya (Chaer, 2012:33) Bahasa merupakan suatu gejala sosial dan digunakan untuk komunikasi antar manusia (Parera 2004:11). Bahasa dipergunakan oleh manusia dalam segala aktifitas kehidupan, dengan demikian bahasa merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. 10
  11. 11. 11 Bentuk Bahasa Bentuk bahasa itu beragam, serta tiap ragam bahasa memiliki ciri dan karakteristik masing-masing, sesuai dengan kehidupan sosial bahasa penggunanya. Bahasa dapat menggantikan peristiwa/kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh individu/kelompok. Dengan bahasa, seorang individu/kelompok dapat meminta individu/kelompok lain untuk melakukan suatu pekerjaan. Menurut Chaer, (dalam Aslenda dan Leni, 2010:2) ciri bahasa yaitu: (1) bahasa adalah sebuah system, (2) bahasa berwujud lambing, (3) bahasa berwujud bunyi, (4) bahasa bersifat arbitrer, (5) bahasa bermakna, (6) bahasa bersifat konvensional, (7) bahasa bersifat unik, (8) bahasa bersifat universal, (9) bahasa bersifat produktif, (10) bahasa bersifat dinamis, (11) bahasa bervariasi, (12) bahasa adalah manusiawi. Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahawa bahasa berbentuk atau berwujud lambang dan memiliki makna. Serta dibutuhkan kesepakatan secara universal untuk memahami makna dari sebuah bahasa. Bahasa sebagai lambang Lambang sering didengar sebagai simbol dengan pengertian sama. lambang dengan pelbagai seluk beluknyan dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Menurt Peirce dan Sausure (dalam Chaer, 2012:37) semiotika atau semiologi dibedakan ada beberapa jenis tanda, yaitu, antara tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat ( gesture), kode, indeks, dan ikon.
  12. 12. 12 Menurut Charle Morris (dalam Parera, 2004:41) bahasa sebagai suatu sistem sign dibedakan atas signal dan simbol. Akan tetapi semiotik bukan hanya berhubungan dengan isarat bahasa, melainkan juga berhubungan dengan isyarat- isyarat non bahasa dalam komunikasi antar manusia. Jadi lambang juga termasuk bahasa dalam berkomunikasi. Dalam membahas konsep bahasa sebagai lambang, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan istilah tanda-tanda. Tanda, selain dipakai sebagai istilah generik dari semua yang termasuk kajian semiotika juga sebagai salah satu dari unsur spesifik kajian semiotika itu, adalah suatu atau sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah. (Chaer, 2012:37). Bahasa itu Arbitrer Bahasa merupakan sistem bunyi yang arbitrer yang konvensional. Kata arbitrer bisa diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, makna suka’. Yang dimasud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan pengertian atau konsep yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer, 2012:45). Bahasa merupakan alat komunikasi sehari- hari. Dalam berkomunikasi inilah masyarakat bahasa kadang menggunakan singkatan dan akronim agar mempermudah komunikasi baik komunikasi langsung maupun komunikasi tak langsung (SMS, email, dan sebagainya). Singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya dipendekkan. Yang bermaksud untuk mempermudah. Menurut tiga cara sebagai berikut: Istilah yang
  13. 13. 13 bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih, tetapi yang bentuk lisannya sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya. Misalnya: m yang dilisankan menter ml yang dilisankan mililiter cos yang dilisankan cosinus Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan huruf demi huruf. Misalnya: DDT (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan d-d-t kV I (kilovolt-ampere) yang dilisankan k-v-a TL (tube luminescent) yang dilisankan t-l Istilah yang dibentuk dengan menanggalkan sebagian unsurnya. Misalnya: Ekspres (yang berasal dari kerta api ekspres) Harian (yang berasal dari surat kabar harian) Kawat (yang berasal dari surat kawat) Lab (yang berasal dari laboratorium) (Wikipedia.“Akronim” 6 April 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia: Pedoman_penulisan_singkatan_dan_akronim diakses 6 Juni 2013). Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih.
  14. 14. 14 (1) Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.Contoh: Dr. Bambang (2) Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan/organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh :DPR, PGRI. (3) Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik setelah masing-masing huruf. Contoh :dll. (4) Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing tidak diikuti tanda titik. Contoh : Cu(kuprum) Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. (1) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh: ABRI(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). (2) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh: Akabri(Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
  15. 15. 15 (3) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil. Contoh: pemilu( pemilihan umum) Contoh lain dari akronim yaitu: laser (light amplification by stimulated emission of radiation) radar (radio detectiang and ranging) sonar (sound navigation ranging) tilang (bukti pelanggaran) (Wikipedia.“Akronim” 6 April 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia: Pedoman_penulisan_singkatan_dan_akronim diakses 6 Juni 2013). Bahasa itu bermakna Penggunaan bahasa tidak dapat lepas dari adanya makna. Dalam berbagai kepustakaan linguistik disebutkan bidang studi linguistik yang objek penelitianya makna bahasa juga merupakan satu tataran linguistik. Menurut pandangan Ferdinand de Sausure (dalam Chaer, 2012:28) setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu, komponen signifian atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan”yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). Dari pandangan de Saussure tersebut, dapat dikatakan bahwa makna adalah pengertian/konsep yang terdapat pada sebuah tanda linguistik. (Aslinda dan Leni, 2010:5).
  16. 16. 16 Menurut Kempson (dalam Sobur, 2009:256) ada tiga hal yang dicobajelaskan oleh para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu yakni: (1) menjelaskan makna kata secara alamiah, (2) mendeskripsikan kata secara alamiah, (3) menjelaskan makna dalam komunikasi. Dalam kaitan ini Kempson menjelaskan istilah makna harus dilihat dari segi: (1) kata; (2) kalimat; (3) apa yang dibutuhkan pembicara untuk berkomunikasi. Brown (dalam Sobur, 2009:256) mendefinisikan makna sebagai kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau berinteraksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Dengan kata-kata Brown “Seseorang mungkin menghabiskan tahun-tahunya yang produktif untuk menguraikan makna suatu kalimat tunggal dan akirnya tidak menyelesaikan tugas itu. Penggunaan makna tidak lepas dari pergeseran dan perubahan makna. Kemajuan kebudayaan, ilmu dan teknologi dengan semua temuan dan pikiran baru memerlukan kosakata secukupnya untuk sarana komunikasi. Lahirlah banyak kosakata baru, inovasi kata baru, inovasi kata lama dengan makna baru, perluasan makna yang sudah ada, dan akirnya juga digunakan metafora-metafora baru (Parera, 2004;117). Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah (Chaer 2012:310). Dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah;
  17. 17. 17 tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sejumlah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: (1) perkembangan dalam bidang ilmu tehnologi, (2) perkembangan sosial budaya, (3) perkembangan pemakaian kata, (4) pertukaran tanggapan indra, (5) adanya adanya asosiasi. (Chaer, 2012:311- 312) Leibnz berpendapat (dalam Parera 2004:118) bahwa “Natura non facit saltus” ‘alam tidak akan melakukan suatu loncatan besar’. Dalam pergeseran dan perubahan makna pendapat tersebut mengisyaratkan pergeseran dan perubahan makna tidak berlangsung dalam satu loncatan yang besar. Paling tidak makna yang mucul sebagai akibat dari pergeseran makna dan perubahan makna masih mempunyai kaitan dengan makna dasar sebelumnya. Pergeseran dan perubahan makna menjadi dan merupakan kehidupan sebuah bahasa. Dinamika sebuah bahasa bergantung kepada dinamika masyarakat pemakai bahasa tersebut. Ini berarti sejalan dengan dinamika pemakai bahasa terjadi juga dinamika bahasa. Pemakai atau bangsa yang dinamis akan mendinamiskan bahasanya. Fungsi Bahasa Dalam arti paling sederhana, kata “Fungsi” dapat dipandang sebagai padanan kata ‘penggunaan’. Menurut Kridalaksana (dalam Aslinda dan Leni, 2010:89) kata funsi mengacu pada beberapa pengertian, yaitu: (1) beban makna
  18. 18. 18 ssuatu satuan bahasa, (2) hubungan satu satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal, atau fonologi dalam suatu deret satuan, (3) penggunaan bahasa untuk tujuan tertentu, (4) peran unsur dalam satu ujaran dan hubunganya secara struktur dengan unsur lain, serta (5) peran sebuah unsur dalam satuan sintaksis yang lebih luas, misalnya nomina yang berfungsi sebagai subjek atau objek. Menurut Halliday (dalam Asida dan leni, 2010:91-92) merinci tujuh fungsi bahasa, yaitu fungsi interaksi sosial, personal, regulatoris, instrumental, representasional, imajinatif, dan heuristis. Secara ringkas ketujuh fungsi uraian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Fungsi instrumental bertujuhan untuk memanipulasi klingkungan penghasil kondisi tertentu sehingga menyebabkan suatu peristuwa terjadi. Singkatnya, bahasa di gunakan untuk melakukan sesuatu. 2. Fungsi regulasitoris berfungsi sebagai pengawas atau pengatur peristiwa. Fungsi ini merupakan kontrol perilaku sosial. 3. Fungsi representasional pemerian berfungsi sebagai pembuat pernyataan, penyampai fakta, penjelas atau pemberitahu kejadian nayata sebagaimana dilihat dan dialami orang. Yang menjadi fokus fungsi ketiga adalah topik atau apa saja yang disampaikan. 4. Fungsi interaksional adalah fungsi yang mengacu pada pembinaan mempertahankan hubungan sosial antar pemnutur dan menjaga kelangsungan komunikasi. Orientasi fungsi interaksional ini terletak pada kedua pihak peserta tutur, yaitu penutur dan mitra tutur.
  19. 19. 19 5. Fungsi personal adalah fungsi pengungkap perasaan, emosi, dan isi hati seseorang. Orientasi fungsi ini terrtuju pada penentunya sendiri. 6. Fungsi heuristis disebit sebagai pemertanya yang berfungsi untuk memperoleh pengetahuan. 7. Fungsi imajinatif berfungsi sebagai pencipta sistem, gagasan, atau kisah imajinatif. B. Jargon Jargon merupakan pemakaian bahasa dalam setiap bidang kehidupan, bidang keahlian, lingkungan, pekerjaan yang tiap-tiap bidang kehidupan, mempunyai bahasa khusus yang tidak dimengerti oleh kelompok lain. Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok- kelompok khusus lainnya (Keraf, 2002:24). Jargon termasuk dalam variasai bahasa yang digunakan di dalam masyarakat, terutama komunitas atau kelompok tertentu. Jargon terbentuk karena komunitas atau kelompok-kelompok tertentu menggabungkan bermacam bahasa , sehingga terbentuklah bahasa baru. Mereka berasal dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda, sehingga diperlukan sebuah kesepakatan dalam berkomunikasi. Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkanya bersifat arbiter, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konfensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang
  20. 20. 20 diwakilinya (Chaer, 2012:47). Jargon merupakan bahasa yang telah disepakati oleh anggota komunitas Sehingga dapat dikatakan bahwa jargon merupakan sebuah simbol. Sehingga Simbol dapat dipelajari dalam ilmu semiotika. C. Semiotika Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata-kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Kompasiana. “Analisa Semiotik” 13 April 2012. http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/13/analisa-semiotika/analisa semiotik. diakses 01 maret 2013). Semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata-kata lain, pengirimannya, dan penerimaannyan oleh mereka yang mempergunakannya (Wikipedia.” Semiotika” 6 April 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotika. diakses 07 juni2013). Kridalaksana menyatakan bahwa semiotik adalah ilmu yang mempelajari lambang-lambang dan tanda-tanda; mislnya tanda-tanda lalu lintas, kode morse, dan sebagainya. Sedangkan Piere Guiraund berpendapat bahwa semiotik
  21. 21. 21 (semiologi) adalah ilmu yang mepelajari sistem tanda (bahasa-bahsa, kode-kode, seperangkat tanda, dan sebagainya) (dalam Suwandi, 2008:22). D. Variasi Bahasa Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Masyarakat Indonesia sangat beraneka ragam, mulai dari tradisi, budaya dan bahasa. Keanekaragaman masyarakat juga berpengaruh terhadap pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor linguistik, tetapi dipengaruhi juga oleh faktor nonlinguistik, yaitu faktor sosial dan faktor situasional. Faktor sosial yang memengaruhi pemakaian bahasa terdiri atas status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, dan lainnya, sedangkan faktor situasional yang memengaruhi pemakaian bahasa terdiri dari siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, keapa siapa, kapan , di mana, dan mengenai masalah apa (Fishman dalam Suwito, 1982:3). Dengan adanya faktor sosial dan faktor situasional ini, akan menyebakan munculnya fariasi bahasa. (Aslinda dan Leni, 2010:16-17).
  22. 22. 22 Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menerupai pola umum bahasa induknya (Poejosoedarmo dalam Suwito, 1982:20). Hartman dan Stock (dalam Chaer dan Agustina, 1995:81) membedakan variasi bahasa berdasarkan kriteria, (a) latar belakang geografi dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan. Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakaian yang disebutnya dengan dialek dan register. Rumusan yang hampir sama dinyatakan oleh Alwasilah (1985:66) meskipun para penutur memakai bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk itu merupakan satu bahasa yang sama, misalnya, idiolek, dialek, sosiolek, dan register/style. Dalam proses komunikasi yang sebenarnya, setiap penutur bahasa tidak pernah setia pada satu ragam/dialek tertentu saja. Karena setiap penutur pasti mempunyai kelompok sosial dan hidup dalam tempat dan waktu tertentu. Oleh karena itu, dapat dipastikan setipa penutur memiliki dua dialek, ayaitu dalek sosial dan dialek regional temporal. Contohnya, di Minangkabau anank-anak di ranah Minang menggunakan bahasa Minangkabau, tetapi sekolah mereka menggunakan bahasa Indonesia. Chaer dan Agustina (1995:83) membedakan ariasi-variasi bahasa, antara lain (1) segi penutur, (2) segi pemakaian, (3) segi keformalan, dan
  23. 23. 23 (4) segi sarana. 1. Variasi Bahasa dari Segi Penutur Variasi atau ragam bahasa berdasarkan penutur dan penggunaannya berkenaan dengan status, golongan, dan kelas penuturnya, biasanya disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Ada juga yang menambah dengan istilah prokem. Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari sekelompok indiviu yang jumlahnya relatif yang berada pada satu tempat wilayah atau area. Variasi bahasa yang bersifat individu disebut dengan idiolek, sedangkan variasi bahasa daro sekelompok individu disebut dialek. Menurut konsep idiolek, setiap individu memiliki sifat idioleknya masing-masing. Dengan kata lain, setiap individu mempunyai sifat-sifat khas yang tidak dimiliki oleh individu lain. Perbedaan sifat-sifat khas antar individu disebabkan oleh fisik dan psikis. Perbedaan fisik misalnya, karena bentuk alat-alat bicaranya, sedangkan perbedaan faktor psikis bisanaya disebabkan oleh perbedaan tempramen, watak intelektual, dan lainnya. (Aslinda dan Leni, 2010:17-18). Menurut konsep, dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok individu yangmerupakan anggota masyarakat wilayah tertentu dar suatu daerah tertentu atau kelas sosial tertentu. Dialek berdasarkan wilayah disebut dengan dialek geografis, sedangkan dialek berdasarkan kelas sosial disebut dialek sosial (sosiolek). Dengan kata lain, perbedaan ekonomi dan kelas sosial ekomnomi penutur dapat menyebabkan variasi bahasa. Labov (dalam Chaer dan Agustina,
  24. 24. 24 1995:86) membedakan variasi bahasa berkenaan dengan tingkat golongan, status, dan kelas sosial penuturnya atas: akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Akrolek adalah variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau bergengsi daripada varisai sosial lainnya. Contohnya, dalam bahasa Jawa Bagongan, bahas Perancis, dialek kota Paris. Dalam bahasa Minangkabau, tidak ada satu dialek yang yang dianggap lebih tinggi daripada dialek lain karena bahasa Minangkabau tidak mengenal tingkatan dalam bahasa. Basilek adalah variasi bahasa yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan dianggap lebih rendah. Di samping variasi bahas basilek, dikenal pula variasi bahasa vulgar. Varisasi bahasa vulgar adalah varisai bahasa sosial yang ciri-cirinya tampak pada tingkat intelektual penuturnya. Maksudnya, variasi bahas vulgar biasanya digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan dan tidak terpelajar, contohnya variasai bahasa yang digunkana oleh penutur atau sekelompok penutur di tengah pasar. Slang merupakan variasi bahasa yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan daan cepat berubah. Variasi bahasa slang digunakan oleh kaula muda atau sekelompk sosial dan profesional untuk berkomunikasi “di dalam rahasia” (Alwasilah, 1985:57). Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan bersifat rahasia. Kolokial merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh penutur dalam percakapan sehari-hari. Pada mulanya,variasi bahsa kolokial merupakan variasi
  25. 25. 25 bahsa yang digunakan secara lisan dan yang sangat dipentingkan dalam adalah setting pemakainya. Dalam perkembangan selanjutnya, ungkapan-ungkapan kolokial ini sering digunakan dalam bahasa tulis. Jargon merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial atau kelompok pekerja tertentu dan tidak dimengerti oleh kelompok lain. Variasi bahasa jargon digunakan dalam lingkungan tersendiri. Contohnya, mahasiswa fakultas sastra memiliki jargon tersendiri apabila dibandingkan dengan mahasiswa di luar fakultas sastra (kedokteran misalnya). Ada yang mengatakan bahwa jargon ini sama dengan argot. Ada pula yang membuat perbedaan antara jargon dan argot. Zeigher (dalam Alwasilah, 1985:51) mengatakan pengertian tentang argot. “The secret or cant language of thieves. Also employed to the technical or special vocabulary of any trade, profession, or other activity. As such, it is a synonym for jargon...in sense of “secreet language”, cant is regareded as synonym. However, cant is more generally applied to whinning, affected, or hypocritical speech.” Zeigher mengatakan bahwa argot adalah varisai bahasa khas para pencuri, tetapi variasi bahsa ini dipakai untuk kosa kata teknis atau khusus dalam perdagangan, profesi, dan kegiatan lainnya. Di samping itu argot ini bersinonim dengan jargon yaitu dalam pengertian sebagai bahasa rahasia. Ken juga dianggap sinonim argot. Pada umumnya, ken dipakai sebagai variasi bahasa merengek-
  26. 26. 26 rengek atau pura-pura. Biasanya ken digunakan oleh kalangan sosial rendah, contohnya bahasa yang digunakan oleh pengemis. 2. Variasi Bahsa dari Segi Penggunaan Varisai dari segi penggunaannya oleh Nababan disebut dengan variasi bahasa berkenaan dengan fungsinya/fungsiolek, ragam, atau register. Variasi bahasa dari segi penggunaan berhubungan dengan bidang pemakaian, contohnya dalam kehidupan sehari-hari , ada variasi di bidang militer, sastra, jurnalistik, dan kegiatan keilmuan lainnya. Perbedaan varisai bahasa dari segi pengguaan terdapat pada kosa katanya. Setiap bidang akan memiliki kosa kata khusus yang tidak ada dalam bidang ilmu lainnya. Alwasilah (1985:63) mengatakan register adalah salah satu ragam tertentu yang digunakan untuk maksud tertentu yang digunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial atau regional. Pembicaran register biasanya dikaitkan dengan masalah dialek. Dialek berkenaan dengan bahasa digunakan oleh siapa, di mana, dan kapan, sedangkan register berhubungan dengan masalah bahasa digunkan untuk kegiatan apa. Dengan kata lain register dapat dibatasi lebih sempit dengan acuan pada pokok ujaran atau pokok pembicaraan. (Aslinda dan Leni, 2010:18-19). 3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan Menurut Joos (dalam Chaer dan Agustina, 1995:93) membedakan variasi bahasa berdasarkan keformalan atas lima bagian, yaitu (1) gaya atau ragam baku/frozen,
  27. 27. 27 (2) gaya atau ragam remsi/formal, (3) gaya atau ragam usaha/konsultatif, (4) gaya atau ragam santai, dan (5) gaya atau ragam akrab/intimate Ragam baku/frozen digunakan dalam situasi resmi dan khidmat. Ragam baku/frozen disebut sebgai ragam baku karena pola kaidahnya sudah ditetapkan tetap dan tidak dapat diubah. Contohnya, ragam bahasa pada dokumen-dokumen bersejarah. Gleason (dalam Alwasilah, 1985:54) membatasi ragam bahasa frozen ini sebagai ragam bahasa prosa tertulis dan gaya bahasa orang yang tidak dikenal. Di samping itu, Gleason juga membatasi bahwa ragam bahasa frozen ini diujarkan dalam pidato. Ragam bahasa resmi/formal adalah ragam bahasa yang digunakan dalam buku-buku pelajaran, rapat dinas, dan surat-menyurat resmi. Ragam bahasa resmi sama dengan ragam bahas standar atau ragam bahasa baku yang digunakan dalam situasi resmi. Ragam bahasa usaha adalah ragam bahasa yang digunakan dalam pembicaran biasa di sekolah dan rapat-rapat. Ragam bahasa usaha ini berbeda di antara ragam bahasa formal dan ragam bahasa santai. Untuk pembicaraan dalam ragam bahasa usaha ini si pembicara tidak perlu ada perencanaan yang ekstensif tengtang apa yang akan diungkapkan, dan sebenarnya tidak mungkin direncanakan.
  28. 28. 28 Ragam bahasa santai/casual adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi santai. Kosa kata dalam ragam bahasa santai ini banyak dipenuhi oleh unsur leksikal dialek. Ragam bahasa santai ini sering digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbicara dengan keluarga dan teman-teman. Ragam bahasa akrab/intimate adalah ragam bahasa yang digunakan antara teman yang sudah akrab, karib, dan keluarga. Ciri ragam bahasa karab ini adalah banyaknya pemakain kode yang bersifat pribadi, tersendiri, dan relatif tetap dalam kelompoknya. Contohnya seorang teman akrab akan menyapa teman karibnya dengan sapaan khusus yang tidak diketahui oleh teman-teman lainnya. Dalam ragam ahasa akrab ini, penggunaan bahasanya sering tidak lengkap dan pendek-pendek. Hal ini terjadi karena para peserta tutur sudah saling pengertian. Pemilih berbagai ragam bahasa tersebut berdasarkan dali penting sosiolinguistik, yaitu siapa yang berbicara, kepada siapa, tentang apa, kapan dan bagaimana, artinya bergantung pada situasi apa. (Aslinda dan Leni, 2010:19-20). 4. Variasi dari Segi Sarana Variasi bahasa dari segi sarana dilihat dari sarana yang digunakan. Berdasarkan sarana yang digunakan, ragam bahasa terdiri atas dua bagian, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Ragam bahasa lisan disampaikan secara lisan dan dibantu oleh unsur-unsur suprasegmental, sedangkan tagam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak ada. Pengganti unsur suprasegmental dalam bahasa tulis adalah dengan menuliskan unsur tersebut dengan simbol dan tanda baca. (Aslinda dan Leni, 2010:21).
  29. 29. 29 5. Latar Belakang Pemakai Bahasa Bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Bahasa adalah simbol-simbol yang digunakan untuk menyatakan gagasan, ide, dan perasaan orang kepada orang lain. Mulai dari bangun tidur, makan, mandi, sampai tidur lagi, atau melakukan berbagai aktivitas manusia lainnya, tidak luput dari adanya penggunaan bahasa. Bahasa memiliki berbagai variasi atau ragam bahasa. Hartman dan Stork (1972) membedakan variasi berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan. Variasi atau ragam bahasa menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Berdasarkan usia, kita dapat melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh anak-anak, para remaja, orang dewasa, dan orang yang tergolong lanjut usia. Jejaring sosial merupakan media yang banyak digunakan para penutur bahasa untuk saling berkomunikasi jarak jauh melalui internet. Jejaring sosial yang banyak diminati oleh masyarakat, yaitu facebook dan twitter. Dalam facebook dan twitter, para pengguna dapat menuliskan apa yang sedang dipikirkannya dalam “status” dan dapat saling memberikan komentar pada “kiriman” dan “status” rekan-rekan mereka. Selain itu, mereka juga dapat saling berdialog dan memberi komentar satu sama lain.
  30. 30. 30 Jejaring sosial kaskus merupakan tempat bertemunya pemakai bahasa dari berbagai daerah, berbagai tingkat peendidikan dan berbagai jenis pekerjaan. Maka latar belakang yang berbeda ini menyebabkan semakin beraneka ragamnya bahasa yang digunakan. Selain itu hal ini juga dipengaruhi dari tingkat pendidikan. Dalam jejaring sosial, para penutur bahasa saling berdialog melalui ragam tulis. Dalam berbahasa tulis kita harus lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang kita susun bisa dapat dipahami pembaca dengan baik. Oleh karena itu, para penutur bahasa sering menciptakan kosakata baru yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dalam jejaring sosial tersebut. Penggunaan kosakata bahasa yang ada dalam jejaring sosial terus berkembang dan berganti mengikuti tren. Para penutur biasanya mengikuti bahasa atau kejadian yang mirip atau plesetan dari aslinya. Misalnya, adanya kata “No Afgan” yang merupakan penyanyi yang memiliki lagu dengan judul “Sadis”. Sehingga dalam bahasa kaskus berarti jangan sadis menawar harga atau menawar dengan harga yang sangat murah dalam Forum Jual Beli (FJB). Selain itu, ada juga kata “PertamaX”, yang dalam bahasa kaskus merupakan gabungan dari kata Pertama + X (kali) yang digabung jadi satu (=Pertama kali) sehingga mendekatkan pada produk bahan bakar non subsidi dari Pertamina yaitu Pertamax, yang artinya pertama kali memposting balasan dari sebuah Thread.
  31. 31. 31 BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Pada dasarnya objek merupakan apa yang hendak diteliti didalam kegiatan penelitian. Menurut Arikunto (1993: 43) “Objek penelitian merupakan apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti atau didukung yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan”. Jadi objek penelitian merupakan inti dari sebuah penelitian. Objek penelitian ini adalah bahasa Jargon Pada Komunitas Kaskus Jejaring Sosial Terbesar Di Indonesia. B. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian berguna untuk menyelidiki keadaan, dengan melalui proses percobaan (eksperimen), ataupun berdasarkan observasi. Dalam penelitian diperlukan sebuah metodologi yang mempelajari tentang metode-metode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian. Menurut Taylor (1993:25) metodologi penelitian adalah prinsip-prinsip prosedur yang di pakai dalam mendekati persoalan-persoalan dalam usaha mencari jawabanya. Penelitian sebagai kegiatan ilmiah memerlukan metode. Sebab dengan kehadiran metode, kerja peneliti dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pada dasarnya, metode merupakan cara yang teratur dan sistematis untuk memudah-kan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Menurut Ratna (2004:34) Metode berasal dari kata metodhos, bahasa Latin, sedangkan metodhos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodos berarti jalan,
  32. 32. 32 cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Sebagai alat, sama dengan teori, metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan dalam penelitian diperlukan agar penelitian lebih tepat dan sesuai. Serta, penelitian lebih terkendali dan terarah pada apa yang akan diteliti. Menurut Siswantoro (2010:51) dengan pendekatan cara pandang kita tidak lagi bebas berkeliaran, namun terkendali dan ditundukkan oleh konsep atau teori yang koheren agar diperoleh kepastian (certainty) di dalam menangkap fenomena dan proses analisis. Ditinjau dari metode kerja, Semi (1990:9) menjelaskan bahwa penelitian dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan pengukuran dan analisis yang dikuantitatifkan, dengan menggunakan analisis statistik dan model matematika, sedangkan penelitian kualitatif yang diutamakan bukan kuantifikasi berdasarkan angka-angka tetapi yang di utamakan adalah kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris. Penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri
  33. 33. 33 tertentu. Untuk mementukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata, ci kuadrat, dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas (dalam Moleong, 2004:3). Moleong (2004:3) juga menyatakan bahwa di pihak lain kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. 2. Jenis Penelitian Dalam penelitian kualitatif, terdapat banyak jenis penelitian. Salah satunya yaitu jenis penelitian grounded teori yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini. Grounded teori adalah penelitian kualitatif yang pada mulanya dikembangkan oleh Glaser dan Strauss pada tahun 1960an. Maksud pokok dari grounded teori adalah untuk mengembangkan teori tentang minat terhadap fenomena. Tetapi hal ini bukan hanya teoretisasi abstrak seperti yang mereka bahas. Dalam hal ini, teori perlu di-grounded atau berasal dari bawah dalam sesuatu pengamatan, sampai menjadi istilah (Moleong, 2004:3).
  34. 34. 34 Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa grouded teori adalah jenis penelitian kualitatif yang mengembangkan teori dari bawah atau dasar. C. Tahapan Penelitian dan Waktu Penelitian Menurut Mahsun (2011:31) pelaksanaan penelitian bahasa menurut tahapanya dapat dibagi atas tiga tahapan, yaitu: (1) Prapenelitian, (2) Pelaksanaan penelitian, (3) penulisan laporan penelitian. Tahapan ini digunakan sebagai pegangan peneliti agar dalam penelitian lebih sisematis dan terarah. Selain itu, peneliti lebih jelas mengenai tahapan yang akan dilaksanakan. 1. Prapenelitian Tahapan prapenelitian dimaksudkan sebagai tahapan yang menuntun peneliti untuk berusaha merumuskan secara jelas tentang masalah yang hendak dipecahkan melalui penelitian. Rumusan secara jelas mencakup: latar belakang munculnya masalah; rumusan masalah secara spesifik dan operasional; hubungan masalah yang hendak diteliti dengan penelitian-penelitian terdahulu (dalam hal ini berkaitan dengan kajian pustaka) dan teori-teori tertentu (berkaitan dengan kerangka teori yang akan digunakan); dengan metode-metode (termasuk teknik- tekniknya) yang hendak digunakan. Semua hal ini harus tertuang dalam desain penelitian atau proposal. Menyusun judul merupakan kegiatan awal sebelum penelitian dilakukan. Dari judul ini kemudian peneliti menyusun rumusan masalah penelitian. Setelah itu, peneliti menentukan aspek-aspek yang akan diteliti. Aspek-aspek dalam
  35. 35. 35 penelitian ini, adalah Mendeskripsikan bentuk, makna serta fungsi jargon pada komunitas jejaring sosial Kaskus. Secara khusus peneliti juga memiliki rancangan penelitian tersendiri yang terdiri dari berbagai komponen yang dianggap perlu untuk dilakukan peneliti. Komponen penting yang diperlukan dalam rancangan penelitian tersebut antara lain : 1) latar belakang masalah, 2) tujuan penelitian, 3) kegunaan penelitian, 4) metodologi penelitian, 5) landasan teori, 6) teknik penelitian, 7) jadwal pelaksanaan penelitian, 8) biaya pelaksanaan penelitian, 9) dan daftar pustaka. 2. Pelaksanaan penelitian Mahsun (2011:32) menjelaskan bahwa penelitian dijabarkan dalam tiga hal pokok, yaitu: penyediaan data, analisis data, dan membuat rumusan hasil analisis yang diwujudkan dalam bentuk kaidah-kaidah. Tahapan tersebut merupakan inti dari kegiatan penelitian bahasa. Karena terjawabnya permasalahan yang menjadi dasar penelitian hanya dimungkinkan, jika data yang berhubungan dengan masalah tersebut telah tersedia dan teranalisis serta tertemukanya kaidah- kaidah, yang merupakan jaeaban terhadap masalah yang diteliti tersebut. Ketiga tahapan diatas, masing-masing ditandai oleh kegiatan menyediakan dan tersedianya data; menganalisis dan ditemukanya kaidah-kaidah tertentu; serta tersajinya kaidah-kaidah tersebut dalam rumusan-rumusan tertentu. Karena objek penelitian ini berbentuk jejaring sosial yang berada di internet, maka penyediaan data dalam penelitian menggunakan cara Print Screen. Print scren (selanjutnya disebut dengan PS) Dalam bahasa mudahnya adalah
  36. 36. 36 kombinasi melalui menekan papan kekunci yang dibina khas untuk tujuan menangkap/ memfoto kesemua paparan yang terdapat di layar monitor. (Komputer bagi pemula. “Fungsi Print Screen Untuk Mencopy Gambar”. Sabtu, 23 Februari 2008 http://komputerbagipemula.blogspot.com/2008/02/fungsi-print- screen-untuk-mencopy.html diakses 30 Juni 2013). Peneliti mengamati berbagai bentuk jargon yang tertulis dalam komunitas jejaring sosial Kaskus, kemudian memfoto atau memprint screen tulisan tersebut dan menyimpanya dalam bentuk gambar. Gambar-gambar tesebut selanjutnya diberi nama halaman, dimana data jargon tersebut di PS, kemudian dikumpulkan dalam sebuah folder. Selanjutnya peneliti menulis semua data yang termasuk jargon dalam gambar tersebut pada sebuah lembaran tabel. 3. Penulisan Laporan Penelitian Hal yang perlu dilakukan seorang peneliti, yaitu menyusun laporan penelitian. Peneliti melaporkan semua hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan secara tertulis di bawah bimbingan para dosen pembimbing. Apabila dalam isi laporan terdapat kesalahan maka harus dilakukan revisi. Hasil revisi diserahkan kepada dosen pembimbing untuk mendapat persetujuan. Tahap pembuatan laporan penelitian adalah tahap terakhir dari kegiatan penelitian (Arikunto, 2010:61). Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap penyelesaian ini meliputi : (1) penyusunan laporan, (2) revisi laporan, (3) penggandaan laporan, (4) penyerahan laporan. Waktu penelitian adalah waktu yang digunakan oleh peneliti untuk proses penelitian serta persiapanya. Semua hal yang mengarah pada kegiatan penelitian
  37. 37. 37 itu dilakukan selama beberapa tahap, diantaranya tahap pengajuan judul hingga tahap pelaporan hasil penelitian Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Desember. Dengan rincian kegiatan penelitian secara garis besar dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.1 Perencanaan Penelitian No JENIS KEGIATAN Juni Juli Agustus September Oktober November 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pengajuan Masalah √ 2 Konsultasi Judul √ 3 Pengajuan Judul √ 4 Penyusunan Bab I √ 5 Penyusunan Bab II √ 6 Penyusunan Bab III √ 7 Pengumpulan Data 8 Analisis Data 9 Penyusunan Bab IV 10 Penyusunan Bab V D. Metode danTeknik Penelitian Mengunakan Metode Simak Dengan Teknik Dasar Sadap Data dikumpulkan dengan metode simak atau penyimakan, yaitu menyimak ungkapan larangan yang digunakan oleh masyarakat petani Tabanan, baik secara lisan
  38. 38. 38 maupun tulis. Metode simak dapat disejajarkan dengan metode pengamatan atau observasi dalam ilmu sosial, khususnya Antropologi. Di samping itu, juga digunakan metode cakap, yaitu metode penyediaan data dengan melakukan percakapan antara peneliti dan informan. Metode ini dapat disejajarkan dengan metode wawancara dalam ilmu sosial, khususnya Antropologi (Sudaryanto, 1993: 133--138 ; Mahsun, 2005: 92). Data lisan dikumpulkan dengan metode simak yang dibantu dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak libat cakap, dan teknik catat. Teknik sadap digunakan untuk menyadap pemakaian jargon pada jejaring sosial kaskus. Teknik simak libat cakap dilakukan dengan menyimak sekaligus berpartisipasi dalam pembicaraan. Peneliti terlibat langsung dalam dialog baik secara aktif maupun reseptif. Aktif, artinya peneliti ikut berbicara dalam dialog sedangkan reseptif artinya hanya mendengarkan pembicaraan informan. Peneliti berdialog sambil menyimak pemakaian bahasa informan untuk mendapatkan ungkapan larangan. Saat penerapan teknik simak libat cakap juga disertai teknik rekam, yaitu merekam dialog atau pembicaraan informan. Rekaman ini selanjutnya ditranskripsikan dengan teknik catat (Sudaryanto, 1993: 133). Data tulis dikumpulkan dengan metode simak yang dibantu dengan teknik lanjutan berupa teknik catat. Artinya, peneliti menyimak pemakaian ungkapan larangan dalam sumber data tertulis yang berupa awig-awig. Hasil penyimakan ditindaklanjuti dengan teknik catat (Sudaryanto, 1993: 133). Di samping dengan metode simak, data dalam penelitian ini juga dikumpulkan dengan metode cakap. Metode cakap dibantu dengan teknik dasar teknik pancing,
  39. 39. 39 sedangkan teknik lanjutannya adalah teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik pancing dilakukan dengan pemancingan. Artinya, peneliti mengajukan berbagai macam pertanyaan agar informan mau mengeluarkan ungkapan larangan. Teknik pancing dilakukan dengan langsung, tatap muka atau bersemuka. Pada saat teknik pancing dan teknik cakap semuka diterapkan, sekaligus dioperasikan teknik rekam. Artinya, peneliti merekam pembicaraan dalam teknik pancing dan teknik cakap semuka. Hasil rekaman itu kemudian ditindaklanjuti dengan teknik catat (Sudaryanto, 1993: 137--139). E. Sumber Data Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya berupa angka, kata-kata, atau citra (Wikipedia. “Data”, 22 Juni 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Data diakses 22 juni 2013). Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi. Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sumber data utama penelitian dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (dalam Moleong, 2004:157).
  40. 40. 40 Data dibagi menjadi dua, yakni (1) data primer dan (2) data sekunder. Data primer adalah data utama, yaitu data yang diseleksi atau diperoleh langsung dari sumbernya tanpa perantara. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau lewat perantara, tetapi tetap bersandar kepada kategori atau parameter yang menjadi rujukan (Siswantoro, 2010:70). Pada penelitian ini selain menggunakan data primer juga menggunakan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari sumbernya tanpa perantara yaitu dari paparan tertulis pada halaman situs komunitas jejaring sosial Kaskus. Sedangkan data sekunder diperoleh dari bantuan anggota komunitas jejaring sosial Kaskus untuk mengumpulkan istilah-istilah yang dia angggap aneh dan jarang digunakan diluar komunitas tersebut, (dalam hal ini adalah jargon). F. Prosedur Pengumpulan Data Pada penelitian ini menggunakan metode simak, karena data yang diteliti lebih mengarah pada bentuk tulis. Penggunaan bahasa secara tertulis, jika peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa bukan dengan orang yang sedang berbicara atau bercakap-cakap, tetapi berupa bahasa tulis, misalnya naskah-naskah kuno, teks narai, bahasa-bahasa pada massmedia dan lain-lain. Dalam metode ini digunakan teknik dasar sadap. Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Dalam arti, peneliti dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang yang menjadi informan (Mahsun, 2011:93). Selanjutnya teknik sadap ini
  41. 41. 41 diikuti dengan teknik simak bebas libat cakap karena peneliti hanya mengamati penggunaan bahasa pada postingan (kiriman) anggota kaskus. Berikutnya tehnik lanjuta menggunakan tehnik catat. Tehnik catat adalah tehnik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simak dengan tehnik lanjutan diatas. Pencatatan dilakukan untuk mencatat semua bentuk jargon agar mudah untuk dianalisis dan dimengerti makna serta fungsinya. Pencatatan ini ditulis pada tabel yang dimaksudkan agar peneliti lebih mudah mengetahui bagaimana peristiwa tutur, bentuk jargon, dan bagaimana makna jargon yang disepakati pada komunitas tersebut. Sehingga saat menganalisis peneliti dapat mengetahui fungsi dari jargon tersebut. Berikut adalah tabel yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Tabel 3.2 Penelitian Jargon No. Peristiwa Tutur Bentuk jargon Makna Jargon Fungsi Jargon 1 2 3 4 G. Tehnik Analis Tehnik analisis data merupakan penentu kaidah-kaidah yang mengatur keberadaan objek . penemuan kaidah-kaidah tersebut merupakan inti dari sebuah aktifitas penelitaian. Tehnik analisis data menurut Moleong (1994:103) adalah proses mengintrogasikan uraian data menurutkan data kedalam pola, kategori dan
  42. 42. 42 satuan uraian dasar sehingga dapat di tentukan tema dab dapat di rumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data. Tahap analisis data dilakukan apabila data telah terkumpul pada tabel penelitian. Untuk menganalisis data ini menggunakan metode padan ekstralingual. Metode padan ekstalingual digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada diluar bahasa. Untuk menganalisis data jargon pada penelitian ini peneliti menggunakan analisis sosiolinguistik, dimana jargon dihubungkan dengan peristiwa tutur dan bagaimana jargon itu diapakai. Sehingga peneliti memahami makna serta fungsi dari jargon tersebut. H. Tehnik Penyajian Hasil Analisis Data Hasil akir dari analisis data tersebut, yang berupa kaidah-kaidah disajikan dalam bentuk perumusan dengan menggunakan kata-kata serta perumusan dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang . Ihwal penggunaan kata-kata biasa atau tanda-tanda atau lambang-lambang erupakan teknik penjabaran dari masing- masing teknik penyajian tersebut (Sudaryanto, 1993). Dalam penelitian ini, kegiatan memaparkan hasil analisis data yang berupa hasil penganalisisan, penafsiran, dan penyimpulan digunakan metode informal. Dengan metode informal ini, penyajian hasil analisis data dilakukan dengan menyajikan deskripsi khas verbal dengan kata-kata.
  43. 43. 43 DAFTAR PUSTAKA Aslinda dan Leni Syafyahya. 2010. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama. Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Mahsun. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda Karya. Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga. Piliang, Yasraf Amir. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari. Sobur, Alex. 2009. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Data Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa. Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. (http://www.kaskus.co.id) (http://www.4bri.blogspot.com/sejarah-kaskus.html) (http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotika). (http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/13/analisa-semiotika/AnalisaSemiotik) (http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_singkatan_dan_akro nim)
  44. 44. 44

×