hak asasi manusia dan hiv
Edisi: Nomor 04, September 2010

Kabar Komunitas
Mengupas kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga B...
HdH | 1

Daftar Isi
 
 
 
 

Dari Meja Redaksi 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kabar Komunitas 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambir: Saatnya Sad...
HdH | 2

Kabar Komunitas

 

 

Gambir: Saatnya Sadar Hak dan Melawan Ketidakadilan 
 
Seperti biasa, LBH Masyarakat secar...
HdH | 3
menyiksa  Freddy  sampai  akhirnya  ia  mengaku.  Freddy  disuruh  menandatangani  Berita  Acara  Pemeriksaan  (BA...
HdH | 4
agar  dapat  meminimalisir  praktik  mafia  hukum  selama  proses  hukum.  Biasanya  aparat  penegak  hukum  dapat...
HdH | 5
hak  asuh,  hingga  penghapusan  nama  dari  hak  waris  keluarga.  Tentu  hal  ini  akan  menjadi  batu  sandunga...
HdH | 6
Mbak Stella, begitu kami memanggilnya. Ia adalah salah satu waria yang tinggal di rumah petak tersebut. Pertemuan ...
HdH | 7

Mari Bicara Hukum dan HAM

 

 

Apa hubungan antara hak asasi manusia dan HIV/AIDS?  
 
Hak asasi manusia (HAM) ...
HdH | 8
dan  dukungan  tanpa  stigma,  di  mana  AIDS  di‐destigmatisasi,  individu  akan  lebih  terdorong  untuk  dapat ...
HdH | 9

Suara Komunitas

 

 
LBH  Masyarakat  bertanya:  Apa  yang  dapat  dilakukan  oleh  pemudi‐pemuda  dalam  rangka...
HdH | 10

Galeria
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
...
HdH | 11

Tentang LBH Masyarakat

 

 
Berangkat  dari  ide  bahwa  setiap  anggota  masyarakat  memiliki  potensi  untuk ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hak Asasi Manusia dan HIV, No. 4, 2010 - LBH Masyarakat

567 views
385 views

Published on

HdH diterbitkan dengan tujuan untuk menjadi sarana informasi, komunikasi dan dialog antar komunitas yang kini tengah diberdayakan oleh LBH Masyarakat. Publikasi ini hendak menyasar pembaca utamanya di lingkungan orang yang hidup dengan HIV/AIDS, pemakai narkotika, pekerja seks dan waria/transjender. Publikasi ini juga bertujuan untuk memicu diskusi di antara anggota komunitas-komunitas tersebut. Tentu inisiatif ini tidak lepas sebagai bentuk upaya untuk melengkapi pemberdayaan hukum masyarakat yang tengah kami lakukan di empat komunitas tersebut.

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
567
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hak Asasi Manusia dan HIV, No. 4, 2010 - LBH Masyarakat

  1. 1. hak asasi manusia dan hiv Edisi: Nomor 04, September 2010 Kabar Komunitas Mengupas kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat di empat komunitas yang tengah diberdayakan yakni di komunitas Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pemakai narkotika, pekerja seks, dan wanita-pria. • Gambir: Saatnya Sadar Hak dan Melawan Ketidakadilan • Blora: Menyebar Inspirasi, Membangun Semangat • Komunitas ODHA: Momentum Kebangkitan untuk Melakukan Advokasi Mandiri • Duri Selatan: Komunitas Baru, Sahabat Baru Mari Bicara Hukum dan HAM Pada edisi kali ini kita mencoba mengurai apa hubungan antara hak asasi manusia (HAM) dengan HIV. LBH Masyarakat memandang bahwa HAM memiliki kaitan erat dengan penyebaran dan dampak HIV/AIDS bagi individu maupun komunitas di seluruh dunia. Ketiadaan penghormatan terhadap HAM akan memicu penyebaran dan memperburuk dampak penyakit tersebut, dan pada saat bersamaan infeksi HIV/AIDS akan melemahkan upaya untuk perwujudan HAM. Suara Komunitas Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, LBH Masyarakat bertanya kepada teman-teman komunitas, apa yang dapat dilakukan oleh pemudi-pemuda dalam rangka menegakkan hukum dan HAM di Indonesia.
  2. 2. HdH | 1 Daftar Isi         Dari Meja Redaksi                      Kabar Komunitas                    Gambir: Saatnya Sadar Hak dan Melawan Ketidakadilan          Blora: Menyebar Inspirasi, Membangun Semangat          Komunitas ODHA: Momentum Kebangkita untuk Melakukan Advokasi Mandiri     Duri Selatan: Komunitas Baru, Sahabat Baru             Mari Bicara Hukum dan HAM                  Suara Komunitas                    Galeria                       1  2  2  3  4  5  7  9  10  Yang terhormat pembaca budiman,    Bulan Oktober menjadi bulan yang cukup padat bagi LBH Masyarakat. Menjelang pelatihan paralegal komunitas ODHA  dan  populasi  kunci  di  minggu  pertama  November,  kegiatan  pemberdayaan  hukum  masyarakat  di  komunitas  tersebut  kami  tingkatkan  intensitasnya.  Hal  ini  dilakukan  dengan  tujuan  untuk  dapat  menemukan  bibit‐bibit  paralegal.  Penyuluhan demi penyuluhan kami lakukan, bahkan tidak jarang harus menembus hujan deras yang sering mengguyur  kota  Jakarta.  Beruntung  kegigihan  kami  untuk  melakukan  penyuluhan  terbayar  dengan  antusiasme  yang  tinggi  di  kalangan  komunitas.  Bahkan  terdapat  satu‐dua  komunitas  yang  anggotanya  harus  ‘bersaing  ketat’  untuk  dapat  ikut  serta  dalam  pelatihan  paralegal,  mengingat  tempat  yang  tersedia  terbatas.  Seperti  biasa,   Kabar  Komunitas  akan  menceritakan  pengalaman  kami  ketika  melakukan  penyuluhan  hukum  di  komunitas‐komunitas  tersebut. Pengalaman yang menurut kami layak dibagi dan patut diceritakan.     HdH  kali  ini  juga  menurunkan  tulisan  singkat  yang  hendak  menjelaskan  hubungan  antara  hak  asasi  manusia  (HAM)  dengan  HIV/AIDS.  LBH  Masyarakat  memandang  bahwa  HAM  memiliki  kaitan  erat  dengan  penyebaran  dan  dampak  HIV/AIDS  bagi  individu  maupun  komunitas  di  seluruh  dunia.  Ketiadaan  penghormatan  terhadap  HAM  akan  memicu  penyebaran  dan  memperburuk  dampak  penyakit  tersebut,  dan  pada  saat  bersamaan  infeksi  HIV/AIDS  akan  melemahkan  upaya  untuk  perwujudan  HAM.  Semoga  tulisan  ini  dapat  membantu  rekan‐rekan  pembaca  memahami  kaitan antara keduanya.     Akhir kata, semoga tulisan yang kami sajikan dalam HdH dapat memicu diskusi hangat di antara anggota komunitas dan  pemerhati  HAM  dan  HIV.  Segala  kritik  dan  saran  yang  membangun  senantiasa  kami  tunggu  untuk  perbaikan  HdH  ke  depannya.     Terima kasih, dan salam hangat      Dari Meja Redaksi   Dewan  Redaksi:  Ricky  Gunawan,  Dhoho  A.  Sastro,  Andri  G.  Wibisana,  Ajeng  Larasati,  Alex  Argo  Hernowo,  Answer  C.  Styannes,  Pebri  Rosmalina,  Antonius  Badar,  Feri  Sahputra,  Grandy  Nadeak,  Vina  Fardhofa,  Magdalena  Blegur,  dan  Putri  Kusuma Amanda  Keuangan dan Sirkulasi: Fajriah Hidayati dan Zaki Wildan    Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat  Tebet Timur Dalam III B No. 10, Jakarta 12820  Telp. 021 830 54 50  Faks. 021 829 80 67  Email. contact@lbhmasyarakat.org  Website. http://www.lbhmasyarakat.org       HdH  diterbitkan  oleh  Lembaga  Bantuan  Hukum  Masyarakat  (LBH  Masyarakat)  dengan  dukungan  oleh  International  Development  Law  Organization  (IDLO)  dan  OPEF Funds for International Development (OFID).               
  3. 3. HdH | 2 Kabar Komunitas     Gambir: Saatnya Sadar Hak dan Melawan Ketidakadilan    Seperti biasa, LBH Masyarakat secara berkala menyelenggarakan penyuluhan hukum di komunitas pemakai narkotika.  Kesempatan kali ini, kami mengunjungki Komunitas Gambir. Komunitas merupakan kumpulan dari mereka yang pernah  menggunakan  narkotika  dan  zat  adiktif  lainnya  dan  tengah  menjalani  program  terapi  metadon  di  Puskesmas  Gambir.  Sebagai pemakai narkotika tentu mereka dikriminalisasi dan oleh karenanya sering berhadapan dengan hukum. Posisi  mereka yang terstigmakan membuat  mereka rentan penyiksaan dari aparat penegak  hukum.  Tidak hanya itu, sebagai  pemakai narkotika yang berhadapan dengan hukum, tidak banyak advokat atau lembaga bantuan hukum yang bersedia  memberikan  bantuan  hukum.  Melihat  kenyataan  ini  LBH  Masyarakat  meningkatkan  intensifitas  penyuluhan  hukum  sebagai bentuk upaya pendidikan hukum, agar ketika menjalani proses hukum, mereka akan lebih sadar hak. Akhirnya  upaya ini juga sebagai bentuk untuk mewujudkan advokasi mandiri bagi kelompok pemakai narkotika.     Penyuluhan  di  Puskesmas  Gambir  pertengahan  bulan  Oktober  2010  mengetengahkan  topik  upaya  paksa  dan  proses  persidangan  pidana.  Hadir  sebagai  pemateri  dari  LBH  Masyarakat,  Grandy  Nadeak,  Peneliti  Hukum  dan  Bahrul  Ulum,  Relawan  Bantuan  Hukum.  Selain  kedua  topik  itu  juga  komunitas  ini  diberikan  materi  seputar  hak  tersangka  maupun  terdakwa.  “Teman‐teman  harus  mengetahui  hak‐haknya  ketika  menjalani  proses  hukum  supaya  tahu  dan  tidak  akan  dibodohi oleh polisi,” tegas Grandy. Hak‐hak tersebut di antaranya meliputi:   1. Mendapatkan penjelasan dari apa yang disangkakan/didakwakan terhadap diri kita.  2. Mendapat bantuan hukum dari Penasihat Hukum; aparat tidak boleh melarang seseorang untuk didampingi  penasihat hukum.  3. Berkomunikasi dengan keluarga dan orang‐orang yang berkepentingan lainnya.  4. Mengajukan saksi atau ahli‐ahli dalam suatu bidang yang dapat meringankan tersangka/terdakwa.  5. Menuntut ganti rugi dan sebagainya.    Selain  dilanggar  hak‐haknya  di  atas,  pemakai  narkotika  yang  berhadapan  dengan  hukum  seringkali  mengalami  penyiksaan  atau  “Saya  sebenernya  nggak  mau  ngambil  tuh  perlakuan  buruk  lainnya.  “Hal  ini  bisa  dihindari  jika  teman‐teman  barang  bang,  tapi  saya  dipukul  terus    ampe  mengetahui  bagaimana  proses  hukum  itu  berjalan  dan  apa  saja  hak‐ mak  ama  bapak  saya  kaget  dan  ketakukan  hak  yang  teman‐teman  miliki  sebagai  tersangka  ataupun  terdakwa,”  soalnya  tau‐tau  saya  digebukin  polisi,”  demikian  kata  Freddy  berapi‐api.  Freddy  pun  ujar  Grandy.  “Pada  intinya  kita  harus  mau  dan  berani  akhirnya  memungut  narkotika  tersebut  dan  memperjuangkan  hak‐hak  yang  kita  miliki.  Kita  juga  harus  mampu  pada saat itulah dia ditangkap dan dibawa ke  mengadvokasi  diri  kita  dan  akan  lebih  baik  tentunya  jika  kita  juga  kantor  polisi.  Ketika  diperiksa  oleh  salah  mampu  membantu  teman‐teman  yang  tersangkut  masalah  pidana”  seorang  polisi,  ia  ditanya  apakah  benar  dia  timpal Bahrul.  yang  memiliki  narkoba  tersebut  dari  seorang  bandar.  “Saya  udah  bilang  saya  ga  beli  tuh    Setelah sesi materi selesai, penyuluhan dilanjutkan dengan sesi tanya  barang,  saya  disuruh  ngambil  ama  tuh  polisi  jawab. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya bahwa banyak kisah  yang nangkep” Freddy terus menjelaskan. buruk  yang  dialami  oleh  mereka  salah  satunya  dikemukakan  oleh  Freddy (bukan nama sebenarnya) seorang mantan pemakai narkotika.  Ketika  ia  masih  menjadi  pemakai  ia  pernah  ditangkap  oleh  kepolisian  dengan  tuduhan  memiliki  dan  menyimpan  narkotika. Mulanya Freddy akan membeli narkotika pada seorang bandar di daerah Tanah Abang. Pada saat dia hendak  menemui bandar tersebut dia melihat bandar itu sedang ditangkap oleh kepolisian. Melihat sang bandar tertangkap, ia  pun tidak jadi membeli narkotika dan kembali ke rumah. Tetapi beberapa saat kemudian ada petugas polisi yang datang  ke  rumahnya.  Setelah  bertemu  dengan  Freddy,  kemudian  polisi  menjatuhkan  narkotika  di  dekat  kaki  Freddy  dan  menyuruh Freddy untuk mengambilnya. Pada awalnya Freddy menolak, tetapi para petugas polisi itu memukuli freddy  dan  memaksanya  mengambil  narkotika  tersebut.  “Saya  sebenernya  nggak  mau  ngambil  tuh  barang  bang,  tapi  saya  dipukul  terus    ampe  mak  ama  bapak  saya  kaget  dan  ketakukan  soalnya  tau‐tau  saya  digebukin  polisi,”  demikian  kata  Freddy berapi‐api. Freddy pun akhirnya memungut narkotika tersebut dan pada saat itulah dia ditangkap dan dibawa ke  kantor polisi. Ketika diperiksa oleh salah seorang polisi, ia ditanya apakah benar dia yang memiliki narkoba tersebut dari  seorang bandar. “Saya udah bilang saya ga beli tuh barang, saya disuruh ngambil ama tuh polisi yang nangkep” Freddy  terus  menjelaskan,  akan  tetapi  petugas  polisi  yang  menangkap  Freddy  (kebetulan  berada  di  dekat  Freddy)  itu  malah 
  4. 4. HdH | 3 menyiksa  Freddy  sampai  akhirnya  ia  mengaku.  Freddy  disuruh  menandatangani  Berita  Acara  Pemeriksaan  (BAP)  yang  isinya menyatakan bahwa ia telah membeli dan memiliki narkoba dari seorang bandar padahal kenyataanya tidak.    “Kalo  udah  kayak  gitu  gimana  bang?  Mau  gak  mau  kita  nandatanganin  tuh  BAP  soalnya  kalau  nggak  bisa  tambah  bonyok saya”, tanya Freddy setengah marah. Akhirnya kasus tersebut berlanjut ke persidangan dan Freddy tidak dapat  membela  diri  karena  saksi‐saksi  yang  dihadirkan  adalah  polisi  yang  menangkap  Freddy,  sehingga  cenderung  memberatkan  Freddy  selama  persidangan.  BAP  yang  diberikan  kepolisianpun  menyatakan  bahwa  dia  tertangkap  saat  membeli narkotika. Hal‐hal yang demikian tentu saja memberatkan Freddy, dan pada akhirnya sesuai dengan Undang‐ Undang Narkotika Freddy diputus bersalah dan dihukum selama 5 (lima) tahun penjara.    Kisah Freddy tersebut juga dibenarkan oleh yang lain karena mereka kurang lebih juga pernah mengalami pengalaman  serupa.  “Kalau  kita  ketemu  polisi  seperti  begitu  gimana  bang?”  tanya  Fajri  (juga  bukan  nama  sebenarnya).  “Kita  bisa  melaporkan aparat polisi yang melanggar tindak pidana ke bagian Kriminal seperti layaknya kita melapor suatu tindak  pidana.  Selain  itu  kita  juga  dapat  melapor  polisi  yang  bersangkutan  ke  Divisi  Propam,”  jawab  Grandy.  Divisi  Propam  adalah Divisi yang menangani polisi‐polisi yang melanggar kode etik dan kedisplinan.     Belajar dari kasus yang dialami oleh Freddy tersebut, maka sangat penting bagi teman‐teman pemakai narkotika seperti  di  komunitas  Gambir  untuk  melengkapi  diri  dengan  pengetahuan  hukum  dan  HAM.  Hal  ini  bertujuan  agar  dapat  melakukan  advokasi  bagi  dirinya  sendiri  dan  teman‐temannya  ketika  menghadapi  masalah  hukum.  “Pada  pokoknya,  kerjasama yang baik antara kita yang tersangkut dengan perkara hukum dengan komunitas maupun dengan Lembaga  Bantuan  Hukum  sangat  berguna  dalam  membela  diri  kita,”  ucap  Bahrul  di  akhir  sesi  tanya  jawab.  “Betul,  dan  semua  yang kita lakukan bersama‐sama itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum,  penyiksaan  atau  perlakuan  buruk  lainnya,”  demikian  pernyataan  Grandy  ketika  menutup  penyuluhan  hukum  di  Puskesmas Gambir. (BU).         Blora: Menyebar Inspirasi, Membangun Semangat    Kamis  7  Oktober  2010  LBH  Masyarakat  berkunjung  ke  komunitas  Blora  untuk  mengadakan  penyuluhan  hukum  dan  HAM. Penyuluhan di komunitas ini memang telah dijadwalkan akan dilakukan setiap hari Kamis. Dengan bermodalkan  brosur  kami  pun  berangkat  menuju  Blora.  Belum  terlintas  bagaimana  penyuluhan  ini  akan  berjalan  karena  ini  merupakan penyuluhan hukum pertama LBH Masyarakat di komunitas ini. Rasa takut sempat hinggap di perasaan para  relawan  yang  juga  baru  pertama  kali  datang  ke  komunitas  ini  karena  akan  berhadapan  langsung  dengan  waria  yang  selama  ini  mendapat  label  negatif  di  masyarakat.  “Nanti  kira‐kira  gimana  ya  penyuluhannya.  Orangnya  baik‐baik  kan  ya?”  tanya  salah  seorang  relawan  yang  ikut  terlibat  dalam  penyuluhan.  Sesampainya  di  tempat  komunitas  perasaan  takut itu pun belum menghilang, praduga akan apa yang terjadi nanti kerap membayangi perasaan para relawan. Pun  demikian mereka tetap terlihat antusias untuk memberikan penyuluhan.    Materi  pertama  yang  disampaikan  kepada  teman‐teman  komunitas  Blora  adalah  tentang  upaya  paksa,  apa  itu  upaya  paksa  dan  apa  saja  jenisnya.  Semua  dijelaskan  satu  persatu.  Respon  dari  teman‐teman  pun  sangat  baik.  Mereka  mendengarkan dengan serius dan menyimak dengan seksama. Walaupun materi yang diberikan adalah materi hukum  namun  mereka  tetap  mencoba  mengikutinya  sekalipun  topik  hukum  bukan  topik  yang  disukai  oleh  kebanyakan  dari  mereka. Sempat ada pertanyaan seperti misalnya, “apa kegunaan mengerti  upaya paksa?” dan semacamnya. Namun,  pada akhirnya teman‐teman waria dapat mengerti bahwa dengan memahami upaya paksa akan memudahkan mereka  ketika berhadapan dengan hukum.     Setelah  selesai  sesi  penyuluhan,  tidak  lupa  kami  beritahukan  bahwa  LBH  Masyarakat  akan  mengadakan  pelatihan  pararegal awal November. Istilah paralegal ini memang asing bagi mereka namun mereka tidak ragu untuk bertanya apa  itu pararegal dan keuntungannya buat mereka.     Kami  pun  menjelaskan  pengertian  mengenai  paralegal.  “Pararegal  adalah  orang  awam  yang  tidak  memiliki  latar  belakang pendidikan hukum tetapi memiliki fungsi untuk turut memberikan bantuan hukum. Namun, berbeda dengan  pengacara, paralegal biasanya tidak membantu sampai membela di persidangan karena yang boleh bersidang itu hanya  pengacara. Paralegal mempunyai tugas memberikan apa yang kami sebut sebagai P3K, yaitu pertolongan pertama pada  kasus,” urai Vina Fardhofa, Peneliti Hukum LBH Masyarakat panjang lebar ketika itu. Pertolongan pertama pada kasus  itu diberikan dengan tujuan agar orang yang berhadapan hukum sedikit mengerti tentang hukum. Hal ini dilakukan juga 
  5. 5. HdH | 4 agar  dapat  meminimalisir  praktik  mafia  hukum  selama  proses  hukum.  Biasanya  aparat  penegak  hukum  dapat  dengan  leluasa ‘membodohi’ orang yang tidak tahu hukum, sehingga terjebak dengan praktik suap ataupun juga penyiksaan.     Setelah  mendapat  penjelasan  yang  lengkap  mengenai  paralegal  dan  tugasnya,  teman‐teman  waria  merasa  bahwa  pelatihan pararegal itu akan memberi manfaat bagi mereka karena mereka sering mendapatkan perlakuan buruk tidak  hanya  dari  masyarakat  tapi  juga  aparat  penegak  hukum.  Beberapa  dari  mereka  menyatakan  diri  untuk  mengikuti  pelatihan pararegal tersebut. “Aku mau kok jadi paralegal. Bisa bantu teman‐temanku kalau lagi kena kasus,” kata salah  seorang waria kepada kami. Rupanya ketika pernyataan ini terucap, yang lainnya menimpali. Antusiasme dan semangat  ingin saling membantu sesama begitu terasa ketika itu.     Sebelum  kami  meninggalkan  tempat,  tentu  kami  bertanya  kepada  mereka  tentang  materi  penyuluhan  yang  baru  saja  dilakukan, apa saja catatan evaluasinya. Mereka meminta kami untuk menyampaikan materi dengan bahasa yang lebih  sederhana  dan  mudah  dimengerti.  Penggunaan  bahasa  hendaknya  jangan  terlalu  teknis  hukum  seperti  tertulis  di  peraturan. Akan lebih mudah bagi mereka apabila materi disampaikan dengan bahasa yang tidak rumit dan dengan cara  yang fun, supaya tidak berkesan serius. “OK. Ini akan menjadi catatan kita untuk penyuluhan berikutnya ya,” kata Vina.  Ini  tentu  menjadi  PR  bagi  kami  untuk  lebih  baik  lagi  dalam  mengadakan  Beberapa dari mereka menyatakan diri  penyuluhan di kesempatan mendatang.    untuk  mengikuti  pelatihan  pararegal    tersebut. “Aku mau kok jadi paralegal.  Setelah selesai berbincang‐bincang santai akhirnya kami mengatur perjanjian  Bisa  bantu  teman‐temanku  kalau  lagi  untuk  pertemuan  selanjutnya.  Setelah  sepakat  menentukan  hari  dan  kena  kasus,”  kata  salah  seorang  waria  tanggalnya  kami  berpamitan  karena  hari  sudah  gelap.  “Ga  sabar  deh  kepada  kami.  Rupanya  ketika  penyuluhan lagi minggu depan,” kata salah seorang waria.  pernyataan  ini  terucap,  yang  lainnya    menimpali.  Antusiasme  dan  semangat  ingin  saling  membantu  sesama  begitu  Dari  penyuluhan  tersebut  ada  kesan  mendalam  yang  dapat  djadikan  pembelajaran. Pertemuan dengan teman‐teman waria telah memberi sebuah  terasa ketika itu.   pengalaman  baru  dan  membuka  mata  tentang  kehidupan  waria  yang  sesungguhnya.  Citra  bahwa  waria  itu  amoral  dan  pendosa  seperti  ini  yang  telah  tertanam  dalam  benak  sebagian  masyarakat salah besar. Kehidupan sebagai waria itu keras. Pengusiran dari keluarga, penolakan dari masyarakat, dan  perlakuan buruk dari aparat penegak hukum adalah keseharian bagi mereka. Namun, mereka tetap bertahan. Mereka  tidak  mau  kalah  dengan  hal‐hal  buruk  itu.  Mereka  ingin  menunjukkan  bahwa  mereka  bukan  sampah  masyarakat.  Mereka juga sama‐sama manusia seperti kita. Seperti manusia lainnya, waria pun memiliki hak yang sama. Pelanggaran  hak yang sering mereka alami tidak menyurutkan mereka untuk mundur, namun menguatkan mereka untuk tetap tegar  dan  terus  kuat  melawan  ketidakadilan.  Semangat  itulah  yang  memberikan  inspirasi  bagi  kami.  Ketegaran  itulah  yang  memberikan energi bagi kami untuk kembali datang di penyuluhan berikutnya untuk belajar bersama‐sama agar dapat  lebih baik, dan lebih baik lagi. (V/VF).    Komunitas ODHA: Momentum Kebangkitan untuk Melakukan Advokasi Mandiri     Sudah  hampir  21  (dua  puluh  satu)  tahun  lamanya  komunitas  ini  berdiri.  Dua  puluh  satu  tahun  itu  juga  komunitas  ini  sudah banyak memberikan arti. Sebagai sarana untuk menggapai sebuah mimpi sederhana, sebagai sarana kebangkitan  diri kawan‐kawan yang menderita penyakit HIV/AIDS. Komunitas ini adalah komunitas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)  yang  menjadi  tempat  untuk  berbagi  rasa  dan  cerita,  dan  juga  tempat  memberi  motivasi  untuk  berusaha  menjadi  pemenang  dari  pertarungan  antara  diri  mereka  dan  penyakit  yang  mereka  derita.  Komunitas  orang‐orang  yang  tanpa  kenal lelah terus melawan praktik stigma dan diskriminatif. Komunitas ini pula yang menjadi jalan bagi LBH Masyarakat  untuk menyuntikkan semangat pemberdayaan dan kesadaran hukum yang sering menjadi benturan bagi kawan‐kawan  ODHA.     Sebagaimana  kita  ketahui,  kesadaran  hukum  yang  belum  juga  merata  menjadi  sebuah  fenomena  umum  di  dalam  masyarakat,  termasuk  kawan‐kawan  ODHA.  Hal  ini  akan  memberikan  dampak  buruk,  terutama  bagi  ODHA  yang  tidak  mengetahui  hak‐hak  apa  saja  yang  mereka  miliki.  Sehingga  ketika  berhadapan  dengan  hukum,  atau  setidaknya  mengalami sebuah konflik yang melibatkan aparat penegak hukum, mereka yang tidak mengetahui proses hukum hanya  dapat  mengikuti  alur  yang  dibuat  oleh  para  penegak  hukum  tanpa  tahu  apakah  alur  tersebut  telah  sesuai  dengan  prosedur  atau  tidak.  Tidak  jarang  mereka  akan  mengalami  diskriminasi  dari  aparat  penegak  hukum  hanya  karena  penyakit  yang  mereka  derita.  Diskriminasi  terhadap  kawan‐kawan  ODHA  juga  sering  terjadi  ketika  rekan‐rekan  ODHA  harus berhadapan dengan stigma masyarakat dan keluarga, seperti pengusiran dari lingkungan masyarakat, perebutan 
  6. 6. HdH | 5 hak  asuh,  hingga  penghapusan  nama  dari  hak  waris  keluarga.  Tentu  hal  ini  akan  menjadi  batu  sandungan  dalam  memperjuangkan hak‐hak ODHA untuk hidup seperti biasa, menjadi warga masyarakat seperti biasa, dan dapat bekerja  seperti biasa.     Kesadaran  akan  hak‐hak  yang  mereka  miliki  tentu  akan  menjadi  sumber  kekuatan  baru  untuk  memperjuangkan  hak‐hak  mereka  dalam  berbagai  Untuk  menjadi  paralegal,  perwakilan  dari  komunitas  ODHA  akan  mengikuti  ranah hukum. Atas dasar inilah, dengan dukungan aktif dari Yayasan Pelita  pelatihan  paralegal  yang  Ilmu  (YPI),  LBH  Masyarakat  telah  mendapatkan  begitu  banyak  kesempatan  diselenggarakan  oleh  LBH  Masyarakat  untuk  melakukan  penyuluhan  hukum  secara  berkala.  Materi‐materi  yang  pada  awal  November.  Adanya  selama  ini  telah  disampaikan  antara  lain  adalah  tentang  ketenagakerjaan,  pelatihan  ini  diharapkan  dapat  upaya  paksa,  perdata  umum,  dan  hukum  keluarga.  LBH  Masyarakat  pun  memberikan  bekal  yang  cukup  bagi  telah  banyak  mendapatkan  kesempatan  mendampingi  rekan‐rekan  ODHA  paralegal  yang  akan  melakukan  dalam  menghadapi  berbagai  kasus,  seperti  kisah  Santi  (bukan  nama  pendampingan  hukum  bagi  komunitas  sebenarnya)  yang  melakukan  mediasi  dengan  keluarga  agar  dapat  ODHA  dan  juga  menjadi  tali  membawa  anaknya,  Junior  (bukan  nama  sebenarnya),  untuk  dapat  tinggal  penghubung  antara  LBH  Masyarakat  bersamanya.  LBH  Masyarakat  juga  sempat  mendampingi  proses  dengan komunitas ODHA. penyelesaian  sengketa  waris  ODHA,  dan  juga  masalah‐masalah  yang  berkaitan dengan hukum kekeluargaan lainnya.     Begitu banyak ilmu yang LBH Masyarakat salurkan, begitu banyak pula ilmu yang LBH Masyarakat dapatkan dari rekan‐ rekan  ODHA.  Ilmu  itu  bernama  kekuatan,  kesabaran,  dan  semangat  juang  yang  tak  henti  dalam  berbagai  aspek  kehidupan. Ilmu ini semakin memantapkan LBH Masyarakat untuk masuk ke dalam tahap kesadaran hukum berikutnya,  yaitu  pemberdayaan  hukum  bagi  komunitas  ODHA.  Pemberdayaan  hukum  yang  akan  menjadikan  komunitas  ini  lebih  mandiri  untuk  memperjuangkan  segala  hak‐hak  hukum  bagi  para  anggotanya.  Bagaimana  bisa  lebih  mandiri?  Karena  pemberdayaan hukum ini nantinya akan diwujudkan dalam bentuk pemilihan paralegal yang berasal dari kawan‐kawan  ODHA  itu  sendiri.  Sehingga  merekalah  yang  nantinya  akan  melakukan  pendampingan  ketika  salah  satu  anggota  komunitas  harus  berhadapan  dengan  hukum.  Untuk  menjadi  paralegal,  perwakilan  dari  komunitas  ODHA  akan  mengikuti  pelatihan  paralegal  yang  diselenggarakan  oleh  LBH  Masyarakat  pada  awal  November.  Adanya  pelatihan  ini  diharapkan  dapat  memberikan  bekal  yang  cukup  bagi  paralegal  yang  akan  melakukan  pendampingan  hukum  bagi  komunitas ODHA dan juga menjadi tali penghubung antara LBH Masyarakat dengan komunitas ODHA.    Inilah langkah baru, inilah sebuah momentum. Momentum lanjutan yang berawal dari upaya sebuah komunitas dalam  mewujudkan  kebangkitan  individu  kawan‐kawan  ODHA.  Kemudian  dari  kebangkitan  individu  itulah  komunitas  ini  ikut  bangkit.  Dengan  adanya  pemberdayaan  hukum  yang  diselenggarakan  oleh  LBH  Masyarakat  ini,  diharapkan  dapat  menjadi sebuah momentum kebangkitan komunitas yang lebih mantap dan mandiri. Kita tidak akan pernah tahu, bisa  saja kebangkitan komunitas ini dapat menjadi salah satu momentum kebangkitan sebuah masyarakat yang sadar akan  hak‐hak dan keberadaan diri mereka di mata hukum. (PKA).    Duri Selatan: Komunitas Baru, Sahabat Baru    Siang  itu  matahari  terlihat  percaya  diri  menunjukkan  dirinya.  Panas  teriknya  tidak  membuat  sebagian  besar  warga  Ibukota enggan keluar dari rumah. Warga Jakarta sudah terlihat sibuk memadati jalanan, mencari sesuatu untuk dibawa  pulang  ke  rumah  sore  harinya.  Susana  padat  itu  sudah  seperti  bahasa  sehari‐hari  di  Ibukota  karena  tidak  ada  waktu  untuk menunggu matahari beristirahat.     Suasana jalanan yang padat itu kontras sekali dengan suasana salah satu rumah petak berlantai dua di Pangkalan Bemo,  Duri  Selatan,  Jakarta  Barat.    Tempat  itu  terlihat  lengang,    padahal  jam  sudah  menunjukan  pukul  11  siang.  Tidak  ada  tanda‐tanda kehidupan di rumah berdinding kayu lapis tipis itu. Bahkan  lampu pijar 5 watt yang menggantung di depan  pintu salah satu kamar juga belum dipadamkan.     Hari  itu  kami  dari  LBH  Masyarakat,  diwakili  oleh  Feri  Sahputra  dan  Vina  Fardhofa  harusnya  memberikan  penyuluhan  hukum kepada mereka yang tinggal di rumah‐rumah petak itu. Hati mulai bimbang ketika Pupuh, panggilan akrab Vina,  berkali‐kali tidak bisa menghubungi salah satu penghuni  rumah itu. Sampai akhirnya, seseorang menegur kami berdua  dan mempersilahkan untuk naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.    
  7. 7. HdH | 6 Mbak Stella, begitu kami memanggilnya. Ia adalah salah satu waria yang tinggal di rumah petak tersebut. Pertemuan itu  bukanlah yang pertama bagi kami dengannya, karena sebelumnya kami pernah bertemu dengan waria asal Palembang  ini di Yayasan Srikandi Sejati (YSS). Ia  adalah waria yang bertugas untuk mengkoordinasi  waria yang ada di Pangkalan  Bemo.    Sembari  mempersilahkan  kami  duduk,  tangannya  sibuk  mengetik  pesan  di  telpon  selulernya  untuk  mengabari  rekan  yang  lain  bahwa  kami  sudah  datang.  Selang  beberapa  lama,  satu  per  satu  penghuni  rumah  petak  itu  keluar  dari  kamarnya. Wajah lelah dan menahan kantuk tidak bisa disembunyikan oleh senyum mereka kepada kami.     Tidak seperti yang saya temui di Blora yang sudah terlihat seperti perempuan,  waria di Duri Selatan ini masih terlihat  laki‐laki.  Hampir  semua  dari  mereka  hanya  akan  berdandan  ketika  akan  mengamen  saja.  “Kita‐kita  ini  waria  bongkar  pasang,  Kak.  Kalo  malam  dipasang,  tapi  kalo  siang  dibongkar  lagi.“  ujar  salah  satu  waria  yang  berusaha  menjawab  kebingungan  saya  tentang  dandanan  mereka.  Tidak  sulit  untuk  mengumpulkan  mereka  semua,  karena  sebelumnya  Pupuh telah berkoordinasi dengan Mbak Stella.     Penyuluhan  pertama  hanya  diisi  dengan  saling  berkenalan  dan  sharing  Waktu  semakin  siang  dan  tibalah  jam‐jam  ngantuk.  Wajah  kantuk  mereka  semakin  pengalaman  mereka  selama  mereka  mengamen  dengan  dandanan  menjadi. Akhirnya kami memutuskan untuk  perempuan. Banyak kisah juga yang membuat kami tergelitik. Namun, tak  mengakhiri  bincang‐bincang  ringan  sedikit  juga  cerita  yang  membuat  saya  tersenyum  kecut  karena  merasa  tersebut.  Kami  berjanji  kepada  mereka  heran dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang kepada mereka yang  bahwa  minggu  depan  kami  akan  datang  sesungguhnya  menurut  saya  tidak  melakukan  kejahatan  tetapi  dianggap  lagi  untuk  melakukan  penyuluhan.  Mereka  pengganggu.  “Kalau  diledekin  udah  biasa,  Kak.  Malah  pernah  dijambak  terlihat  antusias.  Semoga  antusiasme  dan disiram air,” kata salah satu waria menceritakan pengalamannya.   mereka  berlanjut  ke  minggu‐minggu  dan    bulan‐bulan  berikutnya.  Karena  mereka  Sama seperti waria lainnya yang menghabiskan harinya di jalanan, Satpol  akan  menjadi  komuitas  baru  yang  PP tetap menjadi ‘hantu’ yang menakutkan. Beberapa dari mereka pernah  diharapkan  bisa  menjadi  tempat  belajar  bagi  mereka  sendiri,  warga  sekitar  dan  ditangkap oleh Satpol PP dan kemudian ditahan dan baru dibebaskan jika  tentunya  LBH  Masyarakat.  Bagi  kami,  membayar  sejumlah  uang.  Mereka  mengaku  bahwa  Rp  500.000,‐  (lima  ratus  ribu)  adalah  rupiah  yang  wajib  dikeluarkan  jika  ingin  bebas  dari  komunitas baru berarti sahabat baru. terali  besi.  “Saya  baru  ketangkap  Satpol  PP.  Saya  harus  bayar  500,000  baru dibebasin. Kalau waria kaya kita bayarannya lebih mahal, tapi kalau anak jalanan kemarin saya tanya mereka cuma  disuruh bayar 150.000 aja.” kata Alda, salah satu pengamen waria yang ditangkap Satpol PP tepat seminggu sebelum  Lebaran.    Sebenarnya  sebagian  dari  mereka  pernah  bekerja  di  sektor  formal  sebagai  buruh  pabrik,  namun  akhirnya  memilih  menjadi pengamen karena apa yang mereka dapatkan jauh dari penghasilan sebagai buruk pabrik. Terlebih, mereka bisa  mengekspresikan diri mereka.     Waktu semakin siang dan tibalah jam‐jam ngantuk. Wajah kantuk mereka semakin menjadi. Akhirnya kami memutuskan  untuk  mengakhiri  bincang‐bincang  ringan  tersebut.  Kami  berjanji  kepada  mereka  bahwa  minggu  depan  kami  akan  datang lagi untuk melakukan penyuluhan.  Mereka  terlihat antusias. Semoga  antusiasme  mereka  berlanjut  ke minggu‐ minggu dan bulan‐bulan berikutnya. Karena mereka akan menjadi komuitas baru yang diharapkan bisa menjadi tempat  belajar  bagi  mereka  sendiri,  warga  sekitar  dan  tentunya  LBH  Masyarakat.  Bagi  kami,  komunitas  baru  berarti  sahabat  baru. (FS).                     
  8. 8. HdH | 7 Mari Bicara Hukum dan HAM     Apa hubungan antara hak asasi manusia dan HIV/AIDS?     Hak asasi manusia (HAM) berkaitan erat dengan penyebaran dan dampak HIV/AIDS bagi individu maupun komunitas di  seluruh dunia. Ketiadaan penghormatan terhadap HAM akan memicu penyebaran dan memperburuk dampak penyakit  tersebut, dan pada saat bersamaan infeksi HIV/AIDS akan melemahkan upaya untuk perwujudan HAM.     Hubungan  antara  HAM  dan  HIV/AIDS  sangat  jelas  terlihat  dari  tidak  berimbangnya  penyebaran  dan  dampak  penyakit  tersebut  kepada  kelompok  masyarakat  tertentu.  Ketidakberimbangan  tersebut  bergantung  pada  beberapa  faktor  seperti misalnya karakter epidemik HIV/AIDS dan kondisi sosial, ekonomi dan hukum anggota masyarakat, termasuk di  antaranya perempuan dan anak, dan khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Secara nyata juga terlihat  fakta  bahwa  beban  yang  berlebih  untuk  memerangi  epidemi  AIDS  ditanggung  oleh  negara‐negara  berkembang,  yang  mana  keberadaan  penyakit  tersebut  mengancam  pencapaian  pembangunan  manusia  di  negara‐negara  tersebut.  AIDS  dan kemiskinan saat ini secara bersamaan mendorong dampak negatif di banyak negara berkembang.     Hubungan antara HAM dan HIV/AIDS dapat dilihat secara khusus di tiga area berikut:     Tingkat kerentanan yang semakin meningkat: kelompok masyarakat tertentu lebih rentan terinfeksi HIV karena mereka  pemenuhan hak asasi mereka di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya terhalangi. Sebagai contoh misalnya,  seseorang  yang  kebebasan  berserikat  atau  berkumpulnya  dan  akses  informasinya  diabaikan  dapat  dikecualikan  dari  proses  diskusi  mengenai  HIV/AIDS,  dan  berpartisipasi  dalam  organisasi  masyarakat  yang  menyediakan  layanan  kesehatan  bagi  orang  dengan  HIV/AIDS  (ODHA).  Perempuan  dan  khususnya  perempuan  muda  lebih  rentan  terkena  infeksi  HIV  jika  mereka  tidak  mendapatkan  akses  informasi,  pendidikan  dan  layanan  yang  memadai  untuk  menjamin  kesehatan  seksual  dan  reproduksinya  terjaga.  Ketidaksetaraan  jender  sebagai  perempuan  di  masyarakat  juga  berarti  kapasitas  mereka  untuk  bernegosiasi  dalam  konteks  aktivitas  seksual  akan  terhalangi.  Orang  yang  hidup  dalam  kemiskinan  juga  tidak  akan  mampu  untuk  mengakses  layanan  pengobatan  dan  perawatan  HIV,  termasuk  akses  untuk  antiretroviral dan obat‐obatan lainnya untuk infeksi oportunistiknya.     Stigma  dan  diskriminasi:  Hak  orang  dengan  HIV/AIDS  (ODHA)    seringkali  dilanggar  karena  diasumsikan  memiliki  atau  status  HIV  mereka,  yang  menyebabkan  mereka  menderita  baik  beban  karena  penyakitnya  maupun  konsekuensi  akan  kehilangan  hak  mereka.  Stigmatisasi  dan  diskriminasi  dapat  menghalangi  akses  mereka  mendapatkan  pelayanan  kesehatan  dan  dapat  berdampak  kepada  hak  atas  pekerjaan,  perumahan  dan  hak  lainnya.  Hal  ini  pada  akhirnya  akan  berkontribusi  pada  kerentanan  orang  lain  akan  infeksi  HIV  mengingat  stigma  dan  diskriminasi  yang  erat  dengan  HIV  akan mendorong ODHA dan orang yang hidup dengan HIV untuk tidak berhubungan dengan layanan kesehatan maupun  kontak sosial. Hasilnya adalah bahwa mereka yang sangat membutuhkan informasi, pendidikan dan layanan mengenai  HIV tidak akan dapat mendapatkan keuntungan apa‐apa dari layanan yang sudah tersedia.     Menghalangi  respons  yang  efektif:  Strategi  untuk  memerangi  epidemi  HIV/AIDS  menemui  tantangannya  di  dalam  lingkungan  yang  tidak  menghargai  hak  asasi  manusia.  Sebagai  contoh,  praktik  diskriminasi  dan  stigmatisasi  terhadap  kelompok  rentan  seperti  pemakai  narkotika  suntik,  pekerja  seks,  dan  lelaki  yang  berhubungan  seks  dengan  lelaki  menggiring komunitas ini tersembunyi. Kondisi ini akan memperlambat akses populasi ini untuk mendapatkan layanan  pencegahan  HIV  sehingga  dapat  meningkatkan  kerentanan  mereka  terhadap  HIV/AIDS.  Serupa  dengan  hal  tersebut,  kegagalan  memberikan  informasi  yang  benar  mengenai  HIV/AIDS  atau  menyediakan  layanan  dan  dukungan  yang  memadai  akan  menyulut  persebaran  epidemik  AIDS  lebih  luas.  Elemen‐elemen  tersebut  adalah  komponen  penting  sebagai respon terhadap HIV/AIDS, dan akan terhalangi ketika hak asasi tidak dihormati.     Bagaimana pendekatan HAM terhadap HIV/AIDS?     Ketika individu dan komunitas dapat mewujudkan pemenuhan hak asasi mereka – misal hak atas pendidikan, kebebasan  berkumpul, informasi dan yang terpenting non‐diskriminasi – dampak terhadap personal dan sosial ke masyarakat dari  HIV/AIDS  akan  berkurang.  Di  lingkungan  yang  terbuka  dan  mendukung  ODHA,  di  mana  mereka  terlindungi  dari  diskriminasi,  ODHA  diperlakukan  secara  setara  dan  bermartarbat,  dapat  mengakses  layanan  pengobatan,  perawatan 
  9. 9. HdH | 8 dan  dukungan  tanpa  stigma,  di  mana  AIDS  di‐destigmatisasi,  individu  akan  lebih  terdorong  untuk  dapat  memeriksa  kesehatan mereka dan menguji status HIV mereka. Pada akhirnya, ODHA dapat menghadapi penyakitnya secara lebih  baik dan efektif, dengan mencari dan menerima pengobatan dan perawatan medis dan psikis, dan dengan mengambil  langkah‐langkah  yang  tepat  guna  mencegah  penyebaran  HIV  terhadap  orang  lain,  sehingga  mengurangi  dampak  HIV/AIDS bagi diri mereka sendiri dan orang lain di masyarakat.     Perlindungan dan pemajuan hak asasi oleh karenanya menjadi penting dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV dan  mensiasati  dampat  epidemik  HIV/AIDS  secara  sosial  dan  ekonomi.  Alasan‐alasannya  dapat  diklasifikasikan  ke  dalam  3  (tiga)  lapis.  Pertama,  perlindungan  dan  pemajuan  HAM  mengurangi  kerentanan  seseorang  terhadap  HIV  dengan  menyasar pada akar permasalahan. Kedua, dampak yang buruk tersebut bagi ODHA dan OHIDA dengan sendirinya akan  berkurang.  Ketiga,  individu  dan  komunitas  memiliki  tanggung  jawab  lebih  besar  untuk  merespons  terhadap  bahaya  epidemi HIV/AIDS. Respons internasional yang efektif terhadap penyakit tersebut oleh karenanya harus didasarkan pada  penghormatan  terhadap  hak  asasi  di  bidang  sipil,  politik,  ekonomi,  sosial  dan  budaya,  serta  hak  atas  pembangunan,  yang semuanya harus selaras dengan standar, norma dan prinsip HAM yang berlaku internasional.     Tanggungjawab negara untuk memajukan dan melindungi hak asasi yang berkaitan erat dengan HIV/AIDS telah banyak  didefinisikan  dalam  hukum  internasional.  Hak  asasi  yang  bertalian  dengan  HIV/AIDS  termasuk  hak  untuk  hidup;  hak  untuk  kebebasan  dan  keamanan  diri;  hak  atas  kesehatan;  hak  untuk  bebas  dari  diskriminasi;  perlindungan  dan  kesamaan  di  hadapan  hukum;  kebebasan  berkumpul;  hak  untuk  mendapatkan  status  sebagai  pengungsi;  hak  atas  privasi; kebebasan berekspresi; hak untuk membentuk keluarga; hak atas jaminan sosial; dampingan dan kesejahteraan;  hak  untuk  memperoleh  informasi  mengenai  pemajuan  ilmu  pengetahuan  dan  manfaatnya;  hak  untuk  berpartisipasi  dalam kehidupan publik; dan hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya.     Disarikan dan diterjemahkan dari website Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. (RG).                                                             
  10. 10. HdH | 9 Suara Komunitas     LBH  Masyarakat  bertanya:  Apa  yang  dapat  dilakukan  oleh  pemudi‐pemuda  dalam  rangka  menegakkan  hukum  dan  HAM di Indonesia?    Kiefa Syakila Sumbar  “Jangan main hakim sendiri.”    Reva  “Kita harus mengerti peraturan undang‐undang di Indonesia. Cari kerja yang baik dan halal?? Hehehe..”    Karina Oya  “Menurut saya hukum dan HAM di Indonesia masih kurang karena kenapa? Yang saya lihat selaku orang/ rakyat kecilah yang  selalu tertindas dan terkucilkan. Dan saya sebagai waria ingin disamaratakan dengan masyarakat umumnya dalam keadilan.”    Ma Iyus  “Penegakan kepada waria, lebih diperhatikan waria. Terimakasih.”    Rendi  “Aku ingin kaum waria dihormati, dihargai karena waria bukan sampah. Waria juga manusia.”    Inayah  “Adanya perlindungan diri dari tindakan kekerasan yang biasa terjadi di jalan, dan memiliki pembelaan yang bisa membantu  kesulitan yang kita alami.”    Tina  “Menurut saya hukum dan HAM memang sepantasnya didirikan di negara ini, karena meskipun ada hukum setau saya tetap  ada yang namanya main hakin sendiri. Untuk membela diri walau kita punya HAM bagaimana dengan orang kecil sedangkan  orang  yang  bersangkutan  lebih  berwenang  atau  bisa  nyogok  kasarnya.  Bukan  hanya  pemudi  tapi  masyarakat  juga  harus  berpartisipasi dalam hukum dan HAM.”    Daniela  “Jika kita melihat seseorang/teman yang lagi dicaci maki/dianiaya seharusnya kita menjadi penengah agar tidak kejadian yang  lebih fatal. Karena hukum bisa kita tegakkan dengan adanya saling menghargai.”    Alda  “Menurut hukum berlaku pada siapa atau pada orang miskin yang tidak mampu. Membela orang miskin itu sangat penting.”    Dita Zivana  “Menurut saya yang dapat dilakukan oleh pemuda/pemudi dalam menegakkan hukum dan HAM dapat kita terapkan dalam  hal‐hal  kecil  dalam  kehidupan  sehari‐hari,  contohnya:  Apabila  kita  melihat  salah  satu  teman  kita  dihina  atau  dianiaya  sebaiknya  kita  sebagai  pemuda/pemudi  tidak  dengan  menggunakan  emosional  kita  dalam  menyelesaikan  masalah.  Seharusnya  kita  berusaha  menjadi  penengah  dalam  menyelesaikan  masalah.  Saran  saya  adalah  agar  hukum  dan  HAM  di  Indonesia dapat ditegakkan dengan cara kita saling menghargai dan menyayangi sesama dan juga mempunyai rasa kesadaran  untuk patuh dan menjalankan hukum dengan jujur dan adil.”    Usep  “Menurut  saya  penegakan  HAM,  intinya  ada  pada  pemerintah.  Bagaimana  produk  dan  penegakkan  hukum  akan  menjamin  pada  penghargaan  dan  pemenuhan  HAM  pada  setiap  warga  negara.  Para  pemuda  dapat  berperan  sesuai  dengan  posisi  mereka pada saat ini misalkan mahasiswa dapat melakukan kajian dan kritikan terhadap penghargaan dan pemenuhan HAM  pada saat ini dan ke depan, sekaligus mempersiapkan diri untuk mampu berperan dalam pemenuhan dan penegakan HAM itu  sendiri  secara  profesi  atau  pun  sebagai  masyarakat.  Sebagai  bagian  dari  masyarakat  pemuda  dituntut  untuk  mampu  mempraktekkan penghargaan terhadap HAM dan mendorong pemenuhan atau pun penegakan HAM di masyarakat, saat di  keseharian atau pun terlibat dalam organisasi/gerakan yang memiliki misi untuk mendorong pemenuhan dan penegakan HAM  di masyarakat.”   
  11. 11. HdH | 10 Galeria                                                                                                           Suasana  penyuluhan  hukum  mengenai  Upaya  Paksa  yang  diadakan  di  Komunitas  Blora, Kamis, 21 Oktober 2010.  
  12. 12. HdH | 11 Tentang LBH Masyarakat     Berangkat  dari  ide  bahwa  setiap  anggota  masyarakat  memiliki  potensi  untuk  turut  berpartisipasi  aktif  mewujudkan  negara  hukum  yang  demokratis,  sekelompok  Advokat,  aktivis  Hak  Asasi  Manusia  (HAM)  dan  demokrasi  mendirikan  sebuah  organisisasi  masyarakat  sipil  nirlaba  bernama  Perkumpulan  Lembaga  Bantuan  Hukum  Masyarakat  (LBH  Masyarakat).     Visi LBH Masyarakat adalah terwujudnya partisipasi aktif dan solidaritas masyarakat dalam melakukan pembelaan dan  bantuan  hukum,  penegakan  keadilan  serta  pemenuhan  HAM.  Sementara  misinya  adalah  mengembangkan  potensi  hukum yang dimiliki oleh masyarakat untuk secara mandiri dapat melakukan gerakan bantuan hukum serta penyadaran  hak‐hak warga negara, dari dan untuk masyakarat.    Secara ringkas, visi dan misi LBH Masyarakat diimplementasikan melalui tiga program kerja utama, yakni:  (1)  Pemberdayaan  hukum  masyarakat  melalui  pendidikan  hukum,  penyadaran  hak‐hak  masyarakat,  pemberian  informasi mengenai hukum dan hak‐hak masyarakat serta pelatihan‐pelatihan bantuan hukum bagi masyarakat;   (2) Advokasi kasus dan kebijakan publik;   (3) Penelitian permasalahan publik dan kampanye hak asasi manusia baik di tingkat nasional maupun internasional.                                   

×