Your SlideShare is downloading. ×
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Bab i pendahuluan lentur
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab i pendahuluan lentur

1,207

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,207
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Struktur Beton I - LENTURBAB 1. PENDAHULUAN1.1 BETONBeton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yanglain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa tambahanyang membentuk massa padat. Berdasarkan jenis agregat yangdigunakan, beton dibedakan menjadi beton normal dan beton ringan.Beton normal adalah beton yang memiliki berat satuan 2200 kg/m³ sampaidengan 2500 kg/m³, agregat yang digunakan adalah agregat alam yangdipecah atau tanpa dipecah. Beton ringan memiliki berat satuan kurangdari 1900 kg/m³ dengan agregat ringan.Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, danbeton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanyaberkisar 9% – 15% saja dari kuat tekannya (Dipohusodo, 1996).Dengan nilai kuat tekan relatif tinggi, beton merupakan bahan konstruksiyang kuat dalam menahan gaya tekan namun tidak kuat untuk menahangaya tarik, sehingga dalam penggunaannya sebagai komponen strukturbangunan, umumnya beton diperkuat dengan baja tulangan yangberfungsi untuk menahan gaya tarik. Dengan demikian terbentuklah suatu 1
  • 2. Struktur Beton I - LENTURkomponen struktur yang disebut beton bertulang, yang didefinisikan dalamSNI 03 – 2847 – 2002 sebagai beton yang ditulangi dengan luas danjumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yang disyaratkandengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsibahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yangbekerja.Secara sederhana dapat dikatakan bahwa beton bertulang adalahgabungan dari dua jenis bahan yaitu beton yang memiliki kuat tekan tinggitetapi kuat tarik rendah dengan baja tulangan yang dapat memberikankuat tarik yang diperlukan. Kedua bahan tersebut bekerja sama dimanabaja tulangan bertugas memperkuat dan menahan gaya tarik, sedangbeton hanya diperhitungkan untuk menahan gaya tekan.1.2 SEMENSemen yang digunakan untuk bahan beton adalah Semen Portland,berupa semen hidrolik yang berfungsi sebagai bahan perekat bahansusun beton. Jenis semen tersebut memerlukan air untuk berlangsungnyareaksi kimiawi dalam proses hidrasi. Pada proses hidrasi, semenmengeras dan mengikat bahan susun beton membentuk massa padat. 2
  • 3. Struktur Beton I - LENTURMenurut SNI 03 – 2847 – 2002 , semen harus memenuhi salah satuketentuan berikut : 1. SNI 15 – 20049 – 1994, Semen Portland. 2. ”Spesifikasi semen blended hidrolis” (ASTM C 595), kecuali tipe S dan SA yang tidak diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama struktur beton. 3. ”Spesifikasi semen hidrolis ekspansif” (ASTM C 845).1.3 AIRAir yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas daribahan-bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam,bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap betonatau tulangan. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang ataupada beton yang di dalamnya tertanam logam alumunium, termasuk airbebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ionklorida dalam jumlah yang membahayakan (SNI 03 – 2847 – 2002).Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecualiketentuan berikut terpenuhi : 3
  • 4. Struktur Beton I - LENTUR 1. Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. 2. Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, kecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan ”Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” ASTM C 109.1.4 AGREGATAgregat terbagi atas agregat halus dan agregat kasar. Agregat halusumumnya terdiri dari pasir atau partikel-partikel yang lewat saringan # 4atau 5 mm, sedangkan agregat kasar tidak lewat saringan tersebut.Ukuran maksimum agregat kasar dalam struktur beton diatur dalamperaturan, dengan tujuan agar agregat dapat masuk atau lewat di sela-sela tulangan. Agregat yang digunakan harus memenuhi standar”Spesifikasi agregat untuk beton” ASTM C 33 dan SNI 03 – 2461 – 1991”Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur” . 4
  • 5. Struktur Beton I - LENTURUmumnya berat agregat dalam adukan beton berkisar 70% – 75% dariberat total beton. Untuk mencapai kuat tekan yang baik perlu diperhatikankepadatan dan kekerasan massa agregat. Selain itu perlu susunangradasi butiran agregat yang baik. Ukuran maksimum nominal agregatkasar tidak boleh melebihi : 1. 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, 2. 1/3 ketebalan pelat lantai, 3. 3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat- kawat, bundel tulangan, atau tendon-tendon prategang atau selongsong-selongsong.1.5 RASIO AIR – SEMENRasio air-semen yang disyaratkan pada Tabel 1 dan Tabel 2 harusdihitung menggunakan berat semen, sesuai dengan ASTM C 150, ASTMC 595 M atau ASTM C 845, ditambah dengan berat abu terbang danbahan pozzolan sesuai ASTM 618, kerak sesuai ASTM C 898, dan silicafume sesuai ASTM C 1240, bilamana digunakan. 5
  • 6. Struktur Beton I - LENTURBeton yang akan mengalami penngaruh lingkungan seperti yang diberikanpada Tabel 1 harus memenuhi rasio air-semen dan persyaratan kuattekan karakteristik beton yang ditetapkan pada tabel tersebut : Tabel 1.1 Persyaratan untuk pengaruh lingkungan khusus Rasio air – 2 f’ c minimum Kondisi Lingkungan semen 1 MPa Maksimum Beton dengan permeabilitas rendah 0,50 28 Yang terkena pengaruh lingkungan air Untuk perlindungan tulangan terhadap korosi pada beton yang terpengaruh 0,40 35 lingkungan yang mengandung klorida dari garam, atau air laut CATATAN 1. Dihitung terhadap berat dan berlaku untuk beton normal 2. Untuk beton berat normal dan beton berat ringanBeton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat yangterdapat dalam larutan atau tanah harus memenuhi persyaratan padaTabel 2, atau harus terbuat dari semen tahan sulfat dan mempunyai rasioair-semen maksimum dan kuat tekan minimum sesuai dengan Tabel 2.Kalsium klorida sebagai bahan tambahan tidak boleh digunakan padabeton yang dipengaruhi oleh lingkungan sulfat yang bersifat berat hinggasangat berat, seperti ditetapkan pada Tabel 2. 6
  • 7. Struktur Beton I - LENTUR Tabel 1.2 Persyaratan untuk beton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat Sulfat (SO4) Sulfat f’ c min dalam tanah Rasio air- (SO4) (beton yang dapat semen Papara dalam air berat larut dalam Jenis maksimum n lingk. normal dan air semen dalam berat Sulfat Mikron ringan) (beton berat gram persen thd normal) Per gram MPa berat Ringan 0,00 – 0,10 0 – 150 - - - II,IP(MS), IS(MS), Sedang 0,10 – 0,20 150 – 1500 0,50 28 I(PM)(MS), I(SM)(MS)* 1500 – Berat 0,20 – 2,00 V 0,45 31 10000 Sangat V+ > 2,00 > 10000 0,45 31 Berat pozzolanCATATAN :Semen campuran sesuai ketentuan ASTM C 5951.6 BAJA TULANGANBaja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir, kecuali baja polosdiperkenankan untuk tulangan spiral atau tendon. Tulangan yang terdiridari profil baja struktural, pipa baja, atau tabung baja dapat digunakansesuai persyaratan pada tata cara ini (SNI 03 – 2847 – 2002). 7
  • 8. Struktur Beton I - LENTURAgar terjadi lekatan erat antara baja tulangan dengan beton, selain batangpolos berpenampang bulat (BJTP) juga digunakan batang deformasian(BJTD), yaitu batang tulangan baja yang permukaannya dikasarkansecara khusus, diberi sirip teratur dengan pola tertentu, atau batangtulangan yang dipilin pada proses produksinya. Pola permukaan yangdikasarkan atau pola sirip sangat beragam tergantung pada mesincetaknya. Baja tulangan polos (BJTP) hanya digunakan untuk tulanganpengikat sengkang atau spiral, umumnya diberi kait pada ujungnya. Gambar 1.1 Diagram Tegangan-Regangan Baja TulanganSifat fisik batang tulangan baja yang paling penting untuk digunakandalam perhitungan perencanaan beton bertulang adalah tegangan luluh 8
  • 9. Struktur Beton I - LENTUR(fy) dan modulus elastisitas (Es). Suatu diagram hubungan tegangan –regangan untuk batang baja tulangan dapat dilihat pada Gambar 1.1.Tegangan luluh (titik luluh) baja ditentukan melalui prosedur pengujianstandar sesuai SII 0136-84 dengan ketentuan bahwa tegangan luluhadalah tegangan baja pada saat meningkatnya tegangan tidak disertaidengan peningkatan regangannya. Di dalam perencanaan atau analisisbeton bertulang umumnya nilai tegangan luluh baja tulangan diketahuiatau ditentukan pada awal perhitungan.Modulus elastisitas baja tulangan ditentukan berdasarkan kemiringan awalkurva tegangan-regangan di daerah elastis dimana antara mutu baja yangsatu dengan yang lainnya tidak banyak bervariasi. Ketentuan SNI 03 –2847 – 2002 menetapkan bahwa nilai modulus elastisitas untuk tendonprategang harus dibuktikan dan ditentukan melalui pengujian atau dipasokoleh pabrik produsen. Umumnya untuk tendon prategang nilai moduluselastisitasnya lebih rendah, sesuai dengan ketetapan ASTM A416biasanya dipakai nilai 186.000 MPa.ASTM menggolongkan batang tulangan baja dengan memberikan nomor,dari # 3 sampai dengan # 18 sesuai dengan spesifikasi diameter, luaspenampang dan berat tiap satuan panjang seperti yang terlihat padaTabel 1.3 berikut ini. 9
  • 10. Struktur Beton I - LENTUR Tabel 1.3 Standar batang baja tulangan ASTM Berat Nomor Diameter Nominal Luas Nominal Nominal Batang Inch Mm inch² Mm² kg/m #3 0,375 9,50 0,110 71 0,559 #4 0,500 12,7 0,200 129 0,994 #5 0,625 15,9 0,310 200 1,552 #6 0,750 19,1 0,440 284 2,235 #7 0,875 22,2 0,600 387 3,041 #8 1,000 25,4 0,790 510 3,973 #9 1,128 28,7 1,000 645 5,059 # 10 1,270 32,3 1,270 819 6,403 # 11 1,410 35,8 1,560 1006 7,906 # 14 1,693 43,0 2,250 1452 11,380 # 18 2,257 57,3 4,000 2581 20,240 Tabel 1.4 Jenis dan kelas batang baja tulangan sesuai SII 0136-80 JENIS KELA SIMBOL BATAS ULUR KUAT TARIK 10
  • 11. Struktur Beton I - LENTUR MINIMUM MINIMUM S N/mm² N/mm² Kgf/mm² Kgf/mm² POLOS 1 BJTP 24 235 382 (24) (39) 2 BJTP 30 294 480 (30) (49) DEFORM 1 BJTD 24 235 382 (24) (39) 2 BJTD 30 294 480 (30) (49) 3 BJTD 35 343 490 (35) (50) 4 BJTD 40 392 559 (40) (57) 5 BJTD 50 490 61 (50) (63)1.7 KUAT TEKAN BETONBeton mempunyai nilai kuat tekan yang relatif tinggi dan nilai kuat tarikrelatif rendah, sehingga diperhitungkan beton hanya bekerja dengan baikdi daerah tekan pada penampangnya, dan hubungan tegangan-reganganyang timbul karena pengaruh gaya tekan tersebut digunakan sebagaidasar pertimbangan. Kuat tekan beton diwakili oleh tegangan tekanmaksimum f’c dengan satuan N/m’ atau MPa (Mega Pascal). Kuat tekan 11
  • 12. Struktur Beton I - LENTURbeton umur 28 hari umumnya berkisar 10 – 65 MPa. Kuat tekan betonuntuk macam-macam struktur beton dapat dilihat pada Tabel 1.5 berikut. Tabel 1.5 Kuat tekan beton untuk struktur beton KUAT TEKAN JENIS (MPa)Beton bertulang 17 – 30Beton prategang 30 – 45Beton mutu tinggi (ready mix) > 45Sumber : Dipohusodo, 1996Nilai kuat tekan beton didapat melalui pengujian standar ASTM C39-86,kuat tekan ditentukan oleh tegangan tekan tekan tertinggi (f’ c) pada bendauji silinder beton yang berumur 28 hari. Dengan demikian f’ c bukantegangan yang timbul pada saat benda uji hancur melainkan teganganyang timbul pada saat regangan beton (εc) mencapai nilai ±0,002.Dengan mengamati bermacam kurva tegangan-regangan kuat beton yangberbeda, tampak bahwa pada umumnya kuat tekan maksimum tercapaipada saat nilai satuan regangan tekan εc’ mencapai ±0,002. Selanjutnyanilai tegangan f’c akan turun dengan bertambahnya nilai regangan sampaibenda uji hancur pada nilai εc’ mencapai 0,003-0,005. Beton dengan kuattekan tinggi lebih getas akan hancur pada nilai regangan maksimum yanglebih rendah daripada beton dengan kuat tekan rendah. Pada SNI 03 –2847 – 2002 pasal 3.3.2 menetapkan bahwa regangan kerja maksimum 12
  • 13. Struktur Beton I - LENTURyang diperhitungkan di serat tepi beton tekan terluar adalah 0,003 sebagaibatas hancur.Sesuai SNI 03 – 2847 – 2002 pasal 3.1.5 digunakan rumus nilaimodulus elastisitas beton sebagai berikut : 1,50 Ec = 0,043 wc √f’cDimana,Ec = modulus elastisitas beton tekan, MPa 3wc = berat isi beton, kg/mf’c = kuat tekan beton, MPaRumus empiris tersebut hanya berlaku untuk beton yang berat isinya 3berkisar antara 1500 sampai dengan 2500 kg/m . Untuk beton dengan 3kepadatan normal dengan berat isi 2300 kg/m dapat digunakan nilai Ecsebesar Ec = 4700 √f’c.1.8 KUAT TARIK BETONNilai kuat tarik beton normal hanya berkisar antara 9% - 15% dari nilaikuat tekannya. Untuk mengukur nilai kuat tarik beton, biasanya dilakukandengan menggunakan Modulus of Rupture, yaitu tegangan tarik lentur 13
  • 14. Struktur Beton I - LENTURbeton yang timbul pada pengujian hancur balok beton polos (tanpatulangan), sebagai pengukur kuat tarik sesuai teori elastisitas.Pengujian yang lain adalah Pengujian Split Silinder yang memberikanhasil lebih baik dan mencerminkan kuat tarik yang sebenarnya. Nilaipendekatan yang diperoleh mencapai kekuatan 0,50 – 0,60 kali √f’c,sehingga untuk beton normal diperoleh nilai 0,57 √f’c. Pengujian tersebutmenggunakan benda uji silinder beton berdiameter 150 mm denganpanjang 300 mm, diuji tarik belah. Tegangan yang timbul sewaktu bendauji terbelah tersebut disebut split cylinder strength, diperhitungkan sebagaiberikut : 2P ft = π LDDimana : 2ft = kuat tarik belah, N/mP = beban pada waktu belah, NL = panjang benda uji silinder, mD = diameter benda uji silinder, m1.9 SIFAT RANGKAK DAN SUSUT 14
  • 15. Struktur Beton I - LENTURPada beton yang sedang menerima beban, akan terjadi suatu hubungantegangan dan regangan yang merupakan fungsi dari waktu pembebanan.Beton menunjukkan sifat elastis murni hanya pada saat menahan bebandalam waktu yang singkat. Sedangkan pada beban dalam waktu yangtidak singkat, selain mengalami tegangan dan regangan akibat beban,juga mengalami deformasi rangkak (creep) yaitu peningkatan regangansesuai jangka waktu pembebanan.Rangkak adalah sifat dimana beton mengalami perubahan bentuk(deformasi) permanen akibat beban tetap yang bekerja padanya. Rangkakyang timbul intensitasnya akan makin berkurang untuk selang waktutertentu dan kemungkinan akan berakhir setelah beberapa tahun. Padaumumnya beton mutu tinggi mempunyai nilai rangkak yang lebih kecildibandingkan dengan beton yang mempunyai mutu lebih rendah.Besarnya deformasi rangkak sebanding dengan beban yang ditahan danjuga jangka waktu pembebanan. Pada umumnya rangkak tidakmengakibatkan dampak langsung terhadap kekuatan struktur namunmengakibatkan timbulnya redistribusi tegangan pada beban kerja danmengakibatkan terjadinya peningkatan lendutan (defleksi). 15
  • 16. Struktur Beton I - LENTURPada umumnya proses rangkak selalu dihubungkan dengan susut karenakeduanya terjadi bersamaan dan seringkali memberikan pengaruh yangsama, ialah deformasi yang bertambah sesuai dengan berjalannya waktu.Faktor-faktor yang yang mempengaruhi besarnya rangkak adalah : 1. sifat bahan dasar 2. faktor air semen, rasio air terhadap jumlah semen 3. suhu saat proses pengerasan 4. umur beton pada saat beban bekerja 5. lama pembebanan 6. nilai tegangan 7. nilai banding luas permukaan dan volume komponen struktur 8. nilai slumpSusut didefinisikan sebagai perubahan volume yang tidak berhubungandengan beban. Pada umumnya faktor-faktor yang mempengaruhiterjadinya rangkak juga mempengaruhi susut, khususnya pada faktor-faktor yang berhubungan dengan hilangnya kelembaban. Proses susutpada beton apabila dihalangi secara tidak merata, misalnya olehpenulangan, akan menimbulkan deformasi yang umumnya bersifatmenambah deformasi rangkak. Maka dari itu diperlukan perhitungan danpengendalian untuk membatasi proses susut tersebut. 16
  • 17. Struktur Beton I - LENTUR1.10 PELINDUNG BETON UNTUK TULANGANUntuk beton bertulang, tebal selimut beton minimum yang harusdisediakan untuk tulangan harus memenuhi ketentuan berikut : Tabel 1.6 Tebal selimut beton minimum Tebal Selimut MinimumNo. Kondisi (mm) a. Beton yang dicor langsung di atas tanah dan selalu berhubungan dengan 75 tanah b. Beton yang berhubungan dengan tanah atau cuaca : Batang D 19 hingga D 56 50 Batang D 16, jaring kawat polos P 16 Atau kawat ulir D 16 dan yang lebih kecil 40 c. Beton yang tidak langsung berhubungan dengan cuaca atau beton tidak langsung berhubungan dengan tanah : Pelat, dinding, pelat berusuk 40 Batang D 44 dan D 56 20 Batang D36 dan yang lebih kecil Balok, kolom 40 Tulangan utama, pengikat, sengkang, lilitan spiral Komponen struktur cangkang dan pelat lipat 20 Batang D 19 atau lebih besar Batang D 16, jaring kawat polos P 16 15 Atau kawat ulir D 16 dan yang lebih kecilSumber : SNI 03 – 2847 - 2002 17
  • 18. Struktur Beton I - LENTUR BAB 2. METODE PERENCANAAN DAN PROVISI KEAMANANUMUM Perencanaan elemen struktur beton dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak timbul retak berlebihan pada penampang sewaktu mendukung beban kerja, dan masih mempunyai cukup keamanan serta cadangan kekuatan untuk menahan beban dan tegangan lebih lanjut tanpa mengalami keruntuhan. Timbulnya tegangan-tegangan lentur akibat struktur. Pada Peraturan Beton Indonesia 1971 (PBI-1971) metode perencanaan dan analisis didasarkan pada Metode Tegangan Kerja (Working Stress Method), sementara di SNI 03 – 2847 – 2002 metode perencanaan dan analisis didasarkan pada Metode Kekuatan (Ultimated Strenght Method). 18
  • 19. Struktur Beton I - LENTUR Beberapa istilah yang digunakan dalam pembahasan metode perencanaan dan analisis adalah sebagai berikut; Kuat nominal kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi metode perencanaan sebelum dikalikan dengan nilai faktor reduksi kekuatan yang sesuai. Kuat perlu Kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang diperlukan untuk menahan beban berfaktor atau momen atau gaya dalam yang berkaitan dengan beban tersebut dalam suatu kombinasi seperti yang ditetapkan dalam peraturan. Kuat rencana Kuat nominal dikalikan dengan suatu faktor reduksi kekuatan φMETODE TEGANGAN KERJA Di dalam metode tegangan kerja, untuk struktur direncanakan sedemikian sehingga tegangan-tegangan yang timbul akibat beban kerja dan yang dihitung secara mekanika dari unsur-unsur yang elastis, yang tidak melampaui dengan tegangan-tegangan yang diijinkan yang ditetapkan lebih dahulu. Beban kerja adalah beban-beban yang berasal dari beban mati, beban hidup, beban angin dan beban gempa, yang dimisalkan benar-benar terjadi sewaktu masa kerja dari struktur. 19
  • 20. Struktur Beton I - LENTUR Metode tegangan kerja ini secara matematis dapat dinyatakan : σ≤σ σ = tegangan timbul yang dihitung secara elastis σ = tegangan yang diijinkan yang ditetapkan menurut peraturan, sebagai suatu prosentase dari kekuatan tekan f’ c beton dan tegangan leleh fy baja tulanganMETODE KEKUATAN Di dalam metode ini beban kerja diperbesar, dikalikan suatu faktor beban dengan maksud untuk memperhitungkan terjadinya beban pada saat keruntuhan sudah di ambang pintu. Kemudian dengan menggunakan beban kerja yang telah diperbesar (beban berfaktor) tersebut, struktur direncanakan sedemikian sehingga diperoleh nilai kuat guna pada saat runtuh yang besarnya kira-kira sedikit lebih kecil dari kuat batas runtuh yang sesungguhnya. Kekuatan pada saat runtuh inilah yang dinamakan kuat ultimit dan beban yang bekerja pada atau dekat dengan saat runtuh dinamakan beban ultimit. Kuat rencana penampang komponen struktur didapatkan melalui perkalian kuat teoritis atau kuat nominal dengan faktor kapasitas, yang dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan 20
  • 21. Struktur Beton I - LENTUR buruk yang berkaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja, ukuran- ukuran dan pengendalian mutu pekerjaan pada umumnya. Kuat teoritis atau kuat nominal diperoleh berdasarkan keseimbangan statis dan kesesuaian tegangan regangan-tegangan yang tidak linear di dalam penampang elemen tertentu.PROVISI KEAMANAN DAN PEMBEBANAN Struktur atau elemen-elemennya harus direncanakan untuk memiliki cadangan kekuatan untuk dapat menerima beban yang lebih tinggi dari beban normal. Kapasitas cadangan ini digolongkan dalam dua kategori yaitu faktor pembebanan yang memperhitungkan pelampauan beban, dan faktor reduksi kekuatan , yang memperhitungkan kemungkinan buruk yang berkaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja, ukuran- ukuran dan pengendalian mutu pekerjaan pada umumnya. Di dalam metode kekuatan, lazimnya digunakan istilah faktor beban untuk membedakan dengan faktor keamanan di dalam faktor tegangan kerja. Pada SNI 03 – 2847 – 2002 dibedakan dua faktor yaitu faktor kuat perlu U untuk beban dan faktor φ untuk reduksi kekuatan. Faktor kuat 21
  • 22. Struktur Beton I - LENTURperlu U sesuai dengan Pasal 11.2 SNI 03 – 2847 – 2002 , dapat dilihatpada tabel di bawah ini. Tabel 2.1 Kuat perlu U Kuat PerluNo. Kombinasi Beban (U) D 1,4 D 1. D, L, A atau R 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) D, L, W, A atau R 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 W + 0,5 (A atau R) 2. D, W 0,9 D ± 1,6 W D, L, E 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 E 3. D, E 0,9 D ± 1,0 E D, L, A atau R, H 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) ± 1,6 H 4. D, W, H 0,9 D ± 1,6 H D, E, H 0,9 D ± 1,6 H D, F U = 1,4 (D + F) 5. D, L, A atau R, F 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) + 1,2 F 6. Kejut harus disertakan pada L 22
  • 23. Struktur Beton I - LENTUR 7. T 1,2 (D – T) + 1,6 L + 0,5 (A atau R) 8. P dikalikan 1,2Keterangan :D = beban matiL = beban hidupA = beban atapR = beban hujanW = beban anginE = beban gempaH = tekanan tanahF = tekanan fluidaT = pengaruh struktural dari penurunan fondasi, rangkak, susut, ekspansi beton atau perubahan suhu. Tabel 2.2 Faktor reduksi kekuatan φ Faktor Reduksi KekuatanNo. Kondisi Gaya φ 1. Lentur, tanpa beban aksial 0,80 Beban aksial, dan beban aksial dengan 2. lentur a. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur 0,80 b. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur Komponen struktur dengan tulangan spiral 0,70 Komponen struktur lainnya 0,65 23

×