Struktur Beton I - LENTURBAB 1.        PENDAHULUAN1.1 BETONBeton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrauli...
Struktur Beton I - LENTURSecara sederhana dapat dikatakan bahwa beton bertulang adalahgabungan dari dua jenis bahan yaitu ...
Struktur Beton I - LENTURbebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ionklorida dalam jumlah yang membahay...
Struktur Beton I - LENTURbutiran agregat yang baik. Ukuran maksimum nominal agregat kasar tidakboleh melebihi :   1. 1/5 j...
Struktur Beton I - LENTURBeton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat yangterdapat dalam larutan atau tan...
Struktur Beton I - LENTURAgar terjadi lekatan erat antara baja tulangan dengan beton, selainbatang polos berpenampang bula...
Struktur Beton I - LENTURModulus elastisitas baja tulangan ditentukan berdasarkan kemiringan awalkurva tegangan-regangan d...
Struktur Beton I - LENTUR          Tabel 1.4 Jenis dan kelas batang baja tulangan                        sesuai SII 0136-8...
Struktur Beton I - LENTURSumber : Dipohusodo, 1996Nilai kuat tekan beton didapat melalui pengujian standar ASTM C39-86,kua...
Struktur Beton I - LENTUR1.8 KUAT TARIK BETONNilai kuat tarik beton normal hanya berkisar antara 9% - 15% dari nilaikuat t...
Struktur Beton I - LENTURBeton menunjukkan sifat elastis murni hanya pada saat menahan bebandalam waktu yang singkat. Seda...
Struktur Beton I - LENTURSusut didefinisikan sebagai perubahan volume yang tidak berhubungandengan beban. Pada        umum...
Struktur Beton I - LENTUR       BAB 2. METODE PERENCANAAN DAN              PROVISI KEAMANANUMUM       Perencanaan elemen s...
Struktur Beton I - LENTURMETODE TEGANGAN KERJA      Di dalam metode tegangan kerja, untuk struktur direncanakan sedemikian...
Struktur Beton I - LENTUR      buruk yang berkaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja, ukuran-      ukuran dan peng...
Struktur Beton I - LENTUR                                Tabel 2.1 Kuat perlu U                                           ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab i pendahuluan lentur

2,432 views
2,256 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,432
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
81
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab i pendahuluan lentur

  1. 1. Struktur Beton I - LENTURBAB 1. PENDAHULUAN1.1 BETONBeton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yanglain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa tambahanyang membentuk massa padat. Berdasarkan jenis agregat yangdigunakan, beton dibedakan menjadi beton normal dan beton ringan.Beton normal adalah beton yang memiliki berat satuan 2200 kg/m³sampai dengan 2500 kg/m³, agregat yang digunakan adalah agregat alamyang dipecah atau tanpa dipecah. Beton ringan memiliki berat satuankurang dari 1900 kg/m³ dengan agregat ringan.Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya,dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanyaberkisar 9% – 15% saja dari kuat tekannya (Dipohusodo, 1996).Dengan nilai kuat tekan relatif tinggi, beton merupakan bahan konstruksiyang kuat dalam menahan gaya tekan namun tidak kuat untuk menahangaya tarik, sehingga dalam penggunaannya sebagai komponen strukturbangunan, umumnya beton diperkuat dengan baja tulangan yangberfungsi untuk menahan gaya tarik. Dengan demikian terbentuklah suatukomponen struktur yang disebut beton bertulang, yang didefinisikandalam SNI 03 – 2847 – 2002 sebagai beton yang ditulangi dengan luasdan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yangdisyaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkanasumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahangaya yang bekerja. 1
  2. 2. Struktur Beton I - LENTURSecara sederhana dapat dikatakan bahwa beton bertulang adalahgabungan dari dua jenis bahan yaitu beton yang memiliki kuat tekantinggi tetapi kuat tarik rendah dengan baja tulangan yang dapatmemberikan kuat tarik yang diperlukan. Kedua bahan tersebut bekerjasama dimana baja tulangan bertugas memperkuat dan menahan gayatarik, sedang beton hanya diperhitungkan untuk menahan gaya tekan.1.2 SEMENSemen yang digunakan untuk bahan beton adalah Semen Portland,berupa semen hidrolik yang berfungsi sebagai bahan perekat bahan susunbeton. Jenis semen tersebut memerlukan air untuk berlangsungnya reaksikimiawi dalam proses hidrasi. Pada proses hidrasi, semen mengeras danmengikat bahan susun beton membentuk massa padat.Menurut SNI 03 – 2847 – 2002, semen harus memenuhi salah satuketentuan berikut : 1. SNI 15 – 20049 – 1994, Semen Portland. 2. ”Spesifikasi semen blended hidrolis” (ASTM C 595), kecuali tipe S dan SA yang tidak diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama struktur beton. 3. ”Spesifikasi semen hidrolis ekspansif” (ASTM C 845).1.3 AIRAir yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas daribahan-bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam,bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap betonatau tulangan. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang ataupada beton yang di dalamnya tertanam logam alumunium, termasuk air 2
  3. 3. Struktur Beton I - LENTURbebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ionklorida dalam jumlah yang membahayakan (SNI 03 – 2847 – 2002).Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecualiketentuan berikut terpenuhi : 1. Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. 2. Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, kecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan ”Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” ASTM C 109.1.4 AGREGATAgregat terbagi atas agregat halus dan agregat kasar. Agregat halusumumnya terdiri dari pasir atau partikel-partikel yang lewat saringan # 4atau 5 mm, sedangkan agregat kasar tidak lewat saringan tersebut.Ukuran maksimum agregat kasar dalam struktur beton diatur dalamperaturan, dengan tujuan agar agregat dapat masuk atau lewat di sela-sela tulangan. Agregat yang digunakan harus memenuhi standar”Spesifikasi agregat untuk beton” ASTM C 33 dan SNI 03 – 2461 – 1991”Spesifikasi agregat ringan untuk beton struktur”.Umumnya berat agregat dalam adukan beton berkisar 70% – 75% dariberat total beton. Untuk mencapai kuat tekan yang baik perlu diperhatikankepadatan dan kekerasan massa agregat. Selain itu perlu susunan gradasi 3
  4. 4. Struktur Beton I - LENTURbutiran agregat yang baik. Ukuran maksimum nominal agregat kasar tidakboleh melebihi : 1. 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, 2. 1/3 ketebalan pelat lantai, 3. 3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat- kawat, bundel tulangan, atau tendon-tendon prategang atau selongsong-selongsong.1.5 RASIO AIR – SEMENRasio air-semen yang disyaratkan pada Tabel 1 dan Tabel 2 harusdihitung menggunakan berat semen, sesuai dengan ASTM C 150, ASTM C595 M atau ASTM C 845, ditambah dengan berat abu terbang dan bahanpozzolan sesuai ASTM 618, kerak sesuai ASTM C 898, dan silica fumesesuai ASTM C 1240, bilamana digunakan.Beton yang akan mengalami penngaruh lingkungan seperti yang diberikanpada Tabel 1 harus memenuhi rasio air-semen dan persyaratan kuat tekankarakteristik beton yang ditetapkan pada tabel tersebut : Tabel 1.1 Persyaratan untuk pengaruh lingkungan khusus Rasio air – f’c minimum2 Kondisi Lingkungan semen MPa Maksimum1 Beton dengan permeabilitas rendah 0,50 28 Yang terkena pengaruh lingkungan air Untuk perlindungan tulangan terhadap korosi pada beton yang terpengaruh 0,40 35 lingkungan yang mengandung klorida dari garam, atau air laut CATATAN 1. Dihitung terhadap berat dan berlaku untuk beton normal 2. Untuk beton berat normal dan beton berat ringan 4
  5. 5. Struktur Beton I - LENTURBeton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat yangterdapat dalam larutan atau tanah harus memenuhi persyaratan padaTabel 2, atau harus terbuat dari semen tahan sulfat dan mempunyai rasioair-semen maksimum dan kuat tekan minimum sesuai dengan Tabel 2.Kalsium klorida sebagai bahan tambahan tidak boleh digunakan padabeton yang dipengaruhi oleh lingkungan sulfat yang bersifat berat hinggasangat berat, seperti ditetapkan pada Tabel 2. Tabel 1.2 Persyaratan untuk beton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat Sulfat (SO4) Sulfat f’c min Rasio air- dalam tanah (SO4) (beton semen Paparan yang dapat dalam air berat Jenis maksimum lingk. larut dalam air normal dan semen dalam berat Sulfat Mikron ringan) (beton berat persen thd gram normal) berat Per gram MPa Ringan 0,00 – 0,10 0 – 150 - - - II,IP(MS), IS(MS), Sedang 0,10 – 0,20 150 – 1500 0,50 28 I(PM)(MS), I(SM)(MS)* 1500 – Berat 0,20 – 2,00 V 0,45 31 10000 Sangat V+ > 2,00 > 10000 0,45 31 Berat pozzolan CATATAN : Semen campuran sesuai ketentuan ASTM C 5951.6 BAJA TULANGANBaja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir, kecuali baja polosdiperkenankan untuk tulangan spiral atau tendon. Tulangan yang terdiridari profil baja struktural, pipa baja, atau tabung baja dapat digunakansesuai persyaratan pada tata cara ini (SNI 03 – 2847 – 2002). 5
  6. 6. Struktur Beton I - LENTURAgar terjadi lekatan erat antara baja tulangan dengan beton, selainbatang polos berpenampang bulat (BJTP) juga digunakan batangdeformasian (BJTD), yaitu batang tulangan baja yang permukaannyadikasarkan secara khusus, diberi sirip teratur dengan pola tertentu, ataubatang tulangan yang dipilin pada proses produksinya. Pola permukaanyang dikasarkan atau pola sirip sangat beragam tergantung pada mesincetaknya. Baja tulangan polos (BJTP) hanya digunakan untuk tulanganpengikat sengkang atau spiral, umumnya diberi kait pada ujungnya. Gambar 1.1 Diagram Tegangan-Regangan Baja TulanganSifat fisik batang tulangan baja yang paling penting untuk digunakandalam perhitungan perencanaan beton bertulang adalah tegangan luluh(fy) dan modulus elastisitas (Es). Suatu diagram hubungan tegangan –regangan untuk batang baja tulangan dapat dilihat pada Gambar 1.1.Tegangan luluh (titik luluh) baja ditentukan melalui prosedur pengujianstandar sesuai SII 0136-84 dengan ketentuan bahwa tegangan luluhadalah tegangan baja pada saat meningkatnya tegangan tidak disertaidengan peningkatan regangannya. Di dalam perencanaan atau analisisbeton bertulang umumnya nilai tegangan luluh baja tulangan diketahuiatau ditentukan pada awal perhitungan. 6
  7. 7. Struktur Beton I - LENTURModulus elastisitas baja tulangan ditentukan berdasarkan kemiringan awalkurva tegangan-regangan di daerah elastis dimana antara mutu baja yangsatu dengan yang lainnya tidak banyak bervariasi. Ketentuan SNI 03 –2847 – 2002 menetapkan bahwa nilai modulus elastisitas untuk tendonprategang harus dibuktikan dan ditentukan melalui pengujian atau dipasokoleh pabrik produsen. Umumnya untuk tendon prategang nilai moduluselastisitasnya lebih rendah, sesuai dengan ketetapan ASTM A416 biasanyadipakai nilai 186.000 MPa.ASTM menggolongkan batang tulangan baja dengan memberikan nomor,dari # 3 sampai dengan # 18 sesuai dengan spesifikasi diameter, luaspenampang dan berat tiap satuan panjang seperti yang terlihat padaTabel 1.3 berikut ini. Tabel 1.3 Standar batang baja tulangan ASTM Berat Nomor Diameter Nominal Luas Nominal Nominal Batang Inch Mm inch² Mm² kg/m #3 0,375 9,50 0,110 71 0,559 #4 0,500 12,7 0,200 129 0,994 #5 0,625 15,9 0,310 200 1,552 #6 0,750 19,1 0,440 284 2,235 #7 0,875 22,2 0,600 387 3,041 #8 1,000 25,4 0,790 510 3,973 #9 1,128 28,7 1,000 645 5,059 # 10 1,270 32,3 1,270 819 6,403 # 11 1,410 35,8 1,560 1006 7,906 # 14 1,693 43,0 2,250 1452 11,380 # 18 2,257 57,3 4,000 2581 20,240 7
  8. 8. Struktur Beton I - LENTUR Tabel 1.4 Jenis dan kelas batang baja tulangan sesuai SII 0136-80 BATAS ULUR KUAT TARIK MINIMUM MINIMUM JENIS KELAS SIMBOL N/mm² N/mm² Kgf/mm² Kgf/mm² POLOS 1 BJTP 24 235 382 (24) (39) 2 BJTP 30 294 480 (30) (49) DEFORM 1 BJTD 24 235 382 (24) (39) 2 BJTD 30 294 480 (30) (49) 3 BJTD 35 343 490 (35) (50) 4 BJTD 40 392 559 (40) (57) 5 BJTD 50 490 61 (50) (63)1.7 KUAT TEKAN BETONBeton mempunyai nilai kuat tekan yang relatif tinggi dan nilai kuat tarikrelatif rendah, sehingga diperhitungkan beton hanya bekerja dengan baikdi daerah tekan pada penampangnya, dan hubungan tegangan-reganganyang timbul karena pengaruh gaya tekan tersebut digunakan sebagaidasar pertimbangan. Kuat tekan beton diwakili oleh tegangan tekanmaksimum f’c dengan satuan N/m’ atau MPa (Mega Pascal). Kuat tekanbeton umur 28 hari umumnya berkisar 10 – 65 MPa. Kuat tekan betonuntuk macam-macam struktur beton dapat dilihat pada Tabel 1.5 berikut. Tabel 1.5 Kuat tekan beton untuk struktur beton KUAT TEKAN JENIS (MPa)Beton bertulang 17 – 30Beton prategang 30 – 45Beton mutu tinggi (ready mix) > 45 8
  9. 9. Struktur Beton I - LENTURSumber : Dipohusodo, 1996Nilai kuat tekan beton didapat melalui pengujian standar ASTM C39-86,kuat tekan ditentukan oleh tegangan tekan tekan tertinggi (f’c) padabenda uji silinder beton yang berumur 28 hari. Dengan demikian f’c bukantegangan yang timbul pada saat benda uji hancur melainkan teganganyang timbul pada saat regangan beton (εc) mencapai nilai ±0,002.Dengan mengamati bermacam kurva tegangan-regangan kuat beton yangberbeda, tampak bahwa pada umumnya kuat tekan maksimum tercapaipada saat nilai satuan regangan tekan εc’ mencapai ±0,002. Selanjutnyanilai tegangan f’c akan turun dengan bertambahnya nilai regangan sampaibenda uji hancur pada nilai εc’ mencapai 0,003-0,005. Beton dengan kuattekan tinggi lebih getas akan hancur pada nilai regangan maksimum yanglebih rendah daripada beton dengan kuat tekan rendah. Pada SNI 03 –2847 – 2002 pasal 3.3.2 menetapkan bahwa regangan kerja maksimumyang diperhitungkan di serat tepi beton tekan terluar adalah 0,003sebagai batas hancur.Sesuai SNI 03 – 2847 – 2002 pasal 3.1.5 digunakan rumus nilaimodulus elastisitas beton sebagai berikut : Ec = 0,043 wc1,50 √f’cDimana,Ec = modulus elastisitas beton tekan, MPawc = berat isi beton, kg/m3f’c = kuat tekan beton, MPaRumus empiris tersebut hanya berlaku untuk beton yang berat isinyaberkisar antara 1500 sampai dengan 2500 kg/m3. Untuk beton dengankepadatan normal dengan berat isi 2300 kg/m3 dapat digunakan nilai Ecsebesar Ec = 4700 √f’c. 9
  10. 10. Struktur Beton I - LENTUR1.8 KUAT TARIK BETONNilai kuat tarik beton normal hanya berkisar antara 9% - 15% dari nilaikuat tekannya. Untuk mengukur nilai kuat tarik beton, biasanya dilakukandengan menggunakan Modulus of Rupture, yaitu tegangan tarik lenturbeton yang timbul pada pengujian hancur balok beton polos (tanpatulangan), sebagai pengukur kuat tarik sesuai teori elastisitas.Pengujian yang lain adalah Pengujian Split Silinder yang memberikan hasillebih baik dan mencerminkan kuat tarik yang sebenarnya. Nilaipendekatan yang diperoleh mencapai kekuatan 0,50 – 0,60 kali √f’c,sehingga untuk beton normal diperoleh nilai 0,57 √f’c. Pengujian tersebutmenggunakan benda uji silinder beton berdiameter 150 mm denganpanjang 300 mm, diuji tarik belah. Tegangan yang timbul sewaktu bendauji terbelah tersebut disebut split cylinder strength, diperhitungkansebagai berikut : 2P ft = π LDDimana :ft = kuat tarik belah, N/m2P = beban pada waktu belah, NL = panjang benda uji silinder, mD = diameter benda uji silinder, m1.9 SIFAT RANGKAK DAN SUSUTPada beton yang sedang menerima beban, akan terjadi suatu hubungantegangan dan regangan yang merupakan fungsi dari waktu pembebanan. 10
  11. 11. Struktur Beton I - LENTURBeton menunjukkan sifat elastis murni hanya pada saat menahan bebandalam waktu yang singkat. Sedangkan pada beban dalam waktu yangtidak singkat, selain mengalami tegangan dan regangan akibat beban,juga mengalami deformasi rangkak (creep) yaitu peningkatan regangansesuai jangka waktu pembebanan.Rangkak adalah sifat dimana beton mengalami perubahan bentuk(deformasi) permanen akibat beban tetap yang bekerja padanya. Rangkakyang timbul intensitasnya akan makin berkurang untuk selang waktutertentu dan kemungkinan akan berakhir setelah beberapa tahun. Padaumumnya beton mutu tinggi mempunyai nilai rangkak yang lebih kecildibandingkan dengan beton yang mempunyai mutu lebih rendah.Besarnya deformasi rangkak sebanding dengan beban yang ditahan danjuga jangka waktu pembebanan. Pada umumnya rangkak tidakmengakibatkan dampak langsung terhadap kekuatan struktur namunmengakibatkan timbulnya redistribusi tegangan pada beban kerja danmengakibatkan terjadinya peningkatan lendutan (defleksi).Pada umumnya proses rangkak selalu dihubungkan dengan susut karenakeduanya terjadi bersamaan dan seringkali memberikan pengaruh yangsama, ialah deformasi yang bertambah sesuai dengan berjalannya waktu.Faktor-faktor yang yang mempengaruhi besarnya rangkak adalah : 1. sifat bahan dasar 2. faktor air semen, rasio air terhadap jumlah semen 3. suhu saat proses pengerasan 4. umur beton pada saat beban bekerja 5. lama pembebanan 6. nilai tegangan 7. nilai banding luas permukaan dan volume komponen struktur 8. nilai slump 11
  12. 12. Struktur Beton I - LENTURSusut didefinisikan sebagai perubahan volume yang tidak berhubungandengan beban. Pada umumnya faktor-faktor yang mempengaruhiterjadinya rangkak juga mempengaruhi susut, khususnya pada faktor-faktor yang berhubungan dengan hilangnya kelembaban. Proses susutpada beton apabila dihalangi secara tidak merata, misalnya olehpenulangan, akan menimbulkan deformasi yang umumnya bersifatmenambah deformasi rangkak. Maka dari itu diperlukan perhitungan danpengendalian untuk membatasi proses susut tersebut.1.10PELINDUNG BETON UNTUK TULANGANUntuk beton bertulang, tebal selimut beton minimum yang harusdisediakan untuk tulangan harus memenuhi ketentuan berikut : Tabel 1.6 Tebal selimut beton minimum Tebal Selimut MinimumNo. Kondisi (mm) a. Beton yang dicor langsung di atas tanah 75 dan selalu berhubungan dengan tanah b. Beton yang berhubungan dengan tanah atau cuaca : Batang D 19 hingga D 56 50 Batang D 16, jaring kawat polos P 16 Atau kawat ulir D 16 dan yang lebih kecil 40 c. Beton yang tidak langsung berhubungan dengan cuaca atau beton tidak langsung berhubungan dengan tanah : Pelat, dinding, pelat berusuk Batang D 44 dan D 56 40 Batang D36 dan yang lebih kecil 20 Balok, kolom Tulangan utama, pengikat, sengkang, lilitan 40 spiral Komponen struktur cangkang dan pelat lipat Batang D 19 atau lebih besar 20 Batang D 16, jaring kawat polos P 16 Atau kawat ulir D 16 dan yang lebih kecil 15Sumber : SNI 03 – 2847 - 2002 12
  13. 13. Struktur Beton I - LENTUR BAB 2. METODE PERENCANAAN DAN PROVISI KEAMANANUMUM Perencanaan elemen struktur beton dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak timbul retak berlebihan pada penampang sewaktu mendukung beban kerja, dan masih mempunyai cukup keamanan serta cadangan kekuatan untuk menahan beban dan tegangan lebih lanjut tanpa mengalami keruntuhan. Timbulnya tegangan-tegangan lentur akibat struktur. Pada Peraturan Beton Indonesia 1971 (PBI-1971) metode perencanaan dan analisis didasarkan pada Metode Tegangan Kerja (Working Stress Method), sementara di SNI 03 – 2847 – 2002 metode perencanaan dan analisis didasarkan pada Metode Kekuatan (Ultimated Strenght Method). Beberapa istilah yang digunakan dalam pembahasan metode perencanaan dan analisis adalah sebagai berikut; Kuat nominal kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi metode perencanaan sebelum dikalikan dengan nilai faktor reduksi kekuatan yang sesuai. Kuat perlu Kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang diperlukan untuk menahan beban berfaktor atau momen atau gaya dalam yang berkaitan dengan beban tersebut dalam suatu kombinasi seperti yang ditetapkan dalam peraturan. Kuat rencana Kuat nominal dikalikan dengan suatu faktor reduksi kekuatan φ 13
  14. 14. Struktur Beton I - LENTURMETODE TEGANGAN KERJA Di dalam metode tegangan kerja, untuk struktur direncanakan sedemikian sehingga tegangan-tegangan yang timbul akibat beban kerja dan yang dihitung secara mekanika dari unsur-unsur yang elastis, yang tidak melampaui dengan tegangan-tegangan yang diijinkan yang ditetapkan lebih dahulu. Beban kerja adalah beban-beban yang berasal dari beban mati, beban hidup, beban angin dan beban gempa, yang dimisalkan benar-benar terjadi sewaktu masa kerja dari struktur. Metode tegangan kerja ini secara matematis dapat dinyatakan : σ≤σ σ = tegangan timbul yang dihitung secara elastis σ = tegangan yang diijinkan yang ditetapkan menurut peraturan, sebagai suatu prosentase dari kekuatan tekan f’c beton dan tegangan leleh fy baja tulanganMETODE KEKUATAN Di dalam metode ini beban kerja diperbesar, dikalikan suatu faktor beban dengan maksud untuk memperhitungkan terjadinya beban pada saat keruntuhan sudah di ambang pintu. Kemudian dengan menggunakan beban kerja yang telah diperbesar (beban berfaktor) tersebut, struktur direncanakan sedemikian sehingga diperoleh nilai kuat guna pada saat runtuh yang besarnya kira-kira sedikit lebih kecil dari kuat batas runtuh yang sesungguhnya. Kekuatan pada saat runtuh inilah yang dinamakan kuat ultimit dan beban yang bekerja pada atau dekat dengan saat runtuh dinamakan beban ultimit. Kuat rencana penampang komponen struktur didapatkan melalui perkalian kuat teoritis atau kuat nominal dengan faktor kapasitas, yang dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan 14
  15. 15. Struktur Beton I - LENTUR buruk yang berkaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja, ukuran- ukuran dan pengendalian mutu pekerjaan pada umumnya. Kuat teoritis atau kuat nominal diperoleh berdasarkan keseimbangan statis dan kesesuaian tegangan regangan-tegangan yang tidak linear di dalam penampang elemen tertentu.PROVISI KEAMANAN DAN PEMBEBANAN Struktur atau elemen-elemennya harus direncanakan untuk memiliki cadangan kekuatan untuk dapat menerima beban yang lebih tinggi dari beban normal. Kapasitas cadangan ini digolongkan dalam dua kategori yaitu faktor pembebanan yang memperhitungkan pelampauan beban, dan faktor reduksi kekuatan, yang memperhitungkan kemungkinan buruk yang berkaitan dengan faktor-faktor bahan, tenaga kerja, ukuran- ukuran dan pengendalian mutu pekerjaan pada umumnya. Di dalam metode kekuatan, lazimnya digunakan istilah faktor beban untuk membedakan dengan faktor keamanan di dalam faktor tegangan kerja. Pada SNI 03 – 2847 – 2002 dibedakan dua faktor yaitu faktor kuat perlu U untuk beban dan faktor φ untuk reduksi kekuatan. Faktor kuat perlu U sesuai dengan Pasal 11.2 SNI 03 – 2847 – 2002, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 15
  16. 16. Struktur Beton I - LENTUR Tabel 2.1 Kuat perlu U Kuat PerluNo. Kombinasi Beban (U) D 1,4 D 1. D, L, A atau R 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) D, L, W, A atau R 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 W + 0,5 (A atau R) 2. D, W 0,9 D ± 1,6 W D, L, E 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 E 3. D, E 0,9 D ± 1,0 E D, L, A atau R, H 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) ± 1,6 H 4. D, W, H 0,9 D ± 1,6 H D, E, H 0,9 D ± 1,6 H D, F U = 1,4 (D + F) 5. D, L, A atau R, F 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) + 1,2 F 6. Kejut harus disertakan pada L 7. T 1,2 (D – T) + 1,6 L + 0,5 (A atau R) 8. P dikalikan 1,2Keterangan :D = beban matiL = beban hidupA = beban atapR = beban hujanW = beban anginE = beban gempaH = tekanan tanahF = tekanan fluidaT = pengaruh struktural dari penurunan fondasi, rangkak, susut, ekspansi beton atau perubahan suhu. Tabel 2.2 Faktor reduksi kekuatan φ Faktor Reduksi KekuatanNo. Kondisi Gaya φ 1. Lentur, tanpa beban aksial 0,80 Beban aksial, dan beban aksial dengan 2. lentur a. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur 0,80 b. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur Komponen struktur dengan tulangan spiral 0,70 Komponen struktur lainnya 0,65 16

×