Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)       FAKTOR LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN RISIKO              PENYA...
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757lupus yang ada di DKI Jakarta apalagi di luar              d...
Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)BAHAN DAN CARA                                             2. Melakukan pe...
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757                    Tabel 2. Distribusi responden menurut su...
Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)           Tabel 5. Distribusi penyakit yang sering dialami responden sebe...
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757responden pencarian pengobatan dan                         m...
Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)               Tabel 9. Distribusi responden menurut pengetahuan sebelum s...
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757cetuskan penyakit LES (Lahita, 1998; Lupus,                 ...
Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)obat yang lain dapat memicu meningkatkan                            Aktifi...
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757tinggi (58,9%), diikuti dengan penyakit                    m...
Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)        Dr. Sardjito Yogyakarta. Naskah lengkap            Tjandra YA. Dam...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

FAKTOR LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN RISIKO PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

1,523

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,523
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

FAKTOR LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN RISIKO PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

  1. 1. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al) FAKTOR LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN RISIKO PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK The Risk of Lupus Erythematosus Systemic Disease caused by Enviromental Factor Fredy M. Komalig*, Miko Hananto*, Bambang Sukana*, Jerico F. Pardosi**Abstract. The cause of Lupus Erythematosus Systemic (LES) disease has not yet found, however, expertssaid that environment factor is considered to be dominant cause. It might increase the risk of LES.Environmental factor consists of physics, biology and chemical. Moreover, there are also stress, herediterand hormonne factors. This study used a cross sectional design with two hospital as a population target.They are Cipto Mangunkusumo and Kramat 128 hospital in which patients of LES included in IndonesianLupus Foundation. Structural interview was used in this research to know the LES patients history beforethey experienced LES. From 202 LES patients, the research results showed percentage of patient exposedwith direct sunlight (22.2%), ISPA (58.9%), drugs such as ampisilin/amoksisilin (63.1%), passive smoker(81.7%), active smoker (11.9%), fertility woman with age 15 – 44 years (88.4%), used contraception/tablet(91.0%), herediter (1.5%) and stress (85.6%). In summary, physical factor, for instance, time frequentlyexposed by direct sunlight, used drugs, nicotine, infected by bacteria, mushroom and or virus could riskLES disease. The risk of LES happens also for patients who used contraception such as tablet/injection andwoman in fertility age group.Keywords : LES, environmental factor, hormone, stressPENDAHULUAN menderita penyakit lupus (Zubairi, 2002). Dalam suatu survei terindikasi bahwa penyakit lupus terdapat dalam 2 sampai 3 Penyakit Lupus Eritematosus kasus lebih banyak pada ras Afrika, Asia,Sistemik (LES) dikenal juga dengan penyakit Hispanik dan Amerika asli. Beberapa angkaLupus yang dalam bahasa Latin berarti dari kawasan Asia yang dapat digunakananjing hutan, penyakit dengan kelainan kulit untuk memperoleh gambaran penyakit inidi daerah wajah yang dikira disebabkan oleh ialah dari survei masal yang dilakukan digigitan anjing hutan (Lahita, 1998; negara India dan Cina. Survei yang dilakukanBimanesh, 1990). Dalam perkembangannya di India adalah 1 dari 25.000 penduduk, diternyata penyakit lupus tidak hanya Cina 70 dari 100.000 penduduk (Malaviya,mengenai kulit wajah saja tetapi juga dapat 1989; Jiang, 1989). Di RS Sardjitomenyerang hampir seluruh organ tubuh. Yogyakarta insiden 10,1 per 10.000Istilah lengkap penyakit lupus adalah Lupus perawatan dalam 4 tahun, sedangkan di RSUEritematosus Sistemik (LES) . Eritematosus Dr. Pirngadi Medan 1,42 per 10.000artinya kemerahan, sedangkan sistemik perawatan selama 3 tahun (Purwanto, 1987;berarti tersebar luas diberbagai organ tubuh, Tarigan, 1987).tetapi dalam pembicaraan sehari-hari LESdisebut lupus saja (Philips, 1996; Heru, Akhir-akhir ini penyakit lupus2002). Lupus diperantarai oleh suatu sistim cenderung meningkat jumlahnya dariimun atau kekebalan, dimana sistem imun ini laporan-laporan yang terdahulu, khususnya dimenyerang tubuhnya sendiri disebut sebagai beberapa rumah sakit di DKI Jakarta. Agarpenyakit otoimun. Di Amerika yang penderita lupus dengan mudah dapatmerupakan negara yang sudah majupun dimonitor penyakitnya maka dibentuklahterjadi lebih dari 16.000 kasus baru setiap Yayasan Lupus Indonesia (YLI) di Jakartatahunnya, menurut survei lebih banyak yang disusul pembentukannya di Surabaya,orang mendapat penyakit lupus dibandingkan Yogyakarta dan akan disusul kota-kota besarAIDS, serebral palsi, multiple sclerosis dan lainnya di Indonesia. Tercatat penderita lupuslain-lain. Lupus mengenai 1 dari 185 orang di DKI Jakarta pada Yayasan LupusAmerika dan tahun 1990 diperkirakan sekitar Indonesia kurang lebih 1.700 orang. Jumlah1.400.000 sampai 2 juta penduduk AS inipun belum mencakup seluruh penderita* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan
  2. 2. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757lupus yang ada di DKI Jakarta apalagi di luar diorgan –organ tubuh. Dalam keadaanJakarta serta luar Jawa (Yayasan Lupus normal kompleks ini akan dieliminasiIndonesia, 2002). dangan baik dan justru sel-sel radang (fagosit), tetapi dalam keadaan abnormal Oleh beberapa ahli menyebutkan kompleks ini tidak dapat dieliminasi denganbahwa bangsa Negro (kulit hitam), faktor baik dan justru sel-sel radang tadi malahherediter atau familier ada tendensi bertambah banyak sambil mengeluarkanmempengaruhi distribusi penyakit LES, enzim yang menimbulkan peradangan disedangkan faktor ekonomi, pendidikan, sekitar kompleks. Proses yangpekerjaan dan geografi tidak mempengaruhi berkepanjangan ini akan merusak organdistribusi penyakit lupus (Harry, 2002; tubuh dan mengganggu fungsinya, yang olehLupus, 2003). LES merupakan penyakit kita tampak sebagai gejala penyakit (IONI,radang multisistem yang penyebabnya belum 2004; Maramis, 2004).diketahui, dengan perjalanan penyakit yangmungkin akut, fulminan atau kronik dengan Secara umum ada 3 jenis penyakitremisi dan eksaserbasi yang disertai oleh lupus yang diketahui sampai sekarang initerdapatnya berbagai macam antibodi. yaitu:Misalnya seorang penderita yang sering 1. Cutaneus lupus atau seringkali disebutmenderita penyakit infeksi saluran discoid dimana penyakit ini hanyapernafasan atas, dimana virus atau bakteri menyerang bagian kulit saja. Untukyang masuk kedalam sel akan berintegrasi mengetahui gambaran penyakit ini yani ;dengan genom sel yang akibatnya adanya ruam yang muncul didaerah leher,menimbulkan rangsangan terhadap kulit kepala atau bahkan ruam pada seluruhkomponen-komponen inti sel misalnya DNA, tubuh, salah satu bagian tubuh dan ataunucleoprotein, RNA dan sebagainya. seluruh tubuh berwarna merah sampaiAntibodi ini secara bersama-sama disebut bersisik, kadang-kadang sampai gatal danANA (Anti-nuclear antibody). Dengan hampir semua golongan ini akan berubahantigen spesifik, ANA membentuk kompleks menjadi sistemik.imun yang beredar dalam sirkulasi. 2. Sistemik lupus yaitu penyakit lupus yang Kompleks imun ini akan mengendap menyerang organ tubuh seperti:pada berbagai macam organ dengan akibat persendian, otak/saraf, darah, pembuluhterjadinya fiksasi komplemen pada tempat darah, paru-paru, ginjal, jantung, hati danyang bersangkutan. Peristiwa ini mata. Penyakit ini adalah jenjang penyakitmenyebabkan aktivasi komplemen yang lupus yang sangat berat karena jenis inimenghasilkan substansi penyebab menyerang organ-organ vital baik satu dantimbulnya reaksi radang. Lupus atau beberapa organ vital lainnya.diperantarai oleh suatu sistim imun ataukekebalan, dimana sistim imun ini 3. Drug Induced Lupus (DIL) yang timbulmenyerang tubuhnya sendiri disebut sebagai setelah sering menggunakan obat-obatpenyakit otoimun. Teori yang lain juga tertentu. Obat-obat antibiotik sepertimenyebutkan bahwa kerusakan jaringan golongan sulfa, obat-obat antituberkulosapada lupus dapat terjadi melalui dua cara. seperti INH, golongan obat hydralazin untuk hipertensi dan golongan obat Yang pertama zat anti langsung prokainamid untuk jantung, namun untukmenyerang sel-sel jaringan tubuh seperti beberapa tahun terakhir ini obat hydrlazinpada sel-sel darah merah sehingga sel dan prokainamid sudah jarang sekalitersebut mudah hancur. Hal ini dipakai.menyebabkan penderita kekurangan sel-seldarah merah atau anemia. Cara yang kedua Seperti telah disebutkan diatas olehzat anti yang beredar didalam darah , beberapa ahli bahwa penyakit lupus inibertemu dengan musuhnya (antigen) belum diketahui penyebabnya, disebutkansehingga membentuk ikatan yang disebut bahwa selain faktor genetik, hormonal danimun kompleks. Selanjutnya kompleks ini stres, maka faktor lingkungan sangat besarmengikuti aliran darah dan tersangkut pengaruhnya dalam menstimulus penyakitdipembuluh-pembuluh kapiler yang ada ini.
  3. 3. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)BAHAN DAN CARA 2. Melakukan pelatihan para pengumpul data di lapangan, menggunakan kuesioner dengan memakai tenaga pewawancara Disain yang digunakan adalah potong lulusan S1 jurusan pendidikan dan jurusanlintang. Penelitian dilakukan di Departemen komunikasi yaitu dari karyawan YLI.Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta dan Kemudian dilakukan uji coba pengumpulanRS Kramat 128 Jakarta serta penderita data dengan menggunakan kuesioner padaYayasan Lupus Indonesia (YLI). Sampel salah satu tempat rumah sakit di Jakarta.penelitian adalah penderita LES yang 3. Pengumpul data mendatangi pasien-pasienberdomisili di Jadetabek. dipilih 2 buah yang dirawat dirumah sakit danrumah sakit yaitu RSCM dan RS Kramat 128 mewawancarai saat itu. Penderita yangyang datang dengan diagnosis penyakit LES tercatat sebagai anggota YLI dihubungiserta pasien anggota Yayasan Lupus melalui telepon, dikumpulkan pada suatuIndonesia (YLI) yang diambil secara acak tempat yang sudah ditentukan, kemudiandan bersedia mengikuit prosedur penelitian. melakukan wawancara dengan mencatatPenelitian dilaksanakan pada tahun 2004 secara lengkap penyakit atau keluhan-selama 10 bulan sejak bulan Pebruari sampai keluhan yang dialami penderita sebelum sakitDesember 2004. lupus.Jalannya survei:1. Diadakan pertemuan dengan bagian HASILmedical record rumah sakit dan pengelolaYayasan Lupus Indonesia untuk Hasil pengumpulan data penyakitmendapatkan data awal dan tujuan akan LES di DKI Jakarta dan sekitarnya berhasildilakukannya penelitian ini. dikumpulkan sebanyak 202 kasus. Tabel 1. Distribusi responden menurut kelompok umur dan jenis kelamin penderita LES Di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 No. Karakteristik responden Jumlah % (n=202) 1. Kelompok umur a. <15 tahun 2 1,0 b. 15-24 tahun 44 21,8 c. 25-34 tahun 91 45,0 d. 35-44 tahun 44 21,8 e. 45-54 tahun 19 9,4 f. >=55 tahun 2 1,0 2. Jenis kelamin a. Laki-laki 11 5,4 b. Perempuan 191 94,6Responden perempuan (94,6%) yang sakit yang sakit lupus terbanyak pada umur 15-44lupus lebih banyak dari laki-laki (5,4%). tahun (88,4%).Kelompok umur terbanyak adalah 25-34tahun (45%), sedangkan wanita usia subur* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan
  4. 4. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757 Tabel 2. Distribusi responden menurut suku bangsa penderita LES di DKI Jakarta dan sekitarnya, tahun 2004 NO. Karakteristik responden Jumlah % (n=202) 1. Jawa 68 33,7 2. Sunda 35 17,3 3. Cina 34 16,8 4. Minang 20 9,9 5. Batak 16 7,9 6. Betawi 13 6,4 7. Palembang 4 2,0 8. Aceh 3 1,5 9. Bugis 3 1,5 10. Lampung 2 1,0 11. Lainnya 4 2,0 Suku yang terbanyak sakit lupus sedangkan suku Ambon, Bali, Jambi danadalah suku Jawa (33,7%), diikuti suku Banjar sangat sedikit (1%).Sunda (17,8%), Bangsa Cina (16,8%, Tabel 3. Distribusi responden menurut jenis pekerjaan penderita LES Di DKI Jakarta dan sekitarnya, tahun 2004 NO. Karakteristik responden Jumlah % (n=202) 1. Pegawai negeri sipil 17 8,4 2. Pegawai swasta 61 30,2 3. Wiraswasta 24 12,0 4. Petani/buruh 4 1,9 5. Pelajar/mahasiswa 31 15,3 6. Tidak bekerja 65 32,2 Menurut jenis pekerjaan yang tidak bekerja (32,2%), sedangkan yangterbanyak menderita sakit LES adalah yang paling sedikit adalah buruh/petani (1,9%). Tabel 4. Distribusi responden menurut pendidikan penderita LES Di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 NO. Karakteristik responden Jumlah % (n=202) 1. Tidak pernah sekolah 3 1,5 2. Tamat SD/MI 4 3,5 3. Tamat SLTP/Tsanawiyah 12 6,0 4. Tamat SLTA/Aliyah 73 30,1 5. Tamat Akademi/PT 108 58,4Menurut tingkat pendidikan yang tamat Hasil wawancara secara langsung tentangakademi/perguruan tinggi lebih banyak sakit penyakit-penyakit yang sering dialami danLES (58,4%) dari yang tidak pernah sekolah obat-obatan yang sering digunakan(1,5%). responden sebelum sakit lupus dapat dilihat dalam tabel 5 dan 6.
  5. 5. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al) Tabel 5. Distribusi penyakit yang sering dialami responden sebelum sakit LES di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 NO. Nama penyakit Jumlah % (n=202) 1. ISPA 119 58,9 2. Tifus 67 33,1 3. Sukar tidur 43 21,2 4. Penyakit kulit/jamur 38 18,8 5. Nyeri kepala 9 4,4 6. Darah tinggi 8 3,9 7. Tuberkulosa 8 3,9 8. Penyakit jantung 6 2,9 9. Herpes 4 1,9 10 Asma 3 1,4 11. Gastritis 2 0,9 12. Rematik 2 0,9 Penyakit ISPA (58,9%) lebih banyak sukar tidur (21,2%), penyakit kulit/jamurditemukan pada responden sebelum sakit (18,8%), dan seterusnya sedikit pada gastritisLES disusul dengan penyakit tifus (33,1%), (1,4%) dan rematik (0,9%). Tabel 6.Obat-obat yang sering dipakai penderita LES sebelum sakit Di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 NO. Nama obat Jumlah % (n=202) 1. Golongan ampisilin/amoksilin 124 63,1 2. Golongan antipiretik/analgetik 74 36,6 3. Golongan siprofloksasin 48 23,7 4. Golongan diazepam 40 19,6 5. Golongan griseofulvin 35 17,3 6. Golongan Chlortrimeton 35 17,3 7. Golongan sulfa/bactrim 19 9,4 8. Golongan Kloramfenikol/tiamfenikol 18 8,9 9. Golongan INH 8 3,9 10. Captopril 7 3,4 11. Acyclovir 6 2,9 12. Golongan fenitoin/dilantin 3 1,4 13. Golongan procainamide 3 1,4 14. Golongan teofilin 3 1,4 15. Golongan nifedipin 2 0,9 Jenis obat yang sering digunakan Pengetahuan, sikap, dan perilakuresponden sebelum sakit LES adalah responden meliputi: merokok, penggunaaangolongan ampisilin/amoksisilin (63,1%), alat kontrasepsi, jenis kontrasepsi yangdisusul golongan antipiretik/analgetik dipakai, stress, pencarian pengobatan(36,6%), dan paling sedikit golongan sebelum sakit lupus, mengenal perkataannifedipin (0,9%). atau istilah penyakit lupus, dari mana pertama kali mendengar tentang sakit lupus, mengetahui faktor risiko dan dapat menjawab faktor-faktor risiko penyakit lupus. Sikap* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan
  6. 6. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757responden pencarian pengobatan dan minum minuman keras, meng-gunakanperilaku responden dalam kehidupan sehari- narkoba dan seks aman, tergambar dalamhari meliputi tentang pola, makan teratur, Tabel 7, 8 dan 9.olahraga teratur, istirahat/tidur teratur, Tabel 7. Distribusi responden menurut kebiasaan merokok, penggunaan kontrasepsi, pajanan sinar matahari, dan stres di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 No. Perilaku Jumlah % (n=202) 1. Merokok a. Responden merokok. 24 11,9 b. Keluarga ada yang merokok 91 40,1 c. Menghirup asap rokok dari salah satu keluarga yang 108 53,5 merokok dalam ruangan. d. Responden menghirup asap rokok di tempat kerja 57 28,2 2. Responden menggunakan kontrasepsi 89 44,0 3. Pekerjaan/aktivitas sehari-hari lebih banyak diluar rumah 45 22,2 (terpajan langsung sinar matahari > 4 jam ) 4. Responden yang sering mengalami stres. 173 85,6 Responden yang merokok (11,9%), (11,4%). Bila dilihat dari penggunaanmenghirup asap rokok (53,5%), yang kontrasepsi, maka jenis kontrasepsi tablet/menggunakan kontrasepsi (44,0%), terpajan susuk/suntik adalah yang paling banyaklangsung sinar matahari (22,2%) dan digunakan (91,0%) dan persentase kondomresponden yang sering mengalami stres sebesar 5,6%. Sementara untuk stres yangsebelum sakit lupus (85,6%). Stres terutama dialami paling banyak terjadi adalah dalamdialami dalam keluarga (60,9%), pekerjaan keluarga (60,9%).(23,2%) dan aktifitas di luar pekerjaan Tabel 8. Distribusi penegetahuan responden mencari pengobatan di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 Tempat Pengobatan Jumlah % (n=202) a. Diobati sendiri 61 30,1 b. Ke Puskesmas 27 13,3 c. Ke Poliklinik 45 22,2 d. Ke rumah sakit 127 62,8 e. Ke pengobatan alternatif 59 29,2 Pengetahuan responden untuk sakit lupus (62,8%) lebih banyak daripada kemencari pengobatan ke rumah sakit sebelum Puskesmas (13,3%).
  7. 7. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al) Tabel 9. Distribusi responden menurut pengetahuan sebelum sakit LES Di DKI Jakarta dan sekitarnya tahun 2004 No. Pengetahuan Sebelum Sakit LES Jumlah (n=202) % 1. Mengenal perkataan/istilah penyakit Lupus sebelum 83 41,1 sakit lupus 2. Sumber informasi perkataan/istilah penyakit 67 33,2 untuk pertama kali dari dokter 3. Mengetahui faktor risiko yang kemungkinan 38 18,8 menjadi penyebab penyakit Lupus 4. Dapat menyebutkan faktor risiko seperti : 27 13,4 a. Merokok 83 41,3 b. Sinar matahari 57 28,2 c. Obat-obat tertentu 87 43,1 a. Stres 58 28,7 b. Genetik/keturunan 5. Perilaku dalam kehidupan sehari-hari 128 63,4 a. Pola makan teratur 39 19,3 b. Olahraga teratur 124 61,4 c. Istirahat/tidur teratur 10 5,0 d. Minum minuman keras 2 1,0 e. Menggunakan narkoba 106 52,5 f. Seks aman (5,4%), sedangkan umur wanita usia subur Untuk mengetahui tentang pengetahuan yang terbanyak sakit lupus adalah antaradan perilaku responden sebelum sakit lupus umur 15-44 tahun dari jumlah respondenadalah: tidak mengetahui atau mengenal wanita (88,4%), hal ini dapat menjelaskanistilah penyakit LES (58,9%), sedangkan bahwa faktor hormonal sangat berperananresponden mengetahui istilah penyakit lupus penting dalam memicu peningkatan penyakit(41,1%). Pertama kali mendengar penyakit lupus Meningkatnya angka kesakitanlupus dari dokter umum (33,2%), sedangkan penyakit LES dimana wanita lebih banyaklain-lainnya (64,9%). Responden yang dibanding pria adalah disebabkan oleh padabelum mengetahui faktor risiko penyakit masa usia subur ini, hormon-hormon padaLES(18,8%). Perilaku responden dalam wanita seperti estrogen dan progesteronekehidupan sehari-hari lebih banyak sangat berpengaruh besar dalam prosesmenjawab makan teratur (63,4%), istirahat pertumbuhan dan terutama pada siklusteratur (61,4%), seks aman (52,5%), menstruasi pada wanita. Persentasi wanitasedangkan yang menggunakan narkoba yang menggunakan obat kontrasepsi (44,0%)paling sedikit (1,0%). seperti: menggunakan tablet, susuk dan suntikan, untuk menunda pembuahan atau kehamilan ikut mempengaruhi hormon-PEMBAHASAN hormon estrogen dan progesterone. Namun Responden yang terbanyak adalah belum diketahui secara pasti seperti apa sajaperempuan (94,6%) dari pada laki-laki hormon-hormon ini bekerja untuk men-* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan
  8. 8. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757cetuskan penyakit LES (Lahita, 1998; Lupus, Faktor-faktor lingkungan yang2003). dikumpulkan dari hasil wawancara dengan responden adalah tentang penyakit yang Suku yang terbanyak menderita sering dikeluhkan responden sebelum sakitpenyakit LES adalah: suku Jawa (33,7%), LES adalah : Infeksi saluran pernafasan ataudiikuti suku Sunda (17,3%), Bangsa Cina ISPA yang terbanyak (58,9%) diikuti16,8%, suku Minang (9,9%) , Batak (7,9%), kemudian dengan penyakit tifus atauBetawi (6,4%), Palembang (2,0%), Aceh dan paratifus (33,1%), insomnia atau sukar tidurBugis (1,5%), Lampung (1,0%) serta Ambon, (21,2%), penyakit kulit/jamur (10,8%), nyeriBali, Jambi dan Banjar masing-masing kepala (4,4%), penyakit tuberkulosa (3,9%),(0,5%). Laporan-laporan tentang suku darah tinggi (3,9%), herpes (2,9%), asmaterbanyak di Indonesia yang sakit LES (1,9%), gastritis (1,4%) dan yang palingbelum ada. Responden yang terbanyak adalah sedikit yaitu rematik (0,9%). Darisuku Jawa dan Sunda, termasuk Cina, hal ini wawancara yang berhasil kami kumpulkan ,disebabkan penyebaran jumlah penduduk ke- bahwa responden tidak dapat menyebutkan3 suku tersebut memang tinggi di Indonesia, bakteri, jamur atau virus penyebab penyakitdengan melihat persentasi penyebaran yang sering dialami penderita sebelumpenyakit LES , maka penulis berkesimpulan menderita sakit LES. Menurut kamibahwa penyakit ini hampir merata di berdasarkan temuan penyebab penyakit-Indonesia. penyakit tersebut diatas ditunjang dengan Responden penyakit LES yang penggunaan terapi pembunuh kumanterbanyak menurut pekerjaan adalah : yang penyebab penyakit-penyakit tersebut yangtidak bekerja lebih banyak sakit LES sering digunakan penderita sebelum sakit(32,2%), pegawai swasta (30,2%), LES, maka penyakit ISPA yang disebabkanpelajar/mahasiswa (15,3%), wiraswasta oleh salah satu atau beberapa macam bakteri,(12,0%), pegawai negeri sipil (8,4%) dan salmonella tifosa yang menyebabkanpaling sedikit para petani/buruh (1,9%). penyakit demam tifoid, penyakit kulit sepertiSementara itu responden yang terbanyak jamur yang disebabkan oleh sarcoptessakit LES menurut tingkat pendidikan adalah scabiae dan penyakit-penyakit herpes yangtamat akademi/perguruan tinggi (58,4%), disebabkan oleh golongan virus herpeticdiikuti masing-masing sebagai berikut: tamat form . Laporan-laporan yang adaSLTA/Aliyah (30,1%), tamat menyebutkan bahwa penyakit-penyakitSLTP/Tsanawiyah (6,0%), tamat infeksi yang disebabkan oleh bakteri, jamurSD/Madrasah Ibtidayah (3,5%) dan paling dan virus ternyata dapat memicu peningkatansedikit sakit LES adalah yang tidak pernah penyakit LES (Lupus, 2003; Lahita, 1998;sekolah (1,5%). Sampai sekarang ini belum Philips, 1996).ada laporan-laporan tentang distribusi Beberapa jenis atau golongan obatpenyakit LES menurut jenis pekerjaan yang sering digunakan responden sebelummaupun tingkat pendidikan baik di negara- menderita penyakit LES adalah : golongannegara luar, apalagi di Indonesia. Jenis ampisilin/amoksisilin (58,9%) , golongan antipekerjaan, pendidikan dan faktor ekonomi piretik/analgetik 36,6%), golongantidak mempengaruhi penyebaran peningkatan siprofloksasin (23,7%), golongan diazepampenyakit LES (Philips, 1991; Lupus, 2003). (19,6%), golongan griseofulvin (18,3%), Responden yang menjawab bahwa golongan chlortrimeton (17,3%) , selanjutnyaada saudara/keluarga yang menderita sakit berturut-turut golongan sulfa/kotrimoksasolLES (1,5%). Dari persentasi yang ditemukan (9,4%), kloramfenikol/tiamfenikol (8,9%),adalah relatif kecil menurut kepustakaan INH , golongan captopril, golongan10%, dan sampai saat ini belum diketahui acyclovir, golongan fenitoin/dilantin, sedikitgen-gen penyebabnya, dari riwayat sebelum yang menggunakan golongan procainamidsakit diketahui ada penderita LES yang (1,4%), golongan teofilin (1,4% dankeluarganya seperti: orang tua, kakak, adik golongan nifedipin (0,9%) . Disebutkandan atau paman/bibinya berpenyakit LES bahwa beberapa macam obat-obat tertentu(Yayasan Lupus Indonesia, 2002; Lupus, seperti golongan sulfa, procainamide,2003). grizeofulvin, captopril dan INH serta obat-
  9. 9. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al)obat yang lain dapat memicu meningkatkan Aktifitas pekerjaan diluar rumah daripenyebaran penyakit LES. Namun responden yang terpajan sinar mataharidisebutkan bahwa reaksi obat-obat tersebut selama kurang lebih diatas 4 jam/harihanya berlangsung sementara saja setelah sebelum sakit LES (22,3%). Sinar ultravioletobat tersebut dihentikan, tetapi apabila obat- yang dipancarkan oleh sinar matahari secaraobat tersebut digunakan dalam waktu yang langsung mengenai tubuh selama kuranglama dan sering dipergunakan, maka gejala- lebih 6 jam (22,3%) berada diudara terbukagejala penyakit akan berlangsung sampai diluar rumah/ruangan, misalnya senangberbulan-bulan dan seterusnya sampai berjemur ditepi pantai, bekerja tanpaberlangsung lama. Beberapa jenis obat memakai tabir surya (payung, topi atauseperti hydralazine dan procainamide akhir- memakai baju lengan panjang) adalahakhir ini sudah jarang sekali diresepkan oleh merupakan faktor pencetus sakit LESpara dokter untuk dipakai dalam pengobatan terutama yang diserang adalah kulit (Heru,penyakit jantung dan darah tinggi. 2002; Lupus, 2003). Beberapa ahli menyebutkan bahwa Pengetahuan responden tentangstres dapat memicu penyakit LES dan dari mencari pengobatan masih kurang, hal inihasil wawancaranya adalah sebagai berikut: dapat dilihat pada usaha mencari tempatresponden yang sering mengalami stres pengobatan bila sakit yaitu : ke puskesmasrelatif sangat tinggi (85,6%), dari persentasi (30,1%), poliklinik (22,2%), ke rumah sakittersebut maka ditemukan responden stres (62,8%) dan ada responden yang cenderungyang sering dialami dalam lingkungan untuk mengobati sendiri penyakitnyakeluarga (60,9%), stress yang dialami dalam (30,1%) serta ke pengobatan alternatiflingkungan pekerjaannya (23,2%) dan stres (29,2%). Pengetahuan tentang perkataan atauyang dialami diluar aktivitas pekerjaan/tidak istilah penyakit LES (41,1%) masih relatifbekerja (11,4%), serta lain-lainnya. Masalah kurang termasuk pengetahauan tentangpenyesuaian atau stress dapat bersumber faktor-faktor risiko yang kemungkinanpada frustasi, konflik, tekanan atau krisis menjadi faktor pencetus penyakit LES jugadimasyarakat cukup tinggi, dan akibat dari masih sangat kurang (18,8%). Dapatpada pengaruh psikologik ini memicu menyebutkan faktor risiko seperti: faktorpeningkatan penyakit LES (Lupus, 2003; sinar matahari (41,3%), obat-obatan tertentuMaramis, 2004). (28,2%), stres ( 43,1%), faktor genetik/keturunan (28,7%) dan merokok Responden yang merokok sebelum (13,4%). Perilaku responden dalamsakit lupus (11,9%), diantara keluarga kehidupan sehari-hari relatif belum baikserumah ada yang merokok (40,1%), diantaranya ditanyakan tentang : perilakumenghirup asap rokok dari salah satu anggota responden tentang pola makan teraturrumah tangga yang merokok dalam rumah (63,4%), istirahat/tidur teratur (61,4%), seks(53,5%) dan responden yang menghirup asap aman (52,5%), minum minuman kerasrokok ditempat kerja (28,2%). (5,0%) dan menggunakan narkoba (1,0). Belum ada laporan penelitian tentangmerokok dapat memicu prevalensi penyakitlupus, namun kami berusaha memasukkan KESIMPULANvariabel ini, dengan asumsi bahwa merokokjelas sangat merugikan kesehatan terbuktidengan prevalensi merokok penduduk 1. Responden penyakit LES pada wanitaIndonesia yang berumur 15 tahun keatas (94,6%) lebih banyak dari pada pria (5,4%).makin lama makin meningkat. 2. Responden wanita usia produktif: 15-44 Lebih kurang tujuh puluhan ribu tahun (88,4%) lebih banayak jumlahnya dariartikel ilmiah telah membuktikan secara semua golongan umur wanita (11,6%).tuntas bahwa konsumsi rokok dan pajanan 3. Penyakit yang sering dialami respondenterhadap asap rokok yang mengandung sebelum sakit adalah penyakit infeksi yangsekitar 4000 bahan kimia sangat berbahaya disebabkan oleh bakteri, jamur dan atau virusbagi kesehatan, termasuk 43 bahan kimia seperti : infeksi saluran pernafasan atas lebihyang bersifat karsinogenik (Tjandra, 2004).* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan
  10. 10. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 7 No 2, Agustus 2008 : 747 – 757tinggi (58,9%), diikuti dengan penyakit menurunkan angka kesakitan dan atautifus/paratifus (33,1%), penyakit kulit/jamur kematian.(18,8%), herpes (2,9%) dan penyakit- 2. Agar dilakukan penelitian lebih lanjutpenyakit selain infeksi adalah : sukar tidur tentang pengaruh penggunaan kontrasepsi(21,2%), nyeri kepala (4,4%), darah tinggi dan bahan kimia seperti nikotin bagi(3,9%), penyakit tuberkulosa (4,4%), asma perokok aktif maupun pasif yang(1,9%), gastritis (1,4) dan rematik (0,9%). memungkinkan dapat memicu prevalensi4. Faktor kimia seperti obat-obat yang sering penyakit LES.digunakan responden sebelum sakit LES 3. Setiap kali menderita sakit yang berulang-adalah: golongan ampisilin/amoksisilin ulang agar segera mendapatkan pertolongan(63,1%), golongan antipiretik/analgetik melalui: dokter, puskesmas atau rumah sakit(36,6%), golongan siprifloksasin (23,7%), agar penyakitnya dapat diketahui dangolongan diasepam (21,2%), golongan dimonitor secara berkala.grisefulvin (18,3%), CTM (17,3%), golongansulfa/kotrimiksasol (9,4%), golongan kloram-fenikol (8,9%), golongan INH (3,9%), DAFTAR PUSTAKAgolongan captopril (3,4%), golonganacyclovir (2,9%), golongan fenitoin/dilantin(1,4%), golongan procainamide (1,4%) dan Bimanesh Sutarjo. Pola Lupus Eritematosus Sistemikgolongan hidralasin (0,9%). Faktor kimia lain di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCMseperti responden yang merokok (11,9), Januari 1988-Desember 1990. Fakultasdiantara keluarga ada yang merokok dalam Pascasarjana UI 1991. Harry Isbagio. Prinsip Pengobatan Penyakit Lupus. Subruangan (40,1%), dan menghirup asap rokok Bagian Rematologi. Bagian Ilmu Penyakitditempat kerja (28,2%). Dalam FKUI-RSCM. Jakarta, 2002. Heru Sundaru. Apa itu lupus? Sub Bagian Alergi.5. Faktor psikologis seperti stres yang sering Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM,dialami responden sebelum sakit LES relatif Jakarta, 2002.tinggi (85,6%). Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Departemen Kesehatan Republik Indonesia6. Faktor herediter dari responden yang Direktorat Jendral Pengawasan Obat danpernah sakit LES hanya 1,5%. Makanan. Penerbit CV. Sagung Seto Jakarta. Cetakan ketiga. 2004.7. Pengetahuan responden masih rendah Jiang M. Clinical characteristics of patient with SLE inantara lain pengetahuan tentang penyakit China. Proceeding of the second internationalLES (41,1%), faktor risiko seperti sinar conference on Systemic Lupus Erythematosus, Singapore 1989, 68-73.matahari (41,3%), obat-obatan tertentu Lahita RG. Systemic Lupus Erythematosus. 3 nd. Ed.(28,2%), stres (43,1%) dan faktor herediter San Diego : Academic Press Publishers,(28,7%) dan merokok (13,4%). Perilaku 1998.responden sehari-hari masih relatif kurang LUPUS : A Patient Care Guide for Nurses and Otherseperti : pola makan teratur (63,4%), Health Profesionals.. National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skinistirahat teratur (61,4%), seks aman (52,5%), Diseases. Other National Institutes Of Healtholahraga teratur (19,3%), minum minuman Sponsors. National Center for Minoritykeras (5,0%) dan menggunakan narkoba Health and Health Disparities. 2003.(1,0%). Malaviya AN, Ansari MA, Singh YN et all. Epidemiology of Systemic Lupus Erythematosus Systemic in India. Proceeding of the second international conference onSARAN Systemic Lupus Erythematosus, Singapore 1989, 25-8. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Penerbit1. Meningkatkan pengetahuan responden Airlangga University Press. Cetakan kedelapan. 2004.tentang penyakit LES dan faktor-faktor Philips R. Coping With Lupus. New York : Averylingkungan seperti beberapa penyakit Publishing Group, 1991.penyebab infeksi, obat-obatan tertentu, faktor Philips R. Living Well. Despisit Lupus ! 204 Sure-Firehormonal, herediter dan stres yang dapat Techniques for Taking Charnge of Your Life. New York : Balance, 1996.memicu penyakit lupus, agar terdapat Purwanto BT, Raharjo P, Pardjono E. Penderita SLEperubahan perilaku sehingga dapat yang dirawat di unit Penyakit Dalam RSUP
  11. 11. Risiko Penyakit Lupus…( Fredy M. Komalig, et al) Dr. Sardjito Yogyakarta. Naskah lengkap Tjandra YA. Dampak Merokok Bagi Kesehatan. KOPAPDI VII Ujungpandang 1987, Hal. Simposium Nasional I. Hasil Penelitian dan 101-7. Pengembangan Kesehatan. Di selenggarakanTarigan EE, Mochadsyah OR. Systemic Lupus oleh : Badan Penelitian dan Pengembangan Erythematosus di Laboratorium Ilmu Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran USU Jakarta, 20-21 Desember 2004. RS Dr. Pirngadi Medan. Naskah lengkap Yayasan Lupus Indonesia. Pengenalan Terhadap KOPAPDI VII Ujungpandang 1987, Hal. Lupus. Jakarta, 2002. 101-4. Zubairi Djoerban. Pengobatan Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik. Sub Bagian Hematologi. Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM. Jakarta, 2002.* Peneliti pada Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan** Staf Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan

×