Dari Redaksi
Pembaca yang terhormat,
Akreditasi merupakan kegiatan penilaian kelayakan suatu
program dalam satuan pendidik...
Menu Edisi Ini
 Dari Redaksi……………………………………………………………………
 Menu Edisi Ini

..
..

Fokus
 Dr. Fasli Djalal, P.hD
 Sudjarwo...
Fokus

Dr.Sudjarwo S, M.Sc.1
Daya pikir atau bisa juga
disebut tingkat kecerdasan
anak
usia dini merupakan
modal dasar yan...
Fokus
Keterbatasan
akan
kemampuan berfikir kritis dan
kebugaran fisik anak usia dini
misalnya,
akan
membatasi
kesempatan a...
Fokus
menjadi anak yang kegemukan
(obesitas), tidak tahu diri, selalu
menyalahkan orang lain, pemarah,
tidak bisa kerjasam...
Fokus
saudara mengkerubuti untuk
berlomba-lomba mengangkatnya,
menuangkan rasa kasih sayangnya
secara
berlebihan
kemudian
...
Fokus
kebugaran
anak
di
masa
dewasanya.
Selanjutnya perlu diperhatikan pula bahwa anak usia dini
mulai sadar tentang keada...
Fokus
dalam
kandungan.
Namun
perkembangan secara eksplosif
terjadi pada usia 0 s/d 8 tahun.
Dengan demikian pendidikan,
pe...
Fokus
diperoleh anak pada usia-usia awal
0 s/d 8 tahun.
Kemudian bagaimana cara
kita
menciptakan
kondisi
pengasuhan dan pe...
Fokus
Ketiga, selenggarakanlah sistem
pembelajaran yang demokratis,
yang menyenangkan dan membuat
ceria
setiap
anak,
yang
...
Fokus

Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 9
Fokus

Badan Akreditasi Nasional
Pendidikan Nonformal
PERSYARATAN
PENYELENGGARAAN PNF
PROGRAM PAUD
BDASARKAN STANDAR NONAL...
Fokus
dikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan
pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta
pendidikan lain yang
dit...
Fokus
3.9

Kurikulum
Tingkat
Satuan
Pendidikan
(KTSP) adalah kurikulum
operasional yang disusun
oleh dan dilaksanakan di
m...
Fokus
3.16 Akreditasi
adalah
kegiatan penilaian kelayakan suatu program
dalam satuan pendidikan
berdasarkan kriteria yang
...
Fokus
3.22 Penyelenggara Program
PAUD adalah Suatu
lembaga atau satuan PNF
PAUD yang mengikuti
proses Akreditasi sesuai
de...
Fokus
kebenaran
kegiatan
Program PNF .
 memonitor dan mengawasi kinerja penyelenggara
Program
PNF.
3.26 Penundaan Akredit...
Fokus
minimal tentang ruang
belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah,
perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja,
temp...
Fokus

3.38.2

3.38.3

dalam persyaratan
tidak terpenuhi (non
confirmity)
pada
program
dalam
satuan PNF akan
mempengaruhi ...
Fokus
4.4.1
4.4.2
4.4.3
4.4.4
4.4.5

4.4.6

Rekaman
harus
akurat
Rekaman
harus mutakhir
Rekaman
harus
dapat dibuktikan
Dok...
Fokus
6. Standar Proses
6.1 Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
6.1.1 Program PAUD seharusnya
memiliki
rencana
pembelaj...
Fokus
7. Standar Kompetensi
Lulusan
7.1 Standar Kompetensi
Lulusan (SKL)
7.1.1 Standar Kompetensi Lulusan harus ditetapkan...
Fokus
belajar (ruang belajar/
bermain).
9.1.2 Lembaga
penyelenggara
Program PAUD sebaiknya
memiliki ruang tempat
bermain/b...
Fokus
10.3 Pelaporan Hasil Pengawasan
10.3.1 Lembaga penyelenggara
program PAUD sebaiknya
melaporkan hasil pengawasan
peng...
Fokus

Dra. Ella Sulhah, M.Pd1
I. LATAR BELAKANG
A. Dasar Hukum

2) Peraturan Pemerintah No 19
Republik

Tahun 2005 tentan...
Fokus
187/M

Tahun

mengenai

2004

akreditasi

adalah

kegiatan

pembentukan

penilaian kelayakan program

Kabinet Indone...
Fokus
tentang Standar Nasional Pen-

dilaksanakan

didikan

Akreditasi Nasional Pendidikan

menyatakan

Pemerintah

bahwa
...
Fokus
Kegiatan

Belajar

Masyarakat

yang terus berkembang. Dari

(PKBM).

Dengan

demikian,

berbagai program yang telah
...
Fokus
pendidikan berdasarkan kriteria

III. MAKSUD DAN TUJUAN

yang bersifat terbuka. Akreditasi

A. Maksud Kegiatan

PNF ...
Fokus
yang

bersifat

terbuka.

Pengantin, dan 3 (tiga) Lembaga

Sehubungan dengan itu, tujuan

meliputi : PAUD, PKBM dan
...
Fokus
setelah

mendapat

ijin

Depdiknas.

Setelah dokumen diterima

3) Satuan PNF yang ingin
programnya

program dalam sa...
Fokus
C. Hasil, Masa berlaku akreditasi
dan Tindak lanjut

laporan

hasil

asesment

lapangan dari tim asesor.
Hasil akred...
Fokus
PNF adalah 5 (lima )

waktu yang ditentukan

tahun dan setelah itu

(maksimal

dapat mengajukan per-

belum juga mel...
Fokus
VI. TAHAP KEGIATAN

menunjuk Tim asesor BAN

AKREDITASI

PNF

a. Penyelenggara program PNF
mengirimkan

surat

per-
...
Fokus
i. Pelaksanaan Sidang pleno
keputusan status akreditasi
j. Pengumuman

Keputusan

hasil akreditasi

VIII. PELAKSANA ...
Fokus

Beryana Evridawati
(Staf Dit. PAUD)
Jika kita bicara tentang
kebijakan
Pemerintah,
maka
komitmen yang diejawantahka...
Fokus
memenuhi kebutuhan mendasar
(survival) anak usia dini daripada
mencukupi kebutuhan pendidikannya.
Program Pendidikan...
Fokus
P AREGIO L K IA NPROG A P A D
ET
NA EG TA
RM PU
Su at ra S la
m e e tan:
1 O nKo eri g Il r
. ga m n i
N g Ae D s la...
Fokus
yang jitu jika kita menginginkan
sustainability bukan hanya muncul
sebagai konsep di atas meja kerja.
Namun hal ini ...
Fokus
kerja yang telah mereka susun
sebelumnya.
Dalam
muatan
fasilitasi tersebut, diharapkan
tumbuh kesadaran masyarakat
t...
Fokus

Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
Fokus

Endang Ekowarni 1

Tujuan:
1. Menentukan kriteria minimal
tentang sistem layanan PAUD.
2. Pedoman kepada pengelola
...
Fokus
Susunan Standar PAUD terdiri
dari:

Aspek perkembangan
diamati adalah:

1. Standar Tingkat Pencapaian
Perkembangan
2...
Fokus
3. Pengasuh PAUD
Berkualifikasi pendidikan minimal
SMP atau sederajat dengan usia
minimal 18 tahun, ditambah
dengan ...
Fokus
kelompok usia dan kebutuhan khusus anak
* Kegiatan
dilaksanakan
dengan cara terorganisasi
c. Penilaian
* Bertujuan m...
Fokus
b. Peralatan pendidik:
*

alat permainan edukatifdi
dalam ruang

*

alat permainan edukatifdi
luar ruang

ruang yang...
Fokus
3. Lembaga PAUD perlu memiliki
pedoman yang mengatur
kurikulum, kalender pendidikan, tata tertib, serta
mekanisme pe...
Fokus

Maryati Suwondo
(Staf Direktorat Kesetaraan, Depdiknas)

Setiap
keluarga
pasti
mendambakan hadirnya anak atau
ketur...
Fokus
Mendidik anak kandung
sendiri bukan hal yang mudah,
namun harus penuh kelembutan,
ketulusan jiwa, ketelatenan yang
j...
Fokus
cinta kasih, penuh kelembutan,
dihargai tiap tindak-tanduknya,
pasti anak itu akan tumbuh
kembang menjadi anak yang ...
Fokus
kepribadian anak yang seharusnya
kita bentuk sejak dini.
Bila anak kita masih belum
mengerti, maka ajar padanya
deng...
Fokus
jiwanya akan stabil tidak mudah
marah, tegar dalam menghadapi
segala cobaan dalam kehidupan.
Tapi tidak menutup kemu...
Fokus

DR.Dr.Theodorus
Immanuel SETIAWAN 1
ABSTRACT
Play Therapy. Play therapy,
especially in preschool years,
has proved ...
Fokus
I.

Pendahuluan

Dalam dua dekade terakhir ini,
pertambahan dramatis jumlah anak
yang
diidentifi-kasi
sebagai
mender...
Fokus
Kegiatan bermain merupakan
sarana yang aman yang dapat
digunakan anak untuk mengulangulang pelaksanaan dorongandoron...
Fokus
dikemukakan
oleh
beberapa
psikater anak terkemuka pada awal
abad 21 ini, seperti LeBlanc dan
Ritchie (2001), Winnico...
Fokus
main, bukan orang lain seperti
orang tua, guru, ataupun
dokter (Kottman, 2005).
2) Bermain
sangat
mengasyikkan.
Kada...
Fokus
perkembangan
intelek,
Ginsburg dan Opper (1969)
mengutip
Piaget
yang
mengemukakan bahwa di
antara usia 2 sampai 4 ta...
Fokus
samping itu, mainan harus dalam
keadaan baik dan bersih. Mainan
yang lusuh/rusak, dan/atau kotor,
akan mudah menyeba...
Fokus
dengan berbagai ukuran yang
memadai untuk digunting dan
dibentuk.
Pada situasi-situasi tertentu,
terapis
harus
mempe...
Buletin08012009
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Buletin08012009

1,055 views
878 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,055
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
18
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buletin08012009

  1. 1. Dari Redaksi Pembaca yang terhormat, Akreditasi merupakan kegiatan penilaian kelayakan suatu program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka. Sedangkan badan yang menangani akreditasi program pendidikan nonformal dan informal adalah suatu badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan nonformal dan informal, yaitu Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BANPNF) dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Setelah dilakukan identifikasi langsung kelayakan program PAUD oleh BAN-PNF, maka diterbitksnlah Simbol/Logo Akreditasi. Mudah-mudahan, tulisan-tulisan yang ada dalam edisi ini dapat menjadi bekal bagi kepentingan pemberian layanan akrditasi layanan program pendidikan anak usia dini. Semoga bermanfaat. Pengarah: Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Pembina: Sekretaris Ditjen Pendidikan Nonformal dan Informal Penanggungjawab: Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Dewan Redaksi: Togar S  Sukiman  M. Nuch  Enah S Editor: Dwinita Y  Euis E  Supriaji  Beryana E  Lamria R Lay Out: Untung S Tata Usaha: Sudadi  Wahyunanik D  Djoko Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  2. 2. Menu Edisi Ini  Dari Redaksi……………………………………………………………………  Menu Edisi Ini .. .. Fokus  Dr. Fasli Djalal, P.hD  Sudjarwo S, M.Sc, Pengasuhan dan Perawatan yang menstimulasi kecerdasan anak ......................................  BAN PNF, Persyaratan Akreditasi PNF Program Pendidikan Anak Usia Dini  Dra. Ella Sulhah, M.Pd, Pelaksanaan Akreditasi  Beryana Evridawati, Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini..................  Endang Ekowarni, Standar Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini .............................................  DR.Dr. Theodorus Immanuel Setiawan, Kegiatan Bermain Sebagai Terapi pada Anak.............................................  Maryati Suwondo, Hindari Kata Mencemooh pada Anak............................................. .. .. .. .. .. .. .. Alamat Redaksi: Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Ditjen Pendidikan Nonformal dan Informal, Departemen Pendidikan Nasional, Kompleks Depdiknas Gedung E Lantai 7, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta (10270)  e-mail: kemitraanpaud@yahoo.com  e-mail: ekkopadu@yahoo.com  telepon: (021) 5725495, 572556  fax: (021) 57900244, 5725495. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  3. 3. Fokus Dr.Sudjarwo S, M.Sc.1 Daya pikir atau bisa juga disebut tingkat kecerdasan anak usia dini merupakan modal dasar yang sangat menentukan arah kehidupan seseorang di masa dewasanya. Kecerdasan disini adalah kecerdasan komprehensif yang meliputi kecerdasan intelektual (IQ), emosional, sosial, spiritual, dan estetika. Kecerdasan komprehensif (seluruh jenis kecerdasan tersebut) merupakan satu kesatuan kecerdasan total yang idealnya dimiliki oleh setiap anak. Yang perlu juga diperhatikan juga bahwa satu kecerdasan dengan kecerdasn lainnya saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung 1 Direktur Pendidikan Anak Usia Dini sehingga kelemahan satu atau dua jenis kecerdasan akan mempengaruhi jenis kecerdasan lainnya sekaligus mempengaruhi kinerja (performance) anak. Mencermati pendapat dan pemahaman seperti itu pendidikan dan pengasuhan sewaktu anak usia dini seyogyanya dilakukan secara komprehensif agar semua kecerdasan tersebut dapat berkembang secara simultan dan pesat. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  4. 4. Fokus Keterbatasan akan kemampuan berfikir kritis dan kebugaran fisik anak usia dini misalnya, akan membatasi kesempatan anak tersebut dalam mengikuti proses pendidikan dan pengasuhan secara efektif dan optimal dan apabila kejadian ini terjadi dalam jangka waktu yang relatif lama dan berkesinambungan besar kemungkinannya akan membatasi anak tersebut dalam meraih berbagai peluang yang menjadi dasar dalam menentukan jalan kihidupan di masa dewasanya. Kecerdasan dan kebugaran fisik merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan sebagai modal dasar serta faktor yang tidak dapat ditawartawar bagi anak karena sangat menentukan masa depan seseorang. Artinya walaupun kebugaran fisik yang dimiliki seseorang setara dengan kebugaran fisik “Mike Tison” tetapi apabila tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata maka anak tersebut akan menghadapi keterbatasan dalam meraih peluang untuk masa depannya. Sebaliknya walaupun seseorang itu sangat cerdas tetapi sakit-sakitan, daya tahan tubuhnya lemah sehingga tidak tahan terhadap tekanan fisik dan mental yang dialami dalam hidupnya, tentunya juga menjadi sulit untuk bisa survive dalam kancah kehidupan yang sangat keras dan penuh dengan kompetisi bebas ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Rene Spitz, yang dilakukan pada tahun 1940an secara singkat dapat dijelaskan bahwa anak yang secara ketat diasuh dalam lingkungan keluarga yang berlimpah perhatian, makanan, dan perawatan serta dirawat oleh ibunya sendiri yang tahu tentang pentingnya perawatan dan pengasuhan yang benar dan baik, akan tumbuh menjadi anak yang normal. Namun sebaliknya bisa saja anak yang diasuh dalam lingkungan keluarga yang berlimpah perhatian, makanan, perawatan dan dirawat oleh ibunya sendiri yang berpendidikan tinggi tetapi tidak tahu cara-cara pendidikan, perawatan dan pengasuhan yang benar dan baik, maka anaknya tidak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang normal. Karena otak anak yang ditumbuh kembangkan oleh keluarga seperti ini tidak akan berkembang secara pesat dan optimal diusia dininya, bahkan bisa jadi anak tersebut akan tumbuh Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  5. 5. Fokus menjadi anak yang kegemukan (obesitas), tidak tahu diri, selalu menyalahkan orang lain, pemarah, tidak bisa kerjasama dengan orang lain dan berperilaku negatif lainnya karena salah didik, salah asuh dan salah dalam merawatnya. Selanjutnya anak yang tumbuh dan berkembang dilingkungan yang kumuh dan terlantar dan perhatian keluarganya sangat kurang, makanan kurang dan kebutuhan gizi tidak terpenuhi, perawatannya dilakukan secara asal-asalan, pengasuhanya dilakukan dengan cara yang tidak benar dan tidak baik, maka anak seperti itu juga tidak akan berkembang dan tumbuh menjadi anak yang normal. Kekeliruan dalam pendidikan, pengasuhan dan perawatan bisa saja terjadi karena pengetahuan dan pengalaman orang tua tentang itu sangat terbatas, atau pendidikan orang tua cukup tinggi tetapi tidak tahu pengasuhan dan pendidikan yang benar. Selain itu, bisa saja karena pengaruh orang tua, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitarnya (ekologi manusia) yang salah. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa perilaku negatif dan terbatasnya perkembangan kecerdasan seseorang juga dipengaruhi oleh budaya yang dianut oleh keluarga dan masyarakatnya. Masyarakat melayu/Indo+nesia pada umumnya juga ada kecenderungan salah dalam melakukan pendidikan, pengasuhan dan perawatan pada anak usia dini. Sebagai contoh, anak sudah usia 2 tahun dan sehat tetapi karena saking sayangnya orangtuanya maka si anak selalu di gendong-gendong padahal dia sudah bisa berjalan dengan baik. Anak sampai usia 5 tahun setiap makan selalu disuapin dan tidak diajari cara makan sendiri karena alasan kasihan dan sayang banyak makanan yang terbuang. Apabila ada anak terjatuh atau terbentur tembok dan menangis maka orangtua dan semua Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  6. 6. Fokus saudara mengkerubuti untuk berlomba-lomba mengangkatnya, menuangkan rasa kasih sayangnya secara berlebihan kemudian dengan lantangnya mereka berteriak: oh… itu lantainya nakal ya!!! Terus lantainya diinjak-injak rame-rame atau dindingnya di pukul rame-rame. Setiap tidur anak dikelonin sampai pagi dan tidak diajari tidur mandiri di tempat lain sampai anak tersebut usia 5 atau 6 tahun. Anak biasanya senang mencorat-coret dinding, pintu dan apa saja yang ia sukai. Anak seperti ini mestinya harus diarahkan untuk mencorat-coret di kertas saja dan diajari cara memegang pincil yang benar dan meletakan kertas yang benar, dsb. Berdasarkan temuan Spitz tersebut, Bapak penemu teori modern behaviorism John Watson mengatakan: “berikanlah kepada saya selusin bayi yang sehat, saya akan menjamin untuk melatih mereka untuk menjadi spesialis apa saja yang kita inginkan seperti menjadi doktor, ahli hukum, artis, kepala perdagangan, dan bahkan menjadi peminta-minta dan maling, karena ia tidak percaya pengaruh bakat, hoby, minat, kemampuan, lapangan pekerjaan, dan ras atau suku nenek moyangnya”. Di samping pendapat tersebut ada juga teori lain yaitu teori naturalisme yang mengatakan bahwa potensi kecerdasan dan faktor lain dari seseorang dipengaruhi oleh gene bawahaan orang tuanya. Tetapi menurut Acredolo dan Goodwyn (2000) pengaruh tersebut hanya pada struktur dasar otak yang terkait dengan kemampuan panca indra dan potensi itupun hanya dapat diekspose apabila perawatan, pendidikan dan pengasuhannya dilakukan secara baik dan benar. Dari kedua pendapat ahli tersebut jelas bahwa peranan stimulus yang dilakukan melalui pendidikan, pengasuhan, pemenuhan gizi yang memadai dan perawatan kesehatan anak secara baiklah yang akan menentukan kecerdasan komprehensif dan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  7. 7. Fokus kebugaran anak di masa dewasanya. Selanjutnya perlu diperhatikan pula bahwa anak usia dini mulai sadar tentang keadaan di lingkungannya pada umumnya dimulai dari usia 2 bulan s/d 1 tahun terutama perhatian yang berkaitan dengan penglihatan, alat perabanya, dan alat pendengarannya, namun demikian perhatian yang berkaitan dengan indera lainnyapun sudah ada akan tetapi kadarnya masih relatif kecil. Melalui pengalaman panca inderanya itulah terjadi rangsangan terhadap neuron atau sel-sel otaknya baik rangsangan terhadap dendrite, axson maupun sinaps dalam otaknya yang kemudian membentuk hubungan neural sebagai dasar perkembangan emosi, sosial, dan intelektual seseorang. Apabila rangsanganrangsangan ini terjadi secara terus menerus dengan berbagai variasi jenis dan jumlah serta mutu rangsangannya serta terjadi di sepanjang masa usia anak-anak maka secara konstruktif akan meningkatkan kecerdasan intelektual dan kebugaran fisik dan mentalnya. Disinilah perlunya dirancang kegiatan-kegiatan pengasuhan yang secara langsung dapat mempercepat dan meningkatkan perkembangan kecerdasan komprehensif dan kebugaran fisik anak. Perlu diketahui juga bahwa perkembangan kecerdasan jamak anak usia dini juga sejalan dengan pertumbuhan berat otaknya. Secara umum berat otak sewaktu anak baru lahir rata-rata hanya sekitar 340 gram, sejalan dengan bertambahnya usia anak setelah anak berumur 1 tahun berat otak bertambah dengan pesat pula menjadi 1100 gram dan pada saat anak berusia 5 tahun berat otak bertambah menjadi 1480 gram. Oleh karena itu kemampuan anak menyimpan infomasinya juga bertahap sejalan dengan pertumbuhan berat otaknya. Itu artinya bahwa makin bertambah usia anak makin memungkinkan untuk diberi stimulasi yang semakin banyak, semakin kompleks dan semakin sulit. Pertumbuhan berat otak yang sangat pesat pada usia 0 s/d 5 tahun dan pertumbuhan berat otak yang relatif kecil setelah usia 8 tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan potensi kecerdasan juga terjadi secara linear dengan pertumbuhan berat otaknya dan hal ini terjadi sejak anak masih Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  8. 8. Fokus dalam kandungan. Namun perkembangan secara eksplosif terjadi pada usia 0 s/d 8 tahun. Dengan demikian pendidikan, pengasuhan, dan perawatan akan lebih tepat apabila dimulai sedini mungkin, bahkan sejak anak masih dalam kandungan dan jangan menunggu setelah anak berusia 7 tahun. Pertumbuhan berat otak yang berlipat-lipat pada usia 0 s/d 8 tahun tersebut juga merupakan indikasi bahwa pendidikan, pengasuhan dan perawatan akan lebih efektif apabila dimulai sejak anak masih dalam kandungan sesuai dengan taraf perkembangan dan usianya. Dengan memberikan pendidikan, perawatan dan pengasuhan kepada anak sejak anak dikandungan berarti kita telah menanamkan fondasi kecerdasan dan kebugaran secara tepat dan mapan. Makin bermutu pendidikan, pengasuhan dan perawatan yang dilakukan sejak usia dini maka makin kokoh fondasi kecerdasan yang dibangunnya. Ibarat membangun rumah, bagaimana-pun bagusnya rumah yang dibangun apabila fondasinya tidak kuat maka rumah tersebut akan mudah roboh dan mudah rusak. Demikianlah PAUD dapat diibaratkan. Dalam hal peran orangtua dalam meningkatkan kecerdasan dan kebugaran anak usia dini dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pengetahuan dan kesanggupan orangtua dalam pendidikan, pengasuhan dan perawatan bagi anak usia dini, maka semakin memungkinkan bagi orangtua untuk dapat melakukan stimulasi yang konstruktif dan bervariatif yang akan mempercepat perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan kebugaran anak. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, perkembangan kecrdasan anak akan semakin optimal apabila PAUD dimulai sedini mungkin. Memang ada juga teori yang menyatakan bahwa kecedasan anak ditentukan oleh genes orangtuanya, tetapi menurut Acredolo dan Goodwyn (2000) pengaruh tersebut hanya pada jaringan (circuit) utama dalam otak yang mengontrol fungsi-fungsi dasar otak seperti fungsi perintah bernafas, detakan jantung, mengatur tergeraknya badan dan innate Reflexes, akan tetapi berkembang atau tidaknya triliunan sel otak yang dihubungkan secara komplek ditentukan oleh banyak dan kualitas stimulasi yang Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  9. 9. Fokus diperoleh anak pada usia-usia awal 0 s/d 8 tahun. Kemudian bagaimana cara kita menciptakan kondisi pengasuhan dan pembelajaran yang mengasyikan bagi anak agar potensi kecerdasan jamak dan kebugaran fisiknya berkembang dan bertumbuh secara pesat dan optimal?. Jawaban dari pertanyaan ini adalah secara teoritis maupun prakteknya dilapangan dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode atau strategi atau cara yang paling ampuh untuk mengkondisikan hal itu. Hal ini dilandasi oleh suatu persepsi dan kondisi sebagai berikut. Secara teoritis tidak ada dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode yang selalu efektif untuk diterapkan dalam berbagai situasi pengajaran dan pengasuhan. Setiap anak mempunyai kondisi yang berbedabeda dan karakteristik/ciri-ciri yang berbeda pula. Katakanlah anak yang pendiam atau anak yang lambat dalam merespon setiap rangsangan tidak bisa diperlakukan sama dengan anak yang memiliki kesiapan prima untuk menerima rangsangan. Anak yang sangat aktif dalam berbagai hal juga tidak bisa diperlakukan sama dengan anak yang sikapnya sangat pasif. Anak yang extrofet juga memerlukan perlakukan pengasuhan yang berbeda dengan anak yang introfet, dst. Namun demikian, secara umum kondisi pengasuhan dan pembelajaran yang mengasyikan bagi anak agar potensi kecerdasan jamak dan kebugaran fisiknya berkembang dan bertumbuh secara pesat dan optimal dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, jelaskan dan netralkan pengaruh orang tua agar orang tua tidak ambisius terhadap hasil belajar di usia dini karena biasanya orang tua menginginkan anaknya sudah lancar membaca, menulis, berhitung dan bisa berbicara beberapa bahasa asing. Orangtua yang tidak paham pendidikan di usia dini biasanya berharap setelah selesai dari TK anaknya menjadi superman. Jelaskan apa dan bagaimana itu PAUD. Kedua, identifikasi terlebih dahulu siapa saja anak yang sangat antusia, antusia, kurang antusia, tidak antusia, dan pasif dalam belajar, kemudian kelompokkan mereka menurut klasifikasi kesiapannya. Dari kondisi tersebut tutor dapat memilih dan menentukan metode mana yang paling sesuai untuk setiap sub kelompok anak tersebut. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 7
  10. 10. Fokus Ketiga, selenggarakanlah sistem pembelajaran yang demokratis, yang menyenangkan dan membuat ceria setiap anak, yang menyertakan setiap anak untuk terlibat aktif, yang adil dan penugasannya merata serta kalau memungkinkan diulang-ulang agar ada kesempatan untuk internalisasi/penguatan. Keempat, secara cermat dan tepat kegiatan pengasuhan dan pendidikannya harus merangsang secara seimbang antara potensi kecerdasan yang berasal dari otak kanan dan otak kiri secara kognitif, motorik dan afektif. Secara umum potensi kecerdasan otak kanan dan kiri setidak-tidaknya mencakup kecerdasan: berfikir logis/ matematis; kebahasaan; spasial/ ruang; kinestetika/ olahraga/olah tari dan gerak; komunikasi inter dan entrapersonal; serta seni dan musik. Kelima, adanya kesinambungan dan kesamaan antara pengasuhan dan pendidikan di PAUD dengan di rumah orang tuanya. Ini artinya bahwa orang tua anak harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kemauan untuk melakukan seperti yang dilakukan di kelompok PAUD. Kesiapan orang tua untuk menjadi tutor penyambung di rumahnya sangat penting mengingat dari 24 jam sehari, sedikitnya 20 jam anak ada di bawah naungan dan tanggungjawab orang tuanya. Apabila intensitas pengasuhan dan pendidikan anak usia dini di rumah dan di lembaga PAUD sudah setara dan dilakukan secara berkelanjutan maka anak akan tumbuh dan berkembangn secara cerdas dan sehat. Keenam, dorong anak untuk mengekspresikan apa saja yang mereka inginkan dengan bimbingan dan arahan yang terstruktur dan konstruktif dari para tutor di lembaga PUD dan orang tuanya di rumah. Demikianlah sekilas tentang pengasuhan dan pendidikan yang berpotensi meningktakan dan memeprcepat kecrdasan dan kebugaran anak usia dini. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 8
  11. 11. Fokus Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 9
  12. 12. Fokus Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal PERSYARATAN PENYELENGGARAAN PNF PROGRAM PAUD BDASARKAN STANDAR NONAL PENDIDIKAN (SNP) 1. Ruang Lingkup 1.1 Pedoman ini berisikan persyaratan penyelenggaraan Program PAUD 1.2 Pedoman ini dapat digunakan dalam pengembangan, pemeliharaan dan pelayanan Program PAUD 2. Acuan Normatif Acuan yang digunakan dalam pedoman ini adalah: 2.1 Undang-Undang RI No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional 2.2 Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan 2.3 Surat Keputusan Mendiknas No 30 Tahun 2005 tentang Pembentukan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN PNF) 2.4 IWA2. Quality Management system Guidelines for the Application of ISO 9001:2000 in education. 2.5 Kebijakan BAN PNF tahun 2007 2.6 Standar yang berlaku 3. Istilah dan Definisi 3.1 Pendidikan Non Formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang 3.2 Pendidikan Non Formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendi- Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  13. 13. Fokus dikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. 3.3 Jenjang Pendidikan adalah tahapan pendidikan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. 3.4 Jenis Pendidikan adalah kelompok yang yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. 3.5 Satuan Pendidikan Non Formal adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. 3.6 Satuan Pendidikan Non Formal terdiri dari atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. 3.7 Kursus dan Pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 3.8 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  14. 14. Fokus 3.9 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan 3.10 Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang Program PAUD 3.11 Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar. 3.12 Pendidik adalah tenaga kependidkan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan 3.13 Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. 3.14 Evaluasi Pendidikan adalah kegiatan pengendalian , penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban penyelenggaraan pendidikan. 3.15 Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  15. 15. Fokus 3.16 Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan suatu program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka. 3.17 Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN-PNF) adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/ atau satuan pendidikan PNF dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. 3.18 Surat Tanda Akreditasi adalah dokumen formal atau satu set dokumen yang secara legal dapat dipertanggung jawabkan yang menyatakan pem berian akreditasi kepada satuan PNF untuk suatu Program PNF. 3.19 Simbol Akreditasi adalah Simbol/Logo akreditasi yang diterbitkan oleh BAN-PNF untuk diguna- kan oleh Satuan PNF yang terakreditasi, yang menunjukkan status akreditasi mereka sekaligus mengindikasikan langsung kelayakan Program PAUD 3.20 Banding adalah Permintaan dari Lembaga Penyelenggara PNF untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang dirasakan merugikan yang dibuat BAN-PNF terkait dengan penilaian kesesuaian status akreditasi PNF. 3.21 Asesor Akreditasi adalah Seseorang yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang relevan dengan tugas untuk melaksanakan akreditasi terhadap kelayakan program dalam satuan PNF, baik secara perorangan maupun sebagai bagian dari tim akreditasi sesuai dengan persyaratan dan tugas yang ditetapkan oleh BAN-PNF Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  16. 16. Fokus 3.22 Penyelenggara Program PAUD adalah Suatu lembaga atau satuan PNF PAUD yang mengikuti proses Akreditasi sesuai dengan pedoman BANPNF, mencakup kegiatan permohonan, evaluasi, keputusan akreditasi, surveilen dan akreditasi ulang. Penyelenggara Program PAUD merupakan obyek akreditasi oleh BAN-PNF. 3.23 Sistem Penjaminan Mutu adalah dokumen dan rekaman kegiatankegiatan yang bertujuan untuk memenuhi atau melampaui standar nasional pendidikan yang mencakupi struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber untuk menerapkan manajemen dan pengelolaan mutu, serta dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. 3.24 Panduan Mutu adalah suatu dokumen yang berisi kebijakan mutu, sistem mutu, dan pelaksanaan mutu dalam suatu organisasi. Panduan mutu dapat juga membuat dokumen lain yang berhubungan dengan pengaturan mutu PNF. 3.25 Surveilen adalah kegiatan-kegiatan penilaian ulang kelayakan Program PNF dalam satuan PNF yang dilakukan oleh BAN-PNF sehubungan dengan aspek dan lingkup akreditasi setelah dilakukan akreditasi, misalnya:  melakukan kegiatan survei lapangan  meminta kepada penyelenggara Program PNF untuk menyiapkan/ menyediakan dokumen dan rekaman2 yang dibutuhkan seperti rekaman audit, hasil quality control untuk membuktikan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  17. 17. Fokus kebenaran kegiatan Program PNF .  memonitor dan mengawasi kinerja penyelenggara Program PNF. 3.26 Penundaan Akreditasi adalah penundaan sementara pemberlakuan akreditasi pada suatu program dalam satuan PNF selama maksimal satu tahun untuk lembaga (satuan PNF) yang sedang dalam proses akreditasi.. 3.27 Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3.28 Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan Program PAUD yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 3.29 Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan dalam Program PNF 3.30 Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan Program PAUD 3.31 Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. 3.32 Standar Sarana dan Prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  18. 18. Fokus minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang dibutuhkan dalam Program PAUD 3.33 Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, propinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan Program PAUD 3.34 Standar Pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun untuk Program PAUD 3.35 Standar Penilaian Pendidikan adalah standar nasional pendi-dikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik Program PAUD 3.36 Dokumen adalah format yang menjadi perencanaan untuk dilaksanakan (sebelum diisi data), seperti formulir, panduan mutu, prosedur, instuksi kerja dan fotokopi. 3.37 Rekaman adalah catatan hasil pelaksanaan dan pengisian dari dokumen, seperti hasil formulir yang telah diisi, instruksi kerja dengan fotokopi yang telah diisi 3.38 Kategori Persyaratan Dikelompokkan dalam: 3.38.1 Harus apabila komponen/unsur yang disebutkan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 7
  19. 19. Fokus 3.38.2 3.38.3 dalam persyaratan tidak terpenuhi (non confirmity) pada program dalam satuan PNF akan mempengaruhi menurunnya mutu PNF secara langsung (major defect). Seharusnya apabila komponen/unsur yang disebutkan dalam persyaratan tidak terpenuhi (non confirmity) pada program dalam satuan PNF akan berpotensi menurunkan mutu PNF (minor defect). Sebaiknya apabila komponen/unsur yang disebutkan dalam persyaratan tidak terpenuhi (non confirmity) pada program dalam satuan PNF akan mempengaruhi kinerja PNF (efesiensi, efektifitas dan produktifitas). 4. Persyaratan Umum 4.1 Setiap program dan satuan PNF harus memenuhi standar sesuai dengan UU RI No 20/2003 Pasal 35 ayat (1), aspek yang perlu di standarisasi terdiri atas 8, yaitu: 1) isi, 2) proses, 3) kompetensi lulusan, 4) pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, 5) sarana dan prasarana, 6) pengelolaan, 7) pembiayaan, dan 8) penilaian. 4.2 Ke delapan standar ini sebaiknya ditingkatkan secara berencana, berkala, dan berkelanjutan. 4.3 Kriteria akreditasi satuan dan Program PAUD harus menggunakan standar yang berlaku. 4.4 Kepatuhan terhadap program sistem manajemen lembaga seluruh rekaman dan dokumen yang terkait dengan persyaratan dalam delapan standar ditetapkan kriteria sebagai berikut: Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 8
  20. 20. Fokus 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 4.4.6 Rekaman harus akurat Rekaman harus mutakhir Rekaman harus dapat dibuktikan Dokumen harus benar dan akurat Prosedur monitoring harus diikuti dengan baik Tindakan koreksi harus dilakukan bila tidak terdapat kesesuaian Modifikasi Program PNF yang digunakan harus mendapat persetujuan dari pimpinan lembaga penyelenggara Program PAUD. 5. Standar Isi 5.1 Struktur Kurikulum 5.1.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD harus memiliki kurikulum 5.1.2 Kurikulum yang digunakan harus mengacu kepada Standar PAUD 5.1.3 Kurikulum seharusnya ditinjau secara berkala 5.1.4 Frekuensi peninjauan/perubahan kuri- kulum sebaiknya dilaku-kan secara tahunan/bulanan 5.2 Beban Belajar 5.2.1 Beban belajar seharusnya ditetapkan berdasarkan jumlah jam belajar per satuan waktu 5.3 Kalender Pendidikan 5.3.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya memiliki kalender pendidikan 5.3.2 Kalender pendidikan seharusnya disosialisasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan 5.4 Silabus 5.4.1 Lembaga penyelenggara Program PAUD harus memiliki silabus untuk kegiatan mingguan dan harian 5.4.2 Silabus harus disusun dengan mengacu pada Panduan Tahap Perkembangan Anak 5.4.3 Silabus setiap mata pelajaran seharusnya disusun oleh pendidik 5.4.4 Silabus sebaiknya didokumentasikan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 9
  21. 21. Fokus 6. Standar Proses 6.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 6.1.1 Program PAUD seharusnya memiliki rencana pembelajaran Harian/Mingguan 6.1.2 RPP setiap mata pelajaran seharusnya disusun oleh Pendidik 6.1.3 RPP seharusnya disusun dengan mengacu pada Standar Perkembangan Anak 6.1.4 RPP sebaiknya didokumentasikan 6.2 Pelaksanaan Pembelajar-an 6.2.1 Pengelolaan Kelas 6.2.1.1 Pelaksana program seharusnya melakukan penataan lingkungan bermain 6.2.2 Bahan Ajar 6.2.2.1 Lembaga Program PAUD sebaiknya menyediakan Alat Permainan Edukatif (APE) 6.2.3 Kegiatan Pembelajaran 6.2.3.1 Kegiatan pembelajaran sebaiknya terdiri inti, penyambutan, dan penutup. 6.3 Penilaian Hasil Pembelajaran 6.3.1 Lembaga penyelenggara program PAUD seharusnya melaksanakan penilaian pada proses pembelajaran 6.4 Pengawasan 6.4.1 Supervisi 6.4.1.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya melakukan supervisi proses pembelajaran pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. 6.4.2 Evaluasi 6.4.2.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya melakukan evaluasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. 6.5 Pelaporan dan Tindak Lanjut 6.5.1 Hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran sebaiknya dilaporkan kepada pihak-pihak yang terkait. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 10
  22. 22. Fokus 7. Standar Kompetensi Lulusan 7.1 Standar Kompetensi Lulusan (SKL) 7.1.1 Standar Kompetensi Lulusan harus ditetapkan sesuai usia anak dan aspek pengembangan Bahasa, kognitif, sosial emosional, agama dan moral 7.2 Acuan Standar 7.2.1 Standar Program PAUD seharusnya mengacu pada Standar PAUD 7.3 Standar Kompetensi Perkembangan Anak 7.3.1 Program PAUD seharusnya memiliki standar tahapan perkembangan anak 7.4 Peserta Didik 7.4.1 Penyelenggara Program PAUD seharusnya memiliki data jumlah peserta didik saat pendaftaran dan data peserta didik yang telah selesai mengikuti program dalam 3 tahun terakhir. 7.5 Kemitraan 7.5.1 Penyelenggara Program PAUD sebaiknya melakukan kerjasama dengan instansi lain. 8. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 8.1 Pendidik 8.1.1 Program PAUD harus memiliki pendidik yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan 8.1.2 Pendidik Program PAUD harus mengikuti pelatihan peningkatan mutu yang relevan 8.2 Tenaga Kependidikan 8.2.1 Tenaga Kependidikan Program PAUD seharusnya memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam bidang kerjanya 8.2.2 Tenaga Kependidikan Program PAUD sebaiknya mengikuti pelatihan peningkatan mutu yang relevan 9. Standar Sarana dan Prasarana 9.1 Prasarana Pendidikan 9.1.1 Lembaga penyelenggara Program PAUD harus memiliki tempat aktifitas Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 11
  23. 23. Fokus belajar (ruang belajar/ bermain). 9.1.2 Lembaga penyelenggara Program PAUD sebaiknya memiliki ruang tempat bermain/belajar yang tetap sesuai kebutuhan 9.2 Peralatan dan Perlengkapan pendidikan 9.2.1 Ruang belajar Program PAUD harus dilengkapi berupa alat untuk melaksanakan pembelajaran (“best practice”) Program PAUD. 9.3 Buku, Media, dan Sumber Belajar Pendidikan 9.3.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya menyediakan buku teks, buku, peralatan bermain, bahan ajar, dan bahan ajar lainnya. 9.3.2 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya menyediakan sumber belajar lain seperti mainan gantung berwarna, alat gambar dan lukis, dan lainlain. 10. Standar Pengelolaan 10.1 Perencanaan 10.1.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD seharusnya merumuskan dan menetapkan visi, misi, dan tujuan serta memiliki dokumennya 10.1.2 Lembaga Penyelenggara Program PAUD sebaiknya melaksanakan sosialisasi visi, misi dan tujuan kepada semua pendidik, peserta didik, dan unsur lain yang terkait 10.2 Pelaksanaan Rencana Kerja 10.2.1 Lembaga penyelenggara program PAUD sebaiknya mempunyai pedoman yang mengatur berbagai aspek pengelolaan secara tertulis yang mudah dibaca oleh pihak terkait meliputi: kurikulum, kalender pendidikan, peraturan pendidikan, tata tertib, dan kode etik. 10.2.2 Pelaksanaan Program PAUD seharusnya berdasarkan rencana kerja tahunan yang telah ditetapkan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 12
  24. 24. Fokus 10.3 Pelaporan Hasil Pengawasan 10.3.1 Lembaga penyelenggara program PAUD sebaiknya melaporkan hasil pengawasan pengelolaan secara tertulis kepada pimpinan lembaga dan pembina program (Dinas Pendidikan) 10.4 Kepemimpinan 10.4.1 Pimpinan Lembaga Penyelenggara Program PAUD harus mengikuti kriteria yang berlaku. 10.5 Sistem Informasi Manajemen (SIM) 10.5.1 Lembaga Penyelenggara Program PAUD sebaiknya mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung administrasi pendidikan yang efektif, efesien dan akuntabel. 12. Standar Penilaian 12.1 Penyelenggara dan Pendidik Program PAUD harus melakukan penilaian hasil belajar secara periodik (tengah dan akhir program) 12.2 Penilaian hasil belajar peserta didik sebaiknya menggunakan teknik penilaian berupa portofolio/praktek. 12.3 Penilaian hasil belajar sebaiknya berdasarkan prinsip-prinsip penilaian 12.4 Penyelenggara Program PAUD sebaiknya memiliki panduan penilaian. 12.5 Hasil penilaian peserta didik Program PAUD harus dilaporkan kepada orang tua peserta didik. 11. Standar Pembiayaan 11.1 Penyelenggara Program PAUD sebaiknya memiliki dokumen (pembukuan) penerimaan dan pengeluaran dana Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 13
  25. 25. Fokus Dra. Ella Sulhah, M.Pd1 I. LATAR BELAKANG A. Dasar Hukum 2) Peraturan Pemerintah No 19 Republik Tahun 2005 tentang Standar Indonesia No. 20 Tahun 2003 Nasional Pendidikan (Lem- tentang Sistem Pendidikan baran Negara Tahun 2005 Nasional (Lembaran Negara Nomor Tahun 2003 Nomor 78, Lembaran Negara Republik Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor 4496); 1) Undang-undang 41, Tambahan 3) Keputusan Presiden Nomor Nomor 4301); 1 Anggota BAN PNF DEPDIKNAS Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  26. 26. Fokus 187/M Tahun mengenai 2004 akreditasi adalah kegiatan pembentukan penilaian kelayakan program Kabinet Indonesia Bersatu dan/atau satuan pendidikan sebagaimana telah bebe- berdasarkan kriteria yang telah rapa kali diubah terakhir ditetapkan dengan Keputusan Presiden standar. No 20/P Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan 4) Peraturan Menteri Pen- berdasarkan Bab IX tentang pasal 35 ayat 1 menyatakan didikan Nasional Nomor 30 bahwa Tahun 2005 tentang Badan pendidikan terdiri atas: standar Akreditasi isi, proses, kompetensi lulusan, Nasional Pen- didikan Nonformal. pendidik 5) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional standar Nomor nasional dan kependidikan, tenaga sarana dan prasarana, pengelolaan, pem- 064/P/2006, tentang peng- biayaan, dan penilaian angkatan anggota BAN 0PT, pendidikan BAN S/M, dan BAN PNF. ditingkatkan secara berencana yang harus dan berkala. Hal ini dapat B. Gambaran Umum Singkat diartikan bahwa akreditasi adalah upaya menstandarisasi Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa kedelapan hal tersebut. Hal serupa diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  27. 27. Fokus tentang Standar Nasional Pen- dilaksanakan didikan Akreditasi Nasional Pendidikan menyatakan Pemerintah bahwa melakukan oleh Badan Non Formal (BAN PNF). akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk C. Alasan Kegiatan dilaksanakan menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. PNF telah melaksanakan 5000 Dengan akreditasi jenis pendidikan keterampilan bukan hanya dilakukan untuk hidup, 3 jenis pendidikan anak pendidikan formal saja, tetapi usia dilakukan juga untuk pendidikan program, non pendidikan demikian formal. Sebagaimana dini dengan 56.544 10.000 program pemberdayaan amanat UU No. 20/2003 pasal perempuan, 120.000 pendidikan 60 bahwa keaksaraan, untuk keterampilan menyebutkan akreditasi dilakukan 187 dan jenis pelatihan menentukan kelayakan program dalam bentuk kursus dengan dan satuan pendidikan pada 13.000 pelaksanan program. jalur pendidikan formal dan non PNF juga telah mengelola 7 formal pada setiap jenjang dan Balai jenis didikan pendidikan. Sejalan Pengembangan Luar Sekolah Pendan dengan itu, pasal 87 PP No. Pemuda (BPPLSP), 23 Balai 19/2005 menyatakan bahwa Pengembangan Kegiatan Belajar implementasi akreditasi pada (BPKB), 350 Sanggar Kegiatan pendidikan Belajar non formal (SKB), 5000 Pusat Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  28. 28. Fokus Kegiatan Belajar Masyarakat yang terus berkembang. Dari (PKBM). Dengan demikian, berbagai program yang telah dilihat dari sisi jumlah, PNF dikembangkan tersebut, baru sudah cukup maju, namun sekitar dilihat dari sisi mutu dan dikatakan layak, dalam arti kelayakan, kinerja PNF masih keluarannya mampu merebut perlu peluang ditingkatkan secara berkelanjutan. Ilmu dan 20% yang pasar dapat yang ada, sedangkan 80% lainnya masih teknologi terus perlu ditingkatkan dan dibina berkembang seiring dan sejalan secara dengan perkembangan Untuk tuntutan kehidupan dan masya- berkesinambungan. menemukenali menditeksi program dan dalam rakat. Kondisi ini memaksa satuan PNF yang ada perlu di para pengelola PNF untuk terus tingkatkan kelayakannya, maka bergerak program dalam satuan PNF maju dalam memberikan layanan pendidikan yang layak bagi warga masyarakat, sehingga mereka dapat merebut peluang yang terus berkembang. Hanya warga masyarakat yang yang ada perlu diakreditasi. II. KEGIATAN YANG DILAKSANA KAN A. Uraian Kegiatan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan Akreditasi sikap maju yang akan mampu penilaian terhadap kelayakan memanfaatkan program lingkungan adalah dalam kegiatan satuan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  29. 29. Fokus pendidikan berdasarkan kriteria III. MAKSUD DAN TUJUAN yang bersifat terbuka. Akreditasi A. Maksud Kegiatan PNF dilakukan pada sejumlah program dalam satuan PNF sesuai dengan Undang-Undang Kegiatan untuk program No. 20 tahun 2003, ini dimaksudkan meningkatkan mutu pendidikan non formal dan mendorong satuan B. Batasan Kegiatan Kegiatan ini PNF berupaya meningkatkan akan di- mutu program dan lembaga- laksanakan mulai bulan Maret nya secara bertahap, s/d Desember 2009 dengan terencana dan kompetitif di keluaran laporan hasil visitasi tingkat ke 14 (empat belas) program propinsi. kabupaten/kota,dan PNF meliputi program PAUD, Kejar paket A, B, C, Sekretaris, B. Tujuan Kegiatan Bahasa Inggris, Akupunktur, Tata Berdasarkan UU RI No 20/2003 Tata Pasal 60 ayat (1) akreditasi Kecantikan Rambut, Menjahit, dilakukan untuk menentukan Akutansi, Tata Rias Pengantin, kelayakan program dan satuan dan 3 (tiga) Lembaga meliputi : pendidikan pada jalur PAUD, PKBM dan Kursus. didikan formal dan non formal Otomotif, Kecantikan Komputer, Kulit, pen- pada setiap jenjang dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  30. 30. Fokus yang bersifat terbuka. Pengantin, dan 3 (tiga) Lembaga Sehubungan dengan itu, tujuan meliputi : PAUD, PKBM dan dilaksanakannya Kursus. program akreditasi dalam satuan pendidikan non formal adalah untuk member! penilaian kelayakan suatu satuan pen- V. PELAKSANAAN KEGIATAN Pelaksanaan Kegiatan akre- didikan non formal berdasarkan ditasi terdiri dari 3 tahap yaitu kriteria yang telah ditetapkan persiapan, dan dilakukan oleh BAN PNF yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan dan penentuan hasil dan tindak lanjut pengakuan akreditasi. A. Persiapan kelayakan. Setiap satuan dan program PNF yang ingin IV. HASIL YANG DIHARAPKAN Terakreditasinya 1.850 program PNF di 20 propinsi, meliputi program PAUD, Paket A, B, C, Sekretaris, Bahasa Inggris, Akupunktur, Otomotif, Komputer, Tata kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, diakreditasi harus mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh BAN PNF dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Memiliki izin operasional dari Depdiknas 2) Telah melakukan kegiatan PNF minimal 1 tahun Menjahit, Akutansi, Tata Rias Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  31. 31. Fokus setelah mendapat ijin Depdiknas. Setelah dokumen diterima 3) Satuan PNF yang ingin programnya program dalam satuan PNF. diakreditasi dan diperiksa kelengkapannya oleh sekretariat BAN PNF harus mengajukan surat dan permohonan selanjutnya dilakukan audit untuk di- akrediatsi kepada BAN PNF dibuat laporannya, dokumen oleh tim asesor yang ditugaskan oleh BAN 4) Telah melakukan evaluasi diri secara sistematis dan teratur dengan maksud agar PNF. Hasil audit dokumen dipergunakan untuk rencana pelaksanaan visitasi. dapat memastikan bahwa program dalam satuan PNF telah dapat menjamin kualitasnya. 2) Visitasi Visitasi adalah kegiatan kunjungan yang dilakukan tim asesor untuk meneliti B. Pelaksanaan kesesuaian Akreditasi dilaksanakan setelah dilakukan : dokumen/ rekaman dengan kondisi yang ada di lapangan atau 1) Evaluasi dokumen (Desk kesesuaian dengan standar. Evaluation ) Visitasi juga dilaksanakan Evaluasi dokumen adalah dalam rangka melakukan penilaian surveilan untuk memelihara kelengkapan dokumen hasil evaluasi diri hasil akreditasi Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 7
  32. 32. Fokus C. Hasil, Masa berlaku akreditasi dan Tindak lanjut laporan hasil asesment lapangan dari tim asesor. Hasil akreditasi dinyatakan 1). Hasil akreditasi dengan sertifikat akreditasi Penilaian hasil evaluasi dokumen (desk evaluation & audit dokumenf) dan hasil evaluasi lapangan menjadi bahan penentuan hasil akreditasi. Hasil akreditasi adalah pernyataan kesesuaian (conformity) dengan standar atau dan ditandatangani oleh Ketua BAN PNF. Sertifikat akreditasi memuat nyataan hasil per- akreditasi satuan PNF dengan lingkup program yang dimintakan akreditasinya kelayakan sesuai dengan standar yang telah yang dikeluarkan BAN PNF ditetapkan penghargaan bukan (reward). 2). Masa berlaku akreditasi dan tindak lanjut Setiap program dalam Dengan demikian hanya satuan pendidikan yang ada status terakreditasi telah memperoleh status (acrredited) "terakreditasi" dan Tidak selanjutnya terakreditasi (non accre- harus memperhatikan ke- dited). tentuan sebagai berikut Sedang Hasil Akreditasi PNF ditentukan oleh sidang pleno BAN PNF atas dasar penilaian (a) Masa berlaku akreditasi status setiap program dalam satuan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 8
  33. 33. Fokus PNF adalah 5 (lima ) waktu yang ditentukan tahun dan setelah itu (maksimal dapat mengajukan per- belum juga melengkapi mohonan kembali untuk persyaratan maka harus diakreditasi, sekurang- mengajukan permohon- kurangnya 6 (enam) an bulan sebelum berakhir akreditasi masa berlakunya status akreditasi ulang 1 tahun), untuk (d) Pengaduan di- keberatan (complain). Penyeleng- (b) Satuan PNF yang masa gara program/satuan berlaku status akreditasi PNF dapat mengajukan programnya sudah ber- keberatan hasil akre- akhir dan telah meng- ditasi kepada BAN PNF. ajukan Selanjutnya BAN PNF permohonan untuk diakreditasi, tetapi akan belum dilakukan proses mengevaluasi akreditasi, maka akre- melakukan ditasinya untuk dinyatakan masih tetap berlaku (c) Bagi program dalam satuan PNF yang status akreditasinya ditunda (Pending) sampai batas mempelajari, dan verifikasi, kemudian di- putuskan dalam sidang pleno, kemudian hasilnya akan disampaikan pada penyelenggara program tersebut. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 9
  34. 34. Fokus VI. TAHAP KEGIATAN menunjuk Tim asesor BAN AKREDITASI PNF a. Penyelenggara program PNF mengirimkan surat per- untuk melakukan evaluasi dokumen f. Komisi Pelaksana Akreditasi mohonan akreditasi kepada beserta BAN PNF Pembekalan kepada asesor b. BAN PNF mengirim surat jawaban disertai lampiran instrumen dan kelengkapannya untuk diisi oleh pemohon c. Penyelenggara program PNF mengembalikan instrumen yang telah diisi disertai lampiran pendukung ke sekretariat BAN PNF d. Sekretariat melakukan kelengkapan BAN TIM memberi yang akan ditugaskan untuk melaksanakan visitasi ke lembaga g. Setelah melaksanakan visitasi, asesor mengirimkan laporan hasil visitasi kepada BAN PNF paling lambat seminggu setelah visitasi h. Komisi Pelaksana Akreditasi PNF pemeriksaan dokumen, apabila dinyatakan sudah lengkap, dokumen siap untuk dievaluasi oleh tim asesor dengan (selected Tim pemeriksa assesor) me- lakukan pemeriksaan, penilaian terhadap laporan hasil visitasi asesor, dan merekomendasikan status akreditasi untuk diputuskan e. Komisi Pelaksana Akreditasi dalam sidang pleno Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 10
  35. 35. Fokus i. Pelaksanaan Sidang pleno keputusan status akreditasi j. Pengumuman Keputusan hasil akreditasi VIII. PELAKSANA DAN PENANGGUNGJAWAB KEGIATAN a. Pelaksana kegiatan adalah sebagai berikut : VII. TEMPAT PELAKSANAAN 1). Anggota BAN PNF KEGIATAN 2). Sekretariat BAN PNF Kegiatan visitasi dilakukan di 20 3). Nara Sumber provinsi Yaitu : Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Kalimantan 4). Nara Sumber Bali, Barat, 5). Asesor PNF b. Penanggung jawab kegiatan adalah Ketua Komisi Akreditasi/Koor- Kalimantan Timur, Sulawesi dinator Kegiatan Pelak- Selatan, Sulawesi Utara, sanaan Akreditasi Sulawesi Tengah, Maluku Utara, NTB, Lampung dan Gorontalo Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 11
  36. 36. Fokus Beryana Evridawati (Staf Dit. PAUD) Jika kita bicara tentang kebijakan Pemerintah, maka komitmen yang diejawantahkan dengan menempatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai salah satu program utama pembangunan pendidikan jangka menengah 2005-2009 merupakan perwujudan dari kesadaran tentang peran kritis PAUD dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak mulia. Dalam kurun waktu singkat, lembaga-lembaga penyelenggara PAUD terutama PAUD Nonformal tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan. Suatu fenomena yang sangat menarik dan menggembirakan. Namun jika kita melihat pemetaan pertumbuhan tersebut, belum seluruhnya menyentuh ‘akar rumput’ di daerah-daerah terpencil yang ternyata lebih terfokus untuk Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  37. 37. Fokus memenuhi kebutuhan mendasar (survival) anak usia dini daripada mencukupi kebutuhan pendidikannya. Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD / Early Childhood Education and Development Project) hadir diantara kita sebagai salah satu program yang diharapkan dapat menyentuh kebutuhan layanan pendidikan dan pengembangan untuk anak usia 06 tahun. Dalam upaya meningkatkan proporsi anak dari keluarga kurang mampu untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya melalui partisipasi dalam Program PPAUD yang mudah, efektif, berkualitas, holistik (pendidikan, kesehatan, gizi, dan keikutsertaan orang tua) dan berkelanjutan, Program PPAUD diharapkan dapat melayani minimal 738.000 anak pada akhir tahun 2013. Ruang gerak Program PPAUD ini ditopang dengan dana Pemerintah Indonesia, soft loan (International Development Association/IDA Credit 4205-IND) dari Bank Dunia, dan Ducth Trust Fund (TF. 056841-IND dari Pemerintah Belanda). Secara eksplisit, tertuang dalam Financing Agreement antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia bahwa performance indicator Program PPAUD adalah: • Increases in early development scores of children entering kindergarten or first grade of primary school; • Increases in Early Stimulation, Detection and Intervention of Child Growth and Development (DDTK) scores of children 0-3 years. Setelah melalui serangkaian seleksi dan verifikasi, telah terpilih 21 provinsi dan 50 kabupaten sebagai penerima Program PPAUD (2007 s.d 2013). Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  38. 38. Fokus P AREGIO L K IA NPROG A P A D ET NA EG TA RM PU Su at ra S la m e e tan: 1 O nKo eri g Il r . ga m n i N g Ae D s la : anroe ch arusa m 1. A h T gg a ce en ar 2. A h T ga ce en h S m ra U ra: u ate ta 1. T a S m ir ob a os 2. T anli tenah ap u g S m ra B t: u ate ara 1. S ok ol 2. S a un /Su un awhl to i nj g j 3. P is la es irSe tan Ja bi: m 1. T jug Jbu T u an n a ng imr 2. S la u aro ngn I II Bngul : e ku 1. B g lu U ra enku ta 2. B g lu S at n enku el a La pug: mn 1. La pu Ti ur m ng m 2. La pu S at n m ng el a Ja aB t: w ara 1. S ean umd g 2. S a m ukbu i 3. S a ubng 4. Ma legk ja n a 5. G t aru V III J aTe ah: aw ng 1 R bng . ema 2 Wno ri . o gi 3 Cac . il ap 4 B nj rn a . a a egra D Yo akrta : I gy a 1 K lo ro . u np go 2 G u Kul . unng id Kli an n B rat: am ta a 1 Sm s . a ba 2 K tap g . e an IV S aw i U ra: ul es t a 1. Keul u Ta ud p a an la 2. Keul u S g e p a an anih Jw Ti ur: aa m 1 Pc n . aita 2 Mdiu . a n 3 Bn w o . odo os S aw i B t: ul es ara 1. Po wli M da le a an r 2. Mm u a uj N TB: 1 L b T ga . omok en h 2 S maw . ub a 3 Dm . o pu S aw i S ata ul es el n: 1. Si j i na 2. Si r p da 3. Wo aj 4. J epnto en o N: TT 1 S ma B t . u b ara 2 T or T ga U ra . im en h ta M uk U ra: al u ta Hm eraU ra al ah ta Hm eraSel t n al ah aa G nt l : oro ao 1. Gron lo o ta 2. Bo em al o Dalam kerangka pemikiran bahwa keberadaan Program PPAUD ini nantinya bukan saja sebagai pilot program namun lebih dipandang sebagai suatu upaya untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat yang berada di 3000 desa miskin untuk memberikan maupun melaksanakan layanan PAUD nonformal, maka disusun suatu Irj b a ar: Mnow a k ari Ppu aa Mraue e k Jya ra a pu strategi agar keberlanjutan program dapat terus berlangsung walaupun kucuran dana dari pemerintah dan luar negeri telah berakhir. Sebuah konsep prestisius yang sulit namun tidak mustahil untuk dilaksanakan. Konsep untuk melibatkan masyarakat sejak awal pembentukan lembaga layanan PAUD Nonformal, adalah sebuah strategi Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  39. 39. Fokus yang jitu jika kita menginginkan sustainability bukan hanya muncul sebagai konsep di atas meja kerja. Namun hal ini pun mengandung resiko, mulai dari conflict of interest yang mungkin saja muncul di masyarakat ataupun tingkat ketergantungan yang sangat tinggi pada keberhasilan para Tim Fasilitator Masyarakat (TFM) memainkan perannya yang strategis di masyarakat. Namun resiko itu pantas untuk diambil mengingat jika semua dapat berhasil, program ini tidak saja mengakomodir kebutuhan 738.000 anak usia 0-6 tahun untuk mendapatkan akses layanan PAUD Nonformal, tetapi juga dapat menggugah kesadaran para orang tua, pendidik, pamong, staf, masyarakat, dan stakeholder PAUD tentang pentingnya memberikan layanan PAUD kepada anak usia dini. Untuk mempersiapkan keterlibatan masyarakat tersebut, Central Project Implementation and Coordination Unit (CPICU) PPAUD menyusun pelatihan berjenjang, dimulai dari pelatihan National Early Childhood Specialist Team (NEST), pelatihan TFM, pelatihan Pendidik Provinsi dan Kabupaten, pelatihan Pendidik PAUD maupun Community Development Worker (CDW). Perekrutan Konsultan Individu maupun Lembaga termasuk perekrutan Community Driven Development (CDD) yang menggawangi TFM, juga diselenggarakan dengan harapan bahwa seluruh program yang direncanakan dapat dimplementasikan dengan hasil memuaskan. Sebuah jalan panjang yang diharapkan dapat meminimalisir ekses negatif dan mengoptimalkan produk-produk yang dihasilkan CPICU. Masyarakat sebagai subjek sekaligus objek mengambil peranan dalam menentukan jenis layanan yang mereka butuhkan, berperan aktif dalam penyelenggaraan layanan PAUD Nonformal, bahkan mereka juga yang menentukan siapa saja yang diserahi tanggung jawab untuk mengelola dana hibah sebesar US $ 10,000 per kelompok masyarakat penerima manfaat. Selaras dengan fungsi TFM untuk memfasilitasi, mendampingi dan mempersiapkan masyarakat menerima dana hibah masyarakat (community blockgrant), inilah skenario yang dikawal oleh TFM agar masyarakat tersebut dapat memanfaatkan dana hibah sesuai dengan rencana Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  40. 40. Fokus kerja yang telah mereka susun sebelumnya. Dalam muatan fasilitasi tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat tentang manfaat dan pentingnya PPAUD, menumbuhkan kebutuhan masyarakat akan layanan PPAUD melalui penyebaran informasi dan promosi kegiatan PPAUD, dan memfasilitasi masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan dan memantau kegiatan PPAUD agar dapat berkembang secara berkesinambungan. Di sisi lain, Program PPAUD sendiri bukanlah semata-mata program pendidikan (walaupun pendidikan merupakan leading sector), namun keterlibatan lintas sektor misalnya Departemen Kesehatan, BKKBN, dll yang terwadahi dalam Komite Pengarah diharapkan dapat mengintegrasikan seluruh kebutuhan anak usia dini sehingga menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia serta memiliki kesiapan baik fisik maupun mental dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Dalam payung semangat yang sama, di 21 provinsi dan 50 kabupaten terpilih pun dibentuk Komite Koordinasi. Para Pengelola PPAUD di 21 provinsi (Province Project Coordination and Implementation Unit/(PPICU) dan di 50 kabupaten terpilih (District Project Implementation Unit/DPIU) saling bersinergi untuk meraih kesuksesan pelaksanaan kegiatan di 3000 desa. Banyaknya upaya maupun strategi yang dijalankan pada akhirnya pun semua terpulang pada masyarakat selaku ‘pengguna jasa’. Mereka-lah yang akan memutuskan apakah akan menyelenggarakan layanan PAUD ataukah akan melanjutkan layanan ini setelah kucuran dana dari pusat berakhir? Semua berpulang kepada kualitas dan kuantitas program, pendekatan yang jitu kepada masyarakat, maupun willingness semua pihak yang terlibat di Program PPAUD. Semoga ini bukan hanya sekedar retorika belaka. Referensi: 1. 2. 3. Financing Agreement (2006) between World Bank and Government of Indonesia Grand Design Program Pendidikan Anak Usia Dini NonFormal Tahun 2007-2015. 2007. Dit. PAUD Pedoman Operasional Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini. 2007. Dit. PAUD Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  41. 41. Fokus Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  42. 42. Fokus Endang Ekowarni 1 Tujuan: 1. Menentukan kriteria minimal tentang sistem layanan PAUD. 2. Pedoman kepada pengelola PAUD dalam menyelenggarakan layanan. 3. Acuan bagi berbagai perihal dalam pengembangan, pembinaan, dan pelaksanaan PAUD. 4. Membantu masyarakat menyelaraskan persepsi atau pandangan mengenai PAUD serta dalam melakukan peni laian terhadap mutu layanan pendidikan . 1 Ketua Team Ad Hoc Penyelenggaraan PAUD Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  43. 43. Fokus Susunan Standar PAUD terdiri dari: Aspek perkembangan diamati adalah: 1. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan 2. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 3. Standar Program 1. Perkembangan motorik kasar 4. Standar Layanan I. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Merupakan deskripsi tentang perkembangan yang berhasil dicapai anak pada suatu tahap tertentii, yaitu: 1. Tahap usia 0 - 12 bulan disusun dalam kelompok usia: a. 0 - 3 bulan b. 3 - 6 bulan c. 6 - 9 bulan d. 9 – 12 bulan 2. Tahap usia 12 bulan - 2 tahun berdasarkan kelompok usia: a. 12 – 18 bulan b. 18 – 24 bulan 3. Tahap 2 - 3 tahun 4. Tahap 3 - 4 tahun 5. Tahap 4 - 5 tahun yang 2. Perkembangan motorik halus 3. Perkembangan kognitif 4. Perkembangan bahasa 5. Perkembangan sosialemosional 6. Perkembangan pemahanan moral dan agama Untuk pemantauan pertumbuhan fisik dan kesehatan digunakan KMS (Kartu Menuju Sehat). II. Standar Pendidik dao Tenaga Kependidikan Pendidik PAUD terdiri dari: 1. Guru PAUD Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, ditentukan bahwa kualifikasi akademik pendidikan guru TK/RA adalah minimal D IV. 2. Tutor PAUD Adalah pendidik dengan kualifikasi akademik SMA atau sederajat ditambah pelatihan mengenai PAUD. 6. Tahap 5 - 6 tahun Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  44. 44. Fokus 3. Pengasuh PAUD Berkualifikasi pendidikan minimal SMP atau sederajat dengan usia minimal 18 tahun, ditambah dengan pelatihan atau kursus mengenai PAUD yang menekankan pada keperawatan anak. Selain kualifikasi akademik juga diperlukan kualifikasi kompetensi yang meliputi: 1. Kompetensi kepribadian 2. Kompetensi profesional 3. Kompetensi pedagogik 4. Kompetensi social Mengenai Kepala Sekolah digunakan ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Marasah dengan Kualifikasi Khusus Kepala Sekolah/Madrasah bagi Kepala Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal adalah: 1. Berstatus sebagai guru TK/RA. 2. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru TK/RA. 3. Memiliki sertifikat kepala TK/RA yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah. Bagi penyelenggara PAUD, apabila belum ada Kepala Sekolah yang sesuai dengan Peraturan Menteri tersebut, dapat ditunjuk seorang pengelola PAUD. Kualifikasi kompetensi Pengelola PAUD adalah: a. Kompetensi kepribadian b. Kompetensi manajerial c. Kompetensi kewirausahaan III. Standar Program Program PAUD meliputi isi, kegiatan, proses, dan penilaian. Program terdiri dari: a. Perencanaan * Tujuan * Isi * Tersedianya pendidik dan tenaga kepen-didikan * Metode pelaksanaan pendidikan * Alat permainan b. Pelaksanaan * Disesuaikan dengan situasi dan kondisi * Pelaksanaan berupa pengasuhan, perawatan, pendidikan sesuai dengan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  45. 45. Fokus kelompok usia dan kebutuhan khusus anak * Kegiatan dilaksanakan dengan cara terorganisasi c. Penilaian * Bertujuan memonitor tingkat pencapaian per-kembangan anak * Dilakukan secara sisten, sistematis, terprogram kondan * Pendidik menggunakan metode penilaian sesuai dengan tingkat usia dan tingkat perkembangan anak d. Satuan (SPS) PAUD sejenis IV. Standar Layanan Untuk terlaksananya seluruh program PAUD, dibutuhkan faktor pendukung berupa: sarana dan prasarana, pengelolaan, serta pem biayaan. A. Sarana Adalah perlengkapan untuk kegiatan pengasuhan dan pendidikan yang dapat dipindah-pindah. Ketersediaan dan jenis sarana disesuaikan dengan jumlah anak dan jenis lavanan. Layanan PAUD dirancang berdasarkan: Sarana adalah: 1. Pengelompokan usia: a. Kelompok usia 0-2 tahun a. Perabot kegiatan: b. Kelompok usia 2-4 tahun * meja-kursi anak atau alas duduk * tempat menyimpan alat permainan a. Kelompok bermain (KB) * alat kebersihan b. Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) c. Taman penitipan anak (TPA) * alat penimbang badan berat * alat pengukur badan tinggi * dll. c Kelompok usia 4-6 tahun 2. Jenis layanan yang diperlukan penunjang Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  46. 46. Fokus b. Peralatan pendidik: * alat permainan edukatifdi dalam ruang * alat permainan edukatifdi luar ruang ruang yang dapat digunakan untuk beberapa fungsi sebagai berikut: 1. Ruang aktivitas 2. Ruang makan * perlengkapan musik dan seni 3. Ruang ibadah * perlengkapan olah raga 5. Kamar mandi * dll. 6. Dapur c. Media pendidikan: * buku dan alat tulis * majalah * alat elektronik tape, dsb) * dsb poster * 4. RuangUKS dll. C. Pengelolaan (radio, d. Perlengkapan khusus (untuk pejayanan TPA): * tempat tidur bayi * perlengkapan mandi bayi * perlengkapan khusus bayi * dll. makan B. Prasarana Prasarana adalah fasilitas yang diperlukan untuk terselenggaranya program, berupa satu atau beberapa Untuk menjamin kesinambungan pelaksanaan PAUD diperlukan penyelenggaraan yang dikelola dengan baik. Prinsip yang perlu diperhatikan antara lain: 1. Penerapan manajemen berbasis masyarakat yang ditunjukkan dengan adanya: kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, akuntabilitas. 2. Setiap lembaga PAUD harus memiliki status yang jelas pengelolaannya apabila oleh perorangan, masyarakat, swasta, LSM, maupun pemerintah. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  47. 47. Fokus 3. Lembaga PAUD perlu memiliki pedoman yang mengatur kurikulum, kalender pendidikan, tata tertib, serta mekanisme pengawasan, dsb. D. Pembiayaan Untuk menjamin kesinambungan layanan pengasuhan dan pendidikan yang memenuhi syarat kesehatan, keamanan, dan kenyamanan anak, diperlukan penyediaan biaya yang meliputi: 1. Biaya investasi untuk menyediakan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia (SDM). 2. Biaya personal meliputi gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan yang melekat pada gaji. 3. Biaya operasional untuk pembelian peralatan dan bahan habis pakai. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  48. 48. Fokus Maryati Suwondo (Staf Direktorat Kesetaraan, Depdiknas) Setiap keluarga pasti mendambakan hadirnya anak atau keturunan. Baik laki-laki maupun permpuan, dan yang lebih didambakan lagi oleh pasangan suami adalah anak yang sehat dan berbudi pekerti luhur. Semua ini dapat terwujusd, tergantung bagaimana cara orang rtua dalam mendidiknya. Anak sehat, tumbuh kembang sempurna , berprilaku baik , semua itu tidak dapat lepas dari perhatian dan kasih sayang orang tua. Karena orang tua merupakan lingkungan yang terdekat bagi setiap anak.. Anak baik ataupun anak tidak baik berawal dari keluarga atau didikan kedua orangnya. Untuk mendaptkan anak atau keturunan yang baik, seharusnya sejak dini bahkan sejak si anak masih dalam kandungan, orang tua terutama ibu harus dapat mendidiknya atau memberikan contoh-contoh yang terbaik, disamping membentuk prilaku jiwa tapi juga untuk membentuk mental dan kepribadianya. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  49. 49. Fokus Mendidik anak kandung sendiri bukan hal yang mudah, namun harus penuh kelembutan, ketulusan jiwa, ketelatenan yang jelas penuh kesabaran dan kasih sayang. Kita sebagai orang tua merupakan manusia pertama (awal) yang membentuknya baik buruknya jiwa seorang anak dalam sebuah keluarga. Jangan pernah kita mengucapkan kata-kata yang buruk buat si buah hati kita sendiri, karena ucapan yang buruk yang terlontar dari mulut seorang ibu terhadap anaknya sendiri, akan berdampak sangat fatal, dan akan merugikan diri anak itu sendiri. Karena perbuatan kasar yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya sendiri, akan sangat mengganggu tumbuh kembang si anak dan akan mengganggu mental dan pola pikir serta kepribadian anak. Contoh misalnya seorang ibu yang kesal pada anaknya karena anaknya melakukan sebuah kesalahan, lalu ibu itu bilang pada anaknya ” Kamu ini bego, tolol, bodoh,” Tidak sepantasnya seorang ibu mengucapkan seperti itu terhadap buah hatinya sndiri hanya karena si anak melakukan kesalahan kecil. Perlu diingat dan menjadi perhatian khusus bagi para orang tua terutama ibu, jangan pernah menusuk buah hatinya sendiri dengan kata-kata tajam seperti diatas, karena kata-kata itu lebih tajam dari pada belati dan akan mebekas selamanya dihati anak itu, dan akan menjadi pengalaman yang sangat buruk selama hidup anak itu, dan sangat mengganggu pertumbuhan jiwa dan mental anak itu. Baik buruknya akhlak dan budi pekerti anak adalah ditangan orang tuanya sendiri. Ucapan seorang ibu terhadap anaknya adalah merupakan doa, maka ucapkanlah hal-hal yang baik-baik saja. Kalau di dalam sebuah keluarga seorang anak atau buah hati kita perlakukan dengan baik, sopan, pernuh perhatian, penuh Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  50. 50. Fokus cinta kasih, penuh kelembutan, dihargai tiap tindak-tanduknya, pasti anak itu akan tumbuh kembang menjadi anak yang baik, berprilaku sesuai dengan apa yang diperoleh dilingkungan keluarganya. Pada dasarnya ibu tidak boleh/jangan pernah menusuk buah hatinya sendiri dengan katakata mencemooh, karena kata-kata itu akan tertanam dihati si anak sampai kapanpun. Dan yang lebih parah lagi akan berakibat sangat buruk akan dan mempengaruhi jiwa, dan mental si anak punya kelainan dalam dunia pergaulan. Tiap dia akan berkata sesuatu dia akan terngiang kata-kata ibunya. ” kata ibu saya, saya ini anak bego, tolol, ” dalam hati kecil dia bicara seperti itu. Maka dari itu dibutuhkan suatu kesabaran yang luar biasa dalam menangani pendidikan anak dalam sebuah keluarga, baik anak itu masih balita maupun anak yang sudah dewasa, kita jangan pernah berbuat kasar pada mereka (anakanak kita). Kata-kata yang kasar, yang bersifat mencemooh, tidak akan pernah menguntungkan bagi siapapun, justru sebaliknya akan sangat merugikan bagi kita semuanya antara ibu dan anak. Anak akan selalu minder, kehilangan harga diri, selalu menyalahkan dirinya sendiri, tidak punya keberanian dalam berbuat sesuatu. Mempunyai anak yang minderan, pendiam tidak punya keberanian akan sangat menyedihkan, apa lagi di jaman yang semakin maju seperti ini dan seiring dengan kemajuan teknologi, anak-anak kita dituntut untuk cepat berkembang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) Banyak para ibu yang belum menyadari bahwa dirinya telah menghancurkan masa depan buah hatinya sendiri, setelah melontarkan kata-kata kasar yang sangat menyakitkan, tajam bagaikan sembilu sangat menusuk perasaan, akan selalu membekas dihati anak, padahal masalahnya cuma sepele. Contoh kecil misalnya Si anak belajar makan sendiri tapi nasinya berantakan di lantai, lalu si ibu marah-marah lepas kendali, emosi, mengucapkan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Tanpa disadari oleh para ibu bahwa perbuatan seperti itu telah membunuh kreatifitas dan Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  51. 51. Fokus kepribadian anak yang seharusnya kita bentuk sejak dini. Bila anak kita masih belum mengerti, maka ajar padanya dengan penuh kesabaran, dan lemah lembut, karena dengan sabar dan lemah lembut akan menghasilkan hal-hal yang dapat menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri si anak demi tumbuh kembang yang baik.. hanya memaki dan nyumpahin anak nya, sehingga tidak jarang anak-anak menjadi korban kekerasan orang tuanya sendiri, akhirnya menjadi anak nakal, anak yang cepat kecewa, cepat putus asa, dan akhirnya menjadi anak yang salah pergaulan terjerumus hal yang menyesatkan. Karena tidak punya pegangan yang kuat yang hanya dimilki oleh orang Disini pendidikan orang tua juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak, orang tua yang berpendidikan rendah sulit untuk berlaku sabar tiap hari tuanya sendiri, tapi dalam hal ini justru orang tuanya sendiri yang menjerumuskannya ke hal yang buruk. Akan lain lagi bila anak di didik dengan penuh kasih sayang Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  52. 52. Fokus jiwanya akan stabil tidak mudah marah, tegar dalam menghadapi segala cobaan dalam kehidupan. Tapi tidak menutup kemungkinan anak dari keluarga mampu juga banyak yang menjadi anak tidak baik, anak nakal, itu bisa terjadi karena orang tua mereka kurang perhatian dan kasih sayang. Keadaan seperti ini juga didukung oleh keberadaan orang tua, menurut data dari Badan Pusat Statistik yang ada dimuat di koran Kompas bulan Juni tahun 2007, menyatakan bahwa sekitar 23 juta orang tua di Indonesia hanya tamatan Sekolah Dasar, bahkan belum tamat Sekolah (SD) sehingga masih terbatas dalam pola mendidikan anak. Langkah yang harus dilakukan untuk meminimalkan terjadinya dehumanisasi pendidikan yaitu harus adanya snergi antara guru, para orang tua, dan lingkungan tempat tinggal. ”Ciptakan kondisi pembelajaran yang kondisif, dan para orang tua dapat membatasai tayangan tayangan televisi pada anak-anak, bila perlu matikan televisi pada jam-jam belajar anak, atau di saat santai, lebih baik kita mengobrol bersama anak-anak saling mendengarkan dan tukar pengalaman bersama anggota keluarga dari pada mendengarkan suara televisi, karena mengingat tayangan televisi akhir-akhir ini banyak yang kurang bersifat mendidik, bahkan banyak sekali tayangan yang tidak pantas untuk dicontoh oleh anak-anak kita Ajarkan kepada anak-anak kita sesuatu hal yang baik, bimbinglah jiwanya dengan iman agar generasi anak Indonesia menjadi generasi yang lebih bermutu, baik dari segi mental, akhlak, tingkah laku, kepribadian dan sopan santun, karena anak merupakan investasi yang sangat berharga bagi setiap orang tua. Anak yang tidak pernah tersakiti hati dan jiwanya terutama oleh kedua orang tuanya akan menjadi anak yang gembira, periang, cerdas, dapat menghargai orang lain dan dirinya sendiri penuh didikasi tinggi. Jadikanlah rumah adalah sorga bagi keluarga Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  53. 53. Fokus DR.Dr.Theodorus Immanuel SETIAWAN 1 ABSTRACT Play Therapy. Play therapy, especially in preschool years, has proved to be very beneficial as a tool in the overall treatment of children with various clinical ailments, especially those with Childhood Mental Health Disorders. Needless to say that the benefit of play as an indispensable part of therapy for children is often negelcted, or at least underestimated, by most 1 Theodorus Immanuel SETIAWAN. Dokter, S 3 Pendidikan, S 3 Psikiatri. Praktek dokter. Pengajar di Program S 1 Bimbingan-Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ; di Program S 2 Psikologi Universitas Indonesia, dan di Program S 3 Universitas Negeri Jakarta. Alamat e mail: thisetiawan@cbn.net.id practitioners. Fortunately, in the long history of play therapy there were some outstanding figures in psychology as well as psychiatry, at least as early as Sigmund Freud, who have indicated the undisputed benefits of play as therapy for children. In present day practice, to facilitate the effectiveness of play therapy, several elements must be taken into consideration, such as the therapist who conducts the therapy, the play materials, the play space, and the overall atmosphere surrounding the activities. Key words : Play therapy, child patient, effectiveness of therapy. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 1
  54. 54. Fokus I. Pendahuluan Dalam dua dekade terakhir ini, pertambahan dramatis jumlah anak yang diidentifi-kasi sebagai menderita Gangguan Kesehatan Mental Masa Anak (Childhood Mental Health Disorders ) merupakan salah satu petunjuk dari adanya tekanan yang meningkat yang membebani anakanak masa kini. Beban itu tampaknya lebih besar pengaruhnya pada anak usia dini, dibandingkan pada anak yang usianya lebih tua, yang sangat mungkin disebabkan oleh masih sangat terbatasnya kemampuan anak usia dini untuk mengemukakan masalah mereka dengan memuaskan secara verbal (Carroll, 2004). Sayangnya, belum tampak adanya pertambahan yang seimbang dari upaya-upaya terapi yang tepat dan/atau kesempatan untuk memperolehnya, yang dapat membantu anak-anak supaya tetap sehat-mental, lebih-lebih di negaranegara yang sedang berkembang seperti Indonesia (Elkind, 2006). Kecenderungan yang sempat dominan beberapa waktu yang lalu (yang untungnya sekarang sudah tidak dominan lagi), yang lebih menekankan terapi dengan pemberian obat untuk mengatasi berbagai gangguan mental, termasuk pada anak usia dini, jelas merupakan suatu ilusi yang kelihatannya makin menjauhkan pasien-anak dari perbaikan yang diidamkan (Schaefer, 2002). Berbagai bentuk psikoterapi dan / atau bimbingan-konseling, baik tersendiri maupun bersama obat, tampaknya jauh lebih banyak memberikan harapan untuk membantu anak-anak yang bermasalah itu, terutama sewaktu masih berusia dini, untuk mengembangkan kesehatan mental yang baik (Kottman, 2005). Terapi dengan bermain, sebagai salah satu pilihan tradisional yang sempat terpinggirkan, sejak dahulu sudah terbukti memberikan banyak manfaat untuk mecapai tujuan tersebut di atas (Freud,1912; Axline, 1947; Wilson, 1979; Solnit, et al., 2005). II. Manfaat Kegiatan Bermain Pada awal abad yang lalu Sigmund Freud sudah mengemukakan bahwa kegiatan bermain memungkinkan tersalurnya dorongan-dorongan instingtual anak yang sangat meringankan anak dari berbagai beban mental. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 2
  55. 55. Fokus Kegiatan bermain merupakan sarana yang aman yang dapat digunakan anak untuk mengulangulang pelaksanaan dorongandorongan untuk berperilaku tertentu, sehingga anak akan terbantu untuk mengendalikan dorongan-dorongan itu,dan juga reaksi-reaksi mental yang mendasarinya (Freud, 1912). Kegiatan bermain memungkinkan berlangsungnya proses pelepasan dan terpenuhinya keinginan-keinginan tertentu. Fantasi, dan kesempatan anak untuk lepas dari kenyataan, terutama anak usia dini, memudahkan ber-tumbuhnya ego anak. Dalam alam fantasi yang “encer” (bila dibandingkan alam nyata), ego anak dapat “berdamai” sekaligus dengan dorongandorongan id dan tuntutan-tuntutan superego, sehingga anak dapat kesempatan ber”eksperimen” dengan penyelesaian-penyelesaian baru untuk berbagai konflik (Axline, 1947; Wilson, 1979; Solnit, et al., 2005). Melanie Klein (Axline, 1947) mengemukakan bahwa anak-anak sejak usia dini sudah memiliki kehidupan dalam-diri (internal) yang kaya dan kompleks, yang dapat tampak oleh orang lain melalui kegiatan bermain dengan mainan. Klein yakin bahwa pasienanak melakukan asosiasi bebas, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan kegiatan bermainnya; dan asosiasi ini dapat ditafsirkan. Misalnya, pemilihan mainan oleh anak tidak selalu karena daya tariknya (untuk anak itu), atau karena fungsi mainan itu bagi sang anak, tetapi sering karena mainan itu mewakili imajinasi atau dorongan-dorongan terpendam anak itu. Di samping itu, Klein juga mengamati bahwa kegiatan bermain memberikan petunjuk mengenai masa lalu anak dan alam-tak-sadarnya. Ternyata, berbagai pendapat Klein itu juga Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 3
  56. 56. Fokus dikemukakan oleh beberapa psikater anak terkemuka pada awal abad 21 ini, seperti LeBlanc dan Ritchie (2001), Winnicott (2003), dan Waelder (2004). Banyak tulisan Anna Freud yang terfokus pada pengembangan kemampuan ego dan mekanisme pertahanan ego memungkinkan dimanfaatkannya kegiatan bermain anak untuk lebih mengenal anak. Ia juga mengemukakan bahwa bibit dari kemampuan bermain ditanam sewaktu interaksi dini antara bayi dengan ibunya. Melalui bermain dengan tubuhnya dan tubuh ibunya, bayi mulai belajar membedakan dirinya dari diri orang lain, dan dengan perluasan ego, juga belajar membedakan kenyataan dari fantasi. Anna Freud percaya bahwa kegiatan bermain memudahkan dan mencerminkan proses pertumbuhan anak yang secara ideal menghasilkan otonomi pribadi, pengenalan yang berkembang mengenai diri sendiri, dan kemampuan bekerja. Kegiatan bermain adalah cara untuk menjelajahi dan menguasai konlikkonflik dalam diri (internal) dan konflik dengan orang lain (external), dan memberikan petunjuk mengenai adanya pergulatan yang tak disadari dari anak (Solnit, et al., 2005). III. Ciri-Ciri Menguntungkan dari Kegiatan Bermain Umumnya, terapi dengan bermain mengandung 4 ciri menguntungkan berikut : 1) Bermain itu menyenangkan. Kegiatan bermain adalah suatu proses di mana anak mengembangkan percayadirinya dan mengalami perasaan mampu, misalnya, sewaktu anak berhasil menyelesaikan masalah menurut caranya sendiri dalam waku yang ditetapkannya sendiri. Ternyata, kegiatan bermain tidak hanya memberikan kesenangan kepada anak, tetapi juga kepuasan. Bermain adalah perwujudan fantasi anak yang keluar dari dirinya sehingga memungkinkan anak untuk “berada” sekaligus di alam fantasi dan dunia nyata. Kreativitas dikembangkan dan dimunculkan selama kegiatan bermain. Kegiatan bermain menyalurkan kreativitas anak. Seringkali sangat bermanfaat bagi anak bila anaklah yang membimbing kegiatan ber- Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 4
  57. 57. Fokus main, bukan orang lain seperti orang tua, guru, ataupun dokter (Kottman, 2005). 2) Bermain sangat mengasyikkan. Kadang-kadang begitu mengasyikkannya sehingga anak tampak tidak menyadari kegiatan-kegiatan di sekitarnya dan sukar untuk menghentikannya dari permainnannya bila ia belum mau berhenti. Melalui bermain anak “mengalami” kembali situasi menyedihkan yang pernah dialaminya, lengkap dengan berbagai komponen emosi yang menyertainya ! (Kottman, 2005). 3) Dalam kegiatan bermain anak, terjadi pemindahan situasi (displacement). Karena adanya kemampuan anak untuk melebur kenyataan dengan fantasi tanpa mengalami konflik, anak dapat “memindahkan” hal-hal yang dirasakannya bersama situasi yang menyertainya ke dalam permainan ! Anak dapat menukar perannya, dari peran pasif (di dunia nyata), misalnya sebagai pengikut, atau peran sekunder (di dunia nyata), misalnya sebagai orang yang memberikan reaksi (reactor), menjadi peran aktif (di alam fantasi, dalam permainan), misalnya sebagai pemimpin, atau peran primer (di alam fantasi, dalam permainan), misalnya sebagai orang yang memulai tindakan (initiator). “Pemindahan” (displacement) memungkinkan timbulnya jarak dengan masalah asli yang sedang dialami anak, dan juga dengan emosi-emosi tidak enak yang menyertainya. Di samping itu, ”pemindahan” juga memungkinkan anak untuk berbicara atau bertindak dengan cara yang tidak dimungkinkan di dunia nyatanya. Fungsi penting lainnya dari “pemindahan” adalah “pemindahan” memungkinkan ego anak melakukan keseimbangan antara id anak dengan superego nya, sehingga dalam bermain tekanan dan ketegangan mental anak dapat berkurang atau malahan hilang (Winnicott, 2003). 4) Kemampuan anak untuk bermain dengan imajinasi sesuai dengan pertumbuhan kognitif anak. Dalam penjelasannya mengenai 4 periode Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 5
  58. 58. Fokus perkembangan intelek, Ginsburg dan Opper (1969) mengutip Piaget yang mengemukakan bahwa di antara usia 2 sampai 4 tahun anak memperoleh kemampuan membentuk simbol. Melalui penggunaan simbol, terbentuklah gambaran mental yang mewakili pengalaman,orang,dan objek, yang menetap dalam pikiran anak. Gambaran mental itu membebaskan anak dari keharusan melihat hal-hal yang diwakili gambaran itu bila anak ingin mengetahui apakah hal-hal itu ada; cukup disebut kata yang mewakili hal-hal itu, atau, dijelaskan gambaran mental yang mewakili hal-hal itu. Melalui permainan yang kaya dengan simbol (yang dimiliki anak), seorang anak akan mampu menjembatani celah antara hal-hal yang kongkret dengan yang abstrak. Penggunaan simbol oleh anak dalam permainannya menjadikan permainan itu sangat pribadi untuk anak tersebut, karena dalam permainan itu anak dengan bebas mempunyai kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan harapan-harapannya. IV. Kegiatan Bermain dan Mainan yang “Mempunyai” Kemampuan Terapi Mainan, atau kegiatan bermainnya, pada dirinya sendiri tidak “memiliki” kemam-puan terapi. Cara penggunaan atau penyelenggaraannyalah yang efektif. Kepada para terapis (orang yang melakukan terapi) harus dianjurkan, supaya sejak permulaan mereka sudah menyebut mainan yang dilihat anak sebagai “alat bermain,” atau “bahan perrmainan.” Dengan cara ini, melalui kata dan perbuatan, sejak awal diharapkan anak sudah menyadari bahwa “rmainan” dan “kegiatan bermain” di tempat itu mempunyai makna dan tujuan yang berbeda dengan hal-hal yang sama di tempat mereka biasa bermain. Mainan yang dipilih terapis harus menarik dan menantang, harus menangkap perhatian dan imajinasi anak, harus dapat digunakan anak sebagai simbol dari berbagai hal di dunia nyata. Jadi, mainan yang digunakan untuk terapi harus memudahkan ekspresi anak. Di Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 6
  59. 59. Fokus samping itu, mainan harus dalam keadaan baik dan bersih. Mainan yang lusuh/rusak, dan/atau kotor, akan mudah menyebabkan anak merasa dirinya tidak berharga atau tidak dihargai. Alangkah baiknya bila setiap anak juga mempunyai kotak penyimpanan pribadi untuk menaruh mainan atau hasilkerjanya. Keadaan ini membantu mengembangkan perasaan betah anak dan perasaan kebersamaan di tempat terapinya, di samping menciptakan suasana aman dan diterima, yang penting untuk keberhasilan terapi (Kottman, 2005). Mainan yang umumnya bermanfaat untuk terapi dapat dibagi dalam 3 kelompok (Solnit, et al., 2005) 1) Mainan yang meniru/ menyerupai situasi pada kehidupan nyata Misalnya, rumah boneka dengan boneka-boneka yang termasuk dalam 1 keluarga, boneka bayi (dengan dotnya), peralatan kedokteran, binatang-binatang peliharaan, binatang-binatang yang ada di kebun binatang, telpon, mobilmobilan, atau, macam-macam model kapal terbang. Berbagai mainan itu tampil, baik disadari ataupun tidak disadari, sesuai dengan penga-laman anak di dunia nyata, dan jelas hubunganhubungannya dengan berbagai kejadian dalam hidup mereka sehari-hari. Dengan demikian, bagi anak mainanmainan itu akan menjadi bahan eksplorasi dan pengungkapan diri (expression) yang kaya. Untuk sebagian besar terapi dengan bermain, mainanmainan yang meniru/ menyerupai situasi pada kehidupan nyata tersebut sudah sangat manfaat bagi perbaikan pasien-anak. 2) Mainan yang menimbulkan emosi marah atau agresif Misalnya, pistol, pisau, boneka dengan wajah dan/atau pakaian dan/atau perlengkapan sebagai orang jahat. 3) Mainan yang merangsang timbulnya kreativitas Misalnya, balok-balok kayu/ plastik dengan macam-macam bentuk, ukuran, dan warna; kertas/ whiteboard dan pinsil/ spidol dengan macam-macam bentuk dan warna, potonganpotongan kain dan/atau kertas Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 7
  60. 60. Fokus dengan berbagai ukuran yang memadai untuk digunting dan dibentuk. Pada situasi-situasi tertentu, terapis harus mempertimbangkan untuk menambah jenis dan/atau tipe mainan lain sesuai dengan kebutuhan terapi. Kepustakaan Axline,V. (1947). Play Therapy. New York: Ballantine Books. Carroll,L. (2004). Early Childhood and the Changing Society. New York: Norton. Elkind,D. (2006). The Lack of Proper Approach in the Treatment of Childhood Mental Health Disorders in Southern Europe and South East Asia. London: Routledge. Freud,S. (1912). The Dynamics of Transference. Standard Edition (12). Ginsburg,H., Opper,S. (1969). Piaget’s theory of intellectual development: An intro- duction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall,Inc. Kottman,T. (2005). Play Therapy in Action. New York: John Wiley & Sons. LeBlanc,M., Ritchie,M. (2001). A meta-analysis of play therapy outcomes. Counseling Psychology Quarterly 2001; 14:2. Schaefer,C. (2002). Inappropriate Approach of Therapy in Children with Mental Disorders. New Jersey: Jason Aronson,Inc. Solnit,A., et al. (2005). The Many Meanings of Play for Preschool Kids. New Haven: Yale University Press. Waelder,R. (2004). The Psychoanalytic Theory of Play. Cambridge, MA: Perseus Books. Wilson,K. (1979). The Therapeutic Use of Child’s Play. New York: Guilford. Winnicott,D.W. (2003). Playing and Reality. London: Routledge. Buletin PADU Vol. 8 No. 1, April 2009 - 8

×