• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
jongArsitek!2.1
 

jongArsitek!2.1

on

  • 3,842 views

jongArsitek!2.1/jengArsitek! adalah bentuk penghargaan sekaligus dorongan kami kepada wanita-wanita muda arsitek indonesia, untuk bersuara lebih lantang dari apa yang sekarang terdengar. Bentuk ...

jongArsitek!2.1/jengArsitek! adalah bentuk penghargaan sekaligus dorongan kami kepada wanita-wanita muda arsitek indonesia, untuk bersuara lebih lantang dari apa yang sekarang terdengar. Bentuk dukungan kami untuk berkembangnya pemikiran-pemikiran muda dari wanita-wanita muda Indonesia.
Dahulu, Kartini bersuara lantang untuk kurungan yang diberikan oleh lingkungannya. Di masa modern ini, kurungan yang dulu di miliki kartini itu sudah tidak ada lagi. Kini wanita muda harus berteriak lantang, bukan untuk kurungan yang diberikan lingkungan, tapi untuk kurungan diri yang membatasi mimpi.

Statistics

Views

Total Views
3,842
Views on SlideShare
3,842
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
361
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    jongArsitek!2.1 jongArsitek!2.1 Document Transcript

    • foto : adikritz jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 3 “kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja denga- ternak karena fungsi hidupnya hanya jongArsitek! jongarsitek@gmail.com Selamat menikmati.. Desain menginspirasi beternak diri.. “saya terbakar amarah sendirian!” (pramoedya ananta toer dalam perbincangan dengan andre vltchek & rossie in- Except where otherwise noted, content on this magazine is dra licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License
    • JongEDITORIAL! jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi oleh : Avianti Armand kan dan mengeksplorasi: detail. Lain Kota ini juga tempat yang tak ramah pada perempuan, dengan anak laki-laki. Mereka jauh juga kaum lemah lain – anak-anak dan orang-orang lebih aktif bergerak dalam ruang: ber- dengan kebutuhan khusus. Perhatikan kondisi trotoar lari, melompat, memanjat, sembunyi kita, juga sarana angkutan umum yang tersedia. Ba- di kolong meja, bersepeda dan ngebut gaimana kereta bayi dan kursi roda bisa lewat tak ter- hingga benjut. Dari kegiatan bermain putus di dalam kota? Bandingkan dengan kota lain di yang sederhana, timbul penjelajahan dunia seperti Amsterdam atau Tokyo, di mana seorang dan pengalaman. Anak laki-laki lalu ibu bisa dengan leluasa mendorong kereta bayinya punya pemahaman yang lebih awal mulai dari depan pintu rumah, naik bis atau kereta, tentang: ruang. Dan karena ruang turun di taman, masuk ke museum, pergi berbelanja, adalah esensi dari arsitektur, mungkin naik kereta, kembali ke rumah. Semua bisa dilakukan jauh lebih mudah bagi laki-laki untuk sendiri tanpa bantuan, karena kondisinya memung- menjadi arsitek. kinkan. Tentu ada pengecualian. Tentu ada Perhatikan juga ratio jumlah kamar mandi untuk perem- perempuan-perempuan kecil yang puan dan laki-laki di bangunan-bangunan publik. lebih senang naik sepeda dari pada Perempuan sering harus mengantri cukup lama hanya boneka dan anak laki-laki yang lebih untuk buang air kecil karena jumlah toilet untuknya san- suka menggunting dan melipat dari gat kurang jika dibanding dengan toilet untuk laki-laki. pada memanjat. Bisa jadi dari situ Perempuan, punya kebutuhan khusus yang berbeda lalu lahir arsitek-arsitek perempuan dengan lelaki. Dan itu, jarang diperhatikan atau diang- dan perancang-perancang baju yang PEREMPUAN gap penting. Apakah disediakan kursi khusus untuk lelaki. Lagi-lagi, belum ada penelitian mendudukkan bayi sementara si ibu pipis – sesuatu tentang hal ini. dan mungkin juga tidak Perempuan adalah makhluk yang kuat. Karenanya patan telah didapat dan prestasi dicatat oleh yang demikian jamak di Jepang?Tidak. Apakah selalu terlalu penting. Tuhan memilih dia untuk mengandung, sembilan perempuan. Tapi, mari bicara tentang pro- ada tatakan untuk mengganti popok bayi? Tidak. Dan bulan lamanya. Dan melahirkan, dengan sakit yang fesi ini saja: arsitek. Berapa banyak arsitek apakah selalu ada ruang untuk menyusui di bangunan- Lebih baik kita berefleksi: lalu apa yang tak terperi. Perempuan juga makhluk yang pandai. perempuan yang kita kenal? Zaha Hadid, bangunan itu? Belum tentu. bisa dilakukan oleh arsitek perem- Karenanya Tuhan mempercayakan tugas menjadi Astrid Klein, Kazuo Sejima, Nathalie de Vr- puan? ‘Ibu’ padanya. Adalah tangannya yang menyeka ies (MVRDV), Francine Houben (Mecanoo), Kota ini juga miskin ruang ekspresi dan rekreasi bagi mata bayi hingga membuka pada dunia. Adalah Lise Anne Couture (Asymptote), Maya Lin, perempuan, baik untuk dirinya sendiri, maupun anak- Masih relevan rasanya jika saya beru- suaranya yang membuai dengan cerita sebelum Billi Tsien, Ellizabeth Diller, Farshid Mous- anaknya. Jangan sebut mal, itu adalah kurungan- jar: memperjuangkan hak-hak perem- tidur – tak harus penting, tapi darinya lahir keba- savi (FOA), ……. mungkin masih banyak lagi kurungan kapitalis – sangkar emas yang justru mem- puan - hak-hak untuk memperoleh jikan dan kebijakan. Pada perempuan kita bisa yang tak tersebut. Tapi dibanding koleganya bodohi. Kurang sekali ruang publik – hijau maupun ruang dan lingkungan yang lebih aman menemukan satu mata uang yang sama, dimana yang lelaki, mereka masih kalah jauh dari tidak – di mana kita bisa bertumbuh dan berkembang dan nyaman. kekuatan dan kelemahlembutan bersisian. Otak segi jumlah. Paling tidak, itu yang saya amati dengan wajar, tanpa membayar. Di mana ibu-ibu bisa dan hati berhimpit. terjadi – baik di dalam maupun di luar negeri. membiarkan anak-anaknya berlarian lepas, mengenal- Kota kita adalah kota yang rawan bagi Betul, belum ada survey yang dilakukan un- kan nama tetumbuhan dan burung-burung pada mere- perempuan. Betapa banyak ruang- Karenanya tak banyak yang bisa mengerti mere- tuk menilik perbandingannya secara akurat. ka, atau sekedar membacakan cerita di bangku sambil ruang negatif yang memungkinkan ka. Karenanya mereka kerap terpinggirkan. Bukan Belum juga ada studi yang bisa menjawab menunggu petang. perempuan terancam dan teraniaya. hanya dulu, di jaman Ibu Kartini, tapi hingga kini kenapa. Tapi saya punya sedikit teori yang Bukan cuma di pojok jalan yang gelap, – 105 tahun sesudah wafatnya sang tokoh feminis mungkin bisa membantu menjelaskan. Masih banyak yang harus dikerjakan. Perempuan pal- dan kolong-kolong jembatan di malam Indonesia. Ini bukan dosa lelaki semata. Perem- ing tahu kebutuhan perempuan. Dan hanya arsitek hari, Basement parkir dan tangga ke- puan sendiri kerap tak mengenali dirinya, hingga Perhatikan bagaimana anak-anak perem- perempuan, lewat karyanya, yang bisa merealisasi- bakaran sebuah mal pun ternyata tak hanya diam ketika hak-haknya tersisihkan dan puan bermain. Mereka cenderung bergerak kan kebutuhan-kebutuhan itu menjadi sebuah ruang aman bagi perempuan. Tindak keja- suaranya teredam. Dan itu semakin mengukuhkan dalam radius sempit. Anak-anak perempuan tinggal dan ruang hidup yang lebih baik. Karena itu, hatan terhadap perempuan di dalam patriarki. lebih senang duduk mendadani boneka, teman-teman arsitek perempuan, berkarya bukan lagi kota selalu mengisi lembar-demi lem- menggunting dan melipat kertas, merajang sebuah pilihan. Melainkan tanggung jawab. bar media tiap harinya. Menyedihkan, Agak basi mungkin jika sekarang kita masih berte- dedaunan dan rerumputan untuk masak- bahwa hal ini tidak pernah mendapat riak-teriak menuntut kesetaraan hak, karena jaman masakan. Meronce bunga untuk hiasan tanggapan yang lebih serius kecuali memang sudah berubah. Betapa banyak kesem- kepala. Mereka lebih banyak memperhati- Avianti Armand sebagai sebuah sensasi.
    • p4 p8 Kontributor jongEditorial jongFoto sambutan dari redaksi kita my shoes on vacation tanpa basa basi, anda bisa mengecek profil mereka langsung ke Facebook dan media sosialweb lainnya. p10 p17 jongGambar jongTulisan Seed’s Archive Brittany Bell Avianti Armand dona paramita p15 Nyengir Merenung: Arsitek, http://www.facebook.com/pro- http://www.facebook.com/pro- http://puffydona.multiply.com Teknologi, dan Jurnalisme file.php?id=688859598&ref=ts file.php?id=1375534065 jongTulisan Woman In Architecture Action! p28 jongTulisan p20 Menuju Ecumenopolis : Sebuah Tantangan Memperkuat jongGambar Identitas Kota Indhira Sagita Highway Oasis Pembayun Sekaringtyas Putri Kusumawardhani http://www.facebook.com/pro- http://www.facebook.com/pro- http://www.facebook.com/profile. file.php?id=596337173 file.php?id=1081292968 php?id=746453648 p26 jongTulisan Tentang Resesi p32 jongGambar Saskia Prisandhini Tjokro Vitorini Codetz Tatiana Bilbao Parque Biotecnológico http://www.facebook.com/ http://www.facebook.com/pro- www.tatianabilbao.com profile.php?id=502504777 file.php?id=733752773 photo : adikritz
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi Nias From Back Then Dona 8 Paramita
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 10 11 “Every year more and more species of plants are becoming endangered or extinct. The New Zealand government has proposed the notion to create a seed archive for the Pacific Region to house its native plants and preserve them for future generations. The major problem to overcome will be constructing architecture that will adapt to the changing and unpredict- able future environment. Therefore the architecture will mimic the architecture of a plant, as plants have the innate ability to adapt to their changing environment. The architecture of the seed archive is in the form of a growing cytoskeleton of a plant. It continues to grow and adapt to prevailing wind, rainfall and sun exposure. For example the wings on the sides of the structure are heat sensitive and move to accommodate the protected plants within. The funnel forms in the interior act as the main structural columns, but also house the large trees that need to grow upwards towards the sun. The architecture will be able to grow and expand overtime and rely of element-sensitive technology to exist without human presence.” S E E D ’ S A R C H I VbellE brittany oleh Realrich Syarief
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 12 13 view.interior view.interior view.interior
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi - WOMAN IN ARCHITECTURE ACTION! - Putri Kusumawardhani Let me introduce you, readers, about another Gairah tempat itu terus menarik perhatian wanita definition of proportion and scale in architecture. untuk dikunjungi, bukan karena iklan diskon be- sar-besaran di etalasenya, namun hanya sebuah Introduction, toko sepatu dengan sederet rak berisi jajaran se- Proportioning, in architecture the whole is not just patu tertata rapi didalamnya. a building but the set and setting of the site. The things that make a building and its site include the Berjalan memasuki tempat itu, toko itu seperti orientation of the orientation of the site and the berkata, “selamat datang para wanita”, lalu se- buildings on it to the features of the grounds on patu-sepatu itu berkedip nakal, mari-mari coba which it is situated. Light, shade, wind, elevation, saya. choice of materials, all should relate to a standard and say what is it that makes it what it is, and Tanpa terasa, mata pun mulai menjelajahi dere- what is it that makes it not something else. Gen- tan rak tersebut, melihat kecentilan-kecentilan erally the goal of a proportional system is to pro- bahan yang akan membalut kaki saat dikenakan. duce a sense of coherence and harmony among Weits, tapi sepertinya bukan itu saja yang sangat the elements of a building. menarik dibalik rentetan sepatu itu, proporsi dan Scale in architecture can also describe buildings skala adalah yang paling mengagumkan dari efek with sightlines, acoustic properties, task lighting, pemakaian sepatu itu. ambient lighting, and spatial grammar that fit well with human senses. Seorang teman, sebut saja O, mencoba sebuah But that was so last month, and now; I’ll intro- sepatu, tinggi dengan hak ???. Aura wajahnya duce proportion and scale in woman ways. mulai menampakan permainan tebak-tebakan. Toko Sepatu, Dia melempar sebuah pertanyaan, “Bagaimana
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi hasil akhir dari sepatu ini?” Semua bertanya dan mulai berpikir mengenai skala dan proporsi badan si pemakai, tanpa disadari, (kecuali pegawai toko yang daritadi selalu memuji si pemakai, tentu saja ini trik-trik menghibur pembeli). O pun berjalan se- mampai menuju area dinding yang kosong tanpa rak. Perbedaan terjadi, perubahan signifikan dari sebuah proporsi dan skala manusia memungkin O tampil sedikit lebih tinggi dari wujud aslinya. Semuanya menjawab, “Jadi lebih tinggi”, “Woo woke banget!”, “Skalanya ok, tapi proporsinya kurang pas!”, Semua terdiam, bingung dengan kata-kata tersebut. - Nyengir Merenung: Arsitek, Teknologi, Mencoba menengahi, si pencetus kata-kata proporsi dan skala mencoba menjelaskan, ”Skala dan proporsi itu berbicara di lngkup yang sama, dan Jurnalisme - namun berbeda arti. Proporsi adalah keharmon- isan ukuran yang terjadi antara satu badan terse- Saskia P. Tjokro but, proporsi tidak memiliki sebuah ukuran baku dan dapat terjadi melalui pengukuran secara ki- ra-kira yang didasarkan oleh rasa. Semua orang dapat melakukan pemroporsian dalam semua objek. Proporsi menekankan pada hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain atau menyeluruh. “ 16 17 Terdiam mencoba mencerna… “Lalu??” “Ok, sedangkan skala berbicara mengenai uku- Tulisan ini diinspirasi oleh ketemunya pulpen Rotring sebelas tahun lalu, ketika pulpen itu dijejer manis di yang rusak di pedalaman koper lama setelah saya se- rak utama (plus segala aksesorinya). Saya perhatikan, ran sesuatu dibandingkan dengan suatu stan- lesai baca Asian Alterity, buku studi arsitektur yang hei, ada yang berubah di sini. Si pulpen Rotring itu, dar referensi atau sesuatu yang dapat dijadikan banyak bercerita tentang budaya. Rotring itu berde- yang tadinya belahan jiwa arsitek, medium mengko- patokan. Kita dapat menggunakan kata skala bu, dengan gagang yang bleberan tinta hitam kering munikasikan ketebalan dinding dan jendela dalam apabila sudah mengetahui perbandingan ukuran- di sisi gagangnya. Rotring itu, ditambah kepala yang gambar kerja, tak lagi jadi teknologi yang dipakai nya. Skala merupakan cara pandang kita melihat masih penuh aura Asian Alterity, mengilhami ketikan secara efektif. dan menilai besarnya sesuatu dalam hubungan- ini. nya dengan sesuatu yang lain. Nah dalam skala, Kelahiran software CAD tahun delapan puluhan per- Jadi ingat, dulu Rotring dan kawan-kawannya se- lahan membuat efektivitas pulpen itu menurun seba- manusia biasanya memiliki standar rata-rata ket- jenis pulpen jarum tinta itu masih ditempatkan di rak gai sarana komunikasi arsitektur. Masa konstruksi inggian 150-200 cm. Sedangkan ketinggian yang khusus di dalam toko buku. Biasanya berjajar lurus Guggenheim Museum Bilbao – Frank Gehry tak akan dihasilkan oleh pemakaian high heels O masih dengan rak Cartier, atau kalau tokonya besar, di samp- secepat sekarang jika tak ada software visual dan dalam ukuran ketinggian manusia yang wajar ” ingnya berpamer sederet merek pena tinta untuk-tan- CAD sebagai sarana koordinasi dengan para pemban- Kembali terdiam, (rupa-rupanya sedang mengin- da-tangan-kontrak; sebutlah Mont Blanc dan St. Du- gun di lapangan—meskipun secara ide beliau tetap gat-ingat kedua pengertian tersebut)… pont. Beda kasta dengan bolpoin yang ditata begitu menggunakan hakikat dasar mensketsa dan bermain saja di deretan rak barang-barang kodian. model. Bandingkan dengan abad delapan belas, ketika satu katedral Gotik terbangun dalam waktu konstruksi Suasana toko kian meramai, dipenuhi dengan Sudah lama juga nggak pakai Rotring. Padahal, saya abad. Bersyukurlah para arsitek dan desainer abad dua wanita-wanita yang sedang mencoba sepatu-se- berarsitektur (yang dalam hal ini sedikit desain, ban- puluh satu yang bisa menikmati bangunan rancangan- patu hak tinggi, yang tanpa mereka sadari telah yak tracing dokumen dan lebih banyak lagi ngedraft nya selesai berdiri! banyak melatih insting mereka masing-masing hahaha). Coba dua puluh tahun yang lalu, saat dunia untuk merasakan proporsi dan skala. pencatatan arsitektur masih mengandalkan ketelitian Waktu rancang bangun yang jauh lebih singkat ini tangan dan ketebalan jarum pulpen tinta, pasti pul- membuat para arsitek punya waktu untuk mendoku- High heels! That is a woman secret in manipu- pen jarum tinta seperti Rotring sudah seperti belahan mentasi karya-karyanya selama ia masih hidup, tak jiwa. Terakhir ke toko buku yang dulu menjual, pul- seperti perancang katedral yang butuh dedikasi dua lating scale and proportion. pen ini tak lagi ditaruh di deret depan. Tak seperti generasi lebih. Para desainer relatif lebih punya waktu
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi untuk mencatat konsep, menulis pandangan, mencatat yang mempengaruhi dunia arsitektur yang melahirkan jurnal, dan menyusun teori; di luar pekerjaan utama jurnalisme arsitektur, dimana para arsitek tak hanya tapak. Copy – paste pun harus pakai otak. Bentuk Memang sih, arsitek bukan pekerja sosial. Arsi- mereka yang merancang dan membangun lingkungan merancang. Namun juga menulis. Kenapa tidak, kar- boleh jadi sama, selera boleh jadi pribadi, tapi rel- tek kerja untuk perut. Dan perut, seolah alasan tak binaan. Sebutlah pencatatan ini sebagai jurnalisme ena jurnalisme arsitektur merupakan sarana unjuk evansi tetap ada. Kerennya sih, keberadaan arsitek terbantahkan di dunia yang bergerak dengan sistem arsitektur. karya dan lahan kritik bagus untuk mengaktualisasi sebagai pelaku jurnalisme tetap dapat membagi pe- kapitalis ini. Namun, mengingat yang dibangun ada- perkembangan dalam kurun waktu lebih singkat dan mikiran dan menuangkannya dalam tulisan, dan sep- lah penghidupan untuk manusia, tempat tinggal, tem- Ned Cramer dalam esainya di Architect Magazine ter- jauh lebih luas. Bentuk bangunan di Finlandia dapat erti dalam desainnya, tetap menerapkan orisinalitas. pat beraktivitas—kok rasanya tak relevan kalau karya bitan Oktober tiga tahun lalu menyebutkan, De Ar- dikritik oleh arsitek di Selandia baru. Fasad resort di Ah, orisinalitas. yang dihasilkan bukan hasil keputusan tepat guna. chitectura karangan Marcus Vitruvius Pollio tercatat Waikiki dapat dijadikan preseden referensi untuk re- sebagai salah satu jurnal arsitektur tertua era sejarah sort di Bunaken. Apalah orisinalitas dalam desain itu. Toh desain send- Kadang terpikir, arsitek itu seperti pekerjaan Dewa. dunia. De Architectura lahir pada masa Penguasa Ro- iri merupakan ilmu terapan, ilmu turunan dari akar Jauh, mustahil. Sewaktu memarahi saya karena terlalu mawi Augustus, abad tujuh belas, berisi penjelasan Keberadaan jurnalisme dan teknologi yang tersebar yang aslinya bernama seni. Saya tanya seorang dosen santai untuk membaca gambar struktur insinyur sipil tentang tiga esensi pencapaian arsitektur kala itu: luas ini membuat satu langgam arsitektur di suatu desain yang terlalu rendah hati untuk ditaruh namanya satu-persatu, Bos besar saya di kantor pernah berkata, utilitas, firmitas, dan venustas—fungsi, kekokohan, belahan dunia bisa dikenal dan menjadi inspirasi arsi- dalam tulisan ini, apa sih yang membedakan desain “We need to know a little bit of everything, but actu- dan keindahan (salahkan saya kalau artinya kurang tektur di belahan dunia lain. Wawasan para perancang dan seni, Pak? ally a lot more of every other things. Don ever take tepat. Saya nggak ahli bahasa Yunani, dan definisi menjadi lebih luas, dan tentunya referensi dalam pre- anything for granted”. Tahu sedikit-sedikit tentang tiga kata itu empat abad yang lalu bisa jadi sangat seden desain lebih mudah didapat. Jawabannya singkat: “Desain terkait dengan dunia in- segala hal, tapi harus tahu jauuuuh lebih banyak ten- berbeda dengan definisi masa kini). Hal ini memberi Bagaimanapun, perkembangan ini secara perlahan dustri, dan dunia industri sarat kompromi, Sas. Kom- tang hal-hal lain. Kenapa, lanjutnya, karena arsiteklah gambaran bahwa pada abad belasan, jurnalisme arsi- (tapi cukup signifikan) memudarkan klasisisme. Jika promi yang tujuannya keuntungan ekonomi.” yang bertanggung jawab atas apa yang dibangun. tektur berjalan beriringan dengan dokumentasi karya sebelumnya bentuk suatu bangunan di suatu daerah budaya; merunut arsitek masa lalu yang biasanya murni dipengaruhi oleh kebutuhan, adat, dan selera Berarti, perut yang bicara dong Pak? Saya tanya lagi. Wah, musti sekolah berapa tahun saya? Tujuh tahun lebih merupakan seorang seniman dibanding seorang setempat, keberadaan informasi yang meluas mem- (Saya pakai istilah perut soalnya kalau uang kesannya pun tak akan cukup! teknikal. Seperti De Architectura yang berisi penjela- buat bangunan yang berdiri mendapat suntikan pen- gimanaaa gitu.) Jawaban beliau setelah itu tak men- san tatanan, perkembangan dunia jurnalisme arsitek- garuh baru: bangunan di area lain (yang mungkin jawab. Menanggapi saya, beliau malah mengalihkan Mungkin karena itu para starchitect seperti Mbah tur cenderung berkutat pada penjabaran jurnal filsuf. secara fungsi dan respon terhadap lingkungannya ber- ke hal lain. Hadid dan Mbah Foster sudah pantas punya cucu. Keberadaannya lebih merupakan panduan daripada beda dengan kasus bangunan yang dirancang). Lebih Usia kepala tiga saja hitungannya masih arsitek muda. sebuah pandangan atas sebuah karya. Doktrinasi, bu- jauh lagi, tersebut dalam buku Asian Alterity, lang- Arsitek senior saya di kantor, bicara hal serupa yang Megah sekali, arsitek, okupasi yang ekspertise-nya kan kritik. Penjabaran, bukan review. gam khas suatu daerah bisa memudar bahkan tiada. tak sama. Sebulan sebelum saya menulis ini, saya membutuhkan waktu seumur hidup. Pekerjaan yang Dunia yang tadinya beragam dapat terpusat ke dalam mendapat kesempatan mendesain suatu proyek. Wak- menuntut kemampuan melihat masalah secara makro 18 19 Perkembangan konsep kritik karya dan review yang satu tren tertentu, terkiblatkan oleh opini-opini kuat tu itu, saya senang sekali. Seharian saya mencoba dari angkasa sekaligus mendefraksi detail mikro di kini menjadi komponen besar dalam dunia jurnalisme yang tersebar secara meluas. semuanya. Asistensi berkali-kali. Dasarlah saya, ju- atas bumi dalam waktu yang bersamaan. Karena kede- arsitektur ditandai dengan dikenalnya teknologi fo- nior yang terlalu senang dapat kesempatan dan keras waan inilah, tuntutan wawasan inilah, jurnalisme ar- tografi. Dua nama arsitek yang ternama yang turut Perluasan informasi dalam jurnalisme arsitektur ini, kepala dalam mempertahankan apa yang saya ingink- sitektur menjadi super sangat penting. merintis dunia fotografi arsitektur modern: Ezra Stol- seperti yang tersebut di atas, bisa membuka wawasan, an. Sampai tiba tenggat waktu habis, saya masih ragu Tak pernah merasa cukup, lebih penting lagi. ler (yang sudah almarhum, namun karena beliaulah dan perluasan wawasan bisa melahirkan inspirasi. In- pada suatu bagian. Saya masih merasa desain saya dunia dapat menikmati momen karya-karya Frank spirasi merupakan hal yang positif, namun inspirasi kurang mantap di bagian tertentu. Saya pusing. Bos Mengutip ujaran lagi, kali ini Daniel Libeskind: To Lloyd Wright tahun lima puluhan di masa kini) dan punya saudara-hampir-kembar yang disebut imitasi. saya itu geleng-geleng kepala lalu berkata dalam Ing- provide meaningful architecture is not to parody his- Julius Shulman. Berkat karya mereka, review karya Seperti Viva La Vida-nya Coldplay dengan If I Could gris Singlish, “Saskia, stop it meh. You need to de- tory but to articulate it. Melahirkan arsitektur yang para arsitek berkembang sampai keluar Amerika. Fly-nya Mbah Joe Satriani, inspirasi dan imitasi cide. And sometimes, design is not about good or bad. bermakna bukan lantas memparodi apa yang sudah batasnya rancu. Zaman dulu lebih memberi batas un- Design is about decision.” dibangun, namun mengartikulasinya. Artikulasi, me- Sampai saat ini fotografi memberi sumbangan besar tuk mengimitasi. Karena keterbatasan wawasan dari nyambungkan, mengekspresikan. Memiliki pengeta- pada proses jurnalisme arsitektur, yang kepentingan- informasi yang diterima, orang cenderung berpikir Saya ingat sekali, waktu itu saya terpaku sesaat. Ter- huan, dilahap, lalu dikunyah dan dituangkan dengan nya hampir seimbang dengan kepentingan tulisan da- dan menginspirasi dari hal lain, bukan dari bangunan pukau. Desain adalah tentang keputusan. Bagus atau menyempurnakan. Berbeda dengan copy-paste, lahap lam jurnalisme arsitektur itu sendiri. Mengapa? Diti- dari belahan dunia lain. Wong mereka nggak bisa lihat jelek bisa relatif. Orisinalitas bisa tak relevan. Tapi ekspres muntahkan lagi. lik dari pekerjaannya, arsitek lebih familiar menerima di belahan dunia lain bangunannya seperti apa. keputusan, adalah sesuatu yang pasti. Ketepat-gu- rangsang visual diagram dan imaji. (Mungkin karena Namun kembali ke dunia nyata, menjejakkan kaki ke naan. Dan keputusan itu, ternyata bukan hanya penda- Memang, kita nggak bisa kembali pada masa dimana itu buku-buku Rem Koolhas selalu ajaib penampa- bumi, dunia sekarang serba cepat. Informasi mengalir pat dia! Kalau kita buka kamus Oxford edisi sepuluh, pulpen jarum mengguratkan garis pintu dan jendela. kannya, obat perangsang supaya orang-orang mau deras, dan teknologi copy-paste bukan hal yang as- salah satu makna desain adalah ‘Decide upon the look (Dan apa gunanya juga kembali sih, teknologi ada membaca?) Foto dapat berbicara, berupa visualisasi. ing. Kebetulan sekarang saya sedang berkuli desain or function of something’. Menentukan tampilan dan mah dipakai saja) Saya percaya, arsitek berarsitek- Beberapa kalimat keterangan sudah dapat membantu di kantor arsitektur yang suaangat mengindustri. fungsi sesuatu. tur karena cinta.Perut mengikuti. Atau karena perut, menjelaskan obyek dalam foto. Orientasinya jelas, servis ke klien. Makanya, kalau baru cinta lahir setelah itu. Gairah, semangat, des- klien saya suka bangunan yang kantor saya rancang Wow. Itulah dia. Desain, tentang keputusan. tinasi; yang meski kadang terinterpretasi jadi benci Belum lagi ketika teknologi presentasi lahir, dari di negara X dan mereka mau menaruh di negara Y, Tentang ketepat-gunaan. Orisinal belum tentu benar. tapi rindu. Jika keberadaan publikasi dan jurnalisme Power Point sampai program tiga dimensi gratisan, tentuuuuuuu teknologi copy-paste nggak bisa 100% Seni belum tentu berempati, namun arsitektur ber- justru malah mematikan intensi desain pribadi, egois- jurnalisme arsitektur tumbuh makin subur. Jurnal-jur- dihindari (meskipun tetap mikirin tapak, lah). Habis interaksi dengan pengguna secara fungsi, selain se- lah sedikittttttt. Toh entah dengan pulpen jarum atau nal pencatatan dan review mengimplikasikan penge- gimana, terbatas juga kemampuan manusia mem- cara keindahan. Seperti pencerahan! Dan teknologi, software berjuta-juta, hakikatnya sama. Mengartiku- tahuan, dan menyebarkan informasi, yang jika ditilik produksi gambar dalam waktu singkat. keberadaan teknologi membuat bangunan-bangunan lasi peradaban. implikasi idealnya, akan meningkatkan kualitas de- Apakah ini excuse? dekonstruksi bisa berdiri. Tapi, teknologi juga yang sain para arsitek sendiri. melahirkan teknologi copy –paste, menyuburkan arsi- Jong Arsitek, sukses terus menjurnalismekan arsitek- Di sinilah peran arsitek penting dalam menggubah tektur-arsitektur kodian yang berorientasi servis. tur. Tulisan ini mencoba merunutkan perkembangan jur- desainnya untuk tetap menapak bumi; tetap turun ke ☺ nalisme arsitektur;. plus juga membicarakan teknologi lapangan dan melihat kebutuhan sebenarnya dalam
    • HIGHWAY OASIS KANCI .JAWA BARAT SAYEMBARA GERBANG DAN REST AREA TOL KANCI Andi Madina Ahmad T yana ardi Arieni Lestari DS Vitorini Heidy Ananda T Sofyan anti dan anakanak magang di GAEA Architect
    • 22 23
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 24 25
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi - tentang resesi - saya. Tak ada yang bisa saya bagi selain pengalaman saya sendiri. Setelah menganggur selama satu bulan, akhirnya saya dan juga beberapa dari te- man saya mendapatkan pekerjaan kembali. Be- indhira sagita berapa lainnya memilih untuk pulang ke Negara asalnya dan mengadu nasib disana. Gaji sudah pasti berkurang drastis, dan mimpi-mimpi ban- yak yang tertunda, tapi bertahan hidup adalah kebutuhan nomer satu di jaman sulit ini. Banyak biro yang memilih untuk tidak mengu- rangi pegawainya.Mereka memilih untuk mengu- rangi jam kerja, dari 5 hari seminggu menjadi 3 hari seminggu, lembur pun dilarang, telat diden- da, gaji dipotong, bonus ditiadakan, dan hal-hal lain. Lebih baik?? Mungkin, paling tidak mereka masih memiliki pekerjaan. Entah berapa banyak yang sudah jadi pengangguran akibat kondisi ini, mereka yang memiliki keluarga, memiliki tan- gunggan, sekarang mulai pusing lebih dari 7 kelil- ing untuk mendapatkan kerjaan dan menghidupi keluarganya. Pemerintah Singapura pun mulai ketat dalam 26 27 memberikan ijin bekerja bagi foreigner , mer- Sebagai salah satu dari banyak korban di era mereka. Pasrah dan menerima, 10 orang itu eka tentunya mengutamakan warga negaranya. resesi 2008/9 ini, teman baik saya paskal “me- pulang dengan masih berharap, esok kan masih Ironisnya, saat itu banyak teman saya di Indone- Bahkan banyak yang hanya ingin me-renew ijin maksa” saya untuk menulis tentang kondisi yang ada, dan saya pun menjadi pengangguran. sia yang masih ragu dan bahkan tidak tahu me- kerjanya juga ditolak oleh pemerintah Singapura terjadi. Saya memilih untuk menceritakan pengal- nahu dengan apa yang terjadi di dunia. Dan mer- tanpa alasana yang jelas. Dan gosipnya, resesi ini aman, karna itu yang paling saya tahu benar. Se- Saat itu masih sedikit orang yang menyadari bah- eka masih melamar kerja ke Singapura dengan akan berlangsung sampai tahun 2010. suai dengan lokasi saya saat ini yang ada di Neg- wa the time has come, dimana ikatan pinggang harapan mendapatkan gaji selangit dan hidup ara singa, maka tulisan saya dibawah berkonteks mesti mulai dikencangkan dan kewaspadaan yang lebih baik. Tentunya dari yang sulit masih banyak yang ber- Negara tersebut, kalau anda ingin mengetahui harus ditingkatkan. tahan, satu-dua biro di Singapura pun ada yang efek resesi secara global mungkin bisa memban- Di awal tahun 2009, keadaan tidak menjadi lebih tidak perlu mengurangi gaji atau mengurangi tu dengan membaca web berikut ini http://www. Di akhir tahun 2008, firm international di Sin- baik. Beberapa firm lokal mulai mengurangi kary- karyawannya. Dari beberapa teman yang terkena bdonline.co.uk/indexbd.asp?navcode=3693 gapura mulai bertambah yang me”rumah”kan awannya satu persatu, dan firm international imbas, masih banyak yang mampu bangkit kem- karyawan-karyawannya, bahkan ada beberapa mengadakan retrenchment tahap 2. Banyak firm bali, dan alhamdulillah salah satu diantaranya Retrenchment menjadi salah satu kata yang firm lokal yang harus gulung tikar karena tak arsitek yang karyawannya kini tersisa hanya 20% adalah saya. Tak ada lebih yang bisa dikata, when paling ditakuti “pekerja” arsitektur di Singapura sanggup membayar biaya operasi. Persaingan dari jumlah karyawan yang dimiliki sebelumnya. there’s a will there’s a way, mungkin will-nya yang sejak bulan oktober 2008 lalu. Tanpa tahu me- sesama pengangguran meningkat, beberapa Proyek-proyek mulai berhenti disana-sini, pen- perlu di adjust sedikit, atau way-nya yang perlu nahu kondisi yang terjadi, saya sendiri menjadi firm arsitektur yang membuka lowongan mem- gangguran bertambah, persaingan pun semakin diperluas jangkauannya apapun itu saya percaya korban di bulan itu dari salah satu firm interna- banting gaji yang ditawarkan, menyisakan kami bertambah dari sebelumnya yang sudah besar. kita akan mampu bertahan. tional yang memiliki cabang di Singapura. Se- para pencari kerja yang terpojok untuk memilih mua terjadi hanya dalam setengah hari, sebelum – menjadi pengangguran, atau karyawan bergaji Dunia arsitektur di Singapura merasakan efek Semoga saja kondisi di Indonesia tidak serumit waktu makan siang saya menerima e-mail yang jauh lebih rendah dari gaji sebelumnya. Teman yang cukup besar dari resesi ini. Proyek- ini, dan teman-teman disana baik baik saja. Ka- didalamnya tertulis bahwa akan ada meeting ber- saya dari Philippine ada yang bercerita tentang proyeknya banyak berada di India dan Dubai dan laupun sesuatu terjadi terhadap anda tetap se- sama bos besar setelah jam makan siang. Den- temannya yang tadinya bergaji S$7000 dengan kini terhenti karena developernya terkena kredit mangat dan jangan menyerah , badai ini pun gan muka lugu siang itu saya masuk kedalam pengalaman lebih dari 10 tahun kerja hanya di- macet. Biro-biro arsitek pun terkena imbas. Kary- pasti kan berlalu. ruangan meeting, dan sekejap saja saya dan 9 tawarkan S$2500 saja disalah satu perusahaan awan arsitektur mulai panik, was-was setiap kali orang lainnya dirumahkan. 10 orang dilepas den- lokal. Dan berfikir dia harus menghidupi istri dan mengangkat telepon, menerima email dari mana- Salam saya, gan muka manajemen yang bertekuk malu “maaf, dua anaknya di Singapura dengan gaji hanya jemen atau dipanggil keruang rapat. Semua me- sudah sebulan kami tidak ada pendapatan” kata S$2500 saja membuat perut saya mulas. nanti dengan cemas, akankah tiba hari-H untuk Indhi di Negara Singa. Jonathan End’s Photos - Singapore Randoms with LC-A+ and Agfa Precisa
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi dunia. Melalui perwujudan bangunan-bangunan ern”, dan “tidak maju” (Kusumawijaya, 2006). ikonik, arsitektur mampu menjadi senjata ampuh dalam memasarkan sebuah kota. Namun, apakah Solo adalah salah satu contoh kota di Indone- fenomena tersebut dapat berlaku di Indonesia? sia yang memiliki diversitas kultural cukup tinggi, pada awal terbentuknya merupakan kumpulan Menilik pada konteks Indonesia, perencanaan dari berbagai kuarter etnis, dan perkampungan kota selama tiga dasawarsa belakangan, belum tradisional Jawa yang berorientasi pada Keraton cukup mampu mengakomodasi aspek aktualisasi Surakarta. Sebagaimana kota-kota tradisional diri yang dibutuhkan sebuah kota untuk mengh- Jawa lainnya, pembagian permukiman didasar- adapi persaingan global. Kota dibiarkan bergulir kan pada profesi dan keahliannya dalam rangka begitu saja dalam mekanisme pasar yang liberal pengabdian kepada Raja. Selain itu terdapat pula dan laissez-faire. Kebijakan pembangunan hanya kuarter-kuarter etnis seperti Arab, Cina, Bali, Ma- mengembangkan fungsi-fungsi perkotaan yang dura, dan Banjar yang keberadaannya menjadi menguntungkan bagi sektor privat. Sementara pendukung bagi eksistensi keraton sebagai pusat kebijakan-kebijakan pemerintah dalam usaha kekuasaan. memodernisasi kota, justru mematikan secara dini setiap usaha kreatif untuk mengembangkan Sayangnya otentisitas, keunikan, dan kedetai- kehidupan kota yang memiliki karakter lokal (San- lannya kini nyaris tenggelam oleh modernitas. Menuju Ecumenopolis : toso, 2006). Padahal keanekaragaman yang tercermin dalam kuarter-kuarter permukiman berkarakter khusus Sebuah Tantangan Memperkuat Identitas Kota Kecenderungan yang terjadi di negara kita adalah tersebut dapat menjadi pendukung identitas kota setiap proyek komersial berlomba-lomba mem- pusaka dunia ini. Dalam teori kelas kreatif Rich- bangun bangunan landmark yang kontras dengan ard Florida bahkan disebutkan bahwa diversitas sekelilingnya. Padahal menciptakan bangunan- adalah sumber berharga bagi proses penciptaan Pembayun Sekaringtyas 28 29 bangunan spektakuler tanpa dibarengi dengan dan transaksi nilai-nilai, baik secara artistik mau- usaha memperbaiki lingkungan urban secara kes- pun ekonomi yang dapat memacu pertumbuhan pemenang Urbane Fellowship Program 2009 eluruhan hanya akan memperlebar jurang kesen- kota di era industri gelombang keempat—industri jangan yang ada. Perlu disadari bahwa arsitektur kreatif—saat ini. dan perencanaan kota masih menjadi menara Laporan kependudukan yang dilansir oleh PBB tanpa disadari sedang berada dalam proses gading bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Kiranya kita perlu menengok negara tetangga, menyebutkan bahwa setiap hari penduduk pembentukan ecumenopolis, dan bersaing den- Maka dalam hal ini untuk dapat menjadikan ar- Singapura, yang merevitalisasi kampung-kam- perkotaan dunia bertambah 180.000 orang. gan kota-kota yang lebih mapan serta memiliki sitektur sebagai sebuah magnet kota, bangunan pung etnisnya sehingga menjadi daerah tujuan Bahkan tahun 2008, untuk pertama kalinya da- hierarkhi lebih tinggi dalam jaringan kerja global, landmark semestinya digunakan sebagai sebuah wisata yang menarik. Singapura memang ingin lam sejarah umat manusia, lebih dari setengah seperti Tokyo, London, New York, atau Shanghai. titik awal dalam peremajaan kota daripada seba- menunjukkan kotanya yang terbuka akan diversi- penduduk dunia—atau sekitar 3,3 miliar—tinggal Dalam dinamika proses globalisasi ini, kota-kota gai akhir dari tujuan city branding itu sendiri. Di tas kultural dan unik sebagaimana slogan badan di kawasan perkotaan. Jumlah tersebut diramal- di dunia berkompetisi untuk untuk menampilkan era ecumenopolis ini, arsitektur dan perencanaan pariwisatanya “Uniquely Singapore”. Manifestasi kan akan terus membengkak hingga mencapai 5 kesan spesifik, menonjol dan positif untuk menarik kota memang harus mampu menempatkan posis- keragaman budaya di Singapura telah memberi miliar pada tahun 2030. investor, tenaga-tenaga profesional, dan terutama inya yang lebih kontekstual dengan kondisi lokal. kontribusi pada wajah kota, mulai dari arsitektur kelas kreatif—yang dalam diskursus Richard Flor- Menggali keunikan tempat yang bersumber dari hingga kulinari. Urbanisasi yang tak terelakkan dan globalisasi ida disebutkan sebagai formasi sosial baru yang nilai-nilai kearifan lokal yang ada. yang menyertainya, perlahan tapi pasti meng- dapat menciptakan kota-kota progresif di masa Singapura sebetulnya pernah mengalami masa aburkan batas-batas fisik administratif kota, depan. Ahli penataan kota, Eko Budihardjo, menyebutkan degradasi kota, yaitu pada dekade 1970-an ke- negara, hingga kontinen. Dengan didukung oleh bahwa komponen perkotaan yang sangat ber- tika economic boom melanda negara itu. Ban- kemajuan teknologi yang memungkinkan daya Identitas yang unik menjadi syarat mutlak untuk peran dalam penciptaan keunikan tempat salah gunan-bangunan di kawasan cultural heritage jelajah yang lebih jauh dan lebih cepat, komu- mengorbitkan sebuah kota dalam kancah per- satunya adalah lingkungan permukiman (Budi- disana seperti Chinatown, Little India, Kampung nikasi yang real time, serta akses informasi tanpa caturan kota dunia. Dalam usaha melakukan city hardjo, 1993). Di Indonesia, kuarter-kuarter etnis Melayu, dan Kampung Arab hampir musnah ter- batas, pada akhirnya akan mewujudkan sebuah branding tersebut, banyak kota-kota di dunia dan kampung-kampung tradisional dapat mudah gusur bangunan-bangunan modern karena dinilai peradaban manusia yang menyatu dalam satu secara sadar mengaktualisasikan dirinya melalui dijumpai di berbagai kota, dan selama kurun wak- kumuh dan ketinggalan zaman. Namun, pemerin- kota dunia. Kota masa depan yang oleh arsitek arsitektur dan desain urban. Fenomena ini dike- tu yang panjang telah menjadi bagian dari riwayat tah Singapura ternyata cukup tanggap menang- dan perencana kota asal Yunani, C.A. Doxiadis, nal dengan istilah Bilbao Effect, merujuk pada perjalanan kota itu sendiri. Akan tetapi, menurut kap pesona kawasan-kawasan tersebut untuk disebut sebagai ecumenopolis. preseden pembangunan Museum Guggenheim arsitek Marco Kusumawijaya, kampung kota se- menjadi identitas yang unik bagi kotanya. oleh arsitek Frank O. Gehry di Bilbao, Spanyol, bagai ruang bermukim asli yang tersisa, makin Chinatown, Little India, Kampung Glam (Kam- Kota-kota Indonesia yang tengah berkembang, yang memicu ketenaran kota tersebut di seantero lama makin diberi konotasi negatif: “tidak mod- pung Arab), dan Geylang Serai (Kampung Mel- ayu) adalah empat nama kuarter etnis yang telah
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi Wajah Pecinan di dua lokasi yang memiliki riwayat berbeda: Gambar 1: Chinatown di Singapura (foto: Wikipedia, 2008) Pedagang kaki lima tampak berjualan di sepan- jang promenade yang membelah deretan shop- house. Informalitas PKL diakomodasi dengan baik, ditunjang desain kawasan yang memung- kinkan kontinuitas urbanit. Bangunan tinggi men- julang di kejauhan, menyiratkan perpaduan yang harmonis antara yang modern dan tradisional, yang formal dan informal, tanpa harus ditengahi oleh kesenjangan. Gambar 2: Kampung Balong di Solo, Jawa Tengah, Indonesia (foto: Agustina, 2008) Di sebelah kiri tampak Pasar Gede Hardjonagoro yang diarsiteki oleh Thomas Karsten, dan deretan shophouse milik warga etnis Cina di sebelah ka- nan. Kesan kumuh membayang di kawasan ini. Gerobak-gerobak PKL diparkir tak beraturan di depan bangunan. Sementara pejalan kaki tidak mendapatkan ruang yang layak, bercampur den- gan jalur sirkulasi kendaraan bermotor. direvitalisasi. Dalam usaha merevitalisasi kawasan generik. 30 31 tersebut, desain urban menempati peran yang Daftar Pustaka Bekkering, Henco. 2008. On Permanence in Urban Design. Dalam sangat penting. Disana hampir tidak ada kesan Mengaktualisasi fungsi-fungsi perkotaan yang su- Manen dkk. (Eds.), The Architecture Annual 2006-2007 Delft Uni- kumuh dan suram sebagaimana bayangan kita dah ada dan mengembangkan fungsi-fungsi kota versity of Technology (hlm. 58-63). Rotterdam: 010 Publishers. akan kota-kota lama di Indonesia. Bangunan- yang baru (reinventing city) sangat diperlukan Budihardjo, Eko dan S. Hardjohubojo. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Penerbit Alumni. bangunan tampak terawat dan kondisinya prima untuk menciptakan kota yang tangguh mengh- Ferbianti, Dieny. 2007. Menengok “Urban Tourism” di Singapura. hingga kita tak akan menyangka usia bangunan adapi tantangan di masa depan. Belajar dari Sin- (http://dieny.wordpress.com/2007/06/27/menengok-“urban-tour- rata-rata lebih dari seabad. Jalur pedestrian dan gapura, kita perlu mulai menghidupkan kembali ism” -di-singapura, diakses 26 Desember 2008, 21:37 WIB) Doxiadis, C.A. 1969. The City (II): Ecumenopolis, World-city of To- street furniture tersedia dengan baik, membuat kuarter-kuarter tradisional yang khas, sehingga morrow. Impact of Science on Society, v.19, no.2, April-June 1969, wisatawan betah berlama-lama berjalan kaki. permukiman tersebut dapat menjadi bagian yang p. 179-193: 8 fig. (http://www.doxiadis.org/files/pdf/the_city_ecu- Jika letih menyergap, taman-taman yang teduh terintegrasi dengan struktur kota modern tanpa menopolis.pdf diakses 26 Desember 2008, 21:15 WIB) Kompas, 29 Juni 2007. Tajuk Rencana: Laporan Kependudukan menawarkan oase untuk melepaskan lelah. Se- kehilangan karakter lokal yang dimilikinya. Serta PBB. mentara untuk berpindah dari satu kawasan ke memberikan rasa ruang yang unik, yang tidak da- Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Penerbit kawasan lainnya yang jaraknya agak jauh, dapat pat dirasakan di tempat lainnya. Tentu kita tidak Borneo. Meyer, Ulf. 2nd quarter 2008, volume 9. Senjata Atraksi Massa. menggunakan MRT atau bis—dimana stasiunnya akan rela jika kota-kota di Indonesia memiliki kara- FuturArc, hlm. 98-100. dapat dijangkau dengan mudah dari segala pen- kter yang seragam tanpa ciri khas lokal yang jelas Nas, Peter J.M. 2007. Kota-kota Indonesia. Yogyakarta: Gadjah juru kota. sehingga tidak mampu berkontribusi bagi proses Mada University Press. Santoso, Jo. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: Pener- pertukaran nilai-nilai kultural di ranah ecumenopo- bit KPG dan Centropolis. Pada akhirnya, perencana, perancang kota, dan lis nantinya. [] Visit Singapore. Ethnic Quarter (http://www.visitsingapore.com/ arsitek memang harus mampu memberi ruang publish/stbportal/id/home/what_to_see/ethnic_quarters.html di- akses 26 Desember 2008, 21:07 WIB) bagi keberadaan berbagai jenis aktivitas urban Wikipedia. Culture of Singapore (http://en.wikipedia.org/wiki/Cul- yang spesifik dan berakar pada kultur tradisional ture_of_Singapore, diakses 1 Januari 2009, 13:30 WIB) urban kita sendiri. Mengabaikan lingkungan tra- Wikipedia. Chinatown, Singapore (http://en.wikipedia.org/wiki/Chi- natown,_Singapore diakses 30 Desember 2008) disional yang telah ada berarti menghilangkan Winfield-Pfefferkorn, Julia. 2005. The Branding of Cities: Explor- memori kolektif, sebagaimana yang diungkapkan ing City Branding and The Importance of City Image. (http://www. arsitek M. Christine Boyer sebagai ‘krisis memori’. brandchannel.com/images/papers/245_Branding_of_Cities.pdf, diakses 26 Desember 2008) Kesadaran akan kontinuitas historis perlu ditana- Foto mkan dalam diri perancang kota karena krisis http://en.wikipedia.org/wiki/File:Trengganu_Street,_Dec_05.JPG memori dapat berdampak pada hilangnya iden- titas lokal yang menyebabkan kota-kota tampak
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 32 33 PARQUE BIOTECNOLÓGICO With a population of 6 053 044 inhabitants, according to the census of 2005, in Culiacan, capital of Culiacán, México the state of Sinaloa in northwestern Mexico, aims to develop the Pacific’s biotechnology park, institute 24°49’22’’ N that seeks to promote technological development of the country, creating business of high value and 107°23’82’’ O generate competitiveness in the areas of innovation and technological development. To be built by 2009 6,260 m2 With the construction of this building, they want to promote the generation of technological and market CREDITS information, training of local and international networks in the field of scientific research and also the Concept: Tatiana Bilbao economic and productive development of the region, and the creation of human capital and job quality Design: Tatiana Bilbao, Thorsten Englert, by overcoming the current national standards. Are many and varied benefits that would become the Ludwig Godefroy, Luis Sol. construction of Pacific’s biotechnology, so it requires special attention and care in building this project, Enviromental Consultor: Emiliano García TOA which will have a positive impact on Mexican society.
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 34 35 In Tatiana Bilbao has become a meticulous ar- other elements of the tree. Thus, the first floor, chitectural planning as well as meet customer representing the trunk, will have a front plate requirements, such as the dimensions of the made from scratch that provides a texture similar spaces, use and needs of each of these, to com- to that of the truck. A metal mesh forms that are ply with quality standards, sustainability and in- intertwined with the material of the facade of the novative design. Thus, based on the shape and second floor. The third shows an oxidized crystal distribution of a tree, has a scheme that results in that will allow us to guess forms of the leaves. a building with five levels, five boxes of Tausend And at the highest level, the sky being reflected square meters each. Thanks to the position of and reproduced in front of a mirror. these boxes, each level has a terrace, its own In this way, the building will be made with the orientation and provides shade for the lower lev- highest quality materials, with a clean environ- els. Each of these levels represents one of the ment inside and outside the building and a spe- integral parts of a tree. The first level, occupying cial infrastructure, as such, the need laboratories, the symbolic space of the roots, is projected be- places of experimentation and high cientific re- low the ground level, a patio covered by a green search. roof to provide a fresh and intimate atmosphere to its visitors and generate adequate access to the entire building, that level has been planned to build an underground parking to reduce the visual presence of cars in the area. At ground level is raised to build a smaller box that will rise on the other floors of the building, this level will be used to create spaces and plant green roofs covering the lower level. Subsequent floors represent the
    • jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi 36 37
    • socialitur jjengArsitek! Edisi 2.1, 2009 | desain menginspirasi media acara dan sosialisasi event arsitektur “Per empuan paling tahu kebutuhan perempuan. Dan hanya arsitek perempuan, lewat karyanya, yang bisa merealisasikan kebutuhan- kebutuhan itu menjadi by fandy gunawan by kusuma agustianto sebuah ruang tinggal dan 38 39 ruang hidup yang lebih baik. Karena itu, teman-teman arsitek perempuan, berkarya bukan lagi sebuah pilihan. Melainkan tanggung jawab. “ Avianti Armand by kusuma agustianto -NegeriParaPeri@AksaraKemang-