Your SlideShare is downloading. ×
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Seri Sejarah Ekonomi Islam: faktor faktor yang mempengaruhi pemikiran ekonomi Islam

2,533

Published on

Berisi: Faktor-faktor yg menpengaruhi pemikiran ekonomi islam, sunnah ilahiyah: sunnah kauniyah dan sunnah insaniyah, hubungan sunnah ilahiyah dengan perkembangan ekonomi

Berisi: Faktor-faktor yg menpengaruhi pemikiran ekonomi islam, sunnah ilahiyah: sunnah kauniyah dan sunnah insaniyah, hubungan sunnah ilahiyah dengan perkembangan ekonomi

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,533
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
51
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Bagian 3 Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Ekonomi Islam Muhammad Jamhuri
  • 2. Pengaruh Sunnah Ilahiyah Pada Perkembangan Ekonomi • Tidak seorang pun dari para ilmuwan alam mengingkari bahwa alam ini mempunyai undang-undang alam yang mengaturnya. Baik mereka mengembalikan hal itu kepada Sang Penciptanya maupun kepada alam. Namun yang jelas terdapat aturan yang mengatur alam ini. Dan berdasarkan pada pemahaman pada aturan dan undang-undang inilah dibangun peradaban materi megah yang kita saksikan sekarang ini dalam bentuk penemuan-penemuan dalam berbagai bidang. • Sebagai bagian dari perkembangan pemikiran ekonomi Barat, lahirlah mazhab Fisikian (ahli alam), dan mazhab ini berusaha menarik sunnah kauniyah (hukum alam) yang mengatur kehidupan ekonomi untuk diterapkan pada salah satu sisi kehidupan manusia berupa kehidupan ekonomi. Sehingga mereka menyerukan, agar membiarkan ekonomi bebas bekerja sesuai dengan hukum alam. Oleh karena itu sistem ekonomi yang dirintisnya di Prancis diilhami oleh sistem sirkulasi darah pada tubuh manusia. Dan ini merupakan kekurangan pemikiran manusia sendiri pada sisi materi. • Adapun menurut pandangan Islam, seorang muslim mempercayai bahwa Allah sang Pencipta kehidupan materi dan telah meletakkan aturannya, Dia-lah juga yang menciptakan kehidupan manusia. Dan tidak ragu lagi bahwa kehidupan manusia secara karakteristiknya berbeda dengan kehidupan materi. Oleh karena itu, pasti berbeda pula antara hukum yang mengatur kehidupan manusia dengan hukum yang mengatur kehidupan materi.
  • 3. Pengertian Sunnah Ilahiyah • Sunnah menurut Bahasa • Ibn Mandzur berkata, “..wa sannahallahu linnas artinya Allah menjelaskan. wa sannallahu sunnatan artinya Allah menjelaskan jalan lurus • Meskipun para ahli bahasa berbeda pendapat tentang makna sunnah, namun dapat digabungkan pengertian bahwa sunnah adalah berulang dan berkesinambungannya suatu perbuatan pada bentuk yang sama • Sunnah menurut Definisi • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sunnah adalah kebiasaan yang mencakup pekerjaan dilakukan keduakalinya seperti yang dilakukan di awalnya • Sayid Quthub menjelaskan batasannya dengan ucapannya, “Sunnah ialah yang mengatur kehidupan, dia ditentukan oleh kehendak bebas. Maka sesuatu yang terjadi pada selain zaman anda, ia akan terjadi –dengan kehendak Allah- pada zaman anda. Dan apa yang terjadi pada kondisi lain, ia akan terjadi pada kondisi anda.” • Syarif al-Khotib mendefinisikan, “Sunnah adalah manhaj (sistem) Allah dalam perjalanan alam ini, dalam membangun dan dalam hukumnya. Serta dalam kebiasaan Allah dalam menjalankan kehidupan manusia, membalas orangorang yang taat dan memberi sangsi pada orang-orang yang melanggar, sesuai dengan qodho azalinya dan sesuai dengan kebijakasanaan dan keadilanNya.”
  • 4. Pembagian Sunnah Ilahiyah • Jika kita mempelajari sunnah ilahiyah dalam al-kitab dan al-Sunnah akan ditemukan bahwa sunnah ilahiyah terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu: 1. Sunnah Ilahiyah Kauniyah, yakni sunnah (aturan) yang mengatur gerak benda di alam ini dengan masing-masing perbeadaannya. Sunnah ini pada dasarnya dibahas oleh ahli medis, ahli ilmu falak (astronomi), fisika dan kimia dan lainnya sesuai dengan teori ilmiah mereka masing-masing. 2. Sunnah Ilaiyah Insaniyah, yakni sunnah (aturan) yang dibangun di atas dasar ilmu kemansiaan, seperti ilmu sosial, ilmu jiwa (psikologi), sejarah, ekonomi dan lainnya. Dan ini menjadi pokok bahasan dalam studi ini.
  • 5. Hubungan Sunnah Ilahiyah • Hubungan antara Sunnah Insaniyah dan Sunnah Kauniyah dapat diringkas sebagai berikut: • Keduanya memiliki hubungan, yakni bahwa keduanya berasal dari satu Tuhan Allah SWT. • Orang yang berjalan sesuai dengan Sunnah insaniyah dan memanfaatkan sunnah kauniyah yang Allah tundukan untuk manusia, maka ia akan mendapat kesejahteraan materi dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT. “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, maka Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi mreka mendustakan maka kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka lakukan”. Firman Allah SWT, “Jika mereka tetap lurus maka kami anugerahkan air”. Firman Allah SWT, “Barangsiapa mengikuti petunjukKu maka ia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara..”.
  • 6. Hubungan Sunnah Ilahiyah • Orang yang membatasi pada pemanfaatan sunnah kauniyah dan berpaling dari sunnah insaniyah, maka Allah hanya memberinya dunia saja sesuai usahanya. Tapi dia tidak mendapatkan pahala mengikuti sunnah kauniyah berupa kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT, “barangsiapa menginginkan ladang akhirat, maka Kami beri tambahan ladang padanya. Dan barangsiapa menginginkan ladang dunia, maka Kami beri dia dunia dan tidak mendapat apa-apa di akhirat”. Firman Allah SWT, “Barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami bangkitkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Contoh dalam hal ini adalah perdaban Barat dewasa ini • orang yang hidup sesuai dengan sunnah kauniyah dan tidak memberi hak pada sunnah kauniyah, maka dia tidak diberi dunia kecuali sekedar yang dia manfaatkan dan selalu mengambil manfaat dari orang yang memanfaatkan sunnah kauniyah dan maju secara materi. Barangkali kondisi umat islam sekarang secara umum masuk dalam kategori ini. Firman Allah SWT, “Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagian lagi. Maka tidaklah balasan buat mereka kecuali kesengsaraan di kehidupan dunia…”
  • 7. Hubungan Sunnah Ilahiyah • Ada pula orang yang tidak memanfaatkan sunnah kauniyah dan sunnah insaniyah, maka dia hidup dalam kesesatan dan sengsara secara kejiwaan dan materi. Kategori ini terjadi pada masyarkat yang kehidupannya masih dalam kebodohan dan animisme. • Sunnah kauniyah terkadang tidak berjalan karena kepentingan sunnah insaniyah, dan tidak akan terjadi sebaliknya. Sebagai contoh perubahan api yang membara menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi Nabi Ibrahim as. Dalam hal ini sunnah kauniyah tidak berjalan yang seharusnya api itu membakar, karena untuk kepentingan sunnah insaniyah yakni menyelamatkan nabiyullah. Demikian juga perubahan air yang bersifat cair dan mengalir menjadi kaku dan keras dalam beberapa saat agar Allah menyelamatkan hamba-hambanya yang mu’min dan nabi Musa as beserta pengikutnya. Masih banyak lagi contoh seperti terbelahnya bulan pada masa Nabi saw sebagai bukti akan kebenaran kenabiannya.
  • 8. Hubungan antara Sunnah Ilahiyah dengan Sebab • Di antara rahmat Allah adalah menciptakan pedoman tertentu untuk terjadinya sunnah ilahiyah beserta pengaruhnya dan Allah menjelaskannya pada hamba-hambanya. Dia menjadikan untuk setiap sunnah suatu sebab untuk terjadinya sunnah. Dia juga menciptakan penghalang dari terjadinya suatu sunnah. • Sunnah ilahiyah ditinjau dari hubungannya dengan sebab akibat terbagi kepada dua bagian: • Pertama, sunnah yang merupakan kuasa dan kehendak Ilahi, artinya tidak ada intervensi dari perbuatan manusia. Sebagai contoh sunnah yang akibatnya terjadi pada manusia sesuai sebab yang mereka lakukan. Seperti sunnah ujian dengan segala bentuknya merupakan takdir/kuasa Allah. Firman Allah SWT, “Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk mengujimu siapa diantaramu yang terbaik amalnya, dan Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Pengampun”. Asy-Syaukani berkata, “Penyakit yang berhubungan dengan penciptaan yakni menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa diantaramu yang terbaik amalnya sehingga Dia memberi pahala padamu atas hal itu..” Sayid Quthub berkata, “Itu hanyalah ujian untuk menampakkan segala yang sudah berada dalam pengetahuan Allah tentang perilaku manusia di bumi, dan hak mereka mendapat balasan atas amal”. Dalam hal ini, pengaruh sunnah ini timbul sesuai penyikapan manusia terhadap ujian ini.
  • 9. Hubungan antara Sunnah Ilahiyah dengan Sebab • Kedua, sunnah yang Allah timbulkan kejadiannya disebabkan sesuatu yang dilakukan manusia. Sunnah ini tidak tergantung dengan sendirinya, akan tetapi adanya beberapa sebab yang terkait sehingga terjadinya sunnah Allah ini. Juga terjadinya sunnah ini karena adanya beberapa sebab dan tidak ada sesuatu yang menghalanginya. Contoh tidak terjadinya sunnah karena adanya sesuatu yang menghalanginya adalah firman Allah SWT, “Tidaklah Allah menyiksa mereka sedang engkau berada di antara mereka, dan tidaklah Allah menyiksa mereka sedang mereka memohon ampunan”. Dengan demikian orang Quraisy terhindar dari sunnah kebinasaan kaum kafir lantaran adanya Nabi SAW di antara mereka, dan karena masih ada orang yang memohon ampun dari kalangan muslimin.
  • 10. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Pertama, tetap (tsabat). Aturan dan sunnah yang mengatur kehidupan manusia sesuai interaksi manusia dengan sistem yang telah diletakkan sang Penciptanya memiliki karakteristik tetap. Salah satu dalilnya adalah firman Allah SWT, “Sunnah Allah yang terjadi pada orang-orang terdahulu, dan engkau tidak akan menemukan pengganti bagi sunnatullah” Kata “lan” menunjukkan tidak mungkin ada pengganti sunnah-sunnah, karena huruf “lan” menunjukkan penafian di masa datang (nafi lil istiqbal). Kata “tabdilan” juga berupa nakiroh yang jatuh pada bentuk nafi, yang menunjukkan makna umum (pengganti apapun). Adanya bentuk nafi pada pengganti untuk menegaskan (ta’kid) tidak adanya pengganti. Sayid Quthub berkata, “Perkara-perkara tidak berlalu begitu saja, dan kehidupan tidak berjalan di bumi dengan sia-sia, akan tetapi ada aturan tetap yang merealisirnya, ia tidak berbah dan tidak berganti.” Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Yakni Allah memberlakukan azab bagi orang-orang kafir dan menjadikan hal itu sebagai sunnah atas mereka. Allah menyiksanya sesuai dengan orang yang berhak atasnya. Tidak seorang pun mampu mengganti itu atau mengalihkan azab atas dirinya kepada orang lain.”
  • 11. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Sunnah insaniyah (aturan yang mengatur manusia) lebih banyak bersifat tetap dari pada sunnah kauniyah (aturan yang mengatur alam). Bahkan sunnah kauniyah dapat tidak terjadi demi sunnah insaniyah seperti contoh yang telah disebutkan. Ada lagi hadits riwayat Abi Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Salah seorang Nabi pernah berperang, dan berkata kaumnya, “Tidak boleh ikut denganku orang yang memiliki tujuh isteri padahal dia akan melaksanakan walimah dengannya, juga orang yang sedang membangun rumah dan belum membangun atapnya, dan orang yang membeli kambing yang menunggu anaknya”. Lalu dia berperang dan mendekati kota saat akan masuk sholat ashar atau dekat dengan itu. Lalu Nabi itu berkata kepada matahari; “Sesungguhnya engkau diperintah (Allah) dan akupun diperintah. Ya Allah tahanlah dia (untuk tidak segera terbenam) untuk kami. Maka iapun tertahan hingga Allah memberi kemenangan baginya.” Dalam hal ini sunnah kauniyah berupa berhentinya gerak matahari tunduk demi kemaslahatan sunnah insaniyah berupa pertolongan Allah kepada orang-orang mu’min.
  • 12. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Kedua, komprehensif dan umum (al-syumul wal ‘umum). Sunnah bersifat komprehensif dan umum, berlaku untuk semua manusia di setiap zaman, dan tidak berubah antara satu umat dengan umat lain. Maka barangsiapa yang mengikuti sunnatullah dalam perang contohnya, meskipun dia musyrik dan kafir pada Allah, maka kemenangan akan menjadi miliknya dengan izin Allah. Dan barangsiapa berpaling dari sunnah itu maka ia akan mengalami kekalahan walaupun dia seorang yang jujur dan seorang nabi. Atas dasar ini terjadi kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud. AlButhi berkata, “Terulang kesalahan beberapa individu pada pasukan muslimin dengan akibat musubah pada mereka seluruhnya, sehingga mereka terkena musibah itu hingga pada Rasulullah saw. Hal itu adalah sunnatullah pada alam, tidak ada yang mencegah akan keberlangsungannya walau Rasulullah saw ada di tengahtengah pasukan dan beliau sebaik-baik makhluk di hadapan Allah”.
  • 13. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Ketiga, bijaksana dan adil. Sunnah berlandaskan pada kriteria ini karena berasal dari sifat sang Pencitanya; Allah SWT. Firman Allah SWT, “Keathuilah sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Maha Adil”. Firman Allah SWT, “Alif lam Ra, Kitab yang ayat-ayatnya pasti kemudian terperincin, berasal dari Tuhan yang Maha Adil dan Menguasai”. Dialah yang Pemilik dan Maha Benar dan Adil, bebas dari sifat zalim dan aniaya. Firman Allah SWT, “Dan Tuhanmu tidak berbuat aniaya selamanya.” Firman Allah, “Dan Tuhan tidak zalim kepada hamba”. Ayat-ayat dan haditshadits tentang hal ini banyak dan tidak dapat dihitung.
  • 14. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Keempat, terjadinya sunnah berbanding dengan perbuatan manusia. Kriteria inimerupakan karunia dari Allah SWT bagi manusia, dimana manusia bertanggungjawab atas perbuatasnnya. Terjadinya sunnah Allah ini sesuai dengan perbuatan, visi dan keyakinannya. Allah menjelaskan hubungan sebab-akibat antara perbuatan manusia dan terjadinya sunnah insaniyah. Firmannya, “sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang merubahnya.”. fiman Allah SWT, “Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perbuatan tangan manusia.” FiranNya lagi, ”Jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka tipudaya mereka tidak akan mencelakakan kalian sedikitpun.”
  • 15. Karakteristik Sunnah Ilahiyah • Kelima, terjadi dan tidak akan mundur. Jika syarat-syarat Sunnah Allah telah terpenuhi dan tidak ada penghalangnya, maka ia akan terjadi dan tidak akan mundur. Karena yang merealisirnya adalah Zat yang tidak terkalahkan oleh apapun baik di bumi maupun di langit. Firman Allah SWT, “Jika Dia telah menentukan suatu perkara maka Dia berkata”jadi!” maka jadilah.”. Terjadinya sunnah itu juga tidakdipengaruhi oleh ketidaktahuan umat tentang sunnah itu. Jika ketidaktahuan itu disebabkan karena lalai, maka ia tetap berlaku. Firman Allah SWT, “Apakah tatkala datang kepadamu musibah yang pernah menimpa seperti itu kepadamu, kalian berkata, mengapa ini? Katakanlah, itu datang dari kalian.” Firman Allah SWT, “Tidakkah mereka menyaksikan, berapa banyak kaum sebelum masa kurun mereka Kami binasakan, mereka telah Kami beri kekuasaan di muka bumi yang belum pernah kami beri kekuasaan kepadamu, dan Kami turunkan hujan kepada mereka, dan Kami jadikan sungai-sungai yang mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakab mereka karena dosa-dosa mereka, lalu kami ciptakan setelah mereka generasi lain.”

×