Fiqih Shalat sunnah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Fiqih Shalat sunnah

on

  • 12,617 views

menjelaskan tentang macam-macam shalat sunnah dengan segala seluk beluknya menurut 4 madzhab fiqih, baik berkaitan dengan shalat rawatib maupun shalat ghoiru rawatib. cocok buat yang biasa isi majlis ...

menjelaskan tentang macam-macam shalat sunnah dengan segala seluk beluknya menurut 4 madzhab fiqih, baik berkaitan dengan shalat rawatib maupun shalat ghoiru rawatib. cocok buat yang biasa isi majlis taklim.

Statistics

Views

Total Views
12,617
Views on SlideShare
12,617
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
211
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Fiqih Shalat sunnah Fiqih Shalat sunnah Presentation Transcript

  • Muhammad Jamhuri
  •    Sholat sunnah adalah sholat yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh para mukallaf selain sholat wajib. Sholat sunnah ada yang terpisah dari sholat wajib, seperti sholat istisqo (memohon hujan), kusuf (gerhana matahari), khusuf (gerhana bulan) dan tarawih. Hal ini akan dijelaskan pada bab khusus. Ada pula sholat sunnah yang mengikuti sholat wajib, seperti sholat qobliyah (dilakukan sebelum sholat wajib) dan sholat ba‟diyah (dilakukan setelah sholat wajib). Di antara sholat ini, ada yang hukumnya sunnah, mandub dan marghub (disukai), sebagaimana menurut masing-masing pendapat ulama madzhab.
  •  Sholat sunnah yang mengikuti sholat wajib terbagi kepada dua bagian:    Sholat Rotibah Sholat Ghoiru Rotibah Sholat Rotibah ada 10 (sepuluh) rakaat:        2 rakaat sebelum Dzuhur 2 Rakaat setelah Dzhuhur 2 rakaat setelah maghrib 2 rakaat setelah isya, 2 rakaat sebelum subuh Sesuai dengan hadits Ibnu Umar ra “Aku menjaga dari Nabis saw 10 rakaat” Shalat di atas hukumnya sunnah muakkad, sehingga jika tertinggal dapat diqodhonya. Dan jika seseorang melaksanakan sholat qobliyah dari sholat-sholat tersebut di waktu setelah sholat fardhu maka dia menjadi qodho, meskipun masih berada di waktunya
  •  Sholat Ghairu Rotibah ada 20 rakaat:         4 rakaat sebelum Dzuhur 4 rakaat sebelum Dzuhur 4 rakaat sebelum ashar 4 rakaat sesudah maghrib 4 rakaat setelah isya Dan diperbolehkan shalat 2 rakaat setelah adzan dan sesudah maghrib. Sesuai dengan hadits Anas ra: “kami di zaman Nabi saw pernah shalat 2 rakaat setelah terbenam matahari. Lalu Anas ditanya, apakah Nabi saw melakukannya? Anas menjawab, “Nabi melihat kita sholat, maka beliau tidak memerintah kami dan tidak melarang kami” Untuk sholat Jumat ada sholat sunnah rotibah setelah sholat jumat, sedikitnya 2 rakaat dan sebanyak-banyaknya 6 rakaat. Dan disunnahkan sholat sebelum sholat Jumat sebanyak 4 rakaat namun ini termasuk Ghairu rotibah, karena bagi sholat Jumat tidak ada shalat rotibah yang qobliyah.
  •   Sholat Sunnah yang mengikuti sholat fardhu terbagi kepada dua bagian : Sholat Masnunah (sunnah) dan Sholat Mandubah (dianjurkan) Sholat Masnunah (sunnah) ada lima sholat: a) b) c) d) e) 2 rakaat sebelum sholat subuh dan ini merupakan sunah yang paling kuat, oleh sebab itu dia tidak boleh dilakukan dalam keadaan duduk atau sambil berkendaraan kecuali ada udzur. Waktunya adalah waktu subuh, maka tidak boleh mengqodhonya kecuali mengikuti sholat fardhu, sehingga jika seseorang tertidur hingga terbit matahari maka melaksanalan sholat qobliyah subuh lalu shalat fardhu subuh hingga sebelum zawal (matahari di tepat lurus atas kepala) 4 rakaat sebelum dzuhur dengan satu salam, dan ini merupakan sangat disunnahkan setelah sunnah subuh 2 rakaat setelah shalat zhuhur. Ini di selain Jumat. Sedangkan di shalat Jumat disunnahkan shalat ba‟diyah Jumat 4 rakaat dan qobliyahnya 4 rakaat 2 rakaat setelah shalat maghrib 2 rakaat setelah shalat isya
  •  Sedang shalat mandubah (yang dianjurkan) ada 4 shalat: 4 rakaat sebelum shalat ashar b) 6 rakaat setelah shalat maghrib c) 4 rakaat sebelum shalat isya d) 4 rakaat setelah shalat isya a)  Hal di atas sesuai dengan hadits dari Aisyah, bahwa Rasulullah saw melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum isya dan 4 rakaat setelah isya, kemudian berbaring
  •   Shalat-shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib ada dua macam: Yang sunnah muakkad dan Yang bukan muakkad. Shalat sunnah yang muakkad (shalat rawatib): a. b. c. d. 2 rakaat shalat sunnah subuh,waktunya sama dengan shalat subuh (terbit fajar s/d terbit matahari). Jika tidak khawatir tertinggal berjamaah atau kehabisan waktu maka sunnah didahulukan dari shalat fardhu Dua rakaat sebelum Zhuhur atau Jumat dan dua rakaat setelah Zhuhur dan Jumat Dua rakaat setalah shalat maghrib Dua rakaat setelah shalat Isya
  •  Shalat sunnah bukan muakkad (ghoiru rowatib) ada 12 rakaat: a. b. c. d. e. 2 rakaat sebelum zhuhur, selain yang sudah disebutkan sebelumnya 2 rakaat setelah zhuhur (jum‟at seperti zhuhur) 4 rakaat sebelum ashar 2 rakaat sebelum maghrib (sunnah dipercepat dan dilakukan setelah menjawab adzan, sesuai dengan hadits “antara 2 adazan ada shalat) 2 rakaat sebelum isya
  •   Shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu ada dua macam; Rawatib dan Ghoiru Rawatib Shalat yang Rawatib: sebelum zhuhur, setelah zuhur, sebelum ashar, setelah maghrib (dalam shalat-shalat tersebut tidak ada batas jumlah rakaat), namun yang afdhol seperti disebutkan dalam hadits adalah:       4 rakaat sebelum zuhur 4 rakaat setelah zuhur 4 rakaat sebelum ashar 6 rakaat setelah maghrib Sedangkan qobliyah maghrib tidak ada karena sempitynya waktu, dan qobliyah isya tidak ada karena tidak ada nash kecuali hadist “antara dua adzan ada shalat” Sedangkan shalat yang ghoiru rawatib adalah shalat dua rakaat sebelum subuh
  •  Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir setelah shalat fardhu, Seperti istighfar, tasbih, tahmid takbir dan lainnya. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama antara berdikir terlebih dahulu atau melaksanakan shalat rawatib terlebih dahulu setelah shalat fardhu     Hanafiyah: Makruh hukumnya memisah antara shalat fardhu dan shalat sunnah rawatib kecuali sekedar membaca “Allahumma antas salaam...”. Baru setelah itu berzikir. Malikiyah: Yang afdhol adalah berdzikir terlebih dahulu setelah shalat fardhu, baru kemudian shalat sunnah rawatib. Syafi‟iyah: Disunnahkan memisahkan/menyela antara shalat fardhu dan shalat sunnah rawatib dengan dzkir-dzikir Hanabilah: Sunnahnya berdzikir setelah shalat fardhu sebelum melaksanakan shalat sunnah rawatib
  •  Jika seseorang melaksanakan shalat fardhu dengan berjamaah, dan ingin melaksanakan shalat sunnah, apakah sebaiknya dia shalat di tempat dia shalat berjamaah, atau di tempat lain?     Hanafiyah: Bagi imam, dimakruhkan shalat sunnah berpindah tempat. Sedangkan bagi makmum dibolehkan shalat sunnah di tempat semula, meskipun yang afdhol adalah berpindah di tempat lain Syafiiyah: Disunnahkan bagi orang yang melakasnakan shalat fardhu berpindah tempat saat akan shalat sunnah. Dan jika kondisi tempat ramai/padat maka dia sebaiknya berbicara (memberitahu/meminta izin) untuk melaksanakan shalat sunnah di tempat lain. Malikiyah: Shalat sunnah rawatib yang mengikuti shalat fardhu disunnahkan dilakansakan di masjid, baik ditempat semula dia shalat fardhu atau berpindah. Akan tetapi selain shalat rawatib disunnahkan dilakukan di rumahnya, seperti shalat dhuha dan lainnya. Kecuali bagi yang berada di Madinah, maka ia disunahka shlat di tempat Nabi shalat yaitu di depan mihrab yang ada di samping mimbar Nabi. Hanabilah: Semua shalat sunnah yang tidak disyariatkan dilakukan berjamaah, yang afdhol adalah dilakukan di dalamm rumah. Oleh karena itu sama jika seseorang berada di masjid dia boleh saja shalat di tempat semula saat melaksanakan shalat fardhu atau berpindah tempat.
  •      Shalat dhuha hukum sunnah menurut ulama tiga mazdhab. Sedang Malikiyah berpendapat hal itu mandub (disukai) yang ditekankan. Waktunya adalah saat matahari tinggi sepenggalahan hingga zawal (matahari tepat di atas kepala) Yang afdhol melaksanakan shalat dhuha adalah saat seperempat siang menurut tiga madzhab. Sedangkan menurut Malikiyah, mengakhirkan dhuha sejak terbit matahari selama waktu antara waktu shalat ashar dan maghrib. Jumlah rakaat sedikitnya dua rakaat, dan sebanyak-banyaknya delapan rakaat. Jika seseorang melebihi rakaat itu dengan senagaja dan tahu maka shalatnya tidak sah. Namun jika lupa atau tidak tahu maka sah menurut Syafiiyah dan Hanabilah. Sedangkan menurut Malikiyah sah dan tidak makruh. Dan menuurt Hanafiyah, rakaat terbanyak shalat dhuha adalah 16 rakaat. Jika seseorang shalat lebih dari itu dengan satu salam maka sah shalat dhuhanya, dan lebihnya adalah dianggap shalat mutlak. Hanya saja makruh satu salam lebih dari empat rakaat. Sedangkan salam setiap 2 atau 4 rakaat, maka tidak ada kemkaruhan jika melebihi rakaat dhuha. Jika terlewat waktunya, maka disunnahkan mengqadhanya menurut Syafiiyah dan Hanabilah. Sedangkan Malikiyah dna Hanafiyah berpendapat, semua shalat sunnah yang terlewat waktunya tidak disunahkan mengqodhonya kecuali sholat qobliyah subuh.
  •    Jika seseorang masuk masjid maka disunnahkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid (menghormati masjid). Dan boleh menambah rakaat sesukanya seperti yang disepakati oleh Syafiiyah dan Hanabilah. Hanafiyah berpendapat, bahwa shalat tahiyatul masjid dua atau empat rakaat dan empat rakaat lebih afdhol. Dan tidak boleh melebihi itu dengan niat tahiyatul masjid. Malikiyah: shalat tahiyatul masjid dua rakaat dan tidak boleh lebih.
  •  Syarat Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid:    Masuk masjid bukan pada waktu-waktu yang diharamkan shalat sunnah, seperti saat terbit matahari, setelah shalat ashar dan ada penjelasan khusus tentang hal ini. Masuk masjid dalam keadaan mempunyai wudhu (tidak berhadast). Jika berhadas maka tidak disunahkan menurut tiga mazdhab kecuali Syafiiyah yang tetap mensunahkannya jika dapat berwudhu dalam waktu sebentar Saat masuk masjid tidak berbarengan dengan iqomah shalat berjamaah. Jika masuk dan menemukan Imam sedang shalat berjamaah maka tidak disunnahkan tahhiyatul masjid menurut 3 mazhab kecuali Malikiyah yang berpendapat jika masuk masjid sedang shalat berjamaah dengan imam ratib (yang fardhu biasa) maka tidak disunnahkan tahiyatul masjid, namun jikia imamnya bukan imam ratib (yang tidak biasa) maka tetap disunnahkan tahiyatul masjid.
  •  Tidak masuk saat imam bersiap berkhutbah pada hari Jum‟at, shalat id dan lainnya. Maka jika seseorang masuk mesjid di waktu tersebut maka tidak disunnahkan shalat tahiyyatu masjid menurut Malikiyah dan Hanafiyah. Sedangkan Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat, Jika masuk masjid di saat Imam di atas mimbar maka disunnahkan shalat tahiyyatul masjid dua rakaat tanpa lebih dengan ringkas sebelum dia duduk. Namun jika telah duduk lebih dahulu maka tidak disunahkan tahiyatul masjid
  •     Malikiyah: orang yang masuk masjidil haram untuk berthawaf atau berhaji/umroh, maka tahiyatul masjidnya adalah thawaf. Sedangkan jika hanya ingin melihat ka‟bah saja, maka jika penduduk Makkah cukup shalat tahiyatul masjid dan selain penduduk Makkah adalah bertahawaf sbg tahiyyatuk masjid Hanafiyah: setelah di tahqiq (pengamatan), yang disunnahkan adalah shalat tahiyatul masjid. Namun bagi orang yang berkunjung atau akan berthawaf (umroh/haji maka dia bertahwaf lebih dahulu barulah shalat sunnat thawaf Syaffiyah: orang yang masuk ke masjidil haram dan hendak thawaf maka dia dituntut dua tahiyyat (penghormatan): tahiuyat untuk kabah dengan berthawaf dan tahiyat untuk masjid dengan shalat,. Namun mendahulukan thawaf lebih utama. Oleh karena setelah tahwaf orang boleh melakukan shalat sunnah 4 rakaat, dua rakaat untuk tahiyatul masjid, dan dua rakaat lagi untuk sunat thawaf. Adapun jika seseornag tidak bermaksud thawaf, maka dia disunnahkan shalat sunnah tahiyatul masjid Hanabilah: Tahiyyatul masjidil haram adalah thawaf walaupun tidak bermaksud thawaf atau umroh/haji.
  •    Jika seseorang masuk masjid dalam keadaan hadast sehingga tidak disunnahkan shalat tahiyatul masjid, maka hendaknya dia membaca “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar” 4 kali, menurut 3 madzhab, sedangkan Hanabila berpendapat hal itu tidak disunnahkan Shalat mutlaq dan lainnya dapat menggantikan shalat tahiyatul masjid, demikian juga shalat qadha seseorang saat masuk masjid tetapi dengan niat tahiyyatul masjid. Namun Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat suddah mendapat pahala tahiyah meskipun tidak dengan berniat tahiyatul masjid Orang yang sudah terlanjur duduk di dalam tetap disunnahkan shalat tahiyatul masjid meskipun hal itu makruh, hal ini menurut Hanafiyah dan Malikiyah. Namun Syafiiyah berkata: jika seseorang duduk dengan senagaja, maka tidak disunnahkan lagi tahiyatul masjid. Namun jika lupa atau tidak tau, maka masih disunahkan jika duduk belum terlalu lama
  •  Disunnahkan shalat dua rakaat saat setelah bersuci , akan bepergian dan saat pulang dari bepergian, sebagamana sabda Rasulullah saw:   “Tidaklah seseorang meninggalkan keluarganya lebih utama daripada dua rakaat yang dilakukannya di sisi mereka saat hendak bepergian” (HR: Tabrani)   Ka‟ab bin Malik berkata, “Adalah Rasulullah saw tidak datang bepergian kecuali siang saat waktu dhuha, dan jika beliau datang beliau memulai ke masjid lalu melaksanakan shalat dua rakaat lalu duduk di dalamnya” (HR: Muslim)
  •    Disunnahkan shalat tahajjud di malam hari, karena Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah shalat di malam hari meskipun memeras susu kambing.”(HR: Tabrani) Shalat tahajjud lebih utama daripada shalat di siang hari. Sabda Rasulullah saw, “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR: Muslim) Disunnahkan pula shalat isstikhoroh. Jabir bin Abdullah ra berkata, “Adalah Rasulullah saw mengajarkan kami istikharoh dalam setiap perkara, sebagaimana beliau mengajarkan kami surat dari AlQuran, beliau bersabda, “ Jika seseorang berkeinginan (bingung) terhadap suatu perkara maka hendaklah dia shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian berdo‟a:
  •   Ya Alllah aku memohon pilihan padaMu dengan pengetahuanMu, dan mohon kesanggupan dengan kekuasaanMu, aku memohon dari karuniaMu yang agung. Karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tak kuasa, Engkau mengetahui dan aku tak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku untuk agamaku, kehidupanku, kesudahan urusanku, cepat atau lambatnya, maka kuasakanlah ia padaku, mudahkanlah ia untukku lalu berkahilah untukku. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku, untuk agamaku, kehidupanku,, dan kesudahan urusanku, cepat atau lambatnya, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan takdirkanlah padaku kebaikan dimanapun, kemudian ridhokanlah aku dengannya. (kemudian sebutkan kebutuhannya)” (HR: Ashab Sunan kecuali Muslim)
  •  Disunnahkan bagi orang yang mempunyai hajat/keperluan yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat hajat. Rasulullah saw bersabda,   Barangsiapa yang memiliki suatu keperluan di sisi Allah atau kepada salah seorang manusia, maka hendaklah dia berwudhu dan membaguskan wudhu, kemudian hendaklah melaksanakan shalat 2 rakaat, lalu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi saw, kemudian berdoa; “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Lembut dan Mulia, Maha suci Alah Tuhan pemilik singgasana yang agung, Segaa puji bagi Allah Tuhan semesta alam, aku memohon padaMu sesuatu yang dapat mengundang rahmatmu, yang menarik ampunanMu, karunia segala kebaikan, dan keselamatn dari segala dosa. Janganlah biarkan padaku suatu dosa kecuali Engkau ampuni, kegelisahan kecuali Engkau lapangkan, dan suatu hajat/keperluan yang aku sukai kecuali Engkau takdirkan, wahai Tuhan Yang Maha Sayang dari segala yang sayang. (HR: Tirmidzi dari Abdullah bin Abu Aufa)
  •   Tiga imam sepakat bahwa shalat witir hukumnya sunnah, kecuali madzhab Hanafi yang berpendapat bahwa shalat witir hukumnya wajib. Dan sebagaimana diketahui bahwa wajib menurut mereka lebih kecil daripada fardhu, juga diketahui bahwa setelah ditahqiq (teliti) oleh kalangan mereka bahwa meninggalkan yang wajib tidak mendatangkan sangsi ukhrowi seperti halnya jika meninggalkan yang fardhu yang mendatangkan sangsi ukhrowi, hanya saja meninggalkan yang wajib tidak akan mendapatkan syafaat Nabi saw. Dan hal itu cukup sebagai sangsi bagi orang-orang Mukmin yang mengharapkan syafaat Rasulullah saw Adapun yang berkenaan dengan hukum shalat witir menurut setiap madzhab adalah sebagai berikut:
  •   Hanafiyah: Shalat witir itu hukumnya wajib, berjumlah tiga rakaat dengan satu salam di akhirnya. Dan wajib membaca al-fatihah dan surat di setiap rakaatnya. Dan ada hadits yang menunjukkan bahwa pada rakaat pertama membaca surat Al-A‟la, pada rakaat kedua surat Al-Kafirun, dan rakaat ketiga surat al-Ikhlas Hanabilah: Shalat witir hukumnya sunnah muakkad, paling sedikitnya satu rakaat dan hal itu tidak makruh, dan paling banyak 11 rakaat, paling minimal sempurna 3 rakaat. Jika berwitir 11 rakaat maka hendaknya bersalam setiap 2 rakaat dan ber”ganjil” dengan 1 rakaat. Boleh juga melakukannya dengan satub salam dengan satu kali atau dua kali tasyahud, yakni pada rakaat ke 10 bertasyahud dan salam, atau bertasyahud saja lalu berdiri dan pada rakaat ke 11 bertasyahud dan salam.
  •   Syafiiyah: Witir sunah muakkad, sedikitnya 1 rakaat dan sebanyak-banyaknya 11 rakaat, jika menambah dengan sengaja dan tahu maka shalat tambahannya tidak sah, namun jika tidak tahu, shalat selebihnya menjadi shalat mutlak dan sah. Melakukan hanya 1 rakaat adalah menyalahi keutamaan Malikiyah: Witir hukumnya sunnah muakkad dan dia termasuk sunnah yang paling muakkad setelah sunnah shalat thawaf 2 rakaat. Shalat witir berjumlah 1 rakaat, dan jika disambung dengan rakaat genap maka hal itu makruh. Witir mempunyai dua waktu: waktu ikhtiyari (pilihan) dan waktu dharuri (emergency). Waktu ikhtiyari adalah waktu setelah shalat isya hingga fajar shadiq, sedangkan waktu dharuri adalah dari terbit fajar hingga sempurnanya shalat subuh. Dimakruhkan mengakhirkan witir hingga waktu dharuri jika tanpa uzdur (halangan), dan jika telah melaksanakan shalat subuh maka witir tidak perlu diqadha.
  •      Shalat Taraweh hukumnya sunnah „ain muakkad bagi laki-laki dan wanita menurut 3 madzhab, sedangkan Malikiyah berpendapat hukumnya mandub muakkad Disunnahkan shalat taraweh dengan berjamaah, sehingga jika shalat itu dilaksanakan dengan berjamaah maka tidak gugur kesunnahan berjamaah bagi yang lain Jika seseorang shalat taraweh di rumahnya, maka disunnahkan berjamaah dengan orang yang ada di dalam rumah. Jika ia masih shalat sendiri maka ia kehilangan pahala sunnah berjamaah. Hukum ini disepakati oleh Syafiiyah dan Hanabilah. Sedangkan Malikiyah berpendapat berjamaah taraweh adalah mandub, dan Hanafiyah berpendapat berjamaah taraweh adalah sunnah kifayah bagi warga kota Shalat sunnah taraweh berjamaah berdasarkan hadits Nabi saw yang diriwayatkan Bukhori-Muslim: “Bahwa Nabi saw keluar di tengah malam pada bulan Ramadhan, dan malam itu terpisah-pisah; malam ketiga, kelima dan ke 27, dan beliau shalat di masjid, lalu orang-orang shalat dengan shalatnya pada malam itu, beliau shalat 8 rakaat dan mereka menyempurnakan sisanya di rumah mereka, maka terdengarlah suara gemuruh seperti gemuruh lebah” Dengan demikian, Nabi saw mensunnahkan taraweh dan berjamaah kepada sahabat, tapi nabi saw tidak shalat 20 rakat bersama mereka sebagaimana yang berlaku pada zaman sahabat dan generasi setelahnya hingga sekarang. Setelah itu nabi tidak pernah keluar shalat bersama sahabat karena dikhawatirkan wajib, sebagaimana yang beliau tegaskan pada riwayat lain.
  •    Demikian juga, bahwa jumlah rakaat taraweh tidak terbatas pada 8 rakaat yang Nabi saw pernah shalat bersama sahabat, dengan dalil bahwa mereka menyempurnakan shalatnya masing-masing di rumahnya. Dan Umar ra menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20 yaitu ketika beliau mengumpulkan orang di masjid dengan 20 rakaat, dan para sahabat menyutujuinya dan tidak ada khulafur Rasyidin yang mengingkarinya. Dan nabi saw bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafur Rasyidin yang telah diberi petunjuk, gigitlah sunnah itu dengan gerahammu” (HR: Abu Daud) Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang apa yang telah dilakukan Umar ra, maka beliau menjawab: Taraweh adalah sunnah muakkadah, dan Umar tidak mengeluarkan kebijakan itu dari nafsu dirinya, dan dia dalam masalah ini bukan berbuat bid‟ah, dan dia tidak memerintahkan hal itu kecuali dari dasar agamanya, dan berasal dari Rasulullah saw. Benar, bahwa di dalamnya ada tambahan pada masa Umar bin Abdul Aziz ra hingga mencapai 36 rakaat, akan tetapi tujuan tambahan ini untuk menyamakan penduduk Makkah dalam hal fadhilah (keutamaan), karena penduduk Makkah dapat melakukan thawaf di Baitullah sekali setiap setelah 4 rakaat, maka Umar bin Abdul Aziz memandang melaksanakan shalat itu untuk menggantikan thawaf pada setiap 4 rakaat. Dan ini menjadi dalil diperbolehkannya ulama berijtihad dalam menambah atas ibadah yang disyariatkan, karena manusia diperbolehkan melaksanakan shalat sunnah semampunya di dalam dan siang hari, kecuali pada shalat d iwaktuwaktu yang dilarang. Adapun penamaan tambahan shalat taraweh atau bukan, dapat dikembalikan kepada kemutlakan lafazd, namun yang lebih utama dalam penamaan adalah apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya yang mujtahid
  •    Adapun waktu shalat taraweh adalah setelah shalat Isya, meskipun shalat isya dijama‟ takdim dengan shalat maghrib, kecuali Malikiyah yang berpendapat bahwa jika shalat Isya dijama‟ taqdim bersama shalat maghrib, maka hendaknya mengakhirkan shalat taraweh hingga hilangnya mega merah. Maka jika shalat sebelum waktu tesebut maka hal itu dianggap shalat sunnah biasa, dan dia masih dituntut sunnah shalat taraweh. Waktu shalat taraweh berkahir dengan terbitnya fajar. Shalat taraweh sah dilakukan sebelum shalat witir atau setelahnya tanpa ada kemakruhan, namun yang afdhol (lebih utama) dilakukan sebelum witir menurut kesepakatan 3 madzhab, sedang Malikiyah berpendapat bahwa meangkhirkan taraweh setelah witir adalah makruh. Jika telah keluar waktu shalat taraweh dengan terbitnya fajar, maka shalat taraweh tidak perlu diqadha, baik yang ketinggalan itu hanya tarawehnya saja, maupun tertinggal dengan shalat isya, menurut 3 kesepakatan 3 madzhab, kecuali Syafi‟iyyah yang berpendapat bahwa jika telah keluar waktunya maka dapat diqodho secara mutlak
  •   Disunnahkan salam pada setiap dua rakaat. Maka jika shalat tarweh dilakukan dengan satu salam namun dalam setiap dua rakaat dia duduk, maka hal itu sah namun makruh, kecuali Syafiiyah yang berpendapat bahwa tidak sah taraweh kecuali dengan salam pada setiap 2 rakaat, jika dilakukannya dengan 1 salam maka tidak sah. Disunnahkan bagi yang shalat taraweh untuk duduk tanpa shalat untuk istirahat. Adapun tentang duduk istirahat tersebut para ulama berpendapat: Hanabilah: Duduk istirahat ini sunnah, dan tidak makruh meninggalkannya, dan berdoa di dalamnya adalah bertentangan dengan keutamaan  Syafiiyah: duduk istirahat ini sunnah karena mengikuti salaf dan tidak ada riwayat tentang berdzikir di dalamnya.   Disunnahkan setiap empat rakaat untuk duduk istirahat. Inilah yang pernah dilakukan oleh para sahabat ra, oleh sebab itulah (karena banyak istirahat) shalat ini dinamakan taraweh (banyak istirahat)
  •      Disunnahkan membaca al-Quran seluruhnya sehingga pada malam akhir Ramadhan dapat khatam. Hal itu jika tidak menyulitkan makmum. Karena dasar hukumnya adalah memperhatikan keadaan makmum, dengan syarat tidak cepat-cepat yang dapat merusak shalat. Hal ini disepakati para ulama kecuali Malikiyah yang berpendapat imam disunnahkan menamatkan al-Quran selama ramadhan, dan meninggalkan hal itu adalah makruh Setiap 2 rakaat adalah shalat tersendiri, oleh sebab itu seseorang harus berniat di permulaannya dan membaca doa iftitah setelah takbirotul ihrom, kecuali Malikiyah yang memakruhkan membaca doa iftitah. Demikian juga setelah membaca tasayahhud dia menambah dengan shalawat kepada Nabi saw Yang afdhol adalah melakukan taraweh dengan berdiri jika mampu, namun jika dilakukan duduk pun tidak makruh namun tidak mendapat keutamaan. Dimakruhkan bagi ma‟mum memulai berdiri shalat saat Imam mulai ruku‟, karena hal itu merupakan bentuk sifat malas dalam shalat. Yang afdhol, melaksanakan shalat taraweh di masjid, karena setiap yang disunnahkan berjamaah disunnahkan dilakukan di masjid. Hal ini menurut 3 madzhab kecuali Malikiyah yang berpendapat bahwa disunnahkan dilakukan di rumah meskipun berjamaah karena hal itu lebih jauh dari tujuan riya, dengan 3 syarat: 1. lebih semangat jika dilakukan di rumah 2. Bukan sedang dekat dengan masjidil Haram atau Nabawi, 3. Shalat di rumah tidak sama sekali meninggalkan masjid
  • Bahasan Tentang Shalat Dua Hari Raya mencakup: 1. Hukum Shalat id dan waktunya 2. Dalil disyariatkannya shalat id 3. Tata cara shalat id 4. Hukum berjamaah dalam shalat id dan hukum mengqodho-nya jika tertinggal 5. Hukum khutbah id, syarat dan rukun khutbah 6. Hukum Adzan dan iqomah pada shalat id 7. Sunnah-sunnah shalat id 8. Menghidupkan malam id (malam takbiran) 9. Tempat yang digunakan untuk shalat id 10. Takbir hari-hari tasyriq
  •     Syafi‟iyah: Shalat id hukumnya sunnah ain muakkadah bagi orang yang terkena perintah shalat id. Disunnahkan dilaksanakan berjamaah bagi selain orang yang sedang melaksanakan haji. Adapun jamaah haji disunnahkan dilakukan secara sendiri-sendiri Malikiyah: hukumnya sunnah ain muakkad setelah shalat witir secara urutan kesunnahannya. Kecuali jamaah haji, mereka tidak disunnahkan shalat id Hanafiyah: Hukumnya wajib atas orang yang terkena kewajiban shalat jumat dengan segala syaratnya, kecuali syarat khutbah, karena khutbah id dilakukan setelah pelaksanaan shalat. Demikian pula jumlah jamaah , dalam shalat id cukup dilakukan dengan 1 imam dan 1 makmum Hambali: Hukum sholat id adalah fardhu kifayah atas orang yang terkena kewajiban jum‟at. Hamya saja khutbah id hukumnya sunnah. Sholat id hukumnya menjadi sunnah jika tertinggal imam.
  •     Syafiiyah: waktu sholat id mulai terbit matahari walaupun belum tinggi hingga zawal (matahari di atas kepala), dan boleh diqodho. Tapi disunnahkan pelaksanaannya setelah tinggi nya matahari sepenggalahan. Malikiyah: waktu shalat id dimulai sejak diperbolehkan sholat sunnah hingga zawal, tapi disunnahkan menunda shalat id awal waktu dibolehkannya shalat sunnah. Hanabilah: waktu shalat id dimulai sejak diperbolehkannya sholat sunnah, yakni terbitnya matahari naik sepenggalahan hingga sejenak sebelum zawal. Hanafiyah: Waktu sholat id dimuali sejak diperbolehkannya shalat sunnah hingga zawal. Jika waktu zawal tiba sedang orang yang shalat masih belum duduk tasyahhud maka batallah shalat id, dan dia menjadi shalat sunnah biasa.
  •  Shalat id mulai disyariatkan pada tahun 1 Hijriyah, sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, dari Anas ra berkata:   Telah tiba Rasulullah saw di kota Madinah, saat itu mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamna. Lalu Rasulullah saw bertanya, “Apakah tentang dua hari ini”? Para sahabat menjawab, “Di hari itu kami bermain-main (pesta) dizaman Jahiliyah. Lalu Nabi saw bersabda, “Sesunggunya Allah telah menngantikan untuk kalian yang leih baik dari dua hari itu” Lalu beliau bersabda lagi: Sesugguhnya Allah telah menggantikan keduahari itu dengan yang lebih baik dari dua hari, yaitu Idul Adha dan Isul Fitri
  •       Madzhab Syafi‟i: Shalat ied dua rakaat seperti shalat sunah lainnya, hanya saja setelah takbirotul ihrom dan doa iftitah dan sebelum membaca t‟awudz dan basmalah ditambah membaca takbir 7 kali, dan setiap takbir tadi mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak, dan disunahkan membaca tasbih dengan sirr (suara rendah) di antara takbir-takbir tersebut Disunnahkan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada setiap takbir tadi dan meletakkannya di bawah dada Pada rakaat kedua disunnahkan menambah 5 kali takbir setelah takbir bangkit dari sujud Takbir-takbir tersebut hukumnya sunah haiah, yang jika tidak dilaksanakan maka tidak usah melakukan sujud sahwi. Meskipun hal itu makruh. Jika ragu tentang jumlah takbir yang dilaksanakan, maka harus berpatokan kepada yang lebih sedikit
  •     Mendahulukan takbir-takbir itu disunnahkan sebelum ta‟awudz, sedangkan sebelum membaca (al-fatihah dan surat) adalah syarat. Oleh sebab itu jika terlanjur membaca al-fatihah maka tidak usah kembali melakukan takbir-takbir itu. Hukum Imam dan Makmun pada persoalan di atas sama. Hanya saja makmum jika memulai shalat di rakaat kedua Imam maka cukup bertakbir 5 kali selain takbirotul ihrom. Dan jika lebih bertakbir maka tidak usah diikuti takbirnya. Kemudian makmum tersebut menyempurnakan rakaat keduanya setalah salam imam dengan 5 kali takbir selain takbir bangkit (qiyam) dari sujud. Jika imam membaca takbir melebihi semestinya, maka makmum tidak perlu ikut menambah. Jika makmum mengikutinya maka shalatnya dapat batal jika dia telah mengangkat tangan 3 kali berturut-turut selain jumlah takbir yang semestinya, Jika tidak bertutut-turut maka tidak batal shalatnya. Jika Imam bertakbir lebih sediki dari jumlah takbir yang semestinya, maka makmum tetap mengikuti jumlah takbir imam
  •   Bacaan al-Fatihah dan surat pada shalat ied disunnahkan dengan jahr (suara dikeraskan) bagi selain Makmum. Sedangkan bacaan takbir-takbir tadi disunnahkan dengan jahr (suara keras) bagi semuanya (imam dan makmum) Setelah membaca al-Fatihah disunnahkan membaca surat al-A‟la atau al-Kafirun pada rakaat pertama, dan membaca surat alGhosyiyah atau al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  •   Hanafiyah: Bberjamaah adalah syarat bagi sahnya shalat id seperti halnya shalat jum‟at. Jika tertinggal maka tidak dituntut diqodho, baik pada waktu itu atau setelahnya. Jika ia menyukai mengqodhonya, maka hendaklah ia shalat 4 rakaat tanpa takbir tamabahan, dan pada rakaat pertama membaca surat Al-A‟la, rakaat kedua surat AdDhuha, rakaat ketiga surat al-Insyiroh dan keempat surat at-Tiin. Hanabilah: Berjamaah adalah syarat bagi sahnya shalat id seperti shalat Jum‟at, hanya jika seseorang tertinggal dengan imam maka ia disunnahkan mengqodhonya kapan pun ia mau dengan cara seperti di atas
  •   Syafi‟iyah: Berjamaah dalam shalat id adalah sunnah bagi selain orang yang sedang berhaji. Jika seeorang tertinggal bersama imam maka disunnahkan mengqadhonya sebagaimana tatacaranya kapan pun ia suka. Jika ia melaksanakannya sebelum tergelincirnya matahari (zawal) maka disebut “ada‟an” sedangkan jika dilakukan sesudah zawal maka disebut “qadho‟an” Malikiyah: Berjamaah adalah syarat kesunahan shalat id, oleh sebab itu sholat id tidak menjadi sunnah kecuali bagi orang yang melaksanakannya dengan berjamaah. Jika seseorang tertinggal imam, maka baginya boleh melaksanakannya hingga datang waktu zawal. Dan tidak usah diqodho setelah zawal.
  •     Dua khutbah, sedangkan Malikiyah menyebutnya mandub Bagi yang mendengar kedua khutbah untuk bertakbir ketika takbirnya imam. Berbeda dengan shalat Jum‟at yang diharamkan berbicara saat khatib berkhutbah walau pun berupa zikir. Ini menurut Malikiyah dan Hanabilah. Sedangkan Syafiiyah menganggap makruh berbicara pada saat mendengar khutbah ied dan Jumat. Adapun Hanafiyah berkata: tidak diharamkan berkata berupa zikir pada saat khutbah ied dan jumat namun haram selain zikir Menghidupkan malam kedua ied dengan ketaatan kepada Allah berupa zikir, shalat, tilawah quran dan lainnya. Sebagaimana hadits Nabi saw: “Barangsiapa yang menghidupkan malam fitri dan malam adha dengan ikhlas maka hatinya tidak mati di hari semua hati mati” (HR: Thabrani) Mandi di dua hari raya
  •      Menggunakan wewangian dan berdandan di hari ied, adapun wanita tidak disunnahkan karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah kecuali bagi yang tidak berangkat shalat maka perbuatan itu disunahkan. Laki-laki dan wanita disunnahkan memakai pakaian yang terbaik, baru atau lama, putih atau selain putih. Akan tetapi Malikiyah berpendapat disunnahkan memakai pakaian baru. Sedangkan Hanafiyah berpendapat bahwa pakian baru bukanlah sunnah dan bukan mandub. Disunnahkan makan sebelum berangkat idul fitri, sedangkan pada idul adha disunnahkan makan setelah shalat id Memakan daging kurban bagi yang berkurban Bagi selain imam disunnahkan datang lebih awal meskipun setelah subuh, sedangkan bagi imam disunnhakan datang belakangan dan langsung melaksanakan shalat dan tidak menunggu
  •     Disunnahkan pada hari raya untuk memperbaiki penampilan seperti memoting kuku dan mencukur rambut. Disunnahkan keluar untuk shalat ied dengan berjalan kaki, dan bertakbir saat keluar rumah dan terus bertakbir hingga didirikan shalat ied Disunnahkan berjalan ke tempat shalat melewati jalan lain saat pulang dari shalat Disunnahkan berwajah gembira dan senang, banyak bersedekah sesuai kemampuan, dan segera mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat ied.
  •     Hanafiyah: berjamaah adalah syarat sahnya shalat ied seperti halnya shalat Jum‟at, dan jika tertinggal maka tidak perlu diqodho. Jika tetap ingin mengqodho maka ia shalat 4 rakaat tanpa takbir tambahan, di rkaat pertama membaca surat Al-A‟la, kedua surat al-Dhuha, ketiga surat alInsyiroh, dan keempat surat “al-Tiin” Hanabilah: berjamaah adalah syarat sahnya shalat ied seperti shalat Jum‟at, dan jika tertinggal ia disunnahkan mengqodhonya dan caranya seperti shalat ied biasa Syafi‟iyyah: berjamaah dalam shalat ied adalah sunnah bagi selain yang sedang berhaji, dan yang tertinggal disunnahkan mengqodho-nya dengan cara seperti shalat ied yang ada di waktu kapanpu, jika dilakukan sesudahzawal (tergelincir matahari) maka itu qodho, jika sebelum zawal maka itu ada‟an (tdk qodho/biasa) Malikiyah: berjamaah adalah syarat sunnahnya shalat ied, maka sholat ied tidak disunnahkan kecuali dilakukan dengan berjamaah, dapat dilakukan sebelum zawal, dan usah diqodho sesudah zawal
  •      Shalat ied dilakukan di tanah lapang, dan makruh dilaksanakan di masjid kecuali jika ada udzur/halangan. Namun hal ini terdapat beberapa pendapat: Malikiyah: Shalat ied di tanah lapang hukumnya mandub bukan sunnah, dan makruh dilaksnakan di masjid kecuali di Makkah, maka yang afdhol dilakukan di Masjidil Haram karena dapat menyaksikan ka‟bah dan kemuliaan tempat. Hanabilah: disunnahkan shalat ied di tanah lapang dengan syarat letaknya dekat dengan rumah warga, jika jauh dari rumah warga maka shalatnya tidak sah. Dan makruh shalat id dilakiukan di masjid tanpa udzur, kecuali di Makkah Syafi‟iyah: Melaksanakan shlalat ied di masjid lebih utama karena kemuliaan tempat kecuali jika ada udzur seperti tempatnya sempit dan padat, dan jika demikian maka yang utama dilakukan di tanah lapang Hanafiyah: Tidak mengecualikan masjid Makkah dengan masjid lainnya dan sependapat dengan Hambali dan Maliki pada masalah lainnya
  •     Tidak disunnahkan melantunkan adzan dan iqomah pada shalat ied Akan tetapi dimandubkan (disukai) membaca “AshSholatu Jaami‟ah” menurut pendapat tiga madzhab Sedangkan Malikiyah berbeda dengan mereka, mereka berkata bahwa adzan shalat ied dengan “Ash-Sholatu Jami‟ah” dan lafazd semisalnya, adalah makruh dan bertentangan dengan yang lebih utama. Akan tetepi sebagian pengikut madzhab Maliki berkata, Adzan dengan lafadz tersebut tidak dimakruhkan kecuali jika berkeyakinan bahwa hal itu diperintah agama. Jika tidak ada keyakinan tersebut maka hal tu tidak makruh
  •   Khutbah dua shalat ied adalah sunnah dengan kesepakatan para ulama, akan tetapi Malikiyah berkata bahwa hal itu adalah mandub bukan sunnah. Sebagaimana diketahui bahwa kalangan Hanabilah dan Syafiiyah tidak membedakan antara mandub dan sunnah, sehingga mereka sependapat dengan Malikiyah yang bependapat bahwa khutbah tsb adalah mandub, dan sependapat dengan Hanafiyah yang berpendapat bahwa hal itu sunnah.
  •    Imam Syafi‟i dan Hambali sepakar bahwa bertakbir setelah shalat lima waktu pada harihari raya (ied dan tasyriq) adalah sunnah Sedangkan Malikiyah berpendapat hal itu adalah mandub bukan sunnah. Dan Hanafiyah berpendapat hal itu adalah wajib bukan sunnah Takbir-takbir itu mereka sebut sebagai takbir tasyriq. Arti tasyriq adalah terbagikannya daging di Mina pada hari-hari itu (11-12-13 Dzulhijjah)
  •  Hanafiyah: Takbir tasyriq hukumnya wajib atas seorang yang muqim di perkampungan, dengan 3 syarat:      Melaksankan sholat fardhu dengan berjamaah Orang yang shalat berjamaah adalah kaum laki-laki. Orang itu adalah yang sedang muqim di suatu perkotaan Waktunya: Mulai dari setelah shalat Subuh hari Arafah hingga setelah shalat Ashar hari terakhir hari tasyriq Hanabilah: disunnahkan bertakbir tiap usai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Waktunya: mulai setelah shalat subuh di hari Arafah jika tidak sedang berihram, dan mulai zhuhur hari qurban bagi yang sedang berihram, dan berkahir setelah ashar hari terakhir hari tasyriq. Hukum di atas berlaku bagi muqim dan musafir, lelaki dan wanita.
  •   Malikiyyah: Disunnahkan bertakbir bagi siapa saja yang sholat saat setelah shalat 15 waktu shalat fardhu. Sama saja shalat berjamaah atau sendiri, orang kota atau desa. Waktunya dimulai dari setelah zhuhur hari ied dan berakhir shalat subuh hari keempat atau hari terakhir hari tasyriq Syafiiyah: bertakbir disunnahkan setiap setelah shalat fardhu, baik shalat berjamaah atau tidak, baik imam bertakbir atau tidak, juga setelah shalat sunnah, shalat jenazah dan shalat qodho. Waktunya: bagi selain yang berhaji mulai subuh hari Arafah hingga terbenamnya matahri hari ketiga hari Tasyriq. Sedangkan bagi yang sedang berhaji dimuali dari zhuhur hari qurban hingga akhir hari tasyriq
  •   Al-Istisqo menurut bahasa adalah memohon air siraman dari Allah atau dari manusia Al-istisqo menurut syariat adalah permohonan manusia akan turunnya hujan dari Allah swt, ketika mereka membutuhkan air. Baik ketika mereka berada di suatu tempat yang tidak memiliki lembah, sungai dan sumur yang dapat digunakan untuk minum mereka dan hewannya serta menyirami tanaman mereka. Atau ada air namun masih kurang untuk keperluannya.
  •   Syafiiyah: Shalat istisqo itu dua rakaat, dilaksanakan secara berjamaah, dan disyaratkan yang menjadi imam adalah pemimpin tertinggi atau wakilnya, atau yang pemimpin yang dipandang. Caranya seperti shalat ied:       Di rakaat pertama bertakbir 7 kali selain takbirotul ihram dan di rakaat kedua bertakbir 5 kali selain takbirotul intiqol, dan setiap takbir menangkat tangannya sejajar dengan kedua pundaknya Membaca iftitah, lalu membaca al-Fatihah Membaca surat Qof atau al-A‟la setelah al-Fatihah di rakaat pertama, dan membaca surat al-Qomar atau al-Ghosyiyah di rakaat kedua Usai shalat imam berkhutbah dengan dua khutbah, hanya saja tidak membaca takbir namun membaca istghfar 9 kali sebelum berkhutbah pertama dan 7 kali di khutbah kedua. (Bacaaannya: Astaghfirullahal adzim alladzi laa ilaha illallah al-hayyul qoyyum wa atubu ilahi) Imam disunnahkan membalikkan surbannnya di sepertiga khutbahnya Di khutbah kedua imam menghadap ke kiblat dan berdoa, demikian juga dengan makmum ikut berdoa
  •      Shalat istisqo hukumnya sunnah muakkad ketika memerlukan air (menurut 3 madzhab) Shalat istisqo dengan cara yang disebutkan ulama adalah sah, termasuk menurut madzhab Hanafi yang tidak mensunnahkan khatib bertakbir sebanyak 9 kali atau 7 kali seperti yang disebutkan madzhab lain Hanafiyah berpendapat bahwa shalat istisqo hukumnya bukan sunnah melainkan mandub. Menurutnya, meskipun ada penjelasan dari al-Quran dan hadits tentang istisqo, namun hal itu hanya istisqo (memohon atau berdoa memohon hujan), bukan dalam bentuk tata cara shalat Jika hujan belum turun juga disunnahkan melakukan shalat istisqo berulang-ulang, sedangkan Hanafiyah berpendapat hal itu mandub. Waktu shalat istisqo seperti shalat ied, yakni di pagi hari
  •  Sebelum dilaksanakan shalat istisqo, imam disunnahkan melakukan hal-ha;l berikut: Memerintahkan warga untuk bertaubat dan bersedekah dan keluar dari perbuatan zhalim  Memerintahkan warga untuk berdamai dengan musuh, kecuali Imam Malik yang tidak mensunnahkan hal itu  Memerintahkan warga berpuasa selama 3 hari, kemudian pada hari keempatnya keluar untuk melaksnaakan shalat istisqo dengan berjalan kaki  Memerintahkan semua warga keluar baik, anak kecil, bayi, orang tua renta, hewan piaraaan, dan menjauhkananak yang menyusu dari ibunya agar terdengar nyaring tangis mereka. Hal ini untuk menunjukkan ketundukkan di hadapan Allah dan keseriusan memohon hujjan kepada Allah swt. 
  •  Shalat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkad. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:    Sesungguhnya matahari dan bumi ada dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, tidaklah kedua terjadi gerhana dikarenakan meninggal atau hidupnya seseorang. Jika engkau melihat gerhana itu maka shalat dan berdoalah hingga terbuka apa yang ada padamu (selesai gerhana).” (HR: Bukhori-Muslim) Terdapat riwayat bahwa Nabi saw pernah melakukan shalat gerhana matahari (HR: BukhoriMuslim), demikian juga shalat gerhana bulan
  •  Hikmah disyariatkannnya shalat gerhana antara lain:     Matahari adalah salah satu nikmat Allah yang terbesar, dimana seluruh alam menggantungkan hidupnya kepada cahaya matahari. Sehingga shalat menunjukkan rasa kesyukuran kepada pencipta matahari Peristiwa gerhana (redupnya cahaya) matahari akan menimbulkan perasaan bahwa cahaya matahari akan mungkin dapat meredup. Dan bersinar atau meredupnya cahaya matahari berada dalam genggaman kekuasaan Allah swt, yang dengan kekuasaanNya dapat saja meredupkan cahaya itu secara tiba-tiba. Shalat gerhana disini menunjukkan rasa ketundukkan dan kehinaan di hadapan Allah swt yang Maha Kuat dan Maha Kuasa Menghilangkan kebiasaan khuorpfat (klenik) dan praktek mistik yang dikaitkan dengan peristiwa alam
  •     Tiga madzhab bersepakat bahwa shalat gerhana matahari dilakukan sebanyak 2 rakaat, dan jika telah dilaksanakan sebelum hilangnya gerhana maka dianjurkan tetap berdoa hingga gerhana selesai. Disetiap rakaat ditambah berdiri (qiyam) sekali dan ruku‟ sekali. Sehingga setiap rakaat terdapat dua kali ruku‟ dan dua kali qiyam (berdiri). Akan tetapi mazdhab Hanafi berpendapat, bahwa shalat gerhana tidak sah kecuali dengan satu ruku‟ dan satu qiyam, tetapi harus sekali ruku dan sekali qiyam seperti shalat-shalat sunnah lainnya. Hanya saja dibolehkan shalat gerhana dua, empat rakaat atau lebih. Dan yang lebih utama (afdol) shalat empat rakaat dengan satu salam Meskipun ulama 3 madzhab berpendapat bahwa shalat gerhana dalam setiap rakaat terdapat 2 ruku‟ dan 2 qiyam, akan tetapi yang wajib adalah qiyam dan ruku‟ yang pertama, sedangkan yang qiyam dan ruku‟ yang kedua adalah sunnah.
  • Bentuk Sudut pada ruku Bulan Posisi Lurus 180‟ Bumi 90‟  + 90‟ = 180 derajat matahar i Dalam shalat gerhana terdapat dua kali ruku‟, dimana dalam setiap ruku‟ membentuk sudut 90 derajat, sehingga 2x90=180 derajat. Sama dengan posisi bumi, bulan dan matahari saat gerhana dalam posisi lurus yang membentuk sudut 180 derajat
  •   Membaca surah panjang setelah al-Fatihah, seperti surat alBaqarah pada qiyam pertama di rakaat pertama dan surat Ali Imran pada qiyam kedua atau semisalnya. Lalu membaca surat an-Nisa pada qiyam kedua di rakaat kedua dan surat Al-Maidah pada qiyam kedua atau semisalnya. Hal ini disepakati oleh para imam madzhab. Kecuali Hanafiyah yang berpendapat membaca al-Baqarah dan Ali Imran walau diringkas (tidak sepenuhnya) Memperpanjang ruku‟ dan sujud dalam setiap rakaat dengan ukuran lama sebagai berikut:     Hanafiyah: tidak ada batasan lamanya ruku‟ dan sujud Hanabilah: tidak ada batasan, akan tetapi boleh seukuran membaca 100 ayat pada rakaat pertama dan 70 ayat pada rakaat kedua Syaffiyah: lamanya seukuran 100 ayat al-Baqarah di rakaat pertama dan 70 ayat Aki Imran di rakaat kedua Malikiyah: sujud dan ruku seukuran bacaan surat yang dibaca di setiap rakaat
  •     Shalat gerhana matahari dilakukan mulai terjadinya gerhana hingga kembali terangnya matahari (selesai gerhana), dengan cetatan tidak terjadi pada waktu-waktu yang diharamkan melaksanakan shalat sunnah. Jika gerhana matahari terjadi di waktu-waktu yang dilarang melaksanakan shalat sunnah, maka cukup berdoa saja dan tidak usah melaksanakan shalat gerhana. Hal ini menurut Hanafiyah dan Hanabilah. Malikiyah bependapat bahwa waktu shalat gerhana matahari dilaksanakan mulai tingginya matahari sejak terbitnya hingga zawal (tergelincirnya matahari), sehingga shalat gerhana ini tidak boleh dilakukan sebelum dan sesudah waktu tersebut Syafiiyah: Jika diyakini terjadi gerhana matahari maka disunnahkan shalat gerhana matahari , meskipuan di waktu yang dilarang shalat sunnah karena shalat gerhana adalah shalat yang memiliki sebab.
  •   Khutbah pada shalat gerhana tidak dianjurkan, menurut pendapat tiga madzhab kecuali kalangan Syafi‟iyyah. Kalangan Syafi‟iyah berpendapat bahwa melakukan dua khutbah setelah shalat gerhana disunnahkan seperti halnya shalat ied, meskipun gerhana nya sudah selesai saat khutbah. Hanya saja takbir pada khutbah id diganti dengan istighfar pada shalat gerhana, karena hal itu lebih cocok dengan keadaan (gerhana). Dan tidak disyaratkan dalam khutbah ini seperti pada khutbah Jumat, kecuali pada 3 hal: Didengar orang, menggunakan bahasa Arab dan khatibnya seorang lelaki.
  •     Hukum Shalat gerhana bulan sama dengan shalat gerhana matahari yang telah dijelaskan, hanya saja ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama: Hanafiyah: Shalat gerhana bulan sama dengan shalat gerhana matahari, hanya saja hukumnya mandub, tidak disunnahkan berjamaah dan tidak disunnahkan dilakukan di masjid, tapi di rumah secara sendiri-sendiri Syafi‟iyah: Shalat khusuf sama dengan shalat kusuf kecuali dalam 2 hal: 1. Bacaan al-Quran dibaca dengan jahar (suara keras) pada shalat khusuf dan dengan sirr (suara rendah) pada shalat kusuf. 2.Shalat kusuf tidak dilakukan jika matahari sudah nampak, sedangkan shalat khusuf boleh shalat meskipun bulan telah nampak (selesai gerhana) Malikiyah: Shalat khusuf hukumnya mandub, shalat kusuf hukumnya sunnah
  •       Shalat ketika terjadi bencana hukumnya mandub. Oleh sebab itu dimandubkan melaksanakan shalat ketika terjadi bencana, seperti gempa bumi, petir, gelap (mendung) dan angin yang dahsyat, atau tersebar nya penyakit atau lainnya. Sebab, hal itu merupakan tanda kebesaran Allah untuk menjadikan manusia takut kepada Allah sehingga mereka meninggalkan maksiat dan kembali ke jalan Allah. Oleh sebab itu adalah baik bagi manusia kembali kepada Allah dengan melaksanakan ibadah yang akan mengantarkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Shalat bencana ini sama dengan shalat mutlak, tidak ada berjamaah dan tidak ada khutbah. Serta tidak disunnahkan dilakukan di masjid, tetapi sebaiknya (afdol)dilakukan di rumah masing-masing. Hal ini telah di sepakati oleh Madzhab Maliki dan Hanafi Hanabilah berpendapat: tidak ada shalat bencana kecuali karena gempa bumi jika terus berlanjut. Syafiiyah berpendapat: tidak pernah menyebut ada shalat karena hal-hal itu
  •    Jika shalat sunnah terluput maka tidak boleh diqodho kecuali shalat sunnah 2 rakaat subuh, maka ia diqodho sejak waktu halal shalat sunnah yakni setelah thulu‟ (nampak) matahari hingga waktu zawal (matahari tepat diatas agak condong). Ini menurut madzhab Hanafi dan Maliki. Sedangan mazdhab Syafii dan Hambali berbeda pendapat Syafi‟iyah: Disunnahkan mengqodho shalat sunnah yang memiliki waktu tertentu seperti shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib, shalat dhuha, shalat dua hari raya. Sedangkan shalat sunnah yang tidak memiliki waktu maka tidak dapat diqodho, baik shalat yang memilki sebab seperti shalat gerhana, atau shalat yang tidak memiliki sebab seperti shalat mutlak. Hanafiyah: Tidak disunnahkan mengqodho shalat sunnah kecuali shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib dan shalat witir.
  •  Shalat sunnah di rumah lebih utama dari pada shalat sunnah di masjid, berdasarkan sabda Rasulullah saw;    Shalatlah wahai sekalian manusia di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan (HR: Bukhori dan Muslim) Namun dikecualikan dari hal itu shalat sunnah yang dianjurkan berjamaah, seperti shalat taraweh, maka shalat seperti itu lebih utama dilakukan di masjid