Sholat pendahuluan, isi, penutup, daftar pustaka
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sholat pendahuluan, isi, penutup, daftar pustaka

on

  • 4,557 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,557
Views on SlideShare
4,437
Embed Views
120

Actions

Likes
1
Downloads
47
Comments
1

2 Embeds 120

http://mts-aladhhar-cikeusalkidul.blogspot.com 116
http://mts-aladhhar-cikeusalkidul.blogspot.ru 4

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • gmn mau download ya....
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Sholat pendahuluan, isi, penutup, daftar pustaka Sholat pendahuluan, isi, penutup, daftar pustaka Document Transcript

  • SHALATSyarat-syarat SholatSyarat dari sesuatu yaitu apa-apa yang mengakibatkan tiada hasilnya sesuatu bilaia tidak ada, tetapi dengan adanya semata, belum berarti ada atau tidaknya sesuatuitu. Misalnya wudhu bagi sholat, maka tanpa adanya, sholat tidak ada. Tetapidengan berwudhu semata, belum tentu sholat akan hasil.Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapatdikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :1. Syarat-syarat wajib shalat yaitu syarat-syarat diwajibkannya seseorang mengerjakan shalat. Jika seseorang tidak memenuhi syarat-syarat itu, tidak diwajibkan mengerjakan shalat yaitu : a. Islam Orang yang tidak Islam tidak wajib mengerjakan shalat. b. Suci dari Haid dan Nifas Perempuan yang sedang Haid (datang bulan) atau baru melahirkan tidak wajib mengerjakan shalat. c. Berakal Sehat Orang yang tidak berakal sehat seperti orang gila, orang yang mabuk, dan pingsan tidak wajib mengerjakan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. : "Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syariat) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh." (HR. Abu Daud) d. Baliqh (dewasa) Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh : - Sudah berumur 10 tahun Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
  • "Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya." (HR. Abu Daud) - Mimpi bersetubuh - Mulai keluar darah haid (datang bulan) bagi anak perempuan e. Telah sampai dawah kepadanya Orang yang belum pernah mendapatkan dawah atau seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat. f. Terjaga Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.2. Syarat-syarat sah shalat Yaitu yang harus dipenuhi apabila seseorang hendak melakukan shalat. Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak sah shalatnya. Syarat- syarat tersebut ialah : a. Masuk waktu shalat Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (QS. An-Nisa`: 103) Dalam hadits Rasulullah Saw., banyak sekali kita dapatkan dalil tentang permasalahan ini. Kaum muslimin pun sepakat, akan tidak sahnya shalat yang dikerjakan sebelum masuk waktunya. Bila seseorang shalat sebelum waktunya dengan sengaja maka shalatnya batal dan ia tidak selamat dari dosa. Namun bila tidak sengaja, dalam arti ia mengira telah masuk waktu shalat padahal belum, maka ia tidak berdosa. Shalatnya tersebut teranggap shalat nafilah (shalat sunnah) dan ia wajib mengulangi shalatnya setelah masuk waktunya. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/398)
  • b. Suci dari hadats besar dan kecil Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menegakkan shalat, basuhlah wajah kalian dan lengan kalian sampai siku, lalu usaplah kepala kalian dan cucilah kaki kalian sampai mata kaki. Dan jika kalian junub, bersucilah….” (QS. Al-Ma`idah: 6) Dalam ayat di atas ada perintah dari Allah Swt. kepada hamba-hamba- Nya yang ingin shalat sementara mereka belum bersuci, agar membasuh wajah dan tangan mereka sampai siku dengan menggunakan air, dan seterusnya dari amalan wudhu. (Jami’ul Bayan fit Ta`wil Ayil Qur`an, 4/50) Al-„Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‟di rahimahullahu mengatakan bahwa dalam ayat yang agung ini terkandung banyak hukum, di antaranya: Disyaratkannya thaharah untuk sahnya shalat, karena Allah Swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berthaharah ketika hendak menunaikan shalat. Sementara, hukum asal suatu perintah adalah wajib. Thaharah tidak wajib dilakukan ketika telah masuk waktu shalat, namun thaharah hanya diwajibkan ketika seseorang ingin mengerjakan shalat.
  • Seluruh amalan yang dinamakan shalat, baik shalat itu wajib atau nafilah, maupun shalat yang fardhu kifayah seperti shalat jenazah, disyaratkan thaharah sebelumnya. (Tafsir Al-Karimir Rahman, hal. 222) Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135 dan Muslim no. 536) Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu memaknakan hadits di atas: “(Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats) hingga ia bersuci dengan air atau tanah/debu. Dalam hadits, Nabi Saw. hanya menyebut wudhu karena asal mula bersuci itu dengan wudhu (bila tidak ada air, baru menggantinya dengan yang lain) dan itu yang lebih banyak dilakukan. Wallahu a‟lam.” (Al-Minhaj, 3/99) Ibnu „Umar radhiyallahu „anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ... “Tidak diterima shalat tanpa bersuci...” (HR. Muslim no. 534) Hadits di atas merupakan nash yang menunjukkan wajibnya thaharah bila hendak mengerjakan shalat, sementara ia dalam keadaan berhadats. Dan ulama sepakat bahwa thaharah ini merupakan syarat sahnya shalat. (Tharhut Tatsrib 2/400, 409, Al-Minhaj 3/98) Hadats yang dimaksudkan dalam pembahasan di sini mencakup hadats besar seperti janabah dan hadats kecil seperti buang air besar, kencing, buang angin, dan sebagainya.c. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis
  • Dalil tentang sucinya pakaian didapatkan dari firman AllahSubhanahu wa Taala:“Dan pakaianmu sucikanlah.”(QS. Al-Mudatstsir: 4) Dari As-Sunnah didapatkan banyak dalil, seperti hadits Asma` bintuAbi Bakr radhiyallahu „anhuma berkata,“Ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah Saw., „Ya Rasulullah,apa pendapatmu bila pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid,apa yang harus diperbuatnya?” Rasulullah Saw. bersabda memberibimbingan:“Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid, hendaklahia mengeriknya kemudian membasuhnya dengan air. Setelah itu, ia bolehmengenakannya untuk shalat.”(HR. Al-Bukhari no. 307 dan Muslim no. 673) Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‟Asqalani rahimahullahu, dalam haditsini terdapat isyarat dilarangnya shalat bila mengenakan pakaian yangterkena najis.(Fathul Bari, 1/532) Demikian pula hadits tentang Rasulullah Saw. melepas sandalnyaketika shalat, sebagaimana diberitakan Abu Sa‟id Al-Khudri r.a.:
  • “Tatkala Rasulullah Saw. sedang shalat bersama shahabat-shahabatbeliau, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya lalu meletakkannya disebelah kiri beliau. Ketika melihat hal tersebut, mereka (para shahabat)pun melepaskan sandal mereka. Selesai dari shalat, Rasulullah bertanya,“Ada apa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?” Mereka menjawab,“Kami melihatmu melepas sandalmu maka kami pun melepaskan sandal-sandal kami.” Rasulullah Saw. menjelaskan, “Tadi Jibril mendatangiku danmengabarkan bahwa pada kedua sandalku ada kotoran/najis, maka akupunmelepaskan keduanya.” Beliau juga mengatakan, “Apabila salah seorangdari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihatkedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklahmembersihkannya. Setelah bersih, ia boleh shalat dengan mengenakankedua sandalnya.”
  • (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albanirahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284 danAshlu Shifati Shalatin Nabi Saw., 1/110) Mengenai kesucian badan maka tentunya lebih utama daripadasucinya pakaian yang dikenakan. Di samping ada pula hadits yangmenunjukkan wajibnya membersihkan najis yang ada pada badan sepertihadits Anas r.a. Ia berkata, Nabi Saw. bersabda:“Bersucilah kalian dari kencing karena kebanyakan adzab kuburdisebabkan kencing.”(HR. Ad-DaraQathani dalam Sunan-nya hal. 7, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 280) Demikian pula hadits „Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu, iaberkata:“Aku seorang lelaki yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malumenanyakannya langsung kepada Nabi Saw. disebabkan keberadaan putribeliau (sebagai istriku). Maka aku menyuruh Al-Miqdad ibnul Aswad untukmenanyakannya. Ia pun bertanya kepada beliau, maka beliau Saw.memberikan tuntunan, „Hendaklah ia mencuci kemaluannya kemudianberwudhu‟.”(HR. Al-Bukhari no. 132 dan Muslim no. 693)
  • Adapun dalil tentang kesucian tempat shalat adalah firman Allah Swt.:“Bersihkanlah rumah-Ku (Baitullah) (wahai Ibrahim dan Ismail) untukorang-orang yang thawaf, yang i‟tikaf, yang ruku‟, dan yang sujud.”(Al-Baqarah: 125) Demikian pula adanya perintah Nabi Saw. untuk menyiram kencingA‟rabi (Arab gunung/Badui) sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik r.a.:“Ada seorang A‟rabi bangkit menuju ke pojok masjid lalu kencing di tempattersebut. Melihat hal itu, orang-orang berteriak menghardiknya. RasulullahSaw. pun menegur, “Biarkan ia menyelesaikan kencingnya.” Seselesainyasi A‟rabi kencing, Rasulullah Saw. memerintahkan agar mengambil air satuember penuh, lalu dituangkan di atas kencingnya.”(HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 658) Bila seseorang melihat pada tubuh, pakaian atau tempat shalatnya adanajis setelah selesai shalatnya, apakah ia harus mengulangi shalatnya?Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Namun yang rajih, wallahua‟lam, orang itu tidak wajib mengulangi shalatnya, baik keberadaan najistersebut telah diketahuinya sebelum shalat tapi ia lupa, atau lupamencucinya, ataupun ia tidak tahu bila najis itu terkena dirinya, atau ia tidak
  • tahu kalau itu najis, atau ia tidak tahu hukumnya, atau ia tidak tahu apakah najis itu mengenainya sebelum shalat ataukah sesudah shalat. Pendapat ini yang dipilih oleh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, Al-Majdu, Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, dan selain mereka rahimahumullah. Dalilnya adalah kaidah umum yang agung yang Allah Saw. letakkan bagi hamba-hamba-Nya, yaitu firman-Nya: “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau keliru….” (QS. Al-Baqarah: 286) Dan juga hadits Rasulullah Saw. yang melepas sandal beliau dalam shalatnya setelah Jibril a.s. mengabarkan bahwa pada sandalnya ada kotoran/najis. Beliau tidaklah membatalkan shalatnya, namun melanjutkannya setelah melepas kedua sandalnya. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah fashl Man Shalla Tsumma Ra`a ‘Alaihi Najasah fi Badanihi au Tsiyabihi, Asy-Syarhul Mumti’ 1/485, Al- Mulakhkhashul Fiqhi, 1/94, Taudhihul Ahkam 2/33)d. Menutup aurat, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: “Wahai anak Adam kenakanlah zinah kalian setiap kali menuju masjid.” ( QS.Al-A’raf: 31) Al-Imam Asy-Syaukani r.a. berkata: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah ketika datang ke masjid guna melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat ini wajib dalam segala keadaan,
  • sekalipun seseorang shalat sendirian sebagaimana ditunjukkan dalamhadits-hadits yang shahih.”(Fathul Qadir, 2/200) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyatakan, “(PerintahAllah Swt. dalam ayat di atas adalah) perintah untuk mengenakan zinahsetiap kali ke masjid, yang dinamakan oleh para fuqaha: bab Sitrul „Aurahfish Shalah (bab Menutup aurat dalam shalat).”(Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 14) Ibnu „Abbas r.a. menerangkan sebab turunnya ayat di atas, “Dulunyadi masa jahiliah, wanita biasa thawaf di Ka‟bah dalam keadaan tanpabusana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Ia thawaf serayabersyair:Pada hari ini tampak tubuhku sebagiannya atau pun seluruhnyaMaka apa yang nampak darinya tidaklah aku halalkan.Lalu turunlah ayat di atas.”(HR. Muslim no. 7467) Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap firmanAllah Swt. di atas menyatakan, “Yang dimaksud dengan zinah adalahpakaian. Mujahid berkata, „(Zinah adalah) apa yang menutupi auratmuwalaupun berupa „abaah.‟ Al-Kalbi berkata, „Zinah adalah apa yangmenutupi aurat setiap kali ke masjid untuk thawaf dan shalat‟.”(Ma’alimut Tanzil, 2/157) Dulunya orang-orang jahiliah thawaf di Ka‟bah dalam keadaantelanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkannyatergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalulalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut untuk selamanya,hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsunghingga datang Islam dan Allah Swt. memerintahkan mereka untuk menutupaurat: “Wahai anak Adam, kenakanlah zinah kalian setiap kali menujumasjid.”Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
  • “Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Ka‟bah.”(HR. Al-Bukhari no. 369, 1622 dan Muslim no. 3274) [Lihat Al-Minhaj18/357] Hadits di atas selain dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari r.a. dalamShahih-nya, kitab Al-Hajj bab Tidak boleh orang yang telanjang thawaf diBaitullah dan tidak boleh orang musyrik melaksanakan haji, dibawakan pulaoleh beliau dalam kitab Ash-Shalah, bab Wajibnya shalat denganmengenakan pakaian. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‟Asqalani rahimahullahu dalampenjelasannya terhadap hadits di atas menyatakan:“Sisi pendalilan hadits ini dengan judul bab yang diberikan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (bab Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian)adalah apabila dalam thawaf dilarang telanjang, maka larangan hal ini didalam shalat lebih utama lagi. Karena apa yang disyaratkan di dalamshalat sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalamshalat ada tambahan. Dan jumhur berpendapat menutup aurat termasuksyarat shalat.”(Fathul Bari, 1/604)Faedah Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklahcukup dengan berpakaian ala kadarnya yang penting menutup aurat, tidakpeduli pakaian itu bau dan kotor misalnya. Namun perlu memerhatikan sisikeindahan dan kebersihan. Karena Allah Swt. dalam firman-Nya:“Memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan)ketika shalat, sebagaimana dalam ayat di atas. Sehingga sepantasnyaseorang hamba shalat dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagusdan paling indah, karena dia akan ber-munajat dengan Rabb semesta alamdan berdiri di hadapan-Nya.”(Al-Ikhtiyarat Ibnu Taimiyyah rahimahullahu hal. 43)Bedanya Menutup Aurat di Dalam dan di Luar Shalat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, “Mengenakanzinah di dalam shalat merupakan hak Allah Swt., sehingga tidak boleh bagi
  • seseorang untuk thawaf di Ka‟bah dalam keadaan telanjang walaupunbersendiri di waktu malam. Tidak boleh pula ia shalat dalam keadaantelanjang walaupun sendirian. Maka mengenakan zinah dalam shalatbukanlah untuk berhijab (menutup tubuh) dari manusia tapi menunaikanhak Allah Swt. Dengan demikian, menutup aurat di luar shalat dibedakandari menutup aurat di dalam shalat. Kita dapatkan seseorang yang shalatmenutup bagian tubuhnya yang justru boleh tampak bila ia sedang tidakshalat (di luar shalat). Sebaliknya ia menampakkan dalam shalatnya apayang justru harus ditutupnya di luar shalat.”(Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 23) Sebenarnya memang yang diperintahkan dalam shalat adalah berhiasdan berpenampilan bagus karena hendak berdiri di hadapan Allah Swt.. Bilaseseorang merasa malu bertemu dengan seorang raja atau salah seorangpembesar di muka bumi ini dengan pakaian kotor, bau, kusut masai, atauterbuka separuh tubuhnya, lalu bagaimana ia tidak malu berdiri di hadapanRaja Diraja Penguasa alam semesta Swt. dengan pakaian yang tidak patutdikenakannya ketika shalat? Karena itulah Abdullah bin „Umar radhiyallahu„anhuma pernah bekata kepada maulanya, Nafi‟, yang shalat dalam keadaantidak menutup kepala (dengan peci dan semisalnya), “Tutuplah kepalamu!Apakah engkau biasa keluar ke hadapan manusia dalam keadaan membukakepalamu?” Nafi‟ menjawab, “Tidak pernah.” “Allah adalah Dzat yanglebih pantas untuk engkau berhias bila hendak menghadap-Nya”, kataAbdullah bin „Umar radhiyallahu „anhuma.(Syarh Ma’anil Atsar, 1/377) Dengan demikian, semakin fahamlah kita bahwa yang sebenarnyadituntut dalam shalat bukan sekedar menutup aurat, tapi mengenakan zinah.Seseorang yang hendak shalat dituntut agar berada dalam penampilan yangbagus dan indah, karena ia akan berdiri di hadapan Allah Swt.(Adz-Dzakhirah lil Qarafi 2/102, Al-Mulakhkhashul Fiqhi 1/93)Hukum Menutup Pundak bagi Laki-laki di Dalam Shalat Abu Hurairah radhiyallahu „anhu berkata, Nabi Saw. bersabda:
  • “Tidak boleh seorang lelaki di antara kalian shalat dengan hanyamengenakan satu kain sementara tidak ada di atas pundaknya sedikitpundari kain tersebut.”(HR. Al-Bukhari no. 359 dan Muslim no. 1151) Dalam hadits di atas, Nabi Saw. memberikan bimbingan kepada orangyang shalat dengan mengenakan satu kain saja tanpa ada pakaian lain, agartidak mengikat kainnya pada bagian tengah tubuhnya sehingga duapundaknya dibiarkan terbuka. Tapi hendaknya ia berselubung dengan kaintersebut, dua ujung kainnya diangkat lalu disilangkan dan diikatkannya diatas pundaknya, sehingga kain tersebut keberadaannya seperti izar dan rida`.Hal ini mungkin dilakukan bila kainnya lebar/lapang. Namun bila sempitmaka terpaksa diikatkan pada pinggang sebagaimana ditunjukkan dalamhadits Jabir radhiyallahu „anhu, Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:“Bila kainmu lebar berselimutlah dengannya (menutupi tubuh bagianbawah dan atas dengan disilangkan dua ujungnya di atas dua pundak)namun bila kainmu sempit ikatkanlah pada setengah tubuhmu yang bagianbawah.”(HR. Al-Bukhari no. 361) [Syarhus Sunnah Al-Baghawi 2/433] Dari dua hadits di atas, tergambar bagi kita hukum menutup pundakdalam shalat. Dalam masalah ini memang ada perselisihan pendapat dikalangan ahlul ilmi. Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam pendapatnya yang masyhurmengatakan wajib bagi orang yang memiliki kemampuan, berdalil dengandzahir hadits Abu Hurairah radhiyallahu „anhu di atas.
  • Sementara jumhur ulama, di antaranya imam yang tiga, berpandanganmustahab, karena yang wajib ditutup hanyalah aurat sementara dua pundakbukanlah aurat. Adapun larangan dalam hadits tidaklah menunjukkan haramkarena adanya hadits Jabir radhiyallahu „anhu di atas. Sehingga laranganshalat dalam keadaan pundak terbuka mereka bawa kepada nahyut tanzihwal karahah, yaitu makruh, bukan haram. Wallahu a‟lam.(Al-Umm kitab Ash-Shalah bab Jima’i Libasil Mushalli, Al-Majmu’3/181, Al-Mughni kitab Ash-Shalah fashl Hukmi Sitril Mankibain,Raddul Mukhtar ‘Ala Ad-Darril Mukhtar Syarhu Tanwiril AbsharIbnu ‘Abidin 2/76, Subulus Salam 1/211, Taisirul Allam 1/259,260,Tamamul Minnah hal. 163)Faedah Apakah shalat seseorang batal bila di tengah shalatnya tersingkapbagian tubuhnya yang mesti ditutupi dalam shalat?Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-„Utsaimin rahimahullahumenerangkan: Bila ia melakukannya dengan sengaja maka batal shalatnya, baik sedikit atau banyak bagian tubuhnya yang tersingkap, lama ataupun hanya sebentar. Bila tidak sengaja dan yang tersingkap hanya sedikit, shalatnya tidak batal. Bila tidak sengaja namun yang tersingkap banyak dalam waktu yang singkat, shalatnya tidak batal. Tersingkap banyak bagian tubuhnya tanpa sengaja dalam waktu yang lama, ia tidak tahu kecuali di akhir shalatnya atau setelah salam, maka shalatnya tidak sah. Misalnya: Seseorang shalat memakai sirwal (celana panjang yang luas/longgar) dan kain. Selesai salam dari shalatnya, ia dapatkan sirwalnya sobek besar pada bagian kemaluannya hingga menampakkannya, maka shalatnya tidak sah dan ia harus mengulangi shalatnya karena menutup aurat termasuk syarat sahnya shalat. Adapun bila di tengah shalat, pakaiannya sobek besar namun dengan segera ia
  • pegang bagian yang sobek maka shalatnya sah. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/446-447)e. Menghadap kiblat Yang dimaukan dengan kiblat adalah Ka‟bah. Dinamakan kiblat karena manusia menghadapkan wajah mereka dan menuju kepadanya. (Al-Majmu’ 3/193, Ar-Raudhul Murbi’ Syarhu Zadil Mustaqni’, 1/119, Asy-Syarhul Mumti’ 1/501, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96) Awalnya Rasulullah Saw. shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta‟ala memerintahkan beliau menghadap ke Ka‟bah, kiblat yang beliau cintai. Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: “Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al-Kitab (dari kalangan Yahudi dan Nasrani) memang mengetahui bahwa menghadap ke Masjidil Haram itu benar dari Rabb mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 144) Al-Bara` bin „Azib radhiyallahu „anhu berkata:
  • “Aku shalat bersama Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam menghadap kearah Baitul Maqdis selama 16 bulan, hingga turunlah ayat dalam surah Al-Baqarah: „Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah (hadapkanlah)wajah kalian ke arahnya.‟ Ayat ini turun setelah Nabi Shallallahu „alaihiwa sallam shalat. Lalu pergilah seseorang dari mereka yang hadir dalamshalat berjamaah bersama Nabi. Ia melewati orang-orang Anshar yangsedang shalat (dalam keadaan masih menghadap ke arah Baitul Maqdis),maka ia pun menyampaikan kepada mereka tentang perintah perpindahanarah kiblat. Mendengar hal tersebut orang-orang Anshar punmemalingkan/menghadapkan wajah-wajah mereka ke arah Baitullah.”(HR. Muslim no. 1176) [Al-Hawil Kabir 2/68] Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bila bangkit untuk shalat,beliau menghadap Ka‟bah, baik dalam shalat wajib maupun shalat nafilah.Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu:
  • “Berita ini merupakan sesuatu yang pasti keberadaannya karenamutawatirnya….”(Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/55) Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam berkata kepada orang yang salahshalatnya: ...“Bila engkau bangkit untuk menegakkan shalat maka baguskanlah wudhukemudian menghadaplah kiblat, setelah itu bertakbirlah….”(HR. Al-Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 884)Orang yang Melihat Ka’bah dan yang Tidak Melihatnya Bagi orang yang shalat dalam keadaan dapat melihat Ka‟bah makawajib baginya shalat menghadap persis ke Ka‟bah, seperti keadaan orangyang shalat di Masjidil Haram. Adapun orang yang tidak bisa menyaksikanKa‟bah secara langsung karena negerinya jauh dari Makkah misalnya, makawajib baginya menghadap ke arah Ka‟bah. Dalam hal ini perkaranya lapang,dalam arti bila seseorang shalat dalam keadaan menyimpang sedikit dariarah kiblat maka hal itu tidak menjadi masalah. Karena tetap saja iadikatakan menghadap ke arah kiblat, berdasarkan firman Allah Swt.:“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.”(Al-Baqarah: 286) Dan juga berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu „anhu,Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:“Antara timur dan barat adalah kiblat.”
  • (HR. At-Tirmidzi no. 342, Ibnu Majah no. 1011, dan selain keduanya.Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no.292) [Lihat Al-Umm, kitab Ash Shalah, bab Istiqbalil Qiblah, Al-Majmu’ 3/195, Subulus Salam 1/214, Asy-Syarhul Mumti’ 1/509, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96,97, Taudhihul Ahkam 2/17,18] Keberadaan arah kiblat di antara timur dan barat ini berlaku bagipenduduk Madinah dan negeri-negeri yang searah dengan Madinah. Dengandemikian, bagian selatan seluruhnya kiblat bagi mereka. Adapun yang tidaksearah maka tentunya akan berbeda, arah kiblatnya bukan antara timur danbarat. Seperti kita di Indonesia ini, arah kiblatnya justru antara utara danselatan. Wallahu a‟lam.Kapan Gugur Kewajiban Menghadap Kiblat? Menghadap kiblat sebagai salah satu syarat shalat yang harus dipenuhidapat gugur kewajibannya dalam keadaan-keadaan berikut ini:a. Shalat tathawwu‟ (shalat sunnah) bagi orang yang berkendaraan, baik kendaraannya berupa hewan tunggangan ataupun berupa alat transportasi modern seperti mobil, kereta api, dan kapal laut. Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu „anhuma berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dalam perang Anmar mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya sementara hewan tersebut menghadap ke timur.” (HR. Al-Bukhari no. 4140) Jabir radhiyallahu „anhu juga mengabarkan:
  • “Adalah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam mengerjakan shalatsunnah di atas hewan tunggangannya ke arah mana saja hewan itumenghadap. Namun bila beliau hendak mengerjakan shalat fardhu,beliau turun dari tunggangannya lalu menghadap kiblat.”(HR. Al-Bukhari no. 400)Amir bin Rabi‟ah radhiyallahu „anhu berkata:“Aku melihat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat nafilah diatas hewan tunggangannya menghadap ke arah mana saja hewan itumenghadap, beliau memberi isyarat dengan kepalanya (ketikamelakukan ruku‟ dan sujud). Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallamtidak pernah melakukan hal itu dalam shalat fardhu.”(HR. Al-Bukhari no. 1097)
  • b. Shalat orang yang dicekam rasa takut seperti dalam keadaan perang, orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang dipaksa (di bawah tekanan). Orang yang tidak mampu menghadap kiblat disebabkan takut, sakit, atau dipaksa, ataupun dalam situasi berkecamuk perang maka diberi udzur baginya untuk shalat dengan tidak menghadap kiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taala: “Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) “Jika kalian dalam keadaan takut maka shalatlah dalam keadaan berjalan kaki atau berkendaraan.” (QS. Al-Baqarah: 239) Ibnu „Umar radhiyallahu „anhuma setelah menjelaskan tata cara shalat khauf, pada akhirnya beliau berkata: “Bila keadaan ketakutan lebih dahsyat daripada itu, mereka shalat dengan berjalan di atas kaki-kaki mereka atau berkendaraan, dalam keadaan mereka menghadap kiblat ataupun tidak.” (HR. Al-Bukhari no. 4535) Ibnu „Umar radhiyallahu „anhuma juga berkata:
  • ...“Aku pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wasallam di arah Najd. Kami berhadapan dengan musuh, lalu beliaumengatur shaf/barisan kami untuk menghadapi musuh. SetelahnyaRasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat mengimami kami ….”(HR. Al-Bukhari no. 942) Hadits di atas menunjukkan ketika situasi perang, seseorang tidakharus menghadap kiblat. Namun dia bisa menghadap ke mana saja sesuaidengan keadaan dan posisi musuh. (Al-Umm kitab Ash-Shalah, bab Al-Halain Al-Ladzaini Yajuzu Fihima Istiqbalu Ghairil Qiblah, Al-Hawil Kabir 2/70, 72,73, Al-Majmu’ 3/212, 213, Ar-Raudhul Murbi’Syarhu Zadil Mustaqni’ 1/119, Al-Muhalla bil Atsar 2/257, Adz-Dzakhirah 2/118,122, Subulus Salam 1/214,215, Al-MulakhkhashulFiqhi, 1/97, Taudhihul Ahkam 2/20,21)Orang yang Tersamar baginya Arah KiblatAmir bin Rabi‟ah radhiyallahu „anhu mengabarkan:
  • }“Kami pernah bersama Nabi Saw. satu safar di malam yang gelap.Ketika hendak shalat, kami tidak tahu di mana arah kiblat. Makamasing-masing orang shalat menghadap arah depannya. Di pagiharinya, kami ceritakan hal itu kepada Rasulullah Saw., turunlah ayat„Maka ke mana saja kalian menghadap, di sanalah wajah Allah‟.”(HR. At-Tirmidzi no. 345, Ibnu Majah no. 1020. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, ShahihIbni Majah, dan Al-Irwa` no. 291) Jabir radhiyallahu „anhu berkata, “Kami pernah bersamaRasulullah Saw. dalam satu pasukan perang. Ketika itu, kami ditimpamendung hingga kami bingung dan berselisih tentang arah kiblat. Padaakhirnya masing-masing dari kami shalat menurut arah yangdiyakininya. Mulailah salah seorang dari kami membuat garis dihadapannya guna mengetahui posisi kami. Ketika pagi hari, kamimelihat garis tersebut dan dari situ kami tahu bahwa kami shalat tidakmenghadap arah kiblat. Kami ceritakan hal tersebut kepada NabiShallallahu „alaihi wa sallam, namun beliau tidak menyuruh kamimengulang shalat. Beliau bersabda: “Shalat kalian telah mencukupi.”(HR. Ad-DaraQathani, Al-Hakim dll. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` 1/323) Abdullah bin „Umar radhiyallahu „anhuma berkata, “Tatkalaorang-orang sedang mengerjakan shalat subuh di Quba`, tiba-tiba adaorang yang datang seraya berkata, „Semalam telah diturunkan kepadaRasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam ayat Al-Qur`an. Beliaudiperintah untuk shalat menghadap ke Ka‟bah.‟ Mendengar hal tersebut,orang-orang yang sedang shalat itu pun mengubah posisi menghadap kearah Ka‟bah. Tadinya wajah mereka menghadap ke arah Syam,kemudian mereka membelakanginya untuk menghadap ke arah Ka‟bah.”(HR. Al-Bukhari no. 403, 4491, 7251 dan Muslim no. 1178)
  • Hendaknya seseorang mencurahkan segala upayanya untuk mengetahui arah kiblatnya. Bila jelas baginya setelah selesai shalat bahwa ia menghadap selain arah kiblat, ia tidak perlu mengulang shalatnya karena shalat yang telah dikerjakannya telah mencukupi. (Subulus Salam, 1/213) ZAKATHarta Yang Wajib Dizakati Pada hal ini zakat adalah harta pemberian Allah SWT. sebagai tanda syukurdan terimakasih kepada Allah SWT, disamping pembersih harta milik dan pensucibadan jasmani, menunjukan kebaktian kepada Allah SWT. serta menghidupkankejiwaan tolong menolong.1. Emas dan Perak Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 3: Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” Yang dimaksud emas dan perak diatas adalah emas dan perak pada umumnya, termasuk emas murni dalam berbagai bentuk, uang emas atau perak, barang hiasan atau pakaian lainya. Emas dan perak yang telah mencapai batas minimal (nisab) dan mencukupi (haul) maka telah diwajibkan baginya zakat. Adapun nisab zakat emas adalah 20 dinar , sedangkan perak nisabnya 200 dirham. Dinar adalah mata uang dari emas, sedangkan dirham adalah mata uang dari perak. Imam malik dalam Al Muwata menetapkan 20 dinar = 200 dirham. Menurut putusan Majlis Tarjih Muhammadiyah 20 dinar itu = 85 gram emas. Sedangkan 200 dirham = 672 gram perak. “Tidak ada kewajiban suatu apapun bagimu dalam hal emas sehingga engkau memiliki 20 dinar. Jikalau milikmu telah mencapai 20 dinar, dan mencapai
  • masa 1 tahun, keluarkan zakatnya setengah dinar. Kelebihannya dihitung sama seperti itu. Tidak wajib zakat pada suatu harta apapun hingga mencapai masa haulnya” (HR. Ahmad, Abu Daud, Bayhaqi, serta di syakan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ali Bin Abi Talib RA). Sedangkan untuk perak diterangkan oleh hadist Nabi Muhammad saw.: ”Kurang dari lima awaq perak, maka tidaklah terkena zakat ” (HR. Muslim dari Sahabat abir) Barang perhiasan yang terdiri dari emas dan perak termasuk rangkaiannya seperti permata dalam perhiasan itu, lebih utama dikaitkan perhitungannya dengan perhiasan dari emas atau perak. Dengan memperhitungkan harga perhiasan keseluruhan dan dikeluarkan zakatnya 2, 5 %.2. Zakat dari Hasil Pertanian Apabila tumbuhnya zakat pertanian itu karena siraman air hujan, sumber air, bendungan, nisabnya 5 wasaq (± 700 kg) maka zakat yang dikeluarkan 10 %. Apabila tumbuhnya tanaman memakai tenaga manusia atau mesin dengan biaya pengairan, sama juga 750 kg, sedangkan zakatnya 5%. ”Tidaklah dikenakan zakat atas biji makanan, dan tidak pula terhadap kurma, sehingga sampai lima wasaq.” (HR. Muslim dari Abi Sa’id A Khudry) Nabi Muhammad SAW. bersabda : ”Terhadap tanaman yang disiram hujan dari langit dan dari mata air, atau yang digenangi air sungai, dikenakan zakat sepersepuluhnya, sedangkan tanaman yang disiram dengan irigasi seperdua sepuluhnya”. (HR.Bukhari dan Ahmad dan Ahlu Sunan dari sahabat Umar) Dahulu orang berbeda pendapat tentang zakat hasil tanaman selain padi dan makanan yang mengenyangkan. Karena padi sebenarnya tidak disebutkan zakatnya, yang disebutkan adalah gandum, kurma. Pendeknya makanan yang mengenyangkan pada waktu itu. Maksudnya dahulu orang berbeda pendapat apakah hasil tanaman yang tidak mengenyangkan tetapi mempunyai harga jual tinggi tidak perlu dizakati? Sebagian ulama berpendapat selain yang mengenyangkan tidak perlu dizakati, tetapi sebagian lain sekalipun tidak
  • mengenyangkan perlu dizakati juga. Menurut keputusan Muktamar Tarji di Garut, tersebut dalam Al Amwaal fil Isam dinyatakan bahwa zakat hasil tanaman adalah sebagai berikut : Hasil tanaman (yang dikenakan zakat) - Gandum, beras, jagung, cantel dan yang sejenis bahan makanan pokok, demikian pula buah kurma dan zabib (kismis), dikenakan zakat bila sudah cukup senisab, yaitu lima wasak (± 7,5 kwintal). - Hasil tanaman selain tersebut di atas seperti tebu, kayu, getah, kelapa, lada, cengkeh, buah-buahan, sayur-mayur dan lain-lainnya, ketentuan nisabnya adalah nilai harga 7,5 kwintal hasil tanaman tersebut di atas. Dasar pengenaan zakat baik tanaman pokok maupun lainnya adalah firman Allah surah Al Baqarah ayat 267 dan Surah An An’aam ayat 141. Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.3. Zakat Tijarah (perniagaan) Adalah semua bentuk harta yang dipromosikan untuk diperjual belikan dengan bermacam-macam cara serta membawa manfaat bagi kebaikan dan kesejahteraan manusia. Firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 267.4. Zakat Hewan Apabila mempunyai hewan ternak yaitu : unta, kambing atau sapi sampai pada nisabnya, yaitu : 5 ekor unta, 40 ekor kambing, atau 30 ekor sapi, sedang telah setahun menjadi kepunyaanmu maka kelurakan zakatnya sebagai berikut : Unta Nisab: - 1-4 ekor unta tidak ada zakatnya. - 5-24 ekor unta, tiap lima ekor unta dikenakan zakatnya seekor kambing. - 25-35 ekor unta dikenakan zakatnya seekor anak unta betina umur 2 tahun. - 36-45 ekor unta dikenakan zakatnya seekor anak unta betina umur 3 tahun.
  • - 46-60 ekor unta, dikenakan zakatnya seekor anak unta betin aumur 4 tahun- 61-75 ekor unta dikenekan zakatnya seekor anak unta betina umur 5 tahun- 76-90 ekor unta dikenakan zakatnya 2 ekor anak unta betina umur 3 tahun- 91-120 ekor unta dikenakan zakatnya 2 ekor anak betina umur 4 tahun.Catatan :Lebih dari 120 ekor, setiap 50 ekor maka zakatnya adalah 1 ekor hiqqoh dansetiap 40 ekor zakatnya adalah 1 ekor bintu labun.Bintu makhad betina : Unta yang umurnya genap 1 tahun.Bintu labun : Unta yang umurnya genap 2 tahun.Hiqqoh : Unta yang umurnya genap 3 tahun.Jadz‟ah : Unta yang umurnya genap 4 tahun.KambingNisabnya:- 40-120 ekor dikenakan zakatnya seekor anak kambing- 121-200 ekor dikenakan zakatnya 2 ekor kambing.- 201-300 ekor dikenakan zakatnya 3 ekor kambing- Lebih dari 300 ekor kambing, maka tiap 100 ekor dikenakan zakatnya seekor kambing.Catatan :Jika ternak kambing / domba jumlahnya lebih dari 400 ekor, maka setiapkelipatan 100 ekor zakat yang dikeluarkan adalah 1 ekor kambing / domba.Dalam mengeluarkan zakat kambing atau domba, maka tidak bolehmengeluarkan : 1. Kambing / domba jantan 2. Kambing / domba yang umurnya telah tua 3. Kambing / domba yang matanya buta semelha 4. Kambing /domba yang sedang hamil, 5. Kambing / domba yang bernilai tinggi. Jadz‟ah dha‟n : kambing / domba yang genap berumur 6 bulan Tsani ma‟iz : Kambing / domba yang genap berumur 1 tahun.SapiNizab
  • 1 - 29 tidak ada zakatnya 30 - 39 zakat yang dikeluarkan sebesar 1 ekor sapi jantan / betina tabi‟ 40 - 59 zakat yang dikeluarkan sebesar 1 ekor sapi jantan / betina mussinnah Catatan : Jika jumlahnya enam puluh ekor atau lebih, setiap kelipatan 30 ekor sapi, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 1 ekor tabi‟. Dan untuk kelipatan 40 ekor sapi, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 1 ekor musinnah. Tabi‟ / Tabi‟ah : Sapi yang telah berumur 1 tahun Musinn / Musinnah : Sapi yang telah berumur 2 tahun Syarat Zakat Hewan - Milik orang Islam - Yang memiliki adalah orang merdeka - Milik penuh (dimiliki dan menjadi hak penuh) - Sampai nisabnya - Genap satu tahun - Makannya dengan pengembalaan, bukan dengan rumput belian - Binatang itu bukan digunakan untuk bekerja seperti angkutan dan sebagainya5. Zakat Rikaz Harta Rikaz yang berwujud emas atau perak ditemukan peninggalan masa purba wajib dikeluarkan zakatnya 20 % (seperlima). Sabda Nabi Muhammad saw. : Artinya: ”Dari Abu Hurairah telah bersabda Rasulullaah saw ” Zakat Rikaz seperlimanya” ( HR. Bukhari Muslim)6. Zakat Purbakala (Ma’din) Menurut kitab ssulubus menegaskan ma‟din adalah hasil yang dikeluarkan dari dalam bumi laut maupun darat. Sebagai rizki yang dikeluarkan berlimpah oleh Allah SWT dari dalam bumi. Sesuai penjelasan Qur’an Surat Al Baqarah ayat 267.7. Zakat Bagi Pegawai
  • HTP (Himpunan Putusan Tarjih) dijelaskan : a. Harta yang diberikan oleh Allah adalah sutau kenikmatan dan amanah allah perlu disyukuri dan perlu dipenuhi hak-hak dan kewajiban bagi pemiliknya. b. Yang dikenai zakat itu semua harta pemberian Allah SWT. hasil usaha manusia pada umumnya dan hasil usah adari hasil bumi, berdasarkan Al Baqarah : 267 c. Pengeluaran zakat itu didasarkan pada pemenuhan perintah Allah sebagai ibadah juga untuk membersihkan harta itu dan hati pemiliknya. Berdasar surat At Taubah : 103 dan Adz Dzariyat : 19 Artinya : ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”8. Zakat Uang Koperasi Bardasarkan keputusan konferensi Lembaga Fiqih Islam yang keempat di jedah tahun 1998, dimana ketua PP Majlis Tarjih Muhammadiyah turut menghadirinya sebagai wakil Indonesia. Diputuskan zakat harta saham antara lain : a. Wajib mengeluarkan zakat harga saham bagi pemilik-pemilik syirkah (seperti PT….. koperasi di indonesia) b. Pengeluaran zakat oleh pemilik Syirkah itu sebagaimana pengeluaran zakat perorangan untuk hartanya. Maksudnya ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi zakat perorangan itu menjadi ketentuan zakat yang dilakukan oleh pengurus syirkah. Pengeluaran zakat harta syirkah ini atas dasar mewakili pemegang saham. Karenanya tidak perlu dikeluarkan zakat harta yayasan yang bergerak dalam urusan kesejahteraan umum seperti yayasan yang mengurus wakaf umum dan yayasan yang mengurus anak yatim dan orang tua jompo. Melihat keputusan itu koperasi tidak perlu membayar zakatnya sejumlah 2,5 % kali jumlah modal koperasi pada akhir tahun, sekalipun jumlah modal mencapai 55 juta lebih melihat ukuran nisab telah tercapai.9. Zakat Profesi
  • Profesi dianggap sebagai pendapatan yang wajib dizakati. Adapun batasnisab untuk profesi adalah senilai nisab emas (85 gram) dan jumlah yang wajibdikeluarkan adalah 2,5 %, dengan berpedoman pada harga emas pada saat wajibmengeluarkan zakat.Cara mengeluarkan zakat profesi :- Apabila pendapatan bersih yang diperoleh dari profesi dalam satu waktu, telah mencapai nisab, maka waktu itu juga wajib mengeluarkan zakat.- Boleh juga mengeluarkan zakat profesi dengan tanpa ketentuan nisab dan tahun namun pada waktu diperoleh penerimaan. Ini pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Masud, Muawiyah (sahabat), Zuhri, Hasan Basri, beberapa ulama Syiah seperti Baqir, Shadiq, dan Nasir, demikian juga pendapat Dawud al-Dzahiri.- Apabila pendapatan bersih dari profesi, bila dijumlah dalam satu tahun mencapai nisab yang ditentukan, maka harus mengeluarkan zakat dalam hitungan per tahun. Yang dimaksud dengan pendapatan bersih adalah pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi beaya kebutuhan sehari-hari.
  • DAFTAR PUSTAKABakar, Abu, Jabir Al-Jaza‟iri. 2009. Minhajul Muslim. Surakarta: Insan Kamil.Sabiq, Sayyid. 1973. Fikih Sunnah 1. Bandung: PT. Alma‟arif.http://azurahkio.wordpress.com/2008/09/22/pengertian-zakat-macam-macamnya/http://amplopzakat.blogspot.com/2009/08/pengertian-zakat.htmlhttp://adheem.blogspot.com/.../macam-macam-zakat-dan-penghitungannya.htmlhttp://fikriyansyah8.wordpress.com/tag/macam-macam-zakathttp://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=540