Agama hadits

1,347
-1

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,347
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
39
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Agama hadits

  1. 1. AL-HADITS Anggota Kelompok Dea Intania Dewi Iif Syiga Fauziyah Weni Sri Mulyani Zahra Amalia Agustina
  2. 2. Al-Hadist Al – Qur‟an dan hadits merupakan dua sumber hukum pokok syariat Islam yang tetap, dan orang Islam tidak akan mungkin, bisa memahami syariat Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali kepada kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang ulama pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan mengambil salah satu keduanya.
  3. 3. Pengertian Hadits Hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru, dekat, atau khabar. Hadits secara istilah adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, segala keadaan, atau perilakunya.
  4. 4. Sejarah Singkat Perkembangan Al-Hadits Para ulama membagi perkembangan hadits itu kepada 7 periode, yaitu: 1. Masa wahyu dan pembentukan hukum (pada zaman Rosul: 13 SH-11 H) 2. Masa pembatasan riwayat (masa khulafaur rosyidin: 12-40 H) 3. Masa pencarian hadits (pada masa generasi tabi'in dan sahabat-sahabat muda: 41 H-akhir abad 1 H) 4. Masa pembukuan hadits (permulaan abad II H) 5. Masa penyaringan dan seleksi ketat (awal abad III H- sampai selesai) 6. Masa penyusunan kitab-kitab koleksi (awal abad IV H sampai jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H) 7. Masa pembuatan kitab syaroh hadits, kitab-kitab tahrij dan penyusunan kitab-kitab koleksi yang lebih umum (656 H dan seterusnya)
  5. 5. Pada zaman Rosulullôh al Hadits tidak dituliskan, sebab: a. Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan beliau, sebagai catatan pribadi. b. Rosulullôh berada ditengah-tengah ummat Islam, sehingga dirasa sangat tidak perlu untuk dituliskan pada waktu itu. c. Kemampuan baca tulis dikalangan sahabat sangat terbatas. d. Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada al Qur'an. e. Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan da'wah yang sangat penting.
  6. 6. Pengertian Sanad, Matan, dan Rawi A. Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari --> Musaddad --> Yahya --> Syu’bah --> Qatadah --> Anas --> Nabi Muhammad SAWSebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thabaqah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thabaqah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah : - Keutuhan sanadnya - Jumlahnya - Perawi akhirn
  7. 7. B. Matan Kata matan atau al-matan menurut bahasa berarti ma shaluba wa irtafa’amin al-aradhi(tanah yang meninggi). Secara temonologis, istilah matan memiliki beberapa difinisi, yang mana maknanya sama yaitu materi atau lafazh hadits itu sendiri. Pada salah satu definisi yang sangat sederhana misalnya, disebutkan bahwa matan ialah ujung atau tujuan sanad . Dari definisi diatas memberi pengertian bahwa apa yang tertulis setelah (penulisan) silsilah sanad adalah matan hadits. Pada definisi lain seperti yang dikatakan ath-thibi mendifinisikan dengan :”lafazh-lafazh hadits yang didalamnya megandung makna makna tertentu”. Jadi dari pegertian diatas semua, dapat kita simpulkan bahwa yang disebut matan ialah materi atau lafazh hadits itu sendiri, yang penulisannya ditempatkan setelah sanad dan sebelum rawi.
  8. 8. C. Rawi • • • • • Kata rawi atau arawi, berati orang yang meriwayatkan atau yang memberitakan hadis. Yang dimaksud dengan rawi ialah orang yang merawikan/meriwayatkan, dan memindahkan hadits. Perawi dari umat Islam ialah Bukhori, Muslim, Abu Dawud, AnNas’i, Tirmidzi, Malik, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi. Perawi dari Umat Syi’ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad SAW, melalui Fatimah Az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi’ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi’ah diklaim memusuhi Ali, seperti Aisyah, yang melawan Ali pada Perang Jamal. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, tetapi sebagian besar menggunakan: Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih
  9. 9. Penggolongan Dan Klasifikasi Hadits Penggolongan Hadits Berdasarkan Banyaknya Rawi Informasi yang dibawa oleh banyak rowi lebih meyakinkan bila dibandingkan dengan informasi yang dibawa oleh satu atau dua orang rowi saja. Dari sinilah para ahli hadits membagi hadits menurut jumlah rowinya.
  10. 10. Hadits Mutawatir Hadist mutawatir adalah laporan dari orang-orang yang jumlahnya tidak ditentukan (la yusha „adaduhum) yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbuat dusta mengingat jumlah mereka yang besar („adalah) dan tempat tinggal mereka yang beragam. Hadits Mutawatir ada 2 yaitu : 1. Mutawatir Lafdzi yaitu mutawatir redaksinya. Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : “Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.” 2. Mutawatir Ma‟nawi yaitu hadits yang isi serta kandungannyadiriwayatkan secara mutawatir dengan redaksi yang berbeda-beda 13. Contoh hadits mutawatir maknawi adalah : “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa‟ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)
  11. 11. Hadits Ahad Hadits Ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua, atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat masyhur, apalagi mutawatir. Keterikatan manusia terhadap substansi hadits ini sangat dipengaruhi oleh kualitas periwayatannya dan kualitas kesinambungan sanadnya.
  12. 12. Klasikfikasi Hadits Berdasarkan Diterima dan Ditolaknya (Kualitas) Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da’if dan maudu’.
  13. 13. Hadits Shahih Yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung; Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya; Haditsnya musnad, maksudnya hadits tersebut disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW; Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak
  14. 14. Hadits Hasan Bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
  15. 15. Hadits Dhaif (Lemah) Ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
  16. 16. Hadits Maudu’ Bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
  17. 17. Hadits Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan menurut urf Muhaditsin, Hadits Mardud ialah hadits yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. Maka, Jumhur Ulama mewajibkan untuk menerima hadits – hadits maqbul, dan sebaliknya setiap hadits yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). Jadi, hadits
  18. 18. Klasifikasi Hadits Dari Segi Perkembangan Sanadnya • Hadits Muttasil Hadits Muttasil adalah hadits yang didengar oleh masing – masing rawinya dari rawi yang di atasnya sampai kepada ujung sanadnya, baik hadits marfu’ maupun hadits mauquf. • Hadits Munqati’ Hadits Munqati’ adalah setiap hadits yang tidak bersambung sanadnya, baik yang disandarkan kepada Nabi
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×